Situs Download Film Terbaik Dalam Catatanku

Dalam post kali ini, saya mau ngeshare situs2 apa aja yang asyik buat download film. Kecepatan update film2nya, dan link download yg simple dan full speed, layout web nya menjadi pertimbangan saya dlm merekomendasikan situs2 tersebut.

situs download film

Berikut ini Situs/Web Download Film Terbaik dan Recommended versi Dayri

1. Filmkardus.com

Kelebihan dan Kekurangan FilmKardus.com :
+ Updatenya cepat
+ Film Box Movie nya lengkap
+ Link Download yg fullspeed, simple dan gk ribet sprt: ClicknUpload, 24uploading dll.
+ Tampilan yang simple
+ Keterangan/Info kualitas dan encoderyg lgkp + screenshot yg besar
– Jarang mengupload film Asia
– Jarang mengupload West TV series, hanya tv” series tertentu
2. Moviesubindo.com

Kelebihan dan Kekurangan Moviesubindo.com:
+ Film Box Movie nya lengkap
+ Link Download yg fullspeed, simple dan gk ribet sprt: GoogleDrive, Mediafire
+ Tampilan yang simple
+ Keterangan/Info kualitas dan encoderyg lgkp
+ Film Asia – mulai dr Indonesia, Thailand, Cina, Jepang, Korea lengkap
+ Ada Anime jg
– Jarang mengupload West TV series

3. Layarmata.com

Kelebihan dan Kekurangan Layarmata.com:
+ Film Box Movie nya lengkap
+ Urusan West TV Series, web ini jagonya dan lengkap.
+ Tampilan yang simple
+ Keterangan/Info kualitas dan encoder yg lgkp
– Link downloadnya kurang cepat alias speednya dibatasi sprt Hugefiles, Uptobox
4. Androcinema.top

Kelebihan dan Kekurangan : Androcinema.top
+ Film Box Movie nya lengkap
+ Tampilan yang simple cocok dan pas untuk hp android
+ Kualitas Bluray yg terjamin mantap
– Jarang mengupdate film lagi
5. Moviewa.com

Kelebihan dan Kekurangan Moviewa.com:
+ Film Korea Box Office Movie nya lengkap
+ Urusan Drama TV Series, web ini jagonya dan lengkap.
+ Tampilan yang simple
+ Keterangan/Info kualitas dan encoder yg lengkap
– Masih ada beberapa series yang belum diupdate
– Banyak film semi koreannya

 

Itulah Situs Download Film Terbaik dan Termudah menurut pengalaman saya, jika ada yang mau nambahin silahkan share situs tempat biasa kamu download film

Random Posts

  • Cerpen Kala cinta Menyapa part 8

    Gak mau basa – basi, yang merasa dari maren nungguin lanjutan nie cerita _Walau aku ragu ada yang nunggu_Monggo, silahkan langsung di baca. Happy reading ya………….Credit Gambar : Ana Merya“Rani, loe punya hubungan apa sama erwin?” Selidik irma sambil memperhatikan Ulah Rani yang masih asik membolak balikan halaman demi halaman komik yang ada ditanganya tampa memperdulikan keributan teman – temannya yang rata – rata pada ngegsosip sambil menunggu dosen mereka masuk kekelas.“Nggak ada” Balas Rani tanpa menoleh.sebagian

  • Cerpen Cinta: Kata Cinta Yang Kedua

    Kata Cinta Yang KeduaOleh: Farhatul AiniAwal aku masuk kuliah selama beberapa hari menjalani penyiksaan yang begitu pahit oleh senior yang kejam dan jahat. Dengan berkendaraan bus yang penuh sesak, ku masuki bus itu dengan sedikit hati hati, ku duduk di sebuah tempat dekat jalan, yang kurasa agar tidak terlalu sulit jika aku turun nanti, ku duduk dengan manisnya, sambil melihat orang di sekitarku. Rasanya ada yang aneh dengan gerombolan 6 orang yang duduk paling belakang itu. Rupanya aku kenal salah satu dari mereka tapi aku tidak tau namanya, ya.. teman satu jurusanku namun kita sama sekali tidak bertegur sapa, mungkin karna aku terlalu pendiam, mungkin juga dia tidak mengenaliku. Namun ada seseorang salah satu dari mereka yang agaknya terlalu memperhatikanku, dan saat aku melihatnya ke belakang untuk melihat keadaan, rupanya dia sedang melihatku , tatapan kami terhenti di salah satu sudut. Karena dia yang terlebih dulu melihatku, dia pula yang melempar senyum terlebih dulu kepadaku, tanpa canggung aku pun membalas senyumnya.Ku buka kembali Diary lamaku saat aku pertama kali bertemu dengan Kevin. Rasanya tak pernah terfikirkan olehku akan melewati masa sesulit ini ketika telah mengenalnya. “hayooo ngelamunin Kevin ya?” tiba-tiba Adel datang ke kamar.“apaan si lo, sok tau.”“eh apaan tuh liat dong, lucu gitu bukunya, ada foto kamu sama Kevin lagi.” Sambil merebut buku yang di tangan Widy.“eh jangan itu Diary gue” balik Widy merebutnya, tapi tak berhasil.“ah biarin gue pengen tau.”Akhirnya Widy menyerah membiarkan Adel membaca buku Diarynya itu. Setelah lama Adel membaca halaman pertama buku itu diapun berkata.“jadi rupanya lo tuh suka pada pandangan pertama nih.”“eh engga ya, dia dulu yang ngelempar senyum ke gue, terus minta nomer gue ke Raka, temen satu jurusan gue itu yang satu bus sama gue waktu itu. smsin gue, ngajak jalan, sampe deket kaya gini, dan tiba-tiba dia pacaran sama Nuna.” Menceritakannya dengan emosi, lalu Widy mengeluarkan air matanya.“sabar ya wid, gue rasa Kevin tuh ga bermaksud nyakitin elo, dia kan ga tau kalo Noumi itu kakak lo.”“dia tuh kakak tiri gue, dan kalo emang seorang kakak dia gak mungkin sejahat ngerebut orang yang gue suka.”“tapi lo gak pernah bilangkan orang yang lo suka itu Kevin, mana dia tau kalo dia yang lo suka.”“udahlah Del ga usah bahas dia lagi, mulai sekarang gue benci sama Kevin dan Noumi!”Noumi, dialah yang sudah menghancurkan semuanya, aku terbiasa memanggilnya Nuna(sebutan kakak perempuan dalam bahasa Korea),dia adalah kakak tiri aku yang kuliah dan tinggal di Korea , dia tinggal disana bersama Paman Lian yang membuka usaha restaurant khas Korea, aku yang tidak suka dengan musim dingin hanya tinggal di Jakarta bersama Papah dan Mamah tiriku. Noumi ternyata teman sewaktu SMA Kevin, yang pernah disukai Kevin dulu tapi kenapa harus Noumi? dia orang yang terdekat denganku, dan kenapa aku harus tau sekarang, ketika aku sudah benar-benar menyayanginya.Beberapa minggu lalu Kevin pernah menyatakan cinta padaku, tepatya saat aku pulang kuliah, tanpa ragu dia menyatakan kata-kata cinta itu dengan lancar, sampai aku seperti terhipnotis tak sadar melihat tingkah dan deretan kata-kata itu. Namun karna aku bingung dan ragu aku menjanjikannya akan menjawab pada saat malam minggu di Cafe tempat biasa kita makan bersama.Memang waktu belum mengijinkan kita, pada saat itu banyaknya tugas yang datang mengahampiri membuat aku lupa akan hal itu. Berjam-jam ternyata dia menunggu di Cafe, dan aku memang benar-benar lupa. Seperti penyesalan yang amat mendalam, dia mengira aku tak datang menemuinya karna aku menolak cintanya, beberapa kali aku jelaskan aku lupa untuk datang ke Cafe itu, tapi Kevin hanya menjawab “lupakan saja Wid, anggap saja itu tak pernah terjadi.” dan aku sangat tau Kevin, sesekali ia dikecewakan, dia takan pernah memberikan kesempatan untuk orang yang pernah mengecewakannya. Dan aku menunggu dia menyatakan cinta itu lagi, karna aku takan menyia-nyiakannya untuk kedua kali, karna aku mencintainya. Tapi kemana dia, cinta itu tak pernah keluar dari mulutnya lagi sampai pada akhirnya dia menemukan Noumi, sahabatnya dulu yang pernah disukainya. Sampai pada akhirnya aku memutuskan, untuk merelakan semuanya. Bahwa Kevin kini telah menjadi milik Noumi. Malam ini sengaja aku duduk ditaman rumah, malam inikan malam ulang tahunku tapi semuanya nampak sepi, Papah Mamah yang sedang berkunjung ke Korea menjenguk Paman Lian yang sedang sakit, tidak kunjung pulang sampai hari esok tiba. Headset yang tertempel ditelinga seperti melekat, aku menikmati alunan musik yang bertema galau, pas sekali dengan apa yang ku rasakan. Tiba-tiba Pemandangan yang tidak menyenangkan, oh Noumi dan Kevin, inikah kado terburuk yang pernah kudapatkan dihari ulangtahun ku besok, kemesraan yang tampaknya mereka pamerkan membuatku iri, harusnya aku yang sedang tertawa mesra bersama Kevin disana. Tak biasa mereka pulang semalam ini tepatnya jam 10 malam, pasti mereka habis makan di Cafe, nonton, semua hal yang mengasikan.Saat mereka lewat didepanku, akupun sengaja menutup mata, agar tidak menambah beban pikiranku, dan diam-diam saat mataku terpejam, rasanya pipiku sudah basah terbanjiri air mata.“kenapa malam-malam kamu masih diluar Wid?” tanya Kevin.Rupanya alunan musik yang terdengar ditelinga Widy, membuatnya tidak mendengarkan ada suara apapun selain lagu lagu yang didengarnya.“hei widy.” Sapa Kevin sambil menyentuh tangan Widy, agar Widy merasakan bahwa disana ada orang yang mengajaknya berbicara.Mata Widypun terbuka dan dengan kagetnya, sampai gelas lemon tea didekatknya terjatuh.“eh, eh Kevin.”Entah apa yang harus aku lakukan pada saat itu, suara pecahan gelas membuatku makin panik dan aku memunguti pecahan-pecahan gelas itu. Sebenarnya jika situasi sedang normal aku tidak akan melakukan hal itu, aku akan mengusir Kevin jauh-jauh dan menyuruhnya pergi. Dengan tergesa-gesa membereskannya membuat beling pecahan gelas itu, melukai tanganku. Kevin hanya terdiam melihat tingkahku. Dan ketika ia tersadar iapun langsung membantuku, mengeluarkan sapu tangan, dan membalutkannya ke tanganku yang luka.“kamu tuh kenapa si, ga biasanya banget?” tanya Kevin.“habisnya kamu tuh dateng tiba-tiba, bukannya tadi kamu bersama Nuna masuk kedalam eh tiba-tiba kamu ada disini.”“ya gapapa dong sekali-kali akukan pengen sama kamu.”Kata-katanya membuat aku benar-benar kesal, kamipun duduk berdua diatas ayunan panjang itu. Diam sejenak tanpa ada yang berkata-kata.“sebaiknya kamu panggil Nuna sanah, dan aku mau istirahat.”Diam itu saat bersama Kevin itu, membuat kenyamananku terganggu, aku putuskan untuk kembali ke Kamar.“eh Wid, disini aja. Noumi sedang mandi katanya dan kamu harus menemani aku.”“kenapa begitu”“karna akukan tamu, masa tamu dibiarkan sendiri, ayolah yah yah…” mintanya dengan manja.“engga!” Widy lari menuju rumah, dan Kevinpun mengejarnya“kenapa kamu jadi seperti ini si Wid? Kamu tidak seperti kamu yang dulu dan aku tidak suka.”“dan kamu pikir aku suka kamu dekat dengan Nuna, lalu melupakan aku begitu saja?”“apa wid, jadi kamu tidak suka aku dekat Noumi?”“eh bukan itu maksud aku.” Widy berusaha mengelak.“wid sekarang aku tau perasaan kamu, akhirnya kamu menjawab semua rasa penasaran yang aku rasakan selama ini.”“maksudnya?”“sebenarnya aku tidak pernah pacaran bersama Noumi, akupun tidak pernahkan bilang kalo aku pacaran sama Naomi bukan, tapi kamu sendiri yang menganggap semua itu.”jelas Kevin.“ah sudahlah lepaskan, aku tidak mau lagi mendengar semua itu.”Widypun lari ke dalam rumah, dan berhenti ketika melihat Noumi sedang membuat kue ulang tahun, ah pasti itu buat Kevin, hari ini kan dia juga ulang tahun. Pasti mereka bakalan ngerayain bareng diatas penderitaan gue.Kevinpun ikut lari ke dalam rumah.“Widy, kenapa kamu masuk ke dalam, harusnya kamukan menemani Kevin diluar.”“ah urusi saja pacarmu itu sendiri.”Ketika Widy mencoba berlari lagi menuju kamar, langkahnya terhenti karna salah satu tangganya berhasil dipegang erat oleh Kevin.“jangan pergi lagi Widy.”Sontak Widypun kaget dan mencoba melepaskan pegangan itu, saat berhasil terlepas widypun berkata.“apa si maunya kalian itu, aku hanya ingin tenang silahkan kalian bercinta sesuka kalian tapi jangan ganggu aku lagi.”“Widy apa maksud kamu?”“Nuna pacaran sama Kevinkan, dan Nuna tau dia itu orang yang sering Widy ceritakan kepada Nuna saat kita sedang curhat bersama melalui e-mail.”Noumi hanya tersenyum lalu mengatkan “Happy Birthday Widy.”Nuna sambil berteriak, aku bingung seperti konyol sekali, itukan kue untuk merayakan hari ulang tahun Kevin.“Widy maafkan aku, ini semua rencana aku, aku ingin tau sekali lagi perasaan kamu, dan aku rasa ini satu-satunya cara agar aku tau perasaan kamu, kamu cemburukan wid aku bersama Noumi, dan itu artinya kamu juga suka kan sama aku?”Widy seolah tak percaya akan hal itu, air matanya mengalir ke lekuk pipinya.“aku cinta sama kamu widy, sekali lagi aku ungkapkan itu, dan aku mau kamu menjawabnya sekarang, apapun jawaban kamu aku siap, tak perlu menunggu lain waktu, maukah jadi pacar aku?”Tanpa berkata Widy langsung memeluk Kevin.“jangan lakukan ini lagi, aku juga cinta kamu dan kamu harus tau itu.”Pelukan yang berlinang air mata, mengakhiri sebuah kebahagiaan.“Nuna maafkan aku yang selama ini sudah membenci Nuna.”“tidak apa-apa, memang harusnya begitu kalo memang Nuna melakukan itu.”Malam itu malam yang indah, aku merayakan ulang tahunku bersama Kekasihku dan Nuna, orang yang sangat aku sayang. -selesai-Twitter: @ainigonilFacebook: farhatul.aini@yahoo.comCerpen Farhatul Aini yang lainnya bisa dibaca dalam Hate The Rain, Aku Tanpa Dia dan Izinkan Aku Memilih.

  • Cerpen Terbaru Si Ai En Ti A ~ 04

    Lagi mau nulis cerita yang datar – datar aja nih. Yah sedatar kisah and hidup admin saat ini lah #curcol. Lagian, gak tau mau nulis apa. Gara – gara kemaren niatnya mau santai, eh malah keterusan. #Cabe deh. Ide buat nulis, mentok. Gak tau ada dimana. Kemudian lirik cerpen yang ada di star night, terhenti pada cerpen Si Ai En Ti E. Ini cerpen satu mana lanjutannya yak? #gubrag.Okelah, kemudian admin pun open Ms. Word. And then jadilah part ~ 04 berikut ini. Hahahai.. Happy reading aja deh ya. Untuk mempermudah pembaca part sebelumnya bisa di baca pada cerpen Si Ai En Ti E ~ 03.Cerpen si ai en ti eCerpen Terbaru Si Ai En Ti A ~ 04Langit sore yang cerah, namun tidak secerah hati Acha saat ini. Pikirannya kusut sekusut rambutnya yang belum sempet ia kramas sejak kemaren sore. Pikirannya melayang entah kemana.Tentang kuliahnya. Tentang kebutuhannya sehari hari. Juga tentang kondisi keuangan keluarga saat ini. “Atau gue kuliah sambil kerja aja kali ya?” gumam Acha sambil mengetuk – ketukan pena di kepalanya. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat sedang berfikir di kala belajar.Kalau di pikir lagi, itu ide yang bagus. Toh ia kuliah hanya setengah hari. Siang sampai malam ia nganggur. Dari pada waktu terbuang percuma dan hanya di isi dengan tidur – tiduran ataupun jalan jalan bersama teman – teman nya sepertinya akan lebih bagus lagi kalau ia isi dengan berkerja.“Ngelamun mulu. Nggak bakal kaya loe.”Lamunan Acha buyar seiring dengan denyutan yang terasa di kepalannya. Saat menoleh tatapan kesel segera ia lemparkan kearah wajah Malvin yang tersenyum tanpa rasa bersalah. Astaga, sepertinya ia mulai tau kenapa otaknya belakangan ini sering sulit untuk di gunakan berfikir. Ah itu pasti karena ulah sahabatnya yang suka asal menjitak.“Ya ampun Malvin. Dimana – mana orang kalau datang itu ngucapin salam tau, bukan menjitak. Kalau gue jadi bodoh emang loe mau tanggung jawab?” kata Acha kesel.Malvin hanya nyegir sambil pasang senyum tiga jari andalannya. Sementara tangannya terangkat dengan jari membentuk huruf ‘V’. Lambang perdamaian.“Ngapain aja loe dari tadi?” tanya Malvin santai sambil duduk di samping Acha yang kini mengeser posisinya. Memang hampir setiap sore ia selalu duduk disantai di sana. Di bangku bawah pohon jambu yang tumbuh di halaman rumahnya. Bangku yang sengaja di buat oleh ayahnya untuk bersantai memang sudah di jadikan tempat faforit bagi Acha setiap sorenya. Tak heran jika Malvin bisa langsung menghampirinya. Terlebih sosok itu memang tinggal di samping rumahnya.“Nggak liat loe buku semua dihadapan gue. Ya tentu aja lagi belajar,” balas Acha tanpa ada niatan untuk bersikap ramah tamah. Toh ia tau. Sahabatnya tidak mungkin tersinggung dengan sikapnya.“Belajar apaan? Perasaan sedari tadi gue perhatiin loe Cuma ngelamun aja.”Kali ini Acha meletakan pena di hadapannya sembari menutup bukunya. Kepalanya ia tolehkan kearah Malvin tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya.“Kenapa?” tanya Malvin heran.“Kalau loe udah tau gue sedari tadi ngapain kenapa masih nanya?”“Biasalah, basa basi,” balas Malvin angkat bahu.“Terus loe sendiri ngapain nyariin gue?” tanya Acha beberapa saat kemudian.Malvin tidak langsung menjawab. Justru pria itu malah terlihat menghebuskan nafas dengan tatapan menerawan. Kakinya yang mengantung sengaja ia goyang – goyang kan kedepan. Berhubung mereka sudah kenal cukup lama, Acha langsung bisa menebak kalau ada hal yang mengganggu pikiran sahabatnnya.“Loe bisa cerita sama gue ada apa.”“Acha,” panggil Malvin tanpa menoleh. “Loe yakin kalau loe cuma nganggap gue sahabat?”“Ya?” tanya Acha dengan kening berkerut. Terkejut sekaligus heran mendengar pertanyaan aneh yang baru saja terlontar dari mulut sahabatnnya. “Maksut loe? Kenapa loe tiba tiba-tiba nanya kaya gitu?” sambung Acha lagi karena Malvin masih terdiam.Kali ini kepala Malvin mengeleng berlahan. “Nggak. Gue cuma tiba – tiba kepikiran aja. Mungkin nggak sih loe naksir sama gue?”Acha tersenyum. Ditatapnya wajah sahabatnya lekat lekat. “Loe lagi ada masalah ya sama Grescy?”Malvin langsung menoleh. Berhadapan langsung dengan wajah Acha yang ternyata juga sedang menatapnya. Tiba – tiba saja rasa bersalah merambati hatinya. Terlebih saat melihat senyum tulus di bibir Acha. Walau tak urung ia juga merasa heran, kenapa sahabatnya bisa menebak dengan benar apa yang terjadi pada dirinya.“Harusnya gue yang heran kenapa tiba – tiba loe nanyain hal yang aneh,” komentar Acha lagi. “Udah jelas – jelas gue cuma nganggep loe sahabat kenapa loe masih nanyain hal itu lagi. Jadi, jangan salahin gue kalau gue langsung nebaknya ke masalah Grescy. Terlebih tadi siang keliatannya doi marah.”“Loe bener,” Malvin mengangguk lemah. “Dia marah sama gue. Dia nggak percaya waktu gue bilang kalau kita cuma temenan. Buat dia nggak ada istilah seorang cewek dan cowok itu murni berteman. Pasti ada rasa suka di antara salah satunya.”“Dan menurut loe gue suka sama loe?” tembak Acha langsung.“Atau loe yang suka sama gue?” sambung Acha lagi yang membuat Malvin makin pasang tampang kaget plus bingungnya. “Tentu saja tidak.”“Ya sudah, jadi kenapa loe masih harus menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya?” tanya Acha halus.“Gue cuma kepikiran apa yang Grescy katakan. Waktu kita jalan ke mall kemaren, ternyata dia mergokin kita. Dan dia pikir hubungan kita ada apa apanya. Dia pikir bisa ajakan, loe berusaha nutupin semuanya dari gue. Loe pura – pura baik, padahal ternyata dalam hati loe terluka. Dan seperti yang loe sering katakan selama ini, gue bisa jadi orang yang paling jahat kalau itu benar adanya”“Ha ha ha,” tawa Acha pecah karenannya. Walau ia sudah berusaha untuk menahannya dengan menutup mulut mengunakan tangan, tapi sepertinya itu tidak berhasil. Terlebih saat melihat tampang lesu Malvin saat mengucapkannya. Tanpa kata ia melepaskan liontin yang di kenakannya selama ini sebelum kemudian menyodorkanya kearah Malvin.“Ini apa?” tanya Malvin tak mampu menutupi rasa herannya.“Itu liontin yang di berikan sama sahabat gue dulu waktu SMP. Sama kayak loe, dia tetangga gue juga. Bedanya rumah dia tepat di depan rumah gue. Dan dia juga cowok. Waktu di sekolah, kita sering di ledekin kalau kita itu pacaran. Tapi nyatanya, kita cuma temenan. Karena buat gue, kalau yang namanya sahabat ya sahabat, pacar ya pacar. Nggak ada istilahnya ‘Sahabat jadi pacar’ karena mustahil ‘pacar jadi sahabat’. Bener nggak sih?”“Terus dia sekarang dimana?” bukannya menjawab Malvin justru malah lebih tertarik untuk mengetahui kelanjutan ceritannya.Kepala Acha menggeleng berlahan. “Gue juga nggak tau. Sebenernya gue kasihan sama dia. Orang tuanya dia emang sering berantem. Bahkan kemudian mereka cerai. Waktu itu kelas 2 SMP dan dia harus milih untuk tinggal sama papa atau mamanya. Gue nggak tau dia milih siapa tapi yang jelas setelah itu mereka pindah entah kemana. Dan sejak saat itu, gue nggak pernah ketemu dia lagi.”“Terus kenapa lionin ini bisa ada sama loe?”Kali ini Acha tersenyum. Pertanyaan itu mengingatkannya kembali akan sahabatnya dulu. “Gue suka nonton drama itu sejak dari dulu. Dan berbeda sama loe, dia juga suka sama drama. Jadi kita sering nonton bareng. Nah, didrama yang gue tonton itu kebetulan menceritakan tentang cinta segitiga. Antara satu cewek dan dua cowok. Yang satu sahabatnya dan satu lagi kekasihnya. Entah gimana ceritanya gue lupa, yang jelas sahabat dan kekasihnya itu berantem. Yang ujung – ujungnya kekasihnya meminta sang cewek buat milih. Antara dia dan sahabatnya?”“Dan tu cewek milih yang mana?”“Kekasihnya,” jawab Acha menerawang. “Dan setelah nonton itulah, temen gue nanya ke gue. Kalau seandainya gue berada di posisi itu, gue akan pilih yang mana. Sahabat gue atau kekasih gue.”“Loe jawab apa?”“Sahabat,” sahut Acha singkat. “Yakin loe kalau seandainya itu beneran kejadian loe bakal milih sahabat?”“Sebenernya gue nggak yakin sih,” sahut Acha terlihat lemes. “Tapi waktu itu doi maksa. Kalau seandainya itu beneran kejadian, apa pun alasannya gue harus milih dia. Yah akhirnya gue setuju, dengan catatan dia harus janji kalau seandainya gue tetep milih dia, dia harus bantuin gue buat balikan sama pacar gue sekiranya doi marah.”“Ha ha ha, bisa gitu?”“Ya bisa donk. Nah, sebagai buktinya kalau seandainya di lupa, dia ngasih gue liontin itu. Sekedar pengingat janji. Makanya sekarang liontin itu ada di gue.”Malvin mengangguk – angguk paham. Matanya memerhatikan dengan seksama benda mungil yang ada ditangannya sebelum kemudian menyerahkannya kembali kearah Acha yang langsung di sambut oleh gadis itu.“Jadi Malvin, alasan kenapa gue nyeritain ini ke elo adalah cuma sebagai pengingat dan penjelas aja. Bahwa menurut gue, sekali sahabat tetep sahabat. Karena nggak ada dalam kamus hidup gue, naksir sama sahabat gue sendiri. Dan kalau loe memang masih ragu, kita bisa kok menjaga jarak.”“Tunggu, bukan itu maksut gue,” potong Malvin cepat.“Tapi itu yang Grescy mau. Loe nggak mau kan putus sama dia?” pertanyaan Acha langsung membuat Malvin bungkam. Putus dengan Grescy. Tidak, ia tidak akan sanggup. Demi apa dia sangat mencintai gadis itu, tapi disisi lain Acha adalah sahabatnya.“Tenang aja. Gue nggak bilang kalau persahabatan kita putus kok. Gue cuma berusaha menyarankan jalan tengah di antara kita biar nggak ada yang tersakiti. Dan selama loe masih ngangep dan masih mau gue jadi sahabat loe, kita akan tetap bersahabat.”“Janji?” tanya Malvin sambil mengulurkan jari kelingkingnya.“Janji.” Dan jawaban tegas Acha sudah lebih dari cukup untuk menyakinkannya.To be continueBersambung dulu ya, Ni cerita mau di bawa kemana juga belom tau #lemes. Secara ajang buat nyari ide itu udah beneran nggak ada. Kalau dulu sih masi bisa ngandelin ‘youtube’, lah sekarang apa – apa terhalang ‘quota’ #gubrag #curcol_again. Oke deh, ketemu di next part aja lah ya. See you… ~ Admin ~ Lovely Star Night

  • Cerpen Cinta Sedih: AKU MENCINTAIMU SAAT KAU PERGI

    AKU MENCINTAIMU SAAT KAU PERGIOleh: Mentari SenjaKenapa hidup ini sungguh tak bisa aku mengerti, sedikitpun tak kupahami. Yang seperti kebanyakan orang akan keindahan pernikahan tapi tak berlaku buatku, janggal sekali untukku menyambut hari dimana aku akan menjadi milik orang lain. Bukan sebuah kebahagaian melainkan kehampaan. Teringat lagi akan janji dimasa lalu tentang sebuah pernikahan indah, mengikat ikrar dalam bahtera rumah tangga, namun semua itu pupus sudah. Sebentar lagi aku akan menjadi milik orang lain bukan miliknya. “selamat ya ibu indah, akhirnya ibu punya mantu juga.”“terima kasih jeng rahmi, alhamdulillah yah..akhirnya si mentari menikah juga.”Terdengar ucapan selamat dari balik pintu kamarku, yang semakin membuatku tersayat pedih. Ibuku merasa bahagia sekali karena akhirnya aku akan menikah dengan laki-laki pilihannya, yang ibu bilang dia sangat cocok untukku dan pasti aku akan bahagia. Apakah itu benar ibu???tapi mengapa saat ini perasaanku benar-benar sedih, jangankan untuk bersanding dengannya, untuk mencoba mengenalnya saja aku sudah enggan. Entah apa yang ada dibenakku, namun aku belum bisa melupakan seseorang itu, seseorang yang berjanji akan menikahiku sepulang dari rantaunya. Maafkan aku cintaku, bukan maksud hati untuk mengkhianatimu tapi perjodohan ini tak mungkin aku tolak. Kedua orang tuaku dan orangtuanya ternyata sudah membuat kesepakatan akan pernikahan ini sebelum kami berdua mengerti tentang pernikahan. Sekali lagi aku belum bisa memahami ini semua, bagaimana mungkin aku bisa hidup bersama dengan orang yang tak ku cintai, bahkan bertemu saja tidak pernah. Pernikahan ini sungguh mendadak mengingat kondisi bunda Risma orang tua Fariz yang sudah semakin kritis, dan beliau menginginkan agar Fariz segera menikah denganku. Karena keeratan hubungan keluargaku dan keluarganya membuat ayah dan ibuku menyetujui pernikahan ini tanpa peduli dengan persetujuanku.“mentari sayang, cepat keluar acara akan segera dimulai”suara itu menyadarkanku dari lamunan panjang, segera ku hapus airmata yang semoat menetes. Aku tak ingin ibu melihat aku terlihat sedih di hari pernikahanku. Bagiku sekarang adalah kebahagiaan mereka, walau hati ini terlalu perih menanggung luka akan terpisahnya cintaku dan cinta satria, maafkan aku satria.***“Muhammad Yakup Al Fariz, saya nikahkan engkau dengan Mentari shifa az zahra binti Muhammad zaenudin dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang sebesar seratus tiga puluh ribu, dibayar tunai.” ucap kiai Fatir“saya terima nikahnya Mentari shifa az zahra dengan mahar tersebut dibayar tunai.” Fariz dengan mantap mengucapkan ijab.“bagaimana sah??” tanya kiai Fatir kepada saksi dan semua orang“sah” serempak menjawab.“Barokallahu……” kiai Fatir memanjatkan doa, gaungan suara amin pun menyeruak diseluruh ruangan. Kebahagaian dan kelegaan terpancar dari raut-raut setiap orang yang menyaksikan acara sakral itu.Dan bagaimana dengan aku, detik ini aku telah resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang tak pernah aku kenal sebelumnya.***“ini mas Fariz kopinya,” ku letakan kopi sebagai pelengkap sarapan pagi yang telah kusiapkan di meja makan.“terima kasih dek.” ucap mas fariz lembut.Tak ada yang berubah dari perasaanku, walaupun aku telah menikah dengan mas Fariz tapi rasa cinta ini masih bersarang hanya untuk satria yang aku pun sendiri tak tau bagaimana keadaannya sekarang.Sebagai seorang istri aku berusaha untuk menjadi istri yang baik, walau belum sepenuhnya aku bisa. Namun aku belum bisa melaksanakan kewajibanku untuk memenuhi kebutuhan biologis mas fariz, tapi dengan penuh kesabaran mas Fariz memahami itu. Setiap malam kami tidur terpisah, sebagai seorang laki-laki mas Fariz tentu tidak ingin melihat seorang wanita tidur diluar kamar, maka dengan pengertiannya itu mas Fariz yang mengalah untuk tidur di sofa, kecuali pada saat-saat tertentu saja saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah, tapi itupun mas fariz tetap tidur dibawah bukan satu ranjang denganku.Aku tau itu sangat salah,sebagai seorang istri aku tidak berhak bersikap seperti itu, pernah satu kali aku coba tepiskan perasaanku dan berfikir realitis bahwa sekarang aku telah menjadi milik mas Fariz. Saat itu aku siap untuk melayaninya, sengaja aku suruh maz fariz untuk tidur bersamaku dan mengijinkannya untuk melaksanakan kewajiban sebagai suami istri. Dengan perasaan yang tak menentu ku coba tenang, saat mas Fariz mendekat, ku coba untuk tersenyum walaupun itu selintas. Sungguh aku tak kuasa menahan matanya yang tajam, saat itu ingin rasanya aku menangis, airmata ini sungguh sudah meleleh mengingat satria, namun segera ku tahan.Dengan tatapannya yang lembut mas fariz menatapku, digenggamnya tanganku. Entah apa yang dia fikirkan saat itu, namun dia terlihat tersenyum manis. Tangannya yang tadi menggengam tanganku kini berganti meraih wajahku, diraihnya wajahku dan tiba-tiba dia mencium keningku seraya mengucapkan selamat malam, setelah itu dia beranjak pergi ketempat biasa dia tidur.Aku tak tau harus berbuat apa, sesaat setelah mas Fariz keluar airmata ini langsung tumpah. Entah apa yang aku rasa, bahagiakah aku atau sedih. Namun aku merasa sedikit lega.***Pernikahanku dengan maz Fariz berjalan baik-baik saja, tidak ada pertengkaran maupun perselisihan walaupun keadaannya kami belum bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami istri yang sebenarnya.Entah terbuat dari apa hati mas fariz itu, hingga hatinya sangatlah lembut. Perhatian-perhatian yang dia curahkan padaku tak pernah ada habisnya. Kelembutan sikap serta santun tutur katanya mengisyaratkan kesabaran yang sungguh luar biasa, apalagi menghadapi sikapku. Dia tak pernah mengeluh padaku, dia tak pernah marah sekalipun kadang aku melakukan kesalahan. Dia selalu memberiku nasihat dengan sikap lembutnya yang tidak membuatku tersinggung. Tapi kenapa hatiku belum bisa menerima kehadiran mas Fariz di kehidupanku, kenapa aku belum bisa mencintainya. maafkan aku mas Fariz.***Ku gelar sajadah panjang, sepertiga malam bagi orang-orang yang merindukan kedekatan dengan Sang Maharaja. Di sepertiga malam itu pun ku panjatkan doa, ku haturkan dzikir serta ku curahkan segala perasaanku. Tak terasa ada rembesan air yang keluar dari kelopak mataku mengingat akan kekhilafanku. Kalam – kalam illahi mengantarkanku hingga menjelang shubuh. Dan kulanjutkan dengan sholat shubuh.Mentari di ufuk timur telah memacarkan rona kemerahannya, kicau burung mengantarkan angin kesejukan untuk insan manusia di dunia ini. Secercah harapan dan doa yang hanya Tuhan dan aku yang tau, berharap semua kan terwujud.***Mataku tertuju pada sesuatu yang janggal, merasa aneh dengan keadaan kamarku. Ada benda-benda yang tak mungkin bisa sendirinya ada di sini. Kulihat sekeliling kamar, begitu semua ada perubahan. Warna-warni bunga bertaburan di ranjangku, ada mawar putih yang membentuk hati di sekitar taburan mawar merah. Sungguh indah, bahkan sangat indah dan menakjubkan. Di sisi lain terpajang sketsa wajahku yang dibubuhi nama kecilku “RiRi”. Siapa yang melakukan ini, siapa yang membuat keajaiban ini. Sungguh luar biasa, tak pernah sekalipun kubayangkan tentang moment seperti ini. Mungkinkah mas Fariz…?????? Tapi dia bilang dia sedang ada rapat dan mungkin akan pulang terlambat hingga malam nanti, lalu siapa yang telah mempersiapkan ini.Di tengah –tengah hati buatan dari mawar putih itu tegeletak secarik kertas berwarna pink, entah kertas apa itu. Karena penasaran aku segera mengambilnya dan kubaca. Hanya satu kalimat yang aku belum tau apa maksudnya. Hanya tertulis sebuah kalimat “ pergi ke kebun belakang, aku menunggumu” secarik kertas itu lalu kutinggalkan.Subhanallah, kejutan apalagi ini. Cahaya lilin menghiasi rentetan jalan yang menuju pada satu titik. Mas Fariz dengan seikat bunga mawar merah menungguku di meja yang dihiasi lilin indah…sungguh kejutan yang membuatku tak bisa berkata-kata, hanya ulasan senyum yang selalu berkembang di bibirku ini. Perlahan kutelusuri jalan setapak yang indah ini.“happy brithday dek, selamat ulang tahun mentari.” seikat bunga itu pun dipersembahkan mas Fariz padaku seraya menyilahkan aku duduk.Kini aku hanya berdua dengan mas Fariz, ditemani temaram cahaya lilin dan sinar bulan. Perasaanku menjadi tak menentu, sebuah kebahagiaan yang baru kutemukan setelah sekian lama aku merindukannya. Ada secercah cahaya hangat yang menerobos masuk dalam relung hatiku saat kutatap wajah mas Fariz. Rasa apakah ini, setelah bertahun-tahun tak pernah ku rasakan lagi.“gimana dek, kamu senang dengan ini. Mas sengaja buat ini untuk hadiah ulang tahunmu. Maaf mas belum bisa memberikan yang lebih dari ini.”mas fariz menggenggam tanganku dan mengecup punggung tanganku.Setetes embun yang keluar dari mataku pun jatuh perlahan, dengan senyum yang masih berkembang ku ucapkan terimakasih.” Terima kasih mas, ini hadiah terindah yang pernah adek dapat. Dan ini sudah lebih dari apa pun. Terima kasih mas.”Malam ini adalah malam terindah yang pernah aku rasa, kebahagiaan yang dulu sempat hilang kini hadir kembali, dan perasaan itu ada yang berubah. Mungkinkah ini jawaban atas doa-doaku. Amien..semoga saja…!!!Kini hari-hariku terasa lain, sejak kejutan malam itu aku merasakan sesuatu yang lain pada diriku, apalagi saat aku berhadapan dengan mas Fariz. Dulu biasa saja saat aku melihat matanya, tapi kini sungguh lain. Hatiku berdebar-debar saat mas menggenggam tanganku, aku juga merasa grogi saat berhadapan langsung dengan mas Fariz. Kenapa ini ??? Ada apa denganku, mungkinkah aku jatuh cinta……????Tak tau pasti apa yang aku rasakan terhadap mas Fariz, namun yang pasti rasaku sudah tak seperti dulu lagi. Tak acuh lagi saat dia sibuk dengan kegiatannya, sangat mengkhawatirkannya saat dia pulang terlambat. Dan selalu menyiapkan apa yang mas Fariz butuhkan. Semua itu ku lakukan dengan senang hati, tak ada rasa beban lagi. Dan sejak malam itu, aku dan mas Fariz sudah melunasi kewajiban sebagai suami istri. Mungkinkah ini kebahagiaan menikah seperti yang kebanyakan orang katakan. Entahlah, tapi saat ini aku merasa begitu sangat bahagia dan nyaman.***Hari ini ulang tahun mas Fariz, dan aku akan memberikan kejutan yang luar biasa. Hadiah ini pasti akan membuat mas fariz bahagia. Karena hadiah ini adalah anugerah yang Allah berikan. Tiga bulan sudah usia kehamilanku, sengaja tak ku beritahu maz Fariz karena aku ingin memberikan kejutan pada hari ulang tahunnya. Buah cinta yang kami dambakan, setelah ku bisa mencintai mas Fariz dengan segenap hati. Ketulusan dan kesabaran mas Fariz telah merubah segalanya. Cintanya kini mengisi relung hatiku, penuh dengan untaian doa kebahagiaan.Semua pernak-pernik dan tetek bengek untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun mas Fariz sudah ku siapkan, sempurna semuanya perfect. Pasti mas fariz akan terkejut dan bahagia sekali saat melihat bukti test kehamilanku di kantung baju tidurnya. Setelah sebelumnya ku persiapkan kejutan lainnya, makan malam dengan masakan spesial kesukaan mas Fariz yang kini telah terhidang rapi di meja makan.Tak sabar aku menunggu kedatangan mas Fariz, sudah ku tanya dia kapan akan pulang dari kantor dan dia bilang sebentar lagi. Jantungku berdetak lebih kencang, menunggu kedatangan sang pujaan hati tiba.Namun selang sejam dari kabar yang dia beritahukan mas Fariz tak kunjung datang. Timbul perasaan was-was takut terjadi apa-apa. Tanpa berfikir panjang langsung kuraih ponsel yang ada di sakuku dan ku hubungi mas Fariz.“assalamualaikum mas Fariz.” suaraku menyapa mas Fariz“Waalaikum salam dek, “ terderang suara mas Fariz di seberang sana.“mas kenapa sampai malam gini mas belum juga pulang” tanyaku merasa khawatir.“maaf dek, tapi mas ada tugas tambahan dari bos dan belum sempat mengabari adek. Maaf ya dek. Hmm mungkin sebentar lagi pekerjaan ini selesai dan mas bisa pulang. Maaf ya dek sudah mengkhawatirkan adek.” lembut suara mas fariz menentramkanku, membuatku tenang akan keadaan mas Fariz. Rupanya pekerjaan yang membuatnya terhambat pulang dari kantor, semoga dia baik-baik saja.“oh ya sudah mas, adek kira mas kenapa-kenapa. Adek sempat khwatir banget sama mas. Tapi sekarang adek sudah bisa lega tau mas baik-baik saja. Ya sudah kalau gitu, selamat bekerja, hati-hati dan cepat pulang ada sesuatu yang ingin adek berikan. Assalamualaikum mas”kataku mengakhiri pembicaraan“waalaikum salam, jaga diri adek baik-baik” suara mas fariz menutup telepon.Terdengar sedikit aneh, tak biasa-biasanya mas fariz berbicara sedatar itu. Seperti tak ada gairah. Sempat berfikir aneh, tapi segera kusingkirkan fikiran itu karena aku tak ingin merusak suasana dan aku sebagai seorang istri harus bisa berprasangka baik terhadap suaminya.***“hallo bisa bicara dengan ibu mentari.” suara di seberang telpon itu membuatku penasaran.“iya benar, saya mentari. Ada apa ya pa…???? dan kenapa” tanyaku pada penelpon yang tidak ku kenal itu.“cepat segera ibu ke rumah sakit Medica, pa Fariz mengalami kecelakaan.”Deg. kenapa ini. Benarkah apa yang sudah aku dengar tadi. Mas Fariz, ada apakah engkau, kenapa engkau hingga seseorang mengabarkanku mas sudah di rumah sakit. Baru satu jam tadi kau berbicara padaku, berjanji akan segera pulang setelah pekerjaan itu selesai. Tapi kenapa sekarang aku yang harus menjemputmu, dan itu di rumah sakit… ada apa denganmu mas.***Kamar ICU itu terlihat lengah, senyap tak ada suara walau aku liat ada banyak orang di situ. Dan kenapa semua orang menatapku pilu, ada apa denganku. Salah satu rekan kerja mas Fariz yang kebetulan perempuan langsung memelukku erat, menangis di pelukkanku. Aku sungguh tak tau ada apa ini. Dengan suara yang masih terisak perempuan ini berbicara lirih. “ yang sabar ya mba mentari, mba harus bisa menerima ini semua.” Keadaan ini membuatku semakin tidak mengerti, sebenarnya ada apa.“ada apa ini.” tanyaku datar pada semua orang yang ada di situ. Ku tau perasaanku kini sudah tak menentu lagi. Namun semua hanya terdiam tak ada yang berani menatapku, semua hanya larut dalam kediamannya itu. “ada apa ini, cepat katakan”tanyaku sekali lagi dengan nada agak keras.“ada apa dengan mas Fariz, kenapa mas Fariz. Kenapa semua diam. Cepat katakan.” ku goyang-goyangkan kerah baju lelaki yang ku tau adalah rekan kerja mas fariz, namun sekali lagi lelaki itu hanya diam saja. “ hei…ada apa…kalian itu tuli ya…kenapa semua diam”aku semakin tak karuan, berteriak-teriak bertanya pada semua orang yang membisu terpatung. Dan lagi-lagi perempuan itu memelukku. ”sabar mba, coba tenang” diucapnya lirih.Seketika itu aku lihat seorang perawat keluar dari ruangan ICU dengan mendorong ranjang yang di atasnya terdapat sosok manusia tergeletak dengan tertutup selimut putih. Tepat di hadapanku, selimut itu tersingkap seolah ingin memberitahukan siapa yang sedang diselimutinya. Terlihat wajah teduh, dengan raut ketenangan tertutup matanya. Masih terukir jelas senyum di bibirnya. Akupun mendekati sosok manusia itu.“siapa ini pa…kenapa mirip sekali dengan suamiku. Kenapa dengannya. ”tanyaku dengan polos, walaupun setetes airmata tlah mulai tumpah.Perawat itu hanya bisa diam, namun perempuan tadi membisikiku lirih, “ itu mas Fariz mba. Dia telah tiada. Mba harus tabah ya…” aku hanya terdiam, dan kupandangi lagi lekat sosok lelaki itu. Semakin lekat hingga tumpahlah sudah airmata yang sedari tadi aku tahan. Sosok itu, terlihat teduh dengan senyuman yang menghiasi wajahnya adalah suamiku, mas fariz yang kata perempuan tadi telah tiada.Ya Allah, kenapa ini…apa maksud ini semua. Seolah tak percaya aku peluk mas Fariz, kuciumi keningnya berharap dia bangun kembali. Tapi semakin ku peluk sosok itu hanya terdiam membisu. Ya Allah…suamiku tercinta..ada apa ini mas…mas fariz…kenapa engkau pergi begitu cepat, kenapa engkau meninggalkanku dan buah cintamu tanpa kau tau sebelumnya. Kenapa mas.Bulir-bulir airmata ini terus tumpah menyeruak membahasi wajahku, aku tak berdaya. Tubuhku terasa begitu lemas, ingin rasanya aku berteriak, tapi aku begitu lemah. Untuk berkata saja aku sudah tak sanggup lagi.Hari ini kusaksikan kejutan lagi yang kau buat untukku, tapi bukan kejutan yang buatku bahagia seperti dulu lagi melainkan kesedihan yang mendalam kau tinggalkan.***Kecelakaan tragis yang membuat nyawamu tak bisa tertolong, membuatmu terpisah jauh denganku. Bagaimana bisa semua ini terjadi begitu cepat, padahal sebelumnya aku sempat berbicara denganmu. Kejutan ini, yang seharusnya kau tau tak sempat kuberikan. Buah cinta yanng kini ada dikandunganku semakin membesar, sama seperti perasaan rinduku terhapadmu yang semakin besar. Mas Fariz, kamu hadir saat ku tak punya cinta, tapi mengapa kau pergi saat ku mencintaimu. Selamat jalan Mas Fariz…hati ini akan selalu untukmu…dan akan kujaga buah cinta ini hingga kelak dia tau bahwa dia punya sosok seorang ayah yang sangat ibu cintai.The EndBaca cerpen-cerpen lainnya karya Mentari Senja dalam Tunggu Aku di Surga dan Sahabatku, Kekasihku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*