Cerpen Sahabat Terbaik Be the Best Of A Rival ~ 04

PS: Untung aja aku baru ngabisin baca novel yang sukses bikin aku berfikir positif… Kalau nggak, Nggak tau deh..
Thanks to "Mellisa"…
Part sebelumnya silahkan baca "Cerpen persahabatan be the best of a rival part 3".

Credit Gambar : Ana Merya
Keesokan harinya, farel sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. langsung bersiap – siap untuk kesekolah. mamanya aja sampai heran. Biasanya kan farel baru bangun kalau udah di bangunin. itu juga harus pake olah raga suara alias teriak – teriak. la ini?. Selesai sarapan farel langsung tancap gas.
Setengah jam sebelum bel farel sudah stanby di sekolah. Pak danang, penjaga sekolah juga sempat hewan waktu melihat wujudnya pertama kali. Gimana nggak biasanya paling cepet ia baru datang lima menit sebelum bel, seringnya sih lima menit setelah bel.Dan untuk masuk juga harus nyogok dulu pake makanan baru bisa masuk. Tapi kok sekarang tumben banget.
"Tenang pak. Mulai sekarang saya udah tobat" kata farel karena pak danang masih menatapnya heran.
"Yah…. udah nggak ada jatah sarapan lagi donk. e,.. Tapi nggak papa deh. Mungkin ini lebih baik " keluhnya sambil tersenyum.
farel juga ikutan tertawa mendengarnya. Setelah pamit ia segera menuju ke kelasnya. Hal yang sama lagi – lagi ia dapatkan. tatapan heran para sahabat nya juga terarah padanya.
"Woi, mimpi apa loe tadi malem?" komentar andika begitu farel duduk di sampingnya.
"Kejatuhan bulan" sahut farel ngasal.
Sejenak di edarkan pandangannya ke sekeliling. masih sepi. Emang belum banyak teman – temannya yang datang. Tak sengaja Matanya tertuju pada sosok chika yang sedang asik membaca buku. Gila masih pagi udah baca buku.
Setelah meletakan tas ke laci mejanya, farel bangkit berdiri. Walau awalnya sedikit ragu namun tetap di hampirinya chika. Para sahabatnya saling berpandangan heran tapi nggak ngomong apa – apa . Mereka hanya memperhatikan ulah nya yang dirasa sedikit aneh.
"Hei, gue mau ngomong sebentar sama loe".
Chika yang sedang asik membaca kaget mendapati farel yang tiba – tiba ada di depan mejanya. Sejenak ia menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Tapi nggak ada siapa – siapa. Apa mungkin farel ngomong sama dia?.
"Gue?" chika menunjuk dirinya sendiri.
"Ia" angguk farel membenarkan.
"Apa?" chika masih bingung.
"Tapi nggak di sini juga kali. loe ikut gue" sahut farel yang membuat chika makin bingung.
"Kenapa?".
"Udah, jangan banyak tanya. loe ikut aja"
Tanpa menunggu jawaban atau penolakan, farel meraih tangan chika untuk di ajaknya keluar. Walau chika masih merasa heran tak urung ia ikut juga.
"Kenapa tu anak?" tanya rio pada andika.
"Loe nanya ma gue?" Andika balik bertanya.
"Memang nya gue harus nanya sama nenek loe?" ledek Rio kesel.
"He he. ya mana gue tau" Andika angkat bahu.
Cerpen sahabat terbaik.
Begitu keluar dari kelasnya, farel membawa chika ke bawah pohon jambu yang banyak tumbuh di pekarangan sekolah. Kebetulan masih sepi karena anak – anak yang laen memang belum banyak yang datang. Tapi belum juga sampai ke tempat yang di tuju, Chika menghentikan langkahnya.
" Kenapa?" tanya farel heran.
"Gue bisa jalan sendiri kali. Jadi loe bisa lepasin tangan gue nggak?".
"Farel yang dari tadi tidak menyadari kalau ia mengandeng tangan chika langsung melepaskan gengamannya. Ia sendiri jadi salah tingkah karena hal tersebut.
"Sory".
"Emang nya loe mau ngomong apa?" tanya chika mengalihkan pembicaraan.
"Ehem…e " Untuk sejenak farel mengehembuskan nafasnya. "Soal kemaren loe cerita sama siapa aja?" sambung farel beberapa saat kemudian.
"Soal apa?" chika balik bertanya.
"Ya soal kemaren. kalau sebenernya yang ngisi pr gue itu ternyata elo"
"O…. itu?. nggak ada" balas chika.
Chika masih merasa sedikit bingung juga takut kenapa Farel tiba – tiba menanyakan masalah itu. Jangan – jangan ia mau marah lagi.
"Nggak seorang pun?" tanya farel lagi. Chika membalas dengan gelengan kepala.
"Termasuk sahabat loe, Clara?".
"Ia"
"Bagus deh. Gue cuma mau minta sama loe. Tolong jangan ceritain ini sama siapa – siapa. Apalagi sampai sahabat – sahabat gue tau kalau secara nggak langsung kemaren itu gue nyontek sama loe. Oh ya, sekalian gue juga minta maaf soal kemaren karena udah sok di depan loe" pinta farel.
Sejenak Chika menatap farel lurus. Kemudian sebuah senyuman terukir manis di sudut bibirnya.
"Kenapa loe tersenyum?" tanya farel heran.
"Nggak kenapa – napa si. Cuma sedikit heran aja sama sikap loe hari ini. Emang bener ya kalau tadi malam itu loe mimpi kejatuhan bulan" tambah chika yang kali ini tidak mampu menahan tawanya.
"Sialan loe. ya nggak lah" sahut farel ikutan tertawa.
Tak terasa hari sudah semakin siang. Teman – teman yang lain juga sudah mulai berdatangan.
"Ya udah. Gue cuma mau ngomong itu doank kok. kalau gitu sekarang gue mau kekelas dulu " Panit farel sambil berbalik.
Chika hanya berjalan mengekor di belakangnya.
"Kok loe ngikutin gue si?" tanya farel heran.
"Siapa yang ngikutin?".
"Elo. Terus kalau nggak kenapa loe jalan di balakang gue?".
"Loe mau ke kelas kan?" bukannya menjawab chika malah balik bertanya. *jangan heran, udah jadi ciri khas cerpen di star night kalau di tanya malah balik nanya*.
"Ia?" angguk farel.
"Ya sama. gue juga mau langsung ke kelas" balas chika santai.
"Ya udah jangan ngikutin gue. Balik aja kekelas loe".
"Nie juga gue lagi jalan mo kekelas. bukannya mo ngikutin elo. Lagian gimana si, bukannya kita sekelas ya?".
"Eh ia ya,… sory gue lupa" farel garuk -garuk kepalanya salting.
"Elo kenapa si?. Beneran aneh deh. sumpah" Kata Chika heran. Saat itu kebetulan mereka sudah sampai tepat di depan kelasnya. "Jangan – jangan loe masih tidur lagi" sambungnya lagi.
"Ya nggak lah. Ada – ada aja loe" Balas Farel sambil tertawa lepas.
Chika ikutan tertawa sambil melankah masuk menuju bangkunya. Begitu juga farel. Tatapan heran dari sahabatnya sama sekali tidak diindahkannya.
"Loe abis dari mana?" tanya Clara begitu chika duduk di sampingnya.
"Dari luar" Balas chika sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya karena barusan bel sudah terdengar. Pasti sebentar lagi pelajaran biologi akan dimulai.
"Kok barengan sama Farel?" tanya clara yang masih merasa belum puas. Kebetulan saat farel mengajak chika tadi ia belum datang.
"emangnya nggak boleh?".
"Boleh si harusnya. Cuma sejak kapan loe akrab sama tu anak. Pake acara ketawa bareng lagi".
"He he… sejak tadi. Lagian loe kenapa si nanya mulu?".
"Karena gue masih heran. Emang nya loe ada urusan apa sama dia?".
"Top secret!" Balas chika sambil tertawa membuat clara cemberut.
Saat clara ingin kembali buka mulut, chika sudah terlebih dahulu mengisaratkan untuk diam karena pak rifai sudah ada di ambang pintu.
Cerpen Sahabat Terbaik
Sepertinya kejutan pagi ini belum cukup, karena tanpa ada angin tanpa ada hujan Pak rifai datang dengan setumpuk soal ulangan. close book lagi. Hal ini jelas saja membuat semuanya protes, Tapi dalam hati. Mana ada yang berani ngomong secara pak rifai kan memiliki tampang kayak teacher di Gurukul dalam filem mohabaten. filem Hindi favoritnya star night. Jadi mana ada yang berani protes.
Seketika suasana kelas hening kayak di kuburan. Eh nggak ding, Itu terlalu lebay kayaknya. semua siswa mengeluarkan kertas selembar. Sementara vino yang di tugas kan oleh pak rifai untuk mengumpulkan buku catatan langsung beraksi melakukan yang terbaik. Ini tentu saja menambah siswa yang tidak belajar makin mengkeret. Termasuk farel dan para sahabatnya.
Waktu terus berjalan. Sisa waktu masih setengah jam sebelum pelajaran berakhir. pak rifai masih setia mondar – mandir kayak setrikaan untuk mengawasi siswanya. Begitu sampai di samping chika langkahnya terhenti begitu mendapati sang target sedang menutup penanya.
"Kamu sudah selesai chika?".
Pertanyaan yang di lontarkan pak rivai sukses menarik perhatian anak – anak yang laen. Secara tuh soalkan njelimet banget susahnya.
"Udah pak".
Suara lirih Chika menarik perhatian sahabat sebangunya yang menatap tajam. Asli nggak percaya.
Pak rifai segera menelitai hasil kerja chika. setelah beberapa saat kemudian.
"Bagus. Kalau gitu silahkan kamu istirahat duluan. Bapak nggak mau ada yang nyontek sama kamu".
"Baik pak" sahut chika sambil mengemasi buku – bukunya.
"Clara, Gue ke perpus dulu ya" pamit chika sebelum berlalu keluar diikuti tatapan takjub dari seluruh penghuni kelas.
"Gila tu anak. Gue aja setengahnya juga belom. Masa dia udah selesai. Yang benar saja lah" Bisik andika ke Farel.
"Ia nih. Mana susah banget lagi. Liat punya loe donk" balas Farel balik berbisik.
"Ehem…!".
Deheman pak rifai membuat nyali farel dan sahabatnya ciut. cep. Pada diem.
Begitu bel berbunyi, Pak rifai meminta semua muridnya untuk mengumpulkan kertas ulanganya. Terserah udah selesai atau belum.
"Idih. Kayak monster banget si. Ngasi ulangan dadakan. semaunya aja" Gerut Arfan begitu bayangan pak rifai sudah tak terlihat.
"Ia mana tadi gue belom kelar lagi. Heh pasti ancur deh nilai ulangan gue kali ini" tambah Rio.
"Tapi chika hebat ya?. padahal kan tadi masih ada sisa waktu setengah jam, kok dia udah selesai ya?" Puji varian.
" Ia tu anak emang brilian banget" salsa nambahin.
Vivi dan para sahabatnya lebih memilih kabur dari pada kuping nya makin panas mendengar pujian yang nggak penting.
Next part At Cerpen sahabat Be The Best Of A Rival part 5.

Random Posts

  • Cerpen Cinta Rasa Yang Tertinggal ~ 01 / 05

    Iseng lambai ke kamera sembari tebar senyuman. Ketemu lagi bareng admin. Kali ini muncul dengan cerpen cinta Rasa yang tertinggal. Cerpen kali ini terinspirasi dari salah satu lagu milik band indo yang emang admin suka lagu lagunya. Tepatnya Kangen band. Judul lagunya yang mana, yang mana aja boleh XD. So, biar nggak kebanyakan obrolan, kita langsung skip ke cerita aja ya. Happy reading.Credit Gambar : Ana Merya"Fan, loe mau kemana? langsung pulang kan?" tanya Alan masih dengan napas ngos – ngosan sehabis berlari. Begitu Pak budi meninggalkan kelas, ia memang langsung meluncur ke kelas Tifani. Sedikit kecewa begitu mendapati kelas sahabatnya itu telah kosong. Karena itu tanpa basa – basi ia langsung meluncur menuju keparkiran. Sesuai dugaan, temannya ada disana."Rencananya si gue pengen ngadain jumpa pers dulu. Ya maklum lah, gue kan artis yang lagi naik pohon," Tifani ngebanyol lengkap dengan gaya narsisnya. Lagian, hari gini orang emang kebanyakan suka gitu ya. Suka melemparkan pertanyaan padahal jawabannya sudah jelas."Lebay," cibir Alan sewot sambil menoyor kepala Tifani yang malah ngakak."Lagian loe, udah tau kalau gue biasanya juga langsung pulang ngapain si pake nanyain lagi?"Alan hanya nyegir mendengarnya. Sementara tangannya sibuk merogoh kedalam tas ransel, sibuk mencari -cari sesuatu. Seulas senyum terukir manis di sudut bibirnya ketika ia menemukan apa yang ia cari. Sebatang coklat yang langsung ia sodorkan tepat kewajah Tifany yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak geriknya."Buat gue?" tanya Tifany polos."Sembarangan," semprot Alan cepat. "Kayak nggak tau aja. Biasa. Ini tu titipan dari gue buat pujaan hati. Sekalian sampaikan padanya salam rindu penuh cinta Yang terbungkus dalam sebatang coklat," sambung Alan sok puitis. Tifany justru pasang pose mau muntah."Cinta kok cuma ngasi coklat. Bunga kek," cibirnya. Namun tak urung, coklat tersebut ia ambil juga."Memangnya Septia suka bunga?" tanya Alan yang tak sengaja mendengar cibirannya. Kalau di pikir Tifany bener juga. Cewek kan biasanya suka bunga. Tapi setelah searching di google, banyak juga yang suka coklat. Bahkan, gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya adalah salah satunya."Yupz…." angguk Tifany mempertegas pendapatnya. "Apalagi bunga bank. Ah, Gue juga mau kalau gitu," sambungnya yang langsung di hadiahi jitakan di kepala."Sorry ya. Septia bukan loe, dia nggak matre," gerut Alan. "Dan asal loe tau aja dalam setiap batang coklat yang gue kirimkan selama ini terselipkan sejuta cinta yang gue punya," sambung pria itu dengan gaya nya yang khas. Khas lebay maksutnya.Mendengar itu Tifany. Sekaligus ia juga kesel karena kepalanya di jitak dengan semena – mena. Sambil mengusap – usap kepalanya mulutnya mengerutu "Tu coklat kan gue yang makan, pantesan aja gue makin cinta sama loe.""Apa?" tanya Alan karena Gumaman Tifany terlalu kecil untuk bisa ditangkap indra pendengaranya."Kereta Api yang udah lewat nggak bisa balik lagi," Tifany angkat bahu. Sementara Alan masih menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat."Lagian kalau loe emang naksir berat plus cinta hidup sama dia kenapa nggak ngomong langsung aja si?" tanya Tifany berusaha mengalihkan pembicaraan. Lagipula ia tidak berharap Alan mendengar gumamannya barusan. Toh, tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan berubah.Kali ini Alan tersenyum. Matanya menatap kearah Tifany yang masih menantikan jawabannya. "Soalnya kalau kayak gini kan lebih romantis."Jawaban itu tak urung membuat Tifany kembali mencibir. "Wuek…. Loe bener – bener bikin gue mau muntah.""Ih, loe kok gitu si? Loe kan sahabat gue. Harus nya loe ngedukung gue donk buat dapatin dia. Secara gue udah bosen ngejomblo. Dan lagi…""Iya bawel. Udah deh, udah siang ini. Iya, ntar gue sampein. Sekarang gue cabut dulu," potong Tifani. Tanpa menunggu balasan ia segera mengayuh sepedanya menjauh, meninggalkan Alan yang masih berdiri di tempat.Sambil terus mengayuh, Tifany menghela nafas. Sebelah tangannya terangkat menyentuh dada kirinya yang terasa sesak. Sahabat?. Selalu begitu. Andaikan Alan tau rasa sakit yang selama ini Tifany rasakan ketika mendengar satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Karena sesungguhnya tifany menyukai Alan yang telah bersama dari semenjak 6 tahun yang lalu dan harus terpaksa menerima kenyataan kalau orang yang disukainya ternyata menyukai sahabatnya sendiri sejak dua bulan yang lalu. Septia. Seorang yang tidak sengaja ia kenalkan pada Alan saat Alan berkunjung ke kostannya.Dan ini lah rutinitasnya setiap hari. Kurir cokelat. Tapi Untunglah sampai saat ini rasa sakit itu masih bisa dan mampu ia tahan. Apalagi melihat rekasi cuek bin dingin Septia selama ini yang tidak pernah sekali pun menerima cokelat pemberian Alan sehingga selama ini selalu berakhir masuk kedalam perutnya.Setelah memarkir sepedanya, Tifany melangkah masuk kedalam rumah. Sepi, sepertinya penghuni kostan juga sedang pada keluar. Tangannya terulur memutar knop pintu nomor 7, tidak terkunci. Itu artinya, Septia, rekan sekamarnya ada di sana."Gue kan udah berulang – ulang – ulang – ulang kali bilang ke elo. Gue nggak mau coklat dari dia. Kenapa masih loe terima aja si?" gerut Septia penuh penekanan saat Tifani menyodorkan kiriman Alan tepat di depan wajahnya."Dan berulang – ulang kali juga gue bilang kalau Alan itu type orang yang sama sekali tidak menerima penolakan," balas Tifany tak kalah cuek.Septia memutar mata. Matanya masih menatap lurus kearah Tifany yang masih mengulurkan tangannya. "Ya udah, kalau gitu loe buang aja," saran Septia baru kemudian mengalihkan perhatiannya kearah novel yang sedari tadi ia baca sebelum kemuculan Tifany menganggu konsentrasinya."Jangan!!! Sayang donk," potong Tifany cepat."Hu…. Bilang aja kalau loe yang mau cokelatnya makanya loe nggak mau nolak pemberian Alan," cibir Septia. Diam diam gadis itu melirik kearah sahabatnya. "Bukan gitu. Gue cuma sayang aja kali. Makanan enak gini maen buang aja," Tifany membela diri."Sayang sama cokelatnya atau orangnya?" balas Septia sembari bergumam."Apa?" Tifany mengurungkan gerakan tangannya yang sedang meletakan mengantungkan tas ke dinding. Kepalanya menoleh kearah Septia. Tapi yang di tatap sama sekali tidak menoleh. Gadis itu malah terlihat tengelam dengan bacaannya. "Loe barusan ngomong apa Sep?" ulang Tifany lagi."No Ada bebek pake helm," Septia menjawab acuh tak acuh. Tatapan Tifany menyipit. Ia yakin tadi bukan itu kalimat yang Septia ucapkan."Oh ya, tadi gue ketemu kak Nara. Dia titip pesan sama gue, katanya kalau loe udah pulang loe di suruh kerumahnya," tambah Septia beberapa saat kemudian."Gue? Ada apa?" tanya Tifany sambil menunjuk wajahnya sendiri."Tau…" Septia angkat bahu. Ditutupnya buku yang ia baca. Matanya melirik kearah jam yang melingkar di tangan baru kemudian bangkit berdiri. Berjalan kearah meja rias di sudut kamar. Tangannya sibuk merapikan poni rambutnya yang sedikit berantakan. Tifany baru menyadari kalau penampilan gadis itu terlihat rapi. Siap mau keluar."Loe mau kemana?" Tanya Tifany heran."Ada deh. Mau tau aja. Udah gue cabut dulu ya. Da…" tanpa menunggu balasan dari Tifany, Septia sudah keburu menghilang di balik pintu. Meninggalkan sahabatnya yang masih heran dan penasaran akan rutinitanya setiap sore sejak dua minggu yang lalu."Hati – hati," teriak Tifany walau pun sosok sahabatnya sudah tidak terlihat. Tapi ia yakin suara cemprengnya masih mampu untuk ditangkap oleh indra pendengar Septia."Ia. Loe juga. Inget, mang Danang itu sudah punya istri. Jangan di godain aja. Ha ha ha," balasan Septia masih terdengar. Bahkan walau wujudnya sudah tidak terlihat, ia masih mampu melemparkan ledekan."Rese loe," balas Tifany sengaja berteriak. Sebagai balasan hanya suara tawa yang sama terdengar baru kemudian hilang. Kalau saja Septia masih ada di hadapannya pasti saat ini sendal sudah melayang kekepala. Heran, tuh anak suka iseng banget. Padahal ia juga sudah tau dengan pasti kalau Tifany hanya menyapa mang Danang, tukang kebun tetangga sebelah setiap pagi hanya karena kebetulan ia lewat pas disampingnya yang sedang menyiram bunga ataupun membersihkan kebun. Tapi tetap saja Septia selalu mengodanya. Emang dasar Kurang kerjaan tuh anak.Next to Cerpen cinta rasa yang tertinggal part 2.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_meryaPart : 01 Of 05Jumlah kata : 1. 179 WordsGenre : Remaja

  • Cerpen cinta Love is mocca last Part

    Cerpen cinta love is mocca part end. Sory ya All, cuma tinggal ngepost aja lama apa lagi bikin. he he he….Oy ya, Cerpen cinta love is mocca ini adalah cerpen kiriman reader star night. Untuk part sebelumnya kalian bisa baca di sini…-} Cerpen cinta love is mocca part 1-} Cerpen Cinta love is mocca part 2Happy reading ya…Harus aku akui bahwa aku hadir menjadi perusak dalam hubungannya dengan Vhiand, lelaki yang mampu membuat Ocha jatuh cinta, membuat Ocha melupakan sejenak tentang aku. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengannya tapi aku sering melihatnya menjemput Ocha, sehingga membuatku mengiringi kepulangan Ocha dengan tatapan tak rela dan cemburu sedangkan aku hanya mampu menghela napas panjang. Aku melihat bagaimana cara Vhiand memandang Ocha dengan sarat ketulusan, ya cinta yang tulus dan menjanjikan kebahagian. Ya aku tau itulah yang membuat Ocha luluh dan menerimanya.sebagian

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 10

    Buat temen temen semua yang pada nungguin lanjutannya, kali ini udah muncul nih cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 10. Soal ending? Kayaknya masih lama deh. Di usahain nggak sampe lebih dari part 15 walau nggak janji juga sih. Secara, jujur aja deh, kelanjutan cerpennya belom di ketik. Baru di pikirin ni cerita mau di bawa kemana…. #Backsound lagu Armada.Oh ya, biar nggak bingung sama jalan ceritanya, sebaiknya baca dulu episode sebelumnya dalam cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 09. Happy reading…..Kenalkan Aku Pada Cinta Setelah sebelumnya Astri sempat merasa uring – uringan karena motornya yang pagi itu mendadak mogok, namun pada akhrinya gadis justru itu malah mensukurinya. Bukan, bukan menyukuri motornya, tapi mensyukuri dirinya yang ternyata memiliki seorang kakak. Walau mereka sering berantem, tapi sepertinya pria itu masih bisa di manfaatkan. Yah, jadi tukang ojek dadakan misalnya.sebagian

  • Cerpen Cinta “Dalam Diam Mencintaimu” 03/04

    #EditVersion. Untuk yang belum tau. Tokoh utama sebelumnya adalah Irma dan Doni. Tapi admin edit jadi Irama ~ Rey. Nggak ada alasan khusus. Cuma pengen ngedit aja cerpen dalam diam mencintaimu ini. Tapi secara keseluruhan ceritanya nggak ada yang berubah. Cuma beberapa penulisannya aja yang di perbaiki. Oh iya, as always. Biar gampang sekalian nyambung sama jalan ceritanya. Buat yang belum baca bagian sebelumnya bisa baca dulu ya. Biar lebih mudah bisa langsung klik disini.Dalam diam mencintaimuSambil terus melangkah kearah parkiran, Irma tak henti memukul – mukul kepalanya. Tadi pagi Rey tidak sengaja mendengar pembicaraanya dengan Vieta. Saat ia dengan tegas mengatakan pada sahabatnya itu kalau ia tidak pernah menyukai Rey. Tambahan lagi ia mengucapkannya dengan tegas. Dan kini, hatinya jadi merasa tak tentu arah. Merasa tidak enak. Jujur ia sangat tidak ingin kalau sampai Rey salah paham. Bukan maksudnya untuk berkata bahwa ia tidak menyukai Sahabatnya itu, hanya saja ia juga bingung harus berkata apa. {Untuk lebih jelasnya baca cerpen kala cinta menyapa part 3}Ketika ia masiht terus berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, matanya mendapati sosok Rey yang melangkah mendekat. Niatnya untuk menghampiri langsung ia batalkan dan justru malah bersembunyi saat tau kalau Rey tidak sendirian. Di sampingnya tampak Vhany yang berjalan beriringan. Dan Irma hanya mampu menghela nafas, dadanya kembali terasa sesak saat melihat Vhany duduk di jok belakang motor Rey. Sepertinya mereka akan pulang bareng. Setelah keduanya benar – benar berlalu barulah Irma keluar dari persembunyiannya. Dengan langkah gontai ia berjalan pulang.*** Dalam diam mencintaimu ***Setelah memarkirkan motornya di halaman rumah, Rey tidak lantas masuk kedalam. Ia sengaja duduk di bangku depan rumah sambil sesekali melongok kearah jalan ataupun melirik jam yang melingkar di tangannya. Tadi ia sudah memastikan kalau Irma sama sekali belum sampai di rumahnya. Kemana perginya anak itu? Jujur saja ia sangat mencemaskannya. Yah walaupun tadi Irma sudah bilang kalau ia akan pergi dengan sahabatnya sih.Setelah hampir satu jam Rey menunggu, matanya menangkap mobil silver yang memasuki halaman depan rumah tetangganya. Ia berani menjamin kalau itu bukan mobil ayah Irma. Pertanyaannya, itu mobil siapa?Rey mengernyit heran saat matanya menangkap sosok seorang pria yang tak di kenalnya keluar dari pintu mobil itu. Lebih heran lagi ketika melihat Irma menyusulnya. Hatinya mencelos. Lagi – lagi ia merutuki diri sendiri kenapa harus memikirkan gadis itu yang jelas hal yang sia – sia. Dengan kesel ia melangkah masuk kedalam rumah tanpa menoleh kearah ‘tetangga’nya sama sekali.“Oh Jadi besok loe ulang tahun. Gimana? Mau dirayain nggak?” tanya Fadly sambil melangkah beriringan masuk kedalam rumah Irma.Tadi Irma menelponnya. Memaksanya untuk menjemput ke kampus. Mana pake acara ancaman putus persaudaraan lagi kalau sekiranya Fadly berani menolak. Nah karena itu lah kini Fadly bisa berada di depan rumah sepupunya. “Iya, tapi nggak perlu pake acara – acara segala. Dari dulu juga nggak pernah di rayain, toh gue nggak suka. Gue bisa bersama dengan orang – orang yang gue sayangi itu sudah lebih dari cukup."Fadly yang mendengar hanya mengangguk – angguk membenarkan. Namun tak selang beberapa menit kemudian keningnya berkerut tanda bingung saat mendapati tangan Irma yang nyadong di depan wajahnya.“Kenapa?”“Kadonya mana?” tanya Irma pasang tampang sok polos.“Busyet, ulang taon loe kan besok. Bukan sekarang masa kadonya duluan,” protes Fadly dan Irma hanya membalas dengan cengiran tak bersalahnya. #Oma, nie Di sindir terang – terangan lho ^_^“Om sama tante mana Ir? Kok tumben kayaknya nie rumah sepi amat,” Fadly mengalihkan pembicaraan sambil duduk dengan santai di sofa. Tangannya meraih majalah yang tergeletak di meja sementara Irma sendiri melangkah kekamarnya. Sekedar untuk menyimpan peralatan kampusnya.“Loe kayak nggak kenal nyokap sama bokap gue aja. Jam segini tentu aja masih di kantor,” balas Irma yang baru muncul di balik pintu kamarnya namun bukan segera menghampiri sepupunya justru ia malah kedapur. Dan muncul kembali dengan napan berisi dua gelas minuman kaleng.“O…,” kali ini Fadly hanya ber’O’ ria.Selang beberpa saat kemudian keduanya asik bercanda tawa. Saling bertukar cerita sampai tak terasa hari sudah sore dan Fadly juga sudah harus mengundurkan diri pulang. Tak lupa Irma mengantarnya kedepan pintu gerbang. Dan baru kembali masuk kedalam rumah setelah mobil Fadly menghilang dari pandangan.*** Dalam diam mencintaimu *** “Rey!”Merasa namanya di panggil Rey yang berniat langsung pulang berbalik, keningnya berkerut heran saat mendapati gadis berkacamata yang kini berlari kearahnya.“Loe beneran Rey kan, yang biasanya bareng sama Irma?”Masih belum mengerti arah tujuan pembicaraan mereka, Rey memilih membalas dengan anggukan. "Gue Vieta, temen deketnya," kata gadis itu memperkenalkan diri sembari menyodorkan kado tepat ke wajahnya. “Buat gue?” tanya Rey dengan kening berkerut.“Tentu saja bukan, emangnya siapa elo. Kenal juga kagak. ini itu kado buat Irma. Hari ini kan dia ulang tahun. Tadinya mau langsung gue kasi kedia. Eh , waktu gue SMS dia bilang malah dia sakit. Ya udah, gue belom sempet mampir ke sana. Makanya, karena katanya loe itu tetanggaan sama dia gue titip sama loe aja ya?”“Irma? Sakit? Terus hari ini dia juga ulang tahun?” tanya Rey kaget. Melihat wajah kaget sekaligus bingung yang tergambar dari wajah Rey membuat Vieta kembali menarik kotak kado yang ia sodorkan.“Oh, gue salah orang ya? Maaf, gue pikir loe itu sahabatnya Irma yang biasanya sering pulang – pergi bareng. Jadi bukan ya?” gumam Vieta bingung sambil mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.“Bukan," Rey mengeleng. Vieta makin merasa bersalah karena menduga kalau ia salah orang. Untuk itulah Rey kembali meralat. "Maksud gue bener. Gue memang sahabatnya Irma."“La kalau loe memang sahabatnya dia masa loe nggak tau kalau hari ini dia ulang tahun. Mana katanya lagi sakit lagi. Jangan – jangan…”Vieta tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Rey sudah terlebih dahulu berlari pergi meninggalkannya. Matanya terus menatap kepergian Rey dengan bingung sekaligus kecewa. Kenapa hanya sekedar di titipin kado saja tu orang nggak mau. Akhirnya dengan langkah gontai Vieta melanjutkan niatnya untuk langsung pulang saja. Soal kado, sepertinya ia baru bisa memberikan setelah ia bertemu Irma langsung. Dari kampus, Rey langsung melajukan motornya kearah rumah Irma. Pikiran pria itu kini benar – benar kusut. Dalam hati ia terus merutuk. Tadi pagi ia sengaja tidak menjemput gadis itu karena dilihatnya rumah Irma terlihat sepi. Ia menduga Irma telah berangkat kuliah duluan. Terlebih biasanya gadis itu pasti sudah menunggunya jika ingin berangkat bareng.Tepat saat tangan Rey terangkat untuk mengetuk pintu rumah Irma, pintu itu sudah terlebih dahulu terbuka disusul sosok seorang yang juga kebetulan akan keluar. Kening Rey berkerut. Matanya menatap tajam kearah sosok yang kini juga sedang menatapnya, sementara di belakangnya tampak Irma yang berdiri dengan raut wajah tak kalah bingung.“Rey?” mulut irma yang pertama sekali terbuka menyuarakan isi hatinya.Rey hanya membalas dengan senyuman salah tingkahnya. Tiba – tiba saja ia merasa mati gaya saat di hadapkan dengan situasi yang sangat tidak biasa ini. Apalagi saat ia menyadari kalau orang_yang_tidak_diketahui_identitasnya itu jalas – jelas sedang mengawasinya. “Loe ngapain di sini?”Pertanyaan yang keluar dari mulut Irma selanjutnya benar – benar membuat hati Rey mencelos. Wajahnya menatap lurus kearah irma seolah tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sejak kapan ia harus punya alasan yang jelas untuk menemui gadis itu?“Jadi loe yang namanya Rey?”Pertanyaan selanjutnya mengalihkan perhatian Rey. Ia kembali menunduk dengan senyuman janggal yang benar – benar ia paksakan. Sungguh ia tidak pernah berpikir akan berada dalam situasi seperti ini.“Oh, kenalin gue Fadly, sepupunya Irma,” kata orang itu yang mengaku bernama Fadly sambil mengulurkan tangan mengajak berjabatan kearah Rey. Walau rasa heran, kaget sekaligus bingung masih jelas tergambar di wajah Rey namun tak urung ia menyambut uluran tangan itu. Tapi kali ini di sertai sebuah senyuman lega di bibirnya.“Rey,” Rey gantian menyebutkan namanya. “Oh, jadi loe Fadly sepupunya Irma," sambung pria itu menegaskan.“Yups,” Fadly mengangguk membenarkan. “Loe nggak berpikir kalau gue itu pacarnya kan?”“Ha?” secara serentak mulut Irma dan Rey terbuka. Sementara Fadly hanya angkat bahu.“Ya sudah Ir, gue pulang dulu ya. Gue masih harus kekantor soalnya. Biasalah bantuin bokap. Rey, sory ya gue duluan,” ujar Fadly malah pamit mengundurkan diri.Kali ini Rey hanya membalas anggukan.“Hati – hati. Entar kalau jatuh, bangun sendiri,” balas Irma yang langsung mendapat cibiran dari mulut Fadly.“Loe juga no. Jangan lupa makan obatnya. Kalau sakit berlanjut jangan hubungi gue. Hubungi dokter aja," Fadly balas meledek.Mendengar kalimat balasan dari sepupunya itu membuat wajah Irma gantian memberengut sebel. “Loe sakit apa?” pertanyaan Rey yang ada disampiingnya sontak menyadarkan Irma yang sedari tadi masih menatap kepergian Fadly yang bahkan sudah menghilang dari pandangan.“Gue? Oh, enggak kok. Cuma kayaknya maag gue tadi kumat. Makanya hari ini nggak masuk. Tapi sekarang gue udah baikan kok,” terang Irma sambil tersenyum.Rey ikutan tersenyum walau masih terlihat khwatir.“Eh masuk yuk,” ajak Irma yang baru menyadari kalau mereka sedari tadi mengobrol di beranda rumah.“Oh ya Rey, bukannya kemaren loe bilang loe hari ini masuk tiga mata kuliah ya? Kok jam segini sudah pulang?” tanya Irma sambil melangkah masuk, Rey hanya ngekor di belakang.“Ehem… itu, e… gue bolos,” aku Rey.Irma terdiam sambil mengangguk – angguk. Nggak tau deh apa maksutnya.“Nah berhubung loe bolos gimana kalau kita sekalian jalan aja," ajak Irma tiba – tiba.“Ha?"“Itu juga cuma kalau loe nggak keberatan sih,” sambung Irma angkat bahu.“Bukannya loe masih sakit?” tanya Rey.“Tentu saja tidak,” balas Irma cepat. “Ehem, maksut gue, gue sekarang udah merasa baikan kok,” sambung Irma meralat ucapannya barusan yang di rasa terlalu antusias.“Ya sudah kalau gitu. Kita pergi sekarang?” angguk Rey setuju.Gantian Irma yang heran. Menatap kearah Rey. Sebuah senyuman tak mampu ia tahan saat melihat kepala Rey yang mengangguk. Segera di tariknya tangan Rey melangkah keluar. Hari ini ia sangat ingin bersenang-senang. Terlebih bisa bersama Rey yang notebenenya orang yang ia suka. Peduli amat kalau nantinya ia akan terluka, yang penting hari ini hari bahagianya. Anggap saja sebagai kado ulang tahun untuknya. *.*Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu EndingDetail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*