Cerpen Romantis: HADIAH TERINDAH (bagian kedua)

Cerpen Romantis yang berjudul Hadiah Terindah ini merupakan bagian kedua dari cerpen sebelumnya dengan judul yang sama. Untuk lebih memahami bagian kedua ini, sebaiknya baca dulu bagian pertama cerpen Hadiah Terindah.
HADIAH TERINDAHOleh: Rizki Novianti
Setelah perpisahan terakhir dengan randy saat itu perasaan ku memang terasa sedih tak ada lagi yang membuat ku tersenyum, tertawa, membuat ku menangis.. tapi ku bulatkan hati untuk berusaha tegar menghadapi kehidupanku kini tanpanya jauh, hati ku membulat aku pergi bukan untuk selamanya aku hanya ingin mencari bahagia.
Cerpen Romantis Hadiah TerindahSebulan berlanjut kita tak saling bertemu atau bertatap muka bahkan hanya sekedar pesan singkat pun tak ada darinya, menyedihkan memang terasa dalam hati rasa sepi kadang menyelimuti perasaan ku tak jarang aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri apa yang sedang dia lakukan saat ini ?? bagaimana dengan keadaannya kini?? Aku hanya bernapas panjang tanpa tahu dirinya disana.
Tak harus selalu bersedih atau terus meratap karna berada jauh darinya, ku mencari-cari kesibukan ku agar tak selalu terfikirkan akan bayangnya. beminggu-minggu, berbulan-bulan akhirnya 1 tahun berlalu ku tak bersama dengan nya lagi, tak bisa melihat senyumnya, mendengar suaranya, menatap matanya, bercanda gurau dengannya tak ku rasa lagi dengan segudang pekerjaan ku di sekolah.
Liburan sekolah telah tiba bingung kemana untuk mengisinya. Satu tahun dengan pekerjaan yang melelahkan, ku putuskan untuk melepas penat sejenak di kampung, ingin menikmati pemandangan yang indah, udara sejuk, dan suara-suara yang membuat hati terasa damai. sibuk mengepak pakaian dan membereskan rumah tiba-tiba terdengar suara sms masuk di handphone, ku lihat siapa yang mengirimkan pesan dan ternyata tak ku sangka itu randy. Aku tersenyum.
Setelah satu tahun tak pernah ada kabar darinya ku kira dia sudah melupakan aku ternyata tidak masih ingat saja nomor handphone ku.. tak percaya randy ingin mengajaku jalan-jalan di kampung.
“hhahaha.. masih ingat saja dikau” kata ku.
Ku berjanji besok lusa sudah berangkat ke kampung tak sabar rasanya ingin cepat-cepat. Hari yang ku tunggu sudah tiba dengan mengendarai sepeda motor ku tancap gas agar cepat-cepat sampai di kampung dan bertemu randy di sana. sampainya ku di rumah ternyata hari tak memungkinkan untuk ku dapat menemuinya tetapi randy terus mengirimkan pesan ku berharap semoga hari dapat berganti cerah, ku susuri jalan dimana randy berada meski lelah randy pun seperti ku.
Rintik hujan mulai turun satu persatu butiran mutiara terjatuh serempak ku mulai kesal, marah ingin rasanya aku menangis saja “dimana dia saat ini ??” dalam hatiku berkata. dengan perasaan kecewa ku kirimkan pesan pada randy menyuruh nya untuk pulang saja aku tak ingin dia sakit hanya karna kehujanan untuk menunggu ku..
Setibanya di rumah badanku menggigil kedinginan dan pakaian ku basah kuyup karna hujan, ku tarik selimut dan bergegas tidur randy mengirimkan pesan untuk minta maaf, tak ku hiraukan.
“bodoh nya aku ..” kesal ku hanya dalam hati. saat malam randy menelefon ku.
“hallo..” terdengar suaranya di balik telepon
“kenapa dy..?” tanya ku ketus
“ky maaf ya.. dah ninggalin kamu kehujanan tadi siang.. tapi besok bisakan?” tanya randy
“yaa ga apa-apa lah.. besok ku gak janji”
“emang nya kenapa?”
“besok ada latihan basket, mungkin lusa atau aku gak tau?”
“oh ya sudahlah..” Randy langsung memutuskan teleponnya..
“dasar cowok aneh..sampai kapan siih dia akan terus bersikap dingin seperti itu.. sejak smp dia gak pernah berubah apa yang ada di dalam fikirannya aku gak pernah tau.. tapi kenapa ya banyak cewek-cewek yang menyukainya padahalkan jelas-jelas dia seperti itu mungkin karna ahhhhhh entah lah memikirkannya membuat ku pusing..!” cerita ku di buku diary..
Setiap kali ku tuliskan keinginan ku di buku kecil itu pasti akan terwujud, tak ayal hanya sebuah buku kecil yang di dalamnya banyak sekali tulisan-tulisan tangan tentang cita-cita dan harapan ku.
Suatu saat ku tuliskan keinginan jika suatu saat ku bertemu randy aku tak akan menjadi cewek tomboy, aku akan bersikap manis seperti perempuan lainnya yang dia kenal. berubah hanya untuk seseorang yang tak bisa jadi harapan hanya sebatas khayalan dan angan-angan yang selalu ada dalam otak dan fikiran ku selama 3 tahun ini.
***
Hari rabu 29 juni 2011 skitar pukul 01.00 hari yang cerah tak ada hambatan lagi saat ku ingin menemuinya. ku berjalan menyusur, ku lihat dari kejauhan wajah yang tak asing bagi ku, tersenyum manis saat dirinya menyapa dengan sepeda motor khas anak muda. melihat dirinya saat ini terasa berbeda apa karna 1 tahun tak penah berjumpa, semakin dewasa ku melihatnya. pertama kali berjumpa dengannya lagi dia malah meledek ku katanya aku jadi jerawatan “aghhhhhhtr menyebalkan dasar aneh” ketusku. tak apalah aku sadar sendiri punya jerawat. lets gelegot on the way menuju tempat tujuan only berdua aku dan randy. Senang nya.
Sepanjang perjalanan kita banyak mengobrol, bercerita tentang sekolah kita, masa smp, teman-teman sekolah, banyak membuat ku tertawa dan kembali tersenyum seperti dulu.
“ ya tuhan apakah ini hadiah terindah yang kau berikan pada ku saat ini. terima kasih atas semuanya aku sangat bahagia bisa berada bersama seseorang ku lagi” pejamkan mata dan berdoa.
Sampai di tempat tujuan.. randy mengajak ku ke tempat yang indah yang tak penah ku bayangkan sebelum nya di atas bukit ku bisa melihat apa saja pemandangan yang indah.
Jalan berdua seperti adik dan kakak karna randy yang sedikit lebih pendek dari ku hanya beda beberapa cm saja. terus saja dia meledek ku sejak awal pertama bertemu, aku yang takut ketinggian di paksa harus turun bukit mana harus lepas sendal segala.
“haduuuuuuh” kata ku, randy tertawa puas sudah mengerjai ku tahu saja dia kalau aku takut ketinggian..
“wiiidiiiw.. akhirnya nyampe juga. good job i like it” kata randy.
“sesuatu dy.. puas loe yaa??” jawab ku kesal sambil memasang sandal ku sendiri.
Sesekali dia memandang dan tersenyum pada ku, genggeman tangan nya serasa bukan dia yang ada di sampingku. ku rasa kan detik demi detik bersamanya, randy hanya diam saja tak berkata apapun tentang sesuatu, ku berharap dia akan katakan itu satu kali lagi ku ingin dengar dari ucapnya namun sayangnya tak ada yang terucap..
“mirip shinta” kata nya spontan saat melihat ku.
“haah?? Shinta yang mana?? Jangan bilang shinta temen smp??” tanya ku penasaran dengan nada sedikit ketus padanya.
“ahh… gak apa-apa kok” randy gelagapan.
“ihh nyebelin bgt sii” kesal ku dengan wajah menekuk.
Aku heran kenapa dia sebut nama itu padahal yang ada di sampingnya hanya ada aku dengan spontan dia menyebutkan nama “shinta”.. agak kesal memang tapi aku tak ingin melewat kan hari ini dengan rasa kesal ku saja, bingung harus berkata apa lagi aku diam saja tak bicara apa-apa.
Percaya kah ini hanya 30 menit kita bersama 30 menit kita menikmati pemandangan indah?? “huuuuph sangat menyedihkan” kata ku dalam hati.. aku hanya menggerutu saja di fikiran tak ku lampiaskan lewat ucapan.. waktu semakin cepat berlalu kenangan indah kan terlewati begitu saja. akhirnya kita akan benar-benar mengakhiri hari ini, sepanjang perjalanan pulang ku nikmati saat-saat berharga itu. sesekali dia memukul kaki ku.
“sakit tauuu gak usah mukul-mukul kurang kerjaan” kata ku.
“wiidiiw marah.. sorry” randy meledek.
“pegel ahh, dari tadi jalannya belok-belok mana jauh lagi” aku menggerutu.
“tapi gak menyesalkan??” katanya
“iya lah gak salah” aku menaikan halis dan tersenyum.
Setengah jalan pulang aku diam saja tak enak badan randy bertanya padaku
“kenapa ky sakit??”
“gak tau nii udaranya dingin banget” keluh ku.
“yaudah pegangan ajja ya. disini tuu emang dingin tapi udaranya sejuk gak kayak di bandung ‘polusi’ bener gak??”
“hmmm” jawab ku singkat..
Semakin sore semakin dingin tak sadar tangan ku sudah melingkar di perutnya, randy juga tak berkata apa-apa. hangatnya, tempat sandarannya, aroma tubuhnya mengingatkan aku pada seseorang yang selalu mengajaku main basket setiap minggu. Sampai juga di tempat terakhir dekat rumahku, tak ku sangka secepat ini ku rasakan. sebelum aku benar-benar pergi randy menggenggam tanganku eraaaaaat dan dia berkata.
“maaf bila ini tak cukup untuk membuat mu tersenyum lagi, membuat mu tertawa, namun melihat mu saat ini membuat aku sangat bahagia. jujur saja aku tak ingin kau pergi lagi tapi ku tau hati mu keras dan aku tau kau tak akan pernah bisa untuk melupakan aku begitu pun dengan aku.. thankz untuk hari ini!”ucapnya penuh haru.
“kamu tau aku pergi bukan untuk selamanya, aku pasti akan kembali suatu saat nanti. aku tak bisa mengatur hidup mu untuk ku. mungkin sakarang baik nya kita hanya berteman karna aku takut tak bisa bertahan. thankz juga untuk hari ini..” timpal ku.
Janji kita berdua tak akan saling melupakan meskipun jauh jarak diantara kita, jauh yang terpisah kan oleh waktu, jauh diantara kita tentang rasa yang tertinggal namun bagi ku randy akan selalu dekat.. dekat.. dan akan selalu dekat di dalam hati ku tlah ku ukir namanya.
***
Beberapa minggu kemudian perasaan ku agak sedikit mengganjal tentang randy, ku coba lihat status facebooknya ternyata.. “hoalaaaaah.. dia udah punya pacar lagi jangan bilang sama yang nama nya shinta itu.. nasib..nasib ditinggal patah hati lagi daah…” gerutu-gerutu dan terus menggerutu…!!!
***
NAMA :RIZKI NOVIANTI
ALAMAT :JLN.SOMA2 NO.26 BANDUNG
FB :rizki_ccc@yahoo.co.id
E_MAIL :purnamarizki16@yahoo.co.id

Random Posts

  • Cerita SMA Diera Diary End

    Setelah sekian lama akhirnya Cerita SMA Diera Diary bisa ketemu juga sama yang namanya ending. Secara udah pada penasaran donk gimana kelanjutan ceritanya. Terus di mana sebenernya diari gadis tersebut berada. Apa bener berada di tangan andreani atau justru ada orang lain yang telah menemukannya. So, buat yang mau tau jawabannya langsung simak ke bawah aja deh. Nah, biar lebih mudah, untuk part sebelumnya bisa di baca disiniDiera DiaryDiera pamit sama orang tua nya untuk makan malam di luar karena tadi Pasya memintanya untuk segera datang ke kaffe yang tak jauh dari rumahnya. Ia di tunggu di sana, ada yang mau ia sampein.Diera sempet menolak, besok aja. Tapi katanya penting. Harus malam ini juga. Ya udah Diera ngalah. Diera membuka tas sandangnya untuk mengambil hapenya buat ngabarin Pasya kalau sekarang ia udah ada di depan kaffe. Diera tersenyum melihat isi tas nya. Bukunya Rian tadi siang yang ketinggalan nggak sengaja ke bawa,Deringan bunyi ponsel mengaget kannya. Ternyata SMS balesan dari Pasya yang memintanya untuk langsung masuk aja.di tunggu di meja nomor 23. Dengan mantap Diera melangkah kan kaki ka meja 23 yang ada di pojok ruangan. Ia yakin sosok pria yang duduk membelakanginya adalah Pasya yang sudah menunggu nya sedari tadi. Sampai kemudian….“RIAN?!” Diera tertegun. Seolah masih nggak percaya sama pandangan di hadapannya.Rian menoleh sambil tersenyum. Duh manisnya… Diera saja sampai deg-deg an melihatnya…“Kok loe yang di sini? Bukannya Pasya?” Tanya Diera masih nggak percaya.“Jadi loe nggak suka. Ya udah gue pulang aja deh,” Rian pura-pura ngambek dan siap-siap untuk pergi.“Tunggu” Diera segera menarik tangannya. “Jangan datang dan pergi sesuka hati loe. Itu nggak baik.”Rian kaget karena Diera sengaja mengulang kata-katanya tadi siang untuk menarik perhatiannya. Sejenak Rian terdiam tapi kemudian ia kembali tersenyum.“duduk dulu yuk” ajak Rian sambil menarik kan kursi untuk Diera.“eh kita mau ngapain nie?” Tanya Diera setelah beberapa saat mereka saling terdiam “mana pake acara ada Lillyn segala lagi. loe ulang tahun ya?” sambung Diera sebelum Rian menjawab pertannyaan nya.“Bukan” Rian menggeleng.“jangan-jangan loe rabun senja ya? Tapi prasan tuh lampu udah terang deh…” tebak Diera ngasal.“apa an sih?” bantah Rian.“0 gue tau. Loe pake Lillyn pasti gara-gara loe mau ngerokok tapi nggak bawa korek. Ia kan?”“ah… loe. Jangan ngeledek gue terus deh” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa.“jadi kita kesini mau ngapain?” ulang Diera.Rian diem agak ragu. Ia mengatur napasnya sejenak. Matanya menatap tajam kearahnya yang kemudian di raihnya tangan Diera dan menggenggamnya.“Diera gue suka sama loe. Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian.Diera terdiam ia masih kaget.“gi mana? Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian lagi karena Diera masih belum memberikan jawaban.“nggak” balas Diera sesaat kemudian.“jadi gue di tolak lagi nie” Rian kecewa sambil melepas kan genggamannya.“nggak mungkin lah gue nolak jadi pacar cowok keren kayak loe” sambung Diera sambil tersenyum.“loe tu ya seneng banget ngerjain gue. Emang deh…” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa mendengarnya.“jadi mulai sekarang kita resmi jadian nih?” Rian memastikan.“menurut loe?”Rian tersenyum mendengarnya.“eh tau nggak sih, tadi nya gue sempet berfikir kalau loe sama kayak hanafi” kata Diera beberapa saat kemudian.“hanafi?!” Rian Heran. Diera membalas dengan anggukan kepala.“siapa dia?” Tanya Rian lagi.Dari suaranya aja jelas terkasan rasa nggak suka. Masa di awal jadian mereka justru yang di sebut malah nama cowok lain.Diera tidak menjawab. Sebaliknya ia malah mengeluarkan bukunya Rian dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke pada pacar barunya. Rian segera meraihnya, sejenak ia terdiam melihat judulnya. Tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum menatap Diera.“emang loe mau jadi ‘ninda’ nya?”“kenapa nggak? Dia baik, cantik, soleha lagi” balas Diera mantap.“ya udah kalau gitu sekarang juga kita langsung ke rumah loe” ajak Rian.“HA?! Mau ngapain?” Diera kaget plus bungung.“katanya mau jadi ninda. Ya udah kita minta di nikahkan aja besok. Ha ha ha…”“sembarangan!!!” damprat Diera sewot karena Rian ngerjainnya. Sementara Rian makin ngakak.“eh tapi ngomong-ngomong Pasya nya mana ya?” Tanya Diera beberapa saat kemudian.“tuh kan… loe kok malah ngomongin cowok laen lagi sih” Rian sewot.“bukannya apa. Tadi kan dia yang mint ague kesini. Kok jadi loe yang datang gitu lho”“0 jadi nggak suka? Ya udah gue pulang aja deh” Rian mau beranjak pergi. Tapi buru-buru di tahan oleh Diera.“tunggu dulu. Bukan itu maksud gue. Loe jangan salah paham dulu. Gue Cuma…”“ia, gue tau kok. Gue tadi Cuma ber canda…” Rian kembali duduk di bangkunya “lagian tu orang palingan lagi kencan juga”“Ha?! Sama siapa?” Diera kaget.“Hera” balas Rian singkat.“Hera?! Kok bisa?”“ya bisa donk.tu orang kan udah lama naksir sama Hera”“kalau soal itu gue juga udah tau. Maksud gue kok mereka bisa kencan bareng, memang siapa yang nyomblangin?”“siapa lagi donk. Ya pasti gue lah”“elo?” Diera makin Heran.“memangnya kenapa?” Rian balik nanya.“sulit di percaya. Memangnya sejak kapan loe care sama temen-temen gue. Pa lagi Hera. Masa ia loe bisa nyomblangin mereka” Diera masih berfikir kalau Rian bercanda.“lho memangnya loe belom tau ya? Tiap 2X seminggu Hera kan datang ke rumah gue. Dia kan jadi guru private nya adek gue” terang Rian lagi.“What?!” Diera mendelik mendengarnya “tapi tu anak kok nggak pernah cerita ma gue kalau dia kerja di rumah loe?” sambung Diera.“tau” Rian angkat bahu “lagian gue juga nggak suka kalau cewek gue deket-deket sama cowok laen”“ketahuan… loe cemburu ya?” goda Diera.“nggak kok. Siapa juga yang cemburu. Orang gue Cuma nggak suka aja” bantah Rian.“alah jangan bohong… ngaku aja…” kejar Diera lagi.“terus kenapa emang kalau gue cemburu? Nggak boleh? Loe kan cewek gue. Jadi wajar donk” sahut Rian kemudian Diera langsung ngakak.“eh udah makin malam nie. Loe mau pesen apa? Gue juga udah laper dari tadi ngobrol terus” Rian mengalihkan pembicaraan.“E… spageti sama orange jus aja deh” sahut Diera sambil melihat daftar menunya.“nggak miso sama es rumput laut?” ledek Rian lirih.“maksudnya?” Diera Heran. Dari mana Rian tau makanan kesukaannya. Tapi Rian tidak mau membahas lebih lanjut, ia malah mengajak Diera angobrol hal laen. Tepat pukul Sembilan tiga puluh Rian mengantar Diera pulang kerumahnya.Cerita SMA Diera Diary End“apa?!!! Jadi sekarang loe udah beneran jadian sama Rian?” Narnia setengah berteriak nggak percaya waktu Diera curhat ma temen-temennya di kelas pas jam istirahat sekolah. Saat itu kebetulan kelas memang lagi sepi hanya ada mereka berlima di kelas sementara temen-temen yang laen sudah pada keluar.“kok bisa sih?” sambung anggun yang juga masih nggak percaya.“tapi kalau gue sih nggak Heran ya” komentar Hera.“kok githu?” Tanya Lilly.Diera diam saja mendengar tanggapan temen-temennya.“ya iyalah secara gue kan emang tau kalau dari dulu itu Diera emang naksir berat sama Rian. Sementara gue juga tau kalau Rian juga suka sama dia”“loe tau Rian naksir sama Diera?” Lilly kaget plus Heran.“gimana bisa?” tambah Narnia.“ya bisa lah. Kalian tau nggak sih, selama ini ternyata Hera kerja sambilan di rumah Rian, ia jadi gur private adeknya Rian. Jelas aja dia bisa tau. Pasti selama ini Rian udah sering cerita macem-macem sama dia” Diera yang menjawab.“ha?! Loe kok nggak pernah cerita ma kita?” Lilly makin kaget.“emang nih anak. Suka maen rahasia-rahasiaan sama kita. Salnya ni ya, biar gue tebak. Pasti dia juga nggak da cerita ma kalian kalau tadi malam itu dia kencan sama Pasya, ia kan?” terang Diera lagi. semuanya semakin melongo.“benarkan?” anggun nggak menduga sama sekali.“tapi bukannya Pasya selama ini deket sama loe ya?” Tanya Narnia.“emang sih. Tapi dia deket sama gue Cuma karena ada maunya” balas Diera sambil tersenyum melirik Hera.“jadi loe tadi malam beneran nge date sama Pasya ra?” Tanya Lilly ke Hera.“nggak kok. Gue Cuma jalan biasa aja. Diera emang suka ngarang tuh” elak Hera.“ngaku aja deh…” ledek Diera lagi.“nggak!!!” Hera ngotot.“alah Rian yang bilang ndiri kok sama gue, pasti selama ini kalian sering curhat-curhatan di belakang kita ia kan?” desak Diera lagi.“bukan. Tadi malam itu gue di kerjain sama Rian. Dia bilang gue di tunggu sama septia. Adeknya dia, eh nggak taunya pas gue datang malah Pasya yang nongol” terang Hera.“masa’ she…” Diera masih ingin menggoda sahabatnya yang satu ini.“sumpah deh” Hera mengangkat dua jarinya.Diera mencibir bibirnya “tapi loe senengkan…” ledeknya lagi.“ah loe tu emang ya…” Hera bête juga lama-lama “lagian siapa bilang gue sering curhat-curhatan sama Rian?”“kalau nggac dari mana donk loe bisa tau kalau Rian selama ini naksir sama Diera” ujar anggun.Kali ini Hera dapat ide untuk membalas ledekan Diera.“gue bisa tau kalau Rian itu suka sama Diera gara-gara adeknya nunjukin foto ini ke gue. Dia nanya ma gue, ne cewek siapa, kok fotonya ada di hape kakaknya. Gue kenal nggak” balas Diera sambil mengeluar kan hapenya. Narnia langsung merebutnya dengan antusias.“apaan nie? Diera lagi tidur?” Narnia bingung. Karena bingung Diera merebut hape tersebut.“ini kan waktu gue nyasar di hutan. Kok dia bisa punya foto gue sih?” guman Diera kaget.“emang. Cie… ehem ehem ehem… emang waktu di hutan kalian ngapai aja tuh. Patut di curigain deh kayaknya” gentian Hera yang ngeledek Diera.“bahkan di jadiin wallpaper hape nya lho” sambung Diera lagi sambil tersenyum mengejek.“awas tu orang” geram Diera malu sambil berlalu dari hadapan temen-temennya yang menyorakinya. Sementara Hera tertawa puas karena berhasil membalas ejekan Diera tadi.Dengan tergesa-gesa Diera melangkah kan kaki menuju ke belakang sekolah. Ia yakin Rian pasti saat ini ada di sana. Karena ia tadi sudah mencarinya ke mana-mana, ke perpus, kantine, bahkan ia juga sudah kekelasnya tapi tetep belum nemuin Rian.Ternyata bener dugaannya. Rian emang ada di sana. Lagi nongkrong di tempat biasa sambil baca buku. Dan Rian langsung kaget ketika mendapati Diera sudah berdiri di depannya sambil menatap tajam kearahnya.“lho kok loe di sini? Nggak di sana?” ledek Rian sambil menunjuk pohon bunga tempat Diera biasanya ngumpet.Diera diam saja tanpa melepas pandangannya sedikit pun.“apa karena sekarang loe udah jadi cewek gue makanya bebas, huu… dasar” sambung Rian sambil mencubit pipi Diera gemes.“mana hape loe?”“he?! Buat apa?” Tanya Rian bingung.“udah jangan bawel. Sini gue mau liat”“apaan sih. Apa karena sekarang loe udah jadi cewek gue makanya loe mau ngecek hape gue kali aja gue ada maen ma cewek laen?”“gue bilang sini in” Diera ngotot.“hei kalau pun cemburu jangan kebangetan deh. Gue nggak ada maen sama cewek laen” Rian mulai gusar.Diera sama sekali nggak menggubrisnya, malah ia nekat merebut hape Rian yang kebetulan lagi di pegangnya.“apaan sih loe” bentak Rian sambil berusaha merebut hapenya kembali tapi Diera menghalanginya.“ini apa?!” Diera menunjuk kan hape nya pada Rian.“he ada yang aneh?” Rian Heran.Rian mengambil hape nya kembali. Sementara Diera udah pasang tampang cemberut.“0 wallpaper nya?” Rian baru nyadar.“ia. Maksud loe apa jadiin foto gue sebagai wallpaper hape loe. Mana gue lagi berpose kayak gitu lagi”“lho emangnya ada yang salah? Yang gue pajang kan wajah pacar gue sendiri. Kalau cewek laen wajar loe marah” Rian membela diri.“tapi waktu itu kita kan belom jadian, kok loe udah punya foto gue sih? Mana gue lagi tidur lagi, pasti loe ngambil nya diem-diem kan?” Tanya Diera lagi, Rian kaget.“0… itu… karena…” Rian jadi salting“karena sebenernya loe udah lama naksir sama gue. Ia kan? Huu.. ngaku aja deh, tau gini mendingan kemaren waktu loe nembak gue, nggak usah langsung gue terima kali ya” gerutu Diera.“apaan tuh. Jadi loe nyesel jadi cewek gue” Rian protes.“ia, abisnya selama ini loe kan jutek banget sama gue. Eh nggak taunya. Ternyata diem-diem loe naksir juga sama gue” ledek Diera.“0h ya?… kayak loe nggak. Bukannya loe juga udah naksir sama gue . bahkan dari kelas satu ia kan?” balas Rian sambil tersenyum menang.Diera kaget nggak nyangka Rian bisa balas meledek nya. Bahkan dia juga udah tau rahasianya.“ahh nggak kok. Siapa yang bilang. Andreani?… tu anak loe dengerin” elak Diera.“kenapa gue harus percaya sama Andreani? Ya gue tau nya dari loe sendiri lah”“gue?” Diera bingung.“eh sini deh” Rian menarik Diera mendekat “gue mau nanya sama loe. Kira-kira kalau ada cewek terus dia naksir sama cowok, apa yang bakal dia lakuin?” Tanya Rian.“ya berusaha ngedeketinnya donk” balas Diera setelah mikir beberapa saat.“huu… salah” Rian mendorong Diera menjauh “yang bakal dia lakuin adalah memenuhi buku haRian nya sama nama cowok tersebut” sambung Rian sambil tertawa dan pergi meninggal kan Diera yang kebingungan.“tunggu dulu” gumannya lirih “jangan bilang kalau elo yang udah nemuin buku diary gue yang ilang?” Tanya Diera, Rian menoleh.“jadi loe baru nyadar?.. ha ha ha kemana aja loe selama ini…”“APA?! 0MG!!!” Diera shok.“eh Rian. Tunggu dulu” kejar Diera melihat Rian yang semakin menjauh/“balikin nggak!!!” teriak Diera sambil terus mengejar Rian yang terus tertawa menghindar dari kejarannya.“nggak…!!! Wuek….” Ejek Rian sambil terus berlari.“Rian balikin please…” kejar Diera.“pokok nya nggak”“ha ha ha…”EndSalam ~ Ana Merya ~Lanjut Baca : || ||

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 04 {Update}

    cerita soal Serial Diera Diary kita lanjut ya teman – teman. Secara ceritakan emang belum ketemu sama yang namanya ending. Kali ini giliran Cerita SMA Diera Diary ~ 04. Gimana sama kelanjutan hubungan Diera dan Rian bisa kita simak di bawah ini.And as always, seperti biasanya. Untuk mempermudah sekaligus supaya nggak ketinggalan cerita, sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 04Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera terus melangkah dibelakang Rian. Dalam hati ia mengerutu akan sikap keras kepala makhluk yang berjalan di hadapannya. Tapi untuk ketiga kalinya, Rian kehilangnan keseimbangan nya dan mau jatuh, namun kali ini Diera tidak sempat menolongnya karena tadi Rian. Alhasil, Rian beneran jatuh dan langsung menjerit kesakitan karena kakinya ketindih dia sendiri. Diera buru-buru membantunya.“Tadi gue bilang juga apa. Elo sih ngeyel. Gue bantuin nggak mau. Liat sendirikan akibatnya. Jadi malah makin parah nih. Darahnya keluar lagi tuh,” omel Diera sambil memeriksa lukanya Rian. Rian hanya bisa meringgis menahan sakit.“Loe punya sapu tangan nggak” Tanya Diera beberapa saat kemudian“Ada, tuh didalam saku tas gue.”Diera segera mengambilnya dan mengunakannya untuk memebalut luka tersebut agar darahnya tidak keluar lagi.“Aw pelan-pelan donk… sakit tau” jerit Rian.“Oh ea?…. masa sih gitu aja sakit. Loe kan cowok “ ledek Diera membuat Rian bungkam.“Nah sekarang udah bereskan. Makanya kalau di omongin sama orang tu di dengerin. Huh… nyusain gue aja loe.”Rian mencoba berdiri dan siap mau jalan lagi, tapi Diera segera meraih tangannya dan melingkarkan di pundaknya. Siap untuk memapahnya, awalnya sih Rian tetap menolak, tapi akhirnya ia ngalah karena Diera terus ngotot. Dan mereka pun melanjutkan perjalanannya.“Ada apa?” Tanya Rian Heran karena Diera tiba-tiba berhenti.“Coba liat itu deh” tunjuk Diera tepat keatas mereka. Rian mendongakan kepalanya. Ternyata tepat diatas mereka ada pohon mangga hutan yang kebetulan sedang berbuah.“Gue laper nih. Kita ambil mangga itu dulu yuks. Kan lumayan,” ajak Diera. “Tapi gimana cara ngambilnya?”Diera bingung karena tuh pohon lumayan tinggi. Memanjatnya, rasanya nggak mungkin. Diera mencoba menjoloknya pake kayu tapi nggak ada kayu yang panjang, jadi nggak nyampe. Ia mencoba memetiknya dengan melemparinya pake ranting kayu , tapi nggak ada satu pun dari lemparannya yang mengenai sasaran. Akhirnya ia nyerah. Sampai ada sebiji buah mangga yang jatuh tepat di sampingnnya. Ia seneng dan langsung memungutnya. Saat menatap kesekeliling, tatapannya terhenti ke arah Rian yang sedang memegang ranting kayu kecil dan siap kembali melempar. Kali ini bukan Cuma satu tapi dua biji mangga yang jatuh. Diera tentu saja kagum melihatnya. Rian terus melempar, dan setiap lemparannnya selalu tepat sasaran. Diera benar – benar tidak percaya pada penglihatannya walau pun selama ini ia juga tau kalau Rian sanggat terkenal di sekolahnya akan keahliannya dalam bermain basket.Setelah tampak buah mangga yang lumayan banyak di tanah, Diera bilang cukup. Ia pun mengumpul kan semua mangga tersebut di depan Rian. Setelah itu ia pun duduk di sampingnya.Rian mencoba mengambil sebiji dan mengigitnya. Tapi buru-buru ia muntahkan lagi karena rasanya sanga masam, maklumlah magga tersebut memang masih mentah.“ Ya ampun. Ini manga atau asem sih. Kok rasannya kecut banget” ujarnya. Ia Heran karena Diera santai saja dan terus memakan mangga tersebut dengan santai. Bahkan keliatannya Diera malah suka.“Namanya juga masih mentah. Ya emang kayak gini rasanya. Loe pikir ni madu apa. Manis…..” balas Diera cuek.“Gue bisa sakit perut kalau makan ginian.”“Ya udah terserah loe. Tapi menurut gue ya masih mending sakit perut dari pada mati kelaparan.”“Tapi kok loe kayaknya nggak kekecutan sih?” Rian Heran.“He he he…. Gue kan emang suka. Tau nggak sih, bahkan mangga depan rumah gue nggak sempet mateng. Cuma biasnya gue makannya bareng sama garam.”Rian benar-benar tidak percaya mendengarnya. Walaupun rasanya bener-bener kecut, Rian akhinya memakannya juga. Bahkan sampai merem-merem segala. Diera memasukkan beberapa butir mangga yang belum mereka makan kedalam tasnya. Karena mereka masih harus menemukan jalan keluar dari hutan tersebut atau paling nggak bisa ketemu sama teman-teman mereka kembali.Hari sudah hampir malam lagi. Barulah sayup sayup Diera mendengar suara teriak-teriakan. Awalnnya ia pikir itu suara binatang hutan . tapi untung lah bukan karena ternyata itu suara teman-teman mereka yang terus mencarinya.Anggun, Narnia dan Hera langsung memeluk nya begitu melihat batang hidun Diera. Selama ini mereka bener-bener cemas akan nasib sahabatnya yang satu ini. Makannya mereka terus ikut dalam mencari mereka. Sementara itu para cewek-cewek yang lain sibuk ngerubungi Rian. Tapi mereka langsung pada cemberut karena anderani and teman-temanya langsung mengusirnya. Cerita SMA Diera Diary ~ 04“Eh entar sore kita pada jadikan buat main ke rumah Diera?” Tanya Hera sambil mengcampur aduk saus kedalam mangkuk baksonnya.“Ia donk, sebenernya kemaren sore gue udah kesana. Tapi dia masih belum bangun dari tenpat tidur” balas Lilly.“Kasihan…. Jadi dia sakit beneran habis pulang dari camping kemaren.”“Yo’a… apalagi kemaren kan dia sempet nyasar” Lilly menganguk. Nggak sengaja matanya tertuju ke sosok seseorang yang mau masuk ke kantin.“Pst…. Coba liat deh siapa yang datang,” Lilly memberi kode ke teman-temannya.“Eh kita samperin yuk” ajak Narnia begitu dilihatnya Rian sudah duduk.“Mo ngapain?” Anggun heran.“Ya mau kasih tau soal Diera lah. Masa mau nanyain dia mau makan apa, emang kita pelayan. Lagipula kemaren Diera kan nyasarnya bareng sama dia. Kali aja dia mau njenguk bareng kita,” sambung Narnia lagi.“Mustahil,” komentar Lilly santai.“Kok gitu?” Anggun Heran.“Kalau loe nggak percaya coba aja samperin. Gue sih ogeh.”Akhirnya semuannya sepakat. Anggun dan Narnia yang nyampering Rian. Lilly hanya tersenyum mengejek melihatnya. Dan terus memperhatikan kedua temannya yang bebicara kepada Rian.Lima menit kemudian Anggun dan Narnia balik lagi dengan tampang kusut. Lilly sudah bisa menebak kira-kira apa yang terjadi.“Gimana?” Tanya Hera penasaran.“Huh…. Benar-benar menyebalkan.”“Sumpah, nyesel deh kita nyamperin dia,” tambah Anggun.“Gue bilang juga apa.”“Ada apa sih?” Hera makin bingung.“Dia nggak mau ikut?” sambung Hera lagi.“Mending kalau Cuma nggak mau. Tau nggak sih dia malah ngomong yang bikin kuping gue panasss banget.”“Betul banget. Swer pengen gue jadiin bakso tu orang biar bisa langsung gue telen bullet-bulet. Sumpah deh.”“Udah mending kalian minum nih es biar adam dulu” Lilly menyodorkan es sirupnya ke kedua temannya sambil tersenyum. Anggun langsung menyerobotnya mendahului Narnia yang juga mau.Hera tentu makin kesel karena kedua temannya makin uring-uringan sementara di Tanya malah nggak jelas gitu. Akhirnnya dia yang memutuskan untuk menghampiri Rian langsung.“Mendinggan nggak usah deh,” cegah ketiga temannya serentak.“Kalian tenang aja. Gue bisa ngatasin ini kok. Kalian liat ya.”Tanpa menunggu balasan dari temannyannya Hera segera beranjak dari tempat duduknya dan menghapiri Rian dengan pedenya.Teman-temannya terus memperhatikan gerak-gerik Hera dengan heran. Apalagi dilihatnya Hera malah duduk bersama Rian sambil ngobrol santai gitu. Sambil nyodorin hape nya segala lagi. Masa sih Rian minta no hape nya dia. Kok bisa. Pikir mereka.“Ya udah gue pergi dulu ya” kata Hera meninggalkan Rian yang terus menatap pungungnya.“Ra gimana?” tanya Anggun penasaran.“Ia. Kok kayaknya kalian ngobrol akrab gitu” tambah Lilly.“Mana tadi Rian judes banget lagi sama kita” sambung Narnia.“Terus kenapa loe tadi nyodorin hape loe segala. Emang Rian minta no hape loe?”“He’eh” sahut Hera santai.“Ha…. Kok gitu. Cerita donk.”“Ya soalnya kan biar gampang ntar dia ngehubungin gue. Soalnya dia ntar ikut sama kita buat ngejenguk Diera.”“What?!” biji mata Lilly kayak mau keluar mendengarnya.“Ceritain donk. Loe pake jurus apa sih?” Narnia bener-bener penasaran.“Ada aja……” Hera tersenyum misterius.Salah sendiri, tadi dia nanya dicuekin, sekarang gantian donk.“Kok gitu sih….” Lilly bete.“Eh udah bel tuh. Buruan kekelas yuks…” ajaknya mengalihkan pembicaraan. Sambil berjalan meninggalkan kantin. Ketiga cecunguk itu terus mengejarnya untuk minta penjelasan. Tapi Hera Cuma angkat bahu sambil terus tertawa.Cerita SMA Diera Diary ~ 04Lilly mengucek-ngucek matanya, kali aja salah liat sementara Narnia malah mencubit tangannya sendiri siapa tau mimpi, Anggun?…. bengong. Mereka benar-benar tidak percaya siapa yang datang berboncengan dengan motor bersama Hera. Yups….. RIAN!!!.“Kalian udah dari tadi ya. Kok belum masuk?” Tanya Hera ke teman-temannya yang masih melototin Rian.“Hei… “ jerit Hera lagi karena mereka masih diam terus. Rian pura-pura ngebenerin riselting jacketnya. Salah tinggkah juga dia di lihatin kayak gitu.“Gue nggak mimpi kan nia” bisik Lilly lirih.“Kayaknya nggak deh, soalnya tangan gue sakit nih gue cubit” balas Narnia.“Hei kalian kok bengong gitu sih. Udah ayo masuk” ajak Hera.“Tapi dia?” tahan Anggun sambil tangan nya menunjuk ke arah Rian.“Ya dia ikut. Memang nya nggak boleh?” Hera balik nanya.“Bukannya waktu di kantin tadi kita ajak loe sendiri bilangnya nggak penting and kurang kerjaan ya?” Narnia tidak dapat menahan rasa penasarannya.“Kalau nggak terpaksa gue juga ogak kali” balas Rian ketus.“Apa?” Hera pertanya dengan nada mengancam.“Gue bilang sampai kapan kita mau berdiri di sini. Jadi ngejenguk temen loe nggak sih?”.ujar Rian kemudian.Diam diam Hera tersenyum mendengarnya.“Inget ya loe harus bersikap manis nanti di dalem. Kalau nggak…”Hera belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba tiba ada yang menyapa mereka. Ternyata mamanya Diera yang baru keluar karena tadi ia seperti mendengar suara motor yang memasuki halaman rumahnya.Reaksi Diera tidak beda jauh dengan reaksi Anggun, Lilly dan Narnia waktu pertama kali melihat Rian muncul didepan pintu kamarnya. Pandangan nya beralih ke Lilly dengan sorot ‘ kok-dia-ada-di-sini’. Lilly hanaya membalasnya ‘aku-anak-polos-nggak-tau-apa-apa’.Suasana sedikit janggal karena kehadiran Rian disana. Semua merasa canggung mau ngomong apa. Sampai Hera buka mulut mencoba untuk mencairkan suasana.“Diera gimana keadaan loe?”“Gue udah agak mendingan kok,” balas Diera sambil mencoba untuk duduk dari tempat tidurnya.“Kita semua ngehawatirin loe lho…” tambah Hera lagi.“Oh ya?. Ma kasih. Tapi sori ya kalau udah bikin kalian cemas gitu. Tapi gue beneran udah mendingan kok. Besok gue juga udah bisa sekolah. Udah kangen gue sama sekolah.”“Kalau loe emang belom baikan mending istirahat dulu….” Saran Lilly.“Dasar cewek…. Gitu aja sakit” gumam Rian lirih. Hera langsung melotot mendengarnya tapi Rian pura pura nggak melihat nya.Tiba-tiba pintu terbuka.“Eh ada temen-temennya kak Diera” sapa Cycie yang baru masuk. Adinya Diera yang baru berumur 6 tahunan.“Ia nih. Terus Cycie yang imut abis dari mana nih. Kok baru nongol” balas Hera sambil tersenyum gemes.“Abis maen ma temen-temen Cycie” balas Cycie sambil matanya tak lepas dari Rian yang tak jauh darinya.“Nah kalau yang itu namanya kak Rian” terang Hera yang menyadari rasa keingin tahuan bocah kecil itu.“O.. kalau aku Cycie. Adek nya kak Diera” dengan ramah Cycie mendekati Rian sambil mengulurkan tangannya, Rian pun tersenyum membalasnya.“Kakak pasti pacarnya kak Diera ya?” Tanya Cycie tiba-tiba yang membuat semuannya yang mendengar nya kaget nggak menyangka akan mendengar pertannyaan yang di lotarkan bocah cilik itu.“Hus Cycie!… apa apaan sih loe. Sembarangan aja kalau ngomong. Udah mending keluar sana loe” Bentak Diera mengusir adiknya karena merasa malu.“Gitu aja marah. Cycie kan Cuma nanya. Abisnya Cycie penasaran sih. Soalnya temen-temen Cycie bilang anak cowok nggak boleh maen ke kamar cewek kecuali kalau pacarnya. Gitu,” Cycie polos.“Ya nggak lah. Kakak Cuma temen kok. Lagian kalau pun pacar juga nggak boleh masuk kekamar cewek,” balas Rian kemudian.“Terus kenapa kakak masuk ke kamar kak Diera. Kak Diera kan cewek?” Tanya Cycie lagi yang membuat Rian makin bingung menjelaskannya.“Kalau kak Rian ke sini itu buat ngejenguk kak Diera yang lagi sakit” Lilly ngebantu menjelaskannya.“O…. gitu ya. Jadi kalau ceweknya yang sakit baru cowoknya boleh masuk yaa?”“Cycie!…”bentak Diera. “Keluar nggak!”.Cycie manatap kakak nya sambil memonyongkan mulutnya. Diera balas menatap tajam kearahnya. Cycie ngalah dan memilih keluar karena ia merasa takut kalau kakak nya beneran marah sama dia.“Sory ya yan ama omongan adek gue tadi” kata Diera ke Rian.“Nggak papa kok.”Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera melirik jam tangnnya. Ia Heran teman-temannya kok belum nongol juga. Padahal tadi ia sudah pesen sama Lilly kalau udah kelar ngisi soal ulangnnya langsung nyusul nya ke kantin. Tapi mereka kok belum nongol-nongol juga ya. Bel juga istirahat juga barusan udah kedengeran.Diera memicingkan matanya seolah kurang yakin dengan peglihatnnya melihat Rian yang dengan santai duduk di kursi di depannya sambil memesankan dua mangkuk mi so dan dua gelas es rumput laut.“Kenapa loe liatin gue kayak gitu?” Tanya Rian Heran.“Loe salah makan ya tadi malam. Atau emang lagi ngelindur?” Diera balik nanya.Rian melongo mendengarnya. Nggak ngerti apa maksut Diera ngomong kayak gitu.“Kenapa emang?”“Ya kok tumben banget loe mau duduk di samping gue. Nggak takut kehilangan selera?”Rian diam saja mendengarnya. Tidak komentar apapun. Malah mengeluarkan hape dari sakunya. Dan sok mencet-mencet tombolnya. Mengabaikan Diera yang masih menanti jawaban darinya.Pelayan kantin datang sambil membawakan pesanan mereka. Rian kembali memasukkan hapenya kedalam sakunya. Dan meraih mangkuk mi so nya. MenCyciepinya sedikit. Kemudian mendambahkan sedikit saus dan kecap kedalamnya.Bete di cuekin begitu. Diera bediri dan siap pergi meninggalkan mejanya sampai tiba tiba Rian menarik tangannya utuk kembali duduk sehinga membuatnya kaget.“Duduk."Kali ini gantian Diera yang menyentuh kening Rian. Kali aja tu anak yang sakit.“Bukannya yang baru sakit itu elo ya?” sindir Rian.“Kali aja pindah ke elo” balas Diera santai.Sembarangan. Udah makan tuh.”“Tapi ian gue masih Heran deh kok loe tiba-tiba mau nraktir gue sih. Atau jangan-jangan.”“Nggak usah nebak yang aneh-aneh. Udah makan aja. Anggap aja nie ucapan terima kasih yang kemaren. Kemaren kan loe bilang nya gue nggak tau berterima kasih” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya.“Biarin gue sekali-kali Ge-er kenapa sih….” gerut Diera cemberut tapi tak urung di seruputnya juga makanan yang ada di hadapannya.“Kenapa?” Tanya Rian heran karena dari tadi Diera masih terus mempehatikannya.“Enggak knapa-napa” balas Diera sambil terus memperhatikan Rian.Tiba-tiba Rian berdiri dan siap beranjak pergi yang membuat Diera heran dan segera menahannya.“Loe mau kemana sih. Tadi katanya mau makan bareng. Kok sekarang gue di tinggal gitu aja?”“Gue kan udah selesai.”“Tapi gue kan belom” balas Diera.“Kan bisa makan sendiri. Emangnya harus gue suapin?” balas Rian ketus.“Emang loe mau nyuapin gue?” Tanya Diera serius.“Hu… Maunya…….” Ledek Rian siap berbalik tapi lagi-lagi di cegah sama Diera.“Tunggu…” tahan Diera.“Apa lagi. Dasar cewek lemot. Jadi ngomong sama loe harus lurus aja ya. Nggak ngerti juga kalau pake bahasa orang gede…. Gue-nggak-mau-nyuapin-elo. Puas.”“Ye……. Siapa juga yang minta di suapin sama loe. Ngasal kalau ngomong” Diera sewot.“Terus?”“Bayar tuh makanan. Enak aja main ngacir. Tadikan loe yang pesen. Emang sih gue juga makan. Tapi kan loe yang minta gimana sih?”Rian baru nyadar. Dan segera di rogohnya uang dari dalam sakunya dan di berikan pada pelayannya. Kemudian segera berlalu tanpa ngomong sepatah kata pun pada Diera. Ia ingin buru-buru pergi karena sekilas tadi ia melihat bayangan teman-temannya Diera yang akan masuk kekantin.“Hu…. Kenapa tu orang. Dasar orang aneh,” gumam Diera sendiri sambil kembali menghabiskan mi so nya yang masih tersisa.“DOR”.Diera tersedak. Lilly menepuk pungungnya tepat saat ia sedang makan mi nya yang pedes banget. Dan hasil nya……Emang dasar tu orang. Ngagetin nggak pake kira-kira. Nggak lihat situasi. Umpat Diera dalam hati.“Ups….. sory….” Lilly merasa bersalah sambil menugsap-usap pungung Diera karena Diera nggak berhenti-henti batuknya.“Gila loe… loe mau bunuh gue ya. Bisa mati keselek gue….”“Ya sori. Abisnya gue kesel si sama loe. Udah tadi waktu ulangan nggak bagi-bagi jawabannya. Di bikin jadi pudding kita sama pak bastian. Terus giliran kita kesini eh loe malah enak-enakan makan miso sendirian. Bahkan sampai abis dua mangkuk. Siapa yang nggak kesel coba. Dasar nggak setia kawan.”“Bukan gue nggak mau ngasih tapi kan tadi kalian sendiri tadi nggak minta,” Diera bela diri.“Giamana kita mau minta tolong ma loe. Lha wong loe langsung ngacir begitu udah selesai,” balas Anggun.“Ha ha ha” Diera tertawa mendengarnya.“Tapi ra, loe rakus juga ya. Sampai abis dua mangkuk mi so. Apa gara-gara loe sakit kemaren. Makannya sekarang loe mau bales dendam?” Tanya Narnia sambil duduk di sampingnya yang terlebih dahulu memesan bakso sama pelayan kantinya.“YA nggak lah. Gue makan semangkuk ini aja belom abis dari tadi.”“Terus ni mangkuk siapa donk?”Tanya Hera sambil menunjuk mangkuk mi so yang sudah kosong.“Coba tebak…” Diera bales nanya.“Pasti Pasya kan?” ujar Anggun dan Lilly bersamaan. Diera mengeleng.“Kok Pasya sih. Lagian kenapa juga di harus nraktir gue?”“Alah kayak kita nggak tau apa. Tu anak kan naksir sama loe. Kemaren aja waktu loe nggak datang ke sekolah tu orang terus nanyain keadaan loe” goda Narnia.“Apaan sih….” Diera tersipu malu.“Tapi kalau bukan Pasya siapa donk. Nggak mungkin Rian kan…” tebak Lilly ngasal.“Emang dia…” balas Diera nyantai. Lilly melotot menatapnya. Seolah nggak percaya sama pendengarannya.“Loe bercanda kan?” tambah Narnia yang juga nggak percaya. Diera mengeleng. Cuma Hera yang diam diam tersenyum.“Kenapa dia harus nraktir loe. Terus di mana dia sekarang?” Tanya anggun antusias.“Tau….” Diera hanya angkat bahu.“Kayaknya kelakuan tu anak makin aneh deh….” Gumam Lilly sebelum kemudian mengalihkan perhatiannye kearah makanan yang terhidang di hadapannya.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 05~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerita Pendek “Cintaku salah sasaran”

    Baiklah, kalau lagi buntu ide soal cerpen cerpen part yang jelas masih bertebaran (???) penulis emang demen bikin cerpen ide dadakan. Emang si kebayakan endingnya rada gak jelas, tapi anggap aja itu ciri khas #ngeles mode on.Nah, begitu juga cerpen yang satu ini. "Cintaku salah sasaran". Ide dadakan yang muncul waktu duduk diam antara cendana – sari bumbu resto. Di temani BB kreditan akhirnya terciptalah cerpen berikut. Soal ending, nggak jauh beda nasipnya seperti cerpen cintaku nemu di warnet ataupun cintaku berawal dari facebook.Over All, Happy reading ae lah….Menunggu itu menyebalkan. Terlebih jika yang kau tunggu itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak bermutu. Nungguin angkot lewat misalnya."Hufh" tanpa sadar Alexsa menghembuskan napas lega saat akhirnya angkot berwarna pink berhenti tepat dihadapannya. Tanpa kata ia segera melangkah masuk.sebagian

  • Cerpen Sahabat Jadi Cinta Be The Best Of A Rival End

    Credit Gambar : Ana Merya"Clara, loe gimana si. Kemaren loe yang ngajak gue buat datang. Eh giliran tiba hari H-nya malah loe yang nggak nongol. gimana si" Omel chika pada sahabatnya keesokan hari."Sory chik, kemaren itu gue ada urusan yang nggak bisa gue tinggalin. Nyokap gue sakit. Terus gimana, Sekolah kita pasti menang kan?" Balas clara penasaran.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*