Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05

Omz, Cerpen kala cinta menyapa apa kabarnya yak?. Makin nyungsep aja tuh ide… ha ha ha.
Tapi ya sudah lah, mumpung ide cerpen terbaru Take My Heart yang muncul duluan, ya udah ini aja yang di ketik dulu.
Akhir kata, happy reading….!!.
PS: Part sebelumnya silahkan baca:
-} Cerpen terbaru Take My Heart part ~ 04


Dalam hidup ini, aku hanya punya satu impian…
Impianku bisa menjadi nyata.
Titik!!!.
Setelah membasuh mukanya dengan air dari keran, tangan Vio terulur meraih tisu. Mengeringkan wajahnya. Sejenak di tatapnya bayangan dicermin. Raut lelah jelas tergambar di sana.
Tak ingin berlama – lama Vio segera melangkah keluar. Tepat di pintu langkahnya tercegat. Selang beberapa meter di hadapan tampak Laura yang juga berdiri terpaku menatapnya. Sepertinya gadis itu juga berniat untuk masuk ke toilet kampusnya.
Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Vio berusaha bersikap santai. Kembali melangkah sampai sebuah suara menghentikannya.
"Gue minta maaf untuk masalah kemaren?".
"He?" Vio menoleh.
"Maksut loe?" tanya Vio yang masih ragu akan kalimat yang baru saja di tangkap oleh telinganya.
"Atas kejadian yang terjadi kemaren, gue minta maaf".
Merasa kalau ia memang tidak salah dengar di tambah dengan raut serius di wajah Laura kontan membuat Vio merasa sedikit salah tingkah. Di garuknya kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Ehem… Never mind. Lagian loe nggak punya salah sama gue" Kata Vio akhirnya.
"Tapi kemaren gue sempet bersikap nggak sopan" Laura menambahkan. Vio hanya membalas dengan senyuman maklum.
"Laura" tiba – tiba laura mengulurkan tangannya.
Tidak langsung membalas Vio kembali terdiam. Hei, tidak ada udang di sebalik bakwan kan?. Maksutnya gadis itu benar – benar berniat untuk bersahabat dengannya kan?.
"Vio" Takut di sangka yang tidak – tidak Vio menyambut uluran tangan itu. Lagi pula tidak ada untungnya menyulut permusuhan. Justru malah merugikan diri sendiri. Bener nggak?.
"Selain minta maaf gue juga mau berterima kasih untuk yang kemaren. Terima kasih karena udah belain gue di hadapan Ivan" Tambah Laura lagi.
"Nggak masalah. Santai aja. Gue hanya melakukan apa yang menurut gue bener aja".
"Kalau gitu mulai sekarang loe mau jadi sahabat gue kan?" tanya Laura lagi.
Vio kembali terdiam. Menimbang – nimbang untuk sejenak. Sampai kemudian sebuah senyuman terukir di bibirnya. Sambil mengangguk ia berujar "why not?".
Dan kali ini senyuman benar – benar mengembang di kedua wajah cantik itu.
Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05
Kening Silvi tampak sedikit berkerut saat melihat langkah Vio dan Laura yang tampak berjalan beriringan menghampirinya. Matanya sedikit menyipit. Sejak kapan kedua gadis itu bisa terlihat akrab begitu?.
"Oke Vio, Gue duluan ya?" pamit Laura.
Vio hanya membalas dengan anggukan sambil melambaikan tangannya. Tingkah laku itu juga sama sekali tidak lepas dari perhatian Silvi.
"Kok loe bisa kenal sama Laura?" tanya Silvi langsung.
"Memangnya nggak boleh?" Vio balik bertanya.
"Bukan nggak boleh. Cuma aneh aja. Loe belom tau siapa dia ya?" tanya Silvi lagi.
"Memangnya dia siapa?" Lagi – lagi Vio membalas dengan balik bertanya.
"Dia itu idola di kampus kita, dan…".
"Dan…?" kejar Vio karena Silvi mengantungkan ucapannya.
"Dan dia itu adalah orang yang gue ceritain kemaren. Cewek yang dipermalukan di depan anak – anak kampus sama si Ivan" terang Silvi.
"O.. gue udah tau" Balas Vio santai.
"Oh ya?" Silvi tampak tak percaya.
"Bahkan gue juga tau kalau Laura berniat balas dendam dengan menyewa preman untuk menghajar Ivan kemaren. Makanya muka tu cowok rada ancuran walau tetep masih keliatan keren si" Balas Vio sambil mikir – mikir.
"Apa?, Jadi Laura yang…".
Dengan Cepat tangan Vio terulur membungkam mulut Silvi. Ya ampun, sepertinya ia harus segera mengingatkan gadis itu untuk tidak selalu berteriak jika mendengar kabar yang mengagetkan. Atau justru sepertinya ia juga harus berhenti memberi kabar yang bisa membuat Silvi kaget. Ah, Whatever lah….
"Astaga Silvi, Nggak usah pake teriak segala kali. Loe lupa ya, masalah yang loe buat di kantin aja tadi belom beres, sekarang loe mau nambahin lagi?".
"Ups… Maaf. Refleks soalnya" Senyum Silvi merasa bersalah.
"Jadi Ivan babak belur gitu karena ulah Laura?" tanya Silvi lagi. Kali ini sengaja mengecilkan volume suaranya. Vio hanya angkat bahu membalasnya.
"Terus, kenapa sekarang tu anak deketin loe?" selidik Silvi lagi.
"Tau" Vio cuek sambil melankah ke kelasnya. Dengan cepat Silvi menyusulnya.
"Loe nggak curiga?".
"Curiga buat apaan?".
"Yah bisa aja kan. Laura sengaja mendekati loe buat balas dendam ke Ivan?".
Bukannya Khawatir ataupun takut, Vio justru malah tertawa. Mebuat Silvi mengernyit heran.
"Leo pikir ini sinetron apa?. Lagian jangan suka seuzon. Dosa tau".
Belum sempat Silvi membantah mulut Vio sudah terlebih dahulu menambahkan.
"Loe tenang aja. Gue kadang emang baik, tapi gue nggak bodoh".
Singkat, padat, Jelas juga tegas. Itu hal yang bisa di tangakap oleh Silvi saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. Meyakinkan ia kalau gadis itu pasti tau apa yang di lakukannya. Akhirnya dengan perasaan lega keduanya melangkah beriringan menuju kekelas. Pelajaran selanjutnya sudah akan di mulai.
Dan saat kelas berakhir Vio segera membereskan buku – bukunya. Berjalan beriringan bersama Silvi menuju ke halaman kampus. Sepanjang perjalanan tak henti mereka saling berbagi cerita. Walau masih dalam hitungan hari Vio sudah bisa mengakui kalau Silvi orangnya memang asik. Enak di jadikan sahabat.
"Jadi loe pulang naik bus?" tanya Silvi kemudian. Kepala Vio mengangguk membenarkan.
"O .. Kalau gitu sory ya, Gue duluan" Tambah Silvi lagi saat melihat mobil sillver terparkir tak jauh di hadapannya. Jemputannya sudah datang. Berhubung rumah mereka berlawan arah, Vio menolak untuk di ajak pulang bersama.
"Oke… Hati hati ya".
"Syip… Loe juga".
Kata terakhir yang keluar dari mulut Silvi sebelum menghilang bersama mobilnya. Berlalu meninggalkan Vio yang tampak melangkah menuju ke halte yang tak jauh dari gerbang kampus.
Suara klakson mengagetkan Vio, Langkahnya kontan terhenti.
"Mau pulang ya?".
"Nggak. Mau kepasar jualan sayur" Balas Vio ketus.
Suara tawa kontan terdengar dari mulut Ivan.
"Ya ela jadi cewek judes amat si?. Ntar ngga punya pacar lho" Kata Ivan setengah meledek.
"Siapa bilang?. Justru malah ada yang niat banget buat bisa macarain gue biar dapat sepuluh juta".
Glek, Skak mat. Tawa Ivan langsung terhenti mendengar kalimat sindiran yang jelas – jelas tertuju kepadanya. Fakta kalau gadis itu sama sekali tidak mempan akan pesoananya kembali menyadarkan ia akan posisinya saat ini.
"Ehem, Kalau loe mau pulang, gue nggak keberatan kok buat nganterin" Ivan mengalihkan pembicaraan.
"Gue yang keberatan loe anterin" Balas Vio singkat, Padat tapi nyelekit.
"Kalau loe masih berniat buat ngodain gue, Segera buang jauh – jauh tu niat. Karena sekali lagi gue peringatin, Gue nggak akan pernah terpengaruh " Sambung Vio bahkan sebelum Ivan sempat membuka mulutnya.
Tanpa kata lagi ia segera berlalu. Bus yang sedari tadi ia tunggu sepertinya sudah muncul di hadapan. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar kalimat yang Ivan lontarkan.
"Kalau seandainya gue bisa bikin loe jatuh cinta sama gue bagaimana?".
Untuk sejenak Vio menghela nafas baru kemudian berbalik. Menatap Ivan yang masih dengan santai nongkorng di jok motornya sambil menyilangkan kedua tangan. Sementara pandangannya terarah lurus ke wajah Vio. Membuat tatapan keduanya bertemu.
"Kalau begitu selamat, Itu artinya loe bakal dapat sepuluh juta" Sahut Vio dengan santai.
"Hanya itu?".
"Terus loe maunya apa?" Tanya Vio dengan kening berkerut.
Ivan tidak langsung menjawab. Sebuah senyum penuh makna terukir di wajahnya sebelum pada detik berikutnya mulutnya berujar "Loe harus mau jadi pacar gue beneran".
"Silahkan bermimpi".
Kali ini Vio benar – benar berbalik tanpa menoleh lagi. Menghilang bersama lajunya bus yang akan mengantarnya kerumah. Menginggalkan Ivan dengan ke terpakuannya. "Jatuh cinta sama Ivan?".
MUSTAHIL!!!.
To Be Continue….
Leave a coment please…. Itung – itung biar semangat bikin lanjutanya….
NOTE: 100+ Like, Lanjutanya muncul. Kalau nggak ya, kita liat aja entar… ^_^

Random Posts

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 14

    Lama nggak ngetik cerpen, jadi cangung sama lanjutannya. Apalagi untuk cerpen cinta kenalkan aku pada cinta. Busyed banget dah, ni cerpen udah dari sekian lama kenapa nggak ending – ending juga yak? Ribet amat kayaknya. Ide kerasa mahal pisan euy. Sampe sampe admin jadi bingun sendiri. #CiuuusssAnd then, kalo emang nggak ada aral melintang (???) kayaknya, cerpen yang satu ini hanya tinggal 2 atau 3 part lagi nemu ending deh. Pake voting yuks, kalau di bikin sad ending gimana? Secara lamaaaaaaa bangets adminnya nggak bikin cerpen yang sad sad. Bener nggak sih? Ke ke. Eh, biar nggak kebanyakan bacod langsung baca lajutannya aja yuks. And untuk part sebelumnya bisa di baca disini.Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada CintaAstri sesekali melirik jam yang melingkar di tangannya sembari matanya melirik kearah pintu kantin, menanti sosok kemunculan sahabatnya. Sudah lebih dari 15 menit ia menunggu, tapi gadis itu masih belum menunjukan batang hidung nya. Padahal tadi katanya hanya sebentar. Ia kan paling malas kalau harus makan sendirian.“Kok sendirian?”Astri menoleh. Wajah Andre langsung menyambutnya. Ia sendiri heran, kapan pria itu muncul? Kenapa ia tidak menyadari kehadirannya?“Alya mana?” pertanyaan selanjutnya menyadarkan Astri dari lamunannya. Entah kenapa ia merasa sedikit kesel mendengar pertanyaan itu. Ia tau, ia memang bersahabat cukup erat dengan Alya, tapi mendengar nama gadis itu yang keluar dari mulut Andre membuatnya merasa sedikit terganggu. Jangan di tanya kenapa, karena ia juga tidak tau.“Ehem, Alya. Nggak tau, tadi katanya ada urusan sama dosen,” balas Astri datar. Perhatiannya kembali ia alihkan kearah minuman pesanannya, mengaduk – aduknya dengan berlahan.“O…” Andre tampak mengangguk. “Gue boleh duduk disini bentar nggak?”Astri hanya mengangguk. Untuk beberapa saat keduannya terdiam.“Oh ya As, ngomong – ngomong besok kan hari minggu. Kita libur. Loe ada acara nggak?”Astri menoleh dengan tatapan menyelidik. Sibuk menebak kearah mana pembicaraan ini akan di bawa. Setelah mikir beberapa saat kepalanya mengeleng sembari mulutnya bergumam “Enggak ada. Emang kenapa?”Andre tidak langsung menjawap, hanya bibirnya yang tampak melengkung membentuk senyuman indah. “Kalau gue ajak jalan loe mau nggak?”“Jalan?” ulang Astri seolah tak yakin dengan kalimat yang baru saja di dengarnnya. Andre mengangguk mantap sebagai jawaban. “Tapi cuma kita berdua. Nggak ada Alya apalagi Rendy,” sambung Andre lagi.Astri makin bungkam. Diajak jalan saja ia sudah merasa heran, apalagi tanpa Rendi dan Alya. Merasa sedikit salah tingkah, tangan Astri terulur meraih pipet minumannya. Menyeruput jus jeruk yang sedari tadi hanya ia aduk aduk. Kepalanya kembali menelaah tawaran Andre barusan. Jalan – jalan? Hanya berdua? Jangan bilang kalau Andre mengajak ia untuk ken…“Kita kencan,” sambung Andre seolah mampu membaca pikiran Astri.“Uhuk – uhuk,” kalau biasanya orang tersedak karena bakos, kali ini Astri tersedak minumannya sendiri. Ketika batuknya reda, matanya langsung menatap lurus kearah Andre yang ternyata juga sedang menatapnya. Menanti jawaban lebih tepatnya.“Loe mau kan?”“Tentu saja tidak,” itu adalah jawab yang seharusnya dan ingin Astri lontarkan. Ayolah, ia tau pasti kalau sosok yang mengajaknya itu adalah orang yang di taksir sahabatnya sendiri. Tapi…. Entah bagaimana ceritanya, ia merasa kalimat itu terlalu berat untuk di lontarkan. Bahkan seolah itu belum cukup, tubuhnya juga memberikan reaksi yang berbeda. Kepalanya mengangguk berlahan, sembari mulutnya bergumam lirih. “Boleh.”“Ya?” gantian Andre yang tampak heran. Seolah tak yakin dengan jawaban yang di dapatkannya. Matanya menatap lurus kearah Astri, menanti kalimat lanjutan. Tapi gadis itu hanya terdiam tanpa berani menoleh kearah dirinya. Tanpa bisa di cegah, senyum kembali mengembang di bibir Andre.“Baiklah, kalau gitu besok gue jemput loe jam 08:00 pagi. Gimana?”“Ya sudah kalau gitu. Sekarang gue pergi dulu ya. Kebetulan gue ada urusan. Jangan lupa besok gue jemput loe. Oke,” kata Andre sambil bangkit berdiri. Astri menoleh. Walau sejujurnya ia bingung, tapi mulutnya tetap bungkam. Hanya anggukan kepala yang lagi lagi ia berikan sebagai jawaban. Mengantakan kepergian Andre yang berlalu meninggalkannya.Setelah Andre benar – benar berlalu, Astri terdiam sediri. Sibuk mencerna apa yang baru saja di lakukannya. Mendadak ia merasa ragu. Bahkan tak urung sedikit merasa bersalah pada sahabatnya. Apa yang telah ia lakukan? Kenapa ia menyetujui ajakan itu?“Ngelamun aja loe. Nggak bakal kaya tau.”Astri terlonjak seiring dengan kalimat sapaan yang mampir di gendang telingannya. Terlebih tambahan kontak fisik pada tepukan pundaknya. Saat menoleh, Alya sudah berdiri disampingnya. Tanpa kata, gadis itu segera duduk di hadapannya. Mengantikan tempat Andre sebelumnya.“Apaan sih loe. Ngagetin aja,” gerut Astri. Secara refleks ia menoleh kekanan kiri. Memastikan tiada bayangan Andre di sekitarnnya.“Yee… gitu aja kaget. Makanya jangan ngelamun aja. Ayam tetangga pada mati tau,” nasehat Alya yang hanya di balas cibiran.“Ngomong – ngomong loe lama banget sih. Emang ada urusan apaan?”“Gue kan tadi udah bilang, gue keruangan dosen. Gue mau minta izin. Soalnya gue mau libur seminggu kedepan.”“HA? Kenapa?” Astri jelas kaget mendengarnnya.“Biasalah. Gue ada urusan keluarga gitu. Gue, sama nyokap gue mau keluar kota. Ada acara gitu di tempat kerabat gue. Karena bokap gue nggak bisa ikut, yah terpaksa deh gue yang gantiin temenin nyokap buat kesana.”“Tapi kok harus seminggu segala. Lama amat?”“Itu karena acarannya bukan cuma di luar kota. Tapi udah luar provinsi juga. Jauh. Kalau cuma sebentar, sayang di ongkos. Lagian, nyokap gue udah lama banget nggak kesana. Jadi, gitu deh.”“Dimana? Emang sejauh apa sih?” tanya Astri lagi.“Bokor ~ Selatpanjang ~ Riau ~ Indonesi. Sebenernya gue ngerasa percuma aja sih gue ngasih tau. Loe juga nggak bakal tau. Secara daerahnya nggak ada di peta,” sahut Alya ngasal, Astri sedikit mengernyit mendengarnya. Dan sebelum mulutnya kembali terlontar untuk melemparkan pertanyaan, Alya sudah terlebih dahulu mendahuluinya.“Nah, karena itu. Besok loe temenin gue ya. Gue mau cari oleh – oleh buat di bawa kesana. Loe bisa kan?”“Ya?” “Tampangnya biasa aja kali. Nggak usah kaget segala.”Astri terdiam. Merasa bingung dengan apa yang akan di lakukannya. Bagaimana donk, ia kan sudah berjanji pada Andre untuk jalan bersama. “Aduh, gimana ya? Besok kayaknya gue nggak bisa.”“Nggak bisa? Kenapa?” tanya Alya heran.“Besok gue udah ada janji soalnya.”“Janji? Sama siapa ? Nggak bisa di batalin ya?”Lagi – lagi Astri terdiam. Nggak mungkin kan ia harus bilang kalau ia mau jalan sama Andre. Apa nanti tangapan Alya padanya? Tapi kalau nggak di kasih tau, ia mau pake alasan apa?“Sama temen.”Alya menyipitkan matanya. Menatap penuh selidik kearah Astri. Merasa kalau ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya itu. Tidak biasanya Astri begitu. Sepertinya ada yang di sembunyikan darinya. “Ya udah. Gimana kalau kita nyari oleh – olehnya hari ini aja. Abis pulang kuliah kita langsung pergi. Oke?” tawar Astri cepat. Tak memberi kesempatan pada Alya untuk bertanya lebih lanjut.Untuk sejenak Alya tampak memikirkan tawaran sahabatnya itu. Dan beberapa saat kemudian kepalanya mengangguk berlahan. Isarat bahwa ia setuju. Lagipula kalau di pikir – pikir siang ini ia tidak acara. Besok juga ia masih harus paking barang. Di tambah lagi, ia juga malas kalau besok harus keluar sendirian. “Oke deh kalau gitu. Abis ini kita langsung pergi.”Astri tersenyum mendengarnya. Walau tak urung ia merasa sedikit bersalah karena telah membohongi sahabatnya, namun sebagian hatinya justru merasa lega dan senang. Karena sepertinya Alya sudah tidak mempermasalahkan alasannya. Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada CintaKeesokan harinya, Astri tampak sibuk merapikan diri. Walau ia sudah mati – matian meyakinkan dirinya sendiri kalau itu bukan kencan tapi hanya untuk memenuhi undangan jalan sekaligus mengisi hari liburnya, tapi tetap saja ia berdandan. Bahkan kacamata yang biasa menemani hari harinya di kampus kini telah digantikan dengan kontak lens. Rambutnya juga sengaja ia gerai bebas. Tak lupa polesan sedikit make up di wajahnya yang di padukan dengan gaun yang baru ia beli minggu kemaren.“Eh busyed, cantik banget loe. Mau kemana?”Tak tau datangnya dari mana, alih – alih Rendy tampak melangkah menghampiri dengan raut heran plus kagum dengan penampilannya.“Kakak apaan sih. Kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu. Kebiasaan deh.”Langkah Rendy langsung terhenti dengan tatapan menatap lurus kearah bayangan Astri pada cermin. Wajahnya menampilkan sosok seseorang yang sedang berfikir, kemudian tanpa kata ia segera berbalik. Tepat di daun pintu yang masih terbuka, tangannya terulur mengetuk tiga kali baru kemudian kembali melangkah menghampiri Astri yang terlihat cengo memperhatikan ulahnya.“Nggak gitu juga kali. Maksut gue itu ketuk pintu sebelum masuk. Bukan setelah ataupun pake tayang ulang segala.”“Akh bawel loe. Yang penting kan gue udah ketuk pintu,” balas Rendy. “Tapi ngomong – ngomong loe mau kemana si?” tanya Rendy mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.“Jalan,” sahut Astri singkat.“Sama siapa?” tanya Rendy lagi dengan tampang menyelidik.“Yee, gue mau jalan sama siapa suka – suka gue donk. Lagian sejak kapan coba gue mau jalan harus laporan dulu,” elak Astri.“Emang nggak harus sih. Tapi paling nggak kan gue kakak loe. Entar kalau sampe ada apa – apa sama loe siapa coba yang repot. Gue juga…”Astri mencibir sinis mendengarnya. Sejak kapan kakaknya perhatian gitu. Akh, ia jadi merasa curiga.“Ekh, tapi ngomong – ngomong. Loe mau kencan ya? Sama siapa? Soalnya bukan cuma cantik, tapi wangi banget kayaknya?” tanya Rendy lagi sambil mendendus endus bau dengan hidunnya.“Nggak usah kepo deh ya. Mau kencan kek, sama siapa kek, cantik kek, wangi kek. Suka – suka gue donk.”“Lah, sejak kapan adik gue jadi galak gini? Wah, ada yang nggak beres nih. Pasti loe mau kencan sama orang yang nggak jelas,” komentar Rendy.“Loe yang nggak beres. Sama nggak jelas juga. Udah keluar sana. Ini kan kamar cewek,” balas Astri sambil mendorong tubuh kakaknya keluar melewati pintu kamarnya sebelum kemudian ia kunci dari dalam. Tak ingin mendapatkan gangguan lebih dari makhluk itu. Lagipula tumben tu orang jam segini sudah bangun. Padahal kan ini hari libur. Biasanya juga masih keasikan molor.Setelah kakaknya keluar Astri kembali menautkan dirinya pada cermin di hadapan. Memastikan kalau dandananya tidak terlalu berlebihan. Setelah yakin semuanya oke, Astri melirik jam di tangan, tinggal menunggu kedatangan Andre yang menjemputnya, dan ia bisa langsung pergi sesuai yang di rencanakan.Memenuhi ajakan _kencan_ Andre.To Be Continue…With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Cinta: MENCOBA TINGGALKAN BAYANGMU

    Mencoba Tinggalkan BayangmuOleh: FatkuryatiMalam itu adalah malam pergantian tahun, atau yang lebih dikenal dengan istilah tahun baru,, euforia cantiknya kembang api mulai terasa di menit-menit pergantian tahun. Tidak banyak yang aku bisa lakukan di malam itu. Seperti putri di negri dongeng yang terkurung dalam khayalan-khayalan indah. Untuk ikut bernostalgia di malam tahun baru bersama teman-teman semasa SMA pun aku tak dapat izin dari sang bunda. Untuk hal seperti ini mamah selalu punya dua alasan. Alasan pertama, aku masih selalu di anggap anak kecil.“nah lhoooo,,, aku kan udah umur 20 tahun mah, semester 5 lhoo aku, sekitar dua tahun lagi insyaallah aku lulus kuliah, gumamku dalam hati”. Alasan kedua, suasana malam di kota sangat tidak baik, pergaulan di sana bahkan tidak pernah mengenal aturan.“Hmmp,, ya ampuunn ini kan masih kota Serang mah bukan Jakarta,, toh aku juga bukan keluyuran sendiri yang gg jelas, tapi sama temen-temen yang sebagian besar udah mamah kenal dengan sangat baik, jawabku pelan”. “iyah mamah tahu, tapi mamah yakin kamu paham betul makna dari alasan-alasan mamah, jawab mamah dengan bijak”. Aku tidak bisa mendesak mamah untuk memberikan izin, aku takut mamah akan sedih bila ada bantahan di tengah perhatiannya, aku tahu semua kekhawatirannya semata-mata karena ingin melindungi dan menjagaku. Sepeninggalnya ayah beberapa tahun silam, mamah memang berubah jadi over protektif, untuk sebuah keselamatan anak-anaknya beliau lebih rela di hujat banyak orang daripada akan ada apa-apa nanti. Di rumah memang tak ada lelaki dewasa yang bisa benar-benar melindungiku, kedua kakak priaku telah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya masing-masing, di rumah hanya ada aku, mamah dan kakak wanitaku dengan perbedaan usia 3 tahun. Jadi wajar saja bila mamah merasa memiliki tanggungjawab yang sangat lebih. jika terjadi apa-apa dengan putrinya, ia akan merasa sangat berdosa. Oleh karenanya, sebelum hal itu terjadi, beliau lebih memilih untuk menjagaku dengan caranya. Di tengan perbincangan itu,, mamah memetikkan ibu jari dan jari tengahnya, pertanda memberikan ide.“hmmmp,, untuk menghabiskan malam tahun baru, gimana kalo kamu ikut acara mamah” usul mamah. “Acara apa mah?" tanyaku.“kamu ikut mamah pengajian di pendopo kantor Bupati, Serang.. gimana??” tanya mamah.Dengan spontan aku mengangkat sebelah alisku, “hmmp, ya udah deh aku mau, daripada di rumah, pastinya nanti aku akan benar-benar jadi gadis di negri dongeng yang merindukan dunia luar,” jawabku dengan ekspresi seadanya.“Nahh gitu dooong, ini baru namanya anak mamah,” ucap mamah sambil mencium keningku.Dalam perjalanan menuju kantor bupati, mataku terasa disuguhkan dengan pemandangan indah tahun baru. Banyak sekali penjual dadakan yang mencoba peruntungannya di malam ini,, dengan mencoba berjualan pernak-pernik dan makanan khas tahun baru. Para penjual terompet, petasan, kembang api, dan balon berjejer menawarkan barang dagangannya. Bahkan karena maraknya penjual, para konsumen terlihat dibuat bingung untuk membelinya. Asap jagung bakar pun seolah menggoda para penikmat tahun baru untuk sekedar mencicipinya. Dan yang tak kalah menarik,, ada pasar malam di Alun-alun kota Serang, terlihat sesak, orang-orang mencoba menghibur dirinya dengan sekedar berbelanja, menikmati wahana permainan atau makan bersama dengan sang kekasih hati. “Oohh tidak, sepertinya malam ini memang tak ada pangeran menjemputkuku, huufftt jadi merasa sedikit cemburu dengan mereka, ucapku lirih sambil memonyongkan bibir”. “tapi aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat pemandangan seelok ini,, semoga nikmat sehat-Mu yang tak terkira banyaknya ini, selalu menjadikanku untuk tetap bersyukur, ucapku dalam hati dengan mimik takjub”.Dan ternyata di pendopo kantor bupati pun tak kalah sesak,, para jamaah berlomba-lomba untuk menempati posisi terdepan, katanya akan ada penyanyi lokal Banten yang pernah melanglang buana di stasiun TV swasta, presenter yang cukup terkenal di acara dakwah, juga ustadz yang cukup membumi di Banten dan hiburan lainnya yang tak kalah menarik.Anehnya,, di tengah acara ini berlangsung,, tiba-tiba aku teringat sebagian kenangan masa laluku.. Aku seperti orang dengan raga yang tertinggal di pendopo, sementara pikiran dan nyawaku berkunjung menjelajah kembali ke masa lalu.Dia,, pria itu… pria yang baru 2 tahun lalu ku kenal. Tampan, baik dan dewasa,, Ia adalah mantan kekasihku. 100 hari bersama,, ternyata cukup untuk membuatnya berkarat dalam ingatanku . Aku tak pernah tahu, kenapa hingga kini ia masih cukup berarti untuk hidupku. Kami sama-sama mengakui bahwa kami masih saling merindukan satu sama lain. Ketemu, jalan dan makan bareng adalah hal yang biasa kami lakukan untuk sekedar mengobati rindu itu.Kadang ia masih suka mengirimiku pesan singkat yang manis,, hingga aku merasa aku adalah wanita terbahagia di dunia. Ini adalah salah satu pesan singkatnya.“tak apa, kalau kamu masih malu untuk bilang sayang kembali, tapi yang penting hatimu masih tersimpan indah dalam hatiku” Heiii pria yang menjadi mantan kekasihku,, tahukah kamu,, aku malah seperti wanita gila ketika membaca pesan singkatmu itu, loncat-loncat bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah balon, dan senyum-senyum sendiri seperti penghuni RSJ yang melarikan diri. Dan tahukah kamu,, Itu adalah pertanda bahagianya aku ketika ku tahu kau masih memiliki rasa yang sama.Jujur,,, hingga kini aku masih menyayangimu, aku tak pernah mampu untuk menggantikan namamu dengan nama yang lain. Bahkan aku lebih memilih untuk menolak cinta 5 pria lain, daripada menghapus namamu. Aku tahu 5 pria itu kecewa karenaku, tapi aku tak dapat membohongi perasaanku bahwa kamu masih cukup berarti untuk hidupku. Jika kamu izinkan,, rasanya aku ingin kembali menjadi satu-satunya wanitamu.. malam ini aku bukan seperti jamaah yang khusu mendengarkan tausiyah di tempat pengajian.. tapi aku seperti menjadi tokoh utama di sinetron Lorong Waktu, acara ramadhan semasa aku SMP. Di lorong waktu ini aku seolah dikirimkanku ke cerita cinta masa lalu.. Ya benar kamu memang masa laluku,, tapi aku ingin kamu menjadi teman masa depanku,, bersama dalam sisa hidupku sampai Tuhan akan memanggil kita nanti.Aku cukup bahagia dengan semua itu,, tapi entah aku merasa kini kamu berbeda.. kamu tak lagi bersikap semanis beberapa waktu yang lalu.. Tak ada lagi kata rayuan,, tak ada lagi kalimat gombalan dan tak ada lagi ucapan manis bahwa kamu masih menyayangiku sebagai mantan kekasihmu. Pikiranku terbang hingga ke awang mencoba menerka apa yang sedang terjadi denganmu,, banyak terkaan yang bisa menggalaui hatiku malam itu.. Dari mulai, sepertinya kamu sedang menyukai wanita lain,, mencoba menjadikanku hanya cinta masa lalu,, kamu tidak lagi menyayangiku,, dan yang paling bisa buatku sedikit tenang adalah semoga kamu memang hanya sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirmu (skripsi), bukan karena kau terjebak cinta dengan wanita lain.Entahlah,, euforia tahun baru itu tak lantas mebuat hatiku riang.. Ada kegalauan yang buatku merasa tak nyaman,, di tengah ramainya pendopo Serang,, aku malah berpikir untuk mengirimimu puisi ungkapan hati via sms,, Ini adalah puisi yang ku kirimkan di tengah kegalauan yang menghimpit hatiku,, sebenarnya dengan puisi ini aku mengharapkan kamu membalasnya dengan kata yang sama indahnya dan tentunya bisa buat hatiku tak segalau ini.Aku tak pernah tahuAku tak pernah tahu,,Kenapa hingga kini kau masih cukup berarti untuk hidupkuAda rasa yang berbeda ketika ku mengingatmuTak sama dengan ketika ku mengingat yang lainAku bahkan tak pernah tahu,, kenapa Tuhan s’lalu hadirkan bayangmu di pikirankuAku tak pernah sekalipun berusaha tuk mengingatmu,,Tapi sepertinya Tuhan tahu bahwa kau masih dihatikuRasa ini tak ubahnya rembulan yang selalu nampak bersinar,,Indah,, dan mempesona.. Aku tak pernah mampu tuk meninggalkanmu jauh dari pikiranku,,Sepertinya aku mulai mencintaimu kembali..Percayalah,,Aku mencintaimu dengan hatiDengan hati yang tak bisa ku sematkan pada lelaki selainmuDan aku menyayangimu dengan nadaDengan nada yang tak bisa ku harmonikan pada yang lain,,,Pernah kucoba tuk lupakanmu,, Melempar bayangmu hingga langit ke tujuh,,Tapi nyatanya,, aku tak pernah mampu untuk tak mengingatmu..Entah,, Sepertinya kau masih berkarat untuk hatiku..Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, itu pertanda bahwa sms yang ku kirim telah sampai ke ponselnya dan mungkin sedang dibaca.“Allhamdulillah puisiku telah sampai ke ponselnya,, semoga akan ada balasan yang nantinya tak membuat ku kecewa,, ucapku dalam hati”.Bermenit-menit ku tunggu,, dan sekarang menit tak lagi sebagai menit,, aku menunggunya hingga berjam-jam.“huuuuffffttthh,,, sepertinya memang benar aku tak lagi berarti buatmu,, mungkin memang kamu sedang terjebak dengan cinta yang lain,, ucapku lirih mencoba menerima kenyataan”.Aku berusaha menguatkan diriku sendiri atas rasa kecewa yang kini tak lagi klise.”yahhhh,,, sepertinya aku memang harus benar-benar melupakanmu,, melempar bayangnya jauh-jauh hingga langit ke tujuh,, ucapku lirih seolah tertusuk sembilu”.Aku memang tak tahu,, adam dari sisi mana yang akan Tuhan pilihkan untukku..Seperti apa,, dan bagaimana ia,, tak ada yang tahu untuk masa depan.. Mungkin benar kau memang hanya ada di masa laluku.. Jika memang Tuhan tak takdirkan kita bersama, setidaknya aku pernah melewati 100 hari bahagia bersamamu dan jika Tuhan akan menghapusmu dari ingatanku,, itu karena Tuhan akan menggantikanmu dengan adam yang lebih baik..Ikrarku,, akan ku coba tuk tinggalkanmu dalam masa laluku, tak banyak yang bisa ku lakukan.Tapi pastilah akan ku coba,, seindah apapun dulu kamu dimataku semoga kamu juga akan nampak indah dimata wanita selainku. Ku akui,, salah itu memang ada padaku,, kalau saja aku tak pernah melakukan hal bodoh yang mungkin melukai perasaanmu, mungkin hingga kini kita masih berdua,, berdua membangun istana cinta di hati kita.. Tapi biarkanlah,, biarkan itu hanya menjadi kenangan di masa lalu.. Jujur,, hingga kini sayang itu memang masih ada untukmu,, tapi akan ku coba relakan rasa itu pupus bersama sang waktu.. Aku yakin,, Tuhan t’lah miliki rencana yang indah untukku,, dan barangkali untukmu….Lagi-lagi aku harus katakan ini pada cinta yang tak lagi bersahabat,, “AKU AKAN MENCOBA UNTUK MENINGGALKANMU DALAM MASA LALUKU”…Aku teramat yakin bahwa Tuhan tidak akan mengambil sesuatupun dari makhluknya, kecuali Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik..*****Personal Data / Profil PenulisNama : FatkuryatiPanggilan: IfatTTL : Serang, 15 Juli 1991Motto : Bahagia adalah hak semua orang,, mari jemput bahagia itu…Alamat : Jln. Ciptayasa Kp/Ds. Linduk rt 07 Rw 01 kecamatan Pontang, Serang-Banten.Pekerjaan : Mahasiswi Hobi : Merangkai kata-kata puitis, Mendengarkan musik, bersepeda, travelling.Minat : Menjadi seorang penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang, menjadi tenaga pendidik, serta menjadi wanita sukses dunia dan akhirat.E-mail : siibungsuifat@yahoo.co.idFacebook : Ifat_91@yahoo.com atau Ifat sii princessbungsuTwitter : @IfatSiiprincess

  • Cerpen Remaja Tentang Aku & Dia part 2 {Update}

    Nah, Kalau sebelum nya penulis sudah mengadakan acara edit menedit , Update mengupdate cerpen remaja tentang aku dan dia part satu, Kali ini penulis lanjut ke part duannya . Asli beneran rempon deh.Tapi kalau di pikir – pikir lagi, gak papa juga si ada acara "tegur sapa" begini, Itung – itung bisa muncul wajah baru… #apa deh?…Ya sudah lah, gak usah ngebanyol kayak si unyil, Mending langsung ke cerpen remaja tentang aku dan dia-nya…Happy reading ya all…Credit Gambar: Ana Merya“Pst… kenapa tu orang?” bisik nanda sambil mencolek lengan anya yang sedang khusuk ( ? ) mencatat.“He?” Anya menoleh heran.“Itu?” tunjuk Nanda ke arah Gresia yang tampak senyum-senyum sendiri.“Waduh, kenapa tu anak senyum-senyum sendiri?”.“Ya ela, Gue nanya malah balik nanya” balas Nanda sebel.“Lagi kesambet Hantu penghuni pohon toge di belakang sekolah ( ? ) kali tu orang” .sebagian

  • Cerpen Pendek Mantanku Thank you

    Haloooo All, My Reader . Masih pada nungguin lanjutan Cerpen Cinta kala cinta menyapa sama cerpen remaja Take My Heart yak?… Sory ya, tu cerpen belom bisa di lanjutin. Penulis udah bilang kan kalau mendadak kehabisan ide buat nulis. ha ha hai, Ya wajarlah, namanya juga penulis amatir. ^_^Nah, sebagai gantinya penulis post cerpen kiriman ni. Dari Megawati yang ada di makasar sono. huuuu jauh kali. Salam kenal ya?. Sama ma kasih juga. Ceritanya bagus, dan penulis suka. Apalagi pas kalimat ini "Move on adalah caraku melampiaskan rasa sakit, tersenyum adalah caraku mengabaikan rasa benci, dan sukses adalah caraku membunuh rasa dendam". (y).Kutatap bulan yang tersenyum padaku malam itu. Hembusan angin membuat tubuhku terasa menciut. Di bawah pohon bambu yang begitu subur, terlihat kunang-kunang menari-nari memancarkan keindahan cahayanya, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Malam itu sungguh indah, begitu indah. Menikmati keindahan malam bersama seorang yang kucinta membuatku sangat bahagia. Dialah, dialah Hedy, orang yang paling kucinta. Dia bagaikan kunang-kunang yang menyinari hatiku setiap saat. Dia menciptakan cinta dan ketulusan yang tak terhingga. Aku mencintai dan menyayanginya. Tepat jam 7 malam, kami meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tempat makan. sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*