Cerpen Sahabat Be the Best Of a Rifal ~ 02

Sahabat sejati itu bukan orang yang selalu mebenarkan perkataan kita, tapi sahabat sejati adalah orang yang selalu berkata benar by Star Night.

Credit gambar : Ana Merya
Cerpen Sahabat sejati
Setelah meninggalkan kelasnya mereka menuju ke taman belakang sekolah yang biasanya tidak terlalu ramai. Sementara rio menuju ke kantin membeli makanan ringan. Farel nggax mau ke kantin karena pasti saat ini semua temen-temennya sedang membicarakannya.
Ketika mereka asyik memakan makanan yang tadi di beli oleh rio, tanpa mereka sadari ternyata tidak beberapa jauh dari mereka ada chika yang sedang asyik baca buku bersama clara sahabat karibnya. Dan sepertinya mereka tidak menyadari farel dan temennya karena sedang asyik baca .
“ssst. Liat tuch” kata Dino sambil menunjuk ke arah Chika dan Clara.
“apa?” tanya alvin sambil memandang ke arah yang di tunjuk dino.
“kenapa sama mereka?” tanya farel bingung.
“menurut kalian omongan vivi bener nggax sich?” tanya dino.
“ya pasti nggax mungkin lah. Kan tadi kalian lihat sendiri kalau buk alena yang minta dia ke depan” sahut Andika.
Sementara itu Clara yang nggax sengaja memandang ke sekitar karena matanya perih kebanyakan baca buku kaget karena mendapati Farel bersama Sahabatnya seperti sedang memperhatikan mereka. Clara langsung menyenggol lengan Chika yang Masih keasyikan membaca.
“ada apa?” tanya Chika tanpa menoleh.
“ada Farel sama Sahabatnya tuch” bisik clara.
“oh ya, mana?” chika melepaskan pandangannya dari buku yang di pegang karena tertarik akan ucapan sahabatnya.
“itu” Clara hanya memberikan kode agar Chika memandang ke tempat yang tak beberapa jauh dari meraka.
Sementara Chika begitu menemukan tempat yang di maksud sama clara langsung berdiri.
“eh mau kemana loe?” tanya clara heran.
“nyamperin mereka” sahut Chika santai.
“mo ngapain sich” tanya Clara sambil mengikuti chika yang terus berjalan menuju ke arah Farel cs. Tapi Chika hanya diam saja.
“mau ngapain loe kesini?” kata Farel begitu Chika dan Clara tiba di depan mereka.
“gue mau minta maaf” sahut chika sambil menatap farel yang juga sedang menatapnya.
“soal?” kejar Farel lagi. Sementara temen-temennya hanya diam saja.
“soal tadi pagi”
“jangan-jangan loe tadi pagi sengaja supaya loe bisa di puji di depan semua anak-anak” tuduh alvin.
“nggax. Bukan kayak gitu” chika gugup.
“terus, kenapa loe minta maaf?” tanya Farel lagi. Untuk sementara Chika terdiam baru kemudian melanjutkan.
“gimana pun juga gue tetap merasa bersalah. Tapi suer gue nggax pernah minta di puji sama siapa pun” terang Chika.
“ya udah kalau gitu, di maafin. Ya udah pergi sana loe” Usir Farel.
Chika segera beranjak pergi di ikuti sama Clara. Tapi baru beberapa langkah ia berhenti dan berbalik lagi.
“kenapa? Ada yang kurang?” tanya Farel.
“e… tapi kenapa sich loe sering banget datang terlambat kalau masuk bahasa inggris. Nggax pernah bikin pr lagi?”
Kata-kata yang di lontarkan Chika cukup membuat semua yang ada di sana kaget termasuk Farel.
“ bukan urusan elo!!!” bentak Farel.
“emang bukan sich. Tapi gue heran aja” sahut Chika “loe kan udah terkenal banget di sekolah. Emangnya nggax malu ya di hukum terus sama buk alena. Lagian apa susahnya sich belajar bahasa inggris dikit” sambung Chika yang membuat Farel dan sahabatnya makin sebel. Nekat banget tu anak.
“eh, jangan mentang-mentang tadi loe di puji sama buk alena trus sekarang loe ngelunjak ya. Dan lagian kan tadi gue udah bilang kalau itu bukan urusan loe. Mending sekarang loe pergi. Atau…..” Farel menghentikan ucapannya.
Chika sebenernya udah mau buka mulut lagi. Tapi terlanjur di cegah sama Clara.
“udah Chika, mending kita pergi sekarang” ajak clara sambil menarik tangan Chika. Mau nggax mau chika terpaksa mengikutinya.
“gue minta maaf kalau emang omongan gue tadi ada yang salah. Tapi ini semua kan juga demi kebaikan loe. Kalau emang loe nggax mau dengerin omongan gue, ya terserah. Gue permsi. Sekali lagi gue minta maaf” kata chika sebelum berlalu meningalkan farel dan temen-temennya.
“gila tuch cewek. Berani banget dia ngomong kayak gitu ke elo” kata dino begitu chika dan clara menghilang dari pandangan.
“tapi apa yang di omongin dia ada benernya juga kali. Emangnya sampai kapan loe kayak gini terus?” kata-lata andika jelas mengagetkan semua yang ada di situ karena kesannya andika membela chika.
“kok loe malah bela dia sich” kata dino sewot.
“ya bukan begitu. Tapi coba kalian fikir sendiri deh apa yang tadi di omongin sama chika” tambah andika lagi.
“tau ah. Meningan kita cabut aja dari sini. Bete gue” kata farel kemudian. Dan kebetulan tak lama setelah itu bel tanda jam istirahat habis terdengar.
Begitu farel cs masuk kekelas, pandangannya langsung tertuju ke arah chika yang kebetulan duduk di bangku paling depan. Tapi chika sama sekali tidak menoleh. Dia malah asyik membolak-balik buku catatannya seperti tidak merasa kehadiran farel dan temennya. Bahkan ketika farel melewati bangkunya, ia hanya diam saja.
Cerpen Sahabat Sejati
Setelah hampir seminggu berlalu semenjak kejadian itu, hubungan farel dan chika tetap dingin. Bahkan ketika itu kebetulan jam masuk pertama adalah bahasa inggris. Selain lima menit lagi pelajaran di mulai juga hari ini kan ada pr dan seperti biasa wajib di kerjakan, tapi farel belum juga menampakkan batang hidungnya, kira-kira kemana tu anak.
Barulah Setelah bel berbunyi, dan bu alena juga sudah masuk ke ruangan serta meminta semua siswanya untuk mengumpulkan tugasnya pada saat itu lah farel datang.
“farel, kenapa kamu telat?” tanya bu alena.
“maaf buk. Tadi macet” sahut farel.
“ya sudah mana buku latihan kamu”
Farel segera membuka tas dan mengeluarkan buku latihannya. Setelah itu ia berikan pada ibu alena. Setelah memeriksa sekilas barulah farel di perbolehkan duduk. Ketika farel melewati mejanya chika ia sempat memandang sekilas. Kebetulan chiaka juga sedang memandang kearahnya. Kemudian farel berlalu sambil tersenyum dengan senyuman yang sulit di artikan.
Dan begitu pelajaran selesai, ibu alena memberikan kabar yang cukup mengagetkan karena dari empat puluh siswa ada dua orang yang bisa menapat nialai sempurna. Karena bisa menjawab dengan benar semua yaitu chika dan farel. Tentu aja seisi kelas heboh. Tapi farel hanya tersenyum seorah sebuah senyuman kemenangan.
Begitu istirahat anak-anak langsung pada mengucapkan selamat sama farel. Karena biasanya hanya chika yang mendapat nilai sempurna. Tapi kali ini farel juga. Padahalkan seisi kelas tau kalau farel paling anti sama pelajaran yang satu ini. Tapi kok….
“gila rel. Kok tumben loe bisa bener semua. Salut gue. Selamat ya” puji alvin.
“ia donk. Farel” farel membanggakan diri.
“kayaknya bisa nyaingin anak emas tuch” kata dino sambil melirik chika. Tapi chika diam saja. Ia malah memasukkan bukunya ke dalam tasnya. Pura-pura nggax tau kalau lagi di sindir. Setelah itu ia langsung mengajak clara keluar. Tapi baru saja ia mau berdiri rio menghalanginya.
“ada apa?” tanya Chika.
“dari semua temen-temen kita kayaknya Cuma elo deh yang nggax ngasih ucapan selamat sama Farel” jawab rio.
“emangnya perlu?” tanya Chika “kayaknya enggax deh” sambungnya.
“kenapa? Loe takut karena ada yang bisa nyaingin elo?” Alvin ikutan nimbrung.
“kenapa juga gue mesti takut. Lagian kalau emang Farel sekarang dapat nilai tinggi. Bagus donk. Jadikan ada perubahan yang lebih baik” balas Chika.
“terus kenapa loe nggax ngasi ucapan selamat sama dia” ujar Andika.
“udah deh. Kalian ngapain sich minta dia buat ngucapin selamat buat gue. Kalau emang dia nggax mau ya udah. Lagian nggax penting juga ucapan selamat dari dia” potong Farel sebelum Chika sempet ngomong.
“ia” balas temen- temennya.
“mendingan kita cambut aja deh” ajak Farel lagi.
“tunggu” tahan chika “gue bukan nggax mau ngucapin selamat buat farel. Tapi menurut gue nggax ada tuch yang bisa di banggain dari dia” lanjutnya.
“maksud loe?” Andika merasa tersinggung karena Sahabatnya di remehin.
“maksud gue kanapa juga kita harus bangga sama hasil karya orang lain”
“jadi loe mau bilang kalau farel nyontek gitu! Sama siapa?!” kata dino.
“kenapa loe nggax tanya aja langsung sama orangnya?” sahut Chika sambil menoleh kearah Farel yang jelas terlihat kaget akan ucapannya.
“e jaga ya bicara loe. Kita di sini semua tau kok kalau Farel nggax mungkin nyontek sama kita-kita. Jadi loe jangan ngasal ya kalau ngomong” bentak alvin.
“ia. Jangan-jangan loe ngomong gitu karena sirik sama dia karena dia bisa nyaingin loe. Ia kan” vivi tiba-tiba ikutan ngomong.
Chika mendorong tubuh Rio yang dari tadi berdiri di depannya. Ia segera melangkah menuju Farel, dan berhenti tepat di hadapannya.
“loe hebat ya farel. Selamat” kata Chika ke arah Farel.
“loe emang hebat karena bisa bohongin seisi kelas. Tapi bukan gue!!!” sambung Chika yang membuat semua yang ada di sana kaget.
Mendengar itu Farel hanya terdiam, ia menatap tajam mata Chika yang berada tepat di hadapannya. Apa mungkin Chika tau kalau sebenernya itu memang bukan karya nya. Tapi sepupunya, niken Buat ngisi. Tapi dari mana? Sepupunya kan beda sekolah sama dia. Bahkan temen-temennya aja nggax ada yang kenal. Pikir Farel dalam hati.
“Clara, kita pergi yuk” ajak Chika kepada sahabatnya yang dari tadi hanya diam mendengarkan. Tanpa banyak komentar Clara langsung ngikutin Chika yang sudah meninggalkan Farel yang berdiri bengong.
Sebenarnya Andika ingin menahan Chika. Ia ingin tau apa sebenernya maksudnya ngomong kayak gitu. Tapi Farel terlebih dahulu mencegahnya.
“gila! Apa sich maksud dia ngomong kayak gitu?” guman alvin kesel.
“udahlah biarin aja. Kita juga menging cabut juga yuk” farel segera melangkah keluar. Ini kan jam istirahat.
“eh kalian mau kemana?” tanya vivi melihat farel mau pergi.
“bukan urusan loe” bentak farel.
Vivi langsung terdiam. Dan membiarkan farel pergi bersama temen-temennya.
“sialan. Semua ini gara-gara chika. Apa sich maksudnya dia pake nuduh farel nyontek segala. Dia fikir Cuma dia aja yang bisa dapat nilai bagus” omel vivi setelah farel hilang dari pandangan.
“ia vi.kayaknya tu anak perlu kita kasi pelajaran deh. Biar kapok” sambung tina.
“kalian bener. Awas loe chika. Lihat aja entar” kata vivi sambil meremas kertas yang ada di tangannya.
Begitu jam istirahat selesai. Semua anak-anak masuk. Dan ketika chika dan clara masuk seisi kelas memandang kearahnya. Tapi chika cuek bebek aja. Pura-pura nggax tau. Bahkan saat pelajaran berlangsung, chika sama sekali nggax ngomong apa-apa. Apa lagi minta maaf sama farel.
Cerpen sahabat sejati
Saat pulang sekolah semua berebutan keluar. Chika yang duduk di depan langsung mengemasi barangnya, dan memasukkan ke dalam tas nya. Ia ingin buru-buru pulang karena hari ini ia pulang bareng kakaknya yang barusan meng sms nya mengabarkan kalau ia sudah di tunggu di depan sekolahnya. karena kebetulan hari ini kakaknya pulang kuliah cepat, jadi bisa langsung pulang bareng.
Begitu chika melewati koridor sekolah, tiba-tiba vivi dan kedua temennya mencegatnya, tentu saja chika kaget.
"ada apa?" tanya chika heran.
"eh jadi orang jangan belagu ya!" bentak vivi sambil mendorongnya ke dinding.
"aduh. ada apa sich?"
"gue peringatin ya sama loe, jangan pernah loe bikin farel kesel lagi. atau loe akan tau akibatnya!" ancam vivi.
"ia. atau loe mau berurusan sama kita" tambah tasya.
"memangnya ada apa sich?" chika masih nggax ngerti.
"udah deh, pokoknya loe jauhin farel. ngerti loe!!!" selesai berkata vivi langsung mendorong nya hingga chika jatuh ke lantai.
"ia. catet tuch" tambah Tina. *Sori sob, nama u di pake. Abis u suka sadis si. So, kenapa gak sekalian aja/he he he*.
Setelah itu mereka semua pergi meninggalkan Chika yang kesakitan karena tangannya sedikit tergores. kebetulan di sana tidak ada siapa-siapa. dan dengan menahan rasa sakit chika langsung berdiri dan membersihkan debu yang menempel di rok nya. ia juga mengelap darah yang sedikit keluar dari lenanganya yang terluka. kemudian ia segera pergi karena kakaknya sudah kelamaan menunggu.
"gila, lama banget sih loe?" kata nino begitu chika ada di hadapannya.
"sorry. tadi gurunya lama sich" sahut chika sambil mengenakan helm yang di sodorkan kakaknya.
"tangan loe kenapa?" tanya nino begitu melihat lengan chika yang terluka.
"oh. anu ini. tadi aku nggax sengaja jatuh. tapi nggax papa kok" sahut chika berbohong.
"bukan karena di jahilin lagi kan?" selidik kakaknya.
"ya enggak lah kak, ini murni salah aku kok, udah yuk buruan. udah siang ni. panas lagi" potong chika.
"0. kalau gitu ya udah. kakak kuatir kamu di jahilin lagi seperti di sekolah yang dulu" sahut nino sambil menyalakan mesin motornya.
chika diam saja, ia tida mau kejadian ini sampai di ketahui kakaknya. apalagi sampai membuat kakaknya kuatir.
Next to Cerpen Persahabatan be the best of a rival part 3

Random Posts

  • Cerpen Pendek Mantanku Thank you

    Haloooo All, My Reader . Masih pada nungguin lanjutan Cerpen Cinta kala cinta menyapa sama cerpen remaja Take My Heart yak?… Sory ya, tu cerpen belom bisa di lanjutin. Penulis udah bilang kan kalau mendadak kehabisan ide buat nulis. ha ha hai, Ya wajarlah, namanya juga penulis amatir. ^_^Nah, sebagai gantinya penulis post cerpen kiriman ni. Dari Megawati yang ada di makasar sono. huuuu jauh kali. Salam kenal ya?. Sama ma kasih juga. Ceritanya bagus, dan penulis suka. Apalagi pas kalimat ini "Move on adalah caraku melampiaskan rasa sakit, tersenyum adalah caraku mengabaikan rasa benci, dan sukses adalah caraku membunuh rasa dendam". (y).Kutatap bulan yang tersenyum padaku malam itu. Hembusan angin membuat tubuhku terasa menciut. Di bawah pohon bambu yang begitu subur, terlihat kunang-kunang menari-nari memancarkan keindahan cahayanya, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Malam itu sungguh indah, begitu indah. Menikmati keindahan malam bersama seorang yang kucinta membuatku sangat bahagia. Dialah, dialah Hedy, orang yang paling kucinta. Dia bagaikan kunang-kunang yang menyinari hatiku setiap saat. Dia menciptakan cinta dan ketulusan yang tak terhingga. Aku mencintai dan menyayanginya. Tepat jam 7 malam, kami meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tempat makan. sebagian

  • Cerpen Special Valentin “Sepotong coklat untuk nanda”

    Ceritanya si, ini cerpen spesial buat Valentin day yang ‘katanya’ tinggal beberapa hari lagi. Hayo, tunjuk kaki siapa yang pada ikut ngerayaain. Star Night nggak ikut – ikutan ya. Cuma ikutan bikin cerpen aja. Ho ho ho. So, cekidot…Credit Gambar : Ana MeryaCerpen Special valentin dayDengan langkah mantap nanda masuk kekelasnya, segera duduk di samping anggun, teman sebangkunya tanpa memperdulikan tatapan kagum yang tertuju padanya dari penhuni lawan jenis kampus itu.Kening nanda sedikit berkerut mendapati sekuntum mawar tergeletak di atas mejanya. Anggun hanya angkat bahu sebagai balasan tatapan heran nanda padanya.sebagian

  • Short Story Be Friends Forever

    Be Friends Forever _ Niatnya si mau bikin curhatan aja, tapi kayaknya lebih asik kalau di bikin cerpen deh. Itung itung bisa dijadikan hiburan.Yups, lagi lagi cerpen yang di ambil dari penglaman hidup. Kisah nyata yang kemudian di rekayasa, intinya nikmatin aja lah…Happy reading…..Be Friends Forever Dengan langkah ceria Natasya terus melangkah, senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Senyum bahagia, ia yakin saat ini, di dunia ini tidak ada seorang pun yang lebih bahagia selain dirinya. Bagaimana kau tidak merasa bahagia ketika kau tau, kau selalu bersama seseorang yang kau sukai. Seseorang yang kini berjalan bergandengan tangan denganmu. sebagian

  • Cerpen Persahabatan: SENYUMMU ADALAH HIDUPKU

    Cerpen persahabatan berjudul Senyummu adalah Hidupku ini dikirim oleh Sarah Aulia.oleh: Sarah Aulia – Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.***Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”“Dari siapa ma?”“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.***Aku sampai di sekolah. “Pagi Lala. Sendiri aja?” seseorang mengagetkanku dari belakang.“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?” “Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?” “Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…” “Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”“Boy Band.”“Ia deh apakatalo.”“Baik lah. Emang kenapa?” “Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?***“Bisa gila gue lama-lama….” Jeritku ketika aku melihat sebuah karangan bunga lagi di meja belajarku.“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi“Terus?”“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.***“Hai La… Din.” Seseorang menepuk pundakku.“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.“Kapan?” Tanyaku.“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.***Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina datang ke acara peluncuran single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham akan mengenalkanku pada personel Boy bandnya.“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”“Gue? Kok bisa?”“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.***Tok… tokTerdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi“Maksud lo?”“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”“Yup… bisa dibilang begitu.”“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit. ***“Kok bisa penyakit jantungnya Dina kambuh? Emangnya kenapa?” tanyaku kepada Ilham yang sedang berada di ruang tunggu.“Jadi begini….”“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah… Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”“Maksud dokter?” tanyaku.“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.“Gue juga minta maaf ya…” katakku kepada Dina“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…Brak….Nitt…..Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah. Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*