THE SILENCER

THE SILENCER
Berbaring… Duduk… Berdiri… Dan berbaring kembali. Hanya itu yang bisa dilakukan Soni di kamarnya. Entah kenapa mendung di pagi itu membuatnya begitu diam, tanpa sedikit katapun terucap dari mulutnya. Sesekali ia memutar beberapa lagu di mp3 playernya untuk sekedar memecah kemuraman pagi itu, namun usaha itu tidak cukup berhasil membuka gembok mulutnya yang terus tertutup rapat. Pikirannya sedang kalut. Hatinya masih mencari pembenaran atas apa yang dia yakini terhadap rasa sayangnya pada beberapa gadis yang ia kenal.
Ia lelah…
Soni kemudian kembali berbaring. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Tatapannya lurus menatap atap kamarnya yang putih. Polos. Dalam kepolosan atapnya itu ia membayangkan sedang melukis sebuah wajah dengan cat hitam. Wajah seorang gadis dengan sedikit lesung pipi. Wajah itu ia kenal dari sebuah pertemuan di salah satu kegiatan kampus. Dia tidak mengelak bahwa wajah itu sangat cantik. Namun kecantikannya hanya sebatas menembus matanya, tidak sampai pada organ penting dalam tubuhnya, hati. Mulutnya nampak seperti sedang menyebutkan sebuah nama, tanpa bersuara.
Kemudian Soni duduk. Matanya kembali mendapati sebuah kanvas polos, tembok kamarnya. Ia ingin mengecat tembok hijau polosnya itu dengan warna kesukaan seorang gadis lain yang tidak kalah cantiknya, warna merah menyala. Tapi ia sadar tidak ada cat warna merah itu di rumahnya. Dia tidak ingin bersengaja keluar rumah hanya untuk membeli sekaleng cat warna merah menyala. Akhirnya dia kembali membayangkan dirinya sedang mengecat tembok kamarnya. Wajah gadis itu begitu jelas terpampang di depan matanya. Alisnya sedikit tebal, matanya sedikit sipit dihiasi bulu mata yang lentik. Hal itu semakin membuat Soni ingin mengecat tembok kamarnya itu dengan puasnya. Tapi anehnya, setiap kali dia menggoreskan koas dengan lumuran cat merah menyala di tembok itu, matanya hanya melihat warna lain, hitam. Mulutnya kembali menyebut sebuah nama, dan tetap tanpa suara.
Nampaknya usahanya menenangkan diri belum begitu berhasil. Soni bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati jendela. Langkahnya tertahan saat dia melihat sekeliling kamarnya. Soni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mendapati semua benda di kamarnya tak ubahnya seperti dirinya, bisu. Dia selalu membandingkan dirinya dengan benda benda itu. Sepertinya kebisuannya pun tak akan pernah berujung. Pembenaran yang dia cari cari masih tetap menemui jalan buntu. Masih tetap melihat warna yang sama, hitam. Apakah hanya warna itu saja yang mampu dia lihat? Kemana warna warna lainnya? Dia merindukan warna putih, hijau, kuning dan warna lainnya. Selama ini warna warna itu hanya terlihat dari kejauhan dan tampak buram. Jauh dan semakin jauh.
Soni kembali melangkah. Pelan dan sedikit dipaksakan…
Matanya mendapati sesuatu di luar sana. Sesuatu yang indah. "Hey, apa itu?" Benaknya bertanya. Melalui jendelanya ia mendapati seorang gadis yang sedang duduk manis di sebuah kursi di beranda rumah gadis itu. Saat ia melihat gadis itu matanya menangkap warna warni dengan begitu jelas. Tidak ada sedikitpun warna yang pudar dalam pandangannya. Gadis itu begitu berwarna dan begitu terang. Satu hal yang tidak dia temui dari gadis-gadis lainnya. Seketika senyum Soni merekah, mengisyaratkannya terbebas dari kemuramannya.
Kebisuannya berakhir. Dengan jelas Soni menyebut sebuah nama yang ia sebut sebut dari tadi…
"Dira…"
Dira memalingkan wajahnya ke arah Soni. Cahaya warna warninya berpendaran menghiasi seluruh tubuhnya. Ia membalas senyuman Soni dengan senyuman yang begitu lepas dan indah. Sesaat dia merasakan sedang berada di suatu tempat yang indah. Suatu tempat dengan langit cerah berhiaskan pelangi memanjang di sekitarnya. Sebidang tanah dengan rumputnya yang hijau bersih. Ia bahkan bisa mendengar suara gemericik air mengalir dari sungai kecil yang tidak jauh dari sana. Airnya begitu segar dan jernih. Begitupun dengan udaranya. Tidak jauh dari sana, Dira sedang berdiri menatap Soni dengan senyumannya.
Sesaat lamanya Soni merasa damai, tenang dan tanpa beban. Tidak ada kekalutan sedikitpun terselip dalam dirinya. Kehadiran sosok Dira dalam bayangannya selama ini selalu membuatnya merasa demikian. Dia tidak akan melupakan Dira, setidaknya untuk saat ini. Bayangannya terpatri kuat dalam hatinya. Semua warna warninya akan tetap terlihat dengan jelas dan terang. Semua kata-katanya akan melekat kuat dalam memorinya.
Dalam bayanganya, Soni memegang tangannya dan meletakkan telapak tangannya di dada Soni.
Kemudian dengan lembut Soni berbisik pada Dira…
"Dira…"
"Semoga engkau selalu tenang di alam sana. Tetaplah sinari hariku dengan warna dan senyummu".
***
(Hasanuddin. Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Semester 1)

Random Posts

  • Your Slideshow Title Slideshow

    Your Slideshow Title Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Your Slideshow Title Slideshow ★ to Indonesia. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"

  • Cerpen Tahun baru 2013 “Love like choklat”

    Ah, Berhubung bosen bikin cerpen berpart – part yang susah mau ngelanjutin. Halangannya banyak banget si. Salah satunya pas lagi punya ide buat nulis, waktu gak ada. Giliran ada waktu, mood nya udah kabur. Hadeeee…. Medingan juga bikin cerpen ide dadakan ala 'otak pas-pasan' Ana Merya. Maksutnya, 'pas' lagi pengen nulis 'pas' idenya muncul. Ghito lho…. Xi xi xi.Oke deh, gimana cerpenya langsung baca aja yuk. Ceritanya cerpen 'Love like choklat' ini cepern spesial nyambut tahun baru 2013 lho. :PPS: Judulnya gak nyambung ya?… Ya suka-suka saia. La wong saia yang bikin #dihajar.N for Mr. Kacamata. Thank for your inspiration n for all you give to me. Ha ha ha.For all : Happy reading ya…..Credit Gambar : Ana MeryaCinta itu seperti coklat.Pahit pahit manis…. ^_^"Huf… Udah mau tahun baru 2013 tapi masih aja belom punya pacar" Gumam Naraya sambil merebahkan kepalanya di atas meja."Loe si kebanyakan milih. Cowok yang nembak dari maren loe tolak mulu" Kata Alda yang duduk disampingya.sebagian

  • Cerpen Cinta Sejati “Dari di Tabrak Gue di Tembak” ~ 01

    One more, cerpen baru lagi guys. Tepatnya cerpen Dari ditabrak gue di tembak yang hanya terdiri dari dua bagian. Tadinya malah cuma mau di bikin satu part aja, eh tahunya malah kepanjangan. So buat yang penasaran, bisa langsung simak ke bawah. Kalau suka, jangan lupa RCL ya biar admin lebih semangat nulis cerita lainnya. Happy reading….Cerpen Cinta SejatiYang namanya jatuh emang nggak bisa di tentuinApalagi kalau jatuhnya itu jatuh cinta.“Kalau yang namanya cowok cakep itu emang harusnya di taksir,” kata Cha cha dengan nada tegas. Merasa kesel juga ia sedari tadi harus berdebat dengan Tinie tentang hal yang sama.Tadi saat keduanya sedang berbelanja di supermarket terdekat tanpa sengaja Tinie menabrak seseorang yang kebetulan lewat di hadapannya. Ralat, maksutnya Tinie di tabrak sama seseorang yang kebetulan lewat dihadapannya. Karena nyatanya orang itu yang jalan tidak melihat lihat karena keasikan memainkan hendphone di tangannya. Bahkan, Ice cream yang kebetulan sedang Tinie makan jatuh mengenai bajunya. Membuat baju kesayangannya terlihat kotor. Namun sayangnya, sebelum mulut Tinie sempat terbuka untuk marah marah, Cha cha sudah terlebih dahulu minta maaf. Bahkan, membiarkan orang itu pergi dengan santainya. Alasannya cukup klise, orang yang menabrak Tinie adalah seorang cowok _yang menurut Cha cha_ cakep.“Tapi nggak harus gitu juga kali, loe nggak liat ni baju gue jadi kotor gini?” balas Tinie masih nggak terima.“Hais,” Cha cha menghentikan langkahnya. Matanya menatap lelah kearah Tinie. “Mau gue yang bayarin buat laundry?”“Nggak usah. Ma kasih,” sahut Tinie ketus sambil menghentakan kaki lebih keras, melangkah mejauh meninggalkan Cha cha yang hanya angkat bahu melihatnya. Sama sekali tidak merasa bersalah pada sahabatnya. Lagi pula apa yang ia katakan itu benar bukan? Baiklah, tidak semuanya benar. Masalah tampang itu bukan segalanya, tapi tetep itu jadi penilaian seseorang yang pertama. Kalau nggak percaya, coba aja ngelamar kerjaan. Pasti yang dilihat pertama penampilan duluan. Baru yang lain menyusul belakangan. Yang ngebantah bisa di pastikan belum pernah ngelamar kerjaan. :D“Cha cha.”Sebuah teriakan bernada cempreng menyadarkan Cha cha dari lamunannya. Dengan gaya slow motion ala iklan shampoo ia berbalik. Matanya sedikit menyipit sebelum kemudian melotot sempurna.“Awaaaaaas!!!”“Brug.”Seiring dengan teriakan itu, tubuh Cha cha mendarat sempurna di aspal bersama dengan sebuah sepeda yang menabraknya. Sakit. Sungguh kali ini ia tidak berbohong. Sekarang ia mengerti kenapa Tinie tadi marah – marah ketika di tabrak, karena kini ia juga merasa hal yang sama kalau tidak ingin di bilang lebih parah dari sebelumnya.“Kelvin..! Gue segede gini kenapa bisa loe tabrak?!” teriak Cha cha sekuat tenaga. Mengabaikan orang – orang di sekeliling yang kini menatapnya. Ada yang terlihat menahan tawa, ada juga yang terlihat iba. Sayangnya tiada yang terlihat bersedia untuk membantunya.“Aduh, sory Cha. Sakit ya?” tanya Kelvin sambil bangkit berdiri. Akibat tabrakan barusan ia memang juga jatuh tersengkur. Dengan segera di hampirinya Cha cha yang masih duduk tak berkutik.“Tentu saja sakit,” balas Cha cha ketus. Berlahan ia mencoba berdiri sebelum kemudian terjatuh lagi. Kakinya terasa berdenyut nyeri. Sekilas ia melihat bekas roda di celana jeansnya.“Sory, gue nggak sengaja,” kata Kelvin sambil mengulurkan tangan. Membantu Cha cha untuk berdiri.“Kaki gue sakit, dan gue nggak bisa jalan. Jadi, buruan gendong gue?” perintah Cha cha yang membuat Kelvin langsung terdiam.“Kenapa? Loe keberatan?” tuduh Cha cha langsung saat tiada reaksi dari Kelvin yang justru malah menatapnya dari kepala hingga kaki."Jangan pernah pernah berpikir kalau gue gendut. Gue udah ikuti program diet, dan sekarang berat gue proporsional" sambung Cha cha lagi.Kali ini Kelvin tertawa, tak mampu menahan rasa geli dihatinya."Gue nggak pernah bilang loe gendut, dan gue juga nggak pernah bilang loe berat. Selain itu, gue juga nggak keberatan kok kalo harus ngendong loe. Justru gue malah mau nanya, yakin loe nggak keberatan gue gendong?" Gantian Cha cha yang terdiam. Matanya sedikit menyipit memperhatikan Kelvin yang juga sedang menatap kearahnya. Tanpa di komando, tangannya langsung terangkat sebelum kemudian mendarat telak di kepala Kelvin membuat rintihan mengaduh keluar dari mulut pria itu."Dasar mesum," teriak Cha cha memaki."Siapa yang mesum. Pikiran loe tuh yang melantur kemana – mana. Gue kan tadi cuma nanya loe keberatan atau nggak gue gendong. Emangnya loe pikir gue mikir apaan?" balas Kelvin terdengar memprotes.Cha cha tidak membalas hanya mulutnya yang mencibir sinis."Ya sudah, ayo naik."Mata bening Cha cha tanpak berkedap kedip memperhatikan antara sepeda yang kini sudah berdiri tegak atau Kelvin yang kini mengisaratkannya untuk naik. Kening gadis itu tampak sedikit berkerut dengan sebelah alisnya yang sedikit terangkat. Pasang pose sedang berfikir."Tenang aja. Kali ini gue jamin nggak akan nabrak. Loe cukup naik, dan biarin gue yang ngedorong. Kaki loe masih sakit kan?" tanya Kelvin seolah mengeri jalan pikiran Cha cha. Dan kali ini Cha cha manut. Selain karena kakinya masih sakit, ia juga tidak mau di gendong pria itu."Loe kenapa si tadi bisa nabrak gue?" tanya Cha cha saat keduanya mulai melangkah pulang."Tadi itu gue lagi belajar bersepeda" sahut Kelvin santai."Heh" Cha cha tak mampu menahan cibiran keluar dari mulutnya. Hari gini masih ada gitu yang belajar sepeda. Emangnya dia anak SD?"Loe juga tiap minggu olahraga keliling kompleks pake speda kan?""Ya?" Cha cha terlihat bingung. Kenapa pembicaraan mereka tiba – tiba berbelok. Kepalanya menoleh tapi Kelvin sama sekali tidak menatapnya. Justru pandangannya terarah kedepan."Kok loe tau?" Cha cha akhirnya memilih bertanya."Gue sering liat kalo loe bareng temen temen loe pas lewat depan rumah."Cha cha kembali terdiam menanti kalimat lanjutannya. Namun mulut Kelvin tetap terbungkam membuat Cha cha berfikir, apa yang barusan itu jawaban kenapa Kelvin menabraknya?.Keesokan harinya, dengan sedikit terpincang – pincang Cha cha melangkah memasuki gerbang kampusnya. Tetap di belokan koridor ia berpapasan dengan Tinie yang langsung menatapnya penuh tanya.“Kaki loe kenapa?” Tinie menyuarakan tanya di hatinya.“Ketabrak,” sahut Cha cha singkat. Tanpa menoleh sama sekali.“Oh ya? Kapan? Kok bisa?” sambung Tinie lagi.“Iya, kemaren. Tentu saja bisa. Ini buktinya.”“Kemaren?” ulang Tinie sambil sambil mengingat – ingat. “Lho, bukannya yang kemaren ketabrak itu gue ya?” sambung gadis itu bergumam lirih.“Itu dia yang gue pikirin sedari tadi. Jangan jangan kemaren setelah loe ketabrak loe nyumpahin gue buat ketabrak juga.”“Ha ha ha” Tinie langsung tertawa mendegar komentar sahabatnya barusan.“Dari pada gue sumpahin loe ketabrak, mending juga gue sumpahin loe jadi orang kaya. Siapa tau entar loe kaya nya ngajak ngajak.”“Heh, lucu sekali,” cibir Cha cha sinis.Tinie hanya tertawa sembari terus melangkah beriringan bersama Cha cha untuk menuju kekelasnya."Cha cha, tunggu dulu."Merasa ada yang memangil, Cha cha menghentikan langkahnya. Namun Tinie lah yang terlebih dahulu berbalik untuk melihat siapa yang memangil sahabatnya. Tampang ngos ngosan Kelvin langsung menyambutnya."Kaki loe masih sakit ya?" tanya Kelvin lagi membuat Tinie mau tak mau mengerutkan kening bingung. Sejak kapan Kelvin perhatian sama Cha cha?"Sory deh, kemaren itu gue emang nggak sengaja," sambung Kelvin lagi karena Cha cha masih terdiam."Kenapa loe yang minta maaf? Emangnya loe yang nabrak dia?" tanya Tinie menyela.Seolah baru sadar ada orang ketiga di antara mereka Kelvin menoleh. Pasang senyum kaku sambil kepalanya mengangguk berlahan."Ha?" Tinie melongo. "Ya ela, Cha cha itu kan cewek. Dari pada loe tabrak masih mending juga kalau loe tembak," cibir Tinie setengah bercanda.Cha cha melotot kesel mendengarnya. Apa apan sahabatnya itu. Punya mulut kok ngomong asal njepak."Tadinya gue maunya juga gitu sih. Tapi gue takut di tolak," gumam Kelvin lirih."Ya?" tanya Cha cha heran."Nggak ada, gue duluan ya. Hati – hati," kata Kelvin sambil segera berlalu meninggalkan kedua sahabat yang kini saling pandang."Barusan dia ngomong apaan si?" tanya Cha cha yang memang sedari tadi berdiri tepat di samping Kelvin."Nggak tau, emangnya dia ngomong?" Tinie balik bertanya."Sudahlah. Lupakan. Kayaknya gue salah denger. Yuks, langsung kekelas aja deh kita," ajak Cha cha menutup pembicaraannya.Sepulang kuliah, masih dengan langkah tertatih tatih Cha cah berjalan pulang. Dalam hati ingin sekali rasanya ia memaki orang yang telah membuatnya menjadi seperti itu."Gue bantuin," seiring dengan kalimat itu, Cha cha menoleh dan baru menyadari kalau tasnya kini sudah berpindah tangan. Kelvin berjalan tepat disisinya."Nggak usah," tolak Cha cha sambil berusah untuk mendapatkan tasnya kembali yang justru malah diangakat oleh Kelvin tinggi – tinggi."Nggak papa kok. Sekalian gue anterin loe pulang. Ayo," sambung Kelvin lagi. Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari Cha cha, ia langsung mengiring gadis itu masuk kedalam mobilnya."Nggak usah heran, anggap aja gue bertanggung jawab untuk yang kemaren," kata Kelvin sambil memasang sabuk pengaman di pingannya."Bertanggung jawab? Emangnya loe hamilin gue?" balas Cha cha setengah bergumam."Loe mau gue hamilin?"Dalam sedetik Cha cha menoleh sebelum pada detik berikutnya."Pletak," sebuah jitakan mendarat di kepala Kelvin. Membuat pria itu mengaduh. Sepertinya ini adalah jitakan kedua yang ia dapatkan karena salah dalam menyimpulkan."Dasar mesum," rutuk Cha cha.Dan belum sempat mulut pria itu terbuka untuk protes, gadis itu sudah terlebih dahulu mengisarakannya untuk segera menyalakan mobil. Berjalan menjauh menuju kerumahnya.Next to Cerpen Dari ditabrak gue di tembak Part EndDetail Cerpen Dari ditabrak gue di tembakJudul : Dari ditabrak gue di tembakPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaFanpage : @lovelystarnightStatus : FinisGenre : Remaja, TeenlitPanjang : 1.419 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Ketika Cinta Harus Memilih End

    Dan pada akhirnya Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Memilih ketemu juga sama yang namanya part ending. Dan setelah ini nggak tau apa yang terjadi selanjutnya karena sepertinya sang admin tidak bisa merdeka lagi dalam hal beronline ria karena admin akan segera kembali kekampung halaman tercinta. Yang jelas, gak bisa internetan disana. Singnal hape aja susah, bbman pending mulu. Kalo gak percaya langsung aja datang ke Bokor – Selatpangaj, Kab. Kepulauan Meranti – Riau – Indonesia. Wkwkwkwkwk….So, sebagai persembahan terakhir selama di pulau batam ini, Part end sebagai penutup. Buat yang penasaran sama ep sebelumnya bisa di cek pada cerpen cinta ketika cinta harus memilih part 15. Selamat membaca…Ketika Cinta Harus MemilihSambil menikmati jus nya sesekali kasih mencuri pandang kearah cinta yang kini ada di hadapnya tampak menikmati makanannya. Saat itu sehabis pulang mereka memang tidak langsung pulang. Kasih sengaja mengajak cinta untuk makan bareng di salah satu kaffe langganan mereka.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*