Cerpen Romantis: Mr. Ice Cream

Cerpen RomantisIni sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.
Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.
***
3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama
Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.
“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.
“Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.
“Enaak !!” Seru ku.
Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.
Ya, Dialah Keylan. Key dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.
Key mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Key sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.
Key dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Key adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?
Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Key mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Key termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Key tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.
Sore itu, Key dengan sengaja menculikku dari kampus, Key mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua.
Key bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood.
Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan.
“Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.
“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.
“ini Enaaak, coba deh Key” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Key lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak.
“yeee, enak kan, sekarang Key ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan key menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang.
Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Key seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya key punya pacar. Key berpacaran dengan Amerina. Mengenai Key dan Amerina aku tak tahu banyak karena Key jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Amerina adalah gadis cantik, anggun, smart dan terlihat kalem, menurutku Amerina seperti Key versi cewek. Hanya itu yang ku tahu.
“Pulang yuk ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Key kepadaku sekaligus mengingatkan.
“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Key yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu.
***
2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.
Key tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih.
“Ta daaaa, Happy Birth Day” Key menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!
Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Key membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua.
“Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Key tersenyum Simpul lagi.
Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Key dan es Krim tentunya.
“Rio, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.
Rio? Kenapa Key nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.
“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.
Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.
“yang penting…” Ujar Key. Hening sejenak. Aku menunggu Key melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Key.
Key selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Key yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Amerina? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Key memperlakukan Amerina? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?
“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Key membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.
“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.
“Pelit” Key pura-pura ngambek.
“Anyway Key, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.
“Any time, Ran” balas Key. Tersenyum simpul.
Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak.
***
Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia.
Dua jam yang lalu, aku dan Key duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Key terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Key, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.
“Kenapa gak ada kabar ran?” Key menatapku serius. Nada suaranya dingin.
Aku tak sanggup memandang key, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya.
“Aku sibuk Key” Aku berbohong. “Maaf Key, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.
Setelah mendengar kata maaf itu Key langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Key pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Key terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Key yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Key yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.
“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Key sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Key selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.
“Lalu bagaimana denganmu Key?” ucapku terbata.
Key tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Key sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Key menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.
***
Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Key. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Key dua jam yang lalu.
Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri?
Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Key kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Key terluka.
Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.
Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Key dan Amerina. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.
Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Key, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?
-The End-
By : Eka Suzie
Fb: Eka Suzie
Twitter : @eksuz
Blog : Mr-ice-cream.blogspot.com

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis: Jangan Pergi

    JANGAN PERGIKarya : putri ayu pasundanHari semakin berlalu, meninggalkan semua kisah yang ada , menjalani hari-hari tanpa kehadiranmu , meninggalkan canda dan tawa , kini tak ada lagi canda dan tawa’nya yang selalu menghiasi hariku. senyummu , wajahmu, candamu , kini hilang begitu saja ~ jika waktu bisa diputar kembali. Mungkin aku sudah memutarnya~ tapiii… ini mustahil , ini tak mungkin !…“ bella, “ panggil suara dari arah tempat duduk belakang .“kenapa din?” sahut bella agak malas“Jangan murung terus dong bella, gue tau kok lo pasti masih sedih dan gue tau kok lo emang sayang sama avi. Tapi dia gak mungkin balik lagi. Lo tau kan? penyesalan emang selalu datengnnya di akhir cerita dan gak pernah di awal . jadi , jangan nyesel kalo dulu lo nyia-nyiain cintanya dia, dan sampe2 dia pergi , baru lo sdar semua itu, lo cintakan sama avi..?’’ Tanya dina ingin tau“iya, iya, gue emang salah. Lagian dlu gue sama dia itu awalnya kan Cuma care aja, sahabatan kaya biasa , sering curhat2an pula. Dia tuh iseng banget, jail, rusuh pokoknya serba nyebelin deh. Gue juga gak nyangka akhirnya bisa begini malah jadinya benci jadi cinta kan, gue juga gatau kenapa dia bisa jatuh cinta sama gue.” Yang gue tau, dia tuh sayang banget sama gue. lo tau kan?’’ tapii kenapa dia ninggalin gue kaya gini ? jawab bella dengan nada menyesal.Perbincangan mereka pun di akhiri karna bel masuk berbunyi. Bella adalah gadis yang cantik dan manis dia begitu periang. Tapi sebulan belakangan ini bella jarang banget tersenyum apalagi tertawa. Hanya kesedihan yang tampak di wajahnya………….###Pagi ini tepat pukul jam 5.30 pagi , bella belum juga bangun dari tidurnya . jam beker kesayangannya sudah berdering kencang tapi bella belum saja bangkit dari tidurnya.“bella.. bella.. bangun sayang, udah pagi.” Teriak mama bella dari arah pintu . tapi bella tak juga bangun.“tok…tok…. Bella sayang, bangun nak. Kamu gak sekolah ?’’ diketuknya pintu kamar bella beberapa kali oleh mamanya.“iya maaah. Bella udah banguun ni.”“ayok cepat mandi dulu sanaa, sudah jam berapa ini? Kamu gak sekolah?” Tanya mama bella kepada anaknya .‘‘iyaa…iya mah” di bukanya pintu kamarnya, dan bella segera menuju kamar mandi untuk siap-siap berangkat sekolah . mamanya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk anak tersayangnya yang satu ini.“mah, bella berangkat ya.?” Pamit bella pada mamanya, bella pun mencium tangan mamanya.. dan itu adalah kebiasaannya sebelum berangkat pagi ke sekolah. “kamu gak makan dulu sayang, ?” Tanya mamanya . “udah mah nanti aja disekolah daa.. mah.” Bella mencium pipi kanan mama nya dan segera meninggalkan rumah . Mamanya tak lupa memberinya sekotak bekal makanan yang berisi cake stobery kesukaannya. Mamanya juga tak lupa menyelipkan uang jajan ke dalam tasnya. dan seperti biasa , ada kang dani yang selalu setia mengantarnya ke sekolah setiap pagi.###Pelajaran pertama pun dimulai hari ini adalah pelajaran ibu rini guru sejarah yang selalu mengajar pada jam pertama. Konon nyatanya setiap guru ini mengajar tak ada satupun anak-anak yang mendengarnya karena dengan alasan guru ini neranginnya lama banget, ngebetein , dan ngomongnya udah kaya putri solo yang pengen di kawinin. (apa jadinya ya?) tapi inilah kenyataannya…“tok… tok….” Beberapa kemudian pintu kelas pun di ketuk.. di ikuti beberapa langkah kaki menuju ke arah bu rini yang sedang mengajar.Anak-anak 10-1 semua menatap kearah seseorang itu yang sedang berjalan menghampiri bu rini. Sesosok cowo ganteng tinggi, berkulit hitam manis, dan sangat khas dengan kedua lesung pipinya.. semua cewek yang berada di dalam kelas menjadi ricuh tak karuan. Sebagian cewek ada yang tiba-tiba merapikan rambutnya, membenarkan lipice di bibirnya seolah-olah mereka semua ingin tampak perfect di hadapan cowo ganteng yang satu ini. Tapi berbeda dengan bella , dia sama sekali tak merespon kedatangan cowok itu, dia malah bersandar wajah di meja dengan muka setengah mengantuk. “perhatian semuanya…. Jangan berisik harap tenang….. kita kedatangan teman baru yang berasal dari sekolah strada 2 ayo silahkan perkenalkan nama kamu nak.” Pinta bu rini kepada cowok satu ini“hai teman, perkenalkan nama gue Derian Rafael darmawangsa. Panggil aja gue afa. Asal sekolah gue dari ghoetoen 2. Alasan gue pindah kesini karna kerjaan orang tua gue . sekian perkenalkan dari gue.“EH… afaa… status lo sekarang apa?” hahahaha teriak salah satu cewek dari arah belakang .. yaitu lisa . dia adalah salah satu dari geng lolipop yang ganjen itu. dan dandanannya itu looh gak nahan bikin orang yang litanya ingin muntah. (bisa bayangin gak?).“Cieee…cieee” sorak anak-anak dari arah belakang.. afa yang masih berdiri kaku di depan kelas yang suasananya memang sedang ricuh hanya bisa menahan diri untuk tetap bertahan di depan kelas dengan banyak godaan teman-teman barunya itu.“status? Status gue sampe sekarang masih single.” Jawab afa singkat dengan sedikit senyuman yang manis dan lesung pipitnya itu yang khas.“aaa….. afa senyum sama gue firaaa. Yampun dia ganteng banget.” Kata lisa cewe ganjen yang satu itu. teman-teman se geng nya pun menyoraki mereka berdua.“silahkan kamu duduk di tempat duduk yang masih kosong di sebelah kiri pojok sana.” Pinta bu rini kepada afa. Afa pun segera menyelusuri arah tempat duduk itu.“hai, boleh gue duduk disini?” pinta afa kepada yang punya tepat duduk itu.“maaf yaa tempat duduk ini punya sahabat gue dina. Dia gak masuk sakit. Jadi lo duduk disana aja tuh di belakang.”bella menolaknya , dan Tunjuk bella kearah tempat duduk belakang.“sorry sebelumnya, gue maunya disini bareng sama lo.” Pinta afa ke pada bella ternyata pemilik tempat duduk itu adalah bella. bella memang satu bangku dengan dina sahabatnya . tapi hari ini dina gak masuk dikarenakan sakit panas. Dan terpaksa deh bella harus duduk sendirian.“misalnya nanti sahabat lo masuk gue bakalan janji akan pindah tempat duduk. Kenalin gue afa. Nama Lo siapa? Diulurkan satu tangannya kearah bella.“bella.” Jawab bella singkat dan dingin.“okeh. Afa hanya memandangnya dengan senyuman khas ala lesung pipitnya yang manis itu.Afa heran dengan sikap cewe yang satu ini sebut saja bella. Dari awal dia masuk kelas hanya cewek ini yang diam dan tidak bersuara sma sekali. Dan hanya cewek inilah yang tak terpesona melihatnya. ###Dua hari telah berlalu dina tak juga masuk sekolah pagi ini seperti biasa ada pelajaran sejarah bu rini yang bikin ngantuk. “haaaaaah ngantuk. Di taruhnya tasnya ke mejanya” keluh bella yang tumben datang pagi-pagi begini tak seperti biasanya. Paling dia datang juga pas-pasan bel masuk.“haii.. pagi..” sapa cowo satu ini yaitu afa.“iya pagi..” jawab bella seperti biasanya singkat padat dan jelas !“gue duduk sini ya.?” Pinta afa pada bella“ah, iya.. terserah lo .” jawab bella sinis“temen lo dina kemana ? udah dua hari dia gak masuk apa lo gak jengukin ?’’“bukan urusan lo. “ jawab bella sinis“kok lo sinis banget sih sama gue.? Gue itu kan nanya baik-baik.”“iya map, abisnya lo nyebelin.”“nyebelin?” “iya, nyebelin.. sok ganteng sok cool, sok perfect, sok keren.” “apa? ““gak usah kaget gitu deh . gue tau fans lo tuh udah pada dateng dari tadi pagi. Kemaren aja para fans lo nunggu di bangku gue sebelum lo dateng , sampe-sampe mereka pada mohon-mohon supaya gue pindah ketempat duduk belakang. Lo kira gue mau apa.? Makanya gue dateng pagi gini supaya mereka gak nongkrongin bangku gue lagi. Lagian bukan gue yang minta kan kalo akhirnya lo milih duduk sama gue.?”Afa membatin. Dia sekarang mengerti mengapa bella akhir-akhir ini begitu sinis kepadanya.“lo cemburu?” Tanya afa ke arah bella“apa lu kata? Gue cemburu? Gak akan .” jawab bella sinis“lo tuh manis, jangan marah2 mulu kenapa. Biarin aja temen-temen lo bersikap seperti itu ke gue. Toh bukan urusan lo juga kan bel.”“iya,, iyaa.. gue ngerti ini bukan urusan gue. Tapi tempat duduk gue di H M in apa gue bakalan diem aja? Mereka seenaknya ngusir2 gue ke tempat duduk belakang?”“misalnya lo di usir. Gue bakalan tetep duduk di samping elo dimana pun elo duduk kalo perlu mereka yang gue usir.”Bella ternganga , dia tak percaya apa yang tadi di ucapkan oleh si afa anak baru itu.“apa? “ bella hanya ternganga melihat celotehannya si afa itu. bel tanda masuk pun berbunyi~….“bel, pulang sekolah, main yuk. Gue anterin kemana pun lo mau pergi. oke.?” Pinta afa ke bella“gak, gue gak mau main. Gue mau pulang aja.” Jawab bella singkat“ayolaah sekali-kali bel please.’’ Pinta afa maksa kepadanya“ya ya ya sebentar aja ya…? Lo tau kan gue cewek . jadi gak boleh keluar malem …”“oke.” Afa tersenyum kearahnya dan mengangguk menyetujui.…Setelah bel pulang berbunyiBella segera membereskan buku-bukunya. Karna bel sekolah sudah berbunyi. Begitupun afa yang duduk di sebelahnya , sudah merapikan buku dan siap-siap pergi dengannya..“bel, ayok.” Di tarik satu tangannya bella dan mereka berdua pergi keluar kelas “sebentar ya.. motor gue di parkir disana. Lo tunggu sini.”“ya.” Bella pun mengangguk. Beberapa menit kemudian . terlihat dari kejauhan seorang cowok hendak menghampirinya dan ternyata cowok itu adalah afa. Dia emang bener-bener keren . apalagi motor gede yang dia kendarai nambah buat dia keren aja , dan tak lupa dengan helm hitamnya. Dan emang faktanya dia bener2 keren abis.‘’cepet naik.” Suruh afa ke bellaSemua mata hendak tertuju padanya dan memandang mereka dengan Nampak iri. Afa memang anak baru di sekolahnya. Dan kononnya dia anak tunggal pemilik perusahan terkenal di Jakarta meskipun begitu dia tak pernah sombong. Kesekolah pun tampil apa adanya. Apalagi afa memang sedang hangat di bicarakan oleh cewek-cewek satu sekolahn mereka.“lo liat gak mereka pada mandang kita kaya gitu fa. Sinis banget.”“mereka iri sama lo, udah diemin aja. Pakai helm nya dan pegangan.”“GAK GAK MAU apa? Pegangan sama lo? Gak deh…… baru naik motor gede lo ini aja gue udah di liatin sama banyak mata, apalagi pegangan sama lo. Bisa-bisa pas sekolah besok gue di MOP sama anak satu sekolah.’’“bisa diem gak sih. Udah pegangan. “ pinta afa pada bella“ish lo emang nyebelin.” “emang.!” Mereka berdua telah meninggalkan pekarangan halaman sekolah . setelah beberapa mereka jalan berdua , sampai lah mereka ke sebuah taman. Diparkirnya motor afa dekat pohon rindang dan besar. Di sudut2 taman-taman itu terdapat bunga matahari yang menjulang tinggi , indah.. dan sangat indah.. di sebelah bunga tersebut tampak gazebo ( saung2saungan untuk mereka berteduh). “fa, ngapain kita ke sini?” Tanya bella kea rah afa sambil memberikan helm nya.“main aja abisnya gue BT . lo tau kan rumah yang disana? Di sebrang sana? Itu rumah gue.” Bella menatap arah rumah itu. dan memang rumah itu tampak besar sekali. Bangunannya pun tertata rapi.“terus kenapa kita malah ketaman?”“abisnya gue suntuk bell di rumah sendirian terus. Bokap-nyokap sibuk sama kerjaannya. Rumah gue sepi. Jadi gue tuh gak betah. Oh iya gue lupa, mendingan kerumah gue dulu yuk ambil snack dan minuman.”“ya.. terserah lo aja..” mereka berdua menuju rumah afa. Begitu sampai di depan rumahnya tampak seorang penjaga depan rumah menghampiri afa. Dan segera membukakan pintu pagar rumahnya.“den afa,” sapa lelaki itu“baru pulang den?’’ Tanya pesuruh rumahnya itu“iya pak, oh iya taruh motor saya di garasi ya pak.”“baik den.” Pak sono satpam di rumahnya menganggukkan suhuran yang di pinta oleh majikannya itu.“bella, ayok masuk. Jangan heran kalo dirumah gue sepi Cuma ada bibi dan pak sono yang selalu ada di rumah.”“di bukanya pintu rumahnya.’’“den afa. Sapa bi inah pembantu di rumahnya.”“iya bi. Ambilin minum ya , sama snack nya saya mau ke taman. Oh ya bi ini temen saya bella. Kalo dia minta apa-apa layanin aja ya bi. Saya mau ke kamar dulu ganti baju.” Bi inah pun mengangguk“non bella mau minum apa non?” Tanya bi inah “gak usah repot-repot bi. “ jawab bella “gak boleh gitu non, non disini tamu. Saya ambilkan minum dingin aja ya non.”“Iya makasih bi, oh ya nama saya bella. Panggil aja bella ya bi, gak usah pakai non. Anggap saja saya seperti anak bibi.”“iya non. Eh bella.. tunggu sebentar ya bibi ambilkan airnya.”Afa pun keluar dari kamarnya dengan membawa bola basket kesayangannya.“bel, ini cake stobery buat lo.” Sama jus dinginnya ayok kita ke taman.”“oke fa.” Bella mengangguk“bi, saya ketaman dulu sama bella.”“iya den , bella ati-ati.”Setelah mereka sampai di taman“bel makan nih cake nya gue tau lo laper, aus iya kan..?’' bella hanya tersenyum manisBella memandangi Rafael yang sedang asik bermain bersama bola basketnya setelah beberapa lama dia memandangi cowok itu. dia memang menyadari dan sepertinya baru sadar cowok di depan dia ini si afa dia begitu baik dan lembut, ganteng pula (dulu gue kemana aja) batin bella . bella tak pernah memandang cowo dari sebelah mata. Dia melihat cowo dari sifat dan kepribadiannya. Itu lebih penting baginya. Rafael menghampiri bella yang sedang duduk dan sedang asik makan cake stoberynya. Karna memang kesukaannya adalah cake stobery.“enak gak cake nya?”tanya afa pada bella“hem.. iya enak. Gue emang suka cake stoberry.” Sahut bella..“iya gue tau kok. Gue kan temen sebangku lo.. yaa walaupun baru beberapa hari ini, gue juga sering liat lo bawa bekel cake sama susu coklat. Kaya anak kecil aja ya.” Di acak-acaknya poni cewek satu ini , bella.“apasih afa… jangan iseng deh.” Oh iya lo gak mau ini cake nya?””udah lo aja” kembali afa menuju lapangan untuk bermain basket lagiBella hanya diam membisu di ingat kembali masalalunya bersama cowok yang iya sayang yang tega begitu aja ninggalin dia . avi namanya. Avi yang selama ini selalu buat dia tersenyum justru senyuman itu mampu mengubahnya senyumannya 180 derajat menjadi tangisan . sifatnya yang dulu periang kini cepat bersedih kalo ingat soal mantannya avi. Tapi sekarang berbeda. Kini ada seseorang di depan matanya yang mampu mengembalikan jati dirinya selama ini, yaitu afa. Dia cowok yang baik dan care sama bella. Walaupun baru 3 hari afa duduk sebangku dengannya.“bell ayo dong main basket.”“gue gak bisa main basket tau.”“yaudah sini, gue tau lo gak bisa maen basket ketauan kok dari tampang lo begitu tadi ngeliatin gue . terpesona ya? Ahhaha..” afa tertawa pelan tapi meledek.“dih apaansih?” wajah bella terlihat memerah dan rona pipinya merah padam“bercanda kok bel yaudah coba lo masukin ke ring bola basketnya , tangan lo harus sejajar sama dahi lo. Pasti masuk kok.”“ih gak bisa gue gak bisa .”“coba, lo pasti bisa”Bella pun mencoba memasukkan basket itu ke ring. Dan nyatanya bola itu masuk. Setelah itu mereka pun bermain hingga larut sore. Di taman itu memang sepi. Hanya ada bunga-bunga matahari yang menjulang tinggi dan terik matahari dan jarang sekali pada jam-jam segini orang berlalu lalang dekat taman itu. apalagi taman itu tepatnya berada di perumahan dan Lapangan itu menjadi saksi bisu mereka berdua. *** Kring… kring… tanda ponsel berbunyi . dan ternyata ponselnya bella bertanda sms masuk.“bella, besok gue masuk. Gue udah sembuh.” Sms dina sahabatnya.Beberapa menit kemudian bella pun membalasnya.“iya din, besok kita bisa sebangku lagi.” Dengan gembiranya bella bisa duduk lagi bareng dina sahabatnya yang udah lumayan lama gak masuk sekolah karena sakit.“yah, gak bisa. Gue duduk sama lolla.. lo tetep duduk sma afa, anak baru itu.”“what ? kenapa din?.”“gue gak enak sama afa. Udah yaaa bay” Mereka segera mengakhiri percakapan mereka di sms. Hari ini adalah hari minggu dan biasanya bella lebih memilih untuk dirumah.Kring.. kringg….. tanda telepon berbunyi . dan ternyata nama di kontak nya itu afa . bella pun terkejut dia lupa kalau bella punya nomer telepon hp nya afa , dia ingat kalo afa pernah meminjam ponselnya saat di taman.“haloo…?”“iya kenapa fa?” Tanya bella malas“gue ganggu ya?”“enggak kok, ada apa emangnya?”“gue mau ngajak lo jalan. Mau gak?” pinta afa terhadap bella.“kemana?”“udah , nanti lo juga tau, kita ketemuan di sekolah ya? Karna gue gatau rumah lo . oke .. babay…”Bella segera mengakhiri percakapan singkat itu di ponselnya. Dia segera siap-siap untuk menuju ke sekolah dan pergi bersama afa. Sebenernya bella pun malas. Tapi karna hari ini adalah hari libur, jadi dia di bebaskan untuk pergi.“mah, bella pergi sebentar ya. Dah maah..”“ingat, jangan malem-malem pulangnya.” Pinta mamanyaSetelah bella berpamitan , dan iya segera pergi menuju sekolah. Bella segera menuju sekolah dengan menggunakan bis , setelah beberapa menit iya menunggu bis tak juga datang.“hai.. apa kabar.” Sapa seorang lelaki yang berhenti tepat di depannya “iya?” bella tak mengenali lelaki ini karna dia memakai helm“mau kemana?” Tanya lelaki itu “mauu…. mau ke sekolah.” Jawab bella gugup.“bukannya ini hari minggu?” Tanya lelaki itu lagi kepadanya“maaf, anda siapa? Bisa tolong di buka helm nya?” pinta bella kepada lelaki itu“masa kamu gak kenal sama aku?”“tidak, aku gak tau.” Bella diam mencoba mengingatnya. Suaranya, sapaannya sepertinya dia mengenali sosok lelaki ini . tapi apakah diaa……………“aku avi. Ingat kan?” di bukanya helm itu Bella tercengang, diam dan membisu. Lelaki ini yang dulu pernah menyakiti hatinya kini dia kembali, dan kini lelaki ini berada tepat di depannya.“hei. Kok bengong. Haii,,” kembali sapa lelaki ini berulang kali“bella hanya diam dengan pandangan kosong ke arah lelaki ini“mau aku antar?”“gak usah .” jawab bela singkat“ayolah, dari pada nunggu bis kelamaan.. ayok bareng sama aku aja bella..” ajak avi kepadanya“baiklah, “ bella pun ikut dengannya dan segera pergi meninggalkan tempat itu“Mau diantar kemana?” Tanya avi kepadanya“di depan sekolah saja.” Pinta bella“oke, pegangan ya.. oh iya emang mau kemana?”“kamu gak perlu tau.” Jawab bella sinis“aku tau kamu marah ya sama aku kan.?”“enggak.” Jawab bella singkat“aku tau kamu marah. Mafin aku ya soal yang dulu-dulu itu.”“ya.” Mereka pun berhenti di tempat tujuan . yaitu depan sekolah bellaSebelum kedatangan bella, afa yang sudah lama menunggu di depan gerbang tadi melihat sinis kea rah mereka berdua. Bella pun turun dari boncengan avi. Bella sebenarnya ingin berlama-lama kepada cowok ini , avi. Tapi memingat dia pernah menyakiti hatinya bella jadi tak sudi berdekatan dengan cowo ini lagi. Serasa mereka sudah asing dan bahkan kaya gak pernah kenal.“hai fa, lama menunggu? Maaf tadi bis nya lama. Kebetulan ada avi temen ku. Kenalin fa.”“hai gue afa.”“ya gue avi.” Mereka berdua berjaba tangan“pacar baru kamu?” Tanya avi kepada bella“bukan urusan kamu lagi vi. Ayok kita pergi fa dari sini. Oh ya makasih vi udah nganterin aku sampe sini.”“oke, tapi tunggu dulu.” Teriak arvi kea rah mereka. Afa pun mematikan motornya“fa, boleh gue yang jalan sama bella?” pinta avi pada afa“hubungan kalian apasih sebenernya. Lagian gue udah ada janji sama bella.” Sahut afa “bukan apa-apa .” kata avi pada afa.“baiklah, terserah bella mau pergi dengan siapa. Biar dia yang menentukan.”“bella, sekarang kamu bilang mau pergi sama aku atau afa?”Ini adalah pilihan terberat bella mau pergi dengan siapa. Sebenernya sungguh dia kangen sekali dengan avi mantannya itu. 4 bulan ini mereka jarang sekali bertemu. Apalagi melihat perubahan di diri arvi yang tak begitu cepat berubah. Dia masih seperti dulu saat mereka bersama. Dia sopan, baik , tapi sungguh 4 bulan tak bertemu semenjak putus saat itu bella menemukan banyak perubahan.. avi masih tetep ganteng seperti dulu.“hemm, gue.. gue gatau.” Jawab bella“gue mohon sama lo bel, lo musti tentukan sekarang.” Pinta afa maupun avi“oke.. oke.. baik kalo itu mau kalian.”“gue pergi sama avi.” “baiklah, yaudah jagain ya vi bella nya. Walaupun gue ga tau hubungan kalian apa, tapi gue ngertiin ada kerinduan di mata kalian berdua. Oke. Gue pergi dulu.”Afa segera menancapkan gasnya sekencang mungkin . iya lupa memakai helm nya. Dan mungkin karna dia kecewa terhadap bella‘‘mafin gue fa,” batin bella terhadap afa.“ayok naik, kita pergi.” pinta avi. Mereka pun pergi dan telah meninggalkan gerbang sekolah…….Setelah beberapa jam di perjalanan mereka pun sampai“vi, ngapain kita kesini?” Tanya bella“sudah ayok masuk.” Mereka berhenti di sebuah puncak gunung tepatnya , dan di sana terdapat gazebo (saung-saungan) yang berdiri kokoh disana . di gazebo tersebut sudah di sediakan banyak makanan dan juga tempat duduk untuk mereka berdua. Sepertinya avi memang sudah menyediakan ini semua dan memang sengaja mengajaknya kesini.“vi, maksud kamu apasih dengan semua ini?” Tanya bella“yasudah, kamu makan dulu. Ngobrolnya nanti . aku tau kamu lapar karna kita kesini lebih dari satu jam perjalanan.”Mereka akhirnya makan . bella membatin sungguh perasaan ini bercampur senang, sedih bahkan rasa kangen selama 4 bulan ini tak bertemu kini hilang. Tapi mengapa pertemuan kali ini terasa biasa aja di hati bella? Mengapa tak ada getaran-getaran seperti dulu saat mereka bersama? “bella,” panggil avi padanya dan memegang kedua tangannya“ada apasih vi?” Tanya bella penasaran“aku ngajak kamu kesini karna aku ingin minta maaf sama kamu.” Avi mengeluarkan coklat dari sakunya“ini coklat kesukaan kamu. Tadi aku beli dekat supermarket rumah kamu. Abis aku beli coklat ini, aku sebenarnya ingin langsung kerumah kamu. Karna aku tau biasanya kamu kalau hari minggu begini, lebih milih di rumah. Itupun dulu kalo aku gak ngjak kamu jalan. Tadi setelah beli coklat ini aku lihat kamu di sudut jalan. Terus aku nyamperin kamu.”“iya makasih. Ternyata kamu masih ingat kesukaan aku.”“oh iya maafin aku ya selama ini.”“aku bilang aku udah maafin kamu vi.”“apa kamu masih sayang sama aku? Kamu mau kita balikan?” Bella terdiam sesaat dan kemudian dia melanjutkan omongannya.“avi, maafin bella , bella gak bisa balikan sama avi lagi , sama kamu. Kalo emang kamu sayang dan cinta sama bella, kenapa kamu baru datang ke aku sekarang. Sedangkan kita putus sudah lumayan lama, kamu tau? Kamu mutusin aku di saat sehari sebelum ultah ku. Padahal besoknya adalah hari terindahku, hari ulang tahun ku yang ke 14. Pada waktu hari itu tiba, aku pengen kamu ada di samping aku, nemenin aku. Tapii… apa nyatanya? Kamu gak ada, kamu pun gak ngucapin ke aku. Padahal Cuma kamu kado terindah saat ultah ku tiba. “mafin aku bella, aku sadar aku salah banget selama ini sama kamu. Aku udah nyia-nyiain kamu yang sayang sama aku. Aku pun begitu, aku sayang sama kamu. Tapi saat itu saat aku mutusin kamu. Aku dituntut oleh orang tuaku untuk pindah sekolah. Pindah ke pesantren. Dan aku tau besoknya ulang tahun kamu. Tapi apadaya? Pas aku sudah sampai di pesantren , gak ada yang bisa untuk hubungi kamu . HP ku juga di bawa sama mama , yang ada hanya telepon panti. Dan selama itu aku terpaksa mutusin kamu bella, aku gak mau kamu sedih nungguin aku. Waktu itu aku fikir kamu bakalan cepet dan bisa lupain aku. Dan kamu itu cantik. Aku kira kamu bisa dapet yang lebih dari aku. Dan sekarang aku di izinin buat ke Jakarta . karna di sana sedang ada ujian. Aku gak betah bella tinggal disana, jauh sama kamu. Aku juga terus mikirin kamu. Mama juga bilang bakalan masukin aku kesekolah kamu nanti. Kita bisa sama-sama lagi bella seperti dulu.”“sekali lagi mafin aku , aku gak bisa. Kamu gak boleh vi kaya gini ngecewain mama kamu demi aku. Aku dulu emang sayang kamu. Tapi sekarang? Aku udah terlanjur sakit hati sama kamu. Aku nungguin kamu sampai sekarang mungkin karna aku ingin tau penjelasan kamu dan mungkin permintaan maaf dari mulut kamu. Dan sekarang, aku udah dapet ini semua. Mungkin kalo dulu kamu bilang jujur sama aku, gak akan jadinya begini. Aku bisa kok nungguin kamu . tapi apa? Kamu gak jujur sama aku. Setelah mutusin aku di hari sebelum ultahku, kamu menghilang begitu saja.. selama 4 bulan ini. Aku gak tau kabar kamu, di hubungin juga gak bisa. Dan sekarang aku tau kenapa.”“iya, iya.. mafin aku.. aku tau aku salah. Aku disitu juga pusing , serba salah. Aku bingung. Jadi aku bertindak gitu aja tanpa mikir ke depannya. Aku tau bella aku salah.”“iya, iya kamu gak usah nyalain diri kamu kaya gini. Kita jalanin aja ya hidup kita masing-masing. Toh kalo kita jodoh. Pasti kita akan disatuin lagi. Ingat aku gak mau jadi beban kamu. Terimakasih selama ini kamu udah buat aku tegar.”“iya, mafin aku ya makasih juga kamu selama ini udah buat aku semangat dan kamu bukan beban buat aku ,tapi penyemangat aku.” *** Pagi ini suasana begitu mendung tak seperti hari biasanya begitu cerah. Bella pagi-pagi gini sudah kesekolah . karna dia beniat untuk minta maaf soal kemaren sama afa. Di cobanya tadi malam nomernya afa disms, di tlp berkali-kali tidak aktif dan tidak bisa di hubungin sama sekali.“bella…” panggil dina sahabatnya“iya din.”“tumben amat udah dateng ? biasanya pas bel ataupun sesudah bel lo baru dateng? Hahaha.” Ejek dina pada bella sahabatnya‘’iya din…”“lo kenapa sih? Gue salah ngomong ya? Kok murung gitu sih say?” Tanya dina menyelidiki“iya, lo liat afa gak? Kok jam segini dia belom dateng?”“afa? Gue gak liat. Bukannya dia mau pindah ya ke solo? jadi dia gak masuk.”“apa?” bella tersentak kaget“iya, masa lo gak tau sih. Kan konon katanya bokapnya pindah-pindah tempat tinggal terus , maklum lah namanya juga orang kaya. Dan rumahnya katanya juga banyak. Ada dimana-mana, Lagian masa lo gak tau dia kan yang sekarang menjadi hot topic di sekolah kita.”“iya, iya… gue tau kalian pada nge fans sama dia.tapi gue gak pernah mandang dia dari luar dan gue gak seperti kalian. emangnya kapan dia mau pindah? . Masa baru masuk udah mau pindah lagi.”“yaa mana gue tau. Tapi kata si lolla noh fans beratnya yang punya mata-mata banyak, katanya dia pindah nanti malem.”“apa? Okelah pulang sekolah gue mau kerumahnya.”“apa? Sejak kapan lo tau rumahnya ? lo tau rumah afa ? kok lo ga pernah cerita sih?”“lo jangan berisiiiiiiiiiiiiik tar mereka pada denger. Cukup lo aja yang tau. Jadi gini ceritanya, waktu lo gak masuk-masuk sekolah dia minta duduk bareng sama gue. Udah gitu 3 hari yang lalu dia ngajak gue jalan. Dan ternyata itu ke rumahnya. Terus dia ngajakin gue ke taman rumahnya . yaa ngobrol-ngobrol aja sih, tapi gue liat dia hobi banget main basket. Terus dia ngajak gue main basket. Dan kemaren sore dia ngajak gue jalan lagi. Katanya mau ngomong suatu hal. Tapi gue gatau apa? Abisnya bersamaan dengan si avi? Lo tau avi kan? Mantan yang gue sayang banget ngajak gue balikan lagi tadi sore. Dia nyeritain semuanya sama gue din. Gila kan? .”“ckckck,, beruntung kali nasibmu bella. Afa, avi mereka itu sama – sama makhluk ganteng.. yaa kalo menurut gue mendingan lo sama afa deh haha..” ledek dina pada bella“hemm, mungkin emang ada suatu hal yang penting emang dia mau omongin sma gue. Tapi gue gatau apa. Makanya pulang sekolah ini gue mau kerumahnya. Oh iya jangan sampe lo kasi tau ke yang lainnya oke. Gue tau lo sahabat yang baik.”…..Bel pulang sekolah pun berbunyi. Bella segera merapikan buku-bukunya dan segera pergi menuju rumah afa“din, gue balik duluan ya. Sorry. “ “okeh.. ati-ati say.” Bella terus melihat jam tangannya dia sedang menunggu bis di halte sekolah. Tapi bis pun tak juga datang. “hai bella,” sapa seorang lelaki“iya.. mau kemana vi?” Tanya bellaSikap mereka berdua seperti biasanya seperti mereka yang memang sudah kenal akrab. Dan mereka berdua seolah-olah melupakan kejadian dasyat tadi sore saat di puncak.“yaa.. mau ngiter-ngiter aja di jakatra abisnya gue kangen Jakarta. Lusa gue mau balik lagi ke pesantren . yaa seperti apa nasihat lo kemaren malem.”“okeh kalo gitu, belajar yang bener ya.”“lo sendiri mau kemana atuh?” “gue? Gue lagi nunggu bis lama banget.”“mau gue anter? Itupun kalo lo mau.”“heemm. Oke deh.”“ayok naik , pegangan awas nanti jatuh.”Mereka pun segera meninggalkan halte bis sekolah. Sebenarnya alasan avi adalah memang untuk bertemu dengan bella. Dan memang dia ingin menjemputnya seperti dahulu saat mereka pacaran.“bella. Mau di antar kemana?”“ke jalan kelapa gading.”“mau ngapain sih bella? Okeh gue anter kesana. Pulang mau gue jemput lagi?’’“heem makasih sebelumnya tapi kayanya gak deh. ““okeh baik. hati2 aja.. “Setelah beberapa menit di perjalanan merekapun sampai di jalan kelapa gading tepatnya di perumahan elit itu. avi pun menuruni bella di depan perumahan itu.“daa avi..” bella melambaikan tangan tanda teriimakasih padanyaSetelah kepergian arvi dan suara motor nya tak terdengar lagi, bella pun memasuki area perumahan itu. banyak sekali rumah-rumah elit berada di situ. Dia hampir saja lupa jalan untuk pergi kerumah afa. Yang iya ingat hanya bunga matahari yang menjulang tinggi dekat area taman.Bella pun pergi ke arah taman itu. memang disana sepi. Perumahan itu setiap siang sepi dan memang sepi hanya ada mobil yang keluar masuk rumah tersebut. Bella pun duduk di dekat area taman. Mengingat kembali dahulu dia pernah bermain basket bersama afa disini. Di tempat ini. Dan ternyata bella selama ini baru menyadari kalo masih ada seseorang yang care sma dia selama ini. Setelah beberapa menit bella menikmati suasana taman itu bella pun tertidur disana. Afa pun datang.“haii… hai… “ di usap rambutnya yang panjang itu“hai, bangun” di rebahkannya kepala bella di pundak cowok ituBella pun terbangun dari tidurnya“hemm afa? Ini afa kan ? Udah lama disini ? kok lo tau gue disini?”“iya, aku liat kamu sebenernya dari awal kamu masuk perumahan aku. Tadi aku lihat kamu ke taman ini. Awalnya aku gak mau nemuin kamu. Tapi aku liat kamu pulas tidur disini jadi aku samperin kamu.”“hemm hehe jadi malu .”“iya gak apa-apa kok. Ada apa kamu kesini?”“aku mau nyusulin kamu, kenapa kamu gak masuk sekolah sih tadi ? oh iya apa bener kamu juga mau pindah sekolah lagi ke solo?”Afa hanya diam membisu, memandangi lapangan basket tepat di depan matanya.“hai………., jawab dong fa.”“iya,.. iya… aku memang mau pindah ke solo. Kemaren aku ngajak kamu jalan karna aku mau bilang ini sama kamu. Tapi aku tau kamu ada urusan sama si arvi cowo itu. kalo boleh tau memangnya dia siapa kamu. Soalnya aku liat dimata kamu ada kerinduan dan penyesalan yang mendalam dan kamu lebih pilih jalan sama dia di banding aku.”“avi itu mantan aku fa. Dulu avi memang yang selalu ada di hati ku, mengisi hari-hariku dengan senyumannya , perhatiannya, candanya, juga ke ikhlasannya untuk menjagaku.. dia buat aku nyaman bersamanya, dulu posisinya nomer 1 di hatiku. Namun sekarang telah berbeda, dia buat aku kecewa, dia membuat aku bersedih, hingga dia tinggalkan sebuah kenangan untukku kenangan yang selalu ada di hatiku, menggoreskan luka yang membekas di hati kecilku. Memberikan lukisan sejarah dalam hidupku, yaa lukisan yang tak mungkin terlupakan dalam hidupku . kenangannya bersama ku, akan selalu ada di dalam hidupku juga hatiku. Hingga sampai sekarang aku susah untuk menjalani semuanya, sampai aku temukan dirimu, senyummu, tawaku , kecerianku kini kembali… kau lah yang mengembalikann semua ini.. kaulah sekarang yang terindah kan selalu terindah di hatiku.. jangan pergi.. akuu cinta kamu ..”Bella pun menangis air matanya berjatuhan. Tak bisa iya tahan semua ini. “bella, bella jangan nangis.” Afa menghapus air matanya bella “afa mau Tanya, apa bella beneran sayang sama afa?”“iya bella sadar.. bela sadar… bella gak mau kejadian dulu terulang lagi. Orang yang bella sayang ninggalin bella tanpa alasan. Dan si avi baru ngasih taunya sekarang tentang semuanya.. kemarin avi juga ngajak balikan bella. Tapi bella tolak.. bella gak mau. Bella sayang dan cinta sama afa. Begitupun afa , mau pergi ke solo tapi bella gatau.”“iya, iya mafin afa ya… Gak ngasih tau kamu lagi. Lagian afa kira bella gak peduli dengan kepergian afa . jadi, buat apa afa ngasih tau bella.”“afaa…… bella tuh peduli sama kamu. Tadi malam bella telepon, sms gak juga di bales . bikin khawatir tau ga?”Afa mencubit pipi bella yang chubby itu. afa pun memeluk bella“iya, afa sengaja matiin telepon.. kamu tau kenapa? Anak-anak satu sekolah pada berisik nelponin aku, sms juga berulang kali. Mereka semua udah tau tentang ke pindahan aku ke solo. Dan Cuma kamu doang yang gak tau sayang.”Afa pun memeluk bella.. dan membisikkan bella di satu daun telinganya“bella…. Aku cinta kamu, aku sayaaaaaanggg banget sama bella. Aku suka sama bella dari awal aku masuk kelas itu. selama ini gak ada yang bisa buat hidup ku bahagia kaya gini. Kamu beda dari cewek yang lainnya. Dan aku tau kok kamu itu baik. Aku bener-bener sayang kamu bella. Dari detik ini, hingga nanti… tunggu aku ya sayang.. aku pasti kembali :,) …Bella hanya bisa menangis di pelukannya dan terhanyut di salam suasana taman yang indah itu, taman itu menjadi saksi kisah cinta mereka berdua .. hanya kesunyian, sepi, hening dan hembusan angin yang menambah suasana romantis saat ini..Bella pun membisik “aku… percaya kamu, aku akan tunggu kamu sampai kau kembali.”“aku percaya kok. Jangan nakal ya sayang disini. Aku pasti nemuin kamu disini. Di tempat ini. Di taman ini di lapangan basket ini. Aku sayang kamu.”_ Selesai _BIODATA PENULIS : PUTRI AYU PASUNDANFB :Puteri Pasundan

  • Cerpen Cinta Sejati “Dari di Tabrak Gue di Tembak” ~ 01

    One more, cerpen baru lagi guys. Tepatnya cerpen Dari ditabrak gue di tembak yang hanya terdiri dari dua bagian. Tadinya malah cuma mau di bikin satu part aja, eh tahunya malah kepanjangan. So buat yang penasaran, bisa langsung simak ke bawah. Kalau suka, jangan lupa RCL ya biar admin lebih semangat nulis cerita lainnya. Happy reading….Cerpen Cinta SejatiYang namanya jatuh emang nggak bisa di tentuinApalagi kalau jatuhnya itu jatuh cinta.“Kalau yang namanya cowok cakep itu emang harusnya di taksir,” kata Cha cha dengan nada tegas. Merasa kesel juga ia sedari tadi harus berdebat dengan Tinie tentang hal yang sama.Tadi saat keduanya sedang berbelanja di supermarket terdekat tanpa sengaja Tinie menabrak seseorang yang kebetulan lewat di hadapannya. Ralat, maksutnya Tinie di tabrak sama seseorang yang kebetulan lewat dihadapannya. Karena nyatanya orang itu yang jalan tidak melihat lihat karena keasikan memainkan hendphone di tangannya. Bahkan, Ice cream yang kebetulan sedang Tinie makan jatuh mengenai bajunya. Membuat baju kesayangannya terlihat kotor. Namun sayangnya, sebelum mulut Tinie sempat terbuka untuk marah marah, Cha cha sudah terlebih dahulu minta maaf. Bahkan, membiarkan orang itu pergi dengan santainya. Alasannya cukup klise, orang yang menabrak Tinie adalah seorang cowok _yang menurut Cha cha_ cakep.“Tapi nggak harus gitu juga kali, loe nggak liat ni baju gue jadi kotor gini?” balas Tinie masih nggak terima.“Hais,” Cha cha menghentikan langkahnya. Matanya menatap lelah kearah Tinie. “Mau gue yang bayarin buat laundry?”“Nggak usah. Ma kasih,” sahut Tinie ketus sambil menghentakan kaki lebih keras, melangkah mejauh meninggalkan Cha cha yang hanya angkat bahu melihatnya. Sama sekali tidak merasa bersalah pada sahabatnya. Lagi pula apa yang ia katakan itu benar bukan? Baiklah, tidak semuanya benar. Masalah tampang itu bukan segalanya, tapi tetep itu jadi penilaian seseorang yang pertama. Kalau nggak percaya, coba aja ngelamar kerjaan. Pasti yang dilihat pertama penampilan duluan. Baru yang lain menyusul belakangan. Yang ngebantah bisa di pastikan belum pernah ngelamar kerjaan. :D“Cha cha.”Sebuah teriakan bernada cempreng menyadarkan Cha cha dari lamunannya. Dengan gaya slow motion ala iklan shampoo ia berbalik. Matanya sedikit menyipit sebelum kemudian melotot sempurna.“Awaaaaaas!!!”“Brug.”Seiring dengan teriakan itu, tubuh Cha cha mendarat sempurna di aspal bersama dengan sebuah sepeda yang menabraknya. Sakit. Sungguh kali ini ia tidak berbohong. Sekarang ia mengerti kenapa Tinie tadi marah – marah ketika di tabrak, karena kini ia juga merasa hal yang sama kalau tidak ingin di bilang lebih parah dari sebelumnya.“Kelvin..! Gue segede gini kenapa bisa loe tabrak?!” teriak Cha cha sekuat tenaga. Mengabaikan orang – orang di sekeliling yang kini menatapnya. Ada yang terlihat menahan tawa, ada juga yang terlihat iba. Sayangnya tiada yang terlihat bersedia untuk membantunya.“Aduh, sory Cha. Sakit ya?” tanya Kelvin sambil bangkit berdiri. Akibat tabrakan barusan ia memang juga jatuh tersengkur. Dengan segera di hampirinya Cha cha yang masih duduk tak berkutik.“Tentu saja sakit,” balas Cha cha ketus. Berlahan ia mencoba berdiri sebelum kemudian terjatuh lagi. Kakinya terasa berdenyut nyeri. Sekilas ia melihat bekas roda di celana jeansnya.“Sory, gue nggak sengaja,” kata Kelvin sambil mengulurkan tangan. Membantu Cha cha untuk berdiri.“Kaki gue sakit, dan gue nggak bisa jalan. Jadi, buruan gendong gue?” perintah Cha cha yang membuat Kelvin langsung terdiam.“Kenapa? Loe keberatan?” tuduh Cha cha langsung saat tiada reaksi dari Kelvin yang justru malah menatapnya dari kepala hingga kaki."Jangan pernah pernah berpikir kalau gue gendut. Gue udah ikuti program diet, dan sekarang berat gue proporsional" sambung Cha cha lagi.Kali ini Kelvin tertawa, tak mampu menahan rasa geli dihatinya."Gue nggak pernah bilang loe gendut, dan gue juga nggak pernah bilang loe berat. Selain itu, gue juga nggak keberatan kok kalo harus ngendong loe. Justru gue malah mau nanya, yakin loe nggak keberatan gue gendong?" Gantian Cha cha yang terdiam. Matanya sedikit menyipit memperhatikan Kelvin yang juga sedang menatap kearahnya. Tanpa di komando, tangannya langsung terangkat sebelum kemudian mendarat telak di kepala Kelvin membuat rintihan mengaduh keluar dari mulut pria itu."Dasar mesum," teriak Cha cha memaki."Siapa yang mesum. Pikiran loe tuh yang melantur kemana – mana. Gue kan tadi cuma nanya loe keberatan atau nggak gue gendong. Emangnya loe pikir gue mikir apaan?" balas Kelvin terdengar memprotes.Cha cha tidak membalas hanya mulutnya yang mencibir sinis."Ya sudah, ayo naik."Mata bening Cha cha tanpak berkedap kedip memperhatikan antara sepeda yang kini sudah berdiri tegak atau Kelvin yang kini mengisaratkannya untuk naik. Kening gadis itu tampak sedikit berkerut dengan sebelah alisnya yang sedikit terangkat. Pasang pose sedang berfikir."Tenang aja. Kali ini gue jamin nggak akan nabrak. Loe cukup naik, dan biarin gue yang ngedorong. Kaki loe masih sakit kan?" tanya Kelvin seolah mengeri jalan pikiran Cha cha. Dan kali ini Cha cha manut. Selain karena kakinya masih sakit, ia juga tidak mau di gendong pria itu."Loe kenapa si tadi bisa nabrak gue?" tanya Cha cha saat keduanya mulai melangkah pulang."Tadi itu gue lagi belajar bersepeda" sahut Kelvin santai."Heh" Cha cha tak mampu menahan cibiran keluar dari mulutnya. Hari gini masih ada gitu yang belajar sepeda. Emangnya dia anak SD?"Loe juga tiap minggu olahraga keliling kompleks pake speda kan?""Ya?" Cha cha terlihat bingung. Kenapa pembicaraan mereka tiba – tiba berbelok. Kepalanya menoleh tapi Kelvin sama sekali tidak menatapnya. Justru pandangannya terarah kedepan."Kok loe tau?" Cha cha akhirnya memilih bertanya."Gue sering liat kalo loe bareng temen temen loe pas lewat depan rumah."Cha cha kembali terdiam menanti kalimat lanjutannya. Namun mulut Kelvin tetap terbungkam membuat Cha cha berfikir, apa yang barusan itu jawaban kenapa Kelvin menabraknya?.Keesokan harinya, dengan sedikit terpincang – pincang Cha cha melangkah memasuki gerbang kampusnya. Tetap di belokan koridor ia berpapasan dengan Tinie yang langsung menatapnya penuh tanya.“Kaki loe kenapa?” Tinie menyuarakan tanya di hatinya.“Ketabrak,” sahut Cha cha singkat. Tanpa menoleh sama sekali.“Oh ya? Kapan? Kok bisa?” sambung Tinie lagi.“Iya, kemaren. Tentu saja bisa. Ini buktinya.”“Kemaren?” ulang Tinie sambil sambil mengingat – ingat. “Lho, bukannya yang kemaren ketabrak itu gue ya?” sambung gadis itu bergumam lirih.“Itu dia yang gue pikirin sedari tadi. Jangan jangan kemaren setelah loe ketabrak loe nyumpahin gue buat ketabrak juga.”“Ha ha ha” Tinie langsung tertawa mendegar komentar sahabatnya barusan.“Dari pada gue sumpahin loe ketabrak, mending juga gue sumpahin loe jadi orang kaya. Siapa tau entar loe kaya nya ngajak ngajak.”“Heh, lucu sekali,” cibir Cha cha sinis.Tinie hanya tertawa sembari terus melangkah beriringan bersama Cha cha untuk menuju kekelasnya."Cha cha, tunggu dulu."Merasa ada yang memangil, Cha cha menghentikan langkahnya. Namun Tinie lah yang terlebih dahulu berbalik untuk melihat siapa yang memangil sahabatnya. Tampang ngos ngosan Kelvin langsung menyambutnya."Kaki loe masih sakit ya?" tanya Kelvin lagi membuat Tinie mau tak mau mengerutkan kening bingung. Sejak kapan Kelvin perhatian sama Cha cha?"Sory deh, kemaren itu gue emang nggak sengaja," sambung Kelvin lagi karena Cha cha masih terdiam."Kenapa loe yang minta maaf? Emangnya loe yang nabrak dia?" tanya Tinie menyela.Seolah baru sadar ada orang ketiga di antara mereka Kelvin menoleh. Pasang senyum kaku sambil kepalanya mengangguk berlahan."Ha?" Tinie melongo. "Ya ela, Cha cha itu kan cewek. Dari pada loe tabrak masih mending juga kalau loe tembak," cibir Tinie setengah bercanda.Cha cha melotot kesel mendengarnya. Apa apan sahabatnya itu. Punya mulut kok ngomong asal njepak."Tadinya gue maunya juga gitu sih. Tapi gue takut di tolak," gumam Kelvin lirih."Ya?" tanya Cha cha heran."Nggak ada, gue duluan ya. Hati – hati," kata Kelvin sambil segera berlalu meninggalkan kedua sahabat yang kini saling pandang."Barusan dia ngomong apaan si?" tanya Cha cha yang memang sedari tadi berdiri tepat di samping Kelvin."Nggak tau, emangnya dia ngomong?" Tinie balik bertanya."Sudahlah. Lupakan. Kayaknya gue salah denger. Yuks, langsung kekelas aja deh kita," ajak Cha cha menutup pembicaraannya.Sepulang kuliah, masih dengan langkah tertatih tatih Cha cah berjalan pulang. Dalam hati ingin sekali rasanya ia memaki orang yang telah membuatnya menjadi seperti itu."Gue bantuin," seiring dengan kalimat itu, Cha cha menoleh dan baru menyadari kalau tasnya kini sudah berpindah tangan. Kelvin berjalan tepat disisinya."Nggak usah," tolak Cha cha sambil berusah untuk mendapatkan tasnya kembali yang justru malah diangakat oleh Kelvin tinggi – tinggi."Nggak papa kok. Sekalian gue anterin loe pulang. Ayo," sambung Kelvin lagi. Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari Cha cha, ia langsung mengiring gadis itu masuk kedalam mobilnya."Nggak usah heran, anggap aja gue bertanggung jawab untuk yang kemaren," kata Kelvin sambil memasang sabuk pengaman di pingannya."Bertanggung jawab? Emangnya loe hamilin gue?" balas Cha cha setengah bergumam."Loe mau gue hamilin?"Dalam sedetik Cha cha menoleh sebelum pada detik berikutnya."Pletak," sebuah jitakan mendarat di kepala Kelvin. Membuat pria itu mengaduh. Sepertinya ini adalah jitakan kedua yang ia dapatkan karena salah dalam menyimpulkan."Dasar mesum," rutuk Cha cha.Dan belum sempat mulut pria itu terbuka untuk protes, gadis itu sudah terlebih dahulu mengisarakannya untuk segera menyalakan mobil. Berjalan menjauh menuju kerumahnya.Next to Cerpen Dari ditabrak gue di tembak Part EndDetail Cerpen Dari ditabrak gue di tembakJudul : Dari ditabrak gue di tembakPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaFanpage : @lovelystarnightStatus : FinisGenre : Remaja, TeenlitPanjang : 1.419 WordsLanjut Baca : || ||

  • THE SILENCER

    THE SILENCERBerbaring… Duduk… Berdiri… Dan berbaring kembali. Hanya itu yang bisa dilakukan Soni di kamarnya. Entah kenapa mendung di pagi itu membuatnya begitu diam, tanpa sedikit katapun terucap dari mulutnya. Sesekali ia memutar beberapa lagu di mp3 playernya untuk sekedar memecah kemuraman pagi itu, namun usaha itu tidak cukup berhasil membuka gembok mulutnya yang terus tertutup rapat. Pikirannya sedang kalut. Hatinya masih mencari pembenaran atas apa yang dia yakini terhadap rasa sayangnya pada beberapa gadis yang ia kenal.Ia lelah…Soni kemudian kembali berbaring. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Tatapannya lurus menatap atap kamarnya yang putih. Polos. Dalam kepolosan atapnya itu ia membayangkan sedang melukis sebuah wajah dengan cat hitam. Wajah seorang gadis dengan sedikit lesung pipi. Wajah itu ia kenal dari sebuah pertemuan di salah satu kegiatan kampus. Dia tidak mengelak bahwa wajah itu sangat cantik. Namun kecantikannya hanya sebatas menembus matanya, tidak sampai pada organ penting dalam tubuhnya, hati. Mulutnya nampak seperti sedang menyebutkan sebuah nama, tanpa bersuara.Kemudian Soni duduk. Matanya kembali mendapati sebuah kanvas polos, tembok kamarnya. Ia ingin mengecat tembok hijau polosnya itu dengan warna kesukaan seorang gadis lain yang tidak kalah cantiknya, warna merah menyala. Tapi ia sadar tidak ada cat warna merah itu di rumahnya. Dia tidak ingin bersengaja keluar rumah hanya untuk membeli sekaleng cat warna merah menyala. Akhirnya dia kembali membayangkan dirinya sedang mengecat tembok kamarnya. Wajah gadis itu begitu jelas terpampang di depan matanya. Alisnya sedikit tebal, matanya sedikit sipit dihiasi bulu mata yang lentik. Hal itu semakin membuat Soni ingin mengecat tembok kamarnya itu dengan puasnya. Tapi anehnya, setiap kali dia menggoreskan koas dengan lumuran cat merah menyala di tembok itu, matanya hanya melihat warna lain, hitam. Mulutnya kembali menyebut sebuah nama, dan tetap tanpa suara.Nampaknya usahanya menenangkan diri belum begitu berhasil. Soni bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati jendela. Langkahnya tertahan saat dia melihat sekeliling kamarnya. Soni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mendapati semua benda di kamarnya tak ubahnya seperti dirinya, bisu. Dia selalu membandingkan dirinya dengan benda benda itu. Sepertinya kebisuannya pun tak akan pernah berujung. Pembenaran yang dia cari cari masih tetap menemui jalan buntu. Masih tetap melihat warna yang sama, hitam. Apakah hanya warna itu saja yang mampu dia lihat? Kemana warna warna lainnya? Dia merindukan warna putih, hijau, kuning dan warna lainnya. Selama ini warna warna itu hanya terlihat dari kejauhan dan tampak buram. Jauh dan semakin jauh.Soni kembali melangkah. Pelan dan sedikit dipaksakan…Matanya mendapati sesuatu di luar sana. Sesuatu yang indah. "Hey, apa itu?" Benaknya bertanya. Melalui jendelanya ia mendapati seorang gadis yang sedang duduk manis di sebuah kursi di beranda rumah gadis itu. Saat ia melihat gadis itu matanya menangkap warna warni dengan begitu jelas. Tidak ada sedikitpun warna yang pudar dalam pandangannya. Gadis itu begitu berwarna dan begitu terang. Satu hal yang tidak dia temui dari gadis-gadis lainnya. Seketika senyum Soni merekah, mengisyaratkannya terbebas dari kemuramannya.Kebisuannya berakhir. Dengan jelas Soni menyebut sebuah nama yang ia sebut sebut dari tadi…"Dira…"Dira memalingkan wajahnya ke arah Soni. Cahaya warna warninya berpendaran menghiasi seluruh tubuhnya. Ia membalas senyuman Soni dengan senyuman yang begitu lepas dan indah. Sesaat dia merasakan sedang berada di suatu tempat yang indah. Suatu tempat dengan langit cerah berhiaskan pelangi memanjang di sekitarnya. Sebidang tanah dengan rumputnya yang hijau bersih. Ia bahkan bisa mendengar suara gemericik air mengalir dari sungai kecil yang tidak jauh dari sana. Airnya begitu segar dan jernih. Begitupun dengan udaranya. Tidak jauh dari sana, Dira sedang berdiri menatap Soni dengan senyumannya. Sesaat lamanya Soni merasa damai, tenang dan tanpa beban. Tidak ada kekalutan sedikitpun terselip dalam dirinya. Kehadiran sosok Dira dalam bayangannya selama ini selalu membuatnya merasa demikian. Dia tidak akan melupakan Dira, setidaknya untuk saat ini. Bayangannya terpatri kuat dalam hatinya. Semua warna warninya akan tetap terlihat dengan jelas dan terang. Semua kata-katanya akan melekat kuat dalam memorinya.Dalam bayanganya, Soni memegang tangannya dan meletakkan telapak tangannya di dada Soni.Kemudian dengan lembut Soni berbisik pada Dira…"Dira…""Semoga engkau selalu tenang di alam sana. Tetaplah sinari hariku dengan warna dan senyummu".***(Hasanuddin. Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Semester 1)

  • Diary ku | Untuk mu yang merasa

    Diary kuUntuk mu yang merasaRasa Marah, Rasa Kesel, Rasa Seneng dan merasa sedih emang selalu datang tanpa permisi terlebih dahulu. Kalau lagi seneng mungkin kita nggak komplein, tapi gimana kalau yang muncul ke permukaan jusru rasa kesel kayak star night dalam beberapa hari ini.Ceritanya begini berhubung keseharian Star Night lebih sering di habis kan di dunia maya dari pada dunia nya jadi nggak heran kan kalau rasa kesel itu berasal dari dunia maya. Star Night ketemu orang yang ‘ Ehem…. Nyebelin banget. Sumpah deh. Untung aja kita nggak kenal, Dan Star Nigh udah mutusin gak mau kenal. Nggak lagi – lagi deh ngunjungi tu blog. Oke, karya nya bagus, Star Night akuin. Lima jempol atau sepuluh deh kalau perlu star night kasi nilai buat karya – karyanya. Tapi emangnya harus ya sesongong itu. Minta di hargai tapi nggak mau menghargai. Maksutnya apa coba. Bikin Star Night Merasa Esmosi aja. Kan jadi ilang semua ide buat nulis. Baiklah, kalimat terakhir yang barusan abaikan saja.Buat Star Night Blog itu kayak rumah, Dan reader sebagai tamunya. Bukankah Pepatah bilang menyambut tamu dengan baik sama dengan mendapat rezeki dengan bersukur. Nah lantas gimana rasa nya kalau sebelum Berkunjung udah di kasi Plang Pringatan Segede – Gedenya soal pantang larangan?. *Halah bahasanya*. Ya kalau sekedar ‘tata – tertib’ itu biasalah ya, Tapi pake bahasa yang sopan donk. Kalau kita merasa sakit hati, memang nya harus ya di balas dengan sakit hati juga. Childish banget si.Buat reader yang merasa postingan ini Cuma spam terserah. Yang jelas Star Night bukan termasuk orang yang pinter ‘Ngomong’ tapi udah biasa mengekspresikan sesuatu lewat tulisan. So karena title blog ini juga ada diary nya, nggak salah donk Star Night bikin coret – coretan di sini. Itung – itung berbagi rasa. He he he…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*