Cerpen Romantis “Buruan katakan Cinta End” {Update}

Cerpen romantis yang Star Night sendiri nggak tau di mana letak keromantisannya. =,=
Oh ya, Cerpen ini adalah bagian end. Syukurlah akhirnya happy ending juga yah walaupun kemaren masih sempat ngegalau. Beneran, untuk part ini Star Night nggak nyangka endingnya begini. beneran di luar dugaan kayak nya. Untuk lebih jelasnya silahkan di baca sendiri. Oke….!!.
Tapi sebelum itu baca dulu episode sebelumnya yang bikin galau di Cerpen Galau Buruan Katakan cinta.

Credit Gambar : Ana Merya
Keesokan hari nya, ani di antar oleh vano, kevin melihatnya dengan pandangan yang sedih, kevin mengusap air mata yang menetes di pipinya, kemudian ia melangkah meninggalkan ani bersama vano. tapi ani tidak melihat kehadiran kevin.
Saat istrahat pertama kevin sengaja ke kantin karena ia nggax mau lebih menyakiti dara dengan selalu berada di dekat dara. begitu tiba di kentin pandangannya langsung tertuju ke meja yang berada tak jauh di depannya. karena di sana ada ani dan vano yang sedang asyik ngobrol.
"ani… baru gini aja hati gue udah sakit, gimana gue bisa ngerelain elo ama vano. gimana ani? apa gue sanggup menjalani hidup kalau gue nggax bisa bersama ama loe… tapi na demi loe, gue bakal merelakannya, gue bakal melakukan apapun asal loe bahagia na. gue rela melakukannya…" kata kevin dalam hati "tuhan, berilah gue kekuatan untuk mengatankannya, bantu gue tuhan, semoga aja gue nggax pingsan di tempat. huuuufffhh… kevin, loe pasti bisa. berjuang lah kev…." lanjutnya
"ani, kita perlu bicara…" kata kevin.
"kalau loe mau ngebelain dara di depan gue lagi, nggax perlu, gue udah tau kok, lagian percuma aja kita berdebat…" kata ani dengan santainya.
"na, gue bukan mau ngomongin itu kok…"
"trus loe mau ngomong apa?" tanya ani.
"apa kalian pacaran" tanya kevin, ani dan vano langsung kaget.
"ha?! e enggak, kok loe bisa ngomong kayak gitu sich…"
"eh, kan gue udah bilang sama loe kalau loe itu seharusnya bisa percaya sama pacar loe sendiri, bukan percaya sama orang lain, tapi kalau loe nggax percaya ama dia, gue selalu percaya kok sama ani, jadi jangan salahin gue, kalau gue itu merebutnya dari elo…" kata vano sambil berdiri.
"kalau gitu loe udah bisa mendapatkannya kok, ani itu lebih percaya sama loe dari pada ama gue…" kata kevin.
"kevin!!! loe fikir gue itu apa ha? barang yang bisa loe tukar-tukar? gue itu manusia yang masih punya perasaan kev, gue nggax nyangka kalau loe setega ini…"
"ani, jadi gue harus gimana? apa yang harus gue lakuin agar loe mau ngedengerin gue? apa ani? apa? loe kasi tau gue caranya… gue pasti bakal melakukannya… an, loe tau nggax sich, selama ini gue selalu mencoba menjadi yang terbaik buat loe.. selama ini gue itu selalu perhatian sama loe… na, sebenernya apa motif loe ngelakuin ini…"
"gue…" kata ani sambil melihat kesekeliling nya, tanpak di sana banyak yang memperhatikan mereka, sepertinya sebagian besar anak-anak yang ada di campus, semuanya memperhatikan mereka.
"kalau gue emang ada salah, gue minta maaf, dan kalau gue boleh tau, apa kesalahan gue itu, gue nggax tau na gue nggax tau salah gue dimana… apa semua ini karena masalah kemaren, kalau emang karena itu, itu tu nggax sengaja, kemaren gue emang jalan ama dara, karena saat itu kita bosen, kita pusing ngerjain tugas yang nggax selesai-selesai jadi kita sengaja mau menyegarkan fikiran kita…"
"ini bukan cuma masalah itu aja kev…"
"trus apa?? apa ini karena vano. apa loe suka sama vano? kalau ia bilang… nggax kayak gini caranya, ini tu bener-bener menyakitkan… loe tau nggax sich gimana perasaan gue saat gue tau loe nggax ada kabar selama dua minggu, gue takut terjadi apa-apa sama loe, gue takut na, gue takut loe itu kenapa-napa… apa loe tau gue itu udah kayak orang gila saat itu, yang gue lakukan hanya menunggu hanpone gue, mungkin aja loe mau menghubungi gue, tapi apa…. loe sama sekali nggax ada menghubungi gue…"
"kev, saat itu gue…"
"kenapa? loe nggax inget ama gue… atau loe sengaja melakukannya… na, gue itu sampai bolos dari kampus cuma karena mengkhuatirkan keadaan loe, tapi apa yang gue dapatkan… cuma sebuah kesia-siaan. tapi gue masih bisa menahan diri gue, untuk tetap tenang, kalau nggax mungkin sekarang gue udah masuk RSJ karena strez mikirin elo. saat pertama kali loe datang kembali ke campus gue lihat loe udah menjadi beda banget, beda banget dari pertama kali gue mengenal elo, dan saat itu gue seneng banget. tapi gue malah melihat elo akrab dengan cowok lain, loe bisa membayangkan nggax sich giamana perasaan gue saat itu… gue sedih banget na… apa semua itu masih belum cukup untuk elo percaya kalau gue bener-bener perhatian sama loe…"
"kevin…."
"ani, apa loe pernah memikirkan gimana perasaan gue, kenapa loe malah membela cowok yang harusnya menjadi saingan gue, gue itu sedih banget na, gue merasa hidup gue udah nggax ada artinya lagi… apa yang sebenernya elo inginkan… apa na? apa loe bener-bener ingin gue merelakan elo pergi… gue nggax sanggup kalau harus kehilangan elo sekarang na… gue nggax sanggup…"
"kev, gue…"
"ani gue belum selesai bicara… apa loe melakukan semua ini karena mau membuat gue cemburu? kalau ia, loe udah berhasil na, loe berhasil bahkan sukses besar, gue bener-bener cemburu ngelihat elo ama cowok lain, apa lagi elo selalu aja membelanya, loe tau nggax sich kalau gue sakit hati melihatnya…"
"maksud loe…?"
"ani, apa loe masih nggax sadar juga kalau selama ini gue suka sama loe, apa loe nggax ngerti juga kalau nggax di kasi tau? ani, gue itu suka sama loe, gue nggax bisa melihat elo dengan yang lain, gue nggax sanggup na, mungkin ini karena gue terlalu menyukai elo, gue nggax perduli apa pandangan orang terhadap kita, gue nggax perduli apapun yang orang lain katakan, mau mereka bilang elo kuper, buruk rupa, jelek atau apa pun, tapi gue nggax perduli na, gue nggax perduli… yang penting gue selalu bersama ama loe na, apa itu masih belum cukup untuk membuktikan sebesar apa cinta gue ke elo… apa itu masih belum cukup ani!!!" bentak kevin yang udah nggax bisa menahan emosinya.
"kev, gue…gue nggax menyangka kalau loe…"
"what?! loe nggax tau kalau gue itu suka sama loe? sebenernya loe itu suka sama gue nggax sich, kenapa elo nggax bisa tau apa yang pasangan elo rasakan…. ani gue jadi merasa ragu sama loe… sebener nya loe suka sama gue atau nggax?"
"kevin gue…"
"atau malah loe udah berpindah kelain hati seperti gosip yang udah menyebar, sebenernya gue nggax percaya, tapi kalau reaksi loe kayak gini gue jadi semakin yakin kalau loe nggax suka sama gue… kalau loe emang suka sama vano bilang… ayo bilang terus terang…. gue bisa kok untuk memut…."
"cukup kev, cukup!!!" potong ani "loe udah terlalu banyak bicara… kenapa sich loe nggax memberikan kesempatan untuk gue menjelaskan semua yang udah terjadi… gue itu ama vano cuma…"
"apa? udah lah, mending kita akhiri semua ini… sekarang mending loe pilih antara gue atau vano?"
"kev…"
"kenapa? kalau loe beneran suka sama gue loe bakal lebih memilih gue dari pada vano kan? tapi gue minta loe harus memilih salah satu di antara kita, dan merelakan salah satu di antara kita pergi…"
"apa nggax ada pilihan yang lain kev?" tanya ani.
"nggax. cuma ini pilihan yang loe punya, sekarang mending loe jawab"
"kevin, gue emang suka sama loe. tapi, gue juga nggax bisa kalau harus menjauhi vano…" kata ani.
"kenapa? apa vano itu lebih berarti dari gue…"
"kev, vano itu…"
"apa?!" tanya kevin.
"gue nggax bisa kalau harus pergi dari vano…" kata ani.
"ani… ok kalau itu pilihan loe gue…" kevin tak sanggup meneruskan kata-katanya, dan siap mau pergi.
"ha ha ha…" tawa vano tiba-tiba, semua yang ada di sana langsung kaget termasuk fitri, desy dan sisi yang kebetulan sedang ada di kantin ikut kaget mendengarnya, dan makin penasaran dengan apa yang terjadi. langkah kevin langsung berhenti, dan kembali berbalik.
"vano. kenapa loe tertawa… emang loe fikir ada yang lucu?!" bentak kevin sebel. nggax tau orang lagi marah apa?! nyebelin banget.
"ya iya lah. kalian berdua itu lucu…" kata vano dengan masih tertawa.
"apanya yang lucu? atau loe bangga banget karena ani lebih milih loe dari pada gue… ha?!" bentak kevin sebel sambil menatap ani dengan sebel dan sakit hati.
"loe jangan salah faham dulu, tapi kalian tu aneh, udah sama-sama suka masih gengsi aja yang di banyak-banyakin" kata vano.
"loe…??? loe tau kalau gue ama ani saling suka?"
"he-eh… udahlah mending kalian berdua baikan aja, nggax baik kalau harus kayak gini terus, kasian gue ngelihatnya. baikan aja ya…."
"loe nggax sakit hati?" tanya kevin.
"ha ha ha ya nggax lah, gue itu tau kalau kalian saling suka jadi mending kalian baikan aja…"
"bukannya loe suka sama ani?"
"emmm…" kata vano dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"kalau nggax, kenapa loe mendekatinya…"
"ha ha ha… " tawa kevin makin seru "gue itu sepupunya lagi…" lanjutnya santai yang tentu saja membuat semua yang mendengarnya jadi kaget, terutama kevin pastinya.
"apa?! loe…" kevin tidak bisa meneruskan kata-katanya, ia langsung terduduk di kursi sampingnya. sumpah malu banget.
"ia. kita ini sepupu… na, tost dulu…" kata vano dan kemudian mereka tost bersama sambil tersenyum bersama sementara kevin syok banget "bener kan apa kata gue… ternyata gue itu bener-bener pinter ya… nah, sekarang loe percaya sama gue kan?…" kata vano kepada ani, ani langsung mengangguk.
"he-eh, elo sich kev, coba aja kalau loe mengakuinnya lebih cepat, gue kan nggax perlu melakukan hal konyol kayak gini…." kata ani sambil tersenyum.
"kalian… apa sebenernya yang terjadi…" kata kevin dengan bingungnya.
"sebenernya…." kata vano dan menceritakan apa yang sebenernya telah terjadi.
FlasBack
"An, loe kenapa? kok mukanya kusut gitu? strika dulu gih…" kata vano sambil duduk di dekat ani, di teras rumah kakeknya.
"sembarangan aja, loe fikir gue itu pakaian apa…"
"he he he mirip dikit…" balas vano.
"uh keterlaluan…"
"he he, lagian elo masa mukanya ditekuk terus, kenapa? ada masalah ya? dari kemaren hanpone loe bunyi terus tuch… kenapa nggax di anggkat?" tanya vano.
"suka-suka gue donk, lagian loe itu masih kecil, jadi nggax perlu tau…"
"masih kecil? eh gue itu lebih tua dua tahun dari loe ya, sembarangan aja kalau ngomong… " vano nggax terima "ya walaupun maasih terlihat muda an gue dikit…" lanjutnya.
"ia. mudaan guenya banyak…"
"ah ya nggax donk, enak aja. udahlah mending loe ceritain aja apa yang terjadi ama sepupu loe yang keren ini…" kata vano.
"idih pe-de banget loe… keren apaan, suka mainin cewek kayak gitu… jadi playboy kok bangga" balas ani.
"lho ini tu kenyataan kali… gue itu emang keren, kalau gue nggax keren mana ada yang bakal mau ama gue…. lagian gue jadi playboy kan bukan kemauan gue…"
"trus kemauan siapa?"
"e napsu gue… he he he… lagian, salah tu cewek sendiri, udah tau gue itu playboy masih juga percaya apa yang gue omongin ama dia…"
"kena batunya baru tau rasa loe…."
"loe itu emang bukan sepupu yang baik ya, masa saudara nya sendiri di sumpahin yang nggax-nggax. e tapi udahlah, emang loe ada masalah apa? gue itu kan paling banyak ide. so, apapun masalah loe gue pasti bakal bisa bantu…"
"sebenernya, gue itu punya pacar, tapi pacar gue nggax pernah bilang suka sama gue sekali pun, dari kita mulai pacaran hingga saat ini, yang udah enam bulan. gue bingung sebenernya dia itu suka sama gue atau nggax…" kata ani.
"trus pacar loe sendiri itu gimana sikapnya kalau berada di dekat elo…"
"ya dia itu baik, dia selalu belain gue kapan pun dan dimana pun gue di hina orang, loe taukan gue itu gimana? pastinya banyak yang nggax suka sama gue… dan akhir-akhir ini dia lagi deket ama seorang cewek yang cantik banget, dan gue pasti kalah jauh ama dia… cewek itu cantik banget…"
"jadi…"
"kemaren sebelum gue kesini gue ngelihat mereka jalan ke taman bareng, gue nggax tau kenapa mereka ada di sana? sengaja janjian atau apa, tapi gue sedih banget, gue takut pacar gue itu lebih milih cewek itu dari pada gue…"
"ani, loe itu gimana sich, katanya loe suka sama… e siapa???"
"kevin"
"ha ia, kevin. katanya loe suka sama kevin, nah kalau loe suka sama dia, harusnya elo ngertiin dia, loe harusnya tau apa pacar loe itu suka sama loe atau nggax…"
"nah itu dia masalahnya, gue nggax tau apa kevin suka sama gue atau nggax, ini yang lagi gue cari tau…. gue takut kalau sampai kevin nggax suka sama gue, karena gue suka sama dia…"
"loe dengerin gue deh,… kalau cowok udah memberikan perhatian lebih ama seorang cewek berarti dia menganggap kalau cewek itu penting dalam hidupnya… nah loe tengang aja, pasti si kevin itu suka sama loe, dia pasti lebih mementingkan perasaan elo di banding orang lain. percaya deh…"
"sok tau banget sich loe… loe itukan playboy, sejak kapan loe tau arti sebuah cinta…" kata ani.
"loe pasti tau kan kenapa gue jadi playboy, itu karena pacar gue ngeduain gue, nah jadi gini-gini gue pernah ngerasain sakit hati juga cinta kaliii jangan anggap semua playboy itu jahat deh…" vano nggax terima.
"ia deh maaf. tapi gue nggax terlalu percaya kalau kevin suka sama gue, loe tau kan gue itu kayak apa, sementara saingan gue cantik banget"
"An, cinta itu nggax lihat penampilan, jadi menurut gue pasti pacar loe itu suka sama loe, loe tengan aja… lagiankan suatu hubungan itukan sangat memerlukan sebuah kepercayaan, nah kalau loe nggax percaya ama pacar loe sendiri, buat apa hubungan ini kalian lakukan…."
"tapi gue sangat mencintai kevin van, gue bingung apa yang harus gue lakuin, apa harus merelakan nya kepada orang lain, atau mempertahankannya…"
"sebenernya apa yang loe butuhkan saat ini agar loe percaya kalau dia itu beneran tulus jadian ama loe…"
"pengakuannya, gue pengen dia ngaku kalau dia itu suka sama gue, karena selama kita pacaran gue nggax tau apa dia pacaran ama gue karena suka atau cuma mau mainin gue aja, gue nggax tau…."
"kalau cuma itu sich gampang, kayak nya gue punya ide cemerlang deh, mau mencobanya…"
"asal kevin suka sama gue jaminannya, gue bakal berusaha…"
"baiklah… pokoknya loe percayakan aja sama gue, gue itu udah berpengalaman kalau tentang yang beginian. pertama yang harus loe lakuin adalah, merubah penampilan loe menjadi lebih baik"
"kenapa pake acara merubah penampilan segala sich… gue suka kok sama penampilan ini…"
"ia loe suka, tapi gue nggax, udah lah pokoknya loe harus turutin kalau mau gue bantuin elo… itu baru yang pertama, dan selanjutnya… kita pikirin entar, gimana loe sanggup kan…" tanya vano.
"emmm, ok kita coba…" kata ani akhirnya.
"he he he gitu donk…." kata vano mereka tost bersama lalu tertawa dengan senengnya.
Flasback end
"0 pinter… bagus ya… bagus… seneng ya udah buat gue kayak gini, ia seneeeeng" kata kevin setelah vano dan ani selesai bicara….
"ha ha ha… ia donk. gue itu kan emang pinter" vano membanggakan diri.
"huuuh bener-bener keterlaluan…"
"ya abis elo, suka sama cewek nggax mau ngaku, harus gue juga yang turun tangan…"
"idih, pe-de banget loe jadi orang…"
"ia donk, percaya diri itu perlu…"
"gimana exting gue, bagus nggax?" tanya ani.
"ia bagus, cocok banget jadi pemain sinetron. pasti langsung dapat awards. sampai-sampai gue aja nggax mengetahuinya, ia bagus, sumpah deh…" kata kevin.
"tapi tetap berhasilkan…"
"ia berhasil banget…." kata kevin dengan nada sebel.
"idenya siapa…" tanya vano.
"cosmos" jawab ani dan kevin bersamaan dan tertawa bersama.
"vano. enak aja cosmos" kata vano sebel.
"he he he…"
"apa sich maksudnya?!" vano sebel.
"emmmm, ceritanya sich balas dendam…. he he he he…"kata kevin dan kemudian tertawa begitu juga dengan ani sementara vano merasa sebel.
"kalian ya… seneng udah bisa ngeledekin gue… ia seneeeeng. heran, bukannya terima kasih juga udah di bantuin, ini malah buat gue kayak gini… huuuh keterlaluan" kata vano sebel.
"ha ha ha ha…" balas kevin dan ani, juga anak-anak yang ada di kantin, sementara vano udah bener-bener sebel.
Cerpen Romantis "Buruan katakan Cinta End"
sore itu, ani dan kevin berjalan bersama, menelusuri pantai yang indah, apalagi jalan bersama yang terindah pokoknya menjadi bener-bener indah deh… setelah puas jalan-jalan, mereka duduk di sebuah kursi payung yang ada di taman, sambil minum air es kelapa muda, mereka ke asyikan ngobrol.
"eh, gue boleh tau nggax, alasan utama loe ngelakuin ini itu apa?" tanya kevin.
"ngelakuin apa maksud loe…" tanya ani.
"loe bego atau pura-pura bego sich, ya ngelakuin bohong-bohongan itu… gue kira loe udah berubah semuanya, ternyata penampilan aja yang loe rubah, tapi tetep aja lelet" kata kevin sebel.
"uh keterlaluan banget sich loe, masa pacar sendiri di bilang lelet. lagian yang ngerubah penampilang gue juga itu tuch si vano. kalau nggax juga gue nggax berubah"
kata ani "sebenernya tujuan utamanya cuma gue mau loe bilang cinta ke gue…"
"trus tujuan keduanya…"
"emmm apa ya… e palingan cuma mau ngebuktiin ke anak-anak kalau gue itu pantes dapat pacar kayak loe…" jawab ani.
"padahal kalaupun loe nggax berubah juga gue tetap bakal suka sama loe…"
"gue tau itu…" kata ani dalam hati "suka sich suka, tapi nggax bakal ngakuin ke gue kan… uh keterlaluan… loe tau nggax sich gue itu sempet meragukannya tau nggax. gue fikir loe itu cuma mau mainin gue aja…"
"ya enggak lah, gue itu tulus suka sama loe, lagian elo katanya suka sama gue tapi kenapa loe nggax tau-tau kalau gue itu suka sama loe, loe sebenernya memperhatikan gue nggax sich, hu'uh masa harus di kasi tau dulu baru tau…"
"ia donk. gue emang tau segalanya tentang loe kecuali perasaan elo…"
"kalau seandainya vano itu bukan sepupu loe, apa loe bakal tetap suka sama gue…" tanya kevin.
"kev, loe itu ngomong apa sich…"
"gue serius, kalau seandainya gue nggax sekeren sekarang, nggax sepinter ini, dan vano itu bukan sepupu loe, apa loe masih tetap suka sama gue…."
"ya iya lah, lagian cinta itu kan datangnya dari hati bukan penampilan… loe itu udah menerima gue apa adanya jadi gue juga gitu, lagian cinta itu kan lihat apa adanya bukan lihat ada apanya…" kata ani, kevin langsung tersenyum senang mendengarnya tapi… "eh apa tadi…. nggax sekeren sekarang 'n nggax sepinter ini??? idih pe-de banget loe…" cibir ani.
"apa kata vano, pe-de itu perlu, lagian gue emang keren 'n pinter kok, kalau nggax mana mungkin banyak yang naksir gue, termasuk elo…."
"uh ge-er, siapa bilang gue suka sama loe…"
"elo…."
"kapan?"
"barusan loe lakuin…."
"ih loe tu ya… re-se…." kata ani sambil memukul kevin.
"aduh sakit tau. sadis banget sich loe sama pacar sendiri…" kata kevin sambil mengusap-usap lengannya yang di pukul ani.
"biarin. abis re-se sich… e tapi by the way gimana ama dara?"
"kenapa nanya-nanya? gue itu nggax suka sama dara kok…"
"gue tau itu… maksud gue daranya, apa yang terjadi sama dia ya?"
"kemaren gue melihatnya deket ama aldy temen baik gue, dari dulu aldy suka sama dara tapi nggax berani ngomong, dan katanya saat aldy mendengar gue menolak dara, dia mencoba mendekati dara, dan sekarang gue juga nggax tau apa mereka udah jadian atau belum…" jawab kevin.
"0 bagus deh… nggax ada lagi yang ngegangguin pacar gue…" kata ani lirih, kevin langsung menatapnya, sepertinya kevin mendengarnya, kevin menatapnya sambil senyum-senyum seneng.
saat ani melirik kevin, ia baru sadar kalau kevin menatapnya sambil senyum-senyum dan membuat ani kaget, kira-kira ada apa.
"loe kenapa?" tanya ani.
"loe… cemburu ya…" balas kevin sambil senyum-senyum.
"ha, e enggak kok, siapa juga yang cemburu, nggax penting banget cemburu ama hal yang seperti itu…" kilah ani.
"udah lah ngaku aja, loe cemburu kan lihat gue ama dara"
"enggax"
"kalau gitu gimana kalau gue mencoba mendekati dara lagi" kata kevin ani langsung kaget dan refleks menatap kevin nggax percaya, kevin langsung tertawa melihatnya "tuh kan loe cemburu kan, gue bilang juga apa, loe itu cemburu. udah lah ngaku aja, gue itu kan emang keren dan selalu ngangenin, jadi siapun bakal tergila-gila sama gue temasuk elo…"
"siapa bilang, gue itu nggax bakal cemburu, gue kan sekarang cantik, jadi gue bisa mendapatkan cowok manapun yang gue mau, yang lebih keren dari elo. yang lebih pinter, yang lebih kaya, yang lebih…."
"stop!!!" potong kevin cepat "eh loe itu nggax boleh tergoda apa lagi menggoda cowok lain selain gue, loe tau kan gue itu pencemburuan. gue itu nggax bakal melepaskan elo begitu aja, jadi jangan harap loe bakal bisa lepas dari gue…" lanjutnya dengan sebel, gantian ani yang tertawa.
"ha ha ha kena deh, kasihan deh loe…." kata ani dan melangkah pergi sambil tertawa penuh kemenangan "gue menang. loe cemburu kan, ternyata gue itu emang bener-bener cantik ya, sampai-sampai loe aja nggax bisa ngelupain gue…" kata ani dan berlari.
"eh pe-de banget loe, nggax bakal gue nyerah gitu aja, sini loe balik nggax. gue bakal ngebalesnya…" kata kevin sambil mengejar ani, ani makin mempercepat langkahnya.
"nggax bakal bisa…"
"eh berhenti nggax. gue bilang berhenti. loe dengerin gue nggax sich?"
"enggax, wuuuueeeekkk. coba kejar kalau bisa…. "
"awas loe ya…."
"ha ha ha ha…."
Cerpen Romantis
THE END
Gimana?. Diluar dugaan kan ending cerpen romantis ini?. Star Night juga kaget kok endingnya jadi gini. Tapi semoga saja tetap bisa menghibur.

Random Posts

  • Cerpen Cinta: GELATO AND LOVE

    “Dia bagaikan sebuah pohon mati, tidak berbuah, tidak juga berdaun… tetapi dia terus hidup dan bertahan untuk waktu yang lama… Dia selalu diam, mematung tak berkutik… Ia tak pernah berlari terlalu kencang, atau berjalan terlalu lambat, Ia hanya memperhatikannya… Ia tersenyum namun hatinya menangis… Ia tertawa namun penderitaan yang terdengar… Ia makhluk misterius yang memasuki kehidupanku, merubah segalanya menjadi rumit, dan juga indah…” Sudah berulang kali Chris membaca novel karya Rosaria Cianni yang berjudul “Qualcuno” dan bagian itu adalah favoritnya. Walaupun novel tersebut merupakan buku pertama yang dikeluarkan Rosaria pada tahun 2005, tetapi Chris masih sangat menyukainya. Rosaria Cianni adalah penulis yang memberikan inspirasi bagi hidup Chris. Setiap kalimat dalam novel yang diterbitkannya selalu mengandung filosofi dan dapat membuat Chris seolah-olah terhipnotis. Ia tidak pernah kelewatan untuk sekedar meng-update info tentang penulis itu melalui fan page yang tersebar luas di jejaring media sosial. Mulai dari novel pertama sampai yang terbaru, Chris selalu mengikuti perkembangan ceritanya. Yang sedikit aneh dan terasa ganjil hanyalah, Rosaria Cianni tidak pernah menulis profil tentang dirinya di akhir halaman novelnya. Tidak ada sedikit info pun tentang dia. “hey Chris! Pagi-pagi sudah membaca novel, lagipula kau kan sudah berulang kali membacanya. Aneh sekali!” sahut Bianca mendekati Chris. Chris tidak terlalu memperdulikannya. Ia tetap fokus membaca novel pertama karya Rosaria Cianni. “ada apa kau tiba-tiba datang ke kedaiku? Aku tidak memberikan free gelato hari ini.” Bianca menghebuskan nafas kesal dengan kencang melalu hidung mancung nan langsingnya. “Chris, kau jangan berburuk sangka dulu terhadapku! Aku akan bayar kok, aku tidak meminta gelato-mu secara cuma-cuma.” Ia berpindah tempat duduk, dari yang semula berada di depan Chris, kini Bianca sudah berada di samping pria berambut coklat terang itu. Chris menaruh novel penulis favoritnya di atas meja, wajahnya nampak kesal, Ia berdiri dan tangannya bersidekap di depan dada. “Harus berapa kali aku katakan kepadamu Bianca? Tidak ada tempat untukmu di hatiku.” Chris menarik nafas dalam-dalam lalu ia berkata lagi. “kau mau pesan apa?” tanyanya cuek. Air muka Bianca seketika berubah suram. Tanpa ragu-ragu Chris mengatakan hal itu padanya. Apa Chris tidak sadar bahwa Ia baru saja melukai hati Bianca? Tetapi Bianca berusaha terlihat tegar. Ia memberikan senyum termanisnya kepada Chris. “Forest Berry Gelato per favore!” Chris menatap Bianca malas, kemudian Ia segera beranjak menyiapkan pesanan dari gadis yang sangat menyebalkan baginya. Tiba-tiba bel pintu kedai “Gelato & Caffè” milik Chris berbunyi. Ia berpikir keras, siapa orang yang akan memakan hidangan beku di pagi hari selain Bianca? Ia memperhatikan orang itu… seorang wanita dengan rambut hitam lurus panjang setengah pinggang, memakai coat berwarna biru tua, serta syawl putih yang meliliti lehernya tampak sedang mencari spot yang nyaman untuk ditempati. Ia duduk, lalu mengeluarkan laptop dari tasnya. Chris sedikit terpesona dengan wanita yang mempunyai wajah jelita tersebut. Setelah selesai membuat Gelato Forest Berry pesanan Bianca dan mengantarkannya, Ia pun berjalan menuju wanita itu dan menyodorkan daftar menu sambil memberi salam. “buongiorno.” Ucap Chris tersenyum. “ah, buongiorno.” Wanita itu membalas sapaan Chris tanpa melihatnya. Ia sibuk menjelajahi macam-macam jenis Gelato di buku menu. “aku pesan Gelato Dark Chocolate dan Espresso Con Panna.” Lagi-lagi wanita itu tidak menatap Chris! Chris sedikit sebal, bukan karena tatapannya yang tak terbalas, tetapi wanita ini sedikit tidak sopan dan berlagak angkuh. “aspetta un momento signorina!” ujar Chris lalu berjalan ke arah counter sambil masih menggerutu di dalam hatinya. “Wanita cantik namun sangat sombong.” Pikirnya. “Ho finito.” Bianca menyisakan gelato-nya yang tinggal sedikit. Ia membereskan barang-barang yang ada di atas meja kemudian menghampiri Chris yang sedang meracik Con Panna dan mencium pipi pria itu. Chris terdiam beberapa saat, menunggu amarahnya naik sampai ke ubun-ubun. “Vattene!” hardik Chris. Wajahnya memerah kesal. Tapi sayang, rupanya Bianca tidak takut sedikit pun, ia malah meledek Chris dan menjulurkan lidahnya. “a presto il mio amore!” Bianca tertawa geli kemudian berlari menyelamatkan diri dari Chris yang sedang mengamuk. “D- dasar!” keluh Chris sembari membawa pesanan wanita yang dipikirnya angkuh. Chris menahan nampan di lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya meletakkan gelato dan kopi ke atas meja dengan hati-hati. “Selamat menikmati.” Kata Chris, kali ini ia tidak menatap wanita itu lagi. Ia tau pasti ia akan diacuhkan. “duduklah, temani aku.” Chris hampir tak percaya. Ternyata dugaannya salah. Wanita itu… tidak sesombong seperti yang ia kira. Chris menarik bangku yang ada di depan wanita tersebut kemudian duduk dengan manis. Wanita itu terkekeh. “aku tidak mengira akan mendapat inspirasi di kedaimu.” Ia memandang Chris sesaat lalu kembali berkutat dengan laptopnya. Jarinya menari-nari di atas keyboard dengan cepat, sesekali ia berhenti untuk menyesap Con Panna­­ dan menyicipi gelato-nya. “che fai ?” tanya Chris penasaran. “menulis.” Jawabnya singkat. “ah… sì, sì” angguk Chris berpura-pura mengerti. Ia bingung hal apa yang enak untuk dibicarakan. Baru pertama kali Chris merasa gugup berada didekat seorang wanita, biasanya wanita lah yang mengejarnya. Contohnya, Bianca. “apa kedai Gelato & Caffè ini milikmu?” Chris senang sekali! Akhirnya wanita itu mau bertanya. Perlahan suasana kaku pun mulai mencair. “No, ini bukan milikku. Kedai ini kepunyaan Nonna, namun semenjak Ia meninggal, aku sebagai cucu yang tinggal bersamanya dari kecil yang melanjutkan usaha ini.” ujar Chris diakhiri dengan segurat senyum yang dipaksakan. “Jadi kau dan orangtuamu yang mengurus ya?” tanya wanita itu lagi. Chris sejenak membisu, lalu berkata. “Orangtuaku sudah meninggal, mereka ditembak oleh orang tak dikenal ketika kami sedang menikmati gelato di sebuah kedai di Venezia. Nonna bilang pembunuhnya adalah saingan bisnis papaku.” “mi dispiace tanto.” Ucapnya penuh nada penyeselan. “tidak apa, itu sebabnya aku membenci gelato. Meski meneruskan usaha nenek ku, tetapi aku tidak pernah lagi mencoba gelato sejak kejadian tersebut.” Jelas Chris. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia tidak suka terlalu terbuka kepada orang lain, namun, ketika duduk bersama wanita di depannya itu, Ia merasa tenang. Setiap kata mengalir begitu saja dari mulutnya. Wanita itu menutup laptopnya dan memasukannya ke dalam tas. Ia menghabiskan sisa Espresso Con Panna dan Gelato Dark Chocolate-nya dengan cepat kemudian berdiri sambil menggandeng tas. “Ini adalah pagi terbaik selama hidupku. Terimakasih. Kau telah memberiku banyak inspirasi.” Wanita itu menaruh uang di meja lalu mengulurkan kertas persegi panjang dengan latar kosong warna merah pada Chris. “ini hadiah untukmu. Aku harap kau tidak mengatakannya pada siapa pun. Jangan di balik sebelum aku keluar dari kedai ini. Arrivederci.” Katanya lalu tersenyum.*** Chris benar-benar terkejut bukan kepalang. Wanita yang kemarin pagi datang ke kedainya ternyata adalah Rosaria Cianni. Ya, Chris mengetahuinya dari kartu nama yang diberikan Rosaria secara langsung kemarin hari. Namun seperti dugaan Chris, pada kartu itu juga hanya terdapat nama dan pekerjaannya, yaitu penulis. Chris sungguh menyesali kebodohannya. Dia seharusnya tidak mengikuti perkataan Rosaria untuk tidak membalik kartu tersebut sebelum dirinya keluar dari pintu kedai Gelato & Caffè. Andai Ia dapat memutar kembali waktu, Chris rela memberikan apapun demi untuk bertemu lagi dengan Rosaria. Satu fakta tentang kemarin adalah, sebenarnya Chris tidak sengaja membuka kedainya pada pagi hari. Itu hal yang jarang sekali, atau bahkan tidak pernah Ia lakukan. Tetapi, karena semalaman Ia tidak bisa tidur dan paginya Ia tidak merasa mengantuk, akhirnya Ia memutuskan untuk membuka kedai dari jam 7 pagi. Mulanya Ia berasumsi bahwa pasti tidak akan ada yang berkunjung, namun Bianca adalah buktinya. Chris tidak tau menahu dari mana Bianca bisa mengetahui kedai miliknya sudah buka pukul 7, tapi yang pasti yang paling membuatnya sangat gembira yaitu kehadiran Rosaria. Ia tidak menyangka kemarin akan mendapat tamu seistimewa itu. Jika tau, mungkin Chris akan bersiap-siap selama 2 jam lebih untuk menyambut wanita yang dikaguminya tersebut. Sekarang tepat jam 12 siang, kedai semakin ramai dan Chris sedikit kewalahan mengerjakan pekerjaannya seorang diri. Sampai Bianca datang dan menawarkan bantuan. Awalnya Chris enggan, mengingat kejadian kemarin, Ia malu dan jengkel sekali. Namun apa daya Ia tak sanggup menolak, ya, karena kenyataan juga yang mendesaknya. Bianca membawa pesanan para pelanggan dari satu meja ke meja lainnya dengan suka cita. Ia menebarkan senyumnya kepada setiap orang dan berkata begitu manis. Chris mengawasinya dari counter, hati kecilnya seperti tergelitik. Perasaan aneh yang membuat Ia tertawa dan tersenyum ini selalu datang ketika Ia memusatkan penuh perhatiannya pada Bianca. Segera mungkin Chris menghapus pikiran itu. Ia pasti bergurau karena merindukan Rosaria Cianni, wanita yang memberinya inspirasi serta mampu membuatnya merasa tenang.“Chris, ada apa?” tanpa Chris sadari rupanya Bianca kini tengah berdiri di hadapannya. Wanita berambut coklat gelap dan bermata hijau itu menyuguhkan Espresso Macchiato dalam demitasse cup kepada Chris. “minumlah.” Katanya.Chris meraih daun telinga cangkir itu, menyesap Espresso Macchiato dengan gaya yang khas. Entahlah seperti apa, tapi itulah yang paling disukai Bianca darinya. “delizioso.” Gumamnya pelan, sangat pelan. Chris tidak mau Bianca melompat dan memeluknya karena pujian yang Ia lontarkan.Chris menunjuk ke arah tempat duduk paling pojok. “di sana, sepertinya baru saja ada pelanggan yang datang, tolong layani mereka.” Tuturnya.Bianca membuat tanda hormat dan tersenyum memperlihatkan deretan baris giginya yang rapih dan putih. “Oke, bos!” terkadang, hanya terkadang… Chris merasa dirinya sedikit kelewatan kepada Bianca, padahal wanita itu sering membantunya di kedai. Ia orang yang cukup baik. Tidak. Sangat baik mungkin. Meskipun Chris sudah berulang kali memarahi dan mengusirnya, tetapi Ia tetap tidak mundur selangkah pun untuk berada di dalam hidup pria itu. Bianca tidak berniat sedikit pun untuk meninggalkan Chris. Tidak pernah, walaupun harus bersaing dengan Rosaria Cianni, Ia tidak takut.***Satu hari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan terlewati. Chris menunggu dan menunggu namun Rosaria tak kunjung datang ke kedainya lagi sejak saat itu. Chris mulai kehilangan harapan. Ia mulai berfikir, tidak mungkin Rosaria punya cukup waktu luang hanya untuk memakan gelato dan bercerita bersamanya di kedai. Rosaria pasti sibuk mempersiapkan novel terbarunya. Chris ingat betul ketika wanita itu datang, Ia berkata Ia sedang menulis. Artinya, cepat atau lambat Rosaria akan segera mengeluarkan karya selanjutnya.Hari ini adalah tanggal 24 Desember. Bertepatan dengan momen indah 1 bulan yang lalu ketika Rosaria muncul dan memesan Espresso Con Panna serta Gelato Dark Chocolate, momen di mana Chris merasa begitu tenang. Utuh. Dan tak terasa pula Hari Natal akan segera datang. Hari Natal yang mungkin sama seperti tahun lalu, tidak ada yang spesial. Chris hanya akan sibuk bekerja dalam kesendirian di tengah kerumunan orang-orang yang menikmati hari natalnya bersama keluarga, teman, atau kekasih mereka.“Chris… kau ada acara untuk malam natal?” Bianca tampak sedang bersih-bersih, menyemprotkan semacam cairan kimia pada permukaan meja.Hari ini kedai tutup lebih cepat, orang-orang terlihat begitu sibuk. Terutama keuskupan, mereka sibuk untuk menyiapkan Misa Natal. Chris bukanlah seorang Katolik, Ia mengikut Papanya yang berasal dari Amerika dan seorang Karismatik. Ia tidak tau akan melakukan apa pada perayaan natal tahun ini. Kebingungan selalu menyeruak ke dalam pikirannya ketika perayaan Natal sudah dekat.“aku tidak kemana-mana.” Ucap Chris ketus. Air mukanya sungguh tidak menarik. Bianca yang tadinya ingin mengajak pria itu jalan-jalan akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tidak berani mengganggu Chris jika wajahnya sudah menampakan aura negatif seperti itu. Setelah selesai membersihkan meja Bianca segera pamit kepada Chris. Dan disaat inilah Chris benar-benar sendiri. Kesepiaan.Alih-alih menghilangkan rasa sunyi, Chris tergerak membuka kembali kedainya. Pukul 22.00. Ia tau tidak akan ada orang yang datang, semua sibuk dengan acaranya masing-masing. Chris berjalan ke arah pohon natal yang masih bersih tanpa ornamen. Melihat pohon natal Ia jadi teringat akan orangtua dan neneknya. Chris biasa menghias pohon natal bersama mereka, namun, sekarang keadaan berbalik. Semua sudah berbeda. 15 tahun Ia merayakan natal tanpa orangtuanya, dan 5 tahun tanpa nenek yang sangat Ia sayangi. Chris mengambil ornamen berbentuk rumbai yang panjang berwarna merah dan emas lalu melingkarkannya di sekeliling pohon natal, ditambah bola-bola mengkilat warna perak-biru, cupid yang sedang memanah, malaikat-malaikat bersayap, serta tak ketinggalan figura santa claus dan tongkatnya, dan masih banyak ornamen lainnya.Tiba-tiba bel pintu kedai Chris berbunyi. “seseorang datang?” benaknya.Chris membelokan tubuhnya. Ia melihat seorang pria berumur sekitar 30 tahun yang memakai kaca mata berdiri di dekat counter. “buonasera signore, ada yang bisa aku bantu?”“ah yes, Americano please.” Ujar pria berjanggut tipis itu. “you can speak English Sir ?” tanya Chris sembari membuat pesanan. “of course, I’m an English man, you know!” Pria itu merapatkan jaket kulitnya yang tebal dan mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya. “here, hope it helps.” Ucap Chris menyuguhkan kopi pesanan pria itu.“why are you working? It’s Christmas eve, you’re so weird!” Chris menahan emosinya. Ia tidak mau merusak malam natal yang damai ini. Ia lebih memilih diam daripada harus beradu mulut dengan pria asing.“I’m just kidding. By the way, you make good coffee kid.” Chris malas. Sungguh malas. Ia tidak tahan dengan pria itu. Ia ingin menutup kedainya segera dan pergi ke tempat tidur.“Rosaria wants to meet you.” Chris menjatuhkan cangkir yang sedang dibersihkannya. Ia terkejut. Ia menghampiri pria itu.“what did you say?” Chris mengepalkan kedua telapak tangannya. Seketika tubuhnya gemetar mendengar nama perempuan itu.Pria berkacamata tersebut menghela nafas panjang. “Rosaria wants to meet you. Rosaria Cianni. I’m her editor. She asked me to come to your place to tell you that.”Chris mencoba menanggapi dengan enteng. Ia tidak mau percaya begitu saja. “Stop joking around Sir. You should go, I want to close this shop. Here’s your bill.”Pria itu menaruh uang di atas meja. “It’s up to you whether you want to come or not. I’m just doing what She asked me to do. The choice is yours.” Lalu Ia mengeluarkan secarik surat, meletakannya di dekat bill dan meninggalkan kedai Chris.Chris menggapai kertas note tersebut. Ia membacanya dengan perlahan. Perlahan- sampai air mata mengalir di pipinya tanpa Ia sadari.***Minggu, 25 Desember pukul 07.00Chris mencoba menghubungi Bianca berulang kali namun ponselnya tetap tidak aktif. Ia ingin Bianca menemaninya untuk menemui Rosaria. Ia tak akan sanggup melihat wanita itu terkulai di kasur seorang diri. Chris gelisah. Ia berjalan bolak-balik sambil menggenggam surat dari Rosaria yang diberikan pria itu kemarin malam. Ia tidak pernah tau bahwa keadaannya akan seburuk ini. Ia sungguh merindukan Rosaria Cianni! Chris membaca ulang surat dari Rosaria;“Chris Vicenzo, itu bukan namamu? Aku mengetahuinya dari internet, kau tidak tau bahwa kau ini cukup terkenal sebagai penjual gelato tertampan? Itu sebabnya aku tidak perlu repot-repot kembali ke kedaimu hanya untuk menanyakan nama pemiliknya. Chris… aku telah membuat draft cerita novelku yang berikutnya. Aku ingin kau bekerjasama dengan editorku Mr. Benjamin (aku tau kau pasti sudah bertemu dengannya). Aku mohon lanjutkan novelku ini Chris. Aku mengerti kau pasti akan menolaknya karena alasan ‘tidak punya pengalaman dalam hal menulis’ tetapi aku mohon kepadamu… cobalah, untukku. Dan saat kau selesai, berikan judul novel ini ‘La Fedeltá’. Satu lagi yang kau perlu tau, aku rasa aku jatuh cinta dengan salah satu penggemarku. Ia adalah yang saat ini sedang membaca surat dariku. Merry Christmas and I hope God always be with thee.”“Hey Chris! Buka pintunya!” Bianca! Chris bergegas membuka pintu kedai. Belum sempat Ia berbicara Bianca langsung menarik pergelangan tangan Chris menuju mobilnya.“kita mau kemana?” tanya Chris heran.“ke rumah sang penulis yang sangat kau kagumi dan cintai.” Chris tak berkata apa pun. Ia benar-benar bingung. Bagaimana bisa Bianca tau rumah Rosaria? Apa mereka memiliki hubungan keluarga? Saudara misalnya?“Chris, kau ingat ketika dulu kita masih duduk di bangku kuliah? Bukankah aku yang memperkenalkan padamu novel pertama karangan Rosaria Cianni yang berjudul ‘Qualcuno’? dan tanda tangan di halaman pertama novel tersebut bukanlah tanda tanganku, tetapi itu adalah tandangan Rosaria. Ia memberikan novel pertamanya yang bahkan belum terbit di toko manapun kepadaku sebagai hadiah ulangtahunku. Ia adalah sepupuku.” Ungkap Bianca.Chris shock. Ia hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Jadi, apa kau juga tau wanita yang datang waktu itu adalah Rosaria?” tangan Chris mengepal kuat. Gemetaran. Ia sungguh marah.“i- itu, aku…” Chris memotong perkataan Bianca. “tidak perlu dijelaskan.” Ujarnya geram.Sepanjang perjalan menuju rumah Rosaria tidak satu pun diantara mereka yang membuka mulutnya. Chris menopang dagu memandang keluar kaca mobil dan Bianca fokus menyetir. Bianca benar-benar merasa bersalah pada pria itu. Ia tidak bermaksud untuk membohonginya. Alasan Ia melakukan hal itu, semua karena ‘Cinta’. Ia tidak ingin kehilangan Chris Vicenzo. Tetapi Bianca sadar, sepertinya cara Ia melindungi Chris dari wanita lain salah. Bianca harap Chris akan mengerti suatu hari nanti. Dan kini, Bianca siap untuk meninggalkan pria yang pernah Ia cintai.“Paman Ben! Di mana Rosaria?!” tanya Bianca dengan intonasi tinggi begitu memasuki tempat tinggal sepupunya bersama Chris.“Bianca, Chris, kalian telat. Orangtua Rosaria baru saja membawanya pergi.” Ucap Benjamin tak tega.Chris jatuh bersimpuh. “kemana? Kemana Rosaria pergi?”Ben menatap Chris nanar. Ia dapat melihat pemuda itu sangat mencintai Rosaria. “Amerika, mengobati penyakitnya.”***“Papa!” pekik seorang anak berumur 6 tahun. Ia lari menuju rangkulan papanya yang sedang beristirahat sambil menikmati gelato.“Grazia!” Pria yang dipanggil papa itu meraih anak perempuan kesayangannya dan menggendongnya.“Grazia, mama bilang jangan lari-lari seperti itu!” omel wanita itu kepada anaknya.“tidak apa. Grazia, kau mau gelato?”“per favore.” Angguk Grazia semangat.Pria itu berjalan ke arah counter pembuatan gelato dan istrinya Rosalie mengikutinya dari belakang. “Chris, aku ingin bicara.” Ucap Rosalie sedikit gugup.Meski sudah 6 tahun bersama, tetapi Rosalie yakin Chris tidak benar-benar berada di dunianya. Chris tidak pernah berbicara panjang lebar, dingin, dan selalu menghindar dari Rosalie. Namun kepada Grazia Ia sangat lembut dan penuh kasih sayang. Tidak, Rosalie tidak cemburu terhadap anaknya sendiri. Ia hanya ingin mengakhiri semuanya. Tidak seharusnya Ia jatuh cinta dengan penulis buku ‘La Fedeltá’ itu.Chris membelai rambut Grazia. “ini sayang gelato-mu. Papa ingin bicara sebentar dengan mama. Kau di sini saja ya?” Grazia tersenyum dan mencium pipi Chris. “sì Papà.”Lalu Chris menghampiri Rosalie yang sedang duduk di luar kedai. Menunggu.“hal apa?” tanya Chris sekenannya.“kita harus mengakhiri ini.” ujar Rosalie tertunduk tak berani menatap mata Chris.Chris duduk di samping kiri Rosalie, memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku coat. “jika itu yang kau inginkan, aku tidak bisa mencegahnya.”Rosalie mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Ia berusaha berbicara walaupun kini suaranya terdengar serak seperti orang sedang menangis. “kenapa Chris? Kenapa kau melakukan ini semua kalau kau tidak mencintaiku? Kau bahkan tidak mau mencoba mempertahankan hubungan kita.”Chris menghela nafas, mengeluarkan gumpalan asap dingin dari mulutnya. “Salah. Kau salah. Kau lah yang tidak mau mencoba mempertahankan. Untuk apa jika hanya aku seorang yang mempertahankan hubungan kita?”Chris memalingkan tatapannya pada Rosalie. Ia mendekap wajah Rosalie dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat. Chris mendekatkan wajahnya ke arah Rosalie, dan mencium bibir wanita itu dengan lembut.“jangan berfikir aku tidak mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Rose. Tolong, bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Aku butuh waktu untuk melupakan Rosaria. Dan aku juga membutuhkanmu serta Grazia untuk tetap berada di sisiku… untuk memberiku kekuatan.” Rosalie tidak mampu menahan air matanya terjun bebas. Ia memeluk Chris dan menangis di pundak suami yang sangat Ia sayangi.“aku akan melakukan yang terbaik Chris, aku akan selalu bersamamu.”“kau melakukan hal yang benar Chris.” Ucap seseorang. Chris seketika melepas dekapannya. Ia tercengang melihat sosok wanita yang sedang berdiri disebrang jalan. Wanita itu seperti… Rosaria! Perlahan Ia mulai melangkah mendekati Chris dan Rosalie. Sampai akhirnya Chris dapat melihat dengan jelas.“Rosaria?” katanya terheran. Kedua mata Chris tak berkedip dan terus memandangi Rosaria yang sesekali tersenyum.“Rosaria?” Rosalie kebingungan. Apa maksud Chris wanita yang berdiri di hadapan mereka berdua saat ini adalah wanita yang sangat dicintai suaminya itu?“kau tidak perlu khawatir, aku kembali ke Italia bukan untuk merebut Chris. Aku hanya rindu akan kenanganku dulu bersamanya. Aku juga sudah menikah, sama seperti kalian.” Rosaria menjelaskan pada Rosalie dengan santai. Ia tidak ingin istri Chris salah paham terhadapnya. Ia memang mencintai Chris, namun, itu dulu.Tiba-tiba Rosalie berdiri dan memeluk Rosaria. “aku akan menjaganya Rosaria. Aku akan membuatnya bahagia.”Rosaria mengendurkan rangkulan Rosalie, sedangkan Chris memperhatikan perbincangan kedua wanita itu. “ya, aku yakin kau pasti bisa.” Rosaria tersenyum, memberi suntikan semangat untuk Rosalie.***Rosalie yakin sepenuhnya dengan Rosaria maupun Chris. Yang dibutuhkan Chris saat ini adalah Rosaria seorang, Chris ingin semua kejadian di masa lalu menjadi jelas. Dan Rosalie mengijinkan itu. Chris meminta izin kepada Rosalie untuk berbicara empat mata dengan Rosaria. Rosalie pun masuk ke dalam kedai dan menemani anaknya yang sedang menikmati gelato. Meskipun dengan sedikit rasa cemas di hati… cemas akan perasaan Chris yang takutnya justru akan semakin kuat kepada Rosaria setelah Ia kembali ke Italia, dan cemas akan Rosaria yang mungkin masih mempunyai rasa terhadap Chris.“mengapa pergi tanpa menungguku?” tanya Chris sambil menatap Rosaria dengan teliti. Wanita itu tidak berubah sedikitpun. Masih dengan gaya rambut yang sama, dan cantik seperti dulu.Rosaria tertawa kecil. “kau masih saja menanyakan hal itu! Aku kembali untuk bertemu denganmu dan menikmati gelato buatanmu yang lezat Chris.”“jawablah… karena hanya jawabanmu yang bisa menenangkan hatiku dan juga sekaligus melepaskanmu, menerima Rosalie sepenuhnya.” Ucap Chris datar. Nadanya begitu serius dan tegas.“karena jika aku bertemu denganmu sebelum pergi ke Amerika, mungkin aku tidak akan mau meninggalkan tempat ini. Aku ingin sembuh Chris. Aku sangat berterimakasih kau telah meneruskan novelku. Tetapi setelah aku memikirkannya berulang kali, aku tidak ingin itu menjadi karya terakhirku. Walau harus menyakitimu dengan kepergianku, aku ingin terus menulis. Aku ingin kau tetap membaca novelku, dan memahami perasaanku yang sebenarnya.” Rosaria mengeluarkan sebuah buku dengan cover berwarna biru berjudul ‘La Fedeltá 2’ dan mengulurkannya kepada Chris. “ini adalah novelku yang akan terbit besok. Cerita ini adalah kelanjutan dari novel yang dulu aku dan engkau buat. Ini juga adalah ungkapan perasaanku kepadamu. Bacalah dan kau akan mengerti Chris.” Jelas Rosaria lalu tersenyum dan beranjak dari sana.Chris membiarkan Rosaria pergi. Ia hanya ingin sendiri… dan membaca buku itu. “…aku berharap tidak akan bangun dari mimpi ini, aku ingin tetap memejamkan mataku dan memeluk kehadiranmu untuk diriku seorang. Namun, aku pikir aku terlalu serakah. Aku tidak seharusnya seperti ini, tetapi hatiku sangat menginginkanmu. Maafkan aku… Kau tidak pantas jatuh cinta padaku, aku hanya wanita berdarah dingin yang tamak akan hal bernama ‘cinta.’ Kesetiaanku telah membuatku buta selama ini… Rasa cintaku telah membelenggumu dalam dimensi lain hingga kau tak mampu merasakan bahwa ada wanita lain yang ditakdirkan untuk bersama denganmu. Aku akan melepaskanmu… Aku akan membiarkanmu membentangkan sayap indahmu, terbang bebas, dan menghirup aroma kehidupan yang sesungguhnya… yang tak pernah dapat ku berikan kepadamu.”THE ENDWritten by Bella Justice@bellajusticee

  • Cerpen Lucu Mis. Tulalit Part 3 ~ Update

    Berhubung masih napsu (??) buat edit mengedit postingan, pokoknya edit aja deh. He he he, Lagian daripada terlupakan….Bener gak?. Harusnya bener donk!!! * maksa modeon.Tapi, ah andaii aja Takdir itu juga bisa diedit (^_^) *Mulai gak jelas. Credit Gambar : Ana MeryaSetelah ujian akhir nasional barlalu maka semua siswa di berikan kesempatan untuk berlibur, walau pun setulalit-tulalitnya april, alhamdulillah ia berhasil lulus juga. Emang si nilai pas-pasan, tapi dari pada kurang. ya nggak?… *PS: Yang setuju bilang ya berari orang yang nggak mau maju. secara masa dibandingkan sama yang lebih jelek*, rencananya ia mau ngelanjutin kuliahnya di AMIK, selat panjang.sebagian

  • Jangan Ulang Hari Itu

    Karya Aiegustin Diansari Pranoto – “Saatnya untuk bangun, sekarang jam 05.00 tepat, waktunya untuk bangun !” Suara yang begitu nyaring terdengar dari jam weker yang terletak disebelah telingaku. Terbangun aku dari tidur yang nyenyak, hujan yang turun semalam masih meninggalkan hawa dingin yang membuatku enggan untuk melepas selimut. Satu hal yang menguatkanku untuk bangun hari ini. “Dia” yaah, cowok berpostur tinggi, hidung mancung, alis tebal, dengan setelan jaket biru yang biasa ia kenakan, yang selalu menjeputku di depan gang setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan Kian Al-Farabi, pangeran tampan setampan romeo dan aku julietnya. Hahaha jelas saja aku berkata seperti itu, sebab cowo cuek yang gak romantic itu adalah pacarku. Tak ada satupun yang boleh mengejek pacar Iris Tantia, karena bagaimanapun aku sayang padanya.Setelah semuanya siap, seperti biasanya pukul 06.30 pagi. Aku sudah harus stand by di depan gang. Karena dia gak suka yang namanya nunggu, jadi aku harus buru-buru tiap paginya. Setelah 10 menit menunggu.“Eh ayok !!!” ujar Kian menghampiriku.“Aaah…iya sabar.” Jawabku sambil tersenyum lebar.Seperti biasanya aku langsung naik dan memegang erat jaket birunya itu. Aku dan dia selalu saja ngobrol disepanjang jalan, ntah apa-apa saja yang kami obrolkan akupun tidak tau, yang pasti bahan pembicaraan kami tidak ada habis-habisnya. Tapi hari ini aku heran, dia hanya diam saja dan berbicara seperlunya.“Kamu kenapa sih?” tanyaku penasaran.“Aku, gak kenapa-kenapa kok.” Jawabnya singkat.“Ih, kamu kok diem aja daritadi?” ujarku“Ya engga, aku cuman capek aja,” dijawabnya lagi dengan ekspresi datar.Seperti biasa dia memarkirkan motornya paling depan. Setelah itu, kami jalan berdua menuju kelas masing-masing. Yaaah, aku dan dia beda kelas. Dia kelas XG sedangkan aku XE. Setelah 8 jam berada di sekolah, bell pun berdering kencang “kriiing..kriiing..kriing..” semua anak berhamburan keluar. Kurasakan hp di saku rokku bergetar, sudah kutebak pasti itu Kian. Sebuah pesan ingkat yang sudah tidak asing lagi ku terima.“Kamu dimana? Ayok cepetan. Aku udah di parkiran.”Dengan segera aku berlari dan meninggalkan teman-temanku. Sesampainya di parkiran aku langsung menuju kearahnya dan mengantarku pulang kerumah. Disepanjang jalan satu katapun tidak keluar baik dari mulutnya maupun dari mulutku. Aku bingung ada apa dengan dia.Setiap magrib tidak lupa aku mengingatkannya untuk solat. Tapi aku heran, kenapa dia tidak membalasnya. Ketika aku sedang asik mendengar musik, tiba-tiba saja hpku bergetar. “Dreet..Dreet..” dengan segera aku mengambil hpku, karena ku tau itu pasti dia.“Ris, ada kabar gak enak, kamu gak boleh sedih cukup aku yang sedih,” isi pesan singkatnya.“Kamu kenapa? Ada apasih?” tanyaku penasaran.“Aku mau pindah jauh ke Kalimantan.” Ujar Kian.“Kamu bohong ya? Ah kamu becandanya basi.” Dengan segera aku membalasnya.“Aku gak bohong Ris, ayah aku kemaren bilang. Kenaikan kelas. Satu bulan lagi aku pindah. Aku gak tega bilang ini ke kamu. Tapi mau gimana lagi, aku juga gak pengen gini.” Balasnya.Tidak terasa air mataku jatuh begitu saja, bersamaan dengan lepasnya handphone dari genggamanku. “ Ini mimpi apa kenyataan sih? Ih gilak semuanya gilak !!!” air mataku terus berjatuhan tanpa diperintah. Langsung ku ambil handphoneku di lantai, tanpa berfikir panjang aku langsung menelphonnya.“Kamu bohongan gak sih? Jawab serius!” kata-kata yang keluar pertama kali dari mulutku.“Iris, aku minta maap sama kamu, aku gak maksut buat kamu sedih.” Ujar Kian.Bibirku tak sanggup lagi untuk berbicara sepatah katapun. Langsung ku non aktifkan hpku dan melemparnya jauh dariku. Aku benar-benar tidak pernah menduga bahwa dia akan pindah. Kabar ini sungguh membuatku seperti kehilangan tulang-tulang rangka yang menopang tubuhku. Badan ku terasa sangat lemah, dan aku hanya bisa terduduk lemas sambil menggigit guling yang ada di genggamanku.Pagi ini suara alarm kembali membangunkanku. Mataku terasa berat untuk dibuka, mungkin karena menangis semalam, sampai ku merasa kelopak mataku berat sekali seperti ditimpah batu gilingan cabe seberat 1 kg. ketika ku berkaca di cermin, langsung ku berlari ke kamar mandi dan mencuci mataku. Aku tak ingin dia tau kalau semalaman aku menangis.Seperti biasanya kami berangkat bersama, tak ada satu katapun yang keluar saat itu. Karena aku berusaha menahan air mata yang selalu meronta ingin keluar. Aku pun selalu menundukkan kepalaku. Aku tak ingin dia melihat mataku yang bengkak ini. Ketika hampir sampai kelas aku mengajaknya berbicara.“Kok pindah?” ujarku.“Ayah pindah tugas.” Jawabnya singkat.“Trus rumah kamu gimana?” ujarku penasaran.“Di jual kata ayah,” jawabnya ringan.Aku menggerutu dalam hatiku “ih,cowok ini enteng banget sih jawabnya, gak tau apa semaleman gua nyaris mati tenggelem di air mata!” Ketika sampai depan kelasnya, aku langsung lari dan menuju kelasku. Semua air mata jatuh tak tertahan lagi. Teman-temanku langsung menghampiriku, semua bertanya ada apa denganku.Berat, Cuma itu yang sekarang ada di otakku. Dalam benakku, aku kesal sekali padanya. Hari demi hari berjalan tanpa terasa. Aku tak bisa bersikap seperti biasanya. Mata merah dan muka lusuh yang selalu terpasang di wajahku setiap harinya. Setiap malam, kebiasaan setiap harinya, selalu smsan dengan dia. Tidak lain sekarang yang dibahas yaaa tentang dia, kepindahannya, dan nasibku setelah itu. Satu hal yang menguatkanku ketika dia mengirimkan pesan singkat.“Kamu tenang aja, dua taun lagi aku tunggu kamu di Jogja ya ris, kita kuliah disana. Kamu mau kan?”Aku hanya bisa mengiyakan dan berharap dua tahun lagi itu jadi kenyataan. Tapi dua taun itu gak sebentar. Air mataku kembali menetes hingga ku terlelap dalam tidur dengan diiringi lagu Secondhand Serenade yang sama sekali tak kusukai awalnya. Tapi mungkin Stay Close Don’t Go lagu itu cocok dengan nasibku sekarang ini.Aku membulatkan tanggalan di kalender untuk satu harinya. “Sebentar lagi” desahku sambil menghela nafas. Tentunya sisa waktu ini akan ku manfaatkan baik-baik. Aku dan Kian selalu kemana-mana berdua. Rasanya tak ingin bergeser satu detikpun dari sampingnya bila mengingat nanti mungkin tak seindah hari ini.Di hamparan rerumputan dekat rumahku. Tempat biasa kami bersama. Ku rasakan kesejukan angin yang berhembus.“Kalo kamu pindah nanti, kalo punya cewek baru jangan lupa sama aku ya Ki,” ujarku sambil memegang erat tangannya dan merebahkan kepalaku di pundaknya.“Kalo aku pindah nanti, kamu gak boleh sama cowok laen ya, aku sayang kamu Ris. Janji ya !” jawabnya sambil menatap wajahku.Percaya gak percaya mungkin dia masi bisa bilang sayang sekarang, tapi ntah untuk nanti. Buat LDR (Long Distance Relationship) sudah pasti dan kudu wajib ada yang bakal ngerasain sakit hati.Hari ini, 16 Juni 2011, baju abu-abu yang melekat ditubuhku. Melengkapi kepucatan wajah dan beratnya mata yang menahan beban air ini. Aku berdiri di tengah keramaian. Yaaah.. hari ini aku berada di Bandara Radin Intan, sungguh akan menjadi tempat yang paling ku benci.“Iris….,” ujar Kian.Aku hanya menoleh dan tetesan air matapun tak bisa kutahan. Kudekap erat Kian dan aku sama sekali tidak ingin melepasnya.“Aku sayang sama kamu. Kamu gak boleh pergi ! Bodok amat !” tak tahan lagi aku menahannya.“Happy Anniversary 4 mounth sayang” ujarnya.Aku baru sadar ternyata sudah 4 bulan kami bersama.“Aku tunggu kamu di Jogja ya,” ujarnya kembali sambil perlahan melepaskan dekapanku.“Aku mau kasih kamu ini, di pake ya Kian.”Bungkusan kado berwarna merah berisi sweeter merah yang sudah lama kubelikan. Awalnya aku berniat akan memberikannya saat dia ulang tahun nanti. Langkah- langkah kecil itu membawanya pergi dan hilang dari penglihatanku. Sejenak kupejamkan mata dan suara pesawat itu membawanya pergi jauh dariku. Kisahku seperti sinetron yang tak pernah kuduga awalanya, entah apa yang harus kulakukan sekarang. Mungkin menepati janji-janji itu sampai mengunggu dua tahun lagi kalaupun tuhan mempertemukan kami. Selamat datang kesendirian. Selamat datang kesedihan.“ I can see you if you are not with me I can say to my self if you are oke”nama pengarang : Aiegustin Diansari Pranotoasal sekolah : SMAN 9 Bandarlampungalamat facebook : sekai_minto@yahoo.com / Aiegustin Diansarialamat twitter : @aiegustin

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 04 | Cerpen Cinta

    Halo semuanya, ketemu lagi nih sama Admin tentunya dengan kelanjutan Ketika Cinta Harus Memilih Part 4. Masih tentang kisah Cinta sama Rangga ya. Kira kira gimana sih kelanjutan hubungan mereka. Bakal happy ending atau justru malah sad ending.Untuk yang dulunya sudah pernah membaca, baca ulang lagi juga boleh kok. Secara cepen ketika cinta harus memilih ini kan udah di edit lagi. Walau inti ceritanya masih sama si sebenertnya. Akhir kata, happy reading aja deh….Ketika Cinta Harus Memilih"Jadi ini rumah loe?" tanya Rangga setelah beberapa detik yang lalu motornya diberhentikan atas interupsi dari Cinta yang sedari tadi duduk di belakangnya.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*