Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella ~ 2 {Update}

Belajar ala "Mellisa". Always phositif thinking, make it easy and Keep smille.
I Will Do IT!!!!

Credit gambar: ana merya
Sebenernya pengenalannya sudah cukup yang ada di part satu, tapi aku sepertinya ingin menambahkan sedikit. Ini tentang 'Nano – Nano. Tapi bukan permen ya, yah walaupun tu gelar ku berikan berdasarkan permen tersebut.
Jadi begini, Nano – nano adalah sebuah sebutan yang ku tujukan untuk Kevin. Bahkan sampai saat ini teman – teman ku masih heran kenapa aku memberikan gelaran tersebut karena aku memang sama sekali tidak pernah memberikan penjelasan.
Nah, khusus untuk reader, ku kasih tau *tuh kan, kurang baik apa coba aku, tapi kok serba – serbi masih bilang aku njengkelin ya/ ck ck ck… tak patut*. Gelar tersebut sengaja aku pake gara – gara si kevin itu punya kepribadian ganda, eh triple. Walaupun sebenernya aku juga punya keperibadian triple juga, tapikan gak lucu kalau aku memberikan gelaran itu untuk diriku sendiri. nah, karena memiliki tiga rasa itu lah aku lebih suka menyebutnya nano – nano. Manis, asem, asin. kok jadi ngelantur gini si?. Undo ke awal, Si Nano – nano itu, Teman, Musuh sekali gus merangkap sebagai bos ku , ralat adek bos ku. karena aku kerja di toko buku milik kakaknya. Kalau Kevin yang ngurus tu toko mah mustahil. Secara megang buku aja kayak nggak pernah. Ia datang ke toko itu juga biasanya cuma ngerecokin.
Baiklah, Dia itu TEMAN aku, Andre. karena setiap ada masalah apapun dia pasti bakal cerita sama andre. yaitu aku sendiri. Hubungan kita dekat sejak setahun yang lalu. Waktu aku nggak sengaja nolongin dia yang di rampok dengan cara menyemprotkan serbuk merica yang selalu di bawa kemana – mana tepat kemata perampok itu. yang kemudian berkat keahlian ku yang tidak diragukan dan bentar lagi bakal ku patenkan, aku berhasil membawanya kabur yang barulah belakangan ku ketahui kalau dia adalah adik dari bos ku. Dan nggak tau kenapa sejak itu hubungan kita semakin dekat, Dia juga sering mampir ke toko, Tapi ya itu tadi, bukan buat baca buku tapi cuma mau ngerecokin aku aja.
Tapi, dia itu MUSUH aku, Riani. Setiap hari, dia dan kelima orang teman – temannya yang tengil itu selalu saja ngerjain aku. Tapi untungnya selalu gagal karena setiap dia mau ngerjain riani, dia terlebih dahulu menceritakannya pada andre. So, wajar donk kalau aku bisa ngelak.
Cuma sayang nya, berhubung dia selalu gagal ngerjain aku, sasarannya berpindah ke teman – teman ku. Sementara aku tidak bisa bertindak apa – apa kecuali mengingatkan teman – teman ku untuk berhati – hati karena nggak mungkin kan aku ngasih tau rencana kevin, yang ada mereka semua pasti bakal curiga. Alhasil, teman – teman ku lah yang selama ini terkena getahnya. Sementara Aku?. Aku cuma bisa menahan emosi sebagai seorang kutu buku yang lugu ( ??? ).
Hado….. kok malah jadi molor kemana – mana ya?. ya udah lah Di cut aja. langsung keceritanya aja nyok….. he he he……..
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
Aku sama sekali tidak dapat konsentrasi mendengarkan materi yang diajarkan pak Ridwan. Pikiran ku molor kemana – mana. aku masih berusaha mencari cara untuk menghentikan teror yang dilempakan pada teman – teman ku. Kemaren kezia di buat menangis gara – gara di dalam tas nya di isi bangkai tikut. Bahkan tadi pagi Iren dipanggil ke ruangan pak Agus. Dia di introgasi habis – habisan karena telah berani mengirimi surat cinta sekaligus sekuntum mawar merah untuknya.
Apalagi pak agus memang seorang duda yang sudah berumur lima puluhan. Mana tulisannya mirip banget lagi sama tulisan Iren. Kerjaan siapa lagi coba kalau bukan cecunguk – cecunguk itu. Terlebih pak Agus Orang nya sudah terkenal 'gatel' nggak ketulungan.
Hal ini lah yang membuat aku merasa makin sebel. Kalau ngerjain orang kok nggak kira – kira.
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
"Minggir!".
Aku menoleh kaget. Saat ini kevin dan konco – konconya sudah ada di sampingku. Sejenak ku edarkan pandangan ke sekeliling, masih begitu banyak meja yang kosong di kantin ini.
"Kita mau duduk di sini" Sambung kevin seolah – olah bisa membaca pikiranku.
Aku sudah ingin membantah, tapi teman – teman ku mengisaratkan untuk manut. Ya sudahlah, kali ini aku ngalah dan segera bersiap untuk beranjak pergi. Tapi tiba – tiba Vano dengan seenak jidatnya mengambil keripik singkong yang ada di tangan ku dan tanpa basa – basi langsung melahapnya dengan santai.
"Sebenernya apa si maksut nie orang ?" geram ku dalam hati sambil terus menatap tajam kearah Vano.
"Loe nggak keberatan kan?" tanya vano atau lebih tepatnya meledek.
Sejenak aku terdiam tapi kemudian dengan sebuah senyuman ku balas ucapannya.
"Sama sekali nggak kok".
Menedengar ucapan ku barusan Tu orang makin belagu kayaknya.
"Oh ya, Loe mau lagi?. Biar sekalian gue beliin. Kasiaaan…. buat beli Keripik aja kalian nggak sanggup" Sambung ku yang sontak mengagetkan mereka. Emang nya aku takut apa?.
"Maksut loe Apa?!" bentak Kevin berdiri dari duduknya.
"Lho…. emang nya ada yang salah?" Balas ku berusaha terlihat santai bin kalem *eits, tapi bukan kayak lembu ya*.
"Loe berani sama gue?" ancam kevin lagi.
"Tentu saja tidak. Secara Bodiguard loe segitu banyak" Balasku tak mau kalah sambil menunjuk ke belakang kevin. Reflek kevin berbalik.
"Cewek – cewek itu maksud loe?".
"Emang siapa lagi?".
Kevin segera menarik tangan ku sebelum sempat pergi meninggalkannya.
"Loe pikir gue banci?!" Tanya kevin merasa terhina.
"Ha ha ha…. Jadi loe baru nyadar".
Nggak tau dari mana datangnya keberanian ku untuk melawan kevin. Tapi yang jelas aku sudah tidak tahan dengan sikap semena – mena nya yang berbanding balik dengan sosok kevin yang 'andre' kenal.
"Jaga bicara loe!".
Bentakan kevin cukup untuk menarik perhatian seisi kantin. Dan kalau boleh jujur bentakan itu juga sukses membuat Aku kaget. E,,,,, ditambah rasa sedikit takut mungkin.
"Loe berani ngatain kita banci?" sela Vardan emosi.
"Bukan gue loe yang ngomong" Aku berusaha bersikap secuek mungkin. Kali ini Aku sudah memutuskan untuk menghadapi mereka. Apapun resikonya.
"Lagian beraninya cuma sama cewek. Itupun keroyokan. Terus kalau bukan banci apa coba namanya?" sambung ku lagi.
"Loe nantangi kita?!" Randi ikut – ikutan membentak.
Aku sudah mau membalas lagi. Tapi sayang mulut ku keburu di pikep ( ??? ) sama Iren. Sementara Nay Dan Kezia sudah membungkuk minta maaf sebelum akhirnya menyeret ku pergi.
"Kalian apaan si?" Aku kesel karena Tangan ku di tarik paksa agar mengikutinya keluar dari kantin.
"Udah. Kita harus pergi dari sini " ajak Nay khawatir.
"Ogah. Napain si kita harus pergi segala?. Lagian kita kesini kan mau makan. Gue juga udah laper. Kita duduk di sini aja" Tolak ku sambil duduk di meja seberang kevin.
"Kita makannya laen kali aja" bujuk Iren lagi.
"Gue kan laparnya sekarang. lagian tuh pesanan kita juga udah datang".
Sayang, belum sempat pelayan itu sampai di meja kami, kevin sudah terlebih dahulu mencegatnya.Tentu saja pelayan itu manut dan hanya menundukan badan pada kami tanda minta maaf. Jelas saja hal ini membuat aku makin gondok, Ternyata usut punya usut nie kampus milik bokapnya *Drama abis/ Ilham: Gu jun pyo/he he he*.
"Sabar riani" Bisik Nay sambil mengenggam tangan ku erat.
Sementara aku sama sekali tidak dapat melepaskan pandangan ke kevin yang jelas – jelas sedang tersenyum mengejek.
Aha *kalau ikalan di tipi biasanya keluar lampu menyala diatas kepalanya*…. Tiba – tiba aku punya ide. Ya bisa di bilang kayak ilham gitu. Tanpa bisa ku tahan Sebuah senyuman meluncur mulus dari bibir ku.
"Kevin, Apa loe pernah dengar istilah pembalasan berdarah?. Kali ini Gue pastika loe sedikit merasakannya" Gumam ku dalam hati.
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
If you want to read next you can clik at Cerpen the prince, the princess and mis cinderella part ~03

Random Posts

  • BIKANG ENDANG

    BIKANG ENDANG oleh: Kharisma Hawa D.“Tante Rini, ini kue bikangnya, masih hangat lho, keluar dari oven langsung saya bawa kesini.” “Makasih Endang, ayo masuk dulu ke rumah.”“Lain kali saja tante saya mampir ke rumah, saya masih harus keliling komplek untuk berjualan, mumpung ini masih hangat”“Ya sudah, besok pagi kesini lagi ya..” Ucap Ibu sambil menutup pembicaraan.Aku memandang sebungkus kue bikang yang diletakkan di atas meja makan, pasti Ibu yang membeli kue bikang ini dari Endang, dan menyuruhku untuk membawanya ke sekolah, gumamku dalam hati. Benar saja, “Rena sayang, kamu bawa bikang ini ke sekolah ya, nanti di makan bareng temen-temen kamu.” Aku mengeluh dalam hati, kenapa sih Ibu ini? Hampir setiap hari selalu menyuruhku membawa sebungkus kue mekar dan mengembang ini, jujur aku merasa malu pada teman temanku, mereka pasti berfikir itu pasti jajanan kampung yang sering dijual di pasar, sekali waktu aku juga ingin membawa kue yang sedikit ‘elite’ di mata mereka, sebut saja brownies, sandwich, pancake, pie atau semacamnyalah. Tapi Ibu selalu membekaliku dengan bikang hangat yang di beli dari Endang. Ya sudahlah, lagipula bukan aku juga yang memakan bikang itu, ada Rani, teman sebangkuku yang menghabiskan kue itu. **** Seperti biasa, di Minggu pagi, keluargaku selalu menyempatkan untuk olahraga bersama. Aku memilih bersepeda keliling kompleks perumahan. Sedangkan, Ayah, Ibu, dan Rangga berjalan jalan di Pasar Minggu pagi yang berada di sekitar Stadion. Tumben, hari ini aku tak mendengar ‘kicauan’ si Endang yang menjajakan bikang hangatnya. Kemana dia? Bukannya aku rindu dengan jajanan pasarnya itu. Tetapi, mendengar suara Endang setiap pagi merupakan rutinitasku sebelum berangkat sekolah. Aku pun penasaran, kemana Endang pagi ini? Aku segera menuju ke Panti Asuhan Cahaya Hati, tempat tinggal Endang saat ini yang tak jauh dari komplek perumahan. Aku bertanya pada salah seorang penghuni Panti Asuhan. “Endang pulang ke Jombang, dia pulang kampung karena ingin melanjutkan pengobatan alternatif disana.” Ucapnya dan lantas kembali masuk ke halaman Panti, aku diam dan berusaha mencerna perkataan tadi. Pulang? Sakit? Pengobatan alternatif? Karena diburu rasa penasaran, aku segera pulang ke rumah dan bertanya pada Ibu.**** Aku memarkir sepedaku di garasi, tak sengaja aku mendengar Ayah dan Ibu sedang berbicara serius di Ruang Tamu. Aku tetap berada di garasi dan berusaha mendekatkan telingaku ke daun pintu ruang tamu. “Kasihan Endang itu, ia terpaksa kembali ke kampung untuk menjalani pengobatan alternatif. Ibu merasa bersalah pada Almarhumah Anik karena Ibu tak dapat merawat darah dagingnya dengan baik. Bahkan, Ibu tak dapat membujuk Endang untuk tinggal di sini dan bersekolah bersama Rena.“ Aku melihat Ibu mulai menitikkan air mata.“Ayah tahu dan Ayah juga merasakan hal yang sama dengan Ibu, kita juga tidak sempat menyembuhkan Tuberculosis Endang. Tapi setidaknya kita sudah membeli kue buatan Endang. Paling tidak, Endang sudah dapat penghasilan sendiri dan membiayai hidupnya sendiri sejak orang tuanya meninggal setahun lalu.” Ayah mencoba menenangkan Ibu. Perkataan kedua orang tuaku membuatku tercekat. Aku berusaha mencerna perkataan itu. Ternyata selama ini Endang adalah anak sahabat Ibu yang di titipkan pada Ibu sejak setahun yang lalu. Pantas saja, Ibu selalu membeli jajanan buatan Endang dan memaksaku membawanya ke sekolah. Sepengetahuanku, Ayah juga jarang memakan bikang itu ketika di rumah dan lebih sering membawa kue itu ke kantor. Jadi ini sebabnya. Aku hanya bisa mendoakan agar Endang cepat sembuh dan kembali kesini. Aku pun tak keberatan jika suatu saat nanti Endang tinggal bersama kami bahkan satu sekolah denganku. Cepat sembuh Endang Aku merindukan bikang hangatmu.. JAWA POS. Kamis, 7 Juli 2011 KHARISMA HAWA D.Facebook : Kharisma Hawa D.Twitter : @kharismahawaHeello : @kharismahawaEmail : kharismahawa@yahoo.co.id

  • Cerpen Romantis: Kenangan Yang Terlupakan

    Kenangan yang TerlupakanCerpen oleh Bella Danny Justice“sialaaaaann!!!!!” teriak perempuan itu dengan histeris.“eh kenapa sih kamu Jes?!” Tanya teman sebangkunya dengan pelan.“Julian sialaaaann!!!” seru perempuan itu lagi dengan mimik kesal dan pipi merah padam menahan sebal.“Jessica! Kamu kira pelajaran saya pelajaran seni musik apa?! berdiri dan angkat 1 kaki kamu di luar kelas!” hardik Ibu guru yang sedang menjelaskan pelajaran, dan merasa sangat terganggu oleh suara lantang dari Jessica.Dengan pasrah dan agak menyesal akhirnya Jessica meninggalkan tempat duduknya, dan menjalani hukuman dari Bu Priyati sang guru Matematika. Selama 2 jam pelajaran, Jessica yang hanya berdiri tegap itu terus memanyunkan bibirnya dan ngedumel dalam hati soal cowok bernama Julian. Entah kenapa Jessica sangat tidak menyukai cowok itu, padahal Julian adalah sepupunya! Julian sendiri sering datang kerumah Jessica untuk main, tapi kali ini dia sangat-sangat kesel terhadap saudaranya itu. Sesampainya dirumah, ia mendapati lagi Julian dirumahnya sedang bercakap-cakap diruang tamu bersama mamanya. Jessica tidak menghiraukan kehadiran saudaranya dan langsung berlenggang menuju kamarnya di lantai 2. Tapi saat ia baru mau menaiki anak tangga tiba-tiba suara itu datang..“Jessica, ini ada saudara datang ko ga dikasih salam malah langsung nyelonong gitu aja kaya bajaj?” sahut mama Jessica.“dia udah sering dateng jadi ngapain harus aku selalu kasih salam. Udah ah, aku mau ganti baju dulu ma.” Ujarnya ketus lalu melanjutkan lagi langkah kakinya menuju kamar.“maaf ya Ju, Jessica emang sifatnya keras kepala.” Kata mama Jessica yang menyampaikannya dengan sedikit ga enak hati pada Julian yang sedang meneguk sirup cocopandannya.“ngga papa tante. Itu juga aku udah tau, dari kecil dia emang kaya gitu sifatnya hehe. Aku mau langsung ke kamarnya aja ah. Permisi ya tan.” Ucap Julian yang memaklumi sifat Jessica. Ia pun langsung menuju ke lantai 2 ke kamar Jessica. Tanpa ragu-ragu Julian langsung membuka pintu kamar cewek itu dengan nada mengagetkan.Bersamaan dengan pintu yang terbuka. “WWOOOY!!!” didapatinya Jessica yang memakai tank top hitam sedang sibuk memilih baju rumah yang biasa ia pakai.“eh gilaaaa!!! Aku lagi ganti baju dodol! Sana pergi!!” seru Jessica yang kaget akan tingkah Julian.“lebay banget, kamu kan masih pake tank top ngga telanjang ini!” tuturnya enteng.“ihh dasar mesum!! Tutup lagiii pintunyaaaaaa sekaraaaanggggg!!!!” teriak Jessica dengan sekuat tenaga. Julian yang merasa gendang telinganya sebentar lagi akan pecah langsung menuruti perintah sepupunya itu.“eh Jes, gila ya?!! Kamu pengen bikin aku budek karena suara kamu yang cempreng dan nyaring itu?!” kata Julian.“iya! Aku pengen bikin kamu tuli! Jangan pernah dateng kerumah aku lagi! Aku ga suka sama kamu!” jawab Jessica tanpa ragu dari balik pintu kamarnya.Sejenak tidak ada suara balasan dari Julian, lalu suara itu muncul lagi dengan nada pelan. “Jes, dengerin dulu..aku mau ngomong sebentar.” Otak Jessica mulai berpikir, ada apa sih sama saudaranya itu?! Kenapa dia selalu datang kerumahnya dan ingin sekali dekat dengan dirinya? Apa Julian sudah gila? Setiap hari dia nerima aja omelan serta teriakan Jessica yang menolak untuk bertemu dengannya. Meskipun di marahin abis-abisan setiap ketemu tapi tetep aja Julian ga pernah absen dateng kerumah Jessica.“Julian, siapa sih dia?! Aku ga inget punya sepupu/saudara namanya Julian? Aku ga bisa inget siapa dia! Tapi kenapa nama itu bikin kepala aku pusing setiap kali memikirkannya?” ujarnya dalam hati. Julian…Julian…Julian… Pandangan Jessica mulai kabur, kepalanya pusing, entah kenapa badannya seperti tidak seimbang dan melayang-layang.“Jes, tolong buka pintunya sebentar..” ucap Julian yang mulai penasaran kenapa sedaritadi hanya hening yang ia dengar dari kamar Jessica, kemudian dengan hati-hati ia pun membuka pintu kamar Jessica, didapatinya perempuan itu pingsan!! Segera Julian dengan wajah panik menggendong Jessica ke tempat tidurnya dan memberitahu tante Christy tentang keadaan anaknya. Saat itu Julian benar-benar seperti orang kalap! Hanya melihat Jessica yang tergeletak pingsan saja membuatnya seperti ingin mati menyelamatkan cewek satu itu. Tante Christy yang memperhatikan gerak-gerik Julian pun berkata: “Ju, kamu tidak lelah dengan semua ini?”“jangan berkata seperti itu dulu tante, sekarang ngga tepat waktunya.” Kata Julian yang mengusapkan minyak kayu putih ke kening dan hidung Jessica.“aku pulang dulu, kalau Jessica sudah siuman jaga dia ya tante.” Ucap Julian.Setelah berpesan pada Tante Christy, Julian pun pergi dari tempat itu. Ia memang merasa sangat lelah dengan ini, tapi sekarang belum sempat baginya untuk menjelaskan. Sedangkan, Tante Christy yang setia menunggu anak semata wayangnya itu siuman sampai-sampai tertidur karena cukup lama Jessica tidak sadarkan diri.“ica, kamu jangan ikutan main bola ya! Nanti mama kamu marah sama aku kalo kamu kenapa-kenapa.”“gak papa ian!! Ica mau ikut main bola pokoknya!” ucap anak perempuan berumur 8 tahun itu.“kamu liatin aku aja ya. Ica kan cewek ga pantes main bola.” Kata Ian yang berusaha melarang Ica untuk ikut bermain bola.“iyauda, yang penting aku ikut Ian.” Senyum manis Ica pun langsung terpampang jelas di wajah lugunya. Ian sangat senang mempunyai teman kecil seperti Ica, Ica beda dengan anak cewek yang lainnya. Pasalnya, Ica ga cengeng seperti kebanyakan anak-anak cewek seusianya, Ica juga agak tomboy karena dia suka main sama anak-anak cowok terutama sama Ian. Hal itu membuat dua anak kecil ini tumbuh bersama-sama. Sampai masuk playgroup,TK, SD pun mereka tidak terpisahkan, dan sangat dekat. Tapi suatu hari kabar buruk pun datang untuk Ian.“Ian, Ica besok mau pindah rumah jadi kita ga bisa main sama-sama lagi deh.” Ujar Ica dengan isak tangisnya yang malu melihat wajah Ian.“Ica memangnya mau pergi kemana?” Tanya Ian.Dengan berderai air mata Ica berusaha berbicara. “Ica juga ngga tau Ian, tapi yang jelas pindahnya jauh. Kita jadi ga bisa ketemu lagi.”Sejenak anak cowok bernama Ian itu terdiam akan kabar yang sangat mengagetkan ini. Ia tidak tau harus berkata apa, tapi yang pasti hatinya sangat terpukul bahwa Ica akan pergi meninggalkannya. Akhirnya anak cowok itu pun membuka mulutnya “Ica, kamu tenang aja. Ian pasti akan temuin Ica, Ica jangan takut. Ica mau janji ngga sama aku?”“janji apa Ian?” Tanya Ica masih dengan tangisnya yang tak berhenti. “Ica janji ya akan tunggu Ian? Jangan lupa sama Ian.”“Ica ga mungkin lupa Ian! Ian temen Ica yang paling baik! Ica janji, tapi Ian harus ketemu Ica lagi.”“Ian…Ian…Ian…”Mama Jessica langsung terbangun saat mendengar anaknya bergurau nama Ian. Sang mama pun langsung menyadarkan Jessica dari gurauannya itu. Setelah diberi air putih oleh mamanya dan bersandar di punggung kasur beberapa saat, keadaan Jessica terlihat kembali normal dan ia pun membuka topic “ma, Ian itu siapa? Tadi aku mimpi tentang masa kecil aku sama cowok bernama Ian.” Ucap Jessica lemah.Mamanya kaget ketika Jessica bertanya seperti itu. “memangnya kamu ingin tau tentang dia?” Tanya mama yang membuat Jessica semakin penasaran di kondisinya yang masih limbung itu.“cepetan kasih tau aku ma siapa Ian itu!” kali ini Jessica berkata dengan sedikit menaikan intonasi pembicaraannya.“Ian adalah Julian…”Belum sempat melanjutkan penjelasan, Jessica langsung memotong perkataan mamanya dan tampak begitu kaget. Keadaan yang tadi lemah kini tiba-tiba entah bagaimana menghilang dari tubuh Jessica. “mama jangan bercanda!! Julian itu saudara aku!!”*** “Ica, apa kamu sudah benar-benar ngelupain aku? Tidak adakah sedikit sisa kenangan tentang aku di hatimu?” kata Julian sambil meraih foto waktu ia kecil bersama dengan Jessica dan terus memandanginya.“Julian..” suara yang tidak asing itu memasuki kamar Julian dan menghampiri dirinya.“papa?”“kamu sudah berusaha sangat keras terhadap Jessica, jadi bagaimana keputusan kamu? Kalau kamu merasa segalanya sudah tidak mungkin dapat kembali lagi, papa ingin kamu meneruskan sekolah ke luar negri.” Kata papa Julian yang memegang bahu putranya.Julian tidak berani memutuskan untuk pergi ke luar negri, walaupun semuanya terasa mustahil untuk diingat kembali tetapi ia tidak bisa meninggalkan Jessica. Janjinya dulu terhadap teman kecilnya itu membuatnya tak bisa pergi dari Jessica, meski Jessica tidak mengenal dirinya…“putuskanlah besok, papa tidak mau kamu terus terjebak dengan masa lalumu yang bahkan tidak dapat diingat oleh Jessica.”***I'll find you somewhereI'll keep on tryingUntil my dying dayI just need to knowWhatever has happenedThe truth will free my soulWherever you areI won't stop searchingWhatever it takes me to know(Within Temptation – Somewhere) Lagu dari band favorit Julian begitu melukiskan kisahnya akan Jessica. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu teman kecilnya itu, dan hari ini juga akan dia putuskan untuk meneruskan sekolah diluar negri atau tetap melanjutkan perannya yang memilukan.Setibanya dirumah Tante Christy, Julian langsung disambut dengan hangat. Ia duduk diruang tamu dengan gelisah dan terus memikirkan perkataan papanya semalam untuk pergi sekolah ke luar negri.“sebentar ya Julian, tante tinggal dulu.”“iya ngga papa tante.”Menunggu, menunggu dan menunggu…beberapa puluh menit ia menunggu Tante Christy yang tak kunjung kembali, padahal ia ingin menyampaikan pesan kepada Jessica melalui Tante Christy untuk yang terakhir kalinya.“Julian..” terdengar suara perempuan yang tak salah lagi adalah…Jessica!!“oh, J, Jess..keadaan kamu udah membaik?” ucap Julian dengan terbata-bata dan terlihat seperti orang kikuk.“keadaan aku ternyata ga pernah baik selama ini, iya kan?” perkataan Jessica membuat Julian kebingungan atas apa yang ia bicarakan.“apa maksud kamu?” Tanya Julian singkat.Jessica tampak termenung, ia menundukan kepalanya menatap lurus lantai rumahnya. Julian yang kebingungan juga jadi ikut-ikutan terdiam tak bergeming. Hening kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka. Tak ada yang berani membuka mulut lebih dahulu, Jessica pun belum menjawab pertanyaan Julian yang tak mengerti akan perkataannya. Namun, beberapat saat Jessica mulai kembali berbicara.“Ian…kenapa terus menunggu Ica? Padahal Ian udah temuin Ica, tapi kenapa Ian pengen Ica ngga kenal sama Ian? Mama udah ceritain semuanya.” Ucap Jessica yang memanggil Julian dengan sebutan masa kecilnya dulu, ia merasa sangat menyesal karena selalu bersikap kasar kepada Julian yang ternyata adalah Ian teman dekat waktu ia kecil dan bukan saudara/sepupunya!Kata-kata dari mulut Jessica yang memasuki telinga Julian membuat matanya terbelalak, ia melihat Jessica yang mulai meneteskan air mata dan terlihat begitu sedih karena merasa sudah dibohongi oleh dirinya. “aku ga pernah berniat membohongi kamu Ca, tapi kecelakaan yang membuat kamu hilang ingatanlah yang menjauhkan kita. Aku merasa percuma saja kalau aku mengatakan bahwa aku adalah Ian teman kecil kamu, sedangkan kamu tidak mengingat apa pun tentang aku. Jadi, aku putuskan untuk menunggu dan berpura-pura menjadi saudara kamu. Ini semua begitu menyakitkan bagi aku..melihat kamu setiap hari yang tidak mengenal aku..itu sangat menyakitkan.” Seketika itu Julian mulai meneteskan beberapa derai air mata yang mengalir di pipinya.“aku minta maaf. Aku nggak tau kalau kamu telah begitu menderita karna aku, aku memang ngga pantes jadi temen kamu.” Tangis Jessica meledak setelah mengucapkan kalimat itu, ia tidak tau bahwa selama ini Julian berusaha mencarinya dan menunggunya di balik kenangan yang terlupakan oleh Jessica.“kamu memang bukan hanya teman, tapi kamu adalah perempuan yang membuat aku bisa menunggu begitu lama dan itu membuat aku sangat menyukaimu. Aku suka sama kamu Ca, dari semasa kita kecil, kita berpisah, aku temuin kamu, aku berpura-pura, dan bahkan sampai saat ini.” Ujar Julian yang mengakui perasaannya yang terpendam selama ini. Setelah bertahun-tahun terpisah dan berpura-pura akhirnya ia dapat mengucapkan kata-kata yang tertahan sudah begitu lama di hatinya.“aku…aku juga menyukai kamu Ian, dari dulu..maaf aku pernah melupakan kamu.” Ujar Jessica dengan lirih.“oia, aku ga mau manggil Ian lagi, karena nama itu adalah masa laluku yang terlupakan, dan sekarang yang ada dihadapan aku itu Julian. Jadi kamu juga jangan panggil aku Ica lagi. Kalo kamu ngga panggil Jessica, aku ga jadi suka ah.” Kata Jessica yang tertawa kecil sambil menghapus tangis di pipinya yang sudah agak mengering.“habis nangis ketawa makan gula jawa nih ya?” goda Julian yang menyunggingkan senyum manisnya pada Jessica.“iiihhh!!!! Ngeselin!!!” ucap Jessica yang merasa kesal digodai padahal ia berkata serius.“ok, ok..Jessica I heart U.” goda Julian lagi.“iiih!! Apaan sih kamu! Aku tuh ngga suka sama Sm*sh!” serunya dengan nyaring.Kejadian yang tidak disangka ini pun terjadi. Julian yang mengira usahanya selama ini akan berhenti sia-sia juga masih tidak percaya bahwa hari seperti ini, hari yang ia dambakan datang padanya. Jessica yang 9 tahun sudah menghilang dan ia temukan kini dapat mengingat kembali dirinya. Rencana untuk meneruskan sekolah ke luar negri pun ia batalkan. Tante Christy yang menyaksikan dari jauh sangat senang melihat bahwa anaknya dapat mengingat kembali semua hal yang pernah terlupakan.“Jessica…ternyata aku memang tidak bisa meninggalkan kamu. Rasa sayangku terlalu besar dari keberanianku untuk berhenti menunggu saat seperti ini. Aku sangat menyayangimu.” Kata Julian dalam hati yang diiringi pelukan hangatnya dengan Jessica.Say my name, so I will know you're backYou're here again for a while..Oh, let us share the memories that only we can share together..Tell me about the days before I was born, how we were as children.. (Within Temptation – Say My Name)TAMATOleh : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeee-mail : alexa.bella14@yahoo.com

  • Cerpen Romantis: Mr. Ice Cream

    Ini sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya. ***3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang samaWajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan. “Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati. “Enaak !!” Seru ku.Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.Ya, Dialah Keylan. Key dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.Key mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Key sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.Key dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Key adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Key mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Key termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Key tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.Sore itu, Key dengan sengaja menculikku dari kampus, Key mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua. Key bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood. Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan. “Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.“ini Enaaak, coba deh Key” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Key lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak. “yeee, enak kan, sekarang Key ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan key menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang. Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Key seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya key punya pacar. Key berpacaran dengan Amerina. Mengenai Key dan Amerina aku tak tahu banyak karena Key jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Amerina adalah gadis cantik, anggun, smart dan terlihat kalem, menurutku Amerina seperti Key versi cewek. Hanya itu yang ku tahu.“Pulang yuk ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Key kepadaku sekaligus mengingatkan.“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Key yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu. ***2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.Key tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih.“Ta daaaa, Happy Birth Day” Key menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Key membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua. “Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Key tersenyum Simpul lagi. Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Key dan es Krim tentunya.“Rio, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.Rio? Kenapa Key nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.“yang penting…” Ujar Key. Hening sejenak. Aku menunggu Key melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Key.Key selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Key yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Amerina? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya? Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Key memperlakukan Amerina? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Key membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.“Pelit” Key pura-pura ngambek.“Anyway Key, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.“Any time, Ran” balas Key. Tersenyum simpul.Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak. ***Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia. Dua jam yang lalu, aku dan Key duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Key terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Key, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.“Kenapa gak ada kabar ran?” Key menatapku serius. Nada suaranya dingin.Aku tak sanggup memandang key, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya. “Aku sibuk Key” Aku berbohong. “Maaf Key, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.Setelah mendengar kata maaf itu Key langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Key pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Key terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Key yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Key yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Key sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Key selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.“Lalu bagaimana denganmu Key?” ucapku terbata.Key tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Key sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Key menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.***Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Key. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Key dua jam yang lalu.Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri? Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Key kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Key terluka. Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Key dan Amerina. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Key, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?-The End-By : Eka SuzieFb: Eka SuzieTwitter : @eksuzBlog : Mr-ice-cream.blogspot.com

  • Cerpen Romantis: In My Dream

    In my DreamOleh Aprilana Dewi“mengatakan aku mencintaimu adalah kata-kata yg ingin aku ucapkan setiap hari dalam hidupkumaukah kau menikah denganku? Aku ingin mencintaimu dan hidup bersamamuaku ingin kau bersandar di bahuku saat kamu tertidurmaukah kau menikah denganku? Dengan segenap hatiku, apakah kamu setuju ?”Arlini adalah sosok perempuan yang sudah lama diidamkan Reo . Lelaki yang masih saja membujang karna menunggu cinta Arlini untuknya padahal dia sudah berusia 25 tahun . Arlini dan Reo memang dekat , mereka berdua satu kampus , Arlini masih semester 6 sementara Reo masih skripsi dan sebentar lagi dia akan lulus .Tak ada kriteria yang lain untuk gadis impiannya kecuali Arlini . Reo sangat mencintai Arlini . Dia sangat manis , lembut dan baik sekali . Terkadang Reo tak sanggup menahan perasaannya sendiri yang membuat setiap malam matanya sulit terpejam .Selain kuliah, Reo juga punya band . Dia sebagai vokalis dan pencipta lagu . Ada 3 personil pada band yang ia namakan “KRY” yang berarti Kyuhyun,Reo dan Yesung. Salah satu lagu yang ia karang untuk Arlini adalah yg berjudul “ In My Dream “. Mengapa ia mengarang lagu tersebut ? Karna seperti judulnya “ In My Dream “, Lagu itu tercipta seketika ada sebuah mimpi merasuki malamnya . Saat itu Arlini datang pada Reo dengan tersenyum manis . Menghampiri Reo yang kini tengah menggengam sebuah cincin pernikahan .Malam itu Arlini Nampak cantik, sangat cantik bahkan melebihi kecantikan seorang bidadari . Reo terpesona akan itu . Lalu ia persiapkan jauh dalam hati untuk menyampaikan isi hati kepada Arlini dengan memegang kedua tangan Arlini .“ Arlini, perlu kau tau bahwa sesungguhnya aku sangat mencintaimu.., aku sangat sulit untuk hidup tanpamu . Maka dari itu menikahlah denganku . Kamu mau kan ? “Seraya dengan indahnya sebuah melodi yang mengiringi kisah ini… Seperti lagu ini teralun begitu saja Arlini mengangguk …Tak segan Reo memeluk erat Arlini dengan kekuatan cinta yang sudah benar-benar terbalaskan . Dan itu artinya Arlini sudah akan menjadi seseorang yang menemaninya setiap detik,menit,jam dan hari-harinya.“meskipun kita menjadi tuakita akan trus tersenyum dan hdup bersamamaukah kau menikahiku? Apakah kamu mau untuk menjalani sisa hdupmu bersamakutidak peduli seberapa lelah kitaaku akan selalu disampingmuHari-hariku yg akan kita lakukan bersamaaku kan slalu di sampingmuaku telah menyiapkan cincin ini sejak duluaku mohon pasang cincin yg bersinar ini di jarikuingat janji yg telah kita buat bersama, maukah kau menikahiku ?”Setelah Reo melepaskan pelukannya, Reo akan menyematkan cincin yang ia genggam untuk Arlini . Arlini nampak bahagia dengan ini . Membuat Arlini sebahagia ini bagaikan puncak yg paling ujung kebahagiaan dalam hidup Reo .Mendaratkan sebuah kecupan di kening Arlini seakan membangun gejolak semangat hidup Reo . Ini adalah keindahan … adalah sebuah cinta yang manis .“ Aku mau menikah denganmu Reo “ ucap Arlini pelan.. pelan sekali . Namun mampu terdengar oleh Reo .Namun, langkah Arlini semakin menjauh secara sangat perlahan tanpa Reo sadari .. Lama kelamaan Arlini semakin menyamar..memudar dan seperti tertutupi awan gelap… Sedangkan Reo tak bisa bergerak untuk mengejar Arlini .“ Arlini !!!!!!!!!!!!!!! “ Teriak Reo keraaaaaaassssssss bahkan sangat keraas.. Hingga ia tersadar ..Barusan dia hanya melewati momen indah yang bersifat sementara yaitu mimpi . Yesung dan Kyuhyun yang juga teman kosnya pun terkejut melihat aksi Reo . Ia berteriak memanggil nama Arlini sangat keras sekali .Setelah Yesung dan Kyuhyun mendekat, mereka mendapati Reo sedang menitihkan air mata dengan memegang erat kepalanya . Wajahnya memerah dan mengekspresikan kekecewaan yang sangat mendalam . Jika Reo tau ini hanya mimpi, mungkin dia tak akan bangun lagi …“Aku berharap tidur seperti ini selamanyaAku terbangun juga masih dengannyaAku berharap tidak bermimpi lagiHari inipun aku bahkan dapat berdampingan bersamanyaJika hari ini aku dapat melihatmu lagi, jika dapat seperti itu, jika kau kembaliJika kau dapat sekali lagi ada di sampingku, jika dapat seperti ituAku tidak ingin terbangunJika dapat tertidur lagi dan itu akan terulang..…..”Hari-hari Reo semakin menghitam kalbu seketika mimpi itu datang . Mimpi ini seperti narkoba… Menagihkan… Jika tak mampu mengulang lagi, akan sakit seperti ini . Setiap hari harus memojok di kamar dan merenungkan hal itu lagi dan lagi walaupun sangat terasa mustahil untuk melupakannya .“diam-diam aku menertawakan diriku sendiriAku tidak percaya seberapa dalam aku jatuh untukmuKau masuk ke pikiranku dengan rangakaian imajinasi.Sekarang aku seperti orang bodoh yang jatuh cintaSemuanya , aku, sekarang, kauAku sudah jatuh cinta denganmuLihat aku dan aku berjanjiBahwa aku tidak akan membiarkan engkau pergiBahkan jika dunia berakhir, aku akan mencintaimu seperti jam abadi yang tak pernah berakhir”Bahkan kondisi Reo semakin parah ketika Arlini memperkenalkan tunangannya yang bernama Siwon kepada Reo . Wajar, Reo adalah teman terdekat Arlini . Dengan cara seperti apalagi Reo menahan amarahnya untuk ini ? Ia tidak boleh menunjukan sakitnya cinta ini di hadapan Arlini . Sebagai teman terdekatnya, Reo harus menampakan ekspresi bahagianya ketika seseorang yang sangat ia cintai tengah dimiliki orang lain . Lambat laun Arlini menghilang dari kehidupan Reo seketika Arlini sudah lulus . Begitupun juga dengan dirinya. Mungkin ini sudah jalannya, Arlini diciptakan bukan untuk dirinya . Namun kenangan di mimpi itu.., takkan mungkin bisa Reo hapus … “I Still Love You and We will be theLove Truly in My Dream …”TAMATFacebook : Avrielwi@gmail.comTwitter : @aprilanasiwonchoiBlog : http://aprilanabercerita.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*