Cerpen The Princes Part Ending

Cerpen the Prince, The princess and Mis. Cinderella akhirnya bisa sampe di Part Ending woi!!! , Hufh #kibas poni.
Asli ya, Penulis kapok bikin Cerpen ala sinetron kayak gini. Gak lagi – lagi deh. Beneran.
Ah satu lagi, Abis ini nggak ada lagi ya istilah buat nagih – nagih kelanjutan cerpennya.
Beneran lho, Nulis itu walau sederhana tapi nggak gampang. Apalagi di antara tumpukan kerja dan waktu yang sumpah minim banget.
Mana kalau pas abis publis cerpen yang sumpah, beneran, diusahain dengan 'nyolong – nyolong' waktu berakhir dengan kalimat "Kok nggak ending".
Heloooooo, Kerjaanku bukan cuma nulis aja kaleeeee. Nulis teh cuma buat menghibur diri sendiri kalau pas lagi ada waktu luang sama lagi mod juga.
Waktu udah minim, Mod malah di bikin Down. Cape deh….
Dan abis ini, Untuk cerpen yang selanjutnya silahkan menunggu lanjutanya muncul kalau memang masih mau baca kelanjutannya, Jika memang nggak sabar. Dipersilahkan untuk melanjutkan sendiri. Kalau perlu bisa di kotak komentar…. ^_^
Oke, dari pada kebanyakan bacod. Silahkan langsung di nikmati.


"Ma kasih ya, Kalian berdua sudah mau repot – repot jemput gue buat kekampus segala" Ujar ku berbasa basi saat turun dari mobil si Double J.
Sempet kaget saat mendapati Jimmy dan Junior yang muncul pagi tadi di depan kostan. Tapi siapa yang menduga kalau kabar yang mereka bawa ternyata lebih mengagetkan lagi.
"Santai aja. Sudah kewajiban ini. Yang penting loe baik baik aja kan?" tambah Junior lagi.
Aku tidak membalas, hanya bibir ini yang mencoba untuk tersenyum.
"Oh ya Riani".
Aku menoleh "Ada apa?".
"Inget pesen gue kemaren ya?".
"Syip".
Ujarku sambil berbalik menuju kekelas, sejenak ku hembuskan nafas berlahan. Mendadak perasaan ragu menyelimuti batin ku?. Benarkan sudah tiba saatnya aku untuk bahagia?.
"Riani".
Langkahku langsung terhenti. Kevin tampak berdiri dihadapanku sambil menatapku lurus.
"Ada apa?".
"Kenapa loe bisa pergi bareng sama mereka?".
Sejenak aku merasa bingung?. Mereka?. Saat mendapati lirikan mata kevin yang tertuju pada sosok Double J yang semakin menjauh baru lah aku ngerti maksutnya.
"Dan kenapa loe mengundurkan diri dari toko buku kakak gue?".
"Bukan urusan loe" Balas ku ketus sambil berniat untuk langsung berlalu kalau saja tanganku tidak lebih dahulu di tahan oleh nya.
"Apa mau loe sebenernya?" tanyaku terdengar lelah saat mendapati kebiusan kevin.
"Gue kan sudah bilang kemaren kalau…..".
"Cukup, Gue nggak mau jadi pelarian" Potongku sebelum kevin sempat menyelesaikan ucapannya.
"Kalau gue bilang loe bukan pelarian tapi gue ngelakuin ini semua karena gue suka sama loe, apa loe akan percaya?".
Aku menoleh, mendapati wajah lelah kevin tepat di hadapanku.
"Kalau gue bilang gue bener – bener cinta sama loe, apa loe akan percaya?".
Kali ini aku benar – benar terpaku mendengar kalimat yang ku dengar barusan.
"Mustahil"
Tanpa sadar mulutku bergumam.
"Gue akan lakuin apa aja agar loe percaya. Asal loe tetep bersama gue. Gue mohon".
Hal yang tidak pernah ku duga sebelumnya terjadi. Seorang Kevin, Bersimpuh di hadapanku. Memohon seperti ini. Ya tuhan, apa Jimmy benar. Bahwa rasa yang ia punya untukku adalah tulus?. Mendadak perasaanku mulai goyah. Tapi…
"Nggak, Loe nggak perlu ngelakuin apapun. Karena gue nggak akan percaya".
Selesai berkata aku segera menarik lepas tanganku. Langsung berlalu meninggalkannya.
"Riani".
Teriakan Kevin kembali terdengar, Tapi aku sama sekali tidak menoleh dan terus melangkah.
"Gue akan tetap disini, sampai loe bener – benar percaya kalau gue suka sama".
"Riani, Gue cinta sama loe!".
Astaga, Tuhan panggil aku sekarang. Bumi, telen aku saat ini juga. Kevin pasti sudah gila. Kenapa dia harus berteriak sekencang itu di sini. Di halaman kampus. Memangnya dikira lagi main drama apa. Tanpa bisa ku cegah kaki ini langsung melangkah dengan cepat.
Jangan salah, aku tidak akan berbalik. Aku justru malah berlari menuju kekelasku. Aku hanya akan menerimanya kalau aku sudah yakin kalau dia memang menyukaiku.
Cerpen The Princes Part Ending
Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tidak mampu berkonsentrasi. Selain karena lirikan dari sekeliling dan juga suara desah desuh yang jelas membicarakan ku, Ketiga sahabatku juga justru malah memperburuk keadaan. Sedari tadi mereka juga terus merusuhiku. Memaksaku untuk mempercayai kevin. Hei, kenapa aku merasa mereka mendadak jadi penghianat ya?. Memangnya mereka lupa ya, apa yang kevin dan teman – temannya lakukan dulu.
"Riani, coba loe liat keluar. Mau hujan" bisik Nay lirih.
"Terus, kenapa memangnya. Bukannya hujan itu anugrah" balasku tanpa menoleh. Lagi pula kami kan sedang belajar.
"Tapi Kevin masih ada di halaman. Sejak…."Naysila meilirik jam di tangannya "Empat jam yang lalu" sambungnya.
Mendengar itu mau tak mau aku terdiam. Menatap jauh keluar melalui jendela. Benar, langit mendung. Benar, Kevin masih bersimpuh di halaman. Dan benar juga aku masih tidak menemuinya.
"Apa loe masih nggak bisa mempercayai Kevin?".
"Riani, denger ya. Loe yang lebih dulu mengenal dia. Loe lebih tau dia itu seperti apa . Jadi loe harusnya sudah lebih dulu tau kalau saat ini dia pasti tidak sedang bercanda. Kita semua juga bisa melihat keseriusannya dia".
Ucapan yang iren lontarkan makin membuatku bungkam. Menatap langit. Mendung sudah berganti hujan. Mungkinkah kevin masih bertahan di sana?. Mau tak mau pertanyaan itu mengusik ku. Membuatku sama sekali tak berkonsentrasi menghadapi pelajaran yang di ajarkan. Dan begitu kelas berakhir aku langsung melesat keluar.
"Ya tuhan, Kevin".
Disini aku berdiri terpaku. Menatap lurus kedepan. Dan disana, Kevin. Juga masih bersimpuh seperti terakhir kali aku melihatnya tadi pagi. Tanpa mampu di cegah kaki ini langsung berlari kearahnya.
"Kevin, loe beneran gila ya?".
Mendengar teriakan ku kevin mendongak. Mencoba tersenyum diantara bibir pucatnya yang bergetar kedinginan.
"Sekarang loe percaya sama gue kan?. Loe percaya kan kalau gue benar tulus?".
Detik ini juga aku bisa merasakan air mataku sendiri menetes. Berbaur bersama hujan yang tiba – tiba…. Berhenti?.
Aku segera mendongak. Mustahil hujan berhenti hanya di sekelilingku sementara jelas – jelas aku masih melihat tetes-tetesan air yang terus membasahi tubuh Kevin yang telah menggigil kedinginan. Menyadari bukan langit yang ku temui melainkan payung yang menaungi refleks aku menoleh.
"Jimmy?".
"Sekarang loe sudah percayakan bahwa apa yang gue katakan kemaren itu memang benar?" bisik Jimmy lirih.
Refleks, aku mengangguk. Ya aku percaya. Aku percaya kalau kevin mencintaiku, dan aku juga tau kalau aku mencintainya. Namun saat kaki ini berniat untuk melangkah menghampiri kevin, Gengaman erat Jimmy sudah terlebih dahulu menahan langkahku. Saat aku menoleh binggung, ia hanya tersenyum sambil berujar.
"Dan kalau gue nggak lupa, gue juga memperingatkan loeuntuk nggak boleh terpengaruh. Cukup percaya saja. Bener kan?".
"Maksut loe?".
"Kita pergi sekarang!" Ajak Jimmy yang membuat ku kaget.
"Tapi…".
"Loe memulai hubungan dengannya dengan sebuah kebohongan. Disusul dengan kebohongan kebohongan lainnya. Terlepas dari sengaja ataupun tidak. Tapi yang jelas, Kali ini tidak kan loe berniat untuk mengakhirinya?".
Oke, kali ini aku beneran bingung. Mataku menatap lurus kearah Jimmy, Menanti penjelasan dari ucapannya. Tapi tiada kata – kata lagi yang keluar. Justru hanya sebuah senyuman yang bertengger di sana.
"Kita pergi sekarang" Ajaknya untuk kesekian kali.
Dan seperti terhipnotis, kepalaku mengangguk. Berniat untuk mengikuti Jimmy. Tapi lagi – lagi langkah kaki ini tertahan. Di hadapanku kini tampak ketiga temanku bersama keempat sahabat – sahabatnya kevin. Terpaku dengan tatapan menghakimi yang terarah lurus padaku.
Berniat mengabaikannya dan segera berlalu lagi – lagi langkah kaki ini tertahan saat mendengar suara lirih Kevin.
"Riani".
"Untuk terakhir kalinya gue bertanya. Maukah loe balik lagi sama gue?" Pinta Kevin terdengar lirih.
Ya!. Aku mau. Aku percaya sama kamu Kevin. Ingin sekali aku berteriak dan berbalik kearah kevin jika saja Gengaman Jimmy yang erat mengengam tanganku tidak menahannya.
"Jika memang nggak. Loe bisa pergi sekarang.Gue janji, Gue nggak akan menganggu hidup loe lagi. Dan gue juga janji, Tidak akan pernah ada teror dari gue ataupun temen – temen gue" Untuk sejenak kevin terdiam "Tapi gue tetap berharap loe mau balik lagi sama gue".
Pertahanan ku runtuh. Air mata ini semakin deras mengalir. Aku benar – benar goyah. Tepat saat aku berniat berbalik, Sebuah tangan halus mengusap pipiku lembut. Menghapus air mata ini dengan berlahan.
"Loe percaya sama gue kan?" Tanya Jimmy tegas.
Mendadak aku ragu. Merasa dilema akan semua ini. Namun kalimat lanjutan Jimmy selanjutnya membekukanku.
"Kakek menemukannya".
Refleks aku mendongak, Menatap tak percaya kearah jimmy. Kakek menemukannya?. Benarkah?. Mustahil!. Bagaiman bisa?.
"Kita pergi sekarang!".
Kali ini Jimmy benar – benar menarik ku berlalu. Membawa semua rasa sakit ini?. Atau mungkin justru mati rasa?. Entahlah, aku juga tak tau. Yang aku tau, Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada semuanya. Selamat tinggal andre, Selamat tinggal Riani. Dan selamat tinggal Kevin. Jimmy benar, Kebohongan ini harus di akhiri.
Pelan tapi pasti aku terus melangkah menjauh. Masuk kedalam mobil bersana Jimmy dan Junior. Terus melaju bersama harapan baru.
END……!!
Endingnya maksa?!. Biarin siapa suruh aku di paksa….. Wukakakka…. So gini lah jadinya. Mau protes kayak apa juga suka suka deh… Yang penting udah END, Titik!!!.
Wukakakka…….
Tapi tapi tapi, Cerpen ini adalah cerpen rekord terlama yang harus di selesaikan tapi kenapa endingnya gaje gini ya?. Ya sudah deh di lanjutin lagi. Hi hi hi #Asli ini penulis beneran gak jelas.
Sambil kepala tetap menunduk aku terus melangkah menuju kekelas. Tatapan tajam dari seisi anak – anak kampus benar – benar mampu menusukuk ku sampai kejantung. Sesekali aku melirik kearah kanan dan kiriku. Dimana tampak Jimmy dan Junior yang berjalan mengiringi.
"Naysila" teriak saat melihat Naysia di hadapanku diikut oleh Iren dan Kezia barulah aku mampu bernafas sedikit lega. Tapi sayang kelegaan itu tidak berlangsung salam saat dengan mata kepalaku sendiri aku melihat mereka justru malah membuang muka dan segera berlalu menjauh.
Mata ini mendadak terasa panas. Ya tuhan apa aku salah?. Kenapa mereka terlihat menghindariku?. Dan belum sempat aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang terlintas di benak mata ini sudah terlebih dahulu menemukan sosok Kevin di depan.
Hatiku mendadak merasa miris. Benarkah apa yang ku lakukan ini?. Saat mendapati wajah cekung Kevin dengan matanya yang sembab ditambah dengan wajahnya yang benar – benar terlihat tak bersemangat membuat hati ini merasa sakit. Sunggu aku merasa tak tega melihatnya. Saat, Kaki ini berniat untuk melangkah mengahampirinya tanganku sudah terlebih dahulu ditahan. Begitu menoleh gelengan kepala Jimmy disertai senyumnya yang simpul langsung menahanku.
"Percayalah, semua akan indah pada waktunya" Bisik Junior lirih.
Aku mengangguk lirih. Dan kembali menunduk saat Kevin berlalu disampingku tanpa menyapa sama sekali.
Cerpen The Princes Part Ending
Kosong, Itu yang Kevin rasakan saat ini. Dulu tidak pernah ia bayangkan sekalipun kalau rasanya akan semenyakitkan ini. Ia tidak pernah menduga kalau perasaan yang dimilikinya ternyata sedalam itu pada Riani.
Dan disaat ia menyadari, semuanya sudah terlambat. Bukan saja karena Riani kini membencinya, tapi karena dirinya kini bukan miliknya lagi. Pretunangannya sudah di tentukan malam ini. Memusnahkan semua harapan kebahagiannya.
Saat matanya menatap wajah Riani pagi ini. Hatinya kembali merasa tercabik. Gadis itu tampak baik – baik saja. Bahkan kini sepertinya sudah dengan gampangnya mendapatkan pengantianya. Kenyataan itu benar – benar terlah menamparnya langsug tepat di hati.
Waktu juga sepertinya kali ini sedang tidak bersahabat padanya. Terbukti tanpa ia sadari kini malam telah menjelang. Ia telah berdiri terpaku di hadapan sebuah rumah yang benar – benar terlihat bak istana. Di depannya tampak kedua orang tuanya.
Sementara di belakang keempat karibnya di tambah ketiga sahabat karib Riani menyertai. Ia sendiri juga bingung kenapa Ketiga gadis itu justru malah membelanya. Memenuhi undangannya untuk menghadiri pesta pertunangannya saat ia disuguhkan 7 undangan pribadi dari orang tuanya.
Ya, khusus untuk pertunangan ini semuanya memang sudah di persiapkan oleh calon keluarga barunya.
"Gila, ini rumah apa istana?"Decakan kagum keluar dari mulut Iren.
"Ini si jelas istana. Ya ampun Kevin, loe bener – bener beruntung. Abis menikah sama dia loe nggak perlu kerja udah langsung kaya tujuh turunan kalau kayak gini ceritanya" tambah Vano yang langsung mengaduh kesakitan saat merasakan kakinya diinjek Vardan.
Dan mulut Vano langsung bungkam saat melihat wajah Kevin yang terlihat seperti mayat berjalan.
"Sudah lah bro, Relain saja semuanya. Yakinlah ini pasti yang terbaik untuk semuanya. Loe pasti bisa move on" Bisik Randi sambil menepuk pundak Kevin memberi semangat.
Kevin tidak membalas. Hanya mencoba untuk tersenyum walau jelas hambar. Lagi pula saat ini mereka sudah sampai di dalam istana. Semua mata menatap kearahnya. Sekilas, matanya menatap kearah pangung. Acara pertunangan akan segera di mulai.
Entah berapa menit berlalu, Kevin juga tidak sempat memikirkannya. Bukankan sudah ia katakan ia mati rasa. Saat namanya di panggil untuk naik keatas pangung, ia juga hanya melangkah tanpa menoleh. Teman – temannya hanya mampu menatap miris.
Sedikit basa – basi ia menunduk hormat pada sosok yang ada di sana. Seorang kakek – kakek yang katanya adalah kakek calon tunangannya. Sementara di sampingnya tampak seorang gadis muda seusianya yang benar – benar terlihat cantik. Tapi sayang secantik apapun gadis itu ia sama sekali tidak tertarik.
"Baiklah Kevin, Kita bisa memulai acara ini?" tanya sang kakek.
Kevin mengangguk sambil berusaha tersenyum walau terlihat hambar. Mengambil inisiatif menghampiri gadis manis itu dan berdiri di sampingnya.
"Kamu udah siap?" tanya Gadis itu
"Iya" Kata Kevin lagi. Mengahadap gadis itu. Ternyata benar gadis itu canti, Tapi tetap saja dia bukan Riani. Satu – satunya gadis yang ia inginkan.
"Kalau begitu kenapa loe malah berdiri disini. Ayo jemput pasanganmu".
"He?" kening kevin berkerut bingung. Menjemput pasangannya?. Bukannya gadis itu adalah pasangannya, terus apa maksut ucapannya.
Dan pertanyaan itu langsung terjawab seiring dengan tepuk tangan seluruh hadirin dan juga tatapan lurus di sertai lampu sorot kearah tangga melingkar yang mengarah langsung kearah panggung.
Gadis dengan gaun berwarana merah muda tampak melangkah satu persatu menuruni anak tangga, Bener – benar terlihat bagaikan seorang putri Cinderela. Sementara tepat di belakangnya dua orang pria yang mengawalinya berjalan mengikuti yang Kevin kenal pasti sebagai pemilik nama Jimmy dan Junior. Sementara Gadis itu sendiri Kevin kenali sebagai…
"Riani?" Tanpa sadar kata itu meluncur dari bibir Kevin yang jelas kaget saat mendapati gadis itu kini sedah berada tepat di hadapanya dengan senyum faforitnya.
"Itu,,,,… Itu beneran Riani kan?" tanya Kezia dengan telunjuk lurus menunjuk kearah panggung.
Tiada jawaban dari keenam orang yang berdiri disampingnnya. Masing – masing juga terlihat bagai patung menatap pasangan di atas panggung. Kejutan yang sangat sangat sulit untuk di percaya.
"Surprise" Bisik ku lirih sambil tersenyum kearah Kevin yang masih terpaku.
"Bagaimana Kevin, Perkenalkan dia Cucuku satu – satunya. Andreani." Kata Kakek menginterupsi membuat Kevin mengalihkan padangannya yang ternyata sedari tadi terjurus padaku.
"Dan sebelum kita memulai acara pertunangan ini, Aku ingin bertanya padamu. Maukah kau menjaga Andreani, Menjadikannya wanita yang akan kau lindungin dan kau cintai. Dan menjadi satu – satunya wanita yang akan kau jadikan pendamping hidupmu?".
Pertanyaan kakek jujur mengagetkankun. Mendadak rasa resah dan ketakutan melanda batinku. Bagaimana jika Kevin menolaknya?. Bagaimana Jika Kevin justru marah padaku dan melakukan pembalasan atas apa yang ku lakukan padanya kemaren?. Bagaimana jika kali ini Kevin nekat pergi kali ini?. Dan bagai mana jika…
"Dengan Segenap Jiwa dan ragaku".
Singkat, padat, Jelas dan tegas. Itulah kesan yang didapat dari kalimat yang Kevin lontarkan barusan.
Dan hal yang terjadi selanjutnya adalah seperti apa yang Jimmy janjikan. Kebahagiaanku kini ada dalam gengamanku. Aku mendapatkan apa yang ku inginkan. Keluarga, sahabat, Orang yang ku cintai. Dan lebih dari semua itu, Aku mendapatkan kebebasanku. Bebas untuk menjadi diriku sendiri seutuhnya. Andreani. Bukan lagi harus menjadi seorang "andre", Pria penjaga toko buku, Ataupun seorang "riani" sang kutu buku.
Tanpa sadar bibir ini tersenyum.
"Kau bahagia?".
Aku menoleh, Menyadari Kevin berdiri disampingku sambil mengengam tanganku erat. Tapi yang ku tatap ternyata tidak menatapku. Justru ia asik menatap bintang di langit. Ya saat ini kami memang sedang berada di balkon istanaku sambil melihat langit lepas. Sengaja memisahkan diri dari hiruk pikuknya suasana pesta.
"Iya, Aku bahagia" Aku ku jujur.
"Bagaimana dengan mu?. Apa kau masih marah padaku?" tanya ku lagi. Kali ini Kevin menoleh, menatap lurus kearah mataku.
"Marah untuk apa?. Untuk tidakanmu yang meninggalkanku kemaren?. Untuk sikapmu yang membiarkan ku berhujan – hujanan menantimu yang justur malah kau abaikan?. Atau untuk semua keputus asaan ku selama ini?".
Aku terperkur kaku. Menunduk dalam diam. Tak tau harus menjawab apa?. Tapi sunggu aku menyesal melakukannya.
"Untuk semua kebahagian yang kau berikan malam ini, Bagaimana mungkin aku marah padamu?".
"Eh" Kali ini aku mendongak. Mendapati senyum tulus di wajah Kevin. Tangannya yang halus kini mengusap pipiku.
"Terima kasih karena telah membohongiku. Membuatku bisa menyadari perasaan ku sendiri".
Situasi seperti ini asli membuat ku mati gaya. Mendadak merasa sulit untuk bernapas.Dan jantung ini juga justru malah memperburuk keadaan. Bedetak semakin tak beraturan.
"Ehem, Kenapa kita jadi bicara Aku-Kamu gini?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.
"Itu karena kita sudah semakin dewasa. Sudah saatnya juga untuk kita berfikir secara Dewasa. Memangnya kau mau saat kita sudah berumah tangga nanti kita berbicara secara Loe -Gue?".
Pertanyaan yang Kevin lontarkan barusan sontak membuat mukaku bersemu merah. Berumah tangga nanti?. Ah, aku belum pernah memikirkannya sampai sejauh itu.
"Oh ya, seingatku, aku belum memujimu. Malam ini kau benar – benar terlihat cantik. Persis seperti Putri Cinderela yang ada di doneng – dongeng".
Pujian Kevin memperburuk keadaan. Untunglah susana remang – remang. Sehingga mungkin dia tidak menyadari wajahku yang sudah merah seperti kepiting Rebus.
"Tapi ngomong – ngomong soal cinderella, Dalam kisah ini kau lah yang jadi Cinderellanya".
"Aku?" tanya Kevin heran, Dan aku langsung mengangguk membenarkan.
"Emm. Dulu kau waktu kecil kau pernah menyelematkanku. Dan waktu itu kau meninggalkan Sebelah sepatumu. Dan saat usiaku 17 tahun kakek berniat menjodohkanku. Tapi aku menolaknya. Aku baru mau menerima perjodohan kakek kalau orang itu adalah pemilik sepatu itu. Karena kakek nekat tetap berniat untuk menjodohkanku entah pada siapa. Karena mustahil untuk menemukan siapa pemilik sebelah sepatu itu tanpa petunjuk apapun. Saat itu aku juga nekat kabur dari rumah. Menyamar jadi Andre untuk tetap bisa bersekolah. Dan harus berpenampilan seperti Riani, Agar kakek tidak menemukanku. Tapi entah bagaimana caranya, Pada akhirnya kakek tetap berhasil menemukanmu. Tepat Seminggu yang lalu".
Kevin terdiam, Mecoba mencerna semuanya. Sekarang ia mengerti kenapa Andreani harus menyamar. Ia juga sudah mulai mengerti kenapa mendadak ia di jodohkan.
"Tapi kenapa waktu itu kau tidak memberitahuku dan malah membiarkan aku berhujan – hujanan?".
"Itu karena JimmY".
"Jimmy?" kening kevin berkerut heran.
"Iya. Waktu itu aku masih tidak percaya denganmu. Ah kau kan suka jahil. Lagi pula waktu itu kita sedang marahan Tapi Jimmy meyakinkanku bahwa perasaan yang kau punya untukku adalah tulus. Aku masih tidak percaya sampai ia berkata untuk membiarkan mu membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri".
Kevin tidak menjawab, Hanya kepalanya yang mengangguk – angguk mengerti.
"Sepertinya aku harus berterima kasih padanya".
"Memang seharusnya" balas ku sambil tersenyum simpul.
"Dan akhrinya kau tau kalau aku benar – benar mencintaimu?".
Gantian kepalaku yang mengangguk membenarkan.
"Oh ya, Ngomong – ngomong masih ada satu hal yang masih ingin ku tanyakan".
"Apa?" tanyaku heran.
"Kau sudah tau bahwa aku menyukaimu. Kau sudah tau dengan jelas perasaan ku yang sesungguhnya. Lantas bagaimana denganmu?. Apakah kau juga mencintaiku?".
Hening, aku membisu. Tatapan penuh harap Kevin jelas berada di hadapanku. Menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. Apakah aku juga mencintainya?.
Sejenak aku menghembuskan nafas dalam sebelum kemudian menjawab dengan mantab.
"Aku Mencintaimu. Sepenuh hatiku".
ENDIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNGGGGG!!!!….
OKE, Untuk Part ini aja aku minta untuk siapapun yang membacanya n selalu menunggu lanjutannya buat COMNET!!!!!!!!…
Mau bilang hasilnya ancur kek, jelek kek, apa ke terserah. Keluari aja unek – unek kalian.
Udah segitu doank. Titik!!.

Random Posts

  • Cerpen Cinta: THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES

    THERE’S SOMETHING IN YOUR EYESOleh: Bella Danny JusticeYang benar saja? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang seperti dia! Kalau saja aku dapat menentukan jalan hidupku, aku lebih baik bersama dengannya. Walau harapanku ini mustahil, tapi aku ingin untuk tidak mencintai orang itu. Dia bukanlah pria yang baik. Aku menyesal karena aku terlalu bodoh dan terbuai sikap lembutnya. Pada awalnya aku kira dia hanya bersikap seperti itu kepada diriku, tetapi aku salah. Dia memperlakukan semua perempuan sama seperti aku. Aku sungguh tidak terima. Aku ingin pergi sejauh mungkin supaya aku tidak dapat melihat wajahnya yang memuakkan itu. Tetapi kenyataan berkehendak lain, kini aku justru satu kelas dengan pria itu. “Keiko, ayo aku antar kan kau pulang.” Ucapnya yang berdiri dihadapanku. Segera ku masukan semua buku yang ada diatas meja dan bergegas untuk pulang. “maaf, aku ada urusan. Kau pulang sendiri saja.” Kataku ketus. Lalu aku meninggalkan Souta dikelas sendiri. Namun ia mengejarku dan menarik pergelangan tanganku. “Keiko, ada apa denganmu?! Kenapa kau begitu berubah terhadapku?! Katakan padaku apa yang mengganjal dihatimu!” perkataan Souta benar-benar membuatku ingin meledak. Berani sekali dia bertanya seperti itu padaku setelah ia berpacaran dengan sahabatku lalu ia meninggalkannya hanya dalam waktu 1 bulan. Karena dia, sahabatku Miruka sampai pindah sekolah dan sekarang aku tidak punya siapa-siapa. Aku menatap lurus matanya penuh dengan kekesalan. “jangan pernah kau tunjukan wajahmu dihadapanku Sou.”*** Aku tau aku telah bersikap keterlaluan kepadanya. Tapi inilah yang bisa kulakuan untuk mengubur perasaanku terhadapnya. Aku tidak ingin berakhir seperti Miruka. Aku masih ingat betul saat itu. Malam hari saat aku sedang belajar untuk ulangan Fisika tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Ternyata Miruka yang datang kerumahku. Aku mengajaknya masuk tetapi ia tidak mau. Ia tidak mendengarkan ucapanku. Badannya basah kuyup dan wajahnya pucat, bibirnya pun membiru karna kedinginan. Ia menerjang hujan lebat sampai seperti ini. Sekali lagi aku mengajaknya untuk masuk kedalam, tetapi ia menolaknya mentah-mentah. Miruka justru menepis tanganku yang berusaha membantunya untuk berdiri. “kenapa…kenapa Keiko, kenapa ini terjadi kepadaku??!!!” serunya penuh dengan tatapan yang berlinang air mata. Aku tidak mengerti maksud sahabatku itu. Tiba-tiba ia datang dan menyalahkanku, seolah aku telah melukai perasaannya. “apa maksudmu Miruka? Aku tidak mengerti. Masuklah dulu, biar kau jelaskan semuanya. Kalau tidak, kau akan jatuh sakit.” Aku mengajaknya untuk masuk tapi ia tetap tidak mau. Ia sungguh membuatku penasaran akan apa yang terjadi. “maaf Keiko, aku rasa…aku tidak bisa lagi menjadi sahabatmu.” Setelah mengucapkan itu lalu ia pergi. Ia berlari menjauh. Sampai aku tak dapat lagi melihatnya. Sampai detik ini aku belum mengetahui maksud perkataan Miruka. Keesokan harinya ia sudah pindah sekolah dan aku melihat Souta bersama dengan perempuan lain. Walaupun aku menyukainya, tapi aku tidak terima kalau ia menyakiti hati Miruka. Aku yang tadinya berteman akrab dengan Souta perlahan mulai menjauhinya dan beruntunglah karena kami tidak sekelas. Akan tetapi keberuntunganku tidak bertahan lama. Ketika kenaikan kelas diumumkan, aku terkejut karena kami berada dikelas yang sama. Kelas 3-1. Aku memilih tempat duduk sejauh mungkin darinya untuk menghindari kontak dengannya. 2 bulan berlalu sudah semenjak aku menempati bangku di kelas 3 ini. Aku bisa merasakan Souta yang dulu telah berubah. Ia tidak lagi suka bermain-main dengan perempuan. Ia terlihat lebih rajin. Tapi aku tetap belum bisa melupakan kejadian Miruka dan hatiku pun belum berubah, aku masih menyukainya.*** Malam ini hujan turun dengan lebat dan disertai angin kencang. Aku memandang keluar jendela kamarku dan mengikuti arah titik-titik air yang berjatuhan ke bumi. Malam ini seperti waktu Miruka datang kerumahku, aku merasa hampa. Entah sampai kapan aku menjadi pecundang hanya karena sahabatku. Aku tidak bisa mengakui perasaanku sendiri kepada orang yang aku sukai karena sahabatku adalah mantan pacarnya. Bel rumahku berbunyi terus menerus tak henti-hentinya. Aku menghampiri dan membuka pintu rumahku dan berharap itu bukan Miruka. “Ka, Kazuo? Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” ternyata yang bertamu adalah tetanggaku Kazuo. Ia seorang mahasiswa perguruan tinggi negri. Ia berbeda hanya 1 tahun denganku. Konyol sekali aku sempat berfikir semoga yang datang bukanlah Miruka. Rasanya ingin aku menertawakan diriku. “mm..Ke-ke..keiko…” ucapnya terbata-bata. “ada apa Kazuo? Katakan saja. Aku kan temanmu.” Kataku sambil menyunggingkan senyum dengan mataku yang disipitkan.“a-aku…aku hanya ingin minta gula. Aku ingin membuat teh tapi ibuku sepertinya kehabisan gula. Hehe.” Gaya Kazuo kaku sekali. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku langsung mengajaknya masuk dan mengambilkan toples kaca berisi gula seperti yang ia pinta. “t-terimakasih Keiko, nanti aku segera kembalikan.” “ya, tidak apa-apa” ujarku terkekeh. Kazuo memang orang yang unik. Bahasa tubuhnya membuatku tertawa. Ia bukan tipe yang suka melucu, tetapi perilakunya sungguh membuatku terhibur. Aku selalu tertawa geli jika melihatnya. Ia pria yang sangat baik dan berhati mulia. Aku mengenalnya sejak pindah kerumah ini 5 tahun lalu. Sebagai tetangga yang kedatangan penghuni rumah baru, ia membantuku mengangkat barang-barang. Sejak saat itu kami mulai akrab dan berteman. Aku sering sekali berkunjung kerumahnya untuk bermain bersama. Orangtua kami bahkan sempat berfikir untuk menjodohkan kami, tetapi aku dan Kazuo menolaknya sehingga batal lah rencana perjodohan tersebut dan aku sangat lega. Keesokan harinya aku melangkahkan kakiku dengan semangat untuk pergi ke sekolah. Tanpa sengaja aku bertemu Kazuo di tengah jalan. Aku mendekatinya dan mengagetkannya. Aku menepuk bahunya agak kencang dan berkata nyaring. “HAAAIIII Kazuoooo! Selamat pagi! Hehe.” Ekspresinya lucu sekali. Aku hampir mati tertawa saat melihat wajahnya yang terkejut bukan main. Kazuo mengelus-elus dadanya lalu menarik nafas untuk berbicara. “Keiko, aku benar-benar kaget. Kau itu keterlaluan! Jantungku rasanya mau copot, kau tau?” Aku masih tertawa geli sambil berusaha menahan tawaku untuk berhenti. “maaf maaf hehe habisnya kau lucu sih, aku jadi ga tahan ingin menggodamu terus.” Kazuo memalingkan wajahnya, ia mempercepat langkahnya dan melambaikan tangannya tanpa menengok kearahku. “maaf Keiko, aku duluan ya.”*** Lagi-lagi Souta menghampiri ku. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tidak menggubris setiap perkataan yang keluar dari bibirnya. “Keiko, aku ingin bicara denganmu sebentar. Aku mohon..” ucapnya dengan muka memelas. Baiklah, mungkin sekali ini aku akan mendengarkannya. Setelah itu aku tidak mau lagi berurusan dengannya. Souta mengajakku ke sebuah taman. Taman yang indah dan sangat terkenal ketika musim semi menyambut. Taman Maruyama terletak di daerah Kyoto. Taman ini dipenuhi oleh bunga ceri yang bermekaran dan berwarna pink. Sungguh menyejukan mata dan hatiku. Baunya begitu harum, seperti menghipnotisku. Souta pun membuka pembicaraan. “Keiko, apa kau tau yang sedang ku pikirkan sekarang?” tanyanya dengan nada serius. Laki-laki aneh pikirku. Mana mungkin aku tau! “tidak. Kalau pun kau ingin mengatakannya aku tidak ingin tau.” Balasku cuek. Souta tertawa masam. “kau memang beda dari yang lain. Dirimu yang seperti ini lah yang membuatku tertarik.” Kini ia menatapku, ia memandangi bola mataku yang berwarna coklat. Aku segera memalingkan wajahku dari tatapan lembutnya yang membuatku luluh. “sudahlah, aku pulang dulu.” Aku beranjak dari tempat itu tapi Souta menghentikanku. Ia menarik tanganku dengan tegas sehingga aku kembali dalam posisi duduk. Pria itu mengunci tanganku. Ia menggenggamnya sangat erat dan membuatku tak dapat bergerak. “aku tidak berbohong! Aku menyukaimu Keiko…dan aku tau kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku.” Souta mengatakannya dengan lancar. Apa selama ini dia tau kalau aku menyukainya? Aku tidak tau harus senang atau sedih. Mendengar pengakuan cintanya, tak bisa kupungkiri hatiku meloncat kegirangan. Aku hanya diam tak membalas ucapannya. “aku telah berubah sejak pertama kali mengenalmu Keiko. Kau tidak perlu takut aku akan memperlakukanmu seperti yang kulakukan kepada temanmu Miruka.” Hati yang penuh luapan kebahagiaan berubah menjadi kemarahan. Kata-katanya menyakiti hati sahabatku seolah Miruka tak ada artinya sama sekali bagi dia. “jangan sebut nama Miruka seakan-akan ia tak berarti apa-apa untuk dirimu. Biar bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Kenapa dulu kau menghianatinya?” amarahku terhadap Souta semakin memuncak sehingga aku tidak dapat berteriak dan melampiaskannya. Hanya suaraku yang terdengar rendah dan dingin. “semua aku lakukan hanya untukmu.” Katanya. Tubuhku gemetar. Aku sangat bingung. Apa aku berani menerimanya? “tolong tinggalkan aku sendiri Sou. Aku butuh waktu untuk berfikir.”***3 tahun kemudian…. Setelah pengakuan Souta, aku merasa aku tidak akan sanggup hidup di Jepang jika selalu bertemu denganya. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Inggris dan tinggal disana bersama Bibiku, Rose. Tadinya kedua orangtuaku tidak mengizinkannya, tapi aku terus merengek dan terpaksa mereka pun mengizinkan aku untuk pergi. 3 tahun aku lalui tanpa hadirnya Souta. Aku cukup bahagia tinggal disini. Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran di sebuah universitas terkenal yaitu Oxford University. “Keiko, ada seseorang yang mencarimu.” Sahut Bibi Rose dari lantai bawah. “alright, wait a second.” Balasku dengan nyaring. Aku sungguh terkejut saat mendapati orang yang mencariku. Kazuo?! Bagaimana bisa ia tau tempat tinggal Bibi Rose? Dan untuk apa dia kesini? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di otakku. Benar-benar sebuah surprise yang tak terduga. Aku memperhatikan Kazuo dari kepala hingga ujung kaki. Ia terlihat berbeda dengan ia yang dulu. Kazuo bertambah tampan! Namun, sorot matanya…seperti berbeda. Aku bergidik menatap sorot mata itu. “hai, Keiko. Lama sekali kita tidak berjumpa.” Nada suaranya kini terdengar riang dan tidak kaku seperti dulu. Kazuo benar-benar berubah semakin dewasa. Aku mempersilahkannya masuk dan kami duduk diruang tamu. “aku senang sekali bertemu denganmu. Apa yang membawamu kemari? Aku penasaran.” Ujarku yang diakhiri dengan seulas senyum manis. “apa kau tidak mengenalinya Keiko?” nada bicara Kazuo mendadak serius. Aku mengernyitkan dahi. “apa maksudmu? Mengenalinya?” “mata ini…apa kau sudah melupakannya?” katanya yg menyuruhku untuk menebak. Aku tidak mengerti dengan ucapan Kazuo. Apa yang terjadi? Ia tidak hanya berubah menjadi semakin tampan dan dewasa, tapi juga misterius. “katakan padaku yang sebenarnya Kazuo!” pintaku dengan sedikit memaksa. Aku sangat penasaran. Pasti sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang besar…ya sesuatu yang tidak ingin kudengar.*** Aku tidak percaya dengan ceritanya! Tidak mungkin itu terjadi! Souta mendonorkan korneanya untuk Kazuo yang tertimpa kecelakaan dan kehilangan penglihatannya. Apa maksud Souta seperti itu? kenapa ia harus pergi dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia juga memiliki penyakit kanker yang kronis?! Kau sungguh egois Sou! Kau ingin bertemu denganku dengan cara hidup pada mata Kazuo. Aku tidak bisa menahan tangisku. Saat aku berziarah ke pemakaman Souta, aku melihat seseorang ada disana lebih dahulu. “orang itu…” gumamku yang menahan isak tangis. “sudah lama sekali ya, Keiko…” sapanya lembut. Tampaknya ia juga sedang menangisi nisan Souta. Aku terkejut bisa bertemu lagi dengannya, terlebih ditempat seperti ini. “kita mencintai orang yang sama dan menangisinya juga bersama-sama. Ironis sekali bukan hidup ini?” “tidak. Dari awal Souta hanya menyukaiku, bukan dirimu Miruka. Dan kepergiannya tidak ada hubungannya dengan hidupku atau hidupmu. Kita menjalani hidup yang berbeda. Dari dulu aku ingin mengatakan ini padamu, tapi baru sekarang aku bisa mengucapkannya. Aku sangat lega karna aku tidak lagi menjadi pecundang.” “aku senang kau bertambah dewasa. Sudahlah, tak ada gunanya kita bertengkar. Lagipula, besok aku akan melangsungkan pertunanganku dengan pria yang kucintai. Aku harap kau dan Kazuo bisa menghadirinya.” “aku pasti datang.” Sekarang aku sadar bahwa sebenarnya yang ku inginkan adalah Kazuo. Cintaku memang untuk Souta, tapi sejak dulu yang ada untukku selalu adalah Kazuo. Dari awal, hanya Kazuo lah yang berada disisiku. Tapi aku tidak mungkin bisa melupakan orang yang ku cintai. Sebuah pelajaran yang sangat berarti bagiku. Lagipula, Souta…kau bisa selalu melihatku melalui Kazuo, bukan? Ucapku dalam hati. Aku tersenyum cerah menatap langit dan berharap kau mendengar yang kukatakan Sou.*** “Souta Hakazami!! Cepat habiskan makananmu! Atau ibu akan marah besar.” “iya, iya…Ibu cerewet sekali sih.” “Kazuo, sebaiknya kau ajarkan Souta untuk bersikap disiplin!” “jangan marah-marah terus nanti kau keriput Keiko. Bukankah Souta mengambil sifat seperti itu dari Ibunya? Hehe..” “Kazuo kau mati hah?!” Kehidupanku berubah drastis. Keluargaku dengan Kazuo adalah nafas kehidupan bagiku. Aku sangat bahagia menjalaninya. Kami memiliki seorang anak yang ku namai sama seperti dia, “Souta”, sebagai sebuah kenangan dan agar aku dapat selalu mengingatmu…. aku yakin kau pasti tertawa geli diatas sana melihat kelakuan Souta kecil-ku.. Aku sangat bertrimakasih padamu Sou… Tanpa pengorbananmu, tidak mungkin aku bisa merasakan kebahagian yang luar biasa seperti ini…The sweetest thought..I had it all,Cause I did let you go..All our moments,Keep me warm..When you're gone….(Within Temptation – Bittersweet)ENDNama : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeeFb : Bella JusticeCerpen Bella yang lainnya: Kenangan yang Terlupakan dan Love That I Should Have.

  • Cerpen Remaja: Diantara Dua Hari

    Kenalin aku Ari Indiastuti. Aku dilahirkan di kota Semarang pada Januari 19 tahun lalu. Aku biasanya dipanggil Ari atau Indi oleh orang tua dan teman-temanku. Jika kalian semua pengen lebih kenal aku bisa cari aja di fecabook di alamat ariindi2501@yahoo.com(Ari Indiastuti Weck Weck),bisa juga twitter di mania.crazy@live.com(@indi_weck),atau bisa kirim email di ariindiastuti@rocketmail.com yang pasti aku baca,mungkin juga bisa tukar-tukar sesuatu di blog ku di ariindiastuti.blogspot.com. aku sudah hobby nulis,beberapa ceritaku dan puisi juga beberapa dimuat di majalah Semarang,Magelang. Salam kenal ya buat semua,,kali ini aku ingin berbagi cerita tentang 2 hari yang pasti dilewatin sama kalian semua…Selamat membaca!Diantara 2 Harioleh: Ari IndiastutiAda 2 hari yang kubenci setiap tahun. Aku berharap tidak pernah ada hari itu setiap tahunnya. Sehingga aku tak perlu mengingat masa laluku. Masa lalu yang membuatku terpuruk. Ya… sangat terpuruk.Dua hari itu adalah hari ulang tahunku dan hari dimana tahun baru datang. Aku benci dua hari itu. Ya… sangat membencinya.Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian.Aku ingat saat itu. Saat aku masih kecil. Aku tak bisa ingat saat itu berapa umurku. Pagi-pagi sekali ibu sudah berkutat di dapurnya.“Ibu, ibu sedang apa?”, tanyaku. Saat itu aku baru saja bangun tidur. Dan mendengar suara-suara di dapur.“Hai… Sayang, kau lupa? Hari ini hari ulang tahunmu!”, kata wanita yang kupanggil ibu itu. “Selamat ulang tahun sayang.”,tambahnya.“Eh..oh… iya aku lupa!”, kataku disertai cengiran khas milikku.Ibuku hanya mengacak-acak rambutku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Hatiku benar-benar bahagia.“Sekarang, mandi dan pergi sekolah ya!”, kata ibuku lembut sekali.“Tapi bu…”,aku mulai merajuk agar tidak berangkat sekolah hari ini.“Tidak bisa Indi, kau harus tetap berangkat sekolah hari ini.”,itu suara kakakku. Terkadang dia membuatku menangis. Tapi menurutku itu bentuk kasih sayangnya. Daripada tak disapa sama sekali. Oh iya kakakku itu sudah anak kuliah semester 4 lho.“Kaaaakkk…”“…”,kakakku hanya menggeleng tanpa mengucapkan 1 katapun.“Uh! Baik.. baik..”, kataku dan langsung ngeloyor ke kamar mandi.Disekolah memang tak ada yang tau ulang tahunku. Dan aku tak berharap ucapan dari mereka. Yang ada dalam pikiranku hanya makan bersama keluargaku. Ayah, ibu, kakak dan aku. Memang hanya sepotong nasi kuning. Tapi yang lebih berarti bagiku adalah kebersamaan kami. Dan dengan itu artinya mereka mengakuiku karena mengingat ulang tahunku.Malampun tiba. Tibalah ritual makan malam kami dengan satu hal yang special. Ulang tahunku. Kami tertawa bersama. Dan aku masih ingat saking bahagianya aku sampai salah makan cabe. Tapi karena kebahagian itu cabepun rasa gula.hhehehe,,,Oh iya aku ingat itu hari ulang tahunku yang ke-10. Dan seingatku itulah hari terakhir ibuku ingat ulang tahunku. Bahkan ayah tak mau mengingatnya. Dan aku masih ingat hari itu hari terakhirku tersenyum dengan hati.Ya… setelah itu semua berubah. Ibu sibuk dengan dirinya. Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Sementara kakak harus fokus pada studynya.Setiap tahun barupun begitu. Aku tak pernah mengenal tahun baru. Karna bagiku mengingat tahun baru sama saja membuka luka lama yang belum kering di hatiku.Bahkan tahun ini. Tahun ini adalah ulang tahun ke 17. Yang kudapatkan tahun ini hanya kosong. Detik-detik menuju denting jam di 00.00 hanya kuisi dengan tangis. Aku menangis dalam diam. Karena kakakku satu-satunya sedang tidur disampingku. Aku hanya meniup lilin sendirian. Berharap semua berubah. Tak ada canda tawa. Tak ada pula salah makan cabe.Yang ada hanya pilu. Ya… aku terus menangis dalam diam. Aku tak mau topengku retak. Aku tak mau orang tau seperti apa aku jika tanpa topeng ini. Meski itu didepan kakakku sendiri. Aku tak mau terlihat rapuh.Ya… selama 11 tahun aku terus menggunakan topeng kokohku. Aku tersenyum pada semua orang. Aku berakting seolah-olah aku bahagia. Seolah-olah tak memiliki masalah. Aku tau aku munafik. Tapi biarlah. Rasa sakit ini, rasa kesepian ini terlalu sulit kubagi. Indi yang mereka kenal bukanlah Indi. Indi adalah sosok yang tak mereka tau.Aku lebih nyaman menangis sendirian. Aku lebih menyukai menangis tanpa suara. Mungkin memang lebih menyayat. Tapi lebih melegakan.“Air matamu bisa habis jika kau menangis terus, Indi!”, itu kata kakakku. Tapi itu dulu. Indi yang sekarang bukanlah orang yang akan tertipu dengan kata-kata penghibur seperti itu.Memang sempat terlintas dibenakku. Ingin rasanya ketika aku menangis ada yang memelukku. Ada yang merelakan pundaknya untuk tempat ku bersandar. Ada yang menyediakan tangannya untuk merengkuhku dalam pelukannya dan membiarkanku menangis disana.Tapi mana mungkin. Aku terlalu tertutup. Tak mudah bagiku membagi ceritaku pada orang lain. Aku menutupi itu semua dengan sok peduli pada orang lain. Padahal aku tak pernah memperdulikan diriku sendiri.Hari tahun barupun terkena imbasnya. Seingatku saat itu aku kelas 1 SMP ketika aku mulai mengenal apa itu malam tahun baru. Ketika teman-temanku bercerita apa yang akan mereka lakukan bersama keluarga mereka. Aku hanya bisa diam.“Indi.. Indi kau tahu nggak?”, tanya Rinda padaku.“Nggak”, jawabku dengan nada ketus karena saat itu masih pelajaran dan gurunya mengerikan.Kulihat temanku kecewa atas jawabanku. Aku sungguh merasa bersalah. Bagiku cukup aku saja yang terus merasakan rasa sakit dan kecewa. Aku tak mau temanku juga kecewa.“Nanti saja ceritanya. Kamu mau kena marah?”, kataku dengan nada santai berharap kata-kata itu bisa mengobati kekecewaannya.Bingo! Itu berhasil. Rinda tersenyum padaku. Sepertinya dia mengerti maksudku. Rinda itu sahabatku. Aku memang baru mengenalnya. Tapi aku merasa nyaman dengannya. Dan dia tahu aku paling tidak suka membuat masalah dengan guru. Karena orangtua itu merepotkan.Bel istirahat tiba. Saatnya aku mendengarkan ocehan panjang dari cerita Rinda.“Indi … kamu mau kemana malam tahun baru nanti?”, tanyanya.Glek!!!! Aku menghentikan acara menulisku dan menatapnya. Lalu menelan ludah dengan terpaksa. Aku hanya menggeleng tanpa memasang ekspresi apa-apa. Lalu meneruskan acara mencatatku. Karena yang kutahu malam tahun baru hanya tidur selama 1 tahun.“Tidak kemana-mana ya.”, seolah dia sedih mengetahui jawabanku. “Bagaimana kalau kerumahku”, tambahnya.“Aku mendengarkan.”, kataku lalu berhenti menulis.“Begini. Setiap tahun jika malam tahun baru aku dan keluargaku selalu bakar jagung atau apapun. Kadang bakar daging ayam, sapi. Apapun yang kami beli. Oh iya jangan lupakan kembang apinya. Jadi sambil bakar-bakar kami menyalakan kembang api.”, jelasnya panjang lebar.“Ooooo”, hanya itulah yang keluar dari mulutku.“Tadi katamu kan kau tidak kemana-mana jadi menginap di rumahku saja. Kita menghabiskan malam tahun baru bersama.”, ajaknya padaku.Aku tersenyum mendengar ajakannya. Kemudian aku berpikir. Rasanya pasti senang sekali bisa menghabiskan malam tahun baru dengan keluarga Rinda. Keluarga Rinda juga baik padaku. Tapi jika aku membicarakannya pada ibu. Pasti yang kudapat hanya kata tidak dari mulut ibu. Dan ceramah panjang yang sangat tidak penting dari ayah. Kak Upi’ tidak pulang minggu ini, karena ada tugas yang harus diselesaikan. Seandainya ada kak Upi’. Sayangnya dia harus kuliah di luar kota.“Sepertinya tidak bisa.”, jawabku . “Sebenarnya aku ingin. Tapi… itu akan membuat masalah baru kurasa.”, jawabku seadanya. Rinda sudah tau bagaimana keluargaku. Meskipun dia tidak tau apa yang kurasakan. Tapi dia tau bagaimana aku dan bagaimana keluargaku. Walau yang dia tau adalah topengku. Tapi aku tak pernah menceritakan padanya. Baru sekali aku mengajaknya maen kerumah. Dan dia langsung tau bagaimana keluargaku. Rinda memang luar biasa.“Baiklah, tak apa-apa.”, katanya sambil merangkulku. Tak terlihat raut kekecewaan diwajahnya.Ya… dan malam tahun baru hanya yang kesekian kalinya hanya kulewatkan dengan tidur. Karena jika aku membuka mataku. Aku akan mengingat semua luka yang tergores di hatiku. Aku akan menyadari bahwa aku kesepian. Aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Itu membuatku marah. Biasanya saat seperti itu kulampiaskan pada tembok atau apalah.Aku tau itu menyebabkan luka di tubuhku. Tapi siapa peduli. Luka-luka ditubuhku lebih nyata dan akan sembuh lalu menghilang bekasnya setelah beberapa hari. Tapi luka dihatiku entah akan sembuh atau tidak aku tak tau.Seandainya 2 hari itu tak pernah ada. Tapi mana mungkin. Hari itu akan tetap ada dan tetap menciptakan luka.Harapanku sekarang hanyalah semoga ada orang yang mau menyembuhkan dan menghapuskan luka ini. Sehingga aku tak perlu lagi bertopeng seperti ini.Hari ulang tahunku yang tak jauh dengan tahun baru telah terlewatkan. Biasa saja ditagun ini,yang katanya umur 17 itu “sweet seventeen” tapi apalah, itu hanya untuk orang yang bahagia, sedang aku, gadis pendiam, lugu, tak atahu apa-apa. Pikiran itu selalu ada.“Dorrrrrr…”, suara Rinda mengagetkanku yang sedang meratapinasib gadis malang ini, ”nglamun aja non, ntar kalau ada setan lewat gimana?” Rinda itu teman baik yang lucu sekali, dia hibur kalau aku diam.“ya kalau setannya cewek aku jadikan saudaraku, kalau cowok aku jadikan,,,,, pacar,, hahhaah”, aku mencoba buat banyolan lucu.“Emang sayembara, sama setan kok mau. Udah, kantin yuk, laper,,”, aku pikir sejenak, karena malas sekali untuk jalan kekantin ujung. ”Udah, aku traktir deh,”.Sepanjang jalan kekantin Rinda hanya berceloteh dengan rencana tahun baru yang buat aku iri, tapi aku tetap dengarkan cerita itu sih.“Ndi, ayolah ikut. Ntar aku ngomong sama orangruamu,sekali-kali kan boleh. Udah besar kita itu”, sambil ngrengek-ngrengek dia.“Ya, ayo kerumah, kamu yang ngomong ya,”, sambil aku tersentum,dan berdoa semoga dapat ijin lah.“Siap bos.”, Rinda girang banget.Aku dan Rinda coba bilang ke ibuku agar dapat ijin untuk merrayakan tahun baru bersama.“Ibu, aku diajak Rinda untuk tahun baru dirumahnya, boleh ya,” sedikit melas agar dibolehin sama ibu.“Iya tante, boleh ya. Mumpung tahun baru tante, setaun sekali lho tante,” coba meyakinkan ibuku. Raut muka ibu yang gak pasti buat ku deg-degan ni. Tapi, mulut ibu mulai membuka.“baiklah, ibu ijinkan, asal satu syarat,”, belum selesai ibu ngomong aku udah nyambung.“apa aja syaratnya, Indi lakukkan ibu”.“Dengan syarat kamu gak boleh merepotkan di sana, jangan bikin malu ibu,” denagan jawaban itu aku loncat kegirangan.“Ok ibu ku manis, janji gak macem-macem,” sambil aku hormat sama ketawa.“Iya tante, Indi itu baik kok, jadi gak merepotkan,” Rinda menimpali kalimat yang buat ibu tersenyum.Aku tiap malam udah mimpiin dan gak sabar dengan tahun baru yang akan ku alami ini. Dan yang aku tunggu datang. Aku menginap ditempat Rinda, aku sangat dekat dengan keluarga dia, begitupun sebaliknya. Aku udah tidak sabar dengan waktu yang berputar serasa lambat sekali untuk mencapai 00.00. Kami menikmati diatas sebuah gasebo yang nyaman ini.Waktu tinggal beberapa detik lagi, aku dan keluarga Rinda hitung mundur.“Kita hitung mundur yuk,” kata dari ayah Rinda yang tidak sabar dengan tahun baru ini juga.“10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1,” kitaa ucapkan bersama-sama.dan tahun baru saat puku l 00.00. Suara terompet kita bersaut-sautan.“Selamat tahu baru”, semua berteriak.“Selamat tahun baru, Rin”, sambil memeluk aku.“Selamat thaun baru juga ya, Ndi. Semoga ditahun baru ini kita tambah baik”, aku hampir saja meneteskan air mata, baru kali ini aku merasakan tahun baru waalupun tidak dengan keluarga. Rinda dan keluarganya juga saling memeluk dan ucapkan selamat tahun baru. Aku juga ikut dipeluknya, jadi iri dengan keluarga Rinda.Tiba-tiba dari belakang,“Dor,,,”, suara kakaku yang katanya lagi sibuk studynya kok tiba-tiba ada didepanku.“Selmat ulang tahun sayangku”, ucapan manis dari seorang wanita yang membawa kue ulang tahun yang jelas karena namaku ada disana yang ditemani oleh seorang lelaki paruh baya. Ya, dia orang tuaku yang merawatku dari lahir hingga sebesar ini.Mereka bernyanyi selamat ulang tahun untukku, ternyata keluargaku dan keluarga Rinda yang merecanakan ini semua. Aku merasakan senang sekali. Ibu meminta meniup lilin 17 ini, dan diminta aku memohon doa.Aku menutup mata ini sambil berdoa. Ya ALLAH aku minta agar dapat seperti keluarga lain yang damai, seneng. Aku juga makasih sudah diberi teman yang baik seperti Rinda, semoga umurku ini aku makin baik. Aminnnnn..“buffff,,,bufff” aku tiup lilin itu dan mereka memberi selamt untukku dan menciumiku.“Indi, semoga kamu jadi anak yang lebih baik diumurmu yang semakin dewasa”, kata dari ibuku sambil aku dipeluknya. ”maaf, ibu baru merayakannya”.“iya bu, tak apa.” sambil mencoba mengusap air mata ibu yang jatuh.“Ndi, jadilah anak yang membanggakan untuk orangtuamu ini ya”, ayah yang tak pernah berucap begitu, aku begitu terharu. Tak lupa kakakku.“Adikku paling manis, udah gede kudu pinter-pinter mana yang bener ama tidak ya, mmmmmuuuuaaaaccchh”, aku merasa terharu dengan kakak ku ini.“Indi, selamat ulang tahun, sweetseventeen moga dapat pacar, hhehheh”, dia mencoba bercanda. Aku dan semua hanya tartawa dengan kalimat Rinda.”Kami akhirnya menikmati malam tahun baru dan ulang tahunku yang ke 17 dengan manis. Tak pernah aku bayangkan akan seindah ini yang jauh dari pikiranku. Aku bersyukur diberikan keluarga yang sayang denganku, teman yang selalu temani aku disaat sedih dan menghibur.Ku melamun sendiri memandang mereka yang asyik menikmati malam di gasebo dekat kolam renang. Aku tersenyum sendiri, betapa beruntungnya aku ini dilahirkan, dibesarkan. Aku tak perlu menuntun apa-apa, semua ada, hanya kasih sayang kurang untukku tapi aku merasa senang. Aku tahu kedua orangtuaku bekerja untukku. Kebahagiaan memang tak pernah dapat dinilai, hanya dapat dirasakan. Karena makna kebahagiaan akan datang dengan sendirinya seperti kita memaknai hidup ini.Aku sadar 2 hari yang tak pernah aku senangi ini berbuah manis di tahun baru dan ulang tahunku ini. Aku tak akan melupakan hari ini.Karena asyik melamun aku tak tahu kalau didekatku ada Rinda yang tiba-tiba mengagetkannku. Dan aku didorong ke kolam renang. Huft,, sial,,, aku hanya tertawa dan yang lain ikut tertawa.hahahah,,

  • cerpen farhatul aini – Izinkan Aku Memilih

    Izinkan Aku MemilihOleh : Farhatul AiniIni perasasan hati tak pernah bisa ku bohongi, menyayangi kalian adalah kebahagiaan dan disayangi kalian adalah kebanggaan, akankan semuanya terus berjalan, seiring dengan kebohongan yang terus dilakukan, salahkah ini semuanya yang ku lakukan untuk membahagiakan diri semata.* * *Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang aku lakukan saat ini, menjadikan kedua laki-laki tak berdosa itu masuk ke dalam kehidupanku, dalam sekejap aku tidak menyadarinya, namun setelah mereka menyatakan perasaannya baru ku seperti terbangun dari mimpi, Kevin dan Yoga kedua laki-laki ini menyatakan cinta padaku dihari yang sama. Dan bodohnya aku tak bisa memilih mereka berdua, bodohnya aku menjadikan mereka sebagai kekasihku.Kevin adalah seorang laki-laki dewasa yang begitu mengerti akan semua keadaanku, saat aku sedang bosan, malas atau butuh kasih sayang diapun selalu ada. dan Yoga adalah kakak kelas ku yang begitu perhatian padaku, itu yang membuatku jatuh hati padanya.“Apa Wid lo pacaran sama dua-duanya?” sontak Adel saat aku ceritakan yang terjadi.“Gue ga ngerti Del, gue sayang sama mereka berdua.”“Tapi harusnya lo tuh bisa berpikir, ga jadi seperti ini, apa yang lo lakuin kalau diantara mereka tau?”Pertanyaan Adel terus membayangi pikiranku, apa yang harus aku lakukan ? apakah aku harus jujur kalau aku selingkuh? Apakah aku harus bilang aku mencintai mereka berdua? Apakah aku harus bilang jika ini kesalahanku yang tak bisa memilih? Entahlah aku harus berbuat apa, biarkan waktu yang mendesakku menjawab semuanya. Aku memutuskan untuk melanjutkan kisah ini, kisah yang terlarang namun begitu ku nikmati.* * *Hari ini adalah janji berkencan ku dengan Kevin, berjalan berdua di tengah keramayan sedikit membuatku gemetaran, jantungku selalu berdebar kencang apalagi saat Kevin menggenggam erat tangan ku serasa merasakan getaran yang berbeda dalam perasaan ini.tibalah kami disuatu taman yang indah, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan taman taman indah itu, enatah tempat apa ini, namun baru ku temui bersama orang yang ku sayang. Cuaca langit yang sedikit menghitam tampaknya mulai menyejukan suasana namun langit masih mau berbaik hati untuk tidak mengeluarkan benih-binih airnya. Tiba-tiba Kevin menarik kedua tanganku membalutnya dengan tangannya yang menjadikan sebuah kehangatan, disitu dia pun berkata. “Wid, aku begitu menyayangi kamu dengan tulus, apakah kamupun begitu?”“Tentu Vin, akupun sayang kamu.”lontaran kata-kata dan tatapan yang tulus membuatku semakin terjerat dalam situasi ini, aku semakin merasa bersalah dan takut bagaimana jika Kevin tau bahwa bukan hanya dia yang menjadi kekasihku saat ini, namun rasa sayang dan egois ku yang memaksaku melakukannya.”sampai acara kencan itu berakhir, suasana kebahagiaan masih terasa begitu melakat di hati.* * *Hari ini adalah hari istimewaku, bertambahnya usia dan berharap akan menambah pola pikir kedewasaanku, walaupun saat ini aku sedang terbelit dalam situasi yang dianggap tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang bisa berfikir dewasa. Hari ini juga kepulangan Yoga dari Bandung, setelah berlibur sekitar 2 minggu akhirnya Yoga pulang ke Cirebon, ia tak sabar ingin bertemu dengan Widy kekasihnya itu, karena semenjak mereka bertemu malam itu saat yoga menyatakan cinta, mereka belum pernah dipertemukan kembali karena Yoga harus pergi berlibur bersama keluarganya di Bandung. Kini tibalah mereka bertemu, rasa gugup terpancar dari muka Widy.“Aku kangen kamu Widy sayang.” tiba-tiba Yoga berkata.“ J Aku juga kangen kamu Yoga.” Senyuman tipis terpancar dari wajah Widy.Widy benar-benar merasa gugup, kecanggungan terpancar dari sikap dan bahasa tubuhnya, Yoga pun melihatnya tak biasa.“Kamu kenapa sih Wid, seperti ga suka aku datang.”“Engga ko ga, aku senang.”kenapa saat bersama Yoga, aku selalu terfikirkan Kevin, aku terlalu takut menjalani ini, padahal ini sebuah keputusan yang aku ambil.* * *Percintaan ini benar-benar tidak membuat aku tenang dan bahagia, semuanya hanya menjadi pikiran dan bebanku saja.“Del gue besok mau jalan bareng Yoga.”“Asik dong Wid, pasti lo di ajak ke tempat yang romantisnya ga kalah sama pacar lo yang satu itu.”“Ko gue ga bisa lupain Kevin ya Del, saat gue jalan bareng Yoga, beda banget saat gue jalan bareng Kevin.”“Itu artinya lo lebih sayang Kevin, lo harusnya bisa memilih diantara mereka pasti ada yang terbaik.”“Gue butuh waktu , karna gue sayang mereka.”Berkencan dengan Yoga tak bisa melupakan bayangan Kevin, namun tak ingin ku tampakan. Ku yakin hari ini akan bisa senang bersama Yoga, Yoga membawaku ke sebuah Cafe tempat kami akan mengadakan diner. Suasana lilin yang menyala dengan indah, suasana dingin terasa membuat suasana romantisme tercipta.Saat di waktu sedang menunggu pesanan makanan yang belum datang kamipun berbincang seputar liburan Yoga di Bandung, namun ketika diapun menanyakan seputar liburanku disini aku langsung teringat pada Kevin karna banyak waktu liburanku yang kuluangkan bersama Kevin dan tak mungkin aku bercerita, dan sekali lagi akupun harus berpura-pura.Sampai waktunya akhir kencan serasa menambah kesempurnaan saat Yoga menarik ulur tanganku dan memakaikan cin cin di jari manisku, namun ku artikan itu hanyalah sebuah kado biasa yang biasanya orang berikan pada saat hari ulang tahun. Hatiku juga berkata ini semua bukan kebahagiaan yang aku inginkan.Yoga meluncur dengan mobil hitamnya, melaju menuju arah rumahku untuk mengantarku pulang, sampai di depan gerbang dibukakan pintu mobil mewah itu serasa aku menjadi permaisuri saja, saat ku ingin masuk Yogapun tak lupa mencium keningku, anehnya perasaanku tidak merasa nyaman dengan ini semua. Setelah Yoga mengijinkanku masuk ke dalam rumah, rupanya sosok tak asing bagiku telah menyaksikan drama cinta yang telah terjadi, ya Kevin berdiri disana seperti tak berdaya dengan bunga cantik dan sebuah bingkisan yang indah terjatuh dari genggamannya. aku sontak kaget dengan ini semua, begitupun Yoga yang tampak bingung dengan adanya Kevin.Tak bisa ku keluarkan kata-kata berderet pertanyaan dikeluarkan Yoga pada Kevin.“Siapa kamu, teman Widy? untuk apa datang kesini ? memberikan kado ya buat Widy? Kenalkan aku Yoga kekasih Widy”Ucapan Yoga membuatku gemetaran, semua kata tak bisa dikeluarkan dari mulutku padahal hati ini sudah menjerit tak tahan, matakupun tak bisa menahan benih-benih airnya.Kevin tak enggan untuk menjawab pertanyaan dan sapaan Yoga,“Aku Kevin, dan aku adalah kekasih Widy, aku kesini untuk memberikan ini pada Widy.”“Wid selamat ulang tahun, dan selamat bersenang-senang dengan kekasih baru kamu, terima kasih untuk semuanya.” Rasanya Kevin tak sedikitpun menampakan kesedihan, namun terlihat jelas kekecewaan dan kemarahan terpancar dari mukanya. Jawaban dan sorot mata yang tajam begitu menggores luka dihatiku, tak ada kesempatan yang bisa ku jelaskan, Kevinpun pergi dan meninggalkanku tanpa sepatah kata yang membuatku senang di hari ulang tahunku.Dan Yoga marah-marah meluapkan semua emosinya, aku tak tahan dengan sikapnya.“Okeh, sekarang kamu udah tau kalo aku selingkuh, buat apa kamu marah-marah kita akhiri saja semuanya.”“Wid kamu tau kan aku sayang kamu, kenapa kamu lakuin ini semua?”“Perasaanku yang membawaku dalam situasi ini, kalian begitu berharga buatku dan waktu tak pernah mengijinkan untuk memilih kamu atau dia.”“Baiklah kita akhiri saja semuanya, kamu terlalu beruntung Wid dicintai seseorang dengan tulus, tapi waktu berjalan Wid kamu tak bisa memanfaatkan waktu untuk memilih yang terbaik.”* * *Semuanya pergi luka yang paling menusuk datang dari Kevin tanpa sepatah kata dia mengakhiri semuanya, jika saja dia tau bahwa sekarang aku tersadar dengan cinta yang tulus diberikannya aku ingin dia kembali, berhari-hari ku terfikirkan akan Kevin, kencan yang indah di taman yang indah pula, kini kabarnya entah tak pernah ku dengar lagi. Namun hari ini ku benar-benar merindukannya ku datangi taman indah itu, suasana terpancar sama seperti ku datang dulu bersama Kevin namun kini langit benar-benar ingin menangis seperti hatiku. Kini aku mengerti betapa cinta tak ingin dikhianati, rasa sakitnya begitu tak bisa dirasakan pada seseorang yang mengkhianatinya, namun sangat menyakiti siapapun yang dikhianatinya. Aku juga mengerti tentang penyesalan yang selalu datang saat semuanya telah berakhir. Aku juga mengerti tentang waktu yang tak bisa berlama-lama untuk memilih suatu keadaan.==================================================================== facebook : Farhatul.aini@yahoo.comtwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comemail : ainibarnessa@yahoo.com==================================================================== Rating: 8.5

  • Cerpen Kenangan Pahit di Putih Abu-Abu

    Kenangan Pahit di Putih Abu – AbuAdella Puspa Aprilia Ujian nasional telah berlalu seminggu yang lalu. Sementara itu Alifia terus menerus memandang bingkai foto yang di pegangnya sedari tadi. Di foto itu, tampak ia sedang tersenyum manis dan di sebelahnya ada .. Reza. Pacarnya saat ini, Reza satu sekolah dengan Alifia. Mereka sudah lama berpacaran. Sejak mereka kelas 10 dulu tepatnya.Rasa takut terus menghampiri Alifia. Ia takut ketika lulus nanti Reza memutuskan hubungan dengannya, atau kemungkinan lain yang mungkin bisa saja terjadi. Ia begitu menyayangi sosok Reza. Bahkan karnanya, Reza yang tadinya bernotaben anak nakal sekarang berubah menjadi anak yang lebih sopan dan lebih baik dari sebelumnya. Mereka berdua telah berjanji bila lulus nanti akan satu perguruan tinggi.Ringtone lagu Rihanna berjudul we found love berbunyi keras saat Alifia sedang asyik-asyiknya memandangi fotonya dan Reza. Di layar handphone tertulis REZA LOVE calling. Seketika itu wajah Alifia berubah menjadi wajah kebahagiaan."Halo?", sapa suara di seberang sana."Iya beb, ada apa?""Lagi apa kamu beb?""Lagi nyantai aja, kamunya?""Iya sama nih, ntar malem nonton yuk""Ayukk""Ntar aku jemput ya beb jam 7, dandan yang cantik. OK? Loveyou babe"KLIK! telfon dimatikan.Alifia tersenyum senang lalu berdiri, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.30 menit kemudian …TAADAAAH!! Alifia tampak cantik mengenakan kaos pink di padukan dengan celana jeans 3/4 dan dibubuhi dengan sedikit lipgloss di bibirnya serta tatanan rambut dikucir buntut kuda. Perfecto!"Mamaaa gimana cocok gak?", Tanya Alifia"Cocok kok sayang, gaya nya anak muda dan sederhana banget. mama suka", Mama melihat anaknya kagum.TIN!! TIN!!Suara klakson motor Reza."Mama, aku berangkat dulu yaa", kata Alifia sambil mencium pipi Mamanya. Lalu segera beranjak dan pergi bersama Reza.Di perjalanan …"Za, kita mau nonton film apa sih?", tanya Alifia penasaran"Kita ga nonton film ko sayang, kita nonton pemandangan", jawab Reza datar."Hah?""Udah deh ntar kamu juga tau tempatnya"Setelah sampai .."Liat deh Vi, bagus kan pemandangan dari sini?" kata Reza sambil menggenggam lembut tangan Alifia."Iya Reza, terus kamu ngapain bawa aku ke sini?" tanya Alifia penasaran."Aku mau ngomong sesuatu ..""Apa?""Lulus SMA ini aku akan pindah ke Ausi Vi, karna Papa akan pindah kerja disana.."Hening."Vi..""Hem..""Kok diem?""Kamu mau ninggalin aku disini sendiri Za? kamu tega? hah! aku salah apa sih sama kamu! tega yaa kamu!" Alifia melepaskan genggaman Reza. Air matanya pecah menghujani pipinya. Perasaannya tak menentu kali ini."Bukan gitu Vi, aku sayang sama kamu. SELALU SAYANG KAMU! percaya sama aku please. Aku akan balik ke Indonesia setelah 5 tahun disana. Tunggu aku ya " Reza memeluk Alifia."Reza..""Iya sayang""I love you"Alifia merangkul leher Reza lalu mencium bibirnya lembut."Aku akan nunggu kamu Za. Entah itu 5 tahun 100 tahun bahkan 1000 tahun kamu akan aku tunggu"Reza tersenyum manis sekali, namun tidak semanis hati Alifia saat ini."Pulang yuk, udah malem""Yuk"Di tengah perjalanan..Alifia terus memeluk Reza. Ia tidak mau melepaskannya. Membuat konsentrasi Reza terganggu.TIIIINNNNNNNN!!!! BRAAAKKKKK!!Sebuah bus dari arah samping menabrak Alifia dan Reza. Mereka koma. Selama beberapa minggu lamanya.Sayang, nyawa Reza tidak tertolong. Ia mendahului Alifia yang sedang terbaring koma.Seminggu Kemudian …"Mmmhh" erangan kecil terdengar di telinga Mama Alifia."Alifia? Kamu udah sadar sayang? Dokterrr!!!" Panggil Mama.Dokter segera memeriksa keadaan Alifia."Bu, pasien sudah sadar saat ini, sejauh ini kami menemukan kemajuan pada pasien." kata dokter."Saya boleh masuk dok?" Tanya Mama."Silahkan"Mama masuk ruang rawat Alifia."Sayang, kamu udah sadar?""Reza mana ma? aku kangen dia. Aku mimpi Reza ninggalin aku. Itu ga bener kan?"Mama hanya menunduk sedih."Ma! jawab Reza manaa!! maaa!! jangan bilang kalo..""Reza udah ga ada Vi, dia meninggal""Gakkk!! gak mungkin!! Reza bilang dia ga bakal ninggalin aku!! Reza pasti bohong!! ga mungkinnnnn!!!!!!" Teriak Alifia. Cairan hangat ber air mengalir lembut di pipinya.*****Takkan pernah habis air matakuBila ku ingat tentang dirimuMungkin hanya kau yang tahuMengapa sampai saat ini ku masih sendiriAdakah disana kau rindu padakuMeski kita kini ada di dunia berbedaBila masih mungkin waktu berputarKan kutunggu dirimuBiarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sanaTenanglah diriku dalam kedamaianIngatlah cintaku kau tak terlihat lagiNamun cintamu abadi==============================================================PENULIS CERPEN : ADELLA PUSPA APRILIAFACEBOOK : Adella Puspa ApriliaTWITTER : @dellpussE-mail : dell_puss@yahoo.com==============================================================

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*