Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05

Omz, Cerpen kala cinta menyapa apa kabarnya yak?. Makin nyungsep aja tuh ide… ha ha ha.
Tapi ya sudah lah, mumpung ide cerpen terbaru Take My Heart yang muncul duluan, ya udah ini aja yang di ketik dulu.
Akhir kata, happy reading….!!.
PS: Part sebelumnya silahkan baca:
-} Cerpen terbaru Take My Heart part ~ 04


Dalam hidup ini, aku hanya punya satu impian…
Impianku bisa menjadi nyata.
Titik!!!.
Setelah membasuh mukanya dengan air dari keran, tangan Vio terulur meraih tisu. Mengeringkan wajahnya. Sejenak di tatapnya bayangan dicermin. Raut lelah jelas tergambar di sana.
Tak ingin berlama – lama Vio segera melangkah keluar. Tepat di pintu langkahnya tercegat. Selang beberapa meter di hadapan tampak Laura yang juga berdiri terpaku menatapnya. Sepertinya gadis itu juga berniat untuk masuk ke toilet kampusnya.
Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Vio berusaha bersikap santai. Kembali melangkah sampai sebuah suara menghentikannya.
"Gue minta maaf untuk masalah kemaren?".
"He?" Vio menoleh.
"Maksut loe?" tanya Vio yang masih ragu akan kalimat yang baru saja di tangkap oleh telinganya.
"Atas kejadian yang terjadi kemaren, gue minta maaf".
Merasa kalau ia memang tidak salah dengar di tambah dengan raut serius di wajah Laura kontan membuat Vio merasa sedikit salah tingkah. Di garuknya kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Ehem… Never mind. Lagian loe nggak punya salah sama gue" Kata Vio akhirnya.
"Tapi kemaren gue sempet bersikap nggak sopan" Laura menambahkan. Vio hanya membalas dengan senyuman maklum.
"Laura" tiba – tiba laura mengulurkan tangannya.
Tidak langsung membalas Vio kembali terdiam. Hei, tidak ada udang di sebalik bakwan kan?. Maksutnya gadis itu benar – benar berniat untuk bersahabat dengannya kan?.
"Vio" Takut di sangka yang tidak – tidak Vio menyambut uluran tangan itu. Lagi pula tidak ada untungnya menyulut permusuhan. Justru malah merugikan diri sendiri. Bener nggak?.
"Selain minta maaf gue juga mau berterima kasih untuk yang kemaren. Terima kasih karena udah belain gue di hadapan Ivan" Tambah Laura lagi.
"Nggak masalah. Santai aja. Gue hanya melakukan apa yang menurut gue bener aja".
"Kalau gitu mulai sekarang loe mau jadi sahabat gue kan?" tanya Laura lagi.
Vio kembali terdiam. Menimbang – nimbang untuk sejenak. Sampai kemudian sebuah senyuman terukir di bibirnya. Sambil mengangguk ia berujar "why not?".
Dan kali ini senyuman benar – benar mengembang di kedua wajah cantik itu.
Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05
Kening Silvi tampak sedikit berkerut saat melihat langkah Vio dan Laura yang tampak berjalan beriringan menghampirinya. Matanya sedikit menyipit. Sejak kapan kedua gadis itu bisa terlihat akrab begitu?.
"Oke Vio, Gue duluan ya?" pamit Laura.
Vio hanya membalas dengan anggukan sambil melambaikan tangannya. Tingkah laku itu juga sama sekali tidak lepas dari perhatian Silvi.
"Kok loe bisa kenal sama Laura?" tanya Silvi langsung.
"Memangnya nggak boleh?" Vio balik bertanya.
"Bukan nggak boleh. Cuma aneh aja. Loe belom tau siapa dia ya?" tanya Silvi lagi.
"Memangnya dia siapa?" Lagi – lagi Vio membalas dengan balik bertanya.
"Dia itu idola di kampus kita, dan…".
"Dan…?" kejar Vio karena Silvi mengantungkan ucapannya.
"Dan dia itu adalah orang yang gue ceritain kemaren. Cewek yang dipermalukan di depan anak – anak kampus sama si Ivan" terang Silvi.
"O.. gue udah tau" Balas Vio santai.
"Oh ya?" Silvi tampak tak percaya.
"Bahkan gue juga tau kalau Laura berniat balas dendam dengan menyewa preman untuk menghajar Ivan kemaren. Makanya muka tu cowok rada ancuran walau tetep masih keliatan keren si" Balas Vio sambil mikir – mikir.
"Apa?, Jadi Laura yang…".
Dengan Cepat tangan Vio terulur membungkam mulut Silvi. Ya ampun, sepertinya ia harus segera mengingatkan gadis itu untuk tidak selalu berteriak jika mendengar kabar yang mengagetkan. Atau justru sepertinya ia juga harus berhenti memberi kabar yang bisa membuat Silvi kaget. Ah, Whatever lah….
"Astaga Silvi, Nggak usah pake teriak segala kali. Loe lupa ya, masalah yang loe buat di kantin aja tadi belom beres, sekarang loe mau nambahin lagi?".
"Ups… Maaf. Refleks soalnya" Senyum Silvi merasa bersalah.
"Jadi Ivan babak belur gitu karena ulah Laura?" tanya Silvi lagi. Kali ini sengaja mengecilkan volume suaranya. Vio hanya angkat bahu membalasnya.
"Terus, kenapa sekarang tu anak deketin loe?" selidik Silvi lagi.
"Tau" Vio cuek sambil melankah ke kelasnya. Dengan cepat Silvi menyusulnya.
"Loe nggak curiga?".
"Curiga buat apaan?".
"Yah bisa aja kan. Laura sengaja mendekati loe buat balas dendam ke Ivan?".
Bukannya Khawatir ataupun takut, Vio justru malah tertawa. Mebuat Silvi mengernyit heran.
"Leo pikir ini sinetron apa?. Lagian jangan suka seuzon. Dosa tau".
Belum sempat Silvi membantah mulut Vio sudah terlebih dahulu menambahkan.
"Loe tenang aja. Gue kadang emang baik, tapi gue nggak bodoh".
Singkat, padat, Jelas juga tegas. Itu hal yang bisa di tangakap oleh Silvi saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. Meyakinkan ia kalau gadis itu pasti tau apa yang di lakukannya. Akhirnya dengan perasaan lega keduanya melangkah beriringan menuju kekelas. Pelajaran selanjutnya sudah akan di mulai.
Dan saat kelas berakhir Vio segera membereskan buku – bukunya. Berjalan beriringan bersama Silvi menuju ke halaman kampus. Sepanjang perjalanan tak henti mereka saling berbagi cerita. Walau masih dalam hitungan hari Vio sudah bisa mengakui kalau Silvi orangnya memang asik. Enak di jadikan sahabat.
"Jadi loe pulang naik bus?" tanya Silvi kemudian. Kepala Vio mengangguk membenarkan.
"O .. Kalau gitu sory ya, Gue duluan" Tambah Silvi lagi saat melihat mobil sillver terparkir tak jauh di hadapannya. Jemputannya sudah datang. Berhubung rumah mereka berlawan arah, Vio menolak untuk di ajak pulang bersama.
"Oke… Hati hati ya".
"Syip… Loe juga".
Kata terakhir yang keluar dari mulut Silvi sebelum menghilang bersama mobilnya. Berlalu meninggalkan Vio yang tampak melangkah menuju ke halte yang tak jauh dari gerbang kampus.
Suara klakson mengagetkan Vio, Langkahnya kontan terhenti.
"Mau pulang ya?".
"Nggak. Mau kepasar jualan sayur" Balas Vio ketus.
Suara tawa kontan terdengar dari mulut Ivan.
"Ya ela jadi cewek judes amat si?. Ntar ngga punya pacar lho" Kata Ivan setengah meledek.
"Siapa bilang?. Justru malah ada yang niat banget buat bisa macarain gue biar dapat sepuluh juta".
Glek, Skak mat. Tawa Ivan langsung terhenti mendengar kalimat sindiran yang jelas – jelas tertuju kepadanya. Fakta kalau gadis itu sama sekali tidak mempan akan pesoananya kembali menyadarkan ia akan posisinya saat ini.
"Ehem, Kalau loe mau pulang, gue nggak keberatan kok buat nganterin" Ivan mengalihkan pembicaraan.
"Gue yang keberatan loe anterin" Balas Vio singkat, Padat tapi nyelekit.
"Kalau loe masih berniat buat ngodain gue, Segera buang jauh – jauh tu niat. Karena sekali lagi gue peringatin, Gue nggak akan pernah terpengaruh " Sambung Vio bahkan sebelum Ivan sempat membuka mulutnya.
Tanpa kata lagi ia segera berlalu. Bus yang sedari tadi ia tunggu sepertinya sudah muncul di hadapan. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar kalimat yang Ivan lontarkan.
"Kalau seandainya gue bisa bikin loe jatuh cinta sama gue bagaimana?".
Untuk sejenak Vio menghela nafas baru kemudian berbalik. Menatap Ivan yang masih dengan santai nongkorng di jok motornya sambil menyilangkan kedua tangan. Sementara pandangannya terarah lurus ke wajah Vio. Membuat tatapan keduanya bertemu.
"Kalau begitu selamat, Itu artinya loe bakal dapat sepuluh juta" Sahut Vio dengan santai.
"Hanya itu?".
"Terus loe maunya apa?" Tanya Vio dengan kening berkerut.
Ivan tidak langsung menjawab. Sebuah senyum penuh makna terukir di wajahnya sebelum pada detik berikutnya mulutnya berujar "Loe harus mau jadi pacar gue beneran".
"Silahkan bermimpi".
Kali ini Vio benar – benar berbalik tanpa menoleh lagi. Menghilang bersama lajunya bus yang akan mengantarnya kerumah. Menginggalkan Ivan dengan ke terpakuannya. "Jatuh cinta sama Ivan?".
MUSTAHIL!!!.
To Be Continue….
Leave a coment please…. Itung – itung biar semangat bikin lanjutanya….
NOTE: 100+ Like, Lanjutanya muncul. Kalau nggak ya, kita liat aja entar… ^_^

Random Posts

  • Cerpen Cinta: THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES

    THERE’S SOMETHING IN YOUR EYESOleh: Bella Danny JusticeYang benar saja? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang seperti dia! Kalau saja aku dapat menentukan jalan hidupku, aku lebih baik bersama dengannya. Walau harapanku ini mustahil, tapi aku ingin untuk tidak mencintai orang itu. Dia bukanlah pria yang baik. Aku menyesal karena aku terlalu bodoh dan terbuai sikap lembutnya. Pada awalnya aku kira dia hanya bersikap seperti itu kepada diriku, tetapi aku salah. Dia memperlakukan semua perempuan sama seperti aku. Aku sungguh tidak terima. Aku ingin pergi sejauh mungkin supaya aku tidak dapat melihat wajahnya yang memuakkan itu. Tetapi kenyataan berkehendak lain, kini aku justru satu kelas dengan pria itu. “Keiko, ayo aku antar kan kau pulang.” Ucapnya yang berdiri dihadapanku. Segera ku masukan semua buku yang ada diatas meja dan bergegas untuk pulang. “maaf, aku ada urusan. Kau pulang sendiri saja.” Kataku ketus. Lalu aku meninggalkan Souta dikelas sendiri. Namun ia mengejarku dan menarik pergelangan tanganku. “Keiko, ada apa denganmu?! Kenapa kau begitu berubah terhadapku?! Katakan padaku apa yang mengganjal dihatimu!” perkataan Souta benar-benar membuatku ingin meledak. Berani sekali dia bertanya seperti itu padaku setelah ia berpacaran dengan sahabatku lalu ia meninggalkannya hanya dalam waktu 1 bulan. Karena dia, sahabatku Miruka sampai pindah sekolah dan sekarang aku tidak punya siapa-siapa. Aku menatap lurus matanya penuh dengan kekesalan. “jangan pernah kau tunjukan wajahmu dihadapanku Sou.”*** Aku tau aku telah bersikap keterlaluan kepadanya. Tapi inilah yang bisa kulakuan untuk mengubur perasaanku terhadapnya. Aku tidak ingin berakhir seperti Miruka. Aku masih ingat betul saat itu. Malam hari saat aku sedang belajar untuk ulangan Fisika tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Ternyata Miruka yang datang kerumahku. Aku mengajaknya masuk tetapi ia tidak mau. Ia tidak mendengarkan ucapanku. Badannya basah kuyup dan wajahnya pucat, bibirnya pun membiru karna kedinginan. Ia menerjang hujan lebat sampai seperti ini. Sekali lagi aku mengajaknya untuk masuk kedalam, tetapi ia menolaknya mentah-mentah. Miruka justru menepis tanganku yang berusaha membantunya untuk berdiri. “kenapa…kenapa Keiko, kenapa ini terjadi kepadaku??!!!” serunya penuh dengan tatapan yang berlinang air mata. Aku tidak mengerti maksud sahabatku itu. Tiba-tiba ia datang dan menyalahkanku, seolah aku telah melukai perasaannya. “apa maksudmu Miruka? Aku tidak mengerti. Masuklah dulu, biar kau jelaskan semuanya. Kalau tidak, kau akan jatuh sakit.” Aku mengajaknya untuk masuk tapi ia tetap tidak mau. Ia sungguh membuatku penasaran akan apa yang terjadi. “maaf Keiko, aku rasa…aku tidak bisa lagi menjadi sahabatmu.” Setelah mengucapkan itu lalu ia pergi. Ia berlari menjauh. Sampai aku tak dapat lagi melihatnya. Sampai detik ini aku belum mengetahui maksud perkataan Miruka. Keesokan harinya ia sudah pindah sekolah dan aku melihat Souta bersama dengan perempuan lain. Walaupun aku menyukainya, tapi aku tidak terima kalau ia menyakiti hati Miruka. Aku yang tadinya berteman akrab dengan Souta perlahan mulai menjauhinya dan beruntunglah karena kami tidak sekelas. Akan tetapi keberuntunganku tidak bertahan lama. Ketika kenaikan kelas diumumkan, aku terkejut karena kami berada dikelas yang sama. Kelas 3-1. Aku memilih tempat duduk sejauh mungkin darinya untuk menghindari kontak dengannya. 2 bulan berlalu sudah semenjak aku menempati bangku di kelas 3 ini. Aku bisa merasakan Souta yang dulu telah berubah. Ia tidak lagi suka bermain-main dengan perempuan. Ia terlihat lebih rajin. Tapi aku tetap belum bisa melupakan kejadian Miruka dan hatiku pun belum berubah, aku masih menyukainya.*** Malam ini hujan turun dengan lebat dan disertai angin kencang. Aku memandang keluar jendela kamarku dan mengikuti arah titik-titik air yang berjatuhan ke bumi. Malam ini seperti waktu Miruka datang kerumahku, aku merasa hampa. Entah sampai kapan aku menjadi pecundang hanya karena sahabatku. Aku tidak bisa mengakui perasaanku sendiri kepada orang yang aku sukai karena sahabatku adalah mantan pacarnya. Bel rumahku berbunyi terus menerus tak henti-hentinya. Aku menghampiri dan membuka pintu rumahku dan berharap itu bukan Miruka. “Ka, Kazuo? Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” ternyata yang bertamu adalah tetanggaku Kazuo. Ia seorang mahasiswa perguruan tinggi negri. Ia berbeda hanya 1 tahun denganku. Konyol sekali aku sempat berfikir semoga yang datang bukanlah Miruka. Rasanya ingin aku menertawakan diriku. “mm..Ke-ke..keiko…” ucapnya terbata-bata. “ada apa Kazuo? Katakan saja. Aku kan temanmu.” Kataku sambil menyunggingkan senyum dengan mataku yang disipitkan.“a-aku…aku hanya ingin minta gula. Aku ingin membuat teh tapi ibuku sepertinya kehabisan gula. Hehe.” Gaya Kazuo kaku sekali. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku langsung mengajaknya masuk dan mengambilkan toples kaca berisi gula seperti yang ia pinta. “t-terimakasih Keiko, nanti aku segera kembalikan.” “ya, tidak apa-apa” ujarku terkekeh. Kazuo memang orang yang unik. Bahasa tubuhnya membuatku tertawa. Ia bukan tipe yang suka melucu, tetapi perilakunya sungguh membuatku terhibur. Aku selalu tertawa geli jika melihatnya. Ia pria yang sangat baik dan berhati mulia. Aku mengenalnya sejak pindah kerumah ini 5 tahun lalu. Sebagai tetangga yang kedatangan penghuni rumah baru, ia membantuku mengangkat barang-barang. Sejak saat itu kami mulai akrab dan berteman. Aku sering sekali berkunjung kerumahnya untuk bermain bersama. Orangtua kami bahkan sempat berfikir untuk menjodohkan kami, tetapi aku dan Kazuo menolaknya sehingga batal lah rencana perjodohan tersebut dan aku sangat lega. Keesokan harinya aku melangkahkan kakiku dengan semangat untuk pergi ke sekolah. Tanpa sengaja aku bertemu Kazuo di tengah jalan. Aku mendekatinya dan mengagetkannya. Aku menepuk bahunya agak kencang dan berkata nyaring. “HAAAIIII Kazuoooo! Selamat pagi! Hehe.” Ekspresinya lucu sekali. Aku hampir mati tertawa saat melihat wajahnya yang terkejut bukan main. Kazuo mengelus-elus dadanya lalu menarik nafas untuk berbicara. “Keiko, aku benar-benar kaget. Kau itu keterlaluan! Jantungku rasanya mau copot, kau tau?” Aku masih tertawa geli sambil berusaha menahan tawaku untuk berhenti. “maaf maaf hehe habisnya kau lucu sih, aku jadi ga tahan ingin menggodamu terus.” Kazuo memalingkan wajahnya, ia mempercepat langkahnya dan melambaikan tangannya tanpa menengok kearahku. “maaf Keiko, aku duluan ya.”*** Lagi-lagi Souta menghampiri ku. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tidak menggubris setiap perkataan yang keluar dari bibirnya. “Keiko, aku ingin bicara denganmu sebentar. Aku mohon..” ucapnya dengan muka memelas. Baiklah, mungkin sekali ini aku akan mendengarkannya. Setelah itu aku tidak mau lagi berurusan dengannya. Souta mengajakku ke sebuah taman. Taman yang indah dan sangat terkenal ketika musim semi menyambut. Taman Maruyama terletak di daerah Kyoto. Taman ini dipenuhi oleh bunga ceri yang bermekaran dan berwarna pink. Sungguh menyejukan mata dan hatiku. Baunya begitu harum, seperti menghipnotisku. Souta pun membuka pembicaraan. “Keiko, apa kau tau yang sedang ku pikirkan sekarang?” tanyanya dengan nada serius. Laki-laki aneh pikirku. Mana mungkin aku tau! “tidak. Kalau pun kau ingin mengatakannya aku tidak ingin tau.” Balasku cuek. Souta tertawa masam. “kau memang beda dari yang lain. Dirimu yang seperti ini lah yang membuatku tertarik.” Kini ia menatapku, ia memandangi bola mataku yang berwarna coklat. Aku segera memalingkan wajahku dari tatapan lembutnya yang membuatku luluh. “sudahlah, aku pulang dulu.” Aku beranjak dari tempat itu tapi Souta menghentikanku. Ia menarik tanganku dengan tegas sehingga aku kembali dalam posisi duduk. Pria itu mengunci tanganku. Ia menggenggamnya sangat erat dan membuatku tak dapat bergerak. “aku tidak berbohong! Aku menyukaimu Keiko…dan aku tau kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku.” Souta mengatakannya dengan lancar. Apa selama ini dia tau kalau aku menyukainya? Aku tidak tau harus senang atau sedih. Mendengar pengakuan cintanya, tak bisa kupungkiri hatiku meloncat kegirangan. Aku hanya diam tak membalas ucapannya. “aku telah berubah sejak pertama kali mengenalmu Keiko. Kau tidak perlu takut aku akan memperlakukanmu seperti yang kulakukan kepada temanmu Miruka.” Hati yang penuh luapan kebahagiaan berubah menjadi kemarahan. Kata-katanya menyakiti hati sahabatku seolah Miruka tak ada artinya sama sekali bagi dia. “jangan sebut nama Miruka seakan-akan ia tak berarti apa-apa untuk dirimu. Biar bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Kenapa dulu kau menghianatinya?” amarahku terhadap Souta semakin memuncak sehingga aku tidak dapat berteriak dan melampiaskannya. Hanya suaraku yang terdengar rendah dan dingin. “semua aku lakukan hanya untukmu.” Katanya. Tubuhku gemetar. Aku sangat bingung. Apa aku berani menerimanya? “tolong tinggalkan aku sendiri Sou. Aku butuh waktu untuk berfikir.”***3 tahun kemudian…. Setelah pengakuan Souta, aku merasa aku tidak akan sanggup hidup di Jepang jika selalu bertemu denganya. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Inggris dan tinggal disana bersama Bibiku, Rose. Tadinya kedua orangtuaku tidak mengizinkannya, tapi aku terus merengek dan terpaksa mereka pun mengizinkan aku untuk pergi. 3 tahun aku lalui tanpa hadirnya Souta. Aku cukup bahagia tinggal disini. Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran di sebuah universitas terkenal yaitu Oxford University. “Keiko, ada seseorang yang mencarimu.” Sahut Bibi Rose dari lantai bawah. “alright, wait a second.” Balasku dengan nyaring. Aku sungguh terkejut saat mendapati orang yang mencariku. Kazuo?! Bagaimana bisa ia tau tempat tinggal Bibi Rose? Dan untuk apa dia kesini? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di otakku. Benar-benar sebuah surprise yang tak terduga. Aku memperhatikan Kazuo dari kepala hingga ujung kaki. Ia terlihat berbeda dengan ia yang dulu. Kazuo bertambah tampan! Namun, sorot matanya…seperti berbeda. Aku bergidik menatap sorot mata itu. “hai, Keiko. Lama sekali kita tidak berjumpa.” Nada suaranya kini terdengar riang dan tidak kaku seperti dulu. Kazuo benar-benar berubah semakin dewasa. Aku mempersilahkannya masuk dan kami duduk diruang tamu. “aku senang sekali bertemu denganmu. Apa yang membawamu kemari? Aku penasaran.” Ujarku yang diakhiri dengan seulas senyum manis. “apa kau tidak mengenalinya Keiko?” nada bicara Kazuo mendadak serius. Aku mengernyitkan dahi. “apa maksudmu? Mengenalinya?” “mata ini…apa kau sudah melupakannya?” katanya yg menyuruhku untuk menebak. Aku tidak mengerti dengan ucapan Kazuo. Apa yang terjadi? Ia tidak hanya berubah menjadi semakin tampan dan dewasa, tapi juga misterius. “katakan padaku yang sebenarnya Kazuo!” pintaku dengan sedikit memaksa. Aku sangat penasaran. Pasti sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang besar…ya sesuatu yang tidak ingin kudengar.*** Aku tidak percaya dengan ceritanya! Tidak mungkin itu terjadi! Souta mendonorkan korneanya untuk Kazuo yang tertimpa kecelakaan dan kehilangan penglihatannya. Apa maksud Souta seperti itu? kenapa ia harus pergi dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia juga memiliki penyakit kanker yang kronis?! Kau sungguh egois Sou! Kau ingin bertemu denganku dengan cara hidup pada mata Kazuo. Aku tidak bisa menahan tangisku. Saat aku berziarah ke pemakaman Souta, aku melihat seseorang ada disana lebih dahulu. “orang itu…” gumamku yang menahan isak tangis. “sudah lama sekali ya, Keiko…” sapanya lembut. Tampaknya ia juga sedang menangisi nisan Souta. Aku terkejut bisa bertemu lagi dengannya, terlebih ditempat seperti ini. “kita mencintai orang yang sama dan menangisinya juga bersama-sama. Ironis sekali bukan hidup ini?” “tidak. Dari awal Souta hanya menyukaiku, bukan dirimu Miruka. Dan kepergiannya tidak ada hubungannya dengan hidupku atau hidupmu. Kita menjalani hidup yang berbeda. Dari dulu aku ingin mengatakan ini padamu, tapi baru sekarang aku bisa mengucapkannya. Aku sangat lega karna aku tidak lagi menjadi pecundang.” “aku senang kau bertambah dewasa. Sudahlah, tak ada gunanya kita bertengkar. Lagipula, besok aku akan melangsungkan pertunanganku dengan pria yang kucintai. Aku harap kau dan Kazuo bisa menghadirinya.” “aku pasti datang.” Sekarang aku sadar bahwa sebenarnya yang ku inginkan adalah Kazuo. Cintaku memang untuk Souta, tapi sejak dulu yang ada untukku selalu adalah Kazuo. Dari awal, hanya Kazuo lah yang berada disisiku. Tapi aku tidak mungkin bisa melupakan orang yang ku cintai. Sebuah pelajaran yang sangat berarti bagiku. Lagipula, Souta…kau bisa selalu melihatku melalui Kazuo, bukan? Ucapku dalam hati. Aku tersenyum cerah menatap langit dan berharap kau mendengar yang kukatakan Sou.*** “Souta Hakazami!! Cepat habiskan makananmu! Atau ibu akan marah besar.” “iya, iya…Ibu cerewet sekali sih.” “Kazuo, sebaiknya kau ajarkan Souta untuk bersikap disiplin!” “jangan marah-marah terus nanti kau keriput Keiko. Bukankah Souta mengambil sifat seperti itu dari Ibunya? Hehe..” “Kazuo kau mati hah?!” Kehidupanku berubah drastis. Keluargaku dengan Kazuo adalah nafas kehidupan bagiku. Aku sangat bahagia menjalaninya. Kami memiliki seorang anak yang ku namai sama seperti dia, “Souta”, sebagai sebuah kenangan dan agar aku dapat selalu mengingatmu…. aku yakin kau pasti tertawa geli diatas sana melihat kelakuan Souta kecil-ku.. Aku sangat bertrimakasih padamu Sou… Tanpa pengorbananmu, tidak mungkin aku bisa merasakan kebahagian yang luar biasa seperti ini…The sweetest thought..I had it all,Cause I did let you go..All our moments,Keep me warm..When you're gone….(Within Temptation – Bittersweet)ENDNama : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeeFb : Bella JusticeCerpen Bella yang lainnya: Kenangan yang Terlupakan dan Love That I Should Have.

  • Cerpen Remaja The Prince ~ 09 {Update}

    Cerpen Remaja The Prince, The Princess and Mis. Cinderella part 9Halo All reader, Cerpen remaja the prince, the princess and mis cinderella di lanjutin lagi lho #dihajar. Hahaha. Setelah sekilan lama ni cerpen nyangkut di planet pluto, akhirnya dia balik lagi. Thanks for all, yang udah ngasi semangat buat ngelanjutin nie cerpen yang jelas – jelas nggak jelas.Eh,tapi kalau seandainya ini cerpen makin kacau haraf di meklume aja ya?. Secara,ini cerpen makin ‘terbang bebas’ kayaknya. Tapi karena Star Night sudah memutuskan untuk melanjutkan itu artinya kemungkinan besar ini cerpen ada endingnya. Ya, walaupun harus terpaksa menendang ‘love story about my first love’ ke draf lepi. Tapi gak papa deh, Star night mau belajar bertanggung jawab dulu (????).Oh ya, karena ini sudah kelamaan, mungkin sudah pada lupa kali ya sama jalan ceritannya?. Memang salah star Night juga si kelaman banget ngelanjutin. Nah karena itu star night sengaja kasi link nya, Cerpen remaja the perince, the princess and mis cinderela part 1, part 2, part 3, part 4, part 5, part 6, part 7 dan part 8.E, satu lagi. Dalam cerpen remaja ini di ambil dari dua sudut pandang sekaligus (????). bingung ya?, ah star night yang bikin juga bingung apa lagi yang baca. Jadi gini lho, untuk karakter ‘Riani’ star nihgt pake istilah ‘aku’. Sementara untuk karakter ‘Andre’ Star night pake sudut pandang orang ketiga. H3 h3 h3 # bingung – bingung deh.Okelah, dari pada kebanyakan bacod mending langsung di baca yuk. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan. Credit Gambar : Star NightAku mengerjap – ngerjapkan mata sambil menoleh ke sekeliling. Hal pertama yang ku lihat adalah raut lega yang tergambar di wajah Iren di susul oleh Naysila dan Kezia. Walau kepala ku masih terasa sedikit pusing tak urung aku mencoba bangkit dan duduk bersandar.sebagian

  • CERPEN PENYESALAN CINTA

    PENYESALAN CINTAcerpen karya Nina YusufCinta ada karena terbiasa. Mungkin kata-kata itu yang paling tepat untukku. Namaku Nina, aku duduk di bangku XII SMA. Aku punya seorang tetangga cowok yang saat ini sedang kuliah tingkat 1, namanya Ade. Aku bertetanggaan sama dia sejak dari lahir. Boleh dibilang dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia sangat perhatian padaku. Dia baik dan humoris. Aku sangat menyukainya. Awalnya rasa ini cuma sebatas rasa senang karena diperhatikan seperti seorang adik, tapi lama kelamaan rasa ini tumbuh menjadi benih-benih cinta di hatiku. Dulu waktu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku juga pernah suka sama dia. Ku pikir itu hanya dampak dari masa puber ku. dia suka menyanjungku, karena itulah aku sempat berpikir dia mencintaiku. maklumlah aku baru lepas dari masa anak-anak.Saat ini rasa itu kembali hadir. Aku kembali merindukannya. Entah dari mana awalnya, namun perlahan-lahan rindu itu semakin menyiksa. Saat dia kembali ke tempat kuliah, aku merasa sangat jauh darinya. Tapi saat dia di rumah, aku bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku. Sebenarnya aku sudah mencoba tuk ngilangin perasaan ini. Aku tau, gak mungkin bagiku tuk bisa menjadi kekasihnya. Dia sudah menganggapku sama seperti adiknya, dan apa kata orang tua kami jika kami berpacaran. Aku malu sama perasaanku ini. Aku bingung harus bagaimana. Aku terus berusaha memendamnya.***Hari ini hari minggu. Saat yang tepat bagiku untuk bermalas-malasan. Seharian ini aku cuma duduk di depan tv. Saat sedang asyik-asyiknya nonton FTV, ponselku berdering. Ku raih dengan malasnya. Ku lihat ada 1 panggilan masuk dari nomor tak di kenal.“halo…”“ya halo.. Nina ya??”“iya, bener.. ne siapa??”“ne kakak, dek..”, jawab suara di seberang sana.“kakak siapa??”“kak Ade.. masa’ dek gak ngenalin suara kakak seh?? Ge apa sekarang dek??”Kak Ade?? Jantung ku hampir copot ketika dia nyebutin namanya. Aku gak percaya kalo yang nelfon ini kak Ade. “Aku mimpi gak yach??”, batinku. Ku cubit lenganku tuk mastiinnya. Owh, sakit. Ternyata aku gak mimpi.“lho dek, ditanya kok bengong??”“o..o..eee.. ma..maaf kak…”, aku tergagap.“hahaha… lucu dech.. o ya dah dulu ya dek, kapan-kapan kita sambung lagi. Kak ada keperluan. Bye..”“iya kak, bye..”Klik. Telfon teputus. Aku masih bengong. Gak percaya sama apa yang barusan terjadi. “kak Ade nelfon aku. Oh my God pertanda apa ini??” seru ku dalam hati.Itulah awal dari kedekatan kami. Sejak saat itu dia sering menelfon ku. Dia cerita pengalaman-pengalaman kuliahnya. Aku juga banyak curhat sama dia. Hatiku semakin berbunga-bunga. Aku semakin yakin mimpi ku akan jadi nyata.Dua bulan berlalu. Masa pedekate ku telah berakhir. Hari ini aku resmi menjadi pacarnya. Tadi malam, tepatnya malam minggu dia mengutarakan isi hatinya. Dia berjanji akan selalu ada untukku. Aku sangat bahagia. Ternyata cintaku gak bertepuk sebelah tangan.***Hari demi hari berlalu begitu cepat. Kurasakan cintanya kini telah memudar. Dia tak seperti pertama jadian dulu. Dia hanya menghubungiku di saat dia kesepian. Aku mencoba bertahan dengan semua ini. Aku yakin suatu saat dia pasti akan kembali seperti dulu.Semakin lama penantian ini, semakin hampa ku rasa. Dia tak kunjung berubah, bahkan dia semakin menjadi-jadi. Sekarang dia sering berbohong padaku. Dia gak pernah lagi menepati janji. Dia gak membutuhkan ku lagi. Aku sedih, luka di hati ini semakin dalam. Aku menjerit dalam hati “apa salahku, sehingga kamu bersikap begini padaku?? Tolong beri penjelasan tentang hubungan ini.” Aku gak kuat lagi. Ku coba menghubungi teman dekatnya yang juga temanku. Ku cari nomornya di ponsel. Langsung saat itu juga ku telfon dia.“halo.. kak Iwan..”“iya Na.. pa kabar?? Tumben nelfon kakak..”“kak, Na mau minta tolong. Na gak sanggup lagi sama sikap kak Ade. Tolong tanyain ma dia kejelasan tentang hubungan kami.”, “lho.. kok gak Nina sendiri yang tanya??”, katanya heran.“udah kak, tapi dia gak mau jawab. Dia cuma bilang lagi sibuk banyak tugas, jadi gak sempat hubungin Nina..”, jawab ku lirih.“ya udah gini aja, kalo kak sendiri yang nanyain, pasti Na gak bakalan percaya sama jawabannya. Kita sambung 3 neh telfon, tapi Na gak usah bicara, Na denger aja apa yang dia bilang. Satu lagi, apapun yang dia katakan Na gak boleh bersuara sedikit pun.. Biar kak yang telfon. Ok..”“ok kak..” telfon ku tutup.Gak lama setelah itu, kak Iwan pun nelfon. Setelah ku angkat, dia langsung nelfon pacarku. Awalnya mereka ngobrol seperti biasa. Kak Iwan sedikit berbasa-basi. Setelah beberapa menit kak Iwan langsung ke pokok permasalahan. Terdengar di seberang sana kak Ade agak kaget mendengarnya.“lo apain Nina?? Kok dia nangis-nangis ma gue??”“maksud lo?? Gue gak ngerti. Kenapa tiba-tiba lo bertanya kek gini??”“kemaren Nina nelfon gue, dia nangis. Dia bilang gak kuat lagi ma sikap lo. Lo seakan-akan gak butuh dia lagi..”“O… jadi dia ngadu sama lo?? Dasar tuch cewek, cengeng banget jadi orang. Gue gak apa-apain dia. Gue Cuma jenuh aja sama sikap dia yang kekanak-kanakan. Gue gak tahan sama cewek kek gitu. Gue bosen ma dia..!!”, nada suaranya meninggi.“kalo lo bosen ma dia dan pengen mutusin dia, lo bilang donk baik-baik. Bukan kek gini caranya. Gak ada hak lo nyakitin anak gadis orang..!!”“gue udah gak mood ngomong ma dia. Kalo lo care ma dia, lo aja yang ngasih tau dia. Gua gak butuh cewek kek gitu. Dan mulai sekarang gue gak bakalan ganggu dia lagi!!”Klik. telfon ku matiin. Tetes demi tetes air mata ini mulai berjatuhan. Aku gak tertarik mendengar ending dari percakapan ini. Aku udah bisa menebak akhir dari semua ini. Kesabaranku selama ini berbuah kesia-siaan. Penantianku selama 1,5 tahun ini gak berarti apa-apa. Dia tidak ingin berubah seperti dulu lagi, malah dia mencampakkan ku. Dia diam bukan untuk introspeksi diri, dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa putus dari ku. dia tega berbuat seperti ini padaku. Aku kecewa, aku menyesal telah menjadikan dia bagian dari hidup ku.*****by : Nina Yusuffacebook : ninayusuf22@yahoo.com

  • Kumpulan Cerpen 2013 “Story About Us” ~ 01

    Halllloooo All Reader Star Night. Masih pada menunggu Lanjutan cerpen karya Ana Merya yak?. Bakalan lama tuh. Lagi sibuk kayanya tu orang ngejar target 10 point nya?. Gkgkgkgkgkkgk..Nah dari pada kelamaan nunggu, mending baca dulu cepen kiriman dari adek, Penulis Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Verly, dan Cerpen remaja Buruan katakan cinta. Ehem, Karyanya dia sebenernya banyak kok yang udah di post di blog. Tapi di blog Remaja Xsis. Kalau mau baca aneka cerpen karyanya dia yang laen bisa langsung kunjungin tuh blog.Karena blog ini sebenernya blog khusus kumpulan cerpen karya Ana Merya si harusnya. Cuma kalau memang ada yang mau ngirim kesini kenapa enggak.Okelah dari pada kebanyakan Bacod mending lansung baca yok. PS: Judul Asli si "karma" tapi ku ganti jadi "Story About Us""kamu seriuz?!" tanya Vanna."ya seriuz lah, sorry ea, aku nggax ada pilihan laen, tapi kamu tenang aja, demi kamu, aku bakal balik lagi kesini, setelah urusan aku di sana selesai" kata Vanno."tapi van…""say… kamu dengerin aku,… aku nggax bakal lupain kamu, aku beneran sayang sama kamu, ini juga urusan pekerjaan kok. kamu harus ngertiin aku donk" kata Vanno.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*