Cerpen Remaja “The Prince ~ 08” {Update}

Oke, sory ya baru sempet benerin. Kemaren lupa soalnya…


Hufh. Jadi Jimmy sudah tau siapa aku sebenernya. Tapi untunglah tu anak masih bisa aku ajak kerja sama. Coba kalau nggak. Dia laporin aku ke kakek misalnya. Bisa – bisa aku langsung di seret pulang, terus di kawinin deh. Ih, nggak banget.
Ehem, kalau di pikir – pikir aku mau sampai kapan ya kayak gini terus. Masa ia aku maen kucing – kucingan terus sama kakek. Tapi kalau langsung nyerah kan nggak etis juga. Secara udah terlanjur basah . Cuma ngomong – ngomong, gimana sama kabarnya my prince ya?. Apa mungkin kakek bisa nemuin dia?. Terus kalau seandainya kakek bisa nemuin dia, Apa aku siap di jodohin Ya kalau wajahnya keren plus imut kayak lee seung gi (???), Kalau malah jelek kayak pangeran kodok. Gimana donk?. Ah pusing.
Belum lagi masalah Kevin selesai, eh malah di tambah masalah baru. Mending jangan di pikirin aja deh.
Cerpen Remaja "The Prince ~ 08"
"Hei, sibuk nggak?" tanya Kevin sambil menepuk pundak andre yang tampak sedang menyusun susunan buku di hadapannya.
"eh, elo kev. Kenapa?".
"Kok muka loe muram gitu?. kenapa?" tanya Kevin yang melihat Andre tak semangat tanpa berduli sama sekali akan pertanyaan yang terlempar padanya.
"Nggak. Gue baik – baik aja kok".
"Bener nie?" Kevin masih tak yakin. Tapi lagi – lagi andre hanya mengangguk tanpa menoleh.
"Oh ya, gimana kalau nanti siang gue ajak loe jalan. Mau ya?. gue pengen kenalin loe sama temen – temen gue".
"Gue nggak bisa".
"Loe kenapa si?. kok tumben banget nggak semangat gitu. Lagi ada masalah?".
"Udah di bilang nggak kenapa – napa juga. Lagian gue masih harus kerja. Sori gue jalan dulu" Andre segera berbalik sambil menepis tangan kevin yang berusaha menahannya.
Dengan kening sedikit berkerut kevin terus memperhatikan tingkah laku andre. Entah kenapa dadanya terasa sesak seolah setok oksigen menipis saat melihat Andre malah tertawa pada seorang cowok lain yang tak di kenalnya.yang membuatnya sedikit heran kenapa cowok itu mengunakan seragam yang sama seperti andre?.
"Oh, namanya revan. Dia karyawan baru disini. Baru kemaren mulai masuk" sahut Prisilia, karyawan toko buku itu juga, saat kevin bertanya tentang sosok yang tak di kenalnya tersebut.
"O" Kevin hanya beroh ria sambil berlalu pergi.
Cerpen Remaja "The Prince ~ 08"
"Andre, loe pulang bareng gue" Kata Kevin sambil menarik tangan andre yang saat itu sedang berjalan beriringan bersama revan sepulang kerja.
"Ha?. kenapa?" tanya andre heran sambil menoleh kearah kevin yang sedang melemparkan tatapan pada revan.
"Sejak kapan gue ngajak loe pulang bareng harus pake alasan?" sindir Kevin.
"Siapa and?" tanya Revan lirih.
"Oh dia. kenalin Namanya kevin. Adiknya bos kita. Kak vera. Kev, kalau dia revan. Temen sekolah gue dulu".
"o… kenalin gue revan" kata revan sambil mengulurkan tangan. Sejenak kevin hanya menatapnya sinis tanpa menyambut uluran tangan tersebut. kemudian berbalik menatap andre tanpa melepaskan gengaman tangannya.
"Ayo kita pergi" kata kevin sambil menarik tangan pergi.
"Loe apa – apaan si" bentak andre setelah berhasil melepaskan diri.
"Kok loe jadi aneh gitu si?" tanya kevin.
"Justru menurut gue elo yang aneh. Memang nya elo kenapa?" andre nggak terima.
"Gue nggak suka loe deket – deket sama anak baru itu".
"What?. Nggak salah?"
"Pokoknya gue nggak suka. Elo harus ngejahuin dia"
"Gila loe. Dia itu temen gue. Kenapa juga gue harus ngejahuin dia. Dan satu lagi, loe nggak punya hak sama sekali buat ngatur hidup gue" Kata andre sambil berbalik kearah revan meninggalkan kevin yang masih berusaha menahannya.
Cerpen Remaja "The Prince ~ 08"
"Minggir loe".
Refleks aku menoleh. Keningku sedikit berkerut heran. Tapi bukan karena Ucapan dengan nada memerintah kevin, Justru ini karena raut wajah kevin yang jelas terlihat kusut. Kenapa lagi sama nie anak.
"Kalau gue bilang minggir ya minggir" Kali ini bentakan yang ku dapatkan karena masih belum beranjak dari bangku kantin di kampus kami.Untuk sejenak aku menarik nafas sebelum kemudain bangkit berdiri.
"Pesenin gue minuman?".
"HA?" ujar ku kaget. Nggak salah. Nie anak kembali berani merintah gue?.
"Loe budek ya. Buruan pesenin gue minuman!".
Sepertinya bukan cuma aku yang keheranan tapi teman – temannya juga. Terbukti dengan tatapan kebingungan yang terukir di wajah mereka.
"Loe berani merintah gue?" Geram ku tak terima.
"Di dunia ini nggak ada yang gue takutin. Yang gue tau, semua harus nurut sama gue. Jadi kalau gue perintahin elo buat ngambil pesenan gue. Loe harus ambil. Ngerti".
"Kalau gue nggak mau?" tantang ku nggak kira – kira.
Aku tau. Kali ini kevin pasti beneran sedang ada masalah yang membuatnya kacau begitu. Tapi apa?. Kenapa dia jadi aneh begini?. Tapi tetap saja aku tidak bisa tunduk pada perintahnya.
"Jadi elo juga berani mengabaikan gue juga. Berengsek" Geram kevin sambil mendorong tubuh ku.
Hampir saja Tubuhku mendarat di lantai kalau saja tidak ada sepasang tangan yang menahanya. Setelah berbalik tenyata Jimmy yang sedang melemparkan tatapan tajam kearah Kevin.
"Eh jangan jadi banci donk. Beraninya sama cewek" Kali ini Bentakan junior yang terdengar sambi gantian mendorong tubuh Kevin menjauh.
"Heh, Apa barusan loe bilang. Gue banci?" Geram Kevin.
"Ia. BANCI" Balas Jimmy dengan penuh penekanan.
Aku hanya mampu menutup mulutku saat melihat sebuah tonjokan yang terarah ke wajah Jimmy walau pun dengan cepat bisa di tangkisnya bahkan bisa menyerang balik yang membuat kevin jatuh di lantai.
"Jimmy cukup. Hentikan. Loe apa-apaan si?!" tahan ku sebelum pukulan untuk kedua kali nya mendarat di wajah kevin.
“Loe nggak perlu belain dia”.
“Ini bukan masalah di bela atau nggak. Tapi ini kampus, kenapa si harus pake acara berantem segala?”.
“Oke” Syukurlah akhirnya Jimmy mau ngalah. Kalau nggak nggak tau deh gimana nasip Kevin selanjutnya.
“Dan loe kev, kayaknya loe emang nggak di takdirin terlahir sebagai cowok tulen deh (???). Sampai – sampai harus di belain cewek segala. Jangan – jangan selain B-A-N-C-I, loe juga seorang G…”.
“Gue cowok Normal!!!” Potong Kevin membentak.
Atau lebih pantes di sebut berteriak kali ya?, Sehingga mengagetkan seluruh penghuni kantin. Tapi sepertinya itu juga belum cukup mengagetkan. Kejadian yang selanjutnya jauh lebih di luar dugaan. Semuanya hanya mampu menatap dengan pandangan cengo dan mata melotot. Sementara aku?, Waktu seakan terasa berhenti. Kejadian ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan dalam mimpi sekalipun. Mustahil… Kevin tidak mungkin melakukannya. Baiklah, sepertinya aku memang sedang bermimpi. Ya ini pasti hanya mimpi. HARUS!!!.
Next to cerpen remaja The Prince Part ~ 09

Random Posts

  • Catatan Tentang Dia – Oleh Farhatul Aini

    Oleh : Farhatul Aini – Mengenal kamu itu sesuatu yang indah tak pernah berfikir akan melewati masa yang panjang, berliku dan rumit. Kebahagian dan kesakitan melengkapi cerita kita namun sesuatu yang masih ku kenang saat ini dan entah akan hilang dan tak berbekas sampai kapan, biarlah waktu yang berjalan akan menjawabnya.Kisah cinta ku ini memang harus berakhir, walaupun hati benar-benar menolaknya, tidak ingin merasakannya, sakit hati ini terasa letih akankah kau tau itu? Kevin kakasih yang aku sayang begitu tulus, mengakhiri hubungan kita tanpa alasan yang jelas, berkali-kali ingin aku menolak kenyataan ini, tapi ini adalah sebuah perjalanan hidup yang mungkin harus ku lalui, mencintainya membuat aku sering melupakan sakit yang dia perbuat, kebaikannya masih ku rasakan seperti dia adalah kekasihku yang dulu, namun keadaan selalu menyadarkanku bahwa dia bukan miliku lagi.Tidak semua kebaikannya selalu membuatku bahagia, saat dia sedang berbaik hati menemaniku saat aku kesepian, dia seringkali bercerita tentang kehidupan percintaannya yang ia jalani, sebelumnya aku tak pernah tau, sontak saat dia bercerita rasanya perasaan ini berantakan, tapi memang aku harus tau mungkin untuk menyadarkan aku melupakannya, tapi dihatiku benar-benar tak pernah ingin tau dan lebih baik tidak pernah tau, hal itu tak ingin pernah ku dengar, tapi aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, apapun ceritanya walaupun menyakitkan buat hatiku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang ada saat dia butuhkan, walaupun mungkin dia tidak pernah membutuhkan aku.Pernah di suatu hari, pertemuan kita memang tak sering seperti mungkin pacarnya yang lalu. Dan saat bertemu dia adalah moment yang spesial, hari ini adalah pertemuanku pertama dari semenjak kita tidak terikat oleh ikatan cinta, rasa canggung dan gugup menatapnya dirasakan olehku, berjalan di tempat keramayan sedikit membuat jantungku gemetar, bingung mau berkata apa ? akankah sikapnya masih seperti yang dulu perhatian dan lembut kepadaku ? akankah dia berubah menjadi seorang yang dingin terhadapku ?Waktu telah menjawab semuanya, dan semua baik-baik saja tak ada perubahan dari semua yang telah berjalan, kebaikan dan keramahannya masih sama seperti yang dulu.Aku bahagia dan lega saat semua berjalan seperti yang terfikirkan, dipertemukan dengannya kembali membuat aku berharap akan bisa membangun sebuah hubungan kembali dengannya, namun kebaikannya hanya sebuah kesalahan yang aku artikan, aku berharap dan menunggu sampai hari kencan itu selesai, dan mungkin kita memang tak bisa disatukan lagil, semakin aku menyadari bahwa aku telah kehilangannya.Tidak mudah melupakan sesorang, apalagi jika kita benar-benar tulus mencintainya.***facebook : Farhatul.aini@yahoo.comTwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comE-mail : ainibarnessa@yahoo.co.id

  • Cerpen Remaja Tentang Aku Dan Dia 8 { Update }

    Star Night Beneran sudah ngantuk, Jadi tidak perlu banyak bacod. Langsung saja ke Cerpen Remaja Tentang Aku Dan Dia Part 8 *nggak jadi End/hiks hiks hiks*.Credit Gambar imut : Ana Merya"Duh, Arga mana si?. Kok belum datang juga ya?. jadi pergi nggak si?" Gerut Gresia sambil terus melirik handphonnya. sekali – kali ia melongok ke jalan. Siapa tau Arga sudah nongol. Siang itu ia sudah berjanji akan menemani Arga untuk check up ke dokter. Soalnya keputusan Arga sudah final bahwa ia tidak akan mau pergi kecuali bersama Gresia. Akhirnya Gresia dengan berat hati mengalah. Tapi ternyata setelah setengah jam ia menunggu Arga masih belum menunjukan batang hidungnya.sebagian

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 03″

    Masih lanjutan dari cerpen remaja Take My Heart yang kini sampe part 3. Secara kisah diantara mereka baru di mulai. Masih belum jelas juga konflik ceritanya mau di bawa kemana. So untuk yang udah penasaran, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk reader baru, biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu part sebelumnya disini. Happy reading…Take My HeartCinta itu bukan tentang apa yang ku rasakan untukmu; Bukan pula tentang apa yang kau rasakan untuk ku ; Cinta yang ku inginkan adalah rasa yang sama yang dimiliki antara kau dan aku #Take my heartUntuk pertama kalinya setelah hampir tiga tahun menjalani hari – hari sebagai mahasiswa di kampus Amik, Ivan berjalan dengan wajah menunduk. Merasa risih akan tatapan dari seisi kelasnya. Walau sebenarnya di tatap oleh mereka itu sudah merupakan hal yang biasa. Namun kali ini ia merasa beda. Pasalnya, tatapan kali ini jelas tatapan penuh tanya.Dalam hati Ivan terus merutuki kejadian kemaren. Kalau saja bukan karena rasa penasarannya pada Vio, Gadis yang telah menyelamatkannya kemaren. Pasti saat ini ia lebih memilih untuk tetap berbaring di rumahnya dari pada harus berjalan di sepanjang koridor kampus dengan wajah pernuh lebam. Sial, Gumamnya."Hei Bro, Kenapa tampang loe?"Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulu Aldy yang baru sedetik yang lalu muncul di hadapannya disusul sosok Renold dan Andra yang mengekor di belakang."Gila, kok bisa bonyok gini?" tambah Renold sambil meraih wajah Ivan, Membuat sosok itu langsung menepis tangannya sambil meringis. Sudah tau bonyok, masih juga di sentuh."Memangnya loe berantem sama siapa?" tanya Andra kemudian."Gue nggak tau.""Ha? Maksut loe?" tanya Aldy."Gue nggak tau siapa yang menghajar gue kemaren. Tiba – tiba aja gue di hadang sama perman waktu pulang kuliah," terang Ivan terlihat tidak berminat."Kok bisa?""Mana gue tau," Ivan angkat bahu. Pada saat yang bersamaan matanya menangkap sosok yang melangkah masuk dari pintu gerbang kampus."Hei, loe mau kemana?" tahan Andra saat mendapati Ivan yang berbalik.Ivan tidak menjawab. Ia terus melangkah menghampiri Vio. Diikuti tatapan ketiga sahabatnya."Oh, ternyata dia benar – benar beniat untuk mendapakan sepuluh juta itu," kata Aldi sambil mengngguk – angguk paham."Maksut loe?" tanya Renold dan Andra secara bersamaan."Tuh. Walau udah bonyok gitu tetep aja dia masih ngejar cewek sepuluh jutanya," terang Aldy sambi memberi isarat kearah kedua sahabatnya tentang tujuan Ivan yang telah mengacuhkannya."O," kali ini Renold hanya beroh ria sementar Andra sendiri tampak mengernyit heran saat mendapati Ivan dan Vio yang tampak berbicara di kejauhan. Hebat juga tu orang. Padahal baru kemaren cewek itu terlihat ketus, eh hari ini sudah mau ngobrol bereng. Tak salah kalau sahabatnya yang satu itu di cap playboy, pikirnya dalam hati."Vio!"Merasa namanya di panggil, Vio menoleh. Mengernyit heran saat mendapati Ivan yang datang menghampirinya. Mau apa lagi dia?, pikirnya."Ada apa?" tanya Vio kemudian.Sejenak Ivan terdiam. Mulutnya tidak langsung menjawab karena kini matanya sibuk memperhatikan tampilan Vio hari ini. Rambut yang di gerai bebas dengan sebuah jepitan kecil yang tersemat di atas kepalanya di tambah setelan kemeja berwarna merah muda benar – benar merupakan perpaduan yang cocok. Kontras dengan wajahnya yang imut dengan matanya yang sipit. Ivan menduga pasti gadis ini mempunyai silsilah keturunan cina yang diwarisinya."Heloo," Vio melambaikan tangannya tepat didepan wajah Ivan."Eh, ehem," Ivan merasa sedikit salah tingkah. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Astaga, akibat di pukuli kemaren pasti otaknya sedikit bergeser. Kenapa ia jadi mendadak merasa paranoid begini ya?"Gue mau nanya soal kemaren," kata Ivan mencoba untuk kembali pada tujuan awalnya menghampiri gadis itu."Soal kemaren?" ulang Vio sambil berfikir sejenak. "O soal kemaren yang loe di pu…. Humph..".Ivan dengan cepat membekap mulut gadis yang ada di hadapannya itu dengan tangan. Astaga, apa gadis itu berniat untuk mempermalukannya di hadapan semua anak – anak kampus dengan berteriak sekenceng itu."Hmmm. Pfh.." Vio dengan cepat menyingkirkan tangan Ivan dari mulutnya. Menatap pria itu dengan tatapan sebel."Kenapa si?""Iya soal kemaren. Tapi nggak perlu di perjelas juga kali. Pake teriak segala. Kalau sampai anak – anak laen tau gimana?"Dan Ivan menyadari kalau ia salah bicara saat mendegar kalimat jawaban yang keluar dari mulut Vio."Kalau mereka semua pada tau memang apa urusannya sama gue?" serang Vio balik.Glek.Satu lagi hal yang baru Ivan sadari tentang gadis itu adalah, ternyata gadis itu sama sekali tidak terpengaruh akan pesonanya.-,-"Memang nggak ada urusannya sama loe, tapi itu ngaruh sama gue," Ivan meralat ucapannya. Membuat Vio mencibir menatapnya."Kembali ke topik pembicaraan kita. Soal masalah kemaren, loe tau dari mana? Jangan bilang kalau itu hanya kebetulan. Secara mustahil secara kebetulan loe bisa bicara soal balas dendam segala."Vio sejenak terdiam. Tak sengaja ekor matanya mendapati sosok gadis yang kalau ia tidak salah dengar bernama Laura sedang memperhatikan nya dari kejauhan."Emang itu bukan kebetulan. Yang bilang kebetulan siapa?" tanya Vio balik."Jadi?" kejar Ivan"Jadi?" ulang Vio."Jadi penjelasannya gimana?" tambah Ivan terlihat gemes."Nggak ada penjelasan karena gue nggak mau menjelaskan. Dasar playboy cap kodok, buaya cap kadal.""Ha?" Ivan melongo mendengar gelar aneh yang keluar dari mulut gadis itu. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, justru dengan santainya gadis itu malah melongos pergi.Vio sendiri juga merasa tidak perlu menjelaskan apapun pada Ivan. Selain karena ia tidak punya bukti bahwa Laura yang melakukannya, ia juga tidak ingin membuat masalah. Secara ia kan mahasiswa baru di kampus itu. Ia sama sekali tidak tau siapa Laura kecuali sebatas nama yang ia curi dengar kemaren. Selebih nya Nol. Kenyataan kalau gadis itu adalah korban dari ke Playboy'an Ivan sehingga membuatnya nekat untuk balas dendam dengan menyewa pereman benar – benar membuat Vio membuang jauh niat untuk mengadukannya."Sial" rutuk Vio dalam hati saat mendapati langkahnya menuju kekelas di halang oleh tiga orang yang hanya salah satunya yang ia tau kalau gadis itu bernama Laura."Siapa loe?" tanya Laura.Dari nadanya saja Vio sudah dapat merasakan kalau tiada aura persahabatan di sana. Sejenak Vio menarik nafas, mencoba menahan diri dan terlihat sesantai mungkin."Vio," balas Vio sambil mengulurkan tangan.Laura hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk menyambut uluran tanggannya, membuat Vio menarik diri."Ada urusan apa loe sama Ivan?" tanya Laura langsung."Yang jelas bukan urusan loe," balas Vio terdengar sinis. Membuat Laura sedikit tersentak kaget, Sepertinya gadis itu berniat untuk melawan, pikirnya."Denger ya, siapapun yang berurusan sama Ivan menjadi urusan gue," kata Laura penuh penekanan."Oh ya?" Vio pura – pura pasang tampang kaget. "Termasuk para preman yang menghajar Ivan kemaren?""Apa?!" kali ini Laura sama sekali tidak mampu menyembunyikan raut kaget dari wajahnya. Vio sendiri hanya angkat bahu."Ehem…" Laura terlihat berdehem sebenetar. Tak ingin terpancing. "Apa maksut loe barusan?" sambungnya lagi.Sejenak Vio tersenyum sinis, membuat Laura jelas menatapnya kesel."Karena wajah tampan yang ia miliki, ia mengunakan kelebihan itu untuk menyakiti orang. Tak ada salahnya kalau gue memberi dia sedikit perlajaran bukan?" sambung Vio sambil menirukan gaya Laura, persis seperti apa yang gadis itu ucapkan kemaren saat ia diam – diam menguping pembicaraan mereka."Loe!!" tunjuk Laura tearah ke wajah Vio."Kenapa?" tanya Vio polos tapi justru malah terlihat menantang."Dari mana loe tau itu?" tanya Laura lagi. Vio hanya angkat bahu."Jadi sekarang loe berniat untuk ngancem gue.""Gue nggak yakin loe bisa di ancam, dan juga nggak ada untungnya gue ngancam loe.""Terus mau loe apa?""Berhenti mengganggu gue, dan please menyingkir sekarang juga. Gue mau lewat.""Wow, berani sekali dia. Huuu… Takut," ejek Laura meledek membuat Vio kembali menarik nafas kesel. Apa si maunya ni orang?"Eh denger ya? Loe pasti baru di sini, jadi loe belum tau siapa gue. Asal loe tau aja ya, Gue idola di sini. Jadi nggak akan ada yang percaya sama ucapan loe kalau orang yang kemaren mukuli Ivan adalah orang – orang suruhan gue. Lagi pula loe nggak punya bukti," kata Laura sambil mendorong tubuh Vio ke dinding."Huh," lagi – lagi Vio menghembuskan nafas kesel. Tak ingin terpancing emosi ia malah tersenyum anggun saat mendapati siluet seseorang yang ia kenal."Soal gue nggak punya bukti, loe salah. Waktu kejadian Ivan di hajar kemaren gue sempet mengabadikan beberapa momen nggak penting, tapi mungkin tidak untuk polisi yang pasti akan langsung melacaknya. So pasti mereka langsung bisa menemukan siapa dalang di sebaliknya. Dan kalau soal nggak percaya. Yups, gue mahasiswi baru disini. Jelas nggak akan percaya kalau gue yang ngomong kecuali kalau justru loe sendiri yang mengakuinya.""Loe bener – bener ngancam gue?" tanya Laura jelas terlihat marah."Bukan mengancam, hanya berusaha untuk melindungi diri sendiri. Buktinya gue nggak pernah tu bilang sama Ivan, Kalau dia bisa tau itu pasti karena ucapan loe sendiri?""Heh, menurut loe gue sebodoh itu akan memberitahukan apa yang gue lakukan itu kedia?""Karena loe nanya ke gue loe bodoh atau nggak, dan loe sendiri bilang kalau memberi tahu Ivan termasuk tindakan bodoh. Maka gue jawab, ya! Loe emang bodoh," Kata Vio tegas.Sebelum Laura sempat membalas, Vio sudah terlebih dahulu mengisaratkannya untuk berbalik. Dan begitu menoleh."Ivan?" tanya Laura kaget, bingung juga sedikit… takut?"Jadi para perman yang menghajar gue kemaren itu orang – orang suruhan loe?" tembak Ivan langsung.Glek.Laura hanya mampu menelan ludah. Mendadak serem saat mendapati tatapan tajam Ivan jelas terhunus padanya."Kenapa loe lakukan itu?" tanya Ivan lagi."Iya. Itu orang – orang suruhan gue. Yang sengaja gue bayar buat menghajar loe yang jelas – jelas sudah mencampakkan gue. Yang jadiin gue sebagai barang taruhan bodoh antara loe sama temen – temen loe. Yang udah mempermalukan gue di depan umum. Puas loe? Sekarang loe mau apa?" tantang Laura. Percuma ia menghindar, toh sudah tertangkap basah ini.Ivan terdiam. Vio juga masih terdiam. Matanya yang sipit tampak hanya berkedap – kedip menatap adegan drama satu babak menyambut hari pertama ia menginjakkan kaki sebagai mahasiswi baru di kampus itu."Loe…" tangan Ivan siap terangkat keudara sementara Laura langsung menutup matanya. Terkejut akan reaksi Ivan terhadapannya."Cuma cowok pengecut yang berani melakukan kekerasan fisik terhadap cewek."Mata Laura terbuka. Mendadak takjub menatap kearah Vio yang jelas – jelas sedang menahan tangan Ivan di udara. "Loe itu sebenernya belain gue apa dia si?" gumam Ivan frustasi sambil menarik kembali tangannya.Vio angkat bahu. "Gue nggak belain siapa – siapa. Toh nggak ada untungnya juga buat gue. Apapun masalah diantara kalian, itu jelas urusan kalian. Soal insident kemaren, Laura jelas punya alasan untuk melakukannya. Namun karena tindakan yang ia lakukan kemaren termasuk dalam tindakan kriminal. Makanya gue berusah untuk mencegahnya. Dan sekarang, loe yang marah sama dia. Terus berniat untuk melakukan kekerasan fisik juga, jelas aja gue tahan. Cukup Adil bukan?" terang Vio panjang lebar."So, sekarang. Silahkan lanjutkan urusan kalian. Dan sejak kecil gue sama sekali nggak pernah punya cita – cita buat jadi hakim atau apapun yang terkait dengan mendamaikan dan mencampuri urusan orang lain. Jadi gue pergi dulu."Selesai berkata Vio segera melongos pergi. Meninggalkan wajah – wajah yang melongo menatap tak percaya padanya. Bodo amat. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mefikirkannya lagi. Ia sudah terlanjur merasa kesel dan gondok hari pertamanya di kampus itu harus di warnai dengan aura permusuhan. Astaga, apa dosanya tuhan?."Hai".Vio menoleh saat merasakan pundaknya di tepuk dari belakang. Begitu menoleh ia yang saat itu sedang mengunyah bakso di dalam mulutnya kontan langsung tersedak."Uhuk uhuk uhuk.""Astaga… Sory sory sory," Kata Ivan sambil meraih air minum dan langsung menyodorkannya kearah Vio yang langsung di teguk habis. Sementara tangan Ivan sendiri tampak mengusap – usap punggung Vio."Loe, niat mau bunuh gue ya?" tuduh Vio langsung."Gue niat nyapa doank. Loe nya aja yang kagetnya lebay," balas Ivan sambil duduk di hadapan Vio tanpa permisi sama sekali.Vio tidak membalas. Tangannya sendiri meraih tisu, mengelap bibirnya yang basah. Matanya yang sipit makin menyipit saat melirik Ivan dengan tatapan mencibir."Oh ya, gue boleh ikutan gabung kan?" tanya Ivan mengalihkan pembicaraan."Kalau seandainya gue bilang enggak loe tetep duduk di situ kan?" Vio balik bertanya."Tentu saja," balas Ivan cepat membuat Vio lagi lagi mencibir kearahnya."Ngomong – ngomong kenapa si loe judes banget jadi cewek?" tanya Ivan.Sejenak Vio menarik nafas. Menghentikan aktifitasnya menikmati semangkuk bakso yang ada di hadapannya. Menatap lurus kearah Ivan yang berdasarkan kabar yang ia peroleh terkenal sebagai Playboy_cap kadal" menurutnya."Gue nggak judes kok," balas Vio, dan sebelum Ivan sempat membantah ia sudah terlebih dahulu menambahkan "Kecuali sama loe.""Kenapa?" "Ya sudah jelas. Karena loe itu Play_Boy," Sahut Vio penuh penekanan. Membuat Ivan kembali diam tak berkutik."Berbicara soal playboy. Loe duduk disini bukan buat merayu gue kan?" tanya Vio kembali melanjutkan aktifitasnya menikmati makanannya."Sebenernya emang itu niat gue," aku Ivan santai."Uhuk uhuk uhuk."Tak pelak ucapan Ivan barusan kontan membuat Vio kembali tesedak. Bahkan kali ini kondisinya lebih parah. Air yang ada di hadapanya sudah lenyap tak bersisa. Membuat Ivan dengan kalang kabut langsung bangkit berdiri. Dan beberapa saat kemdian muncul dengan sebotol air mineral di tangannya yang tampa permisi langsung di tengak oleh Vio.Begitu batuknya reda. Vio terdiam. Matanya menatap kearah mangkuk bakso yang ada di hadapannya yang hanya tersisa setengah. Mendadak merasa horor , makanan itu bisa saja membunuhnya.Dan begitu ia menoleh, matanya langsung bertatapan dengan wajah Ivan yang jelas jelas menatapannya khawatir. Vio lagi – lagi berfikir, kalau sosok yang ada di hadapannya tak kalah menyeramkan dari pada semangkuk bakso yang ada diatas meja. Kedua sama sama berpotensi untuk membunuh. Bukankah sosok itu adalah pernyebap kenapa memakan bakso itu menjadi berbahaya?"Gue nggak niat buat membunuh loe," Kata Ivan cepat saat mendapati mulut Vio akan terbuka."Gue cuma berniat buat jadiin loe itu pacar gue," sambung Ivan.Kali ini Vio melongo. Hei, apa itu artinya ia baru saja di tembak seseorang. Wah, ajaib. Baru sehari yang lalu ia memutuskan untuk pindah di kampus ini karena patah hati dan kali ini ia sudah di tembak sama seseorang yang tekenal dengan ke playboyannya. Astaga…Didorongnya mangkuk bakso itu sedikit kedepan. Ia benar – benar merasa trauma untuk mencicipi makanan tak berdosa itu. Di silangkannya kedua tangannya di atas meja. Menatap lurus kearah wajah Ivan."Pasti karena loe sedang bertaruh sama temen – temen loe kan?" tebak Vio ngasal.Kali ini Vio melongo untuk kedua kalinya saat tiada kata bantahan keluar dari mulut Ivan. Maksutnya itu bener? Ia adalah target taruhan Ivan selanjutnya?.Dan tanpa bisa di cegah tangannya langsung terangkat menjitak kepala Ivan. Membuat suara mengaduh keluar dari mulut pria tampan itu."Loe mikir apa si? Bisa – bisanya loe jadiin gue barang taruhan," geram Vio emosi."Ya bukan salah gue donk. Siapa suruh kemaren loe jadi orang pertama yang keluar dari ruangan dosen," kata Ivan membela diri."Maksut loe?" tanya Vio dengan kening berkerut."Iya kemaren itu gue memang di tantangin sama temen – temen gue buat menaklukkan hati siapapun yang pertama sekali keluar dari ruangan dosen. Dan ternyata orang itu elo."Vio terdiam. Mencoba mencerna penjelasan yang baru saja ia dengar. Sekarang ia mulai mengerti kenapa kemaren ia mendapatkan tatapan aneh dari Ivan dan ketiga temanya. Ternyata karena taruhan konyol itu. Tapi…"Tapi gimana kalau seandainya waktu itu orang yang pertama kali melewati pintu itu adalah dia?"Tatapan Ivan beralih mengikuti arah telunjuk Vio. Glek. Ia hanya mampu menelan ludah saat tau sosok yang di maksut adalah Pak Burhan."Ehem, Walau berat untuk mengakui. Sebenarnya sosok pertama yang melewati pintu itu memang dia," aku Ivan kecut.Vio melongo. "Kalau gitu loe harus macarin dia donk?""Tentu saja tidak," bantah Ivan cepat. Bahkan ia nyaris berteriak saat mengucapkannya."Maksut gue. Dia itu pengecualian. Gue masih normal mana mungkin gue mau memacari sesama cowok. Jadi peraturan di rubah kalau hanya yang berjenis kelamin cewek yang masuk hitungan.""Gue meragukan kalau loe normal. Secara mana ada manusia normal yang akan mempertaruhkan dosennya sendiri," cibir Vio sinis."Dan satu lagi, kalau dosen cowok bisa di jadikan pengecualian, harus nya gue juga donk," tambah Vio beberapa saat kemudian."Maksutnya?""Ya gue kan bukan dosen. Harusnya kalian itu hanya bertaruh untuk dosen yang melewati pintu itu. Sementara gue kan bukan.""Ah loe bener juga. Kenapa kita kemaren nggak kepikiran sampe kesitu?" kata Ivan mengangguk angguk membenarkan."Itu karena loe bodoh," geram Vio tak sabar.Ivan terdiam sambil menatap Vio kesel. Baru sehari ini ia kenal gadis itu kenapa begitu banyak tanggapan buruk yang ia dapatkan. Dan herannya kenapa ia tidak merasa marah. Benar – benar suatu hal yang harus ia pertanyakan."Jadi berapa nominal yang kalian pertaruhkan?"."Eh?" Ivan bingung. Gadis itu dengan mudah membelokan pembicaraan."Ehm… Sepuluh juta," balas Ivan lirih saat otaknya mampu menebak arah pertanyaan gadis itu."Apa?!" kali ini mata Vio yang sipit tampak membulat. Membuat Ivan berpikir gadis itu sama sekali tidak cocok untuk marah. Wajahnya sama sekali tidak terlihat menakutkan. Sepertinya raut imut sudah mendomain dalam wajahnya."Sepuluh juta?" ulang Vio tak percaya membuat Ivan menganguk tak bersemangat."Terus apa aturan mainnya?" tanya Vio lagi.Walau bingung juga ragu, namun tak urung Ivan menjawab "Gue harus berhasil macarin loe dalam kurun waktu kurang dari sebulan baru kemudian gue harus memutus loe di hadapan semua anak – anak."Asli kali ini Vio melongo. Tak tau bagaimana asalnya mendadak ia merasa menyesal. Menyesal kenapa dulu ia harus menyatakan cinta pada Harry. Menyesal kenapa ia ceroboh untuk pindah kampus segala. Dan yang terpenting ia menyesal kenapa tidak membiarkan para preman itu menghajar makluk di hadapannya itu habis – habisan kemaren."Bagus kalau begitu sekarang juga loe umumkan kalau kita saat ini pacaran. Dan besok siang, disini, loe bilang kita udah putus," kata Vio tiba – tiba. Membuat Ivan yang gantian melongo."Ha?"."Dan besok uang taruan itu bagi dua. Fivety fivety. Loe lima juta, gue lima juta," eambah Vio lagi."Leo serius?" tanya Ivan makin takjub."Dasar bodoh. Tentu saja bohong. Loe pikir gue cewek apa yang mau di jadikan taruhan begitu" Selesai berkata Vio langsung bangkit berdiri. Meninggalkan Ivan dengan rasa kesalnya. Kenapa Gadis itu suka sekali mengatainya bodoh? Kalau sampai ia bodoh beneran, apa dia mau bertanggung jawab?Next to Cerpen Take My Heart Part 04Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Tertutup Rapih Dalam Balutan Seragam Kepolisian

    Tertutup Rapih Dalam Balutan Seragam KepolisianKarya : Abimanyu Putra PratamaHari itu sabtu siang di bulan Juni tahun 2009, saya diajak oleh saudara saya untuk membantu persiapan khitanan, ( saudara saya mau sunat saya dijemput dan diajak kesana duluan sedangkang orang tua saya menyusul nanti ). Sabtu siang itu terasa sangat panas hingga menusuk sampai ketulang ( hahahahahah terlalu LEBAY ) setelah 2 jam perjalanan ( maklum jakarta macet, dan saya sudah muntah sampai satu kantong plastik ). Akhirnya kami tiba juga di Jakarta Timur, saya tiba disana pukul 02:00. Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan saya pun memutuskan untuk tidur.Setelah melepas penak dengan tidur ( memang banyak orang memilih tidur untuk menghilangkan penak ) saya bermain bersama saudara-saudara saya. Setelah puas bermain saya pulang, mandi, sholat, dan nonton tv. Tiba-tiba pas saya sedang asyik nonton spongebob squerpants ( maklum masih anak kecil  ) adzan magrib bun berkumandang. Walaupun sedang asyik nonton spongebob saya pun memutuskan untuk shalat dulu, setelah selesai sholat dan makan. Lalu saya diajak mas Topik untuk mengisi bensin.NAH DISINILAH CERITA DIMULAI “THE STORY WILL BEGIN” Jadi ceritanya tuh pas lagi mau isi bensin, ada dua rute. Rute via jalan raya ( banyak polisi ), rute jalan kampung ( banyak polisi tiduran ). kami memilih rute jalan raya, setelah tiba dijalan raya mas Topik mengila PART 1. Dia gaya gaya mau jadi Valentino Rossi, setiap mobil diasalip dan pas saya sedang menengok ke belakang saya melihat motor vega-R mengikuti kami dari gang depan rumah saudara saya. Saya tidak begitu ambil pusing, nah pas kami sedang menyalip mobil avanza tiba-tiba motor RX King bermaksud menyalip mobil tersebut. Mas Topik pun kaget dan motor pun menyerempet mobil avanza, setelah berhasil menyalip mobil avanza kami tiba-tiba dijegat oleh orang yang naik motor vega-R. Dia dateng-dateng langsung nyenter plat nomor, lantas kami pun panik dan memutuskan untuk kabur, setelah berhasil kabur, dan pikir panjang. Kami memutuskan untuk berhenti (bukan karena takut sama polisi tapi karena bensin dah sakaratul maut alias ABIS wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk 😀 ) Akhirnya saya tertangkap / BUSTED, kunci motor langsung diambil kami langsung dimarahin.“kamu ini naik motor gaya-gaya banget masih kecil aja belagu” bentak pa polisi.Saya dan mas Topik langsung tertunduk diam alis KICEP ABC. Setelah diceramahin cukup lama akhirnya saya dan mas Topik dibawa ke sebuah pemancingan di daerah Klender. Setelah tiba di pemancingan mas topik disuruh untuk menelpon orang tuanya dan pas saat itu lagi ga bawa hp ( apes banget ), yaaaaaaaaa suuuuuuuudahlah terpaksa dia harus ke wartel, sedangkang saya ditinggal sendirian di pemancingan. Dan pas saat itu entah kenapa saat itu saya ingin sekali menanyakan sesuatu.“pa, bapak sebenarnya polisi atau bukan? Kalau bapak polisi bapak tolong tunjukan tanda pengenal bapak, dan buka helm bapak.” Ujar sayaTiba tiba saya tangan polisi itu melayang ke muka saya, dan dia berkata “kamu tuh masih anak kecil diam aja”Saya melihat kejanggalan karna bapak saya seorang tentara ( jiahhh pamer dulu ahhhh ) jadi saya ya sedikit tau mana yang asli sama yang palsu.Saya pun terus mendesak setelah cukup lama saya mendesak, akhirnya polisinya jengkel juga kali ya sama saya, dia pun memutuskan pergi untuk membeli rokok and aqua gelas,,,,,,, dia kembali menghampiri saya. Setelah cukup lama akhirnya mas Topik pun kembali, setelah mas Topik kembali“saya sita motor kalian karena kalian tidak bisa menyerahkan surat-surat motor” kata pa PolisiKami pun mengiyakan saja, polisi itu pun langsung membawa motor kami. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu, menghampiri kami, “Dek,dek kelihatanaya kamu sudah ketipu deh.” Kata si Ibu“Hah???????, maksud Ibu?” sahut mas Topik“iya soalnya gelagatnya dan bajunya tidak meyakinkan.” Ujar si Ibu“Ahhh yang bener Bu.” Kata mas Topik“Iya soalnya daerah klender banyak sekali POLISI GADUNGAN.” Kata Ibu “Apa GADUNGAN GADUNGAN GADUNGAN (sengaja diulang biar lebih mantep) sontak saya dan mas Topik Saya diam, mas Topik diam Ibu pun diam, SULE pun diam. Kami pun PANIK MODE ON setelah mondar mandir sana sini. Akhirnya bapaknya mas topik pun datang. Kami pun langsung bergegas ke kantor polisi di daerah klender, setelah kami tiba di sana kami langsung menanyakan ada tidak Polisi yang bernama Briptu Norman ( maaf saya lupa namanya hehehhehehehehehehe : D ) setelah dicek tenyata tidak ada. APA APA APA APA APA ( sengaja di ulang ) kami pun panik. Tanpa pikir panjang kami pun langsung balik ke TKP untuk mencari motor kami, di tengah perjalanan kami bertemu dengan tukang ojek lalu dia mengatakan bahwa motor bapak ada sama temen saya. Tanpa pikir panjang kami langsung CABUT KALANG KABUT LEKAS PERGI, setelah tiba disana alhamdulilah motor selamat hanya tergores sedikit. Jadi ceritanya tuh setelah kami di tinggal di pemancinga Polisi GADUNGAN itu kabur membawa motor yang bensinya sakaratul maut dan ditengah keasyikan pa polisi itu tiba-tiba bensinya abis NGEK NGOK. Dia pun panik dan langsung pindah ke motor temanya yang ada di sebelahnya tanpa menghentikan motornya ( kata saksi ) sontak motor pun jatuh dan koncinya langsung di bawa kabur. Setelah tiba di TKP kami pun langsung menghampiri rumah itu, dan ALHAMDULILLAH BANGET YA motor masih ada. Kami pun disuruh untuk menebus motor dan menunjukan STNK, BPKB dan membawa kunci motor.INI CERITA KU APA CERITA MU  Yang membuat saya sampai binggung hingga saat ini : a. Bagaimana cara polisi itu berpindah tempat dari motor yang ia tumpangi ke motor temenya yang sedang melaju kencang???????????b. Kenapa ada SULE di Cerpen sayac. Dan masih ada aja Polisi yang mau nyolong motor orang yang bensin abis WKWKWKKWKWKWKWKWKWKW POLISI GADUNGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*