Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 07

Halo All Reader. Berhubung penulis sedang belajar "ala Mellisa" yaitu selalu menilai sesuatu dari positifnya, Oke kali ini penulis mau manfaatin Galau. Maksutnya penulis lagi galau kuadrat, N than tu "galau" penulis salurkan kedalam bentuk Cerpen.
So begini lah jadinya… Ha ha ha…
Over All, Happy Reading yak…
Part sebelumnya silahkan baca :
Cerpen terbaru take my heart part 6


"Silvi, Entar Siang loe ada acara nggak?" Tanya Vio sambil mulai menikmati Mie Soo Pesanannya.
Silvi tidak langsung menjawab. Angannya melayang mengingat agendanya hari ini. Sambil tersenyum ia balik bertanya.
"Kenapa?".
"Nggak kenapa – napa si. Rencananya ntar siang gue pengen ngajak loe ke gramedia. Gue pengen nyari buku moslem millionaire Karya Ippho Santoso. Katanya udah muncul di Gramedia" Tambah Vio Menerangkan.
"Ehem" Silvi berdehem rikuh sambil melirik Ivan yang sedari tadi jelas di cuekin dan hanya mendegarkan obrolan mereka berdua. "Maaf, Sebenernya gue hari ini mau jalan sama temen gue" Sahut Silvi malu – malu.
"Temen atau demen?" Kali ini Ivan menyambar membuat Vio mencibir sinis. Sementara Silvi hanya tersenyum simpul.
"Pacar loe ya?" Tanya Vio lagi.
"Bukan pacar si, Cuma kebetulan beberapa hari ini kita mulai deket".
"Oh calon pacar berarti" Lagi – lagi Ivan menyambar.
"O jadi loe lagi Pedekate. Gimana orangnya, cakep nggak?" tanya Vio terdengar antusias membuat Silvi tersipu malu Sementara Ivan mencibi sinis.
"Tapi dia bukan playboy kan?" tambah Vio kontan membuat Ivan menoleh kearahnya. Sadar kalau ia sedang di sindir.
"Nggak kok. Dia cowok baik-baik" Balas Silvi .
"Ah syukurlah. Tapi Yah… Kalau gitu loe nggak bisa nemenin gue donk" Desah Vio kecewa.
"Gue nggak keberatan kalau harus nemenin loe" Sambar Ivan cepat.
"Tapi nggak papa deh. Lain kali aja kita perginya kalau gitu" Tambah Vio seolah sama sekali tak mendengar kalimat yang di tawarkan Ivan barusan.
Untuk sejenak Ivan menarik nafas menyabarkan dirinya sendiri. Ia sadar sesadarnya kalau Vio saat ini benar – benar menganggapnya tidak ada. Padahal sudah beberapa kali Ivan melihat Silvi yang menatap risih akan kehadirannya. Tapi tetap, Menyerah tidak ada dalam kamus hidup Ivan selama ini. Karena itu ia harus memikirkan sesuatu untuk menarik minat Gadis satu itu.
"Ngomong – ngomong Mie Soo nya enak ya" Vio mengalihkan pembicaraan sambil menyuapkan mie kedalam mulutnya dengan penuh napsu.
Ivan melirik gadis itu. Sebuah senyum terukir di bibirnya saat sebuah ide terlintas di kepala ketika sepasang matanya mendapati sesuatu yang bertenger di bibir Vio. Dan sebelum Vio kembali berujar tangannya sudah lebih dahulu terulur. Mengusap bibir manis gadis itu. Membuat mata Vio melotot kaget.
"Loe apa – apaan si" Kata Vio terdengar marah. Tapi Ivan justru malah tersenyum.
"Ada Sesuatu di bibir loe" Kata Ivan santai. Dan bahkan dengan lebih santai lagi menjilat ibu jari yang tadi ia gunakan untuk mengusap bibir Vio.
"Manis" gumam Ivan lirih sambil mengernyitkan sebelah matanya genit.
Vio makin memberengut sebel. Dan sebelum mulutnya terbuka untuk mendamprat cowok itu, telinganya sudah terlebih dahulu menangkap kalimat lirih yang keluar dari bibir Silvi.
"So Sweet. Kenapa gue mendadak merasa kaya lagi nonton drama korea romantis yak?"
Vio tak bisa mencegah dirinya untuk memutar mata kesel. Merasa kalau sahabatnya telah berubah jadi penghianat. Masa hal memalukan yang di lakukan Ivan barusan itu So sweet. Apa gadis itu sudah tidak waras?. Dan saat melirik kearah Ivan, ia menyadari kalau itu justru malah memperburuk keadaan. Untuk beberapa detik yang berlalu kedua pasang matanya tak mampu mengalihkan diri saat mendapati senyuman di wajah Ivan. Kemarahannya menguap dengan begitu saja. Senyum itu begitu manis.
"Kenapa?".
Satu kata itu berhasil menyadarkan Vio dari lamunannya. Dengan cepat ia segera membuang muka. Menghindari tatapan Ivan yang menatapnya heran. Bahkan Silvi juga terdiam.
"Lupakan".
Selesai berkata Vio segera bangkit berdiri membaut Silvi dan Ivan saling berpandangan heran. Dan tampa kata lagi Vio segera berlalu sambil merutuki dalam hati atas apa yang ia lakukan tadi. Astaga, Ia pasti sudah gila. Bisa – bisanya ia merasa terpesona atas senyuman buaya cap kadal satu itu.
"Tu anak marah ya?" Tanya Ivan terlihat bodoh sambil terus menatap punggung Vio yang mulai menghilang.
"Kayaknya sih" Silvi terlihat mengangguk angguk membenarkan. Membuat Ivan mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tunggu dulu. Kenapa gue malah duduk disini?" Gumam Silvi terlihat bingung. "Vio, Gue jangan di tinggal" Dan detik berikutnya Silvi segera bangkit berdiri. Melesat keluar menyusul Vio. Meninggalkan Ivan dengan tampang cengonya ketika seorang pelayan berdiri di hadapannya sambil menyodorkan tagihan makan siang meraka.
Walau tampa berkomentar apa – apa Ivan merogoh sakunya. Mengeluarkan beberapa uang dari dompet. Sambil membayar tak urung ia perfikir. Mencoba mengingat – ingat ucapannya tadi. Seingatnya, ia tidak pernah menawarkan diri untuk mentraktir mereka walau sejujurnya ia tidak keberatan untuk itu. Tapi ya sudah lah, Untuk vio apa si yang enggak?.
Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 07
Vio dan Silvi sedang berjalan beriringan ketika Ivan menghampiri.
"Hei, Mau pulang ya?" Sapa Ivan ramah. Silvi mengangguk sementara Vio justru mencibir.
"Jadi Pacar loe langsung jemput loe sekarang?' tanya Vio lagi – lagi mengabaikan kehadiran Ivan.
"Bukan pacar. Kita cuma baru deket" Silvi meralat.
"Apa – apa aja deh. Yang jelas gue pengen liat orangnya gimana si?" tambah Vio cuek.
"Oke, Ntar gue kenalin. Tapi loe nggak boleh naksir sama dia ya?" Balas Silvi setengah bercanda sambil tersenyum. Vio tidak menjawab tapi jari telunjuk dan ibu jarinya disatukan membentu hurup "O". Sementara Ivan hanya terdiam memperhatikan ulah keduanya.
Selang beberapa saat, Silvi kembali berujar.
"Na, itu dia" Tunjuk Silvi kearah jalan.
Refleks mata Vio mengikuti arah telunjuk Silvi. Ivan juga melakukan hal yang sama. Matanya terus mengamati sosok yang di maksut dengan tatapan menilai.
Motor sport yang di pake keliatan keren si, tapi masih bagusan motor yang ia miliki. Jaket hitam yang ia di kenakan di tambah helm yang melekat di kepala memang kelihatan modis, Tapi ehem, dia juga bisa berpenampilan seperti itu. Bahkan bisa lebih, pikirnya menyombong. Dan saat cowok itu melepaskan helmnya,…. Ehem, Ivan harus akui kalau wajahnya keren walau ia tetap beranggapan wajahnya tetap jauh lebih keren.
Dan begitu menoleh, sebuah cibiran sama sekali tak mampu ia tahan saat mendapati wajah terpaku Vio yang tampak tak berkedip menatap sosok yang tampak berjalan menghampiri mereka. Hei, cowok itu tidak semempesona itu kali, Gerutnya.
"Hai" Sapa Silvi sambil tersenyum.
"Hai juga. Sory ya telat. Soalnya tadi macet".
"Nggak papa kok. Oh ya, Sekalian kenalin ini temen – temen gue" Tambah Silvi mengalihkan tatapannya dari sang gebetan kembali kearah Vio dan Ivan yang sedari tadi masih terdiam.
"Vio, Loe ngapain disini?" bahkan belum sempat mulut Silvi terbuka untuk memperkenalkan. Pertanyaan bernada kaget itu sudah terlebih dahulu terlontar.
Vio terdiam. Tidak langsung menjawab. Lidahnya terasa kelu. Mendadak ia merasa sesak. Merasa sulit untuk bernapas. Ia tidak sedang bermimpi kan?. Sosok yang berdiri di hadapannya itu?. Astaga.
"Herry, Loe udah kenal sama Vio?" Pertanyaan bernada heran keluar dari mulut Silvi saat Vio masih belum bersuara.
"Iya, Kita memang sudah saling kenal. Dulu kita satu kampus" Vio bersuara sambil berusaha memaksakan senyum di wajahnya.
"Oh ya?. Wah kebetulan sekali kalau begitu" Silvi tampak kaget. Kali ini Vio hanya membalas dengan anggukan.
Diam – diam Ivan terus memperhatikan perubahan dari sikap Vio. Walau ia tidak tau kenapa tapi ia menyadari kalau gadis itu merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Lebih tepatnya dengan kehadiran cowok bernama Herry tersebut.
"Ehem".
Silvi menoleh. Baru menyadari kalau masih ada Ivan disampingnya.
"Oh ya, hampir lupa. Herry, kenalin Ini Ivan. Temen gue".
Herry tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Ivan. Tak lupa keduanya menyebutkan namanya masing – masing. Sementara Vio masih terdiam bagai patung. Tak tau harus berbuat apa.
"Oh ya, Kebetulan ini udah siang. Kita cabut duluan ya. Takutnya ntar kita ketinggalan bus" Balas Ivan.
Dan tampa permisi ia segera meraih tangan Vio. Mengajaknya berlalu.
"Ih iya silahkan. Da Vio" Balas Silvi sambil tersenyum.
Vio hanya mengangguk. Kemudian berlalu pergi karena Ivan sudah terlebih dahulu menariknya. Herry sendiri juga terdiam. Tapi kedua matanya terus memperhatikan gerak – geriknya sampai keudanya benar – benar berlalu.
"Vio, Loe baik – baik aja kan?' tanya Ivan lirih saat keduanya sudah melangkah menjauh.
Seolah baru menyadari sesuatu, Vio segera menarik lepas gengamannya sambil melemparkan tatapan tajam kearah Ivan.
"Jangan pernah sekali – kali loe menarik gue sembarangan kayak tadi".
"Kok loe marah si?. Gue tadi itu bantuin loe tau".
"Bantuin?. Memangnya gue pernah bilang gue butuh bantuan?" Serang Vio balik.
"Loe emang nggak bilang. Tapi gue juga nggak bodoh. Walau gue nggak tau kenapa, Tapi gue ngerasa kalau loe nggak merasa nyaman dengan situasi tadi".
"Nggak usah sok tau" Balas Vio lagi.
Kali ini Ivan terdiam. Vio juga tidak melanjutkan ucapannya. Ia segera melangkah mendahului Ivan. Masuk kedalam bus yang kebetulan sudah muncul di hadapan.
Selama perjalanan keduanya terdiam tampa kata. Sesekali Ivan melirik kearah Vio yang hanya terpaku menatap keluar jendela. Mlutnya sempat terbuka, namun tiada kata yang keluar. Ia sendiri bingung harus berkata apa.
Sementara Vio sendiri juga tengelam dalam lamuannya. Kejadian tadi sama sekali tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Herry, sosok yang ingin ia hindari bahkan ia sampai rela pindah kampus tiba – tiba kembali ia temui. Bahkan dengan status gebetan sahabatnya. Astaga. Sekarang ia baru menyadari kenapa dulu ia merasa kalau wajah Silvi cukup familiran untuknya. Bukankah foto gadis itu yang ia lihat secara tak sengaja berada di dalam dompet Herry. Gadis yang berhasil menjadikan ia hanya sampai pada status sahabat. Bagaimana bisa selama ini ia tidak menyadarinya. Dengan berlahan di hembuskannya nafas berat sambil bergumam di dalam hati.
"Kenapa kenyataan selalu menyakitkan?".
To Be Continue…
PS: Untuk mengetahui kisah Herry sama vio silahkan baca Cerpen Sedih Pupus.

Random Posts

  • Cerpen Remaja Tentang Aku & Dia part 2 {Update}

    Nah, Kalau sebelum nya penulis sudah mengadakan acara edit menedit , Update mengupdate cerpen remaja tentang aku dan dia part satu, Kali ini penulis lanjut ke part duannya . Asli beneran rempon deh.Tapi kalau di pikir – pikir lagi, gak papa juga si ada acara "tegur sapa" begini, Itung – itung bisa muncul wajah baru… #apa deh?…Ya sudah lah, gak usah ngebanyol kayak si unyil, Mending langsung ke cerpen remaja tentang aku dan dia-nya…Happy reading ya all…Credit Gambar: Ana Merya“Pst… kenapa tu orang?” bisik nanda sambil mencolek lengan anya yang sedang khusuk ( ? ) mencatat.“He?” Anya menoleh heran.“Itu?” tunjuk Nanda ke arah Gresia yang tampak senyum-senyum sendiri.“Waduh, kenapa tu anak senyum-senyum sendiri?”.“Ya ela, Gue nanya malah balik nanya” balas Nanda sebel.“Lagi kesambet Hantu penghuni pohon toge di belakang sekolah ( ? ) kali tu orang” .sebagian

  • Cerpen Remaja Tentang aku dan dia ~09 {Update}

    Cerpen RemajaTentang Aku dan DiaCredit Gambar : Ana MeryaDengan segenap tenaga yang ia punya, Gresia meluncur dari gerbang sekolah menuju ke kelas. Kebiasaan bangun telat kali ini benar – benar membuat nasibnya bagai telur di ujung tanduk. Tanpa mengurangi sedikit pun kecepatan larinya ia melirik jam yang melingkar di tangan. Tapi tepat di tingkungan tidak sengaja ia menabrak seseorang.sebagian

  • Cerpen Horor: Misteri Rumah Baru

    Misteri Rumah Baruoleh Novie An-Nuril KhiyarHari ini adalah hari pertama aku pindah dari kontrakan ku yang dulu. Di karenakan jauh dari kampus, akhirnya aku memilih untuk menyewa rumah baru. Dengan pendapatan yg pas-pasan, aku lebih memilih menyewa rumah yg terlihat tak terurus. Kebetulan sewa rumah itu jauh lebih murah di banding harga sewa rumah ku yg kemarin. Hanya berbekal uang 500 ribu aku bisa mendapatkan rumah yg tergolong mewah, walaupun sedikit tak terurus dan berantakan. Aku saja heran, mengapa rumah ini terlalu murah utk di sewakan,,bukankah rumah ini besar dan luas??. Tapi aku akan tetap tnggal di sini berdua.. Ya,,selama ini aku tinggal berdua dengan teman sekampusku. Kami dari kampung yg merantau kekota hanya sekedar mencari ilmu dan mimpi.“rumah ini sepertinya lama di tinggalkan, bukti nya tak ada 1 barang pun yg terlihat layak utk di pakai”.ujar sherry temanku. Aku hanya terdiam dan tak menggubris omongan sherry, karena ku fikir emang benar. Tak ada 1 barangpun yg terlihat sempurna. Semuanya lapuk,,dan benar2 tak bisa di pakai.Setelah membereskan ruang tamu , aku langsung menuju ruang tengah dan segera membersihkan nya, sementara sherry membersihkan ruang dapur. Kami emang terlihat kompak dalam hal seperti ini. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, kami dapat beristirahat di rumah ini. Untuk sementara rumah yg kami tempati saat ini adalah milik kami.Jam menunjukkan pukul 11.00 pagi, waktunya kami pergi bekerja. Aku bekerja sebagai penjaga buku di salah satu toko buku yg terkenal di kota ini, sementara sherry bekerja di café sebagai pelayan café. Dikarenakan hari ini sherry masuk malam, jadi aku pulang kerja langsung kuliah dan pulang ke rumah. Cukup menyeramkan tinggal dan mendapatkan suasana baru di sini, di rumah baruku. Tapi karena aku termasuk orang yg pemberani, (walaupun sebenarnya ada hal yg aku takuti) aku tetap memberanikan diri untuk tinggal sendiri malam ini sampai pukul 22.00 malam.Karena belum ada persiapan untuk pindah, jadi aku hanya punya barang seadanya utk hari ini. Seperti alat2 memasak dan peralatan utk tidur serta pakaian. Jadi malam ini aku hanya bisa baca buku utk menghabiskan malam. Di dalam kamar yg luas,,aku merasa aneh di situ. Aku seakan melihat sinar di pojok ruang itu, tepatnya di dalam lemari yg berumur sekitar 20 tahun, karena di situ terdapat tahun, yg aku rasa adlh tahun di mana lemari itu baru di beli. Aku langsung menghampiri lemari itu dan membuka setiap laci yg ada. Dan aku melihat satu buku yg terlihat usang. Buku apa itu? Dengan rasa penasaran, aku mengambil buku itu dan membacanya. Halaman per halaman dapat aku baca dengan sempurna. Di saat aku membaca halaman yg ke 14, aku mendengar suara keributan seperti pertentangan antara anak dan orang tua. Ya,,seperti buku yg aku baca saat ini,, buku pada halaman ke 13,,yg isinya perdebatan hebat antara anak dan orangtua. Dengan rasa yg campur aduk, Aku langsung keluar kamar dan menghampiri ruangan yg bersumber keributan itu. Tapi apa yg aku dapatkan? Hanyalah keheningan. Lalu apa yg aku dengar tadi?.. entahlah…aku sendiri saja bingung. Sambil menunggu jam 10 malam, akupun tertidur dengan buku yg masih ku pegang.Dengan berjalannya waktu,, tak terasa aku sudah 2 minggu tinggal di rumah ini. Tak ad keanehan yg di rasakan Sherry. Tapi aku? Selalu saja keanehan yg aku rasakan di rumah ini. Rutinitas berjalan seperti biasa, kerja, kuliah dan pulang ke rumah. Itu aktivitas aku dan sherry. Sampai akhirnya aku lupa menceritakan hal aneh yg aku rasakan di hari pertama kami tinggal. Dan seperti biasa, hal aneh terjadi lagi saat aku membaca buku itu. Yg lebih aneh,,setiap halaman yg aku baca, seolah ada kehidupan yg ada di hadapan ku sekarang dan cerita nya sama persis dengan kisah yg aku baca di buku ini. Dengan rasa penasaran, aku mencoba menonton apa yg aku lihat. Dan dia,,siapa dia? Wanita itu ? apa yg aku lihat saat ini? Dia yg seperti bayangan menyerupai wanita yg aku sayangi, sherry? Ya,, itu benar sherry. Apa yg aku lihat saat ini. Pertanda apa ini? Apakah benar wanita yg ada di hadapan aku sekarang adalah sherry?? Aku selalu bertanya dengan orang yg ada di hadapanku, tapi mereka tidak memperdulikanku, seakan2 tidak melihatku. Apa ini? Aku langsung terdiam ketika aku mendengar dialog “ aku tak akan pernah bisa berhentimencintainya yah,, walaupun aku tlah mati”. Kata2 itu selalu aku ingat,, kata2 yg membuat aku bingung dan penasaran. Pandangan di sekililingku kembali normal saat aku menutup buku itu. Aku benar2 tidak mengerti dengan buku yg ada di tanganku sekarang. Sangat misteri.Hari ini aku terpaksa bolos kerja dan kuliah hanya untuk melihat kejadian yg ada di buku itu. Dengan semaksimal mungkin, aku berfikir keras. Apakah ada hubungannya dengan rumah, waktu dan sherry. Aku akan mencoba mengungkap misteri ini dari awal.Beberapa waktu lalu, sherry mengajak aku pindah rumah secara paksa. Walaupun dengan alasan tepat, tapi aku tetap aja curiga dengan dia. Tanggal ,,, aku mengenal sherry lavida tepat tanggal 13 maret, 1 tahun yg lalu. Dimana tanggal itu adalah tanggal terakhirnya cerita di buku diary yg aku temukan itu. 13..adalah angka yg benar2 sering muncul di buku itu,,,apalagi yg menyakin kan aku adalh saat pertama aku melihat kejadian aneh itu di saat bacaanku terhenti di halaman ke 13. apa artinya ini?Pikiranku terhenti saat ponselku berdering, dan kulihat pesan di ponselku, ternyata dari sherry. Pesan itu berisi “van, mungkin hari ini aku pulangnya agak malam ya, aku lembur. Ok.”,, itu pesan yg aku baca dari sherry. Malam ini aku sendiri,,karena rasa penasaran aku yg begitu kuat, aku rela malam ini gak tidur untuk menyaksikan kejadian beberapa tahun yg lalu di rumah ini.Aku mulai membaca dari halaman 14, halaman yg kemarin sempat terhenti.“hari ini aku bertemu lagi dengan nya di suatu tempat. Aku senang karena masih bisa bertemu dengan nya, walaupun pertemuan itu berakhir dengan pertengkaran yg amat hebat dengan kedua orangtuaku. Orangtua yg tak pernah merestui hubunganku,, orangtua yg egois…dan orangtua yang……” aku berhenti membaca ketika aku melihat bayangan sherry ada di hadapanku. Dan apa yang aku lihat,, sosok orangtua yg sangat marah dengan anaknya, anaknya itu adalah sherry.“ayah tidak melarang kau mencintai lelaki,, tapi jangan dia?” kata2 yg dpt aku dengar dengan jelas, setelah itu semuanya samar terdengar. Aku mencoba membaca kelanjutan bacaan ku tadi…“…sangat keras. apakah aku pantas membenci ayah dan ibu karena mereka menentang cinta kami. Cinta yg kami jalani 2 tahun lama nya, apakah harus berakhir dengan kematian?”Waktu yg lama, fikirku. Aku melanjutkan bacaan ku ke halaman berikutnya,, tapi sebelum aku melanjutkan, aku merasa kaki ku sangat berat, kakiku seolah2 ingin melangkah tanpa aku suruh. Aku mencoba melemaskan kaki ini dan melangkah kearah yg ingin di tuju. Dan apa yg aku lihat sekarang,,, darah. Ya, darah lah yg aku lihat tepat di bawah kaki ku. Aku ambil darah itu, aku cium, ternyata darah itu masih segar, seprtinya belum lama,, bau amis yg aku cium sangat menyakinkan kan bahwa cairan merah itu benar2 darah. Petunjuk apalagi ini? Aku benar2 bingung, dan aku tak aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang.Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku masih saja membaca buku itu sampai halaman terakhir. Aneh,, aku tak menemukan halaman yg ke 20,, aku mencari halaman itu,,, di lemari, di lantai, di dalam buku dan sampai di ruang tamu,, tapi aku tak menemukan nya. Akhirnya aku menyerah, mungkin halaman itu memang tak di tulis. Aku hanya membaca halaman terakhir saja yg isinya seperti ini …“ayah, maafkan shelly. Shelly sangat mencintainya, seperti ayah mencintai ibu. Tolong izinkan shelly untuk memilikinya yah,,”Shelly?? Jadi nama perempuan itu shelly?Aku kembali berfikir, Cuma beda tipis antara “SHELLY” dan “SHERRY”.Di tengah2 keheningan malam, tiba2 aku mendengar tangisan yg begitu pilu dan sangat menyayat hati. Di saat mendengar tangisan itu, aku langsung menangis,,, menangis dan menangis. Setelah tangisanku terhenti, aku langsung mencari asal dari tangisan perempuan itu. Tapi sebelum mendapatkan apa yg aku inginkan,, aku kembali melihat darah yg begitu banyak dan seolah2 darah itu berjalan menuju kakiku. Aku mencoba berlari,, namun kaki ku benar2 terasa berat, bahkan tak bisa di gerakkan.Tangisan itu terhenti,, kembali hening. Darah yg ada pun hilang,, aku kembali duduk di ruang tamu sambil mendengar pembicaraan yg terdengar samar. Pembicaraan itu sepertinya tidak asing bagiku…ya,,ternyata apa yg aku dengar adalah pembicaraan antara shelly dan ayahnya. Saat itu ayahnya benar2 sangat marah,, sampai2 memukul2kn meja. Semakin sadis yg aku lihat, lelaki itu membentak2 selly, dan….”baiklah ayah, , ayah tak pernah merestui hubungan kami, lebih baik ayah bunuh shelly, shelly rela yah mati di tangan ayah” itu adalah kata2 yg kluar dari mulut shelly. Dan seperti yg aku lihat, lelaki itu berkata yg membuat aku benar2 tak percaya “ baiklah,, jika itu yang kamu ingin kan…aku akan membunuhmu.” Itulah kata2 yg membuat aku takut melihat kejadian nya. Apa yg aku lihat sekarang, semuanya seperti nyata. Lelaki itu langsung membunuh shelly dengan cara yg begitu sadis… darah yg aku injak,,terasa masih segar dan itu adlh darahnya shelly. Aku tak sanggup melihatnya, ,selly mati di tangan ayah nya…sungguh sulit tuk di percaya. Lelaki itu membunuh dan mengubur shelly di rumah ini,, tepat di ruang yg aku injak adlah ruang yg di dlm tanahnya terdapat jasad shelly.Malam ini aku merasa malam yg panjang. Aku bisa melihat kehidupan shelly beberapa tahun lalu. Sunggu tragis.Hari ini aku kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Namun pas aku buka pintu kamar, aku mendapati selembar kertas yg berisi “tolong bongkar tempat ini !!!” hanya kalimat itu. Kalimat yg tintanya seperti dari darah. Aku kaget, tapi penasaran juga. Akhirnya aku memutuskan untuk membongkar ruang itu, walau tanpa sepengetahuan sherry.Aku mencoba membongkar tempat itu bersama teman2 kampus ku yg lain. Betapa kagetnya aku, aku mendapati tulang belulang yg terbungkus dengan plastik hitam. Apakah benar tulang belulang itu adalah kepunyaan shelly? Aku langsung memanggil ustadz dan warga sekitar untuk melihat apa yg aku temukan hari ini. Kami langsung mengubur tulang2 itu dengan selayak nya menguburkan jenazah yg masih utuh. Rumah itupun di evakuasi, tuk sementara aku tinggal di rumah teman ku. Tapi ada yg aneh dgn hal ini,, sejak aku merasakan hal aneh di rumah,, selalu saja tanpa hadirnya sherry. Apa maksudnya?“sherry? Apa kau melihat sherry?” tanyaku dengan teman2ku yg lain.“sherry siapa van?”“sherry teman kampus kita, teman aku, yang tinggal di sini bersama aku”“van, selama ini kau hanya tinggal sendiri”“apa?….ucapku heran.“tinggal sendiri” jadi siapa sherry yg aku kenal itu. Di saat aku bingung seperti ini,,ponsel ku berbunyi. Aku mendapati pesan,, dan pesan itu dari sherry…“Van,, aku shelly. Shelly adalah sherry. Terimakasih ya van, kamu udah Bantu aku. Mungkin kamu tak mengerti apa konflik yg aku rasakan beberapa tahun yg lalu, karena aku tak pernah menceritakannya padamu. Dia lah van,, dia adalah lelaki yg sangat aku sayangi, ayahku sangat membencinya karena dia adalah anak dari musuh ayahku. Cinta kami di tentang,,bahkan sampai detik terakhirku. Aku tak rela dia menjadi korban pembalasan dendam dari ayahku, makanya aku berani mati saat aku membela dia.Sekali lagi, terimakasih ya vanny,, kamu udah membuat aku tenang di surga. Aku tak meminta lebih dari perkenalan kita setahun lalu, aku hanya ingin kamu mengungkapkan penyebab kematian ku dan dapat mengubur ku dengan layak…..”SHELLY LAVIDHA”.”Setelah selesai aku membaca pesan itu, aku langsung melihat cahaya putih yg menyerupai sherry. Dia tersenyum padaku“Selamat jalan teman,, semoga kau tenang di sana”the end)* mohon komentar nya,, maklum,, saya masih newbie.Fb : Novie An-Nuril Khiyartwitt : @noviepurple19

  • Cerpen Sedih “Akhir Rasa Ini”

    Guys, cerpen sedih akhir rasa ini edit version. Nggak tau sih ada yang ngeh atau nggak kalau karya karya di sini mulai di edit lagi satu persatu. Tapi yang jelas admin lagi berusaha. Soalnya suka malu sendiri kalau baca ulang. Baru ngeh kalau ternyata EYD banyak yang ancur, typo bertebaran di mana – mana. Ck ck ck. Sekedar info, cerpen sedih yang satu ini adalah awal untuk cerbung ketika cinta harus memilih. Maksutnya sebelum baca cerita yang itu bagusan baca cerita yang ini dulu.*** Setiap kisah kadang memang tak selalu berakhir indah. Tapi bukan kan dalam setiap kisah kita selalu berharap hal yang indah…****** Kita tidak dapat hidup 'hanya' dengan harapan saja, tapi percayalah, kita juga tidak dapat hidup 'tanpa' harapan. ***Dengan langkah tegap Rangga berjalan melewati sepanjang koridor sekolah. Sebuah senyuman manis tak pernah lepas dari wajah. Sepertinya suasana hatinya sedang benar – benar bagus. Angannya melayang Entah kemana. Yang jelas masih tetap seputar 'Cisa'. Mengingat tentang pertemuan pertama mereka.Sebenernya pertemuan itu hanya sebuah pertemuan sederhana. Pertemuan tak sengaja yang terjadi di toko buku beberapa waktu dulu. Saat itu ia sedang mencari buku. Tepat saat tangannya terulur untuk meraih sebuah novel Twilight karya Stephenie Meyer, tak di duga sebuah tangan yang lain juga sedang berusaha untuk mengambil objek yang sama. Dan saat pandangannya berbalik, ia benar – benar merasa jantung nya seakan berhenti berdetak. Saat itu ia berharap agar waktu untuk sejenak terhenti. Tatapannya sama sekali tidak bisa teralihkan dari sosok imut yang ada di hadapannya. Seolah pemilik mata bening tersebut telah menghipnotisnya. Rangga langsung yakin kalau itu adalah cinta pandang pertama."Eh, kak Rangga?"Teguran itu segera menyadarkannya. Dan ia hanya mampu tersenyum malu sambil mengaruk kepala yang tidak gatal saat mendapati gadis itu menatapnya bingung."Ehem, eh Cisa. Lagi nyari buku juga ya?" tanya Ranga terlihat sedikit salah tingkah."Iya nih. Kakak sendiri? Nyari buku juga ya?" Tanya Cisa sambil mengalihkan tatapnnya kearah tangan Rangga dimana karya Stephenie Meyer berada."Ya gitu deh.""Memangnya kakak suka baca novel juga?""He?" kening Rangga sedikit berkerut mendengarnya. Ia kan paling anti baca novel. Lagi pula dari pada baca novel mendingan juga cari tutorial SEO (????). Tapi ia segera paham maksutnya saat melihat tatapan Cisa yang terarah pada buku yang ada di tangannya."Oh ini?" kata Rangga sambil menunjukkan tangannya. Cisa hanya mengangguk membenarkan."Yupz. Twilight. Kisah cinta Romantis antara manusia dan Vampir," ujar gadis itu menegaskan."Memangnya Cisa udah baca?"."Udah donk. Coba aja deh kakak baca. Pasti nanti ketagihan," terang Cisa meyakinkan.Dan itu lah pertemuan pertama mereka. Di susul pertemuan pertemuan yang selanjutnya Yang tanpa di sangka berhasil membuat Rangga semakin jatuh hati padanya. Namun sayang, disaat cinta itu mulai tumbuh bersemi, di saat yang sama ia juga harus di paksa menerima kenyataan kalau ternyata Cisa sudah memiliki pacar yang tak lain adalah teman sekelasnya sendiri. Tapi selama janur kuning masih belum belum melengkung semuanya masih sah sah saja kan? he he he. Lagi pula selama ini hubungan mereka tetap masih lancar – lancar saja tanpa gangguan. Bukankah kesannya ia masih memiliki harapan untuk memenangkan hati gadis itu?."Dooor"."Wua…!!!" jerit Rangga segera membalikan tubuhnya sambil mengayunkan kepalan tangannya dengan sekuat tenaga. Bisa di pastikan siapapun yang bernasip sial menjadi sasaran bogem mentahnya, minimal pasti akan terbaring di rumah sakit selama seminggu. O,o"Hu…. Loe kalo kaget gerak refleksnya benar – benar menyeramkan," kata Fadhly. Sahabat karibnya yang kini sedang berjongkok tepat dibelakangnya. Sepertinya ia sudah mengantisipasi diri akan kemungkinan yang menimpanya jika mengagetkan makluk satu itu."Salah sendiri main kaget – kagetin sembarangan. Sayang tadi nggak kena," balas Rangga tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah membuat sahabatnya sempat berada dalam bahaya. Fadhly hanya membalas dengan cibiran. Tanpa banyak komentar lagi, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kekelas.Namun, langkah Rangga tiba – tiba berhenti tanpa komando. Secara otomatis, Fadly yang berjalan di balakang menabrak punggungnya. Belum sempat pertanyaan bernada protes meluncur dari mulutnya, mata Fadly sudah terlebih dahulu menemukan objek yang membuat langkah Rangga tadi sempat terhenti. Untuk sejenak di tariknya nafas dalam – dalam sebelum kemudian tangannya terulur kearah pundak Rangga."Cisa lagi. Sudah lah sob. Dia kan sudah punya pacar. Mendingan loe cari cewek laen aja. Secara di dunia ini masih banyak kok cewek yang lebih baik dari dia," Kata Fadly berusaha menasehati."Ngomong itu memang gampang, karena bukan loe yang ngerasain. Masalahnya, gue itu udah terlanjur suka sama dia. Mana mungkin gue bisa dengan mudahnya ngelupain dia. Apa lagi jelas dia itu terlihat selalu memberi harapan. Dia nggak pernah nolak gue atau pun berusaha untuk menghindar dari gue.""Tapi loe nggak bisa terus seperti ini. Ini namanya loe nyakitin diri loe sendiri. Sebagai sahabat gue coba ngasih saran sama loe. Terserah mau loe pake atau nggak. Mending loe tegasin hubungan loe sama dia itu kayak apa. Dari pada semuanya semakin terlanjur."Selesai berkata Fadly segera berlalu meninggalkan Rangga yang tampak masih berdiri terpaku. Sepertinya pria itu sedang berusaha untuk mencerna ucapannya barusan.Atas saran dari Fadly yang terus bermain di kepalanya, akhirnya Rangga memantapkan hati. Setelah terlebih dahulu menghela nafas, Rangga mengklik tombol 'send' dari hanphondnya. Jantungnya berdetak cepat menadti balasan dari apa yang baru saja di ketiknya."Cisa, sebenernya bagaimana si perasaan mu selama ini. Cisa Cinta nggak si sama kakak? Terus sampai kapan kakak harus menunggu yang tak pasti."Satu detik, dua detik bahkan sampai sepuluh menit berlalu. Masih hening. Membuat Rangga semakin gelisah karenanya. Barulah pada menit ke lima belas, hanphond bergetar tanda ada pesan masuk. Dengan jantung dag dig dug di lihatnya id pengirim. Nama 'Cisa' yang tertera di layar. Dengan amat berlahan di bukanya pesan tersebut. Di bacanya dengan hati – hati untaian demi untain kata yang tertera. Bagai difonis mati dari sang hakim di pengadilan saat ia menyelesaikan bacaannya. Lututnya terasa goyah seolah tak mampu menahan berat tubuhnya. Tak Disangka penantianya selama ini berakhir sia – sia. Cintanya benar – benar bertepuk sebelah tangan. Segera di rebahkan tubuh keatas kasur kamarnya. Anganya menerawang tinggi. Berharap semua ini hanya mimpi. Namun kata – demi kata yang baru saja di baca kembali terus berputar di kepalanya dengan jelas. Menyadarkannya bahwa ini semua adalah nyata."Maaf kak, sebenarnya Cisa juga bingung akan perasaan Cisa sendiri.Deket kakak memang membuat nyaman, namun tidak lebih dari itu.Jadi sebaiknya kakak jangan berharap dan meunggu lagi ya, karena nyatanya Cisa sudah punya pacar.Dan kalau memang kakak sayang sama cisa, silahkan cari cewek lain yang lebih pantas.Lagi pula bukankah pepatah bilang "Kalau memang jodoh kita pasti ketemu lagi".Ending…Judulnya aja cerpen sedih, jadi jelas donk endingnya nggak bahagia. Tapi seperti yang admin katakan sebelumnya, ini hanyalah awal dari kisah yang lebih panjang. Jelasnya langsung simak Ketika cinta harus memilih yang kebetulan juga memang sudah end. Oke?Detail CeritaJudul cerpen : Akhir rasa ini / Akhir kisah iniPenulis : Ana MeryaPanjang : 1.002 kataIde cerita : Lagunya papinka 'dimana hatimu', 'betapa' miliknya Sheila on 7, 'super girl' nya super junior and pengalaman temen di campur ide acak lainnya.Genre : RemajaNext : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*