KAGUMKU SELANGIT oleh JAJ

Oleh: Jovian Andreas (JAJ) – Suatu kertas puisi cinta yang disebut picisan itu akhirnya disimak lagi. Kenangan indah kalau diangkat lagi memang jadi mengharukan. Mengapa ada cinta yang disia-siakan? Mengapa dibiarkan pernyataan baik itu yang pernah dibalas dengan sikap arogan, yang akhirnya disesali. Dibenci sikap jahatnya itu pada laki-laki yang sebetulnya tampan namun karena dituding bukan levelnya, laki-laki itu jadi berkata tak akan bertemu dengannya lagi, pada detik itu. Laki-laki itu sudah menerima permintaan Omnya untuk tak akan ke rumah lagi hanya demi Meli… Oh, Meli, kau ini bodoh banget! Kau ini norak! Kau ini sombong! Kau sangat materialistis! Jadilah kamu perempuan sial! Ah.., begitulah yang dipikirkan Amelia Febrianti, yang melihat foto Heryadi, laki-laki yang pernah jatuh hati padanya sepuluh tahun yang lalu.
Sekarang usia Amelia, 27 tahun, dan Heryadi, 30 tahun. Amelia sudah pernah menikah sebelum tahun 2000 dan ketika itu usainya 20 tahun. Yah, tepatnya dia kelahiran 1979. Dia sangat ingat perkenalannya dengan Heryadi yang suka berkarya di sanggar sebagai sutradara. Dia tahu juga semangat Heryadi walau organisasinya itu tak menguntungkan atau memberinya penghasilan. Dan ketika itu Amelia yang pernah jadi anggota teater di SMA memilih keluar dan mau jadi pemain sinetron, figuran. Sementara Heryadi tetap bergerak di teater dari festival drama remaja, lomba baca puisi, menulis skenario dan yang lain jadi pelatih futsal di sekolah yang dikelola orang tua temannya.
Heryadi memang bukan anak orang berada, dia tinggal di jalan MHT di wilayah padat di Jakarta Barat. Heryadi menaruh hati pada Amelia, lewat bantuan teman sebaya Amelia ketika itu untuk jadi comblang baginya. Tetapi mengapa Heryadi tidak berani mengungkapkannya, hanya karena Heryadi mempunyai saingan dari temannya yang lebih dipahami Amelia. Temannya itu Ronny. Teman Heryadi ini membawa Azrul yang ternyata genit dan ingin mendapatkan hati Amelia. Akhirnya Heryadi jadi jaga jarak dengan Ronny dan memutuskan membangun sanggar baru di luar sekolah. Ronny tetap bertahan dan mengajak Azrul yang memang teman di kampusnya masuk poduction House dan Melly diajak jadi pemain sinetron sebagai figuran saja. Ronny bernasib baik menjadi asisten sutradara di production house mendampingi sutradara senior.
Nah kenapa Heryadi merasa bersaing dengan Ronny, alasannya adalah Heryadi punya niat mengadakan pementasan kolosal : Ken Arok yang ternyata disudutkan Ronny bahwa ide itu tak akan terjadi. Heryadi jadi benci Ronny. Heryadi juga benci pada Amelia yang malah berani bilang: "Gue nggak suka sama elo!" Suatu pernyataan yang mengecewakan di masa itu, dan Amelia jadi sedih telah membuat hati Heryadi, jadi sakit hati.
Heryadi dengan teater barunya malah berhasil meraih piala sebagai grup terbaik. Heryadi tetap punya pendirian hingga di era runtuhnyha orde baru terlibat pula dalam demonstrasi. Heryadi tetap bujangan. Dan masa mudanya itu tetap putih dan tidak seperti Azrul. Karena laki-laki yang menyukai Amelia itu, berani main api, selingkuh dengan perempuan yang mau jadi artis hingga hamil. Dan inilah yang membuat Amelia kagum pada Heryadi.
Heryadi juga dipuji Amelia ketika dia datang ke rumah Amelia sambil mengabarkan kalau dia sudah lulus menjadi sarjana. Bayangkan, keputusan untuk tidak mendekati Amelia, dimohonkan maaf oleh Heryadi dengan pernyataan kepada Om Amelia, Safri, kalau dia kakak kelas Amelia yang ingin dilihat Amelia menjadi sarjana. Dan Amelia menjadi trenyuh. Dia saja tidak bisa menyelesaikan kuliah karena keputusannya sendiri. Begitu juga Om Safri yang pernah meminta Heryadi jauhi Amelia, sudah tidak bisa bekerja lagi akrena kecelakaan, hanya bilang kepada Amelia : "Coba kamu jadi sama laki-laki itu, Mel… Dia baik!"
Amelia sangat sedih. Dan waktu terus bergerak, setiap kabar Heryadi malah membuat Amelia semakin kagum padanya. Heryadi bekerja di production house pula seperti Ronny yang mana perusahaaan itu membuat film layar lebar serta rekaman film asing. Wah, membuat Amelia jadi trenyuh. Amelia yang sudah punya anak hasil hubungan gelapnya dengan teman kuliahnya itu hingga diusir bapaknya, kini menjadi manusia yang merasa telah membunuh karakternya sendiri. Dia ingin berubah sebagai manuisa yang punya masa depan, punya rancangan atau prinsip hidup dan punya cinta pada laki-laki sebaik Heryadi.
Namun sayangnya Heryadi yang pernah menulis puisi untuknya berjudul Kagumku Selangit, sudah semakin sulit menjadi miliknya. Heryadi sudah meminang seorang gadis yang sederhana, tetangganya yang memang pantas buat Heryadi. Amelia tinggal berkata," Oh Tuhan, andainya hati Heryadi masih ada untukku biarlah dia datang padaku, walau hanya sebentar mengucapkan salam padaku.."
Tentunya Amelia tidak bisa bertemu Heryadi. Amelia hanya bisa memandangi foto masa SMAnya itu. Di mana Heryadi yang pernah jadi sutradara teater dan pernah dihina temannya itu, kini sudah menjadi laki-laki dewasa. Amelia hanya bisa menulis di buku hariannya : I Love You Heryadi.. God Bless You ..
*****
Jakarta, November 2011
Penulis : Jovian Andreas
Email : Jovisca_2@yahoo.co.id

Random Posts

  • Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella ~ 2 {Update}

    Belajar ala "Mellisa". Always phositif thinking, make it easy and Keep smille.I Will Do IT!!!!Credit gambar: ana meryaSebenernya pengenalannya sudah cukup yang ada di part satu, tapi aku sepertinya ingin menambahkan sedikit. Ini tentang 'Nano – Nano. Tapi bukan permen ya, yah walaupun tu gelar ku berikan berdasarkan permen tersebut. sebagian

  • Cerpen Cinta: Kaulah Sang Bidadariku

    Kaulah Sang BidadarikuOleh: Rian sulaeman farhiMentari pagi pun mulai terbit aku harus segera bangun untuk bersiap-siap sekolah maklum lah masih anak sekolah jadi harus bangun pagi-pagi karna takut kesiangan. Kegundahan pun di rumah begitu ramai oleh aktivitas keluarga ku,Jam pun menunjukan pukul 06.30 wib saat nya aku harus berangkat sekolah karna perjalanan kesekolahan ku lumayan jauh dan memakan waktu.Namun seperti biasa mama ku yang selalu perhatian pada ku menyuruh ku untuk sarapan dulu maklum anak paling kecil suka di manja,kadang-kadang aku merasa risih sich malu kan udah gede masih di manja ama mama.Seperti bisa sarapan ku pagi ini NASI GORENG+TELOR DADAR . . . .Setelah sarapan aku bersiap-siap buat berangkat sekolah aku pamitan sama mama yang sedang membersih kan ruangan rumah yang penuh debu . . . .“mah,aku berangkat dulu udah siang nich. . . .?”“iya,Hati-Hati di jalan nya. . . . .”Setibanya aku di sekolahan,aku langsung bergegas masuk kelas karna jam masuk sebentar lagi berbunyi. Sebelum bel berbunyi aku dan kedua teman ku seperti biasa mengobrol tentang hal-jal apa aja yang kami lihat di pagi itu seperti suasana dan murid-murid sekolah kami . . .Ooouuugghh,iya aku lupa meperkenal kan kedua sahabat ku itu nama nya AHMAD dan FAUZI mereka adalah sahabat ku dari kecil,Bel pun mulai berbunyi tanda nya pelajaran akan segera di mulai,kegundahan di dalam ruang kelas itu kini telah menjadi ruangan yang sunyi tanpa ada suara satu pun . . . .Pelajaran pun di mulai dan anak-anak semua mengikuti pelajaran hari itu,Tak terasa jam pulang pun hampir mendekati dan tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi,sorak soray anak-anak terdengar di setiap ruang kelas nya . . . . Semua anak-anak pun berhamburan keluar kelas untuk pulang kerumah nya masing-masing dan aku pun mulai beranjak pergi dari dari ruangan kelas di mana aku mengikuti setiap mata pelajaran,ruangan yang sumpek dengan mata pelajaran yang sedikit aku mengerti . . . .Sesampai nya aku di rumah mama telah menanti ku dengan makanan di meja makan . . . .“akhirnya anak mama pulang juga” Kata-Kata manja itu yang selalu mama ucapkan .. . . . . “ya,iya donk kan anak mama” Aku menjawab ucapan mama tadi . . .Setelah makan siang aku duduk terdiam melamun kan seseorang entah siapa . . .? Dan di mana dia berada . . .? Hanya bayangan sosok wanita itu yang kini ada dalam benak ku saat itu . . .Tak terasa nada panggilan Hp ku berbunyi dengan nada lagu ( BUTTERFLY ) “pelampiasan cinta mu”Maklum lagu favorit ku . . . .Saat aku lihat siapa yang menelepon ku ternyata No nya pun baru dan aku tak tau siapa itu . . Saat aku angkat telefon nya . . .“Hello,siapa ini . . . .”“Hello juga,ayo siapa coba tebak . . .”Terdengar suara bisik wanita di telinga ku . . .Sempat aku terdiam memikir kan siapa yah . . . .?“aku gak tau siapa kamu,soal nya number kamu nya juga baru . . . .? ciapa atuh.”“aku seseorang yang dulu pernah ada di hati mu dan yang dulu pernah melukai mu . .”“iya,siapa atuh aku da tau . . . .?”“pokok nya orang yang dulu pernah nyia-nyian kamu . . “Makin penasaran aku dengan siapa sich yang menelepon ku . . . .30 menit pun berlalu kami terus mengobrol dan akhir nya aku tau siapa yang menelepon ku dia ternyata mantan aku ( ika ) . . . .Saat itu kami pun berlanjut hari semakin hari kami pun terus kontek-kontek kan . . .Beberapa hari berlalu dan aku pun bertemu dengan nya,banyak perubahan dari nya yang dulu aku kenal dia egois kini telah berubah menjadi tak egois lagi . . . .Pertemuan itu aku gak sia-sia kan,aku pun mengobrol dengan nya . . . . .di sebuah taman sekolah di dekat sekolahan kami . . . .“Gimana kabar nya . . . .?”aku pun membuka obrolan agar suasana tidak menjadi bosan dan jenuh . . .“alhamdullilah,baik-baik aja . . .! ! ! ! kamu sendiri gimana kabar nya . . . ? ? ? “ “iya,seperti yang kamu lihat lah,aku baik-baik aja . . . .! ! !” kami pun terus berlanjut mengobrol dan bertukar cerita Sedikit demi sedikit ternyata aku mulai merasa nyaman berada dengan nya,rasa cinta yang dulu pernah ada untuk nya kini seakan-akan mulai muncul kembali apalagi karna kami sering bertemu dan mengobrol berdua. Tak terasa waktu pun udah hampir sore jam udah menunjukan pukul 15.30 wib,mungkin karna keasyikan ngobrol dengan nya sampai-sampai tak tau waktu,kami pun mulai beranjak pulang meninggal kan bekas tempat duduk di mana kami bertukar pikiran dan cerita . . . .Malam pun tiba dengan cuaca yang begitu cerah dan terang. Bintang dan bulan saling memancarkan sinar nya seakan mereka tau apa yang sedang aku rasa kan? Kebahagian yang tak terhingga,tak henti-henti aku selalu berbicara pada bulan dan bintang itu . . .“apa mungkin dia adalah sang bidadari ku yang selama ini aku cari . . . . ?Tak terasa jam pun menunjukan pukul 23.30 wib,aku belum juga bisa tidur karna memikir kan dia rindu, dengan suara nya dia ingin aku sebelum tidur mendengar kan suara nya dulu . . .saat itu aku pun berniat dan memberani kan diri untuk menelepon nya walau aku tau ini udah larut malam. Namun akhir nya telefon ku pun di angkat dengan nada bahagia aku pun ngobrol dengan nya. “assalamualikum . . . .”“walaikum’salam . . . .”“belum tidur nich . . .”“belum gak bisa tidur . . .kamu sendiri belum tidur . . . .? ““sama aku juga gak bisa tidur . . . .! ! ! kenapa kok gak bisa tidur . . . .?”Begitu lah obrolan kami malam itu suara merdunya membuat ku tak sanggup menahan kebahagian dan kami pun terus berlanjut mengobrol . . . .“gak tau ada yang lagi aku pikirin nich . . . . kamu sendiri kenapa . . . .?” aku pun menjawab dengan suara jujur dan lantang . . . .“mikirin apa atuh . . .? aku gak bisa tidur karna mikir kamu terus.kangen kamu tau . . . .”“gak . ..! ! ! bohong kamu mah aaaakkkkhhh . . . . .” “su’er aku mah serius ngapain juga bohong . . . .” “iya dech aku percaya . . . .Aku juga sama kok gak bisa tidur karna mikirin kamu,rindu suara mu . . .”Kata-Kata itu yang dia uacapkan pada ku bahagia rasa nya mendengar dia juga sama merasakan apa yanga aku rasa. Seperti malam itu milik kita berdua saja. Malam pun semakin larut aku pun pamitan padanya. “ekh, iya udah malem takut nya kamu mau istirahat+mau tidur . . . .? entar besok di sambung lagi yah . . . ? ““iya,aku juga mulai ngantuk nich . . .”“ya udah met tidur aja . . . mimpi indah. met ketemu besok . . .? assalamualikum . . .?”“iya,met tidur juga . . . walaikumcalam . . .”Aku pun langsung menutup telefon nya dan bergegas untuk tidur. Akhirnya setelah aku mendengar suara nya aku pun bisa tisu juga . . .Pagi pun telah manyapaku saat aku terbangun terdengar suara sms dari Hp ku (ting ting ting ting), nada pesan masuk berbunyi. Saat aku buka dan aku baca ternyata pesan itu dari nya . . . .“assalamualikum . . .met pagi . . .? udah bangun . . .? ayo mandi . . terus sarapan yah . . .? jangan sampai telat berangkat sekolah nya . . .? “ Seperti itu lah kata-kata sms nya. Kini hari-hari ku pun mulai ceria dan penuh kebahagian dan aku terus berdoa semoga aja dia memang “BIDADARI” yang selama ini aku cari . . .amien . . .amien . . .*****Ini cerpen kedua ku . . .ma’af yah bila cerpen nya kurang bagus maklum baru belajar bikin cerpen nich . . .? ============================================================e-mail: kalongrian@ymail.com facebook: rian yangkanslalucyang ikhaclamnya twitter: @riankalong

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 04″

    Lanjut kisah dari cerpen Take My Heart yang kini udah sampe part 04. Secara ni cerita lumayan panjang, terdiri dari 20 part. So untuk yang udah kadung merasa penasaran tentang gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak kisahnya di bawah ini. Dan biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading guys….Cerpen Take My Heart"Dasar manusia gila, kurang kerjaan. Rese," gerut Vio.Sepanjang jalan menuju kekelasnya ia terus mengerutu tak jelas. Entah itu karena perlakuan Ivan padanya atau karena ia merasa nasip sial masih menyertainya. Mendadak ia merasa ragu kalau keputusannya pindah kampus untuk mengobati rasa patah hatinya atas penolakan Herry benar – benar merupakan hal yang benar. Secara kali ini ia menyadari kalau nasipnya di kampus baru ini juga tidak terlalu mujur.Entah karena keasikan mengerutu atau memang karena pikirannya sedang melayang – layang, yang jelas saat belokan koridor kampusnya tak sengaja ia malah menabrak seseorang. Membuat gadis itu _ yang ternyata sedang membawa banyak buku langsung berserakan di lantai."Sory sory sory, gue nggak sengaja," Vio segera berjongkok. Mengumpulkan kembali buku – buku itu. Hal yang sama juga di lakukan oleh gadis itu.Setelah buku – buku itu kembali tertata rapi barulah Vio berani mentap sosok yang di tabraknya yang kebetulan juga sedang menatapnya.Bulu matanya yang lentik serta kulit wajahnya yang halus tanpa jerawat langsung menjadi nilai plus dari Vio atas gadis itu. Apa lagi di tambah dengan bola matanya yang coklat serta bibir yang mungil. Benar – benar keindah paras tanpa cela."Eh sekali lagi maaf ya. Gue jalan nggak liat – liat," ulang Vio merasa bersalah."Nggak papa kok. Kayaknya tadi itu juga gue emang ceroboh," balas gadis itu sambil berdiri. Matanya masih memperhatikan Vio. Sepertinya gadis itu juga sedang memberikan penilaian atas dirinya."Vio," tampa di minta Vio langsung mengulurkan tangannya. Untuk sekian detik gadis itu terdiam. Mencoba mencerna maksut Vio. Baru lah pada detik berikutnya senyum mengembang di bibir sambil tangannya terulur menyambut uluran tangan Vio."Silvi."Kata pertama yang Vio dengar keluar dari mulut gadis mungil itu. Merdu. Membuat Vio kembali harus mengakui kelebihan barunya.Sejenak Vio kembali terdiam. Silvi? Kenapa ia merasa familiar dengan wajah itu ya? Sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya?"E.. Mahasiswi baru ya?" pertanyaan Silvi sudah lebih dulu mendahuluinya."Kok tau?" akhirnya Vio lebih memilih untuk balik bertanya dari pada menjawab. Sebuah kebiasaan yang memang sering di lakukan oleh kebanyakan orang jika langsung benar dalam menebak sesuatu."Soalnya gue baru liat" Balas Silvi sambil tersenyum. Vio ikut tersenyum sambil mengangguk membenarkan."Oh ya, buru – buru memang mau kemana?" tanya Vio mengalihkan pembicaraan."Tadinya si pengen ke kantin, tapi karena waktu sepertinya sudah tidak memungkinkan mending gue langsung balik kekelas aja deh," salas Silvi setelah tadi sempat terdiam beberapa saat."Kalau boleh tau kelas mana emang?" tanya Vio lagi."Jurusan sastra, semester empat ruang 3C.""Kok sama?" tanya Vio kaget."Masa sih?" Silvi ikut – ikutan kaget."Tapi perasaan tadi gue nggak ada liat loe di kelas sebelumnya?" tanya Vio lagi."O… Gue baru datang.""Jam segini?" Vio tampak memelototi jam yang melingkar di tangannya."He he he," Silvi thanya nyengir polos. "Gue nggak harus masuk semua mata kuliah kan untuk bisa di akui sebagai mahasiswa di kampus ini?"Vio mengeleng tak percaya. Dengan tampang sepolos dan seimut dihadapannya ia tidak akan pernah menyangka kalau gadis itu mau membolos."Lagi pula gue selalu melakukan hal yang gue sukai kalau loe belom tau," tambah Silvi lagi. "Apapun!" sambungnya.Mendengar kalimat tegas di penghujung kata Silvi hanya mampu membuat Vio angkat bahu. Setiap orang bebas untuk berpendapat bukan, terlepas dari hal itu benar ataupun salah. Lagipula bukankah orang – orang selalu menganggap bahwa hidup ini pilihan?"Kalau gitu, bisa kita langsung kekelas bareng?" ajakan Silvi membuyarkan lamunan Vio. Tanpa kata ia kembali mengangguk. Berjalan beriringan menuju kekelasnya. Sivli, orang pertama yang ia kenal di kampus barunya itu.Baiklah, edisi ralat. Silvi, orang pertama yang bisa ia di jadikan sahabat di kampus baru itu walau bukan orang pertama yang ia kenal. Masih ada para dosen juga si Laura, musuh dadakannya. Ataupun si Ivan, cowok kurang ajar yang menjadikan ia sebagai sarana untuk mendapatkan sepuluh juta.Cerpen terbaru "Take My Heart""Oh ya Vi, ngomong – ngomong loe kenal Ivan nggak?" tanya Vio.Ini adalah hari keduanya di kampus Amik sebagai mahasiswi baru. Menghabiskan waktu pergantian mata kuliah di kantin sambil menikmati Mie Soo pesanannnya di temani Silvi yang duduk di hadapan sembari menikmati sepotong pisang goreng."Ivan? Maksut loe dia?" tanya Silvi sambil menunjuk ke luar melewati jendela kaca kantin itu.Gerak refleks mata Vio mengikuti arah yang di tunjuk Silvi. Beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk membenarkan."Tentu saja. Siapa si yang nggak kenal sama playboy kelas kakap itu?" balas Silvi santai."Oh ya? Emang dia beneran playboy?" tanya Vio terlihat tertarik."Emm," Silvi mengangguk membenarkan. Mulutnya masih penuh dengan pisang goreng membuatnya agak sulit untuk berbicara. Vio hanya mangut – mangut membenarkan."Bahkan asal loe tau aja. Bukan cuma playboy tu orang juga kurang ajar banget. Dua hari yang lalu, di kantin ini, di hadapan semua orang dia mutusin si Laura. Cewek idola di kampus kita. Katanya dia jadian sama tu cewek cuma karena taruah. Astaga, Gue nggak akan percaya kalau saja waktu itu gue nggak ngeliat kejadiannya di depan mata kepala gue sendiri," tambah Silvi lagi.Vio kembali terdiam. Sekarang ia mengerti kenapa Laura begitu benci pada Ivan sampe – sampe harus menyewa preman segala. Sepertinya itu memang pembalasan yang pantas untuknya."Tapi dari mana loe bisa tau soal dia? Terus kenapa loe pake nanyain dia tiba – tiba?" tanya Silvi tiba – tiba membuat Vio kembali harus diingatkan akan nasip hidupnya."Dia jadiin gue target selanjutnya. Dia juga jadiin gue sebagai barang taruah sepuluh jutanya," balas Vio lirih berbanding balik dengan reaksi sosok di hadapannya."Apa?! Loe adalah target taruhan Ivan yang selanjutnya?!" Demi apapun Vio benar – benar menyesali apa yang ia katakan barusan. Teriakan yang di ucapkan Silvi beberapa saat yang lalu benar – benar telah berhasil menarik perhatian seisi kantin. Sama halnya seperti banjir yang melanda Jakarta namun mampu membuat heboh seluruh warga Indonesia. Membuat Vio hanya mampu mengangkat tangannya menutupi wajah karena malu walau ia tau itu percuma."Kenapa nggak sekalian aja loe minjem mic di kampus ataupun loe bikin iklan di koran tempo," gerut Vio kesel."Ups, sory gue kelapasan," bisik Silvi merasa bersalah."Loe barusan bilang apa? Loe target taruhan Ivan yang selanjutnya?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka angkat bicara sambil bangkit menghampiri. Vio hanya mengernyit kesel. Kenal juga enggak kenapa langsung di tuding begitu. Benar – benar nggak sopan."Enggak, kalian salah denger," elak Vio yang ia juga tau itu hal percuma. Mereka bukan anak kecil yang bisa dengan gampang di bohongi."Kita nggak mungkin salah denger. Jadi bisa loe jalasin apa maksut ucapan loe tadi?".Telak, benarkan apa yang Vio pikirkan barusan. Membohongi mereka itu percuma."Baiklah, walaupun seandainya itu benar, gue nggak berkewajiban untuk memberitaukannya pada kalian kan?" balas Vio akhirnya."Loe salah. Apaun yang berurusan sama Ivan itu selalu menjadi urusan kita."Vio hanya mendengus mendengar kalimat barusan. Bukankah itu kalimat yang sama yang ia dengar dari mulut Laura beberapa saat yang lalu? Lagipula, astaga. Yang benar saja, ia baru dua hari di kampus ini. Kenapa begitu banyak masalah yang bermunculan? Kenapa nggak sekalian saja masalah patah hatinya di bawa kseini? geramnya."Jadi apa benar Ivan melakukan taruhan lagi?" tanya seorang lagi yang tak Vio ketahui siapa."Ya," akhirnya dengan berat hati Vio mengangguk membenarkan. Membuat bisikan sana sini samar-samar terdengar."Kok bisa? Gimana ceritanya?""Iya, loe juga nggak cantik – cantik amat tuh," sambung yang lain setengah menghina."Mana gue tau. Kalau kalian mau tau tanyain saja langsung sama si Ivan," gertak Vio.Kesabarannya habis. Dengan cepat ia bangkit berdiri. Berlalu melewati anak – anak yang jelas masih penasaran. Meninggalkan kantin dengan keselnya."Loe mau kemana?" tanya Silvi sambil mensejajarkan langkahnya bersama Vio. Tapi vio tetap terdiam."Maaf, tadi gue nggak sengaja," sambung Silvi lirih.Untuk sejenak Vio menghentikan langkahnya. Menatap kearah Silvi yang terlihat merasa bersalah. "Sudahlah, lupain aja. Gue tau kok tadi itu loe nggak sengaja," kata Vio akhirnya."Tapi…." Silvi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Matanya lurus menatap kehadapan. Memuat Vio sejenak merasa heran, dan begitu menoleh."Halo Vio," sapaan lembut dari mulut Ivan sontak membuatnya mendadak merasa mual."Ya Tuhan…" gumam Vio frustasi sambil mengusap keningnya."Loe kenapa? Sakit?" tanya Ivan. Raut khawatir jelas tergambar di wajahnya."Diem loe," damprat Vio sewot. Kemudian tanpa kata segera berlalu."Kenapa tu anak? Lagi datang bulan ya?" tanya Ivan kearah Silvi yang masih berdiri di hadapannya."Jiah, pake nanya. Bukanya itu gara- gara loe ya?" cibir Silvi sinis."Gue?" tunjuk Ivan kearah wajahnya sendiri."Iya. Ngapain loe jadiin dia target taruhan loe selanjutnya. Emang nggak bisa mikir loe ya?""Kok loe tau?" tanya Ivan makin kaget."Bukan cuma gue. Tapi gue bisa jamin, sebentar lagi. Seluruh anak kampus juga bakal tau.""Ha?"Mulut Ivan hanya mampu melongo. Sementara Silvi sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan itu lebih lanjut. Ia lebih memilih mengejar Vio. Memastikan kondisi gadis itu sekarang. Astaga, ada ada saja.Next to Cerpen Take My Heart Part 05Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen Cinta: BUKAN UNTUKKU

    BUKAN UNTUKKUOLEH : ALENSaat itu aku sudah rapuh, sangat rapuh atas patah nya hati ku yang di duakan olehnya, hingga tak ada lagi perasaan ku untuk seorang pria, tidak lagi. Aku hanya menikmati kehidupan tanpa cinta, memang tak ada lagi perasaan yang tumbuh saat aku dekat bersama seorang pria. Namun semua berubah saat seseorang hadir di hadapanku, sosok baru ku kenal. Dialah yang membangunkan aku dari mimpi, menyadarkan ku akan sebuah kenyataan, dan memaksa aku untuk mulai bangkit dari keterpurukan, seseorang yang sangat berarti untukku.Indah, perjalanan hari-hariku begitu menarik walaupun semua itu tidak hanya di penuhi tawa, tapi terkadang kami selalu bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting. Aku merasakan sesuatu, merasa nyaman berada di dekatnya, bahkan jika diperbolehkan, sedetikpun aku tak ingin terpisah darinya. Saat aku tak melihatnya dalam sehari, aku merasa kehilangan, aku merasa kesepian dan aku takut akan sesuatu. aku mencari tahu kabarnya, aku mencari tahu sesuatu tentangnya, aku sangat ingin tahu. aku tak bisa mengatakan “TIdak” pada dia, aku selalu mengatakan “ia”, aku tak tahu mengapa begitu.Aku bingung, mengapa aku bisa begitu mencintainya?? Semuanya seakan tanpa alasan.. aku memang bodoh!!Semakin hari semakin ku merasakan ketenangan bersamanya, keinginan ku membahagiakannya membuat aku selalu mengabulkan segala kemauannya. Aku tak tahu lagi mana yang baik dan mana yang buruk, tapi kurasa dia selalu mengajarkan yang baik untukku.Aku tak tahu segala perhatian dan kedekatannya padaku adalah suatu keiklasan atau hanya bohong belaka, aku tak tahu apakah itu karena dia memang menginginkan kedekatan ini atau hanya sebatas rasa penasaran saja pada ku, aku tak tahu!!.Baru saja aku merasa kesenangan, sekarang aku akan merasakan kesedihan lagi. Kali ini aku merasakan ketakutan yang lebih dalam dari yang sebelumnya. Aku merasa sangat takut kehilangan dia. Mungkin dia masih bisa tertawa lebar atas semua ini, tapi aku tak lagi bisa melepas semua tawaku, aku menangis dalam tawa, aku bersembunyi dalam keremangan malam, aku takut.Aku berpikir, mengapa semua ini terjadi? Dan ternyata semua ini adalah salah ku sendiri! Aku tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, aku hanya berpikir sesaat, aku hanya berpikir untuk hari ini. Aku tak menyesal karna telah mencintainya seperti ini, sama sekali tak menyesal, aku hanya sedih bila harus melepasnya.Detik-detik kepergiannya membuat aku lemah menghadapi hari-hari yang terus berjalan, tapi aku tetap harus bisa menjalani semua ini, paling tidak ini semua aku lakukan untuk keluargaku, aku tak mau mereka sedih melihat aku yang rapuh hanya karna masalah cinta.Setiap kenangan ku bersamanya akan tetap ku simpan dalam hati, tak kan pernah aku lupakan, dan mungkin memang tak bisa untuk dilupakan. Tak banyak yang terjadi pada kami, namun entah mengapa semua seakan sangat berarti untukku. Aku tak kan berusaha melupakannya, Karena aku tak ingin melupakan orang yang pernah aku cintai, walaupun mengingat dia adalah menyakitkan, itu lebih baik dari pada aku harus melupaknnya.Kini hari kepergiannya semakin dekat, aku semakin diambang ketakutan. Aku ingin menatapnya dalam-dalam sebelum ia benar-benar meninggalkan ku sendiri selamanya, aku ingin bersama nya walaupun hanya sehari sebelum sesuatu merenggutnya pergi.Aku iklas untuk melepas kepergiannya asalkan dia bahagia.Aku iklas tertinggal sendiri asalkan dia masih bisa tersenyum untukku.Salam ku untuk dia yang tak pernah bisa kumiliki dan tak tercipta untukku.Selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*