Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 03″

Masih lanjutan dari cerpen remaja Take My Heart yang kini sampe part 3. Secara kisah diantara mereka baru di mulai. Masih belum jelas juga konflik ceritanya mau di bawa kemana. So untuk yang udah penasaran, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk reader baru, biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu part sebelumnya disini. Happy reading…

Cerpen Take My Heart
Take My Heart

Cinta itu bukan tentang apa yang ku rasakan untukmu; Bukan pula tentang apa yang kau rasakan untuk ku ; Cinta yang ku inginkan adalah rasa yang sama yang dimiliki antara kau dan aku #Take my heart
Untuk pertama kalinya setelah hampir tiga tahun menjalani hari – hari sebagai mahasiswa di kampus Amik, Ivan berjalan dengan wajah menunduk. Merasa risih akan tatapan dari seisi kelasnya. Walau sebenarnya di tatap oleh mereka itu sudah merupakan hal yang biasa. Namun kali ini ia merasa beda. Pasalnya, tatapan kali ini jelas tatapan penuh tanya.
Dalam hati Ivan terus merutuki kejadian kemaren. Kalau saja bukan karena rasa penasarannya pada Vio, Gadis yang telah menyelamatkannya kemaren. Pasti saat ini ia lebih memilih untuk tetap berbaring di rumahnya dari pada harus berjalan di sepanjang koridor kampus dengan wajah pernuh lebam. Sial, Gumamnya.
"Hei Bro, Kenapa tampang loe?"
Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulu Aldy yang baru sedetik yang lalu muncul di hadapannya disusul sosok Renold dan Andra yang mengekor di belakang.
"Gila, kok bisa bonyok gini?" tambah Renold sambil meraih wajah Ivan, Membuat sosok itu langsung menepis tangannya sambil meringis. Sudah tau bonyok, masih juga di sentuh.
"Memangnya loe berantem sama siapa?" tanya Andra kemudian.
"Gue nggak tau."
"Ha? Maksut loe?" tanya Aldy.
"Gue nggak tau siapa yang menghajar gue kemaren. Tiba – tiba aja gue di hadang sama perman waktu pulang kuliah," terang Ivan terlihat tidak berminat.
"Kok bisa?"
"Mana gue tau," Ivan angkat bahu. Pada saat yang bersamaan matanya menangkap sosok yang melangkah masuk dari pintu gerbang kampus.
"Hei, loe mau kemana?" tahan Andra saat mendapati Ivan yang berbalik.
Ivan tidak menjawab. Ia terus melangkah menghampiri Vio. Diikuti tatapan ketiga sahabatnya.
"Oh, ternyata dia benar – benar beniat untuk mendapakan sepuluh juta itu," kata Aldi sambil mengngguk – angguk paham.
"Maksut loe?" tanya Renold dan Andra secara bersamaan.
"Tuh. Walau udah bonyok gitu tetep aja dia masih ngejar cewek sepuluh jutanya," terang Aldy sambi memberi isarat kearah kedua sahabatnya tentang tujuan Ivan yang telah mengacuhkannya.
"O," kali ini Renold hanya beroh ria sementar Andra sendiri tampak mengernyit heran saat mendapati Ivan dan Vio yang tampak berbicara di kejauhan. Hebat juga tu orang. Padahal baru kemaren cewek itu terlihat ketus, eh hari ini sudah mau ngobrol bereng. Tak salah kalau sahabatnya yang satu itu di cap playboy, pikirnya dalam hati.
"Vio!"
Merasa namanya di panggil, Vio menoleh. Mengernyit heran saat mendapati Ivan yang datang menghampirinya. Mau apa lagi dia?, pikirnya.
"Ada apa?" tanya Vio kemudian.
Sejenak Ivan terdiam. Mulutnya tidak langsung menjawab karena kini matanya sibuk memperhatikan tampilan Vio hari ini. Rambut yang di gerai bebas dengan sebuah jepitan kecil yang tersemat di atas kepalanya di tambah setelan kemeja berwarna merah muda benar – benar merupakan perpaduan yang cocok. Kontras dengan wajahnya yang imut dengan matanya yang sipit. Ivan menduga pasti gadis ini mempunyai silsilah keturunan cina yang diwarisinya.
"Heloo," Vio melambaikan tangannya tepat didepan wajah Ivan.
"Eh, ehem," Ivan merasa sedikit salah tingkah. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Astaga, akibat di pukuli kemaren pasti otaknya sedikit bergeser. Kenapa ia jadi mendadak merasa paranoid begini ya?
"Gue mau nanya soal kemaren," kata Ivan mencoba untuk kembali pada tujuan awalnya menghampiri gadis itu.
"Soal kemaren?" ulang Vio sambil berfikir sejenak. "O soal kemaren yang loe di pu…. Humph..".
Ivan dengan cepat membekap mulut gadis yang ada di hadapannya itu dengan tangan. Astaga, apa gadis itu berniat untuk mempermalukannya di hadapan semua anak – anak kampus dengan berteriak sekenceng itu.
"Hmmm. Pfh.." Vio dengan cepat menyingkirkan tangan Ivan dari mulutnya. Menatap pria itu dengan tatapan sebel.
"Kenapa si?"
"Iya soal kemaren. Tapi nggak perlu di perjelas juga kali. Pake teriak segala. Kalau sampai anak – anak laen tau gimana?"
Dan Ivan menyadari kalau ia salah bicara saat mendegar kalimat jawaban yang keluar dari mulut Vio.
"Kalau mereka semua pada tau memang apa urusannya sama gue?" serang Vio balik.
Glek.
Satu lagi hal yang baru Ivan sadari tentang gadis itu adalah, ternyata gadis itu sama sekali tidak terpengaruh akan pesonanya.-,-
"Memang nggak ada urusannya sama loe, tapi itu ngaruh sama gue," Ivan meralat ucapannya. Membuat Vio mencibir menatapnya.
"Kembali ke topik pembicaraan kita. Soal masalah kemaren, loe tau dari mana? Jangan bilang kalau itu hanya kebetulan. Secara mustahil secara kebetulan loe bisa bicara soal balas dendam segala."
Vio sejenak terdiam. Tak sengaja ekor matanya mendapati sosok gadis yang kalau ia tidak salah dengar bernama Laura sedang memperhatikan nya dari kejauhan.
"Emang itu bukan kebetulan. Yang bilang kebetulan siapa?" tanya Vio balik.
"Jadi?" kejar Ivan
"Jadi?" ulang Vio.
"Jadi penjelasannya gimana?" tambah Ivan terlihat gemes.
"Nggak ada penjelasan karena gue nggak mau menjelaskan. Dasar playboy cap kodok, buaya cap kadal."
"Ha?" Ivan melongo mendengar gelar aneh yang keluar dari mulut gadis itu. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, justru dengan santainya gadis itu malah melongos pergi.
Vio sendiri juga merasa tidak perlu menjelaskan apapun pada Ivan. Selain karena ia tidak punya bukti bahwa Laura yang melakukannya, ia juga tidak ingin membuat masalah. Secara ia kan mahasiswa baru di kampus itu. Ia sama sekali tidak tau siapa Laura kecuali sebatas nama yang ia curi dengar kemaren. Selebih nya Nol. Kenyataan kalau gadis itu adalah korban dari ke Playboy'an Ivan sehingga membuatnya nekat untuk balas dendam dengan menyewa pereman benar – benar membuat Vio membuang jauh niat untuk mengadukannya."Sial" rutuk Vio dalam hati saat mendapati langkahnya menuju kekelas di halang oleh tiga orang yang hanya salah satunya yang ia tau kalau gadis itu bernama Laura.
"Siapa loe?" tanya Laura.
Dari nadanya saja Vio sudah dapat merasakan kalau tiada aura persahabatan di sana. Sejenak Vio menarik nafas, mencoba menahan diri dan terlihat sesantai mungkin.
"Vio," balas Vio sambil mengulurkan tangan.
Laura hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk menyambut uluran tanggannya, membuat Vio menarik diri.
"Ada urusan apa loe sama Ivan?" tanya Laura langsung.
"Yang jelas bukan urusan loe," balas Vio terdengar sinis. Membuat Laura sedikit tersentak kaget, Sepertinya gadis itu berniat untuk melawan, pikirnya.
"Denger ya, siapapun yang berurusan sama Ivan menjadi urusan gue," kata Laura penuh penekanan.
"Oh ya?" Vio pura – pura pasang tampang kaget. "Termasuk para preman yang menghajar Ivan kemaren?"
"Apa?!" kali ini Laura sama sekali tidak mampu menyembunyikan raut kaget dari wajahnya. Vio sendiri hanya angkat bahu.
"Ehem…" Laura terlihat berdehem sebenetar. Tak ingin terpancing. "Apa maksut loe barusan?" sambungnya lagi.
Sejenak Vio tersenyum sinis, membuat Laura jelas menatapnya kesel.
"Karena wajah tampan yang ia miliki, ia mengunakan kelebihan itu untuk menyakiti orang. Tak ada salahnya kalau gue memberi dia sedikit perlajaran bukan?" sambung Vio sambil menirukan gaya Laura, persis seperti apa yang gadis itu ucapkan kemaren saat ia diam – diam menguping pembicaraan mereka.
"Loe!!" tunjuk Laura tearah ke wajah Vio.
"Kenapa?" tanya Vio polos tapi justru malah terlihat menantang.
"Dari mana loe tau itu?" tanya Laura lagi. Vio hanya angkat bahu.
"Jadi sekarang loe berniat untuk ngancem gue."
"Gue nggak yakin loe bisa di ancam, dan juga nggak ada untungnya gue ngancam loe."
"Terus mau loe apa?"
"Berhenti mengganggu gue, dan please menyingkir sekarang juga. Gue mau lewat."
"Wow, berani sekali dia. Huuu… Takut," ejek Laura meledek membuat Vio kembali menarik nafas kesel. Apa si maunya ni orang?
"Eh denger ya? Loe pasti baru di sini, jadi loe belum tau siapa gue. Asal loe tau aja ya, Gue idola di sini. Jadi nggak akan ada yang percaya sama ucapan loe kalau orang yang kemaren mukuli Ivan adalah orang – orang suruhan gue. Lagi pula loe nggak punya bukti," kata Laura sambil mendorong tubuh Vio ke dinding.
"Huh," lagi – lagi Vio menghembuskan nafas kesel. Tak ingin terpancing emosi ia malah tersenyum anggun saat mendapati siluet seseorang yang ia kenal.
"Soal gue nggak punya bukti, loe salah. Waktu kejadian Ivan di hajar kemaren gue sempet mengabadikan beberapa momen nggak penting, tapi mungkin tidak untuk polisi yang pasti akan langsung melacaknya. So pasti mereka langsung bisa menemukan siapa dalang di sebaliknya. Dan kalau soal nggak percaya. Yups, gue mahasiswi baru disini. Jelas nggak akan percaya kalau gue yang ngomong kecuali kalau justru loe sendiri yang mengakuinya."
"Loe bener – bener ngancam gue?" tanya Laura jelas terlihat marah.
"Bukan mengancam, hanya berusaha untuk melindungi diri sendiri. Buktinya gue nggak pernah tu bilang sama Ivan, Kalau dia bisa tau itu pasti karena ucapan loe sendiri?"
"Heh, menurut loe gue sebodoh itu akan memberitahukan apa yang gue lakukan itu kedia?"
"Karena loe nanya ke gue loe bodoh atau nggak, dan loe sendiri bilang kalau memberi tahu Ivan termasuk tindakan bodoh. Maka gue jawab, ya! Loe emang bodoh," Kata Vio tegas.
Sebelum Laura sempat membalas, Vio sudah terlebih dahulu mengisaratkannya untuk berbalik. Dan begitu menoleh.
"Ivan?" tanya Laura kaget, bingung juga sedikit… takut?
"Jadi para perman yang menghajar gue kemaren itu orang – orang suruhan loe?" tembak Ivan langsung.
Glek.
Laura hanya mampu menelan ludah. Mendadak serem saat mendapati tatapan tajam Ivan jelas terhunus padanya.
"Kenapa loe lakukan itu?" tanya Ivan lagi.
"Iya. Itu orang – orang suruhan gue. Yang sengaja gue bayar buat menghajar loe yang jelas – jelas sudah mencampakkan gue. Yang jadiin gue sebagai barang taruhan bodoh antara loe sama temen – temen loe. Yang udah mempermalukan gue di depan umum. Puas loe? Sekarang loe mau apa?" tantang Laura. Percuma ia menghindar, toh sudah tertangkap basah ini.
Ivan terdiam. Vio juga masih terdiam. Matanya yang sipit tampak hanya berkedap – kedip menatap adegan drama satu babak menyambut hari pertama ia menginjakkan kaki sebagai mahasiswi baru di kampus itu.
"Loe…" tangan Ivan siap terangkat keudara sementara Laura langsung menutup matanya. Terkejut akan reaksi Ivan terhadapannya.
"Cuma cowok pengecut yang berani melakukan kekerasan fisik terhadap cewek."
Mata Laura terbuka. Mendadak takjub menatap kearah Vio yang jelas – jelas sedang menahan tangan Ivan di udara.
"Loe itu sebenernya belain gue apa dia si?" gumam Ivan frustasi sambil menarik kembali tangannya.
Vio angkat bahu. "Gue nggak belain siapa – siapa. Toh nggak ada untungnya juga buat gue. Apapun masalah diantara kalian, itu jelas urusan kalian. Soal insident kemaren, Laura jelas punya alasan untuk melakukannya. Namun karena tindakan yang ia lakukan kemaren termasuk dalam tindakan kriminal. Makanya gue berusah untuk mencegahnya. Dan sekarang, loe yang marah sama dia. Terus berniat untuk melakukan kekerasan fisik juga, jelas aja gue tahan. Cukup Adil bukan?" terang Vio panjang lebar.
"So, sekarang. Silahkan lanjutkan urusan kalian. Dan sejak kecil gue sama sekali nggak pernah punya cita – cita buat jadi hakim atau apapun yang terkait dengan mendamaikan dan mencampuri urusan orang lain. Jadi gue pergi dulu."
Selesai berkata Vio segera melongos pergi. Meninggalkan wajah – wajah yang melongo menatap tak percaya padanya. Bodo amat. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mefikirkannya lagi. Ia sudah terlanjur merasa kesel dan gondok hari pertamanya di kampus itu harus di warnai dengan aura permusuhan. Astaga, apa dosanya tuhan?."Hai".
Vio menoleh saat merasakan pundaknya di tepuk dari belakang. Begitu menoleh ia yang saat itu sedang mengunyah bakso di dalam mulutnya kontan langsung tersedak.
"Uhuk uhuk uhuk."
"Astaga… Sory sory sory," Kata Ivan sambil meraih air minum dan langsung menyodorkannya kearah Vio yang langsung di teguk habis. Sementara tangan Ivan sendiri tampak mengusap – usap punggung Vio.
"Loe, niat mau bunuh gue ya?" tuduh Vio langsung.
"Gue niat nyapa doank. Loe nya aja yang kagetnya lebay," balas Ivan sambil duduk di hadapan Vio tanpa permisi sama sekali.
Vio tidak membalas. Tangannya sendiri meraih tisu, mengelap bibirnya yang basah. Matanya yang sipit makin menyipit saat melirik Ivan dengan tatapan mencibir.
"Oh ya, gue boleh ikutan gabung kan?" tanya Ivan mengalihkan pembicaraan.
"Kalau seandainya gue bilang enggak loe tetep duduk di situ kan?" Vio balik bertanya.
"Tentu saja," balas Ivan cepat membuat Vio lagi lagi mencibir kearahnya.
"Ngomong – ngomong kenapa si loe judes banget jadi cewek?" tanya Ivan.
Sejenak Vio menarik nafas. Menghentikan aktifitasnya menikmati semangkuk bakso yang ada di hadapannya. Menatap lurus kearah Ivan yang berdasarkan kabar yang ia peroleh terkenal sebagai Playboy_cap kadal" menurutnya.
"Gue nggak judes kok," balas Vio, dan sebelum Ivan sempat membantah ia sudah terlebih dahulu menambahkan "Kecuali sama loe."
"Kenapa?"
"Ya sudah jelas. Karena loe itu Play_Boy," Sahut Vio penuh penekanan. Membuat Ivan kembali diam tak berkutik.
"Berbicara soal playboy. Loe duduk disini bukan buat merayu gue kan?" tanya Vio kembali melanjutkan aktifitasnya menikmati makanannya.
"Sebenernya emang itu niat gue," aku Ivan santai.
"Uhuk uhuk uhuk."
Tak pelak ucapan Ivan barusan kontan membuat Vio kembali tesedak. Bahkan kali ini kondisinya lebih parah. Air yang ada di hadapanya sudah lenyap tak bersisa. Membuat Ivan dengan kalang kabut langsung bangkit berdiri. Dan beberapa saat kemdian muncul dengan sebotol air mineral di tangannya yang tampa permisi langsung di tengak oleh Vio.
Begitu batuknya reda. Vio terdiam. Matanya menatap kearah mangkuk bakso yang ada di hadapannya yang hanya tersisa setengah. Mendadak merasa horor , makanan itu bisa saja membunuhnya.
Dan begitu ia menoleh, matanya langsung bertatapan dengan wajah Ivan yang jelas jelas menatapannya khawatir. Vio lagi – lagi berfikir, kalau sosok yang ada di hadapannya tak kalah menyeramkan dari pada semangkuk bakso yang ada diatas meja. Kedua sama sama berpotensi untuk membunuh. Bukankah sosok itu adalah pernyebap kenapa memakan bakso itu menjadi berbahaya?
"Gue nggak niat buat membunuh loe," Kata Ivan cepat saat mendapati mulut Vio akan terbuka.
"Gue cuma berniat buat jadiin loe itu pacar gue," sambung Ivan.
Kali ini Vio melongo. Hei, apa itu artinya ia baru saja di tembak seseorang. Wah, ajaib. Baru sehari yang lalu ia memutuskan untuk pindah di kampus ini karena patah hati dan kali ini ia sudah di tembak sama seseorang yang tekenal dengan ke playboyannya. Astaga…
Didorongnya mangkuk bakso itu sedikit kedepan. Ia benar – benar merasa trauma untuk mencicipi makanan tak berdosa itu. Di silangkannya kedua tangannya di atas meja. Menatap lurus kearah wajah Ivan.
"Pasti karena loe sedang bertaruh sama temen – temen loe kan?" tebak Vio ngasal.
Kali ini Vio melongo untuk kedua kalinya saat tiada kata bantahan keluar dari mulut Ivan. Maksutnya itu bener? Ia adalah target taruhan Ivan selanjutnya?.
Dan tanpa bisa di cegah tangannya langsung terangkat menjitak kepala Ivan. Membuat suara mengaduh keluar dari mulut pria tampan itu.
"Loe mikir apa si? Bisa – bisanya loe jadiin gue barang taruhan," geram Vio emosi.
"Ya bukan salah gue donk. Siapa suruh kemaren loe jadi orang pertama yang keluar dari ruangan dosen," kata Ivan membela diri.
"Maksut loe?" tanya Vio dengan kening berkerut.
"Iya kemaren itu gue memang di tantangin sama temen – temen gue buat menaklukkan hati siapapun yang pertama sekali keluar dari ruangan dosen. Dan ternyata orang itu elo."
Vio terdiam. Mencoba mencerna penjelasan yang baru saja ia dengar. Sekarang ia mulai mengerti kenapa kemaren ia mendapatkan tatapan aneh dari Ivan dan ketiga temanya. Ternyata karena taruhan konyol itu. Tapi…
"Tapi gimana kalau seandainya waktu itu orang yang pertama kali melewati pintu itu adalah dia?"
Tatapan Ivan beralih mengikuti arah telunjuk Vio. Glek. Ia hanya mampu menelan ludah saat tau sosok yang di maksut adalah Pak Burhan.
"Ehem, Walau berat untuk mengakui. Sebenarnya sosok pertama yang melewati pintu itu memang dia," aku Ivan kecut.
Vio melongo. "Kalau gitu loe harus macarin dia donk?"
"Tentu saja tidak," bantah Ivan cepat. Bahkan ia nyaris berteriak saat mengucapkannya.
"Maksut gue. Dia itu pengecualian. Gue masih normal mana mungkin gue mau memacari sesama cowok. Jadi peraturan di rubah kalau hanya yang berjenis kelamin cewek yang masuk hitungan."
"Gue meragukan kalau loe normal. Secara mana ada manusia normal yang akan mempertaruhkan dosennya sendiri," cibir Vio sinis.
"Dan satu lagi, kalau dosen cowok bisa di jadikan pengecualian, harus nya gue juga donk," tambah Vio beberapa saat kemudian.
"Maksutnya?"
"Ya gue kan bukan dosen. Harusnya kalian itu hanya bertaruh untuk dosen yang melewati pintu itu. Sementara gue kan bukan."
"Ah loe bener juga. Kenapa kita kemaren nggak kepikiran sampe kesitu?" kata Ivan mengangguk angguk membenarkan.
"Itu karena loe bodoh," geram Vio tak sabar.
Ivan terdiam sambil menatap Vio kesel. Baru sehari ini ia kenal gadis itu kenapa begitu banyak tanggapan buruk yang ia dapatkan. Dan herannya kenapa ia tidak merasa marah. Benar – benar suatu hal yang harus ia pertanyakan.
"Jadi berapa nominal yang kalian pertaruhkan?".
"Eh?" Ivan bingung. Gadis itu dengan mudah membelokan pembicaraan.
"Ehm… Sepuluh juta," balas Ivan lirih saat otaknya mampu menebak arah pertanyaan gadis itu.
"Apa?!" kali ini mata Vio yang sipit tampak membulat. Membuat Ivan berpikir gadis itu sama sekali tidak cocok untuk marah. Wajahnya sama sekali tidak terlihat menakutkan. Sepertinya raut imut sudah mendomain dalam wajahnya.
"Sepuluh juta?" ulang Vio tak percaya membuat Ivan menganguk tak bersemangat.
"Terus apa aturan mainnya?" tanya Vio lagi.
Walau bingung juga ragu, namun tak urung Ivan menjawab "Gue harus berhasil macarin loe dalam kurun waktu kurang dari sebulan baru kemudian gue harus memutus loe di hadapan semua anak – anak."
Asli kali ini Vio melongo. Tak tau bagaimana asalnya mendadak ia merasa menyesal. Menyesal kenapa dulu ia harus menyatakan cinta pada Harry. Menyesal kenapa ia ceroboh untuk pindah kampus segala. Dan yang terpenting ia menyesal kenapa tidak membiarkan para preman itu menghajar makluk di hadapannya itu habis – habisan kemaren.
"Bagus kalau begitu sekarang juga loe umumkan kalau kita saat ini pacaran. Dan besok siang, disini, loe bilang kita udah putus," kata Vio tiba – tiba. Membuat Ivan yang gantian melongo.
"Ha?".
"Dan besok uang taruan itu bagi dua. Fivety fivety. Loe lima juta, gue lima juta," eambah Vio lagi.
"Leo serius?" tanya Ivan makin takjub.
"Dasar bodoh. Tentu saja bohong. Loe pikir gue cewek apa yang mau di jadikan taruhan begitu" Selesai berkata Vio langsung bangkit berdiri. Meninggalkan Ivan dengan rasa kesalnya. Kenapa Gadis itu suka sekali mengatainya bodoh? Kalau sampai ia bodoh beneran, apa dia mau bertanggung jawab?
Next to Cerpen Take My Heart Part 04
Detail Cerpen

Next : || ||

Random Posts

  • SALAHKAH BILA AKU MENCINTAMU

    SALAHKAH BILA AKU MENCINTAMUOleh: Binti MelaniaMalam itu Rio masih belum terlelap ia masih sibuk mempersipkan surat untuk Dinda besok. “apapun yang terjadi besok, aku akan terima,, aku ingin ungkapin ini semua, mungkin ini satu-satunya cara agar Dinda mengerti perasaan aku,” gumam Rio dalam hati.Dentang jam menunjukkan pukul 24.00, mata Rio belum juga terpejam, ia masih memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Rio mencoba untuk tidur tapi kejadian esok menghantui dirinya hingga pukul 04.00 Rio belum tertidur.Pagi sudah datang, ayam jago milik tetangga Rio berkokok dengan lantang membangunkan Rio yang baru saja terpejam. Dengan rasa malas, Rio beranjak dari ranjangnya dan bersiap berangkat sekolah.Sesampai di sekolah, Rio berpapasan dengan Dinda dan genknya di lorong sekolah.“ha…hai Dinda??’’ sapa Rio gugup, Dinda hanya menjawab dengan seutas senyum manis di bibirnya dan berlalu bersama teman-temannya.“Dinda, apakah aku salah telah menyukai dirimu,, kau adalah gadis paling popular di sekolah ini, sementara aku….” Belum sempat menyelesaikan perkataannya dalam hati, tiba-tiba Sonia datang menepuk pundak Rio.“hayoo,, liatin sapa tuu sampe nggak kedip dari tadi,, pasti liatin Dinda yaa,” geretak Sonia meledek Rio. Rio hanya tersipu malu mendengar perkataan Sonia, wajahnya memerah dan tangannya berkeringat dingin.“sudahlah Rio, lupakan saja gadis itu, toh dia juga sudah punya pacar kan???” Sonia mencoba mengingatkan Rio.“pacar??” Rio terkejut, karena setahu Rio, Dinda masih jomlo setelah putus dengan Edwin.“kau tak tau, seminggu lalu tepatnya mereka jadian,, pasti kau tak membaca majalah hari ini kan, ini coba saja baca, Dinda berpacaran dengan Niko kakak kelas kita yang menjadi kapten club basket,” kata Sonia sembari menunjuk majalah yang di pegangnya.“makasih, aku juga telah memikirkan ini berulang-ulang kok’’ jawab rio kecewa, seraya beranjak meninggalkan Sonia. Rio pun berjalan menuju kelasnya, sesampainya di kelas, ia hanya terdiam melamun di bangkunya. Tiba-tiba suara seorang gadis membuyarkan lamunannya, gadis itu adalah Dinda.‘”permisi semua, ‘’ semua wajah tertuju pada arah suara itu.“rionya ada kan??’’ lanjut Dinda. Seraya rio langsung berdiri dari bangkunya. (deg-deg-deg) degupan jantung rio menjadi lebih cepat, ia begitu gugup.“hai rio,, ini ada tugas dari p.hardi untuk kelas mu(Dinda memberikan selembar kertas berisi tugas kepada rio).. hei, kenapa wajahmu pucat sekali, apa kau sakit (Dinda memegang dahi rio)’’Rio sangat gugup, tubuhnya berkeringat, ia tak mampu berkata apa-apa, ia hanya bisa menatap mata Dinda.“ya sudahlah, kalo kamu nggak mau jawab, aku balik ke kelas dulu ya..??”“di… dinda ,??"“ya, ada apa??’’“apa nanti jam istirahat kau bisa menemuiku di taman belakang??” pinta rio pada dinda.“tentu,, aku bisa kok’’ jawab dinda enteng.(huuufft) rio mencoba menghela nafas, ia mencoba menenangkan hatinya.Bel istirahat pun berbunyi, rio bergegas keluar kelas menuju taman belakang, sesampai di sana, rio harus menunggu dinda hingga 15 menit lebih.“kenapa dinda belum datang, apa ia lupa??” gumam rio lirih, tak berapa lama dinda pun datang. Ia menghampiri rio yang sedari tadi duduk di bangku taman.“dinda??” rio serentak berdiri dari bangku itu.“iya, maaf ya aku terlambat tadi aku masih….” Belum menyelesaikan perkataannya, rio sudah memotong kata-kata dinda.“aku ingin memberikan ini” potong rio seraya memberikan sehelai surat untuk dinda.“apa isi surat ini rio,??” Tanya dinda,“baca saja” jawab rio menahan semua kegelisahannya. Namun, bukannya dibaca tapi dinda malah membuang surat itu.“untuk apa aku baca surat ini, sementara penulisnya ada di hadapanku, langsung saja kau katakan rio??” paksa dinda pada rio. Rio tak memikirkan hal ini sebelumnya, saat dinda berkata seperti itu, tubuh rio serasa tersentak. Dia yang awalnya tenang-tenang saja, kini menjadi sangat gugup. Bibirnya sulit tuk berucap, ia hanya tertunduk dan terdiam beberapa saat.“aku,, aku ingin bicara sesuatu pada mu din” rio mulai berkata dengan menahan semua rasa gugupnya.“katakan saja, aku akan mendengarkannya” jawab dinda seraya tersenyum manis.“dinda, sebenernya sejak pertama kita ketemu aku udah menyimpan perasaan ke kamu, tapi aku nggak berani ungkapinnya, aku tau aku nggak pantas untuk kamu, aku hanya anak biasa sedangkan kamu adalah gadis paling diidolakan di sekolah ini, aku juga udah pikirin ini mateng-mateng, aku nggak bisa terus memendam perasaanku din, aku sayang sama kamu, aku selalu mencoba jadi yang lebih baik agar kau selalu menatapku dan tersenyum padaku, hingga sekarang aku jadi seperti ini itu karena kamu” ungkap rio.“rio, kau juga pasti tau kan,, aku sekarang telah punya pacar, terimakasih kau sudah mau menyayangi aku, tapi sungguh aku minta maaf aku nggak bisa balas semua itu” jawab dinda dengan lembut seraya mengangkat dagu rio yang sejak tadi tertunduk.“aku minta maaf, aku sudah salah, aku memang tak pantas mencintai kamu” kata rio seraya meninggalkan dinda. Dinda merasa bersalah pada rio, dia mencoba memanggil rio tapi, rio tak menghiraukannya.Dinda pun berjalan perlahan ke kelasnya, tapi kerumunan siswi menghentikan langkahnya. Para siswi itu membicarakannya, mereka berbisik-bisik satu sama lain, tapi dinda hanya melirik sebentar dan melanjutkan langkahnya. Ketika ia melewati kelas XI- IPA dia melihat rio yang sedang tertunduk di bangkunya. Dinda ingin masuk tapi guru sudah datang, ia pun bergegas masuk kelasnya yang berjarak 2 kelas dari kelas rio.Bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini pun berbunyi, lautan putih abu pun bergegas keluar kelas namun mereka tak langsung pulang karena hari itu hujan deras, mereka pun harus menunggu hingga hujan reda meski beberapa anak nekat untuk pulang. Dinda dan rio keluar kelas masing-masing secara bersamaan. Dinda menghampiri teman-temannya di depan kelas. Tiba-tiba niko menghampiri dinda bersamaan dengan rio. Mereka berdua membukakan payung dan ingin mengantarkan dinda pulang. Tentu saja dinda lebih memilih diantar oleh niko kekasihnya. Dari kejauhan dinda masih melihat rio yang terlihat sangat sedih.“rio, maafin aku ya,, aku nggak bermaksud nyakitin kamu, semoga kamu bisa ngerti” kata dinda dlam hati kecilnya. Niko membukakan pintu mobil untuk dinda, dan niko pun bergegas masuk mobil. Dari kaca mobil dinda melihat rio yang nekat hujan-hujan, rio membuang payungnya dan berjalan dengan penuh penyesalan. Dinda hanya bisa melihat rio dari mobil, tanpa terasa, dinda meneteskan air matanya untuk rio.Keesokan harinya rio sakit dan tak bisa bersekolah. Dinda tak mengetahui hal itu. Hingga 5 hari pun berlalu, rio masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Dinda yang baru mendengar hal tersebut merasa cemas, pulang sekolah ia pun langsung bergegas menuju rumah rio.Di sana dinda melihat rio dengan wajah pucat pasi dan terbaring sangat lemah.“semakin hari, keadaan rio semakin memburuk nak, rio tak mau makan bahkan minum obat saja tak mau, ibu bingung harus bagaimana membujuk rio.” Kata ibu rio.“tante, apakah siang ini rio sudah makan??” Tanya dinda.“belum nak, ibu sudah memaksanya tapi dia tak mau membuka mulutnya” jawab ibu rio.“biar saya yang membujuknya” serentak dinda mengatakan itu tanpa piker panjang.“rio, kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini,??” Tanya dinda seraya memegang tangan rio lembut.“untuk apa kau kemari din, aku tak pantas untuk kau jenguk, aku sudah tak ada gunanya din, sudahlah cepatlah pulang,” pinta rio serentak melepaskan tangan dinda. Tak berapa lama ibu rio datang membawakan sepiring nasi untuk rio. Dinda langsung berdiri dan mengambil piring itu. Dinda mencoba membujuk rio untuk makan namun rio malah membanting piring berisi nasi itu.“riio, kau kenapa, kenapa kau seperti ini padaku??’’ Tanya dinda dengan mata berkaca-kaca.“aku nggak ingin melihat kamu lagi, pergilah dari rumah ini, dan jangan menginjakkan kakimu di sini lagi.’’ Rio membentak dinda.“jadi kau mengusirku, apa seperti ini rio yang aku kenal, kenapa kau berubah begitu cepat, kalau kau membenciku, bukan seperti ini caranya. Bukan dengan menyakiti dirimu sendiri, kau yang selalu menyemangatiku kenapa sekarang kau kehilangan semangat, kau bukanlah rio yang dulu.” Kata dinda seraya melangkahkan kaki meninggalkan rio yang masih terdiam.Rio hanya terdiam di atas tempat tidurnya. Keesokan harinya rio memaksakan diri untuk bersekolah, dengan tubuh tertatih-tatih rio berjalan menuju lorong sekolah. Sesampai di kelas, rio di sambut hangat oleh teman-temannya.“hei rio, kau masih hidup ternyata hahaha,,,!!!” ledek andy teman sebangku rio. Rio hanya tersenyum tipis mendengar ledekan teman-temannya.“tentu saja rio masih hidup, ia kan masih ingin bertemu wanita pujaannya, makanya hari ini dia bersekolah” sahut ricky,“hoho,, siapa gadis itu,, setauku rio tak pernah dekat dengan gadis lain selain Sonia” andy terheran.“rio, apakah kau tak mau menjawabnya sendiri??” seru ricky meledek temannya itu.“sudahlah, aku tak mau membahasnya, aku ingin sendiri” rio seraya pergi meninggalkan teman-temannya itu. Rio beranjak pergi dari kelasnya, tanpa sengaja rio menabrak seorang gadis, buku gadis itu berhamburan di lantai teras.“maaf. Maafin aku, aku nggak sengaja” rio meminta maaf kepada gadis itu sambil membantunya merapikan buku-bukunya. Ternyata gadis itu adalah dinda, rio langsung menundukkan kepalanya, dan bergegas meninggalkan dinda.“rio tunggu” panggil dinda.“ada a..apa.. di..dinda??” Tanya rio terpatah-patah.“untukmu” dinda memberikan secarik kertas untuk rio. Rio segera menerima kertas itu dan pergi begitu saja.Di taman rio membaca surat itu.Dear rio,Aku minta maaf, mungkin aku sudah menyakiti hati kamu. Tapi sungguh aku tak bermaksud mempermainkan perasaan kamu. Ketahuilah, sekarang aku telah berpisah sama niko. Dan orang tuaku akan membawaku pergi ke amerika untuk melanjutkan study ku bersama kakak ku. Kamu nggak pernah bersalah kok rio, semua perasaanmu ke aku itu tidak bersalah. Tapi akulah yang bersalah karena tak dapat membalas rasa sayangmu padaku. Mungkin hari ini adalah terakhir kita bertemu. Sebenernya aku tak ingin pergi, tapi tempat ini memberiku banyak kenangan buruk.Rio jika nanti kau menyukai seoarang gadis lagi, jangan pernah bertindak konyol seperti ini. Aku nggak akan lupain kamu, karena kamu adalah sosok cowok yang bisa membuatku tersenyum. Dinda,Setelah membaca surat tersebut, rio langsung beranjak dan berlari menuju kelas dinda. Sesampai di kelas dinda, rio memeluk dinda erat sekali.“dinda, jangan tinggalin aku, aku mohon” pinta rio dengan tulus.“rio apa-apaan sih kamu, malu tauk” jawab dinda seraya melepas pelukan rio. Tapi rio masih tetap saja memohon pada dinda, ia berlutut di depan dinda. Rio meneteskan air matanya, dinda pun ikut menangis.“rio, jangan kau seperti ini, aku tak bisa menuruti kamu. Aku nggak bisa terus di sini, aku harus pergi hari ini juga. Jangan memberatkan aku rio, please” kata dinda seraya membantu rio berdiri.‘’dinda, aku nggak tau tapi aku nggak bisa maksa kamu buat sayang sama aku, pergilah dinda, mungkin aku nggak pantas bersanding denganmu. Dan sekali lagi, jangan salahkan dirimu sendiri, karena aku yang salah karena telah mencintamu” rio mencoba melapangkan hatinya menerima kepergian gadis yang selama ini dicintainya. Dinda hanya menatap rio dengan seutas senyum manis seperti biasanya.Tak lama kemudian ayah dinda datang untuk menjemput dinda. Dinda pun segera bergegas untuk berangkat ke amerika. Dinda juga berpamitan kepada rio, dinda mencium dahi rio sebagai tanda perpisahan.“aku akan kembali” bisik dinda lembut. Rio hanya diam terpaku, ia tak mampu menahan semua perasaannya. Akhirnya dinda pun beranjak dan pergi meninggalkan rio. Tiada sepatah kata dari rio untuk dinda. Rio mencoba sabar menghadapinya.1 tahun kemudian, rio menjadi anak yang prestasinya menonjol, akhirnya rio mengikuti pertukaran pelajar di amerika selama setengah tahun. Tanpa disadari di sebuah toko buku, rio bertemu dengan dinda saat ia ingin mengambil sebuah buku, tangan mereka secara bersamaan meraih buku itu.“dinda??… kau dinda kan??” rio terheran.“rio,?? Kok kamu bisa di sini??” dinda lun juga terheran.“iya aku ikut pertukaran pelajar selama setengah tahun,, hey bagaimana kabarmu, kau sehatkan” Tanya rio.“ya seperti yang kau lihat ini”“dinda, soal perasaanku dulu, aku sudah mulai bisa menepiskannya. Aku sadar cinta emang nggak harus memiliki, benarkan din..??”“yaa, bener banget,, tumben kamu nyadar” ledek dinda. Mereka pun tertawa bersamaan.Akhirnya mereka pun bersahabat, menjadi sahabat yang sangat akrab. Rio telah mengubur dalam-dalam perasaannya karena ia tahu kalo sampai kapanpun dinda nggak akan bisa sayang padanya, seperti ia menyayangi dinda. Satu hal yang menjadi pelajaran untuk rio, bahwa cinta itu tak bisa dipaksakan, dan tak harus memiliki.SELESAI

  • Cerpen Cinta Romantis “Kenalkan Aku Pada Cinta” ~ 03

    Oke, Ide ceritannya dadakan, waktunya pengetikannya juga maksa. So kalau cerita nya rada maksa juga harap di maklumi aja yak?. Cerpen ini adalah lanjutan dari cerpen cinta romantis " Kenalkan aku pada cinta" part 2 kemaren. Abis, kalau di inget inget udah lama juga nggak di lanjutin ternyata. Soalnya gara gara pinguin V2 si. Jadi males di star night malah sok sok an bikin "cerpen remaja cinta 'Cinta ci penghujung harap'. Yang jelas apapun hasilnya, nikmatin aja lah. Mumpung masih mau nulis ini. ^_^Setelah merapikan poni rambutnya serta memastikan kucir kuda di rambutnya terikat kencang, tangan Astri terulur membuka laci meja riasnya. Dari kota persegi panjang itu ia temukan kaca mata yang selalu menemani kesehariannya di kampus. Setelah mengenakannya ia berbalik. Meraih tas, dan segera menuju ke kamar sebelah.sebagian

  • Cerpen Sahabat Be the Best Of a Rifal ~ 02

    Sahabat sejati itu bukan orang yang selalu mebenarkan perkataan kita, tapi sahabat sejati adalah orang yang selalu berkata benar by Star Night.Credit gambar : Ana MeryaCerpen Sahabat sejatiSetelah meninggalkan kelasnya mereka menuju ke taman belakang sekolah yang biasanya tidak terlalu ramai. Sementara rio menuju ke kantin membeli makanan ringan. Farel nggax mau ke kantin karena pasti saat ini semua temen-temennya sedang membicarakannya.sebagian

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 04 /13

    Masih lanjutan dari cerbung Kala Cinta menyapa Part 04. Kisah seputar hubungan antara Erwin dan Rani yang merupakan cerpen requesan. Yang penasaran gimana lanjutannya. Untuk yang baru nemu cerpen ini, biar nyambung bagusan baca dulu bagaian sebelum dalam cerpen kala cinta menyapa bagian 3. Yang jelas selamat membaca aja ya…Kala Cinta MenyapaSepulang kuliah, Rani segera melangkah pulang kerumah. Sambil menunggu bus tumpangannya ia duduk menunggu di halte sambil membaca komik serial cantik yang sengaja ia bawa ke kampus. Bodo amat deh kalau ada orang yang meliriknya heran saat melihat ia yang sudah segede itu masih dengan santai membaca komik. Toh ia tidak merasa menganggu orang lain.Setelah beberpa saat menunggu akhirnya bus yang di tunggu pun muncul. Tapi karena keasikan membaca komik, Rani sepertinya tidak menyadari. Dengan santai ia masih anteng dengan bacaanya sampai kemudian bus kembali berlalu.Begitu menamatkan komik yang ada di tangannya Rani tersenyum puas. Lagi – lagi ending komik jepang berakhir happy ending dengan sangat romantis. Membuatnya merasa sama sekali tidak pernah bosan untuk mengoleksinya. Dengan segera komik itu ia masukan kembali kedalam tas. Pandangannya segera ia arahkan ke sekeliling. Sepi. Kenapa tidak ada seorang pun. Segera di lirik jam yang melingkar di tangan. Pukul sembilan tepat. Keningnya semakin berkerut. Kepalanya segera mendongak keatas. Menatap matahari yang jelas – jelas sudah condong kearah barat. Sejak kapan di sore hari ada pukul sembilan? Beberapa saat kemudian ia kembali mengalihkan tatapan kearah jam. Ups, pantas saja ternyata jarumnya sama sekali tidak bergerak alias jam mati. Wajar saja si, secara itu jam memang ia beli di perempatan toko kaki lima Tiga tahun yang lalu.Akhirnya diambilnya hape dari dalam saku tas. Mencet – mencet tombol untuk sesaat. Saat menatap tanggal yang tertera, kening lagi-lagi berkerut. Dengan cepat tangannya kembali memencet satu satu tombol itu, kemudian seulas senyum terukir di bibirnya.“Alhamdullilah, untung saja gue ketinggalan bus di tambah jam gue mati jadinya gue bisa ngutak – atik note di hape. Hufh, kalau enggak hampir aja gue lupa. Ternyata bener, bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada hikmahnya,” gumam Rani pada dirinya sendiri.Segera ia bangkit dari duduknya. Menoleh kekanan kiri. Saat matanya menemukan angkutan umum yang kebetulan lewat tanpa pikir panjang segera di stopnya. Tepat di depan Ramayana Swalayan ia turun.Mulai dari bagian pernak – pernik, baju, sandal bahkan sampai ke aksesoris Rani terus berkeliaran. Tapi belum ada satu pun yang berhasil menarik perhatiannya. Akhirnya langkahnya di tujukan kearah pustaka. Begitu melihat novel sunshine become you milik nya Illana tan ia langsung tertarik. Di raihnya buku tersebut. Bukannya Irma sangat menyukai bacaan ya?. Sepertinya buku itu juga pas untuk di jadi kan kado.Begitu mendapatkan apa yang ia cari Rani segera berlalu. Melanjutkan niat awalnya untuk langsung pulang kerumah. Saat bersiap untuk menyeberang jalan matanya tanpa sengaja melihat anak kecil yang berjalan di jalan. Sepertinya anak kecil itu kebingungan. Mungkin juga karena terpisah dari orang tuanya. Rani juga tidak memikirkan lebih jauh karena ia justru malah langsung berlari menarik anak itu saat mendapati sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah berlawanan.Saat mendapati wajah – wajah lega dari orang – orang di sekelilingnya yang kebetulan melihat kejadian tadi Rani segera bangkit berdiri karena tadi ia memang sempat jatuh terduduk saat berusah untuk menyelamatkan tu bocah. Sambil tersenyum Rani menatap kesekeliling. Namun ketika ia mau berjalan tiba – tiba ia merasa sedikit nyeri di kakinya. Begitu ia menoleh ternyata memang ada sedikit luka gores. Untuk sejenak Rani terdiam saat mendapati cairan merah yang ada dikakinya sampai beberapa saat kemudian ia kembali tergeletak. Satu – satunya yang masih mampu ia tangkap adalah suara teriakan panik di sekeliling sebelum kemudian ia benar – benar tak sadarkan diri.Saat kembali membuka matanya, hal pertama yang Rani lihat adalah langit – langit kamar yang berwarna putih polos. Kemudian perhatiannya teralihkan kearah samping. Walau terlihat sedikit kabur tapi Rani masih bisa mengenali dengan jelas siapa sosok yang kini berdiri di dekatnya dengan raut cemas.Tanpa perlu sok jaim atau pun sok jaga image, mulut Rani terbuka lebar. Mengabaikan raut bingung sekaligus kesel juga cemberut sosok yang ada di sampingnya yang pasti langsung mengira ia bukan sadar dari pingsan namun justru baru bangun dari tidur siang.“Eh, loe Erwin kan? Kok loe bisa ada di sini? Terus sekarang gue lagi ada di mana nie?” tanya Rani sambil mengucek – kucek matanya.Erwin terdiam. Bukannya menjawab justu ia malah menatap Rani dengan intens. Melihat wajah polos seperti anak kecil yang ada di hadapannya membuat nya merasa gemes. Dan sebelum sempat sebuah senyum bertenger di bibir kesadarannya keburu pulih.“Jangan sok lupa deh,” kata Erwin berusaha terdengar sinis.“Gue bukan sok. Tapi gue beneran lupa. Memangnya gue kenapa?” tanya Rani lagi sambil menatap keatas. Berusaha mengingat – ingat kejadian sebelumnya.“Oh gue inget. Tadi itu gue abis bantuin anak kecil. Terus kaki gue luka. Karena gue phobia darah. Makanya gue pingsan."“Syukur deh kalau loe inget. Makanya laen kali kalau mau pingsan liat – liat tempat dulu donk. Jangan sembarangan."Mendengar kalimat yang baru saja di dengarnya membuat Rani sontak menoleh. Gantian menatap sinis kearah Erwin.“Eh, dengar ya. Kalau gue bisa milih, mendingan gue nggak usah pingsan. Dasar, gini nih kalau orang udah kelewat pinter. Kalau ngomong memang suka asal njeplak,” balas Rani santai, sama sekali tak memperdulikan pelototan yang terarah kepadanya.“Tapi kok loe bisa ada di sini?” tanya Rani lagi setelah beberapa saat terdiam.Erwin terdiam. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Mulutnya terbuka tapi beberapa saat kemudian kembali tertutup. Ia bingung harus menjawab apa.“Perasaan tadi gue nggak ada liat loe deh. Apa mungkin gue lupa ya?” sambung Rani lagi, mencoba mengingat – ingat kejadian sebelumnya.“Sudahlah. Tidak perlu di bahas. Tadi itu gue hanya kebetulan lewat."“O…” Rani mengangguk – angguk sambil tersenyum simpul. Erwin yang kebetulan memergoki tingkahnya merasa heran.“Kenapa loe malah senyum – senyum sendiri?”Rani mengeleng “Eh, ternyata loe baik juga ya?”“Apa an si,” Erwin makin terlihat salah tingkah.“Ma kasih ya,” Sambung Rani sambil tersenyum tulus.“Ehem, ya sudah lah. Sepertinya loe juga baik – baik saja. Tidak ada terlihat luka yang menghawatirkan. Kalau begitu gue pulang dulu,” kata Erwin sambil berbalik.“Eits, tunggu dulu!” kalimat Rani yang nyaris disebut teriakan menghentikan langkah Erwin. Perlahan pria itu kembali berbalik.“Ada apa?”“Loe antarin gue donk."“Ha?” mulut Erwin terbuka. Tatapannya terarah lurus kearah wajah polos Rani. Ia yakin barusan ia salah dengar.“Gue kan cewek. Abis ketabrak lagi. Masa loe tega si ninggalin gue sendirian. Lagian loe kan sudah terlanjur bantuin gue. Jangan setengah – setengah donk harusnya."“Tapi…”.“Ya sudah lah kalau loe nggak mau. Gue pulang sendiri aja,” potong Rani sambil berusaha bangkit. Diraihnya tas di atas meja berserta kado yang ada di sampingnya sebelum kemudian berjalan melewati Erwin yang masih berdiri terpaku memperhatikan tingkahnya yang di rasa aneh. Bagaimana bisa ada orang seperti dia. Bisa berubah pikiran dalam sekejap.“Duh… Kok nggak ada taxsi atau angkot yang lewat si. Hu… mana kakinya masih sakit lagi,” gerut Rani sendiri sambil menoleh kekanan kiri jalanan.“Buruan, Ayo naik?”Rani menoleh. Merasa heran sekaligus bingung saat mendapati Erwin yang bertenger di atas motornya berhenti tak jauh darinya.“Jiah, dia malah bengong. Buruan."“Gue?” tunjuk Rani kearah Wajahnya sendiri. Erwin hanya memutar mata mendegaranya. Namun tak urung tangannya terulur menyodorkan helm.“Bukannya tadi loe bilang loe nggak mau nganterin gue ya?” tanya Rani saat motor yang di kendarai sudah mulai melaju.“Rumah loe dimana?” Erwin balik bertanya.“Komplek BTN Bumi Asih nomor 24,” balas Rani meyebutkan alamat rumahnya walau tak urung ia merasa heran. Erwin kan sudah tau rumahnya dimana saat jatuh di got dulu. Kenapa pria itu bertanya?Erwin terdiam sama sekali tidak berkomentar apa pun lagi. Sementar Rani yang semula berniat untuk bertanya kembali menutup mulut. Sepertinya Erwin bukan type orang yang enak di ajak ngobrol. -,-“Erwin, sekali lagi makasih ya,” kata Rani begitu mereka telah berhenti tepat di depan rumahnya.Lagi – lagi Erwin tidak menjawab. Hanya kepalanya yang terlihat mengangguk. Sementara kedua matanya justru malah menatap kearah rumah Rani yang terlihat sederhana namun sepertinya nyaman untuk di tempati.“Loe mau sekalian mampir?” ajak Rani kemudian.“Oh, Nggak usah. Makasih,” balas Erwin sambil pamit berlalu pergi. Rani hanya angkat bahu. Lagipula tadi ia hanya basa – basi. Setelah menyadari Erwin hilang dari pandangan Rani berbalik. Melangkah masuk kedalam rumah.To Be continue. Next to cerbung Kala Cinta menyapa bagian 5Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.693 WordsLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*