Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?

Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?
oleh: Diah Novianti
“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.
Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.
Kini, hari-hariku pun sudah ditemani oleh Denis. Semua terasa sangat menyenangkan. Dan ternyata, itu hanya awalnya saja. Ketika hubunganku dengannya memasuki usia ke-3 bulan, saat itulah mimpi burukku datang.
“Fio, sini, aku mau ngomong sesuatu.”kata Denis. Aku langsung menelan ludah, tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. “Aku mau kita temenan aja.”lanjut Denis.
Taaarr ! Seakan ada ribuan cambuk yang mengenai hatiku. Aku langsung menitikkan air mata, tetapi segera kuhapus tanpa sepengetahuan Denis. Aku tak ingin lemah di hadapannya. Aku hanya diam.
“Fio, maafin aku…” Aku langsung berlari sejauh mungkin, tak peduli walau langit sedang menangis seakan tahu apa yang kini tengah aku rasakan. Aku berlari di tengah derasnya hujan, tak ada tanda-tanda kalau Denis akan mengejarku. Biarlah, kataku dalam hati.
Keesokan harinya, tak sengaja aku bertemu Denis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih, manis, tinggi pula. Ideal sekali untuk ukuran seorang wanita sempurna. Oh Tuhan, ironis. Satu kata yang dapat mewakilkan keadaanku saat ini setelah aku berusaha untuk mempertahankan semuanya. Kini, hancur sudah semuanya karena orang yang kusayangi.
Aku ingin sematkan bintang di dahinya, agar ia tahu betapa besar rasa sayangku padanya. Tuhan, masih bisakah hari itu terulang ? Hari dimana aku dan Denis masih bersama .
*****
Facebook : Diah Novianti
Twitter : @novidiahnovi

Random Posts

  • Cerpen Sedih: Kebahagiaan Mendatangkan Kesedihan

    KEBAHAGIAAN MENDATANGKAN KESEDIHANoleh: Theresia Rahayu UtamiAwal ku mengenal seorang cowok dimulai dari persahabatan dan kejadian ini terjadi pada tahun 2009… Dan saat pertemuan itu berkumpul bersama teman-teman…Saatnya terbangun ku mendengar suara kicauan burung memanggil ku…aku duduk di serambi depan rumah..melihat taman bunga yang indah dan pohon-pohon di sekelilingku…Kuambil secarik kertas untuk menulis pesan untuk keluargaku, ku langsung beranjak pergi mempersiapkan diri melangkah setiap langkah ku…Walaupun hati tidak siap untuk meninggalkan semua kenangan senang, sedih dan bahkan menyesakkan hatiku yang ada selama ini, tapi aku siap untuk memulai hidupku…Berawal dari persahabatan ku sangat lama ku jalani, Rafael seorang teman yang sangat akrab sebelumnya dengan temanku… dan tidak menyangka dari persahabatan mereka menimbulkan suatu keraguan dalam hatiku. Bahkan pikiran ku memulai untuk menanyakan beberapa pertanyaan untuk temannya, tapi aku tidak siap untuk mengatakannya mungkin aku butuh waktu untuk itu.Ternyata dari keraguan itu.. yang menimbulkan aku semakin dekat dengan Rafael.Tiba-tiba Rafael menelpon aku dan mengajak aku untuk pergi ke Mal terdekat daerah rumah kita. Dengan senyum malu aku menjawab "ya". 20 menit Rafael datang untuk menjemput ku dan segera kita berangkat, dengan senangnya Rafael menyambut ku dan meraih tanganku untuk memeluk badan nya. "Ayo, pegang badan ku yang erat karena aku mau kencang mengendarai motorku"… tanya Rafael kepadaku."O ya jangan takut aku pegang erat badan kamu," jawabku, walaupun dengan malu nya aku menjawab. Seiring berjalannya… sampai tujuan kita langsung ke tempat makanan… "Kamu sudah makan…?" tanya Rafael kepadaku."Ayo kita makan," jawabku. Siap memilih menu kita masing-masing. Sambil menunggu makanan tiba, memulai untuk obrolan… Tatapan Rafael yang penuh arti dan aku membalasnya dengan senyuman. Tiba-tiba… makanan datang… dan siap santap makanan ini."Ehhmm enaknya makanan ini ya," kataku. Tiba-tiba teman-temannya Rafael datang dan menghampiri kita untuk bergabung. Semakin seru dan suasana semakin ramai."Asyiknya berkumpul di tempat ini ya..???" kataku.Waktu semakin larut malam. Segera kita meninggalkan tempat dan bergegas untuk pulang. Terbaring nya aku di tempat tidur sambil mendengarkan musik. Dan siap untuk tidur…Perlahan-lahan aku membuka hatiku untuk Rafael.Mengenal keluarganya Rafael dan mereka pun menyambut ku dengan senyuman."Silahkan duduk", sapa mamah nya Rafael."Iya bu" jawabku. Dengan sopan mamah nya menyapa aku. Dengan berjalannya waktu semakin larut malam aku berkunjung di rumah Rafael. "O ya aku pulang dulu ya, sudah larut malam nih", kataku. "Terima kasih ya sudah datang", jawab mereka.Seiring waktu aku bersama Rafael, semakin hari semakin dekat kita berdua…"Hai Res, besok kamu ada acara kemana..?" tanya Rafael kepadaku. "Tidak kemana-mana, memang kenapa..?" jawabku.Dari pertanyaan itu yang membuat aku semakin bingung untuk menjawabnya, dengan tangkas nya aku menjawab "boleh". Tersenyum lebar Rafael kepadaku. Pergi ke suatu restoran tak jauh dari rumah kita, dan Rafael memilih tempat makan yang bagus dan suasana yang sangat romantis. Dengan suasana tempat yang di sekeliling nya bunga-bunga dan ada satu lilin diatas meja makan kita."Indah sekali tempat ini" tanyaku. Rafael menyiapkan ini semua untukku..Dengan iringan musik yang indah dan membuat suasana kita semakin hangat. Tak luput dari pembicaraan kita ada tawa dan senda gurau.Hening sejenak..Rafael terima telepon dari teman dekatnya, dan mengundang temannya untuk datang di acara makan malam bersama…Selesai makan, kita semua bermain bilyard dengan pasangan kita masing-masing. Seru dan ramai kita saling berlomba… dari bermain bilyard tidak sengaja aku melihat tatapan Rafael tertuju kepadaku. Dengan segera Rafael pasang muka penuh malu dan merah. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya, tersenyum lah Rafael kepadaku. Diantara teman-temannya memperhatikan kita berdua… dan mereka pun ikut bersorak-sorai dengan sambutan mereka yang membuat kita tertawa lebar.Dengan lelahnya aku bermain, aku berusaha untuk duduk dan minum sejenak. Tiba-tiba Rafael menghampiri ku, dan mengatakan sesuatu yang penting.Dengan bisik-bisik Rafael berbicara denganku…"Aku suka sama kamu", tanya Rafael kepadaku. Butuh waktu aku menjawab itu.. "Bagaimana ya..??" jawabku. Tak secepat itu aku menjawab ya, tidak sabar Rafael menunggu jawabanku. Seringnya kita bersama.. dan hampir semua tempat kita kunjungi…Suasana yang berbeda, tiba-tiba ide dari Cumi untuk membuat acara bakar ayam di rumahnya. Aku bersama cewek nya Cumi menyiapkan beberapa nasi dan minuman. Dan laki-laki nya menyiapkan arang-arang nya, untuk ayamnya segera dibakar. Berharap ayamnya segera selesai..Sambil menunggu ayamnya matang, Rafael berusaha menghibur Res dengan menyanyi sambil bermain gitar penuh semangat dan gembira…Segera ayam disantap dan menikmati suasana malam yang sejuk dan dingin.. dan melihat bintang-bintang yang indah."Mantap sekali ayam ini ya," kataku. Dengan lahap nya mereka menyantap ayam yang masih hangat.Hari semakin cepat berganti dan waktu semakin berubah setiap detik nya…Tidak kusangka pertemanan kita semakin akrab dan berlanjut lama.. Buat kejutan untuk Rafael, selesai aku pulang dari kuliah.. aku berusaha untuk telepon Rafael. Ternyata Rafael yang mengangkat teleponnya,"Hai Rafael, nanti sore aku mau kamu datang ke rumahku…??" tanyaku."Ya boleh" jawab Rafael. Dengan segera aku persiapan diri untuk mandi. Mamah ku menyapa ku dengan wajah yang penasaran… Selesainya aku mandi… tak lama Rafael datang dan menunggu ku di teras depan rumahku. Segera Mamah ku menyapanya dan mengobrol dengan Rafael. Dari pembicaraan mereka terdengar dari kamar ku.. Penuh curiga aku segera keluar dan bertemu dengan Rafael dan mamah ku. Tak lama kemudian mamah ku meninggalkan kita berdua, sambil menunggu waktu.. aku menyiapkan minuman dan makanan.Tidak mengerti apa yang dibicarakan Refael tentang dirinya, dengan pasang wajah yang serius… Tapi aku membalasnya dengan wajah yang lucu agar suasana tidak tegang. Ternyata dari pembicaraan itu yang membuat aku semakin penasaran dan ragu. Tetapi aku berusaha untuk tenang.. sambil Rafael memegang tanganku penuh erat dan tatapan yang tidak sanggup untuk mengatakan kepadaku… Sekian lama aku menunggu dari sebuah jawaban…Tak lama aku berpikir panjang… untuk datang dan mencari tahu dari teman dekatnya. Mudah-mudahan dari penasaran ku, aku dapat jawaban yang membuat hatiku lega. "Hai Cumi… apa kabar..??" tanyaku. Dengan pasang wajah yang kaget Cumi menyapa ku. "Hai.. Aku baik-baik aja Res, tumben kamu main ke tempatku," Jawab Cumi. Dipersilakan duduk aku di ruang tamunya. Mungkin ini terlalu berani aku bicara dengan Cumi… berapa menit kemudian cewek nya Cumi datang dan menyambut ku…Cewek nya Cumi bertanya kepadaku…"Res kamu tumben datang ke sini.. ada apa ya..??" Aku mau bicara sesuatu tentang Rafael, jawabku.Dari obrolan kita bertiga semakin menegangkan.. ternyata dari obrolan Rafael dengan mamah ku yang membuatku kaget."Apakah ini benar..??" jawabku. Ternyata mamah ku tidak suka dengan Rafael. Dan supaya Rafael meninggalkan aku.Kenapa ini bisa terjadi aku mencintai seseorang tetapi…. ??Bahkan aku berusaha untuk lebih dekat dengan Rafael.. agar dari cerita ini semua, tidak membuat aku jauh dari Rafael. Aku akan berusaha memberikan semangat untuknya…"Bagaimana hubungan aku berikutnya dengan Rafael…??" Cumi dan cewek nya berusaha untuk menenangkan aku juga. Memberikan waktu untuk berpikir antara Res dan Rafael…Pertemuan aku tiba-tiba dengan Rafael.. dengan tempat yang sama sewaktu aku kenal Rafael pertama kali. "Kamu mau minum apa…?" tanyaku. "Es kelapa aja," jawab Rafael. Tatapan Rafael yang penuh penasaran dan tanda tanya.. "Ada apa sebenarnya Res..??" tanya Rafael."Hmmm…" jawabku. Aku berusaha dengan tenang untuk menjelaskan ini semua dengan Rafael. "Sebelumnya aku minta maaf, aku sudah sayang sama kamu tapi…??" Rafael memegang tangan Res dan untuk segera mengatakan nya.Hening sejenak sambil menahan nafas perlahan-lahan…"Rafael sepertinya kita sampai disini aja hubungan kita," kataku. Tidak menyangka dari pikiran Rafael secara tiba-tiba. Mataku berbinar-binar, sedikit demi sedikit aku menitiskan air mata. Diambilnya tisu dan segera Rafael mengusap air matanya Res. "Kenapa ini bisa terjadi..?" kata Rafael. "Akupun sudah bahagia bersama kamu Rafael", jawabku. "Mungkin ini sudah jalan terbaik buat kita…", kataku. Dari pertama kali Rafael berbicara dengan mamahku. Akupun sudah tahu.. tapi aku butuh waktu untuk membicarakannya ini semua dengan Rafael.Kemungkinan aku saja yang menyudahi hubungan ini. Hai Res.. kenapa kamu mesti menangis..??” tanya Rafael kepadaku.Ku terdiam dan tidak bisa menjawab apa-apa lagi.Kita bisa berteman kan..?? jawabku. "Walaupun kita sudah tidak ada hubungan lagi, tapi kita bisa bertemu lagi kan…" kataku.Ternyata kebahagiaan yang kita miliki belum tentu juga untuk selamanya.. *****Karangan CERPEN ini 92% kisah ku yang sebenarnya…Yang aku pakai semua nama dalam Novel itu "Nama Samaran"Pencipta : Theresia Rahayu Utami

  • Cerpen Galau The Prince part 12

    Ehem, Tes tes tes.. satu dua tiga…. Baiklah sound systemnya sepertinya oke. #diinjek.Oke All, Aku minta di hajar ya?. Ah sepertinya si begitu. #kipasin muka.Secara banyak banget yang kompline kenapa cerpennya banyak yang gantung?. Atau lanjutannya lama?. Ah sebodo amad deh. Aku juga gak protes saat cinta ku di gantungin n happy ku belom di lanjutin (????) #Ora nyambung. -______________________-Oke, aku juga udah cape jelasin kalau sebenernya aku sekarang udah sibuk di dunia nyata. SUNGGUH!!!!!. #Yah… Walau sesibuk – sibuknya aku di dunia nyata aku masih tetep nulis. ^_^Tapi dari pada aku cuap – cuap yang jelas kagak nyambung mendingan langsung ke part selanjutanya aja deh…. #Jangan tanya endingnya sampe part berapa karena aku juga nggak tau *Lempar penulis sampe keselatpanjang #NGAREP!!!!…Akhir kata … Happy reading ya?…Credit Gambar : Ana MeryaSepi, hening dan sunyi. Aku terus menunduk dalam. Sama sekali tidak berani menatap kearah kevin yang ku tau pasti saat ini jelas sedang menatap tajam kearah ku. Sementara Revan juga terdiam. Ia juga sama sekali tidak membantah saat kevin men’gusir’ pelayan yang menanyakan makanan apa yang akan kami pesan. Yups, saat ini kami bertiga memang sedang berada di kaffe depan toko buku tempat ku berkerja. Kevin dengan seenak jidatnya telah menarik Revan keluar dari arena kerjanya. Memaksa kami untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ku jelaskan. (???).sebagian

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 05 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih _ Part 05 . Masih kisah antara Cinta sama Rangga. Di part ini kayaknya udah mulai tumbuh benih – benih cinta di antara mereka berdua… ~Cieela, bahasanya.Tapi yah tetep. Perjalanan masih cukup jauh untuk sampai ke ending sodara – sodara. Soalnya Cerpen Ketika Cinta Harus Memilih ini terdiri dari 16 part. Ho ho ho, Panjang kan?. Makanya cape ngeditnya. #plaks.Okelah, dari pada kebanyakan bacod, mending langsung baca aja yuk kelanjutannya. Cekidots…..Ketika Cinta Harus MemilihBukannya langsung pulang, Aldi justru malah ntrakir Cinta makan. Sambil makan mereka tak henti mengobrol. Dan Cinta baru menyadari satu hal. Ternyata Aldi orang nya asik. Anaknya nyambung di ajak ngobrol. Beda banget sama Rangga yang biasanya hanya terlihat sopan jika ada orang lain di sekelilingnya.-,- sebagian

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 03 { Update }

    Baiklah, cerita berlanjut man ceman. Tapi gue ngepostingnya ansuran ya. Nggak sekali lalu. Jadi sekarang giliran Cerita SMA Diary diera part 3. Busyed, baru ngeh gue kalau ternyata postingan di blog Star Night ternyata ada ratusan. Pegel juga tau tangannya ngedit tulisan mulu. Baru mo nyelesein Serial Diera Diary aja rasanya udah tepar. Tapi tetep, kali ini tulisannya udah mulai rada rapi kan? Nggak amburadul lagi kayak kemaren. Jadi lebih enak di bacanya. Soal kelanjutan cerpennya kemaren. Waullahu’alam deh. Gue juga nggak tau kapan gue mau lanjutin. Gue masih mau pindahin postingan blog gue kesini aja udah cukup untung. Sebelum lanjut part sebelumnya bisa di cek sini.Cerita SMA Diera Diary ~ 03Cerita SMA Diera Diary ~ 03Akhirnya saat saat yang dinantikan pun tiba. Semua yang ikutan camping bener-bener gembira. Sambil nyanyi-nyanyi bareng mereka masuk ke hutan. Rencana nya camping akan di lakukan selama dua hari.Pokok nya acaranya seru deh, selain untuk seneng-seneng mereka juga mengadakan penelitian tentang keadaan alam sekitar. Dan pada malam harinya. Semuanya berkumpul bareng di depan kemah-kemah mengeLillyngi api ungun yang mereka buat.Semua cewek langsung pada seneng karena karena meliahat idola merka yang tidak hanya keren. Tapi juga pinter main gitar bahkan suaranya bagus lagi. Waktu itu ia lagi nyanyiin lagu ku menunggunya d’bagindas band. Emang sih tu lagu lagi ngertern banget di radio radio atau tivi tivi.Semuanya asik mendengarkan sambil ikutan nyanyi bareng. Diera begitu menikmatinya. Dan tanpa ia sadari sebenarnya dari tadi Rian juga sekali-kali menatap kearahnya.Pada keesokan harinya, semuanya sudah bersiap-sipap. Karena agendanya hari ini mereka akan menjelajajahi hutannya. Sebelum itu Pembina memberika pengarahan. Pukul sembilan tepat semuanya berangkat. Diera berjalan paling belakang dengan mengendong tas yang lumayan berat. Kesel banget dia sama Rian. Kayak nya tu anak emang sengaja ngerjain dia deh. Mana Rian seendiri dikeLillyngi cewek mulu lagi.Tak berapa lama kemudian sang Pembina memberi pemberitauhan untuk istirahat sejenak sambil makan siang. Diera langsung duduk diatas rumput, cape hati men, jiwa raga juga. Mana teman-temannya nggak satu regu sama dia lagi…. Huh bener-bener camping yang menyebalkan deh menurutnya.Ia yang sedang minum langsung tersedak karena ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Begitu menoleh ternyata ada seseorang di sampingnya. Kalau nggak salah sih dia teman sekelasnya Rian.“Upss… sory sory sory. Gue ngagetin loe ya?”“Eh nggak papa kok. Emang sempet kaget dikit sih” sahut Diera sambil mengelap mulutnya.“Aduh beneran sory ya. Gue nggak sengaja.”Diera hanya tersenyum.“Kayaknya loe capek banget.”“Lumayan sih.”“Oh ya, kita belom kenalan. Nama gue Pasya. Loe Diera kan?” katanya sambil mengulurkan tangan.Diera menganguk membenarkan sambil membalas uluran tangan Pasya.“Kok tau?”“Siapa sih yang nggak kenal sama cewek cantik kaya loe.”“Ah loe bisa aja,” balas Diera malu.Ya mereka terus berbicara dengan akrap, kayak udah lama kenal gitu. Ya lumayan lah bisa ngilangin rasa keselanya Diera gara-gara ulah Rian.Tak terasa waktu istirahat sudah habis, dan perjalanna harus di lanjutkan. Dan ternyata Pasya anaknya baik juga, dia bahkan membantu Diera membawakan tas nya yang lumayan berat. Membuat Diera merasa semakin dekat padanya tanpa menyadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan ulahnya dengan donkol.Mereka terus berjalan, karena kurang melihat kanan dan kiri tiba-tiba Diera tergelincir dan hampir jatuh ke dalam jurang. Untunglah Pasya yang ada di sampingnya melihatnya. Dan berusaha keras memegangi tangannya. Rian yang tidak jauh dari sampingnya melihat dan langsung membantunya.Semuanya merasa lega karena Diera sudah bisa sampai di atas, sampai tiba-tiba tanah yang di injek Rian runtuh, spontan ia mencari pegangan orang yang di samping nya yang tak lain adalah Diera yang masih shock. Tentu saja di nggak siap sama kejadian kayak gitu. Alhasil. Mereka berdua masuk ke jurang. UpsSemunya langsung teriak kaget. Sementara kedua orang itu terus mengelinding kebawah. Untung lah mereka tidak benar-benar jatuh ke dalam jurang yang dalam. Mereka terhalang oleh pohon yang tumbuh disekitarnya. Tapi dalam keadaan tak sadarkan diri.Setelah beberapa lama, akhirnya Diera sadarkan diri. Dia coba mengingat-ingat kejadianya dialaminya. Seluruh tubuhnya teras ngilu. Ia baru sadar dan melihat-lihat sekelilingnya mencari-cari Rian. Tampaklah Rian yang tidak jauh darinya masih tergeletak pinsan. Dengan tergesa-gesa di hampirinya.“Rian… Rian bangun donk,” katanya cemas sambil mengoyang-goyangkan tubuh Rian.“Ian, loe jangan mati donk. Takut ni gue….” tambah Diera lagi. Tak terasa air mata menetes di pipinya.Tak berapa lama kemudian barulah Rian sadar. Dia merasa seluruh tulang-tulang nya seperti remuk. Ngilu semua. Dia melihat ke sekelilingnya dan kaget melihat Diera yang ada di sampingnya menunduk sambil nangis.“Loe kenapa?”Diera kaget, langsung menoleh.“Sukurlah loe masih hidup. Gue pikir loe udah mati….” Kata Diera lega sambil menyeka air matanya.“Mati?!…. enak aja. Gue masih hidup kali” balas Rian sewot dan berusaha berdiri. Diera jadi sebel.“Rian kita di mana nih?” tanya Diera setelah beberapa saat.“Ya di hutan lah. Dikira lagi di mall. Loe nggak bisa liat sekeLillyng apa. Pohon semua. Pake nanya lagi.”“Elo tu ya…. Nggak bisa apa ngomong baik-baik. Nyebelin banget. Manusia bukan sih?” balas Diera. Rian menatap sinis mendengarnya. “ huh… sial banget sih nasib gue. Kenapa juga harus terjebak di hutan gini bareng sama loe.”“Aduh!” kata Rian tiba-tiba langsung terduduk.“Eh Rian, loe kenapa?” Diera kaget dan langsung menghampirinya.“Kaki gue sakit. Aw…..” “Ha. Mana?. Kenapa? “ Diera panic.Dan tiba-tiba Rian tertawa. Ha ha ha. Emang enak dikerjain. Jelas saja Diera gerem banget dan lagsung melemparkan tasnya ke arah Rian.“Kayaknya loe kwatir banget sama gue. Ha ha ha. Jangan – jangan loe suka ya sama gue?” kata Rian.“Ya nggak lah. Udah gila apa gue bisa sampai naksir sama loe. Gue masih punya mata kali buat mbedain orang.”“Masa?”.Rian sengaja ingin mengoda Diera. Ia menatap tajam kearah nya. Kontan Diera langsung merasa deg degan. Secara dia emang beneran naksir sama tu orang. Sampai kemudian Rian kembali tertawa karena melihat Diera yang salah tingkah. Diera jelas malu banget. Dan mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Rian untuk segera mencari jalan pulang. Karena sepertinya mereka beneran nyasar deh. Mana tidak ada tanda-tanda keberadaan teman-temannya lagi. Apalagi ia juga nggak tau seluk beluk hutan itu dan hari juga sudah semakin sore.Rian berjalan dengan cepat. Diera begitu lelah mengejarnya.“Huh…. Dia benar-benar manusia yang tidak punya perasaan” gerutnya lirih.Rian yang mendengarnya berhenti dan memandang tajam kearahnya. Diera langsung tersenyum melihatnya. Takut Rian marah mendengar omongannya tadi.Saat mereka sedang berjalan, sayup terdengar suara seperti binatang apa gitu. Mereka juga nggak tau. Diera langsung berlari ketakutan sambil memegangi tangan Rian.“Rian suara apa tuh. Jangan-jangan harimau lagi.”“Nggak usah ngasal deh. Sok takut segala. lagian Mana ada harimau di hutan ini. Bilang aja loe pengen meluk gue. Ia kan?”Diera kesel mendengarnya, dengan segera di lepaskannya gengaman tangannya.“Siapa juga yang pengen meluk loe. Gue beneran takut kali. Lagian kalau Kalau bukan harimau. Terus apa donk. Jangan-jangan babi hutan lagi.”Rian kaget, sepertinya di juga takut tapi pura pura berani saja Dan lagsung memintanya untuk cepetan dan berjalan didepan saja. Diera terpaksa manut.Tiba-tiba terdengar suara ranting pohon yang jatuh dari belakang. Diera berbalik. Tampak lah Rian yang terduduk sambil mengerang kesakitan.“Aduh. Diera tunggu. Kaki gue sakit,” teriak Rian. Diera memandang wajahnya dengan tatapan curiga.“Eh loe pikir. Loe bisa ngerjain gue lagi. Sory ya…. Nggak akan” selesai berkata Diera kembali melanjutkan perjalanan.Diera terus berjalan. Tapi dia Heran karena Rian tidak juga menyusulnya. Akhirnya dia balik lagi dan melihat Rian masih duduk di tempat tadi sambil memegangi kakinya.“Udah deh Rian, nggak usah acting lagi deh. Buruan yuk udah sore nih.”Tapi Rian diam saja. Diera pun memutuskan menghampirinya. Dan dia kaget karena kaki Rian merah oleh darah. Kayaknya luka akhibat kejatuhan ranting pohon tadi deh.“Ya ampun Rian. Ini beneran ya” kata Diera sambil duduk tepat disamping Rian. “Sory, gue pikir tadi loe bercanda.” Sambungnya lagi sambil membatunya. Di keluarkannya sapu tangan dari saku celana panjangnya untuk membalut luka tersebut. Untung lah lukanya nya tidak terlalu dalam hingga tidak terlalu berbahaya.“Mendingan kita berhenti aja dulu. Tunggu luka loe agak baikan dikit. Kita istirahat di sini aja. Lagian ini juga udah hampir malam. Gue ngumpuin ranting buat api ungun dulu bentar.”“Nggak. Kita jalan aja terus. Gue nggak papa kok” tolak Rian sambil mencoba berdiri.“Loe tu emang mau menang sendiri aja ya. Sekali-kali ngalah kenapa sih.”“Kan gue udah bilang kalau gue nggak kenapa-napa,” Rian tetap ngotot.“Oke, loe emang nggak kenapa-napa. Tapi loe mikir nggak sih. Gue tu cape. Gue mau istirahat. Kalau loe emang mau jalan. Jalan aja sediri. Gue mau tetep di sini. Titik!” tanpa menunggu jawaban dari Rian, ia mengumpulkan rerantingan pohon yang kering dan mengongokannya.“Loe punya korek api nggak?” tanya Diera. Saat itu hari memang sudah mulai gelap. Tanpa berkata apapun Rian mengeluarkan korek api dari sakunya dan memberikannya pada Diera.Diera duduk sambil memandangi api ungunnya. Matanya mentap ke langit malam, melihat taburan bintang disana. Dan di sampingnya, Rian juga melakukan hal yang sama. Diera lebih memilih diam dari pada ngajakin ngomong yang malah bikin kesel. Apalagi ia juga merasa sangat kedinginan. Mana jaketnya ada ditas yang di bawain sama Pasya lagi.“Nih pake” kata Rian sambil memberikan jaket yang tadi di pakenya. Diera nggak percaya. Tumben banget ni anak baik.“Ma kasih aja deh, buat loe aja” tolak Diera.“Jangan ge’er dulu. Gue Cuma nggak mau loe sakit gara-gara kedinginan. Karena loe bakal nyusaih gue kalau sakit. Gue nggak mau ngendong loe. Berat tau.” sambungnya kemudian. “Jadi buruan pake” .Diera sebel sih dengernya. Tapi tak urung di pakenya juga jacket tersebut, apalagi dia merasa tubuhnya seperti mau beku. Mana dia juga laper lagi.Diera teringat pembicaraan nya bersama teman-temannya beberapa hari yang lalu, kalau di camping ini mereka nggak bakal kelaparan karena Lilly menjadi seksi konsumsi. Tapi sekarang, bahkan ia sendiri yang menjadi seksi konsumsinya, nasibnya malah kayak gini. BerlahanDiera meraih tasnya, kali aja ada sesuatu yang bisa di makan. Apalagi di kan paling doyang ngemil. Dan ia bersukur, Untung lah kemaren ia tidak mendengarkan ledekan kakaknya yang menertawainya karena membawa jajan yang ada di dalam kulkas yang ada di dapurnya sehingga ia bisa menemukan sesuatu yang memang sedang di butuhkannya. Walau pun hanya terdiri dari berbagai macam snack dan permen juga beberapa potong coklat juga roti lengkap dengan keju nya. Ditambah satu botol pocariswet yang rencananya mau ia makan bersama teman-temannya. Tapi lumayanlah bisa buat menganjal perut saat ini.“Maka yuk…” ajak Diera sambil menumpahkan semua makanan yang ada di dalam tasnya kedepan mereka.Rian melongo “Gila…. Makanan semua. Kayak anak kecil banget sih loe. Bukannya biasanya cewek kemana-mana yang di bawa itu make up ya?. Dasar cewek aneh.”“Biarin. Suka-suka gue donk. Tapi Loe lebih aneh, karena lidah loe bahkan tidak bisa mengucapkan kata ‘terima kasih’ dengan benar. Lagian emangnya kalau gue kasih kosmetik loe mau makan,” balas Diera sambil mengambil sepotong coklat dan langsung melahapnya.“Loe beneran nggak laper?” Tanya Diera karena Rian diam saja.“Ya udah terserah loe deh” ujarnya lagi sambil angkat bahu. Kemudian ia sengaja memakannya dengan sangat lahap karena ia tau Rian pasti juga laper. Hanya gengsinya itu lho….. selangit.Sepotong cokelat sudah habis di lahapnya. Kali ini perhatiannya beralih keroti dan kejunya. Diambilnya sepotong kemudian dengan hati-hati di oleskannya keju di atasnya.“Gue tau kok. Loe pasti juga laperkan?. Ya udah ni buat loe” katanya sambil menyodorkan roti tersebut kearah Rian. Tapi Rian mengabaikannya dan malah mengambil coklat yang ada di sampingnya.Diera menarik kembali roti yang tadi di sodorkannya ke Rian dan lagsung memakannya. Namun diam-diam ia tersenyum. Karena walau pun Rian menolak roti yang ia tawarkan toh pada akhirnya ia juga memakan coklat yang ia bawa. Rian mengucek-ngucek matanya. Ia baru sadar kalau hari sudah pagi. Ia kaget menyadari posisi tidurnya yang saling menyandar pada pundak Diera . Sejenak di perhatikan wajah Diera yang masih tertidur pulas di sampingnya. Rian tersenyum. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Lalu dengan hati-hati di keluarkannya ponsel dari dalam sakunya. Sudah mati, karena dari kemaren sudah nggak discharge. Tapi untunglah ia masih punya battery cadangan di dalam tasnya. Begitu benda mungil itu menyala kembali dengan diam diam di fotonya wajah Diera yang masih tertidur.Rian memperhatikan beberapa hasil jepretannya. Lucu. Tapi tiba-tiba Diera mengeliat. Karena takut ketahuan, Refleks ia langsung berdiri. Otomatis Diera jatuh karena kehilangan sandaran.“Aduh” kata Diera yang kesakitan.“Eh udah pagi nih… loe masih keenakan tidur. Dasar….”Diera memandang kesekitarnya. Kesadarannya mulai pulih. Sejenak ditatapnya Rian.“Gue baru juga buka mata. Omongan loe udah nggak ngenakin hati, bisa nggak si loe ngomong pake kata kata yang enak didenger di telinga. ‘mat pagi kek’, atau apa lah” gerut Diera sambil berdiri untuk membereskan tasnya. Mengumpulkan kembali beberapa bungkus snack yang tidak habis di makan tadi malam. Rian hanya terdiam mendengarnya.Setelah semuanya beres. Mereka kembali melanjutkan perjalannanya mencari teman-temannya yang lain. Sambil sesekali berteriak kencang. Tapi sampai siang mereka masih belum juga bisa keluar dari hutan tersebut. Bahakan mereka sama sekali belum menemuka jejak teman mereka sama sekali.“Rian loe nggak papa?” tanya Diera karena dilihatnya muka Rian agak pucet. Apalagi dia berjalan dengan berpincang-pincang akibat luka kemaren.“Nggak, gue nggak papa kok.”“Perlu gue bantuin nggak?” tanya Diera lagi.“Nggak usah. Udah jalan aja terus,” balasnya lagi.Diera menatapnya kwatir. Apalagi kaki Rian sepertinya terlihat agak bengkak, mungkin gara-gara kemaren tidak di bersihkan dengan benar, karena memang tidak ada air dan waktu itu hanya mengunakan sisa air minum yang ada di botolnya.Tiba-tiba Rian hampir tejatuh. Otomatis Diera langsung menahanya.“Ya udah kita istirahat dulu. Ntar kita lanjutin lagi. Jangan di paksain gitu.”Rian mau ngomong tapi langsung di potong sama Diera.“Gue minta kali ini aja loe nurut sama omongan gue. Jangan ngebantah.”Ditatapnya mata Rian tanpa berkedip. Akhirnya Rian ngalah dan setuju untuk istirahat dulu. Diera segera mengeluarkan pocarisweet yang ada didalam tasnya. Setelah di bukanya langsung di sodorkannya pada Rian. Karena itu satu satu nya minuman yang masih tersisa.“Minum nih. Loe haus kan.”Rian mengambil nya dan langsung meneguk nya. Diliriknya Diera yang lagi jongkok di sampingnya sambil mengikat kemabli tali sepatunya yang lepas. Jujur dalam hati ia kagum sama nie cewek karena walaupun selama ini ia selalu bersikap jutek, tapi tu anak tetap bersikap baik kepadannya.“Eh loe udah belom sih?”Pertanyaan Diera membuyarkan lamunannya.“He? Apanya?” Rian bingung. “Lho bukannya tadi loe sendiri ya yang minta kita buat istirahat dulu bentar” sambungnnya.“Bukan soal istirahatnya. Tapi tuh” tunjuk Diera ke arah botol minuman yang ada di tangan Rian.“Ini?” Rian mengangkat tangannya Heran.Diera menganguk “ Ia. Udah selesai belom minumnya. Kalau udah kesini donk, gue juga mau” tambahnya lagi.“O…. kirain tadi buat gue semua” balas Rian. Tapi tak urung tuh minuman ia berikan pada Diera.“Hu……… enak aja, gue juga haus kali…”Setelah rasa hausnya hilang, Diera mengeluarkan sebungkus coklat dari dalam tasnya dan langsung memakannya dengan lahap.“Kok loe makan sendiri, buat gue mana?” tanya Rian.“Loe kan nggak suka. Makanya nggak gue kasih. Lagian ni kan tinggal satu satuny,a” balas Diera santai sambil terus memakan coklatnya yang kini tinggal separuh. Tiba-tiba Rian menarik tangannya dan merebut coklat tersebut dan langsung memakannya. Diera jelas kaget.“Siapa bilang gue nggak suka. Gue juga mau kali” ujar Rian sambil memasukan semua potongan coklat tersebut ke dalam mulutnya.“Yah… kok di abisin. Gue kan masih laper” gerut Diera cemberut.“Jadi loe nggak terima. Ya udah ni ambil lagi deh,” Rian membuka mulutnya yang penuh dengan coklat sambil mendekat kearah Diera.“Nggak mau….. ih… gila, jorok banget sih loe” jerit Diera sambil berlari menghindar.Rian tertawa menlihatnya yang ketakutan begitu.“Udah siang nih, kita jalan lagi yuk” ajak Rian setelah bebrapa saat lama mereka istirahat.“Yuk” Diera sudah siap mau jalan, tapi tiba-tiba Rian mengaduh kesakitan dan hampir jatuh. Untunglah Diera cepat menahannya.“Yan, kayaknya kaki loe agak mulai bengkak deh, loe yakin loe bisa jalan” ujar Diera cemas.“Tenang aja, gue kan cowok. Udah deh mendingan loe buruan jalan aja depan sana.” Bantah Rian sambil mulai melangkah melanjutkan perjalanannya. Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 04~ With Love ~ Ana Merya ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*