Story About us ~ 03 | Cerpen terbaru

Story About us _ Lagi lagi cerpen yang sempat terlupakan #GetokAdminnya. Thanks for Vhany karena udah ngingetin. Ah, sifat pelupaku sudah mendekati taraf dewa sepertinya.
So tanpa perlu basa basi panjang lebar lagi, lanjut baca aja yuks. Oh ya, untuk part sebelumnya bisa klik di sini.
Happy reading…!!..

Story About us
Keesokan harinya, Vanno dengan senangnya duduk di kursi samping tantenya untuk sarapan bareng, yang tentu membuat tante dan omnya bingung, kira-kira nih anak kesambet apa lagi ea?
"Vanno, kamu kesambet apa lagi sekarang?" tanya tantenya.
"Hust, tante. Sembarangan aja, masa' keponakannya sendiri di bilang kesambet sich. Vanno itu lagi seneng tante…" kata Vanno.
"Kamu seneng kenapa? menang lotre lagi ea?"
"Ini bukan hanya menang lotre tante… pokoknya lebih dari apa pun deh tante…" kata Vanno sambil tersenyum-senyum.
"Sukses jalan nya kemaren?" tanya om Frans kearah Vanno.
"Wah sukses besar om, bahkan lebih sukses dari harapan."
"Oh ea? Maksudnya sukses gimana tuh?" tanya tantenya bingung.
"Tante sama om tau nggax sih…"
"Enggax" jawab tante dan omnya serentak, yang buat Vanno jadi bingung."ia, tante sama om nggax tau, emang tau apa?" tanta tantenya.
"Ta makanya Vanno mau kasih tau…" kata Vanno sebel karena di potong pembicaraannya "Vanno itu… baru jadian sama seorang cewek."
"Ha?! yang bener kamu? bukannya kamu baru beberapa hari di sini ea, kok udah dapat gebetan sih?" tanya tantenya heran.
"yaah tante, kayak nggax tau Vanno aja, gini-gini kan Vanno keren tante. Jadi nggax susah donk cari gebetan?".
"Siapa cewek bego yang mau di tipu sama kamu?" tanya om nya.
"Ah om kok ngomongnya kayak gitu sih."
"He he he, bercanda. Emang siapa yang berhasil kamu gaet di sini?."
"Emmm dia…"
"Jangan bilang cewek itu Vanny" potong tantenya cepat.
"Emang kalau Vanny kenapa ma?" tanya 0m Frans.
"Ia tante, emang kalau Vanny kanapa?"
"Karena itu nggax mungkin. Impossible"
"Ada yang salah ea?" tanya Vanno bingung.
"Tante kasi tau ya. Vanny itu orangnya tertutup banget, nggax gampang di taklukin. Jadi dia nggax mungkin bisa nerima kamu gitu aja, jangan kebanyakan ngayal bisa mendapatkannya…" kata tantenya.
"0h mama, papa kira ada apa…" kata om Frans lega.
"Ia nih tante, Vanno kira ada apa. Tapi kalau itu tante tenang aja, Vanno bisa menanganinya kok. Buktinya sekarang dia pacar Vanno" kata Vanno dan tante nya langsung tersedak, karena kaget. om Frans langsung menyodorkan air minum untuk istrinya.
"Pelan-pelan tante…" kata Vanno.
"Serius kamu van?!" tanya tantenya nggax percaya.
"Serius apa nya?."
"Serius, Vanny pacar kamu?"
"Ya serius lah tante, buat apa sih Vanno ngebohong. Ya ini beneran lah, Vanny pacar Vanno kenapa? tante nggax setuju ea?" tanya Vanno.
"Bukan itu, tante sih fine-fine aja. Tapi masa' sih, Vanny bisa luluh sama kamu?" tantenya mulai nggax percaya. "Kamu pakai ilmu apa?"
"Mama nih, Vanno itu kan nggax jelek-jelek amet. Lagian ini pasti karena omnya keren, jadi nular ke keponakannya…" kata om Frans.
"Ha, bener tuh om" Vanno membenarkan. "Lagian tante, siapa sih yang mau nolak jadi pacar Vanno, cowok paling keren, rajin, baik, cool, plus gemar menabung" lanjutnya semangat.
"Tunggu-tunggu-tunggu…., kalau yang lainnya sih 0k, tapi kalau yang gemar menabungnya buat apa?" tanya tatenya bingung begitu juga sama omnya. Vanno langsung senyum-senyum gaje alias nggax jelas.
"Ah tante sama om macam tak tau-tau aja… ya itu kan cuma buat gaya aja. gimana sih, yaaa agar terlihat lebih kerenan dikit gitu…" kata Vanno sambil tersenyum-senyum.
"0h kirain beneran,…" kata om dan tantenya.
"Ya nggax lah he he he"
"Kamu berangkat bareng om van?" tanya om Frans.
"Emmm, nggax deh 0m. Vanno mau ngantar Vanny ke tempat kerjanya dulu, abis itu baru Vanno berangkat kerja, kita ketemu di kantor aja gimana?" tanya Vanno mengusulkan.
"Ya udah terserah kamu aja…" kata om Frans.
"Tapi van, bukannya Vanny itu guru private ea. Dan kalau guru private kan biasanya kerja siang. Emang pagi-pagi gini, dia kerja di mana?" tanya tantenya sambil mengingat-ingat.
"Kata Vanny, kalau pagi, sekarang dia kerja ngajar di TK emang tante nggax tau?" tanya Vanno.
"Emmm, kurang tau juga sih, abis dia nggax pernah cerita kalau kerja ngajar di TK, sejak kapan ea…. prasan bisanya tiap pagi dia di sini…"
"Ya iyalah, orang sejak hari ini, dia mendaftarnya udah lama juga tapi, baru di panggil sekarang katanya…."
"0ooh, pantesan aja tante nggax tau…" kata tantenya.
"Emmm ya udah tante, Vanno berangkat dulu ea…"
"Ia hati-hati…"
"Pasti. emm, om kita ketemu di kantor ea…" kata Vanno sambil beranjak dari tempat duduknya, yang di balas anggukan sama om Frans.
Story About Us
Hari-hari berlalu, tanpa terasa udah hampir 4 bulan Vanno berada di rumah tantenya, dan itu berarti udah hampir 4 bulan juga Vanno jadian sama Vanny, dan itu membuat ke duanya menjadi akrab. Kemana-mana selalu berdua, bahkan di rumah juga sering ngobrol bareng di balkon kamar masing-masing.
Setiap hari Vanny kerjanya selalu di antar sama Vanno, dan setiap pulang selalu di jemput, kadang-kadang juga mereka makan siang bareng kalau ada kesempatan. Setiap malam minggu mereka nonton bareng sambil jalan-jalan, pokoknya seneng-seneng deh.
Dan siang itu, selesai makan siang, saat Vanno lagi menunggu Vanny yang bilang mau ke toilet bentar, ia melihat seorang cowok yang tak jauh darinya, terlihat sedih, kecewa, marah, dan sempet nangis juga. Vanno jadi merasa kasihan, setelah fikir-fikir dulu, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri tuh cowok.
"Maaf, permisi…" kata Vanno cowok itu menoleh "Boleh gue duduk di sini?" tanya Vanno, cowok itu menatap Vanno kemudian mengangguk, Vanno pun duduk di samping tuh cowok yang ia juga nggax tau siapa.
"Sebelumnya gue minKarena nggax baik menyimpan semuanya sendiri, bisa-bisa kita sedih terus…" kata Vanno.
"Makasih, gue Aldy, sebenernya gue juga nggax tau, kenapa gue jadi lemah kayak gini. Padahal dulu gue nggax pernah merasa sedih bahkan sampai menangis, tapi gara-gara seorang cewek, gue…" cowok itu yang mengaku bernama Aldy nggax bisa meneruskan kata-katanya.
"Seorang cewek? Emm kalau loe nggax keberatan loe boleh kok cerita sama gue. Gue siap mendengar curhatan loe, ya tu sih kalau loe merasa kita temen. Atau kita bisa kok jadi temen…" kata Vanno sambil mengulurkan tangannya.
Aldy tampak berfikir-fikir sambil menatap wajah Vanno, tapi Vanno bener-bener tulus, lalu Aldy membalas uluran tangan Vanno sambil berusaha untuk tersenyum.
"Terima kasih ea, loe mau jadi sahabat gue…. Padahal kita baru kenal," kata aldy berusaha untuk tersnyum.
"Santai aja lagi, jadi apa masalah loe. Ya kali aja gue bisa bantu. Kalau nggax loe pasti bakal merasa lebih tenang setelah cerita sama gue" kata Vanno.
Awalnya Aldy diam saja, tapi setelah mikir beberapa saat ia cerita.
"Dulu, gue punya seorang cewek yang sangat gue cintai. Gue merelakan dia pergi ke luar kota untuk mengejar cita-citanya.Di sini gue sangat mengharapkan dia kembali manjadi orang yang sukses, dan berniat akan melamarnya, setelah dia selesai mencapai cita-citanya. Tapi…" Aldy menitiskan air matanya "loe tau nggax apa yang terjadi setelahnya. Tu cewek menghianati gue…" lanjutnya dengan sedih.
"Maksudnya, dia pergi sama cowok lain gitu?" tanya Vanno.
"Bukan cuma pergi sama cewek lain, bahkan dia pulang kesini dengan suami serta anaknya. Loe bisa bayangin nggax sih gimana prasaan gue saat ini. Gue itu sedih banget.Bahkan kita udah janji, setelah dia pulang kesini, kita bakal nikah, tapi…" Aldy makin sedih.
"Udah, loe nggax boleh sedih gara-gara cewek, loe harus tau. Jodoh itu di tangan tuhan" nasehat Vanno.
"Gimana gue nggax sedih. Cewek yang selama ini gue percaya, tega menghianati gue kayak gini. Apa dia nggax punya prasaan. Dia fikir gue itu apa. Kalau dia ngomong dari awal mungkin gue masih bisa maafin, tapi ini. Gue udah sangat mengharapkan menjalani rumah tangga sama dia. Apa dia nggax pernah berfikir tentang gue sedikit pun?"
"Sabar Al, sabar. Mungkin dia bukan yang terbaik buat loe. Kali aja loe dapat pengganti yang lebih baik dari pada dia."
"Tapi gue udah terlanjur mencintai dia.Gue nggax bisa berpisah sama dia kayak gini, gue merasa sakit hati banget. Bahkan gue merasa lebih baik bunuh diri aja. Gue udah nggax sanggup untuk hidup bila berpisah dengan nya kayak gini…" kata Aldy.
"Aldy, loe nggax boleh ngomong kayak gitu, hidup loe masih panjang. Loe nggax boleh lemah hanya karena seorang cewek" nasehat Vanno.
"loe bisa ngomong kayak gitu karena loe nggax ngerasain gimana sakitnya di khianati… sakit tau nggax. Sakiiiiit. Gue sedih banget. Gue merasa di campak kan gitu aja. Gue udah nggax di anggap lagi. Ini tu bener-bener menyakitkan" kata Aldy dengan sedihnya. "Gue merasa nggax ada artinya gue hidup. Dan semua yang gue tunggu selama ini sia-sia. Gue nggax nyangka orang yang selama ini gue sayang, gue percaya, dan gue cintai, tega mengkhianati gue kayak gini…" lanjutnya.
"Tapi ini bukan berarti loe harus bunuh diri kan…"
"Gue juga nggax tau deh van, yang penting sekarang udah nggax ada artinya lagi gue hidup. Semuanya percuma".
"loe nggax boleh ngomong gitu, loe harus sabar. Suatu saat nanti loe pasti bakal dapat jodoh yang lebih baik, asal loe mau berusaha untuk melewati semua ini, dan menerima apa yang udah terjadi"
"Huufffh… gue bakal mencobanya. trims ea, loe udah mau susah-susah menghibuh n' menasehati gue kayak gini…" kata Aldy.
"Ini lah gunanya teman"
"Iya. Gue baru tau sekarang kalau masih ada yang mau perduli sama gue, gue harap loe jangan seperti mantan pacar gue itu ea, jangan pernah menyakiti cewek, karena sakitnya di khianati itu nggax bakal sembuh dengan cepat" nasehat Aldy.
"Pasti" jawab Vanno "gue nggax bakal mengkhianati cewek, apa pun alasannya, gue janji sama loe, gue pasti nggax bakal mengkhianati cew…" kata-kata Vanno terhenti saat mengingat apa yang telah ia lakukan saat ini, bayangannya langsung ke arah Vanna yang berada jauh darinya. Pasti kalau Vanna tau apa yang ia lakukan di sini, juga bakal mengalami nasib yang sama seperti Aldy. Vanno jadi merasa bersalah.
"Loe janji ea…"
"i.. ia. gue janji" kata Vanno.
"Bagus lah kalau begitu…" kata Aldy sambil mencoba untuk tersenyum.
"Eh, Vanno…" kata seseorang dari samping, Vanno dan aldy langsung menoleh. Ternyata Vanny.
"Eh Vanny, udah mau pulang?" tanya Vanno.
"emmm, udah sih, tapi… loe masih ada urusan ea?" tanya Vanny.
"emmm, gue…" Vanno melirik Aldy di sampingnya.
"Loe kalau mau pulang, pulang aja dulu, gue udah nggax apa-apa kok" kata Aldy yang seperti tau apa yang di fikirkan Vanno.
"loe seriuz?" tanya Vanno nggax tega.
"Ia, gue seriuz, trims ea, loe udah mau jadi temen curhat gue, berkat elo, gue udah merasa lebih baik sekarang…" kata Aldy sambil berusaha untuk tersenyum.
"loe yakin, udah nggax apa-apa?"
"ya iyalah, gue yakin kok"
"loe… nggax mungkin bunuh diri kan?"
"Haha ha ha,, ya nggax lah, tadi itu gue cuma bercanda. Mana mungkin gue bunuh diri cuma gara-gara itu, gue masih bisa berfikir dengan baik kaleee…" kata Aldy sambil tersenyum.
"ya udah kalau gitu, gue pulang ea…" kata Vanno. Aldy hanya membalas dengan anggukan kepala dan tersenyum. setelah Vanno pergi Aldy kembali terlihat kecewa dan sedih.
"Ada apa?" tanya Vanny saat di perjalanan.
"Nggax ada apa-apa kok. emmm, kita jadi ke toko buku kan?"
"ya kalau loe nggax keberatan"
"ya nggax lah, mana mungkin gue keberatan. emmm, ya udah yuk" ajak Vanno sambil melangkah menuju parkiran begitu juga dengan Vanny.
Begitu tiba di rumah, Vanno langsung masuk kamarnya dan tiduran di kasur, pikirannya melayang entah kemana, membayangkan apa yang terjadi dengan Vanna kalau tau apa yang di lakukan nya di sini, dan mengkhianati cinta Vanna. Apa Vanna bakal sedih seperti aldy, atau bakal nekat bunuh diri juga?
"Auaaah…. apa yang telah gue lakuin…." Vanno mengacak-acak rambutnya bingung.
"Vanna, maaf in gue… gue udah mengkhianati elo… gue nggax tau kalau akhirnya bakal kayak gini… gue bener-bener bingung… mana gue udah terlanjur suka sama Vanny lagi… Tuhan, maaf in gue… tolong bantu gue melewati ini semua…" lanjutnya.
"apa… gue ngaku aja yea…" tanyanya sendiri "tapi… apa bakal baik-baik aja? aduuuh gue jadi makin bingung. seharusnya apa yang gue lakuin sekarang… ngaku atau nggax. tapi kalau gue nggax ngaku… selamanya gue bakal terus menyakiti mereka berdua. gimana pun juga ini semua salah gue…" lanjutnya.
"gue harus ngaku" kata hatinya pasti "ia, gue harus ngaku, apapun yang terjadi nantinya itu adalah resiko dari apa yang telah gue lakuin, jadi gue harus menanggungnya. gue harus tegas. dan tanggung jawab, Vanna, Vanny maaf in gue ea, gue udah menyakiti kalian tanpa kalian sadari, gue nggax tau lagi harus berbuat apa…"
"sepertinya mengaku sekarang itu lebih baik, gue harus bilang sama Vanny apa yang sebenernya terjadi, setalah itu, terserah dia mau bagaimana, mau mutusin gue atau apapun gue harus menerimanya karena ini emang salah gue… ia. bener. gue harus mengakuinya sekarang. Tuhan, kuatkan lah gue… supaya gue bisa berani mengakui kesalahan gue sama Vanny…." kata Vanno sendiri.
To Be Continue…
Next is the last part. Penasaran kan sama endingnya. Oh ya ngomong ngomong, Story About Us ini di ambil dari kisah nyata lho, yah tentu saja dengan sedikit pengubahan seperlunya. Yang jelas reaksi pertama waktu denger 'Vanno' cerita, Adminnya ngakak guling guling sambil bilang "Syukurin…!". XD
Terakhir, jangan lupa like fanpage Star Night ya, di sini.

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 05 / 13

    Next dari kisah kala cinta menyapa part 5, secara cerpen requesan yang satu ini emang rada molor. Tepatnya 13 part. Untuk yang penasaran dengan lanjutannya bisa langsung simak kebawah. Sementara reader baru mendingan baca bagian sebelumnya dulu biar nyambung melalui kala cinta menyapa bagian 4. Yang jelas, happy reading aja lah….Kala Cinta MenyapaBegitu turun dari bus Rani segera melangkah menuju kekelasnya. Tak lupa kado yang ia beli kemaren ia tenteng di tangan. Hari ini kan Irma ulang tahun, jadi sekalian saja ia bawa kekampus. Sambil melangkah kekelas tangannya melirik jam dan sekali – sekali menoleh ke sekeliling. Kenapa ia belum melihat wujud sahabatnya ya?. Setelah berfikir beberapa saat segera di keluarkannya hape dari dalam saku. Mengetikan beberpa kata sebelum kemudian meng’send’nya. Tidak sampai semenit hapenya terlihat berkedip – kedip sebagai tanda ada pesan masuk.“Yah, Irma malah sakit. Terus kado ini gimana donk,” rumam Rani pada dirinya sendiri sambil melirik kado yang ada di tangan. Setelah berfikir untuk sejenak ia memutuskan untuk memberikannya besok saja dan memilih untuk langsung kekelas.Saat melewati koridor tak sengaja ia berpapasan dengan Erwin yang muncul dari arah berlawan. Rani segera membatalkan niatnya untuk menyapa saat melihat Erwin yang sama sekali tidak menoleh kearahnya tapi justru malah asik berbicara pada sahabatnya yang entah siapa. Akhirnya Rani kembali melanjutkan niat awalnya untuk kekelas.“Eh Erwin, masih inget nggak cewek yang gue bilang kemaren?” tanya Joni sambil melirik kearah Erwin yang melangkah di sampingnnya. Sama sekali tidak menyadari kalau lawan bicaranya saat ini justru diam – diam melirik kearah seseorang yang baru saja berpapasan dengannya.“Ternyata dia sudah punya pacarlah,” Sambung joni lagi.“O,” balas Erwin singkat.“Sayang banget ya, gagal deh gue jadiin pacar."“Heh,” Erwin hanya mencibir sinis.“Padahal gue udah terlanjur naksir sama dia. Eh, kemaren sore gue malah nggak sengaja liat dia jalan bareng sama Doni di taman bermain waktu pembukaan kemaren."“Doni?” ulang Erwin.“Iya… Seangkatan sama kita. Tapi dia anak ekonomi,” terang Joni kemudian.“O, dia,” balas Erwin tampak mengagguk – angguk.“Loe kenal?” tanya Joni lagi.“Enggak,” kali ini Erwin mengeleng.“Busyet. Kalau loe nggak kenal ngapain loe pake sok gaya kenal segala,” gerut Joni kesel. Erwin hanya angkat bahu.“Tapi gue nggak heran juga si kalau loe nggak kenal. Secara loe kan kuper,” balas Joni meledek.“Sialan loe, gue sekeren ini di bilang kuper. Nggak tau apa loe kalau gue ini tu jadi idola kampus,” balas Erwin terlihat narsis membuat Joni mencibir sinis walau tak urung dalam hati membenarkan ucapan sahabatnya barusan.“Eh tapi joni, loe kan tau banyak tentang anak – anak kampus kita. Nah, loe kenal nggak sama cewek yang berpapasan sama kita tadi?” tanya Erwin setelah beberapa saat mereka terdiam.“Cewek?. Cewek yang mana?” tanya Joni heran.“Yang tadi itu lho. Dia pake baju warna merah, terus pake kacamata. Kita ketemu tadi ruang lab,” terang Erwin lagi. Joni terdiam, mencoba mengingat – ingat tentang orang yang di makstu oleh sahabatnya.“O… Maksut loe si Rani?"“Iya… Loe kenal?” tambah Erwin lagi.“Kenal deket si enggak. Tapi gue tau lah. Dia itu anaknya lugu dan poloskan?” tambah Joni lagi.“Dia memang polos. Terus imut juga,” humam Erwin lirih tanpa sadar tersenyum teringat kejadian – demi kejadian yang telah lalu.“Imut?” ulang Joni heran sambil memperhatikan reaksi sahabatnya yang tidak biasa. Kali ini Erwin mengangguk membenarkan.“Kenapa loe menatap gue kayak gitu?” tanya Erwin heran saat mendapati tatapan temannya yang menyipit kearahnya.“Tumben loe nanyain cewek. Ini pasti ada apa – apanya kan?” tembak Joni langsung.“HA?”“Pake ngatain imut segala lagi. Loe naksir dia ya?” sambung joni lagi.“Apa an si. Ya enggak lah,” bantah Erwin terlihat salah tingkah. “Jangan ngaco deh loe."“Terus maksut loe bilang dia imut segala apa?”“Ya dia memang imut. Apa lagi waktu dia sedang tidur. Polos kayak bayi,” terang Erwin sambil tersenyum. Namun sedetik kemudian ia menyesali ucapannya saat mendapati senyuman aneh di wajah Joni. Astaga, apa yang ia katakan barusan?“Waktu dia tidur? Hei, apa ada yang terlewatkan di sini?” tanya Joni.“Oh, kita sudah telat, Ayo langsung kekelas,” elak Erwin sambil melangkah cepat namun masih kalah cepat dengan langkah Joni yang menghalangi.“Eits, tunggu dulu. Loe mau kemana? Kelas kita baru masuk setengah jam lagi. Masih ada cukup waktu untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya,” tahan Joni membuat Erwin gelisah.“Apaan si. Nggak ada apa – apa kok. Gue tadi cuma salah ngomong doank."“Jangan ngeles. Loe liat dia tidur dimana?” tanya Joni lagi. Kali ini Erwin benar – benar di buat mati gaya olehnya.“Jangan bilang kalau loe suka ngintipin cewek tidur?"“Pletak”Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Joni atas balasan tebakan ngawurnya.“Sialan loe. Sakit tau,” gerut Joni sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut.“Makanya kalau ngomong jangan asal njeplak,” balas Erwin cuek.“Ya sudah kalau gitu loe cerita donk,” serang Joni balik.Erwin terdiam sejenak. Menimbang – nimbang apa yang harus dia lakukan. Menceritakan semuanya atau tidak?“Tunggu dulu. Gue baru inget. Kalau nggak salah Rani itu cewek yang di gosipkan nyelamatin loe waktu jatuh setelah pulang bermabuk – mabukan kan? Ah, soal gosip itu kan loe juga belum cerita. Secara gue juga heran, sejak kapan loe doyan minum?” ujar joni setengah berteriak.“Atau jangan – jangan loe beneran mabok, terus loe ketemu cewek. Dan kayak di drama – drama gitu, loe nggak sadar dan kemudian…”“Pletak."Untuk kedua kalinya jitakan mendarat di kepala Joni yang bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya.“Imagi loe terlalu liar,” sungut Erwin sebel.“Dari pada tangan yang liar,” protes Joni sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut.“Salah sendiri mikir aneh – aneh."“Kalau loe nggak mau gue mikir yang aneh – aneh makanya buruan cerita. Gosip itu bener nggak si. Perasaan tu gosip hot banget."“Tentu saja salah. Enak aja. Seumur – umur gue nggak pernah tu minum – minuman. Yang nyebarin gosip itu aja yang sedeng. Seenaknya aja. Lagian Si Rani bukan bantuin gue, hanya saja kebetulan dia memang ada di dekat gue waktu gue jatuh kedalam got. Dan dia….”“Loe jatuh dalam got? Wukakakka,” potong Joni tak mampu menahan tawanya. Membuat Erwin memberengut sebel dan menyesal telah mengatakannya.“Sudah lah, lupakan saja,…” kata Erwin akhirnya sambil berjalan meninggalkan Joni.“Hei tunggu dulu. Ngambek kayak cewek aja. Loe kan belum cerita sampai selesai. Lagian loe juga belum bilang gimana ceritanya loe bisa liatin tu cewek tidur yang katanya imut,” tahan Joni lagi.“Kan sudah gue bilang, lupakan!” sambung Erwin kemudian.“Loe harus CE-Ri-TA!” hadang Jodi penuh penekanan.“Kalau gue nggak mau?” tantang Erwin.Mata Joni sedikit menyipit sambil tersenyum sinis.“Loe mau gosip ‘Versi’ Joni menyebar? Ho ho ho, Sepertinya loe belum tau kemampuan gue dalam bergosip ria ya?”Erwin menghentikan langkahnya. Menatap lurus kearah Joni. Setelah menghela nafas akhirnya ia berujar. “Baiklah. Gue akan cerita. Tapi nggak disini. Ayo ikut gue."“Nah, gitu donk,” Joni tertawa penuh kemenangan dan segera berjalan mengikuti Erwin yang entah akan membawanya kemana.Kala Cinta Menyapa Selama Pelajaran berlangsung Erwin sama sekali tidak konsentrasi. Bukan saja karena dosen yang mengajarkannya sama sekali tidak menarik tapi juga karena Joni sedari tadi terus menginterogasinya. Padahal ia sudah menceritakan semuanya tanpa di tambah atau di kurang sedikitpun. Di tambah lagi makluk satu itu juga telah menyimpulkan hal yang konyol atas kasusnya. Masa ia dikira naksir sama tu cewek. Yang benar sajalah.Begitu jam kuliah selesai Erwin segera beranjak bangun. Bersiap – siap untuk pulang. Joni tentu saja langsung mengekor di belakang.Saat melewati ujung koridor matanya tak sengaja menangkap sosok rani yang berjalan dikejauhan.“Eh Erwin, itu bukannya cewek yang loe taksir ya?” tunjuk Joni.“Gue nggak naksir sama dia!” balas Erwin penuh penekanan.“Iya deh, loe nggak naksir. Gue ralat omongan gue tadi,” Joni memonyongkan mulutnya sebel . “Erwin, itu bukannya cewek yang loe bilang imut ya?” sambung Joni sok polos tanpa merasa bersalah sedikitpun. Padahal jelas – jelas saat ini Erwin sedang menatap tajam kearahnya.“Loe nggak bisa protes. Loe kan emang bilang ke gue kalau menurut loe tu cewek imut,” potong Joni cepat.“Terus kenapa memangnya?” geram Erwin sebel.“Loe nggak pengen nyamperin dia?”“HA?”“Eh tunggu dulu, itu bukannya si Doni, cowok yang jalan bareng cewek yang gue taksir?” sambung Joni lagi. Refleks pandangan Erwin terarah mengikuti telunjuk Joni dimana tampak Rani yang sedang menghampiri cowok yang ‘katanya’ bernama Doni.“Ayo kita hampiri,” sambung Joni lagi sambil menarik tangan Erwin.“Eh tunggu dulu. Mo ngapain si?” tahan Erwin cepat menghadang langkah Joni.“Ya ela. Loe nggak liat tu cewek bawa kado. Jangan bilang kalau dia mau ngasi ke tu cowok. Ya ampun masa mentang – mentang kita sahabat nasip kita sama?” keluh Joni.“Nggak, Kita di sini aja!"“Tapi…” Joni tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam Erwin. Walau ia masih penasaran namun tak urung ia manut dan memilih memperhatikan Rani dari kejauhan.Sementara itu, Rani sendiri yang berniat untuk langsung pulang segera membatalkan niatnya saat matanya mengangkap sosok yang sepertinya ia kenal. Tanpa pikir panjang segera dihampirinya.“Doni!”Merasa namanya di panggil Doni yang berniat langsung pulang berbalik, keningnya berkerut heran saat mendapati gadis berkacamata yang kini berlari kearahnya.“Loe beneran Doni kan, yang biasanya bareng sama Irma?” tanya Rani mencoba memastikan.Masih belum mengerti arah tujuan pembicaraan mereka, Doni memilih hanya membalas dengan anggukan.“Buat gue?” tanya Doni dengan kening berkerut saat melihat cewek yang tidak di ketahui identitasnya menyodorkan kado tepat ke wajahnya.“Tentu saja bukan, emang nya siapa elo. Kenal juga kagak. Ini itu kado buat Irma. Hari ini kan dia ulang tahun. Tadinya mau langsung gue kasi kedia. Eh , waktu gue SMS dia bilang malah dia sakit. Ya udah, gue belom sempet mampir ke sana. Makanya karena katanya loe itu tetanggaan sama dia gue titip sama loe aja ya?”“Irma? Sakit? Terus hari ini dia juga ulang tahun?” tanya Doni kaget.Melihat Wajah kaget sekaligus bingung yang tergambar dari wajah Doni membuat Rani kembali menarik kotak kado yang ia sodorkan.“Oh, gue salah orang ya? Maaf, gue pikir loe itu sahabatnya Irma yang biasanya sering pulang – pergi bareng. Jadi bukan ya?” tanya Rani bingung sambil mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.“Bukan, maksud gue bener. Gue memang sahabatnya Irma kok,” Doni cepat meralat.“La kalau loe memang sahabatnya dia masa loe nggak tau kalau hari ini dia ulang tahun. Mana katanya lagi sakit lagi. Jangan – jangan…”Rani tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Doni sudah terlebih dahulu berlari pergi meninggalkannya. Matanya terus menatap kepergian Doni dengan bingung sekaligus kecewa. Kenapa hanya sekedar di titipin kado saja tu orang nggak mau. Akhirnya dengan langkah gontai Rani melanjutkan niatnya untuk langsung pulang saja. Soal kado, sepertinya ia baru bisa memberikan setelah ia bertemu Irma langsung. Hu… Next to Kala Cinta Menyapa Part 6Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.306 WordsLanjut Baca : || ||

  • cerpen pendek derita otak pas-pasan

    Kring kring kring… (???)..Untuk kesekian kalinya terdengar nada alaram hape yang sengaja di stel (??) . Secara naluriah tangan Naydia meraba sumber suara dengan mata yang tetap masih setengah terpejam. Begitu menemukan benda tersebut, ditekannya tombol tunda. Otomatis nada berisik itu terhenti. Berniat untuk melanjutkan tidur kembali karena matanya masih mengantuk , Namun justru Matanya malah langsung melotot saat mendapati angka yang tertera di layar hape. Pukul 07:54. Bagaikan tersengat listik Naydia langsung bangkit dari tempat tidur, kalang kabut menuju kearah kamar mandi.Sambil terus merutuk dalam hati Naydia mencuci muka dan gosok gigi. Kali ini sengaja alpa mandi, Toh gak di sayur ini (???).sebagian

  • Cerpen Keluarga: DIA TETAP AYAHKU

    DIA TETAP AYAHKUoleh: Umi KulsumNama ku Raka Putra Pratama ,Usiaku 17 tahun sekarang aku duduk di kelas 2 SMU, Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara.Aku memiliki adik perempuan namanya Raya Putri Pratama (Aya), usianya 16 tahun dan dia duduk di kelas 1 SMU. Kita bersekolah di tempat yang sama. Kami lahir dari keluarga yang cukup sederhana.Ayah dan Bunda ku adalah harta yang paling berharga yang aku miliki,karena dia selalu membawa keceriaan dalam hidup kami.Pagi ini, Aku masih terlelap dalam tidurku terdengar suara Bunda memanggilku,“Raka..bangun ayo kita solat subuh berjama’ah”panggil Bunda dari balik pintu kamar ku“iya bun..nanti aku menyusul”jawabku dengan malasAku pun beranjak dari tempat tidurku. Solat subuh berjamaah bersama ayah,Bunda dan Raya adalah kewajiban yang selalu kami lakukan setiap pagi.Seusai solat kami semua bersiap untuk melakukan aktivitas masing-masing,Terlihat bunda yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk kami.“Pagi bun..”sapa ku “Pagi sayang, Ayah dan Aya mana kok belum turun”tanya bunda ketika melihat aku seorang diri duduk di meja makan“Masih di atas bun”jawabku“Huh..lama banget yah mereka”ucap bunda“Ya.bun padahal perutku udah keroncongan ni”ucapku protes“Sabar yah sayang ,tunggu mereka turun dulu,bentar lagi juga turun”jawab bunda sambil membelai lembut rambutkuTak lama Ayah dan Aya pun terlihat menuruni tangga“pagi bunda, pagi jagoan ayah “sapa ayah ketika melihat aku dan ibu yang sudah menunggu“Pagi yah,lama banget sih, cacing di perut aku dah pada demo ni”protes ku pada ayah“maaf sayang, ya udah ayo kita makan”ucap ayahDan Ayah pun memimpin do’a sebelum kita makan,Seusai makan ayah pun mengantarkan aku dan Aya untuk ke sekolah.“Oya..hari minggu kalian ada acara ga?”tanya ayah pada ku dan Raya sambil mengendarai mobilnya“ga ada yah,kenapa“jawab Raya“Ayah mau ajak kalian jalan-jalan”jawab ayah tersenyum “asiik ayo yah “sambar Raya dengan penuh semangat“minggu kemarin kan kita udah jalan-jalan yah, emang mau kemana lagi?Bosen ah yah”ucap ku protes “iihh kakak minggu kan emang waktunya buat weekend”protes Raya“rencananya ayah mau ngajak kalian ke panti asuhan, kenapa Raka ga bisa ikut?kalau raka ga ikut berarti ga jadi dong”ucap ayah dengan wajah kecewa“kenapa ke panti yah,mending kita ke taman cibodas yah”ucap Raya keberatan “Habis ayah bosen kalau jalan-jalan ke luar cuman buat weekend doang, ke panti lebih seru di sana banyak orang-orang yang bisa kita buat bahagia udah gitu dapet pahala pula”ujar ayah “ide bagus tuh yah, kan kita dah lama ga kesana, kalau kesana mah aku semangat yah”jawabku penuh semangat“yah ke panti, mau ga mau harus ikut”Jawab Aya tak lagi bersemangat“Sayang kan kita juga harus berbagi sama orang lain”jawab ayah sambil mengelus rambut aya“iya ayah”jawab raya penuh senyumTak terasa kami pun sampai di gerbang sekolah,Aku dan Raya pun berpamitan pada ayah dan keluar dari mobil.Waktu terus berjalan pelajaran terakhir di kelas XI IPA 2 yaitu bahasa indonesia, Di sisa waktu pelajaran kami semua di suruh Pak Wandi guru bahasa indonesia untuk membuat cerita tentang sosok seorang ayah bagi kami.Dengan penuh semangat dan tanpa ragu aku pun langsung menuliskan semua isi pikiran dan hati ku tentang seorang ayah.Tak terasa kini giliran aku harus maju ke depan tanpa ragu aku pun maju kedepan kelas“Saya akan menceritan sosok seorang Pratama Putra yaitu ayah saya. Dia adalah seorang ayah yang menjadi pelabuhan hati aku untuk mengadu, Segala perjuangan yang dia lakukan selama ini hanya untuk aku,adik ku dan bundaku.Dia adalah teladan bagi ku. Aku ingin seperti dia yang selalu membawa kebahagiaan,Canda dan tawa di sisi kami.Dia tak pernah gentar untuk menggoreskan senyuman di bibir kami. Tak pernah terbayang oleh ku bila dia harus pergi dalam hidupku.Mungkin lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu agar aku tidak pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan dia. Ayah kau segalanya untukku jangan pernah berubah sedikitpun dan tetap bersama kami di sini. anugrah terindah yang tuhan berikan padaku yaitu ketika aku terlahir di keluarga ini.Mempunyai ayah dan bunda yang begitu sempurna untuk ku.yang mengajarkan aku untuk menjadii yang terbaik untuk semua orang. Inilah sosok ayah bagiku terima kasih”Ucapku memaparkan tulisan yang telah ku buatSuasana kelaspun menjadi ramai karena sambutan tepuk tangan dari teman-temanku.Terlihat Pak Wandi yang tersenyum mendengar tulisan aku.Bel tanda usai pelajaran pun berbunyi. Aku bersiap untuk pulang ke rumah.Namun ketika aku hendak pergi melangkah keluar kelas. Terdengar suara pak Wandi memanggil ku. “Raka”panggil Pak WandiPanggilan pak Wandi menghentikan langkahku, Aku pun menghampiri Pak Wandi“Ada apa pak??”tanya ku pada pak wandi“Tulisan kamu tadi bagus sekali,Bapak ingin kamu membawakan tulisan kamu saat pembagian rapot, Kamu bisa menambahkan tulisan kamu lagi. Kamu mau kan?”ucap pak wandi penuh harapan“mm..gimana yah pak,Saya tidak terlalu percaya diri untuk membawakan tulisan ini,di depan orang banyak pak!”jajwab ku ragu“kenapa harus tidak percaya diri tulisan kamu itu bagus sekali. Bapak hanya ingin memberikan contoh pada teman-teman kamu yang lainnya agar mereka bisa menghargai kedua orang tua mereka,dan bapak juga ingin menunjukan pada orang tua wali nanti bahwa begitu berharganya mereka dan betapa pentingnya suport mereka bagi anak-anak mereka untuk bisa melangkah maju ke depan”jelas pak wandi meyakinkan kuAku hanya terdiam penuhkeraguan mendengar ucapan pak wandi tadi, Melihat diriku terdiam pak wandipun berkata”Bapak yakin kamu bisa,masa kamu ga yakin sama diri kamu sendiri! Tenang bapak akan mengajarkan kamu intonasi pembacaan tulisan ini, biar nanti ayah dan ibu mu tambah bangga melihat penampilan kamu, Karena bapak ingin kamu terlihat perfect di penampilan ini”“oke pak saya sanggup”jawabku penuh semangat“nah gitu dong, mulai besok kita latihan yah,sekarang kamu pulang kalau bisa tambahin tulisan kamu oke!!”ucap pak Wandi“Siap pak”ucapku sambil melangkah meninggalkan pak wandi dan berpamitanMalam ini selesai makan malam, Tanpa membuang waktu aku bergegas untuk menyelesaikan tulisanku yang akan ku tambahkan sesuai amanat pak wandi tadi.“Ka mau kemana semangat amat”tanya bunda ketika melihat aku begitu bersemangat melangkah meninggalkan meja makan“iya ni.. mau kemana jagoan ayah”sambar ayah mengulangi pertanyaan bunda“ehh.. aku mau ke kamar, mau ngerjain tugas “jawab ku tersenyum“Oo ..ya udah sana kerjain tugasnya”ucap ayah“oya ka jangan malem-malem yah tidurnya. Inget waktu”ucap bunda mengingatkan aku“oke bos”jawab ku sambil mengacungkan jempol ku, Aku pun bergegas menuju kamarku, Lalu ku goreskan penaku ke dalam kertas untuk menulis semua yang aku rasa kan dan aku pikirkan, Aku baca kembali dan tak kala akupun menghapus kata-kata yang kurang nyambung lalu ku ganti oleh kata-kata yang lebih pantas. Tanpa terasa jam di kamarku menunjukan pukul 10. Aku pun menghentikan tugas ku ,lalu tidur terdengar suara bunda membuka pintu kamar ku, Untuk memastikan aku telah selesai mengerjakan tugas ku.Ketika melihat ku yang sudah terbaring bunda menghampiriku dan mencium lembut kening ini,lalu mematikan lampu kamarku dan pergi meninggalkanku.Siang ini seusai pulang sekolah Pak wandi menunggu ku untuk berlatih, sebelum latihan aku pun memberitahukan pada Raya bahwa hari ini aku tak bisa ikut pulang dengannya karena ada urusan, Tak ada satupun yang tahu bahwa aku akan tampil nanti di acara pembagian rapot selain pak wandi karena aku ingin memberi kejutan pada ayah,bunda dan adikku. Aku ingin ini semua menjadi benar-benar sebuah kejutan.Hari berganti hari tanpa lelah aku terus berlatih, agar aku bisa menampilkan yang terbaik nanti karena aku ingin semua bangga terhadapku dan tanpa menggoreskan sedikitpun rasa kecewa terutama pada pak Wandi yang telah memberikan kepercayaan pada diriku.Biasanya aku selesai latihan pukul 5 sore,setelah sampai di rumah aku mandi, solat magrib,mengaji, makan malam, lalu solat isya, dan setelah itu aku belajar hingga aku tertidur dan terbangun menjelang pagi saat azan subuh berkumandang.Tanpa terasa kini aku sudah begitu jarang berkumpul dengan keluarga ku.Malam ini aku terbangun dari lelapnya tidurku, Aku melihat waker di kamarku menunjukan pukul 2 . namun rasa ingin ke kamar mandi tak dapat aku tahan, dengan rasa kantuk yang menggelayut dimataku, akupun beranjak dari tempat tidurku dan ku buka pintu kamar,Aku turuni anak tangga satu persatu untuk menuju kamar mandi yang berada di bawah. Namun langkahku terhenti ketika aku melihat sosok seorang wanita yang aku kenal sedang tertidur pulas di sofa ruang keluarga.Ku hampiri sosok itu.“Tumben banget bunda tidur di sofa,ayah kemana yah??”gumam ku dalam hati begitu bingung ketika melihat bunda yang tertidur pulas di sofa.Rasanya aku tak tega harus membangunkan bunda yang begitu pulas tertidur, tapi aku juga tak tega bila harus melihat dia tertidur di atas sofa ini.Tanpa ragu aku pun melangkah ke kamar bunda untuk mengambilkan selimut dan bantal untuknya dan memakaikan bantal dan selimut pada tubuh bunda, Akhirnya aku putuskan untuk menemani bunda tidur di sofa.Pagi ini bunda membangunkan aku yang tertidur lelap di sofa“sayang bangun”ucap bunda yang duduk di sampingku“ya bunda”jawabku “sayang kamu kenapa tidur di sofa”tanya bunda sambil mengelus rambutkuAku pun beranjak dari posisi tidurku dan berkata”iia.. bun semalem aku liat bunda tidur di sofa,jadi aku temenin deh bun abis aku ga tega liat bunda”Mendengar ucapan ku,bunda memeluk aku,lalu akupun melanjutkan ucapanku”bunda kenapa tidur di sofa??”Bunda hanya terdiam mendengar ucapan ku dan melepaskan pelukannya,sambil memegang tangan bunda aku pun berkata”bunda kenapa sih,kok diem aja!! Kan aku nanya sama bunda”“bunda ga apa-apa sayang,ya udah sekarang kamu ngambil wudhu kita solat subuh yah”ucap bunda sambil membelai rambutku dan pergi meninggalkan aku.Entah apa yang terjadi sama bunda,Namun aku tak bisa memaksa bunda untuk cerita padaku , Akupun langsung bangkit dan mengambil air wudhu. Pagi ini aku yang memimpin solat subuh seusai solat dan berdoa“bun ayah mana kok aku ga liat??”tanya aya yang heran karena pagi ini ayah tak ada“ayah ada urusan”jawab bunda singkat“urusan apa bun??ayah berangkat jam berapa atau malam ini ayah ga pulang”ucap ayaBunda hanya terdiam mendengar ucapan aya,Aku sangat menanti jawaban bunda karena hal itu yang menjadi salah satu pertanyaanku.“ayah pergi tadi pas kalian masih tidur,ayah ga sempet pamit sama kalian soalnya ada urusan mendadak”jawab bunda gugup“terus ayah semalem pulang jam berapa”tanya ayaSambil menatapku bunda lalu menjawab”jam 10 ayah udah pulang kan kamu udah tidur”Aku tau semua yang bunda ucapkan itu bohong,semalem aku ga liat ayah saat aku terbangun mengambilkan selimut untuk bunda di kamar bunda tak terlihat sosok ayah di sana,dan aku tau tatapan bunda tadi menyuruhku untuk bungkam tentang apa yang terjadi agar aya tidak berpikir apa-apa tentang ayah.Mendengar ucapan bunda aya pun percaya dan langsung pergi meninggalkan aku dan bunda“bunda”sapa ku menghentikan langkah bunda yang hendak pergi“kenapa sayang”jawab bunda begitu tenang“kenapa bunda lakuin ini semua??”tanya ku pada bunda“lakuin apa?”jawab bunda“kenapa bunda berbohong pada aya"ucapku menjelaskanBundapun terdiam sejenak dan berkata dengan lirih”cuman itu yang bisa bunda lakuin,soalnya bunda ga tau harus menjawab apa lagi kalau adikmu nanya tentang ayah”“bun cerita sama aku ada apa dengan ayah dan bunda, kenapa jadi kaya gini? Jangan bunda pendam sendiri,aku sudah dewasa bun, siapa tau aku bisa ngasih solusi atau membantu bunda menjawab pertanyaan Raya”ucapku “bunda ga tau harus cerita apa sama kamu, soalnya bunda juga ga tau apa penyebab ini semua. Nanti ketika bunda tau semuanya,Bunda janji aka cerita sama kamu,sekarang kamu siap-siap sana ke sekolah”jawab bunda“janji yah bun, buat cerita apa pun yang terjadi aku ga mau kalau bunda sedih”ucapku lalu ku peluk erat tubuh bundaSiang ini aku pulang seorang diri, Karena Raya meminta ijin padaku untuk pergi ke toko buku bersama temannya. Sesampai di depan gerbang terlihat mobil ayah terparkir di halaman rumah ku. Akupun mempercepat langkahku untuk melihat ayah.Karena memang beberapa hari ini aku tak bertemu ayah dan rasa rindu di hati ini sudah terlalu besar padanya. Ketika sampai di depan pintu, Ayah terlihat keluar dari dalam rumahku seorang diri“ayah”sapaku sambil mendekatinya“eh jagoan ayah sudah pulang,kok sendirian adikmu mana”tanya ayah ketika melihat aku seorang diri“dia tadi minta izin untuk ke toko buku”jawabku“maaf yah sayang ayah buru-buru,ayah pergi dulu yah”ucap ayah memeluk ku, lalu pergi meninggalkan aku“ayah mau kemana”tanya kuBelum sempat menjawab pertanyaanku,Ayah langsung mengendarai mobilnya.Dengan penuh rasa kecewa akupun masuk kedalam rumahku.“Assalamualaikum”sapakuBerkali-kali aku mengucapkan salam, Namun tak ada jawaban dari dalam rumah lalu aku pun memanggil bunda berkali-kali tapi sama saja tak ada jawaban.Aku langkahkan kakiku menuju kamar bunda.Ketika ku buka pintu kamar bunda. Aku melihat sosok seorang wanita yang sedang duduk tertunduk di pinggir tempat tidurnya“bunda”sapaku sambil menghampirinya“kamu udah pulang ka”jawab bunda dengan suara sendu dan berusaha mengusap air matanya“bunda kenapa?”tanya ku ketika melihat mata bunda yang sembab“ga apa-apa sayang,kamu sudah makan belum?”jawab bunda mengalihkan pertanyaanku“bunda jawab pertanyaan aku,bunda kenapa”tanya ku sekali lagi“bunda ga apa-apa sayang”jawab bunda“tadi pagi bunda janji mau cerita apa pun yang terjadi sama aku,tapi apa sekarang bunda sembunyiin semua ini”ucapku memohonBunda hanya terdiam,lalu aku pun meneruskan ucapanku”ayah yah bun??”Bunda pun memalingkan wajahnya dan menangis lirih, Melihat bunda akupun langsung memeluknya mencoba menenangkannya.“Apa yang ayah lakuin sampai bunda menangis begini”tanya ku kesal“ga ayah ga lakuin apa-apa,kami hanya bertengkar kecil kok. Sekarang kamu makan dulu yah,dan janji sama bunda jangan katakan hal ini sama Raya”ucap bunda berusaha menenangkan aku.Aku pun hanya mengngagukan kepalaku, dan pergi untuk makanMinggu pagi ini ketika usai solat subuh terlihat ayah terburu-buru hendak pergi entah kemana melihat itu semua Raya pun bertanya”ayah mau kemana kok buru-buru banget”“ayah ada urusan”jawab ayah singkat“ayah kan janji sama kita mau ke panti asuhan”ucap aya kecewa“ayah ga bisa ada urusan yang tak bisa ayah tinggalkan”jawab ayah“ayah urusannya besok aja,kan ayah udah janji sama aku mau jalan-jalan”ucap aya merengek“kamu tuh di bilang ayah banyak urusan berisik banget sih”jawab ayah dengan nada tinggiMendengar jawaban ayah Raya hanya tertunduk dan menangis. Dan ayah pun pergi begitu saja tanpa memperdulikan Raya bahkan tanpa berpamitan pada bunda.Melihat Raya menangis bunda pun menghampirinya untuk menenangkan dan memeluknya“bun kok ayah marah-marah sih”ucap raya lirih“ayah bukan marah-marah sayang, tapi ayah lagi pusing banyak kerjaan,Jadi kamu harus mengerti oke, sekarang hapus airmata kamu nanti kita jalan-jalan “ucap bunda menenangkan“aku udah ga mau jalan-jalan bun, aku pengen di rumah aja”ucap raya lalu pergi ke kamarnyaAku pun mendekati bunda yang duduk di sofa“Aku sekarang tau bun apa yang terjadi antara kalian?”ucapku sambil duduk di samping bunda“yah… kamu sudah cukup dewasa untuk memahami ini semua,jadi ga ada yang harus di sembunyiin lagi sama bunda”jawab bunda sambil memandang ku“ini kenapa bun?”tanya ku sambil ku pegang wajah cantik bunda yang memar“auw..”ucap bunda kesakitan“kenapa bun, kemarin aku lihat ga ada?ayah yah bun?”ucapku dengan nada khawatir“ga kok sayang, tadi pagi bunda ke jatuh di kamar mandi terus kebentur deh”ucap bunda“ga bohong kan bun?”ucap ku menegaskan“ga sayang”jawab bunda memelukkuHari ini adalah pembagian rapot, Hari yang sangat aku nantikan dan Aku berharap hari ini ayah dapat melihat penampilanku, Pagi ini ketika sarapan aku tak melihat sosok ayah ada di antara kita“bun ayah mana?”tanya ku“ayah ga pulang lagi sayang”jawab bunda begitu lirih“kemana bun?”tanyakuBelum sempat bunda menjawab pertanyaanku Raya telah menghampiri aku dan bunda“bun hari ini kita bagi rapot, bunda sama ayahk ke sekolah aku kan?”ucap Raya“mm…iya nanti bunda kesana”jawab bunda ragu-ragu“aku sama kakak berangkat duluan yah bun,soalnya kita mau prepare bun”ucap Raya“oke sayang”jawab bundaSetelah acara pembagian rapot selesai,Kini acara yang di nanti pun tiba.Saatnya penampilan aku. Ketika aku naik ke atas panggung terlihat bunda duduk seorang diri di kursi penonton, Rasa kecewa pun meliputi hati ku ini. Namun aku berusaha untuk tenang.“saya Raka Putra Pratama dari kelas XII IPA 1 akan membawakan puisi untuk semua ayah yang kami cintai”Ayah . . .Kaulah tempat yang menjadi pelabuhan hatiku untuk berkeluh kesahSeorang pejuang yang tak pernah menyerahYang tak pernah merasa getar untuk menggoreskan senyuman di bibir kamiDan tak pernah merasa lelah untuk memberikan yang terbaik untuk kamiAyah . . .Andai kau tau betapa berartinya dirimu bagikuBetapa sangat berharganya dirimu bagi kuDan kehadiranmu yang selalu ku tungguAyah. . . .Temanilah aku hingga akhir hidupkuJanganlah pernah berubah sedikitpunJangan tinggalkan akuBerjanjilah ayahTuhan. . .Jagalah selalu ayah kuLindungi selalu ayahkuDan selamatkan ia selaluTuhan . . .Ijinkan aku untuk bisa membuatnya bahagiaIjinkan aku untuk bisa membuatnya banggaIjinkan aku untuk bisa menggoreskan senyum kebahagian dan kebanggan di bibirnyaTuhan . . .Sampaikan padanya bahwa aku butuh diaBahwa aku mencintainyaBahwa aku tak akan menjadi apa-apa tanpanyaTuhan . . .Sungguh ku berterima kasih padamuAtas semua kebahagiaan iniAtas semua anugrah terindah yang kau berikan iniDan terima kasih kau berikan aku ayah dan bunda yang luar biasaTerima kasih untuk semuanyaAyah . . .Kau lah pahlawankuKau lah idola kuDan kau lah teladankuTerima kasih ayahUcap cinta ku padamuSepanjang masaTerlihat bunda yang menangis dari kursi penonton, Aku tau pasti bunda merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Moment yang aku tunggu hari ini datang juga walau aku berharap ayah hadir dan menyaksikan aku mengungkapkan semua isi hati ku ini. akupun turun dari panggung dengan sambutan tepuk tangan dari semua orang. Pak Wandi pun menyambutku dengan peluk hangat di bawah tangga dan berkata”kamu hebat raka,bapak yakin ayah kamu pasti bangga memiliki anak sepertimu”. Mendengar ucapan pak Wandi aku hanya bisa terdiam dalam pelukkannya.Sambil melepaskan pelukannya pak wandi pun berkata”Antarkan bapak pada Ayah mu”Dengan wajah tertunduk akupun menjawab”Ayah tak bisa hadir pak hari ini, Maka itulah yang membuat aku sangat kecewa pak, Hari yang saya nantikan, hal yang saya bayangkan akan begitu indah namun hanya menjadi bayangan dan tak mampu untuk menjadi sebuah kenyataan. Saya berharap ayahku yang menjemput aku saat turun dari atas panggung tersenyum bangga dan memelukku dengan penuh kebanggaan tapi itu semua..”ucapan ku lalu terdiam mendengar ucapan ku pak Wandi kembali memelukku“Kamu ga boleh sedih, mungkin memang ayahmu saat ini tak bisa datang,itu semua dia lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik nantinya buat kamu,adikmu dan bundamu”ucap pak Wandi begitu bijakMendengar ucapan itu aku begitu tenang ku hapus airmataku, lalu ku hampiri bunda di kursi penonton,Melihat kedatanganku Bunda menyambutku dengan pelukan erat darinya dan berkata”bunda bangga sama kamu amat sangat bangga”Ucapan Bunda membuat aku tak lagi menangis dan membuat aku untuk semakin tegar hadapi semua ini karena aku harus menemani bunda dan tak boleh sedikitpun lengah menjaga bunda dan Raya.“kakak..”sapa Raya sambil memeluk aku lalu berkata lagi”kakak super hebat, aku bangga sama kakak 2 jempol buat kakak”sambil menunjukan kedua jemari jempolnya”bunda..gimana rapot kita?”tanya RayaBunda pun langsung mengangkat kedua jempolnya”anak bunda dua-duanya hebat,kalian berdua dapat rengking 1 dan kamu raya masuk kelas IPA”ucap bunda lalu memeluk aku dan ayaSetelah pembagian rapot kemarin, kini libur panjang pun datang, berbeda jauh dengan liburan kemarin, Aku dan Raya hanya berdiam diri di rumah. Tetapi semua tetap mengasikan walau tanpa ayah. Beberapa minggu ini ayah tak pulang sejak pertengkarannya dengan bunda.Aku dan Raya pun sudah mulai terbiasa tanpa kehadiraanya,bahkan aku merasa bahwa kami sejak dahulu memang tak memiliki ayah. Dan mungkin Raya sudah mulai bosan bertanya tentang ayah dan mendengar jawaban bunda yang selalu bilang ayah sibukLMalam ini aku terbangun dari lelapnya tidurku, karena keringnya tenggorokan ini, dengan rasa malas dan kantuk aku turuni anak tangga satu per satu. Namun langkahku terhenti , ketika aku mendengar suara gundah dari kamar bunda dan ayah.“Ayah sudah pulang”ucapku pelan ketika hendak melangkah pergi tiba-tiba aku mendengar suara bunda yang sedang marah, membuat aku mengurungkan niatku untuk pergi dan aku pun berdiam diri di depan pintu kamar mereka sambil menlihat dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi ,“Aku tau mas sekarang mas memiliki wanita lain selain aku.Tak ada yang harus di sembunyikan lagi mas aku tau itu semua” terdengar suara bunda dengan nada sedikit tinggi“bagus kalau kamu tau,jadi saya ga harus bersusah payah menjelaskan padamu lagi”jawab ayah begitu santai“inget mas sama anak-anak, Aku rela mas sakitin,aku rela mas pukul sampai aku memar begini. Tapi aku mohon mas jangan pernah tinggalkan anak-anak dan buat mereka kecewa”ucap bunda menurunkan nada bicaranya “mereka sudah besar pasti mereka semua akan lebih mengerti”ucap ayah“ga segampang itu mas buat mereka mengerti,mas enak-enakan selingkuh, tapi apa mas pernah tau kalau anak-anak mas di sini nanyain mas,sampai-sampai aku bingung buat jawabnya. Dan saat pembagian rapot, Mas tau ga kalau raka jagoan mas nyiapin puisi buat mas. Dia berlatih berhari-hari berharap ayahnya liat penampilannya. Tapi apa??mas ga punya waktu buat mereka sama sekali mas,mas membuat mereka kecewa ” jawab bunda dengan lirih“Aahh.. saya ga peduli. Itu urusan kamu”ucap ayah“seenaknya mas ngomong begitu,sekarang apa sih mau mas, jangan terlantarin kita kaya gini”ucap bunda menangis“Saya ga pernah terlantarin kalian,Saya tetap memberi kamu nafkah,memberimu uang untuk keperluan kamu dan anak-anak”jawab ayah“bukan uang yang kami butuhkan,saya dan anak-anak cuman butuh kamu yang dulu”ucap bunda“saya bukanlah yang dulu lagi,saat ini saya sudah menemukan wanita yang benar-benar saya butuhkan dan saya cari”ucap ayah dengan nada tinggi“apa mas?mas tau apa yang mas ucapkan tadi,aku istri mas ,sakit mas hati aku.. dan jagan pernah salahkan aku kalau nanti mereka membenci mas, karena sikap mas seperti ini”ucap bunda sangat lirih“yang saya mau saat ini hanya ingin hidup bersama wanita yang saya cintai dan saya ga perduli akan apa yang terjadi nanti”jawab ayah“maksud mas”tanya bunda“saya ingin menceraikanmu”jawab ayah“jangan mas,gimana anak-anak??cukup saya yang tersakiti kasihanilah mereka”ucap bunda lirih“saya ga perduli”jawab ayah“mas aku mohon,jangan tinggalin aku sama anak-anak,biarkanlah aku di madu asal anak-anak masih memiliki ayah”ucap bunda sambil tekuk di hadapan ayah“wanita itu tidak ingin cintanya terbagi,dia ingin memiliki saya seutuhnya”ucap ayah“jangan mas,jangan ceraikan aku…”jawab bunda dengan derai airmata di pipinya“kamu tuh di bilangin susah banget sih”jawab ayah“tapi mas”belum sempat bunda melanjutkan kata-katanya tamparan keras dari ayah telah mendarat di wajah cantik bunda hingga dia terjatuh ke lantai.Melihat kejadian itu aku langsung berteriak”Bunda…”dan menghampiri bunda lalu memeluknyaTerlihat wajah ayah yang terkejut melihat kehadiranku,“cukup yah..jangan sakitin bunda lagi. Dan bunda cukup ga perlu mohon-mohon lagi sama ayah. Kita udah terbiasa bun hidup tanpa ayah, kalau saat ini ayah mau pergi,pergilah yah tapi satu hal yang harus ayah tau jangan lagi datang dan menemui kita dan ayah ga perlu kirim-kirim uang untuk biaya aku dan raya karena aku yang akan menggantikan ayah. Sku akan mencari uang bantu bunda, semua aku lakuin karena aku tak ingin di biayai oleh laki-laki yang sudah mencampakan aku,adikku dan terutama bundaku”ucapku “sejak kapan kamu mulai kurang ajar”jawab ayah sambil mengangkat tangannya untuk memekul ku“jangan mas,cukup aku yang kamu lukai jangan sekali-kali kamu sentuh anakku”sambar bunda dan melindungi aku“kenapa ayah mau pukul aku. Pukul yah kalau ayah emang belum puas nyakitin kita.aku salah besar ternyata , dulu aku ingin seperti ayah,ayah adalah teladan aku,idola bagi aku, tapi ternyata aku salah ayah sama sekali tidak pantas untuk di teladani bahkan di idolakan. Pergilah yah dan aku yakin suatu saat nanti ayah akan menyesal,pegang janji aku yah dan jangan sekali-kali berharap bisa menyentuh adik dan bundaku atau menyakiti mereka”ucapku llirih“Ayah akan pergi dan tunggu saja surat cerai yang akan saya ajukan ke pengadilan”ucap ayah sambil melangkah pergiSeperginya ayah aku berusaha untuk menenangkan bunda.“jadi selama ini wajah bunda memar karena ayah”ucapku pada bunda sambil membelai lembut wajah cantik bundaBunda hanya menganggukan kepalanya“kenapa bunda berbohong padaku”ucapku“bunda ga mau kalian sedih dan membenci ayah kalian”jawab bunda lirih“bunda sungguh kami ga akan pernah sedih kehilangan ayah seperti dia,bahkan aku lebih sedih kalau bunda tetap sama ayah dan terus di sakiti. Aku ga mau itu terjadi”jawabku sambil memeluk erat bunda“kalian memang yang terbaik buat bunda”ucap bunda memeluk erat tubuh iniBulan demi bulan telah berlalu Ayah dan Bundapun telah berpisah dan Raya pun telah mengetahui semua yang terjadi antara ayah dan bunda bahkan dia lebih dewasa menerima ini semua di bandingkan apa yang aku dan bunda bayangkan.Siang ini ketika aku,Bunda dan Raya sedang asik duduk di depan televisi,Tiba terdengar suara ayah “Assalamualaikum”sapa ayahMendengar ucapan itu kami pun menoleh kebelakang,Sungguh terkejut aku, ketika aku melihat ayah bersama istri barunya bergandengan mesra di depan kami semua.Melihat semua itu aku pun jadi emosi seakan aku tak rela melihat semua ini”ngapain anda kesini lagi”“iya ngapain lagi ayah kesini”sambar Raya“Ooo..sabar anak-anak ayah,Ayah kesini cuman mau ngambil barang-barang ayah dan ayah juga mau ngingetin sama kalian kalau rumah ini akan di jual secepatnya”ucap ayah“Maaf andabukanlah ayah kami lagi,ambil saja barang-barang anda kami semua pun sudah tak sudi untuk menampungnya”jawab Raya begitu emosiAyahpun pergi membereskan semua barang-barangnya di bantu oleh istri barunya itu.Setelah selesai membereskan barangnya ayahpun pergi dan sebelum pergi dia berkata”sekali lagi ayah mau ngingetin kalau rumah ini akan di jual, jadi kalian harus segera pergi dari sini”“sabar bapak Pratama Putra kita semua juga bakal pergi tanpa membawa apapun dari sini, Dan kita akan pergi dari kota ini. Supaya kita tak lagi bertemu dengan orang seperti anda”jawabku ,Mendengaar ucapanku ayahpun pergi.Setelah kepergian ayah bunda merangkul aku dan Raya lalu menyuruh kami duduk dan berkata ”Kalian ga boleh seperti itu,Dia tetaplah ayah kalian,seperti apapun dia dan bagaimanapun dia,Namun di dalam darah kalian mengalir darah ayah yang selama ini selalu berjuang untuk kita dan memberikan pelajaran berharga untuk kita. Bahkan dia pula lah yang membuat kalian semakin dewasa.Bunda ga akan pernah melarang kalian untuk bertemu dengan ayah.Atau menghalangi ayah bertemu kalian” Setelah kejadian itu aku,Bunda dan Raya pun pindah ke Bandung. Kini aku bersekolah sambil kerja part time yah lumayan buat bantu-bantu bunda,walau awalnya dia tak mengizinkan karena saat ini aku ssudah kelas 3 dan sebentar lagi akan menghadapi ujian, Tapi aku bisa untuk meyakinkan bunda dan berjanji tak akan ada yang berubah pada nilai ku dan waktu belajar ku,dan bunda kini menjadi guru meneruskan pekerjaannya yang dahulu.Walau sekarang kami hanya bertiga namun kebahagiaan ini sama sekali tak berubah seperti dulu.Kini tak ada lagi airmata yang ada hanya canda dan tawa.Dan sekarang idola ku bukanlah ayah tapi bunda.Tapi ayah akan selalu menjadi ayahku seperti apapun diaseperti yang bunda ajarkan pada aku dan Raya_Inilah keluarga yang selalu menjaga dan menghargai_Dan inilah cinta ga perlu punya keluarga yang sempurna,Tapi kesempurnaan itu sendiri akan hadir, ketika kita bisa menghadapi semua masalah bersama-sama dan tidak membiarkan seseorang terus terluka demi kebahagian yang menjadi sebuah fatamorgana. Karena kebahagian tercipta dengan adanya rasa CINTA……WE LOVE YOU MOM ………………………………………YOU ARE VERY EVERYTHING mom……………………………………………….

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15

    Mumpung ada ide, mending langsung di tulis aja deh. And beneran admin udah males buat ngedit lagi. Secara cerpen kenalkan aku pada cinta beneran bikin pusing. Nulis lanjutannya selalu aja bikin bingung. Pengen langsung di end, tapi takutnya malah terkesan ‘maksa’. Pengen di ketik terus, eh busyed nie cerpen kenapa malah jadi molor kemana mana. Akh entahlah.Tapi tetep, kayak yang admin bilang sebelumnya. Cerpennya sudah mendekati ending kok. Lagian adminya udah bosen juga liatnya nggak end – end. And biar nggak kebanyakan bacod mending langsung baca aja yuk gimana ceritanya. Biar nyambung bisa baca bagian sebelumnya disini.Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada CintaSesekali Astri melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah lebih 15 menit ia menunggu, tapi Andre masih belum menjemputnya. Untung saja kakaknya hari ini ada urusan di luar, jadi ia tidak perlu mendengar celotehannya nanti sekiranya Andre muncul. Tapi herannya, kenapa tu orang nggak muncul muncul juga.Untunglah beberapa menit kemudian, bel depan rumahnya terdengar. Senyum Astri langsung merekah ketika mendapati Andre sudah berdiri gagah di hadapannya. Tanpa basa – basi keduanya segera berlalu meninggalkan rumah.“Kita mau kemana nih?” tanya Astri sambil duduk dibelakang Andre yang mengendarai motornya.“Hari ini taman pemainan di lapangan kerinci (???) baru buka. Loe nggak keberatan kan kalau kita jalan kesana?”“Taman bermain?” ulang Astri.Andre hanya membalas dengan anggukan.Lagi pula tidak asik kalau ngobrol diatas motor yang terus melayu. Selang beberapa menit kemudian keduanya telah tiba di tempat yang di tuju.Benar seperti yang Andre katakan. Hari ini taman bermain memang baru di buka. Begitu banyak wahana permainan yang ada disana. Bahkan entah beraneka ragam permainan mereka ikuti. Astri menatap kesekeliling dengan pandangan takjup. Senyum mengembang lebar dari wajahnya. Matanya mengamati sekeliling dengan tidak berkedip. Mulai dari naik wahana putar sampai bermain di rumah hantu segala. Ia benar – benar tak sabar untuk mencobanya satu persatu.Tubuh juga terasa mulai lelah dengan jantung yang berdebar cepat. Bukan, bukan berdebar karena romansa romantis di antara mereka, tapi lebih kepada efek permainannya. Astri takut ketinggian, dan saat berputar – putar di atas sana ia yakin ia akan mati. Kepalanya terasa pusing dan perutnya seperti di tusuk – tusuk. Mual nggak ketulungan.Astri juga merupakan gadis yang penakut. Saat memasuki rumah hantu, tak terhitung berapa puluh kali ia menyumpai orang – orang yang membuat ide gila tentang permainan itu. Menjadikan hantu sebagai permainan yang hanya bisa memberi kesan menyeramkan tanpa menghibur sama sekali. Jadi keseimpulannya, menjadikan taman pemainan sebagai tempat kencan sama sekali bukan ide yang bagus. Sangat jauh, jauh, jauuuuuuuh sekali dari bayangannya saat menyaksikan adegan yang sama yang sering muncul di drama ataupun anime romantis yang sering ia tonton. Ia jadi merasa sedikit heran, kenapa Andre mengajaknya ke sana ya.“Astri, loe nggak papa kan? Kok muka loe pucet gitu?” tanya Andre terlihat khawatir.Astri mencoba tersenyum. “Tadinya si gue pengen ngomong kalau gue baik – baik saja cuma buat nyenengin elo. Tapi kayaknya gue lebih milih jujur aja deh. Serius gue nggak baik baik aja,” aku Astri.Melihat tampang bersalah di wajah Andre membuat Astri langsung menyesali ucapannya. Walau bagaimanapun, tidak semua orang menyukai hal yang jujur walau menyakitkan.“Tapi paling nggak loe udah bantu gue buat ngerasain pengalaman yang nggak akan gue lupakan. Mulai sekarang kayaknya gue harus lebih hati – hati lagi deh dalam memilih dan memilah sesuatu yang gue tonton.”“Ya?” Andre tampak bingung, tapi Astri hanya tersenyum singkat.“Sory ya. Gue nggak tau. Gue pikir loe suka gue ajak kesini.”“Sama. Tadinya gue juga berfikir kalau disini akan menyenangkan,” gumam Astri lirih. Dan lagi lagi keduanya kembali terdiam.“Baiklah, gimana kalau sekarang kita makan aja gimana?” tanya Andre kemudian.Astri melirik jam yang melingkar di tanganya. Sudah cukup siang. Sepertinya memang sudah waktunya makan siang. Hanya saja, perutnya masih terasa sedikit mual karena permainan tadi. Akhirnya dengan ragu is mengeleng semari mulutnya menjawab.“Untuk sekarang kayaknya tengorokan gue belum bisa menelan makanan deh. Kalau kita istriahat aja dulu bentar gimana?”Andre tersenyum sembari mengangguk maklum. Diajaknya gadis itu untuk duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon yang memang tumbuh terawat di beberapa pingiran lapangan. Tak lupa di belinya dua mangkus es buah. Sambil menikmati minumannya keduanya mengamati sekeliling. Menatap orang – orang yang tampak belalu lalang disekitarnya.“As, soal yang kemaren…” Andre tampak mengantungkan ucapannya. Jelas terlihat ragu, sementara Astri sendiri menatapnya dengan tatapan ingin tau. Gadis itu juga hanya mampu mengkangkat alis ketika Andre masih terdiam.“Kenapa?”“Enggak kok. Lupakan,” Andre mengeleng. “Nggak penting juga,” sambungnya lagi.Walau masih bingung juga sedikit penasaran, Astri hanya angkat bahu.“Oh ya, kita jalan – jalan lagi yuk,” ajak Andre beberapa saat kemudian. Astri hanya mengangguk. Terlebih sepertinya mereka sudah cukup lama duduk terdiam di sana. Namun berbeda dari yang sebelumnya, perjalanan kali ini terasa lebih menyenangkan karena Andre mengajaknya ketempat yang lebih tenang. Melihat pernak – pernik yang ada disana, berkunjung ke kuliner, bahkan pake acara foto bareng bersama. Setelah hari mulai sore, mereka baru menyadari kalau mereka telah menghabiskan waktu bersama seharian. Tiba saatnya untuk Andre mengantar Astri pulang.“Dari mana aja loe seharian baru pulang. Mentang – mentang mama sama papa nggak ada.”Astri yang berniat untuk langsung menuju kekamarnya sontak menghentikan langkahnya. Saat menoleh ia mendapati kakaknya sedang duduk diruang tamu dengan tatapan menyelidik kearahnya.“Ye, punya kakak usil banget sih. Pengen tau aja urusan orang,” balas Astri mengabaikan kakaknya. Kembali diteruskan langkahnya yang sempat tertunda.“Gue tadi liat Andre nganterin di depan. Loe abis jalan sama dia ya?”“His, kalau udah tau ngapain nanya.”“Kalian kemana aja? Terus kok loe bisa jalan sama dia? Kalian abis kencan ya?!” tanya Rendy sambil berjalan mengikuti di belakang Astri. Selangkah demi selangkah kakinya menaiki tangga satu persatu.“Please deh ya kak. Nggak usah kepo. Emangnya kalau gue jalan sama kak Andre terus kenapa? Nggak boleh?” tantang Astri sambil menatap kakaknya.Rendy tersenyum misterius. “Ups, jangan salah. Gue kan Cuma pengen tau aja. Kalau loe emang jalang sama Andre, nggak papa kok. Justru gue malah mendukung, lagian…”Astri menantap kakaknya curiga. Terlebih pria itu sendiri masih mengantungkan ucapannya. Bahkan tanpa perlu menyelesaikan lagi, ia malah berbalik. Tentu saja masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.“Lagian apaan si?” tanya Astri penasaran.Rendy tidak menjawab. Ia hanya angkat bahu sembari melambai tanpa menoleh. Walau sejujurnya Astri masih merasa sedikit penasaran, namun ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Terlebih ia juga merasa cukup lelah, setelah seharian berjalan sepertinya ia ingin mandi berendam dulu biar segar. Dengan berlahan di bukanya pintu kamar. Namun belum sempat ia masuk sebuah teriakan bernada memerintah terdengar dari bawah. “As, buruan. Gue laper nih. Bikinin gue nasi goreng donk!”Tanpa membalas sama sekali Asrti menghilang dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ “Tok tok tok.”Astri yang sedang merapikan kepang an rambutnya menoleh kearah pintu kamar. Sedikit mengeryit ketika mendengar suara kakaknya. Matanya sekilas menoleh kearah jam diatas meja. Masih cukup pagi. Tumben ada yang ngetuk kamarnya. “As, buruan. Udah selesai belom. Udah di tunguin tuh.”Ditungguin? Sama siapa? Pikir Astri heran. “Apa kak?” tanya Astri seolah tak yakin dengan apa yang kakaknya katakan. Namun tiada jawaban yang terdengar. Bahkan sama ia merasa suara langkah kakaknya yang mejauh. Karena merasa sedikit penasaran, Astri segera menyelesaikan riasannya. “Kak, tadi ada apaan sih? Kok pake ketok ketok pintu segala. Katanya ada yang nungguin. Siapa?” tanya Astri sambil duduk dihadapan kakaknya yang sedang menikmati sarapan sendirian karena memang papa dan mama sedang tidak ada dirumah.Rendy melirik sekilas sembari mencibir tanpa menjawab sama sekali. Membuat Astri mengerutkan kening bingung. Dengan santai duduk dihadapan kakaknya. Tanganya terulur menyambar roti beserta selai kacang. “Jiah, dia malah duduk. Udah di bilang juga ada yang nungguin.”“Huf,” Astri menghembuskan nafas kesel. Tangannya yang sudah terulur ia Tarik kembali. Matanya menatap penuh tanya kearah kakaknya. Tapi pria itu hanya memberi isarat kearah Astri untuk langsung keluar rumah. Walau masih merasa tidak puas, Astri lebih memilih untuk menurutinya. Lagi pula rasa penasarannya juga cukup bersar mengenai hal itu. Secara siapa sih orang yang kurang kerjaan nunguin dia pagi – pagi gini.Rasa penasaran di wajah Astri langsung menghilang dan di gantikan rasa terkejut ketika mendapati sososk Andre yang suduh duduk di atas bangku teras rumahnya. “Kak Andre, ngapain loe disini?” tanya Astri tak mampu menyembunyikan rasa herannya.Andre tampak tersenyum kaku. Dengan ragu mulutnya menjawab. “Jemput loe.”“Gue?” ulang Astri makin bingung. Sejak kapan ia pake di jemput – jemputan. Lagi pula ia kan punya motor sendiri. Andre hanya mengangguk. “Tapi kan gue punya motor sendiri.”“Udah pergi aja.” Astrid an Andre refleks menoleh kearah sumber suara. Entah sejak kapan, Rendy sudah muncul di ambang pintu. “Lagian kasian tau, Andre udah jauh jauh muter ke sini, masa loe nggak mau barengan sama dia.”Astrid an Andre tampak saling pandang. Raut ragu jelas masih tergambar di wajah Astri. Namun belum sempat mulutnya terbuka, tubuhnya sudah terlebih dahulu terdorong kearah motor Andre yang kini terparkir di hadapnya.“Udah pergi aja sana loe. Pintu juga udah mau gue kunci,” kata Rendy. Tangannya dengan santai terulur meraih helm yang Andre bawa sebelum kemudian ia sodorkan kearah Adiknya. Saat berbalik ia telebih dahulu menatap kearah Andre sembari berujar. “Hei bro. Gue titip adek gue ya. Awas, jangan sampai lecet. Kalau sampai kenapa – kenapa. Loe berurusan sama gue. Ngerti?”“Oke Bos,” balas Andre tegas. Secercah senyum samar menghiasi bibirnya. “Kita bisa pergi sekarang Astri?” tanya Andre sambil berbalik.Astri yang sudah merasa cukup terpojok dengan situasi yang ada tak bisa melakukan hal apapun selain mengangguk. Tanpa kata ia segera duduk di belakang Andre. Beberapa saat kemudian motor pun mulai melaju meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Rendy yang diam – diam mengintip dari balik jendela dengan senyum penuh arti. To Be Continue⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ With Love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*