Cerpen The Princes Part Ending

Cerpen the Prince, The princess and Mis. Cinderella akhirnya bisa sampe di Part Ending woi!!! , Hufh #kibas poni.
Asli ya, Penulis kapok bikin Cerpen ala sinetron kayak gini. Gak lagi – lagi deh. Beneran.
Ah satu lagi, Abis ini nggak ada lagi ya istilah buat nagih – nagih kelanjutan cerpennya.
Beneran lho, Nulis itu walau sederhana tapi nggak gampang. Apalagi di antara tumpukan kerja dan waktu yang sumpah minim banget.
Mana kalau pas abis publis cerpen yang sumpah, beneran, diusahain dengan 'nyolong – nyolong' waktu berakhir dengan kalimat "Kok nggak ending".
Heloooooo, Kerjaanku bukan cuma nulis aja kaleeeee. Nulis teh cuma buat menghibur diri sendiri kalau pas lagi ada waktu luang sama lagi mod juga.
Waktu udah minim, Mod malah di bikin Down. Cape deh….
Dan abis ini, Untuk cerpen yang selanjutnya silahkan menunggu lanjutanya muncul kalau memang masih mau baca kelanjutannya, Jika memang nggak sabar. Dipersilahkan untuk melanjutkan sendiri. Kalau perlu bisa di kotak komentar…. ^_^
Oke, dari pada kebanyakan bacod. Silahkan langsung di nikmati.


"Ma kasih ya, Kalian berdua sudah mau repot – repot jemput gue buat kekampus segala" Ujar ku berbasa basi saat turun dari mobil si Double J.
Sempet kaget saat mendapati Jimmy dan Junior yang muncul pagi tadi di depan kostan. Tapi siapa yang menduga kalau kabar yang mereka bawa ternyata lebih mengagetkan lagi.
"Santai aja. Sudah kewajiban ini. Yang penting loe baik baik aja kan?" tambah Junior lagi.
Aku tidak membalas, hanya bibir ini yang mencoba untuk tersenyum.
"Oh ya Riani".
Aku menoleh "Ada apa?".
"Inget pesen gue kemaren ya?".
"Syip".
Ujarku sambil berbalik menuju kekelas, sejenak ku hembuskan nafas berlahan. Mendadak perasaan ragu menyelimuti batin ku?. Benarkan sudah tiba saatnya aku untuk bahagia?.
"Riani".
Langkahku langsung terhenti. Kevin tampak berdiri dihadapanku sambil menatapku lurus.
"Ada apa?".
"Kenapa loe bisa pergi bareng sama mereka?".
Sejenak aku merasa bingung?. Mereka?. Saat mendapati lirikan mata kevin yang tertuju pada sosok Double J yang semakin menjauh baru lah aku ngerti maksutnya.
"Dan kenapa loe mengundurkan diri dari toko buku kakak gue?".
"Bukan urusan loe" Balas ku ketus sambil berniat untuk langsung berlalu kalau saja tanganku tidak lebih dahulu di tahan oleh nya.
"Apa mau loe sebenernya?" tanyaku terdengar lelah saat mendapati kebiusan kevin.
"Gue kan sudah bilang kemaren kalau…..".
"Cukup, Gue nggak mau jadi pelarian" Potongku sebelum kevin sempat menyelesaikan ucapannya.
"Kalau gue bilang loe bukan pelarian tapi gue ngelakuin ini semua karena gue suka sama loe, apa loe akan percaya?".
Aku menoleh, mendapati wajah lelah kevin tepat di hadapanku.
"Kalau gue bilang gue bener – bener cinta sama loe, apa loe akan percaya?".
Kali ini aku benar – benar terpaku mendengar kalimat yang ku dengar barusan.
"Mustahil"
Tanpa sadar mulutku bergumam.
"Gue akan lakuin apa aja agar loe percaya. Asal loe tetep bersama gue. Gue mohon".
Hal yang tidak pernah ku duga sebelumnya terjadi. Seorang Kevin, Bersimpuh di hadapanku. Memohon seperti ini. Ya tuhan, apa Jimmy benar. Bahwa rasa yang ia punya untukku adalah tulus?. Mendadak perasaanku mulai goyah. Tapi…
"Nggak, Loe nggak perlu ngelakuin apapun. Karena gue nggak akan percaya".
Selesai berkata aku segera menarik lepas tanganku. Langsung berlalu meninggalkannya.
"Riani".
Teriakan Kevin kembali terdengar, Tapi aku sama sekali tidak menoleh dan terus melangkah.
"Gue akan tetap disini, sampai loe bener – benar percaya kalau gue suka sama".
"Riani, Gue cinta sama loe!".
Astaga, Tuhan panggil aku sekarang. Bumi, telen aku saat ini juga. Kevin pasti sudah gila. Kenapa dia harus berteriak sekencang itu di sini. Di halaman kampus. Memangnya dikira lagi main drama apa. Tanpa bisa ku cegah kaki ini langsung melangkah dengan cepat.
Jangan salah, aku tidak akan berbalik. Aku justru malah berlari menuju kekelasku. Aku hanya akan menerimanya kalau aku sudah yakin kalau dia memang menyukaiku.
Cerpen The Princes Part Ending
Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tidak mampu berkonsentrasi. Selain karena lirikan dari sekeliling dan juga suara desah desuh yang jelas membicarakan ku, Ketiga sahabatku juga justru malah memperburuk keadaan. Sedari tadi mereka juga terus merusuhiku. Memaksaku untuk mempercayai kevin. Hei, kenapa aku merasa mereka mendadak jadi penghianat ya?. Memangnya mereka lupa ya, apa yang kevin dan teman – temannya lakukan dulu.
"Riani, coba loe liat keluar. Mau hujan" bisik Nay lirih.
"Terus, kenapa memangnya. Bukannya hujan itu anugrah" balasku tanpa menoleh. Lagi pula kami kan sedang belajar.
"Tapi Kevin masih ada di halaman. Sejak…."Naysila meilirik jam di tangannya "Empat jam yang lalu" sambungnya.
Mendengar itu mau tak mau aku terdiam. Menatap jauh keluar melalui jendela. Benar, langit mendung. Benar, Kevin masih bersimpuh di halaman. Dan benar juga aku masih tidak menemuinya.
"Apa loe masih nggak bisa mempercayai Kevin?".
"Riani, denger ya. Loe yang lebih dulu mengenal dia. Loe lebih tau dia itu seperti apa . Jadi loe harusnya sudah lebih dulu tau kalau saat ini dia pasti tidak sedang bercanda. Kita semua juga bisa melihat keseriusannya dia".
Ucapan yang iren lontarkan makin membuatku bungkam. Menatap langit. Mendung sudah berganti hujan. Mungkinkah kevin masih bertahan di sana?. Mau tak mau pertanyaan itu mengusik ku. Membuatku sama sekali tak berkonsentrasi menghadapi pelajaran yang di ajarkan. Dan begitu kelas berakhir aku langsung melesat keluar.
"Ya tuhan, Kevin".
Disini aku berdiri terpaku. Menatap lurus kedepan. Dan disana, Kevin. Juga masih bersimpuh seperti terakhir kali aku melihatnya tadi pagi. Tanpa mampu di cegah kaki ini langsung berlari kearahnya.
"Kevin, loe beneran gila ya?".
Mendengar teriakan ku kevin mendongak. Mencoba tersenyum diantara bibir pucatnya yang bergetar kedinginan.
"Sekarang loe percaya sama gue kan?. Loe percaya kan kalau gue benar tulus?".
Detik ini juga aku bisa merasakan air mataku sendiri menetes. Berbaur bersama hujan yang tiba – tiba…. Berhenti?.
Aku segera mendongak. Mustahil hujan berhenti hanya di sekelilingku sementara jelas – jelas aku masih melihat tetes-tetesan air yang terus membasahi tubuh Kevin yang telah menggigil kedinginan. Menyadari bukan langit yang ku temui melainkan payung yang menaungi refleks aku menoleh.
"Jimmy?".
"Sekarang loe sudah percayakan bahwa apa yang gue katakan kemaren itu memang benar?" bisik Jimmy lirih.
Refleks, aku mengangguk. Ya aku percaya. Aku percaya kalau kevin mencintaiku, dan aku juga tau kalau aku mencintainya. Namun saat kaki ini berniat untuk melangkah menghampiri kevin, Gengaman erat Jimmy sudah terlebih dahulu menahan langkahku. Saat aku menoleh binggung, ia hanya tersenyum sambil berujar.
"Dan kalau gue nggak lupa, gue juga memperingatkan loeuntuk nggak boleh terpengaruh. Cukup percaya saja. Bener kan?".
"Maksut loe?".
"Kita pergi sekarang!" Ajak Jimmy yang membuat ku kaget.
"Tapi…".
"Loe memulai hubungan dengannya dengan sebuah kebohongan. Disusul dengan kebohongan kebohongan lainnya. Terlepas dari sengaja ataupun tidak. Tapi yang jelas, Kali ini tidak kan loe berniat untuk mengakhirinya?".
Oke, kali ini aku beneran bingung. Mataku menatap lurus kearah Jimmy, Menanti penjelasan dari ucapannya. Tapi tiada kata – kata lagi yang keluar. Justru hanya sebuah senyuman yang bertengger di sana.
"Kita pergi sekarang" Ajaknya untuk kesekian kali.
Dan seperti terhipnotis, kepalaku mengangguk. Berniat untuk mengikuti Jimmy. Tapi lagi – lagi langkah kaki ini tertahan. Di hadapanku kini tampak ketiga temanku bersama keempat sahabat – sahabatnya kevin. Terpaku dengan tatapan menghakimi yang terarah lurus padaku.
Berniat mengabaikannya dan segera berlalu lagi – lagi langkah kaki ini tertahan saat mendengar suara lirih Kevin.
"Riani".
"Untuk terakhir kalinya gue bertanya. Maukah loe balik lagi sama gue?" Pinta Kevin terdengar lirih.
Ya!. Aku mau. Aku percaya sama kamu Kevin. Ingin sekali aku berteriak dan berbalik kearah kevin jika saja Gengaman Jimmy yang erat mengengam tanganku tidak menahannya.
"Jika memang nggak. Loe bisa pergi sekarang.Gue janji, Gue nggak akan menganggu hidup loe lagi. Dan gue juga janji, Tidak akan pernah ada teror dari gue ataupun temen – temen gue" Untuk sejenak kevin terdiam "Tapi gue tetap berharap loe mau balik lagi sama gue".
Pertahanan ku runtuh. Air mata ini semakin deras mengalir. Aku benar – benar goyah. Tepat saat aku berniat berbalik, Sebuah tangan halus mengusap pipiku lembut. Menghapus air mata ini dengan berlahan.
"Loe percaya sama gue kan?" Tanya Jimmy tegas.
Mendadak aku ragu. Merasa dilema akan semua ini. Namun kalimat lanjutan Jimmy selanjutnya membekukanku.
"Kakek menemukannya".
Refleks aku mendongak, Menatap tak percaya kearah jimmy. Kakek menemukannya?. Benarkah?. Mustahil!. Bagaiman bisa?.
"Kita pergi sekarang!".
Kali ini Jimmy benar – benar menarik ku berlalu. Membawa semua rasa sakit ini?. Atau mungkin justru mati rasa?. Entahlah, aku juga tak tau. Yang aku tau, Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada semuanya. Selamat tinggal andre, Selamat tinggal Riani. Dan selamat tinggal Kevin. Jimmy benar, Kebohongan ini harus di akhiri.
Pelan tapi pasti aku terus melangkah menjauh. Masuk kedalam mobil bersana Jimmy dan Junior. Terus melaju bersama harapan baru.
END……!!
Endingnya maksa?!. Biarin siapa suruh aku di paksa….. Wukakakka…. So gini lah jadinya. Mau protes kayak apa juga suka suka deh… Yang penting udah END, Titik!!!.
Wukakakka…….
Tapi tapi tapi, Cerpen ini adalah cerpen rekord terlama yang harus di selesaikan tapi kenapa endingnya gaje gini ya?. Ya sudah deh di lanjutin lagi. Hi hi hi #Asli ini penulis beneran gak jelas.
Sambil kepala tetap menunduk aku terus melangkah menuju kekelas. Tatapan tajam dari seisi anak – anak kampus benar – benar mampu menusukuk ku sampai kejantung. Sesekali aku melirik kearah kanan dan kiriku. Dimana tampak Jimmy dan Junior yang berjalan mengiringi.
"Naysila" teriak saat melihat Naysia di hadapanku diikut oleh Iren dan Kezia barulah aku mampu bernafas sedikit lega. Tapi sayang kelegaan itu tidak berlangsung salam saat dengan mata kepalaku sendiri aku melihat mereka justru malah membuang muka dan segera berlalu menjauh.
Mata ini mendadak terasa panas. Ya tuhan apa aku salah?. Kenapa mereka terlihat menghindariku?. Dan belum sempat aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang terlintas di benak mata ini sudah terlebih dahulu menemukan sosok Kevin di depan.
Hatiku mendadak merasa miris. Benarkah apa yang ku lakukan ini?. Saat mendapati wajah cekung Kevin dengan matanya yang sembab ditambah dengan wajahnya yang benar – benar terlihat tak bersemangat membuat hati ini merasa sakit. Sunggu aku merasa tak tega melihatnya. Saat, Kaki ini berniat untuk melangkah mengahampirinya tanganku sudah terlebih dahulu ditahan. Begitu menoleh gelengan kepala Jimmy disertai senyumnya yang simpul langsung menahanku.
"Percayalah, semua akan indah pada waktunya" Bisik Junior lirih.
Aku mengangguk lirih. Dan kembali menunduk saat Kevin berlalu disampingku tanpa menyapa sama sekali.
Cerpen The Princes Part Ending
Kosong, Itu yang Kevin rasakan saat ini. Dulu tidak pernah ia bayangkan sekalipun kalau rasanya akan semenyakitkan ini. Ia tidak pernah menduga kalau perasaan yang dimilikinya ternyata sedalam itu pada Riani.
Dan disaat ia menyadari, semuanya sudah terlambat. Bukan saja karena Riani kini membencinya, tapi karena dirinya kini bukan miliknya lagi. Pretunangannya sudah di tentukan malam ini. Memusnahkan semua harapan kebahagiannya.
Saat matanya menatap wajah Riani pagi ini. Hatinya kembali merasa tercabik. Gadis itu tampak baik – baik saja. Bahkan kini sepertinya sudah dengan gampangnya mendapatkan pengantianya. Kenyataan itu benar – benar terlah menamparnya langsug tepat di hati.
Waktu juga sepertinya kali ini sedang tidak bersahabat padanya. Terbukti tanpa ia sadari kini malam telah menjelang. Ia telah berdiri terpaku di hadapan sebuah rumah yang benar – benar terlihat bak istana. Di depannya tampak kedua orang tuanya.
Sementara di belakang keempat karibnya di tambah ketiga sahabat karib Riani menyertai. Ia sendiri juga bingung kenapa Ketiga gadis itu justru malah membelanya. Memenuhi undangannya untuk menghadiri pesta pertunangannya saat ia disuguhkan 7 undangan pribadi dari orang tuanya.
Ya, khusus untuk pertunangan ini semuanya memang sudah di persiapkan oleh calon keluarga barunya.
"Gila, ini rumah apa istana?"Decakan kagum keluar dari mulut Iren.
"Ini si jelas istana. Ya ampun Kevin, loe bener – bener beruntung. Abis menikah sama dia loe nggak perlu kerja udah langsung kaya tujuh turunan kalau kayak gini ceritanya" tambah Vano yang langsung mengaduh kesakitan saat merasakan kakinya diinjek Vardan.
Dan mulut Vano langsung bungkam saat melihat wajah Kevin yang terlihat seperti mayat berjalan.
"Sudah lah bro, Relain saja semuanya. Yakinlah ini pasti yang terbaik untuk semuanya. Loe pasti bisa move on" Bisik Randi sambil menepuk pundak Kevin memberi semangat.
Kevin tidak membalas. Hanya mencoba untuk tersenyum walau jelas hambar. Lagi pula saat ini mereka sudah sampai di dalam istana. Semua mata menatap kearahnya. Sekilas, matanya menatap kearah pangung. Acara pertunangan akan segera di mulai.
Entah berapa menit berlalu, Kevin juga tidak sempat memikirkannya. Bukankan sudah ia katakan ia mati rasa. Saat namanya di panggil untuk naik keatas pangung, ia juga hanya melangkah tanpa menoleh. Teman – temannya hanya mampu menatap miris.
Sedikit basa – basi ia menunduk hormat pada sosok yang ada di sana. Seorang kakek – kakek yang katanya adalah kakek calon tunangannya. Sementara di sampingnya tampak seorang gadis muda seusianya yang benar – benar terlihat cantik. Tapi sayang secantik apapun gadis itu ia sama sekali tidak tertarik.
"Baiklah Kevin, Kita bisa memulai acara ini?" tanya sang kakek.
Kevin mengangguk sambil berusaha tersenyum walau terlihat hambar. Mengambil inisiatif menghampiri gadis manis itu dan berdiri di sampingnya.
"Kamu udah siap?" tanya Gadis itu
"Iya" Kata Kevin lagi. Mengahadap gadis itu. Ternyata benar gadis itu canti, Tapi tetap saja dia bukan Riani. Satu – satunya gadis yang ia inginkan.
"Kalau begitu kenapa loe malah berdiri disini. Ayo jemput pasanganmu".
"He?" kening kevin berkerut bingung. Menjemput pasangannya?. Bukannya gadis itu adalah pasangannya, terus apa maksut ucapannya.
Dan pertanyaan itu langsung terjawab seiring dengan tepuk tangan seluruh hadirin dan juga tatapan lurus di sertai lampu sorot kearah tangga melingkar yang mengarah langsung kearah panggung.
Gadis dengan gaun berwarana merah muda tampak melangkah satu persatu menuruni anak tangga, Bener – benar terlihat bagaikan seorang putri Cinderela. Sementara tepat di belakangnya dua orang pria yang mengawalinya berjalan mengikuti yang Kevin kenal pasti sebagai pemilik nama Jimmy dan Junior. Sementara Gadis itu sendiri Kevin kenali sebagai…
"Riani?" Tanpa sadar kata itu meluncur dari bibir Kevin yang jelas kaget saat mendapati gadis itu kini sedah berada tepat di hadapanya dengan senyum faforitnya.
"Itu,,,,… Itu beneran Riani kan?" tanya Kezia dengan telunjuk lurus menunjuk kearah panggung.
Tiada jawaban dari keenam orang yang berdiri disampingnnya. Masing – masing juga terlihat bagai patung menatap pasangan di atas panggung. Kejutan yang sangat sangat sulit untuk di percaya.
"Surprise" Bisik ku lirih sambil tersenyum kearah Kevin yang masih terpaku.
"Bagaimana Kevin, Perkenalkan dia Cucuku satu – satunya. Andreani." Kata Kakek menginterupsi membuat Kevin mengalihkan padangannya yang ternyata sedari tadi terjurus padaku.
"Dan sebelum kita memulai acara pertunangan ini, Aku ingin bertanya padamu. Maukah kau menjaga Andreani, Menjadikannya wanita yang akan kau lindungin dan kau cintai. Dan menjadi satu – satunya wanita yang akan kau jadikan pendamping hidupmu?".
Pertanyaan kakek jujur mengagetkankun. Mendadak rasa resah dan ketakutan melanda batinku. Bagaimana jika Kevin menolaknya?. Bagaimana Jika Kevin justru marah padaku dan melakukan pembalasan atas apa yang ku lakukan padanya kemaren?. Bagaimana jika kali ini Kevin nekat pergi kali ini?. Dan bagai mana jika…
"Dengan Segenap Jiwa dan ragaku".
Singkat, padat, Jelas dan tegas. Itulah kesan yang didapat dari kalimat yang Kevin lontarkan barusan.
Dan hal yang terjadi selanjutnya adalah seperti apa yang Jimmy janjikan. Kebahagiaanku kini ada dalam gengamanku. Aku mendapatkan apa yang ku inginkan. Keluarga, sahabat, Orang yang ku cintai. Dan lebih dari semua itu, Aku mendapatkan kebebasanku. Bebas untuk menjadi diriku sendiri seutuhnya. Andreani. Bukan lagi harus menjadi seorang "andre", Pria penjaga toko buku, Ataupun seorang "riani" sang kutu buku.
Tanpa sadar bibir ini tersenyum.
"Kau bahagia?".
Aku menoleh, Menyadari Kevin berdiri disampingku sambil mengengam tanganku erat. Tapi yang ku tatap ternyata tidak menatapku. Justru ia asik menatap bintang di langit. Ya saat ini kami memang sedang berada di balkon istanaku sambil melihat langit lepas. Sengaja memisahkan diri dari hiruk pikuknya suasana pesta.
"Iya, Aku bahagia" Aku ku jujur.
"Bagaimana dengan mu?. Apa kau masih marah padaku?" tanya ku lagi. Kali ini Kevin menoleh, menatap lurus kearah mataku.
"Marah untuk apa?. Untuk tidakanmu yang meninggalkanku kemaren?. Untuk sikapmu yang membiarkan ku berhujan – hujanan menantimu yang justur malah kau abaikan?. Atau untuk semua keputus asaan ku selama ini?".
Aku terperkur kaku. Menunduk dalam diam. Tak tau harus menjawab apa?. Tapi sunggu aku menyesal melakukannya.
"Untuk semua kebahagian yang kau berikan malam ini, Bagaimana mungkin aku marah padamu?".
"Eh" Kali ini aku mendongak. Mendapati senyum tulus di wajah Kevin. Tangannya yang halus kini mengusap pipiku.
"Terima kasih karena telah membohongiku. Membuatku bisa menyadari perasaan ku sendiri".
Situasi seperti ini asli membuat ku mati gaya. Mendadak merasa sulit untuk bernapas.Dan jantung ini juga justru malah memperburuk keadaan. Bedetak semakin tak beraturan.
"Ehem, Kenapa kita jadi bicara Aku-Kamu gini?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.
"Itu karena kita sudah semakin dewasa. Sudah saatnya juga untuk kita berfikir secara Dewasa. Memangnya kau mau saat kita sudah berumah tangga nanti kita berbicara secara Loe -Gue?".
Pertanyaan yang Kevin lontarkan barusan sontak membuat mukaku bersemu merah. Berumah tangga nanti?. Ah, aku belum pernah memikirkannya sampai sejauh itu.
"Oh ya, seingatku, aku belum memujimu. Malam ini kau benar – benar terlihat cantik. Persis seperti Putri Cinderela yang ada di doneng – dongeng".
Pujian Kevin memperburuk keadaan. Untunglah susana remang – remang. Sehingga mungkin dia tidak menyadari wajahku yang sudah merah seperti kepiting Rebus.
"Tapi ngomong – ngomong soal cinderella, Dalam kisah ini kau lah yang jadi Cinderellanya".
"Aku?" tanya Kevin heran, Dan aku langsung mengangguk membenarkan.
"Emm. Dulu kau waktu kecil kau pernah menyelematkanku. Dan waktu itu kau meninggalkan Sebelah sepatumu. Dan saat usiaku 17 tahun kakek berniat menjodohkanku. Tapi aku menolaknya. Aku baru mau menerima perjodohan kakek kalau orang itu adalah pemilik sepatu itu. Karena kakek nekat tetap berniat untuk menjodohkanku entah pada siapa. Karena mustahil untuk menemukan siapa pemilik sebelah sepatu itu tanpa petunjuk apapun. Saat itu aku juga nekat kabur dari rumah. Menyamar jadi Andre untuk tetap bisa bersekolah. Dan harus berpenampilan seperti Riani, Agar kakek tidak menemukanku. Tapi entah bagaimana caranya, Pada akhirnya kakek tetap berhasil menemukanmu. Tepat Seminggu yang lalu".
Kevin terdiam, Mecoba mencerna semuanya. Sekarang ia mengerti kenapa Andreani harus menyamar. Ia juga sudah mulai mengerti kenapa mendadak ia di jodohkan.
"Tapi kenapa waktu itu kau tidak memberitahuku dan malah membiarkan aku berhujan – hujanan?".
"Itu karena JimmY".
"Jimmy?" kening kevin berkerut heran.
"Iya. Waktu itu aku masih tidak percaya denganmu. Ah kau kan suka jahil. Lagi pula waktu itu kita sedang marahan Tapi Jimmy meyakinkanku bahwa perasaan yang kau punya untukku adalah tulus. Aku masih tidak percaya sampai ia berkata untuk membiarkan mu membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri".
Kevin tidak menjawab, Hanya kepalanya yang mengangguk – angguk mengerti.
"Sepertinya aku harus berterima kasih padanya".
"Memang seharusnya" balas ku sambil tersenyum simpul.
"Dan akhrinya kau tau kalau aku benar – benar mencintaimu?".
Gantian kepalaku yang mengangguk membenarkan.
"Oh ya, Ngomong – ngomong masih ada satu hal yang masih ingin ku tanyakan".
"Apa?" tanyaku heran.
"Kau sudah tau bahwa aku menyukaimu. Kau sudah tau dengan jelas perasaan ku yang sesungguhnya. Lantas bagaimana denganmu?. Apakah kau juga mencintaiku?".
Hening, aku membisu. Tatapan penuh harap Kevin jelas berada di hadapanku. Menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. Apakah aku juga mencintainya?.
Sejenak aku menghembuskan nafas dalam sebelum kemudian menjawab dengan mantab.
"Aku Mencintaimu. Sepenuh hatiku".
ENDIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNGGGGG!!!!….
OKE, Untuk Part ini aja aku minta untuk siapapun yang membacanya n selalu menunggu lanjutannya buat COMNET!!!!!!!!…
Mau bilang hasilnya ancur kek, jelek kek, apa ke terserah. Keluari aja unek – unek kalian.
Udah segitu doank. Titik!!.

Random Posts

  • THIS LOVE FOR YOU

    oleh: Farhaul AiniLiburan kuliah yang sangat berbeda nuansanya, biasanya Kevin berkeliling Eropa untuk menikmati berbagai macam indahnya dunia, kini ia mendarat di bandara Soekarno-Hatta, ya di Jakarta tepatnya, sudah lama sejak 5 tahun lalu ia tak pernah kembali, namun Berlin tidak mampu melupakan keindahan ibu kota indonesia ini, kesenangan ia relakan demi tugas yang berat menantinya, menemukan sesuatu yang akan membuat kebahagian. Hari ini Kevin akan menemui teman kecilnya bernama Elma, dari sebuah aparteman ia langsung keluar menuju Cafe. “hai, kamu Elma?” sapa Kevin kepada wanita itu “ya kamu Kevin?”wanita itu menjawab dengan sopan “betul sekali, kamu tidak pernah berubah ya ma, tetap cantik seperti dulu.” “ah dasar kamu, kamu juga ga berubah, tetap suka merayu seperti dulu.” “sebenarnya tujuan kamu ke Indonesia untuk liburan atau buat ketemu aku doang?”tanya Elma sambil menggoda “sebenarnya aku lagi cari seseorang, pengen ketemu kamu juga sih.” “tapi sekarang aku mau tunangan vin jadi kamu telat kalo mau melamar aku.” “oh ya hahaha, bagus kalo begitu, laku juga kamu.” asik mereka bercengkrama, ternyata waktu 5 tahun memisahkan mereka tidak mampu memudarkan keakraban diantara mereka. * * * Hari ini Kevin mengantar Elma menuju tempat Kuliahnya, hanya sekedar menghilangkan kebosanan di apartemen, karna ia tak mempunyai cukup banyak teman di Jakarta. “Ma nanti aku jemput kamu jam 9 ya” pesan singkat untuk Elma “okehh, jangan telat ya supir pribadiku” balas Elma Sampai di Kampus Elma, Kevin mengantar Elma menuju kelas “vin, kamu ga usah antar aku sampai kelas nanti kalo calon tunangan aku tau gimana, nanti aku bisa batal tunangan lagi.” “tenang aja, kan kamu bisa jelasin, aku kan sahabat kamu jadi harus tau calon suami kamu nanti, kalau gak lebih cakep dari aku, kamu harus putusin.” “oke oke kalo kamu maksa, tapi kamu harus tau cakepan dia dari pada kamu.” KAMPUS BANGSA NEGARA Itulah tujuan Kevin disinilah ia akan bertemu orang itu, dan mengakhiri semua. “vin aku langsung masuk kelas ya, dan kamu langsung pulang sanah, jangan ngecengin mahasiswi sini, nanti mereka jadi galau ditinggalin kamu.” “siap Nona cantik.” Inilah saatnya, keliling menelusuri dimana ia berada. Lelah Kevin mencari namun ia tak menemukannya. Rupanya sedari tadi ia diawasi oleh penjaga kampus “maaf ada yang bisa saya bantu?” “oh ya bapak kenal pak Arya, kalo gasalah dia katanya dosen disini.” “betul pak, kebetulan pak Arya tidak mengajar kalo hari selasa, tapi biasanya dia jemput non Elma kesini.” “Elma Citra Kirana?” “iya betul mas, calon tunangan mas Arya.” “oh yasudah makasih pak.” Kenapa bisa terjadi, kenapa harus Arya, apakah cinta Arya untuk Fara sudah hilang dan kenapa untuk Elma? “ pernyataan itu mengelilingi otak kepala Kevin, yang sepertinya ia tak mempercayainya Dibalik sedan hitamnya ia menunggu, melihat apakah itu benar nyata. dan setelah jam kuliah Elma selesai, ia berjalan menuju tempat parkir bersama seorang Pria, yang berperawakan tinggi, kulit putih, itulah yang bisa Kevin lihat dari kejauhan, namun itu memang benar Arya, lelaki yang sudah lama ia cari dan menunggu, akhirnya ia menemukannya. Ketika itu berjalanlah seorang laki-laki berperawakan tinggi dan sempurnanya, kemeja coklat yang terlihat mewah itu membaluti tubuhnya, dasi yang melingkar dilehernya membuat ia terlihat sangat berwibawa, senyumnya membalut wajahnya, terlihat ramahnya kepada wanita yang sedang bersamanya yang tak lain adalah Elma. “hari ini aku harus mengakhirinya, dia harus tau.” Desah Kevin dalam hatinya Pelan-pelan Kevin mendekati Pria itu, nampaknya ia ragu untuk menyelesaikan ini, namun tak lama iapun memberanikan diri “saya adik dari Fara, masih ingat Fara kan, tentu kamu masih ingat kan?” nama itu seakan-akan menjeritakan hati Arya, dia yang selama ini sudah menguburkan nama Fara dipikirannya kini kembali mengelilingi otaknya. Ekspresi dari muka Aryapun beragam saat mendengar nama itu, terlihat ada rasa benci, marah, kecewa, namun salah satu sudut matanya masih terlihat cinta yang ada. “saya sudah melupakannya dan saya tidak ingin mengingatnya lagi.” “kenapa begitu, bukankah kamu sangat mencintai dia, walaupun aku tidak pernah tau kamu tapi fara sering cerita, kalau kalian saling mencintai, bukankah kalian berencana menikah, jika kamu benar benar melupakannya, kamu benar-benar laki-laki tak tau diri“ Elma terlihat bingung dengan apa yang terjadi, “Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa itu Fara? Menikah apa kamu punya janji menikahi orang lain selain aku ya?” “jadi ma, tunanganmu ituu..” belum selesai Kevin berbicara, rupanya gumpalan tangan yang keras menghantam pipi kanannya, sampai bibirnya mengeluarkan darah.” “selesaikan hanya kita berdua, cafe millo besok.” Diam-diam Arya membisikan kata pada Kevin Kevinpun pergi dengan menahan rasa sakit dibibirnya, tanpa mempedulikan Elma yang sedari tadi ingin sekali mengetau yang sebenarnya. “Ada apa sebenarnya ini, tolong jelaskan Arya.” Arya hanya terdiam, dalam situasi yang membingungkan pikirannya tak berfungsi dengan baik. Elma menggerutu di mobil sampai tak sadar Arya telah membawanya sampai di depan rumahnya. Lelah berbicara sendiri tanpa Arya hiraukan, Elmapun merasa kesal dan tidak berbicara apapun saat turun dari mobil meninggalkan Arya. tatapan kosong Arya terlihat jelas dari sudut matanya, memandang ke arah sudut kamarnya terlihat cahaya matahari tenggelam dari sudut jendela, dalam pikirannya terlihat masa lalu yang indah bersama Fara, pertunangan yang telah terangkai, dan sosok yang pergi tanpa kabar, semuanya menggilakan pikiran dalam benak Arya. *** Sabtu, 26 mei cafe Millo Terlihat di salah satu sudut dekat jendela, pria yang sudah menunggunya, segera tanpa terfikirkan Aryapun langsung duduk di depannya “kau harus menemui Fara.” Ucapnya langsung saat Arya baru duduk dikursi “untuk apa?” “Fara membutuhkanmu.” “selama ini aku mencarinya, aku bekerja keras untuk mendapatkan uang hanya untuk menyusulnya ke Jerman, saat satu langkah aku ingin terbang ke Jerman, dia memutuskan hubungannya denganku, dengan alasan dia tak mencintaiku lagi, dan aku rasa Fara tidak membutuhkanku lagi.” “Arya ada satu hal yang harus kamu tau, Fara mengalami kecelakaan saat kamu sedang mengadakan tour ke Jepang, dan kecelakaan itu membuat Fara kehilangan kedua matanya, dia ga bisa melihat lagi, Fara sangat terpukul saat mengetaui kondisinya, ia memutuskan tinggal di Jerman bersama Ibu dan Ayah disana.” “lalu dia melupakan dan meningglkan aku disini?” “dia ga ingin mengecewakanmu dengan kondisi dia sekarang, kau tau betapa dia sangat mencintimu dalam kondisinya yang sekarang, hobbynya adalah melukis, dia belajar dari salah satu teman Ayah yang selalu mengajarkan tunanetra agar bisa berbakat, dia selalu menggambar dirimu, dia juga selalu bercerita tentangmu, tiap hari tanpa bosan aku mendengarnya, impiannya ketika ia bisa melihat lagi adalah melihat kamu bahagia Arya” Hati Arya benar-benar merasa kasihan pada Fara, wanita yang sebenarnya masih sangat ia cintai harus mengalami penderitaan yang hebat. “Apa yang harus aku lakukan untukknya?” “kembalilah Arya untuknya, aku ingin melihat kebahagiannya sempurna dengan kembalinya kamu dengan dia, kamu tidak perlu hawatir minggu depan dia sudah mendapatkan donor mata, dan itu pasti melengkapi kebahagian kalian.” “kenapa kamu yakin aku akan kembali pada Fara?” “Arya semua cerita Fara sudah membuktikan dan aku sangat yakin cinta yang tulus itu tidak akan hilang dalam sekejap.” “cintaku untuk Fara memang tak pernah hilang sampai sekarang tapi aku gabisa ninggalin Elma, dia wanita yang memulihkanku saat aku terpuruk.” “aku tau itu akan sulit buat kamu memilih, tapi kamu pasti bisa menjelaskan ini pada Elma.” “tidak perlu dijelaskan, aku mengerti, maaf Arya aku juga butuh cinta yang tulus dari seorang laki-laki, dan hati kamu ternyata hanya untuk Fara.” “Elma?” dua laki-laki itu terkejut saat mereka mengetahui dibelakang adaseorang wanita yang memang penampilannya sangat berbeda dari biasanya, Elma sedari tadi menguping pembicaraan mereka tanpa sidekahui. Elmapun pergi, meninggalkan Arya dan Kevin, namun saat Arya mencoba bangkit dan mengejar Elma, Kevinpun menahannya. “dia wanita yang berfikir dewasa, dia akan mengerti.” Arya tidak selangkahpun mengejarnya *** 14 juni Berlin- Jerman Cahaya terang terlihat dari yang tadinya gelap gulita, terliahat remang-remang seorang yang ada disekitarnya dan akhirnya terbuka dengan jelas keruman agak banyak orang disekitarnya, terlihat Ibu dan wajah Ayahnya yang rupanya baru ia lihat, Ayah yang selama ini tak disangka sangat menyayangi Fara. Kevin dengan senyuman lebarnya menyambut Fara dengan dunia barunya, ada sebuah lengan yang membalutnya, mencium keningnya dan berkata “ jangan tinggalkan aku lagi.” Saat Fara melihatnya terpancar kebahagian yang tampak dari wajahnya lelaki yang selama ini akhirnya membuatnya bahagia. -selesai- twitter: @ainigonil

  • Cerpen Cinta Sedih: PERGILAH KAU

    PERGILAH KAUOleh: dellia riestavaldiHallo namaku Evelyn Pahlevi, aku baru duduk di bangku kelas 11 SMA. Aku ingin bertanya sama kalian, cinta itu apa? sayang itu apa? Apakah cuek sama cinta itu sama? Setahuku tidak. Kalau kalian lihat orang kalian cintai atau sayangi itu down, apa yang kalian lakukan, ga musti diem aja kan Cuma ngliat doang,, kalau aku, aku bakal samperin dia, nghibur dia, nemenin dia. jam menunjukan angka 7.15, udah seharusnya aku berangkat sekolah. Dan sesampainya di sekolah aku langsung duduk ditempat dudukku, dan menoleh ke belakang kearah meja brian. Brian Syahreza adalah sahabatku, tapi itu dulu. Semenjak ulang tahunku yang ke 16, dia berubah padaku, perhatiannya melebihi seorang sahabat. Kita udah deket semenjak kenaikan kelas XI, itu juga karna dia nyambung sama aku enak di ajak bercanda. Akhir-akhir ini kita deket kesana kesini bareng.Awal bulan mei aku di beri cobaan oleh tuhan, seorang cewe yang gasuka terhadap kedekatan ku dan brian, dia Fera. Fera dulu juga dekat dengan Brian, tapi mereka ga sampe jadian. Teman-teman Fera melabrakku, dengan tuduhan aku merebut Brian dari Fera, entah apa yang harus ku lakukan, toh faktanya emang Brian kan gapernah jadian sama Fera. DEKET? Ya tapi itu dulu pada saat mereka kelas 10. Disini aku di aku belajar menjadi sosok pribadi yang kuat, sabar dan tidak menghiraukan mereka yang iri padaku. aku tak memikirkan masalah itu, karna hati aku yang terpenting bukan mereka.Aku cape harus bolak-balik wc untuk membuang air mata kepedihan ini, aku ga kuat nahan air mata di depan Brian. Setiap kali aku menatap matanya aku bertanya dalam hati “apakah kamu benar mencintaiku, taukah aku hanya bonekamu?”, sikap cueknya itu membuatku perih dan sesak di dada. Aku harus bertahan, mungkin aku belum terbiasa dengan sikapnya, harus selalu optimis berfikir tentang dia. Prinsipku “jika kita ingin di mengerti oleh mereka, kita juga harus mengerti mereka” yup aku harus ngertiin dia. Berminggu-minggu aku dekat padanya, tapi dia sama sekali belum menyatakan perasaannya, aku rasa aku harus menunggu dan dia juga butuh waktu, dan aku yakin dia punya cara tersendiri buat ngungkapinnya  hari ini upacara bendera libur dulu soalnya ujan nih pagi-pagi, aku dari dulu gasuka HUJAN ya H-U-J-A-N, aku gasuka petir. Aku duduk diam di bangkuku dan lalu aku menoleh ke arah Brian yang sedang menikmati music yang ada di speaker porttablenya, aku terus menatapnya dan bicara padanya.“Yan, ganti dong lagunya, aku gasuka lagunya.”dia melihat ke arahku, dan dia malah buang muka padaku. Aku langsung terdiam dan membalikkan badanku ke arah papan tulis. Dia gasuka ya sama aku, sampe dia gtuin aku? Hmm.aku masih sabar soal itu, aku menoleh teman sebangku ku, aku meminjam LKS nya, tapi terdengar dari suara di belakangku “aku dulu lyn yang minjem” aku langsung melempar LKS itu kearah mukanya. Dan aku langsung lari ke WC, aku langsung kunci pintu dan menyalakan air keran, supaya ga ada yang tau kalau aku nangis. Aku baru sadar sahabatku Nessa dan Dicky tau kalau aku pergi sendirian pasti ada sesuatu hal yang terjadi kepadaku, aku langsung mengusap air mataku, dan mencuci muka ku, aku keluar dari WC itu, lalu aku berjalan menuju kantin. Aku ga peduli aku harus kehujanan, walaupun hujannya ga terlalu lebat. Aku memesan teh hangat, dan langsung duduk di meja kantin, ku pandangi Blackberryku. tapi, ga ada satupun pesan atau bbm dari Brian. Brian tidak mengkhawatirkanku, dia tak mencariku, tiba-tiba hujan sangat lebat datang menghampiri, aku sudah tak kuat menahan rasa sakit dan air mata ini. Aku langsung berjalan menuju kelasku dengan airmata ini, se engganya kali ini hujan telah membantu ku untuk menghapus air mata ini.Sudah 1jam aku berada di luar kelas, sebentar lagi bel pulang, aku langsung segera ke kelas dengan basah kuyup. Pas aku baru masuk kelas, mataku langsung tertuju pada Brian, ternyata dia asik-asik aja bercanda sama yang lainya, YA dia sama sekali tidak mencariku dan mengkhawatirkanku. Aku langsung mengambil tasku dan pulang ke rumah dengan motor kesayanganku, tak pandang seberapa deras hujan saat itu. sesampainya di rumah aku langsung lari ke kamar mandi, seperti biasa aku langsung menyalakan air keran di bak mandi. Aku berdiri di depan cermin, mataku, hidungku, bibirku merah karena hujan di mataku ini, teringat Brian aku langsung menahan sesak di dada dan airmata ini. Aku menghempaskan tubuhku di lantai kamar mandiku, aku meluapkan rasa sakit itu dengan air mata. Brian gasuka sama aku, Brian ga peduli sama aku. Dari hal terkecil tadi aja dia tidak menghawatirkan aku. Sampai sekarang aku ga pernah tau perasaan Brian gimana sama aku, aku ga boleh terlalu berharap. Kalau dia ada rasa sama aku pasti dia nyari aku, tapi nyatanya engga. Aku ga boleh nangis lagi aku harus bangun dari ketepurukanku, dia ga bakal tau aku sesakit ini dan menurutku kalau cinta itu seneng susah bareng, tapi malah senengnya aja yang bareng  ya aku tau dia ga ada rasa sama aku, wake up lyn masih banyak yang lain besoknya disekolah, aku masuk kekelasku dan pagi itu aku bertemu sesosok Brian, aku langsung berhenti di tempat sejenak, ku tarik nafasku ku dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan dan aku langsung melanjutkan jalan ku kea rah tempat duduk. Brian menghampiriku, dia berbicara panjang lebar tapi sayangnya aku udah ga peduli, aku abaikan saja dia. Bel istirahat sudah berbunyi aku segera membereskan buku-bukuku di atas meja, aku berdiri dari tempat duduk ku, Brian menarik tanganku, dia berbicara dengan nada pelan kepadaku.“lyn, kamu kenapa?” Tanya Brian.“menurutmu aku kenapa? Jawabku.“kamu beda lyn, aku salah apa sama kamu?” nada yang semakin pelan.“kamu bilang aku beda? Aku kaya gini karna karna kamu? Sudahlah kamu itu engga pernah peduli sama aku Yan, dan sekarang kamu gausah sok sokan peduli gitu sama aku huh.” Nadaku agak tinggi.aku perlahan pergi meninggalkan Brian, tapi Brian menarik tanganku.“tapi tunggu lyn, aku sayang kamu.”“oh gitu ya, kemarin-kemarin kamu kemana, saat aku butuhin yang ada malahan kamu asik-asik sendiri kan sama temen-temen kamu, aku pergi dan kehujanan kemarin, apa kamu khawatirin aku? Engga Yan kamu engga peduli sama aku, sekarang kamu se enaknya bilang sayang, emang aku apaan Yan ?” kesalku“Lyn dengerin penjelasan aku dulu.” Rintihnya.“aku ga butuh penjelasan apapun dari kamu yan, semuanya udah jelas kok!” suara lantang keluar dari mulutku, lalu aku langsung melepaskan genggamannya dan kemudian aku pergi meninggalkannya.aku berjalan entah kemana, aku gapunya tujuan, yang tadinya mau ke kantin, Nessa dan Dicky ninggalin aku. Tetes demi tetes air mata ini mulai berjatuhan, kenapa harus kaya gini sih. Aku terus berjalan sambil mengusap airmataku. Karna ini semua bukan akhir  karna sudah lama aku lelah menunggunya, menunggu kepastian hubungan diantara kita itu apa. Ternyata aku baru sadar orang yang mencintai kita adalah orang yang memperdulikan kita  seperti sahabat-sahabatku Nessa dan Dicky.*****Komentar langsung bisa lewat Fb: adell qodell @ondelladell

  • Ketika Cinta Harus Memilih 03 | Cerpen Cinta

    Menulislah karena memang kau suka, Bukan karena kau ingin di sukai,Lanjutan Ketika Cinta Harus memilih kali ini ternyata molor dari waktu yang di prediksikan. Pasalnya, Komputer resto mendadak rusak di tambah lepi ku mendadak eror. Penyakit lama kumat alias nggak bisa conect wifi. Ck ck ck. Tapi untunglah malam ini bisa so akhirnya lanjutannya muncul.Gimana ceritanya?. Yuks kita simak bareng….Ketika Cinta Harus MemilihUntuk ke sekian kalinya Cinta menghembuskan nafas beratnya. Kembali di ambilnya air dari keran yang ada di depannya hanya untuk sekedar membasuh wajah. Hari ini emosinya benar – benar di terasa di permainkan. Bagai mana tidak. Baru pertama kali ia menginjak kan kaki di halaman kampusnya, teror sudah menyambutnya. Baik dari senior maupun juniornya. Siapa lagi kalau bukan para Fans Berat Rangga. Makhluk yang paling songong di antara yang tersongong. sebagian

  • Cerpen Cinta Sejati “Dari di Tabrak Gue di Tembak” ~ 01

    One more, cerpen baru lagi guys. Tepatnya cerpen Dari ditabrak gue di tembak yang hanya terdiri dari dua bagian. Tadinya malah cuma mau di bikin satu part aja, eh tahunya malah kepanjangan. So buat yang penasaran, bisa langsung simak ke bawah. Kalau suka, jangan lupa RCL ya biar admin lebih semangat nulis cerita lainnya. Happy reading….Cerpen Cinta SejatiYang namanya jatuh emang nggak bisa di tentuinApalagi kalau jatuhnya itu jatuh cinta.“Kalau yang namanya cowok cakep itu emang harusnya di taksir,” kata Cha cha dengan nada tegas. Merasa kesel juga ia sedari tadi harus berdebat dengan Tinie tentang hal yang sama.Tadi saat keduanya sedang berbelanja di supermarket terdekat tanpa sengaja Tinie menabrak seseorang yang kebetulan lewat di hadapannya. Ralat, maksutnya Tinie di tabrak sama seseorang yang kebetulan lewat dihadapannya. Karena nyatanya orang itu yang jalan tidak melihat lihat karena keasikan memainkan hendphone di tangannya. Bahkan, Ice cream yang kebetulan sedang Tinie makan jatuh mengenai bajunya. Membuat baju kesayangannya terlihat kotor. Namun sayangnya, sebelum mulut Tinie sempat terbuka untuk marah marah, Cha cha sudah terlebih dahulu minta maaf. Bahkan, membiarkan orang itu pergi dengan santainya. Alasannya cukup klise, orang yang menabrak Tinie adalah seorang cowok _yang menurut Cha cha_ cakep.“Tapi nggak harus gitu juga kali, loe nggak liat ni baju gue jadi kotor gini?” balas Tinie masih nggak terima.“Hais,” Cha cha menghentikan langkahnya. Matanya menatap lelah kearah Tinie. “Mau gue yang bayarin buat laundry?”“Nggak usah. Ma kasih,” sahut Tinie ketus sambil menghentakan kaki lebih keras, melangkah mejauh meninggalkan Cha cha yang hanya angkat bahu melihatnya. Sama sekali tidak merasa bersalah pada sahabatnya. Lagi pula apa yang ia katakan itu benar bukan? Baiklah, tidak semuanya benar. Masalah tampang itu bukan segalanya, tapi tetep itu jadi penilaian seseorang yang pertama. Kalau nggak percaya, coba aja ngelamar kerjaan. Pasti yang dilihat pertama penampilan duluan. Baru yang lain menyusul belakangan. Yang ngebantah bisa di pastikan belum pernah ngelamar kerjaan. :D“Cha cha.”Sebuah teriakan bernada cempreng menyadarkan Cha cha dari lamunannya. Dengan gaya slow motion ala iklan shampoo ia berbalik. Matanya sedikit menyipit sebelum kemudian melotot sempurna.“Awaaaaaas!!!”“Brug.”Seiring dengan teriakan itu, tubuh Cha cha mendarat sempurna di aspal bersama dengan sebuah sepeda yang menabraknya. Sakit. Sungguh kali ini ia tidak berbohong. Sekarang ia mengerti kenapa Tinie tadi marah – marah ketika di tabrak, karena kini ia juga merasa hal yang sama kalau tidak ingin di bilang lebih parah dari sebelumnya.“Kelvin..! Gue segede gini kenapa bisa loe tabrak?!” teriak Cha cha sekuat tenaga. Mengabaikan orang – orang di sekeliling yang kini menatapnya. Ada yang terlihat menahan tawa, ada juga yang terlihat iba. Sayangnya tiada yang terlihat bersedia untuk membantunya.“Aduh, sory Cha. Sakit ya?” tanya Kelvin sambil bangkit berdiri. Akibat tabrakan barusan ia memang juga jatuh tersengkur. Dengan segera di hampirinya Cha cha yang masih duduk tak berkutik.“Tentu saja sakit,” balas Cha cha ketus. Berlahan ia mencoba berdiri sebelum kemudian terjatuh lagi. Kakinya terasa berdenyut nyeri. Sekilas ia melihat bekas roda di celana jeansnya.“Sory, gue nggak sengaja,” kata Kelvin sambil mengulurkan tangan. Membantu Cha cha untuk berdiri.“Kaki gue sakit, dan gue nggak bisa jalan. Jadi, buruan gendong gue?” perintah Cha cha yang membuat Kelvin langsung terdiam.“Kenapa? Loe keberatan?” tuduh Cha cha langsung saat tiada reaksi dari Kelvin yang justru malah menatapnya dari kepala hingga kaki."Jangan pernah pernah berpikir kalau gue gendut. Gue udah ikuti program diet, dan sekarang berat gue proporsional" sambung Cha cha lagi.Kali ini Kelvin tertawa, tak mampu menahan rasa geli dihatinya."Gue nggak pernah bilang loe gendut, dan gue juga nggak pernah bilang loe berat. Selain itu, gue juga nggak keberatan kok kalo harus ngendong loe. Justru gue malah mau nanya, yakin loe nggak keberatan gue gendong?" Gantian Cha cha yang terdiam. Matanya sedikit menyipit memperhatikan Kelvin yang juga sedang menatap kearahnya. Tanpa di komando, tangannya langsung terangkat sebelum kemudian mendarat telak di kepala Kelvin membuat rintihan mengaduh keluar dari mulut pria itu."Dasar mesum," teriak Cha cha memaki."Siapa yang mesum. Pikiran loe tuh yang melantur kemana – mana. Gue kan tadi cuma nanya loe keberatan atau nggak gue gendong. Emangnya loe pikir gue mikir apaan?" balas Kelvin terdengar memprotes.Cha cha tidak membalas hanya mulutnya yang mencibir sinis."Ya sudah, ayo naik."Mata bening Cha cha tanpak berkedap kedip memperhatikan antara sepeda yang kini sudah berdiri tegak atau Kelvin yang kini mengisaratkannya untuk naik. Kening gadis itu tampak sedikit berkerut dengan sebelah alisnya yang sedikit terangkat. Pasang pose sedang berfikir."Tenang aja. Kali ini gue jamin nggak akan nabrak. Loe cukup naik, dan biarin gue yang ngedorong. Kaki loe masih sakit kan?" tanya Kelvin seolah mengeri jalan pikiran Cha cha. Dan kali ini Cha cha manut. Selain karena kakinya masih sakit, ia juga tidak mau di gendong pria itu."Loe kenapa si tadi bisa nabrak gue?" tanya Cha cha saat keduanya mulai melangkah pulang."Tadi itu gue lagi belajar bersepeda" sahut Kelvin santai."Heh" Cha cha tak mampu menahan cibiran keluar dari mulutnya. Hari gini masih ada gitu yang belajar sepeda. Emangnya dia anak SD?"Loe juga tiap minggu olahraga keliling kompleks pake speda kan?""Ya?" Cha cha terlihat bingung. Kenapa pembicaraan mereka tiba – tiba berbelok. Kepalanya menoleh tapi Kelvin sama sekali tidak menatapnya. Justru pandangannya terarah kedepan."Kok loe tau?" Cha cha akhirnya memilih bertanya."Gue sering liat kalo loe bareng temen temen loe pas lewat depan rumah."Cha cha kembali terdiam menanti kalimat lanjutannya. Namun mulut Kelvin tetap terbungkam membuat Cha cha berfikir, apa yang barusan itu jawaban kenapa Kelvin menabraknya?.Keesokan harinya, dengan sedikit terpincang – pincang Cha cha melangkah memasuki gerbang kampusnya. Tetap di belokan koridor ia berpapasan dengan Tinie yang langsung menatapnya penuh tanya.“Kaki loe kenapa?” Tinie menyuarakan tanya di hatinya.“Ketabrak,” sahut Cha cha singkat. Tanpa menoleh sama sekali.“Oh ya? Kapan? Kok bisa?” sambung Tinie lagi.“Iya, kemaren. Tentu saja bisa. Ini buktinya.”“Kemaren?” ulang Tinie sambil sambil mengingat – ingat. “Lho, bukannya yang kemaren ketabrak itu gue ya?” sambung gadis itu bergumam lirih.“Itu dia yang gue pikirin sedari tadi. Jangan jangan kemaren setelah loe ketabrak loe nyumpahin gue buat ketabrak juga.”“Ha ha ha” Tinie langsung tertawa mendegar komentar sahabatnya barusan.“Dari pada gue sumpahin loe ketabrak, mending juga gue sumpahin loe jadi orang kaya. Siapa tau entar loe kaya nya ngajak ngajak.”“Heh, lucu sekali,” cibir Cha cha sinis.Tinie hanya tertawa sembari terus melangkah beriringan bersama Cha cha untuk menuju kekelasnya."Cha cha, tunggu dulu."Merasa ada yang memangil, Cha cha menghentikan langkahnya. Namun Tinie lah yang terlebih dahulu berbalik untuk melihat siapa yang memangil sahabatnya. Tampang ngos ngosan Kelvin langsung menyambutnya."Kaki loe masih sakit ya?" tanya Kelvin lagi membuat Tinie mau tak mau mengerutkan kening bingung. Sejak kapan Kelvin perhatian sama Cha cha?"Sory deh, kemaren itu gue emang nggak sengaja," sambung Kelvin lagi karena Cha cha masih terdiam."Kenapa loe yang minta maaf? Emangnya loe yang nabrak dia?" tanya Tinie menyela.Seolah baru sadar ada orang ketiga di antara mereka Kelvin menoleh. Pasang senyum kaku sambil kepalanya mengangguk berlahan."Ha?" Tinie melongo. "Ya ela, Cha cha itu kan cewek. Dari pada loe tabrak masih mending juga kalau loe tembak," cibir Tinie setengah bercanda.Cha cha melotot kesel mendengarnya. Apa apan sahabatnya itu. Punya mulut kok ngomong asal njepak."Tadinya gue maunya juga gitu sih. Tapi gue takut di tolak," gumam Kelvin lirih."Ya?" tanya Cha cha heran."Nggak ada, gue duluan ya. Hati – hati," kata Kelvin sambil segera berlalu meninggalkan kedua sahabat yang kini saling pandang."Barusan dia ngomong apaan si?" tanya Cha cha yang memang sedari tadi berdiri tepat di samping Kelvin."Nggak tau, emangnya dia ngomong?" Tinie balik bertanya."Sudahlah. Lupakan. Kayaknya gue salah denger. Yuks, langsung kekelas aja deh kita," ajak Cha cha menutup pembicaraannya.Sepulang kuliah, masih dengan langkah tertatih tatih Cha cah berjalan pulang. Dalam hati ingin sekali rasanya ia memaki orang yang telah membuatnya menjadi seperti itu."Gue bantuin," seiring dengan kalimat itu, Cha cha menoleh dan baru menyadari kalau tasnya kini sudah berpindah tangan. Kelvin berjalan tepat disisinya."Nggak usah," tolak Cha cha sambil berusah untuk mendapatkan tasnya kembali yang justru malah diangakat oleh Kelvin tinggi – tinggi."Nggak papa kok. Sekalian gue anterin loe pulang. Ayo," sambung Kelvin lagi. Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari Cha cha, ia langsung mengiring gadis itu masuk kedalam mobilnya."Nggak usah heran, anggap aja gue bertanggung jawab untuk yang kemaren," kata Kelvin sambil memasang sabuk pengaman di pingannya."Bertanggung jawab? Emangnya loe hamilin gue?" balas Cha cha setengah bergumam."Loe mau gue hamilin?"Dalam sedetik Cha cha menoleh sebelum pada detik berikutnya."Pletak," sebuah jitakan mendarat di kepala Kelvin. Membuat pria itu mengaduh. Sepertinya ini adalah jitakan kedua yang ia dapatkan karena salah dalam menyimpulkan."Dasar mesum," rutuk Cha cha.Dan belum sempat mulut pria itu terbuka untuk protes, gadis itu sudah terlebih dahulu mengisarakannya untuk segera menyalakan mobil. Berjalan menjauh menuju kerumahnya.Next to Cerpen Dari ditabrak gue di tembak Part EndDetail Cerpen Dari ditabrak gue di tembakJudul : Dari ditabrak gue di tembakPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaFanpage : @lovelystarnightStatus : FinisGenre : Remaja, TeenlitPanjang : 1.419 WordsLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*