Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05

Omz, Cerpen kala cinta menyapa apa kabarnya yak?. Makin nyungsep aja tuh ide… ha ha ha.
Tapi ya sudah lah, mumpung ide cerpen terbaru Take My Heart yang muncul duluan, ya udah ini aja yang di ketik dulu.
Akhir kata, happy reading….!!.
PS: Part sebelumnya silahkan baca:
-} Cerpen terbaru Take My Heart part ~ 04


Dalam hidup ini, aku hanya punya satu impian…
Impianku bisa menjadi nyata.
Titik!!!.
Setelah membasuh mukanya dengan air dari keran, tangan Vio terulur meraih tisu. Mengeringkan wajahnya. Sejenak di tatapnya bayangan dicermin. Raut lelah jelas tergambar di sana.
Tak ingin berlama – lama Vio segera melangkah keluar. Tepat di pintu langkahnya tercegat. Selang beberapa meter di hadapan tampak Laura yang juga berdiri terpaku menatapnya. Sepertinya gadis itu juga berniat untuk masuk ke toilet kampusnya.
Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Vio berusaha bersikap santai. Kembali melangkah sampai sebuah suara menghentikannya.
"Gue minta maaf untuk masalah kemaren?".
"He?" Vio menoleh.
"Maksut loe?" tanya Vio yang masih ragu akan kalimat yang baru saja di tangkap oleh telinganya.
"Atas kejadian yang terjadi kemaren, gue minta maaf".
Merasa kalau ia memang tidak salah dengar di tambah dengan raut serius di wajah Laura kontan membuat Vio merasa sedikit salah tingkah. Di garuknya kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Ehem… Never mind. Lagian loe nggak punya salah sama gue" Kata Vio akhirnya.
"Tapi kemaren gue sempet bersikap nggak sopan" Laura menambahkan. Vio hanya membalas dengan senyuman maklum.
"Laura" tiba – tiba laura mengulurkan tangannya.
Tidak langsung membalas Vio kembali terdiam. Hei, tidak ada udang di sebalik bakwan kan?. Maksutnya gadis itu benar – benar berniat untuk bersahabat dengannya kan?.
"Vio" Takut di sangka yang tidak – tidak Vio menyambut uluran tangan itu. Lagi pula tidak ada untungnya menyulut permusuhan. Justru malah merugikan diri sendiri. Bener nggak?.
"Selain minta maaf gue juga mau berterima kasih untuk yang kemaren. Terima kasih karena udah belain gue di hadapan Ivan" Tambah Laura lagi.
"Nggak masalah. Santai aja. Gue hanya melakukan apa yang menurut gue bener aja".
"Kalau gitu mulai sekarang loe mau jadi sahabat gue kan?" tanya Laura lagi.
Vio kembali terdiam. Menimbang – nimbang untuk sejenak. Sampai kemudian sebuah senyuman terukir di bibirnya. Sambil mengangguk ia berujar "why not?".
Dan kali ini senyuman benar – benar mengembang di kedua wajah cantik itu.
Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05
Kening Silvi tampak sedikit berkerut saat melihat langkah Vio dan Laura yang tampak berjalan beriringan menghampirinya. Matanya sedikit menyipit. Sejak kapan kedua gadis itu bisa terlihat akrab begitu?.
"Oke Vio, Gue duluan ya?" pamit Laura.
Vio hanya membalas dengan anggukan sambil melambaikan tangannya. Tingkah laku itu juga sama sekali tidak lepas dari perhatian Silvi.
"Kok loe bisa kenal sama Laura?" tanya Silvi langsung.
"Memangnya nggak boleh?" Vio balik bertanya.
"Bukan nggak boleh. Cuma aneh aja. Loe belom tau siapa dia ya?" tanya Silvi lagi.
"Memangnya dia siapa?" Lagi – lagi Vio membalas dengan balik bertanya.
"Dia itu idola di kampus kita, dan…".
"Dan…?" kejar Vio karena Silvi mengantungkan ucapannya.
"Dan dia itu adalah orang yang gue ceritain kemaren. Cewek yang dipermalukan di depan anak – anak kampus sama si Ivan" terang Silvi.
"O.. gue udah tau" Balas Vio santai.
"Oh ya?" Silvi tampak tak percaya.
"Bahkan gue juga tau kalau Laura berniat balas dendam dengan menyewa preman untuk menghajar Ivan kemaren. Makanya muka tu cowok rada ancuran walau tetep masih keliatan keren si" Balas Vio sambil mikir – mikir.
"Apa?, Jadi Laura yang…".
Dengan Cepat tangan Vio terulur membungkam mulut Silvi. Ya ampun, sepertinya ia harus segera mengingatkan gadis itu untuk tidak selalu berteriak jika mendengar kabar yang mengagetkan. Atau justru sepertinya ia juga harus berhenti memberi kabar yang bisa membuat Silvi kaget. Ah, Whatever lah….
"Astaga Silvi, Nggak usah pake teriak segala kali. Loe lupa ya, masalah yang loe buat di kantin aja tadi belom beres, sekarang loe mau nambahin lagi?".
"Ups… Maaf. Refleks soalnya" Senyum Silvi merasa bersalah.
"Jadi Ivan babak belur gitu karena ulah Laura?" tanya Silvi lagi. Kali ini sengaja mengecilkan volume suaranya. Vio hanya angkat bahu membalasnya.
"Terus, kenapa sekarang tu anak deketin loe?" selidik Silvi lagi.
"Tau" Vio cuek sambil melankah ke kelasnya. Dengan cepat Silvi menyusulnya.
"Loe nggak curiga?".
"Curiga buat apaan?".
"Yah bisa aja kan. Laura sengaja mendekati loe buat balas dendam ke Ivan?".
Bukannya Khawatir ataupun takut, Vio justru malah tertawa. Mebuat Silvi mengernyit heran.
"Leo pikir ini sinetron apa?. Lagian jangan suka seuzon. Dosa tau".
Belum sempat Silvi membantah mulut Vio sudah terlebih dahulu menambahkan.
"Loe tenang aja. Gue kadang emang baik, tapi gue nggak bodoh".
Singkat, padat, Jelas juga tegas. Itu hal yang bisa di tangakap oleh Silvi saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. Meyakinkan ia kalau gadis itu pasti tau apa yang di lakukannya. Akhirnya dengan perasaan lega keduanya melangkah beriringan menuju kekelas. Pelajaran selanjutnya sudah akan di mulai.
Dan saat kelas berakhir Vio segera membereskan buku – bukunya. Berjalan beriringan bersama Silvi menuju ke halaman kampus. Sepanjang perjalanan tak henti mereka saling berbagi cerita. Walau masih dalam hitungan hari Vio sudah bisa mengakui kalau Silvi orangnya memang asik. Enak di jadikan sahabat.
"Jadi loe pulang naik bus?" tanya Silvi kemudian. Kepala Vio mengangguk membenarkan.
"O .. Kalau gitu sory ya, Gue duluan" Tambah Silvi lagi saat melihat mobil sillver terparkir tak jauh di hadapannya. Jemputannya sudah datang. Berhubung rumah mereka berlawan arah, Vio menolak untuk di ajak pulang bersama.
"Oke… Hati hati ya".
"Syip… Loe juga".
Kata terakhir yang keluar dari mulut Silvi sebelum menghilang bersama mobilnya. Berlalu meninggalkan Vio yang tampak melangkah menuju ke halte yang tak jauh dari gerbang kampus.
Suara klakson mengagetkan Vio, Langkahnya kontan terhenti.
"Mau pulang ya?".
"Nggak. Mau kepasar jualan sayur" Balas Vio ketus.
Suara tawa kontan terdengar dari mulut Ivan.
"Ya ela jadi cewek judes amat si?. Ntar ngga punya pacar lho" Kata Ivan setengah meledek.
"Siapa bilang?. Justru malah ada yang niat banget buat bisa macarain gue biar dapat sepuluh juta".
Glek, Skak mat. Tawa Ivan langsung terhenti mendengar kalimat sindiran yang jelas – jelas tertuju kepadanya. Fakta kalau gadis itu sama sekali tidak mempan akan pesoananya kembali menyadarkan ia akan posisinya saat ini.
"Ehem, Kalau loe mau pulang, gue nggak keberatan kok buat nganterin" Ivan mengalihkan pembicaraan.
"Gue yang keberatan loe anterin" Balas Vio singkat, Padat tapi nyelekit.
"Kalau loe masih berniat buat ngodain gue, Segera buang jauh – jauh tu niat. Karena sekali lagi gue peringatin, Gue nggak akan pernah terpengaruh " Sambung Vio bahkan sebelum Ivan sempat membuka mulutnya.
Tanpa kata lagi ia segera berlalu. Bus yang sedari tadi ia tunggu sepertinya sudah muncul di hadapan. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar kalimat yang Ivan lontarkan.
"Kalau seandainya gue bisa bikin loe jatuh cinta sama gue bagaimana?".
Untuk sejenak Vio menghela nafas baru kemudian berbalik. Menatap Ivan yang masih dengan santai nongkorng di jok motornya sambil menyilangkan kedua tangan. Sementara pandangannya terarah lurus ke wajah Vio. Membuat tatapan keduanya bertemu.
"Kalau begitu selamat, Itu artinya loe bakal dapat sepuluh juta" Sahut Vio dengan santai.
"Hanya itu?".
"Terus loe maunya apa?" Tanya Vio dengan kening berkerut.
Ivan tidak langsung menjawab. Sebuah senyum penuh makna terukir di wajahnya sebelum pada detik berikutnya mulutnya berujar "Loe harus mau jadi pacar gue beneran".
"Silahkan bermimpi".
Kali ini Vio benar – benar berbalik tanpa menoleh lagi. Menghilang bersama lajunya bus yang akan mengantarnya kerumah. Menginggalkan Ivan dengan ke terpakuannya. "Jatuh cinta sama Ivan?".
MUSTAHIL!!!.
To Be Continue….
Leave a coment please…. Itung – itung biar semangat bikin lanjutanya….
NOTE: 100+ Like, Lanjutanya muncul. Kalau nggak ya, kita liat aja entar… ^_^

Random Posts

  • Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?

    Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?oleh: Diah Novianti“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.Kini, hari-hariku pun sudah ditemani oleh Denis. Semua terasa sangat menyenangkan. Dan ternyata, itu hanya awalnya saja. Ketika hubunganku dengannya memasuki usia ke-3 bulan, saat itulah mimpi burukku datang.“Fio, sini, aku mau ngomong sesuatu.”kata Denis. Aku langsung menelan ludah, tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. “Aku mau kita temenan aja.”lanjut Denis.Taaarr ! Seakan ada ribuan cambuk yang mengenai hatiku. Aku langsung menitikkan air mata, tetapi segera kuhapus tanpa sepengetahuan Denis. Aku tak ingin lemah di hadapannya. Aku hanya diam.“Fio, maafin aku…” Aku langsung berlari sejauh mungkin, tak peduli walau langit sedang menangis seakan tahu apa yang kini tengah aku rasakan. Aku berlari di tengah derasnya hujan, tak ada tanda-tanda kalau Denis akan mengejarku. Biarlah, kataku dalam hati.Keesokan harinya, tak sengaja aku bertemu Denis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih, manis, tinggi pula. Ideal sekali untuk ukuran seorang wanita sempurna. Oh Tuhan, ironis. Satu kata yang dapat mewakilkan keadaanku saat ini setelah aku berusaha untuk mempertahankan semuanya. Kini, hancur sudah semuanya karena orang yang kusayangi.Aku ingin sematkan bintang di dahinya, agar ia tahu betapa besar rasa sayangku padanya. Tuhan, masih bisakah hari itu terulang ? Hari dimana aku dan Denis masih bersama .*****Facebook : Diah NoviantiTwitter : @novidiahnovi

  • cerpen cinta king vs queen ~07

    All.. Maap ya, bukan maksut apa apa, Tapi sungguh maren – maren itu admin nggk sempet buat ngepos. Ya biasalah sibuk di dunia nyata. Sungguh bukan karena jahil seperti candaan ku biasanya. Yah mungkin Admin juga gak bisa terlalu exsis lagi di dunia maya. Secara seperti yang sudah di ceritakan, Menulis cerpen selama ini juga cuma iseng, sekedar mengisi waktu luang. Masalahnya "Waktu luang" nya yang nggak ada. Beneran deh. Okelah, itu doang yang pengen admin sampein. Ah tunggu dulu. Masih ada satu lagi, alasan kenapa admin jadi rada males ngurus blog. Sempet mikir si, kenapa juga cape – cape nulis, belum tentu ada yang baca. Buktinya yang ninggalin jejak juga pada gak da kan? #jangan salahkan aku bila berfikir nggak ada yang baca. Secara masih nyadar diri kok kalo karyanya beneran amatiran. ^_^Happy reading ya….Begitu selesai makan siang, Niken duduk-duduk di ruang tengah sambil menonton tv. dan makan cemilan. lagi seru-serunya tiba-tiba ada yang mengambil cemilannya, karena kaget Niken langsung menoleh."kakak…" kata Niken sebel karena cemilannya di ambil begitu saja oleh Nino, kakaknya.sebagian

  • Cerpen Teenlit “Dia {Nggak} Suka Aku?! ! ~ 1/2

    Lagi bingung nyari ide buat lanjutin cerpen part karena tetep nggak nemu. Yah seperti biasa, mencoba nyari ide selingan. Nulis cerpen yang di usahain bisa langsung end sekali ketik. Sebenernya emang langsung end si, tapi ternyata kepanjangan. So di jadin dua part deh. Cerpen teenlit "Dia {Nggak} suka aku?!" . Judulnya sesuatu yak, ala tebak tebakan. Soalnya phan pake tanda seru sama tanda tanya. Gimana sama cerpennya langsung simak ke bawah aja deh. Cekidots…Cerpen Teenlit "Dia {Nggak} Suka Aku?!Cerpen remaja Cinta "Dia {Ngggak} suka akuMeskipun nafasnya kini sudah ngos – ngosan, Rika tetap nekat berlari. Nggak tau ini memang harinya yang sedang sial atau apa. Yang jelas dari tadi pagi begitu banyak kejadian buruk melandanya. Mulai dari tidurnya tadi malam yang di hantui mimpi buruk, bangun pagi kesiangan. Harus ngantar adiknya, Chicy ke sekolah dulu karena motornya tiba – tiba bocor sehingga ia harus meminjam motor adiknya yang sekolahnya memang lebih deket dari rumah. Namun sialnya, ternyata saat memakai motor Cicy pun, tiba – tiba di jalan mogok juga. Dan ia tidak tau itu karena apa. Terpaksa ia dorong hingga sampai kebengkel. Karena tak ingin terlambat kesekolah, ia tinggal. Untung saja bengkelnya tidak jauh dari sekolah, sehingga ia memutuskan untuk jalan kaki saja. Sayangnya ia tetap harus berpacu dengan waktu. Lewat dari jam 07:00 gerbang sekolah akan di tutup. Jadi memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berlari.Saat melihat gerbang sekolah yang masih terbuka di kejauhan, senyum mengembang di bibir Rika. Walau keringat membasahi, ia tetap merasa gembira. Paling tidak, ia belum terlambat bukan? Lagipula selaku siswa teladan di sekolahnya, seumur hidup Rika memang belum pernah datang terlambat.Namun senyum di wajah Rika berlahan memudar sebelum kemudian benar – benar punah saat matanya menangkap sebuah senyum misterius milik seseorang yang berdiri di depan gerbang. Fadlan, rival seumur hidupnya kini tampak berdiri di sana sambil memegang gembok. Jangan bilang kalau pria itu akan mengunci pintu pagarnya. TIDAK!!!.Terlambat, saat kaki Rika tiba di sana, pintu gerbang sudah benar – benar di tutup. Membuat tenaga Rika yang sudah lemes semakin ngedrop. Matanya menatap kesel kearah Fadlan yang tampak tersenyum puas. “Fadlan. Bukain nggak!. Loe iseng banget si jadi orang!” bentak Rika kenceng.“Enggak,” balas Fadlan santai. “Ini kan udah jam 07:00. Emang sudah saatnya pintu pagar di tutup kale. Lagian salah sendiri, punya motor itu buat di tungangin. Bukan di dorong – dorong. Ha ha ha. Da da Rika, selama menikmati keterlambatannya ya. Gue masuk dulu. Bye bye,” kata Fadlan sambil melambaikan tanganya sebelum kemudian berlalu. Mengabaikan teriakan sumpa serapah Rika di belakangnya.Untunglah sepertinya Rika masih bernasip mujur. Karena beberapa saat kemudian, Pak Tarno, panjaga sekolahnya muncul. Karena ia sudah cukup di kenal di sekolah itu ia mendapat sedikit kemudahan. Sudah ia katakan bukan kalau selama ini ia selalu menjadi siswa teladan. Bahkan ketika ia menceritakan kronologi kejadianya, Pak Tarno hanya tertawa. Pria tua itu berkata, ia juga sempat heran kenapa tiba – tiba ada Fadlan menawarkan diri untuk menutup gerbangnya. Sepertinya pria itu sengaja melakukannya saat tak sengaja melihat dirinya waktu mendorong motornya yang mogok tadi. Sialan. Ketika Rika memasuki kelas, tatapan tajam segera ia arahkan kearah Fadlan yang tampak cengengesan dengan senyum tanpa dosanya. Membuat Rika yang sudah kesel semakin kesel. Dalam hati ia berjanji ia akan menyiapkan pembalasan yang setimpal untuk pria itu nantinya. Awas, liat saja. Waktu terus berlalu. Jam istirahat telah tiba. Walau kakinya terus melangkah, Rika tetap tidak berhenti mengerutu. Merasa kesel akan ulah gurunya. Ia tau kalau disekolahnya ia memang seorang yang layak di jadikan suri teladan karena sikap rajinnya. Dan jujur sebenernya ia juga merasa cukup bangga ketika guru selalu memberi perhatian lebih padannya. Sayangnya, perhatian yang di berikan kadang mencakup segala hal. Termasuk ia yang pertama sekali mendapat perhatian untuk membawa tumpukan tugas dari seisi kelas ke ruang gurunya. Ayolah, emangnya ia kacung gadungan. Mana bukunya berat. Banyak lagi. Sampai sampai itu hampir menutupi wajahnya. “Rika awas…”Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, yang Rika tau saat ini ia sudah duduk di lantai. Semua bukunya sudah bertebaran entah ke mana, sementara jidatnya sendiri benar – benar terasa berdenyut nyeri. Melihat bola yang mengelinding tak jauh darinya membuat ia bisa menebak apa yang terjadi. Begitu kepalanya menoleh, matanya langsung melotot tajam kearah Fadlan yang sedang berlari kearahnya..“Loe nggak papa?” tanya Fadlan dengan nafas yang masih ngos – ngosan. Sebelah tanganya terangkat mengusap keringat yang membasai dahinya dengan tatapan terjurus kearah Rika yang masih belum bergerak sama sekali.“Nggak papa gimana? Nggak liat ni jidat gue benjol gini?!”Fadlan terdiam. Kali ini matanya mengamati Rika dengan seksama. “Cuma dikit gitu. Manja banget sih?” kata Fadlan santai sembari berjalan kearah bola kaki yang tadi tidak sengaja ia tendang jauh saat bermain di lapangan samping sekolah yang justru nyasar kekepala Rika yang kebetulan lewat.Rika melongo. Bukan hanya karena sikap santai Fadlan tapi juga karena tiada iktikad bertangung jawab sama sekali dari makhluk itu. Terlebih saat ia melihat punggung Fadlan yang mulai berjalan meninggalkan dirinya begitu mendapatkan bolanya kembali.“Gue di bilang manja?” gumam Rika sendiri. “Eh busyed. Dasar cowok songong. Tidak bertanggung jawab. Minta maaf kek, bantuin beresin buku ini dulu kek. Dasar kurang ajar!” teriak Rika kesel, tapi Fadlan hanya membalas dengan lambaian tangan tampa menoleh sama sekali.Walau masih merasa sangat kesel, Rika akhirnya membereskan buku bukunya kembali. Merasa percuma berteriak – teriak memaki Fadlan yang sama sekali tidak perduli. Dalam hati ia terus menyumpahi makhluk itu agar celaka.Setelah menyelesaikan tugasnya, Rika segera menuju kearah kantin sekolah. Ia yakin ketiga temannya pasti sudah menunggu. Tak lupa, di belinya sebutir telur dari pemilik kantin untuk meredam benjolan di jidatnya.“Ya ampun Rika, jidat loe kenapa?” tanya Icha khawatir begitu melihat wujud Rika yang kini duduk di hadapannya. Tatapan Andriani dan Lauren juga menyiratkan rasa penasaran yang sama.“Kena bola” sahut Rika singkat.“Bola? Kok bisa?”“Ya bisa donk. Ini buktinya.”“Ye ditanya baik baik, jawabnya sewot gitu. Santai aja kali,” komentar Lauren, tapi Rika yang melongos.“Tunggu dulu. Jangan bilang kalau itu ulah Fadlan lagi?” tebak Andrani beberapa saat kemudian. Saat melihat raut kesel di wajah Rika bertambah langsung meyakinkannya kalau tebakannya benar.“Ha ha ha,” tawa koor langsung meluncu dari bibir Lauren, Andrean dan Icha. Benar – benar kontras dengan raut wajah Rika saat ini. “Nggak ada yang lucu,” gerut Rika kesel.“Ha ha ha, Beneran deh kita heran banget. Emang kali ini gimana lagi kronoligi kejadiannya. Secara seriusan tau, dari jaman dulu kala kenapa si loe nggak pernah akur sama cowok yang satu itu. Tiap hari pasti ada ada aja. Perasaan baru kemaren loe bilang loe ketabrak doi yang lagi belajar sepeda, tadi pagi loe dikunci diluar pagar sama dia, lah masa kali ini malah kena bola,” komentar Icha di sela tawanya.“Tau, tu cowok emang pembawa sial buat gue kali.”“Hush. Nggak boleh ngomong gitu tau. Entar kena batunya baru tau rasa.”“Kena batunya apaan. Orang yang gue omongin beneran juga. Sumpah ya, nggak ada orang lain di dunia ini yang gue benci selain tu cowok.”“Hati – hati sis, entar kena omongan sendiri lho. Inget, orang bilang benci sama cinta itu beda tipis. Soalnya sama sama selalu di pikiran. Entar tau tau loe jatuh cinta sama dia baru tau rasa,” kata Andini menasehati yang di balas cibiran sinis Rika. Jatuh cinta sama musuh bebuyutan? Dalam dunia mimpi juga mustahil.“Bener tuh apa yang Andini bilang. Yang kaya di Ftv atau di drama korea kan seringnya gitu. Loe yang demen nonton pasti juga nyadar itu kan Rik?” Lauren menambahkan. Icha juga tampak mengangguk angguk membenarkan. “Ngaco loe ya pada. Sembarangan aja kalau ngomong,” kesal Rika. “Lagian ni ya, walau dunia kebalik sekalipun. Itu nggak akan kejadian. Mustahil, imposible. Nggak akan pernah. NEVER!!!!” sambung Rika menegaskan. Tapi lagi lagi ketiga sahabatnya hanya tertawa. Selang waktu berlalu, seperti biasa. Setiap Pak Ivan yang masuk kekelas, Rika selalu kebagian tugas untuk mengumpulkan tugas dari teman – temannya baru kemudian membawanya keruang guru. Jika menurutkan hati, Rika ingin sekali protes. Tapi entah mengapa jika ia berhadapan langsung dengan wajah guru bahasa indonesianya itu, bibir nya selalu terkunci rapat. Bahkan biasanya senyum selalu mengambang. Ia yakin, itu pasti karena pengaruh dari wajah tampan yang di miliki Pak Ivan. Apalagi gurunya memang masih bujangan. Benar benar penganiaayan yang tidak termaafkan.Tepat saat di korirodor belokan kelasnya, dari arah yang berlawanan tampak seseorang yang belari dengan begitu kencang. Karena kemunculannya yang begitu tiba – tiba, Rika sama sekali tidak bisa menghindar sehingga tabrakan pun terjadi. Setumpuk buku yang ia bawa kini berserakan di lantai sementara ia sendiri sudah terlebih dahulu terduduk diam.“Sory … sory … sory… Gue nggak sengaja.”Mulut Rika yang terbuka untuk marah – marah terpakasa ia tahan saat melihat raut bersalah di wajah seseorang yang berjongkok di hadapannya sambil mengumpulkan buku – bukunya. Melihat dari penampilannya, sepertinya pria itu adalah adik kelasnya.“Kelvin, jangan lari loe!!”Secara refleks Rika menoleh. Hal yang sama dilakukan oleh sosok yang berada di hadapannya. Keduanya menatap kearah seorang gadis yang sedang berlari kearah mereka.“Mampus gue.”Rika mengernyit ketika mendengar gumaman lirih Kelvin. Selang beberapa saat kemudian gadis itu melongo saat mendapati buku yang telah di susun Kelvin kembali berhamburan. “Sory ya. Gue bukan nggak mau bantuin ataupun bertangung jawab. Tapi ini beneran urgen. Gue harus kabur sekarang. Beneran sory banget,” tanpa menunggu kalimat balasan sama sekali dari Rika, Kelvin langsung bangkit berdiri sebelum kemudian kabur menghilang entah kemana.“Tunggu dulu, maksutnya tu orang kabur tanpa bantuin gue sama sekali?” gumam Rika sendiri setelah sedari tadi hanya terdiam. Mungkin karena otaknya beberapa saat ini memang suka lola sehingga kali ini kurang tangkap dengan apa yang terjadi.“Akh, dasar rese. Sial banget sih gue,” gerutu Rika. Walau kesel tangannya mulai bergerak mengumpulkan buku – bukunya kembali.“Makanya kalau jalan itu hati – hati, liat kiri kanan juga.”Rika kembali menoleh. Matanya berkedap – kedip dengan mulut setengah terbuka tanpa kata. Pandangannya lurus kearah makhluk dihadapanya yang tidak menoleh sama sekali. Justru ia malah tampak sedang mengumpulkan buku milliknya. Rika tidak sedang bermimpikan? Fadlan sedang membantunya mengumpulkan buku. Fadlan?!“Lagian loe jadi cewek sok baik banget.Walaupun sesama cowok, oke gue akui kalau Pak Ivan itu keren, tapi emang harus segitunya juga ya. Mau – maunya aja loe di jadiin kacungnya.”“Yee.. apaan sih. Siapa yang di jadiin kacung. Lagian loe tumben – tumbenan perduli sama gue. Kesambet ya?” balas Rika judes.Fadlan hanya melirik sekilas sebelum kemudian bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan Rika. Melihat Fadlan yang berlalu, Rika cepat – cepat melakukan hal yang sama. Tadinya tidak berniat untuk mengejar makhluk itu. Apalagi sampai harus mengekorinya di belakang. Tapi masalahnya, sebagian buku yang harusnya ia bawa ada pada Fadlan, terlebih arah yang Fadlan ikutin adalah jalan menuju ke ruangan guru.“Fadlan, loe mau kemana si? Buku nya kenapa loe bawa?” tanya Rika sambil berusaha mensejajarkan langkahnya. Tapi Fadlan tidak bergeming, kakinya terus melangkah. Dan tau tau mereka telah sampai. Setelah menyerahkan bukunya, pria itu segera berlalu. Kali ini, barulah Rika benar – benar berniat untuk mengejarnya. Tapi bukan karena ia naksir Fadlan ya, ia Cuma penasaran akan sikap aneh makhluk itu barusan. “Loe ngapain ngikutin gue?” tanya Fadlan risih.Rika tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit menatap kearah Fadlan. Berusaha menyelidiki maksut tersembunyi dari pria itu.“Tadi itu loe ngapain? Loe bantuin gue?” tanya Rika curiga..“Heh,” Fadlan sedikit mencibir sinis. Gadis itu bodoh atau apa. Sudah jelas – jelas tadi ia memang membantu, kenapa masih bertanya. Tanpa menjawab ia terus melangkah.“Jiah, gue di cuekin. Hei serius ini. Jawab donk. Tadi itu loe kenapa bantuin gue?” kejar Rika lagi.Tiada yang menduga, Fadlan yang sedari tadi melangkah tiba – tiba berhenti mendadak dan langsung berbalik. Rika yang tidak siap dengan kemungkinan itu langsung mengerem kakinya segera. Hingga kini hanya berjarak kurang dari dua centi, wajah Fadlan jelas berada tepat di hadapnnya. Membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sebelum kemudian berdenyut dua kali lebih cepat dari biasanya. Akh, situasi ini….Cut.#Krik Krik Krik…. Bersambung…. Ha ha ha, #admin kurang kerjaan. Sory man ceman, tadinya mau di bikin oneshot, eh ternyata kepanjangan. Terpaksa deh, di potong dulu. Di jadiin dua part. Ide dadakan yang admin tulis pas kebingungan ngetik kelanjutan cerpen kenalkan aku pada cinta #gubrag.Oke, kira – kira ada yang bisa nebak {dengan benar} endingnya gimana? Kan kali aja ada yang demen berimaginasi bebas kayak admin. Xi xi xi⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ With love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 03 / 13

    Masih kelanjutan dari cerpen kala cinta menyapa yang kini udah sampe part 3. Ngomong – ngomong kali ini cerpen versi edit ya. Ya nggak banyak yang berubah, hanya berusaha untuk sedikit merapikan aja. Nah, buat yang baru nemu kisah ini biar nyambung mendingan baca dulu bagian sebelumnya pada Kala cinta menyapa bagian 2. Selamat membaca ya….Kala Cinta Meyapa“Apa. Si Erwin jatuh kedalam got? Loe dapat gosip itu dari mana?”Langkah Erwin yang berniat untuk kekelasnya langsung terhenti saat telinganya mendengar bisik – bisik teman – temannya. Begitu wajahnya menoleh ia melihat segerombolan teman – temanya yang sepertinya sedang bergosip ria tanpa menyadari kehadirannya.“Ia, katanya si gitu. Katanya lagi nie ya, yang bantuin dia itu si siapa tu anak sastra yang pake kacamata. Haduh gue sampe lupa namanya?”“Yang mana nie?” tanya beberapa yang lain.“Itu lho. Yang biasa bereng sama Irma."“O… yang itu. Gue tau. Kalau nggak salah namanya Rani. Iya bener deh kayaknya. Jadi dia yang bantuin. Tapi gimana ceritanya."“Gosip yang beredar si katanya gini. Waktu itu si Erwin mapok terus tetep nekat pake motor. Makanya nabrak. Untung aja nggak mati. Nah waktu itu kebetulan kejadiannya pas didekat rumahnya Rani. Makanya langsung Rani bantuin."“Ih, masa si Erwin doyan minum? Sampe mabok segala?” tanya yang lain tampak tak percaya.“Cek cek cek. Kalau gue si percaya aja. Toh tu anak kan memang selama ini terlihat misterius."Sementara yang lainnya hanya mengangguk – angguk membenarkan. Tanpa menyadari Erwin yang sedari tadi menguping terbuka tanpa suara. Tangannya terkepal dengan erat. Emosinya benar – benar naik saat ini. Gadis itu?… benar – benar sulit di percaya.Tampangnya aja yang terlihat lugu dan polos. Tapi ternyata. Dengan kesal di pukulnya dinding membuat orang – orang yang sedari tadi mengosip langsung menoleh. Merasa terkejut sekaligus ketakutan ketika melihat yang sedang di gosipkan muncul dengan tiba – tiba. Dan semuanya hanya mampu menunduk terpaku saat Erwin melangkah melewatinya sekali gus merasa lega karena ternyata Erwin tidak melakukan apa – apa. Kalau sampai Erwin beneran ngamuk kan bahaya.Tepat di belokan kelas Erwin berpapasan dengan Rani yang kebetulan juga lewat dari hadapannya. Tanpa menyadari ada bahaya sedikit pun, dengan santai Rani terus melangkah. Jantung nya terasa mau copot saat tiba – tiba tangannya di tarik, dan Rani merasa lebih kaget lagi saat mendapati wajah Erwin yang menatap seolah – olah akan melahapnya hidup – hidup.“A… A…. Ada apa?” tanya Rani terbata.Erwin tidak langsung menjawab. Matanya menyipit membuat Rani makin panas dingin. Ya ampun ini kan masih pagi.“Loe….” tunjuk Erwin lurus ke arah Rani. Saking merasa keselnya ia sendiri sampai tidak tau harus ngomong apa.“Lepasin temen gue!” terdengar sebuah suara di susul dorangan tubuh yang di rasakan Erwin. Rasa kesel nya makin meningkat saat mendapati wajah sangar Irma di belakangnya.“Loe lagi. Mau apa loe? Ini tu bukan urusan loe!” geram Erwin setengah membentak.“Ho ho ho, belum tau ya? Rani ini sahabat gue. Dan siapa pun yang berusaha nyakitin dia akan jadi urusan gue."“Heh…” cibir Erwin Sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap sinis kearah Irma. “Jadi loe seorang bodyguard ternyata."Dan sedetik setelah kata itu terucap dari mulut Erwin…“Aduh,” jeritan kesakitan terdengar. Erwin melihat kearah kakinya yang masih berdenyut sakit karena di injak sekeras – kerasnya oleh Irma yang kini tampak tersenyum puas.“Ha ha ha, rasain loe. Makanya kalau ngomong jangan asal nyeplak. Enak aja gue secantik ini di bilang bodyguard, yang ada gue itu pengawal pribadi. Ups, salah maksudnya gue itu sahabat terbaik yang pantes di jadiin teladan semua orang."“Dasar cewek sarap,” geram Erwin berusaha menahan emosinya.“Tunggu dulu, kok kalian berdua malah berantem?”Erwin dan Irma kontan langsung menoleh kearah Rani secara bersamaan. Menatap gadis itu yang terlihat heran sekaligus tidak percaya.“Dan itu karena elo!” tuding Erwin langsung.“Gue?” tunjuk Rani kearah wajahnya sendiri. Pikirnya segera melayang. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Bukannya ia sudah tutup mulut soal Accident yang terjadi pada Erwin kemaren.“Jangan sok polos,” sambung Erwin lagi. “Loe kan yang nyebarin gosip yang tidak – tidak soal gue?”“Gosip?” ulang Rani makin bingung.“Ha ha ha. Yang tidak – tidak? Nggak salah tuh. Bukannya yang iya – iya ya?” potong Irma disela tawanya.“Diem loe!” bentak Erwin kearah Irma yang masih tertawa. Mata Erwin sedikit menyipit kearah Irma. Sebuah pemikiran baru terlintas di benaknya.“Jangan bilang ini ulah loe?”“Tentu saja,” aku Irama nggak tanggung – tanggung. “Loe pikir gadis sepolos Rani mau melakukannya?”Mulut Erwin terbuka tanpa suara. Sementara Rani justru terlihat makin bingung. Kenapa dia di bawa – bawa?“Loe….” tunjuk Erwin kearah Irma, Eh bukannya takut Irma justru malah mendekat ke arah Erwin. Jelas terlihat menantang.“Makanya, jangan pernah berusaha mencari gara – gara sama gue,” balas Irma sebelum kemudian menarik tangan Rani. Mengajaknya berlalu meninggalkan Erwin dengan tampang bodohnya.“Eh tunggu dulu,” tahan Rani menghentikan langkahnya. Membuat Irma merasa heran. Dan lebih heran lagi saat melihat Rani berbalik, kembali menuju kearah Erwin yang masih diam terpaku.“Gue lupa mo bilang. Soal kemaren katanya loe yang bantuin gue waktu pingsan. Gue kan belum bilang ma kasih. Ma Kasih ya…” kata Rani sambil tersenyum namun justru malah membuat Erwin makin kesel. Dan sebelum Erwin sempat buka mulut, Irma sudah terlebih dahulu menarik tangan Rani dan membawanya pergi.“Loe bego apa dodol si? Kenapa loe malah bilang terima kasih sama tu anak?” geram Irma sambil menarik Rani menuju kekelasnya.“Lho, memangnya ada yang salah? Toh kan loe sendiri yang bilang kalau kemaren itu Erwin yang nolongin gue. Dan dari kecil itu nyokap bokap gue udah ngajarin tentang tatakrama. Nah karena dia yang udah bantuin gue, ya udah seharusnya donk gue bilang ma kasih."“Terserah loe aja deh,” Irma tak mau ambil pusing.“Oh ya, gue juga heran. Kenapa loe kemaren nggak masuk? Kasian tau, Rei kemaren nyariin loe,” jelas Rani.“Rei? Nyariin gue?” tanya Irma heran. Rani hanya membalas dengan anggukan.“Terus loe bilang apa?”“Ya gue bilang aja nggak tau. La kan gue emang nggak tau. Tapi abis itu dia ngobrol gitu sama Nandini. Tau deh ngomong apa an. Bukan urusan gue ini."“Sama Nandini?"Rani kembali mengangguk. “Tapi gue heran deh, kok loe biarin aja dia deket – deket sama Nandini. Entar kalau mereka jadian beneran apa loe nggak patah hati?”Mendengar pertanyaan Rani barusan sontak langkah Irma langsung terhenti. Mata Rani juga hanya berkedip – kedip heran menatapnya.“Kenapa?” tanya Rani lagi.“Loe bilang apa. Gue patah hati? Kenapa gue harus patah hati?"“Ya ela, loe kan cinta sama Rei. La nanti kalau Rei jadian Sama Nandini apa loe nggak jadi patah hati."“Yang bilang gue suka sama Rei siapa?”“Nggak ada si. Gue nebak aja. Memang nya salah ya?” tanya Rani membuat Irma jadi sedikit salah tingkah.“Tentu saja salah."“Jadi loe nggak suka sama Rei donk?” tanya Rani lagi.“Tentu saja tidak,” balas Irma cepat. Sedikit takut kalau Rani bertanya lebih lanjut. Bukannya apa, ia tau kalau temannya yang satu ini memang bukan ember, tapi ia juga sangat tau kalau mulutnya sangat gampang keceplosan. Bukitnya Erwin aja kena dampaknya.“Eh, itu bukannya Rei ya?”Refleks Irma langsung berbalik menatap kearah pandangan Rani. Jantung Irma terasa berhenti berdetak saat mendapati tatapan tajam Rei yang terarah lurus kearahnya sebelum kemudian berlalu pergi tanpa menyapanya sedikit pun. Sementara Rani sendiri hanya angkat bahu dan kembali melanjutkan langkahnya ke kelas. (Note : Untuk kisah Irma dan Rei bisa di baca selengkapnya dalam serial Dalam Diam Mencintaimu)Oke guys, bersambung dulu ya. Untuk kelanjutan kisah Rani dan Erwin lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 4Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.139 WordsLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*