Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 07

Halo All Reader. Berhubung penulis sedang belajar "ala Mellisa" yaitu selalu menilai sesuatu dari positifnya, Oke kali ini penulis mau manfaatin Galau. Maksutnya penulis lagi galau kuadrat, N than tu "galau" penulis salurkan kedalam bentuk Cerpen.
So begini lah jadinya… Ha ha ha…
Over All, Happy Reading yak…
Part sebelumnya silahkan baca :
Cerpen terbaru take my heart part 6


"Silvi, Entar Siang loe ada acara nggak?" Tanya Vio sambil mulai menikmati Mie Soo Pesanannya.
Silvi tidak langsung menjawab. Angannya melayang mengingat agendanya hari ini. Sambil tersenyum ia balik bertanya.
"Kenapa?".
"Nggak kenapa – napa si. Rencananya ntar siang gue pengen ngajak loe ke gramedia. Gue pengen nyari buku moslem millionaire Karya Ippho Santoso. Katanya udah muncul di Gramedia" Tambah Vio Menerangkan.
"Ehem" Silvi berdehem rikuh sambil melirik Ivan yang sedari tadi jelas di cuekin dan hanya mendegarkan obrolan mereka berdua. "Maaf, Sebenernya gue hari ini mau jalan sama temen gue" Sahut Silvi malu – malu.
"Temen atau demen?" Kali ini Ivan menyambar membuat Vio mencibir sinis. Sementara Silvi hanya tersenyum simpul.
"Pacar loe ya?" Tanya Vio lagi.
"Bukan pacar si, Cuma kebetulan beberapa hari ini kita mulai deket".
"Oh calon pacar berarti" Lagi – lagi Ivan menyambar.
"O jadi loe lagi Pedekate. Gimana orangnya, cakep nggak?" tanya Vio terdengar antusias membuat Silvi tersipu malu Sementara Ivan mencibi sinis.
"Tapi dia bukan playboy kan?" tambah Vio kontan membuat Ivan menoleh kearahnya. Sadar kalau ia sedang di sindir.
"Nggak kok. Dia cowok baik-baik" Balas Silvi .
"Ah syukurlah. Tapi Yah… Kalau gitu loe nggak bisa nemenin gue donk" Desah Vio kecewa.
"Gue nggak keberatan kalau harus nemenin loe" Sambar Ivan cepat.
"Tapi nggak papa deh. Lain kali aja kita perginya kalau gitu" Tambah Vio seolah sama sekali tak mendengar kalimat yang di tawarkan Ivan barusan.
Untuk sejenak Ivan menarik nafas menyabarkan dirinya sendiri. Ia sadar sesadarnya kalau Vio saat ini benar – benar menganggapnya tidak ada. Padahal sudah beberapa kali Ivan melihat Silvi yang menatap risih akan kehadirannya. Tapi tetap, Menyerah tidak ada dalam kamus hidup Ivan selama ini. Karena itu ia harus memikirkan sesuatu untuk menarik minat Gadis satu itu.
"Ngomong – ngomong Mie Soo nya enak ya" Vio mengalihkan pembicaraan sambil menyuapkan mie kedalam mulutnya dengan penuh napsu.
Ivan melirik gadis itu. Sebuah senyum terukir di bibirnya saat sebuah ide terlintas di kepala ketika sepasang matanya mendapati sesuatu yang bertenger di bibir Vio. Dan sebelum Vio kembali berujar tangannya sudah lebih dahulu terulur. Mengusap bibir manis gadis itu. Membuat mata Vio melotot kaget.
"Loe apa – apaan si" Kata Vio terdengar marah. Tapi Ivan justru malah tersenyum.
"Ada Sesuatu di bibir loe" Kata Ivan santai. Dan bahkan dengan lebih santai lagi menjilat ibu jari yang tadi ia gunakan untuk mengusap bibir Vio.
"Manis" gumam Ivan lirih sambil mengernyitkan sebelah matanya genit.
Vio makin memberengut sebel. Dan sebelum mulutnya terbuka untuk mendamprat cowok itu, telinganya sudah terlebih dahulu menangkap kalimat lirih yang keluar dari bibir Silvi.
"So Sweet. Kenapa gue mendadak merasa kaya lagi nonton drama korea romantis yak?"
Vio tak bisa mencegah dirinya untuk memutar mata kesel. Merasa kalau sahabatnya telah berubah jadi penghianat. Masa hal memalukan yang di lakukan Ivan barusan itu So sweet. Apa gadis itu sudah tidak waras?. Dan saat melirik kearah Ivan, ia menyadari kalau itu justru malah memperburuk keadaan. Untuk beberapa detik yang berlalu kedua pasang matanya tak mampu mengalihkan diri saat mendapati senyuman di wajah Ivan. Kemarahannya menguap dengan begitu saja. Senyum itu begitu manis.
"Kenapa?".
Satu kata itu berhasil menyadarkan Vio dari lamunannya. Dengan cepat ia segera membuang muka. Menghindari tatapan Ivan yang menatapnya heran. Bahkan Silvi juga terdiam.
"Lupakan".
Selesai berkata Vio segera bangkit berdiri membaut Silvi dan Ivan saling berpandangan heran. Dan tampa kata lagi Vio segera berlalu sambil merutuki dalam hati atas apa yang ia lakukan tadi. Astaga, Ia pasti sudah gila. Bisa – bisanya ia merasa terpesona atas senyuman buaya cap kadal satu itu.
"Tu anak marah ya?" Tanya Ivan terlihat bodoh sambil terus menatap punggung Vio yang mulai menghilang.
"Kayaknya sih" Silvi terlihat mengangguk angguk membenarkan. Membuat Ivan mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tunggu dulu. Kenapa gue malah duduk disini?" Gumam Silvi terlihat bingung. "Vio, Gue jangan di tinggal" Dan detik berikutnya Silvi segera bangkit berdiri. Melesat keluar menyusul Vio. Meninggalkan Ivan dengan tampang cengonya ketika seorang pelayan berdiri di hadapannya sambil menyodorkan tagihan makan siang meraka.
Walau tampa berkomentar apa – apa Ivan merogoh sakunya. Mengeluarkan beberapa uang dari dompet. Sambil membayar tak urung ia perfikir. Mencoba mengingat – ingat ucapannya tadi. Seingatnya, ia tidak pernah menawarkan diri untuk mentraktir mereka walau sejujurnya ia tidak keberatan untuk itu. Tapi ya sudah lah, Untuk vio apa si yang enggak?.
Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 07
Vio dan Silvi sedang berjalan beriringan ketika Ivan menghampiri.
"Hei, Mau pulang ya?" Sapa Ivan ramah. Silvi mengangguk sementara Vio justru mencibir.
"Jadi Pacar loe langsung jemput loe sekarang?' tanya Vio lagi – lagi mengabaikan kehadiran Ivan.
"Bukan pacar. Kita cuma baru deket" Silvi meralat.
"Apa – apa aja deh. Yang jelas gue pengen liat orangnya gimana si?" tambah Vio cuek.
"Oke, Ntar gue kenalin. Tapi loe nggak boleh naksir sama dia ya?" Balas Silvi setengah bercanda sambil tersenyum. Vio tidak menjawab tapi jari telunjuk dan ibu jarinya disatukan membentu hurup "O". Sementara Ivan hanya terdiam memperhatikan ulah keduanya.
Selang beberapa saat, Silvi kembali berujar.
"Na, itu dia" Tunjuk Silvi kearah jalan.
Refleks mata Vio mengikuti arah telunjuk Silvi. Ivan juga melakukan hal yang sama. Matanya terus mengamati sosok yang di maksut dengan tatapan menilai.
Motor sport yang di pake keliatan keren si, tapi masih bagusan motor yang ia miliki. Jaket hitam yang ia di kenakan di tambah helm yang melekat di kepala memang kelihatan modis, Tapi ehem, dia juga bisa berpenampilan seperti itu. Bahkan bisa lebih, pikirnya menyombong. Dan saat cowok itu melepaskan helmnya,…. Ehem, Ivan harus akui kalau wajahnya keren walau ia tetap beranggapan wajahnya tetap jauh lebih keren.
Dan begitu menoleh, sebuah cibiran sama sekali tak mampu ia tahan saat mendapati wajah terpaku Vio yang tampak tak berkedip menatap sosok yang tampak berjalan menghampiri mereka. Hei, cowok itu tidak semempesona itu kali, Gerutnya.
"Hai" Sapa Silvi sambil tersenyum.
"Hai juga. Sory ya telat. Soalnya tadi macet".
"Nggak papa kok. Oh ya, Sekalian kenalin ini temen – temen gue" Tambah Silvi mengalihkan tatapannya dari sang gebetan kembali kearah Vio dan Ivan yang sedari tadi masih terdiam.
"Vio, Loe ngapain disini?" bahkan belum sempat mulut Silvi terbuka untuk memperkenalkan. Pertanyaan bernada kaget itu sudah terlebih dahulu terlontar.
Vio terdiam. Tidak langsung menjawab. Lidahnya terasa kelu. Mendadak ia merasa sesak. Merasa sulit untuk bernapas. Ia tidak sedang bermimpi kan?. Sosok yang berdiri di hadapannya itu?. Astaga.
"Herry, Loe udah kenal sama Vio?" Pertanyaan bernada heran keluar dari mulut Silvi saat Vio masih belum bersuara.
"Iya, Kita memang sudah saling kenal. Dulu kita satu kampus" Vio bersuara sambil berusaha memaksakan senyum di wajahnya.
"Oh ya?. Wah kebetulan sekali kalau begitu" Silvi tampak kaget. Kali ini Vio hanya membalas dengan anggukan.
Diam – diam Ivan terus memperhatikan perubahan dari sikap Vio. Walau ia tidak tau kenapa tapi ia menyadari kalau gadis itu merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Lebih tepatnya dengan kehadiran cowok bernama Herry tersebut.
"Ehem".
Silvi menoleh. Baru menyadari kalau masih ada Ivan disampingnya.
"Oh ya, hampir lupa. Herry, kenalin Ini Ivan. Temen gue".
Herry tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Ivan. Tak lupa keduanya menyebutkan namanya masing – masing. Sementara Vio masih terdiam bagai patung. Tak tau harus berbuat apa.
"Oh ya, Kebetulan ini udah siang. Kita cabut duluan ya. Takutnya ntar kita ketinggalan bus" Balas Ivan.
Dan tampa permisi ia segera meraih tangan Vio. Mengajaknya berlalu.
"Ih iya silahkan. Da Vio" Balas Silvi sambil tersenyum.
Vio hanya mengangguk. Kemudian berlalu pergi karena Ivan sudah terlebih dahulu menariknya. Herry sendiri juga terdiam. Tapi kedua matanya terus memperhatikan gerak – geriknya sampai keudanya benar – benar berlalu.
"Vio, Loe baik – baik aja kan?' tanya Ivan lirih saat keduanya sudah melangkah menjauh.
Seolah baru menyadari sesuatu, Vio segera menarik lepas gengamannya sambil melemparkan tatapan tajam kearah Ivan.
"Jangan pernah sekali – kali loe menarik gue sembarangan kayak tadi".
"Kok loe marah si?. Gue tadi itu bantuin loe tau".
"Bantuin?. Memangnya gue pernah bilang gue butuh bantuan?" Serang Vio balik.
"Loe emang nggak bilang. Tapi gue juga nggak bodoh. Walau gue nggak tau kenapa, Tapi gue ngerasa kalau loe nggak merasa nyaman dengan situasi tadi".
"Nggak usah sok tau" Balas Vio lagi.
Kali ini Ivan terdiam. Vio juga tidak melanjutkan ucapannya. Ia segera melangkah mendahului Ivan. Masuk kedalam bus yang kebetulan sudah muncul di hadapan.
Selama perjalanan keduanya terdiam tampa kata. Sesekali Ivan melirik kearah Vio yang hanya terpaku menatap keluar jendela. Mlutnya sempat terbuka, namun tiada kata yang keluar. Ia sendiri bingung harus berkata apa.
Sementara Vio sendiri juga tengelam dalam lamuannya. Kejadian tadi sama sekali tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Herry, sosok yang ingin ia hindari bahkan ia sampai rela pindah kampus tiba – tiba kembali ia temui. Bahkan dengan status gebetan sahabatnya. Astaga. Sekarang ia baru menyadari kenapa dulu ia merasa kalau wajah Silvi cukup familiran untuknya. Bukankah foto gadis itu yang ia lihat secara tak sengaja berada di dalam dompet Herry. Gadis yang berhasil menjadikan ia hanya sampai pada status sahabat. Bagaimana bisa selama ini ia tidak menyadarinya. Dengan berlahan di hembuskannya nafas berat sambil bergumam di dalam hati.
"Kenapa kenyataan selalu menyakitkan?".
To Be Continue…
PS: Untuk mengetahui kisah Herry sama vio silahkan baca Cerpen Sedih Pupus.

Random Posts

  • Cerpen Cinta: LITTLE AGATHA

    LITTLE AGATHAoleh: Efih Sudini AfrilyaCerpen Cinta “Agatha bukan cewek populer! Agatha gak cantik! Agatha juga gak putih! Tapi kenapa Fathan mempertahankan hubungan dengan Agatha?” Ungkap Agatha membelakangiku. Aku tahu, Agatha sedang menangis dan dia tidak ingin aku melihat butiran-butiran air mata yang menetes dari ujung matanya.Ini semua salahku. Jika aku tidak ikut-ikutan merayakan kemenangan Tim Basket ku. Agatha tidak akan menunggu ku hingga larut malam di Taman. Agatha tidak akan meminta putus dariku dan dia tidak akan menangis seperti ini.Jujur, dibanding Agatha, cewek-cewek yang mengidolakanku jauh lebih cantik. Meskipun tubuh Agatha mungil, kulitnya tak putih, tapi buatku Agatha sangat manis. Matanya yang bulat selalu memancarkan kebahagiaan, kepolosannya membuatku nyaman dan tidak meragukannya lagi, tingkahnya yang manja membuatku selalu ingin menjaganya.Aku dan Agatha satu kelas saat kami kelas 1 SMP. Dia sangat ceria dan baik hati, sifatnya yang polos dan seperti anak kecil selalu menjadi bahan lelucon buat teman-teman satu kelas. Tapi Agatha tidak pernah marah ataupun tersinggung. “Itu kan Cuma bercanda. Kalo Agatha sakit hati nanti Agatha gak gendut-gendut.” Ungkapnya ringan saat salah satu teman mendekatinya.Awalnya aku sama seperti anak-anak yang lain, aku ikut meledek Agatha dengan mengatainya “Dasar anak kecil!” setiap kali dia mendekatiku. Agatha berbeda dengan anak-anak cewek lainnya yang kebanyakan dari mereka terlalu memaksakan diri untuk menjadi dewasa, dandan berlebihan dan sebagian dari mereka bahkan genit padaku. Bahkan, karena aku terlalu sering mengatai Agatha Anak Kecil, Agatha merasa segan dan tidak berani mendekatiku lagi. Ditambah dengan banyaknya cewek-cewek kece yang selalu menggerubutiku.Suatu saat sepulang sekolah, aku melihat Agatha tengah menyebrangkan seorang nenek-nenek, aku hanya tersenyum melihatnya karena memang Agatha seorang yang baik. Saat tiba diseberang jalan Agatha berteriak memanggil-manggil namaku dan dia memintaku untuk menyebrangkannya, karena ternyata dia sendiri tidak bisa menyebrang. Saat itu, Agatha sangat konyol, dia hanya menunduk dan menyembunyikan pipi merahnya karena malu.“Sebenernya Agatha gak bisa nyebrang, tadi Cuma kasian aja sama nenek-neneknya.” Ungkapnya saat itu.“Terus kalo kamu ketabrak gimana?” Tanyaku.“Kalo mau nolong itu gak boleh takut. Sekarang kan Agatha udah di tolong sama Fathan. Makasih ya Fathan.” Jawab Agatha.“Dasar anak kecil!” Aku mengatainya lagi. Agatha hanya nyengir dan dibalik bibirnya yang tipis tampak barisan gigi kecil yang rapi dan bersih melengkapi kelucuannya. Kami pun berpisah saat itu, tapi entah kenapa tingkah Agatha siang itu selalu terbayang-banyang, membuatku senyum-senyum sendiri. Membayangkan saat dia memanggil-manggil namaku dan memohon padaku untuk menyebrangkannya, padahal sebelumya dia menjadi pahlawan buat nenek-nenek yang gak bisa nyebrang.Esoknya di sekolah, aku melihat ada kotak makan di atas mejaku. Isinya Nasi goreng berbentuk Hati dan dihiasi sayuran yang tersenyum pada siapapun yang melihatnya. Tanpa bertanya-tanya siapa yang memberikan Nasi goreng padaku, aku langsung menyantap habis Nasi goreng itu. Anak-anak cewek di kelasku berbisik-bisik, mungkin mereka penasaran dan sedikit cemburu pada Sipembuat Nasi goreng itu. “Nasi goreng dari siapa Fhat?” Tanya salah satu cewek yang menyukaiku.“Dari pahlawan kesiangan.” Jawabku. Aku tahu Nasi goreng itu pasti dari Agatha, karena dari tadi Agatha hanya duduk dan membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Gak seperti biasanya, setiap pagi pasti dia loncat kesana-kemari menyapa teman-teman satu kelas. “Yang datang subuh kan Agatha! Dia pasti tau siapa yang naro tempat makan di mejaku.” Kataku membuat Agatha mengangkat kepalanya.“Agatha gak enak badan ko, jdi dari tadi bobo aja, gak tau apa-apa.” Ungkap Agatha sambil membenamkan kepalanya kembali.Semenjak kejadian itu, Agatha menjaga jarak denganku. Dia seolah-olah tidak mengenalku, padahal aku selalu mengingat-ngingat kekonyolannya. Saat kelas 2 SMP, kami berbeda kelas, aku tidak bisa melihat kekonyolannya lagi, bahkan nama Agatha seolah menghilang dari kehidupanku. Itu karena dia berubah menjadi seorang yang pemalu dan tidak terlalu aktif, tidak sepertiku yang mengikuti berbagai organisasi sekolah dan namaku semakin meroket dikalangan cewek-cewek penghuni sekolah.Siang itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan Agatha di depan kelasnya, Agatha berlalu begitu saja meninggalkan aku. Tapi kali ini aku tidak bisa berpura-pura acuhkan dia.“Agatha!” Panggilku. Agatha menoleh padaku tanpa ekspresi. Aku menghampirinya, jujur aku ingin sekali mencubit pipinya yang kini agak cabi. “Makasih Nasi goreng yang waktu itu.” Ungkapku.“Nasi goreng?” Tanya Agatha sedikit lupa. “O, iya, makasi ya Fathan uda nolongin Agatha waktu itu.”“Selain gak bisa nyebrang, kamu pilon juga ya?” Godaku.“Iya, Agatha akhir-akhir ini memang sedikit pelupa. Maaf ya.”“Besok sore ada acara gak?” Tanyaku“Enggak, Agatha di rumah aja.”“Nonton pertandinganku ya! Pulang sekolah! Please!”Aku membujuk Agatha, dan akhirnya Agatha bersedia menonton pertandingan basketku.Pertandingan basketpun mulai berlangsung, tapi kedua mataku belum menemukan sosok Agatha. Yang kutemukan hanya teriakan cewek-cewek fansku yang tidak berhenti berteriak memanggil-manggil namaku. Aku mulai khawatir, aku takut Agatha tidak datang. Akupun kecewa, karena Agatha tidak kunjung datang hingga pertandingan usai. Saat diperjalanan pulang, Agatha menghampiriku, dia datang dengan membawa kotak makanan.“Agatha telat, tapi Agatha bawa nasi goreng sebagai tanda maaf karena Agatha udah telat dan gak nonton pertandingan Fathan.” Ungkap Agatha memohon maaf padaku. Awalnya aku memang kecewa dan marah padanya, tapi setelah melihat kepolosannya, aku berubah fikiran. Aku tidak ingin Agatha merasa bersalah karena dia tidak menonton pertandinganku, aku hanya ingin melihat senyum cerianya seperti dulu, dan tiba-tiba muncul perasaan aneh di dalam hatiku. Aku ingin menjaga Agatha, aku ingin menjadi pelindung Agatha.Saat itu juga aku mengungkapkan perasaanku pada Agatha. Aku menyukai kepolosannya dan tingkahnya yang seperti anak kecil. Memang sangat konyol, tapi aku ingin selalu bersama Agatha, menjaganya seperti adikku sendiri, melindunginya, menyayangi dan mencintainya.“Fathan ngigo! Masa mau jadi pacar Agatha!” Ungkapnya saat aku meminta dia menjadi kekasihku.“Aku serius, Agatha mau kan jadi pacar Aku?” Tanyaku memohon.“Kita kan masih kecil. Apalagi Fathan tau Agatha seperti apa, Agatha gak percaya kalo Fathan sayang sama Agatha. Fans Fathan kan cantik-cantik! Masa Fathan sayang sama Agatha?” Jelas Agatha.“Tapi aku beneran sayang sama kamu Tha! Aku suka kamu! Kamu perlu bukti apa agar percaya?”“Agatha bingung. Fathan terlalu sempurna buat Agatha. Apa kata orang-orang kalo tau kita pacaran.” Ucap Agatha sendu.“Aku gak peduli ucapan orang lain Tha! Memangnya kamu gak suka sama Aku?”“Agatha suka sama Fathan, tapi…” Agatha berhenti bicara. “Fathan terlalu tampan buat Agatha.” LanjutnyaAku hanya tertawa mendengar penjelasan Agatha saat itu, dia mengakui bahwa Aku tampan dan dia menyukaiku. Kami berpisah saat itu, dan sepanjang malam aku memikirkan cara untuk membuat Agatha percaya bahwa aku menyayanginya. Berhari-hari aku memikirkan cara yang tepat, hingga akhirnya saat hari senin tiba. Seusai upacara bendera, Aku dan Tim basket ku diberi kesempatan untuk menaiki podium dan menyampaikan sepatah duapatah kata karena Tim kami mejadi pemenang dalam pertandingan persahabatan antar sekolah. Aku sebagai kapten, diberi kesempatan pertama, dan kugunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan perasaanku pada Agatha.“Kemenangan ini sepenuhnya ku persembahkan untuk yang tersayang Agatha Shafira.” Dengan penuh rasa percaya diri aku menyampaikan kalimat itu di hadapan semua murid. Kontan, anak-anak cewek yang tengah berbaris itu berteriak, mereka seakan tidak percaya dengan apa yang telah ku ucapkan. Kupandang Agatha yang berdiri dibarisan paling depan, dia hanya menunduk. Dan Aku sangat khawatir Agatha akan marah, atau Agatha akan di labrak oleh cewek-cewek penggemarku.Saat jam istirahat, Aku menemui Agatha di kelasnya. Aku langsung menghampirinya, Aku siap jika Agatha marah padaku atau menamparku.“Agatha, Aku minta maaf. Kamu jangan marah sama Aku ya!” Pintaku.“Agatha gak marah sama Fathan. Agatha cuman malu aja sama temen-temen.”“Jadi?” Tanyaku.“Agatha……” Agatha terdiam dan mulai meneteskan air mata. “Agatha juga sayang sama Fathan.” Lanjutnya membuatku lega dan bahagia.“Agatha yakin? Agatha mau jadi pacar Fathan?”“Mau.” Ungkapnya malu-malu. Kuhapus air mata yang telah membasahi pipinya. Ku usap lembut rambutnya yang panjang. Agatha mengacungkan jari kelingkingnya padaku.“Fathan janji kan gak bakal nyakitin Agatha?” Tanya Agatha.“Janji.” Kataku melingkarkan jari kelingkingku ke jari kelingking Agatha.Sejak saat itu kami selalu bersama, kami saling melengkapi satu sama lain. Rasanya hidupku tak ada beban saat aku bersama Agatha, dia selalu membuatku tertawa, membuatku bahagia, aku benar-benar nyaman bersamanya. Agatha menerima segala kekuranganku, dia adalah wanita yang sangat bisa mengerti aku. Saat SMA, kita berbeda sekolah. Aku tetap menepati janjiku untuk tidak menyakiti Agatha. Jujur, awalnya aku takut jika Agatha mencintai cowok lain, atau dia berselingkuh dengan cowok lain, atau ada cowok lain yang mendekati Agatha di sekolahnya. Aku sangat ketakutan saat itu, tapi Aku tidak bisa mengekang atau mengatur-ngatur Agatha seenakku. Aku sangat takut kehilangan Agatha.Aku tidak peduli dengan olok-olokan teman SMA ku terhadap Agatha. Mereka berkata Agatha tidak sepadan dengan ku. Mereka memanas-manasiku untuk putus dari Agatha, bahkan mereka sengaja mendekatkan aku dengan seorang Wanita bernama Eliana. Eliana memang cantik, bertubuh tinggi dan langsing, siapapun yang melihatnya akan langsung tertarik padanya. Eliana baik hati, sama seperti Agatha, hanya saja Eliana lebih dewasa dari Agatha.Awalnya aku tidak tertarik sama sekali pada Eliana. Agatha tetap menjadi wanita pujaanku. Namun setelah Dua Tahun satu kelas dengan Eliana, aku semakin mengenal Eliana, dan perasaan itu tumbuh begitu saja. Entah setan apa yang merasuki fikiranku, aku merasa lebih nyaman bersama Eliana dan Aku lebih sering bersama Eliana.“El, kamu tahu semua tentang Aku kan? Tentang Agatha?” Tanyaku pada Eliana.“Tahu, aku tahu semua tentang kamu! Cintamu yang begitu besar untuk Agatha. Tapi apa Aku salah, mencinta kamu?” Jelas Eliana.“Gak ada yang salah El. Aku juga punya perasaan yang sama, aku mencintai kamu El! Tapi Aku gak bisa meninggalkan Agatha.”“Cintamu sama Agatha lebih besar. Aku bisa terima itu, tapi Aku gak bisa terima kalau kamu menghianati Agatha. Agatha gak pantes buat disakiti.”“Terus, gimana sama kita El?” Tanyaku“Than, Jangan pernah sakitin Agatha! Dia terlalu baik. Dan lupain perasaan yang kamu punya buat Aku.” Jelas Eliana yang membuatku tersadar, bahwa memang kenyataannya Aku lebih mencintai Agatha. Bahkan Eliana yang baru sekali bertemu dengan Agatha tidak ingin melukai ataupun menyakiti Agatha yang begitu baik dan polos. Aku sadar, sadar dari kekhilafanku, sadar telah mengacuhkan dan tidak memperhatikan Agatha akhir-akhir ini.Kini Aku dan Eliana hanya berteman biasa saja, aku lebih menjaga jarak dengan Eliana, karena Aku takut perasaan suka ku terhadapnya muncul lagi. Aku menyadari bahwa Aku salah, meskipun Agatha tidak tahu Aku pernah menyukai wanita lain. Bahkan Aku merasa malu ketika berada di hadapannya, ketika dia selalu jujur dan menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya, tentang teman-teman cowoknya yang suka menggoda dan baik padanya. Bahkan kadang Aku merasa cemburu ketika Agatha menceritakan teman cowok yang menyukainya.“Kamu suka juga sama dia Tha?” Tanyaku saat Agatha menceritakan Teman Cowok yang Nembak dia.“Engga, dia kan temen Agatha. Lagian Agatha sayangnya cuman sama Fathan, jadi Fathan gak usah khawatir ya!” Jawabnya polos.Aku percaya pada Agatha, dia tidak mungkin menghianatiku. Dan akupun belajar jujur pada Agatha, kecuali tentang perasaanku pada Eliana, Aku tidak menceritakannya. Hubunganku dengan Agatha tidak pernah ada masalah, kami tidak pernah bertengkar.Tapi, saat ini untuk yang pertama kalinya, Aku telah membuat Agatha kecewa padaku. Aku lebih memilih berpesta dengan teman-temanku, bahkan Aku tidak memberitahu Agatha bahwa Aku tidak akan datang menemuinya di Taman. Agatha menungguku di Taman hingga malam, padahal Aku yang telah membuat janji dengannya, Aku yang meminta Agatha untuk datang ke Taman.“Agatha tahu! Fathan sebenernya suka sama Eliana kan?” Agatha tetap membelakangiku. Pertanyaan Agatha membuatku kaget dan bahkan Aku tidak bisa bicara apa-apa.“Fathan suka kan sama Eliana? Jujur!” Agatha berbalik menatapku dan Aku bisa melihat air mata yang membanjiri wajahnya dengan jelas.“Aku….aku….menyukai Eliana. Tapi sungguh, Aku gak pernah menghianati Kamu Tha! Aku lebih mencintai Kamu!” Jawabku Jujur.“Tapi tetap aja di hati Fathan gak cuman ada Agatha, ada Eliana juga. Fathan gak tahu, kalo selama ini Agatha cemburu sama Eliana kan?” Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan menunggu apa yang akan dibicarakan Agatha selanjutnya.“Fathan gak akan tahu! Karena Fathan sekarang udah berubah! Fathan lebih deket sama Eliana dan temen-temen Fathan yang sekarang!” Ungkap Agatha dengan Tangis yang lebih kencang. “Agatha sadar ko, dibanding Agatha, Eliana jauh lebih cantik. Fathan lebih cocok sama Eliana. Temen-temen Fathan juga lebih dukung Fathan sama Eliana kan?” Aku hanya bisa terdiam mendengarkn ucapan Agatha.“Agatha capek pacaran sama Aku?” Tanyaku.“Agatha kasian aja sama Fathan. Fathan punya pacar jelek kaya Agatha.” Jawabnya.“Siapa yang bilang Agatha jelek? Apa pernah Aku bilang Agatha jelek! Buat Aku, Kamu lebih dari sekedar cantik, hati kamu cantik Tha! Dan Aku sangat mencintai kamu! Aku gak mau kehilangan Kamu. Gak ada yang bisa misahin kita, Eliana atau teman-temanku gak bisa mengubah perasaan Aku sama Kamu!”“Tapi Fathan suka sama Eliana kan? Fathan sama Eliana aja!”“Tha!!!” Aku tidak sadar telah membentak Agatha. Kini Tangis Agatha lebih kencang, bahkan dia berlari meninggalkanku. Aku hanya bisa terdiam, Aku merasa tidak memiliki kekuatan untuk mengejarnya. Sesampainya di rumah fikiranku sangat kacau, aku tidak bisa berhenti memikirkan Agatha, juga memikirkan cara untuk membuat Agatha percaya lagi padaku. Semalaman Aku tidak bisa tidur, nomor Agatha bahkan tidak bisa dihubungi. Hingga pagi datang, saat Aku hendak pergi ke sekolah, tiba-tiba ponsel ku berdering dan itu telfon dari Ibu Agatha. Dengan fikiran yang tidak tenang, Aku langsung menuju Rumah Sakit.Kulihat tubuh mungil Agatha terkulai lemah di atas ranjang putih. Karena bertengkar dengan ku kemarin, Agatha tertabrak mobil ketika hendak menyebrang. Aku semakin merasa bersalah, ku kecup kening Agatha seraya mengatakan kata maaf. Meskipun Agatha terpejam, tapi kuharap ia bisa mendengarkan kata maafku. Aku menunggu Agatha terbangun, kududuk di samping Agatha yang terbaring, Aku terus berdo’a dan mengucapkan kata maaf di telinganya.“Agatha sangat mencintai Nak Fathan. Meskipun banyak teman cowoknya yang main ke rumah dan meminta Agatha menjadi pacarnya. Nak Fathan tetap jadi pilihannya.” Ungkap Ibu Agatha. Ia menceritakan kisah hidup Agatha dari kecil hingga saat ini. Sekarang Aku tahu kebiasaan dan hal-hal lain tentang Agatha yang tidak Agatha ceritakan padaku.Satu minggu berlalu, kini Agatha sudah bisa masuk sekolah. Sebelum Agatha pulang dari Rumah sakit, Aku berjanji akan menjaga Agatha, dan kejadian ini tidak akan terulang lagi. Aku sangat bersyukur, Agatha bisa memaafkan Aku dan percaya pada cintaku.“Fathan tetap sayang sama Agatha meskipun sekarang Agatha gak bisa jalan?” Ucapnya saat Aku menggandengnya berjalan melalui lorong menuju kelasnya. Selama Agatha belum bisa berjalan normal, Aku akan setia mengantarnya kemanapun ia pergi. Termasuk mengantarnya kesekolah hingga ia masuk kelas dan duduk di kursinya.“Aku sayang kamu. Dan perasaan ku gak akan berubah hanya karena kamu gak bisa jalan.” Jawabku“Sekalipun Agatha buta, tuli dan gak bisa ngomong?” Tanya nya lagi.“Sekalipun kamu berubah jadi gendut atau jadi monster pun Aku bakal selalu sayang sama Kamu. Karena Aku sayang dan mencintai apa yang ada dalam diri kamu.” Agatha tersenyum mendengar jawabanku.“Apa yang Fathan suka dari Agatha?”“Semuanya! Karena buat Aku, Kamu itu sempurna.”Kulihat Agatha tersipu malu dan itu nampak jelas dari pipinya yang memerah, sungguh ia begitu manis.*****By : Efih Sudini AfrilyaFacebook : Fiehsoed@gmail.comMakasiii….

  • Cerpen Kala cinta Menyapa part 8

    Gak mau basa – basi, yang merasa dari maren nungguin lanjutan nie cerita _Walau aku ragu ada yang nunggu_Monggo, silahkan langsung di baca. Happy reading ya………….Credit Gambar : Ana Merya“Rani, loe punya hubungan apa sama erwin?” Selidik irma sambil memperhatikan Ulah Rani yang masih asik membolak balikan halaman demi halaman komik yang ada ditanganya tampa memperdulikan keributan teman – temannya yang rata – rata pada ngegsosip sambil menunggu dosen mereka masuk kekelas.“Nggak ada” Balas Rani tanpa menoleh.sebagian

  • Bayang-Bayang Kematian

    Oleh: Indhra Suci – Ku belajar tuk menjalaninya, ku pikir ku tlah salah jalan, salah menentukan pijakan. Tapi semua itu datang tiba-tiba. Tapi mengapa tak ku lakukan ? ku mencoba mengerti tapi tak kunjung ku pahami. Aku merasa muak pada mereka, yang selalu mengungkungku dengan berbagai aturan.Aku meletakkan pulpenku dengan mendesah gelisah. Tak lama setelah ituku tutup diaryku dan aku melangkahkan kakiku ke tempat yang biasa aku datangi. Kegelapan menutup segalanya. Hanya sedikit cahaya yang memantulkan sinar pada bola mataku. Ku edarkan pandanganku ke segala sudut.Diskotik yang ramai, di penuhi dengan orang yang tidak benar. Aroma minuman keras dan asap rokok mengepul memenuhi istanaku. Ya, istana, di sini aku bagai seorang ratu, sedangkan di rumah bagiku bagai neraka tak bertepi, memuaskan nafsu dunia dengan segala kemewahan yang tak berguna. Dengan orang-orang yang hanya mementingkan kesuksesannya. Mereka adalah orang tuaku, ayah dan ibuku, dan diriku adalah seorang anak liar. Ayahku adalah seorang pengusaha sukses, yang setiap hari selalu sibuk dengan bisnisnya, dan ibuku yang sibuk dengan arisannya dan perkumpulannya dengan ibu-ibu yang lain. Hanya untuk sekadar kepuasannya sendiri. Sedangkan aku anak mereka satu-satunya yang tak pernah di anggap. Selama ini mereka hanya memenuhi kebutuhan materiku tapi bagaimana dengan kasih sayang dan perhatianku.Ya ,aku Khikan ,anak kelas 2 SMA yang tak pernah mendapat kasih sayang orang tua. Jadi jangan salahkan aku, jika aku mencari duniaku sendiri untuk berbagi resah dan gelisah. Hanya di tempat ini aku membasahi jiwaku dengan kesenangan yang akan membawaku ke lembah hitam dan kematian yang menyakitkan.Ketika itu ada 2 orang lelaki kekar menghampiriku. Mereka mencoba memaksaku dan sedikit menyeretku. Sebelum itu ,aku berhasil mengantongi beberapa butir pil extasi. Saat itu ku berusaha melepaskan diri ,namun sia-sia ,pegangan lelaki tersebut terlalu kuat.“Apa-apaan ini ???!!!” kataku“maaf nona Khikan, kami hanya di suruh Bapak Harvey. Bapak ingin nona pulang sekarang juga !!” ujar 2 orang lelaki itu.“papa ????!!! sejak kapan papa peduli denganku ???!!!” balasku,sambil tertawa terbahak-bahak.“beberapa jam lagi ada pertemuan besar di rumah nona,seharusnya nona ada di rumah ,bukab tempat menjijikkan seperti ini”.“hhhhheeeeeeeeii ,kalian pikir kalian siapa,jangan…………”.Aku tak sempat melanjutkan perkataanku,karena tiba-tiba mereka menyumpal hidungku denagn obat bius. Lamat ku dengar sebuah suara,kemudian aku sudah tak ingat lagi.mataku masih terasa berat namun ku paksakan mataku untuk terbuka. Ku edarkan pandanganku ,aku telah berada di sebuah kamar mewah dengan sprei motif hello kitty berwarna hijau muda,kamarku sendiri,ya ,kamarku.“sial kedua gembel itu telah menggagalkan rencanaku,padahal aku sudah janji dengan Irvan, Emy, Hadi, dan Seno temanku dugem tuk bersenang-senang mumpung liburan. Tak liburpun aku tetap bersenang-senang. Ngapain sekolah ? Apa sih gunanya sekolah ?”. batinku.Papa dan mama masuk ke kamarku dengan wajah menahan marah,aku menyambutnya dengan cuek.“memalukan ,kamu tahu kan kalau 2 jam lagi akan ada pertemuan penting. Wartawan pun pasti akan dating untuk meliput,eeehhh kamu malah kabur ke diskotik. Diskotik itu tempat orang yang nggak bener ??!!!!” ujar papa.“masa bodoh !!” kataku.“ya udah sayang ,sebaiknya kamu mandi dan dandan yang cantik yaaa “. Mama berkata lembut padaku.Tamu-tamu sudah berkumpul di taman belakang,yang sudah di sulap menjadi ruang pesta mewah. Tapi tidak bagiku ,ini seperi neraka. Aku berlari menuju kamar. Pil itu ,ya,pil. Pil itu ku telan beberapa butir ,namun tak ada reaksi. Ku tumpahkan semua pil itu di telapak tanganku,lalu ku menelannya.Beberapa detik kemudian ku merasakan nikmat yang maha dahsyat. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Apakah aku telah mati ?. Tiba-tiba ku melihat sosok mati kaku,dengan mulut berbusa. Ku memandang sosok yang di selimuti kain kafan. Aku gemetar ,jantungku berdetak keras memandang tubuh yang telah rusak. Dan itu aku ,ya ,itu wajahku. Aku berteriak histeris ,sebuah tangan menyeretku ke ruang hampa gelap tanpa cahaya. Aku merasakan panas yang maha dahsyat menerpa tubuhku. Penyiksaan mulai menyiksaku.*****narkoba tidak akan menyelesaikan masalahSAY NO TO DRUGSnama penulis : indhra sucijudul karangan : bayang-bayang kematiantema : narkoba ( salah pergaulan )alamat email : yani_indhrasuchi@yahoo.co.id

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 03 / 13

    Masih kelanjutan dari cerpen kala cinta menyapa yang kini udah sampe part 3. Ngomong – ngomong kali ini cerpen versi edit ya. Ya nggak banyak yang berubah, hanya berusaha untuk sedikit merapikan aja. Nah, buat yang baru nemu kisah ini biar nyambung mendingan baca dulu bagian sebelumnya pada Kala cinta menyapa bagian 2. Selamat membaca ya….Kala Cinta Meyapa“Apa. Si Erwin jatuh kedalam got? Loe dapat gosip itu dari mana?”Langkah Erwin yang berniat untuk kekelasnya langsung terhenti saat telinganya mendengar bisik – bisik teman – temannya. Begitu wajahnya menoleh ia melihat segerombolan teman – temanya yang sepertinya sedang bergosip ria tanpa menyadari kehadirannya.“Ia, katanya si gitu. Katanya lagi nie ya, yang bantuin dia itu si siapa tu anak sastra yang pake kacamata. Haduh gue sampe lupa namanya?”“Yang mana nie?” tanya beberapa yang lain.“Itu lho. Yang biasa bereng sama Irma."“O… yang itu. Gue tau. Kalau nggak salah namanya Rani. Iya bener deh kayaknya. Jadi dia yang bantuin. Tapi gimana ceritanya."“Gosip yang beredar si katanya gini. Waktu itu si Erwin mapok terus tetep nekat pake motor. Makanya nabrak. Untung aja nggak mati. Nah waktu itu kebetulan kejadiannya pas didekat rumahnya Rani. Makanya langsung Rani bantuin."“Ih, masa si Erwin doyan minum? Sampe mabok segala?” tanya yang lain tampak tak percaya.“Cek cek cek. Kalau gue si percaya aja. Toh tu anak kan memang selama ini terlihat misterius."Sementara yang lainnya hanya mengangguk – angguk membenarkan. Tanpa menyadari Erwin yang sedari tadi menguping terbuka tanpa suara. Tangannya terkepal dengan erat. Emosinya benar – benar naik saat ini. Gadis itu?… benar – benar sulit di percaya.Tampangnya aja yang terlihat lugu dan polos. Tapi ternyata. Dengan kesal di pukulnya dinding membuat orang – orang yang sedari tadi mengosip langsung menoleh. Merasa terkejut sekaligus ketakutan ketika melihat yang sedang di gosipkan muncul dengan tiba – tiba. Dan semuanya hanya mampu menunduk terpaku saat Erwin melangkah melewatinya sekali gus merasa lega karena ternyata Erwin tidak melakukan apa – apa. Kalau sampai Erwin beneran ngamuk kan bahaya.Tepat di belokan kelas Erwin berpapasan dengan Rani yang kebetulan juga lewat dari hadapannya. Tanpa menyadari ada bahaya sedikit pun, dengan santai Rani terus melangkah. Jantung nya terasa mau copot saat tiba – tiba tangannya di tarik, dan Rani merasa lebih kaget lagi saat mendapati wajah Erwin yang menatap seolah – olah akan melahapnya hidup – hidup.“A… A…. Ada apa?” tanya Rani terbata.Erwin tidak langsung menjawab. Matanya menyipit membuat Rani makin panas dingin. Ya ampun ini kan masih pagi.“Loe….” tunjuk Erwin lurus ke arah Rani. Saking merasa keselnya ia sendiri sampai tidak tau harus ngomong apa.“Lepasin temen gue!” terdengar sebuah suara di susul dorangan tubuh yang di rasakan Erwin. Rasa kesel nya makin meningkat saat mendapati wajah sangar Irma di belakangnya.“Loe lagi. Mau apa loe? Ini tu bukan urusan loe!” geram Erwin setengah membentak.“Ho ho ho, belum tau ya? Rani ini sahabat gue. Dan siapa pun yang berusaha nyakitin dia akan jadi urusan gue."“Heh…” cibir Erwin Sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap sinis kearah Irma. “Jadi loe seorang bodyguard ternyata."Dan sedetik setelah kata itu terucap dari mulut Erwin…“Aduh,” jeritan kesakitan terdengar. Erwin melihat kearah kakinya yang masih berdenyut sakit karena di injak sekeras – kerasnya oleh Irma yang kini tampak tersenyum puas.“Ha ha ha, rasain loe. Makanya kalau ngomong jangan asal nyeplak. Enak aja gue secantik ini di bilang bodyguard, yang ada gue itu pengawal pribadi. Ups, salah maksudnya gue itu sahabat terbaik yang pantes di jadiin teladan semua orang."“Dasar cewek sarap,” geram Erwin berusaha menahan emosinya.“Tunggu dulu, kok kalian berdua malah berantem?”Erwin dan Irma kontan langsung menoleh kearah Rani secara bersamaan. Menatap gadis itu yang terlihat heran sekaligus tidak percaya.“Dan itu karena elo!” tuding Erwin langsung.“Gue?” tunjuk Rani kearah wajahnya sendiri. Pikirnya segera melayang. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Bukannya ia sudah tutup mulut soal Accident yang terjadi pada Erwin kemaren.“Jangan sok polos,” sambung Erwin lagi. “Loe kan yang nyebarin gosip yang tidak – tidak soal gue?”“Gosip?” ulang Rani makin bingung.“Ha ha ha. Yang tidak – tidak? Nggak salah tuh. Bukannya yang iya – iya ya?” potong Irma disela tawanya.“Diem loe!” bentak Erwin kearah Irma yang masih tertawa. Mata Erwin sedikit menyipit kearah Irma. Sebuah pemikiran baru terlintas di benaknya.“Jangan bilang ini ulah loe?”“Tentu saja,” aku Irama nggak tanggung – tanggung. “Loe pikir gadis sepolos Rani mau melakukannya?”Mulut Erwin terbuka tanpa suara. Sementara Rani justru terlihat makin bingung. Kenapa dia di bawa – bawa?“Loe….” tunjuk Erwin kearah Irma, Eh bukannya takut Irma justru malah mendekat ke arah Erwin. Jelas terlihat menantang.“Makanya, jangan pernah berusaha mencari gara – gara sama gue,” balas Irma sebelum kemudian menarik tangan Rani. Mengajaknya berlalu meninggalkan Erwin dengan tampang bodohnya.“Eh tunggu dulu,” tahan Rani menghentikan langkahnya. Membuat Irma merasa heran. Dan lebih heran lagi saat melihat Rani berbalik, kembali menuju kearah Erwin yang masih diam terpaku.“Gue lupa mo bilang. Soal kemaren katanya loe yang bantuin gue waktu pingsan. Gue kan belum bilang ma kasih. Ma Kasih ya…” kata Rani sambil tersenyum namun justru malah membuat Erwin makin kesel. Dan sebelum Erwin sempat buka mulut, Irma sudah terlebih dahulu menarik tangan Rani dan membawanya pergi.“Loe bego apa dodol si? Kenapa loe malah bilang terima kasih sama tu anak?” geram Irma sambil menarik Rani menuju kekelasnya.“Lho, memangnya ada yang salah? Toh kan loe sendiri yang bilang kalau kemaren itu Erwin yang nolongin gue. Dan dari kecil itu nyokap bokap gue udah ngajarin tentang tatakrama. Nah karena dia yang udah bantuin gue, ya udah seharusnya donk gue bilang ma kasih."“Terserah loe aja deh,” Irma tak mau ambil pusing.“Oh ya, gue juga heran. Kenapa loe kemaren nggak masuk? Kasian tau, Rei kemaren nyariin loe,” jelas Rani.“Rei? Nyariin gue?” tanya Irma heran. Rani hanya membalas dengan anggukan.“Terus loe bilang apa?”“Ya gue bilang aja nggak tau. La kan gue emang nggak tau. Tapi abis itu dia ngobrol gitu sama Nandini. Tau deh ngomong apa an. Bukan urusan gue ini."“Sama Nandini?"Rani kembali mengangguk. “Tapi gue heran deh, kok loe biarin aja dia deket – deket sama Nandini. Entar kalau mereka jadian beneran apa loe nggak patah hati?”Mendengar pertanyaan Rani barusan sontak langkah Irma langsung terhenti. Mata Rani juga hanya berkedip – kedip heran menatapnya.“Kenapa?” tanya Rani lagi.“Loe bilang apa. Gue patah hati? Kenapa gue harus patah hati?"“Ya ela, loe kan cinta sama Rei. La nanti kalau Rei jadian Sama Nandini apa loe nggak jadi patah hati."“Yang bilang gue suka sama Rei siapa?”“Nggak ada si. Gue nebak aja. Memang nya salah ya?” tanya Rani membuat Irma jadi sedikit salah tingkah.“Tentu saja salah."“Jadi loe nggak suka sama Rei donk?” tanya Rani lagi.“Tentu saja tidak,” balas Irma cepat. Sedikit takut kalau Rani bertanya lebih lanjut. Bukannya apa, ia tau kalau temannya yang satu ini memang bukan ember, tapi ia juga sangat tau kalau mulutnya sangat gampang keceplosan. Bukitnya Erwin aja kena dampaknya.“Eh, itu bukannya Rei ya?”Refleks Irma langsung berbalik menatap kearah pandangan Rani. Jantung Irma terasa berhenti berdetak saat mendapati tatapan tajam Rei yang terarah lurus kearahnya sebelum kemudian berlalu pergi tanpa menyapanya sedikit pun. Sementara Rani sendiri hanya angkat bahu dan kembali melanjutkan langkahnya ke kelas. (Note : Untuk kisah Irma dan Rei bisa di baca selengkapnya dalam serial Dalam Diam Mencintaimu)Oke guys, bersambung dulu ya. Untuk kelanjutan kisah Rani dan Erwin lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 4Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.139 WordsLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*