Kenalkan aku pada cinta ~ 06 | Cerpen Remaja

Kenalkan aku pada cinta _ part 06. Oke sodara sodara semua, berharap aja cerpen ini nggak bernasip sama kaya Cerpen The prince, the princess and mis. Cinderella. Tau nggak kenapa?. Idenya melenceng jauh lho. Jauuuuh bangets. Kayaknya efek galau yang di alamin adminnya beberapa hari ini nular ke cerpen deh. Mana laptopnya masih eror juga lagi. Hufh. #MendadakCurhat_ditabok.
Tapi diatas semua itu, menulis acak acakan alias merubah rubah jalan cerita kayaknya udah jadi bakat adminnya sedari dulu. Iya nggak?. So, buat yang baca nikmatin aja lah. ~ Cihuiy
Dan biar nggak bingung, untuk part sebelumnya bisa langsung di cek disini.

Kenalkan aku pada cintaAstri tertegun saat melihat tatapan Andre yang terjurus padanya. Entah apa yang di dalam pikiran pria itu. Ia juga tidak tau. Ekspresi yang tergambar sulit di tebak. Tepatnya, ia tidak bisa menebaknya.
"Dari tadi gue perhatiin, kok kak Andre cuma liatin kita. Ada yang aneh ya?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Alya membuyarkan lamunan Asri. Kepalanya refleks menoleh kearah Alya yang masih menanti jawaban dari Andre. Namun yang ditatap masih membisu, membuat Astri kembali diam diam melirik kearahnya dan menyadari kalau pria itu ternyata sama sekali tidak mengalihkan tatapan darinya.
"Ih, kak Andre ngelamun ya?"
Suara lantang Alya kali ini membuat Andre tersenyum. "Mana mungkin gue ngelamun. Entar kalau ayam tetangga pada mati gimana?. Siapa yang mau tanggung jawab coba?".
Sejenak Alya mengerutkan kening heran, barulah pada detik selanjutnya tawa lebar lepas dari bibirnya.
"Kak Andre bisa aja nih bercandaannya."
Astri melirik sekilas kearah sahabatnya yang tampak tertawa bahagia. Berbanding balik dengan rautnya waktu pertama kali muncul tadi. Hal ini mau tak mau meningatkan Astri pada kalimat terakhir yang Alya ucapkan padanya. Walau sebelumnya ia sempat pura pura tidak mendengar. Jadi gadis itu benar – benar menyukai Andre?.
"Baru datang?" Andre mengalihkan perhatian sambil bertanya singkat. Kepala Alya dengan cepat mengangguk membenarkan.
"Kakak sendiri sedari tadi ngapain. Gue perhatiin lho kalau sedari tadi itu kakak cuma berdiri diem disini."
Lagi – lagi Andre tersenyum sambil mengeleng berlahan. Bahunya sedikit terangkat sambil berujar "Nggak ada."
"Oh ya, kalian masih mau mengobrol ya. Kalau gitu gue duluan ya. Soalnya gua masih ada urusan. Da…"
Tanpa menunggu kalimat balasan Astri langsung melangkah berlalu. Setengah berlari malahan. Sejujurnya ia sendiri juga tidak mengerti, yang ia tau saat ini ia ingin segera pergi dari situ, walau ujung ujungnya ia sendiri juga bingung. Ia harus kemana? Apa harus langsung kekelas, lantas kalau seandainya nanti Alya juga kesana dia mau jawab apa? Karena sibuk melamun tanpa sadar saat tepat di belokan koridor ia menabrak seseorang.
"Aduh" Astri mengaduh saat merasakan sakit di pantatnya karena langsung mendarat di lantai yang dingin.
"Busyet, udah pake kacamata tetep aja rabun."
Astri yakin, kalau kalimat yang ia dengar lebih dingin dari lantai yang kini didudukinya. Kepalanya menoleh yang langsung bertatapan dengan seseorang yang entah siapa namanya yang kini sedang berdiri tepat di hadapannya sambil menatapnya lurus.
"Jelas jelas yang jatuh itu gue, kenapa loe yang marah marah" Gerut Astri sambil bangkit berdiri.
"Nah, itu lebih aneh lagi. Elo yang nabrak kok loe yang jatuh."
"Iya deh, gue yang salah, gue yang jatuh dan sekarang gue yang minta maaf. Puas loe" sahut Astri tampak tak iklas.
"Tentu saja tidak. Loe nggak liat tuh, buku buku gue berantakan. Buruan bantuin,"
Mata bening Astri tampak berkedap kedip. Bergantian menatap antara buku yang berserakan dan orang yang di tabraknya yang kini sedang berjongkok mengumpulkan buku – bukunya. Tanpa perlu di suruh dua kali Astri segera melakukan hal yang sama.
"Loe mau dagang buku ya? Banyak amat bawaannya?" tanya Astri tanpa menoleh.
"Emang kalau gue dagang di sini bakal laku? Ada ada aja loe. Udah jelas ini buku dari perpus."
"Jawabnya santai aja kali, marah marah gitu jodohnya jauh tau."
"Ha ha ha"
Astri menoleh, menatap makhluk yang kini sedang tertawa di hadapannya tanpa berkedip. Tawa itu…
"Ehem, Fajar."
Bukannya menjawab Astri malah mengerutkan kening melihat tangan yang terulur di hadapannya. Apa apan itu? Ngajak kenalan?.
"Loe nggak mau menyambut uluran tangan gue?"
"Astri" balas Astri akhirnya.
"Oh jadi nama loe Astri. Oke lah Astri, berhubung loe udah bantuin gue ngumpulin buku ini loe nggak keberatan kan kalau sekalian bantuin gue bawa ke perpus. Mau gue balikin soalnya."
"Ya?" Astri tampak bingung.
Tapi Fajar hanya angkat bahu sambil berdiri. Tanpa kata ia melangkah, membuat Astri mau tak mau mengikutinya walau tak urung mengerutu dalam hati. Apa apaan orang itu, menyuruhnya seenaknya.
"Ah ma kasih ya karena udah bantuin," kata Fajar sambil melangkah meninggalkan perpus, Astri berjalan disampingnya sambil membenarkan letak kacamatannya. Tidak menjawab hanya kepalanya saja yang mengangguk membenarkan.
"Ngomong – ngomong loe pinjem buku sebanyak itu buat apaan?" tanya Astri lagi.
"Ya buat di baca donk. Serius, gue nggak tertarik buat jualan" Balas Fajar setengah bercanda.
"Bisa aja loe" kali ini Astri tersenyum. Sepertinya ia telah melupakan insident tadi.
"Jurusan apa?."
"Akuntansi smester III" balas Astri, membuat kepala Fajar menangguk angguk. "Loe?"
"Oh kalau gitu kita satu angkatan. Cuma gue jurusan Teknisi Komputer."
"Teknisi?."
Walau bingung melihat raut terkejut di wajah Astri namun tak urung kepala Fajar mengangguk membenarkan.
"Kalau gitu pinter komputer donk."
"Nggak pinter sih, cuma ngertilah. Kenapa?" Fajar masih tampak bingung.
"He he he" bukannya langsung menjawab Astri justru malah tersenyum misterius, membuat Fajar semakin bingung melihatnya.
Kenalkan aku pada cinta
"Jadi laptop loe eror?" tanya Fajar sambil tangannya sibuk mengotak atik benda elektonik di hadapannya. Sementara Astri hanya mengangguk membenarkan. Saat ini keduanya sedang duduk di taman belakang kampus seusai kuliah.
"Iya, Loe kan anak IK. Harus nya tau donk, kenapa bisa eror gini."
"Yah, ini si kena Virus."
"Kalo itu gue juga tau, yang gue nggak tau itu solusinya. Biar nggak eror lagi gimana?".
Fajar tidak langsung menjawab tapi tangannya masih sibuk mengklik sana sini dengan tatapan lurus kedepan, sama sekali tidak menoleh kearah Astri.
"Kalau mau simple si sebaiknya di instal OS ulang."
"Jangan donk" sahut Astri cepat, secepat yang bisa ia lakukan. Membuat Fajar untuk kali ini menoleh.
"Ehem, maksut gue. Kalau bisa di benerin dulu tanpa di instal ulang bisa nggak?" terang Astri kemudian.
"Bisa si harusnya. Cuma…."
"Ya udah kalau bisa mending di benerin aja. Oke?" potong Astri lagi. Membuat Fajar mengerutkan kening bingung. Namun bukan kata tanya yang meluncur dari mulutnya, justru malah kepalanya yang mengangguk membenarkan.
"Baiklah, tapi mungkin rada lamaan. Nggak papa?"
"Di jamin lepi gue bener, gue nggak masalah sama waktu."
"Ha ha ha, terus imbalannya apa nih."
"Belum juga bener loe udah minta imbalan" gerut Astri sambil memajukan mulutnya. Melihat itu Fajar tak mampu menahan diri untuk tidak tertawa. Entah dapat ilham dari mana, yang jelas menurutnya kali ini Astri benar benar terlihat imut dengan reaksi seperti itu.
"Oke lah, gimana kalau seandainya laptop loe bener loe traktir gue makan siang?"
"Loe makannya banyak nggak?" bukannya menjawab Astri justu malah balik bertanya.
"Yah, sekarang coba liat. Disini siapa yang perhitungan coba."
Astri tersipu malu mendengarnnya. Cepet cepat pasang senyum jari tiga kelinci (??).
"Baiklah, jadi kalau seandainya laptop gue nanti bener, gue traktir loe makan siang di kantin kampus kita. Oke?"
"Deal," Fajar langsung mengangguk mantap tanpa perlu befikir lagi.
“Okelah kalau begitu, laptopnya gue bawa ya. Ntar kalau udah bener gue balikin ke elo,” Kata Fajar kemudian.
“Tunggu dulu,” tahan Astri cepat. “Emang harus di bawa ya?” tanya Astri sedikit ragu.
Fajar tidak langsung menjawab. Untuk sejanak ia tampak menghembuskan nafas sembari berujar. “Kan tadi gue udah bilang kalau benerin nya rada lama. Mana mungkin gue kerjain disini. Jelas aja gue bawa pulang. Gimana sih?”
Astri terdiam. Benar juga. Fajarkan tadi sudah mengatakannya. Tapi kan…
“Atau loe nggak percaya sama gue?”
“Loe bisa di percaya kan?” bukannya menjawab Astri malah balik bertanya.
“Kalau sedari awal aja loe udah ragu kenapa loe masih nanya sama gue?”
Astri yakin kalau pembicaraan ini di teruskan yang ada akan menjadi ladang tanya – tanyaan tanpa jawaban.
“Oke ginilah. Gue percaya kok. Lagian tampang loe nggak ada cocok cocoknya jadi penjahat” kata Astri sambil memperhatikan penampilan Fajar dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat yang ditatap merasa risih dan balik bertanya.
“Maksut loe?”
“Ya secara muka loe kan rada baby face. Imut – imut gimana gitu, terkesan sedikit feminim dan….”
“Tunggu dulu. Ini kenapa jadi ngomongin muka gue?” potong Fajar terdengar memprotes, lagi lagi Astri membalas dengan senyum tiga jari andalannya.
“Udahlah. Sedari tadi loe protes mulu. Gue beliin rok juga ni lama lama," sungut Astri. "Jadi bantuin kan? Tapi awas ya, jangan buka buka folder file gue,” Sabung Astri dengan nada mengancam.
“Emangnya kenapa? Loe nyimpen film bokep ya?”
“Duak”
Fajar hanya mampu mengaduh sembari mengusap – usap kepalannya yang berdenyut nyeri. Matanya menyipi kesel kearah Astri yang tersenyum tanpa rasa bersalah. Bahkan justru malah terlihat puas setelah sebelumnya mendaratkan jitakan di kepalanya.
“Sembarangan aja loe kalau ngomong. Sory ya, gini gini gue selalu menjaga pandangan tau.”
“Nggak yakin gue” gumam Fajar lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengar Astri. Dan sebelum sempat gadis itu kembali membalas ucapannya, ia sudah terlebih dahulu buka suara.
“Sekarang mana alamat rumah loe.”
“Ya?” tanya Astri dengan pandangan bingung.
“Berhubung besok hari minggu, kampus kita kan libur. Jadi, kalau laptop ini udah beres otomatis harus gue antar kealamat rumah loe kan?”
“O, bentar” Astri tampak mengelurkan nota kecil dari dalam tasnya. Setelah menuliskan alamat disana ia segera menyodorkannye kearah Fajar.
“Yakin loe besok laptop gue udah beres?” tanya Astri.
“Nggak yakin sih. Tapi gue usahain. Oke?”
Dan kali ini Astri hanya membalas dengan anggukan.
Ha ha hai, See you in next part aja ya. Kita To Be Continue dolo. Untuk info seputar blog bisa di ikuti melalui fanpage kami di sini.

Random Posts

  • Cerpen Cinta: TERNYATA KAMU

    Oleh: Mentari Senja – Hari ini aku dan Shinta akan menjemputmu di Bandara, sepuluh tahun sudah kita tak berjumpa. Setelah keluargamu pindah, aku dan Shinta hanya bisa merindukanmu. Sepuluh tahun kami jalani hidup berdua tanpa dirimu, tanpa kebersamaan dan tanpa kegilaanmu. Kami sangat merindukanmu, terkhusus untukku. “duh lama banget ya ri…mana sih Radit katanya dateng jam 10.00. ini dah jam 10.00 lewat tapi belum nongol juga tuh batang hidungnya.”shinta melirik jam warna pink ditangannya sambil terus mencari-cari sosok seorang Radit. Terlihat kegelisahan diraut wajah cantiknya.“ sabar lah Shin, bentar lagi juga nyampe. Mungkin emang agak telat paling pesawatnya. Ya udah kita tunggu aja disini.”aku mencoba menenangkan Shinta, walau aku sendiri juga agak gelisah.“eh…ri kira-kira Radit curiga ga ya. Kalau selama ini yang sering bales e-mail dia bukan aku. Apa dia masih suka sama aku.”shinta jadi gelisah sendiri, dia takut Radit kecewa kalau selama ini bukan Shinta yang ngbales semua e-mail dari Radit.“udahlah tenang Shin, Radit ga bakal tau ko. Lagian kan walaupun aku yang bales tuh e-mail radit, tetep aja aku pake nama kamu. Jadi kamu tenang aja deh. Dan dari semua e-mail yang dia kirim, aku yakin dia masih suka sama kamu,”shinta agak sedikit tenang setelah mendengar penjelasanku. “thanks ya riri, kamu emang sahabat yang baik. Kamu tau sendiri kan aku paling males kalo suruh ngebales e-mail. Aku ga suka diem dikamar Cuma buat mantengin laptop. Mendingan shopping, hehehehe. Tapi untunglah ada kamu, jadi aku selalu tau keadaan Radit. Dan yang paling penting aku tau kalo Radit masih suka sama aku.”shinta senyum-senyum sendiri membayangkan Radit.Aku cuma tersenyum melihat sahabatku ini, walaupun ada sedikit rasa sedih. Karena selama ini aku juga memendam perasaan pada Radit. Selama sepuluh tahun ini aku dan Radit memang masih sering berkomunikasi, tapi komunikasi ini hanya kepura-puraan. Radit menyangka kalau yang ngebales semua e-mailnya adalah Shinta, perempuan yang dari dulu dia kagumi.Setelah tiga puluh menit lamanya kami menunggu Radit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Radit datang juga. Perasaanku mulai berdebar-debar, membayangkan bagaimana Radit sekarang. Apakah dia akan mengenaliku, taukah dia kalau selama ini aku lah yang selalu menemani malam-malamnya lewat dunia maya. Apakah Radit juga merasakan apa yang aku rasa. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaanku tentang Radit. Semoga dia tidak berubah.“jantungku deg-degan ri, kira-kira sekarang Radit seperti apa ya. Aku ga sabar neh. Duh mana ya Radit.”dengan mengangkat papan nama bertuliskan Radit, Shinta mencoba mencari sang pujaan hati.“shin, mungkin itu dia Radit. Lihat lelaki itu, dia datang kearah kita, pasti itu Radit.”aku menunjuk kearah lelaki tinggi memakai jaket jeans biru.“sepertinya iya, wah keren juga ya Radit sekarang. Aku jadi makin suka deh”Lelaki berjaket jeans itu semakin mendekat, dia melambaikan tangannya menandakan bahwa memang benar dia adalah Radit. Akhirnya ketemu juga dengan Radit, Radit kini sudah menjadi sosok lelaki dewasa.“hallo princess, apa kabarmu…”Radit mendekatkan diri pada Shinta, menyapa Shinta dengan sebutan yang biasa dia ucapkan padaku saat didunia maya.Princess ??so sweet, Radit romantis sekali padahal baru saja ketemu Shinta hanya berdiam diri, dalam hati shinta berkata-kata siapa yang Radit sebut dengan Princess, tapi itu ga terlalu penting bagi Shinta. Shinta tak memperdulikan Radit akan memanggilnya apa. Yang dia rasakan hanya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Radit.“hallo Princess, kenapa nglamun aja. Terpesona ya ngliat aku yang ganteng. Hahahahaha.” kata Radit karena melihat Shinta yang bengong“hey siapa juga yang terpesona, aku hanya ga habis fikir aja bisa ketemu lagi sama cowok jelek kaya kamu,hehehehe.”shinta dan Radit terlihat semakin akrab. Kulihat mereka berdua sangat cocok, apalagi mereka berdua saling suka.Aku hanya bisa berdiam diri melihat keakraban antara Radit dan Shinta. Ternyata Radit tak mengenaliku, dia masih mengira bahwa Shintalah yang menjadi teman dunia mayanya. Sedikit rasa kecewa terpendam dihati, karena apa yang kuharapkan ternyata tak sesuai hati.“ehemm… udah dulu dong kangen-kangenannya, sampe lupa ada orang disampingnya.” aku mencoba mencairkan suasana.“hai nona manis, maaf aku lupa. Apa kabarmu sekarang ? apa kegiatanmu, jangan kaya Shinta ya yang sukanya ngenet sampe malem.”Radit melirik Shinta. Menggoda Shinta dengan lirikannya.“kabarku baik. aku juga suka ngenet ko Dit, sama kaya Shinta.”jawabku sambil ku lirik juga Shinta“wah ternyata kamu sama Shinta punya hobby yang sama ya, baguslah kalau gitu. Kita semua jadi kompak. heheheh, Eh ngomong-ngomong kamu punya e-mail ga?”tanya Radit kepadaku“aku punya, kapan – kapan aku kasih tau kamu. Oke sekarang kita pulang yuk ga enak kelamaan disini bisa jamuran kita.hehehehe.” aku dan Shinta saling berpandanngan, aku tau Shinta ingin berbicara kalau jangan sampai Radit tau yang sebenarnya.Akhirnya kami bertiga pulang, menuju kediaman Radit yang kebetulan tak jauh dari rumahku dan Shinta. Kami bertiga tinggal dalam satu komplek yang sama.**************** Pagi ini sungguh cerah, udara pagi yang sejuk ditemani hangatnya sinar mentari pagi. Daun-daun dengan tetesan embun menyapa rerumputan yang basah karena tetesan embun. Burung camar berkicauan menyanyikan kidung indah tentang pagi. Dari jendela kamarku dilantai dua, aku merasakan sejuknya angin pagi. Dan tanpa kusadari tenyata Radit telah berada dibawah.“woi nona manis, lari pagi yuk. Ajak Shinta juga ya.” teriak Radit dari bawah, ternyata Radit sudah siap untuk berolahraga pagi.“hai….sudah lama disitu, oke deh bentar lagi aku keluar. Aku call shinta dulu ya.” jawabku “shin, cepet bangun Radit ngajak jogging neh. Oke cepetan bangun, aku dan Radit nunggu kamu didepan rumah.”kututup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Shinta, segera kubersiap untuk jogging.“sudah call Shinta,” tanya Radit setelah melihatku keluar dari pintu.“yapz, udah. Kita langsung tunggu didepan rumahnya. Ayo berangkat.” ajaku pada Radit.“oke. Ayo.”Jarak rumahku dan Shinta tak begitu jauh, jadi tak butuh waktu lama buatku dan Radit sampai dirumah Shinta. Pagi ini Shinta terlihat begitu cantik. T-shirt pink dipadu dengan celana Panjang warna putih terkesan machting dengan kulit Shinta yang putih. Dan hal ini membuat Radit semakin terpesona.“hello, my princess, you are beautiful.” Radit menyapa Shinta dengan kata-kata romantis, ini membuatku sedikit sedih. Karena bukan aku yang dia sapa, melainkan Shinta yang tak tau apa-apa.“hallo juga cowok jelek, hehehehe.” Shinta menjawab sekenanya.“ayo kita berangkat.” ajaku“Oke.” radit dan Shinta masih saling berpandangan.Setelah lima belas menit jogging akhirnya kita semua memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman. Disebuah bangku panjang bercat putih, dipayungi pohon yang rindang sangat tepat untuk tempat beristirahat. Dikanan kiri terdapat beberapa pedagang makanan dan minuman, tempat ini memang biasa untuk orang-orang lari pagi jadi wajar kalau banyak juga pedagang yang menyediakan makanan ataupun minuman.Tiga botol teh dingin, serta tiga mangkok bubur ayam menjadi santapan pagi kita setelah lelah berolahraga. Suasana kali ini sungguh menyenangkan. Terlihat ada kumpulan anak-anak yang sedang berlari-lari kecil dengan suara tawanya yang riang, hal ini mengingatkanku tentang sesuatu. Terbayang waktu dulu saat kami semua bersama. Masa-masa kecil yang selalu kami lewati dengan berbagai canda dan tawa. Radit yang super iseng, Shinta dengan kemanjaan dan kecentilannya, sedang aku yang pendiam. Walaupun dengan berbeda karakter tapi kami semua tetap bisa bersatu. Sampai saat inipun kami bertiga masih akrab.Fikiranku pun melayang saat kuingat kali pertama Radit membuatku kagum padanya, Radit datang membelaku saat aku dihadang oleh anak – anak lelaki yang bandel disekolah seberang. Radit mencoba melindungiku, dia berusaha agar aku tidak terluka. Ketika itu Radit berkelahi dengan anak-anak itu, walaupun radit terluka juga tapi Radit berhasil mengusir anak-anak bendel itu. Dan saat itu aku merasakan kagum pada seorang Radit, bagiku dia adalah dewa penolong, dia juga teman penghiburku saat aku merasa sedih. Hingga saat ini kekaguman itu masih terjaga.“hei… nona… ngapain nglamun.”sapaan Radit menyadarkanku dari lamunan. Radit memang biasa memanggilku dengan sebutan nona. Itu sebutan saat masih kecil.“ohh…ga apa-apa ko. Cuma lagi menikmati alam, hehehe.” jawabku seraya memandang sekitar“balik yuk, cape neh.” ajak Shinta“oke Princess,” jawab Radit. Sekali lagi aku dan Shinta hanya saling berpandangan.********* “eh ri, kira-kira Radit masih percaya ga ya kalau aku yang sering balez e-mail dia dulu.” tanya shinta padaku“emangnya kenapa, yang aku liat sih, kayanya dia masih percaya deh.” aku melihat kearah Shinta“iya ri, sekarang aku ga yakin kalo Radit masih percaya, soalnya sering banget kalo dia ngobrol sama aku dan kebanyakan obrolannya itu ga nyambung. Dia sering cerita tentang dunia maya, tentang buku love story, tentang bakso yang katanya makanan kesukaanku. Padahal kamu tau sendiri kan ri kalo aku ga suka bakso. Apalagi tentang lovestory. Aku jadi bingung harus jawab apa sama Radit.”shinta telihat bingung, dia terus mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Sampai mie ayam kesukaanya tidak sempat dia makan.“udah lah shin, aku yakin dia masih percaya.”jawabku mencoba menenangkan. Aku hanya bisa diam, memikirkan Radit. Ternyata Radit masih hafal tentang kebiasaanku, tentang love story, tentang bakso, itu semua memang tentangku. Kabiasaanku berbalas e-mail dengan Radit membawa ketidaksengajaanku untuk mengungkapkan semua kebiasaan dan kesukaanku. Aku tak sadar bahwa kebiasaanku dan Shinta sungguh jauh berbeda. Yang ku tau saat itu hanya rasa nyaman saat bisa berbagi cerita dengan Radit, walaupun hanya lewat dunia maya.Suasana kampus masih ramai, banyak mahasiswa berlalu lalang. Dari mahasiswa yang masih punya jam kuliah sampai yang hanya Cuma ingin menikmati suasana taman dikampus. kebetulan aku dan shinta sudah tak ada jam kuliah. Kami menghabiskan waktu dikantin kampus. Kami berdua hanyut dalam lamunan masing-masing, walaupun tertuju pada satu khayalan, yaitu Radit.“Ri, aku sudah putuskan untuk menceritakan yang sebenarnya sama Radit. Aku ga mau terus – terusan bohong. Aku juga ga mau terus berpura-pura tau tentang semua obrolannya. Aku ingin mencintai Radit dengan diriku sendiri, bukan apa yang Radit ceritakan. Gimana menurutmu ri.” tiba-tiba saja Shinta berbicara padaku, “kalau menurutku, jangan dulu shin. Ini bukan waktu yang tepat. Biarlah dia tau dengan sendirinya. Lagian kalau dia emang sayang sama kamu, pasti dia bisa menerima kamu dengan apa adanya. Ya udahlah shin jangan terlalu difikirkan.”“gitu ya ri, hmmm ya udahlah mungkin Cuma perasaanku aja. Thanks ya ri, kamu baik banget. Kamu juga selalu membantuku. Thanks sob.”Shinta memelukku erat, ada kelegaan yang kulihat.“iya shin, sama-sama. Balik yuk.”“hmm oke,”********* “hei nona, lagi ngapain disini.”Radit menghampiriku saat aku berada ditaman sendiri. “hei juga, lagi duduk-duduk aja neh, sambil baca buku.”jawabku sambil mempersilahkan Radit duduk.“wah hoby baca juga ya kamu, lagi baca buku apa, coba aku liat.”“love story, novel kesukaanku, ceritanya begitu romantis aku suka.”aku menyodorkan buku novelnya kepada Radit.“Love Story???ko bisa kebetulan ya, aneh….”jawab Radit sedikit bingung sambil terus melihat buku novel itu“Aneh kenapa.?”tanyaku sedikit ragu“ya aneh, aku juga suka banget sama novel itu. Shinta juga suka, dia sering ngabahas novel ini di e-mail tapi kenapa ya saat aku tanya langsung sama dia kemaren dia seolah ga pernah tau tentang love story.dan juga saat aku panggil dia princess dia ga ngebales manggil aku pangeran. Aneh kan.”Radit mulai curiga dengan Shinta.Aku langsung buru-buru mengambil novel itu dari Radit, aku ga mau Radit tau keadaan yang sebenarnya. Sambil bersiap pamit pulang aku berbicara.“mungkin Shinta ingin ngetes kamu, apa dia masih ingat atau ga sama kebiasaannya.” jawabku sembari meninggalkan Radit. Saat itu kulihat Radit bingung. Sebenarnya Radit ingin bertanya banyak tentang Shinta padaku tapi aku keburu pergi.Radit, mungkinkah kamu tau bahwa itu semua adalah aku. Akulah yang kau kira Shinta, akulah yang selalu berbagi cerita tentang lovestory. aKu lah yang memanggilmu pangeran, dan aku lah princessmu. Semua itu aku yang lakukan. Maafkan aku Radit, bukan maksudku membohongimu, ini semua demi Shinta. Aku tau kamu cinta Shinta, begitu juga Shinta. Mana mungkin aku harus menghancurkan hubungan kalian. Lebih baik aku yang sakit.Semenjak kejadian ditaman aku sedikit menghindari Radit, aku takut Radit bertanya macam-macam lagi. Jadi sebisa mungkin kuhindari suasana berdua dengan Radit. Kecuali saat ada Shinta, seolah memang tak terjadi apa-apa.**********Kau adalah darahkuKau dalah jantungkuKau adalah hidupkuLengkapi diriku, oh sayangku kau begitu sempurna……….. Kunyanyikan lagu kesukaanku saat kusendiri ditaman, lagu ini sangat berarti karena lgu ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat ku sayang siapa lagi kalau bukan Radit. Aku dan radit sangat kenal betul dengan lagu ini, karena sangat sering aku memutar lagu ini ketika dunia maya menjadi jembatan untuk aku berbagi cerita, begitu juga dengan Radit. Lagu ini adalah lagu kita bersama. Tanpa terasa airmataku menetes, ada perasaan sedih saat harus aku tau kenyataan bahwa Radit tidak mengenaliku. Dia masih saja mengira bahwa Shinta lah yang selama ini bersamanya di tiap malam.“Ri…aku sudah tau semuanya.”suara Radit tiba-tiba mengagetkanku. Ternyata Radit sudah dari tadi ada dibelakangku. Aku bingung apa yang Radit katakan barusan, apa yang dia tau. Atau jangan-jangan…..tapi tidak mungkin, dari mana dia tau. Shinta ???? batinku mulai bertanya-tanya.“hei dit, sudah lama kamu disini?”tanyaku agak sedikit gugup“aku tau ri, aku sudah tau. Lebih baik kamu jujur padaku.”radit mencoba mendesakku“maksud kamu apa dit, aku ga ngerti deh. Apa yang kamu tau.”jawabku seolah tidak tau apa-apa. Persaaanku semakin gugup dan gelisah, aku takut Radit memang sudah mengetahui semuanya. Aku takut mengecewakan Shinta.“aku tau bukan Shinta yang ngebales semua e-mailku, bukan shinta yang selama ini menemaniku. Tapi itu semua kamu ri. Kamu Mentari az zahra, yang selalu ngebales e-mailku. iya kan ri, jawablah.” Radit mendesakku.Aku hanya terdiam, aku tak tau harus berbicara apa. Ternyata radit sudah tau semua. Tapi dari mana dia tau, bukankah Shinta sudah tidak berniat lagi untuk menceritakan hal ini.“dari mana kamu menganggap kalau semua ini aku yang lakukan,.” kataku mencoba menyangkal“semua bukti udah jelas ri, love story, dunia maya, bakso kesukaanmu, dan lagu tadi. Apa itu ga cukup jelas buat aku tau semuanya.” Radit terlihat kecewa.“maaf dit, bukan maksudku membohongimu, ini semua karena Shinta. Shinta yang menyuruhku melakukan semua ini. Awalnya aku berniat untuk menghentikannya, tapi ternyata aku ga bisa, karena aku merasa nyaman saat aku bisa berbagi denganmu.” jawabku dengan suara parau, airmataku menetes.”maaf dit, bukan maksudku menghancurkan hubungan kalian, anggap saja ini semua tak pernah terjadi. Kembalilah pada shinta seolah memang dia yang selama ini kamu kenal bukan aku.”“kenapa kamu ga mau jujur dari awal kita ketemu ri, aku kecewa sama kamu dan Shinta.”“saat itu aku berniat untuk jujur, tapi waktu pertama kita ketemu kamu sudah lebih dulu mengenali Shinta dengan “princessmu” itu. Bukan aku yang kamu kenal. Sejak saat itu ku urungkan niatku.” kutatap wajah Radit sekilas lalu balik berpaling memandang bunga mawar yang tumbuh indah disamping taman.“maafkan aku ri, aku ternyata tidak mengenalimu, aku ga memahamimu saat itu. Tapi ri, sampai kapanpun aku masih nyaman dengan princessku itu dan itu kamu, bukan Shinta.” Radit menggenggam tanganku, menatapku tajam.“maksud kamu..??? bukankah kamu cinta sama Shinta?”tanyaku heran pada Radit“aku memang suka sama Shinta, tetapi aku sadar bahwa rasa sukaku dengan shinta hanya sekedar rasa suka semata. Ternyata yang aku cintai bukan shinta, tapi princess, princess yang selalu menemaniku, princess dengan love storynya, dan itu kamu. Saat aku bersamamu aku merasa nyaman, seolah aku sedang berbicara dengan princess. Dan sekarang aku tau bahwa memang benar apa yang kurasakan, kamu adalah princessku. Aku mencintaimu ri.” kata Radit “tapi dit, bagaimana dengan Shinta, mana mungkin aku harus menghancurkan hati Shinta. aku merasa tidak enak hati apabila Shinta tau semua ini.”kulepaskan genggaman tangan ku dari tangan Radit“aku tau ri, tapi aku juga ga mau terus-terusan membohongi shinta. Jujur selama ini aku kurang nyaman saat bersamanya. Banyak ketidakcocokan yang aku rasakan. Tidak seperti saat bersamamu.” terang Radit.Aku begitu bingung, dilema rasanya. Disatu sisi aku merasa bahagia karena Radit juga ternyata mencintaiku tapi disisi lain rasa bersalah kepada shinta bersarang. Bagaimana perasaan shinta saat dia harus tau semua ini. Apakah harus kurelakan Radit untuk Shinta, atau kuterima cinta Radit ini. Semua ini terasa ga adil, aku ga mau hanya karena masalah cinta persahabatan ini hancur.“terimalah cinta Radit, ri….. jangan kecewakan dia. Aku tau dia cinta kamu.” suara Shinta tiba-tiba mengagetkan kami berdua. Ternyata shinta mendengar pembicaraan kami dari belakang.“maaf Shin, bukan maksudku kaya gini.” kataku meyakinkan Shinta. Kuhapus airmataku dan kujauhi Radit.“tenang Shin, aku ga kan marah ko sama kamu. Justru aku bahagia karena akhirnya semua ini bisa terjawab dengan sendirinya. Aku tak perlu lagi berbicara yang sebenarnya kepada radit. Dan tentang perasaanku sama Radit, sama halnya seperti Radit ternyata aku hanya mengagumi Radit. Tapi tak bisa untuk menyelaminya. Kami berdua ga cocok. Terlalu banyak perbedaan yang ada pada kita, dan sekarang aku relakan Radit menjadi milikmu karena aku tau kamulah yang terbaik buat Radit.” Shinta tersenyum dan menghampiriku. Shinta memelukku menyatakkan kebahagiaannya.“makasih Shin, aku ga tau harus ngomong apa sama kamu.” aku merasa bahagia dengan penuturan Shinta, ternyata shinta ga marah. Dan semuanya jelas sudah.“Mentari Az Zahra….maukah kamu menjadi pacarku…?” tiba-tiba radit bersimpuh didepanku dengan memberikan bunga mawar merah.Dengan hati yang berbunga-bunga serta senyum yang terus mengembang dari bibirku. Ku jawab pertanyaan Radit itu.“Radit Bagas Pramandha, aku bersedia menjadi pacarmu.” ku ambil mawar merah yang dipegang Radit sebagai tanda penerimaan.“terima kasih princess…” Radit langsung memelukku“sama-sama pangeran.”senyumku berkembang Shinta yang melihat kami hanya tersenyum dan menggoda kami.“ehem udah dulu dong berpelukannya, jadi iri neh. Hehehehe,”shinta menggoda kami.Ternyata persahabatan ini masih terus berjalan, walau kini aku dan Radit resmi berpacaran tapi hal ini ga mengubah kebersamaan kami. Aku, Radit dan Shinta pun berpelukan. Kami habiskan waktu malam ini bertiga, memandang bintang dilangit yang bersinar indah. Akhirnya love story ini berakhir indah. Sang pangeran kini telah menemukan princess. Tak ada lagi keraguan di hati sang pangeran. Dunia ini seakan berbunga-bunga, keindahan menghampiriku karena cinta yang kupendam kini tlah terpaut sempurna. Dan ternyata kamu……….. I LOVE U RADIT……………………..THE END……………….PENULIS;Nama : Mentari SenjaEmail : pichasilvia@yahoo.comfb : chika_lupi@live.com

  • Cerpen Remaja ‘FCMCSG’ Part 2

    CerpenFCMCSGBagian 2 Cerpen FCSCMG karya Mia Mulyani bagian kedua. Monggo langsung di baca. Credit Gambar : www.desainkawanimut.comcerpenBegitu pak Retno melangkah keluar meninggal kan kelas, Feisya segera menghampiri meja Sarah. Tau tuh tu anak mo ngapain dari tadi saat belajar justru malah nge'sms buat berengan pulangnya."Ada apaan?" tanya Feisya to the point."Loe keluarnya bareng gue. Tunggu bentar. Gue beresin buku – buku gu dulu"."Emang nya kita mau ke mana?" tanya feisya lagi."Ke parkiran bentar"."Ha?. Mo ngapain?".sebagian

  • Melati Ini Untukmu Kawan

    Melati Ini Untukmu Kawanoleh: Triana Aurora Winchester – Air mata ini tak hentinya mengalir di wajahku yang tertunduk lemas memandangi gundukan tanah merah pemakaman yang hampir merata. Rangkaian melati segar yang sengaja kubawa jauh jauh dari kota asalku Kendal pun kini ikut layu seakan menandakan akhir dari sebuah janji dan harapan indah untuk kembali bertemu.Aza, seorang kawan yang telah merubah penilaian rendahku selama ini tentang pria. Sebelum aku mengenal Aza, aku selalu menganggap semua pria itu sama, tak ada yang berhati dan berotak, dan hanya dalam masa dua bulan kebersamaanku dengan Aza, hidupku kini telah banyak berubah ke arah yang lebih baik.Aku bertemu dengan Aza kira-kira tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 januari 2010, saat kami sama-sama menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah TV komunitas yang berada di daerah Magelang.Aza datang dari Medan, sedangkan aku asli jawa tengah, jadi seringkali perbedaan kata dan logat bicara menjadi hal yang baru dan lucu bagi kami.Tak ada yang spesial di awal perkenalanku dengan Aza, karena waktu itu pun aku menganggap Aza tak lebih dari pria bodoh, namun ternyata, waktu yang singkat telah mampu merubah anggapan itu..Airmata bagiku adalah hal yang mustahil untuk hilang dari hidupku, dan kawan, tak lebih dari lawan yang bersembunyi dibalik senyuman yang sewaktu-waktu dapat menciptakan lebih banyak air mata.Seperti waktu itu, saat semua anggota kelompok tugas filmku tak ada yang bertanggung jawab dengan tugasnya masing masing, sedangkan posisiku waktu itu adalah ketua kelompok yang paling bertanggung jawab atas jalannya produksi film yang ditugaskan oleh bapak Tanto, pembimbing PKL kami.Kelemahanku adalah ketidak tegasanku, dan menangis adalah hal tak berguna yang ku ketahui namun tetap kulakukan karena hanya itu yang bisa kulakukan dalam ketidak berdayaanku, itu pendapatku yang dikatakan bodoh oleh Aza,"Bodoh kali kau! jalan pikiranmu itu tak secerdas naskah yang kau buat!!" ucap Aza dengan nada tegas dan bijak saat tiba-tiba menemuiku yang sedang menyendiri dan menangis di belakang studio tv."Mereka susah kali diaturnya Za.." jawabku lemas.Aza lalu memetik tiga buah bunga melati yang banyak tumbuh di belakang studio, Ia lalu memberikannya satu kepadaku."Ni makan, kau suka melati kan…?" pintanya dengan serius, aku bingung, aku memang sangat suka melati, tapi aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk memakannya."Ah gila kau! orang lagi stres gini disuruh makan melati!" jawabku kesal."Itulah kau, hanya mau menikmati keindahan dan wanginya saja.., padahal ada kenikmatan yang luar biasa jika kau mau merasakannya.." ucap Aza sambil memakan satu melati, Ia mengunyah melati itu dengan santainya lalu menelannya. Aku hanya melihatnya dengan terbengong."Ih, kau gila..! kan rasanya pahit…!!" ucapku pada Aza."Sok tau kau! emang kau pernah makan melati?" tanyanya dengan santai. Aku hanya menggelengkan kepala."Terus darimana kau tau kalau melati ini pahit..?" lanjut Aza, akupun tak mampu menjawabnya karna memang aku tak tau."Itulah yang membuat dirimu selama ini gak happy, kau hanya melihat segala sesuatunya hanya dari sudut pandang yang mudah terlihat tanpa mau melihat yang tak terlihat, padahal disitulah kau akan menemukan makna dan hikmah dari semua masalahmu..dan kau selalu memvonis buruk semua yang sebenarnya belum kau ketahui kebenarannya.." jelas Aza dengan penuh kedewasaannya yang membuatku terkagum-kagum tapi tetap tak mengerti maksud dari kata-katanya."Maksudnya? aku gak mudeng.." tanyaku dengan tampang blo'on.Aza lalu membuka telapak tangan kananku dan memaksaku menerima satu melati yang tersisa ditangannya."Kau makanlah melati ini, baru kujelasin ntar.." jawab Aza, Ia lalu pergi meninggalkanku.Sejak hari itu aku dan Aza sangat dekat, meski aku dan Aza memiliki adat yang jauh berbeda, namun kedewasaannya dan cara berpikirnya yang bijak telah membuatku merasa nyaman saat aku bersamanya. Diapun kuanggap sebagai abangku sendiri. Azalah yang selalu menemukanku saat menyendiri dan menangis. Ia selalu menenangkanku dengan kata-katanya yang bijak meski tak kumengerti.Dan tibalah saat menyedihkan yang tak ingin kulalui namun itu tetap terjadi, itulah saat perpisahanku dengan Aza. Tak terasa waktu dua bulan telah berlalu, dan kami harus kembali ke jalan hidup sebelum kami bertemu. Aku harus kembali ke Kendal untuk melanjutkan sekolahku, begitu juga dengan Aza.Pagi itu aku sengaja menjauh darinya agar tak ada air mata perpisahan, namun itu hanya sia-sia, Aza kembali menemukanku di belakang studio."Kenapa belum pulang kau??!!" tanya Aza yang mengagetkanku."Kau ngusir aku??" jawabku kesal. Aku berusaha menahan airmataku agar tidak keluar dan dilihat Aza, tapi nampaknya Aza sudah tau. Ia lalu duduk disampingku, satu tetes air mata tak mampu ku kendalikan dan mengalir di pipiku, saat aku ingin segera mengusapnya dengan tanganku, tiba-tiba Aza mencegahnya."Kalau mau nangis ya nangis aja, mungkin ini adalah saat terakhir kita ketemu.." Ucap Aza dengan serius, matanya tajam menatapku, memang tak ada air mata di sana, namun kesenduan itu terlihat jelas di wajahnya. Akupun tak bisa lagi membendung air mataku yang akhirnya ku biarkan keluar.Aza hanya diam membiarkanku menangis, Ia lalu memetik dua melati dan memberikannya satu untukku."Ini permintaanku yang terakhir kali.., makanlah.." pintanya kepadaku. Aku menerima melati itu, namun aku menggelengkan kepala tanda aku tak mau memakannya."Aku mau makan, tapi kau harus janji kalau kita bisa ketemu lagi…" pintaku dengan penuh air mata."Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?" jawab Aza. Aku tak mengerti kata-katanya. Aza lalu tersenyum dan mengacungkan jari kelingking kanannya tanda berjanji, Akupun lalu mengkaitkan jari kelingking kananku dengan Aza, dan kami pun berjanji."Ntar kau yang harus datang ke Medan, dan bawakan aku melati asli Kendal, akan kucoba gimana rasanya, kita makan melati bersama nanti.." ucap Aza sambil tertawa, meski kesenduan itu masih terlihat jelas di wajahnya. Aku pun ikut tersenyum, dalam hati aku berjanji akan memenuhi permintaannya."Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan kuberi, adakah jalan yang kau temui, untuk kita kembali lagi.." itu adalah lagu koes plus yang sering Aza nyanyikan untukku, dan hingga kini, aku sangat menyukai lagu lawas itu, hampir setiap hari aku melihat rekaman video saat Aza menyanyikan lagu itu.Tak terasa sudah 3 tahun aku berpisah dengan Aza, sejak satu bulan setelah kami berpisah, Aza sama sekali tak bisa kuhubungi, awalnya aku berpikir dia sibuk, tapi hingga kini Aza tak pernah memberiku kabar.Pagi itu, saat aku melihat video rekamannya, aku teringat dengan satu permintaannya agar aku mau makan melati. Aku pun segera menuju halaman rumahku, ada satu pohon melati yang tumbuh di sana, aku lalu memetik satu melati yang sudah mekar, kucoba mengambil satu kelopak bunganya dan perlahan kumasukkan ke mulutku, awalnya terasa pahit, tapi setelah aku mengunyahnya rasanya menjadi sangat berbeda dan tak bisa kuungkapkan dengan kata ataupun tulisan. (kalau kalian mau coba aja sendiri..hohoho). Aku lalu teringat janjiku untuk datang ke Medan dan membawakan melati asli Kendal untuknya.Entah apa yang merasuki hati orang tuaku, tiba-tiba saja mereka langsung mengijinkanku untuk berlibur ke Medan pada liburan semester tahun ini. Aku pun sangat senang dan tak sabar menanti hari itu, tak lupa aku juga membawakan melati yang kurangkai spesial untuk Aza.Akhirnya kuinjakkan juga kakiku di kota Medan ini, dan Aku segera menuju ke alamat yang dulu diberikan Aza sebelum kami berpisah. Kurang lebih satu jam dari bandara, aku sampai di sebuah rumah yang bercat dinding serba putih. Aku lalu mengetuk pintu rumah itu, tak berapa lama keluar seorang wanita paruh baya membukakan pintu untukku, ku pikir itu ibunya, dan ternyata itu memang benar ibunya.Aku lalu memperkenalkan diriku dan menyampaikan maksud kedatanganku untuk menemui Aza. Tiba-tiba ibu Aza menangis."Dulu Aza sering cerita tentang kamu, dia bilang, bertemu denganmu telah memberikan warna yang berbeda disisa waktunya…" ucap ibu Aza sambil mengusap air matanya dengan sebuah tissue. Aku bingung."Dulu??? emang sekarang Aza kemana??" tanyaku dengan penasaran.Ibu Aza tak berkata apapun, Ia lalu mengantarkanku ke sebuah tempat dan meninggalkanku sendiri di sana agar aku bisa leluasa memarahi Aza yang tak menepati janjinya."Kau kenapa jahat kali sama aku..!! kau janji kalau kita pasti akan ketemu lagi, kau minta aku datang ke Medan, sekarang aku udah datang Za…, aku juga sudah bawakan melati yang banyak asli dari Kendal untuk kita makan bareng, Melati ini Untukmu Kawan.. Kau jangan diam aja Za..!! bangunlah..!!!" ucapku pada satu raga yang hanya diam bersembunyi dibalik gundukan tanah merah.Air mataku tak hentinya mengalir, aku tak percaya Aza telah tiada, radang paru-paru telah menghancurkan sebuah janji dan harapan untuk kembali bertemu.Aku lalu memakan melati yang kubawakan untuk Aza meski sudah agak layu,"Kau lihat kan Za, aku udah makan melati ini, kau juga mau kan? ini.." Aku lalu menaburkan semua melati yang kubawa di atas pusara Aza."Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?"Ternyata memang Tuhan lebih dulu ingin bertemu dengan Aza, dan aku yakin pertemuan itu pasti lebih indah daripada pertemuanku dengan Aza.-THE END-NB : Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, tokoh, dan peran itu hanya kebetulan semata.by: Triana Aurora Winchester

  • Cerpen Remaja King Vs Queen~09

    Sesuai perjanjian kalau Lepi nya udah bisa conect ana lanjutin postingan King Vs Queen nya. Makanya sekarang lanjutannya muncul. Lagian kayaknya cerpen terbaru karya mia mulyani udah ada lagi nie. Ha ha ha, Tu anak emang rajin nulis si. Kalau cerpen karya ku, Hemz no coment deh. Lagi males nulis cerpen soalnya #ditendang.Gak lah, yang bener itu lagi nggak sempet buat nulis cerpen. Soalnya ana lagi sibuk di dunia nyata. Kalau nulis pun tetep yang di tulis bukan cerpen, Palingan cuma coretan – coretan nggak jelas.Banyakan bacod mendingan juga langsung baca Cerpen Remaja King Vs Queen part 9 nya. Tinggal satu part lagi bagian ending.Credit Gambar : Ana MeryaPaginya selesai sarapan mereka semua siap-siap mau keliling-keliling hutan, sambil membawa tas untuk membawa bekal makanan seandainya mereka telah lelah berjalan. Setelah semuanya siap mereka pada berkumpul didepan tenda.Niken mengenakan tas ranselnya dan melirik tina yang terus nempel sama Gilang seperti permen karet yang membuat Niken jadi sebel.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*