Cerpen Terbaru Si Ai En Ti A ~ 04

Lagi mau nulis cerita yang datar – datar aja nih. Yah sedatar kisah and hidup admin saat ini lah #curcol. Lagian, gak tau mau nulis apa. Gara – gara kemaren niatnya mau santai, eh malah keterusan. #Cabe deh. Ide buat nulis, mentok. Gak tau ada dimana. Kemudian lirik cerpen yang ada di star night, terhenti pada cerpen Si Ai En Ti E. Ini cerpen satu mana lanjutannya yak? #gubrag.
Okelah, kemudian admin pun open Ms. Word. And then jadilah part ~ 04 berikut ini. Hahahai.. Happy reading aja deh ya. Untuk mempermudah pembaca part sebelumnya bisa di baca pada cerpen Si Ai En Ti E ~ 03.

cerpen si ai en ti e
Cerpen si ai en ti e

Cerpen Terbaru Si Ai En Ti A ~ 04
Langit sore yang cerah, namun tidak secerah hati Acha saat ini. Pikirannya kusut sekusut rambutnya yang belum sempet ia kramas sejak kemaren sore. Pikirannya melayang entah kemana.Tentang kuliahnya. Tentang kebutuhannya sehari hari. Juga tentang kondisi keuangan keluarga saat ini.
“Atau gue kuliah sambil kerja aja kali ya?” gumam Acha sambil mengetuk – ketukan pena di kepalanya. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat sedang berfikir di kala belajar.
Kalau di pikir lagi, itu ide yang bagus. Toh ia kuliah hanya setengah hari. Siang sampai malam ia nganggur. Dari pada waktu terbuang percuma dan hanya di isi dengan tidur – tiduran ataupun jalan jalan bersama teman – teman nya sepertinya akan lebih bagus lagi kalau ia isi dengan berkerja.
“Ngelamun mulu. Nggak bakal kaya loe.”
Lamunan Acha buyar seiring dengan denyutan yang terasa di kepalannya. Saat menoleh tatapan kesel segera ia lemparkan kearah wajah Malvin yang tersenyum tanpa rasa bersalah. Astaga, sepertinya ia mulai tau kenapa otaknya belakangan ini sering sulit untuk di gunakan berfikir. Ah itu pasti karena ulah sahabatnya yang suka asal menjitak.
“Ya ampun Malvin. Dimana – mana orang kalau datang itu ngucapin salam tau, bukan menjitak. Kalau gue jadi bodoh emang loe mau tanggung jawab?” kata Acha kesel.
Malvin hanya nyegir sambil pasang senyum tiga jari andalannya. Sementara tangannya terangkat dengan jari membentuk huruf ‘V’. Lambang perdamaian.
“Ngapain aja loe dari tadi?” tanya Malvin santai sambil duduk di samping Acha yang kini mengeser posisinya.
Memang hampir setiap sore ia selalu duduk disantai di sana. Di bangku bawah pohon jambu yang tumbuh di halaman rumahnya. Bangku yang sengaja di buat oleh ayahnya untuk bersantai memang sudah di jadikan tempat faforit bagi Acha setiap sorenya. Tak heran jika Malvin bisa langsung menghampirinya. Terlebih sosok itu memang tinggal di samping rumahnya.
“Nggak liat loe buku semua dihadapan gue. Ya tentu aja lagi belajar,” balas Acha tanpa ada niatan untuk bersikap ramah tamah. Toh ia tau. Sahabatnya tidak mungkin tersinggung dengan sikapnya.
“Belajar apaan? Perasaan sedari tadi gue perhatiin loe Cuma ngelamun aja.”
Kali ini Acha meletakan pena di hadapannya sembari menutup bukunya. Kepalanya ia tolehkan kearah Malvin tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya.
“Kenapa?” tanya Malvin heran.
“Kalau loe udah tau gue sedari tadi ngapain kenapa masih nanya?”
“Biasalah, basa basi,” balas Malvin angkat bahu.
“Terus loe sendiri ngapain nyariin gue?” tanya Acha beberapa saat kemudian.
Malvin tidak langsung menjawab. Justru pria itu malah terlihat menghebuskan nafas dengan tatapan menerawan. Kakinya yang mengantung sengaja ia goyang – goyang kan kedepan. Berhubung mereka sudah kenal cukup lama, Acha langsung bisa menebak kalau ada hal yang mengganggu pikiran sahabatnnya.
“Loe bisa cerita sama gue ada apa.”
“Acha,” panggil Malvin tanpa menoleh. “Loe yakin kalau loe cuma nganggap gue sahabat?”
“Ya?” tanya Acha dengan kening berkerut. Terkejut sekaligus heran mendengar pertanyaan aneh yang baru saja terlontar dari mulut sahabatnnya.
“Maksut loe? Kenapa loe tiba tiba-tiba nanya kaya gitu?” sambung Acha lagi karena Malvin masih terdiam.
Kali ini kepala Malvin mengeleng berlahan. “Nggak. Gue cuma tiba – tiba kepikiran aja. Mungkin nggak sih loe naksir sama gue?”
Acha tersenyum. Ditatapnya wajah sahabatnya lekat lekat. “Loe lagi ada masalah ya sama Grescy?”
Malvin langsung menoleh. Berhadapan langsung dengan wajah Acha yang ternyata juga sedang menatapnya. Tiba – tiba saja rasa bersalah merambati hatinya. Terlebih saat melihat senyum tulus di bibir Acha. Walau tak urung ia juga merasa heran, kenapa sahabatnya bisa menebak dengan benar apa yang terjadi pada dirinya.
“Harusnya gue yang heran kenapa tiba – tiba loe nanyain hal yang aneh,” komentar Acha lagi. “Udah jelas – jelas gue cuma nganggep loe sahabat kenapa loe masih nanyain hal itu lagi. Jadi, jangan salahin gue kalau gue langsung nebaknya ke masalah Grescy. Terlebih tadi siang keliatannya doi marah.”
“Loe bener,” Malvin mengangguk lemah. “Dia marah sama gue. Dia nggak percaya waktu gue bilang kalau kita cuma temenan. Buat dia nggak ada istilah seorang cewek dan cowok itu murni berteman. Pasti ada rasa suka di antara salah satunya.”
“Dan menurut loe gue suka sama loe?” tembak Acha langsung.
“Atau loe yang suka sama gue?” sambung Acha lagi yang membuat Malvin makin pasang tampang kaget plus bingungnya.
“Tentu saja tidak.”
“Ya sudah, jadi kenapa loe masih harus menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya?” tanya Acha halus.
“Gue cuma kepikiran apa yang Grescy katakan. Waktu kita jalan ke mall kemaren, ternyata dia mergokin kita. Dan dia pikir hubungan kita ada apa apanya. Dia pikir bisa ajakan, loe berusaha nutupin semuanya dari gue. Loe pura – pura baik, padahal ternyata dalam hati loe terluka. Dan seperti yang loe sering katakan selama ini, gue bisa jadi orang yang paling jahat kalau itu benar adanya”
“Ha ha ha,” tawa Acha pecah karenannya. Walau ia sudah berusaha untuk menahannya dengan menutup mulut mengunakan tangan, tapi sepertinya itu tidak berhasil. Terlebih saat melihat tampang lesu Malvin saat mengucapkannya. Tanpa kata ia melepaskan liontin yang di kenakannya selama ini sebelum kemudian menyodorkanya kearah Malvin.
“Ini apa?” tanya Malvin tak mampu menutupi rasa herannya.
“Itu liontin yang di berikan sama sahabat gue dulu waktu SMP. Sama kayak loe, dia tetangga gue juga. Bedanya rumah dia tepat di depan rumah gue. Dan dia juga cowok. Waktu di sekolah, kita sering di ledekin kalau kita itu pacaran. Tapi nyatanya, kita cuma temenan. Karena buat gue, kalau yang namanya sahabat ya sahabat, pacar ya pacar. Nggak ada istilahnya ‘Sahabat jadi pacar’ karena mustahil ‘pacar jadi sahabat’. Bener nggak sih?”
“Terus dia sekarang dimana?” bukannya menjawab Malvin justru malah lebih tertarik untuk mengetahui kelanjutan ceritannya.
Kepala Acha menggeleng berlahan. “Gue juga nggak tau. Sebenernya gue kasihan sama dia. Orang tuanya dia emang sering berantem. Bahkan kemudian mereka cerai. Waktu itu kelas 2 SMP dan dia harus milih untuk tinggal sama papa atau mamanya. Gue nggak tau dia milih siapa tapi yang jelas setelah itu mereka pindah entah kemana. Dan sejak saat itu, gue nggak pernah ketemu dia lagi.”
“Terus kenapa lionin ini bisa ada sama loe?”
Kali ini Acha tersenyum. Pertanyaan itu mengingatkannya kembali akan sahabatnya dulu. “Gue suka nonton drama itu sejak dari dulu. Dan berbeda sama loe, dia juga suka sama drama. Jadi kita sering nonton bareng. Nah, didrama yang gue tonton itu kebetulan menceritakan tentang cinta segitiga. Antara satu cewek dan dua cowok. Yang satu sahabatnya dan satu lagi kekasihnya. Entah gimana ceritanya gue lupa, yang jelas sahabat dan kekasihnya itu berantem. Yang ujung – ujungnya kekasihnya meminta sang cewek buat milih. Antara dia dan sahabatnya?”
“Dan tu cewek milih yang mana?”
“Kekasihnya,” jawab Acha menerawang. “Dan setelah nonton itulah, temen gue nanya ke gue. Kalau seandainya gue berada di posisi itu, gue akan pilih yang mana. Sahabat gue atau kekasih gue.”
“Loe jawab apa?”
“Sahabat,” sahut Acha singkat.
“Yakin loe kalau seandainya itu beneran kejadian loe bakal milih sahabat?”
“Sebenernya gue nggak yakin sih,” sahut Acha terlihat lemes. “Tapi waktu itu doi maksa. Kalau seandainya itu beneran kejadian, apa pun alasannya gue harus milih dia. Yah akhirnya gue setuju, dengan catatan dia harus janji kalau seandainya gue tetep milih dia, dia harus bantuin gue buat balikan sama pacar gue sekiranya doi marah.”
“Ha ha ha, bisa gitu?”
“Ya bisa donk. Nah, sebagai buktinya kalau seandainya di lupa, dia ngasih gue liontin itu. Sekedar pengingat janji. Makanya sekarang liontin itu ada di gue.”
Malvin mengangguk – angguk paham. Matanya memerhatikan dengan seksama benda mungil yang ada ditangannya sebelum kemudian menyerahkannya kembali kearah Acha yang langsung di sambut oleh gadis itu.
“Jadi Malvin, alasan kenapa gue nyeritain ini ke elo adalah cuma sebagai pengingat dan penjelas aja. Bahwa menurut gue, sekali sahabat tetep sahabat. Karena nggak ada dalam kamus hidup gue, naksir sama sahabat gue sendiri. Dan kalau loe memang masih ragu, kita bisa kok menjaga jarak.”
“Tunggu, bukan itu maksut gue,” potong Malvin cepat.
“Tapi itu yang Grescy mau. Loe nggak mau kan putus sama dia?” pertanyaan Acha langsung membuat Malvin bungkam. Putus dengan Grescy. Tidak, ia tidak akan sanggup. Demi apa dia sangat mencintai gadis itu, tapi disisi lain Acha adalah sahabatnya.
“Tenang aja. Gue nggak bilang kalau persahabatan kita putus kok. Gue cuma berusaha menyarankan jalan tengah di antara kita biar nggak ada yang tersakiti. Dan selama loe masih ngangep dan masih mau gue jadi sahabat loe, kita akan tetap bersahabat.”
“Janji?” tanya Malvin sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.”
Dan jawaban tegas Acha sudah lebih dari cukup untuk menyakinkannya.
To be continue
Bersambung dulu ya, Ni cerita mau di bawa kemana juga belom tau #lemes. Secara ajang buat nyari ide itu udah beneran nggak ada. Kalau dulu sih masi bisa ngandelin ‘youtube’, lah sekarang apa – apa terhalang ‘quota’ #gubrag #curcol_again. Oke deh, ketemu di next part aja lah ya.
See you… ~ Admin ~ Lovely Star Night

Random Posts

  • Cerpen Story About Us Last

    Kalau udah terjebak di Dunia nyata, kadang emang sering kepikiran mau vakum aja dari dunia tulis menulis. Tapi kalau di pikir pikir lagi, rasanya sayang mau di tinggal gitu aja, secara udah dua tahun ini. And than, jadilah ngeblog cuma sesuka – sukanya aja. Kayak sekarang…Bahkan sampe sampe Cerpen Story about us kelupaan di lanjutin. Inget juga sekali pas iseng ngeronda (????) isi blog. Jalan jalan ke hasil karya yang dulu. Wukakak, selain baru ngeh karena banyak yang amburadul ternyata juga banyak cerpen yang belon di endingin.Okelah, biar nggak kebanyakan bacod, mending yuks langsung cekidots..Story About UsBeberapa hari berlalu, Vanno masih belum bisa menjelaskan semuanya ke pada Vanny, ia masih bingung mau mulai dari mana, karena ia merasa bersalah, tapi hatinya tetap meminta nya untuk mengakui kesalahannya, tanpa terasa Vanno udah enam bulan di sana, dan urusannya juga udah selesai di rumah omnya, sekarang saat nya ia pulang ke kotanya.sebagian

  • Akhir Kisah Kita

    Akhir Kisah KitaOleh: Sania DewantiPagi ini matahari baru muncul dari ufuk Timur. Kaca jendela rumahku masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang. Pagi ini rasanya malas sekali keluar dari tempat tidurku dan pergi ke sekolah. Kalau tidak dibangun paksa ibu,aku pasti bakalan kebablasan bangun sampai siang. Seperti biasanya ayah mengantarku ke SMA 123 yang cukup terkenal di Bandung. Sesampainya di gerbang cepat-cepat aku berlari menuju kelas. Aku mengumpat “Huh,masih harus naik 2 anak tangga lagi,bakalan terlambat nih!”. Sesampainya di pintu kelas,ternyata bu Murni sudah mengabsen muridnya dari tadi. Bu Murni yang melihatku diluar kelas langsung menutup pintu dan tidak memperbolehkanku masuk. Dengan langkah lunglai aku duduk di bangku depan kelasku dan menunggu sampai pelajaran Biology selesai. “Aduh,sial banget sih aku hari ini!Harusnya tadi gak usah pake acara sarapan dulu dirumah”,aku memaki diriku sendiri.Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak laki” berlari lari. Kutajamkan penglihatanku. “Astaga! Itu kan Kemal! Jadi dia telat juga”,teriakku. Kemal adalah teman yang paling pintar dikelasku. Dia itu orangnya nyebelin sekaligus cowok yang kusukai semenjak aku duduk didepannya. Sekarang dia udah berada di depanku. “Bu Murni udah masuk kelas ya?” tanyanya dingin. Aku mengangguk. “Dasar! Mau nanya aja sikapnya udah angkuh begitu”pikirku dalam hati. Dia pun duduk di bangku sebelahku dan menunggu sampai bel pelajaran pertama usai. 10 menit kami diam tanpa bicara. Akhirnya aku ngajak dia ngobrol,sekaligus nanya soal mtk. Dia kan emang paling jago mtk dikelasku. “Eh,kamu udah ngerjain tugas Mtk belum?Boleh nanya gak?”tanyaku. “Sudah, lo mau nanya?Sorry ya gue lagi sibuk!” katanya masih bernada dingin. Aku jadi diam. “Huh,sibuk apanya?!Dari tadi juga main hp. Bilang aja gak mau bantuin.”kataku dalam hati. Kami masih duduk sampai bel pelajaran pertama usai.Kriiiiiiiiiiiing. Bu Marni pun keluar dari kelas. Aku dan Kemal segera masuk dan duduk ditempat duduk kami. Saat pelajaran Mtk pun di juga nyebelin setengah mati.”Sssst,Kemal. Tunjukkin rumus yang nomor 2 dong”,kataku sambil memohon. “Nomor 2? Masa nomor 2 aja lo gak tau sih.Pasti lo gak merhatiin guru nerangin tadi ya?Lo cari aja di buku!Salah lo sendiri gak merhatiin”,bukannya ngasih tau,dia malah marah-marah.Aku udah kesel banget. Sampai saat bel jam pulang pun aku masih kesal dengan Kemal. Saat jalan kaki menuju rumahku,aku marah” gak jelas. “Ih,salah apa sih aku sama Kemal!Kok dia jahat amat sih.Aku doa’in dia dapat musibah”,kutukku. Eh,gak taunya malah aku yang jatuh. Gara gara marah marah aku sampai gak ngeliat parit yang cukup dalam didepanku. Duh!Rasanya sakit banget.Gak kuat berdiri. Mana gak ada orang lagi buat dimintai tolong. “Heh!Mau berapa lama lo diem disitu”,kulihat arah sura itu berasal.Ternyata……Kemal! “Bisa berdiri gak?”,tanyanya. Berusaha kugerakkan kakiku,rasanya sakit sekali.Ternyata dia mengerti keadaanku langsung memapah tubuhku dan menggendongku ke belakang. Aku kaget,baru kali ini aku digendong,sama cowok pula!Dan cowok yang kusukai lagi. Mimpi apa aku semalam,meskipun dia nyebelin,tapi gak pernah ngurangi rasa sukaku dengannya.Aku jadi tersenyum sendiri. “Eh,rumah lo dimana sih? Dideket sini ya?,tannyanya. “Iya,diperumahan sana belok kiri,terus dipertigaan belok kanan.Nyampe deh”,ujarku. “Oh,terus kenapa lo bisa jatoh tadi?dasar bego!”katanya. “Gak kok,tadi cuma kepeleset aja”kataku berbohong.Gak mungkinkan aku jawab kalo aku jatuh karena mikirin dia. “Kemal,aku mau nanya,kok kamu sentimen sih sama aku tadi di sekolah. Aku kan cuma nannya baik baik,jawabnya malah ketus begitu. Kan kita bisa jadi temen”kataku. “Soal yang itu gue minta maaf deh.Abis lo sih!Gue tu lagi serius ngerjain soal malah lo ganggu”katanya “Serius nih?Berarti kita udah temenan kan?”ujarku berseri seri. “Terserah apa kata lo deh. Nih udah nyampe.Badan lo kecil tapi beratnya minta ampun”. Aku pun nyengir dan cuma bilang makasih dengannya. Dengan jalan terpincang pincang aku masuk kerumah. Hari ini seneng banget!Semenjak kejadian itu sikap Kemal kepadaku berubah.Kami jadi akrab.Main bareng bareng,jajan bareng bareng,belajar bareng bareng,tidurpun bareng bareng(haha,gak mungkin lah). Tapi semenjak sebulan terakhir,Kemal menghindariku dan gak mau main denganku. Sampai suatu hari aku melihatnya bergandengan tangan dengan seorang cewek berkulit putih dan cantik didepan gereja seusai dia berdo’a. Hatiku saat itu remuk. Malamnya aku berdoa, “Ya Allah,salahkah bila aku tulus mencintainya? Aku tau kami berbeda keyakinan. Tapi aku tak bisa bohong kalau selama ini rasa sayang ini semakin bertambah. Aku mencintainya hanya karenaMu ya Allah. Jikalau kami berjodoh nanti,maka dekatkanlah kami”,aku berdo’a khusyuk sekali. Seminggu berlalu Kemal tidak masuk sekolah.Kudengar kalau dia masuk rumah sakit. Sorenya langsung ketumui dia di rumah sakit. Aku terkejut melihat kepalanya yang sedikit botak “Kemal,kamu kok sebulan ini ngehindari aku sih?Terus kok bisa dirawat dirumah sakit?Sakit apa?”,tanyaku cemas.Kemudian dia memegang tanganku.Aku kaget,tapi tidak kutolak tangannya memegang tanganku. “La,gue pengen ngomong jujur ke elo.Sebenarnya gue ngehindarin lo biar bisa ngilangin perasaan suka gue ke elo.Gue sayang sama elo!”. Aku kaget bukan main.Jantungku berdegup kencang.Kemal?Suka sama aku? Impossible! “Ah,kamu.Jangan bercanda?Udah sakit masih sempat sempatnya bercanda”,kataku masih tak percaya. “Gak,gue gak sedang bercanda.Gue suka sama elo La. Gue ngehindari lo karena kita berbeda keyakinan.Dan gue tau itu salah.Tapi gue gak bisa bohong dan nutupi rasa sayang gue ke elo. Dan juga sekarang gue kena penyakit Kanker otak semenjak gue sd. Gue gak mau nyusahin elo karena penyakit gue ini”katanya. Apa!Kemal kena kanker? Rasanya aku ingin sekali menangis. “Mal,aku tau kita gak seiman.Aku meyakini Allah S.W.T sebagai Tuhanku dan kamu meyakini Isa Al-Masih sebagai Tuhanmu.Tapi hendaknya jikalau kita berjodoh,Tuhan gak bakalan misahain kita dengan penyakitmu ini”,kataku sesegukan. “La,udah jangan nangis.Gue gak suka liat lo nangis.”katanya sembari ngusapin air mataku. “Makanya jangan buat aku nangis dong,kamu harus kuat.Kemal yang kukenal adalah cowok yang kuat dan gak pernah mau kalah”,kataku berusaha tersenyum. “La,kamu mau gak nurutun permintaan ku. Satuuuu aja”,pintanya. Aku mengangguk,ini kali pertamanya di bicara menggunakan aku-kamu. “Tolong kamu ajari aku sholat,aku tau kita pasti bisa bersama jika kita satu keyakinan. Sekarang umurku udah 18 tahun.Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri.Mama Papa pasti ngijinin aku masuk Islam.Dan aku mencintaimu hanya karena Allah”katanya lemah. Aku terkejut karena disaat keadaannya seperti itu dia malah minta diajarin sholat dan ingin masuk islam. Aku pun membantunya berdiri dan membantunya berwudhu. Lalu mengajarinya sholat. Setelah itu sayup sayup kudengar dia mengucapkan “asyhadu an-laa ilaaha illallaa, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Aku kaget bukan main.Ternyata dia hafal 2 kalimat syahadat tanpa kuketahui sebelumnya. Dan disaat itu pula nafasnya berhenti dan meninggalkanku selamanya. Aku menangis sejadi jadinya. Tapi aku tau,ini sudah takdir Allah. Aku tak boleh menyesalinya. Kemal….adalah cowok pertama yang mengenalkanku apa artinya cinta dan kasih sayang dan kewajibanku sebagai seorang MuslimTAMATNama: Sania DewantiAlamat E-mail: setan.cantik@rocketmail.comFB: Sania Dewanti

  • Cerpen Cinta Romantis: AKU PASTI KEMBALI

    Aku Pasti Kembali Karya : putri ayu pasundan Namaku jelita, aku sekolah di sma vanderwaald. Aku duduk di kelas 1 sma. Aku termasuk siswa yang pandai, dan juga mudah bergaul. Aku mempunyai seorang sahabat dia bernama putra. Putra adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku, dilain waktu saat aku bersedih, dia yang selalu menghiburku. Suatu ketika dia memendam perasaan yang sama dan aku juga merasakannya.“jelita..” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku putra.“iya put..? ada apa?’’ tanyaku.“pulang sekolah , ikut aku ya.. aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”“oke baik.”Setelah bel pulang sekolah berbunyi, putra langsung menghampiriku dia sudah berdiri tepat di ambang pintu kelasku. Dia memanggilku sambil tersenyum.“jelita.. ayok kita berangkat.”Putra tiba-tiba mengandeng tanganku , menuruni anak tangga, Dan segera menuju ke area parkir. Kelas kami berada di lantai 3 . Aku dan dia berbeda kelas . Sejak smp kita selalu bareng. Dan sampai SMA ini. Setelah kami tiba di area parkir, putra mengeluarkan motornya yang terparkir dekat pos satpam.“ayok naik.” Putra mempersilahkan aku untuk naik ke motornya, dan kini kami berangkat meninggalkan area parkir. Juga sekolah.“kita mau kemana?’’ tanyaku kepadanya.“ke suatu tempat. Dan kamu pasti suka.” Setelah beberapa menit di perjalanan , kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata putra mengajakku ke sebuah taman bermain. Di taman tersebut . terpampang air mancur yang begitu indah, banyak sekali bunga-bunga yang berwarna warni. Kami berdua duduk di kursi dekat taman.“jelita… “ panggil putra kepadaku, sorotan mata tajam nya yang takkan pernah ku lupakan sejak dulu . deg…. Jantungku berdebar-debar. Aku tak mengerti tentang perasaan ku padanya, sudah 5 tahun kami bersama.. saling melengkapi satu sama lain. Tapi, tak pernah aku mengerti hubunganku dengannya.. yang aku tau, aku dan dia bersahabat.“putra, kok nangis?’’ tanyaku padanya. Putra meneteskan air matanya perlahan demi perlahan . ku apus air matanya yang membasahi kedua pipinya..“aku gak nangis, aku Cuma bahagia aja punya sahabat kaya kamu.” Di usap rambutku dengan kelembutan tangannya. Putra memang sahabatku , dan juga kakak bagiku. karena itu aku tak mau kehilangannya.“jelita, suatu saat nanti, aku gak bisa terus berada di sisi kamu, kamu harus bisa nantinya tanpa aku. Aku gak mau terus-terusan jadi benalu yang selalu ada di hidupmu. Kamu harus bisa jalani hidup , dan mungkin tanpa aku. ingat janji kita dulu. Kalo kita akan selalu bersama.”“putra kok ngomongnya gitu, tanpa kamu hidup jelita ga mungkin seceria ini. Karna kamu, hidup jelita bahagia dan lebih berwarna. Kalaupun nantinya putra ninggalin jelita, jelita akan cari putra sampai kapanpun dan bakal nungguin putra sampai putra kembali. Entah beberapa lamanya”“tapi, inget. Kalo putra gak ada di samping kamu lagi. Kamu janji harus selalu tersenyum.”“iya, jelita janji… jelita akan selalu tersenyum untuk kamu.”Hari sudah semakin berlarut. Meninggalkan semua kisah yang ada. Taman tersebut menjadi ikatan janji mereka.***Keesokan harinya di sekolah, tepat pukul 06:15 menit.“jelita, ini ada surat untuk kamu.”dihampirinya jelita , Di kasihnya sepucuk surat itu untuknya yang terpampang besar siapa nama pengirim surat itu. yaitu “putra” .Deg…… hati jelita tiba-tiba gelisah tak menentu. Tak mengerti apa yang sedang iya rasakan saat ini. Di bukanya isi surat itu perlahan.“jelitaa… ini aku putra, maafin aku ya kemarin aku gak sempet berfikiran untuk ngomong ke kamu. Karna semua itu terlalu berat untukku. Aku gak sanggup ninggalin kamu disini. Mungkin, saat kamu baca surat ini aku sudah tiba di Kalimantan. Papaku dinas disana, dan terpaksa aku ikut dengannya. Maafin aku ya jelita. Inget janji kita. Kamu harus tetap tersenyum. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.“Di akhirinya akhir surat itu. Jelita yang hanya bisa diam membisu dan pucat pasi di tempat duduknya. Perlahan iya menteskan air mata dan tidak percaya akan semuanya. Tak pernah iya mengerti akan semua perasaannya. Sedih, kecewa, semuanya yang iya alami saat ini. Tak sempat iya mengatakan tentang perasaannya yang sebenernya kepada putra. Cinta… mungkin ini yang aku rasakan. Perasaan itu tak pernah ku sadari sebelumnya, setelah kepergianmu baru aku menyadari.. cinta itu ada.***Setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi kerumah putra. Tetapi hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang menjawab sapaanku. Rumah itu kosong. Jelita tak tau harus mencari putra kemana lagi. Akhirnya , aku memutuskan untuk pergi ke Taman kemarin, terakhir kali aku bertemu dengannya, bersamanya…. Taman itu sepi.. tak seperti biasanya, tak banyak orang yang lewat area taman bermain itu. dihampirinya kursi taman tempat aku duduk bersama putra waktu itu. Aku mengingat kembali perpisahan terakhirku dengannya. Aku meneteskan air mata.***Setelah 2 tahun aku menunggu, putra tak juga ada kabar. Selama itu aku tak pernah seceria dulu. Hanya kesedihan yang tampak di wajahku. Sesering kali aku mengingat kenangan itu, itu membuatku sakit. Sekalipun aku mencoba melupakannya, itu akan semakin sakit. Beberapa sering aku memutar lagu pasto’aku pasti kembali’ liriknya yang benar-benar menyentuh hatiku.Reff : aku hanya pergi tuk sementara..bukan tuk meninggalkanmu selamanya..aku pasti kan kembali, pada dirimu ..tapi kau jangan nakal.. aku pasti kembali…..selama 2 tahun, kenangan itu menghantui harii-hari ku . tang sanggup aku melupakannya. Kini aku benar-benar mencintainya. Cinta bukan lagi sekedar sahabat , tetapi perasaan yang lebih dari pada itu.hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17 , sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 sma, sekalipun aku ingin pindah ke lain hati dan berpaling dari putra, aku masih takut. Karena luka yang ada di hatiku masih ada. Setelah malam kian tiba, putra tak juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal hanya sapaannya, dan ucapannya yang begitu berarti untukku..hari ini sweet seventeen ku. Dan mungkin itu semua tak ada artinya kalau putra tak ada di sampingku. Malam ini aku ingin sekali pergi ke taman itu. untuk menenangkan diri disana, mungkin hanya beberapa saat. Aku akhirnya memutuskann untuk pergi kesana dan meninnggalkan acara dan tamu undangan yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke 17 itu. aku pergi ke sana dengan di temani supir papaku dan setelah beberapa menit di perjalanan, aku tiba di taman itu. aku tak menyangka.. begitu indah suasana taman tersebut dengan lampu lampion-lampion yang khas terpampang disana. Dekorasi lampu-lampu kecil di setiap pohon yang mengelilingi menambah indah suasana taman itu. aku duduk di kursi putih taman itu. tiba-tiba beberapa saat aku memejamkan kedua mataku dan membukanya kembali aku melihat sesosok putra di depan mataku. Dia tampak berbeda dari dahulu, aku tak percaya kini dia ada di depan mataku, atau mungkin ini hanya ilusiku.“happy birthday jelita.. aku nepatin janjiku kan , kita pasti bertemu kembali. Dan aku pasti kembali.”“ini benar kamu?’’ tanyaku tak percaya.“iya, ini aku. aku putra.”“kemana aja kamu, kamu gatau aku disini sedih mikirin kamu, kamu gak ada kabar dan hilang gitu aja.”“maafin aku, aku Cuma gak mau ganggu konsentrasi belajar kamu.”Putra menghampiriku dan memberiku sekotak bingkisan tanda ucapan ulang tahunku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung yang berukiran tulisan nama kita berdua. Gaun cantik yang aku kenakan malam itu saat ulang tahunku berwarna putih, dan juga putra, membawa bunga mawar merah kesukaaanku dan ia mengenakan jas kemeja putih.“aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Aku gak bisa tanpamu. Aku mencintaimu, aku sayang kamu jelita.” Kini dia menggutarakan isi hatinya, hanya itu kata yang aku tunggu selama ini dari mulutnya.“akupun begitu. Ini adalah hari terindahku. Kamu kembali, untuk menjadi sahabatku, juga kekasih bagiku…..”_The end_Biodata penulis : Putri ayu pasundanJakarta, 23 january 1997FB : Puteri pasundan

  • Cerpen cinta King Vs Queen ~06

    Sebelum langsung ke cerita, saia selaku admin blog star night mau cuap – cuap dikit boleh kan?. Ehem, gini lho jeng (Berasa kaya arisan deh). Ternyata kalo di pikir – pikir lagi, saia udah lama banget ya gak nulis. Entah kenapa Semangat buat nulis Pada ngilang. Postingan yang muncul (??) juga bukan karya saia, tapi karyanya adex. Nah, biar saia semangat lagi buat nulis kayak dulu, kira – kira ada yang bisa ngasi saran n masukan gak?… ^_^Cerpen cinta King Vs Queen ~06"Kakak apa-apaan sih…" kata Niken begitu Nino duduk di sampingnya, sore sepulang dari campus."Lho, Emang kenapa? kakak baru pulang nih, jangan yang aneh-aneh deh…" kata Nino sambil memakan pisang goreng yang tadi di goreng mamanya."Siapa yang aneh, sepertinya kakak udah tertular virusnya Gilang deh, masa' ngomong Niken itu aneh" Niken jadi cemberut.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*