Kenalkan aku pada cinta ~ 06 | Cerpen Remaja

Kenalkan aku pada cinta _ part 06. Oke sodara sodara semua, berharap aja cerpen ini nggak bernasip sama kaya Cerpen The prince, the princess and mis. Cinderella. Tau nggak kenapa?. Idenya melenceng jauh lho. Jauuuuh bangets. Kayaknya efek galau yang di alamin adminnya beberapa hari ini nular ke cerpen deh. Mana laptopnya masih eror juga lagi. Hufh. #MendadakCurhat_ditabok.
Tapi diatas semua itu, menulis acak acakan alias merubah rubah jalan cerita kayaknya udah jadi bakat adminnya sedari dulu. Iya nggak?. So, buat yang baca nikmatin aja lah. ~ Cihuiy
Dan biar nggak bingung, untuk part sebelumnya bisa langsung di cek disini.

Kenalkan aku pada cintaAstri tertegun saat melihat tatapan Andre yang terjurus padanya. Entah apa yang di dalam pikiran pria itu. Ia juga tidak tau. Ekspresi yang tergambar sulit di tebak. Tepatnya, ia tidak bisa menebaknya.
"Dari tadi gue perhatiin, kok kak Andre cuma liatin kita. Ada yang aneh ya?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Alya membuyarkan lamunan Asri. Kepalanya refleks menoleh kearah Alya yang masih menanti jawaban dari Andre. Namun yang ditatap masih membisu, membuat Astri kembali diam diam melirik kearahnya dan menyadari kalau pria itu ternyata sama sekali tidak mengalihkan tatapan darinya.
"Ih, kak Andre ngelamun ya?"
Suara lantang Alya kali ini membuat Andre tersenyum. "Mana mungkin gue ngelamun. Entar kalau ayam tetangga pada mati gimana?. Siapa yang mau tanggung jawab coba?".
Sejenak Alya mengerutkan kening heran, barulah pada detik selanjutnya tawa lebar lepas dari bibirnya.
"Kak Andre bisa aja nih bercandaannya."
Astri melirik sekilas kearah sahabatnya yang tampak tertawa bahagia. Berbanding balik dengan rautnya waktu pertama kali muncul tadi. Hal ini mau tak mau meningatkan Astri pada kalimat terakhir yang Alya ucapkan padanya. Walau sebelumnya ia sempat pura pura tidak mendengar. Jadi gadis itu benar – benar menyukai Andre?.
"Baru datang?" Andre mengalihkan perhatian sambil bertanya singkat. Kepala Alya dengan cepat mengangguk membenarkan.
"Kakak sendiri sedari tadi ngapain. Gue perhatiin lho kalau sedari tadi itu kakak cuma berdiri diem disini."
Lagi – lagi Andre tersenyum sambil mengeleng berlahan. Bahunya sedikit terangkat sambil berujar "Nggak ada."
"Oh ya, kalian masih mau mengobrol ya. Kalau gitu gue duluan ya. Soalnya gua masih ada urusan. Da…"
Tanpa menunggu kalimat balasan Astri langsung melangkah berlalu. Setengah berlari malahan. Sejujurnya ia sendiri juga tidak mengerti, yang ia tau saat ini ia ingin segera pergi dari situ, walau ujung ujungnya ia sendiri juga bingung. Ia harus kemana? Apa harus langsung kekelas, lantas kalau seandainya nanti Alya juga kesana dia mau jawab apa? Karena sibuk melamun tanpa sadar saat tepat di belokan koridor ia menabrak seseorang.
"Aduh" Astri mengaduh saat merasakan sakit di pantatnya karena langsung mendarat di lantai yang dingin.
"Busyet, udah pake kacamata tetep aja rabun."
Astri yakin, kalau kalimat yang ia dengar lebih dingin dari lantai yang kini didudukinya. Kepalanya menoleh yang langsung bertatapan dengan seseorang yang entah siapa namanya yang kini sedang berdiri tepat di hadapannya sambil menatapnya lurus.
"Jelas jelas yang jatuh itu gue, kenapa loe yang marah marah" Gerut Astri sambil bangkit berdiri.
"Nah, itu lebih aneh lagi. Elo yang nabrak kok loe yang jatuh."
"Iya deh, gue yang salah, gue yang jatuh dan sekarang gue yang minta maaf. Puas loe" sahut Astri tampak tak iklas.
"Tentu saja tidak. Loe nggak liat tuh, buku buku gue berantakan. Buruan bantuin,"
Mata bening Astri tampak berkedap kedip. Bergantian menatap antara buku yang berserakan dan orang yang di tabraknya yang kini sedang berjongkok mengumpulkan buku – bukunya. Tanpa perlu di suruh dua kali Astri segera melakukan hal yang sama.
"Loe mau dagang buku ya? Banyak amat bawaannya?" tanya Astri tanpa menoleh.
"Emang kalau gue dagang di sini bakal laku? Ada ada aja loe. Udah jelas ini buku dari perpus."
"Jawabnya santai aja kali, marah marah gitu jodohnya jauh tau."
"Ha ha ha"
Astri menoleh, menatap makhluk yang kini sedang tertawa di hadapannya tanpa berkedip. Tawa itu…
"Ehem, Fajar."
Bukannya menjawab Astri malah mengerutkan kening melihat tangan yang terulur di hadapannya. Apa apan itu? Ngajak kenalan?.
"Loe nggak mau menyambut uluran tangan gue?"
"Astri" balas Astri akhirnya.
"Oh jadi nama loe Astri. Oke lah Astri, berhubung loe udah bantuin gue ngumpulin buku ini loe nggak keberatan kan kalau sekalian bantuin gue bawa ke perpus. Mau gue balikin soalnya."
"Ya?" Astri tampak bingung.
Tapi Fajar hanya angkat bahu sambil berdiri. Tanpa kata ia melangkah, membuat Astri mau tak mau mengikutinya walau tak urung mengerutu dalam hati. Apa apaan orang itu, menyuruhnya seenaknya.
"Ah ma kasih ya karena udah bantuin," kata Fajar sambil melangkah meninggalkan perpus, Astri berjalan disampingnya sambil membenarkan letak kacamatannya. Tidak menjawab hanya kepalanya saja yang mengangguk membenarkan.
"Ngomong – ngomong loe pinjem buku sebanyak itu buat apaan?" tanya Astri lagi.
"Ya buat di baca donk. Serius, gue nggak tertarik buat jualan" Balas Fajar setengah bercanda.
"Bisa aja loe" kali ini Astri tersenyum. Sepertinya ia telah melupakan insident tadi.
"Jurusan apa?."
"Akuntansi smester III" balas Astri, membuat kepala Fajar menangguk angguk. "Loe?"
"Oh kalau gitu kita satu angkatan. Cuma gue jurusan Teknisi Komputer."
"Teknisi?."
Walau bingung melihat raut terkejut di wajah Astri namun tak urung kepala Fajar mengangguk membenarkan.
"Kalau gitu pinter komputer donk."
"Nggak pinter sih, cuma ngertilah. Kenapa?" Fajar masih tampak bingung.
"He he he" bukannya langsung menjawab Astri justru malah tersenyum misterius, membuat Fajar semakin bingung melihatnya.
Kenalkan aku pada cinta
"Jadi laptop loe eror?" tanya Fajar sambil tangannya sibuk mengotak atik benda elektonik di hadapannya. Sementara Astri hanya mengangguk membenarkan. Saat ini keduanya sedang duduk di taman belakang kampus seusai kuliah.
"Iya, Loe kan anak IK. Harus nya tau donk, kenapa bisa eror gini."
"Yah, ini si kena Virus."
"Kalo itu gue juga tau, yang gue nggak tau itu solusinya. Biar nggak eror lagi gimana?".
Fajar tidak langsung menjawab tapi tangannya masih sibuk mengklik sana sini dengan tatapan lurus kedepan, sama sekali tidak menoleh kearah Astri.
"Kalau mau simple si sebaiknya di instal OS ulang."
"Jangan donk" sahut Astri cepat, secepat yang bisa ia lakukan. Membuat Fajar untuk kali ini menoleh.
"Ehem, maksut gue. Kalau bisa di benerin dulu tanpa di instal ulang bisa nggak?" terang Astri kemudian.
"Bisa si harusnya. Cuma…."
"Ya udah kalau bisa mending di benerin aja. Oke?" potong Astri lagi. Membuat Fajar mengerutkan kening bingung. Namun bukan kata tanya yang meluncur dari mulutnya, justru malah kepalanya yang mengangguk membenarkan.
"Baiklah, tapi mungkin rada lamaan. Nggak papa?"
"Di jamin lepi gue bener, gue nggak masalah sama waktu."
"Ha ha ha, terus imbalannya apa nih."
"Belum juga bener loe udah minta imbalan" gerut Astri sambil memajukan mulutnya. Melihat itu Fajar tak mampu menahan diri untuk tidak tertawa. Entah dapat ilham dari mana, yang jelas menurutnya kali ini Astri benar benar terlihat imut dengan reaksi seperti itu.
"Oke lah, gimana kalau seandainya laptop loe bener loe traktir gue makan siang?"
"Loe makannya banyak nggak?" bukannya menjawab Astri justu malah balik bertanya.
"Yah, sekarang coba liat. Disini siapa yang perhitungan coba."
Astri tersipu malu mendengarnnya. Cepet cepat pasang senyum jari tiga kelinci (??).
"Baiklah, jadi kalau seandainya laptop gue nanti bener, gue traktir loe makan siang di kantin kampus kita. Oke?"
"Deal," Fajar langsung mengangguk mantap tanpa perlu befikir lagi.
“Okelah kalau begitu, laptopnya gue bawa ya. Ntar kalau udah bener gue balikin ke elo,” Kata Fajar kemudian.
“Tunggu dulu,” tahan Astri cepat. “Emang harus di bawa ya?” tanya Astri sedikit ragu.
Fajar tidak langsung menjawab. Untuk sejanak ia tampak menghembuskan nafas sembari berujar. “Kan tadi gue udah bilang kalau benerin nya rada lama. Mana mungkin gue kerjain disini. Jelas aja gue bawa pulang. Gimana sih?”
Astri terdiam. Benar juga. Fajarkan tadi sudah mengatakannya. Tapi kan…
“Atau loe nggak percaya sama gue?”
“Loe bisa di percaya kan?” bukannya menjawab Astri malah balik bertanya.
“Kalau sedari awal aja loe udah ragu kenapa loe masih nanya sama gue?”
Astri yakin kalau pembicaraan ini di teruskan yang ada akan menjadi ladang tanya – tanyaan tanpa jawaban.
“Oke ginilah. Gue percaya kok. Lagian tampang loe nggak ada cocok cocoknya jadi penjahat” kata Astri sambil memperhatikan penampilan Fajar dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat yang ditatap merasa risih dan balik bertanya.
“Maksut loe?”
“Ya secara muka loe kan rada baby face. Imut – imut gimana gitu, terkesan sedikit feminim dan….”
“Tunggu dulu. Ini kenapa jadi ngomongin muka gue?” potong Fajar terdengar memprotes, lagi lagi Astri membalas dengan senyum tiga jari andalannya.
“Udahlah. Sedari tadi loe protes mulu. Gue beliin rok juga ni lama lama," sungut Astri. "Jadi bantuin kan? Tapi awas ya, jangan buka buka folder file gue,” Sabung Astri dengan nada mengancam.
“Emangnya kenapa? Loe nyimpen film bokep ya?”
“Duak”
Fajar hanya mampu mengaduh sembari mengusap – usap kepalannya yang berdenyut nyeri. Matanya menyipi kesel kearah Astri yang tersenyum tanpa rasa bersalah. Bahkan justru malah terlihat puas setelah sebelumnya mendaratkan jitakan di kepalanya.
“Sembarangan aja loe kalau ngomong. Sory ya, gini gini gue selalu menjaga pandangan tau.”
“Nggak yakin gue” gumam Fajar lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengar Astri. Dan sebelum sempat gadis itu kembali membalas ucapannya, ia sudah terlebih dahulu buka suara.
“Sekarang mana alamat rumah loe.”
“Ya?” tanya Astri dengan pandangan bingung.
“Berhubung besok hari minggu, kampus kita kan libur. Jadi, kalau laptop ini udah beres otomatis harus gue antar kealamat rumah loe kan?”
“O, bentar” Astri tampak mengelurkan nota kecil dari dalam tasnya. Setelah menuliskan alamat disana ia segera menyodorkannye kearah Fajar.
“Yakin loe besok laptop gue udah beres?” tanya Astri.
“Nggak yakin sih. Tapi gue usahain. Oke?”
Dan kali ini Astri hanya membalas dengan anggukan.
Ha ha hai, See you in next part aja ya. Kita To Be Continue dolo. Untuk info seputar blog bisa di ikuti melalui fanpage kami di sini.

Random Posts

  • Cerpen Spesial Valentine ‘Karena yang gue suka itu, Elo!!!’

    Halo sahabat Star Night, bentar lagi katanya valentine day ya?. Bukan berarti admin ikut merayakan makanya admin bikin posting beginian. Hanya saja, sayang aja kalau moment setahun sekali ini di lupakan gitu aja. So seperti beberapa tahun kebelakang, admin selalu bikin cerpen special valentinnya. Yang pertama “Sepotong choklat untuk Nanda” dan tahun kemaren ada “ Cinta ku berawal dari facebook”, Nah kali ini “Karena yang gue suka itu, elo”. Ide dadakan yang benar – benar di ketik secara mendadak. Penasaran? Check this out….cerpen spesial valentineWalau mata Kharisya menatap lurus kedepan, namun pikirannya kali ini jelas bercabang – cabang entah kemana. Sesekali tangannya terangkat memijit kepalanya yang tak jarang malah ia ketuk – ketuk (???) dengan menggunakan pena. Hal yang ia lakukan kalau pikirannya sedang kusut.Gumpalan kertas yang mengenai kepala sebelum kemudian mendarat diatas meja sontak membuat kepala Kharisya menoleh. Matanya terhenti pada mata Arvin yang duduk selang beberapa meja di belakang yang kini sedang menatap kearahnya. Menjadi petunjuk kalau ia adalah pelakunya. “Kenapa?” Tanya Kharisya dengan gerak bibir, namun Arvin tetap diam. Hanya memberi isyarat kepada gadis itu untuk mengambil kertas yang ia lemparkan.‘Gue tau loe itu emang udah Oon dari sononya, tapi kalo loe terus – terusan mukulin kepala loe, gue jamin, loe pasti makin Oon. Jadi selaku sahabat yang baik and pinter, mending loe cerita ada apaan. Kali aja gue bisa nambahin.’Kharisya tak mampu menahan diri untuk tidak memutar mata ketika menyelesaikan membaca kalimat yang tertera. Dengan kesal di remasnya kertas tersebut, dan langsung ia lemparkan kekepala Arvin tanpa perlu membalas kalimatnya."Loe kenapa si? Kusut banget tu muka kaya belon di strika?" tanya Arvin sambil berusaha mengejar Kharisya yang sudah duluan melangkah pulang tanpa memperdulikan dirinya."Ya ela, masih marah karena tulisan gue tadi. Sory deh, gue cuma bercanda. Loe kan tau gimana gue, masa gitu aja loe marah.""Ya ampun Arvin, beneran mati deh gue sekarang.""YA?" Arvin melotot kaget. Bukan kaget karena ucapan Kharisya barusan, tapi kaget karena Kharisya tiba tiba berhenti melangkah dan langsung berbalik padanya. Membuatnya hampir saja menubruk tubuh gadis itu jika tidak segera mengerem kakinya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Hanya mata yang saling bertatapan sampai kemudian Kharisya buka mulut."Dan kenapa muka loe bisa tepat didepan muka gue, loe mau nyium gue?"Dan jitakan pun mendarat dikepala Kharisya sebagai jawaban."Semabarangan," damprat Arvin sambil menarik diri. "Lagian kan loe yang salah, ngapain sih loe pake berhenti tiba tiba?""Oh iya ya, gue yang salah," gumam Kharisya sendiri sembari berbalik melanjutkan langkahnya. Sama sekali tidak menyadari reaksi sahabatnya atas tindakannya barusan."Ehem, tapi ngomong ngomong loe mati kenapa?" tanya Arvin.Lagi lagi Kharisya menghentikan langkahnya. Untunglah kali ini Arvin sudah berjalan disampingnya. Matanya menatap kearah Arvin dengan tampang memelas, dan kemudian muluncurlah cerita itu dari mulutnya. Tadi siang ia bertemu dengan Abel, anak kelas Ipa yang telah sekian lama menjadi saingannya. Kharisya sendiri tidak tau, kenapa selama ini gadis itu selalu mencari gara gara dengannya, sampai kemudian tadi siang ia menemukan jawabannya. Ternyata gadis itu menyukai Arvin, seseorang yang selama ini berstatus sahabat karibnya. Dan karena kedekatan mereka selama ini membuat Abel sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendekati orang yang disukainya.Demi untuk membantah tuduhan bahwa ia menyukai sahabatnya, Abel menantang Kharisya untuk membuktikan. Bahwa tepat pada hari Valentine besok, Kharisya harus sudah bisa menunjukan siapa kekasihnya. Dan sebagai taruhannya, jika Kharisya menang, maka Abel tidak boleh menganggu dirinya. Sebaliknya, bila Kharisya kalah, ia harus menjauhi Arvin. Memberi kesempatan pria itu untuk bisa dekat dengan gadis lainnya. Karena nyatanya, selama ini Arvin memang hanya dekat dengan dirinya. Sebagai tambahan, siapapun yang kalah harus lari mengelilingi lapangan bola kaki sekolahnya sebanyak 50 kali. Namun yang jadi masalahnya, Valentine hanya kurang dari semingu lagi. Pacar seperti apa yang bisa didapatkan dalam seminggu?"Ini konyol. Keterlaluan," desis Arvin lirih."Iya, gue tau. Ini konyol. Abel emang keterlaluan. Masa gue harus dapatin pacar selama seminggu, udah 17 tahun gue hidup aja gue masih jomblo. belom punya pacar. Ini kan lagi kalau…""Bukan Abel. Yang gue maksut itu loe," potong Arvin sebelum Kharisya menyelesaikan ucapannya."Ya?" tatap Kharisya heran. Dan saat melihat tatapan tajam Arvin, Kharisya baru menyadari kalau pria itu terlihat marah."Loe nyadar nggak sih? Loe baru aja jadiin persahabatan kita sebagai taruhannya?""O… Soal itu… Emp…. Maaf," gumam Kharisya sambil menundukan wajah. Merasa bersalah karenanya.Arvin tampak mengembuskan nafas lelah, lelah dengan tingkah gadis yang berdiri dihadapannya. Kemudian tampa kata, ia segera berbalik. Berjalan meninggalkan Kharisya sendirian."Please donk Arvin. Iya deh, gue ngaku gue salah. Tapi please, jangan marah sama gue ya?" pinta Kharisya sambil mengejar Arvin."Kalo gitu loe harus batalin taruhanya," kata Arvin tegas.Mata bulat Kharisya menatap Arvin lekat. Setelah lama terdiam, kepalanya menggeleng berlahan."Gue nggak bisa.""Kenapa?" tanya Arvin. Rasa kecewa jelas tergambar dari nada bicaranya."Loe tau sendirikan, setelah segede gini. Gue masih belom pernah punya pacar. Gue kan pengen sekali kali kayak cewek lainnya. Apalagi bentar lagi Valentine. Gue pengen ngerasain gimana sih dapat coklat dari orang yang kita suka. Ngabisin malam jalan jalan bareng, bukan cuma jalan sama loe doank.""Jadi selama ini loe nggak suka jalan sama gue?" lagi lagai Arvin berasumsi. "Bukan itu. Loe jangan salah paham," potong Kharisya cepat. "Hanya saja…""Udah deh Kharisya, terserah loe aja," potong Arvin. Kali ini pria itu benar – benar berlalu meninggalkan gadis itu sendirian."Hanya saja gue berfikir, Abel ada benarnya. Loe nggak akan bisa deket sama cewek lain kalau loe terus terusan deket sama gue," gumam Kharisya lirih. Selirih kalimat yang hanya bisa di dengar hanya oleh dirinya.Dua hari telah berlalu sejak taruhan yang Kharisya katakan, Arvin sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Setiap didekati, pria itu selalu menghindar. Bahkan, siang itu. Yang biasanya Arvin selalu makan siang bersamanya, kali ini pria itu malah terlihat makan siang bersama Abel. Mebuat Kharisya benar – benar kesel karenanya. Ho ho ho, Bukan. Bukan karena cemburu. Tapi ia kesel karena jika Arvin tidak suka dengan taruhannya, harusnya Arvin juga menghindari Abel. Bukan hanya dirinya. Toh, yang bertaruh mereka berdua. Kenapa Arvin jadi pilih kasih begitu.Karena merasa cukup kesel, Kharisya membatalkan niatnya untuk makan. Memilih meninggalkan kantin diikuti lirikan Arvin diam – diam."Dasar Arvin rese. Emangnya temen cuma loe doank. Lagian kalo emang mau deket – deket sama Abel kenapa nggak nunggu seminggu lagi aja sih. Toh, gue belom tentu juga menang. Huh, bikin kesel aja," geritu Kharisya sepanjang perjalanan. Dan karena keasikan melamun, tak sadar ia malah menabrak seseorang yang berjalan dihadapannya yang kebetulan sedang membawa tumpukan buku ditangannya. Membuat buku – buku itu berserakan dilantai. Dengan cepat Kharisya berjongkok, membantu mengumpulkan buku bukunya. Tepat saat Kharisya ingin mengambil buku bersampul merah jambu, sebuah tangan juga secara bersamaan mengambilnya. Dan akibat kontak fisik itu, Kharisya menoleh. Kurang dari sejengkal, wajah pria tampan ada dihadapannya.Sesak napas, itu rasanya. Jantung berdebar keras, melanda dadanya. Kharisya sama sekali tak mampu mengalihkan tatapan darinya. Dan untuk pertama kalinya Kharisya percaya kalau 'Love At First Sight' benar ada.Cerpen Spesial Valentine“Arvin, tunggu,” Kharisya nekat merentangkan kedua tangannya. Berdiri tepat di hadapan Arvin yang sedang duduk di atas motornya.“Kali ini loe harus dengerin gue. Loe nggak boleh menghindar lagi. Karena gue punya kabar bagus buat loe.”“Apa?” tanya Arvin.“Soal taruhan itu…”“Loe membatalkannya?” potong Arvin cepat.Kepala Kharisya mengeleng berlahan sembari mulutnya menjawab. “Bukan. Tapi gue udah nemuin orang yang bisa gue jadiin pacar. Namanya Revan, malaikat penyelamat gue. Orangnya tinggi, baik, keren, cakep. Dan dia…”“Loe bilang itu berita bagus?” lagi – lagi Arvin memotong kalimat Kharisya sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya.“Tentu saja,” angguk Kharisya cepat walau dengan raut bingung. Ia benarkan? Tentu saja itu kabar gembira. Bukankah Arvin marah karena persahabatan mereka akan terancam. Kalau sekiranya ia kalah taruhan, maka ia harus meninggalkan pria itu. Tapi tentu lain ceritanya jika ia berhasil menang.“Minggir,”“Eh,” bahkan Kharisya sama sekali tidak di beri kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi. Yang jelas jika terlambat sedetik saja dia untuk menyingkir, sudah di pastikan motor Arvin akan langsung menabraknya. Dan saat Karisya menyadari apa yang terjadi, Arvin sudah jauh meningglakannya. Membuat Kharisya menatap melongo karenanya. Apa yang barusan itu bukan termasuk dalam kategori percobaan pembunuhan?Sehari sebelum Valentin tiba, Kharisya kembali menemui Arvin. Kali ini pria itu sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah sambil membaca buku di tangannya. Membuat Kharisya sedikit heran. Ini untuk pertama kalinya Arvin sendirian. Biasanya kan ia selalu bersama Abel. Dan saat Kharisya menghampiri, Arvin hanya meliriknya sekilas.“Gue nggak tau kenapa sampe sekarang loe menghindari gue. Tapi gue tetep akan ngasih tau loe, kalau nanti malam. Gue akan nembak Revan.”Hening, sepi, Arvin tampak masih larut dalam bacaannya. Tidak memberikan reaksi yang berarti. Sementara Kharisya masih berdiri dengan keterpakuannya.“Okelah, gue cuma mau ngomong itu doank,” selesai berkata Kharisya berbalik. “Bruk,” terdengar suara buku yang di tutup dengan keras. Sebelum Kharisya menyadari apa yang telah terjadi, Arvin kini sudah berdiri tepat dihadapannya dengan tatapan tajam yang terjurus kearahnya.“Loe? Apa loe yakin mau melakukan ini?”Yakin? Kharisya mengeleng. “Enggak, tapi gue harus!”“Kenapa?”“Karena setidaknya harus ada yang berakhir bahagia bukan?”Arvin mengernyit bingung. Tidak mengerti akan maksut kalimat yang di dengarnya barusan. Tapi Kharisya hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tanpa ada niat untuk menjelaskannya lebih lanjut. Dan tanpa kata gadis itu segera berlalu meninggalkan Arvin dengan keterpakuannya.cerpen spesial valentine“Ma kasih ya Van, untuk malam ini. Dan ma kasih juga, karena loe udah ngantarin gue pulang,” kata Kharisya sambil melepaskan helm yang di kenakannya dan segera menyodorkannya pada Revan.“Sama sama, dan soal yang tadi…”“Santai aja. Nggak usah di fikirin,” potong Kharisya sambil tersenyum. “Mau masuk dulu?”“Nggak usah deh. Ini sudah malam,” tolak Revan sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir pukul sepuluh tiga puluh.“Ya sudah. Kalau gitu gue pulang dulu ya.”“Iya. Hati – hati,” balas Kharisya sambil mengantar kepergian Revan dengan tatapannya.“Astafirullah,” refleks Kharisya mundur selangkah ketika ia berbalik dan menyadari entah sejak kapan Arvin sudah berada di belakangnya.“Arvin, loe ngapain disini malam – malam?” tanya Kharisya langsung, tapi Arvin tidak segera menjawab. Pria itu diam saja, hanya tatapannya yang tidak pernah lepas dari wajah Kharisya.“Loe udah jadian sama dia?” “Ya?”“Jawab gue, apa loe udah jadian sama dia?” tanya Arvin mengulang pertanyaannya. Dan Kharisya sama sekali tidak menyadari raut kecewa yang begitu mendalam di wajah Arvin saat melihat sebuah senyum yang diiberikannya.“Atau loe bisa tidak menjawabnya,” sambung Arvin lagi. Mendadak ia merasa ragu. Ragu untuk mendengar jawaban itu. “Sory, ganggu loe. Gue pulang sekarang,” selesai berkata Arvin segera berbalik.“Gue pasti kelihatan konyol banget ya kan?”Langkah Arvin terhenti, tapi ia belum memutuskan untuk berbalik.“Tadinya gue menerima tawaran itu cuma buat seru seruan. Sekalian gue pengen nyari jawaban atas pertanyaan yang nggak pernah sanggup gue lontarkan,” untuk sejenak Kharisya berhenti. Setelah terlebih dahulu menghela nafas mulutnya kembali berujar. “Apa artinya gue buat loe. Dan kenapa sampe sekarang, loe nggak pernah deket sama cewek manapun. Dan seandainya gue nggak ada di sisi loe, apa yang akan loe lakukan?”“Maksut loe?” tanya Arvin. Kali ini ia telah berbalik dan menatap bingung kearah Kharisya.“Yang gue suka itu elo.”Arvin melongo. Tidak tau harus menajawab apa. Sejujurnya ia sendiri masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.“Tapi loe tenang aja. Loe bisa tetep deket sama Abel kok. Kayak yang gue bilang tadi siang, setidaknya ada yang bahagia bukan? Gue nggak akan menghalangi loe kalau loe emang suka sama Abel. Lagian gue nggak jadian sama Revan, secara siapa juga yang mau langsung pacaran ketika baru kenal belum juga seminggu. Tapi tetep, itu artinya gue kalah taruhan, dan gue akan tetep penuhi peraturannya. Oke.”“Bodoh!”“Ya?”“Loe cewek paling bodoh yang pernah gue kenal!”“Ha?! Gue? ” kali ini Kharisya membentak sebal sambil menujuk wajahnya sendiri.Bodoh? Mengaku perasaannya pada orang yang di sukainya dan bahkan merelakan pria itu untuk bersama dengan cewek lain diangap bodoh? Sialan. Tapi tunggu dulu, itu beneran tindakan bodoh bukan si? Tapi kan yang di drama drama korea biasanya gitu? Baiklah, itu pendapat nggak penting. Lupakan.“Kalau emang yang gue suka itu Abel, kenapa sekarang gue disini?”“Ah iya. Bener. Tadi kan itu yang gue tanyain. Loe ngapain kesini?” tanya Kharisya seolah baru sadar.Bukannya menjawab, Arvin justru malah mengulurkan tangan yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Dan kini sebuah kotak berukuran sedang kini terulur di hadapan Kharisya.“Ini apa?”“Buka aja,” kata Arvin sambil tersenyum.“Choklat?” gumam Kharisya setelah membuka kotaknya. Matanya menatap Arvin, menuntut penjelasan darinya.“Loe bilang, loe pengen ngerayain valentin bareng orang yang loe suka. Loe juga bilang loe pengen dapatin choklat. Jadi….”“Terus Abel? Bukannya loe suka itu dia? Kenapa choklatnya malah loe kasih ke gue?”“Karena yang gue suka itu elo”Lebih dari sekedar sejak nafas, lebih dari sekedar jantung yang berdebar. Kali Kharisya malah merasa kalau ia telah terbang ke awang – awang. Melang tingi setinggi angannya selama ini. Orang yang ia suka ternyata juga menyukainya?“Jadi maksut loe…?” Kharisya masih terlihat tidak percaya.“Maksut gue, gue juga suka sama loe. Dan kita,…”“Gue menang taruahan,” potong Kharisya dengan raut wajah berbinar.Arvin terdiam. Matanya mengamati Kharisya dengan kening berkerut. Tunggu dulu jangan bilang kalau gadis itu….“Jadi loe seneng karena loe menang taruhan?”“Tentu saja. Untung gue nggak nurutin saran loe buat ngebatalin. Gue ngerasa sekarang itu kayak dapat durian runtuh tau nggak sih. Gue menang taruhan,loe tau itu artinya apa? Gue nggak harus ngejauhin loe, Abel nggak akan ngerecokin gue lagi. Dan besok dia harus ngelilingi lapangan bola kaki 50 kali. Ha ha ha, tepar – tepar deh tuh anak,” senyum Kharisya membayangkan apa yang kini ia dapatkan. Bahkan ekpresinya sama sekali tidak terpengaruh dengan pelototan kesel Arvin padanya.“Dan diatas semua itu. Sekarang gue udah punya kekasih baru,” mata Kharisya menatap lekat kearah Arvin sambil tersenyum, senyum yang menular. Karena Arvin kini juga tersenyum, saat itulah Kharisya menambahkan kalimatnnya“Kekasih ku, sahabatku. Sweet happy valentine day.”Ending……~ Admin Lovely Star Night ~

  • Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 16

    Wah, baru ngeh kalo ini tu udah part 16 tapi belom end juga. Ngalahin rekord nie kayaknya. Bahkan The prince, the princess and mis. cinderela juga kalah. But gak papa deh, selama masih mau nulis nulis aja lah. Sejujurnya saia sendiri juga gak tau, Ni cerpen satu bakal end di part berapa. Tapi di usahain nggak lebih dari 20.Oke lah happy reading ya. Buat yang belum baca part kemaren, Baca dulu gih di Cerpen Cinta Romantis Take my heart part 15. "Bukan kah sudah cukup jelas?".Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu….."Kalau saat kita sedang berduaan, Memakan bakso itu bisa menyebapkan kematian"."Ha" Mulut Ivan melongo. Jelas Terlihat seperti orang bodoh. Ia tidak salah dengar kan?. Apa Kalimat barusan benar benar baru keluar dari mulut Vio?.sebagian

  • GOOGLE ANALYTICS

    Udah Pernah denger istilah Google Analytick belom?… Yang sering berjalan – jalan di rumahnya mbah Google pasti udah pada tau donk…. walau pun demikian kali ini saya akan mencoba untuk menshare sedikit tentang google analytics ini.Tapi sebelum itu ada yang merasa aneh nggak?. kok tumben saya menshare yang ginian?… he he he, itu karena di sini ada nyangkut-nyangkut nama saya gitu………… T_T.Oke lah langsung aja. Google Analytics ini adalah salah satu fasilitas gratis yang disediakan oleh google *Hem, Saya kan paling demen ma yang gratis – gratis, Apa lagi kalau makan?sih malah curhat*. lanjut…. faslitas ini sangat bermanfaat bagi para webmaster dan para pebisnis online untuk memantau optimalisasi situs, baik situs yang berbasis blog maupun website biasa. sebagian

  • Cerpen Romantis: MY YOUNG STEP FATHER?

    MY YOUNG STEP FATHER?oleh Putri Permatasari Donna muncul ke permukaan kolam renang dengan anggun. Tungkai kakinya yang panjang dan langsing diayunkannya untuk menaiki tangga kolam. Ia mengambil handuk kimononya di kursi dan memakainya, lalu menyisir rambutnya yang lurus panjang dengan jemarinya yang lentik. Saat akan mengambil crush lemon lime, Donna baru menyadari keberadaan seseorang. “Rafdy.” Donna melangkah mundur, ia menyipitkan matanya. Ia memandangi pria di hadapannya dengan dingin. Diangkatnya wajahnya. “Ibu tidak ada, percuma kau kemari.”Rafdy tetap berdiri di tempatnya. Jasnya berwarna hitam serasi dengan celana panjang hitamnya. Ia tidak memedulikan sikap dingin Donna. “Apakah kautahu Ibumu pergi ke mana, calon anakku?”Donna menggertakkan giginya. Beraninya ia menyebutku calon anaknya! Usiamu hanya beberapa tahun di atasku dan lebih muda dari kakak pertamaku, Dina! Kau lebih pantas menjadi anak Ibuku! maki Donna dalam hati.“Ibu pergi keluar kota.” Donna tersenyum sinis. Ia mengambil crush dan meminumnya. “Kasihan sekali kau. Kau ‘kan kekasih Ibuku, tapi Ibu tidak memberitahumu ia pergi ke mana.”Rafdy mengangkat alisnya tak acuh. “Apakah ia memberitahukan ke kota mana?”“Kau memuakkan! Apakah kau tidak bisa mencari wanita lain? Apakah menurutmu Ibuku yang sudah berusia 47 tahun itu begitu menarik di matamu?” Donna membanting crush ke lantai semen. Napasnya tersengal dan wajahnya memerah karena marah. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.Rafdy berjalan dengan tenang ke arah Donna. Dielusnya pipi kanan Donna dengan punggung tangannya. “Lalu bagaimana? Apakah aku harus mencintaimu, begitu?”Dengan marah Donna mencengkeram tangan Rafdy dengan kuat. “Jaga mulutmu, brengsek!”“Kau yang harus menutup mulutmu.” Dengan mudah Rafdy melepaskan cengkeraman Donna. Diremasnya bahu Donna dengan kasar. Mata Rafdy berkilat marah. “Kau lebih muda dariku. Kau tahu, kau tidak lebih cantik dari Ibumu.” Lalu ia melepaskan Donna dan pergi ke dalam rumah dengan langkah panjang, tegap, dan angkuh. “Dan ingat, jangan membuang-buang minuman.” ujarnya tanpa menoleh.Donna mengentakkan kakinya dengan kesal, melepas handuk kimono sembarangan, dan terjun kembali ke air. Aku harus mendinginkan kepalaku, pikir Donna.*** Di rumah Dina….“Oh, jadi Ibu masih menemuinya?” tanya Dina.Donna mengerang kesal. “Tentu saja! Kak Dina, aku tidak tahu harus bagaimana lagi! Aku…aku kasihan pada Dhena dan Gema, tapi aku juga sayang Ibu!”Dina merangkul adiknya dan mengelus punggungnya dengan sayang. “Tapi kurasa Dhena dan Gema menyayangi Rafdy, dan Rafdy pun sayang pada mereka.”Donna menatap kakaknya sambil mengerutkan kening. “Kakak pun tahu ia hanya ingin uang Ibu! Ia hanya memanfaatkan Ibu!” Donna menahan air matanya dengan menggigit bibir bawahnya. “Kenapa harus Ibu?”Dina mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Aku akan bicara dengan Andi, biar ia menasehati Ibu.”“Suamimu? Kakak, hal ini….”“Donna, Andi tahu apa yang harus dilakukan.”“Baiklah, aku serahkan padamu, Kak.” Donna agak tenang melihat senyum Dina. Lihat saja, Rafdy! Takkan kubiarkan kau memanfaatkan Ibuku!”Dua hari kemudian….“Ibu, jadi kita akan menonton bioskop bersama?” Dhena bersorak riang. Ia merangkul Ibunya. Dhena adalah adik Donna yang berusia 14 tahun.Gema menatap ragu. “Kenapa Paman Rafdy tidak ikut dengan kita, Bu?”Donna melirik Gema kesal. Ia menggigit bagian dalam bibirnya. “Paman Rafdy? Untuk apa ia ikut kalian, Gema?”Retna mengelus rambut Gema dengan sayang. Ia tersenyum pada anaknya yang berusia 12 tahun itu. “Paman Rafdy sedang sibuk. Apa kau rindu padanya?”“Ibu!”Retna memandang Donna. “Sayang, maafkan Ibu.” Retna melirik Gema dan Dhena. “Ayo, Ibu rasa kita harus bergegas, filmnya keburu dimulai.” Retna menggandeng Gema dan Dhena menuju pintu. “Kau yakin kau lebih suka bersama Andre, Sayang? Hm, Ibu yakin itu adalah pertanyaan retoris.” Retna mengedipkan matanya, lalu berlari dengan kedua adik Donna. Mereka naik Starlet Metalik, mobil yang dimiliki Retna setelah Retna lulus SMU, saat ia menikah dengan Ayah Donna.Donna menghempaskan diri ke sofa dan menyetel TV. Beberapa menit kemudian Andre telah duduk di sampingnya. Mereka menikmati DVD yang dibawa Andre. Anime horor Another. Saat Donna sedang tegang menonton Another, tiba-tiba Andre mendorong dan memeluknya ke sudut sofa. Andre bermaksud untuk menciumnya. “Andre, kurasa….”“Ehem. Malam minggu memang mendukung untuk suasana yang romantis.”Donna terkejut. Ia langsung bangkit setelah Andre melompat berdiri. Donna merasa sangat malu. Wajahnya terasa panas dan pastinya memerah sampai telinga. “Apa yang kaulakukan di sini? Bagaimana kau bisa seenaknya masuk?” Donna berdiri, menatap angkuh pada Rafdy.Rafdy mengangkat alisnya ─ Donna tahu, itu kebiasaannya ─ dan balas menatap Donna. “Apa kau tidak tahu? Pintu belakang tidak dikunci. Kurasa Bi Tina lupa menguncinya.” Ia menatap Andre, membuat cowok itu rikuh.“Kurasa sebaiknya kau keluar, Rafdy!”“Donna….” Andre berusaha menenangkan Donna, namun Donna tetap menatap angkuh pada Rafdy.Rafdy melipat lengannya. Malam ini ia mengenakan kemeja pantai dan celana panjang hitam. Rambutnya dipangkas ala Tin-tin. Mau tak mau Donna menyukai penampilan Rafdy. “Andre, sekarang sudah jam setengah sebelas malam. Kurasa remaja seperti kalian tidak baik kencan terlalu malam.” Andre bermaksud menyanggah ucapan Rafdy, namun keduluan Donna, “oh, begitu? Kurasa perbedaan usia kita hanya lima tahun. Kami mau kencan sampai jam berapa pun, itu bukan urusanmu!”“Jelas itu urusanku. Apa kau lupa bahwa aku ini calon Ayah tirimu?”Sebelum Donna sempat membalas kata-kata Rafdy, Andre memegang bahu Donna. “Kurasa benar apa katanya, aku harus pulang.” Andre mengecup pipi Donna ringan lalu tersenyum. “Sampai besok, Donna sayang.” Andre terseyum hormat pada Rafdy, lalu pergi. Donna memandangi kepergian Panther hitam Andre melalui kaca jendela ruang tamu.“Kau takkan pernah menjadi Ayah tiriku. Takkan pernah!” Donna mencengkeram tirai bercorak ikan tropis dengan latar biru laut. Rafdy memutar tubuh Donna sehingga mereka berhadap-hadapan. “Aku melakukan hal itu demi kebaikanmu. Tadi kalian bisa saja lepas kendali.” Suaranya tenang. Matanya yang hitam menatap langsung.Donna membelalakkan matanya. Suaranya bergetar marah saat berkata, “aku bisa menjaga diriku sendiri! Dan kau, Rafdy, Ibu tidak mau melihatmu lagi! Bukankah ia telah memutuskan hubungan denganmu?”Rafdy mengangkat bahu. Ia berjalan ke ruang keluarga dan menonton anime horor Another yang masih diputar . “Retna takkan memutuskan hubungan denganku karena ia sangat mencintaiku. Begitu pun aku.”Cinta? Kau tidak mencintai Ibuku, melainkan harta Ibuku! Dasar brengsek! maki Donna dalam hati. “Apa? Ibuku tidak memutuskan hubungan denganmu ─ oh!” Donna mengerang kesal dan putus asa. Jadi nasihat Kak Andi sama sekali tidak dipedulikan Ibu!“Duduklah, kau tidak mau melanjutkan menonton anime ini?” Rafdy sama sekali tidak peduli akan kepanikan Donna.“Tidak, terima kasih. Aku mengantuk.” Siapa sudi nonton berdua denganmu!“Putih….”“Apa?”“Kulitmu putih walau kau sering berada di bawah terik matahari.”Mata Donna yang cokelat muda menerawang. “ Turunan Ayah….”Rafdy bersandar di sofa empuk berwarna cokelat tua. “Jelas kau tidak menyukai Ayahmu, lalu kenapa kau tidak mau aku menjadi Ayahmu?”“Tidak!” Donna menggeleng. Ia meremas tangan kirinya sendiri sambil menunduk. “Aku memang tidak menyukai Ayahku, sebab ia pergi beberapa saat sebelum Gema lahir. Tapi bagaimanapun, aku tidak ingin kau menjadi Ayah tiriku! Karena kau hanya menginginkan harta Ibuku!”Tiba-tiba Rafdy bangkit dan mendekati Donna. Ia mencengkeram bahu Donna dengan kuat. Matanya menyipit, menyelidik. “Jangan kauucapkan hal itu lagi, kau tahu? Aku bukan orang tolol! Aku sungguh-sungguh mencintainya, dan aku lebih baik dari Ayahmu yang tolol itu!”“Jangan sebut Ayahku tolol!”“Lalu apa? Bodoh?”“Kau…!”Bunyi bel menghentikan pertengkaran mereka. Donna melepaskan diri. Ia memunggungi Rafdy. “Silahkan menemui Ibuku. Tapi ingat, bukan berarti aku menyetujui kalian. Rafdy, jangan hina Ayahku lagi….” Lalu Donna pergi ke kamarnya di lantai atas, sebelum Rafdy membukakan pintu untuk Retna dan kedua anaknya.Donna mengambil foto berbingkai cokelat muda di laci terbawah meja belajarnya. Ia memandangi foto itu: Ibunya yang sedang mengandung, Dina, Donna, dan Dhena yang digendong oleh seorang pria tampan. Ayah jahat! Kenapa meninggalkan kami semua? Hanya karena wanita iblis itu! Air mata Donna menetes. Ia terus merutuki Ayahnya ─ Hery ─ sambil menangis, hingga terlelap di meja belajarnya.*** “Kau terlihat ling-ling, Donna. Ada apa?” Andre menyentuh pipi Donna dengan jemarinya. Ia tersenyum sayang. “Kau bisa menceritakan masalahmu. Apakah tentang Rafdy lagi?”Donna yang sedang bersandar di bahu Andre, mengangguk. Andre merangkul dan menepuk-tepuk bahunya. “Ceritakanlah bila itu membuatmu sedikit lega.”Donna memandang ke sekitar taman kampusnya yang luas, yang dipenuhi mahasiswa dan mahasiwi yang berlalu lalang, bangku taman, dan pepohonan hijau rindang. Ia sedang berteduh di bawah pohon besar bersama Andre. “Apakah selama ini aku salah, Andre? Aku selama ini menganggap bahwa Rafdy hanya menginginkan harta Ibuku, tapi semalam ia bilang ‘tidak’.” Donna mengangkat bahu. “Memang, adik-adikku, kakakku, kakak iparku, terutama Ibuku, tidak terlalu ambil pusing menanggapi anggapanku tentang Rafdy. Mereka menyukai Rafdy. Kak Dina dan suaminya, Kak Andi, hanya menaruh sedikit curiga pada Rafdy. Kurasa kau pun….”Andre mengangkat bahu. “Memang, aku menyukai dan menghormati Rafdy. “ Andre terlihat canggung.“Tapi aku merasa ia tidak sungguh-sungguh mencintai Ibuku…Memang tidak ada buktinya. Malah sebaliknya, Rafdy terlihat sangat menyayangi dan memanjakan Ibuku.”Andre menepuk kedua pipi Donna. “Itu saja sudah cukup ‘kan?” Andre tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.***“Baiklah, kau bisa diandalkan, bukan?”“Ya, Retna.”“Bagus.” Retna cipika-cipiki sekilas dengan Rafdy. “Aku memercayakan urusan kantor dan keluargaku padamu. Sampai nanti!” Retna menaiki Starletnya dengan anggun, melambai, lalu menghilang dari pandangan.Rafdy berbicara dengan Bi Tina sebentar, lalu menaiki Taft hijau tuanya, meninggalkan kepulan asap yang membuat Bi Tina terbatuk-batuk.***“Apa? Ibu keluar kota untuk urusan bisnis lagi?” Donna meminum air dingin setelah selesai makan malam.Bi Tina mengangguk. “Tapi Nona tidak usah khawatir karena Tuan Rafdy akan menemani.”Donna mendengus. “Itulah yang kukhawatirkan. Bilang pada ‘Tuan’ Rafdy, kami tidak butuh perlindungannya.”“Kurasa kalian membutuhkanku.”Gema turun dari kursi dan ber-high five dengan Rafdy. “Aku senang Paman mau menemani kami!” Ia melirik tas hitam bergaris merah di dekat kaki Rafdy. “Bawaan Paman hanya sedikit?”“Ya. Lagipula hanya tiga hari.”“Waktu yang sangat lama.” Donna berusaha keras untuk tidak membentak-bentak dan mengusir Rafdy. Ia tidak ingin dianggap sinting oleh kedua adiknya. Bi Tina sudah tahu bahwa Donna memusuhi Rafdy, pria yang dianggap tertinggi, terganteng, termacho, dan terseksi yang pernah ditemui oleh Bi Tini. “Maksudku, waktu yang amat sangat singkat, Paman Rafdy….”Rafdy berusaha menyembunyikan senyumnya. “Tadinya Paman akan mengajak kalian makan pizza, tapi ternyata sudah telat, ya?”“Kurasa perut kami masih muat, Paman!” Dhena menunjuk perutnya sambil nyengir. “Tambah ice cream?”Tawa Rafdy terdengar memuakkan di telinga Donna. Bohong, kau menyukainya, Donna! Donna menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran sintingnya. Dengan halus Donna menolak ajakan Rafdy untuk makan pizza di Pizza Hut, dengan alasan harus belajar untuk ulangan besok. Beberapa menit kemudian Donna sedang membaca majalah sambil tiduran di kamarnya. Ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Ia cemas memikirkan kedua adiknya. Bagaimana jika kedua adiknya diculik, ditawan, Lalu Rafdy meminta tebusan? Oh, tidak, tidak. Saat ini Donna lebih suka berpikir bahwa Rafdy orang baik-baik, walaupun Donna ragu.Paginya Donna langsung ke kamar kedua adiknya. Donna menghela napas lega melihat mereka tertidur nyenyak. Donna hampir berteriak saat Rafdy menyentuh bahunya. “Kau membuatku terkejut!” Donna menutup pintu kamar Dhena dan Gema lalu berjalan menuju balkon. Ia yakin Rafdy mengikuti di belakang.“Hawanya sejuk.” Rafdy meregangkan ototnya. Donna hanya mengangguk tak acuh. “Donna, aku takkan meminta maaf soal aku menghina Ayahmu, karena ia….”“Karena ia memang tolol yang…yang….” Tangisan Donna teredam oleh pelukan Rafdy. “Lepaskan aku.” Bertolak belakang dengan ucapannya, Donna malah memeluk Rafdy dan ia semakin membenamkan kepalanya ke dada Rafdy yang bidang dan hangat. “Aku benci Ayah!”Lengan Rafdy melingkari tubuh Donna. Ia mengelus bahu Donna lalu memeluknya dengan erat. Rafdy tidak mengucapkan apa-apa untuk menghibur Donna. Hanya memeluk.“Rafdy….”“Ya….”“Aku harus mandi…ada kuliah.”Rafdy melepaskan pelukannya. “Mau diantar?”“Tidak, aku tak butuh.” Donna menatap Rafdy dengan bingung. “Aku tahu, aku merasa nyaman sekaligus tidak nyaman dalam pelukanmu.”“Kenapa?”Ia tidak menjawab pertanyaan Rafdy. Donna malah tersenyum sinis, lalu ia masuk ke dalam.Senyuman menghiasi wajah Rafdy. Ia bersandar di sebuah pilar sambil melipat lengan. “Kalau begitu, aku akan mencari tahu, Manis….” Suaranya nyaris berbisik, dan penuh kerinduan.“Hei, Donna, ada yang jemput, tuh! Rafdy, kata Ibuku. Kau memberitahu akan belajar kelompok di rumahku, Don? Bukankah kau tidak suka pada calon Ayah tirimu itu?”Donna mengerutkan keningnya dan memandang Silvy, temannya. “Tidak, aku tidak memberitahu Rafdy kalau aku di sini. Ini pasti kerjaan Andre!” Donna mengerang kesal. Ia melihat jam di dinding, pukul 20.10. “Aku ‘kan sudah bilang pada Andre kalau kau akan mengantarku pulang, Sil.”Silvy mengangkat bahu. “Apa perlu kukatakan pada Rafdy bahwa….”“Tidak perlu. Donna, ayo pulang.” Rafdy berdiri di muka pintu kamar Silvy. Ia mengenakan sweatshirt biru dongker dan jeans biru pudar. “Selamat malam, Gadis-gadis.” Donna tahu, pasti Silvy terpesona oleh senyuman Rafdy. Dan itu memang benar. Sejak pertama bertemu, Silvy sudah terpesona, seperti halnya Bi Tina.“Rafdy, kami masih belajar, jadi….”“Ayo pulang, Donna.”Dengan kesal Donna merapikan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah Silvy, jadi ia tidak membantah lagi. Dalam perjalanan pulang, Donna menyetel radio keras-keras. “Kau menyetel musik tapi kau tidak menikmatinya.”“Kata siapa?”“Terlihat, tentu saja. Kau memandang keluar jendela, diam, melamun.” Rafdy memindahkan saluran radio. Terdengar alunan lagu yang lembut dan romantis.Donna tidak mencegahnya. Ia menatap keluar ke kegelapan malam. “Lalu apa urusanmu?” tanyanya ketus.Tangan kiri Rafdy menyentuh bahunya dan ia tidak berusaha menghindar. Rafdy mengangkat sebelah alisnya, heran karena Donna tidak menolak. Seperti tadi pagi, saat Rafdy memeluknya, Donna malah balas memeluk. “Donna, apa kau benar-benar membenci Ayahmu?”“Ya.”“Tapi kenapa kau tetap membela Ayahmu? Oh, aku tahu, kau pasti berpikir bahwa orang hina sepertiku tidak pantas menghina Ayahmu.” Suara Rafdy tenang tanpa emosi, hingga membuat Donna menoleh.“Itu salah satunya. Meskipun begitu, dalam lubuk hatiku, aku ingin Ayahku kembali….” Lalu Donna tiba-tiba sadar. Ia menggigit bibirnya dengan kesal. “Aku betul-betul bodoh. Aku tidak pernah bercerita pada siapa pun tentang hal ini, tapi aku malah bercerita padamu!”“Tidak juga pada Andre?”Dengan enggan Donna menggeleng. Dalam kegelapan, Donna dapat melihat senyum Rafdy. “Aku mendapat kehormatan, kalau begitu.”“Ya, yang akan kusesali seumur hidupku.” Donna tersenyum pahit. Seandainya Ayah kembali, pasti Ibu takkan mau menerima. Pasti Ibu masih sangat sakit hati….”*** Seminggu setelah Retna kembali ke rumah, giliran Rafdy yang tugas keluar kota. Pada hari kedua kepergian Rafdy, Rafdy menelepon. “Oh, hai, Paman. Kau masih hidup?”“Sayang sekali, aku masih hidup. Boleh aku berbicara dengan Retna?”“Tidak, ia sedang berbelanja….”“Berikan telepon itu, Sayang.”Donna memberikan telepon pada Ibunya sambil menggerutu lalu pergi ke ruang keluarga sambil membawa majalah yang tadi dibacanya. Beberapa saat kemudian Andre datang ke rumahnya. “Malam minggu ini kau terlihat muram.” Andre duduk di sampingnya dan bermaksud merangkulnya. Tak seperti biasanya, kali ini Donna menolak. “Donna? Kenapa? Kau tak suka aku memelukmu?” “Bukan, aku….”“Apa ada pria lain?”Donna membelalakkan matanya terkejut. “Aku tidak tahu, aku….”“Aku tahu ada yang lain, Donna. Rafdy ‘kan.”“Tidak! Apa kau gila! Dia kekasih Ibuku! Calon Ayah tiriku! Dan aku sangat membencinya!”Andre menenangkan Donna. “Tak perlu marah. Aku tahu Donna, aku peka soal dirimu.”Wajah Donna memerah. Ia memejamkan matanya. Ia menyandar ke punggung sofa, putus asa. Tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegup kencang. “Aku tidak tahu, Ndre. Aku benci Rafdy, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu salah tingkah di dekatnya. Tadi ia menelepon, dan aku kesal. Ia menelepon Ibu, bukan aku.” Donna tertawa putus asa. “Aku sudah gila….” Andre memeluknya. “Andre, maafkan aku….”“Untuk saat ini biarkan aku memelukmu….”*** Terkejut. Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Donna saat ini. Donna ternganga menatap sosok di hadapannya. “Ayah?”Hery memandang Donna, matanya berkaca-kaca. “Kau banyak berubah, Donna. Kau tambah cantik dibanding dua belas tahun yang lalu.”Donna ragu, dengan canggung ia memeluk Ayahnya. “Sepertinya Ayah tambah kurus.”Hery merangkul putri keduanya itu dengan erat dan penuh kerinduan. “Donna, apa kau tidak membenci Ayah?”Donna mundur selangkah. “Waktu itu Ayah khilaf, bukan? Ayah tidak sungguh-sungguh mencintai Tante Utami, bukan?”Hery memandangnya. “Dulu Ayah berpikir bahwa Ayah mencintai Tante Utami. Tetapi setelah beberapa bulan menikahinya, Ayah baru menyadari siapa yang benar-benar Ayah cintai….” Hery menahan tangisnya. “Aku dulu membenci Ayah. Tapi aku selalu memikirkan Ayah. Aku tahu dari Ibu bahwa pernikahan Ayah hanya berlangsung beberapa bulan saja, bercerai, tanpa anak.” Donna menggigit bibir bawahnya. “Kenapa Ayah tidak kembali?”“Setelah Ayah bercerai dengan Tante Utami, Ayah pernah mencoba beberapa kali agar Ibumu menerima Ayah lagi. Namun Ibumu selalu menolak. Dan menurut Ibumu, anak-anak Ayah membenci Ayah, kau dan Dina tepatnya.”Kakak, ada siapa?” Dhena menghentikan langkahnya dan memandang pria yang merangkul kakaknya itu. Ia berusaha mengenali wajah pria itu. “Wajahmu mirip dengan di foto, pria yang menggendongku…apakah…Ayah?”“Dhena Sayang….”Dhena menghambur ke pelukan Hery. “Ayah, kau benar-benar Ayah? Ayah ke mana saja selama ini?”Untuk kedua kalinya, Donna terkejut hari ini. Ia menatap Ibunya. “Apa? Jadi…?”“Ya, jadi beberapa bulan yang lalu Ayahmu kembali menemui Ibu. Dan setelah berpikir masak-masak, akhirnya Ibu menyadari bahwa Ibu masih teramat mencintai Ayah, dan ingin menikah lagi dengan Ayah.” Donna, Dina dan suaminya, kedua orang tuanya, dan Rafdy tengah duduk di ruang keluarga. Dhena dan Gema sudah tidur di kamar mereka karena waktu telah menunjukkan pukul 11.15. “Lalu bagaimana dengan Rafdy? Apakah ia bagian dari sandiwara ini?”“Pemeran utama. Rafdy adalah sahabat Ayahmu, yang mendamaikan kami.” Retna tersenyum pada Hery dan Hery merangkulnya hangat.“Ibu….” Dina yang sedari tadi diam mulai bicara. “Apa maksudnya pemeran utama?”Retna mengangkat bahu. “Mengetes. Apakah kalian ini masih membenci Ayah atau tidak. Ibu takut kalian tidak mau menerima Ayah karena Ibu tahu, kalian tidak menyukai pengkhianatan Ayah seperti juga Ibu.”“Jadi Rafdy turun tangan.” Hery meremas tangan istrinya. “Dan 2 minggu yang lalu, Donna mengakui isi hatinya tentang Ayah. Begitu juga Dina.”Donna memandang pria yang sedang diperbincangkan. Pria itu duduk dengan santai di sofa. Kaki kanannya ditumpangkan di kaki satunya. Matanya yang hitam balas memandang Donna. Ia sama sekali tidak tersenyum. Tiba-tiba ia berdiri. “Oke, kurasa semua sudah beres. Aku harus menyingkir, lagipula sudah malam.” Hery memintanya untuk menginap namun Rafdy menolaknya dengan halus. Donna memandang kosong ke arah Rafdy yang meninggalkan ruang keluarga, diantar Hery, Retna, Dina, dan Andi. Pergi? Menyingkir? Apakah maksudnya Donna takkan bertemu lagi dengannya? Donna merasa dadanya sesak dan tubuhnya gemetar. Ia langsung berdiri dan berlari mengejar Rafdy. Ia sampai menabrak Ibunya di teras depan. Di halaman tempat Taft Rafdy diparkir, Donna menarik tangan pria itu. Napas Donna tersengal dan tak terasa pipinya telah basah. “Aku belum minta maaf padamu! Selama ini aku selalu bersikap kasar!”Rafdy terkejut, hanya sedetik. Ia tersenyum dan menghapus air mata Donna. “Wajar saja. Jika aku jadi kau, kurasa aku akan melakukan hal yang sama.” Rafdy menatapnya lembut. “Baik-baiklah dengan Andre.”“Kami sudah putus.” ujar Donna cepat. Seperti dugaan Donna, Rafdy mengangkat sebelah alisnya. Karena itu Donna meneruskan, “karena ada pria lain….”“Begitu?”“Pria itu…kau, Rafdy.”Kali ini Rafdy benar-benar terkejut. Ia memandang ke teras yang ternyata telah kosong. Wajah Rafdy memerah dan ia berdiri canggung. “Aku tidak tahu harus berkata apa.”Donna tersenyum. Ia mengusap air matanya yang masih terus mengalir. Ia menahan rasa sakit di dadanya. “Aku tahu, kau benar-benar mencintai Ibuku. Sikapmu pada Ibu sepertinya nyata.”“Hei, Nona, jangan sembarangan. Aku menghormatinya, tidak lebih.” Rafdy menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Sebenarnya aku tidak suka untuk mengakui rahasiaku. Sepuluh tahun lalu aku bertemu Ayahmu, dan Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu saat melihat fotomu yang selalu dibawa-bawa Ayahmu.”“Kau bohong!” Jantung Donna berdegup kencang. Rafdy menyelusupkan kedua tangannya ke belakang leher Donna, menyibakkan rambut panjang Donna, dan menariknya mendekat. Angin malam menerpa mereka, membuat Donna menggigil. Rafdy mempererat pelukannya. “Sungguh. Tapi aku agak takut juga saat kau memelototiku sewaktu Retna memberitahukan bahwa kami berpacaran.” Rafdy tersenyum mengingat hal itu. “Apakah kau sungguh jatuh cinta padaku?”“Ya….”“Boleh aku tahu ucapan nyaman tidak nyaman itu?”“Yah, aku merasa aneh…entah kenapa aku merasa nyaman dalam pelukanmu, tapi tentu saja tidak nyaman karena kau pacar Ibuku….” Donna tersipu. Ia mencengkeram kemeja Rafdy. “Tadi kau bilang akan menyingkir? Jangan pergi, Rafdy. Tetaplah di sini.”“Aku hanya pulang ke apartemenku, karena sudah malam.” Rafdy tidak bisa menahan senyumnya. “Yah, tadinya aku berniat pulang ke kota asalku, tapi karena ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan, jadi…aku akan tetap di sini menemanimu.”Donna tersenyum penuh harap. “Sungguh?”“Benar. Kalau begitu, kau mau menjadi kekasihku?”“Mau!” Donna menjawab dengan semangat. “Baiklah, selamat malam.” Rafdy melepaskan pelukannya dengan enggan, karena sebenarnya ia masih ingin memeluk Donna. “Boleh aku mengantarmu ke kampus besok?”Donna mengangguk. “Sampai besok! Oyasuminasai!”“Apa?”“Have a nice dream.” Donna mengecup pipi Rafdy dengan malu-malu, lalu berlari masuk ke dalam rumah.Rafdy terkejut karena Donna mencium pipinya. Ia tersenyum lembut. Ia berbalik dan menaiki Taftnya, lalu melajukan Taftnya dengan santai, sementara dadanya bergemuruh. Yes, akhirnya Donna jatuh cinta padaku! Rafdy tidak bisa tidak tersenyum. Ia bersiul-siul gembira menuju apartemennya. Ia berpikir ia tidak akan bisa tidur, tak sabar menanti hari esok untuk bertemu kembali dengan Donna, gadis yang selama sepuluh tahun ini selalu dirindukan dan hadir dalam setiap mimpi-mimpinya!TAMATNama: Putri PermatasariFb: putri_comics86_ydws@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*