Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella ~ 2 {Update}

Belajar ala "Mellisa". Always phositif thinking, make it easy and Keep smille.
I Will Do IT!!!!

Credit gambar: ana merya
Sebenernya pengenalannya sudah cukup yang ada di part satu, tapi aku sepertinya ingin menambahkan sedikit. Ini tentang 'Nano – Nano. Tapi bukan permen ya, yah walaupun tu gelar ku berikan berdasarkan permen tersebut.
Jadi begini, Nano – nano adalah sebuah sebutan yang ku tujukan untuk Kevin. Bahkan sampai saat ini teman – teman ku masih heran kenapa aku memberikan gelaran tersebut karena aku memang sama sekali tidak pernah memberikan penjelasan.
Nah, khusus untuk reader, ku kasih tau *tuh kan, kurang baik apa coba aku, tapi kok serba – serbi masih bilang aku njengkelin ya/ ck ck ck… tak patut*. Gelar tersebut sengaja aku pake gara – gara si kevin itu punya kepribadian ganda, eh triple. Walaupun sebenernya aku juga punya keperibadian triple juga, tapikan gak lucu kalau aku memberikan gelaran itu untuk diriku sendiri. nah, karena memiliki tiga rasa itu lah aku lebih suka menyebutnya nano – nano. Manis, asem, asin. kok jadi ngelantur gini si?. Undo ke awal, Si Nano – nano itu, Teman, Musuh sekali gus merangkap sebagai bos ku , ralat adek bos ku. karena aku kerja di toko buku milik kakaknya. Kalau Kevin yang ngurus tu toko mah mustahil. Secara megang buku aja kayak nggak pernah. Ia datang ke toko itu juga biasanya cuma ngerecokin.
Baiklah, Dia itu TEMAN aku, Andre. karena setiap ada masalah apapun dia pasti bakal cerita sama andre. yaitu aku sendiri. Hubungan kita dekat sejak setahun yang lalu. Waktu aku nggak sengaja nolongin dia yang di rampok dengan cara menyemprotkan serbuk merica yang selalu di bawa kemana – mana tepat kemata perampok itu. yang kemudian berkat keahlian ku yang tidak diragukan dan bentar lagi bakal ku patenkan, aku berhasil membawanya kabur yang barulah belakangan ku ketahui kalau dia adalah adik dari bos ku. Dan nggak tau kenapa sejak itu hubungan kita semakin dekat, Dia juga sering mampir ke toko, Tapi ya itu tadi, bukan buat baca buku tapi cuma mau ngerecokin aku aja.
Tapi, dia itu MUSUH aku, Riani. Setiap hari, dia dan kelima orang teman – temannya yang tengil itu selalu saja ngerjain aku. Tapi untungnya selalu gagal karena setiap dia mau ngerjain riani, dia terlebih dahulu menceritakannya pada andre. So, wajar donk kalau aku bisa ngelak.
Cuma sayang nya, berhubung dia selalu gagal ngerjain aku, sasarannya berpindah ke teman – teman ku. Sementara aku tidak bisa bertindak apa – apa kecuali mengingatkan teman – teman ku untuk berhati – hati karena nggak mungkin kan aku ngasih tau rencana kevin, yang ada mereka semua pasti bakal curiga. Alhasil, teman – teman ku lah yang selama ini terkena getahnya. Sementara Aku?. Aku cuma bisa menahan emosi sebagai seorang kutu buku yang lugu ( ??? ).
Hado….. kok malah jadi molor kemana – mana ya?. ya udah lah Di cut aja. langsung keceritanya aja nyok….. he he he……..
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
Aku sama sekali tidak dapat konsentrasi mendengarkan materi yang diajarkan pak Ridwan. Pikiran ku molor kemana – mana. aku masih berusaha mencari cara untuk menghentikan teror yang dilempakan pada teman – teman ku. Kemaren kezia di buat menangis gara – gara di dalam tas nya di isi bangkai tikut. Bahkan tadi pagi Iren dipanggil ke ruangan pak Agus. Dia di introgasi habis – habisan karena telah berani mengirimi surat cinta sekaligus sekuntum mawar merah untuknya.
Apalagi pak agus memang seorang duda yang sudah berumur lima puluhan. Mana tulisannya mirip banget lagi sama tulisan Iren. Kerjaan siapa lagi coba kalau bukan cecunguk – cecunguk itu. Terlebih pak Agus Orang nya sudah terkenal 'gatel' nggak ketulungan.
Hal ini lah yang membuat aku merasa makin sebel. Kalau ngerjain orang kok nggak kira – kira.
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
"Minggir!".
Aku menoleh kaget. Saat ini kevin dan konco – konconya sudah ada di sampingku. Sejenak ku edarkan pandangan ke sekeliling, masih begitu banyak meja yang kosong di kantin ini.
"Kita mau duduk di sini" Sambung kevin seolah – olah bisa membaca pikiranku.
Aku sudah ingin membantah, tapi teman – teman ku mengisaratkan untuk manut. Ya sudahlah, kali ini aku ngalah dan segera bersiap untuk beranjak pergi. Tapi tiba – tiba Vano dengan seenak jidatnya mengambil keripik singkong yang ada di tangan ku dan tanpa basa – basi langsung melahapnya dengan santai.
"Sebenernya apa si maksut nie orang ?" geram ku dalam hati sambil terus menatap tajam kearah Vano.
"Loe nggak keberatan kan?" tanya vano atau lebih tepatnya meledek.
Sejenak aku terdiam tapi kemudian dengan sebuah senyuman ku balas ucapannya.
"Sama sekali nggak kok".
Menedengar ucapan ku barusan Tu orang makin belagu kayaknya.
"Oh ya, Loe mau lagi?. Biar sekalian gue beliin. Kasiaaan…. buat beli Keripik aja kalian nggak sanggup" Sambung ku yang sontak mengagetkan mereka. Emang nya aku takut apa?.
"Maksut loe Apa?!" bentak Kevin berdiri dari duduknya.
"Lho…. emang nya ada yang salah?" Balas ku berusaha terlihat santai bin kalem *eits, tapi bukan kayak lembu ya*.
"Loe berani sama gue?" ancam kevin lagi.
"Tentu saja tidak. Secara Bodiguard loe segitu banyak" Balasku tak mau kalah sambil menunjuk ke belakang kevin. Reflek kevin berbalik.
"Cewek – cewek itu maksud loe?".
"Emang siapa lagi?".
Kevin segera menarik tangan ku sebelum sempat pergi meninggalkannya.
"Loe pikir gue banci?!" Tanya kevin merasa terhina.
"Ha ha ha…. Jadi loe baru nyadar".
Nggak tau dari mana datangnya keberanian ku untuk melawan kevin. Tapi yang jelas aku sudah tidak tahan dengan sikap semena – mena nya yang berbanding balik dengan sosok kevin yang 'andre' kenal.
"Jaga bicara loe!".
Bentakan kevin cukup untuk menarik perhatian seisi kantin. Dan kalau boleh jujur bentakan itu juga sukses membuat Aku kaget. E,,,,, ditambah rasa sedikit takut mungkin.
"Loe berani ngatain kita banci?" sela Vardan emosi.
"Bukan gue loe yang ngomong" Aku berusaha bersikap secuek mungkin. Kali ini Aku sudah memutuskan untuk menghadapi mereka. Apapun resikonya.
"Lagian beraninya cuma sama cewek. Itupun keroyokan. Terus kalau bukan banci apa coba namanya?" sambung ku lagi.
"Loe nantangi kita?!" Randi ikut – ikutan membentak.
Aku sudah mau membalas lagi. Tapi sayang mulut ku keburu di pikep ( ??? ) sama Iren. Sementara Nay Dan Kezia sudah membungkuk minta maaf sebelum akhirnya menyeret ku pergi.
"Kalian apaan si?" Aku kesel karena Tangan ku di tarik paksa agar mengikutinya keluar dari kantin.
"Udah. Kita harus pergi dari sini " ajak Nay khawatir.
"Ogah. Napain si kita harus pergi segala?. Lagian kita kesini kan mau makan. Gue juga udah laper. Kita duduk di sini aja" Tolak ku sambil duduk di meja seberang kevin.
"Kita makannya laen kali aja" bujuk Iren lagi.
"Gue kan laparnya sekarang. lagian tuh pesanan kita juga udah datang".
Sayang, belum sempat pelayan itu sampai di meja kami, kevin sudah terlebih dahulu mencegatnya.Tentu saja pelayan itu manut dan hanya menundukan badan pada kami tanda minta maaf. Jelas saja hal ini membuat aku makin gondok, Ternyata usut punya usut nie kampus milik bokapnya *Drama abis/ Ilham: Gu jun pyo/he he he*.
"Sabar riani" Bisik Nay sambil mengenggam tangan ku erat.
Sementara aku sama sekali tidak dapat melepaskan pandangan ke kevin yang jelas – jelas sedang tersenyum mengejek.
Aha *kalau ikalan di tipi biasanya keluar lampu menyala diatas kepalanya*…. Tiba – tiba aku punya ide. Ya bisa di bilang kayak ilham gitu. Tanpa bisa ku tahan Sebuah senyuman meluncur mulus dari bibir ku.
"Kevin, Apa loe pernah dengar istilah pembalasan berdarah?. Kali ini Gue pastika loe sedikit merasakannya" Gumam ku dalam hati.
Cerpen The Prince, The Princess And Mis. Cinderella
If you want to read next you can clik at Cerpen the prince, the princess and mis cinderella part ~03

Random Posts

  • Cerpen Romantis Sedih – Gabriel: Mencintaimu Cukup Bagiku

    Gabriel: Mencintaimu Cukup Bagikuoleh Nurul A. ErviningrumBiarkan aku menatap lirihSetiap keping kenanganku yang telah retakBiarkan aku tetap mendengarBisu kata dari semua yang pernah terucapIzinkan aku kembali melangkahSebelum lembar masa lalu berhasil menjamahAkanku hirup udara yang menyesakkanWalau nyata, tak dapat ku genggam anginSempatkan aku untuk tertundukMenyentuh kembali sakit yang terindah“Gabriel.. ayo!!.”Waktunya tiba, perempuan paruh baya itu sudah memanggilku. Aku tak punya alasan lagi untuk berkata ‘tidak’.Kupandangi pintu lobi itu, entah untuk yang keberapa kali. Disana ada seorang penjaga, masih dengan kesibukan yang sama.Perempuan paruh baya yang memanggilku tadi – yang tak lain adalah ibuku- ia mengecek barang-barang. Ia menenteng satu koper besar, bersiap menggeretnya.“iel, kamu bawa yang ini!!.” Perintahnya. Ia menyisakan sebuah tas besar penuh isi. Aku tak tahu apa isinya. Bukankah sejak awal aku tak tahu barang apa saja yang kami bawa. Mm.. bukan kami, dia tepatnya. Ibuku. Aku tak sedikitpun andil dalam mengemasi barang-barang, karena sejak awal pula, aku enggan pergi. Aku meraih tas besar yang dimaksud sebelum ibuku berteriak lagi. Suara yang berusaha keras untuk kuabaikan.Sudah kubilang padanya tak perlu membawa barang banyak-banyak. Tapi tetap saja, ia yang menang, apalagi alasan yang sungguh masuk akal. Kami akan pergi dan takkan kembali. Jadi wajar bukan jika membawa seluruh barang yang ada. Bagiku tetap saja berlebihan.“jangan sampai ada yang tertinggal!! Itu, koper kecil itu dibawa sekalian yel!. Isinya surat-surat sekolah kamu.” Ujarnya lagi.“ayoo!.” Ia sudah melangkah lebih dulu.Sekali lagi, aku menatap pintu lobi, berharap disana ada seorang gadis berdebat dengan petugas penjaga karena memaksa masuk seperti di film-film.Tapi mataku tak melihat apa-apa. Aku bahkan bisa menyebut tak melihat siapapun. Karna tak ada yang ingin kulihat saat ini kecuali gadis itu.“Gabriel….” Erang ibuku. Ia sudah berjarak 7 meter dariku. Aku bisa melihatnya kesal. Bisa saja ia kembali kesini dan menjewer salah satu telingaku agar aku ikut berjalan dengannya. Tapi ia tak mungkin melakukan itu, umurku 18 tahun. Apalagi kami sedang di bandara. Dan satu lagi kenapa ia tidak akan meluapkan kekesalannya dalam bentuk lain, karna toh aku sudah mau ikut pergi. Pergi meninggalkan kota ini. Negara ini dan gadis itu. Gadis yang bukan gadisku.Aku mengecek sekitaran tempat duduk. Sebenarnya aku juga tidak begitu peduli kalaupun ada yang tertinggal. Aku hanya sedang tidak ingin menambah situasi menjadi rumit.“gabriel, ayo! Nanti kita ketinggalan pesawat.” Ocehnya lagi.Aku menatapnya pasrah. Tak tega juga terus-terusan membuatnya mengomel begitu.Okkey,, aku pergi. Selamat bu, karena sekarang aku berada penuh dalam kendalimu.Aku melangkahkan kaki menuju dimana ibuku berdiri namun belum sempat aku sampai padanya, ia sudah berjalan lagi. Sepertinya ia tak tahan lagi menunggu langkahku. Yang penting dalam penglihatannya aku sudah mau berjalan. Langkahku terasa berat. Ada rantai dengan bola besi yang mengikat kakiku. Dan benda-benda itu tak kasat mata.Melihat reaksinya, aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Kepalaku tertunduk seolah merasakan aku telah kalah. Membuat ubin-ubin penyusun lantai ruangan ini terlihat jelas oleh mataku.Aku juga bisa menangkap kedua tanganku yang menenteng tas besar disebelah kanan serta koper berukuran sedang disebelah kiri. Pearasaan malasku semakin muncul, rasanya ingin sekali aku berbalik arah kemudian berlari kencang, melempar dua benda ditanganku ini tanpa memperdulikannya dan kabur dari tempat ini. Tapi tidak, aku tak melakukannya. Jika setahun bahkan seminggu yang lalu aku masih punya alasan untuk menolak ajakannya bahkan sekedar menunda bersekolah di pert dan berkumpul lagi dengan ayahku, sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk melakukannya. Bahkan semua telah berbalik, mungkin sebaiknya memang aku pergi. Aku ingin pergi. Hmm,.. bukan aku tak ingin, tapi aku harus. Akhh.. entahlah aku sudah tak tahu lagi.“Gabriel.” Teriak seorang wanita lagi, cukup samar. Tapi aku tahu itu suara wanita.Aku hampir mengumpat tertahan. Kukira itu ibuku. Tapi sedetik kemudian aku tersadar, itu bukan suara ibuku. Aku mendongak, didepan sana kudapati ibuku masih berjalan, tampaknya ia tak mendengar ada yang menyebut namaku, atau bahkan memanggilku dengan sengaja.“Gabriel.”Lagi. Suara itu?Aku menoleh cepat. Belum sempat aku melempar pandangan, seseorang menubruk tubuhku dan melingkarkan kedua tangannya, memelukku erat. Aku hampir saja jatuh kebelakang, tapi tubuh orang ini tidak cukup untuk merobohkan pertahananku.Mataku bertemu pada dua buah kornea hitam didepan sana. Ia menatapku tajam, gerahamnya yang kuat seolah berperang dengan kendalinya sendiri. Detik berikutnya matanya berkedip, tatapannya berubah tak setajam tadi. Nafasnya berhembus kasar. Pria itu berdiri seolah memberi jarak. Tentu saja ia menunggu disana dihadapanku dan seseorang yang memelukku ini sekitar 5 meter. Ia membiarkan lalu lalang orang menghalangi pandangannya.Dengan menghiraukan tatapan pria itu, aku membalas pelukannya. Membiarkan rinduku bersemayam detik ini, dan aku berharap waktu berhenti sekarang juga.Siapapun, hentikan waktu sekarang juga!!!Ia membenamkan wajahnya didadaku dan aku membenamkan wajahku dilehernya. Posturku yang lebih tinggi membuatku memaksakan ini. Tak apa. Yang penting aku sangat nyaman.Biarkan saja orang-orang melihatku dengan tatapan aneh termasuk pria itu. Biarkan saja, ibuku mengomel lagi karna aku tak kunjung menyusulnya. Biarkan saja detak jantungku beradu dengan aliran darahku yang deras. Biarkan saja keringatku mengucur karna rasa gugupku yang terlalu hebat. Dan kumohon biarkan saja, gadis ini tetap memelukku seperti ini.***“vi, buruaann!!!.” Teriakku didepan gerbang rumah.“iya..” jawabnya.Sivia masih sibuk mengikat tali sepatunya diteras rumah. Sedangkan aku sudah gelisah menunggunya sambil sesekali melirik kearah matahari.Aku memang tidak suka memakai jam tangan dan dengan melihat bagaimana cahaya matahari saja aku sudah tahu jam berapa sekarang. Sivia berlari keluar gerbang rumahnya yang berjarak 3 langkah saja dari tempatku berdiri. Rumah kami memang bersebelahan tanpa penghalang apapun. Kecuali tembok tentunya.“ayook!!.” Aku menggamit lengannya.Kami mengambil langkah lebar menuju halte depan gapura kompleks. Aku masih menggandeng sivia, gadis ini akan semakin tertinggal kalau kulepaskan.“aduh iyel, kaki kamu panjang banget sih? Aku jadi lari-lari nih.” Eluh sivia. Ia tertinggal satu langkah dariku.“kalo ga gini nanti kita ketinggalan bis yang biasanya. Nah itu dia bisnya.” Ucapku.Aku melihat bis itu berhenti di halte. Beberapa anak berseragam smp maupun sma naik, dua orang berseragam rapi akan ke kantor juga ikut naik. Bis itu nampak akan segera berangkat lagi. Sialnya kami belum sampai di gapura apalagi menyebrang ke halte itu.“ ayo vi!.” Ajakku.Kini kami tidak berjalan lagi. Aku berlari dan sivia, ia semakin berlari ketika menyadari bis itu akan segera meninggalkan kami.“tunggu paakk!!.” Teriakku keras.Aku berharap sopir itu mendengarnya. Atau kalau tidak, kondekturnya, atau beberapa penumpanglah minimal.“pak stop pak.” Teriak sivia kali ini.kami masih berlari mengejar bis itu yang mulai berjalan lagi. Sivia dan aku sudah berhasil menyebrang, sayangnya bis itu sudah berjalan ketika kami sampai di halte.Aku menambah kecepatan berlari, tanpa sadar tanganku masih menggandeng sivia. Gadis itu bersusah payah mengikuti kecepatan lariku. Cara berlarinya membuatnya mulai kehilangan keseimbangan.Buuggg..Tanganku tertarik kebawah. Aku hampir saja terjatuh karena itu. Ketika aku menoleh, sivia sudah tersungkur dijalan aspal.“sivia..” pekikku menyadari gadis ini terjatuh.Posisinya parah sekali untuk dilihat. Apalagi sebelah tangannya yang masih kugenggam membuatnya tak bisa menahan tubuhnya agar tak terbentur aspal.“aduuhh..” erangnya. Ia duduk diatas aspal yang membuatnya mengerang kesakitan. Lutunya ditekuk, menampakkan sebuah luka lebar menganga disana. Mataku membelalak, darah merah mulai mengalir dari lukanya.“sakit yel.” LanjutnyaAku ikut berjongkok didepannya, awalnya aku bingung harus melakukan apa kecuali, aku membuka resleting tas ranselku. Syukurlah, ada sapu tanganku didalamnya.“pake ini dulu yah, nanti disekolah aku obatin.” Ucapku meyakinkan.Sivia mengangguk. Kubalutkan sapu tangan putihku di lututnya. Bercak merah mulai tampak disapu tanganku itu.“hey.. jadi naek nggak???” teriak seseorang dibalik punggungku. Aku menoleh kaget.Seorang kondektur berdiri disamping pintu belakang bis yang sedang berhenti. Seorang pria berseragam sekolah berjalan menghampiri.“jadi pak, tunggu sebentar.” Ucap pria itu sambil terus berjalan kearah kami.“iel?.” Ucapnya.“Alvin?.” Ucapku.“kalian gak pa-pa kan?” tanyanya kemudian setelah menyadari posisi kami yang terduduk dijalanan aspal.“ayok, keburu bisnya gak mau nunggu.” Ucapnya lagi.Aku menoleh pada sivia, ia masih meringis kesakitan. Aku bisa melihat sebenarnya ia hampir menangis. Tapi tak jadi, mungkin karna ada orang lain disini sekarang.“masih bisa kan vi?.” Tanya kuSivia mengangguk pasrah. Aku membantunya berdiri dan memapahnya menuju bis yang sopirnya sudah menekan klakson berkali-kali serta beberapa penumpang yang menunggu kami tak sabar.Bis ini cukup penuh, sudah tak ada tempat duduk yang tersisa. Bahkan sudah ada beberapa orang yang berdiri saat kami naik. Aku menatap sivia prihatin, peluh keluar dari dahi serta bagian kulit wajahnya yang halus. Sementara kakinya, ia pasti sangat kesakitan jika terus berdiri. Bagaimana mungkin aku tega melihatnya begini?Tiba-tiba alvin melepas ransel dari punggungnya lalu meletakkannya dilantai bis. Ia menepuk-nepuk ranselnya lalu memandang kearah sivia. Ia berjongkok didepan kami. Keningku mengerut melihatnya.Kami masih berada didekat pintu belakang. Sivia tak sanggup berjalan lagi untuk sekedar masuk ketengah-tengah bis.“duduk disini, isinya cuma buku aja kok.” Ucapnya yakin sedikit mendongak. Aku melongo cukup kaget atas perilakunya. Aku bahkan tak sampai berfikiran seperti itu. sivia menoleh kearahku ragu, aku mau tak mau mengangguk. Aku tak ingin membiarkannya semakin tersiksa dengan berdiri dalam keadaan lutut yang luka.Aku sempat merutuki diriku sendiri kenapa tak bisa berfikir sekreatif alvin. Tapi sudahlah yang terpenting sivia bisa duduk sekarang yah meskipun akan terlihat seperti dilantai bis. Aku berjongkok disampingnya.Hampir semua pandangan penumpang mengarah pada kami bertiga.“thanks ya vin.” Ucapku. Alvin mengangguk saja menimpali.“oh ya vi, kenalin ini alvin temen smpku dulu.” Ucapku. Sivia memandang alvin lama, alvin menunjukkan senyumnya.“alvin.” Ucap temanku itu sambil menyodorkan telapaknya.“sivia.” Ucap gadis ini menyambut jabatan tangan alvin.“makasih ya.” Tambah sivia.Alvin mengangguk seraya tersenyum lagi. Jabatan tangan itu masih terjadi. Entah kenapa tiba-tiba saja hatiku terasa sangat perih. Aku seperti merasa akan kehilangan.Sejak pertemuan di bis itu, sivia dan alvin semakin dekat. Awalnya aku tak mempermasalahkan hal itu. Aku cukup tau Alvin. Tiga tahun aku duduk sebangku dengan pria itu. Ia pria yang baik. Tapi aku sadar kedekatan mereka lebih. Bahkan hingga hari ketujuh setelah perkenalan mereka, aku tak tahu sedekat apalagi mereka. Aku sering melihat Alvin datang kemari, kerumah sebelah, tepatnya rumah sivia. Aku juga sempat melihat Alvin mengantar sivia pulang kemarin.Sivia mulai agak menjauh dariku. Mm..bukan. tapi jarak kami yang sedikit mulai menjauh. Aku memang masih berangkat bersamanya, tapi didalam bis, selalu sudah ada Alvin dan saat itulah aku seperti sulit untuk masuk dalam dunia sivia, dunia mereka. Keduanya sering tak sadar, aku berada didalam bis yang sama dengan mereka.Entah sejak kapan alvin jadi suka naik bis, karna seingatku dulu ia tak suka naik transportasi umum. Mungkin hari itu kebetulan alvin terpaksa naik bus dan mulai hari itu pula ia selalu naik bus hingga kami selalu bertemu. Tepatnya sivia dan alvin selalu bertemu. Aku tahu aku sudah merasakan rasa yang tak wajar. Perasaan yang tak baik untuk tetap ada. Aku merasakan iri melihat kedekatan mereka, aku merasa sakit hati melihat mereka berdua mengobrol, bercanda, tertawa bahkan alvin pernah menolong sivia yang hampir jatuh dari pintu bis yang belum sepernuhnya berhenti.Aku merasa posisiku dulu sudah tergantikan. Seperti saat ini, aku hendak mengajaknya pergi, dan kalian tahu sivia berkata apa? Gadis itu berkata…“hey vi. Mm… aku ada tanding futsal nih, kamu nonton yah?. Emm masih sparring aja sih sebenernya, tapi kamu mau nonton kan?” tanyakuIa berpakaian cukup rapi. Semoga saja ini waktu yang tepat untuk mengajaknya pergi agar kedekatan kami yang sempat merenggang selama seminggu ini bisa kembali seperti dulu.“mm… sorry yel, tapi aku ada janji mau nonton pertandingan basket Alvin. Kamu cuma sparring kan? Lain kali aja yah, kalo kamu tanding beneran aku bakal nonton kok. Ga pa-pa yah?.” Sivia menatapku tak enak hati.Begitulah jawaban ia menolak ajakanku. Sesungguhnya aku lebih memilih dia berbohong saja daripada berkata jujur begini. Sakit sekali rasanya mendengar ia akan pergi menonton pertandingan basket Alvin, orang yang baru dikenalnya sekitar seminggu ini daripada pertandinganku sahabatnya sejak tiga tahun lalu.“ngg.. yauda ga pa-apa kok.” Ucapku tak ikhlas.Mungkin benar istilah orang-orang yg berkataDibalik “cie” ada kecemburuanDibalik “gpp” ada masalahDibalij “terserah” ada keinginanDan dibalik “yaudah” ada kekecewaan. Benar!! aku tengah kecewa sekarang.“oke.. bye iyel.” PamitnyaAku memandang punggungnya bergerak melewati gerbang. Ternyata itu alasan ia berpakaian rapi sore ini. Dengan sadar aku berjalan kembali memasuki rumah.“loh kenapa balik yel?.” Tanya ibuku.“gak jadi pegi ma.” Ucapku malas.Aku duduk disofa ruang tengah, melempar asal tas berisi perlengkapan futsalku.“kok gitu, katanya mau tanding?.” Tanya beliau lagi.“pertandingannya gak penting kok.” Ucapku berusaha santai.Aku bisa melihat kening ibuku mengerut. Seolah berfikir aneh sekali dengan sikapku. Benar saja, aku tak pernah melewatkan satu latihanpun dari futsal, jadi bagaimana mungkin aku bisa dengan santai berkata ‘ pertandingan futsalku tidak penting’ itu sangat aneh menurut beliau pasti. Dan aku tidak memungkirinya.“trus gimana yel sama tawaran mama tadi? Kamu ikut kan? Sebentar lagi kenaikan kelas loh yel.”“aku uda bilang berapa kali sih sama mama. Aku gak mau pindah ke australia. Kalo mama mau pergi kesana ya kesana aja!. Iel ga apa-apa kok sendirian.” Jelasku.Perasaanku semakin bertambah buruk saja sekarang.“sendirian? Kamu pikir mama mau tinggalin kamu sendirian disini?.”“mama gak percaya sama aku? Aku bakal baik-baik aja kok. Aku uda gede. Aku tau mana yang baik dan enggak. Lagian disini juga ada…”“ada siapa? Sivia?” potong ibukuIa menatapku tajam. Aku membalas tatapannya enggan.“sampe kapan kamu mau ngandelin dia? Minta bantuan dia apa-apa kalo mama gak ada? Memangnya dia gak kerepotan apa?.” Tanya ibuku bertubi-tubi.Benarkah? Apa benar ucapan ibuku? Apa benar aku merepotkan sivia?Selama ini aku selalu mengandalkannya memang. Ia memasakkan makanan untukku ketika ibu harus pulang malam bekerja. Ia membantuku mmembersihkan rumah yang berantakan ketika aku sibuk bermain futsal. Ia? Benar, mungkin aku memang terlalu merepotkan.“iel ngerepotin sivia ya ma?” ucapku pelan.Hari ini, aku tidak berangkat dengan sivia. Aku masih kepikiran ucapan mama, apa benar aku merepotkan gadis itu?.Aku berangkat agak siang. Aku yakin sivia juga tak akan menungguku, toh didepan sana sudah ada alvin yang siap didalam bis langganan kami. Sudah ada pria yang menjaganya. Tapi apakah aku rela membiarkannya? Menggantikan posisiku menjaga sivia?. Aku bahkan memberinya ruang gerak pagi ini.Tidak!!!. Pria itu, alvin, ia tak pernah tahu bagaimana aku menjaga gadis itu selama ini. Ia tak pernah tahu bagaimana aku jatuh bangun mengejar sivia. Dan satu hal yang harus dia tau, semua tak akan mudah. aku tidak akan melepas sivia. Aku tak akan melepaskan sivia demi apapun. Kecuali sivia yang memintanya. Gadis itu yang belum menjadi gadisku.Aku beranjak dari sofa. Aku sudah selesai mengikat tali sepatu sejak tadi sebenarnya, tapi karna fikiran bodohku itu aku jadi melamun saja membiarkan waktu meninggalkanku sendiri tanpa sivia.Hari ini, tepat dua bulan setelah kejadian dalam bis itu. Hari ini juga pembagian rapor kenaikan kelas. Aku sudah menerima raporku sejak tadi. Setelah itu, Aku menunggu kedatangan sivia ditaman sekolah. Ingin sekali kutunjukkan padanya bahwa raporku semester ini amatlah sangat membanggakan. Aku tak peduli jika ibuku menungguku dirumah, menanti bagaimana hasil belajarku selama ini. Yang terpenting sekarang adalah aku ingin menunjukkannya dulu pada sivia. Dia gadis pertama yang ingin kuberi tahu.Dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri, aku akan menjadi yang terbaik dikelas. Dan ketika itu bisa terjadi, akan kuungkapkan perasaanku padanya. Akan kunyatakan rasa yang kumiliki ini. Akan kujelaskan betapa ia begitu berharga dalam hidupku. Dan inilah waktunya.Menunggu sivia membuatku jadi gugup sendiri, jantungku berdegup kencang. Sekalipun aku sudah menghembuskan nafas menenangkan berkali-kali tetap saja tak berhasil. Aku gusar, menantinya dan menanti ucapanku sendiri.Tak lama gadis itu datang, ia tersenyum. Senyum yang selalu kubayangkan kembali sebelum tertidur saat malam. Ia berjalan tenang, tapi bisa kulihat ia sangat senang sekali. mungkin ia mendapat nilai bagus atau kabar gembira yang lain. Semoga dengan pernyataanku nanti aku bisa menambah bahagianya hari ini.“hay fy… aku mau ngomong sama kamu.” Ucapku mengawali.Aku berusaha keras menyembunyikan rasa gugupku. Okeeh aku memang tidak berpengalaman, tapi kuharap aku bisa melakukannya.“aku juga mau ngomong sama kamu yel.” Ucapnya sangat sumringah. Sungguh dengan mata terpejamkupun aku bisa melihat kebahagiaan terpancar dimatanya.“oh yaudah kamu duluan deh yang ngomong. Ladies first.” Ucapku sok-sok’an. Sivia tertawa lebar.“oke, yang pertama nilaiku diatas 85 semua yel. Yeee…” ucapnya semangat. Ia sempat melompat-lompat kegirangan.“wahh… bagus tuh. Kayaknya aku bakal dapet traktiran deh.” Ucapku berbasa-basi. Ia berhenti melompat.“eumm.. gak itu aja. Itu masih biasa kok. Mmm kamu tau gak…apa yang bikin aku lebih seneng?.”Sivia menunjukkan ekspresi paling menggemaskan yang ia punya. Jantungku berdegup semakin cepat. Ya tuhan,, itulah salah satu alasan mengapa aku sangat merindukannya setiap detik. Aku menggeleng pelan.“alvin nembak aku yel, kita udah jadian tadi pagi. Yee…” ucapnya girang lagi.DEGG… Hening. Bukan,, bukan karna sivia tak bersuara lagi, sivia masih lompat kegirangan. Tapi telingaku, telingaku seolah baru saja tersambar petir sehingga membuatnya tak bisa mendengar apapun lagi. Aku sudah tak bisa merasakan apapun lagi. Jantungku berhenti berdetak mungkin. Darahku berhenti mengalir. Nafasku tercekat ditenggorokan.Mataku tak berkedip. Aku menatapnya nanar. Apa benar yang baru kudengar? Tuhan, silahkan ambil nyawaku sekarang.“kamu kenapa yel?. Gak seneng yah?.” Ucap sivia sedih menyadari aku yang tak bereaksi apa-apa.Aku menggeleng lemah. Aku masih bertahan dengan sisa nafas yang belum kuhembuskan sebelum sivia berucap tadi. Kubiarkan saja paru-paruku tak terisi oksigen. Biar, biar aku bisa merasakan sakit pada paru-paruku. Dengan begitu mungkin aku bisa menutupi rasa sakit pada hatiku.“yel?. Kamu kenapa?. Rapot kamu baguskan?. Kamu naik kelas kan?.”Aku mengangguk lemah. Sungguh, aku tak bermaksud untuk tak menjawab pertanyaannya. Tapi rasanya suaraku sudah diambil tuhan.“beneran yel?. Ato Kamu sakit yah? Muka kamu kok tiba-tiba pucet?.”Mataku menatapnya nanar lagi. Benarkah wajahku berubah pucat. Oh mungkin karna aku baru tersambar petir. Suaraku sudah diambil tuhan. Pendengaranku juga. Mungkin sebentar lagi nafasku. Jadi pantas saja kalau aku pucat.“aku anter kamu pulang deh ya. Makan-makannya lain kali aja.” Ucapnya.Kamu benar. Mana mungkin aku bisa makan. Bernafaspun aku sudah tak berniat. Aku mengurung diriku di kamar. Membenamkan wajahku pada tempat tidurku sendiri. Ibuku sempat panic melihatku yang pucat pasi. Setibanya tadi, ia langsung mengecek raporku, barangkali nilai disana yang membuatku begini. Andai aku bisa menjerit, bukan. Bukan itu.Hari sudah malam, aku bisa melihatnya lewat kaca jendela kamar yang masih terbuka tirainya. Tadi sebelum aku tertidur, aku berifikir sesuatu. Sesuatu yang mungkin terbaik dan membiarkan aku jadi seorang pengecut. tapi aku leih baik jadi pengecut daripada mengusik kebahagiannya.Aku turun menemui ibuku yang berada diruang tengah. Ia menyambutku hangat. Meski tak tahu apa yang sedang terjadi padaku.“kamu makan ya nak. Mama ambilin.” Ucapnya.“iel mau ngomong ma.”Ibuku berhenti melangkah, mendengar nada suaraku yang serius. Beliau duduk kembali.“apa?.”“ma, iel bersedia sekolah di australi.” Ucapku parau. Aku menghembuskan nafas berat. Susah sekali aku mengucapkan itu.“kenapa?.”“mama gak perlu tahu alasannya. Yang penting iel mau.” Ucapku“tapi?. Baiklah kalau begitu. Kapan?.” Wajahnya tak menegang lagi.“besok? Bisa?.” Tanyaku tak yakin.“secepat itu?.” Tanya ibuku tak percaya.Aku mengangguk. Iya lebih cepat lebih baik. Toh aku sudah kalah, sudah saatnya aku pulang. Pulang tanpa dendam akan kekalahanku atau berniat merebut gadis itu. Aku tidak akan melakukannya. Melihat gadis itu tersenyum seperti tadi pagi, sudah cukup untuk meyakinkanku Alvin bisa membuatnya bahagia. Bahkan lebih bahagia daripada saat bersamaku.“oke. Mama akan telfon papa. Kamu siap-siap yah!.” Perintah beliau.Aku mengangguk. Dengan berat hati kutinggalkan perempuan paruh baya yang duduk disofa itu. Aku tahu pasti tanda Tanya besar ada diotaknya sekarang. Mungkin pertanyaan macam ini. ‘bagaimana bisa? Ada apa?’ benar. Karna sebelumnya aku selalu menolaknya mentah-mentah.Tentu saja, untuk apa sekarang aku menolak lagi. Aku sudah tak punya alasan. Aku sudah tak berkewajiban lagi menjaga gadis itu. Gadis itu sudah mempunyai penjaganya sendiri. Bahkan juga penjaga hatinya.Aku melangkah menuju balkon rumah dengan menenteng sebuah gitar. Menikmati sejenak hembusan angin malam yang mungkin sudah tak kan kurasakan lagi esok ditempat ini. Malass sebenarnya aku bersenandung. Atau sekedar memetik senar-senar gitar ini. Tapi entah aku ingin mempersembahkan sesuatu pada langit kota ini untuk yang terakhir. Aku ingin mencurahkan perasaanku pada bintang malam.Semula ku tak yakinKau lakukan ini padakuMeski di hati merasaKau berubah saat kau mengenal diaReff:Bila cinta tak lagi untukkuBila hati tak lagi padakuMengapa harus dia yang merebut dirimuBila aku tak baik untukmuDan bila dia bahagia dirimuAku kan pergi meski hati tak akan rela* terkadang ku menyesalMengapa ku kenalkan dia padamu“aku cinta kamu vi. Aku cinta kamu.” Ucapku lirih pada wajah sivia yang terlukis dilangit.***“aku udah tau semuanya.” Ucapnya melepas pelukan hangat ini.Mataku membelalak lebarDarimana?“yah.. aku tahu. Alvin yang bilang. Kenapa kamu gak jujur aja sih?.”Alvin? Kamu tau dari Alvin. Lalu Alvin tau darimana?. Oh aku lupa kalo alvin laki-laki. Ia pasti tahu sekali bagaimana perasaanku padamu sivia. Tapi apa? Sudah tak ada gunanya juga bukan?.Lagipula, kenapa harus dia yang memberi tahumu vi? Kenapa bukan kamu sendiri yang bisa tau? Tak bisakah kamu membaca mataku? Tak bisakah kamu melihat perlakuanku? Tak bisakah kamu mendengar suara hatiku? Atau setidaknya bertanyalah pada langit dimana aku sempat berkata padanya dan kamu akan mendapat jawabannya?.“kenapa harus pergi sih yel?. Kamu gak mau yah temenan sama aku lagi gara-gara aku gak bisa bales perasaan kamu?.”Aku menggeleng keras.“bukan. Bukan itu. Bisa mencintai kamu aja itu udah cukup buat aku.” Ucapku tersenyum.“terus?.” Kening sivia mengerut.“aku harus meneruskan hidupku. Bukan begitu?. Aku tidak ingin mengganggu kalian.”Sivia sudah memasang wajah tak terima.“hey, sejak kapan kamu mengganggu?.”“banyak alasan yang gak bisa aku sebutin vi, aku harus pergi. Aku harap kamu ngerti keputusanku.” Timpalku.Sivia memasang wajah pasrah lagi. Gadis ini. Ya tuhan andai gadis ini tahu, setiap ekspresi wajahnya itu semakin memunculkan rasa cintaku dan mengeruknya semakin dalam.Sivia mengangguk mengerti. Aku menghembuskan nafas berat.“kamu harus raih cita-cita kamu disana. Dan kamu harus janji akan buka hati kamu untuk gadis lain. Hey gadis pert cantik-cantik loh.”“haha aku suka gadis Indonesia.” Ucapku basa-basi.“oh disana kan juga banyak pelajar indonesia.” Timpalnya“janji yah?.” Tagihnya.Aku berfikir sejenak.“mm.. okeh.” UcapkuDalam hati aku berkata ‘enggak, aku gak janji vi.’Sivia tersenyum lega. Ia lalu menoleh pada alvin. Alvin tersadar waktunya datang. Ia menghampiri kami.Dan inilah tiba saatnya waktu kami terbagi lagi. Dimana dunia kami menjadi bertiga lagi setelah sempat beberapa menit lalu aku merasa dunia ini hanya milikku dan sivia. Seperti duniaku sebelum kedatangan alvin dulu.“jaga sivia ya bro.” Ucapku sok-sok’an“pasti. Tanpa lo minta.” Ucapnya yakin.Aku mengangguk paham. Lalu berbalik arah hendak pergi.“iyel.”panggil alvin.“gue akan ngejaga sivia sebagaimana lo pernah jaga dia dulu. Thanks ya lo ada disaat garis takdir belum mempertemukan gue sama gadis yang gue cintai.” Ucapnya.Aku meneguk salivaku lalu mengangguk saja.“gabriel.” Teriak ibuku lagi. Ia merusak suasana ini.“aku pergi. Bye” ucapku lalu meninggalkan mereka.Samar-samar aku mendengar ketika langkahku menjauh.“kamu memang bukan orang yang aku cintai yel. Tapi kamu special.” Ucap gadis itu, gadis yang pernah kuimpikan jadi gadisku.* terkadang ku menyesalMengapa ku kenalkan dia padamuEND..

  • Cerpen romantis Buruan Katakan Cinta ~03 {Update}

    Untuk Cerita sebelumnya bisa di cek di cerpen romantis buruan katakan cinta part 2. Oke?…Happy reading…Credit gambar : Ana MeryaAni menangis seorang diri di taman belakang sambil menenang kan dirinya, hinaan dan cacian temen-temnnya bener-bener membuatnya tidak bisa berfikir dengan jerih, kadang-kadang ia sempat berfikir kalau kevin itu tidak mencintainya, tapi pemikiran itu di bantah mentah-mentah oleh hatinya, hatinya masih sangat percaya bahwa kevin itu menyukainya kalau tidak kenapa kevin tidak memutuskannya hingga saat ini, kalau seandainya kevin udah mempunyai seseorang yang di sukai pasti kevin akan memberi taunya.sebagian

  • Cerpen Remaja “Tentang Rasa” ~ 07 {Update}

    Oke, Aku update lagi ni ya. Sebenernya Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07 ini udah pernah di publis di blog ini dulu. Cuma, karena harus ku edit lagi, terpaksa ku kembalikan ke Draf.Oh ya satu lagi. Jangan meminta lebih sebelum berusaha lebih. Dibawah ada kotak komentar kan?. Silahkan diisi dengan unek – unek kalian. Tapi kalau cuma minta lanjutan, sory ya. Aku nulis itu cuma kalau ada waktu luang. Aku sudah memutuskan, kali ini aku nggak akan memaksakan diri lagi untuk rela – rela in nulis di angkot lewat hape cuma buat nulis lanjutan ceritanya.Like what i say before, Aku menilai suatu karya dari banyaknya like and komentarnya. Simpelnya, untuk meninggalkan jejak aja susah, apalagi mau bikin cerpennya. That is my opinion. Ha ha ha” Tawa anggun Langsung meledak mendengar cerita yang keluar dari Mulut Rian. Mantan tetangganya dulu saat tinggal di Rasbar. Tapi sejak ada bencana banjir yang melada tempat tinggal mereka , mereka sama – sama pindah. Nggak nyangka setelah hampir 4 tahun bisa bertemu lagi.sebagian

  • Cerpen Galau “Bahagia Itu Kita Yang Rasa”

    G to the A to the L to the A to the U = Nyesek. Ibarat pepatahnya ni ya, Di telen pahit di buang sayang. Itu sih yang admin rasain sekarang. Dan tau tau di bawa ngetik jadi deh Cerpen Bahagia Itu Kita Yang Rasa. Nggak tau deh kok bisa gitu. Nah buat yang udah penasaran sama gimana ceritanya bisa langsung simak kebawah. Happy Reading "Aku Menyukaimu. Kau mau kan Jadi kekasihku?."Bagai patung, Irma membatu. Tepat dihadapannya Rey bersimpuh sambil tersenyum manis. Setangkai bunga mawar di tangan menambah romantika suasana. Namun tetap Irma masih terpaku dan membisu."Kenapa mesti aku?" tanya Irma setelah berhasil mendapatkan pita suaranya kembali setelah beberapa saat yang lalu menghilang karena shock.Kepala Rey mengeleng perlahan. Masih dengan senyum yang tersunging di sudut bibirnya. Tanpa kata, tanpa suara. Hanya menanti jawaban atas tawaran resmi hubungannya.Sejenak Irma memejamkan mata. Selangkah demi selangkah kakinya bergerak mundur. "Maaf," cukup satu kata yang keluar dari bibirnya sebelum kemudian Irma berbalik dan tidak menoleh lagi."Brak."Irma mengangkat wajahnya kaget. Raut marah Ana yang baru saja mengebrak meja tepat di hadapannya jelas tergambar. Membuat Irma mengerutkan kening bingung."Ada apa?" tanya Irma hati – hati."Ada apa? Ada apa loe bilang? Harusnya gue yang nanya, loe kenapa?""Memangnya gue kenapa?" Irma balik bertanya. Masih tidak mengerti arah dan tujuan pembicaraan sahabatnya barusan."Seisi kampus kita heboh, katanya loe nolak Rey. Apa itu bener?"Irma terdiam sambil tersenyum samar. Sepertinya ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan itu akan di bawa. Dengan perlahan kepalanya mengangguk membenarkan."Apa loe udah gila?" tanya Ana lagi."Sejak kapan menolak mengajak pacaran itu di sebut gila?" bukannya menjawab Irma malah balik bertanya."Kalau loe di tembak oleh Bang ocor ataupun bang jony terus loe tolak baru wajar. Ini Rey, Irma. Reyhan Sinatrya. Idola di kampus kita," terang Ana penuh penekanan.Kali ini Irma hanya angkat bahu membuat Ana harus mati – matian menahan diri untuk tidak langsung menjitak kepala sahabatnya saat itu juga."Kasih tau alasannya kenapa loe nolak dia?" tambah Ana dengan nada memaksa, membuat mulut Irma sedikit maju. Jelas merasa tidak terima."Karena gue nggak punya satupun yang bisa di jadikan alasan kenapa gue harus menerima dia," balas Irma santai. Kali ini ia membalas tatapan tajam Ana yang terhunjam padanya. "Nggak ada satu pun alasan loe bilang?! Astaga, dia itu cowok paling sempurna yang bisa di jadikan rujukan pacaran jaman masa kini. Tampang cakep? Jelas! Baik? Nggak di ragukan lagi. Kaya? Semua orang juga udah tau. Dan loe malah dengan seenak jidat bilang nggak ada alasan buat nerima dia. Heh, belum pernah liat sendal melayang nyangkut di kepala ya?""Ya ampun Ana, loe marah – marahin gue cuma karena gue nolak tawaran Rey tadi pagi?" keluh Irma pasang tampang dramatisir yang sumpah nggak mempan untuk meredakan kemarahan Ana."Itu _ Bukan _ Cuma!" tandas Ana penuh penekanan."Hufh," Irma tampak menghembuskan nafas secara berlahan. Merasa lelah dan percuma untuk melakukan perdebatan. Terlebih mendebat seorang Ana. The Master of Debater (???)."Sudah lah, nggak usah di bahas lagi. Gue mau pulang. Loe mau bareng nggak?" tanya Irma mengalihkan pembicaraan. Diraihnya tas yang berada di atas meja. Siap berbalik pergi, namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ana."Hanya karena tidak ingin terluka bukan berarti loe harus takut untuk merasa bahagia."Walau berat untuk mengakui, Irma mengerti kalau apa yang Ana ucapkan ada benarnya. Tapi, rasa ego masih bersarang di hatinya. Tanpa berbalik ia kembali melangkah. Meninggalkan Ana terpaku sendirian.Sambil terus melangkah angan Irma melayang jauh. Sejauh mimpi yang ingin ia raih. Dengan perlahan ia melangkah kedalam bus yang akan membawanya pulang kerumah. Matanya mengamati sekeliling. Entah memang takdir, atau kebetulan di dunia ini selalu ada. Hampir semua bangku pernuh kecuali bangku yang berada tepat di belakang sopir.Harusnya, ya harusnya Irma sama sekali tidak keberatan untuk duduk disana kalau saja matanya tak lebih dahulu mengenali siapa sosok yang duduk di sana dengan mata terpejam. Rey, Seseorang yang ia tolak tadi pagi.Sempat merasa ragu namun pada akhrinya Irma melangkah kearah bangku itu. Mendaratkan tubuhnya secara perlahan.Merasa kehadiran seseorang di sampingnya refleks Rey membuka matanya. Bola mata hitam nan tajam langsung terhunus kearah Irma yang hanya mampu tersenyum kaku. Mendadak merasa menyesal akan keputusannya. Harusnya tadi ia lebih memilih untuk berdiri saja dari pada berada dalam situasi seperti ini.Sebuah senyum tulus yang tergambar di wajah Rey pada detik berikutnya langsung menghancurkan keraguan Irma. Senyum itu, walau samar tapi terlihat tulus. Bahkan mampu menular pada dirinya. Terbukti saat tanpa di sadari bibirnya juga tertarik membentuk lengkungan."Baru mau pulang?" tanya Rey membuka permbicaraan.Kepala Irma mengangguk membenarkan . Mulutnya masih terkunci. Bingung mau berkata apa. Pada saat bersamaan Rey ikut mengangguk. Sebuah formalitas semata sepertinya.Untuk sejenak suasana kembali sepi. Hening yang merasahkan _ setidaknya itu yang Irma rasakan. Kepalanya sedikit melirik kearah Rey yang tampak kembali pada aktifitas sebelum kedatangannya. Memejamkan mata. Sementara bus juga sudah kembali berjalan."Maaf?""Eh?" Irma menoleh. Menatap lurus kearah Rey, sementara yang ditatap sama sekali tidak terpengaruh. Tetap asik dengan kebisuannya. Seolah kalimat yang baru saja di tangkap oleh indra pendengaran Irma hanyalah halusinasi semata."Untuk yang tadi pagi, aku minta maaf."Kali ini Irma yakin kalau ia tidak salah mendengar. Terlebih Rey membalas tatapannya. Masih dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya."Harusnya aku yang meminta maaf," gumam Irma lirih."Untuk?""Eh?" Irma yang tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu kontan menjadi salah tingkah."Untuk penolakan yang kau lakukan tadi? Sepertinya tidak perlu terlalu di fikirkan. Setiap orang punya perinsip nya masing – masing. Lagi pula tadi itu aku juga hanya ingin mengungkapkan perasaan ku saja. Soal kau yang tidak menyukai ataupun memiliki rasa yang sama seperti aku sama, sekali tidak aku pikirkan _ walau_jujur saja aku berharap kau memang punya rasa yang sama".Lagi – lagi Irma membisu. Tak tau harus berkata apa."Kenapa?""He?" gantian Rey yang menoleh bingung."Kenapa harus aku?" tanya Irma menegaskan maksut ucapannya.Lama Rey membisu. Tidak langsung mejawab pertanyaannya."Karena Bahagia itu kita yang rasa. Dan aku ingin membagi rasa bahagiaku bersama orang yang ku sukai. Dan orang itu adalah kamu."Biar singkat tapi Irma merasakan ketegasan dari setiap patah kata yang keluar dari mulut sosok di sampingnya. Tanpa sadar sebuah senyum bertenger di sudut bibirnya. Ditatapnya wajah Rey yang juga tersenyum. Hanya senyuman. Tanpa kata.Apalah arti kata bila hati sudah cukup untuk menjawabnya.ENDAPA INI!!!!!…. Entahlah, penulis lagi setres akut kayaknya. Wukakka… Yang jelas sampai bertemu pada cerpen cerpen lainnya aja ya…Detail CerpenJudul Cerpen : Bahagia Itu Kita Yang RasaPenulis : Ana MeryaGenre : Remaja, Cerpen Pendek, Cerpen GalauTwitter : @ana_meryaFanpage : @LovelyStarNightLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*