Kenalkan aku pada cinta ~ 06 | Cerpen Remaja

Kenalkan aku pada cinta _ part 06. Oke sodara sodara semua, berharap aja cerpen ini nggak bernasip sama kaya Cerpen The prince, the princess and mis. Cinderella. Tau nggak kenapa?. Idenya melenceng jauh lho. Jauuuuh bangets. Kayaknya efek galau yang di alamin adminnya beberapa hari ini nular ke cerpen deh. Mana laptopnya masih eror juga lagi. Hufh. #MendadakCurhat_ditabok.
Tapi diatas semua itu, menulis acak acakan alias merubah rubah jalan cerita kayaknya udah jadi bakat adminnya sedari dulu. Iya nggak?. So, buat yang baca nikmatin aja lah. ~ Cihuiy
Dan biar nggak bingung, untuk part sebelumnya bisa langsung di cek disini.

Kenalkan aku pada cintaAstri tertegun saat melihat tatapan Andre yang terjurus padanya. Entah apa yang di dalam pikiran pria itu. Ia juga tidak tau. Ekspresi yang tergambar sulit di tebak. Tepatnya, ia tidak bisa menebaknya.
"Dari tadi gue perhatiin, kok kak Andre cuma liatin kita. Ada yang aneh ya?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Alya membuyarkan lamunan Asri. Kepalanya refleks menoleh kearah Alya yang masih menanti jawaban dari Andre. Namun yang ditatap masih membisu, membuat Astri kembali diam diam melirik kearahnya dan menyadari kalau pria itu ternyata sama sekali tidak mengalihkan tatapan darinya.
"Ih, kak Andre ngelamun ya?"
Suara lantang Alya kali ini membuat Andre tersenyum. "Mana mungkin gue ngelamun. Entar kalau ayam tetangga pada mati gimana?. Siapa yang mau tanggung jawab coba?".
Sejenak Alya mengerutkan kening heran, barulah pada detik selanjutnya tawa lebar lepas dari bibirnya.
"Kak Andre bisa aja nih bercandaannya."
Astri melirik sekilas kearah sahabatnya yang tampak tertawa bahagia. Berbanding balik dengan rautnya waktu pertama kali muncul tadi. Hal ini mau tak mau meningatkan Astri pada kalimat terakhir yang Alya ucapkan padanya. Walau sebelumnya ia sempat pura pura tidak mendengar. Jadi gadis itu benar – benar menyukai Andre?.
"Baru datang?" Andre mengalihkan perhatian sambil bertanya singkat. Kepala Alya dengan cepat mengangguk membenarkan.
"Kakak sendiri sedari tadi ngapain. Gue perhatiin lho kalau sedari tadi itu kakak cuma berdiri diem disini."
Lagi – lagi Andre tersenyum sambil mengeleng berlahan. Bahunya sedikit terangkat sambil berujar "Nggak ada."
"Oh ya, kalian masih mau mengobrol ya. Kalau gitu gue duluan ya. Soalnya gua masih ada urusan. Da…"
Tanpa menunggu kalimat balasan Astri langsung melangkah berlalu. Setengah berlari malahan. Sejujurnya ia sendiri juga tidak mengerti, yang ia tau saat ini ia ingin segera pergi dari situ, walau ujung ujungnya ia sendiri juga bingung. Ia harus kemana? Apa harus langsung kekelas, lantas kalau seandainya nanti Alya juga kesana dia mau jawab apa? Karena sibuk melamun tanpa sadar saat tepat di belokan koridor ia menabrak seseorang.
"Aduh" Astri mengaduh saat merasakan sakit di pantatnya karena langsung mendarat di lantai yang dingin.
"Busyet, udah pake kacamata tetep aja rabun."
Astri yakin, kalau kalimat yang ia dengar lebih dingin dari lantai yang kini didudukinya. Kepalanya menoleh yang langsung bertatapan dengan seseorang yang entah siapa namanya yang kini sedang berdiri tepat di hadapannya sambil menatapnya lurus.
"Jelas jelas yang jatuh itu gue, kenapa loe yang marah marah" Gerut Astri sambil bangkit berdiri.
"Nah, itu lebih aneh lagi. Elo yang nabrak kok loe yang jatuh."
"Iya deh, gue yang salah, gue yang jatuh dan sekarang gue yang minta maaf. Puas loe" sahut Astri tampak tak iklas.
"Tentu saja tidak. Loe nggak liat tuh, buku buku gue berantakan. Buruan bantuin,"
Mata bening Astri tampak berkedap kedip. Bergantian menatap antara buku yang berserakan dan orang yang di tabraknya yang kini sedang berjongkok mengumpulkan buku – bukunya. Tanpa perlu di suruh dua kali Astri segera melakukan hal yang sama.
"Loe mau dagang buku ya? Banyak amat bawaannya?" tanya Astri tanpa menoleh.
"Emang kalau gue dagang di sini bakal laku? Ada ada aja loe. Udah jelas ini buku dari perpus."
"Jawabnya santai aja kali, marah marah gitu jodohnya jauh tau."
"Ha ha ha"
Astri menoleh, menatap makhluk yang kini sedang tertawa di hadapannya tanpa berkedip. Tawa itu…
"Ehem, Fajar."
Bukannya menjawab Astri malah mengerutkan kening melihat tangan yang terulur di hadapannya. Apa apan itu? Ngajak kenalan?.
"Loe nggak mau menyambut uluran tangan gue?"
"Astri" balas Astri akhirnya.
"Oh jadi nama loe Astri. Oke lah Astri, berhubung loe udah bantuin gue ngumpulin buku ini loe nggak keberatan kan kalau sekalian bantuin gue bawa ke perpus. Mau gue balikin soalnya."
"Ya?" Astri tampak bingung.
Tapi Fajar hanya angkat bahu sambil berdiri. Tanpa kata ia melangkah, membuat Astri mau tak mau mengikutinya walau tak urung mengerutu dalam hati. Apa apaan orang itu, menyuruhnya seenaknya.
"Ah ma kasih ya karena udah bantuin," kata Fajar sambil melangkah meninggalkan perpus, Astri berjalan disampingnya sambil membenarkan letak kacamatannya. Tidak menjawab hanya kepalanya saja yang mengangguk membenarkan.
"Ngomong – ngomong loe pinjem buku sebanyak itu buat apaan?" tanya Astri lagi.
"Ya buat di baca donk. Serius, gue nggak tertarik buat jualan" Balas Fajar setengah bercanda.
"Bisa aja loe" kali ini Astri tersenyum. Sepertinya ia telah melupakan insident tadi.
"Jurusan apa?."
"Akuntansi smester III" balas Astri, membuat kepala Fajar menangguk angguk. "Loe?"
"Oh kalau gitu kita satu angkatan. Cuma gue jurusan Teknisi Komputer."
"Teknisi?."
Walau bingung melihat raut terkejut di wajah Astri namun tak urung kepala Fajar mengangguk membenarkan.
"Kalau gitu pinter komputer donk."
"Nggak pinter sih, cuma ngertilah. Kenapa?" Fajar masih tampak bingung.
"He he he" bukannya langsung menjawab Astri justru malah tersenyum misterius, membuat Fajar semakin bingung melihatnya.
Kenalkan aku pada cinta
"Jadi laptop loe eror?" tanya Fajar sambil tangannya sibuk mengotak atik benda elektonik di hadapannya. Sementara Astri hanya mengangguk membenarkan. Saat ini keduanya sedang duduk di taman belakang kampus seusai kuliah.
"Iya, Loe kan anak IK. Harus nya tau donk, kenapa bisa eror gini."
"Yah, ini si kena Virus."
"Kalo itu gue juga tau, yang gue nggak tau itu solusinya. Biar nggak eror lagi gimana?".
Fajar tidak langsung menjawab tapi tangannya masih sibuk mengklik sana sini dengan tatapan lurus kedepan, sama sekali tidak menoleh kearah Astri.
"Kalau mau simple si sebaiknya di instal OS ulang."
"Jangan donk" sahut Astri cepat, secepat yang bisa ia lakukan. Membuat Fajar untuk kali ini menoleh.
"Ehem, maksut gue. Kalau bisa di benerin dulu tanpa di instal ulang bisa nggak?" terang Astri kemudian.
"Bisa si harusnya. Cuma…."
"Ya udah kalau bisa mending di benerin aja. Oke?" potong Astri lagi. Membuat Fajar mengerutkan kening bingung. Namun bukan kata tanya yang meluncur dari mulutnya, justru malah kepalanya yang mengangguk membenarkan.
"Baiklah, tapi mungkin rada lamaan. Nggak papa?"
"Di jamin lepi gue bener, gue nggak masalah sama waktu."
"Ha ha ha, terus imbalannya apa nih."
"Belum juga bener loe udah minta imbalan" gerut Astri sambil memajukan mulutnya. Melihat itu Fajar tak mampu menahan diri untuk tidak tertawa. Entah dapat ilham dari mana, yang jelas menurutnya kali ini Astri benar benar terlihat imut dengan reaksi seperti itu.
"Oke lah, gimana kalau seandainya laptop loe bener loe traktir gue makan siang?"
"Loe makannya banyak nggak?" bukannya menjawab Astri justu malah balik bertanya.
"Yah, sekarang coba liat. Disini siapa yang perhitungan coba."
Astri tersipu malu mendengarnnya. Cepet cepat pasang senyum jari tiga kelinci (??).
"Baiklah, jadi kalau seandainya laptop gue nanti bener, gue traktir loe makan siang di kantin kampus kita. Oke?"
"Deal," Fajar langsung mengangguk mantap tanpa perlu befikir lagi.
“Okelah kalau begitu, laptopnya gue bawa ya. Ntar kalau udah bener gue balikin ke elo,” Kata Fajar kemudian.
“Tunggu dulu,” tahan Astri cepat. “Emang harus di bawa ya?” tanya Astri sedikit ragu.
Fajar tidak langsung menjawab. Untuk sejanak ia tampak menghembuskan nafas sembari berujar. “Kan tadi gue udah bilang kalau benerin nya rada lama. Mana mungkin gue kerjain disini. Jelas aja gue bawa pulang. Gimana sih?”
Astri terdiam. Benar juga. Fajarkan tadi sudah mengatakannya. Tapi kan…
“Atau loe nggak percaya sama gue?”
“Loe bisa di percaya kan?” bukannya menjawab Astri malah balik bertanya.
“Kalau sedari awal aja loe udah ragu kenapa loe masih nanya sama gue?”
Astri yakin kalau pembicaraan ini di teruskan yang ada akan menjadi ladang tanya – tanyaan tanpa jawaban.
“Oke ginilah. Gue percaya kok. Lagian tampang loe nggak ada cocok cocoknya jadi penjahat” kata Astri sambil memperhatikan penampilan Fajar dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat yang ditatap merasa risih dan balik bertanya.
“Maksut loe?”
“Ya secara muka loe kan rada baby face. Imut – imut gimana gitu, terkesan sedikit feminim dan….”
“Tunggu dulu. Ini kenapa jadi ngomongin muka gue?” potong Fajar terdengar memprotes, lagi lagi Astri membalas dengan senyum tiga jari andalannya.
“Udahlah. Sedari tadi loe protes mulu. Gue beliin rok juga ni lama lama," sungut Astri. "Jadi bantuin kan? Tapi awas ya, jangan buka buka folder file gue,” Sabung Astri dengan nada mengancam.
“Emangnya kenapa? Loe nyimpen film bokep ya?”
“Duak”
Fajar hanya mampu mengaduh sembari mengusap – usap kepalannya yang berdenyut nyeri. Matanya menyipi kesel kearah Astri yang tersenyum tanpa rasa bersalah. Bahkan justru malah terlihat puas setelah sebelumnya mendaratkan jitakan di kepalanya.
“Sembarangan aja loe kalau ngomong. Sory ya, gini gini gue selalu menjaga pandangan tau.”
“Nggak yakin gue” gumam Fajar lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengar Astri. Dan sebelum sempat gadis itu kembali membalas ucapannya, ia sudah terlebih dahulu buka suara.
“Sekarang mana alamat rumah loe.”
“Ya?” tanya Astri dengan pandangan bingung.
“Berhubung besok hari minggu, kampus kita kan libur. Jadi, kalau laptop ini udah beres otomatis harus gue antar kealamat rumah loe kan?”
“O, bentar” Astri tampak mengelurkan nota kecil dari dalam tasnya. Setelah menuliskan alamat disana ia segera menyodorkannye kearah Fajar.
“Yakin loe besok laptop gue udah beres?” tanya Astri.
“Nggak yakin sih. Tapi gue usahain. Oke?”
Dan kali ini Astri hanya membalas dengan anggukan.
Ha ha hai, See you in next part aja ya. Kita To Be Continue dolo. Untuk info seputar blog bisa di ikuti melalui fanpage kami di sini.

Random Posts

  • Cerpen pendek Sang Idola

    Tau nggak si guys, cerpen pendek sang idola adalah cerpen perdana yang tanpa part atau bagian yang berhasil admin ketik. Makanya itu, penulisan dan ceritanya kacau banget. Pas baca ulang, serius adminnya jadi malu sendiri. :dNah karena itu. Sekalian latihan nulis sama menghargai karya pribadi, admin memutuskan untuk mulai mengedit satu persatu. Istilahnya alon – alon asal kelakon. Oke…Sang Idola“Kalian serius?” Merry masih tidak percaya. Salsa dan keempat temannya baru saja memberi tahu kalau ‘Sagu band’, band idola mereka akan mengadakan konser tepat jam 13:00 siang ini di Taman Cik Puan, Selatpanjang. Masalahnya, jam pulang sekolah adalah jam 12:30 tepat. Itu juga karena ini hari sabtu makanya rada cepet. Biasanya juga pulang jam 14:00an. Tapi masalahnya saat ini keempat temannya malah serentak berencana untuk membolos. Pulang sebelum waktunya.“Ya iya lah,” sahut keempat temennya serentak.“Lagian buat ‘Sagu band’, apa sih yang enggak,” Salsa menambahkan.“Tapi kan konser mulainya jam 13:00 siang, dan kita pulang sekolah juga masih sempet, nggak perlu pake acara bolos segalakan?” Merry masih berusaha menahan.“Sempet gimana? Kita pulangnya aja jam 12:30. Waktu setengah jam mana sempet non buat siap-siap. Pokoknya sekarang kita semua mau pergi. Kalau loe emang nggak mau ikut ya udah. Ayo guys lets go,” ajak Ria kearah ketiga temen-temennya.“Eh tunggu dulu donk, gue kan belum selesai ngomong."“Simpen ja dulu buat besok!” potong Salsa. Tanpa basa-basi lagi mereka meninggalkan Merry yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah temen-temennya.Keesokan harinya, Salsa, Anya, Sisil dan Ria sengaja datang lebih pagi dari biasanya. Merry yang melihat keempat temannya sudah ngumpul tak mampu menahan rasa heran. Tumen – tumbenan. Berlahan ia hampiri, dan lima menit kemudian ia langsung tau alasan mereka datang pagi. Apalagi kalau bukan untuk mendengarkan pengalaman yang mereka dapatkan kemaren saat menonton konser. “Suer Merry, tu cowok pokoknya ganteng banget deh. Coba aja kemaren loe ikut ama kita-kita, pasti loe nggak akan nyesel,” terang Anya semangat banget.“Ia. Anya bener mer, lagian sekali-kali bolos nggak da ruginya kan. Toh selama ini kita semua on time terus,” Salsa tak mau kalah. “0h ya?” cibir Merry.“Sekarang loe bisa nggak percaya gitu. Soalnya loe belum ketemu ma dia.”“Ih nggak banget deh, secara gue udah punya pacar,” kilah Merry cepat.“Dari dulu loe bilang udah punya pacar tapi nyatanya sampai sekarang kita belum kenal,” Anya menimpali.“Ya sorry, secara gue belum punya waktu. Kalian kan tau sendiri pulang sekolah gue harus kerja buat biaya sekolah gue, nggak kayak kalian.”“Iya deh Mer, sorry. Tapi begitu ada waktu loe kenalin sama kita ya,” kata Sisil.“Pasti,” sahut Merry. "Terus kalian pasti tau donk identintas idola kalian. Paling nggak namanya."Anya menggeleng, Ria pasang raut kecewa, sementara Salsa tanpa di minta langsung menjelaskan. "Justru itu Merry, kita belum tau. Soalnya kemaren doi di minta naik kepanggung, trus ikutan nyanyi bareng 'Sagu band’. Suaranya bagus banget, dia emang nggak ngasi tau namanya, tapi dia bilang kalau dia anak kuliahan."“0h ya. Kuliah dimana?” tanya Merry lagi.“Di. . .aduh di mana ya. Kalau nggak salah STIE atau AMIK ya? Gue lupa, soalnya waktu itu pada heboh,” kali ini Sisil yang menjawab.“Tapi itu gampang kok, kita bakal cari tau dimana dia berada. Seperti kata pepatah 'banyak jalan menuju roma', ya nggak friend?” kata Ria meminta dukungan pada teman – temannya yang langsung di balas anggukan kompak tanda setuju.“Terserah kalian aja deh,” Merry angkat bahu. Belum sempat mulutnya menambahkan, bel masuk pun terdengar. Ia segera mengajak semua temen-temennya untuk kembali ketempat duduknya masing – masing. Secara dari tadi mereka ngobrol tepat di depan mejanya. 10 detik setelah kemunculan gurunya, Salsa cs di buat kaget saat dapat pengumuman kalau hari ini di adakan ulangan harian. Mereka bener-bener pusing tujuh keliling, pasalnya mereka nggak ada baca buku sedikit pun mana soalnya sulit banget lagi. Merry juga nggak mau bantuin, yang makin membuat mereka semakin bingung.Setelah bel istirahat terdengar semua temen-temennya datang menghampiri Merry untuk meminta pertanggungjawabanya, karena ia tidak memberi tau mereka kalau hari ini ada ulangan.“Lho bukannya kalian sendiri yang bilang kalau nggak ada ruginya nggak sekolah satu hari?” Merry bela diri.“Ia sih, tapi nggak kayak gini juga. Pasti ancur deh nilai ulangan gue kali ini, mana loe nggak da ngasi jawabannya ma kita lagi,” kesel Salsa.“Iya deh sorry. Gimana kalau sebagai tanda minta maaf gue, kalian gue traktir makan di kantin. Mau nggak?” tanya Merry karena kebetulan ia baru gajian. Tentu saja langsung di setujui sama temen-temennya yang lain, secara jarang-jarang kan ada yang nraktir.“Kalian mau mesen apa?” tanya Sisil begitu mereka tiba di kantin.“Bakso sama es campur aja deh,” jawab Merry.“Kalian?” tanya Sisil kepada temen-temennya yang lain.“Sama," suara kompak setelah sebelumnya saling pandang. Sekedar bahasa isarat yang langsung di tau apa maksutnya.“Jadi, gimana sama idola kalian itu?” tanya Merry sambil menikmati pisang goreng yang ia ambil dari piring di hadapannya sembari menunggu pesanannya datang.“Gimana apa nya?” Salsa mengernyit.“Ya gimana kelanjutanya. Masa kalian semua mau jadi pacar idola kalian. Mau berbagi itu?” terang gadis itu lagi.“Ta nggak lah sembarangan aja, gini-gini kita masih punya harga diri ya,” bantah Ria. Yang lain menangguk membenarkan.“Terus?” tanya Merry.“Gimana ya. Kita juga bingung nih, ntar deh gue mikir dulu buat nyari solusinya,” Salsa ikut-ikutan bingungSementara sang pelayan sudah menghidangkan pesanan mereka di atas meja. Mereka semua makan sambil terus mencari ide.“Gue punya ide,” kta Sisil setelah lama terdiam.“0h ya? Apa?” temen-temennya terlihat diak sabar.“Dengerin ya. Kita semua kan sudah terlanjur naksir sama si doi jadi….”“Kita? Kalian aja kali, gue nggak,” potong Merry meralat.“Ia deh, kami aja. Loe nggak,” Sisil sebel karena ucapannya di potong duluan padahal ia kan belum selesai ngomong.“Udah deh, tadi ide nya apa?” Salsa masih penasaran.“Apa ya? Gara-gara Merry nih jadi lupa,” Sisil garuk-garuk kepalanya yang emang ketombean. “0h ya gini, gimana kalu kita taruhan aja siapa dulu yang bisa menggaet dia jadi pacar salah seorang dari kita. Tapi, permainannya harus sehat nggak boleh pake cara kotor. Terus yang menang harus nraktir kita semua makan gratis kayak sekarang. Gimana setuju nggak?" sambungnya.“Kok yang menang yang nraktir?” Anya terlihat bingung.“Ya iya lah, secara dia kan udah dapetin si doi. Gimana setuju nggak?” jelas Sisil menerangkan.“0 gitu, gue setuju,” sahut Ria tanpa berpikir lagi“Gue juga,” sambung Salsa sama Anya.“Tapi gue nggak setuju. Enak aja anak orang di jadiin taruhan. Ntar kena batunya baru tau rasa loe. Coba gimana kalau ternyata si doi udah punya pacar?” Merry keberatan.“Terus loe punya ide lain? Lagian kalau emang dia punya pacar masa ke konser nggak ngajak pacarnya?” tanya Sisil.Sementara yang di tanya hanya diam, karena ia sama sekali nggak punya ide yang lebih baik."Nah, nggak ada kan, jadi setuju aja deh,” desak Anya.“Ia. Sekalian loe jadi jurinya, secara loe kan yang paling netral,” tambah Ria.“Terserah kalian aja deh” Merry akhirnya nyerah.Sejak saat itu mereka sibuk mencari informasi tentang'sang idola'. Kebetulan Anya nggak sengaja pernah ketemu sama tu cowok di halte yang biasa mereka tumpangi waktu pulang dari jalan jalan. Hanya saja waktu itu nggak sempet kenalan karen tu bus sudah keburu berangkat. Sejak saat itu mereka sering iseng jalan ke sana.Dua minggu telah berlalu, tapi hasil nya tetap nihil karena walau di tunggu sampai hampir malam tetap juga nggak nongol-nongol sehingga mereka hampir saja putus asa.Sore minggu kebetulan Merry libur bersama keempat temannya ngumpul bareng di salah satu kaffe yang sering mereka datangi. Rencananya ia akan memperkenalkan pacarnya pada temen-temennya.Sambil menunggu pacarnya Merry datang mereka asyik ngobrol.“Eh tau nggak sih, ternyata doi itu kuliah dari sore sampai malam. Dan kenapa selama dua minggu ini kita nggak bisa ketemu sama dia? Ternyata itu gara-gara sekarang ini dia lagi libur habis ujian semester,” kata Salsa memulai obrolannya.“0h ya. Loe tau dari mana?” tanya Anya heran.“Dari sopir bus yang biasa ia tumpangi. Abis nya gue penasaran,” jelas Salsa. “Dan katanya besok sore ia sudah masuk lagi, jadi gue pikir itu waktu yang pas buat kira kenalan sama dia,” sambungnya lagi.“Ide bagus tuh. Loe kali ini bisa ikut kan Merry?” tanya Ria.“Yah sayang banget, gue nggak bisa. Gue kan harus kerja. Lain kali aja ya,” sahut Merry merasa tidak enak.“Ya udah lah nggak papa. Toh besok kalau dia sudah jadi pacar salah seorang dari kita pasti di kenalin sama loe kok,” kata Ria.“Tapi ngomong-ngomong pacar loe jam segini kok belum datang ya?” Anya melirik jam tangannya. "Jadi datang kan?"“Tau nih, bentar ya gue telpon dulu. Kali aja dia lagi kebingungan nyari kita. Emang sih tadi gue udah kasih tau tempatnya, tapi kok belum datang juga. Jangan-jangan nyasar lagi,” Merry beranjak dari dari kursinya menjauh dari temennya.Sebelum Merry berhasil meng'calling pacarnya, HP nya bergetar terlebih dahulu. Ternyata SMS dari Allan, pacarnya. Yang mengabarkan kalau ia sudah berada di depan kaffe tersebut.“Eh temen-temen, dia udah ada di depan tuh. Gue jemput dia dulu ya,” pamit Merry, temen-temennya hanya membalas dengan anggukan.“Kira-kira pacarnya Merry kayak gimana ya?” ujar Salsa setelah Merry pergi.“Tenang aja sa, bentar lagi kita semua juga tau kok,” balas Sisil.Tak lama kemudian Merry datang menghampiri mereka bersama seorang pria di sampingnya.“Temen-temen, kenalin ini pacar gue. Namanya Allan, Allan ini temen-temen gue yang pengen gue kenalin ke elo, ini Salsa, Anya, sisil, sama Ria,” kata Merry memperkenalkan pacarnya kepada temen-temennya satu persatu.Untuk sepersekian detik temen-temennya hanya terdiam terpaku. Bahkan Sisil yang kebetulan sedang menyeruput es sirupnya langsung tersedak saking kagetnya seolah nggak percaya akan sosok yang kini berada tepat di hadapannya yang tersenyum manis sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.“Ya tuhan. Dia kan…. 'SANG IDOLA” pekik batin mereka masing-masing.End….Namanya juga cerpen perdana, jadi di maklumi aja deh kalau endingnya masih gaje banget. Terus bahasa sama kosa katanya juga agak gimana gitu. Tapi ya begitulah. Bagaimanapun terima kasih sudah membaca. 😀 Detail CerpenJudul Cerpen : Sang IdolaPenulis : Ana MeryaGenre : RemajaPanjang : 1543 kataStatus : Cerpen Pendek

  • Cerpen Romantis “Take My Heart ~ 09”

    Sambil menyelesaikan laporan bulanan di kostan, iseng nyalain Mp3. Pas di lagunya Jang geun suk ~ Love Rain. Konsentrasi langsung pecah.Memang ya, musik itu selalu bisa jadi inspirasi paling ampuh disaat hati lagi jenuh. Nggak terhitung berapa kali ku ulang – ulang ni lagu, tau – tau, Cerpen Romantis "Take My Heart ~ 09" udah tercipta. Ha ha ha-} Cerpen Terbaru Take My Heart Part 8 Sallang sallang sallang deullye oneun bissoriDugeun dugeun dugeun dugeun tteollye oneun nae gaseumSallang sallang sallang dugeun dugeun dugeunUsansori bissori nae gaseum soriSarang biga naeryeo oneoyo….Nan sarange ppajyeotneI love rain… I love youLalalalalala…PS: Padahal Aku babarblas gak tau artinya lho kecuali baris terakhir. Ha ha ha hasebagian

  • Cerpen Terbaru The Prince Semi Ending

    Sengaja bikin judul begituan biar inget kalo part selanjutnya harus di endingin biar gak ada lagi yang menahan ide baru (???).Yang jelas happy reading. Satu lagi, Kali ini ana gak mau minta maap kalau lanjutannya lama. Soalnya, ana kan juga nggak tau kalau kalian {Reader} beneran ada.Titik…Credit gambar : ana merya"Lagi sedih ya?".Refleks aku menoleh sebelum kemudian kembali menunduk. Merasa sedikit malu saat mendapati sebuah senyum manis di wajah tampan itu. Berbanding balik dengan raut wajah ku yang jelas – jelas berurain air mata."Tadinya aku ingin menawarkan sapu tangan, Tapi sepertinya kau lebih membutuhkan bahuku untuk bersandar".Dan kali tangis ku pecah dan aku benar – benar menangis di bahu."Menangislah, Menangislah sepuasmu. Menangislah sampai kau merasa lega. Aku masih disini untuk membantumu menghapusnya".sebagian

  • cerpen King Vs Queen ~ 04

    Ah lagi lagi saia telat, sama kayak tahun kemaren. Tapi gak papa deh, berhubung kemaren puasanya satu bulan, soo anggap aja lebarannya juga satu bulan (???),. Nah karena itu, saia sendiri Ana Merya selaku admin star night mengucapkan, Minal aidin wal fa izin, mohon maaf lahir dan batin…Oke, kalau begitu lanjut……..Sore itu Niken sedang menonton televisi di ruan tengah, tiba-tiba bel rumahnya terdengar, dengan sedikit lesu Niken malangkah mendekati pintu rumahnya. dan membuka pintunya, tampak di luar ada tiga orang cowok berada di depan rumahnya."Ada apa?" tanya Niken, dengan sedikit cuek tentunya, karena di depannya ada Gilang dan dua orang temannya yang nggax di kenal nya."Yaaaah cewek jadi-jadian yang muncul" kata Gilang pada temen-temennya sambil membuka topi yang tadi di kenakannya, tentu saja Niken kaget mendengarnya."Eh apa loe bilang… berani ea…" kata Niken dengan sebelnya."Siapa dia? cantik banget?" tanya temen Gilang.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*