Story About us ~ 03 | Cerpen terbaru

Story About us _ Lagi lagi cerpen yang sempat terlupakan #GetokAdminnya. Thanks for Vhany karena udah ngingetin. Ah, sifat pelupaku sudah mendekati taraf dewa sepertinya.
So tanpa perlu basa basi panjang lebar lagi, lanjut baca aja yuks. Oh ya, untuk part sebelumnya bisa klik di sini.
Happy reading…!!..

Story About us
Keesokan harinya, Vanno dengan senangnya duduk di kursi samping tantenya untuk sarapan bareng, yang tentu membuat tante dan omnya bingung, kira-kira nih anak kesambet apa lagi ea?
"Vanno, kamu kesambet apa lagi sekarang?" tanya tantenya.
"Hust, tante. Sembarangan aja, masa' keponakannya sendiri di bilang kesambet sich. Vanno itu lagi seneng tante…" kata Vanno.
"Kamu seneng kenapa? menang lotre lagi ea?"
"Ini bukan hanya menang lotre tante… pokoknya lebih dari apa pun deh tante…" kata Vanno sambil tersenyum-senyum.
"Sukses jalan nya kemaren?" tanya om Frans kearah Vanno.
"Wah sukses besar om, bahkan lebih sukses dari harapan."
"Oh ea? Maksudnya sukses gimana tuh?" tanya tantenya bingung.
"Tante sama om tau nggax sih…"
"Enggax" jawab tante dan omnya serentak, yang buat Vanno jadi bingung."ia, tante sama om nggax tau, emang tau apa?" tanta tantenya.
"Ta makanya Vanno mau kasih tau…" kata Vanno sebel karena di potong pembicaraannya "Vanno itu… baru jadian sama seorang cewek."
"Ha?! yang bener kamu? bukannya kamu baru beberapa hari di sini ea, kok udah dapat gebetan sih?" tanya tantenya heran.
"yaah tante, kayak nggax tau Vanno aja, gini-gini kan Vanno keren tante. Jadi nggax susah donk cari gebetan?".
"Siapa cewek bego yang mau di tipu sama kamu?" tanya om nya.
"Ah om kok ngomongnya kayak gitu sih."
"He he he, bercanda. Emang siapa yang berhasil kamu gaet di sini?."
"Emmm dia…"
"Jangan bilang cewek itu Vanny" potong tantenya cepat.
"Emang kalau Vanny kenapa ma?" tanya 0m Frans.
"Ia tante, emang kalau Vanny kanapa?"
"Karena itu nggax mungkin. Impossible"
"Ada yang salah ea?" tanya Vanno bingung.
"Tante kasi tau ya. Vanny itu orangnya tertutup banget, nggax gampang di taklukin. Jadi dia nggax mungkin bisa nerima kamu gitu aja, jangan kebanyakan ngayal bisa mendapatkannya…" kata tantenya.
"0h mama, papa kira ada apa…" kata om Frans lega.
"Ia nih tante, Vanno kira ada apa. Tapi kalau itu tante tenang aja, Vanno bisa menanganinya kok. Buktinya sekarang dia pacar Vanno" kata Vanno dan tante nya langsung tersedak, karena kaget. om Frans langsung menyodorkan air minum untuk istrinya.
"Pelan-pelan tante…" kata Vanno.
"Serius kamu van?!" tanya tantenya nggax percaya.
"Serius apa nya?."
"Serius, Vanny pacar kamu?"
"Ya serius lah tante, buat apa sih Vanno ngebohong. Ya ini beneran lah, Vanny pacar Vanno kenapa? tante nggax setuju ea?" tanya Vanno.
"Bukan itu, tante sih fine-fine aja. Tapi masa' sih, Vanny bisa luluh sama kamu?" tantenya mulai nggax percaya. "Kamu pakai ilmu apa?"
"Mama nih, Vanno itu kan nggax jelek-jelek amet. Lagian ini pasti karena omnya keren, jadi nular ke keponakannya…" kata om Frans.
"Ha, bener tuh om" Vanno membenarkan. "Lagian tante, siapa sih yang mau nolak jadi pacar Vanno, cowok paling keren, rajin, baik, cool, plus gemar menabung" lanjutnya semangat.
"Tunggu-tunggu-tunggu…., kalau yang lainnya sih 0k, tapi kalau yang gemar menabungnya buat apa?" tanya tatenya bingung begitu juga sama omnya. Vanno langsung senyum-senyum gaje alias nggax jelas.
"Ah tante sama om macam tak tau-tau aja… ya itu kan cuma buat gaya aja. gimana sih, yaaa agar terlihat lebih kerenan dikit gitu…" kata Vanno sambil tersenyum-senyum.
"0h kirain beneran,…" kata om dan tantenya.
"Ya nggax lah he he he"
"Kamu berangkat bareng om van?" tanya om Frans.
"Emmm, nggax deh 0m. Vanno mau ngantar Vanny ke tempat kerjanya dulu, abis itu baru Vanno berangkat kerja, kita ketemu di kantor aja gimana?" tanya Vanno mengusulkan.
"Ya udah terserah kamu aja…" kata om Frans.
"Tapi van, bukannya Vanny itu guru private ea. Dan kalau guru private kan biasanya kerja siang. Emang pagi-pagi gini, dia kerja di mana?" tanya tantenya sambil mengingat-ingat.
"Kata Vanny, kalau pagi, sekarang dia kerja ngajar di TK emang tante nggax tau?" tanya Vanno.
"Emmm, kurang tau juga sih, abis dia nggax pernah cerita kalau kerja ngajar di TK, sejak kapan ea…. prasan bisanya tiap pagi dia di sini…"
"Ya iyalah, orang sejak hari ini, dia mendaftarnya udah lama juga tapi, baru di panggil sekarang katanya…."
"0ooh, pantesan aja tante nggax tau…" kata tantenya.
"Emmm ya udah tante, Vanno berangkat dulu ea…"
"Ia hati-hati…"
"Pasti. emm, om kita ketemu di kantor ea…" kata Vanno sambil beranjak dari tempat duduknya, yang di balas anggukan sama om Frans.
Story About Us
Hari-hari berlalu, tanpa terasa udah hampir 4 bulan Vanno berada di rumah tantenya, dan itu berarti udah hampir 4 bulan juga Vanno jadian sama Vanny, dan itu membuat ke duanya menjadi akrab. Kemana-mana selalu berdua, bahkan di rumah juga sering ngobrol bareng di balkon kamar masing-masing.
Setiap hari Vanny kerjanya selalu di antar sama Vanno, dan setiap pulang selalu di jemput, kadang-kadang juga mereka makan siang bareng kalau ada kesempatan. Setiap malam minggu mereka nonton bareng sambil jalan-jalan, pokoknya seneng-seneng deh.
Dan siang itu, selesai makan siang, saat Vanno lagi menunggu Vanny yang bilang mau ke toilet bentar, ia melihat seorang cowok yang tak jauh darinya, terlihat sedih, kecewa, marah, dan sempet nangis juga. Vanno jadi merasa kasihan, setelah fikir-fikir dulu, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri tuh cowok.
"Maaf, permisi…" kata Vanno cowok itu menoleh "Boleh gue duduk di sini?" tanya Vanno, cowok itu menatap Vanno kemudian mengangguk, Vanno pun duduk di samping tuh cowok yang ia juga nggax tau siapa.
"Sebelumnya gue minKarena nggax baik menyimpan semuanya sendiri, bisa-bisa kita sedih terus…" kata Vanno.
"Makasih, gue Aldy, sebenernya gue juga nggax tau, kenapa gue jadi lemah kayak gini. Padahal dulu gue nggax pernah merasa sedih bahkan sampai menangis, tapi gara-gara seorang cewek, gue…" cowok itu yang mengaku bernama Aldy nggax bisa meneruskan kata-katanya.
"Seorang cewek? Emm kalau loe nggax keberatan loe boleh kok cerita sama gue. Gue siap mendengar curhatan loe, ya tu sih kalau loe merasa kita temen. Atau kita bisa kok jadi temen…" kata Vanno sambil mengulurkan tangannya.
Aldy tampak berfikir-fikir sambil menatap wajah Vanno, tapi Vanno bener-bener tulus, lalu Aldy membalas uluran tangan Vanno sambil berusaha untuk tersenyum.
"Terima kasih ea, loe mau jadi sahabat gue…. Padahal kita baru kenal," kata aldy berusaha untuk tersnyum.
"Santai aja lagi, jadi apa masalah loe. Ya kali aja gue bisa bantu. Kalau nggax loe pasti bakal merasa lebih tenang setelah cerita sama gue" kata Vanno.
Awalnya Aldy diam saja, tapi setelah mikir beberapa saat ia cerita.
"Dulu, gue punya seorang cewek yang sangat gue cintai. Gue merelakan dia pergi ke luar kota untuk mengejar cita-citanya.Di sini gue sangat mengharapkan dia kembali manjadi orang yang sukses, dan berniat akan melamarnya, setelah dia selesai mencapai cita-citanya. Tapi…" Aldy menitiskan air matanya "loe tau nggax apa yang terjadi setelahnya. Tu cewek menghianati gue…" lanjutnya dengan sedih.
"Maksudnya, dia pergi sama cowok lain gitu?" tanya Vanno.
"Bukan cuma pergi sama cewek lain, bahkan dia pulang kesini dengan suami serta anaknya. Loe bisa bayangin nggax sih gimana prasaan gue saat ini. Gue itu sedih banget.Bahkan kita udah janji, setelah dia pulang kesini, kita bakal nikah, tapi…" Aldy makin sedih.
"Udah, loe nggax boleh sedih gara-gara cewek, loe harus tau. Jodoh itu di tangan tuhan" nasehat Vanno.
"Gimana gue nggax sedih. Cewek yang selama ini gue percaya, tega menghianati gue kayak gini. Apa dia nggax punya prasaan. Dia fikir gue itu apa. Kalau dia ngomong dari awal mungkin gue masih bisa maafin, tapi ini. Gue udah sangat mengharapkan menjalani rumah tangga sama dia. Apa dia nggax pernah berfikir tentang gue sedikit pun?"
"Sabar Al, sabar. Mungkin dia bukan yang terbaik buat loe. Kali aja loe dapat pengganti yang lebih baik dari pada dia."
"Tapi gue udah terlanjur mencintai dia.Gue nggax bisa berpisah sama dia kayak gini, gue merasa sakit hati banget. Bahkan gue merasa lebih baik bunuh diri aja. Gue udah nggax sanggup untuk hidup bila berpisah dengan nya kayak gini…" kata Aldy.
"Aldy, loe nggax boleh ngomong kayak gitu, hidup loe masih panjang. Loe nggax boleh lemah hanya karena seorang cewek" nasehat Vanno.
"loe bisa ngomong kayak gitu karena loe nggax ngerasain gimana sakitnya di khianati… sakit tau nggax. Sakiiiiit. Gue sedih banget. Gue merasa di campak kan gitu aja. Gue udah nggax di anggap lagi. Ini tu bener-bener menyakitkan" kata Aldy dengan sedihnya. "Gue merasa nggax ada artinya gue hidup. Dan semua yang gue tunggu selama ini sia-sia. Gue nggax nyangka orang yang selama ini gue sayang, gue percaya, dan gue cintai, tega mengkhianati gue kayak gini…" lanjutnya.
"Tapi ini bukan berarti loe harus bunuh diri kan…"
"Gue juga nggax tau deh van, yang penting sekarang udah nggax ada artinya lagi gue hidup. Semuanya percuma".
"loe nggax boleh ngomong gitu, loe harus sabar. Suatu saat nanti loe pasti bakal dapat jodoh yang lebih baik, asal loe mau berusaha untuk melewati semua ini, dan menerima apa yang udah terjadi"
"Huufffh… gue bakal mencobanya. trims ea, loe udah mau susah-susah menghibuh n' menasehati gue kayak gini…" kata Aldy.
"Ini lah gunanya teman"
"Iya. Gue baru tau sekarang kalau masih ada yang mau perduli sama gue, gue harap loe jangan seperti mantan pacar gue itu ea, jangan pernah menyakiti cewek, karena sakitnya di khianati itu nggax bakal sembuh dengan cepat" nasehat Aldy.
"Pasti" jawab Vanno "gue nggax bakal mengkhianati cewek, apa pun alasannya, gue janji sama loe, gue pasti nggax bakal mengkhianati cew…" kata-kata Vanno terhenti saat mengingat apa yang telah ia lakukan saat ini, bayangannya langsung ke arah Vanna yang berada jauh darinya. Pasti kalau Vanna tau apa yang ia lakukan di sini, juga bakal mengalami nasib yang sama seperti Aldy. Vanno jadi merasa bersalah.
"Loe janji ea…"
"i.. ia. gue janji" kata Vanno.
"Bagus lah kalau begitu…" kata Aldy sambil mencoba untuk tersenyum.
"Eh, Vanno…" kata seseorang dari samping, Vanno dan aldy langsung menoleh. Ternyata Vanny.
"Eh Vanny, udah mau pulang?" tanya Vanno.
"emmm, udah sih, tapi… loe masih ada urusan ea?" tanya Vanny.
"emmm, gue…" Vanno melirik Aldy di sampingnya.
"Loe kalau mau pulang, pulang aja dulu, gue udah nggax apa-apa kok" kata Aldy yang seperti tau apa yang di fikirkan Vanno.
"loe seriuz?" tanya Vanno nggax tega.
"Ia, gue seriuz, trims ea, loe udah mau jadi temen curhat gue, berkat elo, gue udah merasa lebih baik sekarang…" kata Aldy sambil berusaha untuk tersenyum.
"loe yakin, udah nggax apa-apa?"
"ya iyalah, gue yakin kok"
"loe… nggax mungkin bunuh diri kan?"
"Haha ha ha,, ya nggax lah, tadi itu gue cuma bercanda. Mana mungkin gue bunuh diri cuma gara-gara itu, gue masih bisa berfikir dengan baik kaleee…" kata Aldy sambil tersenyum.
"ya udah kalau gitu, gue pulang ea…" kata Vanno. Aldy hanya membalas dengan anggukan kepala dan tersenyum. setelah Vanno pergi Aldy kembali terlihat kecewa dan sedih.
"Ada apa?" tanya Vanny saat di perjalanan.
"Nggax ada apa-apa kok. emmm, kita jadi ke toko buku kan?"
"ya kalau loe nggax keberatan"
"ya nggax lah, mana mungkin gue keberatan. emmm, ya udah yuk" ajak Vanno sambil melangkah menuju parkiran begitu juga dengan Vanny.
Begitu tiba di rumah, Vanno langsung masuk kamarnya dan tiduran di kasur, pikirannya melayang entah kemana, membayangkan apa yang terjadi dengan Vanna kalau tau apa yang di lakukan nya di sini, dan mengkhianati cinta Vanna. Apa Vanna bakal sedih seperti aldy, atau bakal nekat bunuh diri juga?
"Auaaah…. apa yang telah gue lakuin…." Vanno mengacak-acak rambutnya bingung.
"Vanna, maaf in gue… gue udah mengkhianati elo… gue nggax tau kalau akhirnya bakal kayak gini… gue bener-bener bingung… mana gue udah terlanjur suka sama Vanny lagi… Tuhan, maaf in gue… tolong bantu gue melewati ini semua…" lanjutnya.
"apa… gue ngaku aja yea…" tanyanya sendiri "tapi… apa bakal baik-baik aja? aduuuh gue jadi makin bingung. seharusnya apa yang gue lakuin sekarang… ngaku atau nggax. tapi kalau gue nggax ngaku… selamanya gue bakal terus menyakiti mereka berdua. gimana pun juga ini semua salah gue…" lanjutnya.
"gue harus ngaku" kata hatinya pasti "ia, gue harus ngaku, apapun yang terjadi nantinya itu adalah resiko dari apa yang telah gue lakuin, jadi gue harus menanggungnya. gue harus tegas. dan tanggung jawab, Vanna, Vanny maaf in gue ea, gue udah menyakiti kalian tanpa kalian sadari, gue nggax tau lagi harus berbuat apa…"
"sepertinya mengaku sekarang itu lebih baik, gue harus bilang sama Vanny apa yang sebenernya terjadi, setalah itu, terserah dia mau bagaimana, mau mutusin gue atau apapun gue harus menerimanya karena ini emang salah gue… ia. bener. gue harus mengakuinya sekarang. Tuhan, kuatkan lah gue… supaya gue bisa berani mengakui kesalahan gue sama Vanny…." kata Vanno sendiri.
To Be Continue…
Next is the last part. Penasaran kan sama endingnya. Oh ya ngomong ngomong, Story About Us ini di ambil dari kisah nyata lho, yah tentu saja dengan sedikit pengubahan seperlunya. Yang jelas reaksi pertama waktu denger 'Vanno' cerita, Adminnya ngakak guling guling sambil bilang "Syukurin…!". XD
Terakhir, jangan lupa like fanpage Star Night ya, di sini.

Random Posts

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 03″

    Masih lanjutan dari cerpen remaja Take My Heart yang kini sampe part 3. Secara kisah diantara mereka baru di mulai. Masih belum jelas juga konflik ceritanya mau di bawa kemana. So untuk yang udah penasaran, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk reader baru, biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu part sebelumnya disini. Happy reading…Take My HeartCinta itu bukan tentang apa yang ku rasakan untukmu; Bukan pula tentang apa yang kau rasakan untuk ku ; Cinta yang ku inginkan adalah rasa yang sama yang dimiliki antara kau dan aku #Take my heartUntuk pertama kalinya setelah hampir tiga tahun menjalani hari – hari sebagai mahasiswa di kampus Amik, Ivan berjalan dengan wajah menunduk. Merasa risih akan tatapan dari seisi kelasnya. Walau sebenarnya di tatap oleh mereka itu sudah merupakan hal yang biasa. Namun kali ini ia merasa beda. Pasalnya, tatapan kali ini jelas tatapan penuh tanya.Dalam hati Ivan terus merutuki kejadian kemaren. Kalau saja bukan karena rasa penasarannya pada Vio, Gadis yang telah menyelamatkannya kemaren. Pasti saat ini ia lebih memilih untuk tetap berbaring di rumahnya dari pada harus berjalan di sepanjang koridor kampus dengan wajah pernuh lebam. Sial, Gumamnya."Hei Bro, Kenapa tampang loe?"Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulu Aldy yang baru sedetik yang lalu muncul di hadapannya disusul sosok Renold dan Andra yang mengekor di belakang."Gila, kok bisa bonyok gini?" tambah Renold sambil meraih wajah Ivan, Membuat sosok itu langsung menepis tangannya sambil meringis. Sudah tau bonyok, masih juga di sentuh."Memangnya loe berantem sama siapa?" tanya Andra kemudian."Gue nggak tau.""Ha? Maksut loe?" tanya Aldy."Gue nggak tau siapa yang menghajar gue kemaren. Tiba – tiba aja gue di hadang sama perman waktu pulang kuliah," terang Ivan terlihat tidak berminat."Kok bisa?""Mana gue tau," Ivan angkat bahu. Pada saat yang bersamaan matanya menangkap sosok yang melangkah masuk dari pintu gerbang kampus."Hei, loe mau kemana?" tahan Andra saat mendapati Ivan yang berbalik.Ivan tidak menjawab. Ia terus melangkah menghampiri Vio. Diikuti tatapan ketiga sahabatnya."Oh, ternyata dia benar – benar beniat untuk mendapakan sepuluh juta itu," kata Aldi sambil mengngguk – angguk paham."Maksut loe?" tanya Renold dan Andra secara bersamaan."Tuh. Walau udah bonyok gitu tetep aja dia masih ngejar cewek sepuluh jutanya," terang Aldy sambi memberi isarat kearah kedua sahabatnya tentang tujuan Ivan yang telah mengacuhkannya."O," kali ini Renold hanya beroh ria sementar Andra sendiri tampak mengernyit heran saat mendapati Ivan dan Vio yang tampak berbicara di kejauhan. Hebat juga tu orang. Padahal baru kemaren cewek itu terlihat ketus, eh hari ini sudah mau ngobrol bereng. Tak salah kalau sahabatnya yang satu itu di cap playboy, pikirnya dalam hati."Vio!"Merasa namanya di panggil, Vio menoleh. Mengernyit heran saat mendapati Ivan yang datang menghampirinya. Mau apa lagi dia?, pikirnya."Ada apa?" tanya Vio kemudian.Sejenak Ivan terdiam. Mulutnya tidak langsung menjawab karena kini matanya sibuk memperhatikan tampilan Vio hari ini. Rambut yang di gerai bebas dengan sebuah jepitan kecil yang tersemat di atas kepalanya di tambah setelan kemeja berwarna merah muda benar – benar merupakan perpaduan yang cocok. Kontras dengan wajahnya yang imut dengan matanya yang sipit. Ivan menduga pasti gadis ini mempunyai silsilah keturunan cina yang diwarisinya."Heloo," Vio melambaikan tangannya tepat didepan wajah Ivan."Eh, ehem," Ivan merasa sedikit salah tingkah. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Astaga, akibat di pukuli kemaren pasti otaknya sedikit bergeser. Kenapa ia jadi mendadak merasa paranoid begini ya?"Gue mau nanya soal kemaren," kata Ivan mencoba untuk kembali pada tujuan awalnya menghampiri gadis itu."Soal kemaren?" ulang Vio sambil berfikir sejenak. "O soal kemaren yang loe di pu…. Humph..".Ivan dengan cepat membekap mulut gadis yang ada di hadapannya itu dengan tangan. Astaga, apa gadis itu berniat untuk mempermalukannya di hadapan semua anak – anak kampus dengan berteriak sekenceng itu."Hmmm. Pfh.." Vio dengan cepat menyingkirkan tangan Ivan dari mulutnya. Menatap pria itu dengan tatapan sebel."Kenapa si?""Iya soal kemaren. Tapi nggak perlu di perjelas juga kali. Pake teriak segala. Kalau sampai anak – anak laen tau gimana?"Dan Ivan menyadari kalau ia salah bicara saat mendegar kalimat jawaban yang keluar dari mulut Vio."Kalau mereka semua pada tau memang apa urusannya sama gue?" serang Vio balik.Glek.Satu lagi hal yang baru Ivan sadari tentang gadis itu adalah, ternyata gadis itu sama sekali tidak terpengaruh akan pesonanya.-,-"Memang nggak ada urusannya sama loe, tapi itu ngaruh sama gue," Ivan meralat ucapannya. Membuat Vio mencibir menatapnya."Kembali ke topik pembicaraan kita. Soal masalah kemaren, loe tau dari mana? Jangan bilang kalau itu hanya kebetulan. Secara mustahil secara kebetulan loe bisa bicara soal balas dendam segala."Vio sejenak terdiam. Tak sengaja ekor matanya mendapati sosok gadis yang kalau ia tidak salah dengar bernama Laura sedang memperhatikan nya dari kejauhan."Emang itu bukan kebetulan. Yang bilang kebetulan siapa?" tanya Vio balik."Jadi?" kejar Ivan"Jadi?" ulang Vio."Jadi penjelasannya gimana?" tambah Ivan terlihat gemes."Nggak ada penjelasan karena gue nggak mau menjelaskan. Dasar playboy cap kodok, buaya cap kadal.""Ha?" Ivan melongo mendengar gelar aneh yang keluar dari mulut gadis itu. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, justru dengan santainya gadis itu malah melongos pergi.Vio sendiri juga merasa tidak perlu menjelaskan apapun pada Ivan. Selain karena ia tidak punya bukti bahwa Laura yang melakukannya, ia juga tidak ingin membuat masalah. Secara ia kan mahasiswa baru di kampus itu. Ia sama sekali tidak tau siapa Laura kecuali sebatas nama yang ia curi dengar kemaren. Selebih nya Nol. Kenyataan kalau gadis itu adalah korban dari ke Playboy'an Ivan sehingga membuatnya nekat untuk balas dendam dengan menyewa pereman benar – benar membuat Vio membuang jauh niat untuk mengadukannya."Sial" rutuk Vio dalam hati saat mendapati langkahnya menuju kekelas di halang oleh tiga orang yang hanya salah satunya yang ia tau kalau gadis itu bernama Laura."Siapa loe?" tanya Laura.Dari nadanya saja Vio sudah dapat merasakan kalau tiada aura persahabatan di sana. Sejenak Vio menarik nafas, mencoba menahan diri dan terlihat sesantai mungkin."Vio," balas Vio sambil mengulurkan tangan.Laura hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk menyambut uluran tanggannya, membuat Vio menarik diri."Ada urusan apa loe sama Ivan?" tanya Laura langsung."Yang jelas bukan urusan loe," balas Vio terdengar sinis. Membuat Laura sedikit tersentak kaget, Sepertinya gadis itu berniat untuk melawan, pikirnya."Denger ya, siapapun yang berurusan sama Ivan menjadi urusan gue," kata Laura penuh penekanan."Oh ya?" Vio pura – pura pasang tampang kaget. "Termasuk para preman yang menghajar Ivan kemaren?""Apa?!" kali ini Laura sama sekali tidak mampu menyembunyikan raut kaget dari wajahnya. Vio sendiri hanya angkat bahu."Ehem…" Laura terlihat berdehem sebenetar. Tak ingin terpancing. "Apa maksut loe barusan?" sambungnya lagi.Sejenak Vio tersenyum sinis, membuat Laura jelas menatapnya kesel."Karena wajah tampan yang ia miliki, ia mengunakan kelebihan itu untuk menyakiti orang. Tak ada salahnya kalau gue memberi dia sedikit perlajaran bukan?" sambung Vio sambil menirukan gaya Laura, persis seperti apa yang gadis itu ucapkan kemaren saat ia diam – diam menguping pembicaraan mereka."Loe!!" tunjuk Laura tearah ke wajah Vio."Kenapa?" tanya Vio polos tapi justru malah terlihat menantang."Dari mana loe tau itu?" tanya Laura lagi. Vio hanya angkat bahu."Jadi sekarang loe berniat untuk ngancem gue.""Gue nggak yakin loe bisa di ancam, dan juga nggak ada untungnya gue ngancam loe.""Terus mau loe apa?""Berhenti mengganggu gue, dan please menyingkir sekarang juga. Gue mau lewat.""Wow, berani sekali dia. Huuu… Takut," ejek Laura meledek membuat Vio kembali menarik nafas kesel. Apa si maunya ni orang?"Eh denger ya? Loe pasti baru di sini, jadi loe belum tau siapa gue. Asal loe tau aja ya, Gue idola di sini. Jadi nggak akan ada yang percaya sama ucapan loe kalau orang yang kemaren mukuli Ivan adalah orang – orang suruhan gue. Lagi pula loe nggak punya bukti," kata Laura sambil mendorong tubuh Vio ke dinding."Huh," lagi – lagi Vio menghembuskan nafas kesel. Tak ingin terpancing emosi ia malah tersenyum anggun saat mendapati siluet seseorang yang ia kenal."Soal gue nggak punya bukti, loe salah. Waktu kejadian Ivan di hajar kemaren gue sempet mengabadikan beberapa momen nggak penting, tapi mungkin tidak untuk polisi yang pasti akan langsung melacaknya. So pasti mereka langsung bisa menemukan siapa dalang di sebaliknya. Dan kalau soal nggak percaya. Yups, gue mahasiswi baru disini. Jelas nggak akan percaya kalau gue yang ngomong kecuali kalau justru loe sendiri yang mengakuinya.""Loe bener – bener ngancam gue?" tanya Laura jelas terlihat marah."Bukan mengancam, hanya berusaha untuk melindungi diri sendiri. Buktinya gue nggak pernah tu bilang sama Ivan, Kalau dia bisa tau itu pasti karena ucapan loe sendiri?""Heh, menurut loe gue sebodoh itu akan memberitahukan apa yang gue lakukan itu kedia?""Karena loe nanya ke gue loe bodoh atau nggak, dan loe sendiri bilang kalau memberi tahu Ivan termasuk tindakan bodoh. Maka gue jawab, ya! Loe emang bodoh," Kata Vio tegas.Sebelum Laura sempat membalas, Vio sudah terlebih dahulu mengisaratkannya untuk berbalik. Dan begitu menoleh."Ivan?" tanya Laura kaget, bingung juga sedikit… takut?"Jadi para perman yang menghajar gue kemaren itu orang – orang suruhan loe?" tembak Ivan langsung.Glek.Laura hanya mampu menelan ludah. Mendadak serem saat mendapati tatapan tajam Ivan jelas terhunus padanya."Kenapa loe lakukan itu?" tanya Ivan lagi."Iya. Itu orang – orang suruhan gue. Yang sengaja gue bayar buat menghajar loe yang jelas – jelas sudah mencampakkan gue. Yang jadiin gue sebagai barang taruhan bodoh antara loe sama temen – temen loe. Yang udah mempermalukan gue di depan umum. Puas loe? Sekarang loe mau apa?" tantang Laura. Percuma ia menghindar, toh sudah tertangkap basah ini.Ivan terdiam. Vio juga masih terdiam. Matanya yang sipit tampak hanya berkedap – kedip menatap adegan drama satu babak menyambut hari pertama ia menginjakkan kaki sebagai mahasiswi baru di kampus itu."Loe…" tangan Ivan siap terangkat keudara sementara Laura langsung menutup matanya. Terkejut akan reaksi Ivan terhadapannya."Cuma cowok pengecut yang berani melakukan kekerasan fisik terhadap cewek."Mata Laura terbuka. Mendadak takjub menatap kearah Vio yang jelas – jelas sedang menahan tangan Ivan di udara. "Loe itu sebenernya belain gue apa dia si?" gumam Ivan frustasi sambil menarik kembali tangannya.Vio angkat bahu. "Gue nggak belain siapa – siapa. Toh nggak ada untungnya juga buat gue. Apapun masalah diantara kalian, itu jelas urusan kalian. Soal insident kemaren, Laura jelas punya alasan untuk melakukannya. Namun karena tindakan yang ia lakukan kemaren termasuk dalam tindakan kriminal. Makanya gue berusah untuk mencegahnya. Dan sekarang, loe yang marah sama dia. Terus berniat untuk melakukan kekerasan fisik juga, jelas aja gue tahan. Cukup Adil bukan?" terang Vio panjang lebar."So, sekarang. Silahkan lanjutkan urusan kalian. Dan sejak kecil gue sama sekali nggak pernah punya cita – cita buat jadi hakim atau apapun yang terkait dengan mendamaikan dan mencampuri urusan orang lain. Jadi gue pergi dulu."Selesai berkata Vio segera melongos pergi. Meninggalkan wajah – wajah yang melongo menatap tak percaya padanya. Bodo amat. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mefikirkannya lagi. Ia sudah terlanjur merasa kesel dan gondok hari pertamanya di kampus itu harus di warnai dengan aura permusuhan. Astaga, apa dosanya tuhan?."Hai".Vio menoleh saat merasakan pundaknya di tepuk dari belakang. Begitu menoleh ia yang saat itu sedang mengunyah bakso di dalam mulutnya kontan langsung tersedak."Uhuk uhuk uhuk.""Astaga… Sory sory sory," Kata Ivan sambil meraih air minum dan langsung menyodorkannya kearah Vio yang langsung di teguk habis. Sementara tangan Ivan sendiri tampak mengusap – usap punggung Vio."Loe, niat mau bunuh gue ya?" tuduh Vio langsung."Gue niat nyapa doank. Loe nya aja yang kagetnya lebay," balas Ivan sambil duduk di hadapan Vio tanpa permisi sama sekali.Vio tidak membalas. Tangannya sendiri meraih tisu, mengelap bibirnya yang basah. Matanya yang sipit makin menyipit saat melirik Ivan dengan tatapan mencibir."Oh ya, gue boleh ikutan gabung kan?" tanya Ivan mengalihkan pembicaraan."Kalau seandainya gue bilang enggak loe tetep duduk di situ kan?" Vio balik bertanya."Tentu saja," balas Ivan cepat membuat Vio lagi lagi mencibir kearahnya."Ngomong – ngomong kenapa si loe judes banget jadi cewek?" tanya Ivan.Sejenak Vio menarik nafas. Menghentikan aktifitasnya menikmati semangkuk bakso yang ada di hadapannya. Menatap lurus kearah Ivan yang berdasarkan kabar yang ia peroleh terkenal sebagai Playboy_cap kadal" menurutnya."Gue nggak judes kok," balas Vio, dan sebelum Ivan sempat membantah ia sudah terlebih dahulu menambahkan "Kecuali sama loe.""Kenapa?" "Ya sudah jelas. Karena loe itu Play_Boy," Sahut Vio penuh penekanan. Membuat Ivan kembali diam tak berkutik."Berbicara soal playboy. Loe duduk disini bukan buat merayu gue kan?" tanya Vio kembali melanjutkan aktifitasnya menikmati makanannya."Sebenernya emang itu niat gue," aku Ivan santai."Uhuk uhuk uhuk."Tak pelak ucapan Ivan barusan kontan membuat Vio kembali tesedak. Bahkan kali ini kondisinya lebih parah. Air yang ada di hadapanya sudah lenyap tak bersisa. Membuat Ivan dengan kalang kabut langsung bangkit berdiri. Dan beberapa saat kemdian muncul dengan sebotol air mineral di tangannya yang tampa permisi langsung di tengak oleh Vio.Begitu batuknya reda. Vio terdiam. Matanya menatap kearah mangkuk bakso yang ada di hadapannya yang hanya tersisa setengah. Mendadak merasa horor , makanan itu bisa saja membunuhnya.Dan begitu ia menoleh, matanya langsung bertatapan dengan wajah Ivan yang jelas jelas menatapannya khawatir. Vio lagi – lagi berfikir, kalau sosok yang ada di hadapannya tak kalah menyeramkan dari pada semangkuk bakso yang ada diatas meja. Kedua sama sama berpotensi untuk membunuh. Bukankah sosok itu adalah pernyebap kenapa memakan bakso itu menjadi berbahaya?"Gue nggak niat buat membunuh loe," Kata Ivan cepat saat mendapati mulut Vio akan terbuka."Gue cuma berniat buat jadiin loe itu pacar gue," sambung Ivan.Kali ini Vio melongo. Hei, apa itu artinya ia baru saja di tembak seseorang. Wah, ajaib. Baru sehari yang lalu ia memutuskan untuk pindah di kampus ini karena patah hati dan kali ini ia sudah di tembak sama seseorang yang tekenal dengan ke playboyannya. Astaga…Didorongnya mangkuk bakso itu sedikit kedepan. Ia benar – benar merasa trauma untuk mencicipi makanan tak berdosa itu. Di silangkannya kedua tangannya di atas meja. Menatap lurus kearah wajah Ivan."Pasti karena loe sedang bertaruh sama temen – temen loe kan?" tebak Vio ngasal.Kali ini Vio melongo untuk kedua kalinya saat tiada kata bantahan keluar dari mulut Ivan. Maksutnya itu bener? Ia adalah target taruhan Ivan selanjutnya?.Dan tanpa bisa di cegah tangannya langsung terangkat menjitak kepala Ivan. Membuat suara mengaduh keluar dari mulut pria tampan itu."Loe mikir apa si? Bisa – bisanya loe jadiin gue barang taruhan," geram Vio emosi."Ya bukan salah gue donk. Siapa suruh kemaren loe jadi orang pertama yang keluar dari ruangan dosen," kata Ivan membela diri."Maksut loe?" tanya Vio dengan kening berkerut."Iya kemaren itu gue memang di tantangin sama temen – temen gue buat menaklukkan hati siapapun yang pertama sekali keluar dari ruangan dosen. Dan ternyata orang itu elo."Vio terdiam. Mencoba mencerna penjelasan yang baru saja ia dengar. Sekarang ia mulai mengerti kenapa kemaren ia mendapatkan tatapan aneh dari Ivan dan ketiga temanya. Ternyata karena taruhan konyol itu. Tapi…"Tapi gimana kalau seandainya waktu itu orang yang pertama kali melewati pintu itu adalah dia?"Tatapan Ivan beralih mengikuti arah telunjuk Vio. Glek. Ia hanya mampu menelan ludah saat tau sosok yang di maksut adalah Pak Burhan."Ehem, Walau berat untuk mengakui. Sebenarnya sosok pertama yang melewati pintu itu memang dia," aku Ivan kecut.Vio melongo. "Kalau gitu loe harus macarin dia donk?""Tentu saja tidak," bantah Ivan cepat. Bahkan ia nyaris berteriak saat mengucapkannya."Maksut gue. Dia itu pengecualian. Gue masih normal mana mungkin gue mau memacari sesama cowok. Jadi peraturan di rubah kalau hanya yang berjenis kelamin cewek yang masuk hitungan.""Gue meragukan kalau loe normal. Secara mana ada manusia normal yang akan mempertaruhkan dosennya sendiri," cibir Vio sinis."Dan satu lagi, kalau dosen cowok bisa di jadikan pengecualian, harus nya gue juga donk," tambah Vio beberapa saat kemudian."Maksutnya?""Ya gue kan bukan dosen. Harusnya kalian itu hanya bertaruh untuk dosen yang melewati pintu itu. Sementara gue kan bukan.""Ah loe bener juga. Kenapa kita kemaren nggak kepikiran sampe kesitu?" kata Ivan mengangguk angguk membenarkan."Itu karena loe bodoh," geram Vio tak sabar.Ivan terdiam sambil menatap Vio kesel. Baru sehari ini ia kenal gadis itu kenapa begitu banyak tanggapan buruk yang ia dapatkan. Dan herannya kenapa ia tidak merasa marah. Benar – benar suatu hal yang harus ia pertanyakan."Jadi berapa nominal yang kalian pertaruhkan?"."Eh?" Ivan bingung. Gadis itu dengan mudah membelokan pembicaraan."Ehm… Sepuluh juta," balas Ivan lirih saat otaknya mampu menebak arah pertanyaan gadis itu."Apa?!" kali ini mata Vio yang sipit tampak membulat. Membuat Ivan berpikir gadis itu sama sekali tidak cocok untuk marah. Wajahnya sama sekali tidak terlihat menakutkan. Sepertinya raut imut sudah mendomain dalam wajahnya."Sepuluh juta?" ulang Vio tak percaya membuat Ivan menganguk tak bersemangat."Terus apa aturan mainnya?" tanya Vio lagi.Walau bingung juga ragu, namun tak urung Ivan menjawab "Gue harus berhasil macarin loe dalam kurun waktu kurang dari sebulan baru kemudian gue harus memutus loe di hadapan semua anak – anak."Asli kali ini Vio melongo. Tak tau bagaimana asalnya mendadak ia merasa menyesal. Menyesal kenapa dulu ia harus menyatakan cinta pada Harry. Menyesal kenapa ia ceroboh untuk pindah kampus segala. Dan yang terpenting ia menyesal kenapa tidak membiarkan para preman itu menghajar makluk di hadapannya itu habis – habisan kemaren."Bagus kalau begitu sekarang juga loe umumkan kalau kita saat ini pacaran. Dan besok siang, disini, loe bilang kita udah putus," kata Vio tiba – tiba. Membuat Ivan yang gantian melongo."Ha?"."Dan besok uang taruan itu bagi dua. Fivety fivety. Loe lima juta, gue lima juta," eambah Vio lagi."Leo serius?" tanya Ivan makin takjub."Dasar bodoh. Tentu saja bohong. Loe pikir gue cewek apa yang mau di jadikan taruhan begitu" Selesai berkata Vio langsung bangkit berdiri. Meninggalkan Ivan dengan rasa kesalnya. Kenapa Gadis itu suka sekali mengatainya bodoh? Kalau sampai ia bodoh beneran, apa dia mau bertanggung jawab?Next to Cerpen Take My Heart Part 04Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • CINTA ITU GA HARUS MEMILIKI

    Oleh: Windi Adewi – Kisah ini berawal dari dua orang sahabat yang selalu bersama-sama, dan pada suatu hari mereka mendapat tugas untuk membuat kliping , , mereka pun pergi ke rental bersama, waktu disana mereka bertemu dengan seorang mahasiswa yg kebetulan juga sedang mengerjakan tugasnya. dia tertarik sama salah satu dari mereka dan dia pun ngajakin kenalan ,”hai, boleh kenalan ,aku arief. nama km siapa ? boleh minta nomer hpnya ?” “mmm , boleh , aku putri,kakak namanya arief ya ?” oke, kalo gitu mana hp kakak nanti aku tulis nomer ku di hp kakak”. “yauda , nih “. “Udah nih kak, “ “Yauda makasih ya, nanti aku sms kmu , kalo gitu aku cabut dulu, aku masih ada urusan di kampus”.“iya kak, sama – sama”.Lalu mahasiswa yg bernama arief itu pun pergi dan meninggalkan rental , putri cerita sama sahabatnya kalo dia baru aja kenalan sama mahasiswa yang tadi baru aja dari situ. Sepulang dari rental sama sahabatnya itu , putri beristirahat sejenak , dan baru beberapa jam hpnya ditaruh dimeja belajarnya , hpnya bunyi dan berdering, ternyata setelah dia lihat ada sms dari nomer yang gak ada namanya, putri lalu membuka smsnya.Ternyata sms itu dari kak arief yg tadi ngajak kenalan putri di rental ,katanya dia seneng banget bisa kenal sama putri dan dia pengen kenal lebih deket lagi sama putri.Begitu seterusnya setiap hari mereka selalu smsan hingga saling mengenal satu sama lain dan ternyata arif adalah salah satu mahasiswa politeknik di Semarang jurusan konversi energi semester 6 yang lagi menyelesaikan skripsinya , itu berarti sebentar lagi dia diwisuda dan dapet gelar diploma.Seiring berjalannya waktu mereka sering jalan bareng dan putri juga sering cerita sama sahabatnya tentang arif.“ aku mau cerita sama kamu nih , ,”“iya, cerita aja , ,”“ternyata kak arif itu masih kuliah lo , , tapi dia lagi mau nylesaiin skripsinya”“trus , ,? ‘“ ya itu berarti kuliahnya bentar lagi mau selesai donk , trus dia diwisuda ““trus kenapa , bukannya itu bagus yah, kok jadi kamu yg sedih, harusnya kamu seneng donk”“ iya, tapi kak arif bilang kalo dia udah diwisuda nanti, dia mau pindah dan nyari kerja di kampung asalnya, dia juga bilang dia mau kumpul sama semua keluarganya disana, dan mungkin dia bakalan tinggal disana selamanya, ya kemungkinan juga dia ga akan balik lagi kesini”“oh gitu , emang kampung asalnya dimana sih , ?”“ Nias, berarti jauh banget kan , , ?“ iya seh , trus kenapa kamu sedih banget ? dia kan bukan siapa2 kamu ?apa jangan2 kamu suka ya sama dia ?udah ngaku aja”“ ga tau nih, tapi jujur aja ya , aku jadi sedih banget kalo emang dia bener2 mau pindah jauh dari sini, ga kebayang mungkin ga akan ada lagi orang yg bisa aku anggep sebagai kakak cowok aku sekaligus sebagai temen curhat yg selalu ngehibur aku disaat aku lagi sedih’’“mmm . . aku tau kok perasaan kamu, yah tapi kan masih lama juga, sekarang kan dia masih dalam proses ngerjain skripsinya , jadi kamu santai aja, gak usah dipikirin , lagian kan masih ada aku ,iya kan? Aku janji kok aku bakalan selalu ada saat kamu butuh temen curhat ,oke ?’“ yauda, makasih ya . . .kamu emang sahabat aku yang paling baik deh ““iya, sama – sama put “Hati putri jadi lega setelah curhat sama sahabatnya,Tapi putri juga sedih karna udah beberapa bulan ini kak arif udah gak pernah ngajak dia ketemu lagi , bahkan buat sms putri aja uda jarang, putri jadi mikir apa mas arif uda pergi jauh tanpa sepengetahuan putri dan gak ngasih tau putri .Tapi disaat putri lagi gelisah gak karuan tiba – tiba hp putri bunyi, dan pas dia buka ternyata ada sms dari kak arif, hati putri pun seneng banget , dan saking senengnya dia langsung buka smsnya karna putri pengen tau isi sms itu.ternyata akhir2 ini ms arif udah gak sms putri lagi karena dia lagi sibuk ngerjain skripsinya, dan dia juga bilang besok minggu dia mau ngajakin putri jalan2 ke pantai karna dia pengen banget ketemu sama putri.Putri seneng banget soalnya uda lama dia gak ketemu sama kak arif , tiba – tiba dia diajakin jalan , dan tanpa berfikir panjang , putri mengiyakan ajakan kak arif, karna dia juga pengen banget ketemu sama kak arif.Hari minggu pun tiba dan tepatnya waktu menunjukan pukul 05.00 kak arif nunggu putri di gang rumah putri , dan beberapa menit kemudian putri dateng memakai cardigan ungu dengan hot pan item , ,setelah liat putri,kak arif langsung nyalain mesin motornya dan mereka langsung beranjak dari tempat itu.Setibanya di tempat itu, mereka langsung cari tempat yang nyaman buat ngobrol berdua, lalu mereka pun duduk di pasir sambil menikmati sunrise ,trus kak arif tiba2 ngomong.“put, kamu tau gak sebenernya aku ngajak kamu kesini mau ngapain ?”“gak tau kak, emang kenapa ?”“aku pengen ngomong sesuatu sama kamu, eh sebenernya banyak sih ““emang apa sih kak?”“tapi jangan marah ya , janji dulu?”“iya deh”“sebenernya , dulu waktu pertama kali kita ketemu, aku pengennya kenalan sama temen kamu, tapi aku gak berani ngajak kenalan dia, makanya aku ngajak kenalan kamu yg waktu itu gak terlalu sibuk , mulai dari situ aku punya ide , mungkin dari perkenalan kita dan kedekatan kita aku bisa minta kenalin ke kamu sama temen kamu itu , tapi aku takut kalo aku nyinggung perasaan kamu”“jadi, ternyata selama ini ms Cuma pura2 deket sama aku biar bisa kenal sama temen aku itu ? ,kok kak arif tega sih sama aku ,padahal aku udah naruh harapan sama kakak, dan aku fikir kakak suka sama aku , tapi kok ternyata malah kayak gini, kalo kayak gitu kenapa kakak gak bilang aja sama aku dari awal , kalo gitu kan aku gak bakalan sakit hati kayak gini . aku gak nyangka ternyata kakak kayak gitu, dan kakak ngajak aku kesini Cuma mau bilang itu , oke kalo gitu hubungan kita cukup sampai disini aja, sekarang tolong anterin aku pulang, pliisss aku gak mau denger apa2 lgi dari kak arif”Sambil menangis putri langsung diantar pulang , sesampenya dirumah putri langsung pergi ninggalin arif, tanpabicara apa2. Tapi beberapa jam kemudian hp putri bunyi dan taunya ada sms masuk dari kak arif.dia minta maaf sama putri , tapi sebenernya masih ada lagi beberapa hal yang masih mau dia omongin, dia juga bilang bulan depan dia mau pindah ke Nias, karna minggu depan udah diwisuda, dan mau ngurusin kepindahannya, jadi dia mohon banget buat ketemu putri untuk yg terakhir kalinya dua hari sebelum dia pergi, dia bakal tungguin putri di gang rumah putri.Kemudian hari yg ditunggu – tunggu pun tiba, dua hari sebelum Arif pergi , Putri bingung apa dia emang harus ketemu apa enggak, tapi putri juga penasaran sebenarnya apa seh yang mau diomongin sama kak arif lagi ke putri, akhirnya putri ngambil keputusan kalo dia mau nemuin Arif buat yg terakhir kalinya.Setibanya digang , ,“mmm, akhirnya kamu mau temuin aku juga put ““uda deh, gak usah basa basi , emangnya kak arif mau ngomongin apa lagi sih ke aku ?”“aku Cuma mau bilang kalo sebenernya aku suka sama kamu , aku sayang kamu put.““loh, bukannya kakak waktu itu bilang , kakak itu suka sama temen aku, trus kenapa tiba2 sekarang bilang kalo suka sama aku,sayang sama aku? maksudnya apa sih?”“emang pertama kali aku kenal kamu , aku emang masih suka sama temen kamu , tapi hanya sebatas suka dan gak lebih, tapi setelah aku deket dan jalan bareng sama kamu, aku jadi suka sama kamu, dan aku ngerasa aku pengen selalu deket sama kamu, dan aku pengen banget ngelindungin kamu , beda banget sama perasaan aku ke temen kamu, aku pengen deket sama temen kamu, itu karna aku pengen dia jadi adek aku , soalnya dia itu mirip sama adek aku yang jauh di Nias sana, tapi kalo sama kamu, lebih dari perasaan seorang kakak ke adik, sebenernya aku gak pengen ninggalin kamu, tapi mau gimana lagi, aku harus pulang ke Nias karna aku udah diterima kerja disana, aku harap kamu bisa maafin kesalahanku selama ini, dan kamu gak akan lupain aku, dan kenangan selama kamu kenal sama aku ““hmm gitu yah,oke deh, aku maafin kakak, aku gak akan pernah lupain kakak, dan aku gak akan lupain kenangan aku sama kak arif, aku juga sayang sama kakak.”“makasih putri, aku harap walaupun kita gak bisa sama2 , kamu jangan pernah lupain rasa sayang aku ke kamu ya, janji ya?”“iya kak”“yaudah, aku pamit dulu , jaga diri kamu baik2 ya“Abis ngomongin perasaannnya ke putri, kak arif langsung pergi ninggalin putri, putri yg lagi sedih juga pergi ninggalin tempat itu, setelah dia sampe dirumahnya, dia ketemu sama sahabatnya, putri cerita semuanya dari awal sampai akhir tentang arif, sahabatnya bilang “ sabar aja put, kalo emang uda takdirnya begitu mau gimana lagi , lagian cintamu gak bertepuk sebelah tangan kan, dan kalo emang kalian itu jodoh kamu, pasti gak akan kemana2 kok, lagian kata orang cinta itu gak harus memiliki . “Akhirnya setelah dihibur sama sahabatnya, putri gak sedih lagi, putri ngambil hikmah dari ini semua, putri juga yakin, apa yg dibilang sahabatnya itu emang bener, kalo cinta itu gak mesti harus memiliki.

  • Cerpen Cinta Romantis: AKU PASTI KEMBALI

    Aku Pasti Kembali Karya : putri ayu pasundan Namaku jelita, aku sekolah di sma vanderwaald. Aku duduk di kelas 1 sma. Aku termasuk siswa yang pandai, dan juga mudah bergaul. Aku mempunyai seorang sahabat dia bernama putra. Putra adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku, dilain waktu saat aku bersedih, dia yang selalu menghiburku. Suatu ketika dia memendam perasaan yang sama dan aku juga merasakannya.“jelita..” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku putra.“iya put..? ada apa?’’ tanyaku.“pulang sekolah , ikut aku ya.. aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”“oke baik.”Setelah bel pulang sekolah berbunyi, putra langsung menghampiriku dia sudah berdiri tepat di ambang pintu kelasku. Dia memanggilku sambil tersenyum.“jelita.. ayok kita berangkat.”Putra tiba-tiba mengandeng tanganku , menuruni anak tangga, Dan segera menuju ke area parkir. Kelas kami berada di lantai 3 . Aku dan dia berbeda kelas . Sejak smp kita selalu bareng. Dan sampai SMA ini. Setelah kami tiba di area parkir, putra mengeluarkan motornya yang terparkir dekat pos satpam.“ayok naik.” Putra mempersilahkan aku untuk naik ke motornya, dan kini kami berangkat meninggalkan area parkir. Juga sekolah.“kita mau kemana?’’ tanyaku kepadanya.“ke suatu tempat. Dan kamu pasti suka.” Setelah beberapa menit di perjalanan , kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata putra mengajakku ke sebuah taman bermain. Di taman tersebut . terpampang air mancur yang begitu indah, banyak sekali bunga-bunga yang berwarna warni. Kami berdua duduk di kursi dekat taman.“jelita… “ panggil putra kepadaku, sorotan mata tajam nya yang takkan pernah ku lupakan sejak dulu . deg…. Jantungku berdebar-debar. Aku tak mengerti tentang perasaan ku padanya, sudah 5 tahun kami bersama.. saling melengkapi satu sama lain. Tapi, tak pernah aku mengerti hubunganku dengannya.. yang aku tau, aku dan dia bersahabat.“putra, kok nangis?’’ tanyaku padanya. Putra meneteskan air matanya perlahan demi perlahan . ku apus air matanya yang membasahi kedua pipinya..“aku gak nangis, aku Cuma bahagia aja punya sahabat kaya kamu.” Di usap rambutku dengan kelembutan tangannya. Putra memang sahabatku , dan juga kakak bagiku. karena itu aku tak mau kehilangannya.“jelita, suatu saat nanti, aku gak bisa terus berada di sisi kamu, kamu harus bisa nantinya tanpa aku. Aku gak mau terus-terusan jadi benalu yang selalu ada di hidupmu. Kamu harus bisa jalani hidup , dan mungkin tanpa aku. ingat janji kita dulu. Kalo kita akan selalu bersama.”“putra kok ngomongnya gitu, tanpa kamu hidup jelita ga mungkin seceria ini. Karna kamu, hidup jelita bahagia dan lebih berwarna. Kalaupun nantinya putra ninggalin jelita, jelita akan cari putra sampai kapanpun dan bakal nungguin putra sampai putra kembali. Entah beberapa lamanya”“tapi, inget. Kalo putra gak ada di samping kamu lagi. Kamu janji harus selalu tersenyum.”“iya, jelita janji… jelita akan selalu tersenyum untuk kamu.”Hari sudah semakin berlarut. Meninggalkan semua kisah yang ada. Taman tersebut menjadi ikatan janji mereka.***Keesokan harinya di sekolah, tepat pukul 06:15 menit.“jelita, ini ada surat untuk kamu.”dihampirinya jelita , Di kasihnya sepucuk surat itu untuknya yang terpampang besar siapa nama pengirim surat itu. yaitu “putra” .Deg…… hati jelita tiba-tiba gelisah tak menentu. Tak mengerti apa yang sedang iya rasakan saat ini. Di bukanya isi surat itu perlahan.“jelitaa… ini aku putra, maafin aku ya kemarin aku gak sempet berfikiran untuk ngomong ke kamu. Karna semua itu terlalu berat untukku. Aku gak sanggup ninggalin kamu disini. Mungkin, saat kamu baca surat ini aku sudah tiba di Kalimantan. Papaku dinas disana, dan terpaksa aku ikut dengannya. Maafin aku ya jelita. Inget janji kita. Kamu harus tetap tersenyum. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.“Di akhirinya akhir surat itu. Jelita yang hanya bisa diam membisu dan pucat pasi di tempat duduknya. Perlahan iya menteskan air mata dan tidak percaya akan semuanya. Tak pernah iya mengerti akan semua perasaannya. Sedih, kecewa, semuanya yang iya alami saat ini. Tak sempat iya mengatakan tentang perasaannya yang sebenernya kepada putra. Cinta… mungkin ini yang aku rasakan. Perasaan itu tak pernah ku sadari sebelumnya, setelah kepergianmu baru aku menyadari.. cinta itu ada.***Setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi kerumah putra. Tetapi hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang menjawab sapaanku. Rumah itu kosong. Jelita tak tau harus mencari putra kemana lagi. Akhirnya , aku memutuskan untuk pergi ke Taman kemarin, terakhir kali aku bertemu dengannya, bersamanya…. Taman itu sepi.. tak seperti biasanya, tak banyak orang yang lewat area taman bermain itu. dihampirinya kursi taman tempat aku duduk bersama putra waktu itu. Aku mengingat kembali perpisahan terakhirku dengannya. Aku meneteskan air mata.***Setelah 2 tahun aku menunggu, putra tak juga ada kabar. Selama itu aku tak pernah seceria dulu. Hanya kesedihan yang tampak di wajahku. Sesering kali aku mengingat kenangan itu, itu membuatku sakit. Sekalipun aku mencoba melupakannya, itu akan semakin sakit. Beberapa sering aku memutar lagu pasto’aku pasti kembali’ liriknya yang benar-benar menyentuh hatiku.Reff : aku hanya pergi tuk sementara..bukan tuk meninggalkanmu selamanya..aku pasti kan kembali, pada dirimu ..tapi kau jangan nakal.. aku pasti kembali…..selama 2 tahun, kenangan itu menghantui harii-hari ku . tang sanggup aku melupakannya. Kini aku benar-benar mencintainya. Cinta bukan lagi sekedar sahabat , tetapi perasaan yang lebih dari pada itu.hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17 , sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 sma, sekalipun aku ingin pindah ke lain hati dan berpaling dari putra, aku masih takut. Karena luka yang ada di hatiku masih ada. Setelah malam kian tiba, putra tak juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal hanya sapaannya, dan ucapannya yang begitu berarti untukku..hari ini sweet seventeen ku. Dan mungkin itu semua tak ada artinya kalau putra tak ada di sampingku. Malam ini aku ingin sekali pergi ke taman itu. untuk menenangkan diri disana, mungkin hanya beberapa saat. Aku akhirnya memutuskann untuk pergi kesana dan meninnggalkan acara dan tamu undangan yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke 17 itu. aku pergi ke sana dengan di temani supir papaku dan setelah beberapa menit di perjalanan, aku tiba di taman itu. aku tak menyangka.. begitu indah suasana taman tersebut dengan lampu lampion-lampion yang khas terpampang disana. Dekorasi lampu-lampu kecil di setiap pohon yang mengelilingi menambah indah suasana taman itu. aku duduk di kursi putih taman itu. tiba-tiba beberapa saat aku memejamkan kedua mataku dan membukanya kembali aku melihat sesosok putra di depan mataku. Dia tampak berbeda dari dahulu, aku tak percaya kini dia ada di depan mataku, atau mungkin ini hanya ilusiku.“happy birthday jelita.. aku nepatin janjiku kan , kita pasti bertemu kembali. Dan aku pasti kembali.”“ini benar kamu?’’ tanyaku tak percaya.“iya, ini aku. aku putra.”“kemana aja kamu, kamu gatau aku disini sedih mikirin kamu, kamu gak ada kabar dan hilang gitu aja.”“maafin aku, aku Cuma gak mau ganggu konsentrasi belajar kamu.”Putra menghampiriku dan memberiku sekotak bingkisan tanda ucapan ulang tahunku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung yang berukiran tulisan nama kita berdua. Gaun cantik yang aku kenakan malam itu saat ulang tahunku berwarna putih, dan juga putra, membawa bunga mawar merah kesukaaanku dan ia mengenakan jas kemeja putih.“aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Aku gak bisa tanpamu. Aku mencintaimu, aku sayang kamu jelita.” Kini dia menggutarakan isi hatinya, hanya itu kata yang aku tunggu selama ini dari mulutnya.“akupun begitu. Ini adalah hari terindahku. Kamu kembali, untuk menjadi sahabatku, juga kekasih bagiku…..”_The end_Biodata penulis : Putri ayu pasundanJakarta, 23 january 1997FB : Puteri pasundan

  • Cerpen Terbaru King Vs Queen

    Cerpen Terbaru'KING v.s. QUEEN'Part 1Halooooooo….!!!!. Jikakakakkaka. Star night ternyata udah lama banget ya gak update?. Ya haraf di maklumi lah, Adminya udah pulang kampung ceritanya. N seperti yang sudah di ceritakan sebelumnya di ‘Bokor’ jaringan modem sama sekali gak ada. So asli gak bisa online. Hiks hiks hiks #nangis bareng hujan.Okelah, karena itu berhubung sekarang admin lagi jalan kewarent, bikin postingan dulu. Jangan tanya soal the prince, the princess and mis cinderella atau kala cinta menyapa karena star nigh lagi holiday nulis. ^_^. Cerpen baru aja karya mia mulyani semua. Tenang udah ending semua kok. hanya saja seperti biasa mempostingnnya versi part aja ya?. Kha kha kah.Credit Gambar : Star NightBanyakan bacod. Langsung cekidot…..Kriiiiiiiiiiiing….Jam beaker Niken berdering dengan nyaring, Niken tetap tidur dengan nyenyak di kasurnya, dan malah menarik selimut, menutupi telingannya dengan bantal guling, tapi jam beaker itu tetap berdering dengan nyaringa. Dengan masih mengantuk Niken meraih jam beaker di sampingnya.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*