Cerpen Remaja The Prince ~ 07 {Update}


"Loe bisa kasi tau gue, suzy itu orang nya yang mana?".
Pertanyaan yang aku lontarkan cukup untuk membuat langkah kevin terhenti sekaligus membuatnya berbalik.
"Maksut loe?"
"Loe ngapain nanyain dia?" Tambah kevin lagi sambil kembali berjalan ke arah ku.
"Gue pengen nemuin dia" balas aku sok cuek.
"Kenapa?" tanya kevin heran.
"Karena gue pengen ngasi kerhormatan buat dia sebagai orang pertama yang akan melihat video itu" Sambung ku lagi membuat kevin benar – benar shok. Tanpa perlu memperdulikan reasksinya lagi, aku segera berbalik. Soalnya kalau aku terus bertahan di sini bisa – bisa aku yang jantungan.
"Loe bercanda kan?" tanya kevin sambil menarik tangan ku sehingga posisi kami tepat berhadap hadapan.
"Tertawalah kalau loe anggap itu lucu" Balas ku terdegar tegas.
"Tapi kenapa harus dia?" tanya kevin terdengar frustasi.
"Suka suka gue donk. Jadi mulai sekarang mending loe pikir baik baik tawaran gue. Sekarang gue mau pergi dan jangan halangi gue lagi".
"Oh ya, satu lagi. Jangan pernah elo ngebentak gue kayak tadi. Karena gue nggak suka!!!. " Sambung ku lagi sebelum benar – benar meninggalkan kevin yang masih diam terpaku.
Cerpen Remaja The Prince
"Loe harus cerita sama kita " Desak iren lagi Karena sedari tadi aku tidak menanggapinya. Justru aku malah santai berayun – ayun di taman belakang kampus.
"Ia. Ada urusan apa loe sama kevin" sambung nay lagi.
"Riani, loe denger kita ngomong nggak si?" Geram kezia sambil merebut cemilanku.
"Aduh, kalian apa – apa an si?".
"Pokoknya loe harus certa sama kita".
Heh. Sejenak aku menarik napas. Jujur saja aku ragu untuk menceritakannya. Karena walau bagaimana pun Kevin itu sahabatnya 'Andre'. Tapi tanpa segaja pandangan ku tertumpu pada keberadaan sosok kevin dan teman – temannya. Dan berhubung beberapa hari ini ide jahil memang sedang berkeliaran di benak ku *Star Night maksutnya* kayaknya nggak rugi juga kalau langsung di praktekan. Kha kha kha.
"Ehem… oke deh gue cerita"Balas ku sambil sengaja mengeras kan volume dan pura -pura tidak menyadari keberadaan mereka.
"Sebenernya gini. Kemaren itu gue kan jalan – jalan di taman kota. Jadi nggak sengaja gue ngeliat kevin. Dan kalian tau nggak waktu itu dia lagi ngapai?" Tanya ku sengaja membuat teman teman ku makin penasaran.
"Oh ya, Memang nya di lagi ngapain?" Tanya Iren antusias.
"Waktu itu dia lagi…. Hmpft……".
Sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku tau – tau mulutku sudah keduluan di pikep (????) * Star night bingung nyari kata – kata…../wkwkwkwk*. Ternyata kevin yang kemudian tanpa basa – basi langsung menarik tangan ku menjauh.
"Gila!!. Lepasin. Mau apa lagi si loe?" Geram ku setelah berhasil meloloskan diri.
“Mau loe yang apa!!” Kevin ganti membentak. Sumpah,Serem banget.
“Ma maksutnya” .
“Dasar Cewek nggak bisa di percaya” Balas Kevin sinis.
“Memang nya gue ngapain?” Tanya ku bingung.
“Nggak usah belagu. Loe kan udah janji kalau loe bakal tutup mulut soal video itu kalau seandainya gue nggak ngejahilin kalian”.
“Ralat” Potong ku cepat. Dalam hati aku juga bersukur karena keberanian ku kembali muncul kepermukaan (???). “Gue Cuma pernah bilang gue nggak akan nyebarin tu video. Kalau soal nyeritain, itu laen ceritanya”.
“WHAT?!”.
“ Nggak usah sok inggris pake What segala. Tinggal bilang ‘Apa’ apa susahnya si” .
“Eh denger ya…. E …. Cewek sarap, gue…”.
“Cewek sarap?” Potong ku cepat. Sialan.
“Gue nggak tau nama loe. Lagian tu gelar pas buat loe “ Sahut Kevin cuek. “Oke, kembali ke topic, apa mau loe sebenernya?”.
Sumpah, aku sebel si sebenernya. Masa aku di pangil cewek sarap, dia aja Cuma ‘nano – nano’. Tapi sayang aku nggak berani protes sekarang, nanti aja. Secara sekarang tampang Kevin benar – benar terlihat menyeramkan. Hii…. Lagian ada yang lebih penting dari pada ngurusin gelar (???).
“Gue mau, loe gantian nururtin kata – kata dan kemauan gue. Ya kayak pembantu gitu”.
“Apa?!”.
Refleks aku menutup telingaku waktu mendengar teriakan koor teman – teman aku dan Kevin. Lagian lebay banget si, masa baru denger gitu aja tereaknya nggak umum.
“Jangan mimpi loe” Balas Kevin sinis.
“Ya udah kalau loe nggak mau, Perjanjian kita batal. Lagian nggak seru juga ternyata kerjasama sama loe”.
“Terus loe mau ngapain?” Tanya Kevin sambil menarik tangan ku yang bersiap pergi sehingga lagi – lagi kini kami berhadapan.
“Gue mau nyebarin videonya” Balas ku cuek.
“Heh, coba aja kalau loe berani. Gue bakal…”.
“Emangnya loe mau ngapain” Tantang ku memotong ucapannya.
Bukannya menjawab Kevin malah menyeringai nggak jelas. Sekilas ekor matanya melirik pada teman – teman yang juga tanpak penasaran. Dan tiba – tiba ia memajukan wajahnya ke hadapanku yang reflex memundurkan wajah.
“Gue bakal nyium loe saat itu juga di depan semua orang”.
Ancaman Kevin memang cukup lirih. Bahkan tidak mampu untuk membuat raut wajah kebingungan hilang dari wajah teman-temanku. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat ku bergetar. Dia nggak serius kan?.
“Jadi, Sebelum loe bertindak, loe lo pikirin dulu deh. Oke guys, mari kita pergi” Kata Kevin puas. Apalagi aku masih hanya mampu terdiam. Tanpa basa basi lagi ia segera berlalu.
Cerpen Remaja The Prince
Lama aku duduk termenung sendirian sampai sebuat tepukan di pundak membuyarkan lamunanku.
“Hei, kok ngelamun?”.
“Oh, enggak kok” balas ku cepat sambil membetulkan letak kacamataku. Sedikit terkejut juga was – was kurasakan saat menapati kehadiran jimmy.
“Gue boleh duduk di sini nggak?” Tanya jimmy yang mau tidak mau aku balas dengan anggukan.
Lama kami saling terdiam. Aku juga bingung mau membuka topic pembicaraan sampai kemudian jimmy yang terlebih dahulu membuka mutlut.
“Loe baik-baik aja kan?”.
“Baik”
Dalam hati aku sedikit bingung. Kok tumben.
“Loe yakin?”.
“Maksut loe?”
“Gue tau, Kevin sama teman – temannya sudah tidak pernah menjahilin kalian lagi. Tapi apa yang pengikut – pengikutnya lakukan lebih parah kan?” Tanya jimmy lagi.
Lagi – lagi aku membalas dengan anggukan. Sebenernya masalah ini juga yang sedari tadi aku pikirkan. Terror yang menimpa aku dan teman – temanku semakin menjadi. Bahkan lebih buruk daripada yang dulu kami terima. Seenggaknya kalau dulu aku masih bisa mengantisipasinya karena Kevin selalu cerita pada andre, Tapi sekarang. Itu mustahil karena Kevin memang tidak melakukan apa – apa. Ia hanya cukup ‘Duduk Diam’ seperti prince. Sama seperti yang dulu pernah aku katakana padanya. Hanya saja aku tidak menyangka kalau begini hasilnya. Tapi…..
“Tapi dari mana loe tau?” Tanya aku tanpa mampu menutupi rasa heran.
“Udah jadi rahasia umum kali” Balas jimmy santai yang membuatku hanya mampu tersenyum kecut.
“Apa loe butuh bantuan kita untuk menghentikan terror –terror itu?”.
“Bantuan?. Loe mau bantu gue?. Kenapa?”.
Jujur saja, menurut aku nie orang makin membingungkan deh.
“Bukankah sudah jelas?”.
“Loe lagi main teka – teki ya?” ujar ku sambil menatap lurus kearah jimmy.
“Heh” jimmy tanpak tersenyum simpul. “Tentu saja itu karena sudah jadi tugas gue?”.
“Tugas?” Aku masih nggak nyambung.
“”Apa perlu gue manggil loe princess?” kata jimmy sambil menoleh. Membalas langsung tatapan ku.
Oke, itu memang bukan jawaban. Secara dia malah balik nanya. Tapi pertanyaan yang ia lontarkan sudah lebih dari cukup untuk ku menyadari nya.
“Elo…?”.
Tanpa suara, jimmy hanya menganggukan kepala sambil tersenyum. Ya Tuhan….
Cerpen remaja The Prince
To be continue….
Ah Star Night binguuuuuung….. nie cerpen kok makin melantur dari ide awal ya. Omigot. Ampiyun deh, jadi harus mikir ulang buat kelanjutannya. Ini lah resikonya kalau ngetik ulang. Imajinasinya sering melantur ke mana – mana. Jadi makin nggak jelas deh. Kha kha kha . Kapan nie Cerpen Remaja ketemu ending nya ya?…. Masa jadi sinetron beneran?. *Hammer*

Random Posts

  • Cerpen terbaru Take My Heart ~ 05

    Omz, Cerpen kala cinta menyapa apa kabarnya yak?. Makin nyungsep aja tuh ide… ha ha ha.Tapi ya sudah lah, mumpung ide cerpen terbaru Take My Heart yang muncul duluan, ya udah ini aja yang di ketik dulu. Akhir kata, happy reading….!!.PS: Part sebelumnya silahkan baca:-} Cerpen terbaru Take My Heart part ~ 04Dalam hidup ini, aku hanya punya satu impian…Impianku bisa menjadi nyata.Titik!!!.Setelah membasuh mukanya dengan air dari keran, tangan Vio terulur meraih tisu. Mengeringkan wajahnya. Sejenak di tatapnya bayangan dicermin. Raut lelah jelas tergambar di sana.Tak ingin berlama – lama Vio segera melangkah keluar. Tepat di pintu langkahnya tercegat. Selang beberapa meter di hadapan tampak Laura yang juga berdiri terpaku menatapnya. Sepertinya gadis itu juga berniat untuk masuk ke toilet kampusnya.sebagian

  • Cerpen Terbaru Jahil Karena Suka

    Jahil Karena Suka _ cerpen terbaru kiriman dari salah satu reader disini, Nabila maharani. Jalan ceritanya lucu, lumayan menghibur juga. Yah masih cerita tentang anak sekolahan gitu deh. Yang jelas meremaja banget.Nah, Admin juga nggak mau kebanyakan bacod, mending kita simak aja langsung, gimana sih sama ceritanya? Yang jelas so sweet… ^_^Cerpen Terbaru Jahil Karena SukaHari ini adalah hari pertama Syabila belajar di sekolah barunya, SMA Bakti Jaya. Minggu kemarin dia sudah resmi menjadi salah satu siswa sekolah terfavorit di Jakarta.sebagian

  • Hate The Rain

    Hate The Rainoleh: Farhatul AiniTetesan air dari langit yang datangnya tak pernah terduga, kadang dia datang begitu lama sampai seseorang menangis membutuhkannya, namun tidak dengan aku, terlalu banyak kenangan dan kesakitan yang tercipta karena hujan, dan kini aku benci hujan.Hari ini langit menghitam terlihat di pekarangan sekolahku, hal yang biasa karena sekarang sedang musim penghujan, tetesan benih airnya mulai turun dari atas langit kejauhan sana. Semua yang berada di luar kelas kini masuk ke dalam ruangan membuat kelaspun menjadi sempit dan ramai karena suara anak-anak yang tak bisa diam, itulah kebiasaan ketika belum ada guru pengajar masuk.mata pelajaran terakhir telah dimulai, walaupun pembelajaran agak terganggu dengan curah hujan, namun bu guru tetap melanjutkan belajar sampai bel pulang sekolah.Musim penghujan benar-benar menghambat aktivitasku, hujan tak berhenti sampai pulang sekolah tiba, kini aku harus berjalan ke depan halte sekolah, namun ketika kakiku baru melangkah keluar kelas tiba-tiba terlihat Kevin, kakak kelasku berdiri di luar seperti sedang menunggu seseorang. Dan dia menyapaku rupanya.“Ness, mau ga pulang bareng kakak ?” sapa kevin dengan tiba-tibaPerasaan tak diduga saat itu, aku memang sedang dekat dengan Kevin, tapi selama kedekatanku tak pernah ku berfikir dia akan seberani itu langsung mengajakku pulang bersamanya. “Tapi ka, sekarang hujan aku harus pulang sampai hujan berhenti.”“Gapapa Ness, kakak bakal tunggu kamu sampe hujan berhenti biar bisa pulang bareng kamu.”Beberapa kali aku menolak, namun Kevin tetap memaksa untuk menunggu.akhirnya aku menunggu hujan berhenti bersama Kevin. Lama sekali sampai suasana sekolah sepi mungkin hanya kita berdua disitu.Dikeadaan suasana yang sepi, romantis dan hanya kita berdua duduk di depan kelas dengan memandang hujan turun, tiba-tiba Kevin membalut tanganku dengan tangannya lalu tatapan tajam keluar dari matanya menatapku dengan keseriusan. “Ness kakak sayang kamu, mau ga kamu jadi pacar kakak ?"Tanpa berbasa-basi kevin menyatakan cinta padaku, aku sontak binTgung, kaget, dan tak pernah terfikirkan.“Tapi kak, kita kan baru kenal.”“Tapi kakak sayang sama kamu, mungkin terlalu cepat apa yang kakak katakan, jangan lihat seberapa lama waktu kita bertemu dan mengenal, lihatlah ketulusan kakak.”Melihat tatapan matanya terasa ada ketulusan, dan disitu aku benar-banar luluh dengan perkataannya.“Baiklah, sebenarnya aku juga sayang sama kakak.”“Jadi sekarang kita pacaran?” Dengan malu-malu Nessa menjawab.“Ya, kita pacaran.”Tanpa befikir panjang, Kevin langsung mencium kening Nessa dan memeluknya, pelukan hangat pertama yang Nessa rasakan dari seorang kasih yang amat ia sayang sekarang.Perbincangan yang cukup lama dan tidak membosankan membuat hari semakin sore dan gelap tanpa hujan berhenti aku dan Kevin memutuskan untuk pulang.masih terasa rintikan hujan yang tak henti motor kevin melaju kencang menuju arah rumahku, disaat perjalanan kevin menarik erat tanganku, membalutnya kelingkar pinggangnya, terasa sekali ada perasaan berbeda dihatiku. Getaran cinta yang terasa semakin yakin bahwa dia akan menjadi kekasih terindahku. Laju Kecepatan motor yang kencang, membuat tanganku semakin erat memegang lingkaran pinggang kekasihku, dan tanpa terasa seperti ada suara gesekan ban dengan aspal yang sangat keras, membuat telinga terasa sakit untuk mendengarnya, lontaran dan suara jeritan terdengar samar-samar lagi semuanya terasa gelap dan hilang, namun rasa sakit di tubuh ini sangat terasa.· ****Saat mata masih terpejam mata rapat, namun pikiranku terasa hidup kembali, membayangkan gesekan ban motor yang kencang lalu mengingatkanku pada kevin, ingin aku teriak dan memanggil namanya namun susah dan sakit sekali, pelahan ku membukakan mata dengan susah payah, ku lihat disekelilingku terdapat Ayah dan Bunda yang menggemgam erat tanganku, dan beberapa keluarga, teman dekat lainnya rupanya mereka sudah menanti kesadaranku namun hanya satu yang tak terlihat Kevin, dimana dia ? aku benar benar merindukannya ? ingin melihat wajahnya, semuanya tentang dia?Ayah dan Bundapun langsung menanyakan keadaanku.“Bagaimana keadaanmu sayang.”ku jawab dengan terpatah-patah“Sakit, pusing. Dimana kevin bun ?”namun Bunda diam saja, aku yakin mungkin Bunda belum mengenal Kevin karena kita baru jadian dan aku belum sempat mengenalkannya pada Bunda.Lalu Lala mendekat mengahampiriku, dia sahabat dekatku. Berkata sambil membelaiku penuh rasa kasihan.“Ness, kamu yang sabar yah.”“Ada apa si la, ayo critain apa yang terjadi ?” kepala ku mendadak pusing“Kevin sudah tenang disana, kamu gausah khawatir.”“Tenang dimana la, Kevin baik-baik saja kan ?”Tiba-tiba Bunda juga ikut membelaiku, Lala dan bunda ikut mengeluarkan air matanya.“Nessa, Kevin ga bisa selamat. Tapi Bunda bersyukur kamu masih bisa bertahan sayang.”Perkataan Bunda tadi serasa langsung menusuk paru-paruku, membuatku ingin berhenti bernafas saja, otakku tak bisa berfikir jernih lagi. membuatku ingin lari dan memeluk kevin. Pelahan-lahan semuanya kembali normal, dan ku keluarkan air mata yang sejak tadi rasanya ku tahan. * * *Kini ku lari dan ku lihat disana kevin sudah tak berdaya, tubuhnya memar dan bekas darah yang masih memerah terlihat disekujur tubuhnya, namun dia tetap kevinku yang aku sayang, dia tetap terindah untukku.Ingin ku menyalahkan diriku atas semua ini, rasanya benar-benar aku ingin sekali menolak takdir ini, dibalik semua itu aku terfikirkan jalan aspal yang licin dan gesekan ban yang kencang dan itu semua dibuat oleh hujan. Dan hujan telah menjadi saksi cintaku dengan Kevin, mengingatkanku pada semua tentang Kevin.—fb : Farhatul.aini@yahoo.comtwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comemail : ainibarnessa@yahoo.co.id

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 04 /13

    Masih lanjutan dari cerbung Kala Cinta menyapa Part 04. Kisah seputar hubungan antara Erwin dan Rani yang merupakan cerpen requesan. Yang penasaran gimana lanjutannya. Untuk yang baru nemu cerpen ini, biar nyambung bagusan baca dulu bagaian sebelum dalam cerpen kala cinta menyapa bagian 3. Yang jelas selamat membaca aja ya…Kala Cinta MenyapaSepulang kuliah, Rani segera melangkah pulang kerumah. Sambil menunggu bus tumpangannya ia duduk menunggu di halte sambil membaca komik serial cantik yang sengaja ia bawa ke kampus. Bodo amat deh kalau ada orang yang meliriknya heran saat melihat ia yang sudah segede itu masih dengan santai membaca komik. Toh ia tidak merasa menganggu orang lain.Setelah beberpa saat menunggu akhirnya bus yang di tunggu pun muncul. Tapi karena keasikan membaca komik, Rani sepertinya tidak menyadari. Dengan santai ia masih anteng dengan bacaanya sampai kemudian bus kembali berlalu.Begitu menamatkan komik yang ada di tangannya Rani tersenyum puas. Lagi – lagi ending komik jepang berakhir happy ending dengan sangat romantis. Membuatnya merasa sama sekali tidak pernah bosan untuk mengoleksinya. Dengan segera komik itu ia masukan kembali kedalam tas. Pandangannya segera ia arahkan ke sekeliling. Sepi. Kenapa tidak ada seorang pun. Segera di lirik jam yang melingkar di tangan. Pukul sembilan tepat. Keningnya semakin berkerut. Kepalanya segera mendongak keatas. Menatap matahari yang jelas – jelas sudah condong kearah barat. Sejak kapan di sore hari ada pukul sembilan? Beberapa saat kemudian ia kembali mengalihkan tatapan kearah jam. Ups, pantas saja ternyata jarumnya sama sekali tidak bergerak alias jam mati. Wajar saja si, secara itu jam memang ia beli di perempatan toko kaki lima Tiga tahun yang lalu.Akhirnya diambilnya hape dari dalam saku tas. Mencet – mencet tombol untuk sesaat. Saat menatap tanggal yang tertera, kening lagi-lagi berkerut. Dengan cepat tangannya kembali memencet satu satu tombol itu, kemudian seulas senyum terukir di bibirnya.“Alhamdullilah, untung saja gue ketinggalan bus di tambah jam gue mati jadinya gue bisa ngutak – atik note di hape. Hufh, kalau enggak hampir aja gue lupa. Ternyata bener, bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada hikmahnya,” gumam Rani pada dirinya sendiri.Segera ia bangkit dari duduknya. Menoleh kekanan kiri. Saat matanya menemukan angkutan umum yang kebetulan lewat tanpa pikir panjang segera di stopnya. Tepat di depan Ramayana Swalayan ia turun.Mulai dari bagian pernak – pernik, baju, sandal bahkan sampai ke aksesoris Rani terus berkeliaran. Tapi belum ada satu pun yang berhasil menarik perhatiannya. Akhirnya langkahnya di tujukan kearah pustaka. Begitu melihat novel sunshine become you milik nya Illana tan ia langsung tertarik. Di raihnya buku tersebut. Bukannya Irma sangat menyukai bacaan ya?. Sepertinya buku itu juga pas untuk di jadi kan kado.Begitu mendapatkan apa yang ia cari Rani segera berlalu. Melanjutkan niat awalnya untuk langsung pulang kerumah. Saat bersiap untuk menyeberang jalan matanya tanpa sengaja melihat anak kecil yang berjalan di jalan. Sepertinya anak kecil itu kebingungan. Mungkin juga karena terpisah dari orang tuanya. Rani juga tidak memikirkan lebih jauh karena ia justru malah langsung berlari menarik anak itu saat mendapati sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah berlawanan.Saat mendapati wajah – wajah lega dari orang – orang di sekelilingnya yang kebetulan melihat kejadian tadi Rani segera bangkit berdiri karena tadi ia memang sempat jatuh terduduk saat berusah untuk menyelamatkan tu bocah. Sambil tersenyum Rani menatap kesekeliling. Namun ketika ia mau berjalan tiba – tiba ia merasa sedikit nyeri di kakinya. Begitu ia menoleh ternyata memang ada sedikit luka gores. Untuk sejenak Rani terdiam saat mendapati cairan merah yang ada dikakinya sampai beberapa saat kemudian ia kembali tergeletak. Satu – satunya yang masih mampu ia tangkap adalah suara teriakan panik di sekeliling sebelum kemudian ia benar – benar tak sadarkan diri.Saat kembali membuka matanya, hal pertama yang Rani lihat adalah langit – langit kamar yang berwarna putih polos. Kemudian perhatiannya teralihkan kearah samping. Walau terlihat sedikit kabur tapi Rani masih bisa mengenali dengan jelas siapa sosok yang kini berdiri di dekatnya dengan raut cemas.Tanpa perlu sok jaim atau pun sok jaga image, mulut Rani terbuka lebar. Mengabaikan raut bingung sekaligus kesel juga cemberut sosok yang ada di sampingnya yang pasti langsung mengira ia bukan sadar dari pingsan namun justru baru bangun dari tidur siang.“Eh, loe Erwin kan? Kok loe bisa ada di sini? Terus sekarang gue lagi ada di mana nie?” tanya Rani sambil mengucek – kucek matanya.Erwin terdiam. Bukannya menjawab justu ia malah menatap Rani dengan intens. Melihat wajah polos seperti anak kecil yang ada di hadapannya membuat nya merasa gemes. Dan sebelum sempat sebuah senyum bertenger di bibir kesadarannya keburu pulih.“Jangan sok lupa deh,” kata Erwin berusaha terdengar sinis.“Gue bukan sok. Tapi gue beneran lupa. Memangnya gue kenapa?” tanya Rani lagi sambil menatap keatas. Berusaha mengingat – ingat kejadian sebelumnya.“Oh gue inget. Tadi itu gue abis bantuin anak kecil. Terus kaki gue luka. Karena gue phobia darah. Makanya gue pingsan."“Syukur deh kalau loe inget. Makanya laen kali kalau mau pingsan liat – liat tempat dulu donk. Jangan sembarangan."Mendengar kalimat yang baru saja di dengarnya membuat Rani sontak menoleh. Gantian menatap sinis kearah Erwin.“Eh, dengar ya. Kalau gue bisa milih, mendingan gue nggak usah pingsan. Dasar, gini nih kalau orang udah kelewat pinter. Kalau ngomong memang suka asal njeplak,” balas Rani santai, sama sekali tak memperdulikan pelototan yang terarah kepadanya.“Tapi kok loe bisa ada di sini?” tanya Rani lagi setelah beberapa saat terdiam.Erwin terdiam. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Mulutnya terbuka tapi beberapa saat kemudian kembali tertutup. Ia bingung harus menjawab apa.“Perasaan tadi gue nggak ada liat loe deh. Apa mungkin gue lupa ya?” sambung Rani lagi, mencoba mengingat – ingat kejadian sebelumnya.“Sudahlah. Tidak perlu di bahas. Tadi itu gue hanya kebetulan lewat."“O…” Rani mengangguk – angguk sambil tersenyum simpul. Erwin yang kebetulan memergoki tingkahnya merasa heran.“Kenapa loe malah senyum – senyum sendiri?”Rani mengeleng “Eh, ternyata loe baik juga ya?”“Apa an si,” Erwin makin terlihat salah tingkah.“Ma kasih ya,” Sambung Rani sambil tersenyum tulus.“Ehem, ya sudah lah. Sepertinya loe juga baik – baik saja. Tidak ada terlihat luka yang menghawatirkan. Kalau begitu gue pulang dulu,” kata Erwin sambil berbalik.“Eits, tunggu dulu!” kalimat Rani yang nyaris disebut teriakan menghentikan langkah Erwin. Perlahan pria itu kembali berbalik.“Ada apa?”“Loe antarin gue donk."“Ha?” mulut Erwin terbuka. Tatapannya terarah lurus kearah wajah polos Rani. Ia yakin barusan ia salah dengar.“Gue kan cewek. Abis ketabrak lagi. Masa loe tega si ninggalin gue sendirian. Lagian loe kan sudah terlanjur bantuin gue. Jangan setengah – setengah donk harusnya."“Tapi…”.“Ya sudah lah kalau loe nggak mau. Gue pulang sendiri aja,” potong Rani sambil berusaha bangkit. Diraihnya tas di atas meja berserta kado yang ada di sampingnya sebelum kemudian berjalan melewati Erwin yang masih berdiri terpaku memperhatikan tingkahnya yang di rasa aneh. Bagaimana bisa ada orang seperti dia. Bisa berubah pikiran dalam sekejap.“Duh… Kok nggak ada taxsi atau angkot yang lewat si. Hu… mana kakinya masih sakit lagi,” gerut Rani sendiri sambil menoleh kekanan kiri jalanan.“Buruan, Ayo naik?”Rani menoleh. Merasa heran sekaligus bingung saat mendapati Erwin yang bertenger di atas motornya berhenti tak jauh darinya.“Jiah, dia malah bengong. Buruan."“Gue?” tunjuk Rani kearah Wajahnya sendiri. Erwin hanya memutar mata mendegaranya. Namun tak urung tangannya terulur menyodorkan helm.“Bukannya tadi loe bilang loe nggak mau nganterin gue ya?” tanya Rani saat motor yang di kendarai sudah mulai melaju.“Rumah loe dimana?” Erwin balik bertanya.“Komplek BTN Bumi Asih nomor 24,” balas Rani meyebutkan alamat rumahnya walau tak urung ia merasa heran. Erwin kan sudah tau rumahnya dimana saat jatuh di got dulu. Kenapa pria itu bertanya?Erwin terdiam sama sekali tidak berkomentar apa pun lagi. Sementar Rani yang semula berniat untuk bertanya kembali menutup mulut. Sepertinya Erwin bukan type orang yang enak di ajak ngobrol. -,-“Erwin, sekali lagi makasih ya,” kata Rani begitu mereka telah berhenti tepat di depan rumahnya.Lagi – lagi Erwin tidak menjawab. Hanya kepalanya yang terlihat mengangguk. Sementara kedua matanya justru malah menatap kearah rumah Rani yang terlihat sederhana namun sepertinya nyaman untuk di tempati.“Loe mau sekalian mampir?” ajak Rani kemudian.“Oh, Nggak usah. Makasih,” balas Erwin sambil pamit berlalu pergi. Rani hanya angkat bahu. Lagipula tadi ia hanya basa – basi. Setelah menyadari Erwin hilang dari pandangan Rani berbalik. Melangkah masuk kedalam rumah.To Be continue. Next to cerbung Kala Cinta menyapa bagian 5Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.693 WordsLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*