Ketika Cinta Harus Memilih ~ 09 | Cerpen Cinta

Ketika Cinta Harus Memilih part 9. Oh ya All, admin sendiri juga bingung nih. Perasaan disetiap cerpennya admin selalu memulai dengan cuap cuap, tapi selalu aja setiap adminnya abis ngeposting ada inbox yang nanyain pertanyaan yang jawabannya jelas jelas dikasi tau duluan. Emang cuap cuapnya admin biasanya gak di baca yak? #tepokJidat
Ah satu lagi, pertanyaan yang sering muncul adalah. Kenapa postingan di sini gak langsung di post sekali lalu aja?. Ya ela, yang logis aja lah. Kalau di posting sekali lalu, Star Night otomatis nggak update lagi donk. Iya kan?
Baiklah, berhubung cuap cuapnnya udah kebanyakan kita langsung ke cerpen aja ya. Untuk part sebelumnya bisa di cek disini.

Ketika Cinta Harus Memilih
“Cinta, loe kan belom jawab pertanyaan gue. Cisa itu siapa?. Kok dia bisa bareng sama Rangga sementara loe sendiri malah naik bus sendirian?” tanya kasih yang masih belum puas dengan jawaban atas pertanyaannya tadi.
“Tau…” Cinta hanya angkat bahu sambil duduk di kursinya. Diliriknya jam yang melingkar di tanggannya. Tumben dosen belum masuk. Biasanya kan cepat.
“Masa loe nggak tau si. Loe kan pacarnya. Lagian….”
“Ssssttt….” Cinta segera mengisaratkan sahabtnya itu untuk diam.
Walau kesel Kasih terpaksa manut saat mendapati arah telunjuk Cinta, dimana terdapat seorang pria tak dikenal berdiri di depan. Sejenak kasih terdiam. Sibuk memberikan penilaian pada sosok tersebut. Tampang, 8. Style 9. Tinggi oke. Gayanya, modis. Kesimpulannya, tu orang keren amat ya?.
Sementara cinta justru bersukur karena merasa terselamatkan dari pertanyaan yang paling tak di inginkan dari sahabatnya. Secara bagaimana caranya ia bisa menjelaskan siapa cewek yang bersama Rangga tadi jika pada kenyataannya ia juga tidak tau apa – apa selain kenyataan bahwa cewek tadi bernama Cisa.
“Mohon perhatian semuanya. Perkenalkan, saya Alvino. Dosen baru kalian. Mengantikan tugas bu lilian yang dipindah tugaskan dari kampus ini” kata makhluk tersebut yang segera mendapat sambutan hangat dari semuanya. Terlebih dari para mahasiswi. Secara tampang dosen baru ini benar – benar mengiurkan.
“Baiklah, sebelum kita mulai pelajaran, mungkin ada diantara kalian yang ingin bertanya?”.
Kasih segera mencibir sinis kearah teman – temannya saat mendapati hampir semua teman – teman ceweknya mengangkat tangan.
“Pak, sudah punya pacar belom?” tanya Thalita yang langsung mendapat pelototan tajam dari Ardian , Calon pacarnya . (Baca cerita pendek mungkinkah)
Pak Alvino tampak tersenyum menanggapinya.
“Jujur saja untuk saat ini masih belum. Jadi bagi yang berminat di persilahkan. Pendaftaran masih terbuka kok” Canda pak Alvino menanggapi.
Sontak terdengar sorakan riuh.
“Persaratannya apa pak” tanya yang lain ikut – ikutan.
“Yang pertama dan paling utama. Wajib, kudu dan harus ‘Perempuan’ pastinya."
“Ha ha ha…” Tawa seisi kelas koor.
Cinta juga ikut tertawa. Wah ternyata nie dosen asik juga, pikirnya.
“Terus pak, punya nomor hape enggak?”.
“Nomor punya, tapi hapenya enggak. Tertarik untuk membelikan?” Balas pak Alvino yang lagi lagi di sambut tawa.
“Ah bapak bisa aja nie becandaannya” Kata sang penanya terlihat salah tinggkah sambil mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Baiklah, punya kok. Kenapa memangnya?” tanya pak Alnino lagi.
“kalau gitu boleh minta nomornya donk pak?”.
“Yah jangan donk. Satu – satu nya juga” balas Pak alvino pura – pura pasang tampang serius.
“Ah bapak pelit nie. Padahal walau kita minta kan nggak abis juga. Lagian siapa tau nantinya ada urusan penting gitu. Jadi kan gampang menghubunginya pak” Rayu Mahasiswi yang lainnya.
“Iya deh, boleh” Pak Alvino akhirnya ngalah.
“Nah gitu donk. Bapak asik deh” kata candy yang merasa mendapat tanggapan baik, Yang lain juga ikut – ikutan mengeluarkan hapenya masing – masing. Siap ikutan nyatat.
“Nomorny berapa pak?”
“12” Balas pak Alvino sok polos.
Gubrak, ini dosen beneran koclak.
“Yah bapak. Kita nanyakan nomornya berapa. Bukan jumlahnya” Kata Tania bernada protes, Sementara pak Alvino hanya menanggapi dengan senyum manisnya.
“He he he, Bercanda. Ya sudah sekarang kalian catat baik – baik ya."
“Siap pak” Kata Laura cepat yang ternyata dari tadi ia memang sudah stanbay dengan bb yang ada di tanggannya.
“0852…”
“0852. Oke, terus pak."
“7454.”
“Iya terus…."
“73 secukupnya."
“Wuakakakaka…..”
Lagi lagi tawa membahana memenuhi seisi kelas.
“Lho kenapa kalian malah pada ketawa. Bener kan apa yang saya katakan. Bukannya tadi sudah saya bilang kalau nomornya ada 12. Silahkan kalian tambahkan sendiri. Saya yakin dulu diSD pasti sudah diajarkan tentang penambahan dan pengurangan. Jadi kalian sudah tau donk kurang berapa tu angka” Terang Pak Alvion sambil pura – pura pasang tampang serius tapi justru sebenernya menahan diri untuk tidak tertawa.
Dan sebelum ada yang sempat untuk protes pak alvino sudah terlebih dahulu menambahkan.
“Lagi pula sepertinya waktu bercandaan kita sudah terlalu lama. Sekarang sudah saat nya kita mulai belajar. Oke!!!."
“Yah…….” Nada mengeluh secara koor terdengar.
“Ayo masa generasi mudanya seperti ini. SEMANGAT, OKE!!!” Ulang pak Alvino lebih keras.
“OKE…!!!”.
Sebelum pelajaran benar – benar di mulai kembali terdengar tawa kebersamaan yang membahana.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Begitu selesai mengemasi buku – bukunya Cinta segera berniat untuk mengajak kasih pulang bareng. Tapi sebelum mulut cinta terbuka, kasih sudah terlebih dahulu memintanya untuk melihat arah yang ditunjuknya. Melihat Rangga yang sudah stanby menunggunya di depan pintu justru malah membangkitkan rasa kesel di hati Cinta. Saat ini sebenarnya ia sangat malas untuk menemui makhluk yang masih berstatus ‘pacar’nya.
Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang. Saat ia tak sengaja mendapati Rangga dan Cisa yang tampak berbicara akrap dikantin. Bahkan sama sekali tidak menyadari keberadaannya yang juga ada di sana. Dan ia juga harus mati – matian memngelabui Kasih yang sibuk ingin tau. Tapi karena tak ingin menimbulkan kecurigaan lebih lanjut dari sahabatnya, Cinta segera beranjak bangun. Berjalan kearah Rangga, namun tak lupa sebelumnya pamit pada Kasih untuk mendahului pulang. Dan Kasih juga hanya membalasnya dengan senyum maklum.
Sesekali Rangga menoleh kearah Cinta yang berjalan di sampingnya tanpa sepatah katapun yang keluar dari dalam mulut. Bahkan ia sama sekali tidak menoleh kearahnya.
“Cinta” Panggil Rangga hati – hati.
“Apa?” tanya Cinta tanpa menoleh.
“Loe baik – baik aja kan?”
“Baik."
“Loe yakin?” tanya Rangga mencoba memastikan.
Cinta menoleh. Menatap Rangga sambil tersenyum yang jelas dipaksakan. Dan ucapan yang dilontarkan dari mulutnya beberapa saat kemudian benar – benar cukup untuk membungkam mulut Rangga.
“Walau seandainya gue dalam keadaan tidak baik – baik saja, itu tetap bukan urusan elo kan?. Jadi berhentilah untuk berusaha selalu mencampurinya."
Langkah Rangga terhenti. Ia juga bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ditatapnya punggung Cinta yang mulai terus menjauh.
“Loe mau nganterin gue nggak?. Kalau nggak gue pulang naik bus aja?” pertanyaan Cinta segera menyadarkannya. Dengan cepat kembali dilangkahkan kakinya. Menyusul Cinta menuju kearah motornya di parkir.
Setelah masing – masing mengenakan helm, Rangga mulai melajukan motornya dalam diam.
“Rangga, berhenti sekarang” Kata Cinta tiba – tiba setengah berteriak membuat Rangga kontan merasa kaget. Untung ia bisa mengerem dengan cepat. Jika tidak bisa – bisa mereka celaka.
“Astaga Cinta loe kenapa si?. Ngagetin aja?”.
“Gue turun di sini” Kata Cinta cepat sambil turun dari motor Rangga.
Dengan cepat di bukanya helm dan menyodorkan kearah Rangga yang masih menatapnya bingung. Kenapa Cinta memintanya berhenti sementara rumahnya masih berjarak sekitar 100meteran. Tidak biasanya.
“Mobil bokap gue” kata Cinta menujuk kearah rumahnya seolah paham akan raut yang tergambar di wajah Rangga.
“Ha?” Rangga mengikuti arah terlunjuk Cinta.
Benar saja, tampak ada mobil yang terpakir di kejauhan. Rangga melirik jam yang melingkar di tangganya. Baru jam 4 sore. Kenapa papa Cinta sudah pulang?.
“Ya udah, mending loe cepet pulang” Usir Cinta, Mau tak mau Rangga mengangguk setuju.
“Oke gue pulang dulu. Leo hati – hati ya?” pamit Rangga sebelum berlalu. Cinta juga hanya mengangguk sebelum kemudian melangkah menuju kerumahnya. Tumben banget papanya jam segini sudah pulang?.
Dan pertanyaan itu tidak butuh jawaban seiring dengan jejak kakinya yang menginjak halaman rumah. Suara pecahan barang dari dalam terdengar jelas disusul suara teriakan yang saling bersahutan. Langkah Cinta terhenti. Di helanya nafas untuk sejenak. Selangkah demi selangkah namun pasti. Ia terus bergerak mundur.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sambil merenganggkan otot – otot tubuhnya, Kasih bangkit dari atas Ranjang. Karena kecapean sepulang kuliah ia langsung tidur. Diliriknya jam di atas meja. Pukul 19:15. Pantesan perutnya terasa lapar. Dengan langkah terseok – seok ia menuju kedapur. Bik inah kebetulan pulang kampung, sementara mama dan papanya keluar kota. Jadi jelas ia di rumah sendiri. Karena perutnya beneran laper ia berniat untuk membuat telur dadar saja sebagai makan malamnya.
Dengan ilmu memasak seadanya di kocoknya telur. Tak lupa ditambahkan bumbu ala kadarnya. Sambil menunggu terlur itu mateng diambilnya gelas sekalian coffi mix. Diluar kebetulan hujan deras, jadi dingin – dingin kayak gini memang enak kalau sambil minum kopi.
Suara bel di pintu depan mengagetkan kasih. Siapa yang akan bertamu malam – malam begini disaat ia hanya sendirian?. Tiba – tiba rasa takut langsung merayapi hatinya. Dengan hati – hati agar tidak ketahuan ia melangkah kearah jendela kaca samping untuk mengintip. Dan begitu melihat siapa yang kini berdiri kedinginan sekaligus berbasah – basahan, kasih langsung berlari untuk membukakan pintu.
“Ya Ampun cinta. Leo kenapa?. Kok hujan – hujanan” Kata kasih terlihat panik.
“Maaf ngerepotin. Tapi hari ini aja, boleh nggak gue nginep di sini?” Kata Cinta terlihat mengigil kedinginan.
“Tentu saja, ayo langsung masuk” Ajak Kasih terlihat bingung.
“Oh, e… Loe langsung ke kamar gue aja. Loe bisa pake baju gue sekalian. Ayo…”.
Sambil menunggu Cinta keluar dari dalam kamar mandi, Kasih sibuk memilih – milihkan baju yang kira – kira muat untuk tubuh Cinta. Begitu Cinta muncul segera di berikannya baju tersebut. Untuk pertama kali nya ia Benar – benar merasa miris melihat Cinta yang kacau seperti ini.
“Cinta loe kenapa?” tanya Kasih sambil duduk disamping ranjang. Cinta juga duduk disampingnya sambil mengeringkan rambut yang basah dengan handuk. Sepertinya ia sudah terlalu lama berhujan – hujanan.
“Gue baik – baik aja” Balas Cinta sayu.
“Jangan bohong sama gue. Gue bisa mencium sesuatu yang buruk telah terjadi sama loe."
“Benarkah?. Tapi kenapa gue kok malah mencium bau gosong ya?” Balas cinta Sambil mengendus – endus. Walau pilek tapi sepertinya indra penciumannya masih tajam.
“Astaga, telur dadar gue” Kasih menepuk jidatnya sendiri. Segera bangkit berdiri dan langsung lari kedapur.
Cinta segera menyusul di belakang. Dilihatnya Kasih yang terbatuk – batuk setelah mematikan kompor. Asap sudah hampir memenuhi dapurnya. Untung saja hanya telur dan kualinya yang terlihat gosong total. Bukan kompornya yang meledak.
“Ya ampun kasih. Sudah tau lagi masak kenapa kompornya malah ditinggal dalam keadaan menyala?”.
“Tadi itu gue panik waktu ngeliat elo. Sampe lupa deh” Kata Kasih sambil mengibas – ngibaskan lap tangan untuk mengusir asapnya.
“Yah… sori” Cinta terlihat merasa bersalah.
“Sudah lah .Biasa aja. Loe kayak nggak tau gue yang memamang pelupa aja."
“Kalau gitu biar gue yang masakin deh” Cinta segera berjalan kearah kulkas namun dengan cepat Kasih berdiri menghalanginya.
“Nggak nggak nggak. Loe mending istirahat aja di kamar. Gue tau loe sakit. Muka loe pucet gitu."
“Gue baik – baik aja. Loe tenang aja, lagian…."
Cinta tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan melotot dari Kasih. Dengan senyum paksa ia segera kembali berbalik. Melangkah masuk kekamar kasih. Lagipula sejujurnya kepalanya juga benar – benar terasa berat. Tubuhnya juga masih mengigil. Dan Begitu sampai di kamar, ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Tanpa sadar matanya langsung terlelap.
To be continue..
Ketemu lagi di part selanjutnnya ya. Gimana kelanjutan kisah mereka berdua. Mau di jadiin cinta segi tiga atau cinta segi empat (????).
Admin LovelyStarNight

Random Posts

  • Cerpen Cinta Sedih: AKU MENCINTAIMU SAAT KAU PERGI

    AKU MENCINTAIMU SAAT KAU PERGIOleh: Mentari SenjaKenapa hidup ini sungguh tak bisa aku mengerti, sedikitpun tak kupahami. Yang seperti kebanyakan orang akan keindahan pernikahan tapi tak berlaku buatku, janggal sekali untukku menyambut hari dimana aku akan menjadi milik orang lain. Bukan sebuah kebahagaian melainkan kehampaan. Teringat lagi akan janji dimasa lalu tentang sebuah pernikahan indah, mengikat ikrar dalam bahtera rumah tangga, namun semua itu pupus sudah. Sebentar lagi aku akan menjadi milik orang lain bukan miliknya. “selamat ya ibu indah, akhirnya ibu punya mantu juga.”“terima kasih jeng rahmi, alhamdulillah yah..akhirnya si mentari menikah juga.”Terdengar ucapan selamat dari balik pintu kamarku, yang semakin membuatku tersayat pedih. Ibuku merasa bahagia sekali karena akhirnya aku akan menikah dengan laki-laki pilihannya, yang ibu bilang dia sangat cocok untukku dan pasti aku akan bahagia. Apakah itu benar ibu???tapi mengapa saat ini perasaanku benar-benar sedih, jangankan untuk bersanding dengannya, untuk mencoba mengenalnya saja aku sudah enggan. Entah apa yang ada dibenakku, namun aku belum bisa melupakan seseorang itu, seseorang yang berjanji akan menikahiku sepulang dari rantaunya. Maafkan aku cintaku, bukan maksud hati untuk mengkhianatimu tapi perjodohan ini tak mungkin aku tolak. Kedua orang tuaku dan orangtuanya ternyata sudah membuat kesepakatan akan pernikahan ini sebelum kami berdua mengerti tentang pernikahan. Sekali lagi aku belum bisa memahami ini semua, bagaimana mungkin aku bisa hidup bersama dengan orang yang tak ku cintai, bahkan bertemu saja tidak pernah. Pernikahan ini sungguh mendadak mengingat kondisi bunda Risma orang tua Fariz yang sudah semakin kritis, dan beliau menginginkan agar Fariz segera menikah denganku. Karena keeratan hubungan keluargaku dan keluarganya membuat ayah dan ibuku menyetujui pernikahan ini tanpa peduli dengan persetujuanku.“mentari sayang, cepat keluar acara akan segera dimulai”suara itu menyadarkanku dari lamunan panjang, segera ku hapus airmata yang semoat menetes. Aku tak ingin ibu melihat aku terlihat sedih di hari pernikahanku. Bagiku sekarang adalah kebahagiaan mereka, walau hati ini terlalu perih menanggung luka akan terpisahnya cintaku dan cinta satria, maafkan aku satria.***“Muhammad Yakup Al Fariz, saya nikahkan engkau dengan Mentari shifa az zahra binti Muhammad zaenudin dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang sebesar seratus tiga puluh ribu, dibayar tunai.” ucap kiai Fatir“saya terima nikahnya Mentari shifa az zahra dengan mahar tersebut dibayar tunai.” Fariz dengan mantap mengucapkan ijab.“bagaimana sah??” tanya kiai Fatir kepada saksi dan semua orang“sah” serempak menjawab.“Barokallahu……” kiai Fatir memanjatkan doa, gaungan suara amin pun menyeruak diseluruh ruangan. Kebahagaian dan kelegaan terpancar dari raut-raut setiap orang yang menyaksikan acara sakral itu.Dan bagaimana dengan aku, detik ini aku telah resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang tak pernah aku kenal sebelumnya.***“ini mas Fariz kopinya,” ku letakan kopi sebagai pelengkap sarapan pagi yang telah kusiapkan di meja makan.“terima kasih dek.” ucap mas fariz lembut.Tak ada yang berubah dari perasaanku, walaupun aku telah menikah dengan mas Fariz tapi rasa cinta ini masih bersarang hanya untuk satria yang aku pun sendiri tak tau bagaimana keadaannya sekarang.Sebagai seorang istri aku berusaha untuk menjadi istri yang baik, walau belum sepenuhnya aku bisa. Namun aku belum bisa melaksanakan kewajibanku untuk memenuhi kebutuhan biologis mas fariz, tapi dengan penuh kesabaran mas Fariz memahami itu. Setiap malam kami tidur terpisah, sebagai seorang laki-laki mas Fariz tentu tidak ingin melihat seorang wanita tidur diluar kamar, maka dengan pengertiannya itu mas Fariz yang mengalah untuk tidur di sofa, kecuali pada saat-saat tertentu saja saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah, tapi itupun mas fariz tetap tidur dibawah bukan satu ranjang denganku.Aku tau itu sangat salah,sebagai seorang istri aku tidak berhak bersikap seperti itu, pernah satu kali aku coba tepiskan perasaanku dan berfikir realitis bahwa sekarang aku telah menjadi milik mas Fariz. Saat itu aku siap untuk melayaninya, sengaja aku suruh maz fariz untuk tidur bersamaku dan mengijinkannya untuk melaksanakan kewajiban sebagai suami istri. Dengan perasaan yang tak menentu ku coba tenang, saat mas Fariz mendekat, ku coba untuk tersenyum walaupun itu selintas. Sungguh aku tak kuasa menahan matanya yang tajam, saat itu ingin rasanya aku menangis, airmata ini sungguh sudah meleleh mengingat satria, namun segera ku tahan.Dengan tatapannya yang lembut mas fariz menatapku, digenggamnya tanganku. Entah apa yang dia fikirkan saat itu, namun dia terlihat tersenyum manis. Tangannya yang tadi menggengam tanganku kini berganti meraih wajahku, diraihnya wajahku dan tiba-tiba dia mencium keningku seraya mengucapkan selamat malam, setelah itu dia beranjak pergi ketempat biasa dia tidur.Aku tak tau harus berbuat apa, sesaat setelah mas Fariz keluar airmata ini langsung tumpah. Entah apa yang aku rasa, bahagiakah aku atau sedih. Namun aku merasa sedikit lega.***Pernikahanku dengan maz Fariz berjalan baik-baik saja, tidak ada pertengkaran maupun perselisihan walaupun keadaannya kami belum bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami istri yang sebenarnya.Entah terbuat dari apa hati mas fariz itu, hingga hatinya sangatlah lembut. Perhatian-perhatian yang dia curahkan padaku tak pernah ada habisnya. Kelembutan sikap serta santun tutur katanya mengisyaratkan kesabaran yang sungguh luar biasa, apalagi menghadapi sikapku. Dia tak pernah mengeluh padaku, dia tak pernah marah sekalipun kadang aku melakukan kesalahan. Dia selalu memberiku nasihat dengan sikap lembutnya yang tidak membuatku tersinggung. Tapi kenapa hatiku belum bisa menerima kehadiran mas Fariz di kehidupanku, kenapa aku belum bisa mencintainya. maafkan aku mas Fariz.***Ku gelar sajadah panjang, sepertiga malam bagi orang-orang yang merindukan kedekatan dengan Sang Maharaja. Di sepertiga malam itu pun ku panjatkan doa, ku haturkan dzikir serta ku curahkan segala perasaanku. Tak terasa ada rembesan air yang keluar dari kelopak mataku mengingat akan kekhilafanku. Kalam – kalam illahi mengantarkanku hingga menjelang shubuh. Dan kulanjutkan dengan sholat shubuh.Mentari di ufuk timur telah memacarkan rona kemerahannya, kicau burung mengantarkan angin kesejukan untuk insan manusia di dunia ini. Secercah harapan dan doa yang hanya Tuhan dan aku yang tau, berharap semua kan terwujud.***Mataku tertuju pada sesuatu yang janggal, merasa aneh dengan keadaan kamarku. Ada benda-benda yang tak mungkin bisa sendirinya ada di sini. Kulihat sekeliling kamar, begitu semua ada perubahan. Warna-warni bunga bertaburan di ranjangku, ada mawar putih yang membentuk hati di sekitar taburan mawar merah. Sungguh indah, bahkan sangat indah dan menakjubkan. Di sisi lain terpajang sketsa wajahku yang dibubuhi nama kecilku “RiRi”. Siapa yang melakukan ini, siapa yang membuat keajaiban ini. Sungguh luar biasa, tak pernah sekalipun kubayangkan tentang moment seperti ini. Mungkinkah mas Fariz…?????? Tapi dia bilang dia sedang ada rapat dan mungkin akan pulang terlambat hingga malam nanti, lalu siapa yang telah mempersiapkan ini.Di tengah –tengah hati buatan dari mawar putih itu tegeletak secarik kertas berwarna pink, entah kertas apa itu. Karena penasaran aku segera mengambilnya dan kubaca. Hanya satu kalimat yang aku belum tau apa maksudnya. Hanya tertulis sebuah kalimat “ pergi ke kebun belakang, aku menunggumu” secarik kertas itu lalu kutinggalkan.Subhanallah, kejutan apalagi ini. Cahaya lilin menghiasi rentetan jalan yang menuju pada satu titik. Mas Fariz dengan seikat bunga mawar merah menungguku di meja yang dihiasi lilin indah…sungguh kejutan yang membuatku tak bisa berkata-kata, hanya ulasan senyum yang selalu berkembang di bibirku ini. Perlahan kutelusuri jalan setapak yang indah ini.“happy brithday dek, selamat ulang tahun mentari.” seikat bunga itu pun dipersembahkan mas Fariz padaku seraya menyilahkan aku duduk.Kini aku hanya berdua dengan mas Fariz, ditemani temaram cahaya lilin dan sinar bulan. Perasaanku menjadi tak menentu, sebuah kebahagiaan yang baru kutemukan setelah sekian lama aku merindukannya. Ada secercah cahaya hangat yang menerobos masuk dalam relung hatiku saat kutatap wajah mas Fariz. Rasa apakah ini, setelah bertahun-tahun tak pernah ku rasakan lagi.“gimana dek, kamu senang dengan ini. Mas sengaja buat ini untuk hadiah ulang tahunmu. Maaf mas belum bisa memberikan yang lebih dari ini.”mas fariz menggenggam tanganku dan mengecup punggung tanganku.Setetes embun yang keluar dari mataku pun jatuh perlahan, dengan senyum yang masih berkembang ku ucapkan terimakasih.” Terima kasih mas, ini hadiah terindah yang pernah adek dapat. Dan ini sudah lebih dari apa pun. Terima kasih mas.”Malam ini adalah malam terindah yang pernah aku rasa, kebahagiaan yang dulu sempat hilang kini hadir kembali, dan perasaan itu ada yang berubah. Mungkinkah ini jawaban atas doa-doaku. Amien..semoga saja…!!!Kini hari-hariku terasa lain, sejak kejutan malam itu aku merasakan sesuatu yang lain pada diriku, apalagi saat aku berhadapan dengan mas Fariz. Dulu biasa saja saat aku melihat matanya, tapi kini sungguh lain. Hatiku berdebar-debar saat mas menggenggam tanganku, aku juga merasa grogi saat berhadapan langsung dengan mas Fariz. Kenapa ini ??? Ada apa denganku, mungkinkah aku jatuh cinta……????Tak tau pasti apa yang aku rasakan terhadap mas Fariz, namun yang pasti rasaku sudah tak seperti dulu lagi. Tak acuh lagi saat dia sibuk dengan kegiatannya, sangat mengkhawatirkannya saat dia pulang terlambat. Dan selalu menyiapkan apa yang mas Fariz butuhkan. Semua itu ku lakukan dengan senang hati, tak ada rasa beban lagi. Dan sejak malam itu, aku dan mas Fariz sudah melunasi kewajiban sebagai suami istri. Mungkinkah ini kebahagiaan menikah seperti yang kebanyakan orang katakan. Entahlah, tapi saat ini aku merasa begitu sangat bahagia dan nyaman.***Hari ini ulang tahun mas Fariz, dan aku akan memberikan kejutan yang luar biasa. Hadiah ini pasti akan membuat mas fariz bahagia. Karena hadiah ini adalah anugerah yang Allah berikan. Tiga bulan sudah usia kehamilanku, sengaja tak ku beritahu maz Fariz karena aku ingin memberikan kejutan pada hari ulang tahunnya. Buah cinta yang kami dambakan, setelah ku bisa mencintai mas Fariz dengan segenap hati. Ketulusan dan kesabaran mas Fariz telah merubah segalanya. Cintanya kini mengisi relung hatiku, penuh dengan untaian doa kebahagiaan.Semua pernak-pernik dan tetek bengek untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun mas Fariz sudah ku siapkan, sempurna semuanya perfect. Pasti mas fariz akan terkejut dan bahagia sekali saat melihat bukti test kehamilanku di kantung baju tidurnya. Setelah sebelumnya ku persiapkan kejutan lainnya, makan malam dengan masakan spesial kesukaan mas Fariz yang kini telah terhidang rapi di meja makan.Tak sabar aku menunggu kedatangan mas Fariz, sudah ku tanya dia kapan akan pulang dari kantor dan dia bilang sebentar lagi. Jantungku berdetak lebih kencang, menunggu kedatangan sang pujaan hati tiba.Namun selang sejam dari kabar yang dia beritahukan mas Fariz tak kunjung datang. Timbul perasaan was-was takut terjadi apa-apa. Tanpa berfikir panjang langsung kuraih ponsel yang ada di sakuku dan ku hubungi mas Fariz.“assalamualaikum mas Fariz.” suaraku menyapa mas Fariz“Waalaikum salam dek, “ terderang suara mas Fariz di seberang sana.“mas kenapa sampai malam gini mas belum juga pulang” tanyaku merasa khawatir.“maaf dek, tapi mas ada tugas tambahan dari bos dan belum sempat mengabari adek. Maaf ya dek. Hmm mungkin sebentar lagi pekerjaan ini selesai dan mas bisa pulang. Maaf ya dek sudah mengkhawatirkan adek.” lembut suara mas fariz menentramkanku, membuatku tenang akan keadaan mas Fariz. Rupanya pekerjaan yang membuatnya terhambat pulang dari kantor, semoga dia baik-baik saja.“oh ya sudah mas, adek kira mas kenapa-kenapa. Adek sempat khwatir banget sama mas. Tapi sekarang adek sudah bisa lega tau mas baik-baik saja. Ya sudah kalau gitu, selamat bekerja, hati-hati dan cepat pulang ada sesuatu yang ingin adek berikan. Assalamualaikum mas”kataku mengakhiri pembicaraan“waalaikum salam, jaga diri adek baik-baik” suara mas fariz menutup telepon.Terdengar sedikit aneh, tak biasa-biasanya mas fariz berbicara sedatar itu. Seperti tak ada gairah. Sempat berfikir aneh, tapi segera kusingkirkan fikiran itu karena aku tak ingin merusak suasana dan aku sebagai seorang istri harus bisa berprasangka baik terhadap suaminya.***“hallo bisa bicara dengan ibu mentari.” suara di seberang telpon itu membuatku penasaran.“iya benar, saya mentari. Ada apa ya pa…???? dan kenapa” tanyaku pada penelpon yang tidak ku kenal itu.“cepat segera ibu ke rumah sakit Medica, pa Fariz mengalami kecelakaan.”Deg. kenapa ini. Benarkah apa yang sudah aku dengar tadi. Mas Fariz, ada apakah engkau, kenapa engkau hingga seseorang mengabarkanku mas sudah di rumah sakit. Baru satu jam tadi kau berbicara padaku, berjanji akan segera pulang setelah pekerjaan itu selesai. Tapi kenapa sekarang aku yang harus menjemputmu, dan itu di rumah sakit… ada apa denganmu mas.***Kamar ICU itu terlihat lengah, senyap tak ada suara walau aku liat ada banyak orang di situ. Dan kenapa semua orang menatapku pilu, ada apa denganku. Salah satu rekan kerja mas Fariz yang kebetulan perempuan langsung memelukku erat, menangis di pelukkanku. Aku sungguh tak tau ada apa ini. Dengan suara yang masih terisak perempuan ini berbicara lirih. “ yang sabar ya mba mentari, mba harus bisa menerima ini semua.” Keadaan ini membuatku semakin tidak mengerti, sebenarnya ada apa.“ada apa ini.” tanyaku datar pada semua orang yang ada di situ. Ku tau perasaanku kini sudah tak menentu lagi. Namun semua hanya terdiam tak ada yang berani menatapku, semua hanya larut dalam kediamannya itu. “ada apa ini, cepat katakan”tanyaku sekali lagi dengan nada agak keras.“ada apa dengan mas Fariz, kenapa mas Fariz. Kenapa semua diam. Cepat katakan.” ku goyang-goyangkan kerah baju lelaki yang ku tau adalah rekan kerja mas fariz, namun sekali lagi lelaki itu hanya diam saja. “ hei…ada apa…kalian itu tuli ya…kenapa semua diam”aku semakin tak karuan, berteriak-teriak bertanya pada semua orang yang membisu terpatung. Dan lagi-lagi perempuan itu memelukku. ”sabar mba, coba tenang” diucapnya lirih.Seketika itu aku lihat seorang perawat keluar dari ruangan ICU dengan mendorong ranjang yang di atasnya terdapat sosok manusia tergeletak dengan tertutup selimut putih. Tepat di hadapanku, selimut itu tersingkap seolah ingin memberitahukan siapa yang sedang diselimutinya. Terlihat wajah teduh, dengan raut ketenangan tertutup matanya. Masih terukir jelas senyum di bibirnya. Akupun mendekati sosok manusia itu.“siapa ini pa…kenapa mirip sekali dengan suamiku. Kenapa dengannya. ”tanyaku dengan polos, walaupun setetes airmata tlah mulai tumpah.Perawat itu hanya bisa diam, namun perempuan tadi membisikiku lirih, “ itu mas Fariz mba. Dia telah tiada. Mba harus tabah ya…” aku hanya terdiam, dan kupandangi lagi lekat sosok lelaki itu. Semakin lekat hingga tumpahlah sudah airmata yang sedari tadi aku tahan. Sosok itu, terlihat teduh dengan senyuman yang menghiasi wajahnya adalah suamiku, mas fariz yang kata perempuan tadi telah tiada.Ya Allah, kenapa ini…apa maksud ini semua. Seolah tak percaya aku peluk mas Fariz, kuciumi keningnya berharap dia bangun kembali. Tapi semakin ku peluk sosok itu hanya terdiam membisu. Ya Allah…suamiku tercinta..ada apa ini mas…mas fariz…kenapa engkau pergi begitu cepat, kenapa engkau meninggalkanku dan buah cintamu tanpa kau tau sebelumnya. Kenapa mas.Bulir-bulir airmata ini terus tumpah menyeruak membahasi wajahku, aku tak berdaya. Tubuhku terasa begitu lemas, ingin rasanya aku berteriak, tapi aku begitu lemah. Untuk berkata saja aku sudah tak sanggup lagi.Hari ini kusaksikan kejutan lagi yang kau buat untukku, tapi bukan kejutan yang buatku bahagia seperti dulu lagi melainkan kesedihan yang mendalam kau tinggalkan.***Kecelakaan tragis yang membuat nyawamu tak bisa tertolong, membuatmu terpisah jauh denganku. Bagaimana bisa semua ini terjadi begitu cepat, padahal sebelumnya aku sempat berbicara denganmu. Kejutan ini, yang seharusnya kau tau tak sempat kuberikan. Buah cinta yanng kini ada dikandunganku semakin membesar, sama seperti perasaan rinduku terhapadmu yang semakin besar. Mas Fariz, kamu hadir saat ku tak punya cinta, tapi mengapa kau pergi saat ku mencintaimu. Selamat jalan Mas Fariz…hati ini akan selalu untukmu…dan akan kujaga buah cinta ini hingga kelak dia tau bahwa dia punya sosok seorang ayah yang sangat ibu cintai.The EndBaca cerpen-cerpen lainnya karya Mentari Senja dalam Tunggu Aku di Surga dan Sahabatku, Kekasihku.

  • Cerpen: Cintaku di Provinsi Sebelah

    Cintaku di Provinsi Sebelaholeh: Chikita Nawaristika"abii sayang bunda,," Yaa, kata-kata itu menjadi kata-kata yang paten di dengar oleh Chika setiap harinya. Kenapa nggak, soalnya ada Revan yang setiap hari selalu mendendangkan kata-kata itu dengan fasih dari bibirnya yang manis itu, hhehe .Revan dan Chika emang ada hubungan special sejak revan ngungkapin isi hatinya ke Chika. Hubungan mereka penuh dengan godaan, tapi mereka tetap kuat dan selalu berusaha untuk tetap melalui semuanya bersama-sama.Perkenalan: Chika punya sahabat dekat, namanya Aiik, dan Aiik lah yang ngenalin Chika sama Revan. Umur Revan dan Chika nggak terpaut jauh, mereka cuma beda satu tahun. Pada dasarnya Revan dan Chika punya latar belakang yang sama, dan hal inilah yang membuat mereka merasa kalau mereka tuuh 'sama'. Orang tua Chika telah berpisah sejak Chika duduk dibangku kelas 6 sd. Begitu pula dengan Revan, orang tua Revan juga telah berpisah, bedanya itu terjadi ketika Revan sudah duduk dibangku kelas 10 SMA, tidak lama setelah Revan kenal Chika.Saat itu Chika memang menjadi satu-satunya orang yang selalu ngasih semangat buat Revan. Agar Revan nggak terlalu sedih dan ngerasa sendiri gara-gara hal itu. Soalnya Chika udah tau gimana rasanya kalau ada diposisi Revan. Chika terus yakinin Revan kalau semuanya belum berakhir sampai disitu dan Revan harus tetap semangat, Revan harus bisa tunjukin ke orang tua Revan, kalau hal itu nggak ngebuat hidup Revan berubah dan Revan akan tetep jadi Revan, Revan yang lucu, konyol, nyebelin, tapi nyenengin, hhehe.Revan jadi sering cerita-cerita ke Chika, bahkan setiap hari. Dari situlah pepatah jawa dibuktikan -witing trisno jalaran songko kulino- . Mereka jadi deket, tambah deket, dan semakin deket.3 bulan setelah itu Revan nembak Chika, tapi Chika selalu pura-pura cuek dan tak menghiraukan perkataan Revan. Chika cuma pengen tau aja, Revan serius apa nggak. Soalnya yang Chika tau Revan tuh playboy, banyak ceweknya.Chika nggak langsung nerima sii Revan buat jadi guardian angelnya. Chika masih selalu cuek dan selalu mengalihkan pembicaraan ketika gaya bahasa Revan sudah mengarah pada pokok bahasan -cinta-. Beruntung, selalu ada aja alasan yang terlontar dari mulut chika buat ngeles, hhehe .Sampai pada suatu hari …"Chika,,jangan pernah ningalin Revan sendirian yaah, Revan nggak mau Chika ngejauh dari Revan""Chika, kalau Revan punya salah sama Chika, maafin Revan yaah, Revan nggak mau kalau Chika jadi benci sama Revan"Revan minta ke Chika supaya jangan ninggalin Revan sendiri, dan Revan pun terus-terusan minta maaf pada Chika. Sehari bisa berkali-kali kata-kata seperti itu di dengar Chika. Otomatis Chika bingung dan takut dong. Ada apa dengan Revan?Dan malam itu Revan bilang ke Chika kalau dia harus ikut bundanya pindah ke Jepara, Jawa Tengah. Sontak Chika langsung kaget, air matanya pun jatuh bercucuran, ga bisa dibendung. Kalian tau kenapa Chika nangis?Yaa …. Jawabnya karena Chika masih belum mengutarakan isi hatinya kepada Revan. Chika kan masih belum jawab pertanyaan Revan. Di lain pihak Revan juga ikut sedih karena harus menerima kenyataan itu. Dia harus beranjak dari kota Malang dan membiarkan little angelnya sendirian. Selain itu dia juga belum menemukan jawaban atas semua yang telah dia ungkapkan kepada Chika."Revan janji, Revan akan selalu inget sama Chika, Revan ga akan ngebiarin Chika sendiri, Revan akan selalu ada buat Chika, walaupun sebatas nemenin Chika sms-an mungkin. Chika jangan nangis dooongg, Revan pasti balik kok, ntar revan pasti nyariin rumah e Chika, Revan akan tunjukin, Revan bisa nemuin rumah e Chika dimana, Revan janji"Kata-kata itu mampu banget buat Chika tetep yakin dan percaya sama Revan. Chika bakalan nungguin Revan balik dan nepatin janjinya ke Chika. Revan bilang kalau dia pasti akan nyariin rumahnya Chika karena dari awal Chika kenal sama Revan, Chika nggak pernah ngajak revan ke rumahnya, tujuannya siih biar Chika tahu seberapa besar siih niat Revan sama Chika. Kalau Revan emang bener-bener mau nyariin rumahnya Chika dimana berarti Revan emang bener-bener niat.Sejak saat itu, Chika jadi begitu takut kehilangan Revan, Chika baru sadar ketika Revan udah jauh dari Chika, Chika sadar kalau keberadaan Revan dalam hidup Chika begitu penting, seperti tak dapat tergantikan. Chika pun mulai tak punya alasan-alasan lagi buat ngeles kalau Revan lagi bahas soal isi hatinya. Hingga akhirnya Chika ngasih syarat ke Revan."Chika akan ngasih jawaban ke Revan, tapi ada syaratnya""iiyah, apa itu, Chik ?" jawab Revan."Revan harus bisa nunjukin ke Chika kalau Revan bener-bener tulus sayang sama Chika, Revan harus bisa tunjukin kalau Revan emang bener-bener pengen jadi seseorang yang bisa jagain hati Chika, ntar tanggal 04-07-10 Revan akan dapet jawaban dari Chika, soo kurang lebih Revan masih punya waktu satu bulan kan?""yaaahhh,, Chikaaaa, kok lama amat siih,? lagian kenapa musti tanggal itu coba?""coba deeh kamu jumlah tanggal ma bulannya""sebelas , chik jumlahnya . terus kenapa ?""dasar Revan lemoodt, sebelas kan bulan lahir kita, bulan November""hhehe, lemodt-lemodt gini banyak yang suka kok :-p okke deehh Revan tungguin tanggal iu , Revan akan buktiin ke Chika kalau Revan mampu buat jadi Revan yang Chika pengen""yee,, pede amat lu nyiing,, okkee Chika tunggu :-p"Sejak saat itu Revan terus berusaha dengan keras supaya Revan bisa bener-bener nunjukin ke Chika kalau dia serius. Pertama, dia mau nunjukin ke Chika kalau dia tuuh nggak se-playboy yang Chika kira, terus Revan akan tunjukin kalau Revan sayang sama Chika dengan tulus, dan nggak pengen maenin Chika.1 bulan telah berlaluNggak terasa, udah tanggal 03-07-10 berarti besoknya Revan akan mendapat jawaban dari little angelnya. Di sela-sela pembicaraan mereka, Revan tiba-tiba nyeletuk."hmmm,, ga sabar niih nunggu besok, jawabnya jam 13.00 aja yaah""emang besok mau ngapain, jawab apa? ada apaan emang?" ( Chika belaga bego )"aduuuhh,, masakk lupa seeh, besok tuuh udah tanggal 04-07-10""iiyyaaa, emang. terus kenapa sama tanggal itu?""aaarrgghhkk,, Chika kan janji mau jawab pertanyaan Revan pada hari itu,, yakpa e?""pertanyaan Revan? pertanyaan yang mana emang? Revan kan suka banyak nanya ke Chika""yaellaaaahh Chika,, masak Revan musti ulang pertanyaannya lagii seeh?""aduuuhh Revan,, beneran deehh, nanya apa emang?""Chika mau nggak lebih dari sahabatan ma Revan? Revan sayang sama Chika""wwweeww?? masak dijawab sekarang siih?? besok ajj doongg, nyiing. hhahaa""waahhh, Chika ngerjain Revan yaaahh?? nakal kamu, pakek pura-pura lupa segala""hhaha, biariin, weekk :-p""yee,, melet-melet, tak cubiit lhoo pipimu ntar""yaa Chika cubiit balik dongg , :-p""iyah deeh iyah, jadii gimana neeh Chika mau nggak? Revan deg-deg an neeh""hhahaa, nyiing-nyiing alayy deeehh, pkoknya jawab e besok aja, weeekk :-p ehh,nyiing kenapa mustii jam 13.00 siih jawabnya?""hhehe,, biar 3 semua dunk Chik, 10 dikurangi 7 kan 3, terus 7 dikurangi 4 kan juga 3, jadi jawabnya harus jam 13.00 biar nanti 13 dikurangi 3 kan 10, nyambung nggak Chik?""oowwww,, eaa.eaa,, hhahahaa,, ada-ada aja luu nyiing"Persahabatan mereka begitu indah, sampai-sampai Chika begitu terlarut. Begitu pula dengan Revan. Dan salah satu hal yang buat Chika ragu nerima Revan adalah, Chika takut kalau Chika akan kehilangan sahabat yang sebaik Revan. Chika nggak mau persahabatan mereka jadi hancur gitu aja nantinya kalau diantara mereka ada satu ikatan yang lebih dari sekedar sahabat.Pagi itu Revan udah berkali-kali ingetin Chika soal waktu jawab pertanyaannya Revan. Chika siih enteng-enteng aja, tapi Revannya yang terlanjur alay, uda deg-deg an dari hari-hari sebelumnya.Uda jam 12.00, Revan bilang ke Chika, kalau Revan udah siap nerima semua keputusan Chika, walaupun itu buat Revan jadi sedih dan kecewa tapi Revan tetap berharap semua yang terbaik yang akan jadi jawaban dari Chika buat Revan.jam 13.00"Revan, Chika titipin hati Chika ke Revan yaa, jagain baek-baek, jangan lupa kasih makan, hhehe ,, 🙂 "Sontak Revan langsung teriak kegirangan dan jingkrak-jingkrak sampai-sampai tak menghiraukan Chika yang nunggu kata-kata dari Revan, lama banget lagi jingkrak-jingkraknya.Revan kayak gitu soalnya apa yang udah lama dia impikan akhirnya jadi kenyataan. Yaaa,, jadi guardian angelnya sii Chika *****

  • Antara Za dan…

    Antara Za dan dusta ini..Antara Za dan perasaan ini..Antara Za dan… dan.Setiap tokoh yang kuciptakan dalam kisahku kini mulai beranjak dari dunianya mengarungi nyata, menciptakan dusta, sebagai pengharapan akan termilikinya rasa yang tulus.yah, mungkin aku gila, tak ada batas antara nyata dan khayal dalam duniaku. Nyataku adalah khayalku, dan khayalku adalah nyataku…Za, aku bertemu dengannya dalam dunia yang kukehendaki, hadirnya mampu menghilangkan kesepian ini meskipun teriring kalimat kalimat dusta bagi hati yang berarti.Za, sosok yang tercipta atas izin Tuhan dalam kehendak hati yang bersanding dengan ketulusan doa.Aku yang berhati rapuh, yang telah terjebak oleh kata kata sang penyair logika, mulai bangkit dan beranjak dari keterpurukan sejak kehadiran Za. dan Za tak hadir tanpa peran yang penting, Ia mempersembahkan ketulusan itu kepadaku, dan aku yang tak berdaya ini hanya mampu berharap mimpi di puncak bintang yang pasti siapapun tak akan mampu mewujudkan itu."Na lagi ngapain??" suara Za tiba tiba mengagetkanku, tanpa kusadari Ia telah berdiri dibelakangku. Aku segera menutup buku harianku."ih Za ngagetin Na aja!!" jawabku kesal."Maaf, Za kan cuma pengen tau Na lagi ngapain?" jawab Za."Udah liat kalau Na lagi nulis, masih aja nanya!" jawabku marah."Iya iya, lagi nulis apaan sih?? ngeditnya udah selesai?" tanya Za kepadaku, Za adalah rekan kerjaku di kantor, namun Ia hanya bekerja setengah hari karna Za juga kuliah. Za kerja pada jam malam, sehingga aku hanya bisa bertemu dengan Za ketika aku lembur, dan kenyataannya aku memang selalu lembur."Udah" jawabku singkat."Udah ada jawaban??" tanya Za dengan serius, pertanyaan yang ingin kuhindari, pertanyaan yang kumau tak pernah ada diantara Za dan aku, dan kini, pertanyaan itu mengharuskanku menjawab yang tak pernah kutau jawabannya.Dua minggu yang lalu, Za mengungkapkan perasaannya kalau ia menyukaiku, aku terkejut karna aku sama sekali tak pernah berharap akan hal itu.Za bagiku adalah seorang kakak yang baik. perhatian dan pengertiannya yang tulus selalu kurasakan setiap aku bersamanya, dan itu membuatku nyaman, namun satu pertanyaan itu telah merubah semua keadaan baik itu menjadi perasaan canggung setiap aku bertemu dengan Za."Jangan sekarang yah, Na belum siap.." jawabku memelas."Tapi Za udah siap menerima apapun jawaban dari Na, Za butuh kepastian sekarang juga…" pinta Za dengan serius." Tapi Za,… Za kan tau gimana perasaan Na.., kalau aja Za datang lebih dulu dalam hidup Na, pasti Na tak akan ragu buat milih Za, sekarang Na bingung Antara Za dan…" belum sempat kuselesaikan kalimat itu Za sudah memotong ucapanku."Za ngerti kok, tapi Za ikhlas kalau Na belum bisa lupain masa lalu Na, Za akan sabar nunggu sampai hati Na seutuhnya jadi milik Za, yang penting sekarang ini adalah jawaban Na, bukan perasaan Na…" jelas Za kepadaku yang semakin membuatku bingung.Aku tak mau menyakiti Za hanya demi sebuah kata Ya, meskipun Za bilang ikhlas, tapi pasti ada luka dihatinya, dan aku tak mau itu.Aku dan hatiku, telah memilih satu hati yang tak memilihku, Aku memang bodoh telah meragukan ketulusan Za demi hati yang telah termiliki, entah kenapa aku terjebak dalam rangkaian kata yang sebenarnya tak begitu indah itu, mungkin ini karena aku adalah penyair yang telah dirapuhkan oleh keadaan hidup yang terlalu sulit untuk ku terima, sehingga tanpa kendali aku memasuki dunia syairnya yang tak berbalas.Dan Za hadir ketika perasaanku terluka karena rangkaian syair dalam bait bait tanpa rasa sebagai jawaban atas perasaanku terhadapnya." Na pulang ke kost dulu, dah capek!" jawabku pada Za yang tengah serius menunggu balasan atas perasaannya terhadapku. Aku lalu melangkah pergi meninggalkan Za yang tampak kecewa.Aku berjalan dalam keramaian malam kota Solo, ada beberapa tetes air yang kubiarkan keluar dari mataku, keramaian ini tak sedikitpun mampu memberikan suara untuk meramaikan hatiku agar aku tak sendiri..Aku tak segera menuju kost, langkah ini terhenti pada sebuah bangku kosong di taman kota. Aku duduk terdiam disana. Kukeluarkan selembar kertas putih dan sebuah pena dari dalam tasku." Antara Za dan dusta ini, kuciptakan kisah ini untuk hati yang tak mau berbagi hati, memang aku tak berhak memaksakan terbalasnya perasaan ini, namun aku adalah penyair rapuh yang tak berdaya ketika telah terlanjur larut dalam bait bait sederhananya…. Dan kehadiran Za adalah pelarian yang kuciptakan untuk menutupi perih ini agar tak ada perasaan bersalah dan mengkasihani luka ini…Antara Za dan perasaan ini, ada luka yang tak mungkin kan terobati meski kata maaf dan memaafkan telah terucap. Sesuatu yang telah berlalu tak akan pernah hadir kembali dalam rasa yang sama meski status kawan masih terjalin rapi, keindahan itu hanya ada di matanya yang jauh dariku, cerita cintanya yang selalu ia kisahkan adalah sebagian kecil dari luka yang kuberikan, namun tak pernah sedetikpun kubiarkan ia melihat air mata ini, dan tulisan senyum beserta dukungan atas kebahagiaannyalah yang senantiasa kubalaskan untuk menjawab curahannya kepadaku, kawannya. Aku tak bisa membencinya, dan kehadiran Za adalah masalah yang kuciptakan sebagai kewajiban untuknya mendengar kisahku yang selalu mendengarkan kisahnya.Antara Za dan… dan."Belum sempat kulanjutkan satu huruf terakhir, hujan tiba-tiba hadir dan memaksaku untuk segera berlari mencari tempat berteduh. Kulihat di seberang jalan Za melambaikan tangannya kepadaku, ada satu hal yang aneh disana, ada awan putih yang tampak dekat diatas Za dan melindunginya dari derasnya air hujan, Za terus melambaikan tangannya mengajakku untuk berteduh disampingnya.Akupun segera berlari menerobos sorotan lampu-lampu mobil yang salah satunya tak terkendali dan membawaku ke tempat yang lebih teduh, bukan disamping Za, namun disamping-Nya.-THE END-NB: Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, tokoh, dan peran itu hanya kebetulan semata.Profil pengirim:Nama: Triana Aurora WinchesterAlamat FB: aurora_broadcast@yahoo.com

  • Cerpen: Cinta Tak Berujung

    Cinta Tak Berujungoleh: Ari IndiastutiAku Ari Indi yang bisa dipanggil Ari atau Indi. Sore itu aku sedang berjalan-jalan bersama adik sepupuku hari ini. Kupikir hari ini hari yang cukup cerah. Umurnya mungkin baru 4 tahun lebih sedikit. Tapi tingkahnya terkadang seperti orang dewasa saja.Yah… hari minggu pagi seperti ini memang menyenangkan. Tak ada beban pikiran untuk berangkat pagi ke kuliah. Apalagi pagi-pagi seperti ini jalanan tidak terlalu ramai. Kendaraan yang berlalu lalang sedikit.“Kak indi!”,terdengar suara kecil adikku memanggilku.“Ya? Ada apa sayangku?”, tanyaku sambil berjongkok mensejajarkan diri dengan adikku yang lucu ini.“Itu tempat apa kak?”, tanyanya dengan nada lucu sambil menunjuk ke sebuah bangunan. Matakupun mengikuti arah yang ditunjuknya.Ternyata Upi’, nama adik sepupuku ini, menunjuk ke sebuah sekolah kanak-kanak yang memang cukup jauh dari tempat tinggalku. Sehingga aku jarang main ke tempat ini.“Itu sekolah TK, pi’. Tahun depan Upi’ sekolah disini mau?”, tanyaku pada gadis kecil berambut keriting ini.Tapi tunggu dulu. Hari minggu seperti ini kenapa anak-anak TK masuk ya?“Kak, masuk kesana yuuukkk!”, adikku mulai merengek . Jika sedang merengek seperti ini tak ada yang bisa menolaknya.Tapi lumayan. Kebetulan aku ingin tahu sedang ada acara apa disana. Jadi adikku ini bisa dijadikan alasan jika ditanya salah satu orang yang ada disana. Aku mengambil tempat duduk di beranda rumah yang ada di sekitar Taman Kanak-kanak itu. Bukan hanya aku yang duduk disini. Ada juga seorang lelaki yang cukup tampan mengajak seorang anak laki-laki seumuran Upi’.Ternyata sedang ada semacam pentas yang menampilkan kemampuan anak TK disini. Lucu sekali. Aku jadi teringat saat itu,dan memoryku kembali 11 tahun lalu. Masa kecilku, lebih tepatnya masa Taman Kanak-kanakku yang kuhabiskan bersamanya. Dulu aku tidak tinggal disini. Dulu aku tinggal di Semarang. Dan ketika aku Sekolah Dasar kelas 2 ayahku dipindah tugaskan ke Magelang.Tapi kenangan masa-masa ketika aku di Semarang tetaplah melekat dalam hatiku. Apalagi masa-masa TK saat itu. Bersama cinta masa kecilku. Entah bisa dibilang cinta masa kecil atau apalah. Yang penting bukan cinta monyet. Karena aku dan dia bukan monyet. hhehhee… JEh? Kulihat ada 2 orang anak sedang menyanyi di depan. Yang satu laki-laki,satunya perempuan. Lucu sekali melihat mereka berdua. Mengingatkanku ketika aku masih seumuran mereka dulu. Bersamanya. Benar-benar masa kecil yang indah untuk diingat dan tak akan pernah kulupakan.Namanya Adi Yudha. Aku mengenalnya karena kami satu sekolah saat masih Taman Kanak-kanak dulu. Sejak perkenalan itu entah mengapa kami merasa cocok. Aku dan Yudha anak dari keluarga tentara. Dan kami tinggal di sebuah kompleks asrama Srondol. Entah kebetulan atau apa rumah kami berdekatan,barhadapan bahkan.Banyak hal kami lalui bersama. Dari memanjat pohon, bahkan ketika jatuh dari pohon Yudha yang menolongku. Main PS bareng. Makan bareng,terutama makan kerang .Banyak hal kami lakukan bersama. Pernah Juga sepeda kesayanganku dibocorin banyak sama temenku. Dan Yudha juga yang membantuku. Aku menumpuk banyak alasan agar dia mau mengantarku berangkat maupun pulang sekolah.“kaakkkkkkk!”, aku mendengar seorang anak kecil berteriak padaku. Mengagetkanku saja.“Ada apa sih?”, tanyaku menekan kemarahanku.Upi’ membangunkanku dari kenangan indahku. Tambah lagi laki-laki seumuran denganku yang sejak tadi duduk disebelahku malah menertawaiku. Sementara yang ditanya hanya diam saja dan duduk disampingku.“Ada yang lucu mas?”, tanyaku ketus. Tak peduli kalau Upi’ ada disebelahku.“Hmhmhmhm…. Tidak!”, jawab cowok itu sambil menahan tawanya.“Hhhh!”,aku mengalihkan pandanganku ke panggung tanpa menghilangkan raut wajah sebalku.“Aku ulin! Kau?”, kudengar cowok itu mulai berbicara. Sepertinya tawanya sudah reda.Kemudian kuangkat kepalaku menatapnya.Dia sedang berdiri. Menyunggingkan sedikit senyum. Mungkin itu senyum andalannya. Dan mengulurkan tangannya padaku. Apa aku harus menolak uluran tangannya atau tidak. Jika ku tolak pasti dia sakit hati.“Aku Ari Indi”, kupilih untuk mengulurkan tanganku menyambut jabatan tangannya. Kubuang semua egoku. Dalam pikirku aku tak boleh menyakiti hati orang lain meskipun itu berarti aku yang harus tersakiti.Aku tercengang. Yang kulihat malah Upi’ sedang senyum-senyum gak jelas sambl memandangi wajah Ulin. Oh Tuhan! Anak kecil jaman sekarang terlalu mudah dewasa. Aku merasakan handphone di saku celana jeansku bergetar. Setelah kulihat ternyata ada satu pesan diterima.1 pesan diterimaDari : Wenny Nda Q [085643445566]Heiiii nda??km dmn cih?Replay….Ke: Wenny Nda Q [085643445566]Di TK kartika IV srondol sktr rmh, lg jln2 ama adek, ksni aj… ^^Kelihatannya sudah tidak ada balasan lagi. Akupun memasukkan kembali Handphoneku dan menengok Ulin juga adikku.“Siapa? Cowokmu ya?”, tanya Ulin padaku. Yang sontak membuatku gelagapan.Bagaimana tidak. Aku dan Wenny memang dekat. Kita kemana mana berdua.Tapi tidak ada hubungan apapun diantara kami selain teman. Jujur saja aku memang menyukainya. Sangat. Entah sejak kapan aku memiliki perasaan pada cowok itu.“Hey!”, ulin megibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku. “Napa malah nglamun non?”, tanyanya lagi.“Eh? Bukan! Cuma temen kok!”, kataku . Tak mau menumbuhkan lebih banyak pertanyaan di otaknya.Akupun berpamitan pada Ulin dan berjalan menuju pinggir jalan.“Tin!Tin!Tin!!!!!!” Sebuah suara klakson motor mengagetkanku. Ternyata itu Wenny yang menjemputku. Tapi moodku sudah berubah buruk saat ini. Setelah sampai dirumahpun aku tetap diam. Sementara aku hanya berdiam di kamar. Untuk beberapa saat aku hanya membuka album masa TKku.“Indii, nak Wenny mau pamit!”, kata ibuku. Aku segera beranjak dar kamarku. Ketika ku tengok kebelakang, ayah ibuku sudah masuk dalam rumah.“Kamu kenapa Nda,kok kayaknya lagi ada masalah?”, tanya Wenny tiba-tiba.“Lagi gak enak badan aja kok nda,gak apa-apa”,.muka pucat yang sebenernyaa bohong.“Jika ada apa-apa ceritalah padaku. Aku siap mendengarnya.ok Nda”, katanya sambil merangkulku. Wenny memang bersikap seolah mengerti apa yang kualami. Aku tahu dia hanya mencoba mengerti. Sebelum dia pergi tak lupa dia selalu menjabat tanganku,dan cium kening, seperti pacaran saja. hehhehehee J“Makasihh”, lirihku. Ya… aku mengucapkan itu begitu lirih. Aku tak mau menyakitinya. Dia, orang yang kusayangi. Untuk saat ini.Dia yang mengisi hatiku, dia orang yang sempurna buatku.Kulihat dia mengangguk. Setelah dia pergi dari pandanganku, aku kembali memasuki kamarku. Aku memikirkan semuanya. Aku tak mau menyakiti siapapun. Aku mengambil album TKku. Kubuka lembar demi lembar. Mengenang masa TK. Masa bersama Yudha.Aku masih ingat ketika kami hujan-hujanan. Berlari menerjang hujan hanya dengan jas hujan kecil milik kami. Begitu menyenangkan. Aku juga ingat waktu itu aku jadi rajin juga karenanya. Ya… Karena seorang Yudha.Pertemanan kami terbilang cukup awet. Meski terkadang ada sedikit pertengkaran kecil diantara kami. Tapi, akhirnya baikan juga. Hingga saat itu tiba. Ayahku dipindah tugaskan ke Magelang. Aku terkejut. Aku tak bisa berpisah dengan Yudha. Terlalu sulit untukku berpisah dengan Yudha. Tetapi Yudha kecil begitu tegar. Dia tetap menenangkanku. Bahkan sebelum kepindahanku, dia memberikan hadiah 1 kardus untukku yang berisi benda-banda lucu. Dia juga mengantarku. Menyedihkan memang berpisah dengannya. Tapi aku senang masih bisa mengenangnya.Aku berniat mencari jejak semua teman-teman TKku. Setiap pulang sekolah, sebelum kembali ke rutinitas belajarku aku sempatkan mengutak-atik hapeku. Tak lupa pula dengan laptopku. Aku ingin mencari teman-teman TKku. Paling tidak nomor handphonenya.1 minggu…. 2 minggu… 1 bulan… 2 bulan sudah aku mencari nomor handphone teman-teman masa kanak-kanakku. Tapi tidak satupun diantar mereka yang tau nomor handphone Yudha. Kata salah satu temanku, tak lama setelah kepindahanku, ayah yudha juga dipindahtugaskan. Katanya Yudha pindah ke Gunung Pati.Pencarian 1 tahun berhasil. Tanpa membuang waktu akupun menelpon nomor yudha.“Halo, Assalamu’alaikum”, suara khas seorang cowok menyambut teleponku. Meskipun aku tau itu bukan suara khas mlik Yudha kecil. Karena semakin dewasa suaranya juga berubah bukan.“Ya, H-halo”, ucapku agak gugup. Entah kenapa jantung berdetak cepat saat ini. “Apa benar ini Yudha?”, tanyaku mencoba menghilangkan rasa gugupku.“Iya, benar. Dengan siapa ya?”, mendengar itu hatiku seakan melayang. Ya tuhan, pencarianku tak sia-sia kini aku menemukannya.Setelah aku menyebutkan namaku. Dari suaranya aku bisa mendengar kalau dia juga senang. Kamipun bercerita banyak di telepon. Tak kupedulikan pulsaku,kami telepon 3jam. Aku baru tahu, ternyata dia mencariku. Ya… yudha juga mencariku. Dia juga takut kalau-kalau kami bertemu ternyata aku sudah melupakannya. Mana mungkin aku melupakannya. Cinta masa laluku. Bahkan waktu ulang tahunku yang ke 17 tahun ini. Harapanku adalah bertemu dengannya.Hari demi haripun berlalu. Setelah pencarianku itu, kini aku telah lebih dekat dengan Yudha. Aku tahu disampingku ada Wenny sekarang. Tapi aku tak pernah tau apa maksud kedekatan kami selama ini. Aku sekarang lebih sering mengobrol dengan Yudha, meski hanya melalui telepon saja.Hari ini tanggal 25 Desember 2010. Di salah satu bumi perkemahan daerah Gunung Pati dekat SMP 24. Jantung terus berdetak lebih cepat setiap mengingat kedekatanku dengan Yudha.Aku kesana untuk ambil komik untuk Wenny yang cuma ada di Semarang.Kami berjalan, naik dan naik. Mencari pemandangan indah untuk meluangkan waktu kami, dan mengobrol. Mengenang masa lalu kami.kami berada di bukit yang kata dia kalau di malam itu indah banget..Hatiku semakin berpacu dengan waktu ketika kami saling mengungkapkan perasaan kami. Ya…“Yud, aku lama cari kamu karena aku sayang banget sama kamu,,”dia tercengang dengan kata –kataku dan aku buru-buruminta maaf.“Ari, kamu itu gak perlu minta maaf karena aku juga sayang sama kamu”,Oh,ternayata kita itu sama –sama menyukai. Aku tak tau pastinya sejak kapan.Kita selanjutnya hanya tertawa, dan tak memikirkan kalimat yang aku ucapakan. Lalu kupetik bunga merah yang akan sebagai saksiku. Lalu kami naik kesebuah gasebo dan kita mengalihkan pandanganku ke pemandangan di depan kami.Aku pulang dengan perasaan bahagia. Tak kusangka Yudha kecil kini sudah berubah semakin dewasa. Dia menjadi cowok yang alim, baik, dan tetap menjadi Yudha yang ku kenal dulu. Dengan humor-humor kecilnya yang selalu membuatku tertawa. Kata-katanya yang membuatku tenang,disaat aku butuh sesuatu pun Yudha yang menjadi tempat cerita dan memberikan solusi yang buat aku tenang.Hariku terasa senag bersama Yudha dan Wenny.Gimana kisah selanjutnya indi? dengan siapakah cintanya akan berlabuh?Tunggu saja ya,,,Sekilas cerita sebelumnya,aku lagi bahagia dengan hadirnya Wenny dan Yudha.Namun, kebahagian itu gak selamanya. Keesokannya aku dibuat syok dengan status FB Wenny yang jadi “menikah dengan Annis”,lalu aku segera sms,,Kepada :Wenny Nda Q [085643445566]Tu maksudnya status menikah apa? kok sama dia?Gak berapa lama dia balas,,“thrretttt,,threttt,,thretttt,,,,,”Dari : Wenny Nda Q [085643445566]Lh0 nda kan emg udh tau q ma dia?..Aku langsung tersentak akan kata-kata dia, walaupun aku memang tidak jelas hubungannya. Tapi dia udah perhatian, antar jemput atau menemani aku kemana saja. Aku tak bisa terima kenyataan. Aku cerita dengan Ibu semua. Dia tahu perasaan aku dan melarang aku dekat.Belum aku sembuh sakit aku cerita sama Yudha dan bertanya kalimat suka yang pernah kita ungkapain bersama-sama. Tapi aku tambah sakit saat ku baca sms dari Yudha.1 pesanDari :Yudha [085643095613]Assalammualaikum ari, aku tahu perasaanmu saat ini tapi aku juga mau ngomong kalau aku sudah punya cewek. Maaf aku tak bisa bohongi perasaan ini, aku sayang kamu tapi gimana aku sudah punya ccewek.Seketika aku menangis semakin menjadi-jadi.kenapa semua terjadi padaku.Aku dengan berat hati membalas sms darinyaKepada :Yudha [085643095613]Walaikumsalam Yud, iya Yud gak apa-apa. Aku juga tahu kalau kita hanya teman kecil ya. tapi kita tetap temen ya….Ada balasan dari Yudha,tapi aku udah gak sanggup buat jawab sms.Aku juga dengan Wenny tidak smsan untuk 3 bulan.Hari-hariku hanya diam.Masih meratapi kisahku,tapi aku harus bangkit..Setelah 3 bulan,,,,,1 pesanDari:Dari :Mz Wen [085643445566]Indi, dlu nah beliin komik, boleh q ambil.^^Kepada : Mz wen [085643445566]Iya ambil, dirmh.10 menit kemudian,,,,,Mz Wenny udah didepan rumahku,aku buka dan aku suruh duduk.Hanya senyum kecut yang aku berikan.“Duduk mz,” dengan nada berbeda dari 3 bulan lalu yang aku ramah sekali. Karena walupun sudah lama aku tetap merasa sakit itu masih membekas di hati ini dan tak akan hilang.“Iya, makasih. Sendirian dirumah?” dia mungkin merasa tidak enak tapi gimana komik itu udah gak ada di toko manapun dan aku punya itu komik. Mau tidak mau dia tetap temui aku. Dia juga berbeda tak seperti dahulu.Aku pun tak jawab pertanyaan dia, dan kebelakang untuk buatkan minum.“Ini mz minumnya,, waduh, maemanny cuma ini,, maaf ya,,. Entar ya, tak ambilke,,, minum dulu deh..” ya, aku mulai agak gak ketus sih, gimanapun dia udah baik 3 bulan temani aku, layaknya pacar tapi kenyataan pahit aku terima di belakang.“Ok.. maksh, malah repot-repot,, dikeluarke semua makannya,, hhee”, katanya sambil tertawa, seakan tak pernah terjadi apapun,,Lalu kuberikan komik itu, dan itu benar, dia tanya “Ganti berapa?”Aku sih dikit bohong ”Gak sah, gratis aja, itu juga dikasih sama temen kok,” Walupun hati ini sakit, aku belain ke semarang, ambil komik , bayar juga di yudha, dia terima beres dan hanya ucapan makasih. Tapi tak apalah, itung-itung dia bawakan makanan, temani aku kemna-mana aku bayar dengan komik itu.“Bener nih, makasih ya..” Dia sambil tersenyum, senyum manis yang dulu buatku sekarang dia milik orang. Kita mengobrol sih, seperti biasa aja hanya gak panggil “nda”, itu buatku sedih tapi harus terima semuanya.Saat aku ngobrol sama Wenny handphoneku bergetar,,Dari :Pratama [087731088706]Ao,, agy apa? jo lupa maem ntr maag.. heheReplay…Kepada :Pratama [087731088706]Ao juja,, ea,, mksh ez ingetin q sllu ya,, :DSedikit ku lirik Wenny sepertinya lihat aku yang lama membalas sms itu dan terlihat serius. Memang aku lama banget, itu aku sengaja.“Cie, udah dapat cowok? kenalin dong sama aku, siapa cowok yang beruntung dapatin kamu??”, kata Weny yang sambil tertawa dan sambil menggoda aku.Sambil tersenyum aja aku, “Gak kok, temen aja”. Sambil berpikir kata-kata Weny ‘cowok yang beruntung dapatin kamu’, apa ya maksud dia? Aku berpikir kata-kata dia sampai aku terkejut.“Hellllooo,, kesambet lho say ama syaiton,, hehhe”,, gaya khas lucunya sambil ketawa.Itu yang aku suka darinya, senyum ramah yang gak pernah habis buatku, jadi inget kalau ada tugas berat aku ngeluh, pasti dia dukung aku dengan telepon dan ngajak tertawa.“Ahh.. gak nglamun kok,, uh,, dasar mz Wen, masak say jadi sayton,, hhuh”, menggrutu sebel tapi tetap senyum.Sejahat dia nyakitin aku, aku tetap tak bisa benci sama dia. Walaupun disaat aku kemarin sakit ada Yudha, ada Lucky. Lucky lah yang selalu semangatin aku, tiap detik sms aku buat ingetin istirahat, makan. Tapi aku kemarin-kemarin belum sadar akan kebaikan dia yang teramat baik buat aku.“Ndi, aku pulang ya,, maksih udah ngrepotin kamu, gratis juga ini komik, hhee”, sambil berdiri dan mengulurkan tangannya. Lalu aku juga mengulurkan tangan. Tiba-tiba, tanganku dicium dan dia berpamitan. Aku juga mencium tangannya.“Iya mz, sama-sama deh..”, sambil melepaskan tangank ini.“Da,, da,,, indi,,”, dia sambil naik motor dan melambaikan tangannya.“Ok mz, ati-ati”, ucapku seperti biasa. Ku tunggu hingga ia hilang dari pandangan mata ku ini. Cepat sekali karena dia membawa motor selalu dengan kecepatan tinggi.Tak berapa lama,handphone yang aku taruh dimeja bergetar.“threeeettt,,threeeett,,thretttttt….”2 pesan diterimaDari : Mz wen [085643445566]Ao,,q dah sampe rumah,maksh ^^Replay:Kepada : Mz wen [085643445566]Wuz,,cepet,naek jet ^^ hhehheDari :Yudha [085643095613]Rik,aku udah didaerahmu.Rumahmu yang mana??Aku tidak percaya kalau Yudha udah didaerah rumahku. Gak pikir lama aku telepon dia. Akhirnya dia kerumahku untuk tepati janjinya padaku. Aku merasa senang sekali walaupun aku tahu dia milik orang lain. Aku perisalakan masuk kerumah, dia cerita banyak sama aku. Dia ingat kalau dia pernah antar pindahan. Seneng banget. Karena udah sore dia pulang, lagipula perjalanan Gunung pati-Magelang cukup jauh.“Makasih ya rik, udah jadikan aku tamu istimewa, kamu jadi repot”, nada halus yang diucapkan tapi buat aku ketawa.“iya Yud, kan kamu juga lagi sekali kerumaku setelah 11 tahun tidak kerumahku,” nada halus juga, biar kelihatan sopan gitu.“Assalammualikum ya rik,kapan-kapan kamu main lagi ketempatku ya.”, sambil mulai menyalakan motornya.“Walaikumsalam Yud, iya kapan-kapan. Kamu juga sering main-main ke Magelang ya,, ati –ati ya Yud,,”, kulambaikan tanganku dan senyum ku tebar untuknya.Kulihat sampai dia hilang dari pandanganku. Sesaaat aku melamun berpikir,kenapa aku jadi dekat lagi sama Wenny sama Yudha. Ah, tak apalah yang penting mereka bahagia,aku ingin menjauh tapi hati ini tak mugkin dibohongi untuk tetap dengannya.Aku berpikir kenapa cinta masa kecilku juga lenyap, cinta yang ada dihadapanku pun juga hanya menyakiti hati ini. Tapi aku tak perlu cinta mereka, aku bahagia jika meereka bahagia diatas kesedihan aku ini.“Tinnnnnnnnnn,,,,,”,bunyi klakson truk yang lewat membangunkanku dari lamunan ini.Dan aku masuk kerumah kembali.Beberapa bulan kedepan…..Aku tak pernah putus sms sama Yudha sebagai tali persaudaraan. Sering kasih kabar, tanya kabar keluarga. Aku juga jadi smsan Weny, tapi tak sedekat dahulu, karena aku tahu batasanya.Aku baru tahu makna ‘cinta tak harus memiliki’. Aku alami sendiri kisah cinta ini, cintaku memang tak ditakdirkan untuk memiliki mereka, tapi hati ini telah bahagia saat aku dulu bersamanya. Harus terima semua dengan hati dan pikiran tenang. Akhirnya aku tak bersama Yudha atau Wenny…Tapi aku punya prinsip “Aku tak apa jika sekarang aku bukan siapa-siapa untukmu,, Tapi aku berharap suatu saat nanti menjadi terakhir dihatimu”^^THE END^^========================================================================Kenalin aku Ari Indiastuti. Aku dilahirkan di kota Semarang pada Januari 19 tahun lalu. Aku biasanya dipanggil Ari atau Indi oleh orang tua dan teman-temanku. Jika kalian semua pengen lebih kenal aku bisa cari aja di fecabook di alamat ariindi2501@yahoo.com(Ari Indiastuti Weck Weck),bisa juga twitter di mania.crazy@live.com(@indi_weck),atau bisa kirim email di ariindiastuti@rocketmail.com yang pasti aku baca,mungkin juga bisa tukar-tukar sesuatu di blog ku di ariindiastuti.blogspot.com. aku sudah hobby nulis,beberapa ceritaku dan puisi juga beberapa dimuat di majalah Semarang, Magelang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*