Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 08

Huwaaaaaa!!!. Kok cerpen terbaru take my heart nya ini jadi begini yak?. Ck ck ck, makin kacau bo'. Gara – gara siapa maren yang bilang, lupa saia. Pake nyuruh acara berantem segala. Hade….
Over all, ya sudah lah. Lanjutkan saja. ^_^
Untuk part sebelumnya bisa bace :
-} Cerpen terbaru Take My Heart part 7


Bus melaju dalam keheningan. Keduanya masih sibuk dengan jalan pikirannya masing masing. Bahkan tak terasa bus sudah berhenti di tempat tujuan. Dengan berlahan Vio melangkah turun. Di belakangnya Ivan masih setia mengikuti.
Sambil terus melangkah Vio melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih terlalu dini untuk langsung mendekam di kostan. Lagi pula sejujurnya pikirannya masih kusut. Ia butuh sedikit penyegaran. Menatap langit sore sepertinya menyenangkan. Hanya saja menyadari kehadiaran makhluk yang tak di inginkan masih berada di sampingnya membuatnya merasa ragu.
"Loe boleh terus menganggap gue nggak ada kalau loe mau" Ivan akhinya bersuara saat mendapati lirikan risih Vio padanya.
"Ehem".
Vio hanya berdehem walau tak urung membenarkan ucapan Ivan barusan. Benar juga, ia hanya perlu berpura – pura kalau pria itu tidak ada. Tapi pertanyaannya sampai kapan ia akan terus berpura – pura sama seperti ia terus berpura – pura kalau ia baik – baik saja?.
"Huh" Tampa sadar ia menghembuskan nafas berat. Dadanya benar – benar terasa sesak.
"Dia mantan loe ya?".
Vio refleks menoleh. Sedikit mengernyit mendapati wajah Ivan yang lurus menatapnya. Menanti kalimat jawaban keluar dari mulut mungilnya.
"Herry, Gebetannya Silvi" Ivan menambahkan.
"heh, Gimana gue bisa menganggap loe nggak ada kalo loe jelas jelas bisa ngomong" balas Vio mencibir membuat Ivan tersenyum salah tingkah. Sejujurnya ia sendiri tidak tau kenapa ia bertanya.
"Kalau gitu loe nggak perlu menjawab".
Susana kembali hening. Keduanya kembali terdiam sambil terus melangkah. Saat sampai di dekat taman Vio membelokan langkahnyam. Duduk berdiam diri di bawah pohon sambil menatap langit.
"Bukan".
"Eh?".
"Dia bukan mantan gue" Sambung Vio tanpa menoleh walau ia tau Ivan sedang menatapnya heran. "Walau gue pernah suka sama dia".
"he?" Kali ini Ivan jelas melotot mendegar pengakuan lirih Vio barusan.
"Masih" Vio menegaskan.
Kali ini ia menoleh. Berhadapan langsung dengan wajah Ivan yang jelas heran sekaligus merasa tak percaya. Tapi yang di tatap hanya diam saja. Tidak bereaksi. Mungkin lebih tepatnya tidak tau harus bereaksi seperti apa. Membuat Vio mencibir sinis dan segera mengalihkan tatapannya kembali kearah langit. Menatap awan yang berarak dalam keheningan.
"Untuk menghindari dia, gue pindah kampus dengan harapan rasa sakit gue bisa sedikit terobati. Siapa yang menyangka, justru dikampus baru ini gue malah bertemu loe. Seseorang yang sudah terkenal sebagai playboy kelas kakap, yang jadiin gue taruhan sepuluh juta. Dan seolah itu belom cukup, Kenyataan baru muncul, sosok yang bikin gue patah hati ternyata gebetan baru sahabat gue. Menurut loe, kurang apa coba derita gue?" Sambung Vio lagi.
Ivan menunduk dalam dengan mulut terkunci. Tak tau perasaan apa yang merambati hatinya. Yang ia tau, ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Rasa bersalah secara berlahan namun pasti merasuk kerelung batinnya. Melihat raut terluka di wajah Vio, meyakinkannya. Gadis itu tidak sedang bercanda.
"Gue jadi berfikir, Kesalahan apa yang dulu pernah gue lakuin sampai sepahit ini takdir yang harus gue jalani?" Lanjut Vio membuat tangan Ivan terkepal erat.
"Leo punya jawabannya?".
"Glek".
Ivan tampak menelan ludah. Pertanyaan Vio jelas menohoknya. Memangnya jawaban seperti apa yang bisa ia berikan?.
"Jika tidak, Berdiam dirilah. Anggap aja loe nggak pernah denger cerita apapun dari mulut gue. Gue pengen menatap langit dalam keheningan. Leo sendiri bilang gue boleh nganggap loe nggak ada kan?".
Selesai berkata tangan vio terulur merogoh tas sandangnya. Mencari Ipod kesayanganya. Menyambungkan headset kekedua telinganya. Lagu Yang ku sayang miliknya letto mengalun lembut. Entah mengapa peperapa hari ini ia begitu menyukai dua bait lirik yang ada pada lagu itu. Bahkan tanpa sadar mulutnya sudah ikut mendendangkan.
"Hidup terlalu singkat untuk tak berbuat
hidup terlalu indah untuk tak berubah"
Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 08
Selesai mengunci pintu pagar rumahnya dengan santai Vio melangkah. Menuju halte bus yang akan membawanya ke kampus. Namun belum juga lima langkah, sebuah klakson telah terlebih dahulu mengagetkannya. Membuatnya mau tak mau terpaksa menoleh. Menghembuskan nafas kesel saat mendapati cengiran lebar di wajah Ivan.
"Loe nggak keberatan motor gue parkir di depan kostan loe lagi?".
"Tentu saja gue keberatan" Balas Vio ketus.
"He he " Ivan tampak mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara Vio sendiri terdiam. Matanya mengawasi sosok yang berdiri di hadapanya dari atas kepala sampai ujung kaki. Ya ampun, ni orang makin hari kok makin keren aja si. Pujinya dalam hati.
"Dari pada loe parkir di sana, mendingan loe boncengin gue".
"Eh?" kening Ivan berkerut bingung. Ragu akan kalimat yang ia dengar barusan.
"Kalo loe keberatan, ya sudah. Gue naik bus aja" Vio angkat bahu sambil berniat berbalik pergi. Tapi dengan cepat Ivan menahannya.
"Tentu saja tidak. Ayo naik" Sahut Ivan cepat membuat senyum samar tergambar di wajah Vio.
"Kok tumben si, loe mau boncengan sama gue?" tanya Ivan setelah motor mereka mulai melaju.
"Bukan karena gue keberatan, tapi gue heran aja" Sambung Ivan lagi tak memberi kesempatan Vio untuk menyela ucapannya..
"Setelah gue pikir – pikir. Dari pada loe gue anggurin kayaknya mendingan gue manfaatin deh. Lagi pula kan lumayan . Gue bisa hemat juga. Nggak perlu lagi bayar biaya ongkos. Gue kan bukan anak orang kaya kalau loe belom tau" Sahut Vio santai namun jelas menyindir.
"Jawaban apa itu" Gerut Ivan kesel.
"Ha ha ha, Kenapa loe kesel. Asal tau aja ya, Sebaik – baik manusia itu adalah yang hidupnya bermanfaat" Tambah Vio sama sekali tak merasa bersalah." Jadi loe nggak boleh marah kalau di manfaatin"Sambungnya lagi.
"Tapi gue kan bukan orang baik" Gumam Ivan mengerutu tak jelas. Vio sendiri justru pura – pura tak mendengarnya.
Begitu sampai di kampus, tatapan tak bersahabat langsung Vio dapatkan. Tapi ia bersikap cuek saja. Tak terlalu mengambil pusing. Menurutnya hidupnya terlalu berharga untuk di habiskan memikirkan tanggapan negatif orang padanya bukan?.
"Vio".
Vio yang baru saja turun dari jog belakang Ivan langsung menoleh. Mendapati Silvi yang berdiri tak jauh darinya. Sepertinya ia juga baru tiba. Dan Vio hanya mampu menghela nafas saat menyadari kalau Silvi tidak sendiri. Herry masih duduk di atas motor di sampingnya. Bukti nyata kalau cowok itu datang bersamanya.
"Loe nggak papa kan?".
Vio hanya melirik sekilas kearah Ivan yang berbisik padanya. Hei memangnya dia kenapa?.
"Loe baru datang?" tanya Vio sambil melangkah menghampiri.
"Kok loe bareng sama IVan?" Silvi balik bertanya. Mengabaikan pertanyaan Vio yang terlontar duluan.
"Tadi dia jemut gue" balas Vio malas. Apalagi ia jelas menyadari tatapan tajam Herry yang terjurus padanya.
"Kalian pacaran?".
Mata Vio sontak membulat. Tempakan langsung dari Harry jelas menohoknya. Memangnya dia cewek apa an. Baru beberapa saat yang lalu ia di buat patah hati olehnya bisa langsung mendapatkan pengantinya.
"Tentu saja tidak" Jawab Vio kesel.
"Tapi gue suka sama dia".
Bukan hanya Silvi yang menoleh, Harry juga ikut mengalihkan tatapannya kearah Ivan yang kini berjalan menghampiri mereka dengan santainya padahal jelas – jelas Vio sedang melemarkan tatapan tajam padanya.
"Apa?" tanya Harry tak percaya. Ivan hanya angkat bahu sambil tersenyum manis kearah Vio.
"Sebagai taruhan sepuluh juta" Silvi menambahkan sambil mencibir sinis. Membuat kerutan bingung semakin bertambah di wajah Harry. Ditatapnya gebetannya itu yang kini tampak sedang adu tatapan bersama Ivan. Sementara Vio hanya mampu mengusap keningnya yang mendadak terasa pusing. Kacau…
"Maksut loe apa Silvi?" tanya Harry kemudian.
"Iya. Ivan ini playboy, Dan dia secara sengaja bikin taruhan sama teman – temannya buat macarin Vio dengan bayaran Sepuluh juta" Terang Silvi.
Dan semuanya terjadi begitu cepat. Vio sendiri tidak menyadari bagaimana kronologinya. Yang ia tau saat ini Ivan telah terdampari di tanah sambil mengusap wajahnya, sedikit darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Di hadapannya Harry berdiri dengan emosi. Kalau saja tidak di tahan dengan kuat oleh Silvi, bisa di pastikan pukulan selanjutnya akan melayang.
"Loe bener – bener berengsek. Leo tau nggak si, tindakan loe jelas bisa melukai hati Vio" Geram Harry kalap.
Berlahan Ivan berdiri. Menghadap langsung kearah Harry dengan tatapan jelas menantang.
"Leo yakin loe nggak lebih brengsek dari gue" Serang IVan balik.
"Maksut loe?" sambar Silvi bingung.
"Cukup. Ivan ayo kita pergi" Vio angkat bicara saat mencium situasi yang tak enak. Tidak, ia harus mencegahnya. Silvi tidak boleh tau masalah ini. Atau gadis itu juga akan terluka.
"Tapi…".
Plaks.
Sebuah tamparan mendarat di wajah Ivan. Membuat pria itu terbungkam seribu bahasa sambil menatap Vio tak percaya. Vio sendiri jadi merasa bersalah. Ya ampun, apa yang baru saja ia lakukan?. Menampar Ivan?.
"Ayo kita pergi".
Kali ini Vio gantian meraih tangan Ivan. Menyeretnya berlalu pergi. Meninggalkan tatapan kaget, bingung plus tak percaya. Bukan hanya di wajah Harry dan Silvi. Tapi juga di wajah hampri semua mahasiswa dan mahasiswi yang ikut menyaksikan adegan barusan.Can't Believe it.
To be continue….
Ha ha ha, Penulis no coment deh. Langsung umpetan di kolong meja. :p

Random Posts

  • Cerpen Romantis: HADIAH TERINDAH

    HADIAH TERINDAHoleh: Rizki NoviantiPerasan itu begitu kuat sampai aku tak sanggup untuk terlalu lama jauh dari dirinya, seseorang yang dingin yang menjadi tambatan hati saat aku melihat senyumnya begitu menggetarkan jiwa membuat hati selalu damai. Namun rasa ku hanya bertepuk sebelah tangan dia tak hiraukan aku, perasaan itu aku rasakan sejak kelas 2 SMP sampai saat ini kepada seseorang yang selalu aku puja, sebagai orang yang mencintainya dia hanya anggap aku sebagai teman baginya begitu perasaan ku teriris mati, awal yang baik sebagai teman, hanya teman.Rasa sakit itu harus terulang kembali Randy orang yang selama ini aku puja-puja ingin memulai cinta dengan sahabatku sendiri, Yasmin. tak mengerti apa yang ada dalam fikiran Randy? Dia tahu jelas bahwa aku sangat ingin memiliki seutuhnya tetapi mengapa dia seperti itu kepadaku? Hari-hari itu harus ku jalani juga dengan helaan nafas panjang tanpa semangat, tanpa canda dan keceriaan hidup terasa hampa.Randy yang kini berubah sikap kepadaku tak seperti dulu selalu memberikan senyumnya, membuat aku tertawa dan selalu membuat aku merasa nyaman saat berada di dekatnya sekarang berubah menjadi Randy yang cuek, dingin, selalu membuat aku kesal dan menangis. Setiap kali ku lihat dia selalu memalingkan wajah, menundukkan kepala, pura-pura tak melihat. Apakah sampai segitu nya dia bersikap kepada ku di depan Yasmin??. Tetapi perasaan cinta itu tak menghilang sedikit pun, sempat terlintas dalam benak ku ingin juga membuatnya patah hati seperti ku.Terlalu lama berfikir apa yang harus aku lakukan?? Ku coba untuk menerima keadaan ini dan bersabar tetapi kesabaran ku tak akan terus bertahan, kesabaran ku ada batasnya. Tak menunggu lama lagi aku memutuskan untuk menjalani hubungan yang sama sekali tak ingin aku jalani, dengan seseorang yang sama sekali tak bisa aku simpan rasa terhadapnya manusia tak berdosa itu harus menjadi pelampiasan hidupku.. “Ya Tuhan maafkan aku harus melakukan hal konyol seperti ini..”***“Rif, jangan bilang siapa-siapa yaa kalau kita pacaran aku gak mau ajja jadi bahan gosip sekolahan..” pesan ku pada Arif. Hari-hari ku lalui biasa saja dengan nya hanya sekedar SMS atau telepon tak pernah kita ngobrol berdua di sekolah. Namun akhirnya Randy tahu hubungan ku dengan Arif, Satu bulan ku jalani hubungan ku dengan Arif tanpa hati, awalnya aku mencoba untuk menyimpan sedikit rasa untuknya tetapi tetap saja aku tak sanggup.Menjalani hari-hari dengannya, dengan kisah cinta penuh kepalsuan dan mau tak mau aku harus melakukannya. Aku lihat ekspresi wajah Randy saat aku bersama Arif, dia hanya tersenyum kecil dan menundukan kepalanya.. “why? Mana Yasmin kenapa dia tidak bersamanya ?” Fikirku berkata tapi itu tak penting lagi untuk ku.Aku akui aku sudah merasa jenuh dengan hubungan ini aku ingin mengakhirinya tak peduli akan seberapa sakit ku lihat Randy mungkin aku akan lebih sakit jika aku terus menerus seperti ini. ku putuskan juga untuk akhiri semuanya aku tak ingin menyiksa batinku lebih dalam lagi sebelum semuanya terlambat. “Rif, mungkin ini memang bukan jalan kita untuk terus bersama maaf jika kali ini aku menyakiti perasaanmu kita harus benar-benar mengakhiri kisah ini. Maaf” Kata ku panjang lebar pada Arif.Arif mengerutkan keningnya dan seolah dirinya tak bisa terima dengan keputusan ini. “Tapi kenapa Ky? Kamu jahat Ky, kamu memutuskan sebelah pihak apa kamu tahu dengan perasaan ku saat ini sakit Ky, sakit! Kamu tahu itu ?”Aku pun menjawab “Aku tahu perasaanmu aku juga mengerti tapi apa kamu juga paham dengan perasaan ku kita akan lebih sakit jika terus seperti ini kamu paham itu? Aku akan berdoa dan akan selalu berdoa untuk mu agar kamu bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintai kamu setulus hati dari pada aku” dan sampai akhirnya aku pergi meninggalkannya itu keputusan ku.Tak lama Randy pun tahu aku tak menjalani hubungan dengan Arif, dia pun begitu tak lagi bersama yasmin. itu sedikit membuat hati ku lega namun perasaan bersalah selalu ada pada saat aku bertemu Arif tindakanku yang konyol membuatnya terluka. Randy yang saat itu sedang berada bersama ku bertanya kenapa aku putus dengan Arif aku menjawab dengan santai “tak mungkin lagi untuk aku dapat melanjutkan hubungan ini karena suatu saat kita juga akan putus”. Aku tak ingin membicarakan hal itu semakin dalam aku pun mengalihkan pembicaraanku.“Setelah lulus akan ku lanjutkan sekolah ke bandung mungkin ini saat-saat terakhir kita bersama..” kata ku pada Randy dengan menyunggingkan sedikit senyum.“Ke Bandung?” tanya Randy heran.“Kenapa kamu harus ke bandung bukan kah di sini juga banyak sekolah-sekolah yang bagus Ky?” sambung nya.“Aku hanya ingin melepaskan semua beban saat ini yang aku rasa dengan memulai sesuatu yang baru dan dunia yang baru, aku ingin semua menjadi lebih baik dan memperbaiki semua yang berantakan di hidup ku kini..” ucap ku dengan lirih. lalu Randy pergi meninggalkanku. Keputusan yang sangat sulit untuk ku jalani sendiri harus berpisah dengan nya.Hari itu datang juga, hari saat aku akan pergi “menyenangkan” kata ku dalam hati sambil tersenyum. Randy yang menatapku dari jauh datang menghampiri dengan langkah perlahan tapi pasti dia benar-benar datang untuk ku.“Ky, maafkan aku yang salah karena telah melewatkanmu selama ini, aku yang bodoh harus melewati hari-hari terakhir dengan kepalsuan ku jika aku bisa mengembalikan waktu itu aku ingin mengubah semuanya menjadi baik, aku ingin bersama mu tetapi semua sudah terlambat usai sudah semua kisah dengan kesedihan.. maafkan aku Ky” Randy berkata dengan genggaman erat padaku menyesali yang terjadi dengan air mata terurai di kedua matanya tak mampu ku berucap aku hanya mengatakan“Ucapkan satu kata untuk ku sebelum aku benar-benar pergi” lalu dengan suara lembutnya dan genggamannya dia berkata.“Aku sangat dan sangat mencintai mu, jangan pernah lupakan aku, jangan pernah hapus aku dari hati mu. Maafkan aku.”Aku tersenyum manis menghapus sedihnya dan penyesalannya. Kata-kata yang selama ini aku tunggu ahirnya terucap, namun semua terlambat sudah. Aku hanya dapat berkata dalam hati “ya Tuhan terima kasih ini hadiah terakhir yang ku dapat, hadiah termanis dalam hidupku aku takkan pernah melupakannya dan aku takkan pernah bisa karena aku mencintainya”.Tak kuat menahan diri, aku pun pergi meninggalkan dia sendiri..*****nama : rizki noviantialamat : bandung, kiara condongalamat fb: rizki_ccc@yahoo.co.id

  • Cerpen Cinta: Kaulah Sang Bidadariku

    Kaulah Sang BidadarikuOleh: Rian sulaeman farhiMentari pagi pun mulai terbit aku harus segera bangun untuk bersiap-siap sekolah maklum lah masih anak sekolah jadi harus bangun pagi-pagi karna takut kesiangan. Kegundahan pun di rumah begitu ramai oleh aktivitas keluarga ku,Jam pun menunjukan pukul 06.30 wib saat nya aku harus berangkat sekolah karna perjalanan kesekolahan ku lumayan jauh dan memakan waktu.Namun seperti biasa mama ku yang selalu perhatian pada ku menyuruh ku untuk sarapan dulu maklum anak paling kecil suka di manja,kadang-kadang aku merasa risih sich malu kan udah gede masih di manja ama mama.Seperti bisa sarapan ku pagi ini NASI GORENG+TELOR DADAR . . . .Setelah sarapan aku bersiap-siap buat berangkat sekolah aku pamitan sama mama yang sedang membersih kan ruangan rumah yang penuh debu . . . .“mah,aku berangkat dulu udah siang nich. . . .?”“iya,Hati-Hati di jalan nya. . . . .”Setibanya aku di sekolahan,aku langsung bergegas masuk kelas karna jam masuk sebentar lagi berbunyi. Sebelum bel berbunyi aku dan kedua teman ku seperti biasa mengobrol tentang hal-jal apa aja yang kami lihat di pagi itu seperti suasana dan murid-murid sekolah kami . . .Ooouuugghh,iya aku lupa meperkenal kan kedua sahabat ku itu nama nya AHMAD dan FAUZI mereka adalah sahabat ku dari kecil,Bel pun mulai berbunyi tanda nya pelajaran akan segera di mulai,kegundahan di dalam ruang kelas itu kini telah menjadi ruangan yang sunyi tanpa ada suara satu pun . . . .Pelajaran pun di mulai dan anak-anak semua mengikuti pelajaran hari itu,Tak terasa jam pulang pun hampir mendekati dan tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi,sorak soray anak-anak terdengar di setiap ruang kelas nya . . . . Semua anak-anak pun berhamburan keluar kelas untuk pulang kerumah nya masing-masing dan aku pun mulai beranjak pergi dari dari ruangan kelas di mana aku mengikuti setiap mata pelajaran,ruangan yang sumpek dengan mata pelajaran yang sedikit aku mengerti . . . .Sesampai nya aku di rumah mama telah menanti ku dengan makanan di meja makan . . . .“akhirnya anak mama pulang juga” Kata-Kata manja itu yang selalu mama ucapkan .. . . . . “ya,iya donk kan anak mama” Aku menjawab ucapan mama tadi . . .Setelah makan siang aku duduk terdiam melamun kan seseorang entah siapa . . .? Dan di mana dia berada . . .? Hanya bayangan sosok wanita itu yang kini ada dalam benak ku saat itu . . .Tak terasa nada panggilan Hp ku berbunyi dengan nada lagu ( BUTTERFLY ) “pelampiasan cinta mu”Maklum lagu favorit ku . . . .Saat aku lihat siapa yang menelepon ku ternyata No nya pun baru dan aku tak tau siapa itu . . Saat aku angkat telefon nya . . .“Hello,siapa ini . . . .”“Hello juga,ayo siapa coba tebak . . .”Terdengar suara bisik wanita di telinga ku . . .Sempat aku terdiam memikir kan siapa yah . . . .?“aku gak tau siapa kamu,soal nya number kamu nya juga baru . . . .? ciapa atuh.”“aku seseorang yang dulu pernah ada di hati mu dan yang dulu pernah melukai mu . .”“iya,siapa atuh aku da tau . . . .?”“pokok nya orang yang dulu pernah nyia-nyian kamu . . “Makin penasaran aku dengan siapa sich yang menelepon ku . . . .30 menit pun berlalu kami terus mengobrol dan akhir nya aku tau siapa yang menelepon ku dia ternyata mantan aku ( ika ) . . . .Saat itu kami pun berlanjut hari semakin hari kami pun terus kontek-kontek kan . . .Beberapa hari berlalu dan aku pun bertemu dengan nya,banyak perubahan dari nya yang dulu aku kenal dia egois kini telah berubah menjadi tak egois lagi . . . .Pertemuan itu aku gak sia-sia kan,aku pun mengobrol dengan nya . . . . .di sebuah taman sekolah di dekat sekolahan kami . . . .“Gimana kabar nya . . . .?”aku pun membuka obrolan agar suasana tidak menjadi bosan dan jenuh . . .“alhamdullilah,baik-baik aja . . .! ! ! ! kamu sendiri gimana kabar nya . . . ? ? ? “ “iya,seperti yang kamu lihat lah,aku baik-baik aja . . . .! ! !” kami pun terus berlanjut mengobrol dan bertukar cerita Sedikit demi sedikit ternyata aku mulai merasa nyaman berada dengan nya,rasa cinta yang dulu pernah ada untuk nya kini seakan-akan mulai muncul kembali apalagi karna kami sering bertemu dan mengobrol berdua. Tak terasa waktu pun udah hampir sore jam udah menunjukan pukul 15.30 wib,mungkin karna keasyikan ngobrol dengan nya sampai-sampai tak tau waktu,kami pun mulai beranjak pulang meninggal kan bekas tempat duduk di mana kami bertukar pikiran dan cerita . . . .Malam pun tiba dengan cuaca yang begitu cerah dan terang. Bintang dan bulan saling memancarkan sinar nya seakan mereka tau apa yang sedang aku rasa kan? Kebahagian yang tak terhingga,tak henti-henti aku selalu berbicara pada bulan dan bintang itu . . .“apa mungkin dia adalah sang bidadari ku yang selama ini aku cari . . . . ?Tak terasa jam pun menunjukan pukul 23.30 wib,aku belum juga bisa tidur karna memikir kan dia rindu, dengan suara nya dia ingin aku sebelum tidur mendengar kan suara nya dulu . . .saat itu aku pun berniat dan memberani kan diri untuk menelepon nya walau aku tau ini udah larut malam. Namun akhir nya telefon ku pun di angkat dengan nada bahagia aku pun ngobrol dengan nya. “assalamualikum . . . .”“walaikum’salam . . . .”“belum tidur nich . . .”“belum gak bisa tidur . . .kamu sendiri belum tidur . . . .? ““sama aku juga gak bisa tidur . . . .! ! ! kenapa kok gak bisa tidur . . . .?”Begitu lah obrolan kami malam itu suara merdunya membuat ku tak sanggup menahan kebahagian dan kami pun terus berlanjut mengobrol . . . .“gak tau ada yang lagi aku pikirin nich . . . . kamu sendiri kenapa . . . .?” aku pun menjawab dengan suara jujur dan lantang . . . .“mikirin apa atuh . . .? aku gak bisa tidur karna mikir kamu terus.kangen kamu tau . . . .”“gak . ..! ! ! bohong kamu mah aaaakkkkhhh . . . . .” “su’er aku mah serius ngapain juga bohong . . . .” “iya dech aku percaya . . . .Aku juga sama kok gak bisa tidur karna mikirin kamu,rindu suara mu . . .”Kata-Kata itu yang dia uacapkan pada ku bahagia rasa nya mendengar dia juga sama merasakan apa yanga aku rasa. Seperti malam itu milik kita berdua saja. Malam pun semakin larut aku pun pamitan padanya. “ekh, iya udah malem takut nya kamu mau istirahat+mau tidur . . . .? entar besok di sambung lagi yah . . . ? ““iya,aku juga mulai ngantuk nich . . .”“ya udah met tidur aja . . . mimpi indah. met ketemu besok . . .? assalamualikum . . .?”“iya,met tidur juga . . . walaikumcalam . . .”Aku pun langsung menutup telefon nya dan bergegas untuk tidur. Akhirnya setelah aku mendengar suara nya aku pun bisa tisu juga . . .Pagi pun telah manyapaku saat aku terbangun terdengar suara sms dari Hp ku (ting ting ting ting), nada pesan masuk berbunyi. Saat aku buka dan aku baca ternyata pesan itu dari nya . . . .“assalamualikum . . .met pagi . . .? udah bangun . . .? ayo mandi . . terus sarapan yah . . .? jangan sampai telat berangkat sekolah nya . . .? “ Seperti itu lah kata-kata sms nya. Kini hari-hari ku pun mulai ceria dan penuh kebahagian dan aku terus berdoa semoga aja dia memang “BIDADARI” yang selama ini aku cari . . .amien . . .amien . . .*****Ini cerpen kedua ku . . .ma’af yah bila cerpen nya kurang bagus maklum baru belajar bikin cerpen nich . . .? ============================================================e-mail: kalongrian@ymail.com facebook: rian yangkanslalucyang ikhaclamnya twitter: @riankalong

  • Cerpen Benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly End

    Hufh… Akhirnya bisa sampe ending juga. Tapi full no edit. Ya mau kek mana lagi. Udah capek woi. Oke deh, happy reading ae lah“vanes… gimana sama ferly??” tanya sebuah suara dari samping reflex Vanes menoleh.“radit… ferly masih didalam lagi ditangani sama dokter…” balas vanes sambil mengusap air mata yang menetes dipipi, radit dan yang lain pun duduk di ruang tunggu rumah sakit.“loe yang sabar ya…” kata radit.“ini semua salah gue… gara-gara gue, ferly jadi kayak gini…” .sebagian

  • Cerpen cinta “Dalam diam mencintaimu” 01 / 04

    #EditVersion. Jadi gini guys. Admin sekarang kan jarang tuh update cerpen terbaru. Nggak sesering dulu. Mentok di ide, waktu juga kesempatan. Untuk itu, admin kadang suka iseng baca karya karya sebelumnya. Dan ngeh banget, kalau ternyata EYD dan typo bertebaran di mana – mana. Untuk itu, mau di rapiin. Kini cerpen dalam diam mencintaimu yang dapat gilirannya. Oh iya, tokohnya juga di ganti ya. Sekalian sih, biar blognya rapi juga. Secara ya kan, blognya emang acakadut banget. Maklum aja deh, blog Ana merya ini mah emang di mulai dari 'Nol'. Nol dalam belajar nulis, nol juga dalam mengenal blog. Dalam Diam Mencintaimu*** Jangan pernah jatuh cinta pada sahabat, karena jika dia menemukan cintanya,Kau akan kehilangan dua orang sekaligus. Sahabat mu dan orang yang kau cintai.***“Dor!”“Huwa!!!” Irma menjerit sekenceng – kencangnya saat tiba – tiba ada seseorang yang mengagetkannya di susul suara gelak tawa.“Ha ha ha, kaget ya loe?"“Rey, berhenti selalu ngagetin gue,” geram Irma sambil mengelus dada. Matanya menyipit menatap kearah sosok yang akrab di panggil Rey yang kini masih tampak berusaha menahan tawanya. "Kayaknya loe seneng banget ya, kalau sampai gue mati muda karena di kagetin mulu," sambung gadis itu lagi.“Jangan lebay. Loe nggak ngidap lemah jantung jadi gimana ceritanya bisa mati muda,” Rey mencibir. Sebelum mulut Irma kembali terbuka ia sudah terlebih dahulu menambahkan. "Loe pasti sudah sedari tadi nungguin gue kan. Ya sudah kalau gitu, ayo kita berangkat," ajaknya lagi.Walau masih kesel, tak urung Irma mengangguk. Memang sudah hampir 15 menit ia menunggu Rey sebelum kemudian dikagetkan dengan tiba – tiba saat ia sedang asik memperhatikan tanaman cabenya yang berdaun kriting (???). Biasanya mereka memang pulang-pergi kuliah bareng. Kebetulan selain sekampus mereka juga tetanggaan. #@irma, Jreng jreng jreng… Tetangga ku idolaku. (1)Sepanjang perjalanan tak henti mereka bercanda tawa. Rey anaknya memang enak di ajak ngobrol. Ditambah lagi mereka sudah bersahabat sejak kecil. Tak heran jika keduanya terlihat begitu akrab.“Oh ya, hari ini loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Rey sambil melepaskan helmnya. Saat itu mereka memang sudah tiba dihalaman parkir kampus.“Dua, loe?” sahut Irma sembari balik bertanya.“Sama, ya udah kalau gitu entar habis kuliah kita jalan yuk. Hari ini ada pembukaan pasar hiburan di lapangan."Irma terdiam. Pasang wajah sok mikir. Jalan bareng sama Rey? Asik juga, walau Rey notebenenya sahabat, tapi kan selama ini ia menyukainya diam – diam. Dan kali ini ia di ajak jalan, itu termasuk kencan bukan si?. Tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman samar. #Naksir diam – diam (2)“Nggak usah kelamaan mikir. Entar loe tunggu gue di sini. Kita jalan. Titik!” tandas Rey tegas. Kali ini tanpa pikir panjang Irma langsung mengangguk. Membuat Rey ikutan tersenyum sebelum benar – benar berlalu. Kebetulan kelas mereka memang berlawanan arah. Begitu tiba di kelasnya, Irma segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Tanpa sadar senyum sama masih bertenger di bibirnya. Senyum bahagia mengingat ajakan Rey tadi padanya.“Ehem, kayaknya ada yang lagi seneng nie?”Irma menoleh, mendapati Vhany Iskandar yang kini duduk disampingnya. Menyadari sahabatnya itu sedang berkata padanya, Irma hanya mampu membalas dengan senyuman.“Ada apa nie. Cerita donk," tanya Vhany lagi ketika melihat pertanyaan sebelumnya tidak di respon.Kali ini Irma hanya mengeleng. Vhany sedikit mengernyit, tapi ia juga tidak berniat untuk mendesaknya lebih lanjut dan memilih mengalihkan pembicaraan.“Oh ya Ir, tadi loe pergi bareng siapa?”“Rey,” kali ini Irma membalas. Sedikit heran ketika melihat raut Vhany yang tampak antusias.“Ehem, sebenernya loe punya hubungan apa si sama tu orang?” Vhany kembali bertanya.“He?” refleks Irma menoleh. Menatap lurus kearah Vhany yang kini juga sedang menatapnya lurus.“Loe pacaran ya sama dia? Abis gue liat loe selalu bareng sama dia,” selidik Vhany dengan nada menuduh.“Ha? Ya enggak lah. Apaan si loe. Loe kan tau gue itu cuma tetanggan ma dia," elak Irma cepat.“Loe yakin loe cuma ngangep dia tetangga?"Tanpa ragu Irma mengangguk cepat. Gantian ia yang merasa heran saat melihat senyum lega terukir di wajah Vhany. “Kalau gitu loe bisa bantuin gue kan?” tanya gadis itu penuh harap.“Bantuin? Bantuin apa?” tanya Irma sambil mengalihkan tatapannya dari Vhany. Tangannya mengeluarkan buku yang dirasa aneh dari dalam tas. Makin heran ketika melihat ada komik. Komik sinchan lagi. Otaknya segera berpikir, apa itu buku punya adeknya ya? Tapi kok bisa nyasar di dalam tasnya?.“Gue suka sama Rey."Komik sinchan yang sedari tadi di bolak balik Irma langsung jatuh di meja. Ia segera menatap kearah Vhany yang tampak menunduk malu, tak menyadari ekpresi shock di wajah sahabatnya akan pengakuan yang baru saja keluar dari mulutnya.“Karena itu, gue mo minta bantuan sama loe. Loe kan temennya dia. Gue juga temennya elo kan? Jadi gimana kalau loe jadi mak comblang kita?”Irma diam terpaku. Dia tidak salah dengar kan? Vhany memintanya menjadi mak comblang untuk hubungannya dengan Rey yang jelas – jelas sudah di taksir olehnya sejak lama. Tidak, tidak. Kata ‘naksir’ sepertinya kurang tepat. Ini bahkan lebih dari itu. Ia dengan jelas menyadari kalau ia jatuh cinta pada tetangga sebelah rumahnya.“Loe mau kan bantuin gue?” tanya Vhany sambil mengangkat wajahnya. Tersenyum penuh harap pada Irma.“Gue….”“Stt… kita ngobrolnya entar aja. Pak Alvino masuk tuh,” potong Vhany sambil mengarahkan telunjuknya kearah pintu. Irma terdiam. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bahkan telinganya sama sekali tak mampu menangkap apa yang diajarkan Pak Alvino, Dosen sastra idola kampusnya. Pikirannya terfokus pada permintaan Vhany. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan?Dengan lemes Irma melangkah beriringan bersama Vhany yang kini tersenyum lebar. Sementara Vieta sepertinya menghilang entah kemana. Entah ia yang gila atau pun memang sedang setres. Tadi seusai pak Alvino keluar dari kelasnya Vhany kembali membujuknya. Bahkan ia sama sekali tidak sadar kalau kepalanya mengangguk menyetujui hingga membuatnya kini merasa penyesalan tiada henti. Ia juga bingung apa yang harus ia katakan pada Rey nantinya. Mana mereka rencananya hari ini mau jalan bareng lagi. Parahnya belum sempat ia menemukan jawabannya, kini sosok yang di maksud sudah tampak tak jauh dari hadapannya. Melambaikan tangan sambil berjalan menghampiri.“Pas banget. Jadi loe juga udah mau pulang ni?” tanya Rey sambil tersenyum manis. Irma membalas dengan anggukan. Ekor matanya melirik sekilas kearah Vhany yang terlihat sama sekali tak berkedip menatap kearah wajah Rey yang jelas – jelas sama sekali tidak menoleh. Karena saat ini Rey memang sedang menatapnya.“Ehem, gini Rey. Sory ya. Tapi kayaknya gue nggak bisa jalan bareng loe deh. Gue lupa, gue ada janji sama sepupu gue yang baru pulang dari luar negeri. Sory ya,” kata Irma sambil memaksakan diri untuk tersenyum.“Jadi? Kita nggak jadi jalan ni. Yah, padahal kan pembukaannya hari ini,” kata Rey terlihat kecewa.“Nah, kalau soal itu loe tenang aja. Kebetulan Vhany juga pengen benget pergi kesana. Loe pergi bareng dia aja."“Ya?” Rey tampak tak percaya.Sementara Irma sendiri terlihat serba salah. Perhatian Rey kemudian teralihkan kearah Vhany yang terlihat tersenyum manis.“Loe nggak keberatan kan pergi bareng gue?” tanya Vhany kearah Rey.Rey tidak segera menjawab. Sekilas ia melirik kearah Irma yang tampak menunduk. Dihelanya nafas untuk sejenak sebelum kemudian menjawab.“Tentu saja tidak. Kalau gitu ayo kita pergi bareng."Mendengar kalimat barusan Irma langsung mendongak. Menatap tak percaya kearah Rey yang kini sedang menatap Vhany sambil tersenyum. Irma tiba – tiba Merasakan dadanya terasa begitu sesak. Ia merasa begitu sulit untuk bernafas. Jujur saja ia merasa sangat kecewa. Kenapa Rey begitu cepat menyetujuinya.“Sory Ir, gue duluan,” balas Rey sambil mengajak Vhany berlalu pergi. Sama sekali tak menoleh kearah Irma, apalagi sekedar untuk mendengar balasannya.“Da Irma,” pamit Vhany sambil melambaikan tangannya. Irma masih terpaku di tempat. Menatap Kepergian kedua orang ‘sahabatnya’ yang terus melangkah menjauh. Dengan cepat tangannya terangkat mengusap wajah. Matanya terasa perih tapi sebisa mungkin di tahannya. Ia sama sekali tidak punya alasan untuk menangis bukan? Akhirnya dengan langkah gontai ia kembali ke rumah.Sesekali Irma mengintip dari balik gorden jendela rumah. Ia pasang telinganya baik – baik. Bahkan ia sengaja menghilangkan volume TV yang di tontonnya. Walau dalam kenyataanya benda itu hanya terlihat sebagai objek pajangan agar ia tidak terlihat bengong seperti orang bodoh. Sejak sepulang kuliah tadi ia menunggu bahkan sudah hampir jam 18:00 sore ia masih belum melihat kemunculan Rey di halaman rumahnya. Apa mungkin seasik itu acara jalan – jalan mereka.Bertepatan dengan suara Adzan maghrip dari Mushala yang tak jauh dari rumahnya, telinga Irma menangkap suara mesin motor yang sudah sangat familiar. Sepertinya Rey baru pulang. Irma segera bangkit berdiri. Tapi tentu saja bukan untuk menghampiri Rey melainkan beranjak ke kamar mandi, mengambil wudhu. Saat nya menyambut panggilan ilahi. Diatas apa pun, kewajiban pada yang maha kuasa harus lebih di utamakan.Keesokan harinya, Irma sengaja bangun lebih pagi dari biasa. Setelah siap- siap untuk kuliah ia segera duduk – duduk di bangku bawah pohon jambu depan rumah . Menanti Rey menjemputnya. Tumpangan gratis ke kampus sejak jaman antah berantah.Saat melihat Rey yang baru melewati pagar rumahnya, Irma segera berdiri, melangkah menghampiri dengan senyum di bibir. Namun senyum itu langsung lenyap mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rey untuk pertama kalinya.“Ir, sory ya. Hari ini gue nggak bisa bareng sama loe. Kemaren gue udah janji buat menjemput Vhany."“O…” Irma menghentikan langkahnya. Jelas raut kecewa terpancar di wajahnya.“Loe nggak papa kan? Soalnya kemaren gue sudah terlanjur janji. Membatalkan janji secara sepihak tanpa alasan yang jelas tentu akan terasa sangat menyebalkan bukan?” tanya Rey lagi. Irma terdiam dengan wajah menunduk. Jujur ia sangat kaget mendengar ucapan Rey barusan. Jelas ia merasa sangat tersindir. Di helanya nafas untuk sejenak sebelum mulutnya terbuka untuk menjawab.“Gue nggak papa kok. Gue bisa naik bus. Ya sudah loe pergi aja. Kasian Vhany nya kalau harus menunggu lama,” Irma berusaha tersenyum paksa. Mengubur dalam – dalam rasa kecewa yang jelas dirasakannya. “Oh, ya sudah kalau begitu. Sory gue duluan ya,” pamit Rey.Irma hanya membalas dengan anggukan. Dengan cepat Rey melajukan motornya. Sesekali ia menatap kearah kaca spion motornya. Menatap Irma yang masih berdiri terpaku. Di helanya nafas untuk sejenak. Jelas merasa kecewa karena gadis itu sama sekali tidak mencegahnya. Dasar bodoh, apa yang telah ia lakukan?Irma masih berdiri terpaku, menatap Rey yang semakin menjauh. Dengan langkah berat ia berbalik. Tiba – tiba ia merasa malas untuk ke kampus. Terserah mau kemana pun. Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu Part 02Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*