Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 02″

All, udah baca cerpen pupus belom?. Kalau belom baca dulu gih di cerita pendek "Pupus" . Bukan apa cuma sebagai pengingat aja, Vionica disini adalah orang yang sama. So, buat yang penasaran gimana kelanjutan dari cerpen Take My heart bagian kedua ini, bisa langsung baca ke bawah. Sama satu lagi dink, kali aja ada yang belum baca, part satunya ada disini. Happy reading….

Cerpen take my heart
Cerpen take my heart

"Hufh…"
Untuk kesekian kalinya Vio menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Menatap gedung yang menjulang di hadapannya dengan tatapan gamang. Merasa dirinya benar – benar pengecut. Demi menjauhi dan menghilangkan rasa pada Harry, ia nekat pindah kampus. Konyol!
Tapi memangnya siapa yang bisa mendustai hati? Berpura – pura tegar atau sok tertawa padahal hati terluka? Dia tidak sekuat itu! Menurutnya menghindar bukan hal yang buruk untuk di lakukan.
Setelah memantapkan hati ia segera melangkah masuk halaman kampus. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ia sampai di ruangan dosen. Ya biasalah, harus menjalani prosedur sebagai formalitas mahasiswi baru. Begitu selesai ia segera melangkah keluar. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Ternyata semuanya tidak sesulit yang ia bayangkan. Mulai besok ia sudah bisa melakukan kegiatan belajar mengajar di fakultas itu.
Begitu keluar Ruangan dosen, langkah Vio terhenti. Matanya terpaku pada keempat mahasiswa yang tak jauh darinya yang kini juga sedang menatapnya. Ayolah, memangnya penampilannya aneh ya? Atau terdapat jerawat di wajahnya? Kenapa mereka sampai menatapnya seintens itu?
"Ehem." sedikit berdehem, Vio segera melangkah melewati mereka. Makin salting saat tau pria yang tidak ia ketahui namanya masih terus menatapnya tanpa berkedip. Astaga, keluhnya dalam hati.
"Hai.."
"He?" kening Vio berkerut, sama sekali tidak menyangka akan di sapa mereka.
"Kali ini loe benar – benar beruntung Van. Tapi kita liat aja ntar, apa keberuntungan itu akan terus berpihak sama loe."
Walau lirih, samar Vio masih mampu menangkap suara bisikan oleh seseorang yang tidak ia ketahui namanya pada seseorang lagi yang juga masih tidak ia ketahui namanya.
"Boleh kenalan nggak? Gue Ivan," kata cowok yang katanya bernama Ivan itu sambil menyodorkan tangannya. Vio hanya melirik sekilas. Mendadak merasa takut. Ayolah, secara di tv – tv kan banyak tuh kabar heboh soal berandalan di kampus.
"Kalau Gue Renold."
"Gue Andra."
"Aldy."
Vio hanya mengedipkan mata bingung. Sementara Ivan melirik kesel kearah teman – temannya. Uluran tangannya aja belum di sambut kenapa mereka ikut – ikutan. Lagi pula, yang mau taruhan siapa si? Gerutnya sebel.
"Loe mahasiswi baru ya?" tanya Ivan lagi sambil menarik kembali uluran tangannya karena vio hanya menatap tanpa terlihat tanda tanda akan menyambutnya.
"O.. Jadi loe mahasiswa lama?" balas Vio lirih.
"Bhuahaummm… .." Andre cepat – cepat menoleh kearah lain. Mencoba menahan diri untuk tidak langsung ngakak di tempat. Mahasiswa lama? Kenapa kedengarannya janggal sekali ya?
"Ehem.." Ivan sedikit berdehem. Mendadak mati gaya. "Oh ya, Loe belom nyebutin nama loe," Ivan mengingatkan.
"Dan gue sama sekali tidak tertarik untuk menyebutkannya. Maaf, kalau gitu gue permisi dulu," balas Vio ringan sebelum kemudian berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Untuk sejenak Ivan bengong. Seumur hidupnya ini untuk pertama kali ia di cuekin. Seumur – umur baru kali ini ada orang yang menolak untuk di ajak kenalan dengannya. Dan begitu menoleh.
"Kenapa kalian mandangin gue kayak gitu?" tanya Ivan heran saat mendapati tatapan aneh ketiga temannya.
"Gue mendadak ragu kalau loe beneran playboy," Kata Renold.
"Dan gue nggak yakin kalau loe bisa naklukin dia," tambah Aldy.
"Kali ini gue optimis kita bakal menang dan loe pasti kalah," Andre menimpali.
"Eits, tunggu dulu. Ini terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Kita liat saja nanti. Yang jelas belum ada sejarahnya seorang Ivan kalah taruhan," tandas Ivan penuh penekanan. Kali ini ketiga temannya hanya angkat bahu.
Cerpen Remaja Terbaru " Take My Heart ~ 02"
"Dasar Ivan Brengsek."
Langkah Vio mendadak terhenti mendengar teriakan yang baru saja hinggap di telinganya. Ivan? Kenapa nama itu seperti tidak asing ya. Tidak bermaksud menguping hanya saja merasa mendadak penasaran Vio menoleh. Berjalan kearah asal suara. Mengintip dari balik tembok yang menghadap ke pekarangan kampus dimana tampak tiga orang cewek yang tidak ia ketahui siapa sedang duduk disana.
"Sudahlah Laura. Lupakan saja makhluk tak bertanggung jawab itu."
Cewek yang di panggil Laura menoleh. Sekilas Vio melihat raut sembab di wajahnya.
"Lupakan? Tidak akan semudah itu!"
"Terus loe mau ngapain?"
"Gue nggak akan membiarkan diri gue di permainkan seperti ini. Kalian bayangin. Gue, Idola di kampus kita di jadikan bahan taruhan oleh si playboy brengsek itu. Dipermalukan didepan semua anak – anak. Loe pikir gue akan diam aja? Nggak! Gue akan pastikan dia terima akibatnya," dendam Laura.
"Maksut loe?"
Dan kalimat yang meluncur dari mulut gadis yang di pangil Laura selanjutnya benar – benar membuat Vio terlonjak kaget. Mendadak menyesal telah mencuri dengar pembicaraan yang bukan menjadi urusannya. Dengan hati – hati takut kehadirannya di ketahui oleh ketiga makhluk itu, selangkah demi selangkah Vio bergerak mundur.Begitu kelas berakhir, dengan angkuhnya Ivan melangkah keluar kelas diikuti ketiga sahabat karibnya. Tatapan dan decakan kagum serta tatapan penuh minat dari lawan jenis masih saja ia temui mengikuti jejak kakinya melangkah. Walau imagenya benar – benar buruk. Terkenal sebagai playboy kelas kakap namun tetap saja fansnya bejibun. Tak heran si, dengan ketampanan serta kekayaan diatas rata – rata yang di miliknya sepertinya sudah lebih dari cukup untuk menutupi sejuta kekurangannya.
Sampai di pelataran parkir Ivan segera mengenakan helm di kepalanya. Tak lupa bertos ria bersama sahabatnya sebelum kemudian melesat pergi mengendarai motor kesayangannya. Melaju pulang kerumah.
Tepat di tikungan yang kebetulan sepi, secara mendadak Ivan mengerem motornya. Tepat di hadapan tampak beberapa orang bertampang sangar yang sepertinya sengaja menghadangnya. Tanpa sempat memikirkan bahaya yang mengancam jiwanya Ivan sudah terlebih dahulu menyadari sebuah pukulan yang mendarat di kepalanya. Membuatnya jatuh terlempar sementara motornya juga langsung ambruk ditengah jalan.
"Mau apa kalian."
Sebuah pukulan kembali mendarat secara bertubi – tubi kearah tubuh Ivan sebagai jawaban. Walau sebenarnya Ivan juga sedikit jago bela diri. Namun saat di haruskan berhadapan langsung dengan serangan mendadak dari lawan yang tidak sedikit jelas mampu membuat Ivan tak berdaya.
Disaat yang benar – benar kritis itulah Ivan mendengar tepuk tangan disusul suara tawa seorang wanita yang berjalan kearahnya.
"Wow, kasian sekali loe."
Para preman itu serentak berhenti melakukan aktifitasnya memukuli Ivan dan menoleh kesumber suara. Walau setengah sadar Ivan masih mampu mengenali sosok itu. Dia kan…. Gadis sepuluh jutanya? Apa yang di lakukan dia disini?.
"Hei, siapa Kau. Apa yang Kau lakukan disini?" tanya salah satu Preman itu terdengar sangar yang membuat Vio, sosok gadis yang baru muncul itu sedikit bergidik ngeri. Mendadak merasa ragu dengan apa yang telah ia rencanakan.
"Ehem," ditariknya napas dalam – dalam sebelum mulutnya menjawab. "Bukan siapa – siapa kok pak. Cuma orang yang kebetulan lewat disini terus melihat orang yang lagi berantem. Kayaknya seru nih buat dijadiin tontonan."
Bukan hanya para preman itu yang heran, tapi mata Ivan juga melotot kaget. Sama sekali tak percaya saat menatap wajah polos dan santai Vio. Apa gadis itu sudah gila, pikirnya.
"Udah pak, silahkan di lanjutkan. Anggap aja saya nggak ada. Lagian saya disini cuma sebentar kok. Cuma nungguin orang, palingan juga bentar lagi dia datang," tambah Vio lagi.
"Menunggu seseorang?" tanya salah satu preman itu.
"Iya pak. Saya lagi nungguin Pak Polisi. Tadi si sudah saya telpon. Saya bilang disini ada orang yang lagi di pukulin preman. Terus Pak Polisinya bilang mau langsung kesini," terang Vio tang kontan membuat para preman itu terlonjak kaget.
"Yah paling juga bentar lagi nyampe," tambah Vio sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. "Em mungkin sekitar satu atau dua menit lagi lah paling lama. Soalnya…"
Sepertinya para preman itu sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulut Vio. Terbukti dengan cepatnya mereka berlari tunggang langgang menuju kearah motor mereka yang memang di parkir tak jauh dari tempat kejadian. Sambil mengumpat tak jelas mereka segera berlalu meninggalkan Vio dan Ivan sendirian.
Setelah mengetahui tiada lagi bayangan para preman itu barulah Vio bisa menghembuskan nafas lega. Tangannya sudah terasa panas dingin. Ia benar – benar tidak mempercayai kalau ia bisa beracting semeyakinkan ini.
"Mau apa loe?"
Refleks Vio menoleh. Baru menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian. Dengan segera di hampirinya tubuh Ivan yang masih tergeletak di jalan. Berlahan di bantunya untuk bangkit berdiri dan duduk di pinggiran.
"Loe kenapa bisa ada di sini? Dan apa yang sudah loe lakuin?" tanya Ivan lagi.
Sejenak Vio terdiam. Mulutnya sedikit maju kedepan tanda cemberut. Lagipula sudah di bantuin juga bukannya bilang terima kasih malah ngebawel.
"Masih nanya lagi, jelas – jelas gue disini bantuin loe. Bilang ma kasih dulu kek," balas Vio sewot.
"Bantuin gue?" kening Ivan berkerut bingung.
"Terus loe pikir tu para preman kabur tunggang langang karena keinginan suka rela?"
"Mereka kabur karena mereka takut sama polisi," balas Ivan sewot.
"Polisi mana memangnya yang mau nyasar kesini. La wong jelas – jelas sepi gini juga?" tanya Vio.
"Tunggu dulu, bukannya loe bilang loe sudah nelpon polisi untuk datang kesini ya?" tanya Ivan lagi. Kali ini raut bingung jelas tergambar di wajahnya.Bukannya langsung menjawab Vio justru malah tertawa lepas. Tanpa beban. Dan sungguh, sumpah demi apapun. Ini untuk pertama kalinya Ivan melihat tawa yang seindah itu. Sebuah tawa yang mampu membuat rasa sakit yang beberapa saat lalu menguasai hatinya mendadak menguap begitu saja. Ya Tuhan, ini benar – benar tidak masuk di akal baginya.
"Ke..ke… Kenapa loe menatap gue seperti itu?" tanya Vio mendadak horror saat mendapati raut perubahan di wajah Ivan yang seolah baru tersadar dari lamunannya segera mengalihkan tatapannya.
"Ehem, Terus polisinya mana?" tanya Ivan mengalihkan perhatian.
"Ha ha ha….. Sebenernya loe itu memang bego atau stupid si? Mau aja di kibulin kaya tu preman. Ya ela, emang gue bisa punya nomor telpon polisi dari mana?".
"Maksutnya?" Ivan kembali bingung.
"Tentu saja yang tadi itu bo'ong. Nggak ada polisi yang akan kesini. Tadi itu cuma akal – akalan gue buat ngusir tu perman. Nggak nyangka tu orang – orang pada gampang banget di kibulin," terang Vio lagi.
Untuk sejenak Ivan terdiam. Mencoba mencerna kembali apa yang telah terjadi. Tunggu dulu, jadi….
"Jadi loe nekat boongin para preman itu tadi?" tanya Ivan langsung. Vio hanya membalas dengan anggukan.
"Terus kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana?"
Vio terdiam. Mendadak cemas sekaligus kaget. Benar juga, kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana? Ah, kenapa tadi ia sampai lupa memikirkan resiko itu ya?.
"Inget, jangan pernah sekalipun loe mengulangi hal seperti ini nona manis. Tindakan ini benar – benar berbahaya loe tau," tandas Ivan penuh penekanan.
Lagi – lagi Vio terdiam mendengarnya. Tapi beberapa detik kemudian.
"Nona manis? Siapa yang loe maksut nona manis. Enak aja, gue punya nama. Nama gue Vio tau," geram Vio sewot.
Melihat raut cemberut Vio dengan mulut yang sedikit maju kedepan tak mampu membuat Ivan menahan senyumnya. Raut wajah gadis itu kali ini benar – benar terlihat imut menurutnya. Hal yang aneh untuk diakui.
"O, Jadi nama loe vio. Tapi Kalau gue nggak salah inget, Bukannya tadi siang ada yang bilang untuk tidak tertarik mengucapakan namanya ya?"
Pertanyaan yang jelas – jelas menyindir itu kontan membuat Vio mengangkat tangannya secara refleks dan mendaratkannya di kepala Ivan. Bukannya marah karena di jitak secara mendadak, Ivan justru malah tertawa ngakak.
"Baiklah, karena sepertinya loe udah bisa ketawa , gue udah bisa pergi sekarang. Bye bye," Vio bangkit berdiri, bersiap untuk berlalu tapi cekalan di tangan menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu. Loe belom menjelaskan kenapa loe bisa berada disini pada saat dan waktu yang tepat?"
"Oh, itu karena gue sepertinya sedang sial. Kenapa juga gue harus ketemu sama orang yang berniat untuk bales dendam pada seorang playboy kelas kakap seperti loe yang emang pantesnya itu di buang kelaut," balas Vio cuek.
"Playboy? Balas dendam? Dibuang kelaut?" ulang Ivan mendadak pusing.
"Iya! Puas loe?" balas Vio. "Ah satu lagi, Keliatannya loe juga cuma lebam – lebam doank. Dan berhubung loe nggak pake rok alias cowok, so gue nggak perlu nganterin juga kali ya? Loe bisa pulang sendirikan? Oke, bye bye."
Selesai berkata Vio segera belalu. Menyetop taxsi yang kebetulan lewat. Segera berlalu meninggalkan Ivan yang masih membisu di tempatnya.
Next to Cerpen Take My Heart Part 03
Detail Cerpen

Next : || ||

Random Posts

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly ~ 05

    Biar nggak bingung baca dulu cerpen benci jadi cinta part 4. Oke?..Happy reading…Credit gambar : Ana meryaCredit Verpen : Mia MulyaniUntung lah Vanes bisa diizinin ama nyokap, walau bohong sih, ia bilang bakal tinggal di tempat temen cewek, buat ngerjain tugas selama seminggu, ya abis mau gimana? Mana mungkin kan bilang tinggal dirumah cowok, kalau sampai bilang gitu, yakin 100% eh 1000% deh pasti nggax dibolehin sama keluarga.Tepat pukul 05:00 wib. Vanes tiba dirumah ferly, rumahnya luas banget nggax jauh beda sama rumah nya, dan untunglah ferly Cuma tinggal sama nyokapnya aja, jadi Vanes nggax merasa malu-malu amet. Apa lagi nyokapnya baik banget . Yang membuat Vanes merasa betah dirumah itu dan nggax mersa terasingkan.“vanes, bantuin gue..” kata ferly, uh apa lagi sih, udah malem nih ganggu aja.sebagian

  • Cerpen Cinta Sedih: AKU MENCINTAIMU SAAT KAU PERGI

    AKU MENCINTAIMU SAAT KAU PERGIOleh: Mentari SenjaKenapa hidup ini sungguh tak bisa aku mengerti, sedikitpun tak kupahami. Yang seperti kebanyakan orang akan keindahan pernikahan tapi tak berlaku buatku, janggal sekali untukku menyambut hari dimana aku akan menjadi milik orang lain. Bukan sebuah kebahagaian melainkan kehampaan. Teringat lagi akan janji dimasa lalu tentang sebuah pernikahan indah, mengikat ikrar dalam bahtera rumah tangga, namun semua itu pupus sudah. Sebentar lagi aku akan menjadi milik orang lain bukan miliknya. “selamat ya ibu indah, akhirnya ibu punya mantu juga.”“terima kasih jeng rahmi, alhamdulillah yah..akhirnya si mentari menikah juga.”Terdengar ucapan selamat dari balik pintu kamarku, yang semakin membuatku tersayat pedih. Ibuku merasa bahagia sekali karena akhirnya aku akan menikah dengan laki-laki pilihannya, yang ibu bilang dia sangat cocok untukku dan pasti aku akan bahagia. Apakah itu benar ibu???tapi mengapa saat ini perasaanku benar-benar sedih, jangankan untuk bersanding dengannya, untuk mencoba mengenalnya saja aku sudah enggan. Entah apa yang ada dibenakku, namun aku belum bisa melupakan seseorang itu, seseorang yang berjanji akan menikahiku sepulang dari rantaunya. Maafkan aku cintaku, bukan maksud hati untuk mengkhianatimu tapi perjodohan ini tak mungkin aku tolak. Kedua orang tuaku dan orangtuanya ternyata sudah membuat kesepakatan akan pernikahan ini sebelum kami berdua mengerti tentang pernikahan. Sekali lagi aku belum bisa memahami ini semua, bagaimana mungkin aku bisa hidup bersama dengan orang yang tak ku cintai, bahkan bertemu saja tidak pernah. Pernikahan ini sungguh mendadak mengingat kondisi bunda Risma orang tua Fariz yang sudah semakin kritis, dan beliau menginginkan agar Fariz segera menikah denganku. Karena keeratan hubungan keluargaku dan keluarganya membuat ayah dan ibuku menyetujui pernikahan ini tanpa peduli dengan persetujuanku.“mentari sayang, cepat keluar acara akan segera dimulai”suara itu menyadarkanku dari lamunan panjang, segera ku hapus airmata yang semoat menetes. Aku tak ingin ibu melihat aku terlihat sedih di hari pernikahanku. Bagiku sekarang adalah kebahagiaan mereka, walau hati ini terlalu perih menanggung luka akan terpisahnya cintaku dan cinta satria, maafkan aku satria.***“Muhammad Yakup Al Fariz, saya nikahkan engkau dengan Mentari shifa az zahra binti Muhammad zaenudin dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang sebesar seratus tiga puluh ribu, dibayar tunai.” ucap kiai Fatir“saya terima nikahnya Mentari shifa az zahra dengan mahar tersebut dibayar tunai.” Fariz dengan mantap mengucapkan ijab.“bagaimana sah??” tanya kiai Fatir kepada saksi dan semua orang“sah” serempak menjawab.“Barokallahu……” kiai Fatir memanjatkan doa, gaungan suara amin pun menyeruak diseluruh ruangan. Kebahagaian dan kelegaan terpancar dari raut-raut setiap orang yang menyaksikan acara sakral itu.Dan bagaimana dengan aku, detik ini aku telah resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang tak pernah aku kenal sebelumnya.***“ini mas Fariz kopinya,” ku letakan kopi sebagai pelengkap sarapan pagi yang telah kusiapkan di meja makan.“terima kasih dek.” ucap mas fariz lembut.Tak ada yang berubah dari perasaanku, walaupun aku telah menikah dengan mas Fariz tapi rasa cinta ini masih bersarang hanya untuk satria yang aku pun sendiri tak tau bagaimana keadaannya sekarang.Sebagai seorang istri aku berusaha untuk menjadi istri yang baik, walau belum sepenuhnya aku bisa. Namun aku belum bisa melaksanakan kewajibanku untuk memenuhi kebutuhan biologis mas fariz, tapi dengan penuh kesabaran mas Fariz memahami itu. Setiap malam kami tidur terpisah, sebagai seorang laki-laki mas Fariz tentu tidak ingin melihat seorang wanita tidur diluar kamar, maka dengan pengertiannya itu mas Fariz yang mengalah untuk tidur di sofa, kecuali pada saat-saat tertentu saja saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah, tapi itupun mas fariz tetap tidur dibawah bukan satu ranjang denganku.Aku tau itu sangat salah,sebagai seorang istri aku tidak berhak bersikap seperti itu, pernah satu kali aku coba tepiskan perasaanku dan berfikir realitis bahwa sekarang aku telah menjadi milik mas Fariz. Saat itu aku siap untuk melayaninya, sengaja aku suruh maz fariz untuk tidur bersamaku dan mengijinkannya untuk melaksanakan kewajiban sebagai suami istri. Dengan perasaan yang tak menentu ku coba tenang, saat mas Fariz mendekat, ku coba untuk tersenyum walaupun itu selintas. Sungguh aku tak kuasa menahan matanya yang tajam, saat itu ingin rasanya aku menangis, airmata ini sungguh sudah meleleh mengingat satria, namun segera ku tahan.Dengan tatapannya yang lembut mas fariz menatapku, digenggamnya tanganku. Entah apa yang dia fikirkan saat itu, namun dia terlihat tersenyum manis. Tangannya yang tadi menggengam tanganku kini berganti meraih wajahku, diraihnya wajahku dan tiba-tiba dia mencium keningku seraya mengucapkan selamat malam, setelah itu dia beranjak pergi ketempat biasa dia tidur.Aku tak tau harus berbuat apa, sesaat setelah mas Fariz keluar airmata ini langsung tumpah. Entah apa yang aku rasa, bahagiakah aku atau sedih. Namun aku merasa sedikit lega.***Pernikahanku dengan maz Fariz berjalan baik-baik saja, tidak ada pertengkaran maupun perselisihan walaupun keadaannya kami belum bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami istri yang sebenarnya.Entah terbuat dari apa hati mas fariz itu, hingga hatinya sangatlah lembut. Perhatian-perhatian yang dia curahkan padaku tak pernah ada habisnya. Kelembutan sikap serta santun tutur katanya mengisyaratkan kesabaran yang sungguh luar biasa, apalagi menghadapi sikapku. Dia tak pernah mengeluh padaku, dia tak pernah marah sekalipun kadang aku melakukan kesalahan. Dia selalu memberiku nasihat dengan sikap lembutnya yang tidak membuatku tersinggung. Tapi kenapa hatiku belum bisa menerima kehadiran mas Fariz di kehidupanku, kenapa aku belum bisa mencintainya. maafkan aku mas Fariz.***Ku gelar sajadah panjang, sepertiga malam bagi orang-orang yang merindukan kedekatan dengan Sang Maharaja. Di sepertiga malam itu pun ku panjatkan doa, ku haturkan dzikir serta ku curahkan segala perasaanku. Tak terasa ada rembesan air yang keluar dari kelopak mataku mengingat akan kekhilafanku. Kalam – kalam illahi mengantarkanku hingga menjelang shubuh. Dan kulanjutkan dengan sholat shubuh.Mentari di ufuk timur telah memacarkan rona kemerahannya, kicau burung mengantarkan angin kesejukan untuk insan manusia di dunia ini. Secercah harapan dan doa yang hanya Tuhan dan aku yang tau, berharap semua kan terwujud.***Mataku tertuju pada sesuatu yang janggal, merasa aneh dengan keadaan kamarku. Ada benda-benda yang tak mungkin bisa sendirinya ada di sini. Kulihat sekeliling kamar, begitu semua ada perubahan. Warna-warni bunga bertaburan di ranjangku, ada mawar putih yang membentuk hati di sekitar taburan mawar merah. Sungguh indah, bahkan sangat indah dan menakjubkan. Di sisi lain terpajang sketsa wajahku yang dibubuhi nama kecilku “RiRi”. Siapa yang melakukan ini, siapa yang membuat keajaiban ini. Sungguh luar biasa, tak pernah sekalipun kubayangkan tentang moment seperti ini. Mungkinkah mas Fariz…?????? Tapi dia bilang dia sedang ada rapat dan mungkin akan pulang terlambat hingga malam nanti, lalu siapa yang telah mempersiapkan ini.Di tengah –tengah hati buatan dari mawar putih itu tegeletak secarik kertas berwarna pink, entah kertas apa itu. Karena penasaran aku segera mengambilnya dan kubaca. Hanya satu kalimat yang aku belum tau apa maksudnya. Hanya tertulis sebuah kalimat “ pergi ke kebun belakang, aku menunggumu” secarik kertas itu lalu kutinggalkan.Subhanallah, kejutan apalagi ini. Cahaya lilin menghiasi rentetan jalan yang menuju pada satu titik. Mas Fariz dengan seikat bunga mawar merah menungguku di meja yang dihiasi lilin indah…sungguh kejutan yang membuatku tak bisa berkata-kata, hanya ulasan senyum yang selalu berkembang di bibirku ini. Perlahan kutelusuri jalan setapak yang indah ini.“happy brithday dek, selamat ulang tahun mentari.” seikat bunga itu pun dipersembahkan mas Fariz padaku seraya menyilahkan aku duduk.Kini aku hanya berdua dengan mas Fariz, ditemani temaram cahaya lilin dan sinar bulan. Perasaanku menjadi tak menentu, sebuah kebahagiaan yang baru kutemukan setelah sekian lama aku merindukannya. Ada secercah cahaya hangat yang menerobos masuk dalam relung hatiku saat kutatap wajah mas Fariz. Rasa apakah ini, setelah bertahun-tahun tak pernah ku rasakan lagi.“gimana dek, kamu senang dengan ini. Mas sengaja buat ini untuk hadiah ulang tahunmu. Maaf mas belum bisa memberikan yang lebih dari ini.”mas fariz menggenggam tanganku dan mengecup punggung tanganku.Setetes embun yang keluar dari mataku pun jatuh perlahan, dengan senyum yang masih berkembang ku ucapkan terimakasih.” Terima kasih mas, ini hadiah terindah yang pernah adek dapat. Dan ini sudah lebih dari apa pun. Terima kasih mas.”Malam ini adalah malam terindah yang pernah aku rasa, kebahagiaan yang dulu sempat hilang kini hadir kembali, dan perasaan itu ada yang berubah. Mungkinkah ini jawaban atas doa-doaku. Amien..semoga saja…!!!Kini hari-hariku terasa lain, sejak kejutan malam itu aku merasakan sesuatu yang lain pada diriku, apalagi saat aku berhadapan dengan mas Fariz. Dulu biasa saja saat aku melihat matanya, tapi kini sungguh lain. Hatiku berdebar-debar saat mas menggenggam tanganku, aku juga merasa grogi saat berhadapan langsung dengan mas Fariz. Kenapa ini ??? Ada apa denganku, mungkinkah aku jatuh cinta……????Tak tau pasti apa yang aku rasakan terhadap mas Fariz, namun yang pasti rasaku sudah tak seperti dulu lagi. Tak acuh lagi saat dia sibuk dengan kegiatannya, sangat mengkhawatirkannya saat dia pulang terlambat. Dan selalu menyiapkan apa yang mas Fariz butuhkan. Semua itu ku lakukan dengan senang hati, tak ada rasa beban lagi. Dan sejak malam itu, aku dan mas Fariz sudah melunasi kewajiban sebagai suami istri. Mungkinkah ini kebahagiaan menikah seperti yang kebanyakan orang katakan. Entahlah, tapi saat ini aku merasa begitu sangat bahagia dan nyaman.***Hari ini ulang tahun mas Fariz, dan aku akan memberikan kejutan yang luar biasa. Hadiah ini pasti akan membuat mas fariz bahagia. Karena hadiah ini adalah anugerah yang Allah berikan. Tiga bulan sudah usia kehamilanku, sengaja tak ku beritahu maz Fariz karena aku ingin memberikan kejutan pada hari ulang tahunnya. Buah cinta yang kami dambakan, setelah ku bisa mencintai mas Fariz dengan segenap hati. Ketulusan dan kesabaran mas Fariz telah merubah segalanya. Cintanya kini mengisi relung hatiku, penuh dengan untaian doa kebahagiaan.Semua pernak-pernik dan tetek bengek untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun mas Fariz sudah ku siapkan, sempurna semuanya perfect. Pasti mas fariz akan terkejut dan bahagia sekali saat melihat bukti test kehamilanku di kantung baju tidurnya. Setelah sebelumnya ku persiapkan kejutan lainnya, makan malam dengan masakan spesial kesukaan mas Fariz yang kini telah terhidang rapi di meja makan.Tak sabar aku menunggu kedatangan mas Fariz, sudah ku tanya dia kapan akan pulang dari kantor dan dia bilang sebentar lagi. Jantungku berdetak lebih kencang, menunggu kedatangan sang pujaan hati tiba.Namun selang sejam dari kabar yang dia beritahukan mas Fariz tak kunjung datang. Timbul perasaan was-was takut terjadi apa-apa. Tanpa berfikir panjang langsung kuraih ponsel yang ada di sakuku dan ku hubungi mas Fariz.“assalamualaikum mas Fariz.” suaraku menyapa mas Fariz“Waalaikum salam dek, “ terderang suara mas Fariz di seberang sana.“mas kenapa sampai malam gini mas belum juga pulang” tanyaku merasa khawatir.“maaf dek, tapi mas ada tugas tambahan dari bos dan belum sempat mengabari adek. Maaf ya dek. Hmm mungkin sebentar lagi pekerjaan ini selesai dan mas bisa pulang. Maaf ya dek sudah mengkhawatirkan adek.” lembut suara mas fariz menentramkanku, membuatku tenang akan keadaan mas Fariz. Rupanya pekerjaan yang membuatnya terhambat pulang dari kantor, semoga dia baik-baik saja.“oh ya sudah mas, adek kira mas kenapa-kenapa. Adek sempat khwatir banget sama mas. Tapi sekarang adek sudah bisa lega tau mas baik-baik saja. Ya sudah kalau gitu, selamat bekerja, hati-hati dan cepat pulang ada sesuatu yang ingin adek berikan. Assalamualaikum mas”kataku mengakhiri pembicaraan“waalaikum salam, jaga diri adek baik-baik” suara mas fariz menutup telepon.Terdengar sedikit aneh, tak biasa-biasanya mas fariz berbicara sedatar itu. Seperti tak ada gairah. Sempat berfikir aneh, tapi segera kusingkirkan fikiran itu karena aku tak ingin merusak suasana dan aku sebagai seorang istri harus bisa berprasangka baik terhadap suaminya.***“hallo bisa bicara dengan ibu mentari.” suara di seberang telpon itu membuatku penasaran.“iya benar, saya mentari. Ada apa ya pa…???? dan kenapa” tanyaku pada penelpon yang tidak ku kenal itu.“cepat segera ibu ke rumah sakit Medica, pa Fariz mengalami kecelakaan.”Deg. kenapa ini. Benarkah apa yang sudah aku dengar tadi. Mas Fariz, ada apakah engkau, kenapa engkau hingga seseorang mengabarkanku mas sudah di rumah sakit. Baru satu jam tadi kau berbicara padaku, berjanji akan segera pulang setelah pekerjaan itu selesai. Tapi kenapa sekarang aku yang harus menjemputmu, dan itu di rumah sakit… ada apa denganmu mas.***Kamar ICU itu terlihat lengah, senyap tak ada suara walau aku liat ada banyak orang di situ. Dan kenapa semua orang menatapku pilu, ada apa denganku. Salah satu rekan kerja mas Fariz yang kebetulan perempuan langsung memelukku erat, menangis di pelukkanku. Aku sungguh tak tau ada apa ini. Dengan suara yang masih terisak perempuan ini berbicara lirih. “ yang sabar ya mba mentari, mba harus bisa menerima ini semua.” Keadaan ini membuatku semakin tidak mengerti, sebenarnya ada apa.“ada apa ini.” tanyaku datar pada semua orang yang ada di situ. Ku tau perasaanku kini sudah tak menentu lagi. Namun semua hanya terdiam tak ada yang berani menatapku, semua hanya larut dalam kediamannya itu. “ada apa ini, cepat katakan”tanyaku sekali lagi dengan nada agak keras.“ada apa dengan mas Fariz, kenapa mas Fariz. Kenapa semua diam. Cepat katakan.” ku goyang-goyangkan kerah baju lelaki yang ku tau adalah rekan kerja mas fariz, namun sekali lagi lelaki itu hanya diam saja. “ hei…ada apa…kalian itu tuli ya…kenapa semua diam”aku semakin tak karuan, berteriak-teriak bertanya pada semua orang yang membisu terpatung. Dan lagi-lagi perempuan itu memelukku. ”sabar mba, coba tenang” diucapnya lirih.Seketika itu aku lihat seorang perawat keluar dari ruangan ICU dengan mendorong ranjang yang di atasnya terdapat sosok manusia tergeletak dengan tertutup selimut putih. Tepat di hadapanku, selimut itu tersingkap seolah ingin memberitahukan siapa yang sedang diselimutinya. Terlihat wajah teduh, dengan raut ketenangan tertutup matanya. Masih terukir jelas senyum di bibirnya. Akupun mendekati sosok manusia itu.“siapa ini pa…kenapa mirip sekali dengan suamiku. Kenapa dengannya. ”tanyaku dengan polos, walaupun setetes airmata tlah mulai tumpah.Perawat itu hanya bisa diam, namun perempuan tadi membisikiku lirih, “ itu mas Fariz mba. Dia telah tiada. Mba harus tabah ya…” aku hanya terdiam, dan kupandangi lagi lekat sosok lelaki itu. Semakin lekat hingga tumpahlah sudah airmata yang sedari tadi aku tahan. Sosok itu, terlihat teduh dengan senyuman yang menghiasi wajahnya adalah suamiku, mas fariz yang kata perempuan tadi telah tiada.Ya Allah, kenapa ini…apa maksud ini semua. Seolah tak percaya aku peluk mas Fariz, kuciumi keningnya berharap dia bangun kembali. Tapi semakin ku peluk sosok itu hanya terdiam membisu. Ya Allah…suamiku tercinta..ada apa ini mas…mas fariz…kenapa engkau pergi begitu cepat, kenapa engkau meninggalkanku dan buah cintamu tanpa kau tau sebelumnya. Kenapa mas.Bulir-bulir airmata ini terus tumpah menyeruak membahasi wajahku, aku tak berdaya. Tubuhku terasa begitu lemas, ingin rasanya aku berteriak, tapi aku begitu lemah. Untuk berkata saja aku sudah tak sanggup lagi.Hari ini kusaksikan kejutan lagi yang kau buat untukku, tapi bukan kejutan yang buatku bahagia seperti dulu lagi melainkan kesedihan yang mendalam kau tinggalkan.***Kecelakaan tragis yang membuat nyawamu tak bisa tertolong, membuatmu terpisah jauh denganku. Bagaimana bisa semua ini terjadi begitu cepat, padahal sebelumnya aku sempat berbicara denganmu. Kejutan ini, yang seharusnya kau tau tak sempat kuberikan. Buah cinta yanng kini ada dikandunganku semakin membesar, sama seperti perasaan rinduku terhapadmu yang semakin besar. Mas Fariz, kamu hadir saat ku tak punya cinta, tapi mengapa kau pergi saat ku mencintaimu. Selamat jalan Mas Fariz…hati ini akan selalu untukmu…dan akan kujaga buah cinta ini hingga kelak dia tau bahwa dia punya sosok seorang ayah yang sangat ibu cintai.The EndBaca cerpen-cerpen lainnya karya Mentari Senja dalam Tunggu Aku di Surga dan Sahabatku, Kekasihku.

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 04 {Update}

    cerita soal Serial Diera Diary kita lanjut ya teman – teman. Secara ceritakan emang belum ketemu sama yang namanya ending. Kali ini giliran Cerita SMA Diera Diary ~ 04. Gimana sama kelanjutan hubungan Diera dan Rian bisa kita simak di bawah ini.And as always, seperti biasanya. Untuk mempermudah sekaligus supaya nggak ketinggalan cerita, sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 04Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera terus melangkah dibelakang Rian. Dalam hati ia mengerutu akan sikap keras kepala makhluk yang berjalan di hadapannya. Tapi untuk ketiga kalinya, Rian kehilangnan keseimbangan nya dan mau jatuh, namun kali ini Diera tidak sempat menolongnya karena tadi Rian. Alhasil, Rian beneran jatuh dan langsung menjerit kesakitan karena kakinya ketindih dia sendiri. Diera buru-buru membantunya.“Tadi gue bilang juga apa. Elo sih ngeyel. Gue bantuin nggak mau. Liat sendirikan akibatnya. Jadi malah makin parah nih. Darahnya keluar lagi tuh,” omel Diera sambil memeriksa lukanya Rian. Rian hanya bisa meringgis menahan sakit.“Loe punya sapu tangan nggak” Tanya Diera beberapa saat kemudian“Ada, tuh didalam saku tas gue.”Diera segera mengambilnya dan mengunakannya untuk memebalut luka tersebut agar darahnya tidak keluar lagi.“Aw pelan-pelan donk… sakit tau” jerit Rian.“Oh ea?…. masa sih gitu aja sakit. Loe kan cowok “ ledek Diera membuat Rian bungkam.“Nah sekarang udah bereskan. Makanya kalau di omongin sama orang tu di dengerin. Huh… nyusain gue aja loe.”Rian mencoba berdiri dan siap mau jalan lagi, tapi Diera segera meraih tangannya dan melingkarkan di pundaknya. Siap untuk memapahnya, awalnya sih Rian tetap menolak, tapi akhirnya ia ngalah karena Diera terus ngotot. Dan mereka pun melanjutkan perjalanannya.“Ada apa?” Tanya Rian Heran karena Diera tiba-tiba berhenti.“Coba liat itu deh” tunjuk Diera tepat keatas mereka. Rian mendongakan kepalanya. Ternyata tepat diatas mereka ada pohon mangga hutan yang kebetulan sedang berbuah.“Gue laper nih. Kita ambil mangga itu dulu yuks. Kan lumayan,” ajak Diera. “Tapi gimana cara ngambilnya?”Diera bingung karena tuh pohon lumayan tinggi. Memanjatnya, rasanya nggak mungkin. Diera mencoba menjoloknya pake kayu tapi nggak ada kayu yang panjang, jadi nggak nyampe. Ia mencoba memetiknya dengan melemparinya pake ranting kayu , tapi nggak ada satu pun dari lemparannya yang mengenai sasaran. Akhirnya ia nyerah. Sampai ada sebiji buah mangga yang jatuh tepat di sampingnnya. Ia seneng dan langsung memungutnya. Saat menatap kesekeliling, tatapannya terhenti ke arah Rian yang sedang memegang ranting kayu kecil dan siap kembali melempar. Kali ini bukan Cuma satu tapi dua biji mangga yang jatuh. Diera tentu saja kagum melihatnya. Rian terus melempar, dan setiap lemparannnya selalu tepat sasaran. Diera benar – benar tidak percaya pada penglihatannya walau pun selama ini ia juga tau kalau Rian sanggat terkenal di sekolahnya akan keahliannya dalam bermain basket.Setelah tampak buah mangga yang lumayan banyak di tanah, Diera bilang cukup. Ia pun mengumpul kan semua mangga tersebut di depan Rian. Setelah itu ia pun duduk di sampingnya.Rian mencoba mengambil sebiji dan mengigitnya. Tapi buru-buru ia muntahkan lagi karena rasanya sanga masam, maklumlah magga tersebut memang masih mentah.“ Ya ampun. Ini manga atau asem sih. Kok rasannya kecut banget” ujarnya. Ia Heran karena Diera santai saja dan terus memakan mangga tersebut dengan santai. Bahkan keliatannya Diera malah suka.“Namanya juga masih mentah. Ya emang kayak gini rasanya. Loe pikir ni madu apa. Manis…..” balas Diera cuek.“Gue bisa sakit perut kalau makan ginian.”“Ya udah terserah loe. Tapi menurut gue ya masih mending sakit perut dari pada mati kelaparan.”“Tapi kok loe kayaknya nggak kekecutan sih?” Rian Heran.“He he he…. Gue kan emang suka. Tau nggak sih, bahkan mangga depan rumah gue nggak sempet mateng. Cuma biasnya gue makannya bareng sama garam.”Rian benar-benar tidak percaya mendengarnya. Walaupun rasanya bener-bener kecut, Rian akhinya memakannya juga. Bahkan sampai merem-merem segala. Diera memasukkan beberapa butir mangga yang belum mereka makan kedalam tasnya. Karena mereka masih harus menemukan jalan keluar dari hutan tersebut atau paling nggak bisa ketemu sama teman-teman mereka kembali.Hari sudah hampir malam lagi. Barulah sayup sayup Diera mendengar suara teriak-teriakan. Awalnnya ia pikir itu suara binatang hutan . tapi untung lah bukan karena ternyata itu suara teman-teman mereka yang terus mencarinya.Anggun, Narnia dan Hera langsung memeluk nya begitu melihat batang hidun Diera. Selama ini mereka bener-bener cemas akan nasib sahabatnya yang satu ini. Makannya mereka terus ikut dalam mencari mereka. Sementara itu para cewek-cewek yang lain sibuk ngerubungi Rian. Tapi mereka langsung pada cemberut karena anderani and teman-temanya langsung mengusirnya. Cerita SMA Diera Diary ~ 04“Eh entar sore kita pada jadikan buat main ke rumah Diera?” Tanya Hera sambil mengcampur aduk saus kedalam mangkuk baksonnya.“Ia donk, sebenernya kemaren sore gue udah kesana. Tapi dia masih belum bangun dari tenpat tidur” balas Lilly.“Kasihan…. Jadi dia sakit beneran habis pulang dari camping kemaren.”“Yo’a… apalagi kemaren kan dia sempet nyasar” Lilly menganguk. Nggak sengaja matanya tertuju ke sosok seseorang yang mau masuk ke kantin.“Pst…. Coba liat deh siapa yang datang,” Lilly memberi kode ke teman-temannya.“Eh kita samperin yuk” ajak Narnia begitu dilihatnya Rian sudah duduk.“Mo ngapain?” Anggun heran.“Ya mau kasih tau soal Diera lah. Masa mau nanyain dia mau makan apa, emang kita pelayan. Lagipula kemaren Diera kan nyasarnya bareng sama dia. Kali aja dia mau njenguk bareng kita,” sambung Narnia lagi.“Mustahil,” komentar Lilly santai.“Kok gitu?” Anggun Heran.“Kalau loe nggak percaya coba aja samperin. Gue sih ogeh.”Akhirnya semuannya sepakat. Anggun dan Narnia yang nyampering Rian. Lilly hanya tersenyum mengejek melihatnya. Dan terus memperhatikan kedua temannya yang bebicara kepada Rian.Lima menit kemudian Anggun dan Narnia balik lagi dengan tampang kusut. Lilly sudah bisa menebak kira-kira apa yang terjadi.“Gimana?” Tanya Hera penasaran.“Huh…. Benar-benar menyebalkan.”“Sumpah, nyesel deh kita nyamperin dia,” tambah Anggun.“Gue bilang juga apa.”“Ada apa sih?” Hera makin bingung.“Dia nggak mau ikut?” sambung Hera lagi.“Mending kalau Cuma nggak mau. Tau nggak sih dia malah ngomong yang bikin kuping gue panasss banget.”“Betul banget. Swer pengen gue jadiin bakso tu orang biar bisa langsung gue telen bullet-bulet. Sumpah deh.”“Udah mending kalian minum nih es biar adam dulu” Lilly menyodorkan es sirupnya ke kedua temannya sambil tersenyum. Anggun langsung menyerobotnya mendahului Narnia yang juga mau.Hera tentu makin kesel karena kedua temannya makin uring-uringan sementara di Tanya malah nggak jelas gitu. Akhirnnya dia yang memutuskan untuk menghampiri Rian langsung.“Mendinggan nggak usah deh,” cegah ketiga temannya serentak.“Kalian tenang aja. Gue bisa ngatasin ini kok. Kalian liat ya.”Tanpa menunggu balasan dari temannyannya Hera segera beranjak dari tempat duduknya dan menghapiri Rian dengan pedenya.Teman-temannya terus memperhatikan gerak-gerik Hera dengan heran. Apalagi dilihatnya Hera malah duduk bersama Rian sambil ngobrol santai gitu. Sambil nyodorin hape nya segala lagi. Masa sih Rian minta no hape nya dia. Kok bisa. Pikir mereka.“Ya udah gue pergi dulu ya” kata Hera meninggalkan Rian yang terus menatap pungungnya.“Ra gimana?” tanya Anggun penasaran.“Ia. Kok kayaknya kalian ngobrol akrab gitu” tambah Lilly.“Mana tadi Rian judes banget lagi sama kita” sambung Narnia.“Terus kenapa loe tadi nyodorin hape loe segala. Emang Rian minta no hape loe?”“He’eh” sahut Hera santai.“Ha…. Kok gitu. Cerita donk.”“Ya soalnya kan biar gampang ntar dia ngehubungin gue. Soalnya dia ntar ikut sama kita buat ngejenguk Diera.”“What?!” biji mata Lilly kayak mau keluar mendengarnya.“Ceritain donk. Loe pake jurus apa sih?” Narnia bener-bener penasaran.“Ada aja……” Hera tersenyum misterius.Salah sendiri, tadi dia nanya dicuekin, sekarang gantian donk.“Kok gitu sih….” Lilly bete.“Eh udah bel tuh. Buruan kekelas yuks…” ajaknya mengalihkan pembicaraan. Sambil berjalan meninggalkan kantin. Ketiga cecunguk itu terus mengejarnya untuk minta penjelasan. Tapi Hera Cuma angkat bahu sambil terus tertawa.Cerita SMA Diera Diary ~ 04Lilly mengucek-ngucek matanya, kali aja salah liat sementara Narnia malah mencubit tangannya sendiri siapa tau mimpi, Anggun?…. bengong. Mereka benar-benar tidak percaya siapa yang datang berboncengan dengan motor bersama Hera. Yups….. RIAN!!!.“Kalian udah dari tadi ya. Kok belum masuk?” Tanya Hera ke teman-temannya yang masih melototin Rian.“Hei… “ jerit Hera lagi karena mereka masih diam terus. Rian pura-pura ngebenerin riselting jacketnya. Salah tinggkah juga dia di lihatin kayak gitu.“Gue nggak mimpi kan nia” bisik Lilly lirih.“Kayaknya nggak deh, soalnya tangan gue sakit nih gue cubit” balas Narnia.“Hei kalian kok bengong gitu sih. Udah ayo masuk” ajak Hera.“Tapi dia?” tahan Anggun sambil tangan nya menunjuk ke arah Rian.“Ya dia ikut. Memang nya nggak boleh?” Hera balik nanya.“Bukannya waktu di kantin tadi kita ajak loe sendiri bilangnya nggak penting and kurang kerjaan ya?” Narnia tidak dapat menahan rasa penasarannya.“Kalau nggak terpaksa gue juga ogak kali” balas Rian ketus.“Apa?” Hera pertanya dengan nada mengancam.“Gue bilang sampai kapan kita mau berdiri di sini. Jadi ngejenguk temen loe nggak sih?”.ujar Rian kemudian.Diam diam Hera tersenyum mendengarnya.“Inget ya loe harus bersikap manis nanti di dalem. Kalau nggak…”Hera belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba tiba ada yang menyapa mereka. Ternyata mamanya Diera yang baru keluar karena tadi ia seperti mendengar suara motor yang memasuki halaman rumahnya.Reaksi Diera tidak beda jauh dengan reaksi Anggun, Lilly dan Narnia waktu pertama kali melihat Rian muncul didepan pintu kamarnya. Pandangan nya beralih ke Lilly dengan sorot ‘ kok-dia-ada-di-sini’. Lilly hanaya membalasnya ‘aku-anak-polos-nggak-tau-apa-apa’.Suasana sedikit janggal karena kehadiran Rian disana. Semua merasa canggung mau ngomong apa. Sampai Hera buka mulut mencoba untuk mencairkan suasana.“Diera gimana keadaan loe?”“Gue udah agak mendingan kok,” balas Diera sambil mencoba untuk duduk dari tempat tidurnya.“Kita semua ngehawatirin loe lho…” tambah Hera lagi.“Oh ya?. Ma kasih. Tapi sori ya kalau udah bikin kalian cemas gitu. Tapi gue beneran udah mendingan kok. Besok gue juga udah bisa sekolah. Udah kangen gue sama sekolah.”“Kalau loe emang belom baikan mending istirahat dulu….” Saran Lilly.“Dasar cewek…. Gitu aja sakit” gumam Rian lirih. Hera langsung melotot mendengarnya tapi Rian pura pura nggak melihat nya.Tiba-tiba pintu terbuka.“Eh ada temen-temennya kak Diera” sapa Cycie yang baru masuk. Adinya Diera yang baru berumur 6 tahunan.“Ia nih. Terus Cycie yang imut abis dari mana nih. Kok baru nongol” balas Hera sambil tersenyum gemes.“Abis maen ma temen-temen Cycie” balas Cycie sambil matanya tak lepas dari Rian yang tak jauh darinya.“Nah kalau yang itu namanya kak Rian” terang Hera yang menyadari rasa keingin tahuan bocah kecil itu.“O.. kalau aku Cycie. Adek nya kak Diera” dengan ramah Cycie mendekati Rian sambil mengulurkan tangannya, Rian pun tersenyum membalasnya.“Kakak pasti pacarnya kak Diera ya?” Tanya Cycie tiba-tiba yang membuat semuannya yang mendengar nya kaget nggak menyangka akan mendengar pertannyaan yang di lotarkan bocah cilik itu.“Hus Cycie!… apa apaan sih loe. Sembarangan aja kalau ngomong. Udah mending keluar sana loe” Bentak Diera mengusir adiknya karena merasa malu.“Gitu aja marah. Cycie kan Cuma nanya. Abisnya Cycie penasaran sih. Soalnya temen-temen Cycie bilang anak cowok nggak boleh maen ke kamar cewek kecuali kalau pacarnya. Gitu,” Cycie polos.“Ya nggak lah. Kakak Cuma temen kok. Lagian kalau pun pacar juga nggak boleh masuk kekamar cewek,” balas Rian kemudian.“Terus kenapa kakak masuk ke kamar kak Diera. Kak Diera kan cewek?” Tanya Cycie lagi yang membuat Rian makin bingung menjelaskannya.“Kalau kak Rian ke sini itu buat ngejenguk kak Diera yang lagi sakit” Lilly ngebantu menjelaskannya.“O…. gitu ya. Jadi kalau ceweknya yang sakit baru cowoknya boleh masuk yaa?”“Cycie!…”bentak Diera. “Keluar nggak!”.Cycie manatap kakak nya sambil memonyongkan mulutnya. Diera balas menatap tajam kearahnya. Cycie ngalah dan memilih keluar karena ia merasa takut kalau kakak nya beneran marah sama dia.“Sory ya yan ama omongan adek gue tadi” kata Diera ke Rian.“Nggak papa kok.”Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera melirik jam tangnnya. Ia Heran teman-temannya kok belum nongol juga. Padahal tadi ia sudah pesen sama Lilly kalau udah kelar ngisi soal ulangnnya langsung nyusul nya ke kantin. Tapi mereka kok belum nongol-nongol juga ya. Bel juga istirahat juga barusan udah kedengeran.Diera memicingkan matanya seolah kurang yakin dengan peglihatnnya melihat Rian yang dengan santai duduk di kursi di depannya sambil memesankan dua mangkuk mi so dan dua gelas es rumput laut.“Kenapa loe liatin gue kayak gitu?” Tanya Rian Heran.“Loe salah makan ya tadi malam. Atau emang lagi ngelindur?” Diera balik nanya.Rian melongo mendengarnya. Nggak ngerti apa maksut Diera ngomong kayak gitu.“Kenapa emang?”“Ya kok tumben banget loe mau duduk di samping gue. Nggak takut kehilangan selera?”Rian diam saja mendengarnya. Tidak komentar apapun. Malah mengeluarkan hape dari sakunya. Dan sok mencet-mencet tombolnya. Mengabaikan Diera yang masih menanti jawaban darinya.Pelayan kantin datang sambil membawakan pesanan mereka. Rian kembali memasukkan hapenya kedalam sakunya. Dan meraih mangkuk mi so nya. MenCyciepinya sedikit. Kemudian mendambahkan sedikit saus dan kecap kedalamnya.Bete di cuekin begitu. Diera bediri dan siap pergi meninggalkan mejanya sampai tiba tiba Rian menarik tangannya utuk kembali duduk sehinga membuatnya kaget.“Duduk."Kali ini gantian Diera yang menyentuh kening Rian. Kali aja tu anak yang sakit.“Bukannya yang baru sakit itu elo ya?” sindir Rian.“Kali aja pindah ke elo” balas Diera santai.Sembarangan. Udah makan tuh.”“Tapi ian gue masih Heran deh kok loe tiba-tiba mau nraktir gue sih. Atau jangan-jangan.”“Nggak usah nebak yang aneh-aneh. Udah makan aja. Anggap aja nie ucapan terima kasih yang kemaren. Kemaren kan loe bilang nya gue nggak tau berterima kasih” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya.“Biarin gue sekali-kali Ge-er kenapa sih….” gerut Diera cemberut tapi tak urung di seruputnya juga makanan yang ada di hadapannya.“Kenapa?” Tanya Rian heran karena dari tadi Diera masih terus mempehatikannya.“Enggak knapa-napa” balas Diera sambil terus memperhatikan Rian.Tiba-tiba Rian berdiri dan siap beranjak pergi yang membuat Diera heran dan segera menahannya.“Loe mau kemana sih. Tadi katanya mau makan bareng. Kok sekarang gue di tinggal gitu aja?”“Gue kan udah selesai.”“Tapi gue kan belom” balas Diera.“Kan bisa makan sendiri. Emangnya harus gue suapin?” balas Rian ketus.“Emang loe mau nyuapin gue?” Tanya Diera serius.“Hu… Maunya…….” Ledek Rian siap berbalik tapi lagi-lagi di cegah sama Diera.“Tunggu…” tahan Diera.“Apa lagi. Dasar cewek lemot. Jadi ngomong sama loe harus lurus aja ya. Nggak ngerti juga kalau pake bahasa orang gede…. Gue-nggak-mau-nyuapin-elo. Puas.”“Ye……. Siapa juga yang minta di suapin sama loe. Ngasal kalau ngomong” Diera sewot.“Terus?”“Bayar tuh makanan. Enak aja main ngacir. Tadikan loe yang pesen. Emang sih gue juga makan. Tapi kan loe yang minta gimana sih?”Rian baru nyadar. Dan segera di rogohnya uang dari dalam sakunya dan di berikan pada pelayannya. Kemudian segera berlalu tanpa ngomong sepatah kata pun pada Diera. Ia ingin buru-buru pergi karena sekilas tadi ia melihat bayangan teman-temannya Diera yang akan masuk kekantin.“Hu…. Kenapa tu orang. Dasar orang aneh,” gumam Diera sendiri sambil kembali menghabiskan mi so nya yang masih tersisa.“DOR”.Diera tersedak. Lilly menepuk pungungnya tepat saat ia sedang makan mi nya yang pedes banget. Dan hasil nya……Emang dasar tu orang. Ngagetin nggak pake kira-kira. Nggak lihat situasi. Umpat Diera dalam hati.“Ups….. sory….” Lilly merasa bersalah sambil menugsap-usap pungung Diera karena Diera nggak berhenti-henti batuknya.“Gila loe… loe mau bunuh gue ya. Bisa mati keselek gue….”“Ya sori. Abisnya gue kesel si sama loe. Udah tadi waktu ulangan nggak bagi-bagi jawabannya. Di bikin jadi pudding kita sama pak bastian. Terus giliran kita kesini eh loe malah enak-enakan makan miso sendirian. Bahkan sampai abis dua mangkuk. Siapa yang nggak kesel coba. Dasar nggak setia kawan.”“Bukan gue nggak mau ngasih tapi kan tadi kalian sendiri tadi nggak minta,” Diera bela diri.“Giamana kita mau minta tolong ma loe. Lha wong loe langsung ngacir begitu udah selesai,” balas Anggun.“Ha ha ha” Diera tertawa mendengarnya.“Tapi ra, loe rakus juga ya. Sampai abis dua mangkuk mi so. Apa gara-gara loe sakit kemaren. Makannya sekarang loe mau bales dendam?” Tanya Narnia sambil duduk di sampingnya yang terlebih dahulu memesan bakso sama pelayan kantinya.“YA nggak lah. Gue makan semangkuk ini aja belom abis dari tadi.”“Terus ni mangkuk siapa donk?”Tanya Hera sambil menunjuk mangkuk mi so yang sudah kosong.“Coba tebak…” Diera bales nanya.“Pasti Pasya kan?” ujar Anggun dan Lilly bersamaan. Diera mengeleng.“Kok Pasya sih. Lagian kenapa juga di harus nraktir gue?”“Alah kayak kita nggak tau apa. Tu anak kan naksir sama loe. Kemaren aja waktu loe nggak datang ke sekolah tu orang terus nanyain keadaan loe” goda Narnia.“Apaan sih….” Diera tersipu malu.“Tapi kalau bukan Pasya siapa donk. Nggak mungkin Rian kan…” tebak Lilly ngasal.“Emang dia…” balas Diera nyantai. Lilly melotot menatapnya. Seolah nggak percaya sama pendengarannya.“Loe bercanda kan?” tambah Narnia yang juga nggak percaya. Diera mengeleng. Cuma Hera yang diam diam tersenyum.“Kenapa dia harus nraktir loe. Terus di mana dia sekarang?” Tanya anggun antusias.“Tau….” Diera hanya angkat bahu.“Kayaknya kelakuan tu anak makin aneh deh….” Gumam Lilly sebelum kemudian mengalihkan perhatiannye kearah makanan yang terhidang di hadapannya.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 05~ With Love ~ Ana Merya ~

  • TITIPAN MANIS DARI SAHABAT

    TITIPAN MANIS DARI SAHABATOLEH : *CHACHANurul, panggilan untuk seorang sahabat yang terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan tomboy itu, sangat berbeda dengan karakter Caca yang feminim dan lugu. Mereka bertemu di salah satu asrama di sekolah mereka.Saat dihari jadi Caca, Nurul pamit ke pasar malam untuk mengambil sesuatu yang sudah dipesan buat sahabatnya itu. Caca menyetujuinya, dia pun menunggu Nurul hingga tengah malam menjelang. Caca yang mulai khawatir terhadap Nurul menyusul kepasar malam, hingga dia melihat yang seharusnya dia tidak lihat . Apa yang dilihat Caca? Dan apa yang terjadi dengan Nurul? “Aku luluuuuuus…” Teriak beberapa orang anak saat melihat papan pengumuman, termasuk juga Marsya Aqinah yang biasa disapa Caca.“Ih…nggak nyangka aku lulus juga, SMA lanjut dimana yah?” Ujarnya kegirangan langsung memikirkan SMA mana yang pantas buat dia.“Hai Ca, kamu lanjut dimana ntar?” Tanya seorang temannya“Dimana ajalah yang penting bisa sekolah, hehehe” Jawab Caca asal-asalan“Oooo…ya udah, aku pulang dulu yah”“Yah, aku juga dah mau pulang”Sesampainya dirumah Caca…Caca memberi salam masuk rumahnya dan langsung menuju kamar mungilnya. Dalam perjalanan menuju kamarnya, dia melihat Ayah dan Ibunya berbicara dengan seorang Udstazt ntah tentang apa. Caca yang cuek berjalan terus kekamarnya. Tak lama kemudian Ibu Caca pun memanggil….“Caca…Ayah ma Ibu mau bicara, cepat ganti baju nak”“Iya bu, bentar lagi” Jawab Caca dari dalam kamarnya.Akhirnya Caca pun keluar…“Napa bu?” Tanya sambil duduk disamping Ibunya“Kamu lulus?” Tanya Ibunya kembali“Iya dong bu, nama Caca urutan kedua malah. Pasti Caca bebas tes kalo masuk di sekolah ternama deh” Jawab Caca percaya diri“Alhamdulillah, ehm…” Ucapan Ibu terhenti sejenak“Kenapa bu? Bukankah itu bagus?” Tanya Caca lagi sambil melihat Ibunya“Gini nak, kamu dak mau masuk asrama?” Tanya Ibu Caca sangat hati-hati“Loh ko’ ada asrama-asramaan sih bu?” Ujar Caca yang tanggapannya tentang asrama kurang bagus“Di asrama itu bagus Ca, bisa mandiri dan yang lebih bagus lagi bisa tinggal bareng teman-teman, tadi udstdz tadi ngomong kalo pendidikan agamanya disekolah asrama juga bagus” Kata Ayah Caca menjelaskan dan berusaha mengambil hati anaknya itu“Yaaaah ayah, terserah deh” Ucap Caca pasrah tidak ada niat untuk melawan ayahnya tersayang2 bulan telah berlalu, setelah mengurus semuanya untuk memasuki asrama…Caca pun memasuki sekolah asrama yang telah diurus oleh Ayahnya, Caca berjalan di serambi-serambi asrama bareng Ayah dan Ibunya menuju asrama yang telah ditunjukkan untuknya. Akhirnya sampai juga….“Ayah, ini asrama Caca?” Tanya Caca dengan raut wajah yang tidak setuju“Iya, kenapa?” Jawab Ayah Caca dan kembali bertanya“Tidak kenapa-napa ko’, namanya juga belajar mandiri” Ucap Caca tidak menginginkan kata-katanya menyinggung Ayahnya.“Jadi ayah tinggal nih?”Ujar Ayah Caca “Iya ayah, Caca kan mau mandiri masa’ Caca nyuruh ayah nginap juga sih?” Kata Caca sedikit bercanda“Ya Udah, Ayah tinggal dulu”“Baik-baik ya anak Ibu, jangan nakal” Ujar Ibu berpesanAkhirnya beliau pergi juga setelah cipika cipiki, sekarang tinggal Caca yang merasa asing terhadap penghuni kamar 2 itu. Ada 4 orang termasuk Caca, yang 2 orang lainnya pun merasa seperti yang dirasakan Caca, kecuali cewe’ ditempat tidur itu kaya’nya dia senior deh.“Hai..Siswi baru juga yah?” Tanya Caca ke seorang yang agak tomboy tapi berambut panjang lurus“Hai juga..Iyah aku baru disini, namaku Nurul Utami, bisa dipanggil Nurul dan itu kaka’ aku Salsabila udah setahun disini” Jawab orang itu menjelaskan tanpa diminta dan mengaku dirinya bernama Nurul, sambil menunjuk kearah seorang yang tidur-tiduran tadi.“Aku Marsya Aqinah, bisa dipanggil Caca. Ooo pantas reaksinya biasa-biasa aja ama nih kamar, trus yang ntu sapa?” Tanya Caca lagi sambil menunjuk ke orang yang lagi asik membereskan baju-bajunya kelemari mungilnya“Ntah lah, orang baru juga tuh” Jawab Nurul berjalan mendekati orang yang dimaksud Caca“Hai aku Nurul, itu temanku Tata dan itu kaka’ku Salsa, kamu siapa?” Tanya Nurul dengan cerewetnya plus asal-asalan.“Woi…aku Caca, bukan Tata” Teriakku protes sambil manyun-manyun“Iya..iya.., itu Caca. Kamu belum jawab nama kamu sapa?” Tanya Nurul lagi“Aku Miftahul Jannah, bisa dipanggil Mita” Jawab Mita dengan senyuman yang muanis sangat. Nurul pun membalas senyum itu dengan senyuman yang hangat pula dan sikap yang sangat bersahabat.Sekarang Caca tau kenapa dia akan betah di kamar asrama ini, yah karena ada Nurul yang gokil banget. Suatu ketika Caca lagi nggak semangat, pasti ada Nurul dengan sikap konyolnya membuat Caca tertawa. Dan disaat Caca lagi mengalami kasmaran ada Nurul sebagai teman curhatnya. Seperti saat ini….“Rul, ada nomer baru neh masuk dihape aku, katanya nama dia Ical, dia kenal aku dah lama dan sekarang dia cari rimba aku dimana gitu” Cerita Caca membuat Nurul kelepasan“Ha..ha..ha..ha..ha..ha.., beritahu aja dari hutan rimba”“Nurul, aku serius tau”“Aku duarius, ha..ha..ha”“Nurul kamu ngebete’in”“sori.. sori.., gini.. kamu jangan langsung termakan gombal dia gitu, ntar dijahatin baru tau rasa” Ucap Nurul menasehati, mirip ibu-ibu ‘hihihi’“Ntar kalo aku termakan gombal, yah minum ajah teh botol sosro” Ujar Caca dengan lagak menirukan iklan yang di TV dan bisa membuat Nurul jengkel“Kamu ini diseriusin malah becanda”“Duluan juga kamu Rul, ha..ha..ha..” Kata-kata Caca rupanya membuat malapetaka bagi dirinya itu, yakni dengan adanya serbuan bantal dari Nurul. Kedua sahabat itupun saling lempar-lempar bantal hingga akhirnya mereka kecapean dan tertidur juga.“Damainya dunia kalo mereka tidur” Ujar Salsa kaka’ Nurul yang dari memperhatikan merekaSeminggu kemudian……..“Nuruuuul, tau ga’ aku jadian ma Ical pagi ini. Rupanya tuh orang temen aku dari SMP, aku jadiannya di café punya Meri, ih senang deh” Cerita Caca“Eh cepat banget, tapi baguslah,ehmm awas kalo dia kurang ajar, ntar aku yang ngajarin dia, he..he..he..” Tanggap Nurul senyum-senyum“Siplah, eh Ical punya teman cuakep abis, aku comblangin ke kamu yah” Usul Caca“Nggak Ah, masih senang dengan masa juomblo” Kata Nurul“Jomblo, bukan juomblo” Ucap Caca membenarkan“Iya…iya…yang itulah, he..he..he..” Kata Nurul“Kamu harus kenalan ma Ical, supaya sahabatku bisa ngedukung sepenuhnya” Ujar Caca“iya..iya.. Ntar kalo dia nelfon, kenalin aja ke aku” Ucap Nurul mengangguk-anggukBegitu seterusnya, Caca curhat terus tentang Ical ke Nurul, memperkenalkan Ical ke Nurul, hingga tak terasa berjalan 2 bulan“Nuruuuuuuuuuuuuul… bangun bangun banguuuuun, dah magrib” Teriakan Caca ditelinga Nurul itu betul-betul memekakan telinga.“Apaan sih Ca? Udah bangunin orang tanpa pamit, belom gosok gigi lagi” Ujar Nurul jengkel“Sori dori ye…ini Rul si Ical sms neh katanya ada kejutan buat aku. Duh apa yah?” Tanya Caca nutup mukanya sendiri“Meneketehe…” Jawab Nurul cuek abis angkat bahu“Ih Nurul, tanggapin donk. Buat sahabat kamu dikit senang bisa nggak sih?” Kata Caca mengguncang tubuh Nurul“Caranya?” Tanya Nurul sambil menguap“Puji ke’ ato apalah, yang penting aku bisa senang giitu” Jawab Caca milih-milih“o iya, ada cara” Kata Nurul tiba-tiba“Nah tuh kan ada” Ujar Caca menunggu sambil senyum-senyum“Iya ada, bantu beresin lemari buku aku” Ucap Nurul membuat Caca manyun“Ga da yang lain yah?” Tawar Caca“Ga da, ayolah Ca… Aku juga punya kejutan buat kamu besok, gimana?” Ucap Nurul kembali menawar sambil bangun dari tempat tidurnya“Okelah…demi kejutan” Kata Caca menyetujuiMereka berdua pun membereskan lemari buku milik Nurul. Terlihat Nurul memutar otaknya, memikirkan apa yang akan diberikan untuk sahabatnya besok. Yah besok hari jadi Caca yang ke-17 biasa juga disebut sweet seventeen, dimana Caca memasuki awal umur yang dewasa, jadi harus sesempurna mungkin. Sementara itu Caca yang selagi membereskan buku-buku Nurul dengan susunan yang rapi, sinar matanya malah terpaut pada satu buku lucu, imut dan wow…! warna pink, kesukaan Caca banget. Caca tidak menyangka kalau Nurul peranakan tomboy itu pelihara buku yang imut banget. Caca mengambil buku itu dan membaca sampulnya “My DiarY”. Caca senyum-senyum, pikirnya bahwa bisa juga cewe’ setomboy Nurul punya diary.“Rul, diary kamu nih?” tanya CacaNurulpun balik “Iya…diary aku banget”“Buat aku ya Rul” Pinta Caca dengan sejuta raut wajah imutnya“Kamu mau?” Tanya Nurul“Ya iyalah, ga’ mungkin dong aku minta kalo aku kaga’ mau” Jawab Caca berpanjang lebar“Ntar aku selesaiin isinya baru aku kasi ke kamu” Ujar Nurul“Ayolah Rul” Rengek Caca yang super manja“Aku janji Ca, buku tuh pasti kamu miliki. Sini bukunya” Pinta Nurul usai berjanji“Nurul pelit” Kata Caca ngambek“Aku kan dah janji Ca”“Janji yah?” Ujar Caca meyakinkan sambil mengacungkan kelingkingnya“Janji..! Lanjut yuk” Kata Nurul Sambil mengapit jari Caca dengan jari kelingkingnya“Iyah…Eh, Rul besok ada PR. Kamu dah jadi belom?” Tanya Caca kemudian“Belom, aku nyontek punyamu boleh?”“Ya boleh lah”“Aku juga titip besok dikumpulin, boleh?”“Boleh…eh mangnya kamu mau kemana Rul?” Tanya Caca lagi“Anak kecil ga boleh tau” Jawab Nurul“Uh…k’ Salsa, Nurul besok mau kemana?” Tanya Caca ke Salsa yang sedang tidur-tiduran“Ga tau juga” Jawab Salsa angkat bahu“Berarti k’ Salsa anak kecil juga donk, hi..hi..hi..” Bisik Caca sambil cekikikan“Udah, kalian tidur. Ntar penjaga asrama kontrol, tau ga tidur dimarahi loh” Ujar Salsa“Eh…Mita dimana k’?” Tanya Nurul ke Salsa “Tadi pamit ke asrama sebelah nginap” Keburu Caca jawab“Sapa juga yang nanya kamu?”Tanya Nurul“O…bukan aku yah? Abis panggil kaka’ sih, kira aku. He..he..he” Kata Caca“Anak kecil bisanya ngerasa doank” Ujar Nurul mencibir“Biarin…weak…aku bobo duluan yah?”Kata Caca sambil menguap dan bersiap-siap ditempat tidurnya“Akhirnya tenang juga” Ucap Nurul seakan-akan kekacauan sudah berakhir. Diapun bergegas ke tempat tidurnya dan membuka buku diarynya, dia menulis sesuatu dibukunya itu. Malam semakin larut, Nurul melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul 01.30, lama kemudian akhirnya tertidur juga sesudah dia merapikan buku diarynya dan menyimpan di bawah bantalnya.Keesokan harinya…….Hari itu tampak cerah, Caca pergi kesekolah tanpa ditemani Nurul tidak seperti kemarin-kemarin. Nurul mesti pergi kesuatu tempat yang penting dan Caca tak boleh tau rencananya itu. Caca disekolah yang sebangku dengan Nurul mesti memeras otak sendiri tanpa ada teman yang diajak diskusi. Sampai bel pulang sekolah pun berbunyi, belum ada kabar dari Nurul. Salsa yang ditanya hanya angkat bahu.“Duh dah sore gini ko’ Nurul belum hubungi aku sih?” Gumam Caca sambil mencet-mencet hape dan ketika nomor Nurul yang didapat, Caca pun berniat menelpon“Nomor yang anda tuju…..” Jawaban telpon di seberang langsung ditutup oleh Caca sambil berceloteh “Operator, dimana tuh orang? Nomer dak diaktifin lagi”Caca pun masih sabar menunggu hingga malam pun larut. “Aku harus nyusul Nurul nih” Ujarnya sambil narik swetearnya dari jemuran dan pamit ke Salsa. Caca naik angkot ke pasar malam, dalam perjalanan pun dia rasa melihat 2 seorang yang sangat dia kenal di sebuah cafe. Caca langsung turun dengan muka yang merah padam menahan marah, setelah membayar angkot. Caca langsung menuju tempat duduk 2 orang tadi.“Nurul!!! Ical!!! ini yah kejutan dari kalian berdua untuk aku? Oke aku terkejut, sangat terkejut!!! Ical kita putus, dan kamu Rul. Percuma aku khawatirkan orang yang rebut pacar sahabatnya sendiri” Gertak Caca blak-blakan tanpa memberi kesempatan Nurul dan Ical bicara, Caca langsung pergi dari café itu dan naik angkot pulang keasramanya.Caca tak mau tau lagi apa yang akan terjadi setelah ini, Caca tiba diasrama dan langsung mehempaskan diri ketempat tidurnya sambil menangis sekuat dia, Salsapun berniat mendekat tapi bersamaan dengan itu, hape Salsapun berbunyi.“Halo?” Ujar Salsa yang tampak berbicara serius dengan penelpon diseberang“Iyah saya segera kesana” Kata Salsa mengakhiri pembicaraannya dengan penelpon tadi dan bergegas memberitahukan Caca“Ca, Nurul lagi……” Kata-kata Salsa terputus saat Caca memberi tanda untuk menyuruh Salsa pergi. Tanpa pikir panjang Salsa pun pergi dengan mata sembab, Caca tak tau apa alasannya yang jelasnya saat itu Caca merasakan sangat sakit didadanya. Salsa yang bergegas naik angkot itu sengaja mengirim pesan singkat ke hape CacaTriiit…triiit… Caca mengambil hapenya dan membaca isi pesan itu“Ca, Nurul masuk UGD, kalo kamu mau datang, langsung saja di RS Urip Sidoarjo ruang UGD”Caca mulai khawatir, biar bagaimana pun Nurul masih sahabatnya, dia langsung melupakan sakit yang tengah melanda dadanya itu dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang disebutkan Salsa.Sepanjang perjalanan Caca berusaha menahan air matanya yang dari tadi mengalir sambil bergumam, “Nuruuul, kenapa sih kamu tega hianati aku?, kita memang sering becanda tapi ini lain, Rul. Aku sakit saat aku tau kamu hianati persahabatan kita. Sekarang ada kejutan apa lagi? Tadi aku liat kamu baik-baik aja bareng Ical, tapi kamu ko bisa masuk UGD sih? aku harap ini bukan permainan kamu semata hanya untuk minta maaf padaku. Ini tidak lucu lagi”Sesampainya dirumah sakit……Caca langsung berlari menuju ruang UGD, Caca mendengar tangisan histeris yang keluar dari mulut Salsa.“Ada apa ini?” Gumam Caca yang membendung air mata, dia memasuki ruangan itu. Pertama dia melihat Ical dengan sebuah bungkusan imut ditangannya, “Pasti dari Nurul” pikir Caca. Sakit hatinya kembali muncul, lama dia pandang Ical hingga Ical berusaha mendekatinya tapi dengan tatapan sinis memendam rasa benci, Caca meninggalkan Ical yang matanya telah sembab. Cacapun berpikir bahwa sandiwara apa lagi yang Ical perlihatkan ke dia. Caca menarik nafas dalam-dalam dan kembali berjalan menuju tempat tidur yang terhalang tirai serba putih, Cacapun mengibaskan tirai itu, dia lihat disitu ada Salsa dan……“Nuruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul……” Teriak Caca histeris, serasa remuk tulang-tulang Caca saat melihat ditempat tidur diruangan UGD itu, terbaring seorang gadis tomboy, muka mulus tak tampak lagi, malah yang nampak hanyalah luka-luka dan muka yang hampir tak bisa dikenali, bersimbah darah tak bernyawa, rambut hitam lurus terurai begitu saja seakan membiarkan tuannya melumurinya dengan cairan merah yang mengalir dari kepala tuannya, jilbab yang tadi di kenakannya pun tak nampak warna dasarnya karena percikan darah. Caca memeluk sahabat yang paling disayanginya itu, ada rasa sesal dalam hatinya. Kenapa tidak membiarkan sahabatnya itu menjelaskan apa yang terjadi sebelum dia kelewat emosi?.Sesaat itu ada yang menggenggaman hangat lengannya, Caca tak menghiraukan, yang Caca pikirkan adalah rasa sesal dalam benaknya. Pemilik genggaman itupun menarik dan memeluknya, kemudian memberikan bingkisan imut yang ada ditangannya.“Nih bingkisan buat kamu, kejutan ini yang dari tadi pagi dicari Nurul dan baru dapat diluar kota, aku mengantar Nurul karena aku juga ingin memberikan kejutan kecil-kecilan buat kamu, tapi kamu datang saat aku dan dia merencanakan acara kejutan buat kamu” Jelas Ical sambil memeluk Caca yang semakin berlinang air matanya saat mengetahui apa isi dari bingkisan itu, buku diary imut, warna pink sesuai yang dijanjikan Nurul“Katanya kamu sangat menginginkan buku yang seperti miliknya, nah ini tandanya dia sangat sayang sahabatnya dan ga mau mengecewakan sahabatnya itu. Tapi tadi waktu kamu salah tanggap tentang di café itu, dia merasa bersalah banget, soalnya dia ga pamit dulu ke kamu sebelum minta bantuan ke aku. Dia panik karna takutnya kamu akan menganggap dia penghianat, akhirnya diapun mengejarmu tanpa peduliin ramainya kendaraan dan bus itu…………” penjelasan Ical terputus, dia tidak sanggup lagi meneruskan cerita tragis yang menimpa sahabat mereka itu. Caca pun masih membiarkan air matanya tetap mengalir di pipinya semakin deras.“Rul, napa mesti kamu jadi korban egonya aku?, sapa lagi dong yang dengerin curhat aku?, sapa lagi yang bisa aku ejek? perang bantal kita juga mesti dilanjut Rul, belum ada yang juara neh, he..he.., eh aku juga mau ngasih contekan kekamu ko’, Rul bangun dong…jangan becanda, ini ga lucu lagi. Sumpah ini ga lucu, Rul bangun, kamu napa sih? sukanya buat aku panik. Rul bangun dong” Ujar Caca setelah melepaskan pelukan Ical, senyum dan berbicara sendiri setelah itu kembali Caca memeluk jasad sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Salsa mendekatinya dan memberikan sebuah buku diary milik Nurul“Kata Nurul, kalo dia tidak dapet buku yang mirip punya dia, buku diarynya ini buat kamu” Ujar SalsaCacapun membuka buku kecil itu, tak sempat membaca halaman pertama, dia membuka beberapa lembaran berikutnya, hingga Caca pun membaca tulisan Nurul paling akhir.13 Mei 2003, 01.00 pagiDear Diary….. Aku dah dapet sahabat, kasih sayang sahabat. Tapi aku tak dapat memberikan apapun untuk sahabatku itu, ini hari jadi dia, dan dia menginginkan kamu diary, mungkin saja suatu saat aku berikan kamu ke dia, tapi itu suatu saat, hanya saja aku harus cari yang mirip denganmu untuk sahabatku. Aku minta tolong ke Ical mungkin juga dak apa-apa yah diary, diakan pacar sahabat aku berarti dia juga sahabat aku dong. Hahaha….hanya sebuah buku tapi kalo dia masih menginginkan kamu diary, mau tak mau aku harus ngasih kamu kedia. Nyawa akupun boleh yang penting sahabat aku senang, hahaha, Lebaaaaaaaay. Ya udah dulu diary aku ngantuk neh…Ga’ kelupaan “MET ULTAH CACA, MY FRIENDSHIP” NurulCaca menutup diary Nurul, semakin berlinang air mata Caca. Yah apapun yang Nurul akan beri untuk Caca, bahkan nyawanya seperti sekarang yang Caca alami. Nurul takut kalo Caca menganggap dirinya berkhianat karena sudah lancang mengajak Ical untuk mengantarnya, hingga dia tak pedulikan lagi ramainya kendaraan dijalan yang membuat dirinya menghadap sang Ilahi.Esok harinya, jasad Nurulpun dimakamkan dikampung halamannya. Setelah dikebumikan, Caca mengusap kembali nisan sahabatnya sambil berlinang air mata. Tertulis dinisan itu “Nurul Utami binti Muh. Awal, Lahir 14 Mei 1989, Wafat 13 Mei 2003”, sehari sebelum hari jadinya.“Nurul, sahabat macam apa aku, hari jadi kamu pun aku tak tau, Rul selamat ulang tahun yah, hanya setangkai bunga dan kiriman doa yang dapat aku beri ke kamu, istirahat dengan tenang yah sahabatku” Ujar Caca sambil berdoa dan kemudian meninggalkan gundukan tanah yang masih merah itu.##SELESAI##

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*