Cerpen Romantis: Mr. Ice Cream

Cerpen RomantisIni sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.
Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.
***
3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama
Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.
“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.
“Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.
“Enaak !!” Seru ku.
Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.
Ya, Dialah Keylan. Key dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.
Key mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Key sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.
Key dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Key adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?
Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Key mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Key termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Key tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.
Sore itu, Key dengan sengaja menculikku dari kampus, Key mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua.
Key bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood.
Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan.
“Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.
“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.
“ini Enaaak, coba deh Key” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Key lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak.
“yeee, enak kan, sekarang Key ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan key menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang.
Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Key seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya key punya pacar. Key berpacaran dengan Amerina. Mengenai Key dan Amerina aku tak tahu banyak karena Key jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Amerina adalah gadis cantik, anggun, smart dan terlihat kalem, menurutku Amerina seperti Key versi cewek. Hanya itu yang ku tahu.
“Pulang yuk ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Key kepadaku sekaligus mengingatkan.
“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Key yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu.
***
2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.
Key tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih.
“Ta daaaa, Happy Birth Day” Key menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!
Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Key membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua.
“Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Key tersenyum Simpul lagi.
Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Key dan es Krim tentunya.
“Rio, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.
Rio? Kenapa Key nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.
“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.
Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.
“yang penting…” Ujar Key. Hening sejenak. Aku menunggu Key melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Key.
Key selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Key yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Amerina? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Key memperlakukan Amerina? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?
“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Key membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.
“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.
“Pelit” Key pura-pura ngambek.
“Anyway Key, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.
“Any time, Ran” balas Key. Tersenyum simpul.
Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak.
***
Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia.
Dua jam yang lalu, aku dan Key duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Key terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Key, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.
“Kenapa gak ada kabar ran?” Key menatapku serius. Nada suaranya dingin.
Aku tak sanggup memandang key, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya.
“Aku sibuk Key” Aku berbohong. “Maaf Key, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.
Setelah mendengar kata maaf itu Key langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Key pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Key terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Key yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Key yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.
“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Key sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Key selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.
“Lalu bagaimana denganmu Key?” ucapku terbata.
Key tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Key sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Key menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.
***
Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Key. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Key dua jam yang lalu.
Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri?
Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Key kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Key terluka.
Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.
Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Key dan Amerina. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.
Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Key, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?
-The End-
By : Eka Suzie
Fb: Eka Suzie
Twitter : @eksuz
Blog : Mr-ice-cream.blogspot.com

Random Posts

  • Cerpen cinta “Dalam diam mencintaimu” 01 / 04

    #EditVersion. Jadi gini guys. Admin sekarang kan jarang tuh update cerpen terbaru. Nggak sesering dulu. Mentok di ide, waktu juga kesempatan. Untuk itu, admin kadang suka iseng baca karya karya sebelumnya. Dan ngeh banget, kalau ternyata EYD dan typo bertebaran di mana – mana. Untuk itu, mau di rapiin. Kini cerpen dalam diam mencintaimu yang dapat gilirannya. Oh iya, tokohnya juga di ganti ya. Sekalian sih, biar blognya rapi juga. Secara ya kan, blognya emang acakadut banget. Maklum aja deh, blog Ana merya ini mah emang di mulai dari 'Nol'. Nol dalam belajar nulis, nol juga dalam mengenal blog. Dalam Diam Mencintaimu*** Jangan pernah jatuh cinta pada sahabat, karena jika dia menemukan cintanya,Kau akan kehilangan dua orang sekaligus. Sahabat mu dan orang yang kau cintai.***“Dor!”“Huwa!!!” Irma menjerit sekenceng – kencangnya saat tiba – tiba ada seseorang yang mengagetkannya di susul suara gelak tawa.“Ha ha ha, kaget ya loe?"“Rey, berhenti selalu ngagetin gue,” geram Irma sambil mengelus dada. Matanya menyipit menatap kearah sosok yang akrab di panggil Rey yang kini masih tampak berusaha menahan tawanya. "Kayaknya loe seneng banget ya, kalau sampai gue mati muda karena di kagetin mulu," sambung gadis itu lagi.“Jangan lebay. Loe nggak ngidap lemah jantung jadi gimana ceritanya bisa mati muda,” Rey mencibir. Sebelum mulut Irma kembali terbuka ia sudah terlebih dahulu menambahkan. "Loe pasti sudah sedari tadi nungguin gue kan. Ya sudah kalau gitu, ayo kita berangkat," ajaknya lagi.Walau masih kesel, tak urung Irma mengangguk. Memang sudah hampir 15 menit ia menunggu Rey sebelum kemudian dikagetkan dengan tiba – tiba saat ia sedang asik memperhatikan tanaman cabenya yang berdaun kriting (???). Biasanya mereka memang pulang-pergi kuliah bareng. Kebetulan selain sekampus mereka juga tetanggaan. #@irma, Jreng jreng jreng… Tetangga ku idolaku. (1)Sepanjang perjalanan tak henti mereka bercanda tawa. Rey anaknya memang enak di ajak ngobrol. Ditambah lagi mereka sudah bersahabat sejak kecil. Tak heran jika keduanya terlihat begitu akrab.“Oh ya, hari ini loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Rey sambil melepaskan helmnya. Saat itu mereka memang sudah tiba dihalaman parkir kampus.“Dua, loe?” sahut Irma sembari balik bertanya.“Sama, ya udah kalau gitu entar habis kuliah kita jalan yuk. Hari ini ada pembukaan pasar hiburan di lapangan."Irma terdiam. Pasang wajah sok mikir. Jalan bareng sama Rey? Asik juga, walau Rey notebenenya sahabat, tapi kan selama ini ia menyukainya diam – diam. Dan kali ini ia di ajak jalan, itu termasuk kencan bukan si?. Tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman samar. #Naksir diam – diam (2)“Nggak usah kelamaan mikir. Entar loe tunggu gue di sini. Kita jalan. Titik!” tandas Rey tegas. Kali ini tanpa pikir panjang Irma langsung mengangguk. Membuat Rey ikutan tersenyum sebelum benar – benar berlalu. Kebetulan kelas mereka memang berlawanan arah. Begitu tiba di kelasnya, Irma segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Tanpa sadar senyum sama masih bertenger di bibirnya. Senyum bahagia mengingat ajakan Rey tadi padanya.“Ehem, kayaknya ada yang lagi seneng nie?”Irma menoleh, mendapati Vhany Iskandar yang kini duduk disampingnya. Menyadari sahabatnya itu sedang berkata padanya, Irma hanya mampu membalas dengan senyuman.“Ada apa nie. Cerita donk," tanya Vhany lagi ketika melihat pertanyaan sebelumnya tidak di respon.Kali ini Irma hanya mengeleng. Vhany sedikit mengernyit, tapi ia juga tidak berniat untuk mendesaknya lebih lanjut dan memilih mengalihkan pembicaraan.“Oh ya Ir, tadi loe pergi bareng siapa?”“Rey,” kali ini Irma membalas. Sedikit heran ketika melihat raut Vhany yang tampak antusias.“Ehem, sebenernya loe punya hubungan apa si sama tu orang?” Vhany kembali bertanya.“He?” refleks Irma menoleh. Menatap lurus kearah Vhany yang kini juga sedang menatapnya lurus.“Loe pacaran ya sama dia? Abis gue liat loe selalu bareng sama dia,” selidik Vhany dengan nada menuduh.“Ha? Ya enggak lah. Apaan si loe. Loe kan tau gue itu cuma tetanggan ma dia," elak Irma cepat.“Loe yakin loe cuma ngangep dia tetangga?"Tanpa ragu Irma mengangguk cepat. Gantian ia yang merasa heran saat melihat senyum lega terukir di wajah Vhany. “Kalau gitu loe bisa bantuin gue kan?” tanya gadis itu penuh harap.“Bantuin? Bantuin apa?” tanya Irma sambil mengalihkan tatapannya dari Vhany. Tangannya mengeluarkan buku yang dirasa aneh dari dalam tas. Makin heran ketika melihat ada komik. Komik sinchan lagi. Otaknya segera berpikir, apa itu buku punya adeknya ya? Tapi kok bisa nyasar di dalam tasnya?.“Gue suka sama Rey."Komik sinchan yang sedari tadi di bolak balik Irma langsung jatuh di meja. Ia segera menatap kearah Vhany yang tampak menunduk malu, tak menyadari ekpresi shock di wajah sahabatnya akan pengakuan yang baru saja keluar dari mulutnya.“Karena itu, gue mo minta bantuan sama loe. Loe kan temennya dia. Gue juga temennya elo kan? Jadi gimana kalau loe jadi mak comblang kita?”Irma diam terpaku. Dia tidak salah dengar kan? Vhany memintanya menjadi mak comblang untuk hubungannya dengan Rey yang jelas – jelas sudah di taksir olehnya sejak lama. Tidak, tidak. Kata ‘naksir’ sepertinya kurang tepat. Ini bahkan lebih dari itu. Ia dengan jelas menyadari kalau ia jatuh cinta pada tetangga sebelah rumahnya.“Loe mau kan bantuin gue?” tanya Vhany sambil mengangkat wajahnya. Tersenyum penuh harap pada Irma.“Gue….”“Stt… kita ngobrolnya entar aja. Pak Alvino masuk tuh,” potong Vhany sambil mengarahkan telunjuknya kearah pintu. Irma terdiam. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bahkan telinganya sama sekali tak mampu menangkap apa yang diajarkan Pak Alvino, Dosen sastra idola kampusnya. Pikirannya terfokus pada permintaan Vhany. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan?Dengan lemes Irma melangkah beriringan bersama Vhany yang kini tersenyum lebar. Sementara Vieta sepertinya menghilang entah kemana. Entah ia yang gila atau pun memang sedang setres. Tadi seusai pak Alvino keluar dari kelasnya Vhany kembali membujuknya. Bahkan ia sama sekali tidak sadar kalau kepalanya mengangguk menyetujui hingga membuatnya kini merasa penyesalan tiada henti. Ia juga bingung apa yang harus ia katakan pada Rey nantinya. Mana mereka rencananya hari ini mau jalan bareng lagi. Parahnya belum sempat ia menemukan jawabannya, kini sosok yang di maksud sudah tampak tak jauh dari hadapannya. Melambaikan tangan sambil berjalan menghampiri.“Pas banget. Jadi loe juga udah mau pulang ni?” tanya Rey sambil tersenyum manis. Irma membalas dengan anggukan. Ekor matanya melirik sekilas kearah Vhany yang terlihat sama sekali tak berkedip menatap kearah wajah Rey yang jelas – jelas sama sekali tidak menoleh. Karena saat ini Rey memang sedang menatapnya.“Ehem, gini Rey. Sory ya. Tapi kayaknya gue nggak bisa jalan bareng loe deh. Gue lupa, gue ada janji sama sepupu gue yang baru pulang dari luar negeri. Sory ya,” kata Irma sambil memaksakan diri untuk tersenyum.“Jadi? Kita nggak jadi jalan ni. Yah, padahal kan pembukaannya hari ini,” kata Rey terlihat kecewa.“Nah, kalau soal itu loe tenang aja. Kebetulan Vhany juga pengen benget pergi kesana. Loe pergi bareng dia aja."“Ya?” Rey tampak tak percaya.Sementara Irma sendiri terlihat serba salah. Perhatian Rey kemudian teralihkan kearah Vhany yang terlihat tersenyum manis.“Loe nggak keberatan kan pergi bareng gue?” tanya Vhany kearah Rey.Rey tidak segera menjawab. Sekilas ia melirik kearah Irma yang tampak menunduk. Dihelanya nafas untuk sejenak sebelum kemudian menjawab.“Tentu saja tidak. Kalau gitu ayo kita pergi bareng."Mendengar kalimat barusan Irma langsung mendongak. Menatap tak percaya kearah Rey yang kini sedang menatap Vhany sambil tersenyum. Irma tiba – tiba Merasakan dadanya terasa begitu sesak. Ia merasa begitu sulit untuk bernafas. Jujur saja ia merasa sangat kecewa. Kenapa Rey begitu cepat menyetujuinya.“Sory Ir, gue duluan,” balas Rey sambil mengajak Vhany berlalu pergi. Sama sekali tak menoleh kearah Irma, apalagi sekedar untuk mendengar balasannya.“Da Irma,” pamit Vhany sambil melambaikan tangannya. Irma masih terpaku di tempat. Menatap Kepergian kedua orang ‘sahabatnya’ yang terus melangkah menjauh. Dengan cepat tangannya terangkat mengusap wajah. Matanya terasa perih tapi sebisa mungkin di tahannya. Ia sama sekali tidak punya alasan untuk menangis bukan? Akhirnya dengan langkah gontai ia kembali ke rumah.Sesekali Irma mengintip dari balik gorden jendela rumah. Ia pasang telinganya baik – baik. Bahkan ia sengaja menghilangkan volume TV yang di tontonnya. Walau dalam kenyataanya benda itu hanya terlihat sebagai objek pajangan agar ia tidak terlihat bengong seperti orang bodoh. Sejak sepulang kuliah tadi ia menunggu bahkan sudah hampir jam 18:00 sore ia masih belum melihat kemunculan Rey di halaman rumahnya. Apa mungkin seasik itu acara jalan – jalan mereka.Bertepatan dengan suara Adzan maghrip dari Mushala yang tak jauh dari rumahnya, telinga Irma menangkap suara mesin motor yang sudah sangat familiar. Sepertinya Rey baru pulang. Irma segera bangkit berdiri. Tapi tentu saja bukan untuk menghampiri Rey melainkan beranjak ke kamar mandi, mengambil wudhu. Saat nya menyambut panggilan ilahi. Diatas apa pun, kewajiban pada yang maha kuasa harus lebih di utamakan.Keesokan harinya, Irma sengaja bangun lebih pagi dari biasa. Setelah siap- siap untuk kuliah ia segera duduk – duduk di bangku bawah pohon jambu depan rumah . Menanti Rey menjemputnya. Tumpangan gratis ke kampus sejak jaman antah berantah.Saat melihat Rey yang baru melewati pagar rumahnya, Irma segera berdiri, melangkah menghampiri dengan senyum di bibir. Namun senyum itu langsung lenyap mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rey untuk pertama kalinya.“Ir, sory ya. Hari ini gue nggak bisa bareng sama loe. Kemaren gue udah janji buat menjemput Vhany."“O…” Irma menghentikan langkahnya. Jelas raut kecewa terpancar di wajahnya.“Loe nggak papa kan? Soalnya kemaren gue sudah terlanjur janji. Membatalkan janji secara sepihak tanpa alasan yang jelas tentu akan terasa sangat menyebalkan bukan?” tanya Rey lagi. Irma terdiam dengan wajah menunduk. Jujur ia sangat kaget mendengar ucapan Rey barusan. Jelas ia merasa sangat tersindir. Di helanya nafas untuk sejenak sebelum mulutnya terbuka untuk menjawab.“Gue nggak papa kok. Gue bisa naik bus. Ya sudah loe pergi aja. Kasian Vhany nya kalau harus menunggu lama,” Irma berusaha tersenyum paksa. Mengubur dalam – dalam rasa kecewa yang jelas dirasakannya. “Oh, ya sudah kalau begitu. Sory gue duluan ya,” pamit Rey.Irma hanya membalas dengan anggukan. Dengan cepat Rey melajukan motornya. Sesekali ia menatap kearah kaca spion motornya. Menatap Irma yang masih berdiri terpaku. Di helanya nafas untuk sejenak. Jelas merasa kecewa karena gadis itu sama sekali tidak mencegahnya. Dasar bodoh, apa yang telah ia lakukan?Irma masih berdiri terpaku, menatap Rey yang semakin menjauh. Dengan langkah berat ia berbalik. Tiba – tiba ia merasa malas untuk ke kampus. Terserah mau kemana pun. Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu Part 02Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Cinta Romantis “Kenalkan Aku Pada Cinta”

    Cuap – cuap : Ide cerpen cinta romantis ini sebenernya udah lama. Lama banget. Tapi berhubung masih punya utang sama erwin terpaksa di tunda mulu. Nge'endingin cerpen kala cinta menyapa dulu. Nah, berhubung tu cerpen sekarang udah end, so akhrinya cerpen ini bisa terealisasikan juga.Happy Reading ya…."Jika memang Lelucon, Ini sama sekali nggak lucuJika tentang harapan, Harapan ini terlalu semuJika hanya kebetulan, ah kenapa selalu hanya sebuah kebetulan yang terus berlanjut?… #Edisi galau…sebagian

  • Hate The Rain

    Hate The Rainoleh: Farhatul AiniTetesan air dari langit yang datangnya tak pernah terduga, kadang dia datang begitu lama sampai seseorang menangis membutuhkannya, namun tidak dengan aku, terlalu banyak kenangan dan kesakitan yang tercipta karena hujan, dan kini aku benci hujan.Hari ini langit menghitam terlihat di pekarangan sekolahku, hal yang biasa karena sekarang sedang musim penghujan, tetesan benih airnya mulai turun dari atas langit kejauhan sana. Semua yang berada di luar kelas kini masuk ke dalam ruangan membuat kelaspun menjadi sempit dan ramai karena suara anak-anak yang tak bisa diam, itulah kebiasaan ketika belum ada guru pengajar masuk.mata pelajaran terakhir telah dimulai, walaupun pembelajaran agak terganggu dengan curah hujan, namun bu guru tetap melanjutkan belajar sampai bel pulang sekolah.Musim penghujan benar-benar menghambat aktivitasku, hujan tak berhenti sampai pulang sekolah tiba, kini aku harus berjalan ke depan halte sekolah, namun ketika kakiku baru melangkah keluar kelas tiba-tiba terlihat Kevin, kakak kelasku berdiri di luar seperti sedang menunggu seseorang. Dan dia menyapaku rupanya.“Ness, mau ga pulang bareng kakak ?” sapa kevin dengan tiba-tibaPerasaan tak diduga saat itu, aku memang sedang dekat dengan Kevin, tapi selama kedekatanku tak pernah ku berfikir dia akan seberani itu langsung mengajakku pulang bersamanya. “Tapi ka, sekarang hujan aku harus pulang sampai hujan berhenti.”“Gapapa Ness, kakak bakal tunggu kamu sampe hujan berhenti biar bisa pulang bareng kamu.”Beberapa kali aku menolak, namun Kevin tetap memaksa untuk menunggu.akhirnya aku menunggu hujan berhenti bersama Kevin. Lama sekali sampai suasana sekolah sepi mungkin hanya kita berdua disitu.Dikeadaan suasana yang sepi, romantis dan hanya kita berdua duduk di depan kelas dengan memandang hujan turun, tiba-tiba Kevin membalut tanganku dengan tangannya lalu tatapan tajam keluar dari matanya menatapku dengan keseriusan. “Ness kakak sayang kamu, mau ga kamu jadi pacar kakak ?"Tanpa berbasa-basi kevin menyatakan cinta padaku, aku sontak binTgung, kaget, dan tak pernah terfikirkan.“Tapi kak, kita kan baru kenal.”“Tapi kakak sayang sama kamu, mungkin terlalu cepat apa yang kakak katakan, jangan lihat seberapa lama waktu kita bertemu dan mengenal, lihatlah ketulusan kakak.”Melihat tatapan matanya terasa ada ketulusan, dan disitu aku benar-banar luluh dengan perkataannya.“Baiklah, sebenarnya aku juga sayang sama kakak.”“Jadi sekarang kita pacaran?” Dengan malu-malu Nessa menjawab.“Ya, kita pacaran.”Tanpa befikir panjang, Kevin langsung mencium kening Nessa dan memeluknya, pelukan hangat pertama yang Nessa rasakan dari seorang kasih yang amat ia sayang sekarang.Perbincangan yang cukup lama dan tidak membosankan membuat hari semakin sore dan gelap tanpa hujan berhenti aku dan Kevin memutuskan untuk pulang.masih terasa rintikan hujan yang tak henti motor kevin melaju kencang menuju arah rumahku, disaat perjalanan kevin menarik erat tanganku, membalutnya kelingkar pinggangnya, terasa sekali ada perasaan berbeda dihatiku. Getaran cinta yang terasa semakin yakin bahwa dia akan menjadi kekasih terindahku. Laju Kecepatan motor yang kencang, membuat tanganku semakin erat memegang lingkaran pinggang kekasihku, dan tanpa terasa seperti ada suara gesekan ban dengan aspal yang sangat keras, membuat telinga terasa sakit untuk mendengarnya, lontaran dan suara jeritan terdengar samar-samar lagi semuanya terasa gelap dan hilang, namun rasa sakit di tubuh ini sangat terasa.· ****Saat mata masih terpejam mata rapat, namun pikiranku terasa hidup kembali, membayangkan gesekan ban motor yang kencang lalu mengingatkanku pada kevin, ingin aku teriak dan memanggil namanya namun susah dan sakit sekali, pelahan ku membukakan mata dengan susah payah, ku lihat disekelilingku terdapat Ayah dan Bunda yang menggemgam erat tanganku, dan beberapa keluarga, teman dekat lainnya rupanya mereka sudah menanti kesadaranku namun hanya satu yang tak terlihat Kevin, dimana dia ? aku benar benar merindukannya ? ingin melihat wajahnya, semuanya tentang dia?Ayah dan Bundapun langsung menanyakan keadaanku.“Bagaimana keadaanmu sayang.”ku jawab dengan terpatah-patah“Sakit, pusing. Dimana kevin bun ?”namun Bunda diam saja, aku yakin mungkin Bunda belum mengenal Kevin karena kita baru jadian dan aku belum sempat mengenalkannya pada Bunda.Lalu Lala mendekat mengahampiriku, dia sahabat dekatku. Berkata sambil membelaiku penuh rasa kasihan.“Ness, kamu yang sabar yah.”“Ada apa si la, ayo critain apa yang terjadi ?” kepala ku mendadak pusing“Kevin sudah tenang disana, kamu gausah khawatir.”“Tenang dimana la, Kevin baik-baik saja kan ?”Tiba-tiba Bunda juga ikut membelaiku, Lala dan bunda ikut mengeluarkan air matanya.“Nessa, Kevin ga bisa selamat. Tapi Bunda bersyukur kamu masih bisa bertahan sayang.”Perkataan Bunda tadi serasa langsung menusuk paru-paruku, membuatku ingin berhenti bernafas saja, otakku tak bisa berfikir jernih lagi. membuatku ingin lari dan memeluk kevin. Pelahan-lahan semuanya kembali normal, dan ku keluarkan air mata yang sejak tadi rasanya ku tahan. * * *Kini ku lari dan ku lihat disana kevin sudah tak berdaya, tubuhnya memar dan bekas darah yang masih memerah terlihat disekujur tubuhnya, namun dia tetap kevinku yang aku sayang, dia tetap terindah untukku.Ingin ku menyalahkan diriku atas semua ini, rasanya benar-benar aku ingin sekali menolak takdir ini, dibalik semua itu aku terfikirkan jalan aspal yang licin dan gesekan ban yang kencang dan itu semua dibuat oleh hujan. Dan hujan telah menjadi saksi cintaku dengan Kevin, mengingatkanku pada semua tentang Kevin.—fb : Farhatul.aini@yahoo.comtwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comemail : ainibarnessa@yahoo.co.id

  • Cerita SMA “Be The Firs & The Last”

    Hallo Reader Star Night. Star Night datang lagi ni. Kali ini dengan Cerita SMA , Cerpen Kiriman dari Salah satu Reader Star Night. Gimana ya Ceritanya?. Langsung sama – sama kita cek yuks. Lets Go…..Credit gambar: Ana MeryaCerita SMASophia, terkenal sebagai cewek palinnngggg jutek di sekolah SMP 1. Dia sebetulnya baik, tapi dia tidak suka ama yang namanya ‘cowok’. Kejadiannya, dia pernah diputuskan oleh mantan pacarnya dengan alas an yang sangat tidak masuk akal. Coba aja pikirkan, masa alasannya karena, Tony (mantan pacar Sophia) sudah bosan dengan Sophia. Jelas saja Sophia langsung pergi dengan hati remuk. Rasa marah, sakit hati, kesal bercampur aduk jadi satu. Vanes dan Dila, BFFnya Sophia mencoba untuk menghibur Sophia. Yang malah jadinya, Sophia tambah marah dan mulai bersikap super jutek. Di hadapan cewek-cewek, Sophia adalah orang terbaik dan tersabar di dunia. Di hadapan cowok-cowok, dia bagaikan iblis dibalik malaikat.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*