Ketika cinta harus memilih ~ 10 | Cerpen Cinta

Ketika cinta harus memilih part 10. Masih tersisa 6 part lagi sebelum ketemu sama yang namanya part ending. ^_^ . Ayo silahkan pada maen tebak tebakan ni cerita mau di bawa kemana. He he he
Okelah, adminnya juga lagi nggak napsu (???) ni buat ngeblog, so cuap cuapnnya segitu aja yak. Mending langsung di baca aja kelanjutannya ceritannya. And buat yang belum baca part sebelumnya bisa di cek disini.

*** Ketika cinta harus memilih ***
Silaunya sinar mentari yang masuk dari jendela menyadarkan Cinta dari tidurnya. Dikerjap –kerjapkan matanya untuk sejenak sebelum kemudian bangkit duduk. Matanya menatap kesekeliling. Merasa sedikit aneh menyadari bahwa ini bukan kamarnya.
“Cinta, loe udah bangun. Gimana keadaan loe?. Sudah merasa baikan?”
Cinta menoleh, mendapati kasih yang baru muncul dari balik pintu.Ingatannya segera dipaksa untuk mengingat kejadian – kejadian sebelumnya kenapa dia bisa sampai disini.
“Udah mendingan kok. Maaf ya sudah ngerepotin elo."
“Apaan si. Pake istilah ngerepotin segala. Loe kan sahabat gue,” Kata Kasih sambil duduk di samping cinta. Tanggannya terulur menyentuh kening sahabatnya. Merasa sedikit lega saat merasakan suhu tubuh nya ternyata sudah mulai normal. Tadi malam ia benar – benar merasa panik akan kondisi cinta. Selain karena suhuh tubuhnya yang terlalu tinggi, sahabatnya itu juga tak henti – henti mengigau.
“Cinta, Sebenernya loe kenapa?. Gue nggak pernah liat loe kayak gini sebelumnya?"
“Dan jangan menjawab baik – baik saja. Gue tau loe sekarang nggak dalam keadaan baik” Sambung Kasih lebih tegas.
Cinta tidak menjawab. Ia dapat merasakan ketulusan dari suara kasih. Tanpa sadar airmata kembali menitik dari mata beningnya. Ia merasa heran, bukannya kemaren ia sudah terlalu banyak menangis, tapi kenapa persediaan air matanya sepertinya sama sekali tidak berkurang ya.
Melihat kondisi Cinta kali ini, Kasih tidak berkata apa-apa lagi. Direngkuhnya tubuh Cinta kedalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Ia yakin ada saatnya Cinta akan menceritakan semuanya.
Dan untuk itu Kasih tidak perlu menunggu lama. Karena beberapa saat kemudian meluncur lah kata demi kata yang benar – benar membuat kasih merasa miris. Merasa tidak berguna sebagai sahabat. Bagaimana bisa setelah hampir 3 tahun mengenal cinta dan bersahabat baik dengannya tapi ia sama sekali tidak tau kalau selama ini cinta selalu menderita. Begitu banyak beban yang harus di tanggungnya. Tanpa sadar airmata juga membasahi pipinya.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sudah lebih dari 15 menit Rangga duduk diatas motornya. Sekali – kali mata bergantian antara menatap jam yang melingkar ditangan atau menatap pintu rumah Cinta yang terlihat sepi. Setelah terlebih dahulu meyakinkan diri akhirnya ia nekat melangkah memasuki halaman rumah Cinta. Walau ragu tangannya telah terulur menekan bel rumah. Sambil menunggu sang pemilik membukakan pintu Rangga berusaha menenangkan debaran jantungnya yang mengila. Kalau sampai papanya Cinta ada di rumah, matilah ia. Tapi karena matanya sedari tadi tidak mendapati keberadaan mobil silver di halaman setidaknya ia bisa merasa sedikit lega.
“Rangga?”
Rangga segera mengangkat wajahnya. Sambil tersenyum dan menunduk hormat ia berucap.
“Pagi tante. Cintanya ada, Rangga kesini rencana mau menjemputnya buat berangkat kuiah bareng” Balas Rangga.
Bukannya menjawab, Mama Cinta malah menunduk. Rangga mampu menangkap raut khawatir di wajah wanita separuh baya itu. Apalagi ia juga melihat lingkaran hitam di sekitar matanya. Tiba – tiba ia merasakan ada firasat buruk.
“Justru itu yang sedari tadi tante khawatirin. Cinta dari kemaren sama sekali tidak pulang kerumah. Bahkan terakhir kali tante melihatnya kemaren pagi sebelum tante berangkat ke kantor,"
“Apa?” tanya Rangga kaget. “Nggak mungkin” Sambungnya lirih.
“Memangnya dia kemana tante?”
Pertanyaan bodoh memang. Sudah jelas – jelas mama Cinta terlihat khawatir. Kenapa dia masih bertanya.
“Tante juga tidak tau. Semalaman tante menunggunya tapi dia sama sekali tidak pulang. Tante coba menghubungi nomor hapenya, justru malah nggak aktif” balas mama Cinta.
“Tapi semalam Cinta pulang tante. Rangga sendiri yang nganterin” Balas Rangga.
“Hanya saja Rangga memang tidak mengantarkan nya sampai kerumah, soalnya” untuk sejenak Rangga terlihat ragu “Semalam kita liat ada mobil om yang di parkir dihalaman” Sambung Rangga menunduk.
Mama Cinta menunduk. Mencoba mencerna kalimat Rangga barusan. Kalau memang kemaren Cinta pulang. Jangan – jangan……. Jangan – jangan Cinta di culik. Tapi dengan cepat pikiran itu di tepisnya. Atau Cinta justru malah pergi karena…
“Jadi kemaren cinta beneran pulang?”
“Iya tante” angguk Rangga cepat.
“Kalau begitu jangan-jangan dia pergi karena mendengar pertengkaran om dan tante. Astaga, kemana anak itu."
Rangga diam tidak menjawab. Ia juga bingung mau berkata apa. Ia tau kalau wanita itu pasti sedang menghawatirkan kondisi anaknya. Jujur saja, ia juga merasakan hal yang sama. Bagaimana dan dimana Cinta sekarang. Bagaimana keadaanya. Bagaimana kalau gadis itu sampe berbuat nekat?. Dan Rangga sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk memikirkan kemungkinan yang lebih buruk lagi.
“Ya sudah tante. Tante tenang dulu. Rangga akan bantu mencari tau keberadannya."
“Ma kasih Rangga."
“Kalau begitu Rangga permisi dulu tante” Pamit Rangga.
Mama cinta membalas dengan anggukan. Setengah berlari Rangga segera menuju kearah motornya di parkir.
Pikirannya di paksa untuk berpikir dengan keras. Kira – kira di mana keberadaan anak itu. Sungguh, Rasa cemas dan khawatir kini telah memenuhi rongga hatinya.
Sepanjang perjalanan dari rumah Cinta, Rangga terus memutar otaknya. Menebak kemana gerangan gadis itu pergi. Dan ia baru menyadari kalau tidak banyak yang ia tau tentang kekasihnya itu. Hanya berdasarkan insting dan sistem untung – untungan ia membelokan motornya menuju ke kampus. Tentu saja untuk mencari kasih, orang yang di kenal sebagai sahabat baik cinta.
Setelah mencari kesana kemari, Rangga masih belum menemukan sosok keberadaan kasih. Justru ia malah mendapat kabar bahwa kasih juga tidak masuk. Dengan lemes akhirnya ia kembali ke pelataran parkir. Mengabaikan kenyataan kalau ia masih harus masuk kuliah.
Saat dilanda rasa binggung plus khawatir Tiba – tiba Rangga teringat sesuatu. Segera di keluarkannya hape dari dalam saku. Mencet – mencet tombol untuk sejenak. Sambil menunggu pangilannya di angkat Rangga terus berdoa dalam hati.
“Fadly….. Kirim alamat Kasih sekarang juga” Kata Rangga langsung begitu tau panggilannya telah diangkat. Tanpa perlu basa – basi atau bahkan memeri kesempatan untuk lawan bicaranya mengucapkan kata halo….
“Iya, Kasih temennya cinta. Dulu loe kan pernah nganterin dia. Jadi loe pasti tau alamatnya kan?……………… Ceritanya panjang. Pokoknya loe SMS alamatnya sekarang juga oke!” Kata Rangga sembelum mematikan panggilanya.
Selang beberapa menit kemudian hapenya bergetar. Setelah memabaca kalimat yang tetera ia kembali melajukan motornya ke arah alamat rumah kasih.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Kasih muncul dengan napan yang berisi teh hangat dan nasi goreng untuk cinta. Setelah mendengar cerita dari mulut cinta soal kondisi keluarganya Kasih membatalkan niatnya untuk kuliah dan memilih menemani sahabatnya dirumah.
“Cinta, ayo sarapan dulu?”
“Eh kasih, Makasih. Tapi kenapa harus repot – repot?”
“Gue nggak ngerasa di repotin tuh."
“Tapi tetep aja gue ngerepotin."
“Apaan si. Ya udah mending loe sarapan dulu."
Tepat pada suapan pertama di mulut cinta, terdengar bel didepan rumah kasih.
“Nyokap loe?” tanya Cinta.
“Bukan kayaknya. Soalny kalau mama sama papa kan udah bawa kunci. Ngapain pake mencet bel segala. Lagian mama sama papa rencananya baru pulang lusa” Sahut Kasih sambil beranjak bangun. Tidak langsung menuju ke luar justru ia malah ke jendela. Mengintip sia gerangan.
“Rangga?”
Mendengar kata yang keluar dari mulut kasih barusaan sontak menghentikan aktifitas cinta.
“Rangga?” Tanya cinta lagi.
Kali ini kasih membalas dengan anggukan. Segera berbalik untuk membukakan pintu, namun cinta dengan cepat menahan tangannya.
“Kasih, gue minta tolong banget sama loe. Kalau sampai Rangga nyariin gue. Tolong bilang kalau gue nggak ada. Jangan sampai dia tau gue ada di sini?”
“Ha?. Kenapa?” Kasih berbalik. Menatap cinta dengan heran.
“Gue belum bisa cerita. Tapi kali ini gue mohon banget” Tambah cinta memelas.
Walau masih bingung dan ragu Akhirnya kasih mengangguk. Lagi pula ia yakin cinta pasti punya alasan atas semua tindakkannya.
Saat Rangga dan Kasih sedang berbicara di luar cinta mengintip dari balik jendela. Benar saja. Ternyata Rangga datang untuk mencarinya. Sedikit bingung sekaligus heran cinta terus berpikir. Kenapa Rangga harus mencarinya?. Toh hubungan mereka cuma pura – pura kan?.
Begitu Kasih muncul cinta langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
“Jadi Rangga sudah pergi?. Terus kenapa dia kesini?. Di nanyain apa?. Apa bener dia datang buat nyariin gue?. Terus loe bilang apa ke dia?”.
“Kalau loe memang segitu ingin taunya terus kenapa tadi malah meminta gue buat bohong soal keberadaan loe kedia?” bukannya menjawab kasih justru malah balik bertanya. Melihat cinta yang hanya memunduk mendengar pertanyaannya barusan, kasih hanya bisa menghela nafas sebelum kemudian menjawab.
“Iya, Rangga sudah pergi. Dia datang kesini buat nyariin loe. Tapi dia jemput loe kerumah tapi justru nyokap loe bilang loe malah nggak pulang dari kemaren. Dia juga udah nyari kekampus tapi loe nggak datang. Makanya dia kesini soalnya di kira loe ada disini. Dan gue bilang seperti yang loe katakan kalau loe nggak ada."
“Ma kasih ya. Leo emang sahabat gue."
“Tapi cinta, kenapa loe harus bohong. Kasihan tau. Gue liat tadi dia beneran panik. Gue yakin dia beneran ngekhawatirin elo” Tambah kasih lagi.
Namun cinta hanya mengeleng . Dan sebelum kasih kembali berucap, mulutnya sudah terlebih dahulu terbuka.
“Kasih, kepala gue masih terasa berat banget. Loe nggak keberatankan kalau gue tiduran lagi?”
“Oh iya. Gue hampir lupa. Ya sudah loe istirahat aja. Gue keluar bentar. Kebetulan obat dirumah juga habis. Leo nggak papakan gue tinggal. Tenang aja, gue Cuma keapotik bentar kok” Pamit Kasih sambil melangkah keluar kamarnya saat mendapati kepala cinta yang mengangguk.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sambil mengerjap – ngerjakap mata cinta menoleh ke sekeliling. Jam di meja sudah menunjukan pukul 14 siang. Kepalanya juga sudah terasa lebih ringgan. Matanya menatap kesekeliling kamar. Kasih tidak ada. Setelah terlebih dahulu merenggangkan otot – otot tubuhnya, cinta beranjak bangun. Rencananya si akan kedapur untuk mengambil minum karena kebetulan tengorokannya terasa kering. Namun saat akan melewati ruang tamu langkahnya terhenti ketika mendengar pembicaraan diruang tengah. Sepertinya suara kasih. Tapi sama siapa?. Karena tidak ingin bermain dengan argumennya sendiri cinta segera membelokan arah tujuannya.
“Fadly?. Kenapa dia ada disini?” pikir cinta heran.
“Jadi cinta sendiri yang tidak ingin Rangga tau keberadaannya?” terdengar Suara Fadly yang bernada tanya. Dan kasih tampak hanya memabalas dengan anggukan.
“kenapa?”
“Gue juga nggak tau” Balas kasih.
“Memangnya mereka berantem ya?” tanya Fadly menyelidik.
“Sudah gue bilang gue juga nggak tau. Cinta nggak cerita apa – apa soal hubunganya sama Rangga."
Untuk sejenak suasana hening. Keduanya terdiam hanyut dalam pikiran masing – masing. Melihat hal itu cinta segera berniat untuk langsung menghampiri.
“Fadly, Gue boleh tanya sesuatu nggak?”
“Apa?” tanya Fadly sambil mengangkat wajahnya.
“Cisa itu siapa?”
Mendengar nama yang terlontar dari mulut cinta sontak membuat Fadly terlonjak kaget. Cinta juga langsung menghentikan niat nya. Merasa heran saat melihat perubahan ekpresi wajah Fadly.
“Dari mana loe tau nama itu?”
“Ini bukan gilirannya loe bertanya. Sekarang loe jawab aja, Cisa itu siapa” balas Kasih.
“Oke, Sebelum gue jawab. Gue mau tau dulu. Loe tau nama itu dari mana?”
“Cinta."
“Cinta?” Kening Fadly berkerut heran. “Jadi Rangga menceritakan soal Cisa ke cinta?”
“Kalau masalah itu gue juga nggak tau."
“Jadi…?” Fadly merasa heran.
“Iya. Waktu itu gue nanya ke cinta. Cewek yang bareng sama Rangga itu siapa. Dan Cinta Cuma bilang kalau cewek itu namanya Cisa. Waktu gue cari tau lebih lanjut dia sama sekali tidak mau menjelaskan” terang Cisa lagi.
“Tunggu dulu. Loe bilang cewek yang bersama Rangga. Maksutnya Rangga sama Cisa?”
Kali ini kasih mengangguk sekaligus merasa heran. Kenapa Fadly merasa kaget. Ia jadi merasa semakin pernasaran. Sebenernya Cisa itu siapa.
“Jadi Cisa ada disini?. Kenapa Rangga nggak pernah cerita sama gue?”
“Gue nggak tau. Dan gue juga nggak mau tau alasan nya apa. Yang pengen gue tau sekarang, Cisa itu sebenernya siapa?” Potong Kasih sebelum mulut Fadly Sempat terbuka untuk bertanya. Untuk sejenak Fadly terdiam. Menghembuskan nafas dengan berlahan.
“Baiklah. Kayaknya memang tidak ada yang bisa gue rahasian ke elo. Sebenernya Cisa itu…….”.
Akhirnya meluncurlah cerita itu dari mulut Fadly dengan lancar. Kasih terpaku mendengarnya. Sementara cinta sendiri menutup mulutnya sendiri agar tidak bersuara. Disandarkan tubuhnya pada dinding. Tidak pernah di bayangkan sebelumnya kalau Kenyataan yang baru saja di dengarnya ternyata begitu meyakitkan. Jadi Cisa itu adalah cinta pertama Rangga saat SMA dulu?. Bahkan Rangga tetap menyukai gadis itu walaupun tau sudah punya pacar. Ya tuhan, Cobaan apa lagi ini. Keluh cinta.
Walau Cinta telah berusaha mati – matian untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Rangga bukan siapa – siapanya sehingga seharusnya ia tidak boleh merasa ini semua. Tapi justru kenyataan itu malah terasa berkali lipat sakitnya. Menyadari kenyataan bahwa Rangga bukan siapa – siapa sehingga ia tidak boleh merasa marah. Apalagi menuntut haknya sebagai pacar karena jelas – jelas itu hanya setatus gadungan.
Karena tak ingin kasih mengetahui apa yang didengarnya cinta dengan cepat kembali menyelinap masuk kedalam kamar saat mendengar pembicaraan Fadly yang pamit undur diri. Mengusap air mata yang entah sejak kapan tanpa sadar menetes dari pipinya. Dan segera merebahkan diri di kasur saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
Begitu pintu terbuka arah pandangan kasih langsung terjurus kearah cinta yang tampak terbaring diatas ranjang. Merasa sedikit lega saat mendapati cinta yang terlelap. Berlahan ia melangkah menghampiri. Ditatapnya wajah yang kini berada di hadapannya. Kasih sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu jika sekiranya ia tau masalah Cisa walau ia sendiri tidak yakin jika cinta tidak mengetahuinya. Tapi ia masih lebih tidak yakin lagi jika Rangga akan menceritakannya. Jadi kemungkinan cinta tau sepertinya masih sangat kecil. Saat melihat mata cinta yang berlahan mulai terbuka kasih segera memaksakan sebuah senyuman untuk bertenger di bibirnya.
“Cinta, loe udah bangun?”
“He?.Oh iya?” Balas cinta.
Dilirknya jam diatas meja. Pukul 15 lewat 15. Dengan segera ia beranjak bangkit.
“Kasih, ternyata sudah hampir sore. Gue pulang dulu ya?”
“Ha?. Pulang?. Sekarang?” tanya Kasih cemas.
“Iya. Gue yakin nyokap gue pasti khawatir karena gue sama sekali nggak ngabarin."
“Tapi kan…” Kasih tidak jadi melanjukan ucapannya. Dalam hati ia berfikir. Benar juga, pasti mamanya cinta saat ini sangat khawatir.
“Ya sudah kalau gitu biar gue anterin.”
“Nggak usah. Gue bisa naik taxi sendiri aja” tolak cinta halus.
“Tapi kan….”
“Please. Loe udah tau kondisi keluarga gue kan?. Jadi biarin gue pulang sendiri aja ya?”
Mendengar kata memelas cinta barusan akhirnya kasih hanya bisa mengangguk pasrah. Ia hanya bisa mengantar cinta sampai kedepan rumah. Karena Kebetulan rumahnya berada didepan jalan besar. Jadi taxi memang sering lewat. Dan begitu cinta meninggalkan rumahnya, Kasih segera kembali masuk kedalam rumah
To be continue….
~ Admin LovelyStarNight

Random Posts

  • Cerpen Remaja The Prince ~05 {Update}

    Credit gambar: Ana meryaOmigot, Aku telat. Ini semua gara – gara kevin sih. Tadi malam ia cerita nggak liat – liat waktu. mana pulangnya juga masih harus kucing – kucingan gara – gara ia tidak mau kevin tau rumahnya. masih harus di tambah tugas makalah ku ketinggalan sehinga dengan amat sangat terpaksa harus balik lagi. Nasip – Nasip.sebagian

  • Cerpen Romantis: Mr. Ice Cream

    Ini sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya. ***3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang samaWajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan. “Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati. “Enaak !!” Seru ku.Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.Ya, Dialah Keylan. Key dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.Key mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Key sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.Key dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Key adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Key mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Key termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Key tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.Sore itu, Key dengan sengaja menculikku dari kampus, Key mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua. Key bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood. Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan. “Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.“ini Enaaak, coba deh Key” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Key lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak. “yeee, enak kan, sekarang Key ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan key menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang. Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Key seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya key punya pacar. Key berpacaran dengan Amerina. Mengenai Key dan Amerina aku tak tahu banyak karena Key jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Amerina adalah gadis cantik, anggun, smart dan terlihat kalem, menurutku Amerina seperti Key versi cewek. Hanya itu yang ku tahu.“Pulang yuk ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Key kepadaku sekaligus mengingatkan.“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Key yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu. ***2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.Key tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih.“Ta daaaa, Happy Birth Day” Key menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Key membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua. “Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Key tersenyum Simpul lagi. Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Key dan es Krim tentunya.“Rio, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.Rio? Kenapa Key nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.“yang penting…” Ujar Key. Hening sejenak. Aku menunggu Key melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Key.Key selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Key yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Amerina? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya? Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Key memperlakukan Amerina? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Key membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.“Pelit” Key pura-pura ngambek.“Anyway Key, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.“Any time, Ran” balas Key. Tersenyum simpul.Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak. ***Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia. Dua jam yang lalu, aku dan Key duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Key terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Key, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.“Kenapa gak ada kabar ran?” Key menatapku serius. Nada suaranya dingin.Aku tak sanggup memandang key, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya. “Aku sibuk Key” Aku berbohong. “Maaf Key, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.Setelah mendengar kata maaf itu Key langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Key pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Key terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Key yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Key yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Key sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Key selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.“Lalu bagaimana denganmu Key?” ucapku terbata.Key tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Key sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Key menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.***Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Key. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Key dua jam yang lalu.Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri? Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Key kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Key terluka. Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Key dan Amerina. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Key, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?-The End-By : Eka SuzieFb: Eka SuzieTwitter : @eksuzBlog : Mr-ice-cream.blogspot.com

  • Cerpen Cinta: DI MALAM FESTIVAL

    DI MALAM FESTIVAL oleh Mina HaryonoCerpen.Gen22.net – Mami Nadia berteriak-teriak memanggil anaknya. Nadia keluar kamar. Ia baru saja menikmati tidur siang yang membuat kepalanya berdenyut. Matanya masih agak tertutup. “Ada, apa, Mi?”“Kamu ini bagaimana, sih? Kamu ‘kan harus menjemput Farah!” Kantuk Nadia langsung hilang. “Tiga puluh menit lagi kereta Farah sampai di statsiun.” Maminya geleng-geleng kepala melihat Nadia yang terburu-buru lari ke kamar untuk ganti baju dan mengambil dompet. “Hati-hati di jalan, Sayang. Mami mau arisan di tetangga sebelah.” Mami Nadia bergegas pergi.Nadia membuka pintu garasi sambil menggerutu. “Ini gara-gara kak Galih! Tiap hari pulang Maghrib melulu! Jadi aku yang harus menjemput Farah dan naik mobil tanpa SIM!”“Hei, kuantar, ya.” Nadia berteriak kaget. Ia mendapati tetangganya, Rendy, di muka garasi. Rendy tersenyum meminta maaf. Nadia menolaknya dengan sinis. Ia masuk ke mobil dan langsung menyalakan mesin mobil. Ia mundur sampai matanya bertatapan dengan Rendy. Nadia menatap sinis. Lalu Nadia memundurkan sedan metalik Ayahnya dengan lancar dan membawanya melesat di jalan raya.Setelah memarkir mobil dengan aman, Nadia langsung berlari tergesa-gesa. Ia menoleh kesana-kemari saat penumpang kereta sudah banyak yang turun, tetapi ia tidak menemukan Farah. Jangan-jangan Farah naik kereta yang salah, seperti saat es-em-pe kelas dua, dua tahun yang lalu? Nadia menggaruk kepalanya. Lalu ia melihat Farah. Hampir tergelincir Nadia, saat ia berlari menaiki kereta. Ia tersenyum lega melihat sepupunya itu sedang menurunkan tas besar dibantu seorang petugas yang masih muda. Farah terlihat hampir menangis sekaligus lega melihat Nadia. Nadia tersenyum geli. Ia mengucapkan terima kasih pada petugas yang membantu tadi, lalu merangkul Farah turun dari kereta. Saat ia menoleh ke kereta, ia melihat petugas tadi buru-buru membuang muka dan berlalu. Heee, jangan-jangan cowok tadi naksir Farah?Nadia membantu membawa tas hitam super besar Farah. Farah adalah sepupunya yang agak ceroboh. Tetapi ia mau menolong dan mempunyai sifat yang baik dan lembut. Ia belum punya pacar karena ia memang belum pernah jatuh cinta. Padahal cowok yang antri banyak, mereka semua menyukai kecerobohan Farah.“Ah!” Farah tiba-tiba berteriak dalam mobil. “Nadia, aku lupa bilang terima kasih pada petugas yang membantuku menurunkan tas tadi! Cowok itu baik sekali, walaupun ia sering membentakku. Pertama, saat aku tersandung di dekat pintu kereta. Lalu saat aku menumpahkan minumanku ke seragamnya. Tapi ia tetap membantuku menurunkan tasku meski sambil marah-marah.”Tadi Nadia memang sekilas melihat noda di bagian depan seragam petugas itu. Ia tersenyum membayangkan kecerobohan Nadia, dan bagaimana petugas tadi marah-marah. Sepertinya Farah tertarik pada petugas yang masih muda itu.Di rumah, Nadia langsung mengantar Farah ke kamar tamu, kamar yang dulu pernah ditempati Farah saat berkunjung. Karena kelelahan, Farah langsung tertidur lelap. Nadia menyelimutinya lalu meninggalkan kamar. “Selamat datang, sepupu.”*** Pukul setengah lima pagi Farah membangunkan Nadia dan mengajaknya lari pagi. Dengan mata masih mengantuk Nadia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Mereka lari mengelilingi kompleks perumahan Nadia sampai pukul enam, lalu Farah mengajaknya untuk sarapan bubur di taman.Di taman, mereka bertemu dengan Rendy, lalu Rendy mentraktir mereka bubur. Sebenarnya Nadia tidak ingin dekat-dekat dengan Rendy dan ingin segera pulang. Tetapi Farah sangat ingin makan bubur, Jadi terpaksa Nadia menerima tawaran traktiran Rendy. Farah duduk di antara mereka berdua.Selama makan, Nadia menunduk terus dan tidak mau menatap Rendy. Ia makan dengan cepat, tidak bicara, walaupun Farah dan Rendy mengajaknya mengobrol. Setelah selesai makan, Nadia langsung buru-buru mengajak Farah pulang. Rendy berteriak memanggil Nadia namun Nadia diam saja. “Nadia, jangan lari, nanti keram perut! Kau ‘kan baru saja makan!”Farah sepertinya ingin bertanya kenapa Nadia tidak mengacuhkan Rendy, tapi ia mengurungkan niatnya, sampai Nadia sendiri mau bercerita.*** Nadia menghela napas. Ia menyandarkan tubuhnya ke bahu tempat tidur. Ia memandang langit-langit kamarnya dan bayangan masa lalu kembali memenuhi benaknya.Saat itu Nadia masih kelas dua SMP. Ia mendapatkan tetangga baru, Rendy. Rendy cowok periang, ramah, dan murah senyum. Tubuhnya tinggi, tegap, dan atletis. Rambutnya dipangkas pendek. Karena Rendy satu SMU dan satu kelas dengan Galih, Rendy sering main ke rumahnya. Kadang Nadia main ke rumah Rendy untuk mengantarkan makanan atau menanyakan PR (sebab Galih pelit meski pintar).Nadia jatuh cinta pada Rendy dan Nadia terang-terangan menunjukkan sikapnya. Tapi Rendy hanya menganggapnya adik, Nadia menerima hal itu. Hal yang membuatnya kesal adalah sebulan yang lalu Rendy mengenalkan Nadia pada temannya, Bayu. Kata Rendy, Bayu naksir Nadia. Sejak itu Nadia memutuskan untuk membenci Rendy.Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Farah memanggilnya untuk makan malam bersama keluarga Nadia. Setelah makan malam, Galih berbisik pada adiknya. “Kau ini kenapa akhir-akhir ini menghindar dari Rendy? Dulu kau senang bersamanya.” Mata Galih menyipit. “Rendy menunggumu di halaman belakang. Kau harus kesana!” Ia menghampiri Farah. “Farah, aku akan mengantarmu keliling kota. Nadia ada urusan. Ayo!” Galih merangkul Farah. Sorot matanya mengatakan bahwa Nadia harus menemui Rendy.Aku takkan datang! Nadia menjatuhkan diri ke sofa. Setelah setengah jam, Nadia melongok ke halaman belakang rumahnya. Ia melihat Rendy sedang membelakanginya, memandangi kolam renang persegi. Nadia membuka pintu, Rendy lansung berbalik. “Hai, kukira kau takkan datang.” Karena Rendy tampak kedinginan, Nadia mempersilahkannya masuk. “Terima kasih.” Rendy duduk di tepi keramik dapur. Nadia tidak menyalakan lampu karena ia tidak ingin Rendy melihat wajahnya. “Ada apa?”“Nadia….” Rendy menggosok hidungnya. Ia bersin beberapa kali karena kedinginan. “Aku hanya ingin tahu kenapa sikapmu belakangan ini berubah. Sepertinya kau menghindariku. Kau sudah seperti adikku, lalu tiba-tiba, Bum! Kau menghindariku.”Nadia menunduk. “Aku hanya tidak suka Kak Rendy menyodorkan aku pada Kak Bayu. Padahal sudah ada cowok yang kusukai.”“Oh? Benarkah? Aku minta maaf.” Rendy mendekati Nadia. “Maafkan aku, aku takkan mengulanginya lagi. Aku ingin kau kembali menyapaku. Kau mau ‘kan, Nadia?”“Aku…baiklah.” ujar Nadia lemah. Sayang sekali Nadia tidak melihat mata Rendy yang berkilat senang dalam kegelapan. Nadia menempelkan dahinya di kaca jendela dapur, memandangi Rendy yang berlari melompati pagar tembok pembatas rumahnya dan rumah Rendy. Lalu Nadia menangis karena ia sangat menyadari bahwa ia masih mencintai Rendy. Dan ia pun tahu, cukup sulit untuk membenci Rendy.*** Nadia merengek pada Galih agar ia dan Farah diberikan tiket khusus untuk datang ke festival tahunan di SMU Galih (acara lanjutan setelah acara kelulusan kelas tiga) yang tertutup untuk umum. Awalnya Galih menolak, namun karena ia pusing mendengar rengekan adiknya, akhirnya ia mengiyakan. “Baiklah, tapi kau dan Farah cari kostum sendiri. Aku akan meminta tiketnya pada ketua nanti. ”“Siap, Letnan! Terima kasih, ya!” Nadia mengecup kakaknya. Galih mengelap pipinya dan mengibas-kibaskan tangan menyuruhnya keluar dari kamarnya. Nadia langsung berlari menemui Farah. “Berhasil, kau tidak sia-sia berlibur di sini, Farah! Kita bisa menikmati festival tahunan dengan gratis di SMU Kak Galih! Ayo kita cari kostum!” Kemudian mereka mencari baju bekas di loteng dan bahan lain yang bisa ditemukan di loteng dengan penuh semangat.Nadia senang sekali bisa ikut pesta kelulusan kelas tiga sekaligus festival tahunan yang hanya ada di SMU Galih. Di pesta itu semua mengenakan kostum. Ada yang mengenakan kostum hantu, tokoh-tokoh Disney, dan tokoh idola. Tahun pertama di SMU, Galih mengenakan kostum Pinokio, dan tahun kedua mengenakan kostum Zero. Nadia belum tahu apa yang akan dikenakan kakaknya di festival nanti. Di festival itu semua berdansa sampai tengah malam (acara pesta kelulusan dimulai pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore, dilanjutkan acara festival tahunan mulai pukul 7 malam sampai tengah malam). Setiap hari Galih pulang Maghrib karena ia panitia Seksi Dekorasi. Tapi Nadia tidak diberitahu setting festival kali ini seperti apa. Di pesta itu panitia tergabung dari kelas 1, 2, dan kelas 3 yang akan lulus. Rendy juga Seksi Dekorasi, tapi ia izin saat ada arisan RT di rumahnya beberapa hari yang lalu karena harus membantu ibunya menyiapkan arisan.Seminggu kemudian….“Ini benar-benar festival, Nadia!”“Ya, hmm….” Nadia terpesona menatap gerbang sekolah yang masing-masing tiang dihiasi kepala nenek sihir dan devil. Di tengah gerbang terbentang kain hitam dengan cat merah bertuliskan ‘WELCOME IN FESTIVAL’. “Farah, jangan melompat-lompat, nanti kau ja….” Nadia memijat dahinya melihat Farah dengan kostum kuda ─ yang lebih mirip kostum keledai ─ jatuh tersungkur ke tanah. Sebelum Nadia sempat menolong, seorang cowok berkostum Aladdin mengulurkan tangan pada Farah. Sepertinya aku kenal cowok itu tapi di mana ya? Nadia berlari menghampiri Farah. “Kau tak apa-apa?”“Ya, tapi lututku.” Farah melihat cowok Aladdin. “Ah, cowok pemarah!”“Cewek ceroboh! Kenapa ada di sini?” tanya cowok pemarah alias petugas statsiun. “Ini ‘kan tertutup untuk umum, kecuali kalian punya tiket khusus….”“Sepupuku panitia di sini, kelas 3, namanya Galih Prasetyo. Kau sendiri?”“Aku juga kelas 3 di SMU ini. Aku…Firman.”Nadia mundur perlahan. Oke, deh, dunia milik berdua! Nadia memperhatikan siswa-siswi yang berlalu-lalang. Mereka mengenakan kostum yang bagus, keren, dan indah. Ada Cinderella, Robin Hood, Wonder Woman, cewek koboi, dan tokoh terkenal lain. Ada juga yang mengenakan kostum Casper, Harry Potter, dan Frankeinstein.Nadia merinding melihat dekorasi yang dibuat. Setting festival tahun ini adalah Istana Hantu. Di kiri kanan pintu masuk aula pesta dansa yang sangat luas dipasang mumi dan manusia serigala yang dari moncongnya menetes darah. Di dalam aula sendiri didekor seperti Istana Hantu, hanya 8 nyala obor menerangi. Di langit-langit tergantung kelelawar karet, dan di sudut dibuat sarang laba-laba beserta laba-labanya. Suasana menakutkan sekaligus menyenangkan. Di aula sama ramainya dengan di luar. Siswa-siswi berkostum tengah asyik mengobrol, bercanda, ataupun berdansa dengan pasangannya. Di panggung ada yang nge-band diselingi musik dari piringan hitam.Nadia merasa diperhatikan seseorang. Saat ia menoleh, matanya bertatapan dengan seorang cowok berpakaian koboi, lengkap dengan topi koboi, sepatu bot, dan pistol di pinggang. Nadia mengenali Rendy, dan jantungnya langsung berdegup kencang. Malam ini Rendy sangat tampan. Beberapa perempuan mengelilinginya. Snow White, Tinker Bell, Ratu Salju, dan Madonna. Dengan sedih Nadia memalingkan wajah. Ia mencari-cari Galih dan menemukan kakaknya sedang menyesap minuman berwarna biru sambil memperhatikan sekeliling. Nadia menghampiri kakaknya itu. “Kau belum ganti kostum, Kak?”Galih terkekeh. “Kau tahu, idola yang paling kukagumi adalah diriku sendiri.” Galih mengaduh karena Nadia memukulnya. “Hai, Rendy, titip adikku, ya. Aku mau mencari Sisca. Kalian akur-akur, ya!” Galih langsung berlari dan menghilang di kerumunan orang-orang berkostum. Nadia tidak mengira bahwa Rendy telah berdiri di belakangnya sampai tadi Galih menyapanya. Ia tidak berani menoleh. Namun Rendy menarik sikunya dan mengajaknya ke luar aula, setelah sebelumnya Rendy mengambilkannya minuman bersoda dari meja minuman di dekat pintu keluar aula. Mereka mencari bangku yang kosong, dan menemukannya di bawah pohon pinus, di samping aula. “Kau terlihat cantik mengenakan kostum gipsy ini, Nadia.” Rendy tersenyum memandangnya.“Te-terima kasih. Oya, dekorasinya sangat bagus….” Nadia memperhatikan kelelawar karet yang menggantung di pepohonan di depannya.“Syukurlah.” Rendy tak lepas memandangnya, membuat Nadia rikuh dan ge-er. “Galih bekerja paling keras. Dari kelas satu ia ingin mewujudkan hal ini.” Akhirnya Rendy menatap kejauhan. “Rendy memberikan kostum yang telah ia jahit sendiri pada teman kami yang tidak mampu. Galih orang yang sangat baik.”Dengan perasaan bangga Nadia tersenyum. “Ya, tentu saja.” Nadia melihat siswa berkostum tengkorak lewat di depannya. “Mana pacar Kak Rendy?”“Sudah putus. Lucu juga, kami hanya berpacaran seminggu….” Rendy kembali menatapnya. Wajahnya tegang, tanpa senyum, namun tetap tampan. “Nadia, saat kau menjauh beberapa waktu lalu, aku baru menyadari perasaanku. Karena itu aku putus dengan Melly. Aku… jatuh cinta padamu, Nadia.”Nadia membelalak. “Kau ‘kan hanya menganggapku adik….”“Ya, mulanya aku menganggap begitu. Aku menyesal tentang Bayu. Saat kau menjauh, aku merasa kosong, rindu padamu. Oleh karena itu aku mengajak berdamai. Aku pengecut, tidak mengatakan alasan sebenarnya untuk berdamai. Aku pura-pura menjadi kakak yang kesepian. Tak usah panik, aku hanya ingin memberitahumu. Sebab ini hari kelulusanku. Aku akan kuliah di Purwokerto. Lagipula kau ‘kan punya cowok yang kausukai…waktu di dapur kau bilang begitu ‘kan….”“Orang yang kusukai itu Kak Rendy! Apakah tidak sadar? Aku terang-terangan menunjukkannya. Aku kesal Kak Rendy tidak peka dan malah menyodorkan Kak Bayu.”“Kau tidak mengada-ada ‘kan?” Rendy memegang bahu Nadia. Matanya berkilat senang dan ketegangan di wajahnya mencair, berubah menjadi sangat cerah. “Sudah kubilang aku menyesal soal Bayu.” Rendy memeluknya. “Aku cinta padamu, Nadia.” Rendy melepas pelukannya dan menatapnya penuh senyum. “Kau mau menjadi pacarku ‘kan?” Rendy menunggu sampai Nadia mengangguk, lalu berdiri dan mengajak Nadia kembali ke aula untuk berdansa sampai tengah malam. Di malam festival ini menjadi malam terindah bagi Nadia. Cintanya selama ini akhirnya tersampaikan.TAMATMina Haryonomina.haryono@yahoo.com

  • Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?

    Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?oleh: Diah Novianti“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.Kini, hari-hariku pun sudah ditemani oleh Denis. Semua terasa sangat menyenangkan. Dan ternyata, itu hanya awalnya saja. Ketika hubunganku dengannya memasuki usia ke-3 bulan, saat itulah mimpi burukku datang.“Fio, sini, aku mau ngomong sesuatu.”kata Denis. Aku langsung menelan ludah, tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. “Aku mau kita temenan aja.”lanjut Denis.Taaarr ! Seakan ada ribuan cambuk yang mengenai hatiku. Aku langsung menitikkan air mata, tetapi segera kuhapus tanpa sepengetahuan Denis. Aku tak ingin lemah di hadapannya. Aku hanya diam.“Fio, maafin aku…” Aku langsung berlari sejauh mungkin, tak peduli walau langit sedang menangis seakan tahu apa yang kini tengah aku rasakan. Aku berlari di tengah derasnya hujan, tak ada tanda-tanda kalau Denis akan mengejarku. Biarlah, kataku dalam hati.Keesokan harinya, tak sengaja aku bertemu Denis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih, manis, tinggi pula. Ideal sekali untuk ukuran seorang wanita sempurna. Oh Tuhan, ironis. Satu kata yang dapat mewakilkan keadaanku saat ini setelah aku berusaha untuk mempertahankan semuanya. Kini, hancur sudah semuanya karena orang yang kusayangi.Aku ingin sematkan bintang di dahinya, agar ia tahu betapa besar rasa sayangku padanya. Tuhan, masih bisakah hari itu terulang ? Hari dimana aku dan Denis masih bersama .*****Facebook : Diah NoviantiTwitter : @novidiahnovi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*