Cerpen Terbaru Si Ai En Ti A ~ 04

Lagi mau nulis cerita yang datar – datar aja nih. Yah sedatar kisah and hidup admin saat ini lah #curcol. Lagian, gak tau mau nulis apa. Gara – gara kemaren niatnya mau santai, eh malah keterusan. #Cabe deh. Ide buat nulis, mentok. Gak tau ada dimana. Kemudian lirik cerpen yang ada di star night, terhenti pada cerpen Si Ai En Ti E. Ini cerpen satu mana lanjutannya yak? #gubrag.
Okelah, kemudian admin pun open Ms. Word. And then jadilah part ~ 04 berikut ini. Hahahai.. Happy reading aja deh ya. Untuk mempermudah pembaca part sebelumnya bisa di baca pada cerpen Si Ai En Ti E ~ 03.

cerpen si ai en ti e
Cerpen si ai en ti e

Cerpen Terbaru Si Ai En Ti A ~ 04
Langit sore yang cerah, namun tidak secerah hati Acha saat ini. Pikirannya kusut sekusut rambutnya yang belum sempet ia kramas sejak kemaren sore. Pikirannya melayang entah kemana.Tentang kuliahnya. Tentang kebutuhannya sehari hari. Juga tentang kondisi keuangan keluarga saat ini.
“Atau gue kuliah sambil kerja aja kali ya?” gumam Acha sambil mengetuk – ketukan pena di kepalanya. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat sedang berfikir di kala belajar.
Kalau di pikir lagi, itu ide yang bagus. Toh ia kuliah hanya setengah hari. Siang sampai malam ia nganggur. Dari pada waktu terbuang percuma dan hanya di isi dengan tidur – tiduran ataupun jalan jalan bersama teman – teman nya sepertinya akan lebih bagus lagi kalau ia isi dengan berkerja.
“Ngelamun mulu. Nggak bakal kaya loe.”
Lamunan Acha buyar seiring dengan denyutan yang terasa di kepalannya. Saat menoleh tatapan kesel segera ia lemparkan kearah wajah Malvin yang tersenyum tanpa rasa bersalah. Astaga, sepertinya ia mulai tau kenapa otaknya belakangan ini sering sulit untuk di gunakan berfikir. Ah itu pasti karena ulah sahabatnya yang suka asal menjitak.
“Ya ampun Malvin. Dimana – mana orang kalau datang itu ngucapin salam tau, bukan menjitak. Kalau gue jadi bodoh emang loe mau tanggung jawab?” kata Acha kesel.
Malvin hanya nyegir sambil pasang senyum tiga jari andalannya. Sementara tangannya terangkat dengan jari membentuk huruf ‘V’. Lambang perdamaian.
“Ngapain aja loe dari tadi?” tanya Malvin santai sambil duduk di samping Acha yang kini mengeser posisinya.
Memang hampir setiap sore ia selalu duduk disantai di sana. Di bangku bawah pohon jambu yang tumbuh di halaman rumahnya. Bangku yang sengaja di buat oleh ayahnya untuk bersantai memang sudah di jadikan tempat faforit bagi Acha setiap sorenya. Tak heran jika Malvin bisa langsung menghampirinya. Terlebih sosok itu memang tinggal di samping rumahnya.
“Nggak liat loe buku semua dihadapan gue. Ya tentu aja lagi belajar,” balas Acha tanpa ada niatan untuk bersikap ramah tamah. Toh ia tau. Sahabatnya tidak mungkin tersinggung dengan sikapnya.
“Belajar apaan? Perasaan sedari tadi gue perhatiin loe Cuma ngelamun aja.”
Kali ini Acha meletakan pena di hadapannya sembari menutup bukunya. Kepalanya ia tolehkan kearah Malvin tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya.
“Kenapa?” tanya Malvin heran.
“Kalau loe udah tau gue sedari tadi ngapain kenapa masih nanya?”
“Biasalah, basa basi,” balas Malvin angkat bahu.
“Terus loe sendiri ngapain nyariin gue?” tanya Acha beberapa saat kemudian.
Malvin tidak langsung menjawab. Justru pria itu malah terlihat menghebuskan nafas dengan tatapan menerawan. Kakinya yang mengantung sengaja ia goyang – goyang kan kedepan. Berhubung mereka sudah kenal cukup lama, Acha langsung bisa menebak kalau ada hal yang mengganggu pikiran sahabatnnya.
“Loe bisa cerita sama gue ada apa.”
“Acha,” panggil Malvin tanpa menoleh. “Loe yakin kalau loe cuma nganggap gue sahabat?”
“Ya?” tanya Acha dengan kening berkerut. Terkejut sekaligus heran mendengar pertanyaan aneh yang baru saja terlontar dari mulut sahabatnnya.
“Maksut loe? Kenapa loe tiba tiba-tiba nanya kaya gitu?” sambung Acha lagi karena Malvin masih terdiam.
Kali ini kepala Malvin mengeleng berlahan. “Nggak. Gue cuma tiba – tiba kepikiran aja. Mungkin nggak sih loe naksir sama gue?”
Acha tersenyum. Ditatapnya wajah sahabatnya lekat lekat. “Loe lagi ada masalah ya sama Grescy?”
Malvin langsung menoleh. Berhadapan langsung dengan wajah Acha yang ternyata juga sedang menatapnya. Tiba – tiba saja rasa bersalah merambati hatinya. Terlebih saat melihat senyum tulus di bibir Acha. Walau tak urung ia juga merasa heran, kenapa sahabatnya bisa menebak dengan benar apa yang terjadi pada dirinya.
“Harusnya gue yang heran kenapa tiba – tiba loe nanyain hal yang aneh,” komentar Acha lagi. “Udah jelas – jelas gue cuma nganggep loe sahabat kenapa loe masih nanyain hal itu lagi. Jadi, jangan salahin gue kalau gue langsung nebaknya ke masalah Grescy. Terlebih tadi siang keliatannya doi marah.”
“Loe bener,” Malvin mengangguk lemah. “Dia marah sama gue. Dia nggak percaya waktu gue bilang kalau kita cuma temenan. Buat dia nggak ada istilah seorang cewek dan cowok itu murni berteman. Pasti ada rasa suka di antara salah satunya.”
“Dan menurut loe gue suka sama loe?” tembak Acha langsung.
“Atau loe yang suka sama gue?” sambung Acha lagi yang membuat Malvin makin pasang tampang kaget plus bingungnya.
“Tentu saja tidak.”
“Ya sudah, jadi kenapa loe masih harus menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya?” tanya Acha halus.
“Gue cuma kepikiran apa yang Grescy katakan. Waktu kita jalan ke mall kemaren, ternyata dia mergokin kita. Dan dia pikir hubungan kita ada apa apanya. Dia pikir bisa ajakan, loe berusaha nutupin semuanya dari gue. Loe pura – pura baik, padahal ternyata dalam hati loe terluka. Dan seperti yang loe sering katakan selama ini, gue bisa jadi orang yang paling jahat kalau itu benar adanya”
“Ha ha ha,” tawa Acha pecah karenannya. Walau ia sudah berusaha untuk menahannya dengan menutup mulut mengunakan tangan, tapi sepertinya itu tidak berhasil. Terlebih saat melihat tampang lesu Malvin saat mengucapkannya. Tanpa kata ia melepaskan liontin yang di kenakannya selama ini sebelum kemudian menyodorkanya kearah Malvin.
“Ini apa?” tanya Malvin tak mampu menutupi rasa herannya.
“Itu liontin yang di berikan sama sahabat gue dulu waktu SMP. Sama kayak loe, dia tetangga gue juga. Bedanya rumah dia tepat di depan rumah gue. Dan dia juga cowok. Waktu di sekolah, kita sering di ledekin kalau kita itu pacaran. Tapi nyatanya, kita cuma temenan. Karena buat gue, kalau yang namanya sahabat ya sahabat, pacar ya pacar. Nggak ada istilahnya ‘Sahabat jadi pacar’ karena mustahil ‘pacar jadi sahabat’. Bener nggak sih?”
“Terus dia sekarang dimana?” bukannya menjawab Malvin justru malah lebih tertarik untuk mengetahui kelanjutan ceritannya.
Kepala Acha menggeleng berlahan. “Gue juga nggak tau. Sebenernya gue kasihan sama dia. Orang tuanya dia emang sering berantem. Bahkan kemudian mereka cerai. Waktu itu kelas 2 SMP dan dia harus milih untuk tinggal sama papa atau mamanya. Gue nggak tau dia milih siapa tapi yang jelas setelah itu mereka pindah entah kemana. Dan sejak saat itu, gue nggak pernah ketemu dia lagi.”
“Terus kenapa lionin ini bisa ada sama loe?”
Kali ini Acha tersenyum. Pertanyaan itu mengingatkannya kembali akan sahabatnya dulu. “Gue suka nonton drama itu sejak dari dulu. Dan berbeda sama loe, dia juga suka sama drama. Jadi kita sering nonton bareng. Nah, didrama yang gue tonton itu kebetulan menceritakan tentang cinta segitiga. Antara satu cewek dan dua cowok. Yang satu sahabatnya dan satu lagi kekasihnya. Entah gimana ceritanya gue lupa, yang jelas sahabat dan kekasihnya itu berantem. Yang ujung – ujungnya kekasihnya meminta sang cewek buat milih. Antara dia dan sahabatnya?”
“Dan tu cewek milih yang mana?”
“Kekasihnya,” jawab Acha menerawang. “Dan setelah nonton itulah, temen gue nanya ke gue. Kalau seandainya gue berada di posisi itu, gue akan pilih yang mana. Sahabat gue atau kekasih gue.”
“Loe jawab apa?”
“Sahabat,” sahut Acha singkat.
“Yakin loe kalau seandainya itu beneran kejadian loe bakal milih sahabat?”
“Sebenernya gue nggak yakin sih,” sahut Acha terlihat lemes. “Tapi waktu itu doi maksa. Kalau seandainya itu beneran kejadian, apa pun alasannya gue harus milih dia. Yah akhirnya gue setuju, dengan catatan dia harus janji kalau seandainya gue tetep milih dia, dia harus bantuin gue buat balikan sama pacar gue sekiranya doi marah.”
“Ha ha ha, bisa gitu?”
“Ya bisa donk. Nah, sebagai buktinya kalau seandainya di lupa, dia ngasih gue liontin itu. Sekedar pengingat janji. Makanya sekarang liontin itu ada di gue.”
Malvin mengangguk – angguk paham. Matanya memerhatikan dengan seksama benda mungil yang ada ditangannya sebelum kemudian menyerahkannya kembali kearah Acha yang langsung di sambut oleh gadis itu.
“Jadi Malvin, alasan kenapa gue nyeritain ini ke elo adalah cuma sebagai pengingat dan penjelas aja. Bahwa menurut gue, sekali sahabat tetep sahabat. Karena nggak ada dalam kamus hidup gue, naksir sama sahabat gue sendiri. Dan kalau loe memang masih ragu, kita bisa kok menjaga jarak.”
“Tunggu, bukan itu maksut gue,” potong Malvin cepat.
“Tapi itu yang Grescy mau. Loe nggak mau kan putus sama dia?” pertanyaan Acha langsung membuat Malvin bungkam. Putus dengan Grescy. Tidak, ia tidak akan sanggup. Demi apa dia sangat mencintai gadis itu, tapi disisi lain Acha adalah sahabatnya.
“Tenang aja. Gue nggak bilang kalau persahabatan kita putus kok. Gue cuma berusaha menyarankan jalan tengah di antara kita biar nggak ada yang tersakiti. Dan selama loe masih ngangep dan masih mau gue jadi sahabat loe, kita akan tetap bersahabat.”
“Janji?” tanya Malvin sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.”
Dan jawaban tegas Acha sudah lebih dari cukup untuk menyakinkannya.
To be continue
Bersambung dulu ya, Ni cerita mau di bawa kemana juga belom tau #lemes. Secara ajang buat nyari ide itu udah beneran nggak ada. Kalau dulu sih masi bisa ngandelin ‘youtube’, lah sekarang apa – apa terhalang ‘quota’ #gubrag #curcol_again. Oke deh, ketemu di next part aja lah ya.
See you… ~ Admin ~ Lovely Star Night

Random Posts

  • Cerpen Remaja Terbaru “Tentang Rasa” 01 {Update}

    Ehem, masih pada inget kan cerpen remaja tentang aku dan dia. Atau cerpen cinta rasa yang tertinggal?. Kalau lupa silahkan di flashback ke belakang. Soalnya kali ini Penulis datang membawa cerpen terbaru yang 'katanya' masih berhubungan sama kedua cerpen tersebut. Tiga sih sebenernya. Cuma yang satunya hanya bisa di cek langsung disini.Nah, cerpen terbaru kali ini Penulis ambil dari pengabungan kedua judul cerpen tersebut. Soal jalan cerita liat ntar aja deh. Yang jelas nie cerpen tercipta karena merasa rasa yg tertingal bukan gaya star night banget. Tau kenapa?. Karena penulis beneran benci SAD ENDING. Alasannya Dunia nyata sudah cukup menyedihkan so kenapa harus pake di bawa ke dunia cerpen segala?. *Lebay*.Okelah, Penulis udah terlalu banyak bacod kayaknya, mending langsung ke lokasi yuk.Credit Gambar : Ana Merya"Antara maaf dan terima kasih, bukankah kata terima kasih itu lebih baik?.*adaptasi dari my girlfriend is gumiho*."dibalik sikapnya yang terlihat dingin dan begitu cuek, tersimpan begitu banyak rasa dan cerita yang membuat aku semakin tertarik untuk mengenalnya".Cerpen Remaja Terbaru"gila, tu mahasiswa baru keren banget si. Sayang anaknya cuek gitu" kata anya sambil mengaduk – aduk mi ayamnya.sebagian

  • Cerpen Cinta “Dalam Diam Mencintaimu” 02/04

    #EditVersion. Oke guys, acara edit mengedit masih berlanjut. Masih seputar kisah cinta si Irma bareng si Rey yang di bungkus dalam cerpen dalam diam mencintaimu. Semoga aja kalian pada suka. Sekedar info, selain cerpen Requesan, cerpen ini juga kado ulang tahun untuk tu cewek. :D. Okelah, untuk yang penasaran sama kelanjutannya bisa langsung cek ke bawah. Untuk yang penasaran sama cerita sebelumnya bisa dicek disini.Dalam Diam MencintaimuSetelah hampir separuh jalan menuju kampus, Rey menghentikan motornya. Lagi – lagi ia menghembuskan nafas berat. Setelah berpikir untuk sejenak, ia kembali membalikan arah motornya. Tujuannya pasti. Halte bus yang tak jauh dari rumah. Walau kesel namun ia sadar, seumur – umur ia tidak pernah membiarkan Irma pergi kekampus sendirian.Sampai di halte Rey merasa makin kesel sekaligus kecewa karena ternyata bis sudah berlalu. Memang belum jauh si, tapi mustahil ia mengejarnya hanya untuk meminta Irma agar pergi bersamanya. Memang alasan apa yang bisa ia pakai jika gadis itu menanyakannya. Akhirnya ia kembali melajukan motor kearah kampus, sengaja mengebut untuk mendahului bus itu. Perduli amat dengan Vhany, toh kemaren juga hanya basa – basi doank. Tadi juga ia hanya berniat untuk mengetes reaksi Irma saja.Sesampainya di kampus, Rey segera melangkah kearah gerbang sambil terus berpikir. Kira – kira nanti ia harus menjawab apa jika Irma bertanya tentang Vhany. Dan belum sempat ia menemukan jawabannya, bus yang ditunggu muncul dihadapan.Sampai bus kembali berjalan Rey masih tak menemukan sosok Irma diantara para penumpangnya. Tiba – tiba ia merasakan firasat buruk. Dengan cepat di keluarkannya hape dari saku. Menekan tombol nomor 1, panggilan cepat yang sengaja ia seting untuk gadis itu.“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau…..”Rey segera menekan tombol merah saat mendengar suara operator sebagai balasannya. Pikirannya makin kusut. Ya tuhan, kemana perginya anak itu?.*** Dalam diam mencintaimu ***Tak tau mau kemana, akhirnya Irma menghentikan langkahnya. Pikirannya kusut, sampai kemudian sebuah ide terlintas di kepala. Tanpa pikir panjang lagi segera di keluarkannya hanphond dari dalam saku. Begitu melihat id yang di cari, ia langsung menekan tombol calling. Semenit kemudian ia mematikan panggilan dan langsung menghentikan taksi yang lewat. Namun bukannya kekampus, taman kota menjadi pilihannya.“Kenapa si gue harus berurusan lagi sama masalah ‘cinta’ yang bikin ribet?”“Lagi? Maksut loe?” tanya Irma saat mendengar nada mengeluh dari mulut Fadly. Sepupu nya yang sengaja ia ‘paksa’ untuk menghibur hati yang galau.Fady tidak langsung menjawab. Namun kepalanya mengangguk membenarkan. Tangan dengan santai memainkan ‘kembang sepatu’ yang ia petik sembarangan dari pohon yang tumbuh terawat di taman kota. Tempat yang kini di jadikan ajang curhat oleh Irma yang nekat bolos kuliah.“Kemaren temen gue waktu masih SMA juga bingung soal kisah cintanya. Namanya Rangga, udah jelas – jelas dia cinta sama pacarnya. Eh malah kerena mantan cewek yang di suka muncul lagi dia jadi galau. Untung aja kisahnya happy ending. La sekarang loe juga sama. Udah jelas – jelas loe katanya suka sama sahabat sekaligus tetangga loe, eh malah di ‘jodohin’ sama temen loe sendiri. Kalau memang niat bunuh diri kenapa gak loncat dari tebing aja si?”“Sialan loe,” gerut Irma kesel. “Yang bilang gue pengen bunuh diri siapa? Lagian nie ya, masa ia harus gue yang ngomong duluan kalau gue suka. Mending kalau dia juga suka ma gue, la kalau enggak? Yang ada nie ya, bukannya malah happy ending justru hubungan kita malah jadi berantakan. Hu. Ogah deh."“Terus sekarang maunya apa?” tanya Fadly lagi.“Tau… hibur gue donk. Lagi galau nie. Kira – kira obat galau apa ya?” tanya Irma lagi.“Baygon cair." #Ini Beneran Saran dari oma kan?. -,-'“Pletak”Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Fadly atas balasan saran ngawurnya.“Iya. Kalau minum baygon, galau memang menghilang, tapi nyawa juga melayang."“Ha ha ha, itu pinter….” Fadly tergelak. “Lagian loe pake galau segala. Kayak manusia aja,” sambung Fadly terdengar mengerutu.“Gue emang manusia,” geram Irma makin gondok.Emosi bener deh ngadepin nie anak satu. Tiba – tiba ia jadi merasa menyesal minta di temani dia. Tau gini mendingan ia minta temenin Vieta aja kali ya. Walau tu anak polosnya udah kebangetan tapi paling nggak dia kalau ngomong gak nyelekit.“Kalau loe emang manusia berlakulah layaknya manusia," nasehat Fadly lirih.“ Maksudnya?”“Dengar Irma. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, itu memang bener. Tapi paling nggak berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan terlalu cepat mengalah, apa lagi terburu – buru menentukan akhirnya yang jelas – jelas belum kita ketahui,” terang Fadly, kali ini dengan tampang serius. Irma terdiam. Mencoba mencerna maksud dari ucapan sepupunya barusan. “Tumben loe pinter."“Pletak”“Membalas itu selalu lebih baik dari pada tidak ada balasannya,” kata Fadly cepat sebelum Irma sempat protes karena jitakan yang mendarat di kepalanya.“Ya…. sekali-kali ngalah sama cewek kenapa si. Astaga, loe kan cowok."“Gue emang cowok. Yang bilang gue banci kan cuma elo. So, kalo sama loe gue belaga jadi banci aja deh,” balas Fadly dengan santainya. Membuat Irma hanya mampu melongo tanpa bersuara. Ini orang beneran ajaib."Oh ya, loe katanya galau kan? Ya sudah, hari ini gue jadi sepupu yang baik deh. Kita jalan – jalan yuk. Suntuk juga disini mulu. Lagian gue juga udah lama nggak balik kesini. Kangen juga sama suasananya," ajak Fadly beberapa saat kemudian.Sejenak Irma berpikir. Sepertinya itu ide bagus. Terlebih juga ia sudah kadung membolos. Akhirnya tanpa pikir panjang ia segera menyetujui saran Fadly barusan. Setelah puas jalan – jalan, tau – tau hari sudah sore. Saatnya Fadly untuk segera mengantarnya kerumah.Begitu Fadly pergi, Irma berniat untuk segera melangkah masuk kerumah. Sedikit banyak pikirannya sudah mulai plong. Ternyata pada akhirnya Fadly memang bisa menghibur. Namun belum juga kakinya menginjakan beranda rumah, sebuah teriakan menghentikan langkahnya.“Rey? Kenapa?” tanya Irma heran saat mendapati Rey yang berdiri di depan gerbang. Tangannya segera mengisaratkan pria itu untuk mendekat.“Loe kemana aja? Kenapa hari ini bolos? Terus tadi yang nganterin loe siapa?” pertanyaan memberondong meluncur dari mulut Rey.Untuk sejenak Irma terdiam. Kejadian tadi pagi kembali membayang di ingatannya. Apalagi saat ia tau kalau Rey dan Vhany… entah lah, tiba – tiba moodnya kembali down. Setelah terlebih dahulu menghela nafas ia berujar singkat.“Bukan urusan loe kan?"Selesai berkata Irma langsung berniat melangkah masuk, tapi tangan Rey sudah terlebih dahulu mencekalnya. Irma berusaha untuk melepaskan, tapi sepertinya tenaganya tidak sampai setengahnya dibandingkan tenaga Rey. Akhirnya Irma lebih memutuskan untuk menyerah.“Loe kenapa si?” tanya Irma dengan nada lelah.“Justru elo yang kenapa?” balas Rey balik.“Oke, kayaknya gue kecapean setelah seharian ini abis jalan – jalan. Jadi sekarang gue pengen istirahat dulu. Jadi gue harap loe bisa ngerti kan?"Mendengar ucapan dingin Irma barusan, gengaman Rey langsung terlepas. Memanfaatkan moment tersebut, Irma segera berlalu. Setelah terdiam untuk sejenak Rey langsung berbalik ke rumahnya. Tiba – tiba saja ia merasa sangat ingin marah. Setelah seharian penuh ia mencemaskan gadis itu dengan pikiran – pikiran konyolnya ternyata dia justru saat itu sedang bersenang – senang. Astaga. Ternyata ia benar – benar bodoh.Sementara Irma sendiri menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Menyesal dalam hati atas apa yang sudah ia lakukan barusan. Kenapa ia bisa bersikap dingin seperti itu? Setelah berpikir untuk sejenak ia segera melangkah keluar. Ia harus meminta maaf pada Rey. Ia benar – benar tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk. Namun sayang, saat ia keluar ia sudah tidak mendapati sosok sahabatnya di situ. Akhirnya dengan lemas ia kembali melangkah masuk kerumah.Keesokan harinya, Irma segaja bersiap – siap lebih pagi dari biasanya. Setelah yakin kalau penampilannya oke, gadis itu duduk di bawah jambu depan rumah, tempat biasa dimana ia menunggu kemunculan Rey di depannya. Sekali – kali Irma melirik jam yang melingkar di tangannya. Motor Rey masih terparkir di halaman. Itu artinya tu anak belom pergi. Tapi masalahnya, hari ini dia menjemput Vhany lagi nggak ya? Semoga saja tidak. Saat ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri pintu gerbang depan rumahnya terbuka. Tampaklah Rey dengan motornya yang melangkah keluar dan berhenti tepat di hadapannya. “Rey, hari ini kita pergi bareng nggak? Atau loe mau menjemput….”“Gue nggak bareng sama siapa – siapa. Kalau loe memang mau bareng sama gue, ya sudah ayo naik,” potong Rey cepat.Walau merasa serba salah saat mendapati nada bicara Rey yang terasa aneh dalam pendengarannya namun tak urung Irma manut. Segera duduk di belakang Rey sebelum kemudian motor itu kembali melaju.“Ehem, Van. Loe besok ada acara nggak?” tanya Irma mencoba membuka pembicaraan.“Belum tau,” balas Rey singkat.Irma kembali terdiam. Mulutnya terbuka untuk berkata namun kembali tertutup. Tiba – tiba ia merasa ragu.“Kenapa?” tanya Rey beberapa saat kemudian.“O…. Nggak kok. Gue Cuma nanya aja."Rey juga diam. Sesekali ia melirik kearah Irma dari kaca spion. Dalam diam ia juga merasa bersalah. Ada apa dengan mereka , kenapa jadi terasa seperti orang asing begini?“Oh ya, entar siang loe pulang bareng gue nggak?” tanya Rey begitu mereka sampai di halaman Kampus.“Entar siang, kayaknya loe bisa pulang duluan deh. Soalnya gue ada urusan dikit sama si Vieta."“Vieta?” tanya Rey dengan kening berkerut.“Iya, temen gue. Yang pake kacamata itu. Masa loe nggak tau."“O…. Dia, gue tau kok. Ya udah kalau gitu. Gue duluan,” pamit Rey sambil melangkah ke kelasnya.“E… Van!”Rey segera berbalik. Menatap heran kearah Irma.“Besok loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Irma lagi.“Tiga, kenapa?”“O…. Nggak papa kok. Cuma nanya aja. Ya sudah, loe duluan deh."Rey hanya mampu angkat bahu. Walau sedikit heran tapi ia tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut. Moodnya belum seratus persen balik. Sementara Irma sendiri juga segera berbalik menunju kekelasnya. Saat melihat segerombolan (???) teman – temannya yang sedang mengosip ria, tiba – tiba saja sebuah ide jahil terlintas di kepalanya. Sembuah senyum samar terukir di bibirnya saat mengingat kejadian di ruang kesehatan kemaren. Kayaknya ini saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Dengan mantap di hampirinya anak-anak itu. Sepuluh menit kemudian barulah ia benar – benar berlalu pergi menunju kekelas dengan senyum puas. Erwin, MAMPUS LOE!!!. Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu Part 03Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen “Say No To Galau”

    Galau lagi, galau lagi. Sebenernya obat galau tu apa si?. Udah keliling – keliling ngobrak abrik google masih juga belom nemu obatnya. -_______-Tapi okelah, seperti kata salah satu reader blog ana merya, mari coba ambil hikmahnya aja. Yah salah satunya dengan menuangkannya dalam bentuk cerpen misalnya. And than, jadilah cerpen say no to galau.Gimana sama cerpen hasil mengalaunya? Cekidot….Say no to galau"Hufh, akhirnya selesai juga," Tasya menghembuskan nafas lega, begitu juga Ardi, Dion, Yuli, Vano dan Lilian yang tampak sedang ikut mengumpulkan tumpukan buku yang berserakan di meja. Tak terasa sudah hampir 4 jam mereka dipaksa berkutat pada tumpuk – tumpukan buku sastra di perpustakaan kampus hanya untuk menyelesaikan tugas yang di berikan dosen 'Killer'."Iya nih, badan gue juga udah pegel semua," sahut Vano Sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku."Oh ya, Seila. Udah pukul berapa sekarang?" tanya Yuli kearah Seila sambil terus menumpuk buku – bukunya."Enam kurang lima menit," balas Seila sambil melirik jam yang melingkar di tangannya."Nggak terasa udah sesore ini. Untung aja semuanya beres. Ya udah mending kita pulang yuk," Kata Vano sambil beranjak dari duduknya yang langsung diikuti oleh yang lain."Seila, loe pulang bareng siapa?" tanya Dion sambil berusaha untuk mensejajarkan langkahnya."Biasalah, nunggu jemputan sama kakak gue. Nie gue lagi mo sms dia," balas Seila tanpa mengalihkan tatapannya dari handphone yang ada di tangan. Jari – jarinya dengan lancar mengetikan kata demi kata."Ya udah, kalo loe nggak keberatan mending pulangnya bareng gue aja. Biar gue yang nganterin," Dion menawarkan diri. Untuk sejenak langkah Seila terhenti. Menoleh kearah Dion yang juga sedang menatapnya."E… Nggak deh. Ntar ngerepotin lagi. Lagian rumah kita kan nggak searah," tolak Seila sopan."Udah Seila, nggak usah nolak. Apalagi ini juga kan udah sore. Lagian kalau cowok itu emang tugasnya buat di repotin kok," kata Vano sambil melirik Lilian, pacarnya. Yang di lirik hanya mencibir kesel karena merasa sedang di sindir terang – terangan.Sejenak Seila menunduk. Menimbang – nimbang tawaran itu. Sejujurnya ia merasa sangat senang. Secara selama ini sebenarnya dia diam – diam mengagumi makluk satu itu. Hanya saja tidak mungkin kan ia yang mengungkapkan duluan walau pun dalam kesehariannya hubungan mereka berdua terlihat akrab. Ehem, sangat akrab malah. Wajahnya kembali ia toleh kan kearah Dion yang menatapnya teduh sambil tersenyum tulus. Dengan perlahan tapi pasti akhirnya Seila mengangguk. Kembali melangkahkan kaki menuju parkiran."Ma kasih ya, karena udah nganterin gue," kata seila begitu tiba didepan rumahnya."Sama -sama. Ya udah gue pulang dulu ya," pamit Dion."Nggak mampir dulu?" tawar Seila berbasa basi."Makasih. Lain kali aja. Udah hampir malam solanya," tolak Dion sopan sambil pamit berlalu dengan diantar senyuman yang tak lepas dari bibir seila.Cerpen Say no to galauDengan kekuatan penuh, Seila berlari disepanjang koridor kampusnya. Tatapan heran dari penghuni kampus lainya sama sekali tidak ia indahkan. Saat ini yang ada di benaknya hanya satu. Jika dalam wakut kurang dari lima menit ia masih belum mencapai kelasnya, maka bisa di pastikan nasipnya akan berakhir di tiang gantungan akibah ulah dari dosen 'KILLER' nya. # Lebay…."Hufh… untung saja," gumam Seilla bernapas lega sambil duduk di bangkunya. Sejenak ia melirik kanan kiri. Tatapannya berhenti di ambang pintu dimana sang dosen telah menunjukan batang hidungnya. Dalam hati ia bergumam, 'neraka dimulai'.@Kantin"Seila, tadi pagi tumben banget loe telat?" tanya Lilian sambil menikmati es sirupnya."Bangun kesiangan," balas seila cuek. Vano geleng – geleng kepala melihatnya."Oh ya, hari ini Dion nggak masuk ya?" Ardi mulai membuka percakapan.Mendengar nama Dion di sebut Seila langsung mendongakkan wajahnya. Menatap lurus ke arah Ardi. Dengan cepat diputarnya ingatannya. Kepalanya mengangguk membenarkan. Karena telat tadi ia jadi tidak menyadarinya."Ia. Hari ini dia ada acara penting gitu katanya. Nggak tau deh acara apaan," balas Vano."Eh, bukannya hari ini dia ulang tahun ya?" kata Yuli tiba – tiba mengingtkan."HA? Masa sih?" tanya Seila kaget. Ah sepertinya otaknya benar – benar blank sampe – sampe melupakan hari ulang tahun orang yang di sukainya."Oh iya. Kok gue bisa lupa ya?" Ardi membenarkan."Eh gimana kalau kita bikin acara kejutan buat dia?" kata lilian sambil menjentikan jari."Kejutan?" ulang Vano. Lili langsung mengangguk. Yang lain juga ikutan setuju."Tapi apa?""Gimana kalau kita bilang sama dia bahwa Seila kecelakaan?""Ha? Kok gue?. Nggak bisa," bantah seila cepet sebelum yang lain sempat mengomentari usul Vano barusan."Bener juga tuh," Ardi langsung menyetujui tanpa memperdulikan penolakan Seila sama sekali."Gue juga," Yuli, Lilian dan Vano kompakan mengangguk."Tapi gue kan nggak setuju," bantah Seila cepat. "Lagian kenapa harus gue si?""Soalnya lili kan pacar gue. Jadi nggak ngaruh – ngaruh amat. Kalau yuli la dia kan pacarnya Ardi," terang Vano."Terus, apa hubungannya?" kejar Seila."Ehem, nggak ada si. Cuma mau bilang aja kan cuma loe yang nganggur."Dengan cepat sebuah jitakan mendarat di kepala Vano sebagai balasan atas mulutnya yang asal njeplak."Loe pikir gue apa. Ngganggur, sembarangan aja kalau ngomong," Seila terlihat sewot."Ya deh. Sorry," kata Vano terlihat tak iklas sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut – denyut secara jitakan yang Seila berikan lumayan keras."Baiklah, intinya loe setuju kan?" tanya lili mencari penegasan. Dengan berat hati mau tak mau Seila terpaksa mengangguk.Cerpen Say no to galauDengan napas yang masih ngos – ngosan Dion berlari memasuki ruangan rumah sakit. Raut khawatir terlihat jelas di wajahnya begitu membuka salah satu ruangannya. Darahnya terasa seperti berhenti mengalir saat mendapati ke empat teman nya yang berdiri di samping tubuh yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan terselubung kain. sama sekali tak terlihat wajahnya."Seila kenapa?" tanya Dion kearah Vano."Dia kecelakaan ion. Tadi ketabrak mobil waktu pulang dari kampus," terang Ardi. Sementara Lili dan Yuli malah sudah berlinangan air mata."Heh, kalian bercanda kan?" tanya Dion tak percaya, walau justru air mata malah jelas menetes dari mata beningnya."Kita nggak bercanda Dion. Ini beneran," terang Vano dengan mata merahnya.Dengan lemas Dion jatuh terduduk. Air mata yang sedari tadi di tahan tak mampu ia bendung."Ini mustahil. Kalian pasti bercanda. Bagaimana bisa, semalam saja dia masih baik – baik saja.""Tadinya kita memang mau bercanda. Kita mau bikin acara kejutan di hari ulang tahun loe dengan membuat Seila pura – pura kecelakaan. Tapi…." Lili tidak sangup melanjutkan ucapnya justru ia malah terisak."Tapi apa…" kata Dion tanpa tenaga."Tapi dia malah ketabrak beneran," Ardi yang menjawab.Dion terdiam. Begitu juga dengan yang lainya. Suasan untuk sejenak hening sebelum kemudian Dion bangkit berdiri mendekat kearah tubuh seila yang tertutup selimut."Ion" Ardi memegang pundak Dion seolah memberinya kekuatan saat tangan Dion terulur untuk membuka kain penutup. Setelah menarik napas untuk sejenak untuk sekedar memantapkan hati. Dion membuka nya.Dan….Suasana kembali hening sampai tiba – tiba."Huwahahahaha,…." tawa keempat temanya serentak meledak saat mendapati raut bingung Dion saat menemukan hanya tumpukan bantal guling yang ada di atas ranjang."Ini maksutnya apa? Seila mana?" tanya Dion terlihat linglung."Surprize…" kata Seila yang baru muncul dari pintu dengan Sebuah cake coklat di tangannya. Lengkap dengan lilin diatasnya. "Kalian….." Dion kehabisan kata-kata. Benar – benar merasa andilau. Antara dilema dan galau. Ingin marah karena di kerjain dengan hal yang nggak lucu sama sekali atau malah harus bersukur karena semuanya baik – baik saja. Entah lah…"He he he… Jangan marah donk.. kita kan sengaja bikin kejutan buat loe. ya ya ya…." pinta Seila dengan puppy eyes andalannya. Mau tak mau Dion tersenyum. Tapi sumpah ia juga benar – benar merasa lega."Gila, sumpah beneran. Ini tu nggak lucu.""Ia dan nyiksa banget. Mata gue aja sampe sekarang masih pedes gara – gara ngasi balsem kebanyakan," tambah lili disusul anggukan Yuli yang membenarkan ucapannya sehinggak mau tak mau membuat Dion ngakak mendengarnya."Tapi please, lain kali jangan di ulangi ya. Memberi kejutan itu boleh saja, tapi kalau terlalu mengejutkan juga nggak enak rasanya?" pinta Dion kemudian."Syip…."."Ha ha ha, tapi hebat loe sampe nangis beneran gak perlu 'alat tambahan" puji yuli yang merasa matanya masih kepedesan. "Tentu saja. Seila kan sahabat gue yang terbaik," terang Dion. Seila langsung menoleh. Sahabat? Hanya Sahabat?"Oke sekarang tiup lilinya," Ardi mengingatkan."Eh, tunggu dulu" tahan Dion."Kenapa?" tanya Seila."Kalau gue ngajak seorang lagi buat ikutan gabung boleh nggak?" tanya Dion."Boleh aja si. Tapi siapa?" tanya tanya Lili."Ada deh. Tunggu bentar."Tanpa menunggu jawaban lagi Dion segera berlalu keluar. Selang sepuluh menit kemudian ia kembali muncul dengan seorang cewek di sampingnya."Oh ya, gue pengen kenalkan pada kalian. Ini Prisillia. Tunangan gue."JEDER…Rasanya tu Seperti ada petir di siang bolong saat hari sedang cerah – cerahnya. Teramat sangat mengagetkan sekaligus menakutkan bagi Seila. Hei, yang rencananya ingin memberi kejutan kan dia, kenapa malah dia yang terkejut?"Tunangan?" ulang Ardi ragu. Dion mengangguk cepat sambil mengenggam tangan cewek di sampingnya."Ia. Cantik nggak?" tanya Dion yang langsung meringis kesakitan karena mendapat cubitan di pinggang dari gadis di sampingnya yang tampak tersenyum malu – malu."Cantik si. Tapi kan…" Lilian tidak melanjutkan ucapannya. Sekilas ekor matanya menatap kearah Seila yang masih berdiri terpaku tanpa suara."Tapi?" Kejar Dion dengan kening berkerut yang sumpah mati Yuli benar – benar berniat untuk menjitaknya."Ehem…. Tapi kenapa selama ini loe nggak cerita sama kita?" potong Seila terlihat ceria. Ralat, pura – pura ceria maksutnya. "Yah, rencananya gue kan pengen ngasih kejutan ke kalian.""Oh gitu ya? Kita terkejut kok. Terkejut banget malah. Tapi nggak papa deh. Selamat ya?" kata Seila lagi sambil mengulurkan tangan dengan senyum tak lepas dari bibirnya."Ma kasih," balas Prisilia juga tersenyum."Kalau gitu kita bisa mulai potong kue nya kan?" lili berusaha mengalihkan pembicaraan."Bener juga. Sebelum itu gue pengen mekuis dulu ya?""Loe mau minta apa emang?""Gue harap hubungan gua dan Prisilia berjalan langgeng. Dan sahabat gue yang satu ini," Kata Dion sambil menarik Seila mendekat " Dapat segera mendapatkan pasangan hidupnya juga."Seila hanya tersenyum miris mendengarnya. No comen.Tepat saat lilin selesai di tiup, tiba – tiba handphone Seila berdering. Tanpa melihat id caller nya Seila langsung mengangat. "Hallo, Oh iya ma…..e….. iya,….. Aku pulang sekarang," tidak sampai 5 menit Seila segera mematikan telfonnya. Segera di hampiri teman – temnanya yang kini menatapnya heran karena mendegar obrolannya di telfon barusan."Sorry ya guys. Gue nggak bisa ikutan bareng ngerayaain ulang tahun Dion. Nyokap gue barusan nelpon. Gua harus pulang sekarang. Ada urusan penting gitu.""Yah… tapi kan…""Lain kali gue traktir loe ya. Tapi gue harus pergi sekarang. Da," pamit Seila cepat – cepat memotong ucapan Dion Barusan. Segera berlalu keluar meninggalkan teman – temannya dengan wajah bingungnya. Begitu keluar dari pintu air mata yang sedari tadi ditahanya langsung menetes. Dengan kasar ia mencoba menghapusnya. Tak mau telihat konyol dengan menangis di sepanjang koridor rumah sakit.Begitu sampai di pelataran, ia mendongak menatap langit. Hujan? Hal yang paling ia benci tapi kali ini sangat ia syukuri kehadirannya. Dengan santai ia melangkah menerobosnya. Membiarkah rintikan hujan itu membasahi tubuhnya. Untuk sedikit menyamarkan air mata. Walau tidak dengan hatinya. Rasa sakit itu akan tetap terasa. Karena hujan tidak akan semudah itu untuk menghapusnya.END!!!!!.Detail Cerpen Judul Cerpen : Say No To GalauPenulis : Ana MeryaPanjang : 1.782 WordsStatus : Cerpen PendekGenre : Remaja

  • Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05

    Omz, Cerpen kala cinta menyapa apa kabarnya yak?. Makin nyungsep aja tuh ide… ha ha ha.Tapi ya sudah lah, mumpung ide cerpen terbaru Take My Heart yang muncul duluan, ya udah ini aja yang di ketik dulu. Akhir kata, happy reading….!!.PS: Part sebelumnya silahkan baca:-} Cerpen terbaru Take My Heart part ~ 04Dalam hidup ini, aku hanya punya satu impian…Impianku bisa menjadi nyata.Titik!!!.Setelah membasuh mukanya dengan air dari keran, tangan Vio terulur meraih tisu. Mengeringkan wajahnya. Sejenak di tatapnya bayangan dicermin. Raut lelah jelas tergambar di sana.Tak ingin berlama – lama Vio segera melangkah keluar. Tepat di pintu langkahnya tercegat. Selang beberapa meter di hadapan tampak Laura yang juga berdiri terpaku menatapnya. Sepertinya gadis itu juga berniat untuk masuk ke toilet kampusnya.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*