Cerpen Terbaru The Prince Semi Ending

Sengaja bikin judul begituan biar inget kalo part selanjutnya harus di endingin biar gak ada lagi yang menahan ide baru (???).
Yang jelas happy reading. Satu lagi, Kali ini ana gak mau minta maap kalau lanjutannya lama. Soalnya, ana kan juga nggak tau kalau kalian {Reader} beneran ada.
Titik…


Credit gambar : ana merya
"Lagi sedih ya?".
Refleks aku menoleh sebelum kemudian kembali menunduk. Merasa sedikit malu saat mendapati sebuah senyum manis di wajah tampan itu. Berbanding balik dengan raut wajah ku yang jelas – jelas berurain air mata.
"Tadinya aku ingin menawarkan sapu tangan, Tapi sepertinya kau lebih membutuhkan bahuku untuk bersandar".
Dan kali tangis ku pecah dan aku benar – benar menangis di bahu.
"Menangislah, Menangislah sepuasmu. Menangislah sampai kau merasa lega. Aku masih disini untuk membantumu menghapusnya".
"Ma kasih jimmy" Hanya itu kata yang mampu keluar dari mulutku.
"Tapi berjanjilah, setelah ini tiada lagi air mata yang akan kau buang percuma".
Aku menoleh. Menatap lurus kearah mata bening yang ada di hadapaku. Dan merasakan damai saat tangan kokohnya menghapus air mata di pipi ini. Walau tidak yakin aku mencoba mengangguk.
"Dan aku juga berjanji akan membantumu untuk melakukan itu" Tambah Jimmy lagi.
Aku tidak menyahut. Kembali terhanyut dalam tangisan ini. Sungguh, Demi apapun. Aku tidak pernah menyangka perlakuan Kevin akan berdampak seperti ini padaku. Hei, Ayolah aku tidak mungkin mencintainya kan?.
Entah berapa lama waktu yang ku habiskan untuk mengangis, Aku pun tak tau. Namun saat melihat baju jimmy yang sedikit basah karena air mata aku sadar kalau aku telah menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk menangis. Walau begitu kali ini aku merasa sedikit lega.
"Thanks jimmy. Ma kasih untuk semuanya" Ujar ku tulus.
"Never mind. I will do anythink to make you smile again. That is my promis" Balas jimmy sambil tersenyum.
Kejadiannya begitu cepat. Bahkan Belum sempat bibir ini membalas senyuman Jimmy, Aku sudah terlebih dahulu terlonjak kaget saat mendapati.Jimmy yang kini terdampar di rumput sambil mengusap wajahnya yang jelas terlihat memar.
"Kevin apa – apa an loe!" Ujarku setengah berteriak saat tau kalau itu adalah ulah kevin yang kini jelas sedang berdiri di hadapanku.
"Loe!" Tunjuk Kevin lurus kearah Jimmy yang masih belum beranjak. "Apa yang udah loe lakuin sama Riani sampai dia nangis begitu" Sambungnya terlihat… Emosi?.
Jimmy tidak menjawab justru malah mencibir sinis. Berlahan ia bangkit berdiri.
"Gue?. Bikin dia nangis?" Tanya Jimmy sejenak melirikku yang masih terpaku. "Nggak kebalik?" Sambung Jimmy.
"Maksut loe apa?" Tanya Kevin.
Kali ini Jimmy melemparkan tatapan tajam sekaligus sinis kearah Kevin membuat sosok itu langsung kembali mengayunkan tangannya yang sedari tadi terkepal erat. Tapi, Kali ini Jimmy sudah lebih waspada. Dengan sigap, di tahanya tangan kevin dan di pelintir kebelakang. Membuat suara mengaduh terlontar dari mulutnya. Sudah kah ku katakan kalau Jimmy itu jago bela diri?.
"Cukup… Apa – apa an ini" Aku segera angkat bicara. Kan gawat kalau membiarkan ini terus berlanjut.
Walau terlihat masih marah akhirnya Jimmy melepaskan cekalannya sambil mendorong tubuh kevin. Sepertinya tenaganya cukup kuat karena mampu membuat kevin gantian terdampar di rumput.
"Ayo Riani, Kita pergi dari sini" Ajak Jimmy sambil menarik tanganku untuk berlalu.
Namun berlum sempat kaki ini melangkah sebuah tangan yang lain sudah mencekal tanganku yang satunya.
"Loe ikut gue" Kata Kevin lirih namun tegas. Dan pada detik berikutnya aku menyadari kalau aku telah melangkah menjauh dari jimmy yang masih berdiri terpaku.
"Lepasin gue" Geram ku untuk kesekian kalinya tapi masih tidak di gubris oleh kevin. Membuatku semakin geram, sehingga dengan sekuat tenaga mencoba menghempasakn gengamannya sehingga terlepas.
"Apa mau loe!".
"Loe… Punya hubungan apa sama Jimmy?".
"Heh" aku langsung mencibir mendengar pertanyaannya barusan "Apapun hubungan gue sama dia itu sama sekali bukan urusan loe?" sambungku ketus.
Kevin mendunduk sambil terdiam. Membuatku sejenak merasa bingung.
"Loe marah ya sama gue?" tanyanya lirih.
"Ha?" Mulutku terbuka. Nggak kebalik, bukannya yang marah duluan itu dia?. Tapi… ah benar juga, aku kan juga sedang marah sama dia.
"Please, Maafin gue".
Oke, Mendengar suaranya yang terlihat memohon itu kali ini aku serius beneran bingung. Dia nggak lagi kesambet kan?.
"Gue akui kemaren itu gue emang keterlaluan. Tapi jujur gue nggak bermaksut begitu. Gue cuma bingung sekaligus marah karena gue merasa gue udah di bohongin mentah – mentah sama loe. Dan coba loe bayangin kalau seandainya loe yang ada di posisi gue sekarang" terang Kevin lagi.
Aku kembali terdiam. Kalau di pikir – pikir dia ada benernya juga si?.
"Jadi mau loe sekarang apa?" ujarku melemah. Secara aneh juga kan masa dia tiba – tiba minta maaf gitu.
"Gue mau kita balikan lagi?".
"Ha?".
"Nggak nggak nggak, Gue mau kita bertunangan. Loe jadi tunangan gue".
OMZ, Kepalaku?. Kenapa mendadak pusing gini ya?. Bahkan secara refleks tanganku terulur menyentuh kening Kevin. Mencoba mengecek suhunya. Apa karena ia sedang sakit terus pusingnya nular ke aku? #Ngaco.
"Gue serius" kata kevin sambil meraih tanganku yang masih terulur di hadapannya, mengengamnya erat. Kali ini aku yakin kalau dia beneran kesambet?.
Tunggu dulu, Atau jangan – jangan ia mencoba untuk balas dendam?. Pikiran itu langsung membuat aku menarik lepas gengamannya.
"Loe gila" Komentar ku lirih.
Dan belum sempat ia menjawab aku sudah terlebih dahulu menambahkan.
"Denger ya, Loe ngelamar gue disaat kita baru putus. Catet, Baru putus. Bukan Jadian" ujarku dengan penuh penekanan.
Mendengar itu kevin kembali terdiam. Sepertinya ia mencoba mencerna apa yang ku katakan. Lagi pula apa yang ku katakan tadi itu benarkan?.
"Gue nggak punya pilihan" Ujar Kevin terdengar lirih.
"Maksut loe?"
"Orang tua gue jodohin gue. Kalau dalam dua hari gue nggak bisa bawain calon pilihan gue sendiri, maka gue harus terima perjodohan itu".
"Maksutnya loe jadiin gue pelarian" Gumamku tak percaya.
Dan kebisuan kevin sudah menjawab semuanya. Dengan berlahan tapi pasti aku melangkah mundur. Astaga, Memangnya kevin benar – benar menilaiku serendah itu ya?.
***
"Riani, loe baik – baik aja kan?".
Aku menoleh, mencoba tersenyum saat mendapati Jimmy yang lagi – lagi menemukan ku saat sedang menyendiri.
"Kalau gue bilang gue baik – baik saja apa loe akan percaya?".
Bukan langsung menjawab Jimmy kembali tersenyum. Menariku kedalam pelukannya.
"Bukankah kemaren sudah gue bilang. Loe nggak boleh nangis lagi".
"Apa salah gue?".
"Maksut loe?".
"Apa salah gue sampe Kevin setega ini. Loe tau apa yang dia lakuin?. Dia berniat menjadikan gue cuma sebagai pelariannya".
Oke, kali ini aku benar – benar tidak bisa menahan semua beban ini sendirian. Sehingga tanpa bisa ku cegah mulut ini langsung terbuka untuk bercerita.
"Loe percaya sama gue kan?" tanya Jimmy.
Walau bingung aku menangguk.
"Kalau gitu loe harus percaya kalau Kevin pasti tidak bermaksut seperti itu. Walau dia nggak pernah bilang, tapi gue bisa liat. Kalau perasaan yang ia berikan ke elo itu tulus. Mungkin hanya dia saja yang belum menyadarinya".
Aku menoleh, kok kesannya Jimmy malah membela tu orang ya?.
"Tapi…".
"Stt… Loe inget kan, gue juga pernah janji kalau gue akan pastiin loe bahagia?".
Kali ini aku hanya mampu membalas dengan anggukan.
"Selama ini gue tau loe udah cukup menderita. So, sudah tiba saatnya loe untuk bahagia" balas Jimmy lagi.
"Maksutnya?" aku makin bingung.
"Pastikan loe tidak akan terpengaruh atas apapun yang Kevin lakukan".
"Bukannya loe sendiri yang bilang kalau loe percaya perasaannya ke gue itu tulus".
"Tapi loe kan nggak percaya" Balas Jimmy balik.
"Terus?"
Astaga kenapa ni orang ngomongnya jadi membingungkan begini ya?
"Cukup lihat dan dengar"…
Next is last part… OKE!!!…

Random Posts

  • Cerpen Remaja Take My Heart ~ 19

    Take My Heart _ Lanjutan dari part sebelumnya. Masih seputar Kisah Vio sama Si Ivan. Khusus part ini, Adminya beneran udah bingung sendiri. Udah bolak balik edit, ujung ujungnya tetep aja. Sinteron. Wukakakakkacau.Tapi nggak papa deh. Dari pada nggak di lanjutin. Udah bingung juga soalnya ni cerpen mau di kemanain. Just info aja ya, Next part ending….Take My HeartAwalnya Vio memang masih merasa ragu. Ia masih tidak yakin apa yang ia lakukan itu benar. Bukankan beberapa waktu ini apa yang ia lakukan selalu terlihat salah. Mulai dari menyatakan cintanya pada herry (Baca cerpen sedih "Pupus"), keputusannya pindah kampus, meminta bantuan pada Ivan, Semuanya berakhir kacau. Dan sekarang ia malah harus berurusan sama Andra.sebagian

  • PERSAHABATAN YANG HANCUR KARENA CINTA

    PERSAHABATAN YANG HANCUR KARENA CINTA – oleh: ARUM NADIA HAFIFICinta itu memang kadang membuat orang lupa akan segalanya. Karena cinta kita relakan apapun yang kita miliki. Bagi kaum wanita mencintai itu lebih baik daripada dicintai. Jangan terlalu mengharapkan sesorang yang belum tentu mencintai kita tapi terimalah orang yang sudah mencintai kita apa adanya. Mencintai tapi tak dicintai itu seperti olahraga lama-lama supaya kurus tapi hasilnya nggak kurus-kurus. Belajarlah mencintai diri sendiri sebelum anda mencintai orang lain.Gue Amel siswa kelas X. Dulu gue selalu menolak dan mengabaikan orang yang mencintai gue, tapi sekarang malah tebalik gue selalu diabaikan sama orang yang gue cintai.Gue suka sama teman sekelas gue dan plus dia itu teman dekat gue, udah lumayan lamalah. Cowok itu namanya Nino anak rohis. Gue suka sama dia berawal dari perkenalan terus berteman lama-lama dekat dan akhirnya gue jadi jatuh cinta gini.Oh iya gue punya temen namanya Arum, dia temen gue dari SMP. Arum gue dan Nino itu berteman dekat sejak masuk SMA.Suatu hari gue ngeliat Arum sama Nino itu bercanda bareng dan mereka akrab banget seperti orang pacaran. Jujur gue cemburu, tapi gue nyembunyiinn itu dari Arum.Lama-lama capek juga mendam rasa suka kayak gini. Akhirnya gue mutusin untuk cerita sama Arum.“Rummmm gue mau ngomong sesuatu, tapi jangan bilang siapa-siapa““Ngomong apa?“ tanya Arum“ Jujur gue suka sama Nino udah lama, dan gue cemburu kalo lo dekat sama Nino!“ Jawab Amel“ Lo suka Nino? Serius?“ Tanya Arum“ Iya, tapi lo jangan bilang Ninonya“ gertak Amel“ Iyaiya maaf ya kalo gue udah buat lo cemburu““ Okee “Amel makin lama makin dekat dan Amel susah untuk ngelupain Nino. Amel berfikir Nino nggak akan pernah jatuh cinta sama Amel. Walau Amel udah ngerasa seperti itu tapi dia tetap berjuang. Tanpa disadari Arum ternyata juga suka sama Nino.Amel mengetahui kalo Arum suka sama Nino. Nggak disengaja Amel membaca buku diary Arum. Disitu tertulis curhatan Arum tentang perasaannya kepada Nino.Setelah Amel membaca buku diary Arum, dia merasa kecewa karena temen sendiri juga suka sama cowok yang sama. Tapi Amel berfikir rasa suka itu datangnya tiba-tiba jadi siapa pun berhak untuk suka sama Nino. Amel tetap terus berjuang mengambil hati Nino, walau harapanya kecil.Di taman sekolah Amel melihat Arum dan Nino sedang berincang-bincang, tapi ini beda mereka terlihat serius. Amel penasaran dan akhirnya ia nguping dibalik pohon.“Ruummm gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue?“ Tanya NinoArum kaget dia bingung harus jawab apa, tapi akhirnya Arum menerima Nino jadi pacarnya tanpa memikirkan perasaan Amel sahabatnya sendiri.“ Iya aku mau“ Jawab ArumAmel yang mendengar jawaban Arum dibalik pohon kaget, dia tak menyangka sahabatnya akan tega. Tanpa berfikir Amel keluar dari belakang pohon.“ Rumm lo pacaran sama Nino? Congrast ya lo udah bikin gue sakit hati“Arum dan Nino kaget tiba-tiba Amel muncul dari belakang pohon dan bilang sperti itu.“ Maafin gue Mell, tapi gue cinta sama Nino““ Yaudahlah “Amel langsung pergi meninggalkan Arum dan Nino. Perasaanya campur aduk nggak karuan, dia masih bingung kenapa temannya tega melakukan hal itu. Padahal Arum tau kalo Amel udah lama ngejar-ngejar Nino.Persahabatan bisa hancur begitu saja karena cinta. Utamakan sahabat mu daripada pacarmu karena orang yang bakal selalu ada disaat kamu senang dan susah itu sahabat. Persahabatn yang dijalin cukup lama bisa hancur seketika karena masalah cinta.KARYA: ARUM NADIA HAFIFI

  • Cerpen Cinta: Setelah Kepergianmu

    Setelah KepergianmuCerpen karya Rani Dwi AnggraeniKu selalu mengingatmu, meski ku tahu itu menyakitkan..Ku buka handphone ku, tak ada lagi kamu yang selalu memenuhi inbox-ku, tak ada lagi ucapan selamat pagi dan selamat tidur untukku. Tak ada lagi canda tawamu yang selalu mengiriku dalam kebahagiaan, tak ada lagi leluconmu yang membuatku tartawa. Tak ada lagi tatapan yang membuat jantungku berdebar dan menyejukkan hati. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang selalu membuatku kuat akan setiap masalah yang menghampiriku. Tak ada lagi pelukanmu yang membuatku tentram dan merasa aman dekat denganmu. Kini, sekarang ada sesuatu yang hilang, tak sama seperti dulu.Aku berharap hari-hariku bisa berjalan dengan mulus seperti biasanya., walau tak ada kamu disampingku. Kini, aku mencoba menjalani semua aktivitasku seperti biasa. Dan aku bisa menjalani itu semua walau hatiku terasa kosong, hampa tanpa ada dirimu yang menemaniku setiap harinya. Tapi, aku harus tetap tegar dengan semua ini. Setelah kepergianmu, aku menyadari betapa aku mencintaimu. Setelah kepergianmu, kamu merampas semua cinta dan kebahagiaan yang kupunya, melarikan ke tempat asing yang justru tak tahu dimana keberadaannya. Siksaanmu begitu besar untukku, dan aku terlalu lemah untuk mendapatkan cobaan ini, aku begitu lemah untuk mendapatkan goresan luka di benakku yang semakin hari semakin bertambah.Kini ku tersadar, bukan dia yang begitu tulus menyayangiku, tetapi kamulah yang menyayangiku dan mencintaiku dengan tulus tanpa adanya kebohongan. Jujur, aku menyesal setelah kamu benar-benar pergi meninggalkanku disini bersama bayanganmu. Aku menyesal telah membuatmu kecewa, padahal aku tak bermaksud mengecewakanmu. Aku menyesal lebih memilih dia di banding kamu yang jelas-jelas kekasihku. Sudah jelas dia itu playboy dan sudah menyakitiku berulang-ulang kali dengan kebohongannya dan semua janji palsunya, tapi kamu berbeda, kamu begitu menjagaku, menyayangiku, dan aku sia-siakan begitu saja. Mengapa aku sebodoh ini?Aku tak pernah membalas semua kebaikanmu padaku, dan aku tak pernah menyayangimu seperti kamu yang selalu menyayangiku. Bahkan aku selalu melampiaskan semua amarahku padamu, dan anehnya kamu yang meminta maaf padaku. Seringkali aku membohongimu seringkali aku berkencan bersama dia tanpa sepengetahuan kamu, dan itu berarti aku sedang bermain di belakangmu. Setiap kamu ingin bertemu denganku, aku sering menolak. Tapi mengapa aku tak bisa menolak dia setiap dia ingin bertemu denganku? Bahkan jika kamu mengajaku pulang bersama, aku tak mau dan menolakmu. Aku lebih memilih pulang bersama teman-temanku. Aku sadar itu semua salah, tapi mengapa aku terus mengulangnya kembali? Kamu pernah berkata kalau aku itu egois, aku tak menerima kamu berbicara seperti itu kepadaku, dan aku marah. Aku baru tersadar aku memang egois, benar katamu.Dia selalu melaksanakan apa kemauanku, tapi aku tak pernah melakukan apa yang kamu mau. Hingga beberapa minggu kemudian kamu menjauhiku, kamu menghilang dari kehidupanku, kamu tak mengirimku kabar sama sekali. Hal itu membuatku marah dan aku berfikir kamu memutuskan ku secara sepihak, tanpa tahu permasalahannya apa. Kemudian, kamu menghubungiku di hari jadianku bersama kamu. Entah mengapa aku menjadi benci padamu, mungkin karena kamu menghilang beberapa minggu ini. Kamu mengajaku kencan di malam minggu ini, tapi aku menolak karena kamu bukan pacarku lagi. Aku berkata kepada kamu, lebih baik kamu pergi dari kehidupanku jangan pernah menghubungiku lagi, cari wanita lain di luar sana yang lebih baik dariku. Tapi nyatanya kamu malah meminta maaf padaku atas kesalahan kemarin telah menjauhiku. Kamu bilang kamu hanya ingin mengetesku. Tapi ini bukan cara yang benar. Aku tak bisa memaafkanmu, aku tak akan memberikanmu kesempatan lagi. Dan itu artinya sekarang kamu dan aku hanya sebatas teman biasa. Padahal sebenarnya aku benci dengan perpisahan ini.Entah mengapa jika aku mengingat itu semua, beribu-ribu penyesalan selalu menghampiriku. Apakah kamu terluka karena ku?Kita itu seperti saling menyakiti, seperti saling mendendam tanpa tahu apa permasalahan yang sebenarnya.Aku menangis sejadi-jadinya di dalam heningnya malam, atas dasar bahwa aku memang benar mencintaimu. Aku merasa kehilangan sosok pahlawanku. Sementara aku selalu melihatmu dekat dengan wanita lain, dan mengapa wanita itu harus temanku sendiri? Kamu tak pernah tahu bahwa aku di sini menangis melihatmu bersamanya, aku cemburu..Aku marah pada diriku sendiri, mengapa aku sulit untuk melupakanmu? Sedangkan kamu disana dengan mudahnya melupakanku.Tuhan..sungguh ini tak adil bagiku. Ingin rasanya aku hilang ingatan, agar aku tak mengenalimu dan kenangan dulu bisa terhapus di dalam memori otakku. Itulah jalan satu-satunya untuk saat ini. Hari berganti hari, aku terus menjalani hidupku tanpa dirimu. Dan aku merasa semakin hari aku selalu menyesali kesalahanku padamu. Apakah kamu disana sudah mendapatkan pengganti diriku? Aku harap kamu masih mengharapkanku, karena ku disini selalu mengharapkan kehadiranmu dihidupku lagi. Apakah kamu disana selalu memikirkanku?seperti aku yang selalu memikirkanmu. Aku hanya ingin tahu isi hatimu saat ini. Apa kamu tak pernah berpikir tentang isi hatiku saat ini? yang semakin hari semakin mendung karena tak ada lagi yang menyinari hatiku. Di dalam mimpiku kamu selalu ada untukku, dan kamu milikku. Tapi ternyata, di dalam kehidupan nyata, kau hanyalah mimpi untukku dan aku sulit menggapaimu kembali. Tak ada hal yang mampu ku perjuangkan selain membiarkanmu pergi dan merelakanmu untuk orang lain yang pantas menapatkanmu. Aku berusaha menikmati kesedihanku, kesakitanku hingga ku terbiasa akan semua hal itu. Aku selalu meneteskan air mata untukmu, padahal setiap butiran air mata yang jatuh itu semakin aku merindukanmu dan sulit untuk melupakanmu. Kini aku merasa jatuh cinta padamu yang bukan milikku lagi.Tapi aku punya Tuhan, punya keluarga dan sahabat, yang selalu ada untukku. Aku percaya Tuhan..Tuhan pasti sedang menguji kesabaranku saat ini, dan pasti ada jalan keluar di balik ini semua. Mungkin di mataku kamu yang terbaik untukku, tapi belum tentu kata Tuhan kamu yang terbaik untukku. Aku percaya dan yakin bahwa skenario Tuhan adalah yang paling indah.SelesaiNama : Rani Dwi AnggraeniMy facebook : ranianggraeni1@gmail.comTwitter : @ranidwianggra

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 04 | Cerpen Cinta

    Halo semuanya, ketemu lagi nih sama Admin tentunya dengan kelanjutan Ketika Cinta Harus Memilih Part 4. Masih tentang kisah Cinta sama Rangga ya. Kira kira gimana sih kelanjutan hubungan mereka. Bakal happy ending atau justru malah sad ending.Untuk yang dulunya sudah pernah membaca, baca ulang lagi juga boleh kok. Secara cepen ketika cinta harus memilih ini kan udah di edit lagi. Walau inti ceritanya masih sama si sebenertnya. Akhir kata, happy reading aja deh….Ketika Cinta Harus Memilih"Jadi ini rumah loe?" tanya Rangga setelah beberapa detik yang lalu motornya diberhentikan atas interupsi dari Cinta yang sedari tadi duduk di belakangnya.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*