Cerpen Sahabat Be The Best Of A Rival ~ 05

Untuk cerita sebelumnya bisa baca di cerpen sahabat terbaik be the best of a rival part 4.

Credit Gambar : Ana Merya
“ Chika, tau nggak si semua anak – anak tadi pada ngomongin elo tau” Clara langsung nyerocos begitu berada di hadapan sahabatnya yang duduk di salah satu bangku perpustakaan.
“Oh ya?” sahut Chika tak berminat.
“Ya ia lah. Abis loe gila abis si. Cepet banget ngisi nya. Padahalkan tadi soalnya njelimet banget. Gue aja tadi sampe meres otak”.
“Ha?. Jemuran donk” ledek Chika tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Ya ela, gue serius juga”.
“Ia deh non. Abis loe lebay banget si. Secara materi yang tadi keluar di soal kan udah di pelajari semua. Ya kita Cuma perlu ngingat – ingat dikit aja”.
“Hem….”.
“Eh cabut yuk. Gue laper nie” Ajak Clara mengalihkan permbicaraan.
“Bentar”.
Chika segera beranjak meletakan buku yang tadi di baca ke rak. Setelah itu ia segera keluar menyusul sahabatnya yang sudah berjalan duluan.
“Eh, loe ada ngeliat farel nggak?” Tanya Chika sambil terus melangkah.
“Kok loe nanyain dia?” Clara balik bertanya.
“Tadi gue ketemu pak burhan. Dia minta tolong sama gue kalau pas istirahat ini farel sama teman – temanya diminta untuk nemuin dia” terang chika.
“Gitu ya?. Tadi si kayaknya di masih dikelas”.
“Kalau gitu temenin gue yuk”.
Tanpa menunggu jawaban dari clara, Chika langsung menarik tangan sahabatnya menuju ke kelasnya. Tapi begitu sampai di kelas ternyata kelas telah sepi. Nggak ada siapa – siapa. Chika dan Clara segera melangkah keluar dan bertanya ke siswa yang lain kali aja ada yang tau mereka kemana.
Cerpen Sahabat
“Ada apa?” Tanya Farel begitu Chika ada di hadapannya.
Saat itu mereka sedang ngumpul di taman belakang sekolah. Chika memang langsung ke lokasi saat mengetahui farel di sana. Sementara Clara hanya berdiam diri di sampingnya.
“Loe di cariin tu sama pak burah. Di suruh keruangannya sekarang “ Sahut chika.
Pak Burhan adalah Guru olah raga di sekolahnya.
“Mo ngapain?” Tanya Farel lagi, Chika hanya angkat bahu.
“Sekarang?”.
“Nggak mungkin tahun depan kan?” Balas chika santai.
“”Ya udah. Gue cabut dulu men” pamit Farel pada teman – temannya.
“Eits, Tunggu dulu” Tahan chika Sebelum Farel Jauh melangkah.
“Apa lagi?”.
“Loe mau kemana?” .
“Gimana si. Tadi katanya di sururh keruangan pak burhan. Ya mau kesana lah”.
“Kok sendiri?” Tanya chika yang membuat kening farel sedikir berkerut.
“Terus sama siapa lagi?” Farel balik bertanya.
Chika tidak menjawab. Hanya telunjuknya yang mengarah pada Andika, Rio, Dino dan Alvin
"Kita?" Tanya Alvin dan dino bersamaan. Kali ini Chika hanya membalas dengan anggukan.
"Memangnya di suruh ngapain si?" sambung dino penasaran.
"Tau… Mau di kawinin kali" Balas Chika ngasal. Abis dari tadi tu orang nanya mulu. Udah di bilangin juga kalau dia nggak tau. Masih juga nanya.
"Sembarangan" semprot Farel dan sahabatnya serentak. Sementara chika hanya tertawa menanggapinya Sebelum kemudian berlalu meninggalkan taman. Kembali mengikuti ajakan sahabatnya sebelumnya untuk kekanti. Sementara Farel juga berlalu menuju keruangan pak Burhan.
Cerpen Sahabat
Setelah Absent selama tiga hari karena harus mengunjungi neneknya yaitu ibu dari ibunya yang ada di luar kota karena sakit, akhirnya chika kembali menginjakan kakinya di sekolah.
""Chik, Loe kemana aja si?" tanya Clara begitu chika duduk di sampingnya. Ia memang tidak tau kemana menghilangnya sahabat yang satu ini. Karena chika memang tidak memberi tahunya. Kemaran untuk minta izin pun chika langsung menemui wali kelasnya. jadi wajar kalau Clara bingung.
"Loe sakit ya?" sambungnya lagi.
"Nggak kok. cuma kemaren itu gue keluar kota karena nenek gue sakit".
"Gitu ya?. Pantesan nomer loe nggak aktif. Pasti di sana nggak ada signal kan. Tapi tadinya gue pikir loe kenapa – napa. Secara loe nggak cerita si. Terus gimana kabar nenek loe sekarang?".
"alhamdulilah. Udah baikan kok".
"Syukurlah. Eh tapi besok loe datang ke sekolahkan?" tanya clara lagi..
"Ke sekolah?. Ngapain?. Bukanya besok hari minggu ya?"
"Loe belom tau ya?. Besokan ada pertandiangan persahabatan di sekolah kita. Biasa tanding basket. Kebetulan Farel sama Andika entar ikut main lho" Terang Clara.
"Oh ya?. Tanding sama sekolah mana?" tanya Chika tertarik.
"Aduh, Mana ya?. Gue lupa" Clara terlihat mengingat – ingat.
"SMA Nusa Kambangan".
Terdengar suara dari belakang. Refleks chika menoleh. Ternyata suara Farel.
"Oh ya?. Sekolahnya Niken donk kalau gitu".
"Masa si?" Ganti an Farel yang heran. Oh ia ya, Niken kan siswi nusa kambangan. Kok dia bisa lupa ya?.
"Niken?. Siapa?" Tanya Andika heran. Sepertinya nama itu asing di pendengaranya. Sementara Farel dan chika hanya saling pandang.
"Lho, Masa si kalian nggak kenal sama dia?" chika balik bertanya.
"Memangnya dia siapa?" Dino ikutan penasaran.
"Gimana si. Dia kan pacarnya Farel ".
Dasar Jahil. Selesai berkata chika langsung membalikan pandanganya ke depan sambil menahan diri untuk tertawa. tapi hal ini tentu saja membuat semua yang kebetulan ikutan nguping kaget akan ucapanya. bahkan vivi yang kebetulan sedang makan permen langsung tersedak. nggak nyangka banget. Karena selama ini setahu mereka farel nggak pernah jalan bareng cewek.
"Serius rel?" tanya dino sambil menatap farel. Justru mata sahabatnya kali ini tidak lepas dari sosok chika yang masih berusah menahan diri untuk tertawa.
"Ya nggak lah" Bantah Farel. "Sialan loe chik" sambungnya sambil melemparkan sobekan kertas yang ada di hadapanya tepat mengenai kepala chika yang kali ini jelas – jelas sedang menertawakannya.
"Kalau gitu nike siapa donk?" tanya Doni pada chika karena merasa masih belum menemukan jawaban.
"Tau …. tanya aja langsung sama sahabat loe. ha ha ha". balas chika di sela tawanya.
Farel jelas merasa kesel pada chika. padahalkan chika tau kalau niken cuma sepupunya. Kok bisa si di bilang pada sahabatnya kalau niken itu pacarnya. Tapi walau pun semua masih penasaran, pembicaraan terpaksa harus di pending karena bu alena sudah berada di ambang pintu. Siap untuk perang, eh nggak ding. Maksutnya belajar bahasa ingris.
Cerpen sahabat
Ketika Chika dan Clara sedang berjalan menuju ke taman, ia di cekat oleh vivi dan para sahabatnya.
"Eh, Loe lupa ya sama peringatan gue kemaren?" bentak vivi sambil mendorong chika hingga jatuh.
"Kalian apa – apa an si?" Bentak Clara dan langsung membantu chika bangkit berdiri.
"Diem loe, Nggak usah ikut campur" Tasya balik membentak.
"Emangnya gue punya masalah apa si sama kalian?" tanya Chika sambil menatap Vivi lurus.
"Nggak usah belagu deh. kan kemaren gue udah bilang jangan deket – deket sama farel. Tapi loe masih nekat aja".
"Tapi gue kan nggak pernah ngedeketin farel" Bantah Chika.
"Eh denger ya, Farel itu pacar gue. Jadi loe jangan macem – macem".
"Pacar loe atau loe berharap dia jadi pacar loe" Tantang chika berani. Abis kesabarannya juga sudah mulai menghilang menghadapi orang yang sok berkuasa.
Mendegar itu tentu saja vivi merasa kaget sekali gus marah. Tangannya sudah terangkat untuk menampar chika yang kini berada terpat di hadpanya. Sementara chika yang tidak menyangka kalau vivi bakal semarah itu langsung menutup wajahnya.
Tapi, belum sempat tangan vivi mendarat di wajah Chika sebuah tangan yang lain sudah terlebih dahulu mencekalnya. Yang lebih mengagetkan ternyata tangan itu milik farel sehingga membuat mulut vivi yang terbuka untuk mengeluarkan sumpah serapah terpakasa hanya tertahan di kerongongan.
"Farel. Apa – apa an si. Lepasin. Sakit tau" rintih Vivi karena pergelangan tanganya di cekal dengan keras oleh farel.
"Elo yang apa – apa an" Bentak Farel. " Ngapain si loe pake ngancem Chika segala?" tambahnya.
"Gue cuma…" Vivi tidak jadi melanjutkan ucapannya karena ia juga bingung mau ngomong apa.
"Cuma apa?!". "Gue nggak mau lagi ngeliat loe berani ngancam chika . Ngerti?!".
Kali ini gantian vivi yang menatap tajam kearah wajah Farel.Sementara Chika dan Clara tetap terdiam. Begitu juga sahabat farel yang laen.
"Rel. Loe kok malah belain dia si?" Tina yang sedari tadi diam angkat bicara.
"Ini tu bukan masalah tentang siapa yang gue bela. Tapi ini tentang kebenaran. Dan kalau sampai gue tau kalian masih menganggu chika lagi, gue nggak akan segan – segan untuk melaporkannya kepada pihak sekolah" Ancam Farel yang mebuat Vivi dan para sahabatnya ciut.
"satu lagi. Gue bukan pacar loe dan nggak akan pernah jadi pacar loe. Ngerti!" Kata Farel sebelum menarik tangan Chika pergi meninggalkan Vivi yang masih shock. Sementara Clara dan yang lain hanya mengikuti di belakang.
"Loe nggak papa kan?" Tanya Farel kearah Chika yang sedari tadi masih terdiam.
"E, Eh. Nggak papa kok. N makasih ya" Sahut chika.
Sebenernya teman – teman farel masih merasa heran kenapa tumben sahabatnya peduli pada chika.
"Clara kita pergi yuk" Ajak Chika pada sahabatnya berapa saat kemudian.
"Tunggu. Kalian mau kemana?" tanya Alvin.
"Kita mau balik ke kelas aja. Ayo Clara".
Tanpa banyak bicara Chika segera meninggalkan Farel dan sahabatnya yang hanya bisa menatapnya dengan pandangan heran.
Cerpen Sahabat
Sepulang sekolah chika masih berdiri didepan pintu gerbang sekolahnya karena nino, kakaknya belum juga datang. padahal tadi pagi nino bilang akan langsung menjemputnya sepulang kuliah. tapi kok belum nongol juga.
Sambil menunggu kakaknya. Chika duduk di salah satu bangku kosong milik penjual gorengan yang biasa mankal didepan sekolahnya. Tiba – tiba hapenya bergetar. Setelah di angkat ternyata dari kakaknya. Chika jelas sebel banget, giman nggak nino menelponnya hanya untuk mengabarkan kalau ia bakal telat menjemputnya karena ada rapat di kampusnya. Jadi chika sepertinya harus menunggu sekitar satu jam lagi. Mana cuaca panas baget.
Saat chika sedang duduk menunggu, tiba – tiba didepannya ada seoarng cowok mengendarai motor dan mengenakan helm yang menutupi wajahnya berhenti tepat didepanya. Keningnya sedikit berkerut mendapati sosok tersebut ternyata lagi – lagi si farel.
"Farel?" kata chika heran.
"Kok loe masih di sini?" Tanya Farel sambil melepaskan helm di kepalanya.
"Lagi nungguin kakak gue. Tapi kok loe baru pulang?" chika masih heran karena bukannya tadi ia keluar kelas paling akhir karena ia harus membersikan kelasnya bareng beberapa temanya yang lain yang juga mendapat giliran piket hari senin.
"O gitu ya?. kalau gue emang belum pulang dari tadi. Soalnya tadi masih harus keruangan nya pak burhan. Biasalah tentang masalah pertandingan besok" Terang Farel. Chika hanya menganguk – angguk mendengarnya.
"Tapi ini kan udah siang. mana panas banget lagi" Farel kembali buka mulut setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Jadi menurut loe gue harus jalan kaki?. Gila, Bisa patah kaki gue. Dikira deket apa" Chika sewot.
"Kalau loe emang nggak keberatan. Kita pulang bareng yuk. Biar gue yang antar loe?" Tawar Farel kemudian.
"Bareng sama loe?. Ya pasti keberatan lah" Sahut chika spontan.
"Kenapa?" Tanya farel heran.
"Ya ampun rel. Gue udah cape kali di musuhin orang mulu. Apalagi kalau sampe ada anak yang ngeliat gue jalan bareng sama loe. Bisa makin ribet urusannya. Ogah gue pindah sekolah lagi".
Jawaban chika langsung mengingatkan Farel akan cerita niken beberapa saat yang lalu tentang kenapa chika pindah kesekolahnya.
"Gue minta maaf ya".
"Kok loe yang minta maaf. Emangnya loe punya salah apa sama gue?".
"Gimana pun juga gue ikut andil atas apa yang dilakukan vivi sama loe. Tapi kali ini gue jamin mereka nggak akan ganguin loe lagi".
"Oh ya?. kok loe bisa yakin gitu?".
"Ih loe bawel banget si?. Udah siang nie. Mana panas lagi, Mau nggak gue anter?. Lagian rumah kita kan searah" kata Farel kemabli kemasalah awal.
"Dari mana loe tau kalau rumah kita searah?" tanya chika heran. Perasaan ia nggak pernah bilang tentang di mana alamat rumahnya deh. Bahkan chika, Sahabatnya aja nggak tau.
"Dari niken".
"Niken?".
"Ia Niken. Jadi mau bareng nggak. Mumpung gue lagi baik nie" Kata Farel dengan nada bercanda.
Chika jadi merasa tidak engak kalau harus menolak nya, jadi mau tidak mau akhirnya dia nurut juga.
"Emangnya niken ada cerita apa aja tentang gue ke elo?" Tanya Chik.
"Banyak. Termasuk kenapa sampai elo pindah kesini" Balas Farel.
"Oh ya?. Ah Dasar Ember tu anak" Gumam Chika lirih.
Oke, Next to Cerpen Persahabatan sejati be the best of a rival part 6.

Random Posts

  • Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)

    Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)Oleh: Deny fadjar suryaman – `Sesungguhnya ku tak menginginkan semuanya begini, walau semua yang terjadi hanya kebohongan dan kepalsuan saja yang kau berikan kepadaku..Tapi sejujurnya itu semua sudah cukup bagi ku tuk dekat denganmu walau hanya bisa membayangkan dan mengharapkan kelak kau akan datang kepadaku dengan kejujuran dan ketulusan hati pada diriku..`tak ku harapkan lebih atas kehadiranmu. .`tak ku harapkan kejujuran itu datang. .`tak ku harapkan kau menganggap ku ada. .`dan jika itu semua dapat di wujudkan oleh dirimu, Tapi mengapa seperti ini yang terjadi…???‘Mungkin ini sebuah perasaan yang bodoh yang pernah kualami selama hidup. Selama ini, aku hanya bisa membayangkan dan mengharapkan namun tidak untuk mengatakannya. Ini menjadi sebuah ketidakpastian bertindak yang kulakukan. Sehingga aku hanya bisa memandang dan melihatnya ketika mimpi.’Itu kahayalan dari seseorang yang berharap cinta ini nyata ketika semua tidak mampu diungkapkannya. Sebuah khayalan yang membuat hidupnya dipenuhi kegelisahan dan kebimbangan.ini semua berawal dari hobi barunya berselancar didunia maya. Suatu ketika dia sedang memainkan khayalannya didunia maya. Dia melihat sebuah profil seorang wanita yang membuatnya terpikat seketika. Secara naluriah dia langsung mengirim sebuah permintaan pertemanan kepada wanita itu. (mungkin lebih pastinya karna dia baru dengan hal ini, jadi ingin punya lebih banyak teman).***Hari pun terus berlalu dia pun tak peduli dengan sebuah profil wanita tersebut. Karna dia selalu asyik dengan obrolan teman-teman facebook-nya yang lain. Namun, hari ini dia melihat dalam beranda sebuah obrolan antara temannya dan wanita yang beberapa hari yang lalu dia add. Disinilah mulai perbincangan antara dia dan wanita dimulai. Nama ku brian atau lebih sering di panggil rian, yah bisa dibilang manusia yang sederhana senang dengan hal-hal yang berbau traveling. Tapi dalam urusan cinta aku sangat pendiam dan terkadang membiarkan perasaan cintanya berlalu begitu saja. Dalam obrolan antara teman aku dan wanita itu, teman aku menyebut-nyebut nama aku untuk dijadikan motif dia berkenalan dengan wanita itu.Yah, mungkin karna wanita itu tinggal di daerah yang berdekatan dengan ku. Itu sebabnya aku dijadikan motif teman aku untuk berkenalan. Mungkin karna itu juga yang membuat mataku terfokus pada tulisan di beranda facebook-ku. Akhirnya pun aku ikut tergabung dalam obrolan itu. Dan mulai menulis sebuah komentar didalamnya.“weh man, apa maksudnya tuh bawa-bawa nama gw. Kalo mau kenalan sama cewe jangan bawa-bawa nama gw geh”. Dengan kata “geh” yang mencirikan logat bahasa di daerah ku. Hahahaaa.. cukup lucu sih kalo di denger satu kata yang aneh itu. Mungkin hanya orang-orang d daerahku yang mengerti apa maksud dari kata itu. Temen aku yang ini namanya iman, yah ketika kita SMA dulu, dia memang dia terkenal playboy-nya, sampai-sampai banyak teman yang udah men-cap-nya seperti itu. Di saat yang bersamaan wanita itu pun membalas komentar dan mulai-lah awal perbincangan ku dengan wanita itu. Namanya aini yang ternyata dia juga alumni SMA yang sama dengan aku dan temanku. Tapi entah mengapa aku dan temanku tak sadar. Sebenernya aku sudah tau kalau dia bersekolah yang sama dengan aku dan temanku, namun walau rumahku satu daerah dengannya tapi aku tak tau siapa namanya, hanya saja aku sering liat dia lewat depan rumahku waktu sekalo dulu. Disini awal ketertarikanku untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Namun itu hanya ketertarikan naluriah seorang wanita, dan seperti biasanya aku pun tak berani mencari tau lebih banyak lagi tentang waktu itu, yah karna sifat aku yang tak berani memulai suatu hubungan. Dan akhirnya dia pun mengconfirmasi prmintaan pertemanan aku. Akhirnya kita pun sering berinteraksi di dunia maya. Kita saling bertanya satu sama lain tentang diri masing-masing. Yah dari mulai hal-hal yang sepele untuk di perbincangkan sampai hal-hal yang menyangkut tentang pribadi masing-masing. Yah dari perbincangan itu bisa di simpulkan bahwa dia wanita yang cukup asyik, menarik, dan nyambung untuk di ajak berbincang.Setelah sekian lama kita sering wall-to-wall, nge-chat, sampai coment-coment d facebook, akhirnya dia pun bilang kalau dia udah mulai jarang untuk berselancar di dunia maya. Sampai akhirnya dia pun mengajak aku untuk berbincang lewat handphone saja. “hey ian, aku udah jarang buka fb nih. Gimana kalau smsan saja” seru dia di wall. “yah, tapi kan gw gak tau nomor hape lho” aku pun membalas wall dia. “nih nomor ku……”. ***Waktu pun kian berlalu membawa aku dan aini saling kenal lebih jauh lagi. Dan akhirnya kita pun sepakat untuk pergi nonton berdua, ini awal pertemuan tatap muka kita yang pertama. Yah walau sedikit aneh sih, walaupun rumah kita satu daerah dan pernah satu sekolah tapi kita belum pernah berbincang secara langsung.Hari itu matahari bersinar sedikit agak panas, yah walau sedikit agak panas tapi aku dan aini tetap berjanjian untuk pergi nonton bersama. Kami pun pergi berangkat menuju bioskop, dalam perjalanan kami pun banyak berbincang soal keanehan mengapa kita tak pernah berbicara langsung seperti ini sejak dulu. Disinilah awal dari aku timbul rasa suka sama aini, atau lebih tepatnya sayang. Saat itu hati aku sulit untuk dikendalikan, yah karna memang perasaan ini sulit untuk di ajak kompromi. Namun lagi-lagi aku sulit untuk mengatakannya. Sampai-sampai sejenak keadaan menjadi hening karna tak ada satu patah kata pun yang keluar dari kita. Dan akhirnya kita pun memutuskan untuk langsung pulang saja, tanpa ada pertemuan yang lebih panjang lagi.***Hari ini aku hanya duduk d hamparan teras alam yang beralaskan rerumputan yang hijau yang tersinari cahaya senja. Yah hari ini memang sudah sore, saat ketika matahari mulai meredupkan sinarnya, saat dimana sang gereja kecil mulai kembali ke sarangnya, dimana saat langit biru mulai memudar menjadi jingga.dan saat dimana aku sering menikmati keindahan senja. Disini aku sering sekali mencurahkan semua yang ada di hati dan perasaanku. Disini juga aku sering membuat tulisan-tulisan baik tengtang perasaan maupun tentang keadaan yang ada di sekeliling aku. Sampai akhirnya hari ini aku menulis sebuah puisi tentang sore itu.“Pesona jingganya”Di kala cahayanya mulai terbenamBukan berarti keindahannya menghilangNamun terpancar dalam lukisan jingganyaYang tergores indah dalam bentangan langitSisi demi sisi terlihat begitu mempesonaBerpadu satu dengan awan putih yang mulai berubah jinggaYang mulaia menghanyutkan suasana dalam hatiYang terbawa oleh hembusan anginJika jingganya tak mampu kau rasakanCobalah tuk mencarinya dalam heningJika itu tak mampu kau temukan juaJangan pernah berhenti berharap untuk esok hari datang kembaliAku sering menghabiskan waktu ku disini itu karna ada sebabnya, yah sebuah penyakit yang selalu menghampiriku disaat-saat tak tentu. Mungkin ini juga yang membuatku untuk sulit menyatakan cinta yang ada dihatiku, karna aku terlalu takut meninggalkannya di saat yang tak tepat. Jangtungku yang lemah telah mencapai pada masa yang kronis, sehingga membuat sang dokter memfonis aku tak punya waktu lama untuk dapat menikmati hidup yang indah ini. Itu sebabnya aku sering menghabiskan waktu di tempat yang indah ini, terkadang aku pun mengajak aini ke tempat ini. Yah saat ini pun aku mengajaknya, namun dia telat untuk datang ke sini.“hay rian” suara lembut terdengar ditelingaku yang juga membuyarkan khayalanku sore itu. Dengan tatapan yang masih kosong aku pun menjawab “yah, hay juga aini”. “map aku telat datang yah” sambung aini. “yah gapapa, aku juga baru datang kok” sahutku.Aini pun duduk di sampingku seraya dia pun terlarut dalam suasana sore yang berikan keindahan ini. “kamu sedang nulis puisi atau cerpen yah?” aini membuka percakapan kita. “yah aku baru menyelesaikan sebuah puisi”. “mana coba aku liat” sambil merebut buku yang ku pegang. Akhirnya kami pun terlarut dalam obrolan yang mengasyikan di tempat itu.***Di dunia ini hanya aku dan keluarga saja yang tau tentang penyakit ini, bahkan aini pun tak mengetahuinya. Dia hanya tau aku yang suka humor, suka buat tulisan, dan membaca novel. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sejak perasaan aneh ini merasuki hatiku, aku ingin jika aini tau semua perasaanku namun aku pun tak mau membuat hatinya bersedih ketika aku harus meninggalkan dia di saat yang tak tepat. Setelah sekian lama perkenalan diantara kita, kita pun telah melalui semua bersama-sama, karna sejak perkenalan kita pertama kali kita jadi lebih sering bermain bersama. Sampai saat ini aku hanya bisa menyembunyikan semua perasaanku padanya. Sampai pada akhirnya akupun di larikan ke rumah sakit karna jantungku yang terasa berhenti berdetak. Aku pun hanya bisa pasrah semoga tuhan masih beri aku waktu untuk tetap bisa menikmati hidup setidaknya sampai aku punya keberanian untuk mengatakan semua isi hatiku pada aini.Aini yang tak tau keadaan ku yang menghilang tanpa jejak beberapa hari belakangan mulai bertanya-tanya pada hatinya kemana aku sampai tak menghubunginya beberapa hari belakangan ini. Sampai pada akhirnya jantungku pun tak mau untuk mendenyutkan dan berdetak kembali seperti biasa. Yah, kali ini aku telah di panggil sang kuasa. Karna dia tak mengizinkanku untuk bisa hidup lebih lama lagi. Aini yang mengetahui kabar bahwa aku telah tiada merasa kesedihan yang besar. Dia pun merasa sangat terpukul atas kepergianku.Mungkin satu hal yang aku sesali, ini bukan hanya isi hatiku yang tak bisa menyampaikannya kepada aini, tapi aku memang sama sekali tak bisa menyampaikanya kepada aini sampai kapanpun, karna tuhan tak mengizinkanya.The endPenulis: Deny fadjar suryamanFb : denyfajarsuryaman@rocketmail.comTwitter : @denyfadjarDenyfadjarsuryaman.blogspot.com

  • Mengapa Harus Rumit?

    Mengapa Harus Rumit?Oleh: Rizka Maulida Hanya tinggal satu minggu lagi aku akan terbebas dari kakak yang menyebalkan dan kusayangi itu. Kini ia telah lulus SMA dan masuk ke salah satu Universitas ternama di Indonesia. Sebenarnya aku sangat bangga memiliki kakak seperti dia yang kata orang itu tampan, pintar dan baik . Tapi mereka tidak tau kebiasaannya di rumah yang selalu jitakin adiknya yang cantik ini. Sebelumnya kakak ku ini pernah berjanji kepada orangtuaku bahwa ia tidak akan pacaran sebelum lulus SMA. Dan hal itu terbukti, setelah lulus SMA dia mempunyai kekasih bernama Ka Dinda. Kuakui Ka Dinda orang yang cantik, baik dan muslimah karena ia selalu memakai gamis dan kerudung panjang. Wajar saja kalau kakak ku menyukai wanita seperti ini, dia kan lulusan pesantren juga jadi ada lah ilmu agamanya. Kakak ku awalnya menyembunyikan hubungannya itu, sampai akhirnya ia cukup berani mengakuinya. Bukan hanya aku dan orangtua yang kaget, teman-temannya pun sangat kaget. Malah ada yang bilang begini “ Hah, Yang bener aja Rik, palingan juga sepupu loe ini mah.” Itulah yang diucapkan temannya saat ia mengajak Ka Dinda main bersama teman SMA nya.Hari H pun tiba, kakak ku harus pergi satu bulan tanpa kontak ke luar kota untuk melaksanakan kegiatan ospeknya. Setelah satu bulan, kakak ku ada waktu libur selama satu minggu. Awal kedatangannya disambut tangis bahagia di rumah. Semakin hari semakin berlalu, hubungannya dengan Ka Dinda baik-baik saja , aku salut sama mereka, bisa bertahan walau LDR dan waktu bertemu yang sangat jarang. Aku bangga kakak ku setia. Suatu hari orang tua Ka Dinda datang berkunjung ke rumah kami, saat itu ia mengobrol bersama Ibuku. Aku tak tau dan tak ingin tau apa yang mereka bicarakan, namun yang ada di fikiranku mungkin merencanakan pernikahan. Wah, betapa begonya diriku ini tentu saja bukan , mereka masih sangat muda. Setelah beberapa waktu berlalu, aku mengetahui kalau Ibunya Ka Dinda menawarkan bisnis sampingan kepada Ibuku. Ibuku seorang Guru, kalau tak salah dengar dari perbincangan oartuku tadi malam, Ibuku yang memberikan modalnya sebesar sekian juta, dan Tante Siska (Ibu Ka Dinda) yang menjalankan usahanya. Namun, tiba-tiba Tante Siska mengubah rencana, jadinya ia meminjam uang itu pada Ibuku dan berjanji mengembalikannya bulan depan.Hubungan Kakak ku dan Ka Dinda sepertinya makin dekat, setiap ada waktu kakak selalu berkunjung ke rumah Ka Dinda. Satu bulan berlalu , namun uang itu belum kembali, Tante Siska mengulur waktunya sampai minggu depan. Ibuku santai saja tidak menaruh rasa curiga kepada tante Siska. Hingga sudah 3 bulan, ia selalu mengulur waktunya. Ibuku sedikit tidak suka, bukan karena uangnya, tapi karena sifatnya itu. Semakin lama , tante Siska malah tidak ada kabar. Beberapa bulan kemudian ada kabar kalau ia pindah ke luar kota karena terbelit hutang di mana-mana. Ibuku sangat kecewa pada tante Siska, ini berpengaruh terhadap hubungan kakakku. Ibu jadi tidak merestui mereka, kakakku tetap mempertahankan hubungannya dengan susah payah. Saat itu aku bertukar HP dengan kakakku, tepatnya satu hari setelah ultah Ibuku. Tak sengaja saat ku lihat Draft ada tulisan : “ Happy Birth Day yah Mom. Maafin Ricky yah, belum bisa jadi anak yang mamih inginkan. Ricky masih suka menentang mamih, Ricky sayang sama mamih tapi sama Dinda juga. Ricky tau, Ricky bukan anak yang baik, semoga Rasti dan Refky bisa bahagiain Mamih ya J.” Tak terasa air mata telah membasahi pipiku.Setiap pulang ke rumah, sebisa mungkin Ka Ricky meyakinkan Ibu kalau Ka Dinda itu gak sama kaya Mamahnya yang jahat dan penipu itu. Suatu hari, Ka Dinda masuk rumah sakit karena harus menjalani operasi usus buntu. Setibanya di rumah, kakak ganti baju dan segera pergi ke rumah sakit mengendarai sepeda motornya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui seorang lelaki sedang mendampingi Ka Dinda, saat Ka Dinda mengetahui keberadaan kakakku , kakak memukul tembok dengan sekuat tenaga dan pergi kembali ke rumah. Di rumah wajahnya sangat kusut dan berantakan, ku beranikan diri untuk bertanya. “ Kak, ko udah pulang ? kan baru berangkat.” tanyaku . “ Engga apa-apa Ras, Cuma kakak gak enak badan aja.” jawabnya . Aku pun membiarkan kakak beristirahat di kamarnya. Saat waktu makan malam, ia baru ke luar. “ Mih, aku punya kabar gembira buat mamih.” Kata Kakak. “ Apa ?” tanya Ibu. “ Aku lagi berantem sama Dinda.”“ Yaudah, itu gak usah dibahas. Ibu juga gak akan ngelarang-larang kamu, tapi Ibu akan berdo’a supaya kamu mendapatkan yang terbaik.”Kakakku kembali ke kampusnya, anehnya sudah 3 minggu ia tidak pulang. Biasanya paling telat 2 minggu sekali ia pulang ke rumah. Tiba-tiba Kakak menelfonku dan menceritakan semuanya. “ Ras, gimana kabar keluarga di sana ? Maaf kakak belum bisa pulang, kakak butuh waktu. Sebenernya kemarin kakak pulang cepet dari rumah sakit karena kakak liat Dinda lagi sama cowo lain. Ternyata apa yang dibilang Mami semuanya bener, Dinda sama Tante Siska sama aja jahatnya. Baru aja 3 hari yang lalu kakak putusin dia, masa dia udah pacaran sama si Doni sih ! Yaudah de, kakak mau masuk kuliah ni.” Tut..tut… telfonnya terputus dan aku tak berkata satu kata pun. Sekarang aku tau apa yang membuat kakakku seperti itu, kalau aku jadi dia pasti aku akan merasakan hal yang sama, sakit, perih, hancur, dan pasti dihiyanatinya itu yang membekas. Kakakku telah berusaha mempertahankannya, dan dengan mudah Ka Dinda melepaskannya. Yang dulu ku fikir Ka Dinda wanita solehah ternyata hanya pakaiannya saja, aku tertipu oleh tampilannya, lagipula ia seperti itu juga karena paksaan kakakku. Karena penasaran, aku buka FB siapa tau aku bisa lihat wajah Doni Doni itu. Awalnya ku fikir ia tampan bak pangeran karena dalam sekejab dapat menaklukan hati seseorang yg telah berpacar. Ternyata dugaanku salah besar, yang pertama masih cakepan kakakku, masih mudaan kakakku, hanya mungkin dia jauh lebih kaya karena sudah bekerja sebagai dosen. Aku shock se shock shock nya, itukah yang namanya Doni, sungguh aneh Ka Dinda itu, masa kakak ku diganti orang seperti itu, yang jelas orang GAK PUNYA HATI ! Jelas-jelas tuh cewe statusnya pacar orang, maen embad aja.Waktu liburan tiba, kakakku bisa puas-puasin di rumah. Di FB nya kulihat dia frontal banget tentang kemarahannya sama Ka Dinda, masa dia nulis stat kaya begini :1. Hahaha, si Dinda kurang ajar itu masa gue digantiin sama Bapak-Bapak, pake nge blokir FB gua yang ini lagi, LOSER banget sih lu !2. Dinda.. Dinda.. Loe kira gua Cuma punya satu FB hah ? FB gua yang ini gak lu blokir, ketauankan KEBUSUKAN lu sama cowok lu !dan masih banyak lagi. Ku fikir kakakku memang sudah GILA 😀 . Tidak, kakakku hanya tidak bisa mengungkapkan langsung, jadi FB tempat dia menggila.Semakin lama, ia pun sudah bisa mengobati hatinya yang sangat amat terluka, ia lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berharap Dinda dan Pacarnya dapat hukuman yang sebanding dengan perlakuan terhadapnya. Satu tahun kemudian, Ka Dinda akan melaksanakan pernikahannya dengan Doni jahat itu. Namun, satu minggu sebelum acaranya mereka mengalami kecelakaan yang sangat parah. Ka Dinda kehilangan penglihatan dan Doni telah pergi untuk selamanya. Beberapa bulan setelah kejadian itu, Ka Dinda diantar Daris adiknya datang ke rumah kami. Saat baru sampai, Ka Dinda menangis dan berlutut, “Tante, Ricky, Om, maafin Dinda yah? Dinda tau ini semua salah Dinda. Dinda udah ngecewain kalian semua, Tan maafin Mamah Dinda yah. Mungkin kini Mamah belum tenang di alam sana tanpa maaf dari tante.” Kita semua yang menyaksikan jadi diam mematung, prihatin dengan keadaan Ka Dinda. Setelah beberapa saat Ibu angkat bicara, “ Dinda, kamu kenapa ? Emang Mamah kenapa ?”tanyanya . Ka Dinda hanya menangis berisak-isak, Daris pun menceritakan semuanya. “ Mamah udah meninggal 5 bulan lalu tante , waktu Mamah mau pergi ke Lampung. Dan Ka Dinda, 3 bulan lalu saat akan menikah sama Ka Doni mengalami kecelakaan dan membuatnya seperti ini, sedangkan Ka Doni udah pergi selamanya.” Tangis kami semua pecah, tiba-tiba Ka Ricky menghampiri Ka Dinda “ Jujur Din, aku emang kecewa banget sama kamu, aku marah dan sangat membenci kamu. … “ kakak tidak sanggup meneruskan ucapannya. “ Ia Rick , gak papa, kamu boleh benci sama aku kamu berhak marah sama aku, tapi aku mohon banget sama kamu, maafin semua kesalahan aku dan Mama aku. Aku sadar, aku yang salah dan aku pantes dapetin semua ini, ini semua karma buat aku.”kata Ka Dinda. Semua pun masih larut dalam kesedihan.Setelah menerima maaf dari keluargaku, Ka Dinda dan Daris pamit, mereka bilang ini adalah pertemuan terakhirnya karena mereka harus ikut Ayahnya ke luar kota. Aku masih bingung dengan semua kejadian ini, yang jelas aku yakin hukum karma masih berlaku di dunia ini. Akhirnya kakakku bisa mendapatkan cintanya kembali, kini ia bersama seorang wanita yang beneran solehahnya, mereka bertemu di suatu perkumpulan remaja mesjid dan menjalani cinta karena Allah , bukan karena mata dan hati saja J.****Oleh : Rizka Maulida

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 03 / 13

    Masih kelanjutan dari cerpen kala cinta menyapa yang kini udah sampe part 3. Ngomong – ngomong kali ini cerpen versi edit ya. Ya nggak banyak yang berubah, hanya berusaha untuk sedikit merapikan aja. Nah, buat yang baru nemu kisah ini biar nyambung mendingan baca dulu bagian sebelumnya pada Kala cinta menyapa bagian 2. Selamat membaca ya….Kala Cinta Meyapa“Apa. Si Erwin jatuh kedalam got? Loe dapat gosip itu dari mana?”Langkah Erwin yang berniat untuk kekelasnya langsung terhenti saat telinganya mendengar bisik – bisik teman – temannya. Begitu wajahnya menoleh ia melihat segerombolan teman – temanya yang sepertinya sedang bergosip ria tanpa menyadari kehadirannya.“Ia, katanya si gitu. Katanya lagi nie ya, yang bantuin dia itu si siapa tu anak sastra yang pake kacamata. Haduh gue sampe lupa namanya?”“Yang mana nie?” tanya beberapa yang lain.“Itu lho. Yang biasa bereng sama Irma."“O… yang itu. Gue tau. Kalau nggak salah namanya Rani. Iya bener deh kayaknya. Jadi dia yang bantuin. Tapi gimana ceritanya."“Gosip yang beredar si katanya gini. Waktu itu si Erwin mapok terus tetep nekat pake motor. Makanya nabrak. Untung aja nggak mati. Nah waktu itu kebetulan kejadiannya pas didekat rumahnya Rani. Makanya langsung Rani bantuin."“Ih, masa si Erwin doyan minum? Sampe mabok segala?” tanya yang lain tampak tak percaya.“Cek cek cek. Kalau gue si percaya aja. Toh tu anak kan memang selama ini terlihat misterius."Sementara yang lainnya hanya mengangguk – angguk membenarkan. Tanpa menyadari Erwin yang sedari tadi menguping terbuka tanpa suara. Tangannya terkepal dengan erat. Emosinya benar – benar naik saat ini. Gadis itu?… benar – benar sulit di percaya.Tampangnya aja yang terlihat lugu dan polos. Tapi ternyata. Dengan kesal di pukulnya dinding membuat orang – orang yang sedari tadi mengosip langsung menoleh. Merasa terkejut sekaligus ketakutan ketika melihat yang sedang di gosipkan muncul dengan tiba – tiba. Dan semuanya hanya mampu menunduk terpaku saat Erwin melangkah melewatinya sekali gus merasa lega karena ternyata Erwin tidak melakukan apa – apa. Kalau sampai Erwin beneran ngamuk kan bahaya.Tepat di belokan kelas Erwin berpapasan dengan Rani yang kebetulan juga lewat dari hadapannya. Tanpa menyadari ada bahaya sedikit pun, dengan santai Rani terus melangkah. Jantung nya terasa mau copot saat tiba – tiba tangannya di tarik, dan Rani merasa lebih kaget lagi saat mendapati wajah Erwin yang menatap seolah – olah akan melahapnya hidup – hidup.“A… A…. Ada apa?” tanya Rani terbata.Erwin tidak langsung menjawab. Matanya menyipit membuat Rani makin panas dingin. Ya ampun ini kan masih pagi.“Loe….” tunjuk Erwin lurus ke arah Rani. Saking merasa keselnya ia sendiri sampai tidak tau harus ngomong apa.“Lepasin temen gue!” terdengar sebuah suara di susul dorangan tubuh yang di rasakan Erwin. Rasa kesel nya makin meningkat saat mendapati wajah sangar Irma di belakangnya.“Loe lagi. Mau apa loe? Ini tu bukan urusan loe!” geram Erwin setengah membentak.“Ho ho ho, belum tau ya? Rani ini sahabat gue. Dan siapa pun yang berusaha nyakitin dia akan jadi urusan gue."“Heh…” cibir Erwin Sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap sinis kearah Irma. “Jadi loe seorang bodyguard ternyata."Dan sedetik setelah kata itu terucap dari mulut Erwin…“Aduh,” jeritan kesakitan terdengar. Erwin melihat kearah kakinya yang masih berdenyut sakit karena di injak sekeras – kerasnya oleh Irma yang kini tampak tersenyum puas.“Ha ha ha, rasain loe. Makanya kalau ngomong jangan asal nyeplak. Enak aja gue secantik ini di bilang bodyguard, yang ada gue itu pengawal pribadi. Ups, salah maksudnya gue itu sahabat terbaik yang pantes di jadiin teladan semua orang."“Dasar cewek sarap,” geram Erwin berusaha menahan emosinya.“Tunggu dulu, kok kalian berdua malah berantem?”Erwin dan Irma kontan langsung menoleh kearah Rani secara bersamaan. Menatap gadis itu yang terlihat heran sekaligus tidak percaya.“Dan itu karena elo!” tuding Erwin langsung.“Gue?” tunjuk Rani kearah wajahnya sendiri. Pikirnya segera melayang. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Bukannya ia sudah tutup mulut soal Accident yang terjadi pada Erwin kemaren.“Jangan sok polos,” sambung Erwin lagi. “Loe kan yang nyebarin gosip yang tidak – tidak soal gue?”“Gosip?” ulang Rani makin bingung.“Ha ha ha. Yang tidak – tidak? Nggak salah tuh. Bukannya yang iya – iya ya?” potong Irma disela tawanya.“Diem loe!” bentak Erwin kearah Irma yang masih tertawa. Mata Erwin sedikit menyipit kearah Irma. Sebuah pemikiran baru terlintas di benaknya.“Jangan bilang ini ulah loe?”“Tentu saja,” aku Irama nggak tanggung – tanggung. “Loe pikir gadis sepolos Rani mau melakukannya?”Mulut Erwin terbuka tanpa suara. Sementara Rani justru terlihat makin bingung. Kenapa dia di bawa – bawa?“Loe….” tunjuk Erwin kearah Irma, Eh bukannya takut Irma justru malah mendekat ke arah Erwin. Jelas terlihat menantang.“Makanya, jangan pernah berusaha mencari gara – gara sama gue,” balas Irma sebelum kemudian menarik tangan Rani. Mengajaknya berlalu meninggalkan Erwin dengan tampang bodohnya.“Eh tunggu dulu,” tahan Rani menghentikan langkahnya. Membuat Irma merasa heran. Dan lebih heran lagi saat melihat Rani berbalik, kembali menuju kearah Erwin yang masih diam terpaku.“Gue lupa mo bilang. Soal kemaren katanya loe yang bantuin gue waktu pingsan. Gue kan belum bilang ma kasih. Ma Kasih ya…” kata Rani sambil tersenyum namun justru malah membuat Erwin makin kesel. Dan sebelum Erwin sempat buka mulut, Irma sudah terlebih dahulu menarik tangan Rani dan membawanya pergi.“Loe bego apa dodol si? Kenapa loe malah bilang terima kasih sama tu anak?” geram Irma sambil menarik Rani menuju kekelasnya.“Lho, memangnya ada yang salah? Toh kan loe sendiri yang bilang kalau kemaren itu Erwin yang nolongin gue. Dan dari kecil itu nyokap bokap gue udah ngajarin tentang tatakrama. Nah karena dia yang udah bantuin gue, ya udah seharusnya donk gue bilang ma kasih."“Terserah loe aja deh,” Irma tak mau ambil pusing.“Oh ya, gue juga heran. Kenapa loe kemaren nggak masuk? Kasian tau, Rei kemaren nyariin loe,” jelas Rani.“Rei? Nyariin gue?” tanya Irma heran. Rani hanya membalas dengan anggukan.“Terus loe bilang apa?”“Ya gue bilang aja nggak tau. La kan gue emang nggak tau. Tapi abis itu dia ngobrol gitu sama Nandini. Tau deh ngomong apa an. Bukan urusan gue ini."“Sama Nandini?"Rani kembali mengangguk. “Tapi gue heran deh, kok loe biarin aja dia deket – deket sama Nandini. Entar kalau mereka jadian beneran apa loe nggak patah hati?”Mendengar pertanyaan Rani barusan sontak langkah Irma langsung terhenti. Mata Rani juga hanya berkedip – kedip heran menatapnya.“Kenapa?” tanya Rani lagi.“Loe bilang apa. Gue patah hati? Kenapa gue harus patah hati?"“Ya ela, loe kan cinta sama Rei. La nanti kalau Rei jadian Sama Nandini apa loe nggak jadi patah hati."“Yang bilang gue suka sama Rei siapa?”“Nggak ada si. Gue nebak aja. Memang nya salah ya?” tanya Rani membuat Irma jadi sedikit salah tingkah.“Tentu saja salah."“Jadi loe nggak suka sama Rei donk?” tanya Rani lagi.“Tentu saja tidak,” balas Irma cepat. Sedikit takut kalau Rani bertanya lebih lanjut. Bukannya apa, ia tau kalau temannya yang satu ini memang bukan ember, tapi ia juga sangat tau kalau mulutnya sangat gampang keceplosan. Bukitnya Erwin aja kena dampaknya.“Eh, itu bukannya Rei ya?”Refleks Irma langsung berbalik menatap kearah pandangan Rani. Jantung Irma terasa berhenti berdetak saat mendapati tatapan tajam Rei yang terarah lurus kearahnya sebelum kemudian berlalu pergi tanpa menyapanya sedikit pun. Sementara Rani sendiri hanya angkat bahu dan kembali melanjutkan langkahnya ke kelas. (Note : Untuk kisah Irma dan Rei bisa di baca selengkapnya dalam serial Dalam Diam Mencintaimu)Oke guys, bersambung dulu ya. Untuk kelanjutan kisah Rani dan Erwin lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 4Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.139 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Remaja: PENANTIAN CINTAKU

    PENANTIAN CINTAKUOleh: Rian sulaeman farhi Penantian kata itu yang selalu terucap di bibir ku,hanya berharap dan menanti kau datang dan mengambil cinta dariku. Awal bulan February pun telah berlalu hampir 3 bulan lebih aku menantinya berharap apa yang aku nanti bisa ku dapatkan kembali. Namun apa semua nya di luar dugaan ku,tak kusangka penantian ku selama 3 bulan ini akan menjadi sia-sia hanya karna kau telah mempunyai cinta yang lain.Kecewa,terluka yang aku rasakan saat itu. Hamparan penantian kosong yang kini masih tertinggal di kehidupan ku, tak tau apa yang harus aku lakukan lagi semua nya terasa berat aku jalani.Hari-Hari ku yang dulu ceria kini menjadi suram aku hanya bisa terdiam membisu memikirkan apa yang telah terjadi padaku, seakan-akan aku tak percaya dengan semua ini, sesekali aku berfikir mungkin ini hanya mimpi bukan kenyataan. Namun setelah aku terbangun ternyata semua nya bukan mimpi, kini kau telah bahagia dengan cinta yang lain.Saat itu aku yang duduk di kelas XII di sebuah sekolah swasta di daerah plered-purwakarta. Mengalami defresi berat karna semua di luar dugaanku. Kehadiaran ku di sekolahan pun menurun, aku yang tadinya tak pernah membolos kini sering membolos hanya karna memikir kan cinta dan wanita saja. Surat dari kepala sekolah dan guru BP pun berdatangan. “Asslamualikum.wr.wb.”Kepada orang tua murid saya selaku wali kelasnya Rian Sulaeman Farhi meminta ibu/bapak untuk hadir kesekolah membicarakan kehadiaran rian selama 1 bulan ini.Begitu lah isi surat panggilan untuk orang tua ku dari sekolahan ku yang sempat aku baca. Sesampainya surat itu kepada kedua orang tua ku mereka marah besar kepada ku,kecewa dangan apa yang telah aku lakukan sehingga surat panggilan dating dari sekolah.Aku yang sedang duduk di kursi saat itu sambil mengotak-atik Hp ku tiba-tiba . . . . “GUPRAKKKKKKKKKK” . . . .Sebuah suara di atas meja yang ada di depan ku, saat aku lihat ternyata tangan mama yang sedang memukul meja dengan sebuah surat di tangan. Kaget saat aku melihat nya.“ini yang di namakan sekolah . . . . . .?” Terdengar jelas di telinga ku suara kemarahan dari mama,aku hanya bisa terdiam saat itu menyesali apa yang telah aku lakukan. Mengecewakan sosok seorang mama.“maafin aku mama . . .” Ucapaku dalam hati kecil ini,Terdengar mama menangis seperti tak percaya dengan apa telah aku lakukan. Hanya gara-gara sebuah cinta dan wanita aku harus melihat mama menetes kan air mata. Saat itu aku mencoba untuk melupakan apa yang 3 bulan lalu terjadi, kini mama udah kembali lagi ceria dan mau memaafkan kesalahan ku.“aku janji sama mama aku gak akan ngecewain lagi mama dan buat mama meneteskan air mata untuk yang kedua kali nya” Kata itu yang aku ucapkan kepada mama.“makasih nak, belajar lah yang rajin mama gak mau liat kamu susah. Karena kehidupan sesungguhnya akan kamu rasakan nanti setelah kamu berkeluarga.” Jawab mama yang penuh senyum dan sambil mengelus pundak ku, seperti mama gak mau melihatku mempunyai beban.* * *Mentari pagi pun mulai terbit seperti biasa mama yang selalu bangunin aku buat sekolah, sesampainya aku di sekolah dan duduk di kelas hanya lamunan yang aku perlihat kan kepada temen-temen dan semua orang.Terlalu pahit penantian ku terhadap mu,hamparan luka yang kini aku terima walau pun aku udah janji sama mama untuk melupakan itu semua namun sulit bagiku, bayangan nya selalu menghantui hidup ku semakin aku mencoba melupakan nya semakin sakit hati ini. Seperti tak ada cara lain hanya diri mu yang mampu mengobatinya. Sesampai nya aku di rumah lamun lagi yang aku perlihatkan, sesekali mama memperhatikanku.“anak ku lagi terluka dan patah hati” Goda mama kepada ku.“apaan sich mama ini . . .” Jawab ku sambil sedikit tersenyum karna gak mau melihat mama ikut sedih.“udah gak usah bohong sama mama, mama juga tau kok. Karena mama juga kan pernah muda kaya kamu, jadi pernah ngalamin.“ Jawab mama sambil menghibur ku agar aku gak terus-terusan terpuruk dalam kesedihan.“bener gak ada apa-apa kok mama , , , , !!!!! ya, iya atuh mama pernah muda masa mama tua dulu sich?” Balas ku menggoda mama.Obrolan pun berlanjut tak terasa sore pun telah tiba,saking asyik nya ngobrol ama mama sampai-sampai aku lupa tadi mau makan siang. Canda tawa yang tadi bersama mama hilang sudah saat aku kembali ingat sosok bayangan nya lagi, entah kenapa bayangan nya terus menghantui, rasa rindu kepadanya pun semakin menjadi walau aku tau dia kini bahagia bersama orang lain. Hanya penantian dan harapan yang masih aku simpan untuk nya walau aku sendiri tak tau sampai kapan penantian ini akan berakhir.MY LOVE KU IKA YANG S’LALU AKU TUNGGU.e-mail: kalongrian@ymail.comfacebook: Rian Ygkans'lalucyanq Ikhac'lamanyatwitter: @riankalong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*