Kenalkan aku pada cinta ~ 06 | Cerpen Remaja

Kenalkan aku pada cinta _ part 06. Oke sodara sodara semua, berharap aja cerpen ini nggak bernasip sama kaya Cerpen The prince, the princess and mis. Cinderella. Tau nggak kenapa?. Idenya melenceng jauh lho. Jauuuuh bangets. Kayaknya efek galau yang di alamin adminnya beberapa hari ini nular ke cerpen deh. Mana laptopnya masih eror juga lagi. Hufh. #MendadakCurhat_ditabok.
Tapi diatas semua itu, menulis acak acakan alias merubah rubah jalan cerita kayaknya udah jadi bakat adminnya sedari dulu. Iya nggak?. So, buat yang baca nikmatin aja lah. ~ Cihuiy
Dan biar nggak bingung, untuk part sebelumnya bisa langsung di cek disini.

Kenalkan aku pada cintaAstri tertegun saat melihat tatapan Andre yang terjurus padanya. Entah apa yang di dalam pikiran pria itu. Ia juga tidak tau. Ekspresi yang tergambar sulit di tebak. Tepatnya, ia tidak bisa menebaknya.
"Dari tadi gue perhatiin, kok kak Andre cuma liatin kita. Ada yang aneh ya?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Alya membuyarkan lamunan Asri. Kepalanya refleks menoleh kearah Alya yang masih menanti jawaban dari Andre. Namun yang ditatap masih membisu, membuat Astri kembali diam diam melirik kearahnya dan menyadari kalau pria itu ternyata sama sekali tidak mengalihkan tatapan darinya.
"Ih, kak Andre ngelamun ya?"
Suara lantang Alya kali ini membuat Andre tersenyum. "Mana mungkin gue ngelamun. Entar kalau ayam tetangga pada mati gimana?. Siapa yang mau tanggung jawab coba?".
Sejenak Alya mengerutkan kening heran, barulah pada detik selanjutnya tawa lebar lepas dari bibirnya.
"Kak Andre bisa aja nih bercandaannya."
Astri melirik sekilas kearah sahabatnya yang tampak tertawa bahagia. Berbanding balik dengan rautnya waktu pertama kali muncul tadi. Hal ini mau tak mau meningatkan Astri pada kalimat terakhir yang Alya ucapkan padanya. Walau sebelumnya ia sempat pura pura tidak mendengar. Jadi gadis itu benar – benar menyukai Andre?.
"Baru datang?" Andre mengalihkan perhatian sambil bertanya singkat. Kepala Alya dengan cepat mengangguk membenarkan.
"Kakak sendiri sedari tadi ngapain. Gue perhatiin lho kalau sedari tadi itu kakak cuma berdiri diem disini."
Lagi – lagi Andre tersenyum sambil mengeleng berlahan. Bahunya sedikit terangkat sambil berujar "Nggak ada."
"Oh ya, kalian masih mau mengobrol ya. Kalau gitu gue duluan ya. Soalnya gua masih ada urusan. Da…"
Tanpa menunggu kalimat balasan Astri langsung melangkah berlalu. Setengah berlari malahan. Sejujurnya ia sendiri juga tidak mengerti, yang ia tau saat ini ia ingin segera pergi dari situ, walau ujung ujungnya ia sendiri juga bingung. Ia harus kemana? Apa harus langsung kekelas, lantas kalau seandainya nanti Alya juga kesana dia mau jawab apa? Karena sibuk melamun tanpa sadar saat tepat di belokan koridor ia menabrak seseorang.
"Aduh" Astri mengaduh saat merasakan sakit di pantatnya karena langsung mendarat di lantai yang dingin.
"Busyet, udah pake kacamata tetep aja rabun."
Astri yakin, kalau kalimat yang ia dengar lebih dingin dari lantai yang kini didudukinya. Kepalanya menoleh yang langsung bertatapan dengan seseorang yang entah siapa namanya yang kini sedang berdiri tepat di hadapannya sambil menatapnya lurus.
"Jelas jelas yang jatuh itu gue, kenapa loe yang marah marah" Gerut Astri sambil bangkit berdiri.
"Nah, itu lebih aneh lagi. Elo yang nabrak kok loe yang jatuh."
"Iya deh, gue yang salah, gue yang jatuh dan sekarang gue yang minta maaf. Puas loe" sahut Astri tampak tak iklas.
"Tentu saja tidak. Loe nggak liat tuh, buku buku gue berantakan. Buruan bantuin,"
Mata bening Astri tampak berkedap kedip. Bergantian menatap antara buku yang berserakan dan orang yang di tabraknya yang kini sedang berjongkok mengumpulkan buku – bukunya. Tanpa perlu di suruh dua kali Astri segera melakukan hal yang sama.
"Loe mau dagang buku ya? Banyak amat bawaannya?" tanya Astri tanpa menoleh.
"Emang kalau gue dagang di sini bakal laku? Ada ada aja loe. Udah jelas ini buku dari perpus."
"Jawabnya santai aja kali, marah marah gitu jodohnya jauh tau."
"Ha ha ha"
Astri menoleh, menatap makhluk yang kini sedang tertawa di hadapannya tanpa berkedip. Tawa itu…
"Ehem, Fajar."
Bukannya menjawab Astri malah mengerutkan kening melihat tangan yang terulur di hadapannya. Apa apan itu? Ngajak kenalan?.
"Loe nggak mau menyambut uluran tangan gue?"
"Astri" balas Astri akhirnya.
"Oh jadi nama loe Astri. Oke lah Astri, berhubung loe udah bantuin gue ngumpulin buku ini loe nggak keberatan kan kalau sekalian bantuin gue bawa ke perpus. Mau gue balikin soalnya."
"Ya?" Astri tampak bingung.
Tapi Fajar hanya angkat bahu sambil berdiri. Tanpa kata ia melangkah, membuat Astri mau tak mau mengikutinya walau tak urung mengerutu dalam hati. Apa apaan orang itu, menyuruhnya seenaknya.
"Ah ma kasih ya karena udah bantuin," kata Fajar sambil melangkah meninggalkan perpus, Astri berjalan disampingnya sambil membenarkan letak kacamatannya. Tidak menjawab hanya kepalanya saja yang mengangguk membenarkan.
"Ngomong – ngomong loe pinjem buku sebanyak itu buat apaan?" tanya Astri lagi.
"Ya buat di baca donk. Serius, gue nggak tertarik buat jualan" Balas Fajar setengah bercanda.
"Bisa aja loe" kali ini Astri tersenyum. Sepertinya ia telah melupakan insident tadi.
"Jurusan apa?."
"Akuntansi smester III" balas Astri, membuat kepala Fajar menangguk angguk. "Loe?"
"Oh kalau gitu kita satu angkatan. Cuma gue jurusan Teknisi Komputer."
"Teknisi?."
Walau bingung melihat raut terkejut di wajah Astri namun tak urung kepala Fajar mengangguk membenarkan.
"Kalau gitu pinter komputer donk."
"Nggak pinter sih, cuma ngertilah. Kenapa?" Fajar masih tampak bingung.
"He he he" bukannya langsung menjawab Astri justru malah tersenyum misterius, membuat Fajar semakin bingung melihatnya.
Kenalkan aku pada cinta
"Jadi laptop loe eror?" tanya Fajar sambil tangannya sibuk mengotak atik benda elektonik di hadapannya. Sementara Astri hanya mengangguk membenarkan. Saat ini keduanya sedang duduk di taman belakang kampus seusai kuliah.
"Iya, Loe kan anak IK. Harus nya tau donk, kenapa bisa eror gini."
"Yah, ini si kena Virus."
"Kalo itu gue juga tau, yang gue nggak tau itu solusinya. Biar nggak eror lagi gimana?".
Fajar tidak langsung menjawab tapi tangannya masih sibuk mengklik sana sini dengan tatapan lurus kedepan, sama sekali tidak menoleh kearah Astri.
"Kalau mau simple si sebaiknya di instal OS ulang."
"Jangan donk" sahut Astri cepat, secepat yang bisa ia lakukan. Membuat Fajar untuk kali ini menoleh.
"Ehem, maksut gue. Kalau bisa di benerin dulu tanpa di instal ulang bisa nggak?" terang Astri kemudian.
"Bisa si harusnya. Cuma…."
"Ya udah kalau bisa mending di benerin aja. Oke?" potong Astri lagi. Membuat Fajar mengerutkan kening bingung. Namun bukan kata tanya yang meluncur dari mulutnya, justru malah kepalanya yang mengangguk membenarkan.
"Baiklah, tapi mungkin rada lamaan. Nggak papa?"
"Di jamin lepi gue bener, gue nggak masalah sama waktu."
"Ha ha ha, terus imbalannya apa nih."
"Belum juga bener loe udah minta imbalan" gerut Astri sambil memajukan mulutnya. Melihat itu Fajar tak mampu menahan diri untuk tidak tertawa. Entah dapat ilham dari mana, yang jelas menurutnya kali ini Astri benar benar terlihat imut dengan reaksi seperti itu.
"Oke lah, gimana kalau seandainya laptop loe bener loe traktir gue makan siang?"
"Loe makannya banyak nggak?" bukannya menjawab Astri justu malah balik bertanya.
"Yah, sekarang coba liat. Disini siapa yang perhitungan coba."
Astri tersipu malu mendengarnnya. Cepet cepat pasang senyum jari tiga kelinci (??).
"Baiklah, jadi kalau seandainya laptop gue nanti bener, gue traktir loe makan siang di kantin kampus kita. Oke?"
"Deal," Fajar langsung mengangguk mantap tanpa perlu befikir lagi.
“Okelah kalau begitu, laptopnya gue bawa ya. Ntar kalau udah bener gue balikin ke elo,” Kata Fajar kemudian.
“Tunggu dulu,” tahan Astri cepat. “Emang harus di bawa ya?” tanya Astri sedikit ragu.
Fajar tidak langsung menjawab. Untuk sejanak ia tampak menghembuskan nafas sembari berujar. “Kan tadi gue udah bilang kalau benerin nya rada lama. Mana mungkin gue kerjain disini. Jelas aja gue bawa pulang. Gimana sih?”
Astri terdiam. Benar juga. Fajarkan tadi sudah mengatakannya. Tapi kan…
“Atau loe nggak percaya sama gue?”
“Loe bisa di percaya kan?” bukannya menjawab Astri malah balik bertanya.
“Kalau sedari awal aja loe udah ragu kenapa loe masih nanya sama gue?”
Astri yakin kalau pembicaraan ini di teruskan yang ada akan menjadi ladang tanya – tanyaan tanpa jawaban.
“Oke ginilah. Gue percaya kok. Lagian tampang loe nggak ada cocok cocoknya jadi penjahat” kata Astri sambil memperhatikan penampilan Fajar dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat yang ditatap merasa risih dan balik bertanya.
“Maksut loe?”
“Ya secara muka loe kan rada baby face. Imut – imut gimana gitu, terkesan sedikit feminim dan….”
“Tunggu dulu. Ini kenapa jadi ngomongin muka gue?” potong Fajar terdengar memprotes, lagi lagi Astri membalas dengan senyum tiga jari andalannya.
“Udahlah. Sedari tadi loe protes mulu. Gue beliin rok juga ni lama lama," sungut Astri. "Jadi bantuin kan? Tapi awas ya, jangan buka buka folder file gue,” Sabung Astri dengan nada mengancam.
“Emangnya kenapa? Loe nyimpen film bokep ya?”
“Duak”
Fajar hanya mampu mengaduh sembari mengusap – usap kepalannya yang berdenyut nyeri. Matanya menyipi kesel kearah Astri yang tersenyum tanpa rasa bersalah. Bahkan justru malah terlihat puas setelah sebelumnya mendaratkan jitakan di kepalanya.
“Sembarangan aja loe kalau ngomong. Sory ya, gini gini gue selalu menjaga pandangan tau.”
“Nggak yakin gue” gumam Fajar lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengar Astri. Dan sebelum sempat gadis itu kembali membalas ucapannya, ia sudah terlebih dahulu buka suara.
“Sekarang mana alamat rumah loe.”
“Ya?” tanya Astri dengan pandangan bingung.
“Berhubung besok hari minggu, kampus kita kan libur. Jadi, kalau laptop ini udah beres otomatis harus gue antar kealamat rumah loe kan?”
“O, bentar” Astri tampak mengelurkan nota kecil dari dalam tasnya. Setelah menuliskan alamat disana ia segera menyodorkannye kearah Fajar.
“Yakin loe besok laptop gue udah beres?” tanya Astri.
“Nggak yakin sih. Tapi gue usahain. Oke?”
Dan kali ini Astri hanya membalas dengan anggukan.
Ha ha hai, See you in next part aja ya. Kita To Be Continue dolo. Untuk info seputar blog bisa di ikuti melalui fanpage kami di sini.

Random Posts

  • Cerpen sahabat You Are My Everything

    All, pernah dengerin lagunya Fiona Fung yang judulnya u are my everything nggak?. Nah sambil ngetik cerpen ini nggak terhitung udah berapa puluh kali tu lagu di putar berulang ulang, intinya dari awal nulis sampe nge'end you are my everything di jadikan backsound. Eits, tapi jangan salah. Walaupun lagu tersebut yang di jadikan inspirasi, sesungguhnya saia sediri nggak ngerti sama sekali arti liriknya. Kecuali bagian "You Are My Everything" Ha ha ha. Yang jelas, nikmatin aja lah… :DYou Are My EverythingUntuk sebagian orang, kadang baru menyadari betapa berartinya seseorang setelah ia kehilangan,Dan untuk sebagiannya lagi, Bahkan tidak pernah menyadarinya…#URMyEverythingSetelah mematikan laptop dihadapannya, Erika merengangkan tubuh, meluruskan otot ototnya yang terasa kaku karena sedari tadi asik mengetik imaginasi yang sering bermain di ingatannya. Matanya juga sudah terasa berat. Wajar saja, jam yang berada di samping sudah menunjukan hampir tengah malam.Seiring dengan matanya yang melirik jam, tak sengaja pandangannya tertuju pada pigura yang bertenger di sampingnya. Seulas senyum tak mampu di cegah saat membaca tulisan yang melingkari pigura itu. "Tersenyumlah, saat kau meyakini semua akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja".Berlahan tangannya terulur meraih pigura itu, Kado dari Alex saat kelulusan SMAnya dua tahun yang lalu. Matanya menatap lekat sambil tangannya berlahan mengusap kaca tepat di wajah seseorang yang bersamanya di foto tersebut. Alex fernando, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.Seseorang yang selalu menginspirasi dalam setiap tulisannya."Malam Alex, Aku tidur dulu ya," Kata Erika sambil mencium kaca pigura itu sebelum kemudian bangkit berdiri. Beranjak menuju kearah ranjangnya. Memeluk guling dan bersiap untuk terjun kedalam mimpi indahnya.***"Erika, buruan," kata Alek sambil berbalik. Menunggu sahabatnya yang tampak ngos ngosan sambil berlari kearahnya."Heh…Alex….aku….aku udah nggak bisa lari lagi. Cape…." kata Erika begitu berada tepat di depan sahabatnya.Jam sudah menunjukan pukul 7 : 30 lewat. Sementara kelasnya di mulai tepat pukul 07:00 tadi pagi. Gara gara ia yang bangun kesiangan menyebapkan ia harus berlarian setelah turun dari bus yang berhenti di halte tak jauh dari sekolah."Tapi kita sudah terlambat. Ntar kita bakal di marahin sama bu Desti," Alex mengingatkan."Kita bolos aja yuk," kata Erika setengah bergumam."Apa?" "Kita bolos aja yuk. Dari pada kita cape cape udah lari lari gini, tapi tetep aja terlambat dan ujung ujungnya pasti bakal di marahin. Gimana kalau kita bolos aja?" terang Erika kemudian.Alex tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus kearah Erika. Seolah masih tidak yakin akan ajakan gadis itu."Ah, kau benar juga. Kita udah cape lari, tapi entar juga bakal di marahin. Memang sepertinya lebih baik kita bolos saja."Gantian Erika yang menatap tanpa berkedip. Raut heran jelas tergambar di wajahnya. Sejujurnya tadi ia hanya asal berbicara. Tapi bagaimana bisa Alex langsung menyetujuinya."Kalau gitu ayo ikut aku. Sebelum kita ketahuan sama guru yang lain."Tanpa komando lagi Alex langsung menarik tangan Erika tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk protes lagi. Bahkan tau tau mereka berdua sudah terdampar di atas gedung sekolahnya."Ah kau tau. Ini untuk pertama kalinya aku membolos sekolah sejak aku SD sampe sekarang SMA," kata Erika sambil menoleh kesekeliling, menghirup udara dalam dalam. Langit luas ada di hadapannya sementara Alex sudah lebih dulu mendaratkan tubuhnya di lantai."Benarkah?" Alex berujar santai. Setengah meledek tidak percaya, tapi Erika hanya membalas dengan anggukan."Wah, kalau begitu aku benar benar beruntung.""Beruntung?" ulang Erika dengan kening berkerut."Beruntung karena menjadi orang pertama yang menemanimu saat bolos sekolah. Ha ha ha."Dan jitakan pun mendarat telak di kepala Alex sebagai balasannya.Seiring berlalunya waktu Alex memang selalu bersama Erika. Mereka berkenalan saat pertama sekali menginjakan kaki di SMA. Saat MOS lebih tepatnya. Mereka tak sengaja dekat karena entah bagaimana caranya keduanya selalu menjadi target sasaran hukuman kakak kelasnya saat MOS berlangsung.Hingga tiba masa masa sekolah. Kebetulan berlanjut terjadi, karena nyatanya keduanya satu kelas. Bahkan keluarga Alex yang kebetulan baru pindah kekota itu ternyata menetap tepat di depan rumah Erika. Membuat hubungan keduanya semakin dekat."Alex, kau kok keliatannya santai sekali. Nggak takut ya kita ketahuan bolos, padahalkan kita sudah kelas 3. Bentar lagi juga UAN. Kalau sampai ketahuan bagaimana?""Kalau sampai ketahuan palingan juga kita dihukum."Lagi lagi jitakan mendarat di kepala Alex akan jawaban santai yang keluar dari mulutnya."Aduh. Tuhan menganugrahkkan kita mulut untuk bicara. Kenapa kau justru mengunakan tangan untuk mewakilinya," gerut Alex sambil mengusap usap kepalanya. Erika hanya mencibir membalasnya."Lagian kalau kau takut kenapa tadi malah mengajak aku untuk bolos segala?" sambung Alex lagi. Masih merasa sedikit tidak terima."Tadi kan aku hanya bercanda. Mana aku tau kalau kau langsung menyetujuinya dan langsung menarik tangan ku kesini," Erika mencoba membela diri.Sebelah alis Alex tampak mengernyit. Sesaat ia terdiam sebelum kemudian mendongak. Menatap Erika yang berdiri di sampingnya."Kalau gitu haruskah kita kembali ke kelas sekarang?" tanya Alex pasang tampang polos.Kali ini Alex beruntung. Tangannya cepat tanggap. Menahan sebelum kemudian mengenggam erat tangan Erika sebelum gadis itu sempat mendaratkan jitakan di kepalanya untuk jawaban yang ia lontarkan barusan.Untuk sejenak suasana hening. Hanya hembusan angin yang semilir menerpa. Kebisuan yang menenangkan.Sekilas Erika menoleh kearah tangannya. Hal yang sama juga di lakukan oleh Alex sebelum kemudian keduanya saling bertatapan. Dan Erika merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat mata hitam itu memenjarakannya. Mereka memang selalu bertengkar tapi kali ini Erika yakin ada yang beda."Aku hanya takut kita ketahuan," gumam Erika lirih.Dan kejadian selanjutnya sama sekali tidak pernah Erika duga. Alex bukan melepaskan gengamannya justru malah menariknya. Membuat tubuhnya sukses mendarat dalam pelukannya. Belum sempat mulut Erika terbuka untuk memprotesnya Alex sudah terlebih dahulu membisikan kata padanya."Tenanglah. Aku di sampingmu, Aku janji aku akan selalu melindungimu dan tidak akan meninggalkanmu. Selama kau mempercayainya, semuanya pasti akan baik baik saja."Entah dapat keyakinan dari mana. Kepala Erika mengangguk berlahan. Sepertinya ia akan mempercayainya.Waktupun terus berlalu. Hari kelulusan telah tiba. Semua orang merayakannya. Dengan gaun cerah yang ia kenakan ditambah sebuah pita dengan warna senada menghiasi rambutnya Erika duduk diam disalah satu kaffe langanannya. Dadanya bergejolak tak menentu. Menanti kemunculan Alex yang berjanji akan menemuinya. Bahkan ini untuk pertama kalinya ia merias wajahnya. Walau ia tak menemukan alasannya. Karena Alex hanyalah sahabatnya.Satu jam lebih telah berlalu dari waktu yang mereka janjikan. Tapi Alex tak kunjung menunjukan wajahnya sementara Erika masih setia menunggu. Rasa kesel mulai merambati hatinya. Terlebih nomor Alex sama sekali tidak bisa dihubungi. Membuat gadis itu sibuk mengarang kalimat makian yang akan ia tujukan pada Alex jika muncul nantinya.Deringan ponsel membuyarkan lamunan Erika. Berniat langsung memaki saat melihat Id caller yang tertera di handphonnye Erika justru malah di buat terpaku. Suara di seberang terasa bagai mimpi buruk baginya. Tanpa bisa di cegah air mata menetes dari mata beningnya. Pikirannya kalut, ia masih diam terpaku bahkan setelah sambungan telpon itu telah di tutup.Barulah pada detik berikutnya. Saat pikirannya sudah mampu mencerna semuanya ia secepat kilat bangkit berdiri. Berlari melewati pintu kaffe tanpa menoleh lagi. Menyetop Taxsi yang lewat dan langsung membawanya ke rumah sakit "Harapan Bunda".Dengan langkah terseret seret Erika melewati lorong demi lorong. Langkahnya tercekat di depan sebuah pintu yang di tunjukan suster padanya. Tangannya gemeteran, jantung nya berdetak keras. Saking kerasnya ia yakin ia bisa mendengar debarannya sendiri. Rasa takut yang sangat mencekam menderanya. Rasa takut yang sungguh tidak ingin ia rasakan seumur hidupnya.Dan pemandangan di hadapannya melumpuhkan semua pertahanannya. Tante vera, mamanya Alex tampak menangis dihadapan seseorang yang terbujur kaku di hadapan dengan luka di sekujur tubuhnya. Kecelakaan yang terjadi di jalan besar depan rumah telah menewaskan anaknya. Membuat Erika dipaksa menyadari kalau sudah tiada lagi sahabat terbaik di sampingnya.Setelah acara pemakaman selesai, Erika masih duduk terpaku di hadapan gundukan tanah yang masih basah. Masih tidak mempercayai apa yang terjadi. Bagaimana bisa, sesorang yang selalu bersama dengannya bisa pergi begitu saja. Bahkan tanpa sepatah kata pesan untuknya. Sungguh, ia tidak bisa mempercayainya."Erika."Suara lirih Tante Vera menyadarkan Erika dari lamunannya. Kepalanya menoleh sambil tersenyum samar. "Untukmu," kata tante Vera sambil menyodorkan sebuah kotak kado padanya. Menimbulkan kerutan di kening Erika karena tidak mengerti apa maksutnya."Kado kelulusan dari Alex untuk mu. Hari itu, Alex pergi dengan terburu buru untuk menemui mu. Tapi setelah di tengah jalan sepertinya ia baru menyadari kalau ia telah melupakan kadonya. Makanya itu ia menelpon tante untuk menanyakannya. Dan siapa yang menduga saat ia berbalik kecelakaan itu terjadi dan menewaskannya" terang tante Vera dengan mata berkaca kaca. "Ma kasih tante." Hanya kata itu yang mampu melewati tengorokan Erika yang tercekat. Kenyataan kalau Alex pergi demi untuk menemuinya membuatnya semakin terpuruk."Yang sabar ya sayang. Kalau kau menyayanginya kau pasti akan menuruti perkataannya bukan?" kata tante Vera sebelum kemudian pamit pergi. Walau tidak mengerti maksutnya, kepala Erika tetap mengangguk sebagai jawaban.Setelah tante Vera benar benar pergi, dan hanya dirinya yang berada di area pemakaman itu barulah Erika membuka kadonya. Dan setetes air mata bening melewati pipinya saat melihat pigura dengan foto ia berdua di dalamnya."Tersenyumlah, Saat kau meyakini semua akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja".Kata yang menghiasi pigura itu membuat Erikat terpaku. Setelah lama terdiam akhirnya ia mengangguk. Dengan senyum yang masih mengiringi tangisannya ia bergumam lirih."Bailah, Aku akan mempercayaimu. Selamat jalan sahabat. Semoga kau tenang di sana"You Are My EverythingKriiiinngg kriiiing kriiiingSuara jam Baker yang berdering nyaring menyadarkan Erika dari tidur panjangnya. Masih dengan mata terpejam Erika menoleh, dan saat pertama sekali ia membuka mata pigura dengan foto ia bersama Alex langsung menyambutnya. Membuatnya tanpa sadar tersenyum. Senyum yang ia janjikan akan selalu menemani harinya.Seperti yang Alex katakan Selama ia meyakini semuanya akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja…End…..Detail CerpenJudul : You are My EverythingPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaGenre : Remaja, CerpenFanpage : Star nightLanjut Baca : || ||

  • THE SILENCER

    THE SILENCERBerbaring… Duduk… Berdiri… Dan berbaring kembali. Hanya itu yang bisa dilakukan Soni di kamarnya. Entah kenapa mendung di pagi itu membuatnya begitu diam, tanpa sedikit katapun terucap dari mulutnya. Sesekali ia memutar beberapa lagu di mp3 playernya untuk sekedar memecah kemuraman pagi itu, namun usaha itu tidak cukup berhasil membuka gembok mulutnya yang terus tertutup rapat. Pikirannya sedang kalut. Hatinya masih mencari pembenaran atas apa yang dia yakini terhadap rasa sayangnya pada beberapa gadis yang ia kenal.Ia lelah…Soni kemudian kembali berbaring. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Tatapannya lurus menatap atap kamarnya yang putih. Polos. Dalam kepolosan atapnya itu ia membayangkan sedang melukis sebuah wajah dengan cat hitam. Wajah seorang gadis dengan sedikit lesung pipi. Wajah itu ia kenal dari sebuah pertemuan di salah satu kegiatan kampus. Dia tidak mengelak bahwa wajah itu sangat cantik. Namun kecantikannya hanya sebatas menembus matanya, tidak sampai pada organ penting dalam tubuhnya, hati. Mulutnya nampak seperti sedang menyebutkan sebuah nama, tanpa bersuara.Kemudian Soni duduk. Matanya kembali mendapati sebuah kanvas polos, tembok kamarnya. Ia ingin mengecat tembok hijau polosnya itu dengan warna kesukaan seorang gadis lain yang tidak kalah cantiknya, warna merah menyala. Tapi ia sadar tidak ada cat warna merah itu di rumahnya. Dia tidak ingin bersengaja keluar rumah hanya untuk membeli sekaleng cat warna merah menyala. Akhirnya dia kembali membayangkan dirinya sedang mengecat tembok kamarnya. Wajah gadis itu begitu jelas terpampang di depan matanya. Alisnya sedikit tebal, matanya sedikit sipit dihiasi bulu mata yang lentik. Hal itu semakin membuat Soni ingin mengecat tembok kamarnya itu dengan puasnya. Tapi anehnya, setiap kali dia menggoreskan koas dengan lumuran cat merah menyala di tembok itu, matanya hanya melihat warna lain, hitam. Mulutnya kembali menyebut sebuah nama, dan tetap tanpa suara.Nampaknya usahanya menenangkan diri belum begitu berhasil. Soni bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati jendela. Langkahnya tertahan saat dia melihat sekeliling kamarnya. Soni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mendapati semua benda di kamarnya tak ubahnya seperti dirinya, bisu. Dia selalu membandingkan dirinya dengan benda benda itu. Sepertinya kebisuannya pun tak akan pernah berujung. Pembenaran yang dia cari cari masih tetap menemui jalan buntu. Masih tetap melihat warna yang sama, hitam. Apakah hanya warna itu saja yang mampu dia lihat? Kemana warna warna lainnya? Dia merindukan warna putih, hijau, kuning dan warna lainnya. Selama ini warna warna itu hanya terlihat dari kejauhan dan tampak buram. Jauh dan semakin jauh.Soni kembali melangkah. Pelan dan sedikit dipaksakan…Matanya mendapati sesuatu di luar sana. Sesuatu yang indah. "Hey, apa itu?" Benaknya bertanya. Melalui jendelanya ia mendapati seorang gadis yang sedang duduk manis di sebuah kursi di beranda rumah gadis itu. Saat ia melihat gadis itu matanya menangkap warna warni dengan begitu jelas. Tidak ada sedikitpun warna yang pudar dalam pandangannya. Gadis itu begitu berwarna dan begitu terang. Satu hal yang tidak dia temui dari gadis-gadis lainnya. Seketika senyum Soni merekah, mengisyaratkannya terbebas dari kemuramannya.Kebisuannya berakhir. Dengan jelas Soni menyebut sebuah nama yang ia sebut sebut dari tadi…"Dira…"Dira memalingkan wajahnya ke arah Soni. Cahaya warna warninya berpendaran menghiasi seluruh tubuhnya. Ia membalas senyuman Soni dengan senyuman yang begitu lepas dan indah. Sesaat dia merasakan sedang berada di suatu tempat yang indah. Suatu tempat dengan langit cerah berhiaskan pelangi memanjang di sekitarnya. Sebidang tanah dengan rumputnya yang hijau bersih. Ia bahkan bisa mendengar suara gemericik air mengalir dari sungai kecil yang tidak jauh dari sana. Airnya begitu segar dan jernih. Begitupun dengan udaranya. Tidak jauh dari sana, Dira sedang berdiri menatap Soni dengan senyumannya. Sesaat lamanya Soni merasa damai, tenang dan tanpa beban. Tidak ada kekalutan sedikitpun terselip dalam dirinya. Kehadiran sosok Dira dalam bayangannya selama ini selalu membuatnya merasa demikian. Dia tidak akan melupakan Dira, setidaknya untuk saat ini. Bayangannya terpatri kuat dalam hatinya. Semua warna warninya akan tetap terlihat dengan jelas dan terang. Semua kata-katanya akan melekat kuat dalam memorinya.Dalam bayanganya, Soni memegang tangannya dan meletakkan telapak tangannya di dada Soni.Kemudian dengan lembut Soni berbisik pada Dira…"Dira…""Semoga engkau selalu tenang di alam sana. Tetaplah sinari hariku dengan warna dan senyummu".***(Hasanuddin. Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Semester 1)

  • Cerpen Remaja The Prince ~ 04 Update

    Credit gambar : Ana merya"Hai, kok bengong?".Kevin menoleh, Seulas senyum tersunging di bibirnya begitu melihat sosok andre yang menepuk pundaknya sekaligus menyadarkan ia dari keasikan baca buku. Ralat, melamun tepatnya. Karena buku yang ada di tangannya hanya sekedar aksesoris belaka."Eh elo. Nggak kok. Gue kan lagi baca" kilah Kevin sambil menunjuk kan buku yang ada di tangganya. Tapi justrU Andre tertawa menanggapinya."Loe baca buku?. yang benar saja. Keajaiban dunia tu namanya. Kenapa?. Mau nyaingin pulau komodo?. ha ha ha" kata andre tertawa meledek.sebagian

  • Cerpen Kasih Sayang: OH, BUNDA!

    OH, BUNDA!oleh: Alief MurobbyRintik-rintik hujan akhirnya mulai turun, membasahi kota Jogja. Mendung yang sedari tadi menggelayut, kini mulai memuntahkan isinya. Beberapa pengendara motor mulai menepikan kuda besi mereka untuk sekedar berteduh ataupun memakai jas hujan. Dinginnya air hujan rupanya tak mampu mendinginkan panasnya hati Ava. Tanpa memedulikan tangannya yang mulai kebas akibat sengatan hawa dingin dan bajunya yang basah kuyup, Ava terus menggeber Astrea Grand-nya menuju kearah barat daya, tepatnya menuju kearah alun-alun utara keraton. Ditebasnya jalanan dengan sangat lincah, tak peduli dengan orang-orang yang mengumpat saat terkena cipratan air dari motornya. Pikirannya sangat kalut. Lalu tanpa diinginkannya, Ava kembali mengingat peristiwa yang membuat hatinya sangat marah itu.***“ Bun, uang buat bayar kuliah semester ini mana?” tanya Ava pada ibunya yang sedang menghitung uang hasil penjualan nasi pecel yang dijualnya tiap fajar di stasiun Lempuyangan. Raut muka ibunya langsung berubah. Gelisah.“ Bunda cuma dapet segini, Le,” ucap Bunda seraya menyerahkan seluruh uang yang tadi dihitungnya. Ava agak kaget begitu menghitungnya kembali. Cuma dua ratus ribu lebih sedikit.“ Bunda ini gimana sih? Kan aku udah minta sejak seminggu yang lalu, masak cuma segini? Kalau cuma segini, jelas nggak akan cukup.” Nada suara Ava mulai meninggi. Warna wajahnya pun mulai memerah, pertanda emosinya mulai tersulut. Bunda tahu persis hal itu. Insting seorang ibu, mungkin.“ Tapi Bunda hanya punya uang segini, Le. Nanti kalau dagangan Bunda laris, uangnya buat kamu semua. Bu Nugroho, tetangga kita yang kaya itu, juga bersedia meminjami ibumu ini uang. Ndak usah kuatir,” ucap Bunda dengan logat khas Jogja, sembari mengelus kepala anak laki-lakinya itu, berusaha meredam emosinya. Dengan kasar, Ava menyentakkan tangan ibunya, lalu berteriak marah.“ Bunda yang cuma tamat SMP tau apa?! Kalo besok aku nggak bayar biaya kuliah semester ini, aku bisa di-DO tau!” bentak Ava keras. Saking kerasnya, Nina adiknya, sampai keluar dari kamarnya.“ Kakak apa-apaan sih?” tanya Nina.Ava menjawabnya dengan ketus,” Diem kamu, anak kecil!”“ Kakak tuh yang diem!” Emosi Nina ikut tersulut. “ Bicara sama orangtua tuh yang sopan. Malah dibentak-bentak. Dasar durhaka!”Plak! Sebuah tamparan melayang ke pipi Nina.“ Jaga mulutmu!” teriak Ava.“ Kakak tuh yang jaga mulut!” Nina langsung membalas sambil memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparan Ava. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sang Bunda langsung memeluk anak perempuannya. Dia juga mulai menangis.“ Udah, udah. Jangan berantem,” kata Bunda lirih. Ava langsung beranjak pergi meninggalkan kedua perempuan itu. Sang Bunda hanya berucap pelan, berulang-ulang.“ Astaghfirullah.”Tak terasa, Ava telah sampai di alun-alun utara. Suasana sore itu tak terlalu ramai, hanya ada beberapa lapak pedagang yang buka. Ava memilih duduk di salah satu bangku yang kosong, tepat dibawah pohon mahoni untuk mengeringkan pakaiannya yang basah dan menghilangkan sisa-sisa kejengkelan yang masih mengndap di dasar hatinya. Beberapa pengamen jalanan memainkan alat musik mereka. Ada gitar, harmonika, kendang, dan biola. Sederhana namun tetap nikmat untuk didengar. Tiba-tiba seorang violin jalanan duduk disampingnya. Kulitnya hitam, tapi raut wajahnya jenaka.“ Mau request lagu, Mas? Cuma seribu per lagu,” tawar si violin. Ava merogoh sakunya dan menemukan uang dua ribu rupiah. Disodorkannya uang itu pada si violin.“ Maen lagu apa aja, yang penting enak di telinga. Kembaliannya ambil aja.”Si violin langsung bersiap mengambil nada awal. Saat biola mulai digesek, Ava kaget. Dia tahu persis lagu itu. Tak disangka, violin itu memainkan lagu bunda karya Melly Goeslaw. Tanpa sadar, Ava ikut bernyanyi mengiringi alunan lagu.Kata mereka diriku slalu dimanjaKata mereka diriku slalu ditimangAir mata Ava keluar tanpa mampu ditahannya. Ia terus menangis hingga si violin selesai membawakan lagunya.“ Kenapa, Mas? Terharu, ya? Lha wong keturunan Mozart, je! Hehehe,” canda si violin.“ Mas sih enak masih punya motor,” lanjutnya. “ Punya rumah, punya keluarga. Pasti enak. Nggak kayak saya. Hidup pindah-pindah. Rumah nggak punya. Orangtua nggak tau dimana.”Violin itu terdiam sejenak. “ Tapi walaupun gitu, saya tetap bersyukur kok. Syukur masih bisa makan. Syukur masih bisa maen biola. Syukur masih bisa hidup.”Perkataan pengamen itu membuat Ava tersadar. Apa yang telah kulakukakan? batin Ava. Padahal Bunda telah bersusah payah menghidupiku, tapi aku malah membentaknya. Aku bahkan tega menampar adikku sendiri! Dasar bodoh! Ava merutuki kebodohannya. Dia menyesal, sangat menyesal telah mengasari ibunya dan menampar adik satu-satunya.Violin itu berkata lagi,” Saya pernah didawuhi seorang Kyai. Beliau berkata,’ Untuk urusan dunia, jangan lihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah dari kita, supaya kita bersyukur sudah diberi nikmat lebih daripada orang lain.’ Gitu, Mas. Lho, lho, Mas. Mau kemana? Pulang?” tanyanya begitu melihat Ava bergegas menyalakan motornya. Ava ingin segera pulang ke rumah. Ke pelukan bunda.Si violin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan. “ Apa aku salah bicara, ya?”Saat Ava telah sampai dirumahnya yang berada di kawasan Danurejan, dilihatnya sang Bunda sedang duduk di beranda. Nina duduk disamping ibunya dengan muka ketus. Begitu melihat ank laki-lakinya pulang, wanita itu segera beranjak mendekatinya. Senyum terpatri di wajah keibuannya.“ Alhamdulillah Le, kamu sudah pulang. Udah Bunda bilang, soal biaya kuliah, kamu nggak usah kuatir.” Sambil bicara, Bunda merogoh kantong bajunya lalu menarik sebuah kalung emas. Bunda tersenyum lagi.“ Nanti kalung ini akan Bunda gadaikan. Uangnya buat kamu semua.”Mendengarnya, Ava semakin merasa dirinya adalah anak yang sangat durhaka. Kalung itu adalah mas kawin yang diberikan ayahnya saat menikahi ibunya dulu. Kalung yang sangat disayangi ibunya. Ia sering melihat ibunya menangis sambil memeluk kalung itu, mungkin karena teringat pada ayah yang telah lama meninggal.“ Bunda, pokoknya jangan pernah menjual kalung ini. Soal biaya kuliah, biar nanti Ava cari sendiri.” Ava berkata sambil menahan air matanya. Bunda menatapnya dengan bingung.“ Lho kok…” Tanpa memberi kesempatan pada Bunda untuk bertanya, Ava memeluknya dengan sangat erat.“ Maafin Ava, Bunda,” ucap Ava lirih, lalu ia menangis dalam pelukan ibunya. Bunda hanya tersenyum kecil, lalu berujar sambil mengelus kepala Ava.“ Ndak papa, ndak papa. Kamu ndak pernah punya salah sama Bunda. Yang penting, minta maaf dulu sama adekmu. Tadi dia nangis terus.” Ava melepaskan diri dari sang bunda, lalu berjalan menuju Nina yang terus menatapnya. Ava berlutut di depan adiknya.“ Maafin kakak, ya?” Nina memandang kedua bola mata Ava dengan lekat, lalu tersenyum.“ Apologies accepted,” jawab Nina, memaafkan kakaknya. Ava lalu meraih Nina ke dalam pelukannya. Sang Bunda lalu memeluk kedua anaknya dengan sayang. Saat itu Ava bersumpah, dia takkan pernah lagi membiarkan ibu dan adiknya menangis. Dia akan membahagiakan mereka, apapun yang terjadi. Tak ada yang dapat menghentikannya. Tak ada!*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*