Kirim Cerpen di Star Night

OKE Deh….
Berhubung Star Night udah nggak punya terlalu banyak waktu buat bikin cerpen ataupun lanjutin cerpen cerpen yang ada, kali ini +anna cayang mama selaku admin, pengen ngasi kesempatan buat reader yang pengen karyanya di post di persilahkan buat ngirim kesini.
Syaratnya gampang kok :

  • Yang pertama harus hasil karya pribadi. Say No To COPY_PASTE.
  • Yang kedua Cerpen tersebut belum pernah di publikasikan di blog mana pun.
  • Yang ketiga, saia +anna cayang mama selaku admin berhak untuk mengedit dikit dikit hasil karyanya.:p
  • Yang ke empat, Gak boleh melangar syara ya. Bahasanya yang sopan maksutnya.
  • Yang kelima, Admin berhak mutlak untuk menentukan kapan cerpen nya akan di publis
  • Syarat selanjutnya menyusul ^_^

Gimana cara ngirimnya?. Ikuti petunjuk berikut : ^_^

  1. Siapin dulu cerpennya *So jangan coba – coba ngirim cerpen kalau cerpennya belom di bikin… he he he #XD
  2. Kirim dalam bentuk attacement ke email Anamerya17@gmail.com
  3. Sertakan Biodata penulis yang mau di tempelkan di blog. Misalnya Email, Twiter, Ataupun Akun facebook.

Yang terakhir, Kalau cerpen belum di publis bisa langsung hubungi admin di

Nah, Segitu doank. Bagi yang berminat di persilahkan Untuk mengirimkan karyanya langsung ke sini. Kalau di tanya soal bayaran atau imbalan apapun itu. Hem, Maap gak pake imbalan ya. Kita cuma bikin buat seneng – seneng doank. ^_^
Akhir kata : Selamat Berkarya….

Random Posts

  • Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 1 {Update}

    Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulis berdasarkan dari pengalaman hidup keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Dan bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca Serial Mis Tulalit. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Cerpen Lucu Mis TulalitCerpen Lucu Mis Tulalit ~ 01Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulid berdasarkan dari keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Soalnya bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Dengan tergesa-gesa April masuk kelasnya. Untung saja bel belum berbunyi, jadi ia masih bisa selamat dunia ahirat dari semprotan Bu Murtafiah, guru akuntansi yang kebetulan masuk jam pertama dikelasnya. Selang lima menit kemudian, tu guru beneran masuk.“ Huh, untung saja,” gumam April lega.Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena begitu ia membuka tas ternyata buku akuntansinya tidak ada. Padahalkan hari ini ada PR. Bisa di tebak, pasti tu buku ketinggalan lagi dimeja belajar dirumah.“Semuanya kumpulkan PR kalian, dan ibu tidak mau ada yang tidak membuatnya,” suara Bu Murtafiah terdengar tegas.Tanpa perlu mendengar perintah untuk kedua kalinya, semua teman-teman April maju ke depan sementara April sendiri justru hanya duduk diam dengan hati was – was dan cemas.“April tugas kamu mana?” tanya Bu Murtafiah santai namun syarat ancaman.“Anu bu, bukunya ketinggalan,” sahut April takut – takut. Kepalanya menunduk dalam.“Apa?” tanya bu Murtafiah. “Ketinggalan? Lagi?”“Ia bu tadi malam sehabis ngisi, April taruh dimeja. Lupa masukkin kedalam tas,” terang April lagi. Masih tidak berani mengangkat wajahnya. “Hidung kamu kalau nggak lengket, pasti juga lupa untuk di bawa,” kata Bu Murtafiah, yang membuat seisi kelas di penuhi tawa seketika.“Kok hidung si buk, yang ketinggalan kan buku,” gerut April sambil mengusap hidungnya berlahan.“April sekarang ibu tanya sama kamu, udah berapa kali kamu lupa bawa buku PR-nya?” tanya Bu Murtafiah dengan tampang sabar yang di buat-buat.“Berapa ya bu….!? Tiga kali ya …..? eh… bukan empat atau lima ya?” sahut April mencoba mengingat – ingat.“Bukan lima April, tapi sembilan kali. Kamu sudah sampai sembilan kali tidak mengumpulkan tugas kamu…. Tau….!”“Aduh sembilan ya bu. Maaf April lupa,” kata April sambil menggaruk-garuk kepalanya yang emang banyak ketombenya. Kontan hal itu membuat teman-temanya makin tertawa lepas. Sementara Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi makhluk ajaib yang berstatus sebagai siswinya.“April… kesabaran ibu sudah habis. Ibu sudah tidak bisa mentoleri sifat kamu lagi, jadi ibu terpaksa harus menghukum kamu, bersihkan kamar mandi sekolah sekarang.”“Apa bu?” tanya April refleks. Tak yakin dengan perintah yang baru saja di dengarnya.“Ia. Bersihin kamar mandi sekolah.”“Sekarang bu?” April pasang tampang memelas. Membersihkan kamar mandi? Ya salam, tempat yang satu itu kan amit – amit banget. Terlalu horror untuk gadis yang sangat menyukai kebersihan seperti dirinya. Ciuuss.“Nggak, tahun depan. “Bentak bu Murtafiah“Alhamndulilah,” puji syukur April sambil duduk kembali pada kursinya.“Kok kamu malah duduk?” tanya Bu Murtafiah terlihat heran.“Ya…. Ibu bilangkan tahun depan, padahal satu bulan lagi sudah ujian akhir. Jadi kalau tahun depan mah April udah nggak sekolah disini lagi. Artinya hukumannya hangus dong,” terang April panjang lebar dengan wajah sok pinternya yang sumpah sama sekali tidak cocok.Detik itu juga tanduk Plus taring bu Murtafiah keluar . "April. Bersihkan kamar mandinya SE-KA-RANG!!!" Suara mengelegar Bu Murtafiah segera melenyapkan nyali April yang sebelumnya memang sudah menciut. Akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga dan pikiran secara berlahan April bangkit berdiri.“Dasar bloon loe Pril,” sekilas April masih bisa menangkap suara ledekan dari mulut Isul yang duduk tepat di belakangnya.“Baik bu,” pamit April menunduk sambil berjalan keluar. Dan karena ia jalannya terus menunduk kebawah tanpa sadar ia menabrak daun pintu, yang tentu saja membuat tawa teman-temannya semakin riuh. Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala.Dengan telaten April mengepel lantai setiap kamar satu persatu. Begitu selesai satu kamar, ia harus membersihkan kamar yang lainnya, dan ketika ia masuk kesalah satu kamr mandi ia langsung berteriak kaget karena mendapati seorang seorang siswa perempuan tergeletak pingsan.“Astahfirulloh hal azzi,” lonjak April kaget dan langsung menghampiri sang gadis yang pingsan untuk menolongnya.“Tolong…….tolong……tolong.” April sambil memapah sang gadis yang masih tak sadarkan diri.Tentu saja teriakan April membuat guru dan siswa-siswi yang mendengarkannya heran, dan kontan berlari kearahnya. Langsung kaget ketika mendapati seseorang pingsan dikamar mandi, kemudian segera dibawa keruang UKS.“April. Sebenarnya apa yang terjadi sama Tina. Kok dia bisa pingsan?” tanya pak Rasid, guru favoritnya di sekolah. Ternyata gadis yang pingsan itu bernama Tina, dan dia adalah satu – satunya anak kepala Desa (????).“Nggak tau pak. Ps April liat, dia udah pingsan. Ya udah deh, terus April langsung teriak minta tolong,” terang April jujur.Pada saat yang bersamaan Tina pun sadarkan diri dari pingsan dan kaget ketika mendapati dirinya dirubungi banyak orang. Barulah sejenak kemudian ia ingat dan menceritakan kejadian tadi pagi kenapa ia pingsan. Ternyata kondisi tubuhnya belum fit, setelah sembuh dari sakit, ditambah lagi ia tadi pagi tidak sarapan. Dan akibat kejadian itu April tidak perlu melanjutkan hukumannya dan diizinkan untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.“April tadi da kejadian apa sih ditoilet?” tanya Nia, temen sebangkunya pas istirahat.“Tadi ada anak cewek pingsan.”“Oh ya…..? Siapa….?” tambah Ijah ikut penasaran“Tina, anak kepdes.”“O…. emangnya kenapa kok dia pingsan?” Guntur yang sedari tadi mendengarkan ikut buka mulut, tapi hanya dibalas angkat bahu oleh April. Gadis itu justru tampak sibuk merapikan buku – bukunya. “Eh kekantin yuk,” ajak Jumi tiba – tiba.“Loe mau ntraktir kita nih?” todong April langsung. Jumi menatap April dengan pandangan mencibir. Namun beberapa detik kemudian sebuah senyuman tergambar di wajahnya. Disusul anggukan kepala dan jawaban singkat. “Bisa.”“Serius?” Nia menoleh kaget. Tumben amat ni anak baik. Padahal doi kan udah kadung mendapat gelar pelit nggak ketulungan #DihajarJumi.“Suer deh,” Jumi meyakin kan dengan mengankat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’. Detik itu juga sorakan kegirangan terdengar sebelum pada detik berikutnya kembali hening dalam sepinya suasana hanya karena lanjutan kata dari mulut Jumi."Tapi entar kalau bokap gue udah jadi Presiden, jadi kalau sekarang…. Yah terpaksa bayar masing-masing dulu ya.”Gumpalan sobekan kertaspun segera berhamburan dan mendarat di kepala Jumi yang masih tertawa lebar.“Hu….. sialan loe, kirain beneran,” gerut Hambali.“Sampai lebaran Monyet juga bokap loe nggak bakalan deh jadi Presiden,” tambah Idah yang membuat Jumi makin tergelak.“Loe kenapa Pril?” tanya Sugeng heran, karena sedari tadi April hanya terdiam.“Gue lagi mikir aja,” jawab April dengan raut serius.“Mikir apa an….? “Ana ikutan ngeksis.“Gue heran, apa hubungannya lebaran Monyet dengan jadi Presiden. Lagian sejak kapan Monyet lebaran,” jelas April dengan tampang lugu nya.“Hu. Dasar Mis. Tulalit!!” sorakan seisi kelas sembari mengalihkan sasaran tembakan gumpalan kertas kearah April yang hanya melongo. Tidak tau apa salah dan dosanya. Hanya saja ia merasa kalau dirinya hanyalah seseorang yang menjadi korban penganiayaan.Begitu bel berbunyi tanda pelajaran telah berakhir semua siswa dan siswi langsung mengemasi buku-bukunya dan bersiap-siap untuk pulang. Tak terkecuali April. Tapi belum juga ia keluar dari kelasnya Hakim dan Sofa' mencegahnya untuk mengingatkan April agar membersihkan kelas terlebih dahulu, kebetulan besok pagi giliran piket mereka.Sebenarnya yang mendapat giliran piket enam orang, tapi karena dua orang temannya tidak hadir. Dan Nia yang kebetulan juga giliran piket bersamanya sudah tak tampak batang hidungnya sejak masuk istirahat kedua tadi. Jadi terpaksa tinggal mereka bertiga, begitu Hakim dan Sofa' selesai mengangkat bangku untuk diletakkan diatas meja agar mudahkan saat menyapu lantainya, mereka bersiap-siap untuk pulang.“Lho…. Kalian mau kemana….? “April menghentikan aktivitasnya begitu melihat Hakim dan Sofa' sudah menjinjing tas masing-masing.“Mau pulang dong, lagain sesuai perjanjian yang cowok mengangkat bangku dan yang cewek menyapu lantai. Jadi sekarang tugas kami sudah selesai, soo kita duluan,” sahut Sofa tanpa rasa bersalah.“Yah.. jangan dong, entar April jadi sendirian lagi.”“IDL,” balas Hakim santai.“IDL….? Apa an tuh?” tanya April dengan kening sedikit bekerut.“Itu Derita Loe,” balas Hakim dan Sofa' serentak, sambil tertawa dan langsung beranjak pergi meninggalkan April sendirian.“Aduh… ! gimana nih…? April sendirian lagi, mana lantainya kotor, entar kalau ada hantu gimana?” gumam April sendiri.Tiba-tiba bulu kuduknya merinding ketingan ingatannya tertuju pada film horror yang sering ia tonton tentang sekolah-sekolah yang berhantu.Pada saat April menyapu salah satu kolong meja dengan posisi membungkuk dan membelakangi pintu, samar-samar ia mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya. Jantungnya jadi dig dug nggak karuan, dengan sedikit keberanian yang masih tersisa ia menoleh kebelakangnya dan……“Dor!!!”“Uwa…..Tolong……!!! Tolong…..!!! tolong…!!!” teriak April sekencang-kencangnya disusul tawa cekikikan seorang hantu wanita.“Ha…. Ha….. ha……. Kaget ya loe? ” terdengar suara tepat dibelakang April.“Kurang ajar, setan alas, babon kue,” maki April begitu tau kalau sosok dibelakangnya adalah Nia.“Kenapa…..? Loe pikir gue hantu?” tanya Nia di sela tawanya.“Ia….. April kira tadi kuntilanak yang datang, e….. nggak taunya malah kuntilemak,” umpat April masih shok.“Sembarangan!” damprat Nia sewot.“Lagian bukanya loe udah pulang ya?” tanya April heran.“Nggak ah tadi gue ada ditaman belakang, sengaja nggak masuk. Males banget gue belajar bahasa Arab, bikin pusing,” sahut Nia yang dengan tidak sopannya duduk diatas meja.“Cek cek cek. Sumpah parah loe,” kepala April mengeleng geleng sambil menatap Nia sinis. “Seharusnya kan…..”“Harusnya apa…? Gue nggak boleh bolos….? Gitu?!” potong Nia.“Harusnya kan loe ngajak-ngajak , April juga mau ikutan bolos kayak loe kali kalau tau da temennya, mumet masuk bahasa arab. Bikin ngantuk.”“hu…..! kirain loe mau ngomong apaan….? Ternyata dua kali lima aja ma gue,” gumam Nia sebel.“Udah deh, sekarang bantuin. Loe kan juga piket, enak aja nongkrong disitu.”“Nggak ah… males gue, kotor,” tolak Nia langsung.“Kotor pale loe, mau bantui nggak?!” ancam April sambil menghunuskan pedang sapunya kearah Nia.“Iya…..iya . Gue nyapu nih, bawel banget sih loe. Jadi nyesel gue kesini, kalau tau begini mendingan langsung pulang aja gue tadi,” gumam Nia sewot. Namun tak urung diraihnya sapu yang ada pintu, dan mulai menyapu membantu April.Keesokan harinya, terdengar gaduh sekali dikelas April. Pasalanya Azimisar, orang yang sudah libur beberapa hari sudah masuk kelas lagi, katanya sih liburan, dan ceritanya pagi ini. Dia bagi-bagi oleh-oleh, sambal kripik singkong. Masing-masing anak dapat jatah satu, tapi yang datang duluan ada yang ngambil dua, sehingga yang datang terlambat nggak kebagian deh. Salah sendiri ngapain telat.“Gimana Azimisar, liburan loe seru nggak?” tanya Dewi sambil mengunyah keripiknya yang tinggal setengah.“Wah gila coy, seru banget deh pokoknya, coba kalian ikut. PASTI minta langsung pulang,” cerita Azimisar terlihat semangat.“Lho….?! Katanya seru…. Kok kita malah minta pulang?” tanya Sugeng heran.“Ia… soalnya kalau kalian nggak mau pulang langsung aja gue usir. Enak aja, gue yang liburan kalian main nebeng sembarangan, modal donk!” sambut Azimisar yang membuat temen-temennya cemberut.“Udah dong Azimisar, lanjutin cerita loe. Emang kemarin loe liburan kemana sih…? “Tanya Anis nggak sabar..“Gue liburan kerumah Eyang gue. Ke Bokor,” sahut Azimisar bangga.“Ha….. Bogor….? Ya ampun jauh banget, pantesan loe bilang seru, pasti asyik banget ya?” komentar Razimah takjub.“Eh… cungkil tu upil ditelinga loe. Gue bilang Bokor bukan Bogor, pakek K bukan G, “ralat Azimisar sewot.“Bokor……???!!! Dimana tuh?” tanya Sogiran yang kebetulan duduk di samping Azimisar mewakili yang lain yang juga ingin menanyakan hal yang sama.“Iya, perasaan kita nggak pernah denger deh kota yang namanya Bokor?” sambung April, Mis Tulalit.“Atau jangan-jangan luar Negri y?” tambah Nia makin salut.“Luar Negri dari hongkong, lagian siapa yang bilang gue liburan keluar kota. Orang Bokor itu nama kampung eyang gue kok. Tepatnya Bokor Selatpanjang Riau Indonesia,” jelas Azimisar yang membuat teman-temannya tertawa.“Ha….. ha…… ha……. Liburan kok keudik,” ledek Khairia tak mampu menahan tawa.“Iya gue kirain Negara mana…? Ternyata keudik juga. Kha kha kha,” Isul ikut ikutan ngakak dengan tampang meledek.“Kalian jangan ngehina dulu. Walau keudiak, tapi eyang gue itu juragan di kampung gue. Beliau punya kebun Duren, rambutan, duku, mangga, cempedak, pokoknya banyak deh.”“Yang bener Azimisar?” Hambali yang sedari tadi hanya mendengarkan cerita tampak menelan menelan air liurnya sendiri. Ia kan paling doyan makan duren sama rambutan. Nggak kebayang deh gimana rasanya makan sepuasnya.“Ya seriuslah ngapain juga gue bohong,” sahut Azimisar puas.“Kalau gitu loe dapat makan sepuasnya dong?” Mustawa pasang tampang iri. Bahkan Guntur yang duduk di hadapannya tampak sedang melomoti (???) jempol nya sendiri. Persis seperti orang ngidam yang nggak keturutan. Kesian….“Mending gue bisa makan, pas gue datang tu pohon nggak ada satu pun yang berbuah. Cuma daun aja yang banyak. Emangnya gue kambing apa makan daun.”“Hu…..!!!” sorakan seisi kelas kembali terdengar.“Kasian deh loe,” ledek Izal sambil menatap Azimisar dengan raut meledek.“Jadi pas loe datang emang lagi pas nggak musim buah?” Uun memastikan. Azimisar hanya mengangguk, sebelum kemudian mulutnya meralat cepat.“Eh… gue inget kalau nggak salah waktu itu musim buah para, bisa dibilang tiap pohon berbuah. Banyak banget.”“Oh ya? Buah para? Buah apaan tuh? Perasaan gue nggak pernah denger?” tanya Nia heran.“Jadi kalian belum pernah denger apa itu buah para? Kasian, jadul banget sih” gentian Azimisar yang mencibir. Sepertinya pria itu berusah untuk membalas ledekan padanya tadi “Padahal itukan makanan spesial.”“Spesial? Spesial untuk apa?” Nia makin tidak sabar sabar.“Spesial buat…….,”Izal sengaja menggantungkan jawabanya. Ia ingin melihat ekspresi temen-temennya yang sudah tidak sabar “MONYET. Ha ha ha,” sambungnya langsung tertawa, jelas saja membuat teman-temannya sebel.“Sialan loe.”“Ia, bikin penasaran nggak taunya makanan monyet,” sambung Sofa cemberut, Azimisar justru makin ngakak.“Jadi Zal, dirumah Eyang loe banyak monyetnya ya?” tanya Sanah tiba – tiba. “Kalau dirumah Eyang gue nggak ada, kalau dikebunnya banyak,” sahut Azimisar meralat.“Trus loe pernah lihat nggak….? Kayak apa si?” tanya Sanah lagi. Seumur-umur Sanah memang belum pernah melihat monyet secara langsung, kecuali dulu di tipi yang jadi model iklan XL.“Ya pernahlah, kalau dilihat-lihat sih beda tipislah ama loe.”“Sembarangan,” Sanah sewot sambil menjitak kepala Azimisar yang hanya tertawa, begitu juga dengan yang lain.Tiba-tida bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua segera menuju kekursi mereka masing-masing karena bu Anggi sudah tampak diambang pintu. Dengan wajah ceria masing-masing mengeluarkan buku bahasa inggrisnya, karena kebetulan hari ini pelajaran pertama bahasa inggris. Secara siapa yang tidak ceria, masih pagi-pagi sudah dapat kripik gratis. Tapi sayangnya keceriaan itu hanya berlangsung beberapa detik setelah kemunculan Bu Anggi dan segera berubah cemberut, begitu mendengar pengumuman dari bu Anggi kalau hari ini diadakan ulangan harian.“Yah, Ibu…. Kok dadakan sih?” Isul protes.“Ulangan dadakan…? why not ! Dangdut dadakan juga boleh,” sahut Bu Anggi menanggapi protesan Isul.“Itukan dangdut bu. Masa bahasa inggris di samain ma dangdut, itu sih nggak nyambung,” Izal menimpali.“Kalau gitu kalian pilih mana? Mau konser dangdut dilapangan atau ulangan bahasa inggris dikelas?” tanya Bu Anggi nggak tanggung – tanggung. Detik itu juga semua murid di kelas langsung mejudge kalau gurunya adalah salah satu dari sekian orang yang menjadi korbang ajang audisi pecarian bakat yang memang sedang marak – maraknya di siarkan di salah satu stasiun swasta Indonesia.Walaupun soalan yang diberikan hanya 10 dan itu pun pilihan ganda semua tetap saja membuat semuanya pusing tujuh keliling. Sudah ngasih ulangannya dadakan, close book lagi. Gimana nggak sebel. Bahkan Dewi sang juara kelas juga dibuat pusing tuju belas keliling.Ketika Dewi sedang konsentrasi mengisi soal nomor 8, tiba-tiba ada yang nimpuk kepalanya dari belakang pakek kertas. Saat menoleh, Dewi mendapati kalau ternyata Sugeng pelakunya. Terbukti dengan tingkah pria itu yang memberikan isarat padanya untuk segere mengambil ketras yang telah ia lemparkan tadi.Walau kesel tak urung Dewi membungkuk guna mengambilnya. Matanya melotot sempurna saat membaca tulisan yang tertera. “Gue minta jawaban nomor 7, 8, 9 dan 4, sama 3, 1 terus 10 buruan nggak pake lama!!!!”.Jelas saja Dewi sebel, sudah minta tolong, maksa. Ia aja baru selesai tiga soal, eh sekali minta tolong tujuh. Kenapa nggak semua aja sekalian, tapi tak urung ia balas juga disebaliknya dan segera ia lemparkan kearah Sugeng. Selesai membacanya Sugeng langsung cemberut dan membuang kertas tersebut secara sembarangan. Alhasi mendarat tepat dikepala April. April kaget tapi tetap diambil nya kertas tersebut. Tampak sebuah senyum yang merekah di bibirnya begitu membaca.Sugeng kemudian kembali menyobek kertas dan menulis“Awas Loe!!!” dan kembali ia lempar ke Dewi. Acara korespondensi dadakan pun terjadi karena Dewi langsung membalasnya segera laksanan SMS yang muncul di hanphonnya. Dengan santai di tulisnya kata di kertas sebalum kemudian kembali ia lemparkan ke arah Sugeng.“Tenang, entar kalau gue kesandung gue nggak akan minta tolong loe deh.”Tentu Saja surat balasan dari Dewi membuat Sugeng makin sewot. Kali ini ia menggunakan selembar kertas, dan mengambil stabilo kuning dari dalam tasnya. Sengaja ia tulis kalimat besar-besar, kemudian ia lemparkan ke Dewi. Tapi sayang karena terlalu bernafsu, lemparan itu mendarat dua meja didepan Dewi, tepat mengenai kepala bu Anggi yang dari tadi mondar-mandir seperti strkika demi untuk mengawasi siswanya. Golll!!!!!.UppsssBu Anggi clingak clinguk sebelum kemudian sedikit membungkuk, memungut kertasnya. Membuka dan kemudian membacanya, seketika mukanya merah“Siapa yang melemparkan surat kaleng ini?!” suara bu Anggi terdengar menggelegar laksana petir di siang bolong membuat Sugeng langsung mengkeret kayak Udang. Siswa yang lain hanya saling bertatapan heran, tidak tau apa yang terjadi.“Siapa yang berani melempar surat kaleng ini?” ulang Bu Anggi mengulang pertanyaannya kali ini suaranya terdengar sangat tegas, tapi semua siswa tetap terdiam. Dewi melirik kearah Sugeng yang tampak semakin pucat.“Jadi nggak ada yang mau ngaku ni?” ancam bu Anggi.Tiba-tiba April mengangkat tangannya. Kontan saja semua mata tertuju kearahnya. Berani banget tu anak, sudah bosan hidup ya atau punya nyawa selusin?.“Jadi kamu yang nimpuk ibu pakek surat kaleng ini April?” suara Bu Anggi sedikit terdengar lebih santai namun syarat ancaman.“Ya bukan lah buk. Ada-ada aja, masa April berani menganggu sing… ehem maksudnya menggangu ibu,” kata April, hampir aja ia keceplosan menyebut gurunya singa betina.T_T.“Kalau begitu kenapa kamu tunjuk tangan?” bu Anggi heran. Yang lainnya juga ikut penasaran.“Ya April Cuma mau bilang kalau April udah nyelesaiin tugas yang ibu kasih. Nih,” April maju kedepan dan menyerahkan kertas ulangannya. Ini anak pura-pura blo’on atau memang super blo’on sih. Nggak tau apa orang lagi marah.“Ha?! Serius loe pril?” bisik Nia kaget sebelum April benar – benar bangkit maju kedepan. Tapi April hanya mengangguk mantap.“Ia nih, gue aja baru tiga masa loe,Mrs. Tulalit kok sudah selesai. Yang benar sajalah,” tambah Dewi nggak percaya.“Bomat. Yang penting gue udah selesai. Nih buk,” balas April makin pede.Bu Anggi langsung mengambilnya, kemudian mengamati sejenak. Tapi dipikir kayak apa juga tetep nggak masuk akal karena jawabannya bener semua. Lho kok?! Baru sekilas melihat bisa langsung tau kalau jawabannya bener semua?.“Ini bener kamu sendiri yang ngisi?” tanya bu Anggi.“Ya ia lah buk. Abis mau minta tolong sama siapa?” April balik nanya.“Kok bener semua?”“Masa sih buk?” gantian April yang keheranan plus double girang.“Ia nih buk, masa Mrs. Tulalit bisa bener semua?” kata Hakim nggak terima.“Lagian baru sekali liat kok bisa yakin kalau jawabannya bener semua?” tambah Dewi.“Ya ia lah langsung tau. Lah wong jawabannya dari nomor satu sampai sepuluh A semua,” jawab bu Anggi. Tapi dalam hati. Habis kalau dijawab keras-keras bisa batal tuh ulangan.“Ya sudah. Mending kamu keluar dulu sana. Awas jangan sampai temen kamu ada yang nyontek,” kata bu Anggi kemudian.“Beres bu,” April berjalan keluar menuju pintu sambil pasang tanpang TP. Tau kan…?. ‘tebar pesona’. Bangga banget lah dalam hati. Jelas saja teman-temannya makin jealous.“Jangan-jangan dibantuin jin tu orang?” batin Nia yang jadi merinding membayangkan ucapanya sendiri.Tepat saat kaki April menginjakan pintu keluar, tiba tiba ia berhenti karena teringat sesuatu. Langsung balik kanan menatap bu Anggi yang masih berdiri bengong menatap kertas ulangan di tangannya.“Oh ya buk, hampir aja lupa. Tadi April mau nanya surat kaleng nya isinya apa sih. Jadi penasaran,” tanya April yang mengingatkan semuanya akan accident yang hampir terlupakan.Deg! Jantung Sugeng seperti mau copot.“Kurang ajar loe. Ngapain diingetin lagi sih. Padahal kan tadi udah lupa, dasar Mrs. Tulalit,” maki Sugeng dalam hati“Untung kamu ngingetin. Hampir aja ibu tadi lupa, ayo sekarang semuanya ngaku siapa tadi yang sudah nimpuk ibu pake surat kaleng ini?” tanya bu Anggi lagi.“Tenang dulu bu. Jangan marah marah. Percaya deh sama April bentar lagi ibu pasti bakal dapat kabar bagus,” saran April sok ngeramal. Yang lain heran, abis apa hubungannya?.“Maksud kamu?”“Gini buk, April juga pernah dapat surat kaleng kayak gitu. Dan setelah itu April langsung dapat kabar gembira. Suwer deh.”Sedetik setelah April menyelesaikan ucapanya, tiba-tiba Hp bu Anggi berdering. Setelah berbicara sejenak ia langsung mematikan telponnya dan mendekati April.“Ya ampun April. Ternyata kamu bener. Barusan ibu dapat kabar kalau ternyata keponakan ibu baru saja melahirkan anak nya dengan selamat. Terus kembar lagi.”“Yang bener bu?” “Sudah sekarang kumpulkan semua tugas kalian.”“Tapi buk, kita belom selesai,” kata Minda.“Nggak papa. Hari ini ibu kasih bonus, selesai nggak selesai kalian dapat nilai lapan semua. Kalau April 10. Oke!”“Ha…?!” Semua melongo, cengo dengan sikap ajaib gurunya. Tapi tak urung juga merasa girang. Gimana nggak? Secara nggak perlu mikir susah susah tapi dapat nilai 8. Blo’on banget kalau nggak mau.Tapi heran deh ni guru sama murid kok sama aja ya. Sama-sama tulalit. He he he.“Kalau begitu ibu pergi dulu. Oh ya April, mending surat kalengnya buat kamu saja. Siapa tau kamu dapat kabar bagus lagi,” selesai berkata bu Anggi langsung pergi meninggal kan siswanya yang kebingunggan.Dengan agak terburu-buru April membuka bundelan kertasnya. Kemudian membaca keras-keras agar teman-temannya yang juga penasaran bisa ikut mengetahuinya.“DASAR BABON KOE!!!. JEMBELENGAN…!!!”Kontan tawa seisi kelas meledak bahkan kelas sebelah yang tidak tau apa – apa juga heran mendengarnya. Kira-kira ada apa ya?.“Gila. Bener-bener deh. Siapa sih yang berani bikin tu surat terus ngelemparnya kekepala bu Anggi. Punya nyawa selusin ya?” kata Guntur yang duduk tepat didepan meja guru.“He’eh. Berani banget,” tambah Minah.“Tapi siapa?” tanya April.“Pasti elo. Ia kan Sugeng?” tuduh Dewi langsung.“What?! Yang bener saja lah kou,” logat batak campuran Majeni langsung keluar.“Ia. Masa sih elo Geng?” Nia menatap kearah Sugeng yang cengengesan sambil mengangguk membenarkan ucapan Dewi. Sofa' hanya bisa geleng-geleng kepala nggak tau lagi mau ngomong apa atau memang ia sudah tidak kebagian dialog. Entahlah.“Nekat loe. Masa bu Anggi loe bilang babon. Jembelengan lagi. Udah kebal loe?” timpal Razimah yang diam diam naksir pria itu.“Ya nggak lah. Lagian tu surat bukan buat Bu Anggi. Tadi itu cuma kesalahan teknis aja. Gara gara Dewi sih. Rese”“Maksud nya?”“Kita jadi bingung nih?”“Ia tadi itu gue mau ngelemparnya ke Dewi. Tapi yang kena malah bu Anggi.”“Untung aja nasib loe bagus. April tadi bisa nanganin. Coba kalau nggak?” ujar Nia.“Tapi hari ini April keren ya. Udah ulangannya selesai duluan, bener semua pula tu. Terus juga bisa nanganin bu Anggi bahkan kita bisa dikasih bonus nilai lagi. Kok bisa ya?” gumam Izal curiga.“Ia nih, atau jangan-jangan….?” timpal Nia dan tiba-tiba bulu kuduknya merinding membayang kan April dibantu oleh jin.“Jangan-jangan apa?” tanya Ria penasaran.“Jangan-jangan loe dibantuin jin ya?” tebak Nia langsung. Tentu saja semuanya kaget tapi tak urung membenarkan ucapan Nia.“Jin gundul mu. Sembarangan aja kalau ngomong,” bentak April sewot.“Kalau nggak loe bisa ngisi bener semua dari mana donk?” kejar Jumi.“Nih. Liat aja sendiri,” April menyerah kan sobekan kertas yang ia ambil dari dalam saku bajunya.“Lho, itu kan kertas yang gue buang tadi. Kok bisa ada sama loe?” Sugeng heran.“Tau. Tadi gue liat dibawah kolong meja gue. Karena penasaran ya udah gue ambil aja. E nggak taunya jawaban soal B. Inggris tadi,” jelas April polos.“Tunggu dulu, jadi tadi loe nyontek ini?” tanya Sofa' menegaskan..April mengangguk.“Maksudnya dari nomor satu sampai sepuluh jawabannya A semua?” tanya Dewi dan Sugeng serentak.“Iya,” balas April. Ia heran kok Dewi juga bisa tau.“Apa???!” .“Bruk…!”.Dewi tergeletak di lantai. Shok langsung pinsan. Padahal ia sudah meres otak buat nyari jawabannya, bahkan tadi saat membalas ia cuma ngasal aja. Tapi kok…Teman-temannya panik. Dan langsung membawa Dewi ke ruang UKS.“Ternyata bu Anggi beneran nggak beres ya. Masa jawaban dari satu sampai sepuluh A semua,” komentar Ina kemudian.“Ah dasar kaliannya aja yang dodol. Pakek ngatain bu Anggi nggak beres segala. Kayak kaliannya beres aja” balas April sambil pergi meninggalkan kelas dengan gaya princes dadakannya.To Be continueKita bersambung dulu ya. Lanjut baca ke Cerpen Lucu Mis Tulalit ~ 02. Ngomong – ngomong untung aja ya, temen – temen admin nggak ada yang demen baca. Coba aja mereka tau kalau image mereka di bikin ancur gini disini. Xi xi xi~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Cinta: MENCOBA TINGGALKAN BAYANGMU

    Mencoba Tinggalkan BayangmuOleh: FatkuryatiMalam itu adalah malam pergantian tahun, atau yang lebih dikenal dengan istilah tahun baru,, euforia cantiknya kembang api mulai terasa di menit-menit pergantian tahun. Tidak banyak yang aku bisa lakukan di malam itu. Seperti putri di negri dongeng yang terkurung dalam khayalan-khayalan indah. Untuk ikut bernostalgia di malam tahun baru bersama teman-teman semasa SMA pun aku tak dapat izin dari sang bunda. Untuk hal seperti ini mamah selalu punya dua alasan. Alasan pertama, aku masih selalu di anggap anak kecil.“nah lhoooo,,, aku kan udah umur 20 tahun mah, semester 5 lhoo aku, sekitar dua tahun lagi insyaallah aku lulus kuliah, gumamku dalam hati”. Alasan kedua, suasana malam di kota sangat tidak baik, pergaulan di sana bahkan tidak pernah mengenal aturan.“Hmmp,, ya ampuunn ini kan masih kota Serang mah bukan Jakarta,, toh aku juga bukan keluyuran sendiri yang gg jelas, tapi sama temen-temen yang sebagian besar udah mamah kenal dengan sangat baik, jawabku pelan”. “iyah mamah tahu, tapi mamah yakin kamu paham betul makna dari alasan-alasan mamah, jawab mamah dengan bijak”. Aku tidak bisa mendesak mamah untuk memberikan izin, aku takut mamah akan sedih bila ada bantahan di tengah perhatiannya, aku tahu semua kekhawatirannya semata-mata karena ingin melindungi dan menjagaku. Sepeninggalnya ayah beberapa tahun silam, mamah memang berubah jadi over protektif, untuk sebuah keselamatan anak-anaknya beliau lebih rela di hujat banyak orang daripada akan ada apa-apa nanti. Di rumah memang tak ada lelaki dewasa yang bisa benar-benar melindungiku, kedua kakak priaku telah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya masing-masing, di rumah hanya ada aku, mamah dan kakak wanitaku dengan perbedaan usia 3 tahun. Jadi wajar saja bila mamah merasa memiliki tanggungjawab yang sangat lebih. jika terjadi apa-apa dengan putrinya, ia akan merasa sangat berdosa. Oleh karenanya, sebelum hal itu terjadi, beliau lebih memilih untuk menjagaku dengan caranya. Di tengan perbincangan itu,, mamah memetikkan ibu jari dan jari tengahnya, pertanda memberikan ide.“hmmmp,, untuk menghabiskan malam tahun baru, gimana kalo kamu ikut acara mamah” usul mamah. “Acara apa mah?" tanyaku.“kamu ikut mamah pengajian di pendopo kantor Bupati, Serang.. gimana??” tanya mamah.Dengan spontan aku mengangkat sebelah alisku, “hmmp, ya udah deh aku mau, daripada di rumah, pastinya nanti aku akan benar-benar jadi gadis di negri dongeng yang merindukan dunia luar,” jawabku dengan ekspresi seadanya.“Nahh gitu dooong, ini baru namanya anak mamah,” ucap mamah sambil mencium keningku.Dalam perjalanan menuju kantor bupati, mataku terasa disuguhkan dengan pemandangan indah tahun baru. Banyak sekali penjual dadakan yang mencoba peruntungannya di malam ini,, dengan mencoba berjualan pernak-pernik dan makanan khas tahun baru. Para penjual terompet, petasan, kembang api, dan balon berjejer menawarkan barang dagangannya. Bahkan karena maraknya penjual, para konsumen terlihat dibuat bingung untuk membelinya. Asap jagung bakar pun seolah menggoda para penikmat tahun baru untuk sekedar mencicipinya. Dan yang tak kalah menarik,, ada pasar malam di Alun-alun kota Serang, terlihat sesak, orang-orang mencoba menghibur dirinya dengan sekedar berbelanja, menikmati wahana permainan atau makan bersama dengan sang kekasih hati. “Oohh tidak, sepertinya malam ini memang tak ada pangeran menjemputkuku, huufftt jadi merasa sedikit cemburu dengan mereka, ucapku lirih sambil memonyongkan bibir”. “tapi aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat pemandangan seelok ini,, semoga nikmat sehat-Mu yang tak terkira banyaknya ini, selalu menjadikanku untuk tetap bersyukur, ucapku dalam hati dengan mimik takjub”.Dan ternyata di pendopo kantor bupati pun tak kalah sesak,, para jamaah berlomba-lomba untuk menempati posisi terdepan, katanya akan ada penyanyi lokal Banten yang pernah melanglang buana di stasiun TV swasta, presenter yang cukup terkenal di acara dakwah, juga ustadz yang cukup membumi di Banten dan hiburan lainnya yang tak kalah menarik.Anehnya,, di tengah acara ini berlangsung,, tiba-tiba aku teringat sebagian kenangan masa laluku.. Aku seperti orang dengan raga yang tertinggal di pendopo, sementara pikiran dan nyawaku berkunjung menjelajah kembali ke masa lalu.Dia,, pria itu… pria yang baru 2 tahun lalu ku kenal. Tampan, baik dan dewasa,, Ia adalah mantan kekasihku. 100 hari bersama,, ternyata cukup untuk membuatnya berkarat dalam ingatanku . Aku tak pernah tahu, kenapa hingga kini ia masih cukup berarti untuk hidupku. Kami sama-sama mengakui bahwa kami masih saling merindukan satu sama lain. Ketemu, jalan dan makan bareng adalah hal yang biasa kami lakukan untuk sekedar mengobati rindu itu.Kadang ia masih suka mengirimiku pesan singkat yang manis,, hingga aku merasa aku adalah wanita terbahagia di dunia. Ini adalah salah satu pesan singkatnya.“tak apa, kalau kamu masih malu untuk bilang sayang kembali, tapi yang penting hatimu masih tersimpan indah dalam hatiku” Heiii pria yang menjadi mantan kekasihku,, tahukah kamu,, aku malah seperti wanita gila ketika membaca pesan singkatmu itu, loncat-loncat bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah balon, dan senyum-senyum sendiri seperti penghuni RSJ yang melarikan diri. Dan tahukah kamu,, Itu adalah pertanda bahagianya aku ketika ku tahu kau masih memiliki rasa yang sama.Jujur,,, hingga kini aku masih menyayangimu, aku tak pernah mampu untuk menggantikan namamu dengan nama yang lain. Bahkan aku lebih memilih untuk menolak cinta 5 pria lain, daripada menghapus namamu. Aku tahu 5 pria itu kecewa karenaku, tapi aku tak dapat membohongi perasaanku bahwa kamu masih cukup berarti untuk hidupku. Jika kamu izinkan,, rasanya aku ingin kembali menjadi satu-satunya wanitamu.. malam ini aku bukan seperti jamaah yang khusu mendengarkan tausiyah di tempat pengajian.. tapi aku seperti menjadi tokoh utama di sinetron Lorong Waktu, acara ramadhan semasa aku SMP. Di lorong waktu ini aku seolah dikirimkanku ke cerita cinta masa lalu.. Ya benar kamu memang masa laluku,, tapi aku ingin kamu menjadi teman masa depanku,, bersama dalam sisa hidupku sampai Tuhan akan memanggil kita nanti.Aku cukup bahagia dengan semua itu,, tapi entah aku merasa kini kamu berbeda.. kamu tak lagi bersikap semanis beberapa waktu yang lalu.. Tak ada lagi kata rayuan,, tak ada lagi kalimat gombalan dan tak ada lagi ucapan manis bahwa kamu masih menyayangiku sebagai mantan kekasihmu. Pikiranku terbang hingga ke awang mencoba menerka apa yang sedang terjadi denganmu,, banyak terkaan yang bisa menggalaui hatiku malam itu.. Dari mulai, sepertinya kamu sedang menyukai wanita lain,, mencoba menjadikanku hanya cinta masa lalu,, kamu tidak lagi menyayangiku,, dan yang paling bisa buatku sedikit tenang adalah semoga kamu memang hanya sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirmu (skripsi), bukan karena kau terjebak cinta dengan wanita lain.Entahlah,, euforia tahun baru itu tak lantas mebuat hatiku riang.. Ada kegalauan yang buatku merasa tak nyaman,, di tengah ramainya pendopo Serang,, aku malah berpikir untuk mengirimimu puisi ungkapan hati via sms,, Ini adalah puisi yang ku kirimkan di tengah kegalauan yang menghimpit hatiku,, sebenarnya dengan puisi ini aku mengharapkan kamu membalasnya dengan kata yang sama indahnya dan tentunya bisa buat hatiku tak segalau ini.Aku tak pernah tahuAku tak pernah tahu,,Kenapa hingga kini kau masih cukup berarti untuk hidupkuAda rasa yang berbeda ketika ku mengingatmuTak sama dengan ketika ku mengingat yang lainAku bahkan tak pernah tahu,, kenapa Tuhan s’lalu hadirkan bayangmu di pikirankuAku tak pernah sekalipun berusaha tuk mengingatmu,,Tapi sepertinya Tuhan tahu bahwa kau masih dihatikuRasa ini tak ubahnya rembulan yang selalu nampak bersinar,,Indah,, dan mempesona.. Aku tak pernah mampu tuk meninggalkanmu jauh dari pikiranku,,Sepertinya aku mulai mencintaimu kembali..Percayalah,,Aku mencintaimu dengan hatiDengan hati yang tak bisa ku sematkan pada lelaki selainmuDan aku menyayangimu dengan nadaDengan nada yang tak bisa ku harmonikan pada yang lain,,,Pernah kucoba tuk lupakanmu,, Melempar bayangmu hingga langit ke tujuh,,Tapi nyatanya,, aku tak pernah mampu untuk tak mengingatmu..Entah,, Sepertinya kau masih berkarat untuk hatiku..Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, itu pertanda bahwa sms yang ku kirim telah sampai ke ponselnya dan mungkin sedang dibaca.“Allhamdulillah puisiku telah sampai ke ponselnya,, semoga akan ada balasan yang nantinya tak membuat ku kecewa,, ucapku dalam hati”.Bermenit-menit ku tunggu,, dan sekarang menit tak lagi sebagai menit,, aku menunggunya hingga berjam-jam.“huuuuffffttthh,,, sepertinya memang benar aku tak lagi berarti buatmu,, mungkin memang kamu sedang terjebak dengan cinta yang lain,, ucapku lirih mencoba menerima kenyataan”.Aku berusaha menguatkan diriku sendiri atas rasa kecewa yang kini tak lagi klise.”yahhhh,,, sepertinya aku memang harus benar-benar melupakanmu,, melempar bayangnya jauh-jauh hingga langit ke tujuh,, ucapku lirih seolah tertusuk sembilu”.Aku memang tak tahu,, adam dari sisi mana yang akan Tuhan pilihkan untukku..Seperti apa,, dan bagaimana ia,, tak ada yang tahu untuk masa depan.. Mungkin benar kau memang hanya ada di masa laluku.. Jika memang Tuhan tak takdirkan kita bersama, setidaknya aku pernah melewati 100 hari bahagia bersamamu dan jika Tuhan akan menghapusmu dari ingatanku,, itu karena Tuhan akan menggantikanmu dengan adam yang lebih baik..Ikrarku,, akan ku coba tuk tinggalkanmu dalam masa laluku, tak banyak yang bisa ku lakukan.Tapi pastilah akan ku coba,, seindah apapun dulu kamu dimataku semoga kamu juga akan nampak indah dimata wanita selainku. Ku akui,, salah itu memang ada padaku,, kalau saja aku tak pernah melakukan hal bodoh yang mungkin melukai perasaanmu, mungkin hingga kini kita masih berdua,, berdua membangun istana cinta di hati kita.. Tapi biarkanlah,, biarkan itu hanya menjadi kenangan di masa lalu.. Jujur,, hingga kini sayang itu memang masih ada untukmu,, tapi akan ku coba relakan rasa itu pupus bersama sang waktu.. Aku yakin,, Tuhan t’lah miliki rencana yang indah untukku,, dan barangkali untukmu….Lagi-lagi aku harus katakan ini pada cinta yang tak lagi bersahabat,, “AKU AKAN MENCOBA UNTUK MENINGGALKANMU DALAM MASA LALUKU”…Aku teramat yakin bahwa Tuhan tidak akan mengambil sesuatupun dari makhluknya, kecuali Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik..*****Personal Data / Profil PenulisNama : FatkuryatiPanggilan: IfatTTL : Serang, 15 Juli 1991Motto : Bahagia adalah hak semua orang,, mari jemput bahagia itu…Alamat : Jln. Ciptayasa Kp/Ds. Linduk rt 07 Rw 01 kecamatan Pontang, Serang-Banten.Pekerjaan : Mahasiswi Hobi : Merangkai kata-kata puitis, Mendengarkan musik, bersepeda, travelling.Minat : Menjadi seorang penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang, menjadi tenaga pendidik, serta menjadi wanita sukses dunia dan akhirat.E-mail : siibungsuifat@yahoo.co.idFacebook : Ifat_91@yahoo.com atau Ifat sii princessbungsuTwitter : @IfatSiiprincess

  • Cerpen “Say No To Galau”

    Galau lagi, galau lagi. Sebenernya obat galau tu apa si?. Udah keliling – keliling ngobrak abrik google masih juga belom nemu obatnya. -_______-Tapi okelah, seperti kata salah satu reader blog ana merya, mari coba ambil hikmahnya aja. Yah salah satunya dengan menuangkannya dalam bentuk cerpen misalnya. And than, jadilah cerpen say no to galau.Gimana sama cerpen hasil mengalaunya? Cekidot….Say no to galau"Hufh, akhirnya selesai juga," Tasya menghembuskan nafas lega, begitu juga Ardi, Dion, Yuli, Vano dan Lilian yang tampak sedang ikut mengumpulkan tumpukan buku yang berserakan di meja. Tak terasa sudah hampir 4 jam mereka dipaksa berkutat pada tumpuk – tumpukan buku sastra di perpustakaan kampus hanya untuk menyelesaikan tugas yang di berikan dosen 'Killer'."Iya nih, badan gue juga udah pegel semua," sahut Vano Sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku."Oh ya, Seila. Udah pukul berapa sekarang?" tanya Yuli kearah Seila sambil terus menumpuk buku – bukunya."Enam kurang lima menit," balas Seila sambil melirik jam yang melingkar di tangannya."Nggak terasa udah sesore ini. Untung aja semuanya beres. Ya udah mending kita pulang yuk," Kata Vano sambil beranjak dari duduknya yang langsung diikuti oleh yang lain."Seila, loe pulang bareng siapa?" tanya Dion sambil berusaha untuk mensejajarkan langkahnya."Biasalah, nunggu jemputan sama kakak gue. Nie gue lagi mo sms dia," balas Seila tanpa mengalihkan tatapannya dari handphone yang ada di tangan. Jari – jarinya dengan lancar mengetikan kata demi kata."Ya udah, kalo loe nggak keberatan mending pulangnya bareng gue aja. Biar gue yang nganterin," Dion menawarkan diri. Untuk sejenak langkah Seila terhenti. Menoleh kearah Dion yang juga sedang menatapnya."E… Nggak deh. Ntar ngerepotin lagi. Lagian rumah kita kan nggak searah," tolak Seila sopan."Udah Seila, nggak usah nolak. Apalagi ini juga kan udah sore. Lagian kalau cowok itu emang tugasnya buat di repotin kok," kata Vano sambil melirik Lilian, pacarnya. Yang di lirik hanya mencibir kesel karena merasa sedang di sindir terang – terangan.Sejenak Seila menunduk. Menimbang – nimbang tawaran itu. Sejujurnya ia merasa sangat senang. Secara selama ini sebenarnya dia diam – diam mengagumi makluk satu itu. Hanya saja tidak mungkin kan ia yang mengungkapkan duluan walau pun dalam kesehariannya hubungan mereka berdua terlihat akrab. Ehem, sangat akrab malah. Wajahnya kembali ia toleh kan kearah Dion yang menatapnya teduh sambil tersenyum tulus. Dengan perlahan tapi pasti akhirnya Seila mengangguk. Kembali melangkahkan kaki menuju parkiran."Ma kasih ya, karena udah nganterin gue," kata seila begitu tiba didepan rumahnya."Sama -sama. Ya udah gue pulang dulu ya," pamit Dion."Nggak mampir dulu?" tawar Seila berbasa basi."Makasih. Lain kali aja. Udah hampir malam solanya," tolak Dion sopan sambil pamit berlalu dengan diantar senyuman yang tak lepas dari bibir seila.Cerpen Say no to galauDengan kekuatan penuh, Seila berlari disepanjang koridor kampusnya. Tatapan heran dari penghuni kampus lainya sama sekali tidak ia indahkan. Saat ini yang ada di benaknya hanya satu. Jika dalam wakut kurang dari lima menit ia masih belum mencapai kelasnya, maka bisa di pastikan nasipnya akan berakhir di tiang gantungan akibah ulah dari dosen 'KILLER' nya. # Lebay…."Hufh… untung saja," gumam Seilla bernapas lega sambil duduk di bangkunya. Sejenak ia melirik kanan kiri. Tatapannya berhenti di ambang pintu dimana sang dosen telah menunjukan batang hidungnya. Dalam hati ia bergumam, 'neraka dimulai'.@Kantin"Seila, tadi pagi tumben banget loe telat?" tanya Lilian sambil menikmati es sirupnya."Bangun kesiangan," balas seila cuek. Vano geleng – geleng kepala melihatnya."Oh ya, hari ini Dion nggak masuk ya?" Ardi mulai membuka percakapan.Mendengar nama Dion di sebut Seila langsung mendongakkan wajahnya. Menatap lurus ke arah Ardi. Dengan cepat diputarnya ingatannya. Kepalanya mengangguk membenarkan. Karena telat tadi ia jadi tidak menyadarinya."Ia. Hari ini dia ada acara penting gitu katanya. Nggak tau deh acara apaan," balas Vano."Eh, bukannya hari ini dia ulang tahun ya?" kata Yuli tiba – tiba mengingtkan."HA? Masa sih?" tanya Seila kaget. Ah sepertinya otaknya benar – benar blank sampe – sampe melupakan hari ulang tahun orang yang di sukainya."Oh iya. Kok gue bisa lupa ya?" Ardi membenarkan."Eh gimana kalau kita bikin acara kejutan buat dia?" kata lilian sambil menjentikan jari."Kejutan?" ulang Vano. Lili langsung mengangguk. Yang lain juga ikutan setuju."Tapi apa?""Gimana kalau kita bilang sama dia bahwa Seila kecelakaan?""Ha? Kok gue?. Nggak bisa," bantah seila cepet sebelum yang lain sempat mengomentari usul Vano barusan."Bener juga tuh," Ardi langsung menyetujui tanpa memperdulikan penolakan Seila sama sekali."Gue juga," Yuli, Lilian dan Vano kompakan mengangguk."Tapi gue kan nggak setuju," bantah Seila cepat. "Lagian kenapa harus gue si?""Soalnya lili kan pacar gue. Jadi nggak ngaruh – ngaruh amat. Kalau yuli la dia kan pacarnya Ardi," terang Vano."Terus, apa hubungannya?" kejar Seila."Ehem, nggak ada si. Cuma mau bilang aja kan cuma loe yang nganggur."Dengan cepat sebuah jitakan mendarat di kepala Vano sebagai balasan atas mulutnya yang asal njeplak."Loe pikir gue apa. Ngganggur, sembarangan aja kalau ngomong," Seila terlihat sewot."Ya deh. Sorry," kata Vano terlihat tak iklas sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut – denyut secara jitakan yang Seila berikan lumayan keras."Baiklah, intinya loe setuju kan?" tanya lili mencari penegasan. Dengan berat hati mau tak mau Seila terpaksa mengangguk.Cerpen Say no to galauDengan napas yang masih ngos – ngosan Dion berlari memasuki ruangan rumah sakit. Raut khawatir terlihat jelas di wajahnya begitu membuka salah satu ruangannya. Darahnya terasa seperti berhenti mengalir saat mendapati ke empat teman nya yang berdiri di samping tubuh yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan terselubung kain. sama sekali tak terlihat wajahnya."Seila kenapa?" tanya Dion kearah Vano."Dia kecelakaan ion. Tadi ketabrak mobil waktu pulang dari kampus," terang Ardi. Sementara Lili dan Yuli malah sudah berlinangan air mata."Heh, kalian bercanda kan?" tanya Dion tak percaya, walau justru air mata malah jelas menetes dari mata beningnya."Kita nggak bercanda Dion. Ini beneran," terang Vano dengan mata merahnya.Dengan lemas Dion jatuh terduduk. Air mata yang sedari tadi di tahan tak mampu ia bendung."Ini mustahil. Kalian pasti bercanda. Bagaimana bisa, semalam saja dia masih baik – baik saja.""Tadinya kita memang mau bercanda. Kita mau bikin acara kejutan di hari ulang tahun loe dengan membuat Seila pura – pura kecelakaan. Tapi…." Lili tidak sangup melanjutkan ucapnya justru ia malah terisak."Tapi apa…" kata Dion tanpa tenaga."Tapi dia malah ketabrak beneran," Ardi yang menjawab.Dion terdiam. Begitu juga dengan yang lainya. Suasan untuk sejenak hening sebelum kemudian Dion bangkit berdiri mendekat kearah tubuh seila yang tertutup selimut."Ion" Ardi memegang pundak Dion seolah memberinya kekuatan saat tangan Dion terulur untuk membuka kain penutup. Setelah menarik napas untuk sejenak untuk sekedar memantapkan hati. Dion membuka nya.Dan….Suasana kembali hening sampai tiba – tiba."Huwahahahaha,…." tawa keempat temanya serentak meledak saat mendapati raut bingung Dion saat menemukan hanya tumpukan bantal guling yang ada di atas ranjang."Ini maksutnya apa? Seila mana?" tanya Dion terlihat linglung."Surprize…" kata Seila yang baru muncul dari pintu dengan Sebuah cake coklat di tangannya. Lengkap dengan lilin diatasnya. "Kalian….." Dion kehabisan kata-kata. Benar – benar merasa andilau. Antara dilema dan galau. Ingin marah karena di kerjain dengan hal yang nggak lucu sama sekali atau malah harus bersukur karena semuanya baik – baik saja. Entah lah…"He he he… Jangan marah donk.. kita kan sengaja bikin kejutan buat loe. ya ya ya…." pinta Seila dengan puppy eyes andalannya. Mau tak mau Dion tersenyum. Tapi sumpah ia juga benar – benar merasa lega."Gila, sumpah beneran. Ini tu nggak lucu.""Ia dan nyiksa banget. Mata gue aja sampe sekarang masih pedes gara – gara ngasi balsem kebanyakan," tambah lili disusul anggukan Yuli yang membenarkan ucapannya sehinggak mau tak mau membuat Dion ngakak mendengarnya."Tapi please, lain kali jangan di ulangi ya. Memberi kejutan itu boleh saja, tapi kalau terlalu mengejutkan juga nggak enak rasanya?" pinta Dion kemudian."Syip…."."Ha ha ha, tapi hebat loe sampe nangis beneran gak perlu 'alat tambahan" puji yuli yang merasa matanya masih kepedesan. "Tentu saja. Seila kan sahabat gue yang terbaik," terang Dion. Seila langsung menoleh. Sahabat? Hanya Sahabat?"Oke sekarang tiup lilinya," Ardi mengingatkan."Eh, tunggu dulu" tahan Dion."Kenapa?" tanya Seila."Kalau gue ngajak seorang lagi buat ikutan gabung boleh nggak?" tanya Dion."Boleh aja si. Tapi siapa?" tanya tanya Lili."Ada deh. Tunggu bentar."Tanpa menunggu jawaban lagi Dion segera berlalu keluar. Selang sepuluh menit kemudian ia kembali muncul dengan seorang cewek di sampingnya."Oh ya, gue pengen kenalkan pada kalian. Ini Prisillia. Tunangan gue."JEDER…Rasanya tu Seperti ada petir di siang bolong saat hari sedang cerah – cerahnya. Teramat sangat mengagetkan sekaligus menakutkan bagi Seila. Hei, yang rencananya ingin memberi kejutan kan dia, kenapa malah dia yang terkejut?"Tunangan?" ulang Ardi ragu. Dion mengangguk cepat sambil mengenggam tangan cewek di sampingnya."Ia. Cantik nggak?" tanya Dion yang langsung meringis kesakitan karena mendapat cubitan di pinggang dari gadis di sampingnya yang tampak tersenyum malu – malu."Cantik si. Tapi kan…" Lilian tidak melanjutkan ucapannya. Sekilas ekor matanya menatap kearah Seila yang masih berdiri terpaku tanpa suara."Tapi?" Kejar Dion dengan kening berkerut yang sumpah mati Yuli benar – benar berniat untuk menjitaknya."Ehem…. Tapi kenapa selama ini loe nggak cerita sama kita?" potong Seila terlihat ceria. Ralat, pura – pura ceria maksutnya. "Yah, rencananya gue kan pengen ngasih kejutan ke kalian.""Oh gitu ya? Kita terkejut kok. Terkejut banget malah. Tapi nggak papa deh. Selamat ya?" kata Seila lagi sambil mengulurkan tangan dengan senyum tak lepas dari bibirnya."Ma kasih," balas Prisilia juga tersenyum."Kalau gitu kita bisa mulai potong kue nya kan?" lili berusaha mengalihkan pembicaraan."Bener juga. Sebelum itu gue pengen mekuis dulu ya?""Loe mau minta apa emang?""Gue harap hubungan gua dan Prisilia berjalan langgeng. Dan sahabat gue yang satu ini," Kata Dion sambil menarik Seila mendekat " Dapat segera mendapatkan pasangan hidupnya juga."Seila hanya tersenyum miris mendengarnya. No comen.Tepat saat lilin selesai di tiup, tiba – tiba handphone Seila berdering. Tanpa melihat id caller nya Seila langsung mengangat. "Hallo, Oh iya ma…..e….. iya,….. Aku pulang sekarang," tidak sampai 5 menit Seila segera mematikan telfonnya. Segera di hampiri teman – temnanya yang kini menatapnya heran karena mendegar obrolannya di telfon barusan."Sorry ya guys. Gue nggak bisa ikutan bareng ngerayaain ulang tahun Dion. Nyokap gue barusan nelpon. Gua harus pulang sekarang. Ada urusan penting gitu.""Yah… tapi kan…""Lain kali gue traktir loe ya. Tapi gue harus pergi sekarang. Da," pamit Seila cepat – cepat memotong ucapan Dion Barusan. Segera berlalu keluar meninggalkan teman – temannya dengan wajah bingungnya. Begitu keluar dari pintu air mata yang sedari tadi ditahanya langsung menetes. Dengan kasar ia mencoba menghapusnya. Tak mau telihat konyol dengan menangis di sepanjang koridor rumah sakit.Begitu sampai di pelataran, ia mendongak menatap langit. Hujan? Hal yang paling ia benci tapi kali ini sangat ia syukuri kehadirannya. Dengan santai ia melangkah menerobosnya. Membiarkah rintikan hujan itu membasahi tubuhnya. Untuk sedikit menyamarkan air mata. Walau tidak dengan hatinya. Rasa sakit itu akan tetap terasa. Karena hujan tidak akan semudah itu untuk menghapusnya.END!!!!!.Detail Cerpen Judul Cerpen : Say No To GalauPenulis : Ana MeryaPanjang : 1.782 WordsStatus : Cerpen PendekGenre : Remaja

  • Cerpen Remaja Kala Cinta Menyapa ~ 11

    Jejak hidupku adalah untain kata yang tersemat di blog. Yang kurangkai semauku untuk mengisi waktu luang. Hanya untuk menunjukan bahwa aku pernah ada.So, For All. Aku harap kalian juga melakukan hal yang sama. Tinggalkan lah jejaknya supaya aku juga tau, kalau "reader" itu beneran ada. Untuk part sebelumnya silahkan baca "-} Cerpen remaja kala cinta menyapa Part 10Dengan langkah lunglai Rani berlalu dari hadapan Erwin dan Syintia. Angannya melayang ke masa – masa yang telah lalu. Akan kedekatannya dan Erwin . Tanpa sadar di helanya nafas berat. Rasa sesak melingkupi hatinya saat dengan berat hati ia harus mengakui kalau ia benar – benar telah jatuh cinta pada cowok itu.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*