Cerpen Sahabat Be The Best Of A Rival ~ 05

Untuk cerita sebelumnya bisa baca di cerpen sahabat terbaik be the best of a rival part 4.

Credit Gambar : Ana Merya
“ Chika, tau nggak si semua anak – anak tadi pada ngomongin elo tau” Clara langsung nyerocos begitu berada di hadapan sahabatnya yang duduk di salah satu bangku perpustakaan.
“Oh ya?” sahut Chika tak berminat.
“Ya ia lah. Abis loe gila abis si. Cepet banget ngisi nya. Padahalkan tadi soalnya njelimet banget. Gue aja tadi sampe meres otak”.
“Ha?. Jemuran donk” ledek Chika tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Ya ela, gue serius juga”.
“Ia deh non. Abis loe lebay banget si. Secara materi yang tadi keluar di soal kan udah di pelajari semua. Ya kita Cuma perlu ngingat – ingat dikit aja”.
“Hem….”.
“Eh cabut yuk. Gue laper nie” Ajak Clara mengalihkan permbicaraan.
“Bentar”.
Chika segera beranjak meletakan buku yang tadi di baca ke rak. Setelah itu ia segera keluar menyusul sahabatnya yang sudah berjalan duluan.
“Eh, loe ada ngeliat farel nggak?” Tanya Chika sambil terus melangkah.
“Kok loe nanyain dia?” Clara balik bertanya.
“Tadi gue ketemu pak burhan. Dia minta tolong sama gue kalau pas istirahat ini farel sama teman – temanya diminta untuk nemuin dia” terang chika.
“Gitu ya?. Tadi si kayaknya di masih dikelas”.
“Kalau gitu temenin gue yuk”.
Tanpa menunggu jawaban dari clara, Chika langsung menarik tangan sahabatnya menuju ke kelasnya. Tapi begitu sampai di kelas ternyata kelas telah sepi. Nggak ada siapa – siapa. Chika dan Clara segera melangkah keluar dan bertanya ke siswa yang lain kali aja ada yang tau mereka kemana.
Cerpen Sahabat
“Ada apa?” Tanya Farel begitu Chika ada di hadapannya.
Saat itu mereka sedang ngumpul di taman belakang sekolah. Chika memang langsung ke lokasi saat mengetahui farel di sana. Sementara Clara hanya berdiam diri di sampingnya.
“Loe di cariin tu sama pak burah. Di suruh keruangannya sekarang “ Sahut chika.
Pak Burhan adalah Guru olah raga di sekolahnya.
“Mo ngapain?” Tanya Farel lagi, Chika hanya angkat bahu.
“Sekarang?”.
“Nggak mungkin tahun depan kan?” Balas chika santai.
“”Ya udah. Gue cabut dulu men” pamit Farel pada teman – temannya.
“Eits, Tunggu dulu” Tahan chika Sebelum Farel Jauh melangkah.
“Apa lagi?”.
“Loe mau kemana?” .
“Gimana si. Tadi katanya di sururh keruangan pak burhan. Ya mau kesana lah”.
“Kok sendiri?” Tanya chika yang membuat kening farel sedikir berkerut.
“Terus sama siapa lagi?” Farel balik bertanya.
Chika tidak menjawab. Hanya telunjuknya yang mengarah pada Andika, Rio, Dino dan Alvin
"Kita?" Tanya Alvin dan dino bersamaan. Kali ini Chika hanya membalas dengan anggukan.
"Memangnya di suruh ngapain si?" sambung dino penasaran.
"Tau… Mau di kawinin kali" Balas Chika ngasal. Abis dari tadi tu orang nanya mulu. Udah di bilangin juga kalau dia nggak tau. Masih juga nanya.
"Sembarangan" semprot Farel dan sahabatnya serentak. Sementara chika hanya tertawa menanggapinya Sebelum kemudian berlalu meninggalkan taman. Kembali mengikuti ajakan sahabatnya sebelumnya untuk kekanti. Sementara Farel juga berlalu menuju keruangan pak Burhan.
Cerpen Sahabat
Setelah Absent selama tiga hari karena harus mengunjungi neneknya yaitu ibu dari ibunya yang ada di luar kota karena sakit, akhirnya chika kembali menginjakan kakinya di sekolah.
""Chik, Loe kemana aja si?" tanya Clara begitu chika duduk di sampingnya. Ia memang tidak tau kemana menghilangnya sahabat yang satu ini. Karena chika memang tidak memberi tahunya. Kemaran untuk minta izin pun chika langsung menemui wali kelasnya. jadi wajar kalau Clara bingung.
"Loe sakit ya?" sambungnya lagi.
"Nggak kok. cuma kemaren itu gue keluar kota karena nenek gue sakit".
"Gitu ya?. Pantesan nomer loe nggak aktif. Pasti di sana nggak ada signal kan. Tapi tadinya gue pikir loe kenapa – napa. Secara loe nggak cerita si. Terus gimana kabar nenek loe sekarang?".
"alhamdulilah. Udah baikan kok".
"Syukurlah. Eh tapi besok loe datang ke sekolahkan?" tanya clara lagi..
"Ke sekolah?. Ngapain?. Bukanya besok hari minggu ya?"
"Loe belom tau ya?. Besokan ada pertandiangan persahabatan di sekolah kita. Biasa tanding basket. Kebetulan Farel sama Andika entar ikut main lho" Terang Clara.
"Oh ya?. Tanding sama sekolah mana?" tanya Chika tertarik.
"Aduh, Mana ya?. Gue lupa" Clara terlihat mengingat – ingat.
"SMA Nusa Kambangan".
Terdengar suara dari belakang. Refleks chika menoleh. Ternyata suara Farel.
"Oh ya?. Sekolahnya Niken donk kalau gitu".
"Masa si?" Ganti an Farel yang heran. Oh ia ya, Niken kan siswi nusa kambangan. Kok dia bisa lupa ya?.
"Niken?. Siapa?" Tanya Andika heran. Sepertinya nama itu asing di pendengaranya. Sementara Farel dan chika hanya saling pandang.
"Lho, Masa si kalian nggak kenal sama dia?" chika balik bertanya.
"Memangnya dia siapa?" Dino ikutan penasaran.
"Gimana si. Dia kan pacarnya Farel ".
Dasar Jahil. Selesai berkata chika langsung membalikan pandanganya ke depan sambil menahan diri untuk tertawa. tapi hal ini tentu saja membuat semua yang kebetulan ikutan nguping kaget akan ucapanya. bahkan vivi yang kebetulan sedang makan permen langsung tersedak. nggak nyangka banget. Karena selama ini setahu mereka farel nggak pernah jalan bareng cewek.
"Serius rel?" tanya dino sambil menatap farel. Justru mata sahabatnya kali ini tidak lepas dari sosok chika yang masih berusah menahan diri untuk tertawa.
"Ya nggak lah" Bantah Farel. "Sialan loe chik" sambungnya sambil melemparkan sobekan kertas yang ada di hadapanya tepat mengenai kepala chika yang kali ini jelas – jelas sedang menertawakannya.
"Kalau gitu nike siapa donk?" tanya Doni pada chika karena merasa masih belum menemukan jawaban.
"Tau …. tanya aja langsung sama sahabat loe. ha ha ha". balas chika di sela tawanya.
Farel jelas merasa kesel pada chika. padahalkan chika tau kalau niken cuma sepupunya. Kok bisa si di bilang pada sahabatnya kalau niken itu pacarnya. Tapi walau pun semua masih penasaran, pembicaraan terpaksa harus di pending karena bu alena sudah berada di ambang pintu. Siap untuk perang, eh nggak ding. Maksutnya belajar bahasa ingris.
Cerpen sahabat
Ketika Chika dan Clara sedang berjalan menuju ke taman, ia di cekat oleh vivi dan para sahabatnya.
"Eh, Loe lupa ya sama peringatan gue kemaren?" bentak vivi sambil mendorong chika hingga jatuh.
"Kalian apa – apa an si?" Bentak Clara dan langsung membantu chika bangkit berdiri.
"Diem loe, Nggak usah ikut campur" Tasya balik membentak.
"Emangnya gue punya masalah apa si sama kalian?" tanya Chika sambil menatap Vivi lurus.
"Nggak usah belagu deh. kan kemaren gue udah bilang jangan deket – deket sama farel. Tapi loe masih nekat aja".
"Tapi gue kan nggak pernah ngedeketin farel" Bantah Chika.
"Eh denger ya, Farel itu pacar gue. Jadi loe jangan macem – macem".
"Pacar loe atau loe berharap dia jadi pacar loe" Tantang chika berani. Abis kesabarannya juga sudah mulai menghilang menghadapi orang yang sok berkuasa.
Mendegar itu tentu saja vivi merasa kaget sekali gus marah. Tangannya sudah terangkat untuk menampar chika yang kini berada terpat di hadpanya. Sementara chika yang tidak menyangka kalau vivi bakal semarah itu langsung menutup wajahnya.
Tapi, belum sempat tangan vivi mendarat di wajah Chika sebuah tangan yang lain sudah terlebih dahulu mencekalnya. Yang lebih mengagetkan ternyata tangan itu milik farel sehingga membuat mulut vivi yang terbuka untuk mengeluarkan sumpah serapah terpakasa hanya tertahan di kerongongan.
"Farel. Apa – apa an si. Lepasin. Sakit tau" rintih Vivi karena pergelangan tanganya di cekal dengan keras oleh farel.
"Elo yang apa – apa an" Bentak Farel. " Ngapain si loe pake ngancem Chika segala?" tambahnya.
"Gue cuma…" Vivi tidak jadi melanjutkan ucapannya karena ia juga bingung mau ngomong apa.
"Cuma apa?!". "Gue nggak mau lagi ngeliat loe berani ngancam chika . Ngerti?!".
Kali ini gantian vivi yang menatap tajam kearah wajah Farel.Sementara Chika dan Clara tetap terdiam. Begitu juga sahabat farel yang laen.
"Rel. Loe kok malah belain dia si?" Tina yang sedari tadi diam angkat bicara.
"Ini tu bukan masalah tentang siapa yang gue bela. Tapi ini tentang kebenaran. Dan kalau sampai gue tau kalian masih menganggu chika lagi, gue nggak akan segan – segan untuk melaporkannya kepada pihak sekolah" Ancam Farel yang mebuat Vivi dan para sahabatnya ciut.
"satu lagi. Gue bukan pacar loe dan nggak akan pernah jadi pacar loe. Ngerti!" Kata Farel sebelum menarik tangan Chika pergi meninggalkan Vivi yang masih shock. Sementara Clara dan yang lain hanya mengikuti di belakang.
"Loe nggak papa kan?" Tanya Farel kearah Chika yang sedari tadi masih terdiam.
"E, Eh. Nggak papa kok. N makasih ya" Sahut chika.
Sebenernya teman – teman farel masih merasa heran kenapa tumben sahabatnya peduli pada chika.
"Clara kita pergi yuk" Ajak Chika pada sahabatnya berapa saat kemudian.
"Tunggu. Kalian mau kemana?" tanya Alvin.
"Kita mau balik ke kelas aja. Ayo Clara".
Tanpa banyak bicara Chika segera meninggalkan Farel dan sahabatnya yang hanya bisa menatapnya dengan pandangan heran.
Cerpen Sahabat
Sepulang sekolah chika masih berdiri didepan pintu gerbang sekolahnya karena nino, kakaknya belum juga datang. padahal tadi pagi nino bilang akan langsung menjemputnya sepulang kuliah. tapi kok belum nongol juga.
Sambil menunggu kakaknya. Chika duduk di salah satu bangku kosong milik penjual gorengan yang biasa mankal didepan sekolahnya. Tiba – tiba hapenya bergetar. Setelah di angkat ternyata dari kakaknya. Chika jelas sebel banget, giman nggak nino menelponnya hanya untuk mengabarkan kalau ia bakal telat menjemputnya karena ada rapat di kampusnya. Jadi chika sepertinya harus menunggu sekitar satu jam lagi. Mana cuaca panas baget.
Saat chika sedang duduk menunggu, tiba – tiba didepannya ada seoarng cowok mengendarai motor dan mengenakan helm yang menutupi wajahnya berhenti tepat didepanya. Keningnya sedikit berkerut mendapati sosok tersebut ternyata lagi – lagi si farel.
"Farel?" kata chika heran.
"Kok loe masih di sini?" Tanya Farel sambil melepaskan helm di kepalanya.
"Lagi nungguin kakak gue. Tapi kok loe baru pulang?" chika masih heran karena bukannya tadi ia keluar kelas paling akhir karena ia harus membersikan kelasnya bareng beberapa temanya yang lain yang juga mendapat giliran piket hari senin.
"O gitu ya?. kalau gue emang belum pulang dari tadi. Soalnya tadi masih harus keruangan nya pak burhan. Biasalah tentang masalah pertandingan besok" Terang Farel. Chika hanya menganguk – angguk mendengarnya.
"Tapi ini kan udah siang. mana panas banget lagi" Farel kembali buka mulut setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Jadi menurut loe gue harus jalan kaki?. Gila, Bisa patah kaki gue. Dikira deket apa" Chika sewot.
"Kalau loe emang nggak keberatan. Kita pulang bareng yuk. Biar gue yang antar loe?" Tawar Farel kemudian.
"Bareng sama loe?. Ya pasti keberatan lah" Sahut chika spontan.
"Kenapa?" Tanya farel heran.
"Ya ampun rel. Gue udah cape kali di musuhin orang mulu. Apalagi kalau sampe ada anak yang ngeliat gue jalan bareng sama loe. Bisa makin ribet urusannya. Ogah gue pindah sekolah lagi".
Jawaban chika langsung mengingatkan Farel akan cerita niken beberapa saat yang lalu tentang kenapa chika pindah kesekolahnya.
"Gue minta maaf ya".
"Kok loe yang minta maaf. Emangnya loe punya salah apa sama gue?".
"Gimana pun juga gue ikut andil atas apa yang dilakukan vivi sama loe. Tapi kali ini gue jamin mereka nggak akan ganguin loe lagi".
"Oh ya?. kok loe bisa yakin gitu?".
"Ih loe bawel banget si?. Udah siang nie. Mana panas lagi, Mau nggak gue anter?. Lagian rumah kita kan searah" kata Farel kemabli kemasalah awal.
"Dari mana loe tau kalau rumah kita searah?" tanya chika heran. Perasaan ia nggak pernah bilang tentang di mana alamat rumahnya deh. Bahkan chika, Sahabatnya aja nggak tau.
"Dari niken".
"Niken?".
"Ia Niken. Jadi mau bareng nggak. Mumpung gue lagi baik nie" Kata Farel dengan nada bercanda.
Chika jadi merasa tidak engak kalau harus menolak nya, jadi mau tidak mau akhirnya dia nurut juga.
"Emangnya niken ada cerita apa aja tentang gue ke elo?" Tanya Chik.
"Banyak. Termasuk kenapa sampai elo pindah kesini" Balas Farel.
"Oh ya?. Ah Dasar Ember tu anak" Gumam Chika lirih.
Oke, Next to Cerpen Persahabatan sejati be the best of a rival part 6.

Random Posts

  • Cerpen Kasih Sayang: OH, BUNDA!

    OH, BUNDA!oleh: Alief MurobbyRintik-rintik hujan akhirnya mulai turun, membasahi kota Jogja. Mendung yang sedari tadi menggelayut, kini mulai memuntahkan isinya. Beberapa pengendara motor mulai menepikan kuda besi mereka untuk sekedar berteduh ataupun memakai jas hujan. Dinginnya air hujan rupanya tak mampu mendinginkan panasnya hati Ava. Tanpa memedulikan tangannya yang mulai kebas akibat sengatan hawa dingin dan bajunya yang basah kuyup, Ava terus menggeber Astrea Grand-nya menuju kearah barat daya, tepatnya menuju kearah alun-alun utara keraton. Ditebasnya jalanan dengan sangat lincah, tak peduli dengan orang-orang yang mengumpat saat terkena cipratan air dari motornya. Pikirannya sangat kalut. Lalu tanpa diinginkannya, Ava kembali mengingat peristiwa yang membuat hatinya sangat marah itu.***“ Bun, uang buat bayar kuliah semester ini mana?” tanya Ava pada ibunya yang sedang menghitung uang hasil penjualan nasi pecel yang dijualnya tiap fajar di stasiun Lempuyangan. Raut muka ibunya langsung berubah. Gelisah.“ Bunda cuma dapet segini, Le,” ucap Bunda seraya menyerahkan seluruh uang yang tadi dihitungnya. Ava agak kaget begitu menghitungnya kembali. Cuma dua ratus ribu lebih sedikit.“ Bunda ini gimana sih? Kan aku udah minta sejak seminggu yang lalu, masak cuma segini? Kalau cuma segini, jelas nggak akan cukup.” Nada suara Ava mulai meninggi. Warna wajahnya pun mulai memerah, pertanda emosinya mulai tersulut. Bunda tahu persis hal itu. Insting seorang ibu, mungkin.“ Tapi Bunda hanya punya uang segini, Le. Nanti kalau dagangan Bunda laris, uangnya buat kamu semua. Bu Nugroho, tetangga kita yang kaya itu, juga bersedia meminjami ibumu ini uang. Ndak usah kuatir,” ucap Bunda dengan logat khas Jogja, sembari mengelus kepala anak laki-lakinya itu, berusaha meredam emosinya. Dengan kasar, Ava menyentakkan tangan ibunya, lalu berteriak marah.“ Bunda yang cuma tamat SMP tau apa?! Kalo besok aku nggak bayar biaya kuliah semester ini, aku bisa di-DO tau!” bentak Ava keras. Saking kerasnya, Nina adiknya, sampai keluar dari kamarnya.“ Kakak apa-apaan sih?” tanya Nina.Ava menjawabnya dengan ketus,” Diem kamu, anak kecil!”“ Kakak tuh yang diem!” Emosi Nina ikut tersulut. “ Bicara sama orangtua tuh yang sopan. Malah dibentak-bentak. Dasar durhaka!”Plak! Sebuah tamparan melayang ke pipi Nina.“ Jaga mulutmu!” teriak Ava.“ Kakak tuh yang jaga mulut!” Nina langsung membalas sambil memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparan Ava. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sang Bunda langsung memeluk anak perempuannya. Dia juga mulai menangis.“ Udah, udah. Jangan berantem,” kata Bunda lirih. Ava langsung beranjak pergi meninggalkan kedua perempuan itu. Sang Bunda hanya berucap pelan, berulang-ulang.“ Astaghfirullah.”Tak terasa, Ava telah sampai di alun-alun utara. Suasana sore itu tak terlalu ramai, hanya ada beberapa lapak pedagang yang buka. Ava memilih duduk di salah satu bangku yang kosong, tepat dibawah pohon mahoni untuk mengeringkan pakaiannya yang basah dan menghilangkan sisa-sisa kejengkelan yang masih mengndap di dasar hatinya. Beberapa pengamen jalanan memainkan alat musik mereka. Ada gitar, harmonika, kendang, dan biola. Sederhana namun tetap nikmat untuk didengar. Tiba-tiba seorang violin jalanan duduk disampingnya. Kulitnya hitam, tapi raut wajahnya jenaka.“ Mau request lagu, Mas? Cuma seribu per lagu,” tawar si violin. Ava merogoh sakunya dan menemukan uang dua ribu rupiah. Disodorkannya uang itu pada si violin.“ Maen lagu apa aja, yang penting enak di telinga. Kembaliannya ambil aja.”Si violin langsung bersiap mengambil nada awal. Saat biola mulai digesek, Ava kaget. Dia tahu persis lagu itu. Tak disangka, violin itu memainkan lagu bunda karya Melly Goeslaw. Tanpa sadar, Ava ikut bernyanyi mengiringi alunan lagu.Kata mereka diriku slalu dimanjaKata mereka diriku slalu ditimangAir mata Ava keluar tanpa mampu ditahannya. Ia terus menangis hingga si violin selesai membawakan lagunya.“ Kenapa, Mas? Terharu, ya? Lha wong keturunan Mozart, je! Hehehe,” canda si violin.“ Mas sih enak masih punya motor,” lanjutnya. “ Punya rumah, punya keluarga. Pasti enak. Nggak kayak saya. Hidup pindah-pindah. Rumah nggak punya. Orangtua nggak tau dimana.”Violin itu terdiam sejenak. “ Tapi walaupun gitu, saya tetap bersyukur kok. Syukur masih bisa makan. Syukur masih bisa maen biola. Syukur masih bisa hidup.”Perkataan pengamen itu membuat Ava tersadar. Apa yang telah kulakukakan? batin Ava. Padahal Bunda telah bersusah payah menghidupiku, tapi aku malah membentaknya. Aku bahkan tega menampar adikku sendiri! Dasar bodoh! Ava merutuki kebodohannya. Dia menyesal, sangat menyesal telah mengasari ibunya dan menampar adik satu-satunya.Violin itu berkata lagi,” Saya pernah didawuhi seorang Kyai. Beliau berkata,’ Untuk urusan dunia, jangan lihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah dari kita, supaya kita bersyukur sudah diberi nikmat lebih daripada orang lain.’ Gitu, Mas. Lho, lho, Mas. Mau kemana? Pulang?” tanyanya begitu melihat Ava bergegas menyalakan motornya. Ava ingin segera pulang ke rumah. Ke pelukan bunda.Si violin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan. “ Apa aku salah bicara, ya?”Saat Ava telah sampai dirumahnya yang berada di kawasan Danurejan, dilihatnya sang Bunda sedang duduk di beranda. Nina duduk disamping ibunya dengan muka ketus. Begitu melihat ank laki-lakinya pulang, wanita itu segera beranjak mendekatinya. Senyum terpatri di wajah keibuannya.“ Alhamdulillah Le, kamu sudah pulang. Udah Bunda bilang, soal biaya kuliah, kamu nggak usah kuatir.” Sambil bicara, Bunda merogoh kantong bajunya lalu menarik sebuah kalung emas. Bunda tersenyum lagi.“ Nanti kalung ini akan Bunda gadaikan. Uangnya buat kamu semua.”Mendengarnya, Ava semakin merasa dirinya adalah anak yang sangat durhaka. Kalung itu adalah mas kawin yang diberikan ayahnya saat menikahi ibunya dulu. Kalung yang sangat disayangi ibunya. Ia sering melihat ibunya menangis sambil memeluk kalung itu, mungkin karena teringat pada ayah yang telah lama meninggal.“ Bunda, pokoknya jangan pernah menjual kalung ini. Soal biaya kuliah, biar nanti Ava cari sendiri.” Ava berkata sambil menahan air matanya. Bunda menatapnya dengan bingung.“ Lho kok…” Tanpa memberi kesempatan pada Bunda untuk bertanya, Ava memeluknya dengan sangat erat.“ Maafin Ava, Bunda,” ucap Ava lirih, lalu ia menangis dalam pelukan ibunya. Bunda hanya tersenyum kecil, lalu berujar sambil mengelus kepala Ava.“ Ndak papa, ndak papa. Kamu ndak pernah punya salah sama Bunda. Yang penting, minta maaf dulu sama adekmu. Tadi dia nangis terus.” Ava melepaskan diri dari sang bunda, lalu berjalan menuju Nina yang terus menatapnya. Ava berlutut di depan adiknya.“ Maafin kakak, ya?” Nina memandang kedua bola mata Ava dengan lekat, lalu tersenyum.“ Apologies accepted,” jawab Nina, memaafkan kakaknya. Ava lalu meraih Nina ke dalam pelukannya. Sang Bunda lalu memeluk kedua anaknya dengan sayang. Saat itu Ava bersumpah, dia takkan pernah lagi membiarkan ibu dan adiknya menangis. Dia akan membahagiakan mereka, apapun yang terjadi. Tak ada yang dapat menghentikannya. Tak ada!*****

  • Cerpen Cinta: DIRIMU ABADI

    Dirimu AbadiOleh : Asmi Tiovi Lasmatia Syariani“Diri ini tak pernah bisa mengerti mengapa harus begini jalannya. Saat waktu tak lagi jadi penghalang, saat restu bukanlah rintangan, tapi 1 hal yang tidak pernah terpikir akan terjadi. Tapi tenanglah, tak akan ada yang bisa menghapusmu…!!!”“Cheese!” *jepretAdinda Karenia & Indra Mahardika! Ku sisipkan nama kami berdua di foto itu beserta latar yang kupilih berwarna biru muda karena aku sangat menyukai warna itu. Sungguh lucu gaya yang kami tampilkan saat berfoto di photobox tadi. Setelah selesai, kami membayar dan melanjutkan perjalanan kami di salah satu mall ternama di kotaku. Kuamati foto itu sebentar lalu ku berikan satu untuknya dan satu untuk ku simpan di dalam dompetku.Setiap weekend aku dan Indra selalu menyempatkan jalan bersama untuk sekedar nonton atau cuma muter-muter gak jelas di dalam mall, karena kalo bukan weekend kami cuma ketemuan atau ngobrol di rumah aja. Yaa paling tidak untuk melepas stress dan mempererat hubungan kami. Aku dan Indra sudah dua tahun pacaran. Bisa dibilang jalan 3 tahun. Kami berpacaran sejak kelas 1 dan sekarang kami sudah kelas 3 SMA.“Bem, makan yuk!” ajaknya.“Yuk, aku juga udah lapar nih ko,” balasku.Indra selalu manggil aku Bem alias tembem dari awal kenal. Mungkin karena pipi aku yang memang chubby kayak bakpow, dan sampai sekarang itu jadi panggilan kesayangan dia buat aku. Aku juga punya pangilan kesayangan buat dia yaitu koko karena mata di yang hampir gak keliatan kalo lagi senyum alias sipit karena emang ada keturunan tionghoa dari papahnya.Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pulang karena emang udah malam dan capek juga seharian muter-muter mulu. Sampai di depan rumah aku, Indra nganterin aku sampai ketemu kedua ortu aku. Katanya gak baik kalo cuma nganter cewek mpe depan pagar trus gak dibalikin lagi sama kedua orang tuanya. Kebetuan papah sama mamah aku lagi ngobrol di teras depan.“Om, Tante. Dindanya saya balikin dengan selamat Om, maaf lama pulangnya,” sapa Indra sambil sedikit bercanda gurau dengan kedua orang tuaku.“Haha, gak apa-apa. Asal anak Om masih tidak kurang suatu apapun, Om masih ijinkan kamu berhubungan dengan Dinda. Gak masuk dulu nak Indra?”“Oh, makasih Om. Kayaknya sudah malam dan Dinda juga perlu istirahat. Saya Cuma antar pulang aja. Kalau begitu saya pamit pulang Om, Tante.”“Iya, hati-hati Indra,”sahut mamaku.“Bem, aku pulang ya,” pamitnya padaku sebelum pulang dan mengelus kepalaku.“Iya, hati-hati ko!” sahutku.Setelah ku lihat mobil Indra menghilang di ujung jalan, akupun masuk ke dalam rumah. Kedua orang tuaku masih mengobrol di teras depan. Karena gak ada kerjaan lagi aku masuk ke dalam kamar. Menjadi anak tunggal membuatku sepi berada di rumah, apalagi saat kedua orang tuaku sedang dinas di luar kota. Hanya Indra dan beberapa temanku yang datang ke rumah dan menemaniku lewat SMS. Karena kecapean, akupun terlelap tidur.***Pagi ini hari begitu cerah, menambah semangatku untuk bertemu teman-temanku dan juga koko pastinya. Ku samberi kelasnya, tapi tidak ku temui Indra di sana.“Din, nyari Indra ya? Tuh lagi di lapangan.” Sahut salah satu teman sekelas Indra padaku.“Oh, makasih ya.”Akupun menyusuri koridor sekolah menuju lapangan basket. Indra memang salah satu pemain di tim basket sekolahku. Mungkin boleh di bilang bukan cuma jadi pemain, tapi dia juga kapten basket di timnya. Tidak heran ia jadi cukup terkenal di sekolah dan di gandrungi banyak fans cewek.Baru saja aku sampai di sekitar lapangan, riuh suara cewek-cewek sudah terdengar memanggil nama Indra.“Indra, Indra, Indraaa…”Aku sudah terbiasa mendengarnya. Bahkan selama dua tahun ini menjadi hal yang selalu ku dengar saat menonton Indra tanding basket. Kalo dibilang cemburu, awal-awalnya sih iya. Tapi ke sini-sini udah kebiasa. Yaah… udah jadi angin lalu lah istilahnya. Emang harus berani nerima resiko kayak gini kalo jadi pacar orang yang diidolain banyak cewek. Selama Indra gak macem-macem di belakang gue, all it’s fine!“Eh Din, udah dateng loe?” sapa Dela, sahabat ku yang paling ku sayangi.“Iya, baru aja. Udah lama ya Indra latihan?” tanyaku.“Hmm, lumayan sih. Bentar lagi juga paling selesai. Emang loe tadi berangkat gak bareng Indra?”“Emm, kebetulan enggak. Gue tadi nemenin nyokap dulu ngambil pesanan kue, besok kan ultah gue. Eh nanti temenin gue nyebarin undangan ya ke temen-temen yang lain!”“Sip deeh… eh, tu Indra udah selese latihan!” ujar Dela sambil menunjuk pemain-pemain basket yang duduk beristirahat di sisi lain lapangan.“Oh, gue ke sana dulu ya Del, mau nyamperin Indra.”“Oke! Gue tunggu di kelas ya!”Kusamperin Indra dan memberikannya sebotol air mineral dan handuk kecil.“Makasih Bem! Eh, udah belum nyebarin undangan buat besok?”“Belum Ko, ntar aja pas istirahat bareng Dela. Kamu mau ikut?” tanyaku.“Istirahat ya? Aduh maaf, aku ada ulangan susulan sama Pak Fandy ngambil jam istirahat. Maaf ya Bem gak bisa nemenin,” jawabnya dengan wajah beersalah.“Iya, gak apa-apa kok. Ganti baju dulu sana, udah basah gitu. Nanti gak konsen lagi belajarnya.”“Iya, iya Bem. Kamu ke kelas gih, nanti Pak Bagus keburu masuk, kamu gak dibolehin masuk kelas lagi.”“Oh iya! Duluan ya Ko. Sukses nanti ulangannya, oke! Dadaah..”Setelah melewati pelajaran Matematika Pak Bagus yang super killer itu, bel istirahat berbunyi. Aku dan Dela segera berkeliling mendatangi setiap kelas yang akan kubagikan undangan ulang tahunku.Jam sekolahpun selesai. Aku menunggu Indra mengambil mobilnya di gerbang sekolah. Aku berencana pulang bersama Indra. Di dalam mobil aku dan Indra berbincang-bincang masalah persiapan ulang tahunku besok.“Bem, kue udah di ambil?” tanyanya.“Udah Ko tadi sama mama. Tinggal dekor aja besok,”jawabku.“Oh, bagus deh. Jadi nanti gak gelabakan. Bem, mau minta hadiah apa dari aku?”“Iiih, gak so sweet banget sih, masa hadiah aku yang request. Gak surprise lagi kan jadinya,” balasku dengan wajah cemberut.“Hehee, iya Bem. Aku bercanda kok. Besok tunggu aja hadiah dari aku, oke! Jangan gitu dong mukanya, kaya bebek tau, hahaa..” “Gak lucu tau Ko!”“Yee, bisa juga ya ngambek ternyata. Entar kita cari ice cream deh. Ya, ya?”Yang namanya Adinda pasti luluh kalo udah ditawarin ice cream. Gak jadi deh adegan ngambeknya. Habis nyari ice cream, Indra ngantar aku pulang. Kebetulan papa sama mama masih di kantor jadi Indra nganter aku sampai depan pagar aja.Habis ganti baju, sholat trus makan, aku kembali ke kamarku dan menghidupkan laptopku. Aku menyelesaikan beberapa tugas sekolahku yang belum rampung sambil membalas pesan singkat dari Indra. Tiba-tiba pikiranku melayang membayangkan kado apa yang bakal Indra kasih buat aku. Dulu ulang tahun aku yang ke-15 dia kasih boneka loli and stich yang super gede. Ulang tahun yang ke-16 dia ngasih album yang isinya foto-foto aku semua yang dia potret tanpa sadar. Aku lagi makan di kantin lah, duduk di taman, lagi jogging, pokoknya dia foto aku tanpa aku sadari. Dan kali ini untuk sweet seventeen dia ngasih apa ya?Lamunanku buyar mendengar suara mama dari bawah yang menyuruhku mandi. Udah berapa jam ya aku ngelamun? Ku lihat jam menunjukkan jam 6 sore. Pasti mama dan papa baru pulang kantor. Setelah mandi dan berpakaian, akupun turun dan menuju meja makan. Ku lihat mama dan papa sudah siap di meja makan.“Din, undangan kamu buat besok udah dibagiin?” tanya mama padaku.“Udah Ma, tenang aja…” jawabku meyakinkan mama.“Oh, iya jangan lupa undang mama papanya Indra juga ya Din! Trus pulang sekolah besok kamu harus langsung pulang, bantuin Mama nyiapin semuanya,” tambah papa.“Oke Pa,” balasku.***Keesokan harinya, sepulang sekolah aku ke rumah Indra untuk mengundang kedua orang tuanya untuk turut hadir di pesta ulang tahunku. Aku pulang sendiri karena Indra ada jadwal latihan basket yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi dia berjanji akan datang di acaraku tepat waktu. Setelah ngobrol beberapa waktu dengan kedua orang tua Indra aku pamitan pulang karena masih harus membantu Mama menyiapkan segala keperluan di rumah.Waktu menunjukkan hampir jam 7 malam. Ku lirik keadaan diruang tengah dari pintu kamarku, banyak yang sudah datang. Lega hatiku ketika diantara tamu yang datang ada Indra bersama mama dan papanya. Lalu mama menggilku untuk turun. Akupun menuruni tangga. Serasa jadi putri semalam, apalagi aku memakai long dress berwarna putih.Acara tiup lilin Mama menyuruhku meniup lilin bersama Indra. Kamipun make a wish bersama lalu meniup lilin. Potongan kue pertama ku berikan kepada Mama dan Papaku. Yang kedua tentu kuberikan kepada Indra. Yang ketiga ku berikan kepada kedua orang tua Indra lalu kepada Dela.“Sweet seventeen ya Dindaa,” peluk Dela lalu memberikan kado padaku.“Makasih ya Del,” senyumku terharu.Ku lihat seluruh teman-temanku sedang mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Mama dan Papa Indra juga sedang asik berbincang dengan kedua orangtuaku. Lalu Indra menghampiriku.“Bem, selamat ulang tahun ya. Ucapannya semua udah aku ucapin panjang lebar kan di telpon malam tadi. Naah, sekarang giliran kadonya,” Indra mengulurkan tangannya yang memegang sebuah amplop. Kuambil amplop itu dengan perasaan bingung akan isinya.“Iya, makasih yaa Ko. Tapi ini apa? Aku buka ya?” tanyaku masih dengan perasaan bingung.“Eeh tunggu, tunggu! Bukanya nanti aja,” cegahnya.“Loh, kenapa? Masa masih harus nunggu lagi!” jawabku dengan nada kecewa.“Pokoknya bukanya nanti aja ya. Pas kita lulusan, oke!” bujuknya.“Hmm, iyadeh.”Malam sweet seventeenku berjalan dengan lancar. Aku mendapatkan banyak sekali kado dari teman-temanku. Tapi perasaan kecewa, bingung dan penasaran masih menyelimuti pikiranku. Apa sebenarnya isi amplop yang diberikan Indra? Ingin sekali rasanya ku buka. Tapi… lebih baik jangan! Aku sudah berjanji untuk membukanya saat lulusan. Hmm, gak apa-apalah, lagian cuma 3 bulan lagi.***Hari berganti hari. Gak kerasa masa-masaku dibangku SMA akan segera berakhir. Les tambahan setiap harinya untuk kelas 3 sedang kami alami. Soal-soal latihan untuk persiapan UN kami latih sesuai jurusan masing-masing. Kegiatan sekolahpun mulai dikurangi. Tapi masih ada 1 pertandingan basket antar pelajar yang harus Indra ikuti. Untuk itulah jadwalnya kurang bisa di atur. Sering kecapen pulang les langsung latihan dan malamnya langsung tidur. Komunikasi kami jadi jarang. Tapi tak apalah, aku mengerti kondisinya. Lagipula aku juga masih bertemu dengan Indra di sekolah dan mensupportnya setiap latihan.Sore itu aku menonton Indra tanding. Pertandingan persahabatan antar SMA yang akan bertanding di kejuaraan kabupaten. Aku duduk di kursi penonton, sama seperti yang lainnya. Pertandingan mendekati menit-menit akhir. Skor tim Indra ketinggalan 1 point, dan tembakan Indra inilah menjadi penentunya. Indra pun me-shoot dan ternyata bola itu tidak masuk ke ring. Bel akhir pertandingan berbunyi dan pertandingan dimenangkan oleh sekolah lain.Ku lihat semua teman-teman Indra kecewa. Ku hampiri mereka. Lalu terjadi adu mulut antara Indra dan Raka, salah satu pemain basket dan juga teman dekat Indra.“Dra, apa-apaan sih cara main loe? Yang serius dong. Kita udah mau kejuaraan nih. Masa bola gitu aja loe gak bisa masukin! Udah berapa lama loe main basket, hah? Kenapa jadi cupu gitu mainnya tadi? Gimana kejuaraan mau menang kalo shooting gitu aja loe gak bisa. Percuma loe jadi kapten!” sahut Raka dengan emosi.Indra hanya bisa terdiam. Akupun tak bisa berkata apa-apa. Aku juga tidak mau ikut campur terlalu dalam, karena jika ku angkat bicara sekarang pasti suasana akan lebih rumit. Ditambah lagi emosi mereka yang masih kurang stabil. Raka dan yang lainnya pun meninggalkan Indra yang masih terduduk lemas menyesali kesalahannya.“Ko, kamu gak apa-apa kan?” tanyaku.“Gak apa-apa kok. Yuk kita pulang,” Indra berdiri, tersenyum padaku dan menggenggam tanganku menuju mobilnya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Indrapun mengantarku pulang.“Ko, kamu beneran gaka apa-apa? Kamu ada masalah? Kalo ada cerita aja sama aku,” aku mengajaknya berbicara di dalam mobil.“Aku gak ada masalah apa-apa,” lagi-lagi ia tersenyum padaku.“Loh, kita mau kemana Ko?”“Ngantar kamu pulang lah, mau kemana lagi emangnya?”“Tapi jalan pulang ke rumahku kan belokan yang tadi Ko, kok kita lurus?”“Astaga! Maafin aku, mungkin aku ngelamun.”“Kamu beneran gak ada masalah apa-apa Ko? Tadi Pak Fandy ngomong sama aku kalau tugas kamu dan nilai-nilai ulangan kamu belakangan ini turun drastis. Kamu kan paling seneng sama pelajaran Bahasa Inggrisnya Pak Fandi, dan selalu topscore. Kalau ada masalah cerita deh sama aku,” bujukku lagi padanya.“Percaya deh sama aku, aku bener-bener gak ada masalah apa-apa Din,” jawabnya.Aku kaget. Untuk pertama kalinya ia memanggil namaku saat kami berbicara. Aku semakin bingung. Nilai-nilainya yang anjlok. Kemampuan basketnya yang menurun. Dan sekarang…. aku terdiam. Aku tidak bertanya apapun lagi kepada Indra. Aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri. Saat sampai di depan rumahku, ia membukakan pintu mobilnya untukku lalu berpamitan pulang. Dia tidak mengantarku sampai bertemu orang tuaku?Setelah kuucapkan untuk segera pulang dan menyuruhnya beristirahat, ia melaju dengan mobilnya. Kumasuki rumahku dan membaringkan tubuhku. Beberapa saat terdiam, aku berpikir ingin menelpon Mama Indra untuk menanyakan apakah Indra mempunyai masalah yang tidak diceritakannya padaku. Kutekan nomor teleponnya dan sebuah suara di sana menyambut panggilanku.“Halo, ini Dinda ya? Ada apa Dinda?” tanya Mama Indra.“Begini Tante, maaf mengganggu malam-malam begini. Saya mau bertanya sesuatu tentang Indra. Apa Indra punya masalah Tante?”“Masalah? Setahu Tante gak ada Din. Kenapa kamu gak tanya sama Indranya sendiri? Kamu kan lagi sama Indra.”“Loh? Dinda udah dari tadi di antar Indra pulang Tante, memangnya Indra belum sampai rumah Te?” tanyaku cemas.“Masa? Belum Din, dia belum sampai rumah. Coba Tante hubungin dia dulu. Nanti Tante beritahu kamu kalau Indra udah pulang atau kalau memang Indra ada masalah.”“Baik Tante,” jawabku mengakhiri pembicaraan.Indra belum pulang? Kemana lagi dia? Bukannya tadi aku suruh dia langsung pulang. SMS ku juga gak dia balas. Ada apa sebenarnya dengan kamu Indra?***Keesokan harinya, aku mencari keberadaan Indra di sekolah. Ku cari di kelasnya, kata teman-temannya dia belum datang. Ku lihat di lapangan basket cuma ada Raka dan teman-teman se-timnya Indra yang sedang latihan. Ku telpon nomornya, gak aktif. Ku SMS juga gak di balas. Bahkan nomor Mamanya Indra juga ikut-ikutan gak aktif.Sepulang sekolah aku mengajak Dela menemaniku ke rumah Indra. Tapi sesampainya di rumah Indra, rumah itu kosong. Ku panggil beberapa kali tidak ada sahutan. Kemana mereka semua? Kenapa kayak ditelan bumi gini?“Din, kita pulang aja yuk. Pasti pikiran kamu lagi gak karuan sekarang.”“Tapi Del, Indra gak ada. Orang tuanya gak ada. Semuanya gak ada Del, gak ada!” tangisku tak tertahan lagi, dan Dela merangkulku, membawaku pulang kerumah.Seminggu sudah tak ada kabar tentang Indra begitu juga tentang kedua orangtuanya. Ku tanya Raka dan semua teman-teman yang mungkin mengetahui keberadaan Indra tapi hasilnya nihil. Mereka juga mencari keberadaan Indra untuk menghadapi kejuaraan. Kedua orangtuaku pun mulai menanyakan tentang Indra yang tidak pernah ke rumah lagi dan tidak pernah mengajakku jalan lagi. Aku hanya bisa menjawab kesibukan kami menjelang UN dan jadwal basket Indra yang padat membuat kami terpaksa jarang bersama. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin bilang kalau Indra dan keluarganya hilang entah kemana.Siang itu, saat aku sedang menangis memeluk boneka lilo and stich pemberian Indra, handphoneku berbunyi. Ku lihat nama yang tertera di Hp-ku, ‘Tante Dara’. Itu, itu Mama Indra!“Halo, halo Tante! Tante dimana? Indra dimana sekarang?” tanyaku langsung masih dengan isakan tangis.“Dinda, kamu bisa tenang dulu. Kamu bisa ke rumah Tante sekarang Din?”“Bisa, bisa Tante,” jawabku cepat.“Tapi kamu datang sendiri aja ya Din. Tante tunggu!”Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kunci mobil dan bergegas ke rumah Indra. Setelah 1 minggu tidak ada kabar sama sekali tiba-tiba Tante Dara meneleponku tanpa penjelasan apapun. Dan setelah sampai di rumah Indra akupun sudah tidak dapat menahan rasa khawatirku.“Tante, Indra mana Tante? Tante dan Indra kemana aja selama ini?” tanyaku.“Ayo kita ke kamar Indra, Din. Nanti kamu akan tahu,” jawab Tante Dara.Sesampainya di pintu kamar Indra, Tante Dara menyuruhku masuk. Entah mengapa aku merasa tidak siap saat itu. Tapi Tante Dara menatapku, memberiku keberanian untuk masuk. Kubuka pintu kamar Indra, kulihat dia sedang duduk di sudut kamar sedang memegang sebuah kertas yang tidak terlihat olehku dari sini.“Ko, ini aku Dinda,” kataku pelan.“Dinda? Dinda, jangan ke sini, pergi! Jangan mendekat! Pergi! Pergi!,”“Tapi Ko, ini aku. Aku pengen ketemu kamu.”“Pergi!Pergi!” teriaknya.Aku tak dapat menahan air mata yang mulai membasahi pipiku. Apa yang terjadi dengan Indra? Segera aku keluar dari kamarnya. Di luar Tante Dara melihatku dan menghampiriku.“Dinda, apa kamu sudah bicara dengan Indra?”“Tante, sebenarnya apa yang terjadi dengan Indra? Kenapa dia jadi kayak gitu? Tante, tolong jelasin sama Dinda, selama ini Tante sama Indra kemana? Kenapa Indra jadi gitu?” tangisku melebur jadi satu dengan semua pertanyaanku.“Din, Indra menderita penyakit alzeimer. Penyakit yang lama kelamaan akan menghapus ingatan si penderita. Maafkan Tante Din, tidak memberi kabar padamu. Ini permintaan Indra. Malam itu setelah mengantar kamu pulang, Indra tersesat mencari jalan pulang. Untung handphonenya aktif dan dia bilang di ada di depan sekolah SD nya dulu, Tante dan Om pun menyusulnya ke sana. Dia bahkan tidak ingat telah mengantarmu pulang. Saat sampai di rumah, dia bahkan lupa di mana kamarnya. Penyakit itu memang akan menghapus ingatan-ingatan terbaru dahulu. Untuk sesaat ia bisa mengingat tapi perlahan-lahan ia lupa banyak hal. Ia lupa untuk berangkat sekolah besok harinya, ia lupa untuk makan. Tante memberitahunya satu-persatu agar dia ingat. Tapi itu bertahan sementara. Ia semakin frustasi mengetahui dirinya semakin bodoh akan banyak hal. Tapi yang dia minta saat itu sama Tante, “Ma, jangan bilang Dinda kalau Indra seperti ini. Sembuhin Indra Ma, Indra gak mau kelihatan kayak gini di depan Dinda!’. Yang masih dia ingat jelas cuma kamu Dinda, cuma kamu! Akhirnya Om dan Tante pergi untuk mengobatinya. ”Air mataku semakin tak terhenti.“Lalu bagaimana keadaan Indra sekarang Tante?”“Ia sulit untuk disembuhkan. Ia memang sangat ingin sembuh untuk kamu. Tapi ia selalu memberontak saat di terapi. Ia selalu tidak karuan. Tante tidak tahan melihatnya seperti itu, akhirnya Om dan Tante memutuskan untuk membawanya pulang saja. Dan lihat sekarang ia tenang seperti itu di kamar. Tapi entah mengapa dia berteriak saat bertemu kamu. Tante kira dia sangat ingin bertemu kamu.”Alzeimer? Kenapa penyakit itu harus datang kepada Indra? Kenapa harus Indra?Tante Dara menyuruhku pulang untuk menenangkan diri dulu. Melihat aku pulang dengan kedua mataku sembab dan tubuhku yang lemas, Papa dan Mama pun bertanya padaku. Aku menceritakan semuanya. Semua tentang hilangnya Indra dan keluarganya. Dan sekarang telah kembali dengan keadaan seperti ini. Kedua orang tuaku menenangkanku dan memberitahukanku bahwa semua akan baik-baik saja.***Aku, Papa dan Mama berlari menyusuri koridor Rumah Sakit. Setelah mendapat telepon dari Tante Dara kalau Indra sedang kritis di Rumah Sakit. Apa karena penyakit Alzeimernya itu?“Tante, Indra kenapa?”“Tadi pagi, Tante dan Om mencarinya di kamar tapi tidak ada. Saat Tante lihat di kamar mandinya, dia sudah tergeletak penuh darah di kepalanya Din. Dia membenturkan kepalanya ke cermin,” jelas Tante Dara sambil memelukku.“La.. lalu sekarang In.. Indra gimana Tante?”“Dia sedang di UGD Din, Tante gak tau dia gimana sekarang Din. Tapi tadi saat membawa Indra ke Rumah Sakit, ia menggenggam buku ini,” Tante Dara memberikan sebuah buku yang sedikit basah dan bernoda darah.“Tante tidak tau buku apa itu. Tapi tadi suster mengambil buku itu sesaat sebelum Indra dimasukkan UGDdan di berikan kepada Tante.”Aku duduk di kursi di depan ruang UGD. Ku buka halaman pertama buku itu. Tertempel fotoku yang sedang memakai pakaian MOS dengan banyak pita warna warni di kepalaku. Sejak saat itukah Indra memotretku diam-diam? Ada tulisan di bawahnya. ‘Gadis Lucu yang Pertama Kali Ku Potret’. Ku buka lagi halaman demi halaman. “8 Oktober 2009 ‘I Get Her Heart’. Itu tanggal kami jadian! Ku buka lagi halaman-halaman berikutnya. Ada fotonya dengan boneka stich yang diberikannya untuk hadiah ulang tahunku ke-16, “aku sempetin foto sama boneka yang bakal aku kasih ke Mbem, Happy Birthday sayaang.. 08.03.2010”.Air mataku menetes, namun kulanjutkan membaca buku itu. Ku buka halaman demi halaman.“08.03.2012, sweet seventeen Bem. Aku ngasih dia hadiah yang dia mau selama ini. Kami akan pergi ke Bangkok setelah lulusan. Aku udah beli’in 2 tiket buat kami. Oh iya, dia cantik banget malam ini!”.Jadi Indra telah menyiapkan hal istimewa itu buatku? Ku buka lagi lembaran-lembaran terakhir buku itu. Kubaca betul-betul apa yang tertulis di sana.“12.04.2012, Mama bilang itu tanggal hari ini. Mama juga bilang kalau kemaren aku lupa jalan pulang bahkan lupa mengantar Dinda. Itulah mengapa alasan kami ada disini. Kedua orang tuaku bilang, kami lagi di Singapura. Barusan mereka bilang kalau aku terkena penyakit Alzeimer. Entah penyakit apa itu. Tadi mereka telah menjelaskannya padaku, tapi aku tidak ingat apa yang mereka katakan. Aku sangat kangen dengan Dinda. Aku ingin pulang, entah dimana itu yang pasti disana ada Dinda. Aku bingung sedang apa aku di tempat ini”.“Kata kedua orang tuaku, kami sudah pulang ke rumah. Tadi Dinda datang, tapi aku takut melihatnya. Aku takut tak mengenalinya. Aku selalu menggenggam foto kami yang entah di ambil di mana saat itu”.“Aku tadi meminta Mama mengajariku cara membaca lagi, juga cara menulis lagi. Ku lihat tulisanku yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Mengapa aku sampai lupa dengan segala hal itu?”“Tadi aku mendengar kedua orang tuaku membicarakan penyakitku. Ternyata aku lama-lama akan melupakan apa yang pernah terjadi di hidupku. Aku memutuskan untuk mengambil jalan ini. Maafkan aku Dinda karena sampai saat ini aku belum berani bertemu denganmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, hanya kamu yang masih bisa ku ingat jelas sampai saat ini. Aku terlalu lelah untuk belajar membaca dan menulis lagi. Tapi aku tidak perlu belajar untuk mmengingatmu. Aku hanya memikirkanmu. Aku hanya mengingatmu. Aku tidak ingin melupakanmu, dan pasti tidak! Aku berusaha keras untuk kembali seperti dulu untukmu. Aku takut ingatanku hilang lagi. Sebelum aku melupakannya, aku ingin mengatakan semuanya padamu. Aku mencintaimu. Sekali lagi maafkan aku. aku bersyukur kepada Tuhan karena aku tak harus bersusah payah mengingatmu, karena kau adalah bagian dari hidupku. Aku tidak ingin hidup jika harus melupakanmu. Aku berharap Tuhan mengambil nyawaku setelah aku melakukan hal ini. Aku ingin pergi di saat aku masih bisa mengingatmu. Dan kau akan menjadi yang abadi di ingatanku…”***“Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi nyawa Indra tidak bisa di selamatkan…” jawab dokter yang keluar dari ruang UGD tempat dimana Indra berada. Buku Indra terjatuh dari tanganku, dan tiba-tiba semua menjadi gelap di penglihatanku…………..

  • Kenalkan Aku pada Cinta 05 ~ Cerpen terbaru

    Ada yang menunggu lanjutan cerpen Kenalkan aku pada cinta?, nah, kali ini lanjutannya muncul nih. Oh ya, buat reader semua, buat yang ikutan baca sekalian donk. Tinggalin kritik sama sarannya. Supaya kedepannya tulisan aku bisa lebih baik lagi. ^_^And akhir kata, Happy reading All!!!!!….Kenalkan Aku Pada CintaSelama ini Astri tidak pernah tau, kalau menghabiskan waktu bersama Kak Andre ternyata bisa menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan. Berbeda dengan saat ia sedang berjalan bersama kakaknya yang sering menjahilinya. Ataupun jalan bareng Alya yang taunya hanya berbelanja.sebagian

  • Cerpen Teenlit “Dia {Nggak} Suka Aku?!! 2/2

    Sesuai yang di janjikan, Cerpen remaja "Dia {Nggak} suka aku" ending di bagain kedua aja. Karena emang cerpen yang satu ini cerpen selingan yang admin ketik pas lagi bingung nyari ide soal lanjutan dari cerpen cinta kenalkan aku pada cinta. Padahal ide ending udah ada, cuma ngerangkainya itu lho. Susaaaaah bangets. Ciuuuusssss..Nah, biar nggak cuap cuap nya nggak makin ngelantur mending langsung baca lanjutan di bawah aja deh. And untuk part sebelumnya bisa dicek disini.Cerpen Teenlit Dia {Nggak} Suka AkuCerpen remaja Cinta "Dia {Ngggak} suka aku?!!Tiada yang menduga, Fadlan yang sedari tadi melangkah tiba – tiba berhenti mendadak dan langsung berbalik. Rika yang tidak siap dengan kemungkinan itu langsung mengerem kakinya segera. Hingga kini hanya berjarak kurang dari dua centi, wajah Fadlan jelas berada tepat di hadapnnya. Membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sebelum kemudian berdenyut dua kali lebih cepat dari biasanya. Akh, situasi ini….“Iya, tadi itu gue bantuin elo. Kenapa? Ada yang salah?” tanya Fadlan santai. Sama sekali tidak terpengaruh dengan dekatnya tubuh mereka. Rika segera mengambil inisiatif, menarik diri dengan cepat.“Ehem… Emang nggak ada yang salah,” sahut Rika cepat. “Cuma ada yang aneh. Kok tumben – tumbenan,” sambung Rika lagi.“Iya. Kok tumben ya?”Serius, tangan Rika gatel untuk menjitak kepala Fadlan saat itu juga. Apalagi dengan tampang polos dan sok nggak taunya itu. Huu….“Loe beneran pengen tau kenapa?” tanya Fadlan lagi. Kali ini sambil melangkah mendekat, dengan refleks Rika memundurkan langkahnya. Namun ternyata Fadlan tidak berhenti sampai disitu. Ketika Rika terus mundur, kakinya justru terus maju. Sampai sampai tubuh gadis itu mentok didinding dan tidak bisa mundur lagi.“Loe… loe mau apa?” tanya Rika gugup.Fadlan tersenyum misterius. Membuat Rika merinding melihatnya. “Tadi katanya loe pengen tau kenapa gue bantuin elo,” sahut Fadlan santai. Benar – benar berbanding balik dengan Rika yang kini kaget, deg – degan tak menentu. Bahkan Rika yakin kalau saat itu ia mengidap sakit jantung, pasti kini ia sudah terbaring pingsan.“Ya loe kalau mau jawab, jawab aja. Ngapain loe deket – deket?” Lagi lagi Fadlan tersenyum. Tak hanya itu, bahkan pria itu kini memajukan wajahnya, membuat Rika tanpa sadar menelan ludah karena keki. Tepat di samping telinganya pria itu berbisik lirih.“Karena gue pengen berdamai sama loe.”“Ya?!” teriak Rika kaget. Tangannya terulur mendorong tubuh Fadlan kuat – kuat yang ternyata tidak sekuat yang ia harapkan. Walau tetap ia berhasil menyingkirkan pria itu beberapa langkah di hadapannya.Masih shok, Rika mendadak merasa kesel . Apalagi saat melihat tawa lepas di wajah Fadlan sementara ia sendiri hampir terkena serangan jantung. Bahkan tanpa rasa bersalah sama sekali pria itu segera berlalu meninggalkan dirinya berdiri mematung sendiri. Sibuk menetralkan kembali detakan jantungnya.“Rika, loe kenapa?”Rika menoleh, tampak Andini, Icha dan Lauren berdiri disampingnya yang entah muncul dari mana. Seperti orang linglung, Rika menoleh kekiri dan kekanan. Ternyata sedari tadi ia masih berdiri sendirian.“Iya. Kayak orang kesambet aja. Mending kekantin yuk,” tambah Icha lagi. Tampa menunggu balasan dari Rika, dengan santai tangannya menyeret tubuh Rika untuk mengikuti langkahnya. Sementara Andini dan Lauren mengekor di belakang.“Loe kanapa si Rik? Kok diem aja dari tadi. Aneh banget,” komentar Lauren saat keemapatnya sudah duduk santai di salah satu meja kantin.“Gue lagi mimpi kali ya?”“Ha?” Andini, Lauren dan Icha saling pandang. Wah gaswat, jangan – jangan temannya beneran kesambet hantu penunggu sekolah. “Rika, ngucap donk. Ngucap. Sadar. Ini kita,” kata Lauren sambil menampar – nampar pipi Rika.“Ye.. enak aja. Emangnya gue ksambet,” kesel Rika sambil menepis tangan Lauren darinya. Walau tamparannya lirih, tetep aja perih. Kan pipinya halus. Xd“Ya elo si. Nakutin kita. Dari tadi diem aja. Giliran ngomong nggak nyambung blas. Ada apaan si?” tanya Icha kemudian.“Kalian pasti kaget kalau tau ini.”“Emang ada apaan?” Andini terlihat tidak sabar.“Fadlan bantuin gue bawa buku ke ruang guru.”“Biasa aja kali. Emang apa anehnya sih bantuin orang,” komentar Icha.“Ya nggak aneh kalau itu beneran orang. Ini Fadlan. And yang dia bantu itu gue,” kata Rika antusias. Bahkan tangannya sendiri ia tunjukan tepat kewajahnya. Membuat ketiga sahabatnya kembali saling pandang, beberapa saat kemudian barulah ketiganya mengangguk – angguk paham. Sepertinya apa yang di katakan Rika sedikit masuk akal. Secara sejak kapan Anjing dan kucing saling membantu. “Maksut loe? Cerita yang jelas donk,” kata Andini lagi.Untuk sejenak, Rika menghela nafas sebelum kemudian cerita itu meluncur dari bibirnya. Tanpa di kurangi sedikitpun walau memang ada yang ia tambahi disana sini.“Tuh kan. Apa gue bilang. Jangan – jangan bener lagi. Ntar hubungan kalian pasti jadi kayak yang di drama drama gitu. Benci jadi cinta. Yakin deh gue, nggak mungkin salah,” komentar Icha begitu begitu Rika menamatkan ceritanya.“Sekali lagi loe bawa – bawa drama, gue lempar loe pake sandal,” geram Rika. Icha hanya cengengesan.“Ha ha ha. Tapi denger ya Rika. Kalau sampai kedepannya doi lebih baik lagi. Loe harus percaya sama kita. Kalau dia ujung – ujung nya pasti suka sama loe?” “Oke!. Kita liat aja nanti!”⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Waktu terus berlalu. Apa yang teman – teman Rika katakan sepertinya benar – benar terjadi. Sikap Fadlan berubah 180 derajat dari sebelumnya. Kali ini pria itu benar – benar terlihat perhatian dan begitu baik. Bahkan tanpa di minta, setiap Rika dalam kesulitan ia selalu membantunya. Benar – benar modus yang layak untuk di curigai. Atas saran dari kedua sahabatnya, akhirnya Rika nekat mengajak Fadlan untuk ketemuan. Sengaja mencari tempat yang tidak terlalu mencolok, Rika menjadikan taman belakang sekolah menjadi tempat pilihannya. Sambil menunggu kemunculan Fadlan, Rika sibuk menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya. Aneh nggak ya kalau ia nanya duluan.Selang beberapa saat menunggu, akhirnya Fadlan muncul dihadapan. Melihat Fadlan yang kini duduk disampingnya, Rika mendadak merasa ragu. Sepertinya keyakinan yang sudah ia himpun tadi tiba – tiba menguap. Justru ia malah jadi salah tingkah sendiri."Oh ya, tadi katanya ada yang mau diomongin. Ada A̐ªP̤̈Αªª an?" tanya Fadlan setelah beberapa saat keduanya hanya terdiam.Rika tidak langsung menjawab, bahkan tanpa sadar ia mengigit bibirnya sendiri. Kebiasaan yang ia lakukan jika sedang berfikir."Loe kenapa si? Kok keliatan linglung gitu. Ada masalah? Ya udah, ngomong aja.""Aduh, gimana ya ngomongnya?" gumam Rika lirih. Fadlan masih menatapnya penasaran.Setelah terlebih dahulu menghela nafas untuk kesekian kalinya, Rika membalas tatapan Fadlan padanya sembari mulutnya berujar. "Jujur deh, sebenernya apa sih maksut koe?""Ya?" bukannya mengerti, kerutan bingung malah bertambah dikening Fadlan."Yah, gue tau kita udah kenal lama. Sejak SMP juga kita udah satu kelas. Tapi semua orang juga udah tau, kalau kita itu nggak pernah akur. Dimana pun kita berada, dulu pasti selalu ada masalah," terang Rika membuka kalimatnya, Fadlan masih terdiam. Hanya saja kepalanya mengangguk membenarkan walau ia masih belum sepenuhnya mengerti kemana arah pembicaraan ini akan dibawa."Nah, tapi anehnya. Sejak sebulan ini semua berubah. Loe tiba – tiba baik sama gue. Nggak pernah cari gara – gara lagi bahkan tak jarang loe malah bantuin gue. Sebenernya modus loe A̐ªP̤̈Αªª an si?" tembak Rika langsung.Fadlan terdiam. Benar – benar diam. Tidak menyangka akan langsung di tuding begitu. Saat matanya menatap mata bening Rika, jantungnya mendadak deg degan. Jelas terlihat salah tingkah."Oh itu. Sebenernya…. Gue….," Fadlan tampak ragu. Rika yang melihat perubahan sikapnya juga merasa was was. Jangan bilang kalau apa yang dikatakan teman temannya selama ini benar. Fadlan menyukainya. Oh TIDAK!!!."Gue…""Gue lupa kalau gue masih ada urusan. Kita ngobrolnya lain kali aja ya. Gue harus pergi sekarang," selesai berkata Rika langsung bangkit berdiri. Berlalu meninggalkan Fadlan tampa perlu menunggu tangapan pria itu sama sekali.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ "Akh, bodoh – bodoh. Apa yang gue lakuin. Kenapa tadi gue malah kabur," rutuk Rika saat mengingat kejadian disekolah tadi."Tapi kalau gue nggak kabur, terus ternyata dugaan gue bener. Fadlan suka sama gue, terus gue harus gimana? Dia emang baik si, dan kalau diperhatiin dia juga keren. Tapi masa ia gue harus jadian sama dia. Emang gue suka sama dia?" pikir Rika lagi."Akh tau akkh. Gue bisa gila," gerutu Rika sambil merebahkan tubuhnya dikasur. Sepertinya lebih baik ia tidur siang. Siapa tau, setelah bangun nanti pikirannya bisa lebih jernih.Tidak tau berapa lama ia telah tertidur, yang jelas saat terbangun Rika merasa lebih plong. Sama haus juga. Sambil mengucek – ucek matanya yang masih terasa lengket ia bangkit berdiri. Berjalan dengan langkah ogah – ogahan untuk kedapur. Tengorokannya benar – benar terasa kering.Namun belum sempat kakinya menempati tempat yang dituju, Rika sudah dibuat berdiri mematung. Kini diruang tamu, selang beberapa langkah darinya tampak sosok yang sedang duduk santai yang juga sedang menatapnya tak bekedip."Fadlan?!" hanya satu kalimat itu yang berhasil melewati kerongkongan kering Rika. Bukan saja karena ia belum mendapatkan minum, tapi juga karena tak sengaja Rika mendapati bayangan dirinya dari balik kaca alemari yang ada di ruang tamu. Bayangan tentang betapa ancur penampilannya saat ini. Ya Tuhan. Ia kan baru bangun tidur. Bahkan belum cuci muka sama sekali.Fadlan tidak menjawab, hanya senyum kaku yang ia berikan. Sementara tangannya tampak mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya pria itu juga terlihat gugup."Nga…. Ngapain loe ada disini?" tanya Rika lagi. Sepertinya rasa penasaran yang ia rasakan lebih besar dari pada rasa malu yang ia punya."Gue…" Fadlan terlihat makin salah tingkah, membuat Rika makin curiga. Apalagi seumur – umur pria itu tidak pernah mampi ke rumahnya. Apakah itu karena…"Ya ampun kakak. Berantakan banget sih loe, malu – maluin banget. Kalau bangun tidur kan harusnya cuci muka dulu."Rika menoleh seiring dengan kalimat yang mampir ke gendang telinganya. Tampak wajah Chicy, adiknya yang baru muncul dari dapur dengan napan berisi minuman diatasnya."Sory ya kak, dia kakak gue," kata Chicy lagi. Tapi kalimatnya kali ini bukan ditujukan untuk Rika, melainkan untuk tamu yang masih mematung disana. Rika yang mendapati hal itu sedikit mengernyit. Memangnya adiknya kenal dengan Fadlan? Tapi sejak kapan? Perasaan pria itu tidak pernah muncul kerumahnya. Lagi pula ia kan tidak pernah satu sekolah dengan adiknya walau kini keduanya sama sama sudah di SMA. Hanya saja gadis itu masih kelas satu sementara ia sendiri sudah memasuki tahun akhir."Kak, Fadlan kenalin. Dia kakak gue," kata Chicy lagi sambil memberi isarat Rika agar mendekat. Saat kakaknya sudah ada disampingnya, gadis itu menambahkan. "Dan kak Rika, kenalin. Ini Fadlan. Pacar gue."Rika cengo. Matanya tampak berkedap – kedip dengan mulut yang terbuka tanpa suara. Ditatapnya wajah Chicy dan Fadlan bergantian, sementara dalam hati ia hanya mampu bergumam."Jadi Fadlan baik sama gue bukan karena dia naksir sama gue, tapi karena…" Jeda sesaat."Dia pacaran sama adik gue…."Ending….H̲̣̣̣̥α̩̩̩̩̥ά̲̣̥:Dн̣̣̣̝̤̥̇̇̇̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊=Ḍ̥H̲̣̣̣̥̩̩̩̥ά̲̣̥α̩̩̩̥̇̇̇ά̲̣̥α̇̇̇=)) н̣̣̣̝̤̥̇̇̇̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊=D . Endingnya ngegantung ya? Terkesan maksa. Atau malah Ъќ jelas. Ah bodoh amad deh. Adminya lagi galau. Lagian kayaknya cerpen oneshot ɑ̤̈̊Ƙυ̲̣̥ semuanya endingnya gitu. Yah namanya juga cerpen selingan ala ide dadakan yang bahkan ngetiknya aja pake ввм . Over all, °˚•✽• Ʈħάпƙ Ƴσц •✽•˚° 谢谢你({}) udah mampir.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ With love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣Powered by Telkomsel BlackBerry®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*