Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 04″

Lanjut kisah dari cerpen Take My Heart yang kini udah sampe part 04. Secara ni cerita lumayan panjang, terdiri dari 20 part. So untuk yang udah kadung merasa penasaran tentang gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak kisahnya di bawah ini. Dan biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading guys….

Cerpen Take My Heart
Cerpen Take My Heart

"Dasar manusia gila, kurang kerjaan. Rese," gerut Vio.
Sepanjang jalan menuju kekelasnya ia terus mengerutu tak jelas. Entah itu karena perlakuan Ivan padanya atau karena ia merasa nasip sial masih menyertainya. Mendadak ia merasa ragu kalau keputusannya pindah kampus untuk mengobati rasa patah hatinya atas penolakan Herry benar – benar merupakan hal yang benar. Secara kali ini ia menyadari kalau nasipnya di kampus baru ini juga tidak terlalu mujur.
Entah karena keasikan mengerutu atau memang karena pikirannya sedang melayang – layang, yang jelas saat belokan koridor kampusnya tak sengaja ia malah menabrak seseorang. Membuat gadis itu _ yang ternyata sedang membawa banyak buku langsung berserakan di lantai.
"Sory sory sory, gue nggak sengaja," Vio segera berjongkok. Mengumpulkan kembali buku – buku itu. Hal yang sama juga di lakukan oleh gadis itu.
Setelah buku – buku itu kembali tertata rapi barulah Vio berani mentap sosok yang di tabraknya yang kebetulan juga sedang menatapnya.
Bulu matanya yang lentik serta kulit wajahnya yang halus tanpa jerawat langsung menjadi nilai plus dari Vio atas gadis itu. Apa lagi di tambah dengan bola matanya yang coklat serta bibir yang mungil. Benar – benar keindah paras tanpa cela.
"Eh sekali lagi maaf ya. Gue jalan nggak liat – liat," ulang Vio merasa bersalah.
"Nggak papa kok. Kayaknya tadi itu juga gue emang ceroboh," balas gadis itu sambil berdiri. Matanya masih memperhatikan Vio. Sepertinya gadis itu juga sedang memberikan penilaian atas dirinya.
"Vio," tampa di minta Vio langsung mengulurkan tangannya.
Untuk sekian detik gadis itu terdiam. Mencoba mencerna maksut Vio. Baru lah pada detik berikutnya senyum mengembang di bibir sambil tangannya terulur menyambut uluran tangan Vio.
"Silvi."
Kata pertama yang Vio dengar keluar dari mulut gadis mungil itu. Merdu. Membuat Vio kembali harus mengakui kelebihan barunya.
Sejenak Vio kembali terdiam. Silvi? Kenapa ia merasa familiar dengan wajah itu ya? Sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya?
"E.. Mahasiswi baru ya?" pertanyaan Silvi sudah lebih dulu mendahuluinya.
"Kok tau?" akhirnya Vio lebih memilih untuk balik bertanya dari pada menjawab. Sebuah kebiasaan yang memang sering di lakukan oleh kebanyakan orang jika langsung benar dalam menebak sesuatu.
"Soalnya gue baru liat" Balas Silvi sambil tersenyum. Vio ikut tersenyum sambil mengangguk membenarkan.
"Oh ya, buru – buru memang mau kemana?" tanya Vio mengalihkan pembicaraan.
"Tadinya si pengen ke kantin, tapi karena waktu sepertinya sudah tidak memungkinkan mending gue langsung balik kekelas aja deh," salas Silvi setelah tadi sempat terdiam beberapa saat.
"Kalau boleh tau kelas mana emang?" tanya Vio lagi.
"Jurusan sastra, semester empat ruang 3C."
"Kok sama?" tanya Vio kaget.
"Masa sih?" Silvi ikut – ikutan kaget.
"Tapi perasaan tadi gue nggak ada liat loe di kelas sebelumnya?" tanya Vio lagi.
"O… Gue baru datang."
"Jam segini?" Vio tampak memelototi jam yang melingkar di tangannya.
"He he he," Silvi thanya nyengir polos. "Gue nggak harus masuk semua mata kuliah kan untuk bisa di akui sebagai mahasiswa di kampus ini?"
Vio mengeleng tak percaya. Dengan tampang sepolos dan seimut dihadapannya ia tidak akan pernah menyangka kalau gadis itu mau membolos.
"Lagi pula gue selalu melakukan hal yang gue sukai kalau loe belom tau," tambah Silvi lagi. "Apapun!" sambungnya.
Mendengar kalimat tegas di penghujung kata Silvi hanya mampu membuat Vio angkat bahu. Setiap orang bebas untuk berpendapat bukan, terlepas dari hal itu benar ataupun salah. Lagipula bukankah orang – orang selalu menganggap bahwa hidup ini pilihan?
"Kalau gitu, bisa kita langsung kekelas bareng?" ajakan Silvi membuyarkan lamunan Vio. Tanpa kata ia kembali mengangguk. Berjalan beriringan menuju kekelasnya. Sivli, orang pertama yang ia kenal di kampus barunya itu.
Baiklah, edisi ralat. Silvi, orang pertama yang bisa ia di jadikan sahabat di kampus baru itu walau bukan orang pertama yang ia kenal. Masih ada para dosen juga si Laura, musuh dadakannya. Ataupun si Ivan, cowok kurang ajar yang menjadikan ia sebagai sarana untuk mendapatkan sepuluh juta.
Cerpen terbaru "Take My Heart"
"Oh ya Vi, ngomong – ngomong loe kenal Ivan nggak?" tanya Vio.
Ini adalah hari keduanya di kampus Amik sebagai mahasiswi baru. Menghabiskan waktu pergantian mata kuliah di kantin sambil menikmati Mie Soo pesanannnya di temani Silvi yang duduk di hadapan sembari menikmati sepotong pisang goreng.
"Ivan? Maksut loe dia?" tanya Silvi sambil menunjuk ke luar melewati jendela kaca kantin itu.
Gerak refleks mata Vio mengikuti arah yang di tunjuk Silvi. Beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk membenarkan.
"Tentu saja. Siapa si yang nggak kenal sama playboy kelas kakap itu?" balas Silvi santai.
"Oh ya? Emang dia beneran playboy?" tanya Vio terlihat tertarik.
"Emm," Silvi mengangguk membenarkan. Mulutnya masih penuh dengan pisang goreng membuatnya agak sulit untuk berbicara. Vio hanya mangut – mangut membenarkan.
"Bahkan asal loe tau aja. Bukan cuma playboy tu orang juga kurang ajar banget. Dua hari yang lalu, di kantin ini, di hadapan semua orang dia mutusin si Laura. Cewek idola di kampus kita. Katanya dia jadian sama tu cewek cuma karena taruah. Astaga, Gue nggak akan percaya kalau saja waktu itu gue nggak ngeliat kejadiannya di depan mata kepala gue sendiri," tambah Silvi lagi.
Vio kembali terdiam. Sekarang ia mengerti kenapa Laura begitu benci pada Ivan sampe – sampe harus menyewa preman segala. Sepertinya itu memang pembalasan yang pantas untuknya.
"Tapi dari mana loe bisa tau soal dia? Terus kenapa loe pake nanyain dia tiba – tiba?" tanya Silvi tiba – tiba membuat Vio kembali harus diingatkan akan nasip hidupnya.
"Dia jadiin gue target selanjutnya. Dia juga jadiin gue sebagai barang taruah sepuluh jutanya," balas Vio lirih berbanding balik dengan reaksi sosok di hadapannya.
"Apa?! Loe adalah target taruhan Ivan yang selanjutnya?!"
Demi apapun Vio benar – benar menyesali apa yang ia katakan barusan. Teriakan yang di ucapkan Silvi beberapa saat yang lalu benar – benar telah berhasil menarik perhatian seisi kantin. Sama halnya seperti banjir yang melanda Jakarta namun mampu membuat heboh seluruh warga Indonesia. Membuat Vio hanya mampu mengangkat tangannya menutupi wajah karena malu walau ia tau itu percuma.
"Kenapa nggak sekalian aja loe minjem mic di kampus ataupun loe bikin iklan di koran tempo," gerut Vio kesel.
"Ups, sory gue kelapasan," bisik Silvi merasa bersalah.
"Loe barusan bilang apa? Loe target taruhan Ivan yang selanjutnya?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka angkat bicara sambil bangkit menghampiri. Vio hanya mengernyit kesel. Kenal juga enggak kenapa langsung di tuding begitu. Benar – benar nggak sopan.
"Enggak, kalian salah denger," elak Vio yang ia juga tau itu hal percuma. Mereka bukan anak kecil yang bisa dengan gampang di bohongi.
"Kita nggak mungkin salah denger. Jadi bisa loe jalasin apa maksut ucapan loe tadi?".Telak, benarkan apa yang Vio pikirkan barusan. Membohongi mereka itu percuma.
"Baiklah, walaupun seandainya itu benar, gue nggak berkewajiban untuk memberitaukannya pada kalian kan?" balas Vio akhirnya.
"Loe salah. Apaun yang berurusan sama Ivan itu selalu menjadi urusan kita."
Vio hanya mendengus mendengar kalimat barusan. Bukankah itu kalimat yang sama yang ia dengar dari mulut Laura beberapa saat yang lalu? Lagipula, astaga. Yang benar saja, ia baru dua hari di kampus ini. Kenapa begitu banyak masalah yang bermunculan? Kenapa nggak sekalian saja masalah patah hatinya di bawa kseini? geramnya.
"Jadi apa benar Ivan melakukan taruhan lagi?" tanya seorang lagi yang tak Vio ketahui siapa.
"Ya," akhirnya dengan berat hati Vio mengangguk membenarkan. Membuat bisikan sana sini samar-samar terdengar.
"Kok bisa? Gimana ceritanya?"
"Iya, loe juga nggak cantik – cantik amat tuh," sambung yang lain setengah menghina.
"Mana gue tau. Kalau kalian mau tau tanyain saja langsung sama si Ivan," gertak Vio.
Kesabarannya habis. Dengan cepat ia bangkit berdiri. Berlalu melewati anak – anak yang jelas masih penasaran. Meninggalkan kantin dengan keselnya.
"Loe mau kemana?" tanya Silvi sambil mensejajarkan langkahnya bersama Vio. Tapi vio tetap terdiam.
"Maaf, tadi gue nggak sengaja," sambung Silvi lirih.
Untuk sejenak Vio menghentikan langkahnya. Menatap kearah Silvi yang terlihat merasa bersalah.
"Sudahlah, lupain aja. Gue tau kok tadi itu loe nggak sengaja," kata Vio akhirnya.
"Tapi…." Silvi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Matanya lurus menatap kehadapan. Memuat Vio sejenak merasa heran, dan begitu menoleh.
"Halo Vio," sapaan lembut dari mulut Ivan sontak membuatnya mendadak merasa mual.
"Ya Tuhan…" gumam Vio frustasi sambil mengusap keningnya.
"Loe kenapa? Sakit?" tanya Ivan. Raut khawatir jelas tergambar di wajahnya.
"Diem loe," damprat Vio sewot. Kemudian tanpa kata segera berlalu.
"Kenapa tu anak? Lagi datang bulan ya?" tanya Ivan kearah Silvi yang masih berdiri di hadapannya.
"Jiah, pake nanya. Bukanya itu gara- gara loe ya?" cibir Silvi sinis.
"Gue?" tunjuk Ivan kearah wajahnya sendiri.
"Iya. Ngapain loe jadiin dia target taruhan loe selanjutnya. Emang nggak bisa mikir loe ya?"
"Kok loe tau?" tanya Ivan makin kaget.
"Bukan cuma gue. Tapi gue bisa jamin, sebentar lagi. Seluruh anak kampus juga bakal tau."
"Ha?"
Mulut Ivan hanya mampu melongo. Sementara Silvi sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan itu lebih lanjut. Ia lebih memilih mengejar Vio. Memastikan kondisi gadis itu sekarang. Astaga, ada ada saja.
Next to Cerpen Take My Heart Part 05
Detail Cerpen

Next : || ||

Random Posts

  • Story About us ~ 03 | Cerpen terbaru

    Story About us _ Lagi lagi cerpen yang sempat terlupakan #GetokAdminnya. Thanks for Vhany karena udah ngingetin. Ah, sifat pelupaku sudah mendekati taraf dewa sepertinya. So tanpa perlu basa basi panjang lebar lagi, lanjut baca aja yuks. Oh ya, untuk part sebelumnya bisa klik di sini.Happy reading…!!..Story About usKeesokan harinya, Vanno dengan senangnya duduk di kursi samping tantenya untuk sarapan bareng, yang tentu membuat tante dan omnya bingung, kira-kira nih anak kesambet apa lagi ea? sebagian

  • Cerpen Cinta: Bukan Cerita Biasa

    Bukan Cerita Biasaoleh Fahrial Jauvan TajwardhaniCinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta. ***Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.Begini ceritanya,Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang. ***Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa. Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan. Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.“Kenapa Reza menangis.”“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.” “Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat. Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.SELESAIProfil penulis:Nama Lengkap: Fahrial Jauvan TajwardhaniPanggilan : JauvanAgama : IslamJejaring sosial Facebook : Fahrial Jauvan TajwardhaniTwitter : @FahrialJauvan Cerpen lainnya: Izinkan Aku Hidup

  • Cerpen Teenlit “Dia {Nggak} Suka Aku?! ! ~ 1/2

    Lagi bingung nyari ide buat lanjutin cerpen part karena tetep nggak nemu. Yah seperti biasa, mencoba nyari ide selingan. Nulis cerpen yang di usahain bisa langsung end sekali ketik. Sebenernya emang langsung end si, tapi ternyata kepanjangan. So di jadin dua part deh. Cerpen teenlit "Dia {Nggak} suka aku?!" . Judulnya sesuatu yak, ala tebak tebakan. Soalnya phan pake tanda seru sama tanda tanya. Gimana sama cerpennya langsung simak ke bawah aja deh. Cekidots…Cerpen Teenlit "Dia {Nggak} Suka Aku?!Cerpen remaja Cinta "Dia {Ngggak} suka akuMeskipun nafasnya kini sudah ngos – ngosan, Rika tetap nekat berlari. Nggak tau ini memang harinya yang sedang sial atau apa. Yang jelas dari tadi pagi begitu banyak kejadian buruk melandanya. Mulai dari tidurnya tadi malam yang di hantui mimpi buruk, bangun pagi kesiangan. Harus ngantar adiknya, Chicy ke sekolah dulu karena motornya tiba – tiba bocor sehingga ia harus meminjam motor adiknya yang sekolahnya memang lebih deket dari rumah. Namun sialnya, ternyata saat memakai motor Cicy pun, tiba – tiba di jalan mogok juga. Dan ia tidak tau itu karena apa. Terpaksa ia dorong hingga sampai kebengkel. Karena tak ingin terlambat kesekolah, ia tinggal. Untung saja bengkelnya tidak jauh dari sekolah, sehingga ia memutuskan untuk jalan kaki saja. Sayangnya ia tetap harus berpacu dengan waktu. Lewat dari jam 07:00 gerbang sekolah akan di tutup. Jadi memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berlari.Saat melihat gerbang sekolah yang masih terbuka di kejauhan, senyum mengembang di bibir Rika. Walau keringat membasahi, ia tetap merasa gembira. Paling tidak, ia belum terlambat bukan? Lagipula selaku siswa teladan di sekolahnya, seumur hidup Rika memang belum pernah datang terlambat.Namun senyum di wajah Rika berlahan memudar sebelum kemudian benar – benar punah saat matanya menangkap sebuah senyum misterius milik seseorang yang berdiri di depan gerbang. Fadlan, rival seumur hidupnya kini tampak berdiri di sana sambil memegang gembok. Jangan bilang kalau pria itu akan mengunci pintu pagarnya. TIDAK!!!.Terlambat, saat kaki Rika tiba di sana, pintu gerbang sudah benar – benar di tutup. Membuat tenaga Rika yang sudah lemes semakin ngedrop. Matanya menatap kesel kearah Fadlan yang tampak tersenyum puas. “Fadlan. Bukain nggak!. Loe iseng banget si jadi orang!” bentak Rika kenceng.“Enggak,” balas Fadlan santai. “Ini kan udah jam 07:00. Emang sudah saatnya pintu pagar di tutup kale. Lagian salah sendiri, punya motor itu buat di tungangin. Bukan di dorong – dorong. Ha ha ha. Da da Rika, selama menikmati keterlambatannya ya. Gue masuk dulu. Bye bye,” kata Fadlan sambil melambaikan tanganya sebelum kemudian berlalu. Mengabaikan teriakan sumpa serapah Rika di belakangnya.Untunglah sepertinya Rika masih bernasip mujur. Karena beberapa saat kemudian, Pak Tarno, panjaga sekolahnya muncul. Karena ia sudah cukup di kenal di sekolah itu ia mendapat sedikit kemudahan. Sudah ia katakan bukan kalau selama ini ia selalu menjadi siswa teladan. Bahkan ketika ia menceritakan kronologi kejadianya, Pak Tarno hanya tertawa. Pria tua itu berkata, ia juga sempat heran kenapa tiba – tiba ada Fadlan menawarkan diri untuk menutup gerbangnya. Sepertinya pria itu sengaja melakukannya saat tak sengaja melihat dirinya waktu mendorong motornya yang mogok tadi. Sialan. Ketika Rika memasuki kelas, tatapan tajam segera ia arahkan kearah Fadlan yang tampak cengengesan dengan senyum tanpa dosanya. Membuat Rika yang sudah kesel semakin kesel. Dalam hati ia berjanji ia akan menyiapkan pembalasan yang setimpal untuk pria itu nantinya. Awas, liat saja. Waktu terus berlalu. Jam istirahat telah tiba. Walau kakinya terus melangkah, Rika tetap tidak berhenti mengerutu. Merasa kesel akan ulah gurunya. Ia tau kalau disekolahnya ia memang seorang yang layak di jadikan suri teladan karena sikap rajinnya. Dan jujur sebenernya ia juga merasa cukup bangga ketika guru selalu memberi perhatian lebih padannya. Sayangnya, perhatian yang di berikan kadang mencakup segala hal. Termasuk ia yang pertama sekali mendapat perhatian untuk membawa tumpukan tugas dari seisi kelas ke ruang gurunya. Ayolah, emangnya ia kacung gadungan. Mana bukunya berat. Banyak lagi. Sampai sampai itu hampir menutupi wajahnya. “Rika awas…”Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, yang Rika tau saat ini ia sudah duduk di lantai. Semua bukunya sudah bertebaran entah ke mana, sementara jidatnya sendiri benar – benar terasa berdenyut nyeri. Melihat bola yang mengelinding tak jauh darinya membuat ia bisa menebak apa yang terjadi. Begitu kepalanya menoleh, matanya langsung melotot tajam kearah Fadlan yang sedang berlari kearahnya..“Loe nggak papa?” tanya Fadlan dengan nafas yang masih ngos – ngosan. Sebelah tanganya terangkat mengusap keringat yang membasai dahinya dengan tatapan terjurus kearah Rika yang masih belum bergerak sama sekali.“Nggak papa gimana? Nggak liat ni jidat gue benjol gini?!”Fadlan terdiam. Kali ini matanya mengamati Rika dengan seksama. “Cuma dikit gitu. Manja banget sih?” kata Fadlan santai sembari berjalan kearah bola kaki yang tadi tidak sengaja ia tendang jauh saat bermain di lapangan samping sekolah yang justru nyasar kekepala Rika yang kebetulan lewat.Rika melongo. Bukan hanya karena sikap santai Fadlan tapi juga karena tiada iktikad bertangung jawab sama sekali dari makhluk itu. Terlebih saat ia melihat punggung Fadlan yang mulai berjalan meninggalkan dirinya begitu mendapatkan bolanya kembali.“Gue di bilang manja?” gumam Rika sendiri. “Eh busyed. Dasar cowok songong. Tidak bertanggung jawab. Minta maaf kek, bantuin beresin buku ini dulu kek. Dasar kurang ajar!” teriak Rika kesel, tapi Fadlan hanya membalas dengan lambaian tangan tampa menoleh sama sekali.Walau masih merasa sangat kesel, Rika akhirnya membereskan buku bukunya kembali. Merasa percuma berteriak – teriak memaki Fadlan yang sama sekali tidak perduli. Dalam hati ia terus menyumpahi makhluk itu agar celaka.Setelah menyelesaikan tugasnya, Rika segera menuju kearah kantin sekolah. Ia yakin ketiga temannya pasti sudah menunggu. Tak lupa, di belinya sebutir telur dari pemilik kantin untuk meredam benjolan di jidatnya.“Ya ampun Rika, jidat loe kenapa?” tanya Icha khawatir begitu melihat wujud Rika yang kini duduk di hadapannya. Tatapan Andriani dan Lauren juga menyiratkan rasa penasaran yang sama.“Kena bola” sahut Rika singkat.“Bola? Kok bisa?”“Ya bisa donk. Ini buktinya.”“Ye ditanya baik baik, jawabnya sewot gitu. Santai aja kali,” komentar Lauren, tapi Rika yang melongos.“Tunggu dulu. Jangan bilang kalau itu ulah Fadlan lagi?” tebak Andrani beberapa saat kemudian. Saat melihat raut kesel di wajah Rika bertambah langsung meyakinkannya kalau tebakannya benar.“Ha ha ha,” tawa koor langsung meluncu dari bibir Lauren, Andrean dan Icha. Benar – benar kontras dengan raut wajah Rika saat ini. “Nggak ada yang lucu,” gerut Rika kesel.“Ha ha ha, Beneran deh kita heran banget. Emang kali ini gimana lagi kronoligi kejadiannya. Secara seriusan tau, dari jaman dulu kala kenapa si loe nggak pernah akur sama cowok yang satu itu. Tiap hari pasti ada ada aja. Perasaan baru kemaren loe bilang loe ketabrak doi yang lagi belajar sepeda, tadi pagi loe dikunci diluar pagar sama dia, lah masa kali ini malah kena bola,” komentar Icha di sela tawanya.“Tau, tu cowok emang pembawa sial buat gue kali.”“Hush. Nggak boleh ngomong gitu tau. Entar kena batunya baru tau rasa.”“Kena batunya apaan. Orang yang gue omongin beneran juga. Sumpah ya, nggak ada orang lain di dunia ini yang gue benci selain tu cowok.”“Hati – hati sis, entar kena omongan sendiri lho. Inget, orang bilang benci sama cinta itu beda tipis. Soalnya sama sama selalu di pikiran. Entar tau tau loe jatuh cinta sama dia baru tau rasa,” kata Andini menasehati yang di balas cibiran sinis Rika. Jatuh cinta sama musuh bebuyutan? Dalam dunia mimpi juga mustahil.“Bener tuh apa yang Andini bilang. Yang kaya di Ftv atau di drama korea kan seringnya gitu. Loe yang demen nonton pasti juga nyadar itu kan Rik?” Lauren menambahkan. Icha juga tampak mengangguk angguk membenarkan. “Ngaco loe ya pada. Sembarangan aja kalau ngomong,” kesal Rika. “Lagian ni ya, walau dunia kebalik sekalipun. Itu nggak akan kejadian. Mustahil, imposible. Nggak akan pernah. NEVER!!!!” sambung Rika menegaskan. Tapi lagi lagi ketiga sahabatnya hanya tertawa. Selang waktu berlalu, seperti biasa. Setiap Pak Ivan yang masuk kekelas, Rika selalu kebagian tugas untuk mengumpulkan tugas dari teman – temannya baru kemudian membawanya keruang guru. Jika menurutkan hati, Rika ingin sekali protes. Tapi entah mengapa jika ia berhadapan langsung dengan wajah guru bahasa indonesianya itu, bibir nya selalu terkunci rapat. Bahkan biasanya senyum selalu mengambang. Ia yakin, itu pasti karena pengaruh dari wajah tampan yang di miliki Pak Ivan. Apalagi gurunya memang masih bujangan. Benar benar penganiaayan yang tidak termaafkan.Tepat saat di korirodor belokan kelasnya, dari arah yang berlawanan tampak seseorang yang belari dengan begitu kencang. Karena kemunculannya yang begitu tiba – tiba, Rika sama sekali tidak bisa menghindar sehingga tabrakan pun terjadi. Setumpuk buku yang ia bawa kini berserakan di lantai sementara ia sendiri sudah terlebih dahulu terduduk diam.“Sory … sory … sory… Gue nggak sengaja.”Mulut Rika yang terbuka untuk marah – marah terpakasa ia tahan saat melihat raut bersalah di wajah seseorang yang berjongkok di hadapannya sambil mengumpulkan buku – bukunya. Melihat dari penampilannya, sepertinya pria itu adalah adik kelasnya.“Kelvin, jangan lari loe!!”Secara refleks Rika menoleh. Hal yang sama dilakukan oleh sosok yang berada di hadapannya. Keduanya menatap kearah seorang gadis yang sedang berlari kearah mereka.“Mampus gue.”Rika mengernyit ketika mendengar gumaman lirih Kelvin. Selang beberapa saat kemudian gadis itu melongo saat mendapati buku yang telah di susun Kelvin kembali berhamburan. “Sory ya. Gue bukan nggak mau bantuin ataupun bertangung jawab. Tapi ini beneran urgen. Gue harus kabur sekarang. Beneran sory banget,” tanpa menunggu kalimat balasan sama sekali dari Rika, Kelvin langsung bangkit berdiri sebelum kemudian kabur menghilang entah kemana.“Tunggu dulu, maksutnya tu orang kabur tanpa bantuin gue sama sekali?” gumam Rika sendiri setelah sedari tadi hanya terdiam. Mungkin karena otaknya beberapa saat ini memang suka lola sehingga kali ini kurang tangkap dengan apa yang terjadi.“Akh, dasar rese. Sial banget sih gue,” gerutu Rika. Walau kesel tangannya mulai bergerak mengumpulkan buku – bukunya kembali.“Makanya kalau jalan itu hati – hati, liat kiri kanan juga.”Rika kembali menoleh. Matanya berkedap – kedip dengan mulut setengah terbuka tanpa kata. Pandangannya lurus kearah makhluk dihadapanya yang tidak menoleh sama sekali. Justru ia malah tampak sedang mengumpulkan buku milliknya. Rika tidak sedang bermimpikan? Fadlan sedang membantunya mengumpulkan buku. Fadlan?!“Lagian loe jadi cewek sok baik banget.Walaupun sesama cowok, oke gue akui kalau Pak Ivan itu keren, tapi emang harus segitunya juga ya. Mau – maunya aja loe di jadiin kacungnya.”“Yee.. apaan sih. Siapa yang di jadiin kacung. Lagian loe tumben – tumbenan perduli sama gue. Kesambet ya?” balas Rika judes.Fadlan hanya melirik sekilas sebelum kemudian bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan Rika. Melihat Fadlan yang berlalu, Rika cepat – cepat melakukan hal yang sama. Tadinya tidak berniat untuk mengejar makhluk itu. Apalagi sampai harus mengekorinya di belakang. Tapi masalahnya, sebagian buku yang harusnya ia bawa ada pada Fadlan, terlebih arah yang Fadlan ikutin adalah jalan menuju ke ruangan guru.“Fadlan, loe mau kemana si? Buku nya kenapa loe bawa?” tanya Rika sambil berusaha mensejajarkan langkahnya. Tapi Fadlan tidak bergeming, kakinya terus melangkah. Dan tau tau mereka telah sampai. Setelah menyerahkan bukunya, pria itu segera berlalu. Kali ini, barulah Rika benar – benar berniat untuk mengejarnya. Tapi bukan karena ia naksir Fadlan ya, ia Cuma penasaran akan sikap aneh makhluk itu barusan. “Loe ngapain ngikutin gue?” tanya Fadlan risih.Rika tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit menatap kearah Fadlan. Berusaha menyelidiki maksut tersembunyi dari pria itu.“Tadi itu loe ngapain? Loe bantuin gue?” tanya Rika curiga..“Heh,” Fadlan sedikit mencibir sinis. Gadis itu bodoh atau apa. Sudah jelas – jelas tadi ia memang membantu, kenapa masih bertanya. Tanpa menjawab ia terus melangkah.“Jiah, gue di cuekin. Hei serius ini. Jawab donk. Tadi itu loe kenapa bantuin gue?” kejar Rika lagi.Tiada yang menduga, Fadlan yang sedari tadi melangkah tiba – tiba berhenti mendadak dan langsung berbalik. Rika yang tidak siap dengan kemungkinan itu langsung mengerem kakinya segera. Hingga kini hanya berjarak kurang dari dua centi, wajah Fadlan jelas berada tepat di hadapnnya. Membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sebelum kemudian berdenyut dua kali lebih cepat dari biasanya. Akh, situasi ini….Cut.#Krik Krik Krik…. Bersambung…. Ha ha ha, #admin kurang kerjaan. Sory man ceman, tadinya mau di bikin oneshot, eh ternyata kepanjangan. Terpaksa deh, di potong dulu. Di jadiin dua part. Ide dadakan yang admin tulis pas kebingungan ngetik kelanjutan cerpen kenalkan aku pada cinta #gubrag.Oke, kira – kira ada yang bisa nebak {dengan benar} endingnya gimana? Kan kali aja ada yang demen berimaginasi bebas kayak admin. Xi xi xi⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ With love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • Cerpen Ketika Cinta Harus Memilih End

    Dan pada akhirnya Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Memilih ketemu juga sama yang namanya part ending. Dan setelah ini nggak tau apa yang terjadi selanjutnya karena sepertinya sang admin tidak bisa merdeka lagi dalam hal beronline ria karena admin akan segera kembali kekampung halaman tercinta. Yang jelas, gak bisa internetan disana. Singnal hape aja susah, bbman pending mulu. Kalo gak percaya langsung aja datang ke Bokor – Selatpangaj, Kab. Kepulauan Meranti – Riau – Indonesia. Wkwkwkwkwk….So, sebagai persembahan terakhir selama di pulau batam ini, Part end sebagai penutup. Buat yang penasaran sama ep sebelumnya bisa di cek pada cerpen cinta ketika cinta harus memilih part 15. Selamat membaca…Ketika Cinta Harus MemilihSambil menikmati jus nya sesekali kasih mencuri pandang kearah cinta yang kini ada di hadapnya tampak menikmati makanannya. Saat itu sehabis pulang mereka memang tidak langsung pulang. Kasih sengaja mengajak cinta untuk makan bareng di salah satu kaffe langganan mereka.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*