Kenalkan aku pada cinta ~ 09 | Cerpen cinta

Tau drama terbaru korea the heirs nggak? Itu lho yang di perankan sama lee min ho and park shin hye?. Nah, adminnya lagi mabok sama drama yang satu itu tuh makanya kebawa bawa ke cerpen. Terutama tentang cinta simpang siurnya (?????). Wukakakakka #ngakakSetres.
Nggak tau deh, ni cerita nantinya mau di bawa kemana. Pusing sendiri dink. Soalnya ide awal sudah menghilang, raib and nggak tau kemana gara – gara laporan kerjaan yang menumpuk. #alibi.

Kenalkan aku pada cinta
So, soal cerpen kenalkan aku pada cinta, biar kita ikuti kemana jari ini menulis aja deh. Kayaknya bener bener jadi cerpen terjun bebas sebebas bebasnya. #KemudianTerbangNgawangNgawang.
Okelah, kita lanjut aja, untuk yang belum baca part sebelumnya silahkan klik disini.
"Gimana kalau gue ternyata memang suka sama loe?"
Astri benar benar yakin kalau tiada yang salah dengan pendengarannya. Kalimat yang ia dengar tadi memang benar. Matanya menatap lurus kearah Andre yang kini juga sedang menatapnnya. Mulut Astri terbuka namun tiada kata yang terlontar. Lidahnya terasa kelu. Dan tanpa memikirkan konsekuensi yang akan ia dapatkan, pertanyaan itu telah meluncur mulus dari mulutnya.
"Gue nggak lagi di tembak kan?"
Bodoh – bodoh….. Sumpah, Astri sangat ingin memaki dirinya sendiri saat itu juga. Apa belum cukup ia mempermalukan diri sendiri tadi. Kenapa sekarang ia malah melontarkan pertanyaan oon seperti itu?
Andre tidak langsung menjawab. Justru ia malah tampak berdehem sambil menarik nafas lirih. Tatapannya ia alihkan dari wajah Astri sehingga membuat gadis itu sejenak merasa lega. Sebelum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, kalimat sapaan sudah terlebih dahulu menghentikan niatnya.
"Astri? Kak Andre?. Kok tumben kalian makan bareng?"
Secara bersamaan Astri dan Andre memalingkan wajah. Menatap kearah seseorang yang telah menginterupsi pembicaraannya. Kening Andre sedikit berkerut sementara Astri justru malah tersenyum lebar. Belum pernah ia merasa sebahagia ini melihat kemunculan sahabatnya. Rasa sukur merambati hatinya sembari dalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada Alya karena sudah menyelamatkan ia dari situasi yang cukup canggung baginya.
"Gue boleh gabung nggak?" tanya Alya lagi.
"Tentu saja," sahut Astri cepat. Terlalu cepat malah sehingga membuat Alya menoleh kearahnya dengan tatapan menyelidik. Tapi Astri hanya tersenyum sembari menarikan kursi di sampingnya. Isarat agar sahabatnya segera menempatinya.
"Lagi ngobrolin apaan si? Kok kayaknya serius banget?" tanya Alya setelah duduk dengan nyaman.Berbanding balik dengan Astri yang justru merasa tidak nyaman mendengarnya. Berlahan ia mencoba melirik kearah Andre yang ternyata juga sedang menatapnya lurus. Membuat Astri cepat cepat mengalihkan tatapannya.
"Enggak, nggak lagi ngobrolin apa – apa kok," sahut Astri mencoba bersikap biasa biasa saja yang justru malah membuat Alya menatap curiga kearahnya.
"Kita tadi lagi ngobrolin kalau seandainya gue naksir sama Astri gimana?"
"APA?"
Alya dan Astri serentak saling pandang sebelum kemudian mendongak. Mendapati raut kaget sekaligus heran di wajah Fajar yang entah sejak kapan kini berdiri disamping meja mereka dengan tatapan terjurus kearah Andre yang juga sedang menatapnya. Argh, situasi macam apa ini?
"Loe suka sama Astri?" tanya Fajar lagi. Sama sekali tidak merasa bersalah akan situasi yang ia sebabkan.
"Kalau ia memang kenapa?" tanya Andre dengan nada menantang.
Fajar tidak menjawab, justru ia malah tersenyum. Tanpa permisi segera duduk disamping Andre.
"Nggak papa si. Justru gue malah seneng. Karena kalau loe emang suka sama Astri berarti loe nggak ada hubungan apa apa sama Alya" sambung Fajar santai.
"Maksutnya?" tanya Alya yang nggak tau kenapa namanya justru di bawa bawa. Matanya menatap kearah Fajar yang juga sedang menatapnya sembari tersenyum.
"Karena gue suka sama loe."
Glek. Astri hanya mampu menelan ludah. Kalimat singkat, padat dan tegas yang keluar dari mulut Fajar barusan benar – benar menghipnotisnya. Tidak pernah ia duga seseorang yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu bisa langsung menembak sahabatnya di hadapannya. Bahkan dengan cara yang tidak pernah ia prediksikan sebelumnya.
"Loe suka sama gue?" tanya Alya tak percaya. Kepala Fajar hanya mengangguk mantap sebagai jawaban.
"Tapi yang gue suka kan kak Andre."
Seiring dengan pengakuan yang terlontar dari mulut Alya membuat suasana hening. Benar benar hening. Bahkan orang – orang yang berada disekeliling mereka juga ikut menghentikan aktifitas makan dan justru malah memperhatikan kearah mereka. Menantikan kejadian selanjutnya.
"Ke… ke…kenapa?" Astri mendadak gugup ketika menyadari tatapan Andre, Alya dan Fajar yang terjurus kearahnya.
"Jangan bilang kalau loe suka sama Fajar?" kata Andre dan Alya secara bersamaan. Sementara Fajar hanya menganggukan kepala sebagai isarat kalau ia juga memiliki pemikiran yang sama.
Glek. Lagi – lagi Astri hanya mampu menelan ludah. Sepertinya ia harus menarik kembali ucapan terima kasih yang belum sempat ia lontarkan pada Alya tadi. Sahabatnya itu ternyata sama sekali tidak menyelamatkan namun justru malah menjerumuskannya pada situasi yang jauh lebih membingungkan.
"Hufh," Astri akhirnya hanya mampu menghembuskan nafas lelah. Matanya menatap satu persatu kearah ketiga orang yang kini sedang menantikan jawaban darinya. Astaga, ini bisa membuatnya gila.
"Gue nggak tau ya, elo dan elo kak. Kalian berdua tau atau enggak," kata Astri sambil menunjuk kearah Fajar dan Andre sebelum kemudian pandangannya beralih kearah Alya. "Tapi yang jelas, elo tau dengan pasti Alya. Gue nggak percaya dan nggak mau berurusan sama yang namanya cinta. Jadi, jangan libatin gue dalam urusan cinta simpang siur kalian ya."
Selesai berkata Astri langsung bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan ketiga orang yang baru saja berbicara dengannya. Bahkan ia juga meninggalkan bakso pesanannya yang bahkan sama sekali belum tersentuh olehnya. Lagipula, memangnya ada orang yang masih tetap bernapsu untuk makan sekiranya berada dalam posisi sepertinya tadi. Iya yakin, jawabannya adalah tidak.
Kenalkan aku pada cinta
"Arhg, gue bisa gila," gumam Astri sambil mengacak – acak rambutnya sendiri. Pikirannya kusust sekusut rambut yang ia acak acak. Kejadian di kantin tadi siang benar – benar merusak pemikirannya. Membuatnya pusing tujuh keliling. Walaupun ia sudah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak terlibat didalam nya namun sepertinya pemikirannya menolak. Terbukti dengan tidakannya sedari tadi yang hanya bisa melamun didepan jendela sembari mengabaikan materi kuliah yang niat ia pelajari tadinya.
"Tentu saja loe bisa gila, secara mana ada orang waras yang ngomong sendiri."
Refleks Astri menoleh, matanya yang bulat tampak berkedap kedip heran mendapati kakaknya yang sedang tiduran santai diatas ranjang miliknya. Sejak kapan pria itu ada disitu?
"Jelas aja loe nggak sadar gue ada disini. La wong sedari tadi loe sibuk ngoceh sendirian," sambung Rendy lagi seolah mampu membaca jalan pikiran Astri.
Astri memutar kursi belajarnya, menatap lursu kearah kakaknya. Bahkan ia mengankat kedua kakinya sehingga duduk bersila diatas kursi putar miliknya. Sementara Rendy sendiri juga sudah bangkit dari tidur santainya. Duduk tegap sembari mengimbangi tingkah laku adiknya. Kedua tangannya ia lipat didepan dada sembari mulutnya melontarkan kalimat tanya.
"Loe mau ngomong apa?"
Astri tidak langsung menjawab. Justru ia malah mengigit bibirnya sendiri. Hal yang sering ia lakukan ketika sedang memikirkan pilihan yang menurutnya sulit.
"Mending nggak usah cerita deh kalau loe emang ragu," kata Rendy angkat bahu. Terlihat tak berminat. "Ah, udah sore ternyata. Kayaknya gue mau mandi aja deh," sambung Rendy sembari merengangkan otot – otot tubuhnya. Sebelum ia sempat bangkit berdiri, ucapan Astri sudah terlebih dahulu menahannya.
"Ah, kak. Tunggu dulu. Iya, gue mau cerita" kata Astri cepat.
Rendy melirik sekilas. Berusah menahan diri untuk tidak tertawa saat itu juga. Sementara ia hanya mampu bergumam dalam hati. Ya ampun, adiknya itu gampang sekali di pancing.
"Oke, jadi loe mau cerita apa?" tanya Randy kemudian.
"Kak, menurut kakak. Kak Andre itu orang nya gimana sih?" tanya Astri lirih.
"Kenapa loe nanya? Loe juga nakir sama dia ya? Gue bilang juga apa, dia itu naksir sama loe" bukannya menjawab Rendy justru malah balik bertanya. Bukan hanya bertanya, dari nada mengucapkannya saja Astri yakin kalau kakaknya sedang meledek.
"Kak Andre nggak pernah bilang kalau dia suka sama gue," bantah Astri kesel. Terlebih jika mengingat kalau Rendy telah membohonginya.
"Yah dia nggak percaya. Dikiranya gue bohong kali ya?" Rendy bergumam seolah untuk dirinya sendiri.
"Kakak emang bohong."
"Loe tau dari mana gue bohong. Emangnya loe tanya langsung sama Andre," cibir Rendy sinis.
"IYA!" tandas Astri tegas.
Rendy terdiam. Matanya menatap lurus kearah Astri.
"Loe nanya langsung sama dia?" ulang Rendy tak percaya.
Walau masih kesel, tapi kepala Astri tetap mengangguk membenarkan. Dan rasa kesel yang ia rasakan langsung meluap dua kali lipat saat melihat tawa lepas kakaknya yang justru malah ngakak jumpalitan.
"Wuahahhaha, sumpah gue nggak percaya kalau gue punya adek sebego elo. Ha ha ha, Astri….Astri…." komentar Rendy disela tawannya.
"Dan gue juga nggak percaya kalau ternyata gue punya kakak yang tega ngebego – begoin adeknya," balas Astri sewot.
"Oke, sory sory sory. Gue minta maaf. Gue ngaku gue salah," kata Rendy berusaha menahan tawannya. Sedikit banyak ia merasa bersalah karena telah mengerjai adik satu – satunya. "Jadi gimana?"
"Gimana apanya?" tanya Astri polos.
"Ya jadi gimana setelah loe nanya kalau dia suka sama loe atau enggak?" jelas Rendy gemes.
"Dia malah bilang kalau ternyata dia suka sama gue beneran," aku Astri lirih.
Cetek (???). Rendy menjentikan jarinya. "Nah, itu artinya gue nggak bohong kan?. Doi emang suka beneran sama loe."
Astri terdiam. Matanya melotot tajam kearah kakaknya. "Gue kan belom selesai ngomong."
"Oh iya. Lanjut. Jadi masalahnya sekarang apa? Waktu itu loe jawab apa? Loe nggak suka sama dia?" tanya Rendy lagi.
Kepala Astri menggeleng membuat Rendy mengerut lemes. Jadi adiknya tidak menyukai sahabatnya. Yah…
"Masalahnya, sebelum gue sempet jawab, Alya udah keburu muncul. Dan dia ngaku kalau dia ternyata suka sama kak Andre."
"Serius loe?" Rendy langsung duduk tegak. Menatap tak percaya kearah Astri. Kalau saja ia tidak cukup mengenal adiknya, ia pasti akan menganggap kalau adiknya sedang berbohong. Minimal, ia akan menganggap kalau adiknya sedang berusaha balas mengerjainya. Tapi karena ia sangat tau kalau Astri sangat anti berbohong. Bahkan kalimat "berbohong demi kebaikan" juga tidak ada dalam kamus hidupnya, membuatnya merasa yakin kalau apa yang ia ucapkan barusan benar adanya.
"Emangnya gue elo kak, demen bohong," gerut Astri.
"Terus terus, sekarang mereka udah jadian?"
Kepala Astri kembali mengeleng berlahan membuat Rendy menghembuskan nafas lega. Namun hanya untuk sesaat, karena ketika ia mendengar lanjutan ucapan Astri ia langsung menyadari kalau ia salah mengartikan makna gelengan itu untuk kedua kalinyanya. Mereka bukan 'Tidak" jadian tapi…
"Gue nggak tau."
"Ya ela, loe parah banget si As. Masa loe nggak tau mereka jadian atau nggak. Emangnya pas Alya ngaku dia suka sama Andre loe langsung ninggalin mereka gitu aja?"
Lagi – lagi Astri mengeleng. Kali ini Rendy tidak ingin cepat – cepat menyimpukan maknanya. Ia lebih memilih menanti kalimat penjelas yang akan keluar dari mulut adiknya.
"Bukan. Waktu itu Fajar juga ada disana."
"Fajar? O, cowok yang kemaren benerin laptop loe?" potong Rendy yang di balas dengan anggukan.
"Terus dia ngapain? Kenapa dia bisa ada diantar kalian?"
"Dia nggak ngapa – ngapain, dia cuma ngaku kalau ternyata dia suka sama Alya."
Gubrak. Rendy cengo. Matanya menatap tak berkedip kearah Astri yang hanya mampu pasang tampang polos dengan bola matanya yang tampak berkedap kedip menatap kakaknya.
"Loe kenapa mandangi gue kayak gitu?" tanya Astri, Rendy hanya menggeleng tanpa bersuara. Tangan terangkat menopangkan dagu dengan bantal yang di jadikan alas. Pasang pose sedang berfikir.
"Loe nggak juga sedang berfikir kalau gue juga naksir sama Fajar kan?" tanya Astri langsung. Kali ini Rendy kembali menoleh.
"Tadinya emang enggak. Tapi setelah loe ngomong barusan. Gue jadi mikir kesono. Terlebih kemaren Fajar saja loe undang kesini. Loe suka sama dia kan?"
Itu bukan pertanyaan, tapi jelas pernyataan yang menuduh. Membuat Astri mencibir kesel kearah kakaknya.
"Please deh ya kak. Jangan oon kayak mereka. Kakak udah cukup tau gue gimana kan?" geram Astri membuat Rendy mengangguk – angguk.
"Yah, gue tau si. Loe kan selama ini nggak percaya sama cinta. Tapi kan bisa aja, pas liat Fajar yang jago komputer itu tanggapan loe berubah."
"Kakak!" teriak Astri memprotes.
"Tapi As, ini bisa kacau lho," bukannya menanggapi protes dari adiknya Rendy justru malah berkomentar yang membuat Astri bingung.
"Maksut loe?"
Rendy tidak langsung menjawab. Kali ini ia justru malah membenarkan posisi duduknya sehingga menghadap tepat kearah Astri yang menatapnya penasaran.
"Ya loe bayangin aja. Kalau sampai loe jadian sama Andre, Alya pasti patah hati. Tapi kalau sampai Andre jadian sama Alya, maka Fajar yang patah hati. Tapi kalau sampai Alya yang jadian sama Fajar, gue donk yang patah hati."
"Emang loe naksir beneran sama Alya?" tanya Astri dengan tatapan menyipit.
"Enggak si sebenernya. Secara loe kan tau gue playboy. Lagian tadinya gue cuma merasa tertarik aja. Soalnya tu anak sekilas keliatan imut. Udah gitu aja."
Kali ini Astri tidak berkomentar, hanya tatapan mencibir jelas ia lemparkan pada Rendy yang kini bangkit berdiri.
"Oke deh, dari pada gue ikutan gila karena mikirin cinta simpang siur mereka. Kayaknya mendingan gue mandi aja. Secara udah sore dan bentar lagi malam. Loe juga nggak usah terlalu mikirin mereka. Apalagi sampe ngomong sendiri and nyumpahin diri sendiri gila. Yang ada gila beneran tau," kata Rendy sebelum kemudian benar benar meninggalkan kamar adiknya yang tampak mengembungkan mulutnya. Kesel akan komentar yang keluar dari mulut kakaknya. Namun tak urung ia juga bangkit berdiri. Merapikan buku – buku yang niat ia baca namun sedari tadi hanya di abaikannya. Setelah di rasa rapi, ia segera melangkah turun ke bawah menuju dapur. Sepertinya lebih baik dan lebih bermanfaat jika ia membantu sang mama memasak dari pada memikirkan kisah cinta yang tidak di kenalnya.
To Be continue
Ini cerpen kenapa jadi kayak gini, adminya juga nggak tau. Seweer beneran nggak tau. Yang jelas di nikmatin aja lah.
~ Admin nggak jelas, LovelyStarNight.

Random Posts

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly 7

    Pagi ini Vanes berangkat sekolah dengan lesunya, Ia terus berjalan menuju sekolah Sambil melamun hingga ia dikagetkan dengan bunyi klakson motor, yang hampir menabraknya. untung aja si pengendara pinter, jadi ia masih bisa selamat.sebagian

  • Cerpen Cinta: Kata Cinta Yang Kedua

    Kata Cinta Yang KeduaOleh: Farhatul AiniAwal aku masuk kuliah selama beberapa hari menjalani penyiksaan yang begitu pahit oleh senior yang kejam dan jahat. Dengan berkendaraan bus yang penuh sesak, ku masuki bus itu dengan sedikit hati hati, ku duduk di sebuah tempat dekat jalan, yang kurasa agar tidak terlalu sulit jika aku turun nanti, ku duduk dengan manisnya, sambil melihat orang di sekitarku. Rasanya ada yang aneh dengan gerombolan 6 orang yang duduk paling belakang itu. Rupanya aku kenal salah satu dari mereka tapi aku tidak tau namanya, ya.. teman satu jurusanku namun kita sama sekali tidak bertegur sapa, mungkin karna aku terlalu pendiam, mungkin juga dia tidak mengenaliku. Namun ada seseorang salah satu dari mereka yang agaknya terlalu memperhatikanku, dan saat aku melihatnya ke belakang untuk melihat keadaan, rupanya dia sedang melihatku , tatapan kami terhenti di salah satu sudut. Karena dia yang terlebih dulu melihatku, dia pula yang melempar senyum terlebih dulu kepadaku, tanpa canggung aku pun membalas senyumnya.Ku buka kembali Diary lamaku saat aku pertama kali bertemu dengan Kevin. Rasanya tak pernah terfikirkan olehku akan melewati masa sesulit ini ketika telah mengenalnya. “hayooo ngelamunin Kevin ya?” tiba-tiba Adel datang ke kamar.“apaan si lo, sok tau.”“eh apaan tuh liat dong, lucu gitu bukunya, ada foto kamu sama Kevin lagi.” Sambil merebut buku yang di tangan Widy.“eh jangan itu Diary gue” balik Widy merebutnya, tapi tak berhasil.“ah biarin gue pengen tau.”Akhirnya Widy menyerah membiarkan Adel membaca buku Diarynya itu. Setelah lama Adel membaca halaman pertama buku itu diapun berkata.“jadi rupanya lo tuh suka pada pandangan pertama nih.”“eh engga ya, dia dulu yang ngelempar senyum ke gue, terus minta nomer gue ke Raka, temen satu jurusan gue itu yang satu bus sama gue waktu itu. smsin gue, ngajak jalan, sampe deket kaya gini, dan tiba-tiba dia pacaran sama Nuna.” Menceritakannya dengan emosi, lalu Widy mengeluarkan air matanya.“sabar ya wid, gue rasa Kevin tuh ga bermaksud nyakitin elo, dia kan ga tau kalo Noumi itu kakak lo.”“dia tuh kakak tiri gue, dan kalo emang seorang kakak dia gak mungkin sejahat ngerebut orang yang gue suka.”“tapi lo gak pernah bilangkan orang yang lo suka itu Kevin, mana dia tau kalo dia yang lo suka.”“udahlah Del ga usah bahas dia lagi, mulai sekarang gue benci sama Kevin dan Noumi!”Noumi, dialah yang sudah menghancurkan semuanya, aku terbiasa memanggilnya Nuna(sebutan kakak perempuan dalam bahasa Korea),dia adalah kakak tiri aku yang kuliah dan tinggal di Korea , dia tinggal disana bersama Paman Lian yang membuka usaha restaurant khas Korea, aku yang tidak suka dengan musim dingin hanya tinggal di Jakarta bersama Papah dan Mamah tiriku. Noumi ternyata teman sewaktu SMA Kevin, yang pernah disukai Kevin dulu tapi kenapa harus Noumi? dia orang yang terdekat denganku, dan kenapa aku harus tau sekarang, ketika aku sudah benar-benar menyayanginya.Beberapa minggu lalu Kevin pernah menyatakan cinta padaku, tepatya saat aku pulang kuliah, tanpa ragu dia menyatakan kata-kata cinta itu dengan lancar, sampai aku seperti terhipnotis tak sadar melihat tingkah dan deretan kata-kata itu. Namun karna aku bingung dan ragu aku menjanjikannya akan menjawab pada saat malam minggu di Cafe tempat biasa kita makan bersama.Memang waktu belum mengijinkan kita, pada saat itu banyaknya tugas yang datang mengahampiri membuat aku lupa akan hal itu. Berjam-jam ternyata dia menunggu di Cafe, dan aku memang benar-benar lupa. Seperti penyesalan yang amat mendalam, dia mengira aku tak datang menemuinya karna aku menolak cintanya, beberapa kali aku jelaskan aku lupa untuk datang ke Cafe itu, tapi Kevin hanya menjawab “lupakan saja Wid, anggap saja itu tak pernah terjadi.” dan aku sangat tau Kevin, sesekali ia dikecewakan, dia takan pernah memberikan kesempatan untuk orang yang pernah mengecewakannya. Dan aku menunggu dia menyatakan cinta itu lagi, karna aku takan menyia-nyiakannya untuk kedua kali, karna aku mencintainya. Tapi kemana dia, cinta itu tak pernah keluar dari mulutnya lagi sampai pada akhirnya dia menemukan Noumi, sahabatnya dulu yang pernah disukainya. Sampai pada akhirnya aku memutuskan, untuk merelakan semuanya. Bahwa Kevin kini telah menjadi milik Noumi. Malam ini sengaja aku duduk ditaman rumah, malam inikan malam ulang tahunku tapi semuanya nampak sepi, Papah Mamah yang sedang berkunjung ke Korea menjenguk Paman Lian yang sedang sakit, tidak kunjung pulang sampai hari esok tiba. Headset yang tertempel ditelinga seperti melekat, aku menikmati alunan musik yang bertema galau, pas sekali dengan apa yang ku rasakan. Tiba-tiba Pemandangan yang tidak menyenangkan, oh Noumi dan Kevin, inikah kado terburuk yang pernah kudapatkan dihari ulangtahun ku besok, kemesraan yang tampaknya mereka pamerkan membuatku iri, harusnya aku yang sedang tertawa mesra bersama Kevin disana. Tak biasa mereka pulang semalam ini tepatnya jam 10 malam, pasti mereka habis makan di Cafe, nonton, semua hal yang mengasikan.Saat mereka lewat didepanku, akupun sengaja menutup mata, agar tidak menambah beban pikiranku, dan diam-diam saat mataku terpejam, rasanya pipiku sudah basah terbanjiri air mata.“kenapa malam-malam kamu masih diluar Wid?” tanya Kevin.Rupanya alunan musik yang terdengar ditelinga Widy, membuatnya tidak mendengarkan ada suara apapun selain lagu lagu yang didengarnya.“hei widy.” Sapa Kevin sambil menyentuh tangan Widy, agar Widy merasakan bahwa disana ada orang yang mengajaknya berbicara.Mata Widypun terbuka dan dengan kagetnya, sampai gelas lemon tea didekatknya terjatuh.“eh, eh Kevin.”Entah apa yang harus aku lakukan pada saat itu, suara pecahan gelas membuatku makin panik dan aku memunguti pecahan-pecahan gelas itu. Sebenarnya jika situasi sedang normal aku tidak akan melakukan hal itu, aku akan mengusir Kevin jauh-jauh dan menyuruhnya pergi. Dengan tergesa-gesa membereskannya membuat beling pecahan gelas itu, melukai tanganku. Kevin hanya terdiam melihat tingkahku. Dan ketika ia tersadar iapun langsung membantuku, mengeluarkan sapu tangan, dan membalutkannya ke tanganku yang luka.“kamu tuh kenapa si, ga biasanya banget?” tanya Kevin.“habisnya kamu tuh dateng tiba-tiba, bukannya tadi kamu bersama Nuna masuk kedalam eh tiba-tiba kamu ada disini.”“ya gapapa dong sekali-kali akukan pengen sama kamu.”Kata-katanya membuat aku benar-benar kesal, kamipun duduk berdua diatas ayunan panjang itu. Diam sejenak tanpa ada yang berkata-kata.“sebaiknya kamu panggil Nuna sanah, dan aku mau istirahat.”Diam itu saat bersama Kevin itu, membuat kenyamananku terganggu, aku putuskan untuk kembali ke Kamar.“eh Wid, disini aja. Noumi sedang mandi katanya dan kamu harus menemani aku.”“kenapa begitu”“karna akukan tamu, masa tamu dibiarkan sendiri, ayolah yah yah…” mintanya dengan manja.“engga!” Widy lari menuju rumah, dan Kevinpun mengejarnya“kenapa kamu jadi seperti ini si Wid? Kamu tidak seperti kamu yang dulu dan aku tidak suka.”“dan kamu pikir aku suka kamu dekat dengan Nuna, lalu melupakan aku begitu saja?”“apa wid, jadi kamu tidak suka aku dekat Noumi?”“eh bukan itu maksud aku.” Widy berusaha mengelak.“wid sekarang aku tau perasaan kamu, akhirnya kamu menjawab semua rasa penasaran yang aku rasakan selama ini.”“maksudnya?”“sebenarnya aku tidak pernah pacaran bersama Noumi, akupun tidak pernahkan bilang kalo aku pacaran sama Naomi bukan, tapi kamu sendiri yang menganggap semua itu.”jelas Kevin.“ah sudahlah lepaskan, aku tidak mau lagi mendengar semua itu.”Widypun lari ke dalam rumah, dan berhenti ketika melihat Noumi sedang membuat kue ulang tahun, ah pasti itu buat Kevin, hari ini kan dia juga ulang tahun. Pasti mereka bakalan ngerayain bareng diatas penderitaan gue.Kevinpun ikut lari ke dalam rumah.“Widy, kenapa kamu masuk ke dalam, harusnya kamukan menemani Kevin diluar.”“ah urusi saja pacarmu itu sendiri.”Ketika Widy mencoba berlari lagi menuju kamar, langkahnya terhenti karna salah satu tangganya berhasil dipegang erat oleh Kevin.“jangan pergi lagi Widy.”Sontak Widypun kaget dan mencoba melepaskan pegangan itu, saat berhasil terlepas widypun berkata.“apa si maunya kalian itu, aku hanya ingin tenang silahkan kalian bercinta sesuka kalian tapi jangan ganggu aku lagi.”“Widy apa maksud kamu?”“Nuna pacaran sama Kevinkan, dan Nuna tau dia itu orang yang sering Widy ceritakan kepada Nuna saat kita sedang curhat bersama melalui e-mail.”Noumi hanya tersenyum lalu mengatkan “Happy Birthday Widy.”Nuna sambil berteriak, aku bingung seperti konyol sekali, itukan kue untuk merayakan hari ulang tahun Kevin.“Widy maafkan aku, ini semua rencana aku, aku ingin tau sekali lagi perasaan kamu, dan aku rasa ini satu-satunya cara agar aku tau perasaan kamu, kamu cemburukan wid aku bersama Noumi, dan itu artinya kamu juga suka kan sama aku?”Widy seolah tak percaya akan hal itu, air matanya mengalir ke lekuk pipinya.“aku cinta sama kamu widy, sekali lagi aku ungkapkan itu, dan aku mau kamu menjawabnya sekarang, apapun jawaban kamu aku siap, tak perlu menunggu lain waktu, maukah jadi pacar aku?”Tanpa berkata Widy langsung memeluk Kevin.“jangan lakukan ini lagi, aku juga cinta kamu dan kamu harus tau itu.”Pelukan yang berlinang air mata, mengakhiri sebuah kebahagiaan.“Nuna maafkan aku yang selama ini sudah membenci Nuna.”“tidak apa-apa, memang harusnya begitu kalo memang Nuna melakukan itu.”Malam itu malam yang indah, aku merayakan ulang tahunku bersama Kekasihku dan Nuna, orang yang sangat aku sayang. -selesai-Twitter: @ainigonilFacebook: farhatul.aini@yahoo.comCerpen Farhatul Aini yang lainnya bisa dibaca dalam Hate The Rain, Aku Tanpa Dia dan Izinkan Aku Memilih.

  • Cerpen Perpisahan: HARI TERLARANG

    HARI TERLARANG Cerpen karya Dita PuspitasariKringgg kringgg kringgg bel sekolah berbunyi, tenda masuk sekolah. Raisa yang emang lAngganan kesiangan masih santai-santai berjalan mendekati gerbang sekolah diantar oleh kakaknya.“Udah masuk ya Sa?” tanya Isar, kakak Raisa“Iyaaaa, pokokknya ade gak mau tau! Kakak harus ngasih alasan ke guru yang ada di kelas ade. Biar ade bisa belajar”“Yaaaaaaaaa. Kasian banget ya, baru juga minggu kemarin MOS, udah dapet point gara-gara kesiangan”Sesampainya di kelas Raisa, Isar memberikan penjelasan secara detail kepada guru yang sedang mengajar di kelas Raisa. Syukurnya Raisa tidak mendapatkan point tambahan dari guru tersebut.Itulah kegiatan Raisa selama pagi hari. Bangun pukul 05.00 dan pergi ke sekolah pukul 06.30 diantar oleh kakaknya. Emang sih Raisa kesiangan gara-gara diantar oleh kakanya. Tapi mau gimana lagi? rumah Raisa sangat jauh dari sekolahnya. Jadi gak ada ojej gratis lagi selain kakaknya. Meskipun harus selalu telat kalau datang ke sekolah. Tapi meskipin Isar adalah penyebab utamanya Raisa kesiangan, Isar adalah sosok kakak yang sangat perhatian sama Raisa. Isar selalu membantu PR Raisa, ngebuatin makan kalau di rumah gak ada siapa-siapa. Baik deh pokokknya. Raisa sendiri adalah remaja perempuan yang cinta banget sama musik. Raisa bisa memainkan berbagai macam alat musik. Yang luar biasanya lagi Raisa belajar sendiri alat musik itu. Wajar aja sih karena ibu dan bapaknya juga cinta sama musik. Dibalik semua itu ada juga yang Raisa benci. Perpisahan. Satu kata yang sangat dibenci oleh Raisa. Ia tidak menginginkan hal itu.Saat pulang sekolah, Raisa kaget melihat kakanya mengemas barang di kamarnya. Hal yang memang tidak biasa Isar kerjakan, karena menurut Raisa kakakya itu paling tidak bisa jika disuruh beres-beres. Ternyata Isar harus pergi kuliah ke Australia besok pagi, dan menetap di Australi selama 3 tahun.Dari Raisa pulang sekolah sampai pukul 23.00, Raisa dan Isar menghabiskan waktu bersama. Apapun yang mereka lakukan pada hari itu akan menjadi kenangan yang akan Raisa ingat. Ibunda mereka tidak marah ketika mengetahui anak-anaknya terjaga kurang lebih 12 jam. Karena kapan lagi kedua anaknya itu dapat seperti itu. Tiga tahun yag akan datang Raisa sudah lulus SMA, dan akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dan mungkin Isar sudah sibuk dengan pelamaran kerja atau mungkin Isar sudah kerja.***Pagi-pagi sekali Raisa bersiap untuk mengantar kakaknya ke bandara, sebenarnya Raisa tidak mau melihat kakaknya pada pagi hari itu, tapi karena ini adalah pertemuan terakhir Raisa dengan kakaknya yang akan pergi kuliah selama 3 tahun, terpaksa Raisa ikut. Di bandara Isar memberikan jam tangannya kepada adiknya.“Sa, simpen ini yaaa. Jangan kangen deh. Terus jangan cengeng yaa adikku sayang. Jam tangan ini berputar gak akan kerasa kok. Tau-tau kakak lo ini udah ada di Indonesia lagi dan bisa main sama adiknya lagi” ucap Isar di bandara. Raisa hanya bisa menerima jam tangan tersebut tanpa berkata apapun. Setelah pesawat terbang, Raisa pergi ke sekolah dengan mata yang masih bengkak.“Baru aja perpisahan di SMP, masa kakak gue udah ninggalin gue ke Australi?” ucap Raisa kepada teman sebangkunya.“Sa, setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan. Tenang aja, raga lo sama kakak lo emang pisah, tapi jiwa lo dan kakak lo gak akan pisah Saaa. Percaya deh sama gue” kata Riri.Dari situ Raisa baru menyadari banwa sebenarnya perpisahan itu bukan ajang untuk menangisi keadaan, melainkan ajang untuk melatih kedekatan batin. Menurut Raisa perpisahan itu sangat terlarang tapi tetap saja meninggalkan kesan yang sangat dalam.*** TAMAT ***Biodata PenulisNama : Dita PuspitasariAlamat rumah : Perum Sarijadi Blok 13 No 13 RW 08 RT 02 Kecamatan Sukasari, 40151 BandungTTL : Bandung, 30 Januari 1997No telefon : 085659366311Sekolah : SMPN 12 BandungKelas : 9cEmail : dita.puspitasari_12@yahoo.com (fb dan y!m) ditaeyang00@yahoo.co.id

  • Cerpen Remaja Kala Cinta Menyapa ~ 11

    Jejak hidupku adalah untain kata yang tersemat di blog. Yang kurangkai semauku untuk mengisi waktu luang. Hanya untuk menunjukan bahwa aku pernah ada.So, For All. Aku harap kalian juga melakukan hal yang sama. Tinggalkan lah jejaknya supaya aku juga tau, kalau "reader" itu beneran ada. Untuk part sebelumnya silahkan baca "-} Cerpen remaja kala cinta menyapa Part 10Dengan langkah lunglai Rani berlalu dari hadapan Erwin dan Syintia. Angannya melayang ke masa – masa yang telah lalu. Akan kedekatannya dan Erwin . Tanpa sadar di helanya nafas berat. Rasa sesak melingkupi hatinya saat dengan berat hati ia harus mengakui kalau ia benar – benar telah jatuh cinta pada cowok itu.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*