Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella ~ 2 {Update}

Belajar ala "Mellisa". Always phositif thinking, make it easy and Keep smille.
I Will Do IT!!!!

Credit gambar: ana merya
Sebenernya pengenalannya sudah cukup yang ada di part satu, tapi aku sepertinya ingin menambahkan sedikit. Ini tentang 'Nano – Nano. Tapi bukan permen ya, yah walaupun tu gelar ku berikan berdasarkan permen tersebut.
Jadi begini, Nano – nano adalah sebuah sebutan yang ku tujukan untuk Kevin. Bahkan sampai saat ini teman – teman ku masih heran kenapa aku memberikan gelaran tersebut karena aku memang sama sekali tidak pernah memberikan penjelasan.
Nah, khusus untuk reader, ku kasih tau *tuh kan, kurang baik apa coba aku, tapi kok serba – serbi masih bilang aku njengkelin ya/ ck ck ck… tak patut*. Gelar tersebut sengaja aku pake gara – gara si kevin itu punya kepribadian ganda, eh triple. Walaupun sebenernya aku juga punya keperibadian triple juga, tapikan gak lucu kalau aku memberikan gelaran itu untuk diriku sendiri. nah, karena memiliki tiga rasa itu lah aku lebih suka menyebutnya nano – nano. Manis, asem, asin. kok jadi ngelantur gini si?. Undo ke awal, Si Nano – nano itu, Teman, Musuh sekali gus merangkap sebagai bos ku , ralat adek bos ku. karena aku kerja di toko buku milik kakaknya. Kalau Kevin yang ngurus tu toko mah mustahil. Secara megang buku aja kayak nggak pernah. Ia datang ke toko itu juga biasanya cuma ngerecokin.
Baiklah, Dia itu TEMAN aku, Andre. karena setiap ada masalah apapun dia pasti bakal cerita sama andre. yaitu aku sendiri. Hubungan kita dekat sejak setahun yang lalu. Waktu aku nggak sengaja nolongin dia yang di rampok dengan cara menyemprotkan serbuk merica yang selalu di bawa kemana – mana tepat kemata perampok itu. yang kemudian berkat keahlian ku yang tidak diragukan dan bentar lagi bakal ku patenkan, aku berhasil membawanya kabur yang barulah belakangan ku ketahui kalau dia adalah adik dari bos ku. Dan nggak tau kenapa sejak itu hubungan kita semakin dekat, Dia juga sering mampir ke toko, Tapi ya itu tadi, bukan buat baca buku tapi cuma mau ngerecokin aku aja.
Tapi, dia itu MUSUH aku, Riani. Setiap hari, dia dan kelima orang teman – temannya yang tengil itu selalu saja ngerjain aku. Tapi untungnya selalu gagal karena setiap dia mau ngerjain riani, dia terlebih dahulu menceritakannya pada andre. So, wajar donk kalau aku bisa ngelak.
Cuma sayang nya, berhubung dia selalu gagal ngerjain aku, sasarannya berpindah ke teman – teman ku. Sementara aku tidak bisa bertindak apa – apa kecuali mengingatkan teman – teman ku untuk berhati – hati karena nggak mungkin kan aku ngasih tau rencana kevin, yang ada mereka semua pasti bakal curiga. Alhasil, teman – teman ku lah yang selama ini terkena getahnya. Sementara Aku?. Aku cuma bisa menahan emosi sebagai seorang kutu buku yang lugu ( ??? ).
Hado….. kok malah jadi molor kemana – mana ya?. ya udah lah Di cut aja. langsung keceritanya aja nyok….. he he he……..
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
Aku sama sekali tidak dapat konsentrasi mendengarkan materi yang diajarkan pak Ridwan. Pikiran ku molor kemana – mana. aku masih berusaha mencari cara untuk menghentikan teror yang dilempakan pada teman – teman ku. Kemaren kezia di buat menangis gara – gara di dalam tas nya di isi bangkai tikut. Bahkan tadi pagi Iren dipanggil ke ruangan pak Agus. Dia di introgasi habis – habisan karena telah berani mengirimi surat cinta sekaligus sekuntum mawar merah untuknya.
Apalagi pak agus memang seorang duda yang sudah berumur lima puluhan. Mana tulisannya mirip banget lagi sama tulisan Iren. Kerjaan siapa lagi coba kalau bukan cecunguk – cecunguk itu. Terlebih pak Agus Orang nya sudah terkenal 'gatel' nggak ketulungan.
Hal ini lah yang membuat aku merasa makin sebel. Kalau ngerjain orang kok nggak kira – kira.
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
"Minggir!".
Aku menoleh kaget. Saat ini kevin dan konco – konconya sudah ada di sampingku. Sejenak ku edarkan pandangan ke sekeliling, masih begitu banyak meja yang kosong di kantin ini.
"Kita mau duduk di sini" Sambung kevin seolah – olah bisa membaca pikiranku.
Aku sudah ingin membantah, tapi teman – teman ku mengisaratkan untuk manut. Ya sudahlah, kali ini aku ngalah dan segera bersiap untuk beranjak pergi. Tapi tiba – tiba Vano dengan seenak jidatnya mengambil keripik singkong yang ada di tangan ku dan tanpa basa – basi langsung melahapnya dengan santai.
"Sebenernya apa si maksut nie orang ?" geram ku dalam hati sambil terus menatap tajam kearah Vano.
"Loe nggak keberatan kan?" tanya vano atau lebih tepatnya meledek.
Sejenak aku terdiam tapi kemudian dengan sebuah senyuman ku balas ucapannya.
"Sama sekali nggak kok".
Menedengar ucapan ku barusan Tu orang makin belagu kayaknya.
"Oh ya, Loe mau lagi?. Biar sekalian gue beliin. Kasiaaan…. buat beli Keripik aja kalian nggak sanggup" Sambung ku yang sontak mengagetkan mereka. Emang nya aku takut apa?.
"Maksut loe Apa?!" bentak Kevin berdiri dari duduknya.
"Lho…. emang nya ada yang salah?" Balas ku berusaha terlihat santai bin kalem *eits, tapi bukan kayak lembu ya*.
"Loe berani sama gue?" ancam kevin lagi.
"Tentu saja tidak. Secara Bodiguard loe segitu banyak" Balasku tak mau kalah sambil menunjuk ke belakang kevin. Reflek kevin berbalik.
"Cewek – cewek itu maksud loe?".
"Emang siapa lagi?".
Kevin segera menarik tangan ku sebelum sempat pergi meninggalkannya.
"Loe pikir gue banci?!" Tanya kevin merasa terhina.
"Ha ha ha…. Jadi loe baru nyadar".
Nggak tau dari mana datangnya keberanian ku untuk melawan kevin. Tapi yang jelas aku sudah tidak tahan dengan sikap semena – mena nya yang berbanding balik dengan sosok kevin yang 'andre' kenal.
"Jaga bicara loe!".
Bentakan kevin cukup untuk menarik perhatian seisi kantin. Dan kalau boleh jujur bentakan itu juga sukses membuat Aku kaget. E,,,,, ditambah rasa sedikit takut mungkin.
"Loe berani ngatain kita banci?" sela Vardan emosi.
"Bukan gue loe yang ngomong" Aku berusaha bersikap secuek mungkin. Kali ini Aku sudah memutuskan untuk menghadapi mereka. Apapun resikonya.
"Lagian beraninya cuma sama cewek. Itupun keroyokan. Terus kalau bukan banci apa coba namanya?" sambung ku lagi.
"Loe nantangi kita?!" Randi ikut – ikutan membentak.
Aku sudah mau membalas lagi. Tapi sayang mulut ku keburu di pikep ( ??? ) sama Iren. Sementara Nay Dan Kezia sudah membungkuk minta maaf sebelum akhirnya menyeret ku pergi.
"Kalian apaan si?" Aku kesel karena Tangan ku di tarik paksa agar mengikutinya keluar dari kantin.
"Udah. Kita harus pergi dari sini " ajak Nay khawatir.
"Ogah. Napain si kita harus pergi segala?. Lagian kita kesini kan mau makan. Gue juga udah laper. Kita duduk di sini aja" Tolak ku sambil duduk di meja seberang kevin.
"Kita makannya laen kali aja" bujuk Iren lagi.
"Gue kan laparnya sekarang. lagian tuh pesanan kita juga udah datang".
Sayang, belum sempat pelayan itu sampai di meja kami, kevin sudah terlebih dahulu mencegatnya.Tentu saja pelayan itu manut dan hanya menundukan badan pada kami tanda minta maaf. Jelas saja hal ini membuat aku makin gondok, Ternyata usut punya usut nie kampus milik bokapnya *Drama abis/ Ilham: Gu jun pyo/he he he*.
"Sabar riani" Bisik Nay sambil mengenggam tangan ku erat.
Sementara aku sama sekali tidak dapat melepaskan pandangan ke kevin yang jelas – jelas sedang tersenyum mengejek.
Aha *kalau ikalan di tipi biasanya keluar lampu menyala diatas kepalanya*…. Tiba – tiba aku punya ide. Ya bisa di bilang kayak ilham gitu. Tanpa bisa ku tahan Sebuah senyuman meluncur mulus dari bibir ku.
"Kevin, Apa loe pernah dengar istilah pembalasan berdarah?. Kali ini Gue pastika loe sedikit merasakannya" Gumam ku dalam hati.
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
If you want to read next you can clik at Cerpen the prince, the princess and mis cinderella part ~03

Random Posts

  • Mis Tulalit part 6

    Lanjutan part 5 kemaren……Langsung cek aja ya…..April kaget, Bahkan tiada kata mampu terucap *seh…Bahasanya*. Akhirnya ia hanya bisa bergumam “O….. Jadi ini mau ke AMIK?… Salah donk kalau begitu”“ia. Lho… emangnya loe kuliah di mana?” tu mbak ikutan kaget.“WIDIYA. Tapi bukannya mbak tadi bilang mau ospek di SMA juga?”“iya. Kita emang mau ospek di SMA 1. Ntar jam 07:30 mulai”Lebay-lebay. Ternyata maksud si embak kumpulnya di SMA 1. Sedangkan April di SMA 2. Tanpa permisi April langsung ngibrit nyari becak yang di usulin Dewi pertama kali (ih nggax sopan)Nggax lama April lari dengan panik (sedah persis banget kayak orang ilang) April ketemu orang pake baju sama.tapi kali ini bener anak widya (???) secara rambutnya juga di kucir dua dan di kasi pita pink juga. Sama kayak dia. Dan yang harus di garis bawahi ini BUKAN anak AMIK lagi. Oke?….Alhasil, April berangkat bareng sama dia.sebagian

  • Cerpen Renungan: HITAM & PUTIH

    HITAM & PUTIHoleh: Alief Murobby“ Qul Huwallahu Ahad. Allahus Somad.”Suara alunan lembut bacaan Al-Qur’an mengalun merdu di tengah dinginnya malam, saat semua makhluk hidup tertidur, meringkuk dalam selimut masing-masing. Bacaan itu menghangatkan tiap hati yang mendengarnya, melawan sabetan dingin dari sabit sang malam. Suara itu menyelusup diantara daun pepohonan, kemudian terbang pergi terbawa angin.Hentakan musik dari turntable sang disc jockey memenuhi ruangan berukuran 7×6 meter itu. Asap dari bong1 dan sisha2 membumbung di tengah ruangan yang tidak berjendela itu. Delapan orang remaja, empat cowok dan empat cewek berpesta di dalamnya, tak menghiraukan malam yang terus menanjak naik.“ Ga, sini kek, ikutan nyabu. Nyedot sisha mulu,” panggil Feli pada Arga yang mojok sambil menghisap sisha. Cowok itu tidak mengindahkannya.“ Cerewet. Tuh, Sony sama Alice make out mulu kagak lo usik,” bantah Arga, seraya menunjuk pojokan dimana Sony dan Alice terus berciuman. Dia menghisap sisha-nya lagi. “ Lagian, nggak ada yang merek Ice, sih. Males gue.”“ Alah, alasan. Nih, ada Buddha Stick,” timpal Leon, pacar Feli, sambil menjulurkan salah satu jenis sabu-sabu. Tangan kirinya memegang bong, sementara tangan kanannya memeluk pinggang Feli. Sesekali, ia mengisap sabu-sabunya dengan penuh penghayatan. Sony dan Alice terus saja berpagutan di pojokan yang tadi ditunjuk Arga, tak memedulikan keadaan sekitarnya. Dunia serasa menjadi milik mereka berdua.“ Biarin aja, Fel. Arga kan banci,” celetuk Lucy, seraya menenggak segelas Silver Bullet yang dipegangnya. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik, alkohol perlahan-lahan mulai menguasai sistem kerja otaknya.“ Tambahan. Arga tuh impoten. Aku udah pernah lihat pe**snya dan ternyata nggak bisa ereksi. Ahahaha,” celoteh Mira tak kalah ngawur. Lebih parah dari Lucy, Mira telah menenggak berbotol-botol Bacardy3. Wajahnya sudah memerah, tapi sama sekali tak ada tanda ia bakalan berhenti. Zareo yang mendengar ocehan ngawur dari kedua cewek itu tertawa lepas. Kedua tangannya semakin erat memeluk pinggang Lucy dan Mira yang duduk di kanan-kirinya. Pikirannya sudah tak utuh lagi akibat satu gram Maryjane yang diisapnya tadi. Tak peduli dengan semua komentar teman-temannya, Arga tetap kukuh dengan sishanya.Dan pesta pun terus berlanjut tanpa ada interupsi dari pihak manapun.“ Tumben Om kesini. Ada apa sih?” tanya Mami, seraya ber-cipika cipiki dengan tamunya, seorang pria paro baya yang parlente. “ Kalo mau mesen kan bisa aja lewat telpon,” lanjutnya.“ Aku bosen lewat telpon terus. Pengennya sekarang hunting sendiri,” jawab pria itu. Matanya jelalatan melihat para gadis muda yang berlalu lalang disana. Gairahnya mulai merangkak naik.“ Yaudah, maunya Om yang gimana? Ada Lena, yang ahli banget dalam blow job4. Ada Elma, cewek 17 tahun tapi cup-nya 34 B. Ada juga kok yang masih ‘hijau’. Terserah Om pilih yang mana.” Mami menyebutkan beberapa produk unggulan dari “dagangan”nya. Si Om tidak kelihatan tertarik sama sekali.“ Aku udah pernah nyoba semua. Ada yang bisa nari striptease nggak?” tanya si Om.Mata Mami berbinar. “ Oh, ada kok. Wait a minutes, okey?” Mami segera pergi ke dalam. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan menggandeng seorang cewek cantik usia 18 tahun-an.“ Nih, Om. Namanya Sisca, ahli banget dalam urusan nari striptease,” ucap Mami, seraya menyodorkan Sisca yang tersenyum genit. Laki-laki itu mulai tertarik dengan cewek di depannya itu.“ Oke, deh. Aku bawa yang ini. Pembayarannya seperti biasa,” kata Om, sambil beranjak pergi dari tempat itu. Sisca menggelendot manja di tangannya. Mereka segera masuk ke dalam Honda Jazz hitam metalik milik si Om. Deru mobil terdengar menyalak, dan mobil itu melesat pergi meninggalkan kawasan hitam itu.Alto melenguh panjang saat dia ejakulasi, merontokkan stamina dan nafsunya yang tadi menggebu-gebu. Dia langsung ambruk di samping Karin yang wajahnya terlihat nanar. Pikirannya kalut. Dia merasakan pangkal pahanya sangat perih. “Sesuatu” telah pergi darinya tanpa permisi. “Sesuatu” yang ia jaga saat dirinya haid pertama kali waktu umur 13 tahun hingga kini tatkala umurnya 19 tahun, hilang sudah. Bau yang sangat menyengat menguak dalam ruangan kecil itu. Bau amis darah dan sperma.“ Harusnya kamu pakai kondom dulu tadi.” Karin melirik ke arah pacarnya yang masih terengah-engah. Alto terdiam, kemudian menarik cewek itu ke dalam pelukannya.“ Jangan takut. Aku akan selalu bersama kamu. Believe me,” kata Alto sambil mengecup kening pacarnya.“ Tapi nanti kalo aku…” Ucapan Karin terpotong karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Alto.“ Don’t say that, honey. I love you so much. I’ll be all that you want. I’ll never let you go, okey?” Alto kembali mengecup bibir merah Karin. Cewek itu menjadi agak tenang mendengar perkataan cowoknya itu. Pikiran-pikiran seperti takut hamil mulai tereduksi.Dan ia pun tertidur dalam pelukan pacarnya.Tanpa disadari oleh para manusia yang kotor dan hina, semua perbuatan mereka rupanya disaksikan oleh Alam. Alam menuliskannya dalam sejarah kelam manusia, mengingatnya, dan menyimpannya. Lama kelamaan, dia tak tahan juga terus menyaksikan ulah para manusia yang terus mengumbar hawa nafsunya. Dia pun berkeluh kesah pada Sang Penciptanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala.“ Ya Allah, Maha Suci Engkau yang telah menciptakanku dan seluruh benda yang ada di dalam dunia ini. Sudah lama aku melihat kelakuan manusia yang terus mengumbar auratnya, membebaskan hawa nafsunya, tanpa sekalipun mau mematuhi perintah-Mu. Kau terus menyuruhku bersabar, tapi aku hanya makhluk, bukan Dzat yang Maha Sabar seperti-Mu, ya Allah. Aku sudah tidak tahan lagi punggungku dipakai untuk maksiat. Aku sudah tidak tahan, Gusti,” ratap Alam sambil menangis tersedu-sedu, mengadukan seluruh penderitaannya yang selama ini terus dipendamnya.“ Ya sudah, Kuperintahkan kau untuk berguncang. Buatlah gempa yang dahsyat. Hukuman bagi mereka yang ingkar kepada-Ku, cobaan bagi mereka yang beriman pada-Ku.”Mendengarnya, Alam agak kaget tapi dengan cepat ia menguasai diri. Tanpa berniat menginterupsi, Alam menjawab dengan khidmat,” Sami’na wa ato’na5.”Hari itu, tanggal 27 Mei 2006, kota Yogyakarta diguncang oleh gempa dahsyat. Alam menumpahkan seluruh kepedihannya yang selama ini terus disimpannya. Dia mengamuk, meluluhlantakkan kota yang terkenal dengan julukan kota pendidikan itu. Bangunan-bangunan yang dulu berdiri pongah kini rata dengan tanah. Korban tewas terus bergelimpangan.“ Lam Yalid Wa Lam Yuulad. Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad.”Suara itu terus mengalun diantara puing-puing reruntuhan bangunan, terus mengagungkan nama Allah. Allah Yang Maha Besar. Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha Kuasa. Suara itu terus terbang terbawa angin. Terus menjauh. Jauh.***Keterangan:1. Bong: alumunium foil yang biasa digunakan untuk mengisap sabu-sabu2. Sisha: rokok Arab yang terdiri dari tabung penghasil asap dan 3-4 selang pengisap3. Bacardy: merek minuman keras jenis rum4. Blow job: oral seks5. Sami’na wa ato’na: saya mendengar dan saya menaati

  • Cerpen Cinta: LOVE THAT I SHOULD HAVE

    LOVE THAT I SHOULD HAVECerpen oleh Bella Danny JusticeSekeras apa pun aku mencoba, aku tetap tidak bisa melupakan bayangan pria itu. Karena saat itulah pertama kalinya aku merasakan getar cinta, ya..walau kata orang yang lebih tua adalah cinta-monyet, tapi aku pikir yang aku alami ini berbeda. Awal masa SMP ku dulu penuh dengan kecerian dan kebahagiaan. Aku punya orangtua yang begitu perhatian terhadapku. Sampai peristiwa tragis itu datang menimpaku yang duduk di kelas 8. Sulit tentunya bagiku untuk melupakan kejadian yang terjadi terhadap kedua orangtuaku. Mereka meninggal ketika sedang dalam perjalanan akan menjemput aku dari rumah tante Karina. Hidupku diselimuti oleh awan gelap. Sejak itu aku menjadi anak yang pendiam dan lebih suka menyendiri. Karena sikapku lah akhirnya teman-teman menjauhi aku. Dan dalam keadaanku yang dirundung pilu inilah, pria itu, Ivan, datang menyelamatkan aku yang terjebak jauh di dasar lembah kekelaman. Beruntunglah dia sekelas denganku. Dia orang yang sangat unik. Auranya begitu cerah dan hangat. Setiap orang yang ada didekatnya pasti merasa senang. Aku melihat dengan siapa saja ia berbicara. Mereka yang kala itu berbincang dengan Ivan selalu menampilkan senyum lebar sambil mata yang disipitkan.Sampai pada suatu saat, dijam istirahat sekolah, hanya aku yang berada dikelas dengan Ivan sedangkan yang lainnya pergi ke kantin. Aku tau ia sedang tidur, ia menaruh kepalanya diatas meja dan melipat kedua tangannya. Kepalanya menghadap ke arah kiri, tepat kearahku. Momen itu benar-benar membuat rasa penasaranku semakin memuncak. Pada saat tertidur saja ia dapat menarik perhatian orang yang melihatnya! Kemudian aku menghampirinya. Aku memperhatikan wajahnya yang sedang berada dialam mimpi. Dia begitu tampan, populer, dan tentunya…sangat hangat. “apa kau sangat menyukai wajahku?” katanya sambil masih memejamkan mata. Aku terkaget mendengar ucapannya. Ternyata ia tau bahwa aku memperhatikannya? Aku sungguh malu sekali! Ia membuka kelopak matanya dan menatapku. Aku pun berkata: “siapa yang suka?! Aku hanya sedang lewat dan ingin pergi ke kantin.” Sekarang ia sudah dalam posisi duduk yang benar, tapi ia terus menghujamku dengan pertanyaan-pertanyaannya yang membuatku gugup. “ingin pergi ke kantin ya? Bukankah kau selama ini tidak bereaksi terhadap siapa pun dan apa pun yang dilakukan orang-orang disekitarmu? Kau tau, terjebak dalam suatu masalah dan tak mampu untuk keluar dari masalah tersebut adalah hal yang sangat mengerikan, lebih mengerikan dari kau ditolak orang yang kau sukai.” Mendengar ucapan yang sangat dewasa terlontar dari bibirnya, mataku langsung terbelalak. Orang ini tidak seperti yang lainnya. Aku rasa kehidupanku tak akan sama lagi. Perlahan aku mulai merajut tali pertemanan diantara kita. Hari demi hari ku lewati penuh dengan senyuman bersamanya. Aku dapat merasakan diriku yang dulu mulai muncul. Aku kembali aktif dan teman-teman yang lainpun sepertinya merindukan diriku yang sesaat menghilang. Aku bisa seperti ini berkat dia. Siapa lagi kalau bukan Ivan dan wejangan-wejangannya setiap hari yang selalu mengiang ditelingaku. Tetapi yang kutakutkan pun terjadi. Perasaan yang semula hanya sebagai teman tumbuh melebihi batasnya. Aku menyukainya! Meskipun begitu, aku tidak berani mengatakannya. Karena Ivan seorang yang populer bahkan dikalangan kakak kelas. Semua murid perempuan disekolahku berebut untuk menjadi orang yang spesial dihati Ivan. Tidak sedikit dari mereka yang berwajah cantik, pintar, dan mempunyai keahlian dibidangnya masing-masing seperti melukis, bermain musik, dll. Namun, yang aku tau, tidak ada satupun dari mereka yang diterima oleh Ivan. Siang itu aku menerima telfon dari kakak kelasku perempuan. Aku terhentak mendengar pertanyaannya. “hei, apa kau ada hubungan spesial dengan Ivan?” “t-tidak, aku hanya berteman dengannya.” “apa kau menyukainya?” “………..” “hei, aku tanya apa kau menyukainya?!” “aku….. tidak menyukainya.” “baiklah kalau begitu.” Entah mengapa setelah menerima telfon dari kakak kelas itu perasaanku jadi tidak tenang. Keesokan harinya, saat aku sedang berjalan menuju kelas melalui koridor sekolah, aku mendengar berita bahwa Ivan berpacaran dengan seorang kakak kelas. Pikiranku otomatis langsung menerka-nerka kalau kakak kelas yang berpacaran dengan Ivan adalah orang yang menelfonku kemarin. T-tapi, kenapa dia menanyakan pertanyaan seperti itu? Apa Ivan mengatakan sesuatu kepadanya? Semenjak itu juga lah aku tidak pernah lagi berbicara ataupun bertegur-sapa dengan Ivan. Ia seperti menghindar, dan aku pun menghindarinya. Aku sangat menyukainya, tapi aku sadar orang yang ia sukai yaitu kakak kelas tersebut. Aku tidak punya hak untuk bersikap egois seperti ini. Aku ingin terbangun dari mimpi ini!!!! “aku kira kau akan mati karena bermimpi, kalau begitu aku akan langsung menghubungi cinta pertamamu di masa SMP itu.” cela Vivian kepadaku. Aku memimpikan masa itu lagi. Sudah beberapa kali ini terjadi ketika aku merindukannya. Tak terasa 6 tahun sudah terlewati bersama dengan kenangan tentang pria yang kusukai itu. Kini aku seorang mahasiswi yang menekuni fakultas Sastra Jepang. Aku suka membaca manga atau komik. Dan Vivian adalah teman terbaikku yang pernah ku miliki. Ia satu jurusan denganku, tetapi ia sudah ingin cepat-cepat magang ke Jepang dan akan berangkat 1 bulan lagi. Aku juga mempunyai keinginan yang sama seperti Vivian, tapi aku rasa belum saatnya bagiku untuk meninggalkan Indonesia. Masih ada yang harus aku selesaikan.“ahh..kepalaku sedikit sakit.” Erangku sambil menyentuh kepalaku yang terasa pening.“oh ya, tadi ku lihat ada pesan tuh dihapemu.” Ucap Vivian yang menggandeng tasnya.“pesan dari siapa?” katanya lagi.Tanpa menunggu lama aku menekan tombol Open dan ternyata pesan dari teman SMP-ku Florentina yang mengingatkan akan berlangsungnya acara Reuni SMP kelasku. Ini menegangkan sekali. Reuni SMP kelasku, kelas 8-1, kelasku dulu bersama Ivan. Hari itu akhirnya tiba.Vivian mengawasi hapeku dan rupanya ia juga ikut membaca pesan dari Florentina. “waaw, jadi ga sabar besok nih ya mau ketemu pujaan hati? Kaya apa ya dia sekarang? Tambah ganteng atau tambah jelek? Hehe..” Vivian memang paling rajin kalau meledekku. Padahal sendirinya ia pun belum punya pacar.“kau itu kalau bicara jangan sembarangan! Sudah ah, aku mau pulang.” Menghindari Vivian sejauh mungkin adalah jurus yang jitu. Kalau tidak, wajahku pasti langsung memerah karena ia terus menggodaku tentang masa lalu.*** Reuni SMP kami diadakan di sebuah kafe. Florentina sudah mengurus semuanya dari sebulan sebelumnya. Ini pertama kalinya kami bertemu kembali, walaupun ada beberapa yang tidak dapat hadir tapi aku sangat senang bisa melihat wajah-wajah teman SMP-ku yang dulu lugu sekarang begitu berubah drastis. Dia tidak ada. Aku mencari-cari sosoknya tapi sepertinya ia tidak hadir. Aku sedikit kecewa, padahal ini kesempatanku untuk beretemu dengannya setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Apa yang menghalanginya? Apa dia terlalu sibuk dengan dunianya? Aku tidak ingin ambil pusing. Acara reuni kami pun berjalan dengan lancar. Kami benar-benar menikmati suasana keakraban yang terjalin malam itu. Tawa dan canda menghiasi ruangan yang sudah kami pesan. Meskipun bahagia, aku tetap merasa ada yang kurang. Aku ingin bertemu dengannya. Tapi kenapa dia mengabaikan acara reuni yang mempertemukan kami? Apa dia tidak ingin bertemu denganku? “Sevilla, ada apa denganmu? Apa acaranya tidak menyenangkan?” aku tidak sadar ternyata Florentina mendekatiku dan berbicara denganku. “ah, tidak..acaranya meriah sekali. Aku suka.” Jawabku agak sedikit kaku. “ah, aku tau! Kau pasti gelisah karena Ivan tidak datang. Betul, bukan? Ayo mengaku saja. Hehe” candanya sambil menyenggol sikutku beberapa kali karena aku tidak menjawabnya. Dengan tersipu aku mengatakannya. “iya. Apa kau tau mengapa ia tidak hadir?” tanyaku serius. “dia…” belum selesai Florentina menyempurnakan kalimat perkataannya seseorang menjawabnya. “aku disini.” Kata orang itu. “ah itu dia! Ivan kau telat 1 jam! Apa kau tidak tau Villa gelisah menunggumu?! Dasar kau tukang telat!”oceh Florentina seketika itu juga saat ia melihat Ivan sudah datang.“Flo! Ucapanmu berlebihan, aku tidak segelisah yang kau katakan. Kau, tau?!” bantahku dengan cepat. Aku tidak mau Ivan melayang ke angkasa sedangkan aku malu karena perkataan Florentina.“sudahlah, kalian gunakan momen ini untuk berbincang-bincang. 6 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk kalian berpisah. Aku akan mengurus anak-anak yang lainnya.” Ujar Florentina yang melemparkan handuk kecil pada Ivan lalu pergi meninggalkan kami di atap kafe berdua.Aku sungguh gugup dan tidak tau mau mulai pembicaraan dari mana. Untunglah Ivan adalah orang yang asik, jadi tanpa terlihat kikuk ia mengajakku kembali ke masa dulu SMP. Mengenang semua yang pernah terjadi, dan kelucuan-kelucuan kami ketika masih memakai seragam putih biru. Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan kepada Ivan. Aku menyimpan rasa penasaran ini sejak lama. Aku ingin mengetahui kebenarannya. Lalu aku pun memberanikan diri bertanya pada laki-laki itu.“kau ingat, dulu saat SMP kau pernah berpacaran dengan seorang kakak kelas kita?”“tentu. Ada apa?”“ada seorang kakak kelas yang menelfonku waktu itu, dia menanyakan hubunganku denganmu. Dia juga bertanya apa aku suka padamu atau tidak. Apa dia adalah pacarmu? Kakak kelas yang sama dengan orang yang menelfonku?”“iya..”“tapi kenapa dia bertanya seperti itu kepadaku? Apa kau mengatakan sesuatu kepadanya? Kalau ia suka padamu, kenapa tidak langsung mengatakannya?”“bodoh…apa kau sebodoh itu?”“a-apa maksudmu?”“aku menyukaimu. Sejak dulu…itu sebabnya aku meminta dia menanyakannya padamu, tapi ternyata kau hanya menganggapku sebagai teman. Dan itu juga yang membuatku jengkel. Aku dulu masih penuh dengan emosi. Setelah tau ternyata kau menganggapku hanya sebagai teman, aku pun memutuskan untuk berpacaran dengan kakak kelas itu dan menjauhimu…”“a-apa? K-kau menyukaiku? Sejak dulu?”“ya. Aku minta maaf karna sudah menyakiti hatimu. Aku menghindarimu karna aku ingin melupakanmu. Tetapi, sampai detik ini, aku bahkan belum bisa menghapus bayangmu dari fikiranku. Aku selalu bermimpi bertemu denganmu. Aku ingin mengatakan perasaanku padamu, tapi aku tidak tau info apapun tentangmu sampai Florentina mengadakan reuni ini. Kau tau selama 1 bulan aku menyiapkan diri matang-matang untuk berani menyatakan perasaanku padamu. Hehe”Aku memeluknya. Mendekapnya erat dan menangis di pundaknya. Aku tidak mengira reuni ini akan sangat berkesan. Ivan yang dingin dan cuek mengungkapkan seluruh perasaannya kepadaku. 6 tahun penantianku selama ini tidak berakhir menyedihkan. Aku tidak bisa berkata-kata aku sangat bahagia malam itu. Mengetahui bahwa ia juga menyukaiku sungguh sebuah anugrah. Aku tidak akan melepaskanmu lagi Ivan. Sudah cukup masa-masa kelam diantara kita. Sekarang yang akan ada hanyalah kebahagiaan.“aku juga menyukaimu, kau tau?! Tapi aku tidak mengatakannya karna kau terlalu cuek jadi aku takut kau akan menolakku dulu. Andai saja dulu aku tau kau juga menyukaiku aku tidak harus menunggu selama ini bukan?” ucapku sambil tetap memeluk Ivan.Ivan tertawa dalam pelukanku. Begitu indah dan membuatku tenang. “haha Villa, kau tidak berubah. Aku sangat mencintaimu…tapi biar bagaimanapun, aku bersyukur karna penantian kita tidak sia-sia. Aku benar-benar bersyukur…terimakasih Tuhan.”THE END“salam kenal, ini cerpen kedua yang aku kirim dan aku harap kalian menyukainya. Kritikan dan pujian pasti aku terima dengan senang hati. Dan untuk cerpen “Love That I Should Have” ini, aku berniat untuk membuat chapter keduanya, jadi aku membutuhkan dukungan kalian. Jika banyak yang menginginkan chapter kedua dari cerpen ini, pasti aku akan membuatnya segera. Kalian bisa memberikan suara dengan cara mengkomentari cerepenku di situs ini, atau dengan mention ke twitter-ku, atau langsung kirim e-mail tentunya ke alam e-mailku. Terimakasih semua. I really need your support!”Creator : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeeE-mail : alexa.bella14@yahoo.comCerpen Bella: Kenangan yang Terlupakan

  • Cerpen Cinta Remaja: CINTA PADA SEBUAH MIMPI

    Cinta Pada Sebuah Mimpioleh: Andri RuslyCerpen.Gen22.net – Dialah Tiara atau biasa dipanggil Ara. Cantik, manis, dan pintar. Andre terkadang merasa minder apabila berada di dekat Tiara. Andre bisa dibilang beruntung sekali bisa dekat dan akrab dengan Tiara. Meskipun Andre agak telmi tapi Tiara tidak pernah bosan untuk memberikan advice atau nasehat-nasehat yang membuat Andre semangat dan bangkit kembali. Duh, Tiara di mata Andre adalah sebagai guru sekaligus cewek ‘super’. Belum ada yang bisa menandingi Tiara. Baru kali ini kayaknya Andre bisa menilai sosok cewek yang betul-betul baik dan sempurna. “Kau begitu sempurna di mataku kau begitu indah…..” begitu Andre menyanyikan lagunya Andra and The Backbone setiap Andre menghayalkan sosok Tiara di kamarnya.Sampai tidak terasa sudah setahun persahabatan mereka berdua, tanpa disadari ada perubahan dalam diri Andre. Tiara bukan saja sebagai teman. Tapi lebih dari itu. Entah darimana awalnya perasaan itu. Atau seringnya kebersamaan dapat menimbulkan cinta?“Bisa juga begitu Ndre” kata Jo suatu ketika mereka bertemu, ”karena sering bertemu bisa menimbulkan cinta. Tapi apa kamu nggak takut kalau persahabatan kamu rusak gara-gara cinta?” Jo mencoba memberi pandangan.“Iya juga tapi mau bagaimana lagi Jo? Cinta kan nggak bisa ditahan kapan mau datangnya?”“Benar, Ndre, kamu tahu nggak? Cinta adalah api yang dingin. Siapa yang mendekatinya tidak akan terbakar tetapi tertangkap”“Huu, omonganmu seperti profesor. Lagi encer, ya pikiran kamu?.”“Iya dong, memangnya kamu, Ndre! Tahunya cuma pacaran doang. Nggak tahu makna sebenarnya apa itu cinta ”“Halah Jo….ini juga kamu lagi kadang-kadang pinternya. Cuma gara-gara tadi makan bakso Malang aja, kan mangkanya pikiran kamu encer?”“Hahaha….!” Keduanya tertawa bersama melepas kejenuhan.Hari itu Andre merasa gelisah. Entah kenapa Tiara begitu kuat melekat dalam pikirannya. Andre mencoba untuk bersikap biasa seperti hari-hari sebelumnya. Huh, tetap tidak bisa juga. Sampai suatu ketika ada yang tidak beres terjadi pada Tiara. Tadi dia menelpon Andre dan cerita panjang lebar tentang perlakuan Toto. Andre panas mendengarnya, Andre cemburu. Berani-beraninya Toto nggodain Tiara. Menyakiti Tiara. Dalam kamus Andre adalah jangan sampai Tiara disakiti oleh siapapun.“Kamu tenang ya, Ra” bujuk Andre kepada Tiara. “Kamu gak usah terlalu sedih begitu. Kan masih ada aku”“Iya, makasih Ndre” Terdengar isak tangisnya tersendat-sendat dari seberang sana. Andre semakin trenyuh mendengarnya.Dimatikannya handphone. Dipikirkannya baik-baik cara membalas sakit hati Tiara. Hmm….Andre sudah gelap mata. Tangannya mengepal keras. Dan benar keesokan harinya Tiara mendengar kabar Toto sudah berada di rumah sakit. Mukanya babak belur, matanya bengkak, hidungnya berdarah dan masih banyak lagi. Tapi mengapa tiba-tiba Tiara datang ke rumah Andre malah melabraknya habis-habisan. Tiara marah besar kepada Andre.“Pokoknya aku nggak mau menganggap kamu sahabat aku lagi. Aku nggak mau meliat kamu lagi, Ndre. Kamu jahat!” begitu ancaman Tiara sambil meninggalkan Andre.Andre bingung. Belum sempat Andre bertanya kenapa, Tiara sudah pergi meninggalkan Andre. Aduh, ada apa dengan Tiara? Kok tiba-tiba marah seperti itu. Tidak biasanya Tiara semarah itu. Hancur sudah. Semua kenangan manis waktu bersama Tiara musnah. Tidak ada lagi cewek ‘super’ dalam diri Andre. Tidak ada lagi cewek cantik sekaligus guru dalam diri Andre. Sampai-sampai Andre mendengar kabar Tiara pacaran dengan Toto.“Pantas saja Tiara marah besar. Rupanya Tiara nggak rela kalau Toto aku labrak?” bisik hati Andre.Bertambah pilu hati Andre. Hilang harapannya untuk mendapatkan Tiara. “Kenapa dulu tidak aku ungkapkan saja perasaan cintaku pada Tiara?” Sekarang Andre sudah benar-benar merasa kehilangan. pegangan.Sejak itu Andre menjadi banyak melamun. Apalagi ketika berpapasan dengan Tiara di jalanpun Tiara cuek saja. Seakan-akan tidak pernah mengenal Andre. Andre cuma bisa menatap Tiara dari kejauhan. Tanpa bisa menggandeng lagi tangannya, tanpa bisa lagi bercanda dengan Tiara. Gone with the wind. Terbang bersama angin.Siang itu matahari begitu terik. Biasanya siang hari begini terasa begitu sejuk karena waktu itu berjalan bergandengan tangan bersama Tiara. Sambil bercanda bersama sepanjang jalan. Terasa sekali Andre kini sendiri. Entah sampai kapan sendiri itu terus berlanjut.Tiba-tiba Lamunan Andre buyar ketika di hadapannya telah hadir lima orang anak muda. Wajahnya sangar. Tubuhnya tinggi tegap.“Heh, kamu Andre, ya?” tanya salah seorang dari mereka. Andre mengangguk. Belum sempat Andre bertanya apalagi berpikir wajahnya sudah dihajar. Bak ! Buk! Brak! Aduh! Auw!. Huh, five in one!. Tidak tanggung-tanggung lima lawan satu. Jelas sekali Andre sekarang yang babak belur. Masuk rumah sakit. Sepi. Sunyi. Dimana-mana serba putih termasuk perban di wajahnya. Hmm, kasihan Andre. Kini hanya bisa tergolek lemah tak berdaya. Cuma ada seseorang wanita yang rajin menemani Andre yaitu Retna. Teman sekelas Andre. Setiap waktu Retna yang selalu menemani Andre sambil membawa segala macam makanan dan buah-buahan. Cerita sana-sini untuk menghibur Andre.Tiba-tiba timbul dalam hati Andre cewek super selain Tiara. Betulkah Retna cewek super pengganti Tiara? Retna yang selalu menemani Andre di saat Andre menderita, Retna yang selalu bercerita tentang mimpi-mimpi indah, tentang apa itu cinta. Ya, Retna yang telah menemukan Andre dalam keterasingan. Dalam ketakberdayaan. Dalam kesendirian.“Makasih ya, Na, kamu sudah menyempatkan waktu buat menemaniku” suara Andre lemah. Sambil menahan sakit di bibirnya yang pecah terkena bogem mentah lima pemuda tempo hari.“Ah, nggak usah sentimentil begitu. Aku ikhlas kok. Bukan saja karena aku sayang kamu, tapi karena aku hanya ingin menjadi orang yang kamu butuhkan di saat apapun” suara Retna serak karena tertahan oleh air mata yang membasahi pipinya.“Maafkan aku Na, aku sudah tidak mempedulikan kamu selama ini?” kata Andre sambil menyeka air mata Retna dengan telapak tangannya.“Tidak apa apa, Ndre. Aku menyadari itu. Kamu tidak mencintaiku”Mata Andre basah. Dipandanginya Retna. “Dalam bening bola matamu, kau pandang aku, dalam putihnya hati kita, entah aku yang membutuhkanmu atau kamu yang mencintaiku?” hati Andre terus bergumam. Menilai-nilai apakah Retna telah hadir untuk mengusir kesepiannya, untuk mengisi relung hatinya yang paling dalam…?Beruntung Andre cepat sembuh. Seperti biasa Andre berangkat ke sekolah namun tiba-tiba matanya menangkap dari kejauhan Toto dan komplotannya petentang-petenteng. Semakin angkuh sambil menggandeng Susi. “Cewek mana lagi tuh yang digandeng Toto?” Bisik hati Andre. Pikirannya langsung tertuju kepada Tiara. jangan-jangan telah terjadi sesuatu terhadap Tiara. Terus berkecamuk. Gelisah. Hingga jam istirahat Andre memintak ijin untuk pulang sekolah lebih cepat. Dan langsung ke rumah Tiara.Sampai disana benar juga telah terjadi sesuatu. Kelihatan Tiara habis menangis. Matanya merah, basah oleh air mata.“Toto sudah mutusin aku, Ndre” suara Tiara sambil menangis. Andre sedih mendengarnya. “Aku terlalu bermimpi” kata Tiara kembali. “Padahal aku nggak tahu cara-cara meraih mimpi. Dulu aku terlalu menaruh harapan-harapan manis kepada Toto, hingga aku tega meelupakan kamu, Ndre. Sekarang aku menanggung akibatnya. Kamu dulu pernah memberikan pelajaran bagaimana caranya meraih mimpi tapi aku yang bodoh tidak mau menuruti kata-kata kamu. Sekarang pasti kamu nggak mau menerima aku lagi. Iya kan, Ndre?”Andre kebingungan. Baru kali ini Andre melihat Tiara menangis. “Ra, aku nggak pernah melihat matamu menangis saat kamu menatap angkuhnya dunia, bibirmu tak pernah berucap sesal saat kamu hadapi berjuta kegetiran. Namun sepenggal cinta telah mampu mengoyakkan indahnya matamu hingga kering airmata, sepenggal cinta telah mampu menggetarkan bibirmu untuk berucap cinta”Tangan Andre memeluk erat tubuh Tiara. Ada rasa rindu bergelayut dalam dadanya. Ada rasa kangen bersemayam dalam hatinya. Pikirannya dipenuhi seribu tanya sejuta bimbang. Tiba-tiba terbayang wajah Retna. Cewek ‘super’ yang selalu menemani Andre saat Andre mengalami kesusahan, yang selalu memberi semangat saat Andre patah semangat. Sekarang Andre dihadapkan kembali pada sosok diri Tiara, cewek ‘super’ yang sudah pertama kali sanggup membuat Andre uring-uringan. Apa benar cinta sejati datang pada saat cinta pertama, dan cinta selanjutnya adalah cinta yang dibuat dengan perhitungan? Sekarang Andre dituntut oleh dua kenyataan. Tiara dan Retna. Mereka sama-sama cewek ‘super’. Sama-sama memberikan kesan manis. Sekarang Andre yang merasa bodoh. Andre tidak mampu meraih mimpi-mimpi manisnya. Andre tidak punya lagi guru yang super yang bisa mengajarkan bagaimana caranya meraih mimpi, bagaimana caranya meraih harapan-harapan manis. Andre tidak mampu…T A M A TTeach me how to dream Help me make a wish If I wish for you Will you make my wish come true I am stranger here Stranger it may seem Take me by the heart Teach how to dream (“Teach Me How To Dream” song by: Robbin mc Auley)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*