Ketika cinta harus memilih ~ 11 | Cerpen Cinta

Setelah lama gak update akhirnya admin bisa muncul ke permukaan lagi. Hufh, dunia nyata kadang emang terlalu. And buat yang udah baca diary online admin, pasti tau donk alasannya kenapa?. Argh, stress.
Okelah, dari pada kebanyakan bacod yang nggak penting, mending kita langsung lanjut ke Ketika cinta harus memilih ~ 11 nya aja ya. Untuk yang belum baca part sebelumnya silahkan klik disini.

Ketika cinta harus memilih
Bukannya langsung pulang. Cinta justru malah meminta sang sopir untuk mengantar nya ketaman kota. Sepertinya ia butuh suasana tenang untuk memberinya waktu berpikir sejenak. Dan ia yakin ia tidak akan memilikinya seandainya ia langsung pulang kerumah.
Sambil duduk diam diatas kursi taman sendirian pandangan cinta terarah lurus kedepan. Kosong. Ia juga bingung dengan apa yang ia rasakan sekaligus apa yang harus ia lakukan. Ingatannya melayang entah kemana.
Entah sudah berapa lama cinta terdiam di sana. Yang ia tau ia masih belum menemukan jawaban tentang apa yang harus ia lakukan.
“Cinta?. Ini beneran elo kan?. Syukurlah akhirnya gue nemuin loe juga."
Cinta yang sedari tadi menunduk segera mendongakan wajahnya. Merasa tak percaya pada penglihatannya saat mendapati Rangga yang berdiri tapat di depannya dengan pandangan khawatir sekaligus lega.
“Leo kemana aja. Gue khawatir banget. Gue udah cari loe sampe kemana – mana. Bahkan gue sampe datang kerumah temen loe. Tapi loe nya nggak ada. Loe baik – baik aja kan?”
Pertanyaan yang kembali berhasil ditangap telinganya menyadarkan cinta kalau ia tidak sedang bermimpi. Saat ini Rangga memang sedang berdiri dihadapannya.
“Rangga, kenapa loe ada disini?” tanya cinta setelah berhasil mendapatkan pita suaranya kembali.
“Kenapa gue ada disini?. Harus nya gue yang nanya. Loe tau nggak si, gue udah nyari loe kemana – mana. Gue beneran khawatir sama loe. Tapi loe malah…… hufh…” Rangga tidak melanjutkan ucapannya saat menatap wajah pucat cinta yang juga sedang menatapnya.
“Oke gue antar loe pulang loe sekarang” ajak Rangga akhirnya sambil meraih tangan cinta.
“Nggak usah” Balas Cinta sambil menepis tangan Rangga.
“Apa? Cinta loe liat donk keadaan loe sekarang. Wajah loe pucat gitu. Mending sekarang loe pulang” Bujuk Rangga melembut.
“Gue memang mau pulang kok” sahut cinta sambil bangkit berdiri. “Tapi nggak sama loe. Gue bisa pulang sendiri” sambung cinta menambahkan. Tanpa kata ia segera melangkah melewati Rangga yang menatapnya bingung.
“Cintam tunggu dulu” tahan Rangga sambil kembali meraih tangan cinta.
Cinta berusaha untuk melepaskannya tapi gagal. Selain karena kondisinya yang lemah juga tenaga Rangga terlalu kuat. Akhirnya ia menyerah. Berbalik menatap kearah Rangga.
“Cinta, loe kenapa?” Tanya Rangga lembut. “kalau loe emang ada masalah loe kan bisa cerita sama gue."
“Memangnya siapa elo?” balas cinta sinis.
“Leo nggak lupa kan kalau gue ini pacar loe?” balas Rangga setengah bercanda.
Cinta menoleh. Menatap lurus kearah Rangga yang kini tersenyum manis padanya.
“Pacar Gadungan” tambah cinta sambil menunduk. Menghindari tatapan Rangga.
“Cinta….”
Rangga tidak jadi melanjutkan ucapannya saat mendapati kebisuan cinta saat ini. Mendadak bingung dengan apa yang harus di lakukannya.
“Gue akan pulang. Tapi gue pulang sendiri” Cinta buka mulut sebelum kemudian berniat berbalik pergi. Tapi Rangga sama sekali tidak melepaskan gengamannya.
“Gue bilang gue yang nganterin loe!” kata Rangga lirih namun tegas.
“Cukup Rangga. Please, berhentilah berpura – pura seolah-olah loe peduli sama gue” pinta Cinta lirih.
“Apa?! Pura – pura?” ulang Rangga yang merasa tidak yakin dengan apa yang di dengarnya barusan.
“Iya. Berhentilah bersikap seperti mereka. Seolah – olah perduli tapi pada kenyataanya tetap meninggalkan gue sendiri. Berhentilah bersikap seperti mama yang bilang akan terus bertahan tapi tetap membiarkan gue berjuang sendirian. Berhentilah bersikap seperti kak rio kalau pada akhirnya juga tidak mampu bertahan dan meninggalkan gue lagi lagi harus menghadapi ini semua sendirian. Dan berhentilah menjadi pacar gue kalau memang tiada cinta diantara kita."
“Maksut loe?”
“Gue mau kita putus…” kata Cinta lirih.
“Apa?”
“Nggak. Kata putus tidak pas. Maksut gue perjanjian. Gue mau detik ini juga perjanjian kita berakhir. Gue nggak mau lagi jadi pacar loe."
“Kenapa?”
“Tidak semua hal harus terjadi dengan alasan bukan?”
“Tapi gue butuh alasan” potong Rangga Tegas.
Sungguh, ia sangat ingin tau alasan cinta memutuskannya.
Cinta terdiam . Bingung apa yang harus di katakannya. Setelah menarik nafas untuk sejenak ia kembali mengangkat wajahnya. Menatap lurus kearah Rangga.
“Rangga, apa loe suka sama gue?” tanya Cinta membuat kening Rangga semakin berkerut bingung. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini. Kenapa mengatakan hal yang aneh – aneh.
“Cinta, loe kenapa? Kenapa loe jadi aneh gini si?”.
“Leo Cuma tinggal jawab. Suka atau enggak."
“Cinta…..” panggil Rangga.
“Iya atau enggak” potong Cinta lagi.
“Loe udah tau jawabannya. Dari awal hubungan kita juga bukan karena rasa suka kan?”
“Itu artinya enggak?” tanya cinta menegaskan.
“Leo mau putus karena gue nggak suka sama loe? Heh, kenapa nggak dari dulu aja. Toh dari awal hubungan kita juga bukan karena cinta kan?. Lantas Kenapa baru sekarang?” geram Rangga mulai terpancing emosi.
Kali ini cinta hanya tersenyum sinis. Entahlah. Entah merasa sinis pada Rangga atau justru pada dirinya sendiri.
“Bukan. Dari awal gue tau loe nggak cinta sama gue. Gue juga masih ingat kata – kata loe kalau loe pernah ngingetin gue bahwa loe nggak akan mungkin jatuh cinta sama gue."
Rangga terdiam. Menantikan kelanjutan kata – kata cinta yang terhenti untuk sejenak. Tapi karena cinta masih tediam akhirnya ia kembali buka mulut.
“Lantas kenapa sekarang loe tiba – tiba minta putus?”
“Karena sepertinya gue nggak bisa ngebenci elo lagi."
“Maksut loe?"
Cinta segera mengalikan tatapannya. Menghindari tatapan bingung di wajah Rangga.
“Dulu loe minta gue jadi pacar loe karena gue benci sama loe kan?” Cinta mengingatkan.
Rangga kembali terdiam tidak membantah namun juga tidak mengangguk membenarkan walaupun itu semua memang benar adanya.
“Loe tau, seiring berjalannya waktu sepertinya rasa benci itu telah menghilang” kata cinta dengan tatapan menerawang jauh. Jujur saja, dadanya terasa sesak.
“Kerena itu, sekarang gue sudah nggak punya alasan lagi buat jadi pacar loe. Dan kali ini biarin gue yang mengambil keputusan seperti dulu gue juga nggak ngehalangi elo menentukan jadian kita."
Gengaman Rangga sontak terlepas. Tanpa banyak kata cinta segera berlalu.
“Cinta.”
Panggilan Rangga menghentikan langkahnya walau ia sama sekali tidak berniat untuk berbalik.
“Apa artinya sekarang loe cinta sama gue?” Tanya Rangga lagi.
Cinta terdiam. Mencerna apa yang Rangga katakan barusan. Dia memang sudah tidak membenci Rangga seperti dulu lagi. Tapi apa itu artinya ia juga mencintai Rangga. Entah lah ia juga bingung. Hanya saja Selama ini Ia merasa sudah terbiasa sekaligus nyaman di dekatnya. Tanpa menjawab ia segera berlalu. Menyetop taxi yang kebetulan lewat tak jauh dihadapannya. Meninggalkan Rangga diam terpaku sendirian.
*** Ketika cinta harus memilih***
Saat mendapati cinta yang baru melangkah turun dari bus kasih segera beranjak menghampir. Merasa heran kenapa ia tidak bersama Rangga. Malah justru beberapa menit yang lalu ia melihat Rangga baru muncul dengan motornya berboncengan bareng Cisa. Sebenarnya ada apa dengan hubungan mereka?.
“Cinta loe nggak bareng sama Rangga?” tanya Kasih to the point.
Cinta menoleh. Baru sadar kalau kasih ternyata ada di dekatnya.
“Enggak?” balas cinta singkat.
“Kenapa? Terus juga kenapa Rangga malah bareng sama Cisa?”
“He? Apa?” Tanya Cinta sontak menghentikan langkahnya. Menatap kasih untuk sejenak. Namun seolah baru menyadari sesuatu ia kembali melanjutkan ucapnnya. “Oh, itu bukan urusan gue?”
“Kenapa si loe selalu bilang itu bukan urusan loe? Ayolah cinta, Rangga itu pacar loe?” Kasih mengingatkan.
“Sekarang udah nggak. Gue udah putus sama dia."
“Apa?” Kasih melotot kaget.
“Leo putus sama Rangga?” sambungnya setengah berteriak.
Dengan cepat tangan cinta membekap mulut Kasih. Menatap kesekeliling yang kini juga sedang menatap kearahnya. Dan cinta berani jamin kalau sebentar lagi kabar putusnya dia akan segera menyebar. Apalagi saat ia mendapati beberapa orang yang kini tampak berbisik – bisik sambil menatap kearahnya. Akhirnya dengan kesel ditariknya tangan sahabatnya untuk segera menjauh.
To Be Continue…
Ketemu lagi di part selanjutnnya…
~ Admin LovelyStarNight

Random Posts

  • Cerpen Persahabatan: SENYUMMU ADALAH HIDUPKU

    Cerpen persahabatan berjudul Senyummu adalah Hidupku ini dikirim oleh Sarah Aulia.oleh: Sarah Aulia – Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.***Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”“Dari siapa ma?”“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.***Aku sampai di sekolah. “Pagi Lala. Sendiri aja?” seseorang mengagetkanku dari belakang.“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?” “Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?” “Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…” “Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”“Boy Band.”“Ia deh apakatalo.”“Baik lah. Emang kenapa?” “Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?***“Bisa gila gue lama-lama….” Jeritku ketika aku melihat sebuah karangan bunga lagi di meja belajarku.“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi“Terus?”“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.***“Hai La… Din.” Seseorang menepuk pundakku.“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.“Kapan?” Tanyaku.“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.***Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina datang ke acara peluncuran single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham akan mengenalkanku pada personel Boy bandnya.“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”“Gue? Kok bisa?”“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.***Tok… tokTerdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi“Maksud lo?”“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”“Yup… bisa dibilang begitu.”“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit. ***“Kok bisa penyakit jantungnya Dina kambuh? Emangnya kenapa?” tanyaku kepada Ilham yang sedang berada di ruang tunggu.“Jadi begini….”“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah… Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”“Maksud dokter?” tanyaku.“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.“Gue juga minta maaf ya…” katakku kepada Dina“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…Brak….Nitt…..Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah. Tamat

  • Cerpen Kenangan: PUPUS

    “Pupus”oleh: Zahrina OktavianaHari itu aku keterima di SMA favorit pilihanku. Seneng saat itu ku rasakan, aku jadi tak sabar ingin rasanya aku ingin menginjakan kakiku di kelas yang baru dengan suasana baru.Senin 08 Juli 2011, hari pertama aku masuk sebagai siswa berseragam putih abu-abu. Aku kira dikelas yang baru ini aku akan mendapatkan sesuatu yang baru, tapi ternyata sama saja, menurutku lebih enak jadi siswa smp kalau begini jadinya. Huh, hari-hariku jadi bosan dan bosan. Tapi dengan hal tersebut aku jadi berpikir bahwa aku harus menjadi seseorang yang menyenangkan agar bisa bergaul dengan teman-teman baruku disini. Alhasil aku pun berhasil, aku sekarang udah punya banyak teman , gak seperti dulu yang membuatku merasa bosan dengan masa SMA. Hari berganti hari aku semakin akrab dengn teman-teman semua. Kecuali satu orang cowok namanya Tian. Mungkin di kontakku hanya nama Tian yang tidak tercantum. Huh, lagian jadi cowok kok aneh banget, kalau dibilang pendiem sih enggak, tapi aneh aja gitu. Senangnya menyendiri.### “aduh, ulangan sosiologi bab berapa aja sih ya?’’ kataku sambil membolak balik buku “oh ya, kok aku gak kepikiran sms si Ade sih” lalu aku mengambil hp ku dan mengetik beberapa kata buat si ade. Tak lama kemudian ringtone hp ku berbunyi dan tandanya ada sms masuk”tanya Tian aja, dia yang tahu, kan dia yang disuruh nyebarin, ni tak kasih nomernya 08976718###”Yah terpaksa aku harus tanya dia, hitung-hitung juga buat nyimpen nomer dia dihapeku. Ternyata dia anaknya asyik juga yah, sampai sampai kita smsn berlarur-larut. Padahal besok ulangan sosiologi tapi malah smsn gak jelas sama Tian. Hahaha Keesokan harinya , waktu ulangan kita berdua saling mencontek. Soalnya kita berdua sama-sama gak belajar. Hahaha. Sejak saat itu Tian yang awalnya aku kira cowok aneh sekarang semakin akrab denganku. Dia itu caper banget sama aku seolah-olah ingin mencuri perhatianku. Setiap aku ingin jalan selalu dia menghalangi dengan tingkah-tingkah konyolnya. Gak penting banget pokoknya.Aku merasa berbada dengan kelakuannya. Kelakuannya itu kadang membuat aku sebel tapi kelakuannya itu juga ngangenin. Lama-kelamaan timbul rasa yang berbeda ketika aku menatap matanya. Aku juga merasa berbada ketika dia menatap mataku. Apa mungkin aku menyimpan sasuatu sama dia?### “ciye, ihir jadian ya sama Tian, makan-makannya mana?” goda Ade kepadaku “jadian? Ngaco kamu deh”“alah via, kamu jangan bohong deh, sekelas juga udah pada dengaer gosip itu. Asyik ni ye tiap hari ketemu terus” What? Gosip? Gawat ni ternyata kedekatan aku ama Tian muncul gossip seperti itu. Tapi no problem aku malah seneng digosipin pacaran sama Tian tapi kalau Tian entahlah. ### Aku semakin yakin, bahwa rasa ini bukan rasa biasa. Aku selalu menanggap kalau Tian juga suka sama aku. Mungkin benar, bahwa aku benar-benar suka sama si Tian. Tian dan Tian yang ada di pikiranku.“Ar, ari kayaknya Tian suka deh sama aku” aku curhat pada Ari“emang kamu yakin, belum tentu lho, dia kan playboy” jawab Ari“beneran kok, buktinya dia caper banget sama aku. Eh Ar, jujur aku suka Tian walaupun Tian gak tahu bagaimana perasaanku padanya, tapi aku selalu berpikir kalau aku bisa bersamanya”“ aduh, ciye semangat banget kamu vi, iyadeh aku dukung kamu”### Hampir 1 tahun aku sekelas sama dia, dan sampai sekarang dia gak tahu perasaanku yang sebenarnya ke dia. Bentar lagi kenaikan kelas, otomatis kita berdua akan pisah kelas. Jadi aku berharap kelakuan Tian yang nggemesin itu gak berubah. Ternyata benar kita berdua pisah kelas, dia di 11a dan aku di 11b. Tapi gakpapa selagi masih berdekatan. Aku kan bisa modus ngeliat dia setiap saat, hehe. Dia sekelas sama Ari, yah kalau boleh tukeran kelas sih, aku mau tukeran sama Ari. Makin lama kelakuan capernya makin bnzertambah ke aku, aku tentunya seneng dong. Kita berdua itu deket banget. Dia sering nyamperin aku ke kelas, Ngirim sms ke aku, wall to wall di facebook, sampai hal konyol di sekolahan. Pernah saat itu aku di isengin di kelas, dia sengaja mendorongku ke tempat sampah sampai hamper terjatuh, tapi tanganku dipegangin dia. Oh so sweet banget. Walaupun rasa ini masih terpendam. Gak masalah deh, walaupun rasa ini masih terpendam dan mungkin dia gak akan pernah tau selamanya, tapi aku masih sengeng setiap ngeliat dia tersenyum. ### “Tian diluar gak ya, biasanya dia sama Kevin dan bagus diluar, coba ah modus aja” Ketika aku keluar kelas, ternyata benar dia diluar kelas. Tapi yang aku lihat dia lagi bareng Ari, keliatan akrab banget. Entah kenapa saat itu aku cemburu banget, ketika aku akan menjauhi mereka terdengar suara memanggilku.“Via, bentar. Kata Ari kamu suka sama aku. Kata dia kamu sering cerita aku ke dia. Katanya kamu suka sama aku?” pertanyaan yang seolah-olah sangat menusuk di dadaku.Waktu itu aku tak bisa berkata apa-apa, aku serasa benci dan benci banget sama Ari. Mengapa dia tega menceritakan semuanya pada Tian. Ku kira dia sahabat, tapi sekarang dia berkhianat. Hah, ingin ku refresh otak ini, dan lupakan semua tentang Tiaaaaann. Tapi sayangnya itu sia-sia.Sakit sakit dan sangat sakit, mengapa Tian harus tahu dengan cara seperti ini. Akhirnya aku akan putuskan untuk mencoba melupakan Tian.“TIAAAN, AKU GAK PERNAH SUKA SAMA KAMU, ARI BOHONG, AKU GAK PERNAH SUKAA” aku mencoba bilang sama Tian, walaupun sebenarnya kata-kata itu beda jauh sama perasaanku. Aku terpaksa bohong sama dia, dan itu sangat sakit kurasakan.### Sejak saat itu aku mencoba melupakan Tian, aku cuek banget sama dia. Sampai akhirnya Tian punya pacar baru, dan aku mencoba sabar. Mencoba menerima walau hati ini menangis. Mungkin kenangan dulu hanya akan menjadi debu yang terbang ditiup angin. Tapi entah mengapa saya sering memimpikannya.Aku mencoba tersenyum dihati yang luka ini. Lebih parah lagi, Ari sahabatku sekarang ingin membuat aku cemburu. Setiap aku buka beranda atau timeline, selalu dia dan Tian wall to wall dan saling mention bareng, apalagi mereka berdua seperti pacar yang sedang dimabuk cinta. Tentunya hal itu membuat aku cemburu. Aku tahu si Ari hanya pura-pura. Belum lagi Ari mengupload fotonya bersama Tian di facebook sebagai foto profilnya, begitupun dengan Tian. sampai saat ini Tian belum tahu perasaanku, dan mungkin akan tersimpan selamanya. Aku menyesal dulu telah bilang bohong ke Tian. Sekarang sudah Pupus harapanku. Cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan. Tian aku sayang kamu, aku kangen kenangan kita dulu.Mungkin benar kata orang “jika mencintai orang lain secara diam-diam, pada akhirnya hanya akan mendoakannya serta akan merelakannya”. *****Nama : zahrina oktavianaFb : Zahrina OktavianaTwitter : @oktavianaarin

  • Cerpen Kala cinta Menyapa part 8

    Gak mau basa – basi, yang merasa dari maren nungguin lanjutan nie cerita _Walau aku ragu ada yang nunggu_Monggo, silahkan langsung di baca. Happy reading ya………….Credit Gambar : Ana Merya“Rani, loe punya hubungan apa sama erwin?” Selidik irma sambil memperhatikan Ulah Rani yang masih asik membolak balikan halaman demi halaman komik yang ada ditanganya tampa memperdulikan keributan teman – temannya yang rata – rata pada ngegsosip sambil menunggu dosen mereka masuk kekelas.“Nggak ada” Balas Rani tanpa menoleh.sebagian

  • Cerpen Remaja Tentang aku dan dia ~09 {Update}

    Cerpen RemajaTentang Aku dan DiaCredit Gambar : Ana MeryaDengan segenap tenaga yang ia punya, Gresia meluncur dari gerbang sekolah menuju ke kelas. Kebiasaan bangun telat kali ini benar – benar membuat nasibnya bagai telur di ujung tanduk. Tanpa mengurangi sedikit pun kecepatan larinya ia melirik jam yang melingkar di tangan. Tapi tepat di tingkungan tidak sengaja ia menabrak seseorang.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*