Terlukaku Karena Nama Indah itu

Terlukaku Karena Nama Indah itu
Sebuah nama indah yang kukenal, dan pernah menjadi orang yang paling aku sayang. Hidupnya yang terlihat damai, dan tak pernah memunculkan pertanyaan sedih dalam menjalani hari dengan keluarganya. Meskipun dia memiliki salah satu saudara laki-laki pertamanya yang telah meninggal dunia sehari sebelum lebaran. Begitu mengejutkan, tapi dia lebih terpukul ketika dia memiliki seorang adik laki-laki yang meninggal dunia ketika berumur kurang dari 8 hari. Hingga dia menjerit meminta tuk menggalikan kubur adiknya dan menghidupkannya kembali. Bahkan dia terlihat begitu sedih saat dia menceritakan apa yang dia rasakan ketika itu. Tapi dia masih tetap tegar, karena itu adalah keinginan Sang Pencipta.
Dirinya yang kukenal ketika bersamanya adalah seorang manusia apa adanya, penuh kasih, tak pernah menyiksa meskipun menjaili, bukan orang yang pelit dengan segala apa pun yang dia miliki, bahkan dia rela memberika benda yang paling dia sayang kepada orang lain meskipun itu satu-satunya. Dan kekurangannya pun tak pernah membuatku menyesal tuk bisa sedekat itu denganya. Aku tak punya alasan lain, selain ketulusan hati yang kumiliki.
Banyak yang ku tau tentangnya, selain tanggal lahirnya. Dia menyukai warna merah, dia menyukai coca-cola di campur es batu, dia menyukai pop ice coklat, dia menyukai naruto, Sate, potato freeze, tak menyukai pedas, ayam kentucky, milo dingin, kacang koro, mayasi dan banyak lagi. Dia bukanlah orang yang sombong dengan semua yang dia miliki. Orang pertama yang kukenal tak pernah memamerkan dengan apa yang dia miliki.
Ehmmm, mari aku ceritakan sedikit masa laluku waktu bersamanya dulu..hhehe, langsung saja ya.. Ketika aku masih kelas 1 SD, aku sakit parah dan harus di opname selama 2 hari. Dan ternyata aku sebelahan dengannya di puskesmas itu. Rupanya dia pun di opname selama 5 hari, karena dia sering m,akan mie mentah dan milo mentah. Hingga akhirnya ususnya sakit dan dia di inap. Karena ruang inap kami sebelahan, biasanya kami saling kunjung dan cerita bareng, hhehehe. Jadi, meskipun di inap di puskesmas tetap saja seru karena barengan.
Guru di sekolahku sudah tak asing lagi dengan kedekatan kami, bahkan kepala sekolah. Itulah sebabnya kami sering duduk sebangku dan kalau ulangan nggak pernah duduk jauhan. Apalagi kalau kerja kelompok, kami nggak pernah di pisahkan.
Suatu hari aku bertemu dengannya di sekolah, seperti biasa kami bercanda bersama. Waktu itu kami kelas 6 SD belajar pelajaran IPA mengenai “Tata Surya”. Dan kami diwajibkan untuk mengahapalkan nama-nama planet sesuai dengan urutannya. Begitu sulit terlaksana, lalu kami pun bernyanyi untuk sejenak menghilangkan kejenuhan dari tugas ini. Kami bernyanyi bersama lagu Samsons “Kenangan Terindah”.

“Aku yang lemah tanpamu,
aku yang rentan karena cinta yang tlah hilang darimu
yang mampu menyanjungku.
Selama mata terbuka,
sampai jantung tak berdetak,
selama itu pun aku mampu mengenagmu.
Darimu kutemukan hidupku
Bagiku kaulah cinta sejati.
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupmu
Yang tlah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah”

Dari lagu itu pula kami mendapat inspirasi untuk menghapalkan nama-nama planet tersebut untuk memudahkan. Sangat asik dan kami menjadi mudah menghapalkannya. Lalu kami bernyanyi bersama penuh senyum, tertawa dan teriak bersama karena mampu menghapalkan itu. Dan lagu itu berubah lirik menjadi…..
“Bila merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus pluto……..”
Hahaha, lucu tapi indah. Belajar sambil bernyanyi, sungguh tak pernah membosankan. Apalagi jika rame-rame bareng mereka. Letih belajar tak kan pernah terasa.
Tak hanya itu saja, suatu hari kami pun seperti biasa bermain bersama disekolah. Jam istirahat kami lalui dengan makan bersama di dalam kelas, dan ngakak bareng yang lain. Setelah lonceng masuk bebunyi, seperti biasa kami pun bebaris. Karena dia yang begitu jail dan aku yang tak bisa diam, sekalipun bebaris kami selalu saja bercanda dan saling menjaili teman. Waktu itu dia mendorongku, aku pun terjatuh. Wajahku memerah seperti kepiting rebus saja. Semua teman-teman memperhatikan kami. Bagaimana tidak??? kami terjatuhnya bersama, karena dia terinjak kakiku. Parahnya lagi dia jatuh diatas badanku. Untungnya dia segara bangun dan berdiri. Meskipun sejenak kami terdiam saling bertatap mata kebingungan. Tawa dari teman-teman membuat kami berdua segera berdiri dan kembali ngakak bareng. Itu waktu kelas 5 SD dulu. Lucu bila teringat, meskipun memalukan.. hhhehehe ^_^
Jika kami belajar bareng dirumahku, dia selalu menungguku hingga pulang aku ngaji dari masjid. Karena dia biasanya datang sekitar jam 4, sedangkan aku pulang ngaji jam 5. Bahkan dia rela datang kemasjid tempatku mengaji naik sepeda untuk menungguku dan menjemputku. Tak jarang dia pun ikut belajar ngaji bersama. Jika sudah saatnya pulang, dia pun menggoncengku naik sepeda untuk pulang kerumah lalu belajar bersama. Bahkan terkadang ketika pulang ngaji, biasanya kami pun membeli es merah dan meminumnya bersama.sambil naik sepeda goncengan, kami biasanya nyanyi bareng n ngakak di jalanan. Hahaha begitu indah kurasa memiliki sahabat seperti dirinya.
Apalagi ketika bulan puasa, sangat banyak waktu kami habiskan untuk bersama. Entah itu untuk menyelesaikan tugas menumpuk dari guru, makan bareng, ngobrol, dengar musik, main sepeda, jalan-jalan, main kelereng, main layang-layang dan sebagainya. Saatnya terawih, kami selalu terawih di masjid Istiqomah. Setelah dia pulang 8 rakaat kerumahnya, dia kembali menungguku selesai terawih hingga 23 rakaat+witir. Saatnya selesai terawih, kami berdua pulang bareng kerumahku untuk belajar. Hhehe, biasanya kalau sudah pulang terawih adikku dan orang tuaku kerumah nenekku. Aku di tinggal di rumah berdua bersamanya. Meskipun aku perempuan dia laki-laki, kami tak pernah diragukan untuk tinggal berdua dalam rumah sekalipun pintu dikuncikan. Dan dia akan menemaniku sampai orang tuaku datang, walaupun waktu menunjukkan sudah larut malam dan mulut pun mulai menguap + mata yang semakin berair. Tapi dia masih tetap bisa tersenyum tuk menemaniku.
Orang tuanya tak pernah mengkhawatirkannya jika dia berada dirumahku. Mungkin itu karena kepercayaan yang sudah ada. Palingan orang tuanya hanya tersenyum manis dan membelai rambut kami. Malah orang tuanya menyuruh kami untuk belajar di rumahku saja. Hhhehe, baik banget kan orang tuanya?. Orang tuanya pun akan memarahinya jika dia melihat anaknya menjailiku. Teman-temannya pun sudah mengerti akan kedekatan kami. Bahkan aku juga akrab dengan temannya itu. Semua masih pada lucu dan lugu banget.
Aku selalu mengajarinya dengan ketulusan hati tanpa 1 pun harapan. Karena aku sangat menyayanginya. Sering dia memberiku benda-benda favoritnya. Dan jika dia tau benda yang ku inginkan beluk kumiliki, terkadang dia yang membelikan aku sembunyi-sembunyi. Hhhehe, baik sih.. Tapi, aku kan jadi merasa nggak enak kalau sering begitu.
Meskipun kami sangat dekat, tapi kami pun serin kelahi. Entahlah karena apa. Tapi, dia akan bingung sendiri kalau aku sudah sedih begitu. Hhehe, dia jadi merasa serba salah. Karena dia sadar, dialah yang membuatku merasa kesal karena kelakuannya. Hhhhehe, tapi paling bentar juga kami baikan. Tak sekali pun kami kelahi hingga 1 hari. Dan jika kami ngomong tentang cita-cita, dia selalu bilang kalau dia tak memiliki satu pun cita-cita. Jika di tanya dia akan bilang kalau dia mau jadi tukang tambak seperti bisnis orang tuanya. Dia bilang nggak perlu belajar lagi, nggak kuliah lama dan pegang duit banyak kalau berhasil ketika panennya, mantaaaap kan cita-citanya..yang penting HALAL.
Tak terasa jadwal ujian semakin dekat. Itu artinya, belum tentu kami akan tetap seperti ini. Karena ada teman kami juga yang tak lagi berada di bunyu alias ke luar daerah. Dan itu sama dengan perpisahan, karena belum tentu juga kami akan bertemu kembali dan bisa ngumpul bareng kayak gini. Sebenarnya kami masih ingin bersama, tapi waktu tak lagi memungkinkan. Dan memaksa kami untuk tetap bisa tetap menerima semua itu. Jika waktu masih dapat ditunda, kan ku tunda demi bersama mereka. Tapi semuanya tetap saja tak bisa terelakkan lagi.
Untuk menghadapi ujian, sekolahku melaksanakan les mata pelajaran yang akan di ujikan. Paling seru kalau waktu makan sudah tiba, kelas menjadi haru makanan dan menjadi heboh penuh tawa yang seru. Biasanya aku, dia dan 2 sahabatku makan bareng dan duduk berhadap-hadapan. Tapi biasanya 2 sahabatku itu pulang makan dirumahnya masing-masing. Karena rumah mereka tak jauh dari sekolahan. Jadi aku dan dia makannya berdua ditambah dengan teman-teman yang ada di sekolah. Seperti biasa dia membawa ayam kentucky, potato freeze, snack dan minumnya coca cola + es batu di gelas tinggi. Hhehehe, kalau aku makannya ganti-ganti sih. Yang pasti aku nggak bawa nasi goreng, ikan, nasi kuning dan makanan yang repot makannya.
Begitu juga kalau ada acara makan-makan, seperti Isra Mi’raj, Maulid kami di suruh bawa makanan dari rumah. Biasanya hanya aku dan dia yang nggak bawa nasi. Biasanya aku dan dia bawa snack dan minuman bekarbonat atau milo dingin..uuuuuhhh mantap deh!?kami punya selera makan sama, jadi guru udah nggak heran kalau kami nggak bawa nasi seperti teman-teman yang lain. Serulah pokoknya, makan sambil seru-seruan bareng.
Saatnya ujian tiba. Banyak materi yang harus kami pelajari, dan kami semakin sering belajar bareng hingg tak kenal waktu karena takut tidak lulus. Sampailah pada waktu pengumuman hasil, kami lulus. Segera mengucap ‘Alhamdulillah’ ya Allah. Dia pun berlari mencariku, berteriak dan menggenggam tanganku menangis bersama bercampur tawa bahagia bareng 2 sahabtku lagi. Hati menjadi tenang karena kami lulus.
Saatnya perpisahan, sekolah mengadakan acara dan mengundang orang tua serta guru-guru lain. Setelah acara nangis-nangis, salam-salaman, makan-makan, nyanyi bareng, kami murid yang baru lulus happy bareng sambil nyanyi dan makan. Bahkan kami sampi loncat-loncat girang bersama.
Ketika acara selesai, saatnya pulang. Aku bingung pulang sama siapa, dan aku menunggu di bawah pohon ketapang. Berharap akan ada jemputan datang. Dia pun duduk disebelahku, dan berkata terima kasih. Lalu dia bertanya aku pulang sama siapa, aku menjawab aku bingung. Dia menawarkan untuk pulang barenga entahlah naik apa. Seaat setelah itu, seseorang menjemputnya menaiki motor soghun hijau. Aku tak punya pilihan, kami pulang bareng gonceng 3. Hhhehe, senangnya bisa pilang bareng. Malu sih, tapi daripada nggak pulang?hayoo, parah lagi kan?;p
Akhirnya kami tak memakai seragam merah-putih lagi, hhhee. Saatnya memakai seragam putih-biru. Ketika pendaftaran, kami diwajibkan untuk mengikuti tes pembagian kelas. Aku dan dia belajar bersama, berharap kami nanti kan berada satu kelas. Tapi Allah tak mengijinkan, aku di terima tapi dia tidak. Entahlah apa yang terjadi. Dia sedih banget, sukurlah dia tajir. Jadi dia aman dan di terima. Tapi, aku di kelas 7-1 dan dia di kelas 7-3. Dia sedih tak 1 kelas denganku, begitu pula aku. Aku harus beradaptasi tanpanya di dalam kelasku dengan suasana baru. Tapi semakin lama dia pun mampu untuk menghadapi suasana baru itu. Bahkan dia mendapat banyak teman hingga kerabat dan sahabat. Beberapa dari teman barunya itu adalah teman SD kami juga dan teman TK ku dulu.
Ketika ada tugas, PR maupun ulangan. Kami tetap saja belajar bareng. Dan kami masih sering pulang sekolah bareng teman-teman yang lain juga. Bahkan dia sering singgah dirumahku karena letih dan minum air sambil menunggu jemputannya datang. Hhehe, ap lagi kalau pas panas. Kalau hujan sih enak-enak aja. Maen hujan bareng di jalan.
Kami naik ke kelas 8, tapi lagi-lagi Allah tak izinkan kami berada dalam 1 kelas. Aku kelas 8-1 tapi dia 8-2, meskipun kelas kami sebelahan. Aku pun mendapat teman yang banyak dan beberapa sahabat lagi. Seperti dirinya, dia sekelas dengan teman-teman barunya yang semakin akrab itu. Dan aku mulai sadar, dia berubah dan kami mulai jarang bersama. Termasuk belajar bareng seperti dulu. Justru dia semakin akrab dan dekat bersama temann-temannya itu.
Suatu hari di pagi yang mendung, aku datang kesekolah SMPku yang masih sunyi dan hanya terdapat beberapa murid saja. Aku memang biasa datang pagi seperti ini, terasa begitu tenang dan berteman embun pagi. Saat itu dia datang kekelasku, lalu duduk di sebelahku dan merebahkan kepalanya diatas meja sebelahku. Saat itu kelasku tak ada satu pun siswa yang datang. Kami pun bercerita, dia bilang kami tak mungkin 1 kelas karena perbedaan kemampuan otak. Dia berpesan padaku untuk belajar dengan rajin. Masih ku ingat saat dia mengucapkan kalimat-kalimat lembut yang menjadi semangat untukku.
Saat seleksi OSN di sekolahku tiba, malamnya sebelum besiknya aku tes dia datang. Dia bilang dia ingin belajar dan mengerjakan PR. Setumpuk buku yang berkaitan dengan biologi sebagai bahan tes besok terlihat olehnya di atas meja yang ada di depannya. Dia heran melihatnya dan bertanya padaku untuk apa semua buku-buku nitu, setelah aku jelasin, dia pun memberikanku dukungan agar bisa lolos dan ikut ketingkat kabupaten. Dia bilang semoga aku bisa ke Tanjung untuk mengikuti OSN tersebut, karena meskipun dia sudah pernah ke Jawa, Yogya, Sumatera tapi saat itu dia belum pernah ke Tanjung. Intinya dia menyemangati dan sangat mendukungku dalam hal ini. Meskipun pada akhirnya aku tak lolos, dia memberikanku senyum untuk tetap menyemangatiku.
Semakin lama, dia tak pernah lagi kerumahku. Ketika aku bertemunya di sekolah aku katakan padanya dia sombong. Beberapa hari kemudian ketika dia sudah bisa mengendarai motor dia masih sering menegurku. Tapi tak lama setelah itu, dia kembali tak pernah menegurku dan tak lagi menginjakkan kakinya di rumahku. Aku heran, apa yang terjadi padanya???mengapa dia begini?ataukah aku yang berubah?
Tanggal 22 Februari 2008 tiba, itu adalah peringatan hari ulang tahunnya. Sudah menjadi dalam persahabatan kami memberikan kado jika salah satu di antara kami ada yang ultah. Termasuk aku, dia dan 2 sahabatku lagi. Ketika itu aku dan 2 sahabatku itu ingin memberikan kado padanya. Tapi kami terheran-heran, dia menolaknya meskipun akhirnya dia terima dengan terpaksa. Ini pertama kalinya dia menolak hadiah dari kami dan merasa malu. Malah dia happy bareng teman-teman barunya itu.
Padahal dia pernah bilang padaku untuk menjauhi orang itu, tapi justru dia pula yang dekat dengannya. Haha, dia termakan dengan omongannya sendiri. Entahlah apa yang terjadi dengan dirinya sekarang. Dan dia pun tak pernah lagi menegurku di sekolah meskipun berada di sampingku. 24 Mei 2008 tiba, itu adalah hari ulang tahunku. Aku membuat acara makan-makan di rumahku bersama sahabtku dan teman-temanku. Termasuk dirinya aku undang. Dia memang tak pernah tau kapan ultahku dan dia sangat jarang mengucapkan selamat. Tapi aku akan sangat senang jika ketika itu dia hadir. Malah sore hari ketika acara itu, dia lewat depan rumahku bersama temannya. Kayak nggak kenal aku pula tuh..ckkk kesel deh pokoknya..
Tiga hari setelah acara ultahku, malam hari dia datang kerumahku. Seperti biasa dia belajar, dan ngobrol bareng. Aku bilang padanya, aku kecewa dia nggak datang padahal aku mengharapkannya. Dan dia bilang dia malu entah mengapa. Ehmmm, mungkin dia pikir ini tak penting juga untuknya, nggak ada artinya. Dia minta maaf, aku hanya tersenyum karena semua sudah berlalu. Dua hari kemudian dia datang untuk kembali belajar, dia seperti biasa membawa tas. Tapi kali ini di tambah dengan bag plastik yang besar berisi kotak berlapiskan kertas hijau indah mengkilat.
Dia memberikan kotak hijau itu untukku, ternyata dia masih mengucapkan selamat untukku, minta maaf karena saat itu dia tidak hadir ketika acara. Aku tersenyum dan berterima kasih. Separuh malam itu aku habiskan dengan mengerjakan tugas bareng dan ngbrol dengannya. Ketika dia pulang, aku berlari ke dapur sambil tersenyum. Karena ini adalah kado pertama berupa benda darinya. Orang tuaku yang membukanya dan tersenyum mlihat isinya. Sebuh baju kaos pink, celana setengah tiang bewarna hijau tua dan sebuah tas sekolah warna hitam. Aku tau ini dari orang tuanya, tapi tetap saja aku tersenyum. Bukan karena isi hadiah itu, tapi karena pedulinya. Aku simpan dengan baik semua benda-benda itu. Hhehe, senangnya…^_^
Tapi tetap saja aku sedih juga pada akhirnya, karena dia tak lagi menegurku maupun menyapaku. Tak lagi pernah datang kerumahku dan mencariku. Tak lagi pernah menelponku dan menghubungiku. Bahkan suatu hari ketika aku mengaji aku bertemu dia pulang dari belajar di rumah temanku sendiri, teman TK ku. Aku kecewa, ternyata dia tak lagi seperti dulu. Dan aku banyak melakukan hal-hal konyol karenanya termasuk datang pagi ke kelasnya. Lalu aku membuat selembar surat kaleng. Aku mengatakan dia jahat!!!. 3 bulan berturut-turut aku berbuat konyol sperti itu. Hahahahaha, bodoh bangetkan??..Dan masih banyak lagi hal konyol dan sangat bodoh lainnya yang aku kerjakan karenanya selain membuat surat kaleng gitu deh.
Seperti memperhatikannya sekejap melalui celah kecil di pintu sambungan antara kelasku dan kelasnya. Itu biasa aku lakukan ketika guru tidak masuk dikelasku. Terkadang aku melihatnya sambil tersenyum sendiri bahkan ngomel-ngomel nggak jelas sendiri. Hhhehe, untunglah teman-teman sekelasku tak ada yang curiga, kalau nggak?mati aku!?!@#$%^&&**(/”-_,. Konyol banget kan aku…??? Aduuuh…^^
Naik kelas 9, lagi, lagi dan lagi kami tak sekelas. Dia benar-benar tak pernah datang kerumahku sekali pun. Hingga akhirnya ujian berhasil kami lalui, aku lulus sedangkan dia harus mengikuti ujian ulang. Sebenarnya aku sangat sedih melihatnya begitu. Aku tak peduli dia akan berfikir apa pun. Hingga akhrnya dia tetap lulus. Aku bertanya kepadanya, dia peringkat berapa?.. Dia menjawabnya dan menanyakan hal yang sama. Dia bilang aku hebat, ternyata itu adalah terakhir kalinya percakapan kami dengan baik dan dia bicara dengan lembut padaku. Karena kami pun semakin jauh alias kami udah nggak sedekat dulu lagi.
Aku semakin sadar karena kami nggak lagi sedekat dulu, keadaan pun berubah. Orang yang dia benci malah dekat dengannya. Orang yang dia bilang parah justru akrab dengannya sperti saudara. Ckkkk, aku merasa seperti kehilangannya. Aku takut dia terus-terusan kayak gini dan bakal lupain aku yang hanya sahabat lama untuknya. Sejenak aku termenung dan menangis karenannya. Tapi tak satu pun kepeduliannya dan rasa kehilangan ada padanya. Aku mulai merindukannya yang dulu, merindukan kalimatnya dan merindukan dirinya yang seperti dulu. Tapi sudahlah, mungkin dia lagi ingin sendiri. Aku coba tuk mengertinya.
Di rumahku, aku merebahkan tubuhku dengan sejuta pertanyaan tentangnya. Memikirkan perubahannya yang buatku semakin khawatir. Kucoba tuk menyusuri mencari jawaban itu. Tapi tak satu pun ku temukan. Terlalu ku memikirkannya, hinggaku tak peduli yang di sekitarku. Ya Allah… apa yang terjadi padanya? Mengapa seperti ini?..berikan aku jawaban atas semua ini….
Pendaftaran SMA di mulai, kesibukan siswa calon SMA pada sibuk mempersiapkan diri. Kami harus melewati MOS, wawancara, ini, itu, dan blablablablabla….pengumuman penerimaan tiba, kami di terima. Untuk ke sekian kalinya aku nggak 1 kelas lagi. Aku di X-A dan dia di X-D. Mau gimana lagi, itu sudah menjadi keputusan sekolah SMA. Di SMA aku mengikuti ekskul Marchink Band dan banyak kegiatan lainnya, sudah nggak asing lagi kalau dia tuh nggak ngikutin satu pun kegiatan sekolah selain yang diwajibkan. Itulah dia dan dirinya…
Karena aku pun semakin dewasa, aku mulai mikir semuanya termasuk sahabat. Aku sadar aku tak lagi dekat dengannya, aku tau aku nggak ada lagi artinya untuk dia, dan aku tak bisa seperti yang lainnya. Dia benar-benar hilang begitu saja. Hingga pada suatu malam, aku merangkai puisi kecil untuknya.

Waktu semakin berlalu
Tlah banyak cerita kita ukir di dunia
Bersamamu dan keindahan semesta
Tapi kau larut kedalam waktu
Yang tak dapat di hentikan
Dan aku semakin sadar kau tak seperti dulu lagi
Bukan sekedar ilusi perasaan
Tapi inilah kenyataan sesungguhnya
Jika memang tiada lagi gunanya aku
Maka jangan kau lukaiku sperti ini
Kehilangan seorang yang disayang bukan hal mudah
Sadarilah, aku masih butuh kamu
Ingin kuulang kembali memori indah itu
Bersamamu dan bersama waktu
Kumpulkan kembali serpihan masa lalu itu
Dan coba tuk merekatkannya kembali

Tak kurasa air mata kembali jatuh kesekian kalinya karena mengingat kenangan waktu bersamanya dulu. Aku tak pernah menangis karenanya di depan sahabatku yang lain. Bahkan sudah SMA baru mereka tau aku memiliki luka dalam seperti ini. Karena aku tak ingin mereka memikirkan ini, mau tak mau harus kusampaikan juga. Meskipun sulit di percaya dan tak mungkinh. Karena aku tak ingin ini kembali kan terulang, karena sahabat berperan penting dalam hidupku.
Sekarang pun aku masih memaksakan diriku untuk mampu melihatnya langsung seperti itu. Walaupun aku tak pernah sanggup untuk melihatnya dan membuat tubuhku lemah karenanya. Aihhh, entahlah.. kacauuuu.. aku pun bingung!?.. Ku putar lagu Ungu ‘Untukmu Selamanya’ karena teringat akan dirinya dan kurenungkan dalam hati..

Tak pernah aku mengerti
Apa yang kini kurasakan
Kegelisahan hatiku saat ini
Ku masih merindukanmu
Walaupun kini ku tlah bersamanya
Tak pernah mampu kucoba lupakanmu
Sungguh tak bisa ku mnegganti dirimu dengan dirinya
Sungguh tak sanggup aku berpaling darimu
Sungguh tak bisa kumencintainya tuk melupakanmu
Sungguh tak sanggup aku berpindah dari hatimu…..

Hingga saat ini, aku masih berdoa semoga dia dikembalikan padaku oleh Tuhan. Meskipun aku sudah mencoba untuk melupakannya, menjauhinya, membencinya. Hatiku tetap saja tak sanggup, meskipun tak ku tunjukkan ke yang lainnya. Aku memang manusia biasa, tak sesempurna teman-teman yang lain meskipun setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi ya udah lah, mau diapain lagi coba…
Dan sebelum tidur hatiku pun bertanya-tanya dan berdoa pada Allah,
…Ya Allah, mengapa dia tak seperti dulu lagi? Aku kah yang berubah? Tak satu pun alasan terucap darinya mengapa kami tak seperti dulu lagi? Mengapa dia tak pernah mencariku? Atau aku tak ada lagi artinya? Mengapa dia semakin hancur bersama orang-orang yang tak ku sukai itu? Apa maksud-Mu mengujiku seperti ini?
Ya Allah, sakit rasanya kehilangan orang yang ku sayang sepertinya. Tunjukkan aku napa alasannya dia seperti itu? Ataukah karena dia sudah memiliki sahabat baru yang jauh lebih baik? Atau dia bahagia tanpaku lagi? Aku tak pernah sanggup seperti ini. Meskipun kuberusaha jalani dengan senyum. Berikan keselamatan padanya Ya Allah, jangan Engkau sesatkan dia, jangan Kau lukai dia, jangan Kau persulit hidupnya. Tapi bahagiakanlah dia meskipun tanpaku Ya Allah. Jaga dia baik-baik dan kirimkan malaikat indahmu untuk menjaganya sampai nanti. Amin…
Karena itu aku jadi trauma dan takut milih sahabat, karena aku takut ini kan terulang. Aku taku kesakitan ini kembali terjadi. Dan aku pun takut sahabat dan teman yang kusayang dan kumiliki saat ini, bebuat sama sepertinya dsan mengulang kesalahan yang sama. Cukup sakit, dan kau tak kan pernah tau bagaimana rasanya jika kamu tak mengalaminya sendiri. Tapi aku harap, kesakitajn ini tak terjadi pada siapa pun selain aku. Cukuplah aku yang merasakan sakit itu. Dan kan kucoba tuk melupakannya, menjauhinya sperti yang dia lakukan meskipun butuh waktu yang tak singkat pula. Tak pernah kusesali dan kucoba tuk berhenti menyayanginya hingga mencoba berbalik menjadi benci. Maka jangan salahkan aku lagi.
Kenangan indah itu yang mampu buatku tersenyum sekaligus sedih jika mengingatnya. Bukan karena kenangan itu terlalu indah, tapi karena aku tau bahwa kenangan indah itu takkan pernah terulang kembali. Dirinya yang dulu hadir dalam hidupku, buatku jalani hari penuh warna. Tapi kini aku harus sadar, bahwa dia tak lagi disisiku. Karena dia telah memiliki yang lain, yang kan jauh membuatnya lebih bahagia. Tapi satu hal yang tertanam dalam hatiku, aku masih sayang padanya dan masih merindukannya yang dulu. Kembali kutuliskan puisi untuknya. Meskipun sudah banyak puisi lainnya di buku biru ku itu..

Bintang malam, katakan padanya aku butuh dia
Embun pagi, sampaikan padanya aku merindukannya yg dulu
Ingin kurangkul kembali kisah indah itu
Taukah kau?aku masih sayang..
Meskipun aku belajar tuk membencimu
Dan berhenti tu menyayangimu
Masihkah kau ukir namaku dalam hidupmu?
Atau kau tlah hapus aku dalam hidupmu?
Kucoba belajar tuk sendiri tanpamu lagi
Meskipun aku merasa sepi tanpamu
Pergilah jika itu yang kan bahagiakanmu
Tapi jangan kembali jika hanya untuk mrngulang dusta

Ketika aku terlarut dalam lamunanku tentangnya, maka yang ada difikirku adalah semua masa lalu saat bersamanya dulu. Kami selalu tertawa bersama disekolah. Bercanda jika merasa bosan, beryanyi bersama saat jenuh, mengerjakan tugas bersama, makan di kantin sekolah bersama dan banyak lagi hal yang kami mlakukan bersama di sekolah kesayanganku itu. Dirinya yang begitu jail tak pernah membuatku tuk menjauh darinya. Mungkin itu karena rasa sayang yang telah tumbuh dalam hati kami masing-masing. Hahaha, sudahlah itu hanya masa lalu yang terlalu indah..biarlah kudengarkan lagu Peterpan ‘Tentang Kita’ seperti kisahku ini…

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Seakan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi dihati
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka
Saat kita tertawa
Teringat disaat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita….

Kenangan indah itu yang mampu buatku tersenyum sekaligus sedih jika mengingatnya. Bukan karena kenangan itu terlalu indah, tapi karena aku tau bahwa kenangan indah itu takkan pernah terulang kembali. Dirinya yang dulu hadir dalam hidupku, buatku jalani hari penuh warna. Tapi kini aku harus sadar, bahwa dia tak lagi disisiku. Karena dia telah memiliki yang lain, yang kan jauh membuatnya lebih bahagia. Karena kisah ini aku dapat banyak pelajaran berarti, dan karena ini pula aku menjadi dewasa. Uh, meskipun harus sakit hati dan kecewa kayak gini sih..
Tapi hingga saat ini, hatiku tak mampu menghapus bayang-bayangnya. Keindahan masa lalu saat bersamanya selalu teringat dalam benakku. Segala yang telah kami lakukan bersama, buatku merasa semakin rapuh. Aku berupaya melupakannya, tapi hasilnya??nihil…!?:( aku masih tak bisa melupakannya. Bahkan hinggaku menemukan orang yang kusayangi, aku masih tak mampu. Hingga ini masih menjadi lukaku yang belum pernah terobati. Kuhempaskan semua masa lalu dan tetap kan kucoba tuk menghapus semua tentangnya..
Setelah semua itu tinggal kenangan, hatiku hancur meskipun dia tak lebih dari seorang sahabatku. Setelah dia tak lagi di sampingku, tiada lagi yang menjailiku sepertinya, tiada lagi yang bisa buatku ngakak meskipun aku sebenarnya sedang sedih, tiada lagi semangat darinya, tiada lagi yang mengajakku jalan subuh naik sepeda, tiada lagi temanku belajar setiap kali, tiada lagi kesetiaan seperti dulu, dan semua itu tlah lenyap. Aku benar-benar merasakan kehilangan orang yang kusayang, huhuhuuu. Dia lenyap tak berjejak bin hilang begitu saja.
Hingga detik ini, hadiah ultahku darinya masih kusimpan dan baju yang warna pink itu belum pernah ku pakai. Meskipun tasnya sudah mulai buruk sih..hhehe saking sayangnya tuh..terus kalau celananya sih masih bagus-bagus aja. Kalau ingat itu, senengnya dapat hadiah dari dia..
Ini adalah satu dari banyak kisah yang membuat kita mengerti akan hidup ini. Ini adalah pelajaran dalam kehidupan. Memang menyakitkan, tapi inilah hidup. Kita hanya bisa jalani saja semampu kita. Memang tak ada yang abadi. Meskipun aku juga bingung harus gimana, hhehe…dan aku pun tak tau bagaimana nanti penghujung kisahku ini. Entah tetap begini atau apa….hhhehe ^-^
Sebenarnya masih banyak sih kisah masa laluku bareng dia. Tapi terlalu panjang dan mungkin tak kan ada habisnya jikaku mengulasnya. Jadi sampai disini saja deh..hhehe..intinya aku masih saaaayaaang banget sama dia..meskipun untuk bisa kayak dulu lagi itu tak pernah mungkin terjadi. Hanya Allah lah yang tau dan mengerti..ku serahkan pada-Mu ya Allah…
*****

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 02 / 13

    Lanjutan dari Cerpen Kala Cinta menyapa bagian 2, yang masih merupakan kisah antara Erwin dan Rani. Seperti yang admin katakan sebelumnya, ini merupakan cerpen requesan. Nah, biar nyambung sama jalan ceritanya lebih baik kalau baca dulu kala cinta menyapa bagian 1. Akhir kata, happy reading. Kalau bisa RCL ya…..:DKala Cinta MenyapaSetengah berlari Irma melangkah keluar dari kantin. Matanya menatap ke seluruh penjuru. Mencari sosok sahabatnya yang di culik terang – terangan. Saat menatap keujung koridor ia mendapati siluet Rani yang tampak menunduk. Jelas terlihat ketakutan. Tanpa pikir panjang Irma segera menghampirinya. Merasa heran saat mendapati Erwin yang justru malah berlalu begitu melihat kehadirannya. Mencurigakan.“Rani sebenernya ada apa? Kenapa dengan cecunguk satu itu? Kayaknya penting amat. Sampe narik – narik loe segala?” selidik Irma kearah Rani yang masih berdiri terpaku.“Hei, di tanyain malah bengong,” tambah Irma mengagetkan Rani yang tetap bungkam.“Eh, ha, Kenapa?” tanya Rani gugup.“Erwin kenapa nyariin loe. Katanya loe nggak kenal sama dia?”“Nggak tau,” Rani mengeleng cepat.Mata Irma menyipit. Memperhatikan raut wajah Rani dengan seksama. Ia yakin ada yang nggak beres. “Jangan bo’ong sama gue. Inget, Bohong itu dosa tau."“Salah. Yang bener itu bohong kalau ngomong nggak jujur," ralat Rani cepat.“Ha?” Irma yakin kalau ia tidak salah dengar. Sementara Rani tidak membalas lagi. Gadis itu segera cepat – cepat berlalu. Terserah mau kemanapun. Yang jelas menghindar dari Irma. Ia tau kalau sahabatnya yang satu itu paling susah untuk di bohongi. Tapi mana mungkin ia menceritakan kejadian kemaren. Mengingat ancaman Erwin tadi sudah lebih dari cukup membuat sekujur tubuhnya merinding. Benar – benar menyeramkan.“Hufh…”Rani menhembuskan nafas lega. Diaturnya nafas yang masih terasa ngos – nogsan. Demi menghindari pertanyaan dari Irma tadi ia segaja berlari entah kemana. Sadar – sadar saat itu ia sudah berada di taman belakang kampus.“Ehem…”“Huwa!!” jerit Rani kaget saat mendapati Erwin yang duduk santai tak jauh darinya.Parah, sudah jauh – jauh ia lari menghidar dari singa eh malah sekarang nyasar ke mulut buaya. (???). Reflek Rani melangkah mundur. Tapi sayang tenyata yang namanya batu memang nggak pernah di ajarain tata krama. Dengan santai nangkring di belakang Rani yang mebuat kaki gadis itu tersandung sehingga sukses membuatnya jatuh mendarat dengan sempurna di tanah. Bahkan masih di tambah sedikit luka goresan di sikunya sebagai bonus. Benar – benar sudah bernasip seperti pepatah. Sudah jatuh tertimpa tangga. Artinya, kalau mau nggak kejatuhan tangga, bikin rumah jangan ada tangganya …… (???).“Jangan mendekat,” teriak Rani cepat sambil mengacungkan tangannya. Membuat langkah Erwin yang berniat menuju kearahnya langsung terhenti.“Gue bisa bangun sendiri,” tambah Rani lagi sambil bangkit berdiri. Mengibas – ibaskan unjung roknya yang terlihat sedikit berdebu akibat jatuh tadi.“Gue juga nggak niat bantuin,” balas Erwin santai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Matanya menatap sosok yang ada di hadapannya dari kepala sampai kaki. Membuat Rani beneran mati gaya di perhatikan seperti itu. Selangkah demi selangkah kakinya melangkah mundur.“Oh…. Gitu ya. Ya sudah kalau begitu gue langsung pergi. Da…” pamit Rani sambil membalikan badan tanpa menyadari kalau dibelakangnya terdapat vas bunga yang berjejer. Alhasil, tayang ulang terjadi terjadi. Tubuhnya untuk kedua kali sukses mendarat di tanah.“Ha ha ha….” melihat apa yang terjadi di hadapannya barusan benar – benar membuat Erwin tak mampu menahan tawanya.Rani mendongak. Menatap sebel kearah Erwin yang tampak sedang memegangi perutnya menahan tawa. Benar – benar membuat Rani merasa kesel. Ia segera berniat untuk bangkit berdiri namun kakinya benar – benar terasa sakit. Saat ia periksa ternyata lututnya luka, sepertinya tergores duri – duri bunga mawar yang memang tadi ia tabrak.“Darah?”Satu detik…Dua detik….Tiga detik…“Huwa….”“BruK”.Tawa di wajah Erwin langsung raib sama sekali tak berbekas digantikan dengan raut cemas saat mendapati Rani yang kini terbaring pingsan di hadapannya. “Hei, bangun. Loe nggak papa kan? Masa gitu aja pingsan?” tanya Erwin sambil mengoyang – goyangkan tubuh Rani. Tapi hasilnya nihil. Gadis itu sudah telanjur KO.“Hufh… menyusahkan sekali si,” gerut Erwin kesel.Di pandanginya sekeliling yang kebetulan sepi. Untuk sejenak Erwin terdiam. Bingung apa yang harus di lakukannya. Setelah menarik nafas perlahan akhirnya ia bangkit berdiri. Di gendongnya gadis itu. Untung saja tubuhnya kurus sehingga ia masih kuat mengendongnya.Sepanjang perjalan menuju ke ruang kesehatan ia sudah menjadi tontonan semua mahasiswa yang menatapnya dengan mata yang melotot atau mulut yang mengangga. Berusaha tetap terlihat cuek, Erwin mempercepat langkahnya. Setelah sampai di ruang kesehatan barulah ia bisa benapas lega. Di sekanya keringat yang membanjiri di keningnya setelah terlebih dahulu membaringkan Rani.Hening. Suasana ruang kesehatan memang terlihat sepi. Tidak ada seorang pun disana. Untuk sejenak Erwin terdiam. Di pandanginya wajah Rani yang masih terbaring tak berdaya. Tanpa sadar bibir Erwin sedikit tertarik membentuk sebuah lengkungan saat mendapati wajah polos dengan nafas teratur itu.Namun beberapa menit kemudian Erwin segera mengalikan tatapannya. Tangannya terangkat memukul – mukul kepalanya sendiri sambil mengeleng pelan.“Nggak – nggak, gue nggak mungkin suka sama dia. Kalau sampe gue beneran suka sama dia pasti otak gue sudah gila. Nggak mungkin. Mustahil."Dengan cepat Erwin berbalik. Melangkah keluar meninggalkan Rani tergeletak sendirian. Ia sudah memutuskan tidak mau lagi berurusan dengan gadis itu yang bahkan sama sekali tidak ia ketahui namanya. Ini benar – benar menyeramkan, gumamnya lirih.Kala Cinta Menyapa Sambil merengangkan sedikit otot-otot tubuhnya Rani beranjak bangung. Merasa asing dengan sekeliling. Saat ia menolah wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Irma yang menatapnya khawatir sekaligus lega.“Syukur lah loe udah sadar."“He? Memangnya gue kenapa?” tanya Rani heran.“Justru itu yang pengen gue tanyain. Loe kenapa? Kok bisa sampe pingsan gitu. Tadi itu banyak anak – anak yang pada bilang katanya ngeliat loe yang pingsan di gendongan Erwin ke ruang Kesehatan. Karena gue panik, gue langsung aja kesini. Eh loe beneran pingsan ternyata. Mana sendirian nggak ada yang ngobatin kaki loe lagi."“Oh ya, kaki gue,” Rani segera memeriksa kakinya yang tampak terbalut plaster.“Loe diapain sama tu anak sampe pingsan gitu?”“He? Kenapa? Siapa?” tanya Rani dengan kening berkerut.“Ya Erwin lah, masa ia gue bilang si Arya."“O… Dia. Nggak ada. Kenapa?” tanya Rani balik.“Kalau nggak di apa – apain kenapa loe sampe pingsan."“Loe kan tau gue phobia sama darah. Waktu itu gue jatuh kesandung. Jatuhnya dua kali si sebenernya. Yang pertama gue kesandung batu. Eh, abis itu gue malah ngelangar pot. Jatuh lagi, kaki gue luka. Pingsan deh,” terang Rani sambil mengingat – ingat.“Terus hubungannya sama Erwin apa. Kok loe sampe di gendong segala?” selidik Irma lagi.“Kebetulan waktu itu dia emang lagi ada disana. Jadi begitu gue pingsan tentu saja dia……. Tunggu dulu, loe bilang apa tadi? Erwin gendong gue?” kata Rani dengan raut kaget.“Katanya si gitu. Gue kan nggak liat,” balas Irma sambil angkat bahu.“Ha, Mati gue,” keluh Rani panik.“Loe kenapa si? Kayak kambing kebakaran jengot aja."“Gue itu bukan kambing. Jadi gue nggak punya jengot. Yang ada gue takut sama kambing."Irma mengernyit. Ini temannya polos apa bego ya?“Oh ya, gue baru inget. Tadi urusan kita belom selesai. Kenapa Erwin menarik loe keluar kantin?”Rani dengan cepat menggeleng sambil menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Waspada diri, mulutnya kadang memang suka asal nyeplos.“Rani, Ada apa?”“Nggak ada apa – apa kok,” lagi – lagi Rani mengeleng.“Ya udah kalau loe nggak mau cerita. Loe gue End,” ancam Irma dengan gaya iklan di tipi – tipi yang memang lagi ngetren. Membuat Rani merasa andilau. Antara Dilema dan Galau. Kalau ia cerita ia mati di tangan Erwin walau ia tidak yakin Erwin berani membunuhnya. Tapi kalau ia nggak cerita Irma akan memutuskannya. Yang jadi pertanyaan kenapa Irma memutuskannya. Mereka kan nggak pernah pacaran. ^,^“Jadi loe beneran nggak mau cerita nie?” tanya Irma sambil bangkit berdiri.“Gue bukan nggak mau cerita tapi nggak boleh,” balas Rani sambil menunduk kan kepala.Melihat mata Rani yang mulai berkaca – kaca Irma hanya mampu menghela nafas. Astaga, sahabatnya itu bukan anak TK , tapi kenapa sikapnya polos sekali. Bahkan hanya di ancam olehnya saja sampe harus mau menangis.“Ya udah, loe nggak usah cerita lagi. Gue nggak akan maksa oke,” Irma akhirnya mengalah. Rani mengangkat wajahnya. Ikutan tersenyum saat mendapati Irama yang juga tersenyum padanya.“Ma kasih ya? Loe emang sahabat gue yang terbaik,” kata Rani sambil memeluk temannya. Irma hanya mengangguk. Terima nasip punya temen lebay.“Maafing gue ya, gue itu bukan nggak mau cerita. Tapi Erwin ngencem gue. Kalau sampe gue cerita sama orang soal dia yang jatuh ke got kemaren dia bakal bunuh gue,” kata Rani merasa bersalah.Irma terdiam. Sebuah senyuman penuh makna terukir di bibirnya mendengar permintaan maaf Rani barusan. Dilepaskannya pelukan gadis itu.“ Ya udah. Tenang aja. Gue nggak akan maksa loe buat cerita lagi. Gue janji. Sekarang mending kita pulang aja yuk. Udah jam pulang nie,” ajak Irma sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.Rani mengangguk manut. Kemudian dengan berdampingan mereka melangkah keluar. Meninggalkan kampus menuju ke rumah masing – masing.Lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 3Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.412 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen The Prince, The Princess & Mis. Cinderella~11 {Update}

    Oke, Next acara Edit mengedit. Kalo bisa si Cerpen The Prince, The Princess & Mis. Cinderella bisa finish malam ini. Ah, semoga saja.Oh ya, ngomong – ngomong soal edit, penulis lagi belajar ngedit video nie. Mau liat gak?. Klik aja Trouble is a friend ~ Lenka ~ Ana Merya Sudah hampir tiga jam aku sedari tadi hanya berbolak – balik di kasur tanpa bisa terlelap sama sekali. Ku lirik jam yang tertera di atas meja, pukul dua dini hari. Astaga, kalau begini ceritanya aku bisa stres beneran. Bukan hanya sekedar stres tembangan le seung gi di king 2 heart (???).Sudah hampir dua mingu aku menjadi ‘pacar’ Si kevin. Dan tingkah lakunya benar – benar. Aku berani jamin seribu persen, kalau sampai dia tetap bersikap seperti itu selama satu bulan kedepan aku sudah pasti jatuh cinta beneran padanya. sebagian

  • Cerpen Cinta: MIRACLE OF LOVE

    Miracle of loveOleh: Zora thalib“Kate, mengapa kau tidak memakan sandwichmu?” tanya Alexa sambil menopang dagu. Kate menatap Alexa tak bergairah, lalu tersenyum tipis. Alexa mengangkat alis, lalu bergumam tak jelas, “Whatever”.“Honey!!!” panggil seorang cowok dari kejauhan. Alexa mencari sumber suara, dan mendapati James Shady, pacar Kate yang saat itu sedang berjalan menghampiri meja mereka. Alexa tersenyum, dan James membalas senyumnya.“Jadi, ada apa denganmu Kate?” tanya James lembut, sambil menarik kursi dan duduk. Kate menggeleng, “Tidak ada”.“Kau yakin?”, Kate mengangguk. James menatap Alexa, seolah minta penjelasan, ada apa dengan Katenya? Tapi, Alexa mengangkat bahu.“Kau tidak bisa bilang ‘tidak ada apa-apa’, jika wajahmu seperti itu.” James sengaja menekankan kalimat ‘tidak ada apa-apa’. Alexa yang melihat James dan Kate hanya tersenyum.“Aku hanya lelah..” akhirnya, Kate angkat bicara.“Kalau begitu, kau perlu istirahat. Kau mau makan sandwichmu dulu, atau aku langsung kita langsung pulang ke apartement?” ujar James sambil beranjak dari duduknya.“Aku tak ingin makan apapun.” Kate menatap James malas.“Oke, tapi kau harus makan sesuatu di apartementmu, atau aku akan memaksamu untuk makan. Ayo Kate, kita pulang” ucap James sambil menggandeng tangan Kate.“Aku dan Kate duluan, Lex” pamit James.“Ya, hati-hati” Alexa berkata lirih, lalu ia merapikan rambutnya, dan juga beranjak pergi.*****Saat ini, Alexa sedang berada di Delicio Cafe. Dia sedang mengaduk jus jeruknya. Dia tidak pernah menyukai bir, wiski atau semacamnya. Menurutnya, seseorang tidak harus minum bir agar terlihat dewasa.“Kau Alexa?” ucap seseorang dengan tiba-tiba sambil menepuk bahunya pelan. Kate menoleh, dan mendapati seorang cowok dengan rambut pirang berantakan sedang tersenyum lebar. Dia mencoba menebak cowok didepannya. Tapi, dia tak mendapati jawabannya.“Memangnya, kau siapa?” akhirnya, Kate bersuara.“Ya ampun Kate! Kau tidak mungkin melupakan sahabat kecilmu yang berjanji akan menemuimu begitu kau kembali dari Paris kan?”“Oh My God! Kau Dylan?” mata biru Alexa berbinar. Cowok di depannya tertawa, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Alexa.“Kau apa kabar?” tanya Dylan.“Baik, kau bagaimana? Kau mau pesan sesuatu?”“Aku merasa lebih baik setelah bertemu denganmu. Aku sudah cukup kenyang melihatmu.”“Benarkah?”“Kau tahu, aku selalu mempunyai energi lebih jika melihatmu.” Alexa tersipu.“Kau selalu seperti itu…” Dylan tersenyum lebar.*****“Alex, aku dengar kamu akan pindah? Benarkah?” Dylan kecil bertanya pada Alexa kecil. Saat itu, umur mereka 8 tahun. Alexa kecil terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Matanya terlihat sedih.“Jadi, aku tak akan bertemu dengan kamu lagi?”“Padahal, Alex ingin selalu bersama Dylan.”“Dengar Lex, apapun yang terjadi, saat kau kembali lagi kesini, aku akan menemuimu. Aku janji. Karena, aku menyukaimu. Dan aku janji aku hanya akan menikah denganmu. Maukah kau berjanji hanya akan menikah denganku?” Dylan berkata malu-malu.“Alex juga suka Dylan. Alex janji hanya akan menikah dengan Dylan.” Ucap Alexa sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Dylan. Alexa dan Dylan sama-sama tersenyum. *****“Kau sekarang tinggal dimana?” tanya Alexa, masih di Delicio Cafe.“Setelah kau pergi, aku pindah ke New York”“Bisa aku minta alamatmu?”“Untuk apa?”“Kalau-kalau suatu saat aku membutuhkan tumpangan ketika di New York. Aku tidak perlu repot-repot menyewa apartemen kan?” Dylan tertawa, lalu memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamatnya.“Terimakasih.”“Ya, sama-sama. Ehm, Lex, apakah kau pernah berkencan dengan seorang pria?” “Tidak, aku tidak mungkin berkencan dengan seorang pria, ketika aku masih mempunyai janji hanya akan menikah dengan seseorang.” Alexa tertawa.“Bagus, karena akupun tidak pernah kencan dengan gadis manapun. Aku masih menunggu seseorang yang akan kembali dari Paris.” Kali ini, Dylan tersenyum.*****“Halo Kate!” ucap Alexa ditelepon“Hi! Ada apa?”“Apa kau sudah baikan?”“Aku tidak apa-apa.”“Tapi, kau lelah.”“Tidak lagi. bagaimana mungkin, James memaksaku untuk beristirahat, dan dia tak membiarkanku pergi kemanapun.”“Dia sayang padamu.”“Ya, aku tahu.”“Apa dia sedang bersamamu?”“Ya, dan dia sedang mengawasiku. Kau mau berbicara dengannya?”“Tidak perlu.”“Jadi, kenapa kau meneleponku?”“Aku bertemu dengan Dylan.”“Kapan?”“Saat aku sedang di Delicio Cafe. Dan aku baru saja pulang dari sana.”“Dylan itu siapa?”“Sahabat kecilku yang pernah berjanji akan menemuiku saat aku kembali dari Paris.”“Oh ya?”“Saat kecil dulu, dia juga berjanji hanya akan menikah denganku.”“Dia manis.”“Ya, begitulah.”“Alex, sampai kapan kau akan menelepon Kate?” ucap James di telepon. Alexa tertawa.“Oke, oke James. Aku tak akan mengganggumu. Night.” Alexa memutuskan sambungan telepon.*****“Hmm… jadi, Dylan yang membuatmu tak berkencan? Karena kau sudah janji dengannya?” tanya Kate. Saat itu Alexa sedang berkunjung ke apartement Kate.“Ya, begitulah.”“Kukira kau tidak normal.” Sambung James.“James, ini urusan wanita. Kau tidak perlu mengatakan pendapatmu.” Alexa berkata tajam. James tertawa.“Oke, oke sebaiknya aku menghindarimu. Kalau tidak, mungkin kau akan memakanku.” James berkata mengejek. Alexa mengambil bantal, lalu melemparkannya pada James. James tertawa.“Sudahlah Lex, James memang suka seperti itu. Dia akan senang kalau melihatmu marah-marah.” Ucap Kate.“Oke, oke.”“Mungkin, kapan-kapan aku bisa berkenalan dengan Dylan?”“Yeah, tentu.”*****Dua bulan kemudian….“Alex, kau sedang dimana?” tanya Kate ditelepon.“Di taman, depan apartement.”“Dengan siapa?”“Kau tahu jawabannya.”“Dylan?”“Yeah, benar. Jam 7 malam, dia mendatangi apartementku dan mengajakku duduk-duduk di bangku taman.”“Aku akan menyusulmu. Kau harus mengenalkan Dylan padaku.”“Tentu, Kau bersama James?”“Ya, dan kita akan kencan ganda.”“Kate, aku belum resmi berkencan dengannya.”“Tapi, dia berjanji akan menikahimu, dan itu lebih dari sekedar kencan.” Lalu, Kate memutuskan telepon. Alexa menatap ponselnya kesal.“Siapa Lex?”tanya Dylan.“Kate, temanku.”Beberapa menit kemudian….“Alex, apa kau saat ini bersama Dylan?”“Yeah, ada apa? Kau dimana?”“Tidak ada apa-apa. Kau yakin sedang bersama Dylan?”“Yakin, Kaaatee, kau belum menjawab pertanyaanku, kau dimana?”“Aku sudah di taman, dan aku sudah melihatmu. Sebentar lagi, aku akan menyusulmu. Apakah Dylan duduk disebelahmu?”“Ya ampun Kate, haruskah aku mengupload fotonya yang sedang duduk disebelahku?”“Tidak, tidak perlu.” Lalu, Kate memutuskan sambunngan.“Siapa?” tanya Dylan lagi.“Kate.”“Apakah dia akan menemuimu?”“Tentu, bukan hanya menemuiku, juga menemuimu. Dia bilang, dia ingin berkenalan denganmu.”“Tidak! Dengarkan aku Alexa, kau ingat janjiku dulu?”“Janji apa?”“Janjiku menikahimu”“Ya, aku ingat.”“Aku akan tetap menikahimu, apapun yang terjadi. Walau harus dalam jiwa yang berbeda.” Mata Dylan terlihat sedih “Maksudmu?”“Berjanjilah, kau akan menungguku?”. Alexa mengangguk.“Sampai jumpa Alexa, aku mencintaimu.” Dylan berkata sambil mencium kening Alexa, lalu berlari pergi. “Aku juga mencintaimu.” Ucap Alexa lirih. Dia termenung, ciuman Dylan di keningnya terasa dingin. “Alex!!”. Alexa menoleh, dan mendapati Kate dan James sedang bergegas kearahnya.“Mana Dylan?” tanya James, begitu dia sampai di depan Alexa.“Dia pergi, dan sebelumnya dia mengatak sesuatu yang aneh.”“Apa?” tanya Kate dan James bersamaan.“Katanya, dia akan tetap menikahiku, walau dalam jiwa yang berbeda, apa maksudnya?”“Mmm… sebenarnya, saat aku meneleponmu tadi. Aku hanya melihatmu sendiri, tanpa Dylan. Makanya, aku bertanya padamu, apakah Dylan sedang duduk bersamamu?”“Benarkah? Apa kalian tidak bohong?”“Tidak!!” ucap Kate dan James lagi- lagi bersamaan.“Jadi, kalian hanya melihatku duduk sendirian disini?”“Yeah, kau tahu jawabannya.” Ucap Kate.“Jadi, maksudmu, Dylan hanya bisa dilihat olehku?”“Mungkin.” Sahut James.“So, Dylan itu apa?”“Kami tak tahu.” Alexa terduduk lemas, “Bisakah aku kembali ke apartementku sekarang? Aku butuh waktu untuk berfikir.” Kate dan Jmes sama-sama mengangguk. Alexa berjalan lesu menuju apartementnya.“Alex! Kalau ada apa-apa kau bisa meneleponku.” Alexa sama sekali tak menoleh, dia hanya mengangguk samar.*****Sesampainya di apartement, Alexa melempar sepatu dan tasnya begitu saja, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa. Dia benar-benar bingung dengan kejadian barusan. Ada apa dengan Dylan? Alexa tiba-tiba berdiri, dia ingat, dia menyimpan alamat Dylan, mungkin ada nomer teleponnya. Alexa bergegas menuju kamarnya dan mengobrak-abrik laci meja riasnya. Dan dia menemukan kertas alamat Dylan. St.Wallace 159, New York009-67455562Alexa membawa kertas itu ke sofa, lalu mengambil ponselnya. Tidak terlalu larut, untuk menelepon seseorang. Dia menekan nomer Dylan dan terdengar sambungan di ujung sana.“Maaf, apakah saya bisa bicara dengan Dylan?”“Anda siapa?”“Saya Alexa, teman kecilnya.”“Ooh… Alexa? Sudah lama tak berjumpa denganmu Alexa.”“Iya, Mrs.Wein. Apa kabar?”“Baik. Saya bahagia bisa berbicara dengan salah satu sahabat kecil Dylan.”“Maaf, Dylannya ada?”“………..”’“Maaf.”“Dylan sudah lama meninggal. Dia meninggal saat kau pindah. Dia berlari kencang dari sekolah saat tahu kau akan pindah hari itu, bukan esoknya. Sebelum sampai ke rumahmu. Saat menyebrang, dia tertabrak school bus.” Mrs. Wein berkata dengan pelan. Dari nadanya, kelihatannya dia sedang menahan tangis. Alexa terduduk lemas, ponselnya meluncur dari tangannya ke lantai. Pelupuk matanya basah. Dia menangis. Jadi, selama ini siapa yang bersamanya?“Alex! Apa kau tidak apa-apa?” tanya Kate yang tiba-tiba berhamburan ke dalam apartement Alexa. Kate bersama James. Alexa tak bergeming. Dia tetap menangis. James mengambil ponsel di lantai, dan menaruhnya di sofa.“Alex, ada apa?” tanya Kate sambil merangkul Alexa. Alexa tetap diam. “Alexa, kau tak bisa terus diam begini, kau harus menceritakannya pada kami.” bujuk James.“Dylan….”“Iya, ada apa dengan Dylan?” ucap Kate tak sabar.“Dia… dia sudah meninggal, saat hari aku pindah.” Jelas Alexa sesenggukan. Kate memeluk Alexa tambah erat.“Dia jahat! Dia bilang akan menikah denganku! Dia sudah janji!” teriak Alexa terisak. Kate mengusap bahu Alexa, “Sabar Lex, bukankah dia berjanji akan menikahimu, walau dalam jiwa yang berbeda?” ucap Kate menyadarkan Alexa.“Dan kurasa, dia akan menepati janjinya, entah kapan.” Tambah James. Terdengar dari nadanya, James sendiri kurang yakin dengan perkataannya.“Aku akan menunggunya….” tekad Alexa dengan mata menerawang.*****Tiga tahun kemudian…..“James Shady, akankah kau menerima Kate dalam suka dan duka?” tanya pendeta. Hari ini, James dan Kate menikah.“Ya.”Alexa menahan tangis. Saat ini, umurnya 23 tahun. Dan dia belum menikah. Dia masih tetap menunggu Dylan datang. Beberapa lelaki mengajaknya menikah, tapi dia tak tertarik. Dia masih terikat janji hanya akan menikah dengan Dylan.“Kate Allincton, akankah kau menerima James dalam suka dan duka?” tanya pendeta lagi.“Ya.”“Akankah kalian berdua berjanji bersama selamanya? Sampai hayat memisahkan kalian?”“Ya.” jawab James dan Kate bersama.Alexa tersenyum. Dia cukup bahagia menjadi pendamping wanita Kate. Mungkin, suatu saat Kate akan menjadi pendamping wanitanya.Saat pelemparan bunga……Seorang lelaki bertuksedo hitam mendekatinya, Alexa mengamatinya. Cowok itu tersenyum ramah. Alexa memalingkan wajahnya. Sepertinya dia kenal senyuman itu, dan mata biru lelaki itu yang berbinar hangat. Saat dia berbalik untuk menatap lelaki itu, lelaki itu sudah mendapatkan buket bunga yang dilempar James dan Kate.“Alexa….” lelaki itu menghadap kearahnya dan menatapnya tepat dimata.“Kau tahu namaku?” Alexa bertanya, matanya memancarkan kebingungan.“Namaku Nathan Wayn, dan aku kesini untuk menepati janjiku.” Lelaki itu berkata lembut. Seketika air mata Alexa mengalir.“Alexa Georgia, will you marry me?” Nathan tersenyum, dan memberikan buket bunganya pada Alexa. Alexa menerima buket bunga itu dengan air mata mengalir di pipinya.“Yes, i will.” Jawab Alexa pelan. Nathan tersenyum, lalu memeluk Alexa erat.“Mengapa kau menangis saat kau bisa bertemu lagi denganku?” Nathan berkata lembut, lalu memeluk Alexa lebih erat. Alexa tak menjawab. Dia sudah cukup bahagia bertemu dengan Dylan “versi” barunya. Mungkinkah ini keajaiban cinta? SELESAI

  • Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)

    Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)Oleh: Deny fadjar suryaman – `Sesungguhnya ku tak menginginkan semuanya begini, walau semua yang terjadi hanya kebohongan dan kepalsuan saja yang kau berikan kepadaku..Tapi sejujurnya itu semua sudah cukup bagi ku tuk dekat denganmu walau hanya bisa membayangkan dan mengharapkan kelak kau akan datang kepadaku dengan kejujuran dan ketulusan hati pada diriku..`tak ku harapkan lebih atas kehadiranmu. .`tak ku harapkan kejujuran itu datang. .`tak ku harapkan kau menganggap ku ada. .`dan jika itu semua dapat di wujudkan oleh dirimu, Tapi mengapa seperti ini yang terjadi…???‘Mungkin ini sebuah perasaan yang bodoh yang pernah kualami selama hidup. Selama ini, aku hanya bisa membayangkan dan mengharapkan namun tidak untuk mengatakannya. Ini menjadi sebuah ketidakpastian bertindak yang kulakukan. Sehingga aku hanya bisa memandang dan melihatnya ketika mimpi.’Itu kahayalan dari seseorang yang berharap cinta ini nyata ketika semua tidak mampu diungkapkannya. Sebuah khayalan yang membuat hidupnya dipenuhi kegelisahan dan kebimbangan.ini semua berawal dari hobi barunya berselancar didunia maya. Suatu ketika dia sedang memainkan khayalannya didunia maya. Dia melihat sebuah profil seorang wanita yang membuatnya terpikat seketika. Secara naluriah dia langsung mengirim sebuah permintaan pertemanan kepada wanita itu. (mungkin lebih pastinya karna dia baru dengan hal ini, jadi ingin punya lebih banyak teman).***Hari pun terus berlalu dia pun tak peduli dengan sebuah profil wanita tersebut. Karna dia selalu asyik dengan obrolan teman-teman facebook-nya yang lain. Namun, hari ini dia melihat dalam beranda sebuah obrolan antara temannya dan wanita yang beberapa hari yang lalu dia add. Disinilah mulai perbincangan antara dia dan wanita dimulai. Nama ku brian atau lebih sering di panggil rian, yah bisa dibilang manusia yang sederhana senang dengan hal-hal yang berbau traveling. Tapi dalam urusan cinta aku sangat pendiam dan terkadang membiarkan perasaan cintanya berlalu begitu saja. Dalam obrolan antara teman aku dan wanita itu, teman aku menyebut-nyebut nama aku untuk dijadikan motif dia berkenalan dengan wanita itu.Yah, mungkin karna wanita itu tinggal di daerah yang berdekatan dengan ku. Itu sebabnya aku dijadikan motif teman aku untuk berkenalan. Mungkin karna itu juga yang membuat mataku terfokus pada tulisan di beranda facebook-ku. Akhirnya pun aku ikut tergabung dalam obrolan itu. Dan mulai menulis sebuah komentar didalamnya.“weh man, apa maksudnya tuh bawa-bawa nama gw. Kalo mau kenalan sama cewe jangan bawa-bawa nama gw geh”. Dengan kata “geh” yang mencirikan logat bahasa di daerah ku. Hahahaaa.. cukup lucu sih kalo di denger satu kata yang aneh itu. Mungkin hanya orang-orang d daerahku yang mengerti apa maksud dari kata itu. Temen aku yang ini namanya iman, yah ketika kita SMA dulu, dia memang dia terkenal playboy-nya, sampai-sampai banyak teman yang udah men-cap-nya seperti itu. Di saat yang bersamaan wanita itu pun membalas komentar dan mulai-lah awal perbincangan ku dengan wanita itu. Namanya aini yang ternyata dia juga alumni SMA yang sama dengan aku dan temanku. Tapi entah mengapa aku dan temanku tak sadar. Sebenernya aku sudah tau kalau dia bersekolah yang sama dengan aku dan temanku, namun walau rumahku satu daerah dengannya tapi aku tak tau siapa namanya, hanya saja aku sering liat dia lewat depan rumahku waktu sekalo dulu. Disini awal ketertarikanku untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Namun itu hanya ketertarikan naluriah seorang wanita, dan seperti biasanya aku pun tak berani mencari tau lebih banyak lagi tentang waktu itu, yah karna sifat aku yang tak berani memulai suatu hubungan. Dan akhirnya dia pun mengconfirmasi prmintaan pertemanan aku. Akhirnya kita pun sering berinteraksi di dunia maya. Kita saling bertanya satu sama lain tentang diri masing-masing. Yah dari mulai hal-hal yang sepele untuk di perbincangkan sampai hal-hal yang menyangkut tentang pribadi masing-masing. Yah dari perbincangan itu bisa di simpulkan bahwa dia wanita yang cukup asyik, menarik, dan nyambung untuk di ajak berbincang.Setelah sekian lama kita sering wall-to-wall, nge-chat, sampai coment-coment d facebook, akhirnya dia pun bilang kalau dia udah mulai jarang untuk berselancar di dunia maya. Sampai akhirnya dia pun mengajak aku untuk berbincang lewat handphone saja. “hey ian, aku udah jarang buka fb nih. Gimana kalau smsan saja” seru dia di wall. “yah, tapi kan gw gak tau nomor hape lho” aku pun membalas wall dia. “nih nomor ku……”. ***Waktu pun kian berlalu membawa aku dan aini saling kenal lebih jauh lagi. Dan akhirnya kita pun sepakat untuk pergi nonton berdua, ini awal pertemuan tatap muka kita yang pertama. Yah walau sedikit aneh sih, walaupun rumah kita satu daerah dan pernah satu sekolah tapi kita belum pernah berbincang secara langsung.Hari itu matahari bersinar sedikit agak panas, yah walau sedikit agak panas tapi aku dan aini tetap berjanjian untuk pergi nonton bersama. Kami pun pergi berangkat menuju bioskop, dalam perjalanan kami pun banyak berbincang soal keanehan mengapa kita tak pernah berbicara langsung seperti ini sejak dulu. Disinilah awal dari aku timbul rasa suka sama aini, atau lebih tepatnya sayang. Saat itu hati aku sulit untuk dikendalikan, yah karna memang perasaan ini sulit untuk di ajak kompromi. Namun lagi-lagi aku sulit untuk mengatakannya. Sampai-sampai sejenak keadaan menjadi hening karna tak ada satu patah kata pun yang keluar dari kita. Dan akhirnya kita pun memutuskan untuk langsung pulang saja, tanpa ada pertemuan yang lebih panjang lagi.***Hari ini aku hanya duduk d hamparan teras alam yang beralaskan rerumputan yang hijau yang tersinari cahaya senja. Yah hari ini memang sudah sore, saat ketika matahari mulai meredupkan sinarnya, saat dimana sang gereja kecil mulai kembali ke sarangnya, dimana saat langit biru mulai memudar menjadi jingga.dan saat dimana aku sering menikmati keindahan senja. Disini aku sering sekali mencurahkan semua yang ada di hati dan perasaanku. Disini juga aku sering membuat tulisan-tulisan baik tengtang perasaan maupun tentang keadaan yang ada di sekeliling aku. Sampai akhirnya hari ini aku menulis sebuah puisi tentang sore itu.“Pesona jingganya”Di kala cahayanya mulai terbenamBukan berarti keindahannya menghilangNamun terpancar dalam lukisan jingganyaYang tergores indah dalam bentangan langitSisi demi sisi terlihat begitu mempesonaBerpadu satu dengan awan putih yang mulai berubah jinggaYang mulaia menghanyutkan suasana dalam hatiYang terbawa oleh hembusan anginJika jingganya tak mampu kau rasakanCobalah tuk mencarinya dalam heningJika itu tak mampu kau temukan juaJangan pernah berhenti berharap untuk esok hari datang kembaliAku sering menghabiskan waktu ku disini itu karna ada sebabnya, yah sebuah penyakit yang selalu menghampiriku disaat-saat tak tentu. Mungkin ini juga yang membuatku untuk sulit menyatakan cinta yang ada dihatiku, karna aku terlalu takut meninggalkannya di saat yang tak tepat. Jangtungku yang lemah telah mencapai pada masa yang kronis, sehingga membuat sang dokter memfonis aku tak punya waktu lama untuk dapat menikmati hidup yang indah ini. Itu sebabnya aku sering menghabiskan waktu di tempat yang indah ini, terkadang aku pun mengajak aini ke tempat ini. Yah saat ini pun aku mengajaknya, namun dia telat untuk datang ke sini.“hay rian” suara lembut terdengar ditelingaku yang juga membuyarkan khayalanku sore itu. Dengan tatapan yang masih kosong aku pun menjawab “yah, hay juga aini”. “map aku telat datang yah” sambung aini. “yah gapapa, aku juga baru datang kok” sahutku.Aini pun duduk di sampingku seraya dia pun terlarut dalam suasana sore yang berikan keindahan ini. “kamu sedang nulis puisi atau cerpen yah?” aini membuka percakapan kita. “yah aku baru menyelesaikan sebuah puisi”. “mana coba aku liat” sambil merebut buku yang ku pegang. Akhirnya kami pun terlarut dalam obrolan yang mengasyikan di tempat itu.***Di dunia ini hanya aku dan keluarga saja yang tau tentang penyakit ini, bahkan aini pun tak mengetahuinya. Dia hanya tau aku yang suka humor, suka buat tulisan, dan membaca novel. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sejak perasaan aneh ini merasuki hatiku, aku ingin jika aini tau semua perasaanku namun aku pun tak mau membuat hatinya bersedih ketika aku harus meninggalkan dia di saat yang tak tepat. Setelah sekian lama perkenalan diantara kita, kita pun telah melalui semua bersama-sama, karna sejak perkenalan kita pertama kali kita jadi lebih sering bermain bersama. Sampai saat ini aku hanya bisa menyembunyikan semua perasaanku padanya. Sampai pada akhirnya akupun di larikan ke rumah sakit karna jantungku yang terasa berhenti berdetak. Aku pun hanya bisa pasrah semoga tuhan masih beri aku waktu untuk tetap bisa menikmati hidup setidaknya sampai aku punya keberanian untuk mengatakan semua isi hatiku pada aini.Aini yang tak tau keadaan ku yang menghilang tanpa jejak beberapa hari belakangan mulai bertanya-tanya pada hatinya kemana aku sampai tak menghubunginya beberapa hari belakangan ini. Sampai pada akhirnya jantungku pun tak mau untuk mendenyutkan dan berdetak kembali seperti biasa. Yah, kali ini aku telah di panggil sang kuasa. Karna dia tak mengizinkanku untuk bisa hidup lebih lama lagi. Aini yang mengetahui kabar bahwa aku telah tiada merasa kesedihan yang besar. Dia pun merasa sangat terpukul atas kepergianku.Mungkin satu hal yang aku sesali, ini bukan hanya isi hatiku yang tak bisa menyampaikannya kepada aini, tapi aku memang sama sekali tak bisa menyampaikanya kepada aini sampai kapanpun, karna tuhan tak mengizinkanya.The endPenulis: Deny fadjar suryamanFb : denyfajarsuryaman@rocketmail.comTwitter : @denyfadjarDenyfadjarsuryaman.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*