WAJAH BULEKU

WAJAH BULEKU
Oleh: Sisca Viasari “He Bule! Ati-ati dong bawa motor!”Aku mendengus. Entah untuk yang berapa ratus kalinya, aku dipanggil “bule” oleh orang-orang sekitar. Tetangga, teman sekolah, orang yang baru kenal dan sekarang, orang tengil yang lagi nyetir ini.
“Bu, kenapa sih wajahku kayak gini? Gak seperti A Yudi atau Dik Santi?” tanyaku menyebut kakak dan adik kandungku.
“Sudahlah, Laras..harusnya kamu malah bersyukur punya wajah begini, yang lain aja kepingin tuh” jawab ibuku.
“Ngomong-ngomong, siapa sih yang punya darah bule?”
“Hmmm..” ibu berlagak mikir “Kayaknya ibunya eyangmu dari Ayah orang Belanda totok. Sudah cuma dia saja, kesini-sininya mah teu aya deui ”
Oke, kembali ke jalan raya..
“Siapa yang bule?? Lagian angkot lo tuh yang mepet aja ke gue!!” sentakku kesal. Baguuuus, pagi-pagi sudah berantem sama supir angkot. Mana jalanan di depan macet total karena demonstran dengan rajinnya jam setengah tujuh pagi begini sudah memenuhi ruas jalan Riau. Tahu tidak? Kini aku berada persis di depan gedung pengadilan, tempat Ariel Peterpan jam sepuluh nanti disidang. Perfect! Sempurna!
“Lagian angkot butut begini aja, takut amat sih kegores. Kaga ngaruh tauuu!” kataku keras-keras, biar terdengar si supir.
“Geuning tiasa bahasa Indonesia si bule ” komentar supir angkot. Seluruh penghuni angkotnya tertawa. Aku meringis.
“Gue orang Garut, mau apa lo??”
Se-angkot ketawa lagi. Sialan, emang percakapan antara aku dan supir angkot ini lucu apa?
“Ya sudah, sesama orang Garut mah jangan saling mendahului atuuuh, apalagi saling menggores” komentar si supir lagi, membuat pertengkaran ini semakin tidak penting. Makanya, begitu ada celah karena mobil di depanku agak maju, aku langsung geber gas si Mio cantikku ini, meninggalkan sang supir dengan seluruh penghuni angkotnya yang tak berperasaaan itu.
***“Ehh, ada Arumi Bachsin lewat” goda anak-anak kelas tiga IPA ketika aku melewati gerombolan mereka. Aku kesal. Salah sendiri, sudah tahu kalo pagi, koridor ini pasti penuh sama senior-senior itu. Apa boleh buat, kepalang tanggung.
“Yang ini mah Arumi Bersin kaleeee. Hahaha!!”
Pasti suara Tino, yang dua hari lalu cintanya aku tolak. Bukan si Tino aja disitu. Ada Doni, Yulis, Janu dan entah siapa lagi deh yang cintanya aku tolak-tolakin. Ya, mereka mengejekku karena kesal karena cinta gak kesampaian, mungkin? Kasian, deh!
“Hehe, dia mah bulgar. Bule Garut. Palsu” komentar salah satu dari mereka yang tak sempat aku lihat wajahnya. Tawa mereka berderai-derai. So what?
***“Laraaaasss…!!! Siniiii!!” Rita, cewek imut yang selama ini jadi teman satu bangku menyeretku menuju kerumunan cewek-cewek di kelas.
“Apaan??”
“Cepetan…!”
“Naaah! Ini yang kita tunggu…”
“Pokoknya dari sekolah kita harus ada yang jadi selebritis, dan….siapa lagi nih kandidatnya kalo bukan Larasati Dwi Kurnia Widiastuti….!!”
“Maksudnyaa??” aku melongo. Weni menyuruhku duduk, lalu mulai menjamah rambut coklatku yang ikal gelombang sebahu.
“Hm, tinggal di make over sedikit aja, trus kita kasih dia kaos kutung, rok Spartan dan sepatu boots hijau keren milik gue itu, sempurna deh!”
“Gue punya bolero rajutan warna ijo pemberian tante gue dari Jepang. Matching, Wen” kata Gia. Aku semakin tidak mengerti.
“Rambutnya, kita percayakan aja sama Mas Sunan, salon langganan gue. Dia biasa menangani Hair do-nya para selebriti Bandung” kata Kinanti.
“STOP!!!” teriakku. Semua terdiam. “Kalian ini apa-apaan sih? Gue baru dateng udah pada nyembur semua! Udah, gue mau belajar Fisika dulu”
“Ehh, duduk dulu Say, gini..gini..” Weni berdehem-dehem. “Besok, jam sepuluh, di Sabuga ITB, ada casting calon pemain film: ‘Begini-begini Aku Cinta Kamu, Lho! Pemain cowoknya, Irfan Bachdim”
“Pemain bola itu !?” tanyaku. Semua membenarkan.
“So?”
“Sutradaranya keren,” lanjut Weni “PHnya bonafid, mereka lagi nyari talent baru buat pasangan si Irfan dan buat tokoh-tokoh lain. Nah, inilah kesempatan buat sekolah kita terkenal se-Indonesia, gara-gara ada salah seorang muridnya main di film itu!!”
“Terus? Apa hubungannya sama gue??”
“Iiih, cantik-cantik bego!” kata Kinan “Ya, elo harus ikutan casting ituuuuu!!”
“Kenapa harus gue??”
“Ya cuma lo yang memenuhi syarat. Wajah bule lagi laris, Ceu, apalagi buat disandingkan dengan Irfan Bachdim!”
“NO WAYYYY”
Aku teriak dan melarikan diri dari kerumunan teman-teman sekelas. Mereka gak peduli, terus mengejarku sampai di tikungan bertemu dengan pak Prana guru Fisika yang sedianya akan mengajar di kelas kami pagi ini. Aku gak peduli, aku terus lari menuju gerbang belakang sekolah, kabur, daripada jadi bulan-bulanan teman-temanku untuk ikutan casting konyol itu, mending aku bolos aja deh pelajaran Fisika pagi ini. Gak apalah sekali-kali..
***Aku sudah di Sabuga ITB. Gedung megah milik Institut beken itu sudah ramai dengan orang-orang yang ingin mengadu peruntungan di blantika perfilman dan persinetronan Indonesia. Casting. Gak kebayang seperti apa sih suasana casting itu. Aku menyeret sepatu boots hijau yang kata Weni keren punya ini. Keren apaan? Bikin aku jadi seperti orang kebanjiran begini koq dibilang keren.
“Ras, jangan diseret boots gue, ntar solnya habis. Mahal tuh beli di Belanda!”
“Salah sendiri lo pinjemin ke gue!”
“Laras, inget ya: Senyum. Kemarin gue udah ajarin tehnik akting sedikit kan? Optimis deh lo bakalan dapet peran utama ceweknya. Gue yakin banget!!” kata Gia, sambil memoleskan blush on lagi ke pipiku.
Rita, Weni, Kinanti, dan Gia, menggiringku menuju pintu utama Sabuga. Aku risih. Diantara mereka aku memang yang paling jangkung sendiri, plus ditambah aku yang paling dandan sendiri. Aku rikuh ditengah tatapan puluhan orang-orang, ditambah perlakuan teman-teman yang berlebihan ini bikin aku seperti ondel-ondel yang mau manggung.
“Nama?” tanya petugas pendaftaran.
“Larasati Underwood” jawab Weni. Spontan aku menoleh heran. Melihat reaksiku, Weni senyum,
“Sesuai wajah lo, gak pantes pake nama Larasati DK Widiastuti”
“Hmm, jangan Mas, tulis namanya Larasati Fruitstone aja!” samber Gia, membuat si petugas mengerut alis. Aku menoleh ke Gia.
“Kan sesuai tempat tinggal gue di Buah Batu. Fruit artinya buah, Stone artinya Batu. Ya kan??”
“Underwood aja sesuai daerah rumah gue di Jatihandap. Jati itu kayu, handap itu bawah, jadi di Inggrisin Underwood!” Gia maradang.
“Fruitstone aja biar sounding like Sharon Stone, Bego!!”
“Pokoknya Underwood! Biar disangka turunan Clint Eastwood!!”
“Fruitstone!”
“Nona-nona, jadi saya musti tulis siapa nih namanya?” petugas pendaftaran mulai tidak sabar.
“Larasati DK Widiastuti aja, Mas” jawabku. Teman-temanku mendelik tidak senang.
“Kenapa? Irfan yang mukanya bule banget aja pake nama Indonesia, kan?” jawabku tenang.
“Oke, silahkan masuk, Mbak. Pintu depan itu belok kiri” kata si Mas petugas.
Aku bersorak ketika namaku tidak masuk dalam jajaran talent terpilih. Yang lebih membahagiakanku, calon pemeran wanita yang sedianya mendampingi Irfan Bachdim justru berwajah Indonesia banget. Setelah dapat bocoran sana sini, ternyata film ini akan berkisah tokoh utama pria yang seorang turis kesasar masuk ke hutan dan ditolong oleh wanita lokal. Haha! Aku puas memandangi wajah teman-temanku yang menyesal, kenapa bukan mereka sendiri saja yang ikutan casting.
***Sudah lama aku naksir dia. Ups, terlambat deh dibilang naksir. Mungkin diam-diam aku sudah jatuh cinta padanya. Namanya Nanda. Pekerjaannya, guru disc jockey di Gelanggang Generasi Muda Bandung. Aku mengenalnya setengah tahun lalu ketika aku mulai masuk kelas Wushu di GGM ini. Wajahnya sih ganteng standar, tapi kurasa seluruh tubuhnya terbuat dari magnet hingga begitu menarik perhatianku. Apalagi melihat gayanya kalau lagi nge-DJ. Aduuh gak kuat deh. Keren banget!!
Matanya tidak bisa melihat. Menurut cerita sobatnya, itu bukan buta bawaan lahir. Dulu, Nanda sangat bandel, suka kebut-kebutan motor dan mobil. Ketika SMA dia kecelakaan mobil, dari situlah, perlahan fungsi indra penglihatannya berkurang dan kini tidak bisa melihat.
“Kok gak operasi aja Mas?” tanyaku.
“Mau. Tapi belum punya duit. Nanti ya ngumpulin dulu” jawabnya sambil tersenyum. Dadaku berdesir melihat senyumnya. Aku tidak tahu apakah dadanya juga berdesir jika berdekatan denganku seperti ini. Konon, fisik adalah hal pertama yang dilihat pria dari seorang wanita, yang kedua baru hatinya. Jika dia tidak bisa melihat fisikku, bisakah dia jatuh cinta padaku?
***Suatu sore pulang dari latihan Wushu, aku sengaja menemui Nanda di studio DJ yang letaknya di lantai 2. Kelasnya baru saja selesai dan beberapa muridnya masih ngumpul untuk diskusi sesuatu. Ketika mulai sepi, aku mendekatinya.
“Hm! Hm!”
“Laras, ya?”
“Iya, Mas. Udah beres?”
Dia menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku menyentuh tangannya.
“Kalo udah beres, ke CCF yuk! Ada pianis dari Prancis manggung. Gratis lho!”
“Ohya??”
“He-eum!”
“Oke, aku bersiap dulu ya!”
Auditorium Centre Culturel de Français atau CCF Bandung sudah hampir penuh. Maklum pertunjukan gratis. Aku menuntun Nanda mencari tempat duduk dan aku bersyukur dapat tempat duduk yang strategis, bisa memandang langsung pianis muda berbakat dari negeri Eiffel itu.
“Beethoven, Symphony Number Nine..” desisnya sambil memadang lurus ke depan. Aku kaget mendapati kalau ternyata dia tahu lagu yang sedang dibawakan si artis. Memang, dalam guide book yang sedang kupegang ini, lagu pertama yang dibawakan adalah lagu yang disebut Nanda tadi. Hebat!
Aplaus panjang dari audiens membahana dan berhenti seiring lagu kedua mengalun.
“Yang ini apa, Mas?” tanyaku mengetes, seperti pembawa acara kuis.
“Bocherini, Minueto”
Lagu ketiga,
“Beethoven, Contredanses”
“Kereeen..” desisku.
***“Laras,” panggil Nanda ketika suatu sore kami berdua sengaja nongkrong ke Dago Pakar. Aku sih yang mengajak. Ya, sekedar menghirup udara segar dan jauh dari polusi kota Bandung yang makin menyesakkan.
“Ya, Mas?”
“Kenapa ya, lama-lama aku kok makin suka sama kamu?”
“APA?” aku terhenyak
“Kamu gak senang ya?”
“Euuuh, bukan…bukan itu, aduuuhh” aku menggigit bibir. Ya Allah, tentu saja aku senang!
“Tapi, Mas… sorry nih, Mas Nanda kan gak bisa lihat aku, masa sih, cowok bisa suka sama cewek tanpa melihat fisik dari si cewek itu?”
Dia tergelak.
“Ya ampun kamu naïf banget. Kamu SMA banget sih! Eh denger ya, buat orang seusia aku ini, fisik memang penting, tapi ya bukan yang utama. Apalagi, aku sadar aku juga punya kekurangan fisik..”
“Ooh gitu ya?” aku garuk kepala.
“Kalo kamu, suka juga gak, sama aku?”
“APA? Eh ya, ya! Aku memang sayang kok sama Mas Nanda”
Ups! Aku menutup mulutku. Kok jadi aku nih yang nyatain duluan?
“Sayang? Kamu sayang sama aku, Laras?”
“Yaaa, gitu deh..” pipiku memerah, “Gak apa-apa, kan Mas?”
“Ya, gak apa-apa. Tapi Laras gak malu nih, jalan sama orang buta?”
“Alhamdulillah enggak. Mas Nanda kali yang malu ya? Jalan sama orang yang mirip Mpok Ati kayak aku..”
“Kamu kayak Mpok Ati? Asyik, berarti kamu cantik dong” Nanda tersenyum, dan meringis ketika aku meninju lengannya
“Aku kan fansnya Mpok Ati, hehehe” lanjutnya dan kamipun tergelak bersama.
“Laras, hatiku bilang kamu cantik sekali dan terlebih hatiku juga bilang kalau kamu sayang sama aku. Itu yang terpenting..”
Aku tersenyum senang karena telah menemukan dia. Akhirnya, ada orang yang tidak melihat wajah buleku dengan matanya seperti cowok-cowok lain, tapi dengan hatinya. Seperti mas Nanda ini …
***
Sisca Viasari, lahir sebagai orang Jawa ditengah-tengah masyarakat multikultural Jakarta pada bulan Maret hari ke-22. Hobi yang juga jadi pekerjaannya sehari-hari adalah menulis dan mengelola toko fashion muslimnya di Bandung. Cerpen-cerpen dan novel-novelnya pernah dipublikasi di media lokal dan nasional dengan nama pena Chika Riki.
Email/facebook : ecrivainchika@yahoo.co.id
YM : ecrivainchika

Random Posts

  • Cerpen Remaja “Tentang Rasa” ~ 07 {Update}

    Oke, Aku update lagi ni ya. Sebenernya Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07 ini udah pernah di publis di blog ini dulu. Cuma, karena harus ku edit lagi, terpaksa ku kembalikan ke Draf.Oh ya satu lagi. Jangan meminta lebih sebelum berusaha lebih. Dibawah ada kotak komentar kan?. Silahkan diisi dengan unek – unek kalian. Tapi kalau cuma minta lanjutan, sory ya. Aku nulis itu cuma kalau ada waktu luang. Aku sudah memutuskan, kali ini aku nggak akan memaksakan diri lagi untuk rela – rela in nulis di angkot lewat hape cuma buat nulis lanjutan ceritanya.Like what i say before, Aku menilai suatu karya dari banyaknya like and komentarnya. Simpelnya, untuk meninggalkan jejak aja susah, apalagi mau bikin cerpennya. That is my opinion. Ha ha ha” Tawa anggun Langsung meledak mendengar cerita yang keluar dari Mulut Rian. Mantan tetangganya dulu saat tinggal di Rasbar. Tapi sejak ada bencana banjir yang melada tempat tinggal mereka , mereka sama – sama pindah. Nggak nyangka setelah hampir 4 tahun bisa bertemu lagi.sebagian

  • Cerpen Cinta: GELATO AND LOVE

    “Dia bagaikan sebuah pohon mati, tidak berbuah, tidak juga berdaun… tetapi dia terus hidup dan bertahan untuk waktu yang lama… Dia selalu diam, mematung tak berkutik… Ia tak pernah berlari terlalu kencang, atau berjalan terlalu lambat, Ia hanya memperhatikannya… Ia tersenyum namun hatinya menangis… Ia tertawa namun penderitaan yang terdengar… Ia makhluk misterius yang memasuki kehidupanku, merubah segalanya menjadi rumit, dan juga indah…” Sudah berulang kali Chris membaca novel karya Rosaria Cianni yang berjudul “Qualcuno” dan bagian itu adalah favoritnya. Walaupun novel tersebut merupakan buku pertama yang dikeluarkan Rosaria pada tahun 2005, tetapi Chris masih sangat menyukainya. Rosaria Cianni adalah penulis yang memberikan inspirasi bagi hidup Chris. Setiap kalimat dalam novel yang diterbitkannya selalu mengandung filosofi dan dapat membuat Chris seolah-olah terhipnotis. Ia tidak pernah kelewatan untuk sekedar meng-update info tentang penulis itu melalui fan page yang tersebar luas di jejaring media sosial. Mulai dari novel pertama sampai yang terbaru, Chris selalu mengikuti perkembangan ceritanya. Yang sedikit aneh dan terasa ganjil hanyalah, Rosaria Cianni tidak pernah menulis profil tentang dirinya di akhir halaman novelnya. Tidak ada sedikit info pun tentang dia. “hey Chris! Pagi-pagi sudah membaca novel, lagipula kau kan sudah berulang kali membacanya. Aneh sekali!” sahut Bianca mendekati Chris. Chris tidak terlalu memperdulikannya. Ia tetap fokus membaca novel pertama karya Rosaria Cianni. “ada apa kau tiba-tiba datang ke kedaiku? Aku tidak memberikan free gelato hari ini.” Bianca menghebuskan nafas kesal dengan kencang melalu hidung mancung nan langsingnya. “Chris, kau jangan berburuk sangka dulu terhadapku! Aku akan bayar kok, aku tidak meminta gelato-mu secara cuma-cuma.” Ia berpindah tempat duduk, dari yang semula berada di depan Chris, kini Bianca sudah berada di samping pria berambut coklat terang itu. Chris menaruh novel penulis favoritnya di atas meja, wajahnya nampak kesal, Ia berdiri dan tangannya bersidekap di depan dada. “Harus berapa kali aku katakan kepadamu Bianca? Tidak ada tempat untukmu di hatiku.” Chris menarik nafas dalam-dalam lalu ia berkata lagi. “kau mau pesan apa?” tanyanya cuek. Air muka Bianca seketika berubah suram. Tanpa ragu-ragu Chris mengatakan hal itu padanya. Apa Chris tidak sadar bahwa Ia baru saja melukai hati Bianca? Tetapi Bianca berusaha terlihat tegar. Ia memberikan senyum termanisnya kepada Chris. “Forest Berry Gelato per favore!” Chris menatap Bianca malas, kemudian Ia segera beranjak menyiapkan pesanan dari gadis yang sangat menyebalkan baginya. Tiba-tiba bel pintu kedai “Gelato & Caffè” milik Chris berbunyi. Ia berpikir keras, siapa orang yang akan memakan hidangan beku di pagi hari selain Bianca? Ia memperhatikan orang itu… seorang wanita dengan rambut hitam lurus panjang setengah pinggang, memakai coat berwarna biru tua, serta syawl putih yang meliliti lehernya tampak sedang mencari spot yang nyaman untuk ditempati. Ia duduk, lalu mengeluarkan laptop dari tasnya. Chris sedikit terpesona dengan wanita yang mempunyai wajah jelita tersebut. Setelah selesai membuat Gelato Forest Berry pesanan Bianca dan mengantarkannya, Ia pun berjalan menuju wanita itu dan menyodorkan daftar menu sambil memberi salam. “buongiorno.” Ucap Chris tersenyum. “ah, buongiorno.” Wanita itu membalas sapaan Chris tanpa melihatnya. Ia sibuk menjelajahi macam-macam jenis Gelato di buku menu. “aku pesan Gelato Dark Chocolate dan Espresso Con Panna.” Lagi-lagi wanita itu tidak menatap Chris! Chris sedikit sebal, bukan karena tatapannya yang tak terbalas, tetapi wanita ini sedikit tidak sopan dan berlagak angkuh. “aspetta un momento signorina!” ujar Chris lalu berjalan ke arah counter sambil masih menggerutu di dalam hatinya. “Wanita cantik namun sangat sombong.” Pikirnya. “Ho finito.” Bianca menyisakan gelato-nya yang tinggal sedikit. Ia membereskan barang-barang yang ada di atas meja kemudian menghampiri Chris yang sedang meracik Con Panna dan mencium pipi pria itu. Chris terdiam beberapa saat, menunggu amarahnya naik sampai ke ubun-ubun. “Vattene!” hardik Chris. Wajahnya memerah kesal. Tapi sayang, rupanya Bianca tidak takut sedikit pun, ia malah meledek Chris dan menjulurkan lidahnya. “a presto il mio amore!” Bianca tertawa geli kemudian berlari menyelamatkan diri dari Chris yang sedang mengamuk. “D- dasar!” keluh Chris sembari membawa pesanan wanita yang dipikirnya angkuh. Chris menahan nampan di lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya meletakkan gelato dan kopi ke atas meja dengan hati-hati. “Selamat menikmati.” Kata Chris, kali ini ia tidak menatap wanita itu lagi. Ia tau pasti ia akan diacuhkan. “duduklah, temani aku.” Chris hampir tak percaya. Ternyata dugaannya salah. Wanita itu… tidak sesombong seperti yang ia kira. Chris menarik bangku yang ada di depan wanita tersebut kemudian duduk dengan manis. Wanita itu terkekeh. “aku tidak mengira akan mendapat inspirasi di kedaimu.” Ia memandang Chris sesaat lalu kembali berkutat dengan laptopnya. Jarinya menari-nari di atas keyboard dengan cepat, sesekali ia berhenti untuk menyesap Con Panna­­ dan menyicipi gelato-nya. “che fai ?” tanya Chris penasaran. “menulis.” Jawabnya singkat. “ah… sì, sì” angguk Chris berpura-pura mengerti. Ia bingung hal apa yang enak untuk dibicarakan. Baru pertama kali Chris merasa gugup berada didekat seorang wanita, biasanya wanita lah yang mengejarnya. Contohnya, Bianca. “apa kedai Gelato & Caffè ini milikmu?” Chris senang sekali! Akhirnya wanita itu mau bertanya. Perlahan suasana kaku pun mulai mencair. “No, ini bukan milikku. Kedai ini kepunyaan Nonna, namun semenjak Ia meninggal, aku sebagai cucu yang tinggal bersamanya dari kecil yang melanjutkan usaha ini.” ujar Chris diakhiri dengan segurat senyum yang dipaksakan. “Jadi kau dan orangtuamu yang mengurus ya?” tanya wanita itu lagi. Chris sejenak membisu, lalu berkata. “Orangtuaku sudah meninggal, mereka ditembak oleh orang tak dikenal ketika kami sedang menikmati gelato di sebuah kedai di Venezia. Nonna bilang pembunuhnya adalah saingan bisnis papaku.” “mi dispiace tanto.” Ucapnya penuh nada penyeselan. “tidak apa, itu sebabnya aku membenci gelato. Meski meneruskan usaha nenek ku, tetapi aku tidak pernah lagi mencoba gelato sejak kejadian tersebut.” Jelas Chris. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia tidak suka terlalu terbuka kepada orang lain, namun, ketika duduk bersama wanita di depannya itu, Ia merasa tenang. Setiap kata mengalir begitu saja dari mulutnya. Wanita itu menutup laptopnya dan memasukannya ke dalam tas. Ia menghabiskan sisa Espresso Con Panna dan Gelato Dark Chocolate-nya dengan cepat kemudian berdiri sambil menggandeng tas. “Ini adalah pagi terbaik selama hidupku. Terimakasih. Kau telah memberiku banyak inspirasi.” Wanita itu menaruh uang di meja lalu mengulurkan kertas persegi panjang dengan latar kosong warna merah pada Chris. “ini hadiah untukmu. Aku harap kau tidak mengatakannya pada siapa pun. Jangan di balik sebelum aku keluar dari kedai ini. Arrivederci.” Katanya lalu tersenyum.*** Chris benar-benar terkejut bukan kepalang. Wanita yang kemarin pagi datang ke kedainya ternyata adalah Rosaria Cianni. Ya, Chris mengetahuinya dari kartu nama yang diberikan Rosaria secara langsung kemarin hari. Namun seperti dugaan Chris, pada kartu itu juga hanya terdapat nama dan pekerjaannya, yaitu penulis. Chris sungguh menyesali kebodohannya. Dia seharusnya tidak mengikuti perkataan Rosaria untuk tidak membalik kartu tersebut sebelum dirinya keluar dari pintu kedai Gelato & Caffè. Andai Ia dapat memutar kembali waktu, Chris rela memberikan apapun demi untuk bertemu lagi dengan Rosaria. Satu fakta tentang kemarin adalah, sebenarnya Chris tidak sengaja membuka kedainya pada pagi hari. Itu hal yang jarang sekali, atau bahkan tidak pernah Ia lakukan. Tetapi, karena semalaman Ia tidak bisa tidur dan paginya Ia tidak merasa mengantuk, akhirnya Ia memutuskan untuk membuka kedai dari jam 7 pagi. Mulanya Ia berasumsi bahwa pasti tidak akan ada yang berkunjung, namun Bianca adalah buktinya. Chris tidak tau menahu dari mana Bianca bisa mengetahui kedai miliknya sudah buka pukul 7, tapi yang pasti yang paling membuatnya sangat gembira yaitu kehadiran Rosaria. Ia tidak menyangka kemarin akan mendapat tamu seistimewa itu. Jika tau, mungkin Chris akan bersiap-siap selama 2 jam lebih untuk menyambut wanita yang dikaguminya tersebut. Sekarang tepat jam 12 siang, kedai semakin ramai dan Chris sedikit kewalahan mengerjakan pekerjaannya seorang diri. Sampai Bianca datang dan menawarkan bantuan. Awalnya Chris enggan, mengingat kejadian kemarin, Ia malu dan jengkel sekali. Namun apa daya Ia tak sanggup menolak, ya, karena kenyataan juga yang mendesaknya. Bianca membawa pesanan para pelanggan dari satu meja ke meja lainnya dengan suka cita. Ia menebarkan senyumnya kepada setiap orang dan berkata begitu manis. Chris mengawasinya dari counter, hati kecilnya seperti tergelitik. Perasaan aneh yang membuat Ia tertawa dan tersenyum ini selalu datang ketika Ia memusatkan penuh perhatiannya pada Bianca. Segera mungkin Chris menghapus pikiran itu. Ia pasti bergurau karena merindukan Rosaria Cianni, wanita yang memberinya inspirasi serta mampu membuatnya merasa tenang.“Chris, ada apa?” tanpa Chris sadari rupanya Bianca kini tengah berdiri di hadapannya. Wanita berambut coklat gelap dan bermata hijau itu menyuguhkan Espresso Macchiato dalam demitasse cup kepada Chris. “minumlah.” Katanya.Chris meraih daun telinga cangkir itu, menyesap Espresso Macchiato dengan gaya yang khas. Entahlah seperti apa, tapi itulah yang paling disukai Bianca darinya. “delizioso.” Gumamnya pelan, sangat pelan. Chris tidak mau Bianca melompat dan memeluknya karena pujian yang Ia lontarkan.Chris menunjuk ke arah tempat duduk paling pojok. “di sana, sepertinya baru saja ada pelanggan yang datang, tolong layani mereka.” Tuturnya.Bianca membuat tanda hormat dan tersenyum memperlihatkan deretan baris giginya yang rapih dan putih. “Oke, bos!” terkadang, hanya terkadang… Chris merasa dirinya sedikit kelewatan kepada Bianca, padahal wanita itu sering membantunya di kedai. Ia orang yang cukup baik. Tidak. Sangat baik mungkin. Meskipun Chris sudah berulang kali memarahi dan mengusirnya, tetapi Ia tetap tidak mundur selangkah pun untuk berada di dalam hidup pria itu. Bianca tidak berniat sedikit pun untuk meninggalkan Chris. Tidak pernah, walaupun harus bersaing dengan Rosaria Cianni, Ia tidak takut.***Satu hari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan terlewati. Chris menunggu dan menunggu namun Rosaria tak kunjung datang ke kedainya lagi sejak saat itu. Chris mulai kehilangan harapan. Ia mulai berfikir, tidak mungkin Rosaria punya cukup waktu luang hanya untuk memakan gelato dan bercerita bersamanya di kedai. Rosaria pasti sibuk mempersiapkan novel terbarunya. Chris ingat betul ketika wanita itu datang, Ia berkata Ia sedang menulis. Artinya, cepat atau lambat Rosaria akan segera mengeluarkan karya selanjutnya.Hari ini adalah tanggal 24 Desember. Bertepatan dengan momen indah 1 bulan yang lalu ketika Rosaria muncul dan memesan Espresso Con Panna serta Gelato Dark Chocolate, momen di mana Chris merasa begitu tenang. Utuh. Dan tak terasa pula Hari Natal akan segera datang. Hari Natal yang mungkin sama seperti tahun lalu, tidak ada yang spesial. Chris hanya akan sibuk bekerja dalam kesendirian di tengah kerumunan orang-orang yang menikmati hari natalnya bersama keluarga, teman, atau kekasih mereka.“Chris… kau ada acara untuk malam natal?” Bianca tampak sedang bersih-bersih, menyemprotkan semacam cairan kimia pada permukaan meja.Hari ini kedai tutup lebih cepat, orang-orang terlihat begitu sibuk. Terutama keuskupan, mereka sibuk untuk menyiapkan Misa Natal. Chris bukanlah seorang Katolik, Ia mengikut Papanya yang berasal dari Amerika dan seorang Karismatik. Ia tidak tau akan melakukan apa pada perayaan natal tahun ini. Kebingungan selalu menyeruak ke dalam pikirannya ketika perayaan Natal sudah dekat.“aku tidak kemana-mana.” Ucap Chris ketus. Air mukanya sungguh tidak menarik. Bianca yang tadinya ingin mengajak pria itu jalan-jalan akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tidak berani mengganggu Chris jika wajahnya sudah menampakan aura negatif seperti itu. Setelah selesai membersihkan meja Bianca segera pamit kepada Chris. Dan disaat inilah Chris benar-benar sendiri. Kesepiaan.Alih-alih menghilangkan rasa sunyi, Chris tergerak membuka kembali kedainya. Pukul 22.00. Ia tau tidak akan ada orang yang datang, semua sibuk dengan acaranya masing-masing. Chris berjalan ke arah pohon natal yang masih bersih tanpa ornamen. Melihat pohon natal Ia jadi teringat akan orangtua dan neneknya. Chris biasa menghias pohon natal bersama mereka, namun, sekarang keadaan berbalik. Semua sudah berbeda. 15 tahun Ia merayakan natal tanpa orangtuanya, dan 5 tahun tanpa nenek yang sangat Ia sayangi. Chris mengambil ornamen berbentuk rumbai yang panjang berwarna merah dan emas lalu melingkarkannya di sekeliling pohon natal, ditambah bola-bola mengkilat warna perak-biru, cupid yang sedang memanah, malaikat-malaikat bersayap, serta tak ketinggalan figura santa claus dan tongkatnya, dan masih banyak ornamen lainnya.Tiba-tiba bel pintu kedai Chris berbunyi. “seseorang datang?” benaknya.Chris membelokan tubuhnya. Ia melihat seorang pria berumur sekitar 30 tahun yang memakai kaca mata berdiri di dekat counter. “buonasera signore, ada yang bisa aku bantu?”“ah yes, Americano please.” Ujar pria berjanggut tipis itu. “you can speak English Sir ?” tanya Chris sembari membuat pesanan. “of course, I’m an English man, you know!” Pria itu merapatkan jaket kulitnya yang tebal dan mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya. “here, hope it helps.” Ucap Chris menyuguhkan kopi pesanan pria itu.“why are you working? It’s Christmas eve, you’re so weird!” Chris menahan emosinya. Ia tidak mau merusak malam natal yang damai ini. Ia lebih memilih diam daripada harus beradu mulut dengan pria asing.“I’m just kidding. By the way, you make good coffee kid.” Chris malas. Sungguh malas. Ia tidak tahan dengan pria itu. Ia ingin menutup kedainya segera dan pergi ke tempat tidur.“Rosaria wants to meet you.” Chris menjatuhkan cangkir yang sedang dibersihkannya. Ia terkejut. Ia menghampiri pria itu.“what did you say?” Chris mengepalkan kedua telapak tangannya. Seketika tubuhnya gemetar mendengar nama perempuan itu.Pria berkacamata tersebut menghela nafas panjang. “Rosaria wants to meet you. Rosaria Cianni. I’m her editor. She asked me to come to your place to tell you that.”Chris mencoba menanggapi dengan enteng. Ia tidak mau percaya begitu saja. “Stop joking around Sir. You should go, I want to close this shop. Here’s your bill.”Pria itu menaruh uang di atas meja. “It’s up to you whether you want to come or not. I’m just doing what She asked me to do. The choice is yours.” Lalu Ia mengeluarkan secarik surat, meletakannya di dekat bill dan meninggalkan kedai Chris.Chris menggapai kertas note tersebut. Ia membacanya dengan perlahan. Perlahan- sampai air mata mengalir di pipinya tanpa Ia sadari.***Minggu, 25 Desember pukul 07.00Chris mencoba menghubungi Bianca berulang kali namun ponselnya tetap tidak aktif. Ia ingin Bianca menemaninya untuk menemui Rosaria. Ia tak akan sanggup melihat wanita itu terkulai di kasur seorang diri. Chris gelisah. Ia berjalan bolak-balik sambil menggenggam surat dari Rosaria yang diberikan pria itu kemarin malam. Ia tidak pernah tau bahwa keadaannya akan seburuk ini. Ia sungguh merindukan Rosaria Cianni! Chris membaca ulang surat dari Rosaria;“Chris Vicenzo, itu bukan namamu? Aku mengetahuinya dari internet, kau tidak tau bahwa kau ini cukup terkenal sebagai penjual gelato tertampan? Itu sebabnya aku tidak perlu repot-repot kembali ke kedaimu hanya untuk menanyakan nama pemiliknya. Chris… aku telah membuat draft cerita novelku yang berikutnya. Aku ingin kau bekerjasama dengan editorku Mr. Benjamin (aku tau kau pasti sudah bertemu dengannya). Aku mohon lanjutkan novelku ini Chris. Aku mengerti kau pasti akan menolaknya karena alasan ‘tidak punya pengalaman dalam hal menulis’ tetapi aku mohon kepadamu… cobalah, untukku. Dan saat kau selesai, berikan judul novel ini ‘La Fedeltá’. Satu lagi yang kau perlu tau, aku rasa aku jatuh cinta dengan salah satu penggemarku. Ia adalah yang saat ini sedang membaca surat dariku. Merry Christmas and I hope God always be with thee.”“Hey Chris! Buka pintunya!” Bianca! Chris bergegas membuka pintu kedai. Belum sempat Ia berbicara Bianca langsung menarik pergelangan tangan Chris menuju mobilnya.“kita mau kemana?” tanya Chris heran.“ke rumah sang penulis yang sangat kau kagumi dan cintai.” Chris tak berkata apa pun. Ia benar-benar bingung. Bagaimana bisa Bianca tau rumah Rosaria? Apa mereka memiliki hubungan keluarga? Saudara misalnya?“Chris, kau ingat ketika dulu kita masih duduk di bangku kuliah? Bukankah aku yang memperkenalkan padamu novel pertama karangan Rosaria Cianni yang berjudul ‘Qualcuno’? dan tanda tangan di halaman pertama novel tersebut bukanlah tanda tanganku, tetapi itu adalah tandangan Rosaria. Ia memberikan novel pertamanya yang bahkan belum terbit di toko manapun kepadaku sebagai hadiah ulangtahunku. Ia adalah sepupuku.” Ungkap Bianca.Chris shock. Ia hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Jadi, apa kau juga tau wanita yang datang waktu itu adalah Rosaria?” tangan Chris mengepal kuat. Gemetaran. Ia sungguh marah.“i- itu, aku…” Chris memotong perkataan Bianca. “tidak perlu dijelaskan.” Ujarnya geram.Sepanjang perjalan menuju rumah Rosaria tidak satu pun diantara mereka yang membuka mulutnya. Chris menopang dagu memandang keluar kaca mobil dan Bianca fokus menyetir. Bianca benar-benar merasa bersalah pada pria itu. Ia tidak bermaksud untuk membohonginya. Alasan Ia melakukan hal itu, semua karena ‘Cinta’. Ia tidak ingin kehilangan Chris Vicenzo. Tetapi Bianca sadar, sepertinya cara Ia melindungi Chris dari wanita lain salah. Bianca harap Chris akan mengerti suatu hari nanti. Dan kini, Bianca siap untuk meninggalkan pria yang pernah Ia cintai.“Paman Ben! Di mana Rosaria?!” tanya Bianca dengan intonasi tinggi begitu memasuki tempat tinggal sepupunya bersama Chris.“Bianca, Chris, kalian telat. Orangtua Rosaria baru saja membawanya pergi.” Ucap Benjamin tak tega.Chris jatuh bersimpuh. “kemana? Kemana Rosaria pergi?”Ben menatap Chris nanar. Ia dapat melihat pemuda itu sangat mencintai Rosaria. “Amerika, mengobati penyakitnya.”***“Papa!” pekik seorang anak berumur 6 tahun. Ia lari menuju rangkulan papanya yang sedang beristirahat sambil menikmati gelato.“Grazia!” Pria yang dipanggil papa itu meraih anak perempuan kesayangannya dan menggendongnya.“Grazia, mama bilang jangan lari-lari seperti itu!” omel wanita itu kepada anaknya.“tidak apa. Grazia, kau mau gelato?”“per favore.” Angguk Grazia semangat.Pria itu berjalan ke arah counter pembuatan gelato dan istrinya Rosalie mengikutinya dari belakang. “Chris, aku ingin bicara.” Ucap Rosalie sedikit gugup.Meski sudah 6 tahun bersama, tetapi Rosalie yakin Chris tidak benar-benar berada di dunianya. Chris tidak pernah berbicara panjang lebar, dingin, dan selalu menghindar dari Rosalie. Namun kepada Grazia Ia sangat lembut dan penuh kasih sayang. Tidak, Rosalie tidak cemburu terhadap anaknya sendiri. Ia hanya ingin mengakhiri semuanya. Tidak seharusnya Ia jatuh cinta dengan penulis buku ‘La Fedeltá’ itu.Chris membelai rambut Grazia. “ini sayang gelato-mu. Papa ingin bicara sebentar dengan mama. Kau di sini saja ya?” Grazia tersenyum dan mencium pipi Chris. “sì Papà.”Lalu Chris menghampiri Rosalie yang sedang duduk di luar kedai. Menunggu.“hal apa?” tanya Chris sekenannya.“kita harus mengakhiri ini.” ujar Rosalie tertunduk tak berani menatap mata Chris.Chris duduk di samping kiri Rosalie, memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku coat. “jika itu yang kau inginkan, aku tidak bisa mencegahnya.”Rosalie mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Ia berusaha berbicara walaupun kini suaranya terdengar serak seperti orang sedang menangis. “kenapa Chris? Kenapa kau melakukan ini semua kalau kau tidak mencintaiku? Kau bahkan tidak mau mencoba mempertahankan hubungan kita.”Chris menghela nafas, mengeluarkan gumpalan asap dingin dari mulutnya. “Salah. Kau salah. Kau lah yang tidak mau mencoba mempertahankan. Untuk apa jika hanya aku seorang yang mempertahankan hubungan kita?”Chris memalingkan tatapannya pada Rosalie. Ia mendekap wajah Rosalie dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat. Chris mendekatkan wajahnya ke arah Rosalie, dan mencium bibir wanita itu dengan lembut.“jangan berfikir aku tidak mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Rose. Tolong, bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Aku butuh waktu untuk melupakan Rosaria. Dan aku juga membutuhkanmu serta Grazia untuk tetap berada di sisiku… untuk memberiku kekuatan.” Rosalie tidak mampu menahan air matanya terjun bebas. Ia memeluk Chris dan menangis di pundak suami yang sangat Ia sayangi.“aku akan melakukan yang terbaik Chris, aku akan selalu bersamamu.”“kau melakukan hal yang benar Chris.” Ucap seseorang. Chris seketika melepas dekapannya. Ia tercengang melihat sosok wanita yang sedang berdiri disebrang jalan. Wanita itu seperti… Rosaria! Perlahan Ia mulai melangkah mendekati Chris dan Rosalie. Sampai akhirnya Chris dapat melihat dengan jelas.“Rosaria?” katanya terheran. Kedua mata Chris tak berkedip dan terus memandangi Rosaria yang sesekali tersenyum.“Rosaria?” Rosalie kebingungan. Apa maksud Chris wanita yang berdiri di hadapan mereka berdua saat ini adalah wanita yang sangat dicintai suaminya itu?“kau tidak perlu khawatir, aku kembali ke Italia bukan untuk merebut Chris. Aku hanya rindu akan kenanganku dulu bersamanya. Aku juga sudah menikah, sama seperti kalian.” Rosaria menjelaskan pada Rosalie dengan santai. Ia tidak ingin istri Chris salah paham terhadapnya. Ia memang mencintai Chris, namun, itu dulu.Tiba-tiba Rosalie berdiri dan memeluk Rosaria. “aku akan menjaganya Rosaria. Aku akan membuatnya bahagia.”Rosaria mengendurkan rangkulan Rosalie, sedangkan Chris memperhatikan perbincangan kedua wanita itu. “ya, aku yakin kau pasti bisa.” Rosaria tersenyum, memberi suntikan semangat untuk Rosalie.***Rosalie yakin sepenuhnya dengan Rosaria maupun Chris. Yang dibutuhkan Chris saat ini adalah Rosaria seorang, Chris ingin semua kejadian di masa lalu menjadi jelas. Dan Rosalie mengijinkan itu. Chris meminta izin kepada Rosalie untuk berbicara empat mata dengan Rosaria. Rosalie pun masuk ke dalam kedai dan menemani anaknya yang sedang menikmati gelato. Meskipun dengan sedikit rasa cemas di hati… cemas akan perasaan Chris yang takutnya justru akan semakin kuat kepada Rosaria setelah Ia kembali ke Italia, dan cemas akan Rosaria yang mungkin masih mempunyai rasa terhadap Chris.“mengapa pergi tanpa menungguku?” tanya Chris sambil menatap Rosaria dengan teliti. Wanita itu tidak berubah sedikitpun. Masih dengan gaya rambut yang sama, dan cantik seperti dulu.Rosaria tertawa kecil. “kau masih saja menanyakan hal itu! Aku kembali untuk bertemu denganmu dan menikmati gelato buatanmu yang lezat Chris.”“jawablah… karena hanya jawabanmu yang bisa menenangkan hatiku dan juga sekaligus melepaskanmu, menerima Rosalie sepenuhnya.” Ucap Chris datar. Nadanya begitu serius dan tegas.“karena jika aku bertemu denganmu sebelum pergi ke Amerika, mungkin aku tidak akan mau meninggalkan tempat ini. Aku ingin sembuh Chris. Aku sangat berterimakasih kau telah meneruskan novelku. Tetapi setelah aku memikirkannya berulang kali, aku tidak ingin itu menjadi karya terakhirku. Walau harus menyakitimu dengan kepergianku, aku ingin terus menulis. Aku ingin kau tetap membaca novelku, dan memahami perasaanku yang sebenarnya.” Rosaria mengeluarkan sebuah buku dengan cover berwarna biru berjudul ‘La Fedeltá 2’ dan mengulurkannya kepada Chris. “ini adalah novelku yang akan terbit besok. Cerita ini adalah kelanjutan dari novel yang dulu aku dan engkau buat. Ini juga adalah ungkapan perasaanku kepadamu. Bacalah dan kau akan mengerti Chris.” Jelas Rosaria lalu tersenyum dan beranjak dari sana.Chris membiarkan Rosaria pergi. Ia hanya ingin sendiri… dan membaca buku itu. “…aku berharap tidak akan bangun dari mimpi ini, aku ingin tetap memejamkan mataku dan memeluk kehadiranmu untuk diriku seorang. Namun, aku pikir aku terlalu serakah. Aku tidak seharusnya seperti ini, tetapi hatiku sangat menginginkanmu. Maafkan aku… Kau tidak pantas jatuh cinta padaku, aku hanya wanita berdarah dingin yang tamak akan hal bernama ‘cinta.’ Kesetiaanku telah membuatku buta selama ini… Rasa cintaku telah membelenggumu dalam dimensi lain hingga kau tak mampu merasakan bahwa ada wanita lain yang ditakdirkan untuk bersama denganmu. Aku akan melepaskanmu… Aku akan membiarkanmu membentangkan sayap indahmu, terbang bebas, dan menghirup aroma kehidupan yang sesungguhnya… yang tak pernah dapat ku berikan kepadamu.”THE ENDWritten by Bella Justice@bellajusticee

  • Cerpen Cinta Romantis Take My Heart ~ 14

    Oke deh, berhubung banyak yang minta lanjutannya, maka Admin Selaku orang yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung serta berbakti pada orang tua (Amin). Admin bawain deh lanjutannya. Untuk next gak janji bisa cepet. Soalnya masih harus mengutamakan dunia nyata. ^_^-} Cerpen Cinta Romantis Take my Heart ~ 13“Jadi Vio, Bisa loe jalasin ke kita kenapa loe mau membantu Ivan?”.Pertanyaan Andra sukses menarik perhatian semuanya. Menatapnya penuh Tanya. Sementara yang di tatap justru tidak melepaskan pandangannya dari Vio. Merasa menjadi sorot perhatian Vio melepaskan sendoknya. Melipat kedua tanganya di meja sembari membalas tatapan Andra sambil tersenyum.sebagian

  • Cerpen Romantis: KENANGAN YANG HILANG

    Kenangan Yang HilangCerpen karya Natania Prima NastitiHujan turun saat aku sampai di Bandara Soekarno Hatta. Aku duduk di kursi tunggu, menunggu Papa menjemputku. Sekitar sejam lebih aku menunggu. Aku juga tampak bosan. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan keliling Bandara. Saat akan berdiri, tiba-tiba ada yang memegang pundakku. Aku langsung berbalik badan. Kulihat lelaki seumuran denganku tersenyum ramah kepadaku. “Mbak Vega ya?” tanyanya ramah. Kemudian aku mengangguk menjawab pertanyaan itu. “Saya supirnya Pak Broto, maaf lama menunggu, Jakarta macet, Mbak. Mari saya anter ke mobil” ucapnya lagi. Kemudian lelaki itu berjalan duluan kearah parkiran diikuti denganku.Sesampainya di rumah, Mama dan Papa menyambutku dengan gembira. Bukannya aku tidak senang, tapi kali ini aku benar-benar capek. Perjalanan Amerika-Jakarta cukup membuatku lelah. Duduk berjam-jam membuatku ingin segera berbaring di kamar. Mama dan Papa mengerti dan segera mengantarku ke kamar tidurku dulu. Kemudian mereka segera pergi dan menyuruhku istirahat penuh. Kulihat kamarku ini tidak berubah. Hanya sprainya saja yang berubah warna. Tiba-tiba, aku ingat lagi wajah lelaki yang mengaku supir Papa itu. Umurnya padahal sama denganku, tapi kenapa dia malah bekerja? Apa dia tidak kuliah? Tapi kenapa? Apa dia tidak punya uang?, aku terus bertanya-tanya dalam hati.Tiba-tiba saja aku melihat lelaki itu dari dalam kamar. dia sedang ada di halaman samping rumahku. Tawa lelaki itu… mengingatkanku pada seseorang saat kecil dulu. Tapi siapa? Apa mungkin aku saja yang terlalru berlebihan? Kenapa juga aku melihat lelaki itu? Tidak menarik sama sekali! Ucapku dalam hati. Kemudian aku menutup gorden jendela kamarku dan berbaring di kasurku yang empuk. Tiga bulan lagi aku akan kembali ke Amerika. Hemm, waktu itu terasa sangat singkat. Aku masih kangen sekali dengan Indonesia. Aku pun memejamkan mata dan tidur.Dua bulan berlalu dengan begitu cepat. Aku dan supirku, yang bernama Roni, kini juga semakin dekat. Ternyata Roni ini orang yang sangat asik untuk diajak ngobrol. Dia berilmu pengetahuan yang luas. Bahkan ada yang aku tidak tahu, tapi dia tau. Semakin lama aku mengenalnya, semakin nyaman aku ada disampingnya. Setiap dekat Roni, aku merasa memang sudah kenal dekat dengannya. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa aku jatuh cinta pada supirku sendiri. Tapi aku merasa aku tidak salah menyukainya. Karena aku selalu merasa dekat dengannya dari dulu. Jauh sebelum aku di Amerika. Ada apa ini?Hingga malam itu, Roni pamit pulang kampung karena ibunya sakit keras. Karena bosan di rumah, akhirnya aku meminta orangtuaku mengijinkan aku ikut dengan Roni ke kampungnya. Aku ingin menikmatik pemandangan disana. Karena Roni bilang, di kampungnya masih banyak hamparan sawah. Tadinya Mama tidak mengijinkanku. Dia takut aku kenapa-napa. Tapi, setelah aku bilang Roni akan menjagaku, akhirnya Mama setuju. Aku pun akhirnya ikut Roni ke kampungnya., tapi akSekitar jam lima pagi aku sudah sampai dikampungnya Roni. Baru jam lima saja, banyak penduduk yang sudah beraktifitas. Kebanyakan petani sudah mulai turun ke sawah. Benar sekali. Kampung Roni benar-benar indah pemandangannya. Mataku ini disajikan pemandangan alam yang luar biasa. Tiba-tiba aku teringat, sepertinya dulu aku pernah melihat pemandangan seperti ini. Setelah kupikir-pikir, mungkin itu hanya bayanganku saja.Rumah Roni, sama dengan rumah penduduk lainnya. Tidak kecil dan tidak besar. Saat disuruh menemui ibunya, aku lebih memilih untuk duduk di teras rumahnya. Adik perempuan Roni segera membuatkan minuman untukku.“Mbak ini siapa?” tanya adik Roni itu. “Saya majikannya Roni”jawabku ramah. Adik Roni hanya berOh kemudian masuk ke dalam rumahnya. Roni bilang hanya seminggu kita disini. Sebenarnya, aku ingin sekali berlama-lama disini tapi, itu tidak mungkin. Roni tidak bisa meninggalkan kuliah dan pekerjaannya. Aku juga tidak mungkin meninggalkan Mama dan Papa. Tujuanku kembali ke Indonesia kan bukan untuk ini. tujuanku untuk oragtuaku. Tapi sekarang, aku malah meninggalkan mereka lagi. Tapi tidak apa-apa, walau begitu aku senang berada di kampung Roni ini.Setelah beberapa hari disini, aku jadi semakin akrab dengan Roni. Dia mengajakku bertani, mengambil air di sumur, memeras susu sapi dan lain-lain. Aku juga semakin terbiasa dengan pekerjaan itu. Melihat Roni.. aku kembali melihat masa kecilku yang.. aku juga sebenarnya tidak ingat dengan masa kecilku dulu. Tapi sepertinya, aku sudah tidak asing lagi dengan semua ini. Roni, ibunya, kampung ini, kegiatan-kegiatan ini.. benar-benar tidak asing bagiku. Aku sendiri juga bingung dengan apa yang kurasakan. Apa sebenarnya ini? tanyaku dalam hati.Sekarang adalah hari terakhirku dan Roni ada di kampung ini. malamnya, Roni mengajakku ke suatu tempat. Tempat itu.. juga tidak asing bagiku. Danau dengan berjuta kunang-kunang ini, sangat jarang ditemukan di Jakarta. Malah aku yakin, tidak ada tempat seindah ini di Jakarta. Kemudian Roni membawaku ke sebuah pohon yang besar. Pohonnya terlihat sudah berumur. Disana ada tulisan Roni Dan Vega Forever. Aku terkejut dengan ukiran tulisan itu. Aku tidak pernah mengukir nama itu di pohon. Sama sekali tidak pernah. Tapi, kenapa ada tulisan itu? Namaku dan Roni? Ada apa sebenarnya ini?Kemudian Roni mengajakku duduk di sebuah batu besar. Roni memulai percakapan.“Kamu tau kenapa ada tulisan nama kita di pohon itu?”tanyanya sambil menunjuk kearah pohon besar tadi. Aku hanya menggeleng bingung.“Dulu.. waktu kita kecil, kamu pernah tinggal disini. Pak Broto adalah juragan sawah disini. Sawah yang kamu liat itu.. sebenarnya kebanyakan punya kamu. Saat kamu SMA, kamu dan keluargamu pindah ke Jakarta. Mungkin Pak Broto ingin anak semata wayangnya ini sekolah sebaik mungkin. Makanya dia pndah ke Jakarta” jelas Roni. Aku semakin bingung dengan penjelasan Roni.“Waktu kita SMP, kita ngukir nama kita di pohon itu. Dan di tempat inilah pertama kita bertemu dan berpisah. Aku yakin, aku mikir kampung ini tidak asing lagi bagi kamu kan? Karena kamu pernah ada disini” sambung Roni. Aku hanya menganga kaget mendengar ucapan Roni.“Tapi, kenapa aku nggak bisa nginet masa kecil itu? Kampung ini emang nggak asing lagi bagi aku, tapi aku nggak bisa inget tempat ini, Ron” tanyaku bingung pada Roni. Roni tersenyum padaku.“Waktu kita kelas tiga SMP, sesuatu terjadi sama kamu. Kamu kecelakaan dan dokter bilang, kamu nggak bisa nginget masa yang udah dulu banget. Aku sedih banget, Ga. Karena aku itu kan masa lalu kamu dulu. Apalagi saat aku tau ternyata kamu sekolah di Amerika. Saat itu.. aku bener-bener ngerasa kehilangan kamu. Sampai akhirnya aku ke Jakarta dan kerja di rumah kamu. Disana aku selalu liat foto-foto kecil kamu. Mama kamu juga majang foto saat kita berdua. Kita berpelukan sambil tertawa. Kita bahagia waktu itu” jawab Roni tersenyum bahagia.Aku mulai ngerti dengan semua ini. roni.. pantes saja aku sudah tidak asing lagi dengannya. Ternyata.. dialah teman baikku sejak kecil. Kemudian aku tertawa. Mengingat betapa culunnya pasti aku saat mengukir tulisan di pohon itu. Kita berdua masih belum mengerti sama sekali apa arti tulisan itu.“Setelah pindah, aku juga ngerasa ada yang hilang, Ron. Sampe sekarang pun, aku nggak pernah pacaran sama orang lain. Karena aku belum nemuin cinta aku. Tapi… setelah dekat kamu, ternyata aku nyaman. Dan ternyata.. kamu cinta aku, Ron” ucapku malu-malu. Kemudian Roni memelukku. Pertama aku kaget dengan pelukan itu. Tapi, pelukan itu yang selama ini aku nantikan.Dua bulan lebih, aku berada di Jakarta. Setelah pulang dari kampung, aku menceritakan semuanya pada Mama dan Papa. Mereka berterima kasih pada Roni karena telah mengingat kembali masa yang telah hilang dari ingatanku. Akhirnya mereka bersedia menanggung biaya kuliah Roni dan menyuruh Roni fokus pada kuliahnya saja. Biaya berobat ibuya juga ditanggung denga orangtuaku. Aku dan Roni juga semakin dekat.Hingga akhirnya, aku harus kembali ke Amerika. Sedih hatiku meninggalkan semuanya termasuk Roni. Sahabat baikku dari kecil itu… aku harus meninggalkannya. Tiba-tiba aku merasa separuh hatiku hilang lagi. Meninggalkan Roni.. bukan ini yang ku mau. Tapi apa dayaku? Meninggalkannya memang sudah harus kulakukan. Aku sendiri yang meminta meneruskan study di Amerika.Roni dan kedua orangtuaku mengantar aku sampai Bandara Soekarno Hatta tempat pertama kali aku bertemu Roni dulu. Tangisan sudah pasti menghiasi suasana hari itu. Aku juga memeluk Roni. Aku benar-benar tidak ingin berpisah darinya. Tapi.. yasudahlah.“Nanti kita ketemu lagi kan?” tanyaku pada Roni.“Pasti! Aku janji sama kamu, aku nggak akan khianati cinta kita berdua” jawab Roni sambil membelai rambutku. Kemudian aku memeluk Roni lagi. Maaf Roni, untuk ingatan lupaku padamu dulu, ucapku dalam hati sambil menitikkan air mata.Dua tahun di Amerika, aku jadi benar-benar kangen sama Roni. Kira-kira sedang apa dia disana? Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat padanya. Berharap dia akan cepat membalas surat kangenku ini padanya.Dear My Love,RoniKamu apa kabar disana? Aku harap kamu baik-baik aja ya.Ron, sumpah aku kangen banget sama kamu. Aku harus nunggu dua tahun lagi supaya bisa ketemu kamu, Ron. Kamu belum ingkarin janji kamu kan? Janji yang bilang kamu nggak akan khianati cinta kita. Aku disini akan selalu sabar nunggu waktunya tiba. walaupun, saat awan disini kelabu dan disana terang, aku pasti akan selalu ingat kamu. Dan walaupun tanah yang kita pijak berbeda, kita akan tetap bersama kan?I miss you so Roni. Jaga kedua orangtuaku ya.Love youVegaAnd II want to shareAll my love with youNo one else will do…And your eyesThey tell me how much you careYou will always beMy endless love..Glee-My Endless love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*