Cerpen Tentang Aku dan Dia Part 7 {Update}

Sekilas, penulis baca ulang cerpen tentang aku dan dia ini, wukokokoko. Kok berantakan gini yak?. Bentar sekolah bentar kampus. Hadeeeeh…
Satu lagi bukti kalau penulis bener bener masih amatir dalam dunia tulis menulis.
ho ho ho
Oke deh lanjut ke acara edit mengedit Cerpen tentang aku dan dia yang sejenak telah terlupakan.
#Lebay…

Credit Gambar imut : Ana Merya
Tumben banget masih pagi gini suasananya cerah" kata anya sambil melirik yang asik mencoret coret buku nya. Biasa, ceritanya sih lagi belajar nulis cerpen.
"ho'oh. Nggak lagi pengen makan orang lagi kayak nya" sambung nanda.
Sementara gresia tetap cuek menulis kan ide ide yg kebetulan beberapa hari ini berseliweran di otak-nya yang jelas pas – pasan. Ia lebih memilih diam dan pura – pura tak tau kalau kata – kata sindiran itu di tujukan untuknya.
“Jatuh cinta berjuta rasanya
Biar siang biar malam
Terbayang wajahnya” Titi Kamal nyangkut ke tubuh Nanda gara – gara ia di cuekin oleh sahabatnya.
“Jatuh cinta berjuta indahnya
Biar hitam biar putih
Manislah nampaknya” Sambung Anya lagi
“ Dia jauh aku cemas tapi hati rindu
Dia dekat aku senang tapi salah tingkah
Dia aktif aku pura-pura jual mahal
Dia diam aku cari perhatian
Oh repotnya ” Angun Ketularan
“Jatuh cinta berjuta indahnya
Di pandang di belai amboi rasanya
Jatuh cinta berjuta nikmatnya
Menangis tertawa karna jatuh cinta
Oh asyiknya….” Kali ini malah koor bertigaan.
"stop, kalian apa – apaan sih?" Gresia akhirnya menyerah tidak tahan akan ledekan.
"lho, emangny kita ngapain?" tanya Anya dengan tampang watados alias wajah tanpa dosa, kalau bahasa keren nya sih innocent.
"iya, kita kan cuma nyanyi nyanyi aja. Gx tau kenapa jadi suka ma lagu jatuh cinta nya titi kamal" sambung anggun.
"heh" Gresia hanya mampu menghela nafas berlahan begitu melihat bu lidiya yang sudah berada di ambang pintu. Terpaksa protesny di tunda.
"cie, yang lagi kasmaran" kata nay sambil membereskan catatannya begitu bayangan bu lidiya hilang di balik pintu dan telah tergantikan sosok yg tak asing lagi.
"kali ini apa lagi?" gresia sewot.
Nay tidak menjawab hanya moncongnya yang ia majukan. Refleks gresia mengikuti dengan tatapan matanya. Lagi – lagi Arga sudah stand by menantinya. Moment ini lah yang terjadi sehari – hari terhitung mulai dari 15 hari yang lalu. Dan gresia juga sudah menyerah untuk menolak. Karena itu semua percuma. Arga adalah type orang yang tidak menerima penolakan sekaligus keras kepala. Jadi gresia lebih memilih mengikuti permainanya Arga. Kalau pun nanti pada akhirnya ia beneran jatuh cinta, ia akan mengangap itu hanya resiko semata. Justru ia berharap semoga Arga yang jatuh cinta padanya. Biar kesannya seperti senjata makan tuan. He he.
Setelah mengemasi barang – barang nya gresia langsung menyusul keluar. Sayup – sayup alunan tembang Titi kamal versi sumbang masih terdengar. Tapi Gresia cuek bebek saja. Berpura – pura seolah nggak ada kejadian.
"kita jalan – jalan dulu atau mau langsung pulang?" tanya arga begitu grasia jalan di sampingnya.
"kalau loe mau pulang, duluan aja. Soalnya setengah jam lagi gue masih ada kelas" balas gresia sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Arga hanya mangut – mangut mendengarnya.
"ya udah kalau gitu. Mending kita makan aja dulu. Tenang, kali ini beneran gue yang traktir" ujar arga beberapa saat kemudian sambil meraih tangan gresia lantas mengandengnya menuju kantin. Jangan heran, hal ini sudah jadi rahasia umum kok.
"Arga, loe baik-baik aja kan?" tanya Gresia. Saat itu mereka sedang duduk sambil menunggu pesanan datang.
"Baik. Memangnya kenapa?" Arga balik bertanya.
"Kok muka loe pucet gitu. Loe sakit ya?".
"Nggak kok, gue baik – baik aja" tegas arga.
"yakin?" gresia sangsi.
"ketauan, loe khawatirin gue kan?. Tampang loe kok sedih gitu?" tanya Arga dengan nada mengoda yang tanpa sadar membuat gresia jadi sedikit salah tingkah.
"Nggak kok. Bukan gitu. Gue cuma…..".
Gresia tidak melanjutkan ucapannya. Ia juga bingung mau bilang apa. Tapi untunglah kali ini arga pengertian dan lebih memilih untuk mengalihkan perhatian pada makanan karena kebetulan pesanan mereka sudah datang.
"Arga, hidung loe berdarah" kata gresia kaget plus panik sambil membatalkan rencana pendaratan makanan kedalam mulut.
"eh?. Oh!" arga segera meraih tisu yang ada di meja untuk mengelap hidungnya yang tiba – tiba mimisan.
"Gue ke toilet bentar"
"Tunggu, gue ikut" gresia bergegas menyusul arga yang telah hilang dari pandangan. Soalnya ia tadi masih harus kekasir untuk membayar pesanan mereka walaupun sebenarnya belum juga dimakan. Untuk beberapa detik yang lalu gresia memang sempat menduga kalau ini masih akal – akalan kevin untu mengerjainya. Tapi di detik berikutnya hal itu segera ditepis oleh pikiran nya sendiri.
Dan begitu melihat pintu toilet kini sudah ada di depan mata, tanpa pikir panjang Gresia langsung menerobos masuk. Sebodo amat kalau itu toilet cowok. Bahkan ia juga telang mengabaikan diri nya sendiri yang noteban nya adalah seorang cewek hanya demi seorang arga, playboy cap ikan hiu.
"Loe udah check up ke dokter?" tanya gresia setelah arga membersihkan wajah ny dengan air keran.
"Belum. Lagian kayaknya nggak perlu juga. Memang si beberapa hari ini kepala gue sering sakit. Tapi menurut gue ini wajar aja kok. Secara beberapa hari ini gue memang lagi sibuk banget. Masih banyak tugas dari , mana gue juga masih harus ikutan latihan bola, ditambah lagi gue kurang tidur" terang Arga.
"Sibuk tapi masih sempet aja tu buat ngerusuhin gue" cibir gresia.
"ya kalau yang nie laen ceritanya".
Mendengar itu Gresia hanya menatap arga sinis.
"tapi ga, nggak ada salahnya kan kalau loe periksa soal kesehatan loe kedokter" tambah gresia beberapa saat kemudian.
"sekali lagi gue denger loen ngomong kayak gitu, gue artikan kalau loe udah jatuh cinta sama gue" kata arga sambil menatap gresia tepat di manik matanya.
"bukan gitu, tapi….. Ah , sudah lah terserah loe aja" gresia segera berbalik pergi meninggalkan arga yang tampak tersenyum – senyum sendiri melihat tingkahnya.
"gres, gue yakin . Lambat laun loe pasti bakal jatuh cinta sama gue. Dan kalau gue boleh jujur, sepertinya gue juga sudah mulai suka sama loe" gumam arga lirih begitu melihat gresia telah hilang dari pandangan.
***
To be continue…
Oh ya, Disini, Star Night mau curhat dikit, walaupun sebenernya khusus curhat sudah ada di ceritakyu. Tapi tangan Star Night sudah gatel peneng nulis. Jadi gini, Star Night mau cerita kalau dalam pembuatan episode ini lah yang paling banyak makan hati. Mending kalau yang di makan hati ayam, la ini?…. Mau tau kenapa?. Karena khusus di part ini Star Night harus ketik ulang selama 5 kali. Di ulang LIMA KALI.
Sakit hati nggak tu. Mana biasanya lepas nulis memori di kepala langsung ke delete lagi. Huh, Padahal Rencananya di part ini sudah mau di end. Tapi gara – gara opera mini s****n *sensor*. Berantakan deh rencananya. Udah selesai di ketik eh Giliran mau di save kok blank Heh, Ya udahlah Star Night sambung lagi nanti. Mungkin juga Cuma tinggal 1 part lagi end nya, itu juga kalau nggak berubah pikiran lagi. Huahahaha,…..

Random Posts

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart” ~ 01

    Salah satu kisah remaja yang admin tulis adalah cerpen remaja Take My Heart, kisah remaja yang merupakan lanjutan dari cerpen pendek pupus yang telah di posting sebelumnya. Secara cerpen yang satu itu kan sad end, so biar happy di tarik kesini. He he he. Nah, buat yang penasaran bisa langsung read ke bawah. Ini merupakan part awal, so silahkan simak detailnya. Jangan lupa RCL ya…Cerpen take my heartOrang bilang cinta itu sederhana, Cukup aku dan kamu, Yang lain cuma nonton. Tapi sayangnya, tidak semua orang menyukai kesederhanaan. Layaknya hidup yang menginginkan kemewahan…. #Take My Heart"Ah, Mereka benar – benar pasangan yang serasi ya?.""Ia. Yang satunya Prince, yang satunya lagi Princess.""Sulit di percaya, kedua idola di kampus kita bisa jadi pasangan."Laura terus melangkah sambil tersenyum bangga mendengar kalimat demi kalimat yang mampu di tangkap oleh indra pendengarnya. Sesekali matanya melirik sosok yang berjalan tepat disampingnya. Menuruti tawaran menjadi pacar Ivan, Idola kampusnya walau selama ini terkenal dengan Cap Playboy ternyata bukan ide yang buruk. Terbukti pamornya makin menanjak semenjak itu. Padahal baru terhitung seminggu mereka jadian."Sayang, kita ke kantin dulu yuk. Gue laper nih," ajak Laura terdengar manja, Ivan menoleh kearahnya. Mengangguk setuju sambil pasang senyum manis.Begitu mereka menginjakkan kaki di kantin, seperti biasa langsung menarik perhatian semuanya. Mulai terdengarlah suara suara berbisik yang membicarakan tentang keduanya."Kok kita duduk disini si?" bisik Laura lirih saat mendapati Ivan duduk santai di meja tengah bersama ke tiga teman karibnya. Biasanya kan bila mereka berdua mereka selalu duduk berdua di pojokan."Oh, itu karena gue punya kejutan buat loe. Bener gak guys?" tanya Ivan sambil tersenyum misterius kearah teman – temannya."Oh ya?" wajah Laura tampak bercahaya."Nggak yakin loe suka, tapi kalau kaget bisa jadi," Ivan menambahkan."Apa?" tanyanya sedikit mengernyikan dahi."Gue mau kita putus," kata Ivan singkat, padat dan jelas."Apa?!" kali ini Nada kaget yang keluar dari mulut Laura. Setelah terlebih dahulu terdiam sejenak ia menambahkan sambil tertawa. "He he he, loe bercanda kan?""Jadi menurut loe ini lucu?" bukannya menjawab Ivan malah balik melontarkan pertanyaan."Tadi ini nggak masuk akal. Kita baru seminggu jadian. And hubungan kita juga baik – baik aja. Seenggaknya sebelum…" Laura melirik jam tangannya "20 detik yang lalu.""Heh, nggak masuk akal?" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau gue ini seorang play boy?""Apa?""Sebenarnya, gue males banget pacaran sama loe. Tapi temen – temen gue nantangi apa gue bisa naklukin elo dengan sekali tembak kemudian memutuskannya di hadapan umum. Ya sudah, kebetulan taruahannya lumayan gue si ikut aja. Terbukti kan gue yang menang?" kata Ivan sambil menadahkan tangan ke arah Renold, sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya. Dan detik berikutnya lembaran uang ratusan sudah tertera di sana."Ma kasih ya, Sekarang loe boleh pergi".Refleks tangan Laura melayang. Namun belum sempat mendarat di wajah Ivan, tangannya sudah terlebih dahulu dicekal."Loe pikir siapa elo berani nantangin gue ha?" kata Ivan lirih namun penuh penekanan. "Asal loe tau aja, image loe sebagai cewek idola di kampus ini, yang selalu berhasil naklukin hati cowok ternyata cuma gosip murahan. Buktinya loe dengan gampangnya bertekuk lutut di hadapan gue," sambung Ivan lagi."Sialan loe. Dasar brengsek!" geram Laura sambil menghempaskan tangannya membuat cekalan Ivan langsung terlepas."Terima kasih atas pujiannya," senyum Ivan santai."Denger ya, gue akan pastikan loe akan menyesali apa yang loe lakukan saat ini sama gue. Inget, hukum karma itu berlaku. Loe pasti akan merasakan pembalasan yang lebih buruk dari apa yang loe lakuin ke gue," geram Laura dengan wajah memerah. Entah karena terlalu marah atau malu karena kini telah menjadi objek tontonan di kantin mereka."Kita liat aja nanti," Ivan cuek.Dengan kesel Laura berlalu membawa sejuta dendam dan sakit hati di hatinya. Sementara Ivan sendiri justru tertawa diikuti ke ketiga teman temannya."Wow, sulit di percaya. Loe benar – benar melakukannya," Komentar Renold sambil menggelengkan kepala kagum menyaksikan drama satu babak yang baru saja terjadi di hadapannya."Kenapa enggak. Lagipula ini cuma masalah kecil," sahut Ivan sambil menjentikan jarinya menyombongkan diri."Apa loe tertarik untuk melakukan taruhan lagi?" Andra angkat bicara.Ivan terdiam. Matanya melirik lembaran lembaran merah yang berada di tangannya. Setelah berpikir sejenak ia kembali berujur."Jika kalian siap untuk kalah lagi.""Wow, Pe-De sekali," cibir Renold."Jadi apa aturan mainnya?" tanya Ivan lagi.Andra tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dengan sebuah senyuman misterius di wajahnya."Kita liat aja nanti".~ Take My Heart ~ "Apa yang mau kita lakukan di sini?" tanya Renold bingung saat Andra menghentikan langkahnya di koridor kampus."Tentu saja untuk melanjutkan rencana permain kita," terang Andra santai."Makstu loe?" tanya Ivan."Sebelum gue jawab, gue pengen nanya sekali lagi. Ivan, loe siap untuk ber'Main?" tanya Andra sambil menoleh kearah Ivan yang hanya di balas anggukan mantap."Apapun?" Andra menegaskan."Apapun selama itu masih terkait dengan ketenaran gue selaku playboy!" balas Ivan membuat temannya mencibir mendengarnya."Baiklah, taruahannya sepuluh juta. Deal?" tanya Andra lagi."Tunggu dulu, loe belum menentukan apa permainannya?" potong Ivan."Baiklah, kalian lihat pintu itu?" tunjuk Andra kearah ruangan dosen."Iya. Kenapa?" Renold masih terlihat bingung."Itu permainannya.""Maksut loe?" tanya Aldy yang sedari tadi diam memperhatikan tampang bingung. Tangannya terulur membenarkan letak kaca matanya."Loe," tunjuk Andra kearah Ivan. "Harus bisa menaklukkan siapapun yang pertama sekali keluar dari pintu itu.""Apa?!" secara koor ketiga orang itu berujar tak percaya."Bagaimana kalau yang pertama keluar dari pintu itu adalah pak Burhan?" celetuk Aldy.Semuanya terdiam untuk sejenak sambil membayangkan sosok yang di sebut Aldy barusan. Pak Burhan, pria gendut, berkepala botak lengkap dengan kacamata minus yang selalu bertenger di wajahnya. Di tambah dengan raut wajahnya yang jelas – jelas sangar sontak langsung membuat Ivan bergidik ngeri."Ivan loe tertarik untuk menunjukan pesona loe pada …. bapak – bapak?" tanya Andra sambil berusaha menahan tawa saat melihat tampang kecut Ivan."Ke laut aja loe," damprat Ivan kesel."Wukakkakak. Oke aturan main kita rubah dikit. Siapapun wanita yang pertama sekali keluar dari pintu itu, loe harus bisa naklukin dia dalam waktu satu bulan? Bagaimana?" tawar Andra lagi."Terus kalau Bu Susi yang pertama sekali keluar bagaimana?" gantian Renold angkat bicara menyebutkan salah satu dosen di kampusnya yang terkenal sangar."Ya itu resiko" Andra cuek bebek."Tapi dia kan sudah punya suami. Apa loe bermaksud menjadikang gue sebagai manusia perusak rumah tangga orang?" potong Ivan terlihat frustasi."Wukakkaka…. Loe takut memiliki image sebagai perusak rumah tangga orang atau loe sebenernya takut mereka adalah wanita – wanita setia pada suaminya?" tanya Andra balik."Lagian, ayolah. Kaliaankan dari tadi hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau yang keluar dari sana adalah ibu Silvia?" tambah Andra lagi.Membuat ketiga temannya kembali berimaginasi membayangkan sosok Silvia. Dosen bahasa di kampus mereka. Selain masih single, dosen yang satu itu juga selalu bersikap ramah pada Ivan jika tidak ingin di katakan kalau dosen itu tertarik padanya. Terlebih parasnya juga cantik."Deal. Gue setuju," kata Ivan akhirnya."Loe serius?" Renold terlihat tak percaya."Ah ini beneran gila. Bermain – main sama dosen. Kalau ketauan apa nggak kita semua kena getahnya?" Aldy angkat bicara."Kalau loe takut, ya sudah loe maen kelereng aja sono," cibir Andra sinis membuat Aldy memberengut sebel."Oke deh, deal gue juga setuju" Renold menenggahi mau tak mau Aldy juga mengangguk setuju."Baiklah, permainan dimulai. Kita liat siapa yang beruntung," sahut Andra sambil menatap lurus kearah pintu ruangan dosen di kampus mereka.Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit pintu itu masih tertutup rapat. Tiada tanda – tanda akan ada yang keluar dari sana. Membuat keempat orang itu mendesah tak sabar. Barulah pada menit kesembilan lewat 37 detik pintu itu terbuka.Semuanya langsung pasang mata baik – baik sambil menahan nafas menanti siapa yang akan melewati pintu itu. Dan begitu melihat sosok tersebut melewatinya, mulut semuanya langsung terbuka tak percaya. Tapi di detik berikutnya…."wuakkakakakakka" Tawa langsung meledak dari bibir masing masing."Ternyata beneran pak Burhan. Ini si, beneran belum beruntung namanya," komentar Andra setelah tawannya mereda."Tampang loe jangan pucet gitu donk Van, loe kan nggak harus pacaran sama dia," tambah Renold berusaha menghibur walau jejak tawa geli masih ada di wajahnya."Iya nih. Kayak di kerupuk – kerupuk (??) kan masih ada istilah 'Coba Lagi'," Aldy menimpali.Belum sempat mulut Ivan terbuka, pintu keramat sudah kembali terbuka. Membuat keempat orang itu kembali menoleh. Bertatapan langsung dengan sosok yang baru melewati pintu keremat. Suasana hening, hepi. Hanya ada kebisuan yang mendadak menyelimuti…Sosok itu…………..Next to Cerpen Take My Heart Part 02Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 10

    Buat temen temen semua yang pada nungguin lanjutannya, kali ini udah muncul nih cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 10. Soal ending? Kayaknya masih lama deh. Di usahain nggak sampe lebih dari part 15 walau nggak janji juga sih. Secara, jujur aja deh, kelanjutan cerpennya belom di ketik. Baru di pikirin ni cerita mau di bawa kemana…. #Backsound lagu Armada.Oh ya, biar nggak bingung sama jalan ceritanya, sebaiknya baca dulu episode sebelumnya dalam cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 09. Happy reading…..Kenalkan Aku Pada Cinta Setelah sebelumnya Astri sempat merasa uring – uringan karena motornya yang pagi itu mendadak mogok, namun pada akhrinya gadis justru itu malah mensukurinya. Bukan, bukan menyukuri motornya, tapi mensyukuri dirinya yang ternyata memiliki seorang kakak. Walau mereka sering berantem, tapi sepertinya pria itu masih bisa di manfaatkan. Yah, jadi tukang ojek dadakan misalnya.sebagian

  • Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05

    Berhubung belon ketemu sama yang namanya end cerita masih berlanjut ya man teman. Kali ini admin muncul dengan kelanjutan cerpen terbaru Si Ai En Ti E ~ 05. Wah, nggak terasa ya udah part 5 aja tapi ternyata masih belon masuk ke jalan cerita yang sebenernya (???) #gubrag.Okelah, biar adminnya nggak makin ngomong ngalor ngidul nggak jelas, mening kita langsung baca kelanjutan ceritanya aja yuks. And buat yang belum baca bagian sebelumnya bisa dilihat di sini.Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05Sepulang kuliah Acha sengaja tidak langsung pulang kerumah. Langkahnya ia belokan kearah kafe yang biasa ia kunjungi. Tapi kali ini bukan untuk makan ataupun duduk santai seperti biasanya. Justru ia datang untuk melamar pekerjaan. Karena berdasarkan dari info yang ia dapat dari salah satu temannya, kafe yang satu itu membutuhkan karyawan tambahan. Dan sukurlah ternyata itu benar.Bahkan ia sudah langsung bisa bekerja hari itu juga. Profesi sebagai kasir menjadi pilihannya.Jeli dan harus teliti menjadi hal utama yang ia punya untuk profesi yang di sandangnya saat ini. Terlebih pelangan kaffe tempatnya bekerja lumayan ramai pengunjung yang datang. Tak terasa hari sudah mulai malam. Barulah ia bisa pulang kerumah.Hari pertama yang lumayan melelahkan. Apalagi ini untuk pertama kalinya Acha mulai bekerja. Namun tak urung ia merasa senang. Paling tidak ia sudah bisa untuk mulai berusaha bersikap mandiri bukan?Setelah pamit pada teman sekerja juga bosnya Acha melangkah keluar dari kafe. Menuju kearah parkiran dimana motornya berada. Sekilas ia melirik kearah jam yang melingkar di tangannya. Pukul 09:30. Sudah cukup malam ternyata namun sepertinya jalanan masih ramai. Biasalah, namanya juga kota besar.Setelah duduk dengan pewe di atas jog motornya, Acha mulai mengendarai motornya secara berlahan. Belum juga sepertiga perjalanan, ia merasa ada yang aneh. Laju motornya terasa mulai berkurang sebelum kemudian benar – benar mogok di jalanan.“Ya ela, ni motor kenapa lagi?” gumam Acha sambil turun berlahan. Saat matanya melirik kearah kompas barulah ia menyadari apa yang terjadi. Ternyata ia lupa untuk mengisi benzinnya. Astaga…“Bensinnya abis lagi, masa gue harus ngedorong si?” gerut Acha kesel. Tapi tak tau harus merasa kesel pada siapa. Dan akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga ia mulai melangkah sembari mendorong motornya.Malam sudah mulai larut, tiba – tiba ia merasa merinding. Hari memang tak sepenuhnya gelap, masih ada lampu jalan yang sedikit menerangi, namun kan tetap saja. Saat ini hari sudah malam. Dan ia seorang cewek, sendirian lagi. Tanpa bisa di cegah pikiran buruk mulai bermain di kepalanya. Membuat rasa takut di hatinya melonjak dua kali lipat.Walau sesekali ada beberapa mobil dan motor yang lewat. Tetap saja ia masih merasa takut. Bukan hanya pada hantu, ia juga takut gelap. Selain itu ia masih harus merasa takut pada perampok atau yang paling parah lagi pe…TeeeettttSuara klakson yang tiba – tiba terdengar nyaring tepat di belakangnya membuat Acha terlonjak kaget. Dengan segera kepala gadis itu menoleh kebelakang. Mulutnya sudah siap terbuka untuk memuntahkan sumpah serapah pada manusia kurang ajar yang berani – berani mengagetkannya. Namun sepertinya kalimat itu hanya terhenti sampai di kerongkongan ketika melihat siapa yang kini berada di belakangnya.Hantu? Oh tentu saja bukan. Walau ia percaya yang namanya hantu memang ada di dunia ini, namun Acha yakin kalau yang ada di belakangnya bukanlah makhluk dari alam berbeda darinya. Terlebih dengan helm dan motor dengan lampu yang tersorot padanya. Dugaannya sih langsung menebak kalau orang itu adalah orang jahat. “Motornya kenapa?” terdengar tanya yang terjurus kearahnya. Acha masih belum bisa melihat dengan jelas siapa pemilik suaranya. Terlebih dengan lampu yang tersorot padanya jelas membuat matanya merasa silau.“Loe siapa?” bukannya menjawab Acha justru malah balik bertanya sembari merasa was was.Orang itu tidak menjawab, justru ia malah mematikan motornya. Turun berlahan menghampiri Acha. Tangannya terangkat melepaskan helm di kepalanya sehingga Acha bisa melihat dengan jelas siapa yang kini berbicara kepadannya. Namun begitu, gadis itu tetap masih merasa cemas karena ternyata ia sama sekali tidak mengenali siapa pria itu.“Kelvin.”Satu kalimat diiringi tangan yang terulur kearahnya membuat Acha sejenak melongo. Maksutnya apa nih? Tu orang ngajak kenalan? “Kok loe diem aja. Nama loe siapa?” Kalimat selanjutnya segera menyadarkan Acha dari lamunannya. Matanya masih menatap curiga kearah sosok yang berdiri dihadapannya yang kini mengoyangkan tangannya. Menanti tangan Acha yang terulur untuk menyambutnya.“Loe ngajakin gue kenalan?” tanya Acha pada akhirnya. “Lah, kenapa heran. Bukannya tadi loe sendiri yang nanya siapa gue?” tanya sosok yang mengaku bernama Kelvin itu. Untuk sejenak Acha kembali terdiam. Ah, benar juga. Tadikan ia sendiri yang bertanya. Oo…“Acha,” sahut Acha akhirnya.“Acha, senang berkenalan denganmu,” sahut Kelvin sambil tersenyum yang mau tak mau membuat Acha ikut tersenyum. “Ngomong – ngomong, motor loe kenapa?” tanya Kelvin kemudian. Dengan nada bicaranya yang terdengar santai ditambah senyum samar diantara remangnya malam namun mampu membuat Acha sedikit demi sedikit mengilangkan syak wasangka di hati. Pendapatnya segera berubah, sepertinya Kelvin orang baik.“Tau nih, benzinnya abis deh kayanya,” jawab Acha kemudian. “Perlu gue bantuin?” tanya Kelvin terdngar tulus“Loe mau ngedorong motor gue?” Acha balik bertanya dengan nada heran.“Tentu saja tidak,” sahut Kelvin cepet, secepat Acha memajukan mulut saat mendengar jawabannya.“Oke, loe tunggu disini.”Tanpa menunggu kalimat balasan dari Acha, Kelvin segera berbalik kearah motornya sebelum kemudian melaju tanpa kata.Acha masih bingung, antara kembali melanjutkan motornya atau tetap berdiri disana. Menunggu seperti yang di instruksikan Kelvin padanya. Masalahnya ia tak tau apa yang harus ia tunggu. Lagipula Kelvin tidak pernah berkata bahwa ia akan kembali.Tepat saat Acha berniat untuk kembali mendorong motornya, Kelvin muncul dengan sebotol benzin ditangannya. Acha yang awalnya masih bingung berlahan mulai mengerti ketika Kelvin yang tampak mengoyangkan botol dihadapannya.“Ma kasih ya,” kata Acha terdengar tulus. Apalagi ketika menyadari kalau motornya sudah bisa kembali menyala normal. Kelvin hanya tersenyum sembari mengangguk.“Gue nggak tau gimana caranya gue bales kebaikan loe,” sambung Acha lagi. Dan jujur ia memang tidak tau. Lagi pula jarang jarang ada orang baik yang begitu kenal langsung mau bantuin.“Loe bisa traktir gue makan siang,” sahut Kelvin yang langsung membuat Acha menoleh sembari melotot kearahnya. “Kalau mau,” sambung Kelvin lagi. “Makan siang?” ulang Acha, Kelvin hanya mengangguk.“Nggak lebih mahal dari pada harga benzinnya kan?” tanya Acha lagi.Sejenak Kelvin terdiam. Kepalanya menoleh kearah Acha dengan kening sedikit berkerut. Dan kali ini pria itu sama sekali tidak mampu menahan tawa lepas dari bibirnya saat melihat ekspresi serius di wajah Acha.“Ada yang lucu?” tanya Acha polos ketika menyadari Kelvin masih berlum menghentikan tawanya.“Ehem” Kelvin tampak berdehem. “Harga benzin di tambah ongkos upah plus benzin gue yang di pake bolak balik juga, maka jawabannya ya. Gue yakin nggak akan lebih banyak dari itu.”Gantian Acha yang mengernyit sebelum kemudian ikutan tertawa. Ternyata pria itu mempunyai selera humor juga.“Baiklah, jadi kapan dan dimana gue harus ntraktir loe? Yah seperti yang loe liat sekarang udah malam. Gue harus pulang.”Kelvin lagi – lagi mengangguk. “Keffe delima jam 12 siang, besok. Gimana?”Acha tidak langsung menyetujuinya. Pikirnya terlebih dahulu melayang tentang agenda hari esok. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. “Baiklah. Sampai bertemu besok siang.”Senyum Kelvin mengembang mendengarnya. Sebelum Acha benar benar berlalu mulutnya kembali terbuka untuk mengingatkan. “Pastikan loe besok datang.”Acha tidak menjawab, hanya kepalanya yang tampak mengangguk membenarkan sembari tangannya terangakat membentuk huruf ‘o’. Setelah itu barulah ia benar benar berlalu. To Be ContinueOke, sampe di sini kayaknya cukup deh tokoh tokohnya. Kalau kebanyakan entar susah buat 'nyikirin' nya lagi. Ha ha ha. Bener nggak. And semoga aja deh, penulisan kedepannya bisa lebih lancar dari sebelumnya. Amin..~ With love ~ Ana Merya~

  • Cerpen romantis “Buruan katakan cinta” ~ 5 {Update}

    Cerpen Romantis buruan katakan cinta part 5. Untuk cerita sebelumnya silahkan di cek di cerpan cinta terbaru Buruan katakan cinta part 4.Credit Gambar : Ana MeryaAni menjatuhkan tubuhnya di kasur saat malam telah tiba, ia menatap langit-langit kamarnya, sambil memikir kan kejadian tadi saat di campus, sepertinya ia terlalu kasar terhadap kevin."apa gue terlalu kasar ya… kasihan juga kevin, dia kan nggax tau apa-apa… tapi sikap nya bener-bener menyebalkan, dia selalu aja nyalahin vano, apa dia nggax tau kalau vano itu cowok yang baik" kata ani sendiri medadak merasa galau.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*