Cerpen Sahabat Sejati “Be The Best Of A Rival ~ 01 / 07

Tara, ketemu lagi sama admin ya guys. Kali ini muncul dengan serial cerpen sahabat sejati, tepatnya cerpen Be the best of a Rival. Sekedar info sih, cerpen ini adalah cerpen pertama yang admin ketik pake 'komputer' yang dikarang pas masih SMA dulu. Buat yang penasaran sama jalan ceritanya, bisa langsung simak ke bawah. Happy reading…

Hampir saja Farel manbrak Pak Satpam gara-gara ingin buru-buru masuk kekelasnya. Maklum saja, seperti biasa, selain karena datangnya telat, pr nya juga belum selesai ia kerjakan. Terlebih pr kali ini adalah pr bahasa inggris. Sialnya, pelajaran tersebut adalah pelajaran pertama. Bonus tambahan, guru bahasa inggrinya adalah Bu Alena, guru yang biasa lebih sering ia sebut sebagai bu "Alien". Gelaran yang ia berikan karena keseriang di beri hukuman oleh guru tersebut.
Begitu tiba di mejanya, Farel segera mengeluarkan buku tugas. Kepalanya menoleh kearah Andika, teman sebangkunya yang selama ini selalu menjadi dewa penyelamat. Pria itu juga tampaknya sudah hapal dengan sikap sahabatnya. Makanya tanpa diminta ia segera mengeluarkan buku PR miliknya dan langsung menyodorkanya kearah Farel. Namun begitu, tak urung mulutnya berkomentar.
"Gila, loe kapan mau tobat sih Rel?" tanya Andika sambil meletakan bukunya tepat di hadapan Farel.
"Ngapain tobat. Kan ada elo sebagai dewa penyelamat gue," balas Farel polos. Tangannya dengan ligat memindahkan kata demi kata di buku Andika kearah bukunya. Tak perduli sama sekali jika itu benar atau salah.
Andika hanya mengelengkan kepala melihat ulah sahabatnya. "Nggak gitu juga kali. Sekali kali ngerjain sendiri napa," sambungnya menasehati.
"Ssst… Diem aja deh loe. Kesannya nggak iklas banget gue contekin," komentar Farel. "Lagian nih ya bentar lagi Bu Alien datang. Ogah gue dihukum mulu sama tu orang. Udah beneran kayak Alien tau nggak sih."
"Emangnya loe pernah ketemu Alien itu kayak gimana?" selidik Andika sama sekali tidak terpengaruh dengan permintaan sahabatnya untuk tutup mulut.
"Kalau Alien beneran emang belum sih. Tapi kalau Alien gadungan, sering. Bentar lagi bakalan datang," senyum Farel polos, Andika ngikik mendengarnya. "Eh tapi udah donk, diem aja loe. Ntar kita sambung lagi, oke," terang Farel yang merasa konsentrasinya terganggu akan obrolan mereka.
"Terserah loe aja deh," Andika kali ini hanya pasrah.
Lima menit telah berlalu, bel masuk yang terdengar membuat Farel sedikit terlonjak kaget. Jantungnya mendadak dag dig dug. Jangankan mau kelar, setengahnya juga belum. Memang sih, soalnya cuma lima. Tapi iap soal ada anak soalnya lagi. Mana bahasa inggris lagi, susah untuk di tulis cepat. Sepertinya Farel harus menyerah. Mustahil ia akan menyelesaikan tugasnya itu.
Seperti yang di duga, begitu Bu Alena masuk kekelas. Hal pertama yang ia minta adalah agara semua siswanya segera mengumpulkan tugas yang sudah di berikan. Bagi yang tidak menyelesaikan sebaiknya siap siap. Secara Bu Alena memang sudah terkenal galak. Walaupun sadar kalau tugasnya belum selesai, Farel tetap menyerahkan bukunya untuk di nilai sang guru. Menurut kebisaan, buku tersebut biasanya baru akan diperiksa saat jam istrihat di kantor.
Sayangnya hari ini berbeda dari hari biasa. Bu Alena segera memeriksa buku tersebut. Dari empat puluh siswa di kelasnya, hanya Farel yang tidak menyelesaikan tugas yang di berikan.
“Farel, kesini kamu!” perintah Bu Alena.
“Saya bu?” tanya Farel sambil menatap sahabat karibnya seolah minta perlindungan. Namun tak urung ia maju ke depan. Paling juga di suruh berdiri di depan kelas seperti biasanya.
“Kamu tau kenapa kamu saya panggil?” tanya Bu Alena.
“Enggak. Memangnya kenapa ya Bi?” Farel pura-pura nanya.
“Ini apa?” Bu Alena menunjukkan buku latihan milik Farel.
“Itu tugas saya yang ibu minta buat di kerjain, memangnya kenapa By?” Farel masih pura-pura.
“Terus kenapa belum selesai?” kejar Bu Alena lagi.
“0 itu anu buk, sebenernya saya udah ngerjain buk. Tapi e…. tapi buku saya hilang. Jadi saya bikin lagi. Dan belum selesai sih emang. Ya abis gimana buk, dari pada nggak bikin,” alasan Farel ketara banget bohongnya.
“Hilang?” ulang Bu Alena dengan kening berkerut.
“Ia bu, kayaknya ada yang iseng deh. Tapi beneran kok bu, saya udah bikin,” Farel berusaha untuk meyakinkan sang guru.
Bu Alena menatap tajam kearah matanya. Tapi Farel udah bersiap-siap dengan wajah Watadosnya atau kalau bahasa kerennya Innocent.
"Masa sih ibu nggak percaya sama saya?" ujar Farel memelas.
Ibu Alena tidak lantas menjawab. Matanya masih mengamati raut anak didiknya dengan seksama. Setelah beberapa saat kemudian, kepalanya mengangguk. "Oh begitu, baiklah. Ibu percaya. Sekaran, kamu boleh duduk," perintahnya tak urung membaut Farel heran. Teman – temannya yang lain juga merasa aneh. Secara tumben tumbenan tu guru bisa di kibulin.
Tak ingin memperdebatkan hal itu, Farel segera berbalik. Namun belum juga lima langkah, ucapan Bu Alena kontan membuatnya terkejut.
"Oh Farel, tunggu dulu," kata Bu Alena. Dengan was was Farel berbalik kembali menatap kewajah gurunya. "Tolong kamu tulis jawaban nomor tiga sampai nomor lima di papan."
Kalimat perintah sang guru membuat Farel melongo. Seperti yang ia duga, akan aneh kalau ia bisa bebas begitu saja.
"Saya bu?"
"Iya," angguk Bu Alena. Tangannya terulur menyodorkan spidol kearah Farel. Hal yang jarang terlihat, guru nya tersebut bahkan melontarkan senyum kearahnya. Senyum manis yang membuat Farel merinding. Pria itu tau dengan pasti ada hal menyeramkan di balik senyuman itu. "Lho, harusnya nggak masalah donk. Kamu kan cuma tinggal mengingat ingat sedikit," sambung Bu Alena terdengar santai. Berbanding balik dengan reaksi Farel yang mulai panas dingin.
Dengan perlahan Farel mengambil spidol yang terulur padanya baru kemudian berjalan kearah papan tulis. Diam diam ia melirik kearah Andika, berharap dewa penyelamatnya kali ini akan membantu. Tapi Andika hanya terdiam. Sahabatnya itu tau dengan pasti kalau gurunya kini sedang memperhatikan dirinya.
"Lho, kok diem aja. Silahkan tulis jawabannya. Atau perlu ibu bacakan lagi soalannya?" tanya Bu Alena yang menyadari kalau Farel hanya berdiam diam di depan.
Farel yang tau kalau gurunya hanya mengetes dirinya hanya bisa pasrah. Sepertinya kebohongannya sudah terbongkar.
"Kamu pikir ibu bodoh sehingga segitu gampangnya kamu bohongin?"
Farel hanya menunduk diam. Percuma membantah, ia tau salah.
"Chika, sekarang kamu yang tulis di depan," perintah Bu Alena kearah gadis yang duduk tepat di depan papan tulis. Walau terlihat ragu, gadis yang di panggil Chika bangkit berdiri. Sekilas ia menatap kearah Farel yang juga sedang menatapnya. Meminta spidol yang ada di tangannya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, Farel sama sekali tidak bisa menebak.
“Silahkan," interuksi Bu Alena kembali terdengar.
Dengan tenang Chika menuliskan jawabannya di papan. Bahkan tanpa melihat buku catatannya sama sekali. Sepertinya ia benar benar mengingat semua jawabnnya. Membuat seisi kelas menatapnya takjup, yang tak urung membuat Farel makin kehilangan muka. Secara Chika, selain anaknya rajin. Ia juga terkenal pintar. Sejak empat bulan yang lalu ia pindah ke sekolahnya, gadis itu sudah menujukan prestasinnya. Farel hanya mampu terus menunduk walau sekali-kali ia melihat ke arah Chika yang masih menulis, dan tidak sampai sepuluh menit Chika telah menyelesaikan semua yang di minta oleh Bu Alena.
“Gimana Farel, jawaban kamu di buku yang katanya HILANG itu sama kayak yang di tulis sama Chika?” sindir Bu Alena begitu Chika menyelesaikan tugasnnya.
Farel hanya menunduk, selain malu karena ketahuan bohong, ia juga malu pada Chika yang ternyata bisa menyawab semua pertanyaan yang di berikan.
“Sekarang coba kamu lihat Chika. Dia masih baru empat bulan di sini tapi sudah menunjukkan prestasinya. Harusnya kamu bisa mencontohnmya. Bukan malah cari-cari alasan, sudah sering terlambat, jarang bikin Pr, masih juga ngeles. Jadi sekarang kamu berdiri di luar sampai ibu bilang selesai,” perintah Bu Alena tak urung membuat seisi kelas kaget. Tak terkecuali Chika yang kini menatap Farel dengan seksama.
"Baik buk," manut Farel sambil menunduk. Sama sekali tidak berani menoleh kearah gurunya. Apalagi menatap kearah Chika walau ia tau gadis itu kini sedang menatapnya. Terus terang ia merasa malu, tak hanya pada gurunya tapi juga pada Chika, sosok yang selama ini di anggap anak nggak gaul karena ke sehariannya selama di sekolah lebih sering di habiskan di perpustakaan dari pada ikutan ngegosip sepeti siswa- siswi yang lainnya.
Tiba di luar, rasa malu Farel semakin berkali lipat. Apalagi selama ini ia dikenal sebagai siswa yang sangat berpengaruh. Ia anak orang kaya, ayahnya adalah businesman yang terkemuka, ibunya juga tak kalah tenarnya. Sementara ia, selain memiliki wajah yang tampan, Farel juga merupakan bintang basket sekolah. Apa lagi ia juga merupakan ketua genk yang paling dikenal di sekolah. Wajahnya yang keren membuatnya selalu di kejar-kejar oleh cewek hampir satu sekolahnya. Tapi sekarang masa harus berdiri di halaman sekolah hanya gara-gara tidak mengerjakan pr. Sumpah, nggak elit banget. Mau di taruh di mana mukanya. ????.
Setelah sekian lama berdiri di tengah terik matahari, akhirnya bel berbunyi tanda waktu istirahat. Siswa dari kelas lain juga sudah pada keluar sehingga membuat Farel semakin malu. Apalagi sepertinya semau mata tertuju kearahnya. Masa orang yang selama ini paling berpengaruh di sekolah kini harus berdiri di halaman menghadap ke matahari dengan satu kaki. Sementara Bu Alena belum juga memanggilnya. Padahalkan bel sudah terdengar.
Setelah hampir lima menit berlalu barulah Bu Alena berjalan kearahnya. Dan dengan suara lantang menasehatinya untuk tidak lagi lupa mengerjakan pr lagi. Barulah semua anak-anak yang tadi bertanya-tanya dalam hati kini tau kenapa Farel di hukum. Setelah Bu Alena meninggalkannya, Farel langsung menuju kekelasnya. Karena saat ini pasti ia sedang di bicarakan oleh seluruh siswa satu sekolahnya. Di ulang, mau di taruh dimana mukanya?
Begitu duduk dibangku, ke empat sahabatnya, Andika, Dino, Alvin, dan Rio langsung mendekati ke arahnya.
“Sorry bro, kita tadi nggak bisa bantu," kata Rio merasa bersalah.
“Ia, kita juga. Sebab tadi Bu Alena memperhatikan kita terus,” sahabatnya yang lain menambahkan.
“Udahlah nggak papa kok” sahut Farel sambil mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan yang di ambil dari saku seragam. Kebetulan kelas sepi hanya ada mereka berlima karena begitu istirahat biasanya kelas memang kosong.
Tapi tiba-tiba ada empat orang cewek masuk kekelas. Ternyata vivi dan ketiga temannya yang terkenal dengan genk BFF, *Boy Before Flowe?*. NO BESAR, tapi Best Freind Forever yang juga temen sekelas Farel datang sambil membawa minuman dan roti, dan langsung menyodorkan kearah Farel. Semua anak satu sekolah juga tau kalau vivi yang juga sang ketua genk menaruh simpati sama Farel. Cuma selama ini nggak terlalu di layan semua Farel.
“Buat loe Rel. Pasti loe haus dan laparkan?” kata vivi.
“Ma kasih,” kata Farel sambil mengambil minuman yang di berikan kepadanya. Apalagi ia memang haus banget.
“Gila ya si Chika, kayaknya ia tadi sengaja deh,” ujar vivi.
“Maksud loe?” tanya Farel heran begitu juga temen-temen yang lain.
“Ia. Tadi pasti Chika sengaja bikin loe malu di depan semua anak-anak sekolah. Dan pasti sekarang dia lagi seneng banget ngelihat loe sekarang.” tambah vivi lagi.
"Apa banget sih loe," komentar Andika terlihat tidak setuju. "Jangan ngarang gitu deh," sambungnya.
"Siapa yang ngarang? Ana merya kali yang suka ngarang. Lagian emang bener kok, kalau tadi itu Chika pasti sengaja. Tu anak kan emang suka narik perhatian guru," Taysa ikutan buka mulut.
"Udah deh. Jangan nyebar fitnah gitu. Lagian semua anak kan ngelihat kalau Chika ke depan tadi juga karena di minta sama Bu Alena, jadi nggak mungkin dia sengaja” tambah alvin.
“Tapi kan….” vivi belum menyelesaikan ucapannya karena ucapannya langsung di potong oleh Farel.
“Apaan sih. Tadi tu jelas-jelas gue di hukum gara-gara nggak bikin pr. Jadi sama sekali nggak ada hubungannya sama Chika,” kata Farel “Udah ah, cabut yuk guys,” ajak Farel mengajak ke empat temennya pergi.
“Eh kalian mau kemana?” tanya vivi heran. Tapi Farel dan temen-temennya diam sambil berlalu tanpa menolah lagi.
“Sial!” geram vivi setelah Farel pergi dari hadapannya.
Next to Cerpen Be the best of a Rival Part 02
Detail Cerpen

Lanjut Baca : ~ || ~ ~ || ~

Random Posts

  • Bismillah……

    Mulakan dengan bismilah…. baru ntar kita pikirkan apa yang mau di isi. right??…

  • Mis Tulalit Part 7

    Lanjut…………… Acara hari ini bermacam-macam banget, ya di bikin kayak pertandingan gitu deh… kayak tanding baris berbaris, bikin yel-yel, bahakan tanding make up segala.Lucunya lagi, yang jadi modelnya cowok, terus yang jadi tukang riasnya cewek tapi waktu lagi ngerias nggax boleh liat wajah yang lagi dirias. Main raba-raba gitu. Jadi kebayang donk gimana ‘ayu’ nya ha ha..Da lagi lomba tebak kata, yang kayak di ANTV gitu yang ‘katakan katamu’ regu April yang jadi juaranya lho.Pokoknya banyak banget deh, lomba bakiak juga. Waktu lomba ngisi air dalam botol, April ikutan. Sambil lari-lari sekenceng-kencengnya April and ketiga temennya bawa air pake cangkir yang di kumpulakn akhirnya kelompok nya yang berhasil paling cepet ngisi tu botol sampe penuh.Tentu saja April dan temen-temennya girang banget sampai panitia mengumumkan pake speaker siapa yang paling sedikir ngumpulin airnya, maka regu itu yang menang.sebagian

  • Cerpen Kala Cinta menyapa part 9

    Huwakakkaka….. kayaknya ini part paling pendek yang pernah tercipta deh. Tapi gak papa deh, namanya juga versi expres. Abis di tagih mulu si. Phan saia udah bilang saia udah sibuk di dunia nyata. So, kalau mau baca sialahkan. Gak mau ya suka suka kalian.. Oke?…. SYIP!Ah satu lagi, tadi si lagi asik nulis. Eh ada yang ngajak chatingan. Ya sudah konsentrasi langsung buyar. So segini aja deh.Credit gambar : ana Merya "Ya ela, loe kenapa?. Kok mukanya sedari tadi di tekuk gitu?. Gantengnya ilang tau" Komen Joni sambil menatap prihatin sahabat yang duduk di sampingnya. Sementara tangannya dengan santai menyuapkan kuah bakso kedalam mulut."Diem loe. Gue lagi galau ni".sebagian

  • Cerpen romantis “Buruan katakan cinta” ~ 5 {Update}

    Cerpen Romantis buruan katakan cinta part 5. Untuk cerita sebelumnya silahkan di cek di cerpan cinta terbaru Buruan katakan cinta part 4.Credit Gambar : Ana MeryaAni menjatuhkan tubuhnya di kasur saat malam telah tiba, ia menatap langit-langit kamarnya, sambil memikir kan kejadian tadi saat di campus, sepertinya ia terlalu kasar terhadap kevin."apa gue terlalu kasar ya… kasihan juga kevin, dia kan nggax tau apa-apa… tapi sikap nya bener-bener menyebalkan, dia selalu aja nyalahin vano, apa dia nggax tau kalau vano itu cowok yang baik" kata ani sendiri medadak merasa galau.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*