Cerpen Remaja The Prince ~ 09 {Update}

Cerpen Remaja

The Prince, The Princess and Mis. Cinderella part 9

Halo All reader, Cerpen remaja the prince, the princess and mis cinderella di lanjutin lagi lho #dihajar. Hahaha. Setelah sekilan lama ni cerpen nyangkut di planet pluto, akhirnya dia balik lagi. Thanks for all, yang udah ngasi semangat buat ngelanjutin nie cerpen yang jelas – jelas nggak jelas.Eh,tapi kalau seandainya ini cerpen makin kacau haraf di meklume aja ya?. Secara,ini cerpen makin ‘terbang bebas’ kayaknya. Tapi karena Star Night sudah memutuskan untuk melanjutkan itu artinya kemungkinan besar ini cerpen ada endingnya. Ya, walaupun harus terpaksa menendang ‘love story about my first love’ ke draf lepi. Tapi gak papa deh, Star night mau belajar bertanggung jawab dulu (????).Oh ya, karena ini sudah kelamaan, mungkin sudah pada lupa kali ya sama jalan ceritannya?. Memang salah star Night juga si kelaman banget ngelanjutin. Nah karena itu star night sengaja kasi link nya, Cerpen remaja the perince, the princess and mis cinderela part 1, part 2, part 3, part 4, part 5, part 6, part 7 dan part 8.E, satu lagi. Dalam cerpen remaja ini di ambil dari dua sudut pandang sekaligus (????). bingung ya?, ah star night yang bikin juga bingung apa lagi yang baca. Jadi gini lho, untuk karakter ‘Riani’ star nihgt pake istilah ‘aku’. Sementara untuk karakter ‘Andre’ Star night pake sudut pandang orang ketiga. H3 h3 h3 # bingung – bingung deh.Okelah, dari pada kebanyakan bacod mending langsung di baca yuk. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan. Credit Gambar : Star NightAku mengerjap – ngerjapkan mata sambil menoleh ke sekeliling. Hal pertama yang ku lihat adalah raut lega yang tergambar di wajah Iren di susul oleh Naysila dan Kezia. Walau kepala ku masih terasa sedikit pusing tak urung aku mencoba bangkit dan duduk bersandar.“Syukurlah, akhirnya loe sadar juga” Naysila yang pertama sekali buka mulut.“Memangnya gue kenapa?”.“Ya ela pake nanya lagi. Lupa ya, loe kan sedari tadi pingsan”.Untuk sejenak aku terdiam. Mencoba untuk mengingat- ingat kejadian sebelumnya. Tapi sepertinya pikiran ku masih blank. Hanya saja seingat ku tadi di kantin kevin berantem sama jimmy terus. Kevin…. Nggak – nggak – nggak. Itu nggak mungkin. Pasti tu kejadian Cuma mimpi. Buktinya sekarang aja aku terbaring di sini. Ya itu pasti hanya mimip. Pikir ku sendiri.“Kenapa kalian ngeliatin gue kayak gitu?” tanya ku heran saat mendapati raut bingung di wajah ke tiga temanku.“Loe kenapa senyum – senyum sendiri?” tanya Iren sambil mengulurkan tangannya. Menyentuh keningku. Munkin ia berniat untuk mengecek suhu tubuhku. Tapi enak aja, dikira aku sakit apa. Dengan cepat ku tepis tangannya.“Tenang, gue baik – baik aja. Cuma lagi seneng aja kalau ternyata sedari tadi gue terbaring disini?” balasku mencoba menjelaskan. Namun yang herannya kenapa kerutan di kening teman – teman ku justru malah bertambah ya?.“Loe malah seneng pingsan disini?” tanya Naysila lagi.Dengan mantap aku mengangguk membenarkan. Hei, bukannya sedari tadi aku terbaring di sini. Berarti kejadian di kantin tadi itu nggak pernah ada kan. Maksutnya sebenernya kejadian itu hanya mimpi buruk ku semata.Dan sebelum mulut Iren terbuka untuk bertanya lebih lanjut aku sudah terlebih dahulu memotongnya karena saat melirik jam, sepertinya ini sudah saat nya pulang. “Ya udah lah. Cabut yuk. Kita pulang bareng” ajak ku sambil bangkit berdiri. Sengaja mendahului untuk melangkah keluar. Sambil terus melangkah sebuah senyum samar terukir di bibir ku. Kalian ingin tau kenapa aku sesenang ini?. Itu karena aku baru bangun dari pingsan, dan tersadar dari mimpi buruk. He he he. Siapa yang nggak seneng coba, kalau hal buruk ternyata hanya mimpi. Tapi sambil terus melangkah, aku merasa sedikit heran. Perasaan ku saja atau memang sepertinya seluruh anak – anak pada ngeliatin aku ya?.Untuk sejenak aku menghentikan langkah ku. Memperhatikan penampilanku. Perasaan biasa – biasa aja. Nggak ada yang aneh. kacamata ku masih menempel dengan sempurna. Lantas mereka kenapa?. Tak ingin terlalu larut dalam dugaan nggak jelas perhatianku segera ku alihkan kearah kezia, naysila dan Iren.“Hei, Penampilan gue ada yang aneh ya. Kok kayaknya anak – anak pada ngelihatin gue kayak gitu?” tanya ku.Sebelum menjawab aku masih sempat melihat Naysia memutar mata. “Ya jelas aja semua pada heboh secara Kevin nyium loe dikantin yang jelas – jelas lagi rame – ramenya. Tentu saja gosip itu langsung menyebar. Terlebih lagi selama ini kan hubungan kalian berdua nggak akur”.“Ha?” langkah ku langsung terhenti. Jujur saja aku nggak pernah berurusan dengan dokter THT dan sama sekali nggak ingin berurusan dengan tu dokter. Tapi kenapa barusan aku seperti mendengar kabar yang terlalu mengetkan, bahkan lebih kaget dari pada saat aku mendengar suara petir.“Kalian bercanda kan?” tanya ku lagi.“Ayolah Riani. Bercanda gimana ceritanya. Loe aja sampe pingsan gitu. Jangan bilang kalau loe lupa” Terang Kezia terlihat kesel.Untuk sejenak aku terdiam. Pikiran ku makin blank. Kalau bener apa yang naysila katakan, berarti itu semua memang bukan mimpi. Kevin benar – benar nyium aku. Astaga, itu kan ciuman pertamaku.Dan belum sempat otak ku mencerna semuanya, tau – tau kini tampak kevin yang berjalan mendekat. “Udah sadar loe?” tanya kevin atau mungkin lebih tepat kalau di bilang meledek kali ya?.“Loe” tunjuk ku tepat kearah wajahnya. “Mau apa lagi?” geram ku lagi.“Dasar cewek aneh, baru di cium aja udah pingsan” sambung kevin lagi. Dan kali ini aku benar – benar tak mampu menahan kesabaranku. Dengan cepat tangan ku terangkat dan menjitak kepalanya. “Aduh. Hei sakit tau” Bentak kevin yang sama sekali tidak mampu membuat nyali ku menciut. Enak saja, ini masalah harga diri. Dia nggak bisa seenaknya.“Dasar brengsek loe. Itu ciuman pertama gue tau. Enak aja loe rampas sembarangan. Tanggung jawab loe” bentak ku geram. Dan makin merasa kesel saat justru melihat kevin yang malah tertawa ngakak. Hei , memangnya disini ada yang lucu ya?.“Tanggung jawab. Memangnya loe hamil”.“Duak”Untuk kedua kalinya sebuah jitakan kembali mendarat di kepala Kevin. Persetan deh dengan tata krama.“Loe…” Geram kevin kearah ku.“Apa?” tantang ku lagi.“Oke, gue akan tanggung jawab. Mulai sekarang loe jadi cewek gue. Kita pacaran” balas kevin dengan santainya.Kali ini sebelum jitakan ketiga mendarat di kepala, tangan kevin sudah terlebih dahulu menahannya. Bukan hanya itu bahkan ia segera menariknya. Sementara aku yang sama sekali tidak menduga akan terjadi perlawanan sama sekali tidak siap dan berakhir dengan mendarat di tubuh Kevin.“Loe tau. Gue merasa, sepertinya permainan kita semakin seru. Nggak salahkan kalau ini terus berlanjut. Dan elo sebaiknya siapin diri loe baik – baik. Karena gue akan melakukan cara apapun untuk menang” bisik kevin kearah telinga ku sambil tersenyum sinis.Aku berusaha berontak untuk melepaskan diri. Bukan hal yang sulit si karena kevin juga telah melepaskan cengkeramannya. “Ya sudah, gue pergi dulu ya sayang. Jaga diri loe baik – baik” Ledek kevin sambil tersenyum sinis sebelum kemudian berlalu. Tak memberi kesempatan sedikitpun untuk ku mencerna semuanya apalagi melakukan pembalasan.Setelah kevin benar – benar berlalu aku menoleh kesamping. Heran saat melihat mulut kezia yang terbuka tanpa suara, atau tampang bingungnya Naysila sementara Iren justru menepuk – nepuk pipinya sendiri. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan mimpi. Hei, bukannya yang harusnya shock itu aku ya?.Cerpen Remaja Sambil tangannya terus mengatur buku – buku angan andre terus melayang. Sama sekali tidak konsentrasi dengan kerjaannya. Revan yang sedari tadi memperhatikan gerak – geriknya tak urung merasa heran. Ada apa dengan anak itu?. Tak ingin bermain dengan tebak kan liarnya segera di hampiri sahabat sekaligus rekan kerjanya.“Andre, loe kenapa?”.“eh” andre sedikit terlonjak kaget saat mendapati Revan yang tiba – tiba berada di sampingnya. Revan sendiri justru malah yakin kalau sahabatnya itu memang sedari tadi sedang melamun saat melihat reaksi kagetnya.“Loe kenapa si?” tanya Revan mengulangi pertanyaannya.“Oh, gue. Nggak kenapa – napa kok” “Loe pikir loe bisa bohongin gue. Ayolah, kita bukan baru kenal kemaren sore” sambung Revan meyakinkan. Untuk sejenak Andre terdiam. Mencoba menimbang – nimbang apa yang sebaiknya ia lakukan. Menceritakan itu semua pada sahabatnya atau tidak. “Atau loe lagi sakit ya?. Abis wajah loe juga pucat” tambah Revan sambil menyentuh kan tangannya kearah kening Andre.“Brak”.Keduanya segera menoleh. Tampak buku – buku yang berserakan di lantai dimana . sementara itu , Kevin juga terlihat sedang berdiri tak jauh dari sana dengan tatapan tajam setajam elang yang terarah lurus kewajah Andre dan Revan secara bergantian. Sampai kemudian tanpa kata segera berlalu. Meninggalkan raut kebingungan di wajah kedua orang itu.“Itu bukannya kevin ya?. Dia kenapa?” tanya Revan heran.“Tau. Sudahlah, nggak usah di urusin. Tu anak kadang – kadang memang rada nggak jelas” kata Andre terlihat tak peduli. Karena jujur saja ia masih kesel sama tu orang atas perlakuannya terhadap ‘riani’.“Tapi kan…”.“Stt.. udah buruan lanjutin kerjaan loe” potong Andre cepat. Sama sekali tak ingin melanjutkan pembicaaraan itu lebih lanjut. “Dan satu lagi, gue nggak papa alias baik – baik saja. Oke?” sambung Andre lagi sambil tersenyum meyakinkan.Kali ini Revan balas tersenyum, walau tak urung dalam hati ia bergumam . “Justru karena loe bilang loe baik – baik sajalah gue malah jadi curiga kalau sebenernya ada apa – apa”.Cerpen RemajaDengan hati yang masih kesel Kevin terus melajukan motornya dengan tujuan yang tak jelas. Saat ini ia benar – benar ingin melampiaskan kemarahannya. Bukan, tentu saja bukan karena kejadian di perpustakaan yang baru saja di lihatnnya walau sebenarnya hal itu sedikit banyak memang mengganggu pikirannya. Tapi rasa kesel ini sebenernya lebih ia tujukan pada dirinya sendiri. Sebenarnya ada apa dengannya?. Kenapa ia merasa tidak suka saat memergoki keakraban Andre dengan rekan kerja yang katanya sahabat baiknya dulu?. Ayolah, Dia itu cowok, Andre dan Revan juga. Astaga, kenyataan ini benar – benar membuatnya gila.Karena pikiran kalut yang menguasai nya saat ini, Kevin sama sekali tidak memperhatikan laju motornya. Dengan santai ia terus mengebut. Dan saat sampai di tingkungan, ternyata dari arah berlawanan juga tampak sebuah sedan yang melajut. Dengan cepat Kevin berusaha menginjak rem nya. Namun…“Brak”.Sepertinya hari ini bukan Cuma luka di hati, tapi juga harus ada luka fisik yang ia tanggung.Cerpen Remaja The PrinceUps, Bersambung lagi #KABUUUUUUUUUURRRRR!!!

Random Posts

  • Ketika Cinta Harus memilih 01 | Cerpen Terbaru

    Ketika Cinta Harus Memilih_ Part 1. Status cerpen, repost dengan pengubahan seperlunya. Buat Reader lama mungkin sudah pernah membacanya, and buat newreader, selamat membaca. Happy Reading…. :DKetika Cinta Harus MemilihCinta berlalu di hadapan kita.terbalut dalam kerendahan hati.Tetapi kita lari darinya dalam ketakutan.Atau bersembunyi dalam kegelapan;Atau yang lain mengejarnya.Untuk berbuat jahat atas namanya.~kahlil gibran~."Prang…!!!".Terdengar suara pecahan vas bunga yang beradu dengan lantai akibat di banting dengan keras. Disusul suara teriakan saling adu mulut antara sepasang suami istri. Mengabaikan kenyataan ada seorang anak yang duduk terpaku di sudut kamar sambil menutupi kedua telinga mengunakan tangan – tangan kecilnya. Berusaha untuk menutup indra pendengarannya dari pertengkaran kedua orang tuanya yang sudah merupakan rutinitas sehari – harinya.sebagian

  • Cerpen Kala Cinta menyapa part 9

    Huwakakkaka….. kayaknya ini part paling pendek yang pernah tercipta deh. Tapi gak papa deh, namanya juga versi expres. Abis di tagih mulu si. Phan saia udah bilang saia udah sibuk di dunia nyata. So, kalau mau baca sialahkan. Gak mau ya suka suka kalian.. Oke?…. SYIP!Ah satu lagi, tadi si lagi asik nulis. Eh ada yang ngajak chatingan. Ya sudah konsentrasi langsung buyar. So segini aja deh.Credit gambar : ana Merya "Ya ela, loe kenapa?. Kok mukanya sedari tadi di tekuk gitu?. Gantengnya ilang tau" Komen Joni sambil menatap prihatin sahabat yang duduk di sampingnya. Sementara tangannya dengan santai menyuapkan kuah bakso kedalam mulut."Diem loe. Gue lagi galau ni".sebagian

  • KAGUMKU SELANGIT oleh JAJ

    Oleh: Jovian Andreas (JAJ) – Suatu kertas puisi cinta yang disebut picisan itu akhirnya disimak lagi. Kenangan indah kalau diangkat lagi memang jadi mengharukan. Mengapa ada cinta yang disia-siakan? Mengapa dibiarkan pernyataan baik itu yang pernah dibalas dengan sikap arogan, yang akhirnya disesali. Dibenci sikap jahatnya itu pada laki-laki yang sebetulnya tampan namun karena dituding bukan levelnya, laki-laki itu jadi berkata tak akan bertemu dengannya lagi, pada detik itu. Laki-laki itu sudah menerima permintaan Omnya untuk tak akan ke rumah lagi hanya demi Meli… Oh, Meli, kau ini bodoh banget! Kau ini norak! Kau ini sombong! Kau sangat materialistis! Jadilah kamu perempuan sial! Ah.., begitulah yang dipikirkan Amelia Febrianti, yang melihat foto Heryadi, laki-laki yang pernah jatuh hati padanya sepuluh tahun yang lalu. Sekarang usia Amelia, 27 tahun, dan Heryadi, 30 tahun. Amelia sudah pernah menikah sebelum tahun 2000 dan ketika itu usainya 20 tahun. Yah, tepatnya dia kelahiran 1979. Dia sangat ingat perkenalannya dengan Heryadi yang suka berkarya di sanggar sebagai sutradara. Dia tahu juga semangat Heryadi walau organisasinya itu tak menguntungkan atau memberinya penghasilan. Dan ketika itu Amelia yang pernah jadi anggota teater di SMA memilih keluar dan mau jadi pemain sinetron, figuran. Sementara Heryadi tetap bergerak di teater dari festival drama remaja, lomba baca puisi, menulis skenario dan yang lain jadi pelatih futsal di sekolah yang dikelola orang tua temannya.Heryadi memang bukan anak orang berada, dia tinggal di jalan MHT di wilayah padat di Jakarta Barat. Heryadi menaruh hati pada Amelia, lewat bantuan teman sebaya Amelia ketika itu untuk jadi comblang baginya. Tetapi mengapa Heryadi tidak berani mengungkapkannya, hanya karena Heryadi mempunyai saingan dari temannya yang lebih dipahami Amelia. Temannya itu Ronny. Teman Heryadi ini membawa Azrul yang ternyata genit dan ingin mendapatkan hati Amelia. Akhirnya Heryadi jadi jaga jarak dengan Ronny dan memutuskan membangun sanggar baru di luar sekolah. Ronny tetap bertahan dan mengajak Azrul yang memang teman di kampusnya masuk poduction House dan Melly diajak jadi pemain sinetron sebagai figuran saja. Ronny bernasib baik menjadi asisten sutradara di production house mendampingi sutradara senior.Nah kenapa Heryadi merasa bersaing dengan Ronny, alasannya adalah Heryadi punya niat mengadakan pementasan kolosal : Ken Arok yang ternyata disudutkan Ronny bahwa ide itu tak akan terjadi. Heryadi jadi benci Ronny. Heryadi juga benci pada Amelia yang malah berani bilang: "Gue nggak suka sama elo!" Suatu pernyataan yang mengecewakan di masa itu, dan Amelia jadi sedih telah membuat hati Heryadi, jadi sakit hati.Heryadi dengan teater barunya malah berhasil meraih piala sebagai grup terbaik. Heryadi tetap punya pendirian hingga di era runtuhnyha orde baru terlibat pula dalam demonstrasi. Heryadi tetap bujangan. Dan masa mudanya itu tetap putih dan tidak seperti Azrul. Karena laki-laki yang menyukai Amelia itu, berani main api, selingkuh dengan perempuan yang mau jadi artis hingga hamil. Dan inilah yang membuat Amelia kagum pada Heryadi.Heryadi juga dipuji Amelia ketika dia datang ke rumah Amelia sambil mengabarkan kalau dia sudah lulus menjadi sarjana. Bayangkan, keputusan untuk tidak mendekati Amelia, dimohonkan maaf oleh Heryadi dengan pernyataan kepada Om Amelia, Safri, kalau dia kakak kelas Amelia yang ingin dilihat Amelia menjadi sarjana. Dan Amelia menjadi trenyuh. Dia saja tidak bisa menyelesaikan kuliah karena keputusannya sendiri. Begitu juga Om Safri yang pernah meminta Heryadi jauhi Amelia, sudah tidak bisa bekerja lagi akrena kecelakaan, hanya bilang kepada Amelia : "Coba kamu jadi sama laki-laki itu, Mel… Dia baik!"Amelia sangat sedih. Dan waktu terus bergerak, setiap kabar Heryadi malah membuat Amelia semakin kagum padanya. Heryadi bekerja di production house pula seperti Ronny yang mana perusahaaan itu membuat film layar lebar serta rekaman film asing. Wah, membuat Amelia jadi trenyuh. Amelia yang sudah punya anak hasil hubungan gelapnya dengan teman kuliahnya itu hingga diusir bapaknya, kini menjadi manusia yang merasa telah membunuh karakternya sendiri. Dia ingin berubah sebagai manuisa yang punya masa depan, punya rancangan atau prinsip hidup dan punya cinta pada laki-laki sebaik Heryadi.Namun sayangnya Heryadi yang pernah menulis puisi untuknya berjudul Kagumku Selangit, sudah semakin sulit menjadi miliknya. Heryadi sudah meminang seorang gadis yang sederhana, tetangganya yang memang pantas buat Heryadi. Amelia tinggal berkata," Oh Tuhan, andainya hati Heryadi masih ada untukku biarlah dia datang padaku, walau hanya sebentar mengucapkan salam padaku.."Tentunya Amelia tidak bisa bertemu Heryadi. Amelia hanya bisa memandangi foto masa SMAnya itu. Di mana Heryadi yang pernah jadi sutradara teater dan pernah dihina temannya itu, kini sudah menjadi laki-laki dewasa. Amelia hanya bisa menulis di buku hariannya : I Love You Heryadi.. God Bless You ..*****Jakarta, November 2011Penulis : Jovian AndreasEmail : Jovisca_2@yahoo.co.id

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 06 / 13

    Lanjutan dari cerpen cinta Kala Cinta Menyapa bagian ke 6 udah muncul ya guys. So buat yang masih penasaran dengan kalanjutan hubungan antara Rani dan Erwin bisa langsung simak kisahnya di bawah. Sama sekalian, buat reader baru biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading ya. Jangan lupa RCL…Sambil menunggu bus tumpangannya muncul, seperti biasa Rani segera mengeluarkan komik dari dalam tas. Siap – siap untuk terjun kedunia animasi ketika sebuah suara yang menyapa mengusik ketenangannya. “Ehem.”“Eh,” Rani menoleh, mendapati Erwin yang kini duduk tepat disampingnya. Untuk sejenak Rani terdiam, perhatiannya terjurus kearah Erwin yang juga diam. “Loe mau kemana?” tanya Rani memberanikan diri untuk bertanya.“Pulang,” balas Erwin singkat.“Kok di sini?” tanya Rani lagi.“Nggak liat apa gue lagi nungguin bus,” tambah Erwin masih tak menoleh.“Bukannya biasanya pake motor ya?”“Rusak."Rani terdiam sambil mengangguk – angguk paham. Perhatiannya segera beralih kembali kearah komik yang tadi sempat terabaikan. Sepuluh menit berlalu suasana hening. Sepertinya Rani juga sudah tengelam dalam dunia barunya.“Jadi loe juga suka sama dia?”“Ha ha ha."Erwin menoleh. Menatap kearah Rani dengan pandangan aneh, memangnya pertanyaannya barusan itu lucu ya? Namun saat mendapati Rani yang sama sekali tak menoleh kearahnya dan justru malah asik membolak balik lembar demi lembar komik yang ada di tangan, barulah ia menyadari kalau gadis itu bukan menertawakan ucapannya.“Loe dengar pertanyaan gue barusan kan?” tambah Erwin lagi. Rani masih tak menoleh.“Rani, gue ngomong sama loe,” sambung Erwin lebih keras.“Eh… Kenapa?” tanya Rani heran. Matanya yang bening tampak berkedap kedip menatap kearah Erwin.“Sudahlah… lupakan…” kesel Erwin mengibaskan tangannya. Membuat Rani memberenggut sebel. Merasa kesel karena aktifitas membacanya diganggu oleh sesuatu yang sama sekali nggak penting.“Jadi loe benar – benar di tolak. Ck, Kesian sekali."Rani menutup komik yang ada di tangan. Perhatiannya kembali teralih kearah Erwin.“Loe sebenernya ngomong sama siapa si?” tanya Rani setelah sebelumnya menoleh kesekeliling dan menyadari kalau hanya ada ia berdua yang duduk di halte.“Memangnya di sini ada siapa lagi?” bukannya menjawab Erwin malah balik bertanya.“Nah justru itu yang bikin gue heran. Disini kan cuma ada kita berdua. La Loe ngomong sama siapa?” “Tentu saja gue ngomong sama loe,” geram Erwin. Terlebih ketika dengan jelas ia melihat raut heran tergambar di wajah Rani. Jangan bilang kalau gadis itu benar-benar tidak menyadari keberadaan dirinya.“O…" kepala Rani mengangguk angguk yang nggak jelas apa maknanya. “Memangnya loe mau ngomong apaan?” sambungnya lagi.“Ha…” Erwin melongo mendapati tatapan polos Rani padanya. Asli, sedari tadi gadis itu ternyata benar benar tidak menganggap keberadaan dirinya.“Kalau nggak salah denger tadi loe bilang suka sama di tolak. Memangnya loe abis di tolak cewek ya? Ck ck ck, kesian banget loe ya,” sambung Rani sambil menatap Erwin dengan tampang memelas. Benar – benar membuat Erwin asli mati gaya. Yang di tolak siapa, yang di kasiani siapa.“Jangan tatap gue seperti itu,” kesel Erwin.“Tapi loe kan pantas di kasiani. Bayangin aja, di tolak oleh orang yang kita sukai. Tentu saja itu menyedihkan. Temen gue, si Irma. Belum di tolak si, tapi gue tau kalau dia itu mencintai seseorang secara diam – diam aja terlihat menyedihkan. La apa lagi elo,” terang Rani sambil menerawang jauh.“Eh yang bilang gue di tolak siapa?”“Lho emangnya enggak. La terus kita ngomongin siapa donk?” tanya Rani bingung.“Kita kan lagi ngomongin elo”."“Gue?” tunjuk Rani kearah dirinya sendiri, Erwin hanya mencibir sinis kearahnya.“Memangnya gue di tolak sama siapa?” sambung Rani sambil mencoba mengingat – ingat. “Situ yang di tolak, kok situ yang nanya,” gumam Erwin lirih namun masih mampu Rani tanggkap. Membuat gadis itu memicingkan mata menatapnya.“Kenapa loe malah menatap gue seperti itu si?” tanya Erwin risih.“Cek cek cek, loe cowok kok demen gosip.".“Ha?” Erwin melongo mendengarnya. Dia? Mengosip? Astaga, yang benar saja.“Menyebarkan kabar yang jelas – jelas gak bener kalau bukan gosip apa donk?" sambung Rani lagi.Erwin menghela nafas. Sepertinya ada yang salah dengan gadis disampingnya. “Gue nggak ngosip. Tapi tadi gue memang liat sendiri dengan mata kepala gue kalau loe di tolak sama siapa tu namanya, Rei? Cih, kayak nggak ada cowok laen aja."“Tuh kan ngosip lagi. Kapan juga gue di tolak sama si Rei?" bantah Rani tak terima.“Nggak usah di tutupin lagi. Gue juga sudah tau kok."“Loe nggak tau tapi sok tau. Sama nyebar gosip juga," kali ini Rani membalas sewot.“Apa loe bilang. Gue nyebar gosip? Enak aja. Tadi itu gue emang liat loe yang sedang memberikan kado kearah Rei. Tapi di tolak. Gue juga sempat melihat raut kesel di wajah loe. Terus loe mau ngelak apa lagi,” terang Erwin antusias.Kali ini Rani tidak langsung membalas. Mencoba untuk mengingat – ingat maksud ucapan Erwin. “oh, maksut loe ini?” tanya Rani sambil menunjukan bungkusan kado di sampingnya. Melihat itu Erwin langsung mengangguk membenarkan.“Huwahahahaha."Erwin melongo menatap Rani yang tertawa lepas. Memangnnya ada yang lucu ya?.“Ya ela. Makanya jadi orang jangan suka seuzon sama orang. Udah lah salah, ngotot lagi. Sifat copaser kok di tiru (???),” tuding Rani sok berfilasafat. “Tapi…" Rani tampak berpikir baru kemudian melanjutkan ucapanya. "Kalau di pikir – pikir tadi itu gue emang di tolak si,” sambung Rani setelah terdiam untuk beberapa saat. Kalimat itu tak urung membuat Erwin benar – benar berniat untuk langsung menjitak kepalanya.“Gue juga heran, padahal gue tadi Cuma mau nitip nie kado buat ulang tahun Irma, tapi kok Rei gak mau ya?” gumam Rani lagi.“Tunggu dulu” Potong Erwin. “Kado buat irma? Maksutnya?”“Iya. Hari ini kan Irma ulang tahun. Tapi dia malah sakit. Jadi gue nggak bisa langsung ngasi kado ini ke dia. Nah, karena gue tau tu anak deket sama Irma makanya rencanannya gue mau nitip aja. Eh malah di tolak sama dia."“Jadi maksut loe itu kado buat Irma?” Erwin mencoba menegaskan dugaannya.“Ya iya lah. Masa ia ini kado buat si Rei. Emang dia siapa gue?” balas Rani. Erwin tampak mengangguk – angguk membenarkan.“Tapi yang gue heran, ini kan gak ada hubungannya sama loe. Kok loe tertarik pengen tau si?. Jangan – jangan loe naksir sama gue lagi."“Sembarangan” Damprat Erwin sewot.“La terus?. Atau jangan – jangan…”“Jangan – jangan kenapa?” tanya Erwin antusias saat melihat Rani yang terlihat mengantungkan ucapannya.“Jangan – jangan bener lagi loe emang rencana pengen nyebar gosip,” tuduh Rani langsung.“Pletak."Kali ini Erwin tidak mampu menahan tangannya untuk tidak mendaratkan jitakan di kepala Rani atas tebakan ngawurnya.“Bukannya yang demen nyebar gosip itu elo ya?” cibir Erwin sinis.“Gue?” tunjuk Rani ke arah wajahnya sendiri. Lagi – lagi Erwin membalas dengan tatapan sinis.“O maksutnya masalah gosip yang katanya loe jatuh dalam got itu ya?”“Ya maaf, suwer itu bukan kerjaan gue. Itu kerjaannya si Irma. Dia emang demen ngesosip. Secara loe tau nggak. Dia kan udah kadung mendapat julukan ‘Penasaran girl’. Jadi kalau ada apa – apa pasti bawaannya pengen tau aja. ck ck ck… Benar – benar ember bocor kayaknya,” terang Rani geleng – geleng kepala.“Tapi tu anak nggak mungkin tau dan nyebarin gosip yang enggak – enggak kalau bukan karena loe."“Yee… kok jadi gue si yang salah?” Rani tidak terima.“Terus kalau nggak dia tau dari mana coba?”“Terus gue harus bilang ‘WOW’ gitu,” tanya Rani ikut – ikutan sok pake bahasa yang memang lagi ngetrend. “Salah… Maksut gue, ini kan emang salah loe. Siapa suruh jatuh dalam got,” balas Rani balik.Mendengar kalimat yang di ucapkan dengan santai oleh Rani barusan sontak membuat Erwin langsung melemparkan tatapan tajam kearahnya. Tapi yang di tatap cuek bebek saja. Bersikap seolah – olah tiada kejadian. Sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. Dan belum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, Rani sudah terlebih dahulu bangit berdiri. Ternyata bus yang sedari tadi mereka tunggu kini telah tiba di hadapannya. Dan tanpa sepatah katapun gadis itu segera melangkah masuk kedalam. Meninggalkan Erwin terpaku dengan tampang cengonya. Bahkan tak memberi kesempatan sedikitpun untuk Erwin menyadari bahwa bus yang sedari tadi ditunggu sudah mulai berlalu meninggalkannya.Cerpen Kala Cinta MenyapaSuara berisik dari ruang tengah menyadarkan Erwin dari tidur siangnnya. Dengan ogah – ogahan ia melangkah keluar. Untuk mengecek ada apa gerangan. Keningnya sedikit berkerut saat mendapati mamanya yang duduk dengan kaki di perban, sementara tepat di hadapannya tampak siluet seseorang yang berdiri dihadapannya. Tanpa sempat berfikir siapa orang tersebut Erwin segera menghambur menghampiri.“Mama kenapa?” tanya Erwin langsung. Dari nadanya bertanya jelas ia merasa khawatir.“Oh, mama nggak kenapa-napa kok. hanya tadi sempat terserempet mobil,” terang sang mama mencoba tersenyum.“Hanya kok sampai di perban gini? Gimana ceritanya?” Erwin masih terlihat panik.“Tapi ini sudah mendingan kok. Sudah di bawa kedokter juga. Tadi itu mama memang kurang hati – hati saat menyeberang, terus ada mobil yang juga sedang melaju kencang. Akhirnya keserempet deh. Untung saja ada Rani yang bantuin mama,” terang mama lagi sambil menujuk sosok yang berada tepat di hadapannya. Dan pada saat itu lah Erwin kembali menyadari kalau masih ada orang lain di antara mereka.“Rani?” gumam Erwin setengah tak percaya.“Erwin?” sosok yang di panggil Rani juga terlihat heran plus kaget.“Loe ngapain ada disini?” tanya mereka secara bersamaan.“Lho kalian sudah saling kenal?” Mama ikut – ikutan heran. Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Erwin mengangguk membenarkan.“Dia temen kampus Erwin, ma."“Oh, benarkah? Wah kebetulan sekali,” ujar mama terlihat gembira. Rani hanya menunduk sambil tersenyum kaku. “Maaf tante. Tapi sebenarnya Rani masih ada urusan. Nah karena tante juga sudah sampai dirumah dengan selamat, jadi Rani mau permisi dulu."“Kenapa buru – buru sekali. Tunggu sebentar, biar bik Inah membuatkan minuman untuk mu dulu."“Nggak usah tante, lain kali saja. Soalnya Rani beneran harus pulang sekarang. Rani tadi juga di suruh membeli barang sama mama. Jadi saat ini pasti sudah di tungguin dirumah."“Baiklah kalau begitu. Maaf ya sudah merepotkanmu. Dan sekali lagi terima kasih karena sudah bantuin tante."“Nggak papa kok tante. Rani permisi dulu,” pamit Rani sambil tersenyum tulus.“Tunggu dulu, kalau gitu biar Erwin yang mengantar kamu."“Apa? Oh nggak usah tante. Ngerepotin aja. lagian Rani bisa pulang sendiri kok,” tolak Rani cepat. Erwin juga terlihat menatap mama nya dengan tatapan memprotes.“Sudahlah. Nggak papa. Nggak repot sama sekali kok,” balas Mama Erwin sambil tersenyum. “Lagi pula Erwin juga sama sekali tidak keberatan. Kan kalian juga sudah saling kenal. Iya kan?”Erwin terpaksa mengangguk membenarkan sambil mencoba tersenyum paksa.“Ayo Rani, gue antar loe,” ajak Erwin sambil melangkah keluar. Tak lupa disambarnya kunci motor diatas meja.Mau tak mau Rani mengangguk membenarkan. Setelah terlebih dahulu pamit pada mama Erwin Rani melangkah keluar. Mengikutin Erwin yang sudah berjalan duluan.Next to Kala Cinta Menyapa Part 7Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.701 WordsLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*