Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 02″

All, udah baca cerpen pupus belom?. Kalau belom baca dulu gih di cerita pendek "Pupus" . Bukan apa cuma sebagai pengingat aja, Vionica disini adalah orang yang sama. So, buat yang penasaran gimana kelanjutan dari cerpen Take My heart bagian kedua ini, bisa langsung baca ke bawah. Sama satu lagi dink, kali aja ada yang belum baca, part satunya ada disini. Happy reading….

Cerpen take my heart
Cerpen take my heart

"Hufh…"
Untuk kesekian kalinya Vio menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Menatap gedung yang menjulang di hadapannya dengan tatapan gamang. Merasa dirinya benar – benar pengecut. Demi menjauhi dan menghilangkan rasa pada Harry, ia nekat pindah kampus. Konyol!
Tapi memangnya siapa yang bisa mendustai hati? Berpura – pura tegar atau sok tertawa padahal hati terluka? Dia tidak sekuat itu! Menurutnya menghindar bukan hal yang buruk untuk di lakukan.
Setelah memantapkan hati ia segera melangkah masuk halaman kampus. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ia sampai di ruangan dosen. Ya biasalah, harus menjalani prosedur sebagai formalitas mahasiswi baru. Begitu selesai ia segera melangkah keluar. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Ternyata semuanya tidak sesulit yang ia bayangkan. Mulai besok ia sudah bisa melakukan kegiatan belajar mengajar di fakultas itu.
Begitu keluar Ruangan dosen, langkah Vio terhenti. Matanya terpaku pada keempat mahasiswa yang tak jauh darinya yang kini juga sedang menatapnya. Ayolah, memangnya penampilannya aneh ya? Atau terdapat jerawat di wajahnya? Kenapa mereka sampai menatapnya seintens itu?
"Ehem." sedikit berdehem, Vio segera melangkah melewati mereka. Makin salting saat tau pria yang tidak ia ketahui namanya masih terus menatapnya tanpa berkedip. Astaga, keluhnya dalam hati.
"Hai.."
"He?" kening Vio berkerut, sama sekali tidak menyangka akan di sapa mereka.
"Kali ini loe benar – benar beruntung Van. Tapi kita liat aja ntar, apa keberuntungan itu akan terus berpihak sama loe."
Walau lirih, samar Vio masih mampu menangkap suara bisikan oleh seseorang yang tidak ia ketahui namanya pada seseorang lagi yang juga masih tidak ia ketahui namanya.
"Boleh kenalan nggak? Gue Ivan," kata cowok yang katanya bernama Ivan itu sambil menyodorkan tangannya. Vio hanya melirik sekilas. Mendadak merasa takut. Ayolah, secara di tv – tv kan banyak tuh kabar heboh soal berandalan di kampus.
"Kalau Gue Renold."
"Gue Andra."
"Aldy."
Vio hanya mengedipkan mata bingung. Sementara Ivan melirik kesel kearah teman – temannya. Uluran tangannya aja belum di sambut kenapa mereka ikut – ikutan. Lagi pula, yang mau taruhan siapa si? Gerutnya sebel.
"Loe mahasiswi baru ya?" tanya Ivan lagi sambil menarik kembali uluran tangannya karena vio hanya menatap tanpa terlihat tanda tanda akan menyambutnya.
"O.. Jadi loe mahasiswa lama?" balas Vio lirih.
"Bhuahaummm… .." Andre cepat – cepat menoleh kearah lain. Mencoba menahan diri untuk tidak langsung ngakak di tempat. Mahasiswa lama? Kenapa kedengarannya janggal sekali ya?
"Ehem.." Ivan sedikit berdehem. Mendadak mati gaya. "Oh ya, Loe belom nyebutin nama loe," Ivan mengingatkan.
"Dan gue sama sekali tidak tertarik untuk menyebutkannya. Maaf, kalau gitu gue permisi dulu," balas Vio ringan sebelum kemudian berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Untuk sejenak Ivan bengong. Seumur hidupnya ini untuk pertama kali ia di cuekin. Seumur – umur baru kali ini ada orang yang menolak untuk di ajak kenalan dengannya. Dan begitu menoleh.
"Kenapa kalian mandangin gue kayak gitu?" tanya Ivan heran saat mendapati tatapan aneh ketiga temannya.
"Gue mendadak ragu kalau loe beneran playboy," Kata Renold.
"Dan gue nggak yakin kalau loe bisa naklukin dia," tambah Aldy.
"Kali ini gue optimis kita bakal menang dan loe pasti kalah," Andre menimpali.
"Eits, tunggu dulu. Ini terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Kita liat saja nanti. Yang jelas belum ada sejarahnya seorang Ivan kalah taruhan," tandas Ivan penuh penekanan. Kali ini ketiga temannya hanya angkat bahu.
Cerpen Remaja Terbaru " Take My Heart ~ 02"
"Dasar Ivan Brengsek."
Langkah Vio mendadak terhenti mendengar teriakan yang baru saja hinggap di telinganya. Ivan? Kenapa nama itu seperti tidak asing ya. Tidak bermaksud menguping hanya saja merasa mendadak penasaran Vio menoleh. Berjalan kearah asal suara. Mengintip dari balik tembok yang menghadap ke pekarangan kampus dimana tampak tiga orang cewek yang tidak ia ketahui siapa sedang duduk disana.
"Sudahlah Laura. Lupakan saja makhluk tak bertanggung jawab itu."
Cewek yang di panggil Laura menoleh. Sekilas Vio melihat raut sembab di wajahnya.
"Lupakan? Tidak akan semudah itu!"
"Terus loe mau ngapain?"
"Gue nggak akan membiarkan diri gue di permainkan seperti ini. Kalian bayangin. Gue, Idola di kampus kita di jadikan bahan taruhan oleh si playboy brengsek itu. Dipermalukan didepan semua anak – anak. Loe pikir gue akan diam aja? Nggak! Gue akan pastikan dia terima akibatnya," dendam Laura.
"Maksut loe?"
Dan kalimat yang meluncur dari mulut gadis yang di pangil Laura selanjutnya benar – benar membuat Vio terlonjak kaget. Mendadak menyesal telah mencuri dengar pembicaraan yang bukan menjadi urusannya. Dengan hati – hati takut kehadirannya di ketahui oleh ketiga makhluk itu, selangkah demi selangkah Vio bergerak mundur.Begitu kelas berakhir, dengan angkuhnya Ivan melangkah keluar kelas diikuti ketiga sahabat karibnya. Tatapan dan decakan kagum serta tatapan penuh minat dari lawan jenis masih saja ia temui mengikuti jejak kakinya melangkah. Walau imagenya benar – benar buruk. Terkenal sebagai playboy kelas kakap namun tetap saja fansnya bejibun. Tak heran si, dengan ketampanan serta kekayaan diatas rata – rata yang di miliknya sepertinya sudah lebih dari cukup untuk menutupi sejuta kekurangannya.
Sampai di pelataran parkir Ivan segera mengenakan helm di kepalanya. Tak lupa bertos ria bersama sahabatnya sebelum kemudian melesat pergi mengendarai motor kesayangannya. Melaju pulang kerumah.
Tepat di tikungan yang kebetulan sepi, secara mendadak Ivan mengerem motornya. Tepat di hadapan tampak beberapa orang bertampang sangar yang sepertinya sengaja menghadangnya. Tanpa sempat memikirkan bahaya yang mengancam jiwanya Ivan sudah terlebih dahulu menyadari sebuah pukulan yang mendarat di kepalanya. Membuatnya jatuh terlempar sementara motornya juga langsung ambruk ditengah jalan.
"Mau apa kalian."
Sebuah pukulan kembali mendarat secara bertubi – tubi kearah tubuh Ivan sebagai jawaban. Walau sebenarnya Ivan juga sedikit jago bela diri. Namun saat di haruskan berhadapan langsung dengan serangan mendadak dari lawan yang tidak sedikit jelas mampu membuat Ivan tak berdaya.
Disaat yang benar – benar kritis itulah Ivan mendengar tepuk tangan disusul suara tawa seorang wanita yang berjalan kearahnya.
"Wow, kasian sekali loe."
Para preman itu serentak berhenti melakukan aktifitasnya memukuli Ivan dan menoleh kesumber suara. Walau setengah sadar Ivan masih mampu mengenali sosok itu. Dia kan…. Gadis sepuluh jutanya? Apa yang di lakukan dia disini?.
"Hei, siapa Kau. Apa yang Kau lakukan disini?" tanya salah satu Preman itu terdengar sangar yang membuat Vio, sosok gadis yang baru muncul itu sedikit bergidik ngeri. Mendadak merasa ragu dengan apa yang telah ia rencanakan.
"Ehem," ditariknya napas dalam – dalam sebelum mulutnya menjawab. "Bukan siapa – siapa kok pak. Cuma orang yang kebetulan lewat disini terus melihat orang yang lagi berantem. Kayaknya seru nih buat dijadiin tontonan."
Bukan hanya para preman itu yang heran, tapi mata Ivan juga melotot kaget. Sama sekali tak percaya saat menatap wajah polos dan santai Vio. Apa gadis itu sudah gila, pikirnya.
"Udah pak, silahkan di lanjutkan. Anggap aja saya nggak ada. Lagian saya disini cuma sebentar kok. Cuma nungguin orang, palingan juga bentar lagi dia datang," tambah Vio lagi.
"Menunggu seseorang?" tanya salah satu preman itu.
"Iya pak. Saya lagi nungguin Pak Polisi. Tadi si sudah saya telpon. Saya bilang disini ada orang yang lagi di pukulin preman. Terus Pak Polisinya bilang mau langsung kesini," terang Vio tang kontan membuat para preman itu terlonjak kaget.
"Yah paling juga bentar lagi nyampe," tambah Vio sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. "Em mungkin sekitar satu atau dua menit lagi lah paling lama. Soalnya…"
Sepertinya para preman itu sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulut Vio. Terbukti dengan cepatnya mereka berlari tunggang langgang menuju kearah motor mereka yang memang di parkir tak jauh dari tempat kejadian. Sambil mengumpat tak jelas mereka segera berlalu meninggalkan Vio dan Ivan sendirian.
Setelah mengetahui tiada lagi bayangan para preman itu barulah Vio bisa menghembuskan nafas lega. Tangannya sudah terasa panas dingin. Ia benar – benar tidak mempercayai kalau ia bisa beracting semeyakinkan ini.
"Mau apa loe?"
Refleks Vio menoleh. Baru menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian. Dengan segera di hampirinya tubuh Ivan yang masih tergeletak di jalan. Berlahan di bantunya untuk bangkit berdiri dan duduk di pinggiran.
"Loe kenapa bisa ada di sini? Dan apa yang sudah loe lakuin?" tanya Ivan lagi.
Sejenak Vio terdiam. Mulutnya sedikit maju kedepan tanda cemberut. Lagipula sudah di bantuin juga bukannya bilang terima kasih malah ngebawel.
"Masih nanya lagi, jelas – jelas gue disini bantuin loe. Bilang ma kasih dulu kek," balas Vio sewot.
"Bantuin gue?" kening Ivan berkerut bingung.
"Terus loe pikir tu para preman kabur tunggang langang karena keinginan suka rela?"
"Mereka kabur karena mereka takut sama polisi," balas Ivan sewot.
"Polisi mana memangnya yang mau nyasar kesini. La wong jelas – jelas sepi gini juga?" tanya Vio.
"Tunggu dulu, bukannya loe bilang loe sudah nelpon polisi untuk datang kesini ya?" tanya Ivan lagi. Kali ini raut bingung jelas tergambar di wajahnya.Bukannya langsung menjawab Vio justru malah tertawa lepas. Tanpa beban. Dan sungguh, sumpah demi apapun. Ini untuk pertama kalinya Ivan melihat tawa yang seindah itu. Sebuah tawa yang mampu membuat rasa sakit yang beberapa saat lalu menguasai hatinya mendadak menguap begitu saja. Ya Tuhan, ini benar – benar tidak masuk di akal baginya.
"Ke..ke… Kenapa loe menatap gue seperti itu?" tanya Vio mendadak horror saat mendapati raut perubahan di wajah Ivan yang seolah baru tersadar dari lamunannya segera mengalihkan tatapannya.
"Ehem, Terus polisinya mana?" tanya Ivan mengalihkan perhatian.
"Ha ha ha….. Sebenernya loe itu memang bego atau stupid si? Mau aja di kibulin kaya tu preman. Ya ela, emang gue bisa punya nomor telpon polisi dari mana?".
"Maksutnya?" Ivan kembali bingung.
"Tentu saja yang tadi itu bo'ong. Nggak ada polisi yang akan kesini. Tadi itu cuma akal – akalan gue buat ngusir tu perman. Nggak nyangka tu orang – orang pada gampang banget di kibulin," terang Vio lagi.
Untuk sejenak Ivan terdiam. Mencoba mencerna kembali apa yang telah terjadi. Tunggu dulu, jadi….
"Jadi loe nekat boongin para preman itu tadi?" tanya Ivan langsung. Vio hanya membalas dengan anggukan.
"Terus kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana?"
Vio terdiam. Mendadak cemas sekaligus kaget. Benar juga, kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana? Ah, kenapa tadi ia sampai lupa memikirkan resiko itu ya?.
"Inget, jangan pernah sekalipun loe mengulangi hal seperti ini nona manis. Tindakan ini benar – benar berbahaya loe tau," tandas Ivan penuh penekanan.
Lagi – lagi Vio terdiam mendengarnya. Tapi beberapa detik kemudian.
"Nona manis? Siapa yang loe maksut nona manis. Enak aja, gue punya nama. Nama gue Vio tau," geram Vio sewot.
Melihat raut cemberut Vio dengan mulut yang sedikit maju kedepan tak mampu membuat Ivan menahan senyumnya. Raut wajah gadis itu kali ini benar – benar terlihat imut menurutnya. Hal yang aneh untuk diakui.
"O, Jadi nama loe vio. Tapi Kalau gue nggak salah inget, Bukannya tadi siang ada yang bilang untuk tidak tertarik mengucapakan namanya ya?"
Pertanyaan yang jelas – jelas menyindir itu kontan membuat Vio mengangkat tangannya secara refleks dan mendaratkannya di kepala Ivan. Bukannya marah karena di jitak secara mendadak, Ivan justru malah tertawa ngakak.
"Baiklah, karena sepertinya loe udah bisa ketawa , gue udah bisa pergi sekarang. Bye bye," Vio bangkit berdiri, bersiap untuk berlalu tapi cekalan di tangan menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu. Loe belom menjelaskan kenapa loe bisa berada disini pada saat dan waktu yang tepat?"
"Oh, itu karena gue sepertinya sedang sial. Kenapa juga gue harus ketemu sama orang yang berniat untuk bales dendam pada seorang playboy kelas kakap seperti loe yang emang pantesnya itu di buang kelaut," balas Vio cuek.
"Playboy? Balas dendam? Dibuang kelaut?" ulang Ivan mendadak pusing.
"Iya! Puas loe?" balas Vio. "Ah satu lagi, Keliatannya loe juga cuma lebam – lebam doank. Dan berhubung loe nggak pake rok alias cowok, so gue nggak perlu nganterin juga kali ya? Loe bisa pulang sendirikan? Oke, bye bye."
Selesai berkata Vio segera belalu. Menyetop taxsi yang kebetulan lewat. Segera berlalu meninggalkan Ivan yang masih membisu di tempatnya.
Next to Cerpen Take My Heart Part 03
Detail Cerpen

Next : || ||

Random Posts

  • Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 07 | Cerpen Remaja

    Kenalkan Aku Pada Cinta part 07, mengikuti ide cerita yang ngalor ngidul nggak jelas akhirnya cerpen ini bisa di lanjutkan juga. Terlebih sebelumnya sempet terganggu dengan kemuculan Short story arti sebuah senyuman yang sedikit banyak emang menyita perhatian. Tapi gimana pun juga, yuks mending kita simak bareng.Oh ya, untuk part sebelumnya bisa langsung di klik di sini.Kenalkan Aku Pada CintaSetelah mandi, Astri merasa tubuhnya terasa begitu segar. Menambahkan sedikit bedak tabur di wajahnya, ia menatap cermin di meja rias. Tanpa perlu mengunakan lipsik Astri berbalik. Meninggalkan kamarnya untuk turun kebawah. Tak lupa di sambarnya Novel If You Dare yang belum sempat selesai di bacanya. Sejujurnya ia tidak suka membaca novel terjemahan, bahasa yang di gunakan kebanyakan vulgar dan ia sangat tidak menyukai itu. Namun untuk yang satu ini sepertinya ada pengecualian.sebagian

  • Cerpen Cinta: LOVE or LOVE

    LOVE or LOVEBy: Early Al_FauziyahSebuah pengalaman yang sulit untuk ku lupakan, yaitu bertemu seorang laki-laki yang baik hati dan perhatian tapi sayang hanya sekejab saja dan entah kapan bisa bertemu lagi.Pada saat itu aku dan keluarga mengantarkan adik ku yang sedang sakit untuk berobat dirumah sakit, ternyata dokter menyarankan opname jadi mau tidak mau adikku harus di rawat inap di rumah sakit itu. Pada hari pertama biasa-biasa saja bahkan aku merasa bosan sekali di rumah sakit. Hari kedua juga sama seperti hari sebelumnya sangat membosankan yang ku lakukan hanya duduk di samping ranjang tempat tidur adikku. Sekitar sore hari mungkin setelah ashar ada beberapa perawat yang datang memeriksa keadaan adikku, tanpa aku sadari ada seorang perawat pria yang memperhatikan aku mungkin aku kegeeran kali ya atau memang diperhatikan entahlah kurang tahu juga????Tapi tidak lama setelah itu seorang perawat pria yang kumaksud diatas tadi datang lagi membawa sebuaah sprai di tangannya dan minta izin kepadaku untuk mengganti sprai kasur yang di tempati adikku, meskipun terpaksa aku membantunya menggantikan sprai itu karena adikku tidak bisa berdiri dan harus diangkat jadi kami mengangkatnya berdua. Setelah dia keluar dari kamar aku biasa-biasa saja tidak sedikit pun terlintas dalam pikiranku untuk memperhatikan dia.Besoknya hari terakhir kami dirumah sakit, sebelum cek out dari rumah sakit adikku akan di rongsent, tepat pukul 08.00 WIB adikku dibawa keruang rongsent. Aku dan tanteku ikut menemani karena adikku nangis kalau sendiri dan aku tidak sadar saat menuju ruang rongsent seorang perawat pria yang aku maksud diatas tadi ikut di belakang kami menuju ruang rongsent juga. Tiba giliran adikku yang masuk untuk di rongsent dan aku bersama tanteku di minta ikut menemani didalam ternyata perawat itu ikut masuk juga, ketika akan di rongsent adikku menangis dan tidak mau di rongsent entah kenapa mungkin dia takut sama petugas ruang rongsent yang pakai seragam dan menggunakan masker tutup mulut dikira teroris mungkin makanya takut ha ha ha…. Sedangkan aku bersama tanteku dan juga perawat itu berusaha membujuknya supaya mau tapi tidak berhasil juga, hingga akhirnya adikku tidak jadi di rongsent dan kami membawanya kembali ke kamar saat di jalan menuju kamar tanteku mendorong kursi rodanya adikku dan aku mengiringi disamping ternyata perawat itu mengikuti di belakang kami, kemudian dia meminta agar dia yang mendorong kursi roda adikku.Sambil mendorong dia bertanya-tanya kepada tante ku yang berjalan di sampingnya sedangkan aku berjalaan di belakang mereka. Dia bertanya tentang adikku dan aku, dia menanyakan kepada tanteku apakah aku kuliah atau masih SMA, dan setelah tanteku bilang kalau aku sudah kuliah dia bertanya lagi semester berapa, jurusan apa, dan kuliah dimana? Aku yang berjalan sendiri di belakang merasa tidak enak karena di omongin.Kami berunding di dalam kamar dan akhirnya kami memutuskan untuk cek out dari rumah sakit karena tidak ada perkembangan sama sekali, aku langsung menuju ruang petugas untuk meminta cek out, saat meminta cek out dengan menjelaskan beberapa alasan kepada petugas tanpa kusadari ternyata perawat itu ada di belakangku dan bertanya “kenapaa cek out kan belum sembuh?” ucapnya, aku hanya menjawab dengan senyum karena sebenarnya aku kaget dia ada di belakangku, dalam hati aku bergumam “ini orang kayak hantu aja dari tadi muncul di belakang terus” he he he…Setelah semuanya selesai kami langsung pulang, aku mendorong kursi roda adikku dan ayah,ibu, serta tanteku membawa barang-barang. Lagi-lagi perawat itu mengagetkan aku dia mengikutiku dan meminta dia yang mendorong kursi roda adikku, akhirnya dengan tidak sengaja aku berjalan beriringan dengan perawat itu sampai depan rumah sakit, di sepanjang jalan dia SKSD alias sok kenal sok dekat denganku, aku cuek saja dari omongannya aku hanya menangkap sedikit saja yang aku dengar dia bilang kalau dia sedang praktek di rumah sakit itu dia juga bilang kalau dia semester lima juga dan kuliah di STIKES Muhammadiyah Cuma itu yang aku ingat.Sampai di depan dia tidak langsung pergi malah menunggu sampai mobil kami datang, karena parkiran penuh jadi mobil lumayan lama baru bisa keluar dan anehnya perawat itu tetap menunggu hingga kami pergi dia baru beranjak dari depan rumah sakit.Sepanjang perjalanan aku baru terpikir dengan perawat itu, aku baru sadar ternyata dia baik dan perhatian kepada adikku, muncul rasa penasaran di benakku siapa nama perawat itu? Ada sedikit penyesalan juga karena tidak menanyakan namanya.Berhari-hari setelah dari rumah sakit itu aku selalu memikirkan perawat itu, semakin lama malah semakin sulit melupakannya, aku bingung bagaimana bisa memikirkan orang yang namanya saja tidak tahu tapi itulah kenyataannya. Setiap saat aku bertanya kapan aku bisa bertemu dia lagi????Sampai sekarang bayangannya sulit sekali untuk di hindari padahaal sudah dua bulan berlalu, aku jadi bingung membedakan perasaanku apakah aku suka tapi rasanya tidak mungkin karena aku belum tahu siapa dia, atau sekedar penasaran ingin tahu namanya dan mengenalnya lebih dalam lagi. Aaaahhhh…… aku bingung.Sekarang aku masih sangat sulit melupakannya aku hanya bisa berdo’a kepada Allah supaya aku bisa bertemu lagi, aku sekarang tidak mengharapkan apa-apa hanya satu yang aku inginkan bisa bertemu lagi dan pengen tahu namanya itu aza.Ya Allah pertemukan aku dengannya meski hanya sebentar!!! 18 Agustus, 2010 Fb : Early CheerfulTwitter: @Earlyalfauziyah

  • Cerpen Horor: Misteri Rumah Baru

    Misteri Rumah Baruoleh Novie An-Nuril KhiyarHari ini adalah hari pertama aku pindah dari kontrakan ku yang dulu. Di karenakan jauh dari kampus, akhirnya aku memilih untuk menyewa rumah baru. Dengan pendapatan yg pas-pasan, aku lebih memilih menyewa rumah yg terlihat tak terurus. Kebetulan sewa rumah itu jauh lebih murah di banding harga sewa rumah ku yg kemarin. Hanya berbekal uang 500 ribu aku bisa mendapatkan rumah yg tergolong mewah, walaupun sedikit tak terurus dan berantakan. Aku saja heran, mengapa rumah ini terlalu murah utk di sewakan,,bukankah rumah ini besar dan luas??. Tapi aku akan tetap tnggal di sini berdua.. Ya,,selama ini aku tinggal berdua dengan teman sekampusku. Kami dari kampung yg merantau kekota hanya sekedar mencari ilmu dan mimpi.“rumah ini sepertinya lama di tinggalkan, bukti nya tak ada 1 barang pun yg terlihat layak utk di pakai”.ujar sherry temanku. Aku hanya terdiam dan tak menggubris omongan sherry, karena ku fikir emang benar. Tak ada 1 barangpun yg terlihat sempurna. Semuanya lapuk,,dan benar2 tak bisa di pakai.Setelah membereskan ruang tamu , aku langsung menuju ruang tengah dan segera membersihkan nya, sementara sherry membersihkan ruang dapur. Kami emang terlihat kompak dalam hal seperti ini. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, kami dapat beristirahat di rumah ini. Untuk sementara rumah yg kami tempati saat ini adalah milik kami.Jam menunjukkan pukul 11.00 pagi, waktunya kami pergi bekerja. Aku bekerja sebagai penjaga buku di salah satu toko buku yg terkenal di kota ini, sementara sherry bekerja di café sebagai pelayan café. Dikarenakan hari ini sherry masuk malam, jadi aku pulang kerja langsung kuliah dan pulang ke rumah. Cukup menyeramkan tinggal dan mendapatkan suasana baru di sini, di rumah baruku. Tapi karena aku termasuk orang yg pemberani, (walaupun sebenarnya ada hal yg aku takuti) aku tetap memberanikan diri untuk tinggal sendiri malam ini sampai pukul 22.00 malam.Karena belum ada persiapan untuk pindah, jadi aku hanya punya barang seadanya utk hari ini. Seperti alat2 memasak dan peralatan utk tidur serta pakaian. Jadi malam ini aku hanya bisa baca buku utk menghabiskan malam. Di dalam kamar yg luas,,aku merasa aneh di situ. Aku seakan melihat sinar di pojok ruang itu, tepatnya di dalam lemari yg berumur sekitar 20 tahun, karena di situ terdapat tahun, yg aku rasa adlh tahun di mana lemari itu baru di beli. Aku langsung menghampiri lemari itu dan membuka setiap laci yg ada. Dan aku melihat satu buku yg terlihat usang. Buku apa itu? Dengan rasa penasaran, aku mengambil buku itu dan membacanya. Halaman per halaman dapat aku baca dengan sempurna. Di saat aku membaca halaman yg ke 14, aku mendengar suara keributan seperti pertentangan antara anak dan orang tua. Ya,,seperti buku yg aku baca saat ini,, buku pada halaman ke 13,,yg isinya perdebatan hebat antara anak dan orangtua. Dengan rasa yg campur aduk, Aku langsung keluar kamar dan menghampiri ruangan yg bersumber keributan itu. Tapi apa yg aku dapatkan? Hanyalah keheningan. Lalu apa yg aku dengar tadi?.. entahlah…aku sendiri saja bingung. Sambil menunggu jam 10 malam, akupun tertidur dengan buku yg masih ku pegang.Dengan berjalannya waktu,, tak terasa aku sudah 2 minggu tinggal di rumah ini. Tak ad keanehan yg di rasakan Sherry. Tapi aku? Selalu saja keanehan yg aku rasakan di rumah ini. Rutinitas berjalan seperti biasa, kerja, kuliah dan pulang ke rumah. Itu aktivitas aku dan sherry. Sampai akhirnya aku lupa menceritakan hal aneh yg aku rasakan di hari pertama kami tinggal. Dan seperti biasa, hal aneh terjadi lagi saat aku membaca buku itu. Yg lebih aneh,,setiap halaman yg aku baca, seolah ada kehidupan yg ada di hadapan ku sekarang dan cerita nya sama persis dengan kisah yg aku baca di buku ini. Dengan rasa penasaran, aku mencoba menonton apa yg aku lihat. Dan dia,,siapa dia? Wanita itu ? apa yg aku lihat saat ini? Dia yg seperti bayangan menyerupai wanita yg aku sayangi, sherry? Ya,, itu benar sherry. Apa yg aku lihat saat ini. Pertanda apa ini? Apakah benar wanita yg ada di hadapan aku sekarang adalah sherry?? Aku selalu bertanya dengan orang yg ada di hadapanku, tapi mereka tidak memperdulikanku, seakan2 tidak melihatku. Apa ini? Aku langsung terdiam ketika aku mendengar dialog “ aku tak akan pernah bisa berhentimencintainya yah,, walaupun aku tlah mati”. Kata2 itu selalu aku ingat,, kata2 yg membuat aku bingung dan penasaran. Pandangan di sekililingku kembali normal saat aku menutup buku itu. Aku benar2 tidak mengerti dengan buku yg ada di tanganku sekarang. Sangat misteri.Hari ini aku terpaksa bolos kerja dan kuliah hanya untuk melihat kejadian yg ada di buku itu. Dengan semaksimal mungkin, aku berfikir keras. Apakah ada hubungannya dengan rumah, waktu dan sherry. Aku akan mencoba mengungkap misteri ini dari awal.Beberapa waktu lalu, sherry mengajak aku pindah rumah secara paksa. Walaupun dengan alasan tepat, tapi aku tetap aja curiga dengan dia. Tanggal ,,, aku mengenal sherry lavida tepat tanggal 13 maret, 1 tahun yg lalu. Dimana tanggal itu adalah tanggal terakhirnya cerita di buku diary yg aku temukan itu. 13..adalah angka yg benar2 sering muncul di buku itu,,,apalagi yg menyakin kan aku adalh saat pertama aku melihat kejadian aneh itu di saat bacaanku terhenti di halaman ke 13. apa artinya ini?Pikiranku terhenti saat ponselku berdering, dan kulihat pesan di ponselku, ternyata dari sherry. Pesan itu berisi “van, mungkin hari ini aku pulangnya agak malam ya, aku lembur. Ok.”,, itu pesan yg aku baca dari sherry. Malam ini aku sendiri,,karena rasa penasaran aku yg begitu kuat, aku rela malam ini gak tidur untuk menyaksikan kejadian beberapa tahun yg lalu di rumah ini.Aku mulai membaca dari halaman 14, halaman yg kemarin sempat terhenti.“hari ini aku bertemu lagi dengan nya di suatu tempat. Aku senang karena masih bisa bertemu dengan nya, walaupun pertemuan itu berakhir dengan pertengkaran yg amat hebat dengan kedua orangtuaku. Orangtua yg tak pernah merestui hubunganku,, orangtua yg egois…dan orangtua yang……” aku berhenti membaca ketika aku melihat bayangan sherry ada di hadapanku. Dan apa yang aku lihat,, sosok orangtua yg sangat marah dengan anaknya, anaknya itu adalah sherry.“ayah tidak melarang kau mencintai lelaki,, tapi jangan dia?” kata2 yg dpt aku dengar dengan jelas, setelah itu semuanya samar terdengar. Aku mencoba membaca kelanjutan bacaan ku tadi…“…sangat keras. apakah aku pantas membenci ayah dan ibu karena mereka menentang cinta kami. Cinta yg kami jalani 2 tahun lama nya, apakah harus berakhir dengan kematian?”Waktu yg lama, fikirku. Aku melanjutkan bacaan ku ke halaman berikutnya,, tapi sebelum aku melanjutkan, aku merasa kaki ku sangat berat, kakiku seolah2 ingin melangkah tanpa aku suruh. Aku mencoba melemaskan kaki ini dan melangkah kearah yg ingin di tuju. Dan apa yg aku lihat sekarang,,, darah. Ya, darah lah yg aku lihat tepat di bawah kaki ku. Aku ambil darah itu, aku cium, ternyata darah itu masih segar, seprtinya belum lama,, bau amis yg aku cium sangat menyakinkan kan bahwa cairan merah itu benar2 darah. Petunjuk apalagi ini? Aku benar2 bingung, dan aku tak aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang.Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku masih saja membaca buku itu sampai halaman terakhir. Aneh,, aku tak menemukan halaman yg ke 20,, aku mencari halaman itu,,, di lemari, di lantai, di dalam buku dan sampai di ruang tamu,, tapi aku tak menemukan nya. Akhirnya aku menyerah, mungkin halaman itu memang tak di tulis. Aku hanya membaca halaman terakhir saja yg isinya seperti ini …“ayah, maafkan shelly. Shelly sangat mencintainya, seperti ayah mencintai ibu. Tolong izinkan shelly untuk memilikinya yah,,”Shelly?? Jadi nama perempuan itu shelly?Aku kembali berfikir, Cuma beda tipis antara “SHELLY” dan “SHERRY”.Di tengah2 keheningan malam, tiba2 aku mendengar tangisan yg begitu pilu dan sangat menyayat hati. Di saat mendengar tangisan itu, aku langsung menangis,,, menangis dan menangis. Setelah tangisanku terhenti, aku langsung mencari asal dari tangisan perempuan itu. Tapi sebelum mendapatkan apa yg aku inginkan,, aku kembali melihat darah yg begitu banyak dan seolah2 darah itu berjalan menuju kakiku. Aku mencoba berlari,, namun kaki ku benar2 terasa berat, bahkan tak bisa di gerakkan.Tangisan itu terhenti,, kembali hening. Darah yg ada pun hilang,, aku kembali duduk di ruang tamu sambil mendengar pembicaraan yg terdengar samar. Pembicaraan itu sepertinya tidak asing bagiku…ya,,ternyata apa yg aku dengar adalah pembicaraan antara shelly dan ayahnya. Saat itu ayahnya benar2 sangat marah,, sampai2 memukul2kn meja. Semakin sadis yg aku lihat, lelaki itu membentak2 selly, dan….”baiklah ayah, , ayah tak pernah merestui hubungan kami, lebih baik ayah bunuh shelly, shelly rela yah mati di tangan ayah” itu adalah kata2 yg kluar dari mulut shelly. Dan seperti yg aku lihat, lelaki itu berkata yg membuat aku benar2 tak percaya “ baiklah,, jika itu yang kamu ingin kan…aku akan membunuhmu.” Itulah kata2 yg membuat aku takut melihat kejadian nya. Apa yg aku lihat sekarang, semuanya seperti nyata. Lelaki itu langsung membunuh shelly dengan cara yg begitu sadis… darah yg aku injak,,terasa masih segar dan itu adlh darahnya shelly. Aku tak sanggup melihatnya, ,selly mati di tangan ayah nya…sungguh sulit tuk di percaya. Lelaki itu membunuh dan mengubur shelly di rumah ini,, tepat di ruang yg aku injak adlah ruang yg di dlm tanahnya terdapat jasad shelly.Malam ini aku merasa malam yg panjang. Aku bisa melihat kehidupan shelly beberapa tahun lalu. Sunggu tragis.Hari ini aku kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Namun pas aku buka pintu kamar, aku mendapati selembar kertas yg berisi “tolong bongkar tempat ini !!!” hanya kalimat itu. Kalimat yg tintanya seperti dari darah. Aku kaget, tapi penasaran juga. Akhirnya aku memutuskan untuk membongkar ruang itu, walau tanpa sepengetahuan sherry.Aku mencoba membongkar tempat itu bersama teman2 kampus ku yg lain. Betapa kagetnya aku, aku mendapati tulang belulang yg terbungkus dengan plastik hitam. Apakah benar tulang belulang itu adalah kepunyaan shelly? Aku langsung memanggil ustadz dan warga sekitar untuk melihat apa yg aku temukan hari ini. Kami langsung mengubur tulang2 itu dengan selayak nya menguburkan jenazah yg masih utuh. Rumah itupun di evakuasi, tuk sementara aku tinggal di rumah teman ku. Tapi ada yg aneh dgn hal ini,, sejak aku merasakan hal aneh di rumah,, selalu saja tanpa hadirnya sherry. Apa maksudnya?“sherry? Apa kau melihat sherry?” tanyaku dengan teman2ku yg lain.“sherry siapa van?”“sherry teman kampus kita, teman aku, yang tinggal di sini bersama aku”“van, selama ini kau hanya tinggal sendiri”“apa?….ucapku heran.“tinggal sendiri” jadi siapa sherry yg aku kenal itu. Di saat aku bingung seperti ini,,ponsel ku berbunyi. Aku mendapati pesan,, dan pesan itu dari sherry…“Van,, aku shelly. Shelly adalah sherry. Terimakasih ya van, kamu udah Bantu aku. Mungkin kamu tak mengerti apa konflik yg aku rasakan beberapa tahun yg lalu, karena aku tak pernah menceritakannya padamu. Dia lah van,, dia adalah lelaki yg sangat aku sayangi, ayahku sangat membencinya karena dia adalah anak dari musuh ayahku. Cinta kami di tentang,,bahkan sampai detik terakhirku. Aku tak rela dia menjadi korban pembalasan dendam dari ayahku, makanya aku berani mati saat aku membela dia.Sekali lagi, terimakasih ya vanny,, kamu udah membuat aku tenang di surga. Aku tak meminta lebih dari perkenalan kita setahun lalu, aku hanya ingin kamu mengungkapkan penyebab kematian ku dan dapat mengubur ku dengan layak…..”SHELLY LAVIDHA”.”Setelah selesai aku membaca pesan itu, aku langsung melihat cahaya putih yg menyerupai sherry. Dia tersenyum padaku“Selamat jalan teman,, semoga kau tenang di sana”the end)* mohon komentar nya,, maklum,, saya masih newbie.Fb : Novie An-Nuril Khiyartwitt : @noviepurple19

  • Senyum Termanis yang Kini Menjadi Tangis

    Senyum Termanis yang kini Menjadi Tangisoleh: FatkuryatiCINTA adalah perasaan yang sakral, tak habis kata untuk mengartikan lima huruf yang berjejer indah. Cinta selalu menjadi topik hangat di seantreo dunia, keberadaannya selalu menjadi teka-teki dan misteri hati. Kalau saja kita tak pernah dilahirkan ke dunia, mungkin kita tak kan pernah mengenal arti cinta, tak kan pernah merasa dicintai atau mencintai, juga tak kan pernah menjadi pencinta yang tulus.Siang itu adalah hari sabtu,, pertemuan pertamaku dengannya setelah menjadi sepasang kekasih.. Aku teramat bahagia untuk itu,, aku berusaha untuk tampil istimewa di depannya,, memilih baju, sandal, tas, jeans dan jilbab yang matching untuk ku kenakan pada pertemuan itu.. Aku seolah menjadi wanita paling bahagia di seantreo dunia,, karena bisa menjadi wanita terpilih dari sekian banyak wanita yang menyukainya.Usia kita terpaut 3 tahun,, dia 3 tahun lebih tua dariku.. Ia tampan, supel, pintar, dewasa, baik, bijaksana dan romantis.. Itulah yang membuatku merasa menjadi gadis paling beruntung.. Satu paket dari banyaknya karakter positif yang aku suka darinya adalah karena dia mengenakan kacamata.. Entah kenapa aku lebih senang dengan pria berkacamata,, bisa jadi karena aku adalah fans fanatiknya Afgan Syahreza yang menamakan diri sebagai Afganisme.. jadi secara tidak langsung, sebenarnya aku menginginkan Afgan Syahreza yang menjadi partner hidupku,, tapi karena itu adalah bagian dari hal mustahil,, so selain Afgan pun tak jadi masalah, asalkan dia berkacamata.. Seperti pepatah ini “Tak Ada Rotan Akarpun Jadi”,, heheeee,,, konyol memang,, tapi yaaa inilah aku.. Sii gadis penyuka pria berkacamata.* * *Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, ponselku berdering pertanda ada pesan masuk,, ternyata itu adalah pesan singkat dari sii beybbii,,, ku buka pesan singkat itu dengan senyum yang tak pernah henti menghiasi bibir mungilku.“Ayy,, kita ketemu jam 1 aja yaa,, di depan halte kampusku,, biar waktunya agak lama’an,, nanti kita langsung jalan,, kamu yang pilih tempatnya,, terserah kamu dehh mau ke mana.. miss U beeyy…” ^^ Setelah selesai membacanya,, tanpa pikir panjang aku langsung menekan tombol replay di ponselku.“Okkeii,, setelah sholat dzuhur aku langsung meluncur ke kampusmu,,, jangan telat yaahh… miss U too,,” ^^ Haaaa,,, saat itu dunia serasa berhenti berputar,, seolah hanya ada aku dan kamu yang menghuni bumi ini.. Tak ada makhluk lain,, hanya KITA.. ^^ aku jadi tak sabar menunggu jarum jam menuju ke arah pukul satu.. Memang saat itulah yang menjadi penantianku,, karena rindu yang dia rasakan sama manisnya dengan rindu yang menggantung dalam sukmaku.. Kehadirannya memang mampu buatku lupa akan cerita indah masa laluku bersama sang mantan yang belakangan ini telah menjadi mantan yang paling berkarat di hatiku.. Sedikit demi sedikit aku mulai berhasil meninggalkan bayangnya dalam masa laluku,, dan semua itu karena DIA,, sii pria yang kini menjadi Super Heroku.. Dulu aku memang merasa teramat sulit untuk tak memikirkan mantanku itu,, tapi syukurlah hal itu kini tak terjadi lagi.. Aku berusaha relakan dia pupus bersama sang waktu,, karena ku pikir telah ada sang Super Hero yang kini berperan mewarnai hari-hariku kembali..* * *Ketika jarum jam menunjukan pukul 12.30 WIB,, aku langsung bergegas menuju lokasi yang telah dijanjikan.. sebelum berangkat pastinya aku telah menunaikan sholat dzuhur terlebih dahulu, karena hal itu memang selalu di ajarkan bunda kepadaku. Angkutan umum warna biru adalah tujuan terakhirku untuk segera sampai ke kampusnya.. Tepat di pukul 13.07 WIB aku telah sampai di depan kampusnya.“Kiri bang,, ucapku penuh semangat memberhentikan angkutan umum yang sedari tadi ku tumpangi”.. Setelah aku selesai membayar dan mengambil kembalian,, aku langsung memposisikan diriku untuk duduk di halte.. Dug-dug-dug,,, jantungku terasa lebih kencang berdetak,, seperti ada sensasi halilintar di DUFAN imajiku… Aku mencoba menormalkan kembali detak jantungku dengan cara menarik nafas panjang sambil memegang dadaku dan mengebuskannya pelan-pelan,, berharap semoga hal ini dapat membantu jantungku untuk berdetak dengan normal kembali.. Setelah dirasa cukup baikan,, akupun bermaksud hendak mengiriminya pesan singkat untuk menanyakan keberadaannya.. Bersamaan dengan aku mengambil ponsel di saku celanaku,, tiba-tiba ponselku berdering tanda pesan masuk.. Hmmm,,, ternyata untuk urusan pesan singkatpun kita sehati.. Dengan waktu yang hampir bersamaan,, kita hendak menanyakan hal yang serupa.“Ayy,, kamu udah nyampe mana?? Aku udah di kampus nii,, di sekret.. Hmmmpp,, aku langsung ke halte ajah kali yah..”Akupun langsung membalas pesannya:“Aku udah di depan kampus kamu beyy,, baru ajah nyampe.. yaudah kamu ke sini yaa,, aku nya sendirian nii…”Tak lama waktu berselang,, tanpa kusadari wajah tampan dengan senyum khasnya telah ku dapati,, wangi tubuhnya pun mulai tercium.. Kulihat Ia sedang berjalan mendekat ke arahku sambil melambaikan tangan.“Heyy ayy,, belum lama nunggu kan??,, tanyanya sambil mengelus kepalaku”“Iya aku belum lama ko,, hanya baru beberapa menit, jawabku sambil melempar senyum manisku ke arahnya”Sejak saat itu,, kami mulai meluncur ke Alun-alun kota Serang,, tempat yang asyik untuk santai bersama sang pujaan hati.. Setidaknya kami bisa bersenda gurau, saling melempar senyum, saling memuji, saling melirik dengan malu, dan di tengah candaan itu sesekali ia mencubit pipiku.. Tanpa harus ku bilang bahagiapun sepertinya ia tahu bahwa aku sangat bahagia bersamaanya,, semua itu mungkin dapat terlihat dari senyum yang tak pernah henti menghiasi bibir mungilku dan dari bola mataku yang tak pernah jera dari binar.“Oohh Tuhan,, jangan biarkan waktu ini berlalu begitu cepat,, saat ini aku hanya sedang ingin menikmati kebersamaanku dengannya,, ucapku dalam hati”Ketika aku sedang setengah terdiam,, dia memintaku memejamkan mata,, dimulai setelah ia selesai menghitung hingga angka tiga.. Saat itu aku mulai merasa penasaran, sebenarnya akan ada hal indah apa yang dilakukannya untukku.. Secara diam-diam ternyata dia mencoba untuk membuatku semakin cinta dengan kejutannya.. dari arah yang berlainan bisa didapati bahwa ada tiga pria yang membawa 3 benda yang berbeda,, tiga pria itu adalah kurir dari toko boneka, toko coklat dan toko bunga yang dari beberapa hari lalu telah dipesannya.“Hmmpp,,, satu dua tiga… ayyoooo buka matamu ayy,, Surpriseeeeeeeeeeeeee,, ucapnya sambil melebarkan tangannya bergaya ala pangeran di negri dongeng”Dan ketika aku mulai membuka mata,, telah kudapati tiga benda lambang cinta berada persis di depanku.. Lima batang coklat Catt Burry,, satu boneka Mickey Mouse berukuran jumbo,, dan dua belas tangkai Bunga Mawar yang disatukan dalam buket yang indah… Aku bisa langsung mengerti bahwa jumlah angka dari setiap bendanya mewakili makna dari moment tak terlupakan 10 hari yang lalu. Lima batang coklat Catt Burry menandakan tanggal jadian kami, sedangkan satu boneka Mickey Mouse menandakan bulan jadian kami,, dan dua belas tangkai Bunga Mawar menandakan tahun jadian kami.. 5 Januari 2012,, itulah moment indahku 10 hari yang lalu bersamanya,, dan itu tak kan pernah terlupakan.“iiiihhhh so sweet dehh,, aku suka ini,, makasih ya beeyy,, dapat ku pastikan bahwa moment ini juga tak kan kulupakan,, ucapku dengan mata berbinar bahagia”.“Sama-sama sayang,, aku juga senang melakukan ini untukmu,, ini sebagai bukti betapa aku mencintaimu,, kamu adalah satu-satunya wanita yang kuharapkan untuk mendampingiku sampai nanti Tuhan akan memanggilku,, aku sayang kamu,, ucapnya sambil memegang tanganku dengan jari-jemarinya yang lembut”.“Kamu bisa lihatkan betapa bahagianya aku saat ini,, itu tanda bahwa aku bersyukur memiliki pria sepertimu,, aku juga sayang kamu beeyy,, seruku sambil balik memegang tanganya dengan erat”..* * *Sore itu adalah sore bahagiaku,, hari terbahagia kedua setelah 10 hari yang lalu, hari dimana dia memintaku menjadi kekasihnya.. Bedanya,, sabtu sore ini waktu seolah berjalan dengan sangat cepat.. Beberapa jam yang terlewat hanya terasa seperti beberapa menit.. Aku bahkan tak tahu,, kenapa jika kita sedang menikmati kebersamaan dengan orang yang terkasih, waktu serasa tak berpihak.. Ia berjalan dengan sangat cepat,, padahal kebersamaan itu masih dirasa kurang cukup lama,, rindu yang terasa saja belum benar-benar terobati.. Sabtu sore ini mungkin pertemuan kami cukuplah hanya hingga pukul 16.00 WIB,, bunda tidak mengizinkanku pulang larut malam,, jadi aku lebih memilih untuk pulang sebelum waktu magrib tiba.Tepat pada pukul 16.00 WIB ia mengantarkanku pulang.. Ketika mengendarai sepeda motor,, Ia benar-benar memperhatikan keselamatanku.. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang normal,, padahal berpacu dengan kecepatan tinggi adalah hal yang biasa dilakukannya,, tapi kini hal itu tak dilakukannya.. Ia mencoba melindungiku dengan caranya.. Aku termasuk anak yang polos,, untuk hal melingkarkan lengan ke pinggangnya pun aku masih merasa malu. Tapi sepertinya ia merasa risih,, ia takut akan terjadi apa-apa denganku,, memang tak ada yang kujadika pegangan saat itu.. kemudian dengan sangat tiba-tiba,, ia menarik kedua tanganku, mencoba menggapainya dan memposisikan lenganku melingkar di pinggangnya.. Posisi tubuhku menjadi sangat dekat dengan punggungnya.. Mungkin detak jantungku yang kini ritmenya mulai bertambahpun bisa dirasakan olehnya.. saat itu pula ia menoleh ke arahku dan mengatakan kalimat pendek yang bermakna dalam,, “Aku Sayang Kamu”.. Tapi aku tak menjawabnya,, suara bising kendaraan kujadikan alasan untuk berpura-pura tak mendengar ucapannya.. karena aku takut ia dapat membaca kegugupanku..Sesampainya di rumahku,, ia langsung pamit untuk pulang.. Tak menyempatkan sedikit waktu pun untuk sekedar mengistirahatkan diri.. Sekitar pukul 17.30 WIB,, ia mengirimiku sebuah pesan singkat yang menyatakan bahwa dirinya telah sampai di rumah tanpa kurang suatu apapun.. Inilah pesan singkatnya yang ia kirim saat senja tiba..“Ayy,, aku udah nyampe rumah nii,, makasih yaa atas sabtu terindahnya”.. * * *Sejak saat itu,, haripun seolah berlalu dengan sangat lambat,, tak kudapati sedikitpun kabar darinya.. tapi aku masih bisa untuk berpikir positif bahwa ia memang sedang disibukan dengan tugas akhirnya (skripsi),, disamping itu aku tahu bahwa dia memang sering menjadi pembicara di berbagai acara seminar.. Aku mencoba untuk tak melemaprinya dengan pikiran-pikiran negatif,, karena bagaimanapun juga aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa apaun aktifitasnya, selagi itu membuatnya nyaman,, aku akan selalu mendukungnya.. Tapi entahlah,, beberapa hari belakangan ini aku merasa ia menjadi amat berbeda,, bahkan komunikasi itu nyatanya telah benar-benar putus,, nomor ponselnya tak pernah aktif.. Aku teramat kesulitan untuk mengetahui kabarnya,, bahkan sejak saat itu,, akun facebooknya sama sekali tak terlihah ada aktifitas. Aku mulai merasa bahwa ia memang sengaja menghindariku.. Jika memang ia,, sebenarnya apa yang menjadi alasannya untuk melakukan itu,, padahal sebelumnya ia masih bersikap sangat manis kepadaku,, bahkan ia berani membuat kejutan yang ia susun selama satu minggu lamanya.Jutaan detik,, ribuan menit,, ratusan jam dan puluhan hari telah berlalu.. tak terasa ini adalah hari kesebelas ia menghilang dariku tanpa kabar.. Tapi aku tak pernah henti untuk mencoba menghubunginya via sms dan telfon.. Namun sepertinya itu teramat sia-sia,, lagi-lagi yang kudapati hanya suara operator yang menyatakan bahwa nomornya sedang tidak aktif dan berada diluar jangkauan.. Aku mulai tak mengerti dengan semua yang terjadi saat ini,, apakah memang dia sengaja mengganti nomor ponselnya dengan nomor yang baru?? lantas apa artinya kejutan yang ia buat beberapa hari yang lalu,, jika pada akhirnya ia melukaiku dengan cara seperti ini.Aku mulai dilanda ketakutan yang tak berujung,, aku takut moment menyakitkan tiga setengah tahun silam, semasa aku duduk di bangku SMA terulang kembali dalam fase hidupku.. saat dimana aku diperlakukan dengan cara yang serupa dengan ini,, aku ditinggal pergi oleh pria yang ku sayangi dengan cara yang menurutku teramat bodoh. Cara yang menunjukan sisi ketidakjantanananya,, padahal,, bukankah ada banyak cara yang jauh lebih baik dari ini.Saat itu aku mulai tak kuasa untuk menahan air mata,, perlahan mataku menjadi sayu dan tak lagi berbinar.. Aku harus menelan semua ini sendiri dan menerima kenyataan pahit kembali.Kenapa harus kau ciptakan senyum termanis,, jika pada akhirnya kau buatku menangis.. Kenapa kau buat mataku berbinar bahagia,, jika pada akhirnya kau buat mataku nanar karna air mata…. Aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi,, Peristiwa tiga setengah tahun silam yang paling aku benci ternyata harus kembali terulang dengan orang yang berbeda.Tak seorangpun tahu kalau saat ini aku sedang terluka,, aku memang memilih untuk tidak menceritakannya pada siapapun, termasuk keluarga dan sahabat-sahabatku.. Aku memilih untuk tetap terlihat tegar di depan mereka,, tawa dan senyum indahku adalah hal yang biasa aku tunjukan untuk menutupi lukaku.. Aku tak ingin ketika air mata ini jatuh mereka menjadi teramat mengkhawatirkanku. Biarlah kusimpan semuanya sendiri,, biarlah aku mencoba mengibur diriku sendiri,, biarlah aku menguatkan diriku sendiri dan biarlah aku memulihkan hatiku kembali dengan caraku sendiri.. Aku tak ingin melibatkan siapapun untuk dukaku ini.Luka,, !!!! yaaa aku memang merasa terluka dengan semua ini.Kenapa harus ada ucapan sayang bila akhirnya kamu menyia-nyiakan aku… Bahkan hingga detik ini aku masih bertanya-tanya,, apa salahku??? Kenapa dengan tiba-tiba kamu menghilang dan pergi tanpa kabar,,, sungguh aku tak mengerti dengan ini. Jika setiap yang terjadi harus ku artikan,,, maka untuk yang ini,, aku belum bisa mengartikannya.Mungkin jika masa itu tak pernah ada,, barangkali aku tak perlu repot untuk mencari jawaban dari pertanyaanku.Jika dulu aku tahu bahwa semuanya akan menjadi seperti ini,, aku akan lebih memilih di tanggal 5 Januari kemaren tidak pernah ada momen spesial,, tidak pernah ada ucapan sayang dan tidak pernah ada permintaan untuk menjadikanku kekasihmu.Kenapa semua ini terjadi secara tiba-tiba,, sabtu siang di pertemuan pertama setelah menjadi kekasih, kita masih baik-baik saja,, kamu masih memperhatikanku,, masih tersenyum bersama,, masih bersenda gurau bersama,, masih minum bersama,, masih duduk bersebelahan,, masih mencoba membuat cintaku semakin besar dengan kejutan itu,, bahkan kamu masih sempat memegang tangganku dan mengantarkanku pulang.. setelah itu kamu pun masih sempat mengirimiku pesan singkat untuk bilang bahwa kamu telah sampai di rumah.Yang aku sedihkan,, ternyata itu adalah pesan singkat terakhirmu untukku.. kau MENGHILANG dan tak izinkan aku untuk tahu alasannya… Tahukah kamu,,, tak pernah terlewat seharipun untuk aku mencoba menghubungi nomor ponselmu,, tapi ternyata semuanya sia-sia,,, tak kudapati sedikit kabar darimu.APA SALAHKU??????Jika kamu memang tak sayang lagi,,, aku malah lebih ingin kamu langsung katakan itu ke aku,, bukan dengan cara konyol seperti ini… kamu cukup dewasa,, bijaksana dan lembut,, itu yang aku suka darimu.. tapi kenapa untuk yang ini kamu tidak bisa melakukannya dengan caramu yang bijaksana.Jujur,, sampai detik ini aku masih sayang,, aku masih berharap bahwa ada masanya nanti kamu akan menghubungiku kembali dan memberi kabar,,, aku bahkan berharap bahwa kamu menghilang ini bukan untuk sengaja melukaiku,, tapi karena kamu sedang berusaha untuk membuatku tersenyum dengan kejutan yang kamu buat seperti 11 hari yang lalu.Jika bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kamu belajar dari caraku merindukanmu.. Kau adalah mentari yang hangatkan pagiku, dan bulan yang terangi malamku.Tak bosan aku menyebutmu dalam do’aku,, mencoba mengetuk hati sang pencipta surya agar berbaik hati mengirimkanmu lagi untukku.Tak perlu kamu tahu berapa banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan tentangmu,, dan aku pun tak ingin kamu ikut sedih ketika tahu betapa dinginnya hari-hariku tanpa senyummu.Entahlah,,,,, sepertinya memang hati dan pikiranku harus bekerja keras untuk melupakanmu dan membuang jauh bayangmu hingga langit ke tujuh.Aku memang menyadari bahwa kehidupan ini terkadang mengharuskan kita menerima apa yang tidak kita harapkan dan tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.. Maka aku akan tetap berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus tetap ikhlas untuk menerima apa adanya.Terimakasih,, karena kamu sempat berperan mewarnai hari-hariku meskipun dengan waktu yang teramat singkat… Ku coba untuk tegaskan pada diriku sendiri bahwa “ketika kita berencana maka biarkanlah Tuhan yang menjadi penghapusnya dan menggantikannya dengan yang lebih baik”.* * *Personal DataNama : FatkuryatiNama Panggilan: IfatTTL : Serang, 15 Juli 1991Motto : Bahagia adalah hak semua orang,, mari jemput bahagia itu…Alamat : Jln. Ciptayasa Kp/Ds. Linduk rt 07 Rw 01 kecamatan Pontang, Serang-Banten.Pekerjaan : Mahasiswi Hobi : Merangkai kata-kata puitis, Mendengarkan musik, bersepeda, travelling.Minat : Menjadi seorang penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang, menjadi tenaga pendidik, serta menjadi wanita sukses dunia dan akhirat.E-mail : siibungsuifat@yahoo.co.idFacebook : Ifat_91@yahoo.com atau Ifat sii princessbungsuTwitter : @IfatSiiprincess

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*