Cerpen terbaru Take My Heart ~ 06

Take My Heart aka ambil hatiku. Cerpen dengan ide khayalan tingkat antah berantah yang penulis punya. Yang di ketik di antara sedikit waktu luang yang tersisa di antara tumpukan kerja. Bahkan tak urung di ketik diantara jarak Cendana to Sari Bumbu.
Can All of you imagine it?…
Part sebelumnya:
-} Cerpen Terbaru Take My Heart part 5


Turun dari bus, Vio melirik jam yang melingkar di tangannya. Baru pukul empat lewat seperempat. Masih terlalu cepet untuk bersantai di kostannya yang jelas – jelas hanya di teman laptopi. Akhrinya diputuskannya untuk membelokan langkah ke taman. Bersantai di bawah pohon sambil menatap langit sore. Hal yang paling ia sukai.
Untuk sebagian orang mungkin akan menganggap bahwa menatap hujan itu menyenangkan. Tapi menurutnya awan yang bearak di cerahnya langit sore itu jauh lebih menenangkan. Setidaknya Awan lebih baik dari hujan. Jika hujan bisa membuat tubuh merasa sakit, justru Awan malah mampu melindungi dari terik mentari.
Lagi pula, Awan memberinya begitu banyak pembelajaran. Menurutnya Awan itu laksana kehidupan. Terus begerak tak kan pernah sama.
Menatap awan juga mengingatkannya akan devinisi cinta. Sulit di tebak. Selalu berubah. Tak jarang membingungkan.
Tak tau berapa lama waktu yang ia habiskan tau – tau hari sudah sore. Dengan berat hati ia bangkit berdiri. Melanjutkan langkah menuju ke rumah.
Cerpen terbaru Take My Heart ~ 06
Selesai mengunci pintu pagar, Vio segera melangkah. Suara klakson motor mengagetkannya. Dan lebih kaget lagi saat mendapati Ivan yang bertenger di atas motor lengkap dengan senyum manis di bibirnya.
"Pagi Vio" Sapa Ivan melambai ramah.
"Loe kenapa bisa ada di sini?" tanya Vio mengabaikan sapaan Ivan.
"Tentu saja buat jemput loe supaya kita bisa pergi bareng".
"Ha?"
"Ah loe makin keliatan imut deh kalau kaget begitu".
Dengan cepat Vio menoleh kearah lain. Menganti ekprsinya kembali datar. Barulah kemudian kembali menoleh kearah Ivan yang jelas sedang berusaha menahan tawa saat mendapati wajah tersipunya tadi.
Untuk sejenak Vio menghela nafas, Meyakinkan dirinya untuk waspada diri. Walau bagaimanapun seseorang yang ada di hadapanya itu sudah terkenal dengan ke playboyannya.
"Dari mana loe tau kalau gue tinggal disini?".
"Gue kan ikutin loe kemaren" Aku Ivan santai.
"Ha?".
"Mentang – mentang gue bilang loe keliatan imut kalau kaget, eh pake acara tayang ulang" Komentar Ivan membuat Vio memberengut sebel.
"Ngaco".
"Ha ha ha" Kali ini Ivan tak mampu menahan tawanya. Apalagi saat jelas – jelas wajah Vio terlihat merona walau tersamarkan tampang sebelnya. Pasti gadis itu terpengaruh akan ucapannya.
"Jadi loe mau pergi bareng gue kan?" Tawar Ivan kemudian.
"Nggak, Ma kasih".
Selesai berkata Vio segera berbalik. Kembali mengabaikan Ivan.
"Vio, kenapa si cowok sekeren gue loe tolak?" Tanya Ivan yang kontan membuat Vio berbalik.
Mata Vio terarah lurus kearah Ivan dengan tatapan mengamati. Kemeja yang sepertinya berlengan pendek di padu dengan jaket berwarna krim berserta jins hitam lengkap dengan sepatu yang tersemat rapi di kakiknya. Di tambah dengan motor sebagi latar serta helm hitam di kepala.
"Ah bener juga. Gue baru nyadar kalau loe ternyata beneran keren" Aku Vio santai berbanding balik dengan reaksi Ivan yang tampak melotot kaget. Gadis itu memuji penampilannya?. Kenapa ia jadi merasa nerves gini ya.
"Sayang, Kelebihan itu loe gunain sebagai playboy" Tambah Vio angkat bahu. Kemudian kembali berbalik. Meninggalkan Ivan dengan tampang syoknya.
"Loe emang demen banget ngangkat orang tinggi – tinggi tapi kemudian langsung menghempaskannya kedasar bumi ya?" Tanya Ivan kesel sambil berusaha mensejajarkan langkahnya disamping Vio.
Vio tidak langsung menjawab. Ia justru malah menghentikan langkahnya.Menatap heran kearah Ivan sambil sesekali menoleh kebelakang. Mendapati motor Ivan yang diparkir didepan kostannya.
"Kok motor loe di tinggal?".
"Ya loe nggak mau pergi bareng gue pake motor, ya udah kalau gitu biar gue yang ikutan naik bus" Sahut Ivan santai.
"Emangnya loe nggak takut tu motor hilang?".
"Gue anak orang super kaya kalau loe belom tau. Kalau tu motor hilang gue tinggal lapor polisi. Atau nggak gue bisa beli lagi".
Vio tampak mengusap kepalanya yang mendadak terasa berdenyut seraya begumam lirih "Dasar gila".
"Gue bukan gila, tapi gue sedang berusaha mengambil hati loe biar mau sama gue. I will take your heart. Don't forget it" Balas IVan yang ternyata mendengar gumamannya barusan.
"Terserah loe aja deh".
"Lagi pula kalau tu motor disini gue jadi punya alasan buat pulang bareng sama loe nantinya" Tambah Ivan lagi yang membuat Vio hanya mampu mengeleng tak percaya.
Sepanjang perjalan menuju halte bus yang tak jauh dari kostannya keduannya terdiam. Ehem, bukan keduanya si sebenernya secara IVan terus mengoceh. Sementara Vio sendiri justru malah bersikap seolah – olah tidak ada siapa – siapa di sampingnya.
"Ini pertama kalinya buat gue tau nggak si" Kata Ivan saat keduanya duduk berdampingan di dalam bus yang akan mengantarkannya kekampus.
"Naik bus?" akhirnya setelah sekian lama Vio buka mulut. Matanya menoleh kesamping dimana Ivan duduk santai sambil menggeleng.
"Bukan. Tapi ngejar cewek. Secara biasanya kan gue yang di kejar – kejar".
"Uhuk uhuk uhuk" Vio sontak tersedak. Di tolehkannya tatapannya ke arah Ivan. Jelas merasa ilfill.
"Loe pengen bikin gue muntah disini ya?".
Ivan tidak membalas. Hanya tampak megerutu tak jelas. Gadis itu kalau ngomong ternyata asal nyepos. Sama sekali tak butuh penyaringan.
"Oh ya, ngomong – ngomong kenapa loe pindah kekampus baru kita?" Tanya Ivan mengalikan pembicaraan.
"Gue habis patah hati" Balas Vio singkat.
"Uhuk uhuk uhuk" Gantian Ivan yang Terbatuk. Dan begitu batuknya mereda tawa langsung lepas dari mulutnya.
"Ha ha ha, Emangnya cewek kayak loe bisa patah hati?" tanya Ivan jelas meledek.
Tapi Vio tak membalas. Ia hanya terdiam sambil menatap jauh melewati jendela. Semilir angin yang menerpa wajah membuatnya ingin untuk sejenak memejamkan mata. Mengabaikan keberadaan Ivan yang ada di sampingnya.
Bus melaju dengan kebisuan. Ivan juga tampak terdiam. Sesekali ia sempat melirik kearah Vio. Tapi yang dilirik tetap membisu. Membuat Ivan merasa janggal sendiri. Namun ia masih ragu kalau apa yang di ucapkan gadis itu barusan adalah benar. Ia masih menganggap itu hanya lelucon gadis itu seperti biasanya.
Begitu bus berhenti, Vio segera membuka mata. Tanpa berujar sepatah kata pun ia segera beranjak turun diikuti Ivan di belakangnya.
"Vio".
"Kenapa lagi?" tanya Vio tanpa menoleh. Kakinya terus melangkah.
"Soal yang loe bilang tadi. Loe bercanda kan?".
Kali ini Vio menghentikan langkahnya. Di tatapnya wajah Ivan tanpa berkedip.
"Kalau seandainya gue bilang gue serius, loe percaya?" Ujar Vio balik bertanya.
"Tentu saja tidak" Sahut Ivan cepat membuat Vio tersenyum sinis.
"Ya sudah kalau begitu yang tadi itu bo'ong. Gue cuma bercanda" Balas Vio yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Membuat Ivan sejenak mengerutkan kening. Ah, gadis itu benar – benar sulit di tebak ternyata.
Cerpen terbaru Take My Heart ~ 06
"Vio" Panggil Silvi setengah berbisik. Saat itu kelas sudah di mulai. Pak bambang sedang menjelaskan tentang materi kuliah hari ini yang jelas sangat – sangat membosankan.
"Kenapa?" Balas Vio tanpa menoleh. Perhatiannya masih terjurus pada buku yang ada di hadapannya.
"Gue denger gosip yang beredar. Katanya tadi pagi loe pergi bareng sama Ivan ya?" tanya Silvi masih menjaga suaranya. Takut kedengeran dosen di depan.
Vio tidak menjawab, Hanya kepalanya yang tampak mengangguk membenarkan.
"Katanya loe nggak suka sama dia, Kok loe mau – maunya si pergi naik motor bareng dia?" tanya Silvi lagi.
"Yang bilang gue naik motor bareng dia siapa?. Gue tadi pagi itu naik bus kok".
"APA?".
Bukan hanya Vio yang lantas menoleh, Dosen dan beberapa mahasiswa yang lain juga ikut – ikutan menatap Silvi heran. Sepertinya kebiasan berteriak saat mendengar berita yang mengagetkan gadis itu sama sekali belum hilang. Membuat Vio hanya mempu menatap sambil mengeleng tak percaya.
"Silvi, Ada apa?" Tanya Pak Bambang.
"Oh maaf. Nggak ada apa – apa kok pak" Sahut Silvi sambil nyengir kaku. Serem juga kalau sampai tu dosen marah.
"Elo si, ada – ada aja" Bisik Vio setelah perhatian pak bambang kembali fokus pada aktivitasnya semula.
"Pokoknya loe berhutang satu cerita sama gue" Silvi balik berbisik. Membuat Vio hanya angkat bahu tanpa suara. Tak ingin memancing terguran untuk kedua kalinya. Barulah saat keduanya terdampar di kantin Silvi berani mencerocos semaunya.
"Loe beneran yakin Kalau tadi pagi Ivan naik bus bareng loe?" Tanya Silvi masih terlihat antusias.
"Emmm" Sementara Vio membalas tanpa minat.
"Aduh, kepala gue mendadak pusing. Suwer gue nggak bisa ngebayangin. Seorang Ivan gitu lho, Bela – belain naik bus cuma demi simpati seorang cewek".
"Demi taruhan sepuluh juta" Vio meralat. Membuat Silvi sejenak memutar mata.
"Terserah deh demi apapun. Yang jelas ini tu keajaiban. Loe tau nggak si, selama ini belum ada sejarahnya Ivan ngejar – ngejar cewek. Yang ada dia di kejar – kejar".
Vio tidak membalas. Matanya menyipit kearah Silvi. Hei, itu kalimat yang sama yang keluar dari mulut Ivan tadi pagi kan?. Masa sih tu cowok se'amazing itu?. Dan belum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, matanya sudah terlebih dahulu menemukan sosok bayangan yang sedari tadi mereka bicarakan.
"Berani loe duduk disini, Gue pergi sekarang juga".
Silvi menoleh. Tatapannya mengikuti telunjuk Vio. Sebelah alisnya tampak terangkat saat mendapati Ivan yang tampak berdiri kaku. Sepertinya ia sedikit terkejut mendengar ancaman yang keluar dari mulut Vio barusan. Namun kekakuan itu hanya terjadi beberapa detik karena pada detik berikutnya Ivan tampak tersenyum. Dengan santai ia melangkah menghampiri Vio. Sedikit menundukan wajahnya tepat kearah Vio. Membuat gadis itu melotot dan langsung menjauhkan diri. Sementara IVan tampan tersenyum puas.
"Loe bilang loe nggak akan terpengaruh sama sekali akan rayuan gue. Gue belum juga merayu loe malah takut duluan".
"Eh?".
"Demi apapun loe beneran imut kalau kaget".
Refleks Vio segera membuang muka. Tapi ekor matanya masih mampu mengankap raut wajah Ivan yang jelas jelas sedang berusaha menahan tawa. Sialan. Dengan kesel ia segera bangkit berdiri. Bersiap untuk langsung berlalu kalau saja tangan Ivan tidak lebih dulu menariknya. Membuatnya kembali duduk di tempat semula.
Kali ini Vio Jelas melotot sebel kearah Ivan yang dengan santainya malah duduk disampingnya.
"Tetap disini dan buktikan kalau loe memang sama sekali nggak terpengaruh sama gue".
Sejenak Vio terdiam. Di helanya nafas dalam – dalam sebelum di hembuskan dengan berlahan.
"Oke, Kita lihat sejauh mana kemampuan loe".
Kali ini keduanya sama – sama saling memandang namun jelas dengan pemikiran yang berlawanan. Suasanan hening dan sepi. Karena Silvi juga membisu dengan tatapan yang bergantian dari wajah kedua makluk di hadapannya. Kepalanya mengeleng berlahan sementara mulutnya bergumam.
"Kalian berdua pasti sudah gila".
To Be Continue……

Random Posts

  • Bayang-Bayang Kematian

    Oleh: Indhra Suci – Ku belajar tuk menjalaninya, ku pikir ku tlah salah jalan, salah menentukan pijakan. Tapi semua itu datang tiba-tiba. Tapi mengapa tak ku lakukan ? ku mencoba mengerti tapi tak kunjung ku pahami. Aku merasa muak pada mereka, yang selalu mengungkungku dengan berbagai aturan.Aku meletakkan pulpenku dengan mendesah gelisah. Tak lama setelah ituku tutup diaryku dan aku melangkahkan kakiku ke tempat yang biasa aku datangi. Kegelapan menutup segalanya. Hanya sedikit cahaya yang memantulkan sinar pada bola mataku. Ku edarkan pandanganku ke segala sudut.Diskotik yang ramai, di penuhi dengan orang yang tidak benar. Aroma minuman keras dan asap rokok mengepul memenuhi istanaku. Ya, istana, di sini aku bagai seorang ratu, sedangkan di rumah bagiku bagai neraka tak bertepi, memuaskan nafsu dunia dengan segala kemewahan yang tak berguna. Dengan orang-orang yang hanya mementingkan kesuksesannya. Mereka adalah orang tuaku, ayah dan ibuku, dan diriku adalah seorang anak liar. Ayahku adalah seorang pengusaha sukses, yang setiap hari selalu sibuk dengan bisnisnya, dan ibuku yang sibuk dengan arisannya dan perkumpulannya dengan ibu-ibu yang lain. Hanya untuk sekadar kepuasannya sendiri. Sedangkan aku anak mereka satu-satunya yang tak pernah di anggap. Selama ini mereka hanya memenuhi kebutuhan materiku tapi bagaimana dengan kasih sayang dan perhatianku.Ya ,aku Khikan ,anak kelas 2 SMA yang tak pernah mendapat kasih sayang orang tua. Jadi jangan salahkan aku, jika aku mencari duniaku sendiri untuk berbagi resah dan gelisah. Hanya di tempat ini aku membasahi jiwaku dengan kesenangan yang akan membawaku ke lembah hitam dan kematian yang menyakitkan.Ketika itu ada 2 orang lelaki kekar menghampiriku. Mereka mencoba memaksaku dan sedikit menyeretku. Sebelum itu ,aku berhasil mengantongi beberapa butir pil extasi. Saat itu ku berusaha melepaskan diri ,namun sia-sia ,pegangan lelaki tersebut terlalu kuat.“Apa-apaan ini ???!!!” kataku“maaf nona Khikan, kami hanya di suruh Bapak Harvey. Bapak ingin nona pulang sekarang juga !!” ujar 2 orang lelaki itu.“papa ????!!! sejak kapan papa peduli denganku ???!!!” balasku,sambil tertawa terbahak-bahak.“beberapa jam lagi ada pertemuan besar di rumah nona,seharusnya nona ada di rumah ,bukab tempat menjijikkan seperti ini”.“hhhhheeeeeeeeii ,kalian pikir kalian siapa,jangan…………”.Aku tak sempat melanjutkan perkataanku,karena tiba-tiba mereka menyumpal hidungku denagn obat bius. Lamat ku dengar sebuah suara,kemudian aku sudah tak ingat lagi.mataku masih terasa berat namun ku paksakan mataku untuk terbuka. Ku edarkan pandanganku ,aku telah berada di sebuah kamar mewah dengan sprei motif hello kitty berwarna hijau muda,kamarku sendiri,ya ,kamarku.“sial kedua gembel itu telah menggagalkan rencanaku,padahal aku sudah janji dengan Irvan, Emy, Hadi, dan Seno temanku dugem tuk bersenang-senang mumpung liburan. Tak liburpun aku tetap bersenang-senang. Ngapain sekolah ? Apa sih gunanya sekolah ?”. batinku.Papa dan mama masuk ke kamarku dengan wajah menahan marah,aku menyambutnya dengan cuek.“memalukan ,kamu tahu kan kalau 2 jam lagi akan ada pertemuan penting. Wartawan pun pasti akan dating untuk meliput,eeehhh kamu malah kabur ke diskotik. Diskotik itu tempat orang yang nggak bener ??!!!!” ujar papa.“masa bodoh !!” kataku.“ya udah sayang ,sebaiknya kamu mandi dan dandan yang cantik yaaa “. Mama berkata lembut padaku.Tamu-tamu sudah berkumpul di taman belakang,yang sudah di sulap menjadi ruang pesta mewah. Tapi tidak bagiku ,ini seperi neraka. Aku berlari menuju kamar. Pil itu ,ya,pil. Pil itu ku telan beberapa butir ,namun tak ada reaksi. Ku tumpahkan semua pil itu di telapak tanganku,lalu ku menelannya.Beberapa detik kemudian ku merasakan nikmat yang maha dahsyat. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Apakah aku telah mati ?. Tiba-tiba ku melihat sosok mati kaku,dengan mulut berbusa. Ku memandang sosok yang di selimuti kain kafan. Aku gemetar ,jantungku berdetak keras memandang tubuh yang telah rusak. Dan itu aku ,ya ,itu wajahku. Aku berteriak histeris ,sebuah tangan menyeretku ke ruang hampa gelap tanpa cahaya. Aku merasakan panas yang maha dahsyat menerpa tubuhku. Penyiksaan mulai menyiksaku.*****narkoba tidak akan menyelesaikan masalahSAY NO TO DRUGSnama penulis : indhra sucijudul karangan : bayang-bayang kematiantema : narkoba ( salah pergaulan )alamat email : yani_indhrasuchi@yahoo.co.id

  • Cerpen cinta Tantang Aku dan Dia part 6 {Update}

    Next to part 6 Cerpen cinta tentang aku dan dia. Acara edit mengedit kan baru bisa selesai di part ending. So lanjut aja deh…Tetep "alon alon asal kelakon". XDOh ya, yang belum baca part sebelumnya bisa baca dulu gih di cerpen romantis tentang aku dan dia part 5.Credit gambar : Ana Merya“Lho Gres, Loe mau kemana?” Tanya Arga heran.“Ya mau pulang donk” Sahut gresia cuek sambil terus melangkah."Kan dari kemaren gue udah bilang, loe kalau pulang dan pergi harus bareng sama gue" Ujar Arga sambil berusaha mensejajarkan langkahnya.sebagian

  • Cerpen cinta “Kala cinta menyapa” ~ 12

    Sebelum kecerpen penulis pengen cuap – cuap dolo ya. Tau nggak, hari ini tu sebenernya ngeselin banget. Saking ngeselinnya sampe – sampe penulis bikin status di pejbuk "Hari yang begitu menyebalkan". Nggak perlu di jelasin kenapa, karena intinya tetep sama. Me-Nye-Bal_Kan.Salah satunya, CPU Resto bermasalah. Alamat gak bisa online seharian. Terus minta tolong dah sama "kakak" gadungan, Pinjem Laptopnya dia. Alasannya si buat nyelesein laporan kantor, Tapi sambilannyanya tentu saja O-N-L-I-N-E. ^_^Giliran laptop di tangan, Nggak ada hal menyenangkan yang bisa penulis lakukan. Jaringan nggak bersahabat, so nggak bisa main ke youtube atupun goodrama. Kemudian, cek buka draf email deh. Sambil nungguin CPU yang katanya baru di antar jam 5 sore, jari ini menari di atas Keyboard. Nggak nyangka juga jadi lanjutan cerpen Kala Cinta Menyapa yang telah lama bertapa. Hei, Segala sesuatu di dunia ini tu emang ada hikmahnya kan?.Berhubung udah kebanyakan bacot, Cekidot…"Rani, loe baik baik aja kan?" tanya Irma prihatin saat melihat tampang kusut Rani yang selama beberapa hari ini tidak pernah hilang dari wajahnya."Kalau loe berharap gue jawab bohong. Iya gue baik baik aja. Tapi kalau gue harus menjawab jujur. Tentu saja tidak. Gue nggak lagi baik baik aja. Apa lagi melihat mereka" Terang Rani dengan telunjuk mengarah lurus kearah Erwin yang tampak sedang berbicara akrap dengan syintia.sebagian

  • Ketika Cinta Harus Memilih 02 ~ Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih _ Kali ini bagian dua. Part sebelumnya pasti udah pada baca donk?. Buat yang belum baca, Monggo silahkan di baca dulu biar nyambung.Oke deh, Biar nggak ada lagi yang penasaran, kita cek langsung ke cerpennya aja yuks. Dan untuk cerita sebelumnya bisa di klik di Ketika Cinta Harus Memilih ~ 01.Ketika Cinta Harus MemilihKarena Benci kita bersamaKarena Cinta kita berpisahDan karena perpisahanlah akhirnya kita bersatu #Ketika Cinta Harus Memilih"Lepasin gue. Apa – apaan sih loe?!" geram Cinta sambil menghentakkan gengaman tangan Rangga hingga terlepas.Saat ini mereka berdua memang telah jauh meninggalkan teman – temannya."Hei, apa loe suka sama gue?" tanya Rangga langsung tanpa memperhatikan ekspresi kesel Cinta sama sekali.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*