Cerpen Romantis: WHEN THE TIME COMES

WHEN THE TIME COMESCerpen RomantisOleh Bella Danny Justice
“if i tell you…
Will you listen?
Will you stay?
Will you’d be here forever?
never go away…”
(Within Temptation – Bittersweet)
Sudah lama Myca memendam perasaan cintanya kepada Michael yang juga teman sekelasnya pada masa SMA dulu, namun kesempatan bagi dia untuk mengutarakan isi hatinya tak pernah tersampaikan. Michael memanglah teman sekelas Myca, tetapi mereka jarang sekali berinteraksi atau hanya sekedar bertegur sapa. Michael adalah sosok yang pendiam dan cool sehingga ia diidamkan banyak perempuan-perempuan di sekolah, dia tampan dan paling pintar dalam bidang olahraga. Banyak wanita yang berangan-angan ingin menjadi pacarnya, dan tidak sedikit yang berani mengungkapkan perasaannya kepada Michael secara terang-terangan, tetapi hasilnya begitu mengejutkan sekaligus membuat rasa penasaran Myca memuncak akan diri seorang Michael. Laki-laki itu tidak pernah menerima salah satu pun dari mereka dan ia belum pernah berpacaran.
Myca menyadari rasa sukanya semakin mendalam ketika pemakaman ayah Michael yang meninggal karena sakit keras. Ia merasa sangat terpukul seakan ikut memikul beban kesedihan yang dialami Michael waktu itu. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak mampu menahan rasa ibanya saat melihat wajah Michael yang suram lagi di rundung duka. Momen itu adalah kenangan yang paling tidak terlupakan bagi Myca, tetapi kenyataan pahit harus ia telan bulat-bulat. Kini tak ada lagi Michael yang ia kagumi. Hari-hari di sekolah bersama, masa-masa Ujian Nasional, sampai pada acara perpisahan ke puncak… semua itu telah berlalu dan menjadi sebuah memory manis yang akan selalu terekam di kepala Myca.
Dunia nyata sudah di depan matanya. Setelah lulus SMA ia memutuskan melanjutkan kuliah di Jerman. Dan dengan jalan ini pula ia berharap dapat melupakan sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan bayangan Michael yang hadir dalam mimpinya setiap malam. 4 tahun menetap dan belajar di Jerman pun rupanya belum cukup untuk menghapus Michael dari kehidupannya secara utuh, akhirnya Myca kembali ke Indonesia dengan menyandang gelar .Ing pada namanya sebagai bentuk ketuntasan ia menyelesaikan program study S1-nya.
Wanita yang memakai sweater biru tebal dan syal berwarna cream itu menghela nafas panjang sesampainya ia di bandara. “haaahh, ich komme…” gumamnya menggunakan bahasa Jerman. Di sana telah menunggu seseorang yang menjemputnya, pria itu nampak gusar memperhatikan sekelilingnya, ia hanya mondar-mandir-duduk-berdiri dan menoleh ke kanan-kiri. “Hey, Myca! Sebelah sini!” teriaknya dengan lantang ketika mendapatkan sosok yang ia cari sedari tadi. Saat mendengar ada yang memanggil namanya, Myca menggiring kopernya dan menghampiri orang tersebut.
“Wer sind Sie bitte?” tanya Myca masih menggunakan bahasa Jerman. Ia heran mengapa pria ini mengetahui namanya, ia takut orang ini adalah orang jahat, itu sebabnya ia tidak berbahasa Indonesia.
Wajah pria itu terlihat kosong. Ia tidak mengerti maksud perkataan Myca. Ia menaikan satu alisnya dan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk seperti orang yang sedang berfikir. “hmmm… baiklah akan ku coba! Mein name ist Hyou, es freut mich Sie kennenzulernen.” Kemudian laki-laki itu tersenyum lebar ke arah Myca dan membuat Myca benar-benar bingung.
“tidak buruk. Tapi aku tidak mengenalmu, jadi minggirlah dari jalanku.” Myca menggandeng genggaman koper besarnya dan bersiap melangkah pergi dari sana, tapi pria itu kembali menghalanginya dan ia tidak membiarkan Myca lewat.
Wajahnya memerah menahan kesal, ia mendekatkan mukanya ke pria itu. “apa mau mu?! Jangan membuatku naik darah!” gertaknya tegas.
Hanya dengan satu kali hardikan Hyou langsung menyingkir dari hadapan Myca dan membiarkan wanita itu berjalan melewatinya. “apa kau lupa siapa aku?!” sahutnya yang seketika menghentikan langkah kaki Myca. Dengan berat hati ia menoleh ke arah pria bernama seperti orang keturunan Jepang tersebut namun tiba-tiba saja sebuah pelukan sudah melayang di tubuhnya.
“apa kau tidak ingat aku Myca?! aku Hyou! Aku teman masa kecilmu dulu!” ujar Hyou berusaha mengingatkan Myca tanpa melepas dekapannya.
Myca mendorong kasar pundak Hyou dengan kedua telapak tangannya untuk melepaskan pelukan yang menurutnya menjijikan itu. “kau sudah gila?! Aku tidak punya teman bernama Hyou!”
###Kejadian kemarin berhasil membuat mood Myca berantakan. Baru saja ia kembali menginjakkan kakinya di Indonesia ia sudah bertemu orang gila yang mengaku teman masa kecilnya dulu. Myca berkutat dengan fikirannya semalaman dan ia yakin betul bahwa ia tidak pernah memiliki teman dengan nama Hyou. Ia memikirkan pria itu bukan karena perduli, tapi hanya ingin memastikan kalau ingatannya masih bagus. Mana mungkin aku tidak ingat dengan temanku sendiri? Kalau ia benar temanku pasti aku tidak akan lupa padanya. Katanya dalam hati.
Hari ini Myca berencana pergi ke rumah Elizabeth teman semasa SMA-nya. Ia memanaskan mesin mobil dan bersiap-siap untuk temu kangen dengan sahabatnya itu. sudah lama sekali rasanya aku pergi, seperti apa ya dia sekarang? Pikirnya.
Myca melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di otaknya sekarang banyak sekali pertanyaan yang bermunculan terlebih ketika ia melewati sekolah SMA-nya. Entah mengapa rasa rindu itu muncul… ia ingin bisa bertemu dengan Michael, harapannya masih belum berubah baik dulu maupun saat ini. Ia ingin perasaannya terbalas, walau hanya sedikit… ia berdoa agar Michael juga merasakan perasaan yang sama dengannya…
jika tidak ada lagi yang dapat ku percayai di dunia ini, ketahuilah Michael… satu yang akan selalu aku percaya bahwa hatiku tetap menyayangimu…
Pikiran Myca melayang-layang entah ke mana sampai-sampai ia tidak menyadari lampu merah yang menyala dan seseorang hendak menyebrang jalan.
Myca menginjak rem secepat yang ia bisa, ia memejamkan matanya dan berteriak histeris. “aakkkkhhhhhhhh!!!” Myca harap ini tidak terlambat, dia harap dia tidak menjadi seorang pembunuh. Perlahan ia membuka kedua matanya dan melihat seorang pria terduduk di depan mobilnya dan syukurlah tampak tanpa cacat ataupun luka. Sejenak ia terdiam, kedua tangannya yang masih memegang stir mobil bergetar dan berkeringat. Akhirnya Myca melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil dengan terburu-buru kemudian menghampiri orang itu.
Myca menjatuhkan lututnya ke atas aspal lalu menyentuh pundak pria yang hampir ia tabrak dan mengucap penuh rasa sesal. “aku sungguh minta maaf, aku tidak sengaja… tolong maafkan aku…”
Pria tersebut memalingkan wajahnya ke arah Myca dan tersenyum lembut. “tidak apa, aku tau kau tidak mungkin sengaja melakukannya. Aku baik-baik saja dan tidak luka sedikitpun kok.”
“Michael?” ucap Myca dengan pelan. Ia tidak percaya bahwa laki-laki di hadapannya sekarang adalah Michael. Ia ingat dan tidak mungkin salah! Dia Michael! Dia orang yang di sukai oleh Myca! Dan takdir kini mempertemukan mereka kembali…
###Elizabeth terus membolak-balik majalah Cosmopolitan itu dan sesekali melirik sahabatnya Myca yang diam termenung menopang dagu di depan monitor laptop sambil melihat-lihat foto kenangan masa SMA dulu.
“kau sudah melihatnya ratusan kali, apa tidak bosan?” sindir Elizabeth, ia meletakan majalah itu di atas meja kecil di samping tempat tidurnya dan mendekati Myca.
“apa yang akan kau lakukan ketika kau mengetahui bahwa orang yang paling kau cintai akan segera menikah?” nada datar dan tak bersemangat itu keluar dari bibir Myca. Mulutnya berkata tetapi pandangannya hanya terfokus pada foto Michael di layar laptop yang memakai baju seragam putih abu-abu penuh dengan coretan tanda tangan dan piloks warna-warni. Ya, itu adalah foto kelulusan di mana saat semua teman-teman Myca sibuk bercanda ria tetapi ia tidak bisa ikut merayakannya karna suatu hal.
“merelakannya… itu yang akan aku lakukan jika aku menjadi dirimu.” Katanya singkat dan padat. Rupanya jawaban Elizabeth memberikan reaksi terhadap Myca. Ia menutup laptop itu dan menatap Elizabeth dengan mata nanarnya. “aku serius! Ini bukan hanya sekedar orang yang paling kau cintai, tetapi sangat amat kau cintai!”
Elizabeth tidak menjawab perkataan sahabatnya tetapi ia malah merangkul Myca. Ia tau persis bagaimana perasaan sahabatnya itu akan Michael, ia tau Myca sangat menyukai Michael, tapi tak banyak yang bisa ia lakukan selain memberikan sebuah pelukan untuk Myca meluapkan kesedihannya.
Takdir yang menemukannya dan Michael ternyata menyimpan kejutan besar, khususnya bagi Myca. Setelah kejadian itu Myca sempat berbincang dengan Michael di sebuah cafe. Percakapan yang paling panjang yang pernah terjalin antara ia dan Michael mungkin.
“apa kabarmu? Aku dengar setelah kita lulus SMA kau langsung pergi ke Jerman untuk melanjutkan kuliah?”
“iya, kau betul, aku baru lulus dan pulang dari Jerman kemarin. Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Sekarang sedang sibuk apa?”
“aku juga sangat baik. Yaaa… seperti biasa, aku sibuk bekerja dan sedang mempersiapkan acara pernikahan.”
“oya? Maaf aku tidak bisa lama-lama, ibuku pasti mengomel kalau aku terlalu lama berpergian. Aku pulang dulu ya. Bye”
“tunggu Myca! boleh aku tau nomer telfon mu?”
“ya, tentu.”
Wanita itu berfikir apa spesialnya sebuah nomer telfon? Lagipula Michael pasti tidak akan menghubunginya. Ya, karena dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan perempuan yang ia cintai. Sakit sekali hati Myca begitu mendengar ucapan itu terlontar dari mulut Michael. Disaat harapannya terkabul tetapi ia harus menelan kenyataan yang memilukan… rasanya perih seperti tertusuk duri bunga mawar yang indah namun mampu melukai seseorang yang menyentuhnya.
Ia menyesal mengharapkan untuk bertemu lagi dengan Michael. Ia menyesal dapat melihat Michael kembali. Jika bisa ia memutar waktu, ia ingin tetap berada di Jerman dan tidak kembali untuk selamanya, membiarkan perasaannya tersiksa setiap hari dari pada harus mengetahui berita tak mengenakkan ini.
###Benda kecil yang terus berdering itu memaksa Myca yang masih terlelap untuk bangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba pada meja di samping ranjang dan meraih benda tersebut. Myca mengusap-usap matanya beberapa kali lalu membukanya. Ia melihat sebuah pesan dari nomer tak di kenal bertuliskan :
Guten Morgen Myca, ini aku Michael, aku ingin mengajakmu keluar malam ini, apa kau ada waktu?
Saking terkejutnya Myca, ia langsung bangun dari posisi tidurnya dan membalas pesan dari Michael :
Aku tidak tau ternyata kau bisa bahasa Jerman juga haha baiklah, aku bisa. Jam berapa dan di mana tempatnya?
Beberapa saat kemudian Michael membalasnya :
Tidak, aku tidak bisa bahasa Jerman, hanya itu yang aku tau hahaha jam 7 di cafe tempat waktu itu kita bertemu, ok?
Myca membalas pesan itu lagi :
Ok. Baiklah, bis später
Yang ada di dalam pikiran Myca sekarang adalah “Berpenampilan sebaik mungkin!” anggap saja ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Michael karena setelah acara makan malam ini pasti tidak ada lagi kesempatan ia untuk berjumpa dengan pria pujaannya itu. Michael pasti akan sibuk dengan keluarga barunya, istri dan anak-anaknya. Ah, entah mengapa selalu saja hal negative tentang Michael yang terfikirkan olehku. Gumamnya.
Myca tau ini waktunya dia untuk berhenti berharap, ia tidak boleh lagi membuang-buang waktunya untuk Michael yang bahkan tidak mengerti perasaannya sedikitpun. Sepertinya ungkapan “tidak semua impian menjadi kenyataan” memang benar, buktinya ini lah yang sedang terjadi kepada Myca. Hatinya belum sanggup merelakan Michael namun ia harus bisa menerima takdir yang telah digariskan.
Pukul 5 sore ia sudah bersiap-siap dan berdandan secantik mungkin untuk tampil di depan Michael. Pilihannya jatuh pada dress berwarna hitam di atas lutut dengan lengan pendek dan aksen bunga mawar di bagian pinggang. Myca mulai memoles wajahnya dengan foundation dan bedak tipis, ia menambahkan blush on dan lipstick berwarna pink cerah serta tidak lupa membubuhkan eyeshadow glitter pada kelopak matanya juga mascara, sedangkan untuk rambut, ia membiarkannya terurai alami.
Voila! Persiapan kini sudah selesai. Sentuhan terakhir adalah sepatu. Myca memakai heels berwarna hitam dengan bahan suede agar terlihat sederhana. Ia berjalan ke arah cermin besar di dalam kamarnya. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya melihat bayangan seorang perempuan yang begitu cantik di dalam cermin itu. Myca tersenyum geli sambil sesekali merapihkan rambutnya. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi klakson dan ia segera turun ke lantai bawah.
“m-maaf membuatmu menunggu.” Ucap Myca sedikit gugup. Michael nampak sangat tampan malam itu, dengan penampilan yang sederhana namun tetap menarik. Ia mengenakan Jersey team bola favoritnya yaitu Barcelona dan celana jeans hitam. Myca rasa akan sulit untuk bisa benar-benar merelakan pria itu seperti yang disarankan oleh Elizabeth.
“tidak apa. Kau cantik sekali Myca, ayo kita berangkat.” Pria itu tersenyum manis lalu membukakan pintu mobil untuk Myca.
Astaga, bagaimana mungkin aku bisa melupakan Michael kalau dia bersikap seperti ini kepadaku?
Di perjalanan menuju restaurant tidak ada di antara mereka berdua yang berani memulai pembicaraan. Baik Myca dan Michael keduanya nampak gugup dan malu-malu untuk membuka mulut. Untunglah jarak restaurant itu tidak terlalu jauh jadi mereka tidak perlu berlama-lama larut dalam keheningan yang membosankan.
Begitu memasuki tempat makan itu Myca dan Michael langsung disambut oleh seorang pelayan yang membawa mereka ke bangku spesial yang telah di pesan Michael. Pelayan itu tersenyum ramah dan mengulurkan daftar menu kepada mereka.
“kau mau pesan apa?” tanya Michael.
“sama sepertimu saja, lagipula aku baru kedua kalinya ke sini, sepertinya kau lebih tau makanan mana yang enak.” Ujar Myca lalu menyerahkan kembali daftar menu pada sang pelayan.
Michael tidak menjawabnya lagi, ia hanya mengedipkan satu matanya memberi tanda kepada pelayan itu untuk meninggalkan mereka berdua. “baiklah, sebelum makanannya datang aku ingin berbicara dulu denganmu.” Kata pria itu sambil mengambil posisi duduk serius.
“hal apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Myca tanpa basa-basi.
Michael tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak kemudian berkata. “aku menyukaimu.”
Oh takdir! Tolong jangan permainkan aku! “kau pasti bergurau.” Kata Myca cuek.
Tidak lama datang seorang pelayan yang membawakan minuman dan makanan untuk keduanya.
“silahkan, selamat menikmati.” Ucapnya. Pelayan itu tersenyum dan segera pergi dari sana.
Michael memandang wajah Myca. Ia menatap mata gadis itu dalam-dalam. “aku serius Myca.” Entah kenapa mendengar pengakuan Michael hati Myca justru merasa sakit. Ia merasa di tipu.
“bagaimana dengan persiapan pernikahannya?” Myca sengaja mengalihkan pembicaraan, ia harap Michael akan mengganti topik pembicaraan mereka.
“ohh soal itu, sudah 80%. Aku harap kau bisa datang menghadirinya.” betul saja! Sepertinya memang Myca harus mengakhiri perasaannya selama ini terhadap Michael.
Bagaimana kau bisa berkata seperti itu padahal kau akan menikah dengan orang yang kau cintai?
Myca beranjak dari tempat duduknya tanpa sepatah katapun. Ia meninggalkan Michael sendiri di restaurant itu. Ia tidak tahan mengahadapi semua cobaan yang datang bertubi-tubi ke dalam hidupnya. Rasanya ingin ia berkata “Dunia, mengapa kau begitu kejam? Tidak adakah belas kasihan untukku Tuhan? Berikanlah aku sedikit kebahagiaan…”
###“bagaimana kau bisa tau rumahku?! Untuk apa kau kesini?!” pria yang menemui Myca saat di bandara waktu itu datang ke rumahnya. Ia sungguh terkejut bukan main.
“kan sudah ku bilang, aku ini teman kecilmu! Aku Hyou sahabatmu saat kau tinggal di Jepang ketika berumur 5 tahun Myca!” Myca terbelalak mendengar perkataan Hyou yang mengaku sebagai sahabat kecilnya. Ia baru ingat, ia benar-benar lupa! Sudah 16 tahun tetapi pria itu masih ingat dengannya.
Aku tidak menyangka ada orang dengan ingatan yang tajam seperti dia…
Hyou? Apa dia benar Hyou teman kecilnya dulu yang selalu menggendongnya ketika terjatuh dari sepeda? Apa dia benar Hyou teman kecilnya dulu yang memberikan topi rajutnya saat telinga Myca mulai membeku karena musim dingin di Tokyo? Apa dia benar Hyou yang dulu pernah menyatakan cinta padanya saat musim semi di bawa pohon ceri yang bermekaran?
ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya! Jahat sekali aku terhadapnya..
“Hyou?” ucap Myca, suaranya yang sangat pelan hampir tak terdengar oleh Hyou. Ia masih belum percaya bahwa pria yang ada di depan matanya benar-benar Hyou teman kecilnya saat berada di Jepang dulu.
Hyou melangkah pasti menghampiri Myca. Tanpa harus di jelaskan ia sudah tau bahwa gadis itu sekarang sedang terkejut bukan kepalang. Hyou menyentuh tangan Myca, ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. “aku pindah ke Indonesia sejak kau pergi dari Tokyo, aku selalu mengikutimu selama ini, tetapi aku sengaja tidak mengikutimu ke Jerman karena aku tau kepergianmu ke sana karena seseorang yang sangat kau cintai Myca.”
“Hyou maafkan aku..” tangis Myca yang tersedu-sedu mulai terdengar, ia merasa sangat sedih saat ini. Ia butuh seseorang yang mampu meredakan kepedihan hatinya akan Michael. Ia butuh seseorang! Refleks ia langsung memeluk Hyou dengan erat, tangisnya pecah seketika itu juga, ia tidak bisa lagi menanggung beban ini sendirian.
“menangislah Myca, aku akan selalu ada untukmu… aku akan menemani saat-saat suka dan duka mu, aku tercipta untuk menemanimu… hanya saja aku kurang beruntung karena aku tidak di takdirkan untuk menjadi pendamping hidupmu. Kau harus berusaha agar mendapatkan apa yang kau inginkan, jangan menyerah sedikitpun. Aku yakin nanti akan tiba waktunya bagimu merasakan kebahagiaan..” dalam pelukannya itu Hyou menepuk-nepuk punggung Myca dengan lembut. Ia mencoba menenangkan gadis itu seperti seorang adik, ia sadar perasaanya terhadap Myca tidak akan pernah terbalas. Ia tau hanya ada satu orang yang ada di hati gadis itu.
Kata-kata Hyou membuat Myca sedikit lebih baik. Beberapa saat kemudian ia mulai tenang dan kembali duduk di sofa. “terimakasih Hyou, maaf aku sudah berbuat kasar padamu waktu di bandara.” Myca menghapus air matanya yang sesekali masih mengalir di pipinya dengan punggung tangannya.
Hyou mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya lalu mengusap tangis Myca. “tidak apa, aku tau kau pasti akan lupa karena itu sudah lama sekali. Jadi aku memaafkanmu.” Pria itu tersenyum begitu lebar sehingga matanya yang kecil hanya terlihat seperti garis. Kalau saja ada keajaiban, Myca berharap ia tidak pernah jatuh cinta kepada Michael, dan ia berharap Hyou lah orang yang ia cintai. Jika keadaannya seperti itu, pasti semua akan terasa lebih mudah, tidak menyakitkan seperti yang ia rasakan sekarang.
###Selama 1 minggu ini sudah kali ke 5 sms dari Michael berdatangan tetapi Myca tidak lekas membalasnya. Bagaimana bisa ia menahan rasa sakit untuk membalas pesan dari pria yang sangat ia cintai itu? hari ini saja pagi-pagi sekali ia sudah mengirim sebuah text :
Myca, acaraku sudah 100% selesai. Aku ingin kau datang hari ini jam 6.30 pm di Hotel Indonesia. Maaf karena aku tidak sempat memberi undangannya karena terlalu sibuk, kau tinggal sebutkan saja namamu kepada pendaftar tamu, dia akan mengizinkanmu masuk. I’ll be waiting~
Apa Michael sengaja? Atau dia terlalu bodoh? Pesan yang ia kirim sungguh menyiksa batin Myca. Hatinya perih teriris sembilu. Dia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Apa ia bisa menghadiri acara pernikahan pria itu? apa ia bisa merelakan semua ini dengan tulus ikhlas? Apa ia berani berhenti dari penantiannya selama ini? Apa seperti ini kah ending kisah cintanya? Ia menghadiri pesta pernikahan seseorang yang sangat amat ia cintai, memberi mereka selamat dan kecupan di pipi kanan dan kiri untuk pengantin wanita, apa ia bisa melakukan itu semua?
Tekad Myca sudah bulat. Ia meyakinkan dirinya untuk yang terakhir kali bahwa ia “BISA” melewati semua ini. Ya, hanya 1 hari ini dan semuanya akan berakhir. Ia tidak akan lagi tersiksa oleh penantiannya yang hanya membuang-buang waktu. Myca meminta Hyou untuk menemaninya pergi ke acara pernikahan Michael. Hyou dengan senang hati menerima ajakan sahabatnya itu, ia tau Michael adalah laki-laki yang sangat di cintai Myca setelah wanita tersebut menceritakan semuanya. Ia paham dan sangat mengerti perasaan Myca yang sedang terguncang.
Jam 6.40 mereka sampai di sebuah ruangan ballroom megah yang bergaya classic. Design pesta pernikahan yang sangat anggun menurut Myca. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan dan interior-interior mewah yang menghiasi gemerlapnya pesta tersebut. Warna gold dan merah yang indah tampaknya membuat Myca terhipnotis sampai-sampai ia lupa akan keberadaan Hyou yang mengamatinya sambil terkekeh.
“kau nampak begitu takjub. Aku pun bisa mengadakan yang seperti ini jika kau memintanya padaku.” Kata Hyou yang diakhiri canda tawanya.
Myca mendengus kesal, ia mempercepat langkahnya menjauhi Hyou dan berniat untuk mengambil segelas minuman yang tersedia di sebuah meja besar namun sepatu haknya menginjak gaun Myca yang terjuntai panjang dan keseimbangannya pun goyah. Ia sudah bersiap untuk menahan malu, ia tau pasti ia akan terjatuh. Tetapi Hyou bergerak cepat dan menahan tubuh Myca.
“kau mungkin bukan jodohku, tapi kau tidak bisa lepas dariku Myca.” Hyou memandang gadis itu beberapa saat. Ia rasa ia sudah gila karena ia benar-benar mencintai orang yang tidak bisa ia miliki.
Myca tidak merespon perkataan Hyou, ia hanya terdiam dan kembali berjalan menuju stand ice-cream di sana. Kalau saja keajaiban itu ada, aku pasti memilihmu Hyou! Tetapi aku tidak bisa. Maafkan aku…
Sudah 20 menit Myca menikmati pesta pernikahan itu namun ia tidak menangkap sosok Michael dan pengantin wanitanya. Matanya masih mencari-cari keberadaan Michael, sedangkan Hyou, ia menghilang entah kemana, Myca pun jadi kesal dibuatnya. Lalu terdengar suara seseorang yang begitu ia kenal memanggil namanya. “Myca, maaf membuatmu menunggu begitu lama. Aku terjebak macet saat menuju ke sini.” Dia datang! Michael terlihat seperti orang yang habis mengikuti lomba lari, ia mengucap dengan nafas yang tersengal-sengal dan nampak sedikit berkeringat karena kelelahan. Tetapi Myca menemukan sedikit keganjilan.
“lalu dimana mempelai wanitmu? Kau tidak pergi bersamanya?” tanya Myca heran.
Michael menatap wanita itu dengan ekspresi aneh. Ia mengerutkan dahinya dan melangkah mendekati Myca. “mempelai wanita? Apa maksudmu Myca? aku menyuruhmu datang ke sini untuk menunjukan hasil kerjaku sebagai Event Organizer suatu acara, dan aku di percayai menangani proyek ini.” jelas Michael.
“jadi ini bukan acara pernikahanmu?!” tanya Myca masih tidak percaya. Ia speechless tak dapat berkata apa pun selain meragukan penjelasan Michael.
“pernikahan?” katanya kebingungan, tak lama Michael tertawa terbahak-bahak. Ia mengerti sekarang mengapa waktu itu Myca beralasan ingin cepat pulang saat pertama kali mereka berjumpa dan mengapa Myca meninggalkannya saat mereka dinner. Michael memperhatikan wajah wanita itu merah padam menahan malu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya lagi, Michael menyukai Myca!
Pria itu menyentuh dagu Myca dan mengangkat perlahan wajahnya yang tertunduk pada karpet merah tempat mereka berdiri. “Myca, dari dulu… aku menyukaimu sejak dulu. Aku ingin kau tau semua ini, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku selamanya dari mu dan menghindarimu. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku seperti waktu kita SMA. Dulu aku terlalu naif untuk mengakui bahwa aku menyukaimu, tetapi sekarang aku ingin kau mengetahuinya… aku mencintaimu Myca, kau wanita yang sangat aku cintai. Aku beruntung bisa bertemu lagi denganmu, karena itu aku tidak akan membuang kesempatan ini. Aku tidak mau lagi bertindak bodoh…” kata-kata Michael terhenti ketika Myca melayangkan pelukannya. Wanita itu menangis, tetapi Michael dapat merasakan bahwa itu adalah tangis kebahagiaan, itu adalah tangis dari penantiannya yang begitu mengharu biru.
Michael melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Myca, sedangkan Myca merangkul leher Michael. Pelukan itu terasa amat nyaman bagi Myca, ini lah yang ia dambakan… ini lah yang ia harapkan… ini lah yang ia impikan selama ini… dan ini lah doanya…
Tuhan maafkan aku yang sempat meragukanmu, ternyata selama ini kau begitu baik terhadapku… mengetahui bahwa ia juga mencintaiku adalah sebuah anugrah yang tak ternilai… sekarang aku tau mengapa Kau memberikan cobaan-cobaan itu kepadaku… aku sadar semua indah pada waktuNya…
Hyou.. ia mengintip kemesraan di antara Michael dan Myca dari balik dinding itu. Sekarang ia bisa bernafas lega karena Myca akhirnya mendapati apa yang ia inginkan. Kini tugasnya untuk menemani Myca telah selesai, ia mempercayakan wanita itu dalam tangan Michael. Ia yakin Michael dapat menjaga Myca sebaik ia dulu pernah menjaganya.

“Myca, tugasku menemanimu sudah selesai, sekarang aku bisa kembali ke Jepang dengan tenang. Berbahagialah dengan orang yang kau cintai. Aku akan selalu mengingatmu dan aku harap kau juga tidak akan pernah melupakanku lagi kalau suatu saat aku kembali hehe”
With Love,
Izukama Hyou

Myca meneteskan air mata ketika membaca baris pertama surat dari Hyou itu, namun kelanjutannya ia tertawa kecil sambil tersenyum mengingat pertemuannya dulu saat di bandara. “Hyou-san, arigatou gozaimasu.” Ucapnya pelan.
END
Fb : Bella Justice
Twitter : @bellajusticee

Random Posts

  • Cerpen Remaja: SAHABATKU CINTAKU

    SAHABATKU CINTAKUOleh: Dellia RiestavaldiKamu, orang yang membuatku nyaman, dan bahagia. Selalu menjagaku tanpa lelah. Tetapi rasa ini sungguh menyiksaku, menunggu kepastian tanpa balasan. Dia sahabatku, tapi dia juga nafasku, dia Dicky Aprilio. Sejak pertama aku kenal dia, tatapannya itu masih teringat jelas di memoriku, senyumannya membuatku tenang dan damai  dia selalu menjagaku kapanpun dan dimanapun, setiap aku down dia selalu memegang erat tanganku dan membuatku bangkit lagi.Mungkin aku terlalu egois terlalu berharap untuk memilikinya, tapi aku tak bisa selalu berpura-pura untuk tidak mencintainya. Tapi disisi lain kalau emang kita jadian aku TAKUT, aku sangat takut kehilangan dia, aku gamau dia hilang dari mata dan hatiku. Tapi di sisi lain juga aku pengen banget milikkin dia, supaya semua orang tau dia milik aku bukan milik orang lain.Aku selalu menahan rasa sakit ini ketika teman-temanku menanyakan kedekatan ku dengan dicky selama ini, aku sakit ketika aku harus bilang “ bukan, dia hanya temanku.” Dan merekapun menjawab “padahal udah cocok banget, jadian aja.” Aku hanya membalas dengan senyuman. Tapi perlahan masalah itu sudah menjadi hal yang biasa untukku. Karna Dicky mengajarkanku untuk bertindak dan bersikap yang dewasa. Aku ga berani bilang Dicky adalah segalanya buat aku, karna aku takut segalanya aku hilang.Aku berusaha menjadi wanita yang dewasa yang ingin selalu berfikiran positif, jadi aku kadang berpikir kalau hubungan aku sama Dicky sekarang jauh lebih bahagia  aku takut jika kita pacaran lalu putus dan gak bisa deket lagi, mending betemen kaya sekarang dan dia gak akan ninggalin aku, kecuali dia mempunyai cintanya yang baru.D-I-C-K-Y seseorang yang paling berharga buat aku sekarang, andaikan aku mampu berkata di depannya bahwa aku sayang dia dan gamau kehilangan dia mungkin aku akan jauh lebih tenang, tapi beberapa kali aku mencoba untuk mengatakannya malah yang ada hanya gemetaran yang ku rasa, mungkin belum saatnya aku berkata seperti itu.Tawa dan candanya adalah warna di hidupku, aku tak ingin semuanya berlalu begitu cepat. Dicky juga adalah salah satu alesan yang membuatku betah di masa SMA yang dulu yang aku anggap biasa aja. Aku sekarang masih duduk manis di sampingnya menjadi teman biasa, entah akankah posisi itu berubah, akupun tak tahu  *****Komentar langsung bisa lewat Fb: adell qodell @ondelladell

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13

    Hufh, ide makin lama kenapa di cari makin susah aja yak? Ciuuuusss deh. Beneran. Makanya ntu adminya aja bingung tujuh keliling buat lanjutin cerpen kenalkan aku pada cinta part 13 ini. So, buat yang udah baca. Yang udah ngikuti jalan ceritannya dari awal sampe kini, bisa donk ngasih sarannya di kotak komentar bawah. Ini cerita bagusnya di bawa kemana. Yah itung – itung bisa jadi referensi buatu admin buat bikin endingnya. Ngono.Nah, karena cerpen nya kebetulan juga udah lama nggak muncul – muncul, kali aja udah pada lupa sama jalan ceritannya so bisa di cek dulu pada cerita sebelumnya. Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13“Akh, akhirnya. Ketemu juga. Ternyata kalian disini.”Kepala Astri reflex menoleh bersamaan dengan kalimat yang baru saja di tangkap indra pendengarannya. Sebuah senyum mengambang di bibir saat melihat Alya dan Rendy yang menghampirinya. Dalam hati ia merasa lega atas kemunculan dua makhluk yang baru saja menyelamatkannya dari situasi yang sedikit membingungkan. “Kok kalian nggak bilang si kalian disini, kita berdua kebingungan tau dari tadi nyariin,” sambung Alya lagi sembari duduk disamping Astri.“Ya?” Astri menoleh kearah Alya sebelum kemudian matanya beralih menatap tajam kearah Andre yang justru malah membuang pandangan darinya. “Kenapa?” Tanya Rendy tiba – tiba. Astri menoleh dan baru menyadari kalau kakaknya sedang memperhatikan dirinya. “Nggak. Nggak kenapa – napa kok.”“Aneh,” gumam Rendy lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengarannya tapi Astri lebih memilih pura pura tidak mendengarnya.“Tapi ngomong – ngomong kok kalian berdua malah disini? Bukannya kita mau nonton ya? Memang filmnya diputar jam berapa?” Tanya Rendy lagi.“Masih sekitar satu jam lagi. Cuma dari pada kelamaan nunggu, gue pikir bagusan kalau kita makan dulu,” kali ini barulah Andre buka mulut.“Ide bagus,” sambar Rendy langsung. Kemudian dengan santai ia memanggil pelayan untuk memesan makanannya. Selang beberapa saat kemudian makanan sudah terhidang di meja.“Oh ya, sebenernya kita mau nonton film apaan si? Bagus nggak?” Tanya Rendy disela makanan yang mulai di nikmatinya.“Film 99 Cahaya Dilangit Eropa. Katanya sih bagus,” jawab Alya.“Tapi gue kan udah nonton. Gue nggak ikut ya,”Semua mata langsung menoleh kearah Astri. Nggak ikut? Terus tu anak mau kemana?“Loe udah nonton? Kapan? Sama siapa? Kok loe nggak ngajak – ngajak? Terus, kalau loe emang udah nonton ngapain loe ikut sama kita?”Sungguh, Astri beneran berniat untuk menjitak kepala kakaknya saat itu juga jika bukan karena takut jadi adik durhaka. Secara sejak kapan ia ingin nonton harus laporan dulu sama kakaknya? Dan lagi, tadi yang maksain dia untuk ikut siapa? Dasar kakak durhaka, geramnya.“Udah. Kemaren. Bareng sama Fajar. Gue aja diajak, ngapain gue ngajakin elo. Dan tadi yang maksain gue buat ikut siapa?” walau kesel, Astri tetap membalas pertanyaan kakaknya.“Fajar? Kayak pernah denger namanya,” gumam Rendy sambil pasang tampang mikir.“Fajar? Loe pergi sama dia?” Alya menimpali, Astri hanya mengangguk membenarkan. Tanpa menoleh ia mulai menikmati makanan di hadapannya.“Loe kenal sama Fajar?” Tanya Rendy, kali ini pertanyaannya ia lontarkan kearah gadis yang duduk di hadapannya.“Loe cakep cakep pikun juga ya. Tentu saja gue kenal. Dia kan yang kemaren datang kerumah loe waktu mau benerin laptopnya Astri. Gimana sih?”sahut Alya dengan nada menyela.“Oh cowok yang itu. Yang katanya suka sama loe ya?” balas Rendy yang langsung mendapatkan tatapan tajam sebagai balasannya.“Terus kalau loe nggak ikut nonton loe mau kemana? Atau kita ganti aja nonton film yang lain aja gimana?”Astri mengeleng. “Nggak usah. Loe kan katanya pengen nonton tu film. Nonton aja, biar gue…”“Biar loe jalan aja sama Andre. Alya sama gue aja. Lagian Andre nggak suka nonton film Indonesia. Doi kan sukanya film action atau pun film horror. Oke?” potong Rendy sebelum Astri sempat menyelesaikan ucapannya. Membuat gadis itu semakin merasa kesel. Punya kakak kok gini amat ya. Beneran bukan suri tauladan kakak yang baik and pantas di tiru.“Kenapa harus sama Andre?” Tanya Alya terlihat keberatan. Tentu saja, secara gadis mana sih yang rela ketika melihat ada gadis lain yang berusaha di jodoh – jodohkan dengan pria yang di sukainya. Apalagi jelas jelas pria itu menyukai gadis tersebut. Rendy pastilah orang yang sangat bodoh jika tidak menyadari itu.“Itu karena gue pengennya jalan sama loe,” balas Rendy polos.Alya terdiam, matanya secara menyipit melirik kearah Rendy. Sementara yang di tatap langsung pasang pose memelas.“Oke deh kalau gitu. Gue setuju.”“Setuju?” gentian Astri yang kaget. Alya setuju buat jalan sama Rendy. Wah, gaswat. Jangan – jangan tu cewek sudah terkena pengaruh pesona kakaknya. Bisa – bisanya dia menyetujui ajakan playboy cap gayung itu.“Iya. Dan kita perginya sekarang. Ayo Ren,” ajak Alya tanpa basa basi. Walau terlihat sedikit bingung Rendy manut. Apalagi Alya sudah terlebih dahulu meninggalkan kursinya. Hanya saja pria itu tidak mampu menahan diri untuk tidak merutuk dalam hati. Hei, makanan yang ia pesankan belum habis. Apa barusan itu bukan tindakan pemubazir.“Jadi As, habis ini kita mau kemana?”Astri menoleh dan segera menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian.“Atau kalau loe emang keberatan buat jalan sama gue, gue siap nganterin loe pulang,” sambung Andre lagi.Astri masih terdiam. Sedikit perasaan tak enak merambati hatinya, terlebih saat melihat raut kecewa diwajah Andre. Setelah menimbang – nimbang akhirnya mulutnya berujar.“Loe suka baca buku nggak?”“Ya?” Andre bingung. Tidak tau kemana arah pembicaraan ini akan di bawa.“Kebetulan ada buku yang pengen gue cari. Jadi kalau loe nggak keberatan gimana kalau kita ke toko buku bentar. Nah, abis itu baru deh. Terserah kita mau kemana,” sambung Astri lagi.Mendengar itu, senyum merekah di bibir Andre. “Tentu saja tidak. Kalau gitu, ayo kita pergi sekarang,” ajaknya bersemangat.Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13“Jelasin ke gue apa yang terjadi tadi malam?”Astri menoleh, setelah melihat siapa yang kini berada di hadapannya kepalanya kembali menunduk, menatap kearah buku yang ada di tangannya. Melanjutkan aktifitas membaca seperti sebelumnya. Bersikap seolah kalimat barusan bukan di tunjukan untuknya.“Lah gue di kacangan,” gerut Alya sambil mendaratkan tubuhnya pada kursi di samping Astri sementara tangannya terulur menutupi buku yang Astri baca.“Apaan sih loe? Masih pagi gini juga,” keluh Astri kesel.“Justru karena masih pagi gue nanya. Mumpung dosen belom datang. Lagian loe tingal jawab aja apa susahnya sih,” cibir Alya. “Tadi malam itu loe kemana? Setelah nggak jadi nonton, kalian ngapain aja? Terus kenapa pake pulang nggak bilang – bilang?”“Hufh,” kali ini Astri menutup bukunya. Yakin kalau ia tidak akan bisa berkonsentrasi lagi menghadapi bacaan selama gadis yang kini disampingnya belum mendapatkan jawaban yang di inginkan. “Ya kemaren kita makan. Loe kan liat sendiri.”“Makan doank? Abis itu? Jangan bilang kalau loe langsung pulang?” kejar Alya lagi.Astri terdiam, untuk sejenak angannya melayang ke kejadian kemaren.“Jadi, loe suka baca ya?” tanya Andre sambil berjalan menemani Astri melewati rak – rak buku yang berjejer.“Banget. Loe sendiri?” Astri balik bertanya.“Buku apa yang loe suka?” tanya Andre lagi.Astri mengernyit, pertanyaannya di kacangin. Namun tak urung mulutnya menjawab. “Gue suka baca Majalah, novel romantis, buku motivasi dan juga komik. Kenapa?”“Terus selain baca loe suka apa lagi?”“Emp… Nonton…” sahut Astri setengah bergumam.“Kalau loe suka nonton, kenapa loe tadi menolak buat nonton bareng?”“Gue bukan nolak. Tapi gue bilang, gue udah pernah nonton. Apa serunya coba nonton di ulang – ulang. Secara kita kan udah tau jalan ceritanya.”“Kita kan bisa nonton film yang lain.”“Sebenernya gue nggak suka nonton film Indonesia. Palingan hanya beberapa aja yang gue tonton. Itu juga kalau emang udah ada yang ngerekomendasikan dan setelah mengadakan riset soal filmnya ke sana sini. Gue juga nggak suka film Action, apalagi film horror. Secara gue kan orangnya penakut.”“Terus maksut loe suka nonton itu apa?”“Maksut gue, gue suka nonton itu di rumah. Nonton video koleksi downloadan gue sendiri. Ya gue emang anti banget sama sinetron sih, tapi gue itu ngefans berat sama drama. Baik itu drama jepang ataupun drama korea. Terlebih kalau ceritanya romantis, bisa lupa waktu deh kalau udah nonton. Kakak gue aja suka kesel liatnya. Bahkan gue sering di ledekin sama dia.”“O… Jadi loe suka sesuatu yang romantis,” gumam Andre lirih.“Ya?” Astri menoleh. Seolah baru menyadari kalau ia telah terlalu banyak bicara. Entah dari mana datangnya tiba – tiba ia merasa malu. “Ehem…. Ya begitulah. Tapi itukan dalam Novel, drama ataupun film,” sambungnya menambahkan.“Kalau di dunia nyata?”Ini kenapa Astri jadi merasa kalau ia sedang di introgasi ya? Saat matanya menoleh kearah Andre, ia mendapati kalau tatapan pria itu jelas tertuju kearahnya dan masih menantikan jawaban darinnya. Untuk sejenak, Astri merasa kalau pipinya terasa panas. Dengan segera di alihkannya tatapan kearah lain. Tidak tau harus menjawab apa.“Ngomong – ngomong, sebenarnya loe mau cari buku apa si?”Astri kembali menoleh. Dihembuskannya nafas lega ketika menyadari Andre kini tidak lagi menatapnya. Justru perhatian pria itu kini tertuju pada buku yand diambil secara acak dari rak yang ada dihadapannya. Sementara tangannya sediri sibuk membolak balikan lembar demi lembar halamannya.“Gue mau cari buku…” Astri menoleh kesekeliling. Tiba – tiba merasa bingung. Sederetan judul daftar buku yang sangat ingin ia baca selama ini telah menguap entah kemana. Pikirannya mendadak terasa blank. Terlebih ketika menyadari kalau toko buku hanyalah tempat yang ia pilih secara serampangan tadi. Tempat yang ia gunakan untuk menyelamatkan diri dari perasaan tidak enak yang sempat melandannya. Jadi kini, sepertinya ia akan melakukan metode yang sama seperti sebelumnya. Tangannya dengan acak terulur meraih buku yang berada tepat di hadapannya.“Ini.”Andre tampak mengernyit ketika membaca judul buku yang tertera. “Mengenal virus pada computer?”“He?” Astri segera manatap buku yang ada di tangannya. Astaga, buku apa yang ia ambil? “Ehem, Iya. Gue emang lagi nyari buku soal computer. Soalnya, laptop gue kan emang sering eror. Gue emang sempat minta tolong sama Fajar sih kemaren buat benerinnya. Tapi kan nggak mungkin juga gue minta tolong terus sama dia. Sementara kalau sebentar – sebentar gue bawa keahlinya, yang ada entar gue di kira gaptek banget lagi. Ya udah, makanya gue pengen cari tau sendiri,” terang Astri menambahkan. Andre tampak mengangguk paham.“Ya sudah, kalau gitu kita bayar dulu yuk,” ajak Astri lagi. Dan lagi – lagi Andre mengangguk sembari mengikuti langkah Astri menuju kearah kasir.“Eh busyed, dia malah melamun. Ayam tetangga pada mati Woi” Kalimat itu kembali mengantarkan Astri pada keadaannya semula. Matanya menatap ke Alya yang kini menatapnya kesel yang hanya di balas cibiran olehnya.“Loe mau tau aja.”“Ya iya donk. Jelas aja gue pengen tau. Secara loe kan jalan sama cowok yang gue suka.”“Glek.”Pas. Astri merasa kalimat itu ngena banget. Menghunjam tepat kearah hatinya. Kenapa ia bisa lupa dengan fakta itu ya? Kenapa ia bisa lupa kalau Alya suka sama Andre?“Kak Andre cuma nemenin gue beli buku doank. Abis itu kita langsung pulang,” sahut Astri akhirnya.“Toko buku?” Alya menegaskan, Astri hanya mengangguk tak bersemangat. Karena sepertinya semangatnya tiba – tiba raib entah kemana.“Dan abis itu kalian langsung pulang?” sambung Alya lagi.“Iya. Loe tenang aja. Gue nggak mungkin ngapa – ngapain sama kak Andre. Lagian gue tau kok, kalau loe suka sama dia,” jelas Astri lagi.Alya terdiam. Matanya menatap Astri dengan tatapan menyelidik, tapi gadis itu justru malah mendorongnya menjauh, sembari memberi isarat padanya untuk menatap kedepan. Ternyata dosennya sudah ada di depan. Dan kelas pun akan segera di mulai. Jadi mau tidak mau mereka harus menunda pembicaraannya. To Be ContinueAdmin ~ Lovely Star Night

  • Cerpen Sahabat Be The Best Of A Rival ~ 05

    Untuk cerita sebelumnya bisa baca di cerpen sahabat terbaik be the best of a rival part 4.Credit Gambar : Ana Merya“ Chika, tau nggak si semua anak – anak tadi pada ngomongin elo tau” Clara langsung nyerocos begitu berada di hadapan sahabatnya yang duduk di salah satu bangku perpustakaan.“Oh ya?” sahut Chika tak berminat.“Ya ia lah. Abis loe gila abis si. Cepet banget ngisi nya. Padahalkan tadi soalnya njelimet banget. Gue aja tadi sampe meres otak”.sebagian

  • cerpen farhatul aini – Izinkan Aku Memilih

    Izinkan Aku MemilihOleh : Farhatul AiniIni perasasan hati tak pernah bisa ku bohongi, menyayangi kalian adalah kebahagiaan dan disayangi kalian adalah kebanggaan, akankan semuanya terus berjalan, seiring dengan kebohongan yang terus dilakukan, salahkah ini semuanya yang ku lakukan untuk membahagiakan diri semata.* * *Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang aku lakukan saat ini, menjadikan kedua laki-laki tak berdosa itu masuk ke dalam kehidupanku, dalam sekejap aku tidak menyadarinya, namun setelah mereka menyatakan perasaannya baru ku seperti terbangun dari mimpi, Kevin dan Yoga kedua laki-laki ini menyatakan cinta padaku dihari yang sama. Dan bodohnya aku tak bisa memilih mereka berdua, bodohnya aku menjadikan mereka sebagai kekasihku.Kevin adalah seorang laki-laki dewasa yang begitu mengerti akan semua keadaanku, saat aku sedang bosan, malas atau butuh kasih sayang diapun selalu ada. dan Yoga adalah kakak kelas ku yang begitu perhatian padaku, itu yang membuatku jatuh hati padanya.“Apa Wid lo pacaran sama dua-duanya?” sontak Adel saat aku ceritakan yang terjadi.“Gue ga ngerti Del, gue sayang sama mereka berdua.”“Tapi harusnya lo tuh bisa berpikir, ga jadi seperti ini, apa yang lo lakuin kalau diantara mereka tau?”Pertanyaan Adel terus membayangi pikiranku, apa yang harus aku lakukan ? apakah aku harus jujur kalau aku selingkuh? Apakah aku harus bilang aku mencintai mereka berdua? Apakah aku harus bilang jika ini kesalahanku yang tak bisa memilih? Entahlah aku harus berbuat apa, biarkan waktu yang mendesakku menjawab semuanya. Aku memutuskan untuk melanjutkan kisah ini, kisah yang terlarang namun begitu ku nikmati.* * *Hari ini adalah janji berkencan ku dengan Kevin, berjalan berdua di tengah keramayan sedikit membuatku gemetaran, jantungku selalu berdebar kencang apalagi saat Kevin menggenggam erat tangan ku serasa merasakan getaran yang berbeda dalam perasaan ini.tibalah kami disuatu taman yang indah, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan taman taman indah itu, enatah tempat apa ini, namun baru ku temui bersama orang yang ku sayang. Cuaca langit yang sedikit menghitam tampaknya mulai menyejukan suasana namun langit masih mau berbaik hati untuk tidak mengeluarkan benih-binih airnya. Tiba-tiba Kevin menarik kedua tanganku membalutnya dengan tangannya yang menjadikan sebuah kehangatan, disitu dia pun berkata. “Wid, aku begitu menyayangi kamu dengan tulus, apakah kamupun begitu?”“Tentu Vin, akupun sayang kamu.”lontaran kata-kata dan tatapan yang tulus membuatku semakin terjerat dalam situasi ini, aku semakin merasa bersalah dan takut bagaimana jika Kevin tau bahwa bukan hanya dia yang menjadi kekasihku saat ini, namun rasa sayang dan egois ku yang memaksaku melakukannya.”sampai acara kencan itu berakhir, suasana kebahagiaan masih terasa begitu melakat di hati.* * *Hari ini adalah hari istimewaku, bertambahnya usia dan berharap akan menambah pola pikir kedewasaanku, walaupun saat ini aku sedang terbelit dalam situasi yang dianggap tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang bisa berfikir dewasa. Hari ini juga kepulangan Yoga dari Bandung, setelah berlibur sekitar 2 minggu akhirnya Yoga pulang ke Cirebon, ia tak sabar ingin bertemu dengan Widy kekasihnya itu, karena semenjak mereka bertemu malam itu saat yoga menyatakan cinta, mereka belum pernah dipertemukan kembali karena Yoga harus pergi berlibur bersama keluarganya di Bandung. Kini tibalah mereka bertemu, rasa gugup terpancar dari muka Widy.“Aku kangen kamu Widy sayang.” tiba-tiba Yoga berkata.“ J Aku juga kangen kamu Yoga.” Senyuman tipis terpancar dari wajah Widy.Widy benar-benar merasa gugup, kecanggungan terpancar dari sikap dan bahasa tubuhnya, Yoga pun melihatnya tak biasa.“Kamu kenapa sih Wid, seperti ga suka aku datang.”“Engga ko ga, aku senang.”kenapa saat bersama Yoga, aku selalu terfikirkan Kevin, aku terlalu takut menjalani ini, padahal ini sebuah keputusan yang aku ambil.* * *Percintaan ini benar-benar tidak membuat aku tenang dan bahagia, semuanya hanya menjadi pikiran dan bebanku saja.“Del gue besok mau jalan bareng Yoga.”“Asik dong Wid, pasti lo di ajak ke tempat yang romantisnya ga kalah sama pacar lo yang satu itu.”“Ko gue ga bisa lupain Kevin ya Del, saat gue jalan bareng Yoga, beda banget saat gue jalan bareng Kevin.”“Itu artinya lo lebih sayang Kevin, lo harusnya bisa memilih diantara mereka pasti ada yang terbaik.”“Gue butuh waktu , karna gue sayang mereka.”Berkencan dengan Yoga tak bisa melupakan bayangan Kevin, namun tak ingin ku tampakan. Ku yakin hari ini akan bisa senang bersama Yoga, Yoga membawaku ke sebuah Cafe tempat kami akan mengadakan diner. Suasana lilin yang menyala dengan indah, suasana dingin terasa membuat suasana romantisme tercipta.Saat di waktu sedang menunggu pesanan makanan yang belum datang kamipun berbincang seputar liburan Yoga di Bandung, namun ketika diapun menanyakan seputar liburanku disini aku langsung teringat pada Kevin karna banyak waktu liburanku yang kuluangkan bersama Kevin dan tak mungkin aku bercerita, dan sekali lagi akupun harus berpura-pura.Sampai waktunya akhir kencan serasa menambah kesempurnaan saat Yoga menarik ulur tanganku dan memakaikan cin cin di jari manisku, namun ku artikan itu hanyalah sebuah kado biasa yang biasanya orang berikan pada saat hari ulang tahun. Hatiku juga berkata ini semua bukan kebahagiaan yang aku inginkan.Yoga meluncur dengan mobil hitamnya, melaju menuju arah rumahku untuk mengantarku pulang, sampai di depan gerbang dibukakan pintu mobil mewah itu serasa aku menjadi permaisuri saja, saat ku ingin masuk Yogapun tak lupa mencium keningku, anehnya perasaanku tidak merasa nyaman dengan ini semua. Setelah Yoga mengijinkanku masuk ke dalam rumah, rupanya sosok tak asing bagiku telah menyaksikan drama cinta yang telah terjadi, ya Kevin berdiri disana seperti tak berdaya dengan bunga cantik dan sebuah bingkisan yang indah terjatuh dari genggamannya. aku sontak kaget dengan ini semua, begitupun Yoga yang tampak bingung dengan adanya Kevin.Tak bisa ku keluarkan kata-kata berderet pertanyaan dikeluarkan Yoga pada Kevin.“Siapa kamu, teman Widy? untuk apa datang kesini ? memberikan kado ya buat Widy? Kenalkan aku Yoga kekasih Widy”Ucapan Yoga membuatku gemetaran, semua kata tak bisa dikeluarkan dari mulutku padahal hati ini sudah menjerit tak tahan, matakupun tak bisa menahan benih-benih airnya.Kevin tak enggan untuk menjawab pertanyaan dan sapaan Yoga,“Aku Kevin, dan aku adalah kekasih Widy, aku kesini untuk memberikan ini pada Widy.”“Wid selamat ulang tahun, dan selamat bersenang-senang dengan kekasih baru kamu, terima kasih untuk semuanya.” Rasanya Kevin tak sedikitpun menampakan kesedihan, namun terlihat jelas kekecewaan dan kemarahan terpancar dari mukanya. Jawaban dan sorot mata yang tajam begitu menggores luka dihatiku, tak ada kesempatan yang bisa ku jelaskan, Kevinpun pergi dan meninggalkanku tanpa sepatah kata yang membuatku senang di hari ulang tahunku.Dan Yoga marah-marah meluapkan semua emosinya, aku tak tahan dengan sikapnya.“Okeh, sekarang kamu udah tau kalo aku selingkuh, buat apa kamu marah-marah kita akhiri saja semuanya.”“Wid kamu tau kan aku sayang kamu, kenapa kamu lakuin ini semua?”“Perasaanku yang membawaku dalam situasi ini, kalian begitu berharga buatku dan waktu tak pernah mengijinkan untuk memilih kamu atau dia.”“Baiklah kita akhiri saja semuanya, kamu terlalu beruntung Wid dicintai seseorang dengan tulus, tapi waktu berjalan Wid kamu tak bisa memanfaatkan waktu untuk memilih yang terbaik.”* * *Semuanya pergi luka yang paling menusuk datang dari Kevin tanpa sepatah kata dia mengakhiri semuanya, jika saja dia tau bahwa sekarang aku tersadar dengan cinta yang tulus diberikannya aku ingin dia kembali, berhari-hari ku terfikirkan akan Kevin, kencan yang indah di taman yang indah pula, kini kabarnya entah tak pernah ku dengar lagi. Namun hari ini ku benar-benar merindukannya ku datangi taman indah itu, suasana terpancar sama seperti ku datang dulu bersama Kevin namun kini langit benar-benar ingin menangis seperti hatiku. Kini aku mengerti betapa cinta tak ingin dikhianati, rasa sakitnya begitu tak bisa dirasakan pada seseorang yang mengkhianatinya, namun sangat menyakiti siapapun yang dikhianatinya. Aku juga mengerti tentang penyesalan yang selalu datang saat semuanya telah berakhir. Aku juga mengerti tentang waktu yang tak bisa berlama-lama untuk memilih suatu keadaan.==================================================================== facebook : Farhatul.aini@yahoo.comtwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comemail : ainibarnessa@yahoo.com==================================================================== Rating: 8.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*