Cerpen Romantis: WANT YOU

WANT YOU Oleh Bella Danny Justice
“maafkan aku fi, aku menyukai Priscilla. Aku mendekatimu supaya aku bisa kenal dengannya. Maafkan aku…”
Sudah 1 tahun berlalu tapi perkataan Jun masih teringat jelas dalam pikiranku. Setelah hubungan yang kami jalin selama 5 bulan, akhirnya ia mengaku bahwa ia berpacaran denganku hanya supaya ia bisa dekat dengan kakakku Priscilla. Pertama kali aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya aku memang merasa sangat jengkel. Aku seperti manusia bodoh, mudah di bohongi dan di sakiti.
Namun sekarang aku bukan lagi seorang perempuan berseragam putih abu-abu yang terkenal labil. Aku sudah menjadi mahasiswi dan aku harus bangkit dari keterpurukanku dalam masalah percintaan. Sedangkan kakakku Priscilla kini tengah menjalani praktek di rumah sakit Kasih Bunda yang terkenal.
Dari lahir aku tidak pernah akrab dengannya, apalagi karna masalah Jun aku jadi semakin membencinya. Dia selalu merebut pria yang dekat denganku sejak SMP. Tak terlukiskan rasa kekesalanku pada Kak Silla. Aku layaknya bom waktu yang dapat meledak kapan saja, terlebih jika menyangkut hal yang berurusan dengan kakakku.
“Fi, tolong kasih bekal makan siang ini ke kakak kamu ya. Kampus kamu kan searah sama rumah sakit Kasih Bunda.” Mama menyodorkan rantang makanan itu kepadaku. Tapi aku tidak segera mengambilnya. Melihat rantangnya saja membuat hatiku panas, apalagi memberikannya pada nenek sihir itu.
Aku melirik sekilas rantang makanan tak berdosa itu. “Ngga ah ma! Aku ga mau! Mama suruh mas Jono aja yang anterin ke kakak. Lagian aku nanti bisa telat masuk kelas kalau harus mampir dulu ke rumah sakit.” Sangkalku.
“Gak bisa Fi, mas Jono mau servis mobil. Udah nih pokoknya mama ga mau tau kamu harus kasih ini sama kakak kamu, titik!” mama menarik tanganku dan menyangkutkan genggaman rantang itu kedalam telapak tanganku dengan paksa.
Hahhh…benar-benar hari yang menyebalkan! Keluhku dalam hati.
Sesampainya dirumah sakit aku langsung memasuki ruang praktek kerja kakakku tanpa permisi. Tapi beberapa saat aku mencari-cari sosoknya rupanya ia tidak ada. Yang aku lihat hanya seorang pasien sedang berbaring di ranjang dengan matanya yang diperban.
Ia terbangun dari posisi rebahannya dan bersandar di punggu ranjang. “Dokter Silla, apa itu kau?” aksen bicaranya seperti orang barat, bahasa Indonesianya pun terdengar kurang fasih.
“Mmm…ma-maaf aku bukan Dokter Prisicilla, aku kemari hanya ingin mengantarkan bekal makan siang ini untuknya. Maaf ya, aku permisi dulu.” Jawabku seperti orang salah tingkah. Aku meletakkan rantang itu dengan kasar dan bersiap pergi dari sana.
“wait up!” sahutnya membuatku menghentikan langkahku yang tergesa-gesa.
“what else?” aku menoleh ke arahnya dan menengok jam tangan dengan gelisah.
“who are you?” tanyanya dengan nada datar dan dingin.
“i’m Fioren, Priscil’s little sister. Sorry, i have to go now. Bye.” aku langsung mengaktifkan langkah seribu untuk mengejar waktu yang sangat mepet untuk sampai ke kampus.
Oh My God! Bisa telat nih!
###
Dengan selamat sentosa aku sampai kelas tepat waktu, tetapi selama jam kuliah berjalan hatiku tidak tenang. Aku gelisah dan terus memikirkan pasien laki-laki yang ada di kamar praktek kakakku itu. Konyol sekali, tapi aku ingin bertemunya lagi. Rasa penasaranku ini tak dapat terbendung, dengan nekat sepulang kuliah aku pun memutuskan untuk datang ke tempat kakakku.
“eh Fi, mau kemana? Kita ga jadi nonton?” ujar Gisel. Ia memperhatikanku yang sedang merapihkan buku seperti orang kebakaran jenggot.
“aduh..jangan sekarang deh Gis! Gue ada urusan nih, besok aja ya. Byee..” seruku seraya meninggalkan kelas dan melambaikan satu tangan pada temanku Gisel.
Tiba-tiba.. BAAAMM!!
“aduduh…awhh…” erangku kesakitan. Tubuhku jatuh terduduk ke lantai dan buku-buku yang ku pegang berhambur berantakan. Tak lama aku melihat guliran tangan yang seolah berkata “mari, aku bantu kau berdiri.”
“maaf, aku tidak sengaja. Mari, aku bantu kau berdiri.” Aku meraih genggaman tangan itu lalu menyibakan debu yang menempel di celana panjangku.
“sekali lagi aku minta maaf.” Katanya lagi. Pria ini tampan sekali… pujiku dalam hati.
“ah, ya tidak apa-apa.” Ucapku sambil menorehkan senyum sekenannya. Aku baru ingat bahwa aku ingin ke tempat praktek kakakku. Ya ampun, kalau jam segini pasti ia sudah pulang. Dengan terpaksa aku mengurungkan niat untuk pergi kesana.
“ini..” Laki-laki itu mengulurkanku buku-buku yang tadi berserakan kepadaku.
Aku mengernyitkan dahi dan menatap matanya sepintas. “t-terimakasih, maaf aku sudah menabrakmu.” Pria ini…sepertinya aku mengenalnya? Aku kembali memperhatikan wajahnya dengan seksama. Memandang wajahnya-membuang pandanganku-memandang wajahnya-membuang pandanganku… Aku ingat orang ini!
“oya, aku harus buru-buru pulang untuk menyiapkan makan malam. Bye.” Aku tau orang ini, karena itu aku mencari alasan ingin “menyiapkan makan malam” lalu segera pergi dari hadapannya. Ya, walaupun sebenenarnya aku tidak bisa memasak, tapi itu satu-satunya alasan yang melintas di otakku.
Pria itu menahan aku. Ia menarik pergelangan tanganku. “jangan pergi Fioren, aku harus menjelaskan sesuatu padamu.”
Jun, apa lagi yang kau inginkan dari diriku? Tidak puaskah kau telah menyakitiku? Kenangan masa lalu seakan muncul kembali ke permukaan. Aku sungguh tidak menginginkan ini terjadi. Tapi, tak kupungkiri aku masih menyimpan rasa terhadapnya.
Kami pergi ke suatu restauran yang begitu asri dan indah pemandangannya. Aku tidak tau tempat apa ini. Aku tidak tau kemana ia membawaku. Yang aku tau sekarang aku berada di sebuah daerah pegunungan. Sudah 3 tahun aku tidak bertemu dengannya semenjak kelas 1 SMA karena aku meminta pada mamaku untuk pindah sekolah, dan selama itu juga aku bisa lihat penampilannya berubah dari yang dahulu.
Sekarang ia terlihat lebih tinggi dan rambut spikenya kini berubah dengan poni menyamping yang menutupi sebagian keningnya. Tidak salah kalau aku pernah jatuh cinta padanya, meskipun ia hanya mempermainkanku tetapi aku tidak menyesal.
“mm.. Fio, apa kau masih memendam kebencian padaku?” tuturnya membuka pembicaraan di tengah kesunyian kami.
“hanya saat kau mengatakan bahwa kau menyukai kakakku.. hanya saat itu aku membencimu..” ucapku tanpa menatapnya dan melemparkan pandangannku pada pegunungan yang diselimuti kabut tebal.
“aku datang menemuimu karna aku ingin mengatakan suatu hal yang dulu tidak sempat aku sampaikan..” wajahnya nampak pucat pasih karna gugup. Jun menelan ludahnya dan berusaha memandangku.
“setelah aku menyatakan perasaanku pada kakakmu, ia menolakku. Dan ketika itu aku sadar bahwa aku benar-benar menyukaimu. Dulu aku tidak bersyukur telah mendapatkan wanita sepertimu. Karena itu, sekarang… aku sungguh minta maaf kepadamu Fi, aku ingin kau kembali menjadi wanita-ku.” Ia menatapku dengan wajah memelas dan kening yang berkerut sedih.
Aku tidak peduli lagi. Aku sudah melupakannya. Aku meninggalkan Jun dari tempat makan itu. Aku tidak tahan mendengar kata-katanya. Aku ingin bersama dengannya, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mendorongku untuk tidak menerimanya lagi.
###
Sepanjang malam aku hanya berbaring di atas tempat tidur dan membenamkan wajahku ke dalam bantal. Aku terus mengingat-ingat pria itu. Bukan Jun, tetapi pria yang ada di kamar praktek kakakku. Tapi sepertinya pria itu kenal dekat dengan kak Priscil? Karena hanya orang-orang tertentu saja yang memanggilnya dengan sebutan “Silla”. Yaa…mungkin itu pacarnya? Gumamku.
Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu yang membuyarkan andai-andaiku. “Ren, kakak boleh masuk?” seru suara itu. “Ren” adalah panggilan masa kecilku yang diberikan oleh Kak Silla.
“ya.” Jawabku bermalasan-malasan. Kakaku yang paling tidak aku sukai mulai memasuki kamarku. Ia berjalan ke arahku dan duduk di sampingku. “Ren, kamu yang anter makan siang tadi ke tempat praktek kakak ya?”
“iya.” Aku hanya menjawab sekenannya tanpa menoleh padanya.
“mmm…terimakasih ya Ren. Ini ada sesuatu untuk kamu.” ia mengeluarkan sebungkus bingkisan dari belakang tangannya. Sebuah kotak kado berwarna pink bermotif love lengkap dengan pitanya yang juga berwarna pink. Aku berpikir ini tidak mungkin hadiah dari kak Silla. Kak Silla yang melihatku tanpa reaksi akhirnya menjelaskan asal-usul tentang hadiah itu. “ini dari seseorang untuk kamu Ren. Dia ingin memberika hadiah ini untuk kamu. Coba bukalah dulu.”
Perlahan aku mulai melepas pitanya dan membuka tutup kado tersebut. Aku sungguh dibuat terkejut oleh hadiah dari orang itu! Sebuah kotak musik dengan lapisan warna emas dan putih yang berukuran sedang, serta terdapat seorang wanita dan pria yang berdansa dengan anggun di atasnya. Lalu aku memutar katup kotak musik itu… dan… melantunlah lagu klasik yang begitu indah. Lagu ini… aku kenal lagu ini! Lagu klasik favoritku! Atau bisa dibilang satu-satunya lagu klasih yang aku tau dan aku suka saat pertama kali mendengarkannya yaitu Nocturne no.2 in E-Flat Major, op.9 no.2 oleh Frédéric Chopin versi dari Vladimir Ashkenazy.
Lantunan merdu denting piano yang keluar dari speaker kotak musik itu membawaku terhanyut ke dalamnya. Hatiku terasa tentram, seperti ada ketenangan di balik lagu ini. Lagu ini mampu membuatku tersenyum dan bersedih pada waktu yang bersamaan.
“hadiah itu pemberian seseorang. Dia berharap kamu menyimpannya Ren.” Kalimat yang diucapkan kak Silla membuatku tersadar. Aku masih tidak mengerti apa maksud orang itu memberikan hadiah ini untukku, tapi yang pasti aku tidak akan menolak kado indah ini.
“ya. Sampaikan terimakasihku kepadanya.” Hanya itu yang bisa aku katakan, untuk saat ini aku belum ingin tahu siapa yang memberikan bingkisan berharga ini.
###
Sesuai janjiku pada Gisel karna kemarin tidak bisa nonton dengannya, seusai jam kuliah kami pun pergi ke mall dan menonton film. Gisel mengajakku makan di American Grill tetapi sekarang aku sedang tidak selera makan makanan barat. Ketika kedua mataku menangkap keberadaan stand food yang menjual makanan Jepang sederahana kesukaanku Okonomiyaki, aku pun segera melesat ke sana dan membelinya.
“enak kan Gis? Makanya jangan makan makanan barat melulu! Coba makan makanan dari kebudayaan lain juga dong, apalagi Okonomiyaki dari Jepang ini.” Pamerku pada Gisel sambil terus melahap makanan itu dengan sumplit yang begitu tipis dan sedikit membuatku kerepotan.
“iya iya kali ini kamu menang Fi! Aku akuin ini enak banget.” Balas Gisel yang juga tidak berhenti memakan makan itu dan sesekali menyeruput Blue Iced-nya.
Tanpa kami sadari seseorang telah berdiri di hadapan kami. Ia terus menatapku dan tiba-tiba ia menaruh sekotak Okonomiyaki lainnya di atas mejaku. “ini, makanlah yang banyak. Okonomiyaki adalah hidupmu, bukan? Bahkan dulu saat kecil kau pernah merengek kepada kakakmu dan memarahinya karna ia tidak membelikanmu makanan itu.” lalu pria itu melangkah pergi dengan santai sambil memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana panjangnya.
Aku terbelalak dibuatnya. Bagaimana bisa orang asing seperti dia tau tentang masa kecilku?! Ketika aku terbangun dari lamunanku, aku langsung berlari mengejar ke arah pria itu tadi berjalan namun aku tidak menemukannya. Dia sepertinya sudah pergi.. tapi siapa dia? Ujarku dalam hati.
Gisel yang mengejarku mati-matian akhirnya mendapatkanku. “heh Fi cepet banget sih larinya! Aku hampir kehabisan nafas nyusul kamu, tau?!”
Siapa laki-laki tadi? Tapi sepertinya tidak asing…
Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku ingin penjelasan! Setelah mengantar Gisel kerumahnya aku segera membalikan stir mobil ke arah tempat praktek kakak ku bekerja. Aku merasa dia tau akan hal ini. Aku merasa dia punya andil atas keanehan yang terjadi padaku belakangan ini.
Dengan langkah berdebum aku menuju ke sana. Entah mengapa hatiku sekarang seperti air mendidih, aku takut emosiku meluap ketika mengetahui semuanya. Aku takut aku menyesal karena telah datang ke sini.
Akhirnya aku tiba di depan pintu kamar praktek kakak ku. Aku menyentuh gagang daun pintu itu dan bersiap mengayunkanya ke bawah, tapi niatku terhenti saat mendengar percakapan yang sedang teruntai dari dalam ruangan.
“aku sudah memberikan hadiah itu kepadanya. Ada lagi yang ingin kau sampaikan untuknya?” suara kak Silla begitu jelas terdengar. Apa hadiah yang dia maksud adalah kotak musik itu?!
“tidak perlu. I just met her, dan itu sangat menyenangkan. I saw her face was full of questions of who i am saat aku memberikan Okonomiyaki kepadanya and mengatakan kejadian masa kecilnya dulu about that food.” Ujar orang itu sambil terkekeh. Apa?!
“apa? Kau berani sekali! Why don’t you just tell the truth?” balas kak Prisicilla.
“i don’t have such courage to say.” Kali ini suara pria itu melemah dan terdengar putus asa.
“aku yakin adikku pasti akan menerimamu.” Aku tidak sabar lagi! Dengan perasaan yang kacau aku memasuki ruangan tersebut. Dan terpampanglah pemandangan yang tidak mengenakan kedua mataku. Kakaku sedang berpelukan dengan pria itu! Aku hanya berdiri mematung menyaksikannya. Air mataku bahkan tidak dapat keluar, tetapi di dalam, hatiku menjerit. Tenggorokanku tercekat sehingga tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku tidak tau mengapa kejadian yang ku liat ini begitu menyakitkan padahal aku tidak mengenal pria itu.
Aku melangkah pergi dari sana dengan keadaan tubuh yang agak limbung dan kepala yang berkunang-kunang. Kaki ku melemah, seluruh syarafku seperti terhenti yang alhasil membuatku jatuh pingsan.
seseorang sepertinya menggendongku? Aku bisa merasakan nafasnya yang tersengal-sengal, di dalam pelukannya aku merasa nyaman. Aku juga bisa mendengar denyut jantungnya yang berdetak cepat, ia nampaknya begitu khawatir dengan keadaanku. Aku ingin sekali melihat orang ini, tetapi mataku tidak dapat terbuka…
###
Aku tidak tau sudah pingsan selama berapa jam, tetapi yang pasti sekarang mataku seperti menempel dan aku kesulitan membuka kelopak mataku. Namun usahaku yang gigih membuahkan hasil yang manis. Ketika mataku sudah benar-benar terbuka, yang aku lihat hanya kak Prisicilla yang duduk di sisi kiri ranjang tempat aku terbaring dan seorang pria yang sedang terlelap di sisi satunya sambil… menggengam tanganku?!
“Fioren, kamu sudah sadar?!” kak Priscil tersentak melihat aku yang sudah siuman. Ia langsung mengecek keadaanku secara seksama menggunakan stetoskopnya. “kamu baik-baik saja bukan? Maafkan kakak Ren,” sambung kakakku itu. Karena reaksi kak Priscil yang cukup menghebohkan pria itu pun terbangun dari tidurnya.
“Fioren, you’re awake? are you all right?” cara pria itu mencemaskanku terasa tidak aneh bagiku. Aku justru merasa bahagia akan kekhawatirannya. Tapi, siapa dia?
“siapa kau?” aku tidak yakin suaraku akan terdengar jelas karena kerongkonganku sedikit sakit ketika bersuara.
“Fioren, dia Daniel… dia teman kakak saat di panti asuhan dulu.” Sela kak Priscill. Dia nampak pucat saat mengucapakan kata-kata itu.
“panti asuhan? Apa maksudmu?!” aku sengaja menaikan intonasi pembicaraan. Jadi selama ini Priscilla adalah kakak angkatku?
“mama dan papa berencana untuk tidak pernah mengatakan hal ini kepadamu, tetapi aku tidak bisa menyimpan rahasia akan siapa diriku selamanya karena kelak kau pasti menyadarinya.” Wanita yang kukenal sebagai kakak kandungku menghentikan kalimatnya sejenak, ia menghela nafas dan melanjutkannya. “saat dulu kau masih kecil sekitar umur 7 tahun kau dan orangtuamu datang ke panti asuhan untuk menjemput aku, tetapi kau begitu marah dan tidak setuju, kau berlari sampai ke tengah jalan dan sebuah mobil hampir menabrakmu, syukurlah itu tak terjadi. Dia… Daniel teman sebayaku yang menyelamatkanmu. Kau pingsan dan Daniel menggendongmu dengan tergopoh-gopoh, tapi Daniel tidak menyerah. Namun ketika kau sadar, kau menangis sangat keras begitu melihat Daniel. Sejak saat itu Daniel terpukul atas sikapmu. Ia me…”
“let me tell the rest Silla. Aku menyukaimu Fioren, karena terlalu menyukaimu akhirnya aku memutuskan pergi dari kehidupanmu. Kebetulan aku juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Amerika dan aku mengambil kesempatan itu sekaligus untuk melupakanmu. Selama 11 tahun aku tinggal di sana tetapi tidak kunjung menemukan pengganti dirimu, setiap malam aku selalu terbayang wajahmu yang ketakutan saat melihatku… aku sangat merindukanmu dan ingin bertemu tapi aku tidak mau membuatmu menangis…” Daniel menghentikan ceritanya. Ia tertunduk lurus menghadap lantai rumah sakit. Aku bisa mendengar suaranya yang serak seakan tak sanggup melanjutkan cerita masa lampaunya yang memilukan.
Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Perlahan langkah kakiku menghampiri pria yang di sapa Daniel itu. Aku tidak lagi menangis ketika melihatnya, tetapi justru aku sangat bahagia. Aku tidak tau apa yang dulu telah terjadi sehingga aku bersikap begitu kejam terhadapnya. Aku tidak mengerti mengapa aku tidak bisa mengingatnya. Tapi kini semua sudah jelas. Inikah sebabnya mengapa aku sangat ingin bertemu dengannya sejak pertama kali bertemu dia? Maafkan aku Daniel…
Aku menyentuh pundak laki-laki itu dan berkata. “maafkan aku Daniel… aku janji tidak akan menangis lagi karena melihatmu, justru sekarang aku sangat bahagia…”
Daniel menengadahkan kepalanya dan menatapku tak percaya. Ia berdiri dan mendekapku ke dalam pelukannya. “thank you Fioren.”
###
Keesokan harinya mama dan papa menjelaskan bahwa dulu aku sempat menderita amnesia anterograde dan retrograde secara bersamaan. Aku tidak mampu mengingat kejadian sebelum hampir tertabrak mobil dan tidak dapat mengingat kejadian setelahnya karena trauma parah. Aku tercengang mendengarnya. Karena itu kah aku sampai melukai perasaan Daniel?
Di tengah-tengah keheningan kamarku yang hanya dihiasi oleh lantunan musik klasik pemberian dari Daniel handphone-ku berdering dengan nyaringnya. Aku melirik layar hape itu dan melihat sebuah nomer yang tidak ku kenali.
Aku menempelkan benda kecil itu ke telinga. “siapa ini?”
“ini aku Jun, Fioren.. tolong jangan matikan telfonnya.” Pinta suara itu dari sebrang dengan nada lemah lembut.
“ada apa lagi?” jawabku sekenannya.
“aku ingin bertemu denganmu. Besok aku jemput sehabis jam kuliah.” Kemudian sambungan telfon itu terputus begitu saja. Dasar seenaknya! Kau pikir siapa dirimu?!
Pria menyebalkan! Gerutuku dalam hati.
Besok hari setelah jam kuliah berakhir aku bergegas meninggalkan ruangan supaya tidak bertemu Jun. Namun harapanku tampaknya tidak terkabul. Ia sudah menungguku di depan pintu dengan beberapa wanita yang kelihatan sedang mengaguminya. Dasar wanita-wanita bodoh!
“aku cuma ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya Fioren. Jadi aku mohon kau jangan kabur seperti waktu itu.” ucapnya kemudian menarik pergelangan tanganku dan memasuki mobil.
“kita mau pergi kemana? Aku ada janji dengan seseorang jadi jangan lama-lama.” Ujarku ketus tanpa memandangnya.
“tidak lama, aku juga ada janji dengan seseorang kok.” Balasnya
Beberapa saat kemudian tibalah kami di sebuah… Bandara?! Aku tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh Jun. Tetapi aku rasa ini akan sangat mengejutkan.
Tiba-tiba Jun menunjuk ke suatu arah sambil berkata. “ah itu dia! Ayo Fioren!” ia kembali menarik tanganku dengan cukup keras dan membuatku sedikit tidak nyaman namun aku tak dapat mengelaknya. Kami berjalan mendekati seseorang yang sedang berdiri tegap menghadap ke arah luar jendela transparan yang besar.
“hai Daniel!” sahut Jun dengan semangatnya. Apa yang dia katakan barusan?! Daniel?! Pria yang di panggil Jun sebagai ‘Daniel’ itu pun membelokan badannya dan perlahan berhadapan dengan aku dan Jun. Ini benar-benar suatu surprise yang tak terduga! Aku tak dapat bergerak dan mematung di samping Jun. Bagaimana mungkin?! Apa dunia sesempit ini?! Jun mengenal Daniel?!
“Fioren… k- kau? Kau kenal dengan Jun?” Daniel mengucapkan kalimatnya dengan sedikit terbata-bata. Aku rasa dia juga sama shocknya seperti aku.
Jun tertawa terbahak-bahak melihat kekikukkan yang menimpa kami. Ia tertawa dengan lepasnya dan membuatku jengkel seolah ia meledekku! “kenapa kau tertawa?!” bentakku padanya yang seketika menghentikan tawanya.
Jun meraih tangan kananku dan ia juga meraih tangan kiri Daniel. Ia meletakkan tangan Daniel di atas punggung tanganku dan menyatukannya. “tetaplah bersama sampai maut memisahkan kalian. Sudah waktunya aku untuk kembali ke Amerika. Daniel, jaga Fioren dengan baik! Itu perintahku. Selamat tinggal semuanya.” Jun, pria itu menyunggingkan seulas senyum manis sesaat sebelum meninggalkan kami berdua. Aku tidak percaya bahwa ini sungguh pertemuan terakhir antara aku dan dia.
Aku berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Ia menghentikan langkahnya dan membalas pelukanku. “terimakasih untuk semuanya Fioren. Aku senang bisa mengenalmu.” Jun memegang pundakku dan mengendurkan dekapannya. Ia terus berjalan sampai aku tak dapat lagi melihatnya.
Aku rasa baru saja beberapa tetes air mata berjatuhan membasahi pipiku. Aku menghapusnya tetapi semakin banyak linangan air mata yang keluar. Lalu aku merasakan seseorang mengegam erat bahuku. Ia membelai rambutku dan menciumnya dengan lembut. “don’t cry, i’ll always be by your side ”
###
2 tahun kemudian…
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi keluargaku, terutama kakak angkatku yang sudah kuanggap seperti saudara kandung sendiri yaitu Kak Priscilla. Ia merayakan pesta pernikahannya dengan pasangan yang juga seorang dokter keturunan barat bernama Fritz, sedangkan aku menjadi pengiring pengantin untuk kakakku.
Aku berharap suatu hari nanti aku dapat menyusul kakakku bersama Daniel. Tetapi aku rasa aku harus menundanya karena Daniel sekarang sedang melanjutkan study S2-nya di Amerika. Ia berjanji setelah semua urusannya selesai kami akan segera menikah dan aku menunggu akan hal itu. Seharusnya sejak 1 minggu yang lalu dia sudah kembali ke Indonesia, namun tidak ada kabar darinya. Aku sedikit kecewa dan cemas akan sikapnya belakangan ini. Aku takut ia memiliki wanita lain di sana dan membatalkan rencananya denganku.
“hei, Fioren! Kenapa tidak ikut dengan yang lainnya untuk memperebutkan buket bunga pernikahan kakak!? Siapa tau kau yang mendapatkannya dan bisa segera menyusulku.” Ucapan kak Silla yang cukup kencang membuatku malu. Aku sebenarnya tidak ingin ikut berpartisipasi dalam hal ini, tapi yasudahlah…
Saat kak Silla menghitung dari 1 sampai 3 ia langsung melemparkan buket bunga itu ke belakang tepat ke arah para undangan yang hadir dan berebutan untuk mendapatkannya.
“will you marry me Fioren?” perkataan seseorang itu membuatku yang sedang meneguk segelas sirup stroberri tersentak.
Aku menoleh ke arah suara itu. Aku melihatnya! Daniel datang! Ia dengan buket bunga yang dilempar tadi oleh kakakku! Ia berlutut dengan satu kaki dan mempersembahkan buket bunga itu. Tanpa ragu aku meraihnya dan berkata. “yes, of course!” aku melompat kegirangan lalu memeluk Daniel. Ia memberikan kejutan yang membuatku tak bisa berkata-kata sedikitpun.
Dalam pelukan Daniel, dari kejauhan aku melihat sebuah mobil sedan hitam di depan gerbang rumah. Pria itu memakai kacamata hitam, ia tampak sedang memperhatikan kearah ku, sadar jika aku mengetahui keberadaannya ia lalu melajukan mobilnya dan pergi dari sana.
Aku dan Daniel berdansa dengan diiringi musik klasik favoritku. Kami berdansa dengan anggun layaknya patung pria dan wanita di kotak musik pemberian Daniel.
Jun, aku sangat bahagia…
Aku harap kau juga merasakan kebahagian seperti aku…
DE END
TWITTER : @bellajusticee
FB : Bella Justice
Give a comment so i could write a better story ^_^ thank you for reading my work!
Hope you all enjoy it! 😉
Cerpen Bella yang lain: Everlasting, LOVE THAT I SHOULD HAVE, THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES, dan Kenangan yang Terlupakan

Random Posts

  • Cerpen Cinta: KETIKA HATI HARUS MEMILIH

    KETIKA HATI HARUS MEMILIHoleh: Shavira Novi SafitriRasa bersalah dan penyesalan terhadapmu masih saja menghantuiku. Sedetikpun aku tak kuasa menghilangkan bayangan-bayanganmu, dan itu sangat menggangguku. Mungkin inilah karma yang aku dapatkan setelah aku melakukan kesalahan terbesar kepadamu. Kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan. Kesalahan yang merubah seluruh alur kehidupanku. Yaaa, hidupku berubah sejak saat itu. Sejak aku menyadari aku telah mensia-siakan seseorang yang sangat mencintaiku. Tapi, inilah hidup dan aku harus terus menjalaninya walau seberat apapun. Aku harus terus berjalan.*****Aku Titania Putri. Siswi salah satu SMA terkenal di kotaku tercinta Malang. Kota yang sejuk dan terkenal dengan apelnya. Ada yang bilang juga, Malang adalah kotanya para pelajar. Kota yang damai dan sangat nyaman. Yaa, hidupku memang bisa di bilang sempurna menurut versiku, aku memiliki orang tua yang sangat mengerti aku, teman-teman yang baik, dan seorang kekasih yang sangat menyayangiku, Vino. Meskipun banyak teman yang bilang cowokku ini adalah cowok cupu, but I think he is a perfect boy. “ Morning, Princess ? Udah siap berangkat ? “ sapa Vino pagi itu, saat dia menjemputku untuk pergi ke sekolah bersama.“ Morning too, My Price. “ balasku dengan senyuman tak kalah indahnya.Setiap pagi aku di jemput oleh Vino untuk berangkat sekolah bersama, karena memang kita satu sekolah. Vino adalah cowok yang sangat pengertian dan sabar, dia selalu bisa membuatku merasa nyaman bila dekat dengannya, Vino juga sangat menyayangiku, aku tau itu, karena dia selalu berusaha menjagaku. Selama kurang lebih 1 tahun kami pacaran, kita jarang sekali bertengkar, jika memang aku lagi bête dia selalu bisa menghiburku, jika ada masalah dia juga selalu bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin, tidak seperti aku yang susah mengendalikan emosi. Dia juga pintar, di sekolah Vino adalah salah satu siswa yang cerdas. Kadang aku minder jika melihat dia bisa dengan mudahnya menyelesaikan soal yang aku anggap sangat sulit. Tapi sayangnya, banyak orang yang memandang Vino sangat cupu, mungkin karena dia memang tidak bergaul dengan orang-orang popular di sekolah, dia juga bukan cowok yang fashionable. Tapi, dia tetap yang terbaik buat aku.***** “ Tit, ntar malem dateng kan ke partynya Vega ? “ Tanya Anissa padaku saat aku baru saja masuk kelas.“ Liat ntar ya, Niss. Aku gak tau soalnya Vino bisa apa gak. ““ Sekali-sekali gak usah sama Vino gak papa kali, Tit. Lagian Vino juga gak mungkin bisa, kan di pikiran dia belajar melulu isinya. ““ Iya kan emang itu yang lebih penting. Aku belajar bareng Vino ajalah, Niss. Maaf yaa. “ “ Ahh… Gak asik nih. Kamu sih, Tit. Pake pacaran sama si kutu buku itu. Ya udah deh terserah kamu. “ kata Anissa kesal“ Maaf deh, Niss. Lain kali aku janji bakal ikut acara kamu deh. “ Anissa adalah sahabatku dari SMP. Dari kita kenal sampai saat ini kita baru sekali gak sependapat. Pendapat kita selalu beda tentang Vino, Anissa selalu menganggap aku salah memutuskan untuk jadian dengan Vino, karena menurut dia Vino itu kutu buku yang ngebosenin banget dan gaya dia juga sangat biasa aja. Tapi bagaimanapun Vino tetap yang teristimewa menurutku.“ Tita, bagi PR matematikanya dong. Kamu pasti udah selese kan ? “ kata Anissa sambil nyengir kuda.“ Yee… Dasar ! Baru aja sewot ke aku sekarang malah mau nyontek PR. Kalo aku yoo malu toh, Niss “ kataku pada Anissa, memang aku dengan Nissa gak bisa lama-lama sewot-sewotan gini. Hehehe :D“ Hehehehe. Udah deh buruan, sepuluh menit lagi udah bell, aku tak buru-buru nyontek PR kamu “ Jam pertama hari ini adalah Matematika, satu dari seabrek pelajaran yang membuat kepalaku hampir pecah. Tapi untung saja aku punya cowok pinter, jadi setidaknya bebanku di beberapa mata pelajaran itu sedikit berkurang sejak aku jalan dengannya. Baru kali ini aku pacaran dengan seseorang dan dia bisa bikin nilai aku terangkat. Sambil menyelam minum air lah, ya pacaran, ya belajar. Bisa ngirit juga, karena gak perlu bayar guru private lagi. Hehehehe :p***** Malam ini Vino datang ke rumahku. Karena aku besok ada ulangan fisika, dia sengaja aku ajak belajar bersama. Meskipun kita sebenernya gak satu kelas sih. Selama pacaran dengan dia memang acara nge-date kita selalu identik dengan belajar bareng, beda banget sama yang lain.“ Sayang, hafalin dulu dong Hukum-hukum newtonnya. Kalo kamunya hafal, soal-soal ini pasti gampang kok. ““ Iya-iya. “ “ Kalo kamu gak hafal soal-soal itu gak bakalan bisa kamu kerjain, karena dasarnya ada di situ. “ kata Vino bak seorang guru.“ Iya-ya, bawel “ jawabku sedikit sewot.“ Sayang. ““ Apa lagi sih ? Katanya di suruh ngafalin, tapi kamunya ganggu terus. “ Saat aku menoleh ke arahnya, ku lihat Vino menatap mataku tajam. Jujur, aku sampai berkeringat di tatap seperti itu. Selama kita jalan, baru kali ini Vino memandangku seperti itu, apa ada yang salah dari aku ? Aku rasa tidak. Wajahnya semakin mendekat ke wajahku, apa dia akan… Ahh, aku tak tau, yang jelas saat ini aku gugup sekali. Semakin lama wajah Vino semakin mendekat, dan…“ Love You, Tita. I will always love you. “Haaa…. Rasanya aku pengen teriak sekenceng-kencengnya. Dasar Vino, aku udah hampir pingsan di tatap seperti itu, ternyata dia cuma nyium keningku dan ngomong gitu. HuftBut, I’m soo happy, cara dia kali ini romantis banget menurutku, baru kali ini Vino seperti itu padaku. Karena emang dasarnya dia bukan cowok romantis, jadi dengan seperti itu saja udah luar biasa banget. Hehehehehe :D“ Love you too, Honey. I believe you. “ balasku padanya setelah terbengong-bengong sebentar.“ Udah deh lanjut lagi hafalanya. “ Malam ini lumayan istimewa buat aku, Vino udah lumayan romantic. HeheheheheEmang norak sih, tapi memang baru kali ini Vino seperti itu, jadi wajarkan kalo aku ngerasa itu istimewa. Tatapan dia tapi indah banget, keliatan banget ketulusan dia saat itu. Jujur, itu membuat aku semakin sayang sama dia. ***** “ Sayaaang, aku lolos. “ kata Vino mengagetkanku seraya memelukku.“ Lolos apa sih, sayang ? “ aku benar-benar kaget saat itu, karena Vino tiba-tiba datang dan memelukku, gak biasanya dia seperti ini. Lebih-lebih kalo di sekolah.“ Aku masuk nominasi siswa yang mau dapet beasiswa kuliah di Oxford Univesity. Itu udah aku cita-citain dari dulu, sayang. ““ Serius ? Selamat ya sayang, aku ikut seneng. ““ Makasih ya, sayang. Tapi, aku harus lolos satu seleksi lagi buat bisa bener-bener dapetin beasiswa itu. Harus makin serius belajar nih, sayang. ““ Iya aku tau, aku dukung kamu terus kok, sayang. Ehh, pulang yuk. Keburu ujan nih. “Kamipun berjalan menuju parkiran. Hari ini senyum Vino tak pernah hilang, aku tau hari ini sangat istimewa buat dia. Tinggal selangkah lagi dia dapetin beasiswa impian itu, setelah bergelut dengan ribuan pelajar yang mengikuti seleksi dari awal. Aku turut senang mendengar kabar itu, walau secara gak langsung ini jelas akan sangat mengurangi waktuku dengan dia. Karena Vino pasti akan lebih banyak menyisihkan waktu untuk belajar, dan aku hanya bisa mendukung Vino untuk hal ini.***** Vino udah gak bisa sesering dulu nemenin aku. Karena dia lagi sibuk belajar untuk test lanjutan itu. Sms-an pun sepertinya susah, jika aku sms hanya sekali atau dua kali dia membalas, setelah itu selesai. Aku jadi merasa jauh dengan dia, tidak seperti dulu lagi. Kadang aku kangen saat-saat seperti dulu, saat kita bisa belajar bareng, tapi sekarang dia sudah terlalu sibuk. Weekend kali ini juga jadi garing banget, malem minggu yang biasanya di temenin Vino, sekarang jadi acara galau-galauan di dalem kamar sambil ngedengerin music. Bosen di rumah aku coba sms-in Anissa, sapa tau dia bisa nemenin aku.To : NissaNon, ngpain ?bsen nih d ruma…Tak beberapa Nissa membalas pesanku.From : NissaKagak ngpa*.in non…K.spi.an yaa ? :pEhh, bsok ikut ak yokk, ke Matos cari sesuatu…:DKali ini aku langsung meng-iya-kan ajakan dari Nissa, karena memang besok aku gak ada acara. Aku gak ngarep Vino bakal ngajak aku jalan, karena dia terlalu sibuk dengan belajarnya dan seakan lupa denganku. Jujur, sebenernya aku kangen sama Vino, kenapa dia seakan lupa sama aku. Semoga saja dia hanya terlalu sibuk belajar dan setelah test dia akan kembali seperti dulu. ***** Udah hampir 2 jam aku muter-muter Matos dengan Nissa siang ini. Kaki aku rasanya udah keriting, tapi Nissa sampai sekarang belum juga nemu barang yang di cari.“ Niss, kamu nyari apaan sih ? 2 jam kita ini muter-muter disini, aku kesel non. “ “ Yee, kamu kan uda lama gak nemenin aku, baru segini aja udah ngamuk. Huuu… ““ Kaki aku uda pegel nih. ““ Yaweslah, nongkrong di kafe depan aja ya ? Sambil nunggu temenku yang lain. “Legaaa. Akhirnya bisa duduk juga setelah lama muter-muter nemenin si Nissa. Hari cuaca lumayan panas, keadaan disini juga cukup ramai. Mungkin orang-orang pada mikir kalo sekarang ini adalah saat yang tepat untuk keluar rumah, karena memang akhir-akhir ini Malang selalu diguyur hujan.“ Tita, kenalin nih temen aku, Rendy. “ kata Nissa membuyarkan lamunanku, aku baru sadar kalo ternyata ada orang yang datang.“ Ohh, iya. Aku Tita.” Aku menerima jabatan tangan Rendy, aku baru tau kalo di Nissa punya temen cakep. Rendy cool banget. Hehehehehehe :p“ Ren, ini nih Tita. Sahabat aku dari SMP yang sering aku certain ke kamu. ““ Ohh, iyaa. “ jawab Rendy singkat.“ Rendy ini kakak kelas aku waktu SD dulu, Tit. Dia juga tetangga aku, tapi pas SMP dia pindah ke Bali ngikut ortunya. Sekarang lagi kuliah di UB. “ Nissa nyerocos aja tuh ngenalin si Rendy ke aku, kalo gini gayanya udah kaya sales kosmetik. Aku Cuma bisa ber” Ho-oh “ ria. Hehehehehe :D“ Ehh, aku ke toilet dulu ya ? Ren, jagain Tita, jangan sampe kabur. “ kata Nissa sambil nyengir, dasar tuh bocah,emang aku kucinng apa harus dijagain biar gak kabur.“ Btw, Tita rumanya dimana sih ? “ “ Rumah aku ada di Jln. Duku. Kamu sendiri ? Nge-kost disini ? ““ Iya, aku nge-kost dideket kampus, kapan-kapan aku boleh ya main ke rumah kamu ? ““ Boleh kok. “ kataku sambil tersenyum.Obrolan kami terus mengalir, ternyata Rendy anaknya bener-bener asik. Kita baru kenal beberapa jam aja udah bisa ngobrol selancar ini dan nyambung banget. Dianya cakep juga lagi. Hehehehe :D. Tapi, ini hanya sekedar mengagumi saja, gimanapun aku tetep sayang sama Vino, kekasihku yang kini sedang tenggelam dalam keseriusannya mengejar cita-cita.“ Tit, Ren, pulang yuk ? Udah sore nih. “ ajak Nissa setelah kembali dari toilet.Aku hanya mengangguk meng-iya-kan. Tapi sebelum pulang aku sudah sempat bertukar nomer hp dengan Rendy. Mungkin untuk akhir-akhir ini Rendy bisa menemaniku saat Vino sedang sibuk.***** Malam ini lagi-lagi aku sendirian di kamar, hanya di temani dengan alunan lagu Dan Tak Mungkin dari Agnes Monica. Saat lagi asik dengerin musik tiba-tiba handphoneku berbunyi, aku kira itu pesan dari Vino, tapi ternyata bukan itu Rendy.From : RendyMalem Titaaa:DAku segera membalas pesan dari Rendy, malam ini aku lebih beruntung rupanya, karena Rendy bisa menemaniku walau hanya lewat sms. Sampai sekitar jam 10 malam kita sms-an. Rendy ngajakin aku jalan ber-dua. Sebenernya aku ingin menolak karena takut melukai Vino jika dia tau aku jalan sama cowok lain. Tapi, aku gak bisa nolak ajakan dari Rendy karena memang sejujurnya aku pengen banget jalan-jalan. Akhirnya aku meng-iya-kan ajakan dari Rendy.***** Malam itu datang Rendy menjemptku ke rumah tepat pukul 7 malam, aku tak tau dia akan mengajakku kemana, kata dia sih Cuma ke suatu tempat yang indah. Di sepanjang perjalanan aku hanya bisa menebak-nebak aku akan di ajak kemana oleh Rendy. Gak berapa lama kita sampai ke tempat yang di tuju. Sumpah, tempat ini indah banget. Meskipun masih di Malang, tapi aku belum pernah mengunjungi tempat ini. Kata Rendy sih, tempat ini namanya Bukit Bintang. Pastas orang menyebutnya seperti itu karena kita memang serasa dekat sekali dengan bintang kalau berada disana.“ Tita. ““ Apa, Ren ? ““ Kamu cantik hari ini, makasih ya udah mau nemenin aku kesini. ““ Seharusnya aku yang bilang makasih, karena kamu udah bikin aku seneng hari ini, Ren. “ balasku sambil tersenyum.***** Semakin lama aku semakin dekat dengan Rendy, sekarang aku lebih sering ketemu dan sms-an dengan Rendy daripada dengan Vino. Aku juga merasa semakin jauh dengan Vino, padahal sekarang Vino sudah tidak lagi sibuk dengan belajarnya. Jujur, Rendy memang cowok yang asik, dia sangat berbeda dengan Vino. Perasaanku mulai goyah terhadap Vino. Dan sepertinya dia merasakan perubahanku itu.Malam ini, aku jalan lagi sama Rendy. Ke Bukit Bintang, tempat favorit kita.“ Tita, boleh aku ngmong sesuatu ? ““ Ngomong aja, Ren. ““ Tit, kamu mau gak jadi cewekku ? “Jleb ! Aku gak percaya Rendy berani nembak aku, padahal dia tau kalo aku masih jalan sama Vino.“ Aku tau Tita kalo kamu masih punya Vino, tapi jujur, aku gak bisa nutupin perasaan ini. Dari awal kita ketemu aku udah suka sama kamu. Mungkin ini konyol, tapi aku rela kok jadi yang kedua. “Kata-kata Rendy barusan bener-bener buat aku shock, aku gak nyangka kalo dia bisa ngomong kayak gitu.“ Ren, kalo aku boleh jujur, sebenarnya aku juga sayangsama kamu. Tapi aku bingung, aku masih punya Vino, dan aku susah buat mutusin dia karena dia memang gak ada salah. Apa kamu bener-bener gak papa jadi yang kedua ? ““ Apapun aku rela, Tit. Asal aku bisa sama kamu. “Handphoneku bordering, saat kulihat ternyata itu dari Vino. Degup jantung semakin kencang saja, aku mengangkat telfon Vino.“ Sayang, sepuluh menit lagi aku sampai di rumah kamu. Aku mau ngajak kamu jalan, maaf ngedadak karena aku mau ngasih surprise. “Aku tak dapat berkata apa-apa, aku bingung karena aku sayang keduanya. “ Sayang, halo ? Tita sayang, kamu gak papa kan ? “Klik ! Aku memutus telfon dari Vino dan segera mengirim sebuah sms.To : ..maii hunbie..Vino, maafin ak…Km gak lbih baik plg nd gak usah jmput aku…Makasih buat selama ini.Saat aku mengirim pesan itu rasa hatiku sungguh berkecamuk. Aku harus memilih salah satu dari mereka. Aku memang harus membuat luka pada salah satu dari mereka, tapi inilah keputusanku. Aku memilih Rendy, dia yang selalu menemaniku selama ini.“ Ren, sekarang aku cuma milik kamu. “ ucapku sambil tersenyum pada Rendy.“ Makasih, sayang. Aku janji bakal selalu jaga kamu. “Tak berapa lama handphoneku kembali berbunyi, tapi sama sekali tak ku hiraukan. Aku yakin itu pasti Vino. Aku sengaja mengabaikannya agar aku tak lagi goyah dengan keputusanku. Aku takut aku akan kembali bimbang jika memdengar suara Vino lagi. Namun, handphoneku tak berhenti berdering, dan akhirnya aku mencoba melihat sapa yang menghubungiku, ternyata Anissa.“ Tita, kamu dimana ? Vino kecelakaan, buruan ke rumah sakit. Kondisi dia parah banget. “Aku segera mengajak Rendy ke Rumah Sakit. Perasaanku saat ini sangat kacau. Aku merasa sangat bersalah pada Vino, gak seharusnya aku mengatakan hal seperti tadi itu saat dia sedang mengendarai motor. Kenapa aku tadi gak mikir akibatnya sampai sejauh ini. Aku tak sanggup membendung air mataku.Saat aku sampai di Rumah Sakit, aku melihat Anissa dan keluarga Vino, teman-teman satu kelasnya juga ada disana. Aku merasa sangat bodoh karena tak memikirkan apa yang terjadi akibat keputusanku tadi. Tak berapa lama seorang Dokter keluar dari ruangan tempat Vino di rawat. Orang tua Vino segara menghampirinya.“ Dok, bagaimana anak saya ? Dia baik-baik saja kan ? ““ Benturan yang terjadi di kepalanya sangat parah. Dan kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Maaf, anak ibu tak bisa kami selamatkan, “Kata-kata dokter barusan benar-benar seperti sambaran petir bagiku. Aku tak percaya dengan ini semua, aku telah membuat Vino menjadi seperti ini. Aku merasa ini semua salahku, aku merasa sangat bersalah, aku bodoh, dan aku sangat jahat pada Vino.Sebuah sms masuk ke handphoneku, dari Vino. Balasan dari sms yang aku kirim tadi, pesan yang dia tulis sebelum kecelakaan itu terjadi yang sempat pending dan baru baru terkirim sekarang.From : ..maii hunbie..Sayang, ak tau ak mmang bkan cow xg smprna nd baik buat km..Ak tau ak gak bsa buat km snenk, ak jga bkan cow xg gaul, ak gak prnah bsa bkin kmusnenk, nd ak jga sngat mmbosankan..Ak sdar itu, Tita..Ak hrgai k.ptus.an km ini, ak jga mngrti bhwa km tlah mnmukan cow xg lbih baik dr akuntk nmnin km..Tpi Tita, mskpun km sekarang bukan milikku lagi ak akan slalu mencintai kmu..Hati ini Cuma km xg memiliki, ak yakin suatu saat nanti ak akan dapat mmlikimu lagi, walau itu di alam xg berbeda, ak akan selalu mnunggu. Love U Tita…Pesan ini benar-benar membuatku sesak, aku sangat bodoh karena aku telah menyia-nyiakan seseorang yang telah sangat tulus mencintai aku. Aku benar-benar menjadi cewek yang sangat beruntung telah mendapat cinta tulus dari Vino, tapi apa yang aku lakukan. Aku membuat dia sakit hati dan akhirnya mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya, yang merenggut semua cita-cita dia. Aku tak kuasa menghadapi semua kenyataan ini, kenyataan bahwa Vino sangat tulus mencintaiku dan aku telah menyakiti dia. Dalam sekejap semua terasa gelap dan menghilang…***** Di hadapanku sekarang, segunduk tanah dan batu nisan bertuliskan nama Malvino Putra Pratama. Aku masih menatapnya dalam-dalam, tak percaya bahwa dia sudah benar-benar tiada. Vino telah pergi dengan sebuah luka. Luka yang aku sayatkan dengan begitu dalam. Luka yang aku berikan kepada dia yang sangat mencintaiku. Aku sangat menyesal saat ini, tak seharusnya aku mengambil keputusan itu. Seharusnya aku tau bahwa Vino memang yang terbaik. Tapi, apalah arti sebuah penyesalan, jika semua sudah begini adanya. Aku tak tau apakah aku bisa memaafkan kebodohanku ini. Sekarang tak ada yang bisa aku lakukan, semua sudah terlambat. Hanya tangis penyesalan yang terus terurai atas kepergian seseorang yang sebenarnya sangat aku cintai dan itu semua karena kesalahan terbodoh yang aku lakukan.The End

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 04 | Cerpen Cinta

    Halo semuanya, ketemu lagi nih sama Admin tentunya dengan kelanjutan Ketika Cinta Harus Memilih Part 4. Masih tentang kisah Cinta sama Rangga ya. Kira kira gimana sih kelanjutan hubungan mereka. Bakal happy ending atau justru malah sad ending.Untuk yang dulunya sudah pernah membaca, baca ulang lagi juga boleh kok. Secara cepen ketika cinta harus memilih ini kan udah di edit lagi. Walau inti ceritanya masih sama si sebenertnya. Akhir kata, happy reading aja deh….Ketika Cinta Harus Memilih"Jadi ini rumah loe?" tanya Rangga setelah beberapa detik yang lalu motornya diberhentikan atas interupsi dari Cinta yang sedari tadi duduk di belakangnya.sebagian

  • Cerpen Tentang Aku dan Dia Part 5 {update}

    Cerpen tentang aku dan dia part sebelumnya udah pada baca kan?… Kalau belum baca baca dulu gih sana.. ha ha haKredit Gambar : Ana merya"Pagi Ma, Pa…. Gresia berangkat dulu" Pamit Gresia terburu – buru . Gara – gara tadi malam tidurnya terlalu larut yang berakibat telat bangun. Padahal hari ini di kampusnya ada jadwal masuk pagi."Lho. Nggak sarapan dulu" Tanya Mama sambil mengoleskan selai kacang di atas roti nya."Nggak sempet. Gresia udah telat. Udah gresia pergi dulu ya. Da… eh, Assalamu'alaikum" Sahut Gresia sambil beranjak pergi. Tapi sebelum itu tangannya masih sempat menyambar roti yang ada di tanggan sang mama.sebagian

  • WAJAH BULEKU

    WAJAH BULEKUOleh: Sisca Viasari “He Bule! Ati-ati dong bawa motor!”Aku mendengus. Entah untuk yang berapa ratus kalinya, aku dipanggil “bule” oleh orang-orang sekitar. Tetangga, teman sekolah, orang yang baru kenal dan sekarang, orang tengil yang lagi nyetir ini. “Bu, kenapa sih wajahku kayak gini? Gak seperti A Yudi atau Dik Santi?” tanyaku menyebut kakak dan adik kandungku.“Sudahlah, Laras..harusnya kamu malah bersyukur punya wajah begini, yang lain aja kepingin tuh” jawab ibuku.“Ngomong-ngomong, siapa sih yang punya darah bule?”“Hmmm..” ibu berlagak mikir “Kayaknya ibunya eyangmu dari Ayah orang Belanda totok. Sudah cuma dia saja, kesini-sininya mah teu aya deui ”Oke, kembali ke jalan raya..“Siapa yang bule?? Lagian angkot lo tuh yang mepet aja ke gue!!” sentakku kesal. Baguuuus, pagi-pagi sudah berantem sama supir angkot. Mana jalanan di depan macet total karena demonstran dengan rajinnya jam setengah tujuh pagi begini sudah memenuhi ruas jalan Riau. Tahu tidak? Kini aku berada persis di depan gedung pengadilan, tempat Ariel Peterpan jam sepuluh nanti disidang. Perfect! Sempurna!“Lagian angkot butut begini aja, takut amat sih kegores. Kaga ngaruh tauuu!” kataku keras-keras, biar terdengar si supir.“Geuning tiasa bahasa Indonesia si bule ” komentar supir angkot. Seluruh penghuni angkotnya tertawa. Aku meringis.“Gue orang Garut, mau apa lo??”Se-angkot ketawa lagi. Sialan, emang percakapan antara aku dan supir angkot ini lucu apa?“Ya sudah, sesama orang Garut mah jangan saling mendahului atuuuh, apalagi saling menggores” komentar si supir lagi, membuat pertengkaran ini semakin tidak penting. Makanya, begitu ada celah karena mobil di depanku agak maju, aku langsung geber gas si Mio cantikku ini, meninggalkan sang supir dengan seluruh penghuni angkotnya yang tak berperasaaan itu.***“Ehh, ada Arumi Bachsin lewat” goda anak-anak kelas tiga IPA ketika aku melewati gerombolan mereka. Aku kesal. Salah sendiri, sudah tahu kalo pagi, koridor ini pasti penuh sama senior-senior itu. Apa boleh buat, kepalang tanggung.“Yang ini mah Arumi Bersin kaleeee. Hahaha!!” Pasti suara Tino, yang dua hari lalu cintanya aku tolak. Bukan si Tino aja disitu. Ada Doni, Yulis, Janu dan entah siapa lagi deh yang cintanya aku tolak-tolakin. Ya, mereka mengejekku karena kesal karena cinta gak kesampaian, mungkin? Kasian, deh!“Hehe, dia mah bulgar. Bule Garut. Palsu” komentar salah satu dari mereka yang tak sempat aku lihat wajahnya. Tawa mereka berderai-derai. So what?***“Laraaaasss…!!! Siniiii!!” Rita, cewek imut yang selama ini jadi teman satu bangku menyeretku menuju kerumunan cewek-cewek di kelas.“Apaan??”“Cepetan…!”“Naaah! Ini yang kita tunggu…”“Pokoknya dari sekolah kita harus ada yang jadi selebritis, dan….siapa lagi nih kandidatnya kalo bukan Larasati Dwi Kurnia Widiastuti….!!”“Maksudnyaa??” aku melongo. Weni menyuruhku duduk, lalu mulai menjamah rambut coklatku yang ikal gelombang sebahu. “Hm, tinggal di make over sedikit aja, trus kita kasih dia kaos kutung, rok Spartan dan sepatu boots hijau keren milik gue itu, sempurna deh!”“Gue punya bolero rajutan warna ijo pemberian tante gue dari Jepang. Matching, Wen” kata Gia. Aku semakin tidak mengerti.“Rambutnya, kita percayakan aja sama Mas Sunan, salon langganan gue. Dia biasa menangani Hair do-nya para selebriti Bandung” kata Kinanti. “STOP!!!” teriakku. Semua terdiam. “Kalian ini apa-apaan sih? Gue baru dateng udah pada nyembur semua! Udah, gue mau belajar Fisika dulu” “Ehh, duduk dulu Say, gini..gini..” Weni berdehem-dehem. “Besok, jam sepuluh, di Sabuga ITB, ada casting calon pemain film: ‘Begini-begini Aku Cinta Kamu, Lho! Pemain cowoknya, Irfan Bachdim”“Pemain bola itu !?” tanyaku. Semua membenarkan. “So?” “Sutradaranya keren,” lanjut Weni “PHnya bonafid, mereka lagi nyari talent baru buat pasangan si Irfan dan buat tokoh-tokoh lain. Nah, inilah kesempatan buat sekolah kita terkenal se-Indonesia, gara-gara ada salah seorang muridnya main di film itu!!”“Terus? Apa hubungannya sama gue??”“Iiih, cantik-cantik bego!” kata Kinan “Ya, elo harus ikutan casting ituuuuu!!”“Kenapa harus gue??”“Ya cuma lo yang memenuhi syarat. Wajah bule lagi laris, Ceu, apalagi buat disandingkan dengan Irfan Bachdim!”“NO WAYYYY”Aku teriak dan melarikan diri dari kerumunan teman-teman sekelas. Mereka gak peduli, terus mengejarku sampai di tikungan bertemu dengan pak Prana guru Fisika yang sedianya akan mengajar di kelas kami pagi ini. Aku gak peduli, aku terus lari menuju gerbang belakang sekolah, kabur, daripada jadi bulan-bulanan teman-temanku untuk ikutan casting konyol itu, mending aku bolos aja deh pelajaran Fisika pagi ini. Gak apalah sekali-kali..***Aku sudah di Sabuga ITB. Gedung megah milik Institut beken itu sudah ramai dengan orang-orang yang ingin mengadu peruntungan di blantika perfilman dan persinetronan Indonesia. Casting. Gak kebayang seperti apa sih suasana casting itu. Aku menyeret sepatu boots hijau yang kata Weni keren punya ini. Keren apaan? Bikin aku jadi seperti orang kebanjiran begini koq dibilang keren.“Ras, jangan diseret boots gue, ntar solnya habis. Mahal tuh beli di Belanda!”“Salah sendiri lo pinjemin ke gue!”“Laras, inget ya: Senyum. Kemarin gue udah ajarin tehnik akting sedikit kan? Optimis deh lo bakalan dapet peran utama ceweknya. Gue yakin banget!!” kata Gia, sambil memoleskan blush on lagi ke pipiku. Rita, Weni, Kinanti, dan Gia, menggiringku menuju pintu utama Sabuga. Aku risih. Diantara mereka aku memang yang paling jangkung sendiri, plus ditambah aku yang paling dandan sendiri. Aku rikuh ditengah tatapan puluhan orang-orang, ditambah perlakuan teman-teman yang berlebihan ini bikin aku seperti ondel-ondel yang mau manggung.“Nama?” tanya petugas pendaftaran.“Larasati Underwood” jawab Weni. Spontan aku menoleh heran. Melihat reaksiku, Weni senyum,“Sesuai wajah lo, gak pantes pake nama Larasati DK Widiastuti”“Hmm, jangan Mas, tulis namanya Larasati Fruitstone aja!” samber Gia, membuat si petugas mengerut alis. Aku menoleh ke Gia.“Kan sesuai tempat tinggal gue di Buah Batu. Fruit artinya buah, Stone artinya Batu. Ya kan??”“Underwood aja sesuai daerah rumah gue di Jatihandap. Jati itu kayu, handap itu bawah, jadi di Inggrisin Underwood!” Gia maradang.“Fruitstone aja biar sounding like Sharon Stone, Bego!!”“Pokoknya Underwood! Biar disangka turunan Clint Eastwood!!”“Fruitstone!”“Nona-nona, jadi saya musti tulis siapa nih namanya?” petugas pendaftaran mulai tidak sabar.“Larasati DK Widiastuti aja, Mas” jawabku. Teman-temanku mendelik tidak senang.“Kenapa? Irfan yang mukanya bule banget aja pake nama Indonesia, kan?” jawabku tenang.“Oke, silahkan masuk, Mbak. Pintu depan itu belok kiri” kata si Mas petugas.Aku bersorak ketika namaku tidak masuk dalam jajaran talent terpilih. Yang lebih membahagiakanku, calon pemeran wanita yang sedianya mendampingi Irfan Bachdim justru berwajah Indonesia banget. Setelah dapat bocoran sana sini, ternyata film ini akan berkisah tokoh utama pria yang seorang turis kesasar masuk ke hutan dan ditolong oleh wanita lokal. Haha! Aku puas memandangi wajah teman-temanku yang menyesal, kenapa bukan mereka sendiri saja yang ikutan casting. ***Sudah lama aku naksir dia. Ups, terlambat deh dibilang naksir. Mungkin diam-diam aku sudah jatuh cinta padanya. Namanya Nanda. Pekerjaannya, guru disc jockey di Gelanggang Generasi Muda Bandung. Aku mengenalnya setengah tahun lalu ketika aku mulai masuk kelas Wushu di GGM ini. Wajahnya sih ganteng standar, tapi kurasa seluruh tubuhnya terbuat dari magnet hingga begitu menarik perhatianku. Apalagi melihat gayanya kalau lagi nge-DJ. Aduuh gak kuat deh. Keren banget!!Matanya tidak bisa melihat. Menurut cerita sobatnya, itu bukan buta bawaan lahir. Dulu, Nanda sangat bandel, suka kebut-kebutan motor dan mobil. Ketika SMA dia kecelakaan mobil, dari situlah, perlahan fungsi indra penglihatannya berkurang dan kini tidak bisa melihat.“Kok gak operasi aja Mas?” tanyaku.“Mau. Tapi belum punya duit. Nanti ya ngumpulin dulu” jawabnya sambil tersenyum. Dadaku berdesir melihat senyumnya. Aku tidak tahu apakah dadanya juga berdesir jika berdekatan denganku seperti ini. Konon, fisik adalah hal pertama yang dilihat pria dari seorang wanita, yang kedua baru hatinya. Jika dia tidak bisa melihat fisikku, bisakah dia jatuh cinta padaku?***Suatu sore pulang dari latihan Wushu, aku sengaja menemui Nanda di studio DJ yang letaknya di lantai 2. Kelasnya baru saja selesai dan beberapa muridnya masih ngumpul untuk diskusi sesuatu. Ketika mulai sepi, aku mendekatinya. “Hm! Hm!”“Laras, ya?”“Iya, Mas. Udah beres?”Dia menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku menyentuh tangannya.“Kalo udah beres, ke CCF yuk! Ada pianis dari Prancis manggung. Gratis lho!”“Ohya??”“He-eum!”“Oke, aku bersiap dulu ya!”Auditorium Centre Culturel de Français atau CCF Bandung sudah hampir penuh. Maklum pertunjukan gratis. Aku menuntun Nanda mencari tempat duduk dan aku bersyukur dapat tempat duduk yang strategis, bisa memandang langsung pianis muda berbakat dari negeri Eiffel itu. “Beethoven, Symphony Number Nine..” desisnya sambil memadang lurus ke depan. Aku kaget mendapati kalau ternyata dia tahu lagu yang sedang dibawakan si artis. Memang, dalam guide book yang sedang kupegang ini, lagu pertama yang dibawakan adalah lagu yang disebut Nanda tadi. Hebat!Aplaus panjang dari audiens membahana dan berhenti seiring lagu kedua mengalun.“Yang ini apa, Mas?” tanyaku mengetes, seperti pembawa acara kuis.“Bocherini, Minueto”Lagu ketiga,“Beethoven, Contredanses”“Kereeen..” desisku.***“Laras,” panggil Nanda ketika suatu sore kami berdua sengaja nongkrong ke Dago Pakar. Aku sih yang mengajak. Ya, sekedar menghirup udara segar dan jauh dari polusi kota Bandung yang makin menyesakkan.“Ya, Mas?”“Kenapa ya, lama-lama aku kok makin suka sama kamu?”“APA?” aku terhenyak“Kamu gak senang ya?”“Euuuh, bukan…bukan itu, aduuuhh” aku menggigit bibir. Ya Allah, tentu saja aku senang!“Tapi, Mas… sorry nih, Mas Nanda kan gak bisa lihat aku, masa sih, cowok bisa suka sama cewek tanpa melihat fisik dari si cewek itu?”Dia tergelak.“Ya ampun kamu naïf banget. Kamu SMA banget sih! Eh denger ya, buat orang seusia aku ini, fisik memang penting, tapi ya bukan yang utama. Apalagi, aku sadar aku juga punya kekurangan fisik..”“Ooh gitu ya?” aku garuk kepala.“Kalo kamu, suka juga gak, sama aku?”“APA? Eh ya, ya! Aku memang sayang kok sama Mas Nanda” Ups! Aku menutup mulutku. Kok jadi aku nih yang nyatain duluan? “Sayang? Kamu sayang sama aku, Laras?”“Yaaa, gitu deh..” pipiku memerah, “Gak apa-apa, kan Mas?”“Ya, gak apa-apa. Tapi Laras gak malu nih, jalan sama orang buta?”“Alhamdulillah enggak. Mas Nanda kali yang malu ya? Jalan sama orang yang mirip Mpok Ati kayak aku..”“Kamu kayak Mpok Ati? Asyik, berarti kamu cantik dong” Nanda tersenyum, dan meringis ketika aku meninju lengannya “Aku kan fansnya Mpok Ati, hehehe” lanjutnya dan kamipun tergelak bersama. “Laras, hatiku bilang kamu cantik sekali dan terlebih hatiku juga bilang kalau kamu sayang sama aku. Itu yang terpenting..”Aku tersenyum senang karena telah menemukan dia. Akhirnya, ada orang yang tidak melihat wajah buleku dengan matanya seperti cowok-cowok lain, tapi dengan hatinya. Seperti mas Nanda ini …***Sisca Viasari, lahir sebagai orang Jawa ditengah-tengah masyarakat multikultural Jakarta pada bulan Maret hari ke-22. Hobi yang juga jadi pekerjaannya sehari-hari adalah menulis dan mengelola toko fashion muslimnya di Bandung. Cerpen-cerpen dan novel-novelnya pernah dipublikasi di media lokal dan nasional dengan nama pena Chika Riki.Email/facebook : ecrivainchika@yahoo.co.idYM : ecrivainchika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*