Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 08

Huwaaaaaa!!!. Kok cerpen terbaru take my heart nya ini jadi begini yak?. Ck ck ck, makin kacau bo'. Gara – gara siapa maren yang bilang, lupa saia. Pake nyuruh acara berantem segala. Hade….
Over all, ya sudah lah. Lanjutkan saja. ^_^
Untuk part sebelumnya bisa bace :
-} Cerpen terbaru Take My Heart part 7


Bus melaju dalam keheningan. Keduanya masih sibuk dengan jalan pikirannya masing masing. Bahkan tak terasa bus sudah berhenti di tempat tujuan. Dengan berlahan Vio melangkah turun. Di belakangnya Ivan masih setia mengikuti.
Sambil terus melangkah Vio melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih terlalu dini untuk langsung mendekam di kostan. Lagi pula sejujurnya pikirannya masih kusut. Ia butuh sedikit penyegaran. Menatap langit sore sepertinya menyenangkan. Hanya saja menyadari kehadiaran makhluk yang tak di inginkan masih berada di sampingnya membuatnya merasa ragu.
"Loe boleh terus menganggap gue nggak ada kalau loe mau" Ivan akhinya bersuara saat mendapati lirikan risih Vio padanya.
"Ehem".
Vio hanya berdehem walau tak urung membenarkan ucapan Ivan barusan. Benar juga, ia hanya perlu berpura – pura kalau pria itu tidak ada. Tapi pertanyaannya sampai kapan ia akan terus berpura – pura sama seperti ia terus berpura – pura kalau ia baik – baik saja?.
"Huh" Tampa sadar ia menghembuskan nafas berat. Dadanya benar – benar terasa sesak.
"Dia mantan loe ya?".
Vio refleks menoleh. Sedikit mengernyit mendapati wajah Ivan yang lurus menatapnya. Menanti kalimat jawaban keluar dari mulut mungilnya.
"Herry, Gebetannya Silvi" Ivan menambahkan.
"heh, Gimana gue bisa menganggap loe nggak ada kalo loe jelas jelas bisa ngomong" balas Vio mencibir membuat Ivan tersenyum salah tingkah. Sejujurnya ia sendiri tidak tau kenapa ia bertanya.
"Kalau gitu loe nggak perlu menjawab".
Susana kembali hening. Keduanya kembali terdiam sambil terus melangkah. Saat sampai di dekat taman Vio membelokan langkahnyam. Duduk berdiam diri di bawah pohon sambil menatap langit.
"Bukan".
"Eh?".
"Dia bukan mantan gue" Sambung Vio tanpa menoleh walau ia tau Ivan sedang menatapnya heran. "Walau gue pernah suka sama dia".
"he?" Kali ini Ivan jelas melotot mendegar pengakuan lirih Vio barusan.
"Masih" Vio menegaskan.
Kali ini ia menoleh. Berhadapan langsung dengan wajah Ivan yang jelas heran sekaligus merasa tak percaya. Tapi yang di tatap hanya diam saja. Tidak bereaksi. Mungkin lebih tepatnya tidak tau harus bereaksi seperti apa. Membuat Vio mencibir sinis dan segera mengalihkan tatapannya kembali kearah langit. Menatap awan yang berarak dalam keheningan.
"Untuk menghindari dia, gue pindah kampus dengan harapan rasa sakit gue bisa sedikit terobati. Siapa yang menyangka, justru dikampus baru ini gue malah bertemu loe. Seseorang yang sudah terkenal sebagai playboy kelas kakap, yang jadiin gue taruhan sepuluh juta. Dan seolah itu belom cukup, Kenyataan baru muncul, sosok yang bikin gue patah hati ternyata gebetan baru sahabat gue. Menurut loe, kurang apa coba derita gue?" Sambung Vio lagi.
Ivan menunduk dalam dengan mulut terkunci. Tak tau perasaan apa yang merambati hatinya. Yang ia tau, ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Rasa bersalah secara berlahan namun pasti merasuk kerelung batinnya. Melihat raut terluka di wajah Vio, meyakinkannya. Gadis itu tidak sedang bercanda.
"Gue jadi berfikir, Kesalahan apa yang dulu pernah gue lakuin sampai sepahit ini takdir yang harus gue jalani?" Lanjut Vio membuat tangan Ivan terkepal erat.
"Leo punya jawabannya?".
"Glek".
Ivan tampak menelan ludah. Pertanyaan Vio jelas menohoknya. Memangnya jawaban seperti apa yang bisa ia berikan?.
"Jika tidak, Berdiam dirilah. Anggap aja loe nggak pernah denger cerita apapun dari mulut gue. Gue pengen menatap langit dalam keheningan. Leo sendiri bilang gue boleh nganggap loe nggak ada kan?".
Selesai berkata tangan vio terulur merogoh tas sandangnya. Mencari Ipod kesayanganya. Menyambungkan headset kekedua telinganya. Lagu Yang ku sayang miliknya letto mengalun lembut. Entah mengapa peperapa hari ini ia begitu menyukai dua bait lirik yang ada pada lagu itu. Bahkan tanpa sadar mulutnya sudah ikut mendendangkan.
"Hidup terlalu singkat untuk tak berbuat
hidup terlalu indah untuk tak berubah"
Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 08
Selesai mengunci pintu pagar rumahnya dengan santai Vio melangkah. Menuju halte bus yang akan membawanya ke kampus. Namun belum juga lima langkah, sebuah klakson telah terlebih dahulu mengagetkannya. Membuatnya mau tak mau terpaksa menoleh. Menghembuskan nafas kesel saat mendapati cengiran lebar di wajah Ivan.
"Loe nggak keberatan motor gue parkir di depan kostan loe lagi?".
"Tentu saja gue keberatan" Balas Vio ketus.
"He he " Ivan tampak mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara Vio sendiri terdiam. Matanya mengawasi sosok yang berdiri di hadapanya dari atas kepala sampai ujung kaki. Ya ampun, ni orang makin hari kok makin keren aja si. Pujinya dalam hati.
"Dari pada loe parkir di sana, mendingan loe boncengin gue".
"Eh?" kening Ivan berkerut bingung. Ragu akan kalimat yang ia dengar barusan.
"Kalo loe keberatan, ya sudah. Gue naik bus aja" Vio angkat bahu sambil berniat berbalik pergi. Tapi dengan cepat Ivan menahannya.
"Tentu saja tidak. Ayo naik" Sahut Ivan cepat membuat senyum samar tergambar di wajah Vio.
"Kok tumben si, loe mau boncengan sama gue?" tanya Ivan setelah motor mereka mulai melaju.
"Bukan karena gue keberatan, tapi gue heran aja" Sambung Ivan lagi tak memberi kesempatan Vio untuk menyela ucapannya..
"Setelah gue pikir – pikir. Dari pada loe gue anggurin kayaknya mendingan gue manfaatin deh. Lagi pula kan lumayan . Gue bisa hemat juga. Nggak perlu lagi bayar biaya ongkos. Gue kan bukan anak orang kaya kalau loe belom tau" Sahut Vio santai namun jelas menyindir.
"Jawaban apa itu" Gerut Ivan kesel.
"Ha ha ha, Kenapa loe kesel. Asal tau aja ya, Sebaik – baik manusia itu adalah yang hidupnya bermanfaat" Tambah Vio sama sekali tak merasa bersalah." Jadi loe nggak boleh marah kalau di manfaatin"Sambungnya lagi.
"Tapi gue kan bukan orang baik" Gumam Ivan mengerutu tak jelas. Vio sendiri justru pura – pura tak mendengarnya.
Begitu sampai di kampus, tatapan tak bersahabat langsung Vio dapatkan. Tapi ia bersikap cuek saja. Tak terlalu mengambil pusing. Menurutnya hidupnya terlalu berharga untuk di habiskan memikirkan tanggapan negatif orang padanya bukan?.
"Vio".
Vio yang baru saja turun dari jog belakang Ivan langsung menoleh. Mendapati Silvi yang berdiri tak jauh darinya. Sepertinya ia juga baru tiba. Dan Vio hanya mampu menghela nafas saat menyadari kalau Silvi tidak sendiri. Herry masih duduk di atas motor di sampingnya. Bukti nyata kalau cowok itu datang bersamanya.
"Loe nggak papa kan?".
Vio hanya melirik sekilas kearah Ivan yang berbisik padanya. Hei memangnya dia kenapa?.
"Loe baru datang?" tanya Vio sambil melangkah menghampiri.
"Kok loe bareng sama IVan?" Silvi balik bertanya. Mengabaikan pertanyaan Vio yang terlontar duluan.
"Tadi dia jemut gue" balas Vio malas. Apalagi ia jelas menyadari tatapan tajam Herry yang terjurus padanya.
"Kalian pacaran?".
Mata Vio sontak membulat. Tempakan langsung dari Harry jelas menohoknya. Memangnya dia cewek apa an. Baru beberapa saat yang lalu ia di buat patah hati olehnya bisa langsung mendapatkan pengantinya.
"Tentu saja tidak" Jawab Vio kesel.
"Tapi gue suka sama dia".
Bukan hanya Silvi yang menoleh, Harry juga ikut mengalihkan tatapannya kearah Ivan yang kini berjalan menghampiri mereka dengan santainya padahal jelas – jelas Vio sedang melemarkan tatapan tajam padanya.
"Apa?" tanya Harry tak percaya. Ivan hanya angkat bahu sambil tersenyum manis kearah Vio.
"Sebagai taruhan sepuluh juta" Silvi menambahkan sambil mencibir sinis. Membuat kerutan bingung semakin bertambah di wajah Harry. Ditatapnya gebetannya itu yang kini tampak sedang adu tatapan bersama Ivan. Sementara Vio hanya mampu mengusap keningnya yang mendadak terasa pusing. Kacau…
"Maksut loe apa Silvi?" tanya Harry kemudian.
"Iya. Ivan ini playboy, Dan dia secara sengaja bikin taruhan sama teman – temannya buat macarin Vio dengan bayaran Sepuluh juta" Terang Silvi.
Dan semuanya terjadi begitu cepat. Vio sendiri tidak menyadari bagaimana kronologinya. Yang ia tau saat ini Ivan telah terdampari di tanah sambil mengusap wajahnya, sedikit darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Di hadapannya Harry berdiri dengan emosi. Kalau saja tidak di tahan dengan kuat oleh Silvi, bisa di pastikan pukulan selanjutnya akan melayang.
"Loe bener – bener berengsek. Leo tau nggak si, tindakan loe jelas bisa melukai hati Vio" Geram Harry kalap.
Berlahan Ivan berdiri. Menghadap langsung kearah Harry dengan tatapan jelas menantang.
"Leo yakin loe nggak lebih brengsek dari gue" Serang IVan balik.
"Maksut loe?" sambar Silvi bingung.
"Cukup. Ivan ayo kita pergi" Vio angkat bicara saat mencium situasi yang tak enak. Tidak, ia harus mencegahnya. Silvi tidak boleh tau masalah ini. Atau gadis itu juga akan terluka.
"Tapi…".
Plaks.
Sebuah tamparan mendarat di wajah Ivan. Membuat pria itu terbungkam seribu bahasa sambil menatap Vio tak percaya. Vio sendiri jadi merasa bersalah. Ya ampun, apa yang baru saja ia lakukan?. Menampar Ivan?.
"Ayo kita pergi".
Kali ini Vio gantian meraih tangan Ivan. Menyeretnya berlalu pergi. Meninggalkan tatapan kaget, bingung plus tak percaya. Bukan hanya di wajah Harry dan Silvi. Tapi juga di wajah hampri semua mahasiswa dan mahasiswi yang ikut menyaksikan adegan barusan.Can't Believe it.
To be continue….
Ha ha ha, Penulis no coment deh. Langsung umpetan di kolong meja. :p

Random Posts

  • Cerpen Sedih “Akhir Rasa Ini”

    Guys, cerpen sedih akhir rasa ini edit version. Nggak tau sih ada yang ngeh atau nggak kalau karya karya di sini mulai di edit lagi satu persatu. Tapi yang jelas admin lagi berusaha. Soalnya suka malu sendiri kalau baca ulang. Baru ngeh kalau ternyata EYD banyak yang ancur, typo bertebaran di mana – mana. Ck ck ck. Sekedar info, cerpen sedih yang satu ini adalah awal untuk cerbung ketika cinta harus memilih. Maksutnya sebelum baca cerita yang itu bagusan baca cerita yang ini dulu.*** Setiap kisah kadang memang tak selalu berakhir indah. Tapi bukan kan dalam setiap kisah kita selalu berharap hal yang indah…****** Kita tidak dapat hidup 'hanya' dengan harapan saja, tapi percayalah, kita juga tidak dapat hidup 'tanpa' harapan. ***Dengan langkah tegap Rangga berjalan melewati sepanjang koridor sekolah. Sebuah senyuman manis tak pernah lepas dari wajah. Sepertinya suasana hatinya sedang benar – benar bagus. Angannya melayang Entah kemana. Yang jelas masih tetap seputar 'Cisa'. Mengingat tentang pertemuan pertama mereka.Sebenernya pertemuan itu hanya sebuah pertemuan sederhana. Pertemuan tak sengaja yang terjadi di toko buku beberapa waktu dulu. Saat itu ia sedang mencari buku. Tepat saat tangannya terulur untuk meraih sebuah novel Twilight karya Stephenie Meyer, tak di duga sebuah tangan yang lain juga sedang berusaha untuk mengambil objek yang sama. Dan saat pandangannya berbalik, ia benar – benar merasa jantung nya seakan berhenti berdetak. Saat itu ia berharap agar waktu untuk sejenak terhenti. Tatapannya sama sekali tidak bisa teralihkan dari sosok imut yang ada di hadapannya. Seolah pemilik mata bening tersebut telah menghipnotisnya. Rangga langsung yakin kalau itu adalah cinta pandang pertama."Eh, kak Rangga?"Teguran itu segera menyadarkannya. Dan ia hanya mampu tersenyum malu sambil mengaruk kepala yang tidak gatal saat mendapati gadis itu menatapnya bingung."Ehem, eh Cisa. Lagi nyari buku juga ya?" tanya Ranga terlihat sedikit salah tingkah."Iya nih. Kakak sendiri? Nyari buku juga ya?" Tanya Cisa sambil mengalihkan tatapnnya kearah tangan Rangga dimana karya Stephenie Meyer berada."Ya gitu deh.""Memangnya kakak suka baca novel juga?""He?" kening Rangga sedikit berkerut mendengarnya. Ia kan paling anti baca novel. Lagi pula dari pada baca novel mendingan juga cari tutorial SEO (????). Tapi ia segera paham maksutnya saat melihat tatapan Cisa yang terarah pada buku yang ada di tangannya."Oh ini?" kata Rangga sambil menunjukkan tangannya. Cisa hanya mengangguk membenarkan."Yupz. Twilight. Kisah cinta Romantis antara manusia dan Vampir," ujar gadis itu menegaskan."Memangnya Cisa udah baca?"."Udah donk. Coba aja deh kakak baca. Pasti nanti ketagihan," terang Cisa meyakinkan.Dan itu lah pertemuan pertama mereka. Di susul pertemuan pertemuan yang selanjutnya Yang tanpa di sangka berhasil membuat Rangga semakin jatuh hati padanya. Namun sayang, disaat cinta itu mulai tumbuh bersemi, di saat yang sama ia juga harus di paksa menerima kenyataan kalau ternyata Cisa sudah memiliki pacar yang tak lain adalah teman sekelasnya sendiri. Tapi selama janur kuning masih belum belum melengkung semuanya masih sah sah saja kan? he he he. Lagi pula selama ini hubungan mereka tetap masih lancar – lancar saja tanpa gangguan. Bukankah kesannya ia masih memiliki harapan untuk memenangkan hati gadis itu?."Dooor"."Wua…!!!" jerit Rangga segera membalikan tubuhnya sambil mengayunkan kepalan tangannya dengan sekuat tenaga. Bisa di pastikan siapapun yang bernasip sial menjadi sasaran bogem mentahnya, minimal pasti akan terbaring di rumah sakit selama seminggu. O,o"Hu…. Loe kalo kaget gerak refleksnya benar – benar menyeramkan," kata Fadhly. Sahabat karibnya yang kini sedang berjongkok tepat dibelakangnya. Sepertinya ia sudah mengantisipasi diri akan kemungkinan yang menimpanya jika mengagetkan makluk satu itu."Salah sendiri main kaget – kagetin sembarangan. Sayang tadi nggak kena," balas Rangga tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah membuat sahabatnya sempat berada dalam bahaya. Fadhly hanya membalas dengan cibiran. Tanpa banyak komentar lagi, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kekelas.Namun, langkah Rangga tiba – tiba berhenti tanpa komando. Secara otomatis, Fadly yang berjalan di balakang menabrak punggungnya. Belum sempat pertanyaan bernada protes meluncur dari mulutnya, mata Fadly sudah terlebih dahulu menemukan objek yang membuat langkah Rangga tadi sempat terhenti. Untuk sejenak di tariknya nafas dalam – dalam sebelum kemudian tangannya terulur kearah pundak Rangga."Cisa lagi. Sudah lah sob. Dia kan sudah punya pacar. Mendingan loe cari cewek laen aja. Secara di dunia ini masih banyak kok cewek yang lebih baik dari dia," Kata Fadly berusaha menasehati."Ngomong itu memang gampang, karena bukan loe yang ngerasain. Masalahnya, gue itu udah terlanjur suka sama dia. Mana mungkin gue bisa dengan mudahnya ngelupain dia. Apa lagi jelas dia itu terlihat selalu memberi harapan. Dia nggak pernah nolak gue atau pun berusaha untuk menghindar dari gue.""Tapi loe nggak bisa terus seperti ini. Ini namanya loe nyakitin diri loe sendiri. Sebagai sahabat gue coba ngasih saran sama loe. Terserah mau loe pake atau nggak. Mending loe tegasin hubungan loe sama dia itu kayak apa. Dari pada semuanya semakin terlanjur."Selesai berkata Fadly segera berlalu meninggalkan Rangga yang tampak masih berdiri terpaku. Sepertinya pria itu sedang berusaha untuk mencerna ucapannya barusan.Atas saran dari Fadly yang terus bermain di kepalanya, akhirnya Rangga memantapkan hati. Setelah terlebih dahulu menghela nafas, Rangga mengklik tombol 'send' dari hanphondnya. Jantungnya berdetak cepat menadti balasan dari apa yang baru saja di ketiknya."Cisa, sebenernya bagaimana si perasaan mu selama ini. Cisa Cinta nggak si sama kakak? Terus sampai kapan kakak harus menunggu yang tak pasti."Satu detik, dua detik bahkan sampai sepuluh menit berlalu. Masih hening. Membuat Rangga semakin gelisah karenanya. Barulah pada menit ke lima belas, hanphond bergetar tanda ada pesan masuk. Dengan jantung dag dig dug di lihatnya id pengirim. Nama 'Cisa' yang tertera di layar. Dengan amat berlahan di bukanya pesan tersebut. Di bacanya dengan hati – hati untaian demi untain kata yang tertera. Bagai difonis mati dari sang hakim di pengadilan saat ia menyelesaikan bacaannya. Lututnya terasa goyah seolah tak mampu menahan berat tubuhnya. Tak Disangka penantianya selama ini berakhir sia – sia. Cintanya benar – benar bertepuk sebelah tangan. Segera di rebahkan tubuh keatas kasur kamarnya. Anganya menerawang tinggi. Berharap semua ini hanya mimpi. Namun kata – demi kata yang baru saja di baca kembali terus berputar di kepalanya dengan jelas. Menyadarkannya bahwa ini semua adalah nyata."Maaf kak, sebenarnya Cisa juga bingung akan perasaan Cisa sendiri.Deket kakak memang membuat nyaman, namun tidak lebih dari itu.Jadi sebaiknya kakak jangan berharap dan meunggu lagi ya, karena nyatanya Cisa sudah punya pacar.Dan kalau memang kakak sayang sama cisa, silahkan cari cewek lain yang lebih pantas.Lagi pula bukankah pepatah bilang "Kalau memang jodoh kita pasti ketemu lagi".Ending…Judulnya aja cerpen sedih, jadi jelas donk endingnya nggak bahagia. Tapi seperti yang admin katakan sebelumnya, ini hanyalah awal dari kisah yang lebih panjang. Jelasnya langsung simak Ketika cinta harus memilih yang kebetulan juga memang sudah end. Oke?Detail CeritaJudul cerpen : Akhir rasa ini / Akhir kisah iniPenulis : Ana MeryaPanjang : 1.002 kataIde cerita : Lagunya papinka 'dimana hatimu', 'betapa' miliknya Sheila on 7, 'super girl' nya super junior and pengalaman temen di campur ide acak lainnya.Genre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Remaja Kala Cinta Menyapa ~ 11

    Jejak hidupku adalah untain kata yang tersemat di blog. Yang kurangkai semauku untuk mengisi waktu luang. Hanya untuk menunjukan bahwa aku pernah ada.So, For All. Aku harap kalian juga melakukan hal yang sama. Tinggalkan lah jejaknya supaya aku juga tau, kalau "reader" itu beneran ada. Untuk part sebelumnya silahkan baca "-} Cerpen remaja kala cinta menyapa Part 10Dengan langkah lunglai Rani berlalu dari hadapan Erwin dan Syintia. Angannya melayang ke masa – masa yang telah lalu. Akan kedekatannya dan Erwin . Tanpa sadar di helanya nafas berat. Rasa sesak melingkupi hatinya saat dengan berat hati ia harus mengakui kalau ia benar – benar telah jatuh cinta pada cowok itu.sebagian

  • Cerita Nggak Nyambung ‘Cilela Sendal Jepit

    Alkisah, pada zaman sekarang di tahun 2012 terdapatlah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Antah Berantah. Dimana kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang Raja yang sangat adil dan bijaksana. Diceritakan Raja tersebut memiliki 3 orang putra mahkota. Yang pertama, pangeran Romero yang telah menikah dengan Putri Juliyati. Yang kedua Pangeran Romo yang telah menikan dengan Dewi Siti. Sementara yang terakhir, Pangeran Sapaajaboyeh yang telah menikah dengan…. .Eh? Ehem, maksutnya belum menikah.Pada suatu hari, sang Raja mengundang seluruh rakyatnya untuk berkumpul di pelataran istana karena akan memberikan pengumuman yang sangat penting terkait dengan masalah putra bungsunya yang konon sedang jatuh cinta. Maka berkumpullah rakyat dengan berbondong – bondong.Cilela Sendal Jepit"Baiklah rakyat ku sekalian. Hari ini aku mengumpulkan kalian semua karena putra bungsu ku, Pangeran Sapaajaboyeh sedang jatuh cinta pada salah seorang diantara kalian yang telah menyelamatkannya saat jatuh tersungkur kedalam sumur ketika sedang berjalan – jalan kemaren. Tapi untung lah ada yang menyelamatkannya. Dan sebelum ia beneran pingsan ia sempat melihat kalau yang menolongnya adalah seorang wanita muda. Tapi begitu ia sadar, wanita itu sudah tidak ada. Namun sebelum pergi sepertinya ia telah meninggalkan sebelah sandal jepitnya," terang sang Raja, sementara sang rakyat mendengarkan dengan penuh hikmat."Untuk itu, aku akan mengadakan sayembara.”Tiba – tiba ada salah seorang rakyatnya yang mengangkat tangan."Interupsi paduka Raja.”"Silahkan…" kata sang Raja yang memang sudah terkenal dengan sikap kerakyatannya dan menganut sistem Demokrasi dimana rakyatnya bebas mengeluarkan pendapat."Apakah kami semua mendapat jatah 'Snack?" tanya rakyat itu yang mau tak mau membuat kening sang Raja berkerut bingung."Apa maksutmu?" tanya Raja lagi."Begini Raja. Kami memang bukan sedang mengadakan Rapat Paripurna yang penting sehingga biasanya harus di berikan uang saku tambahan. Tapi paling tidak tetap saja saat ini kami sedang berdiri 'Rapat – rapat'. Jadi tidak ada salahnya kan jika kiranya paduka berkenan memberikan kami sedikit snack."Sang Raja mengangguk – angguk mendengarnya. Setelah perpikir beberapa saat akhirnya ia memerintahkan pengawalnya untuk memberikan snack yang di maksut."Baiklah, karena kalian sudah mendapatkan snacknya, kalau begitu sekarang kita bisa langsung melakukan sayembara bahwa seluruh warga wanita harus mencobanya. Dan jika ternyata kakinya cocok dengan sendal jepit ini maka akan langsung dinikahkan dengan sang Pangeran Sapaajaboyeh.”"Intrupsi Paduka Raja," tiba – tiba ada lagi salah seorang rakyanya yang tampak mengacungkan tangan."Silahkan.”"Apakah sayembara ini hanya berlaku untuk wanita?""Ya!" Jawab Raja tegas."Begini paduka. Istri saya, mertua saya, nenek saya dan anak saya yang baru di lahirkan kemaren sore juga wanita, apakah juga di harus kan untuk ikut?”"Oh tidak …. tidak … tidak. Saya yakin orang yang menolong saya kemaren adalah wanita muda, walau saya hanya melihat punggungnya saat mulai melangkah menjauh," Pangeran Sapaajaboyeh yang sedari tadi terdiam mendengarkan langsung angkat bicara.Sang Raja mengangguk – angguk membenarkan. "Baiklah, peraturan di rubah. Sayembara ini hanya berlaku untuk rakyat yang merasa dirinya wanita yang masih berumur antara 17 sampai 21 tahun saja. Dan diharuskan belum menikah," tambah sang raja menerangkan.Dan sebelum sayembara pencocokan sendal jepit benar – benar di langsungkan tanpak seorang rakyat yang mengacungkan tangannya lagi."Apa ada interupsi lagi?" tanya sang Raja."Sebenernya begini paduka. Mungkin ini memang tidak berhubungan sama sekali dengan sayembara yang paduka adakan. Tapi sebagai rakyat, saya benar – benar penasaran. Karena kemaren saya tidak sempat menonton berita.”"Apa maksutmu?" Tanya Raja terlihat binggung."Saya hanya ingin tau Soal keputusan Rapat Paripurna kemaren. BBM jadi naik gak si?".Gubrak…..Raja tanpak mengaruk – garuk kepalanya. Terlihat bingung akan pertanyaan yang benar – benar tidak nyambung."Sebagai negara kerajaan, yang kesehariaannya lebih sering menggunakan kuda. Apakah kenaikan BBM berpengaruh dengan kelangsungan hidupmu?" bukannya menjawab sang Raja malah balik bertanya."Eits jangan salah Paduka. Walaupun saya wong ndeso, Tapi bapak saya kalau mau pergi norget* juga pake motor. Dan Motor itu perlu BBM," ,awab sang rakyat."Memangnya bapak mu norget?" tanya sang Raja lagi."Oh maksut saya itu ibu saya paduka," sang Rakyat meralat."Jadi ibumu bisa naik motor?"."Eh… e…bukan. Sebenernya adik saya paduka," terang rakyat terlihat sedikit salah tingkah."Sejak kapan adikmu mau disuruh norget?" kejar sang raja lagi."Baiklah paduka. Sebenernya tadi saya berbohong. Yang norget itu saja," aku sang rakyat sambil menunduk malu. Sama sekali tidak berani menatap wajah rajanya. Sementara sang Raja hanya tersenyum maklum."Rakyat ku sekalian, untuk pertanyaan tentang BBM yang baru saja di pertanyakan saya tidak bisa menjawabnya karena saya bukan presiden. Tapi dugaan saya sementara melihat harga yang di jual di SPBU masih normal sepertinya itu hanya kejutan April Mop. Ya maklum lah kemaren rapatnya kan di penghujung bulan Maret,” terang Raja panjang lebar. Sementara Sang rakyat kembali mangut – mangut. Entah beneran mengerti atau memang hanya sekedar formalitas."OKE, Back to topic. Bisakah sayembara ini kita mulai.”"Siap Raja!!!".Akhirnya di mulailah acara pencocokan sendal jepit. Hari juga sudah semakin sore, snack juga sudah habis tapi ternyata masih belum ditemukan siapa gerangan sang pemilik sandal. Sampai tiba lah giliran peserta yang terakhir. Begitu melihatnya Sang Pangeran Sapaajaboyeh langsung deg deg an. Memangsi ia tidak bisa melihat seluruh wajahnya karena tertutupi oleh selendang yang ia bawa dan terlihat menyembunikan diri, Tapi begitu melihat poster tubuh serta wanginya juga tingkah lakunya yang gemulai, Pangeran langsung yakin kalau orang itu lah yang telah menyelamatkannya. Terlebih ternyata sendal jepit itu benar – benar pas dikakiknya. Perhatian semua orang segera terjurus kearah putri tersebut yang masih terlihat menunduk malu. Tangan nya juga terlihat memilin – milin ujung selendang yang ia bawa yang secara sadar atau tidak justru malah membuat Sang pangeran makin terpesona sekaligus meyakini bahwa love at first sight itu beneran ada."Apakah sendal jepit ini milikmu?" tanya tanya Raja hati – hati.Wanita itu hanya membalas dengan anggukan."Selain sendal ini yang pas di kakimu bisakah kau membuktikannya dengan cara lain?" tanya Raja lagi. Tanpa menjawab wanita itu segera mengeluarkan sesuatu dari tas yang sedari tadi tersembunyi di balik selendang. Dan ternyata itu adalah pasangan sendal jepitnya. Melihat itu hati Pangeran Sapaajaboyeh semakin berbunga – bunga."Kalau begitu, maukah kau menikah dengan putraku?".Semuanya menunggu dengan harap – harap cemas. Tapi sang wanita hanya terdiam. Sepertinya sedang berpikir – pikir. Setelah beberapa saat barulah ia mengangguk walaupun masih terlihat ragu. Sementara sang pangeran mati – matian menahan diri untuk tidak langsung berlari memeluknya."Kalau begitu sudikah kiranya dirimu memperkenalkan diri. Siapa gerangan namamu dan segala hal tengangmu.”Wanita itu segera mengangkat wajahnya. Tangannya sedikit demi sedikit melepaskan selendang yang sedari tadi menghalangi wajah mulusnya. Begitu melihat nya, Sang pangeran langsung merasa seperti kehabisan oksigen. Napasnya terasa nyesek. Wajah itu benar – benar telah memukaunya. Benar – benar sulit untuk mempercayai sosok yang kini berdiri di hadapannya."Ehem…. Kenalin sang raja. Nama eike Cilela. Jelas Aja akika mau banget kalo di jodohin Sama Pangeran. Keren Gila bo'. Pangeran lagi. ….!!!!. I lope you…….!!!" suara pertama yang keluar dari makluk jadi – jadian di hadapan Raja benar – benar mengagetkan semua orang.Dan untuk sedetik yang terasa lama, mulut Pangeran terdiam. Barulah pada detik berikutnya terdengar teriakan sekaligus ratapan yang mengemparkan seluruh jagat Raya."TIDAK!!!!!!!!!!!!!"Ending….Penulis : Ana MeryaJumlah kata : 1158 wordsDitulis pada : 03 April 2012

  • GARA-GARA SI BENDA BUNDAR

    GARA-GARA SI BENDA BUNDARoleh: Putria. Pebriana. Sitanggang Cuaca cerah dan sejuk menyelimuti Kota Tambun tepatnya di GOR Tambun. Nabila dan teman-teman seteamnya sedang menunggu waktu pertandingan mereka. Nabila atau biasa dipanggil Bela adalah seorang atlet basket disekolahnya. Dia dikenal sebagai gadis yang baik, ceria dan bertanggung jawab. Maka, tak heran dia diberi kepercayaan menjadi wakil kapten di klub kesayangannya yaitu “DWI WARNA”. Memang bukan pertama kalinya team tersebut mengikuti perlombaan Libala Cup. Sudah dua kali Nabila mengikuti pertandingan tersebut. Tahun lalu Bela dan teman-teman seteamnya mendapatkan juara ke-1 di Libala.Saat sedang bermain passing-passingan bola, tak sengaja temannya melempar jauh bola itu. Dan mau tidak mau Bela mengambilnya, ternyata bola tersebut terjatuh didepan seorang cowok berwajah tampan, berpostur tinggi. Ia adalah Reigy pemain basket dari klub “GALAXI”, Reigy seorang cowok jutek namun humoris. Ia pun memberikan bola tersebut kepada Bela.“Nih bolanya” sambil memberikan bola kearah Bela.“Terima kasih ya, udah ngambilkan bola ini.” Sambil mengambil bola tersebut.“Iya sama-sama, lo dari klub mana?” Tanya Reigy.“gw dari klub DWI WARNA, kalau lo?” tutur Bela.“Oh, gw sih dari klub GALAXI, lo udah tanding? Ucap Reigy.“Udah kok, tadi pertandingan pertama.” Sambil tersenyum.“oh, terus menang ya, hmm kalo gw sih nanti pertandingan terakhir.” Ungkap Reigy.“iya team gw menang, wah semangat ya moga menang. Hmm yaudah gw pergi ya thank loh atas semuannya.” sambil melambaikan tangan.“makasih loh sportnya, iya sama sama.”tersenyumlah Reigy seketika.Cowok itu seperti merasakan hal yang berbeda saat bertemu dengan Bela. Ternyata ia jatuh cinta terhadap Bela, begitu pun sebaliknya. Tanpa disadari mereka memikirkan satu sama lain, Reigy ingin sekali meminta nomor hp Bela namun dia tidak berani memintanya. Waktu pun menunjukkan pukul 16.33 sore, saat itulah team “GALAXI” akan bertanding melawan team “STAR”. Bela yang mendukung team “GALAXI” di tribun penonton, selalu tersenyum jika memandang Reigy. Cowok itu membuat Bela tak henti-hentinya memikirkan wajahnya. Sambil bersorak sorak, Bela mendukung Reigy. Akhirnya team “GALAXI” menuaikan kemenangan dengan skor 45-32. Team “GALAXI” dan “DWI WARNA” mendapatkan juara pertama di tournament LIBALA tersebut.Saat upacara penutupan dan pemberian hadiah bagi para pemenang, Reigy dan Bela pun menjadi perwakilan dari setiap klub. Hati Bela sangat senang saat bersampingan dengan cowok tersebut. Tak disangka, mereka berphoto bersama saat pemberian Piala penghargaan itu. Reigy pun merasa senang dapat berdekatan dan tersenyum bersama kala itu. Selesailah upacara penutupan tournament LIBALA. Para peserta tournament itu pun telah meninggalkan Gor itu. Reigy yang mencari Bela dikerumunan orang sangat khawatir bila tidak menemukan cewek itu. Namun, saat ia berdiri dan memandangi satu persatu orang orang didepannya tiba tiba ada seorang gadis menepuk punggungnya. Ternyata gadis itu adalah Bela.“Hai, ngapain lo disini oiya dari tadi kita belum kenalan gw Nabila panggil aja Bela.” Sambil mengulurkan tangannya.“hmm iya gw Reigy.”sambil berjabat tangan dengan Bela.“oh iya, lo mau pulang ya yah kita gak bisa ketemu lagi deh.”“iya, haha iya yah, hmm gw boleh minta nomor hp lo gak?" Tutur Reigy.“oh boleh kok nih number gw.”sambil mengucapkan nomor handphonenya.“terima kasih ya, oiya lo pulang kemana?” Tanya Reigy.“sama sama, gw pulang ke Cikarang Utara gy, kalo lo pulang kemana?” Ucap Bela.“hah? Cikarang Utara looh kita searah dong, emangnya lo tinggal dimana?” Tanya Reigy.“hah masa? Wah dunia sempit banget ya, haha gw tinggal di dekat Perum Kebon Kopi, kalau lo tinggal dimana?” ungkap Bela.“wah wah dekat dengan gw dong, gw tinggal di Perum Puri Cikarang Hijau.”Jawab Reigy.“haha,, kok bisa gitu ya, apakah takdir?”“jika ini suatu takdir, wah bersyukur banget gw, oh ya lo pulang sama siapa?”Tanya Reigy.“haha,, gw juga, sama…” omongan Bela pun terputus saat bunyi klakson mobil.“tinn.. tinn. Tiinnnn”“eh itu bokap gw, yaudah gw pergi ya, bye.” sambil melambaikan tangan.“bye juga , hati hati ya Bel.” Sambil tersenyum.Hari demi hari pun terlewati, Bela dan Reigy menjadi sangat dekat semenjak tournament LIBALA tersebut. Mereka sering smsan ataupun telfonan, bahkan sering pergi jalan bersama. Reigy yang merasa sangat menyayangi Bela pun mengatakan isi hatinya kepada Bela saat berjalan jalan di sebuah taman.“Bel,, gw boleh ngomong sesuatu tidak?” Tanya Reigy.“lo mau ngomong apa gy? Silahkan ngomong aja.” Jawab Bela.“Sebenarnya gw suka sama lo saat pertama kita ketemu, gw baru bisa jujur sekarang selama ini gw coba memberanikan diri tapi saat inilah gw baru berani mengatakannya.”“hah” Bela pun terdiam sejenak.“kenapa, lo gak suka ya sama gw? Yaudah gakpapa kok kita bisa berteman kaya dulu lagi kan ?”“bukan itu, tapi sebenarnya gw juga suka sama lo hanya saja gw belum percaya lo mengatakan itu sama gw.” Ucap Bela.“yang bener berarti lo mau jadi pacar gw Bel?” Tanya Reigy.“iya gw mau gy.” sambil tersenyum.Akhirnya Reigy dan Bela pun berpacaran menjalani kisah cinta di masa remajanya.——————-SELESAI——————–Pengarang : Putria. Pebriana. SitanggangTTL : Tangerang, 16 Februari 1997Tempat Tinggal : Kebon Kopi, rt 04 rw 06 kec cikarang utara kab bekasi prov jawa baratSekolah : SMP Negeri 3 Cikarang UtaraFacebook : Febriana Alineal Sichii ImotoosanTwitter : @Put_putstang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*