Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 07

Halo All Reader. Berhubung penulis sedang belajar "ala Mellisa" yaitu selalu menilai sesuatu dari positifnya, Oke kali ini penulis mau manfaatin Galau. Maksutnya penulis lagi galau kuadrat, N than tu "galau" penulis salurkan kedalam bentuk Cerpen.
So begini lah jadinya… Ha ha ha…
Over All, Happy Reading yak…
Part sebelumnya silahkan baca :
Cerpen terbaru take my heart part 6


"Silvi, Entar Siang loe ada acara nggak?" Tanya Vio sambil mulai menikmati Mie Soo Pesanannya.
Silvi tidak langsung menjawab. Angannya melayang mengingat agendanya hari ini. Sambil tersenyum ia balik bertanya.
"Kenapa?".
"Nggak kenapa – napa si. Rencananya ntar siang gue pengen ngajak loe ke gramedia. Gue pengen nyari buku moslem millionaire Karya Ippho Santoso. Katanya udah muncul di Gramedia" Tambah Vio Menerangkan.
"Ehem" Silvi berdehem rikuh sambil melirik Ivan yang sedari tadi jelas di cuekin dan hanya mendegarkan obrolan mereka berdua. "Maaf, Sebenernya gue hari ini mau jalan sama temen gue" Sahut Silvi malu – malu.
"Temen atau demen?" Kali ini Ivan menyambar membuat Vio mencibir sinis. Sementara Silvi hanya tersenyum simpul.
"Pacar loe ya?" Tanya Vio lagi.
"Bukan pacar si, Cuma kebetulan beberapa hari ini kita mulai deket".
"Oh calon pacar berarti" Lagi – lagi Ivan menyambar.
"O jadi loe lagi Pedekate. Gimana orangnya, cakep nggak?" tanya Vio terdengar antusias membuat Silvi tersipu malu Sementara Ivan mencibi sinis.
"Tapi dia bukan playboy kan?" tambah Vio kontan membuat Ivan menoleh kearahnya. Sadar kalau ia sedang di sindir.
"Nggak kok. Dia cowok baik-baik" Balas Silvi .
"Ah syukurlah. Tapi Yah… Kalau gitu loe nggak bisa nemenin gue donk" Desah Vio kecewa.
"Gue nggak keberatan kalau harus nemenin loe" Sambar Ivan cepat.
"Tapi nggak papa deh. Lain kali aja kita perginya kalau gitu" Tambah Vio seolah sama sekali tak mendengar kalimat yang di tawarkan Ivan barusan.
Untuk sejenak Ivan menarik nafas menyabarkan dirinya sendiri. Ia sadar sesadarnya kalau Vio saat ini benar – benar menganggapnya tidak ada. Padahal sudah beberapa kali Ivan melihat Silvi yang menatap risih akan kehadirannya. Tapi tetap, Menyerah tidak ada dalam kamus hidup Ivan selama ini. Karena itu ia harus memikirkan sesuatu untuk menarik minat Gadis satu itu.
"Ngomong – ngomong Mie Soo nya enak ya" Vio mengalihkan pembicaraan sambil menyuapkan mie kedalam mulutnya dengan penuh napsu.
Ivan melirik gadis itu. Sebuah senyum terukir di bibirnya saat sebuah ide terlintas di kepala ketika sepasang matanya mendapati sesuatu yang bertenger di bibir Vio. Dan sebelum Vio kembali berujar tangannya sudah lebih dahulu terulur. Mengusap bibir manis gadis itu. Membuat mata Vio melotot kaget.
"Loe apa – apaan si" Kata Vio terdengar marah. Tapi Ivan justru malah tersenyum.
"Ada Sesuatu di bibir loe" Kata Ivan santai. Dan bahkan dengan lebih santai lagi menjilat ibu jari yang tadi ia gunakan untuk mengusap bibir Vio.
"Manis" gumam Ivan lirih sambil mengernyitkan sebelah matanya genit.
Vio makin memberengut sebel. Dan sebelum mulutnya terbuka untuk mendamprat cowok itu, telinganya sudah terlebih dahulu menangkap kalimat lirih yang keluar dari bibir Silvi.
"So Sweet. Kenapa gue mendadak merasa kaya lagi nonton drama korea romantis yak?"
Vio tak bisa mencegah dirinya untuk memutar mata kesel. Merasa kalau sahabatnya telah berubah jadi penghianat. Masa hal memalukan yang di lakukan Ivan barusan itu So sweet. Apa gadis itu sudah tidak waras?. Dan saat melirik kearah Ivan, ia menyadari kalau itu justru malah memperburuk keadaan. Untuk beberapa detik yang berlalu kedua pasang matanya tak mampu mengalihkan diri saat mendapati senyuman di wajah Ivan. Kemarahannya menguap dengan begitu saja. Senyum itu begitu manis.
"Kenapa?".
Satu kata itu berhasil menyadarkan Vio dari lamunannya. Dengan cepat ia segera membuang muka. Menghindari tatapan Ivan yang menatapnya heran. Bahkan Silvi juga terdiam.
"Lupakan".
Selesai berkata Vio segera bangkit berdiri membaut Silvi dan Ivan saling berpandangan heran. Dan tampa kata lagi Vio segera berlalu sambil merutuki dalam hati atas apa yang ia lakukan tadi. Astaga, Ia pasti sudah gila. Bisa – bisanya ia merasa terpesona atas senyuman buaya cap kadal satu itu.
"Tu anak marah ya?" Tanya Ivan terlihat bodoh sambil terus menatap punggung Vio yang mulai menghilang.
"Kayaknya sih" Silvi terlihat mengangguk angguk membenarkan. Membuat Ivan mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tunggu dulu. Kenapa gue malah duduk disini?" Gumam Silvi terlihat bingung. "Vio, Gue jangan di tinggal" Dan detik berikutnya Silvi segera bangkit berdiri. Melesat keluar menyusul Vio. Meninggalkan Ivan dengan tampang cengonya ketika seorang pelayan berdiri di hadapannya sambil menyodorkan tagihan makan siang meraka.
Walau tampa berkomentar apa – apa Ivan merogoh sakunya. Mengeluarkan beberapa uang dari dompet. Sambil membayar tak urung ia perfikir. Mencoba mengingat – ingat ucapannya tadi. Seingatnya, ia tidak pernah menawarkan diri untuk mentraktir mereka walau sejujurnya ia tidak keberatan untuk itu. Tapi ya sudah lah, Untuk vio apa si yang enggak?.
Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 07
Vio dan Silvi sedang berjalan beriringan ketika Ivan menghampiri.
"Hei, Mau pulang ya?" Sapa Ivan ramah. Silvi mengangguk sementara Vio justru mencibir.
"Jadi Pacar loe langsung jemput loe sekarang?' tanya Vio lagi – lagi mengabaikan kehadiran Ivan.
"Bukan pacar. Kita cuma baru deket" Silvi meralat.
"Apa – apa aja deh. Yang jelas gue pengen liat orangnya gimana si?" tambah Vio cuek.
"Oke, Ntar gue kenalin. Tapi loe nggak boleh naksir sama dia ya?" Balas Silvi setengah bercanda sambil tersenyum. Vio tidak menjawab tapi jari telunjuk dan ibu jarinya disatukan membentu hurup "O". Sementara Ivan hanya terdiam memperhatikan ulah keduanya.
Selang beberapa saat, Silvi kembali berujar.
"Na, itu dia" Tunjuk Silvi kearah jalan.
Refleks mata Vio mengikuti arah telunjuk Silvi. Ivan juga melakukan hal yang sama. Matanya terus mengamati sosok yang di maksut dengan tatapan menilai.
Motor sport yang di pake keliatan keren si, tapi masih bagusan motor yang ia miliki. Jaket hitam yang ia di kenakan di tambah helm yang melekat di kepala memang kelihatan modis, Tapi ehem, dia juga bisa berpenampilan seperti itu. Bahkan bisa lebih, pikirnya menyombong. Dan saat cowok itu melepaskan helmnya,…. Ehem, Ivan harus akui kalau wajahnya keren walau ia tetap beranggapan wajahnya tetap jauh lebih keren.
Dan begitu menoleh, sebuah cibiran sama sekali tak mampu ia tahan saat mendapati wajah terpaku Vio yang tampak tak berkedip menatap sosok yang tampak berjalan menghampiri mereka. Hei, cowok itu tidak semempesona itu kali, Gerutnya.
"Hai" Sapa Silvi sambil tersenyum.
"Hai juga. Sory ya telat. Soalnya tadi macet".
"Nggak papa kok. Oh ya, Sekalian kenalin ini temen – temen gue" Tambah Silvi mengalihkan tatapannya dari sang gebetan kembali kearah Vio dan Ivan yang sedari tadi masih terdiam.
"Vio, Loe ngapain disini?" bahkan belum sempat mulut Silvi terbuka untuk memperkenalkan. Pertanyaan bernada kaget itu sudah terlebih dahulu terlontar.
Vio terdiam. Tidak langsung menjawab. Lidahnya terasa kelu. Mendadak ia merasa sesak. Merasa sulit untuk bernapas. Ia tidak sedang bermimpi kan?. Sosok yang berdiri di hadapannya itu?. Astaga.
"Herry, Loe udah kenal sama Vio?" Pertanyaan bernada heran keluar dari mulut Silvi saat Vio masih belum bersuara.
"Iya, Kita memang sudah saling kenal. Dulu kita satu kampus" Vio bersuara sambil berusaha memaksakan senyum di wajahnya.
"Oh ya?. Wah kebetulan sekali kalau begitu" Silvi tampak kaget. Kali ini Vio hanya membalas dengan anggukan.
Diam – diam Ivan terus memperhatikan perubahan dari sikap Vio. Walau ia tidak tau kenapa tapi ia menyadari kalau gadis itu merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Lebih tepatnya dengan kehadiran cowok bernama Herry tersebut.
"Ehem".
Silvi menoleh. Baru menyadari kalau masih ada Ivan disampingnya.
"Oh ya, hampir lupa. Herry, kenalin Ini Ivan. Temen gue".
Herry tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Ivan. Tak lupa keduanya menyebutkan namanya masing – masing. Sementara Vio masih terdiam bagai patung. Tak tau harus berbuat apa.
"Oh ya, Kebetulan ini udah siang. Kita cabut duluan ya. Takutnya ntar kita ketinggalan bus" Balas Ivan.
Dan tampa permisi ia segera meraih tangan Vio. Mengajaknya berlalu.
"Ih iya silahkan. Da Vio" Balas Silvi sambil tersenyum.
Vio hanya mengangguk. Kemudian berlalu pergi karena Ivan sudah terlebih dahulu menariknya. Herry sendiri juga terdiam. Tapi kedua matanya terus memperhatikan gerak – geriknya sampai keudanya benar – benar berlalu.
"Vio, Loe baik – baik aja kan?' tanya Ivan lirih saat keduanya sudah melangkah menjauh.
Seolah baru menyadari sesuatu, Vio segera menarik lepas gengamannya sambil melemparkan tatapan tajam kearah Ivan.
"Jangan pernah sekali – kali loe menarik gue sembarangan kayak tadi".
"Kok loe marah si?. Gue tadi itu bantuin loe tau".
"Bantuin?. Memangnya gue pernah bilang gue butuh bantuan?" Serang Vio balik.
"Loe emang nggak bilang. Tapi gue juga nggak bodoh. Walau gue nggak tau kenapa, Tapi gue ngerasa kalau loe nggak merasa nyaman dengan situasi tadi".
"Nggak usah sok tau" Balas Vio lagi.
Kali ini Ivan terdiam. Vio juga tidak melanjutkan ucapannya. Ia segera melangkah mendahului Ivan. Masuk kedalam bus yang kebetulan sudah muncul di hadapan.
Selama perjalanan keduanya terdiam tampa kata. Sesekali Ivan melirik kearah Vio yang hanya terpaku menatap keluar jendela. Mlutnya sempat terbuka, namun tiada kata yang keluar. Ia sendiri bingung harus berkata apa.
Sementara Vio sendiri juga tengelam dalam lamuannya. Kejadian tadi sama sekali tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Herry, sosok yang ingin ia hindari bahkan ia sampai rela pindah kampus tiba – tiba kembali ia temui. Bahkan dengan status gebetan sahabatnya. Astaga. Sekarang ia baru menyadari kenapa dulu ia merasa kalau wajah Silvi cukup familiran untuknya. Bukankah foto gadis itu yang ia lihat secara tak sengaja berada di dalam dompet Herry. Gadis yang berhasil menjadikan ia hanya sampai pada status sahabat. Bagaimana bisa selama ini ia tidak menyadarinya. Dengan berlahan di hembuskannya nafas berat sambil bergumam di dalam hati.
"Kenapa kenyataan selalu menyakitkan?".
To Be Continue…
PS: Untuk mengetahui kisah Herry sama vio silahkan baca Cerpen Sedih Pupus.

Random Posts

  • Cerpen Cinta | Rasa yang tertinggal ~ 03 / 05

    Okelah felas, ayo kita kemon melanjutkan lagi cerpen cinta rasa yang tertinggal yang kali ini udah sampe ke bagian ke tiga. Kebetulan cerbungnya juga nggak panjang amat kok. 5 part doank. But, tetep, cbiar nggak bingung sama jalan ceritanya mending baca dulu part sebelumnya di cerpen cinta rasa yang tertinggal bagian sebelumnya. Yang jelas, happy reading.Rasa yang tertinggalTifany sedang asik tidur tiduran sembari pikirannya melayang kemana mana. Terutama tentang kejadian hari ini. Ia tidak menduga kalau Alan benar benar mengajak jalan dirinya. Terus terang hari ini sangat menyenangkan, tapi di lain sisi ia juga merasa bersalah. Membuat pikirannya semakin melayang – layang entah kemana. Gadis itu bahkan hampir tidak menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian. “Hei, katanya tadi siang abis jalan – jalan, masa mukanya kusut gini."Tifany mengerjapkan mata, sedikit terkejut ketika mendapati Septia yang kini sedang ikut rebahan di sampingnya. Sahabatnya itu bahkan sengaja memiringkan tubuh menghadapnya.“Apaan sih. Biasa aja lagi," elak Tifany mencoba tersenyum.“Emangnya tadi siang loe jalan sama siapa?” tanya Septia lagi sambil membolak – balik komik serial cantik yang baru saja ia sambar dari atas meja, koleksi bacaan milik Tifany. Kadang septia sering merasa heran sama sahabatnya yang satu ini. Untuk apa ia mengoleksi komik – komik sebanyak itu. “Temen,” sahut Tifany singkat. Tidak berani menatap kearah Septia. Berharap Septia tidak akan bertanya lebih banyak. Saat ini ia ragu untuk menyebutkan nama Alan adalah pilihan yang tepat. Walau mungkin sebenarnya Septia sudah bisa menebak.“Ehem, temen atau demen,” goda Septia lagi. “Apaan si, udah ah, gue mau tidur. Udah ngantuk, cape lagi. Mending loe lanjut baca aja."Selesai berkata, Tifany membalikan tubuh membelakangi sahabatnya. Matanya ia paksan untuk terpejam sementara guling dengan erat. Melihat ulah sahabatnya yang terasa aneh, Septia hanya menoleh sekilas. Walau ia masih tidak puas, namun tak urung ia tetap bungkam. Mengikuti saran Tifany, ia lanjutkan acara membaca.Keesokan harinya seperti biasa Tifany berangkat kuliah. Seharian ia sengaja kucing kucingan dari Alan. Memastikan kalau ia tidak akan bertemu dengan pria yang satu itu. Dan sepertinya itu berhasil. Hari ini ia sama sekali tidak melihat wujud pria itu. Makanya begitu kelas berakhir, ia segera bergegas menuju kearah parkiran.“Halo cinta ku , manis ku, sayang ku”.Tifany menoleh, terkejut melihat seseorang yang menepuk pundaknya dan kini berjalan beriringan di sampingnya. Sejenak Tifany menghela nafas. Upaya untuk menghindar sepertinya percuma.“Ada apa?” balas Tifany datar yang mau tak mau membuat Alan mengerutkan kening. Secara nggak biasanya Tifany bersikap dingin begitu.“Hei, loe kenapa?” bukannya menjawab Alan malah balik bertanya.Tifany menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke samping. Ditatapnya wajah Alan yang masih tampak bingung. Lagi, dihembuskannya nafas secara berlahan sebelum melanjutkan ucapannya.“Loe mau ngomong apa?”“Tadinya si gue mau nitip cokelat. Tapi…"“Gue nggak bisa,” potong Tifany cepat sebelum Alan sempat menyelesaikan ucapnnya.“Fan, Loe kenapa si?” Tifany menyadari kalau Alan terlihat bingung dengan perubahan sikapnya. Tapi mau gimana lagi? Ia sudah tidak bisa terus begini. Sudah cukup ia menyiksa dirinya sendiri. Kalau memang ia tidak bisa bersama dengan Alan, mungkin sebaiknya ia menghindar saja.“Gue fine – fine aja. Gue Cuma mau ngasi tau sama loe kalau mulai sekarang loe harus bersikap tegas. Kalau loe emang suka sama Septia, leo ngomong langsung sama dia. Karena mulai sekarang gue nggak bisa lagi jadi kurir cokelat loe."“Jadi menurut loe gue ngomong langsung sama dia?”Pertanyaan Alan tak urung membuat dada Tifany makin terasa sesak. Karena itu ia merasa ia harus segera berlalu. Di tatapnya wajah pria dihadapannya dalam dalam baru kemudian mulutnya berujar. "“Ia, harus!" Tifany yakin ia nanti akan menyesali ucapannya barusan. Ralat, bukan nanti. Bahkan saat ini ia sudah merasa menyesal. Bagaimana kalau Alan benar benar menggungkapkan perasaanya pada Septia? Tidak, ia tidak ingin memikirkan itu lebih jauh. Karena itu ia segera menambahkan. "Oh ya, sory ya, gue masih ada urusan. Jadi gue duluan,” selesai berkata Tifany dengan cepat berlalu. Sama ia masih mendeger sahabatnya itu begumam."Dia kenapa sih?"Walaupun Tifany sudah hilang dari pandangan, Alan masih berdiri di tempatnya. Setelah berpikir sejenak, segera di keluarkannya handphond dari dalam saku celana. Beberapa saat kemudian di pencetnya tombol panggil pada id kontak yang sudah sangat ia hapal. Alan menunggu sejenak, dan begitu terdengan sambungan dari seberang tanpa basa basi mulutnya langsung berujar.“Gue butuh bantu loe. Bisa kita ketemu sekarang di tempat biasa”.*** Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal ***Sakit, itu yang selama ini Tifany rasakan saat Alan selalu bersamanya tapi tetap Septia yang menjadi topic dan tujuan utamanya. Sakit, saat Alan selalu menitipkan coklet hanya untuk sahabat tanpa tau kalau ia menyukainya. Tapi ini bahkan lebih sakit lagi, saat ia melihat kedua sahabatnya, Alan dan Septia yang tampak bercanda akrab tidak jauh dari hadapannya. Berniat untuk sedikit mendinginkan kepala, Tifany sengaja tidak langsung pulang kerumahnya. Setelah berjalan tak tentu arah, akhirnya ia membelokan sepedanya kearah Kafe ceriaaaa, sengaja memilih meja di pojok ruangan agar tidak terlalu menarik perhatian umum sekiranya ia melamun. Namun siapa yang menduga dengan kedatangan dua orang tamu yang baru muncul dan duduk didekat pintu masuk. Dua orang yang ia kenal sebagai teman baiknya.Memang, apa yang mereka katakan tidak mampu ditangkap oleh indra pendengar nya, Tapi apa yang kini terpampang di hadapannya sudah lebih dari cukup untuk mengambarkan dengan jelas, sangat jelas malah, Kalau sepasang anak manusia itu sudah cukup akrab. Terbukti dengan wajah Ceria bahkan di selingi tawa di antara keduanya.Dengan segera Tifany meraih tisu yang ada di samping nya ketika tampa terasa setitik air menetes dari mata indahnya. Tidak, ia tidak boleh menangis sekarang.“Pedih rasa di hatiSaat ku melihat Kamu,Pergi tinggal kan aku….Dengan memendam cinta yang lain…”* Kengen band_ Pergi tanpa alasan *Tak tau berapa lama waktu yang Tifany habiskan untuk tetap duduk di tempatnya. Yang gadis itu tau, waktu itu terlalu lama. Detik bahkan terasa tidak bergerak, sementara hatinya bagai di cabik – cabik. Mungkin sebaiknya sedari tadi ia harus pergi dari pada terus menyiksa diri dengan pemandangan di hadapan. Namun, Tifany urung melakukan itu. Ia tidak akan bisa pergi dari sana tanpa di ketahui oleh keduanya. Disaat yang sama ia tidak ingin mereka tau keberadaanya.Tifany melirik jam yang melingkar di tanganya, tepat pukul setengah lima, kedua orang yang sedari tadi menjadi objek tatapanya tampak berdiri. Dengan cepat Tifany menyambar buku menu di meja untuk sekedar menutupi wajahnya. Setelah keduanya berlalu barulah gadis itu bisa kembali bernapas. Kepalanya hanya mengangguk sembari tersenyum sebelum kemudian buru buru berlalu ketika melihat mbak mbak penjaga kasir yang heran melihatnya. Tentu saja mbak itu keheranan. Secara ia sudah menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk duduk sendirian.Tiba di jalanan, barulah Tifany membiarkan air mata menetes di pipi mulusnya. Kakinya terus mengayuh tanpa tujuan. Pikirannya benar benar kosong. Ia tidak tau harus kemana? Ia tidak tau harus bagaimana? Satu satunya yang ia tau adalah, dadanya benar benar terasa sakit.Dengan tampang super kusut, Tifany melangkah memasuki halaman kostannya. Belum juga masuk kedalam rumah ia sudah disambut tatapan khawatir dan cemas Septia yang sudah sedari tadi menunggunya. Bisa dimaklumi sih, karena sekarang waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Ditambah selama ini Tifany sama sekali tidak pernah keluar setelah makhrip kecuali bersamanya. Tapi yang membuat Tifany lebih kaget lagi adalah Ternyata Septia tidak sendirian. Alan berdiri tepat di sampingnya. Pemandangan itu tak urung menorehkan kembali luka didadanya.“Ya ampun Fan, loe dari mana aja? Kita berdua khawatir sama loe. Dari tadi nomor loe juga di hubungi nggak aktif – aktif. Kenapa jam segini baru pulang? Dan loe….." pertanyaan tanpa rem dari Septia terhenti dengan sendirinya. Gadis itu mengamati raut sahabatnya dengan seksama. "Loe abis nangis?”"Bukan urusan loe," selesai berkata Tifany berniat untuk segera melangkah masuk kedalam rumahnya. Tapi langkahnya terhenti dengan ulah Alan yang tiba tiba berdiri menghalangi."Fan, loe kenapa?" Tifany bukan tidak menyadari kalau pria yang kini berada tepat di hadapanya sedang menatapnya khawatir. Namun sekarang, ia tidak sedang dalam kondisi siap dan terima dengan kekhawatiran itu. Toh semuanya percuma. Percuma Alan khawatir pada dirinya kalau pada kenyataanya toh dialah yang paling menyakitinya."Nggak usah sok peduli sama gue," Tifany tidak berniat untuk mengucapkan kalimat dingin itu. Tapi rasa sakit yang ia terima saat ini benar benar membekukan jalan pikirannya. Saat ini ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Perasaan karena di hianati sekaligus di permainkan membuatnya merasa muak. "Bukannya malah bagus kalau gue nggak ada. Jadi kalian berdua kan lebih merasa bebas untuk berduaan."Tak hanya Alan, Septia juga merasa tersentak dengan kalimat sinis sahabatnya. Tifany tidak pernah seperti itu. Membuat keduanya saling pandang. “Fan.." ujar Alan lirih. Tanganya terulur untuk meraih tangan Tifany tapi dengan segera di tepisnya.“Sory, Tapi gue cape. Gue pengen istirahat”.Tanpa memperdulikan reaksi Alan dan septia, Tifany segera melangkah masuk menuju kedalam. Setelah meleparkan tasnya dengan sembarangan ia segera melangkah kekamar mandi. Membiarkan dinginya air shower membasahi tubuhnya mengiringi air mata yang kembali mengalir dari pipinya.Next to cerpen cinta rasa yang tertinggal part 4.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 02 Of 05Jumlah kata : 1. 408 WordsGenre : Remaja

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 05 / 13

    Next dari kisah kala cinta menyapa part 5, secara cerpen requesan yang satu ini emang rada molor. Tepatnya 13 part. Untuk yang penasaran dengan lanjutannya bisa langsung simak kebawah. Sementara reader baru mendingan baca bagian sebelumnya dulu biar nyambung melalui kala cinta menyapa bagian 4. Yang jelas, happy reading aja lah….Kala Cinta MenyapaBegitu turun dari bus Rani segera melangkah menuju kekelasnya. Tak lupa kado yang ia beli kemaren ia tenteng di tangan. Hari ini kan Irma ulang tahun, jadi sekalian saja ia bawa kekampus. Sambil melangkah kekelas tangannya melirik jam dan sekali – sekali menoleh ke sekeliling. Kenapa ia belum melihat wujud sahabatnya ya?. Setelah berfikir beberapa saat segera di keluarkannya hape dari dalam saku. Mengetikan beberpa kata sebelum kemudian meng’send’nya. Tidak sampai semenit hapenya terlihat berkedip – kedip sebagai tanda ada pesan masuk.“Yah, Irma malah sakit. Terus kado ini gimana donk,” rumam Rani pada dirinya sendiri sambil melirik kado yang ada di tangan. Setelah berfikir untuk sejenak ia memutuskan untuk memberikannya besok saja dan memilih untuk langsung kekelas.Saat melewati koridor tak sengaja ia berpapasan dengan Erwin yang muncul dari arah berlawan. Rani segera membatalkan niatnya untuk menyapa saat melihat Erwin yang sama sekali tidak menoleh kearahnya tapi justru malah asik berbicara pada sahabatnya yang entah siapa. Akhirnya Rani kembali melanjutkan niat awalnya untuk kekelas.“Eh Erwin, masih inget nggak cewek yang gue bilang kemaren?” tanya Joni sambil melirik kearah Erwin yang melangkah di sampingnnya. Sama sekali tidak menyadari kalau lawan bicaranya saat ini justru diam – diam melirik kearah seseorang yang baru saja berpapasan dengannya.“Ternyata dia sudah punya pacarlah,” Sambung joni lagi.“O,” balas Erwin singkat.“Sayang banget ya, gagal deh gue jadiin pacar."“Heh,” Erwin hanya mencibir sinis.“Padahal gue udah terlanjur naksir sama dia. Eh, kemaren sore gue malah nggak sengaja liat dia jalan bareng sama Doni di taman bermain waktu pembukaan kemaren."“Doni?” ulang Erwin.“Iya… Seangkatan sama kita. Tapi dia anak ekonomi,” terang Joni kemudian.“O, dia,” balas Erwin tampak mengagguk – angguk.“Loe kenal?” tanya Joni lagi.“Enggak,” kali ini Erwin mengeleng.“Busyet. Kalau loe nggak kenal ngapain loe pake sok gaya kenal segala,” gerut Joni kesel. Erwin hanya angkat bahu.“Tapi gue nggak heran juga si kalau loe nggak kenal. Secara loe kan kuper,” balas Joni meledek.“Sialan loe, gue sekeren ini di bilang kuper. Nggak tau apa loe kalau gue ini tu jadi idola kampus,” balas Erwin terlihat narsis membuat Joni mencibir sinis walau tak urung dalam hati membenarkan ucapan sahabatnya barusan.“Eh tapi joni, loe kan tau banyak tentang anak – anak kampus kita. Nah, loe kenal nggak sama cewek yang berpapasan sama kita tadi?” tanya Erwin setelah beberapa saat mereka terdiam.“Cewek?. Cewek yang mana?” tanya Joni heran.“Yang tadi itu lho. Dia pake baju warna merah, terus pake kacamata. Kita ketemu tadi ruang lab,” terang Erwin lagi. Joni terdiam, mencoba mengingat – ingat tentang orang yang di makstu oleh sahabatnya.“O… Maksut loe si Rani?"“Iya… Loe kenal?” tambah Erwin lagi.“Kenal deket si enggak. Tapi gue tau lah. Dia itu anaknya lugu dan poloskan?” tambah Joni lagi.“Dia memang polos. Terus imut juga,” humam Erwin lirih tanpa sadar tersenyum teringat kejadian – demi kejadian yang telah lalu.“Imut?” ulang Joni heran sambil memperhatikan reaksi sahabatnya yang tidak biasa. Kali ini Erwin mengangguk membenarkan.“Kenapa loe menatap gue kayak gitu?” tanya Erwin heran saat mendapati tatapan temannya yang menyipit kearahnya.“Tumben loe nanyain cewek. Ini pasti ada apa – apanya kan?” tembak Joni langsung.“HA?”“Pake ngatain imut segala lagi. Loe naksir dia ya?” sambung joni lagi.“Apa an si. Ya enggak lah,” bantah Erwin terlihat salah tingkah. “Jangan ngaco deh loe."“Terus maksut loe bilang dia imut segala apa?”“Ya dia memang imut. Apa lagi waktu dia sedang tidur. Polos kayak bayi,” terang Erwin sambil tersenyum. Namun sedetik kemudian ia menyesali ucapannya saat mendapati senyuman aneh di wajah Joni. Astaga, apa yang ia katakan barusan?“Waktu dia tidur? Hei, apa ada yang terlewatkan di sini?” tanya Joni.“Oh, kita sudah telat, Ayo langsung kekelas,” elak Erwin sambil melangkah cepat namun masih kalah cepat dengan langkah Joni yang menghalangi.“Eits, tunggu dulu. Loe mau kemana? Kelas kita baru masuk setengah jam lagi. Masih ada cukup waktu untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya,” tahan Joni membuat Erwin gelisah.“Apaan si. Nggak ada apa – apa kok. Gue tadi cuma salah ngomong doank."“Jangan ngeles. Loe liat dia tidur dimana?” tanya Joni lagi. Kali ini Erwin benar – benar di buat mati gaya olehnya.“Jangan bilang kalau loe suka ngintipin cewek tidur?"“Pletak”Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Joni atas balasan tebakan ngawurnya.“Sialan loe. Sakit tau,” gerut Joni sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut.“Makanya kalau ngomong jangan asal njeplak,” balas Erwin cuek.“Ya sudah kalau gitu loe cerita donk,” serang Joni balik.Erwin terdiam sejenak. Menimbang – nimbang apa yang harus dia lakukan. Menceritakan semuanya atau tidak?“Tunggu dulu. Gue baru inget. Kalau nggak salah Rani itu cewek yang di gosipkan nyelamatin loe waktu jatuh setelah pulang bermabuk – mabukan kan? Ah, soal gosip itu kan loe juga belum cerita. Secara gue juga heran, sejak kapan loe doyan minum?” ujar joni setengah berteriak.“Atau jangan – jangan loe beneran mabok, terus loe ketemu cewek. Dan kayak di drama – drama gitu, loe nggak sadar dan kemudian…”“Pletak."Untuk kedua kalinya jitakan mendarat di kepala Joni yang bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya.“Imagi loe terlalu liar,” sungut Erwin sebel.“Dari pada tangan yang liar,” protes Joni sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut.“Salah sendiri mikir aneh – aneh."“Kalau loe nggak mau gue mikir yang aneh – aneh makanya buruan cerita. Gosip itu bener nggak si. Perasaan tu gosip hot banget."“Tentu saja salah. Enak aja. Seumur – umur gue nggak pernah tu minum – minuman. Yang nyebarin gosip itu aja yang sedeng. Seenaknya aja. Lagian Si Rani bukan bantuin gue, hanya saja kebetulan dia memang ada di dekat gue waktu gue jatuh kedalam got. Dan dia….”“Loe jatuh dalam got? Wukakakka,” potong Joni tak mampu menahan tawanya. Membuat Erwin memberengut sebel dan menyesal telah mengatakannya.“Sudah lah, lupakan saja,…” kata Erwin akhirnya sambil berjalan meninggalkan Joni.“Hei tunggu dulu. Ngambek kayak cewek aja. Loe kan belum cerita sampai selesai. Lagian loe juga belum bilang gimana ceritanya loe bisa liatin tu cewek tidur yang katanya imut,” tahan Joni lagi.“Kan sudah gue bilang, lupakan!” sambung Erwin kemudian.“Loe harus CE-Ri-TA!” hadang Jodi penuh penekanan.“Kalau gue nggak mau?” tantang Erwin.Mata Joni sedikit menyipit sambil tersenyum sinis.“Loe mau gosip ‘Versi’ Joni menyebar? Ho ho ho, Sepertinya loe belum tau kemampuan gue dalam bergosip ria ya?”Erwin menghentikan langkahnya. Menatap lurus kearah Joni. Setelah menghela nafas akhirnya ia berujar. “Baiklah. Gue akan cerita. Tapi nggak disini. Ayo ikut gue."“Nah, gitu donk,” Joni tertawa penuh kemenangan dan segera berjalan mengikuti Erwin yang entah akan membawanya kemana.Kala Cinta Menyapa Selama Pelajaran berlangsung Erwin sama sekali tidak konsentrasi. Bukan saja karena dosen yang mengajarkannya sama sekali tidak menarik tapi juga karena Joni sedari tadi terus menginterogasinya. Padahal ia sudah menceritakan semuanya tanpa di tambah atau di kurang sedikitpun. Di tambah lagi makluk satu itu juga telah menyimpulkan hal yang konyol atas kasusnya. Masa ia dikira naksir sama tu cewek. Yang benar sajalah.Begitu jam kuliah selesai Erwin segera beranjak bangun. Bersiap – siap untuk pulang. Joni tentu saja langsung mengekor di belakang.Saat melewati ujung koridor matanya tak sengaja menangkap sosok rani yang berjalan dikejauhan.“Eh Erwin, itu bukannya cewek yang loe taksir ya?” tunjuk Joni.“Gue nggak naksir sama dia!” balas Erwin penuh penekanan.“Iya deh, loe nggak naksir. Gue ralat omongan gue tadi,” Joni memonyongkan mulutnya sebel . “Erwin, itu bukannya cewek yang loe bilang imut ya?” sambung Joni sok polos tanpa merasa bersalah sedikitpun. Padahal jelas – jelas saat ini Erwin sedang menatap tajam kearahnya.“Loe nggak bisa protes. Loe kan emang bilang ke gue kalau menurut loe tu cewek imut,” potong Joni cepat.“Terus kenapa memangnya?” geram Erwin sebel.“Loe nggak pengen nyamperin dia?”“HA?”“Eh tunggu dulu, itu bukannya si Doni, cowok yang jalan bareng cewek yang gue taksir?” sambung Joni lagi. Refleks pandangan Erwin terarah mengikuti telunjuk Joni dimana tampak Rani yang sedang menghampiri cowok yang ‘katanya’ bernama Doni.“Ayo kita hampiri,” sambung Joni lagi sambil menarik tangan Erwin.“Eh tunggu dulu. Mo ngapain si?” tahan Erwin cepat menghadang langkah Joni.“Ya ela. Loe nggak liat tu cewek bawa kado. Jangan bilang kalau dia mau ngasi ke tu cowok. Ya ampun masa mentang – mentang kita sahabat nasip kita sama?” keluh Joni.“Nggak, Kita di sini aja!"“Tapi…” Joni tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam Erwin. Walau ia masih penasaran namun tak urung ia manut dan memilih memperhatikan Rani dari kejauhan.Sementara itu, Rani sendiri yang berniat untuk langsung pulang segera membatalkan niatnya saat matanya mengangkap sosok yang sepertinya ia kenal. Tanpa pikir panjang segera dihampirinya.“Doni!”Merasa namanya di panggil Doni yang berniat langsung pulang berbalik, keningnya berkerut heran saat mendapati gadis berkacamata yang kini berlari kearahnya.“Loe beneran Doni kan, yang biasanya bareng sama Irma?” tanya Rani mencoba memastikan.Masih belum mengerti arah tujuan pembicaraan mereka, Doni memilih hanya membalas dengan anggukan.“Buat gue?” tanya Doni dengan kening berkerut saat melihat cewek yang tidak di ketahui identitasnya menyodorkan kado tepat ke wajahnya.“Tentu saja bukan, emang nya siapa elo. Kenal juga kagak. Ini itu kado buat Irma. Hari ini kan dia ulang tahun. Tadinya mau langsung gue kasi kedia. Eh , waktu gue SMS dia bilang malah dia sakit. Ya udah, gue belom sempet mampir ke sana. Makanya karena katanya loe itu tetanggaan sama dia gue titip sama loe aja ya?”“Irma? Sakit? Terus hari ini dia juga ulang tahun?” tanya Doni kaget.Melihat Wajah kaget sekaligus bingung yang tergambar dari wajah Doni membuat Rani kembali menarik kotak kado yang ia sodorkan.“Oh, gue salah orang ya? Maaf, gue pikir loe itu sahabatnya Irma yang biasanya sering pulang – pergi bareng. Jadi bukan ya?” tanya Rani bingung sambil mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.“Bukan, maksud gue bener. Gue memang sahabatnya Irma kok,” Doni cepat meralat.“La kalau loe memang sahabatnya dia masa loe nggak tau kalau hari ini dia ulang tahun. Mana katanya lagi sakit lagi. Jangan – jangan…”Rani tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Doni sudah terlebih dahulu berlari pergi meninggalkannya. Matanya terus menatap kepergian Doni dengan bingung sekaligus kecewa. Kenapa hanya sekedar di titipin kado saja tu orang nggak mau. Akhirnya dengan langkah gontai Rani melanjutkan niatnya untuk langsung pulang saja. Soal kado, sepertinya ia baru bisa memberikan setelah ia bertemu Irma langsung. Hu… Next to Kala Cinta Menyapa Part 6Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.306 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Remaja The Prince ~ 04 Update

    Credit gambar : Ana merya"Hai, kok bengong?".Kevin menoleh, Seulas senyum tersunging di bibirnya begitu melihat sosok andre yang menepuk pundaknya sekaligus menyadarkan ia dari keasikan baca buku. Ralat, melamun tepatnya. Karena buku yang ada di tangannya hanya sekedar aksesoris belaka."Eh elo. Nggak kok. Gue kan lagi baca" kilah Kevin sambil menunjuk kan buku yang ada di tangganya. Tapi justrU Andre tertawa menanggapinya."Loe baca buku?. yang benar saja. Keajaiban dunia tu namanya. Kenapa?. Mau nyaingin pulau komodo?. ha ha ha" kata andre tertawa meledek.sebagian

  • Cerpen Cinta: TAK SECANTIK CINDERELLA

    TAK SECANTIK CINDERELLAOleh: Nining Suarsini JuhryKu tatap wajahku di depan cermin sambil memperhatikannya lekat-lekat. Sungguh ironis aku memang cewek antik seperti halnya yang di katakan teman-teman kampusku. Kacamata besar plus minus tebal di tambah lagi behel serta dandanan ku juga yang amat sangat biasa, hanya jeans dan kaos oblong yang agak kebesaran dan tak lupa tas ransel. Sungguh tidak ada yang bisa menarik hati kaum adam. Soal penampilan aku memang sangat cuek, aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Tapi soal pelajaran aku jagonya di tambah lagi soal radio. Yapp di singgung soal radio, aku adalah penyiar radio, menurut rekan kerjaku sesama penyiar, aku termasuk penyiar yang memiliki banyak fans. Bukan karena wajah dan penampilanku, melainkan suaraku yang merdu, kata mereka suaraku sangat merdu dan setiap cowok-cowok yang dengar bisa klepek-klepek dan membayangkan kalau aku ini wanita cantik bak cinderella. Seminggu yang lalu ada seorang cowok yang mengajakku diner, cowok itu adalah salah satu penelfon setia di radio ku. Dia sangat penasaran dengan diriku. Sampai-sampai dia bela-belain minta nomor handpone ku di semua kru radio. Berkat saran dari sahabatku keyko akhirnya nomor handpone ku akhirnya ku berikan juga. Menurut keyko “apa salahnya menjalin pertemanan dengan fans, kan nggak ada salahnya. Siapa tau orangnya cakep kan kamu bisa dapat ke untungan dari situ, lagian kamu juga kan jomblo”. Keyko memang benar, aku sudah sangat lama menjomblo. Tapi kadang-kadang aku ragu dengan diriku sendiri apakah ada laki-laki yang mau menerimahku apa adanya ?? teman-teman kampus bahkan kru radio saja tidak ada yang tertarik dennganku.Handphone ku tiba-tiba berdering dan menyadarkanku dari lamunanku. Ku perhatikan layar hp ku, ternyata “rangga” yang menelfon. Hari ini kami janjian bertemu di sebuah cafe. Dia mengajakku diner. Hari ini aku sudah tidak bisa lagi menolak karena ini ajakan yang ke tiga kalinya setelah aku menolak ajakannya karena alasan tertentu. Aku malu bertemu dengannya dengan kondisiku yang seperti ini. Aku takut kecewa dan mengecewakannya. Menurutku dia sangat baik meskipun baru seminggu berkenalan lewat via hp. Mau tidak mau aku harus pergi. Tepat jam 08.00 aku berangkat kesana. Aku mengenangkan baju biru sesuai janji agar dapat saling mengenali. Ketika sampai disana, aku melihat seorang cowok yang dari tadi menunggu. Aku yakin dia rangga karena baju yang dia kenakan sama seperti warna bajuku. Sungguh tidak di sangkah, sosok yang duduk di sana sangat sempurnah, dia cakep, putih, dan memakai kacamata. Kakiku terasa berat melangkah untuk menemuinya, aku tidak pantas untuknya, dia terlalu sempurna untukku . Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, tapi terlambat dia sudah terlanjur melihatku. Langkahku pun semakin ku percepat dan buru-buru mengambil taksi. Ku dengar dia berteriak memanggil namaku tetapi tetap saja tidak ku hiraukan. Maafkan aku rangga ucapku dalam hati.Seminggu setelah insiden itu, aku tidak lagi berkomunikasi dengannya, tak ada lagi deringan sms atau telfonnya di hp ku bahkan dia sama sekali tidak pernah menyapa di radio. Mungkin dia kecewa atau tidak ingin lagi mengenalku. Ada sedikit perasaan sedih yang ku rasakan, seakan-akan ada yang hilang dari diriku. Entah itu apa. Apakah mungkin aku munyukainya ?? andrea…andrea kamu jangan gila dong, kamu jangan cinta sama orang yang tidak mungkin mencintaimu. Batin ku berbicara.Sehabis siaran ku putuskan untuk pulang cepat. Hari ini aku sangat bad mood sekaligus capek. Padahal hari ini keyko mengajak ku makan di luar tapi ku tolak. Keyko mengerti dengan apa yang ku alami sekarang. Dia Cuma memberikanku motivasi dan saran.Malam itu aku kedatangan tamu, awalnya aku sangat penasaran karena baru kali ini aku kedatangan tamu cowok jam segini. Aku hanya tertegun sekaligus penasaran di buatnya. Aku langsung buru-buru menemuinya. Bagaikan petir di siang bolong. Ternyata cowok yang datang adalah rangga, OMG mimpi apa aku semalam. Hari ini dia tampak cool, ekpresinya biasa-biasa saja melihatku tidak sedikitpun ada rasa risih.Dia menyapaku dengan senyuman dan tatapan yang tulus. Dia sama sekali tidak heran melihatku. Ku balik menyapanya dan membalas senyumannya. Semuanya terasa kaku, aku sangat grogi di buatnya.“ngga maafin aku ya”. Ucapku memuali pembicaraan sambil menunduk. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk. “aku udah ngecewaiin kamu, tidak seharusnya aku pergi malam itu. Tapi asal kamu tau aku bertindak seperti itu karena ada alasan. Aku nggak mau kamu kecewa melihat penampilanku yang seperti ini. Suaraku tidak secantik wajah dan penampilanku. Bahkan aku juga tidak secantik cinderella seperti yang lain katakan”. Ucapku panjang lebar. Dia hanya menatapku sambil tersenyum.“rea, aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak pernah menilai orang dari penampilan dan fisiknya”. Ucapnya dengan serius. Justru aku salut dengan kamu. Kamu adalah perempuan hebat”. Aku jadi semakin heran dan tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan rangga. Ada sedikit ketenangan yang ku rasakan.Pembicaraan semakin panjang dan tak terasa dia akhirnya berpamitan untuk pulang. Tapi sebelum pulang dia sempat berkata. “kecantikan seseorang itu tidak bisa di nilai. Kecantikan hatilah yang paling utama. Jangan selalu menganggap dirimu buruk, biarkanlah orang-orang berkata apa, mereka hanya iri karena tidak bisa memiliki seperti apa yang kau miliki yaitu prestasi, karier dan ketulusan hatimu”. Kata-katanya itu membuatku sadar. Ini menjadi pelajaran besar buatku. Meskipun tak secantik cinderella paling tidak kecantikan hatinya sama seperti yang aku miliki sekarang.**** nama : nining suarsini juhryfb : niningning23@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*