Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella ~ 2 {Update}

Belajar ala "Mellisa". Always phositif thinking, make it easy and Keep smille.
I Will Do IT!!!!

Credit gambar: ana merya
Sebenernya pengenalannya sudah cukup yang ada di part satu, tapi aku sepertinya ingin menambahkan sedikit. Ini tentang 'Nano – Nano. Tapi bukan permen ya, yah walaupun tu gelar ku berikan berdasarkan permen tersebut.
Jadi begini, Nano – nano adalah sebuah sebutan yang ku tujukan untuk Kevin. Bahkan sampai saat ini teman – teman ku masih heran kenapa aku memberikan gelaran tersebut karena aku memang sama sekali tidak pernah memberikan penjelasan.
Nah, khusus untuk reader, ku kasih tau *tuh kan, kurang baik apa coba aku, tapi kok serba – serbi masih bilang aku njengkelin ya/ ck ck ck… tak patut*. Gelar tersebut sengaja aku pake gara – gara si kevin itu punya kepribadian ganda, eh triple. Walaupun sebenernya aku juga punya keperibadian triple juga, tapikan gak lucu kalau aku memberikan gelaran itu untuk diriku sendiri. nah, karena memiliki tiga rasa itu lah aku lebih suka menyebutnya nano – nano. Manis, asem, asin. kok jadi ngelantur gini si?. Undo ke awal, Si Nano – nano itu, Teman, Musuh sekali gus merangkap sebagai bos ku , ralat adek bos ku. karena aku kerja di toko buku milik kakaknya. Kalau Kevin yang ngurus tu toko mah mustahil. Secara megang buku aja kayak nggak pernah. Ia datang ke toko itu juga biasanya cuma ngerecokin.
Baiklah, Dia itu TEMAN aku, Andre. karena setiap ada masalah apapun dia pasti bakal cerita sama andre. yaitu aku sendiri. Hubungan kita dekat sejak setahun yang lalu. Waktu aku nggak sengaja nolongin dia yang di rampok dengan cara menyemprotkan serbuk merica yang selalu di bawa kemana – mana tepat kemata perampok itu. yang kemudian berkat keahlian ku yang tidak diragukan dan bentar lagi bakal ku patenkan, aku berhasil membawanya kabur yang barulah belakangan ku ketahui kalau dia adalah adik dari bos ku. Dan nggak tau kenapa sejak itu hubungan kita semakin dekat, Dia juga sering mampir ke toko, Tapi ya itu tadi, bukan buat baca buku tapi cuma mau ngerecokin aku aja.
Tapi, dia itu MUSUH aku, Riani. Setiap hari, dia dan kelima orang teman – temannya yang tengil itu selalu saja ngerjain aku. Tapi untungnya selalu gagal karena setiap dia mau ngerjain riani, dia terlebih dahulu menceritakannya pada andre. So, wajar donk kalau aku bisa ngelak.
Cuma sayang nya, berhubung dia selalu gagal ngerjain aku, sasarannya berpindah ke teman – teman ku. Sementara aku tidak bisa bertindak apa – apa kecuali mengingatkan teman – teman ku untuk berhati – hati karena nggak mungkin kan aku ngasih tau rencana kevin, yang ada mereka semua pasti bakal curiga. Alhasil, teman – teman ku lah yang selama ini terkena getahnya. Sementara Aku?. Aku cuma bisa menahan emosi sebagai seorang kutu buku yang lugu ( ??? ).
Hado….. kok malah jadi molor kemana – mana ya?. ya udah lah Di cut aja. langsung keceritanya aja nyok….. he he he……..
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
Aku sama sekali tidak dapat konsentrasi mendengarkan materi yang diajarkan pak Ridwan. Pikiran ku molor kemana – mana. aku masih berusaha mencari cara untuk menghentikan teror yang dilempakan pada teman – teman ku. Kemaren kezia di buat menangis gara – gara di dalam tas nya di isi bangkai tikut. Bahkan tadi pagi Iren dipanggil ke ruangan pak Agus. Dia di introgasi habis – habisan karena telah berani mengirimi surat cinta sekaligus sekuntum mawar merah untuknya.
Apalagi pak agus memang seorang duda yang sudah berumur lima puluhan. Mana tulisannya mirip banget lagi sama tulisan Iren. Kerjaan siapa lagi coba kalau bukan cecunguk – cecunguk itu. Terlebih pak Agus Orang nya sudah terkenal 'gatel' nggak ketulungan.
Hal ini lah yang membuat aku merasa makin sebel. Kalau ngerjain orang kok nggak kira – kira.
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
"Minggir!".
Aku menoleh kaget. Saat ini kevin dan konco – konconya sudah ada di sampingku. Sejenak ku edarkan pandangan ke sekeliling, masih begitu banyak meja yang kosong di kantin ini.
"Kita mau duduk di sini" Sambung kevin seolah – olah bisa membaca pikiranku.
Aku sudah ingin membantah, tapi teman – teman ku mengisaratkan untuk manut. Ya sudahlah, kali ini aku ngalah dan segera bersiap untuk beranjak pergi. Tapi tiba – tiba Vano dengan seenak jidatnya mengambil keripik singkong yang ada di tangan ku dan tanpa basa – basi langsung melahapnya dengan santai.
"Sebenernya apa si maksut nie orang ?" geram ku dalam hati sambil terus menatap tajam kearah Vano.
"Loe nggak keberatan kan?" tanya vano atau lebih tepatnya meledek.
Sejenak aku terdiam tapi kemudian dengan sebuah senyuman ku balas ucapannya.
"Sama sekali nggak kok".
Menedengar ucapan ku barusan Tu orang makin belagu kayaknya.
"Oh ya, Loe mau lagi?. Biar sekalian gue beliin. Kasiaaan…. buat beli Keripik aja kalian nggak sanggup" Sambung ku yang sontak mengagetkan mereka. Emang nya aku takut apa?.
"Maksut loe Apa?!" bentak Kevin berdiri dari duduknya.
"Lho…. emang nya ada yang salah?" Balas ku berusaha terlihat santai bin kalem *eits, tapi bukan kayak lembu ya*.
"Loe berani sama gue?" ancam kevin lagi.
"Tentu saja tidak. Secara Bodiguard loe segitu banyak" Balasku tak mau kalah sambil menunjuk ke belakang kevin. Reflek kevin berbalik.
"Cewek – cewek itu maksud loe?".
"Emang siapa lagi?".
Kevin segera menarik tangan ku sebelum sempat pergi meninggalkannya.
"Loe pikir gue banci?!" Tanya kevin merasa terhina.
"Ha ha ha…. Jadi loe baru nyadar".
Nggak tau dari mana datangnya keberanian ku untuk melawan kevin. Tapi yang jelas aku sudah tidak tahan dengan sikap semena – mena nya yang berbanding balik dengan sosok kevin yang 'andre' kenal.
"Jaga bicara loe!".
Bentakan kevin cukup untuk menarik perhatian seisi kantin. Dan kalau boleh jujur bentakan itu juga sukses membuat Aku kaget. E,,,,, ditambah rasa sedikit takut mungkin.
"Loe berani ngatain kita banci?" sela Vardan emosi.
"Bukan gue loe yang ngomong" Aku berusaha bersikap secuek mungkin. Kali ini Aku sudah memutuskan untuk menghadapi mereka. Apapun resikonya.
"Lagian beraninya cuma sama cewek. Itupun keroyokan. Terus kalau bukan banci apa coba namanya?" sambung ku lagi.
"Loe nantangi kita?!" Randi ikut – ikutan membentak.
Aku sudah mau membalas lagi. Tapi sayang mulut ku keburu di pikep ( ??? ) sama Iren. Sementara Nay Dan Kezia sudah membungkuk minta maaf sebelum akhirnya menyeret ku pergi.
"Kalian apaan si?" Aku kesel karena Tangan ku di tarik paksa agar mengikutinya keluar dari kantin.
"Udah. Kita harus pergi dari sini " ajak Nay khawatir.
"Ogah. Napain si kita harus pergi segala?. Lagian kita kesini kan mau makan. Gue juga udah laper. Kita duduk di sini aja" Tolak ku sambil duduk di meja seberang kevin.
"Kita makannya laen kali aja" bujuk Iren lagi.
"Gue kan laparnya sekarang. lagian tuh pesanan kita juga udah datang".
Sayang, belum sempat pelayan itu sampai di meja kami, kevin sudah terlebih dahulu mencegatnya.Tentu saja pelayan itu manut dan hanya menundukan badan pada kami tanda minta maaf. Jelas saja hal ini membuat aku makin gondok, Ternyata usut punya usut nie kampus milik bokapnya *Drama abis/ Ilham: Gu jun pyo/he he he*.
"Sabar riani" Bisik Nay sambil mengenggam tangan ku erat.
Sementara aku sama sekali tidak dapat melepaskan pandangan ke kevin yang jelas – jelas sedang tersenyum mengejek.
Aha *kalau ikalan di tipi biasanya keluar lampu menyala diatas kepalanya*…. Tiba – tiba aku punya ide. Ya bisa di bilang kayak ilham gitu. Tanpa bisa ku tahan Sebuah senyuman meluncur mulus dari bibir ku.
"Kevin, Apa loe pernah dengar istilah pembalasan berdarah?. Kali ini Gue pastika loe sedikit merasakannya" Gumam ku dalam hati.
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
If you want to read next you can clik at Cerpen the prince, the princess and mis cinderella part ~03

Random Posts

  • Cerpen Kehilangan: DITINGGAL SOSOK IBU

    DITINGGAL SOSOK IBUOleh: Siska Sudjatnika, S.EPagi itu saya terbangun melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00, “ aduh aku kesiangan untuk berangkat kerja”… (sambil menggaruk garuk kepala). Nene pun dari subuh sudah membangunkanku, aku langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap siap ke kantor.Alahmdulillah, pagi itu nenek sudah menyiapkan aku sarapan.setiap pagi kita selalu berbincang bincang.(Nene yang mengurus aku dari umurku 10 bulan, sampai aku lulus sarjana S1. Orang tua ku sudah berpisah, mama sudah menikah dan papa pun sudah menikah dengan mempunyai putra 1 dan putri 1.)Setelah berbincang bincang, akupun berangkat ke kantor dengan menggunakan motor. Aku sibuk dengan pekerjaanku sampai akhirnya aku pulang kerja. Datang kerumah “mih, bukain pintunya”Mamih pun membuka pintu. Aku senang masih bisa melihat senyum nya, aku pun ke kamar dan ganti baju.Setiap hari rutinitas begitu, sampai pada akhirnya pada bulan puasa hamper mau lebaran 2011. Nene ku jatuh sakit “ mih, gmn sekarang keadaannya?” aku menghampiri nene sedang terbaring di tempat tidur.“ mih dirawat yah di rumah sakit , biar cepet sembuh”, mamih pun menjawabnya dengan suara lirih” tidak mau, mamih pengen tetep di rumah”.Aku sedih melihat nene terbaring ditempat tidur, ingin menangis hati ini!aku tetep kuat menghadapi semuanya, nene satu”nya yang aku anggap sebagai mama.Suatu ketika malam hari nene akhirnya dibawa ke rumah sakit dia berkata “ sis, tolong jaga semuanya yah? Mamih mau pergi sebentar lagi mamih mau meninggal, jaga rumah baik- baik”.Aku sedih mendengar hal itu, nene pun dibawa ke rumah sakit. Setelah 2 minggu kemudian, nene tiba di rumah. “ Alhamdulillah, akhrinya mamih sembuh” (berbicara dalam hati).Setelah sembuh nene segera menyiapkan semua persiapan syukuran untuk berangkat haji,karena tanggal 10 oktober 2011 mamih berangkat. Tanggal 25 september 2011 pagi itu mamih sudah teriak teriak untuk diberesin “ sis, beresin beresin itu”.Akupun menjawab” aduh mamih pagi- pagi udah riweuh, santai atuh.. masih lama juga”Aku tidak menyangka kalau hari itu adalah hari terakhirku bertemu nene, aku menyiapkan semuanya termasuk makanan, karpet dll nya.Acara pun dimulai, aku melihat mamih terlihat pucat.” Mih, udah makan belum?”aku menyapa nene.“ nanti aja”dengan nada rendah neneku menjawabnya.Syukuranpun berlangsung, selesailah pukul 13.00, kami pun semua keluaraga beristirahat. Dan anehnya nene ku ingin tidur di kamarku, tiba- tiba pukul 14.00 nene manggil aku. Aku tertidur di lantai ruang tamu.Aku terbangun ”ada apa mih?” Aku kaget melihat mamih “mih kenapa kok badan mamih gemetaran begini” aku berkata sambil menangis.Mamih menyampaikan sesuatu ”mamih mau sekarang meninggal, tolong jaga semuanya”Aku berteriak ” Rian, Anda, Ramdan…. Tolongggggg Siska”.Mereka pun dating dengan mata merah karena terbangun dari tidur ”ada apa teh?” kata Rian.Aku hanya bias menangis melihat nene ku kritis. Melihatnya antara hidup dan mau menghembuskan nafas yang terakhirnya, semua keluargapun berkumpul termasuk pamanku. Semuanya menangis. Kita bersama – sama membantu nene untuk mengucapkan “ laailahaillah… laailahaillah…” seterusnya.. Akhirnya nene pun meninggal pukul 15.15 tepat Ashar tiba.Itulah akhir dari semuanya, aku benar – benar kehilangan. Sosok ibu pun telah hilang. Setelah beberapa minggu kemudian, aku pun pindah rumah. Untuk menjadi seorang yang mandiri. Sampai hari ini, aku bisa menjadi seorang perempuan mandiri tanpa adanya sosok ibu.***@};- BY: Siska Sudjatnika, S.ETasikmalaya, 22 Februari 2012

  • Antara Za dan…

    Antara Za dan dusta ini..Antara Za dan perasaan ini..Antara Za dan… dan.Setiap tokoh yang kuciptakan dalam kisahku kini mulai beranjak dari dunianya mengarungi nyata, menciptakan dusta, sebagai pengharapan akan termilikinya rasa yang tulus.yah, mungkin aku gila, tak ada batas antara nyata dan khayal dalam duniaku. Nyataku adalah khayalku, dan khayalku adalah nyataku…Za, aku bertemu dengannya dalam dunia yang kukehendaki, hadirnya mampu menghilangkan kesepian ini meskipun teriring kalimat kalimat dusta bagi hati yang berarti.Za, sosok yang tercipta atas izin Tuhan dalam kehendak hati yang bersanding dengan ketulusan doa.Aku yang berhati rapuh, yang telah terjebak oleh kata kata sang penyair logika, mulai bangkit dan beranjak dari keterpurukan sejak kehadiran Za. dan Za tak hadir tanpa peran yang penting, Ia mempersembahkan ketulusan itu kepadaku, dan aku yang tak berdaya ini hanya mampu berharap mimpi di puncak bintang yang pasti siapapun tak akan mampu mewujudkan itu."Na lagi ngapain??" suara Za tiba tiba mengagetkanku, tanpa kusadari Ia telah berdiri dibelakangku. Aku segera menutup buku harianku."ih Za ngagetin Na aja!!" jawabku kesal."Maaf, Za kan cuma pengen tau Na lagi ngapain?" jawab Za."Udah liat kalau Na lagi nulis, masih aja nanya!" jawabku marah."Iya iya, lagi nulis apaan sih?? ngeditnya udah selesai?" tanya Za kepadaku, Za adalah rekan kerjaku di kantor, namun Ia hanya bekerja setengah hari karna Za juga kuliah. Za kerja pada jam malam, sehingga aku hanya bisa bertemu dengan Za ketika aku lembur, dan kenyataannya aku memang selalu lembur."Udah" jawabku singkat."Udah ada jawaban??" tanya Za dengan serius, pertanyaan yang ingin kuhindari, pertanyaan yang kumau tak pernah ada diantara Za dan aku, dan kini, pertanyaan itu mengharuskanku menjawab yang tak pernah kutau jawabannya.Dua minggu yang lalu, Za mengungkapkan perasaannya kalau ia menyukaiku, aku terkejut karna aku sama sekali tak pernah berharap akan hal itu.Za bagiku adalah seorang kakak yang baik. perhatian dan pengertiannya yang tulus selalu kurasakan setiap aku bersamanya, dan itu membuatku nyaman, namun satu pertanyaan itu telah merubah semua keadaan baik itu menjadi perasaan canggung setiap aku bertemu dengan Za."Jangan sekarang yah, Na belum siap.." jawabku memelas."Tapi Za udah siap menerima apapun jawaban dari Na, Za butuh kepastian sekarang juga…" pinta Za dengan serius." Tapi Za,… Za kan tau gimana perasaan Na.., kalau aja Za datang lebih dulu dalam hidup Na, pasti Na tak akan ragu buat milih Za, sekarang Na bingung Antara Za dan…" belum sempat kuselesaikan kalimat itu Za sudah memotong ucapanku."Za ngerti kok, tapi Za ikhlas kalau Na belum bisa lupain masa lalu Na, Za akan sabar nunggu sampai hati Na seutuhnya jadi milik Za, yang penting sekarang ini adalah jawaban Na, bukan perasaan Na…" jelas Za kepadaku yang semakin membuatku bingung.Aku tak mau menyakiti Za hanya demi sebuah kata Ya, meskipun Za bilang ikhlas, tapi pasti ada luka dihatinya, dan aku tak mau itu.Aku dan hatiku, telah memilih satu hati yang tak memilihku, Aku memang bodoh telah meragukan ketulusan Za demi hati yang telah termiliki, entah kenapa aku terjebak dalam rangkaian kata yang sebenarnya tak begitu indah itu, mungkin ini karena aku adalah penyair yang telah dirapuhkan oleh keadaan hidup yang terlalu sulit untuk ku terima, sehingga tanpa kendali aku memasuki dunia syairnya yang tak berbalas.Dan Za hadir ketika perasaanku terluka karena rangkaian syair dalam bait bait tanpa rasa sebagai jawaban atas perasaanku terhadapnya." Na pulang ke kost dulu, dah capek!" jawabku pada Za yang tengah serius menunggu balasan atas perasaannya terhadapku. Aku lalu melangkah pergi meninggalkan Za yang tampak kecewa.Aku berjalan dalam keramaian malam kota Solo, ada beberapa tetes air yang kubiarkan keluar dari mataku, keramaian ini tak sedikitpun mampu memberikan suara untuk meramaikan hatiku agar aku tak sendiri..Aku tak segera menuju kost, langkah ini terhenti pada sebuah bangku kosong di taman kota. Aku duduk terdiam disana. Kukeluarkan selembar kertas putih dan sebuah pena dari dalam tasku." Antara Za dan dusta ini, kuciptakan kisah ini untuk hati yang tak mau berbagi hati, memang aku tak berhak memaksakan terbalasnya perasaan ini, namun aku adalah penyair rapuh yang tak berdaya ketika telah terlanjur larut dalam bait bait sederhananya…. Dan kehadiran Za adalah pelarian yang kuciptakan untuk menutupi perih ini agar tak ada perasaan bersalah dan mengkasihani luka ini…Antara Za dan perasaan ini, ada luka yang tak mungkin kan terobati meski kata maaf dan memaafkan telah terucap. Sesuatu yang telah berlalu tak akan pernah hadir kembali dalam rasa yang sama meski status kawan masih terjalin rapi, keindahan itu hanya ada di matanya yang jauh dariku, cerita cintanya yang selalu ia kisahkan adalah sebagian kecil dari luka yang kuberikan, namun tak pernah sedetikpun kubiarkan ia melihat air mata ini, dan tulisan senyum beserta dukungan atas kebahagiaannyalah yang senantiasa kubalaskan untuk menjawab curahannya kepadaku, kawannya. Aku tak bisa membencinya, dan kehadiran Za adalah masalah yang kuciptakan sebagai kewajiban untuknya mendengar kisahku yang selalu mendengarkan kisahnya.Antara Za dan… dan."Belum sempat kulanjutkan satu huruf terakhir, hujan tiba-tiba hadir dan memaksaku untuk segera berlari mencari tempat berteduh. Kulihat di seberang jalan Za melambaikan tangannya kepadaku, ada satu hal yang aneh disana, ada awan putih yang tampak dekat diatas Za dan melindunginya dari derasnya air hujan, Za terus melambaikan tangannya mengajakku untuk berteduh disampingnya.Akupun segera berlari menerobos sorotan lampu-lampu mobil yang salah satunya tak terkendali dan membawaku ke tempat yang lebih teduh, bukan disamping Za, namun disamping-Nya.-THE END-NB: Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, tokoh, dan peran itu hanya kebetulan semata.Profil pengirim:Nama: Triana Aurora WinchesterAlamat FB: aurora_broadcast@yahoo.com

  • CERPEN PENYESALAN CINTA

    PENYESALAN CINTAcerpen karya Nina YusufCinta ada karena terbiasa. Mungkin kata-kata itu yang paling tepat untukku. Namaku Nina, aku duduk di bangku XII SMA. Aku punya seorang tetangga cowok yang saat ini sedang kuliah tingkat 1, namanya Ade. Aku bertetanggaan sama dia sejak dari lahir. Boleh dibilang dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia sangat perhatian padaku. Dia baik dan humoris. Aku sangat menyukainya. Awalnya rasa ini cuma sebatas rasa senang karena diperhatikan seperti seorang adik, tapi lama kelamaan rasa ini tumbuh menjadi benih-benih cinta di hatiku. Dulu waktu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku juga pernah suka sama dia. Ku pikir itu hanya dampak dari masa puber ku. dia suka menyanjungku, karena itulah aku sempat berpikir dia mencintaiku. maklumlah aku baru lepas dari masa anak-anak.Saat ini rasa itu kembali hadir. Aku kembali merindukannya. Entah dari mana awalnya, namun perlahan-lahan rindu itu semakin menyiksa. Saat dia kembali ke tempat kuliah, aku merasa sangat jauh darinya. Tapi saat dia di rumah, aku bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku. Sebenarnya aku sudah mencoba tuk ngilangin perasaan ini. Aku tau, gak mungkin bagiku tuk bisa menjadi kekasihnya. Dia sudah menganggapku sama seperti adiknya, dan apa kata orang tua kami jika kami berpacaran. Aku malu sama perasaanku ini. Aku bingung harus bagaimana. Aku terus berusaha memendamnya.***Hari ini hari minggu. Saat yang tepat bagiku untuk bermalas-malasan. Seharian ini aku cuma duduk di depan tv. Saat sedang asyik-asyiknya nonton FTV, ponselku berdering. Ku raih dengan malasnya. Ku lihat ada 1 panggilan masuk dari nomor tak di kenal.“halo…”“ya halo.. Nina ya??”“iya, bener.. ne siapa??”“ne kakak, dek..”, jawab suara di seberang sana.“kakak siapa??”“kak Ade.. masa’ dek gak ngenalin suara kakak seh?? Ge apa sekarang dek??”Kak Ade?? Jantung ku hampir copot ketika dia nyebutin namanya. Aku gak percaya kalo yang nelfon ini kak Ade. “Aku mimpi gak yach??”, batinku. Ku cubit lenganku tuk mastiinnya. Owh, sakit. Ternyata aku gak mimpi.“lho dek, ditanya kok bengong??”“o..o..eee.. ma..maaf kak…”, aku tergagap.“hahaha… lucu dech.. o ya dah dulu ya dek, kapan-kapan kita sambung lagi. Kak ada keperluan. Bye..”“iya kak, bye..”Klik. Telfon teputus. Aku masih bengong. Gak percaya sama apa yang barusan terjadi. “kak Ade nelfon aku. Oh my God pertanda apa ini??” seru ku dalam hati.Itulah awal dari kedekatan kami. Sejak saat itu dia sering menelfon ku. Dia cerita pengalaman-pengalaman kuliahnya. Aku juga banyak curhat sama dia. Hatiku semakin berbunga-bunga. Aku semakin yakin mimpi ku akan jadi nyata.Dua bulan berlalu. Masa pedekate ku telah berakhir. Hari ini aku resmi menjadi pacarnya. Tadi malam, tepatnya malam minggu dia mengutarakan isi hatinya. Dia berjanji akan selalu ada untukku. Aku sangat bahagia. Ternyata cintaku gak bertepuk sebelah tangan.***Hari demi hari berlalu begitu cepat. Kurasakan cintanya kini telah memudar. Dia tak seperti pertama jadian dulu. Dia hanya menghubungiku di saat dia kesepian. Aku mencoba bertahan dengan semua ini. Aku yakin suatu saat dia pasti akan kembali seperti dulu.Semakin lama penantian ini, semakin hampa ku rasa. Dia tak kunjung berubah, bahkan dia semakin menjadi-jadi. Sekarang dia sering berbohong padaku. Dia gak pernah lagi menepati janji. Dia gak membutuhkan ku lagi. Aku sedih, luka di hati ini semakin dalam. Aku menjerit dalam hati “apa salahku, sehingga kamu bersikap begini padaku?? Tolong beri penjelasan tentang hubungan ini.” Aku gak kuat lagi. Ku coba menghubungi teman dekatnya yang juga temanku. Ku cari nomornya di ponsel. Langsung saat itu juga ku telfon dia.“halo.. kak Iwan..”“iya Na.. pa kabar?? Tumben nelfon kakak..”“kak, Na mau minta tolong. Na gak sanggup lagi sama sikap kak Ade. Tolong tanyain ma dia kejelasan tentang hubungan kami.”, “lho.. kok gak Nina sendiri yang tanya??”, katanya heran.“udah kak, tapi dia gak mau jawab. Dia cuma bilang lagi sibuk banyak tugas, jadi gak sempat hubungin Nina..”, jawab ku lirih.“ya udah gini aja, kalo kak sendiri yang nanyain, pasti Na gak bakalan percaya sama jawabannya. Kita sambung 3 neh telfon, tapi Na gak usah bicara, Na denger aja apa yang dia bilang. Satu lagi, apapun yang dia katakan Na gak boleh bersuara sedikit pun.. Biar kak yang telfon. Ok..”“ok kak..” telfon ku tutup.Gak lama setelah itu, kak Iwan pun nelfon. Setelah ku angkat, dia langsung nelfon pacarku. Awalnya mereka ngobrol seperti biasa. Kak Iwan sedikit berbasa-basi. Setelah beberapa menit kak Iwan langsung ke pokok permasalahan. Terdengar di seberang sana kak Ade agak kaget mendengarnya.“lo apain Nina?? Kok dia nangis-nangis ma gue??”“maksud lo?? Gue gak ngerti. Kenapa tiba-tiba lo bertanya kek gini??”“kemaren Nina nelfon gue, dia nangis. Dia bilang gak kuat lagi ma sikap lo. Lo seakan-akan gak butuh dia lagi..”“O… jadi dia ngadu sama lo?? Dasar tuch cewek, cengeng banget jadi orang. Gue gak apa-apain dia. Gue Cuma jenuh aja sama sikap dia yang kekanak-kanakan. Gue gak tahan sama cewek kek gitu. Gue bosen ma dia..!!”, nada suaranya meninggi.“kalo lo bosen ma dia dan pengen mutusin dia, lo bilang donk baik-baik. Bukan kek gini caranya. Gak ada hak lo nyakitin anak gadis orang..!!”“gue udah gak mood ngomong ma dia. Kalo lo care ma dia, lo aja yang ngasih tau dia. Gua gak butuh cewek kek gitu. Dan mulai sekarang gue gak bakalan ganggu dia lagi!!”Klik. telfon ku matiin. Tetes demi tetes air mata ini mulai berjatuhan. Aku gak tertarik mendengar ending dari percakapan ini. Aku udah bisa menebak akhir dari semua ini. Kesabaranku selama ini berbuah kesia-siaan. Penantianku selama 1,5 tahun ini gak berarti apa-apa. Dia tidak ingin berubah seperti dulu lagi, malah dia mencampakkan ku. Dia diam bukan untuk introspeksi diri, dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa putus dari ku. dia tega berbuat seperti ini padaku. Aku kecewa, aku menyesal telah menjadikan dia bagian dari hidup ku.*****by : Nina Yusuffacebook : ninayusuf22@yahoo.com

  • Kenalkan aku pada cinta ~ 09 | Cerpen cinta

    Tau drama terbaru korea the heirs nggak? Itu lho yang di perankan sama lee min ho and park shin hye?. Nah, adminnya lagi mabok sama drama yang satu itu tuh makanya kebawa bawa ke cerpen. Terutama tentang cinta simpang siurnya (?????). Wukakakakka #ngakakSetres.Nggak tau deh, ni cerita nantinya mau di bawa kemana. Pusing sendiri dink. Soalnya ide awal sudah menghilang, raib and nggak tau kemana gara – gara laporan kerjaan yang menumpuk. #alibi.Kenalkan aku pada cinta So, soal cerpen kenalkan aku pada cinta, biar kita ikuti kemana jari ini menulis aja deh. Kayaknya bener bener jadi cerpen terjun bebas sebebas bebasnya. #KemudianTerbangNgawangNgawang.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*