Cerpen Remaja The Prince ~ 04 Update

Credit gambar : Ana merya
"Hai, kok bengong?".
Kevin menoleh, Seulas senyum tersunging di bibirnya begitu melihat sosok andre yang menepuk pundaknya sekaligus menyadarkan ia dari keasikan baca buku. Ralat, melamun tepatnya. Karena buku yang ada di tangannya hanya sekedar aksesoris belaka.
"Eh elo. Nggak kok. Gue kan lagi baca" kilah Kevin sambil menunjuk kan buku yang ada di tangganya. Tapi justrU Andre tertawa menanggapinya.
"Loe baca buku?. yang benar saja. Keajaiban dunia tu namanya. Kenapa?. Mau nyaingin pulau komodo?. ha ha ha" kata andre tertawa meledek.
"Sialan loe".
"Ya udah lah, jujur aja. Loe kenapa?. Ada masalah. Kok kayak nya muka loe kusut gitu?".
sejenak kevin terdiam. kemudian di tariknya bangku yang ada di samping sebagai isarat agar Andre duduk di sana.
"Gue lagi kerja kali" Tolak andre sambil memandang ke sekeliling yang memang kebetulan sedang ramai pengunjung.
"Udah loe duduk di sini aja" Desak Kevin.
"Ntar kalau ada yang protes gimana".
"Memangnya siapa yang berani protes sama gue?" kevin balik bertanya.
Lagi – lagi Andre menanggapi nya dengan sebuah senyuman yang kalau kevin boleh jujur membuatnya merasa tidak nyaman. Bukan karena senyuman Andre menyeramkan lho. Justru kebalikannya. Senyuman Andre malah membuat Kevin merasa gimana gitu.
"Nggak ada yang berani si emang. Sedangkan aja bos aja nggak pernah kompline sama sikap loe. Tapi kan tetap saja gue yang ngerasa nggak enak".
"Tapi ada yang pengen gue ceritain sama loe".
"Emm…. gimana kalau sehabis gue pulang kerja aja" Kata andre setelah mikir untuk sejenak.
"Masih lama nggak?".
Andre melirik jam yang melingkar di tangan. "Nggak kok paling sekitar setengah jam lagi".
"Oke deh kalau emang gitu. Gue tunggu".
Setelah pamit, andre kemabali malanjutkan tugasnya. Merapikan buku – buku.Sementara tanpa ia sadari tak sedetik pun kevin melepaskan pandangan memperhatikan gerak – geriknya. Entah mengapa setiap kali kevin melihat atau sedang bersama andre ia merasa tenang.
"Ada apa?" tanya andre begitu ia sudah menyelesaikan tugasnya.
"Gue Bolah cerita sama loe nggak?".
"Ha ha ha… Loe lagi sakit ya?".
"Kok sakit si?" Tanya Kevin heran.
"Ya ia lah. Kayaknya loe hari ini aneh banget. Secara sejak kapan lagi loe pengen cerita pake minta izin segala. Biasanya kan Langsung nyerocos aja".
Kevin jadi salah tingkah mendengarnya. Tanpa sadar ia mengaruk – ngaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus loe mau cerita soal apa?. Soal cewek itu lagi?" Andre kembali buka mulut. Lagipula ia sudah hapal sekali akan karekter sahabatnya itu.
"Memang nya tu cewek kenapa?. Dia bikin loe BeTe lagi?" Tanya Andre lagi begitu melihat anggukan kepala kevin.
"Ini bahkan sudah lebih dari sekedar membuat Bete".
"Oh ya?. Ada apa rupanya?".
"Gue bingung, Kok tu anak tau kalau kemaren itu gue nangis di taman kota".
“What?. Serius loe" Tanya Andre kaget plus penasaran. Tepatnya akting. Beneran, kali ini ia mati – matian menahan diri untuk tertawa. Entah kenapa melihat tampang Kevin seperti itu membuatnya ingin tertawa.
"Ya serius lah. masa ia gue bo'ong. Emang kemaren dia ada di sana ya?".
Mendengar gaya bicara kevin sepertinya ia sedang bertanya.
"Nggak tau. Secara kenal juga nggak. Tapi perasaan gue nggak liat ada siapa – siapa deh".
"Tapi kok dia bilang kalau dia ngeliat gue. Bahkan sempat merekam segala" kata Kevin frustasi.
"Ha?!. Masa si?".
Diam – diam andre mengigit ujung bibirnya jika tidak ingin suara tawanya benar – benar meledak. Dalah hati ia bergumam memuji diri sendiri bahwa sepertinya ia punya bakat jadi artis. he he.
"Gue juga bingung. Kalau sampai anak -anak yang laen ngeliat gimana?. Bisa langsung ancur image gue".
"Emang gimana ceritanya si?" Tanya andere.
Dan tidak perlu mendengar pernyataan kedua, Meluncurlah cerita itu dari mulut kevin dengan lancarnya tanpa ada sedikti pun yang ditambahi atau pun di kuranginya.
"Terus loe sekarang mau ngapain. Gue tau loe bukan type orang yang akan pasrah menerima nasib".
"Nah, itu dia masalahnya. Gue bukan cuma bingung dari mana tu cewek tau, Tapi gue juga bingung gimana cara ngasih pelajaran ke tu cewek".
"Perasaan dari kemaren loe bilang mau ngasi pelajaran terus. Mang tu orang nggak paham – paham ya. Ah, kayaknya loe nggak bakat jadi guru deh".
"Bukan gue nya yang nggak berbakat tapi tu anak nya yang kelewatan" Kevin sewot,
"Terus?".
"Gini deh, loe punya ide nggak. Apa gitu, biar tu anak bisa tutup mulut?" kevin balik bertanya.
"Eh apa ya?. Gue juga bingung" Balas andre.
Untuk beberapa saat keduanya sama – sama terdiam sambil mikir sampai kemudian.
" Gue punya ide" Teriak kevin tiba – tiba.
"Eh malaikat lewat" Andre yang mendengar teriakan kevin ikut – ikutan berterik. Keduanya sama – sama kaget plus penasaran.
"Apa hubungannya sama malaikat?. Loe kalau latah kok nggak elit banget si?. Lagian kayak cewek aja pake latah segala" Ledek Kevin tersenyum geli. Andre manyun mendengarnya.
"Leo lebih nggak elit lagi. Ngapain pake teriak segala si?. Lebay".
"Soalnya gue seneng banget nie. kayak nya gue punya ide deh".
"Oh ya?. Apa?" Andre penasaran.
"Gini, gimana kalau besok gue rampok handphone nya?".
"HA???!!. Rampok?. Masa loe mau ngerampok. Dimana harga diri loe. Kalau dia tau pasti loe bakal lebih di rendahin lagi".
"Hem ia juga sih" Ujar kevin beberapa saat kemudian. "YA udah kalau gitu gini aja, Gimana kalau gue suruh orang buat ngerampok dia. kan dia nggak tau kalau orang itu suruhan gue. gimana?" tanya kevin.
"ehem, terserah loe aja deh".
"Ya udah kalau gitu besok gue bakal ngambil handphone nya dia" Kata kevin sambil tersenyum misterius. Sepertinya andre juga melakukan hal yang sama. *Dan setelah star night melakukan penelitian dari tadi mereka selalu melakukan hal yang sama tapi kenapa maksut dan tujuannya berbeda ya?/Plak, Abaikan/Penelitian nggak penting juga*.
"Eh, tapi kev, gue punya satu pertanyaan deh ma loe. Gue heran kok dari kemaren loe cerita selalu make kata 'Tu anak' kenapa?".
"O… itu karena gue nggak tau namanya" balas kevin cuek.
"What!!!".
Next to cerpen the prince part 5

Random Posts

  • Kisah Cinta Ihsan dan Rubby

    Kisah Cinta Ihsan dan Rubbyoleh: Mentari SenjaMentari pagi ini tak begitu cerah, mendung menyelimuti awan sepertinya hujan akan segera turun. Pagi ini bukan pagi yang menguntungkan bagi Ihsan, pemuda berwajah manis itu hanya dapat memandang nanar langit gelap. Ini hari kedua Ihsan tidak dapat keluar mencari secuil rezeki untuknya dapat bertahan hidup setelah beberapa hari terakhir ini hujan mengguyur desa Slawi, tempat dimana dia tinggal. Kehidupan Ihsan memang serba kekurangan apalagi setelah sang ayah tega meninggalkan dia dan ibunya. Segala kebutuhan hidup dia dan ibunya menjadi tanggung jawabnya.“maaf mas… maaf.. jangan tinggalkan aku.. tolong… mas… tolong jangan tinggalkan aku dan ihsan…. akkkhhhhh…. tiiidaaaakkk…!! mas….” Rindu berteriak-teriak, segala macam barang yang ada didepannya langsung dia hancurkan.“ mas…jangan…jangaan…”“ibu… ada apa bu.. tenanglah bu… istigfar…” Ihsan memeluk ibunya, mencoba menenangkan. “ sudahlah bu, ikhlaskan saja ayah pergi, ayah tidak pantas untuk ibu sebut.”“tidakk.. tidakk… mas…” Rindu terdiam lemas, sekarang berganti tangis penyesalan.“bu, ibu jangan menangis lagi. Ihsan tidak ingin melihat ibu seperti ini. Ibu harus kuat. Ibu harus lupakan ayah “ Ihsan memandang ibunya dengan raut kesedihan, batinya teriris melihat keadaan ibunya yang tak kunjung sembuh. Rindu, ibu ihsan telah lama menderita depresi berat setelah sang suami pergi meninggalkannya demi perempuan lain. Saat itu Ihsan masih berumur 6 tahun, sang ayah diketahui telah berpaling dari ibunya. Tak diketahui sebab musababnya, dan pertengkaran itu dimulai ketika Rinto, ayah Ihsan terang-terangan meminta cerai kepada Rindu.“kenapa mas, apa salah saya hingga mas Rinto tega ingin meceraikan saya.”“hmm… kamu masih tanya kenapa. Kamu fikir aku tidak tau dengan perbuatanmu. Selama ini kamu telah membohongi saya. Dan saya tidak bisa terima ini.”“apa maksud mas, coba jelaskan.”“sudahlah, apa perlu aku bongkar semua kebusukanmu. Biar ihsan juga tau siapa sebenarnya ayah kandungnya.“jadi mas sudah tau yang sebenarnya, maaf mas… aku khilaf.. aku bisa jelasin itu semua mas.!” Rindu coba menjelaskan.“ahh sudahlah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, semuanya sudah jelas. Pokoknya saya ingin cerai dari kamu. Besok aku kirim surat gugatan cerai, dan kamu tinggal menandatangani saja.”“mas…tolong mas, jangan ceraikan saya. Aku bisa jelaskan semuanya. Mas..tolong jangan tinggalkan aku dan Ihsan. Ihsan masih butuh kamu” ditarik lengannya Rinto, mencoba membujuknya.Kejadian itu tak diketahui Ihsan, Ihsan yang saat itu masih berada di rumah neneknya tidak mengetahui bahwa orangtuanya terancam bercerai. Lama sudah ihsan mencari kebenarannya namun tak kunjung dapat.*****“hai Rubb, mau kemana kamu.” Tanya Shinta sahabat Rubby.“ hai shin, iya neh aku mau balik dulu, jadwal kuliahku sudah habis. Dan kebetulan bunda nyuruh aku buat belanja di supermarket. Jadi maaf ya, aku ga bisa pulang bareng kamu”“hmnm okelah kalo gitu, hati-hati dijalan ya Rubb.”seperti biasanya sebelum berpisah Rubby dan Shinta berpelukan. Persahabatan mereka sudah terjalin lama, sejak mereka berdua sama-sama kuliah di kampus yang sama.Rubby segera pergi meninggalkan Shinta, dengan motor maticnya dia melaju menuju supermarket terdekat untuk membeli titipan bundanya. Dalam balutan gamis warna biru muda dan jilbab yang serasi dengan gamis membuat wajah Rubby semakin terlihat cantik. Lesung pipitnya menambah keayuan senyumnya. Tak lama berselang Rubby telah sampai di supermarket itu.“alhamdulillah akhirnya sampai juga,” Rubby segera memasuki pintu supermarket.Dengan cekatan Rubby memilih barang-barang yang dibutuhkan, Rubby sengaja tidak ingin berlama-lama berbelanja dia hanya membeli barang yang dibutuhkan saja. Karena setelah ini masih banyak kegiatan Rubby yang harus dia lakukan. Selain kuliah, Rubby juga aktif dalam kegiatan sosial. Di lingkungan rumahnya Rubby terkenal dengan jiwa sosialnya, sikapnya yang lemah lembut serta ramah tamah membuat orang merasa simpati. Rubby hidup dalam lingkungan keluarga yang begitu kental dengan nuansa religi. Abah Rubby merupakan tokoh agama di lingkungannya, beliau aktif dalam kegiatan keagamaan. Selain mengajar ngaji di masjid beliau juga kerap kali menjadi penceramah disetiap acara-acara penting. Keluarga Rubby merupakan keluarga yang sangat dikagumi.“berapa mba, semua belanjaan saya” tanya Rubby pada kasir.“jadi total semuanya 150 ribu mba.”si kasir menyerahkan belanjaannya.“ini mba uangnya, terima kasih.”“iya mba sama-sama, terima kasih telah mengunjungi supermarket kami” kasir menyerahkan nota belanja itu kepada Rubby.Dengan langkah mantap Rubby keluar dari supermarket itu, dan langsung menuju ke tempat parkir. Namun belum sampai di tempat parkir tiba-tiba handphone Rubby berdering, belum tau siapa yang menelponya. Saat Rubby hendak mengambil handphone yang ada di tas Rubby secara kilat ada orang yang tak dikenal langsung mengambil tas Rubby dengan seluruh isinya. Sontak Rubby berteriak, meminta tolong. Rupanya sudah dari tadi gerak gerik Rubby diintai, ada orang jahat yang ingin mengambil tas Rubby yang diketahui banyak barang-barang berharga.“tolong…tolong…pak..tolong ada rampok…tolong pak…”Rubby berteriak meminta pertolongan.Saat Rubby sedang meminta tolong, terlihat sudah ada sosok pemuda yang sedang mengejar perampok itu. Dikerjanya perampok itu, tanpa peduli ada orang didepannya.Ya Allah, mudah-mudahan perampok itu tertangkap dan pemuda itu baik-baik saja terlintas dalam benak Rubby doa agar perampok itu segera tertangkap. Dengan gelisah Rubby menunggu apakah pemuda itu berhasil mengambil tasnya dari perampok.Selang 30 menit pemuda itu kembali dengan tas hitam ditangan kanannya, wajahnya terlihat lelah. Keringat bercucuran membasahi pelipisnya. Dengan segera pemuda itu mengembalikan tas Rubby.“terima kasih mas, mas sudah menolong saya” Rubby menerima tas yang diberikan pemuda itu seraya mengucapkan terima kasih.“iya mba, sama-sama. Makanya kalo bawa tas itu ati-ati jangan sembrono kaya gitu. Dasar cewe. Jangan Cuma penampilan yang di urusin” pemuda itu langsung berlalu dari Rubby.“gimana bang, rampoknya ketangkep ga?” tanya bocah cilik yang sedari tadi menunggunya dibelakang.”“udah gue kasih pelajaran, lagian macem-macem aja tuh orang operasi diwilayah gue.” Pemuda itu pun berlalu dari hadapan Rubby.Sedang Rubby hanya terdiam termenung, dia begitu tercengang dengan tingkah laku pemuda itu. Pengamen jalanan yang dengan dandanan amburadul tapi telah menolongnya, tanpa mau minta imbalan. Gaya super cueknya juga membuat Rubby heran.Sejak kejadian itu Rubby tak henti-hentinya memikirkan siapa pemuda itu sebenarnya. Fikirannya tak henti untuk segera mengetahui siapa dia. Timbul sedikit penyesalan kenapa saat itu dia tidak menanyakan nama sang pemuda.*******Matanya yang tajam, wajahnya yang manis dan……“aduh apaan sih aku, ko jadi nglamunin dia.“ Rubby menghapus lamunannya segera, dia tidak ingin larut dalam bayang-bayang pemuda itu.Rubby hanya tersenyum jika membayangkan kejadian itu, seolah tak percaya tapi kejadian itu telah membuat Rubby tidak bisa lupa akan sosok pemuda yang telah membuatnya penasaran. Dan hal ini adalah sesuatu yang tak biasa bagi Rubby, baru kali ini dia merasa sangat penasaran dengan seseorang apalagi laki-laki. Dengan wajah cantiknya, tidak sedikit kaum adam yang tergila-gila dengannya, namun kebanyakan dari mereka segan untuk mendekati Rubby karena merasa tidak sesuai. Apalagi selama ini sikap Rubby terlalu biasa untuk soal itu, dia belum tertarik untuk membangun suatu hubungan yang halal dengan seorang laki-laki. Kegiatan sosialnya dan kuliah sudah menyita banyak waktunya kalau hanya untuk sekedar mencari calon pendamping hidup. Terlebih lagi selama ini Rubby belum merasa ada ketertarikan terhadap sekian banyak kaum adam yang setia menunggunya.Namun kini berbeda, Rubby begitu tertarik terhadap seorang pemuda yang belum diketahui jelas siapa dia sebenarnya. Pemuda yang hanya sekilas saja ada di hadapannya, pemuda yang telah menolongnya saat tas Rubby dirampok orang. Ya..pemuda itu telah menyihir rubby, membuat Rubby selalu memikirkannya.Rubby merasa ada ketertarikan tersendiri dibalik baju kumel sang pemuda itu, sekilas saat Rubby menatap matanya ada perasaan lain dihatinya tak tau jelas apa yang sedang Rubby rasakan. Walaupun petemuan itu sangat singkat namun pertemuan itu begitu berharga, pertemuan yang membuat Rubby saat ini selalu termenung.**********“ibu makan ya… nanti ibu sakit kalau ibu terus-terusan ga makan.” Ihsan mencoba menyuapi ibunya. Namun ibunya hanya bergeleng, sang ibu hanya terdiam dengan pandangan kosong jauh menerawang entah kemana. Raganya memang ada disini namun jiwanya entah kemana.“ibu jangan seperti ini terus, ibu tau ga ihsan sedih banget ngeliat ibu kaya gini. Ihsan ngerasa sendiri bu. Ihsan pengen hidup seperti orang normal lainnya. bisa Selalu cerita sama ibunya, bisa manja-manjaan. Ihsan pengin ibu juga seperti ibu-ibu yang lain.” Hanya airmata yang terus menetes di pipi ihsan, walaupun beribu ungkapan ihsan lontarkan kepada ibunya namun ibunya tetap saja diam.Sejak ditinggal ayahnya ihsan hidup terlantar, kehidupannya sekarang sangat erat denga hidup dijalanan. Tanpa kasih sayang dari ibunya itu ihsan harus bertahan hidup. Namun walaupun keadaan ibu ihsan seperti itu, ihsan selalu menyanyangi ibunya. Dengan segenap hati dia selalu merawat ibunya dengan tulus, tak ada guratan kelelahan saat dia harus terjaga di malam hari untuk mememani ibunya yang sewaktu-waktu bisa saja menangis. Saat siang dia berusaha mencari rezeki untuk sesuap nasi baginya dan ibunya. Dari pengamen jalanan, sampai tukang parkir dia lakoni. Itu semua dia lakukan demi sang ibu, dia tidak rela jika sang ibu yang dia miliki satu-satunya terjadi apa-apa.“mas…jangan tinggalkan aku mas..tolong…mas..huhuuhuhu”kembali sang ibu terisak meratapi kejadian lampau. Dipeluknya tubuh ibunya, mencoba menenangkan walaupun dengan deraian airmata ihsan mencoba menghibur sang ibu.“sudah bu, ihsan disini… jangan sedih lagi.” dekapan seorang anak yang merindukan ibunya kembali normal seperti sediakala.***********Mentari pagi ini begitu cerah, secerah wajah Rubby yang berbalut hijab coklat. Gamis anggun yang dikenakan Rubby begitu cantik dipandang. Hari ini Rubby beserta kawan-kawannya akan mengadakan bakti sosial. Sudah banyak yang telah Rubby persiapkan, dari sembako hingga pakaian yang masih layak pakai Rubby kumpulkan, kesemuanya itu Rubby satukan untuk diberikan pada anak-anak yatim dan anak-anak jalanan. Kebetulan di kota itu terdapat sebuah desa yang berpenghuni warga kurang mampu. Di desa itulah Rubby dan kawan-kawannya mengadakan bakti sosial.“hai Rubby, wah..cantiknya hari ini, kamu begitu anggun” puji Shinta sahabat karib Rubby“ah kamu ni Shin berlebihan deh, kamu juga cantik ko apalagi kalau mau pake jilbab” Rubby tersenyum kecil menggoda Shinta“hmmm iya deh bu ustad…belum dikasih hidayah sama Allah.” Shinta menimpali“lakukan segera jangan tunggu nanti.”“iyaaaaa ibu ustad… insya Allah.. udah akh ayo kita berangkat” shinta langsung mengajak Rubby kedalam mobil rombongan para relawan dan donatur.“oke..”jawab Rubby singkatSementara didalam mobil Shinta sibuk membereskan perlengkapan, rubby kembali melamun, fikirannya jauh menerawang. Rindangnya pohon akasia di pinggir jalan menambah deretan keindahan alam yang Tuhan ciptakan, hawa sejuk pagi hari membuat suasana begitu nyaman. Nyaman juga untuk Rubby kembali memikirkan sosok pemuda misterius itu.“hai non…nglamun aja. Bukannya bantuin aku malah asik bengong.”tiba-tiba shinta telah duduk disebelahnya.“eh shin…ga ko, aku ga ngalumin apa-apa..aku Cuma lagi ngeliatin pemandangan aja, bagus ya.”Rubby kembali memandang keluar jendela dengan tersenyum.“ih ngaco deh, perasaan hampir tiap hari kamu lewat jalan ini dan kamu juga ga kaya gini banget. Pasti ada apa- apa deh, ayo ngaku…ada apa sih…cerita dong sama aku.”shinta mendesak Rubby.“loh bener ko ga ada apa-apa, kamu kali yang ada apa-apa.”jawab Rubby sambil tersenyum.“Ihh Rubby, apaan sih ko senyum-senyum gitu, ayo cerita dong…cerita ga…kalo ga aku kelitikin neh…ayo cerita…”dikelitikinnya Rubby hingga dia tertawa tak henti, dan keduanya saling bergurau sepanjang perjalanan.Satu jam perjalanan telah mengantarkan mereka, para rombongan relawan dan donatur ke tempat warga kurang mampu. Masing-masing dari mereka mengerjakan tugasnya sendiri-sendiri. Untuk relawan dan donatur laki-laki bertugas mengeluarkan barang-barang yang siap untuk disumbangkan sedang kaum hawa berbenah barangbarang yang telah diangkut didalam posko.Didalam posko, Rubby dan Shinta sibuk memilah-milah barang untuk dibagikan. Mereka mengelompokkan menurut jenisnya. Tugas Shinta mencatat berapa banyak sumbangan yang telah dikumpulkan.*********“terima kasih pak atas sambutannya, saya disini mewakili teman-reman relawan dan donatur ingin memberi sedikit sumbangsi terhadap desa bapak ini. Dan semoga apa yang kami beri bermanfaat bagi semuanya. Mungkin tidak banyak yang dapat kami berikan, hanya sekedar pelengkap kebutuhan dan tentunya doa dari kami agar warga disini terus dilindungi Allah SWT. Amien….”begitulah penutup atas sambutan ketua rombongan relawan, setelah tadi membagikan sumbangan kini rombongan ini segera pamit untuk pulang.“terima kasih bapa-bapa, ibu-ibu semua, kami disini sangat senang atas kedatangan kalian. Apa yang telah kalian berikan sangatlah bermanfaat bagi kami semua.sekali lagi terima kasih banyak” sambut perwakilan warga disini.Rombongan pun segera berlalu, semua relawan memasuki mobil. Namun sebelum Rubby hendak naik kedalam mobil tiba-tiba Rubby melihat ada sosok pemuda melintas. Dengan gaya yang tak asing lagi buat Rubby, sorot mata yang tajam serta wajahnya yang manis sangatlah meyakinkan Rubby bahwa dia lah pemuda yang selama ini mengganggu fikirannya, Dilihatnya dia baru saja datang dengan membawa gitar, yang roman-romannya habis mengamen. Sontak Rubby langsung mendatangi pemuda itu tanpa peduli kawan-kawan yang lainnya sudah hendak berangkat.“hai rubb, mau kemana kamu.mobilnya sudah mau jalan.”teriak Shinta saat melihat Rubby berlari kearah pemuda itu.“sebentar shin, aku mau ada urusan dulu”timpal Rubby tanpa memperdulikan Shinta.Dengan setengah berlari Rubby mengejar pemuda itu, sebelum terlambat dia menghilang. Akhirnya Rubby dapat berjumpa lagi dengan sosok pemuda yang telah membuatnya penasaran.“hei…tunggu…kamu yang bawa gitar…tunggu.” Rubby memanggil pemuda itu dengan nafas tersengal-sengal.Pemuda itu pun berhenti dan menoleh kearah shinta.“hmm iya ada apa..???” tanya pemuda itu kepada Rubby.“sebentar..” Rubby mencoba mengatur nafas. ”hmm…kamu masih kenal saya.” tanya RubbySepertinya pemuda itu kurang ingat dengan Rubby, terlihat dari wajahnya yang terlihat bingung. “siapa ya… maaf aku ga kenal.” jawab pemuda itu enteng.“Aku rubby, cewe yang dulu pernah kamu tolong itu. Waktu tas aku dirampok orang dan kamu berhasil mengambilnya lagi. Masih ingat.” Rubby mencoba mengingatkan pemuda itu.“hmmm…sebentar..” terdiam sejenak. “oh…kamu cewe ceroboh itu ya…ya aku inget. Ada apa lagi, kamu kerampokan lagi” jawab pemuda itu sekenanya saja.“oh bukan… aku ga kerampokan lagi ko, aku Cuma mau ngembaliin ini. Sapu tangan kamu terjatuh waktu kamu nolongin aku. Waktu itu mau aku kembaliin tapi kamu keburu pergi. Dan mungkin baru sempet kali ini aja aku kembaliin.” Rubby menyerahkan sapu tangan putih yang ditepinya terukir inisial ‘i’…“hmm kalau boleh tau nama kamu siapa, di sapu tangan kamu terukir inisial ‘i’” tanya Rubby“aku Ihsan…makasih ya.” ihsan langsung berlalu meninggalkan Rubby setelah mengucapkan terima kasih“eh.. ihsan.. sebentar jangan pergi dulu.” Rubby mencoba mencegah ihsan“apa lagi…….”“hmm ga apa-apa, ngomong-ngomng kamu tinggal disini ya” tanya Rubby dengan wajah sedikit tersipu“iya, kenapa” jawab ihsan santaiDan belum sempat Rubby mengobrol banyak, Shinta sudah keburu datang untuk mengajaknya pergi.“Rubby ayo cepat pulang, sedang apa kamu disini. Ayo pulang” shinta menarik lengan Rubby karena tidak ingin ketinggalan rombongan.“aduh Shinta sebentar,” menoleh ke arah ihsan, ”hei ihsan boleh kapan-kapan aku berkunjung ke tempatmu” tanya Rubby dari kejauhan.“ya boleh….”Inilah pertemuan kedua Rubby dengan pemuda itu, setelah pertemuan pertama yang tak terduga. Ada sedikit kelegaan dihati Rubby setelah mengetahui siapa nama pemuda itu, terlebih lagi Rubby kini telah tau dimana ia tinggal. Mungkinkah ada pertemuan ketiga, ke empat atau pertemuan-pertemuan berikutnya. Rubby tak tau pasti, tapi didalam hati kecilnya Rubby berharap agar dia bisa berjumpa kembali. Entah apa yang membuat Rubby seperti itu, yang pasti semenjak kejadian itu perasaan Rubby berubah, ada ketertarikan yang Rubby rasa terhadap sosok ihsan.Dalam renungan malam Rubby selalu berdoa agar pertemuan itu menjadi pertemuan yang akan bermakna nantinya.*****

  • Cerpen Cinta Remaja: AKHIR SEBUAH PENANTIAN

    AKHIR SEBUAH PENANTIANKarya : Wardhina Ayu WakhidatunAku hidup bukan untuk menunggu cintamu. Sulit ku terima semua keputusan itu. Yang kini hilang tersapu angin senja. Masih sulit pula untuk ku lupakan. Suram dan seram jika ku ingat kembali. Mungkin harus ku biarkan semua kenangan itu, agar abadi oleh sang waktu.Pagi ini cerah, hangat mentari yang bersinar dan sejuk embun di pagi itu membuat semangat untuk menuntut ilmu makin bertambah. Ku percepat langkahku. Seusai sekolah, ada ekstrakulikuler seni tari dan aku pun mengikutinya. Masih belum beranjak dari tempat duduk ku. Dari arah belakang terdengar suara yang memanggilku.“Idaaa, tunggu !”Aku pun melihat ke belakang “Kamu Raff, ada apa kok sampai tergesa-gesa ?” tanyaku penasaran.“Emmm, ada yang mau kenalan sama kamu !”“Tapi Raff, udah mau masuk kelas seni tarinya”“Ya telat dikit kan gakpapa”.Aku tidak menjawabnya. Aku bergegas pergi menuju kelas seni tari. Aku simpan kata-kata Raffi tapi aku tidak memikirkannya disaat aku sedang mengikuti seni tari.***Hari ini aku sengaja berangkat pagi, aku ingin menikmati udara pagi, walaupun jarak antara rumah dan sekolah dekat. Sewaktu istirahat aku kembali ingat dengan kata-kata Raffi kemarin siang. Siapa dia? Anak mana? Namanya siapa? Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Hingga aku tak sadar jika aku sedang melamunkannya.“Heyhey, mikirin siapa sih kamu?” Tanya Ega yang membuyarkan lamunanku.“Ha? Aku gak mikirin apa-apa tuh!”“Kok ngelamun sih? Haaa, masih keinget ya sama kata-kata Raffi kemaren?”“Ehh, apaan sih, mentang-mentang pacar Raffi trus kalian ngejek gitu, ahh gak asyiik”“Yaya, Cuma bercanda kok”Tiba-tiba Raffi datang menemuiku. Entah apa lagi yang akan ia sampaikan kembali. Aku sendiri tidak berharap jika kata-kata itu lagi yang akan ia sampaikan.“Daa, ikut yuk, dia mau ketemu kamu, tuh udah ditunggu di kantin” ajak Raffi.“Ahh, engga ahh, biarin aja dia samperin”“Kok gitu? Ya udah deh, ini kesempatan loh, kok malah kamu sia-siain” Ucapan Raffi didengar oleh Layla, yang juga saudara Raffi.“Ehh, ada apaan nih, keliatannya seru! Ada apa sih Raff, kok gak bilang-bilang?”“Gak ada apa-apa, udah nanti aku ceritain”Bel masuk kelas pun berbunyi, aku segera masuk kelas. Dan aku mengikuti pelajaran yang berlangsung hingga usai. Pulang sekolah biasanya aku jalan sendiri, jarak rumah deket.“Ciiye Idaa” goda Layla“Ada apa sih?” tanyaku penasaran.“Tuh, orang yang di depan gerbang pake tas item ada corak biru, itu orang yang mau ketemu kamu.”“Ha? Siapa dia? Namanya siapa?”“Dia Tyo, anaknya pendiem banget, dia sahabat karib Raffi sama Adi”Tanpa kata-kata apapun aku bergegas pulang, dalam perjalananku aku memfikirkan semua hal yang Layla beritahu tadi. Yah, Tyo, aku masih tidak menyangka kenapa dia mau bertemu, kenapa harus lewat temennya? Ah mungkin dia malu. Ya udahlah.***Hari ini mulai muncul kabar buruk, banyak yang menyangka bahwa aku ini adalah pacar Tyo, padahal bukan sama sekali. Aku kenal sama dia aja baru kemarin. Di sela-sela pelajaran aku gunakan untuk menuliskan sebuah kata-kata. Sepertinya aku memang benar-benar jatuh hati pada Tyo, “ahhh, kenal langsung aja belum kayaknya mustahil deh” kata itu selalu muncul di benakku.Saat jam istirahat, aku selalu melewati kelasnya. Aku selalu melihat tingkah lakunya, yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Oh mungkin inikah cinta? Aku pernah merasakannya tetapi aku tak ingin merasakannya lagi untuk saat ini.Setelah kita kenal begitu lama, aku mengenal dia dengan ramah, dengan baik, walaupun diantara kita tak pernah ada satu perkataan. Tiba-tiba semua perasaanku menjelma, berubah entahlah seperti apa isi otakku. Aku menyukainya, aku menyayanginya. Aku yakin dia pun begitu, tapi aku tidak pernah pecaya itu, aku tidak pernah percaya bila ia menyukaiku juga, aku hanya berharap begitu banyak padanya.Hari ini ekstra pramuka sebenarnya, aku sama Tyo mau bicara tapi dia tetap tidak mau. Dia tetap tak membuka kesempatan untuk perasaan kita. Tapi aku masih yakin bila dia benar-benar mencintaiku. Sore itu aku hanya pulang dengan semua mimpi ku yang telah pupus. Aku tak membawa secuil harapan lagi untuk rasaku ini.*** Malam ini aku tulis surat untuk nya. Aku harap ada sedikit respon darinya. Dan respon itu tidak membuatku patah hati dan patah semangat. Aku tahu Tuhan pasti mengerti disetiap mimpi dan harapanku.Setelah selesai aku pun tidur. Hari ini aku sengaja bangun pagi, selain aku piket aku juga ingin melihatnya lebih awal, hehe. Aku datang pertama di sekolah, datang pertama juga di kelas, aku langsung piket, bersihkan semuanya. Setelah selesai, aku kasih surat itu langsung ke dia. Aku tak pernah mengira hal buruk apapun akan menimpa kita setelah surat itu kau baca. Tiba-tiba Imma datang mengetuk pintu kelasku. Dia meminta ijin dahulu, lalu memanggilku untuk menemuinya. Aku yang bingung, langsung saja aku menurut. “Nich surat dari Tyo!” kata Imma sambil memberikan surat dari Tyo.“Apa ini? Jawaban suratku tadi pagi ya?”“Iyaa, baca aja, dia bilang dia minta maaf kalo udah nyakitin perasaan kamu, dia gak bermaksud kayak gitu, ya udah baca aja.”“Iyaa, makasiih udah ngaterin suratnya, aku titip salam buat dia”Seketika aku menangis, air mata ini sudah tak bisa ku tahan lagi. Tetes demi tetes mulai membasahi wajahku. Lalu ku hapus lagi begitu pun seterusnya. Aku masuk kelas dan aku lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda, aku anggap saja ini semua tidak pernah terjadi.“Ada apa sih, Yuk?” Tanya Ega.“Di.. dia.. dia udah jawab semuanya” kataku terbata-bata“Jawab apa? Bukannya diantara kalian itu tak pernah ada apa-apa?”“Dia gak suka aku Ga, aku sih fine tapi kenapa sih yang nganter harus Imma, dulu pas kamu sama Raffi putus, Imma juga kan yang nganter?”“Iya ya, kok aku lupa ya? Ya udah deh, kamu yang sabar aja, cowok itu gak Cuma satu kok, gak Cuma dia doang”“Iyaa Ga, makasiih” jawabku sambil mengusap air mataku“Iya sama-sama”*** Sulit menjalani hari tanpanya lagi, walaupun kita hanya sebatas gebetan, tapi ternyata hal itu membuat kita menjadi bersahabat. Berbulan-bulan aku nanti jawabanmu lagi. Tapi ternyata jawaban itulah yang sudah kamu tetapkan. Aku hanya pasrah, aku menangis, bagaimana tidak jika seseorang yang aku sukai ternyata telah membuatku menangis. Aku berharap suatu saat nanti Tuhan mempertemukan kita, dan Tuhan izinkan kita bersama. Jika Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama biarlah perasaan itu menjadi sebuah kenangan masa SMP kita. *THE END*Biodataku Nama : Wardhina Ayu WakhidatunFacebook : Adhina Wakhidatun Twitter : @wardhina_ayu

  • Cerpen Remaja: BULAN PENUH KECEWA

    BULAN PENUH KECEWAOleh Cha HfgRilyaApril…..Dalam hidup ini aku tidak pernah berpikir semua hal yang bernama kemunafikan atau hal yang membuat sakit hati. Hari ini tepat 1 tahun hari jadian kami, aku bahagia memiliki dia, orang yang selalu setia dan sabar dengan sikap ku yang super egois. Dan satu hal yang buat aku hari ini agak tampak lesu , aku berencana buat putus tepat di hari jadian kami. Sesuai rencana kami bertemu setelah aku pulang sekolah. Saat di gerbang sekolah aku sudah disambut oleh senyum manisnya.“capek ya?” sapa Rian“nggak kok kak, nggak kuliah hari ini?”berusaha untuk basa basi“kuliah cuman tadi jam9 udah pulang”“oke deh, pulang yuks , panes banget” aku mengibaskan tangan ku sambil menahan panas teriknya matahari.Diperjalanan pulang aku masih tetap diam, dia Nampak kebingungan dengan tingkah laku yang aku lakukan.“Lha, kamu gak enak badan ya? Kok diam aja dari tadi”“ehmbt gak juga, oh ya aku ada yang ingin di omongin”“ngomong aja”“aku tau kita akhir-akhir ini sering berantem , dan aku juga tau kakak selalu mengalah dengan semua masalah kita, tapi aku merasa berdosa kalo gak ngomongin ini ke kakak, kakak kenalkan sama Dion?”“oh dia itu kan selalu kamu cerita”“iya, dan sekaranga ku sama dia udah deket, dan kayaknya aku gak bisa ngelanjutin hubungan kita, maafin aku”“Lha hari ini seharusnya kita bahagia, kenapa harus ngeluarin kata-kata yang bikin hancur berantakan, aku tau kamu becanda” lau menghentikan motor ninja nya.“gak kak ini beneran, maaf”“udah nyampe Lha , aku pulang dulu, oh ya moga pilihan kamu itu tepat”Satu bulan ini aku benar-benar gak tau dengan kabar Rian, dia gak pernah telpon ataupun sms aku duluan, kalopun aku sms atau telpon dia gak pernah bales n ngangket, dan hubungan ku sama Dion sekarang resmi jadian, dia lucu buat aku gak kaku kalo berhadapan bersama dia beda sama Rian.dia juga senang bergaul sama sahabat aku, dan sahabat aku juga menyukainya.Kami bersahabat lima orang, Sinta, Intan,Aira, dan Melinda. Kami selalu kompak disekolah, kami udah bersahabatan mulai dari kecil dan sekarang ini kami kelas 3 SMA . dalam 2 bulan ini hubungan aku sama Dion baik-baik aja, bahkan bisa dibilang mengasyikkan. Dia nganterin aku, suka ngumpul bareng sahabat aku, dan juga dia akrab sama keluarga aku, itu yang aku suka, dan buat aku benar-benar ngelupain Rian.Sebenarnya awal perkenalan aku dengan Dion saat itu dia punya sepupu yang sekelas dengan aku, karena aku juga termasuk siswi yang smart d SMA itu maka aku suka koleksi buku paket, jadi dia minjem buku paket, karena ada tugas dari kampusnya. Sejak itu kami mulai dekat tapi gak langsung jadian karena aku lebih tertarik sama Rian yang kata-kata anak dia super pintar di kampusnya, dan akhirnya aku jadian sama Rian bukan Dion.September….Hari ini, sahabat aku ngajak ngmpul, aku juga gak tau kenapa dadakan sekali, katanya ada yang mau di omongin, sore itu mereka nyampe dirumah aku.“tumben banget ya dadakan banget, besok disekolahkan bisa cerita”“ohya Lha, gimana hubungan kamu sama kak Dion?”Intan memulai pembicaraan.“baik-baik aja, barusan juga baru telponan, kenapa?"“aku dan temen-temen gak suka kamu sama dia, mending kamu putusin aja kak Dion” ujar Intan semangat.“kenapa? Kok gitu? Emank ada salah apa?”“Lha, maafin aku yah, aku baru sekarang ngomong sama kamu , kak Dion dalam seminggu terakhir ini sering ngajak aku ketemuan, dan katanya hari ini akan putusin kamu demi aku, tapi aku bilang gak bisa, karena aku sayang kamu Lha. Dia gak pernah suka sama kamu, dia Cuma mau main-mainin kamu dan aku harus jujur sama kamu, kak Dion itu jahat Lha” Melinda sambil memelukku.“apa?” entah apa yang aku pikirkan yang pasti aku ngerasa dadaku sesak dan benar gak terasa air mata itu jatuh tanpa aku sadari ,“udah lah Lha, kenapa harus nangis harus yang sekarang kamu lakuin putusin dia, kamu mencintai orang yang selama ini nggak pernah suka sama kamu” Sinta berusaha untuk menegaskan.Aku mengambil handphone ku dan menelpon kak Dion, dan terdengar suara disana yang membuat aku sebenarnya enggan untuk bicara.“hallo, kenapa Lha?”“makasih ya kak, sayangnya aku nggak niat lagi kita pacaran , dan jangan lagi ganggu hidup aku, kita putus”Udah 2 hari ini aku gak pernah mau ketemu sama Dion, dia udah telpon berkali-kali aku gag pernah angkat , aku tau mungkin dia merasa bersalah dengan sikapnya yang begitu. Saat aku lagi tiduran dirumah , terdengar suara ketukan pintu, dan aku keluar yang aku lihat sosok Dion yang Nampak pucat.“kenapa? Apalagi?aku lagi sibuk buat tugas”“kakak pengen ngomong Lha, setelah kakak jelasin kita boleh berakhir”“masuk” dengan wajah bête“Lha, maafin kakak untuk itu, mungkin rasa suka kakak terhadap Melinda salah”“gak kok kak, itu udah hak kakak buat sama dia”“jujur awal kita pacaran kakak nggak pernah suka sama Lala, tapi saat saat kakak kehilangan Lala , kakak merasa menyia-nyiakan orang yang benar-benar sayang sama kakak, kakak butuh Lala, percaya ato gak, kakak pengen kita kayak dulu”“maaf kak, kayaknya aku nggak bisa, lebih baik kita akhiri saja, aku udah ikhlasin semua, jadi sekarang aku ingin kakak jalanin hidup kakak dan juga aku sebaliknya”“ makasih, tapi kakak masih berharap kita bisa seperti dulu, dan kakak benar2 ingin menebus dosa kakak”“gak ada yang salah”Sejak saat itu dalam pikiran ku benar-benar ingin melupakan semua hal terindah itu, karena saat setiap kali mengingat Dion yang ada rasa sakit karena dia berusaha mencintai ku hanya untuk buat aku tersenyum. Dalam kesendirian ku yang ada bayangan Rian sering muncul , dia yang benar-benar mencintai ku malah aku sia-siakan. Mungkin ini juga karma buatku.Dan aku akan menjadikan ini pelajaran, bahwa tidak selalu orang yang kita cintai itu baik untuk kita, maka itu aku tidak akan pernah menyianyikan orang mencintaiku hanya untuk orang yang aku cintai.THE ENDTentang PenulisNama : Cha AnisaE_mail : cha_hfgrilya@yahoo.comFB : hfgrilya_ca@yahoo.com ( Anysa HfgRilya )Twitter : @chastargeonBlog :Cewek Smart n Happy

  • Cerpen Romantis: HADIAH TERINDAH (bagian kedua)

    Cerpen Romantis yang berjudul Hadiah Terindah ini merupakan bagian kedua dari cerpen sebelumnya dengan judul yang sama. Untuk lebih memahami bagian kedua ini, sebaiknya baca dulu bagian pertama cerpen Hadiah Terindah.HADIAH TERINDAHOleh: Rizki NoviantiSetelah perpisahan terakhir dengan randy saat itu perasaan ku memang terasa sedih tak ada lagi yang membuat ku tersenyum, tertawa, membuat ku menangis.. tapi ku bulatkan hati untuk berusaha tegar menghadapi kehidupanku kini tanpanya jauh, hati ku membulat aku pergi bukan untuk selamanya aku hanya ingin mencari bahagia.Sebulan berlanjut kita tak saling bertemu atau bertatap muka bahkan hanya sekedar pesan singkat pun tak ada darinya, menyedihkan memang terasa dalam hati rasa sepi kadang menyelimuti perasaan ku tak jarang aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri apa yang sedang dia lakukan saat ini ?? bagaimana dengan keadaannya kini?? Aku hanya bernapas panjang tanpa tahu dirinya disana.Tak harus selalu bersedih atau terus meratap karna berada jauh darinya, ku mencari-cari kesibukan ku agar tak selalu terfikirkan akan bayangnya. beminggu-minggu, berbulan-bulan akhirnya 1 tahun berlalu ku tak bersama dengan nya lagi, tak bisa melihat senyumnya, mendengar suaranya, menatap matanya, bercanda gurau dengannya tak ku rasa lagi dengan segudang pekerjaan ku di sekolah.Liburan sekolah telah tiba bingung kemana untuk mengisinya. Satu tahun dengan pekerjaan yang melelahkan, ku putuskan untuk melepas penat sejenak di kampung, ingin menikmati pemandangan yang indah, udara sejuk, dan suara-suara yang membuat hati terasa damai. sibuk mengepak pakaian dan membereskan rumah tiba-tiba terdengar suara sms masuk di handphone, ku lihat siapa yang mengirimkan pesan dan ternyata tak ku sangka itu randy. Aku tersenyum.Setelah satu tahun tak pernah ada kabar darinya ku kira dia sudah melupakan aku ternyata tidak masih ingat saja nomor handphone ku.. tak percaya randy ingin mengajaku jalan-jalan di kampung.“hhahaha.. masih ingat saja dikau” kata ku.Ku berjanji besok lusa sudah berangkat ke kampung tak sabar rasanya ingin cepat-cepat. Hari yang ku tunggu sudah tiba dengan mengendarai sepeda motor ku tancap gas agar cepat-cepat sampai di kampung dan bertemu randy di sana. sampainya ku di rumah ternyata hari tak memungkinkan untuk ku dapat menemuinya tetapi randy terus mengirimkan pesan ku berharap semoga hari dapat berganti cerah, ku susuri jalan dimana randy berada meski lelah randy pun seperti ku.Rintik hujan mulai turun satu persatu butiran mutiara terjatuh serempak ku mulai kesal, marah ingin rasanya aku menangis saja “dimana dia saat ini ??” dalam hatiku berkata. dengan perasaan kecewa ku kirimkan pesan pada randy menyuruh nya untuk pulang saja aku tak ingin dia sakit hanya karna kehujanan untuk menunggu ku..Setibanya di rumah badanku menggigil kedinginan dan pakaian ku basah kuyup karna hujan, ku tarik selimut dan bergegas tidur randy mengirimkan pesan untuk minta maaf, tak ku hiraukan.“bodoh nya aku ..” kesal ku hanya dalam hati. saat malam randy menelefon ku.“hallo..” terdengar suaranya di balik telepon“kenapa dy..?” tanya ku ketus“ky maaf ya.. dah ninggalin kamu kehujanan tadi siang.. tapi besok bisakan?” tanya randy“yaa ga apa-apa lah.. besok ku gak janji”“emang nya kenapa?”“besok ada latihan basket, mungkin lusa atau aku gak tau?”“oh ya sudahlah..” Randy langsung memutuskan teleponnya..“dasar cowok aneh..sampai kapan siih dia akan terus bersikap dingin seperti itu.. sejak smp dia gak pernah berubah apa yang ada di dalam fikirannya aku gak pernah tau.. tapi kenapa ya banyak cewek-cewek yang menyukainya padahalkan jelas-jelas dia seperti itu mungkin karna ahhhhhh entah lah memikirkannya membuat ku pusing..!” cerita ku di buku diary..Setiap kali ku tuliskan keinginan ku di buku kecil itu pasti akan terwujud, tak ayal hanya sebuah buku kecil yang di dalamnya banyak sekali tulisan-tulisan tangan tentang cita-cita dan harapan ku.Suatu saat ku tuliskan keinginan jika suatu saat ku bertemu randy aku tak akan menjadi cewek tomboy, aku akan bersikap manis seperti perempuan lainnya yang dia kenal. berubah hanya untuk seseorang yang tak bisa jadi harapan hanya sebatas khayalan dan angan-angan yang selalu ada dalam otak dan fikiran ku selama 3 tahun ini.***Hari rabu 29 juni 2011 skitar pukul 01.00 hari yang cerah tak ada hambatan lagi saat ku ingin menemuinya. ku berjalan menyusur, ku lihat dari kejauhan wajah yang tak asing bagi ku, tersenyum manis saat dirinya menyapa dengan sepeda motor khas anak muda. melihat dirinya saat ini terasa berbeda apa karna 1 tahun tak penah berjumpa, semakin dewasa ku melihatnya. pertama kali berjumpa dengannya lagi dia malah meledek ku katanya aku jadi jerawatan “aghhhhhhtr menyebalkan dasar aneh” ketusku. tak apalah aku sadar sendiri punya jerawat. lets gelegot on the way menuju tempat tujuan only berdua aku dan randy. Senang nya.Sepanjang perjalanan kita banyak mengobrol, bercerita tentang sekolah kita, masa smp, teman-teman sekolah, banyak membuat ku tertawa dan kembali tersenyum seperti dulu.“ ya tuhan apakah ini hadiah terindah yang kau berikan pada ku saat ini. terima kasih atas semuanya aku sangat bahagia bisa berada bersama seseorang ku lagi” pejamkan mata dan berdoa.Sampai di tempat tujuan.. randy mengajak ku ke tempat yang indah yang tak penah ku bayangkan sebelum nya di atas bukit ku bisa melihat apa saja pemandangan yang indah.Jalan berdua seperti adik dan kakak karna randy yang sedikit lebih pendek dari ku hanya beda beberapa cm saja. terus saja dia meledek ku sejak awal pertama bertemu, aku yang takut ketinggian di paksa harus turun bukit mana harus lepas sendal segala.“haduuuuuuh” kata ku, randy tertawa puas sudah mengerjai ku tahu saja dia kalau aku takut ketinggian..“wiiidiiiw.. akhirnya nyampe juga. good job i like it” kata randy.“sesuatu dy.. puas loe yaa??” jawab ku kesal sambil memasang sandal ku sendiri.Sesekali dia memandang dan tersenyum pada ku, genggeman tangan nya serasa bukan dia yang ada di sampingku. ku rasa kan detik demi detik bersamanya, randy hanya diam saja tak berkata apapun tentang sesuatu, ku berharap dia akan katakan itu satu kali lagi ku ingin dengar dari ucapnya namun sayangnya tak ada yang terucap..“mirip shinta” kata nya spontan saat melihat ku.“haah?? Shinta yang mana?? Jangan bilang shinta temen smp??” tanya ku penasaran dengan nada sedikit ketus padanya.“ahh… gak apa-apa kok” randy gelagapan.“ihh nyebelin bgt sii” kesal ku dengan wajah menekuk.Aku heran kenapa dia sebut nama itu padahal yang ada di sampingnya hanya ada aku dengan spontan dia menyebutkan nama “shinta”.. agak kesal memang tapi aku tak ingin melewat kan hari ini dengan rasa kesal ku saja, bingung harus berkata apa lagi aku diam saja tak bicara apa-apa.Percaya kah ini hanya 30 menit kita bersama 30 menit kita menikmati pemandangan indah?? “huuuuph sangat menyedihkan” kata ku dalam hati.. aku hanya menggerutu saja di fikiran tak ku lampiaskan lewat ucapan.. waktu semakin cepat berlalu kenangan indah kan terlewati begitu saja. akhirnya kita akan benar-benar mengakhiri hari ini, sepanjang perjalanan pulang ku nikmati saat-saat berharga itu. sesekali dia memukul kaki ku.“sakit tauuu gak usah mukul-mukul kurang kerjaan” kata ku.“wiidiiw marah.. sorry” randy meledek.“pegel ahh, dari tadi jalannya belok-belok mana jauh lagi” aku menggerutu.“tapi gak menyesalkan??” katanya“iya lah gak salah” aku menaikan halis dan tersenyum.Setengah jalan pulang aku diam saja tak enak badan randy bertanya padaku“kenapa ky sakit??”“gak tau nii udaranya dingin banget” keluh ku.“yaudah pegangan ajja ya. disini tuu emang dingin tapi udaranya sejuk gak kayak di bandung ‘polusi’ bener gak??”“hmmm” jawab ku singkat..Semakin sore semakin dingin tak sadar tangan ku sudah melingkar di perutnya, randy juga tak berkata apa-apa. hangatnya, tempat sandarannya, aroma tubuhnya mengingatkan aku pada seseorang yang selalu mengajaku main basket setiap minggu. Sampai juga di tempat terakhir dekat rumahku, tak ku sangka secepat ini ku rasakan. sebelum aku benar-benar pergi randy menggenggam tanganku eraaaaaat dan dia berkata.“maaf bila ini tak cukup untuk membuat mu tersenyum lagi, membuat mu tertawa, namun melihat mu saat ini membuat aku sangat bahagia. jujur saja aku tak ingin kau pergi lagi tapi ku tau hati mu keras dan aku tau kau tak akan pernah bisa untuk melupakan aku begitu pun dengan aku.. thankz untuk hari ini!”ucapnya penuh haru.“kamu tau aku pergi bukan untuk selamanya, aku pasti akan kembali suatu saat nanti. aku tak bisa mengatur hidup mu untuk ku. mungkin sakarang baik nya kita hanya berteman karna aku takut tak bisa bertahan. thankz juga untuk hari ini..” timpal ku.Janji kita berdua tak akan saling melupakan meskipun jauh jarak diantara kita, jauh yang terpisah kan oleh waktu, jauh diantara kita tentang rasa yang tertinggal namun bagi ku randy akan selalu dekat.. dekat.. dan akan selalu dekat di dalam hati ku tlah ku ukir namanya.***Beberapa minggu kemudian perasaan ku agak sedikit mengganjal tentang randy, ku coba lihat status facebooknya ternyata.. “hoalaaaaah.. dia udah punya pacar lagi jangan bilang sama yang nama nya shinta itu.. nasib..nasib ditinggal patah hati lagi daah…” gerutu-gerutu dan terus menggerutu…!!!***NAMA :RIZKI NOVIANTIALAMAT :JLN.SOMA2 NO.26 BANDUNGFB :rizki_ccc@yahoo.co.idE_MAIL :purnamarizki16@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*