Pahitnya Kisah Cintaku

Pahitnya Kisah Cintaku
oleh: Annisa Herdiani – Cinta itu sebuah kata yang mempunyai banyak makna, cinta dapat datang dan pergi kapan saja. tidak semua kisah cinta dapat berakhir manis .
Hari ini aku mulai masuk sekolah setelah seminggu menjalani MOS, aku seneng banget bisa masuk smp itu. saat aku sedang belajar bahasa Indonesia aku ditugaskan ntu membuat sebuah puisi, aku bingung gimana ngerjain tugas puisi itu, sedangkan aku belum terlalu paham dengan cara membuat sebuah puisi . aku pun memutuskan untuk meminta bantuan kepada saudaraku .saat pulang sekolah aku langsung datang ke rumah saudaraku ternyata dia belum pulang sekolah , kata orang tuanya aku disuruh datang lagi nanti malam. setelah lama aku mencoba membuat puisi aku memutuskan untu pergi lagi ke rumah saudaraku. sesampainya di sana aku melihat saudaraku sedang bersama dengan teman lelakinya aku pun langsung menghampirinya.
“kak maaf ganggu , aku boleh minta tolong ga ka ?” ucap aku
“Minta tolong apa nis ?” jawab saudaraku
“tolong ajarin au buat puisi yah ka.” Ucap aku
“oh ya udah tunggu sebentar .” ucap saudaraku
Saat kita sedang ngobrol tiba tiba yanti menarik tanganku dan mengenalkan ku kepada salah seorang teman prianya bernama ilyas . aku dan ilyas un ngobrol sampai larut malam . hpku berbunyi ternyata itu sms dari orang tuaku mereka menyuruh au untuk cepat pulang karena hari sudah malam . ketika aku berpamitan kepada ilyas , dengan sangat terkejut dia mengajak ku pulang bareng.
“nis au antar pulang yah !” ucap ilyas
“ga usah ka aku plang sendiri aja gpp ko !” jawab aku
“udahlah nis gara gara aku juga kan kamu pulang malam ?” ucap ilyas
“Ya udah deh ka “ ucap aku
“nis jangan panggil aku kakak panggil aja iyas !” ucap dia
“tapi ka ?” ucapanku terhenti
“gpp panggil iyas aja .” ucapnya
“ ya udah deh iyas .” ucap aku
Saat itu aku pun diantarkan pulang oleh iyas . seteah sebulan aku bertemu dengan iyas au selalu memikirkannya , aku tidak bisa melupakan iyas . aku bingung baru pertama kali aku merasakan hal ini apakah ini yang dinamakan jatuh cinta ?????
Malam hari ketika aku akan tidur hp ku bunyi ada pasan masuk dari nomor baru.

Iyas : “ malem nis pasti kamu udah tidur yah ?”
Nisa : “belum maaf kamu siapa ?”
Iyas : “ ini aku iyas masih inget kan ?”
Nisa : “oh ya lah yas ada apa kamu ngesms aku malem malem gini ?”
Iyas :” gpp aku Cuma kangen sama kamu !”
Nisa : “ ah kamu kita kan baru ketemu !”

Aku pun terus berhubungan dengan iyas walaupun statusnya hanya sekedat temen curhat. Setahun telah berlalu hubungan aku dengan iyas pun semakin dekat selama ini aku mememdam perasaan epada iyas tapi aku malu jika aku mengungkapkan nya , wajar saja seorang wanita malu mengungkapkan perasaannya kepada seorang pria .
Pada mala hari saat aku akan pergi keluar tiba tiba hpku bunyi in isms dari iyas dia mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Iyas : “ nis aku mau ngomong sesuatu sama kamu penting “
Nisa : “ mau ngomong apa yas ?”
Iyas : “ tapi kamu jawab jujur yah!”
Nisa : “ iya emang mau ngomong apa sih ?”
Iyas : “ emmh gini sebenernya aku suka sama kamu dari awal kita ketemu . kamu mau ga jadi cewe aku ?”
Nisa : “ hmm masa sih kamu suka sama aku, kamu tuh udah dewasa sedang kan aku masih kecil !”
Iyas : “ iya . aku juga tau nis tapi kita kan Cuma beda 3 tahun kamu 13 dan aku 16 tahun . alau kamu ga percaya aku bakalan datang kerumah kamu sekarang !!”

Aku kaget saat membaca sms itu , au bingung bagaimana kalau dia beneran datang kerumah aku . aku harus ngomong apa ? hati ku memang beneran cinta sama iyas tapi kata yanti saudaraku iyas itu payboy dia sering mainin perasaan cewe cewe . 15 menit aku menunggu iyas ternyata benar dia datanga kerumah ku.
“ nis gimana jawabannya, aku udah ngomong langsung sama kamu ? Tanya iyas
“ aku gat tau yas aku ga percaya kamu nembak aku searang !” ucap nisa
“ya udah kamu pikir pikr aja dulu “ ucap iyas
“ya udah kamu cepetan pulang udah malem “ ucap nisa
Seminggu setelah iyas nemba aku . aku menjawab kalau aku mau jadi pacarnya dia , kita pun jadian 1 minggu,2 minggu3minggu hubungan kita baik baik aja tapi pas minggu ke 4 dia itu berubah dia jadi jarang ngesms aku . aku berfiir tentang ucapan saudaraku yang bilang alau dia playboy . tapi aku berusaha bersabar dari pada berfikir yang negative terus tentang iyas aku pun ol facebook . aku melihat di dindingnya iyas kata kata yang membuat hati ini menangis .iyas sering enulis dinding dengan seorang wanita , aku tidak tau siapa wanita itu . setelah melhat itu aku langsung menelfon iyas dan memnta yas untuk menjelaskan tentang hal tersebut tap dia tida mau jujur kami berrdua PUTUS .
Setelah lama kita tida berhubungan iyas menelfonku dan meminta maaf atas semua perbuatannya yang dulu ia menyesal telah menhianati aku sekarang dia pun merasakan hal yang sama di khianati pacarnya .
Pada tangga 3 november 2010 dia mengajaku balian dan aku mau karena aku masih mencintai dianamun hal yang sama dia lakuan kembali dia mengkhianati aku lagi . pada akhirnya ita pun putus ada tanggal 27 desember 2010.
Au bingung kenapa dia tega mengkhianati aku yang benar benar tulus mencinta dia . aku tida bias melupakan dia sampai sekarang . tap disaat aku telah bias melupakannya dia muncul kembali ke kehidupan aku . dan disaat aku berharap agar ita bias aya dulu lagi tba tiba dia menghiang dan ta mncu kembali .
Sampai sekaranga pun aku tidak pernah percaya bahwa kisah cinta pertama u berakhir arena sebuah pengkhianatan ………….!!!!!!!!!!!!
———-SELESAI———-

Judul : pahitnya kisah cintaku
Karangan : annisa herdiani
Email : annisaherdiani25@gmail.com

Random Posts

  • Cerpen Cinta: Bukan Cerita Biasa

    Bukan Cerita Biasaoleh Fahrial Jauvan TajwardhaniCinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta. ***Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.Begini ceritanya,Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang. ***Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa. Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan. Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.“Kenapa Reza menangis.”“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.” “Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat. Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.SELESAIProfil penulis:Nama Lengkap: Fahrial Jauvan TajwardhaniPanggilan : JauvanAgama : IslamJejaring sosial Facebook : Fahrial Jauvan TajwardhaniTwitter : @FahrialJauvan Cerpen lainnya: Izinkan Aku Hidup

  • Cerita remaja Tentang Aku dan Dia Part 4 {Update}

    Edit mengedit masih berlanjut. Maksutnya ini tu cerpen lanjutan dari Cerpen Romantis tentang aku dan dia part 3 kemaren. Oh ya, sekedar info. Gambar cover cerpen yang ada di blog ini bukan aku yang bikin ya. Maksutnya animasinya. Aku hanya bagian edit mengedit. Animasi asli dalam bentuk GIF. Biasanya si ku jadiin Tema hanphond. Dan berkat demen bermain di photosop ya gini jadinya. Tu animasi ku jadiin ullzang versi kartun.Akhir kata happy reading..!!!Credit Gambar : Ana Merya"Kenapa lagi loe?" Tanya Anya begitu melihat Tampang Gresia yang lagi – lagi Terlihat kusut. Padahal ia baru saja menampakan wujudnya di hadapan mereka."Gue lagi pengen makan orang nie"Balas Gresia ketus"Basi" Ledek Nanda."Kemaren loe juga udah ngomong gitu, tapi buktinya Arga Fine – fine aja tuh" sambung nya lagi.sebagian

  • Cerpen Ibu: KEKUATAN DOA

    Kekuatan Doa Ribuan kilo jalan yang kau tempuhLewati rintangan untuk aku anakmuIbuku sayang masih terus berjalanWalau tapak kaki, penuh darah… penuh nanahSeperti udara… kasih yang engkau berikanTak mampu ku membalas… Ibu… IbuIngin kudekat dan menangis di pangkuanmuSampai aku tertidur, bagai masa kecil duluLalu doa-doa baluri seluruh tubuhkuDengan apa membalas… Ibu… Ibu Lagu berjudul “Ibu” karya sang legendaris musik Indonesia Iwan Fals memang sangat menyentuh bagi siapa saja yang mendengarnya. Tak luput pula bagi Muhammad Gadi Widjoyo seorang sarjana hukum yang sangat menyayangi seorang Ibunya. Yang ada dalam pikirannya adalah sebuah pertanyaan, apakah kamu pernah dan merasakan kasih sayang Ibumu? “Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu. Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu” lirik ini baginya sangat mengingatkan sebuah klise kehidupan sesosok Ibu dan menyiratkan sebuah keinginan seorang anak kepada malaikat kecil itu. Tak terasa mendengar dan merasakan lirik demi lirik lagu itu, berbutir-butir air mengalir dan membasahi pipi Gadi. Lamunan demi lamunan ia lalui dengan tangisan, mengingatkan kasih sayang seorang Ibu yang menuntunnya menjadi seorang sarjana seperti sekarang, tetapi bukan tangisan yang dibutuhkan oleh seorang Ibunya melainkan doa dari seorang anak saleh yang dapat menuntunnya untuk menempuh jalan terindah yaitu di surga.Hampir tidak mungkin Gadi hanya seorang anak dari kalangan berekonomi rendah bisa menjadi Sarjana Hukum apa lagi Ibunya hanya seorang buruh cuci yang gajinya hampir tidak mencukupi kehidupannya. Itu semua berkat doa seorang Ibu untuk anaknya, selain itu juga karena kegigihan dan usaha yang di lakukan oleh Gadi. Karena rasa sayang begitu besar yang dimiliki oleh Gandi maka apa yang selama ini dia lakukan hanya semata-mata untuk membahagiakan Ibunya.Gadi sangat bersyukur memiliki Ibu berhati baja, berjiwa mulia. Mengajarkannya banyak hal untuk kekuatan hidupnya demi meraih masa depan. Suka duka itu semua bagian dari hidup. Kekuatan Ibunya menghadapi hidup atas nama cinta untuk anaknya. Sang anginpun hanya datang untuk menghembusnya, diapun pergi setelah sang daun harus gugur ke bumi rapuh terinjak.Dia tidak lagi iri kepada teman-temannya yang memiliki keluarga sempurna, punya orang tua kandung yang lengkap dan hidup serba kecukupan. Ternyata, memiliki keluarga lengkap tidak menjamin mereka bisa berhasil hidupnya.Banyak contoh di sekelilingnya, teman-teman sekolahnya yang naik turun mobil pribadi saat sekolah, ternyata tidak mendapat cukup kasih sayang orang tuanya yang jelas-jelas lengkap dan senantiasa bisa bersama mereka setiap saat. Banyak kebahagiaan semu teman-temannya yang tidak tau apa arti kasih Ibu.Sejak duduk di pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, Gadi selalu menjadai sisiwa terbaik di sekolahnya di bandingkan dengan temen-temannya. Berkali-kali ia selalu mendapat sanjungan dari guru-guru di sekolah maupun dari teman-temannya. Tidak sedikit pula beasiswa yang di dapatkannya, dengan adanya beasiswa inilah ia dapat melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi selain itu juga dapat mengurangi beban hidup Ibunya yang tidak lagi memikirkan beban biaya.Sejak duduk di bangku kuliah, dia tidak lagi tinggal bersama Ibunya melainkan ia ikut tinggal dengan temannya di kos dekat kampusnya. Mengingat jarak dari rumah menuju kampus lumayan jauh. Semenjak ia menjadi mahasiswa di kampusnya ia jarang lagi pulang karena banyak tugas yang harus cepat di selesaikan. Di kampus Gadi selalu ikut menjadi aktifis muda di kampusnya.Siang itu, Ibu Gadi sangat merindukan anaknya yang telah menjadi seorang yang mendiri. Pada sore harinya, sang Ibu mendatangi kos tanpa sepengetahuan Gadi. Tempat kos yang cukup sederhana namun nyaman untuk di tinggali. Tak lupa ia menitipkan beberapa bingkisan makanan kesukaan Gadi dan alat solat berupa sarung dan peci, selain itu ia juga menyelipkan Al-Qur’an kecil agar mengingatkannya untuk tetap ingat dan beribadah kepada Allah SWT. Saat teman kos Gadi keluar dari kamar, sang Ibu menitipkan beberapa bingkisan itu melalui teman yang di lihat umurnya tidak jauh dari Gadi. “Assalamualaikum…” “Waalaikumsalam…” “Maaf nak, bisa tolong titipkan ini untuk Gadi?” “Oh bisa bu, kalo boleh tau Ibu ini siapa yah?” “Ibu hanya orang yang dititipkan ini untuk Gadi” Ibunya terpaksa berbohong, ia tidak ingin melihat orang lain melihatnya sebagai Ibu Gadi. Gadi adalah aktifis muda yang berbakat memiliki segudang prestasi yang ia pikir tidak pantas memiliki seorang Ibu yang hanya hidup sebagai seorang buruh cuci yang berpenghasilan tidak menentu.Tanpa berpikir panjang dan tanpa melihat bagaimana perkembangan anaknya, sang Ibu bergegas pergi meninggalkan kos itu, dan di dalam hatinya walaupun ia tidak dapat bertemu dengan anaknya saat itu, sang Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk anaknya.Sore itu awan mulai gelap menyelimuti bumi, suara gemuruh petir mulai terdengar di sana sini. Satu demi satu, dikit demi sedikit awan mulai mengeluarkan butiran air hasil proses kondensasi di awan. Dengan terburu-buru sang Ibu memantapkan langkahnya untuk bergegas pulang, dari belakang terdengar suara yang memanggil dirinya tetapi dia tidak mempedulikannya. “Buuuuu, Ibuuuuuu ……….”Saat suara itu semakin dekat, dan tiba-tiba memegang erat dan mencium tangan kanan sang Ibu, ternyata itu adalah Gadi. “Ibu kenapa gak ingin ketemu Gadi, tadi Gadi ada di dalam”Dengan menatap dengan senyuman sang ibu membelai anaknya yang terlihat semakin besar dan dewasa. “Ibu tidak ingin teman-temanmu melihat aku ini Ibumu nak” “Kenapa Ibu berfikir seperti itu? Gadi tidak pernah malu memiliki Ibu seorang buru cuci, bagi Gadi Ibu adalah orang yang paling Gadi hormati” “Ibu berpesan kepada mu, jangan pernah tinggalkan ibadah kepada Gusti Allah, sesuai dengan nama mu Gadi yang artinya Allah adalah penuntunku” “Iya, Gadi janji Bu..”Gadi tak menyangka begitu besar cinta Ibunya kepada dirinya. Air mata pun mengalir bersama dengan air-air hujan yang membasahi pipinya saat itu.ðððððHari ini hari yang paling membahagiakan bagi Gadi dan teman-temannya karena hari ini adalah hari dimana ia akan diwisuda. Dengan Indeks Prestasi mencapai diatas 3,2 maka ia semakin yakin dengan ini Gadi akan membahagiakan Ibunya.Awalnya ia ingin menuju kampus bersama Ibunya, karena sang Ibu tidak datang juga maka Gadi datang ke acara wisuda hanya dengan teman satu kosnya.Setelah acara wisuda selesai ia langsung bergegas menuju rumah yang sangat sederhana, tempat dimana Gadi pelepas masa-masa kecilnya dan merasakan indahnya kasih sayang sorang Ibu. Saat ia memasuki ruangan sempit, terdengar suara lirih, lalu Gadi mendekat dan sang Ibu berbisik. “Hari ini kamu wisuda, anakku telah jadi sarjana, doa ibumu terkabul nak maturnuwun Gusti…, Allahu Akbar…, Lailahaillah Muhammadarasulullah…” “Ibuuuuuuu, Innalillahi wainnalillahi roji’un” Sakit yang menahun tak pernah dirasakannya, dia terus berjuang demi masa depan anaknya. Kini sakit itu telah hilang bersama raga, dan telah meninggalkan beberapa kisah mengenai nilai hidup dan perjuangan kepada anaknya. Tanpa rasa mengeluh ia lakukan hanyalah untuk anaknya dan juga dia tidak pernah meratapi kemiskinan yang dialaminya. Kemiskinan bukan untuk diratapi tetapi untuk di hadapi.Ibu tidak pernah menangis di depan kita, kalau pun ingin menangis dia selalu menahan air matanya di depan kita, dia selalu menguatkan kita dengan kata-kata indah, tidak ada seorang Ibu yang tidak sayang kepada anaknya, baginya anak adalah buah cintanya kepada Allah SWT yang harus ia jaga dan lindungi di mana pun dan kapan pun. Dalam hidupnya semua yang ia lakukan hanyalah untuk membahagiakan anaknya.Seorang Ibu tidak mengharapkan imbalan apa pun dari apa yang di berikannya selama ini, tugasnya di dunia ini hanyalah memberi memberi dan memberi. Dari rahimnya lah ia melahirkan sosok-sosok manusia yang hebat. Baginya anak adalah segalanya, anak adalah separuh hidupnya, di saat sosoknya telah tiada doanya yang selalu terlantun untuk anak-anaknya.Tiadanya dirimu menjadi semangat untuk ku untuk menjadi lebih baik, cinta dan kasih sayang mu akan selalu menuntun hidup ku, selamat jalan Ibu, Kaulah malaikat kecil ku. Terima kasih ibu, doa ku kan menuntunmu di surga.*****Penulis : Maulana Eka Putrae-Mail : mekaputra31@yahoo.com / maulanaekaputra41@yahoo.com Twetter : https://twitter.com/#!/maulanaeputraSekolah : SMA Negeri 66 Jakarta / 2014Cerpen lainnya karya Maulana Eka Putra bisa dilihat dalam Cerpen Persahabatan dan Cinta dan Cerpen Sahabat Kehidupan.

  • Cerpen Persahabatan: RINDUKU KENANGANKU

    RINDUKU KENANGANKUoleh: Rica Okta YunarwetiCahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti. Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran. “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.* * *Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat. Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.“Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?“Aku mencarimu! Kata Diana“Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”“Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.“Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal DianaDengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas. * * * Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.* * * Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.“Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang“Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.“Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_“Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..“Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)“Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)“Aku sakit apa? Mana ayah?”“Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”“Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”“Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”“Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”“Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”“Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”“Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"* * * Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.“Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran“Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”“Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran“Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”“Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”“Thengs.. siapa namamu?”“Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.(Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.“Diana, kenapa kamu?”“Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”“Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”“Ii..ia bu.”“Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’“Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”“Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari“Ibu mau menjenguknya? ““Iya,, nggak apa-apa kan?”“I..ya. nggak masalah.” Semangat DianaIbu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.“Hai, belum pulang?" Sapa Diana“Hmmn. Belum Diana’“Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari“Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana“Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”“Ohh, namamu Lizy ya?”“Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”“Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”“Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy“Hhhhaha….” Sambung Diana* * * Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.“Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy“Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya“Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”“Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”“Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana“a..ku, sakit Leukimia..”Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..“Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”“Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva“Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.“Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”“Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.“Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari“walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”Suasana berubah menjadi hening kembali..“Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)“Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.“Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang“Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”“ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”“Cepat sembuh, ya”……* * *Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.Malam ku sepi..Tak sanggup ku mengungkapkanAir mata membendung di kelopak mataku..Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…Kamu_sahabat_TerbaikkuIa simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….3 hari kemudian…Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaAkan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi di hatiTeringat di saat kita tertawa bersamaCeritakan semua tentang kitaAda cerita tentang aku dan diaDan kita bersama saat duu kalaAda cerita tentang masa yang indahSaat kitaberduka saat kita tertawaKetika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.“Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”“Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”“waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”“Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.“Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus LintangDiana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.“Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana“Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang“Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana“Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”“Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy“Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva“Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha“hhuuhh…”Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.* * * Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya. Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.* * * Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.“Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)“Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana“Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas LizyBunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.* * *“Tak sempat ku berikan Tak sempat ku sampaikan”_LiDiZyVa_ Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaAkan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi di hatiBelum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.Sahabatku impiankuCita-citaku imajinasikuBukan hal yang salah memiliki mimpiBukan hal yang salah mempunyai tujuanTujuan seperti sinarKesana lah kita berlariDan untuk itulsh kita hidupTapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukanMembuat kita sulit melihatSehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhentiUntuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri“Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya. “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.“Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai” “Waahh..keren.!”Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.SELESAIKarya : Rica Okta YunarwetiAlamat Fb : Richa Oktaae-mail : icaotana@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*