Cerpen Romantis Buruan katakan cinta ~ 01 {Update}

Cerpen romantis “Buruan katakan cinta”. Sebuah cerpen ke dua kiriman Adex yang biasanya suka jahil Tapi kali ini pengen di jahilin (???). Masih ingat sama mia kan?.. itu lho penulis cerpen remaja Vanessa Vs Ferly.
Nah dia kan ceritanya suka bikin cerpen ya udah anggap aja nie latihan nulis. Tapi menurut Star Night sih, Kemampuan menulis nya makin lama makin bagus *Inget an, Star Night bukan tipe orang yang suka muji, So TRAKTIR*. Wkwkwk… Ya sudah lah dari pada makin nggak jelas mending buruan, langsung di baca yuks Cerpen Terbarunya.

Credit Gambar : Ana Merya
*** Cerpen Terbaru Buruan katakan cinta ***
"ntar gue tunggu di tempat biasa. ingat jangan telat lagi…" kata kevin
"he-eh…" jawab Ani. kevin melangkah pergi meningggalkan Ani di depan pintu kelasnya, Ani masuk ke kelas setelah kepergian kevin, sambil menunduk kan kepalan dan sesekali membetulkan letak kacamatanya yang turun kebawah, dan menyilakan poni yang sedikit menutupi mata.
Dari Ani masuk kekelas hingga ia menduduki kursinya yang berada di pojok ruangan, tidak seorang pun yang tidak melihat kearahnya, semuan menatap dengan pandangan ngeri, karena penampilan Ani yang bisa di bilang katro' untuk zaman sekarang yang sudah modren. dengan baju yang masih biasa-biasa aja, kacamata minus yang bertenger di wajahnya, ramput poni yang menutupi mata, buku besar yang tak pernah lepas dari tangan, tas sandang yang selalu di bawan di tambah care berjalannnya yang selalu menunduk membuat Ani di jauhi para mahasiswa dan mahasiswi kampusnya.
"settt lihat deh si buruk rupa datang tuh…" kata salah satu teman nya sambil melirik Ani.
"ih kok mau ya… kevin sama cewek nora' kayak gitu, udah jelek nggax nyadar lagi…" balas temennya yang lain. * Star Night Geleng –geleng kepala/Asatafirullahal’azim*
"kalau gue ma ogah sama dia. sampai sekarang gue juga masih nggax habis fikir lho ama kevin, kenapa ya kok dia itu mau sama cewek kayak Ani?" sambung hendri sambil melirik sinis ke arah Ani, yang membuat Ani makin menundukkan kepalanya.
"jangan-jangan kevin udah di pelet lagi sama tuh anak"
"iiih pasti deh, kalau nggax mana mungkin kevin cowok paling cool di kampus ini bisa jadian sama cewek buruk rupa kayak tuh anak…" lanjut raihan sambil bergidik, dan pembicaraan mereka yang menghina Ani terpaksa berhenti dengan kedatangan bu vivi, karena pelajaran akan segera di mulai.
Sepulang dari kampus, Ani berjalan menuju parkiran tempat kevin biasa menunggunya, dan pandangan anak-anak lain masih tertuju padanya sambil sesekali berbisik kepada teman sebelahnya dan bergidik ngeri. Begitu Ani tiba di sana ternyata kevin telah menunggunya.
"nih…" kevin menyodorkan helm kearah Ani.
Tanpa menjawab Ani mengambilnya, kemudian mengenakannya, seperti biasa kevin mengantar pulang. didalam perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan terlebih dulu hingga keduanya tiba di depan rumah Ani.
"makasih…" kata Ani dan turun dari motor lalu melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah…
"Ani… " kata kevin, Ani menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri kevin.
"ada apa? loe mau masuk?" tanya Ani.
"ya nggax lah"
"truz?!"
"loe mau bawa ke mana helm gue…" jawab kevin dengan acuh tak acuh.
"eh ia…" kata Ani sedikit salting, dan membuka helmnya "maaf…" lanjutnya sambil memberikan helm kepada kevin.
"kebiasaan…" kata kevin, lalu menghidupkan mesin motornya, setelah menerima helm dari Ani. "ntar jangan lupa gue jemput jam setengah tiga" lanjutnya. Ani hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumahnya setelah kepergian kevin.
*** Cerpen Terbaru Buruan katakan cinta ***
Siangnnya Ani keluar dari rumah dan tampak kevin yang telah menunggunya di depan gerbang, begitu melihat Ani telah keluar dari rumahnya, kevin langsung mengambil helm yang akan di kenakan Ani, setelah Ani tiba di hadapannya barulah ia berikan helm itu kepada Ani.
"kita mau kemana?" tanya Ani saat di perjalanan.
"loe nggax perlu tau…"
"kenapa?"
"ntar juga tau sendiri. pokoknya loe diem aja deh di situ, ikuti gue, tenang aja nggax bakalan ilang" jawab kevin.
"ya tapikan…"
"masih mau nanya lagi…"
"eh i… ia deh, enggak" kata Ani sambil menggelengkan kepalannya.dan kemudian mereka tidak bicara lagi. Ani lebih memilih diam dari pada bertanya sama kevin yang nantinya bakal buat kevin makin be-te.
*ehem, Intermizo. Star Night mau komen dikit. Ni orang jalan sama pacar apa sama bapaknya ya?…./Wkwkwkw/Plaks. Gak penting. Lanjut*….
"loe suka film korea kan?" tanya kevin, Ani langsung mengangguk kan kepalanya. " ya udah kita lihat film korea aja" lanjutnya.
"tapi…"
"ada apa lagi? nggax mau…"
"loe kan nggax suka film korea…" kata Ani hati-hati
"jadi kenapa?"
"loe nggax keberatan"
"kalau gue keberatan, nggax bakal gue ajak loe. udah loe sekarang pilih film korea apa yang mau loe tonton, gue mau cari popcron bentar" kata kevin, Ani hanya mengangguk.
Setelah memesan cemilan mereka masuk ke bioskop untuk nanton film, saat di sana hanya Ani yang tampak bersemangat sementara kevin ia malah terkesan seperti bosan, tapi saat Ani melirik kearah kevin, kevin pura-pura menikmati apa yang ia lihat. Begitu filmnya selesai mereka pergi ke taman bersama, Ani berjalan sambil terus menunduk kan kepalannya hingga sesekali ia menabrak beberapa orang yang lewat, dan ia hanya bisa meminta maaf pada orang yang telah ia tabrak. saat kevin dan Ani jalan bersama mereka seperti jadi pusat perhatian siapa pun yang mereka lewati, karena semua menatap kearahnya dan kemudian membisik kan sesuatu kepada teman sebelahnya sambil menatap ilfeel ke arah Ani.
BRRUUKK….
"Aduh…" kata seorang cewek dan terjatuh karena Ani menabraknya dan ini udah entah berapa kalinya ia menabrak orang yang lewat di depannya.
"m.. ma maaf mbak…" kata Ani sambil menundukkan kepalannya.
"eh kalau jalan pake mata donk!!!" bentak cewek itu sambil berdiri dan membersihkan tangannya yang kotor. *Pake kaki kali/ Star Night minta di hajar ganggu mulu*.
"gue beneran nggax sengaja mbak…" kata Ani.
"udah sana jauh-jauh dari gue, jangan tularin kebegoan loe itu!!!" bentaknya.
"gue bersihin ya mbak…" kata Ani sambil ingin membersihkan rok cewek itu yang kotor.
"nggax perlu, nggax perlu… gue bisa sendiri…" kata tuch cewek dengan sinisnya.
"maaf ya mbak, gue beneran nggax sengaja…" kata Ani.
"udah gue bilang nggax perlu !!!" bentak cewek itu sambil menepiskan tangan Ani. Ani langsung menundukkan kepalannya karena takut.
"tapi gue beneran nggax sengaja…"
"udah sana pergi loe. Sakit-sakit semua nih badan gue gara-gara loe. jangan tularin gue dengan kesialan loe itu!!!" bentak cewek itu dengan sebelnya. Ani langsung menunduk.
"ada apa nih…" kata seseorang di sampingnya Ani langsung melihat siapa yang berbicara dan kaget begitu tau bahwa yang berbicara itu adalah kevin. cewek yang tadi langsung memasang senyuman sambil merapikan rambutnya sok keganjenan.
"maaf… gue, nggax sengaja menabraknya…" kata Ani hati-hati.
"alah jangan munafik deh, loe pasti sengaja kan?" bantah cewek tadi. Ani langsung menunduk "e tadi cewek itu nabrak gue, sampai sakit-sakit semua badan gue…" lanjutnya sambil memasang wajah ganjen ke arah kevin. * Star Night : Ganjen?. Bahasa apa an tuh?/wkwkwkw*
"separah apa sich sakit loe. mau di bawa kerumah sakit?!" kata kevin sinis.
"gue… gue nggax terlalu parah kok, cuma…"
"cuma apa?…" potong kevin "dia kan udah minta maaf, kalau emang loe bisa sendiri ya udah, nggax usah pake acara menghina segala donk" lanjutnya yang buat cewek itu kaget.
"lho, kok loe belain cewek nggax tau diri ini sich, emang nya dia itu siapa? pacar loe…?" kata tuh cewek kevin langsung merangkul bahu Ani, yang membuat cewek itu dan Ani kaget. *Co cweeet…*
"kalau ia kenapa?" balas kevin yang membuat cewek itu kaget "lagian siapa yang loe maksud dengan cewek nggax tau diri itu…" lanjutnya.
"ya dia lah, dia itu nggax tau diri, nggax nyadar dia itu siapa, masa jalan ama loe. dia itu nggax pantes"
"trus pantes nya ama loe gitu?! yang harusnya nyadar di sini tu elo!!!" bentak kevin cewek itu langsung kaget "ngaca donk loe itu siapa, berani banget ngehina dia di depan gue. loe mau cari mati?!". *omo, sadisnye*
"gue…."
"udah An kita tinggalin aja cewek nggax tau diri ini…" kata kevin dan membawa Ani pergi mau nggax mau Ani mengikutinya sementara cewek tadi makin kaget dan nggax habis fikir dengan jawaban dari kevin, yang membuat cewek itu malu banyak yang menatap kearahnya sambil membisikkan sesuatu kearah temennya.
"iiiih sial!!!" kata tuch cewek dan kemudian pergi dengan membawa malu.
"maaf…" kata Ani setelah mereka menjauh dari cewek tadi.
"udah lah makanya kalau jalan itu hati-hati, ya udah kita makan ice kream dulu yuk…" ajak kevin sambil mendekati penjual ice kream yang sedang berhenti di perempatan jalan.
Sambil makan ice kream mereka duduk di taman, dan pandangan orang-orang masih terlihat ilfeel padanya tapi kevin santai aja, bahkan kevin sengaja merangkul Ani di depan orang yang baru membicarakan mereka. Begitu sore barulah mereka pulang, kevin pulang kerumahnya setelah mengantarkan Ani kerumahnya terlebih dahulu.
Setiap hari Ani di antar oleh kevin dan setiap harinya hinaan dan cacian terus tertuju ke arahnya karena seorang Ani yang super duper kuper, bisa jadian dengan kevin cowok yang super duper cool di campusnya, banya mahasiswi yang tampak iri dengan itu semua dan makin membuat mereka menjauhi Ani. banyak yang menatap rendah Ani dengan selalu menjauhinya, saat di campus hanya kevin lah yang mau makan sebangku di meja kantin karena baru saja Ani datang semua nya udah pada menjauhinya.
Next to cerpen romantis Buruan katakan cinta part 2.

Random Posts

  • Cerpen Romantis: Mr. Ice Cream

    Ini sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya. ***3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang samaWajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan. “Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati. “Enaak !!” Seru ku.Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.Ya, Dialah Keylan. Key dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.Key mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Key sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.Key dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Key adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Key mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Key termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Key tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.Sore itu, Key dengan sengaja menculikku dari kampus, Key mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua. Key bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood. Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan. “Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.“ini Enaaak, coba deh Key” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Key lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak. “yeee, enak kan, sekarang Key ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan key menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang. Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Key seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya key punya pacar. Key berpacaran dengan Amerina. Mengenai Key dan Amerina aku tak tahu banyak karena Key jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Amerina adalah gadis cantik, anggun, smart dan terlihat kalem, menurutku Amerina seperti Key versi cewek. Hanya itu yang ku tahu.“Pulang yuk ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Key kepadaku sekaligus mengingatkan.“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Key yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu. ***2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.Key tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih.“Ta daaaa, Happy Birth Day” Key menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Key membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua. “Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Key tersenyum Simpul lagi. Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Key dan es Krim tentunya.“Rio, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.Rio? Kenapa Key nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.“yang penting…” Ujar Key. Hening sejenak. Aku menunggu Key melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Key.Key selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Key yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Amerina? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya? Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Key memperlakukan Amerina? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Key membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.“Pelit” Key pura-pura ngambek.“Anyway Key, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.“Any time, Ran” balas Key. Tersenyum simpul.Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak. ***Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia. Dua jam yang lalu, aku dan Key duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Key terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Key, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.“Kenapa gak ada kabar ran?” Key menatapku serius. Nada suaranya dingin.Aku tak sanggup memandang key, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya. “Aku sibuk Key” Aku berbohong. “Maaf Key, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.Setelah mendengar kata maaf itu Key langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Key pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Key terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Key yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Key yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Key sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Key selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.“Lalu bagaimana denganmu Key?” ucapku terbata.Key tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Key sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Key menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.***Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Key. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Key dua jam yang lalu.Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri? Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Key kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Key terluka. Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Key dan Amerina. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Key, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?-The End-By : Eka SuzieFb: Eka SuzieTwitter : @eksuzBlog : Mr-ice-cream.blogspot.com

  • Cerpen Cinta Remaja: MOVE ON!

    MOVE ON !Oleh: Lelie LianaKriiinggg “Halloo..“… “Hallo, bisa bicara dengan Jenny?”… “Hallo, ini Bobby, bisa bicara dengan Jenny?”… Klekkk! Tuttt tutt tutttPagi itu mendadak muka Jenny masam semasam-masamnya yang dia bisa. Dina aja sampe bingung ada apa gerangan.“Kenapa loe Jen?““Ga kenapa – kenapa““Yakin loe? Loe mandi kan pagi ini ?”“Apa – apaan sih loe Din? Ya iyalah gue mandi!““Ups sorry, abisnya muka loe kusut banget. Kenapa sih?“"Daripada loe ngurusin urusan gue mending loe urusin deh PR dari Pak Burhan.““Hah?? Emang ada PR ya?““Ada, halaman 204 bagian C dan D, essay semua tuh, 15 menit lagi masuk.“Jenny berjalan melenggang melewati Dina, sementara Dina langsung ngacir menuju kelas.Teetttt tettt tettttttt, bel masuk. Jenny yang pagi – pagi udah galau aja di kantin langsung menuju kelas. Di kelas dilihatnya muka Dina menekuk kesel.“Jen loe usil banget sih. Tega – teganya loe ngerjain gue. Dengan susah payah gue ngerjain tuh soal, untung si Budi bilang nggak ada PR, jahat loe!““Lagian loe suka banget ngabisin waktu loe buat urusin urusan orang lain.““Yaaa sorry, abisnya gue kesel aja liat muka loe. Pagi – pagi udah kusut banget persis orang seminggu ga mandi.““Gue lagi galau.““What?? Masih labil ya loe.“ Dina cengengesan.“Hellooo Din, wajar dong gue labil. Umur gue aja belom 20 tahun. Sepupu gue noh, udah 21 masih aja suka galau and labil. Loe jangan mojokin gue dong. Kayak loe ga pernah galau aja.““Iya iya, sorry. Sensitiv banget sih loe. Galau kenapa loe? Bobby lagi?”“Iya. Tadi pagi dia nelpon gue. Sulit Din buat lupain dia, meskipun dia udah ga satu tempat lagi sama gue, tetep aja gue masih sakit hati nginget dia. Denger suaranya aja bikin nyeri uloe hati gue Din.““Hmmm, kayaknya loe perloe ke psikolog deh Jen, masa loe masih beloem bisa loepain orang yang udah nyakitin loe, udah ninggalin loe, udah ga mikirin loe lagi, dan yang pastinya udah jauh banget dari loe. Ayolah Jen, itu udah setahun yang lalu, masa sih loe ga bisa lupain dia.““Din, loe ga ngerti karna loe ga di posisi gue. Coba kalo loe di posisi gue. Susah Din.““Hmmm, bukannya gue sok ngajarin sih Jen, tapi loe cantik, dan banyak yang suka sama loe, masa sih loe mau dan masih menyia – nyiakan waktu yang loe punya cuman buat orang yang hanya sepintas di hisup loe. Jen, dengerin gue ya, semua orang pasti pernah sakit hati, semua orang pasti pernah galau, tapi ga semua orang bisa mengatasinya Jen. Masa depan …”“Udah ah Din, gue ngomong sama loe juga kayanya percuma.““Ok Jen, maybe loe cuman butuh waktu.“ Dina balik lagi fokus ke bukunya, dan menghentikan bisik – bisik dengan Jenny. Sementara Jenny pura – pura dengerin Pak Burhan yang sejak jam pertama tadi sebenernya Jenny ga ngerti membahas tentang apa. Beruntung hari ini Dina dan Jenny duduk di kursi paling belakang, jadi kecil kemungkinan ketahuan Pak Burhan kalo mereka lagi ngobrol bisik – bisik.Kalo dipikir – pikir Dina bener banget ya. Masa gue mau galau terus. Tapi sulit banget buat ngelupain Bobby. Hmmm, ntar istirahat gue tanya Igha deh, kayaknya dia lebih tau.“Jen!!!!““Dina! Loe bisa nggak sih klo ga usah teriak – teriak gitu?““hehe, loe gue panggil daritadi ga nyahut““loh? Pak Burhan mana Din?““Bel istirahat udah daritadi nonaaaa, yok kantin yok, gue laper nih““ehhhmm, loe duluan aja deh, gue mau ke kelasnya Igha dulu““yakin loe? sekalian cuci tuh muka, kusut banget…““Iya iya! ngeselin banget loe“Dina melenggang, sementara Jenny langsung menuju ke kelasnya Igha.“Dina bener banget Jen, loe harusnya mulai ngebuka hati loe. Gue bingung, kerjaan loe setahun ini galau mulu, kapan loe move on nya? Ingat Jen bentar lagi kita ujian, lulus, kuliah, trus misah deh. Masa loe mau terus – terusan jomblo en galau, sementara banyak cowok cakep yang ngantri mau jadi pacar loe. Contoh tuh kak Andre udah cakep, pinter, lulusan terbaik lagi. Udah gitu pacaran sama cewek terpintar di angkatannya. Ayo dong Jen move on. Lagian elo ga bisa juga kan balikin Bobby buat jadi milik loe lagi. Gue saranin deh, buka kembali otak loe tuh, buang jauh – jauh Bobby. Lama – lama gue juga kesel denger tentang tuh cowok“ Igha bernasihat panjang lebar.Jenny terdiam. Sampai pelajaran berakhir, entah ada angin apa, kali ini dia udah ngerasa terbuka otaknya. Dina bener, dia ga mungkin terus – terusan menyesali dan menginginkan waktu kembali lagi. Begitu banyak, bahkan ribuan menit dan detik ia habiskan utnuk memikirkan Bobby yang bahkan Jenny pun ga pernah tau kabarnya lagi. Jenny juga udah bosan dengan semua kegalauannya. Jenny udah bosan bertahan dengan semua sakit hatinya. Lama – lama bisa tua dari umur gue kalo sedih terus. Igha dan Dina bener. Hidup gue masih panjang. Mungkin Bobby salah satu orang yang dititipkan sebentar untuk memberi warna di hidup gue. Gue harus berhenti.Malamnya Jenny membuang semua yang berhubungan dengan Bobby. Semua kontak dan barang – barang yang ingetin dia sama Bobby. Semua foto – foto dia sama Bobby, dia hapus permanent dari semua gadgetnya. Tak terkecuali semua foto print out yang tertempel di dinding kamarnya. SEMUA. Semua kenangan liburan di Bali, foto – foto pas ulang tahun Jenny Bobby kasih surprise, dan yang paling nyakitin, foto – foto Bobby bersama Jenny, Kak Andre, pacarnya kak Andre, Mamah, dan Papah. Semakin Jenny ngeliatin foto – foto itu semakin nyeri di hati Jenny. Dia sangat menyadari, bahkan sesadar – sadarnya. Bobby tetap tersimpan dihatinya, entah sampai kapan. Tapi semakin yakin juga Jenny bahwa semuanya ga akan kembali, seperti kata Dina, Jenny harus bisa mengatasi sakit hatinya.Setelah semua barang – barang itu terkunci rapat di peti, Jenny memasukkan peti tiu ke gudang. Jenny membuka laptopnya lagi, membuka semua catatannya selama setahun. Jenny membuka document baru, disana ia mengetik.“Jika aku menyayangimu, itu bukan sepenuhnya salahmu. Tapi itu salahku yang tak pernah mengerti bahwa waktu bisa merubah segalanya. Jika aku tetap menyayangimu, itu juga bukan sepenuhnya salahmu, itu hanya salahku yang tak bisa mengerti keadaan. Hanya saja, ternyata waktu kemudia mampu membuatku mengerti keadaan. Beribu waktu, menit, jam, bahkan tak terhitung hari kuhahabiskan pikiran dan sedihku untuk mencintaimu. Aku tak pernah berhenti, hanya saja aku beristirahat , mencoba lebih memahami waktu.“Even you are not be the part of me anymore, I am the lucky one that had have you in my life. I have to move on even my heart stil doesn’t understand what my mind’s sugestion. You are the colors of my life that gave me a pain part and beautiful part. Thats why I have to move on. Jenny turn off laptopnya, mencoba memejamkan mata. Berharap besok akan ada waktu untuknya menebus kembali waktu yang terbuang. *****Email : Leelieliana@yahoo.co.idTwitter : @lelielianaFb : Lelie LianaBaca juga cerpen karya Lelie Luana yang lain dalam Jarak dan Kita serta Damaiku Bersamamu, Flora.

  • Cerpen Cinta Sedih: I LOVE YOU, GOODBYE

    I LOVE YOU, GOODBYE…Oleh Bella Danny JusticeAku memandangi foto tersebut beberapa saat. “Hanna, i’ll keep you on my mind… we will meet again someday. Goodbye…” Ucapku dengan memegang erat selembar foto di tangan kanan lalu menempalkannya di dada.“Hanna!!” mimpi itu lagi! sudah beberapa kali aku bermimpi seperti itu.“aku tidak tau mengenai Hanna semenjak kepindahannya. Lagipula, kenapa kau baru mencarinya sekarang? Terakhir kali aku bertemu Hanna 2 tahun yang lalu, ia bercerita kepadaku bahwa keluargamu tidak menyetujui hubungan kalian. Karena itu kah kau meninggalkan Hanna ke Paris ?” Celotehan Irina membuatku benar-benar merasa bersalah. Saat ini aku membutuhkan dukungan, bukan nasehat-nasehat yang memojokkan posisiku. Pergi ke Paris juga bukanlah keinginanku. Tetapi, jika aku tidak melakukannya aku akan lebih melukai Hanna.“Irina, aku datang kepadamu untuk menanyakan keberadaan Hanna, bukan untuk mendengarkan ocehanmu! Kau tidak tau apa pun mengenai aku, jadi jangan pernah berkata seolah-olah aku yang paling bersalah dalam hal ini!” bentakku padanya. Irina menghampiriku, kemudian aku merasa cairan bening mengalir dari atas membasahi kepalaku. Wanita itu menyiramku dengan segelas air putih! “apa-apaan kau Irina?!”Ia tersenyum sinis. Matanya menatapku tajam penuh rasa kebencian. “kenapa kau hanya mencintainya Evan?! Aku menyukaimu lebih dari Hanna!! Kalau wanita yang kau puja-puja itu memang mencintaimu, mengapa dia pergi?! Mengapa dia tidak tetap diam menunggmu seperti yang aku lakukan selama ini?! Aku bisa memberikanmu kasih sayang yang tidak pernah Hanna berikan kepadamu Evan!” ucapan Irina membuatku bergidik. Wanita itu sungguh menakutkan. Ia terlalu terobsesi terhadapku yang tidak pernah menyukainya sedikitpun. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil langkah seribu meninggalkan rumahnya.Tampaknya datang pada Irina adalah keputusan yang salah. Tapi hanya dia satu-satunya yang tersisa. Semua orang yang dekat atau pernah dekat dengan Hanna sudah aku kunjungi rumahnya satu per satu, namun mereka juga tidak mengetahui keberadaan wanita yang sangat ku cintai itu.Aku mulai putus asa. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa dan pergi kemana untuk mencarinya. Akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan diri ke tempat aku dan Hanna biasa berkunjung. Duduk di tepi pantai dan menatap lautan luas adalah kegemaran kami. Namun rasanya kini tidak sama seperti dulu. Sekarang Hanna tidak ada di sampingku, ia pergi entah kemana tanpa meninggalkan jejak.Langit biru yang cerah mulai berubah warna menjadi oranye kekuningan. Tidak terasa aku sudah berjam-jam duduk di tepi pantai ini. Aku seperti orang bodoh. Menunggu dan berharap Hanna akan datang dan tersenyum kepadaku. Hanna, aku harus menjelaskan padamu alasan aku meninggalkanmu dan memintamu untuk menunggu tanpa waktu yang jelas, tapi di mana dirimu saat ini?Ckrek!Tiba-tiba saja aku melihat kilatan lampu flash. Tampaknya seseorang telah mengambil fotoku dari belakang tanpa sepengetahuanku. Aku membelokkan badanku dan ternyata dugaanku benar! “apa yang kau lakukan?! Aku tidak suka seseorang memotretku tanpa izin!” wanita itu tidak memedulikanku dan masih menatapi kamera DSLR-nya.“ah, oh, maaf, aku tidak sengaja memotretmu. Hanya saja kau terlihat begitu menyatu dengan objek sekitar. Kalau kau keberatan kau boleh menghapusnya.” Ia perlahan menghampiriku. Ia menyodorkan kameranya ke arahku. “ini, hapuslah sendiri fotomu.” Ujarnya.Entah perasaan apa yang menghinggapiku. Aku tidak suka seseorang mengambil fotoku tanpa izin terlebih dengan orang yang tidak ku kenal. Tetapi kali ini berbeda. Aku ingin mengambil kamera itu dan menghapusnya tapi aku tidak bisa. Hatiku berkata untuk tidak menghapusnya. “tidak perlu. Kau bisa menyimpannya.” Kataku berusaha bersikap acuh.“sungguh?! Terimakasih! Oya, siapa namamu?” wanita itu tersenyum riang.Tanpa sadar aku bersama dengannya sepanjang sore. Kami berbincang-berbincang tentang banyak hal hingga larut. Dan selama itu aku tidak memikirkan Hanna. Kehadiran wanita bernama Kelly yang mempunyai hobby fotografi itu telah membuatku merasa semakin bersalah terhadap Hanna. Bisa-bisanya aku bersama wanita lain dan melupakannya. Aku tidak tau, sungguh… semua mengalir begitu saja. Hanna, aku harap kau tidak marah padaku jika kau mengetahui ini. Aku hanya mencintaimu seorang.“jadi kau pergi meninggalkannya karena terpaksa? Kalau kau tetap bersama dengannya apa yang akan terjadi?” baru 2 hari aku mengenal wanita ini, tapi aku merasa sangat dekat dengan dirinya. Kelly adalah tipe yang periang. Setiap aku menatap matanya yang berkilat-kilat, aku merasa ia memberikan aku semangat untuk tetap menjalani hidup walau perih.“jika aku tetap bersamanya… ibu ku akan melukainya dengan cara memperkenalkan Hanna dengan Christie.” Aku tak mampu meneruskan ceritaku. Aku tertunduk berusaha tegar. Namun beberapa saat terdiam aku kembali mengangkat kepalaku yang terasa berat dan menatap Kelly untuk melanjutkan ceritaku. “Christie adalah wanita asal Paris yang di jodohkan denganku. Semua itu adalah ulah ibu ku, maksudku ibu tiriku. Ia ingin menyingkirkan aku dari rumah dan menguasai harta almarhum Papaku. 3 tahun aku menetap disana sampai pada saat acara pertunanganku dan Christie diselenggarakan, tiba-tiba ibu tiriku mengalami serangan jantung dan ia meninggal di tempat. Aku berfikir bahwa ini adalah kesempatan bagiku untuk kembali ke Indonesia dan menemui Hanna. Tapi aku masih belum dapat bertemu dengannya. Aku takut sesuatu terjadi kepadanya.”Wanita itu memegang bahuku dengan kedua tangannya. Ia menarikku ke dalam pelukannya. “kau laki-laki yang sangat baik Evan. Mendengar ceritamu aku jadi merasa iri terhadap Hanna. Ia beruntung sekali mendapati dirimu. Aku akan membantu mencarinya.”“terimakasih Kelly.” Ucapku pelan karena sedikit terkejut.“sebaiknya kita pulang sekarang, langit sudah gelap. Bye Evan.” Lagi –lagi gadis itu memamerkan senyum lebarnya yang indah. Aku seperti terhipnotis olehnya. Aku tidak boleh begini. Aku harus sadar dan memikirkan Hanna.Langkah kakiknya semakin menjauh, sosoknya pun samar-samar tak terlihat lagi oleh kedua mataku yang mempunyai minus 2. Kini hanya aku yang berada di tepi pantai ini. Ketika aku bersiap pergi dari sana tiba-tiba terdengar suara seperti bisikan angin:“Evan, selamat tinggal… aku harap kau bahagia bersama dengannya. Terimakasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan.”Suara itu lembut dan sangat pelan. Tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Aku rasa ini hanya halusinasiku saja karena belakangan ini aku selalu berkunjung ke tempat aku dan Hanna biasa bersama. Aku begitu rindu terhadapnya sehingga aku sampai mendengar suara-suara aneh di telingaku.Jam menunjukkan angka 8 dan aku langsung melesat ke parkiran mobil dan menginjak gas untuk pergi dari tempat itu. Di tengah perjalanan aku teringat kembali akan semacam suara atau bisikan di telingaku tadi saat di pantai. Hanna, dimana dirimu? Aku rasa aku sedang frustasi sampai-sampai mengira suara itu adalah suaramu.Ciiiittttttt…Hampir saja aku menabrak wanita tersebut! Untunglah aku segera menginjak pedal rem. Ketidakkonsentrasianku ini cukup untuk menyeretku ke penjara. Aku melepas seat belt dan berniat menghampirinya. Tetapi ketika aku keluar mobil aku tidak melihat siapapun. Kemana wanita itu pergi? Tanyaku dalam hati penasaran.“Hei! Evan! Apa yang kau lakukan di jalanan sepi seperti ini?” seruan itu.. aku rasa aku mengenal suara itu.“K- Kelly?” kataku sedikit gugup tak percaya. Suatu kebetulan yang luar biasa menurutku.Selangkah, dua langah, tiga langakah ia berjalan mendekatiku. Sekarang ia tepat di depan wajahku. Kelly terdiam tertunduk menatap aspal jalanan beberapa saat, lalu kemudian dengan secepat kilat ia merangkulku, ia merangkulku dengan erat seperti orang yang sudah sangat lama tidak bertemu dan meluapkan kerinduannya yang membuncah. Dan pelukannya kali ini berbeda jauh dengan yang sebelumnya.“h-hei, Kelly, ada apa denganmu?” tanyaku agak terbata-bata karena kelakuan wanita satu ini. Entah mengapa aku merasa gugup, aku tidak nyaman ia memelukku. Aku merasakan hal yang aneh dan di lain sisi aku juga tidak enak dengan Hanna.“jangan merasa tidak enak. Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja Evan.” Nadanya begitu lembut dan membuat aku luluh. Aku membalas pelukan Kelly dan membiarkan ia juga memelukku.“Evan, kemana lagi kita harus mencari Hanna? Kita sudah mengunjungi rumah tempat ia tinggal dulu dan menanyakan kepada tetangga sekitar namun tidak ada yang tahu dimana keberadaan ia atau keluarganya saat ini.” aku mendengar suara Kelly yang sedang menyetir mobil. Aku tau ia bertanya padaku. Tetapi aku tidak menjawabnya. Aku diam membisu karena aku masih teringat akan kejadian semalam. Entahlah, tetapi dari nada bicara Kelly ia seperti tidak pernah melakukan hal itu.“Aku tau Evan, kau ingin pergi ke pantai itu lagi dan menghabiskan waktu disana saja, bukan? Baiklah, aku akan menemanimu.” Ujarnya.Sesampainya kami disana, seperti hari-hari yang lalu aku dan Kelly duduk di atas pasir putih tepi pantai tersebut dan memandangi lautan biru luas yang indah serta gumpalan awan cerah yang berbentuk seperti gulali.“Hanna, ah maksudku Kelly… boleh aku tau dimana kau kemarin jam 8 malam?” senatural mungkin aku bertanya pada Kelly agar ia tidak curiga. Entah mengapa aku ingin menanyakan hal ini.“ah, jam 8 kalau tidak salah aku menelfonmu tetapi handphone-mu sepertinya tidak aktif. Memangnya ada apa Evan?” wanita itu menjawab pertanyaanku sambil memotret objek-objek di sekitarnya.Apa?! Lalu siapa yang memelukku kemarin malam?! “t-tidak, tidak ada apa-apa.” ucapku berharap Kelly tidak menyadari keterkejutanku.Ia berdiri dan menghempaskan pasir dari celana panjang. “Evan, tolong pegang dulu kameraku, aku mau ke kamar kecil.”“baiklah.” Kataku sekenannya.Melihat kamera itu hatiku seperti tertarik untuk melihat foto-foto yang ada di dalamnya. Aku mulai menelusuri satu persatu foto demi foto yang diambil oleh Kelly. Dia memang wanita yang berbakat. Semua hasil potretannya bagiku begitu memukau.“hei, kau sedang apa? melihat-lihat foto ya?” sahut seseorang yang sudah pasti Kelly. Rupanya ia kembali dalam waktu yang sangat singkat, padahal aku belum menemukan fotoku karena terlalu banyak tertimpa oleh foto lainnya.Aku mengulurkan kamera itu padanya. “ya, hanya sekedar melihat-lihat. Kau memang fotografer yang handal menurutku.”“haha Evan kau pandai sekali memuji. Tapi aku masih amatir dan harus banyak belajar lagi.” Ia tertawa lepas dan tersenyum lalu kembali mengambil gambar di sekitarnya.“Evan, bagaimana kalau kita foto bersama? Kau mau tidak?” tanya gadis itu dengan mimik yang berharap aku akan mengiyakannya.“baiklah, terserah kau saja.”Ckrek!“waaah Evan, lihat!” Kelly menunjukan hasil foto di layar LCD kamera itu kepadaku. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajahku. “kau tampan sekali, kalau teman-temanku melihatnya mereka pasti akan berebutan untuk berkenalan denganmu haha.”“sepertinya virusku tertular. Sekarang kau jadi pandai memuji Kelly.” Sindirku diiringi sedikit gelak tawa.“mungkin saja haha.” Wanita itu tertawa renyah sampai matanya benar-benar menyipit.Bersama dengannya aku merasa hal yang berbeda. Apa ini adalah rencana Tuhan untukku? Apa aku harus melupakan Hanna dan memulai kehidupan yang baru dengan orang yang baru juga? Entahlah, sempat terlintas difikiranku seperti itu tetapi aku belum berani mengambil tindakan nyata. Aku takut keputusan yang ku pilih malah akan memperburuk keadaan.Bagaimana jika ketika aku sudah memilih Kelly, tiba-tiba Hanna muncul dan kembali? Aku tidak tau harus menjelaskan padanya mulai dari mana. Aku tidak ingin melukai hatinya lagi.“Evan, aku akan bahagia jika kau bersama Kelly. Dia wanita yang baik. Kau tidak perlu ragu.”Suara bisikan itu lagi! “Kelly, kau dengar suara itu?” tanyaku padanya seperti orang paranoid.“suara apa Evan? Aku tidak mendengar apa pun, dan tidak ada suara lain selain desiran ombak di sini.”“sudahlah, lupakan saja.” Ini membuatku gila. Suara itu kembali muncul dan membuat bulu kudukku berdiri. Apa maksud semua ini??Nada dering handphoneku berbunyi cukup keras dan berhasil membangunkanku yang masih terlelap. Aku menekan tombol ‘jawab’ tanpa melihat siapa yang menelfon karena mataku menempel dan aku kesulitan membukanya.“hallo..” sapaku dengan suara berat dan sedikit serak khas orang bangun tidur.“astaga Evan, kau baru bangun tidur? Ini sudah jam 8, kau tau?!” omelan dengan intonasi yang cukup tinggi serta suara yang agak cempreng ini tidak salah lagi adalah milik Kelly.“ah Kelly, berhenti mengomel. Telingaku sakit, kau tau? Ada apa menelfon pagi-pagi? Tidak biasanya kau begini.” Akhirnya setelah usaha yang cukup keras mataku bisa terbuka dan aku langsung melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka sambil masih menempelkan benda kecil itu di telingaku.“aku sedang di tempat cetak foto. Aku ingin mencuci fotomu yang pertama kali aku ambil dan foto kita kemarin.” Ucapnya terkekeh. “setelah selesai aku akan kerumahmu untuk memberikannya. Jadi aku harap kau segera mandi karena aku tidak mau kebauan ketika berada didekatmu nanti haha.”“ok ok, baiklah. Aku tunggu.”“Evan, Kelly is here.” Aunty Clarice memasuki kamarku, ia adalah wanita asal Australia, ia juga istri dari kakakku satu-satunya yaitu James. Tetapi berhubung kakakku sedang mengurus cabang perusahaan keluarga di Jerman, ia meninggalkan istrinya dirumah bersama denganku dan sekaligus untuk menemaniku.Ia berjalan ke arahku yang sedang duduk di atas kasur sambil membaca buku. “i’m happy you already moved on from Hanna.”“i’ve never tried to do that Aunty. Hanna will always be in my mind.” Ujarku menutup buku itu lalu turun ke lantai bawah untuk menemui Kelly.“Don’t deny Evan. Don’t ignore your heart cause your mind won’t be able to feel it.” Seru Aunty Clarice.Perkataan Aunty-ku memang benar. Tetapi saat ini aku belum tau apa yang aku rasakan dan apa yang harus kulakukan serta kuputuskan.“hei Kelly, sudah lama menunggu?” sahutku dari lantas atas lalu menuruni anak tangga satu persatu.“oh h-hai Evan, tidak juga.” Suara Kelly terdengar gugup dan aneh. Seperti ada seseuatu yang ia sembunyikan dariku.Aku baru ingat bahwa ia kemari karena ingin memberikan hasil fotonya. Aku pun menagih janji itu. “oya, boleh aku lihat foto yang sudah kau cetak? Pasti hasilnya sangat bagus.” Ucapku dengan menorehkan senyum kepadanya.“ah i-itu.. iya hampir saja aku lupa.” Kelly langsung merogoh-rogoh ke dalam tas warna coklatnya mencari benda tersebut, tetapi tampaknya foto itu tidak ada. “mmm.. maaf Evan, aku rasa aku meninggalkannya di tempat cuci foto tadi. Aku akan mengambilnya dan segera kembali.” Aku bisa melihat dari bahasa tubuh Kelly yang canggung dan bersikap tidak seperti biasanya. Aku tau ada sesuatu yang terjadi dan ia tidak ingin aku mengetahuinya.“tidak perlu Kelly!” pekikku cukup keras karena wanita itu sudah berada di ambang pintu dan bersiap pergi. “sini, duduklah dulu.” Kataku sambil menepuk-nepuk sofa.Ia berjalan kaku menghampiriku dan duduk di sampingku. Aku memperhatikan air mukanya yang gusar dan agak pucat. “Kelly, tatap aku!” perintahku. Dengan terpaksa ia memutar kepalanya 90© dan berusaha memandangku. “Ada apa sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyaku mendalam.Gadis itu mengalihkan tatapannya dan tertunduk. Aku bisa mendengar dengan jelas bahwa ia sekarang tengah menangis sesenggukan. “aku berbohong Evan. Ambilah di dalam tasku dan lihatlah sendiri.”Aku mengikuti perkataannya. Tapi untuk apa Kelly berbohong? Ini hanyalah foto. Batinku terus bertanya seperti itu sampai akhirnya aku mendapatkan benda yang kucari.Terdapat 2 lembar foto dan foto yang pertama kulihat adalah foto aku dan Kelly saat di pantai kemarin. Kelly terlihat cantik dan begitu ceria di foto tersebut. Hal apa yang harus ia khawatirkan sampai-sampai ia berbohong padaku? Aneh sekali pikirku.Foto selanjutnya… mungkin ini adalah alasan Kelly bersikap begitu. Aku tidak percaya melihatnya. Aku benar-benar shock. Jantungku berhenti berdetak dan seluruh syarafku mati selama beberapa saat. Aku tidak tau apakah ini editan semata atau foto asli sungguhan.“Kelly, tolong jelaskan padaku. Kau yang mengedit fotoku, iya kan Kelly?!” aku menaikkan nada bicaraku terhadapnya karena foto ini memang sulit dipercaya.“tidak Evan. Aku tidak mengeditnya. Aku juga tidak tau kenapa hasilnya bisa seperti itu.” suara parau dan tangisnya yang tak henti membuatku merasa bersalah. Aku telah menuduhnya melakukan itu. Aku telah bersikap kelewatan kepada wanita ini.Aku memeluknya dalam sekejap. Aku tak mengerti mengapa aku bertindak seperti ini. Mungkin perkataan Aunty Clarice benar. Aku tidak boleh menyangkalnya. Aku tidak boleh mengabaikan hatiku karena pikiranku tak akan mampu merasakan kebenaran yang dirasakan oleh hatiku.“maafkan aku Kelly. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku… aku hanya… ini sulit sekali dipercaya. Tapi aku harus mengatakan ini padamu.” Aku melepaskan pelukanku perlahan lalu menggengam tangannya dan memandang matanya lekat-lekat. “aku menyukaimu Kelly. Sungguh. Ini nyata perasaanku yang sebenarnya. Kau pasti meragukannya, tapi aku mohon kali ini percayalah. Sejak pertama berkenalan denganmu aku mulai merasa bayangan Hanna memudar dan perlahan kau menggantikan posisinya dihatiku. Senyumanmu memberikanku semangat. Tawamu telah merubah aku yang dulu selalu menyalahkan diri sendiri karena meninggalkan Hanna. Aku jujur dengan ucapanku Kelly.”Ia berhenti menangis dan menatapku. Tatapan matanya tampak sedang mencari-cari kejujuran didalam mataku. Tiba-tiba saja wanita itu merangkulku erat sekali.“akhirnya kau bisa mencintai orang lain. Aku sangat bahagia Evan. Maaf aku menggunakan tubuh Kelly untuk berbicara denganmu. Kau begitu serasi dengannya. Satu saja permintaanku Evan, aku ingin kau dan Kelly datang ke tempatku.” Suara itu! Aku ingat sekarang. Ini adalah suara Hanna!“tidak, Hanna, jangan pergi!” aku semakin mempererat pelukanku.“Evan, aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pergi setelah aku dapat berbicara denganmu. Terimakasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan. Kau adalah pria yang istimewa bagiku.” Aku meneteskan air mata mendengar perkataan Hanna. Bagaimana bisa ia meninggal? Apa yang telah terjadi?“tunggu! Hanna, apa yang telah terjadi padamu?” dengan cepat aku melepaskan dekapanku dari tubuh Kelly yang berisikan roh Hanna.“a-aku… meminta keluargaku untuk pindah kuliah ke Bali. Aku berharap bisa melupakanmu di sana. Tetapi aku salah, aku justru semakin merindukanmu yang tak kunjung datang. Nilaiku juga menurun drastis, dan aku tidak ada orang yang mau dekat denganku karena mereka berfikir aku wanita yang aneh dan selalu menyendiri. Mereka menjauhi aku dan memandangku sinis. Karena aku tidak tahan akan cobaan ini, akhirnya aku menjatuhkan diri dari lantai 5 gedung asramaku. Evan, aku malu sebenarnya menceritakannya padamu. Aku wanita yang lemah, tapi kau harus tau. Aku tidak ingin membuatmu terus bertanya-tanya dan mencari aku yang bahkan sudah tiada.” Kelly, melalui dirimu aku dapat melihat tatapan sedih Hanna. Aku bisa merasakannya.“Hanna, kemana aku harus pergi?” tanyaku polos.“aku akan menyampaikannya pada Kelly. Aku harus pergi Evan. I love you, goobye…” setelah mengucapkan kalimat terakhirnya tubuh Kelly kemudian terkulai lemas, pingsan di atas sofa.Jumat, 11 November 2011 – Denpasar, BaliAku dan Kelly saat ini berada di tempat, di mana Hanna dimakamkan. Ternyata setelah meninggalnya Hanna, orangtuanya kembali ke kampung halamannya di Manado. Aku tak dapat bersua. Aku masih belum menyangka nisan di hadapanku ini benar-benar miliknya. Meskipun tertulis jelas dan lengkap nama “Hanna Isabel Maria” namun di dalam hatiku, aku berharap ini adalah Hanna Isabel Maria yang lain, bukan Hanna yang ku cintai.“Evan, cepat letakkan bunga melati putih itu. Hanna pasti sudah menunggu momen ini. Aku yakin dia bahagia di atas sana.”ujar Kelly yang berdiri di sampingku yang sudah lebih dahulu menaruh bunga di atas makam Hanna.Tanganku gemetar ketika akan menaruh bunga tersebut. Aku seakan tak mampu menghadapi kenyataan ini. Tetapi Kelly menggengam tanganku. Ia membantuku dengan senyum ikhlasnya. Tak terlihat sama sekali kecemburuan di wajahnya walau ia tau masih ada sebagian dari Hanna yang tertinggal di dalam diriku.Aku mengeluarkan selembar foto dari dompetku dan menaruhnya di dekat bunga melati putih itu. Ya, foto yang ku taruh adalah hasil jepretan Kelly yang membuatku tersentak kaget. Foto itu adalah fotoku saat pertama kali aku dan Kelly bertemu. Ia memotretku dari belakang, dan ternyata terdapat sosok bayangan Hanna yang cukup jelas di dalam foto tersebut setelah dicetak. Ia terlihat sedang duduk di sampingku, dan yang membuatku lebih terkejut yaitu ia tampak seperti mencium pipiku. Saat pertama kali melihatnya aku meneteskan air mata karena begitu tak percaya. Namun, biar bagaimanapun itu adalah kenyataannya.“Kelly, tetaplah bersamaku dan jangan pernah meninggalkan aku. Karena apa pun yang terjadi aku tidak akan pergi darimu.” aku memeluknya dengan erat. Aku tidak akan lagi menyia-nyiakan wanita yang berharga dalam hidupku. Cukup sekali aku berbuat kesalahan dan tak akan aku mengulanginya.“Evan, thank you for loving me.” Bisiknya di telingaku.Hanna, you never really left. I’ll always remember you. I can’t forget you or erase you from my heart. I’m able to get my happiness with Kelly, and i hope you’re smiling seeing us from up there.I will watch you through these nights..Rest your head and go to sleep..This is not our farewell..(Within Temptation – Our Farewell)DE ENDTwitter : @bellajusticeeFb : Bella Justice

  • Cerpen cinta King Vs Queen ~06

    Sebelum langsung ke cerita, saia selaku admin blog star night mau cuap – cuap dikit boleh kan?. Ehem, gini lho jeng (Berasa kaya arisan deh). Ternyata kalo di pikir – pikir lagi, saia udah lama banget ya gak nulis. Entah kenapa Semangat buat nulis Pada ngilang. Postingan yang muncul (??) juga bukan karya saia, tapi karyanya adex. Nah, biar saia semangat lagi buat nulis kayak dulu, kira – kira ada yang bisa ngasi saran n masukan gak?… ^_^Cerpen cinta King Vs Queen ~06"Kakak apa-apaan sih…" kata Niken begitu Nino duduk di sampingnya, sore sepulang dari campus."Lho, Emang kenapa? kakak baru pulang nih, jangan yang aneh-aneh deh…" kata Nino sambil memakan pisang goreng yang tadi di goreng mamanya."Siapa yang aneh, sepertinya kakak udah tertular virusnya Gilang deh, masa' ngomong Niken itu aneh" Niken jadi cemberut.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*