Cerpen Sahabat Sejati “Be The Best Of A Rival ~ 01 / 07

Tara, ketemu lagi sama admin ya guys. Kali ini muncul dengan serial cerpen sahabat sejati, tepatnya cerpen Be the best of a Rival. Sekedar info sih, cerpen ini adalah cerpen pertama yang admin ketik pake 'komputer' yang dikarang pas masih SMA dulu. Buat yang penasaran sama jalan ceritanya, bisa langsung simak ke bawah. Happy reading…

Hampir saja Farel manbrak Pak Satpam gara-gara ingin buru-buru masuk kekelasnya. Maklum saja, seperti biasa, selain karena datangnya telat, pr nya juga belum selesai ia kerjakan. Terlebih pr kali ini adalah pr bahasa inggris. Sialnya, pelajaran tersebut adalah pelajaran pertama. Bonus tambahan, guru bahasa inggrinya adalah Bu Alena, guru yang biasa lebih sering ia sebut sebagai bu "Alien". Gelaran yang ia berikan karena keseriang di beri hukuman oleh guru tersebut.
Begitu tiba di mejanya, Farel segera mengeluarkan buku tugas. Kepalanya menoleh kearah Andika, teman sebangkunya yang selama ini selalu menjadi dewa penyelamat. Pria itu juga tampaknya sudah hapal dengan sikap sahabatnya. Makanya tanpa diminta ia segera mengeluarkan buku PR miliknya dan langsung menyodorkanya kearah Farel. Namun begitu, tak urung mulutnya berkomentar.
"Gila, loe kapan mau tobat sih Rel?" tanya Andika sambil meletakan bukunya tepat di hadapan Farel.
"Ngapain tobat. Kan ada elo sebagai dewa penyelamat gue," balas Farel polos. Tangannya dengan ligat memindahkan kata demi kata di buku Andika kearah bukunya. Tak perduli sama sekali jika itu benar atau salah.
Andika hanya mengelengkan kepala melihat ulah sahabatnya. "Nggak gitu juga kali. Sekali kali ngerjain sendiri napa," sambungnya menasehati.
"Ssst… Diem aja deh loe. Kesannya nggak iklas banget gue contekin," komentar Farel. "Lagian nih ya bentar lagi Bu Alien datang. Ogah gue dihukum mulu sama tu orang. Udah beneran kayak Alien tau nggak sih."
"Emangnya loe pernah ketemu Alien itu kayak gimana?" selidik Andika sama sekali tidak terpengaruh dengan permintaan sahabatnya untuk tutup mulut.
"Kalau Alien beneran emang belum sih. Tapi kalau Alien gadungan, sering. Bentar lagi bakalan datang," senyum Farel polos, Andika ngikik mendengarnya. "Eh tapi udah donk, diem aja loe. Ntar kita sambung lagi, oke," terang Farel yang merasa konsentrasinya terganggu akan obrolan mereka.
"Terserah loe aja deh," Andika kali ini hanya pasrah.
Lima menit telah berlalu, bel masuk yang terdengar membuat Farel sedikit terlonjak kaget. Jantungnya mendadak dag dig dug. Jangankan mau kelar, setengahnya juga belum. Memang sih, soalnya cuma lima. Tapi iap soal ada anak soalnya lagi. Mana bahasa inggris lagi, susah untuk di tulis cepat. Sepertinya Farel harus menyerah. Mustahil ia akan menyelesaikan tugasnya itu.
Seperti yang di duga, begitu Bu Alena masuk kekelas. Hal pertama yang ia minta adalah agara semua siswanya segera mengumpulkan tugas yang sudah di berikan. Bagi yang tidak menyelesaikan sebaiknya siap siap. Secara Bu Alena memang sudah terkenal galak. Walaupun sadar kalau tugasnya belum selesai, Farel tetap menyerahkan bukunya untuk di nilai sang guru. Menurut kebisaan, buku tersebut biasanya baru akan diperiksa saat jam istrihat di kantor.
Sayangnya hari ini berbeda dari hari biasa. Bu Alena segera memeriksa buku tersebut. Dari empat puluh siswa di kelasnya, hanya Farel yang tidak menyelesaikan tugas yang di berikan.
“Farel, kesini kamu!” perintah Bu Alena.
“Saya bu?” tanya Farel sambil menatap sahabat karibnya seolah minta perlindungan. Namun tak urung ia maju ke depan. Paling juga di suruh berdiri di depan kelas seperti biasanya.
“Kamu tau kenapa kamu saya panggil?” tanya Bu Alena.
“Enggak. Memangnya kenapa ya Bi?” Farel pura-pura nanya.
“Ini apa?” Bu Alena menunjukkan buku latihan milik Farel.
“Itu tugas saya yang ibu minta buat di kerjain, memangnya kenapa By?” Farel masih pura-pura.
“Terus kenapa belum selesai?” kejar Bu Alena lagi.
“0 itu anu buk, sebenernya saya udah ngerjain buk. Tapi e…. tapi buku saya hilang. Jadi saya bikin lagi. Dan belum selesai sih emang. Ya abis gimana buk, dari pada nggak bikin,” alasan Farel ketara banget bohongnya.
“Hilang?” ulang Bu Alena dengan kening berkerut.
“Ia bu, kayaknya ada yang iseng deh. Tapi beneran kok bu, saya udah bikin,” Farel berusaha untuk meyakinkan sang guru.
Bu Alena menatap tajam kearah matanya. Tapi Farel udah bersiap-siap dengan wajah Watadosnya atau kalau bahasa kerennya Innocent.
"Masa sih ibu nggak percaya sama saya?" ujar Farel memelas.
Ibu Alena tidak lantas menjawab. Matanya masih mengamati raut anak didiknya dengan seksama. Setelah beberapa saat kemudian, kepalanya mengangguk. "Oh begitu, baiklah. Ibu percaya. Sekaran, kamu boleh duduk," perintahnya tak urung membaut Farel heran. Teman – temannya yang lain juga merasa aneh. Secara tumben tumbenan tu guru bisa di kibulin.
Tak ingin memperdebatkan hal itu, Farel segera berbalik. Namun belum juga lima langkah, ucapan Bu Alena kontan membuatnya terkejut.
"Oh Farel, tunggu dulu," kata Bu Alena. Dengan was was Farel berbalik kembali menatap kewajah gurunya. "Tolong kamu tulis jawaban nomor tiga sampai nomor lima di papan."
Kalimat perintah sang guru membuat Farel melongo. Seperti yang ia duga, akan aneh kalau ia bisa bebas begitu saja.
"Saya bu?"
"Iya," angguk Bu Alena. Tangannya terulur menyodorkan spidol kearah Farel. Hal yang jarang terlihat, guru nya tersebut bahkan melontarkan senyum kearahnya. Senyum manis yang membuat Farel merinding. Pria itu tau dengan pasti ada hal menyeramkan di balik senyuman itu. "Lho, harusnya nggak masalah donk. Kamu kan cuma tinggal mengingat ingat sedikit," sambung Bu Alena terdengar santai. Berbanding balik dengan reaksi Farel yang mulai panas dingin.
Dengan perlahan Farel mengambil spidol yang terulur padanya baru kemudian berjalan kearah papan tulis. Diam diam ia melirik kearah Andika, berharap dewa penyelamatnya kali ini akan membantu. Tapi Andika hanya terdiam. Sahabatnya itu tau dengan pasti kalau gurunya kini sedang memperhatikan dirinya.
"Lho, kok diem aja. Silahkan tulis jawabannya. Atau perlu ibu bacakan lagi soalannya?" tanya Bu Alena yang menyadari kalau Farel hanya berdiam diam di depan.
Farel yang tau kalau gurunya hanya mengetes dirinya hanya bisa pasrah. Sepertinya kebohongannya sudah terbongkar.
"Kamu pikir ibu bodoh sehingga segitu gampangnya kamu bohongin?"
Farel hanya menunduk diam. Percuma membantah, ia tau salah.
"Chika, sekarang kamu yang tulis di depan," perintah Bu Alena kearah gadis yang duduk tepat di depan papan tulis. Walau terlihat ragu, gadis yang di panggil Chika bangkit berdiri. Sekilas ia menatap kearah Farel yang juga sedang menatapnya. Meminta spidol yang ada di tangannya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, Farel sama sekali tidak bisa menebak.
“Silahkan," interuksi Bu Alena kembali terdengar.
Dengan tenang Chika menuliskan jawabannya di papan. Bahkan tanpa melihat buku catatannya sama sekali. Sepertinya ia benar benar mengingat semua jawabnnya. Membuat seisi kelas menatapnya takjup, yang tak urung membuat Farel makin kehilangan muka. Secara Chika, selain anaknya rajin. Ia juga terkenal pintar. Sejak empat bulan yang lalu ia pindah ke sekolahnya, gadis itu sudah menujukan prestasinnya. Farel hanya mampu terus menunduk walau sekali-kali ia melihat ke arah Chika yang masih menulis, dan tidak sampai sepuluh menit Chika telah menyelesaikan semua yang di minta oleh Bu Alena.
“Gimana Farel, jawaban kamu di buku yang katanya HILANG itu sama kayak yang di tulis sama Chika?” sindir Bu Alena begitu Chika menyelesaikan tugasnnya.
Farel hanya menunduk, selain malu karena ketahuan bohong, ia juga malu pada Chika yang ternyata bisa menyawab semua pertanyaan yang di berikan.
“Sekarang coba kamu lihat Chika. Dia masih baru empat bulan di sini tapi sudah menunjukkan prestasinya. Harusnya kamu bisa mencontohnmya. Bukan malah cari-cari alasan, sudah sering terlambat, jarang bikin Pr, masih juga ngeles. Jadi sekarang kamu berdiri di luar sampai ibu bilang selesai,” perintah Bu Alena tak urung membuat seisi kelas kaget. Tak terkecuali Chika yang kini menatap Farel dengan seksama.
"Baik buk," manut Farel sambil menunduk. Sama sekali tidak berani menoleh kearah gurunya. Apalagi menatap kearah Chika walau ia tau gadis itu kini sedang menatapnya. Terus terang ia merasa malu, tak hanya pada gurunya tapi juga pada Chika, sosok yang selama ini di anggap anak nggak gaul karena ke sehariannya selama di sekolah lebih sering di habiskan di perpustakaan dari pada ikutan ngegosip sepeti siswa- siswi yang lainnya.
Tiba di luar, rasa malu Farel semakin berkali lipat. Apalagi selama ini ia dikenal sebagai siswa yang sangat berpengaruh. Ia anak orang kaya, ayahnya adalah businesman yang terkemuka, ibunya juga tak kalah tenarnya. Sementara ia, selain memiliki wajah yang tampan, Farel juga merupakan bintang basket sekolah. Apa lagi ia juga merupakan ketua genk yang paling dikenal di sekolah. Wajahnya yang keren membuatnya selalu di kejar-kejar oleh cewek hampir satu sekolahnya. Tapi sekarang masa harus berdiri di halaman sekolah hanya gara-gara tidak mengerjakan pr. Sumpah, nggak elit banget. Mau di taruh di mana mukanya. ????.
Setelah sekian lama berdiri di tengah terik matahari, akhirnya bel berbunyi tanda waktu istirahat. Siswa dari kelas lain juga sudah pada keluar sehingga membuat Farel semakin malu. Apalagi sepertinya semau mata tertuju kearahnya. Masa orang yang selama ini paling berpengaruh di sekolah kini harus berdiri di halaman menghadap ke matahari dengan satu kaki. Sementara Bu Alena belum juga memanggilnya. Padahalkan bel sudah terdengar.
Setelah hampir lima menit berlalu barulah Bu Alena berjalan kearahnya. Dan dengan suara lantang menasehatinya untuk tidak lagi lupa mengerjakan pr lagi. Barulah semua anak-anak yang tadi bertanya-tanya dalam hati kini tau kenapa Farel di hukum. Setelah Bu Alena meninggalkannya, Farel langsung menuju kekelasnya. Karena saat ini pasti ia sedang di bicarakan oleh seluruh siswa satu sekolahnya. Di ulang, mau di taruh dimana mukanya?
Begitu duduk dibangku, ke empat sahabatnya, Andika, Dino, Alvin, dan Rio langsung mendekati ke arahnya.
“Sorry bro, kita tadi nggak bisa bantu," kata Rio merasa bersalah.
“Ia, kita juga. Sebab tadi Bu Alena memperhatikan kita terus,” sahabatnya yang lain menambahkan.
“Udahlah nggak papa kok” sahut Farel sambil mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan yang di ambil dari saku seragam. Kebetulan kelas sepi hanya ada mereka berlima karena begitu istirahat biasanya kelas memang kosong.
Tapi tiba-tiba ada empat orang cewek masuk kekelas. Ternyata vivi dan ketiga temannya yang terkenal dengan genk BFF, *Boy Before Flowe?*. NO BESAR, tapi Best Freind Forever yang juga temen sekelas Farel datang sambil membawa minuman dan roti, dan langsung menyodorkan kearah Farel. Semua anak satu sekolah juga tau kalau vivi yang juga sang ketua genk menaruh simpati sama Farel. Cuma selama ini nggak terlalu di layan semua Farel.
“Buat loe Rel. Pasti loe haus dan laparkan?” kata vivi.
“Ma kasih,” kata Farel sambil mengambil minuman yang di berikan kepadanya. Apalagi ia memang haus banget.
“Gila ya si Chika, kayaknya ia tadi sengaja deh,” ujar vivi.
“Maksud loe?” tanya Farel heran begitu juga temen-temen yang lain.
“Ia. Tadi pasti Chika sengaja bikin loe malu di depan semua anak-anak sekolah. Dan pasti sekarang dia lagi seneng banget ngelihat loe sekarang.” tambah vivi lagi.
"Apa banget sih loe," komentar Andika terlihat tidak setuju. "Jangan ngarang gitu deh," sambungnya.
"Siapa yang ngarang? Ana merya kali yang suka ngarang. Lagian emang bener kok, kalau tadi itu Chika pasti sengaja. Tu anak kan emang suka narik perhatian guru," Taysa ikutan buka mulut.
"Udah deh. Jangan nyebar fitnah gitu. Lagian semua anak kan ngelihat kalau Chika ke depan tadi juga karena di minta sama Bu Alena, jadi nggak mungkin dia sengaja” tambah alvin.
“Tapi kan….” vivi belum menyelesaikan ucapannya karena ucapannya langsung di potong oleh Farel.
“Apaan sih. Tadi tu jelas-jelas gue di hukum gara-gara nggak bikin pr. Jadi sama sekali nggak ada hubungannya sama Chika,” kata Farel “Udah ah, cabut yuk guys,” ajak Farel mengajak ke empat temennya pergi.
“Eh kalian mau kemana?” tanya vivi heran. Tapi Farel dan temen-temennya diam sambil berlalu tanpa menolah lagi.
“Sial!” geram vivi setelah Farel pergi dari hadapannya.
Next to Cerpen Be the best of a Rival Part 02
Detail Cerpen

Lanjut Baca : ~ || ~ ~ || ~

Random Posts

  • Cerpen Galau “Bahagia Itu Kita Yang Rasa”

    G to the A to the L to the A to the U = Nyesek. Ibarat pepatahnya ni ya, Di telen pahit di buang sayang. Itu sih yang admin rasain sekarang. Dan tau tau di bawa ngetik jadi deh Cerpen Bahagia Itu Kita Yang Rasa. Nggak tau deh kok bisa gitu. Nah buat yang udah penasaran sama gimana ceritanya bisa langsung simak kebawah. Happy Reading "Aku Menyukaimu. Kau mau kan Jadi kekasihku?."Bagai patung, Irma membatu. Tepat dihadapannya Rey bersimpuh sambil tersenyum manis. Setangkai bunga mawar di tangan menambah romantika suasana. Namun tetap Irma masih terpaku dan membisu."Kenapa mesti aku?" tanya Irma setelah berhasil mendapatkan pita suaranya kembali setelah beberapa saat yang lalu menghilang karena shock.Kepala Rey mengeleng perlahan. Masih dengan senyum yang tersunging di sudut bibirnya. Tanpa kata, tanpa suara. Hanya menanti jawaban atas tawaran resmi hubungannya.Sejenak Irma memejamkan mata. Selangkah demi selangkah kakinya bergerak mundur. "Maaf," cukup satu kata yang keluar dari bibirnya sebelum kemudian Irma berbalik dan tidak menoleh lagi."Brak."Irma mengangkat wajahnya kaget. Raut marah Ana yang baru saja mengebrak meja tepat di hadapannya jelas tergambar. Membuat Irma mengerutkan kening bingung."Ada apa?" tanya Irma hati – hati."Ada apa? Ada apa loe bilang? Harusnya gue yang nanya, loe kenapa?""Memangnya gue kenapa?" Irma balik bertanya. Masih tidak mengerti arah dan tujuan pembicaraan sahabatnya barusan."Seisi kampus kita heboh, katanya loe nolak Rey. Apa itu bener?"Irma terdiam sambil tersenyum samar. Sepertinya ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan itu akan di bawa. Dengan perlahan kepalanya mengangguk membenarkan."Apa loe udah gila?" tanya Ana lagi."Sejak kapan menolak mengajak pacaran itu di sebut gila?" bukannya menjawab Irma malah balik bertanya."Kalau loe di tembak oleh Bang ocor ataupun bang jony terus loe tolak baru wajar. Ini Rey, Irma. Reyhan Sinatrya. Idola di kampus kita," terang Ana penuh penekanan.Kali ini Irma hanya angkat bahu membuat Ana harus mati – matian menahan diri untuk tidak langsung menjitak kepala sahabatnya saat itu juga."Kasih tau alasannya kenapa loe nolak dia?" tambah Ana dengan nada memaksa, membuat mulut Irma sedikit maju. Jelas merasa tidak terima."Karena gue nggak punya satupun yang bisa di jadikan alasan kenapa gue harus menerima dia," balas Irma santai. Kali ini ia membalas tatapan tajam Ana yang terhunjam padanya. "Nggak ada satu pun alasan loe bilang?! Astaga, dia itu cowok paling sempurna yang bisa di jadikan rujukan pacaran jaman masa kini. Tampang cakep? Jelas! Baik? Nggak di ragukan lagi. Kaya? Semua orang juga udah tau. Dan loe malah dengan seenak jidat bilang nggak ada alasan buat nerima dia. Heh, belum pernah liat sendal melayang nyangkut di kepala ya?""Ya ampun Ana, loe marah – marahin gue cuma karena gue nolak tawaran Rey tadi pagi?" keluh Irma pasang tampang dramatisir yang sumpah nggak mempan untuk meredakan kemarahan Ana."Itu _ Bukan _ Cuma!" tandas Ana penuh penekanan."Hufh," Irma tampak menghembuskan nafas secara berlahan. Merasa lelah dan percuma untuk melakukan perdebatan. Terlebih mendebat seorang Ana. The Master of Debater (???)."Sudah lah, nggak usah di bahas lagi. Gue mau pulang. Loe mau bareng nggak?" tanya Irma mengalihkan pembicaraan. Diraihnya tas yang berada di atas meja. Siap berbalik pergi, namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ana."Hanya karena tidak ingin terluka bukan berarti loe harus takut untuk merasa bahagia."Walau berat untuk mengakui, Irma mengerti kalau apa yang Ana ucapkan ada benarnya. Tapi, rasa ego masih bersarang di hatinya. Tanpa berbalik ia kembali melangkah. Meninggalkan Ana terpaku sendirian.Sambil terus melangkah angan Irma melayang jauh. Sejauh mimpi yang ingin ia raih. Dengan perlahan ia melangkah kedalam bus yang akan membawanya pulang kerumah. Matanya mengamati sekeliling. Entah memang takdir, atau kebetulan di dunia ini selalu ada. Hampir semua bangku pernuh kecuali bangku yang berada tepat di belakang sopir.Harusnya, ya harusnya Irma sama sekali tidak keberatan untuk duduk disana kalau saja matanya tak lebih dahulu mengenali siapa sosok yang duduk di sana dengan mata terpejam. Rey, Seseorang yang ia tolak tadi pagi.Sempat merasa ragu namun pada akhrinya Irma melangkah kearah bangku itu. Mendaratkan tubuhnya secara perlahan.Merasa kehadiran seseorang di sampingnya refleks Rey membuka matanya. Bola mata hitam nan tajam langsung terhunus kearah Irma yang hanya mampu tersenyum kaku. Mendadak merasa menyesal akan keputusannya. Harusnya tadi ia lebih memilih untuk berdiri saja dari pada berada dalam situasi seperti ini.Sebuah senyum tulus yang tergambar di wajah Rey pada detik berikutnya langsung menghancurkan keraguan Irma. Senyum itu, walau samar tapi terlihat tulus. Bahkan mampu menular pada dirinya. Terbukti saat tanpa di sadari bibirnya juga tertarik membentuk lengkungan."Baru mau pulang?" tanya Rey membuka permbicaraan.Kepala Irma mengangguk membenarkan . Mulutnya masih terkunci. Bingung mau berkata apa. Pada saat bersamaan Rey ikut mengangguk. Sebuah formalitas semata sepertinya.Untuk sejenak suasana kembali sepi. Hening yang merasahkan _ setidaknya itu yang Irma rasakan. Kepalanya sedikit melirik kearah Rey yang tampak kembali pada aktifitas sebelum kedatangannya. Memejamkan mata. Sementara bus juga sudah kembali berjalan."Maaf?""Eh?" Irma menoleh. Menatap lurus kearah Rey, sementara yang ditatap sama sekali tidak terpengaruh. Tetap asik dengan kebisuannya. Seolah kalimat yang baru saja di tangkap oleh indra pendengaran Irma hanyalah halusinasi semata."Untuk yang tadi pagi, aku minta maaf."Kali ini Irma yakin kalau ia tidak salah mendengar. Terlebih Rey membalas tatapannya. Masih dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya."Harusnya aku yang meminta maaf," gumam Irma lirih."Untuk?""Eh?" Irma yang tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu kontan menjadi salah tingkah."Untuk penolakan yang kau lakukan tadi? Sepertinya tidak perlu terlalu di fikirkan. Setiap orang punya perinsip nya masing – masing. Lagi pula tadi itu aku juga hanya ingin mengungkapkan perasaan ku saja. Soal kau yang tidak menyukai ataupun memiliki rasa yang sama seperti aku sama, sekali tidak aku pikirkan _ walau_jujur saja aku berharap kau memang punya rasa yang sama".Lagi – lagi Irma membisu. Tak tau harus berkata apa."Kenapa?""He?" gantian Rey yang menoleh bingung."Kenapa harus aku?" tanya Irma menegaskan maksut ucapannya.Lama Rey membisu. Tidak langsung mejawab pertanyaannya."Karena Bahagia itu kita yang rasa. Dan aku ingin membagi rasa bahagiaku bersama orang yang ku sukai. Dan orang itu adalah kamu."Biar singkat tapi Irma merasakan ketegasan dari setiap patah kata yang keluar dari mulut sosok di sampingnya. Tanpa sadar sebuah senyum bertenger di sudut bibirnya. Ditatapnya wajah Rey yang juga tersenyum. Hanya senyuman. Tanpa kata.Apalah arti kata bila hati sudah cukup untuk menjawabnya.ENDAPA INI!!!!!…. Entahlah, penulis lagi setres akut kayaknya. Wukakka… Yang jelas sampai bertemu pada cerpen cerpen lainnya aja ya…Detail CerpenJudul Cerpen : Bahagia Itu Kita Yang RasaPenulis : Ana MeryaGenre : Remaja, Cerpen Pendek, Cerpen GalauTwitter : @ana_meryaFanpage : @LovelyStarNightLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 13

    Buat yang udah nungguin lanjutan Take My Heart silahkan di baca. Lanjutannya udah muncul nih. Silahkan tinggalkan kritik dan sarannya buat lanjutan kedepannya yang masih belum tau kapan munculnya. Kalau ada waktu buat ngetik sama modnya bagus mudah – mudahan lanjutannya bisa cepet. Abisnya jujur aja ya, sekarang jadi males banget buat nulis cerpen. Abisnya endnya udah jelas si. Ujung ujungnya paling cuma nanyain lanjutannya doank. Sama sekali nggak ada masukan buat nulis lagi. Tapi yah, berhubung Drama jepang Itazura na kiss – Love In Tokyo yang sedari kemaren kemaren penulis tunggu udah muncul, yah walaupun cuma "Makeing" doank nggak papa deh, kayaknya bikin mod nulis balik. Lanjutan Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 13 bisa tercipta juga.PS: Gini lah nasipnya kalau baca karya penulis amatiran. Sama sekali nggak profesional #Ngomong sama cermin.Mulut Vio terbuka tanpa suara. Saat menoleh kesamping, Ivan sama sekali tidak menoleh kearahnya. Bahkan dengan santai melangkah meninggalkannya. Duduk santai di bawah pohon sambil memandang lautan lepas. Pertanyaannya sejak kapan kampusnya berubah jadi pantai?.sebagian

  • Cerpen pendek Sang Idola

    Tau nggak si guys, cerpen pendek sang idola adalah cerpen perdana yang tanpa part atau bagian yang berhasil admin ketik. Makanya itu, penulisan dan ceritanya kacau banget. Pas baca ulang, serius adminnya jadi malu sendiri. :dNah karena itu. Sekalian latihan nulis sama menghargai karya pribadi, admin memutuskan untuk mulai mengedit satu persatu. Istilahnya alon – alon asal kelakon. Oke…Sang Idola“Kalian serius?” Merry masih tidak percaya. Salsa dan keempat temannya baru saja memberi tahu kalau ‘Sagu band’, band idola mereka akan mengadakan konser tepat jam 13:00 siang ini di Taman Cik Puan, Selatpanjang. Masalahnya, jam pulang sekolah adalah jam 12:30 tepat. Itu juga karena ini hari sabtu makanya rada cepet. Biasanya juga pulang jam 14:00an. Tapi masalahnya saat ini keempat temannya malah serentak berencana untuk membolos. Pulang sebelum waktunya.“Ya iya lah,” sahut keempat temennya serentak.“Lagian buat ‘Sagu band’, apa sih yang enggak,” Salsa menambahkan.“Tapi kan konser mulainya jam 13:00 siang, dan kita pulang sekolah juga masih sempet, nggak perlu pake acara bolos segalakan?” Merry masih berusaha menahan.“Sempet gimana? Kita pulangnya aja jam 12:30. Waktu setengah jam mana sempet non buat siap-siap. Pokoknya sekarang kita semua mau pergi. Kalau loe emang nggak mau ikut ya udah. Ayo guys lets go,” ajak Ria kearah ketiga temen-temennya.“Eh tunggu dulu donk, gue kan belum selesai ngomong."“Simpen ja dulu buat besok!” potong Salsa. Tanpa basa-basi lagi mereka meninggalkan Merry yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah temen-temennya.Keesokan harinya, Salsa, Anya, Sisil dan Ria sengaja datang lebih pagi dari biasanya. Merry yang melihat keempat temannya sudah ngumpul tak mampu menahan rasa heran. Tumen – tumbenan. Berlahan ia hampiri, dan lima menit kemudian ia langsung tau alasan mereka datang pagi. Apalagi kalau bukan untuk mendengarkan pengalaman yang mereka dapatkan kemaren saat menonton konser. “Suer Merry, tu cowok pokoknya ganteng banget deh. Coba aja kemaren loe ikut ama kita-kita, pasti loe nggak akan nyesel,” terang Anya semangat banget.“Ia. Anya bener mer, lagian sekali-kali bolos nggak da ruginya kan. Toh selama ini kita semua on time terus,” Salsa tak mau kalah. “0h ya?” cibir Merry.“Sekarang loe bisa nggak percaya gitu. Soalnya loe belum ketemu ma dia.”“Ih nggak banget deh, secara gue udah punya pacar,” kilah Merry cepat.“Dari dulu loe bilang udah punya pacar tapi nyatanya sampai sekarang kita belum kenal,” Anya menimpali.“Ya sorry, secara gue belum punya waktu. Kalian kan tau sendiri pulang sekolah gue harus kerja buat biaya sekolah gue, nggak kayak kalian.”“Iya deh Mer, sorry. Tapi begitu ada waktu loe kenalin sama kita ya,” kata Sisil.“Pasti,” sahut Merry. "Terus kalian pasti tau donk identintas idola kalian. Paling nggak namanya."Anya menggeleng, Ria pasang raut kecewa, sementara Salsa tanpa di minta langsung menjelaskan. "Justru itu Merry, kita belum tau. Soalnya kemaren doi di minta naik kepanggung, trus ikutan nyanyi bareng 'Sagu band’. Suaranya bagus banget, dia emang nggak ngasi tau namanya, tapi dia bilang kalau dia anak kuliahan."“0h ya. Kuliah dimana?” tanya Merry lagi.“Di. . .aduh di mana ya. Kalau nggak salah STIE atau AMIK ya? Gue lupa, soalnya waktu itu pada heboh,” kali ini Sisil yang menjawab.“Tapi itu gampang kok, kita bakal cari tau dimana dia berada. Seperti kata pepatah 'banyak jalan menuju roma', ya nggak friend?” kata Ria meminta dukungan pada teman – temannya yang langsung di balas anggukan kompak tanda setuju.“Terserah kalian aja deh,” Merry angkat bahu. Belum sempat mulutnya menambahkan, bel masuk pun terdengar. Ia segera mengajak semua temen-temennya untuk kembali ketempat duduknya masing – masing. Secara dari tadi mereka ngobrol tepat di depan mejanya. 10 detik setelah kemunculan gurunya, Salsa cs di buat kaget saat dapat pengumuman kalau hari ini di adakan ulangan harian. Mereka bener-bener pusing tujuh keliling, pasalnya mereka nggak ada baca buku sedikit pun mana soalnya sulit banget lagi. Merry juga nggak mau bantuin, yang makin membuat mereka semakin bingung.Setelah bel istirahat terdengar semua temen-temennya datang menghampiri Merry untuk meminta pertanggungjawabanya, karena ia tidak memberi tau mereka kalau hari ini ada ulangan.“Lho bukannya kalian sendiri yang bilang kalau nggak ada ruginya nggak sekolah satu hari?” Merry bela diri.“Ia sih, tapi nggak kayak gini juga. Pasti ancur deh nilai ulangan gue kali ini, mana loe nggak da ngasi jawabannya ma kita lagi,” kesel Salsa.“Iya deh sorry. Gimana kalau sebagai tanda minta maaf gue, kalian gue traktir makan di kantin. Mau nggak?” tanya Merry karena kebetulan ia baru gajian. Tentu saja langsung di setujui sama temen-temennya yang lain, secara jarang-jarang kan ada yang nraktir.“Kalian mau mesen apa?” tanya Sisil begitu mereka tiba di kantin.“Bakso sama es campur aja deh,” jawab Merry.“Kalian?” tanya Sisil kepada temen-temennya yang lain.“Sama," suara kompak setelah sebelumnya saling pandang. Sekedar bahasa isarat yang langsung di tau apa maksutnya.“Jadi, gimana sama idola kalian itu?” tanya Merry sambil menikmati pisang goreng yang ia ambil dari piring di hadapannya sembari menunggu pesanannya datang.“Gimana apa nya?” Salsa mengernyit.“Ya gimana kelanjutanya. Masa kalian semua mau jadi pacar idola kalian. Mau berbagi itu?” terang gadis itu lagi.“Ta nggak lah sembarangan aja, gini-gini kita masih punya harga diri ya,” bantah Ria. Yang lain menangguk membenarkan.“Terus?” tanya Merry.“Gimana ya. Kita juga bingung nih, ntar deh gue mikir dulu buat nyari solusinya,” Salsa ikut-ikutan bingungSementara sang pelayan sudah menghidangkan pesanan mereka di atas meja. Mereka semua makan sambil terus mencari ide.“Gue punya ide,” kta Sisil setelah lama terdiam.“0h ya? Apa?” temen-temennya terlihat diak sabar.“Dengerin ya. Kita semua kan sudah terlanjur naksir sama si doi jadi….”“Kita? Kalian aja kali, gue nggak,” potong Merry meralat.“Ia deh, kami aja. Loe nggak,” Sisil sebel karena ucapannya di potong duluan padahal ia kan belum selesai ngomong.“Udah deh, tadi ide nya apa?” Salsa masih penasaran.“Apa ya? Gara-gara Merry nih jadi lupa,” Sisil garuk-garuk kepalanya yang emang ketombean. “0h ya gini, gimana kalu kita taruhan aja siapa dulu yang bisa menggaet dia jadi pacar salah seorang dari kita. Tapi, permainannya harus sehat nggak boleh pake cara kotor. Terus yang menang harus nraktir kita semua makan gratis kayak sekarang. Gimana setuju nggak?" sambungnya.“Kok yang menang yang nraktir?” Anya terlihat bingung.“Ya iya lah, secara dia kan udah dapetin si doi. Gimana setuju nggak?” jelas Sisil menerangkan.“0 gitu, gue setuju,” sahut Ria tanpa berpikir lagi“Gue juga,” sambung Salsa sama Anya.“Tapi gue nggak setuju. Enak aja anak orang di jadiin taruhan. Ntar kena batunya baru tau rasa loe. Coba gimana kalau ternyata si doi udah punya pacar?” Merry keberatan.“Terus loe punya ide lain? Lagian kalau emang dia punya pacar masa ke konser nggak ngajak pacarnya?” tanya Sisil.Sementara yang di tanya hanya diam, karena ia sama sekali nggak punya ide yang lebih baik."Nah, nggak ada kan, jadi setuju aja deh,” desak Anya.“Ia. Sekalian loe jadi jurinya, secara loe kan yang paling netral,” tambah Ria.“Terserah kalian aja deh” Merry akhirnya nyerah.Sejak saat itu mereka sibuk mencari informasi tentang'sang idola'. Kebetulan Anya nggak sengaja pernah ketemu sama tu cowok di halte yang biasa mereka tumpangi waktu pulang dari jalan jalan. Hanya saja waktu itu nggak sempet kenalan karen tu bus sudah keburu berangkat. Sejak saat itu mereka sering iseng jalan ke sana.Dua minggu telah berlalu, tapi hasil nya tetap nihil karena walau di tunggu sampai hampir malam tetap juga nggak nongol-nongol sehingga mereka hampir saja putus asa.Sore minggu kebetulan Merry libur bersama keempat temannya ngumpul bareng di salah satu kaffe yang sering mereka datangi. Rencananya ia akan memperkenalkan pacarnya pada temen-temennya.Sambil menunggu pacarnya Merry datang mereka asyik ngobrol.“Eh tau nggak sih, ternyata doi itu kuliah dari sore sampai malam. Dan kenapa selama dua minggu ini kita nggak bisa ketemu sama dia? Ternyata itu gara-gara sekarang ini dia lagi libur habis ujian semester,” kata Salsa memulai obrolannya.“0h ya. Loe tau dari mana?” tanya Anya heran.“Dari sopir bus yang biasa ia tumpangi. Abis nya gue penasaran,” jelas Salsa. “Dan katanya besok sore ia sudah masuk lagi, jadi gue pikir itu waktu yang pas buat kira kenalan sama dia,” sambungnya lagi.“Ide bagus tuh. Loe kali ini bisa ikut kan Merry?” tanya Ria.“Yah sayang banget, gue nggak bisa. Gue kan harus kerja. Lain kali aja ya,” sahut Merry merasa tidak enak.“Ya udah lah nggak papa. Toh besok kalau dia sudah jadi pacar salah seorang dari kita pasti di kenalin sama loe kok,” kata Ria.“Tapi ngomong-ngomong pacar loe jam segini kok belum datang ya?” Anya melirik jam tangannya. "Jadi datang kan?"“Tau nih, bentar ya gue telpon dulu. Kali aja dia lagi kebingungan nyari kita. Emang sih tadi gue udah kasih tau tempatnya, tapi kok belum datang juga. Jangan-jangan nyasar lagi,” Merry beranjak dari dari kursinya menjauh dari temennya.Sebelum Merry berhasil meng'calling pacarnya, HP nya bergetar terlebih dahulu. Ternyata SMS dari Allan, pacarnya. Yang mengabarkan kalau ia sudah berada di depan kaffe tersebut.“Eh temen-temen, dia udah ada di depan tuh. Gue jemput dia dulu ya,” pamit Merry, temen-temennya hanya membalas dengan anggukan.“Kira-kira pacarnya Merry kayak gimana ya?” ujar Salsa setelah Merry pergi.“Tenang aja sa, bentar lagi kita semua juga tau kok,” balas Sisil.Tak lama kemudian Merry datang menghampiri mereka bersama seorang pria di sampingnya.“Temen-temen, kenalin ini pacar gue. Namanya Allan, Allan ini temen-temen gue yang pengen gue kenalin ke elo, ini Salsa, Anya, sisil, sama Ria,” kata Merry memperkenalkan pacarnya kepada temen-temennya satu persatu.Untuk sepersekian detik temen-temennya hanya terdiam terpaku. Bahkan Sisil yang kebetulan sedang menyeruput es sirupnya langsung tersedak saking kagetnya seolah nggak percaya akan sosok yang kini berada tepat di hadapannya yang tersenyum manis sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.“Ya tuhan. Dia kan…. 'SANG IDOLA” pekik batin mereka masing-masing.End….Namanya juga cerpen perdana, jadi di maklumi aja deh kalau endingnya masih gaje banget. Terus bahasa sama kosa katanya juga agak gimana gitu. Tapi ya begitulah. Bagaimanapun terima kasih sudah membaca. 😀 Detail CerpenJudul Cerpen : Sang IdolaPenulis : Ana MeryaGenre : RemajaPanjang : 1543 kataStatus : Cerpen Pendek

  • Cerpen Sahabat Jadi Cinta Be The Best Of A Rival End

    Credit Gambar : Ana Merya"Clara, loe gimana si. Kemaren loe yang ngajak gue buat datang. Eh giliran tiba hari H-nya malah loe yang nggak nongol. gimana si" Omel chika pada sahabatnya keesokan hari."Sory chik, kemaren itu gue ada urusan yang nggak bisa gue tinggalin. Nyokap gue sakit. Terus gimana, Sekolah kita pasti menang kan?" Balas clara penasaran.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*