Cerpen Sahabat Terbaik Be the Best Of A Rival ~ 04

PS: Untung aja aku baru ngabisin baca novel yang sukses bikin aku berfikir positif… Kalau nggak, Nggak tau deh..
Thanks to "Mellisa"…
Part sebelumnya silahkan baca "Cerpen persahabatan be the best of a rival part 3".

Credit Gambar : Ana Merya
Keesokan harinya, farel sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. langsung bersiap – siap untuk kesekolah. mamanya aja sampai heran. Biasanya kan farel baru bangun kalau udah di bangunin. itu juga harus pake olah raga suara alias teriak – teriak. la ini?. Selesai sarapan farel langsung tancap gas.
Setengah jam sebelum bel farel sudah stanby di sekolah. Pak danang, penjaga sekolah juga sempat hewan waktu melihat wujudnya pertama kali. Gimana nggak biasanya paling cepet ia baru datang lima menit sebelum bel, seringnya sih lima menit setelah bel.Dan untuk masuk juga harus nyogok dulu pake makanan baru bisa masuk. Tapi kok sekarang tumben banget.
"Tenang pak. Mulai sekarang saya udah tobat" kata farel karena pak danang masih menatapnya heran.
"Yah…. udah nggak ada jatah sarapan lagi donk. e,.. Tapi nggak papa deh. Mungkin ini lebih baik " keluhnya sambil tersenyum.
farel juga ikutan tertawa mendengarnya. Setelah pamit ia segera menuju ke kelasnya. Hal yang sama lagi – lagi ia dapatkan. tatapan heran para sahabat nya juga terarah padanya.
"Woi, mimpi apa loe tadi malem?" komentar andika begitu farel duduk di sampingnya.
"Kejatuhan bulan" sahut farel ngasal.
Sejenak di edarkan pandangannya ke sekeliling. masih sepi. Emang belum banyak teman – temannya yang datang. Tak sengaja Matanya tertuju pada sosok chika yang sedang asik membaca buku. Gila masih pagi udah baca buku.
Setelah meletakan tas ke laci mejanya, farel bangkit berdiri. Walau awalnya sedikit ragu namun tetap di hampirinya chika. Para sahabatnya saling berpandangan heran tapi nggak ngomong apa – apa . Mereka hanya memperhatikan ulah nya yang dirasa sedikit aneh.
"Hei, gue mau ngomong sebentar sama loe".
Chika yang sedang asik membaca kaget mendapati farel yang tiba – tiba ada di depan mejanya. Sejenak ia menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Tapi nggak ada siapa – siapa. Apa mungkin farel ngomong sama dia?.
"Gue?" chika menunjuk dirinya sendiri.
"Ia" angguk farel membenarkan.
"Apa?" chika masih bingung.
"Tapi nggak di sini juga kali. loe ikut gue" sahut farel yang membuat chika makin bingung.
"Kenapa?".
"Udah, jangan banyak tanya. loe ikut aja"
Tanpa menunggu jawaban atau penolakan, farel meraih tangan chika untuk di ajaknya keluar. Walau chika masih merasa heran tak urung ia ikut juga.
"Kenapa tu anak?" tanya rio pada andika.
"Loe nanya ma gue?" Andika balik bertanya.
"Memang nya gue harus nanya sama nenek loe?" ledek Rio kesel.
"He he. ya mana gue tau" Andika angkat bahu.
Cerpen sahabat terbaik.
Begitu keluar dari kelasnya, farel membawa chika ke bawah pohon jambu yang banyak tumbuh di pekarangan sekolah. Kebetulan masih sepi karena anak – anak yang laen memang belum banyak yang datang. Tapi belum juga sampai ke tempat yang di tuju, Chika menghentikan langkahnya.
" Kenapa?" tanya farel heran.
"Gue bisa jalan sendiri kali. Jadi loe bisa lepasin tangan gue nggak?".
"Farel yang dari tadi tidak menyadari kalau ia mengandeng tangan chika langsung melepaskan gengamannya. Ia sendiri jadi salah tingkah karena hal tersebut.
"Sory".
"Emang nya loe mau ngomong apa?" tanya chika mengalihkan pembicaraan.
"Ehem…e " Untuk sejenak farel mengehembuskan nafasnya. "Soal kemaren loe cerita sama siapa aja?" sambung farel beberapa saat kemudian.
"Soal apa?" chika balik bertanya.
"Ya soal kemaren. kalau sebenernya yang ngisi pr gue itu ternyata elo"
"O…. itu?. nggak ada" balas chika.
Chika masih merasa sedikit bingung juga takut kenapa Farel tiba – tiba menanyakan masalah itu. Jangan – jangan ia mau marah lagi.
"Nggak seorang pun?" tanya farel lagi. Chika membalas dengan gelengan kepala.
"Termasuk sahabat loe, Clara?".
"Ia"
"Bagus deh. Gue cuma mau minta sama loe. Tolong jangan ceritain ini sama siapa – siapa. Apalagi sampai sahabat – sahabat gue tau kalau secara nggak langsung kemaren itu gue nyontek sama loe. Oh ya, sekalian gue juga minta maaf soal kemaren karena udah sok di depan loe" pinta farel.
Sejenak Chika menatap farel lurus. Kemudian sebuah senyuman terukir manis di sudut bibirnya.
"Kenapa loe tersenyum?" tanya farel heran.
"Nggak kenapa – napa si. Cuma sedikit heran aja sama sikap loe hari ini. Emang bener ya kalau tadi malam itu loe mimpi kejatuhan bulan" tambah chika yang kali ini tidak mampu menahan tawanya.
"Sialan loe. ya nggak lah" sahut farel ikutan tertawa.
Tak terasa hari sudah semakin siang. Teman – teman yang lain juga sudah mulai berdatangan.
"Ya udah. Gue cuma mau ngomong itu doank kok. kalau gitu sekarang gue mau kekelas dulu " Panit farel sambil berbalik.
Chika hanya berjalan mengekor di belakangnya.
"Kok loe ngikutin gue si?" tanya farel heran.
"Siapa yang ngikutin?".
"Elo. Terus kalau nggak kenapa loe jalan di balakang gue?".
"Loe mau ke kelas kan?" bukannya menjawab chika malah balik bertanya. *jangan heran, udah jadi ciri khas cerpen di star night kalau di tanya malah balik nanya*.
"Ia?" angguk farel.
"Ya sama. gue juga mau langsung ke kelas" balas chika santai.
"Ya udah jangan ngikutin gue. Balik aja kekelas loe".
"Nie juga gue lagi jalan mo kekelas. bukannya mo ngikutin elo. Lagian gimana si, bukannya kita sekelas ya?".
"Eh ia ya,… sory gue lupa" farel garuk -garuk kepalanya salting.
"Elo kenapa si?. Beneran aneh deh. sumpah" Kata Chika heran. Saat itu kebetulan mereka sudah sampai tepat di depan kelasnya. "Jangan – jangan loe masih tidur lagi" sambungnya lagi.
"Ya nggak lah. Ada – ada aja loe" Balas Farel sambil tertawa lepas.
Chika ikutan tertawa sambil melankah masuk menuju bangkunya. Begitu juga farel. Tatapan heran dari sahabatnya sama sekali tidak diindahkannya.
"Loe abis dari mana?" tanya Clara begitu chika duduk di sampingnya.
"Dari luar" Balas chika sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya karena barusan bel sudah terdengar. Pasti sebentar lagi pelajaran biologi akan dimulai.
"Kok barengan sama Farel?" tanya clara yang masih merasa belum puas. Kebetulan saat farel mengajak chika tadi ia belum datang.
"emangnya nggak boleh?".
"Boleh si harusnya. Cuma sejak kapan loe akrab sama tu anak. Pake acara ketawa bareng lagi".
"He he… sejak tadi. Lagian loe kenapa si nanya mulu?".
"Karena gue masih heran. Emang nya loe ada urusan apa sama dia?".
"Top secret!" Balas chika sambil tertawa membuat clara cemberut.
Saat clara ingin kembali buka mulut, chika sudah terlebih dahulu mengisaratkan untuk diam karena pak rifai sudah ada di ambang pintu.
Cerpen Sahabat Terbaik
Sepertinya kejutan pagi ini belum cukup, karena tanpa ada angin tanpa ada hujan Pak rifai datang dengan setumpuk soal ulangan. close book lagi. Hal ini jelas saja membuat semuanya protes, Tapi dalam hati. Mana ada yang berani ngomong secara pak rifai kan memiliki tampang kayak teacher di Gurukul dalam filem mohabaten. filem Hindi favoritnya star night. Jadi mana ada yang berani protes.
Seketika suasana kelas hening kayak di kuburan. Eh nggak ding, Itu terlalu lebay kayaknya. semua siswa mengeluarkan kertas selembar. Sementara vino yang di tugas kan oleh pak rifai untuk mengumpulkan buku catatan langsung beraksi melakukan yang terbaik. Ini tentu saja menambah siswa yang tidak belajar makin mengkeret. Termasuk farel dan para sahabatnya.
Waktu terus berjalan. Sisa waktu masih setengah jam sebelum pelajaran berakhir. pak rifai masih setia mondar – mandir kayak setrikaan untuk mengawasi siswanya. Begitu sampai di samping chika langkahnya terhenti begitu mendapati sang target sedang menutup penanya.
"Kamu sudah selesai chika?".
Pertanyaan yang di lontarkan pak rivai sukses menarik perhatian anak – anak yang laen. Secara tuh soalkan njelimet banget susahnya.
"Udah pak".
Suara lirih Chika menarik perhatian sahabat sebangunya yang menatap tajam. Asli nggak percaya.
Pak rifai segera menelitai hasil kerja chika. setelah beberapa saat kemudian.
"Bagus. Kalau gitu silahkan kamu istirahat duluan. Bapak nggak mau ada yang nyontek sama kamu".
"Baik pak" sahut chika sambil mengemasi buku – bukunya.
"Clara, Gue ke perpus dulu ya" pamit chika sebelum berlalu keluar diikuti tatapan takjub dari seluruh penghuni kelas.
"Gila tu anak. Gue aja setengahnya juga belom. Masa dia udah selesai. Yang benar saja lah" Bisik andika ke Farel.
"Ia nih. Mana susah banget lagi. Liat punya loe donk" balas Farel balik berbisik.
"Ehem…!".
Deheman pak rifai membuat nyali farel dan sahabatnya ciut. cep. Pada diem.
Begitu bel berbunyi, Pak rifai meminta semua muridnya untuk mengumpulkan kertas ulanganya. Terserah udah selesai atau belum.
"Idih. Kayak monster banget si. Ngasi ulangan dadakan. semaunya aja" Gerut Arfan begitu bayangan pak rifai sudah tak terlihat.
"Ia mana tadi gue belom kelar lagi. Heh pasti ancur deh nilai ulangan gue kali ini" tambah Rio.
"Tapi chika hebat ya?. padahal kan tadi masih ada sisa waktu setengah jam, kok dia udah selesai ya?" Puji varian.
" Ia tu anak emang brilian banget" salsa nambahin.
Vivi dan para sahabatnya lebih memilih kabur dari pada kuping nya makin panas mendengar pujian yang nggak penting.
Next part At Cerpen sahabat Be The Best Of A Rival part 5.

Random Posts

  • Cerpen Sahabat Jadi Cinta Be The Best Of A Rival End

    Credit Gambar : Ana Merya"Clara, loe gimana si. Kemaren loe yang ngajak gue buat datang. Eh giliran tiba hari H-nya malah loe yang nggak nongol. gimana si" Omel chika pada sahabatnya keesokan hari."Sory chik, kemaren itu gue ada urusan yang nggak bisa gue tinggalin. Nyokap gue sakit. Terus gimana, Sekolah kita pasti menang kan?" Balas clara penasaran.sebagian

  • Cerita remaja Tentang Aku dan Dia Part 4 {Update}

    Edit mengedit masih berlanjut. Maksutnya ini tu cerpen lanjutan dari Cerpen Romantis tentang aku dan dia part 3 kemaren. Oh ya, sekedar info. Gambar cover cerpen yang ada di blog ini bukan aku yang bikin ya. Maksutnya animasinya. Aku hanya bagian edit mengedit. Animasi asli dalam bentuk GIF. Biasanya si ku jadiin Tema hanphond. Dan berkat demen bermain di photosop ya gini jadinya. Tu animasi ku jadiin ullzang versi kartun.Akhir kata happy reading..!!!Credit Gambar : Ana Merya"Kenapa lagi loe?" Tanya Anya begitu melihat Tampang Gresia yang lagi – lagi Terlihat kusut. Padahal ia baru saja menampakan wujudnya di hadapan mereka."Gue lagi pengen makan orang nie"Balas Gresia ketus"Basi" Ledek Nanda."Kemaren loe juga udah ngomong gitu, tapi buktinya Arga Fine – fine aja tuh" sambung nya lagi.sebagian

  • Ketika cinta harus memilih ~ 11 | Cerpen Cinta

    Setelah lama gak update akhirnya admin bisa muncul ke permukaan lagi. Hufh, dunia nyata kadang emang terlalu. And buat yang udah baca diary online admin, pasti tau donk alasannya kenapa?. Argh, stress.Okelah, dari pada kebanyakan bacod yang nggak penting, mending kita langsung lanjut ke Ketika cinta harus memilih ~ 11 nya aja ya. Untuk yang belum baca part sebelumnya silahkan klik disini. Ketika cinta harus memilih Bukannya langsung pulang. Cinta justru malah meminta sang sopir untuk mengantar nya ketaman kota. Sepertinya ia butuh suasana tenang untuk memberinya waktu berpikir sejenak. Dan ia yakin ia tidak akan memilikinya seandainya ia langsung pulang kerumah.Sambil duduk diam diatas kursi taman sendirian pandangan cinta terarah lurus kedepan. Kosong. Ia juga bingung dengan apa yang ia rasakan sekaligus apa yang harus ia lakukan. Ingatannya melayang entah kemana. sebagian

  • Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)

    Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)Oleh: Deny fadjar suryaman – `Sesungguhnya ku tak menginginkan semuanya begini, walau semua yang terjadi hanya kebohongan dan kepalsuan saja yang kau berikan kepadaku..Tapi sejujurnya itu semua sudah cukup bagi ku tuk dekat denganmu walau hanya bisa membayangkan dan mengharapkan kelak kau akan datang kepadaku dengan kejujuran dan ketulusan hati pada diriku..`tak ku harapkan lebih atas kehadiranmu. .`tak ku harapkan kejujuran itu datang. .`tak ku harapkan kau menganggap ku ada. .`dan jika itu semua dapat di wujudkan oleh dirimu, Tapi mengapa seperti ini yang terjadi…???‘Mungkin ini sebuah perasaan yang bodoh yang pernah kualami selama hidup. Selama ini, aku hanya bisa membayangkan dan mengharapkan namun tidak untuk mengatakannya. Ini menjadi sebuah ketidakpastian bertindak yang kulakukan. Sehingga aku hanya bisa memandang dan melihatnya ketika mimpi.’Itu kahayalan dari seseorang yang berharap cinta ini nyata ketika semua tidak mampu diungkapkannya. Sebuah khayalan yang membuat hidupnya dipenuhi kegelisahan dan kebimbangan.ini semua berawal dari hobi barunya berselancar didunia maya. Suatu ketika dia sedang memainkan khayalannya didunia maya. Dia melihat sebuah profil seorang wanita yang membuatnya terpikat seketika. Secara naluriah dia langsung mengirim sebuah permintaan pertemanan kepada wanita itu. (mungkin lebih pastinya karna dia baru dengan hal ini, jadi ingin punya lebih banyak teman).***Hari pun terus berlalu dia pun tak peduli dengan sebuah profil wanita tersebut. Karna dia selalu asyik dengan obrolan teman-teman facebook-nya yang lain. Namun, hari ini dia melihat dalam beranda sebuah obrolan antara temannya dan wanita yang beberapa hari yang lalu dia add. Disinilah mulai perbincangan antara dia dan wanita dimulai. Nama ku brian atau lebih sering di panggil rian, yah bisa dibilang manusia yang sederhana senang dengan hal-hal yang berbau traveling. Tapi dalam urusan cinta aku sangat pendiam dan terkadang membiarkan perasaan cintanya berlalu begitu saja. Dalam obrolan antara teman aku dan wanita itu, teman aku menyebut-nyebut nama aku untuk dijadikan motif dia berkenalan dengan wanita itu.Yah, mungkin karna wanita itu tinggal di daerah yang berdekatan dengan ku. Itu sebabnya aku dijadikan motif teman aku untuk berkenalan. Mungkin karna itu juga yang membuat mataku terfokus pada tulisan di beranda facebook-ku. Akhirnya pun aku ikut tergabung dalam obrolan itu. Dan mulai menulis sebuah komentar didalamnya.“weh man, apa maksudnya tuh bawa-bawa nama gw. Kalo mau kenalan sama cewe jangan bawa-bawa nama gw geh”. Dengan kata “geh” yang mencirikan logat bahasa di daerah ku. Hahahaaa.. cukup lucu sih kalo di denger satu kata yang aneh itu. Mungkin hanya orang-orang d daerahku yang mengerti apa maksud dari kata itu. Temen aku yang ini namanya iman, yah ketika kita SMA dulu, dia memang dia terkenal playboy-nya, sampai-sampai banyak teman yang udah men-cap-nya seperti itu. Di saat yang bersamaan wanita itu pun membalas komentar dan mulai-lah awal perbincangan ku dengan wanita itu. Namanya aini yang ternyata dia juga alumni SMA yang sama dengan aku dan temanku. Tapi entah mengapa aku dan temanku tak sadar. Sebenernya aku sudah tau kalau dia bersekolah yang sama dengan aku dan temanku, namun walau rumahku satu daerah dengannya tapi aku tak tau siapa namanya, hanya saja aku sering liat dia lewat depan rumahku waktu sekalo dulu. Disini awal ketertarikanku untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Namun itu hanya ketertarikan naluriah seorang wanita, dan seperti biasanya aku pun tak berani mencari tau lebih banyak lagi tentang waktu itu, yah karna sifat aku yang tak berani memulai suatu hubungan. Dan akhirnya dia pun mengconfirmasi prmintaan pertemanan aku. Akhirnya kita pun sering berinteraksi di dunia maya. Kita saling bertanya satu sama lain tentang diri masing-masing. Yah dari mulai hal-hal yang sepele untuk di perbincangkan sampai hal-hal yang menyangkut tentang pribadi masing-masing. Yah dari perbincangan itu bisa di simpulkan bahwa dia wanita yang cukup asyik, menarik, dan nyambung untuk di ajak berbincang.Setelah sekian lama kita sering wall-to-wall, nge-chat, sampai coment-coment d facebook, akhirnya dia pun bilang kalau dia udah mulai jarang untuk berselancar di dunia maya. Sampai akhirnya dia pun mengajak aku untuk berbincang lewat handphone saja. “hey ian, aku udah jarang buka fb nih. Gimana kalau smsan saja” seru dia di wall. “yah, tapi kan gw gak tau nomor hape lho” aku pun membalas wall dia. “nih nomor ku……”. ***Waktu pun kian berlalu membawa aku dan aini saling kenal lebih jauh lagi. Dan akhirnya kita pun sepakat untuk pergi nonton berdua, ini awal pertemuan tatap muka kita yang pertama. Yah walau sedikit aneh sih, walaupun rumah kita satu daerah dan pernah satu sekolah tapi kita belum pernah berbincang secara langsung.Hari itu matahari bersinar sedikit agak panas, yah walau sedikit agak panas tapi aku dan aini tetap berjanjian untuk pergi nonton bersama. Kami pun pergi berangkat menuju bioskop, dalam perjalanan kami pun banyak berbincang soal keanehan mengapa kita tak pernah berbicara langsung seperti ini sejak dulu. Disinilah awal dari aku timbul rasa suka sama aini, atau lebih tepatnya sayang. Saat itu hati aku sulit untuk dikendalikan, yah karna memang perasaan ini sulit untuk di ajak kompromi. Namun lagi-lagi aku sulit untuk mengatakannya. Sampai-sampai sejenak keadaan menjadi hening karna tak ada satu patah kata pun yang keluar dari kita. Dan akhirnya kita pun memutuskan untuk langsung pulang saja, tanpa ada pertemuan yang lebih panjang lagi.***Hari ini aku hanya duduk d hamparan teras alam yang beralaskan rerumputan yang hijau yang tersinari cahaya senja. Yah hari ini memang sudah sore, saat ketika matahari mulai meredupkan sinarnya, saat dimana sang gereja kecil mulai kembali ke sarangnya, dimana saat langit biru mulai memudar menjadi jingga.dan saat dimana aku sering menikmati keindahan senja. Disini aku sering sekali mencurahkan semua yang ada di hati dan perasaanku. Disini juga aku sering membuat tulisan-tulisan baik tengtang perasaan maupun tentang keadaan yang ada di sekeliling aku. Sampai akhirnya hari ini aku menulis sebuah puisi tentang sore itu.“Pesona jingganya”Di kala cahayanya mulai terbenamBukan berarti keindahannya menghilangNamun terpancar dalam lukisan jingganyaYang tergores indah dalam bentangan langitSisi demi sisi terlihat begitu mempesonaBerpadu satu dengan awan putih yang mulai berubah jinggaYang mulaia menghanyutkan suasana dalam hatiYang terbawa oleh hembusan anginJika jingganya tak mampu kau rasakanCobalah tuk mencarinya dalam heningJika itu tak mampu kau temukan juaJangan pernah berhenti berharap untuk esok hari datang kembaliAku sering menghabiskan waktu ku disini itu karna ada sebabnya, yah sebuah penyakit yang selalu menghampiriku disaat-saat tak tentu. Mungkin ini juga yang membuatku untuk sulit menyatakan cinta yang ada dihatiku, karna aku terlalu takut meninggalkannya di saat yang tak tepat. Jangtungku yang lemah telah mencapai pada masa yang kronis, sehingga membuat sang dokter memfonis aku tak punya waktu lama untuk dapat menikmati hidup yang indah ini. Itu sebabnya aku sering menghabiskan waktu di tempat yang indah ini, terkadang aku pun mengajak aini ke tempat ini. Yah saat ini pun aku mengajaknya, namun dia telat untuk datang ke sini.“hay rian” suara lembut terdengar ditelingaku yang juga membuyarkan khayalanku sore itu. Dengan tatapan yang masih kosong aku pun menjawab “yah, hay juga aini”. “map aku telat datang yah” sambung aini. “yah gapapa, aku juga baru datang kok” sahutku.Aini pun duduk di sampingku seraya dia pun terlarut dalam suasana sore yang berikan keindahan ini. “kamu sedang nulis puisi atau cerpen yah?” aini membuka percakapan kita. “yah aku baru menyelesaikan sebuah puisi”. “mana coba aku liat” sambil merebut buku yang ku pegang. Akhirnya kami pun terlarut dalam obrolan yang mengasyikan di tempat itu.***Di dunia ini hanya aku dan keluarga saja yang tau tentang penyakit ini, bahkan aini pun tak mengetahuinya. Dia hanya tau aku yang suka humor, suka buat tulisan, dan membaca novel. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sejak perasaan aneh ini merasuki hatiku, aku ingin jika aini tau semua perasaanku namun aku pun tak mau membuat hatinya bersedih ketika aku harus meninggalkan dia di saat yang tak tepat. Setelah sekian lama perkenalan diantara kita, kita pun telah melalui semua bersama-sama, karna sejak perkenalan kita pertama kali kita jadi lebih sering bermain bersama. Sampai saat ini aku hanya bisa menyembunyikan semua perasaanku padanya. Sampai pada akhirnya akupun di larikan ke rumah sakit karna jantungku yang terasa berhenti berdetak. Aku pun hanya bisa pasrah semoga tuhan masih beri aku waktu untuk tetap bisa menikmati hidup setidaknya sampai aku punya keberanian untuk mengatakan semua isi hatiku pada aini.Aini yang tak tau keadaan ku yang menghilang tanpa jejak beberapa hari belakangan mulai bertanya-tanya pada hatinya kemana aku sampai tak menghubunginya beberapa hari belakangan ini. Sampai pada akhirnya jantungku pun tak mau untuk mendenyutkan dan berdetak kembali seperti biasa. Yah, kali ini aku telah di panggil sang kuasa. Karna dia tak mengizinkanku untuk bisa hidup lebih lama lagi. Aini yang mengetahui kabar bahwa aku telah tiada merasa kesedihan yang besar. Dia pun merasa sangat terpukul atas kepergianku.Mungkin satu hal yang aku sesali, ini bukan hanya isi hatiku yang tak bisa menyampaikannya kepada aini, tapi aku memang sama sekali tak bisa menyampaikanya kepada aini sampai kapanpun, karna tuhan tak mengizinkanya.The endPenulis: Deny fadjar suryamanFb : denyfajarsuryaman@rocketmail.comTwitter : @denyfadjarDenyfadjarsuryaman.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*