Cerpen Tentang Rasa part 4 {Update}

Oke next, Dari cerpen tentang rasa part 3 go to part 4. Yang sudah baca bisa tetap mengulang kok. Tenang, penulis sudah nggak tertarik buat mengubah – ubah lagi. Bayangkan woi ada 155 postingan yang harus di update.
Astaga….
So, gak bisa banyak bacod. Langsung saja selamat membaca….

Credit Gambar : Ana Merya
"Hai al, Gue bawain makan siang nie buat loe. Loe pasti suka" Sapa Anggun sambil menyodorkan Kotak bekal kearah Alan yang sedang asik duduk santai di pelataran depan kampus dengan sebuah buku ditangaanya. Alan sama sekali tidak menoleh. Ia sudah bisa menebak dengan tepat kalau cewek yang berdiri di hadapannya pasti Anggun. Ia juga tidak merasa heran kalau anggun membawakannya bekal makan siang. Sudah seminggu lebih Gadis itu selalu berkeliaran di sekelilingnya tanpa memperdulikan sikap sinis sebagai balasan. Yang ia herankan kenapa tu cewek betah banget ya, padahal ia jelas – jelas merasa risih akan kehadiranya.
"Al, kenapa si loe cuek banget sama gue?" Tanya Anggun sambil duduk disamping Alan. Sementara Bekal itu ia Letakkan di sampingnya karena Alan sama sekali tidak menyentuhnya.
"Udah tau gue cuek kenapa loe masih deket – deket?" tanya Alan tanpa menoleh.
"Karena gue suka sama loe" balas Anggun santai tapi terdengar tegas.
Untuk sejenak Alan menghela nafas. Ditutupnya buku yang sedari tadi di baca sebelum menoleh menatap tepat ke wajah Anggun yang masih menunduk sambil menatap rumput yang ada di kakinya.
"Emangnya loe nggak punya malu ya?".
Anggun langsung menoleh menatap si penanya yang kini juga menatapnya.
"Malu?. Kenapa?" Tanya nya heran.
"Ngomong kayak gitu ke gua. Loe kan cewek?".
"Memangnya kalau cewek nggak boleh ngomong suka duluan ke cowok. Ada peraturannya gitu?. Nggak kan?".
"Terserah loe deh" Balas Alan sambil beranjak meninggal kan Anggun.
"hei, Tunggu dulu. Gue udah cape – cape masak juga. Loe ambil donk. Paling nggak hargain usaha gue napa" Kata Anggun sambil menarik tangan Alan dan meletakan bekal itu. Tapi alan menepisnya dan tanpa sengaja malah membuat kotak itu jatuh berserakan.
"sory gue nggak sengaja" kata Alan merasa sedikit bersalah saat melihat Anggun yang menatapnya tak percaya.
"Kenapa si loe nggak mau menghargai usaha gue dikit aja?" tanya Anggun sambil duduk berjongkok mengambil kotak bekalnya.
"Kalau loe memang mau di hargain, Paling nggak loe juga harus ngehargain diri loe sendiri".
"Apa Gue segitu tidak berharganya menurut loe. Gue cuma pengen ngungkapin perasaan gue aja kok. Apa itu juga salah. Lagian Gue Nggak mau jadi seseorang yang baru bisa menyadari bertapa berharganya sesuatu setelah kehilangan. Sory banget kalau loe merasa terganggu".
Tanpa banyak kata lagi anggun segera berlalu meninggalkan Alan yang kini berdiri terpaku akan ucapannya. "Menyadari akan berharganya sesuatu setelah kehilangan". Ia merasa Kata itu sangat pas untuknya. Rasa Sakit yang amat sangat ia rasakan. Kata itu mengingatkannya akan satu nama. Tifany.
Cerpen tentang rasa
"Kak anggun, bukain donk pintunya".
Anggun yang sedang asik tiduran di kamarnya sambil merenungi kejadian di kampus tadi merasa kaget sekaligus kesel mendengar suara cempreng adiknya diluar kamar.
"Ada apaan si. Berisik banget. Kenapa nggak sekalian minjem toa di mesjid biar satu kompleks denger" Geram Anggun bergitu pintu terbuka.
"He he he. Jalan yuk" Balas Salsa tanpa rasa bersalah.
"Ogah" sahut Anggun cepat sambil kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Sudah merasa Trauma dia sama ajakan Adiknya.
"Ayo lah. Gak seru banget masa di rumah mulu. Sore gini kan enaknya jalan – jalan. Jogging bareng atau nonton bola di lapangan kompleks" Bujuk salsa lagi.
"Tumben banget" Anggun menatap curiga. "Pasti ada apa – apanya nie".
"Apaan si. Nggak kok?".
"Hayo ngaku, kalau nggak pergi aja sendiri" ancam Anggun.
"Hais. Ia deh Gue ngaku. Dikompleks kita kan ada warga baru. Nah terus ada anak cowoknya. Keren banget. Anak kuliahan lagi. Biasanya kalau sore ia juga ikut maen bola di lapangan. Makanya kita nonton yuk".
"Ih dasar ABG" Ledek Anggun sebel.
"emang. Udah ayo kita pergi".
"Ogah. Gue mau tidur".
"Ih kok gitu. Tadi katanya kalau gue cerita kakak mau pergi bareng".
"Yee.. Gue bilang tadi kan kalau loe nggak cerita, loe pergi sendiri. Gue nggak pernah bilang tuh, lepas loe cerita bakal di temenin".
"Yah…" Protes salsa.
"Sssttt. Gue mau tidur. Kalau loe pergi. Pergi aja sono. Gaet tu anak kuliahan. Gangguin aja" Kata Anggun sambil menarik tubuh adiknya ke luar sebelum kemudian mengunci pintunya dari luar tanpa memperdulikan protesan sang korban.
"awas aja loe kak. Kalau gue bisa dapatin tu orang, loe pasti nyesel. Orangnya keren lho. Lumayan buat dipamerin ketemen – temen" Teriakan salsa dari luar. Sementara Anggun kembali remabahan di kasurnya.
Cerpen tentang rasa
Dengan langkah ragu Anggun berjalan menuju ke kampusnya. Ini hari pertama setelah beberapa saat yang lalu ia ke kampus tanpa persiapan. Eits maksutnya bukan peralatan kampus ya, Tapi persiapan untuk mendekati Alan. Salah satunya tanpa bekal makan siang yang biasa di bawanya.
Saat berjalan menuju kekantin, karena ia sudah ditungu oleh ketiga temannya, Anggun berpapasan dengan pak Reno, dosen bahasa Inggrisnya. Pak Reno meminta nya untuk menyerahkan Flasdish pada Alan. Karena Pak reno tau kalau mereka sekelas makanya sekalian minta tolong. Dengan terpaksa Anggun menyanggupinya. Secara sebenernya ia masih belum siap untuk berurusan dengan makhluk satu itu.
Cerpen tentang rasa
Alan sedang Duduk santai bersama kedua temannya ketika Gresia, Anya dan Nanda datang dan duduk manis di meja seberang.
“Eh Gres, Anggun mana?” Tanya Andra.
“Ia, Kok tumben kalian Cuma bertiga?” tambah Adit.
“O, tadi si di balakang. Tapi bentar lagi kesini kok” Balas Gresia.
“Aha” Kata Andra sambil menjentikan jarinya “Gue punya ide, gimana kalau kita taruhan?”
“Taruhan apa?”.
“Meja di sini kan masing – masing kan punya empat kursi, nah karena kebetulan kita sama – sama bertiga . jadi menurut kalian meja yang mana yang duluan dihampir sama Anggun?”.
“Ya meja kita donk. Secara kita kan udah janjian. Lagian kita kan sahabatnya” Sahut Nanda cepat.
“Eits, tunggu dulu. Jangan salah, kalian pasti juga taukan kalau temen kalian yang satu itu naksir sama sahabat kita?”.
“Terus?” Anya masih belum paham.
“Nah, Nanti kalau seandainya Anggun menghampiri kalian duluan, kalian semua makan gratis. Tapi kalau sebaliknya dia menghampiri Alan dulu, kalian yang harus bayar pesanan kita. Gimana?” Terang Andra.
“Kalian apa – apa an si?!” Geram alan yang sedari tadi diam angkat bicara.
“Yeee…. Santai aja kali bro. Kita kan Cuma maen – maen doank. Gitu aja sewot”.
“Tapikan nggak gitu juga. Emangnya kalian pikir anggun cewek apaan. Enak aja di jadiin taruhan”.
“Wah, Alan marah. Kenapa nie?. Ketauan deh, loe juga suka sama dia ya?” Balas Adit terdengar meledek.
“Nggak. Bukan gitu” Alan berusah untuk menjelaskan Tapi Anya malah ikutan meledeknya.
“Ngaku aja deh”.
“Ah tau ah”.
“Eits, mau kemana loe?. Sini aja” Kata Andra sambil menarik tangan Alan sehingga kembali duduk di bangkunya. “Gimana kalian setuju nggak?” sambungnya kearah Gresia dan teman – temannya.
“Oke aja deh” Balas nanda tanpa pikir panjang. Anya dan Gresia juga mengangguk. Alan membatalkan niatnya untuk protes dan hanya mampu menghembuskan nafas berat saat mendapati siapa yang sedang melangkah masuk kekantin sambil memperhatikan sekeliling.
Semua menunggu dengan harap – harap cemas. Sementara tatapan anggun tertuju kearah meja teman – temannya. Saat ia berniat untuk menghampiri mereka tanpa sengaja matanya menangkap keberadaan Alan di sana. Setelah berpikir beberapa saat dengan mantap ia malangkah.
“Al” saoa Anggun ragu. Jujur saja kalau bukan karena titipan dari pak Reno, ia masih belum siap melakukan kontak dengan alan. Karena walau bagaimana pun ia masih punya harga diri dan masih tau malu.
“Ternyata omongan gue kemaren sama sekali nggak ada pengaruhnya ya sama loe” balas Alan dingin .
“Maksut loe?” Tanya Anggun bingung.
“Yah Anggun. Loe nggak seru banget si. Masa loe lebih memilih menghampiri alan duluan dari pada kita” Kata Gresia terdengar kecewa. Nggak rela mengeluarkan uang lebih tepatnya. Ditambah gagal makan gratis.
“Ingat kalian yang bayarin” Kata Andra dan adit sambil berhigh five membuat anggun makin bingung. Apalagi saat melihat alan yang beranjak dari kursinya bersiap meninggalkan kantin.
“Ada apa si sebenernya?”.
“Dasar payah loe. Tadi itu kita taruhan sama mereka. Kan lumayan bisa makan gratis. Eh loe malah menghampiri mereka duluan bukan kita. Kan jadi kita yang harus bayarian makanan mereka: kelua Anya.
“Kalian jadiin gue taruhan?” Tanya Anggun tak percaya sekaligus kecewa.
“Anggun. Tunggu dulu. Ini tu buka seperti yang loe kira. Jangan salah paham dulu” jelas Gresia saat mencium situasi yang mulai tak enak.
“Gila ya?. Gue nggak nyangka. Kalian ini temen gue apa bukan si?” tambah anggun sambil menepis tangan Gresia kemudian berbalik menghadang alan yang sudah hamper mencapai pintu keluar.
“Alan tunggu dulu”.
“Mau apa lagi?!. Berapa kali si gue harus bilang!. Gue Cuma minta loe jangan pernah ganggu gue lagi. Ngerti nggak si?!” kata alan setengah berteriak menarik perhatian hamper seluruh pengunjung kanti. Anggun menundukan wajahnya. Sumpah malu banget.
“Sory Al. Tapi kali ini gue beneran nggak niat buat nganggu loe kok. Gue Cuma mau ngasi flasdisk ini doank. Tadi pak reno nitipin ini kegue buat loe” Kata anggun sambil menyerahkan benda yang sedari tadi berada dalam gengamannya. Begitu benda tersebut telah berpindah tangan anggun segera berlalu tanpa sepatah kata pun lagi yang keluar dari mulutnya. Lagi – lagi meninggalkan alan yang masih terpaku di tempatnya.
To be continue ke Cerpen cinta tentang rasa part 5.

Random Posts

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa VS Ferly ~ 01 / 08

    Mumpung dalam acara edit mengedit kenapa gak sekalian aja. Ha ha ha. Sekalian biar cerpennya juga rada rapi dikit. Ngomong ngomong, cerpen Vanessa Vs Ferly ini adalah cerpen karya dari adik admin sendiri. Yups, Mia Mulyani yang sekarang udah punya blog sendiri. Penasaran kisahnya? Simak langsung ke bawah aja ya…Vanessa vs FerlyHai, nama gue Vanes. Lengkapnya Vanessa Indri Pratiwi, gue anak baru satu tahun yang lalu, sekarang gue telah memduduki kelas II IPS B. Pertama gue masuk udah banyak yang naksir sama gue, tepat tiga bulan dikelas I, gue udah punya pacar yang keren.Tapi… baru 4 bulan jadian dia pergi menghilang, nggak pernah ngabarin gue dan udah sekitar 5 bulan yang lalu gue nggak pernah lagi berhubungan sama yang namanya ‘Joy’ dan sekarang gue juga nggak tau, apa gue masih punya hubungan sama Joy apa nggak, Cuma yang gue tau dia ninggalin gue tanpa kabar, dan sekarang hubungan gue ama dia sudah resmi berstatus pacaran tanpa hubungan. *Bukannya biasanya juga Hubungan Tanpa Status ya?*…Sejak saat itu gue udah nganggep kalau Joy udah mati, atau gue udah putus ama dia (walau sebenernya belom sih) dan sekarang gue udah bisa 100% ngelupain tuh anak. Gue harap gue nggak akan pernah ketemu lagi ama cowok brengsek itu.Di kelas baru ini gue punya 4 musuh besar, yang tak lain cowok banci bernama Ferly, Rafa, Radit, sama Galang. 4 cowok yang sok keren, sombong, nyebelin dan beberapa kata buruk buat mereka. Gue nggak tau awal musuhannya. Yang jelas mereka udah resmi jadi musuh gue sejak kelas I dulu, (kebetulan sekelas).Untung nya saat kelas II ini mereka terpisah kan, Rafa, Radit, sama Galang di kelas IPS C, sedang kan Ferly, di kelas II IPS B, sama kayak gue. Karna Ferly ketua geng nya, jadi gue bener-bener musuhan sama dia, karna sifatnya bener-bener nyebelin.Dulu waktu gue kelas I, gue di kerjain habis-habisan sama mereka. Secara 4 lawan 1 mana bisa menang, tapi gue jamin kalau satu lawan satu pasti gue bisa secara gue lihat si Ferly bener-bener kayak banci yang beraninya cuma sama cewek, keroyokan lagi. *Ha ha ha…. kalau dia tau gue cerita gini, pasti gue cuma bakal jadi sejarah. So… ssssttt…. ini biar jadi rahasia kita sja ya*…Dulu gue pernah di permaluin didepan anak-anak dengan cara nyiram gue pakai air, tambah tepung plus dilempari telor, *emang dikira gue mau dijadiin kueh apa??!!*. Ada juga kursi gue disangkutin di atas pohon jambu, buku pr gue hilang, dikasi kado berisi kodok, nyeburin gue kekolam renang belakang sekolah, dikonci dikamar mandi, hingga membocorkan ban mobil gue?!!? *Kurang apa coba deritanya*Nah rese banget kan??? Walau gue juga nggak tinggal diam, soalnya gue selalu membalas perbuatan mereka dengan cara coret-coret buku pr mereka, bikin motor mereka mogok, narok obat cuci perut di makanan mereka, narok lem di kursi dan membuat sesuatu yang paling nggak disukai mereka, tapi tetep aja gue masih bete..Gue heran kenapa sih mereka jahil banget sama gue? Perasan anak lain nggak pernah mendapat perlakuan kayak gue deh, apa karna gue imut, baek hati, tidak sombong n rajin menabung ya?.. *Plaks. Gak nyambung*. Ya mungkin karena gue nggak pernah ngalah sama mereka?? Makanya mereka pada mau ngelakuin dengan cara apapun agar gue minta maaf kemereka??? Ih sorry ya… mau mereka ngerjain gue kayak apa juga jangan harap gue mau minta maaf.Dan sekarang gue satu kelas sama ketua geng mereka ‘Ferly’ dan gue pasti ngebales semua perbuatan mereka kegue dulu, gue bakal bikin masa-masa kelas II Ferly berakhir nggak menyenangkan dan membuat dia nggak bisa ngelupain masa-masa kelas II SMU nya. *Ke ke ke/ Evil Smirk*Aduh, pengenalannya kepanjangan ya? Abis gue bete banget ama mereka, udah lah lihat aja apa yang bakal gue lakuin ke ketua geng itu, tunggu ‘PEMBALASAN’ gue!!!*** Vanessa VS Ferly ***Aduh!!! Vanesa bener-bener bingung nih, gimana caranya ngebales perbuatan 4 banci itu. Tuhan bantu donk… gimana caranya ngebales perbuatan mereka… tiba-tiba mata vanesa tertuju pada bunga mawar di meja guru… AHA!!! Ide Brilian nyangut di otaknya, ha, ha, ha, mampus loe, bakal kerjain loe dengan bunga mawar itu, tunggu aja.Saat jam pelajaran ke dua dimulai, Bu Vivid sedang asik menjelaskan materi hari ini, dan Vanesa sudah stand by untuk ngerjain Ferly yang duduk tepat didepannya. Terlebih Bu Vivid juga tampak sedang asik menulis dipapan tulis, sementara teman teman yang lain juga fokus pada bukunya. Hal itu tentu memberi kesempatan pada Vanessa untuk melancarkan aksinya tanpa ketahuan.Vanessa terus memperhatikan Ferly yang asik menulis tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintai dirinya. Saat sedang asik menulis, ia tiba tiba menghentikan gegiatannya. Sepertinya pulpennya kehabisan tinta. Yang tidak Ferly ketahui adalah itu terjadi karena Vanessa baru saja menukar benda tersebut. Untuk melanjutkan aktifitasnya, Ferly mencari didalam tas dan kemudaian beralih kelaci meja, saat keluar tangannya memegang sekuntum mawar merah. Untuk sejenak, Ferly terlihat bingung, matanya mengamati sekuntum mawar ditangan dengan heran.“Mawar? Mawar siapa nih,” gumamnya pelan. Disaat bersamaan, Vanesa melancarkan aksinya. Ia segera melemparkan sebuat kertas yang sudah ia bentuk sedemikian rupa dan langsung melemparkan ke depat. Tepat mengenai kepala Bu Vivid. Yes berhasil!!!“Aduh!!!!” jerit Bu Vivid mengagetkan anak yang lain *lebay nie guru, Baru kena timpuk kertas aja udah nyeritnya sekenceng itu gimana kalau ketimpuk duren*. Refleks semua menatap kedepan karna kaget tak terkecuali Ferly, Bu Vivid memungut kertas kuelan itu dan mengangkatnya.“Siapa yang sudah melampar surat kaleng ini?” tanya Bu Vivid.Semua anak-anak pada diam sambil melihat kesekeliling mencari sesuatu."Aduh maaf ya buk bukan mau kurang ajar, tapi cuma mau ngerjain Ferly aja kok, maaf ya buk," batin Vanessa dalam hati.“Nggak ada yang mau ngaku?” tanyanya lagi, dan kelas kembali hening, Bu Vivid pun membuka kuelan surat kaleng itu dan membaca isinya dengan lantang.“Bu vivid tersayang, yang cantik jelita bagaikan bidadari yang turun dari kayangan *gombal. Mau muntah gue nulisnya*, saya mau bilang sesuatu sama ibuk, tapi saya harap ibuk nggak marah , kalau ibuk marah saya bakal sedih banget, saya Cuma mau bilang kalau saya, sebenernya… sayanaaaang banget sama ibuk. Tertanda yang mengagumi mu ‘mawar merah'" Bu vivid mengakhiri bacaannya. “Oh siapakan yang telah menulis surat ini. Romantiiis banget…” kata Bu vivid sambil pasang wajah ganjennya *idih… Malu-maluin banget nie guru*, dan anak-anak yang lain termasuk Vanessa tertawa secara Bu Vivid itukan tingkat ke PeDe an N tingkat kenarsisannya sudah memasuki tahap dewa ngalahin ‘bik surti’ di sinetron ‘putri yang ditukar’ yang sering muncul di salah satu stasiun swasta di Indonesia.Bu vivid pun segera melakukan penelitian sampai kemudian tatapannya terhenti dimeja Ferly yang masih memegangi bunga mawar merah *nie anak emang lola coneknya. Percis kayak modem My Brother*. Tampak wajah Bu vivid berseri-seri menatapnya yang membuat Ferly jadi panas dingin, Bu Vivid langsung menghampiri Ferly.“Aduh prasaan gue nggak enak nih,” kata Ferly sambil mengelap keringat dingin didahinya.“Kamu itu bener-bener romantis ya Fer…” kata Bu Vivid sambil senyum-senyum kearah Ferly.“ha!!! Ada… apa ya buk?” tanya Ferly“Alah udah nggak usah sembunyi kayak gitu, kamu kan yang udah nulis surat ini?” tanya Bu Vivid.“Ha!!! Bu… bu… bukan kok buk,” balas Ferly mendadak gagap.“Udah ngaku aja, ibu nggak keberatan kok ya…” balas Bu Vivid sambil senyum-senyum, sementara Ferly udah merinding secara ia bener-bener ilfeel sama guru yang satu ini.“Beneran Bu, ini tu bukan aku yang nulis, pasti ada yang mau ngerjain aku Bu.”“Kamu ini kok malu-malu begitu sih, kalau cinta itu nggak ada malu-malu kita. Harus jujur”. *Tapikan nggak harus malu-maluin juga kaleee…../ Betul????!!!!*.“Tapi itu beneran bukan aku yang ngelakuin buk, kali aja anak yang lain,” Ferly berusaha untuk membela diri sementara anak-anak yang lain udah tertawa terpingkal-pingkal apalagi Vanessa. ini mah beneran lawak gratis.“Sudah lah Fer, ngaku aja. Loe juga sering kan cerita ama gue kalau loe itu naksir ama Bu vivid, udah ngaku aja mumpung masih ada orang nya."Tampang FerlY sudah persis kayak orang yang habis ke selek biji kedondong mendengar omongan vanesa barusan. “Loe apa-apaan sih Van? Ini tu bukan gue!” bentak Ferly.“Lah itu buktinya ditangan loe,” Vanessa tak mau kalah untuk memperkisruh keadaan.“Ha!!! Maksud loe ini??” tanya nya sambil menunjukkn bunga mawar yang berada ditangannya.“Ia. Kan yang ngirim ‘mawar merah’ itu kamu kan?” kata Bu vivid.“Enggak buk, beneran deh ini tu aku temuin di laci meja dan… mawar merah ini bukan milik aku. Juga bukan aku yang nulis surat itu,” Ferly mencoba untuk menyakinkan..“Udah ngaku aja!”“Beneran bukan aku buk, sumpah deh jadi orang kaya *takutnya low sumpah disambar geledek entar disambar beneran lagi*. Tadi yang melempar itu dari belakang,” kata Ferly sambil menunjuk meja Vanessa “Haaa ia dari sini, pasti elo kan van yang udah ngelakuin ini!” tuduh Ferly langsung.“ha!!! Gue?? Yang bener saja lah, masa gue sih Fer. Elo tu jangan lempar tangan sembunyi batu ya, eh salah lempar batu sembunyi tangan ya,” kata Vanessa dan anak-anak langsung tertawa mendengarnya, aduh kok pakai acara kebalik segala sih,… bego, bego, bego..“Eh, loe tu jangan membalikkan fakta ya. Gue tu mana mungkin, pasti elo sengaja kan ngelakuin ini” tuduh Ferly.“ha!!! Enak aja loe, kalau gue yang ngelakuin ini, emang motif gue apa coba?” Vanesa tidak mau kalah..“Ya mau ngerjain gue lah, loe kan dendam banget ama gue karena sering gue kerjain,” balas Ferly.“Eh loe tu kalau mikir pakai dengkul donk, eh maksudnya jangan pakai dengkul donk. Itu sama aja gue ngerjain Bu vivid, mana mungkin lah, udah tinggal ngaku aja juga. Lagian ibu Juga barusan denger kan bu. Low dia tu sering banget ngerjain aku. Palingan kali ini dia juga mau ngerjain ibu," ucapan Vanessa makin membuat Ferly tidak bisa berkutik. Pria itu segera sadar kalau sepertinya ia telah masuk jebakan.“Bu… Bu… bukan gitu buk. Lagian buat apa aku ngerjain ibu. Mana mungkin lah."“Maling mana ada yang mau ngaku” ledek Vanessa.“ia iya lah kalau maling ngaku penjara penuh bego, tapi beneran buk bukan aku yang ngelakuin itu..” kata Ferly.“Loe tu ya…”“Apa!!!”“sudah, sudah, cukup!!! Kalian pikir ini hutan apa, teriak-teriak!! ini tu sekolah ya bukan hutan. Ya sudah sekarang Ferly kamu ikut ibk sekarang kekantor. Kamu harus jelasin ini semua,” tandas Bu vivid.Perintah itu tak urung membuat Vanessa tersenyum puas. Ha,ha,ha mampus loe..!!!“Ha??? Lho buk, tapi kan…”“Udah nggak ada tapi-tapian, ayo ikut” kata Bu Vivid.“Baik buk…” kata Ferly akhirnya mengalah. Sebelum pergi ia sempat menoleh kearah Vanesa. “Awas loe…” ancamnya sebelum benar benar berlalu.“Weeeek….” bukannya takut, Vanessa justru mlaha menjulurkan lidihnya, mengejek. Akhirnya 1 masalah Beres, mampus loe!!! Syukurin. Pasti loe nggak bakal bisa keluar dari ruangan guru centil itu, ha,ha, emang enak. Dan pastinya loe bakal di introgasi habis-habisan disana. Wek,wek,wek,wek…Oke, Next to Cerpen benci jadi cinta vanessa vs ferly part 2Detail CerpenJudul : Vanessa vs FerlyPenulis : Mia MulyaniPanjang : 1.707 WordsGenre : RemajaStatus : Complete

  • Cerita SMA Diera Diary End

    Setelah sekian lama akhirnya Cerita SMA Diera Diary bisa ketemu juga sama yang namanya ending. Secara udah pada penasaran donk gimana kelanjutan ceritanya. Terus di mana sebenernya diari gadis tersebut berada. Apa bener berada di tangan andreani atau justru ada orang lain yang telah menemukannya. So, buat yang mau tau jawabannya langsung simak ke bawah aja deh. Nah, biar lebih mudah, untuk part sebelumnya bisa di baca disiniDiera DiaryDiera pamit sama orang tua nya untuk makan malam di luar karena tadi Pasya memintanya untuk segera datang ke kaffe yang tak jauh dari rumahnya. Ia di tunggu di sana, ada yang mau ia sampein.Diera sempet menolak, besok aja. Tapi katanya penting. Harus malam ini juga. Ya udah Diera ngalah. Diera membuka tas sandangnya untuk mengambil hapenya buat ngabarin Pasya kalau sekarang ia udah ada di depan kaffe. Diera tersenyum melihat isi tas nya. Bukunya Rian tadi siang yang ketinggalan nggak sengaja ke bawa,Deringan bunyi ponsel mengaget kannya. Ternyata SMS balesan dari Pasya yang memintanya untuk langsung masuk aja.di tunggu di meja nomor 23. Dengan mantap Diera melangkah kan kaki ka meja 23 yang ada di pojok ruangan. Ia yakin sosok pria yang duduk membelakanginya adalah Pasya yang sudah menunggu nya sedari tadi. Sampai kemudian….“RIAN?!” Diera tertegun. Seolah masih nggak percaya sama pandangan di hadapannya.Rian menoleh sambil tersenyum. Duh manisnya… Diera saja sampai deg-deg an melihatnya…“Kok loe yang di sini? Bukannya Pasya?” Tanya Diera masih nggak percaya.“Jadi loe nggak suka. Ya udah gue pulang aja deh,” Rian pura-pura ngambek dan siap-siap untuk pergi.“Tunggu” Diera segera menarik tangannya. “Jangan datang dan pergi sesuka hati loe. Itu nggak baik.”Rian kaget karena Diera sengaja mengulang kata-katanya tadi siang untuk menarik perhatiannya. Sejenak Rian terdiam tapi kemudian ia kembali tersenyum.“duduk dulu yuk” ajak Rian sambil menarik kan kursi untuk Diera.“eh kita mau ngapain nie?” Tanya Diera setelah beberapa saat mereka saling terdiam “mana pake acara ada Lillyn segala lagi. loe ulang tahun ya?” sambung Diera sebelum Rian menjawab pertannyaan nya.“Bukan” Rian menggeleng.“jangan-jangan loe rabun senja ya? Tapi prasan tuh lampu udah terang deh…” tebak Diera ngasal.“apa an sih?” bantah Rian.“0 gue tau. Loe pake Lillyn pasti gara-gara loe mau ngerokok tapi nggak bawa korek. Ia kan?”“ah… loe. Jangan ngeledek gue terus deh” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa.“jadi kita kesini mau ngapain?” ulang Diera.Rian diem agak ragu. Ia mengatur napasnya sejenak. Matanya menatap tajam kearahnya yang kemudian di raihnya tangan Diera dan menggenggamnya.“Diera gue suka sama loe. Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian.Diera terdiam ia masih kaget.“gi mana? Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian lagi karena Diera masih belum memberikan jawaban.“nggak” balas Diera sesaat kemudian.“jadi gue di tolak lagi nie” Rian kecewa sambil melepas kan genggamannya.“nggak mungkin lah gue nolak jadi pacar cowok keren kayak loe” sambung Diera sambil tersenyum.“loe tu ya seneng banget ngerjain gue. Emang deh…” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa mendengarnya.“jadi mulai sekarang kita resmi jadian nih?” Rian memastikan.“menurut loe?”Rian tersenyum mendengarnya.“eh tau nggak sih, tadi nya gue sempet berfikir kalau loe sama kayak hanafi” kata Diera beberapa saat kemudian.“hanafi?!” Rian Heran. Diera membalas dengan anggukan kepala.“siapa dia?” Tanya Rian lagi.Dari suaranya aja jelas terkasan rasa nggak suka. Masa di awal jadian mereka justru yang di sebut malah nama cowok lain.Diera tidak menjawab. Sebaliknya ia malah mengeluarkan bukunya Rian dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke pada pacar barunya. Rian segera meraihnya, sejenak ia terdiam melihat judulnya. Tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum menatap Diera.“emang loe mau jadi ‘ninda’ nya?”“kenapa nggak? Dia baik, cantik, soleha lagi” balas Diera mantap.“ya udah kalau gitu sekarang juga kita langsung ke rumah loe” ajak Rian.“HA?! Mau ngapain?” Diera kaget plus bungung.“katanya mau jadi ninda. Ya udah kita minta di nikahkan aja besok. Ha ha ha…”“sembarangan!!!” damprat Diera sewot karena Rian ngerjainnya. Sementara Rian makin ngakak.“eh tapi ngomong-ngomong Pasya nya mana ya?” Tanya Diera beberapa saat kemudian.“tuh kan… loe kok malah ngomongin cowok laen lagi sih” Rian sewot.“bukannya apa. Tadi kan dia yang mint ague kesini. Kok jadi loe yang datang gitu lho”“0 jadi nggak suka? Ya udah gue pulang aja deh” Rian mau beranjak pergi. Tapi buru-buru di tahan oleh Diera.“tunggu dulu. Bukan itu maksud gue. Loe jangan salah paham dulu. Gue Cuma…”“ia, gue tau kok. Gue tadi Cuma ber canda…” Rian kembali duduk di bangkunya “lagian tu orang palingan lagi kencan juga”“Ha?! Sama siapa?” Diera kaget.“Hera” balas Rian singkat.“Hera?! Kok bisa?”“ya bisa donk.tu orang kan udah lama naksir sama Hera”“kalau soal itu gue juga udah tau. Maksud gue kok mereka bisa kencan bareng, memang siapa yang nyomblangin?”“siapa lagi donk. Ya pasti gue lah”“elo?” Diera makin Heran.“memangnya kenapa?” Rian balik nanya.“sulit di percaya. Memangnya sejak kapan loe care sama temen-temen gue. Pa lagi Hera. Masa ia loe bisa nyomblangin mereka” Diera masih berfikir kalau Rian bercanda.“lho memangnya loe belom tau ya? Tiap 2X seminggu Hera kan datang ke rumah gue. Dia kan jadi guru private nya adek gue” terang Rian lagi.“What?!” Diera mendelik mendengarnya “tapi tu anak kok nggak pernah cerita ma gue kalau dia kerja di rumah loe?” sambung Diera.“tau” Rian angkat bahu “lagian gue juga nggak suka kalau cewek gue deket-deket sama cowok laen”“ketahuan… loe cemburu ya?” goda Diera.“nggak kok. Siapa juga yang cemburu. Orang gue Cuma nggak suka aja” bantah Rian.“alah jangan bohong… ngaku aja…” kejar Diera lagi.“terus kenapa emang kalau gue cemburu? Nggak boleh? Loe kan cewek gue. Jadi wajar donk” sahut Rian kemudian Diera langsung ngakak.“eh udah makin malam nie. Loe mau pesen apa? Gue juga udah laper dari tadi ngobrol terus” Rian mengalihkan pembicaraan.“E… spageti sama orange jus aja deh” sahut Diera sambil melihat daftar menunya.“nggak miso sama es rumput laut?” ledek Rian lirih.“maksudnya?” Diera Heran. Dari mana Rian tau makanan kesukaannya. Tapi Rian tidak mau membahas lebih lanjut, ia malah mengajak Diera angobrol hal laen. Tepat pukul Sembilan tiga puluh Rian mengantar Diera pulang kerumahnya.Cerita SMA Diera Diary End“apa?!!! Jadi sekarang loe udah beneran jadian sama Rian?” Narnia setengah berteriak nggak percaya waktu Diera curhat ma temen-temennya di kelas pas jam istirahat sekolah. Saat itu kebetulan kelas memang lagi sepi hanya ada mereka berlima di kelas sementara temen-temen yang laen sudah pada keluar.“kok bisa sih?” sambung anggun yang juga masih nggak percaya.“tapi kalau gue sih nggak Heran ya” komentar Hera.“kok githu?” Tanya Lilly.Diera diam saja mendengar tanggapan temen-temennya.“ya iyalah secara gue kan emang tau kalau dari dulu itu Diera emang naksir berat sama Rian. Sementara gue juga tau kalau Rian juga suka sama dia”“loe tau Rian naksir sama Diera?” Lilly kaget plus Heran.“gimana bisa?” tambah Narnia.“ya bisa lah. Kalian tau nggak sih, selama ini ternyata Hera kerja sambilan di rumah Rian, ia jadi gur private adeknya Rian. Jelas aja dia bisa tau. Pasti selama ini Rian udah sering cerita macem-macem sama dia” Diera yang menjawab.“ha?! Loe kok nggak pernah cerita ma kita?” Lilly makin kaget.“emang nih anak. Suka maen rahasia-rahasiaan sama kita. Salnya ni ya, biar gue tebak. Pasti dia juga nggak da cerita ma kalian kalau tadi malam itu dia kencan sama Pasya, ia kan?” terang Diera lagi. semuanya semakin melongo.“benarkan?” anggun nggak menduga sama sekali.“tapi bukannya Pasya selama ini deket sama loe ya?” Tanya Narnia.“emang sih. Tapi dia deket sama gue Cuma karena ada maunya” balas Diera sambil tersenyum melirik Hera.“jadi loe tadi malam beneran nge date sama Pasya ra?” Tanya Lilly ke Hera.“nggak kok. Gue Cuma jalan biasa aja. Diera emang suka ngarang tuh” elak Hera.“ngaku aja deh…” ledek Diera lagi.“nggak!!!” Hera ngotot.“alah Rian yang bilang ndiri kok sama gue, pasti selama ini kalian sering curhat-curhatan di belakang kita ia kan?” desak Diera lagi.“bukan. Tadi malam itu gue di kerjain sama Rian. Dia bilang gue di tunggu sama septia. Adeknya dia, eh nggak taunya pas gue datang malah Pasya yang nongol” terang Hera.“masa’ she…” Diera masih ingin menggoda sahabatnya yang satu ini.“sumpah deh” Hera mengangkat dua jarinya.Diera mencibir bibirnya “tapi loe senengkan…” ledeknya lagi.“ah loe tu emang ya…” Hera bête juga lama-lama “lagian siapa bilang gue sering curhat-curhatan sama Rian?”“kalau nggac dari mana donk loe bisa tau kalau Rian selama ini naksir sama Diera” ujar anggun.Kali ini Hera dapat ide untuk membalas ledekan Diera.“gue bisa tau kalau Rian itu suka sama Diera gara-gara adeknya nunjukin foto ini ke gue. Dia nanya ma gue, ne cewek siapa, kok fotonya ada di hape kakaknya. Gue kenal nggak” balas Diera sambil mengeluar kan hapenya. Narnia langsung merebutnya dengan antusias.“apaan nie? Diera lagi tidur?” Narnia bingung. Karena bingung Diera merebut hape tersebut.“ini kan waktu gue nyasar di hutan. Kok dia bisa punya foto gue sih?” guman Diera kaget.“emang. Cie… ehem ehem ehem… emang waktu di hutan kalian ngapai aja tuh. Patut di curigain deh kayaknya” gentian Hera yang ngeledek Diera.“bahkan di jadiin wallpaper hape nya lho” sambung Diera lagi sambil tersenyum mengejek.“awas tu orang” geram Diera malu sambil berlalu dari hadapan temen-temennya yang menyorakinya. Sementara Hera tertawa puas karena berhasil membalas ejekan Diera tadi.Dengan tergesa-gesa Diera melangkah kan kaki menuju ke belakang sekolah. Ia yakin Rian pasti saat ini ada di sana. Karena ia tadi sudah mencarinya ke mana-mana, ke perpus, kantine, bahkan ia juga sudah kekelasnya tapi tetep belum nemuin Rian.Ternyata bener dugaannya. Rian emang ada di sana. Lagi nongkrong di tempat biasa sambil baca buku. Dan Rian langsung kaget ketika mendapati Diera sudah berdiri di depannya sambil menatap tajam kearahnya.“lho kok loe di sini? Nggak di sana?” ledek Rian sambil menunjuk pohon bunga tempat Diera biasanya ngumpet.Diera diam saja tanpa melepas pandangannya sedikit pun.“apa karena sekarang loe udah jadi cewek gue makanya bebas, huu… dasar” sambung Rian sambil mencubit pipi Diera gemes.“mana hape loe?”“he?! Buat apa?” Tanya Rian bingung.“udah jangan bawel. Sini gue mau liat”“apaan sih. Apa karena sekarang loe udah jadi cewek gue makanya loe mau ngecek hape gue kali aja gue ada maen ma cewek laen?”“gue bilang sini in” Diera ngotot.“hei kalau pun cemburu jangan kebangetan deh. Gue nggak ada maen sama cewek laen” Rian mulai gusar.Diera sama sekali nggak menggubrisnya, malah ia nekat merebut hape Rian yang kebetulan lagi di pegangnya.“apaan sih loe” bentak Rian sambil berusaha merebut hapenya kembali tapi Diera menghalanginya.“ini apa?!” Diera menunjuk kan hape nya pada Rian.“he ada yang aneh?” Rian Heran.Rian mengambil hape nya kembali. Sementara Diera udah pasang tampang cemberut.“0 wallpaper nya?” Rian baru nyadar.“ia. Maksud loe apa jadiin foto gue sebagai wallpaper hape loe. Mana gue lagi berpose kayak gitu lagi”“lho emangnya ada yang salah? Yang gue pajang kan wajah pacar gue sendiri. Kalau cewek laen wajar loe marah” Rian membela diri.“tapi waktu itu kita kan belom jadian, kok loe udah punya foto gue sih? Mana gue lagi tidur lagi, pasti loe ngambil nya diem-diem kan?” Tanya Diera lagi, Rian kaget.“0… itu… karena…” Rian jadi salting“karena sebenernya loe udah lama naksir sama gue. Ia kan? Huu.. ngaku aja deh, tau gini mendingan kemaren waktu loe nembak gue, nggak usah langsung gue terima kali ya” gerutu Diera.“apaan tuh. Jadi loe nyesel jadi cewek gue” Rian protes.“ia, abisnya selama ini loe kan jutek banget sama gue. Eh nggak taunya. Ternyata diem-diem loe naksir juga sama gue” ledek Diera.“0h ya?… kayak loe nggak. Bukannya loe juga udah naksir sama gue . bahkan dari kelas satu ia kan?” balas Rian sambil tersenyum menang.Diera kaget nggak nyangka Rian bisa balas meledek nya. Bahkan dia juga udah tau rahasianya.“ahh nggak kok. Siapa yang bilang. Andreani?… tu anak loe dengerin” elak Diera.“kenapa gue harus percaya sama Andreani? Ya gue tau nya dari loe sendiri lah”“gue?” Diera bingung.“eh sini deh” Rian menarik Diera mendekat “gue mau nanya sama loe. Kira-kira kalau ada cewek terus dia naksir sama cowok, apa yang bakal dia lakuin?” Tanya Rian.“ya berusaha ngedeketinnya donk” balas Diera setelah mikir beberapa saat.“huu… salah” Rian mendorong Diera menjauh “yang bakal dia lakuin adalah memenuhi buku haRian nya sama nama cowok tersebut” sambung Rian sambil tertawa dan pergi meninggal kan Diera yang kebingungan.“tunggu dulu” gumannya lirih “jangan bilang kalau elo yang udah nemuin buku diary gue yang ilang?” Tanya Diera, Rian menoleh.“jadi loe baru nyadar?.. ha ha ha kemana aja loe selama ini…”“APA?! 0MG!!!” Diera shok.“eh Rian. Tunggu dulu” kejar Diera melihat Rian yang semakin menjauh/“balikin nggak!!!” teriak Diera sambil terus mengejar Rian yang terus tertawa menghindar dari kejarannya.“nggak…!!! Wuek….” Ejek Rian sambil terus berlari.“Rian balikin please…” kejar Diera.“pokok nya nggak”“ha ha ha…”EndSalam ~ Ana Merya ~Lanjut Baca : || ||

  • Cerpen Rindu: Sometimes and Always

    Sometimes and Always oleh: WulanaiSudah hampir berjam-jam aku duduk diatas pohon besar di halaman belakang rumahku. Tidak jelas pohon apa ini. Yang jelas pohon ini ukurannya besar dan sudah ada sejak pertama kali aku tinggal dirumah ini. aku memainkan harmonika pemberian nenek kemarin asal-asalan. Soalnya aku tidak tau cara memainkkanya. Dan aku heran kenapa nenek memberikannya pada ku.''Rey! ayo turun! Disuruh sama ibumu! Soalnya udah sore!''Aku menengok kebawah. Oh ternyata Sarah. Sepupuku yang setiap liburan musim panas, pasti akan berkunjung kemari. Dia pergi kemari bersama ibunya.''hah??'' ucapku pura2 tak dengar. ''turuuuuunn!!'' teriaknnya terdengar kesal. Aku terkikik geli. ''aku tidak bisa mendengarmu, sarah! Suara mu kecil sekali!''''Turunnnnnnn!! kamu tuli ya?!''''hah? Guruuunn??''''Rey!!!''''hahahaha iya iya'' aku turun dari pohon sambil tertawa-tawa. Saat kakiku sudah menginjak tanah, Sarah mencubit lenganku kuat. Aku berteriak kesakitan. ''Rasain!'' ucapnya jutek.''aku tuh capek tau manggil kamu, teriak-teriak kaya orang gila, tapi kamu malah pura2 ga dengar!''. Sarah ngerocos.''Terussss????'' ucapku gak peduli sambil berjalan memasuki rumah. Sarah mendengus kesal lalu ia mengekorku dibelakang.Dan tiba-tiba saja ide busukku kembali muncul. Aku mempercepat langkahku ke arah pintu belakang. Dan setelah sampai diambang pintu, aku malambaikan tanganku ke arah Sarah. kemudian aku menutup pintunya, lalu menguncinya.''REEEYYY!!''aku tersenyum penuh kemenangan.****Rey sialan. Aku terpaksa masuk kedalam melewati pintu depan. Kenapa sih dia selalu saja menjahiliku setiap aku datang kemari. Tingkahnya Tidak pernah berubah. Masih saja kaya anak kecil padahal umurnya kan sudah 16 tahun.Saat aku masuk kedalam rumah, aku melihat dia sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil memejamkan matanya. Karena masih kesal, aku mendatanginya diam-diam lalu menjewer telinganya.tapi belum sempat aku menjewer telinganya, dia sudah menepis tanganku duluan.''walaupun mataku tertutup, aku bisa membaca gerak gerikmu'' ucapnya sambil tersenyum sinis. Bagaimana dia bisa tau? Aku benar2 kesal dibuatnya. lalu akupun ikut2 merebahkan tubuhku disebelahnya. ''kau menyebalkan!''Dia terkekeh geli. ''kau mengesankan. Mengesankan untuk dijahili..'' aku mencubit perutnya lalu beranjak pergi kedalam kamar. Meninggalkan si anak menyebalkan itu mengumpat-ngumpat kesakitan sendirian.****Keesokan paginya, aku terbangun karena Sarah menyiramiku dengan air. Aku kaget dan langsung marah-marah karena kesal. katanya Sarah lelah membangunkanku tapi aku tidak bangun-bangun.''ngapain sih dibangunin?!'' tanyaku kesal''ibu kamu suruh!''''ibu kamu suruh''aku membeo.''selalu saja begitu! Kenapa coba mesti pake air?! Liat, kasurnya jadi ikutan basah, kan?''''aku udah-''ah terserah. Keluar aja deh kamu!''Aku mengusirnya. Lalu Sarahpun keluar dari kamarku diakhir dengan bantingan pintu yg cukup keras. Aku menutup mukaku dengan bantal.Selesai mandi, aku keluar dari kamar berjalan menuju ruang makan. Tidak ada siapa-siapa disana. Bahkan diseluruh penjuru rumah ini pun tidak ada orang. Yang ada hanya kucing persiaanya ibu sedang tergolek malas di atas sofa ruang tengah.Tidak tahu mau ngapain, aku pun pergi kehalaman belakang rumah. Memanjat pohon besar kesayangnku, dan duduk diatas dahannya yang kokoh.Tapi saat hampir saja aku ingin duduk didahannya, aku terkejut melihat sarah ada disana.''heh! Ngapain kamu disini?''. Sarah menoleh. ''eh ng… aku penasaran kenapa kamu suka duduk disini. Makanya aku coba manjat, Dan ternyata menyenangkan ya!'' ucapnya kaku.lalu aku naik, dan duduk disebelahnya.''maaf ya yang tadi pagi…''Aku melihat kearahnya. Wajahnya tertunduk dalam. ''soalnya kamu gak bangun-bangun sih…'' lanjutnya sambil sesekali melirikku. Aku tidak bicara. Hanya diam memandanginya saja.Sarah salah tingkah.''ngomong dong Rey.. Jangan diliatin aja''ucapnya terdengar seperti bisikan diakhir kalimat. Aku terkekeh. Lucu sekali. Baiklah, kali ini aku berniat untuk menggodanya.Aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya.''baik..aku memaafkanmu.. Tapi sebagai gantinya, aku meminta sebuah…….ciuman''Aku mendekatkan wajahku kearahnya. Sepertinya dia kaget setengah mati. Wajanya memerah seketika. semakin dekat dekat dan semakin dekat. Sarah makin salah tingkah. Mau menghindarpun kepalanya sudah mentok di batang pohon. Sebisa mungkin aku menahan agar aku tidak tertawa. Dan akhirnya saat benar2 sudah terlalu dekat…………………………………fuh! Aku meniup wajahnya. Lalu menjauhkan diriku dan tertawa terbahak bahak. Mulut Sarah menganga lebar. ''kena kau! Ha ha ha''****Aku malu setengah mati. Aku kira dia benar-benar akan menciumku. aku mengumpat pelan dan menutup wajahku dengan kedua tangan.''sudah jangan malu begitu…hahaha'' Katanya masih tertawa-tawa. Aku merasakan tangannya mengacak-ngacak rambutku. Langsung saja ku menepisnya.''kau benar2 menyebalkan!!''aku berteriak kesal lalu memuku-mukul lengannya sekuat yang aku bisa. Entah kenapa aku kesal sekali dengannya.Aku kesal karena dia menjahiliku sampai sebegitunya. Aku sampai ingin meanangis rasanya.''sudah!'' Rey berhasil menahan tanganku. ''Sakit tau! Mukulnya kira-kira dong''aku memasang muka jutek. Lalu berusaha menarik tanganku yang ditahan olehnya. Tapi dia menahannya terlalu erat.''kayanya marah banget. Minta dicium beneran nih?'' Rey tersenyum jahil, sambil menaikkan kedua alisnya. pertanyaan yang berhasil bikin jantungku serasa mau copot.''a..a..apa?!'' ucapku terbata-bata. ''eng…engak!''''hayoo ngaku…''. Rey terkikik geli.''Enggak kok!''''Bener…..'' Rey medekatkan wajahnya lagi ke arahku. Aku gelagapan. ''R…rey…''Rey semakin mendekatkan wajahnya ke arah ku. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya. Semakin dekat dan semakin dekat. Aku memejamkan mataku erat2. Kenapa aku tidak menolakanya? Aku tidak tau! Lalu…………………cup. Rey mencium…keningku?Aku membuka mataku dan melihat Rey yang jarak wajahnya sangat dekat denganku, dia tersenyum manis sekali. ''Selesai… Jangan marah lagi yaa…'' katanya sambil melepaskan tanganku yang sedari tadi digenggamnya. Lalu bergegas turun meninggalkanku sendirian disini.****Sejak kejadian itu, setiap saat aku jadi memikirkannya. Terkadang aku bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Terkadang aku juga suka mencuri-curi pandang ke arah Rey. Dan merasa sangat membosankan jika Rey sedang tidak ada di rumah.Dan…. Sejak kejadian itu Rey berubah. Rey tidak suka menjahiliku lagi. Rey jadi sering tidak ada dirumah. Jika berpas-pasan denganku dia hanya sekedar menyapaku dengan wajah sok cerianya itu. Dia tidak mengajakku berbicara. hari berganti hari Rey tidak kunjung berubah seperti dulu. Aku mulai merindukannya. Merindukkan kejahilannya. Aku tidak tahu kenapa aku merindukannya. Kenapa aku lebih memilih dia menjahiliku dari pada tidak peduli denganku. Padahal dulu-nya aku sangat ingin dia berhenti mengangguku setiap aku pergi berlibur kemari. Besok aku akan pulang. Soalnya liburan musim panas akan berakhir. Dan kami akan kembali masuk sekolah. Untuk pertama kalinya aku merasakan musim panas kali ini terlalu singkat.***Aku menarik koperku berjalan keluar rumah. Berjalan mendekati ibuku, ibu Rey dan Rey yang sudah menungguku dari tadi didepan gerbang.''baiklah… Taksi yang akan mengantarkan kita ke stasiun kereta sudah sampai… Kami pamit dulu ya'' ucap ibuku sambil berpelukan dengan ibunya Rey. Lalu ibuku memeluk Rey. Dan aku memeluk ibunya Rey. Setelah itu, ibuku berjalan masuk kedalam taksi. Dan sekarang aku sedang berhadap-hadapan dengan Rey. Rey memelukku. Aku membalasnya. Tapi terlalu singkat. Soalnya Rey langsung melepaskannya. ''sampai jumpa diliburan musim panas berikutnya'' katanya lembut. Aku tersenyum tipis. Lalu merogoh saku celanaku dan memberikannya selembar kertas yang terlipat dua. Rey menerimanya ragu-ragu dan akupun beranjak masuk kedalam taksi. Setelah taksi berjalan pergi, sampai aku didalam kereta api dan sampai aku kembali kerumahku, yang aku fikirkan nya bagaimana reaksi Rey ketika ia sudah membaca surat itu?***''aku pulang!!''. Aku mengusap-usap kedua telapak tanganku karena kedinginan. Musim Dingin kali ini serasa lebih dingin dari pada musim dingin sebelumnya.aku berjalan menuju ruang tengah dan mendapati…….''Rey???''''hai sayang, kau sudah pulang? Lihat siapa yg datang, Rey berkunjung kerumah kita'' ucap ibu senang. ''tapi sayang ibunya tidak bisa datang''''oh baiklah, karena kau sudah pulang, kau saja yang menemani Rey. ibu mau pergi soalnya ada arisan. Ibu pergi dulu ya..''Lalu ibuku pergi meninggalkan aku dan Rey dalam keheningan. Lama aku hanya berdiri, akhirnya aku memutuskan untuk duduk dihadapannya. ''hai'' sapaku canggung. Dia tersenyum''Well, aku udah baca suratnya.. Maaf, dan teruma kasih..''ucapnya. Dan aku tidak mengerti.''oh begitu… Apa kabar?''ucapku mengalihkan pembicaraan.''tidak terlalu baik. kamu?''''kenapa? Aku baik''Lama rey hanya diam. Lalu dia berkata pelan ''karena kau tidak ada dirumah..''''apa?''''karena kau…ng…aku merindukanmu..'' mendengar itu Aku hampir saja mati kena serangan jatung.''kau sedang bercanda kan? aku tau itu. Itu kebiasaanmu'' kataku pura-pura tenang.''kali ini aku serius!''''lalu kenapa….''''karena waktu itu aku sedang kacau. Sejak kejadian itu, Aneh rasanya jika aku dekat2 denganmu..''''aneh?''''ya..''Lalu kehingan kembali menghantui kami. Lama sekali.Tiba2 saja Rey, menggenggam tanganku. Aku menatap kearahnya kaget.''I love you Sarah. I keep asking my self why it has to be you. it needs a long time to know that you the most beautiful thing in my life''''maaf kalo kamarin-kemarin aku hanya diam gak ngomong apa-apa sama kamu. Itu karena aku cuman terlalu takut..''aku merasa mataku mulai terasa panas.''kamu gak lagi becanda kan?'' ucpku hampir manangis sangking senangnya.Rey tertawa. Lalu menggeleng mantap. bangkit dari duduknya. Berjalan ke arahku dan memelukku erat.''I love you too'' ucapku didalam pelukannya.''haha aku tau.. kan kamu udah tulis di surat..''Aku mempererat pelukanku. Menghirup aroma rey dalam-dalam. Melepas kerinduan yang Sudah terpendam lama. Kau dan aku selamanya…The ENDNama : WulanaiAlamat email : wulanai62@yahoo.comTwitter : @itsKugySyid

  • Cerpen Terbaru FCMCSG 1

    Cerpen TerbaruFcscmg Part 1Hallo All. Star Night datang lagi nie. Tapi bukan mo posting tentang rasa atawa malah The prince ya. Star Night datang dengan membawa cerpen baru. Judulnya FCSCMG. Jangan Tanya artinya, Star Night juga nggak tau. Ini cerpen lagi lagi kiriman dari Adek Star Night, Mia mulyani . Tau donk dia itu siapa?. Itu lho yang nulis Cerpen Buruan katakan Cinta sama Vanessa Vs Ferly. Nah dia bilang nya si udah selesai diketik, Cuma baru di kirim separuh. Katanya biar Star Night ikutan penasaran. #halah. Kalo gitu yuks, sama – sama kita baca. Credit Gambar : www.desainkawanimut.com CerpenSiang itu Feisya sedang duduk santai sendirian sambil menghadap laptopnya di sebuah kafe. Tiba – tiba hapenya bergetar tanda ada SMS masuk. selesai membaca Angan nya melayang entah kemana. Sejenak ia edarkan pandangan ke sekeliling. Untuk detik pertama perhatiannya tertuju pada sepasang muda- mudi yang tampak ngobrol tak jauh darinya. Tanpa perlu jadi orang pintar ia tau kalau mereka pasti sepasang kekasih. Perhatiannya kembali teralih kearah Hanphond yang ada di tangannya. Diawalai hembusan nafas berat ia ketik dua kata itu, Tanpa ragu lagi meng'send'nya. Ya, hanya dan cukup dua kata. "KITA PUTUS".sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*