Ketika Cinta Harus Memilih ~ 07 | Cerpen Cinta

Ketika Cinta Harus Memilih ~ part 7. Biar bacanya nyambung untuk part sebelumnya bisa langsung klik disini.
Sambil bersiul dan sekali – kali terdengar bersenandung kecil Rangga memasuki halaman rumahnya. Begitu turun dari motor, perhatiannya beralih ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Dalam hati ia bertanya – tanya. Siapa kira – kira pemiliknya?. Karena ia berani bertaruh kalau itu pasti bukan mobil papanya.

Ketika Cinta Harus Memilih
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rangga segera melongos masuk ke dalam rumah yang memang tidak di kunci. Setengah tak percaya pada penglihatannya saat mendapati sosok yang kini duduk santai di ruang tamu sambil membolak – balik halaman majalah remaja ditangan.
"Fadhly?" bibir Rangga menyerukan sebuah nama untuk meyakinkan diri.
"Eh Rangga, akhirnya loe pulang juga."
Dengan cepat Rangga melangkah menghampiri tamunya yang tak lain adalah Fadhly. Sahabat karibnya waktu masih SMA dulu. Sudah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu. Yang jelas setelah hari kelulusan sekolah.
"Fadhly, ini beneran elo kan?" tanya Rangga yang masih merasa tidak yakin. Karena kabar terakhir yang ia dengar, sahabatnya itu dulu melanjutkan kuliah keluar negeri. Maklumlah, namanya juga anak direktur perusahaan paling ternama.
"Ya iya lah. Memangnya siapa lagi. Perasaan dulu enyak gue nggak pernah ngelahirin gue dalam keadaan kembar."
"Ah, elo bisa aja. Gimana kabarnya sekarang. Kalau dilihat dari penampilan nya udah jadi BOS besar ni kayaknya?" tanya Rangga sambil duduk disamping Fadly yang tampak sedang meletakan kembali majalah remaja yang sedari tadi di bacanya.
"Apaan si loe. Gue cuma lagi belajar aja. Itung – itung bantuin bokap" Fadly tampak merendah.
"Belajar jadi bos maksutnya?" kejar Rangga.
Kali ini Fadly hanya menangapi dengan tawa. Sama sekali tidak membantah. Karena memang begitulah kenyataannya.
"Oke deh, karena kita juga udah lama banget nggak ketemu, sekarang ayo, kita saling bertukar cerita. Roman – romannya loe keliatan lagi happy nie" Fadly mengalihkan Topik pembicaraan.
Rangga hanya angkat bahu. Namun tak urung menyetujui usul sahabatnya itu. Dan tanpa sadar, meluncurlah cerita demi cerita dari mulutnya.
*** Ketika cinta harus memilih ***
"Tumben banget loe hari ini jemput gue pake mobil. Mobil baru ya?" komentar Cinta saat mendapati Rangga yang menjemputnya pagi itu tanpa motor yang biasa ditungganginya.
"Tadinya si gue pengen pamer ini punya gue. Sayangnya bukan. Ini punya temen yang gue pinjem" kata Rangga sambil dengan cekataan tangan nya membukakan pintu untuk Cinta sebelum kemudian ia menyusul duduk dibelakang kemudi.
"Oh ya Cinta, hari ini loe masuk berapa mata kuliah" tanya Rangga mulai melajukan mobil hitamnya.
"Hari ini ya?. E, cuma satu" balas Cinta setelah berfikir beberapa saat. "kenapa?"
"Wah kebetulan banget kalau gitu. Gue juga cuma satu. Kalau gitu, entar habis kuliah kita jalan yuk."
"Tumben banget loe ngajak gue jalan. Pasti ada apa-apanya ya" selidik Cinta dengan mata menyipit.
"Ye, jangan seuzon gitu donk. Emang apa yang aneh kalau orang pacaran terus jalan bareng?"
"Iya. Tapi kita kan pacarannya cuma bo'ongan."
Tepat setelah Cinta menyelesaikan ucapanya dengan nada santai barusan mobil mereka terhenti karena Rangga menginjak Rem nya secara mendadak.
"Astaga Rangga, loe kenapa si" geram Cinta sambil mengusap – usap dadanya karena kaget.
"Emangnya gue pernah bilang kalau elo, cuma pacar bo'ongan?"
"He?" Cinta menoleh.
Menatap Rangga yang kini juga sedang menatapnya lurus. Merasa sedikit salah tingkah sekaligus tidak nyaman Cinta segera mengalihkan tatapannya. Dan lagi – lagi jantungnya berdebar dengan cepat. Namun bedanya ini bukan karena kaget. Cuma karena…. Karena…. Entahlah. Cinta juga tidak tau.
"O… E…. Ehem, entar siang ya. Sory kayaknya gue nggak bisa deh" kata Cinta.
Rangga mengernyit heran saat menangkap sedikt nada gugup dari mulut Cinta yang mengabaikan pertanyaannya barusan. Bahkan ia juga menyadari Cinta sama sekali tidak berani menatapnya.
"Kenapa?" tanya Rangga mengabaikan semua dugaan- dugaan liar yang bermain di kepalanya.
"Gue kemaren udah terlanjur janji sama Kasih buat nemenin dia beli buku" balas Cinta.
"Nggak bisa di batalin dulu ya?" tanya Rangga sambil kembali melajukan mobilnya.
"Ya enggak lah. Secara gue kemaren kan udah terlanjur janji. Jadi Gue jadi nggak enak donk kalo maen batalin sembarangan" Cinta beralasan.
"O… Ya udah kalau gitu. Lain kali aja kita jalannya" Rangga mengalah Walau tak urung merasa sedikit kecewa. Merasa sia – sia meminjam mobil sahabatnya kemaren kalau pada akhirnya gagal juga mengajak Cinta jalan.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sepulang kuliah, sesuai rencana Cinta menemani Kkasih untuk membeli buku. Setelah mendapatkan buku yang mereka cari, Mereka tidak langsung pulang. Karena Kasih mati – matian menahan Cinta untuk keliling – keliling Mall sambil cuci mata. Jujur saja, Walaupun cewek tapi Cinta termasuk kedalam katagori manusia yang paling males kalau harus di suruh belanja.
"Ayo dong Kasih. Kita pulang. Cape gue. Kaki gue juga udah pegel banget nie" Kata Cinta yang sebenernya lebih mirip kalau di sebut sebagai Rengekan.
"Bentar Lagi. Kita liat baju – baju yang di sana. Kayaknya lagi diskon besar – besaran tuh."
"Astaga Kasih. Memangnya ini belum cukup?" Kata Cinta sambil mengangkat tas belanja bawaannya.
"Tapi kan….."
"Kalau loe nggak mau pulang. Biar gue pulang duluan" Potong Cinta.
"Hufh… iya deh iya. Kita pulang sekarang. Tapi sebelum itu kita makan dulu di kaffe depan. Biar gue yang traktir" Kasih akhirnya ngalah. Cinta menggangguk setuju. Secara perutnya juga memang sudah terasa lapar minta diisi.
"Rangga… Eh itu beneran Rangga kan?"
Cinta langsung menoleh. Mengikuti arah terlunjuk Kasih. Sedikit terkejut saat mendapati Rangga beneran ada di sana. Tampak sedang berbicara akrap dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Tapi kalau melihat dari tampilannya si, sepertinya mereka seumuran.
"Kita Samperin yuk" Ajak Kasih sambil melangkah maju.
"Eh jangan. Mo ngapain?" tahan Cinta.
Tapi percuma karena Kasih tidak perduli. Justu malah dengan santai nya meneriakan nama Rangga sehingga kedua orang itu kini menatapnya. Akhirnya dengan pasrah Cinta menurut. Habis mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur.
"Rangga, loe juga disini?" sapa Kasih.
Rangga menggangguk tapi pandanganya terarah kearah Cinta yang tampak hanya menunduk.
"Loe sendiri. Cinta bilang tadi katanya mau nemenin elo beli buku. Tapi kok malah isi Mall ini juga pada ngikut ya?" tanya Rangga setengah meledek sambil mengalihkan tatapan kearah Kasih yang hanya nyegir.
"He he he. Biasalah. Sekalian aja. Seperti kata pepatah Sambil menyelam dapat Ikan" Balas Kasih sok berfilsafat. Rangga hanya tertawa menanggapinya.
"Ehem….."
Rangga segera melirik kearah sahabatnya yang sedari tadi dicuekin.
"Oh ya, gue sampe lupa. Kenalin ini temen gue. Namanya Fadly" kata Rangga kemudian. Fadly yang merasa namanya di sebut segera berdiri. Mengulurkan tangan sambil tersenyum kearah Kasih. Tak lupa menyebutkan namanya.
"Kasih, Temennya kuliahnya Rangga" Balas Kasih. Kemudian Fadly beralih kearah Cinta.
"Cinta" Balas Cinta lirih.
"Kalau dia Pacarnya Rangga" Sambung Kasih yang kontan membuat membuat ketiganya melotot menatap kearahnya. Hanya bedanya kalau Rangga dan Cinta melotot kesel, Kalau Fadly justru merasa tak percaya akan pendengarannya barusan.
"Pacar?" ulang Fadly,
"He'eh" Kasih mengangguk.
Cinta hanya menunduk. Dan saat pandangan Fadly beralih kearah Rangga, sahabatnya tampak sedang mengusap – usap tengkuknya. Jelas terlihat salah tinggah.
"Loe berhutang satu cerita sama gue?" bisik Fadly lirih sambil mencondongkan tubuhnya kearah Rangga. Kasih hanya mengernyit heran karena sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya" kata Cinta yang sedari tadi terdiam.
"Eh kalian mau kemana?. Bukannya kalian ke sini mau makan juga ya?. ya udah sekalian gabung aja. Biar gue yang traktir deh" Cegah Fadly angkat bicara mendahului Rangga.
"Oh makasih. Ayo Cinta" Tanpa memperdulikan isarat Cinta yang jelas – jelas keberatan, Kasih dengan santai duduk di kursi kosong yang ada didekatnya. Dalam hati Cinta jelas – jelas merutuki sifat sahabatnya yang paling demen kalau mendengar kata gratis.
"Kalian mau pesan apa nie?" Rangga menawarkan. Kasih segera menyebut kan aneka makanan pesannannya. Sementara Cinta hanya mengeleng.
"Kalau Cinta seperti biasa aja. Mie Soo sama Es rumput laut" Kasih segera berinisiatif.
Kemudian segera berpura – pura sok berbicara akrab pada Fadly saat menyadari tatapan Kesel dari Cinta. Lagi – lagi Cinta hanya merutuk dalam hati. Dan begitu pesanan sampai ia hanya memakannya dalam diam. Buka mulut hanya pas di tanya. Merasa sama sekali tidak tertarik ikutan nimbrung pembicaraan kasih yang memang gampang akrap pada siapapun.
"Bagaimana kalau habis ini kita jalan dulu" ajak Fadly setelah mereka menghabiskan makanannya.
"Bisa. Kayaknya seru nie. Gimana kalau kita nonton aja. Denger – denger ada filem seru. Habbi Ainun kayaknya baru keluar tu " Sahut Kasih cepat.
"Gue juga nggak keberatan" Rangga menambahkan.
"Elo cin?" tanya Fadly kearah Cinta yang masih terdiam.
"Ehem. Sory. Tapi gue nggak bisa ikutan. Laen kali aja ya?" Tolak Cinta halus.
"Yah Cinta. Gak seru banget si loe" Kasih terlihat kecewa. "Ayo dong loe ikut. Kalau loe nggak ikut, gue juga ogah" bujuk Kasih lagi.
"Ya jangan gitu donk. Loe pergi aja. Gue nggak papa" Cinta merasa tidak enak.
"Nggak mau…." Kasih mengeleng.
Rangga yang diam – diam tak urung juga merasa kecewa mendengar penolakan Cinta melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 16:16. Pantesan Cinta menolak. Sudah sore ternyata, pikirnya.
"Ya udah gini aja. Kasih biar tetep jalan bareng sama Fadly. Soal Cinta biar gue yang nganterin"
"Tapi loe kan nggak bawa motor?" Fadly mengingatkan.
"Biar gue pulang sendiri . Kasih loe jalan aja. Bareng sama Rangga sekalian."
"Tapi kan…." Kasih tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam Cinta. "Iya deh".
"Kalau gitu gue pulang dulu" Pamit Cinta segera beranjak bangun.
"Loe mau kemana?" tanya Cinta saat mendapati Rangga juga bangkit berdiri.
"Kan tadi gue udah bilang kalau gue mo nganterin elo."
"Tapi kan gue udah bilang nggak usah."
"Kalau gue bilang ia artinya IYA. Udah buruan. Udah sore nie" Tandas Rangga mendahului Cinta melangkah keluar. Fadly dan Kasih masih duduk di santai di bangkunya. Menatap kelakuan kedua insan di hadapannya yang mulai melangkah menjauh.
"Ah mereka so sweet banget kan?".
Fadly menoleh menatap kearah Kasih yang masih asik menatap punggung Cinta yang mulai hilang di balik pintu.
"Eh mereka pacarannya udah lama ya?" selidik Fadly.
"Belum si. Masih baru – baru ini aja kok. Memangnya Rangga nggak Cerita sama loe?"
Kasih balik bertanya. Fadly mengeleng.
"Kasih, kalau gue tanya – tanya nggak papa kan?"
"Soal apa?" Tanya Kasih dengan kening berkerut.
Fadly tidak segera menjawab. Samar sebuah senyum terukir di sudut bibirnya. Sementara Kasih masih terdiam menanti kelanjutannya.
"Soal hubungan mereka berdua. Tapi sebelum itu atau kita jalan. Ini juga udah sore. Tadi katanya loe mau nonton."
Kali ini kasih mengangguk membenarkan. Mengikuti jejak Cinta dan Rangga, Melangkah keluar meninggalkan kaffe itu.
*** Ketika cinta harus memilih ***
"Tadi kan gue udah bilang kalau gue bisa pulang sendiri. Kenapa si loe pake nganterin gue segala?" Rutuk Cinta sambil duduk disalah satu kursi di dalam bus, Karena kebetulan sepi Rangga juga duduk di sampingnya.
"Memangnya ada yang aneh ya kalau gue nganterin pacar gue pulang?".
"Tapi kan kita nggak beneran pacaran."
Rangga Terdiam. Sama sekali tidak membalas. Dengan berlahan bus juga mulai berjalan.
"Cinta" Panggil Rangga lirih.
"Ya"Sahut Cinta segera menoleh. Tapi Rangga sama sekali tidak menatap nya. Justru ia malah menunduk.
"Jujur aja, Selama ini loe anggap gue sebagai apa?"
"Ya?" Cinta terlihat bingung sakali gus kaget. Sama sekali tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti ini dari mulut Rangga. Kali ini Rangga mengalihkan pandangan. Menatap lurus kearah Cinta yang juga sedang menatapnya.
"Gue tanya, selama ini loe anggap gue sebagai apa?. Apa bener loe cuma anggap gue sebagai pacar bo'ongan?"
"Loe aneh banget si, Kenapa loe tiba – tiba nanya kayak gini?" tanya Cinta terlihat mulai tidak nyaman dengan arah permbicaaraan mereka.
"Jadi bener?" tanya Rangga tanpa memperdulikan pertanyaan Cinta barusan.
"Tapi bukannya selama ini hubungan kita memang cuma pacar bo'ongan ya?"
"Gue nggak pernah bilang kayak gitu?"
"Tapi kan…."
"Sudah lah. Lupain aja. Nggak penting juga kok" Potong Rangga cepat.
Cinta terdiam. Mulutnya kembali terbuka untuk mengatakan sesuatu. Tapi batal, karena ia juga masih bingung mau berkomentar apa. Sehingga kali ini keduanya kembali terdiam. Bahkan sampai saat keduanya tiba di halte di dekat rumah cinta.
"Gue ngantarnya sampai sini aja nggak papa kan?. Ini juga sudah sore. Bentar lagi bokap loe juga pasti pulang. Loe juga nggak mau di marahin lagi kan karena ketauan pulang bareng gue?" Rangga membuka pembicaraan.
"Iya, Nggak papa. Ma kasih juga karena loe udah nganterin gue."
Rangga hanya mengangguk membenarkan. Dengan cepat Cinta turun sebelum bus kembali berlalu. Perasaannya saja atau sifat Rangga tadi memang terlihat aneh. Tapi dengan cepat di tepisnya pikiran itu jauh – jauh saat melirik jam sudah menunjukan hampir tepat pukul lima. Setengah berlari ia menuju ke rumah. Tak ingin keduluan sang papa yang bisa menimbulkan akibat buruk lainya.
To Be Continue….
~ With love Admin ~ LovelyStarNight

Random Posts

  • Cerpen Lucu Mis Tulalit ~ 04

    Cerpen Lucu Mis Tulalit Versi lanjutan. Yups, ternyata sudah sampai part 4 ya kisah perjuangan si April. He he he.Gimana kelanjutannya, yuks kita baca bareng bareng. Ngomong ngomong cerpen ini selain di ambil dari pengalaman sehari – hari juga merupakan cerpen pertama yang Admin posting di blog lho… #promoMis TulalitUntunglah selama tinggal di rumah neneknya April bisa punya temen baru, sehingga ia tidak merasa sendirian. Bahkan kalau malam Sari juga mau menemaninya tidur. Lagi pula rumah Sari tidak jauh dari tempat tinggal neneknya.Setelah 4 hari April mulai kerasan tinggal dirumah neneknya, dan sore itu Sari sengaja mengajak April bersepeda keliling desa.April sih ok-ok aja. Apa lagi ia juga belum pernah keliling-keliling desa. April bener-bener di buat terpesona dengan desanya akan keindahan desanya Sari. Pemadangan Alam dan sawah nya beneran indah. Ah Jadi ingat dulu Puisi yang ia baca waktu SD.SawahSawah tersusun di lereng gunungBerpagar dengan bukit barisanSayup – sayup ujung ke ujungPadi mudanya hijau berdandanDi dangau prawan duduk menyulamMatanya memandang padi humaSekali – kali ia bermalamDi petik dari hari mudanyaJikalau turun pipit berkawan Merayap hinggap di mayang padiTerdengar teriak suara perawanMenyuruh pipit menjauhkan diri."Mengapa engkau aduhai pipitTidak di arti hiba kasihanBadan ku payah menanggung sakitMencucur keringat sepanjang zaman.Padu ku pupuk sejak semulaEngkau tau memakan saja". PS: Maaf kalau ada yang salah. Abis Tu puisi aku bacanya waktu masih SD,“eh pril, kita kelapangan yuk, biasanya jam segini banyak yang lagi main bola” ajak Sari.“April sih ngikut aja”Ah, ada lagi yang membuat April makin kagum, yaitu setiap berpapasan dengan orang yang baru pulang dari sawahnya mereka selalu saling menyapa, kalau di bandingkan tempat tinggalnya… ‘heh siapa sih loe?…’ abis sistemnya kan, elo.. elo… gue… gue…“Eh neng Sari… mau kemana to?” tanya seorang perempuan muda, saat berpapasan, mereka sepertinya baru pulang dari sawah.“Ini bulek, mau ngajak temen keliling-keliling ngeliat desa kita” balas Sari.“Lho iki sopo to?” tanya perempuan separuh baya yang di sampingnya.“Iki, putune nenek walimah”“0… seng jerene kes kota?”“he’eh” Sari mengangguk, April diam saja karena tidak mengeri apa yang mereka bicarakan.“Wah… ayu pisan” puji perempuan yang muda.“Sopo to nduk, jenengane…” tanya perempuan yang satu nya ke April, tapi April diam saja, secara ia nggax ngerti lagi ngomongin apa, tapi heran deh, kalau kakek sama nenek nya yang ngomong ia langsung nyambung, faktor keturunan kali ya, kalau orang lain dikit-dikit lah.“April bulek, anu… kayane de’e ora biso ngomong jowo” Sari yang menjawab karena April diam saja.“0… alah”“Yo wes, silahkan teruskan jalan-jalannya”“Eh Sari tadi loe ngomongin apa sih?” tanya April setelah mereka menjauh.“Tadi itu mereka nanyain nama kamu siapa, ya udah aku jawab aja kalau kamu itu putu ne nenek walimah yang datang dari kota”“Putu?” April heran.“Ia. Putu. Kalau bahasa jawa sama dengan cucu,” terang Sari, April malah tersenyum.“Kok kamu tersenyum? Memangnya ada yang lucu?”“He’eh, masa’ putu sama dengan cucu, kan nggax nyambung.“Maksudnya?” Sari jadi heran.“Setau April kalau putu di tempat April buat di makan.”“Jadi orang-orang di tempat April suka makan putu?”“Iya”“Astafirullah hal’azim. Kalau gitu sama kayak sumanto donk” Sari bergidik ngeri.“Kok sumanto sih, apa hubungannya?” April bingung.“Ia, sama-sama kanibal, suka makan orang. Nauzubillah himinzalik”“Ha… ha… ha… loe lucu juga ya” April malah tertawa sehingga Sari jadi bingung.“Apanya yang lucu?”“Abis masa’ orang makan putu di bilang kanibal, ada-ada aja. Padahal kan putu nama kueh.”“jadi putu itu nama kueh?”“iya, lengkapnya putu piring, terbuat dari tepung beras kalau nggax salah di dalam nya ada gula merahnya, di tambah parutan kelapa, pokoknya enak deh, April juga suka”“Kirain….”Tak terasa mereka telah sampai di lapangan yang di maksud Sari ternyata bener kalau di sana banyak orang yang sedang bermain bola. Sambil menonton, April makan getuk lindri yang di beli oleh Sari dari penjual keliling,“Enak juga” kata April dalam hati.Ketika April sedang asyik menonton, tiba-tiba ada bola nyasar dan mendarat tepat di kepalanya. Karena kejadiannya begitu cepat, April sama sekali tidak bisa menghindar.“Aduh!!!” teriak April spontan.“Maaf-maaf mbak, beneran tadi aku nggax sengaja” kata orang yang tadi menendang bola sambil berlari kearah April, usianya kira-kira seumuran sama April.“Maaf-maaf, sakit tau… nggax liat apa ni kelapa, eh kepala. Kalau mau bikin gol, gawang nya di sana no” bentak April sambil menunjuk ke arah gawang.“Iya mbak. Sekali lagi maaf.”“Ya ampun pril, sakit ya? Sampai benjol gitu” kata Sari kemudian ia menoleh pria yang di hadapannya “Kamu sih dik, nggax hati-hati kan kasihan April”Ternyata orang tersebut bernama Andika dan ia jadi merasa semakin bersalah.“Ia Sari, aku tau. Tapi beneran tadi nggax sengaja, maaf ya mbak”“Mbak-mbak emangnya April kakak loe” bentak April ketus, Andika terdiam yang lain hanya menonton.“Udah lah Sari pulang saja yuk”April langsung mengayuh sepedanya mendahului Sari, tapi belum aja ada 4 meter, Sari sudah memanggilnya.“April bentar dulu”“Nggax, April mau pulang” balas April tampa menoleh dan terus mengayuh.“Iya aku tau, tapi kalau mau pulang jalan nya lewat sini. Balik dari tempat tadi memangnya jalan terus mau kemana?”April mengerem sepeda mininya dan memutar arah, Andika masih berdiri di situ.“Bilang dari tadi kek” gumam April sebel.“Abis kamu main nyelonong aja, gimana aku mau ngomong?”Begitu Sari dan April pergi, semuanya langsung tertawa lepas. Tadi di tahan-tahan soal nya takut di damprat juga sama April.“Gila tu cewek, galak banget ya” kata Imron, salah satu yang ikut main bola.“Tulalit lagi” tambah aldi.“Tapi cantik juga. Siapa ya dia? Kok kayaknya aku nggax pernah liat” kata Andika sambil mengambil bolanya.“Dasar, sudah di bentak-bentak gitu, masih sempet-sempetnya meratiin wajah” tambah yang lain.“Tapi Dika bener, aku juga belum pernah liat, tapi kok dia sama Sari ya?” tanya Aldi.“0h ya, kalau nggax salah tadi dia ngomong namanya sendiri April kan?” Evan mengingatkan.“Iya, namanya memang April, dia cucunya nenek Walimah yang datang dari kota kok. Katanya kesini mau liburan, tapi aneh ya orang kota kok mau liburan ke kampung” Doni ikutan nimbrung.“0h ya? Kamu tau dari mana?”“Dari emak. Kemaren sih waktu emak cerita dia bilang anaknya baik, dia bantuin emak bawa belanjaan dari pasar, tapi kok tadi galak gitu?” terang doni.“Ya iya lah, secara di bikin benjol gitu, gara-gara kamu sih dik”“Tapi kan aku nggax sengaja tadi” Andika mencoba membela diri.“Eh udah sore nih, mau terusin main atau pulang aja?” tanya yang lain.“Pulang aja yuk” sahut imron.“0k deh”Cerpen Lucu Mis TulalitKeesokan harinya April bangun pagi. Ia sudah terbiasa bangun subuh, ketika menuju kedapur, tampak neneknya sudah memasak air. Ia melirik jam tangannya, pukul 05:15 menit, ia pergi kekeran air untuk mengambil air wudhu, setelah sholat subuh, ia membantu neneknya menyiapkan sarapan juga bekal makan siang. Rencananya April ingin ikut kesawah, padi-padinya sudah menguning, dan hari ini mulai panen, dari pada ulang alik buat makan siang, mending nanti makan di sana, baru sorenya pulang.Karena sawahnya hanya 2 petak padinya diani-ani saja, April juga ngani-ani, katanya juga kepingin belajar, neneknya mengajarinya bagaimana cara menggunakan ani-aninya, hanya dengan tangan kanan sementara tangan kiri yang membawa padinya, nanti kalau sudah banyak baru di masukkan kedalam bakul.Belum ada lima menit, April sudah nggax tahan, seluruh tubuhnya terasa gatal-gatal, dengan buru-buru ia kembali kepondok.“Lho kamu kenapa?” tanya kakeknya heran.“Aduh kek, April nggax tahan. Badan April gatal semua, kayak ada binatang-binatang kecil yang ngegigit”Nenek dan kakek malah tertawa mendengar jawaban April.“Kamu pasti tadi nggax pake autan ya?” tebak nenek.“Bukan nyamuk nek, tapi binatang kecil-kecil. Kalau nyamuk sih April udah kenal, jadi ngapain pake autan”“Ia nduk, nenek ngerti, yang ngigit kamu itu namanya tengu. Makanya pake autan, soalnya autan juga bisa buat ngusir” terang nenek.“0 jadi namanya tengu ya nek?”“Iya”“Trus bisa di usir sama autan?” tanya April lagi.“He’eh”“Tapi, gimana cara ngusirnya ya nek?”“Ah kamu itu, banyak nanya. Ya mana nenek tau, lha ada bacanya tu dibungkusnya.”“Nggax ada kok” sahut April setelah selesai membacanya “Di sini Cuma buat ngusir nyamuk bukan tengu.”“Sama saja. Mau tengu mau nyamuk yang penting bisa nggax ngigit kita. Pake aja”April manut, ia oleskan autan ketubuhnya, neneknya mengingatkan agar celana sama bajunya juga, walau pun bingung April tetap menjalankannya.Ternyata bener, April tidak digigit tengu lagi, dan ia bisa meneruskan mengani-ani padinya.Tak terasa hari semakin siang, April memperhatikan raut wajah nenek dan kakeknya yang sangat cekatan, keringat mengucur dari tubuhnya, jadi beginikah susahnya petani harus berpanas-panasan dan digigit sama tengu sialan.Dan tanpa April sadari sebenernya dari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya degnan pandangan kagum.“Dino bener, dia memang anak yang baik. Buktinya mau berpanas-panasan dan nggax takut kotor” gumannya yang tak lain adalah Andika yang sawahnya berseberangan sama sawah nenek April.April bener-bener merasa nikmat saat makan siang, ini untuk pertama kalinya ia makan di alam yang terbuka, apa lagi setelah bekerja, selesai makan istirahat sejenak kemudian sholat barulah panen di lanjutkan.Hari sudah mulai sore, mereka bersiap-siap untuk pulang, April jalan duluan karena ia harus memasak untuk makan malam, sementara nenek sama kakeknya masih harus menyimpan padi.Saat melewati jembatan penyebrangan, April terpeleset, hampir saja ia jatuh kedalam sungai. Untung saja tidak, tapi sandal kirinya lepas dan terbawa hanyut. April berusaha untuk mendapatkannya kembali, lagi pula arusnya tidak terlalu deras.“Gimana cara ngambilnya ya?” guman April bingung. Padahal saat itu sandal nya sudah tersangkut di tunggul tepi sungai.“Ada apa mbak?”April menoleh, ia kaget, Andika tiba-tiba ada di belakangnya.“Itu, mau ngambil sandal April yang tadi hanyut tapi nggax bisa, airnya dalem banget, ntar kalau turun bukan sandalnya yang dapat yang ada malah April ikutan nyemplung” balas April.“0… kalau gitu, biar aku aja yang ngambil”Tanpa menunggu balasan dari April andika langsung turun dengan hati-hati untung pas nyangkut di tunggul sehingga dengan mudah Andika bisa mengambilnya.“Ini sandalnya,” kata Andika, April langsung meraihnya.“Aduh makasih ya, untung ada loe, kalau nggax terpaksa April harus jalan nggax pake sandal”“Sama-sama, lagian tadi Cuma kebetulan. Memangnya kamu dari mana?”“Dari pasar” jawab April ngasal.“Pasar?!” andika heran “Bukannya tadi bantuin nenek sama kakek di sawahnya” sambungnya.“Udah tau nanya” balas April, Andika langsung terdiam.“Tapi kok loe tau kalau April bantuin nenek di sawah?” tanya April setelah terdiam benerapa saat, Andika kaget, bingung mau jawab apa.“Jangan-jangan loe mata-matain April ya? Ayo ngaku” tuduh April.“Ya nggax lah, ngapain juga mata-matain kamu. Cuma tadi itu aku nggax sengaja ngeliat kamu lagi ngani-ani padi, soalnya sawah aku kan tepat di seberang jalan”“0… kirain…”Tak terasa, mereka telah sampai di pertigaan dan mereka harus berpisah, Andika belok kanan sementara April belok ke kiri.Malam harinya April tidur-tiduran di kamarnya, Sari juga ada di sampingnya, hari ini dia nginap lagi. Sedang kan nenek sama kakek sepertinya sudah tidur di kamarnya, kelelahan mungkin.“Sari loe udah ngantuk belom?” tanya April.“Ya belom lah, baru juga jam sembilan lewat, memangnya kamu udah ngantuk” Sari balik nanya.“Sustru itu, April belum bisa tidur, badan nya terasa pegel semua nih. Mana masih gatal-gatal lagi, pasti gara-gara ke sawah tadi”“Kalau gitu gimana kalau kita main tebak-tebakkan dulu, ntar kalau kita udah ngantuk baru kita tidur gimana?” usul Sari.“Boleh, bagus juga ide loe. Jadi siapa dulu nih yang mau ngasi soal, elo atau April dulu.”“Aku dulu donk. Kan tadi aku yang dapat ide” kata Sari.“0k, apa soalannya, tau nggax sih April paling jago lho main tebakan”“Gini, gajah terbang kelihatan apa nya?”“Keliatan bo’ongnya, masa’ gajah bisa terbang”“Kok tau sih, kalau gitu giliran kamu”April berpikir sejenak, kemudian katanya.“Apa yang menyebabkan desa ini sering banjir?”“Hujan” jawab Sari cepat dalam hati ia merasa heran, kok April bisa tau desanya sering kena banjir.“Salah…”“Kok salah sih, kalau gitu karena bendungannya jebol”“Bukan”“Terus apa donk”“Air” sahut April singkat.“Eh, iya ya… kalau gitu aku pula, binatang apa yang punya bisa?”“Ular” sahut April, “Kan kalau ngigit jadi bengkak berarti ada bisanya, benerkan?”Sari menggeleng tanda jawabannya salah.“Kok bukan?” April heran.“Ya iya lah, secara kalau Cuma ular, mana ada bisanya,” balas Sari.“Gitu ya, ular kobra.”“Bukan.”“Ular piton”“Masih salah, ular piton nggak ada bisanya”“Kalau gitu ular apa donk?” April nyerah.“Ular bisa, ayam bisa, kucing pun bisa” sahut Sari sambil tertawa.“Kirain tadi binatang apa, nggax taunya… Kalau gitu gantian April lagi ya, apa yang di punya kucing tapi nggax di punya anjing?” tanya April.“Apa ya?” Sari mikir-mikir ia jadi bingung, prasan apa yang di punya kucing, anjing juga punya “0k deh aku nyerah…” ujar Sari kemudian.“Anak kucing” balas April.“Curang, masa anak kucing , anjing juga punya anak”“Kalau anjing punyanya anak anjing, bukan anak kucing” terang April “giliran loe lagi yang ngasi soal”“E… kalau guru jadi petani, pedagang jadi petani, nelayan jadi petani, petaninya jadi apa?”“Jadi angsa, kan banyak," jawab April cepat. Sari hanya tersenyum simpul saat menyadari kalau jawabannya benar. "Gue lagi ya, kenapa di sungai amazon banyak ikan phirana?”“Ikan phirana ikan apa sih?” Sari balik nanya.“Ikan yang bisa makan orang” jelas April.“Ih serem, nggax tau aku. Memangnya kenapa di sungai amazon banyak ikan phirana?”“Karena… itu jangan kesana” nasehat April.“Siapa juga yang mau kesana, jadi jawabannya apa nih?” tanya Sari sebel, lain di tanya lain di jawab.“Kan udah di jawab tadi, karena… itu jangan kesana” ulang April karena Sari masih bingung.“0h iya ya, kalau di tanya kenapa berarti jawabannya pake karena, pinter-pinter-pinter, tapi nggax nyambung” kata Sari April hanya cekikikan.“April sudah larut malam kok belum tidur sih?” terdengar suara neneknya, dari kamar sebelah.“Ia nek, ni April juga mau tidur” balas April “Sar, tidur dulu yuk, besok kita lanjutin lagi mata April udah mulai ngantuk”“Iya deh” sahut Sari sambil rebahan di samping April.“Hampir aja lupa, tadi April mau cerita sama loe, kalau tadi siang April da ketemu cowok keren, baik lagi” kata April tiba-tiba.“0h ya?” Sari membuka matanya yang tadi sudah mulai terpejam.“He’eh”“Gimana ceritanya?” tanya Sari lagi.April menceritakan kejadian tadi sore ke Sari lengkap sama bumbu-bumbunya, Sari mendengarkannya dengan seksama.“Kalau gitu namanya siapa?” tanya Sari setelah April selesai cerita.“Namanya… e, namanya siapa ya? Duh, April lupa nanya lagi”“Ah kamu…” Sari kecewa.“Tenang, besok April cari tau, lagian dia…”April tidak melanjutkan ucapannya, karena dari kamar sebelah terdengar suara berdehem, April buru-buru mengajak Sari tidur.To Be Continue….Jangan lupa like fanpage kami ya. At LovelyStarNight

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart” ~ 01

    Salah satu kisah remaja yang admin tulis adalah cerpen remaja Take My Heart, kisah remaja yang merupakan lanjutan dari cerpen pendek pupus yang telah di posting sebelumnya. Secara cerpen yang satu itu kan sad end, so biar happy di tarik kesini. He he he. Nah, buat yang penasaran bisa langsung read ke bawah. Ini merupakan part awal, so silahkan simak detailnya. Jangan lupa RCL ya…Cerpen take my heartOrang bilang cinta itu sederhana, Cukup aku dan kamu, Yang lain cuma nonton. Tapi sayangnya, tidak semua orang menyukai kesederhanaan. Layaknya hidup yang menginginkan kemewahan…. #Take My Heart"Ah, Mereka benar – benar pasangan yang serasi ya?.""Ia. Yang satunya Prince, yang satunya lagi Princess.""Sulit di percaya, kedua idola di kampus kita bisa jadi pasangan."Laura terus melangkah sambil tersenyum bangga mendengar kalimat demi kalimat yang mampu di tangkap oleh indra pendengarnya. Sesekali matanya melirik sosok yang berjalan tepat disampingnya. Menuruti tawaran menjadi pacar Ivan, Idola kampusnya walau selama ini terkenal dengan Cap Playboy ternyata bukan ide yang buruk. Terbukti pamornya makin menanjak semenjak itu. Padahal baru terhitung seminggu mereka jadian."Sayang, kita ke kantin dulu yuk. Gue laper nih," ajak Laura terdengar manja, Ivan menoleh kearahnya. Mengangguk setuju sambil pasang senyum manis.Begitu mereka menginjakkan kaki di kantin, seperti biasa langsung menarik perhatian semuanya. Mulai terdengarlah suara suara berbisik yang membicarakan tentang keduanya."Kok kita duduk disini si?" bisik Laura lirih saat mendapati Ivan duduk santai di meja tengah bersama ke tiga teman karibnya. Biasanya kan bila mereka berdua mereka selalu duduk berdua di pojokan."Oh, itu karena gue punya kejutan buat loe. Bener gak guys?" tanya Ivan sambil tersenyum misterius kearah teman – temannya."Oh ya?" wajah Laura tampak bercahaya."Nggak yakin loe suka, tapi kalau kaget bisa jadi," Ivan menambahkan."Apa?" tanyanya sedikit mengernyikan dahi."Gue mau kita putus," kata Ivan singkat, padat dan jelas."Apa?!" kali ini Nada kaget yang keluar dari mulut Laura. Setelah terlebih dahulu terdiam sejenak ia menambahkan sambil tertawa. "He he he, loe bercanda kan?""Jadi menurut loe ini lucu?" bukannya menjawab Ivan malah balik melontarkan pertanyaan."Tadi ini nggak masuk akal. Kita baru seminggu jadian. And hubungan kita juga baik – baik aja. Seenggaknya sebelum…" Laura melirik jam tangannya "20 detik yang lalu.""Heh, nggak masuk akal?" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau gue ini seorang play boy?""Apa?""Sebenarnya, gue males banget pacaran sama loe. Tapi temen – temen gue nantangi apa gue bisa naklukin elo dengan sekali tembak kemudian memutuskannya di hadapan umum. Ya sudah, kebetulan taruahannya lumayan gue si ikut aja. Terbukti kan gue yang menang?" kata Ivan sambil menadahkan tangan ke arah Renold, sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya. Dan detik berikutnya lembaran uang ratusan sudah tertera di sana."Ma kasih ya, Sekarang loe boleh pergi".Refleks tangan Laura melayang. Namun belum sempat mendarat di wajah Ivan, tangannya sudah terlebih dahulu dicekal."Loe pikir siapa elo berani nantangin gue ha?" kata Ivan lirih namun penuh penekanan. "Asal loe tau aja, image loe sebagai cewek idola di kampus ini, yang selalu berhasil naklukin hati cowok ternyata cuma gosip murahan. Buktinya loe dengan gampangnya bertekuk lutut di hadapan gue," sambung Ivan lagi."Sialan loe. Dasar brengsek!" geram Laura sambil menghempaskan tangannya membuat cekalan Ivan langsung terlepas."Terima kasih atas pujiannya," senyum Ivan santai."Denger ya, gue akan pastikan loe akan menyesali apa yang loe lakukan saat ini sama gue. Inget, hukum karma itu berlaku. Loe pasti akan merasakan pembalasan yang lebih buruk dari apa yang loe lakuin ke gue," geram Laura dengan wajah memerah. Entah karena terlalu marah atau malu karena kini telah menjadi objek tontonan di kantin mereka."Kita liat aja nanti," Ivan cuek.Dengan kesel Laura berlalu membawa sejuta dendam dan sakit hati di hatinya. Sementara Ivan sendiri justru tertawa diikuti ke ketiga teman temannya."Wow, sulit di percaya. Loe benar – benar melakukannya," Komentar Renold sambil menggelengkan kepala kagum menyaksikan drama satu babak yang baru saja terjadi di hadapannya."Kenapa enggak. Lagipula ini cuma masalah kecil," sahut Ivan sambil menjentikan jarinya menyombongkan diri."Apa loe tertarik untuk melakukan taruhan lagi?" Andra angkat bicara.Ivan terdiam. Matanya melirik lembaran lembaran merah yang berada di tangannya. Setelah berpikir sejenak ia kembali berujur."Jika kalian siap untuk kalah lagi.""Wow, Pe-De sekali," cibir Renold."Jadi apa aturan mainnya?" tanya Ivan lagi.Andra tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dengan sebuah senyuman misterius di wajahnya."Kita liat aja nanti".~ Take My Heart ~ "Apa yang mau kita lakukan di sini?" tanya Renold bingung saat Andra menghentikan langkahnya di koridor kampus."Tentu saja untuk melanjutkan rencana permain kita," terang Andra santai."Makstu loe?" tanya Ivan."Sebelum gue jawab, gue pengen nanya sekali lagi. Ivan, loe siap untuk ber'Main?" tanya Andra sambil menoleh kearah Ivan yang hanya di balas anggukan mantap."Apapun?" Andra menegaskan."Apapun selama itu masih terkait dengan ketenaran gue selaku playboy!" balas Ivan membuat temannya mencibir mendengarnya."Baiklah, taruahannya sepuluh juta. Deal?" tanya Andra lagi."Tunggu dulu, loe belum menentukan apa permainannya?" potong Ivan."Baiklah, kalian lihat pintu itu?" tunjuk Andra kearah ruangan dosen."Iya. Kenapa?" Renold masih terlihat bingung."Itu permainannya.""Maksut loe?" tanya Aldy yang sedari tadi diam memperhatikan tampang bingung. Tangannya terulur membenarkan letak kaca matanya."Loe," tunjuk Andra kearah Ivan. "Harus bisa menaklukkan siapapun yang pertama sekali keluar dari pintu itu.""Apa?!" secara koor ketiga orang itu berujar tak percaya."Bagaimana kalau yang pertama keluar dari pintu itu adalah pak Burhan?" celetuk Aldy.Semuanya terdiam untuk sejenak sambil membayangkan sosok yang di sebut Aldy barusan. Pak Burhan, pria gendut, berkepala botak lengkap dengan kacamata minus yang selalu bertenger di wajahnya. Di tambah dengan raut wajahnya yang jelas – jelas sangar sontak langsung membuat Ivan bergidik ngeri."Ivan loe tertarik untuk menunjukan pesona loe pada …. bapak – bapak?" tanya Andra sambil berusaha menahan tawa saat melihat tampang kecut Ivan."Ke laut aja loe," damprat Ivan kesel."Wukakkakak. Oke aturan main kita rubah dikit. Siapapun wanita yang pertama sekali keluar dari pintu itu, loe harus bisa naklukin dia dalam waktu satu bulan? Bagaimana?" tawar Andra lagi."Terus kalau Bu Susi yang pertama sekali keluar bagaimana?" gantian Renold angkat bicara menyebutkan salah satu dosen di kampusnya yang terkenal sangar."Ya itu resiko" Andra cuek bebek."Tapi dia kan sudah punya suami. Apa loe bermaksud menjadikang gue sebagai manusia perusak rumah tangga orang?" potong Ivan terlihat frustasi."Wukakkaka…. Loe takut memiliki image sebagai perusak rumah tangga orang atau loe sebenernya takut mereka adalah wanita – wanita setia pada suaminya?" tanya Andra balik."Lagian, ayolah. Kaliaankan dari tadi hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau yang keluar dari sana adalah ibu Silvia?" tambah Andra lagi.Membuat ketiga temannya kembali berimaginasi membayangkan sosok Silvia. Dosen bahasa di kampus mereka. Selain masih single, dosen yang satu itu juga selalu bersikap ramah pada Ivan jika tidak ingin di katakan kalau dosen itu tertarik padanya. Terlebih parasnya juga cantik."Deal. Gue setuju," kata Ivan akhirnya."Loe serius?" Renold terlihat tak percaya."Ah ini beneran gila. Bermain – main sama dosen. Kalau ketauan apa nggak kita semua kena getahnya?" Aldy angkat bicara."Kalau loe takut, ya sudah loe maen kelereng aja sono," cibir Andra sinis membuat Aldy memberengut sebel."Oke deh, deal gue juga setuju" Renold menenggahi mau tak mau Aldy juga mengangguk setuju."Baiklah, permainan dimulai. Kita liat siapa yang beruntung," sahut Andra sambil menatap lurus kearah pintu ruangan dosen di kampus mereka.Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit pintu itu masih tertutup rapat. Tiada tanda – tanda akan ada yang keluar dari sana. Membuat keempat orang itu mendesah tak sabar. Barulah pada menit kesembilan lewat 37 detik pintu itu terbuka.Semuanya langsung pasang mata baik – baik sambil menahan nafas menanti siapa yang akan melewati pintu itu. Dan begitu melihat sosok tersebut melewatinya, mulut semuanya langsung terbuka tak percaya. Tapi di detik berikutnya…."wuakkakakakakka" Tawa langsung meledak dari bibir masing masing."Ternyata beneran pak Burhan. Ini si, beneran belum beruntung namanya," komentar Andra setelah tawannya mereda."Tampang loe jangan pucet gitu donk Van, loe kan nggak harus pacaran sama dia," tambah Renold berusaha menghibur walau jejak tawa geli masih ada di wajahnya."Iya nih. Kayak di kerupuk – kerupuk (??) kan masih ada istilah 'Coba Lagi'," Aldy menimpali.Belum sempat mulut Ivan terbuka, pintu keramat sudah kembali terbuka. Membuat keempat orang itu kembali menoleh. Bertatapan langsung dengan sosok yang baru melewati pintu keremat. Suasana hening, hepi. Hanya ada kebisuan yang mendadak menyelimuti…Sosok itu…………..Next to Cerpen Take My Heart Part 02Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen Cinta: TERNYATA KAMU

    Oleh: Mentari Senja – Hari ini aku dan Shinta akan menjemputmu di Bandara, sepuluh tahun sudah kita tak berjumpa. Setelah keluargamu pindah, aku dan Shinta hanya bisa merindukanmu. Sepuluh tahun kami jalani hidup berdua tanpa dirimu, tanpa kebersamaan dan tanpa kegilaanmu. Kami sangat merindukanmu, terkhusus untukku. “duh lama banget ya ri…mana sih Radit katanya dateng jam 10.00. ini dah jam 10.00 lewat tapi belum nongol juga tuh batang hidungnya.”shinta melirik jam warna pink ditangannya sambil terus mencari-cari sosok seorang Radit. Terlihat kegelisahan diraut wajah cantiknya.“ sabar lah Shin, bentar lagi juga nyampe. Mungkin emang agak telat paling pesawatnya. Ya udah kita tunggu aja disini.”aku mencoba menenangkan Shinta, walau aku sendiri juga agak gelisah.“eh…ri kira-kira Radit curiga ga ya. Kalau selama ini yang sering bales e-mail dia bukan aku. Apa dia masih suka sama aku.”shinta jadi gelisah sendiri, dia takut Radit kecewa kalau selama ini bukan Shinta yang ngbales semua e-mail dari Radit.“udahlah tenang Shin, Radit ga bakal tau ko. Lagian kan walaupun aku yang bales tuh e-mail radit, tetep aja aku pake nama kamu. Jadi kamu tenang aja deh. Dan dari semua e-mail yang dia kirim, aku yakin dia masih suka sama kamu,”shinta agak sedikit tenang setelah mendengar penjelasanku. “thanks ya riri, kamu emang sahabat yang baik. Kamu tau sendiri kan aku paling males kalo suruh ngebales e-mail. Aku ga suka diem dikamar Cuma buat mantengin laptop. Mendingan shopping, hehehehe. Tapi untunglah ada kamu, jadi aku selalu tau keadaan Radit. Dan yang paling penting aku tau kalo Radit masih suka sama aku.”shinta senyum-senyum sendiri membayangkan Radit.Aku cuma tersenyum melihat sahabatku ini, walaupun ada sedikit rasa sedih. Karena selama ini aku juga memendam perasaan pada Radit. Selama sepuluh tahun ini aku dan Radit memang masih sering berkomunikasi, tapi komunikasi ini hanya kepura-puraan. Radit menyangka kalau yang ngebales semua e-mailnya adalah Shinta, perempuan yang dari dulu dia kagumi.Setelah tiga puluh menit lamanya kami menunggu Radit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Radit datang juga. Perasaanku mulai berdebar-debar, membayangkan bagaimana Radit sekarang. Apakah dia akan mengenaliku, taukah dia kalau selama ini aku lah yang selalu menemani malam-malamnya lewat dunia maya. Apakah Radit juga merasakan apa yang aku rasa. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaanku tentang Radit. Semoga dia tidak berubah.“jantungku deg-degan ri, kira-kira sekarang Radit seperti apa ya. Aku ga sabar neh. Duh mana ya Radit.”dengan mengangkat papan nama bertuliskan Radit, Shinta mencoba mencari sang pujaan hati.“shin, mungkin itu dia Radit. Lihat lelaki itu, dia datang kearah kita, pasti itu Radit.”aku menunjuk kearah lelaki tinggi memakai jaket jeans biru.“sepertinya iya, wah keren juga ya Radit sekarang. Aku jadi makin suka deh”Lelaki berjaket jeans itu semakin mendekat, dia melambaikan tangannya menandakan bahwa memang benar dia adalah Radit. Akhirnya ketemu juga dengan Radit, Radit kini sudah menjadi sosok lelaki dewasa.“hallo princess, apa kabarmu…”Radit mendekatkan diri pada Shinta, menyapa Shinta dengan sebutan yang biasa dia ucapkan padaku saat didunia maya.Princess ??so sweet, Radit romantis sekali padahal baru saja ketemu Shinta hanya berdiam diri, dalam hati shinta berkata-kata siapa yang Radit sebut dengan Princess, tapi itu ga terlalu penting bagi Shinta. Shinta tak memperdulikan Radit akan memanggilnya apa. Yang dia rasakan hanya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Radit.“hallo Princess, kenapa nglamun aja. Terpesona ya ngliat aku yang ganteng. Hahahahaha.” kata Radit karena melihat Shinta yang bengong“hey siapa juga yang terpesona, aku hanya ga habis fikir aja bisa ketemu lagi sama cowok jelek kaya kamu,hehehehe.”shinta dan Radit terlihat semakin akrab. Kulihat mereka berdua sangat cocok, apalagi mereka berdua saling suka.Aku hanya bisa berdiam diri melihat keakraban antara Radit dan Shinta. Ternyata Radit tak mengenaliku, dia masih mengira bahwa Shintalah yang menjadi teman dunia mayanya. Sedikit rasa kecewa terpendam dihati, karena apa yang kuharapkan ternyata tak sesuai hati.“ehemm… udah dulu dong kangen-kangenannya, sampe lupa ada orang disampingnya.” aku mencoba mencairkan suasana.“hai nona manis, maaf aku lupa. Apa kabarmu sekarang ? apa kegiatanmu, jangan kaya Shinta ya yang sukanya ngenet sampe malem.”Radit melirik Shinta. Menggoda Shinta dengan lirikannya.“kabarku baik. aku juga suka ngenet ko Dit, sama kaya Shinta.”jawabku sambil ku lirik juga Shinta“wah ternyata kamu sama Shinta punya hobby yang sama ya, baguslah kalau gitu. Kita semua jadi kompak. heheheh, Eh ngomong-ngomong kamu punya e-mail ga?”tanya Radit kepadaku“aku punya, kapan – kapan aku kasih tau kamu. Oke sekarang kita pulang yuk ga enak kelamaan disini bisa jamuran kita.hehehehe.” aku dan Shinta saling berpandanngan, aku tau Shinta ingin berbicara kalau jangan sampai Radit tau yang sebenarnya.Akhirnya kami bertiga pulang, menuju kediaman Radit yang kebetulan tak jauh dari rumahku dan Shinta. Kami bertiga tinggal dalam satu komplek yang sama.**************** Pagi ini sungguh cerah, udara pagi yang sejuk ditemani hangatnya sinar mentari pagi. Daun-daun dengan tetesan embun menyapa rerumputan yang basah karena tetesan embun. Burung camar berkicauan menyanyikan kidung indah tentang pagi. Dari jendela kamarku dilantai dua, aku merasakan sejuknya angin pagi. Dan tanpa kusadari tenyata Radit telah berada dibawah.“woi nona manis, lari pagi yuk. Ajak Shinta juga ya.” teriak Radit dari bawah, ternyata Radit sudah siap untuk berolahraga pagi.“hai….sudah lama disitu, oke deh bentar lagi aku keluar. Aku call shinta dulu ya.” jawabku “shin, cepet bangun Radit ngajak jogging neh. Oke cepetan bangun, aku dan Radit nunggu kamu didepan rumah.”kututup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Shinta, segera kubersiap untuk jogging.“sudah call Shinta,” tanya Radit setelah melihatku keluar dari pintu.“yapz, udah. Kita langsung tunggu didepan rumahnya. Ayo berangkat.” ajaku pada Radit.“oke. Ayo.”Jarak rumahku dan Shinta tak begitu jauh, jadi tak butuh waktu lama buatku dan Radit sampai dirumah Shinta. Pagi ini Shinta terlihat begitu cantik. T-shirt pink dipadu dengan celana Panjang warna putih terkesan machting dengan kulit Shinta yang putih. Dan hal ini membuat Radit semakin terpesona.“hello, my princess, you are beautiful.” Radit menyapa Shinta dengan kata-kata romantis, ini membuatku sedikit sedih. Karena bukan aku yang dia sapa, melainkan Shinta yang tak tau apa-apa.“hallo juga cowok jelek, hehehehe.” Shinta menjawab sekenanya.“ayo kita berangkat.” ajaku“Oke.” radit dan Shinta masih saling berpandangan.Setelah lima belas menit jogging akhirnya kita semua memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman. Disebuah bangku panjang bercat putih, dipayungi pohon yang rindang sangat tepat untuk tempat beristirahat. Dikanan kiri terdapat beberapa pedagang makanan dan minuman, tempat ini memang biasa untuk orang-orang lari pagi jadi wajar kalau banyak juga pedagang yang menyediakan makanan ataupun minuman.Tiga botol teh dingin, serta tiga mangkok bubur ayam menjadi santapan pagi kita setelah lelah berolahraga. Suasana kali ini sungguh menyenangkan. Terlihat ada kumpulan anak-anak yang sedang berlari-lari kecil dengan suara tawanya yang riang, hal ini mengingatkanku tentang sesuatu. Terbayang waktu dulu saat kami semua bersama. Masa-masa kecil yang selalu kami lewati dengan berbagai canda dan tawa. Radit yang super iseng, Shinta dengan kemanjaan dan kecentilannya, sedang aku yang pendiam. Walaupun dengan berbeda karakter tapi kami semua tetap bisa bersatu. Sampai saat inipun kami bertiga masih akrab.Fikiranku pun melayang saat kuingat kali pertama Radit membuatku kagum padanya, Radit datang membelaku saat aku dihadang oleh anak – anak lelaki yang bandel disekolah seberang. Radit mencoba melindungiku, dia berusaha agar aku tidak terluka. Ketika itu Radit berkelahi dengan anak-anak itu, walaupun radit terluka juga tapi Radit berhasil mengusir anak-anak bendel itu. Dan saat itu aku merasakan kagum pada seorang Radit, bagiku dia adalah dewa penolong, dia juga teman penghiburku saat aku merasa sedih. Hingga saat ini kekaguman itu masih terjaga.“hei… nona… ngapain nglamun.”sapaan Radit menyadarkanku dari lamunan. Radit memang biasa memanggilku dengan sebutan nona. Itu sebutan saat masih kecil.“ohh…ga apa-apa ko. Cuma lagi menikmati alam, hehehe.” jawabku seraya memandang sekitar“balik yuk, cape neh.” ajak Shinta“oke Princess,” jawab Radit. Sekali lagi aku dan Shinta hanya saling berpandangan.********* “eh ri, kira-kira Radit masih percaya ga ya kalau aku yang sering balez e-mail dia dulu.” tanya shinta padaku“emangnya kenapa, yang aku liat sih, kayanya dia masih percaya deh.” aku melihat kearah Shinta“iya ri, sekarang aku ga yakin kalo Radit masih percaya, soalnya sering banget kalo dia ngobrol sama aku dan kebanyakan obrolannya itu ga nyambung. Dia sering cerita tentang dunia maya, tentang buku love story, tentang bakso yang katanya makanan kesukaanku. Padahal kamu tau sendiri kan ri kalo aku ga suka bakso. Apalagi tentang lovestory. Aku jadi bingung harus jawab apa sama Radit.”shinta telihat bingung, dia terus mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Sampai mie ayam kesukaanya tidak sempat dia makan.“udah lah shin, aku yakin dia masih percaya.”jawabku mencoba menenangkan. Aku hanya bisa diam, memikirkan Radit. Ternyata Radit masih hafal tentang kebiasaanku, tentang love story, tentang bakso, itu semua memang tentangku. Kabiasaanku berbalas e-mail dengan Radit membawa ketidaksengajaanku untuk mengungkapkan semua kebiasaan dan kesukaanku. Aku tak sadar bahwa kebiasaanku dan Shinta sungguh jauh berbeda. Yang ku tau saat itu hanya rasa nyaman saat bisa berbagi cerita dengan Radit, walaupun hanya lewat dunia maya.Suasana kampus masih ramai, banyak mahasiswa berlalu lalang. Dari mahasiswa yang masih punya jam kuliah sampai yang hanya Cuma ingin menikmati suasana taman dikampus. kebetulan aku dan shinta sudah tak ada jam kuliah. Kami menghabiskan waktu dikantin kampus. Kami berdua hanyut dalam lamunan masing-masing, walaupun tertuju pada satu khayalan, yaitu Radit.“Ri, aku sudah putuskan untuk menceritakan yang sebenarnya sama Radit. Aku ga mau terus – terusan bohong. Aku juga ga mau terus berpura-pura tau tentang semua obrolannya. Aku ingin mencintai Radit dengan diriku sendiri, bukan apa yang Radit ceritakan. Gimana menurutmu ri.” tiba-tiba saja Shinta berbicara padaku, “kalau menurutku, jangan dulu shin. Ini bukan waktu yang tepat. Biarlah dia tau dengan sendirinya. Lagian kalau dia emang sayang sama kamu, pasti dia bisa menerima kamu dengan apa adanya. Ya udahlah shin jangan terlalu difikirkan.”“gitu ya ri, hmmm ya udahlah mungkin Cuma perasaanku aja. Thanks ya ri, kamu baik banget. Kamu juga selalu membantuku. Thanks sob.”Shinta memelukku erat, ada kelegaan yang kulihat.“iya shin, sama-sama. Balik yuk.”“hmm oke,”********* “hei nona, lagi ngapain disini.”Radit menghampiriku saat aku berada ditaman sendiri. “hei juga, lagi duduk-duduk aja neh, sambil baca buku.”jawabku sambil mempersilahkan Radit duduk.“wah hoby baca juga ya kamu, lagi baca buku apa, coba aku liat.”“love story, novel kesukaanku, ceritanya begitu romantis aku suka.”aku menyodorkan buku novelnya kepada Radit.“Love Story???ko bisa kebetulan ya, aneh….”jawab Radit sedikit bingung sambil terus melihat buku novel itu“Aneh kenapa.?”tanyaku sedikit ragu“ya aneh, aku juga suka banget sama novel itu. Shinta juga suka, dia sering ngabahas novel ini di e-mail tapi kenapa ya saat aku tanya langsung sama dia kemaren dia seolah ga pernah tau tentang love story.dan juga saat aku panggil dia princess dia ga ngebales manggil aku pangeran. Aneh kan.”Radit mulai curiga dengan Shinta.Aku langsung buru-buru mengambil novel itu dari Radit, aku ga mau Radit tau keadaan yang sebenarnya. Sambil bersiap pamit pulang aku berbicara.“mungkin Shinta ingin ngetes kamu, apa dia masih ingat atau ga sama kebiasaannya.” jawabku sembari meninggalkan Radit. Saat itu kulihat Radit bingung. Sebenarnya Radit ingin bertanya banyak tentang Shinta padaku tapi aku keburu pergi.Radit, mungkinkah kamu tau bahwa itu semua adalah aku. Akulah yang kau kira Shinta, akulah yang selalu berbagi cerita tentang lovestory. aKu lah yang memanggilmu pangeran, dan aku lah princessmu. Semua itu aku yang lakukan. Maafkan aku Radit, bukan maksudku membohongimu, ini semua demi Shinta. Aku tau kamu cinta Shinta, begitu juga Shinta. Mana mungkin aku harus menghancurkan hubungan kalian. Lebih baik aku yang sakit.Semenjak kejadian ditaman aku sedikit menghindari Radit, aku takut Radit bertanya macam-macam lagi. Jadi sebisa mungkin kuhindari suasana berdua dengan Radit. Kecuali saat ada Shinta, seolah memang tak terjadi apa-apa.**********Kau adalah darahkuKau dalah jantungkuKau adalah hidupkuLengkapi diriku, oh sayangku kau begitu sempurna……….. Kunyanyikan lagu kesukaanku saat kusendiri ditaman, lagu ini sangat berarti karena lgu ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat ku sayang siapa lagi kalau bukan Radit. Aku dan radit sangat kenal betul dengan lagu ini, karena sangat sering aku memutar lagu ini ketika dunia maya menjadi jembatan untuk aku berbagi cerita, begitu juga dengan Radit. Lagu ini adalah lagu kita bersama. Tanpa terasa airmataku menetes, ada perasaan sedih saat harus aku tau kenyataan bahwa Radit tidak mengenaliku. Dia masih saja mengira bahwa Shinta lah yang selama ini bersamanya di tiap malam.“Ri…aku sudah tau semuanya.”suara Radit tiba-tiba mengagetkanku. Ternyata Radit sudah dari tadi ada dibelakangku. Aku bingung apa yang Radit katakan barusan, apa yang dia tau. Atau jangan-jangan…..tapi tidak mungkin, dari mana dia tau. Shinta ???? batinku mulai bertanya-tanya.“hei dit, sudah lama kamu disini?”tanyaku agak sedikit gugup“aku tau ri, aku sudah tau. Lebih baik kamu jujur padaku.”radit mencoba mendesakku“maksud kamu apa dit, aku ga ngerti deh. Apa yang kamu tau.”jawabku seolah tidak tau apa-apa. Persaaanku semakin gugup dan gelisah, aku takut Radit memang sudah mengetahui semuanya. Aku takut mengecewakan Shinta.“aku tau bukan Shinta yang ngebales semua e-mailku, bukan shinta yang selama ini menemaniku. Tapi itu semua kamu ri. Kamu Mentari az zahra, yang selalu ngebales e-mailku. iya kan ri, jawablah.” Radit mendesakku.Aku hanya terdiam, aku tak tau harus berbicara apa. Ternyata radit sudah tau semua. Tapi dari mana dia tau, bukankah Shinta sudah tidak berniat lagi untuk menceritakan hal ini.“dari mana kamu menganggap kalau semua ini aku yang lakukan,.” kataku mencoba menyangkal“semua bukti udah jelas ri, love story, dunia maya, bakso kesukaanmu, dan lagu tadi. Apa itu ga cukup jelas buat aku tau semuanya.” Radit terlihat kecewa.“maaf dit, bukan maksudku membohongimu, ini semua karena Shinta. Shinta yang menyuruhku melakukan semua ini. Awalnya aku berniat untuk menghentikannya, tapi ternyata aku ga bisa, karena aku merasa nyaman saat aku bisa berbagi denganmu.” jawabku dengan suara parau, airmataku menetes.”maaf dit, bukan maksudku menghancurkan hubungan kalian, anggap saja ini semua tak pernah terjadi. Kembalilah pada shinta seolah memang dia yang selama ini kamu kenal bukan aku.”“kenapa kamu ga mau jujur dari awal kita ketemu ri, aku kecewa sama kamu dan Shinta.”“saat itu aku berniat untuk jujur, tapi waktu pertama kita ketemu kamu sudah lebih dulu mengenali Shinta dengan “princessmu” itu. Bukan aku yang kamu kenal. Sejak saat itu ku urungkan niatku.” kutatap wajah Radit sekilas lalu balik berpaling memandang bunga mawar yang tumbuh indah disamping taman.“maafkan aku ri, aku ternyata tidak mengenalimu, aku ga memahamimu saat itu. Tapi ri, sampai kapanpun aku masih nyaman dengan princessku itu dan itu kamu, bukan Shinta.” Radit menggenggam tanganku, menatapku tajam.“maksud kamu..??? bukankah kamu cinta sama Shinta?”tanyaku heran pada Radit“aku memang suka sama Shinta, tetapi aku sadar bahwa rasa sukaku dengan shinta hanya sekedar rasa suka semata. Ternyata yang aku cintai bukan shinta, tapi princess, princess yang selalu menemaniku, princess dengan love storynya, dan itu kamu. Saat aku bersamamu aku merasa nyaman, seolah aku sedang berbicara dengan princess. Dan sekarang aku tau bahwa memang benar apa yang kurasakan, kamu adalah princessku. Aku mencintaimu ri.” kata Radit “tapi dit, bagaimana dengan Shinta, mana mungkin aku harus menghancurkan hati Shinta. aku merasa tidak enak hati apabila Shinta tau semua ini.”kulepaskan genggaman tangan ku dari tangan Radit“aku tau ri, tapi aku juga ga mau terus-terusan membohongi shinta. Jujur selama ini aku kurang nyaman saat bersamanya. Banyak ketidakcocokan yang aku rasakan. Tidak seperti saat bersamamu.” terang Radit.Aku begitu bingung, dilema rasanya. Disatu sisi aku merasa bahagia karena Radit juga ternyata mencintaiku tapi disisi lain rasa bersalah kepada shinta bersarang. Bagaimana perasaan shinta saat dia harus tau semua ini. Apakah harus kurelakan Radit untuk Shinta, atau kuterima cinta Radit ini. Semua ini terasa ga adil, aku ga mau hanya karena masalah cinta persahabatan ini hancur.“terimalah cinta Radit, ri….. jangan kecewakan dia. Aku tau dia cinta kamu.” suara Shinta tiba-tiba mengagetkan kami berdua. Ternyata shinta mendengar pembicaraan kami dari belakang.“maaf Shin, bukan maksudku kaya gini.” kataku meyakinkan Shinta. Kuhapus airmataku dan kujauhi Radit.“tenang Shin, aku ga kan marah ko sama kamu. Justru aku bahagia karena akhirnya semua ini bisa terjawab dengan sendirinya. Aku tak perlu lagi berbicara yang sebenarnya kepada radit. Dan tentang perasaanku sama Radit, sama halnya seperti Radit ternyata aku hanya mengagumi Radit. Tapi tak bisa untuk menyelaminya. Kami berdua ga cocok. Terlalu banyak perbedaan yang ada pada kita, dan sekarang aku relakan Radit menjadi milikmu karena aku tau kamulah yang terbaik buat Radit.” Shinta tersenyum dan menghampiriku. Shinta memelukku menyatakkan kebahagiaannya.“makasih Shin, aku ga tau harus ngomong apa sama kamu.” aku merasa bahagia dengan penuturan Shinta, ternyata shinta ga marah. Dan semuanya jelas sudah.“Mentari Az Zahra….maukah kamu menjadi pacarku…?” tiba-tiba radit bersimpuh didepanku dengan memberikan bunga mawar merah.Dengan hati yang berbunga-bunga serta senyum yang terus mengembang dari bibirku. Ku jawab pertanyaan Radit itu.“Radit Bagas Pramandha, aku bersedia menjadi pacarmu.” ku ambil mawar merah yang dipegang Radit sebagai tanda penerimaan.“terima kasih princess…” Radit langsung memelukku“sama-sama pangeran.”senyumku berkembang Shinta yang melihat kami hanya tersenyum dan menggoda kami.“ehem udah dulu dong berpelukannya, jadi iri neh. Hehehehe,”shinta menggoda kami.Ternyata persahabatan ini masih terus berjalan, walau kini aku dan Radit resmi berpacaran tapi hal ini ga mengubah kebersamaan kami. Aku, Radit dan Shinta pun berpelukan. Kami habiskan waktu malam ini bertiga, memandang bintang dilangit yang bersinar indah. Akhirnya love story ini berakhir indah. Sang pangeran kini telah menemukan princess. Tak ada lagi keraguan di hati sang pangeran. Dunia ini seakan berbunga-bunga, keindahan menghampiriku karena cinta yang kupendam kini tlah terpaut sempurna. Dan ternyata kamu……….. I LOVE U RADIT……………………..THE END……………….PENULIS;Nama : Mentari SenjaEmail : pichasilvia@yahoo.comfb : chika_lupi@live.com

  • THE SECRET OF LOVE

    THE SECRET OF LOVE“Jika engkau merasakan cinta pada seseorang, katakanlah. Berani. Jujur dan jangan ragu. Tapi, jika tidak, ucapkanlah dengan tegas bahwa engkau tak menyukainya.”Kata-kata yang selalu terngiang dan telah terpatri di kepalaku sebelum aku bertemu dengan gadis ini. Gadis manis, berwajah mungil dan berlesung pipi. Gadis elok yang telah mencuri hatiku dan menyimpannya, hingga tak dapat aku temukan pecahan hatiku. Gadis yang mampu membuatku tak mampu berkata-kata. gadis yang mampu membuatku tak dapat mengingat kata-kata yang selama ini telah bersarang di kepalaku. Aku tau, mungkin aku sudah gila atau apalah itu. Aku tak ngerti dan tak paham dengan apa yang sedang kualami sekarang. Yang ku tau hanya aku ingin bersama, menggenggam tangannya dan melindunginya. Aku ingin menjadi seseorang yang mampu menjadi penopang hidupnya. Pengobat rasa sedihnya.Gadis manisku. Aku ngerasa kamu hanya impian yang tak dapat kugapai. Aku ngerasa tangan ini tidak sanggup untuk meraih tanganmu. Seandainya engkau tau, aku disini menunggumu, menantimu untuk mengambil setengah hatiku yang telah kau curi. Aku ingin kau ada disini, menemaniku. Hidup bersamaku di sisa umurku. Kututup diaryku, sambil terus membayangkan gadis manisku. Kulihat waktu telah larut malam. Beranjak ku menuju tempat tidur. Aku ingin istirahat dan memimpikan gadis itu. Walau hanya mimpi, aku ingin bertemu gadis itu lagi. Mengobrol dan melihat senyumnya yang mampu membuatku terpana. Kupejamkan mata sambil terus dan terus membayangkan wajah gadis manisku. Hingga lelap dan pulas.* * *“Satria….. cepat bangun. Kamu tak pergi melukis hari ini????”Samar-samar kudengar suara mama yang memanggilku. Dengan berat dan perlahan kubuka mata yang terpejam ini. Kucari-cari jam yang biasa kuletakkan di meja samping tempat tidurku. Betapa kagetnya aku ketika jarum jam telah menunjukkan pukul 09.00, yang artinya aku telah terlambat setengah jam untuk memulai aktifitas rutinku. Membantu orang yang ingin memiliki potret diri. Segera aku mempersiapkan diri dan berangkat menuju tempat yang biasa kugunakan untuk melukis.Hari masih pukul 09.00, namun sinar matahari sangat menyengat. Kususuri jalan yang ramai itu dengan peralatan lukis yang tersampir di pundakku dan sebuah lamunan di sepanjang jalan.Ya, inilah aku. Satria seorang pelukis jalanan. Seorang pelukis yang kesehariannya hanya untuk melukis orang-orang tanpa dibayar. Kadang aku mendengar orang-orang di sekitarku berkata, untuk apa aku melukis tanpa dibayar, hanya buang-buang waktu aja. Tapi aku senang dan menikmati kehidupanku ini, karna aku sadar hidupku tinggal sebentar lagi. Aku ingin hidupku berguna untuk orang lain. Walaupun aku sadar aku lemah, namun ada sesuatu yang mampu membuatku semangat menjalani kehidupanku ini.“Satria.”Inilah seseorang yang mampu membangkitkan semangatku untuk hidup. Seseorang yang juga mampu menggetarkan hatiku. Tara. Dialah gadis manisku yang hanya menjadi impian dalam hidupku. Tara adalah sahabat kecilku. Dia yang selalu menghibur dan memberikan semangat hidupku. Sebagian masa kecilku, kuhabiskan hanya untuk bersamanya. Aku tidak pernah menyangka, perasaan yang awalnya hanya sebatas sahabat berkembang menjadi rasa cinta yang sangat dalam. Tara tidak pernah tahu perasaanku ini. Aku berusaha menyimpannya rapat. Aku tidak pernah ingin Tara tahu rasa cinta yang tumbuh dalam hati. Aku tak ingin hubungan persahabatan ini hancur hanya karna cinta. Aku tak pernah ingin jauh darinya, karna hanya dia penopang hidupku.Kulihat Tara berjalan menghampiriku sambil melambaikan tangannya yang mungil. Di sampingnya berjalan pula seorang pria yang menggandeng tangannya. Donny. Pria yang berarti dan berharga baginya. Pria yang juga aku kenal sebagai salah satu teman satu jurusannya. Dia pria yang baik dan menyayanginya sepenuh hati, aku senang Tara mendapat pria seperti dia.“Hai…., Sat. Boleh tidak kami minta kamu buat melukis kami berdua????? Aku suka sekali sama lukisanmu.”, rengek Tara.“Bener Sat. Aku dengar kamu jago banget melukis. Pasti keren sekali ntar hasilnya.”, kata Donny menambahkan. “Kalian itu tak usah memujiku seperti itu, nanti aku bisa jadi besar kepala.”, jawabku. “Baiklah. Aku akan lukis kalian sebagai hadiah dariku kar’na kalian baru jadian. Ayo duduk di kursi itu. Aku akan mulai melukis.”, lanjutku.Mereka pun menuju kursi yang aku sediakan. Rasanya ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya melihat gadis manisku dipeluk pria lain. Ingin sekali aku merebutnya dari tangan pria itu dan memeluknya. Namun, segera kutepis semua pikiran itu jauh-jauh dan mulai melukis. Pertama kalinya aku merasa sakit dan perih sekali saat melukis, biasanya tak pernah sekalipun rasa ini melingkupiku saat aku melukis. Biasanya aku melukis dengan gembira dan senyuman. Karna aku cinta melukis. Akhirnya lukisanku selesai.“Gimana lukisannya?????”, Tanya Tara sambil menghampiriku.“Bagus sekali. Kamu selalu cantik sekali walau hanya dalam lukisan.”, gumamku.“Apa Sat?? kau bicara apa barusan??? Aku tak dengar.”, tanyanya.“Kalian pasangan yang serasi.”, jawabku sambil tersenyum pada mereka.“Terima kasih.”, ujar mereka berbarengan.* * *Sejak hari itu, aku tak pernah bertemu Tara. Dia selalu sibuk dengan pacar barunya. Aku tak kan bisa marah, kar’na setiap kali aku lihat senyumnya saat bersama Donny, aku akan bahagia. Aku telah memutuskan. Aku ingin menjauh darinya. Aku ingin menjaga hatiku. Setiap kali aku melihatnya dari jendela kamarku, aku selalu ingin memeluknya sambil mengucapkan betapa besar rasa cintaku untuknya. Aku harus pergi dari sini. Aku akan menuju tempat dimana aku tak bisa bertemu lagi dengannya. Aku ingin lari dengan kenyataan ini. Aku akan membawa penyakitku bersamaku.1 TAHUN KEMUDIANMentari sangat hangat, seperti hatiku sekarang. Kicau burung yang indah juga telah membangkitkan semangatku. Ya. Disinilah aku. Di tempat yang paling indah yang pernah aku kunjungi. Tempat yang mampu mengembalikan semua semangat hidupku. Pulau Lombok. Pulau yang memiliki keindahan alam yang indah dengan pantai yang terbentang luas. Tinggal selama 1 tahun disini, membuatku merasa semua kepenatan, kesedihan dan keterpurukan hilang diterpa ombak. “Den Satria……. Ada telpon dari teman Anda.”, teriak Mang Ujang. Seorang pria tua yang membantuku sejak aku tinggal disini.“Dari siapa Mang?”, tanyaku.“Kalau tak salah, dari emm….. Tara. Oiya, dari Non Tara. Katanya teman Anda di Jakarta.”, jawabnya.Aku kaget. Hancur sudah pertahanan hatiku saat ini. Gadis manis yang kuputuskan untuk kulupakan dengan tinggal disini meneleponku. Aku terima gagang telepon yang Mang Ujang sodorkan padaku. Aku takut. Aku takut banget.“Halo.”, sapa seseorang di seberang sana.Aku tak tau mesti gimana. Aku ingin membuang telepon ini, tapi aku juga rindu pada pemilik suara ini. Akhirnya aku tersadar bahwa seseorang di seberang sana sedang menunggu jawaban dariku.“Halo, Tara.”, jawabku.“Ha….. benar ini kau Satria. Satria temanku. Satria pelukis jalanan.”, ujarnya dengan semangat.“Benar. Selama kau masih punya satu nama Satria dalam hidupmu selama aku tinggal jauh darimu.”“Aku rindu kau, Sat.” ujarnya lagi.Betapa kagetnya aku. Ternyata gadis manisku merindukanku. Saat ini rasanya aku sedang menembus awan dengan seekor burung rajawali yang kuat dan kekar. Jantungku seakan meloncat, hingga aku tak dapat menahannya.“Aku juga rindu kau, Tara. Sangat rindu.”, jawabku.“Kapan kau kembali kesini Sat??? Aku membutuhkanmu. Aku sendirian disini. Aku ingin kau ada disini.”, ujarnya sambil terisak.“Kau bohong, Tara. Kau telah memiliki seseorang yang selalu ada dan setia menjagamu. Bukankah selalu ada Dony disampingmu??, jawabku. “(menangis). Dony sakit, Sat. Sekarang dia lagi bertahan untuk hidup. Dia membutuhkan donor jantung. Aku takut, Sat. Hanya kamu yang bisa menyemangatiku saat ini. Aku butuh kamu.”Aku kaget luar biasa. Aku tak bisa membayangkan gadis manisku terpuruk saat ini. Bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya tanpa orang yang dia sayang. Tiba-tiba aku merasa kepalaku mulai sakit yang luar biasa. Sakit yang benar-benar menyiksa. Gagang telpon pun terlepas dari genggaman tanganku. Aku merasa tubuhku mulai terkulai dengan lemah. Samar-samar aku masih mendengar suara Tara memanggilku di seberang sana. KEESOKAN HARINYAAku bingung. Saat ku buka mata, aku hanya melihat sebuah ruangan yang semua dindingnya tertutup kain putih. Mataku mulai mencari-cari ke sudut-sudut ruangan. Kupaksakan untuk mengucapkan kata “mama”. Tapi yang keluar hanya sebuah gumaman yang tak jelas. Lelah dan letih memanggil, aku pun diam dan hanya menunggu.5 menit kemudian, aku mendengar suara pintu yang berderit. Aku melihat seorang suster yang mulai berjalan mendekatiku. Dia kaget melihatku telah sadar. Kupaksakan untuk mengeluarkan suara.“Mama.”, ujarku dengan lirih.“Anda ingin bertemu dengan Mama anda??”, ucap suster itu.“Mama.”Suster itupun keluar ruangan. Sesaat setelahnya aku melihat seorang wanita yang sudah paruh baya sedang menangis sambil berjalan mendekatiku.“Mama.”“Satria. Kau tidak apa-apa, Nak?”“Aku rindu Mama.”“Aku juga rindu kau.”“Ma, jangan menangis. Aku sedih melihat Mama seperti ini.”Kulihat Mamaku mulai membersihkan air mata di kedua matanya. Tampak kesedihan dan ketegaran di matanya. Sakit sekali. Aku merasa lebih sakit melihat Mamaku seperti ini daripada rasa sakit akibat penyakitku ini. Aku mulai terisak. Aku ingat semua pengorbanan yang telah Mama lakukan untukku. Pengorbanan yang seharusnya menjadi tanggung jawab dua orang. Aku ingat ketika Mama dengan sabar merawatku ketika kecil. Aku ingat ketika Mama menyemangatiku. Aku ingin selalu bersamamu Mama. Aku tidak ingin berpisah darimu. Aku sayang kamu, Mama. Maafkan aku Ma. Aku telah merahasiakan penyakitku ini darimu. Aku ingin selalu melihatmu tersenyum. Senyumanmu adalah obat yang paling aku harapkan di dunia ini. Maafkan aku Ma. Aku harus pergi meninggalkanmu. “Satria. Kenapa kau berbuat begini pada Mama, nak. Apa kau tidak menyayangi Mama lagi? Kenapa kau tidak memberi tahu Mama tentang penyakitmu?”Aku kaget. “Dari mana Mama tahu hal itu?”“Jadi semua itu benar, nak? Kau benar-benar sakit selama ini? Dan selama ini pula kau tidak memberitahu Mama?”“Ma, maafkan aku. Aku tak ingin melihat Mama sedih. Aku sayang banget sama Mama.”Tiba-tiba, aku merasakan sakit yang luar biasa lagi. Dan rasa sakit ini lebih menyakitkan daripada waktu itu. Aku berteriak kesakitan. Mama kaget dan segera berteriak memanggil Dokter. Aku masih mendengar suara tangisan Mama. Tangisan yang pilu. Di tengah rasa sakitku, aku ingat Tara. Aku rindu dia. Aku ingin bertemu dengannya. “Ma.”“Apa, nak? Apa yang kau rasakan saat ini?”“Ma. Maukah Mama melakukan sesuatu untukku. Tolong berikan jantungku untuk Dony. Dia kekasih Tara, Ma. Walaupun aku mati, aku ingin tetap bisa bersamanya. Tolong katakan juga padanya kalau aku sangat mencintai dia.”“Tidak, Sat. Kau tidak akan mati dan tidak akan pernah mati. Kau tidak akan meninggalkan Mama sendirian kan? Mama tak bisa hidup sendiri, Sat. Mama butuh kau disamping Mama.”“Ma. Tolong aku. Aku ingin bisa berguna walaupun aku sudah mati. Apa Mama ingin aku tidak bahagia disana?”“Sat. Kenapa kau berkata begitu. Mam tak tega mendengarnya. Tapi kalau itu keinginanmu, baiklah, Mama akan mengabulkan permohonanmu.”“Terima kasih Ma. Aku sayang Mama.”Pelan-pelan kututup mataku. Kurasakan hatiku mulai sejuk. Aku merasa terbang dengan damai, bahagia dan ketenangan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku terbang tinggi dan semakin tinggi. Aku melihat keindahan yang sangat luar biasa. Keindahan yang akan kekal selalu. Keindahan yang abadi.Jember, 16/06/201106.44 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*