Cerpen Tahun baru 2013 “Love like choklat”

Ah, Berhubung bosen bikin cerpen berpart – part yang susah mau ngelanjutin. Halangannya banyak banget si. Salah satunya pas lagi punya ide buat nulis, waktu gak ada. Giliran ada waktu, mood nya udah kabur. Hadeeee…. Medingan juga bikin cerpen ide dadakan ala 'otak pas-pasan' Ana Merya. Maksutnya, 'pas' lagi pengen nulis 'pas' idenya muncul. Ghito lho…. Xi xi xi.
Oke deh, gimana cerpenya langsung baca aja yuk. Ceritanya cerpen 'Love like choklat' ini cepern spesial nyambut tahun baru 2013 lho. 😛
PS: Judulnya gak nyambung ya?… Ya suka-suka saia. La wong saia yang bikin #dihajar.
N for Mr. Kacamata. Thank for your inspiration n for all you give to me. Ha ha ha.
For all : Happy reading ya…..

Cerpen love like choklatCredit Gambar : Ana Merya
Cinta itu seperti coklat.
Pahit pahit manis…. ^_^
"Huf… Udah mau tahun baru 2013 tapi masih aja belom punya pacar" Gumam Naraya sambil merebahkan kepalanya di atas meja.
"Loe si kebanyakan milih. Cowok yang nembak dari maren loe tolak mulu" Kata Alda yang duduk disampingya.
"Gue itu bukan milih. Cuma merasa nggak cocok aja. Abis dia itu bukan tipe gue si. Nggak kayak cowok yang selama ini gue bayangin. Itu tu yang kayak di novel novel" Terang Naraya sambil menerawang jauh.
Alda hanya membalas dengan cibiran tanpa komentar apapun.
"Pagi semuanya".
Alda Dan Naraya refleks menoleh.
"Pagi" Sahut Naraya tanpa minat saat mendapati sosok yang menyapanya adalah Melin. Dengan santai kembali di rebahkannya kepala di atas meja. Siap – siap meratapi nasip. …XD
"Eh, Denger – denger denger. Gue punya kabar bagus buat kalian" Kata Melin terlihat antusias.
"Kabar apa?" Tanya Alda.
"Di kelas kita bakal ada mahasiswa baru".
"Oh ya?, Serius loe?" Tanya Naraya sontak bangkit berdiri. Membuat Alda kembali mencibir kearahnya.
"Terus keren nggak?" Tanya Naraya lagi.
"Kalau tu orang keren kenapa emang?" Alda balik bertanya sebelum Melin sempet buka mulut.
"Kan kali aja dia bisa jadi love at firs sight gue. Cinta dalam lima detik ala love rain" Sahut Naraya sambil tersenyum nggak jelas membayakan apa yang ia bayangkan selama ini menjadi kenyataan.
"Jangan lebay" Ledek Alda.
"Syirik aja loe" balas Naraya sewot.
"Sssstt… Kalian berdua ini berantem mulu" Melin angkat bicara saat mendapati ulah kedua sahabat karibnya itu. "Sebenernya gue nggak tau si dia keren atau nggak. Soalnya gue juga belom liat. Tapi yang jelas katanya si cowok".
"Ah semoga saja bener – bener cowok keren".
Mulut Alda sudah terbuka untuk memangkah omongan Naraya barusan kalau saja tidak di interupsi oleh dosen mereka yang sudah muncul di balik pintu.
"Pagi semuanya".
"Pagi bu".
"Baiklah semuanya. Ibu yakin kalian semua sudah mendengar kabar tentang kedatangan mahasiswa baru. Jadi menurut ibu lebih baik langsung saja. Antoni, silahkan masuk" Kata Buk elena disusul sosok yang mulai melangkah masuk dari arah pintu diikuti semua mata yang menatap lurus kearahnya. Alda Mati – matian menahan diri untuk tidak langsung tertawa ngakak saat menadapti wajah shock Naraya.
"What the hell!!".
Perhatian semua mata segera beralih dari sosok yang katanya bernama antoin itu kearah Naraya yang kini bangkit berdiri.
"Naraya, Apa ada yang ingin kau katakan?".
"He?" Kening Naraya berkerut bingung. Saat ia menoleh kesekeliling barulah ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. OMG, Memalukan.
"Oh, maap buk. Nggak ada apa – apa" Kata Naraya kemudian sambil menunduk. Sekilas ia sempat melirik kearah mahasiswa baru itu sebelum kemudian dipersilahkan duduk di meja depan.
"Ha ha ha, Kenapa loe?. Frustasi karena pangeran yang loe harapin nggak muncul, justru malah menjelma jadi kodok buruk rupa" Bisik Alda lirih.
"Diem loe".
"Tapi gue juga kaget lho. Abis tadinya gue pikir cowok keren yang muncul eh nggak taunya cowok cupu yang pake kacamata begitu. Ck ck ck, Culun banget" Melin ikutan berkomentar.
"Tapi kalau melihat ekspresi loe yang sampe berteriak tadi sepertinya loe terlalu berlebihan deh" Alda kembali buka mulut.
"Gue berteriak tadi bukan karena dia itu jelek. Tapi…".
"tapi…" Kejar Alda saat mendapati Naraya mengantungkan ucapanya.
"Dia itu tetangga gue. Ayolah…. Nggak mungkin kan ini jadi "tetanggaku idolaku" Kata Naraya frustasi. Melin dan Alda hanya mampu saling pandang dengan mulut melongo sementara ana merya justru malah melirik irma octa 'swifties. Menyedihkan .., XD.
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
"Ups. Jaga jarak. Jangan coba – coba loe deketin gue" Kata Naraya setengah berteriak saat mendapati Antoni yang berjalan kearah nya.
"Kenapa?. Gue kan pengen nyamperin loe. Kok nggak boleh?" Tanya Antoni polos sambil sesekali membetulkan letak kaca matanya.
"Pokoknya gue nggak mau. Jauh – jauh loe dari gue" Selesai berkata Naraya langsung cabut keluar. Kalang – kabut melarikan diri.
Antoni masih berdiri terpaku. Terkejut mendapati reaksi pernolakan terang – terangan dari Naraya. Dihelanya nafas untuk sejenak. Tiba – tiba rasa nyesek telah memenuhi rongga hatinya.
"Jangan di masukin hati ya. Naraya emang suka gitu. Tapi dia orangnya baik kok".
Antoni refleks menoleh. Baru menyadari kalau masih ada dua orang gadis yang tidak ia ketahui siapa berdiri di hadapannya.
"Kenalin, Gue Alda. Temen deketnya Naraya" Kata Alda sambil mengulurkan tangannya yang di sambut dengan ragu oleh Antoni.
"Antoni" Balas Antoni. Kemudian beralih kearah Melin dengan melakukan hal yang sama.
"Oh ya, denger- denger loe tetanggan ya sama Naraya. Tapi kok dia malah kabur?" tanya Alda beberapa saat kemudian.
"Gue juga nggak tau kenapa. Kayaknya dia benci banget sama gue" Sahut Antoni sambil menunduk sedih.
"Emangnya loe punya salah apa sama dia?".
Antoni mengeleng lemah "Gue juga nggak tau. Padahal gue suka sama dia" sambungnya lirih.
"Ha?" Mulut Alda dan Melin serentak terbuka. Tapi Antoni tetap terdiam.
"Apa karena gue jelek?" Gumam Antoni lirih.
Alda dan Melin saling pandang. Tanpa bisa dicegah tangan Alda terangkat dengan sediririnya menarik lepas kacamata yang antoni kenakan. Membuat cowok itu menoleh kaget.
"Loe nggak jelek kok. Kalau loe mau merubah sedikit model gaya rambut loe, serta melepas kacamata ini loe pasti keliatan keren".
"Benarkah?" tanya Antoni ragu.
"Emm" Melin mengangguk mantap sambil tersenyum meyakinkan yang mau tak mau membuat antoni ikut tersenyum.
"Iya, Dan gue yakin Naraya nanti pasti bakal suka sama loe" Alda menambahkan.
Antoni terdiam mendengar kalimat yang Alda lontakan barusan.
"kenapa?" tanya Alda heran saat mendapati raut sedih di wajah Antoni.
Lama antoni terdiam sebelum kemudian berujar "Kalau Naraya baru mau suka sama gue setelah gue berubah itu namanya bukan cinta, tapi perjanjian. Memangnya sejak kapan dalam cinta ada perjanjian?".
Mendengar kalimat yang Antoni lontarkan sontak membuat Alda dan Melin saling pandang. Sampai kemudian keduanya tersenyum sambil mengangguk. "Kenapa?" gantian Antoni yang merasa heran.
"Loe tenang aja. Jangan sedih gitu. Kalau di liat – liat kayaknya loe cowok baik – baik. Jadi kita juga akan berbaik hati".
"Maksutnya?" Tanya Antoni masih tak mengerti.
Namun sepertinya Alda dan Melin tidak tertarik untuk menceritakan lebih lanjut. Hanya sebuah senyum misterius yang tergambar di bibir sebagai jawaban.
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
"Naraya, kok loe nggak pernah cerita soal Antoni sebelumnya".
"Emangnya ada alasan gitu gue harus nyeritain dia?" Naraya balik bertanya.
"Ya heran aja, kalau kalian emang tetangga kok baru sekarang gue liatnya" terang Alda.
"O… Dia baru balik dari luar negeri" Balas Naraya tanpa minta.
"Oh ya?" Melin tampak terkejut. Naraya hanya angkat bahu sambil terus menikmati baksonya.
"Lagian ngapain si loe nanya – nanya soal tu orang?".
"Pengen tau aja. Kok kayaknya loe benci banget sama dia".
"Itu bukan benci, gue cuma nggak suka aja" Ralat Naraya.
"Iya. Tapi alasannya apa?".
"Kenapa gue harus ngasi tau kalian?" Tanya Naraya heran.
"Kenapa loe nggak mau ngasi tau kekita?" serang Melin balik.
"Ah gue tau. Jangan – jangan loe bukan nggak suka sama dia tapi loe kesel. Karena ternyata dia cinta pertama loe waktu loe kecil terus dia nggak ngungkapi ke elo tapi justru malah pergi keluar negeri. Iya kan?" tanya Alda.
Naraya terdiam. Matanya tampak berkedap kedip menatap lurus kearah Alda yang kini juga sedang menatapnya.
"Jadi bener gitu?" Alda memastikan. Melin hanya melongo melihatnya.
"Ck ck ck, Sebenernya yang jadi korban sinetron aka novel itu siapa si?. Gue apa elo?" Komentar Naraya sambil mengeleng – geleng kepala heran.
"Maksut loe?".
"Tuh tebakan loe barusan udah persis kayak yang di drama – drama gitu".
"Jadi kalau bukan gitu kenapa donk".
"Atau jangan – jangan loe nggak suka sama dia karena dia keliatan culun?".
"Loe jangan salah dia itu jelas banget kerennya lho. Coba aja suruh dia buka kaca matanya dia. Terus berpenampilan lebih modis dikit. Pasti udah langsung jadi cowok inceran di kampus kita. Apa lagi…."
"Gue nggak mau keliatan bodoh" Potong Naraya singkat.
"Ha?" Mulut Melin dan Alda terbuka. Nggak ngerti maksut ucapan sahabatnya barusan.
"Iya gue nggak mau keliatan bodoh. Waktu TK dulu, dia itu kebanggan guru – guru. Katanya si anaknya cerdas gitu. Terus, waktu SD juga, dia mulu yang dapat rangking satu. Gue selalu nomor dua. Sialnya lagi, waktu SMP kita juga sekelas. Yah as always lah, tetep dia yang dapat juara. Sampe kemudian waktu SMA dia dapat biasiswa ke luar negeri. Ah jelas aja gue seneng, secara saingan gue udah out. Lah tiba – tiba dia muncul lagi sekarang, hade…. loe bayangin donk gimana gue kedepannya".
"Alasan macam apa itu" Sambung Alda.
"Sama sekali nggak ada romantis – romantisnya" Sambung Melin membuat mulut Naraya yang gantian mangap.
"Satu lagi, siapa bilang dia pake kacamata gitu keliatan jelek. Bukannya justru malah keliatan Genius ya?. Coba aja kalian perhatiin bener – bener. Bukan cuma genius, dia juga malah keliatan keren" Tambah Naraya sambil menatap jauh.
"Kenapa kalian mandangin gue kayak gitu?" tanya Naraya tiba – tiba merasa horor saat tiada reaksi dari kedua temannya yang justru malah menatapnya sambil tersenyum senyum nggak jelas.
"Loe suka ya sama dia?" tebak Alda lirih.
"Kok tau?".
Di detik berikutnya. Saat mendapati kalau kedua temannya tertawa nggak di hadapannya Naraya langsung menyadari kalau ia telah salah bicara. Astaga… Memalukan…. Tetanggaku idoalaku?… OMG!!!..
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
"Naraya, pulang bareng yuk".
Naraya menoleh, mendapati Antoni yang kini berjalan disampingnya.
"Nggak mau" Balas Naraya ketus.
"Kenapa?" tanya Antoni.
"Ya pokoknya nggak mau. Suka suka gue donk" Balas Naraya masih dengan nada ketus.
Antoni terdiam. Berdiri terpaku dengan wajah menununduk membuat Naraya merasa sedikit bersalah karenanya.
"Kenapa si loe kayaknya benci banget sama gue?".
Langkah Naraya terhenti. Pertanyaan itu lagi yang ia dengar?. Astaga, apa kali ini juga akan berakhir dengan pengakuan rasa sukanya.Nggak nggak ngga. Itu pasti akan sangat memalukan baginya. Jadi…
"Iya, Gue benci banget sama loe. Jadi mulai sekarang jauh jauh loe dari hidup gue".
Selesai berkata Naraya langsung berbalik pergi. Menjauh tanpa menoleh lagi….
Lama Naraya terdiam sambil tiduran di atas kasur. Antara rasa bersalah dan bingung. Bersalah akan sikap nya terhadap antoni siang tadi dan juga bingung tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ingin minta maaf si, tapi ia juga masih ragu. Alasannya?. Ia juga tidak tau.
Setelah lama berfikir akhirnya ia memutuskan untuk meminta maaf besok pagi saja.
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
“Astaga, Tu cowok ganteng banget si?”.
Naraya menoleh. Mengikuti tatapan salah seorang maha siswa kampusnya yang kini sedang menatap sosok yang kini sedang berjalan kearahnya.
“Antoni?” Gumam Naraya setengah tak percaya.
Berniat untuk menyapanya Naraya justru malah berdiri mematung saat mendapati kalau antoni justru terus melangkah melewatinya tanpa menoleh sedikitpun.
“Naraya, coba liat tuh. Kan bener kalau tu orang keren” Tunjuk Alda kearah Antoni yang kini tampak di kerubungi cewek – cewek.
Sekilas Naraya menoleh tapi beberapa saat kemudian ia kembali beralih kearah buku yang di bacanya.
“Jadi gimana loe sekarang?” tambah Melin lagi.
“Gue kenapa emang?” Tanya Naraya tak tertarik.
“Ya pendapat loe soal penampilan dia sekarang” Terang Alda.
“Keren” Balas Naraya singkat membuat Alda dan Melin saling bertatapan heran. Dan sebelum mulut mereka terbuka untuk bertanya kedatangan pak aldo sudah terlebih dahulu menginterupsi.
^&**
Dengan masih sedikit ragu Naraya berjalan menghampiri Antoni yang kebetulan sedang duduk sendirian di bangku pelataran kampus.
“Antoni”.
Merasa namanya di panggil Refleks Antoni menoleh.
“Kenapa?”.
Mendadak Naraya merasa ragu saat mendapati tangapan dingin Antoni.
“E… Gue boleh ngomong sebentar”.
“Apa?”.
Lagi – lagi Antoni menjawab hanya dengan sepatah kata.
“Gue mau minta maaf”.
“Untuk?”.
“Soal kemaren. Sepertinya gue kemaren ngomong terlalu kasar. Makanya itu gue mau minta maaf”.
Antoni terdiam. Matanya menatap lurus kearah Naraya yang kini berdiri dengan wajah terus menunduk di hadapannya.
“Kok loe diam aja?” tanya Naraya sambil mengangkat wajahnya dan baru menyadari kalau Antoni juga sedang menatapnya.
“Kenapa?”.
“Ya karena gue merasa bersalah. Soalnya…”.
“Kenapa gue harus merubah penampilan gue baru loe mau nyamperin gue” Tanya Antoni dengan tatapan lelah.
“He?” Kening Naraya berkerut bingung.
“Sudahlah. Lupakan” Selesai berkata Antoni langsung bangkit berdiri. Berlalu meninggalkan Naraya dengan kebisuannya.
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
“Naraya, kenapa seminggu ini muka loe kusut gitu?” Tanya Alda sambil duduk di samping Naraya.
“Besok udah tahun baru 2013”.
“Apa hubungannya?” Tambah Melin.
“Gue masih belom punya pacar”.
“Ha?” Mulut Alda mangap.
“Atau gue terima Vano aja kali ya. Dia tadi nembak gue lho” Gumam Naraya lirih.
“Ha?. Vano?. Nembak loe?. Serius?” Tanya Alda setengah tak percaya. Naraya hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Terus loe terima?” tanya Melin.
Kali ini Naraya mengeleng.
“O, Jadi loe tolak” Kata Alda terlihat lega.
“Bukan, Tapi gue belom ngasi jawaban”.
“Maksut loe mau loe terima”.
Naraya tidak menjawab, sepertinya ia masih belum menemukan jawabannya.
“Bukannya loe bilang loe suka sama Antoni”.
“Gue suka sama antoni kan bukan berarti Antoni juga suka sama gue kan?” Ralat Naraya lirih.
“Leo suka sama gue?”.
Refleks Naraya menoleh, Kaget saat mendapati Antoni yang kini berdiri tak jauh darinya.
“Antoni?, Se.. sejak kapan loe di situ?” Tanya Naraya kemudian.
“Apa bener loe suka sama gue?” Tanya Antoni lagi tanpa memperdulikan pertanyaan Naraya barusan.
“Nggak, Leo salah denger” Sahut Naraya cepet.
“Jadi gue bener – bener harus berubah baru loe bisa suka sama gue” Kata Antoni dengan tatapan menerawang. Entah mengapa Naraya bisa merasakan ada rasa kecewa dari ucapannya.
“Siapa bilang Gue suka sama loe setelah loe berubah. Gue itu suka sama loe udah lama. Sejak SMP malah. Loe nya aja yang nggak nyadar. Malah seenaknya pergi keluar negeri tanpa pamit sama sekali sama gue. Begitu balik langsung muncul di hadapan gue sebagai temen sekampus tanpa pernah nyapa selaku tetangga. Terus maen berubah penampilan sok keren lagi. Yah emang keren si, Cuma… Ups” Naraya cepat – cepat menutup mulutnya yang asal njepak. OMG, Apa yang baru saja ia katakan?.
Antoni terpaku mendengar pengakuan Naraya yang tanpa titik koma barusan. Sementara Alda dan Melin mati – matian menahan diri untuk tidak langsung ngakak di tempat.
“Jadi loe beneran suka sama gue?” Tanya Antoni tanpa mampu menahan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Naraya terdiam tanpa berkutik. Mau gimana lagi, Membantah juga nggak ada gunanya.
“Iya. Gue emang suka sama loe. Puas loe. Terus loe mau apa sekarang!” Tanya Naraya sambil mendongak. Menatap lurus kearah Antoni yang kini berada tepat di hadapannya.
Antoni tidak menjawab. Tangan terulur mengusap air mata yang entah sejak kapan mengalir di wajah Naraya. Sementara Naraya sendiri merutuk dalam hati. Sialan, kenapa ia malah nangis.
“Gue mau leo nolak si Vano. Leo nggak boleh jadi pacarnya dia. Dan loe juga nggak boleh jalan bareng sama dia saat tahun baru besok” Bisik Antoni lirih sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Naraya.
“Kenapa?”.
“Karena gue juga suka sama loe, Dan gue mau loe jadi pacar gue” Sahut Antoni lirih namun tegas.
Naraya terdiam. Mengamati wajah Antoni secara seksama. Mencoba mencari sebuah kebohongan dari tatapan matanya. Namun yang ia dapati justru tatapan tulus dan penuh kesungguahan.
Dengan berlahan kepalanya mengangguk sebagai jawaban.
Tahun baru, Punya pacar baru?… KENAPA ENGGAK!!!.
Endingya juga maksa ya?…… BIARIn

Random Posts

  • Di Dunia Maya, Ku Temukan Cinta

    Di Dunia Maya, Ku Temukan Cintaoleh: Yunietha Sari MangallaPagi hari Arief duduk di depan ruang kelasnya sendirian. Dia sibuk menatap layar hapenya dan senyum-senyum sendiri tak karuan. Beberapa orang yang lewat tidak heran dengan sikap Arief yang seperti itu. Seperti biasanya, Arief pasti sedang berchating ria. Arief adalah seorang maniak chating dan internet. Sudah beberapa kali dia dikeluarkan dari kelas, gara-gara ketahuan sedang chating saat pelajaran berlangsung. Namun, dia tidak pernah jera. Saat dikeluarkan dari kelas, dia memilih pergi ke kantin dan melanjutkan ritualnya yaitu chating.Pagi itu saat sedang asik-asiknya chating, tiba-tiba seorang cowok menghampirinya. “Woy Rief, chating lagi loe.” Kata Andre sambil menepuk pundak Arief, sehingga membuat Arief kaget.“Astaganaga.. Ya Allah..” Kata Arief kaget. “Ngapain sih loe, ngagetin gue aja.” Lanjutnya.“Sorry boy. Btw, loe chating apaan sih, gue lihat loe makin hari makin kayak orang gila tao nggak? Nggak jera loe ya, hampir tiap hari loe dikeluarin mulu dari kelas.” Komentar Andre“Seperti remaja pada umumnya, hal itu biasa saja dan sering terjadi di kota-kota besar. Hehe.. Chating di Mig33. Seru nih, loe kudu nyoba.” Ucap Arief“Apa serunya sih chating kayak begituan. Buang-buang waktu aja.”“Seru tao. Di sini loe bisa cari temen di daerah mana aja. Kalau ada yang cocok, bisa dapat jodoh. Hehehe.. Penggunanya kan banyak banget.”“Halah.. Loe kayak sales panci aja, promosi chating kayak gituan. Dasar MAON..!!!!!”“Apaan tuh maon? Bahasa planet jangan loe bawa-bawa kemari, gue ngggak ngerti.”“Manusia Online.” Teriak Andre di telinga Arief“Kira-kira donk loe, kayak gue budek aja.” Ucap Arief“Sorry boy. Hehehe..” Kata Andre cengengesan∞∞∞ Seperti biasanya, Arief berchating ria dengan teman-temannya di dunia maya. Tiba-tiba muncul tanda private chat di layar hapenya. Tanpa buang-buang waktu, Arief segera melihatnya.“Hai prince_god.. Boleh kenalan?” Sapa Orang tersebut. Dia memiliki nick gadis_dudul. Unik menurut Arief, segera Arief membalasnya“Boleh.. Nama gue Arief, loe??” Balas Arief“Gue Acha. Loe sekolah di mana?”“Gue sekolah di Smansa, loe?”“Oya? Gue juga sekolah di situ. Kelas berapa loe?”“XII IPS 3, loe?”“Gue XII IPA 5.”Obrolan mereka pun berlanjut sampai membicarakan hobby masing-masing. Tak terasa sudah larut malam, Arief pun off dari chating dan segera pergi tidur.∞∞∞ ..Krrrrrriiiiiiiinnnnnnngggggggg..Bel berbunyi menandakan waktu istirahat. Murid-murid keluar dari kelas dengan berdesak-desakan. Andre bergegas menuju kantin seorang diri. Seperti biasanya, Arief duduk di kursi depan ruang kelasnya untuk berchating ria. Tak berapa lama, Andre kembali dari kantin dengan membawa banyak makanan kecil dan dua kaleng minuman dingin. Dia pun segera menghampiri Arief.“nih pesanan loe.” Kata Andre sambil memberikan tiga snack dan satu minuman dingin“Thank’s ya sob.” Ucap Arief sambil membuka minumannya“Iya.. Gue ke toilet dulu bentar. Nitip ya, awas loe makan snack gue.”“Nggak percayaan amat sih loe ma teman sendiri. Saat loe kembali, makanan loe masih utuh kok.”“Iya.. Iya.. Gue percaya ama loe.” Kata Andre kemudian pergiArief pun melanjutkan berchating ria sambil memakan makanan yang tadi dibeli Andre untuknya. Saat melihat nick Acha online, Arief pun segera mengajak Acha untuk chat. Tak berapa lama, Acha kemudian membalas chatnya. Ternyata Acha anaknya asik untuk diajak ngobrol. Lama-lama Arief pun jatuh hati kepada Acha. Tanpa mereka berdua sadari, jarak mereka berdua tidak begitu jauh dari tempat mereka duduk. Arief meminta nomer hape Acha dan berinisiatif mengajak Acha kopdar (kopi darat) sabtu malam ini, Acha pun menerima ajakan Arief tersebut dan memberikan nomer hapenya kepada Arief. Dari kejauhan, terlihat Andre sedang berbicara dengan seorang cewek. Setelah selesai berbicara dengan cewek tersebut, Andre segera menghampiri Arief.“Barusan loe ngomong ma siapa , Ndre?” Tanya Arief“Ma Acha, ketua OSIS di sekolah kita. Biasa lah, masalah Osis” Jawab Andre“Hach?? Acha?? Ketua OSIS cewek??” Kata Arief kaget, minuman yang diminumnya tanpa sengaja muncrat ke wajah Andre.“Kalau kaget biasa aja donk, nggak usah lebay pake acara muncrat segala. Ntar hilang lagi aura kegantengan gue.” Kata Andre dengan pedenya.“Ganteng pala loe pitak. Haha.. Kalau dilihat dari sedotan mah, baru loe ganteng. Itu juga sedotannya dilihat dari menara Eifell.. Hahahah.. Kata Arief ngakak sehingga membuat Andre manyun semanyun-manyunnya.“Elu kalau nggak chating,, ngeledek mulu kerjaan nya.. huch!!”“Sorry sob. Hehehe.”“Oya, kenapa loe kaget dengar nama Acha? Ada apa nich?” Selidik Andre“Nggak apa-apa kok. Hehe.. Ada ya Ketua OSIS cewek.”“Elu haha hehe haha hehe dari tadi, bosen gue dengernya. Ada Lah, buktinya si Acha tuh. Makanya loe jangan chating mulu.” Komenter Andre“Iya bawel. Udah yuk masuk, udah bel nih.” Kata Arief.Mereka berdua pun masuk ke dalam kelas. Arief masih memikirkan Acha. Dalam batinnya bertanya-tanya, “apa mungkin Acha itu adalah Acha ketua OSIS di sekolah gue? Hmm, sabtu malam gue bakal tao ama dia.”∞∞∞ Malam yang dinanti pun tiba, Arief bersiap-siap untuk kopdar bersama Acha di tempat yang sudah mereka sepakati. Beberapa kali dia membaca sms Acha, “Ingat, Café Cinta. Loe pake baju hitam kan? Gue pake dress biru langit.” Arief tiba di café sepuluh menit lebih awal dari waktu yang telah di sepakati. Ternyata Acha telah duduk manis di tempat tersebut. Arief pun segera menghampirinya.“Acha kan?” Sapa Arief dengan ragu, takut salah orang. Karna saat itu Acha membelakanginya.“Iya. Loe Arief ya.” Kata Acha kemudian membalikkan badannya menghadap Arief. Arief terkejut, sepertinya dia pernah melihat Acha. Hampir saja dia terpesona akan kecantikan Acha.“Iya.. Hmm.. Loe bukannya yang kemaren ngobrol ma Andre di depan lapangan kan? Kalau nggak salah, loe ketua OSIS” Tanya Arief memastikan“Iya. Loe temennya Andre ya.”“Yups.. Andre sohib gue.”“Duduk Rief, nggak enak ngobrol sambil berdiri.”“Iya..” Jawab Arief grogiMereka berdua mengobrol dengan santai. Arief tak kuasa menahan perasaannya. Dia mencoba untuk tenang. Akhirnya Arief pun memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Acha.“Cha, gue mau ngomong sesuatu sama loe.” Kata Arief gugup“Ngomong aja lagi, nggak ada yang ngelarang kok.” Ucap Acha sambil tersenyum“Loe mau nggak Cha, jadi cewek gue? Walaupun kita baru ketemu ya, tapi gue ngerasa nyaman aja waktu chating sama loe. Gue bener-bener sayang sama loe, Cha. Gue jatuh cinta sama loe pada chating pertama.” Kata Arief“Gimana ya.” Kata Acha sambil berpikir“Loe mau kan Cha, jadi cewek gue. Gue butuh jawaban loe sekarang.” Kata Arief dengan sedikit memohon“Ya udah, gue mau jadi cewek loe.” Jawab Acha“Yes.. Makasih ya, Cha. Sekarang kita resmi jadian nih.” Kata Arief senang“Iya.” Jawab Acha“Gue sayang sama loe, Cha. Gue nggak bakal ngecewain loe.”“Gue juga sayang sama loe.”Akhirnya Arief pun menemukan cintanya. Arief sangat senang, begitupun dengan Acha. Andre terkejut dan tidak percaya mendengar kabar kalau Arief jadian dengan Acha. Tak berapa lama, Andre pun mengikuti jejak Arief menjadi maniak chating, dengan satu tujuan yaitu dapat jodoh. Arief hanya tertawa melihat tingkah Andre. Setelah dipikir-pikir, Arief masih tak menyangka dari sebuah chating dia bisa menemukan cinta.∞∞ The End ∞∞Nama : Yunietha Sari MangallaEmail : iechiegochocolate@ymail.comFB : yurievirca@yahoo.co.id (Yunietha Iechiego shiie’VircanKimbum)Twitter dan koprol : inyun_iechiegoPlurk : iechiegoBlog : yurieichigeky.blogspot.com

  • Cerpen: Akhir Pertualangan Cinta Sang PlayBoy

    Bicara tentang cinta, ya Boy dah biangnya. Si petualang cinta alias sang play boy ini akan mati-matian dan bila perlu sampe bersujud untuk merayu dan mendapatkan seorang cewek cantik. Sang play boy ini tidak akan pernah tahan bila sudah melihat cewek cantik melintas di depan matanya, seakan matanya tidak akan pernah berkedip untuk terus mengikuti langkah kaki sang cewek. Ya bila perlu sampe membuntuti dari belakang (emangnya mau nyopet, Boy?).Singkat cerita Boy bakalan jungkir balik dah untuk mendapatkan sang cewek bila sudah naksir banget. Boy kagak perduli apakah nantinya itu cewek bakalan mau apa nggak? Apakah hubungannya nanti akan berlangsung lama atau nggak? Bagi Boy kudu mandapatkannya dulu, apapun caranya.Lantaran cap play boy nya itu, si petualang cinta ini suka gonta ganti cewek (kayak baju aja Boy, digonta ganti). Tapi sayang dimata cewek-cewek di sekolahnya kartunya udah mati kagak bisa diperpanjang (kayak KTP aja ah). Sehingga sang play boy harus berpetuang di tempat lain, kecuali ada anak baru di sekolah ini yang kagak tahu dengan belangnya Boy.Awal cerita neh. Pada suatu hari, Boy lagi ngebet banget sama Lila, adik kelasnya yang baru aja menjadi siswi di sekolahnya. Padahal saat itu, Boy sudah memiliki gandengan (kayak truk aja pake gandengan segala), si Ivon anak SMU 2.”Jek, gua naksir banget nih ame anak baru,” kata Boy curhat dengan sobatnya Jaka yang biasa dipanggil Jek.”Ah! Elo kagak boleh melihat barang baru apalagi yang cantik-cantik dan mulus-mulus,” jawab Jek. ”Tuh! Ada yang mulus, kenapa kagak lo embat aja sekalian?” lanjut Jek sambil tertawa menunjuk ke arah Pak Didin, guru Fisika yang jidatnya emang rada botak licin.”Bercanda lu ah! Gua serius nih,” gerutu Boy.Untuk cewek-cewek baru angkatan Lila, memang Lila bidadarinya. Orangnya cantik, putih dan tinggi lagi, perfect dah pokoknya. Tapi sepertinya bila dilihat, kayaknya Lila terlalu tangguh, lincah dan pinter untuk ditaklukan oleh sang play boy. Hati-hati Boy! Ini bakalan jadi batu sandungan buat lo. Lila juga terbilang cukup menonjol dan heboh diantara temen-temennya. Apalagi kalau sudah ngumpul maka suaranya akan lebih menonjol dan kedengeran kemana-mana.Tapi dasar udah bergelar master play boy, akhirnya sang petualang berhasil juga dengan perjuangannya yang mati-matian dan bisa dibilang jungkir balik, rada susah banget memang untuk mendapatkan Lila. Akhirnya Sang play Boy berhasil meruntuhkan tembok hati Lila, runtuh oleh rayuan maut sang play boy yang memang sudah terkenal itu.Ups! Tapi tunggu dulu sobat. Tadinya memang Lila belum tahu dengan Boy, tapi karena ia sudah lama temenan dengan Ivon, sehingga ia akhirnya tahu juga siapa Boy. Boy nggak tahu dengan situasi itu, ya karena asal seruduk aja kagak diselidiki dulu, siapa cewek yang bakal diseruduk (yah, itu tadi kelemahan si Boy maen seruduk aja. Kambing kali ya?) sorry Boy!.Rupanya Sob, sang play boy sudah terperangkap dalam jeratan permainan cintanya sendiri. Boy terperangkap ke dalam skenario sandiwara cinta yang sudah dibuat oleh Lila. Lila memang menerima cintanya Boy, tapi ada maksud dan tujuannya. Itu bukan berarti ia mau berkhianat dengan temennya sendiri, Ivon. Karena skenario itu sudah ia beritahu sebelumnya kepada Ivon.Lila yang cantik, lincah dan pintar ini, rupanya hanya ingin memberi pelajaran ekstra kurikuler kepada sang play boy. Dia tidak ingin kecantikannya dimanfaatkan hanya untuk dipermainkan, termasuk Ivon yang telah menjadi korbannya.Walau terbilang anak baru, Lila termasuk cepat menyesuaikan keadaan dan peka dengan situasi perkembangan yang ada di sekolahnya, demikian juga dengan watak dan perilaku Boy yang sebaliknya akan menjadi korbannya. Ya, lantaran karena dia cukup gaul, sehingga sangat cepat mendapat kabar baru atau gosip-gosip dari teman-temannya.Tapi secara naluriah wanita, mata hatinya tak bisa memungkiri, jika Boy terbilang cakep sehingga layak menjadi play boy. Wajar kalau Ivon pun jatuh cinta kepada Boy waktu itu. Cuma sayang kegantengan yang dimilkinya hanya untuk merayu dan berpetualang guna mendapatkan cewek-cewek cantik yang ia sukai. Boy lupa diri sehingga ia tidak tahu bahwa kaum cewek juga harus dan wajib dihargai dan disayangi, bukan untuk dipermainkan.”La, elo kok mau aja menerima cintanya Boy. Nekat lu!” kata Mery merasa khawatir dan prihatin sama Lila. Wajar Mery khawatir, karena ia takut temannya yang cantik ini hanya akan menjadi boneka mainan, korban keserakahan cinta sang play boy.”Terima kasih ya, Mer kamu telah mengingatkan dan menasehati aku. Aku tahu kamu khawatir kalau aku akan menjadi korban cintanya Boy. Tapi kamu tidak usah takut dan khawatir, aku sudah tahu kok siapa Boy sebenarnya. Aku menerima dia, bukan lantaran kegantengannya atau rayuan gombal murahannya. Lantas aku dengan begitu murahannya jatuh ke dalam pelukan Boy. Caranya dan rayuannya udah kuno terlalu konvensional, mudah ditebak, sayang,” kata Lila meyakinkan sobatnya Mery.”Syukurlah kalau kamu sudah tahu siapa dia. Aku berdo’a moga kamu tidak terjebak dalam permainan cintanya Boy,” kata Mery lagi.”Iya aku mengerti Sob. Tapi percayalah, sebenarnya skenario ini aku jalani ada maksud dan tujuannya, Mer. Tapi bukan berarti aku juga mau mempermainkan orang atau mau balas dendam sama cowok yang seperti ini, seperti yang pernah aku alami sebelumnya (ooo …pernah mengalami bro). Gua hanya ingin dia bisa membuka mata dan hatinya, agar dia juga bisa menghargai kita sebagai kaum wanita yang secara fisik lemah dan butuh perlindungan. Kita bukan boneka yang hanya bisa dipermainkan untuk menjadi eksperimen cintanya kaum laki-laki.” Lanjut Lila.”Baguslah kalau kamu punya pemikiran dan prinsip yang begitu luar biasa untuk memperjuangkan dan mempertahankan harga diri wanita,” kata Mery senang.”Gua yakin, dia tidak akan bisa berbuat banyak dan macam-macam sama gua. Justru dia akan terperangkap sendiri dalam permainnan ini. Biar kelak dia tahu rasa, bagaimana rasanya kalau dipermainkan. Kuharap satu saat kelak dia nyadar telah menyakiti hati cewek-cewek yang telah menjadi korbannya.”Bener. Dalam tiga bulan hubungan Lila dengan Boy, apa yang dikhawatirkan oleh Mery, benar-benar terjadi. Rupanya diam-diam Boy sedang menjalin hubungan dengan Kania, tetangga barunya Jek. Tapi bagi Lila itu bukanlah sebuah berita menakutkan, ibarat kesambar petir disiang bolong. Baginya itu bukan sebuah kejutan atau petaka baginya yang harus disesali dan yang ditakutkan oleh semua cewek. Apa yang akan terjadi kedepan semua sudah jauh ada dalam pikirannya. Itu pasti akan terjadi cuma menunggu waktu. Dalam pikirannya justru itu adalah awal petaka bagi Boy dan tentunya akan menambah serunya rencana permainan yang akan dibuat oleh Lila.Ingat Boy! Ada pepatah mengatakan sepintar-pintar tupai melompat pasti akan jatuh juga, dan sepandai-pandai orang menyimpan kebusukan pasti akan tercium juga. Hukum karma pasti akan ada, Boy.Elo bukan play boy, Boy. Elo lebih tepat dibilang bajing yang bajingan. Tunggu tanggal mainnya, lo. Semua akan berakhir, Boy. Gua akan beraksi, yang akan bikin lo bertekuk lutut di kaki gua, bisik Lila dalam hati.Boy yang piawai dengan rayuannya dan ditambah dengan akting sempurna, bolehlah dibilang jagonya. Kata-katanya begitu manis dan santun dengan rayuannya akan membuat siapapun terkena tipu dayanya. Ditambah lagi dengan kepandaiannya mengatur strategi jitu dalam mengatur jadwal ngapel ke rumah pacar-pacarnya. Biar nggak dicurigai, ia selalu bilang kepada cewek-ceweknya, kalau ia ngapel nggak tergantung hanya pada malam minggu (kalau ngapelnya malam Jum’at, yasinan aja sekalian, Boy. He…he..he). Tetapi strategi seperti itu sudah duluan terbaca oleh Lila. (lagi-lagi terlalu konvensional, coy). Basi tau nggak! Sehingga Lila pun kagak terlalu mikirin banget tu anak mau ngapel atau kagak, termasuk pada malam minggu.Melihat pertualangan sang play boy sudah over pede dan semakin menggila, karena denger-denger lagi, dia baru aja mau mendekati seorang cewek. Gila nggak tuh! Padahal ia belum lama menggaet si Lila (Gila bro! Lo doyan cewek apa lagi nuntut ilmu, Boy. Harus sampe berapa sih, cewek yang harus lo dapet, biar ilmu lo sempurna?).Akhirnya Lila pun mulai mengatur rencana dan strategi pula buat ngerjain Boy. Seminggu sebelum menjalankan rencananya, Lila segera menghubungi Ivon. Sementara karena si Kania belum ia kenal, kemudian ia dan Ivon pun berusaha mencari dan menemui Kania. Setelah Lila dan Ivon menceritakan semua rencanya kepada Kania, mereka pun sepakat dan menjadi akrab sehingga mereka pun bersatu untuk menumpas kejahatan (kayak di sinetron silat aja).Beberapa hari menjelang hari eksekusi terhadap Boy, ketiga bidadari itu pun sering berkumpul di rumah Lila dan berbagi cerita termasuk strategi nantinya. Merekapun akhirnya mempunyai tujuan yang sama yaitu membikin kapok dan mempermalukan si Boy, yang emang nggak punya rasa malu.Sabtu, sehari sebelum rencana Lila dan temen-temennya dilaksanakan, mereka bertiga sengaja ngumpul di rumah Lila, karena hari itu rencananya Boy akan datang ke rumah Lila.”Sebentar lagi Boy akan datang. Ntar kalian berdua ngumpet aja dulu di kamarku sambil nguping,” kata Lila mengatur strategi awal.”Siplah!” jawab Kania.”Terus langkah selanjutnya gimanah nih?” tanya Ivon pula.”Nanti biarkan kita berdua seolah-olah enjoy dulu, ntar tugas kamu Von teleponin si Boy. Biar dia gelisah kita kerjain. Tapi ingat ini baru sebahagian dari rencana kita yang sebenarnya, karena rencana besar itu besok baru kita tumpahkan,” kata Lila ngejelasin.”Oke kalau begitu,” kata Ivon sambil mengangguk dan bersemangat.Tak beberapa lama setelah mereka bertiga ngerumpi, akhirnya Boy pun datang walaupun agak terlambat dari waktu yang telah dijanjikannya kepada Lila. Tapi itu semua tidak berarti bagi Lila, dan masa bodoh ah! baginya.”Dasar jam karet,” bentak Lila pura-pura menggerutu seolah perhatian.”Sorry deh telat dikit,” jawab Boy seolah tanpa dosa dan pede banget. ”Oya, gimana kalau kita keluar aja?” ajak Boy guna mengalihkah agar Lila nggak marah.”Emangnya mau kemana?” tanya Lila asal.”Terserah kemana, yang penting kita keluar aja,” kata Boy.”Gua lagi males nih. Gua pingin di rumah aja,” jawab Lila penuh sandiwara. Sementara apa yang berputar dalam otak Lila, mampus ntar lo, nayawamu tinggal sedikit lagi, Boy.Ketika Boy mau bicara lagi, tiba-tiba aja Hpnya berdering. Sementara dari raut wajahnya terlihat salah tingkah dan gugup banget, karena ternyata yang menghubunginya adalah Ivon. Gawat! Mati gue! pikirnya. Lila yang sudah tahu sebelumnya ambil gaya berpura-pura cuek dan nggak peduli banget, karena ia sudah tahu kalau itu dari Ivon.”Bentar La,” kata Boy sambil meninggalkan Lila dari ruang tamu dengan penuh gundah menuju teras rumah, karena ia takut pembicaraannya didengar Lila. Padahal bagi Lila itu nggak penting banget.”Halo Boy! Elo lagi dimana? Kok nggak jadi ke rumah kemaren?” tanya Ivon iseng seolah-olah ia berharap banget. Padahal ia hanya ingin menguji kejujuran Boy aja, walaupun sebenarnya dia sudah tahu apa jawabannya.Ya nggak mungkin akan jujur orang seperti ini, abis emang sudah dari sononya nggak pernah jujur. Janjian mau ketemu dengan Ivon aja bisa batal. Ntah keduluan janjian dengan siapa saat itu sehingga nggak jadi ke rumah Ivon.”Sorry ya, kemaren gua lupa. Gua sekarang lagi di rumah Jek,” jawabnya berbohong. Sementara matanya terus mengamati Lila di dalam rumah, karena khawatir kalau Lila nanti bisa mendengar pembicaraanya dengan Ivon. Bisa kiamat pikirnya.Lo nggak perlu khawatir Boy, walau Lila nggak dengar, Lila nggak bakalan percaya sama elo. Jujur aja orang sudah kagak percaya sama elo, apalagi kalau elo berbohong.Tapi sayang, rupanya suara Boy terdengar juga dengan Lila. ”Busyet! Sialan! Emang dasar buaya darat kampungan,” kata Lila ngomel sendiri dari dalam rumah. ”Elo lebih mentingin si Jek daripada kita-kita,” lanjut Lila lagi yang emang udah geram banget sama Boy.”Elo lebih mentingin Jek daripada gua,” jawab Ivon pula dengan asal.”Bukan begitu, sayang. Kemaren gua lupa ngasih tahu ke elo, kalau kemaren di rumah Jek lagi ada selamatan,” jawab Boy dengan penuh gombal kampungan. Sorry Jek, elo jadi tempat berlindung gua, bisik hati Boy.Sayang kentut lo! bisik hati Ivon.”Ya udah kalau begitu, sampe ketemu,” kata Ivon menutup pembicaraan.Tak beberapa lama kemudian, dengan penuh salah tingkah si Boy pun kembali masuk ke dalam menemui Lila.”Dari siapa sih?” kata Lila iseng pura-pura bertanya.Kontan aja, mendengar pertanyaan Lila itu Boy terlihat serba salah dan salah tingkah, ia galau dan gelisah dengan wajah penuh dusta. Mampus dah!”Dari Jek,” jawabnya santai.Elo gak tahu kalau gua sudah tahu semua kebohonganmu. Dasar bajingan kampung, kata Lila ngedumel dalam hati. Lila pun kemudian diam seolah-olah percaya aja dengan jawaban Boy barusan. Baginya yang penting tujuan untuk mengerjain Boy harus lebih penting.Boy yang emang sudah galau dan gelisah merasakan suasana sudah tidak nyaman, padahal nuansa di rumah Lila lagi nyaman dan adem. Akhirnya Boy pun terasa nggak betah dan pulang lebih cepat diluar dugaan Lila.Keesokan harinya, yang merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh Lila, Ivon dan Kania untuk menghabisi dan menghentikan pertualangan sang play boy, Boy. Cukup sampe disini Boy, kata mereka bertiga.Hari ini merupakan giliran Kania janjian ketemu dengan Boy. Mereka berdua sepakat ketemuan di kafe tempat pertama kali mereka bertemu, tempat pertama kali Kania menjadi korban rayuan gombalannya Boy. Boy benar-benar nggak nyadar kalau semuanya ini sudah diatur. Boy pun nggak nyadar kalau ia sudah masuk dalam sebuah perangkap skenario besar dari korban-korbannya sendiri.Lila dan Ivon terlihat sedikit gelisah dan sudah tidak sabar menunggu kehadiran Boy. Mereka memang sudah pada duluan hadir di tempat itu dan berada di tempat yang tidak bisa dilihat oleh Boy.Tepat pukul 20.00 wib, akhirnya Boy yang ditunggu-tunggu pun tiba langsung menghampiri Kania. Kania pun lantas berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Boy.”Sudah lama nunggunya?’” tanya Boy kepada Kania.Basa basi doang lo! Bisik Kania dalam hati. ”Nggak, barusan aja aku disini,” balas kania juga dengan basa basi.Lebih kurang tiga puluh menit sudah, Boy dan Kania berada di kafe ini sambil menikmati makanan yang mereka pesan, namun tiba-tiba aja Hp Boy berbunyi lantaran dihubungi oleh Ivon.”Halo, met malam, Von,” kata Boy kalem membuka pembicaraan sambil menjauh dari Kania.”Ya, malem,” jawab Ivon. ”Elo lagi dimana sih?” lanjut Ivon iseng bertanya.”Gua lagi di rumah,” jawab Boy spontan.Benar-benar bangsat, lo! Udah basi, telat lo ngelesnya! Bisik Ivon dalam hati. ”Kesini dong, gua lagi bete nih,” rayu Ivon sambil mencuil lengan Lila.”Gua lagi capek banget, lagi males mau keluar. Sorry ya!” kata Boy pede dengan kebohongannya.”Ya udah kalau begitu, nggak papa,” balas Ivon.Setelah kontaknya diputus, Ivon dan Lila pun nggak bisa menahan tawanya sambil menutup mulutnya dengan tangan agar tidak didengar oleh Boy.”Rasain lo, sebentar lagi dengan pembalasan kita. Waktu untuk pembinasaan lo tinggal menghitung detik doang, Boy,” kata Ivon bicara pelan dengan Lila.Lila dan Ivon sudah benar-benar nggak sabaran untuk menghabisi Boy. Nasib baik lagi nggak berpihak, hukum karma sepertinya segera berlaku buat Boy. Sementara Kania sudah gelisah menunggu kehadiran kedua temennya untuk beraksi menjalankan skenarionya. Mereka bertiga memang sudah nggak sabaran mengacak-acak mukanya Boy dan menyiramkan jus mengkudu busuk kesekujur tubuh Boy, yang memang sudah mereka persiapkan dari rumah.Malam itu merupakan malam yang naas dan apes bagi Boy. Dia harus mempertanggujawabkan atas semua perbuatannya terhadap ketiga cewek ini. Skenario yang diatur oleh Lila berjalan mulus. Boy yang lagi asik, tiba-tiba aja menjadi kaget nggak karuan melihat kehadiran korban-korbannya, Lila dan Ivon tiba-tiba datang secara bersamaan. Boy hanya terpaku diam menunggu eksekusi. Tapi dasar play boy tengik, dia berusaha terlihat santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal dalam hatinya berkecamuk nggak karuan dan jantungnya berdebar kencang. Mampus dah gua! Pikirnya.”Dasar bajingan! Buaye lu! Jadi ini kerja lo selama ini?” kata Ivon berang banget.Lila yang nggak bicara, nggak tinggal diam. Lila lalu dengan semangatnya menyiramkan jus mengkudu tadi ke tubuh Boy. Pyuuuuur basah. Duh! Bau banget. Mampus deh lo, Boy!Kania dan Ivon pun terus mencaci maki Boy habis-habisan. Lila yang sudah geram banget, akhirnya nggak tahan juga menahan emosinya, lalu dengan spontan menggampar muka Boy. Plaaaaaak, Boy tidak mengelak dan hanya diam.Boy yang seperti maling ketangkap basah nggak bisa berkutik dan hanya diam dan pasrah tanpa perlawanan apa-apa dengan perlakuan ketiga cewek tadi. Mau bicara pun sudah nggak sanggup lagi. Mau ngeles pun sudah nggak bisa lagi. Ia seperti orang yang sudah kehilangan akal. Ia malu banget karena belangnya selama ini sudah ketahuan.Dengan peristiwa itu membuat semua tamu di kafe pun tertuju kepada mereka berempat dan membuat membuat pengunjung heboh dan tertawa sambil bertepuk tangan melihat seorang cowok yang sudah basah kuyup menjadi bulan-bulanan tiga orang cewek. Rasain deh, Boy!”Cukup sudah pertualangan cinta lo sama kita, Boy,” kata Lila sambil berlalu meninggalkan Boy berdiri sendirian.Lila, Ivon dan Kania akhirnya pergi meninggalkan Boy sendiri. Boy pun akhirnya dengan perasaan malu banget pulang meninggalkan kafe yang menjadi neraka buatnya malam itu. Mimpi apa gua semalam, bisik hatinya seperti nggak percaya dengan apa yang telah terjadi.Selama diperjalanan, mereka bertiga melepas tawa sejadi-jadinya di dalam mobil sedan yang dikendarai oleh Lila. Mereka pun merasa puas setelah sukses mengerjai Boy.Makanya Boy, jadi orang jangan sombong banget dengan kegantenganmu, sehingga membuatmu lupa akan daratan. Kalau elo masih nggak nyadar juga, maka tunggu aja sebuah hukum karma yang mungkin lebih besar dari malam ini akan menghampirimu lagi. Percaya deh! Tuhan Maha Pengampun, kembalilah ke jalan yang benar, Boy. Insyaallah.TAMATPenulis : Ardhian, S.Sos.FB : Ardhian DhianTweeter : @ardhian_dhian

  • Cerpen Cinta: DIRIMU ABADI

    Dirimu AbadiOleh : Asmi Tiovi Lasmatia Syariani“Diri ini tak pernah bisa mengerti mengapa harus begini jalannya. Saat waktu tak lagi jadi penghalang, saat restu bukanlah rintangan, tapi 1 hal yang tidak pernah terpikir akan terjadi. Tapi tenanglah, tak akan ada yang bisa menghapusmu…!!!”“Cheese!” *jepretAdinda Karenia & Indra Mahardika! Ku sisipkan nama kami berdua di foto itu beserta latar yang kupilih berwarna biru muda karena aku sangat menyukai warna itu. Sungguh lucu gaya yang kami tampilkan saat berfoto di photobox tadi. Setelah selesai, kami membayar dan melanjutkan perjalanan kami di salah satu mall ternama di kotaku. Kuamati foto itu sebentar lalu ku berikan satu untuknya dan satu untuk ku simpan di dalam dompetku.Setiap weekend aku dan Indra selalu menyempatkan jalan bersama untuk sekedar nonton atau cuma muter-muter gak jelas di dalam mall, karena kalo bukan weekend kami cuma ketemuan atau ngobrol di rumah aja. Yaa paling tidak untuk melepas stress dan mempererat hubungan kami. Aku dan Indra sudah dua tahun pacaran. Bisa dibilang jalan 3 tahun. Kami berpacaran sejak kelas 1 dan sekarang kami sudah kelas 3 SMA.“Bem, makan yuk!” ajaknya.“Yuk, aku juga udah lapar nih ko,” balasku.Indra selalu manggil aku Bem alias tembem dari awal kenal. Mungkin karena pipi aku yang memang chubby kayak bakpow, dan sampai sekarang itu jadi panggilan kesayangan dia buat aku. Aku juga punya pangilan kesayangan buat dia yaitu koko karena mata di yang hampir gak keliatan kalo lagi senyum alias sipit karena emang ada keturunan tionghoa dari papahnya.Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pulang karena emang udah malam dan capek juga seharian muter-muter mulu. Sampai di depan rumah aku, Indra nganterin aku sampai ketemu kedua ortu aku. Katanya gak baik kalo cuma nganter cewek mpe depan pagar trus gak dibalikin lagi sama kedua orang tuanya. Kebetuan papah sama mamah aku lagi ngobrol di teras depan.“Om, Tante. Dindanya saya balikin dengan selamat Om, maaf lama pulangnya,” sapa Indra sambil sedikit bercanda gurau dengan kedua orang tuaku.“Haha, gak apa-apa. Asal anak Om masih tidak kurang suatu apapun, Om masih ijinkan kamu berhubungan dengan Dinda. Gak masuk dulu nak Indra?”“Oh, makasih Om. Kayaknya sudah malam dan Dinda juga perlu istirahat. Saya Cuma antar pulang aja. Kalau begitu saya pamit pulang Om, Tante.”“Iya, hati-hati Indra,”sahut mamaku.“Bem, aku pulang ya,” pamitnya padaku sebelum pulang dan mengelus kepalaku.“Iya, hati-hati ko!” sahutku.Setelah ku lihat mobil Indra menghilang di ujung jalan, akupun masuk ke dalam rumah. Kedua orang tuaku masih mengobrol di teras depan. Karena gak ada kerjaan lagi aku masuk ke dalam kamar. Menjadi anak tunggal membuatku sepi berada di rumah, apalagi saat kedua orang tuaku sedang dinas di luar kota. Hanya Indra dan beberapa temanku yang datang ke rumah dan menemaniku lewat SMS. Karena kecapean, akupun terlelap tidur.***Pagi ini hari begitu cerah, menambah semangatku untuk bertemu teman-temanku dan juga koko pastinya. Ku samberi kelasnya, tapi tidak ku temui Indra di sana.“Din, nyari Indra ya? Tuh lagi di lapangan.” Sahut salah satu teman sekelas Indra padaku.“Oh, makasih ya.”Akupun menyusuri koridor sekolah menuju lapangan basket. Indra memang salah satu pemain di tim basket sekolahku. Mungkin boleh di bilang bukan cuma jadi pemain, tapi dia juga kapten basket di timnya. Tidak heran ia jadi cukup terkenal di sekolah dan di gandrungi banyak fans cewek.Baru saja aku sampai di sekitar lapangan, riuh suara cewek-cewek sudah terdengar memanggil nama Indra.“Indra, Indra, Indraaa…”Aku sudah terbiasa mendengarnya. Bahkan selama dua tahun ini menjadi hal yang selalu ku dengar saat menonton Indra tanding basket. Kalo dibilang cemburu, awal-awalnya sih iya. Tapi ke sini-sini udah kebiasa. Yaah… udah jadi angin lalu lah istilahnya. Emang harus berani nerima resiko kayak gini kalo jadi pacar orang yang diidolain banyak cewek. Selama Indra gak macem-macem di belakang gue, all it’s fine!“Eh Din, udah dateng loe?” sapa Dela, sahabat ku yang paling ku sayangi.“Iya, baru aja. Udah lama ya Indra latihan?” tanyaku.“Hmm, lumayan sih. Bentar lagi juga paling selesai. Emang loe tadi berangkat gak bareng Indra?”“Emm, kebetulan enggak. Gue tadi nemenin nyokap dulu ngambil pesanan kue, besok kan ultah gue. Eh nanti temenin gue nyebarin undangan ya ke temen-temen yang lain!”“Sip deeh… eh, tu Indra udah selese latihan!” ujar Dela sambil menunjuk pemain-pemain basket yang duduk beristirahat di sisi lain lapangan.“Oh, gue ke sana dulu ya Del, mau nyamperin Indra.”“Oke! Gue tunggu di kelas ya!”Kusamperin Indra dan memberikannya sebotol air mineral dan handuk kecil.“Makasih Bem! Eh, udah belum nyebarin undangan buat besok?”“Belum Ko, ntar aja pas istirahat bareng Dela. Kamu mau ikut?” tanyaku.“Istirahat ya? Aduh maaf, aku ada ulangan susulan sama Pak Fandy ngambil jam istirahat. Maaf ya Bem gak bisa nemenin,” jawabnya dengan wajah beersalah.“Iya, gak apa-apa kok. Ganti baju dulu sana, udah basah gitu. Nanti gak konsen lagi belajarnya.”“Iya, iya Bem. Kamu ke kelas gih, nanti Pak Bagus keburu masuk, kamu gak dibolehin masuk kelas lagi.”“Oh iya! Duluan ya Ko. Sukses nanti ulangannya, oke! Dadaah..”Setelah melewati pelajaran Matematika Pak Bagus yang super killer itu, bel istirahat berbunyi. Aku dan Dela segera berkeliling mendatangi setiap kelas yang akan kubagikan undangan ulang tahunku.Jam sekolahpun selesai. Aku menunggu Indra mengambil mobilnya di gerbang sekolah. Aku berencana pulang bersama Indra. Di dalam mobil aku dan Indra berbincang-bincang masalah persiapan ulang tahunku besok.“Bem, kue udah di ambil?” tanyanya.“Udah Ko tadi sama mama. Tinggal dekor aja besok,”jawabku.“Oh, bagus deh. Jadi nanti gak gelabakan. Bem, mau minta hadiah apa dari aku?”“Iiih, gak so sweet banget sih, masa hadiah aku yang request. Gak surprise lagi kan jadinya,” balasku dengan wajah cemberut.“Hehee, iya Bem. Aku bercanda kok. Besok tunggu aja hadiah dari aku, oke! Jangan gitu dong mukanya, kaya bebek tau, hahaa..” “Gak lucu tau Ko!”“Yee, bisa juga ya ngambek ternyata. Entar kita cari ice cream deh. Ya, ya?”Yang namanya Adinda pasti luluh kalo udah ditawarin ice cream. Gak jadi deh adegan ngambeknya. Habis nyari ice cream, Indra ngantar aku pulang. Kebetulan papa sama mama masih di kantor jadi Indra nganter aku sampai depan pagar aja.Habis ganti baju, sholat trus makan, aku kembali ke kamarku dan menghidupkan laptopku. Aku menyelesaikan beberapa tugas sekolahku yang belum rampung sambil membalas pesan singkat dari Indra. Tiba-tiba pikiranku melayang membayangkan kado apa yang bakal Indra kasih buat aku. Dulu ulang tahun aku yang ke-15 dia kasih boneka loli and stich yang super gede. Ulang tahun yang ke-16 dia ngasih album yang isinya foto-foto aku semua yang dia potret tanpa sadar. Aku lagi makan di kantin lah, duduk di taman, lagi jogging, pokoknya dia foto aku tanpa aku sadari. Dan kali ini untuk sweet seventeen dia ngasih apa ya?Lamunanku buyar mendengar suara mama dari bawah yang menyuruhku mandi. Udah berapa jam ya aku ngelamun? Ku lihat jam menunjukkan jam 6 sore. Pasti mama dan papa baru pulang kantor. Setelah mandi dan berpakaian, akupun turun dan menuju meja makan. Ku lihat mama dan papa sudah siap di meja makan.“Din, undangan kamu buat besok udah dibagiin?” tanya mama padaku.“Udah Ma, tenang aja…” jawabku meyakinkan mama.“Oh, iya jangan lupa undang mama papanya Indra juga ya Din! Trus pulang sekolah besok kamu harus langsung pulang, bantuin Mama nyiapin semuanya,” tambah papa.“Oke Pa,” balasku.***Keesokan harinya, sepulang sekolah aku ke rumah Indra untuk mengundang kedua orang tuanya untuk turut hadir di pesta ulang tahunku. Aku pulang sendiri karena Indra ada jadwal latihan basket yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi dia berjanji akan datang di acaraku tepat waktu. Setelah ngobrol beberapa waktu dengan kedua orang tua Indra aku pamitan pulang karena masih harus membantu Mama menyiapkan segala keperluan di rumah.Waktu menunjukkan hampir jam 7 malam. Ku lirik keadaan diruang tengah dari pintu kamarku, banyak yang sudah datang. Lega hatiku ketika diantara tamu yang datang ada Indra bersama mama dan papanya. Lalu mama menggilku untuk turun. Akupun menuruni tangga. Serasa jadi putri semalam, apalagi aku memakai long dress berwarna putih.Acara tiup lilin Mama menyuruhku meniup lilin bersama Indra. Kamipun make a wish bersama lalu meniup lilin. Potongan kue pertama ku berikan kepada Mama dan Papaku. Yang kedua tentu kuberikan kepada Indra. Yang ketiga ku berikan kepada kedua orang tua Indra lalu kepada Dela.“Sweet seventeen ya Dindaa,” peluk Dela lalu memberikan kado padaku.“Makasih ya Del,” senyumku terharu.Ku lihat seluruh teman-temanku sedang mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Mama dan Papa Indra juga sedang asik berbincang dengan kedua orangtuaku. Lalu Indra menghampiriku.“Bem, selamat ulang tahun ya. Ucapannya semua udah aku ucapin panjang lebar kan di telpon malam tadi. Naah, sekarang giliran kadonya,” Indra mengulurkan tangannya yang memegang sebuah amplop. Kuambil amplop itu dengan perasaan bingung akan isinya.“Iya, makasih yaa Ko. Tapi ini apa? Aku buka ya?” tanyaku masih dengan perasaan bingung.“Eeh tunggu, tunggu! Bukanya nanti aja,” cegahnya.“Loh, kenapa? Masa masih harus nunggu lagi!” jawabku dengan nada kecewa.“Pokoknya bukanya nanti aja ya. Pas kita lulusan, oke!” bujuknya.“Hmm, iyadeh.”Malam sweet seventeenku berjalan dengan lancar. Aku mendapatkan banyak sekali kado dari teman-temanku. Tapi perasaan kecewa, bingung dan penasaran masih menyelimuti pikiranku. Apa sebenarnya isi amplop yang diberikan Indra? Ingin sekali rasanya ku buka. Tapi… lebih baik jangan! Aku sudah berjanji untuk membukanya saat lulusan. Hmm, gak apa-apalah, lagian cuma 3 bulan lagi.***Hari berganti hari. Gak kerasa masa-masaku dibangku SMA akan segera berakhir. Les tambahan setiap harinya untuk kelas 3 sedang kami alami. Soal-soal latihan untuk persiapan UN kami latih sesuai jurusan masing-masing. Kegiatan sekolahpun mulai dikurangi. Tapi masih ada 1 pertandingan basket antar pelajar yang harus Indra ikuti. Untuk itulah jadwalnya kurang bisa di atur. Sering kecapen pulang les langsung latihan dan malamnya langsung tidur. Komunikasi kami jadi jarang. Tapi tak apalah, aku mengerti kondisinya. Lagipula aku juga masih bertemu dengan Indra di sekolah dan mensupportnya setiap latihan.Sore itu aku menonton Indra tanding. Pertandingan persahabatan antar SMA yang akan bertanding di kejuaraan kabupaten. Aku duduk di kursi penonton, sama seperti yang lainnya. Pertandingan mendekati menit-menit akhir. Skor tim Indra ketinggalan 1 point, dan tembakan Indra inilah menjadi penentunya. Indra pun me-shoot dan ternyata bola itu tidak masuk ke ring. Bel akhir pertandingan berbunyi dan pertandingan dimenangkan oleh sekolah lain.Ku lihat semua teman-teman Indra kecewa. Ku hampiri mereka. Lalu terjadi adu mulut antara Indra dan Raka, salah satu pemain basket dan juga teman dekat Indra.“Dra, apa-apaan sih cara main loe? Yang serius dong. Kita udah mau kejuaraan nih. Masa bola gitu aja loe gak bisa masukin! Udah berapa lama loe main basket, hah? Kenapa jadi cupu gitu mainnya tadi? Gimana kejuaraan mau menang kalo shooting gitu aja loe gak bisa. Percuma loe jadi kapten!” sahut Raka dengan emosi.Indra hanya bisa terdiam. Akupun tak bisa berkata apa-apa. Aku juga tidak mau ikut campur terlalu dalam, karena jika ku angkat bicara sekarang pasti suasana akan lebih rumit. Ditambah lagi emosi mereka yang masih kurang stabil. Raka dan yang lainnya pun meninggalkan Indra yang masih terduduk lemas menyesali kesalahannya.“Ko, kamu gak apa-apa kan?” tanyaku.“Gak apa-apa kok. Yuk kita pulang,” Indra berdiri, tersenyum padaku dan menggenggam tanganku menuju mobilnya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Indrapun mengantarku pulang.“Ko, kamu beneran gaka apa-apa? Kamu ada masalah? Kalo ada cerita aja sama aku,” aku mengajaknya berbicara di dalam mobil.“Aku gak ada masalah apa-apa,” lagi-lagi ia tersenyum padaku.“Loh, kita mau kemana Ko?”“Ngantar kamu pulang lah, mau kemana lagi emangnya?”“Tapi jalan pulang ke rumahku kan belokan yang tadi Ko, kok kita lurus?”“Astaga! Maafin aku, mungkin aku ngelamun.”“Kamu beneran gak ada masalah apa-apa Ko? Tadi Pak Fandy ngomong sama aku kalau tugas kamu dan nilai-nilai ulangan kamu belakangan ini turun drastis. Kamu kan paling seneng sama pelajaran Bahasa Inggrisnya Pak Fandi, dan selalu topscore. Kalau ada masalah cerita deh sama aku,” bujukku lagi padanya.“Percaya deh sama aku, aku bener-bener gak ada masalah apa-apa Din,” jawabnya.Aku kaget. Untuk pertama kalinya ia memanggil namaku saat kami berbicara. Aku semakin bingung. Nilai-nilainya yang anjlok. Kemampuan basketnya yang menurun. Dan sekarang…. aku terdiam. Aku tidak bertanya apapun lagi kepada Indra. Aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri. Saat sampai di depan rumahku, ia membukakan pintu mobilnya untukku lalu berpamitan pulang. Dia tidak mengantarku sampai bertemu orang tuaku?Setelah kuucapkan untuk segera pulang dan menyuruhnya beristirahat, ia melaju dengan mobilnya. Kumasuki rumahku dan membaringkan tubuhku. Beberapa saat terdiam, aku berpikir ingin menelpon Mama Indra untuk menanyakan apakah Indra mempunyai masalah yang tidak diceritakannya padaku. Kutekan nomor teleponnya dan sebuah suara di sana menyambut panggilanku.“Halo, ini Dinda ya? Ada apa Dinda?” tanya Mama Indra.“Begini Tante, maaf mengganggu malam-malam begini. Saya mau bertanya sesuatu tentang Indra. Apa Indra punya masalah Tante?”“Masalah? Setahu Tante gak ada Din. Kenapa kamu gak tanya sama Indranya sendiri? Kamu kan lagi sama Indra.”“Loh? Dinda udah dari tadi di antar Indra pulang Tante, memangnya Indra belum sampai rumah Te?” tanyaku cemas.“Masa? Belum Din, dia belum sampai rumah. Coba Tante hubungin dia dulu. Nanti Tante beritahu kamu kalau Indra udah pulang atau kalau memang Indra ada masalah.”“Baik Tante,” jawabku mengakhiri pembicaraan.Indra belum pulang? Kemana lagi dia? Bukannya tadi aku suruh dia langsung pulang. SMS ku juga gak dia balas. Ada apa sebenarnya dengan kamu Indra?***Keesokan harinya, aku mencari keberadaan Indra di sekolah. Ku cari di kelasnya, kata teman-temannya dia belum datang. Ku lihat di lapangan basket cuma ada Raka dan teman-teman se-timnya Indra yang sedang latihan. Ku telpon nomornya, gak aktif. Ku SMS juga gak di balas. Bahkan nomor Mamanya Indra juga ikut-ikutan gak aktif.Sepulang sekolah aku mengajak Dela menemaniku ke rumah Indra. Tapi sesampainya di rumah Indra, rumah itu kosong. Ku panggil beberapa kali tidak ada sahutan. Kemana mereka semua? Kenapa kayak ditelan bumi gini?“Din, kita pulang aja yuk. Pasti pikiran kamu lagi gak karuan sekarang.”“Tapi Del, Indra gak ada. Orang tuanya gak ada. Semuanya gak ada Del, gak ada!” tangisku tak tertahan lagi, dan Dela merangkulku, membawaku pulang kerumah.Seminggu sudah tak ada kabar tentang Indra begitu juga tentang kedua orangtuanya. Ku tanya Raka dan semua teman-teman yang mungkin mengetahui keberadaan Indra tapi hasilnya nihil. Mereka juga mencari keberadaan Indra untuk menghadapi kejuaraan. Kedua orangtuaku pun mulai menanyakan tentang Indra yang tidak pernah ke rumah lagi dan tidak pernah mengajakku jalan lagi. Aku hanya bisa menjawab kesibukan kami menjelang UN dan jadwal basket Indra yang padat membuat kami terpaksa jarang bersama. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin bilang kalau Indra dan keluarganya hilang entah kemana.Siang itu, saat aku sedang menangis memeluk boneka lilo and stich pemberian Indra, handphoneku berbunyi. Ku lihat nama yang tertera di Hp-ku, ‘Tante Dara’. Itu, itu Mama Indra!“Halo, halo Tante! Tante dimana? Indra dimana sekarang?” tanyaku langsung masih dengan isakan tangis.“Dinda, kamu bisa tenang dulu. Kamu bisa ke rumah Tante sekarang Din?”“Bisa, bisa Tante,” jawabku cepat.“Tapi kamu datang sendiri aja ya Din. Tante tunggu!”Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kunci mobil dan bergegas ke rumah Indra. Setelah 1 minggu tidak ada kabar sama sekali tiba-tiba Tante Dara meneleponku tanpa penjelasan apapun. Dan setelah sampai di rumah Indra akupun sudah tidak dapat menahan rasa khawatirku.“Tante, Indra mana Tante? Tante dan Indra kemana aja selama ini?” tanyaku.“Ayo kita ke kamar Indra, Din. Nanti kamu akan tahu,” jawab Tante Dara.Sesampainya di pintu kamar Indra, Tante Dara menyuruhku masuk. Entah mengapa aku merasa tidak siap saat itu. Tapi Tante Dara menatapku, memberiku keberanian untuk masuk. Kubuka pintu kamar Indra, kulihat dia sedang duduk di sudut kamar sedang memegang sebuah kertas yang tidak terlihat olehku dari sini.“Ko, ini aku Dinda,” kataku pelan.“Dinda? Dinda, jangan ke sini, pergi! Jangan mendekat! Pergi! Pergi!,”“Tapi Ko, ini aku. Aku pengen ketemu kamu.”“Pergi!Pergi!” teriaknya.Aku tak dapat menahan air mata yang mulai membasahi pipiku. Apa yang terjadi dengan Indra? Segera aku keluar dari kamarnya. Di luar Tante Dara melihatku dan menghampiriku.“Dinda, apa kamu sudah bicara dengan Indra?”“Tante, sebenarnya apa yang terjadi dengan Indra? Kenapa dia jadi kayak gitu? Tante, tolong jelasin sama Dinda, selama ini Tante sama Indra kemana? Kenapa Indra jadi gitu?” tangisku melebur jadi satu dengan semua pertanyaanku.“Din, Indra menderita penyakit alzeimer. Penyakit yang lama kelamaan akan menghapus ingatan si penderita. Maafkan Tante Din, tidak memberi kabar padamu. Ini permintaan Indra. Malam itu setelah mengantar kamu pulang, Indra tersesat mencari jalan pulang. Untung handphonenya aktif dan dia bilang di ada di depan sekolah SD nya dulu, Tante dan Om pun menyusulnya ke sana. Dia bahkan tidak ingat telah mengantarmu pulang. Saat sampai di rumah, dia bahkan lupa di mana kamarnya. Penyakit itu memang akan menghapus ingatan-ingatan terbaru dahulu. Untuk sesaat ia bisa mengingat tapi perlahan-lahan ia lupa banyak hal. Ia lupa untuk berangkat sekolah besok harinya, ia lupa untuk makan. Tante memberitahunya satu-persatu agar dia ingat. Tapi itu bertahan sementara. Ia semakin frustasi mengetahui dirinya semakin bodoh akan banyak hal. Tapi yang dia minta saat itu sama Tante, “Ma, jangan bilang Dinda kalau Indra seperti ini. Sembuhin Indra Ma, Indra gak mau kelihatan kayak gini di depan Dinda!’. Yang masih dia ingat jelas cuma kamu Dinda, cuma kamu! Akhirnya Om dan Tante pergi untuk mengobatinya. ”Air mataku semakin tak terhenti.“Lalu bagaimana keadaan Indra sekarang Tante?”“Ia sulit untuk disembuhkan. Ia memang sangat ingin sembuh untuk kamu. Tapi ia selalu memberontak saat di terapi. Ia selalu tidak karuan. Tante tidak tahan melihatnya seperti itu, akhirnya Om dan Tante memutuskan untuk membawanya pulang saja. Dan lihat sekarang ia tenang seperti itu di kamar. Tapi entah mengapa dia berteriak saat bertemu kamu. Tante kira dia sangat ingin bertemu kamu.”Alzeimer? Kenapa penyakit itu harus datang kepada Indra? Kenapa harus Indra?Tante Dara menyuruhku pulang untuk menenangkan diri dulu. Melihat aku pulang dengan kedua mataku sembab dan tubuhku yang lemas, Papa dan Mama pun bertanya padaku. Aku menceritakan semuanya. Semua tentang hilangnya Indra dan keluarganya. Dan sekarang telah kembali dengan keadaan seperti ini. Kedua orang tuaku menenangkanku dan memberitahukanku bahwa semua akan baik-baik saja.***Aku, Papa dan Mama berlari menyusuri koridor Rumah Sakit. Setelah mendapat telepon dari Tante Dara kalau Indra sedang kritis di Rumah Sakit. Apa karena penyakit Alzeimernya itu?“Tante, Indra kenapa?”“Tadi pagi, Tante dan Om mencarinya di kamar tapi tidak ada. Saat Tante lihat di kamar mandinya, dia sudah tergeletak penuh darah di kepalanya Din. Dia membenturkan kepalanya ke cermin,” jelas Tante Dara sambil memelukku.“La.. lalu sekarang In.. Indra gimana Tante?”“Dia sedang di UGD Din, Tante gak tau dia gimana sekarang Din. Tapi tadi saat membawa Indra ke Rumah Sakit, ia menggenggam buku ini,” Tante Dara memberikan sebuah buku yang sedikit basah dan bernoda darah.“Tante tidak tau buku apa itu. Tapi tadi suster mengambil buku itu sesaat sebelum Indra dimasukkan UGDdan di berikan kepada Tante.”Aku duduk di kursi di depan ruang UGD. Ku buka halaman pertama buku itu. Tertempel fotoku yang sedang memakai pakaian MOS dengan banyak pita warna warni di kepalaku. Sejak saat itukah Indra memotretku diam-diam? Ada tulisan di bawahnya. ‘Gadis Lucu yang Pertama Kali Ku Potret’. Ku buka lagi halaman demi halaman. “8 Oktober 2009 ‘I Get Her Heart’. Itu tanggal kami jadian! Ku buka lagi halaman-halaman berikutnya. Ada fotonya dengan boneka stich yang diberikannya untuk hadiah ulang tahunku ke-16, “aku sempetin foto sama boneka yang bakal aku kasih ke Mbem, Happy Birthday sayaang.. 08.03.2010”.Air mataku menetes, namun kulanjutkan membaca buku itu. Ku buka halaman demi halaman.“08.03.2012, sweet seventeen Bem. Aku ngasih dia hadiah yang dia mau selama ini. Kami akan pergi ke Bangkok setelah lulusan. Aku udah beli’in 2 tiket buat kami. Oh iya, dia cantik banget malam ini!”.Jadi Indra telah menyiapkan hal istimewa itu buatku? Ku buka lagi lembaran-lembaran terakhir buku itu. Kubaca betul-betul apa yang tertulis di sana.“12.04.2012, Mama bilang itu tanggal hari ini. Mama juga bilang kalau kemaren aku lupa jalan pulang bahkan lupa mengantar Dinda. Itulah mengapa alasan kami ada disini. Kedua orang tuaku bilang, kami lagi di Singapura. Barusan mereka bilang kalau aku terkena penyakit Alzeimer. Entah penyakit apa itu. Tadi mereka telah menjelaskannya padaku, tapi aku tidak ingat apa yang mereka katakan. Aku sangat kangen dengan Dinda. Aku ingin pulang, entah dimana itu yang pasti disana ada Dinda. Aku bingung sedang apa aku di tempat ini”.“Kata kedua orang tuaku, kami sudah pulang ke rumah. Tadi Dinda datang, tapi aku takut melihatnya. Aku takut tak mengenalinya. Aku selalu menggenggam foto kami yang entah di ambil di mana saat itu”.“Aku tadi meminta Mama mengajariku cara membaca lagi, juga cara menulis lagi. Ku lihat tulisanku yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Mengapa aku sampai lupa dengan segala hal itu?”“Tadi aku mendengar kedua orang tuaku membicarakan penyakitku. Ternyata aku lama-lama akan melupakan apa yang pernah terjadi di hidupku. Aku memutuskan untuk mengambil jalan ini. Maafkan aku Dinda karena sampai saat ini aku belum berani bertemu denganmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, hanya kamu yang masih bisa ku ingat jelas sampai saat ini. Aku terlalu lelah untuk belajar membaca dan menulis lagi. Tapi aku tidak perlu belajar untuk mmengingatmu. Aku hanya memikirkanmu. Aku hanya mengingatmu. Aku tidak ingin melupakanmu, dan pasti tidak! Aku berusaha keras untuk kembali seperti dulu untukmu. Aku takut ingatanku hilang lagi. Sebelum aku melupakannya, aku ingin mengatakan semuanya padamu. Aku mencintaimu. Sekali lagi maafkan aku. aku bersyukur kepada Tuhan karena aku tak harus bersusah payah mengingatmu, karena kau adalah bagian dari hidupku. Aku tidak ingin hidup jika harus melupakanmu. Aku berharap Tuhan mengambil nyawaku setelah aku melakukan hal ini. Aku ingin pergi di saat aku masih bisa mengingatmu. Dan kau akan menjadi yang abadi di ingatanku…”***“Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi nyawa Indra tidak bisa di selamatkan…” jawab dokter yang keluar dari ruang UGD tempat dimana Indra berada. Buku Indra terjatuh dari tanganku, dan tiba-tiba semua menjadi gelap di penglihatanku…………..

  • Cerpen Cinta Kala Cinta Menyapa Ending

    Cerpen Cinta kala Cinta Menyapa Ending_Fuhf, akhirnya setelah sekian lama akhirnya cerpen yang satu ini end juga. So Erwin, aku nggak punya hutang lagi ya. N mulai sekarang aku nggak mau lagi sok sok an nulis cerpen requesan. Ribet. N untuk lanjutan Cerpen Cinta Take My Heart, Aku nggak bisa janji kapan lanjutannya. Secara aku udah sering bilang kalau aku nulis cuma berdasarkan kemauan. Kalau aku pas mau nulis ya aku nulis, kalau pas lagi males ya aku nggak akan nulis. Apa lagi banyak banget yang bikin aku bad mood buat ngelanjutin tu cerpen satu.Ah satu lagi, Aku itu orangnya nggak suka diatur, mengatur, apa lagi harus patuh pada aturan. Buat aku, peraturan di buat itu untuk di langgar. Selain itu Aku juga Nggak suka menuntut, di tuntut apa lagi harus memenuhi semua tuntutan. Kalau memang sudah saat nya di publis, lanjutannya entar juga muncul sendiri kok. Oke?… Happy Reading……"Jadi kita mulai dari mana?" tanya Irma sambil menyeruput jus alpukatnya.Erwin menawarkan diri untuk acara negosiasi yang mereka lakukan agar di lakukan di kantin kampus saja. Selain tempatnya nyaman, perut juga bisa kenyang. Artinya sekali mengayuh dua tiga pulau terlampaui.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*