Ketika Cinta Harus Memilih ~ 07 | Cerpen Cinta

Ketika Cinta Harus Memilih ~ part 7. Biar bacanya nyambung untuk part sebelumnya bisa langsung klik disini.
Sambil bersiul dan sekali – kali terdengar bersenandung kecil Rangga memasuki halaman rumahnya. Begitu turun dari motor, perhatiannya beralih ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Dalam hati ia bertanya – tanya. Siapa kira – kira pemiliknya?. Karena ia berani bertaruh kalau itu pasti bukan mobil papanya.

Ketika Cinta Harus Memilih
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rangga segera melongos masuk ke dalam rumah yang memang tidak di kunci. Setengah tak percaya pada penglihatannya saat mendapati sosok yang kini duduk santai di ruang tamu sambil membolak – balik halaman majalah remaja ditangan.
"Fadhly?" bibir Rangga menyerukan sebuah nama untuk meyakinkan diri.
"Eh Rangga, akhirnya loe pulang juga."
Dengan cepat Rangga melangkah menghampiri tamunya yang tak lain adalah Fadhly. Sahabat karibnya waktu masih SMA dulu. Sudah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu. Yang jelas setelah hari kelulusan sekolah.
"Fadhly, ini beneran elo kan?" tanya Rangga yang masih merasa tidak yakin. Karena kabar terakhir yang ia dengar, sahabatnya itu dulu melanjutkan kuliah keluar negeri. Maklumlah, namanya juga anak direktur perusahaan paling ternama.
"Ya iya lah. Memangnya siapa lagi. Perasaan dulu enyak gue nggak pernah ngelahirin gue dalam keadaan kembar."
"Ah, elo bisa aja. Gimana kabarnya sekarang. Kalau dilihat dari penampilan nya udah jadi BOS besar ni kayaknya?" tanya Rangga sambil duduk disamping Fadly yang tampak sedang meletakan kembali majalah remaja yang sedari tadi di bacanya.
"Apaan si loe. Gue cuma lagi belajar aja. Itung – itung bantuin bokap" Fadly tampak merendah.
"Belajar jadi bos maksutnya?" kejar Rangga.
Kali ini Fadly hanya menangapi dengan tawa. Sama sekali tidak membantah. Karena memang begitulah kenyataannya.
"Oke deh, karena kita juga udah lama banget nggak ketemu, sekarang ayo, kita saling bertukar cerita. Roman – romannya loe keliatan lagi happy nie" Fadly mengalihkan Topik pembicaraan.
Rangga hanya angkat bahu. Namun tak urung menyetujui usul sahabatnya itu. Dan tanpa sadar, meluncurlah cerita demi cerita dari mulutnya.
*** Ketika cinta harus memilih ***
"Tumben banget loe hari ini jemput gue pake mobil. Mobil baru ya?" komentar Cinta saat mendapati Rangga yang menjemputnya pagi itu tanpa motor yang biasa ditungganginya.
"Tadinya si gue pengen pamer ini punya gue. Sayangnya bukan. Ini punya temen yang gue pinjem" kata Rangga sambil dengan cekataan tangan nya membukakan pintu untuk Cinta sebelum kemudian ia menyusul duduk dibelakang kemudi.
"Oh ya Cinta, hari ini loe masuk berapa mata kuliah" tanya Rangga mulai melajukan mobil hitamnya.
"Hari ini ya?. E, cuma satu" balas Cinta setelah berfikir beberapa saat. "kenapa?"
"Wah kebetulan banget kalau gitu. Gue juga cuma satu. Kalau gitu, entar habis kuliah kita jalan yuk."
"Tumben banget loe ngajak gue jalan. Pasti ada apa-apanya ya" selidik Cinta dengan mata menyipit.
"Ye, jangan seuzon gitu donk. Emang apa yang aneh kalau orang pacaran terus jalan bareng?"
"Iya. Tapi kita kan pacarannya cuma bo'ongan."
Tepat setelah Cinta menyelesaikan ucapanya dengan nada santai barusan mobil mereka terhenti karena Rangga menginjak Rem nya secara mendadak.
"Astaga Rangga, loe kenapa si" geram Cinta sambil mengusap – usap dadanya karena kaget.
"Emangnya gue pernah bilang kalau elo, cuma pacar bo'ongan?"
"He?" Cinta menoleh.
Menatap Rangga yang kini juga sedang menatapnya lurus. Merasa sedikit salah tingkah sekaligus tidak nyaman Cinta segera mengalihkan tatapannya. Dan lagi – lagi jantungnya berdebar dengan cepat. Namun bedanya ini bukan karena kaget. Cuma karena…. Karena…. Entahlah. Cinta juga tidak tau.
"O… E…. Ehem, entar siang ya. Sory kayaknya gue nggak bisa deh" kata Cinta.
Rangga mengernyit heran saat menangkap sedikt nada gugup dari mulut Cinta yang mengabaikan pertanyaannya barusan. Bahkan ia juga menyadari Cinta sama sekali tidak berani menatapnya.
"Kenapa?" tanya Rangga mengabaikan semua dugaan- dugaan liar yang bermain di kepalanya.
"Gue kemaren udah terlanjur janji sama Kasih buat nemenin dia beli buku" balas Cinta.
"Nggak bisa di batalin dulu ya?" tanya Rangga sambil kembali melajukan mobilnya.
"Ya enggak lah. Secara gue kemaren kan udah terlanjur janji. Jadi Gue jadi nggak enak donk kalo maen batalin sembarangan" Cinta beralasan.
"O… Ya udah kalau gitu. Lain kali aja kita jalannya" Rangga mengalah Walau tak urung merasa sedikit kecewa. Merasa sia – sia meminjam mobil sahabatnya kemaren kalau pada akhirnya gagal juga mengajak Cinta jalan.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sepulang kuliah, sesuai rencana Cinta menemani Kkasih untuk membeli buku. Setelah mendapatkan buku yang mereka cari, Mereka tidak langsung pulang. Karena Kasih mati – matian menahan Cinta untuk keliling – keliling Mall sambil cuci mata. Jujur saja, Walaupun cewek tapi Cinta termasuk kedalam katagori manusia yang paling males kalau harus di suruh belanja.
"Ayo dong Kasih. Kita pulang. Cape gue. Kaki gue juga udah pegel banget nie" Kata Cinta yang sebenernya lebih mirip kalau di sebut sebagai Rengekan.
"Bentar Lagi. Kita liat baju – baju yang di sana. Kayaknya lagi diskon besar – besaran tuh."
"Astaga Kasih. Memangnya ini belum cukup?" Kata Cinta sambil mengangkat tas belanja bawaannya.
"Tapi kan….."
"Kalau loe nggak mau pulang. Biar gue pulang duluan" Potong Cinta.
"Hufh… iya deh iya. Kita pulang sekarang. Tapi sebelum itu kita makan dulu di kaffe depan. Biar gue yang traktir" Kasih akhirnya ngalah. Cinta menggangguk setuju. Secara perutnya juga memang sudah terasa lapar minta diisi.
"Rangga… Eh itu beneran Rangga kan?"
Cinta langsung menoleh. Mengikuti arah terlunjuk Kasih. Sedikit terkejut saat mendapati Rangga beneran ada di sana. Tampak sedang berbicara akrap dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Tapi kalau melihat dari tampilannya si, sepertinya mereka seumuran.
"Kita Samperin yuk" Ajak Kasih sambil melangkah maju.
"Eh jangan. Mo ngapain?" tahan Cinta.
Tapi percuma karena Kasih tidak perduli. Justu malah dengan santai nya meneriakan nama Rangga sehingga kedua orang itu kini menatapnya. Akhirnya dengan pasrah Cinta menurut. Habis mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur.
"Rangga, loe juga disini?" sapa Kasih.
Rangga menggangguk tapi pandanganya terarah kearah Cinta yang tampak hanya menunduk.
"Loe sendiri. Cinta bilang tadi katanya mau nemenin elo beli buku. Tapi kok malah isi Mall ini juga pada ngikut ya?" tanya Rangga setengah meledek sambil mengalihkan tatapan kearah Kasih yang hanya nyegir.
"He he he. Biasalah. Sekalian aja. Seperti kata pepatah Sambil menyelam dapat Ikan" Balas Kasih sok berfilsafat. Rangga hanya tertawa menanggapinya.
"Ehem….."
Rangga segera melirik kearah sahabatnya yang sedari tadi dicuekin.
"Oh ya, gue sampe lupa. Kenalin ini temen gue. Namanya Fadly" kata Rangga kemudian. Fadly yang merasa namanya di sebut segera berdiri. Mengulurkan tangan sambil tersenyum kearah Kasih. Tak lupa menyebutkan namanya.
"Kasih, Temennya kuliahnya Rangga" Balas Kasih. Kemudian Fadly beralih kearah Cinta.
"Cinta" Balas Cinta lirih.
"Kalau dia Pacarnya Rangga" Sambung Kasih yang kontan membuat membuat ketiganya melotot menatap kearahnya. Hanya bedanya kalau Rangga dan Cinta melotot kesel, Kalau Fadly justru merasa tak percaya akan pendengarannya barusan.
"Pacar?" ulang Fadly,
"He'eh" Kasih mengangguk.
Cinta hanya menunduk. Dan saat pandangan Fadly beralih kearah Rangga, sahabatnya tampak sedang mengusap – usap tengkuknya. Jelas terlihat salah tinggah.
"Loe berhutang satu cerita sama gue?" bisik Fadly lirih sambil mencondongkan tubuhnya kearah Rangga. Kasih hanya mengernyit heran karena sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya" kata Cinta yang sedari tadi terdiam.
"Eh kalian mau kemana?. Bukannya kalian ke sini mau makan juga ya?. ya udah sekalian gabung aja. Biar gue yang traktir deh" Cegah Fadly angkat bicara mendahului Rangga.
"Oh makasih. Ayo Cinta" Tanpa memperdulikan isarat Cinta yang jelas – jelas keberatan, Kasih dengan santai duduk di kursi kosong yang ada didekatnya. Dalam hati Cinta jelas – jelas merutuki sifat sahabatnya yang paling demen kalau mendengar kata gratis.
"Kalian mau pesan apa nie?" Rangga menawarkan. Kasih segera menyebut kan aneka makanan pesannannya. Sementara Cinta hanya mengeleng.
"Kalau Cinta seperti biasa aja. Mie Soo sama Es rumput laut" Kasih segera berinisiatif.
Kemudian segera berpura – pura sok berbicara akrab pada Fadly saat menyadari tatapan Kesel dari Cinta. Lagi – lagi Cinta hanya merutuk dalam hati. Dan begitu pesanan sampai ia hanya memakannya dalam diam. Buka mulut hanya pas di tanya. Merasa sama sekali tidak tertarik ikutan nimbrung pembicaraan kasih yang memang gampang akrap pada siapapun.
"Bagaimana kalau habis ini kita jalan dulu" ajak Fadly setelah mereka menghabiskan makanannya.
"Bisa. Kayaknya seru nie. Gimana kalau kita nonton aja. Denger – denger ada filem seru. Habbi Ainun kayaknya baru keluar tu " Sahut Kasih cepat.
"Gue juga nggak keberatan" Rangga menambahkan.
"Elo cin?" tanya Fadly kearah Cinta yang masih terdiam.
"Ehem. Sory. Tapi gue nggak bisa ikutan. Laen kali aja ya?" Tolak Cinta halus.
"Yah Cinta. Gak seru banget si loe" Kasih terlihat kecewa. "Ayo dong loe ikut. Kalau loe nggak ikut, gue juga ogah" bujuk Kasih lagi.
"Ya jangan gitu donk. Loe pergi aja. Gue nggak papa" Cinta merasa tidak enak.
"Nggak mau…." Kasih mengeleng.
Rangga yang diam – diam tak urung juga merasa kecewa mendengar penolakan Cinta melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 16:16. Pantesan Cinta menolak. Sudah sore ternyata, pikirnya.
"Ya udah gini aja. Kasih biar tetep jalan bareng sama Fadly. Soal Cinta biar gue yang nganterin"
"Tapi loe kan nggak bawa motor?" Fadly mengingatkan.
"Biar gue pulang sendiri . Kasih loe jalan aja. Bareng sama Rangga sekalian."
"Tapi kan…." Kasih tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam Cinta. "Iya deh".
"Kalau gitu gue pulang dulu" Pamit Cinta segera beranjak bangun.
"Loe mau kemana?" tanya Cinta saat mendapati Rangga juga bangkit berdiri.
"Kan tadi gue udah bilang kalau gue mo nganterin elo."
"Tapi kan gue udah bilang nggak usah."
"Kalau gue bilang ia artinya IYA. Udah buruan. Udah sore nie" Tandas Rangga mendahului Cinta melangkah keluar. Fadly dan Kasih masih duduk di santai di bangkunya. Menatap kelakuan kedua insan di hadapannya yang mulai melangkah menjauh.
"Ah mereka so sweet banget kan?".
Fadly menoleh menatap kearah Kasih yang masih asik menatap punggung Cinta yang mulai hilang di balik pintu.
"Eh mereka pacarannya udah lama ya?" selidik Fadly.
"Belum si. Masih baru – baru ini aja kok. Memangnya Rangga nggak Cerita sama loe?"
Kasih balik bertanya. Fadly mengeleng.
"Kasih, kalau gue tanya – tanya nggak papa kan?"
"Soal apa?" Tanya Kasih dengan kening berkerut.
Fadly tidak segera menjawab. Samar sebuah senyum terukir di sudut bibirnya. Sementara Kasih masih terdiam menanti kelanjutannya.
"Soal hubungan mereka berdua. Tapi sebelum itu atau kita jalan. Ini juga udah sore. Tadi katanya loe mau nonton."
Kali ini kasih mengangguk membenarkan. Mengikuti jejak Cinta dan Rangga, Melangkah keluar meninggalkan kaffe itu.
*** Ketika cinta harus memilih ***
"Tadi kan gue udah bilang kalau gue bisa pulang sendiri. Kenapa si loe pake nganterin gue segala?" Rutuk Cinta sambil duduk disalah satu kursi di dalam bus, Karena kebetulan sepi Rangga juga duduk di sampingnya.
"Memangnya ada yang aneh ya kalau gue nganterin pacar gue pulang?".
"Tapi kan kita nggak beneran pacaran."
Rangga Terdiam. Sama sekali tidak membalas. Dengan berlahan bus juga mulai berjalan.
"Cinta" Panggil Rangga lirih.
"Ya"Sahut Cinta segera menoleh. Tapi Rangga sama sekali tidak menatap nya. Justru ia malah menunduk.
"Jujur aja, Selama ini loe anggap gue sebagai apa?"
"Ya?" Cinta terlihat bingung sakali gus kaget. Sama sekali tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti ini dari mulut Rangga. Kali ini Rangga mengalihkan pandangan. Menatap lurus kearah Cinta yang juga sedang menatapnya.
"Gue tanya, selama ini loe anggap gue sebagai apa?. Apa bener loe cuma anggap gue sebagai pacar bo'ongan?"
"Loe aneh banget si, Kenapa loe tiba – tiba nanya kayak gini?" tanya Cinta terlihat mulai tidak nyaman dengan arah permbicaaraan mereka.
"Jadi bener?" tanya Rangga tanpa memperdulikan pertanyaan Cinta barusan.
"Tapi bukannya selama ini hubungan kita memang cuma pacar bo'ongan ya?"
"Gue nggak pernah bilang kayak gitu?"
"Tapi kan…."
"Sudah lah. Lupain aja. Nggak penting juga kok" Potong Rangga cepat.
Cinta terdiam. Mulutnya kembali terbuka untuk mengatakan sesuatu. Tapi batal, karena ia juga masih bingung mau berkomentar apa. Sehingga kali ini keduanya kembali terdiam. Bahkan sampai saat keduanya tiba di halte di dekat rumah cinta.
"Gue ngantarnya sampai sini aja nggak papa kan?. Ini juga sudah sore. Bentar lagi bokap loe juga pasti pulang. Loe juga nggak mau di marahin lagi kan karena ketauan pulang bareng gue?" Rangga membuka pembicaraan.
"Iya, Nggak papa. Ma kasih juga karena loe udah nganterin gue."
Rangga hanya mengangguk membenarkan. Dengan cepat Cinta turun sebelum bus kembali berlalu. Perasaannya saja atau sifat Rangga tadi memang terlihat aneh. Tapi dengan cepat di tepisnya pikiran itu jauh – jauh saat melirik jam sudah menunjukan hampir tepat pukul lima. Setengah berlari ia menuju ke rumah. Tak ingin keduluan sang papa yang bisa menimbulkan akibat buruk lainya.
To Be Continue….
~ With love Admin ~ LovelyStarNight

Random Posts

  • Cerpen Rindu: Sometimes and Always

    Sometimes and Always oleh: WulanaiSudah hampir berjam-jam aku duduk diatas pohon besar di halaman belakang rumahku. Tidak jelas pohon apa ini. Yang jelas pohon ini ukurannya besar dan sudah ada sejak pertama kali aku tinggal dirumah ini. aku memainkan harmonika pemberian nenek kemarin asal-asalan. Soalnya aku tidak tau cara memainkkanya. Dan aku heran kenapa nenek memberikannya pada ku.''Rey! ayo turun! Disuruh sama ibumu! Soalnya udah sore!''Aku menengok kebawah. Oh ternyata Sarah. Sepupuku yang setiap liburan musim panas, pasti akan berkunjung kemari. Dia pergi kemari bersama ibunya.''hah??'' ucapku pura2 tak dengar. ''turuuuuunn!!'' teriaknnya terdengar kesal. Aku terkikik geli. ''aku tidak bisa mendengarmu, sarah! Suara mu kecil sekali!''''Turunnnnnnn!! kamu tuli ya?!''''hah? Guruuunn??''''Rey!!!''''hahahaha iya iya'' aku turun dari pohon sambil tertawa-tawa. Saat kakiku sudah menginjak tanah, Sarah mencubit lenganku kuat. Aku berteriak kesakitan. ''Rasain!'' ucapnya jutek.''aku tuh capek tau manggil kamu, teriak-teriak kaya orang gila, tapi kamu malah pura2 ga dengar!''. Sarah ngerocos.''Terussss????'' ucapku gak peduli sambil berjalan memasuki rumah. Sarah mendengus kesal lalu ia mengekorku dibelakang.Dan tiba-tiba saja ide busukku kembali muncul. Aku mempercepat langkahku ke arah pintu belakang. Dan setelah sampai diambang pintu, aku malambaikan tanganku ke arah Sarah. kemudian aku menutup pintunya, lalu menguncinya.''REEEYYY!!''aku tersenyum penuh kemenangan.****Rey sialan. Aku terpaksa masuk kedalam melewati pintu depan. Kenapa sih dia selalu saja menjahiliku setiap aku datang kemari. Tingkahnya Tidak pernah berubah. Masih saja kaya anak kecil padahal umurnya kan sudah 16 tahun.Saat aku masuk kedalam rumah, aku melihat dia sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil memejamkan matanya. Karena masih kesal, aku mendatanginya diam-diam lalu menjewer telinganya.tapi belum sempat aku menjewer telinganya, dia sudah menepis tanganku duluan.''walaupun mataku tertutup, aku bisa membaca gerak gerikmu'' ucapnya sambil tersenyum sinis. Bagaimana dia bisa tau? Aku benar2 kesal dibuatnya. lalu akupun ikut2 merebahkan tubuhku disebelahnya. ''kau menyebalkan!''Dia terkekeh geli. ''kau mengesankan. Mengesankan untuk dijahili..'' aku mencubit perutnya lalu beranjak pergi kedalam kamar. Meninggalkan si anak menyebalkan itu mengumpat-ngumpat kesakitan sendirian.****Keesokan paginya, aku terbangun karena Sarah menyiramiku dengan air. Aku kaget dan langsung marah-marah karena kesal. katanya Sarah lelah membangunkanku tapi aku tidak bangun-bangun.''ngapain sih dibangunin?!'' tanyaku kesal''ibu kamu suruh!''''ibu kamu suruh''aku membeo.''selalu saja begitu! Kenapa coba mesti pake air?! Liat, kasurnya jadi ikutan basah, kan?''''aku udah-''ah terserah. Keluar aja deh kamu!''Aku mengusirnya. Lalu Sarahpun keluar dari kamarku diakhir dengan bantingan pintu yg cukup keras. Aku menutup mukaku dengan bantal.Selesai mandi, aku keluar dari kamar berjalan menuju ruang makan. Tidak ada siapa-siapa disana. Bahkan diseluruh penjuru rumah ini pun tidak ada orang. Yang ada hanya kucing persiaanya ibu sedang tergolek malas di atas sofa ruang tengah.Tidak tahu mau ngapain, aku pun pergi kehalaman belakang rumah. Memanjat pohon besar kesayangnku, dan duduk diatas dahannya yang kokoh.Tapi saat hampir saja aku ingin duduk didahannya, aku terkejut melihat sarah ada disana.''heh! Ngapain kamu disini?''. Sarah menoleh. ''eh ng… aku penasaran kenapa kamu suka duduk disini. Makanya aku coba manjat, Dan ternyata menyenangkan ya!'' ucapnya kaku.lalu aku naik, dan duduk disebelahnya.''maaf ya yang tadi pagi…''Aku melihat kearahnya. Wajahnya tertunduk dalam. ''soalnya kamu gak bangun-bangun sih…'' lanjutnya sambil sesekali melirikku. Aku tidak bicara. Hanya diam memandanginya saja.Sarah salah tingkah.''ngomong dong Rey.. Jangan diliatin aja''ucapnya terdengar seperti bisikan diakhir kalimat. Aku terkekeh. Lucu sekali. Baiklah, kali ini aku berniat untuk menggodanya.Aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya.''baik..aku memaafkanmu.. Tapi sebagai gantinya, aku meminta sebuah…….ciuman''Aku mendekatkan wajahku kearahnya. Sepertinya dia kaget setengah mati. Wajanya memerah seketika. semakin dekat dekat dan semakin dekat. Sarah makin salah tingkah. Mau menghindarpun kepalanya sudah mentok di batang pohon. Sebisa mungkin aku menahan agar aku tidak tertawa. Dan akhirnya saat benar2 sudah terlalu dekat…………………………………fuh! Aku meniup wajahnya. Lalu menjauhkan diriku dan tertawa terbahak bahak. Mulut Sarah menganga lebar. ''kena kau! Ha ha ha''****Aku malu setengah mati. Aku kira dia benar-benar akan menciumku. aku mengumpat pelan dan menutup wajahku dengan kedua tangan.''sudah jangan malu begitu…hahaha'' Katanya masih tertawa-tawa. Aku merasakan tangannya mengacak-ngacak rambutku. Langsung saja ku menepisnya.''kau benar2 menyebalkan!!''aku berteriak kesal lalu memuku-mukul lengannya sekuat yang aku bisa. Entah kenapa aku kesal sekali dengannya.Aku kesal karena dia menjahiliku sampai sebegitunya. Aku sampai ingin meanangis rasanya.''sudah!'' Rey berhasil menahan tanganku. ''Sakit tau! Mukulnya kira-kira dong''aku memasang muka jutek. Lalu berusaha menarik tanganku yang ditahan olehnya. Tapi dia menahannya terlalu erat.''kayanya marah banget. Minta dicium beneran nih?'' Rey tersenyum jahil, sambil menaikkan kedua alisnya. pertanyaan yang berhasil bikin jantungku serasa mau copot.''a..a..apa?!'' ucapku terbata-bata. ''eng…engak!''''hayoo ngaku…''. Rey terkikik geli.''Enggak kok!''''Bener…..'' Rey medekatkan wajahnya lagi ke arahku. Aku gelagapan. ''R…rey…''Rey semakin mendekatkan wajahnya ke arah ku. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya. Semakin dekat dan semakin dekat. Aku memejamkan mataku erat2. Kenapa aku tidak menolakanya? Aku tidak tau! Lalu…………………cup. Rey mencium…keningku?Aku membuka mataku dan melihat Rey yang jarak wajahnya sangat dekat denganku, dia tersenyum manis sekali. ''Selesai… Jangan marah lagi yaa…'' katanya sambil melepaskan tanganku yang sedari tadi digenggamnya. Lalu bergegas turun meninggalkanku sendirian disini.****Sejak kejadian itu, setiap saat aku jadi memikirkannya. Terkadang aku bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Terkadang aku juga suka mencuri-curi pandang ke arah Rey. Dan merasa sangat membosankan jika Rey sedang tidak ada di rumah.Dan…. Sejak kejadian itu Rey berubah. Rey tidak suka menjahiliku lagi. Rey jadi sering tidak ada dirumah. Jika berpas-pasan denganku dia hanya sekedar menyapaku dengan wajah sok cerianya itu. Dia tidak mengajakku berbicara. hari berganti hari Rey tidak kunjung berubah seperti dulu. Aku mulai merindukannya. Merindukkan kejahilannya. Aku tidak tahu kenapa aku merindukannya. Kenapa aku lebih memilih dia menjahiliku dari pada tidak peduli denganku. Padahal dulu-nya aku sangat ingin dia berhenti mengangguku setiap aku pergi berlibur kemari. Besok aku akan pulang. Soalnya liburan musim panas akan berakhir. Dan kami akan kembali masuk sekolah. Untuk pertama kalinya aku merasakan musim panas kali ini terlalu singkat.***Aku menarik koperku berjalan keluar rumah. Berjalan mendekati ibuku, ibu Rey dan Rey yang sudah menungguku dari tadi didepan gerbang.''baiklah… Taksi yang akan mengantarkan kita ke stasiun kereta sudah sampai… Kami pamit dulu ya'' ucap ibuku sambil berpelukan dengan ibunya Rey. Lalu ibuku memeluk Rey. Dan aku memeluk ibunya Rey. Setelah itu, ibuku berjalan masuk kedalam taksi. Dan sekarang aku sedang berhadap-hadapan dengan Rey. Rey memelukku. Aku membalasnya. Tapi terlalu singkat. Soalnya Rey langsung melepaskannya. ''sampai jumpa diliburan musim panas berikutnya'' katanya lembut. Aku tersenyum tipis. Lalu merogoh saku celanaku dan memberikannya selembar kertas yang terlipat dua. Rey menerimanya ragu-ragu dan akupun beranjak masuk kedalam taksi. Setelah taksi berjalan pergi, sampai aku didalam kereta api dan sampai aku kembali kerumahku, yang aku fikirkan nya bagaimana reaksi Rey ketika ia sudah membaca surat itu?***''aku pulang!!''. Aku mengusap-usap kedua telapak tanganku karena kedinginan. Musim Dingin kali ini serasa lebih dingin dari pada musim dingin sebelumnya.aku berjalan menuju ruang tengah dan mendapati…….''Rey???''''hai sayang, kau sudah pulang? Lihat siapa yg datang, Rey berkunjung kerumah kita'' ucap ibu senang. ''tapi sayang ibunya tidak bisa datang''''oh baiklah, karena kau sudah pulang, kau saja yang menemani Rey. ibu mau pergi soalnya ada arisan. Ibu pergi dulu ya..''Lalu ibuku pergi meninggalkan aku dan Rey dalam keheningan. Lama aku hanya berdiri, akhirnya aku memutuskan untuk duduk dihadapannya. ''hai'' sapaku canggung. Dia tersenyum''Well, aku udah baca suratnya.. Maaf, dan teruma kasih..''ucapnya. Dan aku tidak mengerti.''oh begitu… Apa kabar?''ucapku mengalihkan pembicaraan.''tidak terlalu baik. kamu?''''kenapa? Aku baik''Lama rey hanya diam. Lalu dia berkata pelan ''karena kau tidak ada dirumah..''''apa?''''karena kau…ng…aku merindukanmu..'' mendengar itu Aku hampir saja mati kena serangan jatung.''kau sedang bercanda kan? aku tau itu. Itu kebiasaanmu'' kataku pura-pura tenang.''kali ini aku serius!''''lalu kenapa….''''karena waktu itu aku sedang kacau. Sejak kejadian itu, Aneh rasanya jika aku dekat2 denganmu..''''aneh?''''ya..''Lalu kehingan kembali menghantui kami. Lama sekali.Tiba2 saja Rey, menggenggam tanganku. Aku menatap kearahnya kaget.''I love you Sarah. I keep asking my self why it has to be you. it needs a long time to know that you the most beautiful thing in my life''''maaf kalo kamarin-kemarin aku hanya diam gak ngomong apa-apa sama kamu. Itu karena aku cuman terlalu takut..''aku merasa mataku mulai terasa panas.''kamu gak lagi becanda kan?'' ucpku hampir manangis sangking senangnya.Rey tertawa. Lalu menggeleng mantap. bangkit dari duduknya. Berjalan ke arahku dan memelukku erat.''I love you too'' ucapku didalam pelukannya.''haha aku tau.. kan kamu udah tulis di surat..''Aku mempererat pelukanku. Menghirup aroma rey dalam-dalam. Melepas kerinduan yang Sudah terpendam lama. Kau dan aku selamanya…The ENDNama : WulanaiAlamat email : wulanai62@yahoo.comTwitter : @itsKugySyid

  • Cerpen Cinta “Dalam Diam Mencintaimu” 02/04

    #EditVersion. Oke guys, acara edit mengedit masih berlanjut. Masih seputar kisah cinta si Irma bareng si Rey yang di bungkus dalam cerpen dalam diam mencintaimu. Semoga aja kalian pada suka. Sekedar info, selain cerpen Requesan, cerpen ini juga kado ulang tahun untuk tu cewek. :D. Okelah, untuk yang penasaran sama kelanjutannya bisa langsung cek ke bawah. Untuk yang penasaran sama cerita sebelumnya bisa dicek disini.Dalam Diam MencintaimuSetelah hampir separuh jalan menuju kampus, Rey menghentikan motornya. Lagi – lagi ia menghembuskan nafas berat. Setelah berpikir untuk sejenak, ia kembali membalikan arah motornya. Tujuannya pasti. Halte bus yang tak jauh dari rumah. Walau kesel namun ia sadar, seumur – umur ia tidak pernah membiarkan Irma pergi kekampus sendirian.Sampai di halte Rey merasa makin kesel sekaligus kecewa karena ternyata bis sudah berlalu. Memang belum jauh si, tapi mustahil ia mengejarnya hanya untuk meminta Irma agar pergi bersamanya. Memang alasan apa yang bisa ia pakai jika gadis itu menanyakannya. Akhirnya ia kembali melajukan motor kearah kampus, sengaja mengebut untuk mendahului bus itu. Perduli amat dengan Vhany, toh kemaren juga hanya basa – basi doank. Tadi juga ia hanya berniat untuk mengetes reaksi Irma saja.Sesampainya di kampus, Rey segera melangkah kearah gerbang sambil terus berpikir. Kira – kira nanti ia harus menjawab apa jika Irma bertanya tentang Vhany. Dan belum sempat ia menemukan jawabannya, bus yang ditunggu muncul dihadapan.Sampai bus kembali berjalan Rey masih tak menemukan sosok Irma diantara para penumpangnya. Tiba – tiba ia merasakan firasat buruk. Dengan cepat di keluarkannya hape dari saku. Menekan tombol nomor 1, panggilan cepat yang sengaja ia seting untuk gadis itu.“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau…..”Rey segera menekan tombol merah saat mendengar suara operator sebagai balasannya. Pikirannya makin kusut. Ya tuhan, kemana perginya anak itu?.*** Dalam diam mencintaimu ***Tak tau mau kemana, akhirnya Irma menghentikan langkahnya. Pikirannya kusut, sampai kemudian sebuah ide terlintas di kepala. Tanpa pikir panjang lagi segera di keluarkannya hanphond dari dalam saku. Begitu melihat id yang di cari, ia langsung menekan tombol calling. Semenit kemudian ia mematikan panggilan dan langsung menghentikan taksi yang lewat. Namun bukannya kekampus, taman kota menjadi pilihannya.“Kenapa si gue harus berurusan lagi sama masalah ‘cinta’ yang bikin ribet?”“Lagi? Maksut loe?” tanya Irma saat mendengar nada mengeluh dari mulut Fadly. Sepupu nya yang sengaja ia ‘paksa’ untuk menghibur hati yang galau.Fady tidak langsung menjawab. Namun kepalanya mengangguk membenarkan. Tangan dengan santai memainkan ‘kembang sepatu’ yang ia petik sembarangan dari pohon yang tumbuh terawat di taman kota. Tempat yang kini di jadikan ajang curhat oleh Irma yang nekat bolos kuliah.“Kemaren temen gue waktu masih SMA juga bingung soal kisah cintanya. Namanya Rangga, udah jelas – jelas dia cinta sama pacarnya. Eh malah kerena mantan cewek yang di suka muncul lagi dia jadi galau. Untung aja kisahnya happy ending. La sekarang loe juga sama. Udah jelas – jelas loe katanya suka sama sahabat sekaligus tetangga loe, eh malah di ‘jodohin’ sama temen loe sendiri. Kalau memang niat bunuh diri kenapa gak loncat dari tebing aja si?”“Sialan loe,” gerut Irma kesel. “Yang bilang gue pengen bunuh diri siapa? Lagian nie ya, masa ia harus gue yang ngomong duluan kalau gue suka. Mending kalau dia juga suka ma gue, la kalau enggak? Yang ada nie ya, bukannya malah happy ending justru hubungan kita malah jadi berantakan. Hu. Ogah deh."“Terus sekarang maunya apa?” tanya Fadly lagi.“Tau… hibur gue donk. Lagi galau nie. Kira – kira obat galau apa ya?” tanya Irma lagi.“Baygon cair." #Ini Beneran Saran dari oma kan?. -,-'“Pletak”Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Fadly atas balasan saran ngawurnya.“Iya. Kalau minum baygon, galau memang menghilang, tapi nyawa juga melayang."“Ha ha ha, itu pinter….” Fadly tergelak. “Lagian loe pake galau segala. Kayak manusia aja,” sambung Fadly terdengar mengerutu.“Gue emang manusia,” geram Irma makin gondok.Emosi bener deh ngadepin nie anak satu. Tiba – tiba ia jadi merasa menyesal minta di temani dia. Tau gini mendingan ia minta temenin Vieta aja kali ya. Walau tu anak polosnya udah kebangetan tapi paling nggak dia kalau ngomong gak nyelekit.“Kalau loe emang manusia berlakulah layaknya manusia," nasehat Fadly lirih.“ Maksudnya?”“Dengar Irma. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, itu memang bener. Tapi paling nggak berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan terlalu cepat mengalah, apa lagi terburu – buru menentukan akhirnya yang jelas – jelas belum kita ketahui,” terang Fadly, kali ini dengan tampang serius. Irma terdiam. Mencoba mencerna maksud dari ucapan sepupunya barusan. “Tumben loe pinter."“Pletak”“Membalas itu selalu lebih baik dari pada tidak ada balasannya,” kata Fadly cepat sebelum Irma sempat protes karena jitakan yang mendarat di kepalanya.“Ya…. sekali-kali ngalah sama cewek kenapa si. Astaga, loe kan cowok."“Gue emang cowok. Yang bilang gue banci kan cuma elo. So, kalo sama loe gue belaga jadi banci aja deh,” balas Fadly dengan santainya. Membuat Irma hanya mampu melongo tanpa bersuara. Ini orang beneran ajaib."Oh ya, loe katanya galau kan? Ya sudah, hari ini gue jadi sepupu yang baik deh. Kita jalan – jalan yuk. Suntuk juga disini mulu. Lagian gue juga udah lama nggak balik kesini. Kangen juga sama suasananya," ajak Fadly beberapa saat kemudian.Sejenak Irma berpikir. Sepertinya itu ide bagus. Terlebih juga ia sudah kadung membolos. Akhirnya tanpa pikir panjang ia segera menyetujui saran Fadly barusan. Setelah puas jalan – jalan, tau – tau hari sudah sore. Saatnya Fadly untuk segera mengantarnya kerumah.Begitu Fadly pergi, Irma berniat untuk segera melangkah masuk kerumah. Sedikit banyak pikirannya sudah mulai plong. Ternyata pada akhirnya Fadly memang bisa menghibur. Namun belum juga kakinya menginjakan beranda rumah, sebuah teriakan menghentikan langkahnya.“Rey? Kenapa?” tanya Irma heran saat mendapati Rey yang berdiri di depan gerbang. Tangannya segera mengisaratkan pria itu untuk mendekat.“Loe kemana aja? Kenapa hari ini bolos? Terus tadi yang nganterin loe siapa?” pertanyaan memberondong meluncur dari mulut Rey.Untuk sejenak Irma terdiam. Kejadian tadi pagi kembali membayang di ingatannya. Apalagi saat ia tau kalau Rey dan Vhany… entah lah, tiba – tiba moodnya kembali down. Setelah terlebih dahulu menghela nafas ia berujar singkat.“Bukan urusan loe kan?"Selesai berkata Irma langsung berniat melangkah masuk, tapi tangan Rey sudah terlebih dahulu mencekalnya. Irma berusaha untuk melepaskan, tapi sepertinya tenaganya tidak sampai setengahnya dibandingkan tenaga Rey. Akhirnya Irma lebih memutuskan untuk menyerah.“Loe kenapa si?” tanya Irma dengan nada lelah.“Justru elo yang kenapa?” balas Rey balik.“Oke, kayaknya gue kecapean setelah seharian ini abis jalan – jalan. Jadi sekarang gue pengen istirahat dulu. Jadi gue harap loe bisa ngerti kan?"Mendengar ucapan dingin Irma barusan, gengaman Rey langsung terlepas. Memanfaatkan moment tersebut, Irma segera berlalu. Setelah terdiam untuk sejenak Rey langsung berbalik ke rumahnya. Tiba – tiba saja ia merasa sangat ingin marah. Setelah seharian penuh ia mencemaskan gadis itu dengan pikiran – pikiran konyolnya ternyata dia justru saat itu sedang bersenang – senang. Astaga. Ternyata ia benar – benar bodoh.Sementara Irma sendiri menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Menyesal dalam hati atas apa yang sudah ia lakukan barusan. Kenapa ia bisa bersikap dingin seperti itu? Setelah berpikir untuk sejenak ia segera melangkah keluar. Ia harus meminta maaf pada Rey. Ia benar – benar tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk. Namun sayang, saat ia keluar ia sudah tidak mendapati sosok sahabatnya di situ. Akhirnya dengan lemas ia kembali melangkah masuk kerumah.Keesokan harinya, Irma segaja bersiap – siap lebih pagi dari biasanya. Setelah yakin kalau penampilannya oke, gadis itu duduk di bawah jambu depan rumah, tempat biasa dimana ia menunggu kemunculan Rey di depannya. Sekali – kali Irma melirik jam yang melingkar di tangannya. Motor Rey masih terparkir di halaman. Itu artinya tu anak belom pergi. Tapi masalahnya, hari ini dia menjemput Vhany lagi nggak ya? Semoga saja tidak. Saat ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri pintu gerbang depan rumahnya terbuka. Tampaklah Rey dengan motornya yang melangkah keluar dan berhenti tepat di hadapannya. “Rey, hari ini kita pergi bareng nggak? Atau loe mau menjemput….”“Gue nggak bareng sama siapa – siapa. Kalau loe memang mau bareng sama gue, ya sudah ayo naik,” potong Rey cepat.Walau merasa serba salah saat mendapati nada bicara Rey yang terasa aneh dalam pendengarannya namun tak urung Irma manut. Segera duduk di belakang Rey sebelum kemudian motor itu kembali melaju.“Ehem, Van. Loe besok ada acara nggak?” tanya Irma mencoba membuka pembicaraan.“Belum tau,” balas Rey singkat.Irma kembali terdiam. Mulutnya terbuka untuk berkata namun kembali tertutup. Tiba – tiba ia merasa ragu.“Kenapa?” tanya Rey beberapa saat kemudian.“O…. Nggak kok. Gue Cuma nanya aja."Rey juga diam. Sesekali ia melirik kearah Irma dari kaca spion. Dalam diam ia juga merasa bersalah. Ada apa dengan mereka , kenapa jadi terasa seperti orang asing begini?“Oh ya, entar siang loe pulang bareng gue nggak?” tanya Rey begitu mereka sampai di halaman Kampus.“Entar siang, kayaknya loe bisa pulang duluan deh. Soalnya gue ada urusan dikit sama si Vieta."“Vieta?” tanya Rey dengan kening berkerut.“Iya, temen gue. Yang pake kacamata itu. Masa loe nggak tau."“O…. Dia, gue tau kok. Ya udah kalau gitu. Gue duluan,” pamit Rey sambil melangkah ke kelasnya.“E… Van!”Rey segera berbalik. Menatap heran kearah Irma.“Besok loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Irma lagi.“Tiga, kenapa?”“O…. Nggak papa kok. Cuma nanya aja. Ya sudah, loe duluan deh."Rey hanya mampu angkat bahu. Walau sedikit heran tapi ia tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut. Moodnya belum seratus persen balik. Sementara Irma sendiri juga segera berbalik menunju kekelasnya. Saat melihat segerombolan (???) teman – temannya yang sedang mengosip ria, tiba – tiba saja sebuah ide jahil terlintas di kepalanya. Sembuah senyum samar terukir di bibirnya saat mengingat kejadian di ruang kesehatan kemaren. Kayaknya ini saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Dengan mantap di hampirinya anak-anak itu. Sepuluh menit kemudian barulah ia benar – benar berlalu pergi menunju kekelas dengan senyum puas. Erwin, MAMPUS LOE!!!. Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu Part 03Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Cinta: MIRACLE OF LOVE

    Miracle of loveOleh: Zora thalib“Kate, mengapa kau tidak memakan sandwichmu?” tanya Alexa sambil menopang dagu. Kate menatap Alexa tak bergairah, lalu tersenyum tipis. Alexa mengangkat alis, lalu bergumam tak jelas, “Whatever”.“Honey!!!” panggil seorang cowok dari kejauhan. Alexa mencari sumber suara, dan mendapati James Shady, pacar Kate yang saat itu sedang berjalan menghampiri meja mereka. Alexa tersenyum, dan James membalas senyumnya.“Jadi, ada apa denganmu Kate?” tanya James lembut, sambil menarik kursi dan duduk. Kate menggeleng, “Tidak ada”.“Kau yakin?”, Kate mengangguk. James menatap Alexa, seolah minta penjelasan, ada apa dengan Katenya? Tapi, Alexa mengangkat bahu.“Kau tidak bisa bilang ‘tidak ada apa-apa’, jika wajahmu seperti itu.” James sengaja menekankan kalimat ‘tidak ada apa-apa’. Alexa yang melihat James dan Kate hanya tersenyum.“Aku hanya lelah..” akhirnya, Kate angkat bicara.“Kalau begitu, kau perlu istirahat. Kau mau makan sandwichmu dulu, atau aku langsung kita langsung pulang ke apartement?” ujar James sambil beranjak dari duduknya.“Aku tak ingin makan apapun.” Kate menatap James malas.“Oke, tapi kau harus makan sesuatu di apartementmu, atau aku akan memaksamu untuk makan. Ayo Kate, kita pulang” ucap James sambil menggandeng tangan Kate.“Aku dan Kate duluan, Lex” pamit James.“Ya, hati-hati” Alexa berkata lirih, lalu ia merapikan rambutnya, dan juga beranjak pergi.*****Saat ini, Alexa sedang berada di Delicio Cafe. Dia sedang mengaduk jus jeruknya. Dia tidak pernah menyukai bir, wiski atau semacamnya. Menurutnya, seseorang tidak harus minum bir agar terlihat dewasa.“Kau Alexa?” ucap seseorang dengan tiba-tiba sambil menepuk bahunya pelan. Kate menoleh, dan mendapati seorang cowok dengan rambut pirang berantakan sedang tersenyum lebar. Dia mencoba menebak cowok didepannya. Tapi, dia tak mendapati jawabannya.“Memangnya, kau siapa?” akhirnya, Kate bersuara.“Ya ampun Kate! Kau tidak mungkin melupakan sahabat kecilmu yang berjanji akan menemuimu begitu kau kembali dari Paris kan?”“Oh My God! Kau Dylan?” mata biru Alexa berbinar. Cowok di depannya tertawa, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Alexa.“Kau apa kabar?” tanya Dylan.“Baik, kau bagaimana? Kau mau pesan sesuatu?”“Aku merasa lebih baik setelah bertemu denganmu. Aku sudah cukup kenyang melihatmu.”“Benarkah?”“Kau tahu, aku selalu mempunyai energi lebih jika melihatmu.” Alexa tersipu.“Kau selalu seperti itu…” Dylan tersenyum lebar.*****“Alex, aku dengar kamu akan pindah? Benarkah?” Dylan kecil bertanya pada Alexa kecil. Saat itu, umur mereka 8 tahun. Alexa kecil terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Matanya terlihat sedih.“Jadi, aku tak akan bertemu dengan kamu lagi?”“Padahal, Alex ingin selalu bersama Dylan.”“Dengar Lex, apapun yang terjadi, saat kau kembali lagi kesini, aku akan menemuimu. Aku janji. Karena, aku menyukaimu. Dan aku janji aku hanya akan menikah denganmu. Maukah kau berjanji hanya akan menikah denganku?” Dylan berkata malu-malu.“Alex juga suka Dylan. Alex janji hanya akan menikah dengan Dylan.” Ucap Alexa sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Dylan. Alexa dan Dylan sama-sama tersenyum. *****“Kau sekarang tinggal dimana?” tanya Alexa, masih di Delicio Cafe.“Setelah kau pergi, aku pindah ke New York”“Bisa aku minta alamatmu?”“Untuk apa?”“Kalau-kalau suatu saat aku membutuhkan tumpangan ketika di New York. Aku tidak perlu repot-repot menyewa apartemen kan?” Dylan tertawa, lalu memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamatnya.“Terimakasih.”“Ya, sama-sama. Ehm, Lex, apakah kau pernah berkencan dengan seorang pria?” “Tidak, aku tidak mungkin berkencan dengan seorang pria, ketika aku masih mempunyai janji hanya akan menikah dengan seseorang.” Alexa tertawa.“Bagus, karena akupun tidak pernah kencan dengan gadis manapun. Aku masih menunggu seseorang yang akan kembali dari Paris.” Kali ini, Dylan tersenyum.*****“Halo Kate!” ucap Alexa ditelepon“Hi! Ada apa?”“Apa kau sudah baikan?”“Aku tidak apa-apa.”“Tapi, kau lelah.”“Tidak lagi. bagaimana mungkin, James memaksaku untuk beristirahat, dan dia tak membiarkanku pergi kemanapun.”“Dia sayang padamu.”“Ya, aku tahu.”“Apa dia sedang bersamamu?”“Ya, dan dia sedang mengawasiku. Kau mau berbicara dengannya?”“Tidak perlu.”“Jadi, kenapa kau meneleponku?”“Aku bertemu dengan Dylan.”“Kapan?”“Saat aku sedang di Delicio Cafe. Dan aku baru saja pulang dari sana.”“Dylan itu siapa?”“Sahabat kecilku yang pernah berjanji akan menemuiku saat aku kembali dari Paris.”“Oh ya?”“Saat kecil dulu, dia juga berjanji hanya akan menikah denganku.”“Dia manis.”“Ya, begitulah.”“Alex, sampai kapan kau akan menelepon Kate?” ucap James di telepon. Alexa tertawa.“Oke, oke James. Aku tak akan mengganggumu. Night.” Alexa memutuskan sambungan telepon.*****“Hmm… jadi, Dylan yang membuatmu tak berkencan? Karena kau sudah janji dengannya?” tanya Kate. Saat itu Alexa sedang berkunjung ke apartement Kate.“Ya, begitulah.”“Kukira kau tidak normal.” Sambung James.“James, ini urusan wanita. Kau tidak perlu mengatakan pendapatmu.” Alexa berkata tajam. James tertawa.“Oke, oke sebaiknya aku menghindarimu. Kalau tidak, mungkin kau akan memakanku.” James berkata mengejek. Alexa mengambil bantal, lalu melemparkannya pada James. James tertawa.“Sudahlah Lex, James memang suka seperti itu. Dia akan senang kalau melihatmu marah-marah.” Ucap Kate.“Oke, oke.”“Mungkin, kapan-kapan aku bisa berkenalan dengan Dylan?”“Yeah, tentu.”*****Dua bulan kemudian….“Alex, kau sedang dimana?” tanya Kate ditelepon.“Di taman, depan apartement.”“Dengan siapa?”“Kau tahu jawabannya.”“Dylan?”“Yeah, benar. Jam 7 malam, dia mendatangi apartementku dan mengajakku duduk-duduk di bangku taman.”“Aku akan menyusulmu. Kau harus mengenalkan Dylan padaku.”“Tentu, Kau bersama James?”“Ya, dan kita akan kencan ganda.”“Kate, aku belum resmi berkencan dengannya.”“Tapi, dia berjanji akan menikahimu, dan itu lebih dari sekedar kencan.” Lalu, Kate memutuskan telepon. Alexa menatap ponselnya kesal.“Siapa Lex?”tanya Dylan.“Kate, temanku.”Beberapa menit kemudian….“Alex, apa kau saat ini bersama Dylan?”“Yeah, ada apa? Kau dimana?”“Tidak ada apa-apa. Kau yakin sedang bersama Dylan?”“Yakin, Kaaatee, kau belum menjawab pertanyaanku, kau dimana?”“Aku sudah di taman, dan aku sudah melihatmu. Sebentar lagi, aku akan menyusulmu. Apakah Dylan duduk disebelahmu?”“Ya ampun Kate, haruskah aku mengupload fotonya yang sedang duduk disebelahku?”“Tidak, tidak perlu.” Lalu, Kate memutuskan sambunngan.“Siapa?” tanya Dylan lagi.“Kate.”“Apakah dia akan menemuimu?”“Tentu, bukan hanya menemuiku, juga menemuimu. Dia bilang, dia ingin berkenalan denganmu.”“Tidak! Dengarkan aku Alexa, kau ingat janjiku dulu?”“Janji apa?”“Janjiku menikahimu”“Ya, aku ingat.”“Aku akan tetap menikahimu, apapun yang terjadi. Walau harus dalam jiwa yang berbeda.” Mata Dylan terlihat sedih “Maksudmu?”“Berjanjilah, kau akan menungguku?”. Alexa mengangguk.“Sampai jumpa Alexa, aku mencintaimu.” Dylan berkata sambil mencium kening Alexa, lalu berlari pergi. “Aku juga mencintaimu.” Ucap Alexa lirih. Dia termenung, ciuman Dylan di keningnya terasa dingin. “Alex!!”. Alexa menoleh, dan mendapati Kate dan James sedang bergegas kearahnya.“Mana Dylan?” tanya James, begitu dia sampai di depan Alexa.“Dia pergi, dan sebelumnya dia mengatak sesuatu yang aneh.”“Apa?” tanya Kate dan James bersamaan.“Katanya, dia akan tetap menikahiku, walau dalam jiwa yang berbeda, apa maksudnya?”“Mmm… sebenarnya, saat aku meneleponmu tadi. Aku hanya melihatmu sendiri, tanpa Dylan. Makanya, aku bertanya padamu, apakah Dylan sedang duduk bersamamu?”“Benarkah? Apa kalian tidak bohong?”“Tidak!!” ucap Kate dan James lagi- lagi bersamaan.“Jadi, kalian hanya melihatku duduk sendirian disini?”“Yeah, kau tahu jawabannya.” Ucap Kate.“Jadi, maksudmu, Dylan hanya bisa dilihat olehku?”“Mungkin.” Sahut James.“So, Dylan itu apa?”“Kami tak tahu.” Alexa terduduk lemas, “Bisakah aku kembali ke apartementku sekarang? Aku butuh waktu untuk berfikir.” Kate dan Jmes sama-sama mengangguk. Alexa berjalan lesu menuju apartementnya.“Alex! Kalau ada apa-apa kau bisa meneleponku.” Alexa sama sekali tak menoleh, dia hanya mengangguk samar.*****Sesampainya di apartement, Alexa melempar sepatu dan tasnya begitu saja, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa. Dia benar-benar bingung dengan kejadian barusan. Ada apa dengan Dylan? Alexa tiba-tiba berdiri, dia ingat, dia menyimpan alamat Dylan, mungkin ada nomer teleponnya. Alexa bergegas menuju kamarnya dan mengobrak-abrik laci meja riasnya. Dan dia menemukan kertas alamat Dylan. St.Wallace 159, New York009-67455562Alexa membawa kertas itu ke sofa, lalu mengambil ponselnya. Tidak terlalu larut, untuk menelepon seseorang. Dia menekan nomer Dylan dan terdengar sambungan di ujung sana.“Maaf, apakah saya bisa bicara dengan Dylan?”“Anda siapa?”“Saya Alexa, teman kecilnya.”“Ooh… Alexa? Sudah lama tak berjumpa denganmu Alexa.”“Iya, Mrs.Wein. Apa kabar?”“Baik. Saya bahagia bisa berbicara dengan salah satu sahabat kecil Dylan.”“Maaf, Dylannya ada?”“………..”’“Maaf.”“Dylan sudah lama meninggal. Dia meninggal saat kau pindah. Dia berlari kencang dari sekolah saat tahu kau akan pindah hari itu, bukan esoknya. Sebelum sampai ke rumahmu. Saat menyebrang, dia tertabrak school bus.” Mrs. Wein berkata dengan pelan. Dari nadanya, kelihatannya dia sedang menahan tangis. Alexa terduduk lemas, ponselnya meluncur dari tangannya ke lantai. Pelupuk matanya basah. Dia menangis. Jadi, selama ini siapa yang bersamanya?“Alex! Apa kau tidak apa-apa?” tanya Kate yang tiba-tiba berhamburan ke dalam apartement Alexa. Kate bersama James. Alexa tak bergeming. Dia tetap menangis. James mengambil ponsel di lantai, dan menaruhnya di sofa.“Alex, ada apa?” tanya Kate sambil merangkul Alexa. Alexa tetap diam. “Alexa, kau tak bisa terus diam begini, kau harus menceritakannya pada kami.” bujuk James.“Dylan….”“Iya, ada apa dengan Dylan?” ucap Kate tak sabar.“Dia… dia sudah meninggal, saat hari aku pindah.” Jelas Alexa sesenggukan. Kate memeluk Alexa tambah erat.“Dia jahat! Dia bilang akan menikah denganku! Dia sudah janji!” teriak Alexa terisak. Kate mengusap bahu Alexa, “Sabar Lex, bukankah dia berjanji akan menikahimu, walau dalam jiwa yang berbeda?” ucap Kate menyadarkan Alexa.“Dan kurasa, dia akan menepati janjinya, entah kapan.” Tambah James. Terdengar dari nadanya, James sendiri kurang yakin dengan perkataannya.“Aku akan menunggunya….” tekad Alexa dengan mata menerawang.*****Tiga tahun kemudian…..“James Shady, akankah kau menerima Kate dalam suka dan duka?” tanya pendeta. Hari ini, James dan Kate menikah.“Ya.”Alexa menahan tangis. Saat ini, umurnya 23 tahun. Dan dia belum menikah. Dia masih tetap menunggu Dylan datang. Beberapa lelaki mengajaknya menikah, tapi dia tak tertarik. Dia masih terikat janji hanya akan menikah dengan Dylan.“Kate Allincton, akankah kau menerima James dalam suka dan duka?” tanya pendeta lagi.“Ya.”“Akankah kalian berdua berjanji bersama selamanya? Sampai hayat memisahkan kalian?”“Ya.” jawab James dan Kate bersama.Alexa tersenyum. Dia cukup bahagia menjadi pendamping wanita Kate. Mungkin, suatu saat Kate akan menjadi pendamping wanitanya.Saat pelemparan bunga……Seorang lelaki bertuksedo hitam mendekatinya, Alexa mengamatinya. Cowok itu tersenyum ramah. Alexa memalingkan wajahnya. Sepertinya dia kenal senyuman itu, dan mata biru lelaki itu yang berbinar hangat. Saat dia berbalik untuk menatap lelaki itu, lelaki itu sudah mendapatkan buket bunga yang dilempar James dan Kate.“Alexa….” lelaki itu menghadap kearahnya dan menatapnya tepat dimata.“Kau tahu namaku?” Alexa bertanya, matanya memancarkan kebingungan.“Namaku Nathan Wayn, dan aku kesini untuk menepati janjiku.” Lelaki itu berkata lembut. Seketika air mata Alexa mengalir.“Alexa Georgia, will you marry me?” Nathan tersenyum, dan memberikan buket bunganya pada Alexa. Alexa menerima buket bunga itu dengan air mata mengalir di pipinya.“Yes, i will.” Jawab Alexa pelan. Nathan tersenyum, lalu memeluk Alexa erat.“Mengapa kau menangis saat kau bisa bertemu lagi denganku?” Nathan berkata lembut, lalu memeluk Alexa lebih erat. Alexa tak menjawab. Dia sudah cukup bahagia bertemu dengan Dylan “versi” barunya. Mungkinkah ini keajaiban cinta? SELESAI

  • Cerpen Spesial Valentine ‘Karena yang gue suka itu, Elo!!!’

    Halo sahabat Star Night, bentar lagi katanya valentine day ya?. Bukan berarti admin ikut merayakan makanya admin bikin posting beginian. Hanya saja, sayang aja kalau moment setahun sekali ini di lupakan gitu aja. So seperti beberapa tahun kebelakang, admin selalu bikin cerpen special valentinnya. Yang pertama “Sepotong choklat untuk Nanda” dan tahun kemaren ada “ Cinta ku berawal dari facebook”, Nah kali ini “Karena yang gue suka itu, elo”. Ide dadakan yang benar – benar di ketik secara mendadak. Penasaran? Check this out….cerpen spesial valentineWalau mata Kharisya menatap lurus kedepan, namun pikirannya kali ini jelas bercabang – cabang entah kemana. Sesekali tangannya terangkat memijit kepalanya yang tak jarang malah ia ketuk – ketuk (???) dengan menggunakan pena. Hal yang ia lakukan kalau pikirannya sedang kusut.Gumpalan kertas yang mengenai kepala sebelum kemudian mendarat diatas meja sontak membuat kepala Kharisya menoleh. Matanya terhenti pada mata Arvin yang duduk selang beberapa meja di belakang yang kini sedang menatap kearahnya. Menjadi petunjuk kalau ia adalah pelakunya. “Kenapa?” Tanya Kharisya dengan gerak bibir, namun Arvin tetap diam. Hanya memberi isyarat kepada gadis itu untuk mengambil kertas yang ia lemparkan.‘Gue tau loe itu emang udah Oon dari sononya, tapi kalo loe terus – terusan mukulin kepala loe, gue jamin, loe pasti makin Oon. Jadi selaku sahabat yang baik and pinter, mending loe cerita ada apaan. Kali aja gue bisa nambahin.’Kharisya tak mampu menahan diri untuk tidak memutar mata ketika menyelesaikan membaca kalimat yang tertera. Dengan kesal di remasnya kertas tersebut, dan langsung ia lemparkan kekepala Arvin tanpa perlu membalas kalimatnya."Loe kenapa si? Kusut banget tu muka kaya belon di strika?" tanya Arvin sambil berusaha mengejar Kharisya yang sudah duluan melangkah pulang tanpa memperdulikan dirinya."Ya ela, masih marah karena tulisan gue tadi. Sory deh, gue cuma bercanda. Loe kan tau gimana gue, masa gitu aja loe marah.""Ya ampun Arvin, beneran mati deh gue sekarang.""YA?" Arvin melotot kaget. Bukan kaget karena ucapan Kharisya barusan, tapi kaget karena Kharisya tiba tiba berhenti melangkah dan langsung berbalik padanya. Membuatnya hampir saja menubruk tubuh gadis itu jika tidak segera mengerem kakinya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Hanya mata yang saling bertatapan sampai kemudian Kharisya buka mulut."Dan kenapa muka loe bisa tepat didepan muka gue, loe mau nyium gue?"Dan jitakan pun mendarat dikepala Kharisya sebagai jawaban."Semabarangan," damprat Arvin sambil menarik diri. "Lagian kan loe yang salah, ngapain sih loe pake berhenti tiba tiba?""Oh iya ya, gue yang salah," gumam Kharisya sendiri sembari berbalik melanjutkan langkahnya. Sama sekali tidak menyadari reaksi sahabatnya atas tindakannya barusan."Ehem, tapi ngomong ngomong loe mati kenapa?" tanya Arvin.Lagi lagi Kharisya menghentikan langkahnya. Untunglah kali ini Arvin sudah berjalan disampingnya. Matanya menatap kearah Arvin dengan tampang memelas, dan kemudian muluncurlah cerita itu dari mulutnya. Tadi siang ia bertemu dengan Abel, anak kelas Ipa yang telah sekian lama menjadi saingannya. Kharisya sendiri tidak tau, kenapa selama ini gadis itu selalu mencari gara gara dengannya, sampai kemudian tadi siang ia menemukan jawabannya. Ternyata gadis itu menyukai Arvin, seseorang yang selama ini berstatus sahabat karibnya. Dan karena kedekatan mereka selama ini membuat Abel sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendekati orang yang disukainya.Demi untuk membantah tuduhan bahwa ia menyukai sahabatnya, Abel menantang Kharisya untuk membuktikan. Bahwa tepat pada hari Valentine besok, Kharisya harus sudah bisa menunjukan siapa kekasihnya. Dan sebagai taruhannya, jika Kharisya menang, maka Abel tidak boleh menganggu dirinya. Sebaliknya, bila Kharisya kalah, ia harus menjauhi Arvin. Memberi kesempatan pria itu untuk bisa dekat dengan gadis lainnya. Karena nyatanya, selama ini Arvin memang hanya dekat dengan dirinya. Sebagai tambahan, siapapun yang kalah harus lari mengelilingi lapangan bola kaki sekolahnya sebanyak 50 kali. Namun yang jadi masalahnya, Valentine hanya kurang dari semingu lagi. Pacar seperti apa yang bisa didapatkan dalam seminggu?"Ini konyol. Keterlaluan," desis Arvin lirih."Iya, gue tau. Ini konyol. Abel emang keterlaluan. Masa gue harus dapatin pacar selama seminggu, udah 17 tahun gue hidup aja gue masih jomblo. belom punya pacar. Ini kan lagi kalau…""Bukan Abel. Yang gue maksut itu loe," potong Arvin sebelum Kharisya menyelesaikan ucapannya."Ya?" tatap Kharisya heran. Dan saat melihat tatapan tajam Arvin, Kharisya baru menyadari kalau pria itu terlihat marah."Loe nyadar nggak sih? Loe baru aja jadiin persahabatan kita sebagai taruhannya?""O… Soal itu… Emp…. Maaf," gumam Kharisya sambil menundukan wajah. Merasa bersalah karenanya.Arvin tampak mengembuskan nafas lelah, lelah dengan tingkah gadis yang berdiri dihadapannya. Kemudian tampa kata, ia segera berbalik. Berjalan meninggalkan Kharisya sendirian."Please donk Arvin. Iya deh, gue ngaku gue salah. Tapi please, jangan marah sama gue ya?" pinta Kharisya sambil mengejar Arvin."Kalo gitu loe harus batalin taruhanya," kata Arvin tegas.Mata bulat Kharisya menatap Arvin lekat. Setelah lama terdiam, kepalanya menggeleng berlahan."Gue nggak bisa.""Kenapa?" tanya Arvin. Rasa kecewa jelas tergambar dari nada bicaranya."Loe tau sendirikan, setelah segede gini. Gue masih belom pernah punya pacar. Gue kan pengen sekali kali kayak cewek lainnya. Apalagi bentar lagi Valentine. Gue pengen ngerasain gimana sih dapat coklat dari orang yang kita suka. Ngabisin malam jalan jalan bareng, bukan cuma jalan sama loe doank.""Jadi selama ini loe nggak suka jalan sama gue?" lagi lagai Arvin berasumsi. "Bukan itu. Loe jangan salah paham," potong Kharisya cepat. "Hanya saja…""Udah deh Kharisya, terserah loe aja," potong Arvin. Kali ini pria itu benar – benar berlalu meninggalkan gadis itu sendirian."Hanya saja gue berfikir, Abel ada benarnya. Loe nggak akan bisa deket sama cewek lain kalau loe terus terusan deket sama gue," gumam Kharisya lirih. Selirih kalimat yang hanya bisa di dengar hanya oleh dirinya.Dua hari telah berlalu sejak taruhan yang Kharisya katakan, Arvin sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Setiap didekati, pria itu selalu menghindar. Bahkan, siang itu. Yang biasanya Arvin selalu makan siang bersamanya, kali ini pria itu malah terlihat makan siang bersama Abel. Mebuat Kharisya benar – benar kesel karenanya. Ho ho ho, Bukan. Bukan karena cemburu. Tapi ia kesel karena jika Arvin tidak suka dengan taruhannya, harusnya Arvin juga menghindari Abel. Bukan hanya dirinya. Toh, yang bertaruh mereka berdua. Kenapa Arvin jadi pilih kasih begitu.Karena merasa cukup kesel, Kharisya membatalkan niatnya untuk makan. Memilih meninggalkan kantin diikuti lirikan Arvin diam – diam."Dasar Arvin rese. Emangnya temen cuma loe doank. Lagian kalo emang mau deket – deket sama Abel kenapa nggak nunggu seminggu lagi aja sih. Toh, gue belom tentu juga menang. Huh, bikin kesel aja," geritu Kharisya sepanjang perjalanan. Dan karena keasikan melamun, tak sadar ia malah menabrak seseorang yang berjalan dihadapannya yang kebetulan sedang membawa tumpukan buku ditangannya. Membuat buku – buku itu berserakan dilantai. Dengan cepat Kharisya berjongkok, membantu mengumpulkan buku bukunya. Tepat saat Kharisya ingin mengambil buku bersampul merah jambu, sebuah tangan juga secara bersamaan mengambilnya. Dan akibat kontak fisik itu, Kharisya menoleh. Kurang dari sejengkal, wajah pria tampan ada dihadapannya.Sesak napas, itu rasanya. Jantung berdebar keras, melanda dadanya. Kharisya sama sekali tak mampu mengalihkan tatapan darinya. Dan untuk pertama kalinya Kharisya percaya kalau 'Love At First Sight' benar ada.Cerpen Spesial Valentine“Arvin, tunggu,” Kharisya nekat merentangkan kedua tangannya. Berdiri tepat di hadapan Arvin yang sedang duduk di atas motornya.“Kali ini loe harus dengerin gue. Loe nggak boleh menghindar lagi. Karena gue punya kabar bagus buat loe.”“Apa?” tanya Arvin.“Soal taruhan itu…”“Loe membatalkannya?” potong Arvin cepat.Kepala Kharisya mengeleng berlahan sembari mulutnya menjawab. “Bukan. Tapi gue udah nemuin orang yang bisa gue jadiin pacar. Namanya Revan, malaikat penyelamat gue. Orangnya tinggi, baik, keren, cakep. Dan dia…”“Loe bilang itu berita bagus?” lagi – lagi Arvin memotong kalimat Kharisya sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya.“Tentu saja,” angguk Kharisya cepat walau dengan raut bingung. Ia benarkan? Tentu saja itu kabar gembira. Bukankah Arvin marah karena persahabatan mereka akan terancam. Kalau sekiranya ia kalah taruhan, maka ia harus meninggalkan pria itu. Tapi tentu lain ceritanya jika ia berhasil menang.“Minggir,”“Eh,” bahkan Kharisya sama sekali tidak di beri kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi. Yang jelas jika terlambat sedetik saja dia untuk menyingkir, sudah di pastikan motor Arvin akan langsung menabraknya. Dan saat Karisya menyadari apa yang terjadi, Arvin sudah jauh meningglakannya. Membuat Kharisya menatap melongo karenanya. Apa yang barusan itu bukan termasuk dalam kategori percobaan pembunuhan?Sehari sebelum Valentin tiba, Kharisya kembali menemui Arvin. Kali ini pria itu sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah sambil membaca buku di tangannya. Membuat Kharisya sedikit heran. Ini untuk pertama kalinya Arvin sendirian. Biasanya kan ia selalu bersama Abel. Dan saat Kharisya menghampiri, Arvin hanya meliriknya sekilas.“Gue nggak tau kenapa sampe sekarang loe menghindari gue. Tapi gue tetep akan ngasih tau loe, kalau nanti malam. Gue akan nembak Revan.”Hening, sepi, Arvin tampak masih larut dalam bacaannya. Tidak memberikan reaksi yang berarti. Sementara Kharisya masih berdiri dengan keterpakuannya.“Okelah, gue cuma mau ngomong itu doank,” selesai berkata Kharisya berbalik. “Bruk,” terdengar suara buku yang di tutup dengan keras. Sebelum Kharisya menyadari apa yang telah terjadi, Arvin kini sudah berdiri tepat dihadapannya dengan tatapan tajam yang terjurus kearahnya.“Loe? Apa loe yakin mau melakukan ini?”Yakin? Kharisya mengeleng. “Enggak, tapi gue harus!”“Kenapa?”“Karena setidaknya harus ada yang berakhir bahagia bukan?”Arvin mengernyit bingung. Tidak mengerti akan maksut kalimat yang di dengarnya barusan. Tapi Kharisya hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tanpa ada niat untuk menjelaskannya lebih lanjut. Dan tanpa kata gadis itu segera berlalu meninggalkan Arvin dengan keterpakuannya.cerpen spesial valentine“Ma kasih ya Van, untuk malam ini. Dan ma kasih juga, karena loe udah ngantarin gue pulang,” kata Kharisya sambil melepaskan helm yang di kenakannya dan segera menyodorkannya pada Revan.“Sama sama, dan soal yang tadi…”“Santai aja. Nggak usah di fikirin,” potong Kharisya sambil tersenyum. “Mau masuk dulu?”“Nggak usah deh. Ini sudah malam,” tolak Revan sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir pukul sepuluh tiga puluh.“Ya sudah. Kalau gitu gue pulang dulu ya.”“Iya. Hati – hati,” balas Kharisya sambil mengantar kepergian Revan dengan tatapannya.“Astafirullah,” refleks Kharisya mundur selangkah ketika ia berbalik dan menyadari entah sejak kapan Arvin sudah berada di belakangnya.“Arvin, loe ngapain disini malam – malam?” tanya Kharisya langsung, tapi Arvin tidak segera menjawab. Pria itu diam saja, hanya tatapannya yang tidak pernah lepas dari wajah Kharisya.“Loe udah jadian sama dia?” “Ya?”“Jawab gue, apa loe udah jadian sama dia?” tanya Arvin mengulang pertanyaannya. Dan Kharisya sama sekali tidak menyadari raut kecewa yang begitu mendalam di wajah Arvin saat melihat sebuah senyum yang diiberikannya.“Atau loe bisa tidak menjawabnya,” sambung Arvin lagi. Mendadak ia merasa ragu. Ragu untuk mendengar jawaban itu. “Sory, ganggu loe. Gue pulang sekarang,” selesai berkata Arvin segera berbalik.“Gue pasti kelihatan konyol banget ya kan?”Langkah Arvin terhenti, tapi ia belum memutuskan untuk berbalik.“Tadinya gue menerima tawaran itu cuma buat seru seruan. Sekalian gue pengen nyari jawaban atas pertanyaan yang nggak pernah sanggup gue lontarkan,” untuk sejenak Kharisya berhenti. Setelah terlebih dahulu menghela nafas mulutnya kembali berujar. “Apa artinya gue buat loe. Dan kenapa sampe sekarang, loe nggak pernah deket sama cewek manapun. Dan seandainya gue nggak ada di sisi loe, apa yang akan loe lakukan?”“Maksut loe?” tanya Arvin. Kali ini ia telah berbalik dan menatap bingung kearah Kharisya.“Yang gue suka itu elo.”Arvin melongo. Tidak tau harus menajawab apa. Sejujurnya ia sendiri masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.“Tapi loe tenang aja. Loe bisa tetep deket sama Abel kok. Kayak yang gue bilang tadi siang, setidaknya ada yang bahagia bukan? Gue nggak akan menghalangi loe kalau loe emang suka sama Abel. Lagian gue nggak jadian sama Revan, secara siapa juga yang mau langsung pacaran ketika baru kenal belum juga seminggu. Tapi tetep, itu artinya gue kalah taruhan, dan gue akan tetep penuhi peraturannya. Oke.”“Bodoh!”“Ya?”“Loe cewek paling bodoh yang pernah gue kenal!”“Ha?! Gue? ” kali ini Kharisya membentak sebal sambil menujuk wajahnya sendiri.Bodoh? Mengaku perasaannya pada orang yang di sukainya dan bahkan merelakan pria itu untuk bersama dengan cewek lain diangap bodoh? Sialan. Tapi tunggu dulu, itu beneran tindakan bodoh bukan si? Tapi kan yang di drama drama korea biasanya gitu? Baiklah, itu pendapat nggak penting. Lupakan.“Kalau emang yang gue suka itu Abel, kenapa sekarang gue disini?”“Ah iya. Bener. Tadi kan itu yang gue tanyain. Loe ngapain kesini?” tanya Kharisya seolah baru sadar.Bukannya menjawab, Arvin justru malah mengulurkan tangan yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Dan kini sebuah kotak berukuran sedang kini terulur di hadapan Kharisya.“Ini apa?”“Buka aja,” kata Arvin sambil tersenyum.“Choklat?” gumam Kharisya setelah membuka kotaknya. Matanya menatap Arvin, menuntut penjelasan darinya.“Loe bilang, loe pengen ngerayain valentin bareng orang yang loe suka. Loe juga bilang loe pengen dapatin choklat. Jadi….”“Terus Abel? Bukannya loe suka itu dia? Kenapa choklatnya malah loe kasih ke gue?”“Karena yang gue suka itu elo”Lebih dari sekedar sejak nafas, lebih dari sekedar jantung yang berdebar. Kali Kharisya malah merasa kalau ia telah terbang ke awang – awang. Melang tingi setinggi angannya selama ini. Orang yang ia suka ternyata juga menyukainya?“Jadi maksut loe…?” Kharisya masih terlihat tidak percaya.“Maksut gue, gue juga suka sama loe. Dan kita,…”“Gue menang taruahan,” potong Kharisya dengan raut wajah berbinar.Arvin terdiam. Matanya mengamati Kharisya dengan kening berkerut. Tunggu dulu jangan bilang kalau gadis itu….“Jadi loe seneng karena loe menang taruhan?”“Tentu saja. Untung gue nggak nurutin saran loe buat ngebatalin. Gue ngerasa sekarang itu kayak dapat durian runtuh tau nggak sih. Gue menang taruhan,loe tau itu artinya apa? Gue nggak harus ngejauhin loe, Abel nggak akan ngerecokin gue lagi. Dan besok dia harus ngelilingi lapangan bola kaki 50 kali. Ha ha ha, tepar – tepar deh tuh anak,” senyum Kharisya membayangkan apa yang kini ia dapatkan. Bahkan ekpresinya sama sekali tidak terpengaruh dengan pelototan kesel Arvin padanya.“Dan diatas semua itu. Sekarang gue udah punya kekasih baru,” mata Kharisya menatap lekat kearah Arvin sambil tersenyum, senyum yang menular. Karena Arvin kini juga tersenyum, saat itulah Kharisya menambahkan kalimatnnya“Kekasih ku, sahabatku. Sweet happy valentine day.”Ending……~ Admin Lovely Star Night ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*