Kirim Cerpen di Star Night

OKE Deh….
Berhubung Star Night udah nggak punya terlalu banyak waktu buat bikin cerpen ataupun lanjutin cerpen cerpen yang ada, kali ini +anna cayang mama selaku admin, pengen ngasi kesempatan buat reader yang pengen karyanya di post di persilahkan buat ngirim kesini.
Syaratnya gampang kok :

  • Yang pertama harus hasil karya pribadi. Say No To COPY_PASTE.
  • Yang kedua Cerpen tersebut belum pernah di publikasikan di blog mana pun.
  • Yang ketiga, saia +anna cayang mama selaku admin berhak untuk mengedit dikit dikit hasil karyanya.:p
  • Yang ke empat, Gak boleh melangar syara ya. Bahasanya yang sopan maksutnya.
  • Yang kelima, Admin berhak mutlak untuk menentukan kapan cerpen nya akan di publis
  • Syarat selanjutnya menyusul ^_^

Gimana cara ngirimnya?. Ikuti petunjuk berikut : ^_^

  1. Siapin dulu cerpennya *So jangan coba – coba ngirim cerpen kalau cerpennya belom di bikin… he he he #XD
  2. Kirim dalam bentuk attacement ke email Anamerya17@gmail.com
  3. Sertakan Biodata penulis yang mau di tempelkan di blog. Misalnya Email, Twiter, Ataupun Akun facebook.

Yang terakhir, Kalau cerpen belum di publis bisa langsung hubungi admin di

Nah, Segitu doank. Bagi yang berminat di persilahkan Untuk mengirimkan karyanya langsung ke sini. Kalau di tanya soal bayaran atau imbalan apapun itu. Hem, Maap gak pake imbalan ya. Kita cuma bikin buat seneng – seneng doank. ^_^
Akhir kata : Selamat Berkarya….

Random Posts

  • Surat Cinta Untuk Para Sobatku, ASKAR

    Surat Cinta Untuk Para Sobatku, ASKARoleh: Luthfiah Fadlun MuhammadAwalnya kita tak pernah mengenal, tak pernah tahu masing-masing pribadi. Namun, aku tahu Allah sayang kita. Allah selalu tahu apa yang ada di balik tabir kehidupan ini. Hingga kita dipertemukan di suatu tempat yang luar biasa, sederhana, namun takkan pernah terlupakan. Ehm… sekolah islam berasrama yang penuh anak-anak luar biasa, penuh kesabaran, tetap tersenyum walau problematika hidup berkeliaran di sekelilingnya. Tiga tahun melangkah bersama, bergandengan tangan, hadapi hari suka dan duka bersama. Kami rajut persaudaraan indah ini dengan nano kehidupan. Aku simpan kenangan indah bersama orang-orang luar biasa seperti kalian, sobatku. Sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bagiku bisa bersama kalian. Hidup di tengah-tengah kalian.Namun, kini aku harus siap. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku tahu itu. Air mata ini tak dapat kutahan lagi malam itu. Mataku tak bisa terpejam dan tidur nyenyak. Aroma kamar Palestine, kamarku dan ASKAR penuh desah keharuan. Basah oleh air mata kami. Bulir kata-kata indah terkirim untukku. Dari sahabat-sahabat berjuta rasa, ASKAR. Aku menangis sedih membacanya. Aku harus siap hadapi hari esok. Wisuda Qur’an dan Haflatul Wada’ (pertemuan terakhir = perpisahan).Pagi ini nafsu makanku hilang seketika. Begitu pula para sobatku, ASKAR. Sarapan pagi istimewa buatan bibi tetap tak menggugah selera makan kami. Tapi kami harus makan. Aku ambil sepiring sarapan. Kususun rapi-rapi agar tampak menarik. Aku masuk ke kamar. Aku tarik nafas dalam-dalam.“ Ayo Ukhti Fillah…. kita sarapan dulu!” teriakku di depan pintu kamar. Semua menoleh ke arahku dan menggeleng. Aku yakin akan hal ini pasti terjadi. Tapi pliss satu suap saja…. aku yang suapkan…. Aku keliling kamar menyuapkan satu per satu sahabatku. Aku pandang jelas wajah-wajah mereka. Senyum dan tawa mereka tak se-renyah kemarin. Bukan karena jilbab abu-abu yang kami pakai begitu licin, membuat kami sibuk merapikannya kembali. Tapi karena…ah!…. Kami tak sanggup berpisah dengan ikatan ukhuwah yang begitu menyegarkan hati, yang selalu menjaga perasaan saudaranya, yang selalu menyemangati saudaranya ketika turun, yang selalu…ah! aku tak bisa ungkapkan lagi. Takkan bisa walau dengan kata-kata indah sekalipun…. sekalipun.Segala persiapan untuk acara kami telah disiapkan guru-guru dan adik-adik kelas kami. Insya Allah lebih baik daripada tahun lalu. Puluhan kata sayang menyerbu kami hari ini. Air mata kami tetap tertahan, karena memang sudah janji kami. Tidak boleh menangis di depan adik-adik kelas dan guru-guru kami. Kami tak mau hancurkan hari ini yang telah mereka siapkan se-baik mungkin. Ratusan senyuman menyambut kedatangan kami. Angkatan terbaik penuh se-abrek prestasi dengan nyanyian tola’al badru dari tim marawis. Kamera-kamera berebutan mengabadikan kami unuk menjadi kenangan terindah. Angkatan pembangkit sekolah. SECOND GRADUATION (ASKAR dan AMOEBA). Kami berjalan berbaris memasuki lapangan kecil sekolah yang sekarang berdirinya sebuah panggung kecil dan tenda untuk tamu-tamu yang hadir. Kami terus menyusuri kursi-kursi tamu dan segera duduk di kursi wisudawan- wisudawati. Tanganku mulai dingin, detak jantungku bertambah kencang, rasa gugup mulai menyerangku. Aku coba tenangkan dengan memurojaah hafalanku. Buncah. Rasanya hafalanku menari-nari menertawaiku. Aku tarik nafas mencoba tenang mendengarkan sambutan dari kepala sekolah tercinta, Bapak Edi Nasirun. Hingga… dua orang guru akhwat yang menjadi motivasi kami selama di sini naik ke atas panggung. Aku pandangi wajah-wajah tegang di sekelilingku. Aku mencoba tersenyum. Getir. “Kepada wisudawan-wisudawati diharapkan naik ke atas panggung. “ Diam. Aku dan teman-temanku mulai bangkit dan berjalan pelan ke arah panggung. Kami naik satu per satu. Aku duduk di belakang bersebelahan dengan Sarah. Aku menunduk. Lantunan ayat suci nan merdu itu mengheningkan suasana. Semua memperhatikan kami. Rasa tegang kompak menyergap kami. Rasanya ingin menangis, mempertanggungjawabkan hafalanku ini. Aku belum siap. Aku terus berdoa dalam hati. Sesi tanya jawab dibuka. Pertanyaan-pertanyaan bergulir. Satu per satu pertanyaan dijawab oleh kami. Kami bertambah tegang ketika ketua yayasan kami, Ustadz Bukhori Yusuf bangkit dari tempat duduknya dan mengambil mikrofon. Pertanyaan penutup yang sempurna disambut jawaban yang mengalir sempurna. Alhamdulillah…..Prosesi Wisuda Qur’an berjalan sukses. Kami turun dari panggung. Rasa lega dan puas tampak jelas pada wajah ASKAR dan AMOEBA. Dan nama-nama kami mulai dibacakan, sesuai dengan tingkatan hafalan. Satu per satu ASKAR dan AMOEBA naik ke atas panggung. Sisa tinggal kami berenam. Sarah, Aku, Wardah, Nida, Syadza dan Fakhirah. “……..Selanjutnya Sarah Fauziyyah dengan hafalan sebanyak 4 ¾ juz dengan kualitas hafalan jayyid jiddan…….” Ucap dua guru akhwat yang memimpin prosesi Wisuda Qur’an kami. Sarah pun naik ke pangung. Tinggal kami berlima.“……..Selanjutnya Luthfiah Fadlun Muhammad denga hafalan sebanyak 4 ¾ juz dengan kualitas hafalan jayyid jiddan. Siswi ini meraih prestasi sebagai Juara 1 Speech Contest Dahsyatnya Ramadhan RCTI, Juara 2 Story Telling Pada Munas PKS ke-2, Juara 1 Story Telling Mipa and English Competition Baitul Maal Expo…….” Panggil dua guru akhwat lagi. Aku maju pelan-pelan. Malu. Pandanganku beralih ke arah para hadirin. Ummi dan abi. Satu kalimat jelas yang kutangkap dari mata kedua orang tuaku. Selamat, sayang. Terima kasih! Aku tersenyum lebar. Medali Wisuda Qur’an dikalungkan dan sertifikat Qur’an kudapatkan. Aku berdiri diantara sobat-sobatku itu. Aku genggam tangan mereka. Ehm… sebentar lagi. Kami turun dan langsung memeluk orangtua kami.Acara selanjutnya, pidato terakhir 3 bahasa dari perwakilan angkatan kami. Sarah dengan pidato bahasa arab, Farha dengan pidato bahasa inggris, dan Afif dengan pidato bahasa indonesia. Aku duduk bersama ASKAR di belakang. Kami tertawa berderai, berpose manis saat difoto, dan menceritakan perasaan saat di panggung tadi. Ah! Kapan lagi kami bisa begini…?“Persembahan terakhir dari ASKAR, kepada kelas Aisyah Binti Abu Bakar (ASKAR) dipersilahkan naik ke atas panggung. “ Kami bersiap, berbaris, dan mulai naik. Sebuah nasyid Edcoustic “Sebiru Hari Ini” diiringi gendangan khas dari salah seorang sobatku, Fatimah. Manis. Dan sebuah nasyid yang menemani kami dari awal saling mengenal hingga ikatan ukhuwah ini begitu erat dan hangat, “Untukmu Teman”. Aku tersenyum memandangi satu per satu sahabatku. Air mata yang kami kira akan meluncur saat ini tak juga muncul. Tangan kami saling berpegang erat. Saling menguatkan. Senyum terakhir kami di sini… Di sebuah sekolah luar biasa, SMPIT Insan Mubarak Boarding School….^_^Kami turun dari panggung. Beberapa sahabatku mulai menangis. Aku masih terdiam di atas panggung, menunggu antrian turun. Aku pandangi sahabat-sahabtku. Aku tak bisa menangis. Tak bisa. Tak bisa. Namun… Aku langsung berlari ke arah salah satu sahabatku, Fakhirah. Sahabat yang begitu berkesan bagiku. Sahabat yang selalu menjadi semangatku di sini. Sahabat yang menggugah diriku untuk tetap semangat berjalan beriringan hingga saat ini. Aku memeluknya dan sekejap air mataku meluncur deras. Aku sedih. Ruang dan jarak akan begitu saja memisahkan kami. Kacamataku sudah basah. Lautan airmata tumpah seketika di lapangan kecil itu. Aku menatap wajahnya lagi. Ia menghapus airmataku.” Jaga dirimu ya! Hammasah Ukhti!…” Aku mengangguk.“Syukron Ukhti, Sukses! Allah always be with us…” Kami saling berpelukan satu sama lain. Airmata kami rasanya tak bisa tertahan lagi. Deras.Lantunan nasyd “Doa Rabithah” menemani desahan tangis kami. Semua orang yang tahu tentang perjalanan kami menyatukan ukhuwah ini, menangis. Suasana menjadi haru. Adik kelas kami menyerbu kami dan dan langsung memeluk kami. Menangis. Aku tak dapat ungkapkan kata-kata lagi. Kelu. Terlalu indah. Aku sedih…..*******Percakapan seminggu yang lalu….“Apa rencana kalian ke depan?” Tanya wali kelas kami di tengah pelajaran matematika yang asyik dan menyenangkan. Kelas menjadi gaduh. Semua berebutan menghamburkan jawaban. Sebuah teriakan menghentikan kami.“….. Haflatul wada’ di Mekkah dan…. Kita reunia-an di Surga….” Teriak seseorang dari kursi belakang.“ Amiiin… ALLAHU AKBAR….!” Teriak kami bersamaan. Perkataan itu jadi janji kami sejak itu. Doakan kami ya……………..!*******Kini, aku berada di sebuah sekolah yang lebih dikenal dengan sebutan “Kampus Peradaban”. Rasa rindu akan hadirnya mereka kembali takkan bisa terlukiskan. Hanya satu kata untuk kalian sobat-sobatku. I Love You All Coz Allah….Aku berlayar menyebrangi samudera tanpa tujuanmengetas dugaan yang belum tentu tampak jalanansayup-sayup desahan keagungan menyerumput kerinduanberperang perasaan melawan kesedihan aku datang, temanmenembus karang hancurkan badanmelawan badai ombak korbankan anganmenjemput sebuah panji persaudaraanyang telah lama tak tersandang290211==================================================================Biografi penulisNama : Luthfiah Fadlun MuhammadNama Pena: Syakira El AskarullahEmail ; luthfiyah15@gmail.comFacebook. :Luthfiah Fadlun Nylifana

  • Cerpen Kala cinta Menyapa part 8

    Gak mau basa – basi, yang merasa dari maren nungguin lanjutan nie cerita _Walau aku ragu ada yang nunggu_Monggo, silahkan langsung di baca. Happy reading ya………….Credit Gambar : Ana Merya“Rani, loe punya hubungan apa sama erwin?” Selidik irma sambil memperhatikan Ulah Rani yang masih asik membolak balikan halaman demi halaman komik yang ada ditanganya tampa memperdulikan keributan teman – temannya yang rata – rata pada ngegsosip sambil menunggu dosen mereka masuk kekelas.“Nggak ada” Balas Rani tanpa menoleh.sebagian

  • Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 16

    Wah, baru ngeh kalo ini tu udah part 16 tapi belom end juga. Ngalahin rekord nie kayaknya. Bahkan The prince, the princess and mis. cinderela juga kalah. But gak papa deh, selama masih mau nulis nulis aja lah. Sejujurnya saia sendiri juga gak tau, Ni cerpen satu bakal end di part berapa. Tapi di usahain nggak lebih dari 20.Oke lah happy reading ya. Buat yang belum baca part kemaren, Baca dulu gih di Cerpen Cinta Romantis Take my heart part 15. "Bukan kah sudah cukup jelas?".Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu….."Kalau saat kita sedang berduaan, Memakan bakso itu bisa menyebapkan kematian"."Ha" Mulut Ivan melongo. Jelas Terlihat seperti orang bodoh. Ia tidak salah dengar kan?. Apa Kalimat barusan benar benar baru keluar dari mulut Vio?.sebagian

  • Cerpen Cinta Remaja: MOVE ON!

    MOVE ON !Oleh: Lelie LianaKriiinggg “Halloo..“… “Hallo, bisa bicara dengan Jenny?”… “Hallo, ini Bobby, bisa bicara dengan Jenny?”… Klekkk! Tuttt tutt tutttPagi itu mendadak muka Jenny masam semasam-masamnya yang dia bisa. Dina aja sampe bingung ada apa gerangan.“Kenapa loe Jen?““Ga kenapa – kenapa““Yakin loe? Loe mandi kan pagi ini ?”“Apa – apaan sih loe Din? Ya iyalah gue mandi!““Ups sorry, abisnya muka loe kusut banget. Kenapa sih?“"Daripada loe ngurusin urusan gue mending loe urusin deh PR dari Pak Burhan.““Hah?? Emang ada PR ya?““Ada, halaman 204 bagian C dan D, essay semua tuh, 15 menit lagi masuk.“Jenny berjalan melenggang melewati Dina, sementara Dina langsung ngacir menuju kelas.Teetttt tettt tettttttt, bel masuk. Jenny yang pagi – pagi udah galau aja di kantin langsung menuju kelas. Di kelas dilihatnya muka Dina menekuk kesel.“Jen loe usil banget sih. Tega – teganya loe ngerjain gue. Dengan susah payah gue ngerjain tuh soal, untung si Budi bilang nggak ada PR, jahat loe!““Lagian loe suka banget ngabisin waktu loe buat urusin urusan orang lain.““Yaaa sorry, abisnya gue kesel aja liat muka loe. Pagi – pagi udah kusut banget persis orang seminggu ga mandi.““Gue lagi galau.““What?? Masih labil ya loe.“ Dina cengengesan.“Hellooo Din, wajar dong gue labil. Umur gue aja belom 20 tahun. Sepupu gue noh, udah 21 masih aja suka galau and labil. Loe jangan mojokin gue dong. Kayak loe ga pernah galau aja.““Iya iya, sorry. Sensitiv banget sih loe. Galau kenapa loe? Bobby lagi?”“Iya. Tadi pagi dia nelpon gue. Sulit Din buat lupain dia, meskipun dia udah ga satu tempat lagi sama gue, tetep aja gue masih sakit hati nginget dia. Denger suaranya aja bikin nyeri uloe hati gue Din.““Hmmm, kayaknya loe perloe ke psikolog deh Jen, masa loe masih beloem bisa loepain orang yang udah nyakitin loe, udah ninggalin loe, udah ga mikirin loe lagi, dan yang pastinya udah jauh banget dari loe. Ayolah Jen, itu udah setahun yang lalu, masa sih loe ga bisa lupain dia.““Din, loe ga ngerti karna loe ga di posisi gue. Coba kalo loe di posisi gue. Susah Din.““Hmmm, bukannya gue sok ngajarin sih Jen, tapi loe cantik, dan banyak yang suka sama loe, masa sih loe mau dan masih menyia – nyiakan waktu yang loe punya cuman buat orang yang hanya sepintas di hisup loe. Jen, dengerin gue ya, semua orang pasti pernah sakit hati, semua orang pasti pernah galau, tapi ga semua orang bisa mengatasinya Jen. Masa depan …”“Udah ah Din, gue ngomong sama loe juga kayanya percuma.““Ok Jen, maybe loe cuman butuh waktu.“ Dina balik lagi fokus ke bukunya, dan menghentikan bisik – bisik dengan Jenny. Sementara Jenny pura – pura dengerin Pak Burhan yang sejak jam pertama tadi sebenernya Jenny ga ngerti membahas tentang apa. Beruntung hari ini Dina dan Jenny duduk di kursi paling belakang, jadi kecil kemungkinan ketahuan Pak Burhan kalo mereka lagi ngobrol bisik – bisik.Kalo dipikir – pikir Dina bener banget ya. Masa gue mau galau terus. Tapi sulit banget buat ngelupain Bobby. Hmmm, ntar istirahat gue tanya Igha deh, kayaknya dia lebih tau.“Jen!!!!““Dina! Loe bisa nggak sih klo ga usah teriak – teriak gitu?““hehe, loe gue panggil daritadi ga nyahut““loh? Pak Burhan mana Din?““Bel istirahat udah daritadi nonaaaa, yok kantin yok, gue laper nih““ehhhmm, loe duluan aja deh, gue mau ke kelasnya Igha dulu““yakin loe? sekalian cuci tuh muka, kusut banget…““Iya iya! ngeselin banget loe“Dina melenggang, sementara Jenny langsung menuju ke kelasnya Igha.“Dina bener banget Jen, loe harusnya mulai ngebuka hati loe. Gue bingung, kerjaan loe setahun ini galau mulu, kapan loe move on nya? Ingat Jen bentar lagi kita ujian, lulus, kuliah, trus misah deh. Masa loe mau terus – terusan jomblo en galau, sementara banyak cowok cakep yang ngantri mau jadi pacar loe. Contoh tuh kak Andre udah cakep, pinter, lulusan terbaik lagi. Udah gitu pacaran sama cewek terpintar di angkatannya. Ayo dong Jen move on. Lagian elo ga bisa juga kan balikin Bobby buat jadi milik loe lagi. Gue saranin deh, buka kembali otak loe tuh, buang jauh – jauh Bobby. Lama – lama gue juga kesel denger tentang tuh cowok“ Igha bernasihat panjang lebar.Jenny terdiam. Sampai pelajaran berakhir, entah ada angin apa, kali ini dia udah ngerasa terbuka otaknya. Dina bener, dia ga mungkin terus – terusan menyesali dan menginginkan waktu kembali lagi. Begitu banyak, bahkan ribuan menit dan detik ia habiskan utnuk memikirkan Bobby yang bahkan Jenny pun ga pernah tau kabarnya lagi. Jenny juga udah bosan dengan semua kegalauannya. Jenny udah bosan bertahan dengan semua sakit hatinya. Lama – lama bisa tua dari umur gue kalo sedih terus. Igha dan Dina bener. Hidup gue masih panjang. Mungkin Bobby salah satu orang yang dititipkan sebentar untuk memberi warna di hidup gue. Gue harus berhenti.Malamnya Jenny membuang semua yang berhubungan dengan Bobby. Semua kontak dan barang – barang yang ingetin dia sama Bobby. Semua foto – foto dia sama Bobby, dia hapus permanent dari semua gadgetnya. Tak terkecuali semua foto print out yang tertempel di dinding kamarnya. SEMUA. Semua kenangan liburan di Bali, foto – foto pas ulang tahun Jenny Bobby kasih surprise, dan yang paling nyakitin, foto – foto Bobby bersama Jenny, Kak Andre, pacarnya kak Andre, Mamah, dan Papah. Semakin Jenny ngeliatin foto – foto itu semakin nyeri di hati Jenny. Dia sangat menyadari, bahkan sesadar – sadarnya. Bobby tetap tersimpan dihatinya, entah sampai kapan. Tapi semakin yakin juga Jenny bahwa semuanya ga akan kembali, seperti kata Dina, Jenny harus bisa mengatasi sakit hatinya.Setelah semua barang – barang itu terkunci rapat di peti, Jenny memasukkan peti tiu ke gudang. Jenny membuka laptopnya lagi, membuka semua catatannya selama setahun. Jenny membuka document baru, disana ia mengetik.“Jika aku menyayangimu, itu bukan sepenuhnya salahmu. Tapi itu salahku yang tak pernah mengerti bahwa waktu bisa merubah segalanya. Jika aku tetap menyayangimu, itu juga bukan sepenuhnya salahmu, itu hanya salahku yang tak bisa mengerti keadaan. Hanya saja, ternyata waktu kemudia mampu membuatku mengerti keadaan. Beribu waktu, menit, jam, bahkan tak terhitung hari kuhahabiskan pikiran dan sedihku untuk mencintaimu. Aku tak pernah berhenti, hanya saja aku beristirahat , mencoba lebih memahami waktu.“Even you are not be the part of me anymore, I am the lucky one that had have you in my life. I have to move on even my heart stil doesn’t understand what my mind’s sugestion. You are the colors of my life that gave me a pain part and beautiful part. Thats why I have to move on. Jenny turn off laptopnya, mencoba memejamkan mata. Berharap besok akan ada waktu untuknya menebus kembali waktu yang terbuang. *****Email : Leelieliana@yahoo.co.idTwitter : @lelielianaFb : Lelie LianaBaca juga cerpen karya Lelie Luana yang lain dalam Jarak dan Kita serta Damaiku Bersamamu, Flora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*