Cerpen Romantis: Kenangan Yang Terlupakan

Kenangan yang Terlupakan
Cerpen oleh Bella Danny Justice
“sialaaaaann!!!!!” teriak perempuan itu dengan histeris.
“eh kenapa sih kamu Jes?!” Tanya teman sebangkunya dengan pelan.
“Julian sialaaaann!!!” seru perempuan itu lagi dengan mimik kesal dan pipi merah padam menahan sebal.
“Jessica! Kamu kira pelajaran saya pelajaran seni musik apa?! berdiri dan angkat 1 kaki kamu di luar kelas!” hardik Ibu guru yang sedang menjelaskan pelajaran, dan merasa sangat terganggu oleh suara lantang dari Jessica.
Dengan pasrah dan agak menyesal akhirnya Jessica meninggalkan tempat duduknya, dan menjalani hukuman dari Bu Priyati sang guru Matematika. Selama 2 jam pelajaran, Jessica yang hanya berdiri tegap itu terus memanyunkan bibirnya dan ngedumel dalam hati soal cowok bernama Julian. Entah kenapa Jessica sangat tidak menyukai cowok itu, padahal Julian adalah sepupunya! Julian sendiri sering datang kerumah Jessica untuk main, tapi kali ini dia sangat-sangat kesel terhadap saudaranya itu.
Cerpen Kenangan Romantis Sesampainya dirumah, ia mendapati lagi Julian dirumahnya sedang bercakap-cakap diruang tamu bersama mamanya. Jessica tidak menghiraukan kehadiran saudaranya dan langsung berlenggang menuju kamarnya di lantai 2. Tapi saat ia baru mau menaiki anak tangga tiba-tiba suara itu datang..
“Jessica, ini ada saudara datang ko ga dikasih salam malah langsung nyelonong gitu aja kaya bajaj?” sahut mama Jessica.
“dia udah sering dateng jadi ngapain harus aku selalu kasih salam. Udah ah, aku mau ganti baju dulu ma.” Ujarnya ketus lalu melanjutkan lagi langkah kakinya menuju kamar.
“maaf ya Ju, Jessica emang sifatnya keras kepala.” Kata mama Jessica yang menyampaikannya dengan sedikit ga enak hati pada Julian yang sedang meneguk sirup cocopandannya.
“ngga papa tante. Itu juga aku udah tau, dari kecil dia emang kaya gitu sifatnya hehe. Aku mau langsung ke kamarnya aja ah. Permisi ya tan.” Ucap Julian yang memaklumi sifat Jessica. Ia pun langsung menuju ke lantai 2 ke kamar Jessica. Tanpa ragu-ragu Julian langsung membuka pintu kamar cewek itu dengan nada mengagetkan.
Bersamaan dengan pintu yang terbuka. “WWOOOY!!!” didapatinya Jessica yang memakai tank top hitam sedang sibuk memilih baju rumah yang biasa ia pakai.
“eh gilaaaa!!! Aku lagi ganti baju dodol! Sana pergi!!” seru Jessica yang kaget akan tingkah Julian.
“lebay banget, kamu kan masih pake tank top ngga telanjang ini!” tuturnya enteng.
“ihh dasar mesum!! Tutup lagiii pintunyaaaaaa sekaraaaanggggg!!!!” teriak Jessica dengan sekuat tenaga. Julian yang merasa gendang telinganya sebentar lagi akan pecah langsung menuruti perintah sepupunya itu.
“eh Jes, gila ya?!! Kamu pengen bikin aku budek karena suara kamu yang cempreng dan nyaring itu?!” kata Julian.
“iya! Aku pengen bikin kamu tuli! Jangan pernah dateng kerumah aku lagi! Aku ga suka sama kamu!” jawab Jessica tanpa ragu dari balik pintu kamarnya.
Sejenak tidak ada suara balasan dari Julian, lalu suara itu muncul lagi dengan nada pelan. “Jes, dengerin dulu..aku mau ngomong sebentar.”
Otak Jessica mulai berpikir, ada apa sih sama saudaranya itu?! Kenapa dia selalu datang kerumahnya dan ingin sekali dekat dengan dirinya? Apa Julian sudah gila? Setiap hari dia nerima aja omelan serta teriakan Jessica yang menolak untuk bertemu dengannya. Meskipun di marahin abis-abisan setiap ketemu tapi tetep aja Julian ga pernah absen dateng kerumah Jessica.
“Julian, siapa sih dia?! Aku ga inget punya sepupu/saudara namanya Julian? Aku ga bisa inget siapa dia! Tapi kenapa nama itu bikin kepala aku pusing setiap kali memikirkannya?” ujarnya dalam hati. Julian…Julian…Julian… Pandangan Jessica mulai kabur, kepalanya pusing, entah kenapa badannya seperti tidak seimbang dan melayang-layang.
“Jes, tolong buka pintunya sebentar..” ucap Julian yang mulai penasaran kenapa sedaritadi hanya hening yang ia dengar dari kamar Jessica, kemudian dengan hati-hati ia pun membuka pintu kamar Jessica, didapatinya perempuan itu pingsan!! Segera Julian dengan wajah panik menggendong Jessica ke tempat tidurnya dan memberitahu tante Christy tentang keadaan anaknya. Saat itu Julian benar-benar seperti orang kalap! Hanya melihat Jessica yang tergeletak pingsan saja membuatnya seperti ingin mati menyelamatkan cewek satu itu. Tante Christy yang memperhatikan gerak-gerik Julian pun berkata: “Ju, kamu tidak lelah dengan semua ini?”
“jangan berkata seperti itu dulu tante, sekarang ngga tepat waktunya.” Kata Julian yang mengusapkan minyak kayu putih ke kening dan hidung Jessica.
“aku pulang dulu, kalau Jessica sudah siuman jaga dia ya tante.” Ucap Julian.
Setelah berpesan pada Tante Christy, Julian pun pergi dari tempat itu. Ia memang merasa sangat lelah dengan ini, tapi sekarang belum sempat baginya untuk menjelaskan. Sedangkan, Tante Christy yang setia menunggu anak semata wayangnya itu siuman sampai-sampai tertidur karena cukup lama Jessica tidak sadarkan diri.
“ica, kamu jangan ikutan main bola ya! Nanti mama kamu marah sama aku kalo kamu kenapa-kenapa.”
“gak papa ian!! Ica mau ikut main bola pokoknya!” ucap anak perempuan berumur 8 tahun itu.
“kamu liatin aku aja ya. Ica kan cewek ga pantes main bola.” Kata Ian yang berusaha melarang Ica untuk ikut bermain bola.
“iyauda, yang penting aku ikut Ian.” Senyum manis Ica pun langsung terpampang jelas di wajah lugunya. Ian sangat senang mempunyai teman kecil seperti Ica, Ica beda dengan anak cewek yang lainnya. Pasalnya, Ica ga cengeng seperti kebanyakan anak-anak cewek seusianya, Ica juga agak tomboy karena dia suka main sama anak-anak cowok terutama sama Ian. Hal itu membuat dua anak kecil ini tumbuh bersama-sama. Sampai masuk playgroup,TK, SD pun mereka tidak terpisahkan, dan sangat dekat. Tapi suatu hari kabar buruk pun datang untuk Ian.
“Ian, Ica besok mau pindah rumah jadi kita ga bisa main sama-sama lagi deh.” Ujar Ica dengan isak tangisnya yang malu melihat wajah Ian.
“Ica memangnya mau pergi kemana?” Tanya Ian.
Dengan berderai air mata Ica berusaha berbicara. “Ica juga ngga tau Ian, tapi yang jelas pindahnya jauh. Kita jadi ga bisa ketemu lagi.”
Sejenak anak cowok bernama Ian itu terdiam akan kabar yang sangat mengagetkan ini. Ia tidak tau harus berkata apa, tapi yang pasti hatinya sangat terpukul bahwa Ica akan pergi meninggalkannya. Akhirnya anak cowok itu pun membuka mulutnya “Ica, kamu tenang aja. Ian pasti akan temuin Ica, Ica jangan takut. Ica mau janji ngga sama aku?”
“janji apa Ian?” Tanya Ica masih dengan tangisnya yang tak berhenti.
“Ica janji ya akan tunggu Ian? Jangan lupa sama Ian.”
“Ica ga mungkin lupa Ian! Ian temen Ica yang paling baik! Ica janji, tapi Ian harus ketemu Ica lagi.”
“Ian…Ian…Ian…”
Mama Jessica langsung terbangun saat mendengar anaknya bergurau nama Ian. Sang mama pun langsung menyadarkan Jessica dari gurauannya itu. Setelah diberi air putih oleh mamanya dan bersandar di punggung kasur beberapa saat, keadaan Jessica terlihat kembali normal dan ia pun membuka topic “ma, Ian itu siapa? Tadi aku mimpi tentang masa kecil aku sama cowok bernama Ian.” Ucap Jessica lemah.
Mamanya kaget ketika Jessica bertanya seperti itu. “memangnya kamu ingin tau tentang dia?” Tanya mama yang membuat Jessica semakin penasaran di kondisinya yang masih limbung itu.
“cepetan kasih tau aku ma siapa Ian itu!” kali ini Jessica berkata dengan sedikit menaikan intonasi pembicaraannya.
“Ian adalah Julian…”
Belum sempat melanjutkan penjelasan, Jessica langsung memotong perkataan mamanya dan tampak begitu kaget. Keadaan yang tadi lemah kini tiba-tiba entah bagaimana menghilang dari tubuh Jessica. “mama jangan bercanda!! Julian itu saudara aku!!”
*** “Ica, apa kamu sudah benar-benar ngelupain aku? Tidak adakah sedikit sisa kenangan tentang aku di hatimu?” kata Julian sambil meraih foto waktu ia kecil bersama dengan Jessica dan terus memandanginya.
“Julian..” suara yang tidak asing itu memasuki kamar Julian dan menghampiri dirinya.
“papa?”
“kamu sudah berusaha sangat keras terhadap Jessica, jadi bagaimana keputusan kamu? Kalau kamu merasa segalanya sudah tidak mungkin dapat kembali lagi, papa ingin kamu meneruskan sekolah ke luar negri.” Kata papa Julian yang memegang bahu putranya.
Julian tidak berani memutuskan untuk pergi ke luar negri, walaupun semuanya terasa mustahil untuk diingat kembali tetapi ia tidak bisa meninggalkan Jessica. Janjinya dulu terhadap teman kecilnya itu membuatnya tak bisa pergi dari Jessica, meski Jessica tidak mengenal dirinya…
“putuskanlah besok, papa tidak mau kamu terus terjebak dengan masa lalumu yang bahkan tidak dapat diingat oleh Jessica.”
***

I'll find you somewhere
I'll keep on trying
Until my dying day
I just need to know
Whatever has happened
The truth will free my soul
Wherever you are
I won't stop searching
Whatever it takes me to know
(Within Temptation – Somewhere)

Lagu dari band favorit Julian begitu melukiskan kisahnya akan Jessica. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu teman kecilnya itu, dan hari ini juga akan dia putuskan untuk meneruskan sekolah diluar negri atau tetap melanjutkan perannya yang memilukan.
Setibanya dirumah Tante Christy, Julian langsung disambut dengan hangat. Ia duduk diruang tamu dengan gelisah dan terus memikirkan perkataan papanya semalam untuk pergi sekolah ke luar negri.
“sebentar ya Julian, tante tinggal dulu.”
“iya ngga papa tante.”
Menunggu, menunggu dan menunggu…beberapa puluh menit ia menunggu Tante Christy yang tak kunjung kembali, padahal ia ingin menyampaikan pesan kepada Jessica melalui Tante Christy untuk yang terakhir kalinya.
“Julian..” terdengar suara perempuan yang tak salah lagi adalah…Jessica!!
“oh, J, Jess..keadaan kamu udah membaik?” ucap Julian dengan terbata-bata dan terlihat seperti orang kikuk.
“keadaan aku ternyata ga pernah baik selama ini, iya kan?” perkataan Jessica membuat Julian kebingungan atas apa yang ia bicarakan.
“apa maksud kamu?” Tanya Julian singkat.
Jessica tampak termenung, ia menundukan kepalanya menatap lurus lantai rumahnya. Julian yang kebingungan juga jadi ikut-ikutan terdiam tak bergeming. Hening kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka. Tak ada yang berani membuka mulut lebih dahulu, Jessica pun belum menjawab pertanyaan Julian yang tak mengerti akan perkataannya. Namun, beberapat saat Jessica mulai kembali berbicara.
“Ian…kenapa terus menunggu Ica? Padahal Ian udah temuin Ica, tapi kenapa Ian pengen Ica ngga kenal sama Ian? Mama udah ceritain semuanya.” Ucap Jessica yang memanggil Julian dengan sebutan masa kecilnya dulu, ia merasa sangat menyesal karena selalu bersikap kasar kepada Julian yang ternyata adalah Ian teman dekat waktu ia kecil dan bukan saudara/sepupunya!
Kata-kata dari mulut Jessica yang memasuki telinga Julian membuat matanya terbelalak, ia melihat Jessica yang mulai meneteskan air mata dan terlihat begitu sedih karena merasa sudah dibohongi oleh dirinya. “aku ga pernah berniat membohongi kamu Ca, tapi kecelakaan yang membuat kamu hilang ingatanlah yang menjauhkan kita. Aku merasa percuma saja kalau aku mengatakan bahwa aku adalah Ian teman kecil kamu, sedangkan kamu tidak mengingat apa pun tentang aku. Jadi, aku putuskan untuk menunggu dan berpura-pura menjadi saudara kamu. Ini semua begitu menyakitkan bagi aku..melihat kamu setiap hari yang tidak mengenal aku..itu sangat menyakitkan.” Seketika itu Julian mulai meneteskan beberapa derai air mata yang mengalir di pipinya.
“aku minta maaf. Aku nggak tau kalau kamu telah begitu menderita karna aku, aku memang ngga pantes jadi temen kamu.” Tangis Jessica meledak setelah mengucapkan kalimat itu, ia tidak tau bahwa selama ini Julian berusaha mencarinya dan menunggunya di balik kenangan yang terlupakan oleh Jessica.
“kamu memang bukan hanya teman, tapi kamu adalah perempuan yang membuat aku bisa menunggu begitu lama dan itu membuat aku sangat menyukaimu. Aku suka sama kamu Ca, dari semasa kita kecil, kita berpisah, aku temuin kamu, aku berpura-pura, dan bahkan sampai saat ini.” Ujar Julian yang mengakui perasaannya yang terpendam selama ini. Setelah bertahun-tahun terpisah dan berpura-pura akhirnya ia dapat mengucapkan kata-kata yang tertahan sudah begitu lama di hatinya.
“aku…aku juga menyukai kamu Ian, dari dulu..maaf aku pernah melupakan kamu.” Ujar Jessica dengan lirih.
“oia, aku ga mau manggil Ian lagi, karena nama itu adalah masa laluku yang terlupakan, dan sekarang yang ada dihadapan aku itu Julian. Jadi kamu juga jangan panggil aku Ica lagi. Kalo kamu ngga panggil Jessica, aku ga jadi suka ah.” Kata Jessica yang tertawa kecil sambil menghapus tangis di pipinya yang sudah agak mengering.
“habis nangis ketawa makan gula jawa nih ya?” goda Julian yang menyunggingkan senyum manisnya pada Jessica.
“iiihhh!!!! Ngeselin!!!” ucap Jessica yang merasa kesal digodai padahal ia berkata serius.
“ok, ok..Jessica I heart U.” goda Julian lagi.
“iiih!! Apaan sih kamu! Aku tuh ngga suka sama Sm*sh!” serunya dengan nyaring.
Kejadian yang tidak disangka ini pun terjadi. Julian yang mengira usahanya selama ini akan berhenti sia-sia juga masih tidak percaya bahwa hari seperti ini, hari yang ia dambakan datang padanya. Jessica yang 9 tahun sudah menghilang dan ia temukan kini dapat mengingat kembali dirinya. Rencana untuk meneruskan sekolah ke luar negri pun ia batalkan. Tante Christy yang menyaksikan dari jauh sangat senang melihat bahwa anaknya dapat mengingat kembali semua hal yang pernah terlupakan.
“Jessica…ternyata aku memang tidak bisa meninggalkan kamu. Rasa sayangku terlalu besar dari keberanianku untuk berhenti menunggu saat seperti ini. Aku sangat menyayangimu.” Kata Julian dalam hati yang diiringi pelukan hangatnya dengan Jessica.

Say my name, so I will know you're back
You're here again for a while..
Oh, let us share the memories that only we can share together..
Tell me about the days before I was born, how we were as children..
(Within Temptation – Say My Name)

TAMAT
Oleh : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeee-mail : alexa.bella14@yahoo.com

Random Posts

  • Cerpen Tentang Rasa Bagian 3 {update}

    Nah kalau sebelum nya penulis kan udah update cerpen tentang rasa part 2, so kali ini tinggal part tiga nya donk. Alon alon ae lah, seng penting kelakon (???).Lagi pula "Mellisa" bener, kalau kita selalu berusaha memandang semuanya dari segi positif hasilnya juga positif.Paling nggak dengan di "Paksa" update penulis bisa kembali mengulang cerita yang telah sempat terlupakan.Okelah, akhir kata, as always happy reading.Credit gambar : Ana MeryaDengan napas yang masih terlihat ngos – ngosan, Anggun menjatuhkan tubuhnya keatas rumput – rumput taman kompleks. Untuk sejenak ia berusaha menetralkan kembali kerja jantungnya untuk kembali berdetak normal, Walau hatinya masih terasa gundah tapi tak urung ia mampu bernapas lega. Angan nya menerawang memikirkan nasibnya.sebagian

  • Melati Ini Untukmu Kawan

    Melati Ini Untukmu Kawanoleh: Triana Aurora Winchester – Air mata ini tak hentinya mengalir di wajahku yang tertunduk lemas memandangi gundukan tanah merah pemakaman yang hampir merata. Rangkaian melati segar yang sengaja kubawa jauh jauh dari kota asalku Kendal pun kini ikut layu seakan menandakan akhir dari sebuah janji dan harapan indah untuk kembali bertemu.Aza, seorang kawan yang telah merubah penilaian rendahku selama ini tentang pria. Sebelum aku mengenal Aza, aku selalu menganggap semua pria itu sama, tak ada yang berhati dan berotak, dan hanya dalam masa dua bulan kebersamaanku dengan Aza, hidupku kini telah banyak berubah ke arah yang lebih baik.Aku bertemu dengan Aza kira-kira tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 januari 2010, saat kami sama-sama menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah TV komunitas yang berada di daerah Magelang.Aza datang dari Medan, sedangkan aku asli jawa tengah, jadi seringkali perbedaan kata dan logat bicara menjadi hal yang baru dan lucu bagi kami.Tak ada yang spesial di awal perkenalanku dengan Aza, karena waktu itu pun aku menganggap Aza tak lebih dari pria bodoh, namun ternyata, waktu yang singkat telah mampu merubah anggapan itu..Airmata bagiku adalah hal yang mustahil untuk hilang dari hidupku, dan kawan, tak lebih dari lawan yang bersembunyi dibalik senyuman yang sewaktu-waktu dapat menciptakan lebih banyak air mata.Seperti waktu itu, saat semua anggota kelompok tugas filmku tak ada yang bertanggung jawab dengan tugasnya masing masing, sedangkan posisiku waktu itu adalah ketua kelompok yang paling bertanggung jawab atas jalannya produksi film yang ditugaskan oleh bapak Tanto, pembimbing PKL kami.Kelemahanku adalah ketidak tegasanku, dan menangis adalah hal tak berguna yang ku ketahui namun tetap kulakukan karena hanya itu yang bisa kulakukan dalam ketidak berdayaanku, itu pendapatku yang dikatakan bodoh oleh Aza,"Bodoh kali kau! jalan pikiranmu itu tak secerdas naskah yang kau buat!!" ucap Aza dengan nada tegas dan bijak saat tiba-tiba menemuiku yang sedang menyendiri dan menangis di belakang studio tv."Mereka susah kali diaturnya Za.." jawabku lemas.Aza lalu memetik tiga buah bunga melati yang banyak tumbuh di belakang studio, Ia lalu memberikannya satu kepadaku."Ni makan, kau suka melati kan…?" pintanya dengan serius, aku bingung, aku memang sangat suka melati, tapi aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk memakannya."Ah gila kau! orang lagi stres gini disuruh makan melati!" jawabku kesal."Itulah kau, hanya mau menikmati keindahan dan wanginya saja.., padahal ada kenikmatan yang luar biasa jika kau mau merasakannya.." ucap Aza sambil memakan satu melati, Ia mengunyah melati itu dengan santainya lalu menelannya. Aku hanya melihatnya dengan terbengong."Ih, kau gila..! kan rasanya pahit…!!" ucapku pada Aza."Sok tau kau! emang kau pernah makan melati?" tanyanya dengan santai. Aku hanya menggelengkan kepala."Terus darimana kau tau kalau melati ini pahit..?" lanjut Aza, akupun tak mampu menjawabnya karna memang aku tak tau."Itulah yang membuat dirimu selama ini gak happy, kau hanya melihat segala sesuatunya hanya dari sudut pandang yang mudah terlihat tanpa mau melihat yang tak terlihat, padahal disitulah kau akan menemukan makna dan hikmah dari semua masalahmu..dan kau selalu memvonis buruk semua yang sebenarnya belum kau ketahui kebenarannya.." jelas Aza dengan penuh kedewasaannya yang membuatku terkagum-kagum tapi tetap tak mengerti maksud dari kata-katanya."Maksudnya? aku gak mudeng.." tanyaku dengan tampang blo'on.Aza lalu membuka telapak tangan kananku dan memaksaku menerima satu melati yang tersisa ditangannya."Kau makanlah melati ini, baru kujelasin ntar.." jawab Aza, Ia lalu pergi meninggalkanku.Sejak hari itu aku dan Aza sangat dekat, meski aku dan Aza memiliki adat yang jauh berbeda, namun kedewasaannya dan cara berpikirnya yang bijak telah membuatku merasa nyaman saat aku bersamanya. Diapun kuanggap sebagai abangku sendiri. Azalah yang selalu menemukanku saat menyendiri dan menangis. Ia selalu menenangkanku dengan kata-katanya yang bijak meski tak kumengerti.Dan tibalah saat menyedihkan yang tak ingin kulalui namun itu tetap terjadi, itulah saat perpisahanku dengan Aza. Tak terasa waktu dua bulan telah berlalu, dan kami harus kembali ke jalan hidup sebelum kami bertemu. Aku harus kembali ke Kendal untuk melanjutkan sekolahku, begitu juga dengan Aza.Pagi itu aku sengaja menjauh darinya agar tak ada air mata perpisahan, namun itu hanya sia-sia, Aza kembali menemukanku di belakang studio."Kenapa belum pulang kau??!!" tanya Aza yang mengagetkanku."Kau ngusir aku??" jawabku kesal. Aku berusaha menahan airmataku agar tidak keluar dan dilihat Aza, tapi nampaknya Aza sudah tau. Ia lalu duduk disampingku, satu tetes air mata tak mampu ku kendalikan dan mengalir di pipiku, saat aku ingin segera mengusapnya dengan tanganku, tiba-tiba Aza mencegahnya."Kalau mau nangis ya nangis aja, mungkin ini adalah saat terakhir kita ketemu.." Ucap Aza dengan serius, matanya tajam menatapku, memang tak ada air mata di sana, namun kesenduan itu terlihat jelas di wajahnya. Akupun tak bisa lagi membendung air mataku yang akhirnya ku biarkan keluar.Aza hanya diam membiarkanku menangis, Ia lalu memetik dua melati dan memberikannya satu untukku."Ini permintaanku yang terakhir kali.., makanlah.." pintanya kepadaku. Aku menerima melati itu, namun aku menggelengkan kepala tanda aku tak mau memakannya."Aku mau makan, tapi kau harus janji kalau kita bisa ketemu lagi…" pintaku dengan penuh air mata."Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?" jawab Aza. Aku tak mengerti kata-katanya. Aza lalu tersenyum dan mengacungkan jari kelingking kanannya tanda berjanji, Akupun lalu mengkaitkan jari kelingking kananku dengan Aza, dan kami pun berjanji."Ntar kau yang harus datang ke Medan, dan bawakan aku melati asli Kendal, akan kucoba gimana rasanya, kita makan melati bersama nanti.." ucap Aza sambil tertawa, meski kesenduan itu masih terlihat jelas di wajahnya. Aku pun ikut tersenyum, dalam hati aku berjanji akan memenuhi permintaannya."Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan kuberi, adakah jalan yang kau temui, untuk kita kembali lagi.." itu adalah lagu koes plus yang sering Aza nyanyikan untukku, dan hingga kini, aku sangat menyukai lagu lawas itu, hampir setiap hari aku melihat rekaman video saat Aza menyanyikan lagu itu.Tak terasa sudah 3 tahun aku berpisah dengan Aza, sejak satu bulan setelah kami berpisah, Aza sama sekali tak bisa kuhubungi, awalnya aku berpikir dia sibuk, tapi hingga kini Aza tak pernah memberiku kabar.Pagi itu, saat aku melihat video rekamannya, aku teringat dengan satu permintaannya agar aku mau makan melati. Aku pun segera menuju halaman rumahku, ada satu pohon melati yang tumbuh di sana, aku lalu memetik satu melati yang sudah mekar, kucoba mengambil satu kelopak bunganya dan perlahan kumasukkan ke mulutku, awalnya terasa pahit, tapi setelah aku mengunyahnya rasanya menjadi sangat berbeda dan tak bisa kuungkapkan dengan kata ataupun tulisan. (kalau kalian mau coba aja sendiri..hohoho). Aku lalu teringat janjiku untuk datang ke Medan dan membawakan melati asli Kendal untuknya.Entah apa yang merasuki hati orang tuaku, tiba-tiba saja mereka langsung mengijinkanku untuk berlibur ke Medan pada liburan semester tahun ini. Aku pun sangat senang dan tak sabar menanti hari itu, tak lupa aku juga membawakan melati yang kurangkai spesial untuk Aza.Akhirnya kuinjakkan juga kakiku di kota Medan ini, dan Aku segera menuju ke alamat yang dulu diberikan Aza sebelum kami berpisah. Kurang lebih satu jam dari bandara, aku sampai di sebuah rumah yang bercat dinding serba putih. Aku lalu mengetuk pintu rumah itu, tak berapa lama keluar seorang wanita paruh baya membukakan pintu untukku, ku pikir itu ibunya, dan ternyata itu memang benar ibunya.Aku lalu memperkenalkan diriku dan menyampaikan maksud kedatanganku untuk menemui Aza. Tiba-tiba ibu Aza menangis."Dulu Aza sering cerita tentang kamu, dia bilang, bertemu denganmu telah memberikan warna yang berbeda disisa waktunya…" ucap ibu Aza sambil mengusap air matanya dengan sebuah tissue. Aku bingung."Dulu??? emang sekarang Aza kemana??" tanyaku dengan penasaran.Ibu Aza tak berkata apapun, Ia lalu mengantarkanku ke sebuah tempat dan meninggalkanku sendiri di sana agar aku bisa leluasa memarahi Aza yang tak menepati janjinya."Kau kenapa jahat kali sama aku..!! kau janji kalau kita pasti akan ketemu lagi, kau minta aku datang ke Medan, sekarang aku udah datang Za…, aku juga sudah bawakan melati yang banyak asli dari Kendal untuk kita makan bareng, Melati ini Untukmu Kawan.. Kau jangan diam aja Za..!! bangunlah..!!!" ucapku pada satu raga yang hanya diam bersembunyi dibalik gundukan tanah merah.Air mataku tak hentinya mengalir, aku tak percaya Aza telah tiada, radang paru-paru telah menghancurkan sebuah janji dan harapan untuk kembali bertemu.Aku lalu memakan melati yang kubawakan untuk Aza meski sudah agak layu,"Kau lihat kan Za, aku udah makan melati ini, kau juga mau kan? ini.." Aku lalu menaburkan semua melati yang kubawa di atas pusara Aza."Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?"Ternyata memang Tuhan lebih dulu ingin bertemu dengan Aza, dan aku yakin pertemuan itu pasti lebih indah daripada pertemuanku dengan Aza.-THE END-NB : Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, tokoh, dan peran itu hanya kebetulan semata.by: Triana Aurora Winchester

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 04 /13

    Masih lanjutan dari cerbung Kala Cinta menyapa Part 04. Kisah seputar hubungan antara Erwin dan Rani yang merupakan cerpen requesan. Yang penasaran gimana lanjutannya. Untuk yang baru nemu cerpen ini, biar nyambung bagusan baca dulu bagaian sebelum dalam cerpen kala cinta menyapa bagian 3. Yang jelas selamat membaca aja ya…Kala Cinta MenyapaSepulang kuliah, Rani segera melangkah pulang kerumah. Sambil menunggu bus tumpangannya ia duduk menunggu di halte sambil membaca komik serial cantik yang sengaja ia bawa ke kampus. Bodo amat deh kalau ada orang yang meliriknya heran saat melihat ia yang sudah segede itu masih dengan santai membaca komik. Toh ia tidak merasa menganggu orang lain.Setelah beberpa saat menunggu akhirnya bus yang di tunggu pun muncul. Tapi karena keasikan membaca komik, Rani sepertinya tidak menyadari. Dengan santai ia masih anteng dengan bacaanya sampai kemudian bus kembali berlalu.Begitu menamatkan komik yang ada di tangannya Rani tersenyum puas. Lagi – lagi ending komik jepang berakhir happy ending dengan sangat romantis. Membuatnya merasa sama sekali tidak pernah bosan untuk mengoleksinya. Dengan segera komik itu ia masukan kembali kedalam tas. Pandangannya segera ia arahkan ke sekeliling. Sepi. Kenapa tidak ada seorang pun. Segera di lirik jam yang melingkar di tangan. Pukul sembilan tepat. Keningnya semakin berkerut. Kepalanya segera mendongak keatas. Menatap matahari yang jelas – jelas sudah condong kearah barat. Sejak kapan di sore hari ada pukul sembilan? Beberapa saat kemudian ia kembali mengalihkan tatapan kearah jam. Ups, pantas saja ternyata jarumnya sama sekali tidak bergerak alias jam mati. Wajar saja si, secara itu jam memang ia beli di perempatan toko kaki lima Tiga tahun yang lalu.Akhirnya diambilnya hape dari dalam saku tas. Mencet – mencet tombol untuk sesaat. Saat menatap tanggal yang tertera, kening lagi-lagi berkerut. Dengan cepat tangannya kembali memencet satu satu tombol itu, kemudian seulas senyum terukir di bibirnya.“Alhamdullilah, untung saja gue ketinggalan bus di tambah jam gue mati jadinya gue bisa ngutak – atik note di hape. Hufh, kalau enggak hampir aja gue lupa. Ternyata bener, bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada hikmahnya,” gumam Rani pada dirinya sendiri.Segera ia bangkit dari duduknya. Menoleh kekanan kiri. Saat matanya menemukan angkutan umum yang kebetulan lewat tanpa pikir panjang segera di stopnya. Tepat di depan Ramayana Swalayan ia turun.Mulai dari bagian pernak – pernik, baju, sandal bahkan sampai ke aksesoris Rani terus berkeliaran. Tapi belum ada satu pun yang berhasil menarik perhatiannya. Akhirnya langkahnya di tujukan kearah pustaka. Begitu melihat novel sunshine become you milik nya Illana tan ia langsung tertarik. Di raihnya buku tersebut. Bukannya Irma sangat menyukai bacaan ya?. Sepertinya buku itu juga pas untuk di jadi kan kado.Begitu mendapatkan apa yang ia cari Rani segera berlalu. Melanjutkan niat awalnya untuk langsung pulang kerumah. Saat bersiap untuk menyeberang jalan matanya tanpa sengaja melihat anak kecil yang berjalan di jalan. Sepertinya anak kecil itu kebingungan. Mungkin juga karena terpisah dari orang tuanya. Rani juga tidak memikirkan lebih jauh karena ia justru malah langsung berlari menarik anak itu saat mendapati sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah berlawanan.Saat mendapati wajah – wajah lega dari orang – orang di sekelilingnya yang kebetulan melihat kejadian tadi Rani segera bangkit berdiri karena tadi ia memang sempat jatuh terduduk saat berusah untuk menyelamatkan tu bocah. Sambil tersenyum Rani menatap kesekeliling. Namun ketika ia mau berjalan tiba – tiba ia merasa sedikit nyeri di kakinya. Begitu ia menoleh ternyata memang ada sedikit luka gores. Untuk sejenak Rani terdiam saat mendapati cairan merah yang ada dikakinya sampai beberapa saat kemudian ia kembali tergeletak. Satu – satunya yang masih mampu ia tangkap adalah suara teriakan panik di sekeliling sebelum kemudian ia benar – benar tak sadarkan diri.Saat kembali membuka matanya, hal pertama yang Rani lihat adalah langit – langit kamar yang berwarna putih polos. Kemudian perhatiannya teralihkan kearah samping. Walau terlihat sedikit kabur tapi Rani masih bisa mengenali dengan jelas siapa sosok yang kini berdiri di dekatnya dengan raut cemas.Tanpa perlu sok jaim atau pun sok jaga image, mulut Rani terbuka lebar. Mengabaikan raut bingung sekaligus kesel juga cemberut sosok yang ada di sampingnya yang pasti langsung mengira ia bukan sadar dari pingsan namun justru baru bangun dari tidur siang.“Eh, loe Erwin kan? Kok loe bisa ada di sini? Terus sekarang gue lagi ada di mana nie?” tanya Rani sambil mengucek – kucek matanya.Erwin terdiam. Bukannya menjawab justu ia malah menatap Rani dengan intens. Melihat wajah polos seperti anak kecil yang ada di hadapannya membuat nya merasa gemes. Dan sebelum sempat sebuah senyum bertenger di bibir kesadarannya keburu pulih.“Jangan sok lupa deh,” kata Erwin berusaha terdengar sinis.“Gue bukan sok. Tapi gue beneran lupa. Memangnya gue kenapa?” tanya Rani lagi sambil menatap keatas. Berusaha mengingat – ingat kejadian sebelumnya.“Oh gue inget. Tadi itu gue abis bantuin anak kecil. Terus kaki gue luka. Karena gue phobia darah. Makanya gue pingsan."“Syukur deh kalau loe inget. Makanya laen kali kalau mau pingsan liat – liat tempat dulu donk. Jangan sembarangan."Mendengar kalimat yang baru saja di dengarnya membuat Rani sontak menoleh. Gantian menatap sinis kearah Erwin.“Eh, dengar ya. Kalau gue bisa milih, mendingan gue nggak usah pingsan. Dasar, gini nih kalau orang udah kelewat pinter. Kalau ngomong memang suka asal njeplak,” balas Rani santai, sama sekali tak memperdulikan pelototan yang terarah kepadanya.“Tapi kok loe bisa ada di sini?” tanya Rani lagi setelah beberapa saat terdiam.Erwin terdiam. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Mulutnya terbuka tapi beberapa saat kemudian kembali tertutup. Ia bingung harus menjawab apa.“Perasaan tadi gue nggak ada liat loe deh. Apa mungkin gue lupa ya?” sambung Rani lagi, mencoba mengingat – ingat kejadian sebelumnya.“Sudahlah. Tidak perlu di bahas. Tadi itu gue hanya kebetulan lewat."“O…” Rani mengangguk – angguk sambil tersenyum simpul. Erwin yang kebetulan memergoki tingkahnya merasa heran.“Kenapa loe malah senyum – senyum sendiri?”Rani mengeleng “Eh, ternyata loe baik juga ya?”“Apa an si,” Erwin makin terlihat salah tingkah.“Ma kasih ya,” Sambung Rani sambil tersenyum tulus.“Ehem, ya sudah lah. Sepertinya loe juga baik – baik saja. Tidak ada terlihat luka yang menghawatirkan. Kalau begitu gue pulang dulu,” kata Erwin sambil berbalik.“Eits, tunggu dulu!” kalimat Rani yang nyaris disebut teriakan menghentikan langkah Erwin. Perlahan pria itu kembali berbalik.“Ada apa?”“Loe antarin gue donk."“Ha?” mulut Erwin terbuka. Tatapannya terarah lurus kearah wajah polos Rani. Ia yakin barusan ia salah dengar.“Gue kan cewek. Abis ketabrak lagi. Masa loe tega si ninggalin gue sendirian. Lagian loe kan sudah terlanjur bantuin gue. Jangan setengah – setengah donk harusnya."“Tapi…”.“Ya sudah lah kalau loe nggak mau. Gue pulang sendiri aja,” potong Rani sambil berusaha bangkit. Diraihnya tas di atas meja berserta kado yang ada di sampingnya sebelum kemudian berjalan melewati Erwin yang masih berdiri terpaku memperhatikan tingkahnya yang di rasa aneh. Bagaimana bisa ada orang seperti dia. Bisa berubah pikiran dalam sekejap.“Duh… Kok nggak ada taxsi atau angkot yang lewat si. Hu… mana kakinya masih sakit lagi,” gerut Rani sendiri sambil menoleh kekanan kiri jalanan.“Buruan, Ayo naik?”Rani menoleh. Merasa heran sekaligus bingung saat mendapati Erwin yang bertenger di atas motornya berhenti tak jauh darinya.“Jiah, dia malah bengong. Buruan."“Gue?” tunjuk Rani kearah Wajahnya sendiri. Erwin hanya memutar mata mendegaranya. Namun tak urung tangannya terulur menyodorkan helm.“Bukannya tadi loe bilang loe nggak mau nganterin gue ya?” tanya Rani saat motor yang di kendarai sudah mulai melaju.“Rumah loe dimana?” Erwin balik bertanya.“Komplek BTN Bumi Asih nomor 24,” balas Rani meyebutkan alamat rumahnya walau tak urung ia merasa heran. Erwin kan sudah tau rumahnya dimana saat jatuh di got dulu. Kenapa pria itu bertanya?Erwin terdiam sama sekali tidak berkomentar apa pun lagi. Sementar Rani yang semula berniat untuk bertanya kembali menutup mulut. Sepertinya Erwin bukan type orang yang enak di ajak ngobrol. -,-“Erwin, sekali lagi makasih ya,” kata Rani begitu mereka telah berhenti tepat di depan rumahnya.Lagi – lagi Erwin tidak menjawab. Hanya kepalanya yang terlihat mengangguk. Sementara kedua matanya justru malah menatap kearah rumah Rani yang terlihat sederhana namun sepertinya nyaman untuk di tempati.“Loe mau sekalian mampir?” ajak Rani kemudian.“Oh, Nggak usah. Makasih,” balas Erwin sambil pamit berlalu pergi. Rani hanya angkat bahu. Lagipula tadi ia hanya basa – basi. Setelah menyadari Erwin hilang dari pandangan Rani berbalik. Melangkah masuk kedalam rumah.To Be continue. Next to cerbung Kala Cinta menyapa bagian 5Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.693 WordsLanjut Baca : || ||

  • Bismillah……

    Mulakan dengan bismilah…. baru ntar kita pikirkan apa yang mau di isi. right??…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*