Cerpen Romantis “Take My Heart ~ 09”

Sambil menyelesaikan laporan bulanan di kostan, iseng nyalain Mp3. Pas di lagunya Jang geun suk ~ Love Rain. Konsentrasi langsung pecah.
Memang ya, musik itu selalu bisa jadi inspirasi paling ampuh disaat hati lagi jenuh. Nggak terhitung berapa kali ku ulang – ulang ni lagu, tau – tau, Cerpen Romantis "Take My Heart ~ 09" udah tercipta. Ha ha ha
-} Cerpen Terbaru Take My Heart Part 8


Sallang sallang sallang deullye oneun bissori
Dugeun dugeun dugeun dugeun tteollye oneun nae gaseum
Sallang sallang sallang dugeun dugeun dugeun
Usansori bissori nae gaseum sori
Sarang biga naeryeo oneoyo….
Nan sarange ppajyeotne
I love rain… I love you
Lalalalalala…
PS: Padahal Aku babarblas gak tau artinya lho kecuali baris terakhir. Ha ha ha ha
"Loe nampar gue?".
Walau kalimat yang Ivan lontarkan terdengar seperti pertanyaan, tapi sungguh Vio menyadari kalau itu adalah sebuah pernyataan.
"Maaf, Gue nggak sengaja".
"Nggak sengaja apanya, Udah jelas jelas tadi itu sengaja".
"Ya maaf, itu tadi gerak refleks".
"Maksutnya loe refleks buat nampar gue?" Ulang Ivan tak percaya.
"Ehem" Vio berdehem untuk sejenak menyadari kalau ia salah bicara. Digaruknya kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkah mendapati tatapan tajam Ivan padanya.
"Dia yang udah bikin loe patah hati, Gue yang pertama kali di tonjok, Dikatain brengsek dan masih harus mendapat bonus tamparan. Woi, hebat sekali" Cibir Ivan menyindir.
"Kenapa harus marah si?. Bukannya loe emang brengsek" Balas Vio lirih yang langsung mendapat lirikan tajam dari Ivan.
"Sudah lah, dari pada loe marah – marah ayo sini mendingan gue obatin" Kata Vio sambil kembali menarik tangan Ivan.
Seolah baru sadar Ivan menoleh kesekeliling. Sejak kapan mereka sampai di depan ruang kesehatan?.
Tanpa kata Vio membersihkan wajah Ivan dengan telaten. Hal yang tak pernah Ivan duga akan terjadi dalam hidupnya. Mendapati Vio yang berdiri didekatnya, dengan jarak sedekat itu, Membuat jantungnya berdebar tak menentu.
"Ehem".
"Kenapa?" tanya Vio dengan kening berkerut saat Ivan tiba – tiba berdiri. Padahal ia sedang membersikan wajah Ivan dengan kapas yang masih ada di tangannya.
"Ehem, Gue… Gue bisa sendiri" Sahut Ivan rikuh.
"Udah, Gak usah sok jual mahal. Sini gue bantuin" Balas Vio sama sekali tak menyadari akibat yang di timbulkan akan kedekatan mereka pada Ivan. Dengan santai di tariknya tangan Ivan sehingga kembali duduk di tempatnya semula.
"Ngomong – ngomong kalau dari deket gini loe cakep juga ya".
"Aduh".
Ivan langsung meringis. Mendengar kalimat pujian yang keluar dari mulut Vio barusan membuatnya refleks menoleh. Membuat Vio yang sedang membersikan kapas dengan hati – hati justru malah mengenai lukanya.
"Ish, Makanya diem aja. Jangan bergerak-gerak" Kata Vio sambil meraih wajah Ivan kearahnya. Membuat situasi keduanya benar – benar berhadapan.
Tak pelak Ivan memaki dalam hati. Astaga, apa gadis itu sama sekali tidak merasa canggung akan situasi mereka saat ini. Apa hanya ia yang terlihat bodoh?.
"Ah elo, baru juga di puji dikit. Langsung salah tingkah gitu. Katanya playboy".
Ivan langsung melotot. Menyadari lirikan Vio yang terlihat menahan tawa, sengaja mengodanya . Sialan, ternyata dia di kerjain.
"Oke, selesai".
Bersamaan dengan kalimat yang terucap dari mulutnya Vio berdiri. Kemudian berbalik, bersiap pergi meninggalkan Ivan kalau saja tangannya tidak terlebih dahulu di cekal. Dan belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, tubuhnya sudah terlebih dahulu tertarik. Vio yakin ia pasti jatuh. Dan ia memang beneran jatuh. Yang ia tidak yakin adalah ia jatuh di pelukan Ivan. Benar – benar di pelukan pria itu.
Berniat untuk langsung mendampart sekaligus mencaci maki atas tindakan barusan, Vio justru terpaku. Dengan jarak sedekat itu. Tepat di depan wajahnya, mata bening Ivan menatapnya lurus tanpa kata.
Hei, pernahkan kalian merasakan waktu terhenti. Baiklah, waktu tidak akan pernah berhenti, Tapi setidaknya pernahkan kalian membayangkan waktu berlalu tapi tidak disadari. Ya, itu yang Vio alami saat ini.
Tatapan tajam Ivan benar – benar membiusnya. Bahkan mungkin lebih dari itu. Bagaimana bisa cukup bertatapan seperti itu, semua amarahnya menguap begitu saja. Bahkan…
"Astaga, Kalian berdua ngapain?".
Pertanyaan bernada kaget itu secara serentak membuat Vio dan Ivan menoleh. Tatapan shock jelas tergambar di wajah perempuan yang bertugas sebagai perawat dikampusnya yang baru muncul dari pintu.
Seolah baru tersadar Vio segera bangkit berdiri. Mendunduk malu kearah perawat itu sambil meminta maaf. Pikirannya terus merutuki diri sendiri. Astaga, apa yang baru saja terjadi. Dia belum gila, Tapi yang terjadi barusan sungguh tidak masuk akal untuk di pikirkan.
Dengan terbata Ivan menceritakan kronologi_karangannya. Entah karena pesona yang ia punya atau apa. Vio tidak mau memikirkannya. Yang jelas suster itu tampak mengangguk – angguk. Masih terdiam, Vio tak menyadari kakinya yang terus melangkah. Mengikuti Ivan yang jelas mengenggam erat tangannya. #Cuwit cuwit…… ^_^
"Loe kenapa berhenti?" tanya Ivan heran saat Vio secara tiba – tiba menghentikan langkahnya. Matanya yang bulat bening tampak berkedap kedip menatap lurus kearah Ivan.
"Astaga, Ini memalukan" Gumam Vio lirih.
"He?" Kening Ivan makin berkerut.
Vio tidak menjawab. Ia segera menarik lepas gengaman tangan Ivan. Kemudian berbalik. Tanpa sempat di cegah, ia langsung berlari menginggalkan tanpa menoleh lagi. Sambil masih ngos – ngosan ia duduk diam di bawah pohon jambu di taman belakang kampus.Duduk terdiam sambil memikirkan nasipnya. Ini semua nyatakan?. Bukan hayalan ataupun dunia mimpi yang menghantuinya.
Diliriknya jam yang melingkar ditangan. Hari ini hanya satu mata pelajaran dan itu jelas sudah di mulai sekitar lebih kurang sejam yang lalu. Hebat, belum ada seminggu ia mejadi mahasiswi di kampus itu ia telah membolos. Sepertinya itu akibat ia pernah beranggapan buruk pada Silvi saat pertama kali bertemu sehingga kini kata itu kembali padanya.
Setelah sekian lama duduk terdiam akhirnya Vio bangkit berdiri. Melangkah dengan lunglai melewati koridor kampusnya menuju ke halte bus. Memutuskan untuk langsung pulang saja.
"Vio".
Merasa namanya di panggil Vio langsung menoleh. Heran saat mendapati Herry yang berjalan kearahnya. Ekor mata Vio masih mendapati motor cowok itu yang di parkir sembarangan di pinggiran jalan.
"Herry?" Gumam Vio lirih. Kembali diliriknya jam yang melingkar di tangan sebelum kembali mengalihkan tatapannya kearah Herry.
"Loe terlalu cepet datangnya. Jam segini Silvi belom pulang" kata Vio kemudian. Tapi Herry justru mengeleng.
"Gue nungguin loe".
"Gue?" Tunjuk Vio kearah wajanya sendiri.
"Loe nggak keberatan kan kalau nemenin gue ngobrol sebentar?".
Sejenak Vio terdiam. Mencoba menimbang tawaran barusan. Secara berlahan kepalanya mengangguk seiring dengan langkah kakiknya mengikuti Herry. Dimana motornya di parkir. Dan masih tanpa kata keduanya berlalu diikuti tatapan dari sepasang mata dari kejauhan.
Cerpen Romantis "Take My Heart ~ 09"
"Hufh".
Untuk kesekian kalinya Vio menghembuskan nafas berat. Angannya melayang jauh. Sejauh awan yang masih ia tatap. Pertemuannya dan Herry tadi siang masih membekas di hatinya. Tak di pungkiri ada rasa bahagia dihatinya saat tau kalau pria itu mengkhawatirkannya. Memintanya untuk menjauhi Ivan agar ia tidak terluka nantinya. Tapi disaat bersamaan rasa sesak juga merambat di hati. Bagaimanapun perhatian itu tidak pantas ia dapatkan. Karena itu hanya simpati atau mungkin belas kasian semata. Hei, seumur hidup ia tidak pernah mengharapkan belas kasian dari siapapun. Seberat apapun luka yang harus ia tanggung.
Saat menoleh Vio terkejut. Apakah ia terlalu asik melamun sampai – sampai tidak menyadari Ivan yang jelas – jelas duduk disampingnya yang entah sejak kapan. Namun dengan cepat Vio merubah ekspresinya menjadi biasa – biasa saja saat melihat sebuah senyuman di wajah Ivan.
"Sejak kapan loe duduk disini?" tanya Vio mengalihkan tatapannya kearah langit.
"Sejak gue panggil nama loe, tapi loe sama sekali tidak menoleh".
Vio sedikit mengernyit mendengar jawaban yang ia dapat barusan. Tapi ia juga tidak mempermasalahkan itu lebih lanjut.
"Ivan, Gue bisa minta tolong sama loe nggak?" Tanya Vio kemudian.
"Apa?" Ivan balik bertanya.
Untuk sejenak Vio terdiam. Tidak langsung menjawab pertanyaan Ivan barusan. Setelah meyakin kan dirinya sendiri ia kembali berujar.
"Buat gue jatuh cinta sama loe".
"Apa?!" Kali ini Ivan nyaris berteriak. Sama sekali tidak yakin akan kalimat yang baru saja melunjur dari bibir mungil gadis di sampingnya.
"Loe kan katanya playboy kelas kakap, Masa si loe nggak bisa bikin gue jatuh cinta?" Tambah Vio lagi.
Gadis itu terlihat santai, berbanding balik dengan ekspresi Ivan yang tampak melotot kaget.
"Loe sakit ya?" Gumam Ivan akhirnya.
Kali ini Vio tersenyum sambil menoleh kearah Ivan. Saat bersamaan pria itu juga sedang menatapnya.
"Loe sendiri tau gue playboy. Loe juga pernah bilang kalau gue itu cowok brengsek. Terus kenapa loe malah pengen gue bikin loe jatuh cinta sama gue?".
Vio kembali mengalihkan tatapannya kearah awan.
"Justru karena loe brengsek lah makanya gue berani minta tolong sama loe. Karena kalau nantinya loe beneran nyakitin gue, mungkin gue masih bisa maklum. Seenggaknya sejak awal gue udah tau kalau gue akan terluka. Bukan seseorang yang selalu memberikan gue harapan, mengajak gue terbang tinggi, tapi kemudian di hempaskan ke bumi. Mungkin kalau orangnya itu elo, Rasanya nggak akan sesakit ini".
"Loe…" Ivan mengantungkan ucapannya untuk sejenak sebelum kemudian kembali melanjutkan. "Bener – bener suka sama dia ya?".
Vio tidak menjawab. Sengaja membuang pandangan kearah samping. Menghindari tatapan Ivan. Pada saat bersamaan Ivan juga melakukan hal yang sama. Membuang padangan berlawanan dari Vio. Tangannya terkepal erat. Benar – benar bernapsu untuk melukai orang saat itu juga. Seseorang yang membuat gadis di sampingnya menitikan air mata.
Menyadari rasa marah yang teramat sangat dihatinya menimbulkan satu tanya mengusik. Hei, kenapa ia harus merasa semarah itu. Bukannya ia juga selalu membuat para gadis – gadis yang selama ini ia kencani tapi kemudian ia putuskan begitu saja juga menangis. Kesadaran itu menohoknya. Membuatnya langsung menatap lurus kearah Vio yang masih terlihat menyumbunyikan tangisannya.
"Gue nggak bener – bener sedang jatuh cintakan?".
Ivan hanya mampu bergumam dalam hati.
To Be Continue. See you in next part yang entah kapan munjulnya #demo rame rame.
Cihuiy…..Ngikik sendirian ditengah malam. Ha ha ha, Cerpen take my heart nya kok jadi gini yak?. Unpredictable banget dari ide awal untuk double date. Kadung berantem jadi berantakan. But what ever deh. Kadang kalau jari udah kadung menari di atas keyboard emang suka nggak kompak sama pikiran di kepala. #beneran lho.
Ngomong – ngomong cerpen remaja kala cinta menyapa bagaimana kabarnya ya?…. #tanyakan pada rumput yang suka tumbuh sembarangan ~ngaco.
PS: Kita liat seberapa banyak yang suka cerpen ini berdasarkan "like" tombol di atas. Oke?…..
Kalau banyak ana lanjut, kalau nggak ana mau berhenti untuk sejenak. Cerpen kiriman banyak ni yang harus di edit. Lanjutan Cerpen Story about us misalnya.

Random Posts

  • Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 1 {Update}

    Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulis berdasarkan dari pengalaman hidup keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Dan bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca Serial Mis Tulalit. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Cerpen Lucu Mis TulalitCerpen Lucu Mis Tulalit ~ 01Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulid berdasarkan dari keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Soalnya bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Dengan tergesa-gesa April masuk kelasnya. Untung saja bel belum berbunyi, jadi ia masih bisa selamat dunia ahirat dari semprotan Bu Murtafiah, guru akuntansi yang kebetulan masuk jam pertama dikelasnya. Selang lima menit kemudian, tu guru beneran masuk.“ Huh, untung saja,” gumam April lega.Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena begitu ia membuka tas ternyata buku akuntansinya tidak ada. Padahalkan hari ini ada PR. Bisa di tebak, pasti tu buku ketinggalan lagi dimeja belajar dirumah.“Semuanya kumpulkan PR kalian, dan ibu tidak mau ada yang tidak membuatnya,” suara Bu Murtafiah terdengar tegas.Tanpa perlu mendengar perintah untuk kedua kalinya, semua teman-teman April maju ke depan sementara April sendiri justru hanya duduk diam dengan hati was – was dan cemas.“April tugas kamu mana?” tanya Bu Murtafiah santai namun syarat ancaman.“Anu bu, bukunya ketinggalan,” sahut April takut – takut. Kepalanya menunduk dalam.“Apa?” tanya bu Murtafiah. “Ketinggalan? Lagi?”“Ia bu tadi malam sehabis ngisi, April taruh dimeja. Lupa masukkin kedalam tas,” terang April lagi. Masih tidak berani mengangkat wajahnya. “Hidung kamu kalau nggak lengket, pasti juga lupa untuk di bawa,” kata Bu Murtafiah, yang membuat seisi kelas di penuhi tawa seketika.“Kok hidung si buk, yang ketinggalan kan buku,” gerut April sambil mengusap hidungnya berlahan.“April sekarang ibu tanya sama kamu, udah berapa kali kamu lupa bawa buku PR-nya?” tanya Bu Murtafiah dengan tampang sabar yang di buat-buat.“Berapa ya bu….!? Tiga kali ya …..? eh… bukan empat atau lima ya?” sahut April mencoba mengingat – ingat.“Bukan lima April, tapi sembilan kali. Kamu sudah sampai sembilan kali tidak mengumpulkan tugas kamu…. Tau….!”“Aduh sembilan ya bu. Maaf April lupa,” kata April sambil menggaruk-garuk kepalanya yang emang banyak ketombenya. Kontan hal itu membuat teman-temanya makin tertawa lepas. Sementara Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi makhluk ajaib yang berstatus sebagai siswinya.“April… kesabaran ibu sudah habis. Ibu sudah tidak bisa mentoleri sifat kamu lagi, jadi ibu terpaksa harus menghukum kamu, bersihkan kamar mandi sekolah sekarang.”“Apa bu?” tanya April refleks. Tak yakin dengan perintah yang baru saja di dengarnya.“Ia. Bersihin kamar mandi sekolah.”“Sekarang bu?” April pasang tampang memelas. Membersihkan kamar mandi? Ya salam, tempat yang satu itu kan amit – amit banget. Terlalu horror untuk gadis yang sangat menyukai kebersihan seperti dirinya. Ciuuss.“Nggak, tahun depan. “Bentak bu Murtafiah“Alhamndulilah,” puji syukur April sambil duduk kembali pada kursinya.“Kok kamu malah duduk?” tanya Bu Murtafiah terlihat heran.“Ya…. Ibu bilangkan tahun depan, padahal satu bulan lagi sudah ujian akhir. Jadi kalau tahun depan mah April udah nggak sekolah disini lagi. Artinya hukumannya hangus dong,” terang April panjang lebar dengan wajah sok pinternya yang sumpah sama sekali tidak cocok.Detik itu juga tanduk Plus taring bu Murtafiah keluar . "April. Bersihkan kamar mandinya SE-KA-RANG!!!" Suara mengelegar Bu Murtafiah segera melenyapkan nyali April yang sebelumnya memang sudah menciut. Akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga dan pikiran secara berlahan April bangkit berdiri.“Dasar bloon loe Pril,” sekilas April masih bisa menangkap suara ledekan dari mulut Isul yang duduk tepat di belakangnya.“Baik bu,” pamit April menunduk sambil berjalan keluar. Dan karena ia jalannya terus menunduk kebawah tanpa sadar ia menabrak daun pintu, yang tentu saja membuat tawa teman-temannya semakin riuh. Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala.Dengan telaten April mengepel lantai setiap kamar satu persatu. Begitu selesai satu kamar, ia harus membersihkan kamar yang lainnya, dan ketika ia masuk kesalah satu kamr mandi ia langsung berteriak kaget karena mendapati seorang seorang siswa perempuan tergeletak pingsan.“Astahfirulloh hal azzi,” lonjak April kaget dan langsung menghampiri sang gadis yang pingsan untuk menolongnya.“Tolong…….tolong……tolong.” April sambil memapah sang gadis yang masih tak sadarkan diri.Tentu saja teriakan April membuat guru dan siswa-siswi yang mendengarkannya heran, dan kontan berlari kearahnya. Langsung kaget ketika mendapati seseorang pingsan dikamar mandi, kemudian segera dibawa keruang UKS.“April. Sebenarnya apa yang terjadi sama Tina. Kok dia bisa pingsan?” tanya pak Rasid, guru favoritnya di sekolah. Ternyata gadis yang pingsan itu bernama Tina, dan dia adalah satu – satunya anak kepala Desa (????).“Nggak tau pak. Ps April liat, dia udah pingsan. Ya udah deh, terus April langsung teriak minta tolong,” terang April jujur.Pada saat yang bersamaan Tina pun sadarkan diri dari pingsan dan kaget ketika mendapati dirinya dirubungi banyak orang. Barulah sejenak kemudian ia ingat dan menceritakan kejadian tadi pagi kenapa ia pingsan. Ternyata kondisi tubuhnya belum fit, setelah sembuh dari sakit, ditambah lagi ia tadi pagi tidak sarapan. Dan akibat kejadian itu April tidak perlu melanjutkan hukumannya dan diizinkan untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.“April tadi da kejadian apa sih ditoilet?” tanya Nia, temen sebangkunya pas istirahat.“Tadi ada anak cewek pingsan.”“Oh ya…..? Siapa….?” tambah Ijah ikut penasaran“Tina, anak kepdes.”“O…. emangnya kenapa kok dia pingsan?” Guntur yang sedari tadi mendengarkan ikut buka mulut, tapi hanya dibalas angkat bahu oleh April. Gadis itu justru tampak sibuk merapikan buku – bukunya. “Eh kekantin yuk,” ajak Jumi tiba – tiba.“Loe mau ntraktir kita nih?” todong April langsung. Jumi menatap April dengan pandangan mencibir. Namun beberapa detik kemudian sebuah senyuman tergambar di wajahnya. Disusul anggukan kepala dan jawaban singkat. “Bisa.”“Serius?” Nia menoleh kaget. Tumben amat ni anak baik. Padahal doi kan udah kadung mendapat gelar pelit nggak ketulungan #DihajarJumi.“Suer deh,” Jumi meyakin kan dengan mengankat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’. Detik itu juga sorakan kegirangan terdengar sebelum pada detik berikutnya kembali hening dalam sepinya suasana hanya karena lanjutan kata dari mulut Jumi."Tapi entar kalau bokap gue udah jadi Presiden, jadi kalau sekarang…. Yah terpaksa bayar masing-masing dulu ya.”Gumpalan sobekan kertaspun segera berhamburan dan mendarat di kepala Jumi yang masih tertawa lebar.“Hu….. sialan loe, kirain beneran,” gerut Hambali.“Sampai lebaran Monyet juga bokap loe nggak bakalan deh jadi Presiden,” tambah Idah yang membuat Jumi makin tergelak.“Loe kenapa Pril?” tanya Sugeng heran, karena sedari tadi April hanya terdiam.“Gue lagi mikir aja,” jawab April dengan raut serius.“Mikir apa an….? “Ana ikutan ngeksis.“Gue heran, apa hubungannya lebaran Monyet dengan jadi Presiden. Lagian sejak kapan Monyet lebaran,” jelas April dengan tampang lugu nya.“Hu. Dasar Mis. Tulalit!!” sorakan seisi kelas sembari mengalihkan sasaran tembakan gumpalan kertas kearah April yang hanya melongo. Tidak tau apa salah dan dosanya. Hanya saja ia merasa kalau dirinya hanyalah seseorang yang menjadi korban penganiayaan.Begitu bel berbunyi tanda pelajaran telah berakhir semua siswa dan siswi langsung mengemasi buku-bukunya dan bersiap-siap untuk pulang. Tak terkecuali April. Tapi belum juga ia keluar dari kelasnya Hakim dan Sofa' mencegahnya untuk mengingatkan April agar membersihkan kelas terlebih dahulu, kebetulan besok pagi giliran piket mereka.Sebenarnya yang mendapat giliran piket enam orang, tapi karena dua orang temannya tidak hadir. Dan Nia yang kebetulan juga giliran piket bersamanya sudah tak tampak batang hidungnya sejak masuk istirahat kedua tadi. Jadi terpaksa tinggal mereka bertiga, begitu Hakim dan Sofa' selesai mengangkat bangku untuk diletakkan diatas meja agar mudahkan saat menyapu lantainya, mereka bersiap-siap untuk pulang.“Lho…. Kalian mau kemana….? “April menghentikan aktivitasnya begitu melihat Hakim dan Sofa' sudah menjinjing tas masing-masing.“Mau pulang dong, lagain sesuai perjanjian yang cowok mengangkat bangku dan yang cewek menyapu lantai. Jadi sekarang tugas kami sudah selesai, soo kita duluan,” sahut Sofa tanpa rasa bersalah.“Yah.. jangan dong, entar April jadi sendirian lagi.”“IDL,” balas Hakim santai.“IDL….? Apa an tuh?” tanya April dengan kening sedikit bekerut.“Itu Derita Loe,” balas Hakim dan Sofa' serentak, sambil tertawa dan langsung beranjak pergi meninggalkan April sendirian.“Aduh… ! gimana nih…? April sendirian lagi, mana lantainya kotor, entar kalau ada hantu gimana?” gumam April sendiri.Tiba-tiba bulu kuduknya merinding ketingan ingatannya tertuju pada film horror yang sering ia tonton tentang sekolah-sekolah yang berhantu.Pada saat April menyapu salah satu kolong meja dengan posisi membungkuk dan membelakangi pintu, samar-samar ia mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya. Jantungnya jadi dig dug nggak karuan, dengan sedikit keberanian yang masih tersisa ia menoleh kebelakangnya dan……“Dor!!!”“Uwa…..Tolong……!!! Tolong…..!!! tolong…!!!” teriak April sekencang-kencangnya disusul tawa cekikikan seorang hantu wanita.“Ha…. Ha….. ha……. Kaget ya loe? ” terdengar suara tepat dibelakang April.“Kurang ajar, setan alas, babon kue,” maki April begitu tau kalau sosok dibelakangnya adalah Nia.“Kenapa…..? Loe pikir gue hantu?” tanya Nia di sela tawanya.“Ia….. April kira tadi kuntilanak yang datang, e….. nggak taunya malah kuntilemak,” umpat April masih shok.“Sembarangan!” damprat Nia sewot.“Lagian bukanya loe udah pulang ya?” tanya April heran.“Nggak ah tadi gue ada ditaman belakang, sengaja nggak masuk. Males banget gue belajar bahasa Arab, bikin pusing,” sahut Nia yang dengan tidak sopannya duduk diatas meja.“Cek cek cek. Sumpah parah loe,” kepala April mengeleng geleng sambil menatap Nia sinis. “Seharusnya kan…..”“Harusnya apa…? Gue nggak boleh bolos….? Gitu?!” potong Nia.“Harusnya kan loe ngajak-ngajak , April juga mau ikutan bolos kayak loe kali kalau tau da temennya, mumet masuk bahasa arab. Bikin ngantuk.”“hu…..! kirain loe mau ngomong apaan….? Ternyata dua kali lima aja ma gue,” gumam Nia sebel.“Udah deh, sekarang bantuin. Loe kan juga piket, enak aja nongkrong disitu.”“Nggak ah… males gue, kotor,” tolak Nia langsung.“Kotor pale loe, mau bantui nggak?!” ancam April sambil menghunuskan pedang sapunya kearah Nia.“Iya…..iya . Gue nyapu nih, bawel banget sih loe. Jadi nyesel gue kesini, kalau tau begini mendingan langsung pulang aja gue tadi,” gumam Nia sewot. Namun tak urung diraihnya sapu yang ada pintu, dan mulai menyapu membantu April.Keesokan harinya, terdengar gaduh sekali dikelas April. Pasalanya Azimisar, orang yang sudah libur beberapa hari sudah masuk kelas lagi, katanya sih liburan, dan ceritanya pagi ini. Dia bagi-bagi oleh-oleh, sambal kripik singkong. Masing-masing anak dapat jatah satu, tapi yang datang duluan ada yang ngambil dua, sehingga yang datang terlambat nggak kebagian deh. Salah sendiri ngapain telat.“Gimana Azimisar, liburan loe seru nggak?” tanya Dewi sambil mengunyah keripiknya yang tinggal setengah.“Wah gila coy, seru banget deh pokoknya, coba kalian ikut. PASTI minta langsung pulang,” cerita Azimisar terlihat semangat.“Lho….?! Katanya seru…. Kok kita malah minta pulang?” tanya Sugeng heran.“Ia… soalnya kalau kalian nggak mau pulang langsung aja gue usir. Enak aja, gue yang liburan kalian main nebeng sembarangan, modal donk!” sambut Azimisar yang membuat temen-temennya cemberut.“Udah dong Azimisar, lanjutin cerita loe. Emang kemarin loe liburan kemana sih…? “Tanya Anis nggak sabar..“Gue liburan kerumah Eyang gue. Ke Bokor,” sahut Azimisar bangga.“Ha….. Bogor….? Ya ampun jauh banget, pantesan loe bilang seru, pasti asyik banget ya?” komentar Razimah takjub.“Eh… cungkil tu upil ditelinga loe. Gue bilang Bokor bukan Bogor, pakek K bukan G, “ralat Azimisar sewot.“Bokor……???!!! Dimana tuh?” tanya Sogiran yang kebetulan duduk di samping Azimisar mewakili yang lain yang juga ingin menanyakan hal yang sama.“Iya, perasaan kita nggak pernah denger deh kota yang namanya Bokor?” sambung April, Mis Tulalit.“Atau jangan-jangan luar Negri y?” tambah Nia makin salut.“Luar Negri dari hongkong, lagian siapa yang bilang gue liburan keluar kota. Orang Bokor itu nama kampung eyang gue kok. Tepatnya Bokor Selatpanjang Riau Indonesia,” jelas Azimisar yang membuat teman-temannya tertawa.“Ha….. ha…… ha……. Liburan kok keudik,” ledek Khairia tak mampu menahan tawa.“Iya gue kirain Negara mana…? Ternyata keudik juga. Kha kha kha,” Isul ikut ikutan ngakak dengan tampang meledek.“Kalian jangan ngehina dulu. Walau keudiak, tapi eyang gue itu juragan di kampung gue. Beliau punya kebun Duren, rambutan, duku, mangga, cempedak, pokoknya banyak deh.”“Yang bener Azimisar?” Hambali yang sedari tadi hanya mendengarkan cerita tampak menelan menelan air liurnya sendiri. Ia kan paling doyan makan duren sama rambutan. Nggak kebayang deh gimana rasanya makan sepuasnya.“Ya seriuslah ngapain juga gue bohong,” sahut Azimisar puas.“Kalau gitu loe dapat makan sepuasnya dong?” Mustawa pasang tampang iri. Bahkan Guntur yang duduk di hadapannya tampak sedang melomoti (???) jempol nya sendiri. Persis seperti orang ngidam yang nggak keturutan. Kesian….“Mending gue bisa makan, pas gue datang tu pohon nggak ada satu pun yang berbuah. Cuma daun aja yang banyak. Emangnya gue kambing apa makan daun.”“Hu…..!!!” sorakan seisi kelas kembali terdengar.“Kasian deh loe,” ledek Izal sambil menatap Azimisar dengan raut meledek.“Jadi pas loe datang emang lagi pas nggak musim buah?” Uun memastikan. Azimisar hanya mengangguk, sebelum kemudian mulutnya meralat cepat.“Eh… gue inget kalau nggak salah waktu itu musim buah para, bisa dibilang tiap pohon berbuah. Banyak banget.”“Oh ya? Buah para? Buah apaan tuh? Perasaan gue nggak pernah denger?” tanya Nia heran.“Jadi kalian belum pernah denger apa itu buah para? Kasian, jadul banget sih” gentian Azimisar yang mencibir. Sepertinya pria itu berusah untuk membalas ledekan padanya tadi “Padahal itukan makanan spesial.”“Spesial? Spesial untuk apa?” Nia makin tidak sabar sabar.“Spesial buat…….,”Izal sengaja menggantungkan jawabanya. Ia ingin melihat ekspresi temen-temennya yang sudah tidak sabar “MONYET. Ha ha ha,” sambungnya langsung tertawa, jelas saja membuat teman-temannya sebel.“Sialan loe.”“Ia, bikin penasaran nggak taunya makanan monyet,” sambung Sofa cemberut, Azimisar justru makin ngakak.“Jadi Zal, dirumah Eyang loe banyak monyetnya ya?” tanya Sanah tiba – tiba. “Kalau dirumah Eyang gue nggak ada, kalau dikebunnya banyak,” sahut Azimisar meralat.“Trus loe pernah lihat nggak….? Kayak apa si?” tanya Sanah lagi. Seumur-umur Sanah memang belum pernah melihat monyet secara langsung, kecuali dulu di tipi yang jadi model iklan XL.“Ya pernahlah, kalau dilihat-lihat sih beda tipislah ama loe.”“Sembarangan,” Sanah sewot sambil menjitak kepala Azimisar yang hanya tertawa, begitu juga dengan yang lain.Tiba-tida bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua segera menuju kekursi mereka masing-masing karena bu Anggi sudah tampak diambang pintu. Dengan wajah ceria masing-masing mengeluarkan buku bahasa inggrisnya, karena kebetulan hari ini pelajaran pertama bahasa inggris. Secara siapa yang tidak ceria, masih pagi-pagi sudah dapat kripik gratis. Tapi sayangnya keceriaan itu hanya berlangsung beberapa detik setelah kemunculan Bu Anggi dan segera berubah cemberut, begitu mendengar pengumuman dari bu Anggi kalau hari ini diadakan ulangan harian.“Yah, Ibu…. Kok dadakan sih?” Isul protes.“Ulangan dadakan…? why not ! Dangdut dadakan juga boleh,” sahut Bu Anggi menanggapi protesan Isul.“Itukan dangdut bu. Masa bahasa inggris di samain ma dangdut, itu sih nggak nyambung,” Izal menimpali.“Kalau gitu kalian pilih mana? Mau konser dangdut dilapangan atau ulangan bahasa inggris dikelas?” tanya Bu Anggi nggak tanggung – tanggung. Detik itu juga semua murid di kelas langsung mejudge kalau gurunya adalah salah satu dari sekian orang yang menjadi korbang ajang audisi pecarian bakat yang memang sedang marak – maraknya di siarkan di salah satu stasiun swasta Indonesia.Walaupun soalan yang diberikan hanya 10 dan itu pun pilihan ganda semua tetap saja membuat semuanya pusing tujuh keliling. Sudah ngasih ulangannya dadakan, close book lagi. Gimana nggak sebel. Bahkan Dewi sang juara kelas juga dibuat pusing tuju belas keliling.Ketika Dewi sedang konsentrasi mengisi soal nomor 8, tiba-tiba ada yang nimpuk kepalanya dari belakang pakek kertas. Saat menoleh, Dewi mendapati kalau ternyata Sugeng pelakunya. Terbukti dengan tingkah pria itu yang memberikan isarat padanya untuk segere mengambil ketras yang telah ia lemparkan tadi.Walau kesel tak urung Dewi membungkuk guna mengambilnya. Matanya melotot sempurna saat membaca tulisan yang tertera. “Gue minta jawaban nomor 7, 8, 9 dan 4, sama 3, 1 terus 10 buruan nggak pake lama!!!!”.Jelas saja Dewi sebel, sudah minta tolong, maksa. Ia aja baru selesai tiga soal, eh sekali minta tolong tujuh. Kenapa nggak semua aja sekalian, tapi tak urung ia balas juga disebaliknya dan segera ia lemparkan kearah Sugeng. Selesai membacanya Sugeng langsung cemberut dan membuang kertas tersebut secara sembarangan. Alhasi mendarat tepat dikepala April. April kaget tapi tetap diambil nya kertas tersebut. Tampak sebuah senyum yang merekah di bibirnya begitu membaca.Sugeng kemudian kembali menyobek kertas dan menulis“Awas Loe!!!” dan kembali ia lempar ke Dewi. Acara korespondensi dadakan pun terjadi karena Dewi langsung membalasnya segera laksanan SMS yang muncul di hanphonnya. Dengan santai di tulisnya kata di kertas sebalum kemudian kembali ia lemparkan ke arah Sugeng.“Tenang, entar kalau gue kesandung gue nggak akan minta tolong loe deh.”Tentu Saja surat balasan dari Dewi membuat Sugeng makin sewot. Kali ini ia menggunakan selembar kertas, dan mengambil stabilo kuning dari dalam tasnya. Sengaja ia tulis kalimat besar-besar, kemudian ia lemparkan ke Dewi. Tapi sayang karena terlalu bernafsu, lemparan itu mendarat dua meja didepan Dewi, tepat mengenai kepala bu Anggi yang dari tadi mondar-mandir seperti strkika demi untuk mengawasi siswanya. Golll!!!!!.UppsssBu Anggi clingak clinguk sebelum kemudian sedikit membungkuk, memungut kertasnya. Membuka dan kemudian membacanya, seketika mukanya merah“Siapa yang melemparkan surat kaleng ini?!” suara bu Anggi terdengar menggelegar laksana petir di siang bolong membuat Sugeng langsung mengkeret kayak Udang. Siswa yang lain hanya saling bertatapan heran, tidak tau apa yang terjadi.“Siapa yang berani melempar surat kaleng ini?” ulang Bu Anggi mengulang pertanyaannya kali ini suaranya terdengar sangat tegas, tapi semua siswa tetap terdiam. Dewi melirik kearah Sugeng yang tampak semakin pucat.“Jadi nggak ada yang mau ngaku ni?” ancam bu Anggi.Tiba-tiba April mengangkat tangannya. Kontan saja semua mata tertuju kearahnya. Berani banget tu anak, sudah bosan hidup ya atau punya nyawa selusin?.“Jadi kamu yang nimpuk ibu pakek surat kaleng ini April?” suara Bu Anggi sedikit terdengar lebih santai namun syarat ancaman.“Ya bukan lah buk. Ada-ada aja, masa April berani menganggu sing… ehem maksudnya menggangu ibu,” kata April, hampir aja ia keceplosan menyebut gurunya singa betina.T_T.“Kalau begitu kenapa kamu tunjuk tangan?” bu Anggi heran. Yang lainnya juga ikut penasaran.“Ya April Cuma mau bilang kalau April udah nyelesaiin tugas yang ibu kasih. Nih,” April maju kedepan dan menyerahkan kertas ulangannya. Ini anak pura-pura blo’on atau memang super blo’on sih. Nggak tau apa orang lagi marah.“Ha?! Serius loe pril?” bisik Nia kaget sebelum April benar – benar bangkit maju kedepan. Tapi April hanya mengangguk mantap.“Ia nih, gue aja baru tiga masa loe,Mrs. Tulalit kok sudah selesai. Yang benar sajalah,” tambah Dewi nggak percaya.“Bomat. Yang penting gue udah selesai. Nih buk,” balas April makin pede.Bu Anggi langsung mengambilnya, kemudian mengamati sejenak. Tapi dipikir kayak apa juga tetep nggak masuk akal karena jawabannya bener semua. Lho kok?! Baru sekilas melihat bisa langsung tau kalau jawabannya bener semua?.“Ini bener kamu sendiri yang ngisi?” tanya bu Anggi.“Ya ia lah buk. Abis mau minta tolong sama siapa?” April balik nanya.“Kok bener semua?”“Masa sih buk?” gantian April yang keheranan plus double girang.“Ia nih buk, masa Mrs. Tulalit bisa bener semua?” kata Hakim nggak terima.“Lagian baru sekali liat kok bisa yakin kalau jawabannya bener semua?” tambah Dewi.“Ya ia lah langsung tau. Lah wong jawabannya dari nomor satu sampai sepuluh A semua,” jawab bu Anggi. Tapi dalam hati. Habis kalau dijawab keras-keras bisa batal tuh ulangan.“Ya sudah. Mending kamu keluar dulu sana. Awas jangan sampai temen kamu ada yang nyontek,” kata bu Anggi kemudian.“Beres bu,” April berjalan keluar menuju pintu sambil pasang tanpang TP. Tau kan…?. ‘tebar pesona’. Bangga banget lah dalam hati. Jelas saja teman-temannya makin jealous.“Jangan-jangan dibantuin jin tu orang?” batin Nia yang jadi merinding membayangkan ucapanya sendiri.Tepat saat kaki April menginjakan pintu keluar, tiba tiba ia berhenti karena teringat sesuatu. Langsung balik kanan menatap bu Anggi yang masih berdiri bengong menatap kertas ulangan di tangannya.“Oh ya buk, hampir aja lupa. Tadi April mau nanya surat kaleng nya isinya apa sih. Jadi penasaran,” tanya April yang mengingatkan semuanya akan accident yang hampir terlupakan.Deg! Jantung Sugeng seperti mau copot.“Kurang ajar loe. Ngapain diingetin lagi sih. Padahal kan tadi udah lupa, dasar Mrs. Tulalit,” maki Sugeng dalam hati“Untung kamu ngingetin. Hampir aja ibu tadi lupa, ayo sekarang semuanya ngaku siapa tadi yang sudah nimpuk ibu pake surat kaleng ini?” tanya bu Anggi lagi.“Tenang dulu bu. Jangan marah marah. Percaya deh sama April bentar lagi ibu pasti bakal dapat kabar bagus,” saran April sok ngeramal. Yang lain heran, abis apa hubungannya?.“Maksud kamu?”“Gini buk, April juga pernah dapat surat kaleng kayak gitu. Dan setelah itu April langsung dapat kabar gembira. Suwer deh.”Sedetik setelah April menyelesaikan ucapanya, tiba-tiba Hp bu Anggi berdering. Setelah berbicara sejenak ia langsung mematikan telponnya dan mendekati April.“Ya ampun April. Ternyata kamu bener. Barusan ibu dapat kabar kalau ternyata keponakan ibu baru saja melahirkan anak nya dengan selamat. Terus kembar lagi.”“Yang bener bu?” “Sudah sekarang kumpulkan semua tugas kalian.”“Tapi buk, kita belom selesai,” kata Minda.“Nggak papa. Hari ini ibu kasih bonus, selesai nggak selesai kalian dapat nilai lapan semua. Kalau April 10. Oke!”“Ha…?!” Semua melongo, cengo dengan sikap ajaib gurunya. Tapi tak urung juga merasa girang. Gimana nggak? Secara nggak perlu mikir susah susah tapi dapat nilai 8. Blo’on banget kalau nggak mau.Tapi heran deh ni guru sama murid kok sama aja ya. Sama-sama tulalit. He he he.“Kalau begitu ibu pergi dulu. Oh ya April, mending surat kalengnya buat kamu saja. Siapa tau kamu dapat kabar bagus lagi,” selesai berkata bu Anggi langsung pergi meninggal kan siswanya yang kebingunggan.Dengan agak terburu-buru April membuka bundelan kertasnya. Kemudian membaca keras-keras agar teman-temannya yang juga penasaran bisa ikut mengetahuinya.“DASAR BABON KOE!!!. JEMBELENGAN…!!!”Kontan tawa seisi kelas meledak bahkan kelas sebelah yang tidak tau apa – apa juga heran mendengarnya. Kira-kira ada apa ya?.“Gila. Bener-bener deh. Siapa sih yang berani bikin tu surat terus ngelemparnya kekepala bu Anggi. Punya nyawa selusin ya?” kata Guntur yang duduk tepat didepan meja guru.“He’eh. Berani banget,” tambah Minah.“Tapi siapa?” tanya April.“Pasti elo. Ia kan Sugeng?” tuduh Dewi langsung.“What?! Yang bener saja lah kou,” logat batak campuran Majeni langsung keluar.“Ia. Masa sih elo Geng?” Nia menatap kearah Sugeng yang cengengesan sambil mengangguk membenarkan ucapan Dewi. Sofa' hanya bisa geleng-geleng kepala nggak tau lagi mau ngomong apa atau memang ia sudah tidak kebagian dialog. Entahlah.“Nekat loe. Masa bu Anggi loe bilang babon. Jembelengan lagi. Udah kebal loe?” timpal Razimah yang diam diam naksir pria itu.“Ya nggak lah. Lagian tu surat bukan buat Bu Anggi. Tadi itu cuma kesalahan teknis aja. Gara gara Dewi sih. Rese”“Maksud nya?”“Kita jadi bingung nih?”“Ia tadi itu gue mau ngelemparnya ke Dewi. Tapi yang kena malah bu Anggi.”“Untung aja nasib loe bagus. April tadi bisa nanganin. Coba kalau nggak?” ujar Nia.“Tapi hari ini April keren ya. Udah ulangannya selesai duluan, bener semua pula tu. Terus juga bisa nanganin bu Anggi bahkan kita bisa dikasih bonus nilai lagi. Kok bisa ya?” gumam Izal curiga.“Ia nih, atau jangan-jangan….?” timpal Nia dan tiba-tiba bulu kuduknya merinding membayang kan April dibantu oleh jin.“Jangan-jangan apa?” tanya Ria penasaran.“Jangan-jangan loe dibantuin jin ya?” tebak Nia langsung. Tentu saja semuanya kaget tapi tak urung membenarkan ucapan Nia.“Jin gundul mu. Sembarangan aja kalau ngomong,” bentak April sewot.“Kalau nggak loe bisa ngisi bener semua dari mana donk?” kejar Jumi.“Nih. Liat aja sendiri,” April menyerah kan sobekan kertas yang ia ambil dari dalam saku bajunya.“Lho, itu kan kertas yang gue buang tadi. Kok bisa ada sama loe?” Sugeng heran.“Tau. Tadi gue liat dibawah kolong meja gue. Karena penasaran ya udah gue ambil aja. E nggak taunya jawaban soal B. Inggris tadi,” jelas April polos.“Tunggu dulu, jadi tadi loe nyontek ini?” tanya Sofa' menegaskan..April mengangguk.“Maksudnya dari nomor satu sampai sepuluh jawabannya A semua?” tanya Dewi dan Sugeng serentak.“Iya,” balas April. Ia heran kok Dewi juga bisa tau.“Apa???!” .“Bruk…!”.Dewi tergeletak di lantai. Shok langsung pinsan. Padahal ia sudah meres otak buat nyari jawabannya, bahkan tadi saat membalas ia cuma ngasal aja. Tapi kok…Teman-temannya panik. Dan langsung membawa Dewi ke ruang UKS.“Ternyata bu Anggi beneran nggak beres ya. Masa jawaban dari satu sampai sepuluh A semua,” komentar Ina kemudian.“Ah dasar kaliannya aja yang dodol. Pakek ngatain bu Anggi nggak beres segala. Kayak kaliannya beres aja” balas April sambil pergi meninggalkan kelas dengan gaya princes dadakannya.To Be continueKita bersambung dulu ya. Lanjut baca ke Cerpen Lucu Mis Tulalit ~ 02. Ngomong – ngomong untung aja ya, temen – temen admin nggak ada yang demen baca. Coba aja mereka tau kalau image mereka di bikin ancur gini disini. Xi xi xi~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Akhir Kisah Kita

    Akhir Kisah KitaOleh: Sania DewantiPagi ini matahari baru muncul dari ufuk Timur. Kaca jendela rumahku masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang. Pagi ini rasanya malas sekali keluar dari tempat tidurku dan pergi ke sekolah. Kalau tidak dibangun paksa ibu,aku pasti bakalan kebablasan bangun sampai siang. Seperti biasanya ayah mengantarku ke SMA 123 yang cukup terkenal di Bandung. Sesampainya di gerbang cepat-cepat aku berlari menuju kelas. Aku mengumpat “Huh,masih harus naik 2 anak tangga lagi,bakalan terlambat nih!”. Sesampainya di pintu kelas,ternyata bu Murni sudah mengabsen muridnya dari tadi. Bu Murni yang melihatku diluar kelas langsung menutup pintu dan tidak memperbolehkanku masuk. Dengan langkah lunglai aku duduk di bangku depan kelasku dan menunggu sampai pelajaran Biology selesai. “Aduh,sial banget sih aku hari ini!Harusnya tadi gak usah pake acara sarapan dulu dirumah”,aku memaki diriku sendiri.Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak laki” berlari lari. Kutajamkan penglihatanku. “Astaga! Itu kan Kemal! Jadi dia telat juga”,teriakku. Kemal adalah teman yang paling pintar dikelasku. Dia itu orangnya nyebelin sekaligus cowok yang kusukai semenjak aku duduk didepannya. Sekarang dia udah berada di depanku. “Bu Murni udah masuk kelas ya?” tanyanya dingin. Aku mengangguk. “Dasar! Mau nanya aja sikapnya udah angkuh begitu”pikirku dalam hati. Dia pun duduk di bangku sebelahku dan menunggu sampai bel pelajaran pertama usai. 10 menit kami diam tanpa bicara. Akhirnya aku ngajak dia ngobrol,sekaligus nanya soal mtk. Dia kan emang paling jago mtk dikelasku. “Eh,kamu udah ngerjain tugas Mtk belum?Boleh nanya gak?”tanyaku. “Sudah, lo mau nanya?Sorry ya gue lagi sibuk!” katanya masih bernada dingin. Aku jadi diam. “Huh,sibuk apanya?!Dari tadi juga main hp. Bilang aja gak mau bantuin.”kataku dalam hati. Kami masih duduk sampai bel pelajaran pertama usai.Kriiiiiiiiiiiing. Bu Marni pun keluar dari kelas. Aku dan Kemal segera masuk dan duduk ditempat duduk kami. Saat pelajaran Mtk pun di juga nyebelin setengah mati.”Sssst,Kemal. Tunjukkin rumus yang nomor 2 dong”,kataku sambil memohon. “Nomor 2? Masa nomor 2 aja lo gak tau sih.Pasti lo gak merhatiin guru nerangin tadi ya?Lo cari aja di buku!Salah lo sendiri gak merhatiin”,bukannya ngasih tau,dia malah marah-marah.Aku udah kesel banget. Sampai saat bel jam pulang pun aku masih kesal dengan Kemal. Saat jalan kaki menuju rumahku,aku marah” gak jelas. “Ih,salah apa sih aku sama Kemal!Kok dia jahat amat sih.Aku doa’in dia dapat musibah”,kutukku. Eh,gak taunya malah aku yang jatuh. Gara gara marah marah aku sampai gak ngeliat parit yang cukup dalam didepanku. Duh!Rasanya sakit banget.Gak kuat berdiri. Mana gak ada orang lagi buat dimintai tolong. “Heh!Mau berapa lama lo diem disitu”,kulihat arah sura itu berasal.Ternyata……Kemal! “Bisa berdiri gak?”,tanyanya. Berusaha kugerakkan kakiku,rasanya sakit sekali.Ternyata dia mengerti keadaanku langsung memapah tubuhku dan menggendongku ke belakang. Aku kaget,baru kali ini aku digendong,sama cowok pula!Dan cowok yang kusukai lagi. Mimpi apa aku semalam,meskipun dia nyebelin,tapi gak pernah ngurangi rasa sukaku dengannya.Aku jadi tersenyum sendiri. “Eh,rumah lo dimana sih? Dideket sini ya?,tannyanya. “Iya,diperumahan sana belok kiri,terus dipertigaan belok kanan.Nyampe deh”,ujarku. “Oh,terus kenapa lo bisa jatoh tadi?dasar bego!”katanya. “Gak kok,tadi cuma kepeleset aja”kataku berbohong.Gak mungkinkan aku jawab kalo aku jatuh karena mikirin dia. “Kemal,aku mau nanya,kok kamu sentimen sih sama aku tadi di sekolah. Aku kan cuma nannya baik baik,jawabnya malah ketus begitu. Kan kita bisa jadi temen”kataku. “Soal yang itu gue minta maaf deh.Abis lo sih!Gue tu lagi serius ngerjain soal malah lo ganggu”katanya “Serius nih?Berarti kita udah temenan kan?”ujarku berseri seri. “Terserah apa kata lo deh. Nih udah nyampe.Badan lo kecil tapi beratnya minta ampun”. Aku pun nyengir dan cuma bilang makasih dengannya. Dengan jalan terpincang pincang aku masuk kerumah. Hari ini seneng banget!Semenjak kejadian itu sikap Kemal kepadaku berubah.Kami jadi akrab.Main bareng bareng,jajan bareng bareng,belajar bareng bareng,tidurpun bareng bareng(haha,gak mungkin lah). Tapi semenjak sebulan terakhir,Kemal menghindariku dan gak mau main denganku. Sampai suatu hari aku melihatnya bergandengan tangan dengan seorang cewek berkulit putih dan cantik didepan gereja seusai dia berdo’a. Hatiku saat itu remuk. Malamnya aku berdoa, “Ya Allah,salahkah bila aku tulus mencintainya? Aku tau kami berbeda keyakinan. Tapi aku tak bisa bohong kalau selama ini rasa sayang ini semakin bertambah. Aku mencintainya hanya karenaMu ya Allah. Jikalau kami berjodoh nanti,maka dekatkanlah kami”,aku berdo’a khusyuk sekali. Seminggu berlalu Kemal tidak masuk sekolah.Kudengar kalau dia masuk rumah sakit. Sorenya langsung ketumui dia di rumah sakit. Aku terkejut melihat kepalanya yang sedikit botak “Kemal,kamu kok sebulan ini ngehindari aku sih?Terus kok bisa dirawat dirumah sakit?Sakit apa?”,tanyaku cemas.Kemudian dia memegang tanganku.Aku kaget,tapi tidak kutolak tangannya memegang tanganku. “La,gue pengen ngomong jujur ke elo.Sebenarnya gue ngehindarin lo biar bisa ngilangin perasaan suka gue ke elo.Gue sayang sama elo!”. Aku kaget bukan main.Jantungku berdegup kencang.Kemal?Suka sama aku? Impossible! “Ah,kamu.Jangan bercanda?Udah sakit masih sempat sempatnya bercanda”,kataku masih tak percaya. “Gak,gue gak sedang bercanda.Gue suka sama elo La. Gue ngehindari lo karena kita berbeda keyakinan.Dan gue tau itu salah.Tapi gue gak bisa bohong dan nutupi rasa sayang gue ke elo. Dan juga sekarang gue kena penyakit Kanker otak semenjak gue sd. Gue gak mau nyusahin elo karena penyakit gue ini”katanya. Apa!Kemal kena kanker? Rasanya aku ingin sekali menangis. “Mal,aku tau kita gak seiman.Aku meyakini Allah S.W.T sebagai Tuhanku dan kamu meyakini Isa Al-Masih sebagai Tuhanmu.Tapi hendaknya jikalau kita berjodoh,Tuhan gak bakalan misahain kita dengan penyakitmu ini”,kataku sesegukan. “La,udah jangan nangis.Gue gak suka liat lo nangis.”katanya sembari ngusapin air mataku. “Makanya jangan buat aku nangis dong,kamu harus kuat.Kemal yang kukenal adalah cowok yang kuat dan gak pernah mau kalah”,kataku berusaha tersenyum. “La,kamu mau gak nurutun permintaan ku. Satuuuu aja”,pintanya. Aku mengangguk,ini kali pertamanya di bicara menggunakan aku-kamu. “Tolong kamu ajari aku sholat,aku tau kita pasti bisa bersama jika kita satu keyakinan. Sekarang umurku udah 18 tahun.Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri.Mama Papa pasti ngijinin aku masuk Islam.Dan aku mencintaimu hanya karena Allah”katanya lemah. Aku terkejut karena disaat keadaannya seperti itu dia malah minta diajarin sholat dan ingin masuk islam. Aku pun membantunya berdiri dan membantunya berwudhu. Lalu mengajarinya sholat. Setelah itu sayup sayup kudengar dia mengucapkan “asyhadu an-laa ilaaha illallaa, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Aku kaget bukan main.Ternyata dia hafal 2 kalimat syahadat tanpa kuketahui sebelumnya. Dan disaat itu pula nafasnya berhenti dan meninggalkanku selamanya. Aku menangis sejadi jadinya. Tapi aku tau,ini sudah takdir Allah. Aku tak boleh menyesalinya. Kemal….adalah cowok pertama yang mengenalkanku apa artinya cinta dan kasih sayang dan kewajibanku sebagai seorang MuslimTAMATNama: Sania DewantiAlamat E-mail: setan.cantik@rocketmail.comFB: Sania Dewanti

  • Cerpen Remaja “Tentang Rasa” ~ 07 {Update}

    Oke, Aku update lagi ni ya. Sebenernya Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07 ini udah pernah di publis di blog ini dulu. Cuma, karena harus ku edit lagi, terpaksa ku kembalikan ke Draf.Oh ya satu lagi. Jangan meminta lebih sebelum berusaha lebih. Dibawah ada kotak komentar kan?. Silahkan diisi dengan unek – unek kalian. Tapi kalau cuma minta lanjutan, sory ya. Aku nulis itu cuma kalau ada waktu luang. Aku sudah memutuskan, kali ini aku nggak akan memaksakan diri lagi untuk rela – rela in nulis di angkot lewat hape cuma buat nulis lanjutan ceritanya.Like what i say before, Aku menilai suatu karya dari banyaknya like and komentarnya. Simpelnya, untuk meninggalkan jejak aja susah, apalagi mau bikin cerpennya. That is my opinion. Ha ha ha” Tawa anggun Langsung meledak mendengar cerita yang keluar dari Mulut Rian. Mantan tetangganya dulu saat tinggal di Rasbar. Tapi sejak ada bencana banjir yang melada tempat tinggal mereka , mereka sama – sama pindah. Nggak nyangka setelah hampir 4 tahun bisa bertemu lagi.sebagian

  • Kenalkan aku pada cinta ~ 09 | Cerpen cinta

    Tau drama terbaru korea the heirs nggak? Itu lho yang di perankan sama lee min ho and park shin hye?. Nah, adminnya lagi mabok sama drama yang satu itu tuh makanya kebawa bawa ke cerpen. Terutama tentang cinta simpang siurnya (?????). Wukakakakka #ngakakSetres.Nggak tau deh, ni cerita nantinya mau di bawa kemana. Pusing sendiri dink. Soalnya ide awal sudah menghilang, raib and nggak tau kemana gara – gara laporan kerjaan yang menumpuk. #alibi.Kenalkan aku pada cinta So, soal cerpen kenalkan aku pada cinta, biar kita ikuti kemana jari ini menulis aja deh. Kayaknya bener bener jadi cerpen terjun bebas sebebas bebasnya. #KemudianTerbangNgawangNgawang.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*