Cerpen Remaja Terbaru “Tentang Rasa” 01 {Update}

Ehem, masih pada inget kan cerpen remaja tentang aku dan dia. Atau cerpen cinta rasa yang tertinggal?. Kalau lupa silahkan di flashback ke belakang. Soalnya kali ini Penulis datang membawa cerpen terbaru yang 'katanya' masih berhubungan sama kedua cerpen tersebut. Tiga sih sebenernya. Cuma yang satunya hanya bisa di cek langsung disini.
Nah, cerpen terbaru kali ini Penulis ambil dari pengabungan kedua judul cerpen tersebut. Soal jalan cerita liat ntar aja deh. Yang jelas nie cerpen tercipta karena merasa rasa yg tertingal bukan gaya star night banget.
Tau kenapa?. Karena penulis beneran benci SAD ENDING. Alasannya Dunia nyata sudah cukup menyedihkan so kenapa harus pake di bawa ke dunia cerpen segala?. *Lebay*.
Okelah, Penulis udah terlalu banyak bacod kayaknya, mending langsung ke lokasi yuk.

Credit Gambar : Ana Merya
"Antara maaf dan terima kasih, bukankah kata terima kasih itu lebih baik?.
*adaptasi dari my girlfriend is gumiho*.
"dibalik sikapnya yang terlihat dingin dan begitu cuek, tersimpan begitu banyak rasa dan cerita yang membuat aku semakin tertarik untuk mengenalnya".
Cerpen Remaja Terbaru"gila, tu mahasiswa baru keren banget si. Sayang anaknya cuek gitu" kata anya sambil mengaduk – aduk mi ayamnya.
" he'eh" angguk Nanda setuju.
"tadinya gue juga sempet mikir kayak gitu. Apalagi waktu gue pertama kali ketemu. Baru juga ketabrak gitu aja dia udah nyolot. Cuma kalau sekarang menurut gue anaknya asik kok. Emang si kesannya dia tertutup gitu. Mana pinter lagi" kata cewek di sampin nanda yang tak lain adalah gresia yang memang pernah mendapat tugas bareng.!–more–>
"masa sih?" Anya masih sanksi, gresia hanya membalas dengan anggukan mantab.
"eh, kalian lagi ngomongin apa si?. Ada gosip terbaru lagi ya?" tanya Angun yang baru nongol setelah hampir seminggu 'terdampar' di rumah neneknya di desa.
"ya ela non. Ketingalan pesawat loe. Kalau sekarang si nie udah bukan kabar terbaru lagi. Tapi udah basi kale. Makanya loe kalau baca itu koran sindo jangan koran kiloan" ledek Nanda ngak nyambung sambil geleng – geleng kepala.
"tepat nya gue gx pernah baca koran. Bikin sakit ati aja kayak sandal jepit" pangkas angun cepat.
"lagian siapa bilang gue ngak tau kabar terbaru?. Orang gue selalu update kok. Apalagi kalau soal gresia sama arga yang 'katanya' udah nangkring di USA n gak mau LDR an tapi chat jalan terus. Cuma yg gue sesalkan sekarang gue udah ngak punya harapan lagi buat jadi menantu pak presiden" kata Angun yang membuat teman – temannya menatap miris. Secara kok bisa ya, mereka punya sahabat selebay nie anak.
"eh, BDW on the busway, mahasiswa baru itu siapa namanya?. Lagian nggak enak banget gelarnya. Kasian tau orang tuanya yang udah ngasih nama. Kan kali aja dulu waktu syukuran ngasi nama pake korban seribu belalang" sambung Angun lagi.
"Sumpret, loe makin lebay banget si".
Angun hanya mencibir ledekan anya. Tapi tak urung ia beneran penasaran.
"Alan" jawab Gresia singkat.
"o" ujar Anggun sambil menganguk – angguk. Gak tau deh apa maksutnya.
"jadi namanya alan… Hemz, gue jadi penasaran. Kalau dia emang beneran cuek, akan gue bikin dia jadi ceria. Kalau emang dia itu 'dingin' akan gue bikin dia mencair. N kalau dia emang…".
Tanpa perlu isarat, aba-aba atau komando, Anya, Nanda dan Gresia sudah kompak beranjak dari duduknya. Meninggalkan Anggun yang nggak tau kumatnya sejak kapan. Atau jangan – jangan waktu liburan ke rumah neneknya kemaren kesambet lagi * kalau yang nie jelas Penulis yang lebay *.
Cerpen remaja terbaru
"hai, sapa anggun SKSD alias sok kenal sok deket.
Alan mengangkat wajahnya, menoleh siapa yang telah menyapanya. Namum tidak sampai lima detik, ia sudah kembali fukus pada buku di hadapannya tanpa ada sepatah kata balasan pun yang keluar dari mulutnya.
"anak – anak pada bilang si loe ' katanya' * star night cinta mati sama nie kata * mahasiswa baru ya?. Nama loe alan kan?" sambung anggun TTM * artiin sendiri *.
"Kalau udah tau ngapain nanya?".
"Busyet, ternyata nie anak beneran songong" rutuk anggun dalam hati.
"Yah gue kan emang udah tau elo, tapi gue juga tau, loe pasti belom tau gue kan?".
"Dan yang perlu loe tau, gue nggak pengen tau tuh kayaknya"
JEDER
Rasanya tuh kayak jatuh saat pertama sekali belajar mengayuh sepeda. Mendarat tepat di aspal dan tergores kerikil, di tempat rame lagi. * tadi nya Star Night pengen gunain kalimat di iklan tapi lupa, lagian ntar di anggap plagiat lagi. He he *. Kira – kira gitulah yang dirasakan anggun saat mendengar ucapan alan. Untuk lebih jelas langsung praktek aja.
"gue kan promosi, soalnya gue nggak pantes jadi model iklan shampo, rambut gue kan cepak (???)".
Sebuah senyuman terukir manis di bibir anggun tapi justru malah membuat alan bergidik ngeri. Mungkin dalam hati ia mikir "apa jangan – jangan ada pasien RSJ yang kabur ya?". Kemudian tanpa basa basi alan langsung beranjak pergi meninggalkan anggun dengan tampang cengonya.
Cerpen remaja terbaru
to be continue
Oke, untuk part awalnya cukup segini dulu ya. Mungkin terkesan nya pendek banget. Tapi coba bayangin jika ngetiknya pake hape 6300 yang untuk membuat huruf 'c' aja harus menekan tombol yang sama tiga kali *plaks, kebiasaan curcol ngax ilang – ilang*.
PS: Karena ini versi update so jelas lanjutannya udah ada. Bisa langsung di klik di cerpen remaja tentang rasa part 2
Ah sama satu lagi, Jangan kalian pikir penulis kurang kerjaan ya pake acara update meng update. Ini terpaksa tau, yang jelas penulis nggak mau blog penulis bernasip sama kayak facebook. TITIK

Random Posts

  • Cerita SMA “Be The Firs & The Last”

    Hallo Reader Star Night. Star Night datang lagi ni. Kali ini dengan Cerita SMA , Cerpen Kiriman dari Salah satu Reader Star Night. Gimana ya Ceritanya?. Langsung sama – sama kita cek yuks. Lets Go…..Credit gambar: Ana MeryaCerita SMASophia, terkenal sebagai cewek palinnngggg jutek di sekolah SMP 1. Dia sebetulnya baik, tapi dia tidak suka ama yang namanya ‘cowok’. Kejadiannya, dia pernah diputuskan oleh mantan pacarnya dengan alas an yang sangat tidak masuk akal. Coba aja pikirkan, masa alasannya karena, Tony (mantan pacar Sophia) sudah bosan dengan Sophia. Jelas saja Sophia langsung pergi dengan hati remuk. Rasa marah, sakit hati, kesal bercampur aduk jadi satu. Vanes dan Dila, BFFnya Sophia mencoba untuk menghibur Sophia. Yang malah jadinya, Sophia tambah marah dan mulai bersikap super jutek. Di hadapan cewek-cewek, Sophia adalah orang terbaik dan tersabar di dunia. Di hadapan cowok-cowok, dia bagaikan iblis dibalik malaikat.sebagian

  • Cerpen Cinta Kenalkan aku pada cinta ~ 11

    I am back. Wkwkwkwk. Setelah sekian lama menghilang akhirnya admin bisa balik lagi. Langsung muncul dengan lanjutan cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 11. Ha ha ha, kelamaan ya? Yah, maklum lah. Kan udah di bilang, adminnya mudik. And disini beneran nggak ada jaringan buat modem. Buat handphon aja susah. Untung lah setelah perjuangan yang sedemikian panjang and melelahkan (????) akhirnya bisa ol lagi juga. :DBaiklah, tanpa perlu ke banyakan basa basi. Langsung cek gimana kelanjutannya. Karena kayaknya ceritanya udah kelamaan mungkin ada yang rada lupa sama postingan sebelumnya silahkan di cek di cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 10.Langkah Astri terhenti dengan pandangan yang terjurus kedepan. Berusaha menahan diri namun pada akhirnya gagal. Ia sama sekali tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar mata saat melihat pemandangan di hadapannya. Bahkan tak bisa di cegah cibiran sinis bertenger di bibirnya saat dengan jelas tawa renyah pecah dari bibir Alya, seseorang yang berstatus sahabatnya yang kini tampak sedang duduk santai bersama Andre yang kini duduk di hadapannya. Astri sama sekali tidak menduga bagaimana kedua orang itu bisa bersama di meja kantin sementara baru sekitar sepuluh menit yang lalu Alya mengsms dirinya yang sedang asik bersantai di perpustakaan untuk segera menyusulnya karena gadis itu merasa bosan makan sendirian. sebagian

  • Cerpen Renungan: HITAM & PUTIH

    HITAM & PUTIHoleh: Alief Murobby“ Qul Huwallahu Ahad. Allahus Somad.”Suara alunan lembut bacaan Al-Qur’an mengalun merdu di tengah dinginnya malam, saat semua makhluk hidup tertidur, meringkuk dalam selimut masing-masing. Bacaan itu menghangatkan tiap hati yang mendengarnya, melawan sabetan dingin dari sabit sang malam. Suara itu menyelusup diantara daun pepohonan, kemudian terbang pergi terbawa angin.Hentakan musik dari turntable sang disc jockey memenuhi ruangan berukuran 7×6 meter itu. Asap dari bong1 dan sisha2 membumbung di tengah ruangan yang tidak berjendela itu. Delapan orang remaja, empat cowok dan empat cewek berpesta di dalamnya, tak menghiraukan malam yang terus menanjak naik.“ Ga, sini kek, ikutan nyabu. Nyedot sisha mulu,” panggil Feli pada Arga yang mojok sambil menghisap sisha. Cowok itu tidak mengindahkannya.“ Cerewet. Tuh, Sony sama Alice make out mulu kagak lo usik,” bantah Arga, seraya menunjuk pojokan dimana Sony dan Alice terus berciuman. Dia menghisap sisha-nya lagi. “ Lagian, nggak ada yang merek Ice, sih. Males gue.”“ Alah, alasan. Nih, ada Buddha Stick,” timpal Leon, pacar Feli, sambil menjulurkan salah satu jenis sabu-sabu. Tangan kirinya memegang bong, sementara tangan kanannya memeluk pinggang Feli. Sesekali, ia mengisap sabu-sabunya dengan penuh penghayatan. Sony dan Alice terus saja berpagutan di pojokan yang tadi ditunjuk Arga, tak memedulikan keadaan sekitarnya. Dunia serasa menjadi milik mereka berdua.“ Biarin aja, Fel. Arga kan banci,” celetuk Lucy, seraya menenggak segelas Silver Bullet yang dipegangnya. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik, alkohol perlahan-lahan mulai menguasai sistem kerja otaknya.“ Tambahan. Arga tuh impoten. Aku udah pernah lihat pe**snya dan ternyata nggak bisa ereksi. Ahahaha,” celoteh Mira tak kalah ngawur. Lebih parah dari Lucy, Mira telah menenggak berbotol-botol Bacardy3. Wajahnya sudah memerah, tapi sama sekali tak ada tanda ia bakalan berhenti. Zareo yang mendengar ocehan ngawur dari kedua cewek itu tertawa lepas. Kedua tangannya semakin erat memeluk pinggang Lucy dan Mira yang duduk di kanan-kirinya. Pikirannya sudah tak utuh lagi akibat satu gram Maryjane yang diisapnya tadi. Tak peduli dengan semua komentar teman-temannya, Arga tetap kukuh dengan sishanya.Dan pesta pun terus berlanjut tanpa ada interupsi dari pihak manapun.“ Tumben Om kesini. Ada apa sih?” tanya Mami, seraya ber-cipika cipiki dengan tamunya, seorang pria paro baya yang parlente. “ Kalo mau mesen kan bisa aja lewat telpon,” lanjutnya.“ Aku bosen lewat telpon terus. Pengennya sekarang hunting sendiri,” jawab pria itu. Matanya jelalatan melihat para gadis muda yang berlalu lalang disana. Gairahnya mulai merangkak naik.“ Yaudah, maunya Om yang gimana? Ada Lena, yang ahli banget dalam blow job4. Ada Elma, cewek 17 tahun tapi cup-nya 34 B. Ada juga kok yang masih ‘hijau’. Terserah Om pilih yang mana.” Mami menyebutkan beberapa produk unggulan dari “dagangan”nya. Si Om tidak kelihatan tertarik sama sekali.“ Aku udah pernah nyoba semua. Ada yang bisa nari striptease nggak?” tanya si Om.Mata Mami berbinar. “ Oh, ada kok. Wait a minutes, okey?” Mami segera pergi ke dalam. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan menggandeng seorang cewek cantik usia 18 tahun-an.“ Nih, Om. Namanya Sisca, ahli banget dalam urusan nari striptease,” ucap Mami, seraya menyodorkan Sisca yang tersenyum genit. Laki-laki itu mulai tertarik dengan cewek di depannya itu.“ Oke, deh. Aku bawa yang ini. Pembayarannya seperti biasa,” kata Om, sambil beranjak pergi dari tempat itu. Sisca menggelendot manja di tangannya. Mereka segera masuk ke dalam Honda Jazz hitam metalik milik si Om. Deru mobil terdengar menyalak, dan mobil itu melesat pergi meninggalkan kawasan hitam itu.Alto melenguh panjang saat dia ejakulasi, merontokkan stamina dan nafsunya yang tadi menggebu-gebu. Dia langsung ambruk di samping Karin yang wajahnya terlihat nanar. Pikirannya kalut. Dia merasakan pangkal pahanya sangat perih. “Sesuatu” telah pergi darinya tanpa permisi. “Sesuatu” yang ia jaga saat dirinya haid pertama kali waktu umur 13 tahun hingga kini tatkala umurnya 19 tahun, hilang sudah. Bau yang sangat menyengat menguak dalam ruangan kecil itu. Bau amis darah dan sperma.“ Harusnya kamu pakai kondom dulu tadi.” Karin melirik ke arah pacarnya yang masih terengah-engah. Alto terdiam, kemudian menarik cewek itu ke dalam pelukannya.“ Jangan takut. Aku akan selalu bersama kamu. Believe me,” kata Alto sambil mengecup kening pacarnya.“ Tapi nanti kalo aku…” Ucapan Karin terpotong karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Alto.“ Don’t say that, honey. I love you so much. I’ll be all that you want. I’ll never let you go, okey?” Alto kembali mengecup bibir merah Karin. Cewek itu menjadi agak tenang mendengar perkataan cowoknya itu. Pikiran-pikiran seperti takut hamil mulai tereduksi.Dan ia pun tertidur dalam pelukan pacarnya.Tanpa disadari oleh para manusia yang kotor dan hina, semua perbuatan mereka rupanya disaksikan oleh Alam. Alam menuliskannya dalam sejarah kelam manusia, mengingatnya, dan menyimpannya. Lama kelamaan, dia tak tahan juga terus menyaksikan ulah para manusia yang terus mengumbar hawa nafsunya. Dia pun berkeluh kesah pada Sang Penciptanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala.“ Ya Allah, Maha Suci Engkau yang telah menciptakanku dan seluruh benda yang ada di dalam dunia ini. Sudah lama aku melihat kelakuan manusia yang terus mengumbar auratnya, membebaskan hawa nafsunya, tanpa sekalipun mau mematuhi perintah-Mu. Kau terus menyuruhku bersabar, tapi aku hanya makhluk, bukan Dzat yang Maha Sabar seperti-Mu, ya Allah. Aku sudah tidak tahan lagi punggungku dipakai untuk maksiat. Aku sudah tidak tahan, Gusti,” ratap Alam sambil menangis tersedu-sedu, mengadukan seluruh penderitaannya yang selama ini terus dipendamnya.“ Ya sudah, Kuperintahkan kau untuk berguncang. Buatlah gempa yang dahsyat. Hukuman bagi mereka yang ingkar kepada-Ku, cobaan bagi mereka yang beriman pada-Ku.”Mendengarnya, Alam agak kaget tapi dengan cepat ia menguasai diri. Tanpa berniat menginterupsi, Alam menjawab dengan khidmat,” Sami’na wa ato’na5.”Hari itu, tanggal 27 Mei 2006, kota Yogyakarta diguncang oleh gempa dahsyat. Alam menumpahkan seluruh kepedihannya yang selama ini terus disimpannya. Dia mengamuk, meluluhlantakkan kota yang terkenal dengan julukan kota pendidikan itu. Bangunan-bangunan yang dulu berdiri pongah kini rata dengan tanah. Korban tewas terus bergelimpangan.“ Lam Yalid Wa Lam Yuulad. Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad.”Suara itu terus mengalun diantara puing-puing reruntuhan bangunan, terus mengagungkan nama Allah. Allah Yang Maha Besar. Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha Kuasa. Suara itu terus terbang terbawa angin. Terus menjauh. Jauh.***Keterangan:1. Bong: alumunium foil yang biasa digunakan untuk mengisap sabu-sabu2. Sisha: rokok Arab yang terdiri dari tabung penghasil asap dan 3-4 selang pengisap3. Bacardy: merek minuman keras jenis rum4. Blow job: oral seks5. Sami’na wa ato’na: saya mendengar dan saya menaati

  • Surat Cinta Untuk Para Sobatku, ASKAR

    Surat Cinta Untuk Para Sobatku, ASKARoleh: Luthfiah Fadlun MuhammadAwalnya kita tak pernah mengenal, tak pernah tahu masing-masing pribadi. Namun, aku tahu Allah sayang kita. Allah selalu tahu apa yang ada di balik tabir kehidupan ini. Hingga kita dipertemukan di suatu tempat yang luar biasa, sederhana, namun takkan pernah terlupakan. Ehm… sekolah islam berasrama yang penuh anak-anak luar biasa, penuh kesabaran, tetap tersenyum walau problematika hidup berkeliaran di sekelilingnya. Tiga tahun melangkah bersama, bergandengan tangan, hadapi hari suka dan duka bersama. Kami rajut persaudaraan indah ini dengan nano kehidupan. Aku simpan kenangan indah bersama orang-orang luar biasa seperti kalian, sobatku. Sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bagiku bisa bersama kalian. Hidup di tengah-tengah kalian.Namun, kini aku harus siap. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku tahu itu. Air mata ini tak dapat kutahan lagi malam itu. Mataku tak bisa terpejam dan tidur nyenyak. Aroma kamar Palestine, kamarku dan ASKAR penuh desah keharuan. Basah oleh air mata kami. Bulir kata-kata indah terkirim untukku. Dari sahabat-sahabat berjuta rasa, ASKAR. Aku menangis sedih membacanya. Aku harus siap hadapi hari esok. Wisuda Qur’an dan Haflatul Wada’ (pertemuan terakhir = perpisahan).Pagi ini nafsu makanku hilang seketika. Begitu pula para sobatku, ASKAR. Sarapan pagi istimewa buatan bibi tetap tak menggugah selera makan kami. Tapi kami harus makan. Aku ambil sepiring sarapan. Kususun rapi-rapi agar tampak menarik. Aku masuk ke kamar. Aku tarik nafas dalam-dalam.“ Ayo Ukhti Fillah…. kita sarapan dulu!” teriakku di depan pintu kamar. Semua menoleh ke arahku dan menggeleng. Aku yakin akan hal ini pasti terjadi. Tapi pliss satu suap saja…. aku yang suapkan…. Aku keliling kamar menyuapkan satu per satu sahabatku. Aku pandang jelas wajah-wajah mereka. Senyum dan tawa mereka tak se-renyah kemarin. Bukan karena jilbab abu-abu yang kami pakai begitu licin, membuat kami sibuk merapikannya kembali. Tapi karena…ah!…. Kami tak sanggup berpisah dengan ikatan ukhuwah yang begitu menyegarkan hati, yang selalu menjaga perasaan saudaranya, yang selalu menyemangati saudaranya ketika turun, yang selalu…ah! aku tak bisa ungkapkan lagi. Takkan bisa walau dengan kata-kata indah sekalipun…. sekalipun.Segala persiapan untuk acara kami telah disiapkan guru-guru dan adik-adik kelas kami. Insya Allah lebih baik daripada tahun lalu. Puluhan kata sayang menyerbu kami hari ini. Air mata kami tetap tertahan, karena memang sudah janji kami. Tidak boleh menangis di depan adik-adik kelas dan guru-guru kami. Kami tak mau hancurkan hari ini yang telah mereka siapkan se-baik mungkin. Ratusan senyuman menyambut kedatangan kami. Angkatan terbaik penuh se-abrek prestasi dengan nyanyian tola’al badru dari tim marawis. Kamera-kamera berebutan mengabadikan kami unuk menjadi kenangan terindah. Angkatan pembangkit sekolah. SECOND GRADUATION (ASKAR dan AMOEBA). Kami berjalan berbaris memasuki lapangan kecil sekolah yang sekarang berdirinya sebuah panggung kecil dan tenda untuk tamu-tamu yang hadir. Kami terus menyusuri kursi-kursi tamu dan segera duduk di kursi wisudawan- wisudawati. Tanganku mulai dingin, detak jantungku bertambah kencang, rasa gugup mulai menyerangku. Aku coba tenangkan dengan memurojaah hafalanku. Buncah. Rasanya hafalanku menari-nari menertawaiku. Aku tarik nafas mencoba tenang mendengarkan sambutan dari kepala sekolah tercinta, Bapak Edi Nasirun. Hingga… dua orang guru akhwat yang menjadi motivasi kami selama di sini naik ke atas panggung. Aku pandangi wajah-wajah tegang di sekelilingku. Aku mencoba tersenyum. Getir. “Kepada wisudawan-wisudawati diharapkan naik ke atas panggung. “ Diam. Aku dan teman-temanku mulai bangkit dan berjalan pelan ke arah panggung. Kami naik satu per satu. Aku duduk di belakang bersebelahan dengan Sarah. Aku menunduk. Lantunan ayat suci nan merdu itu mengheningkan suasana. Semua memperhatikan kami. Rasa tegang kompak menyergap kami. Rasanya ingin menangis, mempertanggungjawabkan hafalanku ini. Aku belum siap. Aku terus berdoa dalam hati. Sesi tanya jawab dibuka. Pertanyaan-pertanyaan bergulir. Satu per satu pertanyaan dijawab oleh kami. Kami bertambah tegang ketika ketua yayasan kami, Ustadz Bukhori Yusuf bangkit dari tempat duduknya dan mengambil mikrofon. Pertanyaan penutup yang sempurna disambut jawaban yang mengalir sempurna. Alhamdulillah…..Prosesi Wisuda Qur’an berjalan sukses. Kami turun dari panggung. Rasa lega dan puas tampak jelas pada wajah ASKAR dan AMOEBA. Dan nama-nama kami mulai dibacakan, sesuai dengan tingkatan hafalan. Satu per satu ASKAR dan AMOEBA naik ke atas panggung. Sisa tinggal kami berenam. Sarah, Aku, Wardah, Nida, Syadza dan Fakhirah. “……..Selanjutnya Sarah Fauziyyah dengan hafalan sebanyak 4 ¾ juz dengan kualitas hafalan jayyid jiddan…….” Ucap dua guru akhwat yang memimpin prosesi Wisuda Qur’an kami. Sarah pun naik ke pangung. Tinggal kami berlima.“……..Selanjutnya Luthfiah Fadlun Muhammad denga hafalan sebanyak 4 ¾ juz dengan kualitas hafalan jayyid jiddan. Siswi ini meraih prestasi sebagai Juara 1 Speech Contest Dahsyatnya Ramadhan RCTI, Juara 2 Story Telling Pada Munas PKS ke-2, Juara 1 Story Telling Mipa and English Competition Baitul Maal Expo…….” Panggil dua guru akhwat lagi. Aku maju pelan-pelan. Malu. Pandanganku beralih ke arah para hadirin. Ummi dan abi. Satu kalimat jelas yang kutangkap dari mata kedua orang tuaku. Selamat, sayang. Terima kasih! Aku tersenyum lebar. Medali Wisuda Qur’an dikalungkan dan sertifikat Qur’an kudapatkan. Aku berdiri diantara sobat-sobatku itu. Aku genggam tangan mereka. Ehm… sebentar lagi. Kami turun dan langsung memeluk orangtua kami.Acara selanjutnya, pidato terakhir 3 bahasa dari perwakilan angkatan kami. Sarah dengan pidato bahasa arab, Farha dengan pidato bahasa inggris, dan Afif dengan pidato bahasa indonesia. Aku duduk bersama ASKAR di belakang. Kami tertawa berderai, berpose manis saat difoto, dan menceritakan perasaan saat di panggung tadi. Ah! Kapan lagi kami bisa begini…?“Persembahan terakhir dari ASKAR, kepada kelas Aisyah Binti Abu Bakar (ASKAR) dipersilahkan naik ke atas panggung. “ Kami bersiap, berbaris, dan mulai naik. Sebuah nasyid Edcoustic “Sebiru Hari Ini” diiringi gendangan khas dari salah seorang sobatku, Fatimah. Manis. Dan sebuah nasyid yang menemani kami dari awal saling mengenal hingga ikatan ukhuwah ini begitu erat dan hangat, “Untukmu Teman”. Aku tersenyum memandangi satu per satu sahabatku. Air mata yang kami kira akan meluncur saat ini tak juga muncul. Tangan kami saling berpegang erat. Saling menguatkan. Senyum terakhir kami di sini… Di sebuah sekolah luar biasa, SMPIT Insan Mubarak Boarding School….^_^Kami turun dari panggung. Beberapa sahabatku mulai menangis. Aku masih terdiam di atas panggung, menunggu antrian turun. Aku pandangi sahabat-sahabtku. Aku tak bisa menangis. Tak bisa. Tak bisa. Namun… Aku langsung berlari ke arah salah satu sahabatku, Fakhirah. Sahabat yang begitu berkesan bagiku. Sahabat yang selalu menjadi semangatku di sini. Sahabat yang menggugah diriku untuk tetap semangat berjalan beriringan hingga saat ini. Aku memeluknya dan sekejap air mataku meluncur deras. Aku sedih. Ruang dan jarak akan begitu saja memisahkan kami. Kacamataku sudah basah. Lautan airmata tumpah seketika di lapangan kecil itu. Aku menatap wajahnya lagi. Ia menghapus airmataku.” Jaga dirimu ya! Hammasah Ukhti!…” Aku mengangguk.“Syukron Ukhti, Sukses! Allah always be with us…” Kami saling berpelukan satu sama lain. Airmata kami rasanya tak bisa tertahan lagi. Deras.Lantunan nasyd “Doa Rabithah” menemani desahan tangis kami. Semua orang yang tahu tentang perjalanan kami menyatukan ukhuwah ini, menangis. Suasana menjadi haru. Adik kelas kami menyerbu kami dan dan langsung memeluk kami. Menangis. Aku tak dapat ungkapkan kata-kata lagi. Kelu. Terlalu indah. Aku sedih…..*******Percakapan seminggu yang lalu….“Apa rencana kalian ke depan?” Tanya wali kelas kami di tengah pelajaran matematika yang asyik dan menyenangkan. Kelas menjadi gaduh. Semua berebutan menghamburkan jawaban. Sebuah teriakan menghentikan kami.“….. Haflatul wada’ di Mekkah dan…. Kita reunia-an di Surga….” Teriak seseorang dari kursi belakang.“ Amiiin… ALLAHU AKBAR….!” Teriak kami bersamaan. Perkataan itu jadi janji kami sejak itu. Doakan kami ya……………..!*******Kini, aku berada di sebuah sekolah yang lebih dikenal dengan sebutan “Kampus Peradaban”. Rasa rindu akan hadirnya mereka kembali takkan bisa terlukiskan. Hanya satu kata untuk kalian sobat-sobatku. I Love You All Coz Allah….Aku berlayar menyebrangi samudera tanpa tujuanmengetas dugaan yang belum tentu tampak jalanansayup-sayup desahan keagungan menyerumput kerinduanberperang perasaan melawan kesedihan aku datang, temanmenembus karang hancurkan badanmelawan badai ombak korbankan anganmenjemput sebuah panji persaudaraanyang telah lama tak tersandang290211==================================================================Biografi penulisNama : Luthfiah Fadlun MuhammadNama Pena: Syakira El AskarullahEmail ; luthfiyah15@gmail.comFacebook. :Luthfiah Fadlun Nylifana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*