Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart” ~ 01

Salah satu kisah remaja yang admin tulis adalah cerpen remaja Take My Heart, kisah remaja yang merupakan lanjutan dari cerpen pendek pupus yang telah di posting sebelumnya. Secara cerpen yang satu itu kan sad end, so biar happy di tarik kesini. He he he. Nah, buat yang penasaran bisa langsung read ke bawah. Ini merupakan part awal, so silahkan simak detailnya. Jangan lupa RCL ya…

Cerpen take my heart
Cerpen take my heart

Orang bilang cinta itu sederhana, Cukup aku dan kamu, Yang lain cuma nonton. Tapi sayangnya, tidak semua orang menyukai kesederhanaan. Layaknya hidup yang menginginkan kemewahan…. #Take My Heart
"Ah, Mereka benar – benar pasangan yang serasi ya?."
"Ia. Yang satunya Prince, yang satunya lagi Princess."
"Sulit di percaya, kedua idola di kampus kita bisa jadi pasangan."
Laura terus melangkah sambil tersenyum bangga mendengar kalimat demi kalimat yang mampu di tangkap oleh indra pendengarnya. Sesekali matanya melirik sosok yang berjalan tepat disampingnya. Menuruti tawaran menjadi pacar Ivan, Idola kampusnya walau selama ini terkenal dengan Cap Playboy ternyata bukan ide yang buruk. Terbukti pamornya makin menanjak semenjak itu. Padahal baru terhitung seminggu mereka jadian.
"Sayang, kita ke kantin dulu yuk. Gue laper nih," ajak Laura terdengar manja, Ivan menoleh kearahnya. Mengangguk setuju sambil pasang senyum manis.
Begitu mereka menginjakkan kaki di kantin, seperti biasa langsung menarik perhatian semuanya. Mulai terdengarlah suara suara berbisik yang membicarakan tentang keduanya.
"Kok kita duduk disini si?" bisik Laura lirih saat mendapati Ivan duduk santai di meja tengah bersama ke tiga teman karibnya. Biasanya kan bila mereka berdua mereka selalu duduk berdua di pojokan.
"Oh, itu karena gue punya kejutan buat loe. Bener gak guys?" tanya Ivan sambil tersenyum misterius kearah teman – temannya.
"Oh ya?" wajah Laura tampak bercahaya.
"Nggak yakin loe suka, tapi kalau kaget bisa jadi," Ivan menambahkan.
"Apa?" tanyanya sedikit mengernyikan dahi.
"Gue mau kita putus," kata Ivan singkat, padat dan jelas.
"Apa?!" kali ini Nada kaget yang keluar dari mulut Laura. Setelah terlebih dahulu terdiam sejenak ia menambahkan sambil tertawa. "He he he, loe bercanda kan?"
"Jadi menurut loe ini lucu?" bukannya menjawab Ivan malah balik melontarkan pertanyaan.
"Tadi ini nggak masuk akal. Kita baru seminggu jadian. And hubungan kita juga baik – baik aja. Seenggaknya sebelum…" Laura melirik jam tangannya "20 detik yang lalu."
"Heh, nggak masuk akal?" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau gue ini seorang play boy?"
"Apa?"
"Sebenarnya, gue males banget pacaran sama loe. Tapi temen – temen gue nantangi apa gue bisa naklukin elo dengan sekali tembak kemudian memutuskannya di hadapan umum. Ya sudah, kebetulan taruahannya lumayan gue si ikut aja. Terbukti kan gue yang menang?" kata Ivan sambil menadahkan tangan ke arah Renold, sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya. Dan detik berikutnya lembaran uang ratusan sudah tertera di sana.
"Ma kasih ya, Sekarang loe boleh pergi".Refleks tangan Laura melayang. Namun belum sempat mendarat di wajah Ivan, tangannya sudah terlebih dahulu dicekal.
"Loe pikir siapa elo berani nantangin gue ha?" kata Ivan lirih namun penuh penekanan. "Asal loe tau aja, image loe sebagai cewek idola di kampus ini, yang selalu berhasil naklukin hati cowok ternyata cuma gosip murahan. Buktinya loe dengan gampangnya bertekuk lutut di hadapan gue," sambung Ivan lagi.
"Sialan loe. Dasar brengsek!" geram Laura sambil menghempaskan tangannya membuat cekalan Ivan langsung terlepas.
"Terima kasih atas pujiannya," senyum Ivan santai.
"Denger ya, gue akan pastikan loe akan menyesali apa yang loe lakukan saat ini sama gue. Inget, hukum karma itu berlaku. Loe pasti akan merasakan pembalasan yang lebih buruk dari apa yang loe lakuin ke gue," geram Laura dengan wajah memerah. Entah karena terlalu marah atau malu karena kini telah menjadi objek tontonan di kantin mereka.
"Kita liat aja nanti," Ivan cuek.
Dengan kesel Laura berlalu membawa sejuta dendam dan sakit hati di hatinya. Sementara Ivan sendiri justru tertawa diikuti ke ketiga teman temannya.
"Wow, sulit di percaya. Loe benar – benar melakukannya," Komentar Renold sambil menggelengkan kepala kagum menyaksikan drama satu babak yang baru saja terjadi di hadapannya.
"Kenapa enggak. Lagipula ini cuma masalah kecil," sahut Ivan sambil menjentikan jarinya menyombongkan diri.
"Apa loe tertarik untuk melakukan taruhan lagi?" Andra angkat bicara.
Ivan terdiam. Matanya melirik lembaran lembaran merah yang berada di tangannya. Setelah berpikir sejenak ia kembali berujur.
"Jika kalian siap untuk kalah lagi."
"Wow, Pe-De sekali," cibir Renold.
"Jadi apa aturan mainnya?" tanya Ivan lagi.
Andra tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dengan sebuah senyuman misterius di wajahnya.
"Kita liat aja nanti".

~ Take My Heart ~

"Apa yang mau kita lakukan di sini?" tanya Renold bingung saat Andra menghentikan langkahnya di koridor kampus.
"Tentu saja untuk melanjutkan rencana permain kita," terang Andra santai.
"Makstu loe?" tanya Ivan.
"Sebelum gue jawab, gue pengen nanya sekali lagi. Ivan, loe siap untuk ber'Main?" tanya Andra sambil menoleh kearah Ivan yang hanya di balas anggukan mantap.
"Apapun?" Andra menegaskan.
"Apapun selama itu masih terkait dengan ketenaran gue selaku playboy!" balas Ivan membuat temannya mencibir mendengarnya.
"Baiklah, taruahannya sepuluh juta. Deal?" tanya Andra lagi.
"Tunggu dulu, loe belum menentukan apa permainannya?" potong Ivan.
"Baiklah, kalian lihat pintu itu?" tunjuk Andra kearah ruangan dosen.
"Iya. Kenapa?" Renold masih terlihat bingung.
"Itu permainannya."
"Maksut loe?" tanya Aldy yang sedari tadi diam memperhatikan tampang bingung. Tangannya terulur membenarkan letak kaca matanya.
"Loe," tunjuk Andra kearah Ivan. "Harus bisa menaklukkan siapapun yang pertama sekali keluar dari pintu itu."
"Apa?!" secara koor ketiga orang itu berujar tak percaya.
"Bagaimana kalau yang pertama keluar dari pintu itu adalah pak Burhan?" celetuk Aldy.
Semuanya terdiam untuk sejenak sambil membayangkan sosok yang di sebut Aldy barusan. Pak Burhan, pria gendut, berkepala botak lengkap dengan kacamata minus yang selalu bertenger di wajahnya. Di tambah dengan raut wajahnya yang jelas – jelas sangar sontak langsung membuat Ivan bergidik ngeri.
"Ivan loe tertarik untuk menunjukan pesona loe pada …. bapak – bapak?" tanya Andra sambil berusaha menahan tawa saat melihat tampang kecut Ivan.
"Ke laut aja loe," damprat Ivan kesel.
"Wukakkakak. Oke aturan main kita rubah dikit. Siapapun wanita yang pertama sekali keluar dari pintu itu, loe harus bisa naklukin dia dalam waktu satu bulan? Bagaimana?" tawar Andra lagi.
"Terus kalau Bu Susi yang pertama sekali keluar bagaimana?" gantian Renold angkat bicara menyebutkan salah satu dosen di kampusnya yang terkenal sangar.
"Ya itu resiko" Andra cuek bebek.
"Tapi dia kan sudah punya suami. Apa loe bermaksud menjadikang gue sebagai manusia perusak rumah tangga orang?" potong Ivan terlihat frustasi.
"Wukakkaka…. Loe takut memiliki image sebagai perusak rumah tangga orang atau loe sebenernya takut mereka adalah wanita – wanita setia pada suaminya?" tanya Andra balik.
"Lagian, ayolah. Kaliaankan dari tadi hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau yang keluar dari sana adalah ibu Silvia?" tambah Andra lagi.
Membuat ketiga temannya kembali berimaginasi membayangkan sosok Silvia. Dosen bahasa di kampus mereka. Selain masih single, dosen yang satu itu juga selalu bersikap ramah pada Ivan jika tidak ingin di katakan kalau dosen itu tertarik padanya. Terlebih parasnya juga cantik.
"Deal. Gue setuju," kata Ivan akhirnya.
"Loe serius?" Renold terlihat tak percaya.
"Ah ini beneran gila. Bermain – main sama dosen. Kalau ketauan apa nggak kita semua kena getahnya?" Aldy angkat bicara.
"Kalau loe takut, ya sudah loe maen kelereng aja sono," cibir Andra sinis membuat Aldy memberengut sebel.
"Oke deh, deal gue juga setuju" Renold menenggahi mau tak mau Aldy juga mengangguk setuju.
"Baiklah, permainan dimulai. Kita liat siapa yang beruntung," sahut Andra sambil menatap lurus kearah pintu ruangan dosen di kampus mereka.
Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit pintu itu masih tertutup rapat. Tiada tanda – tanda akan ada yang keluar dari sana. Membuat keempat orang itu mendesah tak sabar. Barulah pada menit kesembilan lewat 37 detik pintu itu terbuka.
Semuanya langsung pasang mata baik – baik sambil menahan nafas menanti siapa yang akan melewati pintu itu. Dan begitu melihat sosok tersebut melewatinya, mulut semuanya langsung terbuka tak percaya. Tapi di detik berikutnya….
"wuakkakakakakka" Tawa langsung meledak dari bibir masing masing.
"Ternyata beneran pak Burhan. Ini si, beneran belum beruntung namanya," komentar Andra setelah tawannya mereda.
"Tampang loe jangan pucet gitu donk Van, loe kan nggak harus pacaran sama dia," tambah Renold berusaha menghibur walau jejak tawa geli masih ada di wajahnya.
"Iya nih. Kayak di kerupuk – kerupuk (??) kan masih ada istilah 'Coba Lagi'," Aldy menimpali.
Belum sempat mulut Ivan terbuka, pintu keramat sudah kembali terbuka. Membuat keempat orang itu kembali menoleh. Bertatapan langsung dengan sosok yang baru melewati pintu keremat. Suasana hening, hepi. Hanya ada kebisuan yang mendadak menyelimuti…
Sosok itu…………..
Next to Cerpen Take My Heart Part 02
Detail Cerpen

Next : || ||

Random Posts

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly ~04

    Kita lanjut cari tau gimana lanjutan dari cerpen benci jadi cinta vanessa vs ferly yang belum sempet ketemu dengan ending. Tapi biar nyambung sama ceritanya sekaligus biar gampang bisa baca dulu bagian sebelumnya pada cerpen benci jadi cinta vanessa vs ferly part 3. Happy reading….Credit Gambar : Ana MeryaCredit Cerpen : Mia Mulyani"Huuufffh…. baru 4 bulan dikelas baru ini aja gue udah bete kayak gene dan ini semua gara-gara ferly sialan itu, heran ya bukannya yang mau ngerjain dia itu gue ea? Kok malah gue sih yang dikerjain terus? Mana kartu gue ada ama tuh anak lagi.. Iiiih apa yang musti gue lakuin?? Apa gue harus nurutin kemauan tuh anak ya buat jadi asisten pribadinya? Ya biar foto-foto itu nggax disebarin ke anak-anak lain… tapi, gue nggax boleh tinggal diam. Masa’ gue harus nurutin kemauan tuh anak gila sih, ogah!!1 oh god, I’am verrys dizzy..Tapi… kalau gue dikeluarin dari sekolah gue mau ngapain? Aaaah gara-gara si banci itu gue harus begini, dan gue nggax punya cara lain selain pasrah… ah brengsek, itu artinya gue harus mau jadi pembantu tuh anak brengsek? Ah nggax!!! " Umpat vanesa dalam hati.sebagian

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 02 / 13

    Lanjutan dari Cerpen Kala Cinta menyapa bagian 2, yang masih merupakan kisah antara Erwin dan Rani. Seperti yang admin katakan sebelumnya, ini merupakan cerpen requesan. Nah, biar nyambung sama jalan ceritanya lebih baik kalau baca dulu kala cinta menyapa bagian 1. Akhir kata, happy reading. Kalau bisa RCL ya…..:DKala Cinta MenyapaSetengah berlari Irma melangkah keluar dari kantin. Matanya menatap ke seluruh penjuru. Mencari sosok sahabatnya yang di culik terang – terangan. Saat menatap keujung koridor ia mendapati siluet Rani yang tampak menunduk. Jelas terlihat ketakutan. Tanpa pikir panjang Irma segera menghampirinya. Merasa heran saat mendapati Erwin yang justru malah berlalu begitu melihat kehadirannya. Mencurigakan.“Rani sebenernya ada apa? Kenapa dengan cecunguk satu itu? Kayaknya penting amat. Sampe narik – narik loe segala?” selidik Irma kearah Rani yang masih berdiri terpaku.“Hei, di tanyain malah bengong,” tambah Irma mengagetkan Rani yang tetap bungkam.“Eh, ha, Kenapa?” tanya Rani gugup.“Erwin kenapa nyariin loe. Katanya loe nggak kenal sama dia?”“Nggak tau,” Rani mengeleng cepat.Mata Irma menyipit. Memperhatikan raut wajah Rani dengan seksama. Ia yakin ada yang nggak beres. “Jangan bo’ong sama gue. Inget, Bohong itu dosa tau."“Salah. Yang bener itu bohong kalau ngomong nggak jujur," ralat Rani cepat.“Ha?” Irma yakin kalau ia tidak salah dengar. Sementara Rani tidak membalas lagi. Gadis itu segera cepat – cepat berlalu. Terserah mau kemanapun. Yang jelas menghindar dari Irma. Ia tau kalau sahabatnya yang satu itu paling susah untuk di bohongi. Tapi mana mungkin ia menceritakan kejadian kemaren. Mengingat ancaman Erwin tadi sudah lebih dari cukup membuat sekujur tubuhnya merinding. Benar – benar menyeramkan.“Hufh…”Rani menhembuskan nafas lega. Diaturnya nafas yang masih terasa ngos – nogsan. Demi menghindari pertanyaan dari Irma tadi ia segaja berlari entah kemana. Sadar – sadar saat itu ia sudah berada di taman belakang kampus.“Ehem…”“Huwa!!” jerit Rani kaget saat mendapati Erwin yang duduk santai tak jauh darinya.Parah, sudah jauh – jauh ia lari menghidar dari singa eh malah sekarang nyasar ke mulut buaya. (???). Reflek Rani melangkah mundur. Tapi sayang tenyata yang namanya batu memang nggak pernah di ajarain tata krama. Dengan santai nangkring di belakang Rani yang mebuat kaki gadis itu tersandung sehingga sukses membuatnya jatuh mendarat dengan sempurna di tanah. Bahkan masih di tambah sedikit luka goresan di sikunya sebagai bonus. Benar – benar sudah bernasip seperti pepatah. Sudah jatuh tertimpa tangga. Artinya, kalau mau nggak kejatuhan tangga, bikin rumah jangan ada tangganya …… (???).“Jangan mendekat,” teriak Rani cepat sambil mengacungkan tangannya. Membuat langkah Erwin yang berniat menuju kearahnya langsung terhenti.“Gue bisa bangun sendiri,” tambah Rani lagi sambil bangkit berdiri. Mengibas – ibaskan unjung roknya yang terlihat sedikit berdebu akibat jatuh tadi.“Gue juga nggak niat bantuin,” balas Erwin santai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Matanya menatap sosok yang ada di hadapannya dari kepala sampai kaki. Membuat Rani beneran mati gaya di perhatikan seperti itu. Selangkah demi selangkah kakinya melangkah mundur.“Oh…. Gitu ya. Ya sudah kalau begitu gue langsung pergi. Da…” pamit Rani sambil membalikan badan tanpa menyadari kalau dibelakangnya terdapat vas bunga yang berjejer. Alhasil, tayang ulang terjadi terjadi. Tubuhnya untuk kedua kali sukses mendarat di tanah.“Ha ha ha….” melihat apa yang terjadi di hadapannya barusan benar – benar membuat Erwin tak mampu menahan tawanya.Rani mendongak. Menatap sebel kearah Erwin yang tampak sedang memegangi perutnya menahan tawa. Benar – benar membuat Rani merasa kesel. Ia segera berniat untuk bangkit berdiri namun kakinya benar – benar terasa sakit. Saat ia periksa ternyata lututnya luka, sepertinya tergores duri – duri bunga mawar yang memang tadi ia tabrak.“Darah?”Satu detik…Dua detik….Tiga detik…“Huwa….”“BruK”.Tawa di wajah Erwin langsung raib sama sekali tak berbekas digantikan dengan raut cemas saat mendapati Rani yang kini terbaring pingsan di hadapannya. “Hei, bangun. Loe nggak papa kan? Masa gitu aja pingsan?” tanya Erwin sambil mengoyang – goyangkan tubuh Rani. Tapi hasilnya nihil. Gadis itu sudah telanjur KO.“Hufh… menyusahkan sekali si,” gerut Erwin kesel.Di pandanginya sekeliling yang kebetulan sepi. Untuk sejenak Erwin terdiam. Bingung apa yang harus di lakukannya. Setelah menarik nafas perlahan akhirnya ia bangkit berdiri. Di gendongnya gadis itu. Untung saja tubuhnya kurus sehingga ia masih kuat mengendongnya.Sepanjang perjalan menuju ke ruang kesehatan ia sudah menjadi tontonan semua mahasiswa yang menatapnya dengan mata yang melotot atau mulut yang mengangga. Berusaha tetap terlihat cuek, Erwin mempercepat langkahnya. Setelah sampai di ruang kesehatan barulah ia bisa benapas lega. Di sekanya keringat yang membanjiri di keningnya setelah terlebih dahulu membaringkan Rani.Hening. Suasana ruang kesehatan memang terlihat sepi. Tidak ada seorang pun disana. Untuk sejenak Erwin terdiam. Di pandanginya wajah Rani yang masih terbaring tak berdaya. Tanpa sadar bibir Erwin sedikit tertarik membentuk sebuah lengkungan saat mendapati wajah polos dengan nafas teratur itu.Namun beberapa menit kemudian Erwin segera mengalikan tatapannya. Tangannya terangkat memukul – mukul kepalanya sendiri sambil mengeleng pelan.“Nggak – nggak, gue nggak mungkin suka sama dia. Kalau sampe gue beneran suka sama dia pasti otak gue sudah gila. Nggak mungkin. Mustahil."Dengan cepat Erwin berbalik. Melangkah keluar meninggalkan Rani tergeletak sendirian. Ia sudah memutuskan tidak mau lagi berurusan dengan gadis itu yang bahkan sama sekali tidak ia ketahui namanya. Ini benar – benar menyeramkan, gumamnya lirih.Kala Cinta Menyapa Sambil merengangkan sedikit otot-otot tubuhnya Rani beranjak bangung. Merasa asing dengan sekeliling. Saat ia menolah wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Irma yang menatapnya khawatir sekaligus lega.“Syukur lah loe udah sadar."“He? Memangnya gue kenapa?” tanya Rani heran.“Justru itu yang pengen gue tanyain. Loe kenapa? Kok bisa sampe pingsan gitu. Tadi itu banyak anak – anak yang pada bilang katanya ngeliat loe yang pingsan di gendongan Erwin ke ruang Kesehatan. Karena gue panik, gue langsung aja kesini. Eh loe beneran pingsan ternyata. Mana sendirian nggak ada yang ngobatin kaki loe lagi."“Oh ya, kaki gue,” Rani segera memeriksa kakinya yang tampak terbalut plaster.“Loe diapain sama tu anak sampe pingsan gitu?”“He? Kenapa? Siapa?” tanya Rani dengan kening berkerut.“Ya Erwin lah, masa ia gue bilang si Arya."“O… Dia. Nggak ada. Kenapa?” tanya Rani balik.“Kalau nggak di apa – apain kenapa loe sampe pingsan."“Loe kan tau gue phobia sama darah. Waktu itu gue jatuh kesandung. Jatuhnya dua kali si sebenernya. Yang pertama gue kesandung batu. Eh, abis itu gue malah ngelangar pot. Jatuh lagi, kaki gue luka. Pingsan deh,” terang Rani sambil mengingat – ingat.“Terus hubungannya sama Erwin apa. Kok loe sampe di gendong segala?” selidik Irma lagi.“Kebetulan waktu itu dia emang lagi ada disana. Jadi begitu gue pingsan tentu saja dia……. Tunggu dulu, loe bilang apa tadi? Erwin gendong gue?” kata Rani dengan raut kaget.“Katanya si gitu. Gue kan nggak liat,” balas Irma sambil angkat bahu.“Ha, Mati gue,” keluh Rani panik.“Loe kenapa si? Kayak kambing kebakaran jengot aja."“Gue itu bukan kambing. Jadi gue nggak punya jengot. Yang ada gue takut sama kambing."Irma mengernyit. Ini temannya polos apa bego ya?“Oh ya, gue baru inget. Tadi urusan kita belom selesai. Kenapa Erwin menarik loe keluar kantin?”Rani dengan cepat menggeleng sambil menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Waspada diri, mulutnya kadang memang suka asal nyeplos.“Rani, Ada apa?”“Nggak ada apa – apa kok,” lagi – lagi Rani mengeleng.“Ya udah kalau loe nggak mau cerita. Loe gue End,” ancam Irma dengan gaya iklan di tipi – tipi yang memang lagi ngetren. Membuat Rani merasa andilau. Antara Dilema dan Galau. Kalau ia cerita ia mati di tangan Erwin walau ia tidak yakin Erwin berani membunuhnya. Tapi kalau ia nggak cerita Irma akan memutuskannya. Yang jadi pertanyaan kenapa Irma memutuskannya. Mereka kan nggak pernah pacaran. ^,^“Jadi loe beneran nggak mau cerita nie?” tanya Irma sambil bangkit berdiri.“Gue bukan nggak mau cerita tapi nggak boleh,” balas Rani sambil menunduk kan kepala.Melihat mata Rani yang mulai berkaca – kaca Irma hanya mampu menghela nafas. Astaga, sahabatnya itu bukan anak TK , tapi kenapa sikapnya polos sekali. Bahkan hanya di ancam olehnya saja sampe harus mau menangis.“Ya udah, loe nggak usah cerita lagi. Gue nggak akan maksa oke,” Irma akhirnya mengalah. Rani mengangkat wajahnya. Ikutan tersenyum saat mendapati Irama yang juga tersenyum padanya.“Ma kasih ya? Loe emang sahabat gue yang terbaik,” kata Rani sambil memeluk temannya. Irma hanya mengangguk. Terima nasip punya temen lebay.“Maafing gue ya, gue itu bukan nggak mau cerita. Tapi Erwin ngencem gue. Kalau sampe gue cerita sama orang soal dia yang jatuh ke got kemaren dia bakal bunuh gue,” kata Rani merasa bersalah.Irma terdiam. Sebuah senyuman penuh makna terukir di bibirnya mendengar permintaan maaf Rani barusan. Dilepaskannya pelukan gadis itu.“ Ya udah. Tenang aja. Gue nggak akan maksa loe buat cerita lagi. Gue janji. Sekarang mending kita pulang aja yuk. Udah jam pulang nie,” ajak Irma sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.Rani mengangguk manut. Kemudian dengan berdampingan mereka melangkah keluar. Meninggalkan kampus menuju ke rumah masing – masing.Lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 3Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.412 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Galau “Buruan Katakan Cinta” ~ 06 {Update}

    Ternyata bukan Cuma orang yang bisa galau, Cerpen juga. He he he. Yah secara Star Night juga lagi ngegalau nie. Udah dari kemaren – kemaren si sebenernya. Gara – gara Suju si. Gak usah cerita pasti udah pada tau donk kenapa. He he.Nah karena itu, mending ngegalau rame – rame yuk sambil baca cerpen galau buruan katakan cinta. (-,-“).Oh ya lupa, untuk part sebelumnya bisa di baca di cerpen romantis Buruan katakan cinta part 5.Credit Gambar : Ana MeryaAni terus berjalan dan tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghalangi jalannya, ani menjadi kaget, si pemilik mobil keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri ani yang berjalan sendirian."ikut gue…" kata kevin."nggax mau" balas ani sambil memalingkan wajahnya."loe mau gue ajak baik-baik atau gue paksa…""kalau gue bilang nggax mau ya nggax mau. ngerti nggax sich…".sebagian

  • Cerpen Sedih: Teddy Bear

    Teddy BearOleh Rai Inamas LeoniAku menatap kosong lembar jawaban matematika diatas mejaku. Semua rumus yang aku pelajari semalam menguap begitu saja. Kulirik jam dinding, tinggal sepuluh menit untuk menyelesaikan lima soal ini. Sementara beberapa siswa sudah selesai mengerjakan soal dan mulai meninggalkan bangku mereka. Kupandangi kertas jawabanku, tak ada yang berubah. Tetap kertas putih yang hanya tertulis lima soal tanpa jawaban. Aku tertunduk lesu lalu perlahan kupejamkan mataku. Berharap semua bisa berubah…***Prang!!!! Bunyi vas bunga terdengar nyaring menyentuh lantai . Otak ku segera memperoses apa yang terjadi. Aku tau suara vas berasal dari ruang tamu dan tentu saja Ayah pasti kalah judi sialan itu. Buru-buru aku mengunci pintu kamar rapat-rapat. Kupeluk kamus Bahasa Inggris ku, berharap benda ini dapat melindungiku dari sesuatu. Mengingat sebulan terakhir keadaan rumah tak ubahnya seperti neraka.“Dasar anak tak tau diri!! Sudah Ayah bilang untuk berhenti sekolah dan mulai mencari pekerjaan. Lihat kalau begini nasi pun tak ada!!” Teriak Ayah dari ruang tamu. Kudengar Ayah mulai membanting sesuatu lalu memaki segala jenis penghuni kebun binatang. “Dimana kamu Tasya?! Tasya!!!” Ayah mulai kehilangan kendali. Detik berikutnya pintu kamarku yang menjadi sasaran. Ayah mulai menggedor pintuku dan mulai meneriaki segala ancaman jika aku tidak membukakan pintu. Percuma Ayah, aku selalu berlajar dari pengalaman, aku tak mau teman-temanku melihat pipiku memar lagi. Ujarku dalam hati.Aku menghela nafas lalu berjalan menuju tempat tidurku yang terlihat kontras dengan boneka Teddy Bear milik ku. Teriakan Ayah kujadikan sebagai sebuah nyanyian gratis. Sejenak aku memandangi kamar kecil yang baru setahun kutempati.Beda sekali dengan kamarku yang dulu. Walau bukan dari keluarga kaya raya namun kamarku yang dulu berisi fasilitas lengkap seperti lemari, komputer, meja belajar bahkan TV walaupun 14 inci. Sedangkan kamar ini hanya terdapat ranjang kecil yang sudah kusam dan lemari tua di sudut ruangan.“Hidup yang kejam!” Tanpa sadar aku bergumam pada diri sendiri. Buru-buru aku menutup mulutku dengan boneka Teddy Bear. Rasanya Ayah mendengar ucapanku tadi.“Ayah tau kamu ada di dalam!! Buka pintunya!!” Ayah berteriak lagi. Namun teriakannya kali ini lebih mirip orang yang sedang mengigau. Rupanya hari ini Ayah terlalu banyak minum. “Tau begini aku tak akan mengadopsi anak brengsek ini. Dasar anak sialan!” Usai berkata demikian, Ayah mulai bernyanyi lagu-lagu yang tak pernah kudengar lalu beranjak pergi menuju ruang tamu. Sudah menjadi kebiasaan Ayah menyanyikan lagu-lagu yang aneh jika sedang mabuk berat. Dan kalimat terakhir yang diucapkan Ayah, juga karena efek alkohol bukan?“Karena anak sialan itu istriku kabur dengan lelaki lain, usaha yang kubangun susah payah juga bangkrut karenanya.” Sejenak Ayah tertawa. “Benar-benar anak pembawa sial. Pantas orang tua kandungnya tak mau mengasuhnya…” Ujar Ayah seolah-olah berbicara dengan orang lain.Aku membeku mendengar ucapan Ayah.Sakit rasanya mendengar hal yang selama ini tak ingin aku dengar.***Matahari sudah terbenam sekitar beberapa jam yang lalu ketika aku menyusuri sebuah gang kecil. Rumah ku yang baru terletak di ujung gang kecil ini, luas rumah itu hanya setengah dari luas rumahku yang dulu. Aku menendang kerikil yang ada di depanku.Rasanya dunia memusuhi ku akhir-akhir ini. Semua berawal dari usaha Ayah yang ditipu seseorang setahun yang lalu. Ayah mengalami kerugian yang besar hingga tak mampu membayar hutang di bank, yang awalnya digunakan untuk modal usaha. Lalu semua berjalan begitu saja seperti mimpi buruk. Rumah kami disita oleh pihak bank, Ayah membeli rumah kecil dengan uang tabungan yang tersisa, Ibu membuat kue kering dan menjual kepada tetangga sementara Ayah mencari pekerjaan baru. Aku tak tau apa yang terjadi dengan Ayah selanjutnya. Ayah yang dulu ku kenal ramah dan humoris berubah menjadi Ayah yang suka berjudi dan mabuk. Sering ku dengar Ayah dan Ibu bertengkar karena Ayah meminta uang untuk berjudi hingga berujung pada perceraian mereka. Setelah perceraian itu biaya sekolah hingga makan sehari-hari ditanggung Ibu yang sebulan sekali mengirimi aku uang. Sebenarnya Ibu sudah berkali-kali menyuruhku ikut dengannya, mengingat usaha kue Ibu berkembang pesat apalagi kini Ibu sudah menikah. Namun aku selalu menolak karena tak tega meninggalkan Ayah sendiri. Aku tersenyum pedih mengingat semua hal itu. Ayah? Ibu?“Mereka bukan orangtua ku!!”Teriak ku parau.Ya, aku bukan anak kandung mereka. Orangtua kandungku tega meninggalkan ku di panti asuhan ketika usia ku menginjak 3 bulan. Kemudian saat aku berumur 7 tahun, Ayah dan Ibu datang untuk mengadopsiku. Sejak saat itu aku menjadi anak mereka. Ayah sering membelikan boneka Teddy Bear untuk ku, mulai dari ukuran terkecil hingga yang paling besar. Sementara Ibu selalu menjadikanku sebagai asisten koki saat beliau membuat kue. Ayah dan Ibu sangat menyayangiku seolah-olah aku ini anak kandungnya. Kami benar-benar keluarga yang bahagia. Tapi itu dulu. Kini semua telah berubah.“Nak Tasya..” Panggil seseorang dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Pak Kino tersengal-sengal seperti dikejar setan. Saat itu aku baru menyadari bahwa aku sudah berada di depan rumahku.“Ada apa ya Pak Kino?” Tanyaku sopan.Pak Kino adalah pemilik rumah sebelah.“Anu.. Bapak baru saja..dari rumah sakit..” Ujar Pak Kino terbata-bata sambil mengatur nafas.“Bapakmu ada di rumah sakit.. Bapakmu dikeroyok penagih hutang..”Aku diam mendengarkan penjelasan Pak Kino?Penagih hutang?Pasti hutang judi.Bukankah lusa lalu penagih hutang sudah mengambil semua barang-barang di rumah?Radio, televisi, bahkan kursi pun juga diambil.Ragu-ragu aku menatap Pak Kino.“Rumah sakit mana?”Tanyaku lirih.Tanpa sadar mataku terpaku pada boneka yang bergelantung di tangan Pak Kino.***“Dokter pasti salah!! Ayah saya masih hidup!!” Teriakku memecah keheningan.Bibirku bergetar, pandanganku buram.Tangan kananku memegang boneka Teddy Bear berukuran kecil yang sudah terciprat darah.Namun bentuknya sudah tak karuan seperti sudah terinjak.Boneka ini ditemukan Pak Kino saat menyelamatkan Ayahku dari orang-orang suruhan Bandar judi.“Ayahku masih hidupkan, Pak Kino? Dokter ini pasti bercanda kan?” Tanyaku pada Pak Kino.Pak Kino menatapku nanar, seolah tak mampu berbicara padaku.“Maafkan saya, saya sudah berusaha semampunya. Namun Ayah anda terlalu banyak kehilangan darah. Terjadi pendarahan hebat di bagian otak beliau akibat terbentur benda tumpul.”Dokter berusaha menenangkanku.Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang menatapku dengan prihatin.Kaki ku dengan cepat menerobos masuk ruang UGD. Kulihat Ayah terbujur kaku diatas tempat tidur. Matanya terpejam damai walau wajahnya mengalami memar.“Ayah…” Ucapku lirih. “Ayah pasti sedang tidur kan? Besok pagi Ayah akan bangun lalu meminta uang kepadaku untuk judi sialan itu kan?” Tanyaku pelan.Dua suster menarikku untuk menjauh dari Ayah.Dengan kasar aku menepis tangan mereka kemudian berjalan menghampiri Ayah.“Ayah bangun!!!!” Teriak ku kesetanan.“Ayaaah!!!!”Aku mulai mengguncang-guncang tubuh Ayah.Tanpa sadar tanganku bersentuhan dengan lengan Ayah.Dingin. Aku tak mampu merasakan kehangatan yang dulu sering Ayah berikan. Saat aku berulang tahun, saat aku mendapatkan rangking, atau saat Ayah membelikanku sebuah boneka. Rasa hangat itu telah hilang, telah memudar.Sebuah teriakan menyadarkan ku.Entah sejak kapan Ibu ada disebelahku. Memeluk ku sambil menangis meneriaki nama Ayah. Di samping Ibu, aku melihat Oom Dharma yang tertunduk lesu.Oom Dharma adalah seseorang yang sudah menggantikan posisi Ayah di mata Ibuku.Aku merasa wajahku mulai memanas.“Ayaaaah… Jangan pergi…” Ujarku pelan lalu menangis sambil memeluk boneka Teddy Bear.***Aku membuka mata.Semua sudah berubah, ujarku dalam hati.Sebulan berlalu sejak kematian Ayah. Orang yang mengkeroyok Ayah sudah ditangani pihak berwajib. Aku memutuskan untuk menerima tawaran Ibu untuk tinggal bersamanya.Lagi pula Oom Dharma orang yang baik. Ayah pasti sedang tersenyum menatapku kini, tentu saja dari suatu tempat yang bernama surga. Aku tak peduli Ayah merupakan orang tua angkat ku. Bagiku Ayah ya Ayah. Seseorang yang selalu memberikan kehangatannya melalui boneka-boneka Teddy Bear, boneka favoritku dari kecil.Tak tau apa yang terjadi, dalam sekejap aku bisa mengingat semua rumus yang semalam aku pelajari. Dengan lincah tanganku menulis rumus, lalu memasukan angka-angka dan mulai menghitung. Aku baru menyelesaikan tiga soal ketika Bu Risna, guru matematika di SMA Bhineka, menyuruh semua siswa untuk mengumpulkan kertas ulangan. Kudengar nada-nada kecewa dari beberapa teman. Ternyata bukan hanya aku yang tidak berhasil menjawab semua soal. Tak sengaja aku menatap ke luar jendela. Langit pagi ini terlihat cerah. Aku tersenyum dan mulai beranjak meninggalkan bangku ku. Ayah, berjanji lah untuk bahagia disana. Bisikku dalam hati lalu berjalan menghampiri teman-temanku.SELESAIRai Inamas LeoniSMAN 7 Denpasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*