Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart” ~ 01

Salah satu kisah remaja yang admin tulis adalah cerpen remaja Take My Heart, kisah remaja yang merupakan lanjutan dari cerpen pendek pupus yang telah di posting sebelumnya. Secara cerpen yang satu itu kan sad end, so biar happy di tarik kesini. He he he. Nah, buat yang penasaran bisa langsung read ke bawah. Ini merupakan part awal, so silahkan simak detailnya. Jangan lupa RCL ya…

Cerpen take my heart
Cerpen take my heart

Orang bilang cinta itu sederhana, Cukup aku dan kamu, Yang lain cuma nonton. Tapi sayangnya, tidak semua orang menyukai kesederhanaan. Layaknya hidup yang menginginkan kemewahan…. #Take My Heart
"Ah, Mereka benar – benar pasangan yang serasi ya?."
"Ia. Yang satunya Prince, yang satunya lagi Princess."
"Sulit di percaya, kedua idola di kampus kita bisa jadi pasangan."
Laura terus melangkah sambil tersenyum bangga mendengar kalimat demi kalimat yang mampu di tangkap oleh indra pendengarnya. Sesekali matanya melirik sosok yang berjalan tepat disampingnya. Menuruti tawaran menjadi pacar Ivan, Idola kampusnya walau selama ini terkenal dengan Cap Playboy ternyata bukan ide yang buruk. Terbukti pamornya makin menanjak semenjak itu. Padahal baru terhitung seminggu mereka jadian.
"Sayang, kita ke kantin dulu yuk. Gue laper nih," ajak Laura terdengar manja, Ivan menoleh kearahnya. Mengangguk setuju sambil pasang senyum manis.
Begitu mereka menginjakkan kaki di kantin, seperti biasa langsung menarik perhatian semuanya. Mulai terdengarlah suara suara berbisik yang membicarakan tentang keduanya.
"Kok kita duduk disini si?" bisik Laura lirih saat mendapati Ivan duduk santai di meja tengah bersama ke tiga teman karibnya. Biasanya kan bila mereka berdua mereka selalu duduk berdua di pojokan.
"Oh, itu karena gue punya kejutan buat loe. Bener gak guys?" tanya Ivan sambil tersenyum misterius kearah teman – temannya.
"Oh ya?" wajah Laura tampak bercahaya.
"Nggak yakin loe suka, tapi kalau kaget bisa jadi," Ivan menambahkan.
"Apa?" tanyanya sedikit mengernyikan dahi.
"Gue mau kita putus," kata Ivan singkat, padat dan jelas.
"Apa?!" kali ini Nada kaget yang keluar dari mulut Laura. Setelah terlebih dahulu terdiam sejenak ia menambahkan sambil tertawa. "He he he, loe bercanda kan?"
"Jadi menurut loe ini lucu?" bukannya menjawab Ivan malah balik melontarkan pertanyaan.
"Tadi ini nggak masuk akal. Kita baru seminggu jadian. And hubungan kita juga baik – baik aja. Seenggaknya sebelum…" Laura melirik jam tangannya "20 detik yang lalu."
"Heh, nggak masuk akal?" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau gue ini seorang play boy?"
"Apa?"
"Sebenarnya, gue males banget pacaran sama loe. Tapi temen – temen gue nantangi apa gue bisa naklukin elo dengan sekali tembak kemudian memutuskannya di hadapan umum. Ya sudah, kebetulan taruahannya lumayan gue si ikut aja. Terbukti kan gue yang menang?" kata Ivan sambil menadahkan tangan ke arah Renold, sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya. Dan detik berikutnya lembaran uang ratusan sudah tertera di sana.
"Ma kasih ya, Sekarang loe boleh pergi".Refleks tangan Laura melayang. Namun belum sempat mendarat di wajah Ivan, tangannya sudah terlebih dahulu dicekal.
"Loe pikir siapa elo berani nantangin gue ha?" kata Ivan lirih namun penuh penekanan. "Asal loe tau aja, image loe sebagai cewek idola di kampus ini, yang selalu berhasil naklukin hati cowok ternyata cuma gosip murahan. Buktinya loe dengan gampangnya bertekuk lutut di hadapan gue," sambung Ivan lagi.
"Sialan loe. Dasar brengsek!" geram Laura sambil menghempaskan tangannya membuat cekalan Ivan langsung terlepas.
"Terima kasih atas pujiannya," senyum Ivan santai.
"Denger ya, gue akan pastikan loe akan menyesali apa yang loe lakukan saat ini sama gue. Inget, hukum karma itu berlaku. Loe pasti akan merasakan pembalasan yang lebih buruk dari apa yang loe lakuin ke gue," geram Laura dengan wajah memerah. Entah karena terlalu marah atau malu karena kini telah menjadi objek tontonan di kantin mereka.
"Kita liat aja nanti," Ivan cuek.
Dengan kesel Laura berlalu membawa sejuta dendam dan sakit hati di hatinya. Sementara Ivan sendiri justru tertawa diikuti ke ketiga teman temannya.
"Wow, sulit di percaya. Loe benar – benar melakukannya," Komentar Renold sambil menggelengkan kepala kagum menyaksikan drama satu babak yang baru saja terjadi di hadapannya.
"Kenapa enggak. Lagipula ini cuma masalah kecil," sahut Ivan sambil menjentikan jarinya menyombongkan diri.
"Apa loe tertarik untuk melakukan taruhan lagi?" Andra angkat bicara.
Ivan terdiam. Matanya melirik lembaran lembaran merah yang berada di tangannya. Setelah berpikir sejenak ia kembali berujur.
"Jika kalian siap untuk kalah lagi."
"Wow, Pe-De sekali," cibir Renold.
"Jadi apa aturan mainnya?" tanya Ivan lagi.
Andra tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dengan sebuah senyuman misterius di wajahnya.
"Kita liat aja nanti".

~ Take My Heart ~

"Apa yang mau kita lakukan di sini?" tanya Renold bingung saat Andra menghentikan langkahnya di koridor kampus.
"Tentu saja untuk melanjutkan rencana permain kita," terang Andra santai.
"Makstu loe?" tanya Ivan.
"Sebelum gue jawab, gue pengen nanya sekali lagi. Ivan, loe siap untuk ber'Main?" tanya Andra sambil menoleh kearah Ivan yang hanya di balas anggukan mantap.
"Apapun?" Andra menegaskan.
"Apapun selama itu masih terkait dengan ketenaran gue selaku playboy!" balas Ivan membuat temannya mencibir mendengarnya.
"Baiklah, taruahannya sepuluh juta. Deal?" tanya Andra lagi.
"Tunggu dulu, loe belum menentukan apa permainannya?" potong Ivan.
"Baiklah, kalian lihat pintu itu?" tunjuk Andra kearah ruangan dosen.
"Iya. Kenapa?" Renold masih terlihat bingung.
"Itu permainannya."
"Maksut loe?" tanya Aldy yang sedari tadi diam memperhatikan tampang bingung. Tangannya terulur membenarkan letak kaca matanya.
"Loe," tunjuk Andra kearah Ivan. "Harus bisa menaklukkan siapapun yang pertama sekali keluar dari pintu itu."
"Apa?!" secara koor ketiga orang itu berujar tak percaya.
"Bagaimana kalau yang pertama keluar dari pintu itu adalah pak Burhan?" celetuk Aldy.
Semuanya terdiam untuk sejenak sambil membayangkan sosok yang di sebut Aldy barusan. Pak Burhan, pria gendut, berkepala botak lengkap dengan kacamata minus yang selalu bertenger di wajahnya. Di tambah dengan raut wajahnya yang jelas – jelas sangar sontak langsung membuat Ivan bergidik ngeri.
"Ivan loe tertarik untuk menunjukan pesona loe pada …. bapak – bapak?" tanya Andra sambil berusaha menahan tawa saat melihat tampang kecut Ivan.
"Ke laut aja loe," damprat Ivan kesel.
"Wukakkakak. Oke aturan main kita rubah dikit. Siapapun wanita yang pertama sekali keluar dari pintu itu, loe harus bisa naklukin dia dalam waktu satu bulan? Bagaimana?" tawar Andra lagi.
"Terus kalau Bu Susi yang pertama sekali keluar bagaimana?" gantian Renold angkat bicara menyebutkan salah satu dosen di kampusnya yang terkenal sangar.
"Ya itu resiko" Andra cuek bebek.
"Tapi dia kan sudah punya suami. Apa loe bermaksud menjadikang gue sebagai manusia perusak rumah tangga orang?" potong Ivan terlihat frustasi.
"Wukakkaka…. Loe takut memiliki image sebagai perusak rumah tangga orang atau loe sebenernya takut mereka adalah wanita – wanita setia pada suaminya?" tanya Andra balik.
"Lagian, ayolah. Kaliaankan dari tadi hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau yang keluar dari sana adalah ibu Silvia?" tambah Andra lagi.
Membuat ketiga temannya kembali berimaginasi membayangkan sosok Silvia. Dosen bahasa di kampus mereka. Selain masih single, dosen yang satu itu juga selalu bersikap ramah pada Ivan jika tidak ingin di katakan kalau dosen itu tertarik padanya. Terlebih parasnya juga cantik.
"Deal. Gue setuju," kata Ivan akhirnya.
"Loe serius?" Renold terlihat tak percaya.
"Ah ini beneran gila. Bermain – main sama dosen. Kalau ketauan apa nggak kita semua kena getahnya?" Aldy angkat bicara.
"Kalau loe takut, ya sudah loe maen kelereng aja sono," cibir Andra sinis membuat Aldy memberengut sebel.
"Oke deh, deal gue juga setuju" Renold menenggahi mau tak mau Aldy juga mengangguk setuju.
"Baiklah, permainan dimulai. Kita liat siapa yang beruntung," sahut Andra sambil menatap lurus kearah pintu ruangan dosen di kampus mereka.
Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit pintu itu masih tertutup rapat. Tiada tanda – tanda akan ada yang keluar dari sana. Membuat keempat orang itu mendesah tak sabar. Barulah pada menit kesembilan lewat 37 detik pintu itu terbuka.
Semuanya langsung pasang mata baik – baik sambil menahan nafas menanti siapa yang akan melewati pintu itu. Dan begitu melihat sosok tersebut melewatinya, mulut semuanya langsung terbuka tak percaya. Tapi di detik berikutnya….
"wuakkakakakakka" Tawa langsung meledak dari bibir masing masing.
"Ternyata beneran pak Burhan. Ini si, beneran belum beruntung namanya," komentar Andra setelah tawannya mereda.
"Tampang loe jangan pucet gitu donk Van, loe kan nggak harus pacaran sama dia," tambah Renold berusaha menghibur walau jejak tawa geli masih ada di wajahnya.
"Iya nih. Kayak di kerupuk – kerupuk (??) kan masih ada istilah 'Coba Lagi'," Aldy menimpali.
Belum sempat mulut Ivan terbuka, pintu keramat sudah kembali terbuka. Membuat keempat orang itu kembali menoleh. Bertatapan langsung dengan sosok yang baru melewati pintu keremat. Suasana hening, hepi. Hanya ada kebisuan yang mendadak menyelimuti…
Sosok itu…………..
Next to Cerpen Take My Heart Part 02
Detail Cerpen

Next : || ||

Random Posts

  • ANTARA CINTA dan SAHABAT

    ANTARA CINTA dan SAHABATOleh : Eka OctavHidup akan indah bila kita masih memiliki seseorang yang kita sayangi, seperti via, via masih memiliki orang tua yang sayang dengannya dan saudara laki-lakinya yang sangat menggemaskan yang masih kelas 4 SD. Serta tak luput mempunyai seorang sahabat yang baik yang selalu bersama ketika dia duka, lara pun senang. Via mempunyai sahabat dia bernama Mia dan Rahma. Kemana-mana kami selalu bersama seperti layaknya besi dan magnet yang sulit dipisahkan. Mereka pertama kenal ketika pertama MOS dan memulai sekolah di SMA, Ketika itu Rahma duduk sendirian dan tak sengaja Via menghampirinya dan berkenalan. Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama datanglah seorang anak perempuan cantik putih bertahi lalat di bawah bibir yang tipis. Tahi lalatnya itu membuat wajahnya menjadi manis dan disegani oleh kaum Adam.“Hai…. Rahma dah lama nunggunya yah???” kata perempuan itu“Ea… lama banget, kamu dari mana saja???? kata Rahma“Maaf yach aku berangkatnya siang, soalnya bangunnya kesiangan… hehehe” jawab Perempuan yang berbicara dengan Rahma sambil tersenyum.“Oa,untungnya ada Via yang menemani aku di sini, Mi kenalin ini Via teman sekelas kita juga lho. Oya vi kenalin ini teman satu bangku aku namanya Mia” kata Rahma sambil memperkenalkan temannya.“Kenalin aku Via, aku duduknya di samping tembok dekat pintu sama Ovie” kata Via memperkenalkan dirinya kepada Mia.“Aku Mia, low boleh tau lo tinggalnya dimana”?? Tanya Mia kepada Via.“Aku aslinya Banjarharjo, tapi di sini aku ngekost” jawab Via.“Kapan-kapan kita main ke kostnya Via, Gimana,?? Rahma lo juga ikut yach”?? Mia melontarkan pertanyaan kepada Rahma.“Itu ide yang bagus kita selalu kumpul-kumpul bareng di kosannya Via, Gimana kalau kita buat genk saja?” usul Rahma.“Aku setuju dengan pendapatmu. Nanti kita buat kaos yang sama, tapi dipikir-pikir nama genk nya apa yach”?? Mia menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal karena begitu bingungnya.“Tapi maaf teman-teman bukannya gw menolak, tapi aku bener-bener gak setuju dengan pendapat kalian, aku ingin bersahabat dengan kalian. Tapi aku gak suka buat genk-genk seperti itu, takutnya kalau kita buat genk, banyak teman-teman yang benci dan iri.” jelas Via.“Yah Vi, tapi……….”Sebelum Mia melanjutkan pembicaraannya bel sekolah pun berbunyi tanda peserta MOS kumpul di halaman sekolah untuk diberikan arahan dan himbauan dari kepala sekolah.Sungguh ribet dan susah kembali menjadi peserta MOS harus menggunakan kostum planet yang sungguh menyebalkan itu seperti pake kaos kaki yang berbeda,tasnya menggunakan kantong kresek,rambutnya di ikat lebih dari 10 buah,sungguh membosankan dan menyebalkan ketika dimoment-moment MOS seperti ini.Setelah kumpul di lapangan Rahma dan Mia senyum-senyum sendiri, dan aku bingung kenapa mereka senyum-senyum tanpa sebab. Adakah sumbernya kenapa mereka senyum-senyum sendiri. Setelah aku perhatikan ternyata mereka tersenyum ketika melihat kakak Osis. Dan kemudian aku bertanya kepada Rahma,”Rah, kamu dan Mia senyum kenapa??” Tanya Via dengan penasaran.“Asal kamu tau aja ya Vi, aku dan Mia itu ngefans banget sama anak kelas X-2 itu, terus gw jatuh cinta sama cowok itu katanya sih namanya Dana”. jawab Rahma.“Yang mana?” Tanyaku lagi.“Itu yang paling cakep sendiri, Oa aku juga ngefens banget ama kakak OSIS jangan bilang sama Mia yach kalo aku ngasih tau ke kamu, aku itu ngefans banget sama Ka’ Zaenal sedangkan Mia ngefens sama ka’ Adit”. jelas Rahma.“okey, tenang saja Rahma gw pasti gw bisa jaga rahasia ini kok, dijamin gak bakal bocor dech…….” kataku.“Aku percaya kok sama kamu….. halah kaya ember saja bocor… . hehehehe”. Rahma sambil ketawaKetika asyik berbicara ternyata banyak pengarahan yang diberikan oleh kepala sekolah, sungguh menyesal sekali ku ini tidak mendengarkannya. Padahal banyak manfaatnya bagi kita khususnya bagi pelajar. Setelah beberapa lama kemudian peserta MOS di bubarkan.Via sedang berfikir sepertinya enak sekali rasanya ketika menjadi anak SMA. Sama seperti yang Via rasakan saat ini Via ingin cepat-cepat menggunakan baju putih abu-abu dan agar cepat diresmikan menjadi murid SMA, rasanya lama sekali menunggunya waktu seperti itu. Apalagi, rumahnya sangat jauh dari sekolah sungguh enaknya jauh dari orang tua dan bebas untuk pergi-pergi kemanapun yang kita inginkan bersama teman-teman barunya. Tapi Via harus bisa mengendalikan diri dari pergaulan di zaman edan seperti ini, kalau kita mengikutinya maka kita akan masuk ke dalam jurang neraka yang isinya orang-orang berdosa.Kicauan burung menari-nari di angkasa, Sungguh indah bila ketika memandangnya. Embun pagi menyejukan hati Semerbak wangi mawar membuat segar perasaan kita. Indahya alam ciptaan tuhan yang maha esa, Tak ada yang bisa menandinginya,Karena tuhan adalah sang kholik pencipta alam semesta.Ricuhan murid-murid SMA bagaikan burung-burung yang sedang menyanyi-nyanyi. Murid-murid mulai berdatangan menuju sekolah untuk menuntut ilmu, walaupun ada yang niat sekolah hanya ingin mendapatkan uang jajan dan ingin memiliki banyak teman. Murid-murid berdatangan ada yang naik motor, sepeda, naik bus mini, angkot, diantar orang tuanya menggunakan mobil, adapun jalan kaki.Bel sekolah pun berbunyi sebagai tanda waktu pelajaran dimulai. Murid-murid dengan tenang belajar di sekolah. Hening sepi keadaan di sekolah bagaikan tak berhunikan makluk, Seperti di hutan sepi sunyi.Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid bagaikan pasukan burung yang keluar dari sangkarnya menuju kantin gaul bu ijah. Perut mereka terjadi perang dunia ketiga mereka berebut makanan dan cepat-cepat mendahulukan mengambil makanan.Aku tak nafsu untuk pergi ke kantin dan aku beranikan diri pergi ke perpustakaan.Setelah lamanya aku diperpustakaan datanglah seorang cowok ganteng yang diidam-idamakan oleh Rahma sahabatku sendiri.“Hai…….vi kok sendirian saja disini.” kata cowok itu yang bernama Dana.“Yah…. teman-teman aku lagi ke kantin, padahal aku diajak kekantin sama mereka, tapi aku pengennya pergi ke perpustakaan……. hehehe” kataku pada Dana.“Oa…… kamu les di Prima Eta yach??” Tanya Dana.“Eah…..kok kamu tau sich…” jawabku.“Kan aku juga les disitu,terus gw juga sering merhatikan kamu lho!!” kata Dana.“Memang kamu kelas X apa?, kok gw gak pernah lihat kamu?”“Ruang X-B. oa,kamu ruang X-A ya?”“yapz……….”Aku tak ingin dekat-dekat dengan Dana, Tapi aku juga punya perasaan sama Dana aku bingung kalau aku berdekatan sama Dana nanti Rahma cemburu. Kemudian ku pamit sama Dana.“Dan aku mau ke kelas dulu” kataku pada Dana.“Owg…..eah Vi silahkan”Kemudian aku menuju ke kelas, sebelum masuk ke kelas, di jalan aku ketemu Rahma. Aku menyapa Rahma dengan senyuman. Tapi apa yang Rahma kasih padaku, Rahma bersikap sinis. Aku bingung kenapa Rahma bersikap seperti ini kepadaku, Kemudian aku mencari Mia. Aku ingin menanyakan kepada Mia. Tentang sikap Rahma kepadaku. Setelah kutemukan Mia, ku langsung menanyakan kepada Mia.“Mi,aku boleh nanya sesuatu kepadamu gak?” tak sengaja air mataku membanjiri wajahku yang lembut ini.“Nanya tentang apa?”“Tadi aku ketemu Rahma, aku nyapa dia, Tapi dia cuek, malah dia bersikap sinis kepadaku, Apa salahku Mi”.“Apa benar tadi kamu janjian sama Dana di perpustakaan, kok kamu bisa ngehianatin sahabat sendiri sich”.“Mi, tadi itu, aku gak sengaja ketemu Dana di perpustakaan, sumpah aku sebelumnya gak janjian, tolong bantuin aku, untuk jelasin ke Rahma Mi.”Aku memohon ke Mia agar dia bisa bantuin aku untuk jelasin ke Rahma.“yach udah….gimana kalau pulang sekolah gw temuin kalian berdua”“Terserah kamu Mi, yang penting Rahma tidak salah paham sama gw”Kemudian setelah pulang gw nungguin Mia dan Rahma di kantin gaul,setelah beberapa lama aku nungguin munculah mereka dari balik kelas.setelah aku melihat Rahma.Aku langsung peluk Rahma dan aku teteskan air mataku.kemudian aku memohon-mohon agar Rahma mempercayai penjelasin yang diberikan oleh aku padanya.“Rah, plis dengar penjelasan aku, aku gak ada hubungan apa-apa sama Dana, mana mungkin aku ngehianatin sahabat sendiri.”“terus kenapa tadi kalian berdua ketemuan di perpustakaan.” Tanya Rahma.“Aku gak sengaja ketemu di perpustakaan Rah, kalau kamu masih gak percaya, gimana kalau kamu nanya langsung sama Dananya?”“owg………..yach dech aku sekarang percaya kok sama kamu, masa aku percaya sama orang lain daripada sahabat sendiri, maafin aku juga yach Vi,,”.“Memangnya tadi siapa yang bilang sama kamu”.“Sudah, gak usah dibahas, gak penting”.Aku bingung kenapa Rahma langsung maafin aku, padahal aku baru sebentar jelasin kapada Rahma. leganya perasaanku ini.“Makasih Rah”.Kemudian kami pun saling berpelukan rasanya senang banget ketika kami baikan kembali. Setelah pulang sekolah, Aku seperti biasa membuka kembali buku pelajaran. Setelah ku membuka buku, tak sengaja ku temukan secarik kertas yang beramplop. Ku buka perlahan-lahan, tapi kenapa jantungku ikut berdetak lebih kencang. Kubaca perlahan-lahan.Dear Via…. Izinkan aku untuk berkata jujur padamu, Sebelumnya ku minta maaf kalau aku sudah lancang mengirim surat ini. Aku sadar, aku bukan apa-apanya kamu. Aku juga tak pantas memilikimu. Tapi semakin ku pendam perasaan itu, semakin sesak rasanya dadaku ini kalau tak segera ditumpahkan.Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Tapi tiap kali aku ingin melepaskan diri darimu, Tapi tiap kali itu aku ingin semakin kuat untuk memelukmu. Dan aku merasa heran mengapa perasaan ini hanya terjadi padamu, mengapa tak tumbuh pada gasdis-gadis yang lain, Bagi anak-anak lain mungkin menilainya, Mereka lebih cantik darimu?Tetapi ini perasaanku, Aku justru suka padamu tak hanya karena kecantikanmu, Tapi juga karena innerbeauty mu sungguh menarik bagiku. Aku tak ragu lagi memilih gadis semacam kamu. Kamu ini memang tak ada duanya di dunia ini. Sudah beberapa lama ku pendam perasaan ini tapi baru kali ini ku beranikan diri utuk menyatakan kalau aku “CINTA dan SAYANG”sama kamu. Maafkan aku kalau aku tak gentel seperti anak laki-laki lain yang mengutarakan langsung di depan wajah dan bertemu langsung empat mata. Tapi kalau kau mau agar aku langsung mengutarakannya aku akan mencoba, besok kita ketemu pulang sekolah di kelas X-9.Orang yang mencintaimuAdytia Pradana Putra Aku bingung,Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung memilih salah satu ini CINTA atau SAHABAT. Kata-kata itu selalu menggoyang-goyang pikiranku. Aku punya persaan sama Dana dan aku juga gak mau menyakiti perasaan sahabatku. Kenapa bisa terjadi pada aku, kenapa tidak Mia??? Bukanya aku iri pada Mia, tapi karena perasaan bingung ini jadinya aku tak sadar menyalahkan Mia…. ya tuhan tolonglah diriku ini, aku harus berbuat apa?.Kemudian aku berfikir, aku sudah janji hidup dan matiku akan ku pertaruhkan demi sahabatku yang ku sayang. Aku relakan Dana untuk sahabatku Rahma. Aku tak ingn melihat sahabatku sedih.Aku sudah punya keputusan, aku gak akan terima Dana jadi pacarku, Tapi aku akan bersujud di depan Dana dan bermohon-mohon agar Dana mau jadi pacarnya Rahma. * * * * * * sekian * * * * * * * *cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya….cinta yang sebenarnya adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih tetap menunggunya dengan setia….cinta yang sebenarnya adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata "aku turut berbahagia untukmu wahai SAHABATKU"Nama : Eka OctavFB : saputri.ekaoktaviani@yahoo.comEmail : eka.oktavianisaputri@yahoo.comTwitter : @EccaNdulndul

  • Cerpen Remaja King Vs Queen~03

    Cerpen Terbaru King vs Quen Part 3"Seriuz loe?" tanya Olive saat di kantine keesokan harinya, Niken hanya mengangguk sambil menikmati es rumput lautnya. "Cowok yang udah nabrak loe, and bikin loe kesel itu… Temen deket kakak loe?" tanyanya lagi, Niken kembali mengangguk "dan dia datang kerumah loe?""Ia Olive" jawab Niken sambil menatap sahabatnya "Dia itu temen baik kakak gue… Namanya Gilang dan lebih parahnya lagi. Gue yang harus minta maaf sama dia, loe bisa bayangin nggax sih gimana perasaan gue".Credit Gambar : Star Night"Yaaa pasti berat banget buat loe. Loe yang sabar aja ea. Jadi, apa yang mau loe lakuin sekarang? loe mau minta maaf sama Gilang""What?! gue minta maaf? sorry ea, ini tu salahnya dia. Masa' gue yang harus minta maaf, ogah banget lah" kata Niken.sebagian

  • Cerpen: Cinta yang Terdustai

    CINTA YANG TERDUSTAIOleh: Juliani H.SAjaran tahun baru pun dimulai, di suatu sekolah yang bernama SMP *pipp* berkumpul anak-anak kelas 7 baru yang ingin bersekolah di SMP itu. Di sekolah itu terdapat ketua osis yang bernama Jesica Anastasia atau yang sering di panggil Chika. Ia anak yang cantik, ramah, humoris, baik dan disenangi teman-temannya. Namun hanya satu kekurangannya, dia kurang bisa memilih lelaki yang benar untuk mendapatkan cintanya . Menjelang tahun ajaran baru, ia pun sibuk mempersiapkan acara MOS untuk anak-anak kelas 7 dengan di bantu oleh rekan-rekannya yang mengikuti osis. Acara MOS berlangsung dengan lancar dan tanpa ada halangan satupun.Hari-harinya pun di lalui dengan biasa. Pada saat istirahat disebuah taman, vivian bercerita pada chika“Eh chik, elo udah tau belum kalau ada anak kelas 7 yang suka sama gue. Haha lucu ya ada anak kecil yang suka sama gue.”“Hah? Yang bener lo? Haha bagus deh akhirnya elo ada juga yang suka.” Chika tertawa senang.“Seneng lo heh ngetawain gue?”“Hehe becanda vi, abisnya lucu banget”Dengan muka mesemnya vivi pun lanjut bercerita (walaupun dalam hati sebenarnya dia udah pengen nelen si chika ) ,“Iya-iya deh. Oh ya chik, elo udah tau belum kalau ada kakak kelas kemarin yang nanyain elo?”Chika termenung lalu berkata, “Hah siapa? Kok gue gak tau?”“ Makannya elo gaul dong, kalau pulang sekolah jangan langsung pulang ke rumah tungguin anak-anak SMA dulu lah biar beken. :p”“Males ah gue, lagian gak penting tau nungguin anak SMA, mendingan langsung balik. Eh iya emang siapa yang nanyain gue?”“Elo tau Steven anak kelas 11 ipa kan? Dia kemarin yang nanyain elo”“emm gue gak tau hehe. Nanyain apa emangnya?”“Nanyain tentang elo pokoknya. Trus dia kemarin pesen ke gue, elo di suruh tunggu dia di taman belakang pas istirahat nanti. Elo pokoknya harus dateng, kalau gak gue bisa di suruh nelen bola basket.”Dalam hati chika sebenarnya penasaran siapa sih Steven Steven itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggunya di taman belakang pas waktu jam istirahat.“Teng.. teng.. teng..” Jam istirahat pun tiba. Chika tidak ikut bersama teman-temannya melainkan lebih memilih ke taman belakang.“Chik, elo mau ke kantin gak?” Tanya riko.“emm gak deh rik, gue gak laper” jawab chika“ok deh, gue ke kantin ya dadah chikchicken haha” kata riko sambil mencubit hidung chika“eh sialan lo!!! Awas kalau ketemu lo”“weeee haha :p”Dengan hati kesal dia beranjak ke taman belakang. Di sana terdapat satu bangku yang biasa di duduki oleh anak-anak yang sedang malas ke kantin. Namun tidak biasanya taman belakang sekolah yang sering ramai itu sekarang sepi sekali, disana hanya terdapat seorang cowok yang sedang duduk sambil memandang ke arah pepohonan. Dalam hati Chika penasaran dengan cowok itu, apakah dia yang bernama Steven? Dengan ragu-ragu diapun menghampiri cowok itu. Lalu menyapanya ..“Hai.. “Cowok itu pun kaget karena tiba-tiba di sapa oleh suara perempuan (dia kira kuntilanak)“eh hai ! Chika ya?”“Kok kamu tau namaku?”“tau dong, siapa sih yang gak kenal sama cewe yang palin beken di sekolahan ini.” Kata cowok itu sambil tersenyum. Terlihat lesung pipi meghiasi wajah cowo tampan itu.Dengan pipi bersemu merah, chika pun menjawab.“ah kamu bisa aja, aku gak terkenal kok di sekolah ini. J oh ya kamu itu steven?”“Kamu belum tau aku? Parah banget kamu belum tau aku, aku itu cowo paling ganteng di sekolah ini masa kamu gak tau aku ?” kata steven sambil menyombongkan diri.Chika tertawa, “wooo, pede gilaa kamu haha mana buktinya kamu cowo paling ganteng di sekolah? Kok aku tak tau? :P”“haha dasar ndeso ya kamu, masa tak tau aku ini ? :p”Perkenalan pun berlanjut hingga mereka menjadi dekat. Pada suatu malam dalam perkenalan yang singkat, Steven menyatakan cintanya pada Chika. Chika yang awalnya sudah menyukai steven akhirnya menerima cinta cowok berparas cucok itu.Hari-hari dilalui oleh chika dan steven sangat bahagia. Namun dibalik kebahagiaan itu tersimpan suatu kebohongan yang sangat besar. Ternyata steven yg di panggil epen itu masih mencintai mantannya yang bernama Sylvia. Sylvia yang mengetahui bahwa chika sudah berpacaran dengan epen pun tak tega melihat chika di permainkan seperti itu. Dan suatu hari sylvia pun bercerita pada chika.“ Maaf ya dek, bukannya kaka mau ngerusak hubungan adek dengan Epen, tapi kamu memang harus tau yang sebenarnya.”“ Memang ada apa kak dengan Epen? Sepertinya ia biasa-biasa saja.”“ Coba kamu lihat sms iniSMS pertama : “syl, aku masih sayang kamu syl. Aku mohon kamu balik lagi ke akuL”SMS kedua : “Aku cuma sayang sama kamu, setiap aku ngeliat chika aku pasti langsung inget kamu. Aku ga sayang sama chika syl. L”Dengan mata yang berkaca-kaca chika melanjutkan membaca pesan yang berasal dari epen untuk chika itu. Sangat kejam epen memainkan hatinya.“Udah kak aku gak kuat lagi ngeliatnya.”“maap ya adek, bukannya kakak mau ngerusak hubungan kamu dek. Maafin kakak ya adek sekali lagi.”“ini bukan salah kakak kok. Udah kakak gausah minta maaf sama adek. Makasih ya kak udah tentang ini sama adek. ”Chika tetap tersenyum walaupun sebenarnya dalam hati ia menangis. Lalu ia selalu bersikap cuek kepada Epen jika bertemu ataupun di sms/ telp. Sampai pada suatu hari Epen mencegat chika.“kamu kenapa sih ngejauh dari aku?”“gak kenapa-kenapa” masih dengan sikap cueknya chika menjawab.“ jujur sama aku kamu kenapa chika?!!”“jangan bodo-bodoin aku lagi pen! Kamu kira aku gak tau kamu di belakang aku kayak gimana? Kamu pacaran sama aku cuma karena untuk pelarian aja kan? Udah kamu ngaku aja, aku udah tau semua. Jahat banget kamu sama aku pen. Tega kamu bikin aku kayak gini.”“jadi kamu udah tau semua? Maaf bukan maksud aku jadiin kamu pelarian aku sayang kamu chik”“ udah kamu gausah bohong lagi sama aku. Sakit hati aku, sekarang kita putus aja.” Sambil menangis chika pun beranjak pergi. Epen tidak mengejarnya karena tahu kalau chika butuh waktu untuk sendirian.6 bulan kemudian..Hari demi hari mereka lalui, tak terasa chika telah memasuki masa-masa SMA. Namun ada satu permasalahan, epen masih menghantuinya. Sebenarnya dalam hatinya ia masih menyimpan rasa yang besar pada lelaki itu, ia sangat mencintai lelaki itu. Namun apa boleh buat lelaki itu telah menyakiti hatinya.Pada suatu hari chika sakit keras, ia di fonis dokter mengalami kanker tulang. Epen yang mengetahuinya langsung mencari chika untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan dulu. Namun semua tlah terlambat chika sudah terbaring lemas tak berdaya di kamarnya, chika hanya menitipkan sepucuk surat untuk epen. Hati epen hancur, dia merasa tak berguna karena selama ini tlah menyia-nyiakan orang yang dia sayang. Lalu dibuka surat itu, isinya :“ Heyy .. Steven hartanto J apa kabar ?? kamu baik” saja kan hehe jangan bersedih ya kalau gak ada aku, aku akan selalu ada di samping kamu kok. Lanjutkan hidupmu jangan berhenti sampai disini . Aku menyayangimu, walau kamu dulu pernah menyakiti aku. Aku sebenarnya gak pernah marah sama kamu, aku udah maafin kamu dari dulu cuma aku ga ngomong itu sama kamu . Tetap jadi epen yang aku kenal dulu ya, jangan pernah berubah kalau berubah aku marah sama kamu lho. Hehe jangan nangis ok. Sudah dulu ya aku mau istirahat dulu, capek nih haha semoga kita bisa bertemu kembali ya. Oh ya aku lupa, tolong jaga paopao kita jangan sampai rusak. I love you steven hartanto, always. You’r my everything.:*Love,Jesica anastasya.Steven menangis dalam hati, dia menyesal kenapa dulu ia menyia-nyiakan perempuan yang benar-benar mencintainya. Berat bagi ia untuk melupakan perempuan yang pernah mengisi hari-harinya dengan penuh kebahagiaan, chika tak pernah menyakiti dia. Tapi malah dia yang menyakiti chika dengan menjadikan perempuan itu pelarian cintanya. Walaupun chika sudah tiada tapi steven tetap melanjutkan hidupnya seperti yang chika pesan di surat itu dan terus bersama paopao, boneka teddy yang dulu ia pernah berikan untuk chika.Pada saat ia berada di taman belakang sekolah tempat dulu ia bertemu dengan chika, ia tak sengaja berkata,“ I miss you hunbie. I always love you. Thanks for your love and your care. I’m sorry if i make you sick. You’re my everything . “ kata Steven sambil menitikkan air mata.*****Nama : Juliani H.SAlamat : KarawangSekolah : SMP Yos sudarsofb : juliani_sweetygirl@yahoo.co.idYM : juliani_s

  • Cerpen Sahabat Sejati “Be The Best Of A Rival ~ 01 / 07

    Tara, ketemu lagi sama admin ya guys. Kali ini muncul dengan serial cerpen sahabat sejati, tepatnya cerpen Be the best of a Rival. Sekedar info sih, cerpen ini adalah cerpen pertama yang admin ketik pake 'komputer' yang dikarang pas masih SMA dulu. Buat yang penasaran sama jalan ceritanya, bisa langsung simak ke bawah. Happy reading…Hampir saja Farel manbrak Pak Satpam gara-gara ingin buru-buru masuk kekelasnya. Maklum saja, seperti biasa, selain karena datangnya telat, pr nya juga belum selesai ia kerjakan. Terlebih pr kali ini adalah pr bahasa inggris. Sialnya, pelajaran tersebut adalah pelajaran pertama. Bonus tambahan, guru bahasa inggrinya adalah Bu Alena, guru yang biasa lebih sering ia sebut sebagai bu "Alien". Gelaran yang ia berikan karena keseriang di beri hukuman oleh guru tersebut.Begitu tiba di mejanya, Farel segera mengeluarkan buku tugas. Kepalanya menoleh kearah Andika, teman sebangkunya yang selama ini selalu menjadi dewa penyelamat. Pria itu juga tampaknya sudah hapal dengan sikap sahabatnya. Makanya tanpa diminta ia segera mengeluarkan buku PR miliknya dan langsung menyodorkanya kearah Farel. Namun begitu, tak urung mulutnya berkomentar."Gila, loe kapan mau tobat sih Rel?" tanya Andika sambil meletakan bukunya tepat di hadapan Farel."Ngapain tobat. Kan ada elo sebagai dewa penyelamat gue," balas Farel polos. Tangannya dengan ligat memindahkan kata demi kata di buku Andika kearah bukunya. Tak perduli sama sekali jika itu benar atau salah.Andika hanya mengelengkan kepala melihat ulah sahabatnya. "Nggak gitu juga kali. Sekali kali ngerjain sendiri napa," sambungnya menasehati."Ssst… Diem aja deh loe. Kesannya nggak iklas banget gue contekin," komentar Farel. "Lagian nih ya bentar lagi Bu Alien datang. Ogah gue dihukum mulu sama tu orang. Udah beneran kayak Alien tau nggak sih.""Emangnya loe pernah ketemu Alien itu kayak gimana?" selidik Andika sama sekali tidak terpengaruh dengan permintaan sahabatnya untuk tutup mulut."Kalau Alien beneran emang belum sih. Tapi kalau Alien gadungan, sering. Bentar lagi bakalan datang," senyum Farel polos, Andika ngikik mendengarnya. "Eh tapi udah donk, diem aja loe. Ntar kita sambung lagi, oke," terang Farel yang merasa konsentrasinya terganggu akan obrolan mereka."Terserah loe aja deh," Andika kali ini hanya pasrah. Lima menit telah berlalu, bel masuk yang terdengar membuat Farel sedikit terlonjak kaget. Jantungnya mendadak dag dig dug. Jangankan mau kelar, setengahnya juga belum. Memang sih, soalnya cuma lima. Tapi iap soal ada anak soalnya lagi. Mana bahasa inggris lagi, susah untuk di tulis cepat. Sepertinya Farel harus menyerah. Mustahil ia akan menyelesaikan tugasnya itu.Seperti yang di duga, begitu Bu Alena masuk kekelas. Hal pertama yang ia minta adalah agara semua siswanya segera mengumpulkan tugas yang sudah di berikan. Bagi yang tidak menyelesaikan sebaiknya siap siap. Secara Bu Alena memang sudah terkenal galak. Walaupun sadar kalau tugasnya belum selesai, Farel tetap menyerahkan bukunya untuk di nilai sang guru. Menurut kebisaan, buku tersebut biasanya baru akan diperiksa saat jam istrihat di kantor.Sayangnya hari ini berbeda dari hari biasa. Bu Alena segera memeriksa buku tersebut. Dari empat puluh siswa di kelasnya, hanya Farel yang tidak menyelesaikan tugas yang di berikan. “Farel, kesini kamu!” perintah Bu Alena.“Saya bu?” tanya Farel sambil menatap sahabat karibnya seolah minta perlindungan. Namun tak urung ia maju ke depan. Paling juga di suruh berdiri di depan kelas seperti biasanya.“Kamu tau kenapa kamu saya panggil?” tanya Bu Alena.“Enggak. Memangnya kenapa ya Bi?” Farel pura-pura nanya.“Ini apa?” Bu Alena menunjukkan buku latihan milik Farel.“Itu tugas saya yang ibu minta buat di kerjain, memangnya kenapa By?” Farel masih pura-pura.“Terus kenapa belum selesai?” kejar Bu Alena lagi.“0 itu anu buk, sebenernya saya udah ngerjain buk. Tapi e…. tapi buku saya hilang. Jadi saya bikin lagi. Dan belum selesai sih emang. Ya abis gimana buk, dari pada nggak bikin,” alasan Farel ketara banget bohongnya.“Hilang?” ulang Bu Alena dengan kening berkerut.“Ia bu, kayaknya ada yang iseng deh. Tapi beneran kok bu, saya udah bikin,” Farel berusaha untuk meyakinkan sang guru.Bu Alena menatap tajam kearah matanya. Tapi Farel udah bersiap-siap dengan wajah Watadosnya atau kalau bahasa kerennya Innocent."Masa sih ibu nggak percaya sama saya?" ujar Farel memelas.Ibu Alena tidak lantas menjawab. Matanya masih mengamati raut anak didiknya dengan seksama. Setelah beberapa saat kemudian, kepalanya mengangguk. "Oh begitu, baiklah. Ibu percaya. Sekaran, kamu boleh duduk," perintahnya tak urung membaut Farel heran. Teman – temannya yang lain juga merasa aneh. Secara tumben tumbenan tu guru bisa di kibulin. Tak ingin memperdebatkan hal itu, Farel segera berbalik. Namun belum juga lima langkah, ucapan Bu Alena kontan membuatnya terkejut."Oh Farel, tunggu dulu," kata Bu Alena. Dengan was was Farel berbalik kembali menatap kewajah gurunya. "Tolong kamu tulis jawaban nomor tiga sampai nomor lima di papan."Kalimat perintah sang guru membuat Farel melongo. Seperti yang ia duga, akan aneh kalau ia bisa bebas begitu saja."Saya bu?""Iya," angguk Bu Alena. Tangannya terulur menyodorkan spidol kearah Farel. Hal yang jarang terlihat, guru nya tersebut bahkan melontarkan senyum kearahnya. Senyum manis yang membuat Farel merinding. Pria itu tau dengan pasti ada hal menyeramkan di balik senyuman itu. "Lho, harusnya nggak masalah donk. Kamu kan cuma tinggal mengingat ingat sedikit," sambung Bu Alena terdengar santai. Berbanding balik dengan reaksi Farel yang mulai panas dingin. Dengan perlahan Farel mengambil spidol yang terulur padanya baru kemudian berjalan kearah papan tulis. Diam diam ia melirik kearah Andika, berharap dewa penyelamatnya kali ini akan membantu. Tapi Andika hanya terdiam. Sahabatnya itu tau dengan pasti kalau gurunya kini sedang memperhatikan dirinya. "Lho, kok diem aja. Silahkan tulis jawabannya. Atau perlu ibu bacakan lagi soalannya?" tanya Bu Alena yang menyadari kalau Farel hanya berdiam diam di depan.Farel yang tau kalau gurunya hanya mengetes dirinya hanya bisa pasrah. Sepertinya kebohongannya sudah terbongkar."Kamu pikir ibu bodoh sehingga segitu gampangnya kamu bohongin?"Farel hanya menunduk diam. Percuma membantah, ia tau salah. "Chika, sekarang kamu yang tulis di depan," perintah Bu Alena kearah gadis yang duduk tepat di depan papan tulis. Walau terlihat ragu, gadis yang di panggil Chika bangkit berdiri. Sekilas ia menatap kearah Farel yang juga sedang menatapnya. Meminta spidol yang ada di tangannya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, Farel sama sekali tidak bisa menebak. “Silahkan," interuksi Bu Alena kembali terdengar.Dengan tenang Chika menuliskan jawabannya di papan. Bahkan tanpa melihat buku catatannya sama sekali. Sepertinya ia benar benar mengingat semua jawabnnya. Membuat seisi kelas menatapnya takjup, yang tak urung membuat Farel makin kehilangan muka. Secara Chika, selain anaknya rajin. Ia juga terkenal pintar. Sejak empat bulan yang lalu ia pindah ke sekolahnya, gadis itu sudah menujukan prestasinnya. Farel hanya mampu terus menunduk walau sekali-kali ia melihat ke arah Chika yang masih menulis, dan tidak sampai sepuluh menit Chika telah menyelesaikan semua yang di minta oleh Bu Alena.“Gimana Farel, jawaban kamu di buku yang katanya HILANG itu sama kayak yang di tulis sama Chika?” sindir Bu Alena begitu Chika menyelesaikan tugasnnya.Farel hanya menunduk, selain malu karena ketahuan bohong, ia juga malu pada Chika yang ternyata bisa menyawab semua pertanyaan yang di berikan.“Sekarang coba kamu lihat Chika. Dia masih baru empat bulan di sini tapi sudah menunjukkan prestasinya. Harusnya kamu bisa mencontohnmya. Bukan malah cari-cari alasan, sudah sering terlambat, jarang bikin Pr, masih juga ngeles. Jadi sekarang kamu berdiri di luar sampai ibu bilang selesai,” perintah Bu Alena tak urung membuat seisi kelas kaget. Tak terkecuali Chika yang kini menatap Farel dengan seksama."Baik buk," manut Farel sambil menunduk. Sama sekali tidak berani menoleh kearah gurunya. Apalagi menatap kearah Chika walau ia tau gadis itu kini sedang menatapnya. Terus terang ia merasa malu, tak hanya pada gurunya tapi juga pada Chika, sosok yang selama ini di anggap anak nggak gaul karena ke sehariannya selama di sekolah lebih sering di habiskan di perpustakaan dari pada ikutan ngegosip sepeti siswa- siswi yang lainnya.Tiba di luar, rasa malu Farel semakin berkali lipat. Apalagi selama ini ia dikenal sebagai siswa yang sangat berpengaruh. Ia anak orang kaya, ayahnya adalah businesman yang terkemuka, ibunya juga tak kalah tenarnya. Sementara ia, selain memiliki wajah yang tampan, Farel juga merupakan bintang basket sekolah. Apa lagi ia juga merupakan ketua genk yang paling dikenal di sekolah. Wajahnya yang keren membuatnya selalu di kejar-kejar oleh cewek hampir satu sekolahnya. Tapi sekarang masa harus berdiri di halaman sekolah hanya gara-gara tidak mengerjakan pr. Sumpah, nggak elit banget. Mau di taruh di mana mukanya. ????.Setelah sekian lama berdiri di tengah terik matahari, akhirnya bel berbunyi tanda waktu istirahat. Siswa dari kelas lain juga sudah pada keluar sehingga membuat Farel semakin malu. Apalagi sepertinya semau mata tertuju kearahnya. Masa orang yang selama ini paling berpengaruh di sekolah kini harus berdiri di halaman menghadap ke matahari dengan satu kaki. Sementara Bu Alena belum juga memanggilnya. Padahalkan bel sudah terdengar.Setelah hampir lima menit berlalu barulah Bu Alena berjalan kearahnya. Dan dengan suara lantang menasehatinya untuk tidak lagi lupa mengerjakan pr lagi. Barulah semua anak-anak yang tadi bertanya-tanya dalam hati kini tau kenapa Farel di hukum. Setelah Bu Alena meninggalkannya, Farel langsung menuju kekelasnya. Karena saat ini pasti ia sedang di bicarakan oleh seluruh siswa satu sekolahnya. Di ulang, mau di taruh dimana mukanya?Begitu duduk dibangku, ke empat sahabatnya, Andika, Dino, Alvin, dan Rio langsung mendekati ke arahnya.“Sorry bro, kita tadi nggak bisa bantu," kata Rio merasa bersalah.“Ia, kita juga. Sebab tadi Bu Alena memperhatikan kita terus,” sahabatnya yang lain menambahkan.“Udahlah nggak papa kok” sahut Farel sambil mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan yang di ambil dari saku seragam. Kebetulan kelas sepi hanya ada mereka berlima karena begitu istirahat biasanya kelas memang kosong.Tapi tiba-tiba ada empat orang cewek masuk kekelas. Ternyata vivi dan ketiga temannya yang terkenal dengan genk BFF, *Boy Before Flowe?*. NO BESAR, tapi Best Freind Forever yang juga temen sekelas Farel datang sambil membawa minuman dan roti, dan langsung menyodorkan kearah Farel. Semua anak satu sekolah juga tau kalau vivi yang juga sang ketua genk menaruh simpati sama Farel. Cuma selama ini nggak terlalu di layan semua Farel. “Buat loe Rel. Pasti loe haus dan laparkan?” kata vivi.“Ma kasih,” kata Farel sambil mengambil minuman yang di berikan kepadanya. Apalagi ia memang haus banget.“Gila ya si Chika, kayaknya ia tadi sengaja deh,” ujar vivi.“Maksud loe?” tanya Farel heran begitu juga temen-temen yang lain.“Ia. Tadi pasti Chika sengaja bikin loe malu di depan semua anak-anak sekolah. Dan pasti sekarang dia lagi seneng banget ngelihat loe sekarang.” tambah vivi lagi."Apa banget sih loe," komentar Andika terlihat tidak setuju. "Jangan ngarang gitu deh," sambungnya."Siapa yang ngarang? Ana merya kali yang suka ngarang. Lagian emang bener kok, kalau tadi itu Chika pasti sengaja. Tu anak kan emang suka narik perhatian guru," Taysa ikutan buka mulut."Udah deh. Jangan nyebar fitnah gitu. Lagian semua anak kan ngelihat kalau Chika ke depan tadi juga karena di minta sama Bu Alena, jadi nggak mungkin dia sengaja” tambah alvin.“Tapi kan….” vivi belum menyelesaikan ucapannya karena ucapannya langsung di potong oleh Farel.“Apaan sih. Tadi tu jelas-jelas gue di hukum gara-gara nggak bikin pr. Jadi sama sekali nggak ada hubungannya sama Chika,” kata Farel “Udah ah, cabut yuk guys,” ajak Farel mengajak ke empat temennya pergi.“Eh kalian mau kemana?” tanya vivi heran. Tapi Farel dan temen-temennya diam sambil berlalu tanpa menolah lagi.“Sial!” geram vivi setelah Farel pergi dari hadapannya.Next to Cerpen Be the best of a Rival Part 02Detail Cerpen Judul Cerpen : Be the best of a RivalPenulis : Ana MeryaStatus : CompleteGenre : Remaja, CerbungTwitter : @ana_meryaFanpage : @LovelyStarNightPanjang cerita : 1.814 WordsLanjut Baca : ~ || ~ ~ || ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*