Cerpen Terbaru The Prince Semi Ending

Sengaja bikin judul begituan biar inget kalo part selanjutnya harus di endingin biar gak ada lagi yang menahan ide baru (???).
Yang jelas happy reading. Satu lagi, Kali ini ana gak mau minta maap kalau lanjutannya lama. Soalnya, ana kan juga nggak tau kalau kalian {Reader} beneran ada.
Titik…


Credit gambar : ana merya
"Lagi sedih ya?".
Refleks aku menoleh sebelum kemudian kembali menunduk. Merasa sedikit malu saat mendapati sebuah senyum manis di wajah tampan itu. Berbanding balik dengan raut wajah ku yang jelas – jelas berurain air mata.
"Tadinya aku ingin menawarkan sapu tangan, Tapi sepertinya kau lebih membutuhkan bahuku untuk bersandar".
Dan kali tangis ku pecah dan aku benar – benar menangis di bahu.
"Menangislah, Menangislah sepuasmu. Menangislah sampai kau merasa lega. Aku masih disini untuk membantumu menghapusnya".
"Ma kasih jimmy" Hanya itu kata yang mampu keluar dari mulutku.
"Tapi berjanjilah, setelah ini tiada lagi air mata yang akan kau buang percuma".
Aku menoleh. Menatap lurus kearah mata bening yang ada di hadapaku. Dan merasakan damai saat tangan kokohnya menghapus air mata di pipi ini. Walau tidak yakin aku mencoba mengangguk.
"Dan aku juga berjanji akan membantumu untuk melakukan itu" Tambah Jimmy lagi.
Aku tidak menyahut. Kembali terhanyut dalam tangisan ini. Sungguh, Demi apapun. Aku tidak pernah menyangka perlakuan Kevin akan berdampak seperti ini padaku. Hei, Ayolah aku tidak mungkin mencintainya kan?.
Entah berapa lama waktu yang ku habiskan untuk mengangis, Aku pun tak tau. Namun saat melihat baju jimmy yang sedikit basah karena air mata aku sadar kalau aku telah menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk menangis. Walau begitu kali ini aku merasa sedikit lega.
"Thanks jimmy. Ma kasih untuk semuanya" Ujar ku tulus.
"Never mind. I will do anythink to make you smile again. That is my promis" Balas jimmy sambil tersenyum.
Kejadiannya begitu cepat. Bahkan Belum sempat bibir ini membalas senyuman Jimmy, Aku sudah terlebih dahulu terlonjak kaget saat mendapati.Jimmy yang kini terdampar di rumput sambil mengusap wajahnya yang jelas terlihat memar.
"Kevin apa – apa an loe!" Ujarku setengah berteriak saat tau kalau itu adalah ulah kevin yang kini jelas sedang berdiri di hadapanku.
"Loe!" Tunjuk Kevin lurus kearah Jimmy yang masih belum beranjak. "Apa yang udah loe lakuin sama Riani sampai dia nangis begitu" Sambungnya terlihat… Emosi?.
Jimmy tidak menjawab justru malah mencibir sinis. Berlahan ia bangkit berdiri.
"Gue?. Bikin dia nangis?" Tanya Jimmy sejenak melirikku yang masih terpaku. "Nggak kebalik?" Sambung Jimmy.
"Maksut loe apa?" Tanya Kevin.
Kali ini Jimmy melemparkan tatapan tajam sekaligus sinis kearah Kevin membuat sosok itu langsung kembali mengayunkan tangannya yang sedari tadi terkepal erat. Tapi, Kali ini Jimmy sudah lebih waspada. Dengan sigap, di tahanya tangan kevin dan di pelintir kebelakang. Membuat suara mengaduh terlontar dari mulutnya. Sudah kah ku katakan kalau Jimmy itu jago bela diri?.
"Cukup… Apa – apa an ini" Aku segera angkat bicara. Kan gawat kalau membiarkan ini terus berlanjut.
Walau terlihat masih marah akhirnya Jimmy melepaskan cekalannya sambil mendorong tubuh kevin. Sepertinya tenaganya cukup kuat karena mampu membuat kevin gantian terdampar di rumput.
"Ayo Riani, Kita pergi dari sini" Ajak Jimmy sambil menarik tanganku untuk berlalu.
Namun berlum sempat kaki ini melangkah sebuah tangan yang lain sudah mencekal tanganku yang satunya.
"Loe ikut gue" Kata Kevin lirih namun tegas. Dan pada detik berikutnya aku menyadari kalau aku telah melangkah menjauh dari jimmy yang masih berdiri terpaku.
"Lepasin gue" Geram ku untuk kesekian kalinya tapi masih tidak di gubris oleh kevin. Membuatku semakin geram, sehingga dengan sekuat tenaga mencoba menghempasakn gengamannya sehingga terlepas.
"Apa mau loe!".
"Loe… Punya hubungan apa sama Jimmy?".
"Heh" aku langsung mencibir mendengar pertanyaannya barusan "Apapun hubungan gue sama dia itu sama sekali bukan urusan loe?" sambungku ketus.
Kevin mendunduk sambil terdiam. Membuatku sejenak merasa bingung.
"Loe marah ya sama gue?" tanyanya lirih.
"Ha?" Mulutku terbuka. Nggak kebalik, bukannya yang marah duluan itu dia?. Tapi… ah benar juga, aku kan juga sedang marah sama dia.
"Please, Maafin gue".
Oke, Mendengar suaranya yang terlihat memohon itu kali ini aku serius beneran bingung. Dia nggak lagi kesambet kan?.
"Gue akui kemaren itu gue emang keterlaluan. Tapi jujur gue nggak bermaksut begitu. Gue cuma bingung sekaligus marah karena gue merasa gue udah di bohongin mentah – mentah sama loe. Dan coba loe bayangin kalau seandainya loe yang ada di posisi gue sekarang" terang Kevin lagi.
Aku kembali terdiam. Kalau di pikir – pikir dia ada benernya juga si?.
"Jadi mau loe sekarang apa?" ujarku melemah. Secara aneh juga kan masa dia tiba – tiba minta maaf gitu.
"Gue mau kita balikan lagi?".
"Ha?".
"Nggak nggak nggak, Gue mau kita bertunangan. Loe jadi tunangan gue".
OMZ, Kepalaku?. Kenapa mendadak pusing gini ya?. Bahkan secara refleks tanganku terulur menyentuh kening Kevin. Mencoba mengecek suhunya. Apa karena ia sedang sakit terus pusingnya nular ke aku? #Ngaco.
"Gue serius" kata kevin sambil meraih tanganku yang masih terulur di hadapannya, mengengamnya erat. Kali ini aku yakin kalau dia beneran kesambet?.
Tunggu dulu, Atau jangan – jangan ia mencoba untuk balas dendam?. Pikiran itu langsung membuat aku menarik lepas gengamannya.
"Loe gila" Komentar ku lirih.
Dan belum sempat ia menjawab aku sudah terlebih dahulu menambahkan.
"Denger ya, Loe ngelamar gue disaat kita baru putus. Catet, Baru putus. Bukan Jadian" ujarku dengan penuh penekanan.
Mendengar itu kevin kembali terdiam. Sepertinya ia mencoba mencerna apa yang ku katakan. Lagi pula apa yang ku katakan tadi itu benarkan?.
"Gue nggak punya pilihan" Ujar Kevin terdengar lirih.
"Maksut loe?"
"Orang tua gue jodohin gue. Kalau dalam dua hari gue nggak bisa bawain calon pilihan gue sendiri, maka gue harus terima perjodohan itu".
"Maksutnya loe jadiin gue pelarian" Gumamku tak percaya.
Dan kebisuan kevin sudah menjawab semuanya. Dengan berlahan tapi pasti aku melangkah mundur. Astaga, Memangnya kevin benar – benar menilaiku serendah itu ya?.
***
"Riani, loe baik – baik aja kan?".
Aku menoleh, mencoba tersenyum saat mendapati Jimmy yang lagi – lagi menemukan ku saat sedang menyendiri.
"Kalau gue bilang gue baik – baik saja apa loe akan percaya?".
Bukan langsung menjawab Jimmy kembali tersenyum. Menariku kedalam pelukannya.
"Bukankah kemaren sudah gue bilang. Loe nggak boleh nangis lagi".
"Apa salah gue?".
"Maksut loe?".
"Apa salah gue sampe Kevin setega ini. Loe tau apa yang dia lakuin?. Dia berniat menjadikan gue cuma sebagai pelariannya".
Oke, kali ini aku benar – benar tidak bisa menahan semua beban ini sendirian. Sehingga tanpa bisa ku cegah mulut ini langsung terbuka untuk bercerita.
"Loe percaya sama gue kan?" tanya Jimmy.
Walau bingung aku menangguk.
"Kalau gitu loe harus percaya kalau Kevin pasti tidak bermaksut seperti itu. Walau dia nggak pernah bilang, tapi gue bisa liat. Kalau perasaan yang ia berikan ke elo itu tulus. Mungkin hanya dia saja yang belum menyadarinya".
Aku menoleh, kok kesannya Jimmy malah membela tu orang ya?.
"Tapi…".
"Stt… Loe inget kan, gue juga pernah janji kalau gue akan pastiin loe bahagia?".
Kali ini aku hanya mampu membalas dengan anggukan.
"Selama ini gue tau loe udah cukup menderita. So, sudah tiba saatnya loe untuk bahagia" balas Jimmy lagi.
"Maksutnya?" aku makin bingung.
"Pastikan loe tidak akan terpengaruh atas apapun yang Kevin lakukan".
"Bukannya loe sendiri yang bilang kalau loe percaya perasaannya ke gue itu tulus".
"Tapi loe kan nggak percaya" Balas Jimmy balik.
"Terus?"
Astaga kenapa ni orang ngomongnya jadi membingungkan begini ya?
"Cukup lihat dan dengar"…
Next is last part… OKE!!!…

Random Posts

  • Cerpen Spesial Valentin “Cintaku berawal dari Facebook”

    Cerita yang terjadi berikut ini adalah hanya fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, tokoh pelaku ataupun peristiwa adalah hanya kebetulan semata. Ide ini terlintas dengan begitu saja.Happy reading ya…Ini kisah yang terjadi di antara ratusan juta akun facebook..Kisah yang terjadi antara kami berlima…Seseorang yang ku namai diriku sendiri…Seseorang yang kusukai….Seseorang yang ku jadikan sahabat….Seseorang yang kadang ku jadikan tempat bersandar….Dan seseorang yang sangat sangat ingin untuk aku lupakan.Nah, Khusus disini aku ingin menuliskan kisah tentang aku dan dia….. XD."Hufh" Untuk kesekian kalinya Chila menghela nafas saat menatap baris demi baris kata yang tertera di layar monitor di hadapannya.sebagian

  • Mutiara Kata

    MUTIARA KATAAloha……. Apa kabar semuanya. Hem, kali ini Star Nightpengen ngeshare kata – kata bijak atau Mutiara kata dikit. Ya Cuma buat di baca – baca aja. Sukur – sukur si bisa di hayati maknanya dan bisa sedikit banyak jadi motaivasi buat kita semua. Ya udah lah langsung aja. Cekidot….sebagian

  • Cerpen Cinta: TERNYATA KAMU

    Oleh: Mentari Senja – Hari ini aku dan Shinta akan menjemputmu di Bandara, sepuluh tahun sudah kita tak berjumpa. Setelah keluargamu pindah, aku dan Shinta hanya bisa merindukanmu. Sepuluh tahun kami jalani hidup berdua tanpa dirimu, tanpa kebersamaan dan tanpa kegilaanmu. Kami sangat merindukanmu, terkhusus untukku. “duh lama banget ya ri…mana sih Radit katanya dateng jam 10.00. ini dah jam 10.00 lewat tapi belum nongol juga tuh batang hidungnya.”shinta melirik jam warna pink ditangannya sambil terus mencari-cari sosok seorang Radit. Terlihat kegelisahan diraut wajah cantiknya.“ sabar lah Shin, bentar lagi juga nyampe. Mungkin emang agak telat paling pesawatnya. Ya udah kita tunggu aja disini.”aku mencoba menenangkan Shinta, walau aku sendiri juga agak gelisah.“eh…ri kira-kira Radit curiga ga ya. Kalau selama ini yang sering bales e-mail dia bukan aku. Apa dia masih suka sama aku.”shinta jadi gelisah sendiri, dia takut Radit kecewa kalau selama ini bukan Shinta yang ngbales semua e-mail dari Radit.“udahlah tenang Shin, Radit ga bakal tau ko. Lagian kan walaupun aku yang bales tuh e-mail radit, tetep aja aku pake nama kamu. Jadi kamu tenang aja deh. Dan dari semua e-mail yang dia kirim, aku yakin dia masih suka sama kamu,”shinta agak sedikit tenang setelah mendengar penjelasanku. “thanks ya riri, kamu emang sahabat yang baik. Kamu tau sendiri kan aku paling males kalo suruh ngebales e-mail. Aku ga suka diem dikamar Cuma buat mantengin laptop. Mendingan shopping, hehehehe. Tapi untunglah ada kamu, jadi aku selalu tau keadaan Radit. Dan yang paling penting aku tau kalo Radit masih suka sama aku.”shinta senyum-senyum sendiri membayangkan Radit.Aku cuma tersenyum melihat sahabatku ini, walaupun ada sedikit rasa sedih. Karena selama ini aku juga memendam perasaan pada Radit. Selama sepuluh tahun ini aku dan Radit memang masih sering berkomunikasi, tapi komunikasi ini hanya kepura-puraan. Radit menyangka kalau yang ngebales semua e-mailnya adalah Shinta, perempuan yang dari dulu dia kagumi.Setelah tiga puluh menit lamanya kami menunggu Radit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Radit datang juga. Perasaanku mulai berdebar-debar, membayangkan bagaimana Radit sekarang. Apakah dia akan mengenaliku, taukah dia kalau selama ini aku lah yang selalu menemani malam-malamnya lewat dunia maya. Apakah Radit juga merasakan apa yang aku rasa. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaanku tentang Radit. Semoga dia tidak berubah.“jantungku deg-degan ri, kira-kira sekarang Radit seperti apa ya. Aku ga sabar neh. Duh mana ya Radit.”dengan mengangkat papan nama bertuliskan Radit, Shinta mencoba mencari sang pujaan hati.“shin, mungkin itu dia Radit. Lihat lelaki itu, dia datang kearah kita, pasti itu Radit.”aku menunjuk kearah lelaki tinggi memakai jaket jeans biru.“sepertinya iya, wah keren juga ya Radit sekarang. Aku jadi makin suka deh”Lelaki berjaket jeans itu semakin mendekat, dia melambaikan tangannya menandakan bahwa memang benar dia adalah Radit. Akhirnya ketemu juga dengan Radit, Radit kini sudah menjadi sosok lelaki dewasa.“hallo princess, apa kabarmu…”Radit mendekatkan diri pada Shinta, menyapa Shinta dengan sebutan yang biasa dia ucapkan padaku saat didunia maya.Princess ??so sweet, Radit romantis sekali padahal baru saja ketemu Shinta hanya berdiam diri, dalam hati shinta berkata-kata siapa yang Radit sebut dengan Princess, tapi itu ga terlalu penting bagi Shinta. Shinta tak memperdulikan Radit akan memanggilnya apa. Yang dia rasakan hanya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Radit.“hallo Princess, kenapa nglamun aja. Terpesona ya ngliat aku yang ganteng. Hahahahaha.” kata Radit karena melihat Shinta yang bengong“hey siapa juga yang terpesona, aku hanya ga habis fikir aja bisa ketemu lagi sama cowok jelek kaya kamu,hehehehe.”shinta dan Radit terlihat semakin akrab. Kulihat mereka berdua sangat cocok, apalagi mereka berdua saling suka.Aku hanya bisa berdiam diri melihat keakraban antara Radit dan Shinta. Ternyata Radit tak mengenaliku, dia masih mengira bahwa Shintalah yang menjadi teman dunia mayanya. Sedikit rasa kecewa terpendam dihati, karena apa yang kuharapkan ternyata tak sesuai hati.“ehemm… udah dulu dong kangen-kangenannya, sampe lupa ada orang disampingnya.” aku mencoba mencairkan suasana.“hai nona manis, maaf aku lupa. Apa kabarmu sekarang ? apa kegiatanmu, jangan kaya Shinta ya yang sukanya ngenet sampe malem.”Radit melirik Shinta. Menggoda Shinta dengan lirikannya.“kabarku baik. aku juga suka ngenet ko Dit, sama kaya Shinta.”jawabku sambil ku lirik juga Shinta“wah ternyata kamu sama Shinta punya hobby yang sama ya, baguslah kalau gitu. Kita semua jadi kompak. heheheh, Eh ngomong-ngomong kamu punya e-mail ga?”tanya Radit kepadaku“aku punya, kapan – kapan aku kasih tau kamu. Oke sekarang kita pulang yuk ga enak kelamaan disini bisa jamuran kita.hehehehe.” aku dan Shinta saling berpandanngan, aku tau Shinta ingin berbicara kalau jangan sampai Radit tau yang sebenarnya.Akhirnya kami bertiga pulang, menuju kediaman Radit yang kebetulan tak jauh dari rumahku dan Shinta. Kami bertiga tinggal dalam satu komplek yang sama.**************** Pagi ini sungguh cerah, udara pagi yang sejuk ditemani hangatnya sinar mentari pagi. Daun-daun dengan tetesan embun menyapa rerumputan yang basah karena tetesan embun. Burung camar berkicauan menyanyikan kidung indah tentang pagi. Dari jendela kamarku dilantai dua, aku merasakan sejuknya angin pagi. Dan tanpa kusadari tenyata Radit telah berada dibawah.“woi nona manis, lari pagi yuk. Ajak Shinta juga ya.” teriak Radit dari bawah, ternyata Radit sudah siap untuk berolahraga pagi.“hai….sudah lama disitu, oke deh bentar lagi aku keluar. Aku call shinta dulu ya.” jawabku “shin, cepet bangun Radit ngajak jogging neh. Oke cepetan bangun, aku dan Radit nunggu kamu didepan rumah.”kututup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Shinta, segera kubersiap untuk jogging.“sudah call Shinta,” tanya Radit setelah melihatku keluar dari pintu.“yapz, udah. Kita langsung tunggu didepan rumahnya. Ayo berangkat.” ajaku pada Radit.“oke. Ayo.”Jarak rumahku dan Shinta tak begitu jauh, jadi tak butuh waktu lama buatku dan Radit sampai dirumah Shinta. Pagi ini Shinta terlihat begitu cantik. T-shirt pink dipadu dengan celana Panjang warna putih terkesan machting dengan kulit Shinta yang putih. Dan hal ini membuat Radit semakin terpesona.“hello, my princess, you are beautiful.” Radit menyapa Shinta dengan kata-kata romantis, ini membuatku sedikit sedih. Karena bukan aku yang dia sapa, melainkan Shinta yang tak tau apa-apa.“hallo juga cowok jelek, hehehehe.” Shinta menjawab sekenanya.“ayo kita berangkat.” ajaku“Oke.” radit dan Shinta masih saling berpandangan.Setelah lima belas menit jogging akhirnya kita semua memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman. Disebuah bangku panjang bercat putih, dipayungi pohon yang rindang sangat tepat untuk tempat beristirahat. Dikanan kiri terdapat beberapa pedagang makanan dan minuman, tempat ini memang biasa untuk orang-orang lari pagi jadi wajar kalau banyak juga pedagang yang menyediakan makanan ataupun minuman.Tiga botol teh dingin, serta tiga mangkok bubur ayam menjadi santapan pagi kita setelah lelah berolahraga. Suasana kali ini sungguh menyenangkan. Terlihat ada kumpulan anak-anak yang sedang berlari-lari kecil dengan suara tawanya yang riang, hal ini mengingatkanku tentang sesuatu. Terbayang waktu dulu saat kami semua bersama. Masa-masa kecil yang selalu kami lewati dengan berbagai canda dan tawa. Radit yang super iseng, Shinta dengan kemanjaan dan kecentilannya, sedang aku yang pendiam. Walaupun dengan berbeda karakter tapi kami semua tetap bisa bersatu. Sampai saat inipun kami bertiga masih akrab.Fikiranku pun melayang saat kuingat kali pertama Radit membuatku kagum padanya, Radit datang membelaku saat aku dihadang oleh anak – anak lelaki yang bandel disekolah seberang. Radit mencoba melindungiku, dia berusaha agar aku tidak terluka. Ketika itu Radit berkelahi dengan anak-anak itu, walaupun radit terluka juga tapi Radit berhasil mengusir anak-anak bendel itu. Dan saat itu aku merasakan kagum pada seorang Radit, bagiku dia adalah dewa penolong, dia juga teman penghiburku saat aku merasa sedih. Hingga saat ini kekaguman itu masih terjaga.“hei… nona… ngapain nglamun.”sapaan Radit menyadarkanku dari lamunan. Radit memang biasa memanggilku dengan sebutan nona. Itu sebutan saat masih kecil.“ohh…ga apa-apa ko. Cuma lagi menikmati alam, hehehe.” jawabku seraya memandang sekitar“balik yuk, cape neh.” ajak Shinta“oke Princess,” jawab Radit. Sekali lagi aku dan Shinta hanya saling berpandangan.********* “eh ri, kira-kira Radit masih percaya ga ya kalau aku yang sering balez e-mail dia dulu.” tanya shinta padaku“emangnya kenapa, yang aku liat sih, kayanya dia masih percaya deh.” aku melihat kearah Shinta“iya ri, sekarang aku ga yakin kalo Radit masih percaya, soalnya sering banget kalo dia ngobrol sama aku dan kebanyakan obrolannya itu ga nyambung. Dia sering cerita tentang dunia maya, tentang buku love story, tentang bakso yang katanya makanan kesukaanku. Padahal kamu tau sendiri kan ri kalo aku ga suka bakso. Apalagi tentang lovestory. Aku jadi bingung harus jawab apa sama Radit.”shinta telihat bingung, dia terus mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Sampai mie ayam kesukaanya tidak sempat dia makan.“udah lah shin, aku yakin dia masih percaya.”jawabku mencoba menenangkan. Aku hanya bisa diam, memikirkan Radit. Ternyata Radit masih hafal tentang kebiasaanku, tentang love story, tentang bakso, itu semua memang tentangku. Kabiasaanku berbalas e-mail dengan Radit membawa ketidaksengajaanku untuk mengungkapkan semua kebiasaan dan kesukaanku. Aku tak sadar bahwa kebiasaanku dan Shinta sungguh jauh berbeda. Yang ku tau saat itu hanya rasa nyaman saat bisa berbagi cerita dengan Radit, walaupun hanya lewat dunia maya.Suasana kampus masih ramai, banyak mahasiswa berlalu lalang. Dari mahasiswa yang masih punya jam kuliah sampai yang hanya Cuma ingin menikmati suasana taman dikampus. kebetulan aku dan shinta sudah tak ada jam kuliah. Kami menghabiskan waktu dikantin kampus. Kami berdua hanyut dalam lamunan masing-masing, walaupun tertuju pada satu khayalan, yaitu Radit.“Ri, aku sudah putuskan untuk menceritakan yang sebenarnya sama Radit. Aku ga mau terus – terusan bohong. Aku juga ga mau terus berpura-pura tau tentang semua obrolannya. Aku ingin mencintai Radit dengan diriku sendiri, bukan apa yang Radit ceritakan. Gimana menurutmu ri.” tiba-tiba saja Shinta berbicara padaku, “kalau menurutku, jangan dulu shin. Ini bukan waktu yang tepat. Biarlah dia tau dengan sendirinya. Lagian kalau dia emang sayang sama kamu, pasti dia bisa menerima kamu dengan apa adanya. Ya udahlah shin jangan terlalu difikirkan.”“gitu ya ri, hmmm ya udahlah mungkin Cuma perasaanku aja. Thanks ya ri, kamu baik banget. Kamu juga selalu membantuku. Thanks sob.”Shinta memelukku erat, ada kelegaan yang kulihat.“iya shin, sama-sama. Balik yuk.”“hmm oke,”********* “hei nona, lagi ngapain disini.”Radit menghampiriku saat aku berada ditaman sendiri. “hei juga, lagi duduk-duduk aja neh, sambil baca buku.”jawabku sambil mempersilahkan Radit duduk.“wah hoby baca juga ya kamu, lagi baca buku apa, coba aku liat.”“love story, novel kesukaanku, ceritanya begitu romantis aku suka.”aku menyodorkan buku novelnya kepada Radit.“Love Story???ko bisa kebetulan ya, aneh….”jawab Radit sedikit bingung sambil terus melihat buku novel itu“Aneh kenapa.?”tanyaku sedikit ragu“ya aneh, aku juga suka banget sama novel itu. Shinta juga suka, dia sering ngabahas novel ini di e-mail tapi kenapa ya saat aku tanya langsung sama dia kemaren dia seolah ga pernah tau tentang love story.dan juga saat aku panggil dia princess dia ga ngebales manggil aku pangeran. Aneh kan.”Radit mulai curiga dengan Shinta.Aku langsung buru-buru mengambil novel itu dari Radit, aku ga mau Radit tau keadaan yang sebenarnya. Sambil bersiap pamit pulang aku berbicara.“mungkin Shinta ingin ngetes kamu, apa dia masih ingat atau ga sama kebiasaannya.” jawabku sembari meninggalkan Radit. Saat itu kulihat Radit bingung. Sebenarnya Radit ingin bertanya banyak tentang Shinta padaku tapi aku keburu pergi.Radit, mungkinkah kamu tau bahwa itu semua adalah aku. Akulah yang kau kira Shinta, akulah yang selalu berbagi cerita tentang lovestory. aKu lah yang memanggilmu pangeran, dan aku lah princessmu. Semua itu aku yang lakukan. Maafkan aku Radit, bukan maksudku membohongimu, ini semua demi Shinta. Aku tau kamu cinta Shinta, begitu juga Shinta. Mana mungkin aku harus menghancurkan hubungan kalian. Lebih baik aku yang sakit.Semenjak kejadian ditaman aku sedikit menghindari Radit, aku takut Radit bertanya macam-macam lagi. Jadi sebisa mungkin kuhindari suasana berdua dengan Radit. Kecuali saat ada Shinta, seolah memang tak terjadi apa-apa.**********Kau adalah darahkuKau dalah jantungkuKau adalah hidupkuLengkapi diriku, oh sayangku kau begitu sempurna……….. Kunyanyikan lagu kesukaanku saat kusendiri ditaman, lagu ini sangat berarti karena lgu ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat ku sayang siapa lagi kalau bukan Radit. Aku dan radit sangat kenal betul dengan lagu ini, karena sangat sering aku memutar lagu ini ketika dunia maya menjadi jembatan untuk aku berbagi cerita, begitu juga dengan Radit. Lagu ini adalah lagu kita bersama. Tanpa terasa airmataku menetes, ada perasaan sedih saat harus aku tau kenyataan bahwa Radit tidak mengenaliku. Dia masih saja mengira bahwa Shinta lah yang selama ini bersamanya di tiap malam.“Ri…aku sudah tau semuanya.”suara Radit tiba-tiba mengagetkanku. Ternyata Radit sudah dari tadi ada dibelakangku. Aku bingung apa yang Radit katakan barusan, apa yang dia tau. Atau jangan-jangan…..tapi tidak mungkin, dari mana dia tau. Shinta ???? batinku mulai bertanya-tanya.“hei dit, sudah lama kamu disini?”tanyaku agak sedikit gugup“aku tau ri, aku sudah tau. Lebih baik kamu jujur padaku.”radit mencoba mendesakku“maksud kamu apa dit, aku ga ngerti deh. Apa yang kamu tau.”jawabku seolah tidak tau apa-apa. Persaaanku semakin gugup dan gelisah, aku takut Radit memang sudah mengetahui semuanya. Aku takut mengecewakan Shinta.“aku tau bukan Shinta yang ngebales semua e-mailku, bukan shinta yang selama ini menemaniku. Tapi itu semua kamu ri. Kamu Mentari az zahra, yang selalu ngebales e-mailku. iya kan ri, jawablah.” Radit mendesakku.Aku hanya terdiam, aku tak tau harus berbicara apa. Ternyata radit sudah tau semua. Tapi dari mana dia tau, bukankah Shinta sudah tidak berniat lagi untuk menceritakan hal ini.“dari mana kamu menganggap kalau semua ini aku yang lakukan,.” kataku mencoba menyangkal“semua bukti udah jelas ri, love story, dunia maya, bakso kesukaanmu, dan lagu tadi. Apa itu ga cukup jelas buat aku tau semuanya.” Radit terlihat kecewa.“maaf dit, bukan maksudku membohongimu, ini semua karena Shinta. Shinta yang menyuruhku melakukan semua ini. Awalnya aku berniat untuk menghentikannya, tapi ternyata aku ga bisa, karena aku merasa nyaman saat aku bisa berbagi denganmu.” jawabku dengan suara parau, airmataku menetes.”maaf dit, bukan maksudku menghancurkan hubungan kalian, anggap saja ini semua tak pernah terjadi. Kembalilah pada shinta seolah memang dia yang selama ini kamu kenal bukan aku.”“kenapa kamu ga mau jujur dari awal kita ketemu ri, aku kecewa sama kamu dan Shinta.”“saat itu aku berniat untuk jujur, tapi waktu pertama kita ketemu kamu sudah lebih dulu mengenali Shinta dengan “princessmu” itu. Bukan aku yang kamu kenal. Sejak saat itu ku urungkan niatku.” kutatap wajah Radit sekilas lalu balik berpaling memandang bunga mawar yang tumbuh indah disamping taman.“maafkan aku ri, aku ternyata tidak mengenalimu, aku ga memahamimu saat itu. Tapi ri, sampai kapanpun aku masih nyaman dengan princessku itu dan itu kamu, bukan Shinta.” Radit menggenggam tanganku, menatapku tajam.“maksud kamu..??? bukankah kamu cinta sama Shinta?”tanyaku heran pada Radit“aku memang suka sama Shinta, tetapi aku sadar bahwa rasa sukaku dengan shinta hanya sekedar rasa suka semata. Ternyata yang aku cintai bukan shinta, tapi princess, princess yang selalu menemaniku, princess dengan love storynya, dan itu kamu. Saat aku bersamamu aku merasa nyaman, seolah aku sedang berbicara dengan princess. Dan sekarang aku tau bahwa memang benar apa yang kurasakan, kamu adalah princessku. Aku mencintaimu ri.” kata Radit “tapi dit, bagaimana dengan Shinta, mana mungkin aku harus menghancurkan hati Shinta. aku merasa tidak enak hati apabila Shinta tau semua ini.”kulepaskan genggaman tangan ku dari tangan Radit“aku tau ri, tapi aku juga ga mau terus-terusan membohongi shinta. Jujur selama ini aku kurang nyaman saat bersamanya. Banyak ketidakcocokan yang aku rasakan. Tidak seperti saat bersamamu.” terang Radit.Aku begitu bingung, dilema rasanya. Disatu sisi aku merasa bahagia karena Radit juga ternyata mencintaiku tapi disisi lain rasa bersalah kepada shinta bersarang. Bagaimana perasaan shinta saat dia harus tau semua ini. Apakah harus kurelakan Radit untuk Shinta, atau kuterima cinta Radit ini. Semua ini terasa ga adil, aku ga mau hanya karena masalah cinta persahabatan ini hancur.“terimalah cinta Radit, ri….. jangan kecewakan dia. Aku tau dia cinta kamu.” suara Shinta tiba-tiba mengagetkan kami berdua. Ternyata shinta mendengar pembicaraan kami dari belakang.“maaf Shin, bukan maksudku kaya gini.” kataku meyakinkan Shinta. Kuhapus airmataku dan kujauhi Radit.“tenang Shin, aku ga kan marah ko sama kamu. Justru aku bahagia karena akhirnya semua ini bisa terjawab dengan sendirinya. Aku tak perlu lagi berbicara yang sebenarnya kepada radit. Dan tentang perasaanku sama Radit, sama halnya seperti Radit ternyata aku hanya mengagumi Radit. Tapi tak bisa untuk menyelaminya. Kami berdua ga cocok. Terlalu banyak perbedaan yang ada pada kita, dan sekarang aku relakan Radit menjadi milikmu karena aku tau kamulah yang terbaik buat Radit.” Shinta tersenyum dan menghampiriku. Shinta memelukku menyatakkan kebahagiaannya.“makasih Shin, aku ga tau harus ngomong apa sama kamu.” aku merasa bahagia dengan penuturan Shinta, ternyata shinta ga marah. Dan semuanya jelas sudah.“Mentari Az Zahra….maukah kamu menjadi pacarku…?” tiba-tiba radit bersimpuh didepanku dengan memberikan bunga mawar merah.Dengan hati yang berbunga-bunga serta senyum yang terus mengembang dari bibirku. Ku jawab pertanyaan Radit itu.“Radit Bagas Pramandha, aku bersedia menjadi pacarmu.” ku ambil mawar merah yang dipegang Radit sebagai tanda penerimaan.“terima kasih princess…” Radit langsung memelukku“sama-sama pangeran.”senyumku berkembang Shinta yang melihat kami hanya tersenyum dan menggoda kami.“ehem udah dulu dong berpelukannya, jadi iri neh. Hehehehe,”shinta menggoda kami.Ternyata persahabatan ini masih terus berjalan, walau kini aku dan Radit resmi berpacaran tapi hal ini ga mengubah kebersamaan kami. Aku, Radit dan Shinta pun berpelukan. Kami habiskan waktu malam ini bertiga, memandang bintang dilangit yang bersinar indah. Akhirnya love story ini berakhir indah. Sang pangeran kini telah menemukan princess. Tak ada lagi keraguan di hati sang pangeran. Dunia ini seakan berbunga-bunga, keindahan menghampiriku karena cinta yang kupendam kini tlah terpaut sempurna. Dan ternyata kamu……….. I LOVE U RADIT……………………..THE END……………….PENULIS;Nama : Mentari SenjaEmail : pichasilvia@yahoo.comfb : chika_lupi@live.com

  • KAGUMKU SELANGIT oleh JAJ

    Oleh: Jovian Andreas (JAJ) – Suatu kertas puisi cinta yang disebut picisan itu akhirnya disimak lagi. Kenangan indah kalau diangkat lagi memang jadi mengharukan. Mengapa ada cinta yang disia-siakan? Mengapa dibiarkan pernyataan baik itu yang pernah dibalas dengan sikap arogan, yang akhirnya disesali. Dibenci sikap jahatnya itu pada laki-laki yang sebetulnya tampan namun karena dituding bukan levelnya, laki-laki itu jadi berkata tak akan bertemu dengannya lagi, pada detik itu. Laki-laki itu sudah menerima permintaan Omnya untuk tak akan ke rumah lagi hanya demi Meli… Oh, Meli, kau ini bodoh banget! Kau ini norak! Kau ini sombong! Kau sangat materialistis! Jadilah kamu perempuan sial! Ah.., begitulah yang dipikirkan Amelia Febrianti, yang melihat foto Heryadi, laki-laki yang pernah jatuh hati padanya sepuluh tahun yang lalu. Sekarang usia Amelia, 27 tahun, dan Heryadi, 30 tahun. Amelia sudah pernah menikah sebelum tahun 2000 dan ketika itu usainya 20 tahun. Yah, tepatnya dia kelahiran 1979. Dia sangat ingat perkenalannya dengan Heryadi yang suka berkarya di sanggar sebagai sutradara. Dia tahu juga semangat Heryadi walau organisasinya itu tak menguntungkan atau memberinya penghasilan. Dan ketika itu Amelia yang pernah jadi anggota teater di SMA memilih keluar dan mau jadi pemain sinetron, figuran. Sementara Heryadi tetap bergerak di teater dari festival drama remaja, lomba baca puisi, menulis skenario dan yang lain jadi pelatih futsal di sekolah yang dikelola orang tua temannya.Heryadi memang bukan anak orang berada, dia tinggal di jalan MHT di wilayah padat di Jakarta Barat. Heryadi menaruh hati pada Amelia, lewat bantuan teman sebaya Amelia ketika itu untuk jadi comblang baginya. Tetapi mengapa Heryadi tidak berani mengungkapkannya, hanya karena Heryadi mempunyai saingan dari temannya yang lebih dipahami Amelia. Temannya itu Ronny. Teman Heryadi ini membawa Azrul yang ternyata genit dan ingin mendapatkan hati Amelia. Akhirnya Heryadi jadi jaga jarak dengan Ronny dan memutuskan membangun sanggar baru di luar sekolah. Ronny tetap bertahan dan mengajak Azrul yang memang teman di kampusnya masuk poduction House dan Melly diajak jadi pemain sinetron sebagai figuran saja. Ronny bernasib baik menjadi asisten sutradara di production house mendampingi sutradara senior.Nah kenapa Heryadi merasa bersaing dengan Ronny, alasannya adalah Heryadi punya niat mengadakan pementasan kolosal : Ken Arok yang ternyata disudutkan Ronny bahwa ide itu tak akan terjadi. Heryadi jadi benci Ronny. Heryadi juga benci pada Amelia yang malah berani bilang: "Gue nggak suka sama elo!" Suatu pernyataan yang mengecewakan di masa itu, dan Amelia jadi sedih telah membuat hati Heryadi, jadi sakit hati.Heryadi dengan teater barunya malah berhasil meraih piala sebagai grup terbaik. Heryadi tetap punya pendirian hingga di era runtuhnyha orde baru terlibat pula dalam demonstrasi. Heryadi tetap bujangan. Dan masa mudanya itu tetap putih dan tidak seperti Azrul. Karena laki-laki yang menyukai Amelia itu, berani main api, selingkuh dengan perempuan yang mau jadi artis hingga hamil. Dan inilah yang membuat Amelia kagum pada Heryadi.Heryadi juga dipuji Amelia ketika dia datang ke rumah Amelia sambil mengabarkan kalau dia sudah lulus menjadi sarjana. Bayangkan, keputusan untuk tidak mendekati Amelia, dimohonkan maaf oleh Heryadi dengan pernyataan kepada Om Amelia, Safri, kalau dia kakak kelas Amelia yang ingin dilihat Amelia menjadi sarjana. Dan Amelia menjadi trenyuh. Dia saja tidak bisa menyelesaikan kuliah karena keputusannya sendiri. Begitu juga Om Safri yang pernah meminta Heryadi jauhi Amelia, sudah tidak bisa bekerja lagi akrena kecelakaan, hanya bilang kepada Amelia : "Coba kamu jadi sama laki-laki itu, Mel… Dia baik!"Amelia sangat sedih. Dan waktu terus bergerak, setiap kabar Heryadi malah membuat Amelia semakin kagum padanya. Heryadi bekerja di production house pula seperti Ronny yang mana perusahaaan itu membuat film layar lebar serta rekaman film asing. Wah, membuat Amelia jadi trenyuh. Amelia yang sudah punya anak hasil hubungan gelapnya dengan teman kuliahnya itu hingga diusir bapaknya, kini menjadi manusia yang merasa telah membunuh karakternya sendiri. Dia ingin berubah sebagai manuisa yang punya masa depan, punya rancangan atau prinsip hidup dan punya cinta pada laki-laki sebaik Heryadi.Namun sayangnya Heryadi yang pernah menulis puisi untuknya berjudul Kagumku Selangit, sudah semakin sulit menjadi miliknya. Heryadi sudah meminang seorang gadis yang sederhana, tetangganya yang memang pantas buat Heryadi. Amelia tinggal berkata," Oh Tuhan, andainya hati Heryadi masih ada untukku biarlah dia datang padaku, walau hanya sebentar mengucapkan salam padaku.."Tentunya Amelia tidak bisa bertemu Heryadi. Amelia hanya bisa memandangi foto masa SMAnya itu. Di mana Heryadi yang pernah jadi sutradara teater dan pernah dihina temannya itu, kini sudah menjadi laki-laki dewasa. Amelia hanya bisa menulis di buku hariannya : I Love You Heryadi.. God Bless You ..*****Jakarta, November 2011Penulis : Jovian AndreasEmail : Jovisca_2@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*