Cerpen Sahabat Sejati “Be The Best Of A Rival ~ 01 / 07

Tara, ketemu lagi sama admin ya guys. Kali ini muncul dengan serial cerpen sahabat sejati, tepatnya cerpen Be the best of a Rival. Sekedar info sih, cerpen ini adalah cerpen pertama yang admin ketik pake 'komputer' yang dikarang pas masih SMA dulu. Buat yang penasaran sama jalan ceritanya, bisa langsung simak ke bawah. Happy reading…

Hampir saja Farel manbrak Pak Satpam gara-gara ingin buru-buru masuk kekelasnya. Maklum saja, seperti biasa, selain karena datangnya telat, pr nya juga belum selesai ia kerjakan. Terlebih pr kali ini adalah pr bahasa inggris. Sialnya, pelajaran tersebut adalah pelajaran pertama. Bonus tambahan, guru bahasa inggrinya adalah Bu Alena, guru yang biasa lebih sering ia sebut sebagai bu "Alien". Gelaran yang ia berikan karena keseriang di beri hukuman oleh guru tersebut.
Begitu tiba di mejanya, Farel segera mengeluarkan buku tugas. Kepalanya menoleh kearah Andika, teman sebangkunya yang selama ini selalu menjadi dewa penyelamat. Pria itu juga tampaknya sudah hapal dengan sikap sahabatnya. Makanya tanpa diminta ia segera mengeluarkan buku PR miliknya dan langsung menyodorkanya kearah Farel. Namun begitu, tak urung mulutnya berkomentar.
"Gila, loe kapan mau tobat sih Rel?" tanya Andika sambil meletakan bukunya tepat di hadapan Farel.
"Ngapain tobat. Kan ada elo sebagai dewa penyelamat gue," balas Farel polos. Tangannya dengan ligat memindahkan kata demi kata di buku Andika kearah bukunya. Tak perduli sama sekali jika itu benar atau salah.
Andika hanya mengelengkan kepala melihat ulah sahabatnya. "Nggak gitu juga kali. Sekali kali ngerjain sendiri napa," sambungnya menasehati.
"Ssst… Diem aja deh loe. Kesannya nggak iklas banget gue contekin," komentar Farel. "Lagian nih ya bentar lagi Bu Alien datang. Ogah gue dihukum mulu sama tu orang. Udah beneran kayak Alien tau nggak sih."
"Emangnya loe pernah ketemu Alien itu kayak gimana?" selidik Andika sama sekali tidak terpengaruh dengan permintaan sahabatnya untuk tutup mulut.
"Kalau Alien beneran emang belum sih. Tapi kalau Alien gadungan, sering. Bentar lagi bakalan datang," senyum Farel polos, Andika ngikik mendengarnya. "Eh tapi udah donk, diem aja loe. Ntar kita sambung lagi, oke," terang Farel yang merasa konsentrasinya terganggu akan obrolan mereka.
"Terserah loe aja deh," Andika kali ini hanya pasrah.
Lima menit telah berlalu, bel masuk yang terdengar membuat Farel sedikit terlonjak kaget. Jantungnya mendadak dag dig dug. Jangankan mau kelar, setengahnya juga belum. Memang sih, soalnya cuma lima. Tapi iap soal ada anak soalnya lagi. Mana bahasa inggris lagi, susah untuk di tulis cepat. Sepertinya Farel harus menyerah. Mustahil ia akan menyelesaikan tugasnya itu.
Seperti yang di duga, begitu Bu Alena masuk kekelas. Hal pertama yang ia minta adalah agara semua siswanya segera mengumpulkan tugas yang sudah di berikan. Bagi yang tidak menyelesaikan sebaiknya siap siap. Secara Bu Alena memang sudah terkenal galak. Walaupun sadar kalau tugasnya belum selesai, Farel tetap menyerahkan bukunya untuk di nilai sang guru. Menurut kebisaan, buku tersebut biasanya baru akan diperiksa saat jam istrihat di kantor.
Sayangnya hari ini berbeda dari hari biasa. Bu Alena segera memeriksa buku tersebut. Dari empat puluh siswa di kelasnya, hanya Farel yang tidak menyelesaikan tugas yang di berikan.
“Farel, kesini kamu!” perintah Bu Alena.
“Saya bu?” tanya Farel sambil menatap sahabat karibnya seolah minta perlindungan. Namun tak urung ia maju ke depan. Paling juga di suruh berdiri di depan kelas seperti biasanya.
“Kamu tau kenapa kamu saya panggil?” tanya Bu Alena.
“Enggak. Memangnya kenapa ya Bi?” Farel pura-pura nanya.
“Ini apa?” Bu Alena menunjukkan buku latihan milik Farel.
“Itu tugas saya yang ibu minta buat di kerjain, memangnya kenapa By?” Farel masih pura-pura.
“Terus kenapa belum selesai?” kejar Bu Alena lagi.
“0 itu anu buk, sebenernya saya udah ngerjain buk. Tapi e…. tapi buku saya hilang. Jadi saya bikin lagi. Dan belum selesai sih emang. Ya abis gimana buk, dari pada nggak bikin,” alasan Farel ketara banget bohongnya.
“Hilang?” ulang Bu Alena dengan kening berkerut.
“Ia bu, kayaknya ada yang iseng deh. Tapi beneran kok bu, saya udah bikin,” Farel berusaha untuk meyakinkan sang guru.
Bu Alena menatap tajam kearah matanya. Tapi Farel udah bersiap-siap dengan wajah Watadosnya atau kalau bahasa kerennya Innocent.
"Masa sih ibu nggak percaya sama saya?" ujar Farel memelas.
Ibu Alena tidak lantas menjawab. Matanya masih mengamati raut anak didiknya dengan seksama. Setelah beberapa saat kemudian, kepalanya mengangguk. "Oh begitu, baiklah. Ibu percaya. Sekaran, kamu boleh duduk," perintahnya tak urung membaut Farel heran. Teman – temannya yang lain juga merasa aneh. Secara tumben tumbenan tu guru bisa di kibulin.
Tak ingin memperdebatkan hal itu, Farel segera berbalik. Namun belum juga lima langkah, ucapan Bu Alena kontan membuatnya terkejut.
"Oh Farel, tunggu dulu," kata Bu Alena. Dengan was was Farel berbalik kembali menatap kewajah gurunya. "Tolong kamu tulis jawaban nomor tiga sampai nomor lima di papan."
Kalimat perintah sang guru membuat Farel melongo. Seperti yang ia duga, akan aneh kalau ia bisa bebas begitu saja.
"Saya bu?"
"Iya," angguk Bu Alena. Tangannya terulur menyodorkan spidol kearah Farel. Hal yang jarang terlihat, guru nya tersebut bahkan melontarkan senyum kearahnya. Senyum manis yang membuat Farel merinding. Pria itu tau dengan pasti ada hal menyeramkan di balik senyuman itu. "Lho, harusnya nggak masalah donk. Kamu kan cuma tinggal mengingat ingat sedikit," sambung Bu Alena terdengar santai. Berbanding balik dengan reaksi Farel yang mulai panas dingin.
Dengan perlahan Farel mengambil spidol yang terulur padanya baru kemudian berjalan kearah papan tulis. Diam diam ia melirik kearah Andika, berharap dewa penyelamatnya kali ini akan membantu. Tapi Andika hanya terdiam. Sahabatnya itu tau dengan pasti kalau gurunya kini sedang memperhatikan dirinya.
"Lho, kok diem aja. Silahkan tulis jawabannya. Atau perlu ibu bacakan lagi soalannya?" tanya Bu Alena yang menyadari kalau Farel hanya berdiam diam di depan.
Farel yang tau kalau gurunya hanya mengetes dirinya hanya bisa pasrah. Sepertinya kebohongannya sudah terbongkar.
"Kamu pikir ibu bodoh sehingga segitu gampangnya kamu bohongin?"
Farel hanya menunduk diam. Percuma membantah, ia tau salah.
"Chika, sekarang kamu yang tulis di depan," perintah Bu Alena kearah gadis yang duduk tepat di depan papan tulis. Walau terlihat ragu, gadis yang di panggil Chika bangkit berdiri. Sekilas ia menatap kearah Farel yang juga sedang menatapnya. Meminta spidol yang ada di tangannya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, Farel sama sekali tidak bisa menebak.
“Silahkan," interuksi Bu Alena kembali terdengar.
Dengan tenang Chika menuliskan jawabannya di papan. Bahkan tanpa melihat buku catatannya sama sekali. Sepertinya ia benar benar mengingat semua jawabnnya. Membuat seisi kelas menatapnya takjup, yang tak urung membuat Farel makin kehilangan muka. Secara Chika, selain anaknya rajin. Ia juga terkenal pintar. Sejak empat bulan yang lalu ia pindah ke sekolahnya, gadis itu sudah menujukan prestasinnya. Farel hanya mampu terus menunduk walau sekali-kali ia melihat ke arah Chika yang masih menulis, dan tidak sampai sepuluh menit Chika telah menyelesaikan semua yang di minta oleh Bu Alena.
“Gimana Farel, jawaban kamu di buku yang katanya HILANG itu sama kayak yang di tulis sama Chika?” sindir Bu Alena begitu Chika menyelesaikan tugasnnya.
Farel hanya menunduk, selain malu karena ketahuan bohong, ia juga malu pada Chika yang ternyata bisa menyawab semua pertanyaan yang di berikan.
“Sekarang coba kamu lihat Chika. Dia masih baru empat bulan di sini tapi sudah menunjukkan prestasinya. Harusnya kamu bisa mencontohnmya. Bukan malah cari-cari alasan, sudah sering terlambat, jarang bikin Pr, masih juga ngeles. Jadi sekarang kamu berdiri di luar sampai ibu bilang selesai,” perintah Bu Alena tak urung membuat seisi kelas kaget. Tak terkecuali Chika yang kini menatap Farel dengan seksama.
"Baik buk," manut Farel sambil menunduk. Sama sekali tidak berani menoleh kearah gurunya. Apalagi menatap kearah Chika walau ia tau gadis itu kini sedang menatapnya. Terus terang ia merasa malu, tak hanya pada gurunya tapi juga pada Chika, sosok yang selama ini di anggap anak nggak gaul karena ke sehariannya selama di sekolah lebih sering di habiskan di perpustakaan dari pada ikutan ngegosip sepeti siswa- siswi yang lainnya.
Tiba di luar, rasa malu Farel semakin berkali lipat. Apalagi selama ini ia dikenal sebagai siswa yang sangat berpengaruh. Ia anak orang kaya, ayahnya adalah businesman yang terkemuka, ibunya juga tak kalah tenarnya. Sementara ia, selain memiliki wajah yang tampan, Farel juga merupakan bintang basket sekolah. Apa lagi ia juga merupakan ketua genk yang paling dikenal di sekolah. Wajahnya yang keren membuatnya selalu di kejar-kejar oleh cewek hampir satu sekolahnya. Tapi sekarang masa harus berdiri di halaman sekolah hanya gara-gara tidak mengerjakan pr. Sumpah, nggak elit banget. Mau di taruh di mana mukanya. ????.
Setelah sekian lama berdiri di tengah terik matahari, akhirnya bel berbunyi tanda waktu istirahat. Siswa dari kelas lain juga sudah pada keluar sehingga membuat Farel semakin malu. Apalagi sepertinya semau mata tertuju kearahnya. Masa orang yang selama ini paling berpengaruh di sekolah kini harus berdiri di halaman menghadap ke matahari dengan satu kaki. Sementara Bu Alena belum juga memanggilnya. Padahalkan bel sudah terdengar.
Setelah hampir lima menit berlalu barulah Bu Alena berjalan kearahnya. Dan dengan suara lantang menasehatinya untuk tidak lagi lupa mengerjakan pr lagi. Barulah semua anak-anak yang tadi bertanya-tanya dalam hati kini tau kenapa Farel di hukum. Setelah Bu Alena meninggalkannya, Farel langsung menuju kekelasnya. Karena saat ini pasti ia sedang di bicarakan oleh seluruh siswa satu sekolahnya. Di ulang, mau di taruh dimana mukanya?
Begitu duduk dibangku, ke empat sahabatnya, Andika, Dino, Alvin, dan Rio langsung mendekati ke arahnya.
“Sorry bro, kita tadi nggak bisa bantu," kata Rio merasa bersalah.
“Ia, kita juga. Sebab tadi Bu Alena memperhatikan kita terus,” sahabatnya yang lain menambahkan.
“Udahlah nggak papa kok” sahut Farel sambil mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan yang di ambil dari saku seragam. Kebetulan kelas sepi hanya ada mereka berlima karena begitu istirahat biasanya kelas memang kosong.
Tapi tiba-tiba ada empat orang cewek masuk kekelas. Ternyata vivi dan ketiga temannya yang terkenal dengan genk BFF, *Boy Before Flowe?*. NO BESAR, tapi Best Freind Forever yang juga temen sekelas Farel datang sambil membawa minuman dan roti, dan langsung menyodorkan kearah Farel. Semua anak satu sekolah juga tau kalau vivi yang juga sang ketua genk menaruh simpati sama Farel. Cuma selama ini nggak terlalu di layan semua Farel.
“Buat loe Rel. Pasti loe haus dan laparkan?” kata vivi.
“Ma kasih,” kata Farel sambil mengambil minuman yang di berikan kepadanya. Apalagi ia memang haus banget.
“Gila ya si Chika, kayaknya ia tadi sengaja deh,” ujar vivi.
“Maksud loe?” tanya Farel heran begitu juga temen-temen yang lain.
“Ia. Tadi pasti Chika sengaja bikin loe malu di depan semua anak-anak sekolah. Dan pasti sekarang dia lagi seneng banget ngelihat loe sekarang.” tambah vivi lagi.
"Apa banget sih loe," komentar Andika terlihat tidak setuju. "Jangan ngarang gitu deh," sambungnya.
"Siapa yang ngarang? Ana merya kali yang suka ngarang. Lagian emang bener kok, kalau tadi itu Chika pasti sengaja. Tu anak kan emang suka narik perhatian guru," Taysa ikutan buka mulut.
"Udah deh. Jangan nyebar fitnah gitu. Lagian semua anak kan ngelihat kalau Chika ke depan tadi juga karena di minta sama Bu Alena, jadi nggak mungkin dia sengaja” tambah alvin.
“Tapi kan….” vivi belum menyelesaikan ucapannya karena ucapannya langsung di potong oleh Farel.
“Apaan sih. Tadi tu jelas-jelas gue di hukum gara-gara nggak bikin pr. Jadi sama sekali nggak ada hubungannya sama Chika,” kata Farel “Udah ah, cabut yuk guys,” ajak Farel mengajak ke empat temennya pergi.
“Eh kalian mau kemana?” tanya vivi heran. Tapi Farel dan temen-temennya diam sambil berlalu tanpa menolah lagi.
“Sial!” geram vivi setelah Farel pergi dari hadapannya.
Next to Cerpen Be the best of a Rival Part 02
Detail Cerpen

Lanjut Baca : ~ || ~ ~ || ~

Random Posts

  • Cerpen Story About Us Last

    Kalau udah terjebak di Dunia nyata, kadang emang sering kepikiran mau vakum aja dari dunia tulis menulis. Tapi kalau di pikir pikir lagi, rasanya sayang mau di tinggal gitu aja, secara udah dua tahun ini. And than, jadilah ngeblog cuma sesuka – sukanya aja. Kayak sekarang…Bahkan sampe sampe Cerpen Story about us kelupaan di lanjutin. Inget juga sekali pas iseng ngeronda (????) isi blog. Jalan jalan ke hasil karya yang dulu. Wukakak, selain baru ngeh karena banyak yang amburadul ternyata juga banyak cerpen yang belon di endingin.Okelah, biar nggak kebanyakan bacod, mending yuks langsung cekidots..Story About UsBeberapa hari berlalu, Vanno masih belum bisa menjelaskan semuanya ke pada Vanny, ia masih bingung mau mulai dari mana, karena ia merasa bersalah, tapi hatinya tetap meminta nya untuk mengakui kesalahannya, tanpa terasa Vanno udah enam bulan di sana, dan urusannya juga udah selesai di rumah omnya, sekarang saat nya ia pulang ke kotanya.sebagian

  • Cerpen Persahabatan Sejati Be The Best Of A Rival ~ 06

    Cerpen Persahabatan sejati Be the best of a rival. Nah biar gak bingung silahkan baca part sebelumnya di cerpen sahabat part 5.Credit Gambar : Ana MeryaChika merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Pakaian sekolah masih melekat di tubuh, Sementara tas ia lemparkan disampingnya begitu saja. Teriakan sang mama yang mengingatkannya untuk makan siang sama sekali tidak di indahkanya. Matanya sudah mulai terpejam ketika terdengar suara motor memasuki halaman rumahnya. Pasti nino yang baru pulang dari kampus.sebagian

  • Cintaku Terselip Di Bola Matamu

    Cintaku Terselip Di Bola Matamu Oleh: Neng Lilis Suryani – Pagi yang tak pernah kumiliki,, karna hanya Tuhan yang memilikinya dia yang menciptakannya. Tapi alangkah besar nikmat tuhan untukku, dengan udara yang menyapa manja, burung yang menyanyi dengan nada do, re, mi, jhahaha.. . Aku senang akan hidupku, aku punya sebuah dunia yang tak semua orang memilikinya, yang tak semuanya terasa nikmat bila di jalani sendiri. Tapi terkadang aku benci kehidupan ini, kehidupan yang hanya bertepuk sebelah tangan bila di angan-angankan, aku melihat dengan merasa, lewat tanda-tanda bahwa aku bisa melakukannya, ini keberuntunganku. Meski aku terundung dunia yang gelap, dan senyap tapi hatiku tidak pernah buta, hatiku bisa merasakan hadirnya kehangatan cinta, untuk siapapun itu.Kini 23 th usiaku. Dan dalam dua tahun sebelumnya aku telah mengagumi lelaki yang tak kusadari bahwa ia hanya sebuah angan untuk di miliki, mendampingi dan menjadi imam dalam keluarga yang ingin kumiliki kelak, panggil Ia Lutfhi,, atau uf,, lebih dekatnya.Tapi kehidupan yang kita inginkan selalu tak sejalan, kesenjangan antara keinginan dan kenyataan di situlah terselip masalah. Masalah yang ku rasa terkadang membuat kegalauan yang teramat sangat menyiksa, apalagi yang bersangkut-paut dengan CINTA.Ini terjadi saat aku dan Lutfhi duduk bersama di taman rumahnya, saat itu Lutfhi masih sama sepertiku saat ini..,,, buta,," Kalau saja aku bisa melihat aku ingin segera meminang seorang gadis yang sangat ku sayangi" ujarnya dengan wajah yang sayu." Siapakah perempuan itu?" tanyaku, yang ku harapkan akulah orangnya." Nanti kau juga tahu, aku ingin di saat aku melihat nanti aku ingin dialah orang pertama yang kulihat"Tuhan siapa perempuan yang di katakannya? Aku sangat ingin akulah yang di maksudnya" Ayolah Uf aku penasaran nih"" Aku hanya ingin memberitahumu setelah aku bisa melihat"" Tapi sampai kapan?"" Jadi kamu ragu kalu aku akan bisa melihat dengan cepat?"" Bukan begitu, tapi,,,"" Sudah lah,,, aku tetap pada pendirianku, yang jelas jika aku melihat aku akan mengajaknya menaiki perahu pesiar yang akan kami nikmati berdua, menikmati angin laut, saat itu ia kedinginan dan aku akan memeluknya, romantis bukan?'Semalaman aku memikirkannya, hingga aku sampai pada sebuah keputusan yang menjadikan perdebatan sengit diantara aku dan keluargaku, tapi aku tetap melakukannya. Dan tidak ada yang bisa menggoyahkannya. titik.Aku benci hari ini, pengorbananku jatuh pada hari ini, demi Lutfhi, dia benar-benar meminag perempuan idamannya. Hari ini akad nikahnya, aku tak tahu aku kuat atau tidak jika mendengar suara mu Uf, mendengarmu mengucapkan nama perempuan lain yang tak lain adalah sepupuku sendiri Melani, aku tak tahu kamu selama ini diam-diam menyimpan perasaan untuknya, aku memakai kebaya merah, warna kesukaan aku dan Lutfhi saat dia masih berkhayal tentang warna merah yang menyemangatinya karena didalam mimipinya ia bertemu dengan perempuan berbaju merah.Aku tidak akan datang aku hanya menitipkan sebuah surat untuk lutfhi kepada ibuku, Ibu memelukku erat menitikkan airmata bahagia aku anak yang rela berkorban demi orang lain hanya karena cinta, namun cinta itu berpaling karena tak menyadarinya.Di dalam kamar ku ambil air wudhu, aku mengadu, dan dalam sela-sela doaku, kurasa inilah babak akhir aku mencintai Lutfhi. Aku merasa airmataku bercucuran menahan kisah cinta yang tak menjadi nyata, aku rindu padamu Ya Allah, berikanlah kebahagiaan untuk Lutfhi bersama istrinya, berikanlah ia keturunan yang mampu mengangkat derajatnya, aku mencintai Lutfhi karena Mu ya Allah. Dalam sisa airmata, cinta dan doaku, aku mendengar pintu kamarku di dobrak, lalu ia datang dengan beberapa orang di belakngnya, aku bisa merasakan bajunya, aku yakin ia memakai baju pengantin, aku bisa menciun bau farfumnya. Ia Lutfhi. Saat aku lemah dalam perjuangan hidup dan mati aku merasakan ia memelukku erat, sangat erat aku merasakan dinginnya airmata Lutfhi yang menetes di pipiku, mungkin airmataku dan air matanya telah menyatu. Dengan mukena yang masih membungkus tubuhku, ia meminta maaf padaku, lalu aku tahu ia menjalankan ijab qobul itu, hatiku menjerit meronta,, aku tidak mau mendengarnya aku ingin pulang dengan tenang.Tapi itu namaku yang ia sebut,, ia menikahiku dengan maskawin dua kalimah syahadat, apa ini? Aku benar-benar menikah dengannya.Aku tak sanggup untuk bertahan lama aku puas karena aku telah dinikahinya karena cinta, meski aku yakin aku yang kedua. Tapi aku bahagia karena ia yang pertama dan terakhir dalam hidupku, Dalam pelukannya aku di tuntun izrail untuk kembali kerumahku, SurgaMu ya Allah. Sebelum itu aku mendengar tangisan beberapa orang di sekelilingku dan kecupan Mas lutfhi dikeningku, aku pulang dengan Bahagia.Didalam surat tertulisuntuk LutfhiUf bagaimana pernikahanmu? lancarkah? semoga Allah melancarkannya hingga kau menyusulku,O iya semoga perjalanan Di kapal pesiar bersama istrimu menyenangkan,Tahukah kamu Aku sangat berharap akulah perempuan pertama yang akan kau lihat, aku berharap bisa duduk di pelaminan bersamamu, lalu kita akan menikmati perahu pesiar kita dengan Angin lautnya , Aku berharap akulah yang kedinginan dan kau peluk mesra,aku rasa aku terlalu banyak berharap,tak apa toh aku masih bisa melihatmu, melihat keturunanmu, kebahagiaanmu, dan suasana laut dari kapal pesiar, bahkan aku lah yang tahu kamu dan perasaanmu ketimbang istri dan anak-anakmu karna Cintaku terselip Di Bola Matamu, dan aku ikhlas akan itu'. seminggu sebelum itu aku menitipkannya untukmuSemoga Allah menjadikanmu keluarga Yang Sakinah Mawadah Dan Warahmah…aku tetap menunggumusalam sayangKarunia Silmi Asihsekian yah,,, terimakasih,,Namaku Neng Lilis SuryaniAku sekolah Di SMA N 1 Cianjurfb: Neng Lilis Suryanitwitter: @laelyz surya

  • Cerpen Cinta dan Dongeng

    Cinta dan DongengCerpen oleh Maya Winandra nova“Kringggg…..!!!” “Assalamualaikum”. Pesan baru dari Handphone ku, tertulis salam dari pengguna nomor baru. Dan ku jawa “Waalaikumsalam….”.“Ini maya ya….?”, balasan sms pun datang menjawab salamku. Langsung ku balas “Iya. . .ini me, ne spa ya?”, pesan singkat ku lontarkan kembali kepada pemilik nomor baru dalam Handphoneku.Panggilan masuk pun berdering lewat Handphone ku dengan nomor baru itu. Ku jawab salamnya dan pembicaraan pun berlangsung dengan ku. Pemilik nomor baru itu adalah seorang pria yang bernama Andi. Dia mendapatkan nomor teleponku dari Abang angkat ku yang ku kenal baik selama ini. Perkenalan baru yang bermula lewat Handphone membawa aku dan dia akrab. Saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, bercanda bersama meski lewat Handphone. Pertemuan pun kami rencanakan di rumahku yang sederhana. Di malam yang cerah dia datang bersama seorang teman yang menemaninya.“Assalamualaikum. . . .?” terdengar dari luar pintu rumahku seseorang mengucap salam seraya mengetuk pintu rumahku.“Waalaikumsalam. . .” jawabku sambil ku buka pintu rumahku.Seraya tersenyum sopan, seorang pria berdiri di hadapanku sambil bertanya kepadaku, “Benarkah ini rumahnya Me?” tanyanya singkat.“Ya benar, , , Anda siapa dan ada perlu apa dengan saya?” ku jawab pertanyaannya sambil ku lontarkan pertanyaan balik kepadanya.“Saya Andi yang menelpon Kamu tadi” jawabnya singkat.“Oh. . . Bang Andi itu ya. . .?? hmmm. . . . ayo silahkan masuk, kirain siapa tadi.” Jawabku sambil menyuruh dia dan temannya masuk kedalam rumah.“Silahkan masuk dan silahkan duduk,” ku persilahkan lagi kepadanya.“Iya. . . terima kasih,” seraya berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah ku.“Sebentar ya. . .!!” jawabku sambil ku tinggalkan mereka sejenak di ruang tamu, ku bergegas pergi ke dapur dan membuatkan 2 gelas teh manis panas dan ku persilahkan kepada mereka.“Diminum tehnya, , , tapi masih panas sangat,” kataku basa-basi.“Iya terima kasih, , , “ jawab mereka.“Gimana. . . susah ya nyari alamat rumah Me?”, tanyaku membuka suasana yang hening.“Iya. . . sempet juga nyasar tadi, soalnya belum pernah main-main ke daerah sini,” balasnya.“Ya. . . begini lah keadaan rumah Me,”“Hmmm. . . sunyi ya disini, kemana semua keluarga Me?” tanya nya kepadaku.“hmmm…. kalau bapak sama mamak Me lagi di kamar lihat televisi, adik Me yang pertama lagi keluar latihan main Band, kalau adik Me yang kedua lagi lihat tv di ruang tengah, sedangkan kedua kakak Me udah berumah tangga mereka udah tinggal di rumah mereka masing-masing,” jawabku menjelaskan.“Oo. . . kirain pada pergi, soalnya sunyi sih rumahnya.” Katanya balik.Aku yang memang terkenal mudah bergaul dengan orang laen dengan mudah bisa membawa suasana menjadi ramai dan tidak terasa canggung dalam berbicara meskipun baru pertama kali bertemu. Pembicaran dan canda tawa di ruang tamu membawa kami lupa bahwa kami baru bertemu, seakan udah lama sangat berkenalan. Nah, , , itu lah sifat pribadi Me yang mudah membaur dengan orang laen. Tak terasa waktu udah menunjukkan jam 11 malam. Dia dan temannya permisi buat pamit pulang. “Berhubung sudah malam, kami pamit pulang dulu ya, laen waktu bolehkan kami main ke rumah Me lagi,? Tanyanya kepadaku .“Boleh saja atuh bang, , ,” jawabku dengan gaya bicaraku yang terbilang unik, yang mencampurkan bahasa daerah laen.“Ya udah kalo begitu, , , Assalamualaikum Meme?” kami pamit pulang, katanya kepadaku sambil bergegas pulang.“Waalaikumsalam bang, , ,” jawabku.Ku bersihkan ruang tamu ku yang tadi berantakan. Saat selesai ku bersihkan lalu ku rebahkan tubuhku di tempat tidur. Tak lama Handphoneku berdering. Sebuah panggilan masuk dari bang Andi. Ku perhatikan sejenak, lalu ku angkat segera teleponku.Mei :”Hallo Assalamualaikum Bang…..?” sapaku lewat Handphone.Bang Andi :”Waalaikumsalam Meme. . .” balasnya.Mei :”Ada apa bang, , ,? Apa ada yang tertinggal di rumah Me?” tanyaku heran, karena baru saja mereka beranjak pamit pulang, kemudian Handphoneku berdering.Bang Andi :”hmm. . . nggak ada apa-apa kok, Cuma pengen ngobrol aja neh sambil makan…”Mei :”Oo. . .kirain ada yang tertinggal di rumah Me, , eh rupanya. . .rupanya. . .”Bang Andi :”Heeee. . . nggak apa kan Mei, Bang nelepon neh?” Mei :”nggak apa atuh Bang. . .”Bang Andi :”Ternyata bener ya. . . nggak dari Handphone maupun jumpa langsung, Meme ananknya enak kalau di ajak ngomong gitu, mudah akrab orangnya,” Mei :”Heeee. . . begini lah Me, Bang, orangnya”Pembicaraan yang bisa di bilang ya. . . seperti orang-orang pada umumnya, membawa keramahan tersendiri bagi siapa yang mengenal diriku. Terkesan tomboy, tapi paling asyik jika diajak bicara. Semenjak perkenala itu, kami semakin akrab dan semakin sering bertemu. Hingga pada akhirnya membawaku untuk menemaninya menghadiri sebuah acara pernikahan temannya. Aku yang biasa tampil dengan gaya ku sendiri kini ku hadir dengan balutan gaun putih dengan rambut yang sengaja ku tata beda dengan high heel senada dengan gaun yang ku kenakan. Mungkin yang biasa melihat aku bergaya tomboy, sekarang bisa menjadi cewek feminim yang benar-benar beda di malam acara tersebut. Tak dipungkiri juga, dia yang biasa melihat aku langsung gak percaya saja melihat aku yang sekarang ini.Bang Andi :”Waw, , , , I like it’s. . .”Mei :”hmmm. . . apa sihh. . . Jangan diliatin terus, Me jadi gak PeDe atuh” jawabku dengan muka malu.Bang Andi :”Ngapain malu. . . beneran lo. . . I Like this. . . sumpah beda banget lo” jawabnya memujiku.Mei :”Udah ach. . . jangan komen terus, , ,buruan kita pergi ntar kemalaman “, pintaku.Bang Andi :”Ya udah yuk . . . tapi entar dulu, Bang pamitan dulu sama orang tua Me,”Mei :”Silahkan bang, , , tuh mama ada kok di ruang tengah”Dalam perjalananku menuju tempat dimana acara itu di gelar, banyak pembicaraan yang kami lontarkan. Tak khayal sebuah komentar perubahanku. Dari pertanyaan dan pertanyakan ku menjelaskan bagaimana diriku ini. Mei :”Ya, , , seperti bang lihat sekarang ini, Me yang biasanya tampil apa adanya dengan gaya tomboynya Me, sebenarnya Me bisa tampil dengan gaya feminim seperti saat ini, Cuma Me kadang-ladang aja kayak gini, bisa di bilang jika ada iven-iven kayak gini neh, Me kadang menyesuaikan keadaan sekitar Me, bagaimana berpakaian saat bekerja, di rumah, kumpul dengan teman, atau pun pergi ke pesta,” kata ku menjelaskan panjang lebar dengan nya.Bang Andi :”Tapi beneran. . .Bang jadi PeDe kalau seperi ini, beda banget lo Me malam ini, sungguh I Like it banget lo.”Mei :”Ya makasih bang.”Akhirnya tiba di tempat dimana kami tuju. Setiba di sana aku merasa nggak enak banget di lihati oleh para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut. Aku sampai berpikir kalau ada yang salah dengan diriku hingga banyak yang melihat aku di malam itu. Tapi dia menyakinkan k kalau gak ada yang salah dengan diriku, itu karena aku tampil beda dengan lainnya. Mendengar ucapannya kepadaku, aku berusaha nyantai membawa suasana seperti itu. Dan sukses juga acara menemani dia. Perkenalan yang singkat itu akhirnya menumbuhkan rasa di antara kami berdua. Tak bisa di tutupi lagi, cinta pun tumbuh diantara kami. Hari demi hari kami lalu, semakin lama semakin dekat. Walau kadang kami tidak sesering bertemu, percakapan lewat Handphone juga bisa mendekatkan kami jauh lebih dekat ketimbang terus bertemu muka.Saling mengerti, saling mengingatkan, saling percaya kami patokan dalam hubungan kami. Keterbukaan satu sama yang lain juga kami lakukan dengan sikap dewas. Hingga keseriusan di antara kami ada. Saat dia kerja, dan mengharuskan dia tak bisa bertemu denganku, ku menghargainya. Kami saling mengingatkan satu sama yang lain agar selalu dekat dengan Yang Maha Esa. Itu lah satu poin dimana aku bisa mencintainya, selain aku bisa deket dengan cintainya, aku juga bisa mendekatkan diri dengan Yang Maha Esa. Tapi di perjalanan cintaku selalu tak semulus dengan hari-hariku yang ku lewati dengan senyum ceria dan semangat. Aku harus merasakan rasa sakit hati kembali dengan yang namanya Cinta. Pertemuan dan hubunganku tak secerah awan dan ibarat umur, hanya seumur jagung. Tanpa alasan yang pasti, ku harus melepaskan cintaku yang telah bersamaku untuk orang laen. Sungguh cinta yang katanya indah, kini bagai dongeng di saat malam tiba, dimana yang katanya indah tidak bisa aku rasakan. Kini diriku tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini, ku harus bisa menjadi aku sebelum atau pun sesudah nya, aku adalah aku. Semogga Allah selalu menuntunku dan memberikan ku kesabaran dalam menjalani kehidupan aku ini. By : Maya Winandra novae-mail :Mayawinandranova@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*