Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05

Berhubung belon ketemu sama yang namanya end cerita masih berlanjut ya man teman. Kali ini admin muncul dengan kelanjutan cerpen terbaru Si Ai En Ti E ~ 05. Wah, nggak terasa ya udah part 5 aja tapi ternyata masih belon masuk ke jalan cerita yang sebenernya (???) #gubrag.
Okelah, biar adminnya nggak makin ngomong ngalor ngidul nggak jelas, mening kita langsung baca kelanjutan ceritanya aja yuks. And buat yang belum baca bagian sebelumnya bisa dilihat di sini.

Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05

Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05
Sepulang kuliah Acha sengaja tidak langsung pulang kerumah. Langkahnya ia belokan kearah kafe yang biasa ia kunjungi. Tapi kali ini bukan untuk makan ataupun duduk santai seperti biasanya. Justru ia datang untuk melamar pekerjaan. Karena berdasarkan dari info yang ia dapat dari salah satu temannya, kafe yang satu itu membutuhkan karyawan tambahan. Dan sukurlah ternyata itu benar.Bahkan ia sudah langsung bisa bekerja hari itu juga. Profesi sebagai kasir menjadi pilihannya.
Jeli dan harus teliti menjadi hal utama yang ia punya untuk profesi yang di sandangnya saat ini. Terlebih pelangan kaffe tempatnya bekerja lumayan ramai pengunjung yang datang. Tak terasa hari sudah mulai malam. Barulah ia bisa pulang kerumah.
Hari pertama yang lumayan melelahkan. Apalagi ini untuk pertama kalinya Acha mulai bekerja. Namun tak urung ia merasa senang. Paling tidak ia sudah bisa untuk mulai berusaha bersikap mandiri bukan?
Setelah pamit pada teman sekerja juga bosnya Acha melangkah keluar dari kafe. Menuju kearah parkiran dimana motornya berada. Sekilas ia melirik kearah jam yang melingkar di tangannya. Pukul 09:30. Sudah cukup malam ternyata namun sepertinya jalanan masih ramai. Biasalah, namanya juga kota besar.
Setelah duduk dengan pewe di atas jog motornya, Acha mulai mengendarai motornya secara berlahan. Belum juga sepertiga perjalanan, ia merasa ada yang aneh. Laju motornya terasa mulai berkurang sebelum kemudian benar – benar mogok di jalanan.
“Ya ela, ni motor kenapa lagi?” gumam Acha sambil turun berlahan. Saat matanya melirik kearah kompas barulah ia menyadari apa yang terjadi. Ternyata ia lupa untuk mengisi benzinnya. Astaga…
“Bensinnya abis lagi, masa gue harus ngedorong si?” gerut Acha kesel. Tapi tak tau harus merasa kesel pada siapa. Dan akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga ia mulai melangkah sembari mendorong motornya.
Malam sudah mulai larut, tiba – tiba ia merasa merinding. Hari memang tak sepenuhnya gelap, masih ada lampu jalan yang sedikit menerangi, namun kan tetap saja. Saat ini hari sudah malam. Dan ia seorang cewek, sendirian lagi. Tanpa bisa di cegah pikiran buruk mulai bermain di kepalanya. Membuat rasa takut di hatinya melonjak dua kali lipat.
Walau sesekali ada beberapa mobil dan motor yang lewat. Tetap saja ia masih merasa takut. Bukan hanya pada hantu, ia juga takut gelap. Selain itu ia masih harus merasa takut pada perampok atau yang paling parah lagi pe…
Teeeetttt
Suara klakson yang tiba – tiba terdengar nyaring tepat di belakangnya membuat Acha terlonjak kaget. Dengan segera kepala gadis itu menoleh kebelakang. Mulutnya sudah siap terbuka untuk memuntahkan sumpah serapah pada manusia kurang ajar yang berani – berani mengagetkannya. Namun sepertinya kalimat itu hanya terhenti sampai di kerongkongan ketika melihat siapa yang kini berada di belakangnya.
Hantu? Oh tentu saja bukan. Walau ia percaya yang namanya hantu memang ada di dunia ini, namun Acha yakin kalau yang ada di belakangnya bukanlah makhluk dari alam berbeda darinya. Terlebih dengan helm dan motor dengan lampu yang tersorot padanya. Dugaannya sih langsung menebak kalau orang itu adalah orang jahat.
“Motornya kenapa?” terdengar tanya yang terjurus kearahnya. Acha masih belum bisa melihat dengan jelas siapa pemilik suaranya. Terlebih dengan lampu yang tersorot padanya jelas membuat matanya merasa silau.
“Loe siapa?” bukannya menjawab Acha justru malah balik bertanya sembari merasa was was.
Orang itu tidak menjawab, justru ia malah mematikan motornya. Turun berlahan menghampiri Acha. Tangannya terangkat melepaskan helm di kepalanya sehingga Acha bisa melihat dengan jelas siapa yang kini berbicara kepadannya. Namun begitu, gadis itu tetap masih merasa cemas karena ternyata ia sama sekali tidak mengenali siapa pria itu.
“Kelvin.”
Satu kalimat diiringi tangan yang terulur kearahnya membuat Acha sejenak melongo. Maksutnya apa nih? Tu orang ngajak kenalan?
“Kok loe diem aja. Nama loe siapa?”
Kalimat selanjutnya segera menyadarkan Acha dari lamunannya. Matanya masih menatap curiga kearah sosok yang berdiri dihadapannya yang kini mengoyangkan tangannya. Menanti tangan Acha yang terulur untuk menyambutnya.
“Loe ngajakin gue kenalan?” tanya Acha pada akhirnya.
“Lah, kenapa heran. Bukannya tadi loe sendiri yang nanya siapa gue?” tanya sosok yang mengaku bernama Kelvin itu. Untuk sejenak Acha kembali terdiam. Ah, benar juga. Tadikan ia sendiri yang bertanya. Oo…
“Acha,” sahut Acha akhirnya.
“Acha, senang berkenalan denganmu,” sahut Kelvin sambil tersenyum yang mau tak mau membuat Acha ikut tersenyum. “Ngomong – ngomong, motor loe kenapa?” tanya Kelvin kemudian.
Dengan nada bicaranya yang terdengar santai ditambah senyum samar diantara remangnya malam namun mampu membuat Acha sedikit demi sedikit mengilangkan syak wasangka di hati. Pendapatnya segera berubah, sepertinya Kelvin orang baik.
“Tau nih, benzinnya abis deh kayanya,” jawab Acha kemudian.
“Perlu gue bantuin?” tanya Kelvin terdngar tulus
“Loe mau ngedorong motor gue?” Acha balik bertanya dengan nada heran.
“Tentu saja tidak,” sahut Kelvin cepet, secepat Acha memajukan mulut saat mendengar jawabannya.
“Oke, loe tunggu disini.”
Tanpa menunggu kalimat balasan dari Acha, Kelvin segera berbalik kearah motornya sebelum kemudian melaju tanpa kata.
Acha masih bingung, antara kembali melanjutkan motornya atau tetap berdiri disana. Menunggu seperti yang di instruksikan Kelvin padanya. Masalahnya ia tak tau apa yang harus ia tunggu. Lagipula Kelvin tidak pernah berkata bahwa ia akan kembali.
Tepat saat Acha berniat untuk kembali mendorong motornya, Kelvin muncul dengan sebotol benzin ditangannya. Acha yang awalnya masih bingung berlahan mulai mengerti ketika Kelvin yang tampak mengoyangkan botol dihadapannya.
“Ma kasih ya,” kata Acha terdengar tulus. Apalagi ketika menyadari kalau motornya sudah bisa kembali menyala normal. Kelvin hanya tersenyum sembari mengangguk.
“Gue nggak tau gimana caranya gue bales kebaikan loe,” sambung Acha lagi. Dan jujur ia memang tidak tau. Lagi pula jarang jarang ada orang baik yang begitu kenal langsung mau bantuin.
“Loe bisa traktir gue makan siang,” sahut Kelvin yang langsung membuat Acha menoleh sembari melotot kearahnya.
“Kalau mau,” sambung Kelvin lagi.
“Makan siang?” ulang Acha, Kelvin hanya mengangguk.
“Nggak lebih mahal dari pada harga benzinnya kan?” tanya Acha lagi.
Sejenak Kelvin terdiam. Kepalanya menoleh kearah Acha dengan kening sedikit berkerut. Dan kali ini pria itu sama sekali tidak mampu menahan tawa lepas dari bibirnya saat melihat ekspresi serius di wajah Acha.
Ada yang lucu?” tanya Acha polos ketika menyadari Kelvin masih berlum menghentikan tawanya.
“Ehem” Kelvin tampak berdehem. “Harga benzin di tambah ongkos upah plus benzin gue yang di pake bolak balik juga, maka jawabannya ya. Gue yakin nggak akan lebih banyak dari itu.”
Gantian Acha yang mengernyit sebelum kemudian ikutan tertawa. Ternyata pria itu mempunyai selera humor juga.
“Baiklah, jadi kapan dan dimana gue harus ntraktir loe? Yah seperti yang loe liat sekarang udah malam. Gue harus pulang.”
Kelvin lagi – lagi mengangguk. “Keffe delima jam 12 siang, besok. Gimana?”
Acha tidak langsung menyetujuinya. Pikirnya terlebih dahulu melayang tentang agenda hari esok. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. “Baiklah. Sampai bertemu besok siang.”
Senyum Kelvin mengembang mendengarnya. Sebelum Acha benar benar berlalu mulutnya kembali terbuka untuk mengingatkan. “Pastikan loe besok datang.”
Acha tidak menjawab, hanya kepalanya yang tampak mengangguk membenarkan sembari tangannya terangakat membentuk huruf ‘o’. Setelah itu barulah ia benar benar berlalu.
To Be Continue
Oke, sampe di sini kayaknya cukup deh tokoh tokohnya. Kalau kebanyakan entar susah buat 'nyikirin' nya lagi. Ha ha ha. Bener nggak. And semoga aja deh, penulisan kedepannya bisa lebih lancar dari sebelumnya. Amin..
~ With love ~ Ana Merya~

Random Posts

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 06 { Update }

    Masih penasaran dengan kalanjutan dari Serial Diera Diary?. Kalau jawabannya emang iya mending lanjut baca postingan berikut ini deh. Soalnya admin emang sengaja muncul dengan Cerita SMA Diera Diary ~ 06. Ngomong – ngomong tinggal satu part lagi lho ketemu sama yang namanya ending. #Cihuiy…Oh iya, selain cari tau soal kelanjutan ceritannya. Kali aja ada yang belum baca cerita sebelumnya. Mendingan baca dulu gih biar nggak bingung. And nomong – ngomong bisa langsung di baca disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 05Cerita SMA Diera Diary ~ 06Sudah hampir seminggu berlalu, sepertinya Diera benar-benar menghindar dari melakukan kontak dengan Rian. Bahkan kesehariannya juga lebih banyak diem yang membuat temennya cemas.“Diera, loe kenapa sih? Akhir-akhir ini kita perhatiin loe kok kayaknya kebanyakan murung deh. Apa loe ada masalah?” Tanya Hera saat mereka ngumpul di kantin pas istirahat sekolah.“Nggak kok, gue baik-baik aja” elak Diera.“Kayaknya gue tau deh kenapa” ujar Lilly tiba-tiba sambil tersenyum.“Kenapa emang?” Anggun penasaran. Diera juga ia takut kalau Lilly tau soal ancamannya Andreani.“Loe pasti lagi bingung kan?” tebak Lilly lagi. Diera masih terdiam, tapi kemudian ia mengangguk pelan.“Emang Diera bingung kenapa li?” Narnia nggak sabar.“Biar gue tebak. Pasti saat ini loe bingung mau nerima Pasya jadi pacar loe atau nggak, ia kan?”“What?!” ujar Diera dan Hera kaget bersamaan.“Jadi Pasya udah nembak loe ra?” Anggun setengah nggak percaya.“Loe ngomong apa sih?” dalih Diera kesel.“Alah ngaku aja deh ma kita-kita. Gue tau kok kemaren sore loe jalan ma Pasya kan. Jujur aja deh?” kata Lilly lagi.“Emang sih. Tapi gue Cuma….”“Jadi kemaren loe jalan ama Pasya?” potong Narnia.Diera mengangguk membenarkan. Karena kemaren sore ia memang jalan bareng sama Pasya. Abis nya tu anak minta tolongnnya sama dia, tapi kan Cuma jalan doank nggak pake nembak segala, lagian dia tau kok Pasya sukanya sama siapa, tapi yang bikin heran kok Lilly bisa tau bahkan bisa menyimpulkan hal yang ngawur gitu.“Loe kok nggak cerita ma kita sih?” Hera terlihat kecewa.Diera jadi merasa nggak enak. Sementara temen-temennya terus mendesak. Tapi ia hanya terdiam, perhatiannya terusik sama seseorang yang baru saja berjalan melewati mejannya meninggalkan kantin.Yups. Ternyara dari tadi Rian duduk di meja yang nggak jauh darinya. Hanya saling membelakangi. Jadi Diera nggak nyadar kalau di kantin itu juga ada Rian dan pasti juga mendengar pembicaraan nya sama temen-temennya tadi.“Ayo donk ra. Loe kok gitu sih sama kita-kita,” desak Anggun.“Denger ya. Pasya tu nggak nembak gue, kemaren kita emang jalan bareng, tapi itu karena dia butuh bantuan gue, lagian Lilly kok bisa menyimpulkan hal konyol kayak gitu sih.”“Bantuin apa?” tanya Hera lagi.“Ya. Sayangnya gue nggak bisa cerita sama kalian sekarang,” balas Diera lagi.“Alah alasan. Bilang aja Pasya beneran nembak elo?” ledek Lilly lagi.“Nggak,” Diera ngotot.“Yakin….??” Lilly masih nggak percaya.“Ah tau deh.”Diera pergi keluar kantin meninggalkan temen-temennya yang masih kebingunan.Cerita SMA Diera Diary ~ 06Diera melepas mukenannya, dan kembali melipatnya. Kemudian segera di masukkan nya kembali kedalam tas. Ia melirik jam tangannya. Masih tersisa hampir setengah jam lagi pukul dua. Hari ini kan dia memang sengaja memutuskan untuk tidak pulang, abisnya ia males bolak-balik cape… apa lagi rumahnya memang lumayan jauh dari sekolah, mendingan ia tetap di sekelah aja deh.Begitu keluar dari mushola sekolah, Diera berniat untuk langsung ke perpus aja sendiRian. Sekalian mau cari resensi belajarnya, apalagi semua temen-temen deketnya pulang, memang sih tadi Narnia sempet menawari untuk ke rumahnya saja tapi ia tolak.Pas di beranda Diera nggak sengaja berpapasan sama Rian yang kebetulan juga baru mau keluar. Untuk kali ini Diera sama sekali nggak bisa menghindar untuk sejenak mereka beradu pandang. Tapi Diera buru-buru menalikannya sambil berlalu, di luar dugaan, Rian malah menghampirinya.“Mau kemana?” yanya Rian.“Gue?” Diera menunjuk dirinya sendiri. Seolah nggak percaya Rian mau menyapannya duluan.“Menurut loe?”“Gak kemana-mana sih. Palingan mau balik ke kelas,” balas Diera kemudian.“Loe udah makan siang? Kekantin yuk,” ajak Rian.“HE?!….” Diera berhenti berjalan, pandangannya tertuju kearah Rian dengan Heran.“Nggak deh, gue masih kenyang makan waktu istirahat tadi,” tolak Diera karena Rian masih menunggu jawabannya.“Mendingan gue langsung balik ke kelas aja deh, sorry ya gue jalan duluan,” sambung Diera lagi.“Kenapa? Loe nggak suka gue yang ngajak? Atau loe berharap kalau orang yang ngajak loe itu Pasya?” balas Rian ketus sambil berlalu meninggalkan Diera yang kaget dengan ucapannya.“Hei Rian, tunggu-tunggu-tunggu,” tahan Diera sambil mengejar dan berhenti tepat di depan Rian.“Maksud loe ngomong kayak gitu tadi apa sih?” Tanya Diera penasaran.Rian terdiam menatapnya sejenak, tapi kemudian kembali berlalu dari hadapan Diera yang masih menghadangnya. Diera ingin kembali mengejar ketika tiba-tiba ada yang memanggil namanya.Secara bersamaan Rian dan Diera menolah. Pasya?… Rian kembali menatap tajam kearah Diera sebelum akhirnya bener-bener berlalu pergi.“Hei, ke kantin yuk?” ajak Pasya yang kini ada di depannya mengantikan posisi Rian tadi.“Nggak deh. Gue masih kenyang” tolak Diera.“Udah tenang aja. Pokoknya loe harus ikut gue. Gue traktir deh, da yang masih ingin gue tanyain nih, masih masalah kemaren sih, lagian gue juga laper, tapi ogah makan sendiri,” tambah Pasya lagi.“Tapi….”0mongan Diera terputus karena Pasya terus memaksanya sambil menarik tangannya untuk ikut mengikutinya menuju kearah kantin. Diera nggak ada pilihan lain selain mengikutinya.Begitu menginjakkan kakinya di kantin, perhatian Diera langsung tertuju ke meja no 13. Ia bener-bener merasa nggak enak sama Rian yang terus menatapnya. Tapi Pasya segera mengajak nya untuk duduk di meja yang tak jauh dari meja Rian.“0h ya loe mau makan apa? Biar gue pesenin?” Tanya Pasya“E..gue…” Diera bingung.“Gimana kalau miso sama es rumput laut aja?” tawar Pasya.“Terserah loe aja deh,”“Kalau gitu loe tunggu di sini dulu ya. Biar gue pesenin,”Begitu Pasya pergi, Diera terus menunduk karena ia tau kalau Rian sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Sampai kemudian ia di kejutkan akan keprgian Rian yang lewat di sampingnya meninggalkan kantin. Bahkan mengabaikan teriakan ke dua temen-temennya yang tadi duduk bersamaanya.“Kenapa tu orang. Tadi dia sendiri yang bilang laper banget. Lah sekarang mesen juga belom udah main ngacir aja,” guman temen-temennya Rian yang sempet di dengar Diera sehingga membuat nya makin merasa nggak enak.“Hei kok bengong?” teguran Pasya mengagetkannya.“Eh enggak kok,” Diera mencoba tersenyum.“Loe kok sendiri aja sih tadi. Temen-temen loe pada kemana?” Tanya Pasya beberapa saat kemudian.“Semuanya pulang.”“Hera juga?” tanya Pasya lagi.“Ye nia anak. Udah di bilang semuanya juga.”“He he… lho loe sendiri kenapa nggak pulang juga?”“Nggak ah. Males aja, lagian rumah gue kan jauh, capek aja kalau harus bolak-balik gitu.”“0…”“Bullet” balas Diera singkat.“Hemm… apanya?” Pasya Heran.“Katanya ‘0’ ya bullet.”“ha, ha, bisa aja loe.”Sejenak obrolan mereka terputus akan kedatangana pelayan kantin yang mengantarkan pesanannya. Sambil menikmati hidangan sekali-kali mereka masih keasyikan ngobrol ngalor ngidul.Cerita SMA Diera Diary ~ 06Keesokan harinya, Diera sengaja memisahkan diri dari temen-temennya. Ia segera melangkah kan kaki menuju taman belakang sekolah karena tadi ia nggak sengaja melihat bayangan Rian yang menuju kesana sambil menenteng buku.“Pasti tu orang duduk di bawah pohon jambu lagi deh, kayak biasanya” batin Diera sendiri.Dan bener saja. Rian tampak asyik duduk di sana sambil baca buku. Diera ragu untuk menghampirinya, memang sih ia masih merasa nggak enak soal kejadian kemaren. Tapi kan ia juga nggak tau ntar mau ngomong apa sama Rian.“Apa hobby loe emang ngintipin gue diem-diem ya?”Diera kaget nggak nyangka kalau Rian kini sudah ada di depannya.“Eh anu. Nggak kok, gue tadi nggak sengaja lewat sini,” Diera jadi salting.“0h ya? Kebetulan banget kayaknya,” ledek Rian.“Y,a udah lah kalau loe nggak suka” Diera siap balik kanan tapi ia kaget karena justru Rian malah menahannya dengan cara menarik tangannya.“Jangan datang dan pergi sesuka hati loe, itu nggak baik.”Kata-kata Rian membuat Diera kaget. Maksudnya apa?“Duduk dulu yuk” ajak Rian tanpa melepas pegangannya dan kembali berjalan ke bangku di bawah pohon jambu tempatnya tadu duduk. Diera terpaksa manut. Abis ia bingung nggak tau harus gimana lagi.“Loe mau ngomong apa?” Tanya Rian setelah beberapa saat mereka terdiam.“E gue…” Diera masih ragu.“Kenapa?” desak Rian.“Ah ya, gue kesini mau ngembaliin ini. Sorry kelamaan,” Diera mengeluarkan jaket dari dalam tas yang tadi di bawannya.“0…” Rian mengambil jaketnya.“Bullet” ujar Diera singkat.“Maksudnya?” Rian Heran.“ya 0 nya lah, kan bullet,” balas Diera lagi sambil tersenyum, tak urung Rian ikut tersenyum juga.“Emm, makasaih ya,” kata Diera lagi. Rian hanya mengangguk, sejenak mereka kembali terdiam sampai kemudian Diera berdiri siap pamit pergi.“Jadi loe kesini Cuma mau balikin ni jaket aja?”Diera berbalik, nggak jadi pergi.“Maksud loe?” Tanya Diera Heran, tapi Rian diem saja bahkan perhatiannya malah beralih kerah buku yang tadi di bacanya.“Emang tadi nya loe piker gue kesini mau ngapain?” Tanya Diera yang masih penasaran sambil kembali duduk di samping Rian.“Nggak… tadinya gue pikir ada yang mau loe sampein ama gue, tapi kalau emang nggak ada ya udah lah. Mendingan buruan pergi aja deh sana loe,” balas Rian tanpa menoleh.“Sebenarnya emang ada sih,” guman Diera lirih sambil berbalik pergi.“Kalau emang ada kok langsung ngacir?”“HE?!” Diera kaget, nggak nyangka Rian mendengar gumannannya tadi.“Atau loe takut ada yang ngeliat kita?” sindir Rian lagi. Dan ia juga kaget karena Diera malah mengangguk membenarkan. Sementara Diera sendiri bingung dari mana Rian tau kalau ia takut smaa ancaman anderani.Lama Rian menatap Diera yang masih berdiri mematung sampai akhirnya ia sendiri yang memutuskan pergi.“Eh ya, loe mau kenama?” tahan Diera.“Balik kekelas,” balas Rian cuek.“Tapi gue kan belom ngomong.”“Ya udah kalau mau ngomong- ngomong aja cepetan. Udah gerah gue.”Diera kembali terdiam karena Rian terus menatapnya.“Eh…” Diera makin salting “Gue…”“Rian!!!”Ucapan Diera terputus oleh teriakan seseorang yang berlari menuju kearah mereka.“Ada apa ndre?” Tanya Rian begitu temennya yang tak lain adalah Andre mendekat.“Ada yang pengen gue omongin nih ma loe.” balas Andre yang masih ngos-ngosan.“Sekarang?” Tanya Rian lagi. Andre langsung mengangguk.“Mau ngomong apa?”“Loe bisa ikut gue bentar nggak?” Andre agak ragu-ragu ngomong karena melihat Diera masih ada disana.“Ya udah yuks.”“Sorry ya ra, kalau gue ngeganggu. Tapi Rian nya gue pinjem dulu, tenang. Gue Cuma bentar kok,” kata Andre sebelum pergi.“Nggak papa kok nyantai aja lagi.” balas Diera sambil tersenyum.Diera terus menatap kepergian keduannya sampai menghilang dari pandangannya. Ia juga bersiap untuk beranjak pegi ketika matanya mengangkap buku ‘ku tunggu kamu di pelaminan’ karyanya ‘jon hariyadi’ yang tergeletak di sampingnya. Sepertinya itu buku yang di baca sama Rian tadi deh. Dan ketinggalan karena Andre mengajaknya terburu-buru.Diera membolak balik setiap halamannya. Kayaknya seru juga. Ia kembali duduk dan keasyikan membaca sehingga ia tidak menyadari kehadiran Andreani dan kelima temennya yang kini sudah ada di depannya yang telah memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.“Ternyata loe sama sekali nggak ndenger omongan gue kamaren ya?”Diera kaget, dan langsung menoleh Andreani.“Ya ini gue. Kenapa? Kaget ha?!”“Andreani gue Cuma…”“Cuma apa ha?!” bentak Andreani sambil mendorong tubuh Diera sebelum gadis tersebut sempet menyelesaikan ucapannya. Tapi untunglah Diera nggak sempai jatuh karean ada yang menahan tubuhnya dari belakang. Semuannya kaget karena orang tersebut adalah Rian.“Apa-apaan ne!” bentak Rian ke Andreani cs.“Rian jangan salah paham dulu, gue Cuma mau kasi pelajaran buat cewek nggak tau diri ini” terang Andreani sambil menuding ke wajah Diera yang masih menunduk.“Cewek nggak tau diri? Maksudnya?” Rian Heran.Diera menatap Andreani dengan tatapan memohon agar tuh orang nggak ngomong macem-macem.“Ia. Loe tau nggak sih kalau dia…”“Andreani cukup!!” potong Diera.“Kenapa? Biar gue ngomong. Kayaknya Rian juga harus tau deh,” balas Andreani lagi.Rian semakin Heran jadinya.“Sebenarnya ada apa sih?’“Nggak ada apa-apa, yuk kita pergi.” ajak Diera sambil menarik Rian pergi.Tapi Angela menghalangi.“Ya udah. Gue juga pengen tau sebenarnya ada apa?” Rian akhirnya ngalah.“Sekarang loe mau ngomong apa? Cepetan,” Tanya Rian ke Andreani sambil menatap tajam Diera yang udah lemes.“Loe beneran mau tau?”“Nggak usah muter-muter. To the point aja deh.” Rian nggak sabar.“Diera suka sama loe” ujar Andreani enteng. Diera kaget. Andreani bener-bener mambocorkan rahasianya.“Itu doang?” ekspresi Rian yang cukup cuek bener-bener di luar dugaan semuannya.“Loe kok nyantai gitu sih?” angela nggak percaya.“Lho emangnya kenapa kalau Diera suka sama gue? Gue juga udah tau kok, tapi… emmm, bukannya kalian semua juga suka kan sama gue?” balas Rian nyantai. Andreani cs kehabisan kata-kata.“Loe udah tau tapi ngediemin aja dia deket deket ama elo?” Andreani masih nggak percaya.“Jangan bilang kalau loe juga suka sama dia?” tambah angela.“Kalau ia trus kenapa? Emang gue juga suka sama dia kok. Kalian keberatan?” sahut Rian nyantai.“Rian loe?!” tunjuk Andreani yang akhirnya milih pergi di ikuti temen-temennya. Rian menoleh ke sampingnya menatap Diera yang sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Kayaknya dia masih nggak percaya deh ma hal barusan yang di dengarnya.“Maksud loe tadi ngomong kayak gitu apa sih?” Tanya Diera.“Yang mana?” Rian pura-pura lupa.Tapi Diera langsung melotot manatapnya.“0 yang itu. Kalau gue bilang gue suka sama loe?”Diera mengangguk.“Lho emangnya ada yang salah?” Rian santai.“Ya iya lah. Maksudnya apa? Loe nembak gue?”“Emangnya loe nggak suka?” Rian balik masih dengan gayanya yang cuek.“Jelas aja gue nggak suka,” teriak Diera sepontan.Kali ini gentian Rian yang kaget plus syok.“Maksudnya loe nolak gue?” Rian masih nggak yakin sama pendengarannya barusan. Diera mengangguk mantap.“Sentu saja. Soalnya gue…”“Kenapa?” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya. Rasa kecewa jelas terpancar dari wajahnya.“Apa karena…” Rian tidak meneruskan ucapannya. Perhatiannya tertuju kearah Pasya yang berdiri tak jauh di belakang Diera. Sepertinya Pasya sudah lama berada di sana karena penasaran Diera berbalik.“Pasya?!” Diera kaget.“0 jadi kalian berdua udah jadian?” Tanya Pasya Heran tanpa memperdulukan ekspresi Diera yang masih kaget menyadari kehadirannya.“Nggak!”” bantah Diera cepat. Rian hanya terdiam menanggapinya.“Lho tadi bukannya Rian udah nembak loe ya. Emang loe tolak. Kenapa?” Tanya Pasya keDiera.“Loe masih berani Tanya kenapa?” sindir Rian. Diera diem aja mendengarnya, sementara Pasya malah bingung. Nggak ngerti apa maksud Rian ngomong kayak gitu sampai akhirnya Rian memilih berbalik pergi.“Eh ra. Bukan karena gue kan?” Tanya Pasya ke Diera.“Ya bukan lah. Nggak da hubungannya ma loe. Lagian loe kan sukannya sama Hera. Tadi gue Cuma nggak terima aja. Abis masa dia nembak guenya kayak gitu. Nggak ada romantis nya dikit,” sahut Diera sambil tersenyum dan sengaja mengeraskan volume suaranya.Sementara itu Rian langsung menghentikan langkahnya.“0h kirain… ya udah, loe ikut gue yuk. Projek kita belom selesai ne. Gue kan belom jadian ma Hera. Lagian loe kan udah janji mak comblang buat gue,” balas Pasya tersenyum dan sepertinya ia juga sengaja mengeraaskan pembicaraannya karena ia tau saat ini Rian pasti masih menguping pembicaraan mereka berdua.Rian berbalik. Tapi sayang Pasya udah duluan membawa Diera pergi sambil tersenyum puas karena berhasil ngerjain Rian.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 07~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Remaja Tentang Aku Dan Dia 8 { Update }

    Star Night Beneran sudah ngantuk, Jadi tidak perlu banyak bacod. Langsung saja ke Cerpen Remaja Tentang Aku Dan Dia Part 8 *nggak jadi End/hiks hiks hiks*.Credit Gambar imut : Ana Merya"Duh, Arga mana si?. Kok belum datang juga ya?. jadi pergi nggak si?" Gerut Gresia sambil terus melirik handphonnya. sekali – kali ia melongok ke jalan. Siapa tau Arga sudah nongol. Siang itu ia sudah berjanji akan menemani Arga untuk check up ke dokter. Soalnya keputusan Arga sudah final bahwa ia tidak akan mau pergi kecuali bersama Gresia. Akhirnya Gresia dengan berat hati mengalah. Tapi ternyata setelah setengah jam ia menunggu Arga masih belum menunjukan batang hidungnya.sebagian

  • Cerpen Teenlit “Dia {Nggak} Suka Aku?! ! ~ 1/2

    Lagi bingung nyari ide buat lanjutin cerpen part karena tetep nggak nemu. Yah seperti biasa, mencoba nyari ide selingan. Nulis cerpen yang di usahain bisa langsung end sekali ketik. Sebenernya emang langsung end si, tapi ternyata kepanjangan. So di jadin dua part deh. Cerpen teenlit "Dia {Nggak} suka aku?!" . Judulnya sesuatu yak, ala tebak tebakan. Soalnya phan pake tanda seru sama tanda tanya. Gimana sama cerpennya langsung simak ke bawah aja deh. Cekidots…Cerpen Teenlit "Dia {Nggak} Suka Aku?!Cerpen remaja Cinta "Dia {Ngggak} suka akuMeskipun nafasnya kini sudah ngos – ngosan, Rika tetap nekat berlari. Nggak tau ini memang harinya yang sedang sial atau apa. Yang jelas dari tadi pagi begitu banyak kejadian buruk melandanya. Mulai dari tidurnya tadi malam yang di hantui mimpi buruk, bangun pagi kesiangan. Harus ngantar adiknya, Chicy ke sekolah dulu karena motornya tiba – tiba bocor sehingga ia harus meminjam motor adiknya yang sekolahnya memang lebih deket dari rumah. Namun sialnya, ternyata saat memakai motor Cicy pun, tiba – tiba di jalan mogok juga. Dan ia tidak tau itu karena apa. Terpaksa ia dorong hingga sampai kebengkel. Karena tak ingin terlambat kesekolah, ia tinggal. Untung saja bengkelnya tidak jauh dari sekolah, sehingga ia memutuskan untuk jalan kaki saja. Sayangnya ia tetap harus berpacu dengan waktu. Lewat dari jam 07:00 gerbang sekolah akan di tutup. Jadi memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berlari.Saat melihat gerbang sekolah yang masih terbuka di kejauhan, senyum mengembang di bibir Rika. Walau keringat membasahi, ia tetap merasa gembira. Paling tidak, ia belum terlambat bukan? Lagipula selaku siswa teladan di sekolahnya, seumur hidup Rika memang belum pernah datang terlambat.Namun senyum di wajah Rika berlahan memudar sebelum kemudian benar – benar punah saat matanya menangkap sebuah senyum misterius milik seseorang yang berdiri di depan gerbang. Fadlan, rival seumur hidupnya kini tampak berdiri di sana sambil memegang gembok. Jangan bilang kalau pria itu akan mengunci pintu pagarnya. TIDAK!!!.Terlambat, saat kaki Rika tiba di sana, pintu gerbang sudah benar – benar di tutup. Membuat tenaga Rika yang sudah lemes semakin ngedrop. Matanya menatap kesel kearah Fadlan yang tampak tersenyum puas. “Fadlan. Bukain nggak!. Loe iseng banget si jadi orang!” bentak Rika kenceng.“Enggak,” balas Fadlan santai. “Ini kan udah jam 07:00. Emang sudah saatnya pintu pagar di tutup kale. Lagian salah sendiri, punya motor itu buat di tungangin. Bukan di dorong – dorong. Ha ha ha. Da da Rika, selama menikmati keterlambatannya ya. Gue masuk dulu. Bye bye,” kata Fadlan sambil melambaikan tanganya sebelum kemudian berlalu. Mengabaikan teriakan sumpa serapah Rika di belakangnya.Untunglah sepertinya Rika masih bernasip mujur. Karena beberapa saat kemudian, Pak Tarno, panjaga sekolahnya muncul. Karena ia sudah cukup di kenal di sekolah itu ia mendapat sedikit kemudahan. Sudah ia katakan bukan kalau selama ini ia selalu menjadi siswa teladan. Bahkan ketika ia menceritakan kronologi kejadianya, Pak Tarno hanya tertawa. Pria tua itu berkata, ia juga sempat heran kenapa tiba – tiba ada Fadlan menawarkan diri untuk menutup gerbangnya. Sepertinya pria itu sengaja melakukannya saat tak sengaja melihat dirinya waktu mendorong motornya yang mogok tadi. Sialan. Ketika Rika memasuki kelas, tatapan tajam segera ia arahkan kearah Fadlan yang tampak cengengesan dengan senyum tanpa dosanya. Membuat Rika yang sudah kesel semakin kesel. Dalam hati ia berjanji ia akan menyiapkan pembalasan yang setimpal untuk pria itu nantinya. Awas, liat saja. Waktu terus berlalu. Jam istirahat telah tiba. Walau kakinya terus melangkah, Rika tetap tidak berhenti mengerutu. Merasa kesel akan ulah gurunya. Ia tau kalau disekolahnya ia memang seorang yang layak di jadikan suri teladan karena sikap rajinnya. Dan jujur sebenernya ia juga merasa cukup bangga ketika guru selalu memberi perhatian lebih padannya. Sayangnya, perhatian yang di berikan kadang mencakup segala hal. Termasuk ia yang pertama sekali mendapat perhatian untuk membawa tumpukan tugas dari seisi kelas ke ruang gurunya. Ayolah, emangnya ia kacung gadungan. Mana bukunya berat. Banyak lagi. Sampai sampai itu hampir menutupi wajahnya. “Rika awas…”Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, yang Rika tau saat ini ia sudah duduk di lantai. Semua bukunya sudah bertebaran entah ke mana, sementara jidatnya sendiri benar – benar terasa berdenyut nyeri. Melihat bola yang mengelinding tak jauh darinya membuat ia bisa menebak apa yang terjadi. Begitu kepalanya menoleh, matanya langsung melotot tajam kearah Fadlan yang sedang berlari kearahnya..“Loe nggak papa?” tanya Fadlan dengan nafas yang masih ngos – ngosan. Sebelah tanganya terangkat mengusap keringat yang membasai dahinya dengan tatapan terjurus kearah Rika yang masih belum bergerak sama sekali.“Nggak papa gimana? Nggak liat ni jidat gue benjol gini?!”Fadlan terdiam. Kali ini matanya mengamati Rika dengan seksama. “Cuma dikit gitu. Manja banget sih?” kata Fadlan santai sembari berjalan kearah bola kaki yang tadi tidak sengaja ia tendang jauh saat bermain di lapangan samping sekolah yang justru nyasar kekepala Rika yang kebetulan lewat.Rika melongo. Bukan hanya karena sikap santai Fadlan tapi juga karena tiada iktikad bertangung jawab sama sekali dari makhluk itu. Terlebih saat ia melihat punggung Fadlan yang mulai berjalan meninggalkan dirinya begitu mendapatkan bolanya kembali.“Gue di bilang manja?” gumam Rika sendiri. “Eh busyed. Dasar cowok songong. Tidak bertanggung jawab. Minta maaf kek, bantuin beresin buku ini dulu kek. Dasar kurang ajar!” teriak Rika kesel, tapi Fadlan hanya membalas dengan lambaian tangan tampa menoleh sama sekali.Walau masih merasa sangat kesel, Rika akhirnya membereskan buku bukunya kembali. Merasa percuma berteriak – teriak memaki Fadlan yang sama sekali tidak perduli. Dalam hati ia terus menyumpahi makhluk itu agar celaka.Setelah menyelesaikan tugasnya, Rika segera menuju kearah kantin sekolah. Ia yakin ketiga temannya pasti sudah menunggu. Tak lupa, di belinya sebutir telur dari pemilik kantin untuk meredam benjolan di jidatnya.“Ya ampun Rika, jidat loe kenapa?” tanya Icha khawatir begitu melihat wujud Rika yang kini duduk di hadapannya. Tatapan Andriani dan Lauren juga menyiratkan rasa penasaran yang sama.“Kena bola” sahut Rika singkat.“Bola? Kok bisa?”“Ya bisa donk. Ini buktinya.”“Ye ditanya baik baik, jawabnya sewot gitu. Santai aja kali,” komentar Lauren, tapi Rika yang melongos.“Tunggu dulu. Jangan bilang kalau itu ulah Fadlan lagi?” tebak Andrani beberapa saat kemudian. Saat melihat raut kesel di wajah Rika bertambah langsung meyakinkannya kalau tebakannya benar.“Ha ha ha,” tawa koor langsung meluncu dari bibir Lauren, Andrean dan Icha. Benar – benar kontras dengan raut wajah Rika saat ini. “Nggak ada yang lucu,” gerut Rika kesel.“Ha ha ha, Beneran deh kita heran banget. Emang kali ini gimana lagi kronoligi kejadiannya. Secara seriusan tau, dari jaman dulu kala kenapa si loe nggak pernah akur sama cowok yang satu itu. Tiap hari pasti ada ada aja. Perasaan baru kemaren loe bilang loe ketabrak doi yang lagi belajar sepeda, tadi pagi loe dikunci diluar pagar sama dia, lah masa kali ini malah kena bola,” komentar Icha di sela tawanya.“Tau, tu cowok emang pembawa sial buat gue kali.”“Hush. Nggak boleh ngomong gitu tau. Entar kena batunya baru tau rasa.”“Kena batunya apaan. Orang yang gue omongin beneran juga. Sumpah ya, nggak ada orang lain di dunia ini yang gue benci selain tu cowok.”“Hati – hati sis, entar kena omongan sendiri lho. Inget, orang bilang benci sama cinta itu beda tipis. Soalnya sama sama selalu di pikiran. Entar tau tau loe jatuh cinta sama dia baru tau rasa,” kata Andini menasehati yang di balas cibiran sinis Rika. Jatuh cinta sama musuh bebuyutan? Dalam dunia mimpi juga mustahil.“Bener tuh apa yang Andini bilang. Yang kaya di Ftv atau di drama korea kan seringnya gitu. Loe yang demen nonton pasti juga nyadar itu kan Rik?” Lauren menambahkan. Icha juga tampak mengangguk angguk membenarkan. “Ngaco loe ya pada. Sembarangan aja kalau ngomong,” kesal Rika. “Lagian ni ya, walau dunia kebalik sekalipun. Itu nggak akan kejadian. Mustahil, imposible. Nggak akan pernah. NEVER!!!!” sambung Rika menegaskan. Tapi lagi lagi ketiga sahabatnya hanya tertawa. Selang waktu berlalu, seperti biasa. Setiap Pak Ivan yang masuk kekelas, Rika selalu kebagian tugas untuk mengumpulkan tugas dari teman – temannya baru kemudian membawanya keruang guru. Jika menurutkan hati, Rika ingin sekali protes. Tapi entah mengapa jika ia berhadapan langsung dengan wajah guru bahasa indonesianya itu, bibir nya selalu terkunci rapat. Bahkan biasanya senyum selalu mengambang. Ia yakin, itu pasti karena pengaruh dari wajah tampan yang di miliki Pak Ivan. Apalagi gurunya memang masih bujangan. Benar benar penganiaayan yang tidak termaafkan.Tepat saat di korirodor belokan kelasnya, dari arah yang berlawanan tampak seseorang yang belari dengan begitu kencang. Karena kemunculannya yang begitu tiba – tiba, Rika sama sekali tidak bisa menghindar sehingga tabrakan pun terjadi. Setumpuk buku yang ia bawa kini berserakan di lantai sementara ia sendiri sudah terlebih dahulu terduduk diam.“Sory … sory … sory… Gue nggak sengaja.”Mulut Rika yang terbuka untuk marah – marah terpakasa ia tahan saat melihat raut bersalah di wajah seseorang yang berjongkok di hadapannya sambil mengumpulkan buku – bukunya. Melihat dari penampilannya, sepertinya pria itu adalah adik kelasnya.“Kelvin, jangan lari loe!!”Secara refleks Rika menoleh. Hal yang sama dilakukan oleh sosok yang berada di hadapannya. Keduanya menatap kearah seorang gadis yang sedang berlari kearah mereka.“Mampus gue.”Rika mengernyit ketika mendengar gumaman lirih Kelvin. Selang beberapa saat kemudian gadis itu melongo saat mendapati buku yang telah di susun Kelvin kembali berhamburan. “Sory ya. Gue bukan nggak mau bantuin ataupun bertangung jawab. Tapi ini beneran urgen. Gue harus kabur sekarang. Beneran sory banget,” tanpa menunggu kalimat balasan sama sekali dari Rika, Kelvin langsung bangkit berdiri sebelum kemudian kabur menghilang entah kemana.“Tunggu dulu, maksutnya tu orang kabur tanpa bantuin gue sama sekali?” gumam Rika sendiri setelah sedari tadi hanya terdiam. Mungkin karena otaknya beberapa saat ini memang suka lola sehingga kali ini kurang tangkap dengan apa yang terjadi.“Akh, dasar rese. Sial banget sih gue,” gerutu Rika. Walau kesel tangannya mulai bergerak mengumpulkan buku – bukunya kembali.“Makanya kalau jalan itu hati – hati, liat kiri kanan juga.”Rika kembali menoleh. Matanya berkedap – kedip dengan mulut setengah terbuka tanpa kata. Pandangannya lurus kearah makhluk dihadapanya yang tidak menoleh sama sekali. Justru ia malah tampak sedang mengumpulkan buku milliknya. Rika tidak sedang bermimpikan? Fadlan sedang membantunya mengumpulkan buku. Fadlan?!“Lagian loe jadi cewek sok baik banget.Walaupun sesama cowok, oke gue akui kalau Pak Ivan itu keren, tapi emang harus segitunya juga ya. Mau – maunya aja loe di jadiin kacungnya.”“Yee.. apaan sih. Siapa yang di jadiin kacung. Lagian loe tumben – tumbenan perduli sama gue. Kesambet ya?” balas Rika judes.Fadlan hanya melirik sekilas sebelum kemudian bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan Rika. Melihat Fadlan yang berlalu, Rika cepat – cepat melakukan hal yang sama. Tadinya tidak berniat untuk mengejar makhluk itu. Apalagi sampai harus mengekorinya di belakang. Tapi masalahnya, sebagian buku yang harusnya ia bawa ada pada Fadlan, terlebih arah yang Fadlan ikutin adalah jalan menuju ke ruangan guru.“Fadlan, loe mau kemana si? Buku nya kenapa loe bawa?” tanya Rika sambil berusaha mensejajarkan langkahnya. Tapi Fadlan tidak bergeming, kakinya terus melangkah. Dan tau tau mereka telah sampai. Setelah menyerahkan bukunya, pria itu segera berlalu. Kali ini, barulah Rika benar – benar berniat untuk mengejarnya. Tapi bukan karena ia naksir Fadlan ya, ia Cuma penasaran akan sikap aneh makhluk itu barusan. “Loe ngapain ngikutin gue?” tanya Fadlan risih.Rika tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit menatap kearah Fadlan. Berusaha menyelidiki maksut tersembunyi dari pria itu.“Tadi itu loe ngapain? Loe bantuin gue?” tanya Rika curiga..“Heh,” Fadlan sedikit mencibir sinis. Gadis itu bodoh atau apa. Sudah jelas – jelas tadi ia memang membantu, kenapa masih bertanya. Tanpa menjawab ia terus melangkah.“Jiah, gue di cuekin. Hei serius ini. Jawab donk. Tadi itu loe kenapa bantuin gue?” kejar Rika lagi.Tiada yang menduga, Fadlan yang sedari tadi melangkah tiba – tiba berhenti mendadak dan langsung berbalik. Rika yang tidak siap dengan kemungkinan itu langsung mengerem kakinya segera. Hingga kini hanya berjarak kurang dari dua centi, wajah Fadlan jelas berada tepat di hadapnnya. Membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sebelum kemudian berdenyut dua kali lebih cepat dari biasanya. Akh, situasi ini….Cut.#Krik Krik Krik…. Bersambung…. Ha ha ha, #admin kurang kerjaan. Sory man ceman, tadinya mau di bikin oneshot, eh ternyata kepanjangan. Terpaksa deh, di potong dulu. Di jadiin dua part. Ide dadakan yang admin tulis pas kebingungan ngetik kelanjutan cerpen kenalkan aku pada cinta #gubrag.Oke, kira – kira ada yang bisa nebak {dengan benar} endingnya gimana? Kan kali aja ada yang demen berimaginasi bebas kayak admin. Xi xi xi⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ With love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal Ending

    Akhirnya cerpen Rasa yang tertinggal bisa ending juga. Ngomong ngomong, walaupun sudah ending cerpen ini bisa juga di jadikan sebagai kisah before story untuk karya selanjutnya lho. Tepatnya itu cerpen tentang rasa yang kebetulan emang gabungan dari cerpen ini dan cerpen tentang aku dan dia. Untuk jelasnya baca sendiri aja. Oh iya, hampir aja lupa. Untuk yang belum baca bagian sebelumnya mendingan baca dulu. Biar nyambung sama jalan ceritanya gitu. Biar gampang bisa langsung lewat sini. Rasa Yang TertinggalCeritakan tentang seorang wanita yang ditinggalkan kekasihnyaDan dia menangis dalam pelukanku, kusadar dia bukan miliku.Dia bercerita tentang kekasihnya, yang telah pergi meninggalkannyaDia bercerita tentang kekasihnya, yang telah pergi menutup mata.Kekasihnya telah pergi meninggal kan dia.Tinggal deraian air mata.Sesungguhnya ku tak rela melihat dia terlukaJadikan aku pengantinya.________ By _ kangen band*** Cerpen Cinta | Rasa yang tertinggal ***Sepi. sepi, tenang dan sunyi. Hanya ada hembusan angin yang berhembus pelan. Seolah ikut merasakan kepediahn sepasang anak manusia yang masih terisak di depan gundukan tanah yang masih basah di sebuah area pemakaman.“Udah Al, ayo kita pulang. Relain dia pergi dengan tenang,” walaupun sesungguhnya rasa sakit masih sangat ia rasakan tapi ia tau. Ia tidak boleh terlalu terhanyut kedalamnya karena ia sadar saat ini Alan pasti merasakan berkali – kali lipat sakitnya.“Kenapa harus dia yang pergi?” tanya Alan yang lebih tepat jika disebut rintihan.“Al, maafin gue…" hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Walau tak urung ia juga merasakan pertanyaan yang sama. Kenapa harus sahabatnya yang pergi? Kenapa gadis itu harus menyelamatkanya yang justru malah mencelakakan dirinya sendiri?“Kenapa? Kenapa harus dia yang pergi? Kenapa dia harus pergi tanpa mendengarkan alasan gue. Alasan kenapa gue lebih memilih orang yang gue cintai?" rentetan kata keluar dari mulut Alan. Septia, yang sedari tadi menemaninya bahkan setelah para pengunjung lain pergi hanya mampu menutup mulutnya. Meredakan tangis yang sedari tadi ia bendung."Gue milih orang yang gue cintai adalah karena orang itu adalah sahabat gue sendiri. Tapi kenapa dia harus pergi tanpa tau kalau orang yang gue cintai itu dia? Kenapa Tifany harus pergi tanpa tau kalau gue mencintainya," isak Alan menumpahkan kepedihan dan penyesalannya. “Al, Please jangan kayak gini…" Septia ikut berlutut di samping Alan yang masih duduk terisak.“Gue cuma pengen dia tau Sep. Dan gue juga ingin tau, gimana perasaan dia selama ini?” rintih pria itu tak bertenaga.Septia terisak. Sebelah tanganya ia gunakan untuk menyeka air mata sementara tangan yang lain ia gunakan untuk membuka tas. Mengeluarkan sebuah buku berwarna pink dari dalam baru kemudian ia sodorkan kearah Alan sembari mulutnya berujar. "Dia cinta sama loe Al."Kalimat itu tak urung membuat Alan menoleh. Tak mengerti dengan maksut ucapannya. Lebih heran lagi ketika melihat diary yang Septia tujukan untuknya."Tifany suka sama loe. Dia beneran suka sama loe. Dia ingin loe bahagia karena dia pikir loe beneran suka sama gue. Al, maafin gue… Gue… Hiks hiks hiks," Septia tidak sangup menyelesakan ucapannya. Akhirnya ia memilih meraih tangan Alan, meletakan buku itu tepat di tangannya. Saat itulah Alan mulai mengerti. Cover diari itu bertuliskan nama Tifany. Dengan tangan bergetar di raihnya benda tersebut. Membuka satu demi satu lembarannya. Kata yang tertera membuat penyesalanya makin terasa berkali kali lipat. “Ayo Al. Kita pulang,” bujuk septia lagi.Kali ini Alan mengalah. Dengan berat hati ia beranjak dari duduk dengan bantuan Septia yang memapahnya. Tenaganya terkuras habis. Namun sebelum benar benar berlalu, dikeluarkannya sebuah kotak kecil dari dalam saku baru kemudian di buka dengan perlahan. Sebuah lionti bintang kini ada di tangan. Dengan hati – hati ia letakan benda tersebut di atas batu nisan. Batu nisan yang dengan ukiran nama Tifany di atasnya. Lengkap dengan tanggal lahir dan wafatnya. Untuk sejenak ingatannya kembali ke saat ia bersama Tifany beberapa waktu yang lalu. Saat ia menanyakan alasan kenapa Tifany menganggap kalau liontin itu menarik.“Karena liontin ini berbandul bintang. Bintang yang akan mengingatkan pada seseorang. Bahwa walaupun jauh, ia tetap bercahaya. Walaupun kadang menghilang, ia selalu ada. Tak mungkin di miliki, Tapi tak bisa di lupakan. Dan akan selalu ada didalam hati kita."'Seperti sahabat', dua buah kata yang Alan temukan sebagai tambahan di akhir buku diary Tifany.“Sahabat. Bahkan sampai akhir status kita tetap sebagai sahabat. Tapi gue tetep pengen minta maaf sama loe. Sebuah kata maaf yang tidak sempat gue ucapkan ketika loe masih hidup. Maafin gue Fan, yang terlalu bodoh telah nyaitin elo."“Cukup Al, ayo kita pulang,” ajak Septia sambil menarik tangan Alan. Atau menyeret lebih tepatnya. Ia sudah tidak tahan. Hatinya terlalu sakit bila terus berada di sana. Berjuta penyesalan ia rasakan. Menyesali kebodohannya dan Alan akan permainan mereka selama ini. Dari awal ia dan Alan memang sengaja melakukan kebodohan ‘ cokelat ‘ hanya untuk mencari tau tentang perasaan Tifany yang sesungguhnya. Namun sayangnya, saat mereka sudah menemukan jawabannya, Tifany sudah terlanjur pergi. Terlanjur pergi meninggal kan sebuah rasa. ‘Rasa Yang Tertinggal'.Ending…Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 05 Of 05Jumlah kata : 665 WordsGenre : Remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*