Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05

Berhubung belon ketemu sama yang namanya end cerita masih berlanjut ya man teman. Kali ini admin muncul dengan kelanjutan cerpen terbaru Si Ai En Ti E ~ 05. Wah, nggak terasa ya udah part 5 aja tapi ternyata masih belon masuk ke jalan cerita yang sebenernya (???) #gubrag.
Okelah, biar adminnya nggak makin ngomong ngalor ngidul nggak jelas, mening kita langsung baca kelanjutan ceritanya aja yuks. And buat yang belum baca bagian sebelumnya bisa dilihat di sini.

Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05

Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05
Sepulang kuliah Acha sengaja tidak langsung pulang kerumah. Langkahnya ia belokan kearah kafe yang biasa ia kunjungi. Tapi kali ini bukan untuk makan ataupun duduk santai seperti biasanya. Justru ia datang untuk melamar pekerjaan. Karena berdasarkan dari info yang ia dapat dari salah satu temannya, kafe yang satu itu membutuhkan karyawan tambahan. Dan sukurlah ternyata itu benar.Bahkan ia sudah langsung bisa bekerja hari itu juga. Profesi sebagai kasir menjadi pilihannya.
Jeli dan harus teliti menjadi hal utama yang ia punya untuk profesi yang di sandangnya saat ini. Terlebih pelangan kaffe tempatnya bekerja lumayan ramai pengunjung yang datang. Tak terasa hari sudah mulai malam. Barulah ia bisa pulang kerumah.
Hari pertama yang lumayan melelahkan. Apalagi ini untuk pertama kalinya Acha mulai bekerja. Namun tak urung ia merasa senang. Paling tidak ia sudah bisa untuk mulai berusaha bersikap mandiri bukan?
Setelah pamit pada teman sekerja juga bosnya Acha melangkah keluar dari kafe. Menuju kearah parkiran dimana motornya berada. Sekilas ia melirik kearah jam yang melingkar di tangannya. Pukul 09:30. Sudah cukup malam ternyata namun sepertinya jalanan masih ramai. Biasalah, namanya juga kota besar.
Setelah duduk dengan pewe di atas jog motornya, Acha mulai mengendarai motornya secara berlahan. Belum juga sepertiga perjalanan, ia merasa ada yang aneh. Laju motornya terasa mulai berkurang sebelum kemudian benar – benar mogok di jalanan.
“Ya ela, ni motor kenapa lagi?” gumam Acha sambil turun berlahan. Saat matanya melirik kearah kompas barulah ia menyadari apa yang terjadi. Ternyata ia lupa untuk mengisi benzinnya. Astaga…
“Bensinnya abis lagi, masa gue harus ngedorong si?” gerut Acha kesel. Tapi tak tau harus merasa kesel pada siapa. Dan akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga ia mulai melangkah sembari mendorong motornya.
Malam sudah mulai larut, tiba – tiba ia merasa merinding. Hari memang tak sepenuhnya gelap, masih ada lampu jalan yang sedikit menerangi, namun kan tetap saja. Saat ini hari sudah malam. Dan ia seorang cewek, sendirian lagi. Tanpa bisa di cegah pikiran buruk mulai bermain di kepalanya. Membuat rasa takut di hatinya melonjak dua kali lipat.
Walau sesekali ada beberapa mobil dan motor yang lewat. Tetap saja ia masih merasa takut. Bukan hanya pada hantu, ia juga takut gelap. Selain itu ia masih harus merasa takut pada perampok atau yang paling parah lagi pe…
Teeeetttt
Suara klakson yang tiba – tiba terdengar nyaring tepat di belakangnya membuat Acha terlonjak kaget. Dengan segera kepala gadis itu menoleh kebelakang. Mulutnya sudah siap terbuka untuk memuntahkan sumpah serapah pada manusia kurang ajar yang berani – berani mengagetkannya. Namun sepertinya kalimat itu hanya terhenti sampai di kerongkongan ketika melihat siapa yang kini berada di belakangnya.
Hantu? Oh tentu saja bukan. Walau ia percaya yang namanya hantu memang ada di dunia ini, namun Acha yakin kalau yang ada di belakangnya bukanlah makhluk dari alam berbeda darinya. Terlebih dengan helm dan motor dengan lampu yang tersorot padanya. Dugaannya sih langsung menebak kalau orang itu adalah orang jahat.
“Motornya kenapa?” terdengar tanya yang terjurus kearahnya. Acha masih belum bisa melihat dengan jelas siapa pemilik suaranya. Terlebih dengan lampu yang tersorot padanya jelas membuat matanya merasa silau.
“Loe siapa?” bukannya menjawab Acha justru malah balik bertanya sembari merasa was was.
Orang itu tidak menjawab, justru ia malah mematikan motornya. Turun berlahan menghampiri Acha. Tangannya terangkat melepaskan helm di kepalanya sehingga Acha bisa melihat dengan jelas siapa yang kini berbicara kepadannya. Namun begitu, gadis itu tetap masih merasa cemas karena ternyata ia sama sekali tidak mengenali siapa pria itu.
“Kelvin.”
Satu kalimat diiringi tangan yang terulur kearahnya membuat Acha sejenak melongo. Maksutnya apa nih? Tu orang ngajak kenalan?
“Kok loe diem aja. Nama loe siapa?”
Kalimat selanjutnya segera menyadarkan Acha dari lamunannya. Matanya masih menatap curiga kearah sosok yang berdiri dihadapannya yang kini mengoyangkan tangannya. Menanti tangan Acha yang terulur untuk menyambutnya.
“Loe ngajakin gue kenalan?” tanya Acha pada akhirnya.
“Lah, kenapa heran. Bukannya tadi loe sendiri yang nanya siapa gue?” tanya sosok yang mengaku bernama Kelvin itu. Untuk sejenak Acha kembali terdiam. Ah, benar juga. Tadikan ia sendiri yang bertanya. Oo…
“Acha,” sahut Acha akhirnya.
“Acha, senang berkenalan denganmu,” sahut Kelvin sambil tersenyum yang mau tak mau membuat Acha ikut tersenyum. “Ngomong – ngomong, motor loe kenapa?” tanya Kelvin kemudian.
Dengan nada bicaranya yang terdengar santai ditambah senyum samar diantara remangnya malam namun mampu membuat Acha sedikit demi sedikit mengilangkan syak wasangka di hati. Pendapatnya segera berubah, sepertinya Kelvin orang baik.
“Tau nih, benzinnya abis deh kayanya,” jawab Acha kemudian.
“Perlu gue bantuin?” tanya Kelvin terdngar tulus
“Loe mau ngedorong motor gue?” Acha balik bertanya dengan nada heran.
“Tentu saja tidak,” sahut Kelvin cepet, secepat Acha memajukan mulut saat mendengar jawabannya.
“Oke, loe tunggu disini.”
Tanpa menunggu kalimat balasan dari Acha, Kelvin segera berbalik kearah motornya sebelum kemudian melaju tanpa kata.
Acha masih bingung, antara kembali melanjutkan motornya atau tetap berdiri disana. Menunggu seperti yang di instruksikan Kelvin padanya. Masalahnya ia tak tau apa yang harus ia tunggu. Lagipula Kelvin tidak pernah berkata bahwa ia akan kembali.
Tepat saat Acha berniat untuk kembali mendorong motornya, Kelvin muncul dengan sebotol benzin ditangannya. Acha yang awalnya masih bingung berlahan mulai mengerti ketika Kelvin yang tampak mengoyangkan botol dihadapannya.
“Ma kasih ya,” kata Acha terdengar tulus. Apalagi ketika menyadari kalau motornya sudah bisa kembali menyala normal. Kelvin hanya tersenyum sembari mengangguk.
“Gue nggak tau gimana caranya gue bales kebaikan loe,” sambung Acha lagi. Dan jujur ia memang tidak tau. Lagi pula jarang jarang ada orang baik yang begitu kenal langsung mau bantuin.
“Loe bisa traktir gue makan siang,” sahut Kelvin yang langsung membuat Acha menoleh sembari melotot kearahnya.
“Kalau mau,” sambung Kelvin lagi.
“Makan siang?” ulang Acha, Kelvin hanya mengangguk.
“Nggak lebih mahal dari pada harga benzinnya kan?” tanya Acha lagi.
Sejenak Kelvin terdiam. Kepalanya menoleh kearah Acha dengan kening sedikit berkerut. Dan kali ini pria itu sama sekali tidak mampu menahan tawa lepas dari bibirnya saat melihat ekspresi serius di wajah Acha.
Ada yang lucu?” tanya Acha polos ketika menyadari Kelvin masih berlum menghentikan tawanya.
“Ehem” Kelvin tampak berdehem. “Harga benzin di tambah ongkos upah plus benzin gue yang di pake bolak balik juga, maka jawabannya ya. Gue yakin nggak akan lebih banyak dari itu.”
Gantian Acha yang mengernyit sebelum kemudian ikutan tertawa. Ternyata pria itu mempunyai selera humor juga.
“Baiklah, jadi kapan dan dimana gue harus ntraktir loe? Yah seperti yang loe liat sekarang udah malam. Gue harus pulang.”
Kelvin lagi – lagi mengangguk. “Keffe delima jam 12 siang, besok. Gimana?”
Acha tidak langsung menyetujuinya. Pikirnya terlebih dahulu melayang tentang agenda hari esok. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. “Baiklah. Sampai bertemu besok siang.”
Senyum Kelvin mengembang mendengarnya. Sebelum Acha benar benar berlalu mulutnya kembali terbuka untuk mengingatkan. “Pastikan loe besok datang.”
Acha tidak menjawab, hanya kepalanya yang tampak mengangguk membenarkan sembari tangannya terangakat membentuk huruf ‘o’. Setelah itu barulah ia benar benar berlalu.
To Be Continue
Oke, sampe di sini kayaknya cukup deh tokoh tokohnya. Kalau kebanyakan entar susah buat 'nyikirin' nya lagi. Ha ha ha. Bener nggak. And semoga aja deh, penulisan kedepannya bisa lebih lancar dari sebelumnya. Amin..
~ With love ~ Ana Merya~

Random Posts

  • THE SILENCER

    THE SILENCERBerbaring… Duduk… Berdiri… Dan berbaring kembali. Hanya itu yang bisa dilakukan Soni di kamarnya. Entah kenapa mendung di pagi itu membuatnya begitu diam, tanpa sedikit katapun terucap dari mulutnya. Sesekali ia memutar beberapa lagu di mp3 playernya untuk sekedar memecah kemuraman pagi itu, namun usaha itu tidak cukup berhasil membuka gembok mulutnya yang terus tertutup rapat. Pikirannya sedang kalut. Hatinya masih mencari pembenaran atas apa yang dia yakini terhadap rasa sayangnya pada beberapa gadis yang ia kenal.Ia lelah…Soni kemudian kembali berbaring. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Tatapannya lurus menatap atap kamarnya yang putih. Polos. Dalam kepolosan atapnya itu ia membayangkan sedang melukis sebuah wajah dengan cat hitam. Wajah seorang gadis dengan sedikit lesung pipi. Wajah itu ia kenal dari sebuah pertemuan di salah satu kegiatan kampus. Dia tidak mengelak bahwa wajah itu sangat cantik. Namun kecantikannya hanya sebatas menembus matanya, tidak sampai pada organ penting dalam tubuhnya, hati. Mulutnya nampak seperti sedang menyebutkan sebuah nama, tanpa bersuara.Kemudian Soni duduk. Matanya kembali mendapati sebuah kanvas polos, tembok kamarnya. Ia ingin mengecat tembok hijau polosnya itu dengan warna kesukaan seorang gadis lain yang tidak kalah cantiknya, warna merah menyala. Tapi ia sadar tidak ada cat warna merah itu di rumahnya. Dia tidak ingin bersengaja keluar rumah hanya untuk membeli sekaleng cat warna merah menyala. Akhirnya dia kembali membayangkan dirinya sedang mengecat tembok kamarnya. Wajah gadis itu begitu jelas terpampang di depan matanya. Alisnya sedikit tebal, matanya sedikit sipit dihiasi bulu mata yang lentik. Hal itu semakin membuat Soni ingin mengecat tembok kamarnya itu dengan puasnya. Tapi anehnya, setiap kali dia menggoreskan koas dengan lumuran cat merah menyala di tembok itu, matanya hanya melihat warna lain, hitam. Mulutnya kembali menyebut sebuah nama, dan tetap tanpa suara.Nampaknya usahanya menenangkan diri belum begitu berhasil. Soni bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati jendela. Langkahnya tertahan saat dia melihat sekeliling kamarnya. Soni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mendapati semua benda di kamarnya tak ubahnya seperti dirinya, bisu. Dia selalu membandingkan dirinya dengan benda benda itu. Sepertinya kebisuannya pun tak akan pernah berujung. Pembenaran yang dia cari cari masih tetap menemui jalan buntu. Masih tetap melihat warna yang sama, hitam. Apakah hanya warna itu saja yang mampu dia lihat? Kemana warna warna lainnya? Dia merindukan warna putih, hijau, kuning dan warna lainnya. Selama ini warna warna itu hanya terlihat dari kejauhan dan tampak buram. Jauh dan semakin jauh.Soni kembali melangkah. Pelan dan sedikit dipaksakan…Matanya mendapati sesuatu di luar sana. Sesuatu yang indah. "Hey, apa itu?" Benaknya bertanya. Melalui jendelanya ia mendapati seorang gadis yang sedang duduk manis di sebuah kursi di beranda rumah gadis itu. Saat ia melihat gadis itu matanya menangkap warna warni dengan begitu jelas. Tidak ada sedikitpun warna yang pudar dalam pandangannya. Gadis itu begitu berwarna dan begitu terang. Satu hal yang tidak dia temui dari gadis-gadis lainnya. Seketika senyum Soni merekah, mengisyaratkannya terbebas dari kemuramannya.Kebisuannya berakhir. Dengan jelas Soni menyebut sebuah nama yang ia sebut sebut dari tadi…"Dira…"Dira memalingkan wajahnya ke arah Soni. Cahaya warna warninya berpendaran menghiasi seluruh tubuhnya. Ia membalas senyuman Soni dengan senyuman yang begitu lepas dan indah. Sesaat dia merasakan sedang berada di suatu tempat yang indah. Suatu tempat dengan langit cerah berhiaskan pelangi memanjang di sekitarnya. Sebidang tanah dengan rumputnya yang hijau bersih. Ia bahkan bisa mendengar suara gemericik air mengalir dari sungai kecil yang tidak jauh dari sana. Airnya begitu segar dan jernih. Begitupun dengan udaranya. Tidak jauh dari sana, Dira sedang berdiri menatap Soni dengan senyumannya. Sesaat lamanya Soni merasa damai, tenang dan tanpa beban. Tidak ada kekalutan sedikitpun terselip dalam dirinya. Kehadiran sosok Dira dalam bayangannya selama ini selalu membuatnya merasa demikian. Dia tidak akan melupakan Dira, setidaknya untuk saat ini. Bayangannya terpatri kuat dalam hatinya. Semua warna warninya akan tetap terlihat dengan jelas dan terang. Semua kata-katanya akan melekat kuat dalam memorinya.Dalam bayanganya, Soni memegang tangannya dan meletakkan telapak tangannya di dada Soni.Kemudian dengan lembut Soni berbisik pada Dira…"Dira…""Semoga engkau selalu tenang di alam sana. Tetaplah sinari hariku dengan warna dan senyummu".***(Hasanuddin. Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Semester 1)

  • Cerpen Cinta: Setelah Kepergianmu

    Setelah KepergianmuCerpen karya Rani Dwi AnggraeniKu selalu mengingatmu, meski ku tahu itu menyakitkan..Ku buka handphone ku, tak ada lagi kamu yang selalu memenuhi inbox-ku, tak ada lagi ucapan selamat pagi dan selamat tidur untukku. Tak ada lagi canda tawamu yang selalu mengiriku dalam kebahagiaan, tak ada lagi leluconmu yang membuatku tartawa. Tak ada lagi tatapan yang membuat jantungku berdebar dan menyejukkan hati. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang selalu membuatku kuat akan setiap masalah yang menghampiriku. Tak ada lagi pelukanmu yang membuatku tentram dan merasa aman dekat denganmu. Kini, sekarang ada sesuatu yang hilang, tak sama seperti dulu.Aku berharap hari-hariku bisa berjalan dengan mulus seperti biasanya., walau tak ada kamu disampingku. Kini, aku mencoba menjalani semua aktivitasku seperti biasa. Dan aku bisa menjalani itu semua walau hatiku terasa kosong, hampa tanpa ada dirimu yang menemaniku setiap harinya. Tapi, aku harus tetap tegar dengan semua ini. Setelah kepergianmu, aku menyadari betapa aku mencintaimu. Setelah kepergianmu, kamu merampas semua cinta dan kebahagiaan yang kupunya, melarikan ke tempat asing yang justru tak tahu dimana keberadaannya. Siksaanmu begitu besar untukku, dan aku terlalu lemah untuk mendapatkan cobaan ini, aku begitu lemah untuk mendapatkan goresan luka di benakku yang semakin hari semakin bertambah.Kini ku tersadar, bukan dia yang begitu tulus menyayangiku, tetapi kamulah yang menyayangiku dan mencintaiku dengan tulus tanpa adanya kebohongan. Jujur, aku menyesal setelah kamu benar-benar pergi meninggalkanku disini bersama bayanganmu. Aku menyesal telah membuatmu kecewa, padahal aku tak bermaksud mengecewakanmu. Aku menyesal lebih memilih dia di banding kamu yang jelas-jelas kekasihku. Sudah jelas dia itu playboy dan sudah menyakitiku berulang-ulang kali dengan kebohongannya dan semua janji palsunya, tapi kamu berbeda, kamu begitu menjagaku, menyayangiku, dan aku sia-siakan begitu saja. Mengapa aku sebodoh ini?Aku tak pernah membalas semua kebaikanmu padaku, dan aku tak pernah menyayangimu seperti kamu yang selalu menyayangiku. Bahkan aku selalu melampiaskan semua amarahku padamu, dan anehnya kamu yang meminta maaf padaku. Seringkali aku membohongimu seringkali aku berkencan bersama dia tanpa sepengetahuan kamu, dan itu berarti aku sedang bermain di belakangmu. Setiap kamu ingin bertemu denganku, aku sering menolak. Tapi mengapa aku tak bisa menolak dia setiap dia ingin bertemu denganku? Bahkan jika kamu mengajaku pulang bersama, aku tak mau dan menolakmu. Aku lebih memilih pulang bersama teman-temanku. Aku sadar itu semua salah, tapi mengapa aku terus mengulangnya kembali? Kamu pernah berkata kalau aku itu egois, aku tak menerima kamu berbicara seperti itu kepadaku, dan aku marah. Aku baru tersadar aku memang egois, benar katamu.Dia selalu melaksanakan apa kemauanku, tapi aku tak pernah melakukan apa yang kamu mau. Hingga beberapa minggu kemudian kamu menjauhiku, kamu menghilang dari kehidupanku, kamu tak mengirimku kabar sama sekali. Hal itu membuatku marah dan aku berfikir kamu memutuskan ku secara sepihak, tanpa tahu permasalahannya apa. Kemudian, kamu menghubungiku di hari jadianku bersama kamu. Entah mengapa aku menjadi benci padamu, mungkin karena kamu menghilang beberapa minggu ini. Kamu mengajaku kencan di malam minggu ini, tapi aku menolak karena kamu bukan pacarku lagi. Aku berkata kepada kamu, lebih baik kamu pergi dari kehidupanku jangan pernah menghubungiku lagi, cari wanita lain di luar sana yang lebih baik dariku. Tapi nyatanya kamu malah meminta maaf padaku atas kesalahan kemarin telah menjauhiku. Kamu bilang kamu hanya ingin mengetesku. Tapi ini bukan cara yang benar. Aku tak bisa memaafkanmu, aku tak akan memberikanmu kesempatan lagi. Dan itu artinya sekarang kamu dan aku hanya sebatas teman biasa. Padahal sebenarnya aku benci dengan perpisahan ini.Entah mengapa jika aku mengingat itu semua, beribu-ribu penyesalan selalu menghampiriku. Apakah kamu terluka karena ku?Kita itu seperti saling menyakiti, seperti saling mendendam tanpa tahu apa permasalahan yang sebenarnya.Aku menangis sejadi-jadinya di dalam heningnya malam, atas dasar bahwa aku memang benar mencintaimu. Aku merasa kehilangan sosok pahlawanku. Sementara aku selalu melihatmu dekat dengan wanita lain, dan mengapa wanita itu harus temanku sendiri? Kamu tak pernah tahu bahwa aku di sini menangis melihatmu bersamanya, aku cemburu..Aku marah pada diriku sendiri, mengapa aku sulit untuk melupakanmu? Sedangkan kamu disana dengan mudahnya melupakanku.Tuhan..sungguh ini tak adil bagiku. Ingin rasanya aku hilang ingatan, agar aku tak mengenalimu dan kenangan dulu bisa terhapus di dalam memori otakku. Itulah jalan satu-satunya untuk saat ini. Hari berganti hari, aku terus menjalani hidupku tanpa dirimu. Dan aku merasa semakin hari aku selalu menyesali kesalahanku padamu. Apakah kamu disana sudah mendapatkan pengganti diriku? Aku harap kamu masih mengharapkanku, karena ku disini selalu mengharapkan kehadiranmu dihidupku lagi. Apakah kamu disana selalu memikirkanku?seperti aku yang selalu memikirkanmu. Aku hanya ingin tahu isi hatimu saat ini. Apa kamu tak pernah berpikir tentang isi hatiku saat ini? yang semakin hari semakin mendung karena tak ada lagi yang menyinari hatiku. Di dalam mimpiku kamu selalu ada untukku, dan kamu milikku. Tapi ternyata, di dalam kehidupan nyata, kau hanyalah mimpi untukku dan aku sulit menggapaimu kembali. Tak ada hal yang mampu ku perjuangkan selain membiarkanmu pergi dan merelakanmu untuk orang lain yang pantas menapatkanmu. Aku berusaha menikmati kesedihanku, kesakitanku hingga ku terbiasa akan semua hal itu. Aku selalu meneteskan air mata untukmu, padahal setiap butiran air mata yang jatuh itu semakin aku merindukanmu dan sulit untuk melupakanmu. Kini aku merasa jatuh cinta padamu yang bukan milikku lagi.Tapi aku punya Tuhan, punya keluarga dan sahabat, yang selalu ada untukku. Aku percaya Tuhan..Tuhan pasti sedang menguji kesabaranku saat ini, dan pasti ada jalan keluar di balik ini semua. Mungkin di mataku kamu yang terbaik untukku, tapi belum tentu kata Tuhan kamu yang terbaik untukku. Aku percaya dan yakin bahwa skenario Tuhan adalah yang paling indah.SelesaiNama : Rani Dwi AnggraeniMy facebook : ranianggraeni1@gmail.comTwitter : @ranidwianggra

  • Cerpen Story about us Part 2

    Cerpen Story about us Part 2_ Akhirnya bisa muncul ke permukaan juga. He he he. Admin lupa sodara sodara di mana kemaren nyimpen foldernya. Terpaksa sigin sigout puluhan email dolo buat mencari lanjutannya. Maklumlah, Yang harus di ingat bukan hanya satu…#plaks…Okelah, untuk Cerpen Story about us Part 2 ini no edit sama sekali. Lagi lagi harap di maklum aja ya kalau mungkin banyak yang kacau_Sekacau kondisi adminnya_ saat ini. ^_^-} Cerpen Story About us Part 1Malam itu, Vanno bener-bener nggax bisa tidur karena terus terbayang wajah Vanny, ia mencoba dan terus mencoba untuk memejamkan matanya. tapi, tetap saja bayangan wajah Vanny terus terbayang."Huuuh, kanapa sih sama gue… kanapa gue nggax bisa melepas bayangan Vanny sedikit pun…" kata Vanno sambil duduk di kasurnya.sebagian

  • Cerpen Persahabatan Sejati Be The Best Of A Rival ~ 06

    Cerpen Persahabatan sejati Be the best of a rival. Nah biar gak bingung silahkan baca part sebelumnya di cerpen sahabat part 5.Credit Gambar : Ana MeryaChika merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Pakaian sekolah masih melekat di tubuh, Sementara tas ia lemparkan disampingnya begitu saja. Teriakan sang mama yang mengingatkannya untuk makan siang sama sekali tidak di indahkanya. Matanya sudah mulai terpejam ketika terdengar suara motor memasuki halaman rumahnya. Pasti nino yang baru pulang dari kampus.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*