Cerpen Tahun baru 2013 “Love like choklat”

Ah, Berhubung bosen bikin cerpen berpart – part yang susah mau ngelanjutin. Halangannya banyak banget si. Salah satunya pas lagi punya ide buat nulis, waktu gak ada. Giliran ada waktu, mood nya udah kabur. Hadeeee…. Medingan juga bikin cerpen ide dadakan ala 'otak pas-pasan' Ana Merya. Maksutnya, 'pas' lagi pengen nulis 'pas' idenya muncul. Ghito lho…. Xi xi xi.
Oke deh, gimana cerpenya langsung baca aja yuk. Ceritanya cerpen 'Love like choklat' ini cepern spesial nyambut tahun baru 2013 lho. 😛
PS: Judulnya gak nyambung ya?… Ya suka-suka saia. La wong saia yang bikin #dihajar.
N for Mr. Kacamata. Thank for your inspiration n for all you give to me. Ha ha ha.
For all : Happy reading ya…..

Cerpen love like choklatCredit Gambar : Ana Merya
Cinta itu seperti coklat.
Pahit pahit manis…. ^_^
"Huf… Udah mau tahun baru 2013 tapi masih aja belom punya pacar" Gumam Naraya sambil merebahkan kepalanya di atas meja.
"Loe si kebanyakan milih. Cowok yang nembak dari maren loe tolak mulu" Kata Alda yang duduk disampingya.
"Gue itu bukan milih. Cuma merasa nggak cocok aja. Abis dia itu bukan tipe gue si. Nggak kayak cowok yang selama ini gue bayangin. Itu tu yang kayak di novel novel" Terang Naraya sambil menerawang jauh.
Alda hanya membalas dengan cibiran tanpa komentar apapun.
"Pagi semuanya".
Alda Dan Naraya refleks menoleh.
"Pagi" Sahut Naraya tanpa minat saat mendapati sosok yang menyapanya adalah Melin. Dengan santai kembali di rebahkannya kepala di atas meja. Siap – siap meratapi nasip. …XD
"Eh, Denger – denger denger. Gue punya kabar bagus buat kalian" Kata Melin terlihat antusias.
"Kabar apa?" Tanya Alda.
"Di kelas kita bakal ada mahasiswa baru".
"Oh ya?, Serius loe?" Tanya Naraya sontak bangkit berdiri. Membuat Alda kembali mencibir kearahnya.
"Terus keren nggak?" Tanya Naraya lagi.
"Kalau tu orang keren kenapa emang?" Alda balik bertanya sebelum Melin sempet buka mulut.
"Kan kali aja dia bisa jadi love at firs sight gue. Cinta dalam lima detik ala love rain" Sahut Naraya sambil tersenyum nggak jelas membayakan apa yang ia bayangkan selama ini menjadi kenyataan.
"Jangan lebay" Ledek Alda.
"Syirik aja loe" balas Naraya sewot.
"Sssstt… Kalian berdua ini berantem mulu" Melin angkat bicara saat mendapati ulah kedua sahabat karibnya itu. "Sebenernya gue nggak tau si dia keren atau nggak. Soalnya gue juga belom liat. Tapi yang jelas katanya si cowok".
"Ah semoga saja bener – bener cowok keren".
Mulut Alda sudah terbuka untuk memangkah omongan Naraya barusan kalau saja tidak di interupsi oleh dosen mereka yang sudah muncul di balik pintu.
"Pagi semuanya".
"Pagi bu".
"Baiklah semuanya. Ibu yakin kalian semua sudah mendengar kabar tentang kedatangan mahasiswa baru. Jadi menurut ibu lebih baik langsung saja. Antoni, silahkan masuk" Kata Buk elena disusul sosok yang mulai melangkah masuk dari arah pintu diikuti semua mata yang menatap lurus kearahnya. Alda Mati – matian menahan diri untuk tidak langsung tertawa ngakak saat menadapti wajah shock Naraya.
"What the hell!!".
Perhatian semua mata segera beralih dari sosok yang katanya bernama antoin itu kearah Naraya yang kini bangkit berdiri.
"Naraya, Apa ada yang ingin kau katakan?".
"He?" Kening Naraya berkerut bingung. Saat ia menoleh kesekeliling barulah ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. OMG, Memalukan.
"Oh, maap buk. Nggak ada apa – apa" Kata Naraya kemudian sambil menunduk. Sekilas ia sempat melirik kearah mahasiswa baru itu sebelum kemudian dipersilahkan duduk di meja depan.
"Ha ha ha, Kenapa loe?. Frustasi karena pangeran yang loe harapin nggak muncul, justru malah menjelma jadi kodok buruk rupa" Bisik Alda lirih.
"Diem loe".
"Tapi gue juga kaget lho. Abis tadinya gue pikir cowok keren yang muncul eh nggak taunya cowok cupu yang pake kacamata begitu. Ck ck ck, Culun banget" Melin ikutan berkomentar.
"Tapi kalau melihat ekspresi loe yang sampe berteriak tadi sepertinya loe terlalu berlebihan deh" Alda kembali buka mulut.
"Gue berteriak tadi bukan karena dia itu jelek. Tapi…".
"tapi…" Kejar Alda saat mendapati Naraya mengantungkan ucapanya.
"Dia itu tetangga gue. Ayolah…. Nggak mungkin kan ini jadi "tetanggaku idolaku" Kata Naraya frustasi. Melin dan Alda hanya mampu saling pandang dengan mulut melongo sementara ana merya justru malah melirik irma octa 'swifties. Menyedihkan .., XD.
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
"Ups. Jaga jarak. Jangan coba – coba loe deketin gue" Kata Naraya setengah berteriak saat mendapati Antoni yang berjalan kearah nya.
"Kenapa?. Gue kan pengen nyamperin loe. Kok nggak boleh?" Tanya Antoni polos sambil sesekali membetulkan letak kaca matanya.
"Pokoknya gue nggak mau. Jauh – jauh loe dari gue" Selesai berkata Naraya langsung cabut keluar. Kalang – kabut melarikan diri.
Antoni masih berdiri terpaku. Terkejut mendapati reaksi pernolakan terang – terangan dari Naraya. Dihelanya nafas untuk sejenak. Tiba – tiba rasa nyesek telah memenuhi rongga hatinya.
"Jangan di masukin hati ya. Naraya emang suka gitu. Tapi dia orangnya baik kok".
Antoni refleks menoleh. Baru menyadari kalau masih ada dua orang gadis yang tidak ia ketahui siapa berdiri di hadapannya.
"Kenalin, Gue Alda. Temen deketnya Naraya" Kata Alda sambil mengulurkan tangannya yang di sambut dengan ragu oleh Antoni.
"Antoni" Balas Antoni. Kemudian beralih kearah Melin dengan melakukan hal yang sama.
"Oh ya, denger- denger loe tetanggan ya sama Naraya. Tapi kok dia malah kabur?" tanya Alda beberapa saat kemudian.
"Gue juga nggak tau kenapa. Kayaknya dia benci banget sama gue" Sahut Antoni sambil menunduk sedih.
"Emangnya loe punya salah apa sama dia?".
Antoni mengeleng lemah "Gue juga nggak tau. Padahal gue suka sama dia" sambungnya lirih.
"Ha?" Mulut Alda dan Melin serentak terbuka. Tapi Antoni tetap terdiam.
"Apa karena gue jelek?" Gumam Antoni lirih.
Alda dan Melin saling pandang. Tanpa bisa dicegah tangan Alda terangkat dengan sediririnya menarik lepas kacamata yang antoni kenakan. Membuat cowok itu menoleh kaget.
"Loe nggak jelek kok. Kalau loe mau merubah sedikit model gaya rambut loe, serta melepas kacamata ini loe pasti keliatan keren".
"Benarkah?" tanya Antoni ragu.
"Emm" Melin mengangguk mantap sambil tersenyum meyakinkan yang mau tak mau membuat antoni ikut tersenyum.
"Iya, Dan gue yakin Naraya nanti pasti bakal suka sama loe" Alda menambahkan.
Antoni terdiam mendengar kalimat yang Alda lontakan barusan.
"kenapa?" tanya Alda heran saat mendapati raut sedih di wajah Antoni.
Lama antoni terdiam sebelum kemudian berujar "Kalau Naraya baru mau suka sama gue setelah gue berubah itu namanya bukan cinta, tapi perjanjian. Memangnya sejak kapan dalam cinta ada perjanjian?".
Mendengar kalimat yang Antoni lontarkan sontak membuat Alda dan Melin saling pandang. Sampai kemudian keduanya tersenyum sambil mengangguk. "Kenapa?" gantian Antoni yang merasa heran.
"Loe tenang aja. Jangan sedih gitu. Kalau di liat – liat kayaknya loe cowok baik – baik. Jadi kita juga akan berbaik hati".
"Maksutnya?" Tanya Antoni masih tak mengerti.
Namun sepertinya Alda dan Melin tidak tertarik untuk menceritakan lebih lanjut. Hanya sebuah senyum misterius yang tergambar di bibir sebagai jawaban.
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
"Naraya, kok loe nggak pernah cerita soal Antoni sebelumnya".
"Emangnya ada alasan gitu gue harus nyeritain dia?" Naraya balik bertanya.
"Ya heran aja, kalau kalian emang tetangga kok baru sekarang gue liatnya" terang Alda.
"O… Dia baru balik dari luar negeri" Balas Naraya tanpa minta.
"Oh ya?" Melin tampak terkejut. Naraya hanya angkat bahu sambil terus menikmati baksonya.
"Lagian ngapain si loe nanya – nanya soal tu orang?".
"Pengen tau aja. Kok kayaknya loe benci banget sama dia".
"Itu bukan benci, gue cuma nggak suka aja" Ralat Naraya.
"Iya. Tapi alasannya apa?".
"Kenapa gue harus ngasi tau kalian?" Tanya Naraya heran.
"Kenapa loe nggak mau ngasi tau kekita?" serang Melin balik.
"Ah gue tau. Jangan – jangan loe bukan nggak suka sama dia tapi loe kesel. Karena ternyata dia cinta pertama loe waktu loe kecil terus dia nggak ngungkapi ke elo tapi justru malah pergi keluar negeri. Iya kan?" tanya Alda.
Naraya terdiam. Matanya tampak berkedap kedip menatap lurus kearah Alda yang kini juga sedang menatapnya.
"Jadi bener gitu?" Alda memastikan. Melin hanya melongo melihatnya.
"Ck ck ck, Sebenernya yang jadi korban sinetron aka novel itu siapa si?. Gue apa elo?" Komentar Naraya sambil mengeleng – geleng kepala heran.
"Maksut loe?".
"Tuh tebakan loe barusan udah persis kayak yang di drama – drama gitu".
"Jadi kalau bukan gitu kenapa donk".
"Atau jangan – jangan loe nggak suka sama dia karena dia keliatan culun?".
"Loe jangan salah dia itu jelas banget kerennya lho. Coba aja suruh dia buka kaca matanya dia. Terus berpenampilan lebih modis dikit. Pasti udah langsung jadi cowok inceran di kampus kita. Apa lagi…."
"Gue nggak mau keliatan bodoh" Potong Naraya singkat.
"Ha?" Mulut Melin dan Alda terbuka. Nggak ngerti maksut ucapan sahabatnya barusan.
"Iya gue nggak mau keliatan bodoh. Waktu TK dulu, dia itu kebanggan guru – guru. Katanya si anaknya cerdas gitu. Terus, waktu SD juga, dia mulu yang dapat rangking satu. Gue selalu nomor dua. Sialnya lagi, waktu SMP kita juga sekelas. Yah as always lah, tetep dia yang dapat juara. Sampe kemudian waktu SMA dia dapat biasiswa ke luar negeri. Ah jelas aja gue seneng, secara saingan gue udah out. Lah tiba – tiba dia muncul lagi sekarang, hade…. loe bayangin donk gimana gue kedepannya".
"Alasan macam apa itu" Sambung Alda.
"Sama sekali nggak ada romantis – romantisnya" Sambung Melin membuat mulut Naraya yang gantian mangap.
"Satu lagi, siapa bilang dia pake kacamata gitu keliatan jelek. Bukannya justru malah keliatan Genius ya?. Coba aja kalian perhatiin bener – bener. Bukan cuma genius, dia juga malah keliatan keren" Tambah Naraya sambil menatap jauh.
"Kenapa kalian mandangin gue kayak gitu?" tanya Naraya tiba – tiba merasa horor saat tiada reaksi dari kedua temannya yang justru malah menatapnya sambil tersenyum senyum nggak jelas.
"Loe suka ya sama dia?" tebak Alda lirih.
"Kok tau?".
Di detik berikutnya. Saat mendapati kalau kedua temannya tertawa nggak di hadapannya Naraya langsung menyadari kalau ia telah salah bicara. Astaga… Memalukan…. Tetanggaku idoalaku?… OMG!!!..
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
"Naraya, pulang bareng yuk".
Naraya menoleh, mendapati Antoni yang kini berjalan disampingnya.
"Nggak mau" Balas Naraya ketus.
"Kenapa?" tanya Antoni.
"Ya pokoknya nggak mau. Suka suka gue donk" Balas Naraya masih dengan nada ketus.
Antoni terdiam. Berdiri terpaku dengan wajah menununduk membuat Naraya merasa sedikit bersalah karenanya.
"Kenapa si loe kayaknya benci banget sama gue?".
Langkah Naraya terhenti. Pertanyaan itu lagi yang ia dengar?. Astaga, apa kali ini juga akan berakhir dengan pengakuan rasa sukanya.Nggak nggak ngga. Itu pasti akan sangat memalukan baginya. Jadi…
"Iya, Gue benci banget sama loe. Jadi mulai sekarang jauh jauh loe dari hidup gue".
Selesai berkata Naraya langsung berbalik pergi. Menjauh tanpa menoleh lagi….
Lama Naraya terdiam sambil tiduran di atas kasur. Antara rasa bersalah dan bingung. Bersalah akan sikap nya terhadap antoni siang tadi dan juga bingung tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ingin minta maaf si, tapi ia juga masih ragu. Alasannya?. Ia juga tidak tau.
Setelah lama berfikir akhirnya ia memutuskan untuk meminta maaf besok pagi saja.
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
“Astaga, Tu cowok ganteng banget si?”.
Naraya menoleh. Mengikuti tatapan salah seorang maha siswa kampusnya yang kini sedang menatap sosok yang kini sedang berjalan kearahnya.
“Antoni?” Gumam Naraya setengah tak percaya.
Berniat untuk menyapanya Naraya justru malah berdiri mematung saat mendapati kalau antoni justru terus melangkah melewatinya tanpa menoleh sedikitpun.
“Naraya, coba liat tuh. Kan bener kalau tu orang keren” Tunjuk Alda kearah Antoni yang kini tampak di kerubungi cewek – cewek.
Sekilas Naraya menoleh tapi beberapa saat kemudian ia kembali beralih kearah buku yang di bacanya.
“Jadi gimana loe sekarang?” tambah Melin lagi.
“Gue kenapa emang?” Tanya Naraya tak tertarik.
“Ya pendapat loe soal penampilan dia sekarang” Terang Alda.
“Keren” Balas Naraya singkat membuat Alda dan Melin saling bertatapan heran. Dan sebelum mulut mereka terbuka untuk bertanya kedatangan pak aldo sudah terlebih dahulu menginterupsi.
^&**
Dengan masih sedikit ragu Naraya berjalan menghampiri Antoni yang kebetulan sedang duduk sendirian di bangku pelataran kampus.
“Antoni”.
Merasa namanya di panggil Refleks Antoni menoleh.
“Kenapa?”.
Mendadak Naraya merasa ragu saat mendapati tangapan dingin Antoni.
“E… Gue boleh ngomong sebentar”.
“Apa?”.
Lagi – lagi Antoni menjawab hanya dengan sepatah kata.
“Gue mau minta maaf”.
“Untuk?”.
“Soal kemaren. Sepertinya gue kemaren ngomong terlalu kasar. Makanya itu gue mau minta maaf”.
Antoni terdiam. Matanya menatap lurus kearah Naraya yang kini berdiri dengan wajah terus menunduk di hadapannya.
“Kok loe diam aja?” tanya Naraya sambil mengangkat wajahnya dan baru menyadari kalau Antoni juga sedang menatapnya.
“Kenapa?”.
“Ya karena gue merasa bersalah. Soalnya…”.
“Kenapa gue harus merubah penampilan gue baru loe mau nyamperin gue” Tanya Antoni dengan tatapan lelah.
“He?” Kening Naraya berkerut bingung.
“Sudahlah. Lupakan” Selesai berkata Antoni langsung bangkit berdiri. Berlalu meninggalkan Naraya dengan kebisuannya.
Cerpen Tahun baru 2013 "Love like choklat"
“Naraya, kenapa seminggu ini muka loe kusut gitu?” Tanya Alda sambil duduk di samping Naraya.
“Besok udah tahun baru 2013”.
“Apa hubungannya?” Tambah Melin.
“Gue masih belom punya pacar”.
“Ha?” Mulut Alda mangap.
“Atau gue terima Vano aja kali ya. Dia tadi nembak gue lho” Gumam Naraya lirih.
“Ha?. Vano?. Nembak loe?. Serius?” Tanya Alda setengah tak percaya. Naraya hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Terus loe terima?” tanya Melin.
Kali ini Naraya mengeleng.
“O, Jadi loe tolak” Kata Alda terlihat lega.
“Bukan, Tapi gue belom ngasi jawaban”.
“Maksut loe mau loe terima”.
Naraya tidak menjawab, sepertinya ia masih belum menemukan jawabannya.
“Bukannya loe bilang loe suka sama Antoni”.
“Gue suka sama antoni kan bukan berarti Antoni juga suka sama gue kan?” Ralat Naraya lirih.
“Leo suka sama gue?”.
Refleks Naraya menoleh, Kaget saat mendapati Antoni yang kini berdiri tak jauh darinya.
“Antoni?, Se.. sejak kapan loe di situ?” Tanya Naraya kemudian.
“Apa bener loe suka sama gue?” Tanya Antoni lagi tanpa memperdulikan pertanyaan Naraya barusan.
“Nggak, Leo salah denger” Sahut Naraya cepet.
“Jadi gue bener – bener harus berubah baru loe bisa suka sama gue” Kata Antoni dengan tatapan menerawang. Entah mengapa Naraya bisa merasakan ada rasa kecewa dari ucapannya.
“Siapa bilang Gue suka sama loe setelah loe berubah. Gue itu suka sama loe udah lama. Sejak SMP malah. Loe nya aja yang nggak nyadar. Malah seenaknya pergi keluar negeri tanpa pamit sama sekali sama gue. Begitu balik langsung muncul di hadapan gue sebagai temen sekampus tanpa pernah nyapa selaku tetangga. Terus maen berubah penampilan sok keren lagi. Yah emang keren si, Cuma… Ups” Naraya cepat – cepat menutup mulutnya yang asal njepak. OMG, Apa yang baru saja ia katakan?.
Antoni terpaku mendengar pengakuan Naraya yang tanpa titik koma barusan. Sementara Alda dan Melin mati – matian menahan diri untuk tidak langsung ngakak di tempat.
“Jadi loe beneran suka sama gue?” Tanya Antoni tanpa mampu menahan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Naraya terdiam tanpa berkutik. Mau gimana lagi, Membantah juga nggak ada gunanya.
“Iya. Gue emang suka sama loe. Puas loe. Terus loe mau apa sekarang!” Tanya Naraya sambil mendongak. Menatap lurus kearah Antoni yang kini berada tepat di hadapannya.
Antoni tidak menjawab. Tangan terulur mengusap air mata yang entah sejak kapan mengalir di wajah Naraya. Sementara Naraya sendiri merutuk dalam hati. Sialan, kenapa ia malah nangis.
“Gue mau leo nolak si Vano. Leo nggak boleh jadi pacarnya dia. Dan loe juga nggak boleh jalan bareng sama dia saat tahun baru besok” Bisik Antoni lirih sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Naraya.
“Kenapa?”.
“Karena gue juga suka sama loe, Dan gue mau loe jadi pacar gue” Sahut Antoni lirih namun tegas.
Naraya terdiam. Mengamati wajah Antoni secara seksama. Mencoba mencari sebuah kebohongan dari tatapan matanya. Namun yang ia dapati justru tatapan tulus dan penuh kesungguahan.
Dengan berlahan kepalanya mengangguk sebagai jawaban.
Tahun baru, Punya pacar baru?… KENAPA ENGGAK!!!.
Endingya juga maksa ya?…… BIARIn

Random Posts

  • Cerpen Cinta Sejati “Dari di Tabrak Gue di Tembak” ~ 01

    One more, cerpen baru lagi guys. Tepatnya cerpen Dari ditabrak gue di tembak yang hanya terdiri dari dua bagian. Tadinya malah cuma mau di bikin satu part aja, eh tahunya malah kepanjangan. So buat yang penasaran, bisa langsung simak ke bawah. Kalau suka, jangan lupa RCL ya biar admin lebih semangat nulis cerita lainnya. Happy reading….Cerpen Cinta SejatiYang namanya jatuh emang nggak bisa di tentuinApalagi kalau jatuhnya itu jatuh cinta.“Kalau yang namanya cowok cakep itu emang harusnya di taksir,” kata Cha cha dengan nada tegas. Merasa kesel juga ia sedari tadi harus berdebat dengan Tinie tentang hal yang sama.Tadi saat keduanya sedang berbelanja di supermarket terdekat tanpa sengaja Tinie menabrak seseorang yang kebetulan lewat di hadapannya. Ralat, maksutnya Tinie di tabrak sama seseorang yang kebetulan lewat dihadapannya. Karena nyatanya orang itu yang jalan tidak melihat lihat karena keasikan memainkan hendphone di tangannya. Bahkan, Ice cream yang kebetulan sedang Tinie makan jatuh mengenai bajunya. Membuat baju kesayangannya terlihat kotor. Namun sayangnya, sebelum mulut Tinie sempat terbuka untuk marah marah, Cha cha sudah terlebih dahulu minta maaf. Bahkan, membiarkan orang itu pergi dengan santainya. Alasannya cukup klise, orang yang menabrak Tinie adalah seorang cowok _yang menurut Cha cha_ cakep.“Tapi nggak harus gitu juga kali, loe nggak liat ni baju gue jadi kotor gini?” balas Tinie masih nggak terima.“Hais,” Cha cha menghentikan langkahnya. Matanya menatap lelah kearah Tinie. “Mau gue yang bayarin buat laundry?”“Nggak usah. Ma kasih,” sahut Tinie ketus sambil menghentakan kaki lebih keras, melangkah mejauh meninggalkan Cha cha yang hanya angkat bahu melihatnya. Sama sekali tidak merasa bersalah pada sahabatnya. Lagi pula apa yang ia katakan itu benar bukan? Baiklah, tidak semuanya benar. Masalah tampang itu bukan segalanya, tapi tetep itu jadi penilaian seseorang yang pertama. Kalau nggak percaya, coba aja ngelamar kerjaan. Pasti yang dilihat pertama penampilan duluan. Baru yang lain menyusul belakangan. Yang ngebantah bisa di pastikan belum pernah ngelamar kerjaan. :D“Cha cha.”Sebuah teriakan bernada cempreng menyadarkan Cha cha dari lamunannya. Dengan gaya slow motion ala iklan shampoo ia berbalik. Matanya sedikit menyipit sebelum kemudian melotot sempurna.“Awaaaaaas!!!”“Brug.”Seiring dengan teriakan itu, tubuh Cha cha mendarat sempurna di aspal bersama dengan sebuah sepeda yang menabraknya. Sakit. Sungguh kali ini ia tidak berbohong. Sekarang ia mengerti kenapa Tinie tadi marah – marah ketika di tabrak, karena kini ia juga merasa hal yang sama kalau tidak ingin di bilang lebih parah dari sebelumnya.“Kelvin..! Gue segede gini kenapa bisa loe tabrak?!” teriak Cha cha sekuat tenaga. Mengabaikan orang – orang di sekeliling yang kini menatapnya. Ada yang terlihat menahan tawa, ada juga yang terlihat iba. Sayangnya tiada yang terlihat bersedia untuk membantunya.“Aduh, sory Cha. Sakit ya?” tanya Kelvin sambil bangkit berdiri. Akibat tabrakan barusan ia memang juga jatuh tersengkur. Dengan segera di hampirinya Cha cha yang masih duduk tak berkutik.“Tentu saja sakit,” balas Cha cha ketus. Berlahan ia mencoba berdiri sebelum kemudian terjatuh lagi. Kakinya terasa berdenyut nyeri. Sekilas ia melihat bekas roda di celana jeansnya.“Sory, gue nggak sengaja,” kata Kelvin sambil mengulurkan tangan. Membantu Cha cha untuk berdiri.“Kaki gue sakit, dan gue nggak bisa jalan. Jadi, buruan gendong gue?” perintah Cha cha yang membuat Kelvin langsung terdiam.“Kenapa? Loe keberatan?” tuduh Cha cha langsung saat tiada reaksi dari Kelvin yang justru malah menatapnya dari kepala hingga kaki."Jangan pernah pernah berpikir kalau gue gendut. Gue udah ikuti program diet, dan sekarang berat gue proporsional" sambung Cha cha lagi.Kali ini Kelvin tertawa, tak mampu menahan rasa geli dihatinya."Gue nggak pernah bilang loe gendut, dan gue juga nggak pernah bilang loe berat. Selain itu, gue juga nggak keberatan kok kalo harus ngendong loe. Justru gue malah mau nanya, yakin loe nggak keberatan gue gendong?" Gantian Cha cha yang terdiam. Matanya sedikit menyipit memperhatikan Kelvin yang juga sedang menatap kearahnya. Tanpa di komando, tangannya langsung terangkat sebelum kemudian mendarat telak di kepala Kelvin membuat rintihan mengaduh keluar dari mulut pria itu."Dasar mesum," teriak Cha cha memaki."Siapa yang mesum. Pikiran loe tuh yang melantur kemana – mana. Gue kan tadi cuma nanya loe keberatan atau nggak gue gendong. Emangnya loe pikir gue mikir apaan?" balas Kelvin terdengar memprotes.Cha cha tidak membalas hanya mulutnya yang mencibir sinis."Ya sudah, ayo naik."Mata bening Cha cha tanpak berkedap kedip memperhatikan antara sepeda yang kini sudah berdiri tegak atau Kelvin yang kini mengisaratkannya untuk naik. Kening gadis itu tampak sedikit berkerut dengan sebelah alisnya yang sedikit terangkat. Pasang pose sedang berfikir."Tenang aja. Kali ini gue jamin nggak akan nabrak. Loe cukup naik, dan biarin gue yang ngedorong. Kaki loe masih sakit kan?" tanya Kelvin seolah mengeri jalan pikiran Cha cha. Dan kali ini Cha cha manut. Selain karena kakinya masih sakit, ia juga tidak mau di gendong pria itu."Loe kenapa si tadi bisa nabrak gue?" tanya Cha cha saat keduanya mulai melangkah pulang."Tadi itu gue lagi belajar bersepeda" sahut Kelvin santai."Heh" Cha cha tak mampu menahan cibiran keluar dari mulutnya. Hari gini masih ada gitu yang belajar sepeda. Emangnya dia anak SD?"Loe juga tiap minggu olahraga keliling kompleks pake speda kan?""Ya?" Cha cha terlihat bingung. Kenapa pembicaraan mereka tiba – tiba berbelok. Kepalanya menoleh tapi Kelvin sama sekali tidak menatapnya. Justru pandangannya terarah kedepan."Kok loe tau?" Cha cha akhirnya memilih bertanya."Gue sering liat kalo loe bareng temen temen loe pas lewat depan rumah."Cha cha kembali terdiam menanti kalimat lanjutannya. Namun mulut Kelvin tetap terbungkam membuat Cha cha berfikir, apa yang barusan itu jawaban kenapa Kelvin menabraknya?.Keesokan harinya, dengan sedikit terpincang – pincang Cha cha melangkah memasuki gerbang kampusnya. Tetap di belokan koridor ia berpapasan dengan Tinie yang langsung menatapnya penuh tanya.“Kaki loe kenapa?” Tinie menyuarakan tanya di hatinya.“Ketabrak,” sahut Cha cha singkat. Tanpa menoleh sama sekali.“Oh ya? Kapan? Kok bisa?” sambung Tinie lagi.“Iya, kemaren. Tentu saja bisa. Ini buktinya.”“Kemaren?” ulang Tinie sambil sambil mengingat – ingat. “Lho, bukannya yang kemaren ketabrak itu gue ya?” sambung gadis itu bergumam lirih.“Itu dia yang gue pikirin sedari tadi. Jangan jangan kemaren setelah loe ketabrak loe nyumpahin gue buat ketabrak juga.”“Ha ha ha” Tinie langsung tertawa mendegar komentar sahabatnya barusan.“Dari pada gue sumpahin loe ketabrak, mending juga gue sumpahin loe jadi orang kaya. Siapa tau entar loe kaya nya ngajak ngajak.”“Heh, lucu sekali,” cibir Cha cha sinis.Tinie hanya tertawa sembari terus melangkah beriringan bersama Cha cha untuk menuju kekelasnya."Cha cha, tunggu dulu."Merasa ada yang memangil, Cha cha menghentikan langkahnya. Namun Tinie lah yang terlebih dahulu berbalik untuk melihat siapa yang memangil sahabatnya. Tampang ngos ngosan Kelvin langsung menyambutnya."Kaki loe masih sakit ya?" tanya Kelvin lagi membuat Tinie mau tak mau mengerutkan kening bingung. Sejak kapan Kelvin perhatian sama Cha cha?"Sory deh, kemaren itu gue emang nggak sengaja," sambung Kelvin lagi karena Cha cha masih terdiam."Kenapa loe yang minta maaf? Emangnya loe yang nabrak dia?" tanya Tinie menyela.Seolah baru sadar ada orang ketiga di antara mereka Kelvin menoleh. Pasang senyum kaku sambil kepalanya mengangguk berlahan."Ha?" Tinie melongo. "Ya ela, Cha cha itu kan cewek. Dari pada loe tabrak masih mending juga kalau loe tembak," cibir Tinie setengah bercanda.Cha cha melotot kesel mendengarnya. Apa apan sahabatnya itu. Punya mulut kok ngomong asal njepak."Tadinya gue maunya juga gitu sih. Tapi gue takut di tolak," gumam Kelvin lirih."Ya?" tanya Cha cha heran."Nggak ada, gue duluan ya. Hati – hati," kata Kelvin sambil segera berlalu meninggalkan kedua sahabat yang kini saling pandang."Barusan dia ngomong apaan si?" tanya Cha cha yang memang sedari tadi berdiri tepat di samping Kelvin."Nggak tau, emangnya dia ngomong?" Tinie balik bertanya."Sudahlah. Lupakan. Kayaknya gue salah denger. Yuks, langsung kekelas aja deh kita," ajak Cha cha menutup pembicaraannya.Sepulang kuliah, masih dengan langkah tertatih tatih Cha cah berjalan pulang. Dalam hati ingin sekali rasanya ia memaki orang yang telah membuatnya menjadi seperti itu."Gue bantuin," seiring dengan kalimat itu, Cha cha menoleh dan baru menyadari kalau tasnya kini sudah berpindah tangan. Kelvin berjalan tepat disisinya."Nggak usah," tolak Cha cha sambil berusah untuk mendapatkan tasnya kembali yang justru malah diangakat oleh Kelvin tinggi – tinggi."Nggak papa kok. Sekalian gue anterin loe pulang. Ayo," sambung Kelvin lagi. Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari Cha cha, ia langsung mengiring gadis itu masuk kedalam mobilnya."Nggak usah heran, anggap aja gue bertanggung jawab untuk yang kemaren," kata Kelvin sambil memasang sabuk pengaman di pingannya."Bertanggung jawab? Emangnya loe hamilin gue?" balas Cha cha setengah bergumam."Loe mau gue hamilin?"Dalam sedetik Cha cha menoleh sebelum pada detik berikutnya."Pletak," sebuah jitakan mendarat di kepala Kelvin. Membuat pria itu mengaduh. Sepertinya ini adalah jitakan kedua yang ia dapatkan karena salah dalam menyimpulkan."Dasar mesum," rutuk Cha cha.Dan belum sempat mulut pria itu terbuka untuk protes, gadis itu sudah terlebih dahulu mengisarakannya untuk segera menyalakan mobil. Berjalan menjauh menuju kerumahnya.Next to Cerpen Dari ditabrak gue di tembak Part EndDetail Cerpen Dari ditabrak gue di tembakJudul : Dari ditabrak gue di tembakPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaFanpage : @lovelystarnightStatus : FinisGenre : Remaja, TeenlitPanjang : 1.419 WordsLanjut Baca : || ||

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 07 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih ~ part 7. Biar bacanya nyambung untuk part sebelumnya bisa langsung klik disini.Sambil bersiul dan sekali – kali terdengar bersenandung kecil Rangga memasuki halaman rumahnya. Begitu turun dari motor, perhatiannya beralih ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Dalam hati ia bertanya – tanya. Siapa kira – kira pemiliknya?. Karena ia berani bertaruh kalau itu pasti bukan mobil papanya.Ketika Cinta Harus MemilihTanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rangga segera melongos masuk ke dalam rumah yang memang tidak di kunci. Setengah tak percaya pada penglihatannya saat mendapati sosok yang kini duduk santai di ruang tamu sambil membolak – balik halaman majalah remaja ditangan. sebagian

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 07 / 13

    Oke guys, masih dengan lanjutan dari cerpen Kala Cinta Menyapa yang kini udah sampe di part 07. Cerpen ini kebetulan end di part 13. So buat yang penasaran gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk yang belum baca bagian sebelumnya bisa disimak disini. Happy reading….“Apa? Jadi loe jadian sama Rei? Gimana ceritanya?” tanya Rani antusias saat mendengar cerita Irma di taman belakang kampus. Seperti biasa, waktu istriahat mereka habiskan untuk santai di taman. Tadinya mau kekantin, tapi batal. Terlebih sepertinya cerita Irma kali ini adalah sesi curhat. Curhat tentang jadian dirinya dengan Rei tepatnya. Dan kalimat kaget Rani barusan hanya di balas anggukan oleh Irma dengan senyum bahagia.“Wah, selamat ya. Apa gue bilang, loe emang naksir sama tu orang. Kenapa kemaren pake sok sokan ngeles segala si?” tambah Rani Lagi. “Yah, abis gue kan malu. Lagian gue juga sama sekali gak pernah menduga kalau Rei ternyata selama ini juga suka sama gue,” terang Irma lirih.“Nah, untuk ngerayain gimana kalau sekarang kita kekantin. Loe traktir gue makan,” Usul Rani antusias.“Kenapa harus gue yang traktir?” protes Irma terlihat tidak setuju.“Masa Gue,” Rani sambil nunjuk Wajahnya sendiri.“Kalau gitu gimana kalau kita bayar masing – masing aja?” Usulan Irma tak urung membuat Rani mencibir sinis kearahnya. Sahabatnya yang satu ini selain matrai bermaterai ternyata juga pelit berperangko (???).“Ya sudahlah. Bayar masing – masing juga gak papa deh. Yang penting kita kekantin yuk sekarang. Asli gue laper banget. Loe sih tadi gue ajak curhatnya di kantin aja pake acara nolak segala,” Rani akhirnya mengalah sementara Irma tampak tersenyum simpul.Tepat saat mereka menginjakan kaki di lantai kantin pandangan keduanya segera terjurus kesekeliling. Rani tampak memberengut sebel saat mendapati tak ada satupun meja yang kosong. Kantin memang sedang rame – ramenya pada jam makan siang. Dan saat ia menoleh kearah Irma, gadis itu juga tampak angkat bahu.“Ya sudah lah . Kita kesini lagi entar. Mendingan kita ketaman aja lagi."“Tapi gue kan lapernya sekarang,” tahan Rani.“Abis gimana lagi. Loe mau duduk di lantai. Udahlah, kita keluar aja dulu. Lagian loe nggak akan mungkin mati kelaparan hanya karena menahan lapar untuk beberapa waktu kedepan,” tambah Irma sambil melangkah keluar kantin, membuat wajah Rani makin memberengut sebel. Tu orang ternyata beneran sadis. Namun tak urung kakinya melangkah mengikuti gadis itu keluar. Kembali ketaman belakang kampus.“Huwa,,,… Irma. Gue beneran laper. Cacing di perut gue udah pada demo semua. Gimana donk,” kata Rani mendrama keadaan begitu keduanya telah duduk dibangku taman. “Jangan lebay,” cibir Irma sinis. Kali ini Rani beneran yakin kalau sahabatnya itu adalah sahabat tersadis di dunia. # Gantian, siapa yang lebay coba.“Nih buat loe. Walau nggak bikin kenyang tapi lumayan bisa buat menganjal perut."Rani menoleh. Terlihat terkejut sekaligus heran. Tampang Irma juga terlihat tak jauh beda darinya saat mendapati entah sejak kapan dan datangnya darimana tau – tau kini tampak Erwin yang berdiri tepat di hadapanya sambil menyodorkan kantong plastik. Sekilas Rani mendapati bayangan Roti didalamnya.“Buat gue?” tanya Rani kearah wajahnya sediri.Erwin tidak menjawab, hanya tangannya sengaja mengoyang – goyangkan plasik yang ada di tangansebagai isarat agar Rani segera menambilnya.“Tumben loe baik?” selidik Irma dengan mata terlihat menyipit kearah Erwin. Kali ini jelas tatapan curiga.Begitu kantong plasik itu telah berpindah tangan tanpa banyak kata Erwin berbalik. Bersiap meninggalkan keduanya kalau saja Irma tidak terlebih dahulu menghadang langkahnya.“Loe belum jawab pertanyaan gue."“Dan gue gak tertarik untuk menjawabnya,” balas Erwin cuek sambil berlalu pergi. “Rani loe kok diam aja si?” tanya irma kearah Rani yang hanya menatap kepergian Erwin yang terus berlalu.Rani hanya angkat bahu tanpa menjawab. Kemudian dengan santai mulai menikmati makanan yang ada di tangaannya. Sepertinya efek lapar benar – benar sangat berpegaruh pada jalan kerja otaknya.“Loe mau nggak?” tanya Rani sambil menyodorkan sekeping roti kearah Irma dengan acuh tak acuh.Irma mengeleng. Bukan saja karena menolak pemberian Rani tapi juga karena tak habis fikir akan sikap sahabatnya yang satu tu. Akhirnya yang ia lakukan hanyalah menonton aktifitasnya. Dan lagi, Irma tidak punya cukup keberanian untuk memakan makanan dari orang yang jelas jelas punya masalah dengannya. Gimana kalau roti tersebut dikasih obat cuci perut atau apalah. Bisa jadi kan? Secara gimanapun ia pernah membuat pria tersebut sebagai bahan gosipannya.*****Begitu Pak Aldo melangkah meninggalkan kelas, Rani segera membereskan buku – bukunya. Beriringan bersama Irma melangkah melewati koridor kampus. Sambil melangkah keduanya sesekali bercanda. Tapat didepan gerbang mereka berpisah. Sejak dulu kan Irma pulang pergi bersama Rei, terlebih sekarang mereka sudah pacaran. Begitu Irma berlalu, Rani segera kembali melangkahkan kaki. Rencananya si mau langsung kehalte bus tumpangannya kalau saja tidak ada sebuah motor yang secara tiba – tiba menghentikan langkahnya. Dan begitu ia menoleh.“Erwin?”“Ayo naik," printah Erwin.“He?” kening Rani berkerut tanda bingung. Erwin ngomong nggak pake intro. Dan lagi, pria itu juga tidak terlihat tertarik untuk menjelaskan, hanya saja ia memberi isarat kearah Rani untuk duduk di belakangnya sembari tangannya menyodorkan sebuah helm.“O,” dengan kapasitas sistem kerja di otaknya, Rani hanya mengangguk paham. Tanpa bertanya lagi ia segera duduk dibelakang Erwin. Saat motor telah kembali melaju barulah mulutnya kembali terbuka untuk bertanya. “Memangnya kita mau kemana?."“Loe sendiri mau kemana?” bukannya menjawab, Erwin malah balik bertanya. Kebiasan kebanyakan orang memang begitu.“Ya pulang donk,” sahut Rani spontan.“Ya sudah kalau begitu. Terus ngapain loe nanya."Kalimat itu tak urung membuat Rani kesel mendengarnya. “Abis gue bingung. Kan kali aja loe mau bawa gue kemana gitu," sambungnya setengah bergumam.“Kalau loe emang bingung terus kenapa tadi nggak nanya. Malah main duduk aja."“Iya ya… bener juga. Kenapa tadi gue langsung nurut ya?” tanya Rani lebih tepat kalau di tujukan untuk dirinya sendiri.Erwin hanya terdiam sambil mengeleng pelan. Apa memang gadis itu polos atau dodol ya?. Entahlah, sepertinya ia yang dodol karena mau dengan suka rela mengantarnya.“Tapi Erwin, kok tumben si loe baik? Mau maunya gitu nganterin gue?” tanya Rani tiba – tiba.Erwin terlihat bingung, tidak tau harus menjawab apa. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tau, kenapa tiba – tiba ia berniat untuk mengantar gadis itu pulang kerumahnya. Yang jelas itu semua terjadi dengan sendirinya.“Pasti karena di suruh sama nyokap loe kan?” tanya Rani lagi.“Eh?”“Soal kemaren itu, gue beneran nggak tau kalau tante Sania itu nyokap loe. Gue itu kemaren memang nggak sengaja ngeliat nyokap loe pas keserempet mobil. Karena kebatulan pas kejadian gue memang ada di sana. Karena kelihatannya nyokap loe sendirian dan disana yang pada nolongin juga nggak ada yang kenal, ya sudah gue langsung bawa aja ke rumah sakit. Terus gue sekalian antar kerumah. Eh sekali tiba di rumah nggak taunya dia ternyata nyokap loe. Tapi walaupun begitu, loe nggak harus kok nganterin gue pulang kuliah segala. Secara nyokap loe kan kemaren juga udah bilang ma kasih,” cerocos Rani panjang lebar tanpa sempat memperhatikan reaksi Erwin sekalipun yang terlihat hanya diam sambil terus memandang kedepan. Memastikan motor yang mereka kendarai bisa mencapai tujuan dengan selamat.“Oh ya, tapi nyokap loe baik baik aja kan?” tanya Rani lagi.“Baik,” sahut Erwin singkat.“Syukurlah kalau begitu,” Rani terlihat lega. Namut sedetik kemudian semuanya berubah digantikan raut kebingungan saat mendapati arah motor Erwin yang membelok kesalah satu restoran bertuliskan “Sari Bumbu”.“Erwin, kita mau ngapain disini?” tanya Rani begitu turun dari motor.“Mau kerja."“HA!” Rani melotot kaget.“Ya mau makan lah. Loe laper kan?”"O," kali ini Rani mengangguk. Ngomong – ngomong soal makan, perutnya tiba – tiba terasa lapar . Terlebih lagi ia memang belum makan siang sementara jarum jam di tangannya sudah menunjukan pukul 2 siang. Sedari tadi perutnya hanya di isi sepotong roti dari Erwin. Gara – gara tadi keasikan ngegosip bersama Irma ia sampai lupa untuk kembali kekantin karena mata kuliah selanjutnya sudah harus di mulai.“Erwin, loe yakin mau makan di sini?” bisik Rani lirih begitu kakinya menginjakan lantai restoran berlabel ‘Sari Bumbu’ itu. Berbeda dari bangunan luar yang terlihat sederhana. Bagian dalamnya ternyata benar – benar di desain dengan elegan. Di mulai dengan barisan depan yang terdiri dari aneka jajan pasar sampai berbagi buah, aneka bubur lengkap dengan Es buahnya, ruangan bagian tengah penuh dengan gado – gado, sementara kiri dan kanan Makanan dengan aneka hidangan sepesial yang mengugah selera. Ada nasi, Lengkap dengan lauk pauknya yang di atur berjejer membentuk lingkaran. Sementara tamu yang datang bebas untuk memillih dan mengambil makanan sepuasnya. Sekilas Rani menoleh kesekeliling. Astaga, rata – rata tamu nya orang asing semua. Mulai dari orang cina, melayu, bule bahkan ada yang korea. Sepertinya mereka semua turis yang datang untuk makan siang. Sementara pelayanan nya juga terlihat ramah. Mana cowok – cowok keren lagi #Gubrak….. Benar – benar merasa seperti makan di hotel berbintang. ^_^“Kalau loe mau makan, silahkan ambil sepuasnya. Tapi kalau memang enggak dan begong aja mendingan loe tunggu di luar,” sahut Erwin sambil mulai menyendokan nasi kepiring yang ada di tangannya sebelum kemudian beralih kearah aneka masakan yang entah apa namanya. “Beneran nie, gue boleh ngambil apapun yang gue mau?” tanya Rani masih terlihat ragu.“Loe abisin semua makanan disini selama perut loe muat juga nggak masalah. Toh loe makan sedikit atau makan banyak bayarnya tetep sama per pax nya,” terang Erwin tanpa menoleh.Mendengar itu tanpa pikir panjang Rani segera meraih piring yang ada di dekatnya. Dan pada menit berikutnya, piring kosong itu kini sudah terisi penuh. Erwin terlihat sedikit bengong melihatnya. Ini cewek apa kingkong ya. Porsi makanya banyak amat. “Alhamduliah… Kenyang,” kata Rani sambil mengelap mulutnya dengan tisu.“Justru kalau loe bilang masih lapar gue nya yang heran,” balasan Erwin tak urung Rani memberengut sebel walau dalam hati ia tetap membenarkan ucapannya. Kalau sampai ia masih merasa lapar pasti lambungnya sedang bermasalah. Bagaimana bisa meja yang seharunya muat diisi untuk delapan orang kini di pake hanya oleh mereka berdua. Mulai dari piring nasi, mangkuk sup, ditambah dua mangkuk bubur, belum lagi mangkuk es campur, piring buah, dan piring aneka jajan pasar. Masih di tambah lagi gelas jus dan air mineral. Ck ck ck, Perutnya terbuat dari apa si?“Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Erwin sambil bangkit berdiri.“He he he, Makasih ya. Kapan – kapan kalau loe mau makan disini ajak gue lagi ya. Gue belum nyicipi tuh makanan di sebelah sana,” balas Rani ikut bangkit berdiri sambil matanya terus mengawasi menu yang tidak sempat di jamah olehnya. Erwin hanya mengeleng melihat ulahnya. Setelah membayar makanan di kasir, keduanya segera berlalu pulang.Next to Cerpen Cinta Romantis Kala Cinta Menyapa part 08Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.659 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen untuk Seorang Kakak: In Her Beautiful Smile

    In Her beautiful Smilepenulis: Natania Prima NastitiAku punya seorang kakak perempuan yang sangat cantik. Nadira namanya. Bagiku dia adalah seorang kakak yang terbaik di dunia ini dan di dalam kehidupanku. Kami berdua selalu bersama dan tidak pernah bertengkar. Kadang, karna keegoisan aku sebagai adik, kakak selalu mengalah. Dia tidak pernah memarahiku. Jika aku salah, dia hanya menasihatiku dengan cara yang halus. Perbedaan umur kami hanya dua tahun, hal itu membuatku merasa dia juga sebagai seorang sahabat. Kak Dira, tiada hari tanpa tidak tersenyum. Senyumannya yang tulus itu, selalu membuatku senang. Beruntungnya aku mempunyai kakak seperti dia. Dialah segala bagiku.Sampai akhirnya, Kak Dira selalu mengeluh sakit kepala yang luar biasa. Entah kenapa, dia selalu sakit kepala. Kadang dia menangis menahan sakit yang dia alami. Akhirnya, selama dua minggu selalu mengeluh, mama membawanya ke dokter. Dan dokter bilang dia punya penyakit tumor otak. Semenjak keterangan dokter itu, kakak masih selalu tersenyum. Entah apa yang membuatnya kuat, dia selalu saja tersenyum di hari-harinya yang selalu terlewati dengan kepahitan. Aku yang melihat senyum kakak dan ketegarannya, malah selalu sedih. Kakak, bagaimana mungkin dia tidak menganggap penyakit yang mematikan itu dan hanya tersenyum?. Tiga bulan hidup dengan tumor di otaknya, membuat kakak semakin tersiksa. Kini kakak sudah tidak bisa berjalan lagi. Kedua kakinya lumpuh total. Tetap seperti biasa, walaupun dia tidak bebas melakukan apa yang dia inginkan, senyumannya tidak pernah lepas dari bibirnya. Seminggu tidak bisa berjalan, ganti kakak tidak bisa berbicara. Sebenarnya dia bisa berbicara, hanya saja dia selalu berbicara dengan putus-putus. Setiap malam, kakak tidak bisa lagi bercerita untukku. Tapi senyuman kakak dan ketegaran hatinya tidak pernah pudar. Suatu hari, aku mendekati kakak dan memanggilnya. “Kak Dira, mama buat kue nih buat kakak” ucapku dari arah belakangnya. Tapi Kak Dira tidak menyahuti. Aku terus memanggilnya tapi tetap tidak ada sahutan dari mulut kakak. Kemudian aku memagang bahu kakak. Dia sedikit terkejut. Aku duduk di depannya dan memandangnya. Kak Dira tetap tersenyum. Saat itu aku sadar kakak tidak dapat lagi mendengar. Cukup! Cukup penderitaan yang dialami kakak. Kenapa harus kakak? Kenapa harus kakak yang mengalami penderitaan yang begitu menyakitkan ini?. ku genggam tangan kakak yang terlihat begitu rapuh. Kakak balas mengenggam tanganku. Kakak tersenyum lagi tapi aku tidak. Aku tidak bisa tersenyum padanya yang jelas-jelas merasakan kesakitan ini.Malamnya, penyakit itu mengganggu tubuh kakak lagi. Kakak mengeram kesakitan dengan kerasnya. “Sa… saakk… sakkittttt!!!!!!!!”, kakak selalu mengeluarkan ucapan itu dengan susahnya. Dan selalu memegang kepalanya juga menjenggut-jenggut rambutnya sendiri. Aku benar-benar tidak tega melihat kakak tersakiti. Setiap kakak mengeluh kesakita, aku selalu keluar dari kamar dan menangis sendirian. Waktu itu aku sedang belajar dan kakak sedang membaca bukunya. Melihat kakak, aku kembali meneteskan air mata. Biasanya saat aku belajar, kakak selalu ada disampingku. Memang saat itu kakak menemaniku tapi dia tidak membantuku belajar. Dia sibuk dengan kerjaannya sendiri. Entah kenapa, tiba-tiba aku mulai menulis surat untuk kakak. Karena jarak kita waktu itu cukup jauh, aku meremas kertas yang bertuliskan suratku dan melemparnya pada kakak. Karna percuma aku memanggil kakak, toh kakak tidak mungkin memalingkan kepala kearahku. Setelah sadar ada kertas di sampingnya, kakak langsung mengambil kertas itu dan menengok kearahku dan tersenyum. Setelah cukup lama, kakak kembali menengok kearahku dan menyodorkan sebuah kertas tepat disampingnya. Kemudian aku mengambil kertas itu dan mulai membaca tulisan kakak.Ini tulisanku pada kakak,Kak, kenapa kakak selalu tersenyum di tengah-tengah penderitaan kakak? Kenapa kakak selalu tegar padahal penyakit kakak selalu mengganggu saat kakak tidur? Kenapa kakak nggak pernah meneteskan air mata disaat penyakit itu datang kak? Kak, menangislah walau hanya setetes air mata. Kakak nggak bisa selalu tersenyum. Kakak pasti sebenernya sedih kan? Terbukalah padaku, kak. Jangan kakak tutupi kesedihan yang mengganjal dihati kakak. Keluarkanlah semua amarah kakak. Aku mau menerima semua amarah kakak itu. Aku akan menemani kakak.Tulisan kakak padaku,Tersenyum, hanya itu yang bisa kakak lakukan sekarang ini. kakak ingin sekali menangis, tapi kakak yakin itu hanya akan membuat keluarga ini tambah sedih. Tersenyum, kakak akan selalu melakukan itu selagi kakak bisa melakukannya. Karna nanti jika kakak sudah ada di alam yang berbeda dengan kamu dan keluarga ini, kakak yakin sudah tidak bisa lagi tersenyum dihadapan kalian semua. Tegar, itu juga hal yang akan kakak terus lakukan. Hanya dengan ketegaran, kakak bisa menahan tangisan kakak ini. untuk saat ini, kakak nggak mau ninggalin kalian semua. Jani, kamu jangan selalu memandang sedih pada kakak ya? Tersenyumlah pada saat kakak melihat kamu. Karna melihat senyuman kamu itu, bisa membuat kakak selalu tegar dan kuat untuk menghadapi dan melawan penyakit yang menyakitkan ini. percaya pada kakak, kamu pasti bisa melihat kakak yang seperti dulu lagi. Jangan nangis lagi ya, jani? Janji sama kakak ya? Smile :)Setelah membaca tulisan kakak yang tidak bagus seperti dulu itu, aku meneteskan air mata lagi. Dulu aku iri saat setiap melihat buku catatan pelajaran kakak. Aku iri dengan tulisan bagus kakak. Tapi saat ini, tulisan kakak sudah tidak sebagus dulu. Banyak tulisan yang bergemetar. Aku yakin kakak menulisnya dengan susah payah. Kemudian aku menghampiri kakak dan memeluknya. Kemudian aku tersenyum di tengah tangisanku. Kakak mengelap air mataku dan tersenyum padaku juga. Ketegaran kakak, sepertinya kakak sungguh-sungguh akan hal itu.Setelah hampir lima bulan, kakak hidup dengan penderitaan. Malam itu adalah puncaknya kakak mengeluh akan penyakitnya. Kakak sama sekali tidak bisa tidur. Dia terus berteriak tanpa bersuara. Saat akan dikeluarkan suaranya, dia selalu bersusah payah mengeluarkan suaranya. Dia memegang kepala dengan kuat-kuat. Saat itu juga, kakak seperti sulit bernafas. Lagi-lagi aku tidak bisa melihat kakak. Tapi, disaat seperti ini, harusnya aku disamping kakak. Menyemangatinya walau hanya dengan sebuah senyuman. Kuurungkan niatku untuk meninggalkan kamar. aku duduk di samping kakak yang terbaring tidak karuan. Ku genggam tangannya dengan erat. Setiap kakak melihat kearahku, saat itu juga aku berhenti menangis dan tersenyum padanya walau ini sangat terpaksa sekali. Kakak juga masih bisa tersenyum padaku sambil menahan sakitnya yang dirasakan kakak. Dia juga menggenggam tanganku dengan erat. Aku benar-benar tidak sanggup melihat kakak seperti ini. akhirnya malam itu juga kami semua membawa kakak ke rumah sakit. Ke tempat dimana kakak tidak pernah mau berada. Tapi takdir berkata kalau kakak harus ada di tempat yang paling kakak benci itu.Hari demi hari berganti. Semenjak kakak di rumah sakit, kakak belum juga membuka kedua matanya. Senyum yang selalu aku lihat setiap harinya itu, tiba-tiba saja pudar seketika. Selang-selang rumah sakit, menghiasi tubuh kakak saat itu. Karena terus menjalani kemo terapi, rambut indah hitam kakak semakin berkurang. Rambut yang dahulu sangat aku inginkan itu, semakin lama semakin berkurang. Rambut kakak juga sudah tidak seindah dulu. Wajah cantik kakak, entah kenapa wajah itu semakin hari semakin membengkak. Aku terus duduk disamping ranjang kakak terbaring. Berharap akulah orang pertama yang bisa melihat kedua mata itu membuka dan melihat senyuman kakak yang selama beberapa hari ini tersembunyi di balik bibirnya yang pasti juga terasa sakit itu. Setelah hampir tiga minggu koma, akhirnya kakak kembali membuka matanya. Mata yang terlihat berbinar-binar itu kembali bisa aku lihat. Suara tangis mama, menghiasi kamar kakak saat itu. Kali ini, kakak hanya bisa terbaring di ranjangnya tanpa bisa melakukan apapun.Suatu hari, aku menjenguk kakak di rumah sakit sepulang sekolah. Melihat kakak menderita, aku sangat ingin sekali menangis. dengan sangat terpaksa, aku menahan air mata yang akan keluar dari mataku. Kemudian kakak mengelus rambutku dan tersenyum padaku. Kakak benar-benar terlihat tegar saat itu. Aku yakin dia pasti ingin sekali mengatakan sesuatu padaku, tapi, dia tidak bisa mengatakannya. Dia selalu membuka mulut dan berusaha mengucapkan sesuatu, tapi dia selalu menutup kembali mulutnya itu. Aku memegang wajah kakak yang bengkak setiap harinya itu. Kemudian aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Setelah 15 hari kakak bertahan untuk membuka matanya, akhirnya kakak kembali menutup matanya dan koma. Dan akhirnya, kakak benar-benar menutup kedua matanya dan tidak akan pernah membukanya lagi. Aku tidak akan pernah bisa melihat mata indah kakak lagi. Tidak akan pernah bisa memerhatikan senyuman indah kakak lagi. Lebih baik begini daripada kakak harus menahan rasa sakitnya terus-menerus. Kami semua sudah ikhlas dengan kepergian kakak untuk selama-lamanya. Penderitaan kakak cukup sampai disini. Ketegaran kakak untuk tetap hidup dan melihat keluarganya, hanya cukup sampai disini. Mungkin dengan ini, kakak akan tenang dan tidak akan merasakan penderitaan itu lagi.Setelah mengantar kakak ke tempat peristirahatan terakhirnya, aku masuk ke kamar kakak. Kulihat foto-foto saat kita berdua masih bisa berpelukan dan tersenyum juga tertawa bersama. Kulihat meja belajar kakak yang terlihat dingin karena tidak pernah kakak gunakan lagi selama berbulan-bulan ini. senyuman kakak, aku hanya bisa melihatnya di foto-fotonya dulu. Kakak.. kenapa kakak harus tinggalin aku? Kak, kakak bilang aku akan melihat kakak yang dulu lagi. Kenapa kakak pergi begitu cepat? Sekarang aku sendiri disini, kak. Sekarang aku udah nggak bisa belajar bareng kakak lagi. Semua yang akan kulakukan di rumah ini, hanya sendiri. Tanpa ada kakak di sampingku. Setelah lama melihat foto-foto kakak, aku duduk di kursi meja belajar kakak dan mulai membuka buku-buku kakak yang kaku. Tiba-tiba sebuah surat terjatuh saat aku membuka salah satu lembaran buku kakak. Kuambil surat itu dan kubaca.Selalu menyinari bumi walaupun kita tidak bisa meraihnya. Selalu berada diatas kepala kita setiap harinya. Walau kadang kita tidak menganggapnya ada, tapi dia idak pernah lepas menjalankan tugasnya untuk menyinari bumi. Ya, itulah matahari. Matahari.. aku ingin sekali menjadi matahari. Walaupun nanti aku akan pergi, aku masih mampu melindungi keluargaku. Walau nanti aku akan pergi, aku masih bisa melihat senyum dan tawa keluargaku. Sekuat apapun aku bertahan, aku yakin aku akan lelah. Aku yakin aku tidak akan bisa bertahan terlalu lama. Semua kenangan yang menyangkut diriku, aku ingin sekali mereka semua bisa melupakannya dengan cepat. Aku tidak mau membuat mereka ikut menderita. Cukup aku saja yang menderita. Mereka semua harus tersenyum apapun caranya. Bahkan, disaat terakhirku nanti, aku mau melihat senyuman mereka semua Tuhan.. karna hal itulah yang membuat aku kuat melangkah maju untuk hidup di kehidupan kedua nanti.Jani, dialah adikku yang sangat aku sayangi. Jangan biarkan dia terlalu lama terlarut dalam kesedihan yang harusnya diakhiri dengan cepat ini Tuhan.. setelah waktunya tiba, biarkan aku menutup mata dengan bahagian dan sambil tersenyum menuju tempat terakhirku. Memang berat meninggalkannya tapi, ini sudah takdirku. Jika Engkau membuat senyum keluargaku, aku tersenyum Tuhan.. aku sayang mereka semua… :)*****Jakarta, 19 Januari 2012*19 Januari, tepat disaat kakak berulang tahun dan saat seminggu kakak menderita penyakitnya yang mematikan. Kak, aku akan selalu tersenyum untukmu. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*