Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 08

Huwaaaaaa!!!. Kok cerpen terbaru take my heart nya ini jadi begini yak?. Ck ck ck, makin kacau bo'. Gara – gara siapa maren yang bilang, lupa saia. Pake nyuruh acara berantem segala. Hade….
Over all, ya sudah lah. Lanjutkan saja. ^_^
Untuk part sebelumnya bisa bace :
-} Cerpen terbaru Take My Heart part 7


Bus melaju dalam keheningan. Keduanya masih sibuk dengan jalan pikirannya masing masing. Bahkan tak terasa bus sudah berhenti di tempat tujuan. Dengan berlahan Vio melangkah turun. Di belakangnya Ivan masih setia mengikuti.
Sambil terus melangkah Vio melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih terlalu dini untuk langsung mendekam di kostan. Lagi pula sejujurnya pikirannya masih kusut. Ia butuh sedikit penyegaran. Menatap langit sore sepertinya menyenangkan. Hanya saja menyadari kehadiaran makhluk yang tak di inginkan masih berada di sampingnya membuatnya merasa ragu.
"Loe boleh terus menganggap gue nggak ada kalau loe mau" Ivan akhinya bersuara saat mendapati lirikan risih Vio padanya.
"Ehem".
Vio hanya berdehem walau tak urung membenarkan ucapan Ivan barusan. Benar juga, ia hanya perlu berpura – pura kalau pria itu tidak ada. Tapi pertanyaannya sampai kapan ia akan terus berpura – pura sama seperti ia terus berpura – pura kalau ia baik – baik saja?.
"Huh" Tampa sadar ia menghembuskan nafas berat. Dadanya benar – benar terasa sesak.
"Dia mantan loe ya?".
Vio refleks menoleh. Sedikit mengernyit mendapati wajah Ivan yang lurus menatapnya. Menanti kalimat jawaban keluar dari mulut mungilnya.
"Herry, Gebetannya Silvi" Ivan menambahkan.
"heh, Gimana gue bisa menganggap loe nggak ada kalo loe jelas jelas bisa ngomong" balas Vio mencibir membuat Ivan tersenyum salah tingkah. Sejujurnya ia sendiri tidak tau kenapa ia bertanya.
"Kalau gitu loe nggak perlu menjawab".
Susana kembali hening. Keduanya kembali terdiam sambil terus melangkah. Saat sampai di dekat taman Vio membelokan langkahnyam. Duduk berdiam diri di bawah pohon sambil menatap langit.
"Bukan".
"Eh?".
"Dia bukan mantan gue" Sambung Vio tanpa menoleh walau ia tau Ivan sedang menatapnya heran. "Walau gue pernah suka sama dia".
"he?" Kali ini Ivan jelas melotot mendegar pengakuan lirih Vio barusan.
"Masih" Vio menegaskan.
Kali ini ia menoleh. Berhadapan langsung dengan wajah Ivan yang jelas heran sekaligus merasa tak percaya. Tapi yang di tatap hanya diam saja. Tidak bereaksi. Mungkin lebih tepatnya tidak tau harus bereaksi seperti apa. Membuat Vio mencibir sinis dan segera mengalihkan tatapannya kembali kearah langit. Menatap awan yang berarak dalam keheningan.
"Untuk menghindari dia, gue pindah kampus dengan harapan rasa sakit gue bisa sedikit terobati. Siapa yang menyangka, justru dikampus baru ini gue malah bertemu loe. Seseorang yang sudah terkenal sebagai playboy kelas kakap, yang jadiin gue taruhan sepuluh juta. Dan seolah itu belom cukup, Kenyataan baru muncul, sosok yang bikin gue patah hati ternyata gebetan baru sahabat gue. Menurut loe, kurang apa coba derita gue?" Sambung Vio lagi.
Ivan menunduk dalam dengan mulut terkunci. Tak tau perasaan apa yang merambati hatinya. Yang ia tau, ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Rasa bersalah secara berlahan namun pasti merasuk kerelung batinnya. Melihat raut terluka di wajah Vio, meyakinkannya. Gadis itu tidak sedang bercanda.
"Gue jadi berfikir, Kesalahan apa yang dulu pernah gue lakuin sampai sepahit ini takdir yang harus gue jalani?" Lanjut Vio membuat tangan Ivan terkepal erat.
"Leo punya jawabannya?".
"Glek".
Ivan tampak menelan ludah. Pertanyaan Vio jelas menohoknya. Memangnya jawaban seperti apa yang bisa ia berikan?.
"Jika tidak, Berdiam dirilah. Anggap aja loe nggak pernah denger cerita apapun dari mulut gue. Gue pengen menatap langit dalam keheningan. Leo sendiri bilang gue boleh nganggap loe nggak ada kan?".
Selesai berkata tangan vio terulur merogoh tas sandangnya. Mencari Ipod kesayanganya. Menyambungkan headset kekedua telinganya. Lagu Yang ku sayang miliknya letto mengalun lembut. Entah mengapa peperapa hari ini ia begitu menyukai dua bait lirik yang ada pada lagu itu. Bahkan tanpa sadar mulutnya sudah ikut mendendangkan.
"Hidup terlalu singkat untuk tak berbuat
hidup terlalu indah untuk tak berubah"
Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 08
Selesai mengunci pintu pagar rumahnya dengan santai Vio melangkah. Menuju halte bus yang akan membawanya ke kampus. Namun belum juga lima langkah, sebuah klakson telah terlebih dahulu mengagetkannya. Membuatnya mau tak mau terpaksa menoleh. Menghembuskan nafas kesel saat mendapati cengiran lebar di wajah Ivan.
"Loe nggak keberatan motor gue parkir di depan kostan loe lagi?".
"Tentu saja gue keberatan" Balas Vio ketus.
"He he " Ivan tampak mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara Vio sendiri terdiam. Matanya mengawasi sosok yang berdiri di hadapanya dari atas kepala sampai ujung kaki. Ya ampun, ni orang makin hari kok makin keren aja si. Pujinya dalam hati.
"Dari pada loe parkir di sana, mendingan loe boncengin gue".
"Eh?" kening Ivan berkerut bingung. Ragu akan kalimat yang ia dengar barusan.
"Kalo loe keberatan, ya sudah. Gue naik bus aja" Vio angkat bahu sambil berniat berbalik pergi. Tapi dengan cepat Ivan menahannya.
"Tentu saja tidak. Ayo naik" Sahut Ivan cepat membuat senyum samar tergambar di wajah Vio.
"Kok tumben si, loe mau boncengan sama gue?" tanya Ivan setelah motor mereka mulai melaju.
"Bukan karena gue keberatan, tapi gue heran aja" Sambung Ivan lagi tak memberi kesempatan Vio untuk menyela ucapannya..
"Setelah gue pikir – pikir. Dari pada loe gue anggurin kayaknya mendingan gue manfaatin deh. Lagi pula kan lumayan . Gue bisa hemat juga. Nggak perlu lagi bayar biaya ongkos. Gue kan bukan anak orang kaya kalau loe belom tau" Sahut Vio santai namun jelas menyindir.
"Jawaban apa itu" Gerut Ivan kesel.
"Ha ha ha, Kenapa loe kesel. Asal tau aja ya, Sebaik – baik manusia itu adalah yang hidupnya bermanfaat" Tambah Vio sama sekali tak merasa bersalah." Jadi loe nggak boleh marah kalau di manfaatin"Sambungnya lagi.
"Tapi gue kan bukan orang baik" Gumam Ivan mengerutu tak jelas. Vio sendiri justru pura – pura tak mendengarnya.
Begitu sampai di kampus, tatapan tak bersahabat langsung Vio dapatkan. Tapi ia bersikap cuek saja. Tak terlalu mengambil pusing. Menurutnya hidupnya terlalu berharga untuk di habiskan memikirkan tanggapan negatif orang padanya bukan?.
"Vio".
Vio yang baru saja turun dari jog belakang Ivan langsung menoleh. Mendapati Silvi yang berdiri tak jauh darinya. Sepertinya ia juga baru tiba. Dan Vio hanya mampu menghela nafas saat menyadari kalau Silvi tidak sendiri. Herry masih duduk di atas motor di sampingnya. Bukti nyata kalau cowok itu datang bersamanya.
"Loe nggak papa kan?".
Vio hanya melirik sekilas kearah Ivan yang berbisik padanya. Hei memangnya dia kenapa?.
"Loe baru datang?" tanya Vio sambil melangkah menghampiri.
"Kok loe bareng sama IVan?" Silvi balik bertanya. Mengabaikan pertanyaan Vio yang terlontar duluan.
"Tadi dia jemut gue" balas Vio malas. Apalagi ia jelas menyadari tatapan tajam Herry yang terjurus padanya.
"Kalian pacaran?".
Mata Vio sontak membulat. Tempakan langsung dari Harry jelas menohoknya. Memangnya dia cewek apa an. Baru beberapa saat yang lalu ia di buat patah hati olehnya bisa langsung mendapatkan pengantinya.
"Tentu saja tidak" Jawab Vio kesel.
"Tapi gue suka sama dia".
Bukan hanya Silvi yang menoleh, Harry juga ikut mengalihkan tatapannya kearah Ivan yang kini berjalan menghampiri mereka dengan santainya padahal jelas – jelas Vio sedang melemarkan tatapan tajam padanya.
"Apa?" tanya Harry tak percaya. Ivan hanya angkat bahu sambil tersenyum manis kearah Vio.
"Sebagai taruhan sepuluh juta" Silvi menambahkan sambil mencibir sinis. Membuat kerutan bingung semakin bertambah di wajah Harry. Ditatapnya gebetannya itu yang kini tampak sedang adu tatapan bersama Ivan. Sementara Vio hanya mampu mengusap keningnya yang mendadak terasa pusing. Kacau…
"Maksut loe apa Silvi?" tanya Harry kemudian.
"Iya. Ivan ini playboy, Dan dia secara sengaja bikin taruhan sama teman – temannya buat macarin Vio dengan bayaran Sepuluh juta" Terang Silvi.
Dan semuanya terjadi begitu cepat. Vio sendiri tidak menyadari bagaimana kronologinya. Yang ia tau saat ini Ivan telah terdampari di tanah sambil mengusap wajahnya, sedikit darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Di hadapannya Harry berdiri dengan emosi. Kalau saja tidak di tahan dengan kuat oleh Silvi, bisa di pastikan pukulan selanjutnya akan melayang.
"Loe bener – bener berengsek. Leo tau nggak si, tindakan loe jelas bisa melukai hati Vio" Geram Harry kalap.
Berlahan Ivan berdiri. Menghadap langsung kearah Harry dengan tatapan jelas menantang.
"Leo yakin loe nggak lebih brengsek dari gue" Serang IVan balik.
"Maksut loe?" sambar Silvi bingung.
"Cukup. Ivan ayo kita pergi" Vio angkat bicara saat mencium situasi yang tak enak. Tidak, ia harus mencegahnya. Silvi tidak boleh tau masalah ini. Atau gadis itu juga akan terluka.
"Tapi…".
Plaks.
Sebuah tamparan mendarat di wajah Ivan. Membuat pria itu terbungkam seribu bahasa sambil menatap Vio tak percaya. Vio sendiri jadi merasa bersalah. Ya ampun, apa yang baru saja ia lakukan?. Menampar Ivan?.
"Ayo kita pergi".
Kali ini Vio gantian meraih tangan Ivan. Menyeretnya berlalu pergi. Meninggalkan tatapan kaget, bingung plus tak percaya. Bukan hanya di wajah Harry dan Silvi. Tapi juga di wajah hampri semua mahasiswa dan mahasiswi yang ikut menyaksikan adegan barusan.Can't Believe it.
To be continue….
Ha ha ha, Penulis no coment deh. Langsung umpetan di kolong meja. :p

Random Posts

  • Ketika Cinta Harus memilih 01 | Cerpen Terbaru

    Ketika Cinta Harus Memilih_ Part 1. Status cerpen, repost dengan pengubahan seperlunya. Buat Reader lama mungkin sudah pernah membacanya, and buat newreader, selamat membaca. Happy Reading…. :DKetika Cinta Harus MemilihCinta berlalu di hadapan kita.terbalut dalam kerendahan hati.Tetapi kita lari darinya dalam ketakutan.Atau bersembunyi dalam kegelapan;Atau yang lain mengejarnya.Untuk berbuat jahat atas namanya.~kahlil gibran~."Prang…!!!".Terdengar suara pecahan vas bunga yang beradu dengan lantai akibat di banting dengan keras. Disusul suara teriakan saling adu mulut antara sepasang suami istri. Mengabaikan kenyataan ada seorang anak yang duduk terpaku di sudut kamar sambil menutupi kedua telinga mengunakan tangan – tangan kecilnya. Berusaha untuk menutup indra pendengarannya dari pertengkaran kedua orang tuanya yang sudah merupakan rutinitas sehari – harinya.sebagian

  • Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 08 | Cerpen cinta

    Adminnya pusing ni cerita mau di bawa kemana ala Armada. Pasalnya selain sosok Fajar, ternyata muncul sosok Defrin yang mendadak mengacaukan suasana. Penambahan tokoh lagi itu mustahil, tapi feel terhadap fajar mendadak menghilang Sementara posisi Andre jelas sudah tergantikan. (?????).He he he, Reader bingung gak sama kalimat pembukaanya. Yups, tips nulis biar fell nya dapat itu sebenarnya gampang. Cukup bayangin aja tokoh tokoh pelaku nya dengan orang – orang nyata di sekitar anda. Kelebihannya, nulis jadi gampang. Kekurangannya, ketika doi udah nggak menarik perhatian lagi, biasanya ide juga ikut ngilang. Iya…Biasanya sih gitu…. #DihajarMassaOkelah, kita lanjut aja ya sama Kenalkan aku pada cinta part 8 nya, untuk part sebelumnya silahkan di cek disini.Kenalkan Aku Pada Cinta Menatap indahnya senyuman di wajahmumembuatku terdiam dan terpakumengerti akan hadirmu di tempat yang terindahsaat kau peluk mesra tubuhku… "Banyak kata yang….."Mulut Astri yang ikut bersenandung kecil terhenti seiring dengan berhentinya musik yang mengalun dari radio yang ia stel di meja makan di dapurnya. Kepalanya menoleh, menatap penuh tanya sekaligus kesal kearah Rendy yang kini sedang menatapnya. Sepertinya kakaknya baru pulang.sebagian

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa VS Ferly ~ 01 / 08

    Mumpung dalam acara edit mengedit kenapa gak sekalian aja. Ha ha ha. Sekalian biar cerpennya juga rada rapi dikit. Ngomong ngomong, cerpen Vanessa Vs Ferly ini adalah cerpen karya dari adik admin sendiri. Yups, Mia Mulyani yang sekarang udah punya blog sendiri. Penasaran kisahnya? Simak langsung ke bawah aja ya…Vanessa vs FerlyHai, nama gue Vanes. Lengkapnya Vanessa Indri Pratiwi, gue anak baru satu tahun yang lalu, sekarang gue telah memduduki kelas II IPS B. Pertama gue masuk udah banyak yang naksir sama gue, tepat tiga bulan dikelas I, gue udah punya pacar yang keren.Tapi… baru 4 bulan jadian dia pergi menghilang, nggak pernah ngabarin gue dan udah sekitar 5 bulan yang lalu gue nggak pernah lagi berhubungan sama yang namanya ‘Joy’ dan sekarang gue juga nggak tau, apa gue masih punya hubungan sama Joy apa nggak, Cuma yang gue tau dia ninggalin gue tanpa kabar, dan sekarang hubungan gue ama dia sudah resmi berstatus pacaran tanpa hubungan. *Bukannya biasanya juga Hubungan Tanpa Status ya?*…Sejak saat itu gue udah nganggep kalau Joy udah mati, atau gue udah putus ama dia (walau sebenernya belom sih) dan sekarang gue udah bisa 100% ngelupain tuh anak. Gue harap gue nggak akan pernah ketemu lagi ama cowok brengsek itu.Di kelas baru ini gue punya 4 musuh besar, yang tak lain cowok banci bernama Ferly, Rafa, Radit, sama Galang. 4 cowok yang sok keren, sombong, nyebelin dan beberapa kata buruk buat mereka. Gue nggak tau awal musuhannya. Yang jelas mereka udah resmi jadi musuh gue sejak kelas I dulu, (kebetulan sekelas).Untung nya saat kelas II ini mereka terpisah kan, Rafa, Radit, sama Galang di kelas IPS C, sedang kan Ferly, di kelas II IPS B, sama kayak gue. Karna Ferly ketua geng nya, jadi gue bener-bener musuhan sama dia, karna sifatnya bener-bener nyebelin.Dulu waktu gue kelas I, gue di kerjain habis-habisan sama mereka. Secara 4 lawan 1 mana bisa menang, tapi gue jamin kalau satu lawan satu pasti gue bisa secara gue lihat si Ferly bener-bener kayak banci yang beraninya cuma sama cewek, keroyokan lagi. *Ha ha ha…. kalau dia tau gue cerita gini, pasti gue cuma bakal jadi sejarah. So… ssssttt…. ini biar jadi rahasia kita sja ya*…Dulu gue pernah di permaluin didepan anak-anak dengan cara nyiram gue pakai air, tambah tepung plus dilempari telor, *emang dikira gue mau dijadiin kueh apa??!!*. Ada juga kursi gue disangkutin di atas pohon jambu, buku pr gue hilang, dikasi kado berisi kodok, nyeburin gue kekolam renang belakang sekolah, dikonci dikamar mandi, hingga membocorkan ban mobil gue?!!? *Kurang apa coba deritanya*Nah rese banget kan??? Walau gue juga nggak tinggal diam, soalnya gue selalu membalas perbuatan mereka dengan cara coret-coret buku pr mereka, bikin motor mereka mogok, narok obat cuci perut di makanan mereka, narok lem di kursi dan membuat sesuatu yang paling nggak disukai mereka, tapi tetep aja gue masih bete..Gue heran kenapa sih mereka jahil banget sama gue? Perasan anak lain nggak pernah mendapat perlakuan kayak gue deh, apa karna gue imut, baek hati, tidak sombong n rajin menabung ya?.. *Plaks. Gak nyambung*. Ya mungkin karena gue nggak pernah ngalah sama mereka?? Makanya mereka pada mau ngelakuin dengan cara apapun agar gue minta maaf kemereka??? Ih sorry ya… mau mereka ngerjain gue kayak apa juga jangan harap gue mau minta maaf.Dan sekarang gue satu kelas sama ketua geng mereka ‘Ferly’ dan gue pasti ngebales semua perbuatan mereka kegue dulu, gue bakal bikin masa-masa kelas II Ferly berakhir nggak menyenangkan dan membuat dia nggak bisa ngelupain masa-masa kelas II SMU nya. *Ke ke ke/ Evil Smirk*Aduh, pengenalannya kepanjangan ya? Abis gue bete banget ama mereka, udah lah lihat aja apa yang bakal gue lakuin ke ketua geng itu, tunggu ‘PEMBALASAN’ gue!!!*** Vanessa VS Ferly ***Aduh!!! Vanesa bener-bener bingung nih, gimana caranya ngebales perbuatan 4 banci itu. Tuhan bantu donk… gimana caranya ngebales perbuatan mereka… tiba-tiba mata vanesa tertuju pada bunga mawar di meja guru… AHA!!! Ide Brilian nyangut di otaknya, ha, ha, ha, mampus loe, bakal kerjain loe dengan bunga mawar itu, tunggu aja.Saat jam pelajaran ke dua dimulai, Bu Vivid sedang asik menjelaskan materi hari ini, dan Vanesa sudah stand by untuk ngerjain Ferly yang duduk tepat didepannya. Terlebih Bu Vivid juga tampak sedang asik menulis dipapan tulis, sementara teman teman yang lain juga fokus pada bukunya. Hal itu tentu memberi kesempatan pada Vanessa untuk melancarkan aksinya tanpa ketahuan.Vanessa terus memperhatikan Ferly yang asik menulis tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintai dirinya. Saat sedang asik menulis, ia tiba tiba menghentikan gegiatannya. Sepertinya pulpennya kehabisan tinta. Yang tidak Ferly ketahui adalah itu terjadi karena Vanessa baru saja menukar benda tersebut. Untuk melanjutkan aktifitasnya, Ferly mencari didalam tas dan kemudaian beralih kelaci meja, saat keluar tangannya memegang sekuntum mawar merah. Untuk sejenak, Ferly terlihat bingung, matanya mengamati sekuntum mawar ditangan dengan heran.“Mawar? Mawar siapa nih,” gumamnya pelan. Disaat bersamaan, Vanesa melancarkan aksinya. Ia segera melemparkan sebuat kertas yang sudah ia bentuk sedemikian rupa dan langsung melemparkan ke depat. Tepat mengenai kepala Bu Vivid. Yes berhasil!!!“Aduh!!!!” jerit Bu Vivid mengagetkan anak yang lain *lebay nie guru, Baru kena timpuk kertas aja udah nyeritnya sekenceng itu gimana kalau ketimpuk duren*. Refleks semua menatap kedepan karna kaget tak terkecuali Ferly, Bu Vivid memungut kertas kuelan itu dan mengangkatnya.“Siapa yang sudah melampar surat kaleng ini?” tanya Bu Vivid.Semua anak-anak pada diam sambil melihat kesekeliling mencari sesuatu."Aduh maaf ya buk bukan mau kurang ajar, tapi cuma mau ngerjain Ferly aja kok, maaf ya buk," batin Vanessa dalam hati.“Nggak ada yang mau ngaku?” tanyanya lagi, dan kelas kembali hening, Bu Vivid pun membuka kuelan surat kaleng itu dan membaca isinya dengan lantang.“Bu vivid tersayang, yang cantik jelita bagaikan bidadari yang turun dari kayangan *gombal. Mau muntah gue nulisnya*, saya mau bilang sesuatu sama ibuk, tapi saya harap ibuk nggak marah , kalau ibuk marah saya bakal sedih banget, saya Cuma mau bilang kalau saya, sebenernya… sayanaaaang banget sama ibuk. Tertanda yang mengagumi mu ‘mawar merah'" Bu vivid mengakhiri bacaannya. “Oh siapakan yang telah menulis surat ini. Romantiiis banget…” kata Bu vivid sambil pasang wajah ganjennya *idih… Malu-maluin banget nie guru*, dan anak-anak yang lain termasuk Vanessa tertawa secara Bu Vivid itukan tingkat ke PeDe an N tingkat kenarsisannya sudah memasuki tahap dewa ngalahin ‘bik surti’ di sinetron ‘putri yang ditukar’ yang sering muncul di salah satu stasiun swasta di Indonesia.Bu vivid pun segera melakukan penelitian sampai kemudian tatapannya terhenti dimeja Ferly yang masih memegangi bunga mawar merah *nie anak emang lola coneknya. Percis kayak modem My Brother*. Tampak wajah Bu vivid berseri-seri menatapnya yang membuat Ferly jadi panas dingin, Bu Vivid langsung menghampiri Ferly.“Aduh prasaan gue nggak enak nih,” kata Ferly sambil mengelap keringat dingin didahinya.“Kamu itu bener-bener romantis ya Fer…” kata Bu Vivid sambil senyum-senyum kearah Ferly.“ha!!! Ada… apa ya buk?” tanya Ferly“Alah udah nggak usah sembunyi kayak gitu, kamu kan yang udah nulis surat ini?” tanya Bu Vivid.“Ha!!! Bu… bu… bukan kok buk,” balas Ferly mendadak gagap.“Udah ngaku aja, ibu nggak keberatan kok ya…” balas Bu Vivid sambil senyum-senyum, sementara Ferly udah merinding secara ia bener-bener ilfeel sama guru yang satu ini.“Beneran Bu, ini tu bukan aku yang nulis, pasti ada yang mau ngerjain aku Bu.”“Kamu ini kok malu-malu begitu sih, kalau cinta itu nggak ada malu-malu kita. Harus jujur”. *Tapikan nggak harus malu-maluin juga kaleee…../ Betul????!!!!*.“Tapi itu beneran bukan aku yang ngelakuin buk, kali aja anak yang lain,” Ferly berusaha untuk membela diri sementara anak-anak yang lain udah tertawa terpingkal-pingkal apalagi Vanessa. ini mah beneran lawak gratis.“Sudah lah Fer, ngaku aja. Loe juga sering kan cerita ama gue kalau loe itu naksir ama Bu vivid, udah ngaku aja mumpung masih ada orang nya."Tampang FerlY sudah persis kayak orang yang habis ke selek biji kedondong mendengar omongan vanesa barusan. “Loe apa-apaan sih Van? Ini tu bukan gue!” bentak Ferly.“Lah itu buktinya ditangan loe,” Vanessa tak mau kalah untuk memperkisruh keadaan.“Ha!!! Maksud loe ini??” tanya nya sambil menunjukkn bunga mawar yang berada ditangannya.“Ia. Kan yang ngirim ‘mawar merah’ itu kamu kan?” kata Bu vivid.“Enggak buk, beneran deh ini tu aku temuin di laci meja dan… mawar merah ini bukan milik aku. Juga bukan aku yang nulis surat itu,” Ferly mencoba untuk menyakinkan..“Udah ngaku aja!”“Beneran bukan aku buk, sumpah deh jadi orang kaya *takutnya low sumpah disambar geledek entar disambar beneran lagi*. Tadi yang melempar itu dari belakang,” kata Ferly sambil menunjuk meja Vanessa “Haaa ia dari sini, pasti elo kan van yang udah ngelakuin ini!” tuduh Ferly langsung.“ha!!! Gue?? Yang bener saja lah, masa gue sih Fer. Elo tu jangan lempar tangan sembunyi batu ya, eh salah lempar batu sembunyi tangan ya,” kata Vanessa dan anak-anak langsung tertawa mendengarnya, aduh kok pakai acara kebalik segala sih,… bego, bego, bego..“Eh, loe tu jangan membalikkan fakta ya. Gue tu mana mungkin, pasti elo sengaja kan ngelakuin ini” tuduh Ferly.“ha!!! Enak aja loe, kalau gue yang ngelakuin ini, emang motif gue apa coba?” Vanesa tidak mau kalah..“Ya mau ngerjain gue lah, loe kan dendam banget ama gue karena sering gue kerjain,” balas Ferly.“Eh loe tu kalau mikir pakai dengkul donk, eh maksudnya jangan pakai dengkul donk. Itu sama aja gue ngerjain Bu vivid, mana mungkin lah, udah tinggal ngaku aja juga. Lagian ibu Juga barusan denger kan bu. Low dia tu sering banget ngerjain aku. Palingan kali ini dia juga mau ngerjain ibu," ucapan Vanessa makin membuat Ferly tidak bisa berkutik. Pria itu segera sadar kalau sepertinya ia telah masuk jebakan.“Bu… Bu… bukan gitu buk. Lagian buat apa aku ngerjain ibu. Mana mungkin lah."“Maling mana ada yang mau ngaku” ledek Vanessa.“ia iya lah kalau maling ngaku penjara penuh bego, tapi beneran buk bukan aku yang ngelakuin itu..” kata Ferly.“Loe tu ya…”“Apa!!!”“sudah, sudah, cukup!!! Kalian pikir ini hutan apa, teriak-teriak!! ini tu sekolah ya bukan hutan. Ya sudah sekarang Ferly kamu ikut ibk sekarang kekantor. Kamu harus jelasin ini semua,” tandas Bu vivid.Perintah itu tak urung membuat Vanessa tersenyum puas. Ha,ha,ha mampus loe..!!!“Ha??? Lho buk, tapi kan…”“Udah nggak ada tapi-tapian, ayo ikut” kata Bu Vivid.“Baik buk…” kata Ferly akhirnya mengalah. Sebelum pergi ia sempat menoleh kearah Vanesa. “Awas loe…” ancamnya sebelum benar benar berlalu.“Weeeek….” bukannya takut, Vanessa justru mlaha menjulurkan lidihnya, mengejek. Akhirnya 1 masalah Beres, mampus loe!!! Syukurin. Pasti loe nggak bakal bisa keluar dari ruangan guru centil itu, ha,ha, emang enak. Dan pastinya loe bakal di introgasi habis-habisan disana. Wek,wek,wek,wek…Oke, Next to Cerpen benci jadi cinta vanessa vs ferly part 2Detail CerpenJudul : Vanessa vs FerlyPenulis : Mia MulyaniPanjang : 1.707 WordsGenre : RemajaStatus : Complete

  • Cerpen Keluarga: DIA TETAP AYAHKU

    DIA TETAP AYAHKUoleh: Umi KulsumNama ku Raka Putra Pratama ,Usiaku 17 tahun sekarang aku duduk di kelas 2 SMU, Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara.Aku memiliki adik perempuan namanya Raya Putri Pratama (Aya), usianya 16 tahun dan dia duduk di kelas 1 SMU. Kita bersekolah di tempat yang sama. Kami lahir dari keluarga yang cukup sederhana.Ayah dan Bunda ku adalah harta yang paling berharga yang aku miliki,karena dia selalu membawa keceriaan dalam hidup kami.Pagi ini, Aku masih terlelap dalam tidurku terdengar suara Bunda memanggilku,“Raka..bangun ayo kita solat subuh berjama’ah”panggil Bunda dari balik pintu kamar ku“iya bun..nanti aku menyusul”jawabku dengan malasAku pun beranjak dari tempat tidurku. Solat subuh berjamaah bersama ayah,Bunda dan Raya adalah kewajiban yang selalu kami lakukan setiap pagi.Seusai solat kami semua bersiap untuk melakukan aktivitas masing-masing,Terlihat bunda yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk kami.“Pagi bun..”sapa ku “Pagi sayang, Ayah dan Aya mana kok belum turun”tanya bunda ketika melihat aku seorang diri duduk di meja makan“Masih di atas bun”jawabku“Huh..lama banget yah mereka”ucap bunda“Ya.bun padahal perutku udah keroncongan ni”ucapku protes“Sabar yah sayang ,tunggu mereka turun dulu,bentar lagi juga turun”jawab bunda sambil membelai lembut rambutkuTak lama Ayah dan Aya pun terlihat menuruni tangga“pagi bunda, pagi jagoan ayah “sapa ayah ketika melihat aku dan ibu yang sudah menunggu“Pagi yah,lama banget sih, cacing di perut aku dah pada demo ni”protes ku pada ayah“maaf sayang, ya udah ayo kita makan”ucap ayahDan Ayah pun memimpin do’a sebelum kita makan,Seusai makan ayah pun mengantarkan aku dan Aya untuk ke sekolah.“Oya..hari minggu kalian ada acara ga?”tanya ayah pada ku dan Raya sambil mengendarai mobilnya“ga ada yah,kenapa“jawab Raya“Ayah mau ajak kalian jalan-jalan”jawab ayah tersenyum “asiik ayo yah “sambar Raya dengan penuh semangat“minggu kemarin kan kita udah jalan-jalan yah, emang mau kemana lagi?Bosen ah yah”ucap ku protes “iihh kakak minggu kan emang waktunya buat weekend”protes Raya“rencananya ayah mau ngajak kalian ke panti asuhan, kenapa Raka ga bisa ikut?kalau raka ga ikut berarti ga jadi dong”ucap ayah dengan wajah kecewa“kenapa ke panti yah,mending kita ke taman cibodas yah”ucap Raya keberatan “Habis ayah bosen kalau jalan-jalan ke luar cuman buat weekend doang, ke panti lebih seru di sana banyak orang-orang yang bisa kita buat bahagia udah gitu dapet pahala pula”ujar ayah “ide bagus tuh yah, kan kita dah lama ga kesana, kalau kesana mah aku semangat yah”jawabku penuh semangat“yah ke panti, mau ga mau harus ikut”Jawab Aya tak lagi bersemangat“Sayang kan kita juga harus berbagi sama orang lain”jawab ayah sambil mengelus rambut aya“iya ayah”jawab raya penuh senyumTak terasa kami pun sampai di gerbang sekolah,Aku dan Raya pun berpamitan pada ayah dan keluar dari mobil.Waktu terus berjalan pelajaran terakhir di kelas XI IPA 2 yaitu bahasa indonesia, Di sisa waktu pelajaran kami semua di suruh Pak Wandi guru bahasa indonesia untuk membuat cerita tentang sosok seorang ayah bagi kami.Dengan penuh semangat dan tanpa ragu aku pun langsung menuliskan semua isi pikiran dan hati ku tentang seorang ayah.Tak terasa kini giliran aku harus maju ke depan tanpa ragu aku pun maju kedepan kelas“Saya akan menceritan sosok seorang Pratama Putra yaitu ayah saya. Dia adalah seorang ayah yang menjadi pelabuhan hati aku untuk mengadu, Segala perjuangan yang dia lakukan selama ini hanya untuk aku,adik ku dan bundaku.Dia adalah teladan bagi ku. Aku ingin seperti dia yang selalu membawa kebahagiaan,Canda dan tawa di sisi kami.Dia tak pernah gentar untuk menggoreskan senyuman di bibir kami. Tak pernah terbayang oleh ku bila dia harus pergi dalam hidupku.Mungkin lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu agar aku tidak pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan dia. Ayah kau segalanya untukku jangan pernah berubah sedikitpun dan tetap bersama kami di sini. anugrah terindah yang tuhan berikan padaku yaitu ketika aku terlahir di keluarga ini.Mempunyai ayah dan bunda yang begitu sempurna untuk ku.yang mengajarkan aku untuk menjadii yang terbaik untuk semua orang. Inilah sosok ayah bagiku terima kasih”Ucapku memaparkan tulisan yang telah ku buatSuasana kelaspun menjadi ramai karena sambutan tepuk tangan dari teman-temanku.Terlihat Pak Wandi yang tersenyum mendengar tulisan aku.Bel tanda usai pelajaran pun berbunyi. Aku bersiap untuk pulang ke rumah.Namun ketika aku hendak pergi melangkah keluar kelas. Terdengar suara pak Wandi memanggil ku. “Raka”panggil Pak WandiPanggilan pak Wandi menghentikan langkahku, Aku pun menghampiri Pak Wandi“Ada apa pak??”tanya ku pada pak wandi“Tulisan kamu tadi bagus sekali,Bapak ingin kamu membawakan tulisan kamu saat pembagian rapot, Kamu bisa menambahkan tulisan kamu lagi. Kamu mau kan?”ucap pak wandi penuh harapan“mm..gimana yah pak,Saya tidak terlalu percaya diri untuk membawakan tulisan ini,di depan orang banyak pak!”jajwab ku ragu“kenapa harus tidak percaya diri tulisan kamu itu bagus sekali. Bapak hanya ingin memberikan contoh pada teman-teman kamu yang lainnya agar mereka bisa menghargai kedua orang tua mereka,dan bapak juga ingin menunjukan pada orang tua wali nanti bahwa begitu berharganya mereka dan betapa pentingnya suport mereka bagi anak-anak mereka untuk bisa melangkah maju ke depan”jelas pak wandi meyakinkan kuAku hanya terdiam penuhkeraguan mendengar ucapan pak wandi tadi, Melihat diriku terdiam pak wandipun berkata”Bapak yakin kamu bisa,masa kamu ga yakin sama diri kamu sendiri! Tenang bapak akan mengajarkan kamu intonasi pembacaan tulisan ini, biar nanti ayah dan ibu mu tambah bangga melihat penampilan kamu, Karena bapak ingin kamu terlihat perfect di penampilan ini”“oke pak saya sanggup”jawabku penuh semangat“nah gitu dong, mulai besok kita latihan yah,sekarang kamu pulang kalau bisa tambahin tulisan kamu oke!!”ucap pak Wandi“Siap pak”ucapku sambil melangkah meninggalkan pak wandi dan berpamitanMalam ini selesai makan malam, Tanpa membuang waktu aku bergegas untuk menyelesaikan tulisanku yang akan ku tambahkan sesuai amanat pak wandi tadi.“Ka mau kemana semangat amat”tanya bunda ketika melihat aku begitu bersemangat melangkah meninggalkan meja makan“iya ni.. mau kemana jagoan ayah”sambar ayah mengulangi pertanyaan bunda“ehh.. aku mau ke kamar, mau ngerjain tugas “jawab ku tersenyum“Oo ..ya udah sana kerjain tugasnya”ucap ayah“oya ka jangan malem-malem yah tidurnya. Inget waktu”ucap bunda mengingatkan aku“oke bos”jawab ku sambil mengacungkan jempol ku, Aku pun bergegas menuju kamarku, Lalu ku goreskan penaku ke dalam kertas untuk menulis semua yang aku rasa kan dan aku pikirkan, Aku baca kembali dan tak kala akupun menghapus kata-kata yang kurang nyambung lalu ku ganti oleh kata-kata yang lebih pantas. Tanpa terasa jam di kamarku menunjukan pukul 10. Aku pun menghentikan tugas ku ,lalu tidur terdengar suara bunda membuka pintu kamar ku, Untuk memastikan aku telah selesai mengerjakan tugas ku.Ketika melihat ku yang sudah terbaring bunda menghampiriku dan mencium lembut kening ini,lalu mematikan lampu kamarku dan pergi meninggalkanku.Siang ini seusai pulang sekolah Pak wandi menunggu ku untuk berlatih, sebelum latihan aku pun memberitahukan pada Raya bahwa hari ini aku tak bisa ikut pulang dengannya karena ada urusan, Tak ada satupun yang tahu bahwa aku akan tampil nanti di acara pembagian rapot selain pak wandi karena aku ingin memberi kejutan pada ayah,bunda dan adikku. Aku ingin ini semua menjadi benar-benar sebuah kejutan.Hari berganti hari tanpa lelah aku terus berlatih, agar aku bisa menampilkan yang terbaik nanti karena aku ingin semua bangga terhadapku dan tanpa menggoreskan sedikitpun rasa kecewa terutama pada pak Wandi yang telah memberikan kepercayaan pada diriku.Biasanya aku selesai latihan pukul 5 sore,setelah sampai di rumah aku mandi, solat magrib,mengaji, makan malam, lalu solat isya, dan setelah itu aku belajar hingga aku tertidur dan terbangun menjelang pagi saat azan subuh berkumandang.Tanpa terasa kini aku sudah begitu jarang berkumpul dengan keluarga ku.Malam ini aku terbangun dari lelapnya tidurku, Aku melihat waker di kamarku menunjukan pukul 2 . namun rasa ingin ke kamar mandi tak dapat aku tahan, dengan rasa kantuk yang menggelayut dimataku, akupun beranjak dari tempat tidurku dan ku buka pintu kamar,Aku turuni anak tangga satu persatu untuk menuju kamar mandi yang berada di bawah. Namun langkahku terhenti ketika aku melihat sosok seorang wanita yang aku kenal sedang tertidur pulas di sofa ruang keluarga.Ku hampiri sosok itu.“Tumben banget bunda tidur di sofa,ayah kemana yah??”gumam ku dalam hati begitu bingung ketika melihat bunda yang tertidur pulas di sofa.Rasanya aku tak tega harus membangunkan bunda yang begitu pulas tertidur, tapi aku juga tak tega bila harus melihat dia tertidur di atas sofa ini.Tanpa ragu aku pun melangkah ke kamar bunda untuk mengambilkan selimut dan bantal untuknya dan memakaikan bantal dan selimut pada tubuh bunda, Akhirnya aku putuskan untuk menemani bunda tidur di sofa.Pagi ini bunda membangunkan aku yang tertidur lelap di sofa“sayang bangun”ucap bunda yang duduk di sampingku“ya bunda”jawabku “sayang kamu kenapa tidur di sofa”tanya bunda sambil mengelus rambutkuAku pun beranjak dari posisi tidurku dan berkata”iia.. bun semalem aku liat bunda tidur di sofa,jadi aku temenin deh bun abis aku ga tega liat bunda”Mendengar ucapan ku,bunda memeluk aku,lalu akupun melanjutkan ucapanku”bunda kenapa tidur di sofa??”Bunda hanya terdiam mendengar ucapan ku dan melepaskan pelukannya,sambil memegang tangan bunda aku pun berkata”bunda kenapa sih,kok diem aja!! Kan aku nanya sama bunda”“bunda ga apa-apa sayang,ya udah sekarang kamu ngambil wudhu kita solat subuh yah”ucap bunda sambil membelai rambutku dan pergi meninggalkan aku.Entah apa yang terjadi sama bunda,Namun aku tak bisa memaksa bunda untuk cerita padaku , Akupun langsung bangkit dan mengambil air wudhu. Pagi ini aku yang memimpin solat subuh seusai solat dan berdoa“bun ayah mana kok aku ga liat??”tanya aya yang heran karena pagi ini ayah tak ada“ayah ada urusan”jawab bunda singkat“urusan apa bun??ayah berangkat jam berapa atau malam ini ayah ga pulang”ucap ayaBunda hanya terdiam mendengar ucapan aya,Aku sangat menanti jawaban bunda karena hal itu yang menjadi salah satu pertanyaanku.“ayah pergi tadi pas kalian masih tidur,ayah ga sempet pamit sama kalian soalnya ada urusan mendadak”jawab bunda gugup“terus ayah semalem pulang jam berapa”tanya ayaSambil menatapku bunda lalu menjawab”jam 10 ayah udah pulang kan kamu udah tidur”Aku tau semua yang bunda ucapkan itu bohong,semalem aku ga liat ayah saat aku terbangun mengambilkan selimut untuk bunda di kamar bunda tak terlihat sosok ayah di sana,dan aku tau tatapan bunda tadi menyuruhku untuk bungkam tentang apa yang terjadi agar aya tidak berpikir apa-apa tentang ayah.Mendengar ucapan bunda aya pun percaya dan langsung pergi meninggalkan aku dan bunda“bunda”sapa ku menghentikan langkah bunda yang hendak pergi“kenapa sayang”jawab bunda begitu tenang“kenapa bunda lakuin ini semua??”tanya ku pada bunda“lakuin apa?”jawab bunda“kenapa bunda berbohong pada aya"ucapku menjelaskanBundapun terdiam sejenak dan berkata dengan lirih”cuman itu yang bisa bunda lakuin,soalnya bunda ga tau harus menjawab apa lagi kalau adikmu nanya tentang ayah”“bun cerita sama aku ada apa dengan ayah dan bunda, kenapa jadi kaya gini? Jangan bunda pendam sendiri,aku sudah dewasa bun, siapa tau aku bisa ngasih solusi atau membantu bunda menjawab pertanyaan Raya”ucapku “bunda ga tau harus cerita apa sama kamu, soalnya bunda juga ga tau apa penyebab ini semua. Nanti ketika bunda tau semuanya,Bunda janji aka cerita sama kamu,sekarang kamu siap-siap sana ke sekolah”jawab bunda“janji yah bun, buat cerita apa pun yang terjadi aku ga mau kalau bunda sedih”ucapku lalu ku peluk erat tubuh bundaSiang ini aku pulang seorang diri, Karena Raya meminta ijin padaku untuk pergi ke toko buku bersama temannya. Sesampai di depan gerbang terlihat mobil ayah terparkir di halaman rumah ku. Akupun mempercepat langkahku untuk melihat ayah.Karena memang beberapa hari ini aku tak bertemu ayah dan rasa rindu di hati ini sudah terlalu besar padanya. Ketika sampai di depan pintu, Ayah terlihat keluar dari dalam rumahku seorang diri“ayah”sapaku sambil mendekatinya“eh jagoan ayah sudah pulang,kok sendirian adikmu mana”tanya ayah ketika melihat aku seorang diri“dia tadi minta izin untuk ke toko buku”jawabku“maaf yah sayang ayah buru-buru,ayah pergi dulu yah”ucap ayah memeluk ku, lalu pergi meninggalkan aku“ayah mau kemana”tanya kuBelum sempat menjawab pertanyaanku,Ayah langsung mengendarai mobilnya.Dengan penuh rasa kecewa akupun masuk kedalam rumahku.“Assalamualaikum”sapakuBerkali-kali aku mengucapkan salam, Namun tak ada jawaban dari dalam rumah lalu aku pun memanggil bunda berkali-kali tapi sama saja tak ada jawaban.Aku langkahkan kakiku menuju kamar bunda.Ketika ku buka pintu kamar bunda. Aku melihat sosok seorang wanita yang sedang duduk tertunduk di pinggir tempat tidurnya“bunda”sapaku sambil menghampirinya“kamu udah pulang ka”jawab bunda dengan suara sendu dan berusaha mengusap air matanya“bunda kenapa?”tanya ku ketika melihat mata bunda yang sembab“ga apa-apa sayang,kamu sudah makan belum?”jawab bunda mengalihkan pertanyaanku“bunda jawab pertanyaan aku,bunda kenapa”tanya ku sekali lagi“bunda ga apa-apa sayang”jawab bunda“tadi pagi bunda janji mau cerita apa pun yang terjadi sama aku,tapi apa sekarang bunda sembunyiin semua ini”ucapku memohonBunda hanya terdiam,lalu aku pun meneruskan ucapanku”ayah yah bun??”Bunda pun memalingkan wajahnya dan menangis lirih, Melihat bunda akupun langsung memeluknya mencoba menenangkannya.“Apa yang ayah lakuin sampai bunda menangis begini”tanya ku kesal“ga ayah ga lakuin apa-apa,kami hanya bertengkar kecil kok. Sekarang kamu makan dulu yah,dan janji sama bunda jangan katakan hal ini sama Raya”ucap bunda berusaha menenangkan aku.Aku pun hanya mengngagukan kepalaku, dan pergi untuk makanMinggu pagi ini ketika usai solat subuh terlihat ayah terburu-buru hendak pergi entah kemana melihat itu semua Raya pun bertanya”ayah mau kemana kok buru-buru banget”“ayah ada urusan”jawab ayah singkat“ayah kan janji sama kita mau ke panti asuhan”ucap aya kecewa“ayah ga bisa ada urusan yang tak bisa ayah tinggalkan”jawab ayah“ayah urusannya besok aja,kan ayah udah janji sama aku mau jalan-jalan”ucap aya merengek“kamu tuh di bilang ayah banyak urusan berisik banget sih”jawab ayah dengan nada tinggiMendengar jawaban ayah Raya hanya tertunduk dan menangis. Dan ayah pun pergi begitu saja tanpa memperdulikan Raya bahkan tanpa berpamitan pada bunda.Melihat Raya menangis bunda pun menghampirinya untuk menenangkan dan memeluknya“bun kok ayah marah-marah sih”ucap raya lirih“ayah bukan marah-marah sayang, tapi ayah lagi pusing banyak kerjaan,Jadi kamu harus mengerti oke, sekarang hapus airmata kamu nanti kita jalan-jalan “ucap bunda menenangkan“aku udah ga mau jalan-jalan bun, aku pengen di rumah aja”ucap raya lalu pergi ke kamarnyaAku pun mendekati bunda yang duduk di sofa“Aku sekarang tau bun apa yang terjadi antara kalian?”ucapku sambil duduk di samping bunda“yah… kamu sudah cukup dewasa untuk memahami ini semua,jadi ga ada yang harus di sembunyiin lagi sama bunda”jawab bunda sambil memandang ku“ini kenapa bun?”tanya ku sambil ku pegang wajah cantik bunda yang memar“auw..”ucap bunda kesakitan“kenapa bun, kemarin aku lihat ga ada?ayah yah bun?”ucapku dengan nada khawatir“ga kok sayang, tadi pagi bunda ke jatuh di kamar mandi terus kebentur deh”ucap bunda“ga bohong kan bun?”ucap ku menegaskan“ga sayang”jawab bunda memelukkuHari ini adalah pembagian rapot, Hari yang sangat aku nantikan dan Aku berharap hari ini ayah dapat melihat penampilanku, Pagi ini ketika sarapan aku tak melihat sosok ayah ada di antara kita“bun ayah mana?”tanya ku“ayah ga pulang lagi sayang”jawab bunda begitu lirih“kemana bun?”tanyakuBelum sempat bunda menjawab pertanyaanku Raya telah menghampiri aku dan bunda“bun hari ini kita bagi rapot, bunda sama ayahk ke sekolah aku kan?”ucap Raya“mm…iya nanti bunda kesana”jawab bunda ragu-ragu“aku sama kakak berangkat duluan yah bun,soalnya kita mau prepare bun”ucap Raya“oke sayang”jawab bundaSetelah acara pembagian rapot selesai,Kini acara yang di nanti pun tiba.Saatnya penampilan aku. Ketika aku naik ke atas panggung terlihat bunda duduk seorang diri di kursi penonton, Rasa kecewa pun meliputi hati ku ini. Namun aku berusaha untuk tenang.“saya Raka Putra Pratama dari kelas XII IPA 1 akan membawakan puisi untuk semua ayah yang kami cintai”Ayah . . .Kaulah tempat yang menjadi pelabuhan hatiku untuk berkeluh kesahSeorang pejuang yang tak pernah menyerahYang tak pernah merasa getar untuk menggoreskan senyuman di bibir kamiDan tak pernah merasa lelah untuk memberikan yang terbaik untuk kamiAyah . . .Andai kau tau betapa berartinya dirimu bagikuBetapa sangat berharganya dirimu bagi kuDan kehadiranmu yang selalu ku tungguAyah. . . .Temanilah aku hingga akhir hidupkuJanganlah pernah berubah sedikitpunJangan tinggalkan akuBerjanjilah ayahTuhan. . .Jagalah selalu ayah kuLindungi selalu ayahkuDan selamatkan ia selaluTuhan . . .Ijinkan aku untuk bisa membuatnya bahagiaIjinkan aku untuk bisa membuatnya banggaIjinkan aku untuk bisa menggoreskan senyum kebahagian dan kebanggan di bibirnyaTuhan . . .Sampaikan padanya bahwa aku butuh diaBahwa aku mencintainyaBahwa aku tak akan menjadi apa-apa tanpanyaTuhan . . .Sungguh ku berterima kasih padamuAtas semua kebahagiaan iniAtas semua anugrah terindah yang kau berikan iniDan terima kasih kau berikan aku ayah dan bunda yang luar biasaTerima kasih untuk semuanyaAyah . . .Kau lah pahlawankuKau lah idola kuDan kau lah teladankuTerima kasih ayahUcap cinta ku padamuSepanjang masaTerlihat bunda yang menangis dari kursi penonton, Aku tau pasti bunda merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Moment yang aku tunggu hari ini datang juga walau aku berharap ayah hadir dan menyaksikan aku mengungkapkan semua isi hati ku ini. akupun turun dari panggung dengan sambutan tepuk tangan dari semua orang. Pak Wandi pun menyambutku dengan peluk hangat di bawah tangga dan berkata”kamu hebat raka,bapak yakin ayah kamu pasti bangga memiliki anak sepertimu”. Mendengar ucapan pak Wandi aku hanya bisa terdiam dalam pelukkannya.Sambil melepaskan pelukannya pak wandi pun berkata”Antarkan bapak pada Ayah mu”Dengan wajah tertunduk akupun menjawab”Ayah tak bisa hadir pak hari ini, Maka itulah yang membuat aku sangat kecewa pak, Hari yang saya nantikan, hal yang saya bayangkan akan begitu indah namun hanya menjadi bayangan dan tak mampu untuk menjadi sebuah kenyataan. Saya berharap ayahku yang menjemput aku saat turun dari atas panggung tersenyum bangga dan memelukku dengan penuh kebanggaan tapi itu semua..”ucapan ku lalu terdiam mendengar ucapan ku pak Wandi kembali memelukku“Kamu ga boleh sedih, mungkin memang ayahmu saat ini tak bisa datang,itu semua dia lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik nantinya buat kamu,adikmu dan bundamu”ucap pak Wandi begitu bijakMendengar ucapan itu aku begitu tenang ku hapus airmataku, lalu ku hampiri bunda di kursi penonton,Melihat kedatanganku Bunda menyambutku dengan pelukan erat darinya dan berkata”bunda bangga sama kamu amat sangat bangga”Ucapan Bunda membuat aku tak lagi menangis dan membuat aku untuk semakin tegar hadapi semua ini karena aku harus menemani bunda dan tak boleh sedikitpun lengah menjaga bunda dan Raya.“kakak..”sapa Raya sambil memeluk aku lalu berkata lagi”kakak super hebat, aku bangga sama kakak 2 jempol buat kakak”sambil menunjukan kedua jemari jempolnya”bunda..gimana rapot kita?”tanya RayaBunda pun langsung mengangkat kedua jempolnya”anak bunda dua-duanya hebat,kalian berdua dapat rengking 1 dan kamu raya masuk kelas IPA”ucap bunda lalu memeluk aku dan ayaSetelah pembagian rapot kemarin, kini libur panjang pun datang, berbeda jauh dengan liburan kemarin, Aku dan Raya hanya berdiam diri di rumah. Tetapi semua tetap mengasikan walau tanpa ayah. Beberapa minggu ini ayah tak pulang sejak pertengkarannya dengan bunda.Aku dan Raya pun sudah mulai terbiasa tanpa kehadiraanya,bahkan aku merasa bahwa kami sejak dahulu memang tak memiliki ayah. Dan mungkin Raya sudah mulai bosan bertanya tentang ayah dan mendengar jawaban bunda yang selalu bilang ayah sibukLMalam ini aku terbangun dari lelapnya tidurku, karena keringnya tenggorokan ini, dengan rasa malas dan kantuk aku turuni anak tangga satu per satu. Namun langkahku terhenti , ketika aku mendengar suara gundah dari kamar bunda dan ayah.“Ayah sudah pulang”ucapku pelan ketika hendak melangkah pergi tiba-tiba aku mendengar suara bunda yang sedang marah, membuat aku mengurungkan niatku untuk pergi dan aku pun berdiam diri di depan pintu kamar mereka sambil menlihat dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi ,“Aku tau mas sekarang mas memiliki wanita lain selain aku.Tak ada yang harus di sembunyikan lagi mas aku tau itu semua” terdengar suara bunda dengan nada sedikit tinggi“bagus kalau kamu tau,jadi saya ga harus bersusah payah menjelaskan padamu lagi”jawab ayah begitu santai“inget mas sama anak-anak, Aku rela mas sakitin,aku rela mas pukul sampai aku memar begini. Tapi aku mohon mas jangan pernah tinggalkan anak-anak dan buat mereka kecewa”ucap bunda menurunkan nada bicaranya “mereka sudah besar pasti mereka semua akan lebih mengerti”ucap ayah“ga segampang itu mas buat mereka mengerti,mas enak-enakan selingkuh, tapi apa mas pernah tau kalau anak-anak mas di sini nanyain mas,sampai-sampai aku bingung buat jawabnya. Dan saat pembagian rapot, Mas tau ga kalau raka jagoan mas nyiapin puisi buat mas. Dia berlatih berhari-hari berharap ayahnya liat penampilannya. Tapi apa??mas ga punya waktu buat mereka sama sekali mas,mas membuat mereka kecewa ” jawab bunda dengan lirih“Aahh.. saya ga peduli. Itu urusan kamu”ucap ayah“seenaknya mas ngomong begitu,sekarang apa sih mau mas, jangan terlantarin kita kaya gini”ucap bunda menangis“Saya ga pernah terlantarin kalian,Saya tetap memberi kamu nafkah,memberimu uang untuk keperluan kamu dan anak-anak”jawab ayah“bukan uang yang kami butuhkan,saya dan anak-anak cuman butuh kamu yang dulu”ucap bunda“saya bukanlah yang dulu lagi,saat ini saya sudah menemukan wanita yang benar-benar saya butuhkan dan saya cari”ucap ayah dengan nada tinggi“apa mas?mas tau apa yang mas ucapkan tadi,aku istri mas ,sakit mas hati aku.. dan jagan pernah salahkan aku kalau nanti mereka membenci mas, karena sikap mas seperti ini”ucap bunda sangat lirih“yang saya mau saat ini hanya ingin hidup bersama wanita yang saya cintai dan saya ga perduli akan apa yang terjadi nanti”jawab ayah“maksud mas”tanya bunda“saya ingin menceraikanmu”jawab ayah“jangan mas,gimana anak-anak??cukup saya yang tersakiti kasihanilah mereka”ucap bunda lirih“saya ga perduli”jawab ayah“mas aku mohon,jangan tinggalin aku sama anak-anak,biarkanlah aku di madu asal anak-anak masih memiliki ayah”ucap bunda sambil tekuk di hadapan ayah“wanita itu tidak ingin cintanya terbagi,dia ingin memiliki saya seutuhnya”ucap ayah“jangan mas,jangan ceraikan aku…”jawab bunda dengan derai airmata di pipinya“kamu tuh di bilangin susah banget sih”jawab ayah“tapi mas”belum sempat bunda melanjutkan kata-katanya tamparan keras dari ayah telah mendarat di wajah cantik bunda hingga dia terjatuh ke lantai.Melihat kejadian itu aku langsung berteriak”Bunda…”dan menghampiri bunda lalu memeluknyaTerlihat wajah ayah yang terkejut melihat kehadiranku,“cukup yah..jangan sakitin bunda lagi. Dan bunda cukup ga perlu mohon-mohon lagi sama ayah. Kita udah terbiasa bun hidup tanpa ayah, kalau saat ini ayah mau pergi,pergilah yah tapi satu hal yang harus ayah tau jangan lagi datang dan menemui kita dan ayah ga perlu kirim-kirim uang untuk biaya aku dan raya karena aku yang akan menggantikan ayah. Sku akan mencari uang bantu bunda, semua aku lakuin karena aku tak ingin di biayai oleh laki-laki yang sudah mencampakan aku,adikku dan terutama bundaku”ucapku “sejak kapan kamu mulai kurang ajar”jawab ayah sambil mengangkat tangannya untuk memekul ku“jangan mas,cukup aku yang kamu lukai jangan sekali-kali kamu sentuh anakku”sambar bunda dan melindungi aku“kenapa ayah mau pukul aku. Pukul yah kalau ayah emang belum puas nyakitin kita.aku salah besar ternyata , dulu aku ingin seperti ayah,ayah adalah teladan aku,idola bagi aku, tapi ternyata aku salah ayah sama sekali tidak pantas untuk di teladani bahkan di idolakan. Pergilah yah dan aku yakin suatu saat nanti ayah akan menyesal,pegang janji aku yah dan jangan sekali-kali berharap bisa menyentuh adik dan bundaku atau menyakiti mereka”ucapku llirih“Ayah akan pergi dan tunggu saja surat cerai yang akan saya ajukan ke pengadilan”ucap ayah sambil melangkah pergiSeperginya ayah aku berusaha untuk menenangkan bunda.“jadi selama ini wajah bunda memar karena ayah”ucapku pada bunda sambil membelai lembut wajah cantik bundaBunda hanya menganggukan kepalanya“kenapa bunda berbohong padaku”ucapku“bunda ga mau kalian sedih dan membenci ayah kalian”jawab bunda lirih“bunda sungguh kami ga akan pernah sedih kehilangan ayah seperti dia,bahkan aku lebih sedih kalau bunda tetap sama ayah dan terus di sakiti. Aku ga mau itu terjadi”jawabku sambil memeluk erat bunda“kalian memang yang terbaik buat bunda”ucap bunda memeluk erat tubuh iniBulan demi bulan telah berlalu Ayah dan Bundapun telah berpisah dan Raya pun telah mengetahui semua yang terjadi antara ayah dan bunda bahkan dia lebih dewasa menerima ini semua di bandingkan apa yang aku dan bunda bayangkan.Siang ini ketika aku,Bunda dan Raya sedang asik duduk di depan televisi,Tiba terdengar suara ayah “Assalamualaikum”sapa ayahMendengar ucapan itu kami pun menoleh kebelakang,Sungguh terkejut aku, ketika aku melihat ayah bersama istri barunya bergandengan mesra di depan kami semua.Melihat semua itu aku pun jadi emosi seakan aku tak rela melihat semua ini”ngapain anda kesini lagi”“iya ngapain lagi ayah kesini”sambar Raya“Ooo..sabar anak-anak ayah,Ayah kesini cuman mau ngambil barang-barang ayah dan ayah juga mau ngingetin sama kalian kalau rumah ini akan di jual secepatnya”ucap ayah“Maaf andabukanlah ayah kami lagi,ambil saja barang-barang anda kami semua pun sudah tak sudi untuk menampungnya”jawab Raya begitu emosiAyahpun pergi membereskan semua barang-barangnya di bantu oleh istri barunya itu.Setelah selesai membereskan barangnya ayahpun pergi dan sebelum pergi dia berkata”sekali lagi ayah mau ngingetin kalau rumah ini akan di jual, jadi kalian harus segera pergi dari sini”“sabar bapak Pratama Putra kita semua juga bakal pergi tanpa membawa apapun dari sini, Dan kita akan pergi dari kota ini. Supaya kita tak lagi bertemu dengan orang seperti anda”jawabku ,Mendengaar ucapanku ayahpun pergi.Setelah kepergian ayah bunda merangkul aku dan Raya lalu menyuruh kami duduk dan berkata ”Kalian ga boleh seperti itu,Dia tetaplah ayah kalian,seperti apapun dia dan bagaimanapun dia,Namun di dalam darah kalian mengalir darah ayah yang selama ini selalu berjuang untuk kita dan memberikan pelajaran berharga untuk kita. Bahkan dia pula lah yang membuat kalian semakin dewasa.Bunda ga akan pernah melarang kalian untuk bertemu dengan ayah.Atau menghalangi ayah bertemu kalian” Setelah kejadian itu aku,Bunda dan Raya pun pindah ke Bandung. Kini aku bersekolah sambil kerja part time yah lumayan buat bantu-bantu bunda,walau awalnya dia tak mengizinkan karena saat ini aku ssudah kelas 3 dan sebentar lagi akan menghadapi ujian, Tapi aku bisa untuk meyakinkan bunda dan berjanji tak akan ada yang berubah pada nilai ku dan waktu belajar ku,dan bunda kini menjadi guru meneruskan pekerjaannya yang dahulu.Walau sekarang kami hanya bertiga namun kebahagiaan ini sama sekali tak berubah seperti dulu.Kini tak ada lagi airmata yang ada hanya canda dan tawa.Dan sekarang idola ku bukanlah ayah tapi bunda.Tapi ayah akan selalu menjadi ayahku seperti apapun diaseperti yang bunda ajarkan pada aku dan Raya_Inilah keluarga yang selalu menjaga dan menghargai_Dan inilah cinta ga perlu punya keluarga yang sempurna,Tapi kesempurnaan itu sendiri akan hadir, ketika kita bisa menghadapi semua masalah bersama-sama dan tidak membiarkan seseorang terus terluka demi kebahagian yang menjadi sebuah fatamorgana. Karena kebahagian tercipta dengan adanya rasa CINTA……WE LOVE YOU MOM ………………………………………YOU ARE VERY EVERYTHING mom……………………………………………….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*