Cerpen Romantis: Kenangan Yang Terlupakan

Kenangan yang Terlupakan
Cerpen oleh Bella Danny Justice
“sialaaaaann!!!!!” teriak perempuan itu dengan histeris.
“eh kenapa sih kamu Jes?!” Tanya teman sebangkunya dengan pelan.
“Julian sialaaaann!!!” seru perempuan itu lagi dengan mimik kesal dan pipi merah padam menahan sebal.
“Jessica! Kamu kira pelajaran saya pelajaran seni musik apa?! berdiri dan angkat 1 kaki kamu di luar kelas!” hardik Ibu guru yang sedang menjelaskan pelajaran, dan merasa sangat terganggu oleh suara lantang dari Jessica.
Dengan pasrah dan agak menyesal akhirnya Jessica meninggalkan tempat duduknya, dan menjalani hukuman dari Bu Priyati sang guru Matematika. Selama 2 jam pelajaran, Jessica yang hanya berdiri tegap itu terus memanyunkan bibirnya dan ngedumel dalam hati soal cowok bernama Julian. Entah kenapa Jessica sangat tidak menyukai cowok itu, padahal Julian adalah sepupunya! Julian sendiri sering datang kerumah Jessica untuk main, tapi kali ini dia sangat-sangat kesel terhadap saudaranya itu.
Cerpen Kenangan Romantis Sesampainya dirumah, ia mendapati lagi Julian dirumahnya sedang bercakap-cakap diruang tamu bersama mamanya. Jessica tidak menghiraukan kehadiran saudaranya dan langsung berlenggang menuju kamarnya di lantai 2. Tapi saat ia baru mau menaiki anak tangga tiba-tiba suara itu datang..
“Jessica, ini ada saudara datang ko ga dikasih salam malah langsung nyelonong gitu aja kaya bajaj?” sahut mama Jessica.
“dia udah sering dateng jadi ngapain harus aku selalu kasih salam. Udah ah, aku mau ganti baju dulu ma.” Ujarnya ketus lalu melanjutkan lagi langkah kakinya menuju kamar.
“maaf ya Ju, Jessica emang sifatnya keras kepala.” Kata mama Jessica yang menyampaikannya dengan sedikit ga enak hati pada Julian yang sedang meneguk sirup cocopandannya.
“ngga papa tante. Itu juga aku udah tau, dari kecil dia emang kaya gitu sifatnya hehe. Aku mau langsung ke kamarnya aja ah. Permisi ya tan.” Ucap Julian yang memaklumi sifat Jessica. Ia pun langsung menuju ke lantai 2 ke kamar Jessica. Tanpa ragu-ragu Julian langsung membuka pintu kamar cewek itu dengan nada mengagetkan.
Bersamaan dengan pintu yang terbuka. “WWOOOY!!!” didapatinya Jessica yang memakai tank top hitam sedang sibuk memilih baju rumah yang biasa ia pakai.
“eh gilaaaa!!! Aku lagi ganti baju dodol! Sana pergi!!” seru Jessica yang kaget akan tingkah Julian.
“lebay banget, kamu kan masih pake tank top ngga telanjang ini!” tuturnya enteng.
“ihh dasar mesum!! Tutup lagiii pintunyaaaaaa sekaraaaanggggg!!!!” teriak Jessica dengan sekuat tenaga. Julian yang merasa gendang telinganya sebentar lagi akan pecah langsung menuruti perintah sepupunya itu.
“eh Jes, gila ya?!! Kamu pengen bikin aku budek karena suara kamu yang cempreng dan nyaring itu?!” kata Julian.
“iya! Aku pengen bikin kamu tuli! Jangan pernah dateng kerumah aku lagi! Aku ga suka sama kamu!” jawab Jessica tanpa ragu dari balik pintu kamarnya.
Sejenak tidak ada suara balasan dari Julian, lalu suara itu muncul lagi dengan nada pelan. “Jes, dengerin dulu..aku mau ngomong sebentar.”
Otak Jessica mulai berpikir, ada apa sih sama saudaranya itu?! Kenapa dia selalu datang kerumahnya dan ingin sekali dekat dengan dirinya? Apa Julian sudah gila? Setiap hari dia nerima aja omelan serta teriakan Jessica yang menolak untuk bertemu dengannya. Meskipun di marahin abis-abisan setiap ketemu tapi tetep aja Julian ga pernah absen dateng kerumah Jessica.
“Julian, siapa sih dia?! Aku ga inget punya sepupu/saudara namanya Julian? Aku ga bisa inget siapa dia! Tapi kenapa nama itu bikin kepala aku pusing setiap kali memikirkannya?” ujarnya dalam hati. Julian…Julian…Julian… Pandangan Jessica mulai kabur, kepalanya pusing, entah kenapa badannya seperti tidak seimbang dan melayang-layang.
“Jes, tolong buka pintunya sebentar..” ucap Julian yang mulai penasaran kenapa sedaritadi hanya hening yang ia dengar dari kamar Jessica, kemudian dengan hati-hati ia pun membuka pintu kamar Jessica, didapatinya perempuan itu pingsan!! Segera Julian dengan wajah panik menggendong Jessica ke tempat tidurnya dan memberitahu tante Christy tentang keadaan anaknya. Saat itu Julian benar-benar seperti orang kalap! Hanya melihat Jessica yang tergeletak pingsan saja membuatnya seperti ingin mati menyelamatkan cewek satu itu. Tante Christy yang memperhatikan gerak-gerik Julian pun berkata: “Ju, kamu tidak lelah dengan semua ini?”
“jangan berkata seperti itu dulu tante, sekarang ngga tepat waktunya.” Kata Julian yang mengusapkan minyak kayu putih ke kening dan hidung Jessica.
“aku pulang dulu, kalau Jessica sudah siuman jaga dia ya tante.” Ucap Julian.
Setelah berpesan pada Tante Christy, Julian pun pergi dari tempat itu. Ia memang merasa sangat lelah dengan ini, tapi sekarang belum sempat baginya untuk menjelaskan. Sedangkan, Tante Christy yang setia menunggu anak semata wayangnya itu siuman sampai-sampai tertidur karena cukup lama Jessica tidak sadarkan diri.
“ica, kamu jangan ikutan main bola ya! Nanti mama kamu marah sama aku kalo kamu kenapa-kenapa.”
“gak papa ian!! Ica mau ikut main bola pokoknya!” ucap anak perempuan berumur 8 tahun itu.
“kamu liatin aku aja ya. Ica kan cewek ga pantes main bola.” Kata Ian yang berusaha melarang Ica untuk ikut bermain bola.
“iyauda, yang penting aku ikut Ian.” Senyum manis Ica pun langsung terpampang jelas di wajah lugunya. Ian sangat senang mempunyai teman kecil seperti Ica, Ica beda dengan anak cewek yang lainnya. Pasalnya, Ica ga cengeng seperti kebanyakan anak-anak cewek seusianya, Ica juga agak tomboy karena dia suka main sama anak-anak cowok terutama sama Ian. Hal itu membuat dua anak kecil ini tumbuh bersama-sama. Sampai masuk playgroup,TK, SD pun mereka tidak terpisahkan, dan sangat dekat. Tapi suatu hari kabar buruk pun datang untuk Ian.
“Ian, Ica besok mau pindah rumah jadi kita ga bisa main sama-sama lagi deh.” Ujar Ica dengan isak tangisnya yang malu melihat wajah Ian.
“Ica memangnya mau pergi kemana?” Tanya Ian.
Dengan berderai air mata Ica berusaha berbicara. “Ica juga ngga tau Ian, tapi yang jelas pindahnya jauh. Kita jadi ga bisa ketemu lagi.”
Sejenak anak cowok bernama Ian itu terdiam akan kabar yang sangat mengagetkan ini. Ia tidak tau harus berkata apa, tapi yang pasti hatinya sangat terpukul bahwa Ica akan pergi meninggalkannya. Akhirnya anak cowok itu pun membuka mulutnya “Ica, kamu tenang aja. Ian pasti akan temuin Ica, Ica jangan takut. Ica mau janji ngga sama aku?”
“janji apa Ian?” Tanya Ica masih dengan tangisnya yang tak berhenti.
“Ica janji ya akan tunggu Ian? Jangan lupa sama Ian.”
“Ica ga mungkin lupa Ian! Ian temen Ica yang paling baik! Ica janji, tapi Ian harus ketemu Ica lagi.”
“Ian…Ian…Ian…”
Mama Jessica langsung terbangun saat mendengar anaknya bergurau nama Ian. Sang mama pun langsung menyadarkan Jessica dari gurauannya itu. Setelah diberi air putih oleh mamanya dan bersandar di punggung kasur beberapa saat, keadaan Jessica terlihat kembali normal dan ia pun membuka topic “ma, Ian itu siapa? Tadi aku mimpi tentang masa kecil aku sama cowok bernama Ian.” Ucap Jessica lemah.
Mamanya kaget ketika Jessica bertanya seperti itu. “memangnya kamu ingin tau tentang dia?” Tanya mama yang membuat Jessica semakin penasaran di kondisinya yang masih limbung itu.
“cepetan kasih tau aku ma siapa Ian itu!” kali ini Jessica berkata dengan sedikit menaikan intonasi pembicaraannya.
“Ian adalah Julian…”
Belum sempat melanjutkan penjelasan, Jessica langsung memotong perkataan mamanya dan tampak begitu kaget. Keadaan yang tadi lemah kini tiba-tiba entah bagaimana menghilang dari tubuh Jessica. “mama jangan bercanda!! Julian itu saudara aku!!”
*** “Ica, apa kamu sudah benar-benar ngelupain aku? Tidak adakah sedikit sisa kenangan tentang aku di hatimu?” kata Julian sambil meraih foto waktu ia kecil bersama dengan Jessica dan terus memandanginya.
“Julian..” suara yang tidak asing itu memasuki kamar Julian dan menghampiri dirinya.
“papa?”
“kamu sudah berusaha sangat keras terhadap Jessica, jadi bagaimana keputusan kamu? Kalau kamu merasa segalanya sudah tidak mungkin dapat kembali lagi, papa ingin kamu meneruskan sekolah ke luar negri.” Kata papa Julian yang memegang bahu putranya.
Julian tidak berani memutuskan untuk pergi ke luar negri, walaupun semuanya terasa mustahil untuk diingat kembali tetapi ia tidak bisa meninggalkan Jessica. Janjinya dulu terhadap teman kecilnya itu membuatnya tak bisa pergi dari Jessica, meski Jessica tidak mengenal dirinya…
“putuskanlah besok, papa tidak mau kamu terus terjebak dengan masa lalumu yang bahkan tidak dapat diingat oleh Jessica.”
***

I'll find you somewhere
I'll keep on trying
Until my dying day
I just need to know
Whatever has happened
The truth will free my soul
Wherever you are
I won't stop searching
Whatever it takes me to know
(Within Temptation – Somewhere)

Lagu dari band favorit Julian begitu melukiskan kisahnya akan Jessica. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu teman kecilnya itu, dan hari ini juga akan dia putuskan untuk meneruskan sekolah diluar negri atau tetap melanjutkan perannya yang memilukan.
Setibanya dirumah Tante Christy, Julian langsung disambut dengan hangat. Ia duduk diruang tamu dengan gelisah dan terus memikirkan perkataan papanya semalam untuk pergi sekolah ke luar negri.
“sebentar ya Julian, tante tinggal dulu.”
“iya ngga papa tante.”
Menunggu, menunggu dan menunggu…beberapa puluh menit ia menunggu Tante Christy yang tak kunjung kembali, padahal ia ingin menyampaikan pesan kepada Jessica melalui Tante Christy untuk yang terakhir kalinya.
“Julian..” terdengar suara perempuan yang tak salah lagi adalah…Jessica!!
“oh, J, Jess..keadaan kamu udah membaik?” ucap Julian dengan terbata-bata dan terlihat seperti orang kikuk.
“keadaan aku ternyata ga pernah baik selama ini, iya kan?” perkataan Jessica membuat Julian kebingungan atas apa yang ia bicarakan.
“apa maksud kamu?” Tanya Julian singkat.
Jessica tampak termenung, ia menundukan kepalanya menatap lurus lantai rumahnya. Julian yang kebingungan juga jadi ikut-ikutan terdiam tak bergeming. Hening kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka. Tak ada yang berani membuka mulut lebih dahulu, Jessica pun belum menjawab pertanyaan Julian yang tak mengerti akan perkataannya. Namun, beberapat saat Jessica mulai kembali berbicara.
“Ian…kenapa terus menunggu Ica? Padahal Ian udah temuin Ica, tapi kenapa Ian pengen Ica ngga kenal sama Ian? Mama udah ceritain semuanya.” Ucap Jessica yang memanggil Julian dengan sebutan masa kecilnya dulu, ia merasa sangat menyesal karena selalu bersikap kasar kepada Julian yang ternyata adalah Ian teman dekat waktu ia kecil dan bukan saudara/sepupunya!
Kata-kata dari mulut Jessica yang memasuki telinga Julian membuat matanya terbelalak, ia melihat Jessica yang mulai meneteskan air mata dan terlihat begitu sedih karena merasa sudah dibohongi oleh dirinya. “aku ga pernah berniat membohongi kamu Ca, tapi kecelakaan yang membuat kamu hilang ingatanlah yang menjauhkan kita. Aku merasa percuma saja kalau aku mengatakan bahwa aku adalah Ian teman kecil kamu, sedangkan kamu tidak mengingat apa pun tentang aku. Jadi, aku putuskan untuk menunggu dan berpura-pura menjadi saudara kamu. Ini semua begitu menyakitkan bagi aku..melihat kamu setiap hari yang tidak mengenal aku..itu sangat menyakitkan.” Seketika itu Julian mulai meneteskan beberapa derai air mata yang mengalir di pipinya.
“aku minta maaf. Aku nggak tau kalau kamu telah begitu menderita karna aku, aku memang ngga pantes jadi temen kamu.” Tangis Jessica meledak setelah mengucapkan kalimat itu, ia tidak tau bahwa selama ini Julian berusaha mencarinya dan menunggunya di balik kenangan yang terlupakan oleh Jessica.
“kamu memang bukan hanya teman, tapi kamu adalah perempuan yang membuat aku bisa menunggu begitu lama dan itu membuat aku sangat menyukaimu. Aku suka sama kamu Ca, dari semasa kita kecil, kita berpisah, aku temuin kamu, aku berpura-pura, dan bahkan sampai saat ini.” Ujar Julian yang mengakui perasaannya yang terpendam selama ini. Setelah bertahun-tahun terpisah dan berpura-pura akhirnya ia dapat mengucapkan kata-kata yang tertahan sudah begitu lama di hatinya.
“aku…aku juga menyukai kamu Ian, dari dulu..maaf aku pernah melupakan kamu.” Ujar Jessica dengan lirih.
“oia, aku ga mau manggil Ian lagi, karena nama itu adalah masa laluku yang terlupakan, dan sekarang yang ada dihadapan aku itu Julian. Jadi kamu juga jangan panggil aku Ica lagi. Kalo kamu ngga panggil Jessica, aku ga jadi suka ah.” Kata Jessica yang tertawa kecil sambil menghapus tangis di pipinya yang sudah agak mengering.
“habis nangis ketawa makan gula jawa nih ya?” goda Julian yang menyunggingkan senyum manisnya pada Jessica.
“iiihhh!!!! Ngeselin!!!” ucap Jessica yang merasa kesal digodai padahal ia berkata serius.
“ok, ok..Jessica I heart U.” goda Julian lagi.
“iiih!! Apaan sih kamu! Aku tuh ngga suka sama Sm*sh!” serunya dengan nyaring.
Kejadian yang tidak disangka ini pun terjadi. Julian yang mengira usahanya selama ini akan berhenti sia-sia juga masih tidak percaya bahwa hari seperti ini, hari yang ia dambakan datang padanya. Jessica yang 9 tahun sudah menghilang dan ia temukan kini dapat mengingat kembali dirinya. Rencana untuk meneruskan sekolah ke luar negri pun ia batalkan. Tante Christy yang menyaksikan dari jauh sangat senang melihat bahwa anaknya dapat mengingat kembali semua hal yang pernah terlupakan.
“Jessica…ternyata aku memang tidak bisa meninggalkan kamu. Rasa sayangku terlalu besar dari keberanianku untuk berhenti menunggu saat seperti ini. Aku sangat menyayangimu.” Kata Julian dalam hati yang diiringi pelukan hangatnya dengan Jessica.

Say my name, so I will know you're back
You're here again for a while..
Oh, let us share the memories that only we can share together..
Tell me about the days before I was born, how we were as children..
(Within Temptation – Say My Name)

TAMAT
Oleh : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeee-mail : alexa.bella14@yahoo.com

Random Posts

  • BIKANG ENDANG

    BIKANG ENDANG oleh: Kharisma Hawa D.“Tante Rini, ini kue bikangnya, masih hangat lho, keluar dari oven langsung saya bawa kesini.” “Makasih Endang, ayo masuk dulu ke rumah.”“Lain kali saja tante saya mampir ke rumah, saya masih harus keliling komplek untuk berjualan, mumpung ini masih hangat”“Ya sudah, besok pagi kesini lagi ya..” Ucap Ibu sambil menutup pembicaraan.Aku memandang sebungkus kue bikang yang diletakkan di atas meja makan, pasti Ibu yang membeli kue bikang ini dari Endang, dan menyuruhku untuk membawanya ke sekolah, gumamku dalam hati. Benar saja, “Rena sayang, kamu bawa bikang ini ke sekolah ya, nanti di makan bareng temen-temen kamu.” Aku mengeluh dalam hati, kenapa sih Ibu ini? Hampir setiap hari selalu menyuruhku membawa sebungkus kue mekar dan mengembang ini, jujur aku merasa malu pada teman temanku, mereka pasti berfikir itu pasti jajanan kampung yang sering dijual di pasar, sekali waktu aku juga ingin membawa kue yang sedikit ‘elite’ di mata mereka, sebut saja brownies, sandwich, pancake, pie atau semacamnyalah. Tapi Ibu selalu membekaliku dengan bikang hangat yang di beli dari Endang. Ya sudahlah, lagipula bukan aku juga yang memakan bikang itu, ada Rani, teman sebangkuku yang menghabiskan kue itu. **** Seperti biasa, di Minggu pagi, keluargaku selalu menyempatkan untuk olahraga bersama. Aku memilih bersepeda keliling kompleks perumahan. Sedangkan, Ayah, Ibu, dan Rangga berjalan jalan di Pasar Minggu pagi yang berada di sekitar Stadion. Tumben, hari ini aku tak mendengar ‘kicauan’ si Endang yang menjajakan bikang hangatnya. Kemana dia? Bukannya aku rindu dengan jajanan pasarnya itu. Tetapi, mendengar suara Endang setiap pagi merupakan rutinitasku sebelum berangkat sekolah. Aku pun penasaran, kemana Endang pagi ini? Aku segera menuju ke Panti Asuhan Cahaya Hati, tempat tinggal Endang saat ini yang tak jauh dari komplek perumahan. Aku bertanya pada salah seorang penghuni Panti Asuhan. “Endang pulang ke Jombang, dia pulang kampung karena ingin melanjutkan pengobatan alternatif disana.” Ucapnya dan lantas kembali masuk ke halaman Panti, aku diam dan berusaha mencerna perkataan tadi. Pulang? Sakit? Pengobatan alternatif? Karena diburu rasa penasaran, aku segera pulang ke rumah dan bertanya pada Ibu.**** Aku memarkir sepedaku di garasi, tak sengaja aku mendengar Ayah dan Ibu sedang berbicara serius di Ruang Tamu. Aku tetap berada di garasi dan berusaha mendekatkan telingaku ke daun pintu ruang tamu. “Kasihan Endang itu, ia terpaksa kembali ke kampung untuk menjalani pengobatan alternatif. Ibu merasa bersalah pada Almarhumah Anik karena Ibu tak dapat merawat darah dagingnya dengan baik. Bahkan, Ibu tak dapat membujuk Endang untuk tinggal di sini dan bersekolah bersama Rena.“ Aku melihat Ibu mulai menitikkan air mata.“Ayah tahu dan Ayah juga merasakan hal yang sama dengan Ibu, kita juga tidak sempat menyembuhkan Tuberculosis Endang. Tapi setidaknya kita sudah membeli kue buatan Endang. Paling tidak, Endang sudah dapat penghasilan sendiri dan membiayai hidupnya sendiri sejak orang tuanya meninggal setahun lalu.” Ayah mencoba menenangkan Ibu. Perkataan kedua orang tuaku membuatku tercekat. Aku berusaha mencerna perkataan itu. Ternyata selama ini Endang adalah anak sahabat Ibu yang di titipkan pada Ibu sejak setahun yang lalu. Pantas saja, Ibu selalu membeli jajanan buatan Endang dan memaksaku membawanya ke sekolah. Sepengetahuanku, Ayah juga jarang memakan bikang itu ketika di rumah dan lebih sering membawa kue itu ke kantor. Jadi ini sebabnya. Aku hanya bisa mendoakan agar Endang cepat sembuh dan kembali kesini. Aku pun tak keberatan jika suatu saat nanti Endang tinggal bersama kami bahkan satu sekolah denganku. Cepat sembuh Endang Aku merindukan bikang hangatmu.. JAWA POS. Kamis, 7 Juli 2011 KHARISMA HAWA D.Facebook : Kharisma Hawa D.Twitter : @kharismahawaHeello : @kharismahawaEmail : kharismahawa@yahoo.co.id

  • Cerpen Cinta: BUKAN UNTUKKU

    BUKAN UNTUKKUOLEH : ALENSaat itu aku sudah rapuh, sangat rapuh atas patah nya hati ku yang di duakan olehnya, hingga tak ada lagi perasaan ku untuk seorang pria, tidak lagi. Aku hanya menikmati kehidupan tanpa cinta, memang tak ada lagi perasaan yang tumbuh saat aku dekat bersama seorang pria. Namun semua berubah saat seseorang hadir di hadapanku, sosok baru ku kenal. Dialah yang membangunkan aku dari mimpi, menyadarkan ku akan sebuah kenyataan, dan memaksa aku untuk mulai bangkit dari keterpurukan, seseorang yang sangat berarti untukku.Indah, perjalanan hari-hariku begitu menarik walaupun semua itu tidak hanya di penuhi tawa, tapi terkadang kami selalu bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting. Aku merasakan sesuatu, merasa nyaman berada di dekatnya, bahkan jika diperbolehkan, sedetikpun aku tak ingin terpisah darinya. Saat aku tak melihatnya dalam sehari, aku merasa kehilangan, aku merasa kesepian dan aku takut akan sesuatu. aku mencari tahu kabarnya, aku mencari tahu sesuatu tentangnya, aku sangat ingin tahu. aku tak bisa mengatakan “TIdak” pada dia, aku selalu mengatakan “ia”, aku tak tahu mengapa begitu.Aku bingung, mengapa aku bisa begitu mencintainya?? Semuanya seakan tanpa alasan.. aku memang bodoh!!Semakin hari semakin ku merasakan ketenangan bersamanya, keinginan ku membahagiakannya membuat aku selalu mengabulkan segala kemauannya. Aku tak tahu lagi mana yang baik dan mana yang buruk, tapi kurasa dia selalu mengajarkan yang baik untukku.Aku tak tahu segala perhatian dan kedekatannya padaku adalah suatu keiklasan atau hanya bohong belaka, aku tak tahu apakah itu karena dia memang menginginkan kedekatan ini atau hanya sebatas rasa penasaran saja pada ku, aku tak tahu!!.Baru saja aku merasa kesenangan, sekarang aku akan merasakan kesedihan lagi. Kali ini aku merasakan ketakutan yang lebih dalam dari yang sebelumnya. Aku merasa sangat takut kehilangan dia. Mungkin dia masih bisa tertawa lebar atas semua ini, tapi aku tak lagi bisa melepas semua tawaku, aku menangis dalam tawa, aku bersembunyi dalam keremangan malam, aku takut.Aku berpikir, mengapa semua ini terjadi? Dan ternyata semua ini adalah salah ku sendiri! Aku tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, aku hanya berpikir sesaat, aku hanya berpikir untuk hari ini. Aku tak menyesal karna telah mencintainya seperti ini, sama sekali tak menyesal, aku hanya sedih bila harus melepasnya.Detik-detik kepergiannya membuat aku lemah menghadapi hari-hari yang terus berjalan, tapi aku tetap harus bisa menjalani semua ini, paling tidak ini semua aku lakukan untuk keluargaku, aku tak mau mereka sedih melihat aku yang rapuh hanya karna masalah cinta.Setiap kenangan ku bersamanya akan tetap ku simpan dalam hati, tak kan pernah aku lupakan, dan mungkin memang tak bisa untuk dilupakan. Tak banyak yang terjadi pada kami, namun entah mengapa semua seakan sangat berarti untukku. Aku tak kan berusaha melupakannya, Karena aku tak ingin melupakan orang yang pernah aku cintai, walaupun mengingat dia adalah menyakitkan, itu lebih baik dari pada aku harus melupaknnya.Kini hari kepergiannya semakin dekat, aku semakin diambang ketakutan. Aku ingin menatapnya dalam-dalam sebelum ia benar-benar meninggalkan ku sendiri selamanya, aku ingin bersama nya walaupun hanya sehari sebelum sesuatu merenggutnya pergi.Aku iklas untuk melepas kepergiannya asalkan dia bahagia.Aku iklas tertinggal sendiri asalkan dia masih bisa tersenyum untukku.Salam ku untuk dia yang tak pernah bisa kumiliki dan tak tercipta untukku.Selesai

  • Cerpen Cinta: MENCOBA TINGGALKAN BAYANGMU

    Mencoba Tinggalkan BayangmuOleh: FatkuryatiMalam itu adalah malam pergantian tahun, atau yang lebih dikenal dengan istilah tahun baru,, euforia cantiknya kembang api mulai terasa di menit-menit pergantian tahun. Tidak banyak yang aku bisa lakukan di malam itu. Seperti putri di negri dongeng yang terkurung dalam khayalan-khayalan indah. Untuk ikut bernostalgia di malam tahun baru bersama teman-teman semasa SMA pun aku tak dapat izin dari sang bunda. Untuk hal seperti ini mamah selalu punya dua alasan. Alasan pertama, aku masih selalu di anggap anak kecil.“nah lhoooo,,, aku kan udah umur 20 tahun mah, semester 5 lhoo aku, sekitar dua tahun lagi insyaallah aku lulus kuliah, gumamku dalam hati”. Alasan kedua, suasana malam di kota sangat tidak baik, pergaulan di sana bahkan tidak pernah mengenal aturan.“Hmmp,, ya ampuunn ini kan masih kota Serang mah bukan Jakarta,, toh aku juga bukan keluyuran sendiri yang gg jelas, tapi sama temen-temen yang sebagian besar udah mamah kenal dengan sangat baik, jawabku pelan”. “iyah mamah tahu, tapi mamah yakin kamu paham betul makna dari alasan-alasan mamah, jawab mamah dengan bijak”. Aku tidak bisa mendesak mamah untuk memberikan izin, aku takut mamah akan sedih bila ada bantahan di tengah perhatiannya, aku tahu semua kekhawatirannya semata-mata karena ingin melindungi dan menjagaku. Sepeninggalnya ayah beberapa tahun silam, mamah memang berubah jadi over protektif, untuk sebuah keselamatan anak-anaknya beliau lebih rela di hujat banyak orang daripada akan ada apa-apa nanti. Di rumah memang tak ada lelaki dewasa yang bisa benar-benar melindungiku, kedua kakak priaku telah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya masing-masing, di rumah hanya ada aku, mamah dan kakak wanitaku dengan perbedaan usia 3 tahun. Jadi wajar saja bila mamah merasa memiliki tanggungjawab yang sangat lebih. jika terjadi apa-apa dengan putrinya, ia akan merasa sangat berdosa. Oleh karenanya, sebelum hal itu terjadi, beliau lebih memilih untuk menjagaku dengan caranya. Di tengan perbincangan itu,, mamah memetikkan ibu jari dan jari tengahnya, pertanda memberikan ide.“hmmmp,, untuk menghabiskan malam tahun baru, gimana kalo kamu ikut acara mamah” usul mamah. “Acara apa mah?" tanyaku.“kamu ikut mamah pengajian di pendopo kantor Bupati, Serang.. gimana??” tanya mamah.Dengan spontan aku mengangkat sebelah alisku, “hmmp, ya udah deh aku mau, daripada di rumah, pastinya nanti aku akan benar-benar jadi gadis di negri dongeng yang merindukan dunia luar,” jawabku dengan ekspresi seadanya.“Nahh gitu dooong, ini baru namanya anak mamah,” ucap mamah sambil mencium keningku.Dalam perjalanan menuju kantor bupati, mataku terasa disuguhkan dengan pemandangan indah tahun baru. Banyak sekali penjual dadakan yang mencoba peruntungannya di malam ini,, dengan mencoba berjualan pernak-pernik dan makanan khas tahun baru. Para penjual terompet, petasan, kembang api, dan balon berjejer menawarkan barang dagangannya. Bahkan karena maraknya penjual, para konsumen terlihat dibuat bingung untuk membelinya. Asap jagung bakar pun seolah menggoda para penikmat tahun baru untuk sekedar mencicipinya. Dan yang tak kalah menarik,, ada pasar malam di Alun-alun kota Serang, terlihat sesak, orang-orang mencoba menghibur dirinya dengan sekedar berbelanja, menikmati wahana permainan atau makan bersama dengan sang kekasih hati. “Oohh tidak, sepertinya malam ini memang tak ada pangeran menjemputkuku, huufftt jadi merasa sedikit cemburu dengan mereka, ucapku lirih sambil memonyongkan bibir”. “tapi aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat pemandangan seelok ini,, semoga nikmat sehat-Mu yang tak terkira banyaknya ini, selalu menjadikanku untuk tetap bersyukur, ucapku dalam hati dengan mimik takjub”.Dan ternyata di pendopo kantor bupati pun tak kalah sesak,, para jamaah berlomba-lomba untuk menempati posisi terdepan, katanya akan ada penyanyi lokal Banten yang pernah melanglang buana di stasiun TV swasta, presenter yang cukup terkenal di acara dakwah, juga ustadz yang cukup membumi di Banten dan hiburan lainnya yang tak kalah menarik.Anehnya,, di tengah acara ini berlangsung,, tiba-tiba aku teringat sebagian kenangan masa laluku.. Aku seperti orang dengan raga yang tertinggal di pendopo, sementara pikiran dan nyawaku berkunjung menjelajah kembali ke masa lalu.Dia,, pria itu… pria yang baru 2 tahun lalu ku kenal. Tampan, baik dan dewasa,, Ia adalah mantan kekasihku. 100 hari bersama,, ternyata cukup untuk membuatnya berkarat dalam ingatanku . Aku tak pernah tahu, kenapa hingga kini ia masih cukup berarti untuk hidupku. Kami sama-sama mengakui bahwa kami masih saling merindukan satu sama lain. Ketemu, jalan dan makan bareng adalah hal yang biasa kami lakukan untuk sekedar mengobati rindu itu.Kadang ia masih suka mengirimiku pesan singkat yang manis,, hingga aku merasa aku adalah wanita terbahagia di dunia. Ini adalah salah satu pesan singkatnya.“tak apa, kalau kamu masih malu untuk bilang sayang kembali, tapi yang penting hatimu masih tersimpan indah dalam hatiku” Heiii pria yang menjadi mantan kekasihku,, tahukah kamu,, aku malah seperti wanita gila ketika membaca pesan singkatmu itu, loncat-loncat bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah balon, dan senyum-senyum sendiri seperti penghuni RSJ yang melarikan diri. Dan tahukah kamu,, Itu adalah pertanda bahagianya aku ketika ku tahu kau masih memiliki rasa yang sama.Jujur,,, hingga kini aku masih menyayangimu, aku tak pernah mampu untuk menggantikan namamu dengan nama yang lain. Bahkan aku lebih memilih untuk menolak cinta 5 pria lain, daripada menghapus namamu. Aku tahu 5 pria itu kecewa karenaku, tapi aku tak dapat membohongi perasaanku bahwa kamu masih cukup berarti untuk hidupku. Jika kamu izinkan,, rasanya aku ingin kembali menjadi satu-satunya wanitamu.. malam ini aku bukan seperti jamaah yang khusu mendengarkan tausiyah di tempat pengajian.. tapi aku seperti menjadi tokoh utama di sinetron Lorong Waktu, acara ramadhan semasa aku SMP. Di lorong waktu ini aku seolah dikirimkanku ke cerita cinta masa lalu.. Ya benar kamu memang masa laluku,, tapi aku ingin kamu menjadi teman masa depanku,, bersama dalam sisa hidupku sampai Tuhan akan memanggil kita nanti.Aku cukup bahagia dengan semua itu,, tapi entah aku merasa kini kamu berbeda.. kamu tak lagi bersikap semanis beberapa waktu yang lalu.. Tak ada lagi kata rayuan,, tak ada lagi kalimat gombalan dan tak ada lagi ucapan manis bahwa kamu masih menyayangiku sebagai mantan kekasihmu. Pikiranku terbang hingga ke awang mencoba menerka apa yang sedang terjadi denganmu,, banyak terkaan yang bisa menggalaui hatiku malam itu.. Dari mulai, sepertinya kamu sedang menyukai wanita lain,, mencoba menjadikanku hanya cinta masa lalu,, kamu tidak lagi menyayangiku,, dan yang paling bisa buatku sedikit tenang adalah semoga kamu memang hanya sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirmu (skripsi), bukan karena kau terjebak cinta dengan wanita lain.Entahlah,, euforia tahun baru itu tak lantas mebuat hatiku riang.. Ada kegalauan yang buatku merasa tak nyaman,, di tengah ramainya pendopo Serang,, aku malah berpikir untuk mengirimimu puisi ungkapan hati via sms,, Ini adalah puisi yang ku kirimkan di tengah kegalauan yang menghimpit hatiku,, sebenarnya dengan puisi ini aku mengharapkan kamu membalasnya dengan kata yang sama indahnya dan tentunya bisa buat hatiku tak segalau ini.Aku tak pernah tahuAku tak pernah tahu,,Kenapa hingga kini kau masih cukup berarti untuk hidupkuAda rasa yang berbeda ketika ku mengingatmuTak sama dengan ketika ku mengingat yang lainAku bahkan tak pernah tahu,, kenapa Tuhan s’lalu hadirkan bayangmu di pikirankuAku tak pernah sekalipun berusaha tuk mengingatmu,,Tapi sepertinya Tuhan tahu bahwa kau masih dihatikuRasa ini tak ubahnya rembulan yang selalu nampak bersinar,,Indah,, dan mempesona.. Aku tak pernah mampu tuk meninggalkanmu jauh dari pikiranku,,Sepertinya aku mulai mencintaimu kembali..Percayalah,,Aku mencintaimu dengan hatiDengan hati yang tak bisa ku sematkan pada lelaki selainmuDan aku menyayangimu dengan nadaDengan nada yang tak bisa ku harmonikan pada yang lain,,,Pernah kucoba tuk lupakanmu,, Melempar bayangmu hingga langit ke tujuh,,Tapi nyatanya,, aku tak pernah mampu untuk tak mengingatmu..Entah,, Sepertinya kau masih berkarat untuk hatiku..Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, itu pertanda bahwa sms yang ku kirim telah sampai ke ponselnya dan mungkin sedang dibaca.“Allhamdulillah puisiku telah sampai ke ponselnya,, semoga akan ada balasan yang nantinya tak membuat ku kecewa,, ucapku dalam hati”.Bermenit-menit ku tunggu,, dan sekarang menit tak lagi sebagai menit,, aku menunggunya hingga berjam-jam.“huuuuffffttthh,,, sepertinya memang benar aku tak lagi berarti buatmu,, mungkin memang kamu sedang terjebak dengan cinta yang lain,, ucapku lirih mencoba menerima kenyataan”.Aku berusaha menguatkan diriku sendiri atas rasa kecewa yang kini tak lagi klise.”yahhhh,,, sepertinya aku memang harus benar-benar melupakanmu,, melempar bayangnya jauh-jauh hingga langit ke tujuh,, ucapku lirih seolah tertusuk sembilu”.Aku memang tak tahu,, adam dari sisi mana yang akan Tuhan pilihkan untukku..Seperti apa,, dan bagaimana ia,, tak ada yang tahu untuk masa depan.. Mungkin benar kau memang hanya ada di masa laluku.. Jika memang Tuhan tak takdirkan kita bersama, setidaknya aku pernah melewati 100 hari bahagia bersamamu dan jika Tuhan akan menghapusmu dari ingatanku,, itu karena Tuhan akan menggantikanmu dengan adam yang lebih baik..Ikrarku,, akan ku coba tuk tinggalkanmu dalam masa laluku, tak banyak yang bisa ku lakukan.Tapi pastilah akan ku coba,, seindah apapun dulu kamu dimataku semoga kamu juga akan nampak indah dimata wanita selainku. Ku akui,, salah itu memang ada padaku,, kalau saja aku tak pernah melakukan hal bodoh yang mungkin melukai perasaanmu, mungkin hingga kini kita masih berdua,, berdua membangun istana cinta di hati kita.. Tapi biarkanlah,, biarkan itu hanya menjadi kenangan di masa lalu.. Jujur,, hingga kini sayang itu memang masih ada untukmu,, tapi akan ku coba relakan rasa itu pupus bersama sang waktu.. Aku yakin,, Tuhan t’lah miliki rencana yang indah untukku,, dan barangkali untukmu….Lagi-lagi aku harus katakan ini pada cinta yang tak lagi bersahabat,, “AKU AKAN MENCOBA UNTUK MENINGGALKANMU DALAM MASA LALUKU”…Aku teramat yakin bahwa Tuhan tidak akan mengambil sesuatupun dari makhluknya, kecuali Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik..*****Personal Data / Profil PenulisNama : FatkuryatiPanggilan: IfatTTL : Serang, 15 Juli 1991Motto : Bahagia adalah hak semua orang,, mari jemput bahagia itu…Alamat : Jln. Ciptayasa Kp/Ds. Linduk rt 07 Rw 01 kecamatan Pontang, Serang-Banten.Pekerjaan : Mahasiswi Hobi : Merangkai kata-kata puitis, Mendengarkan musik, bersepeda, travelling.Minat : Menjadi seorang penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang, menjadi tenaga pendidik, serta menjadi wanita sukses dunia dan akhirat.E-mail : siibungsuifat@yahoo.co.idFacebook : Ifat_91@yahoo.com atau Ifat sii princessbungsuTwitter : @IfatSiiprincess

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa VS Ferly ~ 01 / 08

    Mumpung dalam acara edit mengedit kenapa gak sekalian aja. Ha ha ha. Sekalian biar cerpennya juga rada rapi dikit. Ngomong ngomong, cerpen Vanessa Vs Ferly ini adalah cerpen karya dari adik admin sendiri. Yups, Mia Mulyani yang sekarang udah punya blog sendiri. Penasaran kisahnya? Simak langsung ke bawah aja ya…Vanessa vs FerlyHai, nama gue Vanes. Lengkapnya Vanessa Indri Pratiwi, gue anak baru satu tahun yang lalu, sekarang gue telah memduduki kelas II IPS B. Pertama gue masuk udah banyak yang naksir sama gue, tepat tiga bulan dikelas I, gue udah punya pacar yang keren.Tapi… baru 4 bulan jadian dia pergi menghilang, nggak pernah ngabarin gue dan udah sekitar 5 bulan yang lalu gue nggak pernah lagi berhubungan sama yang namanya ‘Joy’ dan sekarang gue juga nggak tau, apa gue masih punya hubungan sama Joy apa nggak, Cuma yang gue tau dia ninggalin gue tanpa kabar, dan sekarang hubungan gue ama dia sudah resmi berstatus pacaran tanpa hubungan. *Bukannya biasanya juga Hubungan Tanpa Status ya?*…Sejak saat itu gue udah nganggep kalau Joy udah mati, atau gue udah putus ama dia (walau sebenernya belom sih) dan sekarang gue udah bisa 100% ngelupain tuh anak. Gue harap gue nggak akan pernah ketemu lagi ama cowok brengsek itu.Di kelas baru ini gue punya 4 musuh besar, yang tak lain cowok banci bernama Ferly, Rafa, Radit, sama Galang. 4 cowok yang sok keren, sombong, nyebelin dan beberapa kata buruk buat mereka. Gue nggak tau awal musuhannya. Yang jelas mereka udah resmi jadi musuh gue sejak kelas I dulu, (kebetulan sekelas).Untung nya saat kelas II ini mereka terpisah kan, Rafa, Radit, sama Galang di kelas IPS C, sedang kan Ferly, di kelas II IPS B, sama kayak gue. Karna Ferly ketua geng nya, jadi gue bener-bener musuhan sama dia, karna sifatnya bener-bener nyebelin.Dulu waktu gue kelas I, gue di kerjain habis-habisan sama mereka. Secara 4 lawan 1 mana bisa menang, tapi gue jamin kalau satu lawan satu pasti gue bisa secara gue lihat si Ferly bener-bener kayak banci yang beraninya cuma sama cewek, keroyokan lagi. *Ha ha ha…. kalau dia tau gue cerita gini, pasti gue cuma bakal jadi sejarah. So… ssssttt…. ini biar jadi rahasia kita sja ya*…Dulu gue pernah di permaluin didepan anak-anak dengan cara nyiram gue pakai air, tambah tepung plus dilempari telor, *emang dikira gue mau dijadiin kueh apa??!!*. Ada juga kursi gue disangkutin di atas pohon jambu, buku pr gue hilang, dikasi kado berisi kodok, nyeburin gue kekolam renang belakang sekolah, dikonci dikamar mandi, hingga membocorkan ban mobil gue?!!? *Kurang apa coba deritanya*Nah rese banget kan??? Walau gue juga nggak tinggal diam, soalnya gue selalu membalas perbuatan mereka dengan cara coret-coret buku pr mereka, bikin motor mereka mogok, narok obat cuci perut di makanan mereka, narok lem di kursi dan membuat sesuatu yang paling nggak disukai mereka, tapi tetep aja gue masih bete..Gue heran kenapa sih mereka jahil banget sama gue? Perasan anak lain nggak pernah mendapat perlakuan kayak gue deh, apa karna gue imut, baek hati, tidak sombong n rajin menabung ya?.. *Plaks. Gak nyambung*. Ya mungkin karena gue nggak pernah ngalah sama mereka?? Makanya mereka pada mau ngelakuin dengan cara apapun agar gue minta maaf kemereka??? Ih sorry ya… mau mereka ngerjain gue kayak apa juga jangan harap gue mau minta maaf.Dan sekarang gue satu kelas sama ketua geng mereka ‘Ferly’ dan gue pasti ngebales semua perbuatan mereka kegue dulu, gue bakal bikin masa-masa kelas II Ferly berakhir nggak menyenangkan dan membuat dia nggak bisa ngelupain masa-masa kelas II SMU nya. *Ke ke ke/ Evil Smirk*Aduh, pengenalannya kepanjangan ya? Abis gue bete banget ama mereka, udah lah lihat aja apa yang bakal gue lakuin ke ketua geng itu, tunggu ‘PEMBALASAN’ gue!!!*** Vanessa VS Ferly ***Aduh!!! Vanesa bener-bener bingung nih, gimana caranya ngebales perbuatan 4 banci itu. Tuhan bantu donk… gimana caranya ngebales perbuatan mereka… tiba-tiba mata vanesa tertuju pada bunga mawar di meja guru… AHA!!! Ide Brilian nyangut di otaknya, ha, ha, ha, mampus loe, bakal kerjain loe dengan bunga mawar itu, tunggu aja.Saat jam pelajaran ke dua dimulai, Bu Vivid sedang asik menjelaskan materi hari ini, dan Vanesa sudah stand by untuk ngerjain Ferly yang duduk tepat didepannya. Terlebih Bu Vivid juga tampak sedang asik menulis dipapan tulis, sementara teman teman yang lain juga fokus pada bukunya. Hal itu tentu memberi kesempatan pada Vanessa untuk melancarkan aksinya tanpa ketahuan.Vanessa terus memperhatikan Ferly yang asik menulis tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintai dirinya. Saat sedang asik menulis, ia tiba tiba menghentikan gegiatannya. Sepertinya pulpennya kehabisan tinta. Yang tidak Ferly ketahui adalah itu terjadi karena Vanessa baru saja menukar benda tersebut. Untuk melanjutkan aktifitasnya, Ferly mencari didalam tas dan kemudaian beralih kelaci meja, saat keluar tangannya memegang sekuntum mawar merah. Untuk sejenak, Ferly terlihat bingung, matanya mengamati sekuntum mawar ditangan dengan heran.“Mawar? Mawar siapa nih,” gumamnya pelan. Disaat bersamaan, Vanesa melancarkan aksinya. Ia segera melemparkan sebuat kertas yang sudah ia bentuk sedemikian rupa dan langsung melemparkan ke depat. Tepat mengenai kepala Bu Vivid. Yes berhasil!!!“Aduh!!!!” jerit Bu Vivid mengagetkan anak yang lain *lebay nie guru, Baru kena timpuk kertas aja udah nyeritnya sekenceng itu gimana kalau ketimpuk duren*. Refleks semua menatap kedepan karna kaget tak terkecuali Ferly, Bu Vivid memungut kertas kuelan itu dan mengangkatnya.“Siapa yang sudah melampar surat kaleng ini?” tanya Bu Vivid.Semua anak-anak pada diam sambil melihat kesekeliling mencari sesuatu."Aduh maaf ya buk bukan mau kurang ajar, tapi cuma mau ngerjain Ferly aja kok, maaf ya buk," batin Vanessa dalam hati.“Nggak ada yang mau ngaku?” tanyanya lagi, dan kelas kembali hening, Bu Vivid pun membuka kuelan surat kaleng itu dan membaca isinya dengan lantang.“Bu vivid tersayang, yang cantik jelita bagaikan bidadari yang turun dari kayangan *gombal. Mau muntah gue nulisnya*, saya mau bilang sesuatu sama ibuk, tapi saya harap ibuk nggak marah , kalau ibuk marah saya bakal sedih banget, saya Cuma mau bilang kalau saya, sebenernya… sayanaaaang banget sama ibuk. Tertanda yang mengagumi mu ‘mawar merah'" Bu vivid mengakhiri bacaannya. “Oh siapakan yang telah menulis surat ini. Romantiiis banget…” kata Bu vivid sambil pasang wajah ganjennya *idih… Malu-maluin banget nie guru*, dan anak-anak yang lain termasuk Vanessa tertawa secara Bu Vivid itukan tingkat ke PeDe an N tingkat kenarsisannya sudah memasuki tahap dewa ngalahin ‘bik surti’ di sinetron ‘putri yang ditukar’ yang sering muncul di salah satu stasiun swasta di Indonesia.Bu vivid pun segera melakukan penelitian sampai kemudian tatapannya terhenti dimeja Ferly yang masih memegangi bunga mawar merah *nie anak emang lola coneknya. Percis kayak modem My Brother*. Tampak wajah Bu vivid berseri-seri menatapnya yang membuat Ferly jadi panas dingin, Bu Vivid langsung menghampiri Ferly.“Aduh prasaan gue nggak enak nih,” kata Ferly sambil mengelap keringat dingin didahinya.“Kamu itu bener-bener romantis ya Fer…” kata Bu Vivid sambil senyum-senyum kearah Ferly.“ha!!! Ada… apa ya buk?” tanya Ferly“Alah udah nggak usah sembunyi kayak gitu, kamu kan yang udah nulis surat ini?” tanya Bu Vivid.“Ha!!! Bu… bu… bukan kok buk,” balas Ferly mendadak gagap.“Udah ngaku aja, ibu nggak keberatan kok ya…” balas Bu Vivid sambil senyum-senyum, sementara Ferly udah merinding secara ia bener-bener ilfeel sama guru yang satu ini.“Beneran Bu, ini tu bukan aku yang nulis, pasti ada yang mau ngerjain aku Bu.”“Kamu ini kok malu-malu begitu sih, kalau cinta itu nggak ada malu-malu kita. Harus jujur”. *Tapikan nggak harus malu-maluin juga kaleee…../ Betul????!!!!*.“Tapi itu beneran bukan aku yang ngelakuin buk, kali aja anak yang lain,” Ferly berusaha untuk membela diri sementara anak-anak yang lain udah tertawa terpingkal-pingkal apalagi Vanessa. ini mah beneran lawak gratis.“Sudah lah Fer, ngaku aja. Loe juga sering kan cerita ama gue kalau loe itu naksir ama Bu vivid, udah ngaku aja mumpung masih ada orang nya."Tampang FerlY sudah persis kayak orang yang habis ke selek biji kedondong mendengar omongan vanesa barusan. “Loe apa-apaan sih Van? Ini tu bukan gue!” bentak Ferly.“Lah itu buktinya ditangan loe,” Vanessa tak mau kalah untuk memperkisruh keadaan.“Ha!!! Maksud loe ini??” tanya nya sambil menunjukkn bunga mawar yang berada ditangannya.“Ia. Kan yang ngirim ‘mawar merah’ itu kamu kan?” kata Bu vivid.“Enggak buk, beneran deh ini tu aku temuin di laci meja dan… mawar merah ini bukan milik aku. Juga bukan aku yang nulis surat itu,” Ferly mencoba untuk menyakinkan..“Udah ngaku aja!”“Beneran bukan aku buk, sumpah deh jadi orang kaya *takutnya low sumpah disambar geledek entar disambar beneran lagi*. Tadi yang melempar itu dari belakang,” kata Ferly sambil menunjuk meja Vanessa “Haaa ia dari sini, pasti elo kan van yang udah ngelakuin ini!” tuduh Ferly langsung.“ha!!! Gue?? Yang bener saja lah, masa gue sih Fer. Elo tu jangan lempar tangan sembunyi batu ya, eh salah lempar batu sembunyi tangan ya,” kata Vanessa dan anak-anak langsung tertawa mendengarnya, aduh kok pakai acara kebalik segala sih,… bego, bego, bego..“Eh, loe tu jangan membalikkan fakta ya. Gue tu mana mungkin, pasti elo sengaja kan ngelakuin ini” tuduh Ferly.“ha!!! Enak aja loe, kalau gue yang ngelakuin ini, emang motif gue apa coba?” Vanesa tidak mau kalah..“Ya mau ngerjain gue lah, loe kan dendam banget ama gue karena sering gue kerjain,” balas Ferly.“Eh loe tu kalau mikir pakai dengkul donk, eh maksudnya jangan pakai dengkul donk. Itu sama aja gue ngerjain Bu vivid, mana mungkin lah, udah tinggal ngaku aja juga. Lagian ibu Juga barusan denger kan bu. Low dia tu sering banget ngerjain aku. Palingan kali ini dia juga mau ngerjain ibu," ucapan Vanessa makin membuat Ferly tidak bisa berkutik. Pria itu segera sadar kalau sepertinya ia telah masuk jebakan.“Bu… Bu… bukan gitu buk. Lagian buat apa aku ngerjain ibu. Mana mungkin lah."“Maling mana ada yang mau ngaku” ledek Vanessa.“ia iya lah kalau maling ngaku penjara penuh bego, tapi beneran buk bukan aku yang ngelakuin itu..” kata Ferly.“Loe tu ya…”“Apa!!!”“sudah, sudah, cukup!!! Kalian pikir ini hutan apa, teriak-teriak!! ini tu sekolah ya bukan hutan. Ya sudah sekarang Ferly kamu ikut ibk sekarang kekantor. Kamu harus jelasin ini semua,” tandas Bu vivid.Perintah itu tak urung membuat Vanessa tersenyum puas. Ha,ha,ha mampus loe..!!!“Ha??? Lho buk, tapi kan…”“Udah nggak ada tapi-tapian, ayo ikut” kata Bu Vivid.“Baik buk…” kata Ferly akhirnya mengalah. Sebelum pergi ia sempat menoleh kearah Vanesa. “Awas loe…” ancamnya sebelum benar benar berlalu.“Weeeek….” bukannya takut, Vanessa justru mlaha menjulurkan lidihnya, mengejek. Akhirnya 1 masalah Beres, mampus loe!!! Syukurin. Pasti loe nggak bakal bisa keluar dari ruangan guru centil itu, ha,ha, emang enak. Dan pastinya loe bakal di introgasi habis-habisan disana. Wek,wek,wek,wek…Oke, Next to Cerpen benci jadi cinta vanessa vs ferly part 2Detail CerpenJudul : Vanessa vs FerlyPenulis : Mia MulyaniPanjang : 1.707 WordsGenre : RemajaStatus : Complete

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*