Ketika Cinta Harus Memilih ~ 07 | Cerpen Cinta

Ketika Cinta Harus Memilih ~ part 7. Biar bacanya nyambung untuk part sebelumnya bisa langsung klik disini.
Sambil bersiul dan sekali – kali terdengar bersenandung kecil Rangga memasuki halaman rumahnya. Begitu turun dari motor, perhatiannya beralih ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Dalam hati ia bertanya – tanya. Siapa kira – kira pemiliknya?. Karena ia berani bertaruh kalau itu pasti bukan mobil papanya.

Ketika Cinta Harus Memilih
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rangga segera melongos masuk ke dalam rumah yang memang tidak di kunci. Setengah tak percaya pada penglihatannya saat mendapati sosok yang kini duduk santai di ruang tamu sambil membolak – balik halaman majalah remaja ditangan.
"Fadhly?" bibir Rangga menyerukan sebuah nama untuk meyakinkan diri.
"Eh Rangga, akhirnya loe pulang juga."
Dengan cepat Rangga melangkah menghampiri tamunya yang tak lain adalah Fadhly. Sahabat karibnya waktu masih SMA dulu. Sudah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu. Yang jelas setelah hari kelulusan sekolah.
"Fadhly, ini beneran elo kan?" tanya Rangga yang masih merasa tidak yakin. Karena kabar terakhir yang ia dengar, sahabatnya itu dulu melanjutkan kuliah keluar negeri. Maklumlah, namanya juga anak direktur perusahaan paling ternama.
"Ya iya lah. Memangnya siapa lagi. Perasaan dulu enyak gue nggak pernah ngelahirin gue dalam keadaan kembar."
"Ah, elo bisa aja. Gimana kabarnya sekarang. Kalau dilihat dari penampilan nya udah jadi BOS besar ni kayaknya?" tanya Rangga sambil duduk disamping Fadly yang tampak sedang meletakan kembali majalah remaja yang sedari tadi di bacanya.
"Apaan si loe. Gue cuma lagi belajar aja. Itung – itung bantuin bokap" Fadly tampak merendah.
"Belajar jadi bos maksutnya?" kejar Rangga.
Kali ini Fadly hanya menangapi dengan tawa. Sama sekali tidak membantah. Karena memang begitulah kenyataannya.
"Oke deh, karena kita juga udah lama banget nggak ketemu, sekarang ayo, kita saling bertukar cerita. Roman – romannya loe keliatan lagi happy nie" Fadly mengalihkan Topik pembicaraan.
Rangga hanya angkat bahu. Namun tak urung menyetujui usul sahabatnya itu. Dan tanpa sadar, meluncurlah cerita demi cerita dari mulutnya.
*** Ketika cinta harus memilih ***
"Tumben banget loe hari ini jemput gue pake mobil. Mobil baru ya?" komentar Cinta saat mendapati Rangga yang menjemputnya pagi itu tanpa motor yang biasa ditungganginya.
"Tadinya si gue pengen pamer ini punya gue. Sayangnya bukan. Ini punya temen yang gue pinjem" kata Rangga sambil dengan cekataan tangan nya membukakan pintu untuk Cinta sebelum kemudian ia menyusul duduk dibelakang kemudi.
"Oh ya Cinta, hari ini loe masuk berapa mata kuliah" tanya Rangga mulai melajukan mobil hitamnya.
"Hari ini ya?. E, cuma satu" balas Cinta setelah berfikir beberapa saat. "kenapa?"
"Wah kebetulan banget kalau gitu. Gue juga cuma satu. Kalau gitu, entar habis kuliah kita jalan yuk."
"Tumben banget loe ngajak gue jalan. Pasti ada apa-apanya ya" selidik Cinta dengan mata menyipit.
"Ye, jangan seuzon gitu donk. Emang apa yang aneh kalau orang pacaran terus jalan bareng?"
"Iya. Tapi kita kan pacarannya cuma bo'ongan."
Tepat setelah Cinta menyelesaikan ucapanya dengan nada santai barusan mobil mereka terhenti karena Rangga menginjak Rem nya secara mendadak.
"Astaga Rangga, loe kenapa si" geram Cinta sambil mengusap – usap dadanya karena kaget.
"Emangnya gue pernah bilang kalau elo, cuma pacar bo'ongan?"
"He?" Cinta menoleh.
Menatap Rangga yang kini juga sedang menatapnya lurus. Merasa sedikit salah tingkah sekaligus tidak nyaman Cinta segera mengalihkan tatapannya. Dan lagi – lagi jantungnya berdebar dengan cepat. Namun bedanya ini bukan karena kaget. Cuma karena…. Karena…. Entahlah. Cinta juga tidak tau.
"O… E…. Ehem, entar siang ya. Sory kayaknya gue nggak bisa deh" kata Cinta.
Rangga mengernyit heran saat menangkap sedikt nada gugup dari mulut Cinta yang mengabaikan pertanyaannya barusan. Bahkan ia juga menyadari Cinta sama sekali tidak berani menatapnya.
"Kenapa?" tanya Rangga mengabaikan semua dugaan- dugaan liar yang bermain di kepalanya.
"Gue kemaren udah terlanjur janji sama Kasih buat nemenin dia beli buku" balas Cinta.
"Nggak bisa di batalin dulu ya?" tanya Rangga sambil kembali melajukan mobilnya.
"Ya enggak lah. Secara gue kemaren kan udah terlanjur janji. Jadi Gue jadi nggak enak donk kalo maen batalin sembarangan" Cinta beralasan.
"O… Ya udah kalau gitu. Lain kali aja kita jalannya" Rangga mengalah Walau tak urung merasa sedikit kecewa. Merasa sia – sia meminjam mobil sahabatnya kemaren kalau pada akhirnya gagal juga mengajak Cinta jalan.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sepulang kuliah, sesuai rencana Cinta menemani Kkasih untuk membeli buku. Setelah mendapatkan buku yang mereka cari, Mereka tidak langsung pulang. Karena Kasih mati – matian menahan Cinta untuk keliling – keliling Mall sambil cuci mata. Jujur saja, Walaupun cewek tapi Cinta termasuk kedalam katagori manusia yang paling males kalau harus di suruh belanja.
"Ayo dong Kasih. Kita pulang. Cape gue. Kaki gue juga udah pegel banget nie" Kata Cinta yang sebenernya lebih mirip kalau di sebut sebagai Rengekan.
"Bentar Lagi. Kita liat baju – baju yang di sana. Kayaknya lagi diskon besar – besaran tuh."
"Astaga Kasih. Memangnya ini belum cukup?" Kata Cinta sambil mengangkat tas belanja bawaannya.
"Tapi kan….."
"Kalau loe nggak mau pulang. Biar gue pulang duluan" Potong Cinta.
"Hufh… iya deh iya. Kita pulang sekarang. Tapi sebelum itu kita makan dulu di kaffe depan. Biar gue yang traktir" Kasih akhirnya ngalah. Cinta menggangguk setuju. Secara perutnya juga memang sudah terasa lapar minta diisi.
"Rangga… Eh itu beneran Rangga kan?"
Cinta langsung menoleh. Mengikuti arah terlunjuk Kasih. Sedikit terkejut saat mendapati Rangga beneran ada di sana. Tampak sedang berbicara akrap dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Tapi kalau melihat dari tampilannya si, sepertinya mereka seumuran.
"Kita Samperin yuk" Ajak Kasih sambil melangkah maju.
"Eh jangan. Mo ngapain?" tahan Cinta.
Tapi percuma karena Kasih tidak perduli. Justu malah dengan santai nya meneriakan nama Rangga sehingga kedua orang itu kini menatapnya. Akhirnya dengan pasrah Cinta menurut. Habis mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur.
"Rangga, loe juga disini?" sapa Kasih.
Rangga menggangguk tapi pandanganya terarah kearah Cinta yang tampak hanya menunduk.
"Loe sendiri. Cinta bilang tadi katanya mau nemenin elo beli buku. Tapi kok malah isi Mall ini juga pada ngikut ya?" tanya Rangga setengah meledek sambil mengalihkan tatapan kearah Kasih yang hanya nyegir.
"He he he. Biasalah. Sekalian aja. Seperti kata pepatah Sambil menyelam dapat Ikan" Balas Kasih sok berfilsafat. Rangga hanya tertawa menanggapinya.
"Ehem….."
Rangga segera melirik kearah sahabatnya yang sedari tadi dicuekin.
"Oh ya, gue sampe lupa. Kenalin ini temen gue. Namanya Fadly" kata Rangga kemudian. Fadly yang merasa namanya di sebut segera berdiri. Mengulurkan tangan sambil tersenyum kearah Kasih. Tak lupa menyebutkan namanya.
"Kasih, Temennya kuliahnya Rangga" Balas Kasih. Kemudian Fadly beralih kearah Cinta.
"Cinta" Balas Cinta lirih.
"Kalau dia Pacarnya Rangga" Sambung Kasih yang kontan membuat membuat ketiganya melotot menatap kearahnya. Hanya bedanya kalau Rangga dan Cinta melotot kesel, Kalau Fadly justru merasa tak percaya akan pendengarannya barusan.
"Pacar?" ulang Fadly,
"He'eh" Kasih mengangguk.
Cinta hanya menunduk. Dan saat pandangan Fadly beralih kearah Rangga, sahabatnya tampak sedang mengusap – usap tengkuknya. Jelas terlihat salah tinggah.
"Loe berhutang satu cerita sama gue?" bisik Fadly lirih sambil mencondongkan tubuhnya kearah Rangga. Kasih hanya mengernyit heran karena sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya" kata Cinta yang sedari tadi terdiam.
"Eh kalian mau kemana?. Bukannya kalian ke sini mau makan juga ya?. ya udah sekalian gabung aja. Biar gue yang traktir deh" Cegah Fadly angkat bicara mendahului Rangga.
"Oh makasih. Ayo Cinta" Tanpa memperdulikan isarat Cinta yang jelas – jelas keberatan, Kasih dengan santai duduk di kursi kosong yang ada didekatnya. Dalam hati Cinta jelas – jelas merutuki sifat sahabatnya yang paling demen kalau mendengar kata gratis.
"Kalian mau pesan apa nie?" Rangga menawarkan. Kasih segera menyebut kan aneka makanan pesannannya. Sementara Cinta hanya mengeleng.
"Kalau Cinta seperti biasa aja. Mie Soo sama Es rumput laut" Kasih segera berinisiatif.
Kemudian segera berpura – pura sok berbicara akrab pada Fadly saat menyadari tatapan Kesel dari Cinta. Lagi – lagi Cinta hanya merutuk dalam hati. Dan begitu pesanan sampai ia hanya memakannya dalam diam. Buka mulut hanya pas di tanya. Merasa sama sekali tidak tertarik ikutan nimbrung pembicaraan kasih yang memang gampang akrap pada siapapun.
"Bagaimana kalau habis ini kita jalan dulu" ajak Fadly setelah mereka menghabiskan makanannya.
"Bisa. Kayaknya seru nie. Gimana kalau kita nonton aja. Denger – denger ada filem seru. Habbi Ainun kayaknya baru keluar tu " Sahut Kasih cepat.
"Gue juga nggak keberatan" Rangga menambahkan.
"Elo cin?" tanya Fadly kearah Cinta yang masih terdiam.
"Ehem. Sory. Tapi gue nggak bisa ikutan. Laen kali aja ya?" Tolak Cinta halus.
"Yah Cinta. Gak seru banget si loe" Kasih terlihat kecewa. "Ayo dong loe ikut. Kalau loe nggak ikut, gue juga ogah" bujuk Kasih lagi.
"Ya jangan gitu donk. Loe pergi aja. Gue nggak papa" Cinta merasa tidak enak.
"Nggak mau…." Kasih mengeleng.
Rangga yang diam – diam tak urung juga merasa kecewa mendengar penolakan Cinta melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 16:16. Pantesan Cinta menolak. Sudah sore ternyata, pikirnya.
"Ya udah gini aja. Kasih biar tetep jalan bareng sama Fadly. Soal Cinta biar gue yang nganterin"
"Tapi loe kan nggak bawa motor?" Fadly mengingatkan.
"Biar gue pulang sendiri . Kasih loe jalan aja. Bareng sama Rangga sekalian."
"Tapi kan…." Kasih tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam Cinta. "Iya deh".
"Kalau gitu gue pulang dulu" Pamit Cinta segera beranjak bangun.
"Loe mau kemana?" tanya Cinta saat mendapati Rangga juga bangkit berdiri.
"Kan tadi gue udah bilang kalau gue mo nganterin elo."
"Tapi kan gue udah bilang nggak usah."
"Kalau gue bilang ia artinya IYA. Udah buruan. Udah sore nie" Tandas Rangga mendahului Cinta melangkah keluar. Fadly dan Kasih masih duduk di santai di bangkunya. Menatap kelakuan kedua insan di hadapannya yang mulai melangkah menjauh.
"Ah mereka so sweet banget kan?".
Fadly menoleh menatap kearah Kasih yang masih asik menatap punggung Cinta yang mulai hilang di balik pintu.
"Eh mereka pacarannya udah lama ya?" selidik Fadly.
"Belum si. Masih baru – baru ini aja kok. Memangnya Rangga nggak Cerita sama loe?"
Kasih balik bertanya. Fadly mengeleng.
"Kasih, kalau gue tanya – tanya nggak papa kan?"
"Soal apa?" Tanya Kasih dengan kening berkerut.
Fadly tidak segera menjawab. Samar sebuah senyum terukir di sudut bibirnya. Sementara Kasih masih terdiam menanti kelanjutannya.
"Soal hubungan mereka berdua. Tapi sebelum itu atau kita jalan. Ini juga udah sore. Tadi katanya loe mau nonton."
Kali ini kasih mengangguk membenarkan. Mengikuti jejak Cinta dan Rangga, Melangkah keluar meninggalkan kaffe itu.
*** Ketika cinta harus memilih ***
"Tadi kan gue udah bilang kalau gue bisa pulang sendiri. Kenapa si loe pake nganterin gue segala?" Rutuk Cinta sambil duduk disalah satu kursi di dalam bus, Karena kebetulan sepi Rangga juga duduk di sampingnya.
"Memangnya ada yang aneh ya kalau gue nganterin pacar gue pulang?".
"Tapi kan kita nggak beneran pacaran."
Rangga Terdiam. Sama sekali tidak membalas. Dengan berlahan bus juga mulai berjalan.
"Cinta" Panggil Rangga lirih.
"Ya"Sahut Cinta segera menoleh. Tapi Rangga sama sekali tidak menatap nya. Justru ia malah menunduk.
"Jujur aja, Selama ini loe anggap gue sebagai apa?"
"Ya?" Cinta terlihat bingung sakali gus kaget. Sama sekali tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti ini dari mulut Rangga. Kali ini Rangga mengalihkan pandangan. Menatap lurus kearah Cinta yang juga sedang menatapnya.
"Gue tanya, selama ini loe anggap gue sebagai apa?. Apa bener loe cuma anggap gue sebagai pacar bo'ongan?"
"Loe aneh banget si, Kenapa loe tiba – tiba nanya kayak gini?" tanya Cinta terlihat mulai tidak nyaman dengan arah permbicaaraan mereka.
"Jadi bener?" tanya Rangga tanpa memperdulikan pertanyaan Cinta barusan.
"Tapi bukannya selama ini hubungan kita memang cuma pacar bo'ongan ya?"
"Gue nggak pernah bilang kayak gitu?"
"Tapi kan…."
"Sudah lah. Lupain aja. Nggak penting juga kok" Potong Rangga cepat.
Cinta terdiam. Mulutnya kembali terbuka untuk mengatakan sesuatu. Tapi batal, karena ia juga masih bingung mau berkomentar apa. Sehingga kali ini keduanya kembali terdiam. Bahkan sampai saat keduanya tiba di halte di dekat rumah cinta.
"Gue ngantarnya sampai sini aja nggak papa kan?. Ini juga sudah sore. Bentar lagi bokap loe juga pasti pulang. Loe juga nggak mau di marahin lagi kan karena ketauan pulang bareng gue?" Rangga membuka pembicaraan.
"Iya, Nggak papa. Ma kasih juga karena loe udah nganterin gue."
Rangga hanya mengangguk membenarkan. Dengan cepat Cinta turun sebelum bus kembali berlalu. Perasaannya saja atau sifat Rangga tadi memang terlihat aneh. Tapi dengan cepat di tepisnya pikiran itu jauh – jauh saat melirik jam sudah menunjukan hampir tepat pukul lima. Setengah berlari ia menuju ke rumah. Tak ingin keduluan sang papa yang bisa menimbulkan akibat buruk lainya.
To Be Continue….
~ With love Admin ~ LovelyStarNight

Random Posts

  • Ketika Cinta Harus Memilih 02 ~ Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih _ Kali ini bagian dua. Part sebelumnya pasti udah pada baca donk?. Buat yang belum baca, Monggo silahkan di baca dulu biar nyambung.Oke deh, Biar nggak ada lagi yang penasaran, kita cek langsung ke cerpennya aja yuks. Dan untuk cerita sebelumnya bisa di klik di Ketika Cinta Harus Memilih ~ 01.Ketika Cinta Harus MemilihKarena Benci kita bersamaKarena Cinta kita berpisahDan karena perpisahanlah akhirnya kita bersatu #Ketika Cinta Harus Memilih"Lepasin gue. Apa – apaan sih loe?!" geram Cinta sambil menghentakkan gengaman tangan Rangga hingga terlepas.Saat ini mereka berdua memang telah jauh meninggalkan teman – temannya."Hei, apa loe suka sama gue?" tanya Rangga langsung tanpa memperhatikan ekspresi kesel Cinta sama sekali.sebagian

  • TRUE LOVE

    TRUE LOVE Oleh : Cahya Nuraini – Kenapa harus kamu yang ada dihadapan aku sekarang ? kenapa bukan dia yg sudah ada di hati aku sejak dulu ? aku menyesal dulu telah membencimu, karna mungkin kini ini karma bagiku. Maafkan aku, tinggalkan aku, berikan aku cintanya yang dulu. Bukan dia tuhan…..Samar-samar telah ku buka mataku karna silau oleh pancaran matahari dari jendela. Ternyata si mbok sosok yang telah merawatku dari kecil. “selamat pagi non.” “pagi mbokk,,,” “nyonya sudah menunggu untuk sarapan non” “iia mbok, terima kasih”.. Namaku cicilia valentina nugraha , aku lahir tepat saat hari kasih sayang karna brhrap aku selalu mndapatkan kasih sayang dari semua orang. Memang benar, kehidupanku hampir sempurna. Aku anak yang lumayan pintar yah gak bego-bego amat lah istilah kasarnya. Mempunyai orang tua yang sayang aku, harta berlimpah, paras cantik, banyak teman, dan banyak cowok yang suka. Sekarang ini aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang, dia teman sekolahku namanya dani. Sejujurya aku tak terlalu sayang dia, tapi di anak populer di sekolah karna dia keren pastinya dan karna desakan dari teman-temanku untuk mau menerima dani menjadi pacarku, maka akupun menjalin hubungan dengannya, sudah hmpir 4 bulan dan sekarang aku sudah kelas 1 SMA.“pagi sayang,,” sapa mamaku di meja makan. “pagi ma, papa mana ?” “papamu ada meeting, jadi harus berangkat duluan.” “ohh..” berdua kami sarapan namun tak lama kemudian………. “pagi….!!!” sapa suara yg tak asing bagiku. Ya, si dani memang bak sopir pribadi bagiku. Kemanapun aku pergi dia siap sedia untuk mengantar. Bahkan tiap pagi dia rela mengantar jemput aku. “pagi sayang,” sahut mamaku. Dia pun mengecup kedua pipiku dan berslaman kepada mamaku. Mereka sudah cukup akrab, dan sudah tidak ada kata malu. Aku bahkan sampai takut jika harus melanjutkan hubungan bersama dani ke jenjang pernikahan krna aku tak benar mencintainya. “sayang hari ini ada ulangan, kita berangkat sekarang ya, soalnya aku belum belajar” sekaku sebelum dani ngobrol lebih banyak dengan mamaku. “oh, yaudah ayo. Salim sama mama gih” kamipun berangkat sekolah melaju dengan mobil bmw nya, dani memang anak orang berpunya sehingga dia menjadi anak terkeren dan paling di kagumi di sekolah. “sayang, kabarnya hari ini ada murid baru di kelasku.” “ohhh,,,” jawabku cuek, karna aku memang sedang malas ngobrol dengannya. “kamu kenapa ? sakit ?” tanyanya smbil berusaha membelai rambutku namun aku mengelak. “aku enggak apa-apa kok, Cuma sedikit pusing gara-gara begadang semalem”. “begadang ngapaen ? belajar ?” “bukan kok, orang aku nonton bola”. Jawabku untuk meredam suasana tegang dalam mobil.Akhirnya sampailah kami di sekolah.“sayang aku duluan ya, aku mau nyamperin anak-anak dulu” pintaku “iya”. Kamipun berpisah di jalan menuju parkir sekolah dan aku berjalan sendiri menuju kelas, untunglah aku bertemu teman-temanku. Rani,bella dan lia. “heyyy, tunggu” teriakku “ehhh, ini dia putri kita telah datang,” ledek si rani yang memang anaknya goookill abizzz. “ihh, apaan sihh” “eh-eh, tau gak, katanya ada anak baru lohh di kelas gue.katanya sih cowo dari jawa, moga-moga ajah cakep.” Sela si lia yang anaknya memang suka banget ngeliatin alias tukang nyeleksi cwok. Hampir semua cowok di sekolahan ini dia kenal bukan hanya teman satu angkatan tapi juga cowok-cowok kelas 2 & 3. “udah tau kok dari si dany” jawabku. “lia kalau cakep boleh tuh buat gue. Cilla, kita hari ini ulangan fisika kan ? udah belajar lo ?” tanya bella padaku. Belum sempat ku jawab namun sudah bel masuk dan akhirnya kami berlarian masuk ke kelas.Saat istirahat berbunyi tiba-tiba ada salah satu teman yang memberitahuku “cilla cilla, si dany berantem di belakang sekolah” fikirku biarkan saja, toh bonyok pun dia yang ngrasaen, dani memang anak sok jagoan. Gara-gara dia banyak teman dan seorang kakak kelas sehingga dia sering mencari masalah dengana anak kelas 1. Namun aku sebagai ceweknya, jadi paling tidak aku harus numpang absent dong ! akupun meluncur ke belakang sekolah. Setelah sampai mulanya aku biarkan saja, ingin melihat siapa yang di hajarnya kali ini dan saat aku tanya pada lia ternyata yang dihajar adalah anak baru. Ku perhatikan muka anak baru tersebut karna bagiku wajah itu tak asing dan baru sja ku sadari ternyata itu Ali, cinta pertamaku saat aku masih SD kelas 5. Meski di bilang masih kecil, tapi tetap tak ada yang menggantikan dia di hatiku. Tercengang, kaget namun bahagia. Langsung saja aku berlari dan berusaha memisahkan perkelahian ini. Jujur saja semua temanku kaget karna tak pernah aku seagresif ini untuk melerai pertikaian dany. “sudaaahh ! hentikan “ dengan memalingkan wajahku ke muka dany namun ternyata emosi dany belum turun sehigga akulah yang terkena tonjok mautnya, segera saja aku tersugkur jatuh. Dani sangat menyesali namun masih terperangah melihatku jatuh berbeda dengan ali yang langsung mendekapku untuk berusaha menolongku namun langsung di dorong dany jatuh dan menjauhkannya dariku. Aku pun pingsan dan tak ingat apa-apa lagi. Namun aku masih ingat jelas wajah tampan yang setengah kagetnya melihatku sama seperti aku kaget melihat dirinya.Setelah sadar ternyata aku telah di kamar. Dan semua temanku telah berkumpul, akupun memanggil lia dan meminta untuk menjelaskannya. “lia, sebenarnya tadi ada apa sih ?” “tadi itu si dany jengkel sama si ali anak baru itu, gara-gara menurutnya ali itu sok cool dan di gandrungi banyak cewek di kelas. Iya, gue rasa sih di dany mulai merasa kalah saing gitu deh, ali emang gak sekaya dany tapi banyak banget cewek yang minta nomernya.” “termasuk lo ?” sekaku “pastinya” “boleh gue minta ?” “buat apa ?” “minta maaf atas perlakuan dany” “ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue…” “belum saatnya gue cerita li, nanti pasti gue ceritain. Plisss jangan kasih tau ke dany ya !” “sip”Setelah lia memberikan nomer ali, liapun keluar dan dany masuk. Namun aku pura-pura lemas. Saat dany sudah mengutarakan penyesalan dan meminta maaf diapun aku suruh pulang. Saat semuanya sudah pulang akupun tak buang waktu dan langsung menelfon ali. Ragu-ragu ku pencet satu persatu nomer itu. Tuttttt tuuuttt tuuuutt bunyi sambungan telfon yang membuatku sedikit gemetar. “hallo!” suara yang sedari dulu tetap tak berubah di telingaku. Suara sosok yang penuh kasih syang di hatiku “hallo, ali” jawabku gemetar senang namun air mataku menetes. “ini siapa ?” “kamu tak mngenalku lagi ? ini aku” “cilla “ namun aku terdiam, mulut ini seperti tak bisa berkata-kata. “cilaa, cilla, jawab aku. Jangan diam cil, aku rindu suara kamu.” “aku juga al. Aku ingi bertemu denganmu. Besok di taman sekolah” setelah itu aku tutup telfon. Aku lega, ku bahagia dan aku menangis. Tuhannn terimakasih, aku tau kau sayang aku tuhan.Keesokan harinya akupun bertemu dengan ali dan di taman sudah ada sosok cowok yang ,menunggu. Bdannya tinggi tegap. “ali” panggilku lirih dan langsung duduk di sampingnya. Namun dia hanya menatapku dengan dalam. “kenapa kamu pandang aku seperti itu ?” “kecantikanmu tak berubah cilla.” “kamu gombal..” “tidak,” “kamu dingin al, “ “kepergianmu telah mengubah sikapku cil, tak sadarkah kamu. Kepergianmu membuatku hancur,, tanpa surat dan kabar” “aku tak bermaksut al, smpai sekarang pun aku masih sayank kamu, cintaku tak pernah berubah. Kedaan saat itu sedang sulit. Perusahaan papaku bangkrut. Aku harus pindah beberapa kali untuk mendukung ekonomi keluargaku. Aku juga sedih tak bisa lagi berkomunikasi denganmu”. Suasana hening menyelimuti siang itu. “mana cintamu al ? hilangkah itu ?”. “entahlah… bertahun-tahun kehilangan yang aku cari dan satu-satunya semangat yang aku miliki. Bagaimana menurutmu. Memang kita masih kecil, tapi persaan itu beda cil.” “aku tau al,tapi haruskah kau limpahkan keslahan itu padaku ? gadis kecil yang tak tau apa-apa !” tak terasa butiran bening itu tiba-tiba menetes, dan berlinang deras. “jangan menangis cil, aku tak bermaksud untuk membuatmu menangis. Aku selalu kalah dan luluh jika melihatmu menngis” dan ali langsung memelukku. Dia usapnya kristal bening di pipiku dengan jari-jarinya yang penuh kasih syang. Namun sepertinya memang hari sial kami, dany tiba-tiba muncul dan salah sangka. Tanpa panjang lebar dia menyuruh teman-temannya untuk memegang ali sedangkan dany memukulinya. Ku coba tahan tangan kekar itu semampuku namun naas tetap saja aku kalah tenaga. Dan dengan terpaksa ku peluk dany untuk meredam amarahnya. Dia pun luluh. Ku lihat ali kecewa berat. Dan langsung menundukan kepala. “dengar ya lo bangsat, jangan pernah lo deketin cewek gue lagi. Sekali lagi gue liat lo deketin cewek gue. Mampuss lo !” “kalau cewek lo yang deketin gue gimana ?” tersentak kaget aku bersma rombongan dany. Akupun kaget karna ali mampu berkata begitu, seolah dia tak berusaha melindungiku. “ahhhh, tahikk lo..” di hajarnya ali untuk yang kedua kalinya. “sayank, sudah, jangan di ladeni bocah pengecut ini !” sindirku sinis. Alipun seperti mennyesali perkataannya.Malam ini aku masih memikirkan ali, perkataan yang menurutku sangat-sangat menyakitkan. Namun tiba-tiba ada suara mengetuk pintu. “non ada tamu” “cwo apa cwe ?” “cowo non” Kufikir si dany tapi betapa terkejutnya aku karna ternyata yang datang ali. Bingung ingin kutemui apa tidak karna jujur saja aku masih marah dengannya. “ngobrol di taman aja al” kataku bete. Ku pimpim jalan duluan untuk menuju taman depan. Kamipun duduk di bangku panjang di tengah taman. Ku suruh si mbok mengambilkan minum untuknya. Sesaat terdiam namun ali berusha untuk memancing obrolan di antara kami. “masih marah ?” “masih” “aku mesti gimana “ “harusnya kamu gak biacara seperti itu.” “takut ?” “maksudnya ?” “cnta itu harusnya tak mengenal takut. Tak mengenal rasa sakit.” “aku bukn gadis tomboy yang masih berusia 9 th al. Aku ini remaja 15 th al. Aku sudah berubah” “aku tau, namun cintamu tidak kan ?” “selamanya hanya untukmu.” “masihkah kau smpan itu untukku ?” “hanya untuk kamu, dan selamanya untuk kamu” perlahan kami dekatkan kedua bibir kami, dan perlahan namun psti bibir kamipun menyentuh. Dengan lembut dia lumat bibir ini. Dan 1 kecupan di dahi. Sayangnya saat itu aku lupa, bahwa aku sudah punya janji kepada dany,lia,bella, dan rani. Mereka semua pun melihat kejadian itu. “bangsat lo !” baru dany ingin memukul ali, aku sudah berada di depanya dan lagi, aku terkena tonjok di kepalaku. Namun aku berusaha tak pingsan. “hentikan dan. Nyadar gak siih lo. Selama ini tuh gue cuek sama lo supaya lo mutusin gue. Gue gax mau mutusin lo karna gue takut lo sakit. Ali cinta pertama gue dan, karna itulah gue gak pernah nganggap semua pacar gue serius karna sebenrnya cinta gue Cuma buat ali dan. Plisss, ngertiin gue, dewasalah sedikit dan. Kalau lo sayang gue, relain gue” “ok, lo menang sob, gue gak bakal ganggu hubungan lo berdua lagi. Kita maen fair disini” berlalulah dany. “ciehhhh, akhirnya sang putri pun menemukan cinta sejatinya the true of love” gombal rani “ciehhh…ciehhh” teriak bella dan lia. Besok kenyang nieh…. Meriahlah suasana malam itu. Canda gelak tawa riang. Hepi kusnendang yah guys. Semoga saja hubunganku awet sampai kakek-kakek dan nenek-nenek sama si ali ku cayankk…. hehehee. ..Oleh : cahya nurainicahya noerainie

  • Cinta Pada Sebuah Mimpi 2

    Karamnya cinta iniTenggelamkankuDi duka yang terdalamHampa hati terasaKau tinggalkankuMeski ku tak rela Andre masih termenung dengan beribu pikiran yang tidak menentu. Galau menghinggapinya. Ia menyadari benar kenapa ini terjadi dan menimpa dirinya. Ia tidak tau kenapa sampai terjadi cinta yang seperti ini. Cinta yang sudah lama menghinggapinya kini kandas. Benar kata orang bahwa terkadang, kita tak akan pernah bisa merasakan indahnya dicintai dengan tulus, jika kita tak pernah disakiti. Palagi saat Naff mengalunkan lagunya yang begitu mengena di hati.Hingga saat ini pun Andre tidak tau harus bagaimana lagi. Begitu indah sekaligus begitu menyakitkan. Tidak pernah diduga sebelumnya. Hatinya telah terbagi dua. “Tiara,” Andre berguman sambil memandangi foto Tiara. “Apakah pantas aku mendampingimu? Kemana perginya kamu, Tiara? Tidak sudikah kau temui lagi sosok Andre seperti yang dulu, seperti pertama kali kita bersendau gurau, melepas tawa kita masing-masing?” Andre terus memandangi foto Tiara. Foto saat Tiara begitu manjanya sambil memegang batang Flamboyan minta difoto lewat kamera handphone Andre. Ah, begitu cantik. Andre tersenyum. Ya, lebih baik tersenyum karena kadang seseorang lebih memilih tersenyum hanya karena tak ingin menjelaskan mengapa ia bersedih. Memang sudah terlalu lama Tiara mengisi kehidupan Andre. Mengisi hari-hari dimana Andre merasa kosong pada saat itu mungkin hingga saat ini. Tapi mengapa disaat seperti ini disaat Andre mulai mengenal sosok cewek yang begitu super justru malah Retna muncul ? Ah memang sulit untuk mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang kita cintai, tapi lebih sulit lagi ketika kenangan bersamanya tak mau hilang begitu saja. “Retna, bersediakah kamu menggantikan Tiara?” batin Andre tiba-tiba terusik oleh bayang-bayang Retna di benaknya. Terus bergejolak. Bertanya-tanya. Mencari tau kemana hatinya kini ingin berlabuh. “Mengapa begitu sulit menghilangkan jejakmu Tiara. Malah semakin melekat disaat Retna hadir untuk mengisi kekosongan hatiku” Lamunan Andre buyar ketika handphonenya berbunyi. Ada panggilan masuk. Dilihatnya darimana panggilan masuk itu. “Retna..” Andre cepat-cepat menjawab panggilan dari seberang sana. “Hallo, ada apa Retna?” “Ndre, kamu ada dimana?” “Di rumah. Ada apa Ret?” suara Andre menyelidik “Boleh aku meminta sesuatu padamu, Ndre?” pinta Retna dari seberang sana. “Apa itu?” jawab Andre sedikit penasaran “Temani aku ke Toko Buku ya? Harus mau, Ndre. Soalnya aku harus mendapatkan sebuah buku yang begitu penting banget” “Kok maksa sih…?” aku mencoba mengelak “Iya harus maksa. Pokoknya aku jemput sebentar lagi. Kamu siap-siap ya Ndre. Pokoknya mau ga mau harus mau. Oke sebentar lagi kujemput…” “Ta…tapi Ret….” Sudah terputus hubungan telponnya. Tinggal Andre yang kelabakan harus berbenah diri cepat-cepat. Soalnya Andre baru bangun tidur. “Ayo tersenyumlah, Ndre dalam mengawali hari, karena itu menandakan bahwa kamu siap menghadapi hari dengan penuh semangat!” begitu batin Andre menghibur diri di depan cermin. Mereka berjalan bergandengan. Sepanjang perjalanan jemari Retna tak lepas begitu erat menggenggam tangan Andre. Tiba-tiba darah Andre berdesir hebat. Mengalir ke segala penjuru hingga sampai ke otaknya. Mulai panas. Matanya mulai sedikit berkunang-kunang. Lamunannya menerawang jauh hingga Retna mencubit pipinya. Andre tersadar… “Auwww…sakit Ret…!” “Digandeng cewek cantik malah melamun, bukannya malah senang. Tuh semua cowok pada mencuri pandang kearah aku. Kamu gak cemburu?” Retna begitu percaya diri berada di samping Andre. “Maaf, Ret. Aku terlalu bahagia berjalan bergandengan bersama kamu” kata Andre membesarkan hati Retna. “Sungguh?” “Iya, sungguh. Makanya tadi aku melamun” “Hmm….aku tersanjung, Ndre. Aku nyaman berada di samping kamu, Ndre” disandarkannya kepala Retna di lengan Andre. Retna tersenyum. Ada gurat bahagia di wajah Retna. Gambaran cinta telah meronai wajah Retna. Dan semakin eratlah pegangan tangan Retna ke lengan Andre. “Andre…” tiba-tiba suara Retna menyapa Andre. “Iya, ada apa Retna?” Andre memandangi wajah Retna. Wajah yang begitu cantik, polos terpancar binar cinta. Ah, Retna apakah benar kamu pengganti cintaku yang hilang? Apakah benar kamu cewek super pengganti Tiara? “Apakah cintaku gak bertepuk sebelah tangan?” pertanyaan Retna langsung ke lubuk hati Andre yang paling dalam. “Apakah kamu merasa bertepuk sebelah tangan?” Andre malah balik bertanya. Retna balas memandang wajah Andre. Mencari tau mungkin ada jawaban yang membahagiakan hati Retna. Andre tersenyum. Dibelainya rambut Retna dengan penuh kasih sayang. Diusapnya air mata yang akan menetes dari sudut mata Retna. “Dicintai dan disayangi kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku” Andre memberanikan diri untuk mengucapkannya. “Dalam hati aku menanti, kuserahkan hati sebagai tanda ketulusan cinta” jawab Retna dengan mata berkaca-kaca bahagia. Andre terbuai dalam dekapan cinta Retna. Melupakan segala kekusutan hati yang selama ini terbelenggu oleh cinta Tiara. Tiara yang entah kemana perginya. Membawa separuh hati Andre. Separuh hidup Andre. Separuh aku. Kata Noah dalam lagunya. Padahal Andre masih tidak percaya kalau ia kini menjadi kekasih Retna. Retna dalam penilaian Andre kini adalah cewek super yang telah begitu hebatnya menggeser bayang-bayang Tiara. Menepis angan-angan bersama Tiara. Retnalah yang kini mengisi cerita-cerita di dalam kehidupan Andre. Bait demi bait iramanya begitu indah disenandungkan oleh hati. Ah, ini benar-benar sebuah cerita cinta. Sebuah romansa yang bisa membuat Andre melupakan Tiara. Pagi itu, Andre dikejutkan oleh suara panggilan dari Handphonenya. Andre cepat-cepat membukanya. Dari siapakah gerangan. Dilihatnya panggilan masuk di handphonenya. “Tiara…” Andre setengah terpekik. Jantungnya lebih cepat lagi berdetak. Hampir tak terkontrol. Ia coba menguasai dirinya. “Halo….” Jawab Andre. “Halo! Ini Andre…?” suara dari seberang sana. “I..iyya….ini Ara….?” Suara Andre terbata. “Iya…Andre…kamu dimana?” “Di kamar, Ra. Kamu kemana aja, koq menghilang begitu aja?” Andre mulai memberanikan diri bertanya. “Andre…maukah kamu menjemput aku di Bandara?” “Iyyaa Tiara….jam berapa…?” “Sekarang….! pokoknya aku tunggu sampai kamu datang…!”Sebenarnya pikiran Andre berkecamuk. Terlintas wajah Retna manakala Andre menyetujui pertemuannya dengan Tiara. Ada rasa bersalah dalam diri Andre terhadap Retna. Sebuah pertemuan yang telah lama diimpikannya. Wajah yang telah lama menghilang tiba-tiba akan muncul kembali. Tiara, cewek super idam-idaman Andre. Cewek super yang telah pertama kali menggores hati Andre. Ah, benar-benar Andre ada dipersimpangan. Entah akan kemana hati Andre memilih jalan dipersimpangan itu. “Ara….!” Panggil Andre setelah lama mencari-cari Tiara di Bandara. “Andre….!” Balas Tiara. Mereka saling berpelukan. Erat. Seolah tidak mau lepas. Kerinduan yang lama terpendam kini terbayar lunas. “Ara, kamu semakin cantik” puji Andre setelah mereka duduk melepas lelah di lobby Bandara. “Kamu juga semakin ganteng, Ndre” balas Tiara. Kedua tangan mereka tak lepas saling genggam. Sepanjang pertemuan itu mereka lebih banyak diam. Lebih banyak hanya hati mereka yang saling bicara. Degup jantung mereka semakin cepat berpacu. Semakin menambah kegugupan mereka. Hanya saling bergenggaman tangan. Andre mencoba membelai rambut Tiara. “Ara, apakah kamu selalu memikirkan aku disaat kamu jauh dari aku?” Andre mencoba membuka pembicaraan. Tiara masih terdiam. Kemudian ia pandangi wajah Andre. Wajah yang pernah menghiasai kehidupannya. Begitu indah semaraki hidup Tiara kala itu. “Sampai saat inipun aku gak pernah melupakan kamu, Ndre” “Lalu kenapa kamu meninggalkan aku dan pergi begitu saja tanpa aku tau kemana perginya” Tiara tidak langsung menjawab. Ia tertunduk. Mengalihkan pandangannya dari wajah Andre. Banyak yang ingin ia ceritakan. Tapi rasanya berat untuk menceritakan hal ini kepada Andre. “Karena aku terlalu mencintaimu, Andre. Banyak mimpiku tentang kamu. Mimpi tentang cinta. Dan pada akhirnya sekarang aku baru merasa bahwa kamu adalah cintaku yang sejati” Dari lubuk hati Tiara, ia ungkapkan perasaan itu kepada Andre. Andre kini yang terdiam. Diam karena Andre merasakan beban yang begitu berat. Cinta yang terkadang selalu memberikan solusi yang sulit kita terima. Karena ketika jatuh cinta, jangan berjanji tak saling menyakiti, namun berjanjilah untuk tetap bertahan, meski salah satu tersakiti. “Ara, saat ini mungkin aku bukan lagi Andre yang seperti dulu. Bukan lagi Andre yang bisa memberikan kenyamanan, memberikan ketenangan dalam meraih mimpi-mimpi manismu” kata Andre memberanikan diri sambil memandangi wajah Tiara. “Tidak Andre. Kamu sempurna. Sempurna dalam hatiku. Dalam cintaku. Kamu yang telah menciptakan mimpi-mimpi manis tentang cinta dalam hidupku. Kamu yang telah banyak mengajarkan bagaimana cara meraih mimpi-mimpi”“Berhentilah mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai, lebih baik belajar dan persiapkan diri menjadi seorang yang pantas untuk dicintai”“Kamu sudah tidak mencintai aku lagi, ya Ndre?” dekapan Tiara makin erat di lengan Andre. Seolah tidak mau kehilangan. Andre kini semakin kacau. Kemudian ia coba menenangkan Tiara dengan membelai rambut Tiara. Mengusap air mata yang menetes di pipi Tiara.“Bukan itu, Ara. Aku masih menyayangi kamu. Aku masih mencintaimu. Tapi aku tak bisa memilikimu”Tiara bisa memahami arah pembicaraan Andre. Tiara melepaskan dekapan Andre. Mencoba tegar dan menghapus air matanya yang membasahi pipinya.“Kalau boleh tau, siapa cewek yang telah berhasil menaklukkan hatimu, Ndre?” Tanya Tiara sambil mencoba tersenyum kepada Andre.Andre memandangi wajah Tiara. Ia balas senyum Tiara. “Ara, meski tak dicintai oleh seseorang yang kamu cinta, tak berarti kamu merasa tak berarti. Hargai dirimu dan temukan seseorang yang tahu itu” Tiara merenungi kata-kata Andre. Tiara merasa Andre telah lebih dewasa kini. Andre benar-benar telah menjadi guru yang terbaik dalam hidup Tiara. Guru yang telah mengajarkan bagaimana caranya meraih mimpi-mimpi.“Andre, jika kamu tulus mencintanya, jangan pernah hiasi matanya dengan air mata, telinganya dengan dusta, dan hatinya dengan luka” kata Tiara“Ya, aku sangat mencintainya. Dialah Retna. Cewek super dalam kehidupanku. Aku tak bisa menghianatinya, Ara” Tiara mencoba tersenyum. Mencoba berbesar hati. Ia pandangi wajah Andre. ”Benar, Ndre karena orang yang pantas kamu tangisi tidak akan membuatmu menangis, dan orang yang membuatmu menangis tidak pantas kamu tangisi. Selama ini aku meninggalkan kamu karena aku ingin menguji diriku kira-kira siapa cinta sejatiku kelak.”. “Kamu pasti akan menemukan orang yang pantas mendampingimu” “Terima kasih, Andre. Aku pasti akan sulit melupakan kamu” “Cobalah, Ara. Karena satu pelajaran penting tentang patah hati adalah jika dia mampu menemukan cinta yang baru, begitu juga dirimu!” “Iya, Ndre. Sekali lagi terima kasih karena pernah mencintaiku. Salahku kenapa dulu aku tak mempedulikan mimpi-mimpimu. Sekarang aku akan pergi menjauh dari kehidupanmu” “Kemana?” “Aku akan kembali ke Australia melanjutkan studiku. Orang tuaku telah menaruh harapan pada diriku” “Selamat jalan, Tiara”. Tiara melepaskan dekapannya. Kemudian berjalan menjauhi Andre. Tak sanggup Tiara memandang wajah Andre karena telah basah oleh air mata. Entah bagaimana perasaan Tiara saat itu karena Andrepun hanya mampu berdiri. Diam sambil memandang tubuh Tiara yang semakin menjauh. “Selamat jalan Tiara, jangan terlalu lama menangisi yang telah pergi, karena mungkin nanti kamu akan bersyukur telah meninggalkan yang kamu tangisi saat ini” begitu doa Andre kepada Tiara. Mungkin suatu saat nantiKau temukan bahagia meski tak bersamakuBila nanti kau tak kembaliKenanglah aku sepanjang hidupmu…(song by Naff: Kenanglah)

  • Cerpen Cinta Romantis: AKU PASTI KEMBALI

    Aku Pasti Kembali Karya : putri ayu pasundan Namaku jelita, aku sekolah di sma vanderwaald. Aku duduk di kelas 1 sma. Aku termasuk siswa yang pandai, dan juga mudah bergaul. Aku mempunyai seorang sahabat dia bernama putra. Putra adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku, dilain waktu saat aku bersedih, dia yang selalu menghiburku. Suatu ketika dia memendam perasaan yang sama dan aku juga merasakannya.“jelita..” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku putra.“iya put..? ada apa?’’ tanyaku.“pulang sekolah , ikut aku ya.. aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”“oke baik.”Setelah bel pulang sekolah berbunyi, putra langsung menghampiriku dia sudah berdiri tepat di ambang pintu kelasku. Dia memanggilku sambil tersenyum.“jelita.. ayok kita berangkat.”Putra tiba-tiba mengandeng tanganku , menuruni anak tangga, Dan segera menuju ke area parkir. Kelas kami berada di lantai 3 . Aku dan dia berbeda kelas . Sejak smp kita selalu bareng. Dan sampai SMA ini. Setelah kami tiba di area parkir, putra mengeluarkan motornya yang terparkir dekat pos satpam.“ayok naik.” Putra mempersilahkan aku untuk naik ke motornya, dan kini kami berangkat meninggalkan area parkir. Juga sekolah.“kita mau kemana?’’ tanyaku kepadanya.“ke suatu tempat. Dan kamu pasti suka.” Setelah beberapa menit di perjalanan , kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata putra mengajakku ke sebuah taman bermain. Di taman tersebut . terpampang air mancur yang begitu indah, banyak sekali bunga-bunga yang berwarna warni. Kami berdua duduk di kursi dekat taman.“jelita… “ panggil putra kepadaku, sorotan mata tajam nya yang takkan pernah ku lupakan sejak dulu . deg…. Jantungku berdebar-debar. Aku tak mengerti tentang perasaan ku padanya, sudah 5 tahun kami bersama.. saling melengkapi satu sama lain. Tapi, tak pernah aku mengerti hubunganku dengannya.. yang aku tau, aku dan dia bersahabat.“putra, kok nangis?’’ tanyaku padanya. Putra meneteskan air matanya perlahan demi perlahan . ku apus air matanya yang membasahi kedua pipinya..“aku gak nangis, aku Cuma bahagia aja punya sahabat kaya kamu.” Di usap rambutku dengan kelembutan tangannya. Putra memang sahabatku , dan juga kakak bagiku. karena itu aku tak mau kehilangannya.“jelita, suatu saat nanti, aku gak bisa terus berada di sisi kamu, kamu harus bisa nantinya tanpa aku. Aku gak mau terus-terusan jadi benalu yang selalu ada di hidupmu. Kamu harus bisa jalani hidup , dan mungkin tanpa aku. ingat janji kita dulu. Kalo kita akan selalu bersama.”“putra kok ngomongnya gitu, tanpa kamu hidup jelita ga mungkin seceria ini. Karna kamu, hidup jelita bahagia dan lebih berwarna. Kalaupun nantinya putra ninggalin jelita, jelita akan cari putra sampai kapanpun dan bakal nungguin putra sampai putra kembali. Entah beberapa lamanya”“tapi, inget. Kalo putra gak ada di samping kamu lagi. Kamu janji harus selalu tersenyum.”“iya, jelita janji… jelita akan selalu tersenyum untuk kamu.”Hari sudah semakin berlarut. Meninggalkan semua kisah yang ada. Taman tersebut menjadi ikatan janji mereka.***Keesokan harinya di sekolah, tepat pukul 06:15 menit.“jelita, ini ada surat untuk kamu.”dihampirinya jelita , Di kasihnya sepucuk surat itu untuknya yang terpampang besar siapa nama pengirim surat itu. yaitu “putra” .Deg…… hati jelita tiba-tiba gelisah tak menentu. Tak mengerti apa yang sedang iya rasakan saat ini. Di bukanya isi surat itu perlahan.“jelitaa… ini aku putra, maafin aku ya kemarin aku gak sempet berfikiran untuk ngomong ke kamu. Karna semua itu terlalu berat untukku. Aku gak sanggup ninggalin kamu disini. Mungkin, saat kamu baca surat ini aku sudah tiba di Kalimantan. Papaku dinas disana, dan terpaksa aku ikut dengannya. Maafin aku ya jelita. Inget janji kita. Kamu harus tetap tersenyum. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.“Di akhirinya akhir surat itu. Jelita yang hanya bisa diam membisu dan pucat pasi di tempat duduknya. Perlahan iya menteskan air mata dan tidak percaya akan semuanya. Tak pernah iya mengerti akan semua perasaannya. Sedih, kecewa, semuanya yang iya alami saat ini. Tak sempat iya mengatakan tentang perasaannya yang sebenernya kepada putra. Cinta… mungkin ini yang aku rasakan. Perasaan itu tak pernah ku sadari sebelumnya, setelah kepergianmu baru aku menyadari.. cinta itu ada.***Setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi kerumah putra. Tetapi hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang menjawab sapaanku. Rumah itu kosong. Jelita tak tau harus mencari putra kemana lagi. Akhirnya , aku memutuskan untuk pergi ke Taman kemarin, terakhir kali aku bertemu dengannya, bersamanya…. Taman itu sepi.. tak seperti biasanya, tak banyak orang yang lewat area taman bermain itu. dihampirinya kursi taman tempat aku duduk bersama putra waktu itu. Aku mengingat kembali perpisahan terakhirku dengannya. Aku meneteskan air mata.***Setelah 2 tahun aku menunggu, putra tak juga ada kabar. Selama itu aku tak pernah seceria dulu. Hanya kesedihan yang tampak di wajahku. Sesering kali aku mengingat kenangan itu, itu membuatku sakit. Sekalipun aku mencoba melupakannya, itu akan semakin sakit. Beberapa sering aku memutar lagu pasto’aku pasti kembali’ liriknya yang benar-benar menyentuh hatiku.Reff : aku hanya pergi tuk sementara..bukan tuk meninggalkanmu selamanya..aku pasti kan kembali, pada dirimu ..tapi kau jangan nakal.. aku pasti kembali…..selama 2 tahun, kenangan itu menghantui harii-hari ku . tang sanggup aku melupakannya. Kini aku benar-benar mencintainya. Cinta bukan lagi sekedar sahabat , tetapi perasaan yang lebih dari pada itu.hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17 , sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 sma, sekalipun aku ingin pindah ke lain hati dan berpaling dari putra, aku masih takut. Karena luka yang ada di hatiku masih ada. Setelah malam kian tiba, putra tak juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal hanya sapaannya, dan ucapannya yang begitu berarti untukku..hari ini sweet seventeen ku. Dan mungkin itu semua tak ada artinya kalau putra tak ada di sampingku. Malam ini aku ingin sekali pergi ke taman itu. untuk menenangkan diri disana, mungkin hanya beberapa saat. Aku akhirnya memutuskann untuk pergi kesana dan meninnggalkan acara dan tamu undangan yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke 17 itu. aku pergi ke sana dengan di temani supir papaku dan setelah beberapa menit di perjalanan, aku tiba di taman itu. aku tak menyangka.. begitu indah suasana taman tersebut dengan lampu lampion-lampion yang khas terpampang disana. Dekorasi lampu-lampu kecil di setiap pohon yang mengelilingi menambah indah suasana taman itu. aku duduk di kursi putih taman itu. tiba-tiba beberapa saat aku memejamkan kedua mataku dan membukanya kembali aku melihat sesosok putra di depan mataku. Dia tampak berbeda dari dahulu, aku tak percaya kini dia ada di depan mataku, atau mungkin ini hanya ilusiku.“happy birthday jelita.. aku nepatin janjiku kan , kita pasti bertemu kembali. Dan aku pasti kembali.”“ini benar kamu?’’ tanyaku tak percaya.“iya, ini aku. aku putra.”“kemana aja kamu, kamu gatau aku disini sedih mikirin kamu, kamu gak ada kabar dan hilang gitu aja.”“maafin aku, aku Cuma gak mau ganggu konsentrasi belajar kamu.”Putra menghampiriku dan memberiku sekotak bingkisan tanda ucapan ulang tahunku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung yang berukiran tulisan nama kita berdua. Gaun cantik yang aku kenakan malam itu saat ulang tahunku berwarna putih, dan juga putra, membawa bunga mawar merah kesukaaanku dan ia mengenakan jas kemeja putih.“aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Aku gak bisa tanpamu. Aku mencintaimu, aku sayang kamu jelita.” Kini dia menggutarakan isi hatinya, hanya itu kata yang aku tunggu selama ini dari mulutnya.“akupun begitu. Ini adalah hari terindahku. Kamu kembali, untuk menjadi sahabatku, juga kekasih bagiku…..”_The end_Biodata penulis : Putri ayu pasundanJakarta, 23 january 1997FB : Puteri pasundan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*