Ketika Cinta Harus Memilih ~ 07 | Cerpen Cinta

Ketika Cinta Harus Memilih ~ part 7. Biar bacanya nyambung untuk part sebelumnya bisa langsung klik disini.
Sambil bersiul dan sekali – kali terdengar bersenandung kecil Rangga memasuki halaman rumahnya. Begitu turun dari motor, perhatiannya beralih ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Dalam hati ia bertanya – tanya. Siapa kira – kira pemiliknya?. Karena ia berani bertaruh kalau itu pasti bukan mobil papanya.

Ketika Cinta Harus Memilih
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rangga segera melongos masuk ke dalam rumah yang memang tidak di kunci. Setengah tak percaya pada penglihatannya saat mendapati sosok yang kini duduk santai di ruang tamu sambil membolak – balik halaman majalah remaja ditangan.
"Fadhly?" bibir Rangga menyerukan sebuah nama untuk meyakinkan diri.
"Eh Rangga, akhirnya loe pulang juga."
Dengan cepat Rangga melangkah menghampiri tamunya yang tak lain adalah Fadhly. Sahabat karibnya waktu masih SMA dulu. Sudah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu. Yang jelas setelah hari kelulusan sekolah.
"Fadhly, ini beneran elo kan?" tanya Rangga yang masih merasa tidak yakin. Karena kabar terakhir yang ia dengar, sahabatnya itu dulu melanjutkan kuliah keluar negeri. Maklumlah, namanya juga anak direktur perusahaan paling ternama.
"Ya iya lah. Memangnya siapa lagi. Perasaan dulu enyak gue nggak pernah ngelahirin gue dalam keadaan kembar."
"Ah, elo bisa aja. Gimana kabarnya sekarang. Kalau dilihat dari penampilan nya udah jadi BOS besar ni kayaknya?" tanya Rangga sambil duduk disamping Fadly yang tampak sedang meletakan kembali majalah remaja yang sedari tadi di bacanya.
"Apaan si loe. Gue cuma lagi belajar aja. Itung – itung bantuin bokap" Fadly tampak merendah.
"Belajar jadi bos maksutnya?" kejar Rangga.
Kali ini Fadly hanya menangapi dengan tawa. Sama sekali tidak membantah. Karena memang begitulah kenyataannya.
"Oke deh, karena kita juga udah lama banget nggak ketemu, sekarang ayo, kita saling bertukar cerita. Roman – romannya loe keliatan lagi happy nie" Fadly mengalihkan Topik pembicaraan.
Rangga hanya angkat bahu. Namun tak urung menyetujui usul sahabatnya itu. Dan tanpa sadar, meluncurlah cerita demi cerita dari mulutnya.
*** Ketika cinta harus memilih ***
"Tumben banget loe hari ini jemput gue pake mobil. Mobil baru ya?" komentar Cinta saat mendapati Rangga yang menjemputnya pagi itu tanpa motor yang biasa ditungganginya.
"Tadinya si gue pengen pamer ini punya gue. Sayangnya bukan. Ini punya temen yang gue pinjem" kata Rangga sambil dengan cekataan tangan nya membukakan pintu untuk Cinta sebelum kemudian ia menyusul duduk dibelakang kemudi.
"Oh ya Cinta, hari ini loe masuk berapa mata kuliah" tanya Rangga mulai melajukan mobil hitamnya.
"Hari ini ya?. E, cuma satu" balas Cinta setelah berfikir beberapa saat. "kenapa?"
"Wah kebetulan banget kalau gitu. Gue juga cuma satu. Kalau gitu, entar habis kuliah kita jalan yuk."
"Tumben banget loe ngajak gue jalan. Pasti ada apa-apanya ya" selidik Cinta dengan mata menyipit.
"Ye, jangan seuzon gitu donk. Emang apa yang aneh kalau orang pacaran terus jalan bareng?"
"Iya. Tapi kita kan pacarannya cuma bo'ongan."
Tepat setelah Cinta menyelesaikan ucapanya dengan nada santai barusan mobil mereka terhenti karena Rangga menginjak Rem nya secara mendadak.
"Astaga Rangga, loe kenapa si" geram Cinta sambil mengusap – usap dadanya karena kaget.
"Emangnya gue pernah bilang kalau elo, cuma pacar bo'ongan?"
"He?" Cinta menoleh.
Menatap Rangga yang kini juga sedang menatapnya lurus. Merasa sedikit salah tingkah sekaligus tidak nyaman Cinta segera mengalihkan tatapannya. Dan lagi – lagi jantungnya berdebar dengan cepat. Namun bedanya ini bukan karena kaget. Cuma karena…. Karena…. Entahlah. Cinta juga tidak tau.
"O… E…. Ehem, entar siang ya. Sory kayaknya gue nggak bisa deh" kata Cinta.
Rangga mengernyit heran saat menangkap sedikt nada gugup dari mulut Cinta yang mengabaikan pertanyaannya barusan. Bahkan ia juga menyadari Cinta sama sekali tidak berani menatapnya.
"Kenapa?" tanya Rangga mengabaikan semua dugaan- dugaan liar yang bermain di kepalanya.
"Gue kemaren udah terlanjur janji sama Kasih buat nemenin dia beli buku" balas Cinta.
"Nggak bisa di batalin dulu ya?" tanya Rangga sambil kembali melajukan mobilnya.
"Ya enggak lah. Secara gue kemaren kan udah terlanjur janji. Jadi Gue jadi nggak enak donk kalo maen batalin sembarangan" Cinta beralasan.
"O… Ya udah kalau gitu. Lain kali aja kita jalannya" Rangga mengalah Walau tak urung merasa sedikit kecewa. Merasa sia – sia meminjam mobil sahabatnya kemaren kalau pada akhirnya gagal juga mengajak Cinta jalan.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sepulang kuliah, sesuai rencana Cinta menemani Kkasih untuk membeli buku. Setelah mendapatkan buku yang mereka cari, Mereka tidak langsung pulang. Karena Kasih mati – matian menahan Cinta untuk keliling – keliling Mall sambil cuci mata. Jujur saja, Walaupun cewek tapi Cinta termasuk kedalam katagori manusia yang paling males kalau harus di suruh belanja.
"Ayo dong Kasih. Kita pulang. Cape gue. Kaki gue juga udah pegel banget nie" Kata Cinta yang sebenernya lebih mirip kalau di sebut sebagai Rengekan.
"Bentar Lagi. Kita liat baju – baju yang di sana. Kayaknya lagi diskon besar – besaran tuh."
"Astaga Kasih. Memangnya ini belum cukup?" Kata Cinta sambil mengangkat tas belanja bawaannya.
"Tapi kan….."
"Kalau loe nggak mau pulang. Biar gue pulang duluan" Potong Cinta.
"Hufh… iya deh iya. Kita pulang sekarang. Tapi sebelum itu kita makan dulu di kaffe depan. Biar gue yang traktir" Kasih akhirnya ngalah. Cinta menggangguk setuju. Secara perutnya juga memang sudah terasa lapar minta diisi.
"Rangga… Eh itu beneran Rangga kan?"
Cinta langsung menoleh. Mengikuti arah terlunjuk Kasih. Sedikit terkejut saat mendapati Rangga beneran ada di sana. Tampak sedang berbicara akrap dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Tapi kalau melihat dari tampilannya si, sepertinya mereka seumuran.
"Kita Samperin yuk" Ajak Kasih sambil melangkah maju.
"Eh jangan. Mo ngapain?" tahan Cinta.
Tapi percuma karena Kasih tidak perduli. Justu malah dengan santai nya meneriakan nama Rangga sehingga kedua orang itu kini menatapnya. Akhirnya dengan pasrah Cinta menurut. Habis mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur.
"Rangga, loe juga disini?" sapa Kasih.
Rangga menggangguk tapi pandanganya terarah kearah Cinta yang tampak hanya menunduk.
"Loe sendiri. Cinta bilang tadi katanya mau nemenin elo beli buku. Tapi kok malah isi Mall ini juga pada ngikut ya?" tanya Rangga setengah meledek sambil mengalihkan tatapan kearah Kasih yang hanya nyegir.
"He he he. Biasalah. Sekalian aja. Seperti kata pepatah Sambil menyelam dapat Ikan" Balas Kasih sok berfilsafat. Rangga hanya tertawa menanggapinya.
"Ehem….."
Rangga segera melirik kearah sahabatnya yang sedari tadi dicuekin.
"Oh ya, gue sampe lupa. Kenalin ini temen gue. Namanya Fadly" kata Rangga kemudian. Fadly yang merasa namanya di sebut segera berdiri. Mengulurkan tangan sambil tersenyum kearah Kasih. Tak lupa menyebutkan namanya.
"Kasih, Temennya kuliahnya Rangga" Balas Kasih. Kemudian Fadly beralih kearah Cinta.
"Cinta" Balas Cinta lirih.
"Kalau dia Pacarnya Rangga" Sambung Kasih yang kontan membuat membuat ketiganya melotot menatap kearahnya. Hanya bedanya kalau Rangga dan Cinta melotot kesel, Kalau Fadly justru merasa tak percaya akan pendengarannya barusan.
"Pacar?" ulang Fadly,
"He'eh" Kasih mengangguk.
Cinta hanya menunduk. Dan saat pandangan Fadly beralih kearah Rangga, sahabatnya tampak sedang mengusap – usap tengkuknya. Jelas terlihat salah tinggah.
"Loe berhutang satu cerita sama gue?" bisik Fadly lirih sambil mencondongkan tubuhnya kearah Rangga. Kasih hanya mengernyit heran karena sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya" kata Cinta yang sedari tadi terdiam.
"Eh kalian mau kemana?. Bukannya kalian ke sini mau makan juga ya?. ya udah sekalian gabung aja. Biar gue yang traktir deh" Cegah Fadly angkat bicara mendahului Rangga.
"Oh makasih. Ayo Cinta" Tanpa memperdulikan isarat Cinta yang jelas – jelas keberatan, Kasih dengan santai duduk di kursi kosong yang ada didekatnya. Dalam hati Cinta jelas – jelas merutuki sifat sahabatnya yang paling demen kalau mendengar kata gratis.
"Kalian mau pesan apa nie?" Rangga menawarkan. Kasih segera menyebut kan aneka makanan pesannannya. Sementara Cinta hanya mengeleng.
"Kalau Cinta seperti biasa aja. Mie Soo sama Es rumput laut" Kasih segera berinisiatif.
Kemudian segera berpura – pura sok berbicara akrab pada Fadly saat menyadari tatapan Kesel dari Cinta. Lagi – lagi Cinta hanya merutuk dalam hati. Dan begitu pesanan sampai ia hanya memakannya dalam diam. Buka mulut hanya pas di tanya. Merasa sama sekali tidak tertarik ikutan nimbrung pembicaraan kasih yang memang gampang akrap pada siapapun.
"Bagaimana kalau habis ini kita jalan dulu" ajak Fadly setelah mereka menghabiskan makanannya.
"Bisa. Kayaknya seru nie. Gimana kalau kita nonton aja. Denger – denger ada filem seru. Habbi Ainun kayaknya baru keluar tu " Sahut Kasih cepat.
"Gue juga nggak keberatan" Rangga menambahkan.
"Elo cin?" tanya Fadly kearah Cinta yang masih terdiam.
"Ehem. Sory. Tapi gue nggak bisa ikutan. Laen kali aja ya?" Tolak Cinta halus.
"Yah Cinta. Gak seru banget si loe" Kasih terlihat kecewa. "Ayo dong loe ikut. Kalau loe nggak ikut, gue juga ogah" bujuk Kasih lagi.
"Ya jangan gitu donk. Loe pergi aja. Gue nggak papa" Cinta merasa tidak enak.
"Nggak mau…." Kasih mengeleng.
Rangga yang diam – diam tak urung juga merasa kecewa mendengar penolakan Cinta melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 16:16. Pantesan Cinta menolak. Sudah sore ternyata, pikirnya.
"Ya udah gini aja. Kasih biar tetep jalan bareng sama Fadly. Soal Cinta biar gue yang nganterin"
"Tapi loe kan nggak bawa motor?" Fadly mengingatkan.
"Biar gue pulang sendiri . Kasih loe jalan aja. Bareng sama Rangga sekalian."
"Tapi kan…." Kasih tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam Cinta. "Iya deh".
"Kalau gitu gue pulang dulu" Pamit Cinta segera beranjak bangun.
"Loe mau kemana?" tanya Cinta saat mendapati Rangga juga bangkit berdiri.
"Kan tadi gue udah bilang kalau gue mo nganterin elo."
"Tapi kan gue udah bilang nggak usah."
"Kalau gue bilang ia artinya IYA. Udah buruan. Udah sore nie" Tandas Rangga mendahului Cinta melangkah keluar. Fadly dan Kasih masih duduk di santai di bangkunya. Menatap kelakuan kedua insan di hadapannya yang mulai melangkah menjauh.
"Ah mereka so sweet banget kan?".
Fadly menoleh menatap kearah Kasih yang masih asik menatap punggung Cinta yang mulai hilang di balik pintu.
"Eh mereka pacarannya udah lama ya?" selidik Fadly.
"Belum si. Masih baru – baru ini aja kok. Memangnya Rangga nggak Cerita sama loe?"
Kasih balik bertanya. Fadly mengeleng.
"Kasih, kalau gue tanya – tanya nggak papa kan?"
"Soal apa?" Tanya Kasih dengan kening berkerut.
Fadly tidak segera menjawab. Samar sebuah senyum terukir di sudut bibirnya. Sementara Kasih masih terdiam menanti kelanjutannya.
"Soal hubungan mereka berdua. Tapi sebelum itu atau kita jalan. Ini juga udah sore. Tadi katanya loe mau nonton."
Kali ini kasih mengangguk membenarkan. Mengikuti jejak Cinta dan Rangga, Melangkah keluar meninggalkan kaffe itu.
*** Ketika cinta harus memilih ***
"Tadi kan gue udah bilang kalau gue bisa pulang sendiri. Kenapa si loe pake nganterin gue segala?" Rutuk Cinta sambil duduk disalah satu kursi di dalam bus, Karena kebetulan sepi Rangga juga duduk di sampingnya.
"Memangnya ada yang aneh ya kalau gue nganterin pacar gue pulang?".
"Tapi kan kita nggak beneran pacaran."
Rangga Terdiam. Sama sekali tidak membalas. Dengan berlahan bus juga mulai berjalan.
"Cinta" Panggil Rangga lirih.
"Ya"Sahut Cinta segera menoleh. Tapi Rangga sama sekali tidak menatap nya. Justru ia malah menunduk.
"Jujur aja, Selama ini loe anggap gue sebagai apa?"
"Ya?" Cinta terlihat bingung sakali gus kaget. Sama sekali tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti ini dari mulut Rangga. Kali ini Rangga mengalihkan pandangan. Menatap lurus kearah Cinta yang juga sedang menatapnya.
"Gue tanya, selama ini loe anggap gue sebagai apa?. Apa bener loe cuma anggap gue sebagai pacar bo'ongan?"
"Loe aneh banget si, Kenapa loe tiba – tiba nanya kayak gini?" tanya Cinta terlihat mulai tidak nyaman dengan arah permbicaaraan mereka.
"Jadi bener?" tanya Rangga tanpa memperdulikan pertanyaan Cinta barusan.
"Tapi bukannya selama ini hubungan kita memang cuma pacar bo'ongan ya?"
"Gue nggak pernah bilang kayak gitu?"
"Tapi kan…."
"Sudah lah. Lupain aja. Nggak penting juga kok" Potong Rangga cepat.
Cinta terdiam. Mulutnya kembali terbuka untuk mengatakan sesuatu. Tapi batal, karena ia juga masih bingung mau berkomentar apa. Sehingga kali ini keduanya kembali terdiam. Bahkan sampai saat keduanya tiba di halte di dekat rumah cinta.
"Gue ngantarnya sampai sini aja nggak papa kan?. Ini juga sudah sore. Bentar lagi bokap loe juga pasti pulang. Loe juga nggak mau di marahin lagi kan karena ketauan pulang bareng gue?" Rangga membuka pembicaraan.
"Iya, Nggak papa. Ma kasih juga karena loe udah nganterin gue."
Rangga hanya mengangguk membenarkan. Dengan cepat Cinta turun sebelum bus kembali berlalu. Perasaannya saja atau sifat Rangga tadi memang terlihat aneh. Tapi dengan cepat di tepisnya pikiran itu jauh – jauh saat melirik jam sudah menunjukan hampir tepat pukul lima. Setengah berlari ia menuju ke rumah. Tak ingin keduluan sang papa yang bisa menimbulkan akibat buruk lainya.
To Be Continue….
~ With love Admin ~ LovelyStarNight

Random Posts

  • Akhir Kisah Kita

    Akhir Kisah KitaOleh: Sania DewantiPagi ini matahari baru muncul dari ufuk Timur. Kaca jendela rumahku masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang. Pagi ini rasanya malas sekali keluar dari tempat tidurku dan pergi ke sekolah. Kalau tidak dibangun paksa ibu,aku pasti bakalan kebablasan bangun sampai siang. Seperti biasanya ayah mengantarku ke SMA 123 yang cukup terkenal di Bandung. Sesampainya di gerbang cepat-cepat aku berlari menuju kelas. Aku mengumpat “Huh,masih harus naik 2 anak tangga lagi,bakalan terlambat nih!”. Sesampainya di pintu kelas,ternyata bu Murni sudah mengabsen muridnya dari tadi. Bu Murni yang melihatku diluar kelas langsung menutup pintu dan tidak memperbolehkanku masuk. Dengan langkah lunglai aku duduk di bangku depan kelasku dan menunggu sampai pelajaran Biology selesai. “Aduh,sial banget sih aku hari ini!Harusnya tadi gak usah pake acara sarapan dulu dirumah”,aku memaki diriku sendiri.Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak laki” berlari lari. Kutajamkan penglihatanku. “Astaga! Itu kan Kemal! Jadi dia telat juga”,teriakku. Kemal adalah teman yang paling pintar dikelasku. Dia itu orangnya nyebelin sekaligus cowok yang kusukai semenjak aku duduk didepannya. Sekarang dia udah berada di depanku. “Bu Murni udah masuk kelas ya?” tanyanya dingin. Aku mengangguk. “Dasar! Mau nanya aja sikapnya udah angkuh begitu”pikirku dalam hati. Dia pun duduk di bangku sebelahku dan menunggu sampai bel pelajaran pertama usai. 10 menit kami diam tanpa bicara. Akhirnya aku ngajak dia ngobrol,sekaligus nanya soal mtk. Dia kan emang paling jago mtk dikelasku. “Eh,kamu udah ngerjain tugas Mtk belum?Boleh nanya gak?”tanyaku. “Sudah, lo mau nanya?Sorry ya gue lagi sibuk!” katanya masih bernada dingin. Aku jadi diam. “Huh,sibuk apanya?!Dari tadi juga main hp. Bilang aja gak mau bantuin.”kataku dalam hati. Kami masih duduk sampai bel pelajaran pertama usai.Kriiiiiiiiiiiing. Bu Marni pun keluar dari kelas. Aku dan Kemal segera masuk dan duduk ditempat duduk kami. Saat pelajaran Mtk pun di juga nyebelin setengah mati.”Sssst,Kemal. Tunjukkin rumus yang nomor 2 dong”,kataku sambil memohon. “Nomor 2? Masa nomor 2 aja lo gak tau sih.Pasti lo gak merhatiin guru nerangin tadi ya?Lo cari aja di buku!Salah lo sendiri gak merhatiin”,bukannya ngasih tau,dia malah marah-marah.Aku udah kesel banget. Sampai saat bel jam pulang pun aku masih kesal dengan Kemal. Saat jalan kaki menuju rumahku,aku marah” gak jelas. “Ih,salah apa sih aku sama Kemal!Kok dia jahat amat sih.Aku doa’in dia dapat musibah”,kutukku. Eh,gak taunya malah aku yang jatuh. Gara gara marah marah aku sampai gak ngeliat parit yang cukup dalam didepanku. Duh!Rasanya sakit banget.Gak kuat berdiri. Mana gak ada orang lagi buat dimintai tolong. “Heh!Mau berapa lama lo diem disitu”,kulihat arah sura itu berasal.Ternyata……Kemal! “Bisa berdiri gak?”,tanyanya. Berusaha kugerakkan kakiku,rasanya sakit sekali.Ternyata dia mengerti keadaanku langsung memapah tubuhku dan menggendongku ke belakang. Aku kaget,baru kali ini aku digendong,sama cowok pula!Dan cowok yang kusukai lagi. Mimpi apa aku semalam,meskipun dia nyebelin,tapi gak pernah ngurangi rasa sukaku dengannya.Aku jadi tersenyum sendiri. “Eh,rumah lo dimana sih? Dideket sini ya?,tannyanya. “Iya,diperumahan sana belok kiri,terus dipertigaan belok kanan.Nyampe deh”,ujarku. “Oh,terus kenapa lo bisa jatoh tadi?dasar bego!”katanya. “Gak kok,tadi cuma kepeleset aja”kataku berbohong.Gak mungkinkan aku jawab kalo aku jatuh karena mikirin dia. “Kemal,aku mau nanya,kok kamu sentimen sih sama aku tadi di sekolah. Aku kan cuma nannya baik baik,jawabnya malah ketus begitu. Kan kita bisa jadi temen”kataku. “Soal yang itu gue minta maaf deh.Abis lo sih!Gue tu lagi serius ngerjain soal malah lo ganggu”katanya “Serius nih?Berarti kita udah temenan kan?”ujarku berseri seri. “Terserah apa kata lo deh. Nih udah nyampe.Badan lo kecil tapi beratnya minta ampun”. Aku pun nyengir dan cuma bilang makasih dengannya. Dengan jalan terpincang pincang aku masuk kerumah. Hari ini seneng banget!Semenjak kejadian itu sikap Kemal kepadaku berubah.Kami jadi akrab.Main bareng bareng,jajan bareng bareng,belajar bareng bareng,tidurpun bareng bareng(haha,gak mungkin lah). Tapi semenjak sebulan terakhir,Kemal menghindariku dan gak mau main denganku. Sampai suatu hari aku melihatnya bergandengan tangan dengan seorang cewek berkulit putih dan cantik didepan gereja seusai dia berdo’a. Hatiku saat itu remuk. Malamnya aku berdoa, “Ya Allah,salahkah bila aku tulus mencintainya? Aku tau kami berbeda keyakinan. Tapi aku tak bisa bohong kalau selama ini rasa sayang ini semakin bertambah. Aku mencintainya hanya karenaMu ya Allah. Jikalau kami berjodoh nanti,maka dekatkanlah kami”,aku berdo’a khusyuk sekali. Seminggu berlalu Kemal tidak masuk sekolah.Kudengar kalau dia masuk rumah sakit. Sorenya langsung ketumui dia di rumah sakit. Aku terkejut melihat kepalanya yang sedikit botak “Kemal,kamu kok sebulan ini ngehindari aku sih?Terus kok bisa dirawat dirumah sakit?Sakit apa?”,tanyaku cemas.Kemudian dia memegang tanganku.Aku kaget,tapi tidak kutolak tangannya memegang tanganku. “La,gue pengen ngomong jujur ke elo.Sebenarnya gue ngehindarin lo biar bisa ngilangin perasaan suka gue ke elo.Gue sayang sama elo!”. Aku kaget bukan main.Jantungku berdegup kencang.Kemal?Suka sama aku? Impossible! “Ah,kamu.Jangan bercanda?Udah sakit masih sempat sempatnya bercanda”,kataku masih tak percaya. “Gak,gue gak sedang bercanda.Gue suka sama elo La. Gue ngehindari lo karena kita berbeda keyakinan.Dan gue tau itu salah.Tapi gue gak bisa bohong dan nutupi rasa sayang gue ke elo. Dan juga sekarang gue kena penyakit Kanker otak semenjak gue sd. Gue gak mau nyusahin elo karena penyakit gue ini”katanya. Apa!Kemal kena kanker? Rasanya aku ingin sekali menangis. “Mal,aku tau kita gak seiman.Aku meyakini Allah S.W.T sebagai Tuhanku dan kamu meyakini Isa Al-Masih sebagai Tuhanmu.Tapi hendaknya jikalau kita berjodoh,Tuhan gak bakalan misahain kita dengan penyakitmu ini”,kataku sesegukan. “La,udah jangan nangis.Gue gak suka liat lo nangis.”katanya sembari ngusapin air mataku. “Makanya jangan buat aku nangis dong,kamu harus kuat.Kemal yang kukenal adalah cowok yang kuat dan gak pernah mau kalah”,kataku berusaha tersenyum. “La,kamu mau gak nurutun permintaan ku. Satuuuu aja”,pintanya. Aku mengangguk,ini kali pertamanya di bicara menggunakan aku-kamu. “Tolong kamu ajari aku sholat,aku tau kita pasti bisa bersama jika kita satu keyakinan. Sekarang umurku udah 18 tahun.Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri.Mama Papa pasti ngijinin aku masuk Islam.Dan aku mencintaimu hanya karena Allah”katanya lemah. Aku terkejut karena disaat keadaannya seperti itu dia malah minta diajarin sholat dan ingin masuk islam. Aku pun membantunya berdiri dan membantunya berwudhu. Lalu mengajarinya sholat. Setelah itu sayup sayup kudengar dia mengucapkan “asyhadu an-laa ilaaha illallaa, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Aku kaget bukan main.Ternyata dia hafal 2 kalimat syahadat tanpa kuketahui sebelumnya. Dan disaat itu pula nafasnya berhenti dan meninggalkanku selamanya. Aku menangis sejadi jadinya. Tapi aku tau,ini sudah takdir Allah. Aku tak boleh menyesalinya. Kemal….adalah cowok pertama yang mengenalkanku apa artinya cinta dan kasih sayang dan kewajibanku sebagai seorang MuslimTAMATNama: Sania DewantiAlamat E-mail: setan.cantik@rocketmail.comFB: Sania Dewanti

  • Cerpen Cinta: You Are My Destiny

    You Are My DestinyLangit tampak mendung, sepertinya akan turun hujan. Pandanganku beralih pada seorang cowok yang berdiri dekat pintu. Cowok berkulit putih dan berbadan cukup tinggi namun sedikit kurus. Tara,itulah namanya. Aku mengenalnya sejak lama, namun dia tak mengenalku. Hanya sejak kita masuk SMA yang sama dia jadi kenal padaku.Namaku Nira Revita, biasa di panggil Rita."hey, ngelamunin apa sih?"suara itu mengagetkanku. Suara sahabatku, Zahfa."eeh, gak kok"jawabku dg agak gugup."kamu gk pulang Rit? udah mau hujan loh""aku nunggu jemputan zah, kamu duluan aja gak apa2""kenapa gak bareng si Tara aja sih,arumah kalian kan searah""gak zah,atakut ngerepotin dia""oo ya udah duluan ya?"Aku hanya menganggukkan kepala.***Keringat membasahi tubuhku, ku rapikan segera perlengkapan untuk kegiatan persami di SMA baruku.Jangan sampai aku telat dan kena hukuman dari kakak-kakak osis.Tapi harapanku sia-sia, baru saja ku melangkahkan kaki masuk ke sekolah kakak-kakak osis sudah menunggu di pintu dengan wajah yang kelihatan marah."cepat masuk! Niat ikut kegiatan ini gak sih? Gak disiplin banget datang telat!" kata salah seorang dari mereka."iya kak, maaf saya telat" jawabku.Setelah terbebas dari kemarahan mereka aku segera masuk menemui zahfa yang kebetulan satu regu denganku.Acara persami berjalan dengan lancar, tiba waktunya kita untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku menunggu ayah menjemputku, Ku lihat Tara yang berjalan dengan lemas dan wajah yang pucat. mungkin dia kelelahan karena semalam dia kena hukuman gara-gara anggota kelompoknya banyak yang melanggar peraturan.Dia duduk tak jauh dari tempatku berada, tiba-tiba ada yang membasahi pipiku. Apa, air mata? Aku menangis, tapi mengapa aku menangis? Aku menangisi keadaan Tara yang spt itu.Apa artinya ini?***Setelah kejadian hari itu aku merasa ada yang berbeda pada diriku ketika melihat Tara, ada getaran, ada perasaan lain di hatiku. mungkinkah aku jatuh cinta padanya?Jantungku berdegup kencang ketika di dekatnya, dan aku merasa rindu jika dia tak ada. Tapi apakah ini perasaan yang benar? baru pertama kali ku rasakan perasaan seperti ini.Seminggu berlalu dan perasaanku semakin tak menentu.kali ini ku benar-benar yakin bahwa aku jatuh cinta pada Tara.dialah cinta pertamaku. Namun betapa kecewanya diriku ketika tau bahwa tara ternyata telah memiliki seorang kekasih. Aku benar-benar patah hati saat itu. Sahabat baikku, fita menyuruhku untuk sabar namun meski begitu aku tak pernah bisa melupakan tara.aku begitu menyayanginya. Hingga 3 bulan berlalu aku mendengar berita bahwa tara sudah putus dengan pacarnya, betapa bahagianya aku mengetahui hal itu.entah karna apa tiba-tiba saja aku dan tara menjadi sangat akrab. Aku dan tara jadi lebih sering ngobrol dan bercanda lewat sms. Namun aku tetap tak pernah berani mengungkapkan apa yg sesungguhnya aku rasakan pada Tara. Aku hanya mampu memendam perasaan cinta ini dalam hatiku.Hingga suatu ketika kecerobohankulah yg mengungkap rahasia itu.Salah seorang temanku tidak sengaja membaca coretan di Diaryku bahwa aku menyukai tara. Entah apa yang dia lakukan sehingga Tara kemudian tau hal itu dan dia menjauhiku. Aku sangat menyesal mengapa aku begitu ceroboh meletakkan buku itu di atas meja dan meninggalkannya begitu saja sehingga ada orang lain membacanya. Kini hubunganku dengan Tara tidak lagi seperti kemarin-kemarin, dia terlihat menghindari dan menjauhiku. Aku semakin tersiksa dengan perasaanku sendiri. Apa yg kini harus ku lakukan??*** Waktu kelulusan sekolah telah tiba.tak terasa 3th sudah ku menempuh pendidikan di SMA ini, dan selama itu pula rasa cintaku untuk tara masih belum bisa mati. Setelah lulus SMA aku meneruskan pendidikanku ke salah satu Universitas Negeri di kota Malang bersama Fita.sedangkan Tara, aku tak pernah tau lagi kabar dan keberadaannya sekarang. Aku berfikir mungkin kami memang tak berjodoh,mungkin Tara dan aku memang tak di takdirkan untuk bersama.***"Tiiiit"suara klakson berbunyi. Aku berteriak histeris sambil menutup mata ketika sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju ke arahku."kau tidak apa-apa?"tanya seseorang padaku."aku tidak a…"bicaraku terhenti ketika ku lihat orang yang sedang bertanya padaku ternyata adalah Tara."Ta..ta..Tara??"ucapku terbata-bata."heh?Rita kan?"jawabnya.Aku sangat bahagia akhirnya bisa bertemu Tara lagi. Tara kemudian mengantarku pulang setelah kami saling bertukar nomor handphone.***"Drtz..drtz"handphone di saku celanaku bergetar.terlihat nama Tara di layarnya,segera ku tekan tombol buka."Ku tunggu di taman sekarang"Aku loncat-loncat kegirangan membaca sms dari Tara. Segera saja aku ganti baju dan pergi menemui Tara..(Di Taman)"Tara mana ya?"gumamku dalam hati. Tiba-tiba ada yang menutup mataku dari belakang."Rita,aku punya kejutan buat kamu"Suara yang sangat ku kenal.iya,itu suara Tara.Dia menuntunku hingga ke suatu tempat dan melepas tangannya dari mataku.Seakan tidak percaya dengan apa yg baru saja ku lihat,aku mengucek-ngucek mataku. Dan ternyata aku tidak menghayal, di sekelilingku terdapat banyak lilin dan Tara, ia tersenyum manis padaku."Rita, aku ingin mengakui sesuatu. Aku minta maaf selama ini aku nggak bisa jujur sama perasaanku sendiri. sebenarnya dari dulu aku sayang sama kamu tapi aku gak bisa ungkapin semua itu karna aku takut bakal nyakitin kamu.dan sekarang kita ketemu lagi, aku yakin kalau aku bener-bener sayang sama kamu dan takdirlah yang mempertemukan kita.“Rita,Maukah kamu menjadi bagian dari hidupku dan temani aku hingga masa tuaku?""Tara… Aku juga sayang sma kamu.""jadi,kamu mau?""iya,aku mau"Aku sangat bahagia mendengar ucapan tara. Tara menyatakan cinta padaku,Aku selalu berfikir kalau Tara bukan takdirku, dia bukan jodohku. tapi ternyata ku salah! dia adalah cinta pertama dan juga cinta terakhirku. Dialah orang yang menjadi pelengkap dalam hidupku, tulang rusukku, cinta sejati dalam hidupku.~THE END~Profil PenulisNama : Ni’matul KhoiriyyahNama Pena : Ranti AnastasyaTanggal lahir : 14 Agustus 1996Pekerjaan : PelajarFacebook : Ayra Nirmala Raya PratiwiMohon Kritik dan sarannya yaa

  • Cerpen Cinta Rasa Yang Tertinggal ~ 01 / 05

    Iseng lambai ke kamera sembari tebar senyuman. Ketemu lagi bareng admin. Kali ini muncul dengan cerpen cinta Rasa yang tertinggal. Cerpen kali ini terinspirasi dari salah satu lagu milik band indo yang emang admin suka lagu lagunya. Tepatnya Kangen band. Judul lagunya yang mana, yang mana aja boleh XD. So, biar nggak kebanyakan obrolan, kita langsung skip ke cerita aja ya. Happy reading.Credit Gambar : Ana Merya"Fan, loe mau kemana? langsung pulang kan?" tanya Alan masih dengan napas ngos – ngosan sehabis berlari. Begitu Pak budi meninggalkan kelas, ia memang langsung meluncur ke kelas Tifani. Sedikit kecewa begitu mendapati kelas sahabatnya itu telah kosong. Karena itu tanpa basa – basi ia langsung meluncur menuju keparkiran. Sesuai dugaan, temannya ada disana."Rencananya si gue pengen ngadain jumpa pers dulu. Ya maklum lah, gue kan artis yang lagi naik pohon," Tifani ngebanyol lengkap dengan gaya narsisnya. Lagian, hari gini orang emang kebanyakan suka gitu ya. Suka melemparkan pertanyaan padahal jawabannya sudah jelas."Lebay," cibir Alan sewot sambil menoyor kepala Tifani yang malah ngakak."Lagian loe, udah tau kalau gue biasanya juga langsung pulang ngapain si pake nanyain lagi?"Alan hanya nyegir mendengarnya. Sementara tangannya sibuk merogoh kedalam tas ransel, sibuk mencari -cari sesuatu. Seulas senyum terukir manis di sudut bibirnya ketika ia menemukan apa yang ia cari. Sebatang coklat yang langsung ia sodorkan tepat kewajah Tifany yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak geriknya."Buat gue?" tanya Tifany polos."Sembarangan," semprot Alan cepat. "Kayak nggak tau aja. Biasa. Ini tu titipan dari gue buat pujaan hati. Sekalian sampaikan padanya salam rindu penuh cinta Yang terbungkus dalam sebatang coklat," sambung Alan sok puitis. Tifany justru pasang pose mau muntah."Cinta kok cuma ngasi coklat. Bunga kek," cibirnya. Namun tak urung, coklat tersebut ia ambil juga."Memangnya Septia suka bunga?" tanya Alan yang tak sengaja mendengar cibirannya. Kalau di pikir Tifany bener juga. Cewek kan biasanya suka bunga. Tapi setelah searching di google, banyak juga yang suka coklat. Bahkan, gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya adalah salah satunya."Yupz…." angguk Tifany mempertegas pendapatnya. "Apalagi bunga bank. Ah, Gue juga mau kalau gitu," sambungnya yang langsung di hadiahi jitakan di kepala."Sorry ya. Septia bukan loe, dia nggak matre," gerut Alan. "Dan asal loe tau aja dalam setiap batang coklat yang gue kirimkan selama ini terselipkan sejuta cinta yang gue punya," sambung pria itu dengan gaya nya yang khas. Khas lebay maksutnya.Mendengar itu Tifany. Sekaligus ia juga kesel karena kepalanya di jitak dengan semena – mena. Sambil mengusap – usap kepalanya mulutnya mengerutu "Tu coklat kan gue yang makan, pantesan aja gue makin cinta sama loe.""Apa?" tanya Alan karena Gumaman Tifany terlalu kecil untuk bisa ditangkap indra pendengaranya."Kereta Api yang udah lewat nggak bisa balik lagi," Tifany angkat bahu. Sementara Alan masih menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat."Lagian kalau loe emang naksir berat plus cinta hidup sama dia kenapa nggak ngomong langsung aja si?" tanya Tifany berusaha mengalihkan pembicaraan. Lagipula ia tidak berharap Alan mendengar gumamannya barusan. Toh, tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan berubah.Kali ini Alan tersenyum. Matanya menatap kearah Tifany yang masih menantikan jawabannya. "Soalnya kalau kayak gini kan lebih romantis."Jawaban itu tak urung membuat Tifany kembali mencibir. "Wuek…. Loe bener – bener bikin gue mau muntah.""Ih, loe kok gitu si? Loe kan sahabat gue. Harus nya loe ngedukung gue donk buat dapatin dia. Secara gue udah bosen ngejomblo. Dan lagi…""Iya bawel. Udah deh, udah siang ini. Iya, ntar gue sampein. Sekarang gue cabut dulu," potong Tifani. Tanpa menunggu balasan ia segera mengayuh sepedanya menjauh, meninggalkan Alan yang masih berdiri di tempat.Sambil terus mengayuh, Tifany menghela nafas. Sebelah tangannya terangkat menyentuh dada kirinya yang terasa sesak. Sahabat?. Selalu begitu. Andaikan Alan tau rasa sakit yang selama ini Tifany rasakan ketika mendengar satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Karena sesungguhnya tifany menyukai Alan yang telah bersama dari semenjak 6 tahun yang lalu dan harus terpaksa menerima kenyataan kalau orang yang disukainya ternyata menyukai sahabatnya sendiri sejak dua bulan yang lalu. Septia. Seorang yang tidak sengaja ia kenalkan pada Alan saat Alan berkunjung ke kostannya.Dan ini lah rutinitasnya setiap hari. Kurir cokelat. Tapi Untunglah sampai saat ini rasa sakit itu masih bisa dan mampu ia tahan. Apalagi melihat rekasi cuek bin dingin Septia selama ini yang tidak pernah sekali pun menerima cokelat pemberian Alan sehingga selama ini selalu berakhir masuk kedalam perutnya.Setelah memarkir sepedanya, Tifany melangkah masuk kedalam rumah. Sepi, sepertinya penghuni kostan juga sedang pada keluar. Tangannya terulur memutar knop pintu nomor 7, tidak terkunci. Itu artinya, Septia, rekan sekamarnya ada di sana."Gue kan udah berulang – ulang – ulang – ulang kali bilang ke elo. Gue nggak mau coklat dari dia. Kenapa masih loe terima aja si?" gerut Septia penuh penekanan saat Tifani menyodorkan kiriman Alan tepat di depan wajahnya."Dan berulang – ulang kali juga gue bilang kalau Alan itu type orang yang sama sekali tidak menerima penolakan," balas Tifany tak kalah cuek.Septia memutar mata. Matanya masih menatap lurus kearah Tifany yang masih mengulurkan tangannya. "Ya udah, kalau gitu loe buang aja," saran Septia baru kemudian mengalihkan perhatiannya kearah novel yang sedari tadi ia baca sebelum kemuculan Tifany menganggu konsentrasinya."Jangan!!! Sayang donk," potong Tifany cepat."Hu…. Bilang aja kalau loe yang mau cokelatnya makanya loe nggak mau nolak pemberian Alan," cibir Septia. Diam diam gadis itu melirik kearah sahabatnya. "Bukan gitu. Gue cuma sayang aja kali. Makanan enak gini maen buang aja," Tifany membela diri."Sayang sama cokelatnya atau orangnya?" balas Septia sembari bergumam."Apa?" Tifany mengurungkan gerakan tangannya yang sedang meletakan mengantungkan tas ke dinding. Kepalanya menoleh kearah Septia. Tapi yang di tatap sama sekali tidak menoleh. Gadis itu malah terlihat tengelam dengan bacaannya. "Loe barusan ngomong apa Sep?" ulang Tifany lagi."No Ada bebek pake helm," Septia menjawab acuh tak acuh. Tatapan Tifany menyipit. Ia yakin tadi bukan itu kalimat yang Septia ucapkan."Oh ya, tadi gue ketemu kak Nara. Dia titip pesan sama gue, katanya kalau loe udah pulang loe di suruh kerumahnya," tambah Septia beberapa saat kemudian."Gue? Ada apa?" tanya Tifany sambil menunjuk wajahnya sendiri."Tau…" Septia angkat bahu. Ditutupnya buku yang ia baca. Matanya melirik kearah jam yang melingkar di tangan baru kemudian bangkit berdiri. Berjalan kearah meja rias di sudut kamar. Tangannya sibuk merapikan poni rambutnya yang sedikit berantakan. Tifany baru menyadari kalau penampilan gadis itu terlihat rapi. Siap mau keluar."Loe mau kemana?" Tanya Tifany heran."Ada deh. Mau tau aja. Udah gue cabut dulu ya. Da…" tanpa menunggu balasan dari Tifany, Septia sudah keburu menghilang di balik pintu. Meninggalkan sahabatnya yang masih heran dan penasaran akan rutinitanya setiap sore sejak dua minggu yang lalu."Hati – hati," teriak Tifany walau pun sosok sahabatnya sudah tidak terlihat. Tapi ia yakin suara cemprengnya masih mampu untuk ditangkap oleh indra pendengar Septia."Ia. Loe juga. Inget, mang Danang itu sudah punya istri. Jangan di godain aja. Ha ha ha," balasan Septia masih terdengar. Bahkan walau wujudnya sudah tidak terlihat, ia masih mampu melemparkan ledekan."Rese loe," balas Tifany sengaja berteriak. Sebagai balasan hanya suara tawa yang sama terdengar baru kemudian hilang. Kalau saja Septia masih ada di hadapannya pasti saat ini sendal sudah melayang kekepala. Heran, tuh anak suka iseng banget. Padahal ia juga sudah tau dengan pasti kalau Tifany hanya menyapa mang Danang, tukang kebun tetangga sebelah setiap pagi hanya karena kebetulan ia lewat pas disampingnya yang sedang menyiram bunga ataupun membersihkan kebun. Tapi tetap saja Septia selalu mengodanya. Emang dasar Kurang kerjaan tuh anak.Next to Cerpen cinta rasa yang tertinggal part 2.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_meryaPart : 01 Of 05Jumlah kata : 1. 179 WordsGenre : Remaja

  • Cerpen King Vs Queen ~ 02

    Cerpen Terbaru'KING v.s. QUEEN'Part 2Cerpen Terbaru King Vs Queen part 2. Cekidot."Iiih sungguh menyebalkan…" kata Niken begitu ia tiba di kamarnya "bener-bener re-se tuh cowok, awas aja… dia belum tau siapa gue… mana kak Nino nyebelin banget lagi, pasti gara-gara dia berteman sama cowok nggax jadi-jadi itu, makanya nular nyebelinnya" lanjutnya. Credit Gambar : Star Night"Mana ternyata dia temen kak Nino lagi, udah gitu pake acara ngejelek-jelekin gue . Gitu kok di bilang 'king'. King dari mananya coba?" tanyanya sambil geleng-geleng kepala sendiri.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*