Cerpen Remaja Tentang Aku & Dia part 2 {Update}

Nah, Kalau sebelum nya penulis sudah mengadakan acara edit menedit , Update mengupdate cerpen remaja tentang aku dan dia part satu, Kali ini penulis lanjut ke part duannya . Asli beneran rempon deh.
Tapi kalau di pikir – pikir lagi, gak papa juga si ada acara "tegur sapa" begini, Itung – itung bisa muncul wajah baru… #apa deh?…
Ya sudah lah, gak usah ngebanyol kayak si unyil, Mending langsung ke cerpen remaja tentang aku dan dia-nya…
Happy reading ya all…


Credit Gambar: Ana Merya
“Pst… kenapa tu orang?” bisik nanda sambil mencolek lengan anya yang sedang khusuk ( ? ) mencatat.
“He?” Anya menoleh heran.
“Itu?” tunjuk Nanda ke arah Gresia yang tampak senyum-senyum sendiri.
“Waduh, kenapa tu anak senyum-senyum sendiri?”.
“Ya ela, Gue nanya malah balik nanya” balas Nanda sebel.
“Lagi kesambet Hantu penghuni pohon toge di belakang sekolah ( ? ) kali tu orang” .
Pletak. sebuah jitakan mendarat telak di kepala Anya.
“Gue serius ni” Ujar Nanda sebel.
“Ia. Tapi nggak usah pake njitak kepala gue juga kali. Sakit tau. lagian…”.
“Ehem … ehem…..”
Cep, Anya dan Nanda langsung minkem. Nyalinya langsung ciut begitu melihat pak Burhan yang saat itu sedang menatap ke arah mereka berdua.
“Anya, Nanda” panggil pak Burhan.
“Sa sa saya pak” Sahut Anya dan Nanda bersamaan.
Entah mengapa mereka merasa sepertinya aura yang menyeramkan telah memenuhi seluruh ruang kelasnya bahkan membuat bulu kuduk merinding.
“Maju kedepan. Selesaikan soal – soal ini” Kata pak Burhan santai yang berbeda jauh, jauuuuh banget jika di bandingkan kondisi Anya dan Nanda saat ini.
“Kita pak?” tanya Nanda kaget.
“Apakah di kelas ini ada yang namanya Nanda dan Anya lagi?” pak Burhan balik bertanya.
Akhirnya dengan berat hati Anya dan Nanda Melangkahkan kaki menuju ke tiang gantungan/plak/ nggak lah. maju kedepan kelas maksutnya.
Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia
“Ha ha ha….. ” Gresia tidak dapat lagi menahan tawa waktu melihat Anya dan Nanda yang memasang tampang lemes gara-gara kejadian tadi. Kebetulan saat itu mereka sedang ngumpul bareng di kantin sekolah.
“Dasar Rese tu pak Burhan. Udah tau kita nggak bisa matematika. Masih aja di suruh maju” Geram Nanda.
“Iya nih. kita kan alergi sama matematika. Liat aja kepanjangannya. MATMATIKA. MAkin Tekun MAkin TIdak KAruan” Sambung Anya tidak kalah sebelnya.
Sementara Gresia dan Angun semakin ngakak.
“Udah deh. kalian diem. Nggak ada yang lucu di sini” Ujar nanda sewot karena melihat kedua temannya yang tak henti-henti menertawakan mereka.
“Ya itu kan salah kalian sendiri. udah tau ada Guru killer. Masih aja suka ngosip” Ledek Angun santai.
“Betul” Sambung Gresia santai.
“Loe diem deh” tunjuk Anya ke arah Gresia. “Ini semua kan gara-gara loe”.
“Idih… kok gue yang di bawa-bawa sih?” Gresia tidak terima.
“Ia. kalau bukan Kerena loe yang ketawa – ketawa sendiri nggak jelas kita nggak bakal di hukum tadi” terang Nanda.
“Maksutnya?’.
“Tadi itu kita lagi meratiin si gresia yang senyum-senyum sendiri nggak jelas”.
“Kapan lagi gue senyum senyum sendiri. Kalian jangan ngasal deh” elak Gresia.
“Loe gak percaya tanya aja Anya”.
“Bener An?” tanya Angun kearah Anya sementara yang di tanya langsung mengangguk.
“Nggak kok” Tolak Gresia cepat karena kali ini ke tiga temannya menatap kearahnya. “Lagian kok jadi gue sih yang di bawa-bawa”.
“Ya ia lah… secara kita tadi udah di hukum kan gara-gara loe juga”.
“Hu… tu kan salah kalian sendiri. Ngapain juga ngosipin gue. kena batunya kan. Lagian gue tadi cuma…”.
Gresia tidak melanjutkan ucapannya. Perhatiannya tertuju pada Arga yang baru menginjak pintu kantin dan kini berjalan kearahnya.
“Haduh… mau ngapain lagi tu orang” Refleks Perhatian Anya dkk mengikuti tatapan Gresia.
“Mau ngapain lagi si loe?” Tanya Gresia ketus tanpa basa basi lagi begitu Arga tiba di hadapannya.
“Ingat, Urusan kita belum selesai. Ikut gue sekarang loe” Arga menarik tangan Gresia yang langsung di tepis Olehnya.
“Ye…. emang sejak kapan kita punya urusan. Lagian gue nggak mau punya urusan sama loe” Balas Gresia ketus.
“Nggak ada loe bilang?” Tanya Arga sinis. “Banyak!!!” Sambungnya dengan penuh penekanan.
“Gue Bilang nggak mau!” Gresia tetap bersikokoh.
“OMZ. Jadi kalian beneran di jodohin!!” .
Pertanyaan Anya yang setengah berteriak tentu saja menarik perhatian hampir seluruh panghuni kantin yang menatap mereka kaget dan penuh rasa yang jelas ingin tahu. Sementara Gresia hanya bisa menelan ludah melihat tatapan Arga yang seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat seperti bakso yang sering di pesan Nanda.
“Apa loe bilang?. Arga dijodohin?. Sama Gresia?”.
Nggak tau datangnya dari mana, Tau-tau Lila kini sudah ada di samping mereka dengan mata yang melotot seolah-olah mau keluar.
“Enggak” Sahut Gresia cepet.
“Lho Tapi bukan nya kemaren loe sendiri yang bilang kalau loe di jodohin sama Arga?” Tanya Angun dengan tampang polosnya.
Sumpah, Saat ini Gresia sangat ingin melepaskan kaos kaki untuk menyumpal mulut sahabatnya yang satu ini. Dasar, bener-bener ember bocor.
“Elo?” Tunjuk Arga kearah Gresia dengan panuh emosi.
“Jadi yang bener gimana?” tanya Nanda kemudian.
“Oke…. Gue emang di jodohin ma Arga sama ortu gue. Tapi gue tolak. Ogah banget gue di jodohin sama orang model kayak dia” Kata Gresia kemudian.
“Oh… ini bener-bener keajaiban” Ujar salah seorang pengunjung kantin.
“Maksutnya?” tanya yang lainya.
“Apa kalian lupa?. Seorang Arga gitu lho… Playboy yang terkenal kelas kakap. Dijodohin, Plus di tolak cewek lagi… apa kata dunia?” jelasnya.
“Wah loe bener. Gresia loe bener-bener hebat” Sambung yang lain tak mau kalah.
“Kalau begitu bisa di jadiin Deadline nie”.
Sementara tampang Arga jangan ditanya. Sepertinya batas kesabarannya sudah benar-benar mencapai ujung tanduk ( ? ).
“Nggak bisa. kalian ngomongin apa sih?. Arga itu kan pacar gue” Teriak Lila kemudian.
Anya dengan santainya berjalan mengelilingi Lila sambil menatapnya sinis.
“Kayaknya bentar lagi udah nggak deh” ledeknya.
“APA!. Jaga bicara loe”. Geram Lila. Kemudian ia berbalik ke Arga ” Ga, Sekarang juga loe harus milih Gue atau dia”.
“Gak Usah milih. Loe ambil aja” Potong Gresia cepat.
“WAH Arga benar-benar di tolak!!” Jerit Salah Seorang siswa yang ada di disana. *Lebay*.
“Gresia, Mati loe kali ini” Geram Arga.
Tiba-tiba ada kilat sambung menyambung menjadi satu. Petir juga menyambar-nyambar. dan tiba -tiba Gresia raib di telan bumi… he he he… nggak lah. Intinya Gresia langsung kabur tanpa ba bi bu lagi. Get loss…. kha kha kha……
Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia
Gresia masih sibuk mondar – mandir dikamarnya. Binggung antara mau turun kebawah menemui tamu atau nekat loncat dari lantai 2 kamarnya buat kabur. Malam ini Arga dan keluargannya datang ke rumah. Katanya sih mau silaturahmi. Tapi Gresia sudah bisa menebak apa tujuan sebenarnya mereka datang. pasti nanti ujung-ujungnya membahas perjodohan mereka. Selagi Gresia masih bingung tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.
"Tok tok tok" *Anggap aja bunyinya gitu*.
"Waduh, Mampus gue. Gimana nie?" Gumam gresia."Atau Pura-pura sakit aja kali ya?".
"Gres, Turun donk. Arga ma mamanya udah datang tuh"
"Aduh ma, Kepala Gresia Pusing. Kayak nya gresia nggak bisa turun deh" Sahut gresia yang tampak tiduran di kasurnya.
"Masa sih?" tanya mama heran sambil menyentuh keningnya." Perasaan nggak panas".
"Ya gak tau. Lagian kan Gresia bilang kepala gresia pusing. Bukan panas".
"Jangan cari alasan kamu. Sudah ayo turun. Nggak sopan tau ada tamu di cuekin " bujuk mama lagi.
"Tapi ma…"
Gresia tidak melanjutkan ucapannya begitu melihat tatapan mamanya.
"oke deh ma. bentar lagi gresia turun".
Akhirnya Gresia ngalah, setelah terlebih dahulu merapikan sedikit tampilannya, Gresia turun ke bawah. Mengikuti jejak sang mami yang sudah mendahuluinya.
"Gresia, gimana sekolah kamu?" tanya tante indri, mamanya Arga saat mereka sedang ngumpul di ruang tamu setelah selesai makan.
"Baik tante" sahut gresia kikuk.
"Terus gimana hubungan kamu sama Arga?" sambung Papanya arga.
"Ma, Pa, Tante, Om. Gresia mau ngomong. Sebenarnya aku sama Arga…."
Sejenak Gresia melirik ke arah Arga yang kebetulan juga sedang menatapnya. Ditarik nafas dalam-dalam. Ia sudah memutuskan untuk mengatakan rasa keberatannya atas perjodohan itu.
"Sebenarnya apa Gresia?" tanya Mama kemudian.
"Kita…..".
"Kita udah lama pacaran" Potong Arga sebelum Gresia sempat menyelesaikan ucapannya.
"Oh ya?. Benarkah?" tanya papa kaget sekaligus bahagia.
"Ia om" Sahut Arga Mantap.
Sementara Tampang Gresia jangan di tanya. Shock!. Tentu saja!!!.
"Terus kenapa kamu selama ini nggak bilang sama mama?" tanya mama nya Arga.
"Soalnya kita takut. Kalau kita ngomong jujur ntar kalian langsung nikahin kita lagi. Kita kan masih muda. Jadi belum siap buat berumah tangga. Kita pengen ngejalaninya kayak anak muda laennya. Pacaran aja dulu. Sekaligus saling mengenal satu sama lain" Terang Arga lagi.
"Ha ha ha….. Jadi begitu. Sukurlah. karena tadinya kita sudah khawati kalian keberatan dengan perjodohan ini. Tapi kalau memang itu alasannya, Kita nggak keberatan".
"Oh ya om, tante. Sekalian aku mau minta izin buat ngajak Gresia jalan Malam ini. Kebetulan malam ini ada acara di sekolah".
"Kalau sama kamu om percaya. Kalian boleh pergi. Tapi ingat jangan pulang terlalu malam. Juga hati – hati di jalan".
"Siap Om" Balas Arga mantap. Diraihnya Tangan Gresia yang dari tadi masih bengong. Sepertinya nyawanya belum kumpul seratus persen. Atau lebih tepatnya masih ngawang-ngawang (??? ).
"ARGH!!!!!!" Jerit Gresia sekencang – kencangnya. Bahkan Arga yang dari tadi menyetir dalam diam langsung menginjak rem mobilnya dengan cepat.
"Astafirullahal'azim *Bisa ngucap juga nie anak*. Loe pengen bikin gue jantungan ya?. Atau pengen kita mati ketabrak bareng-bareng" Teriak Arga beberapa saat kemudian.
"Loe tadi ngomong apa?" Tanya Gresia tanpa memperdulikan teriakan arga barusan.
"Gue bilang Loe mau kita mati berng-bareng!" Kata Arga masih setengah berteriak.
"Bukan itu. Maksut gue waktu di rumah. Loe bilang Kalau kita pacaran?".
Arga terdiam. Tapi beberapa saat kemudian.
"Wa kha kha kha" tawanya langsung meledak. "Jadi dari tadi loe baru conek?. Lama kali loadingnya? *kebawa suasana kerja* . ha ha ha" ejek Arga tanpa bisa menahan tawanya.
Pletak….
Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Arga.
"Kenapa loe jitak kepala gue. Sakit tau" Geram Arga sambil mengusap-usap kepalanya.
"Terus maunya Gue cekik loe sampai mati?. Gitu" Balas Gresia emosi.
"Ye…. Kok loe jadi marah-marah gitu sih. Tadi kayaknya tenang-tenang aja".
"Tadi itu gue shock. Loe tau, Gue SHOCK. S-H-O-C-K" Geram Gresia.
"Lebay…." Ledek Arga santai.
"Udah loe jawab aja. Maksut loe ngomong kita pacaran tu apa. Atau selama ini loe udah lama naksir sama gue. Makanya loe sengaja ngomong kayak gitu".
"Wuek" Arga Sok pasang tampang mau muntah.
"Jangan ngayal loe" Sambung nya sambil menjitak kepala Gresia *Bales dendam*.
"Kalau nggak terus maksutnya apa donk?".
"Bales dendam" Sahut Arga Santai.
"He….?, Maksutnya?" Tanya Gresia bingung.
Arga Menatap Gresia sinis. Semburat Senyum jahil tersirat di wajahnya. Tanpa memperdulikan Gresia lagi. Ia langsung tancap gas.
Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia
To be Continue…..
Nggak usah portes toh lanjutannya udah muncul. Kalau nggak mau ribet ini linknya…
Cerpen Remaja Tentang aku dan dia part 3.

Random Posts

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 07 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih ~ part 7. Biar bacanya nyambung untuk part sebelumnya bisa langsung klik disini.Sambil bersiul dan sekali – kali terdengar bersenandung kecil Rangga memasuki halaman rumahnya. Begitu turun dari motor, perhatiannya beralih ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Dalam hati ia bertanya – tanya. Siapa kira – kira pemiliknya?. Karena ia berani bertaruh kalau itu pasti bukan mobil papanya.Ketika Cinta Harus MemilihTanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rangga segera melongos masuk ke dalam rumah yang memang tidak di kunci. Setengah tak percaya pada penglihatannya saat mendapati sosok yang kini duduk santai di ruang tamu sambil membolak – balik halaman majalah remaja ditangan. sebagian

  • Cerpen Sedih “Akhir Rasa Ini”

    Guys, cerpen sedih akhir rasa ini edit version. Nggak tau sih ada yang ngeh atau nggak kalau karya karya di sini mulai di edit lagi satu persatu. Tapi yang jelas admin lagi berusaha. Soalnya suka malu sendiri kalau baca ulang. Baru ngeh kalau ternyata EYD banyak yang ancur, typo bertebaran di mana – mana. Ck ck ck. Sekedar info, cerpen sedih yang satu ini adalah awal untuk cerbung ketika cinta harus memilih. Maksutnya sebelum baca cerita yang itu bagusan baca cerita yang ini dulu.*** Setiap kisah kadang memang tak selalu berakhir indah. Tapi bukan kan dalam setiap kisah kita selalu berharap hal yang indah…****** Kita tidak dapat hidup 'hanya' dengan harapan saja, tapi percayalah, kita juga tidak dapat hidup 'tanpa' harapan. ***Dengan langkah tegap Rangga berjalan melewati sepanjang koridor sekolah. Sebuah senyuman manis tak pernah lepas dari wajah. Sepertinya suasana hatinya sedang benar – benar bagus. Angannya melayang Entah kemana. Yang jelas masih tetap seputar 'Cisa'. Mengingat tentang pertemuan pertama mereka.Sebenernya pertemuan itu hanya sebuah pertemuan sederhana. Pertemuan tak sengaja yang terjadi di toko buku beberapa waktu dulu. Saat itu ia sedang mencari buku. Tepat saat tangannya terulur untuk meraih sebuah novel Twilight karya Stephenie Meyer, tak di duga sebuah tangan yang lain juga sedang berusaha untuk mengambil objek yang sama. Dan saat pandangannya berbalik, ia benar – benar merasa jantung nya seakan berhenti berdetak. Saat itu ia berharap agar waktu untuk sejenak terhenti. Tatapannya sama sekali tidak bisa teralihkan dari sosok imut yang ada di hadapannya. Seolah pemilik mata bening tersebut telah menghipnotisnya. Rangga langsung yakin kalau itu adalah cinta pandang pertama."Eh, kak Rangga?"Teguran itu segera menyadarkannya. Dan ia hanya mampu tersenyum malu sambil mengaruk kepala yang tidak gatal saat mendapati gadis itu menatapnya bingung."Ehem, eh Cisa. Lagi nyari buku juga ya?" tanya Ranga terlihat sedikit salah tingkah."Iya nih. Kakak sendiri? Nyari buku juga ya?" Tanya Cisa sambil mengalihkan tatapnnya kearah tangan Rangga dimana karya Stephenie Meyer berada."Ya gitu deh.""Memangnya kakak suka baca novel juga?""He?" kening Rangga sedikit berkerut mendengarnya. Ia kan paling anti baca novel. Lagi pula dari pada baca novel mendingan juga cari tutorial SEO (????). Tapi ia segera paham maksutnya saat melihat tatapan Cisa yang terarah pada buku yang ada di tangannya."Oh ini?" kata Rangga sambil menunjukkan tangannya. Cisa hanya mengangguk membenarkan."Yupz. Twilight. Kisah cinta Romantis antara manusia dan Vampir," ujar gadis itu menegaskan."Memangnya Cisa udah baca?"."Udah donk. Coba aja deh kakak baca. Pasti nanti ketagihan," terang Cisa meyakinkan.Dan itu lah pertemuan pertama mereka. Di susul pertemuan pertemuan yang selanjutnya Yang tanpa di sangka berhasil membuat Rangga semakin jatuh hati padanya. Namun sayang, disaat cinta itu mulai tumbuh bersemi, di saat yang sama ia juga harus di paksa menerima kenyataan kalau ternyata Cisa sudah memiliki pacar yang tak lain adalah teman sekelasnya sendiri. Tapi selama janur kuning masih belum belum melengkung semuanya masih sah sah saja kan? he he he. Lagi pula selama ini hubungan mereka tetap masih lancar – lancar saja tanpa gangguan. Bukankah kesannya ia masih memiliki harapan untuk memenangkan hati gadis itu?."Dooor"."Wua…!!!" jerit Rangga segera membalikan tubuhnya sambil mengayunkan kepalan tangannya dengan sekuat tenaga. Bisa di pastikan siapapun yang bernasip sial menjadi sasaran bogem mentahnya, minimal pasti akan terbaring di rumah sakit selama seminggu. O,o"Hu…. Loe kalo kaget gerak refleksnya benar – benar menyeramkan," kata Fadhly. Sahabat karibnya yang kini sedang berjongkok tepat dibelakangnya. Sepertinya ia sudah mengantisipasi diri akan kemungkinan yang menimpanya jika mengagetkan makluk satu itu."Salah sendiri main kaget – kagetin sembarangan. Sayang tadi nggak kena," balas Rangga tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah membuat sahabatnya sempat berada dalam bahaya. Fadhly hanya membalas dengan cibiran. Tanpa banyak komentar lagi, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kekelas.Namun, langkah Rangga tiba – tiba berhenti tanpa komando. Secara otomatis, Fadly yang berjalan di balakang menabrak punggungnya. Belum sempat pertanyaan bernada protes meluncur dari mulutnya, mata Fadly sudah terlebih dahulu menemukan objek yang membuat langkah Rangga tadi sempat terhenti. Untuk sejenak di tariknya nafas dalam – dalam sebelum kemudian tangannya terulur kearah pundak Rangga."Cisa lagi. Sudah lah sob. Dia kan sudah punya pacar. Mendingan loe cari cewek laen aja. Secara di dunia ini masih banyak kok cewek yang lebih baik dari dia," Kata Fadly berusaha menasehati."Ngomong itu memang gampang, karena bukan loe yang ngerasain. Masalahnya, gue itu udah terlanjur suka sama dia. Mana mungkin gue bisa dengan mudahnya ngelupain dia. Apa lagi jelas dia itu terlihat selalu memberi harapan. Dia nggak pernah nolak gue atau pun berusaha untuk menghindar dari gue.""Tapi loe nggak bisa terus seperti ini. Ini namanya loe nyakitin diri loe sendiri. Sebagai sahabat gue coba ngasih saran sama loe. Terserah mau loe pake atau nggak. Mending loe tegasin hubungan loe sama dia itu kayak apa. Dari pada semuanya semakin terlanjur."Selesai berkata Fadly segera berlalu meninggalkan Rangga yang tampak masih berdiri terpaku. Sepertinya pria itu sedang berusaha untuk mencerna ucapannya barusan.Atas saran dari Fadly yang terus bermain di kepalanya, akhirnya Rangga memantapkan hati. Setelah terlebih dahulu menghela nafas, Rangga mengklik tombol 'send' dari hanphondnya. Jantungnya berdetak cepat menadti balasan dari apa yang baru saja di ketiknya."Cisa, sebenernya bagaimana si perasaan mu selama ini. Cisa Cinta nggak si sama kakak? Terus sampai kapan kakak harus menunggu yang tak pasti."Satu detik, dua detik bahkan sampai sepuluh menit berlalu. Masih hening. Membuat Rangga semakin gelisah karenanya. Barulah pada menit ke lima belas, hanphond bergetar tanda ada pesan masuk. Dengan jantung dag dig dug di lihatnya id pengirim. Nama 'Cisa' yang tertera di layar. Dengan amat berlahan di bukanya pesan tersebut. Di bacanya dengan hati – hati untaian demi untain kata yang tertera. Bagai difonis mati dari sang hakim di pengadilan saat ia menyelesaikan bacaannya. Lututnya terasa goyah seolah tak mampu menahan berat tubuhnya. Tak Disangka penantianya selama ini berakhir sia – sia. Cintanya benar – benar bertepuk sebelah tangan. Segera di rebahkan tubuh keatas kasur kamarnya. Anganya menerawang tinggi. Berharap semua ini hanya mimpi. Namun kata – demi kata yang baru saja di baca kembali terus berputar di kepalanya dengan jelas. Menyadarkannya bahwa ini semua adalah nyata."Maaf kak, sebenarnya Cisa juga bingung akan perasaan Cisa sendiri.Deket kakak memang membuat nyaman, namun tidak lebih dari itu.Jadi sebaiknya kakak jangan berharap dan meunggu lagi ya, karena nyatanya Cisa sudah punya pacar.Dan kalau memang kakak sayang sama cisa, silahkan cari cewek lain yang lebih pantas.Lagi pula bukankah pepatah bilang "Kalau memang jodoh kita pasti ketemu lagi".Ending…Judulnya aja cerpen sedih, jadi jelas donk endingnya nggak bahagia. Tapi seperti yang admin katakan sebelumnya, ini hanyalah awal dari kisah yang lebih panjang. Jelasnya langsung simak Ketika cinta harus memilih yang kebetulan juga memang sudah end. Oke?Detail CeritaJudul cerpen : Akhir rasa ini / Akhir kisah iniPenulis : Ana MeryaPanjang : 1.002 kataIde cerita : Lagunya papinka 'dimana hatimu', 'betapa' miliknya Sheila on 7, 'super girl' nya super junior and pengalaman temen di campur ide acak lainnya.Genre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Cinta Sedih: JANJI TERAKHIR

    JANJI TERAKHIRoleh Efih Sudini AfrilyaPagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Elga, meskipun dia sering menghianati cintaku.“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.“Maafin aku Nilam, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Nilam. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya.Malam ini Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.“Nilam, kamu cantik banget malam ini.”“Makasih. Kita jadi dinner kan?”“Ya tentu, tapi Nilam, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.”Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Elga perbuat padaku.Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.“Kenapa El? Mienya gak enak?”“Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Nilam?”“Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.Dua tahun bersama Elga bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”“Yakin di saku gak ada?”“Gak ada. Gimana dong?”“ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”“ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku.“Nilam, kamu sakit? Ko pucet sich?”Alin bicara padaku, ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.“Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?”“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”“Stop Flo! Kasian Nilam! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Nilam kan gak salah.”“Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Nilam! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yang buat Elga selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora….Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga.“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?”“Maaf Nilam, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”“Emang kakak kamu mau kemana El?”“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”“El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!”“Nilam, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”“Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!”“Nilam, ini gak…….”Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Elga yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku.“Maafin aku Nilam! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Nilam!“Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!”“Tapi Nilam…..”Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………“Elgaaaa…..”Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Elga.“Elga, maafin aku!”“Nilam. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”“Elgaaaaaa……”Elga meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan.“Nilam sayang, ini ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.Dear Nilam,Nilam sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nilam.Love YouElga Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Elga, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.“Bu, aku udah nikah sama Elga!”“Nilam, kenapa sayang?”“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Elga dijari manisku.“Nilam, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”“Sekarang aku mau cerai sama Elga Bu!” kulepas cincin pemberian Elga dan memberikannya pada Ibu.“Aku titip cincin pernikahanku dengan Elga Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.*****By : Efih Sudini Afrilyafacebook : fiehsoed@gmail.comThanks guys uda baca…..

  • TITIPAN MANIS DARI SAHABAT

    TITIPAN MANIS DARI SAHABATOLEH : *CHACHANurul, panggilan untuk seorang sahabat yang terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan tomboy itu, sangat berbeda dengan karakter Caca yang feminim dan lugu. Mereka bertemu di salah satu asrama di sekolah mereka.Saat dihari jadi Caca, Nurul pamit ke pasar malam untuk mengambil sesuatu yang sudah dipesan buat sahabatnya itu. Caca menyetujuinya, dia pun menunggu Nurul hingga tengah malam menjelang. Caca yang mulai khawatir terhadap Nurul menyusul kepasar malam, hingga dia melihat yang seharusnya dia tidak lihat . Apa yang dilihat Caca? Dan apa yang terjadi dengan Nurul? “Aku luluuuuuus…” Teriak beberapa orang anak saat melihat papan pengumuman, termasuk juga Marsya Aqinah yang biasa disapa Caca.“Ih…nggak nyangka aku lulus juga, SMA lanjut dimana yah?” Ujarnya kegirangan langsung memikirkan SMA mana yang pantas buat dia.“Hai Ca, kamu lanjut dimana ntar?” Tanya seorang temannya“Dimana ajalah yang penting bisa sekolah, hehehe” Jawab Caca asal-asalan“Oooo…ya udah, aku pulang dulu yah”“Yah, aku juga dah mau pulang”Sesampainya dirumah Caca…Caca memberi salam masuk rumahnya dan langsung menuju kamar mungilnya. Dalam perjalanan menuju kamarnya, dia melihat Ayah dan Ibunya berbicara dengan seorang Udstazt ntah tentang apa. Caca yang cuek berjalan terus kekamarnya. Tak lama kemudian Ibu Caca pun memanggil….“Caca…Ayah ma Ibu mau bicara, cepat ganti baju nak”“Iya bu, bentar lagi” Jawab Caca dari dalam kamarnya.Akhirnya Caca pun keluar…“Napa bu?” Tanya sambil duduk disamping Ibunya“Kamu lulus?” Tanya Ibunya kembali“Iya dong bu, nama Caca urutan kedua malah. Pasti Caca bebas tes kalo masuk di sekolah ternama deh” Jawab Caca percaya diri“Alhamdulillah, ehm…” Ucapan Ibu terhenti sejenak“Kenapa bu? Bukankah itu bagus?” Tanya Caca lagi sambil melihat Ibunya“Gini nak, kamu dak mau masuk asrama?” Tanya Ibu Caca sangat hati-hati“Loh ko’ ada asrama-asramaan sih bu?” Ujar Caca yang tanggapannya tentang asrama kurang bagus“Di asrama itu bagus Ca, bisa mandiri dan yang lebih bagus lagi bisa tinggal bareng teman-teman, tadi udstdz tadi ngomong kalo pendidikan agamanya disekolah asrama juga bagus” Kata Ayah Caca menjelaskan dan berusaha mengambil hati anaknya itu“Yaaaah ayah, terserah deh” Ucap Caca pasrah tidak ada niat untuk melawan ayahnya tersayang2 bulan telah berlalu, setelah mengurus semuanya untuk memasuki asrama…Caca pun memasuki sekolah asrama yang telah diurus oleh Ayahnya, Caca berjalan di serambi-serambi asrama bareng Ayah dan Ibunya menuju asrama yang telah ditunjukkan untuknya. Akhirnya sampai juga….“Ayah, ini asrama Caca?” Tanya Caca dengan raut wajah yang tidak setuju“Iya, kenapa?” Jawab Ayah Caca dan kembali bertanya“Tidak kenapa-napa ko’, namanya juga belajar mandiri” Ucap Caca tidak menginginkan kata-katanya menyinggung Ayahnya.“Jadi ayah tinggal nih?”Ujar Ayah Caca “Iya ayah, Caca kan mau mandiri masa’ Caca nyuruh ayah nginap juga sih?” Kata Caca sedikit bercanda“Ya Udah, Ayah tinggal dulu”“Baik-baik ya anak Ibu, jangan nakal” Ujar Ibu berpesanAkhirnya beliau pergi juga setelah cipika cipiki, sekarang tinggal Caca yang merasa asing terhadap penghuni kamar 2 itu. Ada 4 orang termasuk Caca, yang 2 orang lainnya pun merasa seperti yang dirasakan Caca, kecuali cewe’ ditempat tidur itu kaya’nya dia senior deh.“Hai..Siswi baru juga yah?” Tanya Caca ke seorang yang agak tomboy tapi berambut panjang lurus“Hai juga..Iyah aku baru disini, namaku Nurul Utami, bisa dipanggil Nurul dan itu kaka’ aku Salsabila udah setahun disini” Jawab orang itu menjelaskan tanpa diminta dan mengaku dirinya bernama Nurul, sambil menunjuk kearah seorang yang tidur-tiduran tadi.“Aku Marsya Aqinah, bisa dipanggil Caca. Ooo pantas reaksinya biasa-biasa aja ama nih kamar, trus yang ntu sapa?” Tanya Caca lagi sambil menunjuk ke orang yang lagi asik membereskan baju-bajunya kelemari mungilnya“Ntah lah, orang baru juga tuh” Jawab Nurul berjalan mendekati orang yang dimaksud Caca“Hai aku Nurul, itu temanku Tata dan itu kaka’ku Salsa, kamu siapa?” Tanya Nurul dengan cerewetnya plus asal-asalan.“Woi…aku Caca, bukan Tata” Teriakku protes sambil manyun-manyun“Iya..iya.., itu Caca. Kamu belum jawab nama kamu sapa?” Tanya Nurul lagi“Aku Miftahul Jannah, bisa dipanggil Mita” Jawab Mita dengan senyuman yang muanis sangat. Nurul pun membalas senyum itu dengan senyuman yang hangat pula dan sikap yang sangat bersahabat.Sekarang Caca tau kenapa dia akan betah di kamar asrama ini, yah karena ada Nurul yang gokil banget. Suatu ketika Caca lagi nggak semangat, pasti ada Nurul dengan sikap konyolnya membuat Caca tertawa. Dan disaat Caca lagi mengalami kasmaran ada Nurul sebagai teman curhatnya. Seperti saat ini….“Rul, ada nomer baru neh masuk dihape aku, katanya nama dia Ical, dia kenal aku dah lama dan sekarang dia cari rimba aku dimana gitu” Cerita Caca membuat Nurul kelepasan“Ha..ha..ha..ha..ha..ha.., beritahu aja dari hutan rimba”“Nurul, aku serius tau”“Aku duarius, ha..ha..ha”“Nurul kamu ngebete’in”“sori.. sori.., gini.. kamu jangan langsung termakan gombal dia gitu, ntar dijahatin baru tau rasa” Ucap Nurul menasehati, mirip ibu-ibu ‘hihihi’“Ntar kalo aku termakan gombal, yah minum ajah teh botol sosro” Ujar Caca dengan lagak menirukan iklan yang di TV dan bisa membuat Nurul jengkel“Kamu ini diseriusin malah becanda”“Duluan juga kamu Rul, ha..ha..ha..” Kata-kata Caca rupanya membuat malapetaka bagi dirinya itu, yakni dengan adanya serbuan bantal dari Nurul. Kedua sahabat itupun saling lempar-lempar bantal hingga akhirnya mereka kecapean dan tertidur juga.“Damainya dunia kalo mereka tidur” Ujar Salsa kaka’ Nurul yang dari memperhatikan merekaSeminggu kemudian……..“Nuruuuul, tau ga’ aku jadian ma Ical pagi ini. Rupanya tuh orang temen aku dari SMP, aku jadiannya di café punya Meri, ih senang deh” Cerita Caca“Eh cepat banget, tapi baguslah,ehmm awas kalo dia kurang ajar, ntar aku yang ngajarin dia, he..he..he..” Tanggap Nurul senyum-senyum“Siplah, eh Ical punya teman cuakep abis, aku comblangin ke kamu yah” Usul Caca“Nggak Ah, masih senang dengan masa juomblo” Kata Nurul“Jomblo, bukan juomblo” Ucap Caca membenarkan“Iya…iya…yang itulah, he..he..he..” Kata Nurul“Kamu harus kenalan ma Ical, supaya sahabatku bisa ngedukung sepenuhnya” Ujar Caca“iya..iya.. Ntar kalo dia nelfon, kenalin aja ke aku” Ucap Nurul mengangguk-anggukBegitu seterusnya, Caca curhat terus tentang Ical ke Nurul, memperkenalkan Ical ke Nurul, hingga tak terasa berjalan 2 bulan“Nuruuuuuuuuuuuuul… bangun bangun banguuuuun, dah magrib” Teriakan Caca ditelinga Nurul itu betul-betul memekakan telinga.“Apaan sih Ca? Udah bangunin orang tanpa pamit, belom gosok gigi lagi” Ujar Nurul jengkel“Sori dori ye…ini Rul si Ical sms neh katanya ada kejutan buat aku. Duh apa yah?” Tanya Caca nutup mukanya sendiri“Meneketehe…” Jawab Nurul cuek abis angkat bahu“Ih Nurul, tanggapin donk. Buat sahabat kamu dikit senang bisa nggak sih?” Kata Caca mengguncang tubuh Nurul“Caranya?” Tanya Nurul sambil menguap“Puji ke’ ato apalah, yang penting aku bisa senang giitu” Jawab Caca milih-milih“o iya, ada cara” Kata Nurul tiba-tiba“Nah tuh kan ada” Ujar Caca menunggu sambil senyum-senyum“Iya ada, bantu beresin lemari buku aku” Ucap Nurul membuat Caca manyun“Ga da yang lain yah?” Tawar Caca“Ga da, ayolah Ca… Aku juga punya kejutan buat kamu besok, gimana?” Ucap Nurul kembali menawar sambil bangun dari tempat tidurnya“Okelah…demi kejutan” Kata Caca menyetujuiMereka berdua pun membereskan lemari buku milik Nurul. Terlihat Nurul memutar otaknya, memikirkan apa yang akan diberikan untuk sahabatnya besok. Yah besok hari jadi Caca yang ke-17 biasa juga disebut sweet seventeen, dimana Caca memasuki awal umur yang dewasa, jadi harus sesempurna mungkin. Sementara itu Caca yang selagi membereskan buku-buku Nurul dengan susunan yang rapi, sinar matanya malah terpaut pada satu buku lucu, imut dan wow…! warna pink, kesukaan Caca banget. Caca tidak menyangka kalau Nurul peranakan tomboy itu pelihara buku yang imut banget. Caca mengambil buku itu dan membaca sampulnya “My DiarY”. Caca senyum-senyum, pikirnya bahwa bisa juga cewe’ setomboy Nurul punya diary.“Rul, diary kamu nih?” tanya CacaNurulpun balik “Iya…diary aku banget”“Buat aku ya Rul” Pinta Caca dengan sejuta raut wajah imutnya“Kamu mau?” Tanya Nurul“Ya iyalah, ga’ mungkin dong aku minta kalo aku kaga’ mau” Jawab Caca berpanjang lebar“Ntar aku selesaiin isinya baru aku kasi ke kamu” Ujar Nurul“Ayolah Rul” Rengek Caca yang super manja“Aku janji Ca, buku tuh pasti kamu miliki. Sini bukunya” Pinta Nurul usai berjanji“Nurul pelit” Kata Caca ngambek“Aku kan dah janji Ca”“Janji yah?” Ujar Caca meyakinkan sambil mengacungkan kelingkingnya“Janji..! Lanjut yuk” Kata Nurul Sambil mengapit jari Caca dengan jari kelingkingnya“Iyah…Eh, Rul besok ada PR. Kamu dah jadi belom?” Tanya Caca kemudian“Belom, aku nyontek punyamu boleh?”“Ya boleh lah”“Aku juga titip besok dikumpulin, boleh?”“Boleh…eh mangnya kamu mau kemana Rul?” Tanya Caca lagi“Anak kecil ga boleh tau” Jawab Nurul“Uh…k’ Salsa, Nurul besok mau kemana?” Tanya Caca ke Salsa yang sedang tidur-tiduran“Ga tau juga” Jawab Salsa angkat bahu“Berarti k’ Salsa anak kecil juga donk, hi..hi..hi..” Bisik Caca sambil cekikikan“Udah, kalian tidur. Ntar penjaga asrama kontrol, tau ga tidur dimarahi loh” Ujar Salsa“Eh…Mita dimana k’?” Tanya Nurul ke Salsa “Tadi pamit ke asrama sebelah nginap” Keburu Caca jawab“Sapa juga yang nanya kamu?”Tanya Nurul“O…bukan aku yah? Abis panggil kaka’ sih, kira aku. He..he..he” Kata Caca“Anak kecil bisanya ngerasa doank” Ujar Nurul mencibir“Biarin…weak…aku bobo duluan yah?”Kata Caca sambil menguap dan bersiap-siap ditempat tidurnya“Akhirnya tenang juga” Ucap Nurul seakan-akan kekacauan sudah berakhir. Diapun bergegas ke tempat tidurnya dan membuka buku diarynya, dia menulis sesuatu dibukunya itu. Malam semakin larut, Nurul melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul 01.30, lama kemudian akhirnya tertidur juga sesudah dia merapikan buku diarynya dan menyimpan di bawah bantalnya.Keesokan harinya…….Hari itu tampak cerah, Caca pergi kesekolah tanpa ditemani Nurul tidak seperti kemarin-kemarin. Nurul mesti pergi kesuatu tempat yang penting dan Caca tak boleh tau rencananya itu. Caca disekolah yang sebangku dengan Nurul mesti memeras otak sendiri tanpa ada teman yang diajak diskusi. Sampai bel pulang sekolah pun berbunyi, belum ada kabar dari Nurul. Salsa yang ditanya hanya angkat bahu.“Duh dah sore gini ko’ Nurul belum hubungi aku sih?” Gumam Caca sambil mencet-mencet hape dan ketika nomor Nurul yang didapat, Caca pun berniat menelpon“Nomor yang anda tuju…..” Jawaban telpon di seberang langsung ditutup oleh Caca sambil berceloteh “Operator, dimana tuh orang? Nomer dak diaktifin lagi”Caca pun masih sabar menunggu hingga malam pun larut. “Aku harus nyusul Nurul nih” Ujarnya sambil narik swetearnya dari jemuran dan pamit ke Salsa. Caca naik angkot ke pasar malam, dalam perjalanan pun dia rasa melihat 2 seorang yang sangat dia kenal di sebuah cafe. Caca langsung turun dengan muka yang merah padam menahan marah, setelah membayar angkot. Caca langsung menuju tempat duduk 2 orang tadi.“Nurul!!! Ical!!! ini yah kejutan dari kalian berdua untuk aku? Oke aku terkejut, sangat terkejut!!! Ical kita putus, dan kamu Rul. Percuma aku khawatirkan orang yang rebut pacar sahabatnya sendiri” Gertak Caca blak-blakan tanpa memberi kesempatan Nurul dan Ical bicara, Caca langsung pergi dari café itu dan naik angkot pulang keasramanya.Caca tak mau tau lagi apa yang akan terjadi setelah ini, Caca tiba diasrama dan langsung mehempaskan diri ketempat tidurnya sambil menangis sekuat dia, Salsapun berniat mendekat tapi bersamaan dengan itu, hape Salsapun berbunyi.“Halo?” Ujar Salsa yang tampak berbicara serius dengan penelpon diseberang“Iyah saya segera kesana” Kata Salsa mengakhiri pembicaraannya dengan penelpon tadi dan bergegas memberitahukan Caca“Ca, Nurul lagi……” Kata-kata Salsa terputus saat Caca memberi tanda untuk menyuruh Salsa pergi. Tanpa pikir panjang Salsa pun pergi dengan mata sembab, Caca tak tau apa alasannya yang jelasnya saat itu Caca merasakan sangat sakit didadanya. Salsa yang bergegas naik angkot itu sengaja mengirim pesan singkat ke hape CacaTriiit…triiit… Caca mengambil hapenya dan membaca isi pesan itu“Ca, Nurul masuk UGD, kalo kamu mau datang, langsung saja di RS Urip Sidoarjo ruang UGD”Caca mulai khawatir, biar bagaimana pun Nurul masih sahabatnya, dia langsung melupakan sakit yang tengah melanda dadanya itu dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang disebutkan Salsa.Sepanjang perjalanan Caca berusaha menahan air matanya yang dari tadi mengalir sambil bergumam, “Nuruuul, kenapa sih kamu tega hianati aku?, kita memang sering becanda tapi ini lain, Rul. Aku sakit saat aku tau kamu hianati persahabatan kita. Sekarang ada kejutan apa lagi? Tadi aku liat kamu baik-baik aja bareng Ical, tapi kamu ko bisa masuk UGD sih? aku harap ini bukan permainan kamu semata hanya untuk minta maaf padaku. Ini tidak lucu lagi”Sesampainya dirumah sakit……Caca langsung berlari menuju ruang UGD, Caca mendengar tangisan histeris yang keluar dari mulut Salsa.“Ada apa ini?” Gumam Caca yang membendung air mata, dia memasuki ruangan itu. Pertama dia melihat Ical dengan sebuah bungkusan imut ditangannya, “Pasti dari Nurul” pikir Caca. Sakit hatinya kembali muncul, lama dia pandang Ical hingga Ical berusaha mendekatinya tapi dengan tatapan sinis memendam rasa benci, Caca meninggalkan Ical yang matanya telah sembab. Cacapun berpikir bahwa sandiwara apa lagi yang Ical perlihatkan ke dia. Caca menarik nafas dalam-dalam dan kembali berjalan menuju tempat tidur yang terhalang tirai serba putih, Cacapun mengibaskan tirai itu, dia lihat disitu ada Salsa dan……“Nuruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul……” Teriak Caca histeris, serasa remuk tulang-tulang Caca saat melihat ditempat tidur diruangan UGD itu, terbaring seorang gadis tomboy, muka mulus tak tampak lagi, malah yang nampak hanyalah luka-luka dan muka yang hampir tak bisa dikenali, bersimbah darah tak bernyawa, rambut hitam lurus terurai begitu saja seakan membiarkan tuannya melumurinya dengan cairan merah yang mengalir dari kepala tuannya, jilbab yang tadi di kenakannya pun tak nampak warna dasarnya karena percikan darah. Caca memeluk sahabat yang paling disayanginya itu, ada rasa sesal dalam hatinya. Kenapa tidak membiarkan sahabatnya itu menjelaskan apa yang terjadi sebelum dia kelewat emosi?.Sesaat itu ada yang menggenggaman hangat lengannya, Caca tak menghiraukan, yang Caca pikirkan adalah rasa sesal dalam benaknya. Pemilik genggaman itupun menarik dan memeluknya, kemudian memberikan bingkisan imut yang ada ditangannya.“Nih bingkisan buat kamu, kejutan ini yang dari tadi pagi dicari Nurul dan baru dapat diluar kota, aku mengantar Nurul karena aku juga ingin memberikan kejutan kecil-kecilan buat kamu, tapi kamu datang saat aku dan dia merencanakan acara kejutan buat kamu” Jelas Ical sambil memeluk Caca yang semakin berlinang air matanya saat mengetahui apa isi dari bingkisan itu, buku diary imut, warna pink sesuai yang dijanjikan Nurul“Katanya kamu sangat menginginkan buku yang seperti miliknya, nah ini tandanya dia sangat sayang sahabatnya dan ga mau mengecewakan sahabatnya itu. Tapi tadi waktu kamu salah tanggap tentang di café itu, dia merasa bersalah banget, soalnya dia ga pamit dulu ke kamu sebelum minta bantuan ke aku. Dia panik karna takutnya kamu akan menganggap dia penghianat, akhirnya diapun mengejarmu tanpa peduliin ramainya kendaraan dan bus itu…………” penjelasan Ical terputus, dia tidak sanggup lagi meneruskan cerita tragis yang menimpa sahabat mereka itu. Caca pun masih membiarkan air matanya tetap mengalir di pipinya semakin deras.“Rul, napa mesti kamu jadi korban egonya aku?, sapa lagi dong yang dengerin curhat aku?, sapa lagi yang bisa aku ejek? perang bantal kita juga mesti dilanjut Rul, belum ada yang juara neh, he..he.., eh aku juga mau ngasih contekan kekamu ko’, Rul bangun dong…jangan becanda, ini ga lucu lagi. Sumpah ini ga lucu, Rul bangun, kamu napa sih? sukanya buat aku panik. Rul bangun dong” Ujar Caca setelah melepaskan pelukan Ical, senyum dan berbicara sendiri setelah itu kembali Caca memeluk jasad sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Salsa mendekatinya dan memberikan sebuah buku diary milik Nurul“Kata Nurul, kalo dia tidak dapet buku yang mirip punya dia, buku diarynya ini buat kamu” Ujar SalsaCacapun membuka buku kecil itu, tak sempat membaca halaman pertama, dia membuka beberapa lembaran berikutnya, hingga Caca pun membaca tulisan Nurul paling akhir.13 Mei 2003, 01.00 pagiDear Diary….. Aku dah dapet sahabat, kasih sayang sahabat. Tapi aku tak dapat memberikan apapun untuk sahabatku itu, ini hari jadi dia, dan dia menginginkan kamu diary, mungkin saja suatu saat aku berikan kamu ke dia, tapi itu suatu saat, hanya saja aku harus cari yang mirip denganmu untuk sahabatku. Aku minta tolong ke Ical mungkin juga dak apa-apa yah diary, diakan pacar sahabat aku berarti dia juga sahabat aku dong. Hahaha….hanya sebuah buku tapi kalo dia masih menginginkan kamu diary, mau tak mau aku harus ngasih kamu kedia. Nyawa akupun boleh yang penting sahabat aku senang, hahaha, Lebaaaaaaaay. Ya udah dulu diary aku ngantuk neh…Ga’ kelupaan “MET ULTAH CACA, MY FRIENDSHIP” NurulCaca menutup diary Nurul, semakin berlinang air mata Caca. Yah apapun yang Nurul akan beri untuk Caca, bahkan nyawanya seperti sekarang yang Caca alami. Nurul takut kalo Caca menganggap dirinya berkhianat karena sudah lancang mengajak Ical untuk mengantarnya, hingga dia tak pedulikan lagi ramainya kendaraan dijalan yang membuat dirinya menghadap sang Ilahi.Esok harinya, jasad Nurulpun dimakamkan dikampung halamannya. Setelah dikebumikan, Caca mengusap kembali nisan sahabatnya sambil berlinang air mata. Tertulis dinisan itu “Nurul Utami binti Muh. Awal, Lahir 14 Mei 1989, Wafat 13 Mei 2003”, sehari sebelum hari jadinya.“Nurul, sahabat macam apa aku, hari jadi kamu pun aku tak tau, Rul selamat ulang tahun yah, hanya setangkai bunga dan kiriman doa yang dapat aku beri ke kamu, istirahat dengan tenang yah sahabatku” Ujar Caca sambil berdoa dan kemudian meninggalkan gundukan tanah yang masih merah itu.##SELESAI##

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*