Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05

Omz, Cerpen kala cinta menyapa apa kabarnya yak?. Makin nyungsep aja tuh ide… ha ha ha.
Tapi ya sudah lah, mumpung ide cerpen terbaru Take My Heart yang muncul duluan, ya udah ini aja yang di ketik dulu.
Akhir kata, happy reading….!!.
PS: Part sebelumnya silahkan baca:
-} Cerpen terbaru Take My Heart part ~ 04


Dalam hidup ini, aku hanya punya satu impian…
Impianku bisa menjadi nyata.
Titik!!!.
Setelah membasuh mukanya dengan air dari keran, tangan Vio terulur meraih tisu. Mengeringkan wajahnya. Sejenak di tatapnya bayangan dicermin. Raut lelah jelas tergambar di sana.
Tak ingin berlama – lama Vio segera melangkah keluar. Tepat di pintu langkahnya tercegat. Selang beberapa meter di hadapan tampak Laura yang juga berdiri terpaku menatapnya. Sepertinya gadis itu juga berniat untuk masuk ke toilet kampusnya.
Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Vio berusaha bersikap santai. Kembali melangkah sampai sebuah suara menghentikannya.
"Gue minta maaf untuk masalah kemaren?".
"He?" Vio menoleh.
"Maksut loe?" tanya Vio yang masih ragu akan kalimat yang baru saja di tangkap oleh telinganya.
"Atas kejadian yang terjadi kemaren, gue minta maaf".
Merasa kalau ia memang tidak salah dengar di tambah dengan raut serius di wajah Laura kontan membuat Vio merasa sedikit salah tingkah. Di garuknya kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Ehem… Never mind. Lagian loe nggak punya salah sama gue" Kata Vio akhirnya.
"Tapi kemaren gue sempet bersikap nggak sopan" Laura menambahkan. Vio hanya membalas dengan senyuman maklum.
"Laura" tiba – tiba laura mengulurkan tangannya.
Tidak langsung membalas Vio kembali terdiam. Hei, tidak ada udang di sebalik bakwan kan?. Maksutnya gadis itu benar – benar berniat untuk bersahabat dengannya kan?.
"Vio" Takut di sangka yang tidak – tidak Vio menyambut uluran tangan itu. Lagi pula tidak ada untungnya menyulut permusuhan. Justru malah merugikan diri sendiri. Bener nggak?.
"Selain minta maaf gue juga mau berterima kasih untuk yang kemaren. Terima kasih karena udah belain gue di hadapan Ivan" Tambah Laura lagi.
"Nggak masalah. Santai aja. Gue hanya melakukan apa yang menurut gue bener aja".
"Kalau gitu mulai sekarang loe mau jadi sahabat gue kan?" tanya Laura lagi.
Vio kembali terdiam. Menimbang – nimbang untuk sejenak. Sampai kemudian sebuah senyuman terukir di bibirnya. Sambil mengangguk ia berujar "why not?".
Dan kali ini senyuman benar – benar mengembang di kedua wajah cantik itu.
Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05
Kening Silvi tampak sedikit berkerut saat melihat langkah Vio dan Laura yang tampak berjalan beriringan menghampirinya. Matanya sedikit menyipit. Sejak kapan kedua gadis itu bisa terlihat akrab begitu?.
"Oke Vio, Gue duluan ya?" pamit Laura.
Vio hanya membalas dengan anggukan sambil melambaikan tangannya. Tingkah laku itu juga sama sekali tidak lepas dari perhatian Silvi.
"Kok loe bisa kenal sama Laura?" tanya Silvi langsung.
"Memangnya nggak boleh?" Vio balik bertanya.
"Bukan nggak boleh. Cuma aneh aja. Loe belom tau siapa dia ya?" tanya Silvi lagi.
"Memangnya dia siapa?" Lagi – lagi Vio membalas dengan balik bertanya.
"Dia itu idola di kampus kita, dan…".
"Dan…?" kejar Vio karena Silvi mengantungkan ucapannya.
"Dan dia itu adalah orang yang gue ceritain kemaren. Cewek yang dipermalukan di depan anak – anak kampus sama si Ivan" terang Silvi.
"O.. gue udah tau" Balas Vio santai.
"Oh ya?" Silvi tampak tak percaya.
"Bahkan gue juga tau kalau Laura berniat balas dendam dengan menyewa preman untuk menghajar Ivan kemaren. Makanya muka tu cowok rada ancuran walau tetep masih keliatan keren si" Balas Vio sambil mikir – mikir.
"Apa?, Jadi Laura yang…".
Dengan Cepat tangan Vio terulur membungkam mulut Silvi. Ya ampun, sepertinya ia harus segera mengingatkan gadis itu untuk tidak selalu berteriak jika mendengar kabar yang mengagetkan. Atau justru sepertinya ia juga harus berhenti memberi kabar yang bisa membuat Silvi kaget. Ah, Whatever lah….
"Astaga Silvi, Nggak usah pake teriak segala kali. Loe lupa ya, masalah yang loe buat di kantin aja tadi belom beres, sekarang loe mau nambahin lagi?".
"Ups… Maaf. Refleks soalnya" Senyum Silvi merasa bersalah.
"Jadi Ivan babak belur gitu karena ulah Laura?" tanya Silvi lagi. Kali ini sengaja mengecilkan volume suaranya. Vio hanya angkat bahu membalasnya.
"Terus, kenapa sekarang tu anak deketin loe?" selidik Silvi lagi.
"Tau" Vio cuek sambil melankah ke kelasnya. Dengan cepat Silvi menyusulnya.
"Loe nggak curiga?".
"Curiga buat apaan?".
"Yah bisa aja kan. Laura sengaja mendekati loe buat balas dendam ke Ivan?".
Bukannya Khawatir ataupun takut, Vio justru malah tertawa. Mebuat Silvi mengernyit heran.
"Leo pikir ini sinetron apa?. Lagian jangan suka seuzon. Dosa tau".
Belum sempat Silvi membantah mulut Vio sudah terlebih dahulu menambahkan.
"Loe tenang aja. Gue kadang emang baik, tapi gue nggak bodoh".
Singkat, padat, Jelas juga tegas. Itu hal yang bisa di tangakap oleh Silvi saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. Meyakinkan ia kalau gadis itu pasti tau apa yang di lakukannya. Akhirnya dengan perasaan lega keduanya melangkah beriringan menuju kekelas. Pelajaran selanjutnya sudah akan di mulai.
Dan saat kelas berakhir Vio segera membereskan buku – bukunya. Berjalan beriringan bersama Silvi menuju ke halaman kampus. Sepanjang perjalanan tak henti mereka saling berbagi cerita. Walau masih dalam hitungan hari Vio sudah bisa mengakui kalau Silvi orangnya memang asik. Enak di jadikan sahabat.
"Jadi loe pulang naik bus?" tanya Silvi kemudian. Kepala Vio mengangguk membenarkan.
"O .. Kalau gitu sory ya, Gue duluan" Tambah Silvi lagi saat melihat mobil sillver terparkir tak jauh di hadapannya. Jemputannya sudah datang. Berhubung rumah mereka berlawan arah, Vio menolak untuk di ajak pulang bersama.
"Oke… Hati hati ya".
"Syip… Loe juga".
Kata terakhir yang keluar dari mulut Silvi sebelum menghilang bersama mobilnya. Berlalu meninggalkan Vio yang tampak melangkah menuju ke halte yang tak jauh dari gerbang kampus.
Suara klakson mengagetkan Vio, Langkahnya kontan terhenti.
"Mau pulang ya?".
"Nggak. Mau kepasar jualan sayur" Balas Vio ketus.
Suara tawa kontan terdengar dari mulut Ivan.
"Ya ela jadi cewek judes amat si?. Ntar ngga punya pacar lho" Kata Ivan setengah meledek.
"Siapa bilang?. Justru malah ada yang niat banget buat bisa macarain gue biar dapat sepuluh juta".
Glek, Skak mat. Tawa Ivan langsung terhenti mendengar kalimat sindiran yang jelas – jelas tertuju kepadanya. Fakta kalau gadis itu sama sekali tidak mempan akan pesoananya kembali menyadarkan ia akan posisinya saat ini.
"Ehem, Kalau loe mau pulang, gue nggak keberatan kok buat nganterin" Ivan mengalihkan pembicaraan.
"Gue yang keberatan loe anterin" Balas Vio singkat, Padat tapi nyelekit.
"Kalau loe masih berniat buat ngodain gue, Segera buang jauh – jauh tu niat. Karena sekali lagi gue peringatin, Gue nggak akan pernah terpengaruh " Sambung Vio bahkan sebelum Ivan sempat membuka mulutnya.
Tanpa kata lagi ia segera berlalu. Bus yang sedari tadi ia tunggu sepertinya sudah muncul di hadapan. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar kalimat yang Ivan lontarkan.
"Kalau seandainya gue bisa bikin loe jatuh cinta sama gue bagaimana?".
Untuk sejenak Vio menghela nafas baru kemudian berbalik. Menatap Ivan yang masih dengan santai nongkorng di jok motornya sambil menyilangkan kedua tangan. Sementara pandangannya terarah lurus ke wajah Vio. Membuat tatapan keduanya bertemu.
"Kalau begitu selamat, Itu artinya loe bakal dapat sepuluh juta" Sahut Vio dengan santai.
"Hanya itu?".
"Terus loe maunya apa?" Tanya Vio dengan kening berkerut.
Ivan tidak langsung menjawab. Sebuah senyum penuh makna terukir di wajahnya sebelum pada detik berikutnya mulutnya berujar "Loe harus mau jadi pacar gue beneran".
"Silahkan bermimpi".
Kali ini Vio benar – benar berbalik tanpa menoleh lagi. Menghilang bersama lajunya bus yang akan mengantarnya kerumah. Menginggalkan Ivan dengan ke terpakuannya. "Jatuh cinta sama Ivan?".
MUSTAHIL!!!.
To Be Continue….
Leave a coment please…. Itung – itung biar semangat bikin lanjutanya….
NOTE: 100+ Like, Lanjutanya muncul. Kalau nggak ya, kita liat aja entar… ^_^

Random Posts

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15

    Mumpung ada ide, mending langsung di tulis aja deh. And beneran admin udah males buat ngedit lagi. Secara cerpen kenalkan aku pada cinta beneran bikin pusing. Nulis lanjutannya selalu aja bikin bingung. Pengen langsung di end, tapi takutnya malah terkesan ‘maksa’. Pengen di ketik terus, eh busyed nie cerpen kenapa malah jadi molor kemana mana. Akh entahlah.Tapi tetep, kayak yang admin bilang sebelumnya. Cerpennya sudah mendekati ending kok. Lagian adminya udah bosen juga liatnya nggak end – end. And biar nggak kebanyakan bacod mending langsung baca aja yuk gimana ceritanya. Biar nyambung bisa baca bagian sebelumnya disini.Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada CintaSesekali Astri melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah lebih 15 menit ia menunggu, tapi Andre masih belum menjemputnya. Untung saja kakaknya hari ini ada urusan di luar, jadi ia tidak perlu mendengar celotehannya nanti sekiranya Andre muncul. Tapi herannya, kenapa tu orang nggak muncul muncul juga.Untunglah beberapa menit kemudian, bel depan rumahnya terdengar. Senyum Astri langsung merekah ketika mendapati Andre sudah berdiri gagah di hadapannya. Tanpa basa – basi keduanya segera berlalu meninggalkan rumah.“Kita mau kemana nih?” tanya Astri sambil duduk dibelakang Andre yang mengendarai motornya.“Hari ini taman pemainan di lapangan kerinci (???) baru buka. Loe nggak keberatan kan kalau kita jalan kesana?”“Taman bermain?” ulang Astri.Andre hanya membalas dengan anggukan.Lagi pula tidak asik kalau ngobrol diatas motor yang terus melayu. Selang beberapa menit kemudian keduanya telah tiba di tempat yang di tuju.Benar seperti yang Andre katakan. Hari ini taman bermain memang baru di buka. Begitu banyak wahana permainan yang ada disana. Bahkan entah beraneka ragam permainan mereka ikuti. Astri menatap kesekeliling dengan pandangan takjup. Senyum mengembang lebar dari wajahnya. Matanya mengamati sekeliling dengan tidak berkedip. Mulai dari naik wahana putar sampai bermain di rumah hantu segala. Ia benar – benar tak sabar untuk mencobanya satu persatu.Tubuh juga terasa mulai lelah dengan jantung yang berdebar cepat. Bukan, bukan berdebar karena romansa romantis di antara mereka, tapi lebih kepada efek permainannya. Astri takut ketinggian, dan saat berputar – putar di atas sana ia yakin ia akan mati. Kepalanya terasa pusing dan perutnya seperti di tusuk – tusuk. Mual nggak ketulungan.Astri juga merupakan gadis yang penakut. Saat memasuki rumah hantu, tak terhitung berapa puluh kali ia menyumpai orang – orang yang membuat ide gila tentang permainan itu. Menjadikan hantu sebagai permainan yang hanya bisa memberi kesan menyeramkan tanpa menghibur sama sekali. Jadi keseimpulannya, menjadikan taman pemainan sebagai tempat kencan sama sekali bukan ide yang bagus. Sangat jauh, jauh, jauuuuuuuh sekali dari bayangannya saat menyaksikan adegan yang sama yang sering muncul di drama ataupun anime romantis yang sering ia tonton. Ia jadi merasa sedikit heran, kenapa Andre mengajaknya ke sana ya.“Astri, loe nggak papa kan? Kok muka loe pucet gitu?” tanya Andre terlihat khawatir.Astri mencoba tersenyum. “Tadinya si gue pengen ngomong kalau gue baik – baik saja cuma buat nyenengin elo. Tapi kayaknya gue lebih milih jujur aja deh. Serius gue nggak baik baik aja,” aku Astri.Melihat tampang bersalah di wajah Andre membuat Astri langsung menyesali ucapannya. Walau bagaimanapun, tidak semua orang menyukai hal yang jujur walau menyakitkan.“Tapi paling nggak loe udah bantu gue buat ngerasain pengalaman yang nggak akan gue lupakan. Mulai sekarang kayaknya gue harus lebih hati – hati lagi deh dalam memilih dan memilah sesuatu yang gue tonton.”“Ya?” Andre tampak bingung, tapi Astri hanya tersenyum singkat.“Sory ya. Gue nggak tau. Gue pikir loe suka gue ajak kesini.”“Sama. Tadinya gue juga berfikir kalau disini akan menyenangkan,” gumam Astri lirih. Dan lagi lagi keduanya kembali terdiam.“Baiklah, gimana kalau sekarang kita makan aja gimana?” tanya Andre kemudian.Astri melirik jam yang melingkar di tanganya. Sudah cukup siang. Sepertinya memang sudah waktunya makan siang. Hanya saja, perutnya masih terasa sedikit mual karena permainan tadi. Akhirnya dengan ragu is mengeleng semari mulutnya menjawab.“Untuk sekarang kayaknya tengorokan gue belum bisa menelan makanan deh. Kalau kita istriahat aja dulu bentar gimana?”Andre tersenyum sembari mengangguk maklum. Diajaknya gadis itu untuk duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon yang memang tumbuh terawat di beberapa pingiran lapangan. Tak lupa di belinya dua mangkus es buah. Sambil menikmati minumannya keduanya mengamati sekeliling. Menatap orang – orang yang tampak belalu lalang disekitarnya.“As, soal yang kemaren…” Andre tampak mengantungkan ucapannya. Jelas terlihat ragu, sementara Astri sendiri menatapnya dengan tatapan ingin tau. Gadis itu juga hanya mampu mengkangkat alis ketika Andre masih terdiam.“Kenapa?”“Enggak kok. Lupakan,” Andre mengeleng. “Nggak penting juga,” sambungnya lagi.Walau masih bingung juga sedikit penasaran, Astri hanya angkat bahu.“Oh ya, kita jalan – jalan lagi yuk,” ajak Andre beberapa saat kemudian. Astri hanya mengangguk. Terlebih sepertinya mereka sudah cukup lama duduk terdiam di sana. Namun berbeda dari yang sebelumnya, perjalanan kali ini terasa lebih menyenangkan karena Andre mengajaknya ketempat yang lebih tenang. Melihat pernak – pernik yang ada disana, berkunjung ke kuliner, bahkan pake acara foto bareng bersama. Setelah hari mulai sore, mereka baru menyadari kalau mereka telah menghabiskan waktu bersama seharian. Tiba saatnya untuk Andre mengantar Astri pulang.“Dari mana aja loe seharian baru pulang. Mentang – mentang mama sama papa nggak ada.”Astri yang berniat untuk langsung menuju kekamarnya sontak menghentikan langkahnya. Saat menoleh ia mendapati kakaknya sedang duduk diruang tamu dengan tatapan menyelidik kearahnya.“Ye, punya kakak usil banget sih. Pengen tau aja urusan orang,” balas Astri mengabaikan kakaknya. Kembali diteruskan langkahnya yang sempat tertunda.“Gue tadi liat Andre nganterin di depan. Loe abis jalan sama dia ya?”“His, kalau udah tau ngapain nanya.”“Kalian kemana aja? Terus kok loe bisa jalan sama dia? Kalian abis kencan ya?!” tanya Rendy sambil berjalan mengikuti di belakang Astri. Selangkah demi selangkah kakinya menaiki tangga satu persatu.“Please deh ya kak. Nggak usah kepo. Emangnya kalau gue jalan sama kak Andre terus kenapa? Nggak boleh?” tantang Astri sambil menatap kakaknya.Rendy tersenyum misterius. “Ups, jangan salah. Gue kan Cuma pengen tau aja. Kalau loe emang jalang sama Andre, nggak papa kok. Justru gue malah mendukung, lagian…”Astri menantap kakaknya curiga. Terlebih pria itu sendiri masih mengantungkan ucapannya. Bahkan tanpa perlu menyelesaikan lagi, ia malah berbalik. Tentu saja masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.“Lagian apaan si?” tanya Astri penasaran.Rendy tidak menjawab. Ia hanya angkat bahu sembari melambai tanpa menoleh. Walau sejujurnya Astri masih merasa sedikit penasaran, namun ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Terlebih ia juga merasa cukup lelah, setelah seharian berjalan sepertinya ia ingin mandi berendam dulu biar segar. Dengan berlahan di bukanya pintu kamar. Namun belum sempat ia masuk sebuah teriakan bernada memerintah terdengar dari bawah. “As, buruan. Gue laper nih. Bikinin gue nasi goreng donk!”Tanpa membalas sama sekali Asrti menghilang dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ “Tok tok tok.”Astri yang sedang merapikan kepang an rambutnya menoleh kearah pintu kamar. Sedikit mengeryit ketika mendengar suara kakaknya. Matanya sekilas menoleh kearah jam diatas meja. Masih cukup pagi. Tumben ada yang ngetuk kamarnya. “As, buruan. Udah selesai belom. Udah di tunguin tuh.”Ditungguin? Sama siapa? Pikir Astri heran. “Apa kak?” tanya Astri seolah tak yakin dengan apa yang kakaknya katakan. Namun tiada jawaban yang terdengar. Bahkan sama ia merasa suara langkah kakaknya yang mejauh. Karena merasa sedikit penasaran, Astri segera menyelesaikan riasannya. “Kak, tadi ada apaan sih? Kok pake ketok ketok pintu segala. Katanya ada yang nungguin. Siapa?” tanya Astri sambil duduk dihadapan kakaknya yang sedang menikmati sarapan sendirian karena memang papa dan mama sedang tidak ada dirumah.Rendy melirik sekilas sembari mencibir tanpa menjawab sama sekali. Membuat Astri mengerutkan kening bingung. Dengan santai duduk dihadapan kakaknya. Tanganya terulur menyambar roti beserta selai kacang. “Jiah, dia malah duduk. Udah di bilang juga ada yang nungguin.”“Huf,” Astri menghembuskan nafas kesel. Tangannya yang sudah terulur ia Tarik kembali. Matanya menatap penuh tanya kearah kakaknya. Tapi pria itu hanya memberi isarat kearah Astri untuk langsung keluar rumah. Walau masih merasa tidak puas, Astri lebih memilih untuk menurutinya. Lagi pula rasa penasarannya juga cukup bersar mengenai hal itu. Secara siapa sih orang yang kurang kerjaan nunguin dia pagi – pagi gini.Rasa penasaran di wajah Astri langsung menghilang dan di gantikan rasa terkejut ketika mendapati sososk Andre yang suduh duduk di atas bangku teras rumahnya. “Kak Andre, ngapain loe disini?” tanya Astri tak mampu menyembunyikan rasa herannya.Andre tampak tersenyum kaku. Dengan ragu mulutnya menjawab. “Jemput loe.”“Gue?” ulang Astri makin bingung. Sejak kapan ia pake di jemput – jemputan. Lagi pula ia kan punya motor sendiri. Andre hanya mengangguk. “Tapi kan gue punya motor sendiri.”“Udah pergi aja.” Astrid an Andre refleks menoleh kearah sumber suara. Entah sejak kapan, Rendy sudah muncul di ambang pintu. “Lagian kasian tau, Andre udah jauh jauh muter ke sini, masa loe nggak mau barengan sama dia.”Astrid an Andre tampak saling pandang. Raut ragu jelas masih tergambar di wajah Astri. Namun belum sempat mulutnya terbuka, tubuhnya sudah terlebih dahulu terdorong kearah motor Andre yang kini terparkir di hadapnya.“Udah pergi aja sana loe. Pintu juga udah mau gue kunci,” kata Rendy. Tangannya dengan santai terulur meraih helm yang Andre bawa sebelum kemudian ia sodorkan kearah Adiknya. Saat berbalik ia telebih dahulu menatap kearah Andre sembari berujar. “Hei bro. Gue titip adek gue ya. Awas, jangan sampai lecet. Kalau sampai kenapa – kenapa. Loe berurusan sama gue. Ngerti?”“Oke Bos,” balas Andre tegas. Secercah senyum samar menghiasi bibirnya. “Kita bisa pergi sekarang Astri?” tanya Andre sambil berbalik.Astri yang sudah merasa cukup terpojok dengan situasi yang ada tak bisa melakukan hal apapun selain mengangguk. Tanpa kata ia segera duduk di belakang Andre. Beberapa saat kemudian motor pun mulai melaju meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Rendy yang diam – diam mengintip dari balik jendela dengan senyum penuh arti. To Be Continue⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ With Love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣

  • Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11

    Sempet males, tapi akhrinya nulis cerpen lagi juga. Padahal tadinya mau fokus di puisi ataupun artikel lain. Abis kadang suka bad mood si, udah jelas jelas padahal nulis itu cuma berdasarkan mood doank.Tapi sudah lah, akhir kata happy reading aja. Untuk part sebelumnya silahkan baca :-} Cerpen remaja Take My Heart ~ 10Walau aku terluka, Tapi aku berjanji aku tidak akan pernah melukai.Setelah mengunci pagar rumahnya, Vio mulai melangkah. Sejenak ia berhenti. Menoleh kesekeliling. Sebelah alisnya sedikit terangkat sementara mulutnya mengigit bibir bawah, kebiasaan yang ia lakukan saat mengamati sesuatu.Tidak menemukan sosok yang di cari, Vio kembali melanjutkan tujuannya. Menuju kekampus.sebagian

  • Antara Za dan…

    Antara Za dan dusta ini..Antara Za dan perasaan ini..Antara Za dan… dan.Setiap tokoh yang kuciptakan dalam kisahku kini mulai beranjak dari dunianya mengarungi nyata, menciptakan dusta, sebagai pengharapan akan termilikinya rasa yang tulus.yah, mungkin aku gila, tak ada batas antara nyata dan khayal dalam duniaku. Nyataku adalah khayalku, dan khayalku adalah nyataku…Za, aku bertemu dengannya dalam dunia yang kukehendaki, hadirnya mampu menghilangkan kesepian ini meskipun teriring kalimat kalimat dusta bagi hati yang berarti.Za, sosok yang tercipta atas izin Tuhan dalam kehendak hati yang bersanding dengan ketulusan doa.Aku yang berhati rapuh, yang telah terjebak oleh kata kata sang penyair logika, mulai bangkit dan beranjak dari keterpurukan sejak kehadiran Za. dan Za tak hadir tanpa peran yang penting, Ia mempersembahkan ketulusan itu kepadaku, dan aku yang tak berdaya ini hanya mampu berharap mimpi di puncak bintang yang pasti siapapun tak akan mampu mewujudkan itu."Na lagi ngapain??" suara Za tiba tiba mengagetkanku, tanpa kusadari Ia telah berdiri dibelakangku. Aku segera menutup buku harianku."ih Za ngagetin Na aja!!" jawabku kesal."Maaf, Za kan cuma pengen tau Na lagi ngapain?" jawab Za."Udah liat kalau Na lagi nulis, masih aja nanya!" jawabku marah."Iya iya, lagi nulis apaan sih?? ngeditnya udah selesai?" tanya Za kepadaku, Za adalah rekan kerjaku di kantor, namun Ia hanya bekerja setengah hari karna Za juga kuliah. Za kerja pada jam malam, sehingga aku hanya bisa bertemu dengan Za ketika aku lembur, dan kenyataannya aku memang selalu lembur."Udah" jawabku singkat."Udah ada jawaban??" tanya Za dengan serius, pertanyaan yang ingin kuhindari, pertanyaan yang kumau tak pernah ada diantara Za dan aku, dan kini, pertanyaan itu mengharuskanku menjawab yang tak pernah kutau jawabannya.Dua minggu yang lalu, Za mengungkapkan perasaannya kalau ia menyukaiku, aku terkejut karna aku sama sekali tak pernah berharap akan hal itu.Za bagiku adalah seorang kakak yang baik. perhatian dan pengertiannya yang tulus selalu kurasakan setiap aku bersamanya, dan itu membuatku nyaman, namun satu pertanyaan itu telah merubah semua keadaan baik itu menjadi perasaan canggung setiap aku bertemu dengan Za."Jangan sekarang yah, Na belum siap.." jawabku memelas."Tapi Za udah siap menerima apapun jawaban dari Na, Za butuh kepastian sekarang juga…" pinta Za dengan serius." Tapi Za,… Za kan tau gimana perasaan Na.., kalau aja Za datang lebih dulu dalam hidup Na, pasti Na tak akan ragu buat milih Za, sekarang Na bingung Antara Za dan…" belum sempat kuselesaikan kalimat itu Za sudah memotong ucapanku."Za ngerti kok, tapi Za ikhlas kalau Na belum bisa lupain masa lalu Na, Za akan sabar nunggu sampai hati Na seutuhnya jadi milik Za, yang penting sekarang ini adalah jawaban Na, bukan perasaan Na…" jelas Za kepadaku yang semakin membuatku bingung.Aku tak mau menyakiti Za hanya demi sebuah kata Ya, meskipun Za bilang ikhlas, tapi pasti ada luka dihatinya, dan aku tak mau itu.Aku dan hatiku, telah memilih satu hati yang tak memilihku, Aku memang bodoh telah meragukan ketulusan Za demi hati yang telah termiliki, entah kenapa aku terjebak dalam rangkaian kata yang sebenarnya tak begitu indah itu, mungkin ini karena aku adalah penyair yang telah dirapuhkan oleh keadaan hidup yang terlalu sulit untuk ku terima, sehingga tanpa kendali aku memasuki dunia syairnya yang tak berbalas.Dan Za hadir ketika perasaanku terluka karena rangkaian syair dalam bait bait tanpa rasa sebagai jawaban atas perasaanku terhadapnya." Na pulang ke kost dulu, dah capek!" jawabku pada Za yang tengah serius menunggu balasan atas perasaannya terhadapku. Aku lalu melangkah pergi meninggalkan Za yang tampak kecewa.Aku berjalan dalam keramaian malam kota Solo, ada beberapa tetes air yang kubiarkan keluar dari mataku, keramaian ini tak sedikitpun mampu memberikan suara untuk meramaikan hatiku agar aku tak sendiri..Aku tak segera menuju kost, langkah ini terhenti pada sebuah bangku kosong di taman kota. Aku duduk terdiam disana. Kukeluarkan selembar kertas putih dan sebuah pena dari dalam tasku." Antara Za dan dusta ini, kuciptakan kisah ini untuk hati yang tak mau berbagi hati, memang aku tak berhak memaksakan terbalasnya perasaan ini, namun aku adalah penyair rapuh yang tak berdaya ketika telah terlanjur larut dalam bait bait sederhananya…. Dan kehadiran Za adalah pelarian yang kuciptakan untuk menutupi perih ini agar tak ada perasaan bersalah dan mengkasihani luka ini…Antara Za dan perasaan ini, ada luka yang tak mungkin kan terobati meski kata maaf dan memaafkan telah terucap. Sesuatu yang telah berlalu tak akan pernah hadir kembali dalam rasa yang sama meski status kawan masih terjalin rapi, keindahan itu hanya ada di matanya yang jauh dariku, cerita cintanya yang selalu ia kisahkan adalah sebagian kecil dari luka yang kuberikan, namun tak pernah sedetikpun kubiarkan ia melihat air mata ini, dan tulisan senyum beserta dukungan atas kebahagiaannyalah yang senantiasa kubalaskan untuk menjawab curahannya kepadaku, kawannya. Aku tak bisa membencinya, dan kehadiran Za adalah masalah yang kuciptakan sebagai kewajiban untuknya mendengar kisahku yang selalu mendengarkan kisahnya.Antara Za dan… dan."Belum sempat kulanjutkan satu huruf terakhir, hujan tiba-tiba hadir dan memaksaku untuk segera berlari mencari tempat berteduh. Kulihat di seberang jalan Za melambaikan tangannya kepadaku, ada satu hal yang aneh disana, ada awan putih yang tampak dekat diatas Za dan melindunginya dari derasnya air hujan, Za terus melambaikan tangannya mengajakku untuk berteduh disampingnya.Akupun segera berlari menerobos sorotan lampu-lampu mobil yang salah satunya tak terkendali dan membawaku ke tempat yang lebih teduh, bukan disamping Za, namun disamping-Nya.-THE END-NB: Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, tokoh, dan peran itu hanya kebetulan semata.Profil pengirim:Nama: Triana Aurora WinchesterAlamat FB: aurora_broadcast@yahoo.com

  • Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 16

    Wah, baru ngeh kalo ini tu udah part 16 tapi belom end juga. Ngalahin rekord nie kayaknya. Bahkan The prince, the princess and mis. cinderela juga kalah. But gak papa deh, selama masih mau nulis nulis aja lah. Sejujurnya saia sendiri juga gak tau, Ni cerpen satu bakal end di part berapa. Tapi di usahain nggak lebih dari 20.Oke lah happy reading ya. Buat yang belum baca part kemaren, Baca dulu gih di Cerpen Cinta Romantis Take my heart part 15. "Bukan kah sudah cukup jelas?".Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu….."Kalau saat kita sedang berduaan, Memakan bakso itu bisa menyebapkan kematian"."Ha" Mulut Ivan melongo. Jelas Terlihat seperti orang bodoh. Ia tidak salah dengar kan?. Apa Kalimat barusan benar benar baru keluar dari mulut Vio?.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*