Cerpen Remaja The Prince ~ 07 {Update}


"Loe bisa kasi tau gue, suzy itu orang nya yang mana?".
Pertanyaan yang aku lontarkan cukup untuk membuat langkah kevin terhenti sekaligus membuatnya berbalik.
"Maksut loe?"
"Loe ngapain nanyain dia?" Tambah kevin lagi sambil kembali berjalan ke arah ku.
"Gue pengen nemuin dia" balas aku sok cuek.
"Kenapa?" tanya kevin heran.
"Karena gue pengen ngasi kerhormatan buat dia sebagai orang pertama yang akan melihat video itu" Sambung ku lagi membuat kevin benar – benar shok. Tanpa perlu memperdulikan reasksinya lagi, aku segera berbalik. Soalnya kalau aku terus bertahan di sini bisa – bisa aku yang jantungan.
"Loe bercanda kan?" tanya kevin sambil menarik tangan ku sehingga posisi kami tepat berhadap hadapan.
"Tertawalah kalau loe anggap itu lucu" Balas ku terdegar tegas.
"Tapi kenapa harus dia?" tanya kevin terdengar frustasi.
"Suka suka gue donk. Jadi mulai sekarang mending loe pikir baik baik tawaran gue. Sekarang gue mau pergi dan jangan halangi gue lagi".
"Oh ya, satu lagi. Jangan pernah elo ngebentak gue kayak tadi. Karena gue nggak suka!!!. " Sambung ku lagi sebelum benar – benar meninggalkan kevin yang masih diam terpaku.
Cerpen Remaja The Prince
"Loe harus cerita sama kita " Desak iren lagi Karena sedari tadi aku tidak menanggapinya. Justru aku malah santai berayun – ayun di taman belakang kampus.
"Ia. Ada urusan apa loe sama kevin" sambung nay lagi.
"Riani, loe denger kita ngomong nggak si?" Geram kezia sambil merebut cemilanku.
"Aduh, kalian apa – apa an si?".
"Pokoknya loe harus certa sama kita".
Heh. Sejenak aku menarik napas. Jujur saja aku ragu untuk menceritakannya. Karena walau bagaimana pun Kevin itu sahabatnya 'Andre'. Tapi tanpa segaja pandangan ku tertumpu pada keberadaan sosok kevin dan teman – temannya. Dan berhubung beberapa hari ini ide jahil memang sedang berkeliaran di benak ku *Star Night maksutnya* kayaknya nggak rugi juga kalau langsung di praktekan. Kha kha kha.
"Ehem… oke deh gue cerita"Balas ku sambil sengaja mengeras kan volume dan pura -pura tidak menyadari keberadaan mereka.
"Sebenernya gini. Kemaren itu gue kan jalan – jalan di taman kota. Jadi nggak sengaja gue ngeliat kevin. Dan kalian tau nggak waktu itu dia lagi ngapai?" Tanya ku sengaja membuat teman teman ku makin penasaran.
"Oh ya, Memang nya di lagi ngapain?" Tanya Iren antusias.
"Waktu itu dia lagi…. Hmpft……".
Sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku tau – tau mulutku sudah keduluan di pikep (????) * Star night bingung nyari kata – kata…../wkwkwkwk*. Ternyata kevin yang kemudian tanpa basa – basi langsung menarik tangan ku menjauh.
"Gila!!. Lepasin. Mau apa lagi si loe?" Geram ku setelah berhasil meloloskan diri.
“Mau loe yang apa!!” Kevin ganti membentak. Sumpah,Serem banget.
“Ma maksutnya” .
“Dasar Cewek nggak bisa di percaya” Balas Kevin sinis.
“Memang nya gue ngapain?” Tanya ku bingung.
“Nggak usah belagu. Loe kan udah janji kalau loe bakal tutup mulut soal video itu kalau seandainya gue nggak ngejahilin kalian”.
“Ralat” Potong ku cepat. Dalam hati aku juga bersukur karena keberanian ku kembali muncul kepermukaan (???). “Gue Cuma pernah bilang gue nggak akan nyebarin tu video. Kalau soal nyeritain, itu laen ceritanya”.
“WHAT?!”.
“ Nggak usah sok inggris pake What segala. Tinggal bilang ‘Apa’ apa susahnya si” .
“Eh denger ya…. E …. Cewek sarap, gue…”.
“Cewek sarap?” Potong ku cepat. Sialan.
“Gue nggak tau nama loe. Lagian tu gelar pas buat loe “ Sahut Kevin cuek. “Oke, kembali ke topic, apa mau loe sebenernya?”.
Sumpah, aku sebel si sebenernya. Masa aku di pangil cewek sarap, dia aja Cuma ‘nano – nano’. Tapi sayang aku nggak berani protes sekarang, nanti aja. Secara sekarang tampang Kevin benar – benar terlihat menyeramkan. Hii…. Lagian ada yang lebih penting dari pada ngurusin gelar (???).
“Gue mau, loe gantian nururtin kata – kata dan kemauan gue. Ya kayak pembantu gitu”.
“Apa?!”.
Refleks aku menutup telingaku waktu mendengar teriakan koor teman – teman aku dan Kevin. Lagian lebay banget si, masa baru denger gitu aja tereaknya nggak umum.
“Jangan mimpi loe” Balas Kevin sinis.
“Ya udah kalau loe nggak mau, Perjanjian kita batal. Lagian nggak seru juga ternyata kerjasama sama loe”.
“Terus loe mau ngapain?” Tanya Kevin sambil menarik tangan ku yang bersiap pergi sehingga lagi – lagi kini kami berhadapan.
“Gue mau nyebarin videonya” Balas ku cuek.
“Heh, coba aja kalau loe berani. Gue bakal…”.
“Emangnya loe mau ngapain” Tantang ku memotong ucapannya.
Bukannya menjawab Kevin malah menyeringai nggak jelas. Sekilas ekor matanya melirik pada teman – teman yang juga tanpak penasaran. Dan tiba – tiba ia memajukan wajahnya ke hadapanku yang reflex memundurkan wajah.
“Gue bakal nyium loe saat itu juga di depan semua orang”.
Ancaman Kevin memang cukup lirih. Bahkan tidak mampu untuk membuat raut wajah kebingungan hilang dari wajah teman-temanku. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat ku bergetar. Dia nggak serius kan?.
“Jadi, Sebelum loe bertindak, loe lo pikirin dulu deh. Oke guys, mari kita pergi” Kata Kevin puas. Apalagi aku masih hanya mampu terdiam. Tanpa basa basi lagi ia segera berlalu.
Cerpen Remaja The Prince
Lama aku duduk termenung sendirian sampai sebuat tepukan di pundak membuyarkan lamunanku.
“Hei, kok ngelamun?”.
“Oh, enggak kok” balas ku cepat sambil membetulkan letak kacamataku. Sedikit terkejut juga was – was kurasakan saat menapati kehadiran jimmy.
“Gue boleh duduk di sini nggak?” Tanya jimmy yang mau tidak mau aku balas dengan anggukan.
Lama kami saling terdiam. Aku juga bingung mau membuka topic pembicaraan sampai kemudian jimmy yang terlebih dahulu membuka mutlut.
“Loe baik-baik aja kan?”.
“Baik”
Dalam hati aku sedikit bingung. Kok tumben.
“Loe yakin?”.
“Maksut loe?”
“Gue tau, Kevin sama teman – temannya sudah tidak pernah menjahilin kalian lagi. Tapi apa yang pengikut – pengikutnya lakukan lebih parah kan?” Tanya jimmy lagi.
Lagi – lagi aku membalas dengan anggukan. Sebenernya masalah ini juga yang sedari tadi aku pikirkan. Terror yang menimpa aku dan teman – temanku semakin menjadi. Bahkan lebih buruk daripada yang dulu kami terima. Seenggaknya kalau dulu aku masih bisa mengantisipasinya karena Kevin selalu cerita pada andre, Tapi sekarang. Itu mustahil karena Kevin memang tidak melakukan apa – apa. Ia hanya cukup ‘Duduk Diam’ seperti prince. Sama seperti yang dulu pernah aku katakana padanya. Hanya saja aku tidak menyangka kalau begini hasilnya. Tapi…..
“Tapi dari mana loe tau?” Tanya aku tanpa mampu menutupi rasa heran.
“Udah jadi rahasia umum kali” Balas jimmy santai yang membuatku hanya mampu tersenyum kecut.
“Apa loe butuh bantuan kita untuk menghentikan terror –terror itu?”.
“Bantuan?. Loe mau bantu gue?. Kenapa?”.
Jujur saja, menurut aku nie orang makin membingungkan deh.
“Bukankah sudah jelas?”.
“Loe lagi main teka – teki ya?” ujar ku sambil menatap lurus kearah jimmy.
“Heh” jimmy tanpak tersenyum simpul. “Tentu saja itu karena sudah jadi tugas gue?”.
“Tugas?” Aku masih nggak nyambung.
“”Apa perlu gue manggil loe princess?” kata jimmy sambil menoleh. Membalas langsung tatapan ku.
Oke, itu memang bukan jawaban. Secara dia malah balik nanya. Tapi pertanyaan yang ia lontarkan sudah lebih dari cukup untuk ku menyadari nya.
“Elo…?”.
Tanpa suara, jimmy hanya menganggukan kepala sambil tersenyum. Ya Tuhan….
Cerpen remaja The Prince
To be continue….
Ah Star Night binguuuuuung….. nie cerpen kok makin melantur dari ide awal ya. Omigot. Ampiyun deh, jadi harus mikir ulang buat kelanjutannya. Ini lah resikonya kalau ngetik ulang. Imajinasinya sering melantur ke mana – mana. Jadi makin nggak jelas deh. Kha kha kha . Kapan nie Cerpen Remaja ketemu ending nya ya?…. Masa jadi sinetron beneran?. *Hammer*

Random Posts

  • Cerpen Penyesalan

    PENYESALAN Angin malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski rembulan tampil dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam, namun pemandangan tersebut tak turut menghibur hati Jono yang sedang padam bagai tersiram air yang deras.Jono adalah seorang pria yang sedang berkepala lima akan tetapi satu persatu anaknya pergi meninggalkan Jono dan istrinya, mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya. Jono termenung tak berdaya, pandangannya kosong yang di pikirnya hanya satu bagaimana ia mendapatkan uang dan tidur pulas di rumah bersama Tini istrinya dan Riko anaknya yang masih tersisa, ia tak berani pulang ke rumah dengan tangan hampa sebab jika pulang ia hanya mendapatkan cacian dari sang istri bahkan ia di suruh tidur di luar rumah, sebenarnya Jono tak tahan lagi atas perlakuan Tini, namun apa daya nasi telah menjadi bubur padahal sejak masih menjadi kekasihnya ,Ibu Jono melarang Jono berhubungan dengan Tini,Ibu Jono tidak suka dengan sikap Tini yang sombong dan tak sopan itu akan tetapi Jono memperdulikannya, ia hanya ingin menikah dan membangun keluarga baru bersama istrinya yang cantik yaitu Tini dan kini hanya ada penyesalan yang mendalam yang di rasakan seorang pria yang selalu memakai kaca mata minues, selain hidupnya sengsara,ia pun sudah di coret dalam buku harta warisan orang tuanya,bahkan ia menikah tanpa restu dan kehadiran sang Ibu yang dulu di sayangnya. Dua jam berlalu, Jono masih dalam posisinya, duduk dan memandangi bintang di langit berharap bintang itu jatuh kemudian ia dapat berdoa agar seseorang dapat membantu kesusahannya.Dua jam yang tak sia-sia tiba-tiba benda asing jatuh dari langit,melihat peristiwa tersebut sontak membuat Jono terkejut, ia beranggapan bahwa benda asing itu adalah sebuah bintang yang jatuh dari angkasa,tanpa pikir panjang Jono segera memanjatkan doanya. “wahai bintang yang jatuh bantu lah aku dari kesusahan ini, berilah jalan keluar untuk ku”,harapannya yang keluar dari mulut manisnya, meski ia masih percaya dengan Tuhan.Selang beberapa menit, suara handphone yang di ikat kuat menggunakan gelang karet di permukaannya berbunyi dengan nada yang beraturan, senyum lebar terpasang di bibirnya namun memori otaknya masih mengingat istri dan anaknya. “semoga saja ini berita baik untuk ku”,ucapnya dalam hati.Tangan kanannya yang semula memegang permukaan kursi kini beranjak naik merangkul benda kotak kecil itu di saku bajunya, sebuah pesan singkat dari seseorang yang tak asing dipikirannya. JONO TOLONG PULANG KE RUMAH, IBU MU SAKIT PARAHMelihat pesan tersebut ekpresi wajahnya mendadak berubah,aliran darahnhya seakan-akan tak mau mengalir,jantung terasa teriris belati tajam,tak terasa butir-butir air mata menetes,menetes,dan terus menetes hingga kini ia di banjiri tangisan,doanya yang sudah ia ucapkan berbalik menjadi bumerang untuk hidupnya. “wahai bintang !,mengapa kau kabulkan doa yang bukan aku harapkan,mengapa kau tega kepada ku?,menambah beban di hidup ku”,protesnya seraya membentangkan kedua tangannya,wajahnya menatap ke atas langit memberi ekpresi kesal, seolah tak terima dengan berita buruk yang telah ia dapatkan. Derai air mata yang pada saat itu terus mengalir membasahi pipinya,mengingatkannya saat ia membuat segores luka di hati ibu nya, mendorong sang ibu hingga terjatuh dan akhirnya Ayah mengusirnya bersama istrinya,mungkinkah ini balasan untuk ku ?, ataukah buah dari perbuatan ku selama ini kepada Ibu,pikirnya dalam hati.Akhirnya ia bergegas menuju rumah orang tuanya yang sangat membutuhkan kehadirannya,ia tak peduli nanti jika ibu nya tak menerima kedatangannya,asalkan ia bisa bertemu dengan ibu,dan ibu nya lah saja. Sepeda besi berkarat yang setia menemani kemana Jono pergi itu di kayuhnya,berkilo-kilo meter jarak yang ia tempuh,keringat terus mengguyur seluruh tubuhnya,lelah pun di rasakan oleh seorang anak yang merindukan sosok ibu, namun semua itu terbayar ketika ban kendaraan tak bermesin itu berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat megah, rumah itu milik keluarga besar KURNIAWAN, rumah yang menemaninya hampir dua puluh tahun,pintu gerbang yang biasa ia lewati menuju rumah, ayunan yang sejak kecil ia pakai untuk bermain, kursi bercat putih yang tidak berubah tampilannya yang dulu ia pakai untuk sekedar duduk-duduk saja, kini membawanya ke dunia masa lalu, masa lalu yang indah dimana ia selalu di peluk oleh ibu,dimana ibu dan ayahnya selalu memberi senyuman indah untuknya.Dari balik pintu terlihat sosok manusia yang berbadan gemuk,berkaca mata,dan berambut pelontos melemparkan satu senyuman manis tepat mengenai Jono. “Ono kesini lah nak, ayah dan ibu merindukanmu”,rayu sang ayah seraya membentangkan tangannya berharap sang anak memeluk dirinya. “ayah,maafkan jono, jono menyesal telah berbuat seperti ini”,balasnya dengan nada yang tak jelas akibat isak tangis yang memburu kemudian memeluk tubuh ayahnya. “sudahlah jono jangan kau sesalkan perbuatan mu dulu karena itu sudah ayah lupakan,ayah dan ibu sudah memaafkan mu, ayah dan ibu juga meminta maaf karena sudah mengusir mu”,jawab ayah seraya mengelus punggungnya.Perbincangan ayah dan anak tersebut terdengar oleh seorang wanita tua yang tertutupi oleh uban di rambutnya. “ayah di luar ada siapa ?”,tanya ibu dengan suara serak sesekali ia batuk.Pandangan Jono tertuju ke arah Ayah, setelah pandangannya dan pendengarannya mengarah ke pintu rumah. “itu ibu nak,ayo lah masuk ke dalam, bertemu lah dengan ibu mu, ibu sangat merindukan mu”,ajak sang ayah kepadanya “nanti saja yah, Jono belum siap untuk bertemu ibu, mungkin besok Jono datang bersama keluarga”,ujar Jono seraya memegang tangan ayah. “baiklah,ayah mengerti ya sudah pulanglah nak,istri dan anak-anak mu mungkin mengkhawatirkan mu”,ucap ayah memberi satu lagi senyuman manis. Akhirnya Jono pulang dan kembali ke rumahnya dengan rasa senang,tenang dan nyaman meski Jono masih belum bertemu dengan ibunya setidaknya ayah masih menyambutnya dengan ramah. Ditengah perjalanan ia dikejutkan dengan temuan benda asing, benda asing yang berbentuk botol itu memaksa ban sepeda jono berhenti untuk kedua kalinya, rasa ingin tau nya muncul dipegangnya botol itu oleh jono kemudian penutup botol itu terbuka ketika jono memaksakan tangannya untuk membuka, tiba-tiba dari botol itu keluar asap tebal yang menutupi seluruh pandangannya, namun ketika asap itu sedikit demi sedikit menghilang pandangan jono tertuju pada sosok orang yang berpostur tinggi jenggotnya dipenuhi uban penampilannya pun sangat membingungkan jono. “siapa kau!.”ujar jono mengangkat telunjuknya kearah orang asing itu. “hahaha…,aku adalah jin dari timur tengah, karena tuan telah menyelamatkan hamba, hamba beri satu permintaan, apa saja yang tuan minta hamba akan kabulkan, hahaha… .”jawab jin itu puas.Mendengar penjelasan jin, jono seolah tak percaya namun apa salahnya jika mencoba, pikirnya. “baiklah jika kau bisa kabulkan permintaan ku aku akan percaya padamu jika tidak kau berarti hanya seorang pembual.” “memang apa permintaan mu wahai tuan ku?.” “aku ingin kembali ke dua puluh tahun lalu itu saja permintaan ku wahai mahluk halus.” “Wahai tuan ku !, maaf kan aku jika aku lancang, aku hanya ingin tahu dibalik permintaan mu itu, sungguh aku tak mengetahui maksud permintaan mu.” “wahai jin !,jika kau kabulkan permintaan ku nanti, di masa lalu itu aku ingin berubah dan lebih menghargai kedua orang tua ku termasuk ibuku.”Mendengar jawaban jono, jin itu menangis dan akhirnya permintaan jono itu dikabulkan olehnya dengan memberi satu pesan kepada jono. SESUNGGUHNYA PENYESALAN ITU AKAN DATANG SETELAH KITA BERBUAT SATU KESALAHAN, MAKA JANGAN LAH MELAKUKAN KEMBALI KESALAHAN ITU KARENA JIKA MELAKUKAN KEMBALI BERSIAPLAH UNTUK MENGHADAPI PENYESALAN. THE ENDNama: Reka kurniawanAlamat: Rangkasbitung-Lebak-BantenTTL:Rangkasbitung, 20 juni 1995Sekolah: SMAN 3 RANGKASBITUNGAlamat facebook: ekha pinkboysz

  • Cerpen Romantis Tentang Aku Dan Dia Part 3 {Update}

    "Alon alon asal kelakon", Pepatah yang di ajarkan 'Mak" dulu yang sekarang sedang di praktekan. Yups, Acara edit mengedit masih berlanjut maksutnya. Inget kan part sebelum nya di Cerpen remaja tentang aku kan dia part 2. Nah ini lanjutannya.Bagi yang sudah baca ya nggak papa. Namanya juga update yang dulu.Bagi yang belum, silahkan di baca dulu.Penulis lagi nggak mood bikin cerpen yang baru lagi ataupun lanjutin cerpen yang udah ada. Cerpen terbaru take my heart misalnya. Ini semua gara – gara copaser yang ngaku ngaku cerpen aku itu hasil karyanya dia. Huuuuu…Credit gambar : Ana Merya"Kenapa loe" Tanya Anya heran pas dilihatnya Gresia yang baru masuk kekelas dengan tampang super kusut."Gue Beneran lagi pengen makan orang nie" Sahut Gresia sambil merebahkan kepalanya di meja."WHAT?" Ujar Anya dan Nanda bersamaan."Mau jadi sumanto versi cewek loe" Ledek Anggun.sebagian

  • Cerpen Cinta “Ketika Cinta Harus Memilih” ~ 14

    Cerpen Cinta "Ketika Cinta Harus Memilih" Part 14 kembali relase. Tinggal dua episode lagi. Kok rasanya lama amad ya? wkwkwkwkwk….Jadi mendadak bingung nih, kira kira kalau sampai cerpen cinta yang satu ini end, ni blog mau di update apa lagi ya? Secara adminnya udah nggak punya stok cerpen lagi buat di posting. Haruskan ni blog vakum beneran?… ck ck ckOke lah, daripada banyak bacod langsung aja yuks, kita simak kelanjutan ceritannya. Ketika Cinta Harus MemiliReferensi lagu : Tak Rela miliknya merpati band…..Sesungguhnya aku tak rela, melihat kau dengannyaSungguh hati terlukaCukup puas kau buat diriku, Merasakan cemburuKembalilah kepadakuRangga sedang sibuk membereskan kamarnya ketika Hape nya tiba – tiba bergetar. Dengan segera diraihnya benda mungil tersebut. Sedikit mengernyit heran saat membaca id callernya. Cisa?. Ada apa dia menelponnya?.sebagian

  • CERPEN PENYESALAN CINTA

    PENYESALAN CINTAcerpen karya Nina YusufCinta ada karena terbiasa. Mungkin kata-kata itu yang paling tepat untukku. Namaku Nina, aku duduk di bangku XII SMA. Aku punya seorang tetangga cowok yang saat ini sedang kuliah tingkat 1, namanya Ade. Aku bertetanggaan sama dia sejak dari lahir. Boleh dibilang dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia sangat perhatian padaku. Dia baik dan humoris. Aku sangat menyukainya. Awalnya rasa ini cuma sebatas rasa senang karena diperhatikan seperti seorang adik, tapi lama kelamaan rasa ini tumbuh menjadi benih-benih cinta di hatiku. Dulu waktu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku juga pernah suka sama dia. Ku pikir itu hanya dampak dari masa puber ku. dia suka menyanjungku, karena itulah aku sempat berpikir dia mencintaiku. maklumlah aku baru lepas dari masa anak-anak.Saat ini rasa itu kembali hadir. Aku kembali merindukannya. Entah dari mana awalnya, namun perlahan-lahan rindu itu semakin menyiksa. Saat dia kembali ke tempat kuliah, aku merasa sangat jauh darinya. Tapi saat dia di rumah, aku bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku. Sebenarnya aku sudah mencoba tuk ngilangin perasaan ini. Aku tau, gak mungkin bagiku tuk bisa menjadi kekasihnya. Dia sudah menganggapku sama seperti adiknya, dan apa kata orang tua kami jika kami berpacaran. Aku malu sama perasaanku ini. Aku bingung harus bagaimana. Aku terus berusaha memendamnya.***Hari ini hari minggu. Saat yang tepat bagiku untuk bermalas-malasan. Seharian ini aku cuma duduk di depan tv. Saat sedang asyik-asyiknya nonton FTV, ponselku berdering. Ku raih dengan malasnya. Ku lihat ada 1 panggilan masuk dari nomor tak di kenal.“halo…”“ya halo.. Nina ya??”“iya, bener.. ne siapa??”“ne kakak, dek..”, jawab suara di seberang sana.“kakak siapa??”“kak Ade.. masa’ dek gak ngenalin suara kakak seh?? Ge apa sekarang dek??”Kak Ade?? Jantung ku hampir copot ketika dia nyebutin namanya. Aku gak percaya kalo yang nelfon ini kak Ade. “Aku mimpi gak yach??”, batinku. Ku cubit lenganku tuk mastiinnya. Owh, sakit. Ternyata aku gak mimpi.“lho dek, ditanya kok bengong??”“o..o..eee.. ma..maaf kak…”, aku tergagap.“hahaha… lucu dech.. o ya dah dulu ya dek, kapan-kapan kita sambung lagi. Kak ada keperluan. Bye..”“iya kak, bye..”Klik. Telfon teputus. Aku masih bengong. Gak percaya sama apa yang barusan terjadi. “kak Ade nelfon aku. Oh my God pertanda apa ini??” seru ku dalam hati.Itulah awal dari kedekatan kami. Sejak saat itu dia sering menelfon ku. Dia cerita pengalaman-pengalaman kuliahnya. Aku juga banyak curhat sama dia. Hatiku semakin berbunga-bunga. Aku semakin yakin mimpi ku akan jadi nyata.Dua bulan berlalu. Masa pedekate ku telah berakhir. Hari ini aku resmi menjadi pacarnya. Tadi malam, tepatnya malam minggu dia mengutarakan isi hatinya. Dia berjanji akan selalu ada untukku. Aku sangat bahagia. Ternyata cintaku gak bertepuk sebelah tangan.***Hari demi hari berlalu begitu cepat. Kurasakan cintanya kini telah memudar. Dia tak seperti pertama jadian dulu. Dia hanya menghubungiku di saat dia kesepian. Aku mencoba bertahan dengan semua ini. Aku yakin suatu saat dia pasti akan kembali seperti dulu.Semakin lama penantian ini, semakin hampa ku rasa. Dia tak kunjung berubah, bahkan dia semakin menjadi-jadi. Sekarang dia sering berbohong padaku. Dia gak pernah lagi menepati janji. Dia gak membutuhkan ku lagi. Aku sedih, luka di hati ini semakin dalam. Aku menjerit dalam hati “apa salahku, sehingga kamu bersikap begini padaku?? Tolong beri penjelasan tentang hubungan ini.” Aku gak kuat lagi. Ku coba menghubungi teman dekatnya yang juga temanku. Ku cari nomornya di ponsel. Langsung saat itu juga ku telfon dia.“halo.. kak Iwan..”“iya Na.. pa kabar?? Tumben nelfon kakak..”“kak, Na mau minta tolong. Na gak sanggup lagi sama sikap kak Ade. Tolong tanyain ma dia kejelasan tentang hubungan kami.”, “lho.. kok gak Nina sendiri yang tanya??”, katanya heran.“udah kak, tapi dia gak mau jawab. Dia cuma bilang lagi sibuk banyak tugas, jadi gak sempat hubungin Nina..”, jawab ku lirih.“ya udah gini aja, kalo kak sendiri yang nanyain, pasti Na gak bakalan percaya sama jawabannya. Kita sambung 3 neh telfon, tapi Na gak usah bicara, Na denger aja apa yang dia bilang. Satu lagi, apapun yang dia katakan Na gak boleh bersuara sedikit pun.. Biar kak yang telfon. Ok..”“ok kak..” telfon ku tutup.Gak lama setelah itu, kak Iwan pun nelfon. Setelah ku angkat, dia langsung nelfon pacarku. Awalnya mereka ngobrol seperti biasa. Kak Iwan sedikit berbasa-basi. Setelah beberapa menit kak Iwan langsung ke pokok permasalahan. Terdengar di seberang sana kak Ade agak kaget mendengarnya.“lo apain Nina?? Kok dia nangis-nangis ma gue??”“maksud lo?? Gue gak ngerti. Kenapa tiba-tiba lo bertanya kek gini??”“kemaren Nina nelfon gue, dia nangis. Dia bilang gak kuat lagi ma sikap lo. Lo seakan-akan gak butuh dia lagi..”“O… jadi dia ngadu sama lo?? Dasar tuch cewek, cengeng banget jadi orang. Gue gak apa-apain dia. Gue Cuma jenuh aja sama sikap dia yang kekanak-kanakan. Gue gak tahan sama cewek kek gitu. Gue bosen ma dia..!!”, nada suaranya meninggi.“kalo lo bosen ma dia dan pengen mutusin dia, lo bilang donk baik-baik. Bukan kek gini caranya. Gak ada hak lo nyakitin anak gadis orang..!!”“gue udah gak mood ngomong ma dia. Kalo lo care ma dia, lo aja yang ngasih tau dia. Gua gak butuh cewek kek gitu. Dan mulai sekarang gue gak bakalan ganggu dia lagi!!”Klik. telfon ku matiin. Tetes demi tetes air mata ini mulai berjatuhan. Aku gak tertarik mendengar ending dari percakapan ini. Aku udah bisa menebak akhir dari semua ini. Kesabaranku selama ini berbuah kesia-siaan. Penantianku selama 1,5 tahun ini gak berarti apa-apa. Dia tidak ingin berubah seperti dulu lagi, malah dia mencampakkan ku. Dia diam bukan untuk introspeksi diri, dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa putus dari ku. dia tega berbuat seperti ini padaku. Aku kecewa, aku menyesal telah menjadikan dia bagian dari hidup ku.*****by : Nina Yusuffacebook : ninayusuf22@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*