Cerpen Romantis: Mr. Ice Cream

Cerpen RomantisIni sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.
Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.
***
3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama
Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.
“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.
“Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.
“Enaak !!” Seru ku.
Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.
Ya, Dialah Keylan. Key dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.
Key mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Key sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.
Key dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Key adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?
Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Key mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Key termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Key tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.
Sore itu, Key dengan sengaja menculikku dari kampus, Key mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua.
Key bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood.
Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan.
“Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.
“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.
“ini Enaaak, coba deh Key” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Key lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak.
“yeee, enak kan, sekarang Key ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan key menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang.
Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Key seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya key punya pacar. Key berpacaran dengan Amerina. Mengenai Key dan Amerina aku tak tahu banyak karena Key jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Amerina adalah gadis cantik, anggun, smart dan terlihat kalem, menurutku Amerina seperti Key versi cewek. Hanya itu yang ku tahu.
“Pulang yuk ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Key kepadaku sekaligus mengingatkan.
“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Key yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu.
***
2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.
Key tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih.
“Ta daaaa, Happy Birth Day” Key menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!
Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Key membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua.
“Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Key tersenyum Simpul lagi.
Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Key dan es Krim tentunya.
“Rio, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.
Rio? Kenapa Key nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.
“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.
Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.
“yang penting…” Ujar Key. Hening sejenak. Aku menunggu Key melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Key.
Key selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Key yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Amerina? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Key memperlakukan Amerina? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?
“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Key membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.
“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.
“Pelit” Key pura-pura ngambek.
“Anyway Key, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.
“Any time, Ran” balas Key. Tersenyum simpul.
Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak.
***
Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia.
Dua jam yang lalu, aku dan Key duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Key terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Key, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.
“Kenapa gak ada kabar ran?” Key menatapku serius. Nada suaranya dingin.
Aku tak sanggup memandang key, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya.
“Aku sibuk Key” Aku berbohong. “Maaf Key, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.
Setelah mendengar kata maaf itu Key langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Key pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Key terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Key yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Key yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.
“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Key sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Key selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.
“Lalu bagaimana denganmu Key?” ucapku terbata.
Key tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Key sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Key menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.
***
Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Key. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Key dua jam yang lalu.
Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri?
Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Key kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Key terluka.
Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.
Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Key dan Amerina. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.
Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Key, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?
-The End-
By : Eka Suzie
Fb: Eka Suzie
Twitter : @eksuz
Blog : Mr-ice-cream.blogspot.com

Random Posts

  • GARA-GARA SI BENDA BUNDAR

    GARA-GARA SI BENDA BUNDARoleh: Putria. Pebriana. Sitanggang Cuaca cerah dan sejuk menyelimuti Kota Tambun tepatnya di GOR Tambun. Nabila dan teman-teman seteamnya sedang menunggu waktu pertandingan mereka. Nabila atau biasa dipanggil Bela adalah seorang atlet basket disekolahnya. Dia dikenal sebagai gadis yang baik, ceria dan bertanggung jawab. Maka, tak heran dia diberi kepercayaan menjadi wakil kapten di klub kesayangannya yaitu “DWI WARNA”. Memang bukan pertama kalinya team tersebut mengikuti perlombaan Libala Cup. Sudah dua kali Nabila mengikuti pertandingan tersebut. Tahun lalu Bela dan teman-teman seteamnya mendapatkan juara ke-1 di Libala.Saat sedang bermain passing-passingan bola, tak sengaja temannya melempar jauh bola itu. Dan mau tidak mau Bela mengambilnya, ternyata bola tersebut terjatuh didepan seorang cowok berwajah tampan, berpostur tinggi. Ia adalah Reigy pemain basket dari klub “GALAXI”, Reigy seorang cowok jutek namun humoris. Ia pun memberikan bola tersebut kepada Bela.“Nih bolanya” sambil memberikan bola kearah Bela.“Terima kasih ya, udah ngambilkan bola ini.” Sambil mengambil bola tersebut.“Iya sama-sama, lo dari klub mana?” Tanya Reigy.“gw dari klub DWI WARNA, kalau lo?” tutur Bela.“Oh, gw sih dari klub GALAXI, lo udah tanding? Ucap Reigy.“Udah kok, tadi pertandingan pertama.” Sambil tersenyum.“oh, terus menang ya, hmm kalo gw sih nanti pertandingan terakhir.” Ungkap Reigy.“iya team gw menang, wah semangat ya moga menang. Hmm yaudah gw pergi ya thank loh atas semuannya.” sambil melambaikan tangan.“makasih loh sportnya, iya sama sama.”tersenyumlah Reigy seketika.Cowok itu seperti merasakan hal yang berbeda saat bertemu dengan Bela. Ternyata ia jatuh cinta terhadap Bela, begitu pun sebaliknya. Tanpa disadari mereka memikirkan satu sama lain, Reigy ingin sekali meminta nomor hp Bela namun dia tidak berani memintanya. Waktu pun menunjukkan pukul 16.33 sore, saat itulah team “GALAXI” akan bertanding melawan team “STAR”. Bela yang mendukung team “GALAXI” di tribun penonton, selalu tersenyum jika memandang Reigy. Cowok itu membuat Bela tak henti-hentinya memikirkan wajahnya. Sambil bersorak sorak, Bela mendukung Reigy. Akhirnya team “GALAXI” menuaikan kemenangan dengan skor 45-32. Team “GALAXI” dan “DWI WARNA” mendapatkan juara pertama di tournament LIBALA tersebut.Saat upacara penutupan dan pemberian hadiah bagi para pemenang, Reigy dan Bela pun menjadi perwakilan dari setiap klub. Hati Bela sangat senang saat bersampingan dengan cowok tersebut. Tak disangka, mereka berphoto bersama saat pemberian Piala penghargaan itu. Reigy pun merasa senang dapat berdekatan dan tersenyum bersama kala itu. Selesailah upacara penutupan tournament LIBALA. Para peserta tournament itu pun telah meninggalkan Gor itu. Reigy yang mencari Bela dikerumunan orang sangat khawatir bila tidak menemukan cewek itu. Namun, saat ia berdiri dan memandangi satu persatu orang orang didepannya tiba tiba ada seorang gadis menepuk punggungnya. Ternyata gadis itu adalah Bela.“Hai, ngapain lo disini oiya dari tadi kita belum kenalan gw Nabila panggil aja Bela.” Sambil mengulurkan tangannya.“hmm iya gw Reigy.”sambil berjabat tangan dengan Bela.“oh iya, lo mau pulang ya yah kita gak bisa ketemu lagi deh.”“iya, haha iya yah, hmm gw boleh minta nomor hp lo gak?" Tutur Reigy.“oh boleh kok nih number gw.”sambil mengucapkan nomor handphonenya.“terima kasih ya, oiya lo pulang kemana?” Tanya Reigy.“sama sama, gw pulang ke Cikarang Utara gy, kalo lo pulang kemana?” Ucap Bela.“hah? Cikarang Utara looh kita searah dong, emangnya lo tinggal dimana?” Tanya Reigy.“hah masa? Wah dunia sempit banget ya, haha gw tinggal di dekat Perum Kebon Kopi, kalau lo tinggal dimana?” ungkap Bela.“wah wah dekat dengan gw dong, gw tinggal di Perum Puri Cikarang Hijau.”Jawab Reigy.“haha,, kok bisa gitu ya, apakah takdir?”“jika ini suatu takdir, wah bersyukur banget gw, oh ya lo pulang sama siapa?”Tanya Reigy.“haha,, gw juga, sama…” omongan Bela pun terputus saat bunyi klakson mobil.“tinn.. tinn. Tiinnnn”“eh itu bokap gw, yaudah gw pergi ya, bye.” sambil melambaikan tangan.“bye juga , hati hati ya Bel.” Sambil tersenyum.Hari demi hari pun terlewati, Bela dan Reigy menjadi sangat dekat semenjak tournament LIBALA tersebut. Mereka sering smsan ataupun telfonan, bahkan sering pergi jalan bersama. Reigy yang merasa sangat menyayangi Bela pun mengatakan isi hatinya kepada Bela saat berjalan jalan di sebuah taman.“Bel,, gw boleh ngomong sesuatu tidak?” Tanya Reigy.“lo mau ngomong apa gy? Silahkan ngomong aja.” Jawab Bela.“Sebenarnya gw suka sama lo saat pertama kita ketemu, gw baru bisa jujur sekarang selama ini gw coba memberanikan diri tapi saat inilah gw baru berani mengatakannya.”“hah” Bela pun terdiam sejenak.“kenapa, lo gak suka ya sama gw? Yaudah gakpapa kok kita bisa berteman kaya dulu lagi kan ?”“bukan itu, tapi sebenarnya gw juga suka sama lo hanya saja gw belum percaya lo mengatakan itu sama gw.” Ucap Bela.“yang bener berarti lo mau jadi pacar gw Bel?” Tanya Reigy.“iya gw mau gy.” sambil tersenyum.Akhirnya Reigy dan Bela pun berpacaran menjalani kisah cinta di masa remajanya.——————-SELESAI——————–Pengarang : Putria. Pebriana. SitanggangTTL : Tangerang, 16 Februari 1997Tempat Tinggal : Kebon Kopi, rt 04 rw 06 kec cikarang utara kab bekasi prov jawa baratSekolah : SMP Negeri 3 Cikarang UtaraFacebook : Febriana Alineal Sichii ImotoosanTwitter : @Put_putstang

  • Cerpen Teenlit “Dia {Nggak} Suka Aku?!! 2/2

    Sesuai yang di janjikan, Cerpen remaja "Dia {Nggak} suka aku" ending di bagain kedua aja. Karena emang cerpen yang satu ini cerpen selingan yang admin ketik pas lagi bingung nyari ide soal lanjutan dari cerpen cinta kenalkan aku pada cinta. Padahal ide ending udah ada, cuma ngerangkainya itu lho. Susaaaaah bangets. Ciuuuusssss..Nah, biar nggak cuap cuap nya nggak makin ngelantur mending langsung baca lanjutan di bawah aja deh. And untuk part sebelumnya bisa dicek disini.Cerpen Teenlit Dia {Nggak} Suka AkuCerpen remaja Cinta "Dia {Ngggak} suka aku?!!Tiada yang menduga, Fadlan yang sedari tadi melangkah tiba – tiba berhenti mendadak dan langsung berbalik. Rika yang tidak siap dengan kemungkinan itu langsung mengerem kakinya segera. Hingga kini hanya berjarak kurang dari dua centi, wajah Fadlan jelas berada tepat di hadapnnya. Membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sebelum kemudian berdenyut dua kali lebih cepat dari biasanya. Akh, situasi ini….“Iya, tadi itu gue bantuin elo. Kenapa? Ada yang salah?” tanya Fadlan santai. Sama sekali tidak terpengaruh dengan dekatnya tubuh mereka. Rika segera mengambil inisiatif, menarik diri dengan cepat.“Ehem… Emang nggak ada yang salah,” sahut Rika cepat. “Cuma ada yang aneh. Kok tumben – tumbenan,” sambung Rika lagi.“Iya. Kok tumben ya?”Serius, tangan Rika gatel untuk menjitak kepala Fadlan saat itu juga. Apalagi dengan tampang polos dan sok nggak taunya itu. Huu….“Loe beneran pengen tau kenapa?” tanya Fadlan lagi. Kali ini sambil melangkah mendekat, dengan refleks Rika memundurkan langkahnya. Namun ternyata Fadlan tidak berhenti sampai disitu. Ketika Rika terus mundur, kakinya justru terus maju. Sampai sampai tubuh gadis itu mentok didinding dan tidak bisa mundur lagi.“Loe… loe mau apa?” tanya Rika gugup.Fadlan tersenyum misterius. Membuat Rika merinding melihatnya. “Tadi katanya loe pengen tau kenapa gue bantuin elo,” sahut Fadlan santai. Benar – benar berbanding balik dengan Rika yang kini kaget, deg – degan tak menentu. Bahkan Rika yakin kalau saat itu ia mengidap sakit jantung, pasti kini ia sudah terbaring pingsan.“Ya loe kalau mau jawab, jawab aja. Ngapain loe deket – deket?” Lagi lagi Fadlan tersenyum. Tak hanya itu, bahkan pria itu kini memajukan wajahnya, membuat Rika tanpa sadar menelan ludah karena keki. Tepat di samping telinganya pria itu berbisik lirih.“Karena gue pengen berdamai sama loe.”“Ya?!” teriak Rika kaget. Tangannya terulur mendorong tubuh Fadlan kuat – kuat yang ternyata tidak sekuat yang ia harapkan. Walau tetap ia berhasil menyingkirkan pria itu beberapa langkah di hadapannya.Masih shok, Rika mendadak merasa kesel . Apalagi saat melihat tawa lepas di wajah Fadlan sementara ia sendiri hampir terkena serangan jantung. Bahkan tanpa rasa bersalah sama sekali pria itu segera berlalu meninggalkan dirinya berdiri mematung sendiri. Sibuk menetralkan kembali detakan jantungnya.“Rika, loe kenapa?”Rika menoleh, tampak Andini, Icha dan Lauren berdiri disampingnya yang entah muncul dari mana. Seperti orang linglung, Rika menoleh kekiri dan kekanan. Ternyata sedari tadi ia masih berdiri sendirian.“Iya. Kayak orang kesambet aja. Mending kekantin yuk,” tambah Icha lagi. Tampa menunggu balasan dari Rika, dengan santai tangannya menyeret tubuh Rika untuk mengikuti langkahnya. Sementara Andini dan Lauren mengekor di belakang.“Loe kanapa si Rik? Kok diem aja dari tadi. Aneh banget,” komentar Lauren saat keemapatnya sudah duduk santai di salah satu meja kantin.“Gue lagi mimpi kali ya?”“Ha?” Andini, Lauren dan Icha saling pandang. Wah gaswat, jangan – jangan temannya beneran kesambet hantu penunggu sekolah. “Rika, ngucap donk. Ngucap. Sadar. Ini kita,” kata Lauren sambil menampar – nampar pipi Rika.“Ye.. enak aja. Emangnya gue ksambet,” kesel Rika sambil menepis tangan Lauren darinya. Walau tamparannya lirih, tetep aja perih. Kan pipinya halus. Xd“Ya elo si. Nakutin kita. Dari tadi diem aja. Giliran ngomong nggak nyambung blas. Ada apaan si?” tanya Icha kemudian.“Kalian pasti kaget kalau tau ini.”“Emang ada apaan?” Andini terlihat tidak sabar.“Fadlan bantuin gue bawa buku ke ruang guru.”“Biasa aja kali. Emang apa anehnya sih bantuin orang,” komentar Icha.“Ya nggak aneh kalau itu beneran orang. Ini Fadlan. And yang dia bantu itu gue,” kata Rika antusias. Bahkan tangannya sendiri ia tunjukan tepat kewajahnya. Membuat ketiga sahabatnya kembali saling pandang, beberapa saat kemudian barulah ketiganya mengangguk – angguk paham. Sepertinya apa yang di katakan Rika sedikit masuk akal. Secara sejak kapan Anjing dan kucing saling membantu. “Maksut loe? Cerita yang jelas donk,” kata Andini lagi.Untuk sejenak, Rika menghela nafas sebelum kemudian cerita itu meluncur dari bibirnya. Tanpa di kurangi sedikitpun walau memang ada yang ia tambahi disana sini.“Tuh kan. Apa gue bilang. Jangan – jangan bener lagi. Ntar hubungan kalian pasti jadi kayak yang di drama drama gitu. Benci jadi cinta. Yakin deh gue, nggak mungkin salah,” komentar Icha begitu begitu Rika menamatkan ceritanya.“Sekali lagi loe bawa – bawa drama, gue lempar loe pake sandal,” geram Rika. Icha hanya cengengesan.“Ha ha ha. Tapi denger ya Rika. Kalau sampai kedepannya doi lebih baik lagi. Loe harus percaya sama kita. Kalau dia ujung – ujung nya pasti suka sama loe?” “Oke!. Kita liat aja nanti!”⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Waktu terus berlalu. Apa yang teman – teman Rika katakan sepertinya benar – benar terjadi. Sikap Fadlan berubah 180 derajat dari sebelumnya. Kali ini pria itu benar – benar terlihat perhatian dan begitu baik. Bahkan tanpa di minta, setiap Rika dalam kesulitan ia selalu membantunya. Benar – benar modus yang layak untuk di curigai. Atas saran dari kedua sahabatnya, akhirnya Rika nekat mengajak Fadlan untuk ketemuan. Sengaja mencari tempat yang tidak terlalu mencolok, Rika menjadikan taman belakang sekolah menjadi tempat pilihannya. Sambil menunggu kemunculan Fadlan, Rika sibuk menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya. Aneh nggak ya kalau ia nanya duluan.Selang beberapa saat menunggu, akhirnya Fadlan muncul dihadapan. Melihat Fadlan yang kini duduk disampingnya, Rika mendadak merasa ragu. Sepertinya keyakinan yang sudah ia himpun tadi tiba – tiba menguap. Justru ia malah jadi salah tingkah sendiri."Oh ya, tadi katanya ada yang mau diomongin. Ada A̐ªP̤̈Αªª an?" tanya Fadlan setelah beberapa saat keduanya hanya terdiam.Rika tidak langsung menjawab, bahkan tanpa sadar ia mengigit bibirnya sendiri. Kebiasaan yang ia lakukan jika sedang berfikir."Loe kenapa si? Kok keliatan linglung gitu. Ada masalah? Ya udah, ngomong aja.""Aduh, gimana ya ngomongnya?" gumam Rika lirih. Fadlan masih menatapnya penasaran.Setelah terlebih dahulu menghela nafas untuk kesekian kalinya, Rika membalas tatapan Fadlan padanya sembari mulutnya berujar. "Jujur deh, sebenernya apa sih maksut koe?""Ya?" bukannya mengerti, kerutan bingung malah bertambah dikening Fadlan."Yah, gue tau kita udah kenal lama. Sejak SMP juga kita udah satu kelas. Tapi semua orang juga udah tau, kalau kita itu nggak pernah akur. Dimana pun kita berada, dulu pasti selalu ada masalah," terang Rika membuka kalimatnya, Fadlan masih terdiam. Hanya saja kepalanya mengangguk membenarkan walau ia masih belum sepenuhnya mengerti kemana arah pembicaraan ini akan dibawa."Nah, tapi anehnya. Sejak sebulan ini semua berubah. Loe tiba – tiba baik sama gue. Nggak pernah cari gara – gara lagi bahkan tak jarang loe malah bantuin gue. Sebenernya modus loe A̐ªP̤̈Αªª an si?" tembak Rika langsung.Fadlan terdiam. Benar – benar diam. Tidak menyangka akan langsung di tuding begitu. Saat matanya menatap mata bening Rika, jantungnya mendadak deg degan. Jelas terlihat salah tingkah."Oh itu. Sebenernya…. Gue….," Fadlan tampak ragu. Rika yang melihat perubahan sikapnya juga merasa was was. Jangan bilang kalau apa yang dikatakan teman temannya selama ini benar. Fadlan menyukainya. Oh TIDAK!!!."Gue…""Gue lupa kalau gue masih ada urusan. Kita ngobrolnya lain kali aja ya. Gue harus pergi sekarang," selesai berkata Rika langsung bangkit berdiri. Berlalu meninggalkan Fadlan tampa perlu menunggu tangapan pria itu sama sekali.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ "Akh, bodoh – bodoh. Apa yang gue lakuin. Kenapa tadi gue malah kabur," rutuk Rika saat mengingat kejadian disekolah tadi."Tapi kalau gue nggak kabur, terus ternyata dugaan gue bener. Fadlan suka sama gue, terus gue harus gimana? Dia emang baik si, dan kalau diperhatiin dia juga keren. Tapi masa ia gue harus jadian sama dia. Emang gue suka sama dia?" pikir Rika lagi."Akh tau akkh. Gue bisa gila," gerutu Rika sambil merebahkan tubuhnya dikasur. Sepertinya lebih baik ia tidur siang. Siapa tau, setelah bangun nanti pikirannya bisa lebih jernih.Tidak tau berapa lama ia telah tertidur, yang jelas saat terbangun Rika merasa lebih plong. Sama haus juga. Sambil mengucek – ucek matanya yang masih terasa lengket ia bangkit berdiri. Berjalan dengan langkah ogah – ogahan untuk kedapur. Tengorokannya benar – benar terasa kering.Namun belum sempat kakinya menempati tempat yang dituju, Rika sudah dibuat berdiri mematung. Kini diruang tamu, selang beberapa langkah darinya tampak sosok yang sedang duduk santai yang juga sedang menatapnya tak bekedip."Fadlan?!" hanya satu kalimat itu yang berhasil melewati kerongkongan kering Rika. Bukan saja karena ia belum mendapatkan minum, tapi juga karena tak sengaja Rika mendapati bayangan dirinya dari balik kaca alemari yang ada di ruang tamu. Bayangan tentang betapa ancur penampilannya saat ini. Ya Tuhan. Ia kan baru bangun tidur. Bahkan belum cuci muka sama sekali.Fadlan tidak menjawab, hanya senyum kaku yang ia berikan. Sementara tangannya tampak mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya pria itu juga terlihat gugup."Nga…. Ngapain loe ada disini?" tanya Rika lagi. Sepertinya rasa penasaran yang ia rasakan lebih besar dari pada rasa malu yang ia punya."Gue…" Fadlan terlihat makin salah tingkah, membuat Rika makin curiga. Apalagi seumur – umur pria itu tidak pernah mampi ke rumahnya. Apakah itu karena…"Ya ampun kakak. Berantakan banget sih loe, malu – maluin banget. Kalau bangun tidur kan harusnya cuci muka dulu."Rika menoleh seiring dengan kalimat yang mampir ke gendang telinganya. Tampak wajah Chicy, adiknya yang baru muncul dari dapur dengan napan berisi minuman diatasnya."Sory ya kak, dia kakak gue," kata Chicy lagi. Tapi kalimatnya kali ini bukan ditujukan untuk Rika, melainkan untuk tamu yang masih mematung disana. Rika yang mendapati hal itu sedikit mengernyit. Memangnya adiknya kenal dengan Fadlan? Tapi sejak kapan? Perasaan pria itu tidak pernah muncul kerumahnya. Lagi pula ia kan tidak pernah satu sekolah dengan adiknya walau kini keduanya sama sama sudah di SMA. Hanya saja gadis itu masih kelas satu sementara ia sendiri sudah memasuki tahun akhir."Kak, Fadlan kenalin. Dia kakak gue," kata Chicy lagi sambil memberi isarat Rika agar mendekat. Saat kakaknya sudah ada disampingnya, gadis itu menambahkan. "Dan kak Rika, kenalin. Ini Fadlan. Pacar gue."Rika cengo. Matanya tampak berkedap – kedip dengan mulut yang terbuka tanpa suara. Ditatapnya wajah Chicy dan Fadlan bergantian, sementara dalam hati ia hanya mampu bergumam."Jadi Fadlan baik sama gue bukan karena dia naksir sama gue, tapi karena…" Jeda sesaat."Dia pacaran sama adik gue…."Ending….H̲̣̣̣̥α̩̩̩̩̥ά̲̣̥:Dн̣̣̣̝̤̥̇̇̇̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊=Ḍ̥H̲̣̣̣̥̩̩̩̥ά̲̣̥α̩̩̩̥̇̇̇ά̲̣̥α̇̇̇=)) н̣̣̣̝̤̥̇̇̇̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊=D . Endingnya ngegantung ya? Terkesan maksa. Atau malah Ъќ jelas. Ah bodoh amad deh. Adminya lagi galau. Lagian kayaknya cerpen oneshot ɑ̤̈̊Ƙυ̲̣̥ semuanya endingnya gitu. Yah namanya juga cerpen selingan ala ide dadakan yang bahkan ngetiknya aja pake ввм . Over all, °˚•✽• Ʈħάпƙ Ƴσц •✽•˚° 谢谢你({}) udah mampir.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ With love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)

    Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)Oleh: Deny fadjar suryaman – `Sesungguhnya ku tak menginginkan semuanya begini, walau semua yang terjadi hanya kebohongan dan kepalsuan saja yang kau berikan kepadaku..Tapi sejujurnya itu semua sudah cukup bagi ku tuk dekat denganmu walau hanya bisa membayangkan dan mengharapkan kelak kau akan datang kepadaku dengan kejujuran dan ketulusan hati pada diriku..`tak ku harapkan lebih atas kehadiranmu. .`tak ku harapkan kejujuran itu datang. .`tak ku harapkan kau menganggap ku ada. .`dan jika itu semua dapat di wujudkan oleh dirimu, Tapi mengapa seperti ini yang terjadi…???‘Mungkin ini sebuah perasaan yang bodoh yang pernah kualami selama hidup. Selama ini, aku hanya bisa membayangkan dan mengharapkan namun tidak untuk mengatakannya. Ini menjadi sebuah ketidakpastian bertindak yang kulakukan. Sehingga aku hanya bisa memandang dan melihatnya ketika mimpi.’Itu kahayalan dari seseorang yang berharap cinta ini nyata ketika semua tidak mampu diungkapkannya. Sebuah khayalan yang membuat hidupnya dipenuhi kegelisahan dan kebimbangan.ini semua berawal dari hobi barunya berselancar didunia maya. Suatu ketika dia sedang memainkan khayalannya didunia maya. Dia melihat sebuah profil seorang wanita yang membuatnya terpikat seketika. Secara naluriah dia langsung mengirim sebuah permintaan pertemanan kepada wanita itu. (mungkin lebih pastinya karna dia baru dengan hal ini, jadi ingin punya lebih banyak teman).***Hari pun terus berlalu dia pun tak peduli dengan sebuah profil wanita tersebut. Karna dia selalu asyik dengan obrolan teman-teman facebook-nya yang lain. Namun, hari ini dia melihat dalam beranda sebuah obrolan antara temannya dan wanita yang beberapa hari yang lalu dia add. Disinilah mulai perbincangan antara dia dan wanita dimulai. Nama ku brian atau lebih sering di panggil rian, yah bisa dibilang manusia yang sederhana senang dengan hal-hal yang berbau traveling. Tapi dalam urusan cinta aku sangat pendiam dan terkadang membiarkan perasaan cintanya berlalu begitu saja. Dalam obrolan antara teman aku dan wanita itu, teman aku menyebut-nyebut nama aku untuk dijadikan motif dia berkenalan dengan wanita itu.Yah, mungkin karna wanita itu tinggal di daerah yang berdekatan dengan ku. Itu sebabnya aku dijadikan motif teman aku untuk berkenalan. Mungkin karna itu juga yang membuat mataku terfokus pada tulisan di beranda facebook-ku. Akhirnya pun aku ikut tergabung dalam obrolan itu. Dan mulai menulis sebuah komentar didalamnya.“weh man, apa maksudnya tuh bawa-bawa nama gw. Kalo mau kenalan sama cewe jangan bawa-bawa nama gw geh”. Dengan kata “geh” yang mencirikan logat bahasa di daerah ku. Hahahaaa.. cukup lucu sih kalo di denger satu kata yang aneh itu. Mungkin hanya orang-orang d daerahku yang mengerti apa maksud dari kata itu. Temen aku yang ini namanya iman, yah ketika kita SMA dulu, dia memang dia terkenal playboy-nya, sampai-sampai banyak teman yang udah men-cap-nya seperti itu. Di saat yang bersamaan wanita itu pun membalas komentar dan mulai-lah awal perbincangan ku dengan wanita itu. Namanya aini yang ternyata dia juga alumni SMA yang sama dengan aku dan temanku. Tapi entah mengapa aku dan temanku tak sadar. Sebenernya aku sudah tau kalau dia bersekolah yang sama dengan aku dan temanku, namun walau rumahku satu daerah dengannya tapi aku tak tau siapa namanya, hanya saja aku sering liat dia lewat depan rumahku waktu sekalo dulu. Disini awal ketertarikanku untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Namun itu hanya ketertarikan naluriah seorang wanita, dan seperti biasanya aku pun tak berani mencari tau lebih banyak lagi tentang waktu itu, yah karna sifat aku yang tak berani memulai suatu hubungan. Dan akhirnya dia pun mengconfirmasi prmintaan pertemanan aku. Akhirnya kita pun sering berinteraksi di dunia maya. Kita saling bertanya satu sama lain tentang diri masing-masing. Yah dari mulai hal-hal yang sepele untuk di perbincangkan sampai hal-hal yang menyangkut tentang pribadi masing-masing. Yah dari perbincangan itu bisa di simpulkan bahwa dia wanita yang cukup asyik, menarik, dan nyambung untuk di ajak berbincang.Setelah sekian lama kita sering wall-to-wall, nge-chat, sampai coment-coment d facebook, akhirnya dia pun bilang kalau dia udah mulai jarang untuk berselancar di dunia maya. Sampai akhirnya dia pun mengajak aku untuk berbincang lewat handphone saja. “hey ian, aku udah jarang buka fb nih. Gimana kalau smsan saja” seru dia di wall. “yah, tapi kan gw gak tau nomor hape lho” aku pun membalas wall dia. “nih nomor ku……”. ***Waktu pun kian berlalu membawa aku dan aini saling kenal lebih jauh lagi. Dan akhirnya kita pun sepakat untuk pergi nonton berdua, ini awal pertemuan tatap muka kita yang pertama. Yah walau sedikit aneh sih, walaupun rumah kita satu daerah dan pernah satu sekolah tapi kita belum pernah berbincang secara langsung.Hari itu matahari bersinar sedikit agak panas, yah walau sedikit agak panas tapi aku dan aini tetap berjanjian untuk pergi nonton bersama. Kami pun pergi berangkat menuju bioskop, dalam perjalanan kami pun banyak berbincang soal keanehan mengapa kita tak pernah berbicara langsung seperti ini sejak dulu. Disinilah awal dari aku timbul rasa suka sama aini, atau lebih tepatnya sayang. Saat itu hati aku sulit untuk dikendalikan, yah karna memang perasaan ini sulit untuk di ajak kompromi. Namun lagi-lagi aku sulit untuk mengatakannya. Sampai-sampai sejenak keadaan menjadi hening karna tak ada satu patah kata pun yang keluar dari kita. Dan akhirnya kita pun memutuskan untuk langsung pulang saja, tanpa ada pertemuan yang lebih panjang lagi.***Hari ini aku hanya duduk d hamparan teras alam yang beralaskan rerumputan yang hijau yang tersinari cahaya senja. Yah hari ini memang sudah sore, saat ketika matahari mulai meredupkan sinarnya, saat dimana sang gereja kecil mulai kembali ke sarangnya, dimana saat langit biru mulai memudar menjadi jingga.dan saat dimana aku sering menikmati keindahan senja. Disini aku sering sekali mencurahkan semua yang ada di hati dan perasaanku. Disini juga aku sering membuat tulisan-tulisan baik tengtang perasaan maupun tentang keadaan yang ada di sekeliling aku. Sampai akhirnya hari ini aku menulis sebuah puisi tentang sore itu.“Pesona jingganya”Di kala cahayanya mulai terbenamBukan berarti keindahannya menghilangNamun terpancar dalam lukisan jingganyaYang tergores indah dalam bentangan langitSisi demi sisi terlihat begitu mempesonaBerpadu satu dengan awan putih yang mulai berubah jinggaYang mulaia menghanyutkan suasana dalam hatiYang terbawa oleh hembusan anginJika jingganya tak mampu kau rasakanCobalah tuk mencarinya dalam heningJika itu tak mampu kau temukan juaJangan pernah berhenti berharap untuk esok hari datang kembaliAku sering menghabiskan waktu ku disini itu karna ada sebabnya, yah sebuah penyakit yang selalu menghampiriku disaat-saat tak tentu. Mungkin ini juga yang membuatku untuk sulit menyatakan cinta yang ada dihatiku, karna aku terlalu takut meninggalkannya di saat yang tak tepat. Jangtungku yang lemah telah mencapai pada masa yang kronis, sehingga membuat sang dokter memfonis aku tak punya waktu lama untuk dapat menikmati hidup yang indah ini. Itu sebabnya aku sering menghabiskan waktu di tempat yang indah ini, terkadang aku pun mengajak aini ke tempat ini. Yah saat ini pun aku mengajaknya, namun dia telat untuk datang ke sini.“hay rian” suara lembut terdengar ditelingaku yang juga membuyarkan khayalanku sore itu. Dengan tatapan yang masih kosong aku pun menjawab “yah, hay juga aini”. “map aku telat datang yah” sambung aini. “yah gapapa, aku juga baru datang kok” sahutku.Aini pun duduk di sampingku seraya dia pun terlarut dalam suasana sore yang berikan keindahan ini. “kamu sedang nulis puisi atau cerpen yah?” aini membuka percakapan kita. “yah aku baru menyelesaikan sebuah puisi”. “mana coba aku liat” sambil merebut buku yang ku pegang. Akhirnya kami pun terlarut dalam obrolan yang mengasyikan di tempat itu.***Di dunia ini hanya aku dan keluarga saja yang tau tentang penyakit ini, bahkan aini pun tak mengetahuinya. Dia hanya tau aku yang suka humor, suka buat tulisan, dan membaca novel. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sejak perasaan aneh ini merasuki hatiku, aku ingin jika aini tau semua perasaanku namun aku pun tak mau membuat hatinya bersedih ketika aku harus meninggalkan dia di saat yang tak tepat. Setelah sekian lama perkenalan diantara kita, kita pun telah melalui semua bersama-sama, karna sejak perkenalan kita pertama kali kita jadi lebih sering bermain bersama. Sampai saat ini aku hanya bisa menyembunyikan semua perasaanku padanya. Sampai pada akhirnya akupun di larikan ke rumah sakit karna jantungku yang terasa berhenti berdetak. Aku pun hanya bisa pasrah semoga tuhan masih beri aku waktu untuk tetap bisa menikmati hidup setidaknya sampai aku punya keberanian untuk mengatakan semua isi hatiku pada aini.Aini yang tak tau keadaan ku yang menghilang tanpa jejak beberapa hari belakangan mulai bertanya-tanya pada hatinya kemana aku sampai tak menghubunginya beberapa hari belakangan ini. Sampai pada akhirnya jantungku pun tak mau untuk mendenyutkan dan berdetak kembali seperti biasa. Yah, kali ini aku telah di panggil sang kuasa. Karna dia tak mengizinkanku untuk bisa hidup lebih lama lagi. Aini yang mengetahui kabar bahwa aku telah tiada merasa kesedihan yang besar. Dia pun merasa sangat terpukul atas kepergianku.Mungkin satu hal yang aku sesali, ini bukan hanya isi hatiku yang tak bisa menyampaikannya kepada aini, tapi aku memang sama sekali tak bisa menyampaikanya kepada aini sampai kapanpun, karna tuhan tak mengizinkanya.The endPenulis: Deny fadjar suryamanFb : denyfajarsuryaman@rocketmail.comTwitter : @denyfadjarDenyfadjarsuryaman.blogspot.com

  • Cerpen Cinta Romantis: AKU PASTI KEMBALI

    Aku Pasti Kembali Karya : putri ayu pasundan Namaku jelita, aku sekolah di sma vanderwaald. Aku duduk di kelas 1 sma. Aku termasuk siswa yang pandai, dan juga mudah bergaul. Aku mempunyai seorang sahabat dia bernama putra. Putra adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku, dilain waktu saat aku bersedih, dia yang selalu menghiburku. Suatu ketika dia memendam perasaan yang sama dan aku juga merasakannya.“jelita..” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku putra.“iya put..? ada apa?’’ tanyaku.“pulang sekolah , ikut aku ya.. aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”“oke baik.”Setelah bel pulang sekolah berbunyi, putra langsung menghampiriku dia sudah berdiri tepat di ambang pintu kelasku. Dia memanggilku sambil tersenyum.“jelita.. ayok kita berangkat.”Putra tiba-tiba mengandeng tanganku , menuruni anak tangga, Dan segera menuju ke area parkir. Kelas kami berada di lantai 3 . Aku dan dia berbeda kelas . Sejak smp kita selalu bareng. Dan sampai SMA ini. Setelah kami tiba di area parkir, putra mengeluarkan motornya yang terparkir dekat pos satpam.“ayok naik.” Putra mempersilahkan aku untuk naik ke motornya, dan kini kami berangkat meninggalkan area parkir. Juga sekolah.“kita mau kemana?’’ tanyaku kepadanya.“ke suatu tempat. Dan kamu pasti suka.” Setelah beberapa menit di perjalanan , kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata putra mengajakku ke sebuah taman bermain. Di taman tersebut . terpampang air mancur yang begitu indah, banyak sekali bunga-bunga yang berwarna warni. Kami berdua duduk di kursi dekat taman.“jelita… “ panggil putra kepadaku, sorotan mata tajam nya yang takkan pernah ku lupakan sejak dulu . deg…. Jantungku berdebar-debar. Aku tak mengerti tentang perasaan ku padanya, sudah 5 tahun kami bersama.. saling melengkapi satu sama lain. Tapi, tak pernah aku mengerti hubunganku dengannya.. yang aku tau, aku dan dia bersahabat.“putra, kok nangis?’’ tanyaku padanya. Putra meneteskan air matanya perlahan demi perlahan . ku apus air matanya yang membasahi kedua pipinya..“aku gak nangis, aku Cuma bahagia aja punya sahabat kaya kamu.” Di usap rambutku dengan kelembutan tangannya. Putra memang sahabatku , dan juga kakak bagiku. karena itu aku tak mau kehilangannya.“jelita, suatu saat nanti, aku gak bisa terus berada di sisi kamu, kamu harus bisa nantinya tanpa aku. Aku gak mau terus-terusan jadi benalu yang selalu ada di hidupmu. Kamu harus bisa jalani hidup , dan mungkin tanpa aku. ingat janji kita dulu. Kalo kita akan selalu bersama.”“putra kok ngomongnya gitu, tanpa kamu hidup jelita ga mungkin seceria ini. Karna kamu, hidup jelita bahagia dan lebih berwarna. Kalaupun nantinya putra ninggalin jelita, jelita akan cari putra sampai kapanpun dan bakal nungguin putra sampai putra kembali. Entah beberapa lamanya”“tapi, inget. Kalo putra gak ada di samping kamu lagi. Kamu janji harus selalu tersenyum.”“iya, jelita janji… jelita akan selalu tersenyum untuk kamu.”Hari sudah semakin berlarut. Meninggalkan semua kisah yang ada. Taman tersebut menjadi ikatan janji mereka.***Keesokan harinya di sekolah, tepat pukul 06:15 menit.“jelita, ini ada surat untuk kamu.”dihampirinya jelita , Di kasihnya sepucuk surat itu untuknya yang terpampang besar siapa nama pengirim surat itu. yaitu “putra” .Deg…… hati jelita tiba-tiba gelisah tak menentu. Tak mengerti apa yang sedang iya rasakan saat ini. Di bukanya isi surat itu perlahan.“jelitaa… ini aku putra, maafin aku ya kemarin aku gak sempet berfikiran untuk ngomong ke kamu. Karna semua itu terlalu berat untukku. Aku gak sanggup ninggalin kamu disini. Mungkin, saat kamu baca surat ini aku sudah tiba di Kalimantan. Papaku dinas disana, dan terpaksa aku ikut dengannya. Maafin aku ya jelita. Inget janji kita. Kamu harus tetap tersenyum. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.“Di akhirinya akhir surat itu. Jelita yang hanya bisa diam membisu dan pucat pasi di tempat duduknya. Perlahan iya menteskan air mata dan tidak percaya akan semuanya. Tak pernah iya mengerti akan semua perasaannya. Sedih, kecewa, semuanya yang iya alami saat ini. Tak sempat iya mengatakan tentang perasaannya yang sebenernya kepada putra. Cinta… mungkin ini yang aku rasakan. Perasaan itu tak pernah ku sadari sebelumnya, setelah kepergianmu baru aku menyadari.. cinta itu ada.***Setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi kerumah putra. Tetapi hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang menjawab sapaanku. Rumah itu kosong. Jelita tak tau harus mencari putra kemana lagi. Akhirnya , aku memutuskan untuk pergi ke Taman kemarin, terakhir kali aku bertemu dengannya, bersamanya…. Taman itu sepi.. tak seperti biasanya, tak banyak orang yang lewat area taman bermain itu. dihampirinya kursi taman tempat aku duduk bersama putra waktu itu. Aku mengingat kembali perpisahan terakhirku dengannya. Aku meneteskan air mata.***Setelah 2 tahun aku menunggu, putra tak juga ada kabar. Selama itu aku tak pernah seceria dulu. Hanya kesedihan yang tampak di wajahku. Sesering kali aku mengingat kenangan itu, itu membuatku sakit. Sekalipun aku mencoba melupakannya, itu akan semakin sakit. Beberapa sering aku memutar lagu pasto’aku pasti kembali’ liriknya yang benar-benar menyentuh hatiku.Reff : aku hanya pergi tuk sementara..bukan tuk meninggalkanmu selamanya..aku pasti kan kembali, pada dirimu ..tapi kau jangan nakal.. aku pasti kembali…..selama 2 tahun, kenangan itu menghantui harii-hari ku . tang sanggup aku melupakannya. Kini aku benar-benar mencintainya. Cinta bukan lagi sekedar sahabat , tetapi perasaan yang lebih dari pada itu.hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17 , sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 sma, sekalipun aku ingin pindah ke lain hati dan berpaling dari putra, aku masih takut. Karena luka yang ada di hatiku masih ada. Setelah malam kian tiba, putra tak juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal hanya sapaannya, dan ucapannya yang begitu berarti untukku..hari ini sweet seventeen ku. Dan mungkin itu semua tak ada artinya kalau putra tak ada di sampingku. Malam ini aku ingin sekali pergi ke taman itu. untuk menenangkan diri disana, mungkin hanya beberapa saat. Aku akhirnya memutuskann untuk pergi kesana dan meninnggalkan acara dan tamu undangan yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke 17 itu. aku pergi ke sana dengan di temani supir papaku dan setelah beberapa menit di perjalanan, aku tiba di taman itu. aku tak menyangka.. begitu indah suasana taman tersebut dengan lampu lampion-lampion yang khas terpampang disana. Dekorasi lampu-lampu kecil di setiap pohon yang mengelilingi menambah indah suasana taman itu. aku duduk di kursi putih taman itu. tiba-tiba beberapa saat aku memejamkan kedua mataku dan membukanya kembali aku melihat sesosok putra di depan mataku. Dia tampak berbeda dari dahulu, aku tak percaya kini dia ada di depan mataku, atau mungkin ini hanya ilusiku.“happy birthday jelita.. aku nepatin janjiku kan , kita pasti bertemu kembali. Dan aku pasti kembali.”“ini benar kamu?’’ tanyaku tak percaya.“iya, ini aku. aku putra.”“kemana aja kamu, kamu gatau aku disini sedih mikirin kamu, kamu gak ada kabar dan hilang gitu aja.”“maafin aku, aku Cuma gak mau ganggu konsentrasi belajar kamu.”Putra menghampiriku dan memberiku sekotak bingkisan tanda ucapan ulang tahunku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung yang berukiran tulisan nama kita berdua. Gaun cantik yang aku kenakan malam itu saat ulang tahunku berwarna putih, dan juga putra, membawa bunga mawar merah kesukaaanku dan ia mengenakan jas kemeja putih.“aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Aku gak bisa tanpamu. Aku mencintaimu, aku sayang kamu jelita.” Kini dia menggutarakan isi hatinya, hanya itu kata yang aku tunggu selama ini dari mulutnya.“akupun begitu. Ini adalah hari terindahku. Kamu kembali, untuk menjadi sahabatku, juga kekasih bagiku…..”_The end_Biodata penulis : Putri ayu pasundanJakarta, 23 january 1997FB : Puteri pasundan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*