Tertutup Rapih Dalam Balutan Seragam Kepolisian

Tertutup Rapih Dalam Balutan Seragam Kepolisian
Karya : Abimanyu Putra Pratama
Hari itu sabtu siang di bulan Juni tahun 2009, saya diajak oleh saudara saya untuk membantu persiapan khitanan, ( saudara saya mau sunat saya dijemput dan diajak kesana duluan sedangkang orang tua saya menyusul nanti ). Sabtu siang itu terasa sangat panas hingga menusuk sampai ketulang ( hahahahahah terlalu LEBAY ) setelah 2 jam perjalanan ( maklum jakarta macet, dan saya sudah muntah sampai satu kantong plastik ). Akhirnya kami tiba juga di Jakarta Timur, saya tiba disana pukul 02:00. Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan saya pun memutuskan untuk tidur.
Setelah melepas penak dengan tidur ( memang banyak orang memilih tidur untuk menghilangkan penak ) saya bermain bersama saudara-saudara saya. Setelah puas bermain saya pulang, mandi, sholat, dan nonton tv. Tiba-tiba pas saya sedang asyik nonton spongebob squerpants ( maklum masih anak kecil  ) adzan magrib bun berkumandang. Walaupun sedang asyik nonton spongebob saya pun memutuskan untuk shalat dulu, setelah selesai sholat dan makan. Lalu saya diajak mas Topik untuk mengisi bensin.
NAH DISINILAH CERITA DIMULAI “THE STORY WILL BEGIN”
Jadi ceritanya tuh pas lagi mau isi bensin, ada dua rute. Rute via jalan raya ( banyak polisi ), rute jalan kampung ( banyak polisi tiduran ). kami memilih rute jalan raya, setelah tiba dijalan raya mas Topik mengila PART 1. Dia gaya gaya mau jadi Valentino Rossi, setiap mobil diasalip dan pas saya sedang menengok ke belakang saya melihat motor vega-R mengikuti kami dari gang depan rumah saudara saya. Saya tidak begitu ambil pusing, nah pas kami sedang menyalip mobil avanza tiba-tiba motor RX King bermaksud menyalip mobil tersebut. Mas Topik pun kaget dan motor pun menyerempet mobil avanza, setelah berhasil menyalip mobil avanza kami tiba-tiba dijegat oleh orang yang naik motor vega-R. Dia dateng-dateng langsung nyenter plat nomor, lantas kami pun panik dan memutuskan untuk kabur, setelah berhasil kabur, dan pikir panjang. Kami memutuskan untuk berhenti (bukan karena takut sama polisi tapi karena bensin dah sakaratul maut alias ABIS wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk 😀 )
Akhirnya saya tertangkap / BUSTED, kunci motor langsung diambil kami langsung dimarahin.
“kamu ini naik motor gaya-gaya banget masih kecil aja belagu” bentak pa polisi.
Saya dan mas Topik langsung tertunduk diam alis KICEP ABC. Setelah diceramahin cukup lama akhirnya saya dan mas Topik dibawa ke sebuah pemancingan di daerah Klender. Setelah tiba di pemancingan mas topik disuruh untuk menelpon orang tuanya dan pas saat itu lagi ga bawa hp ( apes banget ), yaaaaaaaaa suuuuuuuudahlah terpaksa dia harus ke wartel, sedangkang saya ditinggal sendirian di pemancingan. Dan pas saat itu entah kenapa saat itu saya ingin sekali menanyakan sesuatu.
“pa, bapak sebenarnya polisi atau bukan? Kalau bapak polisi bapak tolong tunjukan tanda pengenal bapak, dan buka helm bapak.” Ujar saya
Tiba tiba saya tangan polisi itu melayang ke muka saya, dan dia berkata “kamu tuh masih anak kecil diam aja”
Saya melihat kejanggalan karna bapak saya seorang tentara ( jiahhh pamer dulu ahhhh ) jadi saya ya sedikit tau mana yang asli sama yang palsu.
Saya pun terus mendesak setelah cukup lama saya mendesak, akhirnya polisinya jengkel juga kali ya sama saya, dia pun memutuskan pergi untuk membeli rokok and aqua gelas,,,,,,, dia kembali menghampiri saya. Setelah cukup lama akhirnya mas Topik pun kembali, setelah mas Topik kembali
“saya sita motor kalian karena kalian tidak bisa menyerahkan surat-surat motor” kata pa Polisi
Kami pun mengiyakan saja, polisi itu pun langsung membawa motor kami. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu, menghampiri kami,
“Dek,dek kelihatanaya kamu sudah ketipu deh.” Kata si Ibu
“Hah???????, maksud Ibu?” sahut mas Topik
“iya soalnya gelagatnya dan bajunya tidak meyakinkan.” Ujar si Ibu
“Ahhh yang bener Bu.” Kata mas Topik
“Iya soalnya daerah klender banyak sekali POLISI GADUNGAN.” Kata Ibu
“Apa GADUNGAN GADUNGAN GADUNGAN (sengaja diulang biar lebih mantep) sontak saya dan mas Topik
Saya diam, mas Topik diam Ibu pun diam, SULE pun diam. Kami pun PANIK MODE ON setelah mondar mandir sana sini. Akhirnya bapaknya mas topik pun datang. Kami pun langsung bergegas ke kantor polisi di daerah klender, setelah kami tiba di sana kami langsung menanyakan ada tidak Polisi yang bernama Briptu Norman ( maaf saya lupa namanya hehehhehehehehehehe : D ) setelah dicek tenyata tidak ada. APA APA APA APA APA ( sengaja di ulang ) kami pun panik. Tanpa pikir panjang kami pun langsung balik ke TKP untuk mencari motor kami, di tengah perjalanan kami bertemu dengan tukang ojek lalu dia mengatakan bahwa motor bapak ada sama temen saya. Tanpa pikir panjang kami langsung CABUT KALANG KABUT LEKAS PERGI, setelah tiba disana alhamdulilah motor selamat hanya tergores sedikit. Jadi ceritanya tuh setelah kami di tinggal di pemancinga Polisi GADUNGAN itu kabur membawa motor yang bensinya sakaratul maut dan ditengah keasyikan pa polisi itu tiba-tiba bensinya abis NGEK NGOK. Dia pun panik dan langsung pindah ke motor temanya yang ada di sebelahnya tanpa menghentikan motornya ( kata saksi ) sontak motor pun jatuh dan koncinya langsung di bawa kabur.
Setelah tiba di TKP kami pun langsung menghampiri rumah itu, dan ALHAMDULILLAH BANGET YA motor masih ada. Kami pun disuruh untuk menebus motor dan menunjukan STNK, BPKB dan membawa kunci motor.
INI CERITA KU APA CERITA MU 
Yang membuat saya sampai binggung hingga saat ini :
a. Bagaimana cara polisi itu berpindah tempat dari motor yang ia tumpangi ke motor temenya yang sedang melaju kencang???????????
b. Kenapa ada SULE di Cerpen saya
c. Dan masih ada aja Polisi yang mau nyolong motor orang yang bensin abis WKWKWKKWKWKWKWKWKWKW POLISI GADUNGAN

Random Posts

  • Daftar Isi Blog Kumpulan Cerpen

    Daftar isi blog Cerpen ini dibuat untuk lebih memudahkan para pengunjung yang ingin melihat-lihat seluruh cerpen di blog ini dari cerpen yang paling lama sampai cerpen yang paling baru. Silahkan deh lihat dan pilih cerpen-cerpen di bawah ini untuk dibaca.Terima kasih sudah membaca koleksi cerpen di Gen22net ^^ Kalau Anda punya cerpen, silahkan kirim cerpen Anda.

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 09 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih part 9. Oh ya All, admin sendiri juga bingung nih. Perasaan disetiap cerpennya admin selalu memulai dengan cuap cuap, tapi selalu aja setiap adminnya abis ngeposting ada inbox yang nanyain pertanyaan yang jawabannya jelas jelas dikasi tau duluan. Emang cuap cuapnya admin biasanya gak di baca yak? #tepokJidatAh satu lagi, pertanyaan yang sering muncul adalah. Kenapa postingan di sini gak langsung di post sekali lalu aja?. Ya ela, yang logis aja lah. Kalau di posting sekali lalu, Star Night otomatis nggak update lagi donk. Iya kan?Baiklah, berhubung cuap cuapnnya udah kebanyakan kita langsung ke cerpen aja ya. Untuk part sebelumnya bisa di cek disini.Ketika Cinta Harus Memilih“Cinta, loe kan belom jawab pertanyaan gue. Cisa itu siapa?. Kok dia bisa bareng sama Rangga sementara loe sendiri malah naik bus sendirian?” tanya kasih yang masih belum puas dengan jawaban atas pertanyaannya tadi.sebagian

  • Simphoni Cinta Bumi

    Simphoni Cinta BumiOleh:Riani Dian AlmaidaMentari baru aja kasih sinyal buat ke bumi. Tapi aku sudah harus mengenakan seragam smp. Dengan kepangan yang bikin aku agak cupu. Jadi wajah ku yang imut ini gak akan ternikmati oleh setiap para penjantan tangguh diluar sana. Dianter dengan pak min ke sekolah baruku. Hari ini adalah hari pertama aku MOS jadi aku harus berangkat lebih awal. Udara pagi menyapa tubuhku dalam perjalanan. Tas karungku melambai kena terpaan angin. Dan mulai menyibakan rokku yang pendek. Panitia yang gila pangilan kakak, mulai membentakku agar aku lekas masuk ke dalam sekolah itu. Aku mulai berlari. Tapi apa mau dikata aku emang udah telat koq. Disebelahku ada anak dengan rambut yang bikin bu lita menyukur habis rambutnya. Dengan santai dia mengisap amunisinya. Dia mulai melirikku. Dia menawariku amunisinya. Dengan otomatis aku menolaknya. Dia mulai kembali santai dengan amunisinya. Dan gak butuh waktu lama buat masukin dia dalam daftar orang terlarang buat aku deketin. “Monyet…!!!” panggil kak aflahal. Aku tau dia manggil pake nama papan. Dan aku mau liat siapa yang bakalan dikerjain abis-abisan ama kakak yang galak ini. Tapi kenapa semua pada ngeliatin aku yah? Dude sial sekali ternyata itu namaku sendiri.Dengan males aku berjalan kearah kak al. “kamu sebutin nama lengkap kamu?” ucap kak al. Aku meliriknya buat mastiin apa yang tadi dia tanyain. Dia bbalik menatapku. “ak..aku Karaya Dion AM.” Ucapku lancar. Huft…untung deh Cuma pertanyaan kaya gitu doang. “AM nya apa tuh?” Tanya kak diya panitia yang paling galak menurut temen-temen baruku. Ada sahutan lain dari jaman es di sudut lapangan. “anak monyet kali kak!” sahut cowo jelek dan dekil itu. Aku Cuma bisa diem aja. Buliran air mataku mungkin sudah sampai pos penjagaanku. Aku beranikan diri menjawab ocehan yang sama sekali tidak ada gunanya. “bu…bukan tapi alisya maharani kak.” Jawabku lancar. Alhamdullilah yah akhirnya lega juga. “emang kamu pikir kamu siapa seenaknya ngomong hah?” Tanya kang lucky kepada cowo tadi. Dan dalam sedetik pula aku mendengar tamparan kerasyang mendarat ke pipi cowo tadi. Cowo itu Cuma tenang dan diem aja. Mengelus pipinya yang kuning bersih tanpa jerawat. Dan dalam persekian detik aku menyaksikan tragedy berdarah saat itu juga. Aku hanya diam gak mampu buat melerai mereka berdua. Kakak yang ada disitu membawaku. Aku gak tau apa yang bakalan terjadi ama cowo itu.Setelah kejadian kemarin rasanya aku ingin sampai ke sekolah. Aku ingin tau cowo itu baik-baik aja atau gak. Meski burung hantu belum tidur aku udah mulai prepare. Ku turuni tangga kulihat ayah sibuk menyiapkan makananku. Setelah bunda meninggal ayah yang ngurusin semua yang aku butuhkan meski dia sibuk dengan pekerjaannya. Cepat-cepat aku lahap nasi goreng buatan mbok min. Ayah menatapku dengan kening mengkerut seperti buah persik menurut bunda. “kamu ayah anterin yah sayang?” Tanya ayah. Aku mengganguk otomatis. Ayah dan aku selalu bercerita karena kami tau gak ada waktu untuk sekedar berdua liburan. Setelah menjemput Debbie, kita semua ke sekolah. Disana ada kakak panitia yang sibuk nyiapin peserta MOP. Teman-teman ku yang lain sudah pada datang tapi hanya cowo itu yang aku cari. Batang jidatnya aja gak keliatan apalagi idungnya. Aku mulai mengikuti acara-acara MOS. Siangnya cowo itu juga belum ada. Aku juga udah Tanya ke kak al tapi tuh cowo botak binti nyebelin malah nyuruh aku ke lapangan yang katanya mau ada promo exskul atau apa lah. Aku, Debbie, dan ima lagi ngeliatin promo exskul gitu. Pas pencinta alam, aku ngeliat sosok yang aku cari. Ima dan Debbie menoleh padaku. “nah sekarang kita akan melakukan revling.” Ucap kak dilfi yang katanya ketua gitu. “yang akan melakukan revling adalah kak bumi.” Ucapnya lagi. Damn kena bom kaya tempat dudukku. Dude ternyata dia bukan satu kelas ama aku tapi dia itu kakak kelas aku. Kayanya mau deh masukin muka ke plastic. Huhuuu….malu kali aku ini.Bumi tersenyum samar. Dengan cekatan dia melakukan revling. Tapi aku gak peduli ama tuh cowo. Dengan muka merah merona karena malu aku berjalan lesu. Masuk ke dalem ruangan ngambil baju pramuka. Dengan gontai aku ikuti langkah kaki ima dan Debbie ke mushola buat ganti baju. Setelah ganti baju, aku bengong di teras mushola. Disemak deket mushola ada suara gemerisik. Lamunan ku hilang dalam sekejap. Aku mulai melangkah kea rah semak siapa tau ada negri dongeng di baliknya. Tapi yang aku liat Cuma cowo nyebelin tadi yang lagi ngisep amunisinya. Dia melirik ke arahku. Tapi sikapnya langsung berubah gak peduli lagi. Aku duduk disebelahnya. Aku mengamatinya dengan seksama. Dan dalam tempo sesingkat-singkatnya dia balik menatapku. “gue boleh minta amunisi lo gak? Gue pengen tau rasanya ngisep amunisi itu kaya gimana.” Sindirku. Dia menatap ku lagi. “kalo mau nyoba jangan di deket gue. Amunisi bokap lo aja ambil.” Ucapnya dengan perlahan beranjak dari tempatnya. Aku mengikutinya dengan pandangan. Dia menoleh kembali. “thanks yah udah khawatir ama gue dion.” Ucpanya datar. Dia melangkah jauh dan aku Cuma bisa liat punggungnya. Acara pramuka di mulai. Dari mulai permainan sandi, ampe acara seni yang diisi ama anak baru atau panitia.Selama acara berlangsung aku Coba buat ngelupain tuh cowo nyebelin. Debbie dan ima lagi sibuk ngeliat kak indra yang ganteng (menurut cewe yang laennya loh). Ada sosok yang mendekat ke kami. Dari reaksinya Debbie pasti yang dateng kak indra. Yups… benerkan kak indra mendekat. “dion yah? Boleh minta tolong ga?” Tanya kak indra. Aku melirik Debbie yang udah mau ngeces gitu. “minta tolong apa kak?” Tanyaku polos. “kasihin kue ini ke bumi yah. Dia lagi ulangtahun hari ini.” Ucapnya. Aku langsung minta pendapat ke Debbie dan bingungnya dia langsung mengganggukan kepalanya. “yah kak.” Jawabku sambil menerima kue yang mungil banget. Kayanya enak deh kuenya. Tiba-tiba aku denger suara petikan gitar dan suara indah dari cowo nyebelin itu. “ Tercipta Untukmu” nya ungu jadi lebih indah ditelingku. Tiba-tiba ada tangan yang kokoh mengulur di depan wajahku, aku mengapainya dan berdiri disebelah cowo yang nyebelin ini.“jangan terlalu percaya ama orang lain itu pasal pertama” bisiknya di telingku. Dan sejujurnya aku gak ngerti.“maksudnya?” Tanyaku. “gue ga ultah hari ini !” Jawab Bumi.“hah…” kataku kaget. Emang yah kalo cewe cantik itu jadi pusat perhatian tapi ga dikerjain juga kali pikirku.Tapi aku lebih kaget lagi cowo nyebelin ini malah ngasih aku kalung dari stik gitar. Dan mampu membuat anak-anak baru dan panitia bersorak ria melihat kemesraan gratis. Dan aku langsung dapat menyimpulkan bahwa dia bukan Cuma nyebelin tapi gila juga.Aku langsung kembali duduk setelah lagunya selesai. Malam makin larut dan kami langsung diwajibin buat tidur. Pas mau ke kamar mandi ditemenin ama ima juga Debbie. Aku ngeliat bumi berdiri di deket pintu. “buat lo.” Sambil ngasihin kue yang tadi. Dengan bengong aku menerimanya. Dia pergi ninggalin aku dan yang laennya. Diruangan aku mikirin sambil megang kalungnya. Dan ternyata mikirin dia bikin kantuk itu nyerang mataku. Paginya aku pulang dengan dijemput ama ayah. Huft…sambil baca buku aku mikirin bumi. Cowo aneh itu keren sih. Dan untungnya ayah ngajak aku pergi jalan-jalan dari pada bengong pentingan jalan-jalan kan.Sudah seminggu lebih aku sekolah. Tapi selama seminggu juga aku gak ngeliat cowo aneh itu. Aku menatap kalung dari bumi. Detik kemudian bel sekolah bunyi. Hari ini belajar udah efektif. Dan sekarang pelajaran seni music bu mitha ngajarin kita nyanyi gitu. Minggu kemaren udah di ajarin nyanyi ama bu mitha orangnya baik banget. Kami semua nunggu kedatengannya. Langkah sepatunya sampai ke depan kelas. Bu mitha dengan tenang masuk ke kelasku yang rame banget. Tapi dibelakangnya ada cowo tinggi yang aku kenal. Oh my god kak bumi koq ikut sih. Mulai saat ini aku mulai biasain diri buat manggil dia kakak. Meski nyebelin banget. Bumi dengan mukanya yang putih mulus bersih. Muncul di hadapanku. Tepatnya di hadapan kami. “maaf yah anak-anak hari ini ibu gak bisa ngajar dulu. Tapi kalian tenang aja ada kak bumi yang bakalan ngantiin ibu hari ini.” Dan selama pelajaran berlangsung perasaanku jadi berubah. Kagum,keren dan takjub jadi satu tentang dia. Dua minggu telah berlalu setelah kejadian bumi ngajar nyanyi di kelasku. Hari ini anak Pencinta alam mau ngadain pengenalan alam. Nah ima ngajak aku ama Debbie buat ikutan. Males sih udah ada cowo nyebelin itu. Dan aku juga denger kalo ima ama dia udah jadian gitu. Emang sih aku gak tau itu bener apa gak. Tapi akhirnya aku ikut aja. Pengen tau alam itu kaya mana. Seminggu kemudian Mereka semua siap-siap buat berangkat. Make truck yang agak kecil. Kita menuju ke Padarincang, disebuah curug. Aku, Debbie dan Ima berdiri dideket badan truck. Debbie dan Ima emang bisa liat pemandangan, tapi aku agak susah buat liat pemandangan karena aku lebih pendek daripada Ima yang tinggi dan langsing. Atau Debbie yang agak tambun tapi tetep tinggi. Sedangkan aku lebih pendek dan lebih kecil dari mereka. Ada sesuatu yang memohok kakinya. aku menoleh kebelakang. Siapa sih yang memohok kaki gue? Demen amat ama kaki gue. Ternyata Bumi berdiri dibelakangku. “dah lo naik ke kaki gue. Daripada jinjit gitu.” Ucap Bumi. “ga makasih.” Jawabku ketus. Turun gengsi dong harus berantem ama temen barunya Cuma gara-gara cowo gak banget. “dah lo naik ke kakinya Bumi aja. Makanya jangan kebanyakan minum susu jadi pendek kan.” Sahut Ima diikuti cekikikan dari Debbie dan Ima. Awas yah pulang ini gue cundacuki tar lo berdua. Dengan perlahan aku naik ke kaki Bumi. Aku bisa liat pemandangan dengan cara itu. Tapi aku juga bisa mencium wangi yang cowo banget dari badannya Bumi. Malahan aku dapet yang plus-plusnya. Yup bisa kelindung dengan pundak Bumi yang bidang banget. Suasana tambah jadi lebih indah dengan sunset didepan mata kami. Coba aja Bumi gak jadian ama Ima gue pasti dah deketin. Pikirku konyol. Hari udah agak lewat maghrib. Aku baru turun dari kaki Bumi. Aku menghadap kebelakang dan dapat menatap dada Bumi yang kayanya kuat banget. “hmm…sorri lo pasti cape. Lo mau duduk.?” Tanyaku sambil mempersilahkan Bumi duduk disamping Ima. Tanpa jawaban Bumi udah duduk dideket Ima. Dan dengan hati-hati aku juga duduk dideket Bumi. Aku bisa liat Bumi memegang tangan Ima. Aduh…bikin hati hancur lagi. Kayanya sekarang lagunya olga yang “hancur hatiku” udah bergema ditelinga ini. Aku hanya menunduk. Ampe tidur. Dan gak sadar kepalanya udah nyender dipundak Bumi. Bumi hanya membenarkan kepalaku pada pundaknya. Kak Dilfi berjalan mendekati Bumi dan memberikan Bumi minuman mineral. Kak Dilfi cuma senyum dan menyentuh tangan Ima dan Ima dengan gerakan cepat membuka mata, Ima cuma senyum canda pas ke bumi. Truck berhenti pas bedug isya baru aja selesai. Aku terbangun dan menatap Bumi malu-malu saat mengetahui posisinya. Bumi mengajakku turun. Kak dilfi bikin barisan karena kita udah pada mau berangkat. Aku berdiri di tengah antara ima dan Debbie. Beberapa kali Bumi lewat disampingku. Tapi aku BT ama Bumi. Tadi aja dia manis sekarang dia emang manis tapi malah ngisep amunisinya tanpa dosa dihadapan wajah manisku ini. Aku mulai ada niat buat istirahat meski aku tau kalo Debbie ama Ima udah jauh. Aku mulai ngincer batu yang ada dihadapanku.Aku mulai jalan buru-buru tapi untung tak dapatku raih. Kakiku nyandung batu aku mulai semponyongan badanku oleng kearah jurang dan mulai menggelinding. Bumi yang melihatnya langsung turun ke jurang pake modal nekat. Bumi gak bisa jaga keseimbangannya badannya juga oleng, Bumi tergelincir dan mulai menggelinding kearah sungai. Dipinggir sungai kepala Bumi kebentur ama batu. Bumi ampe gak sadarkan diri. Sedangkan aku mulai ngerasain perutku penuh air. Dan untungnya ada batu besar yang menahanku. Tapi aku udah gak sadar. Bumi mulai sadar dari pingsannya. Bumi memegang kepalanya ada sedikit darah yang mengucur, tapi darahnya udah beku karena hawa dingin yang ada. Bumi mulai menyisiri sungai. Meski jalannya tertatih-tatih Bumi tetep nekat buat nyari aku. Bumi menginjak sarung tangan yang dipake aku tadi. Bumi langsung mencariku disekitarnya. Bumi langsung kaget pas liat aku ngambang diantara batu sungai yang gede banget. Bumi langsung nyebur dan jalan didalam sungai buat nyampe dibatu. Ampe akhirnya Bumi nyampe ke batu itu. Tangannya mengenggam erat tanganku.“Dion bangun…bangun ion….” Ucap Bumi berusaha menyadarkanku dari pingsan. “buka mata lo ion…bangun please…bangun ion.” Ucapnya lagi. Ampe akhirnya aku mulai membuka mataku pelan-pelan. Aku menatap Bumi dengan tatapan yang haru. Bumi menggendongku ke pinggir sungai. Aku Cuma bisa pasrah saat Bumi menggendong tubuhku yang mungil. Bumi menyiapkan api untukku dan dia. Bumi gak ngijinin aku buat bantuin dia. Aku menatapnya. “kenapa?” Tanyanya singkat. Aku hanya menggeleng otomatis.“makasih yah udah nolongin gue” ucapku padanya. Dia hanya mengangguk pelan. “kalungnya masih lo pake kan?” Tanyanya spontan. Aku langsung meraba leherku dan aku baru tau kalo kalung itu udah gak ada di tempatnya. Aku memandang sedih bumi. Bumi senyum. Senumnya keren banget.“udah gak papa tar gue bikini lagi” ucapnya macho. “gak…gak usah gue takut ima tar marah” jawabku tanpa pikir panjang. “kenapa adik gue kudu marah?” tanyanya. Oh my god ternyata ima bukan pacarnya. “bukan pacar lo yah.?” Tanyaku. Dia menggeleng dengan senyuman. Siang makin beranjak bumi mengendongku sampai ke pasar. Aduh dapet bagian lagi deh. “lo tau gak kenapa gue selalu seneng di alam?” tanyanya. Aku menggeleng. “karena alam selalu ngajarin music yang indah setiap ketemu gue.” Jawabnya. “emang bumi bisa nyanyi?” tanyaku polos. “bumi yang mana? Kalo gue mah kayanya bisa tapi lebih hebat nyanyiannya bumi alam.” jawabnya. Gak kerasa aku makin memeluknya dengan erat. Udah nyampe dipasar kita nyari mobil tumpangan. Untungnya kita dapet mobil nyampe ke cilegon. Aku duduk disebelah bumi. Lama-lama ngantuk juga. Ada tangan yang menyentuh badanku. Aku memang panas tinggi dan saat itu juga bumi bawa aku ke rumah sakit. Dia juga gak lupa buat ngasih info ke ayah ama pak andrian tentang keadaan kami. Ayah khawatir banget.Mentari menyapa bumi. Memberi kehangatan pada kami. Aku mulai membuka mata. Kulihat bumi terlelap disampingku. Aku menyentuh tangannya. Dia terbangun. Dia menatapku dengan rasa syukur. “cepet sembuh yah.” Ucapnya. Aku langsung menggeleng. Tubuhku bergetar karena satu rasa yang hangat. “gak mau.” Ucapku dengan senyuman penuh arti. “koq gitu?” tanyanya gak ngerti. “aku baru mau sembuh kalo kamu mau jadiin aku nada dalam simphoni nya bumi.” Bumi tersenyum tenang dan tangannya menyentuh keningku.Dengarkan setiap nada dari alamDan saat itu juga manusia Tau cara menyayangi alam.Jangan lagi rusak alam kami.Penulis : Riani Dian AlmaidaAlamat : Jln Ir sutami No. 02 Kec. Citangkil, Cilegon, Banten.Tanggal Lahir : Serang,14 juni 1995No.Tlp : 087808339649Email : dianayi@rocketmail.comStatus : PelajarSekolah : SMKN 1 CilegonHobi : Baca buku cerita apa aja,traveling, makan dan dengerin music pastinya.Cita-cita : Masuk sekolah Perfilman dan jadi penulis naskah sekaligus sutradara hebat amin

  • Cerpen Cinta | Rasa yang Tertinggal ~ 04 / 05

    Nah, satu part lagi sebelum cerpen cinta rasa yang tertinggal ini ending ya. Masih kisah seputar cinta terpendam Tifany. So buat yang penasaran sama kelanjutan kisah mereka bedua bisa langsung simak kebawah. Dan untuk yang baru mau baca, bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya biar nyambung yang bisa langsung klik disini.Rasa Yang Tertinggal“ DOOORR!!!”.Alan kaget mendengar teriakan barusan. Kaget yang benar benar kaget, karena kebetulan selain sedang melamun ia juga tidak menduga kalau orang yang sedang di lamunkan akan menyapanya. Tidak, setelah melihat sikap anehnya tadi malam. "Ehem, gue boleh duduk disini kan?" tanya Tifany sambil tersenyum kiku. Apalagi ketika melihat tatapan Alan yang hanya diam menatapnya. Mencoba untuk bersikap santai, gadis itu segera duduk di sampingnya. Pandanganya lurus kedepan. Memperhatikan jalanan depan kampus yang tampak sedang rame ramenya. “Oh ya, soal sikap gue tadi malam. Sorry ya," kata Tifany nyaris bergumam. Matanya masih menatap lurus kedepan walau ia yakin Alan pasti sedang menatapnya heran. Sama seperti reaksi Septia tadi pagi saat ia mengucapkan maaf padanya."Loe kok diem aja? Marah ya?" jengah karena merasa sedari tadi ia seperti sedang ngomong sendirian, Tifany menoleh kearah Alan. Pria itu tidak langsung menjawab. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Tifany sama sekali tidak bisa menebak."Gue nggak marah," akhirnya Alan buka mulut setelah beberapa saat kemudian. "Cuma jujur gue merasa heran. Loe nggak biasanya gitu. Loe emangya kenapa? Ada masalah?" sambung Alan hati – hati.Tifany tersenyum sembari angkat bahu. Kepalanya kembali menatap kearah jalan sembari mulutnya bergumam santai. "Sedikit, ceritanya tadi malam itu gue lagi patah hati.""Patah hati?" ulang Alan terkejut. Tifany membalas dengan anggukan.Kali ini Alan tidak tau harus berkomentar apa. Matanya masih tertuju kearah wajah gadis yang duduk tepat di sampingnya. Berharap bisa mendengar cerita lebih banyak. Terus terang, saat ini ia benar benar kaget."Kemaren gue baru tau, kalau orang yang selama ini gue suka, ternyata diam – diam sudah punya pacar dan menjalin hubungan dengan cewek lain.” terang Tifany masih tanpa menoleh. Pandangannya urus kedepan. Menatap kendaraan yang terus berlalu lalang. Seolah – olah hal itu sangat menarik untuknya.Alan masih terdiam. Ia menatap miris gadis di sampingnya. Tatapannya kosong. Tapi Alan dapat melihat matanya yang berkaca –kaca. Sungguh, Alan tau bagaimana perih luka yang di rasakan Tifany. Bahkan ia berani bersumpah demi apapun, saat ini ia tau dengan pasti bagaimana sakitnya. Saat orang yang dicintai ternyata mencintai orang lain.“Dia siapa? Kenapa loe nggak pernah cerita sama gue?” tanya Alan lirih yang lebih mirip jika di sebut gumaman.“He he," Tifany tertawa sumbang. "Gimana gue bisa cerita kalau sebelum gue cerita loe pasti udah nyerocos duluan soal Septia,” protes Tifany setengah bercanda tapi hal itu justru membuat Alan merasa lebih bersalah. Diam – diam di masukannya kembali sebuah kotak kecil yang sedari tadi ada ditangannya kedalam saku. Kemudian tangannya beralih mengengam tangan Tifany. Erat, Sangat Erat.“Fan, gue…"“Udahlah, loe tenang aja. Gue udah baikan kok. Lagian septia itu kan sahabat gue juga. Anaknya baik lagi. Gue bisa jamin loe nggak akan menyesal kalau bisa jadian sama dia,” potong Tifany yang lagi – lagi membuat Alan terdiam. Gadis itu menatap sahabatnya sambil tersenyum. Tapi gue yang pasti akan merasa menyesal karena udah kehilangan loe Al," sambungnya dalam hati.“Oh ya Al. Gue boleh nanya sesuatu sama loe nggak? Tapi loe harus jawab dengan jujur ya?" Tifany kembali buka mulut setelah lama keduanya terdiam hanyut dalam pikiran masing – masing.“Apa?" Untuk Sejenak Tifany menarik nafas dalam – dalam sembelum kata – kata itu meluncur mulus dari mulutnya.“Antara cinta dan sahabat. Loe pilih mana? Sahabat loe, atau orang yang loe cintai?”"Loe apa banget sih," Alan merasa terusik dengan pertanyaan itu. "Yee, gue kan cuma nanya," Tifany memajukan mulutnya kesel. "Lagian loe kan tinggal jawab apa susahnya coba. Loe tinggal pilih cinta atau sahabat?” "Tapi kenapa gue harus memilih?" Alan masih terlihat diak nyaman."Ya gue bilang kan ' Seandainya'. Udah, loe jawab aja. Buruan!"Lama Alan terdiam. Mungkin ia sedang memikirkan jawaban yang harus ia berikan. Setelah menghela nafas untuk sejenak, mulutnya menjawab dengan tegas. "“Gue akan memilih orang yang gue cintai."Lagi – lagi Tifany tersenyum. Senyum yang tak jelas apa maknanya. "Gue boleh tau alasannya?"“Gue punya dua alasan. Pertama, karena menurut gue seorang sahabat tidak mungkin akan meminta gue untuk memilih. Bahkan gue yakin tanpa diminta pun dia akan mendukung gue untuk mendapatkan orang yang gue cintai," balas Alan sambil membalas tatapan Tifany yang masih terkunci untuknya. Lagi – lagi Tifany tersenyum. Kepalanya perlahan mengangguk paham. Alan benar, seorang sahabat tidak punya hak untuk memintanya memilih. Ia merasa sangat konyol karena sebelumnya berharap Alan akan memberikan jawaban yang berlawanan. Namun begitu, tak urung dadanya kembali sesak. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan kehadapan.“Dan yang kedua…"Alan tidak sempat menyelesaikan ucapanya karean Tifany sudah terlebih dulu bangkit berdiri. Bahkan gadis itu langsung berteriak sembari berlari."Septia, awas!"Masih tidak mengerti, Alan mengalihkan pandangannya. Sosok yang sedari tadi duduk disampingnya kini berlari dengan cepat meninggalkannya. Untuk sejenak, Alan terpaku. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat mengetahui alasan Tifany melakukan hal itu. Tak jauh di depannya tampak Septia yang dengan santai menyeberang jalan dengan headset yang terpasang di telinga tanpa menyadari dari arah kanan tampak sebuah bus yang melaju dengan kencangnya."Brank!"Suara tabrakan disusul dengan suara teriakan orang orang di sekeliling segera terdengar. Sementara Alan malah terpaku. Ia tahu harusnya ia segera berlari untuk membantu, tapi sayang tubuhnya kini justru diam tak bergerak. Tatapannya kosong ketika dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan gadis yang di cintainya kini terbaring setelah sebelumnya terlempar jatuh dengan bersimpuh darah. Seorang gadis yang sangat ia cintai. Dan demi Tuhan, kali ini Alan benar – benar merasakan dunianya telah gelap.Next to last part cerpen cinta rasa yang tertinggal.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 04 Of 05Jumlah kata : 882 WordsGenre : Remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*